14 June 2009

Roma 15:22-24: PELAYANAN YANG DIPIMPIN ALLAH

Seri Eksposisi Surat Roma:
Penutup-4


Pelayanan yang Dipimpin Allah

oleh: Denny Teguh Sutandio



Nats: Roma 15:22-24



Setelah menjelaskan tentang pelayanannya, ia menyampaikan salam perpisahannya mulai ayat 22 ini. Salam perpisahan pada bagian pertama yang akan kita soroti adalah mengenai keinginannya bertemu dengan jemaat di Roma. Apa signifikansi ayat 22 s/d 24 ini? Mari kita analisa.


Di ayat 20-21, Paulus sudah mengatakan bahwa ia diutus untuk memberitakan Injil kepada orang-orang non-Yahudi. Karena panggilan inilah, ia rela tidak mengunjungi jemaat Roma. Hal ini diungkapkannya di ayat 22, “Itulah sebabnya aku selalu terhalang untuk mengunjungi kamu.” Kata “terhalang” di dalam struktur bahasa Yunani menggunakan bentuk pasif. Dengan kata lain, Paulus terhalang (dihalangi) untuk mengunjungi jemaat Roma karena pelayanannya untuk orang-orang non-Yahudi di Ilirikum (ay. 19-21). Kalau kita melihat kembali di pasal-pasal awal surat Roma (Rm. 1:8-10), di situ, Paulus berkeinginan mengunjungi jemaat di Roma karena ia telah mendengar berita tentang iman jemaat Roma. Maka di pasal menjelang terakhir, Paulus kembali mengingat itu dan mengatakan kepada jemaat Roma bahwa ia masing ingin datang ke Roma untuk melihat jemaat di sana. Di sini, Paulus lebih mementingkan pekerjaan Tuhan (memberitakan Injil) ketimbang keinginan pribadinya (mengunjungi jemaat Roma). Meskipun dua-dua itu baik, tetapi ia lebih mementingkan tugas pemberitaan Injil di Ilirikum ketimbang mengunjungi jemaat Roma. Inilah hamba Tuhan yang sejati. Hamba Tuhan sejati bukan lebih mementingkan apa yang mengenakkan di dalam pelayanannya, tetapi hamba Tuhan sejati adalah mereka yang lebih mementingkan panggilan dan tugas dari Allah dan mengesampingkan hal-hal sekunder yang kurang penting. Ketika kita diperhadapkan dengan dua kegiatan yang kelihatan sama-sama baik seperti kasus Paulus ini, apa reaksi kita? Misalnya, kita harus memberitakan Injil kepada seseorang atau kita menolong orang yang kekurangan, mana yang harus kita pilih? Beberapa kaum penganut “theologi” religionum bisa dipastikan akan memilih opsi kedua, yaitu menolong mereka yang kekurangan, karena bagi mereka jasmani lebih penting daripada rohani. Memang aneh kedengarannya, tetapi itu realitasnya. Lalu, bagaimana sikap orang Kristen dan hamba Tuhan sejati? Pekalah terhadap kehendak Tuhan. Jika Ia memimpin kita dengan jelas untuk memberitakan Injil, lakukanlah, tetapi jika Tuhan memimpin kita memilih opsi kedua, lakukannya, prinsipnya: TAAT, bukan mana yang mengenakkan kita. Biarlah ini mengoreksi diri dan pelayanan yang kita lakukan. Sudahkah kita menomersatukan Allah dan kehendak-Nya di dalam kehidupan dan pelayanan kita?


Setelah itu, Paulus kembali peka terhadap pimpinan Tuhan. Jika dahulu, ia dipimpin Tuhan memberitakan Injil kepada orang-orang di Ilirikum, saat ini, ia dipimpin Tuhan untuk meninggalkan Ilirikum dan kembali ke Roma. Perhatikan apa yang dikatakannya di ayat 23, “Tetapi sekarang, karena aku tidak lagi mempunyai tempat kerja di daerah ini dan karena aku telah beberapa tahun lamanya ingin mengunjungi kamu,” “Tempat kerja” yang dimaksud Paulus adalah di Ilirikum (ay. 19). Ketika Tuhan memimpin Paulus untuk berhenti memberitakan Injil di Ilirikum dan pergi ke Roma, ia taat dan berusaha keras mengunjungi jemaat di Roma (ay. 24). Kita akan melihatnya nanti di ayat 24. Kembali, jika kita melihat rangkaian penginjilan yang Paulus lakukan, tidak sedikitpun waktu yang ia sia-siakan di luar pimpinan Tuhan. Ia sangat peka melihat kehendak Tuhan. Kalau kita melihat kembali kisahnya di Kisah Para Rasul 16:9, kita dapat mengerti bahwa Paulus adalah rasul Kristus yang peka terhadap pimpinan Tuhan. Pada waktu itu, ia mendapat penglihatan seorang Makedonia yang memanggilnya. Dari situ, ia langsung tanggap bahwa itu pimpinan-Nya memberitakan Injil di Makedonia. Lalu, bagaimana tanggapan orang-orang Makedonia? Di ayat 13-15, Paulus memang diterima pertama kalinya oleh Lidia, penjual kain ungu dari kota Tiatira di Filipi tersebut, tetapi setelah itu, Paulus mengalami penderitaan karena memberitakan Injil Kristus (baca mulai ayat 16-40). Ya, pimpinan Tuhan bagi pelayanan kita tidak selalu mengenakkan. Ia memimpin kita terus melayani-Nya sesuai dengan kehendak dan waktu-Nya. Ia memimpin kita jauh di luar pemikiran kita. Ketika Ia memimpin kita meninggalkan suatu tempat pelayanan, sanggupkah kita taat? Ataukah kita beradu argumentasi dengan-Nya bahwa tempat pelayanan kita dahulu adalah tempat pelayanan di mana kita bisa melayani Tuhan dengan lebih dahsyat? Tuhan tidak menunggu seberapa hebat kita beradu argumentasi dengan-Nya, tetapi Ia menuntut kita TAAT mutlak di dalam setiap pelayanan yang Ia telah percayakan kepada kita. Ia yang memungkinkan kita dapat dan layak melayani-Nya, sudah seharusnya kita sebagai budak-Nya TAAT mutlak kepada Tuhan yang memberikan kelayakan kepada kita untuk melayani-Nya. Relakah kita TAAT?


Pimpinan Tuhan bagi Paulus untuk mengunjungi Roma membuat Paulus bersikeras memakai segala cara untuk bertemu dengan mereka. Ia berjanji untuk mengunjungi Roma. Hal ini dikatakannya di ayat 24, “aku harap dalam perjalananku ke Spanyol aku dapat singgah di tempatmu dan bertemu dengan kamu, sehingga kamu dapat mengantarkan aku ke sana, setelah aku seketika menikmati pertemuan dengan kamu.” Jika kita bandingkan terjemahan yang kurang enak dibaca ini dengan terjemahan Inggris, kita mendapatkan pengertian yang lebih jelas. Di ayat ini, maksud Paulus adalah ia hendak pergi ke Spanyol, tetapi sebelum ke Spanyol, ia menyempatkan dirinya untuk mengunjungi jemaat Roma dan bertemu dengan mereka sehingga mereka dapat menemaninya ke Spanyol. Albert Barnes di dalam tafsirannya Albert Barnes’ Notes on the Bible memberikan keterangan mengenai ayat ini. Barnes mengatakan bahwa daerah Spanyol zaman Paulus meliputi gabungan Kerajaan-kerajaan modern dari Spanyol dan Portugal yang kemudian tunduk di bawah kekuasaan Roma. Oleh karena itu, ketika ia hendak ke Spanyol, ia mampir bertemu dengan jemaat di Roma sekaligus untuk menemani Paulus ke Spanyol yang waktu itu berada di bawah kekuasaan Roma. Paulus tidak bermaksud menjadikan jemaat Roma sebagai teman mengobrol dan mengantarkannya ke Spanyol. Inti ayat ini sebenarnya adalah ia sangat rindu mengunjungi jemaat di Roma dan ingin berbagi berkat dengan mereka, sehingga ia mau jemaat Roma menemaninya ke Spanyol. Itulah yang bisa membuat Paulus senang. Lebih lanjut, Barnes mengatakan bahwa ia ragu apakah Paulus akan menyelesaikan perjalanannya ke Spanyol. Mengapa? Karena setelah penangkapannya pada waktu Paulus dibawa menghadap Nero, ia tinggal di Spanyol hanya 2 tahun. Keinginannya untuk mengunjungi jemaat Roma begitu besar, sehingga ia rela singgah di Roma sebelum melanjutkan perjalanannya lagi. Pimpinan Tuhan mengakibatkan kita berapi-api mengerjakannya, seperti yang Paulus lakukan ini. Tuhan menggerakkan dan memimpin Paulus mengunjungi jemaat Roma, oleh karena itu, ia sangat bersemangat. Bagaimana dengan kita? Ketika Ia memimpin kita, Ia memberikan api kuasa Roh Kudus kepada kita di dalam melayani-Nya. Ketika api itu kita rasakan, kita harus bersemangat melayani-Nya di tempat yang Ia pimpin. Para nabi dan rasul Tuhan di Alkitab sudah mengalami, sekarang giliran kita, alami api kuasa Roh Kudus yang membakar hati dan semangat kita di dalam melayani-Nya.


Setelah kita belajar tentang pelayanan yang berpusatkan pada kehendak Allah, bagaimana reaksi kita? Taat ataukah membandel? Tuhan ingin kita melayani-Nya dengan kesungguhan dan kemurnian hati sebagai respons terhadap anugerah yang telah Ia berikan. Biarlah Roh Kudus terus membakar hati kita di dalam melayani-Nya. Amin. Soli Deo Gloria.

Matius 15:29-39: LORDSHIP AND COMPASSION (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Ringkasan Khotbah: 07 Oktober 2007


Lordship & Compassion

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.


Nats: Matius 15:29-39


Tema utama Injil Matius adalah the Lordship of Christ, Kristus adalah Tuan atas segala tuan dan kita hanyalah budak. Seorang budak harus taat mutlak, tidak punya hak apapun atas diri, yang ada hanyalah kewajiban. Manusia berdosa tidak suka menjadikan Kristus sebagai Tuan atas seluruh aspek hidupnya, karena mereka ingin menjadi “tuhan.“ Matius telah membukakan pada kita dua macam orang yang sangat kontras, yakni: 1) orang Farisi yang dianggap saleh dan religius ketika bertemu dengan Tuhan malah mau mengatur bahkan melawan Tuhan. Inilah kerusakan religiusitas. Keagamaan semu hanya memanipulasi Tuhan dan menjadikan Tuhan sebagai alat untuk memenuhi keinginannya, 2) seorang perempuan Kanaan kafir, kaum marginal yang disisihkan oleh dunia namun Tuhan Yesus justru memuji dia karena ia memiliki iman yang besar (Mat. 15:28).
Hari ini banyak orang yang mengaku Kristus sebagai Tuhan namun sekedar di mulut saja sebab realitanya, orang memanipulasi Kristus demi keuntungan diri. Seorang anak Tuhan sejati harusnya menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Aku. Inilah iman sejati – rela menanggalkan keinginan diri bahkan menderita bagi Sang Tuan dan taat mutlak padaNya. Namun tidak banyak orang yang mau melakukannya, orang hanya ingin memanipulasi Tuhan, ingin berkat saja. Iman sejati tidak tergantung status sosial, kedudukan atau status religiusitas dari manusia. Muncul pandangan yang salah tentang siapakah manusia, yakni: 1) dunia yang hedonis berpandangan manusia tergantung dari apa yang ia makan, 2) manusia tergantung dari apa yang ia kerjakan atau lakukan, 3) pandangan yang paling tinggi adalah manusia tergantung dari apa yang ia pikirkan. Ketiga pandangan itu tidaklah sebanding dengan pengajaran Kekristenan, ykani manusia dikatakan sebagai manusia ketika ia tahu bagaimana bereaksi dan bertindak dengan tepat di hadapan Tuhan. Inilah inti dari iman sejati. Pertanyaan sekaligus menjadi evaluasi bagi setiap kita yang mengaku Kristen adalah sudahkah kita men-Tuhankan Kristus dalam seluruh hidup kita?
Hari ini kita akan merenungkan bagian akhir yang menjadi kesimpulan dari injil Matius 15:29-39. Sepintas kedua perikop ini tidak saling berkaitan, LAI (Lembaga Alkitab Indonesia) memecahnya menjadi dua bagian yang berbeda. Kedua perikop ini saling berkaitan erat. Kedua peristiwa itu, yakni peristiwa dimana Tuhan Yesus menyembuhkan orang lumpuh, timpang dan berbagai penyakit lain dengan Tuhan Yesus membuat mujizat memberi makan ribuan orang itu terjadi pada satu tempat yang sama. Setelah perdebatan sengit yang terjadi antara orang Farisi dan Tuhan Yesus maka untuk sementara waktu, Tuhan Yesus menyingkir ke daerah utara, Tyrus dan Sidon, dari sana Tuhan Yesus menyusur kembali lagi Galilea dan Ia berada di ujung sebelah utara danau Galilea. Ia pun mulai mengajar dan ribuan orang datang untuk minta disembuhkan. Dan dari sana, ia ke Magadan, satu wilayah dengan pantai Galilea. Jadi semua tempat itu jelaslah masih berada dalam satu wilayah yang sama. Adalah tafsiran yang salah kalau orang mengatakan bahwa Yesus pergi ke utara untuk bersembunyi dari orang-orang Farisi. Kalau Tuhan Yesus sembunyi, lalu kenapa 4000 orang bisa menemukan Tuhan Yesus untuk minta disembuhkan.
Perjumpaannya dengan Tuhan Yesus menyadarkannya akan hal yang esensi, yakni iman sejati. Dan setelah anak perempuan itu sembuh yang terjadi adalah orang banyak datang kepada Yesus dan membawa orang sakit untuk disembuhkan oleh-Nya. Mereka datang kepada Tuhan Yesus bukan karena iman perempuan Kanaan itu tetapi karena kesembuhan yang diterima oleh anak perempuan itu. Inilah jiwa manusia berdosa. Alkitab mencatat ada empat macam penyakit yang dikategorikan sebagai recreated atau tindakan penciptaan kembali. Mujizat orang buta melihat dan orang bisu disembuhkan tidak pernah ada dalam PL sebelumnya dan hal itu membuktikan Yesus adalah Mesias. Timpang dan lumpuh merupakan dua penyakit yang tidak bisa diselesaikan dengan mujizat biasa. Orang yang lumpuh kakinya pasti mengecil karena lama tidak pernah dipergunakan sebagaimana mestinya maka untuk mendapat kesembuhan berarti kakinya harus dipulihkan, kembali seperti asal. Hari ini kita menjumpai orang lumpuh berjalan namun semua itu hanyalah impulse sesaat sebab beberapa hari kemudian, ia kembali menjadi lumpuh. Recreation activity membuktikan satu hal yakni Kristus adalah Allah atas alam semesta. Demikian juga halnya dengan orang timpang, timpang berarti kakinya tidak sama panjang maka orang timpang yang disembuhkan berarti kedua kakinya harus sama panjang dan itu berarti, ia harus mengalami recreation. Dan hal ini tidak mungkin dikerjakan oleh manusia itulah sebabnya orang menjadi takjub dan memuliakan Allah Israel. Hanya Tuhan Yesus yang mampu melakukannya karena Ia adalah dasar dari segala ciptaan (Yoh. 1:3). Firman adalah pencipta dan Firman menghasilkan ciptaan dan ciptaan itu adalah kehidupan. Iblis bisa melakukan apa saja yang sepertinya mirip Tuhan namun satu hal yang membedakan adalah iblis tidak dapat menjadikan sesuatu yang mati menjadi hidup atau menciptakan benda yang tidak ada menjadi ada. Iblis hanya bisa membuat benda yang hidup menjadi mati. Kalau kita mau mencoba memilah bagian demi bagian dari sel tubuh kita dan kemudian kita gabungkannya kembali bisakah kita membuatnya hidup? Tidak! Manusia hanya bisa mematikan yang hidup bukan sebaliknya. Hak menghidupkan hanya ada dalam Kristus. Kristus adalah Tuhan berkuasa atas alam semesta. Sangatlah disayangkan, hari ini orang hanya menangkap sebagian ayat tanpa melihat secara keseluruhan. Maka tidaklah heran kalau orang hanya ingin kesembuhan dan cukup hanya dengan berkata “Puji Tuhan.“ Mereka hanya mendapatkan kegirangan sesaat, euforia tetapi di sisi lain, mereka kehilangan inti iman sejati. Melihat orang banyak itu kegirangan, Tuhan Yesus tidak ikut merasa senang tetapi Tuhan Yesus melakukan semua itu karena Ia tergerak oleh belas kasihan. Matius sangat unik mengkontraskan kedua hal ini, bagaimana men-Tuhankan Kristus? Men-Tuhankan Kristus berarti kita mengenal dan memahami siapakah Kristus dan bagaimana kita bereaksi terhadap Kristus:
1. Kristus adalah Tuhan Alam Semesta
Kristus adalah pencipta seluruh alam semesta harusnya menjadikan kita mengerti siapakah Kristus tetapi celakanya, orang tidak pernah berpikir untuk kepentingan Kristus tetapi hanya berpikir untuk kepentingan diri sendiri. Sadarlah, kita bukanlah siapa-siapa di hadapan Tuhan karena itu kita harus taat mutlak pada Dia yang adalah Allah sejati. Kita harus memutar arah dan berbalik pada Kristus karena Dia adalah Allah sejati. Orang banyak berkonsep tentang Tuhan namun semua itu hanya sekedar konsep yang sifatnya teori. Kristus telah membuktikan diri-Nya adalah Allah sejati. Kristus melihat orang begitu egois hanya ingin menarik keuntungan dari-Nya namun apa yang Ia lakukan tidak pernah bergantung pada reaksi manusia. Allah sejati adalah Allah yang beraksi. Kalau Tuhan bergantung pada reaksi manusia maka Dia bukan Allah sejati, Dia tidak lebih pembantu kita. Allah sejati tidak pernah merasa terganggu oleh ulah reaksi manusia. Tindakan Allah tidak tergantung dari manusianya. Bayangkan, kalau Tuhan bertindak tergantung dari reaksi manusia, setiap saat “allah“ pasti berulang kali dikejutkan oleh perbuatan kita. Kristus adalah Allah sejati maka kita harus taat mutlak pada-Nya. Kalau kita tidak mengerti konsep ini maka janganlah pernah terpikir bahwa kita adalah orang beragama dan kita sedang beriman. Tidak! Kita sedang mempermainkan iman. He is the true Lord. Tuhan Yesus tahu kalau tidak lama lagi mereka akan berteriak untuk menyalibkan Dia. Kalau Tuhan Yesus mau menyembuhkan mereka dan memberi mereka makan itu bukan demi mereka sendiri tetapi demi kemuliaan-Nya.
2. Memiliki hati Kristus
Orang tidak mau kembali pada Allah sejati karena orang telah kehilangan rasa percaya, trust bahkan celakanya, manusia telah kehilangan rasa belas kasihan, compassion. Tuhan Yesus telah memberikan teladan indah pada kita, Ia melakukan semua mujizat itu karena tergerak oleh belas kasihan. Hari ini sangat jarang orang yang punya rasa belas kasihan, semua yang mereka kerjakan demi keuntungan diri. Pernahkah kita tergerak oleh rasa belas kasihan ketika melihat jiwa-jiwa yang terhilang? Kalau kita tidak punya hati yang berbelas kasih jangan pernah berpikir kita dapat menginjili orang lain. Ketika manusia begitu egois justru saat itu Tuhan mendemostrasikan bagaimana hati yang berbelas kasih (Mat. 15:32). Yang menjadi pertanyaan adalah siapakah yang seharusnya patut dikasihani, Tuhan Yesus ataukah orang banyak itu? Mereka hanya duduk dan mendengar pengajaran Yesus, mereka mendapat kesembuhan sebaliknya Tuhan Yesus mengajar dan berbicara selama 3 hari, Ia juga menyembuhkan ribuan orang. Manakah yang seharusnya lebih layak dikasihani? Mereka tidak pernah peduli apakah Tuhan Yesus lapar atau letih. Tidak! Mereka hanya mementingkan diri sendiri.
Alkitab mencatat ada beberapa roti dan ikan namun mereka tidak pernah mempedulikan keadaan Tuhan Yesus yang letih setelah mengajar selama 3 hari berturut-turut, mereka hanya ingin dikenyangkan. Inilah jiwa manusia berdosa bahkan sampai hari ini kita manusia tidak berubah , orang tidak pernah bertanya apa yang menjadi kehendak Tuhan dan apa yang menjadi keinginan hati Tuhan. Tidak! Orang hanya peduli dirinya sendiri dan ironisnya, ketika Tuhan tidak menuruti keinginan mereka, orang langsung mengatakan Tuhan jahat. Tuhan adalah Tuhan yang penuh berbelas kasih, Dia tahu apa yang terbaik untuk kita tetapi apa balasan kita? Tuhan tahu setiap pergumulan kita dibandingkan kita mengerti pergumulan diri kita sendiri. Kita tidak pernah percaya pada-Nya, manusia yang sok tahu ingin mengatur diri sendiri dan merasa lebih baik dari Tuhan. Manusia telah kehilangan rasa kepercayaan. Manusia berdosa yang jahat selalu bertindak dengan semena-mena maka konsep yang sama dikenakan pada Tuhan. Manusia berdosa begitu kejam sebagai tuan di dunia maka orang beranggapan Tuhan pun sama seperti dirinya yang kejam. Kita mempolakan Tuhan seperti halnya diri kita. Inilah jiwa manusia berdosa yang manipulatif yang begitu jahat, tidak pernah punya rasa belas kasihan. Kita hanya ingin Tuhan melakukan apa yang kita suka. Inilah cara manusia mengukur kebaikan dan belas kasihan Tuhan. Hendaklah kita mengevaluasi diri apakah kita mempunyai hati yang berbelas kasihan seperti halnya Tuhan yang berbelas kasih? Sangatlah mengenaskan, di tengah-tengah Kekristenan kita menjumpai seorang yang mengaku “Kristen” tetapi perbuatannya yang berbisnis multi level marketing tidak lebih memancarkan seperti iblis yang tidak punya hati belas kasihan bahkan mencelakakan orang lain demi mendapatkan keuntungan. Celakanya, orang berani mengklaim hal itu sebagai konsep yang diajarkan Tuhan Yesus. Tidak! Tuhan Yesus yang berada di posisi atas justru yang paling menderita, Ia berkorban demi kita. Kristus yang paling atas justru melayani mereka yang berada di bawah. Sebaliknya, cara dunia berbeda justru yang paling atas itulah yang diuntungkan paling banyak dan mereka yang berada di posisi paling bawah justru paling menderita. Celakanya, ketika ditegur dan disadarkan akan kesalahannya, ia tidak berterima kasih dan kembali pada Allah sejati tetapi malah berbalik melawan. Jangan pernah berpikir bahwa Tuhan membutuhkan kita karena kita merasa diri pandai, kaya, cakap. Tidak! Tuhan hanya butuh orang-orang yang remuk hatinya, orang yang mau menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Dia. Inilah iman sejati.
Iman sejati itulah yang menghidupkan kita dan merombak seluruh kehidupan kita; iman sejati itulah yang menjadikan kita memandang pada Kristus, peka isi hati Tuhan; apa yang Tuhan inginkan itulah yang kita kerjakan, apa yang membuat Tuhan sedih, kita turut bersedih dan apa yang Tuhan suka itulah yang membuat kita bergirang. Pertanyaan sekaligus menjadi evaluasi bagi kita sudahkah kita mempunyai hati yang berbelas kasih seperti Kristus? Ataukah sebaliknya, apa yang menjadikan Tuhan sedih justru kita merasa senang dan hal-hal yang Tuhan suka, kita justru marah, kita menjadi pemberontak. Lordship of Christ berarti melihat Kristus sebagai Tuhan. Janganlah kita seperti orang Israel yang bergirang karena euforia sesaat tetapi kehilangan esensi iman sejati.
3. Hidup penuh dengan ucapan syukur
Setelah mereka mendapatkan mujizat yang demikian dahsyat, mereka memuji Tuhan namun perhatikan tidak ada rasa ucapan syukur. Alkitab mencatat banyak orang sudah mendapatkan banyak berkat tetapi mereka tidak kembali untuk mengucap syukur pada Tuhan. Orang semakin egois maka orang merasakan kalau semua berkat yang mereka dapat itu sebagai hak dan sebaliknya, kalau mereka mendapat tantangan dan hambatan maka orang mengatai Tuhan itu jahat. Betapa kasihan, orang yang demikian ini hidupnya akan diliputi dengan kekecewaan terus menerus, ia tidak pernah melihat anugerah Tuhan yang penuh melimpah atas hidupnya, ia tidak pernah mengucap syukur. Sadarkah kita betapa besar anugerah Tuhan kalau hari ini kita masih bisa bernafas sampai suatu hari kalau kita tidak dapat bernafas barulah kita menyadari betapa limpah anugerah Tuhan atas hidup kita.
Semasa hidupnya, Pdt. Amin Tjung telah memberikan teladan indah bagi kita bahkan di detik-detik akhir hidupnya, ia masih mempunyai hati yang berbelas kasih pada jiwa-jiwa yang tersesat. Bagaimana dengan hidup kita? Sudahkah kita memiliki hati yang berbelas kasih melihat jiwa-jiwa yang tersesat? Sudahkah kita mensyukuri anugerah Tuhan yang berlimpah atas hidup kita? Celaka, manusia berdosa selalu menyalahkan Tuhan ketika hidupnya menderita dan tantangan itu datang atas kita. Sadarkah manusia, kalau Tuhan tidak ada justru hidup kita akan celaka. Bayangkan, kalau tidak ada Tuhan, seluruh dunia penuh dengan anak-anak iblis yang seluruh pola pikirnya jahat, masihkan kita bisa hidup damai di dunia? Hendaklah kita selalu bersyukur di sepanjang hidup kita, betapa besar dan limpahnya berkat Tuhan atas hidup kita. Banyak hal yang patut kita syukuri atas segala pemberian Tuhan atas hidup kita dan lihatlah bagaimana Tuhan bekerja atas hidup kita. Sungguh ajaib dan dahsyat Tuhan bekerja atas hidup kita. Dia tahu yang terbaik untuk kita, Dia tahu setiap detail untuk anak-anak-Nya. Biarkan Dia yang menata hidup kita, makin kita bersyukur dan bersandar pada-Nya maka hidup itu akan terasa indah.
Ketuhanan Kristus bukanlah bersifat diktator yang jahat. Dia bukanlah Tuan yang jahat. Alkitab berulang kali menegaskan bahwa Tuhan tidak pernah menentang perbudakan bahkan Tuhan sangat mendukung konsep perbudakan. Sebaliknya, Tuhan benci tuan yang jahat karena hal itu sama dengan mencoreng nama Tuhan sebab Tuhan adalah Tuan yang baik. Perbudakan menyadarkan keberadaan kita yang hanyalah seorang budak dan seorang budak yang baik melakukan segala sesuatu untuk Tuannya meskipun sang tuan tidak ada di depannya (Kol. 3:23). Hendaklah kita bertobat dan kembali pada Tuhan yang sejati, Tuhan yang berbelas kasih dan hidup penuh dengan ucapan syukur. Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber:

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2007/20071007.htm

07 June 2009

Roma 15:20-21: KONSEP PELAYANAN SEJATI-3: Pemberitaan Injil dan Sentralitas Kristus

Seri Eksposisi Surat Roma:
Penutup-3


Konsep Pelayanan Sejati-3: Pemberitaan Injil dan Sentralitas Kristus

oleh: Denny Teguh Sutandio



Nats: Roma 15:20-21



Konsep pelayanan yang kedua dari Paulus adalah pelayanan sejati adalah pelayanan yang berpusat kepada Kristus melalui pemberitaan Injil yang ia lakukan. Hal ini dipaparkan Paulus di ayat 20 s/d 21.


Selain oleh kuasa Roh Kudus, Paulus tetap memberitakan Injil dengan berfokus kepada Kristus sebagai inti berita utama Injil. Di ayat 20, ia mengatakan hal ini, “Dan dalam pemberitaan itu aku menganggap sebagai kehormatanku, bahwa aku tidak melakukannya di tempat-tempat, di mana nama Kristus telah dikenal orang, supaya aku jangan membangun di atas dasar, yang telah diletakkan orang lain,” Mungkin jika kita membaca terjemahan bahasa Indonesia, kita akan kebingungan dengan struktur kalimat dan artinya. Ada baiknya kita membaca terjemahan bahasa Inggris. International Standard Version (ISV) menerjemahkannya, “My one ambition is to proclaim the gospel where the name of Christ is not known, lest I build on someone else's foundation.” (satu ambisiku adalah untuk memberitakan Injil di mana nama Kristus tidak/belum dikenal, supaya aku jangan membangun di atas dasar orang lain) Di ayat ini, Paulus hendak mengajar kita beberapa hal penting tentang pelayanan penginjilan yang ia lakukan:
Pertama, Paulus berambisi memberitakan Injil. Di dalam bahasa Yunani, kata ini adalah philotimeomai yang bisa diterjemahkan strive (berusaha keras) atau bisa diterjemahkan kehormatan. Ia bukan hanya bergantung pada kuasa Roh Kudus di dalam pelayanannya, ia sendiri berusaha keras memberitakan Injil. Atau dengan kata lain ia berambisi memberitakan Injil. Luar biasa, ia “BERAMBISI” memberitakan Injil. Dunia kita adalah dunia postmodern yang sarat dengan semangat relativisme, humanisme, dan pragmatisme. Tidak heran yang didengungkan adalah kemauan dan kehebatan diri atau menggunakan istilah kerennya “AMBISI.” Ambisi menjadi tren dan gaya hidup zaman kita, bahkan beberapa (atau bahkan banyak?) orang Kristen pun sudah mulai diracuni dengan gaya hidup ini. Mereka suka berambisi melakukan apa pun demi kepuasan diri, meskipun secara KTP, mereka mengaku diri “Kristen.” Tetapi herannya, kalau untuk pekerjaan Tuhan, mereka malas bahkan tidak berambisi sama sekali. Mengapa? Karena ambisinya sudah diserahkan untuk hal-hal yang sementara. Patutkah mereka disebut “Kristen”? TIDAK! Mereka secara KTP mengaku diri “Kristen”, tetapi secara esensi dan hati, mereka tidak ada bedanya dengan orang dunia yang berambisi melakukan apa yang mereka sukai. Berbeda dari konsep manusia postmodern, Paulus yang meneladani Kristus TIDAK pernah berambisi memperluas kerajaan atau pengaruhnya, tetapi berambisi memberitakan Injil. Di dalam penginjilan, ia mengutamakan berita tentang Kristus (hanya Kristus/Solus Christus). Inilah jiwa seorang hamba Tuhan sejati. Hamba Tuhan sejati TIDAK berambisi memperluas gerejanya dengan alasan pertumbuhan gereja (church growth) tetapi dengan pengajaran yang sembrono dan tidak berdasar. Hamba Tuhan sejati TIDAK berambisi mengeduk keuntungan pribadi dari jemaat dengan memanipulasi berita di mimbar. Hamba Tuhan sejati TIDAK berambisi menyamarkan (atau menghilangkan) inti berita Injil, lalu mengatakan bahwa semua agama itu sama. Hamba Tuhan sejati HARUS memiliki AMBISI yang kudus yang berpusat kepada Allah dan pekerjaan-Nya, yaitu pemberitaan Injil. Bagaimana dengan kita yang melayani Tuhan di rumah Tuhan? Sudahkah kita memiliki ambisi memberitakan Injil? Sungguh ironis jika ada hamba Tuhan yang tidak berambisi untuk memberitakan Injil, tetapi berambisi untuk hal-hal duniawi? Marilah kita bertobat dan kembalilah kepada Kristus dan panggilan kita mula-mula sebagai hamba-Nya yang setia!

Kedua, Paulus berambisi memberitakan Injil di tempat di mana Kristus belum diberitakan. Paulus bukan hanya berambisi memberitakan Injil, tetapi ia berambisi memberitakan Injil di tempat di mana Kristus belum diberitakan. Apa signifikansi tambahan “di tempat di mana Kristus belum diberitakan”? Apa alasannya? Pada kalimat berikutnya, ia mengatakan alasannya yaitu agar dia tidak membangun di atas dasar yang telah diletakkan orang lain. Orang lain di dalam ayat ini berarti para rasul Kristus lain yang telah memberitakan Injil di suatu daerah. Misalnya, Petrus sudah memberitakan Injil di X, maka Paulus TIDAK akan memberitakan Injil di kota X itu, tetapi dia akan menginjili di daerah Y. Mengapa? Karena ia tidak mau membangun di atas dasar yang telah diletakkan orang lain. Dengan kata lain, yang menjadi ambisinya di dalam pelayanan penginjilan adalah Kristus saja, bukan diri dan pengaruhnya. Di dalam pelayanan penginjilan yang kita lakukan, siapa yang paling kita banggakan? Kristus atau diri kita? Berapa banyak kita yang memberitakan Injil, yang kita banggakan justru kita yang pintar beradu argumentasi dan logika dengan orang yang kita injili, tetapi tidak pernah membawa mereka kepada Kristus? Kita mengatakan bahwa kita memberitakan Injil, tetapi yang kita terus-menerus beritakan adalah kesaksian dan kehebatan kita. Itu bukan penginjilan! Sudah saatnya, orang Kristen dan hamba Tuhan sejati memberitakan Injil dengan berpusat kepada Kristus, bukan kehebatan diri dan pengaruh yang meluas. Jika Tuhan memberkati pelayanan kita melalui jangkauan pelayanan kita yang luas, itu adalah anugerah Tuhan dan jangan pernah membanggakan diri, serta jangan merebut kemuliaan Tuhan! Teladanilah Paulus (bdk. 2Kor. 10:15-16).


Apa yang mendasari Paulus memiliki ambisi memberitakan Injil? Dorongan orang lain atau keuntungan pribadi? TIDAK! Ia berambisi memberitakan Injil didasari oleh kasih kepada manusia berdosa yang belum mendengar Injil. Hal ini dipaparkannya di dalam ayat 21, “tetapi sesuai dengan yang ada tertulis: "Mereka, yang belum pernah menerima berita tentang Dia, akan melihat Dia, dan mereka, yang tidak pernah mendengarnya, akan mengertinya."” Ayat ini dikutip dari Yesaya 52:15 yang menunjuk kepada penggenapannya di dalam Kristus. Kasih bagi manusia berdosa yang belum mendengar Injil inilah yang mendorongnya memberitakan Injil bukan hanya untuk orang Yahudi, tetapi untuk orang-orang non-Yahudi. Orang-orang Yahudi ini disebut Paulus sebagai orang yang belum pernah menerima berita tentang Kristus dan tidak pernah mendengarnya. Kepada orang-orang inilah, ia memberitakan Injil, untuk apa? Agar mereka yang belum pernah menerima berita tentang Kristus dapat melihat Dia. “Melihat” di sini bukan secara harfiah, tetapi secara rohani. Meskipun orang-orang non-Yahudi belum pernah menerima berita tentang Kristus, tetapi setidaknya di Injil disebutkan bahwa ada salah seorang perwira Romawi yang datang kepada Kristus untuk meminta agar hambanya disembuhkan. (Mat. 8:5) Seperti Kristus telah menjangkau orang non-Yahudi, Paulus pun juga terbeban menjangkau lebih banyak orang non-Yahudi demi Injil Kristus. Oleh karena itu, ia mau agar mereka yang belum pernah menerima berita tentang Kristus, akan melihat-Nya secara rohani. Kedua, ia juga terbeban membawa orang-orang non-Yahudi yang tidak pernah mendengarnya akan mengerti Injil Kristus. Paulus tidak ingin orang-orang non-Yahudi hanya melihat Dia secara rohani, tetapi juga mendengar Injil dan mengertinya. Mengapa kata “mengerti” ini menjadi signifikan? Karena kata ini dikenakan pada orang-orang non-Yahudi (khususnya Yunani) yang menekankan pentingnya logika. Kekristenan dan pemberitaan Injil bukan hanya memberitakan Injil Kristus saja, tetapi juga menantang logika orang yang diinjili agar pikiran mereka ditundukkan di bawah Kristus. Sayang sekali, penginjilan zaman sekarang adalah penginjilan yang dangkal yang tidak sanggup menaklukkan pikiran orang-orang pandai di bawah Kristus dengan bahasa yang sederhana namun mendalam. Hamba-Nya yang setia, Pdt. Dr. Stephen Tong telah, sedang, dan akan melakukan hal ini di dalam setiap kebaktian penginjilan yang beliau adakan. Tujuannya agar Injil Kristus jangan dihina oleh para intelektual sebagai sesuatu yang dangkal. Paulus sudah membuktikan bahwa Injil juga mampu menguasai dan menaklukkan pikiran manusia yang paling pintar. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita terbeban memberitakan Injil kepada guru, dosen, profesor, dan para intelektual lainnya? Sebagaimana Tuhan telah memakai Paulus, Agustinus, Dr. Martin Luther, Dr. John Calvin, Pdt. Dr. Stephen Tong, dll untuk memberitakan Injil yang menaklukkan rasio manusia berdosa di bawah Kristus, Allah yang sama yang mengutus mereka juga mengutus kita untuk menunaikan mandat Injil yang sama, siapkah kita?


Biarlah perenungan dua ayat yang singkat ini mendorong dan membakar semangat Anda dalam memberitakan Injil Kristus. Amin. Soli Deo Gloria.

Matius 15:21-28: THE GREAT FAITH (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Ringkasan Khotbah: 30 September 2007

The Great Faith
oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Matius 15:21-28



Tema utama dari Injil Matius pasalnya yang ke-15 ialah the Lordship of Christ. Iman sejati harus kembali pada obyek sejati, yaitu Kristus Tuhan. Kristus haruslah menjadi yang pertama dan terutama; Dia harus menjadi Tuan di atas segala tuan dalam seluruh aspek hidup kita. Tentu saja, hal ini menimbulkan konflik di tengah orang Farisi yang katanya ”orang beragama dan saleh” namun sesungguhnya, mereka tidak lebih hanyalah orang munafik. Tuhan Yesus menegur mereka dengan keras akan konsep pemikiran mereka namun ironis, para murid malah melihat kebenaran sejati sebagai batu sandungan. Para murid tidak melihat signifikansi kebenaran sejati tetapi pemikiran mereka justru tidak ubahnya dengan pemikiran orang berdosa. Inilah sifat manusia berdosa, merasa senasib sepenanggungan sebagai sesama orang berdosa.
Kesalehan yang diperlihatkan oleh orang Farisi tidak lebih hanyalah kepalsuan belaka. Kebenaran sejati yang dibukakan tidak menjadikan mereka bertobat, mereka malah berbalik melawan Tuhan Yesus. Religiusitas tidak menjadikan orang makin beriman tetapi orang malah menjadi sombong dan jahat. Agama sejati seharusnya merubah seseorang kembali pada Tuhan namun, orang justru menjadi marah ketika ditegur akan dosanya. Sesungguhnya, penyebab kemarahan itu karena ego yang terganggu, kenyamanan yang terusik atau diri dirugikan. Orang yang marah karena dirinya yang terusik menunjukkan betapa kerdil orang tersebut, small man. Tuhan Yesus tidak pernah marah ketika diri-Nya dihinakan atau dirugikan sebaliknya, Tuhan Yesus marah ketika kebenaran dipermainkan, nama Allah dilecehkan, rumah Bapa-Nya dilecehkan dan keadilan diinjak-injak. Inilah kemarahan yang suci. Di dunia ini tidak banyak orang yang mempunyai keanggunan dan keagungan seperti Tuhan Yesus. Orang Farisi yang katanya orang rohani tetapi realita membuktikan, mereka tidak lebih hanyalah orang kerdil. Jelaslah, iman sejati membentuk karakter sejati; iman sejati menghasilkan suatu respon yang berbeda.
Injil Matius mengontraskan dua macam orang yang katanya beriman tetapi memiliki respon yang berbeda. Di satu sisi, orang Farisi, seorang pemimpin agama namun beriman palsu sedang di sisi lain ada seorang perempuan kafir dari Kanaan, kaum marginal yang direndahkan tetapi beriman sejati dan ia mendapat pujian dari Tuhan Yesus. Hanya dua orang kafir yang mendapat pujian dari Tuhan Yesus karena imannya, yakni perwira Roma dan perempuan Kanaan. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah iman sejati?
Setelah berdebat panjang dengan orang Farisi, Tuhan Yesus pun menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon, kurang lebih 30 km sebelah utara Galilea. Perjalanan yang ditempuh bukanlah perjalanan yang singkat mengingat hari itu, perjalanan dilakukan dengan berjalan kaki. Dan selama perjalanan, Matius mencatat ada satu peristiwa yang sangat dahsyat di tengah perjalanan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus. Suatu peristiwa yang kontras dengan peristiwa sebelumnya yang membukakan konsep pemikiran manusia akan perbedaan antara orang beragama dengan orang kafir. Mereka memanipulasi Kristus untuk kepentingan diri berbeda halnya dengan iman yang ditunjukkan oleh perempuan Kanaan. Iman bukan memaksa Tuhan untuk menuruti apa yang menjadi keinginan kita. Iman bukanlah didasarkan pada adat istiadat atau tradisi atau filsafat dunia. Tidak! Iman adalah kembalinya kita pada Ketuhanan Kristus.
Umumnya orang berdosa, perempuan Kanaan ini datang kepada Tuhan Yesus untuk kepentingan diri, yakni ia ingin supaya Tuhan Yesus menyembuhkan anak perempuannya yang sedang kerasukan setan. Namun pertemuannya dengan Tuhan Yesus mengubah seluruh konsep berpikirnya, terjadi pergeseran iman yang sangat signifikan dari purpose bergeser menjadi being. Semula ia hanya melihat hal-hal yang sifatnya duniawi belaka namun setelah bertemu dengan Tuhan Yesus, ia tahu harus seperti apa dan bagaimana menjadi seperti apa yang Tuhan inginkan menjadi. Inilah konsep iman sejati. Iman sejati bukanlah pada tujuan, faith is for that purpose. Alkitab menegaskan faith is being not purpose. Banyak orang Kristen hari ini yang mau percaya Tuhan kalau tujuan yang ia inginkan tercapai seperti ingin kesembuhan, kaya, dan masih banyak lagi tujuan yang menjadi egois itu sampai akhir. Itu bukanlah iman sejati. Iman sejati berarti mengutamakan Kristus di dalam seluruh aspek hidupnya. Perempuan Kanaan ini di satu pihak mempunyai suatu kebutuhan, yakni anak perempuannya yang kerasukan setan disembuhkan tetapi di lain pihak, ia mempunyai hati yang siap untuk men-Tuhankan Kristus. Andaikata, perempuan ini tidak mempunyai hati itu maka di titik pertama seluruh kisah ini akan berubah menjadi tragedi yang mengenaskan; seorang anak tetap kerasukan dan menderita ditambah lagi dengan seorang ibu yang binasa karena ia menolak Kristus. Kisah ini bukanlah tentang seorang anak yang disembuhkan. Tidak! Tetapi tentang seorang yang beriman dan mempunyai kepercayaan kepada Kristus Yesus. Ketika perempuan ini memusatkan seluruh hidupnya kepada Tuhan, Kristus berada di titik ultimate, paling utama maka pada saat yang sama hidupnya berubah total. Faith is putting Christ in the first and ultimate position. Kalau ada orang yang mengatakan ia beriman tetapi tidak menjadikan Kristus di posisi utama berarti ia sedang memanipulasi Tuhan untuk kepentingan pribadinya. Perhatikan, Tuhan tidak akan peduli ketika kita hanya ingin mendapat keuntungan dari Dia dan pada saat itu, iblis akan mengambil keuntungan dan menawarkan jalan keluar pada kita yang sedang mengalami kesulitan dan penderitaan seperti yang ia pernah lakukan pada Tuhan Yesus sepertinya, iblis memberikan solusi yang begitu mudah, cepat dan legal namun semua itu akan berakhir dengan kebinasaan.
Ada beberapa aspek yang perlu kita perhatikan tentang iman sejati:
1. Mengakui Kristus sebagai Tuhan.
Iman sejati dimulai dengan suatu kerendahan hati dan kerelaan mengakui Kristus sebagai Tuan di atas segala tuan. Tidak banyak orang Israel yang memanggil Kristus sebagai Tuhan namun perempuan Kanaan ini sejak dari pertama, ia memanggil Yesus dengan sebutan Tuhan (Mat. 15:22). Adalah kegagalan iman kalau kita sebagai orang Kristen tidak menyadari siapakah Kristus yang adalah Tuan di dalam hidup kita, Dia adalah yang utama dalam seluruh aspek hidup kita. Hari ini banyak orang mengakui diri sebagai beriman tetapi semua itu tidak lebih hanya sekedar slogan sebab sesungguhnya, dibalik iman tersebut orang hanya ingin apa yang menjadi keinginannya saja. Iman sejati berarti hancurnya seluruh hati di titik yang paling rendah. Iman bukan menjadikan kita menjadi sombong, iman bukan pemaksaan tetapi iman adalah perendahan seluruh hidup kita di hadapan Tuhan. Konsep iman seperti ini tidak ada di seluruh agama di dunia, konsep ini hanya ada di Kekristenan. Iman sejati adalah merendahkan diri sampai di titik yang paling rendah demi supaya Kristus berkuasa atas hidup kita.
Perhatikan, perempuan Kanaan ini terus berteriak meminta tolong, dia tidak henti-henti mengikut Tuhan Yesus demi mendapatkan pertolongan dari Tuhan Yesus. Dan kalaupun Tuhan Yesus bertindak untuk menolong perempuan Kanaan tersebut, itu bukan karena Tuhan tergerak oleh semangat atau kegigihannya. Tidak! Alkitab mencatat Tuhan Yesus sama sekali tidak menggubris perempuan itu malahan para muridlah yang merasa terganggu. Para murid justru mau bertindak lebih cepat dari Tuhan. Inti permasalahan bukan terletak pada kegigihan atau semangat perempuan sebab apa gunanya kegigihan kalau apa yang kita perjuangkan tersebut salah. Ketika perempuan itu terus berteriak, Tuhan Yesus memberikan jawab: “Aku diutus hanya kepada dimba-domba yang hilang dari umat Israel.“ Dunia yang mendengar jawaban Tuhan Yesus pastilah sangat marah dan menganggap Tuhan Yesus sangat diskriminatif, rasis, dan anti kesamarataan. Orang akan pergi dari Tuhan Yesus dan selamanya ia akan binasa. Inilah manusia berdosa. Namun apa yang dilakukan perempuan Kanaan ini sungguh luar biasa meskipun ia “dikasari“ oleh Tuhan Yesus, ia tidak menjadi marah atau protes atau sakit hati sebaliknya ia malah merendahkan dirinya lebih rendah lagi. Inilah iman yang sejati.
2. Hati yang remuk di hadapan Tuhan
Perempuan ini datang kepada Tuhan Yesus dan menyembah; semakin dihina ia justru semakin merendah di hadapan Tuhan. Dia kembali memohon belas pengasihan Tuhan. Penghinaan itu belumlah cukup, kembali Tuhan mengeluarkan suatu kalimat yang bagi dunia sangatlah menyakitkan: “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.“ Bagi dunia, istilah anjing ini pastilah sangatlah menyakitkan. Dan kalau kita yang berada di posisi perempuan tersebut masih bisakah kita beriman? Manusia harusnya sadar, inilah iman sejati. Kalau orang mau sombong, merasa diri hebat maka itulah titik kehancurannya. Tuhan Yesus menuntut hati yang hancur dan remuk di hadapan Tuhan. Kita melihat bagaimana reaksi perempuan ini, ia tidak protes atau meminta penjelasan pada Tuhan Yesus kenapa Tuhan mengatai dirinya sebagai anjing? Tidak! Bahkan dalam bagian ini, ia membenarkan pernyataan Tuhan Yesus: “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.“ Sungguh sangatlah mengharukan dan luar biasa iman perempuan ini, ia menurunkan posisinya di tempat yang paling rendah, ia tidak protes bahkan ia menyamakan dirinya seperti anjing.
Hari ini, kita tidak menjumpai iman sejati bahkan di tengah-tengah Kekristenan. Banyak orang mengaku beriman Kristen tetapi iman yang mereka miliki tidak lebih hanya iman palsu belaka. Bagaimana dengan sikap hidup kita? Ingat, kita hanyalah manusia rendah dan hina, kita bukanlah siapa-siapa, karena itu, kita hanyalah manusia hina, kita hanyalah sampah, kita tidak lebih seperti layaknya anjing karena itu, kita membutuhkan Tuhan Yesus untuk mengampuni dosa kita. Beriman berarti remuknya hati di hadapan Tuhan dan memohon Tuhan untuk membentuk diri kita. Tuhan ingin kita menjadi seperti tanah liat yang hancur lalu dibentuk menjadi ciptaan baru yang indah. Beriman berarti kerelaan hati untuk menundukkan diri di hadapan Tuhan.
Sayang, banyak orang yang tidak mengerti konsep ini, mereka merasa diri hebat dan mempunyai harga diri sehingga tidak mau tunduk dan diubahkan oleh Tuhan maka itu titik awal kehancurannya. Hal ini justru membuktikan bahwa ia tidak lebih hanyalah seorang yang hina, small man. Perempuan ini sadar betul siapa dirinya dan pada saat yang paling hancur, Tuhan Yesus mengangkat dia, Tuhan Yesus memuji dia dan berkata: “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kau kehendaki.“ Terkadang, Tuhan memang sengaja menghancurkan kita di titik yang paling rendah dan setelah itu, Ia mengangkat kita namun manusia tidak menyadari akan hal ini, manusia hanya bisa protes dan marah kepada Tuhan; orang menuduh Tuhan tidak adil, jahat dan berbagai macam tuduhan yang lain.
Lihatlah, kisah tentang perempuan kafir yang dipuji oleh Tuhan Yesus karena imannya yang besar ini dicatat di Alkitab dan dibaca oleh seluruh orang di dunia di sepanjang jaman. Rendahkah dia sekarang? Justru ketika ia sadar, ia rendah maka itulah waktu-Nya Tuhan memberikan posisi yang layak untuknya. Inlah iman dan hidup di dalam Tuhan. Kita seringkali tidak mempunyai hati seperti perempuan ini tetapi kita seringkali sok beriman. Hendaklah kita mengevaluasi diri, benarkah kita memiliki iman sejati ataukah kita hanya beriman demi tujuan, purpose. Seandainya, perempuan ini tidak memiliki kerendahan hati yang demikian luar biasa maka kisah ini tidak lebih hanya menjadi sebuah tragedi yang menyedihkan, masih ada anak perempuan yang menderita karena dirasuk setan dan seorang ibu yang berakhir dengan kebinasaan.
3. Menjadi seperti apa yang Tuhan inginkan.
Tuhan merubah manusia di atas semua result yang pernah kita pikirkan. Perempuan ini datang kepada Tuhan Yesus hanya ingin supaya anak perempuannya disembuhkan tetapi Tuhan mengubahkan apa yang menjadi tujuannya. Tujuan itu tidaklah bernilai kekal sebab orang yang sakit disembuhkan maka suatu hari, ia akan sakit kembali, orang yang kaya suatu hari akan bangkrut maka semua hal yang sifatnya materi dan jasmani tidaklah bernilai kekal. Tuhan ingin memberikan kita lebih daripada sekedar sesuatu yang sifatnya sementara. Tuhan ingin memberikan pada kita hidup ynag bernilai kekal. Iman sejati berubah hidup yang tadinya purpose berubah menjadi being. Saat itulah perempuan ini diubahkan, tidak hanya kesembuhan yang diterima tetapi jiwanya diselamatkan.
Ibu dan anak ini kini mempunyai hidup yang bernilai karena iman sejati yang ditanamkan oleh Kristus Yesus. Iman sejati bukan sekedar mendapat apa yang menjadi keinginan kita tetapi iman sejati merubah seluruh hidup kita menjadi hidup yang bersandar dan taat mutlak dibentuk oleh Tuhan. Iman yang sejati adalah iman yang menggarap totalitas seluruh hidup kita dipimpin oleh Tuhan. Sebagai anak Tuhan sejati, hendaklah kita mempunyai sikap seorang hamba di hadapan Tuhan. Berbeda dengan dunia yang mengajar percaya maka engkau akan mendapat maka sebaliknya, Tuhan mengajarkan hal yang berbeda percaya adalah hancurnya hati kita dan berubahnya kita menjadi seperti apa yang Tuhan inginkan. Percaya bukan mendapat apa yang saya inginkan tetapi percaya mendapatkan apa yang Tuhan beri. Ini merupakan perubahan drastis konsep iman yang sejati.
Hendaklah hidup kita diubahkan menjadi seperti perempuan Kanaan bukan seperti orang Farisi yang sombong. Di hadapan Tuhan, kita tidak lebih hanyalah orang buangan, kita orang binasa tetapi dalam kondisi demikian, Tuhan ingin berubah hidp kita. Dia datang dari sorga mulia ke tengah dunia demi manusia berdosa seperti kita, Dia mau berubah hidup kita supaya kita kembali pada Kebenaran sejati; Dia mati demi supaya kita diselamatkan. Biarlah kita mengevaluasi diri, iman seperti apakah yang kita miliki? Sudahkah kita memiliki iman sejati? Sudahkah Kristus bertahta dan menjadi Tuhan dalam seluruh aspek hidup kita? Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)



Sumber:
http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2007/20070930.htm

31 May 2009

Roma 15:17-19: KONSEP PELAYANAN SEJATI-2: Sukacita Pelayanan-1

Seri Eksposisi Surat Roma:
Penutup-2


Konsep Pelayanan Sejati-2: Sukacita Pelayanan-1

oleh: Denny Teguh Sutandio



Nats: Roma 15:17-19



Konsep pelayanan yang kedua dari Paulus adalah pelayanan sejati adalah pelayanan yang berpusat kepada Kristus melalui kuasa Roh Kudus. Hal ini dipaparkan Paulus di ayat 17 s/d 19.


Di ayat 17, sebagai kesimpulan dari ayat 14 s/d 16, Paulus mengajarkan, “Jadi dalam Kristus aku boleh bermegah tentang pelayananku bagi Allah.” Sebagai penutup, Paulus kembali mengingatkan jemaat Roma dan kita juga tentang konsep pelayanan. Tidak sedikit kita menjumpai orang Kristen yang melayani tidak dengan jiwa hamba, tetapi dengan jiwa majikan. Akibatnya, ketika melayani, sebenarnya kita lah yang dilayani dan dipuaskan, karena kita ingin mencari pamor di lingkungan/gereja tempat kita melayani. Paulus menyadarkan jemaat Roma dan kita bahwa pelayanan bukan memegahkan diri, tetapi memegahkan Kristus. Pelayanan yang ia lakukan bagi Allah adalah pelayanan yang bermegah di dalam Kristus. Di dalam Filipi 3:3, ia juga menguraikan bahwa jemaat Filipi (dan kita) tidak hidup menurut hal-hal lahiriah, tetapi hal-hal spiritual, yaitu bermegah di dalam Kristus. Kata “bermegah” di dalam Roma 15:17 dan Filipi 3:3 memiliki akar kata Yunani yang sama, yaitu kauchaomai yang berarti bermegah (boast), bersukacita (rejoice), dll. Berarti hidup dan pelayanan kita ditujukan untuk memuliakan Allah dan menikmati Dia. Rev. Dr. John S. Piper di dalam bukunya Desiring God mengganti kata “dan” pada pernyataan Katekismus Singkat Westminster Pasal 1 tadi dengan kata “dengan.” Dengan kata lain, hidup dan pelayanan kita adalah untuk memuliakan Allah dengan menikmati-Nya. Ya, menikmati Dia adalah sukacita hidup dan pelayanan kita. Mengapa sering kali kita melayani Tuhan dengan bersungut-sungut? Karena kita kurang menikmati Dia sebagai sukacita terbesar, seperti Paulus. Ketika kita mulai menikmati Dia sebagai sukacita terbesar, di saat pula kita semakin bersemangat dan bersukacita di dalam melayani Tuhan (bdk. Rm. 12:11). Sukacita itu dapat kita nikmati karena kita telah ditebus oleh Kristus dan dilahirbarukan oleh Roh Kudus. Seorang yang telah mengalami kelahiran baru dari Roh Kudus dan penebusan dari Kristus adalah orang yang bersukacita, karena dia telah dilepaskan dari perbudakan dosa yang membelenggu hidupnya dahulu. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita bersukacita di dalam hidup dan pelayanan kita kepada Tuhan?

Prinsip sukacita di dalam pelayanan kita adalah karena kita sudah ditebus oleh Kristus, maka segenap hidup kita dipergunakan untuk melayani-Nya, oleh sebab itu, tidak ada kata “terpaksa” di dalam hidup dan pelayanan kita ketika kita harus menderita bagi-Nya. Paulus rela menderita tatkala ia harus memberitakan Injil (2Kor. 11:24-27). Semuanya itu dilakukan bagi Allah dan dia bermegah (bersukacita) di dalam Kristus. Kepada jemaat di Filipi, dia menulis surat yang penuh dengan sukacita, meskipun pada waktu itu dia ada di dalam penjara (Flp. 1:13). Meskipun harus menderita, Paulus tetap bisa bersukacita, mengapa? Apa dia hanya berhalusinasi? TIDAK. Paulus bisa bersukacita di dalam penderitaan karena ia berharap penuh kepada Allah (2Tim. 1:12). Bagaimana dengan kita yang mengalami penderitaan? Himpitan dan tekanan hidup terus-menerus mengganggu dan mencengkeram hidup kita waktu demi waktu, adakah kita tetap bersukacita dengan terus berharap dan beriman kepada-Nya? Jangan kuatir, serahkanlah hidup kita kepada-Nya, maka Ia akan memelihara hidup kita selama-lamanya. Amin?


Apa wujud sukacita Paulus di dalam Kristus melalui pelayanannya? Ia menunjukkan sukacita di dalam pelayanannya di dalam Kristus tatkala ia dengan taat mutlak memberitakan karya penebusan Kristus (dan bukan yang lain) kepada bangsa-bangsa lain melalui perkataan dan perbuatan serta melalui kuasa Roh Kudus (ay. 18-19a). Di ayat ini, ia menjabarkan tiga wujud sukacita pelayanannya di dalam Kristus:
Pertama, sukacita pelayanannya di dalam Kristus ditunjukkan melalui ketaatannya memberitakan Injil Kristus. Di ayat ini, ia berkata, “Sebab aku tidak akan berani berkata-kata tentang sesuatu yang lain, kecuali tentang apa yang telah dikerjakan Kristus olehku,” Berarti, sukacita pelayanannya diukur dari ketaatannya memberitakan Injil Kristus dan bukan yang lain. Ia dengan jujur mengatakan bahwa ia tidak akan berani berkata-kata tentang sesuatu yang lain. Berarti dia tidak akan pernah mau memberitakan hal-hal di luar Injil dan karya Kristus yang harus ia beritakan kepada bangsa-bangsa lain. Itu namanya TAAT. Mengapa sering kali pelayanan kita tidak dilakukan dengan sukacita? Karena kita berpikir bahwa kita melayani Tuhan itu adalah suatu tugas berat. Padahal, ketika kita yang adalah anak-anak Tuhan yang telah ditebus Kristus, diperkenan oleh Tuhan untuk melayani-Nya adalah suatu hak istimewa yang besar sekali yang tidak bisa didapatkan oleh orang-orang di luar umat pilihan. Kedua, kita tidak bersukacita ketika melayani karena kita tidak TAAT. Di dalam pelayanan, kita melayani bukan dengan jiwa hamba, tetapi dengan jiwa majikan yang suka memerintah orang-orang untuk melayani kita. Ketika kita melakukan hal itu, kita bukan melayani, tetapi dilayani. Pelayanan tanpa ketaatan adalah suatu kesia-siaan. Apakah cukup taat saja? TIDAK. Ketaatan harus disertai dengan kerelaan penuh dan berkaitan dengan kepada siapa kita taat dan rela. Ketika kita “taat” kepada Mamon (dewa uang), kita rela menyerahkan hidup kita kepadanya. Objek ketaatan mengakibatkan sikap hati kita. Umat pilihan adalah orang yang seharusnya taat dan rela hanya kepada kehendak Allah. Paulus adalah salah satu contoh yang harus kita teladani tentang taat kepada kehendak Allah. Apa itu kehendak Allah yang harus kita taati? Yaitu memberitakan Injil (Mat. 28:19-20). Kalau Paulus bisa taat kepada kehendak Allah, bagaimana dengan kita? Beranikah kita dengan sepenuh hati taat dan rela kepada kehendak-Nya?

Kedua, sukacita pelayanannya di dalam Kristus ditunjukkan melalui ketaatannya menjadi saksi Kristus melalui perkataan dan perbuatan. Berarti bukan penginjilan saja yang harus diperhatikan, tetapi sikap hidup kita. Penginjilan yang Paulus ajarkan meliputi dua hal: penginjilan verbal (perkataan) dan penginjilan non-verbal (perbuatan). Dengan kata lain, penginjilan bukan menjadi penginjilan yang timpang, tetapi penginjilan yang terintegrasi. Apa yang menyebabkan Paulus bisa mengintegrasikan dua konsep tersebut? Kuncinya adalah kerendahan hati. Paulus adalah seorang rasul Kristus yang luar biasa cerdas, namun kecerdasannya tidak mengakibatkan dia menjadi sombong, tetapi rendah hati. Ia rela menyamakan dirinya sebagai orang berdosa, bahkan lebih berdosa dari mereka (1Tim. 1:15-16). Kerendahan hatinya mengakibatkan ia mampu memadukan penginjilan melalui perkataan dan perbuatan. Bagaimana dengan kita? Beberapa orang Kristen dan hamba Tuhan yang sudah banyak belajar theologi melalui literatur mengakibatkan beberapa dari mereka menjadi sombong, karena merasa diri sudah pintar beradu argumen theologi. Mereka menjadi kebal terhadap kritikan, meskipun di atas mimbar berbicara tentang teachable (dapat diajar). Mereka memakai segudang argumentasi untuk menutupi kesalahannya, misalnya dengan mengatakan bahwa kalau mau mengkritik, si pengkritik harus melakukannya dahulu. Sudah saatnya orang Kristen bertobat dari kesombongan ini! Seberapa rendah hatikah kita sebagai anak-anak-Nya di dalam melayani-Nya? Ketika kita belajar rendah hati, di saat yang sama kita menjadi saksi Kristus yang mampu mengintegrasikan penginjilan perkataan dan perbuatan. Tuhan tidak mau kita terpecah di dalam penginjilan yang terlalu mementingkan salah satu aspek.

Ketiga, sukacita pelayanannya di dalam Kristus ditunjukkan melalui kuasa Roh Kudus. Kita bisa bersukacita di dalam pelayanan karena ada kuasa Roh Kudus. Kuasa Roh Kudus memampukan kita terus bersukacita di dalam pelayanan, meskipun harus mengalami penderitaan. Kuasa itu ditunjukkan melalui tanda-tanda mukjizat (ay. 19a) maupun pemberitaan Firman. Kuasa Roh Kudus jangan dibatasi oleh gejala-gejala supranatural. Kuasa Roh Kudus adalah kuasa yang dikerjakan Allah Roh Kudus seturut firman-Nya di dalam Alkitab, karena Roh Kudus diutus untuk memuliakan Kristus (Yoh. 15:26; 16:14). Roh Kudus bisa bekerja melalui mukjizat dan bisa juga bekerja tanpa melalui mukjizat yang dapat dilihat mata. Roh Kudus yang tidak bekerja melalui mukjizat nyata (kasat mata) adalah Roh Kudus yang memberikan kekuatan kepada setiap hamba-Nya di dalam melayani Tuhan. Kekuatan itu tidak bisa dilihat secara kasat mata seperti misalnya melihat orang buta melihat, orang tuli mendengar, dll, tetapi kekuatan itu sangat penting bagi seorang pelayan-Nya, karena tanpa kekuatan dari-Nya, mereka tidak akan mampu menunaikan tugas pelayanan-Nya. Hamba-Nya yang setia, Pdt. Dr. Stephen Tong adalah salah satu saksi mata seorang hamba Tuhan yang dipenuhi dengan kuasa Roh Kudus. Jika ada yang mengatakan Pdt. Stephen Tong tidak ada ‘roh kudus’ hanya karena beliau tidak dapat membuat orang tumbang, maka saya menantang si pemfitnah itu, dengan kuasa mana beliau bisa berkhotbah dan memberitakan Injil di dunia dengan jadwal yang begitu padat? Jika tanpa kuasa Roh Kudus yang terus memberi kekuatan dan kesehatan fisik maupun mental, maka beliau tidak bisa melayani Tuhan dengan begitu bersemangat meskipun jadwal pelayanannya yang begitu padat. Sudahkah kita mengalami kuasa Roh Kudus di dalam pelayanan yang kita kerjakan? Kita bisa mengalami kuasa Roh Kudus tersebut tatkala kita dengan taat dan rela menunaikan tugas pelayanan kita kepada-Nya. Percayalah, tatkala kita melayani Tuhan sungguh-sungguh, Roh-Nya yang kudus akan mendampingi kita dan memberi kita kekuatan.


Tiga wujud sukacita pelayanannya di dalam Kristus tersebut mengakibatkan Paulus tidak merasa capek walau harus pergi ke tempat yang jauh sekalipun. Ini dikatakannya di ayat 19b, “Demikianlah dalam perjalanan keliling dari Yerusalem sampai ke Ilirikum aku telah memberitakan sepenuhnya Injil Kristus.” Ia telah rela pergi dari Yerusalem ke tempat yang jauh, mengapa? Demi uang? TIDAK! Demi Injil. Dr. John Calvin yang terus berkhotbah setiap pagi kepada jemaatnya tanpa mengenal lelah, mengapa? Karena Injil. Pdt. Dr. Stephen Tong rela pergi meninggalkan Tiongkok sebagai negara kelahirannya, merantau ke Indonesia, berkhotbah dan memberitakan Injil ke Amerika, Meksiko, Jepang, Taiwan, Singapura, Malaysia, Thailand, dll, mengapa? Karena uang? TIDAK! Karena Injil! Para misionaris dan hamba Tuhan sejati dengan ketaatan penuh dan melalui kuasa Roh Kudus mampu menunaikan tugas pelayanan-Nya, hanya karena satu: Injil Kristus. Karena Injil, mereka berani membayar harga, diri, dan uang. Karena Injil, mereka rela membayar harga ditinggal suami/istri/keluarganya dan dicap “kafir.” Karena Injil, mereka berani membayar harga dimusuhi oleh tetangga dan rekannya. Ya, karena Injil. Sungguh suatu kontradiksi dengan orang “Kristen” di zaman sekarang ini. Di zaman ini, kita sangat sulit menemukan seorang yang rela berkorban demi Injil. Yang ada justru sebaliknya, banyak orang “Kristen” bahkan “pemimpin gereja” memanipulasi Injil demi kepentingannya sendiri. Karena uang, beberapa pemimpin gereja rela memberitakan “injil” kemakmuran untuk menarik keuntungan sebesar-besarnya. Karena terlalu memerhatikan kondisi lingkungan sekitar, beberapa pemimpin gereja mulai menolak pemberitaan Injil secara verbal dan menggantinya dengan pelayanan sosial saja. Karena terlalu memerhatikan agama-agama lain, sang pemimpin gereja “berani” berkhotbah di atas mimbar bahwa di luar Kristus masih ada jalan keselamatan. Semua dilakukan untuk memuaskan keinginan pribadi, baik: uang, harga diri, dan lingkungan sekitar. Sungguh berbeda dengan para misionaris dan pelayan Tuhan yang setia yang rela mengorbankan diri sendiri agar Injil Kristus diberitakan. Bagaimana dengan kita? Masihkah kita sebagai anak-anak-Nya selalu mengecewakan-Nya? Masihkah kita sebagai anak-anak-Nya memanipulasi Injil Kristus demi kepentingan kita sendiri? Sudah saatnya orang Kristen dan pemimpin gereja BERTOBAT dari dosa-dosa mereka yang menghina dan memanipulasi Injil!


Hari ini, jika Roh Kudus menegur Anda melalui perenungan kita saat ini, bukalah hati dan pikiran Anda, biarkan Ia mengoreksi dan memimpin jalan hidup dan pelayanan kita agar apa pun yang kita kerjakan sungguh-sungguh memuliakan Tuhan. Amin. Soli Deo Gloria.

Matius 15:12-14: CONTROVERSY OF THE TRUTH (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Ringkasan Khotbah: 23 September 2007

Controversy of the Truth
oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 15:12-14


Perdebatan sengit antara Tuhan Yesus dan orang Farisi dicetuskan oleh orang Farisi terlebih dahulu; Tuhan Yesus dianggap telah melanggar Taurat, yakni tidak mencuci tangan saat makan. Tuhan Yesus menegur dengan keras mereka telah melawan Allah dan memakai Taurat sebagai alasan. Bukan yang masuk mulut yang enajiskan tetapi yang keluar dari mulut itulah yang menajiskan. Kotor yang esensial itu asalnya dari dalam hati maka yang semua yang keluar itu menjadi kotor. Sayang, dunia tidak pernah mengerti konsep ini, manusia hanya melihat fenomena luar yang kelihatan bagus. Puji Tuhan, Tuhan tidak melihat fenomena tetapi Dia melihat hati manusia. Ironis, ketika Kebenaran menegur dosa, dunia bereaksi sangat keras, mereka mengatai perbuatan Tuhan Yesus tersebut sebagai batu sandungan. Sebaliknya, ketika orang berdosa mengecam Kebenaran, dunia diam bahkan sepertinya dunia menyetujui dan sangat memahami tindakan mereka karena adanya suatu perasaan senasib sebagai sesama orang berdosa. Orang berdosa yang lain akan menjadi marah dan membela mati-matian ketika ada seorang benar yang berani menyatakan dosa menegur orang berdosa. Jumlah orang benar sangat minoritas sebaliknya orang berdosa mayoritas sehingga perasaan senasib sepenanggungan itu begitu mengikat.
Janganlah tergoda dengan fenomena yang nampak indah, seperti tawaran untuk investasi dalam bentuk saham. Orang tidak sadar permainan saham itu justru akan menghancurkan hidup manusia namun orang tidak sadar malahan bangga dan menaruhnya dalam berita utama di surat kabar. Investasi asing dengan jumlah besar, hampir 200 juta dollar masuk ke Indonesia dalam bentuk SUN (Surat Utang Negara) dan ORI (Obligasi Republik Indonesia). Hal ini akan menjadikan rakyat Indonesia semakin bertambah miskin dan sengsara. Para investor itu pastilah tidak ingin merugi tetapi ingin meraih keuntungan maka kalau mereka berani menanamkan modal sedemikian besar pastilah mereka telah memperhitungkan berapa besar keuntungan yang akan didapatkan. Perhatikan, semua investasi itu bukan dalam bentuk sektor riil yang akan menyejahterahkan penduduk Indonesia. Tidak! Tetapi semua investasi itu dalam bentuknya tidak riil, orang tidak bekerja apa-apa tetapi ingin menarik keuntungan sebesar-besarnya. Rakyatlah yang dirugikan; orang mengambil keuntungan di atas penderitaan orang lain. Inilah dunia berdosa.
Dosa ditutup sedemikian rupa dengan segala sesuatu yang indah sehingga orang tidak lagi dapat melihat kebusukan di dalamnya. Tuhan Yesus menegaskan bukan yang masuk yang menajiskan tetapi yang keluar itulah yang menajiskan. Namun dunia sulit menerima kebenaran yang dinyatakan oleh Tuhan Yesus. Ada beberapa aspek mengapa manusia melihat kebenaran sebagai batu sandungan:
Pertama, Anti Perubahan.. Dunia hanya suka pada apa yang ia suka maka segala sesuatu yang dianggap berlawanan atau mengusik kemapanan, status quo sentak, orang langsung membentengi dirinya bahkan langsung menolak. Tak terkecuali dengan orang Kristen karena kebenaran itu berlawanan dengan konsep pemikiran yang telah tertanam dalam dirinya. Inilah sifat manusia berdosa. Sesungguhnya, bukan karena IQ rendah atau otak yang bodoh sehingga orang tidak dapat mengerti. Tidak! Pengertian akan kebenaran itu barulah didapat setelah orang rela membuka dirinya untuk menerima kebenaran dan diubahkan. Hal ini tidaklah mudah, dibutuhkan waktu dan juga suatu kerelaan untuk dikoreksi oleh Tuhan. Kalau sejak titik pertama, manusia sudah menetapkan status quo maka itu berarti kehancuran dan kebinasaan bagi dirinya. Sayang, orang tidak mempunyai kerelaan hati untuk dibentuk oleh kebenaran dan mempunyai semangat untuk belajar, learning spirit. Sesungguhnya, orang telah mengerti prinsip-prinsip kebenaran, tetapi orang masih terus bertanya dengan kata lain, orang hanya butuh konfirmasi untuk membenarkan apa yang menjadi keinginannya. Maka tidaklah heran ketika Tuhan Yesus Sang Kebenaran menyatakan kebenaran yang sifatnya kontras dan diametris, dunia langsung menolak. Learning attitude harus dimulai dari kerelaan hati untuk dikoreksi. Alangkah indah hidup kita kalau kita hati yang siap untuk diubahkan, kita mempunyai learning spirit, maka kita akan bertumbuh dalam iman.
Kedua, Manusia tidak mengaku salah. Mengakui kebenaran berarti harus menanggalkan konsep lama. Hal itu tidaklah mudah sebab pada saat yang sama kita harus mengakui kesalahan diri dan mengakui di hadapan orang lain; di dunia timur, mengakui kesalahan berarti suatu penghinaan sebab menyangkut harga diri; ada suatu kesombongan pribadi, prideness dalam diri manusia. Inilah sifat manusia berdosa. Manusia merasa diri sebagai kebenaran, the truth. Semangat humanisme ini memuncak yang ditandai dengan pernyataan manusia adalah ”allah.” Manusia bukanlah makhluk sempurna, manusia penuh dengan kesalahan. Dalam hidup ini banyak keputusan yang kita ambil tersebut salah.
Apa dasarnya sehingga kita memutlakkan diri kita sebagai kebenaran? Ironis, orang berani memutlakkan diri sebagai kebenaran mutlak dan menuduh orang lain yang tidak sejalan dengan pemikirannya adalah salah. Manusia adalah makhluk relatif, kita harusnya kembali dan mau diajar oleh Sang Kebenaran sejati yang mutlak adanya. Kesombongan menjadikan kita tidak mau dibentuk oleh Tuhan dan memakai alasan batu sandungan untuk menolak kebenaran. Sesungguhnya, kesombongan itulah yang telah menjadi batu sandungan, kita tidak siap hati untuk menerima kenyataan bahwa kita bukanlah kebenaran, kita hanyalah manusia biasa yang dapat bersalah. Kesombongan membuat manusia tidak mau tunduk di bawah kebenaran-Nya. Inilah yang disebut sebagai true blindness. Biarlah sebagai anak Tuhan, kita menyadari dan mengakui bahwa kita adalah manusia berdosa, kita telah bersalah secara esensi, kita telah memberontak terhadap kebenaran. Kesempurnaan itu hanya milik Tuhan semata. Melawan kebenaran sejati berarti kebinasaan bagi kita. Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya maka semuanya akan ditambahkan kepada-Mu. Alangkah indah hidup kita ketika kita berada di bawah kedaulatan Allah.
Ketiga, Manusia mau menjadi Tuhan. Konsep manusia yang menganggap diri adalah “allah” menempatkan manusia berada di posisi atas. Salah! Allah yang berada di posisi tertinggi dan manusia harus tunduk di bawah otoritas Allah. Awal abad 20, dunia mulai menyadari betapa jahatnya otorisasi tetapi ironisnya, orang justru masuk di dalamnya. Celakanya, semua orang ingin berkuasa dan menguasai dunia maka pecahlah perang dunia hingga dua kali. Orang mulai menindas dan menghancurkan orang lain. Orang tidak mau tunduk kepada orang lain tetapi ingin menjadikan orang lain yang tunduk kepadanya. Michael Foucault menyadari akan jahatnya suatu otoritas selalu memutlakkan diri dan memutlakkan diri berarti penindasan maka semua otoritas tersebut harus ditiadakan, no authority. Namun pada saat yang sama ia menegakkan kekuasaan diri. Postmodern system memuncakkan self authority dan berada di titik paling puncak yang membuat manusia anti otoritas termasuk otoritas agama dan otoritas Allah. Faith movement mencetuskan otoritas tertinggi berada di tangan manusia dan Allah harus tunduk pada manusia. Dengan kata lain, manusialah sebagai penentu segala sesuatu. Ketika Tuhan Yesus datang dan menyatakan diri “I'm the Lord” maka orang langsung melawan. Manusia modern anti dengan kebenaran. Hati-hati dengan pendidikan modern mengajarkan bahwa anak tidak pernah salah dan guru hanya fasilitator belaka. Ajaran ini dicetuskan Jean Jaques Rousseau yang diadopsi oleh Maria Montesorry. Alkitab menegaskan manusia dicipta, bukan pencipta maka manusia harus tunduk pada Sang Pencipta.
Keempat, Manusia anti doktrin (ajaran). Alkitab berulang kali menyatakan perlunya manusia kembali pada ajaran atau doktrin yang benar. Postmodern system mencoba merasuk pemikiran manusia dengan konsepnya yang anti dengan segala bentuk ajaran tetapi ironisnya, pada saat yang sama justru mereka getol mengajarkan ajaran posmodern. Posmodern menyatakan bahwa bahasa tidak lebih hanya sebuah permainan, language game sebab bahasa tidak menjadikan dunia mengerti apa yang diajarkan. Ironis, di satu sisi, orang menyatakan bahwa doktrin itu tidak penting, bahasa hanya sebuah permainan tetapi tanpa sadar, ia sedang menanamkan doktrin, yakni ajaran akan tidak pentingnya sebuah doktrin dengan bahasa. Tidak cukup sampai disitu, gerakan new age yang dicetuskan dari pemikiran dunia timur mulai merebak hari ini bahkan negara-negara Barat yang mementingkan rasio kini telah terpengaruh dengan ajaran new age. Pertengahan abad 20, dunia Barat menghancurkan diri sendiri dengan ajaran posmodern. Di tengah relativisme, manusia mulai kehilangan positioning, manusia tidak percaya akan kebenaran dan manusia tidak tahu harus berpegang pada siapa? Karena semua dianggap salah termasuk Allah pun dianggap salah; semua kebenaran absolut tidak ada. Seorang bernama Maha Resi Mahesh Yogi menyatakan diri sebagai ”allah” dan “kebenaran” maka dunia Barat yang butuh kebenaran datang ke India, tempat dimana orang-orang menyatakan diri sebagai ”allah dan kebenaran mutlak.” Di tengah-tengah relatifitas, orang butuh kemutlakkan celakanya, orang tidak balik kepada Kebenaran sejati. Orang butuh kemutlakan tetapi sekaligus anti kemutlakan. Inilah dampak dari posmodern yang kawin dengan filsafat timur yang sifatnya humanistik maka jadilah new age movement. Abad 21 menjadi abad new age terbesar. Filsafat timur mulai menguasai dunia barat. Dunia timur dengan permainan supranaturalnya dan emosi yang meledak menguasai rasio akibatnya manusia menjadi anti doktrin. Inilah wajah dunia berdosa.
Empat tahap penghancuran dunia dapat kita lihat dari: 1) konsep unisex, muncul sekitar 25 tahun lalu dimana pria dan wanita mempunyai seragam sama, yakni t-shirt, celana jean dan sepatu kets. Pria dengan rambut panjang dan wanita dengan rambut cepak ala pria, 2) pembalikan posisi, dimana pria memakai pakaian seperti layaknya wanita dengan motif dan model wanita sebaliknya si wanita berpakaian ala pria. Jangan pandang sepele atau remeh akan hal ini, ini bukan sekedar fashion belaka tetapi ada permainan iblis di balik semua ini, 3) homosexual, hari ini para homosexual menuntut hak-hak yang sama seperti layaknya kehidupan normal, yakni pernikahan dan mempunyai anak dan disahkan secara hukum, 4) feminint leadership, penguasaan kepimpinan berada di tangan wanita – saat itu emosi menjadi penentu segala keputusan maka ketika orang tidak memakai rasio lagi, semua peraturan menjadi tidak ada. Iblis yang licik masuk dalam dunia agama, dunia filsafat dan keluarga untuk menghancurkan manusia. Sayangkan, orang tidak menyadarinya, orang tidak kembali pada doktrin yang benar dan mutlak. Firman Tuhan telah memberikan prinsip-prinsip kebenaran pada manusia untuk menjadikan manusia hidup dengan benar dengan demikian orang tidak mudah diombang-ambingkan oleh rupa-rupa ajaran sesat. Back to the sound doctrine. Dunia tidak suka ketika kita bersikap tegas dan menyatakan kebenaran, dunia akan menganggap kita sebagai batu sandungan. Inilah tugas dan panggilan setiap anak Tuhan yang menjadi terang dan garam.
Tuhan Yesus memberikan suatu prinsip kebenaran sejati, yakni:
1. Adalah anugerah kalau orang dapat mengerti kebenaran.
Prinsip Alkitab berbeda dengan prinsip dunia. Setiap tanaman yang tidak ditanam oleh Bapa-Ku yang di sorga akan dicabut sampai akar-akarnya. Bapak-bapak gereja sangat memahami akan hal ini, mereka mengeluarkan satu pernyataan credo ut intelligam dan ajaran reformed menyatakan sebagai predestinasi. Kalau orang dapat mengerti kebenaran titik permasalahan bukan pada batu sandungan atau bukan batu sandungan. Tidak! Tetapi karena anugerah Tuhan semata kalau kita dapat mengerti kebenaran. Tuhan Yesus telah menegaskan tentang hal tersebut, yakni ketika Tuhan Yesus mengajar denga perumpamaan – bukan supaya orang dapat mengerti ajaran dengan mudah. Tidak! Sebab terbukti, mereka tetap tidak mengerti ajaran Tuhan. Tuhan Yesus menegaskan kepada mereka diberikan anugerah untuk mengerti rahasia Kerajaan Sorga sedang kepada mereka, tidak sehingga mereka mendengar tetapi tidak mendengar, mereka melihat tetapi tidak melihat dan tidak mengerti (Mat. 13:10-13). Jadi, jelas disini kalau kita dapat mengerti Firman maka itu merupakan suatu anugerah bukan karena kehebatan atau kepandaian kita. Iman mendahului pengertian maka apologetika bukan upaya menjelaskan supaya orang percaya. Tidak! Percaya dulu barulah kita mengerti kebenaran sejati dan kalau seorang dapat percaya pada Tuhan maka itu semata-mata karena anugerah, Tuhanlah yang membukakan terlebih dahulu. Rasio harus tunduk di bawah iman. Kembalinya kita pada kebenaran itu karena anugerah melalui iman.
2. Manusia harus kembali pada Bapa Sang Sumber Hidup.
Untuk dapat mengerti kebenaran, kita harus kembali pada Bapa yang empunya tuaian. Hanya kembali pada Bapa Sang Sumber Hidup barulah orang itu hidup dan ia dapat mengerti kebenaran. Jangan pernah berpikir dengan penjelasan secara rasional orang dapat mengerti. Tidak! Layaknya orang buta menuntun orang buta maka dijelaskan apapun akan sulit mengerti kecuali ia dicelikkan dan dapat melihat sendiri barulah ia dapat mengerti. Jelaslah disini, titik permasalah bukan pada jadi batu sandungan atau bukan. Letak titik permasalahannya adalah karena orang tidak kembali pada Bapa. Ketika orang kembali pada Bapa, Sang Sumber Hidup barulah orang itu hidup dan ia mengerti akan kebenaran. Berbeda halnya dengan orang mati, sehebat dan sebanyak apapun kita memberikan penjelasan maka ia tidak pernah mengerti kebenaran sebab sesungguhnya, ia tidak lebih hanyalah orang mati. Hidup itu kembalinya kita pada Sang Sumber Hidup. Kalau kita tidak kembali pada sumber hidup berarti kita mati. Sama halnya sebuah alat eletronik maka ia tidak akan berfungsi kalau tidak dihubungkan dengan listrik sebagai sumber. Seluruh potensi, eksistensi dapat berfungsi dengan baik kalau kita kembali pada sumber hidup. Teologi Reformed dengan tegas menyatakan bahwa manusia itu rusak total, total depravity; manusia tidak berfungsi lagi maka satu-satunya jalan, kita hidup harus kembali pada Bapa. Ajaran teologi yang lain masih berkompromi dengan dunia dengan menyatakan donum supra ditum artinya di dunia yang berdosa masih ada secuil kapasitas kebajikan dan kemurnian yang memungkinkan manusia bisa menemukan Allah. Tidak! Manusia telah rusak total maka kita harus kembali pada Sang Sumber Hidup.
3. Manusia harus kembali pada Kebenaran mutlak.
Alkitab menegaskan tidak ada posisi tengah atau abu-abu bagi kebenaran. Tidak ada posisi setengah benar atau setengah salah. Hanya ada 2 posisi, yaitu benar atau salah. Setengah benar berarti salah. Dari empat epistemologi, yakni: 1) benar-benar benar, 2) benar-benar tidak benar, 3) tidak benar-benar benar, 4) tidak benar-benar tidak benar maka dari keempat kemungkinan di atas hanya satu, yakni: benar-benar benar. Kekristenan melihat kebenaran itu tidak bisa ditempatkan pada posisi abu-abu. Kebenaran itu harus mutlak, yakni benar-benar benar. Jangan pernah berpikir bahwa kita berada di posisi tengah, sebelah kaki di sorga dan sebelah kaki yang lain di neraka. Kalau kita hidup kita harusnya tahu dimana posisi kita. Sungguh merupakan suatu anugerah kalau kita masih bisa mendengarkan Firman Tuhan, membukakan kebenaran maka jangan sia-siakan anugerah Tuhan. Biarlah kita disadarkan dan kembali pada kebenaran. Janganlah kita seperti orang buta yang menuntun orang buta. Kebenaran harus tetap dinyatakan, tidak peduli apakah hal itu akan menjadi batu sandungan. Kalau kebenaran itu dibukakan pada kita dan kita mengerti kebenaran itu maka janganlah hal itu menjadikan kita sombong tetapi hendaklah dengan rendah hati kita senantiasa memohon pada Tuhan untuk membentuk kita di sepanjang hidup kita. Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber:

24 May 2009

Matius 15:1-11: CHRIST AND RELIGION (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Ringkasan Khotbah : 19 Agustus 2007


CHRIST AND RELIGION

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.



Nats: Matius 15:1-11


 



Sebelumnya kita telah memahami bahwa Kristus adalah dasar atau obyek iman yang mempengaruhi budaya, membentuk budaya, mengajar dan menjadi arah dari seluruh budaya. Merupakan suatu kesalahan fatal kalau orang mensejajarkan Kristus dengan kebudayaan dan meletakkan agama sebagai salah satu sub budaya sama. Disini kita melihat kegagalan manusia memahami iman sejati. Iman atau agama merupakan suatu kepercayaan yang bersifat mutlak dan menjadi dasar tertinggi dari seluruh aspek hidup dan konsep berpikir kita. I do what I think and I think what I believe. Celakanya, banyak orang yang tidak memahami hal ini akibatnya orang menaruh budaya di tempat paling atas dan mempermainkan iman kepercayaan. Hal inilah yang terjadi pada orang Yahudi, mereka lebih mengutamakan adat istiadat daripada perintah Allah padahal adat istiadat dibuat manusia. Tuhan Yesus dengan keras menegur orang Yahudi yang tidak ubahnya seperti kuburan, tampak bagus di depan tetapi busuk di dalamnya. Mereka beribadah dan memuliakan Tuhan namun apa yang mereka lakukan tidak lebih hanyalah kemunafikan religiusitas belaka – apa yang tampak luar berlawanan dengan apa yang mereka pikir. Dengan bibirnya, mereka seolah-olah memuliakan Allah padahal hatinya jauh dari Allah, mereka juga sepertinya beribadah kepada Allah namun apa yang menjadi ajaran mereka tidak lebih adalah perintah manusia.

Kemunafikan ini telah menjadi pola hidup keagamaan manusia pada umumnya dan tak terkecuali Kekristenan. Ada empat macam gejala yang timbul dalam keagamaan, yakni:

1. Social Religion

Orang beragama karena ia berada dalam tekanan sosial masyarakat atau demi kepentingan sosial. Orang yang hidup di suatu tempat dimana mayoritas penduduknya beragama tertentu maka demi supaya orang tidak “menghakimi”  orang beribadah dan melakukan semua bentuk aktivitas keagamaan. Sangatlah mengenaskan, hal yang sama terjadi di tengah-tengah Kekristenan, orang beribadah ke gereja untuk menghindari tekanan atau “penghakiman” dari orang-orang di sekitar atau tekanan dari jemaat, pengurus atau majelis. Orang ke gereja bukan demi Tuhan, hatinya jauh dari Tuhan. Ibadah tidak lebih hanya sebuah kegiatan sosial yang kita lakukan demi memuaskan kepentingan sosial. Inilah orang munafik. Kemunafikan ini justru menjadi bukti i think what i do and i do what i believe. Kemunafikan ini justru bukti dari konsistensi kepercayaan kita, yaitu diri sendirilah yang menjadi pusat, yakni demi kenyamanan diri. Inilah agama humanistik yang munafik.

2. Psychological Religion

Pasca perang dunia kedua manusia menjadi atheis maka ketika orang tidak lagi percaya Tuhan, logika itulah  segala-galanya dan kehidupan rohani pun menjadi sangat kering. Namun setelah perang dunia, manusia mulai bergeser dari unsur rasional ke unsur emosional. Penderitaan dan kesulitan akibat perang itu menjadikan emosi orang meledak dan meluap-luap. Demikian pula halnya dengan Kekristenan, Friedrich Schleiermacher, bapak theologi modern menggeser konsep agama – agama itu tidak lebih hanyalah sebuah perasaan ingin bergantung mutlak pada sesuatu obyek dan tidak peduli apa atau siapa yang menjadi obyek iman, religion is the willing of absolute dependence. Perasaan bergantung itulah yang disebut sebagai agama. Maka janganlah heran kalau kita mendengar ada orang yang berkata bahwa ia merasa tidak mendapat apa-apa ketika membaca Firman Tuhan dan merasa Tuhan begitu jauh namun keesokan harinya, dengan sukacita, ia berkata bahwa ia merasa Tuhan begitu dekat dan tersentuh oleh Firman Tuhan. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah Alkitab itu dikatakan sebagai firman ketika kita merasa tersentuh? Sangatlah mengenaskan, gereja menjadi tempat dimana emosi dipermainkan. Orang tidak lagi mempedulikan firman tetapi agama tidak lebih sebagai pelampiasan dan pemuasan emosi untuk memenuhi kebutuhan manusia akan kekosongan rohani. Agama menjadi subyektif. Hari ini kita masuk dalam abad 21 dan gerakan ini semakin besar,  gereja mencoba mengisi perasaan emosional orang dan pada saat itu, barulah orang merasa dekat dengan Tuhan. Semua itu tidak lebih hanya untuk memenuhi kepuasan diri, diri menjadi yang utama dan Tuhan dilupakan.Bagaimana dengan kehidupan beragama kita? Apakah kita mengutamakan Tuhan? Apakah hati dan pikiran kita melekat pada Tuhan?

3. Status Religion

Orang beragama hanya untuk mencari posisi atau status di tengah masyarakat supaya ia dihormati.

Di dunia modern sekarang ini, banyak tempat yang mempunyai citra buruk di tengah masyarakat melakukan hal yang sama, yakni melakukan berbagai kegiatan rohani seolah-olah tempat itu menjadi tempat yang spiritual demi mendapatkan posisi dan citra yang baik apalagi Kekristenan diakui di tengah-tengah masyarakat. Orang datang ke gereja untuk mendapatkan status sosial, status kesalehan atau status kerohanian. Maka tidaklah heran kalau hari ini banyak orang memakai segala cara dan usaha ingin berada dan menjadi bagian dalam kepengurusan atau kemajelisan dalam gereja namun kehidupan moralnya rusak. Agama tidak lebih hanya menjadi tempat dimana orang mencari status sosial, orang mencari kekuasaan dan orang ingin mencapai harkat tertentu demi mendapat kehormatan. Namun orang lupa kalau ada Allah yang Maha Tahu, Allah tahu apa yang menjadi motivasi kita beribadah, Allah tahu kalau sesungguhnya hati kita jauh dari-Nya, orang hanya sekedar melakukan apa yang menjadi perintah manusia. Orang Farisi begitu sombong karena status sosial keagamaan di tengah masyarakat. Tuhan Yesus mengecam keras orang Yahudi, mereka tidak ubahnya seperti kuburan yang nampak indah di luar tetapi di dalamnya penuh kebusukan. Hari ini, demi status sosial, orang melakukan segala cara dengan melakukan perjalanan spiritual dan pergi ke tempat rohani. Inilah kemunafikan dalam ibadah.

4. Egoistic Religion

Semangat humanisme ini semakin hari semakin meningkat. Dimulai dari jaman renaissance, abad 13 dengan slogannya yang berbunyi: kami bangkit, kami bangun kemudian berkembang pada masa pencerahan atau aufklarung, abad 17 yang mencetuskan bahwa manusia telah cukup dewasa untuk memutuskan segala sesuatu sendiri. Hingga abad 20 dimana new age movement dengan lambang piramidnya mencetuskan: we are on the top – orang humanis dengan tegas menyatakan bahwa dirinya tidak lagi memerlukan orang lain apalagi Tuhan; orang new age percaya bahwa Tuhan itu ada di dalam diri dengan kata lain kitalah “allah“ maka janganlah kita berpikir tentang keterbatasan atau dosa sebab hal itu tidak membuat kita tidak menjadi “allah.“ Dalam hal ini, orang beragama karena ingin menjadi “allah“ yang bisa melakukan apa saja maka muncullah suatu slogan baru, yakni: what you think is what you get. Manusia memuncakkan diri sendiri dan beriman pada diri sendiri, iman pada keyakinan dan nafsu diri sendiri. Inilah kemunafikan orang beragama. Orang tidak pernah memikirkan apa yang menjadi kehendak Tuhan, apa yang menyenangkan hati Tuhan. Iman Kristen mengajarkan sebelum kita mengikut Kristus maka ia harus menyangkal diri berarti berkata  “tidak“ pada apa yang menjadi keinginan nafsu kita, memikul salib dan mengikut Aku. Seorang Kristen sejati haruslah mengikut teladan Kristus yang berkata, “Bapa, bukan kehendak-Ku yang jadi melainkan kehendak-Mulah yang jadi.“ Hari ini, kita melihat orang begitu rajin beribadah dan berdoa tetapi semua ibadah dan doa itu tidak lebih hanyalah pemuasan egoisme manusia. Orang pikir dengan doa panjang bahkan semalam suntuk akan membuat doa mereka dikabulkan. Tidak! Ini bukan agama yang Tuhan inginkan. Tuhan Yesus menegur keras orang Yahudi akan hal ini, bukan doa yang bertele-tele yang membuat doa mereka dikabulkan. Tidak! Semua itu semata-mata karena anugerah Tuhan. Hati mereka jauh dari Tuhan, sesungguhnya mereka tidak mengerti Firman, orang hanya melakukan apa yang menjadi ajaran manusia.

Beberapa aspek di bawah ini menjadi evaluasi bagi kita apakah kita seorang Kristen sejati?

1. Otoritas Allah vs otoritas diri

Iman Kristen sejati dimulai dengan pengakuan akan kedaulatan Allah. Otoritas tertinggi berada di tangan Allah dan kita harus taat mutlak pada-Nya bukan memaksakan apa yang menjadi kehendak kita. Konsep keagamaan yang paling berat adalah pertikaian atau persaingan antara otoritas Allah dengan otoritas diri. Orang selalu ingin otoritas diri itulah yang berada di atas; orang ingin diri inilah yang menjadi “allah“ dan berotoritas penuh. Tidak! Otoritas Allah itulah yang harus berada di posisi atas sedangkan adat istiadat harus diletakkan di bawah-Nya. Kristus haruslah menjadi yang terutama dalam segala aspek hidup kita bukan budaya atau adat istiadat yang dibuat oleh manusia. Celakalah hidup kita kalau kita lebih mengutamakan budaya daripada Kristus yang adalah Allah sejati yang hidup dan berotoritas mutlak atas segala budaya yang ada dan segala ilah-ilah palsu yang ada di dunia. Biarlah kita mengevaluasi diri, hari ini kita mengaku Kristen sudahkah kita taat pada kebenaran sejati dan tunduk mutlak di bawah otoritas Allah? Ingat, jangan permainkan iman dengan segala hal yang sifatnya relatif yang ada di dunia.

2. Perintah Allah vs perintah manusia

Dalam tatanan urutan perintah, perintah siapakah yang paling tertinggi? Apakah urutan itu berada dalam satu garis perintah, one line order? Allah haruslah berada di urutan teratas di antara semua perintah yang ada di dunia. Hal ini menjadi prinsip dalam kehidupan ketaatan kita namun di satu sisi bukan berarti kita harus melawan semua perintah yang ada di dunia dan menjadi anti nomian. Tidak! Ibadah sejati adalah ketika kita beribadah dalam kebenaran pada Tuhan. Ibadah dari kata to bow down berarti menyembah Allah dan taat mutlak pada perintah Allah. Alangkah indah hidup kita kalau kita berjalan dalam pimpinan Tuhan, kita akan dibuat takjub oleh-Nya. Jangan takut dengan segala rintangan dan tantangan yang menghadang sebab kalau Tuhan yang memimpin dan kita taat mutlak pada-Nya maka semua tantangan dan rintangan akan hancur. Lihatlah bagaimana Allah memimpin Musa keluar dari Mesir hingga sampailah ia dan bangsa Israel di tepi laut Merah. Musa dihadapkan pada tantangan yang sulit, di depan laut merah dan maju berarti resiko kematian sedangkan di belakangnya, prajurit Mesir kalaupun ia harus berbalik berarti ia dan bangsa Israel harus melawan banyaknya prajurit Mesir dan itu berarti resiko kematian. Allah memerintahkan Musa untuk maju. Secara logika, sangatlah mustahil beribu-ribu orang Israel termasuk perempuan dan anak-anak untuk menyeberangi laut Merah yang sangat luas dan selamat sampai di seberang. Saat itu, Musa tidak ada pengalaman apapun yang menunjukkan laut Merah itu akan terbelah. Hari itu, kalau kita dihadapkan dengan tantangan seperti Musa, apa yang akan kita lakukan? Taat pimpinan Tuhan ataukah menuruti kehendak kita? Puji Tuhan, Musa adalah seorang yang taat mutlak pada pimpinan Tuhan maka lihatlah bagaimana Tuhan bekerja dengan sangat luar biasa – laut Merah terbelah menjadi dua dan seluruh umat Israel selamat sampai di seberang. Pimpinan Tuhan sungguh sangatlah menakjubkan. Ironisnya, manusia berdosa berusaha menganulir peristiwa dahsyat ini dengan menyatakan bahwa kejadian itu tidak lebih hanya peristiwa alam. Mustahil! Bagaimana mungkin peristiwa alam bisa terjadi persis di detik Musa dalam keadaan terjepit dan persis setelah seluruh umat Israel menyeberang laut bisa tertutup kembali? Maka kalaupun hal itu terjadi lihatlah betapa dahsyat-Nya cara Tuhan bekerja. Sesungguhnya, peristiwa Musa ini membuktikan satu hal pada kita, yakni betapa indah hidup kita berada dalam pimpinan Tuhan dan taat mutlak pada-Nya. Celakanya, manusia berdosa merasa diri hebat merasa diri lebih pandai memakai rasio untuk melawan Allah yang adalah sumber bijaksana dan kepandaian. Maka tidaklah heran kalau hari ini banyak orang Kristen yang tidak pernah mengalami pimpinan Tuhan yang menakjubkan. Allah kita adalah Allah yang hidup, Allah menunjukkan cara-Nya dan Allah adalah Allah yang Maha bijaksana. Pertanyaannya adalah Allah seperti apakah yang kita percaya?

3. Altruistik vs egoistik

Kalau kita hidup untuk diri kita sendiri maka hidup kita menjadi najis. Agama menjadi tempat kita untuk mengeruk kepentingan pribadi maka ketika kita berelasi dalam kehidupan beragama pun adalah demi mendapatkan keuntungan pribadi. Tuhan Yesus menegaskan bukan yang masuk mulut yang menajiskan tetapi apa yang keluar dari mulut itulah yang menajiskan. Tuhan ingin kita hidup menjadi berkat bagi orang lain, hidup untuk melayani. Kristus telah memberikan teladan sempurna bagi kita, Dia datang ke tengah dunia, rela menderita dan mati disalibkan demi menebus manusia berdosa. Sebagai anak Tuhan sejati hendaklah kita meneladani hidup Kristus, hidup menjadi berkat bagi orang lain. Bagaimana dengan kehidupan beragama kita? Kalau kita beribadah dan mendapat berkat dari Firman namun hanya untuk kepentingan diri dan tidak mau melayani Tuhan, tidak peduli pada apa yang menjadi kehendak Tuhan masih layakkah kita disebut Kristen atau Kristus kecil? Tuhan memberikan amanat Agung pada setiap anak-Nya; bukan kamu yang memilih Aku tetapi Akulah yang memilih kamu untuk pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap. Percayalah, kalau kita taat mutlak pada pimpinan-Nya dan mengutamakan Tuhan dalam hidup kita dan hidup menjadi berkat bagi orang lain maka Tuhan pasti akan menyertai dan memelihara hidup kita. Seorang Kristen sejati bukanlah seorang yang egois tetapi hendaklah kita mempunyai hati altruis yang selalu memikirkan dan menjadi berkat bagi orang lain, selalu memikirkan apa yang menjadi kehendak Tuhan dan kita berbagian di dalamnya. Maukah kita dipakai Tuhan menjadi berkat?

4. Batiniah vs Lahiriah

Tuhan ingin seluruh hidup kita dimurnikan dari dalam. Kemunafikan terjadi karena apa yang ada di dalam dan di luar tidak sama. Agama seringkali hanya ribut dengan penampilan luar bukan apa yang ada di dalam batiniah kita. Perubahan Kristen adalah perubahan internal, suatu kesadaran diri sebagai manusia berdosa dan bertobat, memohon pengampunan dan mau hidup taat Tuhan. Inilah iman Kristen sejati. Kristen bukanlah segala aktivitas yang kita tunjukkan. Tuhan mengubah inner being, dilahirbarukan dan pada saat itu maka apa yang keluar dari dalam diri, yakni hati, motivasi dan jiwa kita itupun menjadi bersih. Kekristenan sejati bukan memoles perilaku luar tetapi merubah dari dalam dengan demikian kita tidak menjadi orang yang munafik dan apa yang keluar dari dalam kita itu tidak menajiskan. Marilah kita mengevaluasi kehidupan ibadah kita? Sudahkah kita percaya mutlak pada Kristus dan mengandalkan Dia dalam segala aspek hidup kita?  Amin.  ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)




Sumber:

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2007/20070819.htm