Showing posts with label Koinonia (Pdt. Joshua Lie). Show all posts
Showing posts with label Koinonia (Pdt. Joshua Lie). Show all posts

26 September 2010

KOINONIA-3: Koinonia dan Ibadah-2 (Pdt. Joshua Lie, M.Phil., Ph.D.-Cand.)

KOINONIA-3:
Koinonia dan Ibadah-2


oleh: Pdt. Joshua Lie, M.Phil., Ph.D. (Cand.)



Nats: Yohanes 4




“Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” (4:23-24)

Ibadah merupakan pusat kehidupan manusia seperti poros sebuah roda. Berkenaan dengan penyembahan yang benar kepada Allah, Tuhan Yesus menegaskan soal waktu bukan tempat. Saatnya akan tiba dan sudah tiba sekarang. Dalam Injil Yohanes, “saat” menunjuk pada saat kematian dan kebangkitan Yesus (12:27; 17:1). Kematian dan kebangkitan Yesus Kristus menjadikan Gerizim dan Yerusalem tidak lagi sebagai poros bagi kehidupan umat Allah.

Dalam perjanjian yang lama (bdk. Ul. 12), tempat di mana beribadah merupakan hal yang penting. Namun ketika saatnya tiba, tempat tidak lagi menjadi suatu yang utama. Kematian dan kebangkitan Yesus merupakan saat penggenapan bagi ibadah yang sejati, yaitu menyembah Allah dalam Roh dan kebenaran.

Roh menunjuk pada Roh Kudus. Yohanes menyaksikan Roh turun atas Yesus (1:29-34). Kepada Nikodemus, Yesus menegaskan perlunya lahir dari Roh (3:5-8). Menyembah dalam Roh berarti menyembah dalam Roh yang melahirkan kembali, Roh yang menghibur, Roh yang memimpin dalam kebenaran (14:7; 15:26).

Menyembah Allah dalam kebenaran sejalan dengan penegasan Injil Yohanes tentang kebenaran. Bagi Yohanes, kebenaran menyatakan realitas yang digenapi oleh Yesus. Hukum disampaikan melalui Musa, tetapi anugerah dan kebenaran dinyatakan oleh Yesus Kristus (1:17). Ayat ini tidak bermaksud bahwa Musa salah, melainkan kebenaran adalah penggenapan dan kepenuhan penyataan Allah melalui Anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus. Ia adalah kebenaran itu sendiri. Kebenaran menunjuk pula kepada firman-Nya. Beribadah dalam kebenaran sejalan dengan realitas baru yang digenapi oleh Yesus Kristus.

Ibadah dalam Roh dan kebenaran berakar pada hakekat Allah itu sendiri. Allah adalah Roh (4:24). Ketika Alkitab menyatakan Allah adalah Roh bukan sekadar menunjuk pada ketiadaan tubuh melainkan menunjuk pada kuasa dan hakekat Allah.

“Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau” (4:26)

Perempuan Samaria kini menyadari bahwa Yesus bukan sekadar seorang nabi. Cukup banyak nabi yang ia kenal. Tidak asing baginya bertemu dengan seorang nabi. Namun kali ini, ia menyadari bahwa Yesus adalah Mesias (Kristus). Selama ini, ia dan bangsanya bukan hanya mempunyai nabi bahkan lima allah yang diwariskan oleh nenek moyang mereka. Berhadapan dengan Yesus, Mesias, perempuan Samaria diperhadapkan dengan “suami” yang sebenarnya.

Sebagaimana orang Yahudi, perempuan Samaria mewakili bangsanya menyatakan kerinduannya akan kedatangan Mesias. Namun tidak disangkanya, kini ia berhadapan dengan Mesias. Mesias yang bukan sekadar nabi, tapi sekaligus korban yang sempurna bagi penebusan dosa. Mesias yang melalui kematian dan kebangkitan-Nya memberikan jalan penggenapan bagi ibadah yang sejati.

“Makananku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (4:34)

Ibadah yang sejati bukan saja memberikan identitas yang baru di dalam Mesias, tetapi juga memberikan arah yang baru. Bagi perempuan Samaria, pertemuannya dengan Yesus menantangnya untuk mengenali dirinya bukan berdasarkan tempat tetapi berdasarkan karunia Allah. Para murid sekembalinya mereka dari mencari makanan ditantang untuk memikirkan kembali arti makanan bagi mereka.

Jikalau tempat memberikan identitas dan rasa aman bagi perempuan Samaria, bagi para murid, makanan diperlukan untuk bisa tetap hidup dan melanjutkan perjalanan sehingga tidak berada di tempat yang tidak menyenangkan seperti Samaria. Namun perkataan Tuhan Yesus mengingatkan mereka arti makanan dalam kaitan dengan ibadah yang sejati.

Makanan tanpa kesadaran akan ibadah yang benar akan menghasilkan kekacauan seperti yang tampak dalam jemaat Korintus. Makanan tanpa menyembah Allah dalam Roh dan kebenaran hanya akan menjadi sumber pemenuhan diri sendiri. Makanan bagi setiap orang yang menyembah Allah dalam Roh dan kebenaran berdasarkan kematian dan kebangkitan Yesus Kristus menjadi kekuatan sebagaimana dilaksanakan dalam Perjamuan Kudus.

Makanan tidak lagi sebagai pemisah antara sesama manusia seperti awal peristiwa ini. Minuman telah menjadi persoalan yang berasal dari keterpisahan Yahudi dan Samaria. Kita dipanggil untuk menggemakan perkataan Tuhan Yesus bahwa “Makananku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.”

“Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai” (4:35)

Tempat bukan lagi pengikat. Tempat adalah ladang yang siap untuk dituai. Perempuan Samaria yang awalnya begitu sukar memberikan minum kepada Yesus, seorang Yahudi, kini dengan sukacita mengabarkan Mesias yang ditemuinya kepada kaum sebangsanya.

Ibadah dalam Roh dan kebenaran berdasarkan kematian dan kebangkitan Yesus Kristus memulihkan hidup kita. Ibadah tidak berakhir pada diri kita, tetapi meneruskannya menjadi misi kerajaan Allah. Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan turut dalam retreat “Practicing Resurrection” yang diadakan oleh CINO and Russet Farm. Mereka tidak sekadar menyampaikan ceramah dan membahas tema dengan perkataan namun juga dengan mempraktekkan dalam semua rangkaian acara retreat.

Kini kita beribadah dalam penggenapan waktu setelah kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Kita dimungkinkan beribadah dalam Roh dan kebenaran. Ibadah yang sejati menghasilkan air hidup yang mengalir sampai pada hidup yang kekal.



Sumber:
http://www.wkristenonline.org/index.php?option=com_content&view=article&id=41:yohanes-4-koinonia-dan-ibadah-bagian-kedua&catid=28:koinonia&Itemid=42



Profil Pdt. Joshua Lie:
Pdt. Joshua Lie, S.Th., M.Phil., Ph.D. (Cand.) adalah Pendiri Reformational Worldview Foundation (RWF) dan dosen di Sekolah Tinggi Theologi Amanat Agung (STTAA) Jakarta. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Theologi (S.Th.) di Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang; Master of Philosophy (M.Phil.) di Institute for Christian Studies (ICS), Toronto, Canada; dan sedang studi Doctor of Philosophy (Ph.D.) di ICS.



Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio

19 September 2010

KOINONIA-2: Koinonia dan Ibadah-1 (Pdt. Joshua Lie, M.Phil., Ph.D.-Cand.)

KOINONIA-2:
Koinonia dan Ibadah-1


oleh: Pdt. Joshua Lie, M.Phil., Ph.D. (Cand.)



Nats: Yohanes 4



“Berilah Aku minum” (4:7)


Demikianlah Yesus memulai percakapan-Nya dengan perempuan Samaria. Suatu permintaan yang sederhana karena permintaan itu terjadi di pinggir sumur Yakub, bahkan perempuan Samaria pun hendak menimba air sumur itu.

Namun permintaan yang sederhana itu ternyata sukar dipenuhi perempuan Samaria. Ia pun menjawab, “Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?” Segayung air tentu bukan persoalannya. Namun segayung air yang diminta oleh seorang laki-laki Yahudi kepadanya adalah persoalan yang rumit. Dari air minum, persoalan bergeser kepada persoalan Yahudi dan Samaria.

Perempuan Samaria sadar akan dirinya sebagai perempuan Samaria yang tinggal di daerah Samaria. Ia berada di pinggir sumur Yakub, nenek moyangnya melalui Ephraim. Lokasi menambah kesulitan percakapan ini. Dan Yesus pun dengan sengaja melalui daerah Samaria! Ia tidak menghindari daerah Samaria demi menuju ke Galilea. Lokasi dan tempat bagi perempuan Samaria merupakan pijakan identitasnya. Bagi Yesus, tempat adalah ladang bagi benih kerajaan Allah!

Ketika kita memberitakan Injil kerajaan Allah, kita berhadapan dengan persoalan tempat sebagai identitas. Tanpa menyadari tempat sebagai identitas, maka Injil tidak akan tampak kekuatannya yang mentransformasi kehidupan manusia. Inilah kisah perempuan Samaria.

“Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata-kata kepadamu: Berilah Aku minum! Niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup” (4:10)

Ketika seseorang menyadari identitasnya berakar pada tempat dan kesejarahannya, maka ia perlu mendengar perkataan Yesus sebagaimana dinyatakan kepada perempuan Samaria. Identitas seseorang memang tidak mudah dipisahkan dari tempat dan kesejarahannya, namun identias yang sejati berasal dari karunia Allah.

Mengenal karunia Allah merupakan karunia Allah. Disinilah pangkal kehidupan kita yang sebenarnya. Karunia Allah mengembalikan kita pada identitas kita yang sejati. Sebagaimana Adam diciptakan dalam karunia Allah, dan firman-Nya yang menetapkan identitas Adam, bukan taman dimana ia ditempatkan. Inilah langkah penting bagi hidup kita, yaitu mengenal Dia yang sanggup memberikan kepada kita identitas yang baru yang mengalirkan air hidup.

Karunia Allah memungkinkan perempuan Samaria mengenal Yesus bukan dari pergumulannya sebagai seorang Samaria, melainkan mengenal dirinya dari siapa yang meminta air minum itu. Yesus menyadarkan perempuan Samaria itu untuk memahami karunia Allah dan siapa yang berkata-kata kepadanya.

Perempuan Samaria masih bergumul dengan dirinya. Ia merasa masih memiliki kebanggaannya sebagai keturunan Yakub yang turut mewarisi sumur yang sudah menghidupinya dan kaumnya. Ia melupakan bagaimana sumur itu acap kali menjadi sumber pertengkaran, alasan kesedihan ketika sumur itu mengering dan alasan kesunyian ketika ia perlu mencari waktu sendirian ke sumur itu. Namun ia tetap menanggapi perkataan Yesus, “Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air.”


“Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini” (4:16)

“Suami” sebagaimana dinyatakan Tuhan Yesus mengungkapkan pergumulan yang lebih dalam dari persoalan Samaria dan Yahudi. Kedatangan perempuan Samaria ketika tidak ada seorangpun di sumur Yakub menyatakan keadaan ini. Ia sendirian. Ia tidak lagi dapat bersama dengan teman-temannya untuk mengambil air. Ia terpisah dari kaum perempuan lainnya, karena persoalan “suami.” Ia sudah mempunyai 5 suami! Dan “yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu.”

Persoalan “suami” telah memisahkan perempuan Samaria itu dengan kaumnya. Ia tetap berada di daerah Samaria, ia tetap mengambil air di sumur Yakub, nenek moyangnya, namun ia sendirian. Ketika seseorang meletakkan hidupnya sekadar pada tempat dan warisan masa lalu, orang itu bisa terjebak seperti perempuan Samaria. Ada ketersendirian yang tidak dapat diungkapkan. Arah geraknya ke dalam, dan bersembunyi di sana.

Persoalan “suami” bukan hanya persoalan pribadi perempuan itu sendiri. Persoalan “suami” sekaligus menyatakan persoalan bangsa Samaria. Akar persoalannya dicatat dalam Kitab 2 Raja-Raja 17:33 “Mereka berbakti kepada TUHAN, tetapi dalam pada itu mereka beribadah kepada allah mereka sesuai dengan adat bangsa-bangsa yang dari antaranya mereka diangkut tertawan.”

Bangsa Samaria oeh raja Asyur diangkut bersama-sama lima bangsa lainnya, yaitu dari Babel, dari Kuta, dari Awa, dari Hamat dan Sefarwaim (2Raj. 17:24). Masing-masing bangsa itu membawa allah-allah mereka. Para allah ini menjadi “suami” bangsa Samaria. “Suami” dalam bahasa Ibraninya adalah “ba’al” dan kini menjadikan bangsa Samaria hamba dari para “suami” itu. Maka TUHAN yang bersama mereka “bukanlah suamimu.”

Inilah persoalan sesungguhnya!


"Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” (4:21-24)

Perempuan Samaria menyadari pergumulannya. Ia mengakui Yesus sebagai seorang nabi yang mengungkapkan pergumulannya. Kini ia beralih kepada penyembahan yang dilakukannya di gunung Gerizim. Sekalipun ia menyadari pergumulannya, namun ia masih tetap memenuhi kewajibannya sebagai seorang yang beragama. Ia masih beribadah di gunung Gerizim, gunung yang suci.

Kini percakapan tiba pada pusat kehidupan manusia, yaitu soal penyembahan. Dari air minum di tepi sumur Yakub menuju ke akar kehidupan manusia, penyembahan. Inilah akar persoalannya, penyembahan menjadi persoalan tempat. Penyembahan menjadikan suatu tempat lebih suci dari yang lain. Penyembahan menjadikan satu benda lebih suci dari yang lain. Dengan keterikatan seperti ini, manusia bergumul dengan “suami-suami” yang membelenggunya.

Perempuan itu melupakan betapa sejarah gunung Gerizim dan Yerusalem penuh dengan pertikaian bahkan kehancuran. Ketika bangsa Yahudi berniat kembali ke Yerusalem setelah pembuangan di Babel untuk membangun tembok Yerusalem, bangsa Samarialah yang menolak dan memeranginya. Maka pada tahun 128 BC di bawah pimpinan John Hyrcanus, bangsa Yahudi balas menghancurkan bait penyembahan di gunung Gerizim.

Penyembahan adalah akar kehidupan manusia karena manusia adalah “homo adorans,” makhluk yang menyembah. Inilah jalan keselamatan yang membawa kembali manusia kepada penyembahan yang sejati, yaitu menyembah Allah dalam Roh dan kebenaran. Penyembahan yang mengalirkan air hidup. Inilah titik balik yang sejati, yang diperlukan manusia sebagai makhluk yang menyembah.



Sumber:
http://www.wkristenonline.org/index.php?option=com_content&view=article&id=39:yohanes-4-koinonia-dan-ibadah-bagian-pertama&catid=28:koinonia&Itemid=42



Profil Pdt. Joshua Lie:
Pdt. Joshua Lie, S.Th., M.Phil., Ph.D. (Cand.) adalah Pendiri Reformational Worldview Foundation (RWF) dan dosen di Sekolah Tinggi Theologi Amanat Agung (STTAA) Jakarta. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Theologi (S.Th.) di Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang; Master of Philosophy (M.Phil.) di Institute for Christian Studies (ICS), Toronto, Canada; dan sedang studi Doctor of Philosophy (Ph.D.) di ICS.







Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio

29 August 2010

KOINONIA-1: Dari Melihat Menjadi Menyentuh (Pdt. Joshua Lie, M.Phil., Ph.D.--Cand.)

Koinonia-1:
DARI MELIHAT MENJADI MENYENTUH

oleh: Pdt. Joshua Lie, M.Phil., Ph.D. (Cand.)




Kisah Para Rasul 2:42
“Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa”



Pernahkah Anda merindukan suasana ketika berada di dalam gedung gereja? Saya ingat ketika masih berumur 12 tahun, gedung gereja merupakan tempat terbaik untuk berdoa. Ruangan yang tenang, atap yang menjulang, dan di hadapan kita ada kayu salib yang besar. Ibu saya beberapa kali mengajak saya masuk ke dalam gedung gereja ketika sepi karena bukan hari minggu, lalu berlutut bersama. Itulah kesan saya tentang gereja. Suasana gedung gereja memberikan “sentuhan” yang tak terlupakan. Demikian pula suasana bersama teman-teman gereja berbeda dengan suasana teman-teman di sekitar rumah atau di sekolah. Apa yang berbeda?

Kisah Para Rasul mengungkapkan “suasana” jemaat mula-mula sebagai jemaat “yang bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan … selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.” Mereka bertekun. Bertekun (prokarterountes) dalam arti harfiahnya “being strong toward.” “Suasana” gereja mula-mula muncul dari jemaat itu sendiri, yaitu jemaat yang bertekun. Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul, bertekun dalam persekutuan, bertekun dalam memecahkan roti dan bertekun berdoa. Bayangkan ketekunan mereka menghasilkan “suasana” gereja yang sejati. Menariknya, dikatakan mereka bertekun dalam persekutuan. Bukankah dengan mereka berkumpul, mereka sudah bersekutu? Mengapa perlu bertekun? Inilah keunikan gereja, mereka bertekun dalam koinonia (persekutuan).

Bagi orang Gerika, koinonia adalah suatu perkumpulan atau suatu masyarakat. Ketika sejumlah orang berkumpul dan saling berbagi, atau ketika sejumlah orang mengadakan kesepakatan bekerja bersama, atau ketika seorang laki-laki dan seorang perempuan menikah, disanalah koinonia berlangsung. Selanjutnya bagi orang Gerika, koinonia adalah lawan kata dari pleonexia, yaitu sikap mau menang sendiri, atau mau mengambil segala sesuatu bagi dirinya sendiri. Adanya pleonexia meniadakan koinonia, Ketika sejumlah orang berbisnis namun hanya sebagian kecil yang mengambil keuntungannya, kumpulan itu bukanlah koinonia. Ketika seorang laki-laki dan seorang perempuan menikah namun salah satu saja yang memetik keuntungannya, maka pernikahan itu bukanlah koinonia.

Bagaimana dengan gereja sebagai koinonia? Apa yang membedakannya dengan koinonia orang Gerika? Apa bedanya gereja dengan perseroan, atau dengan perkumpulan arisan, atau dengan perkumpulan-perkumpulan lainnya? Ada cuplikan video yang pernah saya lihat. Sejumlah orang sedang berbaring, bercanda-ria, ada pula yang duduk-duduk menghirup udara segar di padang rumput yang hijau dengan latar belakang gunung yang indah. Tiba-tiba seorang pemuda berdiri lalu mulai bergoyang, dan terus bergoyang, tampaklah ia menari dengan wajah yang tersenyum. Orang-orang mulai memperhatikannya. Mulailah satu persatu orang berdiri dan mulai bergoyang. Satu persatu mulai menari! Inilah model koinonia Gerika. Mereka berkumpul, lalu semua menikmati tanpa ada yang memonopoli. Inilah gambaran koinonia Gerika.

Koinonia Gerika berasal dari kata koine, yaitu suatu yang sama dan menyatukan, common. Sejumlah orang berkumpul untuk mendapatkan manfaat bersama disatukan oleh suatu kepentingan bersama. Apa yang menyatukan mereka? Apa yang menjadi “common” yang menyatukan? Koinonia Gerika ditandai dengan kesenangan mereka berkumpul di teater. Teater bagi mereka sekaligus merupakan lukisan kehidupan mereka. Bahkan kata “teori” berasal dari kata “teater” dalam bahasa mereka. Mereka menemukan “common” (kesamaan) yang membentuk koinonia melalui teater. Teater menyatukan orang berkumpul sebagai penonton, penyaksi, orang yang melihat. Mereka disatukan dalam penglihatan. Mereka berkumpul, duduk, lalu dengan mata yang melihat, mereka menemukan kepentingan yang sama di dalam teater, dan menikmatinya bersama. Itulah koinonia Gerika.

Kehidupan modern meneruskan dan tentunya mengembangkan koinonia Gerika. Mata berperanan penting untuk menemukan yang menyatukan (common). Di gedung bioskop, puluhan, ratusan bahkan ribuan mata disatukan dalam pertunjukan. Beribu bahkan berjuta mata terpaku pada surat kabar dan televisi, lalu menemukan “common” dalam kehidupan moderen. Dan kini kita sedang disatukan dalam piala dunia di Afrika Selatan. Semua mata dari berbagai penjuru dunia dipadukan menjadi koinonia di stadium bola!

Bagaimana dengan koinonia gereja?

Hari Minggu pagi. Satu persatu jemaat berangkat dari rumah mereka menuju gereja. Mereka seperti biasanya tiba, bersalaman, dan mencari tempat duduk dalam gedung gereja. Kebanyakan jemaat duduk di tempat yang sama. Kemudian mereka disatukan dengan pandangan menuju ke panggung dan mimbar. Setelah menyanyikan doksologi dan menerima berkat, pergilah jemaat meninggalkan gedung gereja. Apa yang membedakan koinonia gereja dengan koinonia Gerika dan dunia moderen?

Koinonia gereja mula-mula bukan sekadar kumpulan orang-orang yang mempunyai kepentingan yang sama. Mereka bertekun di dalamnya. Koinonia dinyatakan dengan berbagi harta kepunyaan bahkan berbagi hidup. Itulah kehidupan gereja mula-mula di Yerusalem. Koinonia gereja adalah koinonia yang dibangun atas “kamu yang dahulu ‘jauh,’ sudah menjadi ‘dekat’ oleh darah Kristus” (Ef. 2:13). Koinonia yang “mendekatkan” satu dengan yang lain dengan “merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan” (Ef. 2:14).

Untuk memahami lebih lanjut koinonia gereja, mari kita sejenak memperhatikan Kitab Yosua.

Yosua 2:1a
“Yosua bin Nun dengan diam-diam melepas dari Sitim dua orang pengintai, katanya: “Pergilah, amat-amatilah negeri itu dan kota Yerikho.”

Yosua adalah seorang yang dipanggil TUHAN untuk memimpin umat Israel memasuki tanah Kanaan. Setelah menerima janji dan perintah TUHAN (Yos. 1), kini saatnya ia menerapkan janji dan perintah TUHAN itu dalam kepemimpinannya untuk merebut kota Yerikho.

Langkah awal adalah mengirim dua pengintai dengan perintah “pergi dan lihat.” Yosua mengulangi strategi Musa ketika ia bersama 11 pengintai lainnya diutus untuk mengamat-amati keadaan negeri yang akan mereka masuki (Bilangan 13).

“Pergi dan lihat” merupakan strategi yang ampuh sebagai persiapan memasuki tanah yang asing. Melihat adalah sikap menjaga jarak. Ada jarak antara yang melihat dan yang dilihat. Jarak itulah yang dapat menyatukan sejumlah orang ketika melihat suatu obyek dari lokasi yang sama. Namun ada persoalan dalam penglihatan, yaitu menilai. Maka koinonia Gerika dan koinonia moderen yang berdasar “penglihatan” memberikan pijakan yang sama dalam penilaian agar terjadi kesepakatan.

Namun soal iman bukanlah sekadar soal penilaian. Sepuluh pengintai melihat kenikmatan tanah Kanaan namun mereka juga “melihat” bangsa yang diam di tanah itu adalah bangsa yang kuat dan berkubu. Ini bukan sekadar soal penilaian tetapi soal iman, yaitu soal kesetiaan memegang janji TUHAN sebagai umat-Nya. Di sanalah, Yosua bin Nun dan Kaleb “melihat” bukan dengan mata saja tetapi juga dengan iman (Bil. 14:7-9).

Koinonia “melihat” dapat terbentuk dengan adanya obyek yang mampu menyatukan, entah itu suatu yang enak ditonton, figur yang dikagumi, atau kisah yang menawan. Koinonia gereja tidak seharusnya dipadukan di atas panggung, melainkan pada “mata” iman setiap orang yang berkumpul. Sebagaimana Yosua dan Kaleb berpadu bukan pada apa yang mereka lihat di tanah Kanaan, tetapi pada janji Allah bagi mereka untuk mendiami tanah itu.

Yosua 2:1b
“Maka pergilah mereka dan sampailah mereka ke rumah seorang perempuan sundal, yang bernama Rahab, lalu tidur di situ.”

Perintah Yosua mirip dengan perintah Musa kepada keduabelas pengintai, namun kisah selanjutnya berbeda. Keduabelas pengintai pergi dan melihat, namun sekembalinya mereka menghadap Musa dan segenap umat Israel, tampaklah perbedaan di antara mereka. Laporan kesepuluh pengintai membuat umat ketakutan.

Kini dua pengintai mendapat perintah Yosua untuk pergi dan melihat, namun ternyata mereka pergi ke rumah Rahab dan tidur di situ. Kedua pengintai bukan sekadar pergi dan melihat (ada jarak) tetapi kini mereka masuk bahkan bermalam di rumah Rahab, perempuan Kanaan. Di antara pengintai dan yang diintai seolah-olah tidak lagi berjarak. Keduanya “bersentuhan.” Maka selanjutnya terjadilah percakapan antara kedua pengintai itu dengan Rahab.

Peristiwa pertemuan kedua pengintai dan Rahab menggambarkan koinonia yang tidak hanya “melihat” (seeing) tetapi “bersentuhan” (touching). Inilah koinonia gereja. Gereja bukan sekadar koinonia yang dibangun atas dasar “mata” iman tetapi koinonia yang dibangun atas dasar kehadiran, kedekatan bahkan dikatakan rasul Paulus, keutuhan tubuh, yaitu tubuh Kristus. Itulah “suasana” gereja mula-mula. Mereka berkumpul, memecahkan roti untuk dibagikan satu kepada yang lain. Mereka bersekutu untuk berbagian dalam cawan dan roti yang melambangkan darah dan tubuh Yesus Kristus.

Dua pengintai yang diutus Yosua tidak lagi sekadar melihat. Mereka perlu masuk dan tinggal. “Kedekatan” ini berhasil oleh karena kasih karunia TUHAN dinyatakan melalui Rahab. Bagi Rahab, karya TUHAN begitu “dekat” dengannya (Yos. 2:9-13). Rahab seorang yang “mendengar” dan “gemetar” atas pekerjaan TUHAN, menyatakan komitmennya melalui perjanjian yang dibuatnya dengan dua orang pengintai. Ini kunci yang penting. Rahab membangun “koinonia” dengan dua orang pengintai dengan perjanjian!

Koinonia gereja bukan hanya dipadukan dalam “mata” iman tetapi dalam kedekatan satu dengan lainnya. Maka koinonia itu hanya dapat dibangun dalam salib Kristus dan Roh Kudus (2Kor. 13:13). Inilah dasar yang kokoh bagi koinonia kita sebagai gereja.

Mendekatkan diri berarti meniadakan jarak. Jarak yang memisahkan. Namun ketiadaan jarak tidak dapat dibangun tanpa perjanjian anugerah TUHAN. Gereja perlu terus menerus memelihara dan mengembangkan koinonia ini.




Sumber:
http://www.wkristenonline.org/index.php?option=com_content&view=article&id=36:dari-melihat-menjadi-menyentuh&catid=28:koinonia&Itemid=42




Profil Pdt. Joshua Lie:
Pdt. Joshua Lie, S.Th., M.Phil., Ph.D. (Cand.) adalah Pendiri Reformational Worldview Foundation (RWF) dan dosen di Sekolah Tinggi Theologi Amanat Agung (STTAA) Jakarta. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Theologi (S.Th.) di Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang; Master of Philosophy (M.Phil.) di Institute for Christian Studies (ICS), Toronto, Canada; dan sedang studi Doctor of Philosophy (Ph.D.) di ICS.



Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio