15 April 2008

Resensi Buku-52: STEPHEN TONG: The Man Who Squeezes His Life

...Dapatkan segera...
Buku
Reflections of the Founder of the Reformed Evangelical Movement
STEPHEN TONG: The Man Who Squeezes His Life

(Refleksi 50 Tahun Pelayanan Pdt. Dr. Stephen Tong)


oleh: Tim Panitia Redaksi

Penerbit :
Stephen Tong Evangelistic Ministries International (STEMI) dan Momentum Christian Literature, Surabaya, 2007





Prakata dari Pdt. Philip Teng :
Pdt. Dr. Stephen Tong adalah salah satu di antara hamba-hamba Tuhan di Barat maupun di Timur yang paling saya hargai dan hormati. Beliau dikenal sebagai Billy Graham di Timur. Beliau memancarkan sinar kemuliaan Tuhan, sama dengan Dr. John Sung yang hidup di tahun 30-an, abad lalu, di China. Beliau adalah Sosook yang open-minded, berterus-terang, humor, tulus, ramah, berani mengatakan kebenaran yang orang lain tak berani katakan. Beliau punya talenta musik yang luar biasa, saat memimpin pujian, suaranya lantang dan menggetarkan hati. Beliau mengasihi dan memperhatikan kebutuhan dan kesejahteraan rekan-rekannya.

Ketika di Malaysia, saya pernah hadir di kebaktiannya, menyaksikan puluhan ribu orang mendengar khotbahnya. Memang beliau amat dipakai Tuhan untuk memimpin Kebaktian Kebangunan Rohani, Kebaktian Pemupukan Rohani, Seminar dan bentuk-bentuk kebaktian lain. Bahkan waktu diundang berkhotbah di Timur maupun Barat, beliau disambut dengan sambutan yang luar biasa. Meski sering diundang berkhotbah di Kebaktian Kebangunan Rohani, Kebaktian Pemupukan Rohani di Hong Kong, beliau bukan hanya diterima sebagai pembicara favorit, bahkan sebagai penuai tuaian Tuhan yang sangat berkuasa.

Saya percaya : suatu hari nanti, waktu dia bertemu Tuhan muka dengan muka di Surga, Tuhan akan berkata kepadanya, “Kau adalah hamba yang baik dan setia..., mari masuk, menikmati sukacita bersama Tuan-Mu” (Matius 25:21).
{diterjemahkan oleh : EL}




Deskripsi dari Denny Teguh Sutandio :
Saya pertama kali mengetahui nama Pdt. Dr. Stephen Tong melalui ayah saya yang adalah murid sekolah minggu di GKA Gloria yang diajar oleh beliau. Waktu itu saya dipinjami kaset-kaset Seminar Pembinaan Iman Kristen (SPIK) dari Pdt. Dr. Stephen Tong ketika saya masih di SMU. Saat itulah, iman saya semakin dikuatkan tentang finalitas keKristenan melalui pemaparan theologia Reformed dari hamba-Nya yang setia. Pada saat KKR Surabaya 2004, akhirnya saya maju ke depan untuk menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan sepenuh waktu pada saat altar-call. Puji Tuhan ! Pada tahun yang sama, saya ikut NREC (National Reformed Evangelical Convention) yang diadakan oleh Stephen Tong Evangelistic Ministries International (STEMI). Saya bersama keluarga benar-benar diberkati dan dikuatkan imannya melalui pelayanan Pdt. Dr. Stephen Tong, dan rekan-rekan dalam Gerakan Reformed Injili Indonesia.

Bagi saya sendiri, Pdt. Dr. Stephen Tong adalah sosok theolog, filsuf, budayawan, dan pemberita Injil/Firman yang sangat dinamis, berkuasa, berapi-api dan sangat ‘logis’. Artinya, ketika membawakan Firman, beliau hampir tidak melihat naskah khotbah, ditambah khotbah-khotbah beliau sangat menantang logika para pendengar dan membawanya kepada kebenaran Alkitab dan Kristus. Selain itu, beliau juga dapat menciptakan satu pernyataan (statement) yang singkat, namun sangat jelas dan mengena (=condensed). Misalnya, beliau pernah mengatakan, “Man is not what he thinks, man is not what he feels,... but man is what he reacts before God.” Hal lain, beliau pernah mengatakan bahwa semua filsafat dunia yang melawan Alkitab pasti self-contradict (berlawanan dengan dirinya sendiri). Beliau juga pernah mengajar bahwa agama (di luar Kristen) BUKAN wahyu umum Allah, tetapi respon manusia berdosa terhadap wahyu umum Allah. Selain itu, beliau juga menggunakan istilah theologia organik (organic theology), selain theologia sistematika. Banyak terobosan-terobosan theologia dan penjabaran Alkitab yang mencerahkan dan menguatkan yang dikatakan dan dilakukan oleh Pdt. Dr. Stephen Tong. Bukan hanya pandai berkhotbah dan mengajar theologia, beliau juga mahir dalam berbagai bidang, seperti musik, seni, arsitektur desain, politik, ekonomi, dll. Hal ini didapatkan oleh beliau karena beliau suka membaca buku apapun terutama Alkitab. Pdt. Sutjipto Subeno (gembala sidang gereja saya) di dalam buku ini mengatakan bahwa beliau hampir bisa disebut : renaissance man yang menguasai hampir segala bidang. Melalui teladan beliau-lah, saya mulai belajar untuk hidup menyangkal diri, berani mengatakan “TIDAK” kepada kemauan sendiri yang kadang kala tidak bermakna.

Buku ini merupakan salah satu buku yang diterbitkan dalam rangka memperingati HUT Pelayanan ke-50 dari hamba-Nya yang setia, Pdt. Dr. Stephen Tong. Dalam buku ini, terdapat banyak refleksi dari orang-orang dekat Pdt. Dr. Stephen Tong, seperti istri Pdt. Stephen Tong (Mrs. Alice Tong), anak perempuan tertua Pdt. Stephen Tong (Elizabeth Yen Tong), dan hamba-hamba Tuhan di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) seperti : Pdt. Ir. Andi Halim, S.Th. ; Ev. Alwi Sjaaf, M.Div. ; Ev. Maria Mazo, M.Div. ; Pdt. Effendi Susanto, S.Th. ; Pdt. Liem Kok Han, S.Th. ; Pdt. Rudie Gunawan, S.Th. ; Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div. ; Pdt. Nico Ong, M.Div. ; Pdt. Jusak Widjaja, M.Div. Selain itu, ada rekan-rekan STEMI dan pengurus GRII/STEMI yang ikut menyumbangkan refleksi, misalnya : Rev. Dr. Lou Jiann Hua (STEMI Sponsor), Dr. Grace Lusiana Susardi, D.D.S., Ph.D. (STEMI Sponsor), Joseph Tjakra (Bendahara Sinode GRII), Jusuf Gunawan (wakil Ketua Sinode GRII), Prof. Vincent Sung (STEMI International Audio-Visual Departmenet-Superintendent), dll. Dari sekian banyak penyumbang artikel refleksi, hati saya merasa tersentuh karena refleksi-refleksi tersebut menyadarkan saya tentang pentingnya perjuangan, penginjilan dan pelayanan bagi nama-Nya. Khususnya refleksi dari Elizabeth Yen Tong (anak tertua Pdt. Stephen Tong) yang mengisahkan tentang didikan Pdt. Stephen Tong sebagai ayahnya tentang apa arti berbagi, juga didikan ketat Pdt. Stephen Tong di rumah membawa berkat bagi diri dan semua saudaranya. Pertama kali, Ibu Elizabeth ini agak benci dengan ayahnya (karena pada waktu lahir, Pdt. Stephen Tong tidak menemaninya), tetapi lama-kelamaan, ibu ini sangat menyukai dan makin mencintai ayahnya yang dipakai Tuhan luar biasa. Refleksi lain yang menyentuh hati juga datang dari Bpk. Joseph Tjakra yang mengisahkan bahwa beliau pernah melihat kaki Pdt. Stephen Tong ditempel 5-6 Salonpas, karena kata beliau, ketika kaki beliau sakit, beliau akan menempelkan plester itu lalu tetap berkhotbah. Refleksi-refleksi lain juga menyebutkan bahwa Pdt. Stephen Tong tidak pernah kenal istilah “capek” di dalam melayani Tuhan. Beliau rela meninggalkan urusan keluarga, kepentingan pribadi, dll demi melayani Tuhan melalui pengabaran Injil. Jiwa mengasihi orang-orang yang tersesat inilah yang mengakibatkan beliau rajin dan giat serta siat mengabarkan Injil. Biarlah melalui buku refleksi ini, kita semakin dikuatkan imannya dan kita semakin giat berjuang memberitakan Injil dan Firman Tuhan di tengah arus zaman postmodern yang semakin menggila ini.







Profil Pdt. DR. STEPHEN TONG :
Pdt. Stephen Tong, B.Th., D.L.C.E., D.D. (HC) dilahirkan di Fukien daratan Tiongkok pada tahun 1940. Pada usia 17 tahun (tahun 1957) beliau menyerahkan diri untuk menjadi hamba Tuhan. Sampai tahun 2007 ini, beliau telah berkhotbah 28 ribu kali dihadapan lebih dari 20 juta orang. Paling sedikit yang pernah menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan dalam pelayanannya adalah 200 ribu orang. Beliau pernah berkhotbah dan memimpin seminar dalam Bahasa Inggris, Mandarin dan Indonesia di Amerika Utara, Amerika Latin, Australia, Asia dan Eropa. Kota-kota yang pernah dikunjunginya lebih dari 600 kota besar di seluruh belahan dunia termasuk Paris, New York, Toronto, Hongkong, Roma dan seterusnya. Sejak tahun 2000, beliau memimpin Expository Preaching di Jakarta (Hari Minggu Pagi: Bahasa Indonesia & Minggu Siang: Bahasa Mandarin), Singapura (Hari Minggu Sore: Bahasa Indonesia, Hari Minggu Malam: Bahasa Mandarin-English), Kuala Lumpur (Hari Senin: Bahasa Mandarin-English), Hongkong (Hari Selasa: Bahasa Mandarin-Kanton) dan Taipei (Hari Rabu: Bahasa Mandarin) setiap minggunya dengan pendengar lebih dari 6000 orang.

Pdt. Stephen Tong berbeban khusus untuk menegakkan theologi Reformed dan menyingkirkan penghalang-penghalang bagi pertumbuhan iman Kristen dan berusaha untuk membawa manusia kembali kepada anugerah Allah melalui penafsiran Alkitab yang sangat ketat. Selain berkhotbah, beliau juga pernah mengajar di berbagai seminari di dalam dan luar negeri dalam bidang teologi dan filsafat yakni 25 tahun di Seminari Alkitab Asia Tenggara hingga menjabat Ketua Yayasan, pendiri dan mantan Rektor Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili Indonesia (STTRII), pendiri dan Rektor Institut Reformed di USA (Reformed Institute for Christianity and 21st Century) & Asia (Singapura dan Jakarta). Beliau pernah mengajar sebagai dosen tamu di China Graduate School of Theology Hongkong, China Evangelical Seminary Taipei dan Trinity Theological College Singapura.

Beliau studi theologi di Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang hingga gelar Bachelor of Theology (B.Th.). Pada tahun 1985, beliau dianugerahi gelar Doktor Kehormatan dalam bidang Kepemimpinan Penginjilan Kristen dari La Madrid International Academy of Leadership di Manila. Belau pernah diundang sebagai pembicara utama dalam Lausanne Congress, International Prayer Assembly di Seoul, Amsterdam 1988 dan terakhir General Assembly of World Reformed Fellowship di Afrika Selatan pada tahun 2006. Kira-kira pada tahun 2007, beliau juga dianugerahi gelar kehormatan Doctor of Divinity (D.D.) dari Westminster Theological Seminary, USA.

Beliau selain berkhotbah dan mengajar, beliau adalah seorang maestro dalam bidang musik klasik, di mana telah menjadi konduktor dan komponis. Beliau memimpin konser-konser musik klasik di berbagai kota di Asia serta mengkomposisi puluhan lagu hymn berbobot yang telah dinyanyikan di seluruh dunia. Selain itu beliau juga merupakan arsitek ulung di mana telah merancang gedung gereja dan aula pertemuan di berbagai kota.

Beliau adalah pendiri dari Stephen Tong Evangelistic Ministries International, Sinode Gereja Reformed Injili Indonesia, Sekolah Theologia Reformed Injili (STRI) di berbagai kota, Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili Indonesia (STTRII), Institut Reformed, Jakarta Oratorio Society, Christian Drama Society, Reformed Center for Religion and Society dan seterusnya. Buku-bukunya antara lain:
· Iman dan Agama
· Hidup Kristen Yang Berbuah
· Iman Kristen, Penderitaan dan HAM
· Iman, Rasio dan Kebenaran
· Baptisan dan Karunia Roh Kudus
· Roh Kudus, Suara Hati Nurani dan Suara Setan
· Roh Kudus dan Kebangunan
· Dinamika Hidup dalam Pimpinan Roh Kudus
· From Faith to Faith
· Keluarga Bahagia
· Membesarkan Anak dalam Tuhan
· Allah Tritunggal
· Peta dan Teladan Allah
· Dosa, Kebenaran dan Penghakiman
· Siapakah Kristus?
· Yesus Kristus Juruselamat Dunia
· Mengetahui Kehendak Allah
· Waktu dan Hikmat

Matius 9:18-26: OBJECT AND SUBJECT OF FAITH

Ringkasan Khotbah : 17 Juli 2005
Object & Subject of Faith
oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 9:18-26


Pendahuluan
Dalam kisah pergumulan iman seorang kepala rumah ibadat dan seorang perempuan yang sakit pendarahan selama dua belas tahun yang dicatat dalam Injil Matius di sana Tuhan Yesus memberikan jawab: “Teguhkanlah hatimu, imanmu telah menyelamatkan engkau“ dalam hal ini Tuhan Yesus ingin menegaskan bahwa iman sejati bukan berorientasi pada hasil, yaitu iman bukan sekedar memberi kesembuhan fisik tetapi lebih daripada itu iman sejati adalah iman yang dapat menyelamatkan jiwa manusia. Iman yang hanya berorientasi pada hasil maka iman itu adalah iman yang rapuh dan mudah sekali berubah sebab orang baru mau percaya setelah melihat hasilnya dan orang akan beralih dan mencari obyek iman lain kalau obyek iman yang ia percaya sebelumnya tidak memberikan keuntungan atau hasil seperti yang diinginkan. Maka disini kita melihat bahwa obyek iman sangatlah penting; obyek iman yang salah akan mencelakakan hidup kita dan berakibat pada kebinasaan sebaliknya obyek iman yang sejati akan membawa kita pada keselamatan dan memperoleh hidup kekal.
Setiap orang pastilah mempunyai iman percaya dan iman itu membutuhkan obyek iman maka seperti ungkapan Francis Schaefer, I do what I think and I think what I believe dimana iman itu sangat berpengaruh pada pola pikir dan pola pikir itu mempengaruhi tindakan. Sebagai contoh, seorang atheis yang tidak percaya keberadaan Allah tidak akan percaya kalau dunia dan seisinya ini ada yang mencipta, yaitu Allah begitu pula dengan seorang materialis, baginya uang adalah segala-galanya maka tidak mudah menerima ajaran Alkitab yang menyatakan bahwa uang adalah sumber dari segala kejahatan. Disini jelas bahwa iman, pola pikir dan tindakan sangat terkait erat karena itu, melalui kisah ini Tuhan Yesus ingin supaya orang melihat bahwa iman bukan berorientasi pada hasil.
I. Mengenal Obyek Iman yang Benar
Ketika Tuhan Yesus tiba di rumah kepala rumah ibadat itu, anak perempuan Yairus sudah meninggal dan orang banyak ribut lalu Yesus menyuruh mereka untuk pergi sebab anak perempuan ini tidak mati tetapi tidur tetapi mereka menertawakan Dia. Inilah reaksi yang ditunjukkan manusia pada umumnya, mereka menganggap pernyataan Tuhan Yesus tersebut sangatlah tidak masuk akal. Orang yang semakin pandai semakin mempunyai ilmu tinggi maka kemungkinan besar ia akan bereaksi sama seperti mereka. Pertanyaannya sekarang adalah kalau kita ada di sana pada saat itu dan dihadapkan pada situasi demikian apakah kita juga akan tertawa? Orang tidak mau kembali pada obyek iman yang benar, yaitu Kristus Sang Kebenaran sejati, orang hanya mau percaya pada diri sendiri, self centered faith. Maka ketika orang mulai berpikir tidak masuk akal maka tidak maka tidak akan terjadi sekalipun ia telah melihat buktinya.
Pemikiran demikian telah ada sejak berabad-abad yang lalu dan ironisnya, di dunia modern ini pemikiran yang sama kembali muncul dan dibakukan oleh seorang filsuf Perancis bernama Rene Des Cartes dengan mencetuskan teori rationalism. Teori ini menjadi dasar dari semua intelektualitas modern dengan slogan: cogito ergo sum, I think that for I am, saya berpikir maka saya ada; seorang akan mempunyai banyak pengetahuan harus dimulai dari meragukan terlebih dahulu, orang yang tidak pernah meragukan apa-apa maka ia tidak akan pernah tahu apapun. Secara sepintas pendapat ini kelihatan baik sebab orang diajar untuk kritis, orang harus mempertanyakan segala hal tentang kebenaran, orang dipacu untuk ingin tahu setiap hal dengan teliti. Pertanyaannya sekarang adalah kalau semua hal diragukan bahkan orang lain boleh diragukan, apakah diri sendiri juga boleh diragukan? Menurutnya, orang boleh meragukan semua hal tapi diri sendiri tidak boleh diragukan, sebab: pertama, ketika orang berpikir membuktikan dia ada, exist maka sangatlah tidak masuk akal, inlogical kalau diri diragukan; kedua, kalau diri boleh meragukan sekaligus diragukan maka kita tidak akan punya hasil karena itu, diri yang berpikir tidak boleh diragukan begitu juga dengan hasil pikirannya tidak boleh diragukan.
Orang boleh menertawakan Tuhan Yesus tapi diri sendiri tidak boleh ditertawakan, orang boleh meragukan Tuhan Yesus tetapi diri sendiri tidak boleh diragukan. Pemikiran rasionalis inilah yang menjadi bangunan dasar bagi orang yang merasa dirinya hebat dan pandai. Pemikiran ini telah ada ribuan tahun lalu dan kini mulai dibakukan menjadi sebuah teori. Hal ini justru menunjukkan kebodohan manusia sebab sebelum manusia meragukan orang lain dan segala sesuatu seharusnya ia meragukan dirinya sendiri terlebih dahulu. Orang yang sadar diri dan berani mengkoreksi dirinya sendiri maka disana membuktikan ia seorang yang tahu diri. Sebelum kita menilai orang lain seharusnya kita tahu diri; tahu diri berarti berani mengkoreksi diri, mempertanyakan diri, siapa diri kita dan bagaimana eksistensi diri. Disinilah letak kefatalan dari para kerabat, tetangga dan saudara-saudara Yairus, ketika mereka mulai meragukan Tuhan Yesus maka pada saat itulah mereka gagal melihat iman yang sejati. Pertanyaannya adalah memang siapakah manusia sehingga ia boleh meragukan Tuhan? Manusia tidak berhak meragukan Allah, satu-satunya yang manusia berhak lakukan adalah meragukan dirinya sendiri.
Manusia tidak layak dijadikan sebagai obyek iman, hanya Kristus Yesus saja yang layak menjadi obyek iman yang sejati maka disini obyek iman yang sejati langsung menjadi subyek iman. Ketika kita menyerahkan kepercayaan pada obyek iman tersebut maka obyek iman itu langsung menguasai balik diri kita. Kalau obyek iman itu adalah diri sendiri maka sulit bagi kita untuk keluar dari kepercayaan itu sebab semua cara pikir kita diselesaikan oleh diri sendiri dan meskipun salah, kita tidak akan menerima kesalahan itu, kita akan tetap berpegang pada pendirian yang salah tersebut, ironisnya, diri yang salah justru menertawakan kebenaran. Tuhan Yesus Sang Kebenaran sejati itu datang utnuk membuktikan kebenaran namun manusia tidak percaya justru menertawakan kebenaran itu. Pola pikir manusia telah rusak akibatnya semua tindakan yang ia lakukan juga menjadi rusak. Sebelum bertobat, Paulus juga berbuat hal yang sama, secara intelektual, ia pandai tetapi ia tidak mengerti realita iman yang sejati. Rene Des Cartez, Nietzche, Søren Aabye Kierkegaard, Imanuel Kant adalah seorang filsuf yang hebat, pemikirannya telah mempengaruhi dunia namun sayang, mereka tidak mampu menyelesaikan hidupnya sendiri, hidupnya justru berakhir dengan kehancuran.
Ironisnya, sejarah yang sama diulang kembali, manusia tetap beriman pada diri sendiri bahkan sampai hari inipun orang yang menertawakan kebenaran karena sebenarnya mereka tidak mengerti kebenaran namun orang tidak mau mengakui hal ini. Orang-orang yang sederhana, orang yang dipandang bodoh oleh dunia justru merekalah yang memahami kebenaran sejati yang diajarkan oleh Kristus. Ketika manusia memusatkan pada diri sendiri, tidak pernah menguji iman maka itu akan berakibat pada kehancuran diri. Iman sejati harus dilepaskan pada obyek iman sejati dan obyek iman yang sejati membutuhkan suatu pengujian internal di dalam obyek iman yang sesungguhnya. Ingat, jangan serahkan obyek imanmu pada sesuatu yang secara ordo berada di bawah atau sejajar kita, seperti materi, orang lain, diri sendiri atau setan sebab semua itu hanya bersifat sementara dan akan mengecewakan kita. Sungguh merupakan suatu anugerah kalau kita dapat mengenal Kristus Sang Kebenaran sejati dan kita dapat beriman pada-Nya. Iman sejati kepada obyek yang sejati akan memberikan hasil yang sejati, yakni hanya untuk kemuliaan nama-Nya.

II. Iman dan Pengalaman Iman
Secara logika, memang mustahil bagi manusia dapat hidup kembali dari kematian, hanya Allah Sang Sumber Kehidupan saja yang dapat menghidupkan kembali. Iblis adalah bapa kematian, bapa penipu, pekerjaannya selalu ingin menghancurkan hidup manusia. Tuhan dapat melakukan pekerjaan dahsyat atas diri seseorang dan itu tidak tergantung dari orang itu harus beriman atau tidak, bukankah anak perempuan Yairus yang dibangkitkan itu tidak pernah mengenal bahkan beriman pada Tuhan Yesus? Jadi, mujizat ini bukan bergantung pada iman dari orang yang kepadanya Tuhan mau bekerja atau bergantung pada bapanya, tidak, tapi sepenuhnya tergantung pada kehendak Tuhan saja. Yang perlu diwaspadai juga adalah apakah ketika mujizat itu terjadi setan turut ambil bagian? Hati-hati, iblis tidak akan pernah berhenti menggoda manusia supaya manusia jatuh ke dalam dosa, iblis selalu ingin masuk dalam setiap aspek hidup manusia kita tapi ingat, secara ordo, setan ada di bawah manusia maka manusia berhak untuk mengusir setan. Biarlah kita tidak hanya mempunyai pengertian iman yang kuat, punya kepercayaan pada Kristus yang kokoh tetapi biarlah ketika kita juga menyandarkan iman kita hanya pada Kristus maka pada saat itu Tuhan akan memakai dengan luar biasa. Jangan membatas pekerjaan Tuhan hanya dibatas logika, kapasitas, uang atau tenaga kita sebab Tuhan adalah Tuhan Sang Pemilik Semesta sehingga tidak ada yang mustahil bagi Dia. Sungguh merupakan suatu anugerah kalau kita dapat berjalan bersama dengan Tuhan dan mengalami pengalaman indah bersama dengan Tuhan. Jangan berorientasi pada hasil dari iman tetapi berimanlah hanya pada Kristus, obyek iman yang sejati dan biarlah kita membiarkan diri dipakai menjadi alat untuk kemuliaan nama-Nya dengan demikian kita akan merasakan mujizat Tuhan. Kita adalah manusia berdosa dan kalau Tuhan sudah menyelamatkan kita maka itu merupakan mujizat terbesar yang pernah terjadi dalam hidup kita.
Mujizat paling besar yang terjadi dalam hidup kita adalah pada saat kita bertobat dan menjadi percaya Kristus Tuhan: pertama, kalau Injil dapat sampai kepada kita itu merupakan suatu anugerah sekaligus mujizat sebab sampai hari ini, masih banyak orang yang ada di sekitar kita yang dari lahir sampai mati belum pernah satu kalipun mendengar tentang Kristus; kedua, kalau ada seorang pemberita Injil mau pergi ke suatu tempat dimana di sana Injil itu diberitakan maka itu juga merupakan suatu mujizat. Tidak semua orang dipanggil untuk memberitakan Injil sebab pada saat orang memberitakan Injil bukan sambutan yang diterima tetapi sebaliknya hinaan, cercaan dan siksaanlah yang diterima. Kita selayaknya bersyukur kalau ada orang yang memberitakan Injil, berdoa demi untuk keselamatan kita, itu merupakan suatu mujizat terbesar. Sombong merupakan sifat manusia berdosa, dengan segala cara manusia berusaha menutupi perbuatan dosanya maka suatu mujizat kalau seorang berdosa mau mengakui dosa dan bertobat. Ketika John Sung mengadakan suatu kebaktian kebangunan rohani dimana banyak massa berkumpul, pemerintah setempat menjadi takut dan kuatir karena disangka akan memberontak namun pemerintah dikagetkan dengan reaksi orang-orang tersebut, mereka mengaku berdosa tanpa dipaksa. Itu merupakan suatu mujizat; ketiga, kalau Tuhan berkenan memakai kita seorang yang hina dan berdosa menjadi alat dan bekerja bagi-Nya maka itu merupakan mujizat sebab kita akan merasakan pengalaman indah berjalan bersama dengan Tuhan, kita akan melihat bagaimana tangan Tuhan bekerja yang melampaui kapasitas dan kemampuan kita.
Beriman kepada Tuhan berarti memperkenankan Tuhan untuk memakai kita menjadi alat-Nya dan barangsiapa dipakai oleh Tuhan melakukan pekerjaan-Nya maka kita akan mengalami pengalaman indah bersama dengan Tuhan. Biarlah sebagai anak Tuhan kita tidak sekedar berteori iman atau mempunyai doktrin kuat tetapi berimplikasi iman dengan demikian kita dapat melihat pekerjaan Tuhan yang melampaui pikiran manusia dapat dikerjakan dengan tuntas, kita dapat melihat bagaimana Tuhan bekerja membangkitkan anak perempuan yang telah mati. Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber:

09 April 2008

Spiritual Discernment Vs Lust: Wisdom Vs Prostitute (Ev. Jeffrey Lim)

Spiritual Discernment vs Lust
Wisdom vs Prostitute

oleh: Ev. Jeffrey Lim



Bukankah hikmat berseru-seru, dan kepandaian memperdengarkan suaranya? Di atas tempat-tempat yang tinggi di tepi jalan, di persimpangan jalan-jalan, di sanalah ia berdiri, di samping pintu-pintu gerbang, di depan kota , pada jalan masuk, ia berseru dengan nyaring: "Hai para pria, kepadamulah aku berseru, kepada anak-anak manusia kutujukan suaraku. Hai orang yang tak berpengalaman, tuntutlah kecerdasan, hai orang bebal, mengertilah dalam hatimu. Dengarlah, karena aku akan mengatakan perkara-perkara yang dalam dan akan membuka bibirku tentang perkara-perkara yang tepat. Karena lidahku mengatakan kebenaran, dan kefasikan adalah kekejian bagi bibirku. Segala perkataan mulutku adalah adil, tidak ada yang belat-belit atau serong. Semuanya itu jelas bagi yang cerdas, lurus bagi yang berpengetahuan. Terimalah didikanku, lebih dari pada perak, dan pengetahuan lebih dari pada emas pilihan. Karena hikmat lebih berharga dari pada permata, apapun yang diinginkan orang, tidak dapat menyamainya.
(Amsal 8:1-11)

Hai anakku, perhatikanlah hikmatku, arahkanlah telingamu kepada kepandaian yang kuajarkan, supaya engkau berpegang pada kebijaksanaan dan bibirmu memelihara pengetahuan. Karena bibir perempuan jalang menitikkan tetesan madu dan langit-langit mulutnya lebih licin dari pada minyak, tetapi kemudian ia pahit seperti empedu, dan tajam seperti pedang bermata dua. Kakinya turun menuju maut, langkahnya menuju dunia orang mati. Ia tidak menempuh jalan kehidupan, jalannya sesat, tanpa diketahuinya. Sebab itu, hai anak-anak, dengarkanlah aku, janganlah kamu menyimpang dari pada perkataan mulutku. Jauhkanlah jalanmu dari pada dia, dan janganlah menghampiri pintu rumahnya, supaya engkau jangan menyerahkan keremajaanmu kepada orang lain, dan tahun-tahun umurmu kepada orang kejam; supaya orang lain jangan mengenyangkan diri dengan kekayaanmu, dan hasil susah payahmu jangan masuk ke rumah orang yang tidak dikenal (Amsal 5:1-10)


Kitab Amsal memberikan wejangan bijaksana bagaimana kita harus hidup. Bijaksana adalah satu keahlian untuk hidup sukses dan bijaksana di dalam budaya Ibrani ini adalah dikaitkan dengan takut kepada Allah. Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan. Hikmat ini artinya banyak di dalam kitab Amsal. Hikmat mempunyai unsur pengetahuan, hikmat mempunyai unsur membedakan (discerning), hikmat mempunyai unsur kepandaian, hikmat mempunyai unsur kebenaran, keadilan dan kejujuran.

Menarik sekali bahwa hikmat ini dikaitkan dengan perempuan bijaksana yang memanggil para pria untuk mempunyai bijaksana. Hikmat ini bersifat feminim. Namun sekali lagi hikmat diperbandingkan dengan perempuan jalang yang menawarkan perzinahan dan nafsu duniawi. Teologi dari kitab Amsal menjelaskan bahwa jalan hikmat adalah jalan menuju Allah dan jalan nafsu adalah jalan menuju setan dan kebinasaan.

Satu hal yang menarik adalah ada kaitan antara hikmat, bijaksana, kerohanian, relasi, dan juga seksualitas. Di dalam Alkitab jelas bahwa kerohanian berkaitan dengan seksualitas. Seksualitas yang tidak beres menggambarkan kerohanian yang tidak beres. Tetapi seksualitas yang tidak beres dimulai dari keinginan dan konsep yang tidak beres. Konsep yang tidak beres dimulai dari perkataan si jahat.

Teologi dari Roma 1 menjelaskan semua ini bahwa ketika manusia menolak mengakui Tuhan sebagai pencipta langit dan bumi dan Tuhan yang harus disembah maka manusia jatuh kepada menyembah alam semesta. Tuhan menjadi dibuang dan alam ciptaan menjadi disembah. Berhala mulai disembah dan Allah dibuang tempatnya. Kemudian akibat dari penyembahan berhala itu adalah manusia melakukan hubungan seksual yang tidak beres dan menggantikan persetubuhan yang wajar. Ada homoseksual, lesbian, dll. Ini semua dimulai karena keinginan dan konsep yang tidak beres yaitu manusia mau menjadi seperti Allah dan mempercayai kebohongan dari si jahat. Bandingkan teologi Roma 1 ini dengan teologi Kejadian 3.

Di dalam Alkitab sering digambarkan orang Israel yang tidak setia dan menyembah berhala. Salah satu yang sering disembah adalah Baal. Mengapa Israel suka menyembah berhala ? Karena keinginan mereka dan konsep mereka yang tidak beres. Karena nafsu mereka juga. Di dalam penyembahan Dewa Baal sering terjadi perzinahan dengan pelacur bakti. Ini menarik bangsa Israel karena mereka melakukan hubungan seksual yang tidak beres. Ini juga menunjukkan bahwa kerohanian berkaitan dengan seksualitas.

Kembali kepada hal mengenai bijaksana maka manusia dihadapkan dengan kedua pilihan. Yaitu hikmat yang dilukiskan dengan perempuan bijaksana yang memanggil manusia untuk belajar dan menimba bijaksana. Disana dengan hikmat manusia menemukan pohon kehidupan. Tetapi sebaliknya manusia dihadapkan dengan perempuan jalang yang memanggil mereka untuk berzinah. Disana dengan perempuan jalang maka manusia akan dibawa kepada maut. Hanya Ada dua pilihan bagi kita manusia yaitu berhikmat atau mengikuti hawa nafsu. Memilih Tuhan atau setan.

Aplikasi bagi kita :
Penyembahan berhala yang berupa pelacur bakti seperti penyembahan Baal terjadi di masa lampau. Tetapi ada penyembahan berhala yang dapat dilakukan oleh kita manusia di dalam dunia cyberspace. Di dalam Internet terdapat banyak situs yang isinya adalah perempuan jalang yang memanggil-manggil. Apakah pikiran anda seperti Daud yang terjerumus untuk berzinah (secara pikiran tentunya) ? Ataukah pikiran anda seperti Yusuf yang menolak untuk berzinah (secara pikiran). Perempuan jalang itu terus menarik anda dan berusaha untuk menjatuhkan anda. Dan bila anda terbawa dengan tawarannya maka sedikit-sedikit anda dibawa ke dalam penyembahan berhala.

Satu hal bahwa inti penyembahan berhala adalah monisme yaitu menganggap bahwa semuanya adalah satu dan tidak ada perbedaan. Pandangan monisme ini bila kita terapkan kepada 10 perintah Allah adalah yaitu : Tidak ada perbedaan antara Allah dan berhala. Tidak ada perbedaan antara Allah dan ciptaan. Tidak ada perbedaan antara hari sabat dan hari biasa. Tidak ada perbedaan antara orang tua dan anak. Tidak ada perbedaan antara istri sendiri atau istri orang lain (perzinahan). Tidak ada perbedaan sebelum atau sebelum pernikahan (perzinahan). Tidak ada perbedaan antara benar dan salah (bersaksi dusta). Tidak ada perbedaan antara barang milikku dan barang milikmu (pencurian).

Kaitan semuanya satu dan tidak ada perbedaan dengan kerohanian dan seksualitas adalah bahwa orang yang menyembah berhala tidak bisa membedakan antara istri dan bukan istri, antara pacar dan istri, antara saudara laki-laki dan perempuan dengan istri, antara orang tua dengan istri, antara benda-benda dengan istri dan bahkan antara binatang dengan istri. Semua ini dicatat di dalam Imamat 18 yaitu dosa perzinahan.

Refleksi : Apakah kita ingin dibawa oleh perempuan jalang dan dibawa kepada persatuan dengan setan dan persatuan konsep bahwa semuanya adalah sama saja ? Ataukah kita ingin dibawa kepada persekutan dan persatuan dengan Tuhan di dalam kebenaran dan terang ?


Penutup
Satu hal bahwa orang yang berada di dalam kegelapan tidak bisa melihat terang dan gelap dan tidak bisa membedakan terang dan gelap. Ketika orang makin mendekati terang maka dia bisa membedakan terang dan gelap. Ketika orang menghadap Tuhan maka dia menemukan terang dan ketika dia memalingkan wajah dari Tuhan maka dia melihat bayangannya sendiri. Dan ketika berjalan makin jauh dari terang akhirnya yang terlihat hanyalah sama saja yaitu kegelapan. Tidak ada perbedaan di dalam kegelapan. Dan anda akan binasa disana.

Tantangan : Apakah anda ingin bertobat dari kegelapan dan kembali kepada terang ?


Jeffrey Lim
Limpingen@gmail. com
Institut Reformed
Minggu, 6 April 2008
Ketika terinspirasi mendengarkan kotbah Ev. Diana Ruth Winoto, M.Div. dan juga kuliah Prof. Peter Jones, Ph.D.


Sumber: http://groups.yahoo.com/group/METAMORPHE


Diedit oleh: Denny Teguh Sutandio

08 April 2008

Roma 7:7-12: HUKUM TAURAT DALAM PERSPEKTIF KRISTEN-2: Hukum Taurat dan Dosa-1

Seri Eksposisi Surat Roma :
Manusia Lama Vs Manusia Baru-10


Hukum Taurat Dalam Perspektif Kristen-2 :
Hukum Taurat dan Dosa-1


oleh: Denny Teguh Sutandio


Nats: Roma 7:7-12.


Setelah mempelajari tentang arti yang lebih dalam bahwa kita telah mati bagi Taurat di pasal 7 ayat 1-6, maka di ayat 7-12, Paulus menjelaskan tentang kaitan antara Hukum Taurat dan dosa.

Dari enam ayat pertama di pasal 7, seolah-olah Paulus terkesan menyalahkan Taurat. Supaya tidak terjadi penyalahtafsiran dari para pembaca, maka pada pasal 7 ayat 7, Paulus mengajarkan dengan jelas, “Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah hukum Taurat itu dosa? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: "Jangan mengingini!"” Pertama-tama, Paulus memjelaskan presuposisi para pembaca yang telah membaca keenam ayat awal di pasal 7 ini, yaitu hukum Taurat itu bukanlah dosa (atau lebih tepatnya, hukum Taurat itu bukan membuat kita meleset dari sasaran Allah). “Sekali-kali tidak!” dalam terjemahan Indonesia diterjemahkan “God forbid.” dalam terjemahan King James Version (KJV). Dengan kata lain, bukan Taurat penyebab dosa. Lalu, apa yang mengakibatkan manusia berdosa ? Diri sendiri yang melawan Allah. Hal ini ditegaskan Paulus selanjutnya, “Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: "Jangan mengingini!"” Kedua kata “ingin” di dalam bagian ini diterjemahkan KJV dengan dua kata yang agak berlainan. Kata “keinginan” diterjemahkan lust (Yunani : epithumia ; akar katanya : epithumeō ; Indonesia : keinginan/nafsu) dan kata “mengingini” diterjemahkan covet (Yunani : epithumeō ; Indonesia : iri hati/menaruh hati pada...). Kedua perbedaan ini membukakan satu arti bagi kita. Kata “keinginan” dilekatkan dengan keinginan nafsu birahi manusia SETELAH dirinya membaca Taurat yang hanya berbicara jangan menaruh hati pada sesuatu. Di sini, ada suatu pengertian yang meluas (=lebih parah) setelah membaca Taurat. Yaitu, sebelum membaca Taurat, Paulus tak tahu apa itu keinginan (tentu bukan karena ia tidak tahu, tetapi belum tahu), tetapi setelah membaca Taurat, ia semakin mengetahui dan mengerti serta menjalankannya (konotasi negatif). Artinya, hukum Taurat membukakan realita tentang dosa kepada kita. Tujuannya agar kita sadar bahwa kita ini hanya manusia ciptaan, terbatas dan jatuh ke dalam dosa serta kita harus kembali kepada Allah sebagai Sumber. Bagaimana dengan kita ? Bukankah kita juga sama seperti Paulus ? Bukan karena kita tidak tahu dosa, tetapi kita belum mengetahui dosa itu, lalu setelah kita mengetahui dosa itu, kita bukan menyadarinya dan bertobat, malahan kita makin melakukannya. Itulah cengkeraman dosa di dalam hidup kita.

Bukan hanya itu saja, Paulus menambahkan di ayat 8, “Tetapi dalam perintah itu dosa mendapat kesempatan untuk membangkitkan di dalam diriku rupa-rupa keinginan; sebab tanpa hukum Taurat dosa mati.” KJV menerjemahkannya, “But sin, taking occasion by the commandment, wrought in me all manner of concupiscence. For without the law sin was dead.” Justru, anehnya, melalui Taurat, Paulus mengungkapkan dosa mendapat kesempatan untuk membangkitkan keinginan di dalam dirinya. Kata “mendapat kesempatan” di dalam bahasa Yunani aphormē berarti titik pembuka (starting point). Dengan kata lain, melalui Taurat lah, semakin manusia membaca dan menghafal Taurat (tanpa pengertian sejati dari Allah) akan mengakibatkan :
pertama, manusia tersebut mengenal dosa dan semakin berbuat dosa.
Kedua, dosa itu hidup. Jika dibalik dari pernyataan “... ; sebab tanpa hukum Taurat dosa mati.”, Paulus sendiri mengajarkan bahwa hukum Taurat mengakibatkan dosa itu hidup.
Ketiga, dosa hidup, tetapi manusia mati. Di ayat 9-10a, Paulus mengatakan dengan terus terang, “Dahulu aku hidup tanpa hukum Taurat. Akan tetapi sesudah datang perintah itu, dosa mulai hidup, sebaliknya aku mati.” Artinya, semakin orang menjalankan Taurat tanpa pengertian yang benar, maka orang itu semakin mati, dan dosa semakin ia tumpuk secara tidak sengaja, karena ia menjalankan Taurat secara membabibuta.

Inilah tragisnya orang yang katanya beragama, berTaurat, tetapi sebenarnya tidak mengerti esensi Taurat dengan pengertian sejati dari Allah. Akibatnya mereka sebenarnya bukan sedang beragama, menjalankan perintah Tuhan, tetapi mereka sedang menumpuk dosa, murka Allah, dan akhir dari semuanya itu adalah kematian orang yang mengaku diri beragama/berTaurat itu. Bagaimana dengan kita ? Kita sebagai orang Kristen mungkin berani mengaku diri sudah membaca ribuan ayat Alkitab bahkan berkali-kali membaca Alkitab dari Kejadian sampai dengan Wahyu, tetapi seringkali kita membaca tanpa pengertian dan pendalaman serta pelaksanaan, sehingga pembacaan kita sia-sia sama seperti orang-orang Yahudi yang taat membaca Taurat, tetapi tidak mengerti esensinya. Apa esensi Firman Allah ? Esensinya adalah kebenaran mutlak Allah, disertai dengan kasih, keadilan, kejujuran, kesetiaan, pemeliharaan dan murka-Nya. Itu semua adalah esensi Firman Allah, sehingga ketika kita membaca Alkitab, berusahalah mengerti esensinya sehingga kita tidak salah mengartikan apalagi salah menerapkannya. Memisahkan Firman Allah dari esensi sangat menyesatkan dan membahayakan orang lain (apalagi kalau ini dilakukan oleh para “pemimpin gereja” yang mungkin sudah bergelar doktor berderet-deret). Hal ini sudah dipraktekkan oleh para ahli Taurat, sehingga di dalam Matius 6:5,7, Tuhan Yesus mengkritik doa para ahli Taurat yang munafik seperti orang fasik (tidak mengenal Allah) dan di dalam Matius 23, Tuhan Yesus mengkritik kemunafikan orang-orang yang menganggap diri “ahli” Taurat. Tuhan tidak membutuhkan kemahiran kita berdebat theologia, atau bergelar doktor sampai berderet-deret, sebaliknya Ia membutuhkan ketaatan umat-Nya mempelajari dan melakukan firman-Nya dengan pengertian dan esensi yang benar (bukan berarti Ia tak menghargai kepandaian manusia, melainkan Ia menghina mereka yang tidak taat kepada-Nya tetapi berani mengklaim diri “pandai”). Orang-orang Farisi dan ahli Taurat sudah membuktikan kegagalannya mengerti Taurat, apakah kita juga mengikuti jejak mereka dengan pura-pura alim/religius di depan semua orang, tetapi hati kita jahat dan busuk di hadapan-Nya ? Mari kita mengintrospeksi diri masing-masing. Pada saat kita berlaku busuk dan munafik demikian, Alkitab mengatakan bahwa kita sedang mati (meskipun secara kasat mata kita hidup). Mati di sini bukan secara fisik, tetapi secara spiritual, artinya terputusnya hubungan kita dengan Allah.

Mengapa kita bisa mati dan dosa semakin hidup ? Karena, “perintah yang seharusnya membawa kepada hidup, ternyata bagiku justru membawa kepada kematian.” (ayat 10b) Kata “seharusnya” di dalam ayat ini menunjukkan bahwa tujuan awal Allah mewahyukan firman-Nya melalui Taurat untuk membawa manusia hidup memuliakan Allah dan menikmati-Nya selama-lamanya. Tetapi akibat dosa, manusia semakin tidak dapat memuliakan Allah, sehingga baginya, Taurat itu sesuatu “momok” yang mengerikan dan membawa kepada kematian. Esensi kesalahannya terletak bukan kepada Taurat, tetapi kepada diri manusia yang bebal, berdosa dan sok tahu di hadapan Allah. Perintah Taurat itu membuat manusia semakin diikat oleh Taurat dan terpaksa melakukannya karena jika tidak melakukannya, hukumannya mati. Pemaksaan seperti ini yang diterapkan di dalam hukum Yahudi khususnya berkenaan dengan Sabat. Barangsiapa yang berjalan beberapa meter saja di hari Sabat, sudah dianggap bekerja, itu menodai hari Sabat dan harus dihukum. Sehingga setiap perintah Taurat bukan perintah yang memerdekakan, tetapi perintah yang membelenggu. Bagaimana dengan kita ? Apakah kita juga demikian ? Sesudah kita dilahirbarukan oleh Roh Kudus, seharusnya kita memandang Taurat dan hukum Allah bukan sebagai “momok” yang mengerikan, tetapi sebagai sukacita respon kita setelah kita diselamatkan di dalam Kristus. Menaati perintah Allah seharusnya menjadi kegemaran kita, bukan menjadi “momok” bagi kita. Rasul Yohanes mengajarkan, “Inilah tandanya, bahwa kita mengasihi anak-anak Allah, yaitu apabila kita mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintah-Nya. Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat,” (1 Yohanes 5:2,3)

Lebih lanjut, Paulus menjelaskan di ayat 11, “Sebab dalam perintah itu, dosa mendapat kesempatan untuk menipu aku dan oleh perintah itu ia membunuh aku.” Bukan hanya membuat kita mati, malahan Taurat yang tidak dimengerti bisa menipu dan membunuh kita. Mengapa ? Kembali, karena kita tak mengerti esensi Taurat. Albert Barnes di dalam tafsirannya Albert Barnes’ Notes on the Bible menafsirkan Taurat yang menipu kita sebagai Taurat yang mengakibatkan kita semakin berbuat dosa dengan menyeleweng dari jalan Allah. Mengapa demikian ? Karena Taurat yang tidak dimengerti dapat mengakibatkan kita sebagai pembacanya bisa sombong, merasa diri menguasai Taurat, seperti para ahli Taurat, tetapi sejujurnya mereka tak mengerti esensi Taurat. Ini yang disebut paradoks. Banyak orang mengira dirinya mengerti segala sesuatu, tetapi sejujurnya mereka tak mengerti apapun. Justru, orang yang selalu merasa diri belum mengerti, di saat itulah ia bertumbuh dan mengerti bahwa ia perlu mengerti lebih banyak. Kunci pertumbuhan sejati bukan terletak pada berapa banyak gelar akademis yang diperoleh, tetapi pada kerendahan hati ingin belajar kebenaran Firman Tuhan.
Bukan hanya menipu, kemengertian seseorang yang salah akan Taurat dapat membunuh orang tersebut. Membunuh di sini menurut Albert Barnes adalah “aku mati” di Roma 7:8. Mengapa bisa demikian ? Karena pengertian yang salah akan Taurat dapat mengakibatkan orang tersebut makin melakukan Taurat secara salah makin ia terbelenggu oleh peraturan itu dan akhirnya lama-kelamaan ia akan mati dalam kesia-siaan. Bagaimana dengan kita ? Kita mungkin sudah membaca dan mengerti Alkitab dan doktrin Kristen yang banyak, tetapi sampai sejauh mana pengertian kita mempengaruhi spiritualitas/kerohanian kita dengan Tuhan. Doktrin itu sangat penting, tetapi tidak boleh dipisahkan dari pengalaman rohani sejati dengan Tuhan. Jangan menjadi Farisi-farisi modern ! Tuhan tidak menyenangi kita yang berkutat terus di dalam hal theologia, tetapi lupa bersekutu dengan-Nya dan mengalami-Nya. Mengalami Tuhan adalah suatu pengalaman setelah kita mengerti doktrin Alkitab secara beres. Prof. Sinclair B. Ferguson, Ph.D. di dalam bukunya Kehidupan Kristen : Sebuah Pengantar Doktrinal pada bab 1 memberikan judul “Mengetahui Adalah untuk Menghidupinya”. Sebuah judul bab yang singkat namun mendalam bahwa kita mengetahui doktrin yang banyak itu bagus tetapi ingatlah bahwa semua doktrin itu dimengerti bukan sebagai bahan debat, melainkan untuk menghidupi doktrin itu di dalam kehidupan kita sehari-hari. Mengapa ? Karena Firman itu hidup dan memerdekakan kita dari budak dosa dan Taurat. Orang yang terlalu banyak belajar doktrin tetapi kurang menghidupinya membuktikan bahwa orang itu belum mengerti Firman Tuhan dengan beres, apalagi orang itu yang lebih parah menganggap bahwa Firman Tuhan itu mati. Padahal, Firman Tuhan itu hidup dan berkuasa (Roma 1:16).

Sebagai kesimpulan, di ayat 12, Paulus mengajarkan, “Jadi hukum Taurat adalah kudus, dan perintah itu juga adalah kudus, benar dan baik.” Hukum Taurat menurut Paulus tetap adalah kudus, benar (benar adil) dan baik. Itulah hukum Taurat yang sesungguhnya. Sehingga yang perlu dikoreksi bukan Taurat, tetapi kita yang membaca dan melakukan Taurat. Puji Tuhan, kita sudah dimerdekakan dari kutuk hukum Taurat melalui penebusan Kristus. Tetapi kita tidak boleh mengatakan bahwa kita tidak perlu menjalankan Taurat. Taurat tetap adalah Firman Allah yang perlu dijalankan bahkan bagi orang Kristen yang sudah ditebus oleh Kristus, tetapi bedanya kita menjalankan Taurat dengan sukacita dan kasih kepada Allah (bukan dengan unsur keterpaksaan dan keterikatan seperti yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi). Ketika kita menjalankan perintah Taurat, kita menjalankannya untuk memuliakan Allah, bukan untuk kehebatan kita sendiri, karena segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia dan bagi Dia, kemuliaan bagi-Nya untuk selama-lamanya (Roma 11:36).

Setelah merenungkan keenam ayat ini, maukah kita berkomitmen gemar menjalankan perintah Tuhan/Taurat di dalam hidup kita dengan sukacita dan kasih kepada Allah ? Biarlah Tuhan menyelidiki hati dan motivasi kita. Soli Deo Gloria. Amin.

Matius 9:18-26: SAVING FAITH

Ringkasan Khotbah : 10 Juli 2005


Saving Faith

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.


Nats: Mat. 9:18-26



Pendahuluan
Kita telah memahami bahwa Kristus adalah Tuhan dan hanya kepada-Nya kita harus taat, ketika kita telah memutuskan untuk menjadi pengikut Kristus maka pengikutan itu bersifat terus menerus bukan sementara dan sebagai anak Tuhan yang sejati kita harus hidup kudus dengan demikian kita beda dengan dunia maka sub tema yang keempat adalah bagaimana hidup beriman di dalam Kristus. Sub tema keempat ini merupakan klimaks dari seluruh implikasi Kerajaan Sorga. Pada bagian pertama ini ada dua kejadian yang terjadi bersamaan, yaitu: pertama, anak perempuan dari Yairus, seorang kepala rumah ibadat sedang sakit keras dan akhirnya meninggal namun dalam situasi demikian iman Yairus tidak bergeser, ia tetap beriman pada Kristus. Fokus iman inilah yang hendak ditekankan oleh Matius, itulah sebabnya ia menyisihkan bagian-bagian lain yang dianggap tidak perlu sehingga dapat menggeser inti cerita; kedua, iman seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan.
Setiap orang di dunia tidak pernah tahu akan hari esok maka iman itulah yang melandasi seluruh langkah hidup kita. Hati-hati, kalau kita salah memilih obyek iman maka akan berakibat fatal yakni membawa kita pada kehancuran. Manusia menyadari hal ini namun ironisnya, manusia tidak mau kembali pada Kristus Sang Kebenaran yang sejati. Cornelius Van Till mengungkapkan bahwa di dunia ini manusia terbagi dalam dua golongan, yaitu: pertama, manusia yang beriman pada Kristus, kedua, orang yang beriman pada diri sendiri dan semua ekstensi yang ada pada dirinya sendiri. Pertanyaannya adalah apakah diri layak untuk dipercaya? Kalau memang benar, kenapa muncul istilah “kurang percaya diri,“ hal ini menunjukkan bahwa sesungguhnya, diri tidak layak untuk dipercaya. Untuk menutupi kenyataan ini orang membuat alasan lain, yakni kalau sesuatu tidak dapat diterima logika maka orang tidak akan mau percaya. Perhatikan, kalau sebelumnya orang sudah tidak percaya maka semua yang masuk akal tidak akan dapat diterima akal sebaliknya kalau orang sudah percaya maka semua yang tidak masuk akal akan masuk di akal. Jadi, masalah ada pada percaya atau logika? Jelaslah bahwa segala sesuatu harus dimulai dari rasa percaya dulu barulah segala sesuatu akan dapat diterima akal.
Bukanlah hal yang mudah mengatakan pada seseorang yang tidak percaya bahwa hanya melalui Kristus Yesus saja kita diselamatkan karena baginya: jalan keselamatan melalui Kristus tidaklah dapat diterima akal. Begitu juga kalau kita mengatakan pada seorang atheis bahwa dunia dan segala isinya diciptakan oleh Tuhan sebab baginya hal itu tidak masuk akal. Kepercayaan seseorang itulah yang menentukan apakah sesuatu itu masuk akal ataukah tidak masuk akal maka logika itu tergantung dari percaya. Seorang yang sudah tidak percaya bahwa Allah itu ada maka semua hal tentang Allah menjadi tidak masuk akal. Ada orang yang mau percaya kalau ia telah melihat terlebih dahulu, pertanyaannya adalah apa yang mau dipercaya kalau ia sudah melihat? Sesungguhnya, melihat itupun tergantung dari apa yang ia pikir, tergantung dari imannya dan itupun akan menghasilkan interpretasi yang berbeda, sebagai contoh, seorang dokter dengan seorang ahli hukum melihat suatu kejadian kecelakaan lalu lintas misalnya akan mempunyai pandangan yang berbeda.
Manusia lebih suka ditipu daripada kita mengatakan kebenaran tentang dirinya; orang akan menjadi sangat marah ketika kita mengatakan tentang keburukannya. Kalau begitu, sebenarnya manusia itu pintar atau bodoh? Ingat, memiliki banyak pengetahuan bukanlah jaminan bahwa ia adalah seorang yang pandai sebab ia tidak mengerti esensi, contohnya Saulus, seorang yang sangat pandai sekaligus sangat bodoh sampai kemudian ia bertobat barulah disadari bahwa segala sesuatu yang ada padanya tidak lebih dari sekedar sampah. Manusia seharusnya mengakui bahwa kepandaiannya tidak dapat menyelamatkan hidupnya. Orang pandai tidak identik dengan orang bijak. Hendaklah kita takut akan Tuhan sebab itulah permulaan pengetahuan dan orang bodoh menghina hikmat dan didikan (Ams. 1:7).
I. Teguhkanlah Hatimu
Orang sulit menerima realita bahwa suatu hari kelak manusia berdosa harus berhadapan dengan pengadilan Tuhan dan upah dosa adalah maut. Hanya anugerah Tuhan kalau kita dapat terlepas dari hukuman dosa. Tidak ada cara atau usaha apapun yang dapat membebaskan kita dari hukuman dosa, semua usaha adalah sia-sia belaka. Demikian juga halnya dengan perempuan yang sakit pendarahan ini, segala cara dan usaha pastilah sudah ia tempuh, seluruh tenaga dan uang sudah ia habiskan demi untuk kesembuhannya namun semua sia-sia, sakitnya tidak menjadi sembuh tetapi justru semakin parah. Pada saat tidak ada pengharapan itulah, ia bertemu Tuhan Yesus, ia percaya dengan menjamah jubah-Nya saja maka akan sembuh. Tuhan Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata: “Teguhkanlah hatimu, imanmu telah menyelamatkan engkau“ (Mat. 9:22). Tidak ada satu katapun yang keluar yang menyinggung tentang kesembuhan sebab Tuhan Yesus hendak membereskan konsep iman yang sifatnya esensi dan jawaban ini sekaligus menjawab pergumulan Yairus.
Orang yang menaruh kepercayaannya pada obyek iman yang tepat maka seluruh pola pikirnya yang kacau akan diubahkan menuju pada esensi iman yang sejati. Perubahan ini bukanlah perubahan yang bersifat fenomena. Tidak! Francis Shaeffer mengungkapkan I do what I think and I think what I believe, apa yang kita lakukan merupakan hasil dari apa yang kita pikirkan dan apa yang kita pikir merupakan hasil dari kepercayaan kita dari sini nampak jelas bahwa radian hidup kita yang paling luar adalah do atau tindakan, barulah think atau pikiran dan kemudian believe atau iman. Sesungguhnya, pola pikir kita dipengaruhi oleh: kesatu, apa yang kita pikirkan itu merupakan hasil dari seluruh informasi yang kita dapatkan seperti, budaya, pengalaman hidup, genetik, lingkungan sosial, dan lain-lain; kedua, apa yang kita pikirkan merupakan hasil filsafat hidup kita (Rm. 12:2) dimana filosofi hidup menjadi main set atau pola pikir kita. Karena itu, orang yang mempunyai pengalaman sama maka hasil yang didapatkan atau cara mereka menanggapi pengalaman itu tidak akan sama karena pola pikir antara satu orang dengan orang yang lain berbeda. Main set ini sekaligus adalah believe atau imannya yang mengendalikan seluruh hidupnya. Bagian terdalam inilah yang biasa disebut orang dengan perasaan atau hati; rasa sakit, rasa sedih, rasa gembira yang kita rasakan itu sesungguhnya dikendalikan oleh otak.
Jadi, segala sesuatu yang kita pikir dan kita rasakan sesungguhnya berasal dari pusat yang sama yakni otak. Pikiran dan perasaan kita dikendalikan oleh inti hidup dan inti hidup manusia sudah menjadi mati ketika manusia jatuh dalam dosa. Secara fenomena, memang manusia tidak mati, manusia masih bernafas namun itu hanya bersifat sementara sebab secara esensi, dia sudah mati. Ketika hati manusia sudah mati maka itu berarti seluruh hidupnya telah mati. Hanya Tuhan, Sang Sumber Kehidupan yang dapat menghidupkan hati manusia yang telah mati, yaitu dengan memberikan hati yang baru dan roh yang baru (Yeh. 36:26). Tanpa hati dan roh yang baru maka manusia tidak akan dapat hidup. “Teguhkanlah hatimu“, Tuhan Yesus ingin mengajak kita melihat bahwa inti daripada iman sejati adalah kembali kepada Tuhan; bukan usaha atau kemampuan kita yang membuat kita dapat beriman kepada Tuhan, tidak, tetapi semua karena anugerah Tuhan semata. Hanya Tuhan Sang Sumber Hidup itu yang dapat menghidupkan kita kembali, hanya Tuhan yang dapat memberikan hati yang baru. Perempuan yang sakit pendarahan ini hanya berorientasi di permukaan, dia hanya melihat sebuah tindakan tetapi dia tidak mengerti esensi karena itu Tuhan langsung mengkoreksi inti iman. Janganlah kita terkecoh dengan hal-hal yang sifatnya fenomena tetapi hendaklah iman kita itu muncul dari kesadaran kita sebagai manusia berdosa dan hanya Tuhan saja yang dapat memberikan kekuatan hidup pada kita yaitu di dalam Kristus Yesus.
II. Iman yang Menyelamatkan
Kalau hati kita sudah dihidupkan oleh Kristus maka iman yang keluar dari hati yang dikuatkan itu adalah iman yang menyelamatkan. Perempuan ini pastilah tidak pernah berpikir akan keselamatan jiwa, kemungkinan dia hanya memikirkan hasil, yaitu kesembuhan. Hari inipun banyak orang yang memikirkan tentang hasil, orang hanya berorientasi pada kesembuhan. Hal ini menunjukkan bahwa orang masih terikat dengan hal yang sifatnya fenomena; orang hanya melihat hasil iman tanpa ia mengerti akan apa arti esensi iman. Iman seharusnya menghasilkan “hasil“ tetapi celakanya, sekarang iman kita kepada “hasil.“ Pada tahap ini, iman perempuan hanya kepada “hasil atau kesembuhan“ saja. Celakanya, sampai hari inipun orang masih beriman pada “hasil“, maka tidaklah heran kalau seringkali kita mendengar ungkapan: orang baru mau percaya kepada Tuhan Yesus kalau ia disembuhkan. Berarti ia beriman pada “hasil atau sembuh“, kalau ia tidak sembuh maka dengan mudah dan cepat imannya akan berpindah pada obyek iman yang lain yang dapat memberikan “hasil“ yang sesuai dengan keinginannya. Tuhan ingin menyadarkan kita bahwa iman itu bukanlah digeser ke “hasil“ tetapi iman harus kembali pada obyek iman, yaitu iman yang menyelamatkan, saving faith. Memang, iman dapat memberikan “hasil“ tetapi iman yang menyelamatkan ini tidak mengacu pada hasil; memang, iman itu memberikan kekuatan tetapi kita tidak beriman pada “kekuatan“ itu. Itulah sebabnya, Tuhan Yesus tidak menyinggung sedikitpun tentang kesembuhan meskipun hasilnya, perempuan ini disembuhkan karena Tuhan Yesus tidak ingin iman itu bergeser pada kesembuhan. Iman yang sejati adalah iman yang menyelamatkan, iman yang bersifat esensial yang membawa kita memandang pada Kristus Sang Kebenaran Sejati. Melalui kisah ini, Matius ingin supaya orang terbuka dan menyadari bahwa iman sejati bukanlah pada hal yang tampak secara fenomena tetapi iman sejati hanya ada dalam Kristus.
Pada dasarnya, setiap manusia pasti berjalan dengan iman tetapi pertanyaannya adalah iman kepada siapa? Apakah kita mau mempertaruhkan hidup kita dengan beriman pada sesuatu yang sifatnya fenomena dan mudah berubah? Ingat, hari ini, mungkin kita sembuh tetapi besok kita mati. Iman sejati haruslah terarah pada Kristus, satu-satunya oknum yang posisinya lebih tinggi dari manusia. Janganlah kita salah dengan mempercayakan diri kita pada sesuatu yang posisinya berada di bawah kita atau sejajar kita, yaitu:
kesatu, materi, celakalah kalau kita menyandarkan iman kita pada sesuatu yang bersifat materi yang posisinya berada di bawah manusia karena itu berarti kita telah merendahkan eksistensi hidup kita. Ingat, materi tidak bersifat kekal sebab suatu hari nanti materi itu dapat hilang lenyap, kedua, janganlah menyandarkan dirimu pada orang lain yang posisinya sejajar dengan kita sebab manusia sangatlah terbatas dan berdosa sehingga manusia pun dapat mengecewakan kita, ketiga, ketika orang lain sudah mengecewakan maka orang mulai tidak percaya lagi dan ia berbalik meletakkan kepercayaan itu pada dirinya sendiri, keempat, orang tidak menyandarkan imannya pada materi, orang lain atau diri lagi tapi ia bersandar pada iblis yang posisinya justru ada di bawah kita. Iblis memang mempunyai kemampuan lebih yang tidak dapat dilakukan oleh manusia tetapi jangan samakan kemampuan dengan posisi.
Segala sesuatu yang mempunyai kekuatan besar tidak berarti ia mempunyai posisi atau ordo lebih tinggi dan bukan berarti pula kita harus tunduk padanya. Tidak! Sebagai contoh, gajah mempunyai kekuatan lebih besar dari manusia tetapi bukan berarti kita harus tunduk pada gajah, bukan? Binatang mempunyai ordo atau urutan di bawah manusia. Begitu juga setan, setan adalah malaikat yang dicipta Tuhan dan jatuh dalam dosa; malaikat dicipta Tuhan untuk melayani Allah dan manusia. Manusia dicipta sebagai makhluk tertinggi dalam ordo ciptaan karena manusia dicipta menurut gambar dan rupa Allah maka urutan atau posisi yang benar berdasarkan ordo ciptaan adalah: manusia – malaikat – setan. Jadi, kalau manusia menyembah kepada setan itu berarti menyalahi ordo. Betapa bodohnya manusia! Memang, iblis mempunyai kekuatan lebih besar dari manusia tetapi bukan berarti manusia harus tunduk pada setan. Manusia yang beriman pada Kristus mempunyai hak untuk mengusir setan. Tuhan memberikan hak pada anak-Nya untuk mengusir setan karena Tuhan sendiri tidak ingin anak-Nya berkompromi dengan iblis. Hati-hati, sekali kita berkompromi dengan iblis maka sukar sekali bagi kita untuk dapat lepas kecuali Tuhan beranugerah maka Dia akan membebaskan kita dari ikatan dan belenggu iblis.
Materi, manusia, diri sendiri dan iblis tidak layak untuk dijadikan sebagai obyek iman karena semua itu tidak membawa kita pada keselamatan. Hanya iman pada Kristus saja yang membawa kita pada keselamatan; kita akan merasakan sukacita dan damai sejahtera ketika berjalan dalam pimpinan Tuhan. Kita tidak tahu hari esok namun kita tahu satu hal yang pasti pimpinan Tuhan tidak akan pernah salah. Kita tidak tahu esok akan terang atau gelap tapi kita tahu Tuhan selalu berjalan disisi kita, Dia akan menolong ketika kita dalam kesusahan. Banyak hal yang tidak kita tahu di dunia ini namun satu hal yang pasti Tuhan telah menyelamatkan kita dan Dia telah menyediakan tempat bagi kita di Sorga kekal. Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber: http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2005/20050710.htm

Resensi Buku-51: SELANGKAH DEMI SELANGKAH (Rev. Prof. James C. Petty, D.Min.)

...Dapatkan segera...
Buku Resources for Changing Lives :
STEP BY STEP
(SELANGKAH DEMI SELANGKAH)


oleh: Rev. Prof. James C. Petty, M.Div., D.Min.

Penerbit: Momentum Christian Literature, Surabaya, 2004

Penerjemah: Ev. Dra. Trivina Ambarsari S., S.Th.





Deskripsi singkat dari Denny Teguh Sutandio :
Katekismus Singkat Westminster Pasal 1 menjawab pertanyaan : “Apakah tujuan utama manusia” dengan jawaban : “Tujuan utama manusia adalah memuliakan Allah dan menikmati Dia untuk selama-lamanya.” Bagaimana kita bisa memuliakan Allah di dalam hidup kita sehari-hari ? Adalah dengan hidup sesuai kehendak-Nya. Tetapi apa kehendak Allah bagi kita ? Apakah Ia memiliki kehendak khusus bagi kita ? Bagaimana kita mengerti dan menjalankan kehendak Allah ? Di dalam buku ini, Dr. James C. Petty menjelaskan prinsip-prinsip mengerti kehendak Allah. Buku ini diawali pada bab-bab awal tentang tiga paradigma yang bermunculan di dalam keKristenan tentang hikmat dan bimbingan Allah, misalnya pandangan tradisional yang mengajarkan bahwa ada peran dan rencana khusus Allah bagi setiap individu dengan menginterpretasi situasi, perasaan, desakan batin, dll. Pandangan kedua disebut Pandangan Karismatik Tradisional yang menitikberatkan pada mimpi, penglihatan, dll sebagai pola bimbingan Allah. Dan terakhir Pandangan Hikmat yang mengajarkan bahwa meskipun Allah memiliki rencana khusus bagi setiap individu, rencana itu tetap rahasia, dan Ia memberikan kita hikmat untuk mengerti rencana-Nya yang rahasia itu. Kemudian, beliau membagi dan menjelaskan dua macam kehendak Allah, yaitu kehendak yang dekriptif (ketetapan atau rencana Allah) dan preseptif (perintah Allah). Dua macam kehendak Allah inilah yang menuntun para pembaca ke dalam tiga lingkaran kehendak Allah, yaitu : wilayah semua hal yang terlarang (perintah negatif Alkitab), wilayah pengaplikasian perintah-perintah Allah yang positif (perintah positif Allah) dan wilayah kemerdekaan Kristen (merupakan pilihan di antara alternatif-alternatif yang sama baiknya). Pada bagian terakhir, beliau menguraikan tujuh (7) elemen pengambilan keputusan yang Alkitabiah, yaitu : Pengabdian Diri, Informasi, Permohonan, Konsultasi, Meditasi, Keputusan, dan Pengharapan. Masing-masing elemen ini disertai aplikasi praktis melalui contoh Don di dalam mengerti kehendak Allah ketika ia ingin berpindah pekerjaan atau tidak.


Rekomendasi para theolog/pendeta :
“Selangkah demi Selangkah adalah pendekatan yang segar dan mengikuti zaman sekaligus Alkitabiah dan meneguhkan, ditulis dengan baik untuk menjawab pertanyaan Kristen yang selalu muncul : Bagaimana saya bisa mengetahui kehendak Allah bagi hidup saya ? Saya merekomendasikan buku yang bijak dan berimbang ini kepada setiap orang.”
(Rev. James Montgomery Boice, D.Theol., D.D. – Pendeta Senior di Tenth Presbyterian Church, U.S.A.)

“...penawar bagi banyak jawaban sesat yang telah dilontarkan untuk pertanyaan ini ... berfokus pada Alkitab ... menghidupkan theologi dengan cara yang sangat praktis dan meyakinkan.”
(Prof. Richard C. Chewning, Ph.D.)

“Buku yang baik mengenai cara mengambil keputusan-keputusan yang bijak dan menghormati Allah.”
(Prof. James Innell (J. I.) Packer, D.Phil. – Profesor Theologia di Regent College, Vancouver, British Columbia)

“…menghindari kesan bahwa bimbingan Alkitab hanyalah bagi kaum akademis … banyak contoh tentang bagaimana Allah memimpin kita melalui situasi-situasi yang memusingkan.”
(Prof. John M. Frame, D.D. – Profesor Theologia Sistematika dan Filsafat di Reformed Theological Seminary, U.S.A)

“Begitu sederhana, tetapi sangat mendalam. Tanpa terasa Anda akan menepuk dahi sambil berseru, ‘Ya, tentu saja! Inilah yang dikatakan Alkitab.’”
(Rev. Steve Estes, Th.M.)

“...Layak dipelajari dengan cermat dan serius ... pendekatan yang bisa dipercaya dan sangat menoloong di dalam membuat pilihan-pilihan hidup dan keputusan-keputusan pribadi yang penting.”
(Dr. Arthur F. Miller, Jr.)

“Saya merekomendasikan buku ini kepada semua orang Kristen yang mencari bimbingan. Dengan penuh kehangatan dan kejelasan, dipadukan dengan theologi yang benar, Dr. Petty menjelaskan bahwa pengertian rohani, hikmat dan pemahaman memampukan orang-orang Kristen mengetahui kehendak Allah bagi kehidupan mereka dan bagi situasi-situasi yang khusus.”
(Prof. Bruce K. Waltke, Th.D., Ph.D. – Profesor Perjanjian Lama di Reformed Theological Seminary, U.S.A.)






Profil Rev. Dr. James C. Petty :
Rev. Prof. James C. Petty, M.Div., D.Min. adalah Direktur dari Conciliation Services, seorang konselor dan Direktur Pengembangan di Christian Counseling and Educational Foundation di Glenside, Pennsylvania, Amerika Serikat. Beliau meraih gelar Master of Divinity (M.Div.) dan Doctor of Ministry (D.Min.) dari Westminster Theological Seminary, U.S.A.

07 April 2008

UPAYA PEMBENTUKAN THEOLOGI YANG KONTEKSTUAL (Ev. Yakub Tri Handoko, M.A., Th.M.)

Upaya Pembentukan Theologi yang Indonesiawi:
Perspektif Reformed Tentang Theologi Kontekstual


oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, M.A., Th.M.




Pendahuluan
Upaya menciptakan suatu theologi kontekstual bukanlah wacana yang baru dalam dunia pertheologian Indonesia. Wacana ini juga bukan milik eksklusif suatu golongan. Theolog injili (misalnya Chris Marantika), oikumenikal (Eka Darmaputera) maupun Katolik (J.B. Banawiratma) menawarkan wacana yang sama, meskipun bentuk dan motivasi di balik upaya itu mungkin berbeda.

Pada tingkat Asia, pergumulan ini telah melahirkan para theolog kontekstual yang terkenal, seperti Bong Rin Ro, Choan-Seng Song, Kosuke Koyama dan Stanley J. Samartha. ATA (Asia Theological Association) bahkan sedang menggarap seri tafsiran Alkitab yang bercorak Asia. Seri ini merupakan kerja sama mayoritas anggota ATA.

Tidak dapat disangkal, keinginan untuk melepaskan diri dari “kolonialisme theologi” Barat sudah demikian mengkristal. Tidak jarang muncul pernyataan negatif tentang “theologi Barat”. Charles W. Forman berpendapat, “Christian has been breaking with the idea that it depends on a Western base and has been asserting its Eastern identity…Non-Western Christianity has come of age”. [1] Lynn de Silva dari Sri Lanka bahkan berkomentar, “Christianity in the West is desperately in need of help, and it is the Third World that may provide this help”. [2] Bong Rin Ho menegaskan pendapat John Baillie “theological ideas are created on the Continent (Europe), corrected in Great Britain, and corrupted in America” dengan menambahkan “and crammed into Asia”. [3]

Terlepas dari kerancuan historis dan kekurangjelasan batasan “theologi” yang dipakai dalam pernyataan tersebut, semangat di baliknya tetap menjadi milik bersama theolog dunia ketiga, termasuk theolog Indonesia. Pertanyaan logis yang muncul adalah “apakah pembentukan theologi kontekstual tersebut realistis? Apakah itu bukan sekadar wacana atau utopia?”


Sejarah Singkat
Menelusuri sejarah theologi kontekstual di Indonesia merupakan tugas yang sangat rumit dan kompleks. Kesulitan ini berkaitan dengan ambiguitas arti “kontekstual” dan “theologi” (lihat re-definisi terminologi). Data sejarah berikut tidak membedakan secara tegas akomodasi, indigenisasi maupun kontekstualisasi. Perbedaan antara kontekstualisasi injil dan theologi juga tidak terlalu diperhatikan. Langkah ini ditempuh mengingat kontekstualisasi theologi merupakan hasil suatu proses panjang dan pergumulan sebelumnya.

Titik awal penting pengembangan theologi kontekstual dimulai dari sebuah konsultasi di Bossey, Switzerland, pada bulan Agustus 1971. [4] Ide ini dilandaskan pada keyakinan bahwa “both the approach and content of theological reflection tend to move within the framework of Western questions and cultural presuppositions, failing to vigorously address the gospel of Jesus Christ to the particular situation” (garis bawah penulis). [5] Sejak konsultasi ini theologi kontekstual tidak hanya menjadi pergumulan individual. Theologi kontekstual telah menjadi perhatian berbagai institusi Kristen yang bergerak dalam bidang misi maupun pengembangan theologi. Bahkan kekristenan Barat mulai menjadikan isu ini sebagai salah satu pergumulan theologis mereka.

Di Indonesia sendiri kesadaran untuk memperhatikan kultur pribumi sudah muncul lama. Pada pertengahan abad XIX Coolen telah meleburkan theologi Kristen ke dalam kultur Jawa. Ia bahkan menolak sakramen baptisan dan perjamuan kudus karena dianggap sebagai kultur Barat. [6] Praktek ini diperbaiki oleh Paulus Tosari. Ia mengabarkan injil menggunakan kultur Jawa (penggunaan tembang dan wayang) dan bertolak dari pemikiran Jawa (Rasa Sedjati), tetapi ia tetap mempraktekkan sakramen. [7] Kyai Sadrach Surapranata juga mengembangkan ajaran Kristen dari pengharapan orang Jawa tentang kedatangan Ratu Adil dan Dewi Sri. [8] Pemikiran yang paling terarah tentang kontekstualisasi tologi mungkin dipelopori oleh B. M. Scuurman di sekolah Bale Wijata di Malang tahun 1927. Ia bahkan sudah mengusulkan persyaratan bertheologi di Jawa. [9] Benih pemikiran yang telah lahir ini pada kenyataannya kurang diikuti oleh usaha yang sistematis dan mendalam untuk membangun theologi Indonesiawi. Refleksi theologi Indonesia secara umum sampai tahun 1940 masih berorientasi pada pola Barat.

Periode 1940-1945 ditandai dengan menjamurnya kemandirian gereja. Kemandirian ini disebabkan faktor politis yang terjadi. Para penginjil luar negeri sudah tidak bebas lagi memberikan pendidikan theologi, sehingga beberapa sekolah theologi terpaksa ditutup. Meskipun di beberapa tempat posisi pengajar di sekolah theologi lokal diambil alih oleh orang pribumi, tetapi tidak ada refleksi theologi baru yang bersifat Indonesiawi. [10]

Perubahan signifikan terjadi setelah kemerdekaan. Pembukaan kembali beberapa sekolah theologi diiringi dengan pencarian hakiki tentang dasar dan tujuan sekolah theologi. Dalam konteks pencarian ini, S. Marantika mengusulkan agar theologi selaku upaya ilmiah dimulai dari Indonesia. Theologi harus bertumbuh dan berakar dalam kehidupan masyarakat Indonesia sekarang ini. [11] Pokok yang ingin dicapai pada periode ini hanya sebatas mengupayakan agar problematika theologis dari Barat tidak memainkan peran utama. [12] Masa-masa sesudah itu diwarnai dengan perhatian para theolog terhadap kekhasan suatu etnis dan keadaan Indonesia secara umum. Perkembangan ini tidak sampai pada tahap pembentukan theologi yang berakar dari pemahaman etnis maupun konteks Indonesia secara umum.

Seiring bergulirnya waktu, aspirasi untuk menciptakan theologi kontekstual yang Indonesiawi semakin mendapat tempat. Gerakan oikumene Asia atau dunia dan publikasi theolog kontekstual Asia turut menumbuhkan benih pemikiran yang sudah lama tertanam. Beberapa theolog hanya memberikan wacana dan menerangkan proses yang harus ditempuh. Yang lain hanya menaruh perhatian pada metode penyampaian theologi. Sebagian telah melangkah lebih jauh dengan pembentukan “theologi” yang berakar dari konteks Indonesia. Fokus utama dalam konteks Indonesia yang mendapat perhatian paling besar adalah pluralitas agama. Beberapa theolog oikumenikal bahkan telah menjadi seorang pluralis, misalnya Ioanes Rakhmat.


Theologi Reformed: Theologi Universal dan Kontekstual
Theologi Reformed – sedikit atau banyak, sengaja atau tidak, benar atau salah – telah diberi label sebagai theologi yang anti perubahan. [13] Theologi Reformed dianggap theologi yang tidak peka zaman dan eksklusif. H. Henry Meeter menyinggung pandangan umum tentang theologi Reformed dan politik:
The remark is made at times that Calvinisme may be good enough as a theological system but that it has no political program to offer beyond a few general truths concerning the sovereignty of God in all areas of life and the obedience which citizens owe the government. It is claimed that Calvinisme has never developed a political system of its own. Or, if it is allowed that it has developed such a system, it is said to consist of mere abstract theories which have never been tried in the political arena to show whether they are workable or not. [14]

Pandangan di atas merupakan bentuk penyangkalan historis dan misinterpretasi terhadap konsep theologi Reformed. Alister McGrath menulis, “Calvin addressed real and specific human situations – social, political, and economic…(he) was a theologian sharing the life of his people and attempting to interpret and apply the gospel in that situation”. [15] Sejarah bahkan mencatat kontribusi penting pemikiran Calvin bagi kota Geneva.
Calvin’s chief title to a place in history rests upon his success as a legislator. As a theologian he was a follower; as a legislator he was a pioneer. His system of doctrine was derived, while his political economy broke new ground and based the social edifice on new principles. Certainly he is entitled to the credit of having established a political and legal system on a model of its own, which has profoundly influenced, directly or indirectly, all subsequent democratic institutions. [16]

Tokoh Reformed lain yang sangat peduli dengan konteks hidupnya adalah Abraham Kuyper. [17] Ia menganggap aplikasi theologi Reformed harus nampak dalam setiap aspek kehidupan. Menjadi orang Reformed berarti mengakui ke-Tuhanan Kristus atas semua aspek hidup seperti seni, ilmu dan politik. Pandangan ini selanjutnya diadopsi oleh Cornelius van Til, seorang apologet Reformed yang sangat terkenal. Dengan kata lain, Calvin, Kuyper dan Van Til adalah theolog kontekstual pada zaman mereka.

Ada dua kebenaran fundamental utama bagi perhatian gereja terhadap konteks. Pertama, kedaulatan Allah. [18] Kedaulatan Allah telah menjadi dasar bagi seluruh bangunan theologi Reformed. Allah bukanlah Allah orang Kristen saja. Ia adalah Allah seluruh bumi. Ia terlibat dalam setiap detail kehidupan manusia. Ia bisa dan berhak menggunakan segala sesuatu untuk merealisasikan rencana-Nya, termasuk rencana keselamatan. “Berperan” dalam rencana Allah bagi orang Reformed harus dipahami dalam skala yang lebih komprehensif dan holistik. Dalam konsep theologi yang teokratis tidak ada perbedaan antara yang sakral dan sekuler. Taurat mengajarkan keterlibatan Allah secara eksplisit dalam kehidupan sehari-hari bangsa Israel. Menurut M. Eugene Osterhaven, salah satu alasan fundamental di balik motif theologis-kritis dalam perjuangan manjaga lingkungan adalah “the earth is the Lord’s”. [19]

Kedua, common grace. [20] Melalui anugerah Allah beberapa aspek sosial, kultural dan politik tetap terjaga dari kontaminasi akibat distorsi dosa. Orang Kristen harus bersikap kritis dalam menganalisa dan menyeleksi elemen-elemen konteks. Firman Tuhan adalah hakim, bukan pelayan konteks. Berpijak pada fakta bahwa segala kebenaran adalah kebenaran Allah, Arthur F. Holmes menasehatkan supaya orang percaya harus selalu mengontrol setiap praktek moral dan lembaga sosial menurut penilaian hukum Allah yang konstan dan menerapkan hukum tersebut dengan cara-cara yang lebih baik. [21]

Perspektif di atas harus menjadi cermin dan landasan bagi keterlibatan theologi Reformed dalam menjawab pergumulan kontemporer yang ada. Keterlibatan ini tidak berarti theologi Reformed melayani konteks. Sebaliknya, konteks harus menjadi ancilla theologiae (pelayan theologi). Theologi tidak boleh diletakkan di bawah konteks dengan tujuan mengemis akseptabilitas. Jadi, keterlibatan theologi Reformed dalam suatu konteks tidak harus bersifat kooperatif. Kadang keterlibatan tersebut bersifat evaluatif dan kritis.


Proses Menuju Theologi Indonesiawi
Proses menuju theologi kontekstual (baca: theologi Indonesiawi) jauh lebih rumit daripada proses kontekstualisasi Injil. Batasan gospel core relatif mudah ditentukan daripada theology core. Selain itu kontekstualisasi Injil hanya menyentuh area soteriologi, sedangkan kontekstualisasi theologi mencakup area yang lebih luas dan komprehensif. Rangkaian proses dan permasalahan di bawah ini akan menjawab pertanyaan yang sudah dikemukakan pada bagian pendahuluan, “apakah theologi Indonesiawi sesuatu yang realistis, sekadar wacana atau hanya utopia?”

Re-definisi Terminologi
Barat
Istilah pertama yang perlu diperjelas supaya tidak menimbulkan ambiguitas arti adalah “Barat”. Apa yang dimaksud dengan “Barat”? Meminjam istilah sosiologi, “kultur Barat” bukan sekadar mengacu pada posisi geografis, tetapi pada mentalitas. [22] Dalam pembahasan “kultur Barat” persoalan jauh lebih sederhana, karena kultur merupakan ekspresi eksplisit dari mentalitas. Ada keterkaitan yang erat antara mentalitas dan kultur. Di sisi lain, istilah “theologi Barat” dapat lebih mudah diceraikan dari mentalitas Barat, karena theologi berakar dari wahyu Allah, bukan dari pergumulan kontekstual. Hal ini tidak berarti bahwa theologi bersifat in-kontekstual. Secara ontologis tidak ada suatu theologi yang tidak kontekstual. Manusia bertheologi di dalam konteks, bahkan wahyu Allah juga diberikan dalam konteks. Namun, theologi harus mulai dari teks, bukan dari konteks. Ambiguitas arti ini merupakan tugas awal yang memerlukan klarifikasi. Theolog kontekstual harus membuat garis pemisah yang tebal antara theologi secara an sich dan kultur Barat sebagai bungkusnya. Memang tidak dapat disangkal bahwa “theologi Barat” muncul dalam konteks tertentu, tetapi sejauh mana konteks tersebut menentukan isi theologi masih merupakan tanda tanya besar. Benarkah ada theologi yang muncul dari dan terkait dengan mentalitas Barat? Apakah karena theologi sebagai ilmu lahir dan dewasa di Barat berarti “theologi Barat”?

Dalam skala yang lebih sempit, istilah “konteks Indonesia” juga tidak mudah untuk didefinisikan. Kata “konteks” mencakup beragam aspek dan dan variabel. Batasan “Indonesia” dalam konteks “theologi yang Indonesiawi” juga sangat kabur. Tugas awal kembali menanti theolog kontekstual Indonesia untuk menemukan dan mendefinisikan apa yang disebut “konteks Indonesia” (bukan konteks kedaerahan suatu suku). Tugas menjadi lebih sulit apabila konteks dihubungkan dengan perkembangan. Konteks, atau lebih jelas Indonesia, terus mengalami perubahan. Apakah “konteks” hanya mencakup elemen-elemen yang permanen dan tradisional? Ataukah konteks juga menyentuh produk modernisasi dan westernisasi yang telah dan terus berlangsung? Berpegang pada batasan yang jelas antara akomodasi, indegenisasi dan kontekstual/inkulturasi, [23] pengertian “konteks” dalam topik ini seharusnya menyangkut arti yang kedua. Hal ini berarti ada elemen-elemen kultur Barat tertentu yang sudah melebur dan tidak terceraikan dari konteks kontemporer Indonesia. Salah satu contoh adalah kultur keterbukaan yang sekarang menjadi wacana sosial dan politik. “Keterbukaan” bukanlah elemen tradisional budaya Indonesia (atau Jawa). Apakah keterbukaan ini bagian dari konteks Indonesia?


Theologi
Istilah “theologi” sudah sangat lazim didengungkan, tetapi kelaziman ini tidak berarti bahwa istilah ini dipahami secara sama oleh pemakainya. Dialog antar aliran theologi seringkali menemui jalan buntu karena kerancuan istilah yang dimaksud. Penulis merasa perlu memaparkan sketsa sejarah secara ringkas tentang penggunaan istilah “theologi”. [24]

Istilah theologi bukanlah istilah Alkitab. Theologia mula-mula dipahami secara sempit, merujuk pada pemahaman tentang Allah (Clement of Alexandria dan Eusebius of Caesarea). Pengertian modern tentang theologia sebagai disiplin/ilmu tentang hal-hal yang sakral baru muncul pada abad XII-XIII, seiring dengan berkembangnya University of Paris. Selanjutnya istilah ini dipahami dalam konteks kehidupan yang praktis. Theologi tidak lagi menjadi konsumsi intelektual seperti pada zaman skholastik. Perkembangan selanjutnya hanya menghasilkan kerancuan. McGrath, mengutip Edward Farley, mengatakan:
Theology has changed its meaning from its classic sense of “a heartfelt knowledge of divine things” to the mastery of different and unconnected techniques. Theology has become fragmented into a collection of unrelated theoretical and practical disciplines, and lost any sense of coherence. No longer is theology a unitary disciplines; it has become an aggregate of unrelated specialties. The debate now ranges more widely than this, and has raised questions about the “architecture of theology” – for example, the relationship between biblical studies and systematic theology, or systematic and pastoral theology. [25]

Kejelasan arti “theologi” sangat berpengaruh pada pemahaman keseluruhan tentang theologi kontekstual. Kritikan John Baillie dan Bong Rin Ro menunjukkan inkonsistensi dan kerancuan istilah yang dipakai. Stomach Theology yang dikembangkan Wayan Mastra di kalangan orang miskin di pulau Bali [26] ternyata secara esensial tidak lebih daripada sekadar metode kontekstualisasi. Tidak ada konstruksi maupun titik pertemuan dengan theologi (pemahaman) orang Bali. Apa yang dilakukan Mastra sebenarnya lebih tepat disebut kontekstualisasi injil.

De-kontekstualisasi
Sebelum membangun suatu theologi dalam konteks tertentu, theolog kontekstual harus menemukan, meminjam istilah dari kontekstualisasi injil, apa yang disebut theology core. Proses ini disebut de-contextualization, yaitu “the task of sorting and seeking the originals”. [27] Setelah “theologi Alkitab” berhasil dikeluarkan dari bungkusnya (konteks historis suatu kitab atau teks), kebenaran yang telanjang (naked truth) itu lalu diberi bungkus yang baru.

Ada beberapa hal mendasar berkenaan dengan proses ini. Pertama, selain konteks umum Alkitab (budaya Yahudi untuk PL dan Yunani untuk PB), suatu kitab atau teks juga berangkat dari suatu konteks historis yang khusus. Penulis Alkitab membahas keadaan tertentu yang dihadapi jemaat.

Kedua, untuk kitab-kitab PB proses ini harus dilakukan dengan lebih berhati-hati. Tidak semua pemikiran penulis Perjanjian Baru berawal atau dipengaruhi oleh budaya Hellenis. Studi theologi PB menunjukkan pengaruh PL yang dominan dalam pembentukan theologi penulis PB. Bahkan Paulus yang dididik dalam lingkungan Hellenis pun sangat berkiblat pada PL.

Ketiga, penggunaan beberapa konsep dan kosa kata dari sumber non-biblikal dalam PB tidak selalu mengindikasikan bahwa konsep penulis PB benar-benar berakar dari sumber tersebut. Dalam banyak kasus penggunaan tersebut tidak lebih daripada sekadar pengungkapan kebenaran universal iman Kristen dalam konsep berpikir Hellenistik. Fakta ini menuntut koherensi dan kekomprehensifan proses de-kontekstualisasi.

Keempat, proses ini harus dimulai dengan konsensus tentang metode hermeneutik yang harus dipakai.[28] Perbedaan cara mendekati teks akan menghasilkan theology core yang berbeda. Contoh yang paling konkret adalah de-mythologization Bultmann yang didasarkan pada filsafat eksistensialisme. Berpijak pada keyakinan bahwa para penulis PB tidak eksistensial (dipengaruhi oleh konsep zaman), ia berpendapat bahwa rujukan pada hal-hal yang supranatural, misalnya pengusiran setan, tiga bagian dunia, kebangkitan, dsb., adalah produk kultur Hellenistik yang harus dipisahkan guna menemukan “injil yang sesungguhnya”. Akibatnya ia membedakan antara historical Jesus dan kerygmatic Jesus. Bagi Bultmann kebangkitan Yesus bukanlah sesuatu yang esensial. Hal ini berkontradiksi dengan apa yang selama ini dipercayai oleh mayoritas umat Kristen. Kesulitan hermeneutis juga bisa terlihat dari keberagaman interpretasi di kalangan theolog injili. Menggunakan metode hermeneutik yang sama tidak selalu bermuara pada interpretasi yang sama. Presupposisi theologis seseorang seringkali terlibat dalam penafsiran, terutama berkenaan dengan ayat-ayat tertentu yang terkesan bertentangan denagan presupposisi tersebut.


Mengenali Batasan-batasan
Seandainya dua proses di atas berhasil dilalui, ada beberapa batasan yang perlu dipahami dalam upaya mengkontekstualisasikan theology core.
1. Beragam theologi yang dimunculkan dalam konteks berbeda harus bersifat melengkapi, bukan kontradiksi.[29] Batasan ini didasarkan pada pemikiran logis bahwa tidak ada dua kebenaran yang berkontradiksi. Seandainya dua macam theologi ternyata berkontradiksi salah satu di antaranya pasti salah atau dua-duanya salah.
2. Theologi kontekstual tidak boleh berkontradiksi dengan theology core. Apa yang bersifat kontekstual tidak boleh bertentangan dengan apa yang universal. Sebagai contoh, penekanan pada konsep Allah yang monoteistik mungkin bisa menjadi suatu pilihan untuk proses bertheologi di Indonesia, tetapi penekanan ini tidak boleh mengaburkan konsep Tritunggal yang bersifat universal.
3. Topik theologi yang dikontekstualisasikan tidak boleh dijadikan pondasi theologi. Kesalahan esensial Theologi Pembebasan, Theologi Penderitaan, Theologi Kerbau dan lain-lain terletak pada “eksploitasi” suatu teks atau ajaran Alkitab menjadi pondasi theologi yang mengharuskan semua theology core yang lain sesuai dan mendukung teks tersebut. Tidak jarang metode eisegese dipakai dalam de-kontekstualisasi. Theology core dalam Alkitab harus menjadi pedoman dan dasar. Hesselgrave berkata, “theological reflection without epistemological control and revelatory givens can lay no valid claim to being Christian”. [30]
4. Motivasi di balik kontekstualisasi theologi hanya sebatas menjadikan suatu theologi sebagai jembatan penginjilan. Theologi kontekstual bukanlah kunci atau penentu pemberitaan injil diterima atau ditolak. Betapa pun efektif suatu theologi kontekstual, pertobatan dan penerimaan injil merupakan pekerjaan Roh Kudus.
5. Motivasi untuk melepaskan diri dari “theologi Barat” bukanlah motivasi mulia untuk theologi kontekstualisasi. Mentalitas ini tidak menghargai sejarah. Bukankah theologi yang selama ini dicap sebagai “theologi Barat” telah turut membentuk konsep berpikir theolog dan gereja? Paul G. Hiebert berhasil mendeteksi kesalahan ini. Ia menulis,
“contemporary cultural contexts are taken seriously, but historical contexts are largely ignored. In each culture Christian face new questions for which they must find biblical answers...they can learn much from church history…to become a Christian is to become a part of a new society, and that history must be learned”.[31]
Pemisahan diri dari “theologi Barat” harus dimulai dari pemisahan semua “pengaruh Barat” yang telah melekat dalam pikiran theolog dan gereja. Pertanyaan adalah “apakah pemisahan ini mungkin?”
6. Pembentukan theologi kontekstual tidak boleh mengabaikan tugas untuk menyampaikan seluruh maksud Allah (Kisah 20:27). Theologi kontekstual harus dipahami dalam konteks misi, bukan konteks pembangunan theologi jemaat. Jemaat membutuhkan theologi universal yang holistik dan yang membawa mereka pada pengenalan tentang Allah yang sesungguhnya. Tujuan utama bertheologi bukan mengaplikasikan diri secara tepat dalam suatu konteks (konteks-sentris), tetapi teosentris. Theologia a Deo docetur, Deum docet, et ad Deum ducit (theologi diajar oleh Allah, mengajarkan tentang Allah dan memimpin pada Allah).


Refleksi Ulang
Melalui pemaparan tiga proses menuju theologi kontekstual dan berbagai kesulitan yang menyertainya, penulis mengajak semua pembaca untuk merefleksikan ulang theologi Indonesiawi. Usaha ini bukanlah pergumulan sederhana. Sangat disayangkan kalau selama ini pembentukan theologi kontekstual hanya merupakan hasil dari satu perspektif. Usaha ini merupakan pergumulan interdisipliner seluruh arsitektur theologi: biblikal, praktikal/misi, historikal dan sistematis. Sejauh ini belum muncul (atau mungkin tidak akan muncul?) suatu theologi Indonesiawi yang benar-benar berakar dari teks dan konteks. Semua kesulitan yang ada menjadi cermin bagi theolog Indonesia untuk menjawab pertanyaan “apakah pembentukan theologi kontekstual tersebut realistis? Apakah itu bukan sekadar wacana atau utopia?”
Tanpa bermaksud mengecilkan arti atau menyurutkan semangat, beberapa pemikiran “baru” tentang proses bertheologi di Indonesia mungkin perlu dipaparkan. Pemikiran ini tetap mengekspresikan kepedulian terhadap konteks dan semangat bertheologi secara nyata. Pemikiran ini mungkin bisa dijadikan dasar berpijak bagi solusi real yang akan diambil. Pertama, istilah “theologi kontekstual” sebaiknya dihindari, karena sangat ambigius dan bisa menyesatkan. Kedua, konteks kontemporer Indonesia sebetulnya tidak jauh berbeda dengan konteks Alkitab. Kekristenan sebagai minoritas (I Petrus), merebaknya ajaran sesat (Kolose, Galatia, II Petrus dan Yudas), penindasan kaum miskin (Yakobus), pluralitas agama (Kisah 17), kebusukan politik (Pilatus, Sanhendrin, penganiayaan oleh kaisar Romawi). Bukankah ide di balik theologi kontekstual adalah pencarian jawaban Alkitab atas berbagai permasalahan di atas? Dengan kata lain, tugas theolog bukanlah membangun theologi baru dalam suatu konteks, tetapi hanya mengaplikasikan ajaran lama ke dalam konteks yang baru. Fakta bahwa theologi Kristen dianggap tidak kontekstual bukan kesalahan theologi, karena Alkitab cukup komprehensif menjawab berbagai konteks yang mirip dengan konteks kontemporer Indonesia. Kesalahan terletak pada keengganan para theolog untuk memberitakan “seluruh maksud Allah”. Ketiga, theologi harus difungsikan sebagaimana mestinya. Salah satu tugas theologi Reformed adalah memperlengkapi jemaat dengan informasi kognitif yang terorganisasi. Informasi kognitif tersebut juga mencakup “the major loci and cardinal doctrines of Christian theology as set forth in Holy Scripture” dan “philosophical, ideological, and religius themes of contemporary thought where they affect the content of the Christian gospel construed as including both Christian proclamation and Christian teaching”.[32] Dengan pemahaman ini, jemaat sebagai individu Kristen maupun sebagai gereja dimampukan untuk mengekspresikan iman yang bersumber dari kebenaran yang tidak berubah ke dalam suatu konteks tertentu yang selalu berubah.

Akhir kata, penulis ingin mengingatkan kembali tentang pentingnya fondasi doktrin yang benar, yang memiliki nilai universal dan kekal. Semua pemikiran theologi yang pernah timbul dalam sejarah sebenarnya tidak lebih daripada sekadar ekspresi doktrin yang universal di dalam suatu konteks yang partikular. Mementingkan upaya kontekstualisasi lebih daripada pengajaran doktrin merupakan kesalahan fundamental dan usaha bertheologi yang tidak efektif. Konteks selalu berubah, tetapi kebenaran selalu tetap. Truth is always constant but not static.


Scriptura sacra locuta, res decisa est
(Holy Scripture has spoken, the issue is decided)

[1] Douglas J. Elwood, ed., Asian Christian Theology: Emerging Themes (Philadelphia: The Westminster Press, 1980), 23.
[2] Ibid, 25.
[3] “Contextualization: Asian Theology” in Biblical Theology in Asia , ed. by Ken Gnanakan (Bangalore: Theological Book Trust, 1995), 3.
[4] Jauh sebelum konsultasi ini beberapa penginjil dapat dianggap sebagai perintis teologi kontekstual, misalnya Matteo Ricci di China dan de Nobily di India. Ide tentang teologi kontekstualisasi sendiri sudah lama didengungkan, antara lain Theology of the pain of God oleh Kazoh Kitamori (1946). Lihat Elwood, Asian Christian Theology, 23-33.
[5] Dean Gilliland, “Contextualization” in Evangelical Dictionary of Word Mission, ed. by A Scott Moreau, Harold Netland and Charles van Engen (Grand Rapids/Carlise: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 2000).
[6] Th. van den End, Harta dalam Bejana: Sejarah Gereja Ringkas (cet. ke-3; Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1982), 271.
[7] Untuk detail lihat A.G. Hoekema, Berpikir dalam Keseimbangan yang Dinamis (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997), 46-56.
[8] Ibid, 74.
[9] Ibid, 116.
[10] Ibid, 200-210.
[11] Ibid, 250.
[12] Ibid, 251.
[13] Meskipun Eka Darmaputera tidak menyebut warna teologi secara eksplisit, namun dari esensi diskripsinya bisa ditangkap bahwa ia sedang menyorot teologi Reformed ketika ia menulis, “teologi yang benar, kata mereka, adalah yang universal, bukan yang kontekstual. Yang kebal terhadap perubahan, bukan yang peka terhadap perubahan…sepintas lalu, ia kedengaran menarik…tetapi ia menyesatkan. Sebab teologi yang universal, apalagi teologi yang kekal, itu sesungguhnya hanya ada di angan-angan”. Eka Darmaputera, “Menuju Teologi Kontekstual di Indonesia” dalam Konteks Berteologi di Indonesia, disunting oleh Eka Darmaputera (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1991), 9. Bandingkan prakata Stephen Tong dalam setiap seri terjemahan Teologi Sistematik, “sejarah membuktikan teologi yang berkompromi dengan pikiran zaman, secara lahiriah sepertinya lebih sesuai dengan zaman itu, namun sebenarnya segera akan digugurkan oleh zaman selanjutnya. Sedangkan Teologi Reformed seolah-olah kurang sesuai dengan arus zaman, namun telah menjadi penghakim pikiran zaman yang tidak berpangkalan pada kekekalan”.
[14] H. Henry Meeter, rev. by Paul A. Marshall, The Basic Ideas of Calvinism (6th edition; Grand Rapids: Baker Book House, 1990), 71.
[15] Alister McGrath, Spirituality in An Age of Change: Rediscovering the Spirits of the Reformers (Grand Rapids: Zondervan Publishing House, 1994), 40-41.
[16] Meeter, The Basic Ideas, 72.
[17] Ia merupakan salah satu teolog Reformed-culturalist. Yakub B. Susabda, Pengantar ke dalam Teologi Reformed (Jakarta: Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1994), 73-4.
[18] WCF III.1-2 “God from all eternity did, by the most wise and holy counsel of his own will, freely and unchangeably ordain whatsoever comes to pass…yet hath he not decreed anything because he foresaw it as future, or as that which would come to pass upon such condition”. WCF IV.1 “It pleased God the Father, Son, and Holy Ghost for the manifestation of the glory of his eternal power, wisdom, and goodness, in the beginning, to create, or make of nothing, the world, and all things therein, whether visible or invisible…” WCF V.1 “God, the great Creator of all things, doth uphold, direct, dispose, and govern all creatures, actions, and things, from the greatest even to the least…”
[19] M. Eugene Osterhaven, The Faith of the Church: A Reformed Perspective on Its Historical Development (Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company, 1982), 218.
[20] Louis Berkhof, Systematic Theology: New Combined Edition (Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1996), 435. Ia menulis, “it (anugerah Allah) appears also in the natural blessings which God showers upon man in the present life, in spite of the fact that man has forfeited them and lies under the sentence of death. It is seen in all that God does to restarin the devastating influence and development of sin in the world, and to maintain and enrich and develop the natural life of mankind in general and of those individuals who constitute the human race”.
[21] Arthur F. Holmes, Segala Kebenaran adalah Kebenaran Allah (diterj. oleh Yongky Karman; Jakarta: Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1990), 33.
[22] Koentjaraningrat membedakan antara “modernisasi”, “westernisasi” dan “penggunaan unsur-unsur Barat”. Lihat Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan (Jakarta: Gramedia, 1981), 131-7.
[23] Moreau, Evangelical Dictionary. Accomodation “indicates what generally conscious processes of adaptation, done with the willingness to adopt some of the forms of receiving culture and at times to leave aside some of the prior Christian church’s custom considered to be an impediment to embracing Christian faith in the receiving culture” (George E. Hunsberger, “Accomodation”). Indigenization “a term describing the translatability of the universal Christian faith into the forms and symbols of the particular cultures of the world” (Harvie M. Conn “Indigenization”). Inculturation “parallel to contextualization…the incarnation of Christian life and of the Christian message in a particular cultural context, in such a way that this experience not only finds expression through elements proper to the culture in question, but becomes a principle that animates, directs and unifies the culture, transformingand remaking it so as to bring about a new creation” (A Scott Moreau “Inculturation”).
[24] Sketsa ini diambil dari Alister E. McGrath, Historical Theology (Malden: Blackwell Publishers, 1998), 1-9. Lihat juga Edward Farley, “Theologia -The History of A Concept” dalam Readings in Christian Theology, ed. by Peter C. Hodgson and Robert H. King (Philadelphia: Fortress Press, 1985), 1-15. Untuk konsep Reformed tentang prolegomena teologi lihat Louis Berkhof, Introductory Volume to Systematic Theology (Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1932); Charles Hodge, Systematic Theology Volume I Chapters 1 & 2 (Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company, 1981). Untuk prolegomena yang lebih historical lihat Richard A. Muller, Post-Reformation Reformed Dogmatics Volume 1: Prolegomena to Theology (Grand Rapids: Baker Book House, 1987).
[25] McGrath, Historical, 4.
[26] Wayan Mastra, “Stomach Theology in a Poor Island Paradise” in Cup of Water, Bread of Life.
[27] Joseph Tong, Class Notes: Basic Reformed Doctrine (Los Angeles: International Theological Seminary, 2000), 3.
[28] Untuk pembahasan yang bagus tentang relasi kontekstualisasi dan hermeneutik lihat Richard A. Muller, “The Study of Theology” in Foundations of Contemporary Interpretation, ed., by Moises Silva (Grand Rapids: Zondervan Publishing House, 1996), 653-661.
[29] D. J. Hesselgrave, “The Contextual Theology” in Evangelical Dictionary of Theology (ed., Walter A. Elwell; rev. ed.; Grand Rapids/Carlise: Baker Academic/Paternoster Press, 2001), 295.
[30] Ibid.
[31] Paul G. Hiebert, “Critical Contextualization” in The Best in Theology Volume Two, ed. by J.I. Packer and Paul Fromer (Illinois: Carol Stream, t.th), 393.
[32] Robert L. Reymond, A New Systematic Theology of the Christian Faith (Nashville: Thomas Nelson Publishers, 1998), xxxiv.


Sumber: http://gkri-exodus.org/page.php?theologi-kontekstual



Profil Ev. Yakub Tri Handoko:
Ev. Yakub Tri Handoko, M.A., Th.M. adalah gembala sidang Gereja Kristus Rahmani Indonesia (GKRI) Exodus, Surabaya dan dosen paro waktu di Institut Theologi Abdiel Indonesia (ITHASIA), Pacet. Beliau meraih gelar Sarjana Theologi (S.Th.) dari Sekolah Tinggi Alkitab Surabaya (STAS); gelar Master of Arts (M.A.) dan Master of Theology (Th.M.) dari International Theological Seminary, U.S.A.