Showing posts with label Refleksi Hari Raya Kristen. Show all posts
Showing posts with label Refleksi Hari Raya Kristen. Show all posts

12 June 2011

Renungan Pentakosta 2011: ROH KUDUS DAN PEMBERITAAN INJIL (Denny Teguh Sutandio)

Renungan Pentakosta 2011

ROH KUDUS dan PEMBERITAAN INJIL

oleh: Denny Teguh Sutandio



“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”
(Kis. 1:8)




Setelah menampakkan diri-Nya kepada para murid, Tuhan Yesus yang hendak naik ke Sorga menyuruh mereka tinggal di Yerusalem terlebih dahulu hingga menunggu Roh Kudus dicurahkan atas mereka, sehingga mereka nantinya dapat menjadi saksi Kristus di Yerusalem, Yudea, Samaria, dan sampai ke ujung bumi. Di sini, Kristus langsung mengaitkan fungsi Roh Kudus dicurahkan bukan untuk membuat para murid gemar berbahasa lidah atau mengalami trance yang tidak sadarkan diri, tetapi justru untuk mendorong dan memimpin para murid untuk berani memberitakan Injil.

Ketika kita teliti membaca Alkitab, di dalam kitab Kisah Para Rasul, hampir setiap kali dr. Lukas mencatat bahwa seorang rasul/pelayan Tuhan dipenuhi Roh, maka ia menjadi seorang pengabar Injil yang berani. Setelah 120 orang dibaptis Roh Kudus (Kis. 2:2-3) dan kemudian dipenuhi Roh (Kis. 2:4), maka Alkitab memang mencatat bahwa mereka berbahasa lidah, tetapi apa gunanya mereka berbahasa lidah? Roh Kudus memakai bahasa lidah sebagai media untuk memberitakan Injil kepada orang-orang dari berbagai bangsa yang berkumpul di Yerusalem (Kis. 2:9-11). Roh Kudus yang sama juga langsung menggerakkan Petrus untuk memberitakan Injil tentang Kristus yang tersalib dan bangkit (Kis. 2:14-36). Beberapa orang Kristen dan pemimpin gereja dari gereja kontemporer suka mencomot peristiwa ini, lalu menafsirkan bahwa bahasa lidah adalah tanda dipenuhi Roh Kudus. Mereka lupa bahwa bahasa lidah yang dipakai di dalam Kisah Para Rasul 2 merupakan bahasa lidah yang adalah media untuk memberitakan Injil kepada orang-orang non-Yahudi di Yerusalem yang mengakibatkan orang-orang non-Yahudi itu mengerti bahasa yang diucapkannya dan kemudian bertobat, sedangkan mereka yang mengklaim berbahasa lidah dengan mengutip kasus dalam Kisah Para Rasul 2 ini justru mengakibatkan orang lain semakin bingung dan tidak mengerti dengan “bahasa lidah” yang mereka ucapkan. Sebuah hal yang bertentangan dengan Alkitab, namun laris di pasaran Kekristenan.
Setelah Petrus dan Yohanes menyaksikan kuasa Roh Kudus yang menolong mereka ketika bersaksi di depan Mahkamah Agama, mereka kembali ke teman-teman mereka dan mereka semua berdoa. Saat mereka berdoa, Alkitab mencatat, “goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani.” (Kis. 4:31) Sekali lagi, Alkitab mencatat bahwa setelah dipenuhi Roh, para rasul memberitakan firman Allah (Injil) dengan berani. Hal serupa juga terjadi pada Paulus (yang dahulu bernama Saulus). Setelah ia didoakan oleh Ananias dan dipenuhi Roh, maka Alkitab sekali lagi mencatat bahwa pada saat beristirahat sejenak dengan tinggal bersama para murid-Nya di Damsyik, Paulus “memberitakan Yesus di rumah-rumah ibadat, dan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah.” (Kis. 9:20)

Di dalam 3 bagian ini, kita melihat bahwa Roh Kudus datang untuk memperlengkapi para murid untuk memberitakan Injil. Mengapa? Karena Kristus sendiri berfirman bahwa Roh Kudus diutus untuk memimpin para murid (dan kita sebagai umat-Nya) untuk hidup berpusat pada Kristus (Yoh. 14:26; 16:14). Apa artinya?
1. Roh Kudus Diutus untuk Bersaksi tentang Kristus
Prinsip ini sesuai dengan apa yang Kristus firmankan sendiri di dalam Yohanes 15:26, “Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku.” Uniknya, di ayat ini, Roh Kudus yang bersaksi tentang Kristus disebut sebagai Roh Kebenaran (Yunani: pneuma alētheia). Dengan kata lain, Roh Kudus yang bersaksi tentang Kristus adalah Roh Allah yang memberitakan Kebenaran mutlak tentang siapakah Kristus sesungguhnya! Mengerti dan mengenal siapa Kristus sesungguhnya tanpa melalui Roh Kudus (apalagi melalui “nabi” yang tidak beres secara moralitas) adalah hal yang sangat tidak masuk akal.
Meskipun Roh Kudus bersaksi tentang Kristus, namun Kristus sendiri mengajar para murid bahwa mereka pun harus juga bersaksi tentang Kristus (Yoh. 15:27). Dengan kata lain, Roh Kudus yang bersaksi tentang Kristus memimpin para murid untuk bersaksi tentang Kristus, sehingga kesaksian para murid disahkan/didukung oleh Roh Kudus. Di sini, kita belajar bahwa peran anak-anak Tuhan di dalam bersaksi tentang Kristus tetap penting dan peran itu pun dimampukan oleh kuasa dari Roh Kudus yang memberitakan Kebenaran tentang siapakah Kristus sesungguhnya. Hal ini mengingatkan saya tentang firman Kristus di dalam Kisah Para Rasul 1:8, “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Bagaimana dengan kita? Ketika kita hendak menyaksikan Kristus kepada orang non-Kristen, percayalah bahwa Roh Kudus akan memperlengkapi kita dengan kuasa-Nya untuk memberitakan Injil, meskipun ada berbagai macam tantangan.


2. Roh Kudus Diutus untuk Mengingatkan Apa yang Kristus Telah Ajarkan
Selain bersaksi tentang Kristus, Roh Kudus juga “tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” (Yoh. 14:26) Di dalam ayat ini, Tuhan Yesus hendak mengajarkan bahwa Roh Kudus:
a) mengajarkan segala sesuatu
Di ayat ini, Kristus berfirman bahwa Roh Kudus mengajarkan segala sesuatu. Apa artinya “segala sesuatu” dalam ayat ini? Beberapa (atau mungkin banyak?) pemimpin gereja dari gereja kontemporer menafsirkan bahwa “segala sesuatu” sebagai segala hal yang baru (di luar Alkitab alias “wahyu” baru). Dari tafsiran ini, maka mereka enggan studi theologi dan Alkitab baik-baik, karena mereka percaya bahwa Roh Kudus dapat mengajar mereka segala sesuatu (bahkan ekstremnya: di luar Alkitab). Tafsiran ini jelas tidak bisa dipertanggungjawabkan, karena kalau ada “wahyu” baru, maka “wahyu” itu harus ada di dalam Alkitab atau dapat dibuktikan kebenarannya oleh Alkitab.
Lalu, apa arti “segala sesuatu”? New International Version (NIV) Spirit of the Reformation Study Bible menafsirkannya, “That is, all things that you need to know for your mission (16:13)” (=Yaitu, segala hal yang kamu perlu untuk mengetahui tentang misimu (16:13)) Ketika kita membaca Yohanes 16:13, maka kita mendapat penjelasan bahwa “segala sesuatu” merujuk pada kebenaran yang bukan berasal dari diri Roh Kudus sendiri, “Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.” “Segala sesuatu yang didengar-Nya” di ayat ini jelas menunjuk pada perkataan Kristus di ayat sesudahnya yaitu di ayat 14.

b) mengingatkan tentang perkataan Kristus
Selain mengajarkan segala sesuatu sesuai dengan Kebenaran yang diajarkan Kristus, Roh Kudus juga mengingatkan umat-Nya tentang apa yang telah Kristus katakan. Dengan kata lain, Roh Kudus bertugas mengembalikan ingatan para murid waktu itu dan umat-Nya yang hidup sekarang tentang semua perkataan Kristus. Tidak ada hal baru yang akan Roh Kudus ajarkan, apalagi yang melawan perkataan Kristus! Jadi, jangan percaya pada mimpi, “penglihatan” atau “wahyu” baru yang mengklaim datang dari “Roh Kudus”, namun isinya melawan Alkitab, khususnya perkataan Kristus, karena itu jelas bukan dari Roh Kudus yang sejati.


3. Roh Kudus Diutus untuk Memuliakan Kristus
Terakhir, Roh Kudus diutus untuk memuliakan Kristus, bukan diri Roh Kudus sendiri. Hal ini jelas diajarkan oleh Kristus sendiri di Yohanes 16:14, “Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku.” Roh Kudus datang untuk memuliakan Kristus karena Roh Kudus akan memberitakan apa yang Kristus katakan kepada umat-Nya. Dengan kata lain, jangan percaya pada penglihatan atau “wahyu” baru yang mengklaim dari “Roh Kudus”, namun isinya meninggikan “Roh Kudus”, karena Roh Kudus yang sejati TIDAK pernah meninggikan diri-Nya sendiri, tetapi selalu meninggikan dan memuliakan Kristus!


Setelah merenungkan karya Roh Kudus yang diutus untuk berpusat kepada Kristus, bagaimana respons kita? Biarlah Pentakosta tahun ini menjadi momen Pentakosta yang revolusioner yaitu kita yang termasuk umat pilihan-Nya menjadi saksi Kristus untuk memberitakan Injil lebih giat demi kemuliaan-Nya, karena Roh Kudus adalah Roh yang memuliakan Kristus melalui pengabaran Injil. Amin. Soli Deo Gloria.

25 March 2010

Renungan Memperingati Jumat Agung 2010: SUDAH SELESAI! (Denny Teguh Sutandio)

Renungan Jumat Agung 2010



SUDAH SELESAI!

oleh: Denny Teguh Sutandio



“Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai." Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.”
(Yoh. 19:30)




Apakah signifikansi dari kematian seseorang? Biasanya jika seorang yang berpengaruh di masyarakat atau negara (entah itu filsuf, ilmuwan, presiden, pejabat, para pendiri agama, nabi, dll), maka kematiannya memiliki signifikansi tertentu, yaitu pada saat pemakamannya, banyak orang yang melayat sebagai tanda ikut berbela sungkawa. Atau mungkin juga kematiannya memberikan dampak langsung kepada masyarakat di sekitarnya melalui teori-teori yang diajarkannya ketika dia masih hidup. Tetapi semua signifikansi tersebut bersifat sementara saja, karena berorientasi pada hal-hal duniawi. Namun, ada kematian yang memberikan signifikansi luar biasa dahsyat yang bukan hanya berorientasi di dunia ini saja, tetapi juga di dunia akan datang. Kematian siapakah itu? Jelas, kematian ini bukan kematian seorang pendiri agama atau nabi, tetapi kematian dari Pribadi Tuhan Yesus Kristus.


Apa signifikansi kematian Kristus ini? Kita bisa mengerti signifikansi penting kematian Kristus melalui satu pernyataan teragung yang tidak akan pernah diucapkan oleh pendiri agama mana pun, yaitu “Sudah selesai.” (Yoh. 19:30) Apa arti “sudah selesai”? Bukankah kedua kata ini bermakna biasa saja di dalam dunia kita? Kedua kata ini telah banyak disalahmengerti. Ada yang menafsirkan bahwa perkataan Kristus ini sebagai sebuah bentuk keputusasaan. Benarkah demikian? Jika kita tidak mengerti kata aslinya, kita akan bisa menyalahtafsirkan kedua kata ini. Apa pentingnya kedua kata ini? Pada momen memperingati Jumat Agung, kita akan merenungkan makna kedua kata ini dan pengaruhnya yang luar biasa dahsyat.


“Sudah selesai” dalam terjemahan King James Version (KJV) maupun English Standard Version (ESV) diterjemahkan, “It is finished.” Dalam teks Yunaninya, kata ini adalah τελέω (teleō) yang bisa berarti telah dipenuhi atau lengkap atau diselesaikan. Dalam struktur katanya, kata ini berbentuk: Verb (kata kerja), third person (orang ketiga), singular (tunggal), perfect, passive (pasif), dan indicative. Di dalam terjemahan Indonesia, “Sudah selesai” tidak bisa dikategorikan apakah bentuk aktif atau pasif, namun dari kata Yunani, kita bisa mengerti bahwa kata ini berbentuk pasif. Dengan kata lain, artinya: sudah diselesaikan atau sudah dibayar. Apa yang diselesaikan atau dibayar oleh Kristus di atas kayu salib?


Pertama, utang dosa. DOSA adalah hal yang semakin langka di tengah dunia postmodern ini. Banyak psikolog non-Kristen TIDAK mau menyebut DOSA secara terus terang, karena bagi mereka, DOSA itu bisa melemahkan semangat dan kemampuan (baca: kehebatan) orang. Oleh karena itu, tidak heran, kata ini berusaha diperhalus dengan istilah-istilah, seperti: kelemahan, ketidakmampuan, dll. Penghalusan kata DOSA ini mengakibatkan manusia berpikir bahwa hal-hal seperti: kelemahan, ketidakmampuan, dll itu hal sepele dan bisa diatasi. Sehingga tidak heran, semakin kata DOSA diperhalus, manusia bukan makin mengerti artinya, tetapi makin berbuat dosa. Inilah ironisnya. Namun, sadar atau tidak sadar, kita harus mengakui satu hal bahwa DOSA itu eksis. Ambil contoh, ketika diberi atau memiliki 2 permen, anak kecil yang tidak diajar oleh siapa pun TIDAK mau membagikan permennya itu kepada temannya. Aneh bukan? Apakah ini yang namanya manusia lahir itu tanpa dosa seperti kertas putih (teori tabula rasa)? Hidup egois, apakah itu tidak berdosa? Mau tidak mau, suka tidak suka, DOSA telah meracuni kita sejak kecil, namun anehnya, kita sering kali tidak sadar (atau sebenarnya pura-pura tidak sadar)! Jika dari kecil kita sudah memiliki bibit dosa, lalu, bagaimana jalan keluarnya? Semua agama, filsafat, etika, kebudayaan, tradisi, ilmu, dll menawarkan beragam solusi. Solusi yang mereka tawarkan adalah solusi yang pragmatis dan berpusat pada manusia, yaitu berbuat baik. Meskipun ada agama yang mengajarkan tentang rahmat Allah, namun sayang, definisi rahmat dan aplikasinya tidak ada pada agama tersebut. Semua agama hanya memberi solusi untuk lepas dari dosa yaitu dengan berbuat baik, misalnya memberikan amal, zakat, menunaikan ibadah tertentu, bertarak (askese), dll. Secara logis, mungkinkah seorang yang berbuat baik bisa terlepas dari dosa? Mari kita berpikir sejenak. Ingatlah, kita dari kecil sudah membawa bibit dosa (dosa asal). Sebagai akibatnya, secara otomatis, apa yang ada pada diri kita, termasuk hati, pikiran, perkataan, tingkah laku, dan tindakan kita telah dicemari oleh dosa. Dosa asal mengakibatkan dosa tindakan. Setiap aspek hidup kita telah dicemari dosa, maka pertanyaan selanjutnya, mampukah kita berbuat baik? Kedua, ketika seseorang menyatakan “perbuatan baik”, tolong tanya, “baik” itu menurut standar apa dan siapa? Banyak orang mendefinisikan baik itu artinya: suka menolong, membantu, memberi, dll. Lalu, bagaimana dengan menegur dosa? Itu dianggap TIDAK BAIK. Mengapa? Karena itu bukan menyenangkan orang lain. Dengan kata lain, BAIK didefinisikan sebagai suatu tindakan yang berpusat kepada diri. Jika definisi BAIK sudah mengalami deviasi ini, maka logiskah seseorang (atau agama) yang mengajar bahwa agar terlepas dari dosa dan masuk “sorga”, manusia berbuat baik, padahal perbuatan baik itu sendiri tidak ada standarnya dan bahkan perbuatan baik itu berpusat kepada manusia? Inilah ketidakkonsistenan paradigma manusia berdosa. Pdt. Sutjipto Subeno memakai istilah: illogical logic (logika yang tidak logis).

Lalu, bagaimana solusinya? DOSA manusia TIDAK bisa diselesaikan dengan cara manusia, karena hal tersebut sia-sia adanya. Makin manusia berusaha berbuat baik, sebenarnya mereka makin tidak baik, karena motivasinya berbuat baik bukan untuk kebaikan itu sendiri. Jika mereka akhirnya tidak masuk “sorga”, apakah mereka masih berbuat baik? Sebuah tanda tanya yang besar… Tetapi puji Tuhan, Allah yang telah mencipta manusia dan menetapkan/mengizinkan dosa masuk ke dalam diri manusia adalah Allah yang juga telah menyediakan solusinya. Itulah dahsyatnya Allah kita. Dari kekekalan, Ia telah mempersiapkan Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus untuk menebus dan menyelamatkan umat pilihan-Nya yang berdosa. Pada saat yang telah ditetapkan Bapa, Kristus berinkarnasi dan menjalankan semua tugas yang diemban-Nya dari Sang Bapa. Hal ini TIDAK berarti Kristus bukan Allah seperti yang dituduhkan oleh para Unitarian (“Kristen” yang menolak Allah Tritunggal dan memercayai satu pribadi Allah). Kristus yang menjalankan mandat dari Bapa juga tetap bernatur Allah, karena natur Allah di dalam Pribadi Kristus itu telah ada sebelum inkarnasi. Puncak karya Kristus adalah pada kematian-Nya di kayu salib. Kematian-Nya bukan seperti kematian para pendiri agama. Kematian para pendiri agama adalah kematian sebagai akibat dosa (upah dosa ialah maut—Rm. 6:23). Namun kematian Kristus bukan kematian akibat dosa, tetapi kematian yang mematikan dosa (theolog Dr. John Owen menulis bukunya berjudul, “The Death of Death in the Death of Christ”; diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Momentum dengan judul: “Kematian yang Menghidupkan”). Kematian-Nya juga membayar lunas utang dosa kita kepada Allah Bapa. Sebagai manusia berdosa, kita berutang dosa kepada Allah. Kita yang telah diciptakan-Nya bukannya hidup memuliakan-Nya, malahan justru menghina bahkan membuang-Nya dari hidup kita. Itulah utang dosa kita kepada Allah. Namun, melalui Kristus, utang dosa kita yang harus kita tanggung sendiri di hadapan Allah telah lunas dibayar oleh Kristus melalui kematian-Nya. Ada orang non-Kristen yang berkata bahwa Kekristenan itu tidak adil: mengapa yang berdosa manusia, yang menanggung hukuman dosa itu Yesus? Sepintas dari perspektif dunia berdosa, memang hal ini tidak adil, namun sesungguhnya hal ini adalah hal teragung sepanjang sejarah. Mengapa teragung? Karena di dalam sejarah, Allah, Sang Pencipta dan Pemelihara alam semesta menjelma menjadi manusia (tanpa meninggalkan natur Ilahi-Nya) demi menyelamatkan manusia yang berdosa. Kristus yang tidak berdosa dijadikan berdosa demi kita yang layak dihukum mati akibat dosa. Bukankah ini suatu keagungan yang terbesar sepanjang sejarah?

Jika kita telah dimerdekakan dari utang dan kuasa dosa, maka sudah seharusnya kita sebagai umat-Nya berusaha melawan dosa. Sebagai umat pilihan-Nya, kita masih bisa berdosa, tetapi kita TIDAK lagi dikuasai oleh dosa. Artinya, meskipun masih bisa berdosa, kita bisa juga terus-menerus melawan dosa. Bagaimana caranya? Berfokuslah kepada Kristus dan karya penebusan-Nya bagi kita, maka kita akan dimampukan untuk hidup terus-menerus memuliakan-Nya dengan melawan dosa. Tentu hal ini tidak mudah, tetapi biarlah Roh Kudus memampukan kita melakukannya demi hormat dan kemuliaan-Nya.


Kedua, kuasa iblis. Dosa mau tidak mau berkaitan erat dengan iblis, karena iblis adalah bapa dosa, tetapi tidak berarti kita dapat mengkambinghitamkan iblis sebagai alasan kita berbuat dosa. Kita berbuat dosa karena kita dengan mudahnya ditipu oleh si iblis. Kembali. Pada mulanya, iblis itu adalah Lucifer, malaikat Allah yang melayani Allah. Ia memiliki talenta suara yang merdu. Namun karena memberontak kepada Allah, maka Allah membuang Lucifer dan para pengikutnya menjadi iblis. Dengan kata lain, iblis berarti pemberontak/penantang Allah. Kejadian ini berlangsung sebelum Allah menciptakan manusia. Iblis yang telah dibuang Allah mulai beroperasi di dunia ini. Pertama, ia mencobai Hawa dan kemudian Adam. Pencobaan ini berhasil, sebagai akibatnya, Adam dan Hawa diusir dari Taman Eden. Kemudian, pencobaan itu terus berlanjut kepada anak Adam dan Hawa, yaitu Kain dan kembali, pencobaan itu berhasil, di mana Kain membunuh Habil. Tidak cukup sampai di situ, iblis mencobai manusia terus melalui dosa, hingga Allah benar-benar merasa “menyesal” telah menciptakan manusia (Kej. 6:6), bahkan Ia berjanji akan menghapuskan manusia (Kej. 6:7). Iblis terus mencobai manusia, bahkan para nabi pun tidak luput dari pencobaan tersebut. Sampai Tuhan Yesus pun, iblis pun nekat mencobai-Nya. Mengapa iblis mau mencobai Tuhan Yesus? Karena ia tahu bahwa kedatangan-Nya ke dunia ini untuk meremukkan kuasa iblis. Tetapi ia tidak menyadari bahwa yang dicobainya itu bukan manusia biasa, tetapi Allah. Tidak heran, pencobaan iblis kepada Tuhan Yesus sebanyak 3x ga-tot (gagal total), bahkan pada pencobaan ketiga, Kristus menghardik iblis. Apakah iblis menyerah? TIDAK. Iblis terus melancarkan serangan dahsyatnya kepada Tuhan Yesus, yaitu melalui para ahli Taurat dan orang Farisi yang mencari-cari kesalahan-Nya sampai pemerintah Pontius Pilatus dan Herodes. Yang paling fatal, salah satu murid Yesus, Yudas Iskariot dirasuk iblis (Yoh. 13:2) untuk melakukan tugas penyaliban Yesus. Menjelang kematian Kristus pun, iblis tidak segan-segan mencobai-Nya. Ketika kita melihat film The Passion of the Christ, Mel Gibson dengan tajam menggambarkan pencobaan iblis tersebut, yaitu ketika Kristus berdoa di Taman Getsemani, iblis yang digambarkan sebagai seorang yang berkepala gundul dengan membawa seorang anak mencobai-Nya dengan mengingatkan bahwa yang akan Ia alami itu begitu berat. Iblis juga datang dalam bentuk ular yang mau mematuk Yesus. Apakah Kristus menyerah? TIDAK. Justru Ia menang di titik awal, yaitu dengan meremukkan kepala si ular. Penggambaran Mel Gibson di dalam film ini begitu tajam.

Kemenangan Kristus dengan meremukkan kepala si ular ketika berada di Taman Getsemani dilanjutkan dengan kemenangan-Nya ketika Ia telah menyelesaikan karya penebusan-Nya melalui kematian-Nya di kayu salib. Kembali, dengan tajam, Mel Gibson mengisahkan di dalam film tersebut, bahwa ketika Kristus mati di kayu salib, iblis berteriak, ya, sebuah teriakan kekalahan. Haleluya! Kematian Kristus benar-benar telah meremukkan kuasa iblis, sehingga iblis TIDAK lagi memiliki kuasanya apalagi atas umat Tuhan. Jaminan kematian Kristus ini menguatkan kita tatkala kita harus bersaksi di tengah dunia. Di tengah dunia, iblis terus menggoda kita untuk menjauh dari Allah. Rev. Joshua Eugene Harris di dalam salah satu khotbahnya yang berjudul Resisting Lust mengungkapkan bahwa hawa nafsu membuat kita tidak berfokus pada (atau menjauh dari) Allah. Meskipun iblis berusaha merayu kita untuk menjauh dari-Nya, sebagai umat-Nya, kembalilah kepada-Nya, percayalah bahwa Kristus yang telah mati bagi kita adalah Kristus yang telah meremukkan kuasa iblis, sehingga ia tidak akan mampu menguasai hidup kita. Oleh karena itu, anak Tuhan sejati TIDAK mungkin akan bisa disantet, karena Roh Kudus yang ada di dalam diri mereka lebih besar dari roh dunia (1Yoh. 4:4) dan juga Roh Kudus tersebut yang mengefektifkan karya penebusan Kristus itu ke dalam diri umat pilihan-Nya, sehingga kuasa iblis TIDAK mampu menembus hidup umat pilihan-Nya. Inilah hak istimewa kita sebagai anak-anak-Nya. Jika kita telah mendapatkan jaminan yang luar biasa agung ini, masihkah kita takut dan menyerah kepada rayuan iblis? Iblis dan kuasanya telah diremukkan melalui kematian Kristus, kita sebagai anak-anak-Nya yang telah ditebus-Nya wajib mengusir iblis dengan kuasa Kristus. Mengusir setan bukan karunia, tetapi hak setiap anak Tuhan yang telah ditebus Kristus. Amin?


Ketiga, kuasa maut. Upah dosa ialah maut (Rm. 6:23). Karena semua manusia telah berbuat dosa dan tidak mencukupi kemuliaan Allah (Rm. 3:23; terjemahan Inggris), maka semua manusia pasti menghadapi maut atau kematian. Kematian mengakibatkan rasa takut dalam diri manusia. Kalau kita memperhatikan beberapa (atau bahkan banyak) orang yang dirawat di UGD rumah sakit dan sudah menunggu ajalnya, mereka akan takut sekali, karena mereka merasa selama hidupnya, mereka sering berdosa. Aneh juga manusia itu. Selama hidup, tidak merasa diri berdosa, tetapi mau menjelang ajal, langsung tiba-tiba sadar dosa. Dengan kata lain, kematian menyadarkan kefanaan dan keberdosaan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung. Mereka menyadari bahwa kematian itu titik kritis manusia. Ketakutan akan kematian juga disebabkan oleh maraknya tema-tema kematian di kalangan media elektronik, seperti film, khususnya film Indonesia. Film-film seperti Suster Ngesot, Suster Keramas, Hantu Jeruk Purut, Jailankung, dll menjadi tema film Indonesia yang banyak beredar. Di TV dan radio pun tidak kalah menariknya. KisMis (Kisah-kisah Misteri) juga beredar. Semua ini membuat manusia makin takut menghadapi kematian.

Lalu, bagaimana jalan keluarnya? Setiap orang termasuk orang Kristen pasti meninggal, namun ada yang membedakan antara anak Tuhan sejati yang meninggal vs orang dunia yang meninggal. Anak Tuhan sejati meninggal bukan dengan ketakutan, tetapi dengan damai sejahtera. Mengapa? Karena mereka telah meninggal di dalam Kristus yang telah mati baginya dan telah mengalahkan kuasa maut. Mereka yang seharusnya menerima hukuman maut akibat dosa telah digantikan oleh kematian Kristus yang membayar lunas utang dan kuasa maut, sehingga anak-anak-Nya meskipun harus mati secara fisik, mereka tidak akan mati kekal, namun menikmati hidup kekal bersama Bapa di Sorga. Sedangkan mereka yang tidak di dalam Kristus akan mengalami kematian dua kali, yaitu: kematian fisik dan kematian kekal (terpisah selama-lamanya dari Allah).


Kematian Kristus telah menyelesaikan utang dosa, mematahkan kuasa iblis, dan mematahkan/membayar kuasa maut kepada Allah Bapa. Kematian-Nya menjamin bahwa kita yang ada di dalam Kristus, tidak akan menerima penghukuman, karena Ia telah menggantikan kita di atas kayu salib. Pengorbanan-Nya membuktikan kasih-Nya kepada kita begitu besar (tak terukur). Bagaimana dengan kita? Ia yang telah berkorban mati di atas kayu salib bagi kita, apakah kita juga rela mati dan berkorban demi Kristus yang telah mati bagi kita? Biarlah Jumat Agung tahun ini menjadi Jumat Agung yang bermakna bagi kita, sehingga kita sebagai anak-anak-Nya dapat hidup terus memuliakan-Nya di mana pun kita ditempatkan Tuhan. Amin. Soli DEO Gloria…

09 April 2009

Refleksi Jumat Agung 2009: PENEBUSAN KRISTUS DAN RENCANA ALLAH (Denny Teguh Sutandio)

Refleksi Jumat Agung 2009

PENEBUSAN KRISTUS DAN RENCANA ALLAH

oleh: Denny Teguh Sutandio




Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah. … Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.
(Rm. 5:6, 8)




Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang diciptakan segambar dan serupa dengan-Nya. Sebagai peta dan teladan-Nya, manusia seharusnya menurunkan sifat-sifat Allah yang terkomunikasikan, yaitu: bijak, adil, benar, dll. Namun, akibat ketidaktaatan dan ketidaksetiaan mereka kepada Allah dan perintah-Nya, manusia jatuh ke dalam dosa. Dosa mengakibatkan manusia tidak mampu melakukan apa yang benar dan baik di mata-Nya (Rm. 3:10-11). Dengan kata lain, dosa diibaratkan seperti orang yang mati tenggelam di air laut. Seorang yang mati tenggelam tidak mungkin bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Lalu, bagaimana supaya orang yang mati itu bisa selamat? Bisakah ia berupaya sendiri menyelamatkan diri? TIDAK MUNGKIN! Itulah yang sebenarnya terjadi pada diri manusia. Mereka sudah mati rohani yang berarti hubungan mereka yang dahulu erat dengan Allah, namun sekarang terpisah dari Allah. Mereka membenci apa yang disukai Allah dan menyukai apa yang dibenci Allah. Kematian rohani ini tidak bisa diselesaikan dengan cara manusia itu sendiri. Lalu, bagaimana cara menyelesaikannya? Tidak ada jalan lain. Satu-satunya cara menyelesaikan dosa manusia adalah cara Allah. Cara Allah bukanlah (bahkan melampaui) cara manusia! Cara Allah adalah dengan mengutus Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus yang adalah 100% Allah dan 100% manusia untuk menebus dosa umat-Nya. Kemudian, apa uniknya penebusan Kristus? Memperingati hari Jumat Agung ini, kita akan merenungkan sebuah poin penting penebusan dan kematian Kristus bagi umat-Nya yaitu bahwa penebusan Kristus ini direncanakan oleh Allah.

Rasul Paulus mengajarkan bahwa ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati bagi kita (Rm. 5:6, 8). Khususnya di ayat 8, di dalam teks Yunani, pernyataan “ketika kita masih berdosa” menggunakan bentuk present (sekarang). Berarti penebusan Kristus sudah direncanakan Allah bahkan pada saat manusia masih/sedang berdosa. Lalu, apa pentingnya kita mengerti hal ini? Kita mengerti hal ini agar kita melihat seluruh proses penebusan Kristus adalah proses yang direncanakan Allah, TIDAK ada satu inci pun jasa manusia yang diperhitungkan. Hal ini penting, karena saya pernah mendengar ada orang yang non-Kristen mengatakan bahwa orang Kristen seharusnya berterima kasih kepada Yudas Iskariot yang mengkhianati Kristus, sehingga Ia bisa disalibkan dan mati bagi dosa-dosa manusia. Jika dilihat dari perspektif manusia berdosa, hal ini seolah-olah “benar.” Tetapi dilihat dari perspektif kedaulatan Allah, hal ini sangat tidak benar. Mengapa? Karena seluruh tindakan Allah TIDAK perlu dibantu sedikit pun oleh jasa manusia berdosa! Pertanyaan selanjutnya muncul, bukankah di dalam Perjanjian Lama ada anggapan bahwa Allah memakai (mengizinkan) bangsa-bangsa kafir untuk menghukum Israel? Hal itu benar, tetapi peristiwa itu terjadi karena inisiatif Allah, bukan manusia! Kasus ini jelas berbeda dengan kasus Yudas Iskariot yang dilihat oleh perspektif manusia berdosa sebagai “pahlawan” yang berinisiatif sendiri “membantu” rencana Allah.

Kedua, jika Yudas Iskariot yang difokuskan menjadi “pahlawan” yang membantu Kristus disalibkan, maka anggapan ini sangat konyol. Mengapa? Karena orang yang mengatakan hal ini TIDAK melihat esensi/inti di balik fenomena yang terjadi. Jika orang ini mengatakan tanpa Yudas Iskariot, Kristus tidak mungkin disalib, saya mengajukan dua keberatan utama. Keberatan pertama berkaitan dengan pribadi Yudas Iskariot. Pertama, jika tidak ada Kristus yang dijual Yudas, siapa yang bisa Yudas jual? Kedua, jika Kristus tidak memilih Yudas Iskariot sebagai salah satu murid-Nya, bagaimana Yudas bisa tahu tentang Kristus, kebiasaan, dan seluruh aktivitas-Nya? Ketiga, lebih tajam lagi, jika Allah tidak menciptakan dan menempatkan Yudas Iskariot di zaman Kristus, bisakah ia menjual Kristus? Keberatan kedua berkaitan dengan rencana Allah. Apakah tanpa Yudas Iskariot, Allah tidak bisa memakai pribadi lain untuk menggenapkan rencana-Nya? Siapakah seorang Yudas Iskariot, sehingga seolah-olah Allah harus “mengandalkannya” untuk mengkhianati dengan menjual-Nya?


Dari konsep di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa melihat jasa manusia siapa pun di dalam mengerti rencana Allah (khususnya rencana Allah di dalam keselamatan umat-Nya) tidaklah sah. Lalu, bagaimana kita mengerti penebusan Kristus yang berkaitan dengan rencana Allah? Sebelumnya, kita perlu memahami keagungan rencana Allah jika dibandingkan rencana (dan konsep) manusia yang terbatas dan berdosa. Alkitab mengajarkan bahwa Allah adalah Allah yang berdaulat. Meminjam istilah dari Pdt. Dr. Stephen Tong, Allah yang berdaulat adalah Allah yang berada pada diri-Nya sendiri (self-existence of God), kekal (self-eternal of God), memelihara segala sesuatu, dll. Di dalam kedaulatan-Nya, Ia merencanakan segala sesuatu dan percayalah:
1. Rencana-Nya adalah Rencana yang Teragung yang Jauh Melampaui Rencana dan Konsep dari Manusia Berdosa
Karena Dia adalah Allah yang Berdaulat, Mahaagung, Mahabijaksana, Mahakuasa, Mahakudus, Mahaadil, dan Mahakasih, maka tidak ada satu rencana-Nya yang bodoh, meskipun manusia dunia sering menganggapnya sebagai kebodohan (bdk. 1Kor. 1:18-31). Sebaliknya, manusia dunia meskipun menganggap diri pintar dan bahkan merasa diri “layak” menjadi “penasehat”-Nya, sebenarnya mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan Allah. Mari kita mencoba mengerti dan merenungkan rencana-Nya yang teragung ini di dalam kerangka penebusan Kristus yang menyelamatkan. Semua manusia tanpa kecuali pada hakekatnya rusak total dan mati karena dosa (Rm. 3:23). Lalu, jika ada yang mengklaim bahwa manusia tertentu diutus oleh Allah untuk menyelamatkan manusia, tolong tanya, manusia yang diutus tersebut apakah tidak berdosa? TIDAK MUNGKIN! Berarti, konsep ini gagal. Tidak heran, mereka yang menekankan konsep ini mendapatkan ketidakpastian hidup dan keselamatan. Tidak cukup sampai di sini, ada konsep lain yang pernah dikatakan oleh seorang non-Kristen kepada saya yang hampir mirip dengan konsep pertama, namun dengan sedikit penjelasan yang seolah-olah masuk akal.

Konsep kedua muncul itu saya dengar dari seorang non-Kristen yang mengatakan bahwa dosa adalah pelarian (hati nurani) dari Allah. Manusia bisa diselamatkan ketika mereka menyadari bahwa mereka sudah melarikan diri dari Allah. Bagaimana caranya? Caranya adalah Allah mengutus nabi-Nya untuk menyadarkan itu dan membuat mereka berbalik lagi kepada Allah. Saya bertanya kepada orang itu, apakah nabi itu tidak berdosa? Dia bilang berdosa, namun ia menyadari sendiri dosanya lalu kembali kepada Allah dan menyadarkan orang lain juga. Seluruh konsepnya dari awal sampai akhir berpusat kepada manusia, meskipun disisipi istilah Allah di dalamnya. Ada kejanggalan di dalam konsep ini. Konsep ini di bagian awal agak benar yaitu dosa adalah pelarian dari Allah (bukan sekadar pelarian hati nurani). Sebenarnya jika mau dipertajam, dosa bukan hanya pelarian dari Allah, tetapi sengaja tidak taat kepada (bahkan menolak) Allah dan perintah-Nya. Ketidaktaatan ini mengakibatkan manusia berada di dalam ikatan dosa. Dengan kata lain, dosa benar-benar membelenggu semua manusia tanpa kecuali. Jika kita mengerti arti “belenggu”, berarti kita mengerti bahwa manusia tidak bisa lagi lepas dari dosa. Jika demikian, apa gunanya Allah mengutus seorang nabi yang juga seorang manusia berdosa (manusia yang juga dibelenggu dosa) untuk menyelamatkan manusia dengan menyadarkan mereka untuk kembali kepada Allah? Bukankah suatu kekonyolan? Sang nabi sendiri yang dibelenggu dosa tidak mampu sadar diri dan kembali kepada Allah, bagaimana dia bisa menyadarkan manusia lainnya? Di sini letak kekonyolan manusia berdosa dengan konsepnya yang benar-benar tidak bertanggungjawab.

Konsep ketiga muncul dari seorang non-Kristen yang pernah mengatakan kepada saya melalui milis bahwa kalau hanya ingin menyelamatkan manusia, bukankah Allah cukup mengajari manusia untuk berlaku sesuai yang dikehendaki-Nya, lalu diselamatkan dan masuk Sorga? Konsep ini sebenarnya sedang mengagungkan kehebatan, kepandaian, kebijaksanaan manusia di dalam segala hal bahkan di dalam memahami kehendak-Nya. Dan yang lebih parah lagi, orang yang mengajar konsep ini hendak menjadi penasehat-Nya. Padahal mereka tidak pernah menyadari bahwa keberdosaan manusia mengakibatkan seluruh aspek kehidupan manusia rusak total dan tidak berfungsi sebagaimana mestinya yaitu untuk memuliakan Allah. Inti dosa bukan pada masalah pikiran, tetapi kepada hati yang merupakan inti dari pikiran. Percuma saja, manusia diajari kehendak Allah, kalau hatinya tidak dimurnikan dan dilahirbarukan oleh Roh Kudus.

Dari ketiga konsep ini, kita mendapati kelemahan-kelemahan dari konsep manusia berdosa. Dan hal ini membawa kita kepada konsep teragung yaitu cara yang Allah pergunakan dengan mengutus Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus yang adalah 100% Allah dan 100% manusia. Mengapa harus 100% Allah dan 100% manusia? Perhatikan cara Allah yang teragung ini. Manusia yang dibelenggu dosa tidak mampu menyelamatkan dirinya, oleh karena itu, hanya Allah saja yang mampu dan layak menyelamatkan manusia berdosa. Berarti, tidak bisa dipungkiri bahwa Pribadi Allah sajalah yang menyelamatkan manusia berdosa. Namun, kita perlu menyadari bahwa upah dosa adalah maut/kematian (Rm. 6:23). Berarti dosa manusia berakibat kematian (jasmani dan rohani). Dengan kata lain, Allah yang menyelamatkan manusia berdosa harus menyelamatkan manusia secara inti (inti dosa: ketidaktaatan) dan akibatnya (kematian). Namun, faktanya, Allah tidak bisa mati. Otomatis, jalan satu-satunya adalah Allah yang tidak bisa mati harus menjelma menjadi manusia (tanpa meninggalkan natur/sifat Ilahinya) untuk menebus dosa manusia. Itulah inkarnasi, yaitu Allah menjadi manusia. Apakah konsep ini logis? Jelas, logis, karena Allah adalah Pribadi yang jauh melampaui manusia berdosa karena Ia adalah Mahakuasa dan Berdaulat. Inkarnasi Kristus memecahkan semua persoalan keselamatan bagi umat-Nya yang berdosa. Jika Kristus hanya bernatur Ilahi dan bukan manusia, maka Ia tak mungkin bisa menyelamatkan manusia berdosa, karena Allah tidak mungkin mati. Jika Kristus hanya bernatur manusia dan bukan Ilahi, maka Ia tidak layak menyelamatkan manusia berdosa, karena tidak ada seorang manusia pun yang layak menebus dosa orang lain, karena dia sendiri berdosa! Inilah keagungan terdahsyat dari cara Allah menyelamatkan manusia. Maukah kita hari ini bersyukur atas cara-Nya yang begitu agung ini?


2. Rencana-Nya PASTI Berhasil
Karena Dia adalah Allah yang Berdaulat dan Kekal, maka tidak ada satu rencana Allah pun yang gagal. Ayub menyadari akan hal ini di dalam Ayub 42:2, “"Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.” Ketika Allah merencanakan hendak mengutus Kristus untuk menebus dosa manusia, apa yang Ia telah rencanakan tidak mungkin gagal, sehingga menurut waktu-Nya, Ia mengutus Kristus. Kehadiran Kristus di dalam sejarah membuktikan keterandalan rencana-Nya. Allah yang berencana dan berjanji adalah Allah yang dapat dipercayai! Bukan hanya kehadiran Kristus, penebusan yang Ia lakukan pun membuktikan bahwa rencana-Nya yang berdaulat itu tidak mungkin gagal. Meskipun ada sedikit usaha untuk menggagalkan rencana Allah di dalam keselamatan, di mana Kristus harus mati disalib (seperti apa yang dilakukan oleh Petrus di dalam Mat. 16:21-22 yang berusaha menjauhkan Kristus dari salib), Allah tidak akan pernah mengubah rencana-Nya. Dan Kristus mengerti dengan jelas akan hal ini (Mat. 16:23). Dari sini, kita belajar poin penting yaitu: JANGAN mempermainkan rencana Allah dengan berusaha menggagalkannya, karena itu tidak akan pernah berhasil!




Setelah kita mengerti 2 sifat rencana Allah, maka apa yang harus kita lakukan?
1. Mengagumi dan Bersyukur atas Rencana-Nya
Penebusan Kristus sering kali hanya menjadi sebuah bahan studi theologi. Para theolog dan penafsir Alkitab menguraikan aspek-aspek penebusan Kristus. Hal tersebut tidak salah. Tetapi penebusan Kristus apalagi yang dikaitkan dengan rencana Allah hendaknya bukan hanya dipelajari di dalam theologi, tetapi juga dialami dalam kehidupan kita sehari-hari. Seorang yang terus mengerti dan mengalami penebusan Kristus di dalam rencana Allah mengakibatkan orang tersebut makin lama makin kagum dan bersyukur atas rencana-Nya di dalam penebusan Kristus.

Namun sayangnya beberapa (atau mungkin banyak) orang Kristen zaman sekarang cuek terhadap makna penebusan Kristus. Jumat Agung bagi mereka hanya sekadar hari raya Kristen selain Natal. Tidak ada pesan khusus bagi mereka. Mengapa? Saya menyoroti ada dua alasan inti, yaitu:
Pertama, alasan dari pelayanan gerejawi. Rutinitas gerejawi membuat mereka tidak mengerti pentingnya penebusan Kristus. Bagi gereja tertentu, kebaktian/misa Jumat Agung yang dipenuhi dengan tata liturgi lebih penting daripada pemberitaan Firman Tuhan yang mengajar tentang arti penting penebusan Kristus! Gereja ini sedang menggantikan pentingnya pemberitaan Firman dengan liturgi dan hari raya. Oleh karena itu, jangan heran, beberapa (atau mungkin banyak) orang Kristen dan beberapa pelayan Tuhan masih meragukan (bahkan ada yang tidak percaya) kematian Kristus disalib dan finalitas karya Kristus sebagai Juruselamat. Selain rutinitas gerejawi, pemberitaan Firman Tuhan di dalam kebaktian Jumat Agung pun mulai bergeser ke konsep yang berpusat kepada manusia. Misalnya, di beberapa gereja, Injil TIDAK lagi diberitakan dengan serius dan bertanggungjawab, tetapi dengan bermain-main. Ada yang memberitakan Injil disisipi dengan berita kemakmuran bahwa siapa yang percaya kepada Kristus pasti sukses, berhasil, sembuh, dll, bahkan tidak pernah digigit nyamuk. Di sisi lain ada gereja yang memberitakan Injil dengan penekanan pada aspek-aspek sosial. Kematian Kristus tidak dilihat sebagai penebusan bagi manusia berdosa, tetapi sebagai teladan bagi pengorbanan kita kepada korban bencana alam, dll. Jangan heran, jemaat gereja yang diajar konsep ini lebih mementingkan pelayanan sosial dan pemuasan diri ketimbang pemberitaan Injil.
Kedua, alasan dari diri orang Kristen sendiri. Ada beberapa (atau mungkin banyak) orang Kristen sudah mulai bosan dengan pentingnya penebusan Kristus. Mereka berpikir bahwa berita itu sudah mereka ketahui sejak kecil di sekolah minggu. Orang yang mengatakan hal ini sebenarnya adalah orang Kristen yang mengimani penebusan Kristus secara theologis tanpa mengalaminya. Apakah itu termasuk kita di dalamnya? Jika ya, akuilah itu, minta ampun kepada Allah, dan mintalah agar Allah terus menyegarkan hati kita ketika memikirkan dan mengalami penebusan Kristus.

Sudah saatnya orang Kristen dan pemimpin gereja BANGKIT dan BERTOBAT! Bagi para pemimpin gereja: Berhentilah dari mengkhotbahkan hal-hal yang menyenangkan telinga manusia! Beritakan Firman dengan bertanggungjawab (2Tim. 4:2). Beritakan Firman Tuhan dengan kuasa Roh Kudus, sehingga banyak jemaat Tuhan dicelikkan mata rohaninya, bertobat, mengalami penebusan Kristus, dan akhirnya: mengagumi dan bersyukur atas rencana-Nya di dalam penebusan Kristus. Bagi orang Kristen: Berhentilah dari sikap kecuekan kita dan kembalilah mengerti dan mengalami arti penting penebusan Kristus itu, sehingga kita makin lama makin mengagumi dan bersyukur karena-Nya. Semua itu bisa kita lakukan karena adanya karya Roh Kudus yang menginsyafkan dan terus-menerus menguduskan kita.


2. Mengaplikasikan Rencana-Nya dalam Kehidupan Kita
Rencana-Nya bukan hanya diresponi oleh manusia dengan mengagumi dan bersyukur atas rencana-Nya, tetapi juga dengan mengaplikasikan rencana-Nya itu di dalam kehidupan kita sehari-hari. Berarti, rasa kagum dan syukur harus disertai dengan ketaatan mengaplikasikan rencana-Nya. Apa wujud mengaplikasikan rencana-Nya? Kita mengaplikasikan rencana-Nya dengan menyebarluaskan berita penebusan Kristus ini kepada orang lain yang belum mendengarnya. Pemberitaan Injil adalah wujud nyata kita benar-benar mengaplikasikan rencana-Nya yang teragung itu. Bagaimana dengan kita? Sudahkah hati kita dibakar oleh api kuasa Roh Kudus untuk memberitakan Injil? Lihatlah ladang di depan kita yang sudah menguning dan siap dituai, adakah kita siap dipakai-Nya sebagai penuai jiwa-jiwa bagi kemuliaan-Nya?


Biarlah renungan Jumat Agung ini mencerahkan hati dan pikiran kita serta membakar hati dan semangat kita di dalam memberitakan Injil-Nya agar banyak jiwa yang telah dipilih-Nya dapat bertobat dan kembali kepada Kristus. Maukah kita melakukannya? Amin. Soli Deo Gloria.

22 March 2008

Renungan Paskah 2008: KEBANGKITAN YANG MEMBERI PENGHARAPAN (Denny Teguh Sutandio)

Renungan Paskah 2008

KEBANGKITAN YANG MEMBERI PENGHARAPAN

oleh: Denny Teguh Sutandio



14. Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.
15 Lebih dari pada itu kami ternyata berdusta terhadap Allah, karena tentang Dia kami katakan, bahwa Ia telah membangkitkan Kristus--padahal Ia tidak membangkitkan-Nya, kalau andaikata benar, bahwa orang mati tidak dibangkitkan.
16 Sebab jika benar orang mati tidak dibangkitkan, maka Kristus juga tidak dibangkitkan.
17 Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu.
18 Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus.
19 Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia.
20 Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.
21 Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia.
22 Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus.
(1 Korintus 15:14-22)




Dunia postmodern sedang mulai “menggoyahkan” keKristenan dengan menyodorkan beribu “fakta” tentang Kristus yang tidak bangkit. Sejak diterbitkannya buku The Da Vinci Code, sampai buku-buku seperti “Injil” Thomas, The Lost Tomb of Jesus, dll, Kristus dihujat dan dinyatakan tidak bangkit dengan argumen: ditemukannya mayat yang diduga berasal dari keturunan Yesus. Dari sisi keagamaan, Indonesia dengan sengaja tidak mencantumkan hari Paskah di kalender Indonesia (tentu di balik ini, ada unsur perendahan Kristus oleh agama mayoritas), dan lebih parahnya, seorang pemimpin gereja dari gereja arus utama dan dosen di sekolah theologi arus utama berani membuat suatu artikel di suatu surat kabar bahwa Yesus tidak bangkit, lalu orang ini ditegur oleh gereja di tempat ia melayani. Apakah Yesus benar-benar bangkit atau kebangkitan-Nya hanya sekadar ilusi atau fiksi rekaan para murid? Seberapa signifikannya Paskah itu bagi iman Kristen? Bagaimana dampak Paskah bagi kehidupan orang Kristen? Hari ini, kita akan bersama-sama merenungkan satu bagian Alkitab yang menjelaskan kaitan erat antara kebangkitan Kristus yang berdampak pada kebangkitan kita sebagai orang-orang Kristen sejati kelak.

Dari Alkitab, kita mendapatkan keterangan lengkap bahwa Tuhan Yesus bangkit pada hari ketiga (Mat. 28:5-7), ketika Maria Magdalena dan Maria yang lain menjenguk kubur Tuhan Yesus. Perkataan Tuhan Yesus bangkit diucapkan oleh seorang malaikat Tuhan. Kristus yang bangkit juga menampakkan diri kepada beberapa orang, yaitu Maria Magdalena (Yoh. 20:11-19), kepada para murid-Nya (Yoh. 20:19-23), kepada Tomas (Yoh. 20:24-29), dan para murid-Nya di pantai danau Tiberias (Yoh. 21:1-14). Penampakan diri-Nya kepada banyak orang ini jelas membuktikan bahwa para murid tidak sedang berhalusinasi. Tidaklah benar jika ada anggapan bahwa kebangkitan Kristus adalah suatu rekaan oleh para murid Kristus dan itu tidak pernah terjadi. Kalau itu benar rekaan oleh para murid, mengapa seorang Tomas yang sempat tidak percaya akan kebangkitan Kristus, lalu tiba-tiba percaya kepada-Nya sambil mengakui Kristus sebagai Tuhan dan Allah ketika Ia menyuruh Tomas mencucukkan jarinya di tangan dan lambung-Nya (Yoh. 20:28)? Sebuah halusinasi dan rekaan jelas tidak mengakibatkan seorang yang tidak percaya seperti Tomas lalu berubah menjadi percaya! Jangan pernah ditipu oleh tipuan iblis di zaman postmodern ini dengan menggunakan sarana media elektronik dan massa. Penampakan Tuhan Yesus ini diberitakan ulang oleh Rasul Paulus di dalam 1 Korintus 15:5-8 dan Paulus menambahkan bahwa Kristus yang bangkit menampakkan diri-Nya juga kepada Paulus sendiri. Inilah inti iman Kristen dan Injil (baca: ayat 4-5). Dari sini, kita belajar bahwa Kristus benar-benar bangkit dan kebangkitan-Nya bukan hanya sekadar peristiwa historis, tetapi peristiwa yang begitu signifikan yaitu memberikan pengharapan. Apakah pengharapan di balik kebangkitan Kristus? Mari kita pelajari satu per satu.

Pertama, kebangkitan Kristus memberi pengharapan akan perubahan hidup (ayat 9-11). Paulus menjelaskan bahwa Injil itu berisi kematian dan kebangkitan Kristus. Tetapi itu tidak cukup sampai di situ, kebangkitan-Nya memberi pengharapan akan adanya perubahan hidup yang ia alami (ayat 9-11). Perubahan hidup apa yang dialami Paulus?
Pertama, perubahan status (ayat 9-10a). Paulus dahulu bernama Saulus yang berkobar-kobar “melayani” Allah dengan menganiaya pengikut Jalan Tuhan (Kis. 9:1-2), tetapi ketika Tuhan Yesus menampakkan diri-Nya di jalan menuju Damsyik (Kis. 9:3-9), jalan hidupnya berubah dari seorang penganiaya jemaat Jalan Tuhan menjadi pemberita Injil yang sangat setia sampai akhir hidupnya. Dulu, seorang Saulus adalah seorang yang binasa meskipun mengaku diri “melayani” Allah, tetapi setelah Tuhan melawatnya, seorang Saulus berubah menjadi Paulus yang telah diselamatkan. Inilah perubahan status yang ia alami. Bagaimana dengan kita? Biarlah kebangkitan Kristus yang kita rayakan pada tahun ini bukan menjadi suatu perayaan rutinitas, tetapi membawa signifikansi penting, yaitu kita benar-benar percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita secara pribadi. Sebagaimana anugerah Tuhan menyentuh dan melawat hidup Paulus dan mengubah statusnya dari seorang pendosa menjadi seorang yang diselamatkan, maka biarlah kebangkitan-Nya ini juga melawat dan menyentuh hati dan pikiran kita, sehingga anugerah-Nya pun dapat kita alami.
Kedua, perubahan arah hidup. Setelah Paulus diubahkan statusnya dari seorang pendosa menjadi orang yang diselamatkan, ia tidak berpangku tangan, melainkan kita semakin bekerja keras (baca ayat 10b-11). Setelah diselamatkan, dia makin giat memberitakan Injil dan melayani Allah. Lebih uniknya, meskipun dia makin giat bekerja keras demi Allah, dia tetap menyadari bahwa itu adalah anugerah Allah, dan bukan kehebatan dirinya sendiri (ayat 10b). Kembali, di sini, kita mendapatkan pelajaran berharga dari seorang Paulus. Ia bukan hanya rasul Kristus yang paling pandai dan setia, tetapi dia juga seorang rasul yang rendah hati. Bagaimana dengan kita? Kita sering kali terbuai dengan status yang diubahkan. Kita pikir setelah kita diselamatkan, kita bisa menganggur dan tidak usah berbuat baik demi kemuliaan-Nya. Dari Paulus, kita belajar bahwa setelah diselamatkan, kita harus semakin giat bekerja keras melayani Allah dan memberitakan Injil. Ke mana saja kita diutus oleh-Nya, marilah kita tetap setia pada panggilan-Nya untuk memberitakan Injil. Seorang hamba Tuhan yang setia, Pdt. Dr. Stephen Tong menuliskan hal ini di dalam sebuah lagu yang diberi judul “Ke Mana Saja”. Syair itu berbunyi, “Ke mana saja ku telah sedia pimpinan Tuhan tak pernah bersalah. Tolong ‘ku, Tuhan memikul salib-Mu. Tuhan pimpinan-Mu sempurna. Dalam kota besar atau dalam rimba Jiwa sama berharga di mata-Mu. Ke mana saja ‘ku telah sedia ‘Ku mau cinta yang dicinta-Hu.” (Kidung Persekutuan Reformed Injili—KPRI No. 143). Syair lagu ini menyadarkan kita untuk terus bersandar dan setia pada panggilan dari Tuhan, meskipun itu sulit. Mengapa kita bisa terus setia meskipun harus mengalami kesulitan? Karena ada anugerah Allah menyertai dan memimpin kita. Dengan demikian, orang Kristen yang telah mengalami anugerah kebangkitan Kristus adalah orang yang justru semakin berapi-api melayani Tuhan dan memberitakan Injil sambil tetap mengakui bahwa itu semua semata-mata merupakan anugerah Allah. Biarlah kita mempelajari teladan dari Rasul Paulus dan teladan hidup yang nyata dari seorang hamba Tuhan yang setia, Pdt. Dr. Stephen Tong.


Kedua, kebangkitan Kristus memberi pengharapan akan kepastian iman (ayat 14, 17). Pengharapan akan perubahan hidup tidak bisa ada jika tanpa pengharapan akan kepastian iman. Oleh karena itu, Paulus menegur jemaat Korintus di mana pada waktu itu ada jemaat yang tidak mempercayai kebangkitan Kristus dengan alasan orang yang mati tidak bisa hidup lagi. Kepada mereka yang tidak percaya, Paulus menegur dan menguatkan mereka, bahwa Kristus sungguh-sungguh hidup dan bangkit. Jika Kristus tidak bangkit, Paulus mengatakan sia-sialah pemberitaan Injil yang dia sampaikan dan sia-sialah juga kepercayaan mereka. Dengan kata lain, kebangkitan Kristus adalah inti Injil sejati dan iman Kristen. Injil yang memberitakan hanya kematian Tuhan Yesus yang tidak bangkit, belum disebut Injil, karena fakta mengatakan bahwa semua pendiri agama, filsafat, kebudayaan, dll pasti mati, dan itu sama saja. Tetapi ketika Kristus bangkit dari kematian, ini berita sukacita yang tidak bisa dicapai oleh semua agama, filsafat, kebudayaan, dll. Berita sukacita apa yang terkandung di dalam kebangkitan Kristus? Yaitu, Kristus bangkit dan memberikan kepastian iman di dalam dua hal, yaitu:
Pertama, kepastian iman yang berkaitan dengan keselamatan. Di ayat 19, Paulus mengemukakan bahwa jika kita hanya menaruh pengharapan pada Kristus yang mati dan tidak bangkit, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia. Mengapa? Karena sama seperti semua pendiri agama, filsafat, etika, kebudayaan, dll, mereka semua mati dan para pengikutnya tidak mendapatkan kepastian pengharapan. Para penganut agama dengan susah payah berbuat baik supaya dia dapat “diselamatkan”, mengapa? Karena para pendiri agama mereka tidak dapat menyelamatkan mereka. Tetapi puji Tuhan, Kristus bukan hanya mati, tetapi Ia bangkit membuktikan Dia telah menang mengalahkan kuasa dosa, iblis dan maut, serta memberikan keselamatan dan pengharapan kepastian iman bahwa di dalam Kristus sajalah, ada jalan dan kebenaran dan hidup (Yoh. 14:6) dan di luar Dia, mutlak tidak ada jalan keselamatan (Kis. 4:12). Kebangkitan-Nya juga menjamin bahwa ketika kita diselamatkan, kita pasti selama-lamanya diselamatkan sampai pada kesudahannya (Yoh. 6:40, 44), mengapa? Karena Dia yang memulai keselamatan, Dia pula lah yang menggenapkannya. Adalah suatu kekonyolan jika ada ajaran/“theologi” yang mengajarkan bahwa orang Kristen sejati bisa murtad lagi setelah ia diselamatkan. Ajaran ini jelas mengindikasikan bahwa anugerah keselamatan Allah itu tidak kekal (bnd. Yoh. 3:16) dan menunggu respon manusia. Kalau manusia pada suatu saat menolak Kristus, maka Allah “tidak bisa berbuat apa-apa”, akhirnya membiarkan orang ini murtad. Jika ajaran ini “benar”, maka kebangkitan Kristus itu sia-sia, karena tidak mampu menjamin kepastian iman umat pilihan-Nya. Prinsip Alkitab yang integratif jelas menolak tegas ajaran ini, karena Allah adalah Allah yang Berdaulat yang memelihara keselamatan umat pilihan-Nya sampai akhir, sehingga kita tidak perlu kuatir akan jaminan keselamatan kita yang sejati di dalam Kristus. Kristus yang telah bangkit menjamin keselamatan dan kemenangan kita terus-menerus melawan setan. Haleluya!
Kedua, kepastian iman yang berkaitan dengan kebangkitan tubuh. Selain kepastian keselamatan, kita juga memiliki kepastian kebangkitan tubuh yang merupakan bagian dari iman Kristen di kekekalan nanti. Hal ini dijelaskan pada ayat 16, di mana Paulus menyinggung sedikit tentang kebangkitan orang mati. Kebangkitan Kristus menjamin bahwa akan ada kebangkitan orang mati. Lalu, bagian ini diuraikan secara jelas di ayat 35-58 tentang natur kebangkitan tubuh. Di ayat 36, Paulus mengajarkan bahwa kebangkitan tubuh berkaitan dengan kematian yang fisik. Artinya, sesuatu tidak akan tumbuh atau hidup jika ia tidak mati terlebih dahulu. Dengan demikian, tubuh kita akan dibangkitkan setelah tubuh kita yang bersifat jasmaniah ini dimatikan. Lebih lanjut, Paulus mengemukakan perbedaan antara tubuh kita yang fana di dunia ini dengan tubuh kemuliaan yang akan kita peroleh nanti: pertama, perbedaan sifat waktu (kesementaraan vs kekekalan). Di ayat 42, Paulus mengemukakan bahwa tubuh kita adalah tubuh yang akan binasa, sedangkan tubuh kemuliaan kita nantinya tidak lagi binasa, melainkan bersifat kekal. Berarti tubuh kemuliaan melampaui waktu (tidak diikat oleh waktu kesementaraan). Kedua, perbedaan sifat kualitas (kehinaan vs kemuliaan, kelemahan vs kekuatan). Di ayat 43, Paulus mengemukakan dua hal tentang perbedaan ini, yaitu: tubuh duniawi kita adalah tubuh yang hina dan lemah (bisa sakit, dll), tetapi tubuh surgawi/kemuliaan kita adalah tubuh yang mulia dan kuat (melampaui semua keterbatasan duniawi). Ketiga, perbedaan esensial (alamiah vs rohaniah). Di ayat 44, Paulus mengemukakan bahwa tubuh duniawi kita bersifat alamiah. Artinya, ada unsur kedagingan, lebih menuruti hawa nafsu (hidup menurut daging—bnd. Galatia 5:19-21). Sedangkan, tubuh surgawi kita nantinya bersifat rohaniah. Artinya, kita pasti hidup menurut Roh, menaati apa yang Tuhan perintahkan (bnd. Galatia 5:22-23). Hidup oleh/menurut Roh di tahap kekekalan ini sudah mencapai tahap kesempurnaan yang disebut oleh Augustinus sebagai: non-posse peccare (tidak bisa berdosa lagi).
Kita bisa beriman pada kebangkitan tubuh hanya karena kita sudah beriman pada kebangkitan Kristus yang bersifat jasmaniah. Dan bersama-sama dengan Paulus, kita bisa menantang iblis dan menyatakan kemenangan umat pilihan-Nya karena kemenangan Kristus, “Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?" Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.” (1 Kor. 15:55-57)

Adakah pengharapan yang paling agung dan mulia yang dapat kita jumpai dan alami selain pengharapan HANYA di dalam Kristus dan kebangkitan-Nya? TIDAK ADA! Oleh karena itu, saya menantang Anda saat ini, jika Anda masih mau ditipu oleh berbagai bujuk rayu si iblis melalui media di TV atau buku, dll lalu ber“iman” bahwa Kristus tidak pernah bangkit, hari ini, bertobatlah, biarkanlah Roh Kudus bekerja di hati Anda dan membuka hati dan pikiran Anda untuk menerima Kristus yang telah mati dan bangkit sebagai satu-satunya Tuhan, Juruselamat, Raja dan Pemilik hidup Anda secara pribadi. Ingatlah, jika Kristus tidak bangkit, maka kita akan terus hidup dalam dosa dan tidak dapat diselamatkan. Tetapi puji Tuhan, Kristus bangkit, itu membuktikan iman dan pengharapan kita tidak lah sia-sia. Kebangkitan-Nya memberikan kuasa kepada kita melalui Roh Kudus bahwa kita sanggup mengalahkan kuasa dosa, iblis dan maut, karena Ia telah mengalahkan segala kuasa bagi umat pilihan-Nya (1 Kor. 15:25-27), supaya kita menjadi hamba-Nya yang setia. Sudahkah kita menjadi hamba-Nya yang setia yang memberitakan kebenaran Injil Kristus bahwa Kristus telah mati dan bangkit demi dosa-dosa kita?? Ataukah kita sibuk mengkhotbahkan hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan Paskah, misalnya peduli dengan orang yang berkekurangan, lingkungan, dll? Mana yang kita dahulukan, memberitakan Kristus dan kebangkitan-Nya serta kuasa di balik kebangkitan itu ataukah kita memberitakan cinta kasih yang tanpa Kristus di dalamnya??? Pilihan kita menentukan kepada siapakah kita menaruh iman dan pengharapan kita !

Amin. Soli DEO Gloria. Solus Christus!

16 March 2008

Renungan Jumat Agung 2008: PENDERITAAN YANG BERHARGA (Denny Teguh Sutandio)

Renungan Jumat Agung 2008



PENDERITAAN YANG BERHARGA
(Precious Suffering)


oleh: Denny Teguh Sutandio



Nats: Roma 5:6-11



Dunia hari-hari ini, orang-orang non-Kristen mencoba menyodorkan suatu penemuan “ilmiah” yang diyakini akan “menghancurkan” iman Kristen. Dari novel (yang dianggap fakta oleh penulisnya, Dan Brown), Da Vinci Code, sampai “Injil” Thomas dan Barnabas, dunia postmodern yang berdosa ini mulai dipakai setan untuk merendahkan Kristus dan mengajar bahwa Kristus menikah dengan Maria Magdalena, Kristus tidak mati, tetapi Yudas yang mati, dll. Benarkah demikian? Siapakah Kristus sebenarnya? Apakah Dia benar-benar mati? Mengapa Ia harus mati? Seberapa signifikan dan agungnya kematian-Nya?

Menjelang Jumat Agung tahun 2008 ini, kita akan merenungkan satu perikop tentang teladan dan pengharapan penderitaan yang Kristus alami sebagai alasan mengapa penderitaan karena nama Kristus (yang harus kita alami) itu berharga. Ingatlah, setiap orang Kristen yang sungguh-sungguh mau mengikut Kristus harus menyangkal diri, memikul salib dan mengikut-Nya (Matius 16:24). Penderitaan adalah harga yang harus kita tanggung di dalam mengikut Kristus. Meskipun demikian, sebagai anak-anak-Nya, kita dijamin oleh-Nya bahwa di dalam penderitaan, penderitaan Kristus yang telah mengalahkan maut menjadi pengharapan masa depan yang indah yang akan menanti kita sekaligus teladan bagi penderitaan yang kita alami. Mari kita merenungkan kedua poin ini di dalam ayat 6-11. Di dalam keenam ayat ini, Paulus membagi enam prinsip penderitaan penebusan Kristus sebagai teladan dan pengharapan bagi kita yang menderita karena nama Kristus.

Pertama, penderitaan Kristus ditujukan untuk orang-orang berdosa (lemah dan durhaka). Di dalam ayat 6a, Paulus menguraikan, “Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka…” Di dalam bagian ini, Paulus langsung menunjukkan status dan kondisi kita yang berdosa. Pertama, kondisi lemah. “Karena waktu kita masih lemah” dalam Alkitab terjemahan King James mengartikannya, “For when we were yet without strength…” International Standard Version (ISV) menerjemahkannya powerless (=tidak ada kekuatan). Dengan kata lain, “lemah” berarti tanpa kekuatan (strengthless bisa diterjemahkan sick/sakit, impotent/tidak bertenaga, dll). Ini adalah kondisi kita ketika jatuh ke dalam dosa. Dosa mengakibatkan kita lemah, tak bertenaga apapun untuk berbuat sesuatu yang baik. Dengan kata lain, dosa mematikan keinginan kita untuk menyenangkan Allah. Mengapa ? Karena dosa adalah ketidaktaatan terhadap perintah-Nya atau menyelewengnya kita dari sasaran Allah. Paulus di dalam Roma 7:18 menuturkan, “Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik.” Paulus menuliskan hal ini di dalam perikop tentang perjuangan hukum Taurat dan dosa. Di dalam bagian ini, ia menjelaskan bahwa meskipun hukum Taurat itu baik bagi umat-Nya, tetapi ketika kita masih hidup di dalam dunia ini, dosa terus melekat di dalam kita sehingga ketika kita ingin berbuat sesuatu yang menyenangkan Allah, ternyata kita malahan mendukakan hati-Nya (Roma 7:19-20). Itulah kuasa dosa yang terus membuat kita mendukakan hati-Nya. Kedua, status orang durhaka. Paulus mencatat hal ini di dalam ayat 6a di atas dengan menggunakan terjemahan ungodly di dalam KJV yang dalam bahasa Yunaninya asebēs berarti irreverent, that is, (by extension) impious or wicked: - ungodly (man). (=tidak sopan, yaitu, (secara perluasan) tidak beriman/berTuhan atau jahat: orang yang tak berTuhan.) Dengan kata lain, ketika kita jatuh ke dalam dosa, status kita langsung disebut “tidak berTuhan” dan “jahat”. Itulah status yang kita layak tanggung akibat ketidaktaatan manusia pertama. Kalau secara kondisi, kita lemah dan tak berdaya dalam menghadapi dosa, maka secara status, kita lebih kejam lagi yaitu benar-benar menyetujui adanya dosa dan melawan Allah, sehingga disebut “tidak berTuhan”. Di sini, status kita melebihi kondisi kita. Bagaimana dengan realita dunia kita ? Dunia postmodern yang kita hidupi saat ini mulai membalikkan/meniadakan realita ini dengan mengajarkan bahwa di dalam diri kita ada kekuatan besar yang berdiam (giant power/force dwells in us). Ajaran ini dipengaruhi oleh Gerakan Zaman Baru dengan ide man is god (manusia adalah “allah”). Dan anehnya, ajaran gila ini rupanya telah merasuki dunia pendidikan (khususnya manajemen), psikologi, dan bahkan di dalam keKristenan. Alhasil, tidak heran, kita melihat seorang Tung Desem Waringin, Andrie Wongso, dll laris diundang bahkan di sebuah kampus “Kristen” swasta terkenal di Surabaya, bahkan dipopulerkan di dalam keKristenan (oleh beberapa dosen “Kristen) dan “gereja” melalui buku-buku Berpikir Positif dari Norman Vincent Peale, David Yonggi Cho, Robert H. Schuller, Zig Ziglar (buku terkenalnya : “Smile” dipakai sebagai bahan “renungan” oleh seorang dosen “Kristen” yang adalah istri “pendeta” emeritus GKI Pregolan Bunder, Surabaya di dalam setiap perkuliahannya di salah satu kampus “Kristen” terkenal di Surabaya), dll. Orang-orang Kristen terus-menerus diindoktrinasi bahwa mereka itu hebat, pintar, mampu, bijaksana, dll dan mulai disimpangkan/diselewengkan dari berita Alkitab bahwa manusia itu berdosa. Itu adalah tipu daya setan yang mulai meracuni keKristenan, tetapi sayangnya banyak orang “Kristen” masih tertidur oleh bujuk rayu si setan dan tidak mau kembali kepada Alkitab. Sudah saatnya, para kaum pilihan-Nya sadar dari tipu daya si setan, bertobat dan kembali kepada Alkitab sebagai satu-satunya kebenaran mutlak. Alkitab mengajarkan bahwa kita berdosa, dan itu harus kita amini dan sadari. Kesadaran tentang dosa adalah titik awal nantinya kita bisa bertobat. Ketika kita tidak menyadari dosa ini, kita tidak mengerti untuk apa kita bertobat dan lebih parah kita tidak mengerti untuk apa Kristus mau mati bagi dosa-dosa kita. Kembali, semua status dan kondisi kita yang berdosa ternyata menemui kebuntuan. Tidak ada seorangpun yang dapat melepaskan kita (sekalipun para utusan Allah) dari status dan kondisi kita ini. Lalu, adakah jalan keluarnya ? Puji Tuhan, Paulus di dalam ayat 6a menyatakan bahwa bagi kita yang masih lemah dan durhaka ini, Kristus telah mati untuk kita. Kematian Kristus menunjukkan bahwa ada pengharapan dan jalan keluar dari masalah yang kita hadapi yaitu status dan kondisi kita yang berdosa. Selain pengharapan, kematian Kristus juga harus menjadi teladan bagi kita yang harus terus-menerus mematikan dosa di dalam diri kita. Di dalam Efesus 4:17-32, Paulus dengan gamblang memaparkan bahwa kita sebagai manusia baru harus hidup lebih memuliakan Allah daripada ketika kita masih seteru Allah (manusia lama). Rasul Yohanes juga mengingatkan kita, “Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah.” (1 Yohanes 3:9) Dengan kata lain, “mematikan dosa” sama dengan menyangkal diri. Menyangkal diri tidak berarti kita tidak boleh memiliki keinginan sama sekali. Inilah kekeliruan terbesar dan terkonyol di dalam agama dari Timur yang mengajarkan bertarak diri (askese). Kalau kita tidak boleh memiliki keinginan, berarti kita pun tidak boleh mengingini untuk masuk nirwana (menurut agama itu). Itu logika yang tepat, tetapi herannya sambil mengajarkan bahwa kita tidak boleh memiliki keinginan, agama ini juga mengajarkan bahwa setiap orang bisa menjadi “allah”. Sungguh suatu logika yang tidak masuk akal. Kembali, menyangkal diri berarti kita berani mengatakan “tidak” kepada setiap keinginan kita yang negatif (dan beberapa keinginan positif) untuk disesuaikan dengan kehendak dan kedaulatan Allah. Di dalam proses menyangkal diri, baiklah kita terus-menerus dipimpin dan disucikan oleh Roh Kudus.

Kedua, penderitaan Kristus ditentukan oleh Allah. Kalau kita kembali pada ayat 6, pada enam kalimat terakhir, Alkitab LAI menyebutkan, “pada waktu yang ditentukan oleh Allah.” Kalimat ini tidak dapat kita jumpai pada KJV yang hanya menyebut “in due time”. ISV juga hanya menyebutkan, “at just the right time” English Standard Version menyebutkan hal yang sama, “at the right time” Di sini, LAI menambahkan kata “Allah” menunjukkan bahwa kematian Kristus bukan ditentukan oleh manusia atau Kristus dapat disalib gara-gara Yudas menjual-Nya (seolah-olah tanpa Yudas, Kristus tak mungkin disalib atau Allah Bapa “bingung” memilih sarana lain untuk membuat Kristus disalib). Hal tersebut tidak pernah ada dalam “kamus” Alkitab/Allah, karena Allah kita adalah Allah yang sejati yang berdaulat yang merencanakan segala sesuatu dan kita mempercayai bahwa rencana-Nya pasti berhasil karena Ia adalah Allah yang layak dipercaya (trust-worthy God). Kalau kita mempercayai kepada “Allah” yang “plin-plan”, jujur, itu bukan Allah yang diajarkan dan diberitakan oleh Alkitab, tetapi diajarkan oleh para penganut postmodernisme, open theism, pluralisme, dan sejenisnya yang pura-pura memakai plang “Kristen”! Kembali, ketika kita mengerti bahwa penderitaan Kristus ditentukan oleh Allah, kita dapat belajar beberapa prinsip, yaitu pertama, penderitaan Kristus menjadi pengharapan bahwa bukan karena kita yang minta diselamatkan baru Allah menyelamatkan, tetapi Allah yang merencanakan keselamatan, Dia jugalah yang menggenapinya di dalam Pribadi Kristus. Kedua, penderitaan Kristus menjadi teladan bagi kita yang harus menyangkal diri bahwa penderitaan yang kita alami itu juga atas kehendak Allah/diizinkan Allah untuk menguji iman kita di dalam mengikut-Nya. Rasul Petrus di dalam 1 Petrus 4:14 mengajarkan, “Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu.” Kata “berbahagialah” di dalam ayat ini sama dengan kata “berbahagia” yang diucapkan oleh Tuhan Yesus di dalam Matius 5:3-11 (khususnya ayat 10) yang dalam bahasa Yunaninya makarios bisa berarti “diberkatilah” (blessed). Khususnya di Indonesia, kita membaca banyak berita bahwa banyak gereja dibakar, izin pembangunan gereja dipersulit dengan berjuta alasan yang tidak masuk akal (tetapi kalau membangun tempat ibadah agama mayoritas dipermudah, bahkan banyak yang tidak pakai IMB/Izin Mendirikan Bangunan), dll. Itu semua adalah bentuk penderitaan yang harus ditanggung ketika kita berkomitmen menjadi pengikut Kristus sejati. Menjadi orang “Kristen” kampungan dan murahan (pseudo-Christians) itu mudah, karena tidak usah memikul salib (kalau perlu meng“amin”i apa yang dicetuskan oleh para penganut “theologi” kemakmuran bahwa orang “Kristen” adalah anak “raja” yang pasti kaya, sukses, diberkati, sembuh, bahkan tidak pernah digigit nyamuk), tetapi kalau kita sungguh-sungguh mau mengikut Kristus (the true Christians), kita harus rela menanggung aniaya karena seperti Kristus yang telah difitnah, dianiaya, dll, kita pun sebagai pengikut sekaligus murid-Nya pun harus mengalami hal yang sama, selain itu karena kita harus menTuhankan Kristus bukan men”Tuhan”kan penguasa, dan hal-hal palsu lainnya.

Ketiga, penderitaan Kristus ditujukan untuk menggantikan kita yang masih berdosa -> substitusi (ayat 7-8). Poin ketiga ini kelihatannya sama dengan poin pertama, tetapi pada poin ini saya menitikberatkan pada kematian Kristus yang menggantikan (substitusi). Substitusi Kristus yang ditunjukkan oleh Paulus ini jauh melampaui apa yang manusia kerjakan. Hal ini ditunjukkan Paulus dengan membedakan konsep substitusi di dalam pengorbanan Kristus dengan tindakan orang yang mau mati bagi orang yang baik. Tindakan pengorbanan Kristus adalah tindakan yang mulia dan dimotivasi oleh cinta yang tanpa bersyarat yang tak memerlukan balas jasa apapun dari siapapun juga (karena manusia yang olehnya Kristus mati tidak memiliki daya/jasa baik yang cukup syarat untuk membalas kasih Allah), sedangkan tindakan manusia berdosa adalah tindakan yang seolah-olah kelihatan “berkorban”, tetapi sebenarnya mau meminta balas jasa (karena orang ini mati bagi orang yang mati yang akan membalas jasanya). Paulus mengemukakan hal ini di ayat 7 dan 8 dengan 3 tingkat pembanding obyek substitusi, yaitu: orang baik, benar dan berdosa (mengutip pernyataan Pdt. Sutjipto Subeno). Pertama dan kedua, orang baik dan benar. Pada ayat 7, Paulus berkata, “Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar--tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati--.” Tingkat pertama, orang baik. “Orang yang baik” dalam terjemahan KJV (dan banyak terjemahan Inggris) adalah a good man. Beberapa tafsiran menghubungkan orang baik dengan kelakuannya yang baik, suka memberi (dermawan), penuh belas kasih, dll. Dari penjelasan Adam Clarke dalam tafsirannya Adam Clarke’s Commentary on the Bible, kita mendapatkan sedikit latar belakang tradisi Yudaisme bahwa orang-orang Yahudi membedakan empat macam orang, di mana orang macam ketiga dari empat macam orang tersebut disebut orang yang baik (a just man) yang mengatakan, “What is mine, is thine; and what is thine, let it be thine.” (milikku adalah milikmu, dan apa yang menjadi milikmu, biarlah itu tetap menjadi milikmu.) Pdt. Sutjipto Subeno mengatakan bahwa justru untuk orang baik inilah, banyak orang yang berani mati, mengapa? Karena mereka yang berani mati telah menerima sesuatu yang positif (bantuan) dari orang yang memberi. Ini tetap adalah konsep penebusan versi manusia berdosa, yaitu kalau saya sudah dapat sesuatu dari orang lain, maka saya baru dapat berkorban bagi orang tersebut. Tingkat kedua, yaitu orang benar. “Orang yang benar” dalam terjemahan KJV adalah a righteous man, dalam bahasa Yunaninya menggunakan kata dikaios yang bisa berarti adil benar. Lalu, siapakah orang adil/benar yang Paulus maksudkan ? Dari tafsiran Adam Clarke dalam Adam Clarke’s Commentary on the Bible, orang macam pertama dari empat macam orang tersebut (lihat di atas tentang sedikit penjelasan 4 macam orang) disebut orang yang adil (a just man) yang mengatakan, “what is mine, is my own; and what is thine, is thy own.” (=apa yang menjadi milikku adalah milikku ; dan apa yang menjadi milikmu, adalah milikmu.) Adam Clarke mengatakan, “These may be considered the just, who render to every man his due; or rather, they who neither give nor take.” (=Orang ini dapat disebut orang adil, yang memberikan kepada setiap orang haknya masing-masing; atau lebih baik, mereka tidak memberi atau mengambilnya.) Orang benar/adil ini sekilas lebih rendah kualitasnya dari orang baik (karena orang baik mau berkorban, sedangkan orang benar/adil menyibukkan urusan keadilan), tetapi yang diperhatikan di sini adalah konsep pengorbanan. Meskipun orang baik itu lebih tinggi dari orang benar/adil, tetapi berkorban bagi orang benar/adil justru lebih sulit daripada berkorban bagi orang baik. Mengapa? Karena orang yang berkorban bagi orang benar/adil adalah orang yang berkorban bukan karena ia telah mendapatkan sesuatu, tetapi ia menghargai orang benar/adil (meskipun tidak mendapatkan sesuatu). Misalnya, para pejuang hak asasi manusia (seperti Martin Luther King, Jr. di Amerika Serikat), kita yang di Indonesia tidak memperoleh manfaat apa-apa dari perjuangannya, tetapi kita mengerti perjuangannya dan mungkin kita bisa rela berkorban bagi orang ini. Tentang orang benar/adil ini, saya berani menyimpulkan bahwa a just man sebenarnya adalah orang yang merasa diri “benar” dan “layak”, tetapi sebenarnya tidak mampu. Mengapa saya berani mengambil kesimpulan demikian? Karena seperti yang diungkapkan Clarke, a just man menunjuk kepada orang yang selalu menuntut keadilan tetapi tidak mengerti sesuatu yang melampaui keadilan yaitu kasih yang tanpa syarat (unconditional love). Kasih dan keadilan tidak bisa dipisahkan, karena itu saling terkait. Bagi mereka yang seolah-olah merasa diri “benar”, Tuhan melalui Paulus berkata bahwa itu adalah hal yang sulit khususnya di dalam pengorbanan Kristus yang bersifat mengganti. Mengapa ? Karena a just man selalu merasa diri “layak”, “tak berdosa”, dll lalu kalaupun ia melakukan sesuatu yang salah/berdosa, maka ia dengan sombongnya akan berjuang sendiri untuk melepaskan/keluar dari jurang kesalahan/dosa. Terhadap orang inilah, Kristus sulit mau berkorban bagi/menggantikan posisi mereka. Tetapi meskipun sulit, Kristus rela melakukannya karena kematian-Nya membuktikan cinta kasih Allah kepada dunia yang jauh melampaui konsep keadilan manusia (Yohanes 3:16; Roma 5:8). Tingkat ketiga, orang yang telah berdosa. Kalau tingkat pertama dan kedua masih mampu dilakukan oleh manusia, yaitu berkorban bagi orang baik dan benar, maka tingkat ketiga ini tidak mungkin mampu dilakukan manusia berdosa, mengapa? Karena tingkat ketiga ini hanya mampu dilakukan oleh Allah sendiri. Di ayat 8, Allah melalui Paulus menyatakan, “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Di dalam terjemahan LAI, kita kurang menemukan keunikan perbedaan waktu antara Kristus yang telah mati dan kita yang berdosa, tetapi di dalam struktur bahasa Yunani, kita dapat mengerti perbedaan waktu ini. Pernyataan “kita masih berdosa” menggunakan keterangan waktu Present (dapat diterjemahkan: ketika kita sedang berdosa). Sedangkan pernyataan “Kristus telah mati” menggunakan keterangan waktu Aorist yang berarti sesuatu yang sudah terjadi dan tidak terulang lagi—identik dengan keterangan waktu Past Perfect di dalam bahasa Inggris (dapat diterjemahkan: Kristus telah satu kali mati untuk selama-lamanya). Berarti, ketika kita sedang/masih berdosa, Kristus telah menebus dosa kita dan mati bagi kita. Ini menunjukkan bahwa kasih Allah tidak melihat/menunggu respon manusia (karena manusia yang masih berdosa tidak mungkin bisa merespon kasih Allah). Dengan kata lain, Arminianisme (pendiri: Jacobus Arminius) yang mengajarkan bahwa Allah memilih manusia setelah Ia melihat siapa manusia yang akan meresponi kebaikan-Nya, adalah salah dan tidak sesuai dengan Alkitab. Justru, Allah memilih manusia dan mengutus Kristus untuk menebus dosa manusia jauh sebelum manusia itu berdosa. Itulah kasih Allah yang jauh melampaui rasio manusia berdosa yang terbatas yang hanya mau mengasihi dan berkorban bagi orang-orang baik dan benar (dan tidak bagi orang-orang berdosa). Penderitaan Kristus ini menjadi pengharapan bagi kita yang berada di dalam penderitaan bahwa kita memiliki Kristus yang sudah menggantikan kita yang seharusnya berdosa. Apa yang Kristus telah kerjakan pada waktu kita masih berdosa justru menyadarkan kita bahwa sudah seharusnya kita tidak lagi arogan lalu berkata bahwa kita bisa menyelesaikan dosa kita sendiri. Itu adalah tindakan atheis yang menghina karya penebusan Allah. Kita sebagai umat pilihan-Nya yang telah ditebus harus terus-menerus bersyukur atas anugerah-Nya dan mengerjakan keselamatan kita (bukan supaya kita diselamatkan/tidak kehilangan keselamatan) sebagai respon kita telah ditebus dan diselamatkan untuk memuliakan Allah. Penderitaan Kristus juga dapat menjadi teladan bagi kita sehingga kita rela berkorban/mati bagi orang-orang yang kita kasihi (bahkan bagi orang-orang yang telah membenci kita dan sebaliknya) demi Injil. Penginjilan tanpa dimotivasi dan bertujuan untuk mengasihi jiwa-jiwa yang terhilang adalah penginjilan yang sia-sia. Sudahkah kita mengasihi jiwa-jiwa yang terhilang dan membawanya kepada Kristus ?

Keempat, penderitaan Kristus meredakan murka Allah -> propisiasi (ayat 9). Pada ayat 9, Tuhan melalui Paulus mengungkapkan, “Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah.” Tentang propisiasi atau peredaan murka Allah, Paulus sudah menjelaskannya di dalam Roma 3:25, “Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya…” (KJV, “Whom God hath set forth to be a propitiation through faith in his blood,…”) dan Yohanes menjelaskannya di dalam 1 Yohanes 4:10, “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.” (KJV, “Herein is love, not that we loved God, but that he loved us, and sent his Son to be the propitiation for our sins.”). Semua kata “pendamaian” di dalam kedua bagian ayat ini seharusnya diterjemahkan “peredaan murka Allah”. Peredaan murka Allah yang Kristus kerjakan menjadi pengharapan bagi kita yang seharusnya mati dan dikenai murka Allah akibat dosa, tetapi puji Tuhan, penebusan Kristus di kayu salib sudah memenuhi syarat wujud keadilan dan kasih Allah bagi manusia berdosa. Penderitaan Kristus ini juga menjadi teladan bagi kita yang harus menderita karena nama Kristus supaya kita tetap memberitakan Injil sehingga banyak orang diselamatkan dari murka Allah yang menyala-nyala. Penderitaan kita karena nama Kristus seharusnya tidak memadamkan semangat kita dalam mengabarkan Injil, melainkan justru mengobarkan semangat kita bahwa orang-orang yang menganiaya kita harus diinjili agar mereka pada suatu saat atas kehendak-Nya dapat bertobat dan kembali kepada Kristus serta diselamatkan dari murka Allah yang dahsyat.

Kelima, penderitaan Kristus memperdamaikan kita dengan Allah -> rekonsiliasi (ayat 10). Selain substitusi dan propisiasi, penebusan Kristus juga mendamaikan kita yang dahulu adalah seteru/musuh Allah yang najis dan berdosa dengan Allah yang Mahakudus, seperti yang dipaparkan Paulus di ayat 10, “Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!” Kata “diperdamaikan” dalam KJV adalah reconcile (=direkonsiliasikan/diperdamaikan). Kalau kita mengerti kata “musuh”, maka kita seharusnya mengerti bahwa itulah status kita ketika kita masih berdosa. Kalau di poin pertama, kita belajar tentang status dan kondisi kita yang jatuh ke dalam dosa yaitu durhaka/tidak berTuhan dan lemah/tidak berdaya, maka di poin ini, kita belajar tentang status kita dahulu yang “baru” yaitu musuh/seteru Allah. Kita disebut seteru Allah karena kita melawan ketetapan-Nya. Bagi seorang musuh, kita sudah seharusnya melawannya, hal yang sama juga dilakukan oleh Allah. Tetapi sekali lagi karena kasih-Nya begitu besar, maka beberapa orang dari antara musuh-Nya yang memberontak dipilih, dipanggil dan dibenarkan-Nya di dalam Kristus, sehingga mereka beroleh anugerah-Nya untuk beriman di dalam Kristus. Bagi orang-orang pilihan-Nya inilah, Kristus mati dan memperdamaikan mereka dengan Allah. Adalah tidak masuk akal jika ada orang-orang yang tidak dipilih-Nya berani mengklaim diri umat pilihan Allah lalu menyatakan diri dengan sombongnya bahwa Kristus juga mati untuknya. Itu adalah ajaran yang aneh dan tidak sesuai dengan Alkitab. Penderitaan Kristus ini menjadi pengharapan bagi umat pilihan-Nya yang berdosa yaitu kita yang dahulu berdosa sudah diperdamaikan dengan Allah yang Mahakudus melalui penebusan Kristus, sehingga kita diselamatkan oleh hidup Kristus dan kita tidak usah takut (dalam pengertian takut yang berlebihan) menghampiri Allah. Bukan berarti karena kita telah ditebus oleh Kristus, maka kita boleh sembarangan menghadap Allah, lalu seenaknya sendiri menggunakan hal-hal yang tidak bertanggungjawab di dalam ibadah. Itu namanya “anak-anak Allah” yang keterlaluan/kelewatan (Jawa: nglunjak). Meskipun kita sudah ditebus oleh Kristus, kita sebagai anak-anak-Nya tetap harus menghormati dan takut kepada-Nya, karena Ia tetap adalah Allah dan Tuhan kita (sedangkan kita adalah manusia yang terbatas), meskipun kita bisa/dapat tetap bersukacita ketika menghadap Allah. Inilah paradoks di dalam ibadah Kristen: takut dan gentar terhadap Allah sekaligus bersukacita. Penderitaan Kristus juga menjadi teladan bagi kita yaitu perdamaian antara manusia dengan Allah di dalam Kristus adalah wujud perdamaian sejati meskipun kita menderita aniaya. Sering kali di dunia ini, ketika ada orang yang mengalami penderitaan, para pemuja “theologi” religionum/social “gospel” selalu melontarkan kalimat “damai”, “gencatan sejata”, “toleransi”, dll supaya tidak terjadi penderitaan dan penganiayaan. Apakah itu salah? Di satu sisi, benar, tetapi di sisi lain, inti masalahnya bukan sekadar penghentian tindakan penganiayaan/kekerasan/penderitaan, tetapi esensinya justru terletak pada pendamaian antara manusia dengan Allah di dalam Kristus. Kalau manusia tidak didamaikan kembali dengan Allah, maka manusia tak mungkin bisa berdamai dengan sesamanya, karena masalah manusia yang paling serius adalah dosa, dan bukan hanya sekadar ketidakseimbangan/ketidaktenteraman atau penderitaan/penganiayaan/dll.

Terakhir, penderitaan Kristus membuat kita berbangga di dalam-Nya (ayat 11). Di dalam ayat 11, Paulus mengungkapkan, “Dan bukan hanya itu saja! Kita malah bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, sebab oleh Dia kita telah menerima pendamaian itu.” Kata “bermegah” bisa berarti bersukacita (joy/rejoice) atau berbangga (boast). Bukan hanya substitusi, propisiasi dan rekonsiliasi, penebusan dan penderitaan Kristus memberikan pengharapan kepada kita bahwa meskipun kita mengalami penganiayaan, Roh-Nya yang Kudus membuat kita terus-menerus bersukacita di dalam Allah. Mengapa kita bisa bersukacita meskipun penderitaan mengancam kita? Karena kita memiliki pengharapan yang kokoh di dalam Kristus yang telah mengalami dan menang mengalahkan segala pencobaan, sehingga Ia dinobatkan sebagai Imam Besar Agung (Ibrani 4:14-15). Selain itu, penderitaan Kristus yang mengakibatkan kita bersukacita di dalam-Nya juga menjadi teladan bagi kita untuk menyalurkan sukacita di dalam penderitaan ini baik dengan berbagi kepada sesama, khususnya yang paling utama yaitu memberitakan Injil. Sehingga ketika orang yang menganiaya kita tetap melihat kita bersukacita bahkan masih memberitakan Injil, orang tersebut atas kemurahan-Nya akan bertobat dan kembali kepada Kristus. Hal ini sudah dialami oleh Paulus yang tetap memberitakan Injil kepada kepala penjara di Filipi meskipun dipenjara dan mengalami penderitaan (Kisah Para Rasul 16:19-40). Maukah kita meneladani Paulus dengan menjadi saksi Kristus bahkan di dalam penderitaan sekalipun?

Setelah kita merenungkan keenam prinsip penderitaan Kristus yang menjadi pengharapan sekaligus teladan bagi kita yang menderita, biarlah kita menjadikan penderitaan Kristus bukan sekedar teori/rutinitas ketika kita memperingati Jumat Agung, tetapi penderitaan Kristus menjadi titik pusat kehidupan keKristenan kita dalam menapaki setiap penderitaan yang harus ditanggung karena mengikut Kristus. Soli Deo Gloria. Amin.

27 May 2007

Refleksi Hari Pentakosta 2007 : THE ROLE OF THE HOLY SPIRIT (Denny Teguh Sutandio)

Refleksi Hari Pentakosta 2007

THE ROLE OF THE HOLY SPIRIT
oleh : Denny Teguh Sutandio


Hari-hari ini, tema tentang Roh Kudus menjadi tema yang “membingungkan” di dalam mayoritas orang Kristen dan gereja. Hal ini tidak mengherankan karena di sepanjang gereja, doktrin tentang Trinitas pun menjadi perdebatan yang cukup rumit, termasuk doktrin tentang Pribadi Roh Kudus, apakah Dia adalah Pribadi Allah atau hanya sekedar kuasa Allah yang tak berpribadi. Adanya kebingungan ini dikarenakan mereka tidak mau belajar Alkitab dengan baik-baik dan bertanggungjawab tentang siapa dan apa peran Roh Kudus. Oleh karena itu, sangatlah penting di hari Pentakosta atau hari turunnya Roh Kudus yang jatuh tepat 10 hari setelah kenaikan Tuhan Yesus, kita merenungkan peran-peran Roh Kudus baik secara pribadi maupun global.
Peran Roh Kudus Dalam Pribadi
Pertama-tama, tentang peran Roh Kudus dalam pribadi, mari kita belajar dari pengajaran Paulus di dalam 1 Korintus 12:3 dan pernyataan Tuhan Yesus sendiri di dalam Injil Yohanes 14 dan 16.
Pertama, Roh Kudus melahirbarukan umat pilihan Allah dan membawa mereka untuk percaya di dalam Kristus. Hal ini diajarkan Paulus di dalam 1 Korintus 12:3 bahwa tidak ada seorangpun yang dapat menyebut Yesus sebagai Tuhan selain oleh Roh Kudus. Di sini, kita melihat bahwa orang percaya dapat percaya kepada dan di dalam Kristus karena ada pekerjaan Roh Kudus yang telah melahirbarukan umat pilihan Allah dengan memberikan iman dan pertobatan serta keberanian untuk kembali kepada Kristus. Tanpa Roh Kudus memimpin, maka tak seorang pun dapat sendirinya memilih untuk percaya kepada Kristus. Jika ada orang yang berpendapat bahwa ia dapat sendirinya memilih untuk percaya kepada Kristus, berarti ia sedang berhalusinasi atau ia sedang menghina Roh Kudus. Karena adanya pekerjaan Roh Kudus, maka iman di dalam Kristus adalah anugerah Allah (sola gratia) yang diberikan hanya kepada umat pilihan yang telah Allah tetapkan (Efesus 1:3-6).


Kedua, Roh Kudus memimpin kita melakukan perintah-perintah Kristus dan menyertai kita selama-lamanya. Setelah Roh Kudus memimpin kita untuk percaya di dalam/kepada Kristus, maka Ia memimpin kita untuk melakukan perintah-perintah-Nya. Di dalam Yohanes 14:1-14, Tuhan Yesus sedang berbicara mengenai rumah Bapa dan hanya melalui Dia sajalah, manusia dapat sampai kepada rumah Bapa. Selanjutnya, di ayat 15, Tuhan Yesus bersabda, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” Kata “mengasihi” di dalam ayat ini dalam bahasa Yunani agapaō merupakan kasih yang sempurna yang tanpa syarat. Lalu, terjemahan King James Version, kedua frase antara “mengasihi Aku” dan “menuruti” TIDAK terdapat perbedaan waktu (sama-sama menggunakan present tense/waktu sekarang). Sehingga, arti ayat ini adalah ketika kita mengasihi Allah tanpa syarat atau tanpa meragukan Pribadi Allah, maka dengan sendirinya kita langsung menuruti/melakukan semua perintah-Nya. Tetapi bagaimana kita dapat mengasihi Allah dengan cara menaati perintah-perintah-Nya? Untuk itulah, Tuhan Yesus langsung melanjutkan perkataan-Nya di ayat 16-17, “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.” Kristus mengetahui bahwa kita sendiri tidak mungkin mampu menaati perintah-perintah-Nya, oleh karena itu Ia berjanji mengirim Penolong yang lain yang menyertai kita selama-lamanya. Kata Penolong di dalam bahasa Inggris Comforter berasal dari bahasa Yunani paraklētos berarti consoller, intercessor. Albert Barnes di dalam tafsirannya Albert Barnes’ Notes on the Bible memberikan perluasan arti kata Penolong ini, “a counsellor, a guide, a friend” (=konselor, pemimpin, teman). Lalu, Adam Clarke di dalam tafsirannya Adam Clarke’s Commentary on the Bible memberikan perluasan arti yang lain dari kata Penolong, “an advocate, a defender of a cause, a counsellor, patron, mediator” (=penyokong, pembela perkara, penasehat, pelindung, pengantara). Jadi, Penolong yang lain yang adalah Roh Kebenaran itu menjadi pemimpin kita di dalam hidup sehari-hari, penasehat kita ketika kita sedang melakukan dosa yang melawan Allah, pelindung kita ketika kita sedang mengalami marabahaya, sahabat yang baik ketika kita sedang berada di dalam kesusahan/kesendirian dan pengantara antara kita dengan Allah.
Sebagai Pemimpin, Roh Kudus memimpin hidup kita sehingga hidup kita menggenapkan kehendak Allah. Di dalam Alkitab, kita melihat Roh Kudus memimpin hidup Paulus di dalam setiap karya penginjilan yang ia lakukan, bahkan Roh Kudus melarang Paulus dan Silas memberitakan Injil di Asia lalu memimpinnya untuk memberitakan Injil ke Makedonia melalui suatu penglihatan, dan terhadap penglihatan itu, Paulus dan Silas taat (Kisah 16:6-12). Roh Kudus memimpin mereka untuk menginjili daerah Makedonia dan bukan Asia, karena daerah Makedonia termasuk daerah Eropa, di mana penduduknya dikuasai oleh berbagai filsafat Yunani, sehingga hanya Paulus yang pintar (menguasai filsafat Yunani) yang dapat bersoal jawab dengannya dan memberitakan Injil kepada mereka. Sedangkan untuk daerah Asia, Tuhan mempercayakan penginjilan kepada Petrus. Di sini, kita melihat Roh Kudus memimpin hidup kita untuk menggenapkan apa yang Tuhan inginkan, bukan apa yang kita inginkan sendiri. Bagaimana dengan hidup kita ? Apakah kita sebagai orang Kristen hanya mau menjalankan kehendak kita sendiri ataukah kita mau dengan taat dan rela menaati dan melakukan apa yang Tuhan inginkan di dalam hidup kita ? Beranikah kita mengambil keputusan dengan pencerahan Roh Kudus untuk menaati perintah-perintah-Nya ? Kalau kita berani, itulah tandanya kita mengasihi Allah dengan kasih yang sempurna. Jika tidak, janganlah kita berani mengatakan bahwa kita mencintai/mengasihi-Nya, padahal kita lebih senang mengerjakan apa yang kita kehendaki.
Sebagai Penasehat, Roh Kudus menasehati dan menegur kita ketika kita mulai melakukan dosa terhadap Allah. Di sini, bukan hanya hati nurani manusia biasa yang berbicara, tetapi ada Pribadi Roh Kudus di dalam hati orang percaya yang akan menegurnya ketika ia mulai berdosa. Mengapa Roh Kudus menegur dosa ? Karena Roh Kudus adalah Pribadi Allah yang kudus yang membenci dosa. Adalah suatu absurditas yang konyol ketika banyak “pemimpin gereja” menggembar-gemborkan Roh Kudus, tetapi hidupnya tidak kudus, bahkan lebih amoral daripada orang-orang yang non-Kristen. Ketika kita mau melakukan dosa, Roh Kudus pasti bersuara menegur kita, pertanyaan selanjutnya, apakah kita mau mendengarkan suara-Nya atau kita bersikukuh dengan keinginan berdosa kita sendiri ? Ketika kita menaati suara-Nya, itulah tandanya kita mengasihi-Nya karena kita membenci dosa dan mencintai Allah/Kebenaran dan Kekudusan.
Sebagai Pelindung, Roh Kudus melindungi kita ketika kita berada di dalam marabahaya. Ketika kita menghadapi suatu pencobaan, penganiayaan, penderitaan, dll, kita mungkin terasa sendiri, tetapi ingatlah satu hal bahwa Roh-Nya yang Kudus tidak pernah akan meninggalkan kita. Ketika di dalam penginjilan, Paulus mengalami penganiayaan yang mengakibatkan dirinya hampir meninggal, Roh Kudus datang untuk menguatkan Paulus di dalam memberitakan Injil. Roh Kudus pulalah yang melindungi Paulus dengan cara mencerahkan Paulus ketika harus berhadapan dengan para pembesar Yahudi dan Romawi yang mendakwanya. Ini semua adalah bukti bahwa Roh Kudus tidak pernah meninggalkan kita dan selalu bersama kita ketika kita mengerjakan pekerjaan Allah. Biarlah ini menjadi penghiburan bagi kita.
Sebagai Sahabat, Roh Kudus menghibur kita ketika kita sedang dalam keadaan tersendiri. Bagaimana caranya ? Roh Kudus akan memimpin dan mencerahkan hati dan pikiran kita akan kebenaran Firman yang menguatkan dan menghibur kita bahwa Tuhan adalah gembala kita, sehingga kita tidak perlu takut di dalam keadaan tersendiri sekalipun. Di sini, saya mengaitkan peran Roh Kudus dan Firman bagi hidup orang percaya. Jangan memisahkan antara Firman dan Roh Kudus, karena Roh Kudus mewahyukan Firman (Alkitab). Roh Kudus datang menghibur kita bukan dengan memberi pengalaman yang aneh-aneh yang melebihi/di luar Alkitab, tetapi Ia datang menghibur dan menjadi sahabat bagi kita melalui pencerahan Firman Tuhan. Sebaliknya, kalau setan datang “menghibur”, ia akan menawari kita dengan berbagai tanda-tanda supranatural yang malahan membawa kita jauh dari Allah.
Terakhir, sebagai Pengantara, Roh Kudus menjadi pengantara antara kita dengan Allah di dalam doa. Di dalam Roma 8:26-27, Paulus mengajarkan bahwa Roh Kudus menjadi “penyeleksi” doa-doa yang kita panjatkan kepada Bapa di Surga di dalam Kristus. Dengan kata lain, struktur doa Kristen : kita berdoa kepada Allah Bapa di dalam nama Tuhan Yesus Kristus melalui Roh Kudus. Jadi, tidaklah benar, kalau ada “pemimpin gereja” yang mengajarkan : doa kepada Roh Kudus atau doa di dalam Roh Kudus. Mengapa Ia menjadi “penyeleksi” doa-doa kita dan pendoa bagi kita ? Jawabannya ada di dalam Roma 8:27, yaitu karena Allah yang menyelidiki hati nurani mengetahui maksud Roh Kudus bahwa Ia, sesuai kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus.


Ketiga, Roh Kudus mengajarkan dan mengingatkan Kebenaran Kristus kepada kita. Hal ini tercatat di dalam Yohanes 14:26, di mana Tuhan Yesus berfirman, “tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” Selain memimpin kita menaati perintah-perintah-Nya, Ia sendiri juga akan mengajar kita dengan cara mengingatkan kita tentang apa yang Kristus telah katakan. Dewasa ini, banyak “pemimpin gereja” yang gemar sekali berbicara tentang Roh Kudus, tetapi herannya yang dibicarakan selalu merupakan hal-hal yang di luar Alkitab, padahal di dalam bagian ini, Roh Kudus datang untuk mengingatkan orang percaya tentang perkataan-perkataan Kristus. Artinya, secara implikasi di dalam zaman kita, Roh Kudus datang untuk mengingatkan kita tentang Firman Tuhan (Alkitab) yang sudah sempurna diwahyukan, bukan memberikan “wahyu-wahyu” baru di luar Alkitab. Dengan kata lain, Roh Kudus mencerahkan (illuminates) kita tatkala kita sedang membaca Alkitab atau mungkin kita sedang mengalami kesulitan. Pokoknya, peran Roh Kudus tidak bisa dilepaskan dari Alkitab, Firman Allah. Ketika seseorang berusaha memisahkannya dengan beribu alasan “rohani” sekalipun, itu tidaklah sah dan menghujat Roh Kudus sendiri, karena Roh Kudus datang untuk mengajarkan dan mengingatkan apa yang telah Kristus ajarkan. Mengapa ? Karena Roh Kudus datang untuk memuliakan Kristus (hal ini akan dibahas pada poin berikutnya).


Keempat, Roh Kudus menegur dosa, memimpin manusia kepada kebenaran, memuliakan Kristus dan mengingatkan kita akan hari penghakiman. Hal ini tercatat di dalam Yohanes 16:8-14. Selain mengajarkan dan mengingatkan kita tentang perkataan-perkataan Kristus, Roh Kudus datang untuk menegur dosa, memimpin manusia kepada kebenaran dan memuliakan Kristus. Pertama, Roh Kudus datang untuk menegur dosa. Adalah suatu absurditas ketika ada “pemimpin gereja” mengatakan bahwa orang Kristen harus saling mengasihi, oleh karena itu tidak perlu menegur dosa, karena Allah adalah Kasih. Allah yang Kasih bukanlah Allah yang menolerir segala dosa, karena Ia adalah Mahakudus. Karena Ia adalah Allah yang Mahakudus, maka Roh Kudus datang untuk menegur dosa. Jika ada yang mengklaim “Roh Kudus”, tetapi “Dia” tidak menegur dosa, maka berhati-hati terhadap roh ini, karena ini jelas bukan Roh Kudus, karena Roh Kudus yang sejati menegur dosa. Kalau Roh Kudus menegur dosa, maka hamba-hamba Tuhan sejati yang dipenuhi Roh Kudus pun berani menegur dosa dengan segala kesabaran dan pengajaran (2 Timotius 4:2). Kembali, adalah suatu absurditas jika ada “hamba Tuhan” yang tidak berani menegur dosa dengan alasan “rohani” : “Kasih”. Bukan hanya menegur dosa, Roh Kudus juga memimpin manusia kepada kebenaran. Kata “kebenaran” di sini dalam bahasa Yunaninya dikaiosunē yang berarti righteousness (=kebenaran keadilan) atau kebenaran di dalam proses. Dengan kata lain, Roh Kudus memproses kita untuk makin lama makin menyerupai Kristus dengan cara kita menaati Firman-Nya (kembali ke poin pertama peran Roh Kudus). Ketika Roh Kudus memimpin kita kepada kebenaran, itu berarti Roh Kudus yang sama menolong kita untuk berani meninggalkan dosa dan manusia lama kita. Adalah suatu absurditas jika ada orang “Kristen” yang selalu mengklaim dipenuhi “Roh Kudus”, tetapi hidupnya masih amoral. Lalu, bagaimana caranya Roh Kudus memimpin kita kepada kebenaran ? Dengan mengingatkan umat pilihan-Nya tentang Firman Kristus (kembali kepada peran Roh Kudus pertama di atas). Mengapa harus memakai Firman Kristus ? Apakah ini berarti Roh Kudus tidak memiliki Firman-Nya sendiri ? TIDAK ! Roh Kudus datang bukan untuk mengatakan sesuatu di luar Firman Kristus, tetapi mengajar Firman Kristus, karena Roh Kudus datang untuk memuliakan Kristus, bukan diri Roh Kudus sendiri (baca : Yohanes 16:13-14). Dengan kata lain, barangsiapa yang mengklaim dipenuhi “Roh Kudus” tetapi tidak memuliakan Kristus, maka itu jelas bukan dari Roh Kudus, karena Roh Kudus datang untuk memuliakan Kristus. Terakhir, Roh Kudus datang mengingatkan kita tentang hari penghakiman. Artinya, pertama, Roh Kudus datang untuk memimpin kita terus hidup di dalam kemenangan bersama Kristus karena Roh Kudus mencerahkan kita bahwa di akhir zaman, Kristus datang sebagai Hakim yang pasti mengalahkan musuh-musuh-Nya (Roh Kudus memberikan kekuatan dan penghiburan serta pengharapan bagi umat Allah). Selain itu, Roh Kudus yang mengingatkan kita akan hari penghakiman berarti Roh Kudus yang mengingatkan kita agar kita tidak terus-menerus berbuat dosa sebelum akhir zaman tiba.


Peran Roh Kudus Dalam Pelebaran Kerajaan Allah
Kedua, peran Roh Kudus dalam memperlebar/memperluas Kerajaan Allah mencakup beberapa hal :
Pertama, Roh Kudus memimpin pengabaran Injil. Hal ini diajarkan di dalam Kisah 1:8, di mana Tuhan Yesus sendiri berfirman, “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Roh Kudus sejati memimpin umat pilihan dan gereja-Nya melakukan pekabaran Injil, sehingga barangsiapa yang mengklaim dipenuhi “Roh Kudus” tetapi tidak mengabarkan Injil sejati, maka itu jelas bukan dari Roh Kudus. Mengapa penginjilan diperlukan ? Beberapa orang “Kristen” menolak penginjilan dengan alasan “rohani” : orang-orang pilihan akan dengan sendirinya percaya kepada Kristus atau alasan bahwa Matius 28:19-20 hanya ditujukan kepada para murid. Benarkah demikian ? TIDAK. Kedaulatan Allah yang memilih beberapa orang untuk diselamatkan sejak kekekalan adalah tanggung jawab-Nya sendiri dan di dalam kedaulatan-Nya, Ia tetap memberikan mandat kepada manusia untuk bertanggungjawab mengabarkan Injil-Nya. Dengan kata lain, mengutip pernyataan Pdt. Billy Kristanto, kita melakukan apa yang menjadi kewajiban/tugas kita (yaitu menginjili) dan Allah melakukan apa yang menjadi tugas-Nya (memilih beberapa orang untuk diselamatkan).


Kedua, Roh Kudus memberikan karunia-karunia supranatural untuk memuliakan Allah dan membangun jemaat. Hal ini pertama kali dicatat di dalam Kisah Para Rasul 2:1-13 ketika orang percaya berkumpul, maka Roh Kudus datang dengan tanda-tanda yang mengherankan yaitu tiupan angin keras, lidah-lidah api yang hinggap di atas kepala mereka dan mereka mulai berkata-kata dengan bahasa lain (bahasa Roh). Tetapi nats ini tidak hanya berhenti di sini, orang-orang yang berbahasa lidah ini menggunakan karunia Roh ini bukan untuk disombongkan atau dipamerkan atau sebagai kriteria pembeda orang Kristen yang beriman dan yang tak beriman, tetapi untuk mengabarkan Kristus kepada orang-orang yang berbeda bahasa/suku/bangsa dengan kita supaya mereka mengerti Injil dengan bahasa-bahasa mereka (baca Kisah 2:8-41). Karunia bahasa lidah dipergunakan untuk memuliakan Allah, tetapi herannya dewasa ini, orang yang mengklaim berkarunia lidah selalu dipergunakan untuk menyatakan kehebatan diri atau menjadi kriteria pembeda antara orang yang “beriman” dengan yang tak “beriman” (ada yang mengajarkan bahwa orang “Kristen” yang mau melayani harus bisa berbahasa lidah).

Lebih lanjut tentang bahasa lidah, Paulus menguraikan dengan tuntas di dalam 1 Korintus 12-14. Sebagai pendahuluan, kitab 1 Korintus 12-13 merupakan prinsip penting di dalam memahami karunia Roh yang di dalamnya terkandung beberapa hal, yaitu : pertama, karunia Roh Kudus dimaksudkan untuk menyatakan kemuliaan Kristus (1 Korintus 12:3). Kedua, Roh Kudus yang satu memberikan karunia-karunia kepada orang-orang pilihan-Nya secara beraneka ragam, sehingga tidak boleh ada pemaksaan (1 Korintus 12:4-6). Ketiga, karunia-karunia Roh Kudus dipergunakan untuk membangun komunitas jemaat Tuhan/bersama di dalam satu tubuh Kristus (1 Korintus 12:7,12-30). Keempat, karunia-karunia Roh Kudus diberikan kepada masing-masing orang pilihan-Nya sesuai dengan kehendak-Nya (1 Korintus 12:11), sehingga tidaklah benar jika ada gereja yang mengajarkan jemaatnya untuk meminta “Roh Kudus” untuk memberikan karunia bahasa roh ! Kelima, semua karunia Roh Kudus harus tunduk di bawah Kasih, karena yang lebih utama dari karunia Roh Kudus adalah kasih (1 Korintus 12:31-13:13).
Setelah itu, mari kita masuk ke dalam pembahasan 1 Korintus 14:1-40 tentang penggunaan bahasa roh. Ada beberapa prinsip penggunaan bahasa roh di dalam pasal 14 ini dan prinsip ini BUKAN “membatasi” Roh Kudus, tetapi membiarkan Roh Kudus bekerja dengan bebas dengan mengikat diri-Nya sendiri. Artinya, Roh Kudus sejati tidak mungkin menyangkali apa yang telah Dia wahyukan melalui Alkitab ! Mari kita memperhatikan beberapa prinsip tentang penggunaan bahasa roh ini :
Pertama, karunia Roh yang penting BUKAN berbahasa lidah/roh tetapi bernubuat (ayat 1). “Bernubuat” tidak boleh langsung diidentikkan dengan karunia menyatakan hal-hal yang akan datang. Nubuat bisa berarti menyatakan hal-hal yang telah, sedang dan akan terjadi. Sehingga “bernubuat” identik dengan “berkhotbah atau menyampaikan Firman Allah.” Mengapa bernubuat ini lebih penting daripada bahasa roh ? Karena di dalam ayat 2-4, Paulus mengatakan bahwa bahasa roh itu hanya membangun diri sendiri, sedangkan karunia bernubuat membangun Jemaat. Orang yang terlalu mementingkan bahasa roh berarti orang itu EGOIS, karena tidak mementingkan apakah orang lain mengerti atau tidak !
Kedua, karunia bahasa roh harus ditafsirkan/diterjemahkan (ayat 5-13). Mengapa bahasa roh perlu ditafsirkan ? Karena bahasa roh hanya membangun diri dan hanya dapat membangun Jemaat ketika bahasa roh itu diterjemahkan supaya orang lain dalam Jemaat Tuhan mengerti artinya. Jika tidak diterjemahkan, Paulus mengatakan bahwa kata-kata itu sia-sia diucapkan di udara (ayat 9-10).
Ketiga, karunia bahasa roh harus berisi penyataan Allah atau pengetahuan atau nubuat atau pengajaran (ayat 6). Ini berarti ada sesuatu yang Allah ingin sampaikan kepada manusia melalui bahasa lidah YANG DITERJEMAHKAN. Pikirkanlah kalau bahasa roh tidak diterjemahkan, bagaimana bisa manusia menangkap apa yang hendak Allah sampaikan itu ?!
Keempat, bahasa manusia biasa lebih penting daripada beribu bahasa roh tanpa arti (ayat 18-19). Ayat 18 sering dipotong oleh banyak “hamba Tuhan” gerakan Kristen kontemporer lalu mengajarkan bahwa orang Kristen harus berbahasa roh karena Paulus juga berbahasa roh. Ayat ini memang sengaja dilepaskan dari ayat 19 (supaya cocok dengan doktrin Karismatik/Pentakostanya) yang mengatakan, “Tetapi dalam pertemuan Jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa roh.” Jadi, bahasa yang dapat dimengerti lebih penting dipergunakan di dalam Jemaat ketimbang menggunakan bahasa roh yang tidak berarti.
Kelima, karunia bahasa roh adalah tanda untuk orang-orang yang beriman anak-anak/tidak beriman, sedangkan karunia menyampaikan Firman/bernubuat adalah tanda untuk orang-orang yang beriman (ayat 22). Jangan membalik atau memelintir arti ayat ini seperti pengajaran dari buku “Pdt.” Abraham Alex Tanuseputra dari Bethany ! Ayat ini sangat amat jelas dan berkaitan dengan ayat 20-21, di mana Allah memakai lidah-lidah asing untuk menghukum bangsa Israel, tetapi kenyataan mereka tetap tidak mau mendengarkan-Nya. Jadi, bahasa roh cocok untuk orang “Kristen” yang beriman dan bermental anak-anak yang ingin dimanja terus, sedangkan orang Kristen sejati yang beriman dewasa tidak lagi perlu minum susu, tetapi makan makanan yang keras melalui khotbah dan pengajaran Firman Tuhan.
Keenam, bahasa roh harus disertai dengan karunia Roh lainnya (ayat 26) untuk membangun tubuh Kristus. Mementingkan karunia bahasa roh dan membuang karunia Roh lainnya adalah suatu ciri kesesatan di dalam gereja Tuhan !
Ketujuh, bahasa roh yang dipergunakan di dalam Jemaat harus diucapkan maksimal tiga orang, bergiliran dan harus diterjemahkan (ayat 27). Diucapkan maksimal tiga orang dan bergiliran, supaya bahasa roh sejati itu tidak liar dan tidak dipakai setan untuk mengacaukan jemaat ! Lalu, bahasa roh perlu diterjemahkan (lihat ciri/prinsip kedua) agar Jemaat Tuhan boleh dibangun imannya. Jadi, bahasa roh yang banyak dipergunakan di banyak gereja Karismatik/Pentakosta MUTLAK PALSU, mengapa ? Karena melanggar prinsip Alkitab ini, yaitu maksimal tiga orang, bergiliran dan harus diterjemahkan.
Kedelapan, bahasa roh yang tidak memenuhi prinsip ayat 27 tidak boleh diucapkan di dalam Jemaat (ayat 28). Entah ajaran dari mana ketika ada seorang song leader berani mengajarkan atau mengajak jemaatnya untuk bersama-sama berbahasa roh, padahal Alkitab tidak mengajarkan adanya pengucapan bahasa roh secara serentak atau berupa ajakan ! Ceklah Alkitab !
Kesembilan, prinsip penggunaan bahasa roh harus sopan dan teratur, karena ALLAH TIDAK MENGHENDAKI KEKACAUAN (ayat 33 dan 40). Jadi, dapat disimpulkan, setiap kebaktian dan gereja yang melanggar atau memelintir prinsip 1 Korintus 14 tentang penggunaan bahasa roh sejati ini adalah kebaktian yang mengacaukan dan jelas bukan berasal dari Allah (mungkin dari diri sendiri/halusinasi atau sangat mungkin sekali dari setan).

Pada akhirnya, semua karunia Roh Kudus dipergunakan untuk memperluas Kerajaan Allah di muka bumi ini dan membangun Jemaat di dalam pengenalan akan Allah dan Firman-Nya. Semua karunia Roh yang melawan prinsip-prinsip Alkitab ini tentulah bukan karunia Roh sejati, mungkin adalah karunia roh palsu atau pekerjaan iblis yang menyamar sebagai malaikat terang.


Diharapkan melalui refleksi kita pada hari Pentakosta, kita dapat diteguhkan imannya bahwa Roh Kudus sejati memimpin kita dan gereja-Nya untuk menggenapkan dan memperluas Kerajaan dan kehendak Allah di bumi ini agar nama-Nya sajalah yang dipermuliakan selama-lamanya. Sudahkah kita mengalami pimpinan-Nya di dalam kehidupan kita sehari-hari untuk menggenapkan kehendak dan rencana-Nya dalam kehidupan kita. Soli Deo Gloria. Amin.




Euaggelion Ministries (Pelayanan Pribadi)
Webblog : http://dennytan.blogspot.com