15 July 2009

Resensi Buku-73: APOLOGETIKA BAGI KEMULIAAN ALLAH (Prof. John M. Frame, D.D.)

...Dapatkan segera...




Buku
APOLOGETIKA BAGI KEMULIAAN ALLAH:
Sebuah Pengantar


oleh: Prof. John M. Frame, D.D.

Penerbit: Momentum Christian Literature, 2002

Penerjemah: Irwan Tjulianto





Deskripsi dari Denny Teguh Sutandio:
Di dalam Matius 28:19-20, Tuhan Yesus berfirman, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Dua ayat ini sering dikenal sebagai ayat Amanat Agung (Great Commision) di mana Kristus memerintahkan para murid-Nya untuk memberitakan Injil. Penginjilan adalah suatu mandat agung dari Kristus sendiri. Lalu, bagaimana caranya kita menginjili? Apa yang harus kita persiapkan? Selain harus bergantung mutlak pada kuasa Roh Kudus, di dalam penginjilan, kita perlu suatu studi yang akan memimpin kita untuk berhadapan dengan pribadi-pribadi yang kita injili. Studi itulah yang disebut apologetika, yang didefinisikan oleh Dr. John M. Frame sebagai “ilmu yang mengajar orang Kristen bagaimana memberi pertanggungan jawab tentang pengharapannya” atau “aplikasi Alkitab kepada mereka yang tidak percaya.” (hlm. 1) Dasar apologetika ini diambil dari 1 Petrus 3:15-16, “Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu.”

Setelah itu, kita digiring oleh Dr. John M. Frame melalui buku ini kepada pendahuluan, presuposisi, isi berita, dan aspek-aspek apologetika yang membawa kita makin melihat kemuliaan Allah di dalam studi apologetika. Sebagai pendahuluan, Dr. Frame memaparkan bahwa apologetika merupakan tanggung jawab Allah sekaligus manusia, berarti Allah akan memimpin setiap tugas apologetika di dalam penginjilan yang kita lakukan. Lalu, apa dasar presuposisi apologetika kita? Dr. Frame memaparkan bahwa dasarnya adalah Alkitab (Sola Scriptura), namun juga tetap memperhitungkan aspek-aspek wahyu umum Allah dan nilai-nilai. Lalu, apa isi berita yang dibawa oleh seorang apologis? Dr. Frame memaparkan dua hal: filsafat (yang meliputi konsep metafisika, epistemologi, dan etika) dan kabar baik. Di sini, beliau menggabungkan antara fungsi logika, pengabaran Injil, dan kuasa Roh Kudus. Bagi Dr. Frame, apologetika tidak bisa dipisahkan dari penginjilan, begitu juga penginjilan tidak bisa dipisahkan dari apologetika.

Dengan dasar inilah, beliau memaparkan 3 aspek apologetika yaitu apologetika sebagai: pembuktian, pembelaan, dan penyerangan. Di dalam tiga aspek ini, Dr. Frame dengan tajam sekali memulai aspek pertamanya dengan aspek aktif (bukan pasif) yaitu aspek pembuktian. Berarti, di dalam tugas apologetika, kita dituntut aktif “menyampaikan dasar-dasar rasional bagi iman kepercayaan” atau istilah singkatnya, “membuktikan kebenaran Kekristenan.” (Yoh. 14:11; 20:24-31; 1Kor. 15:1-11) Apa saja yang perlu kita buktikan? Dr. Frame sebelumnya menjelaskan dasar pembuktiannya yaitu menggunakan Alkitab dan bukti, argumentasi-argumentasi positif dan negatif, dan presuposisi dari hati (untuk lebih jelasnya silahkan membaca sendiri buku ini). Kemudian, dasar ini memimpin kita untuk membuktikan 2 poin, yaitu eksistensi (keberadaan) Allah dan Injil. Aspek kedua apologetika adalah apologetika sebagai pembelaan. Setelah aktif menjelaskan dasar rasional iman Kristen, maka biasanya akan muncul pertanyaan dari orang yang kita injili yang biasanya mempertanyakan keberadaan Allah di dalam problema kejahatan. Lalu, apa jawab kita? Dr. Frame di dalam aspek kedua membela iman Kristen dengan menjawab permasalahan tentang kejahatan. Di poin ini, beliau memaparkan terlebih dahulu 9 hal yang TIDAK Alkitab katakan tentang problema kejahatan, lalu setelah itu beliau memaparkan tanggapan Alkitabiah tentang problema kejahatan di mana Allah adalah standar bagi tindakan-Nya. Setelah membela iman Kristen, Dr. Frame memimpin kita masuk ke dalam aspek apologetika terakhir yang bersifat penyerangan. Di dalam aspek ini, kita dituntut aktif membuktikan inkonsistensi dan ilogisnya pikiran-pikiran yang non-Kristen, lalu membawa orang-orang tersebut kembali kepada Kristus. Kepada siapa aspek ketiga ini ditujukan? Dr. Frame memaparkan bahwa aspek ketiga ini ditujukan kepada dua jenis orang: atheis dan yang memuja berhala (dan sekaligus: atheis dan memuja berhala).

Sebagai aspek praktika, Dr. Frame memberikan contoh praktis bagaimana berbicara kepada orang non-Kristen yang tidak dikenal. Contoh yang beliau pakai adalah percakapan imajiner di sebuah pesawat terbang antara John (Dr. Frame) dengan Al. Percakapan ini dimulai dari saling menyapa, saling bertanya profesi, lalu masuk ke dalam pembahasan filsafat, logika, dan penginjilan. Satu hal yang saya pelajari dari contoh ini adalah ketajaman Dr. Frame menunjukkan inkonsistensi pikiran manusia berdosa dengan memutar balik ide-ide yang mereka katakan, lalu membawanya untuk mempercayai keberadaan Allah yang Personal dan Kristus! Sebagai 2 apendiks tambahan, di apendiks 1, beliau menganalisa pemahaman apologetika Ligonier dari Dr. R. C. Sproul, dll terhadap Dr. Cornelius Van Til. Lalu, di apendiks 2, beliau menjelaskan tanggapan Dr. Jay E. Adams terhadap konsep Dr. Frame tentang kejahatan. Melalui buku ini, kita dipimpin untuk masuk ke dalam theologi yang benar-benar Theosentris (berpusat kepada Allah): dari Allah, oleh Allah, dan untuk Allah (Rm. 11:36)





Profil Dr. John M. Frame:
Prof. John M. Frame, M.A., M.Phil., D.D. adalah Profesor Theologi Sistematika dan Filsafat di Reformed Theological Seminary, U.S.A. Beliau meraih gelar Bachelor of Arts (A.B.) dari Princeton University; Bachelor of Divinity (B.D.) dari Westminster Theological Seminary; Master of Arts (M.A.) dan Master of Philosophy (M.Phil.) dari Yale University; dan gelar Doctor of Divinity (D.D.) dari Belhaven College. Beliau menulis beberapa buku, di antaranya:
· Van Til, the Theologian (1976)
· The Doctrine of the Knowledge of God (1987) (sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: Doktrin Pengetahuan tentang Allah oleh Literatur SAAT Malang)
· Medical Ethics (1988)
· Perspectives on the Word of God (1990)
· Evangelical Reunion (1991)
· Apologetics to the Glory of God (1994) (sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: Apologetika bagi Kemuliaan Allah oleh Penerbit Momentum)
· Cornelius Van Til: An Analysis of his Thought (1995) (sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: Cornelius Van Til: Sebuah Analisis Terhadap Pemikirannya oleh Penerbit Momentum)
· Worship in Spirit and Truth (1996)
· Contemporary Music: a Biblical Defense (1997)

Program Intensif STRIS Andhika: MASIH ADAKAH WAHYU BARU? (Pdt. Drs. Thomy J. Matakupan, S.Th., M.Div.)

…Hadirilah…




Program Intensif
Sekolah Theologi Reformed Injili Surabaya (STRIS) Andhika:

MASIH ADAKAH WAHYU BARU?:
Bagaimana Mendengar Suara Tuhan?


“Tuhan berbicara kepadaku.” Kerap terdengar seruan ini. Namun, pernyataan ini menimbulkan banyak frustasi di kalangan orang Kristen. Sepanjang perjalanan imannya, hampir tidak pernah memperoleh pengertian konkrit tentang pengalaman mendengar suara Allah yang sangat penting dan menentukan dalam pertumbuhan iman. Dalam Progsif ini kita akan coba telusuri apa yang Alkitab ajarkan tentang mendengar suara Allah, serta bagaimana dapat dialami – dan apa buktinya – secara konkrit dalam pengalaman iman kita.

oleh: Pdt. Drs. Thomy J. Matakupan, S.Th., M.Div.




Mimbar Reformed Injili Indonesia (MRII) Kertajaya:
31 Juli s/d 1 Agustus 2009; Pkl. 18.30 WIB
di Jln. Kertajaya Indah II/3 (F-628), Surabaya 60116.
Telp.: (031) 5924466


MRII Sidoarjo:
4 s/d 5 Agustus 2009; Pkl. 18.30 WIB
di Ruko Taman Tiara Regency No. 11-12, Jln. Pagerwojo, Sidoarjo
Telp.: (031) 70974382


MRII Denpasar:
28 s/d 29 Agustus 2009; Pkl. 18.30 WITA
di Istana Kuta Galeria Blok Promenade No. 27-28,
Jln. Patih Jelantik, Kuta Bali
Telp.: (0361) 769436




Kontribusi:
Umum: Rp 50.000, 00
Mahasiswa (non-Dosen): Rp 25.000, 00
Kolektif: Hubungi Panitia




Penyelenggara:
Sekolah Theologi Reformed Injili Surabaya (STRIS) Andhika
Andhika Plaza C/5-7, Jln. Simpang Dukuh 38-40, Surabaya
Telp.: (031) 5472422




Profil Pembicara:
Pdt. Drs. Thomy Job Matakupan, S.Th., M.Div. adalah asisten gembala sidang di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Andhika, Surabaya, caretaker di MRII Denpasar, dan Direktur STRIS Andhika. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Theologi (S.Th.) dan Master of Divinity (M.Div.) di Sekolah Tinggi Theologi Reformed Injili Indonesia (STTRII) Jakarta. Beliau menikah dengan Ev. Mercy Grace Preally Putong Matakupan, S.Th. dan dikaruniai seorang putri, Nikita Ilona Putri Matakupan.

Resensi Buku-74: THEOLOGI KONTEMPORER (Prof. Harvie M. Conn, Litt.D.)

...Dapatkan segera...




Buku
THEOLOGI KONTEMPORER

oleh: Prof. Harvie M. Conn, Litt.D.

Penerbit: SAAT Malang

Penerjemah: Lynne Newell

Prakata: Pdt. DR. STEPHEN TONG





Prakata dari Pdt. Dr. Stephen Tong:
Pada zaman Pencerahan di Eropa, telah timbul aliran empirisisme di Inggris dan aliran rasionalisme di Perancis, Belanda, dan Jerman. Kedua aliran ini sangat memukul kepercayaan-kepercayaan agama tradisional pada waktu itu. Oleh karena itu kepercayaan agama sangat bergantung pada wahyu Allah, sedangkan Pencerahan menganggap manusia sudah mencapai kedewasaan untuk mengetahui segala bidang pengetahuan. Dengan kata lain, mereka berpendapat bahwa tanpa penyataan Allah, yaitu hanya melalui rasio, sudah cukup bagi manusia untuk dapat menjawab segala persoalan dan menemukan segala kebenaran. Apabila pernyataan itu benar, maka suatu pertanyaan yang besar adalah: “Di manakah tempatnya Kekristenan?” Berkenaan dengan hal itu, maka ada tokoh-tokoh pemikir yang berusaha menolong atau menyelamatkan Kekristenan dari kesulitan semacam itu.

Kant menggolongkan Kekristenan dan nilai Kekristenan di bawah wilayah moral, sedangkan Schleiermacher menggolongkan Kekristenan di bawah wilayah perasaan, dan Albrecht Ritschl menempatkan Kekristenan di bawah nilai. Persamaan dari tokoh-tokoh itu termasuk Adolf von Harnack dan Hermann, ialah meniadakan kebutuhan wahyu sebagai sumber dasar dan standar untuk mengenal Allah. Itulah bahaya yang mengancam theologi pada akhir abad ke-19, namun orang yang sungguh setia kepada Tuhan mengetahui bahwa kemungkinan untuk mengenal pengetahuan dalam dunia alam semesta telah diberikan oleh Tuhan pada waktu Tuhan menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya, di mana salah satu aspek yang diberikan ialah sifat rasio, sehingga manusia dapat menemukan pengetahuan alam. Tetapi dalam hal pengenalan terhadap Allah, manusia hanya diberi kemungkinan untuk mengetahui keberadaan-Nya, sedangkan untuk mengetahui rencana Allah, keselamatan Allah, manusia tidak dapat mengetahuinya selain melalui penyataan Allah. Dengan demikian maka pengenalan terhadap Allah merupakan suatu ilmu khusus yang melampaui kemungkinan manusia untuk mengenal alam, di mana untuk pengenalan terhadap Allah membutuhkan suatu keharusan, yaitu Allah yang menyatakan diri kepada manusia.

Pada abad ke-20, berdasarkan pemikiran di atas, Karl Barth dan Brunner menganggap penyataan adalah kunci untuk mengenal Allah. Pernyataan ini sangat serupa dengan theologi Reformasi. Theologi perlu memutar arah atau banting stir, sehingga bisa mendapatkan suatu dasar yang lebih kuat lagi. Namun konsep Allah dan konsep penyataan dari Karl Barth, sangat terpengaruh oleh Soren Aaby Kierkegaard dari Denmark. Oleh karena itu, dalam usaha untuk menyelamatkan theologi keluar dari kebahayaan liberalisme, mereka tetap tidak berdiri di atas dasar yang kuat, yang pernah diberikan oleh Martin Luther dan John Calvin, sehingga usaha untuk kembali ke Alkitab belum tuntas.

Sejak Karl Barth, kita dapat melihat aliran-aliran lain yang menjadi pokok aliran dalam dunia theologi, yang makin kacau dan makin menyimpang dari otoritas Alkitab. Meskipun setiap aliran theologi itu mempunyai sumbangsih dan kreativitas tertentu, namun penyimpangan dari Alkitab dapat kita lihat dengan jelas. Maka sebagai orang Kristen yang berkecimpung dalam dunia theologi, atau orang Kristen awam yang tertarik pada doktrin, seharusnya kita berjaga-jaga dan mendapat pedoman lebih lanjut untuk dapat menganalisa dan dapat membeda-bedakan ajaran mana yang setia dan ajaran mana yang menyimpang.

Di sekolah theologi di mana saya mengajar, yaitu SAAT (Seminari Alkitab Asia Tenggara), saya telah memasukkan salah satu buku Profesor Harvie M. Conn dari Westminster Theological Seminary di Philadelphia, menjadi buku pegangan yang saya pilih. Buku ini bukan merupakan suatu buku yang memberikan penjelasan panjang lebar, tetapi cukup memberikan pedoman yang jelas dan tepat. Buku ini bersifat akademis serta tidak terlalu sulit untuk dimengerti oleh orang Kristen di Indonesia.

PUJI TUHAN, di dalam kelas saya pada tahun 1984, sekelompok murid-murid telah terbeban untuk menerjemahkan seluruh buku ini ke dalam bahasa Indonesia. Saya mengharapkan melalui dicetaknya buku ini, orang Kristen di Indonesia mendapat berkat dan Allah dipermuliakan di tempat yang Mahatinggi. Kiranya Tuhan berkenan memakai buku ini untuk maksud-Nya sendiri.

(Malang, akhir Januari 1985)




Deskripsi dari Denny Teguh Sutandio:
Theologi berasal dari bahasa Yunani Theos yang berarti Allah dan logos berarti ilmu, jadi theologi berarti ilmu yang mempelajari tentang Allah. Tetapi sayang sekali theologi yang menjamur di era sekarang belum bisa dikategorikan sebagai 100% ilmu yang mempelajari tentang Allah, karena beragam pandangan yang ditegakkan tidak bersumber dari Allah dan firman-Nya, namun dari pemikiran manusia berdosa. Hal ini yang sedang dibawa oleh Prof. Harvie M. Conn, Litt.D. melalui bukunya Theologi Kontemporer. Di dalam bukunya, Dr. Conn menjabarkan berbagai macam arus theologi dari Neo-Orthodoksinya Karl Barth, Demitologisasinya Rudolf Bultmann, Sejarah Keselamatan dari Dr. Oscar Cullmann, “Theologi” Sekuler yang dimulai dari Bishop Dr. John T. Robinson melalui bukunya yang terkenal Honest to God, Etika Situasinya Joseph Fletcher, Theologi Pengharapan dari Jurgen Moltmann, Theologi Sejarahnya Wolfhart Pannenberg, Theologi Evolusi dari Pierre Teilhard de Chardin, Theologi Proses dari Prof. Dr. Charles Hartshorne, Theologi Ada dari Paul Tillich, Mistisisme, Pietisme yang dimulai dari Philip Spener, Dispensasionalisme yang dimulai dari kelompok Brethren yang dipimpin oleh John Nelson Darby, Fundamentalisme, Neo-Fundamentalisme, Neo-Evangelisme, dan diakhiri dengan 1 Bab terakhir yang membahas keunikan theologi Reformed yang terintegrasi.

Keunikan penjelasan Dr. Conn ini adalah masing-masing arus theologi dijelaskan latar belakang munculnya, ajaran-ajarannya, pengaruh ajarannya, dan tinjauan kritisnya. Tinjauan kritis yang Dr. Conn berikan bersifat positif dan negatif. Beliau membenarkan ajaran-ajaran tertentu dari masing-masing arus theologi, namun di sisi lain, mengkritik ajaran-ajaran dari masing-masing arus theologi yang kurang/tidak sesuai dengan Alkitab, lalu Dr. Conn memberikan analisa singkat jawaban Alkitab terhadap ajaran tersebut. Biarlah melalui buku ini, kita semakin mengerti sedikit tentang variasi arus theologi di dalam Kekristenan dan bagaimana ajaran-ajaran dari arus theologi tersebut diuji berdasarkan keakuratan penafsiran yang beres dari Alkitab.





Profil Dr. Harvie M. Conn:
Prof. Harvie M. Conn, Th.M., Litt.D., yang lahir di Regina, SK, Canada pada tahun 1933 dan menjadi warga negara Amerika pada tahun 1957, adalah Profesor Misi di Westminster Theological Seminary, Philadelphia, U.S.A. pada tahun 1972-1998. Beliau meninggal pada Agustus 1999 karena penyakit kanker. Beliau menyelesaikan studi Bachelor of Arts (A.B.) di Calvin College pada tahun 1953; Bachelor of Divinity (B.D.) pada tahun 1957 dan Master of Theology (Th.M.) pada tahun 1958 dari Westminster Theological Seminary. Beliau dianugerahi gelar Doctor of Letters (Litt.D.) dari Geneva College pada tahun 1976.
Tulisan-tulisan yang paling berpengaruh:
Ø Eternal Word In A Changing World: Theology, Anthropology, and Missions in Trialogue (New Jersey: P&R; 1984)
Ø Evangelism: Doing Justice and Preaching Grace (New Jersey: P&R; 1982)

Buku-buku lainnya:
ü Urban Ministry: The Kingdom, the City, & the People of God co-authored by Manny Ortiz (Illinois: IVP; 2001)
ü Contemporary World Theology: A Layman’s Guide (New Jersey: P&R; 1974)
ü Studies In The Theology Of The Korean Presbyterian Church (Westminster Seminary Bookstore)
ü The American City And The Evangelical Church: A Historical Overview (Michigan: Baker Books; 1994)

Buku-buku yang diedit:
F Practical Theology And The Ministry Of The Church 1952-1984: Essays in Honor of Edmund P. Clowney (New Jersey: P&R; 1990)
F Planting And Growing Urban Churches: From Dream to Reality (Michigan: Baker Books; 1997)
F The Urban Face Of Mission: Ministering the Gospel in a Diverse and Changing World (New Jersey: P&R; 2002)
F Inerrancy And Hermeneutic: A Tradition, a Challenge, a Debate (Michigan: Baker Books; 1988)
F Reaching The Unreached: The Old-New Challenge (New Jersey: P&R; 1984)
F Theological Perspectives On Church Growth (USA; Dulk Foundation; 1976)
F Missions And Theological Education In World Perspective (Gabriel Resources; 1985)

Artikel-artikel:
· “Luke’s Theology of Prayer.” Christianity Today, Desember 22, 1972: pp. 6-8.
· “God’s Urban Surprises.” Urban Mission 14:4, Juni 1997: pp. 3-6.
· “Refugees, the City, and Missions.” Urban Mission 15:2, Desember 1997: pp. 3-6.
· “Blaming the Victim?” Urban Mission 15:4, Juni 1998: pp. 3-6.
· “Looking at Some of Africa’s Urban Challenges.” Urban Mission 16:2, December 1998: pp. 3-6.
· “Training the Layman for Witness,” Training for Missions, diedit oleh Paul G. Schrotenboer. (Grand Rapids: Reformed Ecumenical Synod, 1977), 74-103.
· “Contextualization: Where Do We Begin?” Evangelicals and Liberation, edited by Carl E. Amerding. (Phillipsburg, NJ: Presbyterian and Reformed Publishing Company, 1977) 90-119.
· “Contextualization: A New Dimension for Cross-Cultural Hermeneutic,” Evangelical Missions Quarterly 14 (Januari 1978): 39-46.
· “Theologies of Liberation,” Tensions in Contemporary Theology. Edisi Revisi ke-3, diedit oleh Stanley Gundry dan Alan Johnson (Chicago: Moody Press, 1979), 327-434.
· “Review of ‘Black Theology: A Documentary History, 1966-1979′,” Journal of the Evangelical Theological Society 25 (Juni 1982): 238-40.
· “The Gospel and Culture,” Gospel in Context 1 (Januari 1978): 19-21.

Karya yang tidak dipublikasikan:
“The Concept of Reason in the Theology of John Calvin.” Tesis Th.M. yang tidak dipublikasikan yang diajukan ke Westminster Theological Seminary, Philadelphia, 1958.

03 July 2009

Renungan Memperingati 500 tahun Dr. John Calvin: REFORMED or REFORMING? (Denny Teguh Sutandio)

Renungan Memperingati 500 Tahun Dr. John Calvin



REFORMED or REFORMING?:
Theologi Reformed dan Sola Scriptura


oleh: Denny Teguh Sutandio




“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!”
(Rm. 11:36)

“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.”
(2Tim. 3:16)



Roma 11:36 merupakan konklusi terakhir dari seluruh penjelasan doktrinal Rasul Paulus tentang konsep dosa, keselamatan, dan anugerah Allah dari pasal 1 s/d 11. Konklusi ini bukan sekadar konklusi biasa, namun konklusi yang dahsyat dan terpenting di dalam iman Kristen yang menunjukkan bahwa Kekristenan didasarkan bukan pada iman yang berpusat kepada diri, tetapi kepada PRIBADI Allah yang menciptakan, memelihara, dan menyempurnakan segala sesuatu demi hormat dan kemuliaan nama-Nya sendiri. Agama, iman, dan theologi yang berpusat kepada Allah mengakibatkan seluruh pola pikir, kerohanian, karakter, perkataan, dan sikap hidupnya BERBEDA dari konsep dunia berdosa. Lalu, bagaimana caranya kita memiliki agama, iman, dan theologi yang hanya berpusat kepada Allah? Pertama, tidak ada jalan lain, HANYA melalui anugerah Allah, kita dimampukan untuk beriman dan membangun dasar iman dan theologi yang berpusat kepada Allah. Anugerah Allah yang memampukan itu juga menggunakan sarana tertulis sebagai pedoman bagi kita untuk beriman dan memusatkan iman kita HANYA pada Allah saja. Sarana tertulis itu adalah Alkitab. Di dalam Perjanjian Lama, hal itu ditunjukkan melalui diwahyukannya Taurat Musa dan Kitab Para Nabi. Dan Tuhan Yesus sendiri mengakui otoritas Perjanjian Lama tersebut (Mat. 5:17-48). Setelah itu, Roh Kudus mengilhami para rasul Kristus untuk menuliskan wahyu Allah (2Tim. 3:16; 2Ptr. 1:20-21). Wahyu tersebut dikanonisasikan menjadi 27 kitab di dalam Perjanjian Baru. Setelah PL dan PB ini selesai dikanosisasikan, maka Allah berfirman, “Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini.” (Why. 22:18-19) Ada yang menafsirkan bahwa kedua ayat ini hanya berlaku untuk kitab Wahyu. Memang secara konteks, kedua ayat ini berlaku untuk Kitab Wahyu, namun jika kita mempercayai integrasi Alkitab, maka kita percaya bahwa kedua ayat ini juga berlaku untuk seluruh Alkitab. Dengan kata lain, selesai Kitab Wahyu ditulis sebagai akhir dari keseluruhan Alkitab baik PL maupun PB, maka sebagai orang Kristen yang BERES, kita TIDAK lagi mempercayai adanya “wahyu baru” dari “Allah.” Itu sebabnya, TIDAK ada satu otoritas pribadi, theologi, atau apa pun juga yang LAYAK menggantikan otoritas Alkitab.


Ini yang ditegaskan sejak zaman reformator Dr. Martin Luther dengan semboyannya Sola Scriptura (hanya Alkitab). Kemudian semangat ini diteruskan oleh para penerusnya, Ulrich Zwingli, Philip Melanchton, Dr. John Calvin, Dr. Theodore Beza, dll. Khususnya melalui Dr. John Calvin, semangat ini diteruskan dengan begitu ketat melalui bukunya Institutes of the Christian Religion. Pdt. Dr. Stephen Tong memaparkan bahwa di dalam buku ini, Dr. Calvin mengutip kira-kira 6000 ayat Alkitab dengan prinsip terintegrasi antara PL dan PB. Ini sebenarnya jiwa Reformasi yang sebenarnya, bukan hanya slogan mati semata! Jiwa Calvin mengakibatkan semua penerusnya memegang teguh Alkitab sebagai satu-satunya fondasi kebenaran yang mutlak dan final. Hal ini bisa terlihat melalui 3 hal. Pertama, kesungguhan kaum Puritan yang dipengaruhi Calvinisme/Reformed dalam menyelidiki Alkitab. Kedua, pengakuan iman gereja Reformed baik Katekismus Heidelberg, Pengakuan Iman Westminster, Pengakuan Iman Belgia, dll yang menegaskan otoritas Alkitab. Selain itu, hal ini juga terlihat dengan kegigihan para theolog, apologet, dan hamba Tuhan Reformed menegakkan Kekristenan orthodoks (BUKAN aliran Orthodoks Syria!) di tengah kondisi zamannya yang dipengaruhi oleh filsafat Rasionalisme ala Abad Pencerahan. Dr. Francis A. Schaeffer, Dr. J. Gresham Machen, Dr. Cornelius Van Til, dll dibangkitkan oleh Tuhan sebagai para pembela kebenaran Alkitab di tengah dunia mereka yang sudah dikuasai iblis. Namun sayang, Reformed yang dulu yang memegang teguh Sola Scriptura telah luntur dimakan oleh arus zaman. Gereja-gereja Reformed yang dulu kuat memegang teguh Sola Scriptura kemudian merosot. Hal ini ditandai dengan dua hal. Pertama, munculnya Karl Barth dengan theologi Neo-Orthodoksnya. Barth melalui buku tafsiran Surat Roma yang ditulisnya pada tahun 1919 mengikis habis otoritas Alkitab dengan pengajaran ide bahwa Alkitab baru menjadi firman Allah jika itu menyentuh (perasaan) kita. Meskipun ada beberapa konsep Barth yang cukup baik untuk kita pelajari, namun konsep ini sebenarnya memiliki bahaya yang sangat fatal. Barth tidak menyetujui liberalisme dari guru-guru mereka, tetapi secara berkontradiksi, Barth sebenarnya menegakkan model baru dari liberalisme (saya menyebutnya: half-liberalism). Konsep Barthianisme ini berkembang bukan hanya di gereja (yang berTRADISI) Reformed yang makin lama makin meninggalkan otoritas Alkitab, namun juga di gereja-gereja non-Reformed. Di sebuah milis Kristen, saya berkenalan dengan seorang pemimpin gereja dari gereja Protestan arus utama (gereja ini mengklaim berTRADISI Reformed), namun ia marah-marah ketika saya melabeli Barth dengan Neo-Orthodoks. Sepanjang diskusi dengan si pemimpin gereja ini, dia pernah mengatakan bahwa otoritas utamanya bukan lagi Alkitab, tetapi Kristus. Bagi si pemimpin gereja ini, segala sesuatu harus berpusat kepada Kristus. Hal ini tidak salah, namun ada keanehan dan kekontradiksian konsep ini. Dari konsep ini, saya menemukan dua kelemahan, yaitu:
Pertama, secara tidak langsung (atau bahkan langsung), dia sudah mendualismekan Alkitab dan Kristus. Bagi dia, Alkitab tidak sempurna dan Kristus lebih sempurna. Memang benar bahwa Kristus lebih sempurna dari Alkitab (Alkitab TIDAK mungkin sempurna menggambarkan keagungan Kristus), tetapi saya menangkap ada kejanggalan presuposisi. Dia mengatakan hal ini didasarkan pada konsep/iman bahwa Alkitab bukan firman Allah! Benarkah Alkitab sendiri mengajarkan bahwa Alkitab bukan firman Allah? Bagaimana dengan 2 Timotius 3:16 dan 2 Petrus 1:20-21? Bagaimana pula dengan legitimasi Tuhan Yesus terhadap otoritas kanonisasi Perjanjian Lama? Apakah itu bukan firman Allah? Jika demikian, siapa yang lebih berotoritas menetapkan mana yang merupakan firman Allah: Roh Kudus sebagai Pengwahyu atau si pemimpin gereja ini?!
Kedua, jika otoritas utamanya adalah Kristus, tolong tanya, dari mana dia bisa mengenal Pribadi dan karya Kristus jika bukan dari Alkitab? Memang kita bisa menyebut dan mengaku Kristus sebagai Tuhan adalah karena pekerjaan Roh Kudus, namun untuk mengenal lebih dalam lagi akan pribadi dan karya Kristus, kita membutuhkan wahyu-Nya, Alkitab. Melalui Alkitab, kita mengamini akan perkataan Kristus bahwa Ia adalah satu-satunya jalan dan kebenaran dan hidup, tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa jika tidak melalui-Nya (Yoh. 14:6). Melalui Alkitab, kita juga mengenal Kristus sebagai Pribadi Allah kedua dari Trinitas yang mengadakan mukjizat-mukjizat, memberitakan Injil, dan mengusir setan. Jika bukan dari Alkitab, bisakah kita mengenal pribadi dan karya Kristus dengan lengkap? Atau sudah pintarkah kita dari Alkitab dalam mengenal pribadi dan karya Kristus? Sebagai refleksi, hal ini sekaligus membedakan dua jenis orang (meskipun mengklaim “pemimpin gereja”): orang pertama adalah orang yang rendah hati dan taat mau dibentuk oleh firman Tuhan (2Tim. 3:16). Orang pertama ini seharusnya menjadi sikap hati dan hidup orang-orang yang telah ditebus oleh Kristus. Namun orang kedua adalah orang yang merasa dirinya pintar dan berani mengkritisi firman-Nya. Orang model kedua ini tentu bukanlah ciri anak Tuhan sejati, karena di titik pertama, ia sudah menjadi penghakim bagi firman-Nya. Dengan kata lain, ia lebih berotoritas bahkan dari Allah sekalipun.

Konsep Barthianisme ini juga mempengaruhi gereja-gereja non-Reformed, yaitu mayoritas gereja kontemporer pop zaman ini yang membedakan logos dengan rhema (padahal kedua kata Yunani ini sama artinya dan penggunaannya dipakai secara silih berganti di Alkitab) dan lebih mementingkan rhema. Tidak heran, sebagian besar mereka yang memutlakkan rhema ketimbang logos lebih mementingkan pengalaman pribadi dekat dengan Tuhan ketimbang harus belajar menggali Alkitab. Meskipun konsep ini ada kelemahannya, yaitu pengalaman TIDAK bisa dijadikan standar mengukur kebenaran dan iman seseorang, namun sebenarnya konsep ini pun menjadi teguran bagi kita khususnya yang bertheologi Reformed. Orang non-Reformed meskipun tidak mengerti Reformed sesungguhnya tetap dipakai Tuhan untuk menyadarkan kita bahwa pengetahuan akan Allah bukan semata-mata kognitif saja, tetapi juga menyentuh ke segala bidang, bahkan termasuk pengalaman rohani dan sikap yang mau taat. Mari kita kembali kepada semangat bapak pendiri theologi Reformed, yaitu Dr. John Calvin. Dr. John Calvin sendiri di dalam bukunya Institutes of the Christian Religion memaparkan satu pernyataan yang bagi saya sangat penting, “Knowledge of God involves trust and reverence” (=Pengetahuan akan Allah melibatkan ketaatan dan penundukan) (I.II.2, hlm. 41) Pada halaman sebelumnya, Dr. Calvin juga mengatakan hal yang lebih penting lagi, “Piety is requisite for the knowledge of God” (=Kesalehan adalah perlu bagi pengetahuan akan Allah) (hlm. 39) Kedua kutipan Calvin ini TIDAK ada satu pun yang menginsyaratkan bahwa pengetahuan akan Allah mencakup perdebatan theologi dengan segudang argumentasi akademis dan rincian ayat-ayat Alkitab. Calvin TIDAK mementingkan hal-hal tersebut, tetapi bagi Calvin, pengetahuan akan Allah melibatkan sikap hati yang sungguh-sungguh mau taat akan firman dan kehendak-Nya. Bagaimana dengan kita? Sungguhkah kita telah menyerahkan hati kita kepada Allah dengan taat dan tunduk mutlak kepada firman dan kehendak-Nya? Ataukah kita masih suka hidup mendualisme: percaya doktrin kedaulatan Allah dan ketidakbersalahan Alkitab, namun praktik hidup kita mengatakan kedaulatan kita atau pemimpin gereja kita? Biarlah ini menjadi refleksi bagi kita masing-masing.

Menanggapi Barthianisme, theolog-theolog Reformed yang setia mengkritisi Barth dan mengembalikan gereja kembali kepada Alkitab. Hal ini baik, namun sayangnya, akibatnya, di sisi lain, Reformed menjadi kaku dan suka menjadi pengkritik theologi lain. Theologi dan gereja Reformed bukan lagi menjadi suatu semangat yang berkobar-kobar, tetapi menjadi theologi yang akademis, dingin, kaku, dan mau mati.


Di tengah kelesuan Kekristenan dan kesimpangsiuran arus zaman khususnya di zaman postmodern, Tuhan membangkitkan hamba-Nya yang setia, Pdt. Dr. Stephen Tong melalui Gerakan Reformed Injili. Melalui Gerakan Reformed Injili, beliau membangunkan orang Kristen dari kelesuan dan kecuekan zaman dengan mengajar kembali apa yang Alkitab ajarkan dan memberitakan Injil sebanyak mungkin kepada banyak orang. Gerakan ini telah mempengaruhi cukup banyak orang baik melalui institusi Institut Reformed, Momentum Christian Literature, Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII), dan gereja-gereja Reformed di luar GRII. Beliau dan Pdt. Billy Kristanto, M.C.S. pernah mengatakan satu hal penting bahwa Gerakan Reformed Injili BUKAN dimonopoli oleh GRII, tetapi untuk semua gereja. Berarti beliau TIDAK membatasi gerakan Reformed Injili HANYA untuk GRII SAJA, tetapi untuk semua gereja yang mau kembali kepada Alkitab. Prinsipnya bukan Reformed-isme, tetapi Alkitab! Dengan semangat kembali kepada Alkitab, beliau TIDAK segan-segan mengkritik kelemahan Reformed sendiri di dalam aspek penginjilan dan semangat pelayanan. Dengan semangat ini pula, beliau berani mengatakan bahwa apa yang mutlak jangan direlatifkan dan apa yang relatif jangan dimutlakkan. Pernyataan ini sangat penting bagi theologi dan gerakan Reformed. Mengutip Bapa Gereja Augustinus, beliau juga pernah mengatakan bahwa jika ada ajaran beliau yang tidak sesuai dengan Alkitab, buang ajaran beliau dan kembalilah kepada Alkitab. Di sini, saya TIDAK sedang memberhalakan Pdt. Stephen Tong, lalu mengatakan semua ajaran beliau 100% benar. Tetapi yang saya maksudkan adalah misi, visi, dan panggilan Pdt. Stephen Tong yaitu kembali kepada Alkitab! Namun sayang, semangat mulia dari Pdt. Dr. Stephen Tong disalahtafsirkan oleh banyak orang bahkan oleh seorang hamba Tuhan yang melayani di Gereja Reformed. Jika Pdt. Stephen Tong menegakkan bahwa apa yang relatif jangan dimutlakkan, maka ada seorang hamba Tuhan yang melayani di sebuah Gereja Reformed mengutip perkataan Pdt. Stephen Tong secara perkataan dan doktrin, namun TIDAK pernah dia aplikasikan. Di satu sisi, si pendeta ini mengutip Pdt. Stephen Tong bahwa yang relatif jangan dimutlakkan, namun secara berkontradiksi, di sisi lain, si pendeta ini pada waktu acara baptisan di gereja dengan berani mengatakan bahwa gereja yang tidak menjalankan baptisan anak itu sesat. Pada waktu saya mendengar perkataan si pendeta ini, saya hanya tersenyum mendengar khotbah yang kurang bertanggungjawab tersebut, karena saya percaya di dalam sejarah theologi Reformed, doktrin baptisan anak dijalankan dengan pola pikir theologi sistematika yang berdasar pada ciri khas Reformed yaitu theologi kovenan. Saya percaya akan baptisan anak (infant baptism), tetapi saya TIDAK memutlakkannya, karena Alkitab jika diteliti secara Biblika TIDAK ada satu ayat pun memutlakkan pengajaran baptisan anak dan sebaliknya, TIDAK melarang baptisan anak. Jika demikian, dengan argumentasi Biblika sebelah mana si pendeta ini dengan berani mengatakan bahwa gereja yang tidak menjalankan baptisan anak itu sesat? Ataukah dia mengajar hal ini karena didorong oleh emosinya yang menggebu-gebu, padahal secara berkontradiksi pula, dia juga pernah mengatakan bahwa pikiran harus menguasai emosi? Hehehe J Jika demikian presuposisinya, sesuaikah logika ini dengan Pdt. Stephen Tong yang menggerakkan kita kembali kepada Alkitab (bukan kepada GRII)?!




Apa yang bisa kita pelajari dari pembahasan saya di atas?
1. Theologi Reformed bukan Kebenaran (Alkitab adalah Kebenaran: Sola Scriptura)
Prinsip penting yang harus kita pegang adalah theologi Reformed BUKAN Kebenaran! Artinya, mengutip perkataan Pdt. Dr. Stephen Tong, jangan pernah menyamakan theologi Reformed dengan Alkitab. Theologi Reformed adalah theologi yang berusaha seketat mungkin menginterpretasi (menafsir) Alkitab. Oleh karena itu, semboyan Reformed yang cukup terkenal adalah: Ecclesia Reformata Semper Reformanda (gereja Reformed mau diReformedkan terus-menerus). Namun sayangnya, semboyan ini dimanipulasi oleh mereka yang sebenarnya tidak beriman Reformed sungguh-sungguh, lalu semboyan ini dipelintir artinya, sehingga secara implisit menjadi: gereja-gereja Reformed harus diReformedkan terus-menerus, supaya sesuai dengan konteks zaman. Tidak heran, di zaman postmodern ini, ada nama arus “theologi” yang aneh-aneh, misalnya: “theologi” Asia, dll. Mereka menggunakan nama tersebut dengan tujuan agar theologi Kristen bisa diaplikasikan di dalam konteks budaya. Theolog Asia memakai istilah theologi Asia. Theolog Afrika menggunakan istilah theologi Afrika. Semangat mereka sebenarnya tidak salah, yaitu agar kita tidak terlalu memberhalakan theologi Barat, tetapi semangat mereka kurang bisa dipertanggungjawabkan. Mengapa? Pdt. Billy Kristanto pernah mengatakan bahwa mereka yang menciptakan istilah theologi Asia, dll sebenarnya lupa satu hal bahwa Rasul Paulus memberitakan Injil bukan ke Sidoarjo atau Banyuwangi, tetapi ke Roma, Galatia, dll. Kelemahan kedua, apakah isi theologi Asia yang mereka gembar-gemborkan masih sesuai dengan Alkitab ataukah isi Alkitab sudah direduksi sedemikian rupa sehingga isi Alkitab yang melawan konteks Asia dihilangkan (istilahnya: teks tunduk kepada konteks)? Jika isi theologi Asia sudah tidak lagi sesuai dengan inti berita Alkitab, masih layakkah theologi Asia disebut theologi (theologi artinya ilmu yang mempelajari keTuhanan)? Seharusnya, mengutip perkataan Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M., theologi lokal/kontekstual seharusnya menundukkan konteks di bawah teks. Atau dengan kata lain, theologi kontekstual seharusnya berarti mengaplikasikan teks Alkitab ke dalam konteks zaman kita TANPA menghilangkan arti asli teks Alkitab (theologi kontekstual tidak bisa dipisahkan dari bidang-bidang theologi lain, seperti: theologi sistematika, theologi Biblika, theologi historika, theologi filosofika, dan theologi praktika)! Dari kasus tadi, kita belajar bahwa liberalisme terselubung telah meracuni gereja-gereja Reformed dengan mengambil alih semboyan Reformed yang agung lalu ditambahi muatan-muatan filsafat manusia berdosa. Sungguh mengerikan. Mari kita kembali kepada semboyan mula-mula dari Reformasi di zaman Luther bahwa hanya Alkitab saja satu-satunya otoritas bagi iman dan kehidupan Kristen kita. Mengutip perkataan Pdt. Billy Kristanto, Reformed sejati bukan Reformed statis/tidak bisa diubah (Reformed), tetapi always Reforming (selalu mau diReformedkan terus-menerus sesuai dengan Alkitab). Kita mengagumi dan mempelajari pengakuan-pengakuan iman Reformed, seperti Canons of Dort, Katekismus Heidelberg, Pengakuan Iman Westminster, Katekismus Westminster, Pengakuan Iman Belgia, dll, tetapi kekaguman kita jangan sampai menggantikan kekaguman dan ketundukan kita hanya kepada Alkitab!


2. Theologi Reformed = Hati
Jika kita sudah mengerti bahwa Alkitab adalah satu-satunya standar kebenaran bagi iman dan kehidupan Kristen kita, lalu apa yang menjadi respons kita? Tidak ada respons lain yang lebih bertanggungjawab selain TAAT mutlak. TAAT di sini lebih merupakan masalah HATI. HATI adalah sesuatu yang paling penting di mata Allah. Ketika hendak memilih raja menggantikan Saul, Allah berfirman kepada Samuel, “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” (1Sam. 16:7b) Ayat ini juga menjadi peringatan bagi kita bahwa iman bukan urusan pengalaman pribadi atau belajar theologi, namun urusan HATI! Tidak berarti theologi dan pengalaman itu tidak penting. Dua hal tersebut itu penting, tetapi yang terpenting adalah hati. Ketika kita telah menyerahkan HATI kita kepada Allah untuk dibentuk-Nya sesuai kehendak-Nya, maka secara otomatis kita memiliki kerinduan untuk makin mengenal Allah dan mengalami-Nya melalui firman-Nya. Hal ini sangat disadari oleh bapak pendiri theologi Reformed yaitu Dr. John Calvin. Perkataannya yang terkenal adalah bahwa ia menyerahkan hatinya kepada Allah dengan tulus dan murni. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita dengan tulus dan murni menyerahkan hati kita kepada-Nya untuk dibentuk-Nya? Jangan hanya pintar mengkhotbahkan perkataan Calvin ini, tetapi tidak pernah mengaplikasikannya!

Bagaimana memiliki hati yang tulus dan murni? Kita bisa memiliki hati yang tulus dan murni dengan menjaga kemurnian hati kita dengan firman Tuhan. Menjaga kemurnian hati kita dengan firman Tuhan ditunjukkan dengan cara terus mengintrospeksi diri kita sesuai dengan firman Tuhan. Belajarlah bertanya kepada diri: sebelum saya mengkritik/menuntut orang lain, sudahkah saya menjalankannya? Tuhan TIDAK memerintahkan kita pintar menuntut orang lain untuk belajar Kebenaran, tetapi Ia memerintahkan kita menuntut diri sendiri TERLEBIH DAHULU untuk belajar Kebenaran, baru setelah itu mengajar orang lain (bdk. Mat. 7:1-5). Saya pribadi sebagai jemaat GRII harus mengakui bahwa beberapa hamba Tuhan di Gereja Reformed kurang memiliki jiwa introspeksi diri (self-introspection), padahal itulah yang Tuhan Yesus ajarkan! Saya pribadi sedih melihat beberapa hamba Tuhan Gereja Reformed menjadi pengkritik filsafat dunia berdosa, tetapi di sisi lain, secara tidak sadar mereka sedang mengimpor beberapa filsafat tersebut di dalam sikap hidupnya. Orang-orang Reformed harus BERTOBAT!


Sosok Dr. John Calvin memang adalah sosok theolog yang dipakai Tuhan luar biasa baik dari segi semangat, doktrin, kesalehan, dan kehidupan pribadinya. Namun satu hal yang penting yang harus kita sadari adalah meskipun Calvin adalah sosok theologi yang agung, ia tetap seorang manusia biasa. Oleh karena itu, meskipun kita banyak belajar melalui Calvin, kita tetap harus kritis terhadap ajaran Calvin dan tetap berpegang pada Alkitab. Seorang rekan saya yang dulu menjadi teman saya sewaktu bekerja di Momentum Christian Literature menyadarkan saya bahwa kita jangan terlalu mengagung-agungkan Calvin lebih dari Allah! Orang-orang Reformed harus peka akan nasihat bijak ini.


Biarlah melalui renungan memperingati 500 tahun Dr. John Calvin, kita benar-benar meneladani dan mengaplikasikan semangat, doktrin, kesalehan, dan kehidupan praktis dari Dr. John Calvin di dalam hidup kita yaitu: kembali kepada Alkitab dan hiduplah terintegrasi sesuai dengan Alkitab! Amin. Soli Deo Gloria.





“…the true light of wisdom, sound virtue, full abundance of every good, and purity of righteousness rest in the Lord alone.”
(Dr. John Calvin; Institutes of the Christian Religion, I.I.1, hlm. 36)

25 June 2009

Seminar: MUSIC IN WORSHIP AND CULTURE di Surabaya (Sdr. Jethro Y. Rachmadi, B.Mus.)

…Hadirilah…




Pertobatan Selera:
MUSIC IN WORSHIP AND CULTURE

Apakah artinya menerima Yesus dalam hati sebagai Tuhan? Apakah Ia Tuhan dalam seluruh hidup kita? Apakah Ia juga Tuhan dalam selera musik kita? Mari kita kembali kepada Allah untuk memahami arti pertobatan, termasuk dalam selera musik kita di dalam ibadah dan kebudayaan.

oleh: Sdr. Jethro Yuzvin Rachmadi, B.Mus.




23-24 Juli 2009; Pkl. 18.30-21.00 WIB
di GRII Ngagel,
Jln. Ngagel Jaya Selatan K 1-3A (ex. Kebun Bibit),
Surabaya




Kontribusi:
Rp. 40.000 (umum); Rp. 20.000 (mahasiswa)




Penyelenggara, Info, dan Pendaftaran:
Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Ngagel,
Jln. Ngagel Jaya Selatan K 1-3A (ex. Kebun Bibit),
Surabaya
Telp.:
Sdr. Dedy: (031) 5047759, 5043661; Fax.: (031) 5047758
Sdri. Willis: (031) 72360875

Profil Pembicara:
Sdr. Jethro Yuzvin Rachmadi, B.Mus. menyelesaikan studi Bachelor of Music (B.Mus.) dari Melbourne University dan sekarang sedang menempuh studi lanjut di Institut Reformed, Jakarta.

21 June 2009

Matius 16:1-4: THE MESSIAHSHIP OF CHRIST: THE SIGN (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Ringkasan Khotbah: 14 Oktober 2007




Messiahship of Christ: The Sign

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.




Nats: Matius 16:1-4





Tema utama dari Injil Matius pasal 16 adalah Kemesiasan Yesus Kristus, the Messiahship of Christ. Lembaga Alkitab Indonesia membaginya dalam empat segmen dan hari ini kita akan merenungkan segmen pertama dimana segmen pertama ini berkaitan erat. Tuhan bukanlah Tuhan yang jauh di sana tetapi Ia berinkarnasi datang ke dunia untuk menyelamatkan manusia berdosa. Dengan demikian kita mendapatkan suatu gambaran utuh tentang Kristus Tuhan dan Mesias dalam tugas dan kepribadian-Nya.
Orang Farisi dikenal sangat religius, saleh dan percaya Allah namun ironis, mereka justru melawan Tuhan. Mereka tidak memahami esensi agama sejati tetapi agama tidak lebih humanistik, orang memanipulasi Tuhan demi kepentingan diri. Manusia dicipta oleh Tuhan harusnya kembali pada Sang Pencipta dan taat mutlak pada Sang Pencipta sebagai Allah yang berdaulat. Perhatikan, kedaulatan Allah tidak bersifat diktator, Dia tidak mencipta kita seperti robot dan mengatur setiap langkah dan gerak kita. Tidak! Kedaulatan Allah adalah manusia yang memahami Firman dengan pengertian yang tepat bahwa Tuhan itulah Raja di atas segala raja yang berdaulat lalu dengan kesadaran penuh dan hati yang penuh cinta kasih kita taat dan melakukan semua Firman-Nya. Sebagai anak Tuhan sejati, Firman Tuhan itu harusnya menjadi dasar dan terimplikasi dalam seluruh aspek hidup kita namun hal itu tidaklah mudah, banyak hal bertentangan dengan dunia.
Kembali orang Farisi berusaha mencobai Tuhan Yesus dan kali ini ia bersekongkol dengan orang Saduki. Padahal kedua golongan ini sangat bertentangan tetapi mereka bisa bersepakat dan bersatu ketika menghadapi Tuhan Yesus. Dalam sejarah bangsa Israel terdapat 3 golongan besar, yakni: 1) golongan Farisi, orang yang sangat ekstrim religius dan anti politik. Mereka sangat sengit melawan pemerintahan khususnya pemerintahan Herodes dan Romawi. Orang Farisi berpendapat Israel harusnya diperintah secara theokratis dimana Allah Yahweh sebagai pemegang pemerintahan atas orang-orang Yahudi seperti dalam konsep Perjanjian Lama; 2) golongan Saduki, kelompok Yahudi liberal, mereka mengkompromikan aspek agama dengan politik. Mereka percaya, orang Yahudi seharusnya merdeka tetapi mereka tidak pernah memikirkan pemerintahan Yahudi sebagai pemerintahan yang theokratis. Orang Saduki percaya Allah tetapi mereka tidak percaya kebangkitan pada orang mati. Agama hanya berjalan di dunia sekarang dan setelah mati, kehidupan pun berhenti. Perbedaan yang sangat drastis secara metafisika dengan orang Farisi yang percaya adanya kebangkitan. Kedua golongan ini berdiri secara agama tetapi mempunyai theologi yang berbeda itulah sebabnya mereka selalu bertentangan, 3) golongan Herodian, murni bergerak di politik, tidak berurusan dengan agama bahkan cenderung anti agama, mereka hanya peduli kekuasaan. Ketiga golongan ini tidak pernah saling akur namun ironis, golongan Farisi dan golongan Saduki bersatu untuk menghadapi Tuhan Yesus. Bagi orang Farisi, Tuhan Yesus dianggap terlalu liberal karena melanggar semua peraturan atau adat istiadat yang telah ditetapkan dan bagi orang Saduki, Tuhan Yesus dianggap terlalu religius karena Ia percaya akan kebangkitan orang mati.
Maka celakalah kita kalau mau menyenangkan semua orang, kita lebih mirip seperti bunglon dan akhirnya, kita akan menjadi musuh semua orang. Karenanya, kita harus kembali pada kebenaran sejati maka kita tidak akan mudah tergoyahkan meski diserang dari segala arah. mendapatkan hidup sejati. Manusia hidup bukan ditentukan oleh orang lain tetapi hidup manusia ditentukan oleh kebenaran Allah. Celaka kalau hidup kita ditentukan oleh sesuatu yang relatif, kita akan diombang-ambing berbagai permainan palsu yang licik dan menyesatkan kemudia berakhir dengan kebinasaan. Kristuslah satu-satunya kebenaran; Ia telah memproklamasikan kebenaran, menghidupkan kebenaran, membuktikan kebenaran dan menyatakan kebenaran di tengah dunia.
Sebelumnya orang Farisi menyerang Tuhan Yesus karena Ia dianggap telah melanggar Taurat maka sekarang kembali mereka menyerang Kemesiasan Kristus. Mereka meminta tanda yang menyatakan bahwa benar Ia adalah Mesias. Istilah tanda, hari ini banyak digunakan oleh orang Kristen; dalam hal apapun selalu meminta tanda dari Tuhan. Ingat, Christianity not build by experience. Dunia ingin mendapatkan kebenaran dan sesuatu itu dianggap benar dilihat dari 4 aspek, yakni: 1) rasionalisme, segala sesuatu dianggap benar kalau cocok dengan logika. Pertanyaannya adalah seberapa besarkah rasio kita? Apakah semua yang rasional menurut kita itu pasti benar? Tidak! Sebab banyak aspek sifatnya supra rasional. Rasio hanyalah sarana untuk melihat kebenaran. Rasio lebih kecil dan lebih rendah dari kebenaran maka ia tidak berhak menentukan kebenaran. Dunia sangat terjebak dengan konsep ini, akibatnya dunia sulit menerima hal kebangkitan Tuhan Yesus atau Tuhan Yesus berjalan di atas air – agama dikunci di aspek logika, 2) empirisme, kebenaran tergantung dari pengalaman. Pertanyaannya adalah apakah setiap orang mempunyai pengalaman yang sama? Tidak! Lalu bagaimana mungkin kebenaran ditentukan oleh pengalaman? Pengalaman siapakah yang berhak sebagai penentu kebenaran? Pengalaman hanyalah sarana sebab banyak pengalaman yang bersifat negatif. Apakah kita perlu mencoba mengalami terlebih dahulu kalau jatuh dari lantai 20 pasti akan mati? Tidak, bukan? Kalau semua aspek harus kita alami celakalah hidup kita. Truth is not according to the experience, knowledge is not according to the experience but knowledge is back to the Truth in Words, 3) subyektifisme, 4) otorianisme. Untuk dua aspek terakhir ini tidak akan dijelaskan lebih detail.
Sesungguhnya, Tuhan Yesus telah memberikan banyak tanda mulai dari kelahiran-Nya, ketika Ia dibaptis, khotbah di atas bukit, orang buta dicelikkan, orang lumpuh berjalan, dan masih banyak lagi tanda yang semuanya sangat jelas tetapi mereka tidak pernah melihat semua tanda itu sebab mereka menetapkan diri sebagai subyek penentu kebenaran. Manusia ingin menjadi tuan atas kebenaran. Inilah kegagalan iman di titik pertama. Jelaslah, kalau orang sudah tidak mau percaya pada Kristus maka ia tidak akan pernah mengerti kebenaran sejati selama hidupnya, hal ini sangat dipahami oleh Agustinus dan ditajamkan oleh Anselmus lalu ditegaskan kembali oleh Calvin. Hanya kembali pada Allah dan kebenaran-Nya sajah kita akan memahami tentang kebenaran dan semua akan ditambahkan padamu. Agustinus menegaskan iman adalah yang utama dan rasio seperti “pembantu“ dimana iman itulah “tuan.“ Pernyataan yang tajam diungkapkan oleh Anselmus, credo ut intelligum, i believe than i understand. Sebaliknya, dunia menyatakan mengerti dulu baru mau percaya maka tidaklah heran kalau orang tidak pernah memahami kebenaran sejati. Inilah kebebalan manusia.
Percaya itu menjadi kunci utama maka seluruh kepercayaan itu akan membangun seluruh pengertian yang sejati. Pengertian yang sejati hanya ada dalam Firman Tuhan saja. Iman menentukan semua hal. Seorang rasionalis yang percaya pada rasio maka ia akan mendapatkan semua pengertian yang berbasiskan rasionalis. Untuk hal-hal yang sifatnya irasional maka selamanya, ia tidak akan pernah mengerti. Maka percuma semua tanda kalau orang tidak mau percaya pada Kristus Tuhan, sebanyak apapun tanda tidak akan membuat mereka percaya. Orang hanya mau tanda yang cocok dengan pemikirannya. Ketika orang Farisi dan Saduki menuntut jawaban dari Tuhan Yesus maka Tuhan Yesus menyindir dengan satu kalimat tajam tentang tanda pada alam (Mat. 16:2-3). Tuhan Yesus tidak merasa perlu memberikan tanda pada orang bebal. Hanya satu hal yang Tuhan Yesus tegaskan yakni tanda Yunus lalu Tuhan Yesus pun meninggalkan mereka pergi.
Orang Palestina umumnya hidup dari pertanian, peternakan dan perikanan sehingga mereka sangat bergantung pada alam dan cuaca karena itu menentukan nasib mereka. Demi kepentingan diri, orang mau belajar namun untuk kepentingan orang lain, orang tidak peduli. Inilah sifat manusia berdosa, hanya mementingkan diri dan tidak pernah peduli orang lain. Hal yang sama diperlakukan pada Tuhan Yesus, mereka meminta tanda yang sesuai dengan keinginan dan kepentingan diri. Tuhan Yesus tidak memberikan tanda itu sebab sesungguhnya, mereka tidak pernah mau mengerti tanda. Pertanyaannya bagaimana respon kita? Kita mau mengikut iblis atau Tuhan? Iblis pasti akan memberikan tanda itu yang seperti yang kita minta. Hari ini tanpa sadar, Kekristenan telah masuk dalam format iblis, mereka menyeleweng dari Firman Tuhan; orang hanya berpikir humanistik. Orang tidak berpikir seperti Kristus berpikir, tidak mempunyai perasaan seperti perasaan Kristus – orang hanya mempunyai perasaan senasib sebagai sesama orang berdosa. Ironisnya, ketika orang berdosa dibukakan akan realita bahwa kita adalah orang berdosa, orang menjadi marah. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah iman yang sejati? Apakah yang dimaksud dengan tanda sejati?
Tanda apapun tidak akan membuat orang percaya sebab titik permasalahan adalah iman percaya. Apakah kita mau merombak seluruh pemikiran kita untuk percaya mutlak pada Kristus? Inilah iman sejati. Tuhan Yesus sedang mengajak kita untuk merombak cara berpikir dengan demikian kita tidak hanya mengerti Kristus sebagai Tuhan tetapi kita juga mengerti konsep Mesianik secara total. Mesias berarti Juruselamat, Dia yang diurapi datang untuk menyelamatkan manusia. Mesias sangat dinantikan oleh bangsa Israel namun mereka tetap tidak dapat mengerti kalau Mesias itu telah datang di depan mata bahkan telah menuntaskan tugas Kemesiasan-Nya dan kembali ke sorga, mereka tetap tidak mengerti Kristus adalah Mesias bahkan sampai hari ini mereka masih menantikan Mesias sebab Mesias yang datang tidak sesuai dengan harapan mereka.
Matius 16:1-4 mengajarkan pada kita satu hal, yakni credo ut intelligum, believe than understand. Orang harus percaya mutlak pada Firman, back to the Bible. Ketaatan berarti kembali pada kebenaran sejati dan apapun yang tidak kita suka tetap harus taat dan hal ini sangat sulit bagi orang Kristen sebab pada dasarnya, manusia adalah manusia berdosa dan pemberontak Allah. Sebagai Kristen sejati, kita harus taat mutlak pada Allah Sang Pencipta karena Ia adalah Tuhan di atas segala tuhan. Iman kepercayaan pada Kristus itulah dasar dan pondasi yang menentukan seluruh cara berpikir kita yang selama ini diisi oleh konsep berdosa.
Mengapa Kristus sebagai satu-satunya yang sah? Ada tiga aspek, yakni:
1. Kristus adalah Kebenaran absolut
Kalau orang mau melawan Kristus maka dengan mudah orang bisa mengatakan Kristus bukanlah kebenaran absolut dan tidak percaya pada-Nya maka percuma semua tanda atau pembuktian apapun diberikan sebab di titik awal orang sudah tidak percaya. Tanda apapun dan bagaimanapun akan dilawan maka orang tidak pernah mendapatkan jawaban. Kunci utama dan terpenting adalah percaya mutlak. Namun orang tidak mau percaya dan ingin menjadi penentu kebenaran, segala sesuatu dianggap benar kalau menurut dia benar. Itu bukan kebenaran sejati.
3. Kristus adalah verifikator
Kristus adalah Tuhan atas alam semesta, Dia adalah kebajikan tertinggi, summum bonum maka Dia berhak dan layak menjadi penentu absolut apapun yang ada di dunia, menentukan baik/tidak baik, benar/tidak benar, suci/tidak suci, mulia/tidak mulia – semua value system, epistemologi dan axiologi di tangan-Nya. Kristus adalah pemegang otoritas tertinggi maka kalau kita beriman pada-Nya maka itu menjadi suatu kekuatan dalam hidup kita.
2. Kristus adalah otoritas final
Semua otoritas di bawah boleh berpendapat benar tapi kalau Sang otoritas tertinggi berkata “salah” maka semua yang benar tadi adalah salah. Sebagai contoh, pada suatu perusahaan, kepala staf, kepala departemen, manajer bersepakat dan setuju namun kalau komisaris tertinggi sebagai penentu tertinggi, tidak setuju maka semua otoritas di bawahnya gugur dengan sendirinya. Itu hanya contoh kecil dari suatu perusahaan sebab Kristus adalah pemegang otoritas tertinggi dari semua otoritas di dunia. Penentuan terakhir berada di tangan Kristus, tidak peduli apakah kita suka atau tidak suka, Dia yang menentukan semua. Dia adalah penuntun dan pemimpin langkah hidup kita maka kalau kita kembali pada Dia, alangkah indah hidup kita, hidup kita menjadi jelas ketika kita melangkah karena kita berpaut pada kebenaran sejati. Celakalah kalau kita mentautkan hidup kita pada iblis, kita akan binasa. Orang yang hidup berpaut pada Kristus akan takut untuk berbuat dosa, orang akan berusaha keras untuk hidup dalam kebenaran; ketika ia melakukan hal yang salah maka ia akan merasa risih. Firman selalu mengingatkan kita, seperti rem yang mengerem kita. Berbeda halnya kalau orang berpaut pada iblis, bapa segala penipu maka segala sesuatu yang ia kerjakan yang sifatnya berdosa, orang tidak merasa bersalah atau berdosa. Dunia tidak takut pada esensi dosa, dunia hanya takut pada akibat dosa, seperti hukuman-hukuman yang akan diterima, dan lain-lain. Selama orang hanya takut pada akibat dosa dan tidak kembali pada penentu Allah yang final maka seluruh perbuatan dosa dapat dianulir, seluruh perbuatan jahat bisa diabaikan dan hal itu akan menjadikan kita berdosa.
Tanda Yunus menjadi tanda unik, refleksi Kemesiasan Kristus – Kristus akan mati, disalib dan tiga hari, Ia akan tinggal dalam perut bumi dan bangkit pada hari ketiga. Inilah pertama kali, Kristus membuka misi Mesias. Mesias yang hadir berbeda dengan konsep Mesias yang dimengerti oleh orang berdosa. Dalam konsep bangsa Israel, Mesias yang hadir akan menjadi Raja, keturunan Daud yang bertahta dan menguasai Kerajaan sampai menguasai seluruh wilayah Salomo bahkan lebih daripada itu, yakni kerajaan itu haruslah sebesar Kerajaan Romawi Raya. Ternyata, Mesias yang hadir berbeda total dari konsep mereka; Mesias lahir di kandang, menderita sengsara dan hina, bermahkota duri, naik ke kayu salib, mati dan bangkit. Tuhan sedang membukakan suatu status yang sangat unik tentang kehadiran-Nya, Dia datang bukan untuk dilayani melainkan melayani dan menjadi tebusan bagi banyak orang. Inilah misi Mesianik.
Sungguh merupakan suatu anugerah kalau kita dapat percaya dan beriman pada Kristus, kita dibukakan dan mengerti akan kebenaran sejati bahwa Kristus adalah Mesias. Pertanyaannya sekarang adalah apakah kita seorang Kristen sejati? Seorang Kristen sejati akan beriman sejati – taat mutlak pada Kristus sebagai kebenaran mutlak, otoritas final dan penentu yang sah. Hendaklah kita mengevaluasi diri kita seberapa jauhkan kita mengerti ”tanda”? Sudahkah hidup kita bertaut pada Kristus Sang Kebenaran sejati? Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)





Sumber:
http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2007/20071014.htm

Roma 15:25-29: PELAYANAN SOSIAL YANG MEMULIAKAN ALLAH

Seri Eksposisi Surat Roma:
Penutup-5


Pelayanan Sosial yang Memuliakan Allah

oleh: Denny Teguh Sutandio



Nats: Roma 15:25-29



Sebelum ke Spanyol, Paulus mampir dahulu ke Yerusalem. Apa tujuannya? Di ayat 25-26, ia menjelaskan, “Tetapi sekarang aku sedang dalam perjalanan ke Yerusalem untuk mengantarkan bantuan kepada orang-orang kudus. Sebab Makedonia dan Akhaya telah mengambil keputusan untuk menyumbangkan sesuatu kepada orang-orang miskin di antara orang-orang kudus di Yerusalem.” Dari dua ayat ini, kita belajar bahwa Paulus mampir ke Yerusalem untuk mengantarkan bantuan dari orang-orang Kristen di Makedonia dan Akhaya untuk orang Kristen di Yerusalem. Mengapa orang-orang Kristen di Makedonia dan Akhaya memberi bantuan kepada orang Kristen di Yerusalem? Ada dua alasan. Alasan pertama ada di dua ayat ini dan alasan kedua ada di ayat selanjutnya. Alasan pertama adalah masalah kuantitas. New International Version (NIV) Spirit of The Reformation Study Bible memberikan keterangan bahwa orang Kristen di Yerusalem menderita karena mereka tergolong kaum minoritas, karena kaum mayoritas di sana adalah penganut Yudaisme/Yahudi. Dengan alasan ini, jemaat Tuhan di Makedonia dan Akhaya memutuskan untuk membantu jemaat Tuhan di Yerusalem. Luar biasa, semangat saling menolong sesama jemaat Tuhan ini. Bagaimana dengan kita? Kita sebagai orang Kristen yang hidup di Indonesia masih tergolong enak. Jika kita memperhatikan kondisi orang-orang Kristen di luar negeri, khususnya di negara-negara komunis, seperti RRT dan negara-negara yang agama mayoritasnya non-Kristen, seperti: Pakistan (Islam), India (Hindu), Thailand (Buddha), dll, kita akan mendapati kondisi mereka memprihatinkan. Buletin Kasih Dalam Perbuatan (KDP) yang diterbitkan oleh Voice of the Martyrs menceritakan kondisi malang mereka yang hidup di negara-negara demikian. Mereka disiksa, difitnah, gereja dihancurkan/dihalangi dengan segudang argumentasi yang tidak masuk akal (persis seperti di Indonesia), pendeta dibunuh, dll. Bagaimana reaksi kita? Kita sebagai orang Kristen di Indonesia kebanyakan cuek dengan kondisi mereka. Kita terlalu serakah memperkaya diri dan gereja kita sebagai pertanda “berkat Tuhan.” Sebagaimana yang dilakukan oleh jemaat di Makedonia dan Akhaya, marilah kita juga membantu sesama umat Tuhan yang hidup di negara-negara yang menyiksa mereka. Kita bisa membantu melalui dukungan dana, tenaga, doa, dll. Sudahkah kita melakukannya?


Alasan kedua mereka membantu jemaat di Yerusalem dipaparkan oleh Rasul Paulus sendiri di ayat 27, “Keputusan itu memang telah mereka ambil, tetapi itu adalah kewajiban mereka. Sebab, jika bangsa-bangsa lain telah beroleh bagian dalam harta rohani orang Yahudi, maka wajiblah juga bangsa-bangsa lain itu melayani orang Yahudi dengan harta duniawi mereka.” Di dalam ayat ini, Paulus mengatakan bahwa keputusan memberikan berkat jasmani kepada orang-orang Kristen di Yerusalem merupakan keputusan jemaat Tuhan di Makedonia dan Akhaya sendiri, tanpa ada unsur paksaan. Mengapa mereka bisa berbuat demikian? Alasan kedua adalah karena bangsa-bangsa lain telah mendapat harta rohani dari orang-orang Yahudi (bdk. Rm. 11:11-12), maka mereka pun harus memberikan harta duniawi kepada orang-orang Yahudi. Apa signifikansinya bagi kita? NIV Spirit of the Reformation Study Bible memberikan prinsip umum bagi ayat ini, yaitu ayat ini hendak mengajarkan kepada kita bahwa kita yang telah mendapat berkat rohani harus membagikan berkat jasmani mereka untuk orang lain. Apakah ada unsur timbal balik di dalamnya? Seolah-olah ya, tetapi sebenarnya tidak. Mengapa? Karena orang Kristen yang beres setelah menerima berkat rohani dari Allah dengan rela hati dan penuh syukur akan membagikan berkat jasmani kepada orang lain dan demi pelebaran Kerajaan-Nya di bumi ini. Dengan kata lain, intinya adalah kerelaan hati dan penuh syukur, bukan karena rasa bersalah atau timbal balik. Seorang yang merasa berutang budi atas kebaikan seseorang, lalu memberi balik sesuatu kepada orang lain, maka pemberian itu belum bisa dikategorikan tulus. Utang budi bukan tulus. Suatu pemberian bisa dikatakan tulus apabila pemberian itu dilakukan terlebih dahulu sebelum orang lain memberi sesuatu kepada kita dan pemberian itu tentunya bukan berdasarkan apa yang kita suka, tetapi apa yang orang lain suka. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita memberi dengan ketulusan dan penuh rasa syukur kepada Allah?


Setelah menyerahkan hasil usaha dari para jemaat Tuhan di Makedonia dan Akhaya, Paulus mengatakan bahwa ia akan pergi ke Spanyol melalui Roma (ay. 28). Ketika ia pergi ke sana, ia mengatakan, “Dan aku tahu, bahwa jika aku datang mengunjungi kamu, aku akan melakukannya dengan penuh berkat Kristus.” (ay. 29) King James Version (KJV) menerjemahkannya, “And I am sure that, when I come unto you, I shall come in the fulness of the blessing of the gospel of Christ.” (=Dan aku yakin bahwa, ketika aku datang kepadamu, aku akan datang dengan kepenuhan berkat dari Injil Kristus.) New International Version (NIV) menerjemahkannya, “I know that when I come to you, I will come in the full measure of the blessing of Christ.” (=Aku tahu bahwa ketika aku datang kepadamu, aku akan datang dengan kepenuhan berkat Kristus.) Analytical-Literal Translation (ALT) menerjemahkannya, “But I know that coming to you*, I will come in [the] fullness of [the] blessing of the Gospel of Christ.” (=Tetapi aku tahu bahwa waktu aku datang kepadamu, aku akan datang dengan kepenuhan berkat dari Injil Kristus.) Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari ayat ini:
Pertama, “aku tahu.” Di ayat ini, Paulus mengatakan, “Dan aku tahu.” Albert Barnes di dalam tafsirannya Albert Barnes’ Notes on the Bible menyatakan bahwa pernyataan ini menunjukkan keyakinan Paulus yang kuat akan kesuksesan pelayanannya di mana saja. Berarti ada kepuasan tersendiri ketika Paulus telah selesai menunaikan pelayanannya. Bagaimana dengan kita? Kepada kita, Allah telah mempercayakan pelayanan yang beragam. Bagaimana kita melakukan pelayanan itu? Dengan sukacita atau bersungut-sungut? Setelah itu, apakah kita cukup puas dan bersukacita setelah kita menunaikan tugas pelayanan kita? Di satu sisi, memang, kita tidak boleh cepat puas dengan apa yang kita capai khususnya di dalam pelayanan, tetapi di sisi lain, kita dituntut puas dan bersukacita karena kehendak-Nya sudah kita jalankan dengan bertanggungjawab. Kepuasan dan sukacita kita ini merupakan wujud rasa syukur kita kepada-Nya yang telah memanggil kita melayani-Nya dan menguatkan kita di dalam pelayanan tersebut.

Kedua, “aku melakukannya dengan penuh berkat Kristus.” Setelah puas akan sesuatu yang telah ia capai, biasanya manusia (tidak terkecuali beberapa atau mungkin banyak orang Kristen dan pemimpin gereja) akan merasa sombong. Mereka berpikir bahwa pencapaian mereka itu adalah akibat kerja keras mereka. Apakah ini juga terjadi pada Paulus? TIDAK! Puji Tuhan, Paulus bukan tipe orang yang sombong setelah ia berhasil melayani Tuhan di mana-mana, namun ia adalah rasul Kristus yang rendah hati. Ia tetap mengakui bahwa pencapaiannya terjadi karena ada berkat Kristus. Ada sedikit perbedaan terjemahan tentang pernyataan ini. Seperti yang sudah saya kutip di atas: dua terjemahan (KJV dan ALT) menerjemahkannya sebagai berkat dari Injil Kristus, sedangkan terjemahan NIV memakai kata berkat Kristus. Terjemahan Indonesia dari teks Yunaninya adalah berkat Kristus. (Hasan Sutanto, 2003, hlm. 877) Vincent’s Word Studies memberikan keterangan bahwa kata “Injil” di dalam “berkat Injil Kristus” dihilangkan, sehingga menjadi: berkat Kristus. Adam Clarke di dalam Adam Clarke’s Commentary on the Bible memaparkan bahwa kepenuhan berkat Kristus lebih besar dari kepenuhan berkat Injil Kristus. Oleh karena itu, menurut Clarke, Paulus datang ke Roma bukan hanya dengan berkat Injil, namun juga dengan karunia dan anugerah dari Tuhan Yesus yang telah memanggilnya menjadi rasul-Nya. Di sini, kita melihat tafsiran Clarke cukup bertanggungjawab, karena yang menjadi inti pelayanan Paulus bukan apa yang diberitakannya, tetapi siapa yang diberitakannya, yaitu Kristus sendiri! Injil Kristus tidak akan berarti apa-apa tanpa Kristus yang beraksi. Begitu juga dengan pelayanan Paulus. Pelayanan Paulus tidak akan berarti apa-apa jika tanpa anugerah Kristus yang terus menguatkan dan menopangnya, sehingga meskipun harus menderita, Paulus tetap setia melayani-Nya. Bagaimana dengan kita? Pelayanan yang kita kerjakan sungguhkah berpusat kepada Kristus dan memuliakan-Nya saja? Biarlah kita mengintrospeksi diri kita.


Setelah merenungkan lima ayat di atas, bagaimana respons kita? Ketika kita melayani Tuhan, sungguhkah pelayanan itu berpusat kepada Allah, melayani orang lain, dan memuliakan Allah? Jangan pernah menomersatukan diri dan kehendak diri ketika kita melayani-Nya! Utamakan Allah dan kehendak-Nya terlebih dahulu, baru orang lain. Amin. Soli Deo Gloria.