27 September 2007

Matius 4:12-17 : ESSENCE OF CALLING, SUFFERING AND KERYGMA-3

Ringkasan Khotbah : 15 Agustus 2004

The Essence of Calling, Suffering & Kerygma (3)
oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.
Nats: Mat. 4:12-17



Matius menuliskan kembali berita tentang tanah Zebulon dan tanah Naftali yang diungkapkan nabi Yesaya (Yes. 8:23-9:1) sebelumnya dalam Perjanjian Lama. Zebulon merupakan anak ke lima sedang Naftali merupakan anak ke sepuluh dari Yakub yang disebut Israel. Zebulon dan Naftali menempati sebagian kecil wilayah yang berada di sebelah Timur, seberang sungai Yordan. Karena letak geografisnya yang berada di seberang sungai Yordan maka daerah ini dapat berkembang hingga ke wilayah Dekapolis. Namun perkembangan ini justru menyebabkan penderitaan karena di satu sisi, mereka terpisah dari sepuluh suku lain yang berada di sebelah barat sungai Yordan dan karena wilayahnya tidak dibatasi oleh sungai dimana sungai menjadi benteng pertahanan paling efektif akibatnya wilayah Naftali, Zebulon dan wilayah lain yang berada di sisi timur sungai Yordan sangat mudah diserang oleh bangsa Asyur, bangsa Babel dan bangsa lain.
Hal ini membuktikan bahwa besarnya wilayah tidak menjadikan hidup mereka lebih aman, lebih makmur atau lebih kaya. Konsep ini sangat penting untuk kita pahami dan Alkitab telah berulang kali memberikan gambaran bahwa kalau kita salah mengkategorikan nilai dan panggilan Tuhan maka itu menjadi titik awal kehancuran, manusia akan mengalami penderitaan yang tidak ada pahalanya. Kita dapat memetik pelajaran dari peristiwa berpisahnya Abraham dan Lot. Lot, sang keponakan yang tidak tahu diri ini memilih tempat yang paling baik, tanah yang paling subur dan paling menguntungkan. Secara manusia, Abraham tentu merasa dirugikan dengan tanah gersang tersebut namun Abraham tidak marah melihat kelakuan Lot karena ia menyadari tanah merupakan anugerah Tuhan, ia senantiasa berpaut pada Tuhan maka Dia tidak akan membiarkan ketidakadilan terjadi pada anak-anak-Nya. Andai, kita disuruh memilih maka kita pasti akan berlaku sama seperti Lot namun apa yang dipandang manusia baik justru berakhir dengan kehancuran.
Secara duniawi, tanah Naftali dan tanah Zebulon sangatlah menguntungkan dan hal ini membuat iri kesepuluh suku lain namun realita berbicara lain. Sejak jaman Hakim-hakim sampai Perjanjian Baru, daerah ini selalu menjadi bulan-bulanan dari bangsa Asyur, bangsa Babel, dan bangsa-bangsa lain. Alkitab mencatat negeri ini sebagai suatu negeri yang dinaungi maut. Sampai akhirnya, negeri ini mendapat serangan dari tentara Asyur yang paling kejam di bawah pimpinan raja Tiglat Pileser III dimana seluruh rakyat di negeri ini menjadi tawanan bangsa Asyur. Hal ini menjadikan daerah Zebulon dan Naftali sangat gersang dan mereka pun bercampur dengan bangsa-bangsa kafir. Kondisi bangsa Israel yang menderita ini telah digambarkan oleh Nabi Yesaya sejak jaman Perjanjian Lama namun demikian Tuhan tidak pernah melupakan apalagi meninggalkan mereka.
Manusia selalu berpikir dengan cara dunia sehingga semua tindakan yang dilakukan, kita selalu berpikir untung-rugi dan mencari daerah strategis. Seperti halnya ketika kita hendak mengembangkan pelayanan, cara siapa yang kita pakai, cara dunia atau cara Tuhan? Ingat, cara Tuhan berbeda dengan cara iblis begitu pula pengertian strategis Tuhan berbeda dengan manusia. Celakanya, hari ini banyak gereja yang menggunakan cara dunia untuk mengembangkan pelayanan; orang Kristen bukan lagi menjadi alat Tuhan tapi menjadi alat dunia. Kristus telah memberikan teladan yang indah pada kita, Dia datang dan melayani bangsa yang berada dalam kegelapan dan dinaungi maut. Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat (Luk. 5:12). Jangan biarkan dirimu dikendalikan oleh dunia tapi biarlah Tuhan yang memanggil kita untuk menjadi pemberita kebenaran itu saja yang mengendalikan hidup kita maka kita akan melihat tangan Tuhan yang bekerja dengan indah dan ajaib. Tuhan memanggil kita menjadi saksi-Nya yang memancarkan terang dimanapun kita berada.
Hati-hati, jangan masuk dalam jebakan iblis karena sekali kita masuk maka akan sulit bagi kita untuk keluar dari cengkeramannya. Berbeda dengan Tuhan, ketika Tuhan memimpin Ia tidak pernah mencengkeram siapapun. Tuhan memberikan kebebasan pada manusia untuk memilih apakah ia mau taat pada pimpinan Tuhan atau tidak? Tuhan tidak pernah merasuk siapapun, jadi barang siapa yang merasa terpaksa atau tanpa sadar melakukan sesuatu maka dapatlah dipastikan itu pasti bukan dari Tuhan. Tuhan tidak pernah menguasai seseorang sehingga orang menjadi kehilangan kesadaran, kehilangan kebebasan, kehilangan cara berpikir. Tidak! Tuhan sudah memberikan jalan yang terbaik, kini keputusan ada di tangan manusia, apakah kita mau taat/tidak pada-Nya? Ingat, siapa memilih maka dia yang harus bertanggung jawab akan akibatnya berbeda halnya kalau ia dipaksa melakukan tugas maka dia bisa lepas dari tanggung jawab. Tuhan pun memberikan kebebasan memilih pada Adam dan Hawa dan Tuhan pun sudah memberitahukan akibatnya, makan buah pengetahuan baik dan jahat berarti mati.
Bukan berarti Tuhan kurang bijaksana ketika Ia memilih nelayan-nelayan Galilea, bangsa yang katanya berada dalam kegelapan untuk menjadi alat-Nya. Karena pada jaman itu, selain penggembala domba, nelayan merupakan salah satu pekerjaan yang juga dipandang hina oleh bangsa Israel. Namun Tuhan memanggil orang yang dianggap “bodoh“ untuk membodohkan orang yang merasa diri pandai. Inilah panggilan Tuhan sejati. Apakah cara Tuhan yang berbeda dengan cara dunia ini akan menggagalkan seluruh misi Kerajaan Tuhan? Tidak! Alkitab mencatat murid-murid Kristus yang hanyalah seorang nelayan justru sukses menjalankan misi Kerajaan Allah. Secara logika manusia adalah tidak mungkin namun Tuhan memakai Petrus sebagai pemberita Injil dan 3000 orang bertobat dan masih banyak lagi. Lalu dimana kunci kesuksesan mereka sehingga seorang nelayan dapat mengerjakan pekerjaan besar sedemikian rupa?
Kuncinya adalah mereka telah berhasil keluar dari keadaan yang paling sulit. Seorang nelayan telah terbiasa hidup menderita, ia tahu apa arti penderitaan dan ia tahu bagaimana caranya keluar dari penderitaan maka oleh sebab itu Tuhan Yesus memilih mereka menjadi pengikut-Nya dan mengerjakan misi Kerajaan Allah. Orang yang terbiasa hidup dalam kenyamanan, tidak pernah menderita sepanjang hidupnya pada umumnya tidak memiliki daya juang karena untuk mencapai kesuksesan ia harus lewat dalam bayangan maut dan lembah kekelaman. Esensi panggilan Tuhan, yaitu melihat kembali kepada penderitaan yang sudah dilewati dengan demikian ia dapat membawa Terang pada setiap orang. Inilah jalur yang Tuhan mau pakai pada setiap kita maka kita akan melihat:
1. Kuasa Injil dapat mengubah seseorang. Secara logika, adalah mustahil untuk mengubahkan seseorang karena logika manusia dibangun dengan kausalitas sekuler atau sebab akibat. Manusia sudah dikuasai oleh dosa sehingga sukar baginya untuk keluar dari jeratan dosa. Agustinus mengatakan non-posse non-peccare, manusia tidak mungkin tidak berdosa. Namun ketika Terang itu datang dan kuasa Kristus menyadarkan manusia berdosa maka itu saatnya manusia berubah, manusia yang dulunya berada dalam kegelapan kini ia berada dalam terang. Seorang anak Tuhan yang belum pernah mengalami mujizat diubahkan, yaitu bagaimana Tuhan mengubah dari orang berdosa kembali pada kebenaran maka ia tidak akan pernah mendapatkan kuasa atau power. Ingat, kuasa bukan otoritas, kuasa dari kata dinamos yang berarti kekuatan atau kemampuan untuk mendobrak. Ingat, kekuatan atau kuasa itu bukanlah berasal dari diri sendiri melainkan dari Tuhan karena kalau dari Tuhan maka tidak mungkin manusia yang terbatas bisa mengerjakan pekerjaan Tuhan. Sangatlah disayangkan, Kekristenan kini telah kehilangan kuasa Injil, manusia telah dikunci oleh sekularisme dan dibutakan oleh materialisme. Berjalan bersama Tuhan maka tidak ada hal yang mustahil bagi kita untuk menggenapkan misi Kerajaan Allah, yakni memberitakan Injil pada mereka yang masih berada dalam gelap.

2. Kuasa Injil mempunyai Otoritas Ilahi. Sebagai anak Tuhan, kita harus menyadari bahwa Tuhan, Raja alam semesta yang seharusnya berotoritas atas hidup kita. Logika manusia mungkin melihat bahwa pilihan kita lebih baik namun percayalah pimpinan Tuhan pasti lebih indah meski kelihatan susah jalannya. Jangan pakai otoritas manusia untuk menindas otoritas Tuhan. Ketika kita melihat otoritas Tuhan diinjak-injak maka itulah saatnya anak Tuhan untuk bertindak dan menyatakan kebenaran; jangan takut Tuhan akan memberikan kemampuan dan kekuatan untuk melawan musuh. Membiarkan diri dikuasai oleh otoritasasi dunia sama halnya menyerahkan hidup pada jurang kehancuran. Selama kita tidak kembali pada Tuhan dan bertobat maka kita akan mudah dipermainkan dunia. Memang, bukanlah hal yang mudah menggenapkan rencana Tuhan di dunia yang kacau ini namun percayalah otorisasi Tuhan lebih berkuasa dari otorisasi siapun di dunia sehingga rencana Tuhan tidak mungkin digagalkan oleh manusia. Sangatlah disayangkan, hari ini banyak orang Kristen takut menghadapi tantangan, mereka selalu menggunakan logika ketika hendak mengerjakan pekerjaan Tuhan yang besar. Seorang pelayan sejati mau tunduk mutlak dan mempunyai jiwa yang taat dan hal ini berlaku di semua aspek hidup kita, baik ketika kita memilih pekerjaan, studi, teman hidup, dan lain-lain. Ketika otorisasi Tuhan sedang dijalankan pasti banyak tantangan yang harus dihadapi namun jangan takut dengan kekuatan dari Tuhan kita pasti bisa menghadapinya dengan demikian kita mempunyai kesaksian indah dan menjadi berkat bagi banyak orang. Tuhan telah memberikan pada kita untuk hidup dalam Terang sehingga kita dapat merasakan indahnya berjalan dalam kuasa Terang karena itu jangan sia-siakan kesempatan.

3. Kuasa Injil memberikan Bijaksana Ilahi. Rencana Allah sungguh amat bijaksana, Ia sudah menata sedemikian rupa supaya Kristus pergi ke utara, daerah yang berada dalam kegelapan dan kemudian turun lagi ke daerah selatan. Manusia tidak pernah mengerti kenapa harus Kapernaum yang menjadi pusat dari pelayanan Kristus pertama kali? Begitu pula di kehidupan kita terkadang kita tidak mengerti kenapa Tuhan memberikan pekerjaan yang kita rasa tidak berarti, kenapa Tuhan menempatkan kita di kota yang kecil? Janganlah kita mempercepat sejarah yang Tuhan sedang tata dengan bijaksana. Manusia selalu ingin melihat hasil akhir yang berakhir dengan kesuksesan namun itu justru membuat kita hancur. Rencana dan waktu Tuhan adalah yang terbaik, Ia tahu dari mana harus dimulai, bagaimana harus mencapai kesuksesan dan waktunya berapa lama. Kalau kita dihadapkan pada dua pilihan pekerjaan, yaitu memilih menggenapkan rencana Tuhan namun gaji kecil atau gaji besar dengan pekerjaan yang menyita waktu sehingga kita tidak dapat menggenapkan rencana Tuhan; manakah yang akan kita pilih? Orang Kristen yang materialisme humanis pasti akan memilih pilihan kedua meskipun kita tidak dapat mengerjakan panggilan Tuhan. Apakah itu merupakan keputusan yang bijaksana?
Bijak adalah tahu mengambil keputusan apa yang paling tepat dengan demikian kita tidak menjadi salah langkah karena keputusan itu akan menentukan posisi kita, yaitu sebagai anak Tuhan atau anak iblis. Tidak setiap orang pandai yang berintelektual tinggi mempunyai bijaksana karena orang pandai biasanya selalu terkunci dengan rasio sehingga sukar baginya untuk melihat pekerjaan Tuhan. Kepandaian bukanlah hal yang utama tapi kecermatan melihat segala sesuatu secara integratif itulah hikmat sejati yang melampaui intelektualitas, empirisme dan pikiran manusia. Dunia hanya menuju pada kehancuran maka hendaklah kita balik pada bijaksana Ilahi yang menjadikan sebagai pemberita Terang Tuhan. Tuhan memanggil kita dan memberikan kuasa pada kita untuk melewati tantangan dan kuasa itu tidak menjadikan kita egois sebaliknya Ia mau supaya kita membawa Terang. Kuasa pemberitaan akan muncul kalau kita hidup bersama Tuhan yang memberikan hikmat dan bijaksana. Inilah kekuatan kerygma.
Puji Tuhan kalau Ia masih berkenan memakai kita manusia yang terbatas ini sebagai pembawa berita kebenaran sehingga orang-orang yang berada dalam kegelapan kembali pada Terang sejati. Panggilan Tuhan, penderitaan yang kita alami dan berita yang kita sampaikan merupakan satu ikatan yang saling terkait. Bagaimana mungkin buah zaitun akan menjadi minyak kalau ia tak ditekan? Bagaimana mungkin buah anggur akan menjadi anggur kalau ia tak diperas? Tiap pukulan Tuhan pasti berguna karena Dia sedang menggembleng kita dengan demikian kita semakin jelas melihat esensi panggilan Tuhan sehingga kita mempunyai kekuatan dan kuasa untuk memberitakan Injil dan dengan bijaksana Ilahi hendaklah kita dipakai menjadi saksi bagi-Nya, memancarkan terang di tengah dunia yang gelap ini. Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber :

Resensi Buku-23 : ALKITAB DAN AKHIR ZAMAN (Prof. Anthony A. Hoekema, Th.D.)

...Dapatkan segera...
Buku
THE BIBLE AND THE FUTURE
(Alkitab dan Akhir Zaman)

oleh : Prof. Anthony A. Hoekema, Th.D.

Penerbit : Momentum Christian Literature (Fine Book Selection), 2004

Penerjemah : Ev. Kalvin S. Budiman.





Buku ini merupakan suatu studi mengenai eskatologi Alkitab, yaitu pengajaran Alkitab mengenai akhir zaman. Berdasarkan tesis bahwa eskatologi adalah realitas yang meliputi baik masa kini maupun masa yang akan datang, penulis membagi buku ini menjadi dua bagian besar.

Bagian Pertama. Eskatologi yang telah ditegakkan (Inaugurated Eschatology), berkenaan dengan berkat-berkat eskatologis yang sekarang telah dinikmati oleh komunitas umat tebusan. Bagian Kedua. Eskatologi yang akan datang (Future Eschatology), membahas topik-topik seperti keberadaan orang percaya di masa antara kematian dan kebangkitan, tanda-tanda zaman, kedatangan Kristus yang kedua kalinya, milenium (kerajaan seribu tahun), kebangkitan tubuh, penghakiman terakhir dan bumi yang baru.

Dalam buku ini, penulis menguraikan keempat pandangan utama konsep milenium : pandangan postmilenialisme, premilenialisme historis, premilenialisme dispensasi, dan amilenialisme. Ayat-ayat Alkitab yang berkaitan dieksegesis oleh penulis secara teliti. Ini merupakan suatu studi yang mendalam mengenai akhir zaman. Buku ini akan menghidupkan kembali pengharapan Kristen dalam diri umat Allah.

Buku ini mendapat rekomendasi dari Dr. Herman N. Ridderbos.





Profil Dr. Anthony A. Hoekema :
Prof. Anthony A. Hoekema, Th.D. (1913-1988) adalah seorang theolog Kristen yang melayani sebagai profesor Theologia Sistematika di Calvin Theological Seminary selama 21 tahun.
Hoekema lahir di Belanda tetapi berimigrasi ke Amerika Serikat pada tahun 1923. Beliau meraih gelar Bachelor of Arts (B.A.) dari Calvin College, Master of Arts (M.A.) dari University of Michigan, Bachelor of Theology (Th.B.) dari Calvin Theological Seminary dan Doctor of Theology (Th.D.) dari Princeton Theological Seminary pada tahun 1953. Setelah menggembalakan beberapa gereja-gereja Kristen Reformed (1944-1956), beliau menjadi Associate Professor of Bible di Calvin College (1956-58). Dari tahun 1958 sampai dengan 1979, ketika pensiun, beliau adalah Profesor Theologia Sistematika di Calvin Theological Seminary di Grand Rapids, Michigan.

Beliau menulis beberapa buku yang terkenal, antara lain :
· The Four Major Cults: Christian Science, Jehovah's Witnesses, Mormonism, Seventh-Day Adventism (1963)
· What about Tongue-Speaking? (1966)
· Holy Spirit Baptism (1972)
· The Bible and the Future (1979)

Di Indonesia, buku dari Dr. Hoekema yang telah diterjemahkan, antara lain : Alkitab dan Akhir Zaman ; Manusia : Ciptaan Menurut Gambar Allah (diterjemahkan dari Created in God’s Image) ; dan Diselamatkan Oleh Anugerah (diterjemahkan dari Saved by Grace)

Roma 3:10-12 : BERDOSA TERHADAP ALLAH-1

Seri Eksposisi Surat Roma :
Kasih dan Keadilan Allah-3


Berdosa Terhadap Allah-1

oleh : Denny Teguh Sutandio


Nats : Roma 3:10-12.

Setelah Paulus memaparkan tentang tiga sifat dosa, maka ia mulai menguraikan masing-masing dosa tersebut mulai ayat 10 sampai dengan 18 yang meliputi dosa secara pikiran, perasaan, perkataan dan berakhir pada dosa tindakan. Khusus pada bagian ini, saya hanya akan membahas hanya tiga ayat, mulai ayat 10-12 yang berbicara mengenai presuposisi dasar dari dosa itu sendiri, di mana semua dosa di dalam ketiga ayat ini adalah berdosa kepada Allah, bukan berdosa biasa (hanya sekedar kelemahan manusia, dll). Setiap dosa pada intinya bukan sekedar dosa biasa seperti orang-orang postmodern paparkan, tetapi lebih menunjuk kepada dosa kepada Allah, karena dosa sebenarnya adalah pelarian dari kehendak Allah atau ketidaksetiaan kepada-Nya dan perintah-Nya. Mari kita melihat wujud-wujudnya.

Ayat 10 dimulai dengan pernyataan, “Tidak ada yang benar, seorangpun tidak.” International Standard Version (ISV) menerjemahkan, “Not even one person is righteous.” (= “Tidak satu orang pun yang baik adil.”) Terjemahan ISV memang hampir sama dengan banyak terjemahan Inggris lainnya dan Indonesia, tetapi terjemahan ini dirangkum di dalam satu pernyataan yang tidak diulang yaitu tidak satu orang pun yang baik adil/benar, sedangkan banyak terjemahan (KJV, Terjemahan Baru LAI, ESV) sama-sama menggunakan pengulangan, yaitu, “Tidak ada yang benar, seorangpun tidak.” Ayat 10 ini hendak menunjukkan kepada kita bahwa tidak ada seorang pun yang tidak berbuat dosa. Ini sifat dosa pertama yang Paulus telah ungkapkan di ayat 9, yaitu dosa yang universal, tidak peduli pria wanita, tinggi pendek, besar kecil, orang tua maupun anak-anak, dll, semua orang sudah berdosa atau tidak ada yang benar. Apa yang dimaksud dengan kata “benar” di sini ? Kata “benar” dalam ayat ini di dalam terjemahan Inggris adalah righteous, di mana bahasa Yunaninya dikaios yang bisa berarti baik adil. Kalau kita melihat referensi ayat ini yaitu di dalam Mazmur 14:1-3 (khususnya ayat 3b) dan Mazmur 53:2-4 (khususnya ayat 4b), maka kata “benar” berarti berbuat baik, di mana kata ini dalam bahasa Ibrani juga bisa berarti baik, benar, adil. Selain dosa yang bersifat universal, ayat ini juga bisa menandakan ketidakadaan standar benar bagi manusia. Ketika Paulus mengajarkan bahwa tidak ada yang benar, tentu saja ia juga mengajarkan bahwa orang yang tidak benar itu sendirinya tidak mengenal apa itu benar/kebenaran (standar kebenaran). Mengapa demikian ? Standar kebenaran sudah dicemari oleh dosa manusia ketika manusia pertama (Adam dan Hawa) mulai mengganti otoritas Allah sebagai Sumber Kebenaran dengan dirinya yang menempatkan iblis sebagai “sumber kebenaran”. Dosa mengakibatkan standar kebenaran menjadi pudar dan kehilangan arah. Tidak heran, karena kehilangan standar ini, manusia mulai mencari “standar-standar” lain yang dirasa mampu memenuhi kebutuhan akan keterhilangan makna hidup yang dahulu diisi oleh Kebenaran Allah. Apakah “standar-standar” itu ? Bisa berupa rasio, materi, seks, kehebatan diri, kekuasaan, dll. Semua “standar” ini akhirnya mengakibatkan mereka melakukan apapun tanpa pertanggungjawaban dan pengertian yang beres, lalu mereka menyangka bahwa dengan berbuat baik mereka sudah “dibenarkan” Allah. Itu semua adalah akibat kehilangan standar kebenaran. Bagaimana dengan kita ? Apakah kita sebagai orang Kristen sudah mengenal Kebenaran ? Ataukah kita masih tidak mengenal Kebenaran meskipun sudah berpuluh-puluh tahun mengikut Kristus apalagi melayani Tuhan ? Jika kita belum mengenal Kebenaran Allah di dalam Alkitab, maka belajar berusahalah mengenal-Nya karena Ia adalah Sumber Kehidupan dan Kebenaran bagi kita yang tersesat. Semakin kita meniadakan-Nya, tidak berarti hidup kita semakin beres, sebaliknya hidup kita semakin tak bernilai, tersesat dan akhirnya binasa.

Salah satu “standar-standar” palsu yang manusia buat adalah mengilahkan rasio sebagai “kebenaran”. Mereka pikir rasio adalah segala-galanya, padahal Allah melalui Paulus berkata, “Tidak ada seorangpun yang berakal budi,” (Roma 3:11a) Terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) mengartikannya, “tidak seorang pun yang mengerti”. Kata “mengerti” dalam BIS lebih tepat dengan terjemahan bahasa Inggris : understand (mengerti). Kalau kita coba menelusuri lebih lanjut di dalam Mazmur 14:1-4 (khususnya ayat 2) dan Mazmur 53:2-4 (khususnya ayat 3), kita akan mendapati satu fakta yang lebih mendalam, yaitu Allah melihat dari Surga untuk mengamati apakah ada anak-anak manusia yang berakal budi dan mencari Allah. Ini berarti apa yang manusia anggap di dalam rasio sebagai “kebenaran”, bagi Allah, itu suatu kesia-siaan, karena dari Surga Allah memandang ke bawah untuk mencari manusia yang berakal budi, tetapi ditutup dengan kesimpulan bahwa mereka hidup telah menyimpang dari jalan-Nya. Ini seharusnya menjadi peringatan bagi kita yang terus mendewakan rasio kita. Rasio memang dianugerahkan oleh Allah untuk dipakai memuliakan Allah, tetapi rasio manusia tetap terbatas, sehingga apapun yang melampaui rasio biarlah iman yang berbicara dan mendahuluinya. Mujizat memang tidak dapat dipikirkan secara rasio tetapi itu bukan illogical (tidak masuk akal), tetapi di luar kemampuan akal manusia. Mengapa Allah mengatakan bahwa tidak ada orang yang mengerti sedangkan banyak dari mereka selalu menganggap diri serba mengerti apapun ? Mereka dianggap oleh Allah tidak berakal budi/mengerti karena pengertian dan akal budi mereka dibangun di atas presuposisi superioritas manusia dan kehebatannya yang melawan Allah. Pengertian yang sejati dibangun bukan di luar Allah dan Firman-Nya, tetapi di atas dasar Firman Allah, karena takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan (Amsal 1:7a). Kata “takut” ini bukan sekedar perasaan, seperti kita “takut” setan di malam hari. “Takut” di sini menunjukkan suatu sikap hati dan pikiran kita yang hanya berfokus kepada Allah dan Firman-Nya, Alkitab. Marilah kita berusaha membangun pengertian di atas dasar Alkitab, karena itulah pengertian yang Allah kehendaki.

Apakah akibat dari orang yang tidak mengerti/berakal budi ? Akibatnya adalah mereka menjadi pragmatis dan atheis, masa bodoh apakah ada Allah atau tidak. Mengapa bisa demikian ? Orang yang tidak mengerti Kebenaran tentu akan masa bodoh/cuek apakah Kebenaran itu ada, karena bagi orang itu, yang penting adalah bagaimana menikmati hidup seenak dan sepraktis mungkin (tanpa mempedulikan eksistensi Allah, bahkan kalau perlu meniadakan eksistensi Allah itu lebih “enak”, karena baginya “Allah” itu sangat “mengganggu” dengan beragam peraturan yang “mengikat”nya). Tepatlah, apa yang Allah katakan melalui Paulus, “tidak ada seorangpun yang mencari Allah” (ayat 11b). Kata “mencari” dalam bahasa Yunani bisa berarti menyembah (worship). Seperti yang telah saya katakan, seorang yang sudah tidak berakal budi, tentu hidup pragmatis, masa bodoh dengan keberadaan Allah, dan tentunya orang tersebut tidak perlu mencari/menyembah Allah. Itulah kondisi semua manusia berdosa. Tetapi sayangnya realita ini tidak disukai oleh manusia. Sambil berdosa, manusia berupaya membangun suatu agama sebagai suatu “pencarian” akan “Allah”. Jadi, di dalam agama, manusia bukan mencari penyelesaian dari dosa, tetapi malahan menambah dosa dengan mengatakan “yang bukan Allah” sebagai “Allah” bahkan tidak jarang yang mengilahkan dirinya sendiri. Kalau kita kembali mereferensikan ayat ini dengan Mazmur 14:2 dan Mazmur 53:3, maka sudah jelas perkataan bahwa tidak ada seorangpun yang mencari Allah itu bukan dilontarkan oleh manusia, tetapi oleh Allah sendiri. Allah yang sejati berfirman bahwa tidak ada seorang pun yang mencari/menyembah-Nya. Ini berarti ada suatu konfirmasi dari Allah sendiri tentang realita kebobrokan manusia yang bukan mencari perkenanan Allah, tetapi malahan membuat Allah murka (bandingkan Mazmur 14:1 ; 53:2). Hal serupa juga terjadi dalam perjalanan bangsa Israel. Mereka sudah memiliki Taurat, lalu mereka sombong, beberapa raja mereka dikisahkan menyelesaikan persoalannya tanpa mengandalkan Allah. Hal ini terus berlangsung di zaman Tuhan Yesus, ketika Kristus menyatakan Kebenaran, bukan orang atheis yang menolak-Nya, tetapi justru para ahli Taurat/agamawan yang menolak dan bahkan menyalibkan-Nya. Apakah dengan menyelidiki Taurat, sebenarnya para ahli Taurat sedang mencari dan menyembah Allah? TIDAK. Mereka sebenarnya sedang mencari celah-celah agar Taurat dapat dijadikan hukum bagi orang-orang Yahudi lalu membuat pengecualian bagi para ahli Taurat sendiri. Apakah kita juga berlaku demikian dengan mencari ayat-ayat Alkitab yang cocok tanpa mengerti keseluruhan Alkitab ? Jika kita berlaku demikian, kita tidak ada bedanya dengan para ahli Taurat dan kita tidak sedang mencari/menyembah Allah, tetapi sedang memperalat Allah. Marilah kita mengintrospeksi hal ini, apakah kita sedang mencari/menyembah Allah atau kita menyembah diri dan memperalat Allah ?

Seorang yang tidak menyembah/mencari Allah pastilah hidupnya tidak berarah. Tepatlah seperti yang Paulus katakan di ayat berikutnya, yaitu ayat 12a, “Semua orang telah menyeleweng,” BIS mengartikannya “sudah menjauhkan diri dari Allah ;” Terjemahan Yunani bisa diartikan menghindari (avoid) atau menurun dari standar kekudusan/kesalehan (decline {from piety}). Hidup yang tidak berarah dari orang yang tidak menyembah Allah pastilah orang itu di dalam hidupnya selalu menjauhkan dirinya dari Allah atau “membunuh” Allah, persis seperti yang dilakukan oleh F. Nietzsche dengan ide gilanya “DOG (Death of God) Theology” yang mengajarkan bahwa “Allah” sudah “dibunuh mati” oleh dirinya bukan dengan senjata tetapi dengan pikirannya sendiri. Inilah kegilaan manusia yang berdosa. Mengapa mereka menjauhkan diri dari Allah ? Mereka melakukan hal itu karena mereka menganggap bahwa diri merekalah “Allah” yang hebat, superior, dll. Hal ini pertama kali dilakukan oleh Adam dan Hawa yang menyeleweng atau menjauhkan diri dari Allah ketika iblis menawari mereka untuk makan buah pengetahuan yang baik dan jahat. Mereka menganggap diri mereka yang berhak menentukan manakah yang benar, Allah atau iblis. Dan ketika mereka bertindak demikian, maka tentulah iblis yang mereka pilih, mengapa ? Karena iblis lah yang lebih cocok dengan keinginan berdosa mereka. Bangsa Israel berlaku hal yang tidak jauh berbeda. Mereka setia kepada Allah di kala penderitaan menyerang dan ketika tidak ada penderitaan, mereka berubah setia dan menyembah ilah-ilah lain. Ketika mereka menyembah ilah lain, mereka sedang menempatkan diri mereka sebagai yang superior dan menjauhkan diri dari Allah. Mereka hanya mau Allah memenuhi keinginan mereka dan ketika Allah tidak mengabulkan permintaan mereka, mereka marah dan bersungut-sungut. Ini jugalah kehidupan orang-orang di abad postmodern yang serba pragmatis, dualis, humanis dan materialis. Iman tidak lagi menjadi hal yang paling penting dan mendasar, tetapi hal-hal sekuler lah yang menjadi “ilah” di dalam hidup mereka. Tidak heran, seorang dosen “Kristen” menyatakan bahwa religion dan science tidak ada hubungannya (pengaruh dualisme Plato). Apakah ketika mereka menganggap diri hebat, superior dan tidak membutuhkan Allah dengan menjauhkan diri dari-Nya, berarti mereka memang benar-benar hebat, berguna, dll ? TIDAK.

Orang yang selalu menganggap diri hebat, pandai, superior, dll, di mata Allah, “mereka semua tidak berguna,” (ayat 12). Kata “tidak berguna” di dalam terjemahan BIS adalah “sesat”. Sebenarnya di mata Allah, orang dunia yang selalu menganggap diri hebat adalah tidak ada apa-apanya atau tidak berguna atau tidak layak (worthless). Mengapa Allah mengatakan “tidak berguna” bagi mereka yang sombong atau menyombongkan diri ? Karena Allah menghendaki kita bersikap rendah hati. Bagi Allah, seorang yang rendah hati lah yang disebut berbahagia (Matius 5:5 ; BIS). Pemikiran Allah ini tentu berbeda dari pemikiran manusia di dalam memandang masalah konsep nilai. Manusia selalu menganggap diri orang baik kalau mereka telah berbuat baik, tetapi bagi Allah, manusia yang baik adalah manusia yang menganggap diri tidak baik yang perlu proses pembenaran terus-menerus. Perbedaan ini bukan perbedaan biasa, tetapi perbedaan yang signifikan, di mana ketika kita memang baik tetapi tidak berani mengatakan diri orang baik berarti kita rendah hati dan ingin terus-menerus diproses oleh Tuhan, sehingga justru menunjukkan kebaikan kita itu sejati. Jika tidak, lalu kita menggembar-gemborkan diri sebagai orang baik lalu layak masuk Surga karena perbuatan baik kita, di titik pertama, kita sudah tidak baik, karena orang baik bagi Allah adalah orang yang dinilai Allah mau berada di dalam proses pembenaran dan pengudusan terus-menerus yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Tanpa itu, jangan harap ada orang disebut Allah sebagai orang baik. Orang dunia yang selalu menganggap diri hebat, baik, dll, bukan hanya dikatakan tidak berguna, tetapi juga SESAT. Mengapa SESAT ? Karena mereka ingin mencari apa yang ingin mereka capai tanpa mempedulikan Allah. SESAT di mata Allah berarti tidak berada di dalam jalur yang Allah tetapkan. Bagaimana dengan kita ? Apakah kita juga menganggap diri berguna lalu kita menjadi sombong ? Berhati-hatilah, ketika kita menganggap diri “berguna”, justru di situlah, Allah menganggapnya tidak berguna. Biasakanlah diri kita untuk menempatkan diri sebagai hamba yang rendah hati yang menganggap diri hanya sebagai sarana Tuhan bukan Tuhan sendiri, sehingga apapun yang kita kerjakan adalah untuk memuliakan Allah, dan bukan memuliakan diri.

Orang yang tidak berguna atau sesat akan berakibat orang itu mutlak tidak dapat bisa berbuat baik, seperti yang dikatakan Paulus, “tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak.” Kata “berbuat baik” di dalam terjemahan BIS adalah “berbuat yang benar”. Apakah ada perbedaan dua kata ini ? Tentu. Orang dunia banyak mengklaim diri sudah berbuat baik, padahal benarkah “baik” menurut standar mereka adalah BAIK menurut standar Allah ? Jadi, lebih tepat mengatakan bahwa berbuat benar lebih beres ketimbang berbuat baik. Berbuat benar pasti berbuat baik, tetapi berbuat “baik” belum tentu berbuat benar. Bagi mereka yang menolak menyembah Allah dan yang sesat jalannya tentu tidak suka berbuat benar, karena bagi mereka, kebenaran tidak memiliki signifikan apapun. Bagaimana dengan kita ? Apakah kita sebagai orang yang telah ditebus oleh Kristus juga tidak bertindak apapun yang benar ? Sudah seharusnya kita sebagai anak-anak pilihan-Nya melakukan apa yang benar di mata-Nya karena itulah yang dikehendaki-Nya.

Soli DEO Gloria. Solus Christus.

20 September 2007

Matius 4:12-17 : ESSENCE OF CALLING, SUFFERING AND KERYGMA-2

Ringkasan Khotbah : 1 Agustus 2004


Essence of Calling, Suffering & Kerygma (2)


oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 4:12-17


Alkitab mencatat Tuhan Yesus memulai pelayanan-Nya setelah Yohanes ditangkap. Hal ini membuat orang berpandangan negatif pada pelayanan yang Yesus kerjakan karena “sepertinya“ Tuhan Yesus memang sedang menantikan Yohanes Pembaptis berhenti melayani untuk kemudian digantikan posisinya. Manusia pada umumnya ingin kalau ia menggantikan posisi atau pekerjaan seseorang maka segala sesuatunya haruslah sudah dipersiapkan dan berjalan lancar dengan demikian ia tidak akan menemui kesulitan. Akibatnya ia tidak siap ketika mendapati situasi dan kondisi berbeda dengan yang diharapkan. Puji Tuhan, Tuhan Yesus tidak terjebak dengan situasi, Ia telah siap dengan segala situasi bahkan situasi yang terburuk sekalipun karena pelayanan yang Tuhan Yesus gantikan ternyata tidaklah mengenakkan malahan sangat membahayakan namun dari sinilah kita melihat esensi panggilan sejati.
Bentuk pelayanan Yesus berbeda dengan yang dipikirkan manusia. Ketika Tuhan memanggil kita, Tuhan tidak pernah menjanjikan segala sesuatu akan berjalan lancar dan enak, Tuhan juga tidak janjikan hidup kita tidak jumpa susah dan penderitaan. Tidak! Yesus Kristus, Anak Allah yang tunggal itupun menderita ketika Ia datang ke dunia. Kini tiba waktunya bagi Tuhan Yesus, sang Mesias yang menjadi berita utama itu untuk tampil melayani setelah Yohanes Pembaptis, sang pembuka jalan itu ditangkap. Namun tantangan yang harus dihadapi Tuhan Yesus sangat berat karena sama halnya seperti Yohanes Pembaptis, Tuhan Yesus juga mendapat penolakan dari Herodes, penguasa pada jaman itu. Bayangkan, bagaimana Herodes tidak murka, dengan ditangkapnya Yohanes, ia berharap tidak akan ada lagi orang yang memberitakan berita: “Bertobatlah sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!“ Kini Herodes justru mendapati orang yang berbeda namun memberitakan berita yang sama dan hal ini membuat geram hati Raja Herodes. Maka dengan segala cara dan upaya Herodes menghancurkan setiap orang yang memberitakan berita kebenaran tersebut namun tantangan berat ini tidak menggentarkan hati Tuhan Yesus, Ia tidak menggeser sedikitpun berita kebenaran.

Banyak orang yang menafsirkan salah dengan kembalinya Yesus ke Galilea. Ingat, Yesus menyingkir ke Galilea bukan karena Ia mau menghindar dari ancaman Herodes. Tidak! Karena itu diperlukan empat Injil untuk melihat satu pribadi Yesus. Satu buku atau satu pandangan saja tidaklah cukup untuk menuliskan biografi seseorang. Injil Lukas melihat Kristus secara sejarah dan kronologis, yakni mulai dari Dia lahir sampai kematian-Nya sebaliknya injil Yohanes melihat Kristus, Firman Allah yang menjadi manusia. Injil Markus melihat Kristus sebagai seorang hamba Allah, seorang yang melayani Allah, maka kalau kita membaca tulisan Markus kita akan merasakan Yesus layaknya seorang manusia yang melayani yang pernah ada di bumi namun kontras dengan injil Matius yang menggambarkan Kristus sebagai seorang Raja yang berkuasa, maka kita akan menjumpai kata “Kerajaan Sorga“ di setiap tulisannya; kerajaan Kristus dimulai dari Yesus memanggil dua belas murid kemudian berkembang menjadi kerajaan Sorga yang besar.

Kalau kita melihat Yesus secara segmentasi, yaitu Yesus sebatas manusia, atau Yesus sebatas Raja atau Yesus sebatas Allah berarti kita gagal mengenal Yesus yang adalah Allah dan manusia. Kegagalan ini disebabkan karena orang telah terpaku pada subyektifitas diri. Injil Matius mau melihat Kristus dari sudut pandang Yesus Kristus, seorang Raja yang sedang memberitakan Kerajaan Sorga mulai dari biji sesawi sampai menjadi pohon besar dimana burung dapat berteduh dalamnya. Ingat, Matius maupun Injil yang lain tidak menulis semua hal tentang Kristus secara detail, hanya hal-hal yang mereka anggap sangat penting saja itulah yang ditulis. Dari injil Matius, kita melihat Yesus tidak sepenuhnya berada di Galilea tapi kalau kita bandingkan dengan Injil yang lain maka kita akan menjumpai Yesus pernah ke daerah Yordan bahkan ke Yerusalem. Namun hal ini tidak ditulis oleh Matius karena bukan di sana fokusnya.

Matius mau menunjukkan bahwa pelayanan Yesus dimulai dari Galilea karena Matius ingin supaya pembacanya melihat mulainya pelayanan Yesus, kemudian kita melihat bagaimana Tuhan Yesus melangkah selangkah demi selangkah memulai misi-Nya hingga berakhir di Yerusalem. Matius melihat Tuhan memanggil secara progresif, yakni kita melihat pimpinan Tuhan selangkah demi selangkah. Namun dunia modern dimana teknologi telah berkembang pesat menjadikan manusia ingin segala sesuatu haruslah serba cepat, orang selalu ingin melihat hasil akhirnya terlebih dahulu sebelum ia melangkah lebih jauh. Cara Tuhan memimpin berbeda, Ia menuntun kita selangkah demi selangkah, Ia tidak menunjukkan pada kita hasil akhirnya. Seperti halnya orang yang sedang berjalan di kegelapan malam yang pekat dengan membawa sebuah lentera kecil sehingga ia hanya dapat melihat dengan jarak pandang yang terbatas, ia tidak dapat melihat jalan tersebut akan berakhir dimana namun seiring dengan langkahnya maka lentera itupun turut menerangi jalannya. Tuhan ingin supaya manusia selalu bersandar pada pimpinan Tuhan.

I. Pelayanan yang Taat Pimpinan Tuhan
Tuhan Yesus ketika hendak memulai pelayanannya, Ia tidak langsung terjun melayani melainkan Ia retreat berdiam diri di Kapernaum sehingga hal ini dapatlah kita teladani bahwa saat kita melayani mungkin Tuhan ingin supaya kita mundur terlebih dahulu. Secara manusia terkadang kita tidak rela ketika Tuhan meminta kita untuk mundur apalagi kalau kita sudah tahu hasil akhirnya. Retreatnya Tuhan Yesus justru mempunyai makna yang sangat besar. Galilea merupakan awal bagi Kristus menjalankan misi-Nya, yaitu dari dua belas murid. Tuhan membentuk setiap anak-Nya seiring dengan berjalannya waktu yang terus berproses dengan demikian kita mempunyai pondasi yang kuat sehingga tidak mudah digoncangkan oleh bujuk rayu iblis. Ketika melangkah kita harus belajar untuk mundur dan melihat apa rencana Tuhan atas hidup kita.

Kita telah memahami bahwa cara Tuhan memimpin berbeda dengan cara iblis. Tuhan memimpin manusia selangkah demi selangkah berbeda dengan iblis yang menawarkan jalan pintas. Manusia melihat jalan pintas yang ditawarkan iblis itu nampak indah namun manusia tidak menyadari jalan pintas yang dipilih tersebut justru merupakan titik kehancuran. Karena itu sebagai anak Tuhan hendaklah kita senantiasa waspada supaya kita tidak masuk dalam jebakan iblis. Jalan Tuhan memang sulit untuk kita pahami; tujuan sudah nampak di depan mata tapi terkadang Tuhan menuntun memimpin kita untuk berputar. Tuhan tahu justru jalan yang terbaik bagi setiap anak-Nya adalah jalan yang memutar dan panjang bukan jalan pintas. Bukankah untuk sampai pada puncak gunung lebih mudah bagi kita kalau jalan tersebut berkelok-kelok? Namun manusia berdosa merasa diri lebih pandai, lebih bijaksana sehingga ia merasa tidak perlu untuk taat pada Tuhan.


II. Pelayanan yang Dimulai dari Kecil
Jangan melangkah terlalu cepat dan terburu-buru. Orang yang melangkah dengan terburu-buru biasanya akan menjadi batu sandungan. Start with the humble begining, biarlah segala sesuatunya kita mulai dari hal yang sederhana terlebih dahulu. Pada umumnya, manusia ingin mengerjakan hal yang besar dengan tujuan supaya orang lain melihat dan memuji hasil pekerjaannya namun banyak orang tidak siap mental sehingga ia akan mudah jatuh, ia tidak mempunyai pertahanan yang cukup untuk menahan “kebesaran“ dirinya. Seperti halnya gedung kalau pondasinya tidak kuat maka ia akan runtuh ketika datang goncangan dan badai menerpa. Tuhan Yesus memberikan teladan bagi kita, Dia adalah Anak Allah sehingga bukanlah hal yang sulit kalau Ia memulainya dari Yerusalem namun Ia memulai misi-Nya dari kota kecil di Galilea, Kapernaum.


Kapernaum dan Yerusalem terpisah oleh jarak yang sangat jauh tapi Yesus tahu dari sanalah awal dari kekuatan dan kematangan langkah. Orang tidak suka kalau harus memulai pekerjaan dari hal yang kecil terlebih dahulu apalagi kalau mereka sudah terbiasa mengerjakan hal-hal yang besar. Padahal dari hal yang kecil akan menjadikan kita lebih teliti dan kita mempunyai pertahanan mental diri yang kuat. Dalam banyak aspek, kita tidak mau memulai dari bawah terlebih dahulu karena orang seringkali beranggapan bahwa mengerjakan pekerjaan rendah sangat menghinakan mereka. Sebagai anak Tuhan, janganlah kita menganggap rendah dan memandang remeh setiap pelayanan yang dipercayakan Tuhan pada kita bahkan pelayanan yang kecil sekalipun. Pelayanan yang terbaik justru dimulai dari kita mengerti orang lain terlebih dahulu, seperti pelayanan di penyambutan tamu. Berelasi dengan orang lain merupakan cara yang tepat bagi seseorang untuk menunjukkan jiwa pelayanannya. Kalau ia tidak mempunyai jiwa pelayanan maka Tuhan tidak akan memberikan pelayanan lain yang lebih besar padanya. Tuhan Yesus tidak memulai pelayanannya langsung pergi ke Yerusalem meski Ia tahu bahwa pada akhirnya Ia harus ke sana tapi Kristus justru memulai pelayanan-Nya dari kandang domba dan pelayanan-Nya di mulai dari sebuah desa kecil. Hendaklah kita meneladani Yesus yang berjiwa rendah hati dan kesederhanaan.

III. Pelayanan yang Dikerjakan dengan Semangat Tinggi
Pelayanan sejati harus dimulai dari jiwa yang rendah hati dengan demikian pelayanan sekecil apapun kita kerjakan dengan kesungguhan hati bukan asal-asalan. Jiwa pelayanan Tuhan Yesus tidak terpengaruh dengan situasi dan kondisi, meski Kapernaum sebuah desa kecil namun Kristus tetap semangat melayani dan berita yang Ia wartakan tidak berubah, “Bertobatlah sebab Kerajaan Sorga sudah dekat“. Manusia telah terbiasa dikondisikan oleh lingkup yang ada, kalau lingkupnya kecil dan sederhana biasanya orang melakukannya tidak dengan sepenuh hati. Itu berarti kita telah didikte oleh situasi dan kondisi karena lingkungan mendikte kita negatif maka kita pun terpengaruh negatif begitu pula sebaliknya. Puji Tuhan, Kristus tidak terpengaruh sedikitpun oleh situasi maupun kondisi. Situasi merupakan tempat bagi Kristus untuk mengerjakan tugas panggilan-Nya. Tuhan Yesus tahu esensi panggilan itulah sebabnya kesulitan dan penderitaan tidak membuat-Nya undur dari pelayanan.


Panggilan Kekristenan seharusnya tidak menurunkan kualitas pelayanan; kita harus tetap memberitakan Firman, kita tetap bersedia baik atau tidak baik waktunya (2Tim. 4:2). Prinsip ini tidak hanya berlaku dalam pelayanan di gereja semata tapi juga berlaku di sekolah, dunia kerja, dan lain-lain. Karena itu jangan menganggap remeh setiap pekerjaan sederhana yang dipercayakan pada kita tapi hendaklah kita melakukannya dengan sebaik-baiknya. Orang selalu berpikir bahwa pekerjaan yang ia lakukan haruslah setimpal dengan pendapatan yang ia peroleh sehingga kalau pendapatan yang ia terima kecil maka ia akan melakukan tidak dengan sepenuh hati. Kita seharusnya berpikir terbalik, apapun yang kita lakukan haruslah kita kerjakan sebaik mungkin, seluruh kemampuan kita kerahkan sehingga orang lain akan menilai, apakah kita layak atau tidak dipercaya untuk mengerjakan hal-hal yang lebih besar. Dunia membangun citra yang terbalik dengan yang Alkitab ajarkan sehingga hal ini turut mempengaruhi pola pikir dan tingkah laku kita.


Begitu pula dalam pemberitaan Firman, seorang hamba Tuhan tidak boleh terpengaruh dengan jumlah jemaat yang hadir. Meski jumlah jemaat hanya lima orang sekalipun, berita yang kita sampaikan harus tetap konsisten dan bersemangat sama seperti kalau berkhotbah pada seribu orang jemaat. Hal ini berarti hamba Tuhan tersebut tidak dikendalikan oleh situasi maupun kondisi tapi dikendalikan oleh panggilan Tuhan atas hidupnya. Sebagai anak Tuhan kita harus menyadari bahwa Tuhan memanggil untuk menjadi pemberita Firman maka kita akan memberikan yang terbaik pada-Nya. Namun bukan hal yang mudah bagi kita untuk tidak terpengaruh dengan sesuatu yang dapat kita lihat dan kita rasakan. Orang akan goncang kalau melihat situasi yang buruk dan tidak menguntungkan akibatnya kualitas kerja kita merosot. Situasi dunia kini sangat kacau namun kita diuji dalam keadaan kacau demikian apakah esensi panggilan hidup kita mengontrol hidup kita. Ini menjadi hal yang utama.


Panggilan hidup kita bertumbuh seiring dengan ketaatan kita pada pimpinan Tuhan seperti orang yang berjalan dengan lenteranya berjalan di kegelapan malam dengan demikian kita tidak takut menghadapi kesulitan dan penderitaan karena Tuhan beserta. Yang menjadi pertanyaan adalah maukah kita taat pada pimpinan Tuhan dan relakah kita dibentuk oleh Dia? Biarlah hakekat panggilan hidup terus kita sadari sehingga kita mempunyai kekuatan dan kestabilan hidup dengan demikian kita tidak mudah diombang-ambingkan oleh arus dunia yang senantiasa berfluktuasi. Hendaklah kita mencontoh teladan Musa dan Yusuf yang tidak terpengaruh oleh situasi dan kondisi. Kiranya Tuhan menguatkan kita menjalani hidup seturut dengan panggilan Tuhan dalam diri setiap kita. Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

Roma 3:9 : DOSA : TIDAK ADA ALASAN UNTUK BERMEGAH

Seri Eksposisi Surat Roma :
Kasih dan Keadilan Allah-2


Dosa : Tidak Ada Alasan Untuk Bermegah

oleh : Denny Teguh Sutandio


Nats : Roma 3:9.

Setelah Paulus memaparkan tentang realita dosa, maka ia melanjutkan di ayat 9 sebuah pertanyaan awal, “Jadi bagaimana?” Pertanyaan ini merupakan pertanyaan lanjutan dari ayat-ayat sebelumnya dan pertanyaan ini merupakan petunjuk selanjutnya tentang akibat dari realita dosa. Setiap dosa pasti berdampak buruk. Kita melihat bahwa ketika orang-orang Yahudi meskipun sudah mengenal Taurat sekalipun, mereka tidak menaatinya, bahkan melanggarnya. Saat mereka melanggar Taurat, itulah permulaan dosa. Dosa bukan sekedar membunuh, mencuri, dll, itu adalah akibat dosa (akan dibahas pada Roma 3:10-18). Dosa sesungguhnya dapat berarti ketidaktaatan terhadap perintah dan kedaulatan Allah (atau memberontak terhadap Allah). Esensi dosa ini lah yang nantinya mengakibatkan tindakan-tindakan seperti pembunuhan, pencurian, dll. Yang perlu kita perhatikan adalah esensi dosa dan bukan hanya akibat dosa, karena dari esensi timbullah akibat.

Kalau dosa adalah pemberontakan terhadap Allah, maka perlukah kita bermegah di dalamnya ? Paulus mempertanyakan hal ini, “Adakah kita mempunyai kelebihan dari pada orang lain?” Atau terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) mengartikannya, “apakah kedudukan kita sebagai orang Yahudi lebih baik daripada kedudukan bangsa lain?” Saya lebih memilih terjemahan BIS karena terjemahan ini lebih tepat. Dalam tradisi Israel, mereka selalu menganggap diri lebih hebat, lebih beretika, dan lebih daripada bangsa-bangsa kafir lainnya karena orang-orang Yahudi memiliki Taurat. Dengan kata lain, di dalam benak mereka, meskipun mereka berdosa, mereka tetap lebih baik daripada bangsa-bangsa lain karena mereka memiliki Taurat. Benarkah demikian ? Bagaimana dengan kita ? Kita pun juga sebagai orang Kristen setelah mengerti doktrin bahwa sekali diselamatkan selamanya diselamatkan, kita semakin enggan berbuat baik, karena kita berpikir bahwa meskipun kita berbuat dosa sejahat apapun, keselamatan kita tidak mungkin hilang. Sehingga tidak heran, di zaman gereja-gereja Lutheran, banyak moral orang Kristen rusak dan ditertawakan oleh gereja Katolik Roma. Secara kedudukan, orang Kristen memiliki wahyu Allah lebih tinggi agama apapun karena kita telah menerima wahyu khusus Allah di dalam Kristus dan Alkitab, sedangkan agama lainnya hanya merupakan respon terhadap wahyu umum Allah yang terbatas. Tetapi benarkah kita dapat menyombongkan diri akan hal ini ? Paulus menjawab hal ini, “Sama sekali tidak.” (BIS mengartikannya, “Sekali-kali tidak!”). Penggunaan tanda seru di dalam terjemahan BIS menunjukkan suatu penegasan yang penting yang mengajar orang-orang percaya untuk tidak memegahkan diri meskipun sudah memiliki wahyu Allah. Manusia yang berdosa seringkali masih tidak menyadari dirinya berdosa, tetapi berusaha menutupi dosa-dosanya dengan beribu dalih yang malahan membuat dirinya makin berdosa. Contohnya, banyak orang yang belum percaya di dalam Kristus masih menganggap diri hebat, baik, bahkan berani membanggakan diri kalau dia tidak ada maka seluruh dunia akan kacau (seperti dia adalah “Tuhan”). Ini adalah apa yang paman saya dari luar pulau lakukan dan katakan. Dia menganggap diri “juruselamat” bagi orang lain, suka “menolong”, padahal menurut saya, yang paling perlu ditolong adalah dia sendiri, karena kebodohannya sendiri. Untuk hal ini, Paulus dengan tegas mengajarkan bahwa kalau kita berdosa, janganlah bermegah atas dosa kita, karena itu hal yang tidak layak dilakukan. Sama seperti orang yang sudah berlumuran lumpur tetapi tetap mengaku bahwa tubuh dan bajunya tetap bersih, bukankah itu suatu tindakan konyol dan absurd (tidak masuk akal) ? Itulah manusia berdosa khususnya di abad postmodern yang gila ini. Tidak heran, di abad yang gila ini, muncullah Gerakan Zaman Baru dan psikologi sebagai akibat dari filsafat humanisme yang makin meniadakan realita keberdosaan manusia. Lalu, mereka menganggap diri mereka “allah” yang dapat menyelamatkan diri sendiri dan orang lain (termasuk paman saya yang saya barusan ceritakan di atas). Bagi Allah, semakin manusia menganggap diri tidak berdosa (atau mengatakan bahwa dosa itu hanya ilusi atau suatu kesalahan biasa atau sisi lain dari kebaikan di dalam konsep Yin-Yang), maka mereka justru semakin berdosa. Di dalam Matius 23, Tuhan Yesus menegur orang-orang Farisi sebagai orang-orang munafik, karena Ia mengetahui dan mengenal isi hati setiap orang, sehingga meskipun kita kelihatan baik di luar, tetapi Allah melihat hati kita dan ternyata hati kita busuk adanya. Ketika memilih Daud sebagai raja Israel menggantikan Saul, Allah tidak melihat paras wajah, tetapi hati, sehingga Ia tepat memilih Daud meskipun Daud sempat berdosa. Mengapa Allah tidak memilih hal-hal yang tampak baik di luar ? Karena penampilan luar bisa menipu, tetapi hati tidak bisa menipu dan itulah yang diinginkan Allah. Seperti paman saya yang saya paparkan di atas, sehari-hari paman saya (seorang free-thinker, pluralis, relativis, humanis dan penganut mistisisme) selalu “menolong” orang yang “diganggu” setan, kelihatannya paman saya “baik” karena “menolong”, tetapi coba selidiki dan perhatikanlah dengan seksama motivasi dan perkataannya, itu semua keluar dari hati yang busuk. Mengapa demikian ? Karena ia melakukannya : pertama, jelas bukan dari Tuhan, karena ia berguru kepada dukun yang katanya memiliki ilmu “putih”. Kedua, dengan berusaha memegahkan diri sebagai orang yang paling hebat, pintar, bijaksana, dan bahkan semua orang jahat yang bertemu dengannya menjadi “takut”. Sungguh aneh, bukan ? Katanya dia menyembah “Tuhan”, tetapi dari perkataan dan motivasinya, yang selalu ditinggikan bukan Allah tetapi dirinya sendiri. Pernah ada suatu peristiwa ketika kerabat keluarga ada yang meninggal, paman saya langsung mengatakan bahwa kalau dirinya ada di sana sebelum meninggal, maka orang itu tidak perlu meninggal. Dalam hati dan pikiran saya, saya bertanya bahwa dia jelas bukan Tuhan, tetapi dia pura-pura dan merasa diri sebagai “Tuhan”, tetapi sambil mengaku dengan mulut bibirnya bahwa dia menyembah “Tuhan”. Bukankah ini suatu kontradiksi yang aneh dan gila ?! Seorang yang bermegah karena telah berbuat baik padahal dia masih berdosa, pasti mengalami kekacauan di dalam dirinya sendiri. Pdt. Dr. Stephen Tong menyebutnya self-defeating contradiction (kontradiksi yang menyerang diri sendiri). Mengapa bisa demikian ?

Di dalam perkataan berikutnya, Paulus memaparkan penyebabnya, “Sebab di atas telah kita tuduh baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, bahwa mereka semua ada di bawah kuasa dosa,” Manusia yang berdosa tetapi masih tetap bermegah karena telah berbuat baik pasti tidak menemukan jalan keluar dari dosanya, tetapi malah berkanjang di dalam dosa yang semakin hari semakin mengikat dirinya secara tidak sadar. Itulah yang Paulus paparkan bahwa tidak peduli siapapun, baik orang Yahudi (yang religius), Yunani (dianggap “kafir”), dan orang dari bangsa, agama, jenis kelamin, ras, dan kedudukan sosial manapun semuanya sudah berdosa atau berada di bawah kuasa dosa (BIS : “semuanya sudah dikuasai oleh dosa.”). Inilah sifat dosa pertama yaitu universal, yaitu tidak memandang ras, agama, bahasa, kepercayaan, bangsa, status sosial. King James Version (KJV) dan English Standard Version (ESV) menerjemahkannya, “under sin” (=di bawah dosa), sedangkan International Standard Version (ISV) menerjemahkannya, “under the power of sin.” (=di bawah kuasa dosa). Dalam bahasa Yunani, kata “di bawah” menunjuk kepada suatu posisi/letak yang benar-benar di bawah sesuatu. Jadi, ketika Paulus mengajarkan bahwa semua manusia di bawah kuasa dosa, berarti dosa telah memerintah di atas diri kita dan kita sungguh-sungguh secara status dan posisi di bawah dosa, sehingga kita tidak bisa tidak berdosa (Latin : non-posse non-peccare). Di dalam status berdosa, manusia dikatakan tidak bisa tidak berdosa, karena kecenderungan hati manusia adalah murni jahat, meskipun sisi kebaikannya masih ada sedikit. Meskipun masih ada sisi sedikit kebaikan, kebaikan itu sendiri pun tidak murni 100% karena telah dicemari oleh dosa. Dosa mengikat manusia, inilah sifat dosa kedua, sehingga manusia dengan kekuatan sendiri tidak bisa melepaskan diri darinya. Adalah suatu absurditas jika mengatakan bahwa ketika manusia berbuat baik manusia bisa diselamatkan dan dibebaskan dari dosa. Bukankah suatu kekonyolan ketika manusia yang sendirinya berdosa bisa menolong dirinya sendiri dari dosa ? Itu seperti orang yang sudah tenggelam tetapi masih dapat menolong dirinya sehingga dirinya selamat dan tidak jadi tenggelam. Seorang yang tenggelam adalah seorang yang tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya menunggu uluran tangan orang lain yang menolongnya. Orang yang tenggelam itulah semua manusia yang berdosa yang hanya menunggu uluran tangan pribadi lain yang menolong kita. Kita tak mampu menolong diri kita sendiri, karena ketika kita mencoba menolong diri kita sendiri dengan kekuatan kita sendiri, berarti kita sedang membohongi diri kita sendiri yang sebenarnya adalah makhluk berdosa. Lalu, kata “dosa” yang mengikat diri kita dalam bahasa Yunani hamartia berarti tidak tepat sasaran. Artinya, seperti sebuah panah yang ditembakkan oleh pemanah yang tidak mengenai sasaran panah yang tepat, begitu juga dengan dosa yang tidak tepat mengenai sasaran yang Allah telah tetapkan sejak semula. Dosa membuat kita selalu ingin menyimpang dari jalan dan rencana Allah. Ketika Allah mengatakan A, kita seringkali mengatakan B bahkan menghina A. Inilah sifat dosa ketiga, yaitu menyimpang dari kebenaran. Manusia ketika diberitahu sesuatu yang benar pasti memberontak di titik pertama, baru setelah beberapa saat, orang tersebut kalau mau rendah hati mengakui akan berbalik dan menyesal karena telah memberontak di titik pertama. Itu adalah tindakan wajar, penyesalan selalu terjadi belakangan. Misalnya, ketika manusia (sebut saja X) diberitahu jalan satu-satunya (jalan F) menuju bangunan A, si X akan memberontak, karena menurut X, orang yang menunjukkan jalan itu sok tahu, sok hebat, sombong, dll, lalu si X mulai mencari alternatif jalan lain (misalnya, jalan G, H, dll), tetapi akibatnya X mengalami jalan buntu, lalu marah-marah dan akhirnya “terpaksa” mengikuti saran orang tersebut yang menggunakan jalan F menuju ke A. Itulah yang disebut menyimpang. Begitu pulalah manusia berdosa ditunjukkan jalan untuk mengenal Allah di dalam Kristus tidak juga sadar dan bertobat, malahan menghina si penunjuk jalan tersebut sebagai orang yang ekstrim, fanatik, sombong, dll. Apakah itu membuktikan bahwa orang yang menolak diberitahu yang benar itu lebih pintar ? TIDAK. Justru, itu membuktikan bahwa orang yang menolak tersebut adalah orang yang bodoh dan akibatnya dia akan tersesat sendiri di dalam kebodohannya. Maafkan, saya harus mengatakan suatu kalimat yang sangat keras bahwa banyak orang yang sebenarnya bodoh tetapi menganggap diri pandai (termasuk banyak guru/pengajar dan dosen-dosen yang bergelar akademis).

Setelah kita merenungkan bagian ini tentang tiga sifat dosa manusia secara esensial, maukah kita atas dorongan Roh Kudus di dalam hati kita dengan rendah hati mengakui semua dosa-dosa kita dengan tiga sifatnya, yaitu universal, menguasai dan menyeleweng dari kebenaran ini ? Maukah kita selanjutnya bertobat dan kembali kepada Kristus, sebagai Pribadi Allah yang menebus dosa-dosa kita ? Amin.

Soli DEO Gloria. Solus Christus.

Resensi Buku-22 : IMAN REFORMED (DR. LORAINE BOETTNER, D.D.)

...Dapatkan segera...
Buku
REFORMED FAITH (IMAN REFORMED)

oleh : DR. LORAINE BOETTNER, D.D.

Penerbit : Momentum Christian Literature (Fine Book Selection), 2000

Penerjemah : Ev. Hendry Ongkowidjojo, S.E., M.Div.





Di sepanjang sejarah Gereja, khususnya setelah Reformasi, Calvinisme merupakan arus pikir yang tidak dapat diabaikan pengaruh dan peranannya.

Namun dalam perkembangannya, banyak orang yang tidak mengerti secara tepat apa yang sebenarnya diungkapkan oleh theologia Calvinisme atau Reformed. Akibatnya sering muncul pemahaman atau prasangka-prasangka yang kurang tepat tentang pemikiran theologia ini.

Pembahasan ini mencoba untuk mengangkat dua macam fakta sistem keagamaan : agama yang berdasarkan pada iman (religion of faith) dan agama yang didasarkan pada perbuatan (religion of works), serta bagaimana posisi Calvinisme dalam menanggapi fakta mendasar yang sangat penting ini, khususnya dikaitkan dengan pemahamannya tentang keselamatan orang percaya.

Kiranya buku kecil ini bisa membawa kita pada pengertian yang tepat tentang ajaran Calvinisme dan menjadi berkat bagi banyak orang.
Soli Deo Gloria !






Profil Dr. Loraine Boettner :
DR. LORAINE BOETTNER, D.D. lahir di sebuah tanah pertanian di Linden, Missouri. Beliau adalah lulusan Princeton Theological Seminary dengan gelar Bachelor of Theology (Th.B.) pada tahun 1928 dan Master of Theology (Th.M.) pada tahun 1929, di mana beliau belajar Theologia Sistematika di bawah Dr. C. W. Hodge. Sebelumnya beliau telah lulus dari Tarkio College, Missouri, dan telah mengambil kuliah singkat dalam bidang Agrikultur di University of Missouri.
Beliau mengajar Alkitab selama 8 tahun di Pikeville College, Kentucky. Sewaktu di sana beliau menikah pada tahun 1932. Pada tahun 1933 beliau menerima gelar kehormatan Doctor of Divinity (D.D.) dan pada tahun 1957 gelar Doctor of Literature. Beliau adalah anggota gereja Orthodox Presbyterian Church di Amerika Serikat. Pada tahun 1937, beliau mulai bekerja di Library of Congress dan Bureau of Internal Revenue. Beliau menulis berapa buku termasuk : The Reformed Doctrine of Predestination, Roman Catholicism, Studies In Theology, Immortality, The Millennium and A Harmony of the Gospels.

16 September 2007

THEOLOGIA PUASA : Analisa Kritis Alkitab tentang Makna dan Motivasi Puasa yang Beres dan Bertanggungjawab di Mata Allah (Denny Teguh Sutandio, S.S.)

THEOLOGIA PUASA :
Analisa Kritis Alkitab Tentang Makna dan Motivasi Puasa yang Beres dan Bertanggungjawab di Mata Allah

oleh : Denny Teguh Sutandio, S.S.



Kamis, 13 September 2007, orang-orang Islam mulai menjalankan puasa sebulan penuh menyambut bulan “suci” Ramadhan. Mereka beramai-ramai berpuasa untuk “mengekang hawa nafsu” dan “memperkuat iman”. Mari kita memikirkan dengan tajam topik tentang puasa dalam perspektif dunia dan agama-agama, iman “Kristen” dan iman Kristen yang beres berdasarkan Alkitab.

Puasa Menurut Islam
Islam adalah agama terbesar di Indonesia. Oleh karena itu, mari kita mempelajari makna puasa menurut Islam dari beberapa sumber wikipedia di bawah ini.

Dalam Islam, puasa berarti “menahan diri dari makan dan minum dan dari segala perbuatan yang boleh membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hinggalah terbenam
matahari, untuk meningkatkan ketakwaan seorang muslim.” Perintah puasa difirmankan di dalam Quran surat Al-Baqarah ayat 183. Berpuasa merupakan salah satu dari lima Rukun Islam.

Jenis-jenis Puasa di dalam Islam :
· Puasa yang hukumnya
wajib
o Puasa
Ramadan
o Puasa karena
nazar
o Puasa kifarat atau denda
· Puasa yang hukumnya
sunah
o Puasa 6 hari di bulan
Syawal
o
Puasa Arafah
o Puasa
Senin-Kamis
o Puasa Daud (sehari puasa, sehari tidak)

Hikmah dari ibadah shaum (puasa) itu sendiri adalah melatih manusia untuk sabar dalam menjalani hidup.

Selain itu, puasa juga “abstaining from any falsehood in speech and action, from any ignorant and indecent speech, and from arguing and fighting, and lustful thoughts. Therefore, fasting helps develop good
behavior. Fasting also inculcates a sense of fraternity and solidarity, as Muslims feel and experience what their needy and hungry brothers and sisters feel. However, even the poor, needy, and hungry participate in the fast. Moreover, Ramadan is a month of giving charity and sharing meals to break the fast together.” (=menjauhkan diri dari segala kebohongan di dalam perkataan dan tindakan, dari berbagai perkataan yang bodoh dan cabul/tidak pantas, dan dari perdebatan dan perkelahian, dan pikiran jorok. Oleh karena itu, puasa menolong mengembangkan tingkah laku yang baik. Puasa juga mengajarkan berulang-ulang pengertian persaudaraan dan solidaritas, sebagaimana orang-orang Islam merasa dan mengalami apa yang dirasakan oleh saudara-saudaranya yang membutuhkan dan lapar. Bagaimanapun juga, baik orang miskin, membutuhkan, dan lapar berpartisipasi di dalam puasa. Lebih lanjut, Ramadan adalah bulan untuk memberi sedekah dan berbagi makanan untuk mengerti puasa bersama.)

Lebih lanjut, puasa di dalam Islam dimulai pada Sahur (sebelum subuh), Imsak (kira-kira 10 menit setelah Sahur) dan diakhiri dengan berbuka (kira-kira sore sampai petang hari).

Selain itu, makan, minum dan hubungan seksual dilarang selama puasa. Di dalam puasa, mereka juga harus menahan diri dari kejahatan, kemarahan, cemburu/iri hati, kerakusan, hawa nafsu, memfitnah, dan berusaha untuk akur satu sama lain lebih baik dari biasanya. Dan juga, segala penglihatan dan suara-suara yang cabul dan tidak beragama (irreligious) dilarang selama puasa. Puasa juga sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada “Allah” dan juga sebagai sarana untuk menghapus dosa. Selain itu, puasa juga sebagai sarana untuk mengontrol diri dan sabar. Golongan orang-orang yang tidak boleh berpuasa adalah anak-anak yang belum mengalami pubertas, orang yang mengalami diabetes, dan wanita melahirkan/hamil.

Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Puasa_(Islam), http://en.wikipedia.org/wiki/Fasting dan http://en.wikipedia.org/wiki/Ramadan




Puasa Menurut Agama-agama Dunia
Hampir sama seperti Islam, agama-agama dunia juga mengajarkan tentang puasa sebagai sarana penyangkalan diri. Mari kita simak penjelasan puasa dari berbagai agama dunia.

In the
Bahá'í Faith, fasting is observed from sunrise to sunset during the Bahá'í month of `Ala' (between March 2 through March 20). Bahá'u'lláh established the guidelines in the Kitáb-i-Aqdas. It is the complete abstaining from both food and drink (including abstaining from smoking). Observing the fast is an individual obligation, and is binding on all Bahá'ís who have reached the age of maturity, which is fifteen years of age…The Guardian of the Bahá'í Faith, Shoghi Effendi, explains: "It is essentially a period of meditation and prayer, of spiritual recuperation, during which the believer must strive to make the necessary readjustments in his inner life, and to refresh and reinvigorate the spiritual forces latent in his soul. Its significance and purpose are, therefore, fundamentally spiritual in character. Fasting is symbolic, and a reminder of abstinence from selfish and carnal desires." (=Dalam iman Bahá'í, puasa dirayakan dari matahari terbit sampai matahari terbenam selama bulan Bahá'í ‘Ala’ {antara 2 Maret sampai 20 Maret} Bahá'u'lláh menegakkan peraturan ini di dalam Kitáb-i-Aqdas. Itu adalah benar-benar menjauhkan diri baik dari makanan dan minuman {termasuk menjauhkan diri dari merokok}. Menjalankan puasa adalah sebuah kewajiban individu, dan itu bersifat mengikat pada semua orang Bahá'í yang telah mencapai usia kedewasaan, yaitu berusia 15 tahun… Pemimpin Bahá'í, Shoghi Effendi menjelaskan, “Pada dasarnya periode meditasi dan doa, akan penyembuhan spiritual kembali, selama orang-orang beriman harus berusaha keras untuk membuat pentingnya penyesuaian kembali di dalam inti hidupnya, dan untuk menyegarkan dan menguatkan kembali kekuatan spiritual yang tersembunyi di dalam jiwanya. Oleh karena itu, signifikansi dan tujuannya adalah secara dasar spiritual di dalam karakter. Puasa adalah simbol, dan pengingat akan pantang dari mementingkan diri sendiri dan keinginan duniawi.” )

Buddhist monks and nuns following the
Vinaya rules commonly do not eat each day after the noon meal, though many orders today do not enforce this. This is not considered a fast, but rather a disciplined regiment aiding in meditation. Fasting is generally considered by Buddhists as a form of asceticism (=Para rahib dan biarawati Buddha mengikuti aturan Vinaya tidak makan selama sehari setelah makan siang, meskipun banyak aturan sekarang tidak memaksakan hal ini. Ini tidak dianggap sebagai puasa, tetapi lebih sebagai pertolongan peraturan disiplin di dalam meditasi. Puasa secara umum dianggap oleh Buddhist sebagai bentuk dari asketisme…)

Fasting is a very integral part of the
Hindu religion. Individuals observe different kinds of fasts based on personal beliefs and local customs… Fasting can also mean limiting oneself to one meal during the day and/or abstaining from eating certain food types and/or eating only certain food types. In any case, even if the fasting Hindu is non-vegetarian, he/she is not supposed to eat or even touch any animal products (i.e. meat, eggs) on a day of fasting. (=Puasa adalah bagian yang sangat integral di dalam agama Hindu. Orang-orang melaksanakan berbagai bentuk puasa berdasarkan kepercayaan pribadi dan kebudayaan lokal… Puasa juga dapat berarti membatasi diri terhadap makanan selama selama dan/atau menjauhkan dari makan beberapa jenis makanan dan/atau makan hanya beberapa macam makanan. Dalam pengertian lain, meskipun puasa Hindu adalah non-vegetarian/bukan makan sayur-sayuran), dia tidak berarti untuk makan atau pun menyentuh hasil-hasil dari binatang {seperti : daging, telur} selama bulan puasa.)

Sumber :
http://en.wikipedia.org/wiki/Fasting




Kesimpulan Puasa-puasa Menurut Islam dan Agama-agama Dunia
Dari beberapa gambaran di atas, maka kita dapat mengambil kesimpulan tentang prinsip-prinsip puasa yang dimengerti di dalam agama-agama dunia :
· Puasa adalah usaha untuk menahan diri dari pencobaan dan berusaha “berbuat baik”.
Pertama, menurut Islam dan agama-agama dunia, puasa adalah usaha untuk menahan diri dari berbagai pencobaan, misalnya makanan, minuman, hal-hal jorok, fitnah, iri, sombong, dll, bahkan menurut mereka, mereka diajar untuk berbuat baik dan meningkatkan solidaritas dengan orang lain khusus selama “bulan puasa” mereka.

· Puasa adalah usaha untuk mendekatkan diri kepada “Tuhan”.
Kedua, selain menahan diri dari pencobaan, puasa juga sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada “Tuhan”. Mengapa harus menggunakan puasa ? Karena puasa yang juga disebut bertarak adalah usaha untuk menyiksa tubuh/jasmani agar diperkenan oleh “Tuhan”. Filsafat ini dipengaruhi oleh asketisme yang berakar dari Platonisme yang mendualismekan antara hal-hal jasmani dengan rohani dengan mengajarkan bahwa tubuh ini jahat dan roh/jiwa itu baik. Di dalam Buddhisme, Hinduisme dan Gerakan Zaman Baru (tiga ajaran ini seazas) yang mengembangkan konsep berpikir Platonisme, puasa dimengerti sebagai usaha untuk menyiksa tubuh karena tubuh ini jahat. Di dalam ke“Kristen”an pun, beberapa orang “Kristen” secara tidak sadar mengajarkan filsafat atheis Plato ini dengan mengatakan bahwa agama dan ilmu itu tidak ada hubungannya.

· Puasa adalah usaha untuk menyegarkan kembali tubuh.
Ketiga, puasa juga sebagai sarana untuk menyegarkan kembali tubuh. Ini adalah alasan kesehatan/medis. Selain alasan medis, menurut iman Bahá'í, puasa dipandang sebagai sarana untuk menyegarkan kembali kekuatan spiritual yang tersembunyi di dalam jiwa manusia (baca : ajaran Bahá'í di atas yang saya garisbawahi). Di dalam iman ini sudah mengandung unsur Gerakan Zaman Baru yang mengajarkan bahwa manusia memiliki potensi yang luar biasa bahkan manusia adalah ilah-ilah kecil (little gods). Tidak heran, untuk meningkatkan kekuatan dan potensi yang luar biasa ini, puasa di dalam Gerakan Zaman Baru sangat penting.

· Puasa sebagai sarana penebus/penghapus dosa.
Terakhir, di dalam Islam, puasa dimengerti sebagai sarana penghapus dosa. Dengan kata lain, berbuat apa sajalah sebelum bulan puasa, maka di bulan puasa, berpuasalah dengan giat, maka “percaya”lah, semua dosa yang telah dilakukan sebelumnya dihapuskan. Di sini, kita melihat kelemahan fatal konsep tentang dosa.




Puasa Menurut “Kristen”
Meskipun berbeda dari semua agama dunia yang antroposentris, keKristenan seharusnya menyerukan konsep dan makna puasa yang berbeda, tetapi sayangnya, banyak orang-orang “Kristen” saat ini terutama yang dipengaruhi oleh banyak gereja pop yang mengajarkan materialisme dan humanisme ternyata memiliki kepercayaan yang tidak jauh berbeda dengan konsep puasa di dalam agama-agama dunia di atas. Ketika Islam sedang menjalankan puasa, sebuah gereja Karismatik “terbesar” di Surabaya pun juga melangsungkan puasa raya bagi jemaat-jemaatnya selama 40 hari 40 malam, entah apa motivasinya. Selain gereja ini, banyak gereja Karismatik/Pentakosta juga gemar melakukan doa puasa, puasa raya, dll dengan presuposisi dasar bahwa dengan doa berpuasa, maka Tuhan pasti mendengar doa dan permintaannya. Dengan kata lain, motivasi mereka berpuasa bukan untuk memuliakan Tuhan, tetapi untuk memuaskan hawa nafsunya yang berdosa.

Berbeda dari banyak gereja Karismatik, gereja-gereja Katolik melangsung puasa daging sebelum Jumat Agung. Puasa daging dimaksud agar jemaat-jemaat Katolik mengenang kesengsaraan Tuhan Yesus dengan tidak makan daging. Meskipun hal ini mengandung unsur moral dan spiritual yang “cukup baik”, tetapi ada banyak kelemahan di dalam pengajaran ini.




Tinjauan Kritis Terhadap Puasa Duniawi dari Sudut Pandang Alkitab
Ketika kita mengamati puasa menurut pandangan agama-agama dunia, kita melihat adanya unsur antroposentris (man-centered) di dalam puasa, meskipun dibalut dengan unsur-unsur “rohani”. Mari kita mengkritisi hal ini.
Pertama, puasa menurut agama dunia adalah usaha untuk menjauhkan diri dari pencobaan dan berusaha berbuat “baik”. Benarkah mereka berbuat “baik” ? Mari kita melihat faktanya. Selama bulan puasa yang sedang berlangsung sejak 13 September 2007, bukan hanya tidak baik, banyak pelaku puasa bertindak tidak ada bedanya dengan orang atheis. Buktinya, Minggu pagi ini, 16 September 2007, di daerah Surabaya Barat, di sebuah jalan menuju Supermal Pakuwon Indah/Pakuwon Trade Center, Surabaya, banyak trek-trekan sepeda motor yang mengebut. Anehnya, ketika harga bensin naik, mereka semua protes, padahal mereka sendiri memboroskan bensin untuk hal-hal yang tidak berguna sama sekali. Kasus kedua, selama puasa, surat kabar Indonesia tentunya tetap dipenuhi oleh berita-berita kriminalitas, seperti : korupsi, pencurian anak, penjambretan, dll. Inikah berbuat “baik” ? Kasus ketiga, perhatikanlah para polisi di jalan, benarkah mereka berbuat “baik” ? Bukan hanya hampir tidak pernah berbuat “baik” dengan menunjukkan jalan kepada orang yang salah jalannya, malahan mereka sengaja membiarkan orang yang salah jalan lalu memberhentikan mobilnya lalu menilangnya (meskipun banyak yang menilang tanpa alasan/bukti yang kuat atau dengan kata lain, menilang demi mendapatkan uang untuk berbuka puasa). Kasus keempat, selama bulan puasa, ciumlah bau mulut para pegawai Anda, maka terciumlah bau yang ajubilah tidak sedap karena mereka berpuasa/tidak boleh minum air dan menggosok gigi. Jika demikian, apakah mereka sedang berbuat “baik” dengan memperhatikan orang lain ?
Bukan hanya tidak berbuat “baik”, benarkah mereka menjauhkan diri dari pencobaan ? Saya hanya tertawa geli membaca pernyataan mereka tentang hal ini. Bagaimana ada pencobaan, lha wong, pencobaan itu mereka singkirkan sendiri dengan cara memberlakukan peraturan untuk menutup semua restoran, tempat kemaksiatan (seperti club, diskotek, dll) selama bulan puasa. Kedua, mereka berpuasa sebenarnya tidak sedang menjauhkan diri dari pencobaan, tetapi memendam sebentar terhadap pencobaan. Pada hari Jumat, 14 September 2007, ketika melintasi Jalan Raya Darmo, Surabaya, saya (dan ayah saya) membaca sebuah billboard besar dari iklan rokok yang bertuliskan, “Siang dipendam, malam balas dendam.” Ketika membaca tulisan itu, serentak ayah saya dan saya tertawa membacanya, karena pernyataan itu jelas sedang menyindir mereka yang sedang berpuasa. Mengapa saya katakan itu menyindir ? Karena selama bulan puasa, mungkin di siang hari, mereka kelihatan alim, “rohani”, religius di mata masyarakat (karena di TV, radio, jalan-jalan, bahkan beberapa gereja yang dipengaruhi oleh “theologia” religionum, dll, semua dipenuhi dengan atribut religius tentang puasa), tetapi coba lihatlah keadaan lain di malam hari, terutama di mal dan restoran mahal. Kalau di hari-hari biasa, mal dan restoran mahal/mewah hanya dipenuhi oleh orang-orang kaya/mampu, sedangkan orang-orang yang pas-pasan hidupnya jarang ke mal atau restoran mewah (ini bukan diskriminasi). Tetapi coba Anda lihat pas di bulan puasa, Anda pasti menemukan orang-orang yang hidupnya pas-pasan berbuka puasa di restoran mewah dan di mal-mal. Kemarin, Sabtu, 15 September 2007, Supermal Pakuwon Indah, Surabaya tiba-tiba penuh, jangan heran pula di restoran mewah, banyak orang yang berbuka puasa. Dengan kata lain, benarlah pernyataan sebuah billboard tadi bahwa ketika siang mereka tampak alim (dipendam), tetapi ketika malam hari, mereka balas dendam karena tidak kuat dipendam seharian. Inikah menjauhkan diri dari pencobaan ??

Kedua, puasa sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada “Tuhan” dengan cara menyiksa diri. Bertarak atau askese memang adalah suatu filsafat asketisme yang menyiksa tubuh agar diperkenan oleh “Tuhan”, karena yang spiritual/rohani tidak bisa sesuai dengan yang jasmani (dualisme antara jasmani dan rohani). Sepintas hal ini sesuai dengan Alkitab yang mengajarkan bahwa keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh, tetapi jika kita telusuri filsafat di balik pengajaran ini sangat berbahaya. Dualisme Plato yang mempengaruhi Gnostisisme (melahirkan “injil-injil” Gnostik, seperti “injil” Thomas, Yudas, Maria Magdalena, dll) mengajarkan bahwa tubuh ini jahat sehingga harus dihancurkan demi jiwa yang baik. Keselamatan di dalam agama-agama yang dipengaruhi oleh Gnostisisme ini (Hindu dan Buddha) adalah terlepasnya jiwa dari tubuh yang jahat ini. Dengan kata lain, Gnostisisme di titik pertama sudah menghina ciptaan Tuhan sendiri. Alkitab mengajarkan bahwa Allah menciptakan manusia sesuai gambar dan rupa-Nya menurut peta teladan Allah. Adam dan Hawa dicipta oleh Allah dan Allah mengatakannya “sungguh amat baik” (Kejadian 1:31). Tetapi herannya, manusia ciptaan-Nya malahan mengatakan bahwa ciptaan-Nya (meliputi tubuh manusia) itu jahat dan harus dibinasakan. Begitu berdosanya manusia yang tidak pernah sadar diri berdosa. Bukan hanya berkenaan dengan ciptaan yang mengatakan bahwa tubuh ini baik, di dalam Alkitab juga disebutkan bahwa sebagai umat pilihan-Nya, kita akan dibangkitkan secara tubuh pada saat kedatangan Kristus kedua kalinya dengan dasar kebangkitan Kristus secara jasmani (1 Korintus 15:12-58). Artinya karena Kristus sudah bangkit secara tubuh (bukan secara rohani seperti yang dipaparkan oleh “Pdt. Dr.” Ioanes Rachmat), maka kita pun sebagai umat pilihan-Nya akan dibangkitkan secara tubuh dan tubuh kita akan diubahkan menjadi tubuh surgawi yang tidak bisa binasa. Puji Tuhan ! Kebangkitan Kristus menjamin kebangkitan tubuh umat pilihan-Nya kelak pada saat Kristus datang kedua kalinya.

Ketiga, puasa adalah sarana untuk menyegarkan kembali tubuh bahkan membangkitkan kekuatan spiritual di dalam jiwa manusia. Kalau untuk alasan medis, hal ini bisa dibenarkan (secara umum) yaitu puasa dapat menyegarkan kembali tubuh, tetapi sekali lagi itu untuk alasan yang berpusat pada manusia bukan untuk memuliakan Allah. Tetapi kalau puasa sudah menyangkut unsur Gerakan Zaman Baru yaitu membangkitkan kekuatan spiritual yang lagi tertidur, itu sudah salah. Adalah sangat mengasihankan jika puasa hanya dipandang sebagai usaha untuk membangkitkan kekuatan spiritual, karena kekuatan spiritual sedemikian ditingkatkan hanya ketika jasmani dimatikan. KeKristenan dari sudut pandang Alkitab mengkritisi hal ini dan membuktikan kelemahan pandangan Gerakan Zaman Baru. KeKristenan sangat menghargai tubuh jasmani karena dua alasan, yaitu : penciptaan tubuh oleh Allah dan kebangkitan tubuh umat pilihan-Nya pada saat kedatangan Kristus yang kedua kalinya. Menghina tubuh jasmani ciptaan Allah sama artinya menghina Allah sebagai Pencipta. Bukan hanya menghargai tubuh jasmani, kita harus memakainya untuk memuliakan Allah. Rasul Paulus mengatakan di dalam Roma 12:1-2, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Ibadah yang sejati di dalam konsep Kristen tidak seperti ibadah agama-agama sekuler yang antroposentris yang menghina tubuh, tetapi ibadah Kristen justru mempersembahkan tubuh untuk dikuduskan oleh Allah dan bagi kemuliaan Allah. Di dalam 1 Korintus 6:19-20, Rasul Paulus bahkan berkata, “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, --dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” Dua premis yang diajarkan Paulus di dalam bagian ini, yaitu : pertama, tubuh kita yang dikuduskan adalah bait Roh Kudus. Artinya, di dalam tubuh kita, Roh Kudus berdiam. Kedua, karena Roh Kudus berdiam di dalam tubuh kita dan Kristus telah menebus kita baik tubuh maupun jiwa, maka kita harus memuliakan Allah dengan tubuh kita. Ingatlah, Kristus menebus kita bukan hanya jiwa saja, tetapi juga tubuh, sehingga nanti pada saat Kristus datang kedua kalinya, kita akan dibangkitkan secara tubuh. Pengertian Kristen akan tubuh jasmani ini jauh melampaui semua pengertian tubuh jasmani dari filsafat maupun agama manapun di dunia ini, karena Alkitab adalah Firman Allah yang jauh melampaui hikmat manusia yang terbatas dan berdosa, tetapi herannya tidak pernah sadar terbatas dan berdosa.

Keempat, puasa sebagai sarana penghapus dosa. Lebih mengasihankan lagi, ketika puasa dimengerti sebagai sarana penghapus dosa. Dengan kata lain, berbuat dosa lah sebejat mungkin, korupsi lah sebanyak mungkin, berzinahlah dengan semua perempuan (kalau perlu), maka untuk membersihkan semua aib dosa ini, marilah berpuasa. Orang yang berpikiran normal akan tertawa membaca dan mengerti pernyataan ini. Perbuatan baik bisa menebus dan menghapus dosa ? Seorang filsuf atheis saja pernah mengatakan bahwa kebajikan itu dilakukan untuk kebajikan itu sendiri. Bagaimana mungkin orang yang mengaku diri beragama bahkan pemimpin agama mengajarkan bahwa perbuatan baik dilakukan supaya masuk “surga” dan menghapus dosa. Bahkan ada yang mengajarkan perbuatan baik kita nanti ditimbang di “akhirat”, kalau perbuatan baik kita lebih berat daripada perbuatan jahat, kita bakal masuk “surga”, sedangkan kalau sebaliknya, maka kita bakal masuk “neraka”. Pdt. Thomy J. Matakupan (GRII Andhika, Surabaya) pernah menanyakan konsep tidak masuk akal ini, jika timbangannya seimbang, bagaimana jadinya ? Lantas, timbullah jawaban bahwa tergantung angin mana yang bertiup, kalau angin “surga” bertiup, maka orang itu masuk “surga”, tetapi jika apesnya, angin “neraka” bertiup, maka orang itu masuk neraka. Dengan kata lain, ketika orang beragama berbuat “baik”, mereka melakukannya demi “sesuap icipan ‘surga’”. Sungguh mengasihankan konsep ini.




Theologia Puasa Menurut Alkitab
Lalu, bagaimana tanggapan dan jawaban pengajaran Alkitab tentang puasa ? Puasa di dalam keKristenan tidak bisa dipisahkan dari doktrin/theologia, maka judul dari artikel ini adalah Theologia Puasa. Spiritualitas/kerohanian yang beres tidak bisa dilepaskan dari theologia yang sehat dan bertanggungjawab, sehingga ketika theologianya kacau dan tidak karuan (Jawa : amburadul), maka dapat dipastikan menghasilkan kerohanian yang kacau dan tidak berdasar. Oleh karena itu, mari kita belajar tentang doktrin berpuasa ini.

Theologia puasa yang berdasarkan Alkitab tidak bisa dilepaskan dari pengakuan inti Alkitab tentang kedaulatan Allah. Theologia Reformed yang berintikan kedaulatan Allah mengajarkan bahwa Allah itu adalah Allah yang Berdaulat, Kekal, yang mutlak pada diri (self-existence of God), tidak bergantung pada siapa dan apapun juga, Mahakudus, Mahaadil, Mahakasih, Kebenaran sejati (Inggris : Truth ; Yunani : aletheia) dan Sumber Kejujuran Sejati. Sehingga di dalam doktrin kedaulatan Allah, Allah yang Mahakuasa dan di luar Allah, makhluk ciptaan-Nya harus tunduk dan taat mutlak kepada-Nya. Tetapi kedaulatan Allah TIDAK pernah meniadakan tindakan manusia, sehingga di dalam theologia Reformed, kita mendapatkan keseimbangan yang konsisten sesuai dengan Alkitab bahwa kedaulatan Allah dan tindakan manusia bekerja bersama-sama (tetapi tidak di dalam hal iman dan keselamatan). Sedangkan “theologia” Arminian terlalu menekankan kehendak bebas manusia dan menghina kedaulatan Allah, di lain pihak Hyper-Calvinisme terlelau menekankan kedaulatan Allah dan membuang tindakan manusia, sehingga Hyper-Calvinisme lebih mirip takdirisme ketimbang ajaran Alkitab. Meskipun adanya keseimbangan antara kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia, theologia Reformed tetap menekankan kedaulatan Allah yang memimpin dan menuntun tanggung jawab manusia. Dengan kata lain, kehendak dan wahyu-Nya menjadi standar bagi umat-Nya untuk memuliakan-Nya. Artinya, wahyu-Nya memimpin manusia makin mengenal apa yang diinginkan-Nya untuk memuliakan-Nya. Dengan dasar wahyu Allah di dalam Alkitab inilah, kita mendapatkan banyak pengajaran penting tentang puasa yang berkenan di hadapan-Nya (bukan di hadapan manusia berdosa).

Kedua, selain kedaulatan Allah, theologia puasa berpusatkan pada finalitas karya penebusan Kristus. Artinya, kita melakukan spiritualitas berpuasa BUKAN sebagai syarat masuk “surga”, tetapi sebagai respon ucapan syukur kita karena telah diselamatkan di dalam karya penebusan Kristus yang final dan tiada tara agungnya. Dengan kata lain, kita berpuasa murni dengan tujuan untuk memuliakan Allah dan motivasinya untuk mengasihi Allah karena kita telah diselamatkan di dalam karya penebusan Kristus.

Ketiga, theologia berpuasa juga berkaitan erat dengan doktrin Roh Kudus (Pneumatologi). Apa kaitannya ? Karena kita berpuasa untuk mengasihi Allah, maka Roh Kudus akan menguatkan dan mencerahkan kita untuk semakin mengasihi, menghormati, dan takut akan Allah serta memuliakan-Nya. Di dalam berpuasa, kita mungkin mengalami kelemahan fisik, tetapi percayalah, Allah Roh Kudus akan menguatkan kita untuk mengasihi Allah.

Dari ketiga theologia utama yang berkaitan dengan puasa, mari kita menyelidiki bagian Alkitab yang membicarakan tentang puasa sebagai implikasi praktisnya.

Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid II mengartikan puasa, sebagai berikut,
“Berpuasa dalam Alkitab pada umumnya berarti tidak makan dan tidak minum selama waktu tertentu (Ester 4:16), bukan melulu menjauhkan diri dari beberapa makanan tertentu.” (hlm 280)

Definisi ini cukup menarik dan sangat berbeda dari konsep puasa dari agama-agama dunia yang telah dipaparkan di atas yaitu menjauhkan diri dari pencobaan. Puasa Kristen BUKAN menjauhkan diri dari pencobaan, sehingga kalau ada pencobaan, kita cepat-cepat lari (ngibrit), tetapi puasa Kristen hanya tidak makan dan tidak minum selama waktu tertentu (tidak lama), itu artinya meskipun ada makanan dan minuman, orang Kristen yang berpuasa tidak melarikan diri, tetapi tetap di tempatnya semula hanya mereka berani menyangkal diri.

Selanjutnya, Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid II ini memberikan prinsip-prinsip berpuasa di dalam Alkitab baik di dalam Perjanjian Lama (PL) maupun Perjanjian Baru (PB). Berikut prinsip-prinsip puasa yang saya gabungkan dari buku ini :
1. Puasa sebagai sarana untuk merendahkan diri di hadapan Allah.
Pertama, puasa di dalam Perjanjian Lama dipandang sebagai sarana untuk merendahkan diri di hadapan Allah. Hal ini dijelaskan di dalam Taurat Musa, Imamat 16:29-30, “Inilah yang harus menjadi ketetapan untuk selama-lamanya bagi kamu, yakni pada bulan yang ketujuh, pada tanggal sepuluh bulan itu kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa dan janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan, baik orang Israel asli maupun orang asing yang tinggal di tengah-tengahmu. Karena pada hari itu harus diadakan pendamaian bagimu untuk mentahirkan kamu. Kamu akan ditahirkan dari segala dosamu di hadapan TUHAN.” Ayat serupa juga dijumpai di dalam Imamat 23:27-32 dan Bilangan 29:7 bahwa puasa dilakukan oleh orang Israel di Hari Pendamaian. Selain itu, di dalam Ezra 8:21 juga dikatakan, “Kemudian di sana, di tepi sungai Ahawa itu, aku memaklumkan puasa supaya kami merendahkan diri di hadapan Allah kami dan memohon kepada-Nya jalan yang aman bagi kami, bagi anak-anak kami dan segala harta benda kami.” Sungguh menarik apa yang firman Tuhan katakan. Puasa dikaitkan langsung pendamaian dosa dari Allah bagi manusia. Ketika manusia merendahkan diri di hadapan Allah, Allah melayakkan dan mendamaikan mereka dengan menahirkan dari segala dosa. Inilah keunikan wahyu Allah yang TIDAK pernah dijumpai pada agama atau filsafat apapun. Lalu, apa bedanya dengan konsep puasa agama-agama dunia yaitu mendekatkan diri kepada Allah ? Bedanya kalau agama-agama dunia memahami puasa sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan asumsi bahwa tubuh ini jahat dan jiwa ini baik, sedangkan di dalam Alkitab, kita mempelajari puasa sebagai sarana untuk merendahkan diri di hadapan Allah dengan TIDAK memandang kehinaan tubuh tetapi mempergunakan tubuh yang berdosa untuk disucikan oleh Allah dan bagi kemuliaan Allah.

2. Puasa sebagai sarana untuk bertobat.
Selain merendahkan diri di hadapan Allah, puasa juga dimengerti sebagai sarana untuk bertobat. 1 Samuel 7:5-6 menjelaskan bagian ini, “Lalu berkatalah Samuel: "Kumpulkanlah segenap orang Israel ke Mizpa; maka aku akan berdoa untuk kamu kepada TUHAN." Setelah berkumpul di Mizpa, mereka menimba air dan mencurahkannya di hadapan TUHAN. Mereka juga berpuasa pada hari itu dan berkata di sana: "Kami telah berdosa kepada TUHAN." Dan Samuel menghakimi orang Israel di Mizpa.” Hal serupa dapat dijumpai pada 1 Raj. 21:27 ; Neh. 9:1-2 ; Dan. 9:3-4 ; Yun. 3:5-8. Berbeda dari konsep puasa dari agama-agama dunia bahwa puasa menjauhkan diri dari pencobaan, maka puasa dalam Alkitab sebagai sarana untuk berbalik 180 derajat dari semua pencobaan dan kejahatan serta kembali kepada Allah. Dari sini, saya mengatakan bahwa puasa berkaitan erat dengan transformasi hidup Kristen secara radikal bagi Allah. Memang bukan merupakan keharusan orang bertobat untuk berpuasa, tetapi puasa ada hubungannya dengan pertobatan.

3. Puasa sebagai tanda berdukacita.
Puasa di dalam Perjanjian Lama juga digambarkan sebagai tanda berdukacita atas kekalahan atau meninggalnya seseorang. Hal ini dijelaskan di dalam 1 Samuel 31:13, “Mereka mengambil tulang-tulangnya lalu menguburkannya di bawah pohon tamariska di Yabesh. Sesudah itu berpuasalah mereka tujuh hari lamanya.” Selain itu, ayat-ayat Perjanjian Lama lainnya juga menjelaskan bagian ini, yaitu : 2 Sam. 1:12 ; 3:35 ; Neh. 1:4 ; Est. 4:3 ; Mzm. 35:13-14.

4. Puasa sebagai sarana untuk memperoleh bimbingan dan pertolongan Allah.
Puasa juga sebagai sarana untuk memperoleh bimbingan dan pertolongan Allah, seperti yang dijelaskan di dalam Keluaran 34:28, “Dan Musa ada di sana bersama-sama dengan TUHAN empat puluh hari empat puluh malam lamanya, tidak makan roti dan tidak minum air, dan ia menuliskan pada loh itu segala perkataan perjanjian, yakni Kesepuluh Firman.” Hal ini juga dijumpai di dalam Ulangan 9:9 ; 2 Samuel 12:16-23 ; 2 Tawarikh 20:3-4 ; Ezra 8:21-23. Dengan kata lain, puasa sebagai sarana untuk lebih mengetahui kehendak Allah bagi manusia (BUKAN kehendak manusia agar dimengerti oleh Allah). Bukankah ini lebih Theosentris ketimbang konsep puasa dari agama-agama dunia yang antroposentris yang telah dijelaskan di atas ??

5. Puasa harus disertai dengan tindakan sehari-hari yang beres.
Bangsa Israel di dalam Perjanjian Lama digambar sebagai bangsa yang tegar tengkuk dan munafik. Ini terbukti dari “iman” mereka yang menganggap bahwa puasa bisa memuaskan Allah atau menjamin bahwa Allah pasti mendengar keinginan mereka (persis seperti konsep puasa dari agama-agama dunia di atas). Di dalam Kitab Yesaya 58:3-4, mereka berkata, “Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?" Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua buruhmu. Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi.” Lalu, Tuhan menegur mereka melalui nabi Yesaya di dalam Yesaya 58:6-11, “Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri! Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu. Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan TUHAN akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah, apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari. TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan.” Dengan kata lain, Tuhan tidak mau ibadah puasa dilakukan tanpa disertai dengan tindakan yang beres dan memuliakan Allah. Spiritualitas sejati didasarkan pada ketaatan akan keseluruhan perintah Allah melalui pengudusan Roh Kudus secara terus-menerus. Spiritualitas yang meniadakan ketaatan mutlak kepada Allah bukanlah spiritualitas sejati, tetapi spiritisme yang mistik !

6. Puasa BUKAN untuk dilihat orang, tetapi dilihat oleh Allah.
Terakhir, sebagai kesimpulan, satu-satunya Wahyu Allah yang mutlak, Alkitab melihat puasa BUKAN sebagai tindakan yang dilihat orang, tetapi sebagai tindakan yang dilihat Allah. Dalam hal ini, Tuhan Yesus, Pribadi kedua Allah Trinitas sendiri mengajar kepada umat-Nya, “Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Matius 6:16-18) Carilah di dalam semua agama atau filsafat apapun, adakah yang lebih agung dan mulia daripada perkataan agung dan suci dari Tuhan Yesus Kristus ini bahwa berpuasa yang terpenting bukan untuk dipertontonkan kepada manusia untuk selanjutnya dianggap “suci”, “religius”, dll (seperti puasa dan doanya orang Farisi), tetapi esensi puasa adalah untuk dilihat Allah dan memuliakan Allah. KeKristenan dan Alkitab selalu memandang esensi dari segala sesuatu bukan sekedar fenomena lahiriah yang banyak menipu. Jangan mengira orang yang secara fenomena berpuasa, secara esensi hidupnya beres ! Alkitab sudah membukakan banyak kelicikan manusia berdosa bahwa mereka kelihatan beribadah di luar, kalau perlu menggunakan pengeras suara, supaya orang luar tahu bahwa mereka beribadah, tetapi kelakuan mereka sangat busuk. Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat sudah menjadi bukti konkret dari kritikan pedas Tuhan Yesus tentang kemunafikan mereka di dalam Matius 23. Ingatlah! Tuhan melihat hati, sedangkan manusia lebih gemar melihat fenomena luar. Ketika melihat Eliab, nabi Samuel sempat goyang hatinya, tetapi Allah menguatkan hatinya bahwa Ia hanya memilih Daud menggantikan Saul dengan berkata, “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” (1 Samuel 16:7) Inilah esensi sejati yang HANYA dimengerti oleh orang Kristen yang mendapatkan anugerah khusus dari Allah yaitu mengerti isi hati Tuhan BUKAN mengerti isi hati manusia berdosa !

Implikasi-implikasi Praktis Di dalam Puasa
Setelah kita mengerti makna dan motivasi yang meres di dalam puasa dari sudut pandang Alkitab, pertanyaannya apakah saat ini, orang Kristen masih perlu puasa ? Lalu, apa motivasinya dan kapan dilakukannya ?

Puasa masih perlu dilakukan oleh orang Kristen di mana saja dan kapan saja, tetapi yang perlu diperhatikan adalah apakah motivasi puasa tersebut memuliakan Allah atau hendak memuaskan hawa nafsu manusia berdosa ? Selama motivasi puasa kita tidak beres di mata Allah, yaitu hendak memuaskan hawa nafsu dan keinginan kita yang berdosa, adalah lebih baik bagi kita untuk TIDAK pernah berpuasa, sampai motivasi kita berpuasa beres di hadapan Allah.

Kapankah kita perlu berpuasa ? Kita perlu berpuasa ketika menghadapi situasi yang sulit berperang melawan setan, misalnya mengadakan KKR (Kebaktian Kebangunan Rohani) atau Kebaktian Penginjilan atau acara Retreat/Camp Rohani. Di dalam momen penting inilah, kita perlu dan bahkan harus berpuasa, karena dengan berpuasa, kita mengandalkan kuasa Allah untuk melawan setan dan para kroninya di dalam acara penginjilan, karena kita percaya di dalam penginjilan, setan pasti tidak akan pernah tinggal diam untuk mengganggu penginjilan, entah dalam bentuk dipersulitnya acara, gangguan keamanan, gangguan cuaca, dll.

Puasa bukan hanya sekedar menahan diri dari makanan dan minuman atau tidak makan dan tidak minum, puasa secara esensial berarti menyangkal diri. Percuma saja, kita hebat di dalam menahan untuk tidak makan/tidak minum (bisa menahan karena sedang diet), tetapi kita tidak dapat menahan diri ketika melihat barang-barang bagus atau film-film bagus, dll. Puasa harus mencakup berbagai aspek, misalnya puasa menonton bioskop, puasa berbelanja/shopping, puasa jalan-jalan, dll. Ketika kita mulai bisa menyangkal diri dari berbagai tawaran dunia, pada saat itu pula kita mengerti kehendak Allah. Menyangkal diri tidak sama dengan tidak memiliki keinginan sama sekali. Banyak konsep puasa ala agama-agama dunia identik dengan meniadakan keinginan daging. Itu salah ! Setiap manusia pasti memiliki keinginan, keinginan itu yang perlu dikontrol, bukan untuk dihilangkan atau dibinasakan. Bagaimana untuk menyangkal diri ? Caranya adalah dengan berfokus kepada Kristus dan kehendak-Nya, maka kita secara aktif menolak keinginan daging dan menuruti kehendak Roh. Memang hal ini tidaklah mudah, karena setan paling aktif merayu kita untuk tidak taat kepada Allah, tetapi puji Tuhan, Roh Kudus memimpin dan mengarahkan hati dan pikiran kita untuk terus-menerus taat kepada Allah. Selain itu, dengan membaca dan mengerti Alkitab secara rutin, kita dapat mengalahkan godaan iblis dan memenangkan setiap pencobaan. Menang atas pencobaan TIDAK pernah mungkin dialami oleh orang-orang di luar Kristus, tetapi kita bisa menang atas pencobaan karena Tuhan Yesus Kristus sudah mengalahkan pencobaan iblis dan kemenangan-Nya menjamin kemenangan kita sebagai umat pilihan-Nya dalam mengalahkan pencobaan. Haleluya.

Setelah kita merenungkan kelemahan fatal konsep puasa dari agama-agama dunia yang antroposentris dan keagungan konsep puasa dalam Alkitab, maukah kita hari ini juga bertobat dari kemunafikan kita menjalankan ibadah kita serta kembali kepada Kristus yang telah menebus dan menyelamatkan manusia pilihan-Nya dari dosa supaya mereka dapat beribadah dengan motivasi, hati dan tujuan yang beres di hadapan Allah ? Ingatlah, Tuhan melihat hati, bukan seperti yang kita lihat yang lebih gemar melihat fenomena lahiriah yang banyak menipu. Tuhan yang melihat hati adalah Tuhan yang tak pernah sedikit pun dapat ditipu. Oleh karena itu, sebagai umat pilihan-Nya di dalam Kristus, hendaklah kita juga jangan menipu diri dengan beragam fenomena religius tetapi tidak memiliki esensi iman sejati. Sudah seharusnya, orang Kristen sejati menjadi teladan hidup khususnya di dalam berpuasa, supaya orang-orang yang belum Kristen melihat terang Injil dan melalui anugerah-Nya, Roh Kudus memimpin mereka untuk kembali kepada Kristus. Biarlah segala puji, hormat dan kemuliaan hanya bagi Allah Bapa dan Allah Putra dan Allah Roh Kudus yang telah mencipta, menebus dan menyempurnakan kita. Amin... Soli Deo Gloria...Solus Christus.