Showing posts with label Postmodern Trend Vs Christian Perspectives. Show all posts
Showing posts with label Postmodern Trend Vs Christian Perspectives. Show all posts

12 March 2011

ADA APA DI BALIK SEMANGAT EMANG GUE PIKIRIN (EGP)? (Denny Teguh Sutandio)

ADA APA DI BALIK SEMANGAT EGP?

oleh: Denny Teguh Sutandio




Selamat datang ke dalam zaman EGP (emang gue pikirin), sebuah zaman yang diracuni oleh semangat pragmatisme yang berpengaruh pada cuek-isme. Jika diperhatikan, maka semangat EGP sebenarnya mayoritas dianut oleh generasi muda, meskipun juga bisa dianut oleh generasi tua (tidak peduli “Kristen” atau non-Kristen). Beberapa semboyan zaman EGP yang kerap kali muncul adalah: “muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk sorga”, “suka-suka gue dunkz, gak usah ngatur-ngatur gue…”, dll. Semangat EGP identik dengan semangat cuek. Mengapa ada orang EGP? Karena:
Pertama, kompleksitas zaman. Harus disadari, zaman kita makin lama makin kompleks dengan berbagai macam masalah yang tak kunjung selesai. Makin kompleksnya zaman mengakibatkan banyak orang makin stres dan akhirnya masa bodoh dengan zaman yang dihidupinya. Namun apakah dengan kompleksitas zaman harus mengakibatkan semangat cuek-isme?? Apakah dengan cuek, masalah dunia makin beres atau makin tidak beres?
Kedua, karakter cuek. Secara khusus, penyebab orang EGP alias cuek adalah memang orang itu berkarakter cuek. Ia cuek dengan siapa dan apa pun bahkan pasangannya sendiri. Jangan heran, banyak orang berkarakter cuek HAMPIR TIDAK bisa membedakan mana yang mutlak vs relatif, mana yang sopan vs tidak sopan, mana yang penting vs tidak penting. Yang banyak orang cuek kerjakan adalah apa yang menurut kemauannya itu “baik”, tanpa mempedulikan perasaan orang lain.


Lalu, apa yang menjadi ciri orang EGP alias cuek?
Pertama, “saya adalah kebenaran.” Tesis dasar (presuposisi) banyak orang cuek adalah dirinya adalah kebenaran. Karena menganggap bahwa dirinya adalah kebenaran, maka semua konsepnya adalah (standar) kebenaran. Semua konsep dari orang lain yang bertentangan dengan dirinya kebanyakan tidak akan dia terima. Jika ditegur, orang ini akan mengeluarkan modal dasarnya, “pokoknya…” atau “aq sudah biasa gitu.” Beberapa (atau mungkin banyak?) orang ini (misalnya: A) akan marah jika orang lain (misalnya: B) membandingkan A dengan orang lain (misalnya: C, D, E, F, dll), lalu mengatakan kepada B bahwa B itu tidak percaya dengan A. Sejujurnya, saya akan mengatakan kepada A bahwa A dan konsepnya itu bukan kebenaran, sehingga saya TIDAK perlu percaya pada (konsep) si A siapa pun A itu! Di dalam iman Kristen yang beres, kebenaran sejati (Truth) HANYA ada pada diri Allah dan firman-Nya, Alkitab.

Kedua, egoisme. Karena ber“iman” pada konsep “saya adalah kebenaran”, maka tidak heran, seorang EGP/cuek juga adalah seorang yang egois (meskipun seorang egois TIDAK harus identik dengan orang EGP/cuek)! Ia mau semua orang mengerti dirinya, bahkan pasangannya pun dia paksa untuk mengerti dirinya dan harus sabar menghadapi dirinya. Ia mau agar orang lain atau pasangannya memenuhi semua keinginannya tanpa memperhatikan kondisi/keadaan pasangannya (meskipun secara perkataan, ia katanya peduli dengan kondisi pasangannya), namun sebaliknya, kebanyakan ia enggan memenuhi keinginan pasangannya (selama itu tidak melawan Alkitab) dengan berbagai macam alasan.

Ketiga, tidak pernah introspeksi diri. Karena berjiwa egois, maka tidak heran, seorang EGP juga adalah orang yang selalu menuntut orang lain agar orang lain tidak berbuat X/Y, namun secara (tidak) sadar, ia tidak pernah mengintrospeksi diri apa yang dia tuduhkan kepada orang lain. Contoh, apabila dia mengkritik orang lain sebagai orang kaku/aneh, dia TIDAK pernah menyadari bahwa ada kelakuannya sendiri yang kaku/aneh.

Keempat, kebebasan. Karena berjiwa egois, maka tidak heran, yang selalu didengungkan oleh seorang EGP adalah KEBEBASAN. Ia ingin bebas dan tidak mau seorang pun yang boleh mengatur atau menegur dirinya. Ketika orang lain menegur dirinya, ia akan langsung menganggapnya sebagai peraturan yang membelenggu dan mencap orang lain itu cerewet. Ia hanya mau ditegur/dikritik orang lain, jika ia meminta pertimbangan dari orang lain, namun jika ia tidak meminta pertimbangan dari orang lain, orang lain disuruhnya DIAM. Dengan kata lain, bagi seorang EGP, orang lain, apalagi pasangannya, dianggap eksis hanya jika ia menganggapnya eksis, namun jika ia tidak menganggap orang lain eksis, maka orang lain itu tidak eksis. Sebuah kekonyolan cara berpikir! Selain itu, seorang EGP (tidak semua) juga tidak memiliki etika. Contoh, karena egois, atas nama “hak asasi”, maka seorang EGP akan menggunakan pakaian sesuka hatinya ketika pergi ke gereja (perkataan yang sering muncul: “suka-suka gue kan, ini baju, baju gue, bukan baju lu”). Ia tidak bisa membedakan mana yang harus sopan menghadap Tuhan di gereja vs mana yang tidak sopan. Tanpa merasa bersalah, ia akan jalan mondar-mandir selama khotbah di gereja diberitakan.

Kelima, argumentasinya lemah. Karena mendewakan kebebasan, maka dapat ditebak ketika seorang EGP mengeluarkan suatu perkataan atau argumentasi, mayoritas argumentasinya lemah atau tidak bisa dipertanggungjawabkan keobjektifannya, karena argumentasinya keluar dari standar subjektif yang tidak jelas.

Keenam, tidak konsisten (berkontradiksi dengan dirinya sendiri). Karena standar seorang EGP tidak jelas dan subjektif, maka tidak heran, seorang EGP tidak konsisten antara dirinya dengan konsepnya sendiri (satu-satunya yang “konsisten” dalam konsep seorang EGP adalah fakta bahwa dirinya tidak pernah bisa konsisten, hahaha). Ya, itulah kekontradiksian seorang EGP. Contoh, standar gurauan vs serius di dalam seorang EGP pun tidak jelas dan tidak konsisten. Kalau orang lain bertanya dan memberi nasihat serius kepada seorang EGP, seorang EGP pernah menjawabnya dengan gurauan, namun sebaliknya jika seorang EGP bertanya serius kepada orang lain dan orang lain menjawabnya dengan gurauan, orang lain itu akan dicap oleh orang EGP sebagai orang aneh.


Jika dilihat dari 6 ciri orang EGP di atas, maka sejujurnya susah berdiskusi dengan orang EGP, karena yang di“iman”i oleh seorang EGP adalah dirinya sendiri, meskipun seorang EGP itu mengaku diri seorang “Kristen.” Karena beriman pada diri, maka orang Kristen yang lebih bijak akan menganggap seorang EGP adalah orang yang memiliki konsep yang berkontradiksi dengan dirinya dan itu perlu dikasihani. Yang paling mengasihankan adalah jika seorang EGP itu adalah seorang “Kristen” yang seolah-olah terlihat religius, seperti: rajin mengikuti kebaktian, memberi persepuluhan, mengikuti acara/seminar rohani, saat teduh, dll, namun ketika ditegur oleh orang lain untuk hal-hal penting, selalu dalihnya, “aq sudah biasa gitu” atau “itu hal sepele” (terkadang memang ada yang sepele, terkadang ada yang penting dianggap sepele). Bagaimana orang Kristen berhadapan dengan orang (“Kristen”) EGP?

Pertama, tentukan standar kebenaran bagi diri kita sendiri. Presuposisi dasar kita untuk menghadapi/berdiskusi atau memberitakan Injil kepada orang EGP adalah kita TIDAK boleh menganggap standar seorang EGP adalah standar kebenaran! Mengapa? Karena sekali kita menganggap standar seorang EGP sebagai standar kebenaran, kita akan dibuatnya bingung, karena standar seorang EGP tidak pernah bisa konsisten! Ingatlah, standar kebenaran sejati bagi orang Kristen adalah Alkitab! Hal-hal yang tidak dibicarakan oleh Alkitab, kita bisa menimbanya dari bijaksana orang Kristen yang berhikmat dan sungguh-sungguh berIMAN Kristen.

Kedua, tunjukkan standar kebenaran. Jika orang EGP itu adalah orang “Kristen”, maka tunjukkanlah kepadanya bahwa iman yang sejati adalah iman yang berpaut pada kebenaran mutlak yaitu Alkitab. Segala sesuatu harus diuji berdasarkan Alkitab. Di luar itu, tidak ada yang benar. Sedangkan jika orang EGP itu bukan orang “Kristen”, maka tugas orang Kristen menyadarkan orang EGP itu bahwa jika semua orang memiliki standar masing-masing, maka dunia pasti kacau. Berikan ilustrasi atau contoh praktis kepada mereka, jika semua orang memiliki standar masing-masing, maka lalu lintas pasti kacau, karena bagi X, lampu hijau berarti berhenti, sedangkan bagi Y, lampu hijau berarti jalan.

Ketiga, tunjukkan kekontradiksian mereka. Karena seorang EGP adalah seorang yang mayoritas berargumentasi lemah dan berkontradiksi dengan dirinya sendiri, maka tunjukkan kelemahan dan kekontradiksian konsep mereka dengan memakai konsep mereka untuk menilai perbuatan mereka sendiri. Misalnya, jika ada orang EGP yang mengatakan kita aneh/kaku, perhatikan sikap orang EGP tersebut, pasti ada yang kaku/aneh, dan sadarkan dia bahwa apa yang dia katakan kepada orang lain sebenarnya merefleksikan kelemahannya dia sendiri! Contoh kedua, jika ada orang EGP yang berkata: “suka-suka gue dunkz mau berbuat apa”, jawablah dia, “suka-suka gue juga dunkz untuk tidak setuju dengan lu.” Kalau hasilnya, seorang EGP marah, maka itu membuktikan dia bukan penganut EGP sejati! Seorang EGP sejati adalah seorang yang juga CUEK jika ada orang yang tidak setuju dengan konsepnya.


Bagaimana dengan kita? Masihkah kita yang mengaku diri “Kristen” bahkan tampak religius masih berpegang pada semboyan EGP? Apakah kita berhadapan dengan orang EGP bahkan yang mengaku diri “Kristen”? Apa pun situasi kita, biarlah fokus iman kita hanya pada Kristus dan bukan pada diri. Amin. Soli DEO Gloria.

27 February 2011

ADA APA DI BALIK PELATIHAN MOTIVASI? (Denny Teguh Sutandio)

ADA APA DI BALIK PELATIHAN MOTIVASI?
Sebuah Tinjauan Kritis Iman Kristen Terhadap Gejala Pelatihan Motivasi


oleh: Denny Teguh Sutandio



“Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus.”
(Kol. 2:8)




Orang Kristen adalah orang yang mengikut Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Sebagai pengikut Kristus, orang Kristen tentu mengarahkan hati dan seluruh hidupnya hanya pada Kristus SAJA. Untuk itulah, Paulus mengingatkan kembali jemaat Kolose dan kita agar hidup kita tetap di dalam Kristus, berakar di dalam-Nya, dibangun di atas-Nya, dan tidak lupa untuk bersyukur (Kol. 2:6-7). Setelah itu, ia mengingatkan kita agar kita tidak mudah ditawan oleh berbagai filsafat dan tradisi manusia berdosa yang melawan Kristus. Di sini, Paulus mengingatkan kita bahwa hidup di dalam Kristus berarti menundukkan segala sesuatu dari hati, pikiran, perkataan, tindakan kepada Kristus dan Alkitab dan MENOLAK semua ajaran dunia yang melawan Kristus (bdk. Rm. 12:2)!

Jika menurut konteks, ajaran yang dimaksud Paulus adalah filsafat Yunani yang beredar waktu itu dan tidak menutup kemungkinan tradisi Yudaisme yang membelenggu, maka ajaran yang sedang merusak zaman kita sekarang adalah Gerakan Zaman Baru (New Age Movement). Gerakan Zaman Baru merupakan sebuah gerakan yang beride gabungan antara filsafat Barat dan filsafat Timur (monisme, pantheisme, Hinduisme dan Buddhisme, mistisisme Oriental, dll). Di dalam gerakan ini, diajarkan bahwa di dalam diri manusia ada sesuatu raksasa yang sedang tidur yang harus dibangkitkan kembali. Di dalam filsafat pantheisme yang mengajarkan bahwa segala sesuatu adalah “allah”, itu dikenal sebagai little gods (ilah-ilah kecil). Paham ini menyebar di berbagai bidang, mulai dari pengobatan, olahraga, bisnis, agama, bahkan dalam dunia Kekristenan. Penyebaran paling cepat paham ini adalah melalui pelatihan motivasi. Di dalam pelatihan yang selalu menguras duit yang cukup besar dari para pendaftar ini diajarkan tips-tips untuk membangun semangat orang untuk menjadi kaya, sukses, dll. Oleh karena itu, tentu diperlukan suatu ajaran yang berpusat pada diri dengan mengindoktrinasi mereka bahwa mereka hebat dan ada kekuatan raksasa di dalam diri mereka yang lagi tidur yang harus mereka bangunkan. Selain itu, mereka juga mengindoktrinasi para pendengarnya bahwa setiap mereka harus sukses dan kaya (materialisme). Bahkan jika motivator “Kristen” akan menambahinya dengan ayat-ayat Alkitab (yang tentu saja TIDAK memperhatikan prinsip penafsiran Alkitab yang ketat) untuk mendukung teori mereka. Dengan kata lain, ciri-ciri khas (eksplisit maupun implisit) para pelatih motivasi adalah: humanisme atheis (=berpusat pada diri manusia/antroposentris), Pantheisme (manusia adalah “allah”), menipu realitas, dan materialisme (manusia harus kaya, sukses, dll). Tidak heran, pelatihan motivasi ini sangat digandrungi oleh beberapa gereja “Kristen” yang menganut ajaran (“theologi”) kemakmuran.

Perhatikan perkataan dan slogan mereka ini. Seorang motivator yang terkenal dengan slogan motivasinya, “Dahsyat” yang juga pernah diundang menjadi pembicara seminar/persekutuan businessman di salah satu gereja di Surabaya mengadakan Training for Firewalk Trainers dengan salah satu tujuannya, “Belajar Bagaimana Membuat Seseorang Menjadi Yakin Dapat Berjalan di Atas Bara Api” (http://www.dahsyat.com/events/train-for-firewalk-trainer/). Selain itu, dia juga mengadakan Seminar Life Revolution dengan maksud “Mengembangkan Kepercayaan Diri Secara Utuh, 5 Resep Sukses Anti Gagal, …, Membangunkan “Raksasa” yang Tidur” (http://www.dahsyat.com/events/life-revolution-with-firewalk-experience/)

Seorang motivator yang mengaku “Kristen” yang terkenal dengan slogannya, “Poor is Sin, Giving is Rich” di websitenya mengatakan, “Saya heran mengapa sebagian umat berpandangan lebih mudah percaya bahwa uang itu jahat, Miskin itu baik, bahkan miskin itu Kemuliaan, dibandingkan dengan rancangan Tuhan hidup berkelimpahan atas mereka (bdk. Yer. 29:11, Yoh. 10:10b, Ul. 15:4)? Apakah kita semua ini anak raja melarat? Ironis sekali iman ini. Saya tidak percaya Tuhan menebus kita hanya untuk kemiskinan!” (http://www.tqpartner.com/Detailspecial-partner.php?recordID=3). Dia juga mengatakan, “Kawan katamu adalah doamu. Berhati-hatilah dengan kata-kata yang kita ucapkan. Karena katamu itulah doamu” (http://omahmaria.blogspot.com/2010/01/johan-yan-katamu-itulah-doamu.html).

Lain lagi dengan motivator yang terkenal dengan slogannya, “Success is My Right” mengatakan, “Pola pikir dan keyakinan adalah kekuatan di belakang sistem sukses yang ada di dalam diri kita. Apapun yang kita bayangkan dan kita yakini terus menerus dalam benak kita, pada akhirnya akan terwujud dalam kenyataan. Itulah hukum pikiran universal yang berlaku. Kalau kita selalu berkata: "Mana mungkin aku bisa sukses?", "Aku sulit berhasil," maka kecenderungan sikap mental seperti itu akan disusul oleh kenyataan berupa kegagalan. Sebaliknya kalau kita berkata pada diri sendiri, "Aku bisa sukses, "Aku mampu," besar kemungkinan kita akan berusaha keras dengan berbagai cara sehingga kesuksesan bisa diraih persis seperti yang diyakini dan kita pikirkan. Jadi tepat sekali ungkapan yang mengatakan YOU ARE WHAT YOU THINK. Anda adalah seperti apa yang Anda pikirkan! Mari, miliki citra diri yang sehat! Miliki keyakinan diri yang mantap! Salam sukses luar biasa!!” (http://www.andriewongso.com/artikel/aw_artikel/3808/Anda_adalah_Apa_yang_Anda_Pikirkan/)

Bagaimana iman Kristen menyoroti fenomena ini? Kita akan meninjau gejala ini sekaligus di dalamnya saya memberikan pengertian jitu tentang motivasi Kristen yang sehat menurut Alkitab.

Sisi positifnya harus diakui, beberapa motivasi mereka baik yaitu memompa semangat kerja dan hidup manusia yang malas dan juga ada beberapa konsep mereka yang baik secara umum untuk membangun mentalitas bangsa kita. Namun harus disadari motivasi dan konsep baik TIDAK berarti itu benar khususnya dari perspektif iman Kristen. Iman Kristen yang berdasarkan Alkitab jelas mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang dicipta segambar dan serupa dengan-Nya (Kej. 1:26-27). Ini juga merupakan dasar motivasi Kristen yang sehat berdasarkan Alkitab! Karena sebagai ciptaan-Nya, maka otomatis, manusia hanya mewarisi sifat-sifat Allah secara turunan (manusia hanya mirip Allah) dan TIDAK berarti manusia sama dengan Allah. Mengidentikkan manusia dengan Allah adalah suatu dosa besar dan itulah yang hendak diiming-imingi oleh iblis kepada manusia pertama (Kej. 3:5). Selain dosa, menyamakan manusia dengan Allah mengakibatkan rusaknya citra diri manusia, sehingga akhirnya manusia makin tak menemukan makna hidup. Tontonlah film komedi Bruce Almighty yang diperankan oleh Jim Carrey, di situ Jim Carrey diberi kekuasaan oleh “Tuhan” untuk memiliki dan melakukan segala hal, termasuk menjawab doa, dll, namun apakah Jim Carrey menjadi puas? TIDAK, justru ia menjadi kacau dan pusing (khususnya ketika ia menjawab doa banyak orang) dan terakhir, ia menginginkan agar ia kembali lagi menjadi manusia biasa! Ironis sekali.

Karena diciptakan segambar dan serupa dengan-Nya, tentu tujuan hidup manusia bukan untuk diri mereka sendiri, tetapi untuk Tuhan, seperti yang dipaparkan oleh Katekismus Singkat Westminster pasal 1 bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk memuliakan Allah dan menikmati-Nya selama-lamanya. Iman yang berpusat pada Allah ini mengakibatkan kita menyadari bahwa apa pun yang ada pada kita adalah anugerah Allah yang harus dipertanggung jawabkan dengan pimpinan Roh Kudus demi kemuliaan-Nya saja (bdk. Rm. 11:36).

Jika hidup kita telah dipusatkan hanya kepada Allah, maka tentu saja, kita akan berusaha mengerti kehendak dan pimpinan Allah di dalam hidup kita melalui Alktiab dan pencerahan Roh Kudus secara pribadi. Allah menginginkan anak-anak-Nya hidup di dalam kehendak-Nya yang selalu baik baik bagi Allah dan umat-Nya. Sebuah ayat Alkitab yang sudah kita hafal, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Rm. 8:28) Namun perlu digarisbawahi KEBAIKAN menurut standar Allah berbeda dengan standar manusia. Manusia dunia selalu mengukur kebaikan dari apa yang tampak (fenomena) seperti kekayaan, kesuksesan, dll dan banyak orang “Kristen” yang sudah diracuni oleh ajaran kemakmuran (termasuk oleh seorang motivator “Kristen” di atas), mengidentikkan hal itu dengan “berkat Tuhan.” Benarkah sukses dan kaya identik dengan berkat Allah dan miskin diidentikkan dengan dosa? Jika memang benar demikian, bagaimana dengan Tuhan Yesus yang pernah mengatakan, “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” (Mat. 8:20)? Apakah Kristus yang miskin berarti Kristus itu berdosa? TIDAK. Di sinilah kegagalan cara berpikir manusia berdosa. KEBAIKAN menurut standar Allah BUKAN diukur dari segi fenomena, tetapi esensi/intinya di mana KEBAIKAN-Nya selalu berkaitan erat dengan belas kasihan, kekudusan, kebenaran, keadilan, keagungan, dan kemuliaan-Nya, sehingga dalam penderitaan mencekam pun, anak-anak-Nya tetap dapat melihat kebaikan Allah. Dengan kata lain, KEBAIKAN Allah TIDAK pernah meniadakan realitas dunia (misalnya penderitaan TIDAK dianggap tidak ada, tetapi dianggap ADA), namun KEBAIKAN Allah jauh menerobos melampaui realitas dunia dengan memberikan solusi atas realitas tersebut.

Hidup yang berpusat kepada Allah juga ditandai dengan hidup di dalam pimpinan Allah di mana kita mengizinkan Allah memimpin seluruh langkah hidup kita setiap waktu. Dengan kata lain, kita mengaitkan segala sesuatu dengan Allah, persis seperti yang diajarkan oleh Yakobus kepada kita, “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” (Yak. 4:15) Iman ini jelas BERBEDA total dengan ajaran para motivator di atas yang menekankan bahwa apa yang kita pikirkan dan katakan itulah yang terjadi. Berbeda dari konsep dunia yang mengajarkan, “Di mana ada kemauan, di situ ada jalan”, maka iman Kristen mengajarkan bahwa apa pun yang kita pikirkan dan katakan, jika Tuhan TIDAK menghendakinya, itu tidak akan pernah terjadi (slogan Kristen: “Di mana ada TUHAN, di situ ada jalan terbaik.”). Meskipun kita berkata di depan cermin seperti orang gila, “Yes, yes, saya hebat dan pintar”, namun jika Tuhan TIDAK menginginkannya, maka percuma saja kata-kata kita di depan cermin itu. Di sini, kedaulatan Allah berperan penting di dalam seluruh aspek kehidupan kita (bukan hanya menguasai pikiran kita saja khususnya ketika belajar theologi)!

Secara logika, pelatihan motivasi tersebut apakah mampu membuat semua orang berhasil dengan cara-cara mereka? TIDAK! Bahkan mungkin hanya segelintir orang saja yang sukses dengan cara-cara mereka dan orang-orang itulah yang dimintai untuk memberikan testimoni di dalam pelatihan mereka, sedangkan mereka yang gagal menerapkan cara-cara mereka tentu tidak akan disuruh menulis testimoni, hehehe.

Jika demikian, bolehkah orang Kristen mengikuti pelatihan motivasi dari para motivator tersebut? Saya tidak akan menjawab BOLEH atau TIDAK BOLEH. Saya akan mengembalikan semuanya kepada motivasi setiap orang Kristen. Jika Anda adalah orang Kristen yang beres (namun kelebihan duit, hehehe) hanya ingin mendengar pengajaran dari pelatihan motivasi tersebut, silahkan saja mengikutinya, namun pesan saya: berwaspadalah! Sedangkan Anda yang termasuk orang Kristen yang beres yang lagi kekurangan duit, maka jangan menghamburkan duit untuk mengikuti seminar-seminar yang hanya memompa semangat Anda seketika tanpa dasar yang jelas! Jangan mempergunakan uang kita untuk hal-hal sampah, sebaliknya pergunakan uang kita untuk membantu pekerjaan Tuhan di tempat-tempat di mana Tuhan dipermuliakan (gereja yang bertanggungjawab, lembaga misi yang bertanggungjawab, lembaga percetakan Alkitab, persekutuan universitas yang bertanggungjawab, dll)!

Pelatihan motivasi dunia selalu dimulai dari manusia, oleh manusia, dan untuk manusia, sedangkan motivasi menurut Alkitab dibangkitkan mulai dari Allah, oleh Allah, dan bagi Allah selama-lamanya. Sebuah perbedaan mutlak yang harus kita sadari. Bagaimana respons kita? Mengikuti fenomena dunia tanpa seleksi ketat atau kembali kepada Alkitab dan menyoroti fenomena dunia dengan bijak? Biarlah Roh Kudus mendorong semangat hidup kita demi memuliakan-Nya. Amin. Soli DEO Gloria.

06 September 2008

YESUS MENURUT PARA AHLI (Pdt. Ir. Victor Mangapul Sagala, D.Th.)

Yesus Menurut Para Ahli

oleh: Pdt. Ir. Victor Mangapul Sagala, D.Th.



Sekalipun Alkitab, khususnya keempat Injil telah menulis dengan jelas siapa Yesus, bahwa Dia adalah Allah yang patut dipuji dan dipuja, namun cukup banyak ahli (scholars) memiliki pandangan yang sangat berbeda dengan apa yang diajarkan oleh Alkitab. Sebagai contoh, izinkan saya mengutip pandangan beberapa theolog tertentu, yang disebut sebagai theolog liberal, khususnya theolog abad lalu yang banyak memiliki pandangan yang sangat negatif terhadap Yesus. Jika kita membaca dan mengamati tulisan-tulisan mereka, maka kita dapat menyimpulkan bahwa mereka telah meninggalkan pengajaran Alkitab dan membangun pandangan sendiri yang seringkali bersifat spekulatif.

Mengapa theolog-theolog tersebut menolak pengajaran Alkitab? Alasan mereka adalah karena penulis-penulis Alkitab tidak menulis Yesus yang sesungguhnya (the real Jesus), tapi mereka telah memoles Yesus sesuai dengan kehendak mereka yang cenderung terlalu meninggikan Yesus. Tuduhan seperti itu khususnya ditujukan kepada Injil Yohanes yang menegaskan bahwa Yesus, yang disebut dengan Firman itu, bukan saja sejak kekekalan telah bersama-sama dengan Allah, tetapi Dia sendiri adalah Allah. (Yoh.1:1) Itulah sebabnya mereka memberi istilah “Yesus sejarah” (the historical Jesus) dan “Kristus yang diimani” (Christ of faith). Mereka menolak Kristus yang diimani oleh para rasul, tapi menerima Yesus sejarah. Namun demikian, bicara soal Yesus sejarah, juga masih menjadi masalah bagi mereka. Yesus sejarah yang mana?

Marilah kita melihat beberapa dari pandangan theolog tersebut. Kita mulai dengan Adolf Harnack yang menegaskan bahwa kita tidak dapat membangun doktrin Kristologi dari Injil. Mengapa? Menurut Harnack, Injil tidak bicara mengenai Yesus, tetapi mengenai Bapa. Harnack menulis, “The Gospel, as Jesus proclaimed it, has to do with the Father only and not with the Son.” Di pihak lain, H. J. Holtzmann berbeda dengan Harnack, karena dia mengakui adanya pengajaran Yesus dalam Injil. Namun demikian, Holtzmann tidak mengakui keAllahan Yesus. Karena baginya Injil tidak mengajarkan Yesus sebagai Allah, tetapi hanya sebagai manusia saja. Holtzmann menulis, “This Gospel describes a purely human Jesus for whom no claims to divinity are made.” Pandangan negatif lainnya diberikan oleh David F. Strauss yang mengatakan, “Jesus was a legendary figure whose historicity was debatable.”

Setelah melihat beberapa pandangan tersebut di atas, kelihatannya, kurang lengkap jika kita tidak menyebut pandangan theolog yang satu ini, yaitu Rudolph Bultmann. Diakui atau tidak, disadari atau tidak, Bultmann telah banyak mempengaruhi theolog-theolog sejagad, termasuk theolog Indonesia. Bultmann juga menolak Yesus yang disaksikan Alkitab. Bagi Bultmann, Yesus yang disaksikan Alkitab adalah Kristus yang diimani para Rasul, bukan Yesus yang sesungguhnya. Karena itu, perlu diragukan. Bultmann menegaskan: “It is impossible to recapture Jesus as He moved in Galilee and Jerusalem and to know precisely what took place in the years AD 30-33.”

Dengan mengatakan demikian, itu tidak berarti bahwa Bultmann secara mutlak menolak pengakuan tentang Yesus. Dia tetap mengakui Yesus, tetapi bukan Yesus dalam Alkitab yang menurutnya telah dipoles oleh para Rasul. Bultmann menegaskan: “The mere thatness is sufficient.” Barangkali pandangan yang paling negatif dari semuanya adalah pandangan G. A. Wells, di mana bagi Wells, Yesus tidak pernah ada. “Did Jesus ever exist?”, demikian dia memberi judul kepada bukunya. Menurut Wells, “Jesus was a mythical figure arising out of Paul's mystical experience, for whom an earthly 'history' had later to be invented.”

Apa gunanya kita mengutip pandangan-pandangan tersebut di atas? Tentu saja bukan untuk diikuti, karena secara jelas pandangan tersebut tidak berdasarkan kepada kesetiaan kepada pandangan kitab Suci, Alkitab. Kiranya pandangan seperti itu juga jangan dibiarkan untuk menggoncangkan iman kita. Alasan kita yang pertama adalah karena kita ingin secara jujur dan terbuka menunjukkan kenyataan adanya pandangan seperti itu. Untuk apa? Supaya kita tidak bertheologi seperti orang yang sedang memakai kaca mata kuda. Maksud saya, ada orang memahami theologi tertentu, karena memang hanya pandangan seperti itulah yang diketahuinya. Hanya itu pilihan yang ada di depannya. Dengan perkataan lain, orang tersebut digiring dan dipaksa hanya melihat ke satu arah dan tidak diberi kesempatan untuk melihat adanya kemungkinan arah lain. Dengan demikian, pandangan seperti itu belum tahan uji. Selanjutnya, penting sekali kita mengamati kenyataan ini: bila pengajaran Alkitab tidak lagi berotoritas, maka semua orang dapat membangun teorinya sendiri. Jika demikian halnya, apa lagi dasar menilai pandangan tersebut? Rasio? Subjektivitas pribadi?

Apakah semua ahli memiliki pandangan demikian? Jika demikian halnya, maka sebaiknya tidak perlu belajar theologi sampai tingkat sedemikian. Belajar theologi, cukuplah seadanya, tidak perlu tinggi-tinggi; karena buat apa belajar theologi kalau akhirnya merusak iman sendiri serta umat Allah lainnya? Bukankah Tuhan Yesus pernah menegaskan agar tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain? Memang ada yang beranggapan demikian. Karena itu, mereka akan menolak dan ‘alergi’ terhadap orang-orang yang belajar sampai ke tingkat tertentu, yang menurut mereka sudah terlalu ilmiah dan tidak memiliki iman lagi.

Tapi dalam kenyataannya, tidaklah demikian. Sesungguhnya, saya ingin menegaskan bahwa meski cukup banyak pandangan yang sedemikian radikal yg meragukan serta menolak pengajaran Alkitab, kita bersyukur karena banyak ahli theologi lainnya yang percaya dan menerima kesaksian Alkitab. Kita dapat menyebut sederetan nama besar yang sangat ahli dan sedemikian berpengaruh namun tetap setia kepada pengajaran Alkitab. Sebagai contoh: J. B. Lightfoot, H. P. Liddon, A. E. J. Rawlinson, Vincent Taylor, Oscar Cullmann, C.K. Barrett, Rudolph Schnackenburg, Raymond Brown, Graham Stanton, Peter Stuhlmacher, I. H. Marshall, F. F. Bruce, N. T. Wright, Ralph Martin, R. T. France, G. E. Ladd, D. A. Carson, John Stott, Luke Timothy Johnson, Donald Bloesch, Millard J. Erickson, dan banyak lainnya lagi. Orang-orang tersebut di atas menerima pengajaran Alkitab bahwa Yesus adalah pribadi yang sangat mulia, di mana kemuliaan-Nya sama dengan kemuliaan yang dimiliki oleh Allah Bapa di dalam Perjanjian Lama. Karena itu, mereka dengan segenap hati menyembah pribadi Yesus serta mengajarkan hal yang sama melalui buku atau berbagai artikel yang mereka tulis.

Saya sengaja menyebut cukup banyak nama yang sangat ahli dan telah dikenal di seluruh dunia. Hal itu saya lakukan untuk menyangkali pandangan yang mengatakan bahwa seolah-olah hanya orang-orang bodoh dan kaum fundamentalis lah yang mempercayai Alkitab, apa adanya. Dalam kenyataannya, tidaklah demikian. Sikap meragukan serta menolak atau percaya dan menerima Alkitab ternyata adalah masalah sikap hati dan iman, BUKAN MASALAH BODOH ATAU PINTAR. Artinya, jika hati dan pikirannya sudah ditetapkan untuk menganut satu pemahaman tertentu, apa pun kata Alkitab serta para ahli lainnya, hal itu tidak terlalu berarti baginya. Sebaliknya, jika dengan iman, orang belajar dan membuka diri kepada pernyataan-pernyataan Alkitab, maka orang tersebut –tidak bisa tidak– akan dibawa kepada pengenalan dan penyembahan kepada Yesus.

Saya bersyukur, dalam rangka melengkapi bahan disertasi, pada waktu yang lalu, saya mendapat kesempatan mengadakan penelitian selama 6 (enam bulan) di Tyndale House, Cambridge, Inggis. Dalam masa itu saya menikmati persekutuan yang sangat indah dengan para scholar yang datang dari berbagai penjuru dunia. Sungguh, saya tidak melewatkan kesempatan yang sangat berharga itu. Dalam setiap kesempatan yang ada, saya berusaha keras untuk berdiskusi secara pribadi dengan mereka, termasuk dengan beberapa orang yang namanya telah saya sebutkan di atas. Selain mengalami persekutuan informal setiap harinya, yaitu ketika acara tea/coffee time di pagi dan sore hari, para ahli tersebut juga mengadakan ibadah persekutuan sekali seminggu. Dalam salah satu ibadah yang dipimpin oleh David I. Brewer (salah seorang tim peneliti tetap di Tyndale House), dia memulainya dengan sebuah kalimat yang sangat berkesan bagi saya: “It is good to be a scholar but it is better to be a believer.”

Kiranya kita semua juga secara bersama-sama mencintai kebenaran sebagaimana diajarkan oleh Alkitab; karena itu, kita semakin ahli. Tetapi lebih dari situ, kiranya semua itu membawa kita semakin beriman kepada-Nya dan memiliki ambisi suci untuk terus menerus memuliakan nama-Nya. Hidup di dalam Dia dan hidup hanya bagi Dia.
Soli Deo Gloria.


Sumber: Tabloid Reformata Juli 2005.



Disarikan dari: www.mangapulsagala.com



Profil Pdt. Dr. V. Mangapul Sagala:
Pdt. Ir. Victor Mangapul Sagala, D.Th. adalah pendeta yang melayani di Persekutuan Antar Universitas (PERKANTAS) dan dosen Perjanjian Baru di Sekolah Tinggi Theologi Reformed Injili Indonesia (STTRII) Jakarta dan STT lain. Beliau lahir di Bonandolok, Samosir, 19 Mei 1956. Beliau menyelesaikan studi Master of Divinity (M.Div.), Master of Theology (M.Th.), dan Doctor of Theology (D.Th.) di Trinity Theological College, Singapore. Beliau menjalani studi riset selama 6 (enam bulan) di Cambridge, Inggris. Beliau menikah dengan Dra. Junicke br. Siahaan dan dikaruniai lima orang anak: Billy (1988), Abdiel (1991), si kembar Stefan & Filip (1993), Ekharisti (1995).

Pengalaman Internasional:
- Asian Evangelists Coference. Singapura, 7-12 Juli 1985
- International Conference for Itenerant Evangelists (ICIE), Amsterdam 12-21 Juli 1986
- IFES Conference, Amsterdam 4-11 Juli 03
- SBL: Seminar of Biblical Literature, International Meeting: Cambridge, Inggris: 21-25 Juli 2003.

Karya Tulis yang telah diterbitkan:
1. Pemimpin Pujian yang Kreatif
2. Superioritas dan Keistimewaan Alkitab
3. Petunjuk Praktis Menggali Alkitab
4. Kristus Pasti Datang Kembali
5. Roh Kudus dan Karunia Roh
6. Bagaimana Kristen Berpacaran
7. Pekabaran Injil Secara Pribadi

22 May 2008

JANGAN MENJAJAKAN FIRMAN TUHAN (Pdt. Effendi Susanto, S.Th.)

Jangan Menjajakan Firman Tuhan

oleh: Pdt. Effendi Susanto, S.Th.



2 Kor. 2:12
(12) Ketika aku tiba di Troas untuk memberitakan Injil Kristus, aku dapati, bahwa Tuhan telah membuka jalan untuk pekerjaan di sana.

2 Kor. 3:9
(9) Sebab, jika pelayanan yang memimpin kepada penghukuman itu mulia, betapa lebih mulianya lagi pelayanan yang memimpin kepada pembenaran.

“Unlike so many, we do not peddle the word of God for profit …” (2 Kor.2:17)


Di dalam hari ulang tahun Gereja kita ini (GRII Sydney, ed.) saya rindu kita melakukan satu self-critic kepada Gereja kita. Dan saya rindu khotbah ini sekaligus juga menjadi satu firman Tuhan yang boleh mencerahkan bagaimana seharusnya kita sebagai Gereja hidup dan bagaimana kita menjadi Gereja yang membuktikan kepada dunia ini inilah Gereja yang Tuhan inginkan.

Paulus menegur jemaat Korintus dengan surat yang begitu keras. He rebuked them. Bukan karena Paulus membenci mereka tetapi justru karena Paulus sangat mengasihi mereka. Tidak gampang untuk bisa menggabungkan antara teguran dengan kasih. Dalam hidup kita –terutama kepada anak-anak kita- sulit sekali kita bisa menggabungkan kedua hal itu. Karena yang sering kita lihat teguran adalah tanda benci, dan tidak pernah melihat teguran sebagai tanda kasih. Itu sebab di sini Paulus mencetuskan perasaannya dengan kalimat ini, “Saya cemas, saya mencucurkan air mata, saya marah, saya menegurmu…”

Bukan Paulus ingin menyedihkan hati mereka. Bukan tandanya Paulus membenci mereka. Tetapi Paulus mengasihi mereka dengan kasih yang luar biasa besar. Kita sayang kepada Gereja, itu sebab kita perlu memberikan teguran, sekalipun teguran itu keras. saudara boleh menegur saudara seiman yang lain, bahkan memberi teguran itu kepada saya sebagai hamba Tuhan, bukan karena kita membenci orang tetapi karena kita sayang dan supaya Gereja Tuhan itu bertumbuh.

Tidak semua orang yang memakai label dan nama “Kristen” itu adalah sungguh-sungguh menjadi model bagi Gereja Tuhan. Di ayat 17 Paulus berkata dengan hati yang keras dan marah sekaligus sedih, dia melihat ada orang-orang tertentu menjadi penyebab yang menimbulkan kesulitan di dalam jemaat Korintus dan dia terpaksa harus mengangkat orang-orang itu dan menegur motivasi mereka yang tidak benar. Hal ini tidak gampang, karena secara jumlah dan kuantitas jumlah orang tidak benar selalu jauh lebih banyak daripada orang yang benar. Ini kalimat Paulus, “Kami tidak sama dengan ‘banyak’ orang lain yang mencari keuntungan dari firman Tuhan…” Satu-satunya kali kata yang dipakai di sini: “mencari keuntungan.” Dari bahasa aslinya kata itu boleh diterjemahkan dengan kata “orang yang menjajakan pelayanan.” Banyak orang yang seperti itu, kata Paulus.

Kita mesti mawas diri, apakah Gereja kita juga terjebak dan jatuh menjadi Gereja yang tidak tulus dan tidak jujur dan kita rindu untuk menjadi Gereja Tuhan yang baik. Kalau itu terjadi, kita harus rela melakukan self critic ini. Kalau kita menyaksikan banyak pelayanan dari Gereja yang lain yang “menjajakan Kristus” seperti ini, mari kita tegur. Kita tegur bukan karena kita benci mereka. Kita tegur karena kita tidak ingin orang lain akhirnya menghina Gereja Tuhan.

Tim Stevens menulis satu buku “Pop Goes the Church” mengatakan, “Here’s the bottom line. The Christians message never changes, but methods must. Studies show spiritual hunger in the U.S. at an all-time high, but church-attendance at an all-time low and dropping. A lot of people feel church is irrelevant – so it’s time to change.” Di Amerika, banyak orang yang haus rohaninya, tetapi jumlah orang yang ke gereja justru menurun. Kenapa? Dia menyimpulkan karena Gereja sudah tidak relevan lagi, itu sebab harus terjadi perubahan. Gereja harus relevan. Itu adalah motivasi yang ingin supaya orang lebih banyak datang ke Gereja, salah satu motivasi yang mulia. Tetapi kalau menggunakan dan menghalalkan segala cara demi supaya orang datang ke Gereja, akhirnya Gereja tidak lagi menjadi Gerejanya Tuhan, saya rasa itu tidak menjadi benar adanya. Bukan saja sekarang, tetapi di zaman Paulus dahulu orang sudah memperdagangkan Yesus. Ini kalimat Paulus, menjual-belikan firman Allah, sehingga Gereja menjadi Gereja yang seperti itu. Paulus berjuang menolak hal ini karena dia tahu apa artinya menjadi Gereja. Dia menangisi jemaat Korintus yang mengalam mixture antara pelayanan yang baik dengan motivasi yang tidak baik.

Ada dua macam kritik yang bisa datang kepada saudara dan saya. Satu, orang yang terus mengkritik karena orang itu membenci saudara. Tetapi yang kedua, teguran dan kritikan yang keras datang kepada kita mungkin itu adalah kritikan yang mengasihi kita. Pada zaman Reformasi, John Knox menegur ratu Inggris yang ingin menikah lagi. Ratu marah luar biasa, begitu benci dan ingin membunuh John Knox. Tetapi John Knox menegaskan dia menegur ratu karena kasih. Akhirnya beberapa hari kemudian ratu menyadari bahwa John Knox adalah seorang yang sungguh-sungguh hamba Tuhan. Orang yang lain tidak berani dan diam. Hanya John Knox yang berani menegur dia.

Inilah yang Paulus lakukan kepada jemaat Korintus supaya motivasinya tidak disalah-mengerti. Maka dia bilang dia menegur dengan mengeluarkan air mata karena dia amat mengasihi mereka. Saya juga ingin melalui kebaktian pagi ini kita tidak menjelek- jelekkan Gereja kita atau Gereja-gereja yang lain, tetapi kita ingin memanggil satu pelayanan yang sejati. Every Christian, whether he likes or not, is a letter for Jesus Christ. Do you really the letters of Jesus Christ to be read by others so they see and know who Jesus is? Kita adalah surat Kristus. Kemana-mana kita pergi, orang bisa membaca dan melihat siapakah Yesus Kristus melalui kita.

Bagaimana kita mendefinisikan di zaman modern ini, kalimat Paulus, “banyak orang menjual-belikan firman Tuhan dengan hati yang tidak jujur dan maksud yang tidak murni” ini? Paulus mengatakan dengan terus terang, jangan menjadi orang Kristen yang menjajakan Injil, mencari keuntungan dari pelayanan. Karena itulah saya kemudian mencoba menelusuri apa yang sedang terjadi pada masa kini, yang ternyata sungguh memperlihatkan hal dan situasi yang sama dengan apa yang Paulus katakan ini. Dari
Google, kata Merchandising Jesus saya menemukan 220.000-an website mengenai hal ini. Dalam Ethical Atheist – Ridiculous Religious Merchandise saya menemukan satu hal yang sangat menyedihkan dan memalukan. Website orang Atheist ini mengumpulkan semua items yang dijual oleh orang Kristen, segala macam barang yang hanya karena menuliskan nama Yesus atau segala macam simbol Kristen lalu akhirnya menjadi barang rohani. Patung-patung yang dijual seharga $20, Yesus bermain football dengan anak- anak, Yesus bermain baseball, Yesus “slam-dunk” bola basket. Lalu ditulis kalimat di atasnya “To remind children that Jesus is with them always. Jesus is with us in everything we do, watching over us and involves in all of our activities.” Segala barang pernak- pernik, cangkir kopi, dll asal diberi nama Yesus, langsung jadi barang rohani. Semua ini dikumpulkan oleh orang ateis dengan satu tujuan, untuk menertawakan orang Kristen yang menggunakan nama Yesus yang jadi brand yang sama hebatnya dengan NIKE, Adidas dan brand-brand lain.

Banyak orang Kristen rohani mulai dari keset di depan pintu rumahnya, door-bellnya, vas bunganya, tekonya, semua ada ayat Alkitab dan simbol Kristen. Ada satu website Kristen yang concern dengan cara orang Kristen yang membisniskan nama Yesus. saudara bisa buka
alittleleaven.com. Di situ ada t-shirt yang bergambar Yesus bermain surfing di pantai. Yesus tidak pakai surf board karena Dia bisa berjalan di atas air. Lalu karena ada ayat “Yesus meneduhkan angin” dicetak, jadilah ini kipas angin Kristen. Ada majalah Kristen khusus bicara mengenai seks orang Kristen itu lebih bagus daripada seks orang lain. Saya tidak bisa mengerti darimana konsep itu datang. Ada paintball Kristen, main tembak-tembakan sambil bilang “haleluya.” Ada hammer Kristen, tinggal taruh gambar salib dan lambang ICHTHUS, jadilah dia hadiah yang perfect untuk Father’s Day. Rupert Murdoch membeli website Beliefnet bukan karena dia seorang devoted Christian, dia tahu ini pangsa pasar yang besar karena ada 35 juta orang Kristen memakainya.

Saya yakin kalau Paulus hari ini hidup, dia akan mengeluarkan kalimat teguran ini juga. Banyak orang Kristen membisniskan nama Yesus dan banyak Gereja membisniskan nama Yesus. Tidak salah kalau saudara membeli satu pigura bagus dengan gambar pemandangan dengan tulisan “Tuhan adalah Gembalaku yang baik.” Tetapi yang saya rasa disebutkan membisniskan nama Yesus adalah orang itu sendiri tahu dengan membawa nama Yesus atau menuliskan ayat-ayat firman Tuhan, lalu itu mendatangkan keuntungan yang begitu besar bagi diri sendiri. Orang ateis sendiri tertawa geli dengan cara ini dan orang Kristen sendiri dengan naïf membelinya dan merasa mereka sudah memberitakan nama Yesus bagi orang lain. Bagi saya, itu sudah mempermalukan nama Tuhan.

Seorang hamba Tuhan yang melayani di televisi di Amerika bernama Woody Martin di website-nya www.
woodymartin.org memberi minyak urapan “Blood of Jesus oil” secara gratis kepada orang yang membeli satu kerudung doa yang bertuliskan ayat-ayat dari PL dan PB. Di situ tertulis kalau saudara memakai kerudung doa ini maka doa saudara langsung sampai ke surga karena meng-cover doa PL dan PB. Dan harganya tidak murah, $100. Semua barang-barang yang dijual di toko Kristen, dari pena, pensil, cangkir, semuanya, kalau mau jujur harganya lebih mahal daripada barang yang punya kualitas sama. Orang Kristen pikir, tidak apa-apa sedikit lebih mahal, demi nama Yesus kita berkorban lebih banyak dan menguntungkan dompet banyak orang.

Kita harus memisahkan mana hal yang benar dan mana yang tidak benar di dalam kita menggunakan nama Yesus. Saya rasa kita harus kemudian mengangkat kalimat ini sekali lagi. Paulus ingin Gereja Tuhan bersih, jujur dan sungguh menjadi Gereja Tuhan. Dari hamba Tuhan yang melayani sampai kepada semua jemaat, kita jangan menjadi orang Kristen yang membisniskan nama Yesus.

Yang kedua, apa yang saya kategorikan dengan membisniskan nama Yesus? Ada satu Gereja di Amerika, Gringer Community Church yang pastornya Tim Stevens yang saya sebut tadi, karena ingin supaya Gereja itu menjadi relevan, ingin supaya orang banyak datang, lalu ia mengundang rock band Van Halen, yang notabene tidak percaya Tuhan untuk melayani memimpin kebaktian. Mick Huckabee, saudara tahu ini adalah pendeta yang mencalonkan diri menjadi kandidat presiden Amerika dari partai Republik, melakukan satu tindakan yang salah kaprah dengan membuat kebaktian “30-minute church service” dengan kalimat “designed with you in mind. Your time is valuable.” Karena begitu banyak orang begitu sibuk maka dia membuat satu kebaktian yang singkat, nyanyi 10 menit, khotbah 15 menit, persembahan 5 menit, selesai. Your time is valuable. Kita menjadi orang Kristen yang membisniskan Yesus kalau kita beribadah bukan Tuhan lagi sentralnya. Kalau convenience, happiness, time, apa yang saya senang dan saya rasa baik buat saya, itu semua yang menjadi sentral, kita tidak datang beribadah menyembah Tuhan. Ibadah berarti orang Kristen berkumpul,memuji kemuliaan Tuhan. Ibadah berarti orang Kristen mengagungkan kesucian Tuhan. Ibadah berarti orang Kristen memuliakan kehormatan dan kuasa Tuhan. Coba saudara banyangkan kalau saudara dipanggil untuk audiensi kepada ratu Inggris, lalu saudara bilang, “Maafkan, ratu, I am very busy right now. I only can spend 15 minutes with you…” Itu yang kita lakukan kepada Tuhan kita. Ibadah yang membawa unsur-unsur yang non-Kristen dengan musik-musik yang salah, dengan pemimpin-pemimpin ibadah yang mungkin bukan orang percaya tetapi anggota band yang terkenal. Ada Gereja yang kebacut takut tidak disukai oleh kelompok homoseksual maka menulis satu kalimat di plang depan Gerejanya “Jesus Affirmed a Gay Couple” supaya tidak offended kepada kelompok gay. Ini sudah confused.

Joel Osteen, seorang hamba Tuhan muda yang memiliki Gereja terbesar di Amerika dengan 30.000 jemaat yang dikenal sebagai “the smiling pastor” yang selalu ingin berkhotbah memberikan positive things kepada orang. Akhirnya dia tidak pernah menggunakan kata-kata yang keras pada waktu bicara mengenai keselamatan, dia tidak mengatakan Yesus menyelamatkan kita dosa. Dia mengatakan Yesus menyelamatkan kita dari bad habits. Yesus membayar harga supaya manusia bebas; bebas dari kecanduan dan kebiasaan buruk; bebas dari ketakutan, kuatir, kemiskinan, dan low self-esteem. Injil yang di “sugar coated” bukanlah Injil yang sejati. Paulus mengatakan kepada jemaat Korintus, jangan mengikuti orang-orang yang membisniskan firman Tuhan.

Hari ini saya mau kita juga sebagai Gereja, dengan cinta kepada Gereja Tuhan dan cinta kepada Gereja kita sendiri, kita mau belajar mencintai pelayanan Tuhan. Menjadi orang Kristen berarti hidup kita adalah surat pujian Kristus. Usahakan seminimal mungkin orang pada waktu membaca Kekristenan, orang tidak menertawakan Kekristenan karena kita salah mempresentasikan Yesus di dalam hidup kita. Gereja kita harus menjadi Gereja yang sungguh-sungguh mencintai dan mengasihi Tuhan yang sudah membeli kita dengan harga yang mahal. Itu keinginan saya. Saya harap juga pada waktu kita menegur orang Kristen yang lain, kita tegur karena kita sayang kepada Gereja Tuhan. Kiranya Tuhan memberkati Gereja kita ini menjadi Gereja yang berkenan kepadaNya.(kz)



Sumber:
Ringkasan khotbah Pdt. Effendi Susanto di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Sydney, Australia pada tanggal 5 Mei 2008
(
http://www.griisydney.org/ringkasan-khotbah/2008/2008/05/05/jangan-menjajakan-firman-tuhan/)



Profil Pdt. Effendi Susanto:
Pdt. Effendi Susanto, S.Th. berasal dari Watampone, Sulawesi Selatan, lahir sebagai anak sulung dari keluarga Kristen, 21 Juli 1968. Sejak muda beliau sudah aktif melayani di gereja. Atas panggilan Tuhan, beban pelayanan secara penuh akhirnya digumulkan oleh beliau setelah mengikuti SPIK (Seminar Pembinaan Iman Kristen) yang dipimpin oleh Pdt. Dr. Stephen Tong di Jakarta.
Pembentukan dan persiapan menjadi seorang hamba Tuhan dilewati di dalam studi yang serius dan mendalam selama 5 tahun (1987-1991) di Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT), Malang. Pada bulan Mei 1995, beliau ditahbiskan menjadi Pendeta oleh Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Pusat di Jakarta.
Pdt. Effendi Susanto menikah dengan Ev. Kezia Jonathan, S.Th. pada tahun 1993 dan dikarunia tiga orang puteri: Valerie, Vicki dan Vionna.

Pengalaman Pelayanan
Setelah menyelesaikan skripsi berjudul “Analisa Kritik terhadap Yesus yang Historis dan Kristus dari Iman” Pdt. Effendi menjalani praktek pelayanan di GKKK Pematang Siantar selama setahun dan melayani di Gereja Injili Indonesia (GII) Hok Im Tong setahun berikutnya.
Tahun 1993 Pdt. Effendi pindah ke Jakarta dan selain melayani sepenuhnya di GRII, beliau juga banyak mengisi pelayanan mimbar ke berbagai gereja, persekutuan mahasiswa dsb. Selain menggembalakan GRII Bintaro, Pdt. Effendi juga mengajar sebagai dosen theologi di Sekolah Theologi Reformed Injili Jakarta (STRIJ), Sekolah Tinggi Theologi Reformed Injili Indonesia (STTRII), dan Institut Reformed. Bulan Pebruari 1999, Pdt. Effendi beserta keluarga pindah ke Australia, melayani di MRII Melbourne selama 3 tahun sambil merintis GRII Sydney dan melayani di GRII Sydney hingga sekarang.

17 May 2008

PRESUPOSISI (Pdt. Hendra Gustiana Mulia, M.Th.)

Presuposisi

oleh: Pdt. Hendra Gustiana Mulia, M.Th.



1. Setiap orang punya presuposisi
Sebenarnya ada keselarasan antara penyelidikan ilmu pengetahuan dengan penyelidikan Alkitab. Jadi bagaimana orang menyelidiki Alkitab itu secara tidak sadar dipengaruhi oleh cara penyelidikan ilmiah, baik itu Filsafat, Fisika dan lain-lainnya. Yang ingin saya bahas adalah perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri sehingga kita tahu apa yang mempengaruhi kita untuk menyelidiki Alkitab itu. Di dalam penyelidikan Ilmu Pengetahuan itu dikenal suatu istilah yang dinamakan Metode Ilmiah. Semua penyelidikan yang memakai seluruh prosedur yang ditetapkan di dalam metoda ilmiah ini bisa disebutkan dan diterima sebagai suatu ilmu yang Ilmiah. Diluar itu berarti ilmunya tidak ilmiah. Ilmu-ilmu yang ilmiah dapat dibuktikan secara ilmiah. Contoh: Besi dipanaskan akan memuai.

Seorang yang bernama Francis Bacon pertama kali memulai metode ilmiah ini. Pada abad 17 metode yang dipakai adalah metode Aristoteles sejak abad 12. Metode ini di bawa oleh para sarjana Arab. Kemudian sejak itu ajaran Aristoteles ini menyebar ke seluruh Eropa. Bayangkan bahwa setelah berabad-abad filsuf Yunani ini mati, pikirannya itu bisa menyebar dan menjajah seluruh Eropa.

Seluruh ajaran Aristoteles itu menyebar, termasuk cara bagaimana mereka mengerjakan Ilmu Pengetahuan. Aristoteles mengemukakan tentang logika Deduksi. Yaitu, dimulai dari satu kebenaran yang umum, sampai kepada kebenaran yang particular, atau khusus.

Misalnya begini. “Semua ayam berkaki dua.” Kemudian kita katakan, “Si Kuning berkaki dua.” Kesimpulannya apa? “Si Kuning adalah ayam.” Logika deduksi dimulai dengan satu kebenaran umum lalu sampai kepada kebenaran yang particular atau kebenaran yang khusus. Lalu misalnya syarat-syarat di dalam deduksi ini terpenuhi, kesimpulan yang diberikan itu merupakan suatu hasil yang pasti benar. Jadi misalnya segala persyaratan yang dikendaki dalam logika deduksi ini terpenuhi, kesimpulan yang didapat dari sini merupakan suatu pengetahuan yang ilmiah.

Kalau contoh itu kita ubah, seperti ini, “Semua ayam berkaki dua. Si Kuning adalah ayam,” sehingga kesimpulannya adalah, “Si Kuning berkaki dua.” Ini suatu kesimpulan yang pasti benar. Tidak akan menyalahi peraturan apa-apa. Jadi sepanjang itu mengikuti peraturan-peraturan yang ditetapkan di dalam logika deduksi, dan selama premis yang diberikan itu merupakan suatu premis yang benar, yang dihasilkan adalah sesuatu yang pasti.

Nah hal inilah yang mereka kerjakan berdasarkan apa yang mereka ungkapkan. Dan mereka sebenarnya dikuasai oleh suatu pemikiran seperti ini. Kemudian ada satu pertanyaan, bagaimana mereka menetapkan suatu premis seperti ini? Nah, pada waktu itu ada yang berlaku yang namanya ‘otoritas’. Mereka mengatakan seperti ini, segala sesuatu yang dikemukakan oleh Aristoteles atau filsuf-filsuf lainnya, ini diakui sebagai sesuatu yang merupakan kebenaran. Misalnya, bagaimana Aristoteles tahu tentang kosmologi? Dan ini yang dipakai sebagai premis mayornya. Dan setelah itu, penyelidikan-penyelidikan didasarkan pada semua kebenaran yang pernah diungkapkan oleh ilmuwan sebelumnya. Dan mereka hanya melanjutkan penyelidikan yang sudah dilakukan atau dimulai oleh para filsuf tadi.

Akhirnya, lahirlah para ilmuwan yang hidup sebagai pembelot. Yang pertama-tama memang muncul dari si Francis Bacon tadi. Misalnya ketika mengadakan penyelidikan tentang ayam tadi. Misalkan kita akan menyelidiki tentang pertanyaan, “Ayam itu kakinya sebenarnya berapa sih?" Caranya, bukan dengan pergi ke perpustakaan dan bertanya, “Apa yang dikatakan Aristoteles tentang ‘perayaman’? Atau kira-kira Socrates atau Plato pernah ngomong-ngomong masalah ‘perayaman’ nggak, ya? O iya, katanya ayam itu pasti kakinya dua.” Menurut Francis Bacon, hal itu salah. Seharusnya, kalau memang kita mau menyelidiki masalah ayam ini, kita jangan pergi ke Aristoteles atau ke Plato atau ke Socrates, pergi ke ayam itu sendiri, dong! Yang mau diselidiki, kan ayam!

Contoh penyelidikan :
Ayam 1Þ Kaki : 2 (Gampang kan ngitungnya?)
Ayam 2 Þ Kaki : 2 (Ini semua ayam kita, siapa tau ayam tetangga beda!)
Ayam 3Þ Kaki : 2 (Oh, kita kan tinggalnya di kampung, siapa tau ayam kota beda?)
Ayam 4Þ Kaki : 2..(Oh, ini semua ayam Indonesia, siapa tau ayam Singapura sudah lebih maju!)
Ayam 5Þ Kaki : 2 (Kalau di daerah dingin siapa tau kakinya tambah satu!)
Ayam 6Þ Kaki : 2 (Kemudian ada yang lain dari yang lain, yang ini nih, kakinya cuma satu. Setelah diperiksa-periksa, oh, baru kelindes mobil! Nggak jadi, deh.)

Setelah syarat-syarat seperti ‘Contohnya harus banyak’ terpenuhi harus ada kesimpulan dong! Maka kesimpulan kita adalah, “Ayam berkaki dua.”

Semua ini sebenarnya adalah Metode Ilmiah yang kalian sudah pelajari sendiri. Walaupun mungkin metode yang sekarang sudah ditambah dengan beberapa unsur-unsur yang baru.

Pada waktu mengerjakan metode induksi ini, mereka tuh sebenarnya dipengaruhi oleh ajaran-ajaran Aristoteles. Jadi pada waktu mereka mengadakan penyelidikan ilmu pengetahuan, misalnya tentang “Bumi ini adalah pusat.” Mengapa bumi ini adalah pusat alam semesta? Mereka mencari jawabannya. Dan dari Aristoteles sendiri diberikan jawaban, “Bumi ini bisa dikatakan sebagai pusat, sebab di dalam dunia ini gerakan hanya terdiri dari dua macam. Ke atas dan ke bawah! Karena itulah, Aristoteles mengatakan,"Bumi ini adalah pusat alam semesta.”

Dan karena selama itu mereka menganggap bahwa apa yang dikatakan Aristoteles itu adalah sesuatu yang benar, mereka percaya. Dan jangan lupa, mereka belum tahu gravitasi kan, baru setelah ada Newton, mereka tau. Begitu ada Francis Bacon, dunia mulai sadar bahwa perlunya Ilmu Pengetahuan itu terbebas dari otoritas. Harus terbebas dari sesuatu yang mempengaruhi jalannya penyelidikan. Sebab kalau dari awal kita sudah menganggap bahwa bumi ini adalah pusat dari alam semesta, seluruh penyelidikan Ilmu Pengetahuan pun akan dipengaruhi oleh Pengetahuan yang sudah ada sebelumnya. Itu sebabnya di dalam Metode Induksi itu sebenarnya, mereka akan mengerjakannya seperti ini: Pada waktu mereka akan mengadakan penyelidikan, harus terbebas dari segala hal yang bisa mempengaruhi pengertian kita. Segala otoritas, segala pengetahuan, yang mungkin mendikte jalannya penyelidikan pengetahuan itu, merupakan sesuatu yang akan mempengaruhi hasil dari penyelidikan itu. Itu sebabnya mereka melihat perlunya suatu keadaan penyelidikan pengetahuan terbebas dari segala macam prasangka, otoritas, prejudice, bebas dari presuposisi, bebas daripada anggapan atau asumsi sebelumnya, karena mereka harus mengadakan penyelidikan yang obyektif. Tanpa pengaruh, tanpa tekanan yang sangat mungkin mempengaruhi.

Nah, inilah yang sebenarnya terjadi di dalam Ilmu Pengetahuan. Berdasarkan metode dari Ilmu Pengetahuan ini, terjadi perkembangan metode. Sekarang begini, setelah kemudian Francis Bacon, kira-kira hampir sezaman dengan Galileo Galilei pada waktu itu. Nah, Galileo itu sebenarnya adalah seorang scientist yang merupakan tokoh yang mengembangkan sesuatu yang belakangan disebut sebagai metode Induksi ini. Bacon tadi sendiri memang merupakan seseorang yang bekerja menurut apa yang kita sebut sebagai Metode Ilmiah zaman kita sekarang ini.

Galileo juga mengadakan penyelidikan-penyelidikan. Memang pada zaman Galileo, dia ini masih kalah dengan gereja pada waktu itu. Tetapi setelah itu penyelidikan Ilmu Pengetahuan memang benar-benar mengalami revolusi. Seperti yang kita tahu ditemukannya Barometer misalnya, dll. Abad 17 dan 18 merupakan zaman revolusi Ilmu Pengetahuan. Sampai kita bisa mengatakan bahwa Ilmu Pengetahuan itu menjadi ‘jantung’ dari kehidupan kita, sebab seolah-olah, segala segi dari kehidupan kita betul-betul ditunjang oleh Ilmu Pengetahuan. Misalnya, kertas yang kita pakai, harus dipikirkan pembuatannya. Sehingga kita bisa melihat bahwa, ternyata, Metode Ilmu Pengetahuan yang dihasilkan itu memberikan dampak yang luar biasa. Karena Ilmu Pengetahuan itu membuktikan dirinya sebagai sesuatu yang benar-benar berhasil, maka pada waktu itu orang-orang mempunyai pengertian bahwa Metode Ilmu Pengetahuan ini adalah sesuatu yang betul-betul berhasil luar biasa. Kira-kira abad ke 19, ada suatu filsafat yang disebut sebagai positivisme. Logical Positivism ini membentuk suatu kelompok yang disebut Vienna-circle. Kelompok ini terdiri dari ahli matematika, filsuf, dan sebagainya yang berkumpul dan akhirnya mereka inilah yang menetapkan bahwa metode dari Induksi ini adalah metode yang disebut sebagai Metode Ilmiah. Yang mereka ungkapkan pada waktu itu adalah , apa yang mereka kenal selama ini adalah apa yang mereka kenal sebagai the Scientific Method. Perhatikan kata ‘the’ yang menunjukkan bahwa metode ini sudah tertentu. Dengan menyatakan hal ini, mereka menetapkan bahwa metode Ilmu Pengetahuan yang selama ini mereka pakai adalah metode yang pasti benar.

Kemudian di dalam perkembangan lebih lanjut, kita mulai melihat bahwa apa yang dikemukakan di dalam metode Induksi ini, sebenarnya tetap mempunyai kelemahan. Misalnya, angsa warnanya apa? Belum pernah melihat Angsa, lagi?! Ok, jadi kita bikin penyelidikan. Kesimpulannya, "Angsa dan berwarna putih." Dan memang selama sekian abad, ini merupakan pengetahuan yang benar. Tetapi sampai pada suatu saat, ternyata, ada satu bagian di dunia yang angsanya tidak putih! Di salah satu bagian di kota Perth, Australia itu, angsanya berwarna hitam! Satu-satunya di dunia dan satu-satunya di Australia, yang angsanya hitam! Saya sendiri pada waktu ke Perth sana, diajakin, "Ayo, mau lihat angsa hitam?" Sebenarnya apa bagusnya, sih, angsa hitam? Tetapi karena satu-satunya tempat, ya okelah, kita lihat angsa hitam. Kita lihat ternyata dengan hasil penemuan yang semacam ini ternyata perngetahuan yang sebelumnya langsung gugur, bukan?

Sehingga ada seorang yang bernama Sir Carol Topper dianugerahkan gelar ‘Sir’ oleh Inggris mengemukakan seperti, “Sebenarnya, teori Ilmu Pengetahuan ini hanyalah satu hal nyata, bahwa dia hanya menunggu untuk disalahkan saja.”

Tapi kita lihat begini loh, ternyata di dalam perkembangan Ilmu Pengetahuan, banyak hal terbukti menjadi sesuatu yang nantinya bisa saja digugurkan oleh teori baru yang lain, yang muncul kemudian. Jadi, di dalam Induksi ini, kita lihat bahwa sesuatu menjadi tidak kekal. Kalau mau dibilang sebenarnya, bahwa kita dapat mengadakan penyelidikan itu tanpa asumsi, ini merupakan suatu hal yang nonsense. Tidak mungkin dilakukan. Misalnya kita mau mengadakan penyelidikan, tentang AIDS. Kita bertanya, "Mengapa orang bisa kena AIDS?" Tadi dikatakan bahwa tidak boleh ada praduga berupa apapun. Jadi, kita akan mulai menyelidiki dengan teori acak,"Siapa tahu AIDS itu ada karena ketelan lalat." Jadi, dicobain, orang dikasih makan lalat. Oh, ternyata nggak kena, berarti bukan karena lalat. Terus,"Siapa tahu orang kejedug tembok jadi kena AIDS." Selidiki, dong!

Nah, kita tidak mungkin menyelidiki dengan cara demikian, karena kita akan ngawur-ngawuran dong! Segala sesuatu harus diperiksa, diselidiki, tanpa praduga apa pun. Sampai tua mungkin kita nggak temukan apa-apa. Nah, malah pada zaman sekarang ini orang-orang mulai melihat, sebenarnya penyelidikan ini justru harus ada sesuatu yang membimbing penyelidikan tersebut. Begini, loh, kalau kalian mendapat suatu metode ilmiah, di dalam prosedur penelitian itu, yang paling pertama yang harus ada, adalah apa? Harus ada Hipotesa, pasti. Jadi, suatu praduga yang kira-kira akan mempengaruhi jalannya penyelidikan kita. Misalnya ditemukan di Amerika, kenapa nih ada orang yang masuk angin, kok lama-lama mati. Masa masuk angin aja mati? Terus ada lagi orang pilek terus, mati. Kok mati, pilek aja? Begitu diperiksa, oh, kekebalannya nggak ada. Begitu. Nah, dari orang-orang yang matinya konyol-konyol begini, –orang mati tuh mestinya karena kanker kek, ini pilek aja mati– ternyata diketahui mereka ini adalah golongan orang-orang yang homoseksual. Rupanya ada sesuatu di dalam hubungan homoseksual ini yang, bisa menimbulkan AIDS ini. Jadi, selalu ada hipotesa dulu. Tetapi ternyata itu adalah suatu hipotesa yang salah, yang nantinya diperbaiki. Ternyata ini bukan sekedar didapat dari hubungan homoseksual tetapi dari hubungan seksual. Jadi, semua ini dilakukan justru harus ada suatu prejudice, atau prasangka sebelum kita adakan penyelidikan.

Saking orang-orang ini terlalu menganggap bahwa scientific method adalah the Scientific Method dan sesuatu yang ilmiah, maka semua penyelidikan yang bukan dari metode ini, tidak ilmiah. Itu sebabnya, segala ilmu akan berusaha mengikuti apa yang menjadi prosedur dari metode ilmiah ini. Nah, ketika mulai muncul Ilmu-ilmu sosial, mereka juga mencoba mengarahkan ilmu mereka ini ke metode ilmiah tadi supaya Ilmu Sosial ini jangan menjadi suatu Ilmu yang boleh-percaya-boleh-nggak. Nah, mau tidak mau, penyelidikan Alkitab pun harus dipengaruhi oleh hal ini. Apabila kita melakukan penyelidikan Alkitab, dan penyelidikan ini kita lakukan dengan cara maunya kita sendiri, mereka tidak menerima.

Nah, saudara-saudara, persoalan macam demikian ini, merupakan suatu persoalan di mana kita bisa lihat dengan jelas, bagaimana saya dapat mempertanggung jawabkan tafsiran saya dengan metode yang diberikan secara metode yang memang ilmiah. Nah, dengan pengaruh itulah, kelak, kita lihat bahwa penyelidikan Alkitab itupun mengikuti apa yang dikatakan metode penyelidikan ilmiah ini. Tanpa sadar, mereka mengikuti prosedur itu, dengan persyaratan yang diperlukan, sehingga kemudian ditetapkan bahwa, kita itu, kalau mau menafsirkan Alkitab, jangan dipengaruhi oleh apapun.

Saudara kenal, nggak Metode penyelidikan secara Induktif? Saya rasa itu salah satu metode PA yang sedikit banyak dipengaruhi oleh metode ilmiah ini. Bagaimana kita mau menyelidiki Alkitab? Ada satu dosen theologi yang mengatakan begini, mengenai Renungan Harian (sebenarnya ini merupakan terjemahan dari "Our Daily Bread" yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah edisi tahun sebelumnya), "Kalau kita mau bersaat teduh, jangan pakai Renungan Harian, itu sama saja dengan kalau kamu mau makan nasi goreng, mau nggak kamu makan nasi goreng yang sudah dikunyahin sama orang lain? Makanya, kalau mau baca Alkitab, jangan mau pakai begitu-begitu, baca sendiri! Kunyah sendiri!” Sebenarnya pernyataan seperti itu sedikit banyak mencerminkan pengaruh Metode Ilmiah tadi yang mengharapkan bahwa penyelidikan ilmiah itu sebenarnya harus bebas dari presuposisi. Itu sebabnya jangan baca Renungan Harian, karena nanti akan keburu diarahkan oleh Renungan Harian itu. Itulah yang sebenarnya terjadi, sehingga di dalam peyelidikan Alkitab kita punya pengertian seperti ini: pada saat membaca suatu perikop, kita pelajari, jangan baca commentary, jangan dengar orang, jangan apa-apa, sebab apa? Karena itu hasil kunyahan pendeta kamu, misalnya. Iih, mau digigitin! Setelah kita baca perikop, Interpretasi kita kerjakan, setelah itu akhirnya kita dapatkan hasilnya. Katakanlah Eksegesis. Kita sangka demikian, bebas dari prasangka, bebas dari prejudice, bebas dari presuposisi. Kita harus berpikir secara objektif 100 %. Itu yang mereka pikir, meniru apa yang dikatakan oleh Ilmu Pengetahuan. Sampai di sini, ternyata hal ini merupakan sesuatu yang tidak bisa dipertahankan, termasuk di dalam Metode Ilmu Pengetahuan itu sendiri hanya merupakan suatu impian dari para Positivisme yang sebenarnya sudah ditinggalkan sendiri oleh Metode Ilmu Pengetahuan itu.

Kira-kira tahun 60-an, muncul satu buku, “The Structure of Scientific Revolution,” oleh Thomas Kühn. Seharusnya di dalam Universitas diberikan, sebab ini merupakan buku filsafat Ilmu Pengetahuan. Kü hn ini tidak membahas secara filosofis, tetapi dia mengambil kesimpulan dari sejarah Ilmu Pengetahuan. Buku ini sudah diterjemahkan juga menjadi, “Peran Paradigma di dalam Revolusi Sains.” Saya mengajar Sains dan Teknologi, dan buku ini merupakan buku wajib bagi mahasiswa. Tetapi setelah baca, mereka ribut sekali, “Susah, nggak ngerti.” Dulu juga waktu pertama kali baca, dalam bahasa Inggris, memang sulit sekali, nggak ngerti apa-apa, saya frustrasi sekali, kenapa goblok begini? Giliran mahasiswa baca, “Oh, ternyata nggak goblok-goblok amat, dulunya juga sama.” Agak terhibur juga, mereka bilang sulit! Tetapi buku itu memang sangat baik sekali. Pengaruhnya tidak hanya ke dalam Ilmu Pengetahuan tetapi ke dalam segala segi, termasuk di dalam theologi.

Walaupun Thomas Kühn ini sempat sangat extreme, sampai pengikutnya juga extreme, dan saya tidak menyetujui hal itu, Tetapi ada satu segi yang menurut saya benar, yaitu bahwa di dalam melakukan penyelidikan itu justru seseorang akan melakukannya di dalam paradigmanya sendiri. Ia mengatakan bahwa seseorang akan berpikir dan tidak mungkin keluar dari paradigma yang dia punyai, setiap orang akan berpikir di dalam paradigmanya. Misalnya kalau kita lihat di dalam masalah Galileo itu sendiri. Orang-orang yang pada waktu itu melawan Galileo bukannya mempunyai alasan karena hasil penyelidikan dia bertentangan dengan Alkitab atau semacam itu, tetapi yang namanya paradigma adalah segala sesuatu yang mempengaruhi orang di dalam penyelidikan Ilmu Pengetahuan, jadi, cara menyelidiki memang sudah ditentukan oleh Aristoteles seperti itu, dan pengetahuan yang sudah mengatakan bahwa semesta itu geosentris, kenapa mendadak jadi heliosentris? Jadi pada waktu itu mereka memang terikat pada paradigma mereka dan tidak mungkin seseorang akan bisa terlepas dari paradigma itu. Dan memang paradigma itu memang terlepas baru setelah Revolusi itu.

2. Setiap orang akan menerapkan presuposisinya dalam membaca Alkitab
Sehingga, kalau Anda nanti akan membaca Alkitab, Anda tidak akan terlepas dari suatu asumsi, suatu prejudice, suatu paradigma. Pada waktu Anda membaca Alkitab, Anda sudah pasti mempunyai paradigma. Saya akan memisalkan paradigma itu sebagai kacamata. Pada waktu Anda memakai kacamata kuning, Anda melihat sekeliling menjadi semua kuning. Sebenarnya, bagaimana saya melihat dunia ini akan ditentukan oleh kacamata apa yang saya pakai. Paradigma juga hal yang seperti itu. Pengertian hal ini akan kita masukan ke dalam pengertian penafsiran Alkitab ini. Jadi, ternyata prinsip yang dikemukakan di dalam penafsiran Alkitab ini, dengan tanpa membaca buku, jangan denger orang, pikiran kita 100% objektif, dan hasilnya akan menjadi suatu eksegesis yang murni dst. Ini sebenarnya suatu metode yang tidak tepat. Justru pada waktu orang menafsirkannya, bagaimanapun, dia itu sebenarnya memakai kacamata yang menghalangi dia untuk bisa menafsirkan Alkitab itu dengan 100% objektif. Tidak munkin bisa.

Di dalam Sekolah Theologi, waktu itu, misalnya, terbagi dua, ada theologi Calvinis, ada theologi Arminian. Di dalam suatu percakapan, ada pernyataan, seperti, “Saya mah bukan theologi Calvinis ataupun Arminian, saya mah theologi yang Alkitabiah.” Nah, sepertinya, Alkitabiah ini yang paling bagus, dong, betul nggak? Dulu pertama kali saya tidak tahu apa-apa. Memang benar ya, bagus kan Alkitabiah? Memangnya Alkitab itu Calvin? Alkitab itu kan lebih tinggi daripada Calvin! Jangan Calvinis, mesti Alkitabiah dong!

Tetapi sekarang setelah kita mempelajari hal ini, maka kita akan lihat bahwa, Alkitabiah itu justru istilah yang paling jelek. Jadi, kalau kamu dibilangin Alkitabiah, itu justru kamu jelek. Sebab begini, Alkitabiah itu seolah-olah sebagaimana yang Alkitab katakan, betul nggak? Tetapi itu tidak mungkin. Nah, sekarang saya mau tanya begini, Saksi Yehuwa itu Kristen atau non-Kristen? Non-Kristen aja? Nggak takut disembelih, ya? Itu termasuk di dalam apa yang disebut dengan bidat. Ini merupakan ajaran sesat. Kita tidak melihat mereka sebagai orang Kristen. Pertanyaan lain. Saksi Yehuwa punya buku suci lain nggak? Mormon punya. Christian Science punya. Tetapi Saksi Yehuwa punya Alkitab lain nggak? Nggak, aja deh, supaya cepat, karena kamu memang nggak tahu sih ya.

Sekarang saya mau tanya yang lain: Apa yang membedakan saya dengan seorang Saksi Yehuwa? Dia baca Alkitab, saya baca Alkitab. Tetapi apa perbedaannya? Penafsirannya! Betul, nggak? Pengertian Alkitabnya! Jadi yang namanya Alkitabiah, itu maksudnya apa? Orang Saksi Yehuwa itu paling Alkitabiah! Kamu hafal satu ayat aja lama sekali, begitu loh! Mereka tahu ayat ini di sini, ayat itu di situ, dengan detail lagi.

Tapi apa yang membedakan saya dengan Saksi Yehuwa? Satu, theologinya berbeda. Mereka membaca Alkitab dan menyimpulkan bahwa Yesus itu bukan Tuhan, tetapi saya membaca Alkitab dan menyimpulkan bahwa Yesus adalah Tuhan. Jadi itulah sebabnya apakah kamu boleh membaca Alkitab dengan pengertian orang Saksi Yehuwa? Nggak boleh! Sehingga kita bisa melihat bahwa penafsiran tanpa presuposisi adalah non-sense. Misalnya kita melihat begini, “Pada mulanya adalah Firman. Firman itu bersama-sama dengan Allah. Dan Firman itu adalah Allah.” Jadi Firman=Allah, Allah=Allah. Misalnya kita simpulkan, let the Bible speak. Kalau kita membiarkan Alkitab berbicara sendiri, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa ada dua Allah. Nanti kalau ada Roh Kudus, kita bisa mengatakan bahwa Allah itu ada tiga. Let the Bible speak! Alkitabiah! Alkitabiah! Jadi, kita punya Allah berapa? Tiga! Betul, nggak kita punya Allah tiga? Kenapa nggak betul? Karena ada theologi mengenai Allah Tritunggal. Tetapi begini, timbal balik, pada waktu Yohanes menulis hal itu, apakah Yohanes sudah mengerti Allah Tritunggal nggak? Pada waktu itu tidak merupakan suatu pertanyaan sih. Pokoknya mereka mengerti bahwa Yesus itu Allah. Dan persisnya bagaimana hubungan Yesus dengan Allah Bapa itu, mereka tidak selesaikan. Itu baru dipikirkan kemudian. Yesus itu Allah. Bapa itu Allah. Roh Kudus itu Allah. Dan dikatakan juga bahwa Allah itu satu. Jadi bagaimana? Di satu pihak, ada keEsaan. Di pihak lain ada keTigaan. Sehingga itu kemudian diformulasikan menjadi doktrin Tritunggal.

Dan setelah itu, boleh nggak kita melihat bahwa Allah itu tidak Tritunggal? Satu-satunya yang membedakan agama Kristen dengan agama lain apa? Kalau baik, semua agama juga baik. Kalau surga, semua juga ada surganya. Satu-satunya yang membedakan cuma Allah Tritunggal yang disebut dengan Swigeneris, satu-satunya dan tidak terdapat di dalam agama mana pun.

Di sini dapat dilihat tidak mungkin orang bisa menulis suatu penafsiran tanpa presuposisi, tanpa theologi. Di sini, bukan hanya sekedar theologi yang berpengaruh, Tetapi macam-macam. Misalnya gereja saudara, saudara dibesarkan di dalam gereja apa? Saudara dibaptiskan dengan cara apa? Misalnya saudara dibaptiskan dengan percik, maka saudara ketika membaca Yesus dibaptiskan, Anda akan membayangkan Yesus dipercik. Kalau Anda dibaptis dengan cara diselam, memangnya saudara akan membayangkan Tuhan Yesus diselam. Jadi kita melihat Alkitab itu bagaimana? Dengan pengalaman dan pengertian kita sendiri. Nah, yang namanya paradigma, yang namanya kacamata itu jadi begini loh: theologinya kamu itu apa? Kita nggak tahu theologinya apa, mungkin theologi ngawur, atau apa. Tetapi yang jelas saudara sedikit banyak pasti bertheologi. Lalu gerejanya apa? Pengalamannya apa? Dibesarkannya bagaimana? Pernah trauma apa? Kesenangannya apa? Dan itu semua sebenarnya akan sangat mempengaruhi. Nanti kalau kita akan masuk ke dalam aplikasi, mau tidak mau ini akan sangat berpengaruh sekali.

Sampai di sini kita lihat bahwa itu adalah sesuatu yang tidak mungkin sama sekali kalau kita menafsirkan Alkitab itu tanpa presuposisi. Jadi, setiap orang pasti akan menafsirkan Alkitab itu dengan kacamatnya yang dimiliki masing-masing.

3. Siapa yang benar ?
Nah, sekarang muncul satu masalah. Kalau saya menafsirkan Alkitab dengan kacamata saya sendiri, dia menafsirkan Alkitab dengan kacamata dia sendiri. Lalu bagaimana saya menentukan saya punya atau dia punyalah yang benar? Misalnya saya pake merah, dia pake biru. Lalu kita bilang, merah! Merah! Begini aja nggak bisa ngelihat, bodoh! Dia bilang, “Biru, goblok!” Dan seterusnya kita berantem-berantem. Akhirnya ada satu orang datang, “Udah deh, diamlah! Dua orang goblok bertengkar. Kuning, bodoh!” Dan ada orang lain bilang, “Putih! Putih!” Dan warnanya memang putih. Dan saya mau tanya bagaimana kita bisa nentuin bahwa ini putih? Apakah Alkitab ini menjadi seperti ‘bagaimana-kamu-aja’? Akhirnya tidak menjadi sesuatu yang ilmiah?

Syukurlah, kalian sudah bisa melihat beberapa point di mana kita mengatasi subjektifitas di dalam pikiran. Kita bukan sekedar menafsir secara subjektif, Tetapi betul-betul ada keobjektivitasnya supaya itu tidak menjadi sesuatu yang mistik. Jadi, memang pertama-tama seperti yang kalian kemukakan, ada doalah, ada Roh Kuduslah. Cuma kaitannya begini. Pengarang dari Alkitab ini adalah Allah sendiri. Dan misalnya kamu punya film, dan diartikan dan dimengerti oleh orang lain, seperti yang sudah kamu katakan, yang mau kita sampaikan begini, yang diterima adalah lain. Kita tidak mau mreka mempunyai pengertian yang berbeda dari apa yang kita pikirkan, bukan? Kalau kita pun seperti demikian, masa Roh Kudus juga – yang anak-anakNya diberikan Firman Tuhan oleh Dia lalu kita menafsirkan ini lain, itu lain,... semua lain-lain – di situ kita temukan satu penafsiran yang dikerjakan oleh Roh Kudus itu sendiri di dalam diri kita. Ini faktor yang saya sebutkan sebagai faktor subjektif yang objektif. Sebagai salah satu contoh, kita mau mengatakan bahwa saat teduh itu adalah satu pengalaman yang indah. Tetapi persoalannya begini, kalau mau dijelaskan secara ilmiah, saya mau tanya, “Indahnya apa?” Hal itu akan susah diutarakan, karena kita masing-masing mengalami pengalaman pribadi yang belum tentu sama.

Nah, pada waktu seseorang makan sesuatu, dia menikmati apa yang namanya enak juga. Akhirnya begini loh: Enak itu kita nggak bisa ngejelasin bagaimana, tetapi begitu dia merasakannya juga, enak-nya kita dengan enak-nya dia ketemu di dalam keobjektifannya. Walaupun yang satu enaknya karena wangi, dan yang satunya lagi enaknya karena asin, misalnya. Di sini kita bisa melihat bahwa di sini ada unsur kesubjektifan yang bisa menjadi objektif karena masing-masing bisa merasakan itu. Itu sebabnya kalau kita saat teduh, dan punya pengalaman Tuhan berbicara, kita akui. Tetapi itu memang pengalaman subjektif. Itu sebabnya kenapa doa, pada waktu Anda mau PA itu bukan basa-basi. Sebab kita sadari paradigma kita. Sampai kita bisa mengerti betul Alkitab itu, itu hanya bisa dikerjakan oleh Roh Kudus sendiri. Ini faktor subjektif yang objektif. Semua juga punya unsur Roh Kudusnya.

Dan yang kedua: Ada esensi-nya. Dari mana kita bisa dapatkan? Ini yang mau saya bilang, penafsiran itu ad di dalam komunitas, penafsiran itu tidak dilakukan secara sendiri. Kenapa saya mengerti Allah Tritunggal? Karena saya berada di dalam penafsiran Kekristenan. Comunity ini adalah semua Bapak-bapak gereja yang dari dulu sampai sekarang. Dan paling sedikit esensinya yang ada misalnya apa? Pengakuan Iman Rasuli. Ini dirumuskan oleh gereja, untuk membatasi penafsiran. Jadi segala penafsiran harus berada di situ. Perbedaan boleh ada, asal kita berada di dalam lapangan permainan tersebut.

Yang dua lagi adalah caranya, bagaimana kita menafsirkan. Yang pertama, kenali presuposisi kamu. Yang kedua adalah yang disebut akal sehat atau common sense. Semua harus ada argumentasinya.




Profil Pdt. Hendra G. Mulia:
Pdt. Hendra Gustiana Mulia, M.Div., M.Th. adalah gembala sidang Gereja Kristus Yesus (GKY) Green Ville, Jakarta. Beliau menamatkan studi Sarjana Theologi (S.Th.) dari Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang; Master of Divinity (M.Div.) dan Master of Theology (M.Th.) dari Reformed Theological Seminary, U.S.A.



Diedit oleh: Denny Teguh Sutandio.

24 April 2008

TINJAUAN IMAN KRISTEN TERHADAP UTILITARIANISME (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Tinjauan Iman Kristen Terhadap Utilitarianisme

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.


1. MANFAATKU ATAU MANFAAT-KU

Nats: Kol. 3:17, 23



1. Latar Belakang Permasalahan
Munculnya John Stuart Mill
[1] dengan filsafat Utilitarianisme mo­dern, telah merubah dunia modern menjadi dunia yang penuh gai­rah. Seluruh gagasan ini diterima dengan pujian dan penyem­bah­an, karena inilah yang selalu didambakan oleh setiap manusia.
Ide Utilitarian adalah usaha untuk mengejar kebahagiaan yang puncak. Yang dimaksud kebahagiaan puncak adalah segala hal yang bisa dikejar untuk kita bisa menikmati dunia ini. Itu se­babnya timbul perdebatan aspek moral dari filsafat ini. Pertama, bagaimana konsep utilitarian ini dilukiskan dan diaplikasikan de­ngan tepat, dan kedua, apakah implikasi moral dari utilita­rian­isme ini bisa diterima atau harus ditolak.

2. Konsep Bahagia Utilitarianisme
a) Menganut sifat hedonisme, di mana kesenangan dan tidak ada­nya kepedihan adalah utility dan nilai intrinsik yang perlu dike­jar. Nilai intrinsik ini bernilai untuk kepentingannya sendiri dan tidak ada hubungan atau konsekwensi terhadap yang lain.
b) Tetapi sebagian utilitarian menganggap pandangan pertama terlalu sempit. Mereka melihat bahwa utilitarianisme ideal adalah sesuatu atau pengalaman tertentu, seperti pengetahuan atau menjadi mandiri, secara intrinsik bernilai atau bersifat baik, entah orang menghargai atau tidak, ataupun lebih berbahagia atau tidak dengan itu.
c) Persoalannya adalah perbandingan nilai kebaikan itu sendiri. Pada utilitarian, bisa nilai perbandingan itu dinilai berdasarkan diri sendiri, yang membandingkan beberapa tindakan yang berbeda untuk mencari nilai tertinggi (intrapersonal utility com­pa­rison), atau nilai perbandingan itu juga diperbandingan de­ngan kepentingan dan kebaikan bagi orang-orang lain (inter­personal utility comparison).
d) Pada umumnya, para utilitarian menuduh para moralis telah menciptakan kesusahan bagi manusia karena tuntutan moral seringkali membuat orang tidak bisa hidup nikmat. Misalnya timbulnya rasa bersalah bila kita pergi nonton atau pesta makan, karena uang yang kita pakai bisa kita berikan kepada orang miskin yang tidak bisa makan. Maka bagi utilitarian, setiap orang harus menjadi agen bagi dirinya sendiri. Kalau ia gagal mencapai kebahagiaannya, maka tidak ada tuntutan moral dari orang lain untuk menolong dia.

3. Bahaya Utilitarianisme
a) Semua dilihat dari aspek kepentingan manusia, sehingga seperti telah diungkap diatas, terjadi konflik kepentingan dan timbul masalah moral yang sulit diselesaikan. Se­mang­at hedonistis yang mewarnai citra utilitarianisme menjadi­kan sifat moral dikesampingkan ataupun diganti dengan nilai moral yang sangat relatif dan rendah sifatnya. Disini sifat dosa diumbar dan dipuaskan tanpa ada penghalang yang membatas lagi.
b) Di sini terjadi kesalahan fatal. Utilitarian telah memutlakkan yang relatif. Ketika manusia mengejar kebahagiaan pribadi dengan batasan dan perbandingan nilai yang relatif, tanpa standard yang sejati, telah kehilangan basis kemutlakkan yang sesungguhnya. Akibatnya, diri dijadikan basis mutlak, dan itu berarti akan menolak Allah sebagai penentu dan standard kemutlakkan yang benar.
c) Hidup hanya mengejar kekinian yang akan meniadakan aspek kekekalan. Karena utilitarian hanya bisa melihat nilai-nilai yang ada di dunia ini, maka seluruh pengharapan akan kekekalan dan sifat-sifat ilahi diabaikan.

4. Tuntutan Alkitab
a) Segala sesuatu yang kita lakukan harus direferensikan dengan Diri dan Sifat Allah sebagai basis kemutlakkan. Inilah utilitarian yang sejati. Kita adalah utility dari Allah. Kita adalah alat, dan kita bukan menggunakan alat untuk kepentingan kita, tetapi kita adalah alat yang hidup di hadapan Allah (the living vessel - 2 Tim 2:20-21).
b) Karena kita adalah utility di tangan Allah, maka kita harus memurnikan diri kita dan menyatakan sifat-sifat Allah di dalam diri kita. Inilah misi Kristen yang menjadi saksi bagi Allah di tengah dunia. Ini pula yang dituntut oleh Alkitab terhadap kita (2 Tim 2:22-26).
c) Seluruh hidup kita harus diukur bukan diatas azas manfaat bagi diri kita, tetapi bagi Tuhan. Manfaat tertinggi adalah ketika semua yang kita kerjakan adalah penggenapan rencana Allah yang Ia kehendaki untuk kita tuntaskan. Inilah utilitarian yang sejati (Kis 20:24).
d) Untuk itu, semua yang kita lakukan, haruslah kita lakukan seperti untuk Tuhan dan bukan untuk diri kita sendiri. Se­mang­at mau mempermuliakan Tuhan harus mengalahkan egois­me dan semangat humanisme yang duniawi. Hanya dengan cara ini kita bisa menghindar diri dari sifat utilitarian yang duniawi.

Diskusikan sifat Saul ketika ia menggunakan pola utilitarian di dalam berdialog dengan Samuel, yang telah membuat Allah marah (1Sam 15:1-26).






2. YUDAS: UTILITARIAN SEJATI

Nats: Luk. 22:3-6



1. Pendahuluan
Satu pertanyaan yang sering dilontarkan adalah: apakah utilita­rian­isme merupakan suatu pikiran filsafat yang baru diutarakan dan dikenal oleh masyarakat sejak Jeremy Bentham atau bahkan sejak J. S. Mill, ataukah filsafat ini sebenarnya sudah merupakan pikiran yang kuno? Secara singkat kita bisa menjawab bahwa pi­kiran ini bukan baru, tetapi sangat kuno, bahkan sejak dari zaman Tuhan Yesus, atau bahkan bisa dikatan sejak Kejatuhan.
Untuk menjawab pertanyaan di atas, Alkitab memberikan satu contoh yang sangat baik untuk melihat kasus Utilitarian. Hal ini terlihat nyata dalam kasus Yudas.

2. Luk 22:3-6
Yudas adalah salah seorang dari murid-murid Tuhan Yesus. Dan di dalam perjalanan pelayanannya, ia dipercaya menjadi bendahara dari kelompok rasul yang Kristus pimpin. Rupanya, ia memang memiliki kemampuan untuk mengatur keuangan. Tetapi rupanya, kemudian ia memikirkan lebih jauh dan mulai terjebak dengan pikiran-pikiran dan cara kerja yang tidak sesuai dengan kebenaran. Ia mulai terjebak menjadi seorang utilitarian.
Di dalam ayat yang kita baca dan paralelnya, kita dengan segera melihat sikap oportunis dan utilitarianistis dari Yudas. Ia merasa dengan cara yang ia pakai, maka semua orang akan disenangkan. Yang pertama, ia merasa dia sendiri untung; kedua, ia merasa juga bahwa pasti para ahli taurat dan orang Farisi juga senang dan diuntungkan; dan ketiga, ia bahkan yakin Tuhan Yesus tidak akan mau ditangkap mentah-mentah begitu saja, dan pasti jika Tuhan Yesus melawan, tidak ada kuasa apapun yang bisa mengalahkan. Yudas sangat mengerti kuasa yang Tuhan Yesus mi­liki. Tetapi apa yang Yudas pikirkan adalah pikiran seorang utilita­rianis. Ia hanya memikir menurut kepentingannya dan sekaligus kepentingan yang kelihatan "lebih luas", tetapi yang pasti tidak berpikir di dalam kebenaran. Maka tanpa sadar, Yudaspun akan menjadi seorang oportunis. Dengan harapan keuntungan 30 keping perak, atau bahkan keuntungan-keuntungan lain yang bisa diperolehnya, maka ia rela menjual Tuhan-nya. Dari sini kita bisa belajar secara lebih kongkrit sikap utilitarian di dalam sejarah.

3. Aplikasi Pemikiran Yudas
Di dalam kehidupan sebagai orang Kristen, kita seringkali me­ne­rapkan pola utilitarian, masuk ke dalam iman Kristen kita. Apalagi dengan berbagai format Kekristenan modern, sangatlah mudah bagi orang Kristen untuk terjebak "merohanikan" pemikiran utilitarianistik ini. Beberapa hal yang mungkin perlu kita pikirkan:
a. Christianity is a pleasure.
Pemikiran bahwa Tuhan tidak menghendaki ma­­nusia seng­sara, sehingga Ia harus menolong kita. Pengem­bang­an dari pe­mikiran utilitarian masuk ke Kekristenan dengan ang­gap­an bahwa jika kita sengasara (pain), maka itu pasti bukan kehen­dak Tuhan. Maka dengan kata lain, Kekristenan harus identik dengan pleasure. Maka gereja adalah tempat untuk pleasure yang utama. Maka tidak heran jika kemudian ada gereja yang mene­rap­kan disco di gereja atau bahkan undian "kunci kamar" di antara pe­mu­da-pemudi di gereja, atau segala bentuk pleasure lainnya. Pada saat seperti itu, posisi Allah menjadi tidak jelas, atau menjadi budak manusia.
b. Manage your God.
Yudas berpikir bahwa jika ia bisa me­ran­cang segala yang baik, maka Tuhan Yesus akan ikut di dalam "ske­nario"-nya. Ketika ia berpikir, jika Tuhan Yesus diserahkan, pasti itu akan "mem­per­cepat" proses Tuhan Yesus menjadi Raja. Ia sa­ma sekali tidak menyangka bahwa apa yang ia pikir, bukanlah ran­cangan Tuhan. Ia hanya berpikir bahwa semua bisa menjadi alat untuk mencapai tujuannya, termasuk Tuhan Yesus. Hari ini, begitu banyak orang yang mau memperalat Tuhan demi apa yang dipi­kir­kan­nya. Mere­ka berpikir persis seperti Yudas. Jika manusia bisa merancang apa yang menurut dia baik untuk Tuhan, dan bisa ber­ja­lan menu­rut ke­pen­tingan bersama (win-win solution), maka ma­ri­lah kita ker­ja­kan, maka Tuhan pasti akan menurut kalau sudah "terjepit."
c. God is for our own-sake.
Allah mencipta manusia dan meng­inginkan manusia bisa berbahagia. Maka kita bisa berdoa dan me­mo­hon pada Allah untuk semua yang kita butuhkan. Allah yang sejati adalah Allah yang akan memenuhi semua kebutuhan kita (Mat 6). Dalam hal ini kita harus berani "mengklaim" janji Allah agar seluruh kebutuhan kita bisa dipenuhi. Inilah format yang Yudas pakai. Ia merasa bahwa Yesus harus terus memenuhi kebutuhannya. Jika perlu, segala cara bisa ia pakai untuk itu. Banyak orang Kristen masa kini juga cenderung mau memanipulasi Allah, sehingga Allah tidak lain hanya sebagai utiliti bagi manusia. Ia bukan Allah yang berdaulat, tetapi Allah yang harus menjadi budak manusia.






3. HOMO HOMINI LUPUS

Nats: Mat. 26:14-16; Mrk. 14:10-11; Luk. 22:3-6



1. Pendahuluan
Istilah "homo homini lupus" berarti: manusia adalah pemakan sesamanya. Ada anekdot yang mengatakan bahwa orang miskin akan bertanya "hari ini kita makan apa?", sedangkan orang me­nengah bertanya "hari ini kita makan dimana?, dan orang kaya ber­­ta­nya "hari ini kita makan siapa?" Anekdot di atas mau meng­gam­barkan bahwa orang menjadi kaya karena telah mema­kan atau mengorbankan sesamanya.
Tentu munculnya anekdot seperti itu bukanlah tanpa alasan. Hal itu terjadi karena di dalam dunia berdosa ini begitu banyak orang yang menjadi kaya akibat "memakan" sesamanya. Tentu tidak semua demikian. Namun, rupanya pola mengorbankan sesamanya untuk mencari keuntungan dan kekayaan bagi diri sudah merupakan suatu "ciri" dalam kehidupan manusia. Mengapa demikian?

2. Sifat Manusia Humanistis
Sifat manusia yang memuncakkan diri dan menganggap diri sebagai makhluk yang tertinggi dan termulia, telah menjadikan manusia menyingkirkan posisi Allah sebagai posisi mutlak. Hal ini dianggap sebagai kemenangan Humanisme. Tetapi sebenarnya, justru disinilah kekalahan dan kehancuran manusia.
Ketika manusia memutlakkan diri, manusia lupa bahwa "manu­sia" itu bukanlah tunggal, bukan multi-tunggal tetapi murni plural. Manusia mutlak adalah makhluk relatif. Akibatnya, terjadi pemutlakkan relativisme. Situasi ini menjadikan semangat Human­isme memukul manusia balik.
Manusia yang sebenarnya harus memikirkan sesamanya dan tidak boleh memutlakkan diri, kini menjadikan dirinya sebagai "Tuhan" untuk mengganti posisi Tuhan yang sesungguhnya, yang telah disingkirkannya. Maka, ketika ia memutlakkan diri, orang atau manusia lain akan menjadi obyek yang harus memenuhi kemutlakkan dirinya. Disini terjadi semangat manipulatif. Manusia mulai dengan menganggap dirinya sebagai kebenaran yang mutlak sehingga orang lain yang berbeda pandangan dengan dia selalu tidak disukainya dan begitu sulit bagi dia untuk menerima pandangan yang kontras dengan dia. Ketika situasi seperti itu terjadi, tidak ada basis penentu kebenaran yang menjadi tolok ukur baginya untuk menguji siapa yang benar. Maka kemungkinan terbesar adalah orang lain dianggap salah olehnya.
Lebih jauh lagi, ketika ia sudah mulai memikirkan dirinya, maka ia mulai melangkah kepada kebutuhannya. Ketika kebutuhannya berkonflik dengan kebutuhan orang lain, maka ia merasa bahwa kebutuhan dirinyalah yang harus dipenuhi terlebih dahulu, barulah orang lain. Kalau perlu, biarlah orang lain dirugikan asalkan diri menjadi untung. Disini semangat utilitarian mulai mengusik dan masuk dalam pikiran orang. Maka orang tidak rela jika ia harus berkorban dan dirugikan demi kepentingan orang lain, kecuali jika ia memiliki kepentingan lain yang lebih besar atau menghindari kerugian yang lebih besar lagi.

3. Argumentasi Utilitarian
a. Manusia harus pandai-pandai memanfaatkan situasi
Seorang utilitarian tidak pernah mengerti adanya rencana Allah atau ketaatan kepada kehendak Allah. Yang dipikirkan adalah manusia perlu pandai-pandai memanfaatkan situasi, karena hidup matinya manusia tergantung kepada manusia itu sendiri.
Maka, cara terbaik bagi manusia adalah hidup memanfaatkan situasi yang ada. Tujuannya adalah untuk mencapai kebaha­giaan. Sejauh kebahagiaan itu bisa dicapai, maka manusia harus mengejarnya, karena itulah sasaran akhir hidup manusia.
Seperti Bentham tegaskan, bahwa tidak perlu terlalu dirisaukan dengan berbagai pertimbangan yang akhirnya hanya menyu­sah­kan kita (pain), seperti berbagai pertimbangan moral, kare­na moral adalah kesenangan (pleasure). Maka manusia harus mengejar kesenangan ini.

b. Korban adalah akibat kesalahan sendiri
Dalam kaitan dengan kesenangan yang manusia kejar, terkadang terjadi konflik sehingga ada pihak yang dirugikan. Dalam hal ini, maka yang salah adalah pihak yang dirugikan. Jika ia rugi, berarti ia gagal mencari kesempatan atau meng­gu­na­kan kesempatan secara tepat, sehingga ia telah menjadi kor­ban dari kelemahannya. Akibatnya ia mengalami kepedihan (pain). Jadi untuk seseorang bisa mencapai kesenangan, tidak ada salahnya jika orang lain sampai dirugikan, karena itu tidak ada kaitannya dengan obligasi moral sama sekali.

c. Hidup di dunia adalah memakan atau dimakan (utilitarianistis)
Hal ini merupakan realita kehidupan di dunia. Jika kita tidak berhasil menggunakan kesempatan di dunia, pastilah kita akan "dimakan" oleh orang lain. Maka di dalam dunia hanya ada satu hukum utama, yaitu memakan atau dimakan. Maka dalam hal ini, pilihan haruslah diletakkan pada yang pertama. Dimakan berarti mengalami pain, dan itu tidak sesuai dengan asas hidup, maka kita lebih baik memakan demi untuk mencapai pleasure.
Konsep di atas secara logis membenarkan jika seseorang memakan sesamanya demi untuk mencapai apa yang dianggapnya sebagai pleasure.

4. Kritik Kristen
a. Benarkah bahagia identik dengan pleasure?
Kesalahan utilitarian adalah mengidentikkan bahagia dengan plea­sure. Kebahagiaan adalah suatu kondisi akibat dari men­jalankan kehendak Allah dan mendapatkan "kredit point" dari Tuhan sebagai upahnya. Pleasure adalah kenikmatan yang dikaitkan dengan kedagingan, entah secara pribadi, kelompok atau masyarakat yang lebih luas. Dalam hal ini, sering terjadi konflik antara pleasure dengan kehendak Allah, maka tidak mungkin pleasure bisa identik dengan kebahagiaan. Di dalam fak­tanya, justru pleasure seringkali hanya merupakan kenik­mat­an sesaat yang membawa seseorang pada keti­dak­ba­ha­giaan.

b. Benarkah ketika kita memakan orang lain itu pleasure?
Problem kedua dari utilitarianisme adalah mengabaikan aspek moral manusia. Manusia adalah makhluk yang dicipta dengan sifat moral. Bentham dan Mills lupa bahwa mereka bukanlah kuda atau anjing. Jika binatang memang tidak memiliki obligasi moral, tidak memiliki akal budi dan pertimbangan moral, maka manusia yang dicipta menurut gambar dan rupa Allah, memiliki akal budi dan pertimbangan moral. Itu alasan, sifat moral ini tidak bisa ditiadakan begitu saja. Hanya manusia yang sudah kebinatangan yang tidak lagi memiliki pertimbangan moral. Sifat moral inilah yang menjadikan manusia bisa memiliki tuntutan keadilan dan hukum. Apabila tidak ada moral, tidak perlu ada hukum dan pengadilan.
Aspek moral manusia menjadikan manusia tidak pernah bisa tenang apabila ia telah merugikan dan menghancurkan orang lain. Tuduhan moral akan tiba padanya dan hal itu akan membuat manusia kehilangan kebahagiaannya. Mungkin ia bisa menikmati sukacita di atas kesusahan dan pengorbanan orang lain, tetapi hal itu akan mendatangkan tuntutan keadilan kepadanya, paling tidak nanti di dalam kekekalan. Hal itu yang menyebabkan orang berdosa akan begitu takut mati, karena ia sadar tidak bisa lepas dari tuntutan keadilan yang harus dipertanggungjawabkan.

c. Tidak sadarnya realita dosa dan pertobatan
Seperti telah diungkapkan sepintas, maka kelemahan utama utilitarian adalah penyangkalan akan adanya dosa dan perlunya pertobatan.
Utilitarian justru menganggap dosa sebagai kewajaran, karena dosa telah menjadi "mayoritas" dalam kehidupan masyarakat. Disini utilitarian yang ingin mencapai kebahagiaan justru gagal mengerti kaitan antara kebahagiaan dan kebenaran, serta perlawanan terhadap dosa dan kedagingan. Maka, sebenarnya yang dibutuhkan oleh dunia ini adalah pertobatan. Memang dunia sudah jatuh ke dalam dosa, dan sifat makan-memakan antar manusia berdosa telah menjadi ciri dunia yang berdosa. Itu alasan di dunia ini perlu ada polisi, pengadilan, dan penjara. Jika memang dunia ini baik, seperti asumsi utilitarianisme, maka tentulah polisi dan pengadilan tidak akan banyak peker­jaan. Sikap dan prinsip utilitarianisme justru akan menjadikan dunia ini semakin penuh dengan dosa, kepedihan dan keseng­sa­raan. Jika dunia ingin baik, maka satu-satunya jalan adalah kembali kepada Kristus, yang telah menebus dosa di kayu salib, dan bertobat sungguh-sungguh, taat kepada kebenaran yang Allah nyatakan kepada kita.





Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div. adalah gembala sidang Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Andhika, Surabaya; Direktur: Toko Buku Momentum, Studi Korespondensi Reformed Injili Internasional (SKRII), dan Sekolah Theologi Reformed Injili Surabaya (STRIS) Andhika. Beliau adalah co-founder dari Yayasan Pendidikan Reformed Injili LOGOS (LOGOS Reformed Evangelical Education). Selain itu, beliau adalah dosen di Institut Reformed, Jakarta dan Sekolah Theologi Reformed Injili Jakarta (STRIJ). Beliau juga adalah seorang pengkhotbah KKR dan hamba Tuhan yang menguasai bidang-bidang, seperti ekonomi, pendidikan, hukum, etika dan sosial politik. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Theologi (S.Th.) dan Master of Divinity (M.Div.) dari Sekolah Tinggi Theologi Reformed Injili Indonesia (STTRII) Jakarta. Beliau menikah dengan Ev. Susiana Jacob Subeno, B.Th. dan dikaruniai dua orang anak, Samantha Subeno (1994) dan Sebastian Subeno (1998).




Sedikit diedit oleh: Denny Teguh Sutandio.



[1] Sebenarnya Utilitarianisme dicetuskan oleh Jeremy Bentham (1748-1832) dan James Mill (1773-1836), tetapi menjadi begitu populer di tangan John Stuart Mill (1806-1873) dengan bukunya Utilitarianism (1869). Jeremy Bentham terkenal dengan bukunya An Introduction to the Principles of Morals and Legislation (1789). Bagi dia, "pleasure is the only good, and pain is the only evil." Bagi dia moral itu tidak ada artinya sama sekali jika mendatangkan kepedihan. Moral adalah kesenangan. Ia adalah seorang psikolog hedonis menurut Richard B. Brandt. Nantinya J.S. Mill mengembangkan pemikiran tentang pleasure ini di dalam bukunya, Utilitarianism, dengan membedakan berbagai bidang yang dianggap tingkat pleasure-nya berbeda-beda. Melalui buku ini istilah Utilitarianisme menjadi terkenal.