16 September 2007

THEOLOGIA PUASA : Analisa Kritis Alkitab tentang Makna dan Motivasi Puasa yang Beres dan Bertanggungjawab di Mata Allah (Denny Teguh Sutandio, S.S.)

THEOLOGIA PUASA :
Analisa Kritis Alkitab Tentang Makna dan Motivasi Puasa yang Beres dan Bertanggungjawab di Mata Allah

oleh : Denny Teguh Sutandio, S.S.



Kamis, 13 September 2007, orang-orang Islam mulai menjalankan puasa sebulan penuh menyambut bulan “suci” Ramadhan. Mereka beramai-ramai berpuasa untuk “mengekang hawa nafsu” dan “memperkuat iman”. Mari kita memikirkan dengan tajam topik tentang puasa dalam perspektif dunia dan agama-agama, iman “Kristen” dan iman Kristen yang beres berdasarkan Alkitab.

Puasa Menurut Islam
Islam adalah agama terbesar di Indonesia. Oleh karena itu, mari kita mempelajari makna puasa menurut Islam dari beberapa sumber wikipedia di bawah ini.

Dalam Islam, puasa berarti “menahan diri dari makan dan minum dan dari segala perbuatan yang boleh membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hinggalah terbenam
matahari, untuk meningkatkan ketakwaan seorang muslim.” Perintah puasa difirmankan di dalam Quran surat Al-Baqarah ayat 183. Berpuasa merupakan salah satu dari lima Rukun Islam.

Jenis-jenis Puasa di dalam Islam :
· Puasa yang hukumnya
wajib
o Puasa
Ramadan
o Puasa karena
nazar
o Puasa kifarat atau denda
· Puasa yang hukumnya
sunah
o Puasa 6 hari di bulan
Syawal
o
Puasa Arafah
o Puasa
Senin-Kamis
o Puasa Daud (sehari puasa, sehari tidak)

Hikmah dari ibadah shaum (puasa) itu sendiri adalah melatih manusia untuk sabar dalam menjalani hidup.

Selain itu, puasa juga “abstaining from any falsehood in speech and action, from any ignorant and indecent speech, and from arguing and fighting, and lustful thoughts. Therefore, fasting helps develop good
behavior. Fasting also inculcates a sense of fraternity and solidarity, as Muslims feel and experience what their needy and hungry brothers and sisters feel. However, even the poor, needy, and hungry participate in the fast. Moreover, Ramadan is a month of giving charity and sharing meals to break the fast together.” (=menjauhkan diri dari segala kebohongan di dalam perkataan dan tindakan, dari berbagai perkataan yang bodoh dan cabul/tidak pantas, dan dari perdebatan dan perkelahian, dan pikiran jorok. Oleh karena itu, puasa menolong mengembangkan tingkah laku yang baik. Puasa juga mengajarkan berulang-ulang pengertian persaudaraan dan solidaritas, sebagaimana orang-orang Islam merasa dan mengalami apa yang dirasakan oleh saudara-saudaranya yang membutuhkan dan lapar. Bagaimanapun juga, baik orang miskin, membutuhkan, dan lapar berpartisipasi di dalam puasa. Lebih lanjut, Ramadan adalah bulan untuk memberi sedekah dan berbagi makanan untuk mengerti puasa bersama.)

Lebih lanjut, puasa di dalam Islam dimulai pada Sahur (sebelum subuh), Imsak (kira-kira 10 menit setelah Sahur) dan diakhiri dengan berbuka (kira-kira sore sampai petang hari).

Selain itu, makan, minum dan hubungan seksual dilarang selama puasa. Di dalam puasa, mereka juga harus menahan diri dari kejahatan, kemarahan, cemburu/iri hati, kerakusan, hawa nafsu, memfitnah, dan berusaha untuk akur satu sama lain lebih baik dari biasanya. Dan juga, segala penglihatan dan suara-suara yang cabul dan tidak beragama (irreligious) dilarang selama puasa. Puasa juga sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada “Allah” dan juga sebagai sarana untuk menghapus dosa. Selain itu, puasa juga sebagai sarana untuk mengontrol diri dan sabar. Golongan orang-orang yang tidak boleh berpuasa adalah anak-anak yang belum mengalami pubertas, orang yang mengalami diabetes, dan wanita melahirkan/hamil.

Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Puasa_(Islam), http://en.wikipedia.org/wiki/Fasting dan http://en.wikipedia.org/wiki/Ramadan




Puasa Menurut Agama-agama Dunia
Hampir sama seperti Islam, agama-agama dunia juga mengajarkan tentang puasa sebagai sarana penyangkalan diri. Mari kita simak penjelasan puasa dari berbagai agama dunia.

In the
Bahá'í Faith, fasting is observed from sunrise to sunset during the Bahá'í month of `Ala' (between March 2 through March 20). Bahá'u'lláh established the guidelines in the Kitáb-i-Aqdas. It is the complete abstaining from both food and drink (including abstaining from smoking). Observing the fast is an individual obligation, and is binding on all Bahá'ís who have reached the age of maturity, which is fifteen years of age…The Guardian of the Bahá'í Faith, Shoghi Effendi, explains: "It is essentially a period of meditation and prayer, of spiritual recuperation, during which the believer must strive to make the necessary readjustments in his inner life, and to refresh and reinvigorate the spiritual forces latent in his soul. Its significance and purpose are, therefore, fundamentally spiritual in character. Fasting is symbolic, and a reminder of abstinence from selfish and carnal desires." (=Dalam iman Bahá'í, puasa dirayakan dari matahari terbit sampai matahari terbenam selama bulan Bahá'í ‘Ala’ {antara 2 Maret sampai 20 Maret} Bahá'u'lláh menegakkan peraturan ini di dalam Kitáb-i-Aqdas. Itu adalah benar-benar menjauhkan diri baik dari makanan dan minuman {termasuk menjauhkan diri dari merokok}. Menjalankan puasa adalah sebuah kewajiban individu, dan itu bersifat mengikat pada semua orang Bahá'í yang telah mencapai usia kedewasaan, yaitu berusia 15 tahun… Pemimpin Bahá'í, Shoghi Effendi menjelaskan, “Pada dasarnya periode meditasi dan doa, akan penyembuhan spiritual kembali, selama orang-orang beriman harus berusaha keras untuk membuat pentingnya penyesuaian kembali di dalam inti hidupnya, dan untuk menyegarkan dan menguatkan kembali kekuatan spiritual yang tersembunyi di dalam jiwanya. Oleh karena itu, signifikansi dan tujuannya adalah secara dasar spiritual di dalam karakter. Puasa adalah simbol, dan pengingat akan pantang dari mementingkan diri sendiri dan keinginan duniawi.” )

Buddhist monks and nuns following the
Vinaya rules commonly do not eat each day after the noon meal, though many orders today do not enforce this. This is not considered a fast, but rather a disciplined regiment aiding in meditation. Fasting is generally considered by Buddhists as a form of asceticism (=Para rahib dan biarawati Buddha mengikuti aturan Vinaya tidak makan selama sehari setelah makan siang, meskipun banyak aturan sekarang tidak memaksakan hal ini. Ini tidak dianggap sebagai puasa, tetapi lebih sebagai pertolongan peraturan disiplin di dalam meditasi. Puasa secara umum dianggap oleh Buddhist sebagai bentuk dari asketisme…)

Fasting is a very integral part of the
Hindu religion. Individuals observe different kinds of fasts based on personal beliefs and local customs… Fasting can also mean limiting oneself to one meal during the day and/or abstaining from eating certain food types and/or eating only certain food types. In any case, even if the fasting Hindu is non-vegetarian, he/she is not supposed to eat or even touch any animal products (i.e. meat, eggs) on a day of fasting. (=Puasa adalah bagian yang sangat integral di dalam agama Hindu. Orang-orang melaksanakan berbagai bentuk puasa berdasarkan kepercayaan pribadi dan kebudayaan lokal… Puasa juga dapat berarti membatasi diri terhadap makanan selama selama dan/atau menjauhkan dari makan beberapa jenis makanan dan/atau makan hanya beberapa macam makanan. Dalam pengertian lain, meskipun puasa Hindu adalah non-vegetarian/bukan makan sayur-sayuran), dia tidak berarti untuk makan atau pun menyentuh hasil-hasil dari binatang {seperti : daging, telur} selama bulan puasa.)

Sumber :
http://en.wikipedia.org/wiki/Fasting




Kesimpulan Puasa-puasa Menurut Islam dan Agama-agama Dunia
Dari beberapa gambaran di atas, maka kita dapat mengambil kesimpulan tentang prinsip-prinsip puasa yang dimengerti di dalam agama-agama dunia :
· Puasa adalah usaha untuk menahan diri dari pencobaan dan berusaha “berbuat baik”.
Pertama, menurut Islam dan agama-agama dunia, puasa adalah usaha untuk menahan diri dari berbagai pencobaan, misalnya makanan, minuman, hal-hal jorok, fitnah, iri, sombong, dll, bahkan menurut mereka, mereka diajar untuk berbuat baik dan meningkatkan solidaritas dengan orang lain khusus selama “bulan puasa” mereka.

· Puasa adalah usaha untuk mendekatkan diri kepada “Tuhan”.
Kedua, selain menahan diri dari pencobaan, puasa juga sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada “Tuhan”. Mengapa harus menggunakan puasa ? Karena puasa yang juga disebut bertarak adalah usaha untuk menyiksa tubuh/jasmani agar diperkenan oleh “Tuhan”. Filsafat ini dipengaruhi oleh asketisme yang berakar dari Platonisme yang mendualismekan antara hal-hal jasmani dengan rohani dengan mengajarkan bahwa tubuh ini jahat dan roh/jiwa itu baik. Di dalam Buddhisme, Hinduisme dan Gerakan Zaman Baru (tiga ajaran ini seazas) yang mengembangkan konsep berpikir Platonisme, puasa dimengerti sebagai usaha untuk menyiksa tubuh karena tubuh ini jahat. Di dalam ke“Kristen”an pun, beberapa orang “Kristen” secara tidak sadar mengajarkan filsafat atheis Plato ini dengan mengatakan bahwa agama dan ilmu itu tidak ada hubungannya.

· Puasa adalah usaha untuk menyegarkan kembali tubuh.
Ketiga, puasa juga sebagai sarana untuk menyegarkan kembali tubuh. Ini adalah alasan kesehatan/medis. Selain alasan medis, menurut iman Bahá'í, puasa dipandang sebagai sarana untuk menyegarkan kembali kekuatan spiritual yang tersembunyi di dalam jiwa manusia (baca : ajaran Bahá'í di atas yang saya garisbawahi). Di dalam iman ini sudah mengandung unsur Gerakan Zaman Baru yang mengajarkan bahwa manusia memiliki potensi yang luar biasa bahkan manusia adalah ilah-ilah kecil (little gods). Tidak heran, untuk meningkatkan kekuatan dan potensi yang luar biasa ini, puasa di dalam Gerakan Zaman Baru sangat penting.

· Puasa sebagai sarana penebus/penghapus dosa.
Terakhir, di dalam Islam, puasa dimengerti sebagai sarana penghapus dosa. Dengan kata lain, berbuat apa sajalah sebelum bulan puasa, maka di bulan puasa, berpuasalah dengan giat, maka “percaya”lah, semua dosa yang telah dilakukan sebelumnya dihapuskan. Di sini, kita melihat kelemahan fatal konsep tentang dosa.




Puasa Menurut “Kristen”
Meskipun berbeda dari semua agama dunia yang antroposentris, keKristenan seharusnya menyerukan konsep dan makna puasa yang berbeda, tetapi sayangnya, banyak orang-orang “Kristen” saat ini terutama yang dipengaruhi oleh banyak gereja pop yang mengajarkan materialisme dan humanisme ternyata memiliki kepercayaan yang tidak jauh berbeda dengan konsep puasa di dalam agama-agama dunia di atas. Ketika Islam sedang menjalankan puasa, sebuah gereja Karismatik “terbesar” di Surabaya pun juga melangsungkan puasa raya bagi jemaat-jemaatnya selama 40 hari 40 malam, entah apa motivasinya. Selain gereja ini, banyak gereja Karismatik/Pentakosta juga gemar melakukan doa puasa, puasa raya, dll dengan presuposisi dasar bahwa dengan doa berpuasa, maka Tuhan pasti mendengar doa dan permintaannya. Dengan kata lain, motivasi mereka berpuasa bukan untuk memuliakan Tuhan, tetapi untuk memuaskan hawa nafsunya yang berdosa.

Berbeda dari banyak gereja Karismatik, gereja-gereja Katolik melangsung puasa daging sebelum Jumat Agung. Puasa daging dimaksud agar jemaat-jemaat Katolik mengenang kesengsaraan Tuhan Yesus dengan tidak makan daging. Meskipun hal ini mengandung unsur moral dan spiritual yang “cukup baik”, tetapi ada banyak kelemahan di dalam pengajaran ini.




Tinjauan Kritis Terhadap Puasa Duniawi dari Sudut Pandang Alkitab
Ketika kita mengamati puasa menurut pandangan agama-agama dunia, kita melihat adanya unsur antroposentris (man-centered) di dalam puasa, meskipun dibalut dengan unsur-unsur “rohani”. Mari kita mengkritisi hal ini.
Pertama, puasa menurut agama dunia adalah usaha untuk menjauhkan diri dari pencobaan dan berusaha berbuat “baik”. Benarkah mereka berbuat “baik” ? Mari kita melihat faktanya. Selama bulan puasa yang sedang berlangsung sejak 13 September 2007, bukan hanya tidak baik, banyak pelaku puasa bertindak tidak ada bedanya dengan orang atheis. Buktinya, Minggu pagi ini, 16 September 2007, di daerah Surabaya Barat, di sebuah jalan menuju Supermal Pakuwon Indah/Pakuwon Trade Center, Surabaya, banyak trek-trekan sepeda motor yang mengebut. Anehnya, ketika harga bensin naik, mereka semua protes, padahal mereka sendiri memboroskan bensin untuk hal-hal yang tidak berguna sama sekali. Kasus kedua, selama puasa, surat kabar Indonesia tentunya tetap dipenuhi oleh berita-berita kriminalitas, seperti : korupsi, pencurian anak, penjambretan, dll. Inikah berbuat “baik” ? Kasus ketiga, perhatikanlah para polisi di jalan, benarkah mereka berbuat “baik” ? Bukan hanya hampir tidak pernah berbuat “baik” dengan menunjukkan jalan kepada orang yang salah jalannya, malahan mereka sengaja membiarkan orang yang salah jalan lalu memberhentikan mobilnya lalu menilangnya (meskipun banyak yang menilang tanpa alasan/bukti yang kuat atau dengan kata lain, menilang demi mendapatkan uang untuk berbuka puasa). Kasus keempat, selama bulan puasa, ciumlah bau mulut para pegawai Anda, maka terciumlah bau yang ajubilah tidak sedap karena mereka berpuasa/tidak boleh minum air dan menggosok gigi. Jika demikian, apakah mereka sedang berbuat “baik” dengan memperhatikan orang lain ?
Bukan hanya tidak berbuat “baik”, benarkah mereka menjauhkan diri dari pencobaan ? Saya hanya tertawa geli membaca pernyataan mereka tentang hal ini. Bagaimana ada pencobaan, lha wong, pencobaan itu mereka singkirkan sendiri dengan cara memberlakukan peraturan untuk menutup semua restoran, tempat kemaksiatan (seperti club, diskotek, dll) selama bulan puasa. Kedua, mereka berpuasa sebenarnya tidak sedang menjauhkan diri dari pencobaan, tetapi memendam sebentar terhadap pencobaan. Pada hari Jumat, 14 September 2007, ketika melintasi Jalan Raya Darmo, Surabaya, saya (dan ayah saya) membaca sebuah billboard besar dari iklan rokok yang bertuliskan, “Siang dipendam, malam balas dendam.” Ketika membaca tulisan itu, serentak ayah saya dan saya tertawa membacanya, karena pernyataan itu jelas sedang menyindir mereka yang sedang berpuasa. Mengapa saya katakan itu menyindir ? Karena selama bulan puasa, mungkin di siang hari, mereka kelihatan alim, “rohani”, religius di mata masyarakat (karena di TV, radio, jalan-jalan, bahkan beberapa gereja yang dipengaruhi oleh “theologia” religionum, dll, semua dipenuhi dengan atribut religius tentang puasa), tetapi coba lihatlah keadaan lain di malam hari, terutama di mal dan restoran mahal. Kalau di hari-hari biasa, mal dan restoran mahal/mewah hanya dipenuhi oleh orang-orang kaya/mampu, sedangkan orang-orang yang pas-pasan hidupnya jarang ke mal atau restoran mewah (ini bukan diskriminasi). Tetapi coba Anda lihat pas di bulan puasa, Anda pasti menemukan orang-orang yang hidupnya pas-pasan berbuka puasa di restoran mewah dan di mal-mal. Kemarin, Sabtu, 15 September 2007, Supermal Pakuwon Indah, Surabaya tiba-tiba penuh, jangan heran pula di restoran mewah, banyak orang yang berbuka puasa. Dengan kata lain, benarlah pernyataan sebuah billboard tadi bahwa ketika siang mereka tampak alim (dipendam), tetapi ketika malam hari, mereka balas dendam karena tidak kuat dipendam seharian. Inikah menjauhkan diri dari pencobaan ??

Kedua, puasa sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada “Tuhan” dengan cara menyiksa diri. Bertarak atau askese memang adalah suatu filsafat asketisme yang menyiksa tubuh agar diperkenan oleh “Tuhan”, karena yang spiritual/rohani tidak bisa sesuai dengan yang jasmani (dualisme antara jasmani dan rohani). Sepintas hal ini sesuai dengan Alkitab yang mengajarkan bahwa keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh, tetapi jika kita telusuri filsafat di balik pengajaran ini sangat berbahaya. Dualisme Plato yang mempengaruhi Gnostisisme (melahirkan “injil-injil” Gnostik, seperti “injil” Thomas, Yudas, Maria Magdalena, dll) mengajarkan bahwa tubuh ini jahat sehingga harus dihancurkan demi jiwa yang baik. Keselamatan di dalam agama-agama yang dipengaruhi oleh Gnostisisme ini (Hindu dan Buddha) adalah terlepasnya jiwa dari tubuh yang jahat ini. Dengan kata lain, Gnostisisme di titik pertama sudah menghina ciptaan Tuhan sendiri. Alkitab mengajarkan bahwa Allah menciptakan manusia sesuai gambar dan rupa-Nya menurut peta teladan Allah. Adam dan Hawa dicipta oleh Allah dan Allah mengatakannya “sungguh amat baik” (Kejadian 1:31). Tetapi herannya, manusia ciptaan-Nya malahan mengatakan bahwa ciptaan-Nya (meliputi tubuh manusia) itu jahat dan harus dibinasakan. Begitu berdosanya manusia yang tidak pernah sadar diri berdosa. Bukan hanya berkenaan dengan ciptaan yang mengatakan bahwa tubuh ini baik, di dalam Alkitab juga disebutkan bahwa sebagai umat pilihan-Nya, kita akan dibangkitkan secara tubuh pada saat kedatangan Kristus kedua kalinya dengan dasar kebangkitan Kristus secara jasmani (1 Korintus 15:12-58). Artinya karena Kristus sudah bangkit secara tubuh (bukan secara rohani seperti yang dipaparkan oleh “Pdt. Dr.” Ioanes Rachmat), maka kita pun sebagai umat pilihan-Nya akan dibangkitkan secara tubuh dan tubuh kita akan diubahkan menjadi tubuh surgawi yang tidak bisa binasa. Puji Tuhan ! Kebangkitan Kristus menjamin kebangkitan tubuh umat pilihan-Nya kelak pada saat Kristus datang kedua kalinya.

Ketiga, puasa adalah sarana untuk menyegarkan kembali tubuh bahkan membangkitkan kekuatan spiritual di dalam jiwa manusia. Kalau untuk alasan medis, hal ini bisa dibenarkan (secara umum) yaitu puasa dapat menyegarkan kembali tubuh, tetapi sekali lagi itu untuk alasan yang berpusat pada manusia bukan untuk memuliakan Allah. Tetapi kalau puasa sudah menyangkut unsur Gerakan Zaman Baru yaitu membangkitkan kekuatan spiritual yang lagi tertidur, itu sudah salah. Adalah sangat mengasihankan jika puasa hanya dipandang sebagai usaha untuk membangkitkan kekuatan spiritual, karena kekuatan spiritual sedemikian ditingkatkan hanya ketika jasmani dimatikan. KeKristenan dari sudut pandang Alkitab mengkritisi hal ini dan membuktikan kelemahan pandangan Gerakan Zaman Baru. KeKristenan sangat menghargai tubuh jasmani karena dua alasan, yaitu : penciptaan tubuh oleh Allah dan kebangkitan tubuh umat pilihan-Nya pada saat kedatangan Kristus yang kedua kalinya. Menghina tubuh jasmani ciptaan Allah sama artinya menghina Allah sebagai Pencipta. Bukan hanya menghargai tubuh jasmani, kita harus memakainya untuk memuliakan Allah. Rasul Paulus mengatakan di dalam Roma 12:1-2, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Ibadah yang sejati di dalam konsep Kristen tidak seperti ibadah agama-agama sekuler yang antroposentris yang menghina tubuh, tetapi ibadah Kristen justru mempersembahkan tubuh untuk dikuduskan oleh Allah dan bagi kemuliaan Allah. Di dalam 1 Korintus 6:19-20, Rasul Paulus bahkan berkata, “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, --dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” Dua premis yang diajarkan Paulus di dalam bagian ini, yaitu : pertama, tubuh kita yang dikuduskan adalah bait Roh Kudus. Artinya, di dalam tubuh kita, Roh Kudus berdiam. Kedua, karena Roh Kudus berdiam di dalam tubuh kita dan Kristus telah menebus kita baik tubuh maupun jiwa, maka kita harus memuliakan Allah dengan tubuh kita. Ingatlah, Kristus menebus kita bukan hanya jiwa saja, tetapi juga tubuh, sehingga nanti pada saat Kristus datang kedua kalinya, kita akan dibangkitkan secara tubuh. Pengertian Kristen akan tubuh jasmani ini jauh melampaui semua pengertian tubuh jasmani dari filsafat maupun agama manapun di dunia ini, karena Alkitab adalah Firman Allah yang jauh melampaui hikmat manusia yang terbatas dan berdosa, tetapi herannya tidak pernah sadar terbatas dan berdosa.

Keempat, puasa sebagai sarana penghapus dosa. Lebih mengasihankan lagi, ketika puasa dimengerti sebagai sarana penghapus dosa. Dengan kata lain, berbuat dosa lah sebejat mungkin, korupsi lah sebanyak mungkin, berzinahlah dengan semua perempuan (kalau perlu), maka untuk membersihkan semua aib dosa ini, marilah berpuasa. Orang yang berpikiran normal akan tertawa membaca dan mengerti pernyataan ini. Perbuatan baik bisa menebus dan menghapus dosa ? Seorang filsuf atheis saja pernah mengatakan bahwa kebajikan itu dilakukan untuk kebajikan itu sendiri. Bagaimana mungkin orang yang mengaku diri beragama bahkan pemimpin agama mengajarkan bahwa perbuatan baik dilakukan supaya masuk “surga” dan menghapus dosa. Bahkan ada yang mengajarkan perbuatan baik kita nanti ditimbang di “akhirat”, kalau perbuatan baik kita lebih berat daripada perbuatan jahat, kita bakal masuk “surga”, sedangkan kalau sebaliknya, maka kita bakal masuk “neraka”. Pdt. Thomy J. Matakupan (GRII Andhika, Surabaya) pernah menanyakan konsep tidak masuk akal ini, jika timbangannya seimbang, bagaimana jadinya ? Lantas, timbullah jawaban bahwa tergantung angin mana yang bertiup, kalau angin “surga” bertiup, maka orang itu masuk “surga”, tetapi jika apesnya, angin “neraka” bertiup, maka orang itu masuk neraka. Dengan kata lain, ketika orang beragama berbuat “baik”, mereka melakukannya demi “sesuap icipan ‘surga’”. Sungguh mengasihankan konsep ini.




Theologia Puasa Menurut Alkitab
Lalu, bagaimana tanggapan dan jawaban pengajaran Alkitab tentang puasa ? Puasa di dalam keKristenan tidak bisa dipisahkan dari doktrin/theologia, maka judul dari artikel ini adalah Theologia Puasa. Spiritualitas/kerohanian yang beres tidak bisa dilepaskan dari theologia yang sehat dan bertanggungjawab, sehingga ketika theologianya kacau dan tidak karuan (Jawa : amburadul), maka dapat dipastikan menghasilkan kerohanian yang kacau dan tidak berdasar. Oleh karena itu, mari kita belajar tentang doktrin berpuasa ini.

Theologia puasa yang berdasarkan Alkitab tidak bisa dilepaskan dari pengakuan inti Alkitab tentang kedaulatan Allah. Theologia Reformed yang berintikan kedaulatan Allah mengajarkan bahwa Allah itu adalah Allah yang Berdaulat, Kekal, yang mutlak pada diri (self-existence of God), tidak bergantung pada siapa dan apapun juga, Mahakudus, Mahaadil, Mahakasih, Kebenaran sejati (Inggris : Truth ; Yunani : aletheia) dan Sumber Kejujuran Sejati. Sehingga di dalam doktrin kedaulatan Allah, Allah yang Mahakuasa dan di luar Allah, makhluk ciptaan-Nya harus tunduk dan taat mutlak kepada-Nya. Tetapi kedaulatan Allah TIDAK pernah meniadakan tindakan manusia, sehingga di dalam theologia Reformed, kita mendapatkan keseimbangan yang konsisten sesuai dengan Alkitab bahwa kedaulatan Allah dan tindakan manusia bekerja bersama-sama (tetapi tidak di dalam hal iman dan keselamatan). Sedangkan “theologia” Arminian terlalu menekankan kehendak bebas manusia dan menghina kedaulatan Allah, di lain pihak Hyper-Calvinisme terlelau menekankan kedaulatan Allah dan membuang tindakan manusia, sehingga Hyper-Calvinisme lebih mirip takdirisme ketimbang ajaran Alkitab. Meskipun adanya keseimbangan antara kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia, theologia Reformed tetap menekankan kedaulatan Allah yang memimpin dan menuntun tanggung jawab manusia. Dengan kata lain, kehendak dan wahyu-Nya menjadi standar bagi umat-Nya untuk memuliakan-Nya. Artinya, wahyu-Nya memimpin manusia makin mengenal apa yang diinginkan-Nya untuk memuliakan-Nya. Dengan dasar wahyu Allah di dalam Alkitab inilah, kita mendapatkan banyak pengajaran penting tentang puasa yang berkenan di hadapan-Nya (bukan di hadapan manusia berdosa).

Kedua, selain kedaulatan Allah, theologia puasa berpusatkan pada finalitas karya penebusan Kristus. Artinya, kita melakukan spiritualitas berpuasa BUKAN sebagai syarat masuk “surga”, tetapi sebagai respon ucapan syukur kita karena telah diselamatkan di dalam karya penebusan Kristus yang final dan tiada tara agungnya. Dengan kata lain, kita berpuasa murni dengan tujuan untuk memuliakan Allah dan motivasinya untuk mengasihi Allah karena kita telah diselamatkan di dalam karya penebusan Kristus.

Ketiga, theologia berpuasa juga berkaitan erat dengan doktrin Roh Kudus (Pneumatologi). Apa kaitannya ? Karena kita berpuasa untuk mengasihi Allah, maka Roh Kudus akan menguatkan dan mencerahkan kita untuk semakin mengasihi, menghormati, dan takut akan Allah serta memuliakan-Nya. Di dalam berpuasa, kita mungkin mengalami kelemahan fisik, tetapi percayalah, Allah Roh Kudus akan menguatkan kita untuk mengasihi Allah.

Dari ketiga theologia utama yang berkaitan dengan puasa, mari kita menyelidiki bagian Alkitab yang membicarakan tentang puasa sebagai implikasi praktisnya.

Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid II mengartikan puasa, sebagai berikut,
“Berpuasa dalam Alkitab pada umumnya berarti tidak makan dan tidak minum selama waktu tertentu (Ester 4:16), bukan melulu menjauhkan diri dari beberapa makanan tertentu.” (hlm 280)

Definisi ini cukup menarik dan sangat berbeda dari konsep puasa dari agama-agama dunia yang telah dipaparkan di atas yaitu menjauhkan diri dari pencobaan. Puasa Kristen BUKAN menjauhkan diri dari pencobaan, sehingga kalau ada pencobaan, kita cepat-cepat lari (ngibrit), tetapi puasa Kristen hanya tidak makan dan tidak minum selama waktu tertentu (tidak lama), itu artinya meskipun ada makanan dan minuman, orang Kristen yang berpuasa tidak melarikan diri, tetapi tetap di tempatnya semula hanya mereka berani menyangkal diri.

Selanjutnya, Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid II ini memberikan prinsip-prinsip berpuasa di dalam Alkitab baik di dalam Perjanjian Lama (PL) maupun Perjanjian Baru (PB). Berikut prinsip-prinsip puasa yang saya gabungkan dari buku ini :
1. Puasa sebagai sarana untuk merendahkan diri di hadapan Allah.
Pertama, puasa di dalam Perjanjian Lama dipandang sebagai sarana untuk merendahkan diri di hadapan Allah. Hal ini dijelaskan di dalam Taurat Musa, Imamat 16:29-30, “Inilah yang harus menjadi ketetapan untuk selama-lamanya bagi kamu, yakni pada bulan yang ketujuh, pada tanggal sepuluh bulan itu kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa dan janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan, baik orang Israel asli maupun orang asing yang tinggal di tengah-tengahmu. Karena pada hari itu harus diadakan pendamaian bagimu untuk mentahirkan kamu. Kamu akan ditahirkan dari segala dosamu di hadapan TUHAN.” Ayat serupa juga dijumpai di dalam Imamat 23:27-32 dan Bilangan 29:7 bahwa puasa dilakukan oleh orang Israel di Hari Pendamaian. Selain itu, di dalam Ezra 8:21 juga dikatakan, “Kemudian di sana, di tepi sungai Ahawa itu, aku memaklumkan puasa supaya kami merendahkan diri di hadapan Allah kami dan memohon kepada-Nya jalan yang aman bagi kami, bagi anak-anak kami dan segala harta benda kami.” Sungguh menarik apa yang firman Tuhan katakan. Puasa dikaitkan langsung pendamaian dosa dari Allah bagi manusia. Ketika manusia merendahkan diri di hadapan Allah, Allah melayakkan dan mendamaikan mereka dengan menahirkan dari segala dosa. Inilah keunikan wahyu Allah yang TIDAK pernah dijumpai pada agama atau filsafat apapun. Lalu, apa bedanya dengan konsep puasa agama-agama dunia yaitu mendekatkan diri kepada Allah ? Bedanya kalau agama-agama dunia memahami puasa sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan asumsi bahwa tubuh ini jahat dan jiwa ini baik, sedangkan di dalam Alkitab, kita mempelajari puasa sebagai sarana untuk merendahkan diri di hadapan Allah dengan TIDAK memandang kehinaan tubuh tetapi mempergunakan tubuh yang berdosa untuk disucikan oleh Allah dan bagi kemuliaan Allah.

2. Puasa sebagai sarana untuk bertobat.
Selain merendahkan diri di hadapan Allah, puasa juga dimengerti sebagai sarana untuk bertobat. 1 Samuel 7:5-6 menjelaskan bagian ini, “Lalu berkatalah Samuel: "Kumpulkanlah segenap orang Israel ke Mizpa; maka aku akan berdoa untuk kamu kepada TUHAN." Setelah berkumpul di Mizpa, mereka menimba air dan mencurahkannya di hadapan TUHAN. Mereka juga berpuasa pada hari itu dan berkata di sana: "Kami telah berdosa kepada TUHAN." Dan Samuel menghakimi orang Israel di Mizpa.” Hal serupa dapat dijumpai pada 1 Raj. 21:27 ; Neh. 9:1-2 ; Dan. 9:3-4 ; Yun. 3:5-8. Berbeda dari konsep puasa dari agama-agama dunia bahwa puasa menjauhkan diri dari pencobaan, maka puasa dalam Alkitab sebagai sarana untuk berbalik 180 derajat dari semua pencobaan dan kejahatan serta kembali kepada Allah. Dari sini, saya mengatakan bahwa puasa berkaitan erat dengan transformasi hidup Kristen secara radikal bagi Allah. Memang bukan merupakan keharusan orang bertobat untuk berpuasa, tetapi puasa ada hubungannya dengan pertobatan.

3. Puasa sebagai tanda berdukacita.
Puasa di dalam Perjanjian Lama juga digambarkan sebagai tanda berdukacita atas kekalahan atau meninggalnya seseorang. Hal ini dijelaskan di dalam 1 Samuel 31:13, “Mereka mengambil tulang-tulangnya lalu menguburkannya di bawah pohon tamariska di Yabesh. Sesudah itu berpuasalah mereka tujuh hari lamanya.” Selain itu, ayat-ayat Perjanjian Lama lainnya juga menjelaskan bagian ini, yaitu : 2 Sam. 1:12 ; 3:35 ; Neh. 1:4 ; Est. 4:3 ; Mzm. 35:13-14.

4. Puasa sebagai sarana untuk memperoleh bimbingan dan pertolongan Allah.
Puasa juga sebagai sarana untuk memperoleh bimbingan dan pertolongan Allah, seperti yang dijelaskan di dalam Keluaran 34:28, “Dan Musa ada di sana bersama-sama dengan TUHAN empat puluh hari empat puluh malam lamanya, tidak makan roti dan tidak minum air, dan ia menuliskan pada loh itu segala perkataan perjanjian, yakni Kesepuluh Firman.” Hal ini juga dijumpai di dalam Ulangan 9:9 ; 2 Samuel 12:16-23 ; 2 Tawarikh 20:3-4 ; Ezra 8:21-23. Dengan kata lain, puasa sebagai sarana untuk lebih mengetahui kehendak Allah bagi manusia (BUKAN kehendak manusia agar dimengerti oleh Allah). Bukankah ini lebih Theosentris ketimbang konsep puasa dari agama-agama dunia yang antroposentris yang telah dijelaskan di atas ??

5. Puasa harus disertai dengan tindakan sehari-hari yang beres.
Bangsa Israel di dalam Perjanjian Lama digambar sebagai bangsa yang tegar tengkuk dan munafik. Ini terbukti dari “iman” mereka yang menganggap bahwa puasa bisa memuaskan Allah atau menjamin bahwa Allah pasti mendengar keinginan mereka (persis seperti konsep puasa dari agama-agama dunia di atas). Di dalam Kitab Yesaya 58:3-4, mereka berkata, “Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?" Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua buruhmu. Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi.” Lalu, Tuhan menegur mereka melalui nabi Yesaya di dalam Yesaya 58:6-11, “Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri! Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu. Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan TUHAN akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah, apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari. TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan.” Dengan kata lain, Tuhan tidak mau ibadah puasa dilakukan tanpa disertai dengan tindakan yang beres dan memuliakan Allah. Spiritualitas sejati didasarkan pada ketaatan akan keseluruhan perintah Allah melalui pengudusan Roh Kudus secara terus-menerus. Spiritualitas yang meniadakan ketaatan mutlak kepada Allah bukanlah spiritualitas sejati, tetapi spiritisme yang mistik !

6. Puasa BUKAN untuk dilihat orang, tetapi dilihat oleh Allah.
Terakhir, sebagai kesimpulan, satu-satunya Wahyu Allah yang mutlak, Alkitab melihat puasa BUKAN sebagai tindakan yang dilihat orang, tetapi sebagai tindakan yang dilihat Allah. Dalam hal ini, Tuhan Yesus, Pribadi kedua Allah Trinitas sendiri mengajar kepada umat-Nya, “Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Matius 6:16-18) Carilah di dalam semua agama atau filsafat apapun, adakah yang lebih agung dan mulia daripada perkataan agung dan suci dari Tuhan Yesus Kristus ini bahwa berpuasa yang terpenting bukan untuk dipertontonkan kepada manusia untuk selanjutnya dianggap “suci”, “religius”, dll (seperti puasa dan doanya orang Farisi), tetapi esensi puasa adalah untuk dilihat Allah dan memuliakan Allah. KeKristenan dan Alkitab selalu memandang esensi dari segala sesuatu bukan sekedar fenomena lahiriah yang banyak menipu. Jangan mengira orang yang secara fenomena berpuasa, secara esensi hidupnya beres ! Alkitab sudah membukakan banyak kelicikan manusia berdosa bahwa mereka kelihatan beribadah di luar, kalau perlu menggunakan pengeras suara, supaya orang luar tahu bahwa mereka beribadah, tetapi kelakuan mereka sangat busuk. Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat sudah menjadi bukti konkret dari kritikan pedas Tuhan Yesus tentang kemunafikan mereka di dalam Matius 23. Ingatlah! Tuhan melihat hati, sedangkan manusia lebih gemar melihat fenomena luar. Ketika melihat Eliab, nabi Samuel sempat goyang hatinya, tetapi Allah menguatkan hatinya bahwa Ia hanya memilih Daud menggantikan Saul dengan berkata, “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” (1 Samuel 16:7) Inilah esensi sejati yang HANYA dimengerti oleh orang Kristen yang mendapatkan anugerah khusus dari Allah yaitu mengerti isi hati Tuhan BUKAN mengerti isi hati manusia berdosa !

Implikasi-implikasi Praktis Di dalam Puasa
Setelah kita mengerti makna dan motivasi yang meres di dalam puasa dari sudut pandang Alkitab, pertanyaannya apakah saat ini, orang Kristen masih perlu puasa ? Lalu, apa motivasinya dan kapan dilakukannya ?

Puasa masih perlu dilakukan oleh orang Kristen di mana saja dan kapan saja, tetapi yang perlu diperhatikan adalah apakah motivasi puasa tersebut memuliakan Allah atau hendak memuaskan hawa nafsu manusia berdosa ? Selama motivasi puasa kita tidak beres di mata Allah, yaitu hendak memuaskan hawa nafsu dan keinginan kita yang berdosa, adalah lebih baik bagi kita untuk TIDAK pernah berpuasa, sampai motivasi kita berpuasa beres di hadapan Allah.

Kapankah kita perlu berpuasa ? Kita perlu berpuasa ketika menghadapi situasi yang sulit berperang melawan setan, misalnya mengadakan KKR (Kebaktian Kebangunan Rohani) atau Kebaktian Penginjilan atau acara Retreat/Camp Rohani. Di dalam momen penting inilah, kita perlu dan bahkan harus berpuasa, karena dengan berpuasa, kita mengandalkan kuasa Allah untuk melawan setan dan para kroninya di dalam acara penginjilan, karena kita percaya di dalam penginjilan, setan pasti tidak akan pernah tinggal diam untuk mengganggu penginjilan, entah dalam bentuk dipersulitnya acara, gangguan keamanan, gangguan cuaca, dll.

Puasa bukan hanya sekedar menahan diri dari makanan dan minuman atau tidak makan dan tidak minum, puasa secara esensial berarti menyangkal diri. Percuma saja, kita hebat di dalam menahan untuk tidak makan/tidak minum (bisa menahan karena sedang diet), tetapi kita tidak dapat menahan diri ketika melihat barang-barang bagus atau film-film bagus, dll. Puasa harus mencakup berbagai aspek, misalnya puasa menonton bioskop, puasa berbelanja/shopping, puasa jalan-jalan, dll. Ketika kita mulai bisa menyangkal diri dari berbagai tawaran dunia, pada saat itu pula kita mengerti kehendak Allah. Menyangkal diri tidak sama dengan tidak memiliki keinginan sama sekali. Banyak konsep puasa ala agama-agama dunia identik dengan meniadakan keinginan daging. Itu salah ! Setiap manusia pasti memiliki keinginan, keinginan itu yang perlu dikontrol, bukan untuk dihilangkan atau dibinasakan. Bagaimana untuk menyangkal diri ? Caranya adalah dengan berfokus kepada Kristus dan kehendak-Nya, maka kita secara aktif menolak keinginan daging dan menuruti kehendak Roh. Memang hal ini tidaklah mudah, karena setan paling aktif merayu kita untuk tidak taat kepada Allah, tetapi puji Tuhan, Roh Kudus memimpin dan mengarahkan hati dan pikiran kita untuk terus-menerus taat kepada Allah. Selain itu, dengan membaca dan mengerti Alkitab secara rutin, kita dapat mengalahkan godaan iblis dan memenangkan setiap pencobaan. Menang atas pencobaan TIDAK pernah mungkin dialami oleh orang-orang di luar Kristus, tetapi kita bisa menang atas pencobaan karena Tuhan Yesus Kristus sudah mengalahkan pencobaan iblis dan kemenangan-Nya menjamin kemenangan kita sebagai umat pilihan-Nya dalam mengalahkan pencobaan. Haleluya.

Setelah kita merenungkan kelemahan fatal konsep puasa dari agama-agama dunia yang antroposentris dan keagungan konsep puasa dalam Alkitab, maukah kita hari ini juga bertobat dari kemunafikan kita menjalankan ibadah kita serta kembali kepada Kristus yang telah menebus dan menyelamatkan manusia pilihan-Nya dari dosa supaya mereka dapat beribadah dengan motivasi, hati dan tujuan yang beres di hadapan Allah ? Ingatlah, Tuhan melihat hati, bukan seperti yang kita lihat yang lebih gemar melihat fenomena lahiriah yang banyak menipu. Tuhan yang melihat hati adalah Tuhan yang tak pernah sedikit pun dapat ditipu. Oleh karena itu, sebagai umat pilihan-Nya di dalam Kristus, hendaklah kita juga jangan menipu diri dengan beragam fenomena religius tetapi tidak memiliki esensi iman sejati. Sudah seharusnya, orang Kristen sejati menjadi teladan hidup khususnya di dalam berpuasa, supaya orang-orang yang belum Kristen melihat terang Injil dan melalui anugerah-Nya, Roh Kudus memimpin mereka untuk kembali kepada Kristus. Biarlah segala puji, hormat dan kemuliaan hanya bagi Allah Bapa dan Allah Putra dan Allah Roh Kudus yang telah mencipta, menebus dan menyempurnakan kita. Amin... Soli Deo Gloria...Solus Christus.

2 comments:

Permadi said...

Mas, memang ajaran agama ini tidak jelas yaa ? semua pendeta mempunyai standar beragam. Seorang pembaca injil seperti Deni ini juga menyarankan kapan waktu yang tepat buat puasa. Ruwet sekali yaa semua orang nyaranin hal yang beda.

Anonymous said...

Benarkah begitu??? Apakah kamu merasa yakin bahwa agamamu itu benar??? atau hanya doktrin semata???
1. Tuhan itu tunggal dan tidaklah jamak.
2. Tuhan itu abadi dan tidaklah akan mati.
3. Tuhan itu berkuasa dan tidaklah terbatas kekuasaannya.

Menyamakan tuhan dengan makhluknya adalah kesalahan besar.
kamu tahu tuhan itu tidak musti disembah oleh kamu untuk memperlihatkan kekuasaannya, ia tak memerlukan kamu untuk ada tapi kenapa ia harus susahpayah untuk menghilangkan kekuasaannya itu hanya untuk manusia???
Allah menjadi roh kudus maka ia hilang semua kekuasaannya kenapa???
karena iaemngubah dirinya menjadi wujud yang lebih rendah. Roh yang satu dan roh yang lain tidak ada perbedaan dari segi kekuasaan. camkan itu.
Tuhan itu tidaklah beranak dan tidakpula diperanakkan dia berbeda dengan makhluknya jika tuhan beranak dan diperanakkan apalah bedanya dengan manusia??? apakah dia akan membuat dirinya menjadi sama dengan manusia padahal dia MAHA SEGALA-GALANYA???
Aneh benar apa yang kamu katakan dengan tri tunggal??? tidakkah itu sama saja dengan sistem ketuhanan Yunani???
Apakah kamu sudah mempelajari ilmu perbandingan agama dari dasar sampai akhir??? bahkan saya yakin kamu belum mempelajari sistem ketuhanan agama lain.