Showing posts with label APAKAH ALKITAB ITU? (Denny Teguh Sutandio). Show all posts
Showing posts with label APAKAH ALKITAB ITU? (Denny Teguh Sutandio). Show all posts
17 May 2012
Bagian 3: Alkitab: Cukup dan Jelas (Denny Teguh Sutandio)
APAKAH ALKITAB ITU?
Bagian 3: Alkitab: Cukup dan Jelas
oleh:
Denny Teguh Sutandio
Karena
Alkitab diwahyukan Allah dan berotoritas, maka secara otomatis, sebagai orang
Kristen yang sungguh-sungguh, maka Alkitab itu sudah cukup dan jelas sebagai
standar iman dan praktik hidup Kristen. Di sini, kita belajar sifat Alkitab
ketiga, yaitu kecukupan dan kejelasan Alkitab.
A.
Alkitab: Cukup
Karena
Alkitab diwahyukan Allah dan berotoritas, maka sifat Alkitab yang perlu kita
perhatikan adalah Alkitab itu cukup menjadi sumber kebenaran. Kecukupan Alkitab
ini berarti:
1.
Hanya Alkitab
Salah satu
semboyan dari reformator, Dr. Martin Luther adalah: Sola Scriptura (hanya Alkitab). Artinya, Alkitab sajalah yang harus
menjadi pedoman dan sumber kebenaran iman Kristen. Ketika kita ingin membangun
doktrin Kristen, kembalilah kepada Alkitab, jangan kepada filsafat, psikologi,
dll. Ketika kita ingin membangun etika Kristen yang sehat, kembalilah kepada
Alkitab. Biarlah Alkitab sebagai sumber sekaligus penghakim bagi iman, praktik,
dan seluruh aspek kehidupan orang Kristen.
2.
Tidak Perlu Sumber-sumber Lain
“Hanya
Alkitab” mengarahkan kita untuk mengambil langkah kedua yaitu tidak perlu
sumber-sumber lain untuk melengkapi iman Kristen. Jangan salah mengerti bagian
ini. Saya tidak mengatakan bahwa kita tidak boleh belajar banyak hal. Kita
tentu saja boleh belajar banyak hal, tetapi hal-hal yang kita pelajari
hendaklah TIDAK boleh melengkapi iman Kristen yang dibangun di atas dasar
Alkitab. Misalnya, apakah kita boleh mempelajari kitab-kitab Kong Hu Cu? Tentu
saja boleh. Saya mengoleksi kumpulan kitab filsafat baik dari Kong Hu Cu maupun
Lao Tze. Saya sendiri membeli 2 buku dalam bahasa Inggris dan Indonesia yang
membahas agama Budha. Saya adalah seorang yang senang belajar agama-agama lain
di luar Kekristenan, namun hal-hal tersebut tetap menjadi wacana studi saja,
jangan sampai hal-hal tersebut menjadi pelengkap iman Kristen atau bahkan
perombak iman Kristen.
3.
Alkitab Di Atas Tradisi, Pengalaman, Dogma, Ilmu, Agama,
Filsafat, dll
Kita boleh
mempelajari filsafat, agama, tradisi, ilmu, bahkan dogma gereja di mana kita
berbakti, namun hendaklah hal-hal tersebut tidak mengikat kita atau
menggantikan otoritas Alkitab dalam iman Kristen. Di sini, kita menyimpulkan
bahwa otoritas Alkitab harus berada di atas semua hal yang kita pelajari.
Artinya, Alkitab menjadi pemimpin sekaligus penghakimi hal-hal yang kita
pelajari. Jika hal-hal yang kita pelajari melawan prinsip Alkitab, kita harus
berani membuangnya, meskipun hal tersebut laris di dunia ini,[1] namun jika
hal-hal yang kita pelajari sesuai dengan prinsip Alkitab, kita harus
mempelajarinya.
Di sinilah
perbedaan antara paham Sola Scriptura
dengan Solo Scriptura. Orang Kristen
yang berpaham Sola Scriptura adalah
mereka yang menjadikan Alkitab sebagai satu-satunya sumber kebenaran yang
melebihi semua tradisi, ilmu, pengalaman, agama, filsafat, dogma, dll. Ini
berarti mereka bukan anti tradisi, pengalaman, dogma, ilmu, filsafat, agama,
dll, tetapi mereka menempatkan Alkitab di atas semua hal tersebut. Hal ini bisa
kita perhatikan dari para reformator mulai dari Dr. Martin Luther dan Dr. John
Calvin. Sebagai penerus Luther, Dr. John Calvin mengutip pendapat-pendapat dari
para bapa gereja seperti Augustinus, dll di dalam bukunya yang terkenal: Institutes of the Christian Religion.
Tidak ada salahnya kita mengikrarkan Pengakuan Iman Rasuli, Pengakuan Iman
Nicea-Konstantinopel, Pengakuan Iman Chalcedon; berpegang pada: Pengakuan Iman
Westminster, Katekismus Heidelberg, dll, namun semuanya itu harus berada di bawah
Alkitab. Alangkah lucunya jika ada orang Kristen yang hafal Pengakuan Iman
Westminster, namun tidak mengerti isi dari Yohanes 14:6.
Sedangkan
orang Kristen yang berpandangan Solo
Scriptura memiliki pandangan ekstrem bahwa karena hanya Alkitab saja menjadi
sumber kebenaran, lalu mereka tidak mau belajar pengakuan iman, sejarah gereja,
buku-buku theologi, buku-buku sekuler, dll, sehingga mereka terjebak ke dalam
fundamentalisme naif.
B.
Alkitab: Jelas
Mengapa
kita percaya bahwa Alkitab sudah cukup menjadi standar kebenaran? Karena kita
percaya bahwa Alkitab itu jelas isinya menyatakan karya sekaligus kehendak
Allah bagi umat-Nya. Apa artinya?
1.
Kejelasan Alkitab Mengakibatkan Orang-orang Kristen Biasa
Mampu Menangkap Apa yang Alkitab Katakan
Karena
Alkitab jelas mengajar karya dan kehendak Allah bagi umat-Nya, maka siapa pun
akan mengerti firman Allah di dalam Kejadian 1:1 berikut ini, “Pada mulanya
Allah menciptakan langit dan bumi.” Tidak perlu
eksegesis PL dan bahasa Ibrani yang rumit untuk mendapatkan pengertian Kejadian
1:1 ini, karena terjemahan LAI saja sudah jelas mengajar orang-orang Kristen
awam yang tak berpendidikan tinggi bahwa alam semesta ini diciptakan oleh
Allah. Demikian juga firman Kristus di Yohanes 3:16 ini, “Karena begitu
besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang
tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan
beroleh hidup yang kekal.” Kedua nats PL dan PB ini sudah jelas mengatakan karya dan
kehendak Allah bagi kita.
Karena
kejelasan Alkitab ini mengakibatkan orang awam pun bisa memahaminya, maka tidak
heran, Alkitab PL dan PB mengatakan agar umat-Nya mengajarkan firman-Nya kepada
anak-anak mereka.[2]
Di PL, Allah sendiri berfirman,
4Dengarlah, hai
orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!
5Kasihilah TUHAN,
Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap
kekuatanmu.
6Apa yang
kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan,
7haruslah engkau mengajarkannya
berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di
rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan
apabila engkau bangun.
Dari empat
ayat di atas, kita belajar bahwa orang Israel dan kita juga harus memiliki pengakuan
iman yang beres (ay. 4) yang disusul dengan aplikasi praktisnya yaitu mengasihi
Allah dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi (ay. 5). Pengakuan iman dan
aplikasi praktis ini harus diperhatikan dan diajarkan oleh orangtua Israel
kepada anak-anak mereka secara berulang-ulang. Caranya? Dengan membicarakannya
ketika anak-anak mereka sedang duduk di rumah, dalam perjalanan, berbaring, dan
bangun (ay. 7).
Perintah
ini diulangi lagi oleh Rasul Paulus di dalam Efesus 6:4, “Dan kamu,
bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi
didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.”
Selain
untuk dimengerti dan diajarkan kepada anak-anak, firman Tuhan juga perlu
direnungkan siang dan malam. Pemazmur mengajar kita,
1Berbahagialah
orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di
jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,
2tetapi yang kesukaannya ialah Taurat
TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.
Karena
firman Tuhan jelas dimengerti, di dalam PB pun, Kristus berulang kali mengutip
kitab-kitab PL, misalnya, “Kata Yesus kepada mereka: "Belum pernahkah
kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah
menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib
di mata kita.” (Mat. 21:42) Dokter Lukas mencatat firman Kristus lainnya,
“Sebab Aku berkata
kepada kamu, bahwa nas Kitab Suci ini harus digenapi pada-Ku: Ia akan terhitung
di antara pemberontak-pemberontak. Sebab apa yang tertulis tentang Aku sedang
digenapi."” (Luk. 22:37)
2.
Kejelasan Alkitab Tidak Berarti Semuanya Pasti Jelas
Meskipun
Alkitab itu jelas isinya dan semua orang bahkan orang non-Kristen pun dapat
membacanya, namun perlu diperhatikan bahwa kejelasan Alkitab tidak berarti
semuanya pasti jelas. Artinya, Alkitab itu jelas dimengerti dengan bahasa
manusia oleh semua manusia, namun Alkitab jelas dimengerti dan kemudian diimani
hanya oleh umat pilihan-Nya. Di sini, kita belajar bahwa meskipun Alkitab jelas
dimengerti oleh semua orang tanpa kecuali, namun hanya umat pilihan-Nya yang
sanggup mengerti dan mengimani isi Alkitab yang jelas tersebut. Pertanyaan
selanjutnya, mengapa? Apakah karena umat pilihan-Nya lebih pandai dari mereka
yang bukan termasuk umat pilihan? Tidak. Mengerti dan mengimani kejelasan
Alkitab bukan sekadar masalah intelektualitas, tetapi masalah kerohanian. Rasul
Paulus mengatakan hal ini di dalam 1 Korintus 2:14-15,
14Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa
yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan
ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.
15Tetapi manusia rohani menilai segala
sesuatu, tetapi ia sendiri tidak dinilai oleh orang lain.
Dengan
kata lain, mereka yang bukan termasuk umat pilihan atau istilah Paulus:
“manusia duniawi” hanya mampu memahami isi Alkitab dengan pengertian manusia
yang berdosa, sehingga jangan heran, mereka menghina salib Kristus. Mengapa?
Paulus menjawabnya, “Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah
kebodohan bagi mereka yang akan binasa, …” (1Kor. 1:18) Dari prinsip ini, kita
belajar bahwa kejeniusan seseorang tidak menjamin bahwa ia dapat memahami
kejelasan Alkitab secara menyeluruh, karena orang yang jenius mungkin saja
jenius dalam hal-hal duniawi, namun tidak dalam hal-hal rohani. Jangan heran,
ketika orang-orang non-Kristen mencaci maki Alkitab dengan menuduh Alkitab,
khususnya Injil, itu palsu, dll melalui berbagai argumentasi yang terlihat
“logis” dengan mengutip ayat-ayat Alkitab, sebenarnya mereka tidak pernah
mengerti Alkitab secara tuntas, karena mereka hanya mengerti Alkitab hanya
sebatas tulisan.
Selain
masalah kerohanian, banyak orang non-Kristen tidak mampu menangkap isi Alkitab
yang jelas ini disebabkan karena mereka sebenarnya tidak mau mengerti Alkitab
dengan perspektif Alkitab. Artinya, orang-orang non-Kristen hanya mau mengerti
Alkitab melalui perspektif mereka yang non-Kristen, sehingga jangan heran,
mereka mengajukan kembali pertanyaan-pertanyaan “klise” yang sudah ditanyakan
berpuluh-puluh tahun dan sudah dijawab, misalnya, “Di Alkitab, ayat mana yang
mengatakan bahwa Yesus adalah Tuhan?”, “naskah Injil di dalam Alkitab itu
palsu”, dll. Di dalam pola pikir mereka, Alkitab harus dipahami dalam
perspektif agama mereka. Namun fakta mengatakan bahwa ketika mereka mendekati
Alkitab dengan pola pikir agama mereka (yang tentunya di luar konteks Alkitab),
tafsiran mereka benar-benar aneh. Mereka mencomot satu ayat dari Alkitab entah
itu PL maupun PB, lalu menafsirkannya sesuai dengan perspektif agama mereka,
tanpa memperhatikan konteks aslinya.
Hal ini
mirip seperti orang Indonesia yang tinggal di Amerika Serikat. Karena baru
beberapa hari tinggal di Amerika, orang Indonesia ini tidak terlalu menguasai
hukum atau peraturan lalu lintas di Amerika, sehingga ketika ia melanggar lalu
lintas misalnya dengan melawan arus jalan (jalan yang harus dilalui satu arah,
tetapi si pengendara mengendarainya dari arah berlawanan) dan ia ditilang oleh
polisi setempat, maka ia akan memberontak dan melawan polisi, seolah-olah
polisi Amerika disamakan dengan polisi di Indonesia. Makin ia marah-marah
dengan polisi Amerika, ia makin diperkarakan di meja hijau. Persis seperti
itulah orang non-Kristen yang memperlakukan Alkitab. Mereka tidak mengerti
bagaimana cara menafsirkan Alkitab, tetapi sok tahu menafsirkan Alkitab dengan
perspektif agama non-Kristen. Bukankah ini suatu keanehan cara berpikir?
3.
Kejelasan Alkitab dan Pentingnya Penafsiran Alkitab
Dari poin
2 di atas, maka kita menyimpulkan bahwa alasan beberapa orang non-Kristen tidak
mengerti isi Alkitab yang jelas adalah alasan rohani sekaligus alasan
presuposisi. Jika karena alasan rohani, saya bisa memaklumi alasan orang
non-Kristen tidak mengerti Alkitab, namun jika karena alasan presuposisi yang
terlalu dipaksakan, bagi saya, orang seperti itu bukan tidak mengerti, tetapi
TIDAK MAU mengerti, karena modal “logika” yang dipunyainya adalah “pokoknya.”
Orang model ini tidak ada bedanya dengan anak kecil yang ketika jatuh
tersandung meja, di mana tentu saja meja yang disalahkan si anak ini. Meja di
mana tetap meja, kebenaran Alkitab tetap kebenaran Alkitab, manusia yang salah,
ya logika sehatnya adalah manusia yang disalahkan, tetapi yang terjadi: Alkitab
yang disalahkan karena tidak sesuai dengan manusia. Suatu kelucuan dan keanehan
cara berpikir dari orang yang mengaku diri “pandai” dan “memiliki rasio.”
Dari
prinsip di atas, kita belajar bahwa meskipun isi Alkitab jelas, namun Alkitab
juga bisa disalah tafsirkan. Oleh karena itu, kita perlu mengerti bagaimana
menafsirkan Alkitab yang tepat, sehingga kita sebagai orang Kristen tidak
ikut-ikutan konyol seperti orang non-Kristen di atas. Kita perlu belajar cara
menafsirkan Alkitab bukan supaya kita terlihat lebih pandai, tetapi agar kita
makin mengerti kehendak Allah bagi iman dan hidup kita sehari-hari.
[1] Jangan salah mengerti bagian ini.
Ketika saya mengatakan bahwa kita harus membuang bagian yang melawan Alkitab,
hal ini TIDAK berarti kita tidak perlu belajar hal-hal yang tidak beres. Maksud
saya adalah kita perlu belajar hal-hal yang tidak beres, namun kita jangan
mengimaninya atau menjadikannya dasar bagi iman Kristen. Dengan kita belajar
hal-hal yang tidak beres, kita mengetahui lubang dari ketidak beresan hal-hal
tersebut, agar nantinya kita bisa mengkritisinya dari perspektif Alkitab.
[2] Wayne Grudem, Systematic Theology, 105-106.
10 May 2012
Bagian 2: Alkitab Berotoritas (Denny Teguh Sutandio)
APAKAH ALKITAB ITU?
Bagian 2: Alkitab Berotoritas
oleh:
Denny Teguh Sutandio
Karena
diwahyukan oleh Allah, maka dengan sendirinya, Alkitab itu berotoritas.
Artinya, Alkitab itu memiliki otoritas atau wibawa penting dalam iman dan
praktik hidup Kristen. Dari mana otoritas Alkitab itu? Apa signifikansi
otoritas Alkitab tersebut? Mari kita membahasnya.
A.
Sumber Otoritas
Alkitab: Allah
Alkitab
itu berotoritas bukan karena Alkitab yang memiliki otoritas di dalam dirinya
sendiri, tetapi karena Allah yang mewahyukan Alkitab itulah menjadi sumber
otoritas Alkitab. Oleh karena Allah itu berotoritas, maka otomatis firman-Nya
yaitu Alkitab juga berotoritas. Oleh karena Allah itu Sumber Kebenaran,
Keadilan, dan Kejujuran, maka apa yang difirman-Nya di dalam Alkitab pasti
berisi kebenaran, keadilan, dan kejujuran. Di sini, kita melihat kaitan erat
antara Alkitab dan Allah. Ketika kita berani menuduh Alkitab salah, maka itu
artinya kita menuduh Allah yang mewahyukan Alkitab itu salah. Jika Allah itu
salah, maka logikanya kita sebagai manusia benar. Pertanyaan selanjutnya, apa
hak kita sebagai manusia yang telah berdosa ini menganggap diri “benar” dan
menuduh Allah salah? Jika kita berani menuduh Allah itu salah, beranikah kita
menggantikan Allah sebagai Pencipta sekaligus Pemelihara alam semesta ini?
Jangankan mencipta alam, kita sebagai manusia lebih sering merusak alam atau
ekstrem lain menyembah alam. Kita sendiri tidak becus bersentuhan dengan alam,
lalu dengan hak apa kita bermimpi mau menggantikan Allah?
Prof.
Wayne Grudem, Ph.D., D.D. mengemukakan,
Semua kata
di dalam Alkitab adalah kata-kata Allah. Oleh sebab itu, tidak mempercayai atau
menaatinya sama dengan tidak mempercayai atau menaati Allah sendiri.[1]
Lebih
jelas lagi, Prof. Wayne Grudem, Ph.D., D.D. mengungkapkan poin penting berikut
ini,
Jika
Alkitab mengiyakan sesuatu yang bertentangan dengan fakta, maka Alkitab tidak
dapat dipercaya. Dan jika Alkitab tidak dapat dipercaya, maka Allah sendiri
juga tidak dapat dipercaya. Mempercayai bahwa Alkitab menegaskan suatu yang
salah sama dengan tidak mempercayai Allah sendiri. Tidak mempercayai Allah
sendiri berarti menempatkan diri Anda sebagai otoritas yang lebih tinggi dengan
pengertian yang lebih dalam terhadap topik itu daripada Allah sendiri.[2]
B.
Signifikansi Otoritas
Alkitab
Jika
Alkitab berotoritas karena sumber otoritas itu berasal dari Allah, maka apa
signifikansinya bagi kita?
1.
Alkitab: Otoritas dalam Menafsirkan Alkitab
Karena
sumber otoritas Alkitab adalah Allah, maka biarkanlah Allah menjelaskan arti
firman-Nya di dalam Alkitab. Bagaimana caranya? Selain kita harus meminta Roh
Kudus menerangi hati dan pikiran kita ketika kita membaca Alkitab, kita perlu
menggunakan Alkitab itu sebagai otoritas mutlak dalam menafsirkan Alkitab.
Artinya, biarkan Alkitab menjelaskan dirinya sendiri. Caranya adalah dengan
kita memperhatikan dengan saksama apa maksud penulis Alkitab menulis hal
tersebut, apa konteks historisnya, dll. Jika kita kurang mengerti maksud
pengajaran tertentu di dalam suatu kitab karena si penulis Alkitab kurang
lengkap membahas pengajaran tersebut di dalam suatu kitab, maka di kitab
lainnya, penulis yang sama atau penulis yang berbeda akan membahasnya secara
lebih jelas.
Semua hal
tersebut ada di dalam prinsip-prinsip dasar maupun khusus dalam menafsirkan Alkitab.
Prinsip-prinsip menafsirkan Alkitab TIDAK dimaksudkan membatasi firman-Nya,
tetapi sebagai dasar kita dapat mengerti maksud asli penulis sesuai dengan
konteks historis yang sebenarnya.
2.
Alkitab: Otoritas dalam Membangun Doktrin dan Praktik Hidup
Kristen yang Beres
Selain
sebagai otoritas dalam menafsirkan Alkitab, maka Alkitab juga menjadi otoritas
mutlak dalam membangun semua pengajaran iman Kristen yang beres. Oleh karena
itu, doktrin Alkitab (Bibliologi) merupakan doktrin terpenting di dalam seluruh
theologi sistematika.[3] Di dalam Bab 1,
halaman 1, paragraf 1 dalam bukunya “Kebenaran yang Memerdekakan”, Prof. Wayne
Grudem, Ph.D., D.D. mengungkapkan,
Pandangan
apa pun yang bisa dipertanggungjawabkan mengenai suatu keyakinan Kristen
seharusnya didasarkan pada apa yang Allah katakan tentang keyakinan tersebut.
Dengan demikian ketika kita mulai membahas tentang serangkaian keyakinan dasar
Kristen, sangatlah tepat jika kita memulainya dengan membahas dasar dari
kepercayaan-kepercayaan ini – firman Allah atau Alkitab.[4]
Di dalam
buku “Systematic Theology: An
Introduction to Biblical Doctrine”, Dr. Wayne Grudem menempatkan doktrin
Alkitab mendahului doktrin Allah sebagai pembahasannya.
Dari pola
pikir ini, maka kita berani menyimpulkan bahwa kesalahan banyak orang Kristen
dalam membangun iman dan praktik hidup Kristen terletak pada kesalahan cara
pandang terhadap Alkitab. Mungkin sekali, mereka memandang Alkitab tidak
berotoritas atau meskipun mereka mempercayai Alkitab sebagai firman Allah yang
berotoritas, iman mereka hanya berhenti di tataran pengakuan mulut, namun tidak
diaplikasikan.
Oleh
karena itu, sangat penting bagi orang Kristen untuk menempatkan Alkitab sebagai
satu-satunya sumber bagi doktrin dan praktik hidup Kristen. Lalu, bagaimana
caranya menempatkan Alkitab sebagai satu-satunya sumber bagi doktrin dan
praktik hidup Kristen?
a)
Otoritas Alkitab dalam Membangun Doktrin Kristen
Karena
Alkitab adalah satu-satunya sumber iman Kristen, maka dari Alkitab lah, kita
harus membangun ajaran Kristen yang bertanggung jawab. Bagaimana caranya?
Caranya adalah dengan menyelidiki Alkitab dari PL hingga PB secara tuntas dan
komprehensif. Dengan penyelidikan Alkitab secara akurat, maka kita dapat
membangun sebuah doktrin Kristen yang utuh dan tidak terpecah-pecah. Sebuah
doktrin Kristen yang terpecah-pecah dikarenakan doktrin tersebut dibangun di
atas dasar bagian Alkitab tertentu, namun mengabaikan bagian-bagian Alkitab
yang lain, akibatnya orang Kristen tersebut menekankan satu doktrin tertentu,
lalu mengabaikan doktrin yang lain.
Misalnya,
iman Kristen orthodoks percaya bahwa Allah itu 3 pribadi di dalam 1 esensi
Allah atau yang disebut Allah Tritunggal. Doktrin ini bukan doktrin yang
sembarangan dicetuskan oleh para bapa gereja, tetapi dibangun di atas dasar
Alkitab yang jelas. Di dalam PL, konsep ini memang samar-samar, tetapi di dalam
PB, konsep ini cukup jelas, meskipun tidak mengeluarkan istilah “Tritunggal.”
Di dalam PB, kita membaca firman Kristus sendiri tentang amanat agung,
19Karena itu
pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama
Bapa dan Anak dan Roh Kudus,
20dan ajarlah
mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan
ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Mat. 28:19-20)
Ketika kita membaca ayat 19 di atas khusus yang digaris
bawahi, kita mendapatkan frase “nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” Kata “nama”
dalam ayat ini dalam teks Yunaninya: ὄνομα (onoma)
merupakan kata benda yang berfungsi sebagai objek langsung (akusatif) dan
berbentuk tunggal. Kemudian, penyebutan “Bapa dan Anak dan Roh Kudus” dalam
teks Yunaninya:
τοῦ πατρὸς καὶ τοῦ υἱοῦ καὶ τοῦ ἁγίου πνεύματος
(tou patros kai tou huiou kai tou hagiou pneumatos).
Kata Yunani τοῦ (tou) berarti kata sandang “Sang” (Ing.: the), lalu kata καὶ (kai) berarti “dan.” Sehingga dari
teks Yunani, dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: “Sang Bapa dan
Sang Anak dan Sang Roh Kudus”. Penempatan
kata “Sang” di depan
masing-masing Pribadi: Bapa, Anak, dan Roh Kudus menunjukkan bahwa ketiga
pribadi ini berbeda. Oleh karena itu, sudah sangat jelas, penyebutan ketiga
pribadi Allah menunjukkan bahwa pribadi Allah bukan satu, tetapi tiga.
Konsep ini
diulang kembali oleh Rasul Paulus di dalam suratnya yang kedua kepada jemaat
Korintus, “Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan
kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.” (2Kor. 13:13)
Teks Yunani versi GNT (Greek New
Testament) berbunyi demikian:
Ἡ χάρις τοῦ κυρίου Ἰησοῦ Χριστοῦ καὶ ἡ ἀγάπη τοῦ θεοῦ καὶ ἡ κοινωνία τοῦ ἁγίου πνεύματος μετὰ πάντων ὑμῶν.
(Hē kharis tou kuriou Iēsou Khristou kai hē agapē tou Theou kai hē koinōnia tou hagiou pneumatos meta pantōn hymōn)
Kembali, kata Yunani τοῦ (tou) muncul kembali di depan
masing-masing ketiga pribadi Allah, namun di ayat ini, urutannya terbalik dari
Matius 28:19.
Rasul Petrus
menyebut 3 pribadi Allah ini untuk menjelaskan siapakah orang Kristen
sebenarnya, “yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai
dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh,
supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya.
Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu.” (1Ptr. 1:2)
Dari tiga bagian
Alkitab PB ini, maka tidaklah salah ketika kita mengambil kesimpulan bahwa
Allah Tritunggal yaitu 3 pribadi Allah yang berbeda namun satu hakikat adalah
ajaran Alkitab yang menyeluruh.
b)
Otoritas Alkitab dalam Membangun Praktik Hidup Kristen
Selain
untuk membangun doktrin Kristen, Alkitab juga berotoritas dalam membangun
praktik hidup Kristen. Artinya, segala sesuatu berkenaan dengan praktik hidup
Kristen entah itu kerohanian, etika, kehidupan sosial, pendidikan, politik,
ekonomi, hukum, dll harus dibangun di atas dasar Alkitab yang berotoritas. Di
sini, kita belajar poin penting bahwa iman Kristen bukanlah iman yang hanya
berkonsentrasi pada doktrin, tetapi juga berimplikasi pada kehidupan manusia
sehari-hari. Poin ini juga mengajar kita pentingnya integrasi antara iman
Kristen dengan semua aspek kehidupan, sehingga kita menjadi anak-anak Tuhan
yang hidup berintegritas dan berintegrasi antara iman dan aspek kehidupan.
Bagaimana
cara menempatkan otoritas Alkitab dalam membangun praktik hidup Kristen?
Sebelumnya, kita harus memperhatikan prinsip penting terlebih dahulu: Alkitab
memang menjadi pedoman bagi tingkah laku Kristen yang sehat, namun Alkitab
TIDAK mengatur seluruh aspek kehidupan kita hingga detail, misalnya, apakah
kita boleh berbisnis MLM (Multi Level
Marketing), dll, karena budaya kita berbeda dari budaya Alkitab. Dari
prinsip ini, kita belajar bahwa berkenaan dengan aspek kehidupan praktis
Kristen, Alkitab hanya memberikan prinsip-prinsip dasar dan penting,
selanjutnya sebagai aplikasi praktis, orang Kristen dapat menarik implikasinya
masing-masing sesuai dengan prinsip dasar Alkitab tersebut. Perbedaan cara
pandang terhadap implikasi dari prinsip dasar Alkitab itu tidak menjadi masalah
dan bisa didiskusikan. Oleh karena itu, perbedaan pandangan apakah wanita boleh
ditahbiskan menjadi pendeta atau tidak seharusnya tidak perlu menjadi bahan
perdebatan, sehingga antar gereja saling berselisih hanya gara-gara masalah
tersebut. Berhentilah berdebat hanya karena masalah sekunder bahkan tersier!
[1] Wayne Grudem, Kebenaran yang Memerdekakan, 1.
[2] Ibid., 5.
[3] Di dalam beberapa buku theologi
sistematika, ada yang menempatkan doktrin Allah sebagai doktrin terpenting,
baru kemudian menyusul doktrin Alkitab. Namun bagi saya, doktrin Alkitab adalah
doktrin yang terpenting, karena dari Alkitab, kita baru dapat mengenal Allah
secara khusus.
[4] Wayne Grudem, Kebenaran yang Memerdekakan, 1.
Subscribe to:
Posts (Atom)
