09 November 2007

Resensi Buku-29: ANAK-ANAK ALLAH YANG HIDUP (Prof. Sinclair B. Ferguson, Ph.D.)

...Dapatkan segera...
Buku
CHILDREN OF THE LIVING GOD
(ANAK-ANAK ALLAH YANG HIDUP)


oleh : Prof. Sinclair B. Ferguson, Ph.D.

Penerbit : Momentum Christian Literature (Fine Book Selection), 2003

Penerjemah : Yulvita Hadi Yarti.





“Saudara tidak dapat membuka halaman Perjanjian Baru tanpa menyadari bahwa satu hal yang membuatnya “Baru” adalah fakta bahwa di dalamnya, orang percaya memanggil Allah dengan sebutan Bapa !” (Sinclair Ferguson)

Yesus Kristus mengajar murid-murid-Nya untuk memanggil Allah sebagai “Bapa,” dan hidup sebagai anggota keluarga-Nya. Meskipun pengajaran ini kelihatan tidak sulit untuk dimengerti oleh setiap orang Kristen, namun hal ini begitu mendalam sehingga diperlukan waktu seumur hidup bagi kita untuk dapat menggali implikasinya secara penuh.

Namun demikian, menurut Prof. Sinclair, kebenaran bahwa kita adalah “anak-anak Allah” seolah-olah berada di bawah bayang-bayang kebenaran mengenal keselamatan oleh iman. Kita banyak mendengar tentang apa artinya diselamatkan oleh iman, tetapi kita mungkin tidak terlalu mengerti bagaimana kita bisa menjadi anak-anak Allah, apa artinya menjadi anak-anak Allah, kemerdekaan apa yang kita nikmati sebagai anak-anak Allah, dan disiplin khusus apakah yang kita terima sebagai anak-anak Allah.

Penyusunan buku Anak-anak Allah yang Hidup ini bertitik tolak dari pertanyaan bijak kuno yang berbunyi, “Jika kasih bapa tidak dapat membuat seorang anak bersukacita, maka apa lagi yang dapat membuatnya bersukacita ?”






Profil Dr. Sinclair B. Ferguson :
Prof. Sinclair B. Ferguson, Ph.D. yang lahir tahun 1948 adalah theolog
Scottish terkenal di dalam lingkungan Kristen Reformed karena pengajaran, tulisan dan karya editorialnya. Beliau meraih gelar Doctor of Philosophy (Ph.D.) dari University of Aberdeen dan telah melayani di Church of Scotland pada tahun 1971-2005. Beliau telah melayani sebagai editor bersama the Banner of Truth Trust dan bekerja sebagai seorang pelayan Tuhan di St George's-Tron Church, Glasgow.
Ferguson adalah Pendeta senior di First Presbyterian Church di Columbia, South Carolina. Beliau adalah Profesor tamu terkenal dalam bidang Theologia Sistematika di
Westminster Theological Seminary, Dallas, kampus Texas, sebelumnya beliau memegang jabatan ketua Charles Krahe Chair dalam bidang Theologia Sistematika di kampus Philadelphia. Beliau juga adalah anggota dewan dari Alliance of Confessing Evangelicals.
Ferguson adalah teman dari Dr.
R. C. Sproul dan telah menjadi pembicara pada beberapa Sproul's Ligonier Conferences. Buku-buku yang telah ditulis, diedit atau disumbangkan oleh beliau antara lain :
· John Owen: The Man and His Theology (2003), kontributor tentang
John Owen
· The Preacher's Commentary - Vol. 21 - Daniel (2002)
· The Big Book of Questions & Answers about Jesus (2000)
· The Grace of Repentance (Today's Issues) (2000)
· Reformed Confessions Harmonized (1999), editor bersama Joel Beeke
· Let's Study Mark (1999)
· Let's Study Philippians (1998)
· Big Book of Questions and Answers (1997)
· The Holy Spirit (1997)
· Heart for God (1996)
· The Christian Life (1996)
· Discovering God's Will (1996)
· Sermon on the Mount (1996)
· The Pundit's Folly (1996)
· Grow in Grace (1989)
· Children of the Living God (1989)
· New Dictionary of Theology (Master Reference Collection) (1988), editor bersama
David Wright and J. I. Packer
· Daniel (Mastering the Old Testament, Vol 19) (1988)
· John Owen on the Christian Life (1987)
Buku-buku beliau yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Momentum adalah : Bertumbuh Dalam Anugerah, Khotbah Di Bukit, Menemukan Kehendak Allah, Hati yang Dipersembahkan Kepada Allah, dan Kehidupan Kristen.

Matius 4:18-22: THE KINGDOM AND THE WORKERS-5

Ringkasan Khotbah : 10 Oktober 2004


The Kingdom & the Workers 5

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 4: 18-22



Kristus adalah Raja merupakan tema utama dari Injil Matius. Tuhan Yesus, Raja di atas segala raja itu memanggil para murid yang dalam hal ini Ia tidak menggunakan standar kualifikasi dunia untuk turut ambil bagian dalam menggenapkan Kerajaan-Nya di muka bumi. Tuhan tidak memakai ahli-ahli Taurat atau orang-orang pandai yang hidup pada jaman itu sebaliknya Dia memanggil nelayan untuk turut ambil bagian dalam Kerajaan-Nya. Bukan dengan bala tentara Sorga Dia memanggil para murid melainkan dengan otoritas dari Kerajaan Sorga, “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia“; Come, follow Me and I will make you a fisher of man (Mat. 4:19). Panggilan ini bukan sekedar ajakan tapi panggilan Sang Raja ini mengandung perintah yang menuntut ketaatan mutlak dari dalam diri kita. Dengan demikian kita dapat memahami siapakah Kristus Yesus sesungguhnya dengan cara pandang Allah bukan dengan kacamata dunia yang hanya melihat seseorang dari tampilan luar belaka.
“Ikutlah Aku“, kata mengikut yang dimaksud oleh Tuhan Yesus disini adalah mengikut yang terus menerus dan tanpa syarat seperti layaknya seorang anak kecil yang ngintil (bhs. Jawa) pada ibunya. Sayangnya, ketika si anak menjadi besar konsep berpikirnya mulai dipengaruhi oleh berbagai macam filsafat dunia akibatnya orang tidak mau taat dan mulai mempertanyakan untung – rugi mengikut Yesus. Yesus adalah Raja di atas segala raja memanggil, “Ikutlah Aku,...“ namun orang masih berani tawar menawar. Bandingkan ketika raja dunia memanggil atau mengeluarkan perintah maka orang tidak berani tawar menawar. Ironis, manusia lebih takut pada raja dunia yang kelihatan dibandingkan pada Raja pemilik seluruh alam semesta yang bertahta di Sorga. Tuhan tidak suka pada orang yang selalu tawar menawar ketika mengikut Dia. Orang tidak percaya bahwa segala sesuatu yang Tuhan rencanakan adalah demi untuk kebaikan kita.
Manusia sudah jatuh dalam dosa dan upah dosa adalah maut maka kalau Tuhan masih berkenan memanggil dan menjadikan kita rekan sekerja itu merupakan anugerah besar. Sangatlah disayangkan, banyak orang yang tidak memahami hal ini dan mereka justru berpendapat bahwa menjadi pengikut Tuhan hanya akan menyusahkan hidup mereka. Salah! Dengan mengikut Kristus Raja di atas segala raja itu maka kita merasakan sukacita sejati, hidup kita tidak akan sia-sia karena Tuhan sudah menetapkan tujuan indah pada setiap orang yang dipanggil-Nya. Setiap tindakan Allah pasti mempunyai tujuan. Begitu pula ketika Tuhan memanggil Petrus, Yohanes, dan murid-murid yang lain adalah untuk menjadikan mereka sebagai penjala manusia. Sangatlah disayangkan, hari ini orang tidak menyadari tujuan hidup sejati yang Tuhan sudah tetapkan sejak dari kekekalan. Maka tidaklah heran kalau tujuan hidup mereka melenceng, keluar dari tujuan yang Tuhan sudah tetapkan pada setiap kita.
Abraham Maslow telah berhasil mempengaruhi dan menjadikan manusia materialis dan humanis. Ia berpendapat bahwa hidup manusia selalu dikontrol oleh needs/kebutuhan yang terdiri dari lima kebutuhan dasar dan bila salah satu kebutuhan tersebut tidak dipenuhi maka manusia menjadi labil, yaitu: 1) kebutuhan fisik, kebutuhan akan makanan dan minuman, 2) kebutuhan akan keamanan, 3) kebutuhan akan kasih sayang, 4) kebutuhan akan keindahan (estetika) dan yang paling tinggi 5) kebutuhan akan aktualisasi diri. Tingkatan ini menunjukkan tingkatan egoisme yang semakin tinggi. Manusia tidak pernah merasa puas, selalu ada saja yang kurang. Manusia tidak menyadari bahwa kebutuhan malah akan membuat manusia semakin berambisi dan egois. Jadi, kalau setiap tindakan yang orang lakukan adalah karena didorong oleh kebutuhan lalu apa yang menjadi kebutuhan Tuhan yang mendorong tindakan-Nya? Pemikiran ini sangatlah berbahaya. Ingat, Tuhan tidak membutuhkan apapun sebab Dia Raja pemilik alam semesta. Justru kita seharusnya menyadari bahwa kalau sampai detik ini kita masih hidup itu karena Tuhan yang masih berbelas kasih. Manusia berdosa yang seharusnya dihukum namun Tuhan berkenan memelihara dan menyediakan semua kebutuhan hidup kita. Motivasi hidup manusia bukan ditentukan oleh kebutuhan melainkan tujuan dan demi supaya tujuan kita tercapai maka semua kebutuhan menjadi tidak penting lagi. Bagaimana dengan kita? Apa yang terutama dalam hidupmu tujuan ataukah kebutuhan? Jikalau kebutuhan menjadi yang utama lalu apa bedanya kita dengan binatang? Bukankah binatang hidup hanya demi untuk memenuhi kebutuhannya saja? Orang yang bijaksana akan mengabaikan semua hal yang menjadi kebutuhan demi untuk mengejar tujuan agung dalam hidup. Paulus tahu dengan jelas apa yang menjadi tujuan hidupnya, itulah sebabnya ia dapat berkata, “Aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah“ (Kis. 20:24).
Allah adalah pembentuk tujuan tertinggi di seluruh alam semesta milik kepunyaan-Nya ini, the ultimate purpose of the universe. Celakalah kalau kita mau mencoba keluar dari tujuan yang sudah Allah tetapkan karena itu berarti kehancuran bagi kita. Menggeser dari tujuan manusia menuju pada tujuan Tuhan tidaklah mudah, kita sering jatuh bangun karena perubahan ini menyangkut banyak aspek dalam hidup kita. Tak terkecuali Petrus. Iman Petrus mulai goyah ketika ia mengetahui Tuhan Yesus mati. Ditengah-tengah situasi yang tidak menentu itu Petrus memutuskan untuk kembali menjadi penjala ikan. Hal ini membuktikan natur manusia berdosa. Tuhan tidak langsung menegur Petrus namun Tuhan justru biarkan Petrus dan kawan-kawannya kembali pada profesinya yang lama, yaitu nelayan. Mereka yang katanya ahli menjala ikan, hari itu mereka tidak mendapati satu ekorpun ikan meskipun telah menebarkan jala semalam-malaman. Hal ini membuktikan orang yang katanya ahli di suatu bidang maka Tuhan bisa membuatnya tidak menghasilkan apapun dari keahliannya tersebut. Semua kepandaian, kekayaan, apapun yang ada pada diri kita tidak ada gunanya. Jadi, Tuhan adalah sumber dari segala sumber berkat. Tujuan hidup yang Tuhan sudah tetapkan dalam diri kita adalah demi untuk kebaikan diri kita.
Bagaimana kita mengerti tujuan Tuhan dalam hidup kita? Dalam bagian ini kita akan melihat tiga aspek sehingga kita dapat mengerti bagaimana seharusnya kita berespon dengan tepat.
Pertama, Petrus menyadari kalau ia ahli menjala ikan tapi ia bukan penjala manusia. Jadi, hari itu ia bukanlah siapa-siapa dan belum menjadi apa-apa namun Tuhan berkenan membentuk dia dan memanggil dia untuk turut ambil bagian dalam Kerajaan-Nya. Hari ini justru terbalik orang tidak mau melayani karena merasa diri tidak bisa apa-apa. Orang selalu berpendapat bahwa orang yang melayani adalah orang yang bisa “apa-apa“. Cara Tuhan berbeda. Orang yang merasa diri bisa “apa-apa“ bagi Tuhan justru mereka tidak bisa “apa-apa“. Tuhan tidak memakai orang yang bisa “apa-apa“ seperti Gamaliel atau Nikodemus karena orang-orang demikian sukar untuk dibentuk; konsep dan pola berpikirnya sudah rusak; mereka merasa diri hebat dan berjasa sehingga tidak perlu diajar lagi. Ingat, ketika kita merasa diri hebat maka itu menjadi titik awal kehancuran kita. Itulah sebabnya Tuhan tidak memanggil mereka tetapi memanggil Petrus. Tuhan melihat potensi yang akan datang dalam diri Petrus dan murid-murid yang lain. Kualifikasi yang manusia tetapkan berlawanan dengan kualifikasi Tuhan. Tuhan sudah menetapkan kualifikasi yang sesuai dengan rencana-Nya.
Tuhan mau pakai orang-orang biasa yang mau taat dibentuk oleh-Nya untuk dipakai dalam Kerajaan Sorga. Seperti sebuah lagu yang berjudul It’s Ordinary People yang dituliskan dalam sebuah drama Kekristenan yang berbunyi: Kita hanyalah manusia biasa. Allah memakai manusia biasa seperti engkau dan saya yang taat dan mau menjalankan semua yang Dia perintahkan. Tuhan mau pakai orang-orang yang mau memberikan segalanya demi Dia. Tidak peduli seberapa kecilnya engkau memandang dirimu sendiri karena justru kita yang kecil ini akan menjadi besar ketika ditaruh dalam tangan Sang Tuan. Biarlah dalam hidup sehari-hari kita mencontoh teladan Kristus yang tidak menggunakan standar atau kualifikasi dunia ketika memilih seseorang untuk dijadikan sebagai rekan sekerja. Percayalah cara Tuhan adalah yang terbaik meski cara Tuhan itu kita rasakan tidak sesuai dengan logika kita. Ingat, kita bukanlah siapa-siapa di hadapan Tuhan, segala sesuatu yang kita banggakan tidaklah ada artinya jika semua itu tidak dipakai untuk kemuliaan nama-Nya. Tuhan tidak menginginkan semua kekayaan kita. Tidak! Karena Dia adalah Raja di atas segala raja, Dia pemilik alam semesta. Tuhan hanya ingin hati yang taat dan mau dibentuk untuk menjadi semakin serupa Dia.
Kedua, Aku akan menjadikan kamu penjala manusia. Kata menjadikan disini berarti ada proses yang harus dilewati dari belum jadi penjala manusia sampai akhirnya menjadi penjala manusia. Pembentukan ini tidaklah mudah apalagi membentuk orang yang sudah dewasa. Sebatang tunas yang baru bertumbuh lebih mudah dibentuk mengikuti keinginan hati tetapi berbeda kalau tunas itu sudah berubah menjadi batang yang keras. Batang itu dapat dibentuk tetapi dibutuhkan pengorbanan, ia harus dipahat dan dibersihkan terlebih dahulu. Lebih mudah merubah seseorang secara fenomena namun tidak menjamin esensinya dapat berubah namun apa yang manusia pikir tidak mungkin bagi Tuhan tiada yang mustahil. Cara Tuhan mengubahkan seseorang berbeda. Petrus dan para murid yang lain dipanggil ketika mereka dewasa namun kalau mereka dapat berubah semua itu karena Roh Kudus yang bekerja dalam diri kita. Tuhan bukan mereparasi tetapi Dia melahirbarukan, Tuhan mencipta ulang, recreated. Jadi, siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang (2Kor. 5:17). Kini istilah recreated atau rekreasi disalah mengerti, yakni rekreasi sama dengan tamasya. Tidak! Rekreasi yang sesungguhnya seharusnya membuat kita refresh bukannya bertambah lelah sehabis berekreasi.
Hanya mereka yang sudah dilahirbarukan sajalah yang dapat dibentuk menjadi semakin serupa Kristus. Karena itu jangan sia-siakan anugerah Tuhan kalau Ia sudah berkenan memanggil dan mau membentuk kita. Jangan keraskan hati ketika Tuhan sedang bekerja karena Tuhan mau menjadikan kita sesuai dengan maksud dan rencana-Nya yang indah. Ironisnya, manusia justru merasakan sakit ketika Tuhan sedang bekerja membentuk kita untuk semakin serupa Dia. Kita patut bersyukur kalau hari ini Tuhan mau membentuk kita, apa jadinya hidup kita sekarang kalau Tuhan tidak menangkap kita. Hati-hati banyak orang mengaku Kristen namun sesungguhnya mereka belum lahir baru maka tidaklah mengherankan kalau hidupnya tidak mau taat pada kebenaran Firman. Orang sukar mempercayai cara Tuhan yang seringkali tidak sesuai dengan logika akibatnya orang tidak percaya bahwa Tuhan memelihara – Tuhan mengatur masa depan hidup kita. Berada dalam pemrosesan Tuhan tidaklah mudah namun percayalah Tuhan tidak akan membiarkan kita berjalan sendiri, Dia pasti menuntun kita dan jangan pernah berpikir bahwa hidup berada di luar Tuhan akan menyenangkan. Tidak! Hidup di luar Kristus malah makin menyulitkan kita karena Tuhan tidak akan menolong malahan kita akan dibuang ke tangan iblis.
Ketiga, Aku akan menjadikan kamu penjala manusia. Bagi Petrus kata penjala bukanlah hal yang asing lagi karena sehari-hari ia bekerja sebagai penjala ikan namun penjala manusia baginya merupakan hal yang baru. Tuhan mau membukakan satu rahasia penting melalui konsep paradoks ini, yaitu apa yang menjadi profesi lama kita tidak akan dibuang percuma ketika kita mengganti profesi baru. Kalau dulu Petrus adalah seorang penjala ikan maka kini Tuhan tetap menjadikannya sebagai penjala namun bedanya ia sekarang menjadi penjala manusia. Untuk menjala ikan harus menggunakan peralatan seperti jala, alat pancing, dan lain-lain namun untuk menjala manusia tidak bisa menggunakan alat yang sama. Jala seperti apa yang bisa untuk menjala manusia? Hal ini berarti seluruh tatanan dan paradigma kita harus dirombak ulang. Ketika kita hendak menjalankan kehendak Tuhan bukan berarti semua keahlian kita yang lama dibuang. Tidak! Dulu saya sempat berpikir seperti demikian namun setelah Tuhan panggil saya barulah memahami bahwa semua itu Tuhan memang perlengkapkan sebelum masuk ke dalam ladang Tuhan.
Namun yang membedakan adalah konsep, cara berpikir kita sekarang berbeda dengan sebelumnya. Dulu segala sesuatu yang kita kerjakan dan kita pikirkan adalah demi untuk keuntungan diri tapi setelah mengenal Kristus, semua yang kita kerjakan demi untuk kemuliaan nama Tuhan. Tuhan tidak membuang masa lampau Musa yang dulunya seorang raja muda di Mesir, Daud seorang penggembala domba, Petrus seorang penjala ikan, Paulus seorang ahli Taurat dan masih banyak lagi tokoh iman dalam Alkitab. Kita harus berpikir secara paradoxical, yaitu apa yang Tuhan perlengkapan pada kita sejak mulai dari lahir hingga kini Tuhan tidak buang namun Tuhan mau rombak total untuk masuk dalam jalur baru yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Dengan demikian kita boleh dipimpin oleh Tuhan untuk menggenapkan Kerajaan Sorga di bumi. Dunia hanya bisa menjadikan kita seorang penjala ikan namun Tuhan mau menjadikan engkau sebagai penjala manusia. Bersediakah saudara? Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

Roma 3:27-28 : DIBENARKAN MELALUI IMAN ATAU PERBUATAN ?

Seri Eksposisi Surat Roma :
Kasih dan Keadilan Allah-9


Dibenarkan Melalui Iman atau Perbuatan ?

oleh : Denny Teguh Sutandio


Nats : Roma 3:27-28.

Setelah Paulus memaparkan tentang fokus Pribadi Kristus sebagai Sumber Keselamatan manusia, ia menjelaskan tentang satu prinsip penting di dalam iman Kristen yaitu umat percaya dibenarkan melalui iman dan bukan melalui perbuatan.

Menyambung ayat-ayat sebelumnya, pada ayat 27a, Paulus mengatakan, “Jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada!” Kalimat ini dapat diparafrasekan demikian, “Setelah kita mengerti bahwa Kristus adalah Sumber Keselamatan, lalu kalau begitu, apakah kita layak untuk bermegah/berbangga diri ?” Kata “bermegah” bisa berarti berbangga diri (boasting). Mengapa Paulus harus menyinggung masalah berbangga diri atau bermegah ini ? Karena manusia seringkali suka bermegah kalau sudah melakukan sesuatu yang “berharga”. Cara mereka bermegah adalah salah satunya dengan meminta imbalan berupa “surga” setelah mereka berbuat baik atau mungkin dengan menampilkan diri di depan TV sebagai orang yang telah melakukan pekerjaan baik. Itulah wujud nyata orang berdosa yang terus merasa diri “baik”, padahal jeleknya bukan main. Sesungguhnya jika mereka yang selalu mengklaim diri “berbuat baik” dibandingkan dengan Kristus yang Sumber Kebaikan, mereka pasti di titik pertama kalah total, tetapi herannya mereka merasa tetap “berbuat baik”. Di titik pertama, Paulus langsung menjawab bahwa kita tidak layak untuk bermegah apapun, karena kita itu manusia berdosa yang tidak layak apapun.

Selanjutnya, Paulus menspesifikkan wujud bermegah itu dengan mengatakan, “Berdasarkan apa? Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman!” Kalau kita kembali melihat konteks penulisan surat Roma, maka kita dapat mengetahui bahwa Paulus menuliskan suratnya kepada orang-orang Yunani dan Yahudi di Roma. Budaya Yunani yang menguasai Roma membanggakan diri dengan filsafat, seni, dll yang mereka miliki, sampai-sampai banyak dari mereka menolak Kristus yang tersalib karena itu tidak masuk akal (1 Korintus 1:22b). Budaya Yunani kalau saya boleh aplikasikan adalah gambaran “theologia” liberal atau yang memakai nama kerennya sekarang : “theologia” religionum (social “gospel”) yang menyangkali inti keKristenan yaitu finalitas Kristus dengan dalih menghormati agama lain. Mereka tidak ada bedanya dengan orang-orang Yunani yang mengilahkan rasio, sehingga sesuatu yang di luar rasio itu tidak masuk akal. Padahal, sebenarnya rasio merekalah yang terbatas yang tidak mampu menampung sesuatu yang di luar/melampaui (beyond) rasio. Sedangkan, budaya Yahudi di mana Paulus dahulu ikut terlibat di dalamnya adalah sebuah budaya yang berdasarkan Taurat, tetapi karena terlalu legalistik, mereka akhirnya berpatokan pada perbuatan baik karena melakukan Taurat, sehingga mereka menetapkan aturan-aturan yang terlalu kaku bahkan ada yang menambahi Taurat. Selain itu, mereka juga adalah orang-orang yang menghendaki tanda-tanda mukjizat sebagai bukti penyertaan Tuhan. Mereka berpikir bahwa dengan melakukan serangkaian hukum Taurat, mereka diperkenan oleh Tuhan, padahal di dalam Perjanjian Lama sendiri, Allah sudah berfirman bahwa Abraham dibenarkan oleh Allah jauh sebelum Taurat diwahyukan. Mereka juga menghendaki sosok Mesias adalah sosok yang melepaskan mereka dari penderitaan dan penjajahan Romawi. Sehingga tidak heran, orang-orang Yahudi menolak Kristus karena Kristus tidak dapat memuaskan hasrat mereka yang menghendaki tanda-tanda mukjizat (1 Korintus 1:22a). Orang-orang Yahudi kalau saya boleh aplikasikan adalah gambaran “theologia” mukjizat/kemakmuran yang dianut oleh mayoritas gereja Karismatik/Pentakosta yang menekankan tanda-tanda mukjizat sebagai satu-satunya wujud kehadiran Allah. Sehingga mereka “beriman” bukan di dalam Allah, tetapi di dalam tanda-tanda mukjizat Allah. Tidak heran, ketika mereka sakit, gagal, miskin, dll, mereka akhirnya memberontak dan kecewa terhadap Allah karena Allah yang ada di dalam pikirannya adalah sosok Allah yang seperti Superman yang selalu memenuhi keinginannya sendiri. Mereka juga adalah orang-orang yang terlalu legalis, karena mementingkan karunia-karunia “roh” seperti bahasa roh, dll, sebagai tanda dipenuhi “roh kudus” dan masuk “surga”. Bagi mereka, meskipun percaya Alkitab dan Kristus, mereka lebih mempercayai adanya karunia “roh” atau adanya “wahyu-wahyu” baru yang melebihi Alkitab. Kedua macam orang ini dengan kedua budaya mereka menunjukkan bahwa ketika mereka bermegah diri atau berbangga atas apa yang mereka telah kerjakan akhirnya tidak membuahkan hasil apapun dan tidak memperkenan Allah.

Oleh karena itu, Paulus langsung mengajarkan bahwa manusia dibenarkan melalui iman (terjemahan King James Version mengartikannya hukum iman/law of faith). Dibenarkan melalui iman berarti manusia pilihan-Nya yang berdosa yang tidak layak ini dibenarkan melalui anugerah Allah yang memberikan iman di dalam Kristus, sehingga mereka dapat beriman dan iman mereka lah yang diperkenan Allah. Mengapa manusia dibenarkan melalui iman ? Karena iman melampaui (beyond) rasio dan tanda-tanda mukjizat/lahiriah yang merupakan hal-hal fenomenal. Allah kita bukanlah Allah yang mau ditipu oleh pengalaman fenomenal sesaat, seperti rasio (mewakili “theologia” liberal) dan tanda-tanda mukjizat (mewakili mayoritas “theologia” Karismatik/Pentakosta) ataupun legalistik. Di zaman Perjanjian Lama, Allah melalui nabi Amos memperingatkan bahwa Ia tidak suka akan korban-korban perayaan Israel karena mereka munafik dan berusaha “menyogok” Allah, padahal kelakuan mereka bejat. Ketika memilih pengganti Saul pun, Allah menyelidiki hati orang yang akan dipilih-Nya menjadi raja, dialah Daud. Mari kita memiliki pikiran seperti pikiran Allah yang tidak mementingkan hal-hal fenomenal tetapi hal-hal esensial sebagai inti keKristenan. Apakah hal-hal esensial itu ? Yaitu iman. Jadi, kita dibenarkan bukan karena “I do...” tetapi “I believe...” Ketika kita berkata, “I believe...”, berarti di saat yang sama, kita mengaku bahwa kita tak layak untuk berbuat baik apapun sehingga kita dapat dibenarkan di hadapan Allah. Itulah yang Allah inginkan, karena kita sesungguhnya sudah berdosa dan tak layak mengaku diri “berbuat baik”. Karena itu, konsep overman (F. Nietzsche menyebutnya Übermensch) adalah suatu utopia yang dihina dan ditolak oleh Allah. Dengan kata lain, ketika kita beriman, berarti kita tidak sedang membanggakan diri tetapi merendahkan diri di hadapan Allah sambil menerima anugerah-Nya yang membenarkan kita. Oleh karena itu, Geneva Bible Translation Notes menafsirkan ayat ini dengan mengajarkan, “...The result of justification is the glory of God alone: therefore we are justified by faith without works:…” (Hasil/akibat dari pembenaran adalah kemuliaan Allah saja : oleh karena itu kita dibenarkan melalui iman bukan perbuatan:...) Jadi, ketika kita bisa beriman, itu bukan inisiatif kita sehingga kita bisa berbangga diri. Itu ajaran iblis dan melawan Alkitab. Kalau benar, ketika kita beriman, itu inisiatif kita, sehingga tanpa itu, Allah “seolah-olah” kewalahan lalu murka, maka kita sedang mengilahkan manusia dan menghina Allah. Dengan kata lain, “theologia” Arminianisme dari Pelagianisme maupun Semi-Pelagianisme pada zaman Augustinus adalah “theologia” yang melawan Alkitab sekaligus melawan kedaulatan Allah yang diberitakan di dalam Alkitab dan meninggikan manusia (humanisme).

Selanjutnya, di ayat 28, Paulus langsung menyimpulkan pengajarannya, “Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.” Kata “yakin” TIDAK sama dengan percaya, karena kata ini dalam bahasa Yunaninya bisa berarti menyimpulkan (conclude), berpikir (think), mengerti, dll. Dalam ayat ini, Paulus langsung membandingkan sekaligus membedakan dua macam pembenaran. Pembenaran sejati yang Allah kerjakan adalah pembenaran melalui iman, sedangkan “pembenaran” palsu dari agama-agama palsu duniawi adalah pembenaran melalui jasa baik, salah satunya melakukan hukum Taurat. Apa artinya iman di dalam ayat ini ? Kata “iman” di dalam ayat ini di dalam bahasa Yunani, pistis bisa berarti reliance upon Christ for salvation (bergantung pada Kristus untuk keselamatan) atau secara umum berarti moral conviction of religious truth or truthfulness of God (pertobatan moral akan kebenaran agama atau kebenaran Allah). Di sini, kita belajar dua macam arti iman, yaitu secara umum adanya pertobatan moral, dan kedua, secara khusus bergantung pada Kristus. Pertama, iman bukan sesuatu yang tidak realistis, tetapi iman adalah realita hidup yang melampaui rasio manusia, di mana salah satu contohnya adalah pertobatan moral. Ini yang dimengerti oleh agama-agama dunia, yaitu ketika manusia beriman, maka moralnya berubah atau ada pertobatan moral. Di dalam theologia Reformed dan mengutip pernyataan dari Pdt. Dr. Stephen Tong, hal ini disebut respon manusia terhadap wahyu umum Allah (penyataan diri Allah kepada semua orang tanpa kecuali) dalam bentuk hati nurani manusia (Pdt. Dr. Stephen Tong menyebutnya sebagai iman dasar/natural faith). Apakah iman dasar ini cukup ? TIDAK. Iman dasar ini tidak mungkin layak memenuhi syarat/kualifikasi seseorang dibenarkan di hadapan Allah. Sehingga, iman dalam pengertian dua lah yang layak memenuhi kualifikasi itu, yaitu bergantung pada Kristus. Iman sejati bukan bergantung pada kehebatan manusia, tetapi pada Kristus. Dengan kata lain, orang yang memiliki iman sejati berarti orang itu berani menyerahkan seluruh hidupnya kepada Kristus dan menTuhankan Kristus di dalam hidupnya (mengutip pernyataan dari Pdt. Sutjipto Subeno). Paulus yang menulis surat Roma ini sudah membuktikannya. Karena sudah beriman sungguh-sungguh di dalam Kristus, ia rela menderita dan bahkan mati demi memberitakan Injil. Petrus pun demikian rela disalib terbalik demi memberitakan Injil Kristus. Hal serupa dengan Yohanes rela diasingkan karena mengikut Kristus dan memberitakan Injil-Nya. Orang yang berani menTuhankan Kristus dan tidak lagi menghiraukan hidup mati/untung rugi yang diperolehnya berarti orang itu sudah beriman sejati, kalau belum, sangat perlu diragukan iman macam apa yang dimilikinya ? Oleh karena itu, kita perlu belajar dari Paulus yang dengan berani tanpa ragu mengatakan, “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” (Filipi 1:21) Di dalam penderitaan sekalipun, Paulus juga berani mengucapkan imannya, “Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.” (2 Timotius 1:12) Iman inilah yang mendorong dan menguatkan para rasul Kristus dan juga kita sebagai anak-anak sekaligus hamba-hamba-Nya dalam menunaikan mandat yang dipercayakan kepada kita. Kita percaya bahwa Kristus dan Roh Kudus hadir dan menyertai kita selama-lamanya bahkan di dalam penderitaan yang berat sekalipun.

Karena kita percaya, maka kita dapat memiliki hikmat sejati dan mendapatkan tanda-tanda mukjizat yang terjadi kehendak-Nya. Di sini, saya membagikan dua konsep, yaitu konsep pertama, iman sebagai utama dan kedua, iman sebagai hal yang dasar. Pertama, iman sebagai utama, berarti bukan hal-hal fenomenal yang terpenting yang diperkenan Allah atau memperkenan Allah, tetapi iman yang merupakan hal esensial yang terpenting di dalam keKristenan. Oleh karena itu, Dr. Loraine Boettner di dalam bukunya Reformed Faith (Iman Reformed) langsung mengidentikkan keKristenan dengan agama yang berdasarkan iman. Ibrani 11:1 mengajarkan tentang definisi iman, “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Ibrani 11:6a juga memberikan penjelasan tentang keutamaan iman, “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah.” Lalu, kalimat ini dilanjutkan, “Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” Iman adalah hal yang utama karena iman adalah percaya di dalam Allah bukan di dalam diri. Kedua, iman juga hal yang mendasar. Artinya, iman ini merupakan dasar sehingga kita dapat mengerti, bertindak, dll. Orang Kristen yang beriman tidak perlu meniadakan fungsi rasio (Ibrani 11:3). Pdt. Dr. Stephen Tong mengajarkan bahwa orang Kristen harus rasional, tetapi tidak boleh rasionalis. Apa bedanya ? Orang yang rasional adalah orang yang mempergunakan rasio semaksimal mungkin, tetapi orang yang rasionalis berarti orang yang terlalu memberhalakan/mengilahkan rasio sebagai satu-satunya sumber “kebenaran”. Iman Kristen tidak pernah meniadakan rasio, karena Alkitab sendiri mengajarkan bahwa Allah menciptakan dan mencerahkan rasio manusia (Lukas 24:45 ; Kisah Para Rasul 26:25). Sebaliknya, iman Kristen sebagai dasar untuk terus mengaktifkan rasio dalam menambah pengertian tentang pengenalan kita terhadap Allah. Iman Kristen seharusnya seperti yang diajarkan Paulus, “sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.” (Efesus 4:13-15) Iman Kristen sejati berusaha terus-menerus ingin mengenal Allah di dalam Alkitab melalui studi doktrinal Alkitab dan tentu saja untuk belajar Alkitab, orang Kristen harus mempergunakan rasio yang didasarkan pada iman yang beres. Dan lagi, orang Kristen mempergunakan rasio juga untuk hal-hal di luar rohani, misalnya politik, ekonomi, dll, tetapi tetap memakai sudut pandang Alkitab untuk mengkritisi semua hal jasmani ini. Itulah rasio orang Kristen yang beres yang sudah dikuduskan oleh Roh Kudus supaya tunduk kepada Kebenaran Allah di dalam Alkitab. Orang Kristen yang masih mengakui diri “Kristen” tetapi enggan memakai Alkitab sebagai sumber Kebenaran, berhati-hatilah terhadap orang ini karena mungkin saja orang ini belum atau bahkan bukan orang Kristen sungguh-sungguh karena rasionya masih diracuni oleh dosa dan belum dikuduskan oleh Roh Kudus. Rasio yang beres pasti dihasilkan dari iman yang beres, seperti kata Dr. Francis A. Schaeffer yang mengajarkan, “I do what I think and I think what I believe.” (aku melakukan apa yang kupikirkan dan aku memikirkan apa yang kupercaya). Kepercayaan seseorang mempengaruhi cara dia berpikir. Mengapa Dan Brown menuliskan buku The Da Vinci Code ? Apakah itu hak asasinya yang tidak boleh diganggu gugat ? TIDAK. Dan Brown menulis buku gila itu didasarkan pada pemikirannya yang tidak beriman atau beriman kepada atheisme atau skeptisisme yang meragukan kebenaran Alkitab. Meskipun dunia tidak bisa menggugat atau menghakiminya, tetapi ingatlah, suatu hari kelak, jika dia tidak mau bertobat, dia pasti dihakimi oleh Allah. Hak asasi manusia memang dapat dipegang dan diagungkan Dan Brown (dan manusia-manusia berdosa) selama di dunia, tetapi tidak berlaku di dalam kekekalan kelak. Kalau si Brown gila itu menulis buku berdasarkan pemikirannya yang skeptis dan atheis, adalah suatu kegilaan besar bagi orang “Kristen” jika mempercayai keotentikan bukunya dan bahkan sampai mengatakan bahwa setelah membaca bukunya, baru dapat menemukan “Tuhan” (bukan setelah membaca Alkitab, menemukan Tuhan) ! Lalu, iman itu hal yang mendasar sehingga kita bisa mengharapkan tanda-tanda mukjizat dari Allah. Mukjizat yang supranatural misalnya kesembuhan Ilahi, dll, masih berlaku sampai sekarang ini, karena Allah tidak berubah dari dahulu, sekarang sampai selama-lamanya (berkaitan dengan keberadaan, kasih, keadilan, dan kuasa-Nya). Tetapi kita jangan berhenti sampai di sini, karena itu sangat berbahaya. Memang benar bahwa mukjizat yang supranatural bisa diberikan setelah kita beriman, tetapi “beriman” dalam pengertian apa yang ada di dalam pikiran kita ? Banyak orang Karismatik/Pentakosta mengartikan “beriman” identik dengan Berpikir Positif atau mengklaim sesuatu (Sebut dan Tuntutlah !). Itu bukan iman, tetapi percaya diri. Seperti yang telah saya jelaskan di atas, iman berarti bergantung pada Kristus (bukan pada diri). Sehingga, ketika kita beriman, kita BUKAN sedang mengagungkan atau percaya diri, tetapi percaya di dalam Allah yang tentu saja berarti percaya di dalam kehendak-Nya yang berdaulat. Oleh karena itu, ketika kita sakit dan berdoa meminta kesembuhan Ilahi, kita beriman bahwa Allah sanggup/mampu menyembuhkan penyakit kita karena Allah itu Mahakuasa, dan di sisi lain di saat yang sama, kita pun harus mempercayai bahwa Allah yang Mahakuasa itu juga Allah yang belum tentu mau mengabulkan apa yang kita minta, karena kehendak-Nya berbeda dengan kehendak kita. Suatu pengajaran yang baik sekali dari Pdt. Dr. Stephen Tong yang menggabungkan antara beriman di dalam Allah yang Berdaulat dengan beriman di dalam Allah yang Mahakuasa. Banyak orang Karismatik/Pentakosta hanya mau beriman di dalam Allah yang “Mahakuasa” dan bukan Allah yang Berdaulat. Sebaliknya, banyak gereja Protestan liberal terlalu menekankan kedaulatan Allah, melupakan kuasa supranatural Allah/Allah yang Mahakuasa. Kedua ekstrim ini tidak dibenarkan Alkitab ! Kedua hal ini harus digabungkan karena kedua hal ini merupakan prinsip Alkitab. Bacalah kejadian Sadrakh, Mesakh dan Abednego di dalam Alkitab untuk mendapatkan adanya keseimbangan dan perpaduan dua konsep ini. Terakhir, iman sejati merupakan dasar untuk kita berbuat/bertindak dan setia kepada Allah. Ibrani 11:4 menjelaskan bahwa karena iman, Habel mempersembahkan korban yang lebih baik kepada Allah. Di ayat 8 di pasal yang sama, karena iman, Abraham taat untuk meninggalkan Urkasdim dan pergi ke tempat yang Tuhan akan tunjukkan kepadanya pada waktu itu. Di ayat 17, karena iman, Abraham berani mempersembahkan Ishak. Di ayat 24-25, karena iman, Musa berani tidak mau disebut anak Puteri Firaun, karena ia lebih suka menderita ketimbang hidup berfoya-foya. Selanjutnya, di dalam Ibrani 11 sampai dengan ayat 40, semuanya menceritakan tentang iman sebagai dasar yang menguatkan mereka berani bertindak dan setia kepada Allah dan panggilan-Nya. Meskipun harus menanggung aniaya berat, iman membuat Paulus, Petrus, dll, bahkan para nabi di dalam Perjanjian Lama tetap berani memberitakan Firman-Nya. Iman lah yang menguatkan mereka ketika mereka berada di dalam penderitaan sekalipun, karena mereka percaya di dalam Allah yang Berdaulat yang selalu menyertai dan beserta dengan mereka selama-lamanya.

Setelah kita merenungkan tentang dibenarkan melalui iman dan pengertian iman, maukah kita hari ini membuka hati dan pikiran lalu menerima Kristus sebagai Tuhan dan Raja di dalam hidup kita ? Adakah kita masih mendua hati dengan mengorbankan Kristus dan menggantinya dengan filsafat-filsafat dunia atheis yang mencengkeram hati kita ? Jika kita masih berlaku demikian, bertobatlah dan kembalilah hanya kepada Kristus, karena hanya Dia satu-satunya Sumber Keselamatan yang sangat dapat layak dipercayai. Amin. Soli Deo Gloria.

04 November 2007

Perjanjian Baru Interlinear dan Konkordansi Perjanjian Baru (Pdt. Hasan Sutanto, D.Th.)

…Dapatkan segera…


PERJANJIAN BARU INTERLINEAR
(YUNANI-INDONESIA)—Jilid I

dan

KONKORDANSI PERJANJIAN BARU
(PBIK) —Jilid II


Diterjemahkan dan disusun oleh :
Pdt. Hasan Sutanto, Th.D.
(mantan dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara―SAAT Malang yang meraih gelar : Bachelor of Theology―B.Th. dari SAAT Malang ; Master of Arts―M.A. dari Azusa Pacific University ; Master of Divinity―M.Div. dari New Brunswick Theological Seminary ; Master of Theology―M.Th. dari Princeton Theological Seminary ; dan Doctor of Theology―Th.D. dari South East Asia Graduate School of Theology)



Deskripsi singkat dari website http://www.hasansutanto.org/ :
Buku Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia dan Konkordansi Perjanjian Baru (PBIK) terdiri atas dua jilid, yang sebaiknya dibaca berdampingan satu dengan yang lain. Isi jilid I buku ini terdiri atas dua bagian. Bagian pertama terdiri atas empat macam data yang disusun berturut-turut pada empat baris, yaitu Perjanjian Baru Bahasa Yunani, terjemahan kata per kata, nomor lema konkordansi Perjanjian Baru, dan uraian fungsi kata (parsing). Terjemahan interlinear menggunakan bahasa Indonesia yang mudah dimengerti, dan sedapat-dapatnya memasukkan arti-arti lain yang mungkin. Pada tempat tertentu, terjemahan ini juga dilengkapi dengan catatan akhir. Sedangkan bagian kedua terdiri atas tiga macam versi terjemahan, yaitu Alkitab Terjemahan Baru (TB), Alkitab Kabar Baik dalam Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS), dan The Holy Bible, New International Version (NIV). Isi jilid II terdiri atas konkordansi Perjanjian Baru yang dilengkapi dengan nomor lema, lema, transliterasi, jumlah pemakaian kata yang bersangkutan dalam Perjanjian Baru, arti kata, dan keterangan kata. Buku ini perlu bagi penyiapan khotbah, penyusunan bahan Sekolah Minggu, dan pemahaman Alkitab secara bersama. Isinya dirancang sedemikian rupa sehingga rohaniwan yang kurang menguasai bahasa Yunani dan orang Kristen awam sama-sama dapat memakainya dengan mudah baik dalam pemaham Alkitab berkelompok maupun perenungan Firman Tuhan setiap hari.



Diterbitkan dalam kerangka kerja sama :
Lembaga Alkitab Indonesia dan Pdt. Hasan Sutanto



Dicetak pada tahun 2006 (Cetakan ketiga) oleh :
Percetakan Lembaga Alkitab Indonesia



Harga Eceran di seluruh Indonesia :
Rp 285.000, 00/set (dua jilid) termasuk ongkos kirim dalam negeri

Harga khusus :
Rp.185.000/set (dua jilid) termasuk ongkos kirim dalam negeri.
Persyaratan untuk pesanan edisi harga khusus :
1. Mahasiswa yang sedang studi di Sekolah Tinggi Theologia atau Sekolah Alkitab di Indonesia.
2. Melampirkan fotokopi kartu mahasiswa yang kemudian dibubuhi lagi tanda tangan asli mahasiswa bersangkutan, tanda tangan dekan mahasiswa beserta cap lembaga pendidikan yang bersangkutan.
3. Setiap mahasiswa hanya dapat membeli satu eksemplar.
4. Sangat dianjurkan pemesanan secara kolektif.




Kedua buku ini dapat dibeli atau diindent di :
Toko Buku MOMENTUM (www.momentum.or.id)
Andhika Plaza C/5-7, Jln. Simpang Dukuh 38-40, Surabaya
Telp : (031) 5472422



Pemesanan harga biasa dan harga khusus dapat dilakukan melalui penyalur TIM (Tim Ikhlas Mengabdi) :
Departemen Literatur SAAT
Jln. Anggrek Merpati No. 12, Malang 65141
Telp. 0341-490750
Fax. 0341-494129

Pendahuluan dan Bagian-1

Martir Kristus-1



“Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.”
(Matius 16:24-27)



Di dalam Matius 16:24, Tuhan Yesus jelas bersabda bahwa setiap orang yang akan mengikut Kristus harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut-Nya. Berarti, ada harga yang pasti harus dibayar ketika mengikut Kristus. Jadi, tidaklah benar, jika ada beberapa orang “Kristen” bahkan “pemimpin gereja” yang mengajarkan bahwa mengikut Kristus pasti hidupnya diberkati, sukses, berhasil, bahkan tidak pernah digigit nyamuk. Sejarah gereja dari zaman Policarpus, dll menunjukkan bahwa umat Tuhan yang setia pasti akan difitnah, dibunuh mati, dibakar hidup-hidup, bahkan dipenggal kepala, tetapi pertanyaannya adalah mengapa mereka mau rela mati ? Karena mereka rela mati bukan demi sesuatu yang fana, tetapi demi Kristus yang telah mati menebus dosa-dosa mereka. Di dalam Matius 5:10, Tuhan Yesus bersabda, “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” Mereka rela menjadi martir Kristus, karena mereka tahu esensi yang berharga yang kekal ketimbang banyak orang dunia yang sibuk memberhalakan sesuatu yang sementara. Bagaimana kita mengerti semangat para martir Kristus tersebut ? Oleh karena itulah, melalui Program Martir Kristus, kita akan belajar banyak hal tentang semangat pengorbanan diri mereka bagi Kristus. Pada Bagian-1 ini, saya akan mengutip sebuah artikel dari Rev. DR. JOHN STEPHEN PIPER yang diambil dari milis suaramartir. Selamat membaca.



Menjadi Bahan Ejekan: Intisari Pelayanan Kristus

oleh : Rev. DR. JOHN STEPHEN PIPER


Apa yang kita lihat beberapa waktu lalu mengenai demonstrasi atas karikatur Denmark yang menghina Muhammad memberikan penjelasan apa yang membedakannya dan Kristus, dan apa artinya bagi para pengikut mereka masing-masing. Tidak semua orang Muslim setuju dengan kekerasan. Tetapi ada suatu pelajaran yang mendalam: pelayanan Muhammad didasarkan atas penghormatan dan pelayanan Kristus didasarkan atas penghinaan. Ini menghasilkan dua reaksi yang sangat berbeda dalam menanggapi ejekan.

Jika Kristus tidak dihina, maka tidak akan ada keselamatan. Ini adalah karya keselamatan-Nya: dihina dan mati untuk menyelamatkan para pendosa dari kemurkaan Allah. Sudah ada nubuatan di dalam Mazmur jalan orang yang diejek: “Semua yang melihat aku mengolok-olok aku, mereka mencibirkan bibirnya, menggelengkan kepalanya” (Mazmur 22:7). “Ia dihina dan dihindari orang… sehingga orang menutup mukanya… dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan.” (Yesaya 53:3).

Ketika penghinaan tersebut benar-benar terjadi, ini bahkan lebih buruk dari yang dibayangkan. “Mereka menanggalkan pakaian-Nya dan mengenakan jubah ungu kepada-Nya. Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya… Mereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olokkan Dia, katanya: "Salam, hai Raja! Mereka meludahi-Nya” (Matius 27:28-30). Reaksi-Nya atas semua ini adalah kesabaran. Untuk inilah Dia datang. “Seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya” (Yesaya 53:7).

Hampir seluruh orang Muslim diajarkan bahwa Yesus tidak disalib. Seorang Muslim Sunni menulis, “Orang-orang Muslim percaya bahwa Allah telah menyelamatkan Mesias dari aib penyaliban.” Yang lain menambahkan, “Kami menghormati Isa (Yesus) lebih dari yang kalian (orang-orang Kristen) lakukan… Kami menolak untuk percaya bahwa Allah membiarkan Isa menderita hingga mati di atas kayu salib.” Sebuah dorongan hati orang Muslim adalah untuk menghindari “aib” penyaliban.

Itulah yang merupakan perbedaan yang paling mendasar antar pemimpin dan antar pengikutnya. Bagi Kristus, menahan segala ejekan penyaliban adalah intisari dari misi-Nya. Dan bagi seorang pengikut Kristus yang sejati menahan penderitaan dengan sabar bagi kemuliaan Kristus adalah intisari dari ketaatan. “Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.” (Matius 5:11). Selama hidup-Nya di bumi Yesus disebut anak haram (Yohanes 8:41), seorang pemabuk (Matius 11:19), seorang penghujat (Matius 26:65), seorang iblis (Matius 10:25); dan Dia berkata kepada pengikut-Nya hal yang sama: “Jika sang tuan rumah mereka sebut Beelzebul, betapa lebih kerasnya lagi mereka akan memfitnah seisi rumah-Nya” (Matius 10:25).

Karikatur penghinaan Yesus Kristus masih berlanjut hingga hari ini. Martin Scorsese melukiskan Yesus dalam The Last Temptation of Christ sebagai puing-puing keraguan dan dikuasai nafsu birahi seksual. Andres Serrano didanai oleh Sumbangan Nasional bagi Seni untuk melukiskan Yesus yang disalib tenggelam di dalam botol air kencing. The Da Vinci Code menggambarkan Yesus sebagai seorang manusia belaka yang menikah dan menjadi ayah. Dan masih banyak hinaan lainnya.

Bagaimana seharusnya para pengikut-Nya bereaksi atas pelecehan ini? Di sisi lain, kita sedih dan marah. Di sisi yang lainnya, kita mengenal Kristus, dan memeluk penderitaan-Nya, dan bersukacita di dalam kesengsaraan kita, dan sepaham dengan rasul Paulus bahwa pembalasan adalah hak Tuhan, mari kita mengasihi musuh-musuh kita dan memenangkan mereka dengan kasih. Jika Kristus mengerjakan pelayanan-Nya dengan dihina, kita juga harus melaluinya demikian.

Ketika Muhammad digambarkan di dalam dua belas kartun oleh surat kabar Denmark Jylland Posten, kegaduhan di seluruh dunia Muslim meningkat dan banyak disertai kekerasan. Bendera-bendera dibakar, kedutaan-kedutaan dibakar, gereja-gereja dibakar, dan dilaporkan sedikitnya 58 orang Kristen tewas dibantai dalam demonstrasi tersebut. Para pengarang kartun ini menuju persembunyian dalam ketakutan mereka, seperti Salman Rushdie (penulis buku Satanic Verses yang juga dianggap melakukan penghujatan) sebelum mereka. Kita setuju bahwa kita seharusnya saling menghormati dan tidak mencela satu sama lain.

Tapi apa artinya ini?
Ini artinya bahwa suatu agama dengan Juruselamat yang tidak dihina tidak akan sanggup menahan cercaan dan ejekan untuk memenangkan para pengejeknya. Ini artinya bahwa agama ini diperuntukkan bagi mereka yang memikul beban yang berat yaitu menjunjung tinggi kehormatan seseorang yang mati dan tidak bangkit kembali. Ini artinya Yesus Kristus masih menjadi satu-satunya harapan perdamaian dengan Allah dan sesama manusia. Dan ini artinya bahwa para pengikutnya harus dengan rela untuk “berbagi dalam penderitaan-Nya, di mana menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya” (Filipi 3:10).

Sumber :
http://groups.yahoo.com/group/suaramartir/message/53

01 November 2007

Matius 4:18-22: THE KINGDOM AND THE WORKERS-4

Ringkasan Khotbah : 03 Oktober 2004

The Kingdom & the Workers 4

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.
Nats: Mat. 4: 18-22



Kita sudah memahami segmen pertama dari panggilan Kritus, yaitu “Mari,...“ (Mat. 4:19), dimana dengan otoritas Kerajaan Sorga, Kristus memanggil para murid untuk turut ambil bagian menjadi warga Kerajaan Sorga. Kristus adalah Raja di atas segala raja sehingga secara Ilahi Ia mampu membangun kerajaan-Nya seorang diri saja namun hal itu tidak Kristus lakukan, Ia justru melibatkan kita, manusia yang penuh dengan kelemahan. Dan cara Kristus memanggil berbeda dengan dunia, Ia tidak menggunakan standarisasi dunia yang hanya menuntut nilai akademik atau keahlian belaka. Panggilan Kristus adalah inisiatif yang datang dari Kerajaan Sorga. Segala sesuatu yang dianggap dunia penting bagi Kristus justru tidaklah berarti apa-apa dan sebaliknya. Sebagai anak Tuhan, kita patut mengucap syukur senantiasa karena kita sudah dipilih-Nya sejak dari kekekalan (Ef. 1:4) menjadi warga Kerajaan Sorga dan turut bekerja menggenapkan Kerajaan-Nya di dunia. Orang yang mengaku diri Kristen tetapi kalau ia masih memikirkan keuntungan diri maka ia bukanlah seorang Kristen sejati. Istilah Kristen berarti “Kristus kecil“ maka sebagai pengikut Kristus, follower of Christ, kita harus memancarkan citra Kristus.
Hari ini kita akan merenungkan segmen kedua dari panggilan Kristus, yaitu “Ikutlah Aku,...“ (Mat. 4:19). “Ikutlah Aku“ merupakan esensi Kekristenan sebagai warga Kerajaan Sorga dan mengikut Kristus menjadi tanda bagi setiap orang yang mengaku diri Kristen. “Ikutlah Aku“ menuntut respon, yaitu untuk mengikut Dia. Sebagai seorang Raja, Kristus berhak menuntut orang lain untuk mengikut Dia oleh sebab itu Ia berkata, “Ikutlah Aku,...“ Di satu sisi, mengikut Kristus sangat penting dalam panggilan Kekristenan namun di pihak lain banyak sebab yang menjadi alasan bagi mereka untuk menolak mengikut Kristus. Akibatnya banyak orang yang mengikut Kristus namun sekedar “mengikut“. Alkitab mencatat Petrus, Yohanes, Yakobus, dan Andreas mempunyai pengertian yang berbeda dengan kebanyakan orang lain tentang mengikut. Itulah sebabnya tanpa tawar menawar lagi mereka pergi, meninggalkan jalanya serta ayahnya, lalu mengikut Kristus.
Maka tidaklah heran kalau kemudian timbul pendapat bahwa mengikut Kristus itu susah jalannya karena harus meninggalkan segalanya tak terkecuali orang tua. Hal ini dapatlah kita mengerti karena dalam budaya Asia. Orang Tionghoa sangat menjunjung tinggi orang tua sebagai pemegang otorisasi tertinggi yang tidak dapat bersalah, father can do no wrong. Seorang anak harus menyembah semua orang tua atau leluhurnya demikian seterusnya. Jadi, semakin tua seseorang maka dirinya menjadi “tuhan“. Maka wajarlah kalau orang tua berbuat salah maka tidak akan pernah keluar kata, “Maaf,...“ dari mulut orang tua pada anaknya. Dan biasanya, untuk mengurangi perasaan bersalahnya orang tua menggantinya dengan barang. Alkitab menegaskan bahwa barangsiapa mau mengikut Kristus tetapi ia masih mau menguburkan orang tuanya terlebih dahulu atau pamitan dahulu dengan keluarganya maka ia tidak layak untuk Kerajaan Allah (Luk. 9:57-62). Kalimat ini jangan dimengerti secara harafiah, yakni seorang anak tidak boleh menguburkan orang tuanya. Tidak! Menurut tradisi Yahudi, mengubur pada jaman itu berarti seorang anak harus menuruti semua yang menjadi keinginan orang tuanya sampai orang tuanya mati barulah ia mau mengikut Kristus.
Manusia sangat mengerti bahwa seorang raja berhak atas segala sesuatu bahkan nyawa rakyatnya sekalipun maka seharusnya manusia menyadari bahwa ada Raja di atas segala raja yang justru mempunyai otoritas lebih tinggi dari raja dunia. Tidak ada alasan apapun bagi kita untuk membantah semua yang menjadi perintah Raja pemilik alam semesta. Kita harus taat mutlak pada Raja di atas segala raja, inilah pengertian mengikut yang dimaksud dalam Alkitab. Mengikut mempunyai tiga definisi, yaitu: pertama, mengikut karena inisiatif diri sendiri. Karena datangnya dari diri sendiri maka keputusan berada di tangan kita termasuk tentang hal mengikut, kapan mengikut dan kapan berhenti. Jadi, mengikut disini tidak beda seperti ketika kita sedang mengikuti sebuah kursus. Hari ini banyak orang yang mau mengikut Kristus seperti demikian.
Kalau kita bandingkan di Yoh. 15:16 maka jelaslah bahwa Kristus telah memilih dan menetapkan (predestination, bhs. Inggris) sebelum dunia dijadikan. Manusia tidak menyukai Tuhan memilih karena manusia mempunyai pilihan sendiri. Tuhan justru tidak suka pada mereka yang mengikut tapi berdasar inisiasi sendiri. Orang demikian akan menjadi sombong karena merasa diri dibutuhkan. Ingat, Tuhanlah yang menjadi inisiator, Dia yang memilih kita bukan manusia yang memilih Dia. Karena itu kita patut bersyukur, di antara jutaan manusia di dunia Tuhan sudah menetapkan kita sejak dari kekekalan untuk menjadi murid-Nya.
Kedua, pengertian mengikut disini berarti kita harus memilih satu diantara banyaknya pilihan yang ada, multiple choice. Hal itu berarti ketika kita sudah memutuskan mengikut si A maka konsekuensinya ia harus melepaskan si B atau si C. Kita tidak bisa memilih semuanya dengan harapan salah satu dari jawaban kita pasti benar ada yang benar. Inilah perbedaan konsep Alkitab dengan aliran new age yang menganggap bahwa semua agama sama.
Ketiga, mengikut seperti pengertian dalam Alkitab, yakni barangsiapa mengikut Aku maka ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku (Luk. 9:23). Mengikut dari bahasa asli, leteo yang mempunyai pengertian mengikut yang terus menerus, tanpa batas dan tanpa syarat. Dalam bahasa Indonesia belum ditemukan kata yang tepat untuk menggambarkan mengikut seperti yang dimaksudkan dalam Alkitab. Dalam bahasa Jawa ada yang lebih tepat untuk menggambarkannya, yaitu "ngintil". Pengertian "ngintil" disini adalah seperti seorang anak kecil yang memegang ujung baju ibunya sehingga tanpa banyak pertanyaan lagi ia selalu mengikut kemanapun ibunya.
Sebagai orang Kristen, dalam mengikut Kristus hendaklah kita meniru si anak kecil ini yang taat, “ngintil" karena Kristus memang layak untuk diikuti karena:
1. Kristus adalah Raja di atas segala raja.
Sebagai pengikut Kristus sejati dan sebagai warga Kerajaan Sorga maka kita harus taat mutlak untuk dididik oleh Raja di atas segala raja itu. Manusia sangat benci kalau disuruh mengikut seperti kategori di atas tersebut karena manusia selalu menanyakan keuntungan apa yang didapat kalau mengikut, resiko apa yang harus dihadapi, dan lain-lain, manusia kuatir akan hidupnya. Tuhan justru tidak suka hal ini, Tuhan menuntut satu hal, yaitu taat. Bayangkan, kalau saat itu Petrus melakukan bargain dengan Tuhan Yesus maka pasti hari ini kita tidak akan mengenal seorang yang bernama Petrus dalam sejarah dunia. Petrus merespon dengan sangat tepat panggilan Kristus. Inilah Kristen sejati, the true follower of Christ. Adalah anugerah, kalau kita dapat meresponi panggilan Tuhan dan taat mutlak pada-Nya karena secara hakekat, manusia sangat mementingkan dirinya sendiri. Bukan hal yang mudah bagi Kekristenan untuk memenuhi tuntutan kualitas sekaligus kuantitas. Umumnya, kedua hal tersebut sukar untuk terpenuhi sekaligus karena tuntutan kualitas pasti menyaring kuantitas. Alkitab menegaskan bahwa mengikut Kristus dibutuhkan ketaatan mutlak dan dalam ketaatan itulah Tuhan akan membentuk kita untuk semakin serupa Dia. Kita harus merespon dengan tepat panggilan Kristus.

2. Kristus adalah fokus hidup manusia.
Kita dipanggil oleh Kristus Raja di atas segala raja maka Dia ingin supaya mata kita hanya fokus memandang pada Kristus saja. Manusia seharusnya bersyukur kalau Raja di atas segala raja itu memanggil kita untuk masuk dalam Kerajaan Sorga dan menjadi warga-Nya. Sebagai warga Kerajaan Sorga, kita harus taat akan semua perintah dan peraturan dari Raja. Semua hukum dan peraturan Kristus yang adalah Raja atas alam semesta pastilah berbeda dengan raja dunia. Raja dunia hanya ingin mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dari rakyat demi untuk diri sendiri namun Raja di atas segala raja itu ingin supaya manusia taat menyembah Dia saja adalah demi untuk kebaikan manusia itu sendiri. Manusia akan merasakan sukacita sejati. Bukan hal yang mudah bagi manusia untuk taat sepenuhnya pada Tuhan karena seringkali cara Tuhan tidak sesuai bahkan berlawanan dengan logika manusia. Akibatnya manusia tidak dapat berfokus pada Kristus yang adalah pusat fokus. Sama halnya kalau seperti sebuah kamera, kalau kita ingin memfokuskan lensa pada satu obyek gambar di depan maka gambar di belakang pasti kabur. Yang menjadi pertanyaan adalah dimanakah fokus hidup kita? Siapa yang menjadi fokus hidup kita? Manusia harus memilih antara Kritus atau diri yang harus menjadi fokus. Kita tidak dapat memilih kedua-duanya. Manusia berdosa selalu memilih hal yang berfokus pada diri sendiri. Biarlah kita mencontoh teladan Petrus dan murid-murid lain yang tidak pernah memikirkan kepentingan diri sendiri. Begitu pula Abraham, ia taat dan beriman pada pimpinan Tuhan sehingga ia rela meninggalkan semua kenyamanan di tanah Haran dan memilih mengikut Tuhan. Abraham tahu apa dan siapa yang seharusnya menjadi fokus hidupnya. Di dunia modern ini banyak hal ditawarkan pada manusia akibatnya orang yang tidak mempunyai iman yang teguh akan mudah diombang ambingkan oleh berbagai macam konsep dunia yang sepertinya benar padahal itu bukanlah kebenaran sejati. Sebagai contoh, tatanan dunia pendidikan menjadi rusak setelah Imanuel Kant merombak dari obyektifitas menjadi subyektifitas dan hal ini langsung ditunggangi oleh Rousseau dengan menjadikan diri sebagai pusat, me and... (myself, my family, etc). Roussoue mengajarkan active learning dimana murid harus mengembangkan segala kemampuan yang ada pada dirinya dan guru hanyalah fasilitator belaka atau dengan kata lain guru tidak lebih hanya seorang pembantu. Kalau sejak dari kecil anak sudah dididik demikian maka tidaklah heran kalau besar kelak si anak menjadi anak yang melawan Tuhan. Sesungguhnya, filsafat humanismelah yang menjadi dasar teori Rousseau. Alkitab justru mengajarkan berbeda dengan dunia, murid bukanlah pusat tetapi gurulah yang menjadi pusatnya.
Alkitab mencatat seluruh sejarah manusia, bagaimana asal mula manusia, bagaimana manusia berproses, yakni kejatuhan manusia dalam dosa, manusia diselamatkan dan manusia berakhir. Kitab Perjanjian Lama menuliskan tentang Allah mencipta, Allah memelihara, Allah menetapkan hukum, Allah menyelamatkan manusia, dan masih banyak lagi begitu juga dengan kitab Perjanjian Baru semua berpusat pada Kristus mulai dari kelahiran-Nya sampai dengan kedatangan-Nya yang kedua kali nanti. Jadi Allahlah yang menjadi pusat bukan manusia. Celakanya, sejak dari kecil kita telah dididik bahwa pusat dari segala sesuatu adalah diri. Karena itu mulai dari sekarang didiklah anak-anak yang telah Tuhan percayakan padamu hanya berfokus Tuhan. Betapa indahnya hidup kita kalau diri selalu berpusat pada Kristus. Pdt. Dr. Stephen Tong berpendapat seperti sebuah radio kalau kita tidak fokus pada gelombang dengan tepat maka kita tidak akan mendapatkan suara yang jernih. Biarlah kita senantiasa melatih diri kita untuk senantiasa memfokuskan hidup kita pada Kristus dengan demikian kita hanya menjalankan apa yang menjadi kehendak Tuhan saja. Sayang, hari ini banyak orang tua tidak memahami pentingnya pendidikan bagi anak sehingga mendidik anak yang seharusnya menjadi tugas dan tanggung jawab orang tua diserahkan pada sekolah. Adalah mujizat kalau kita dapat mengubah konsep berpikir kita dari berpusat pada diri menjadi berpusat pada Kristus.

3. Kristus satu-satunya teladan sempurna bagi manusia.
Perkataan Tuhan Yesus, “Ikutlah Aku,...“ merupakan kalimat final dengan demikian manusia dapat peroleh pengharapan. Sebagai anak Tuhan, kita boleh mengucapkan hal yang sama seperti Kristus, yaitu “Ikutlah aku,...“ namun tidak boleh berhenti sampai di situ saja dan hal ini disadari oleh Paulus dan para murid yang lain. Kalimat yang benar adalah: “Ikutlah aku, sama seperti aku mengikut Kristus“. Berhatilah-hatilah dan jauhilah orang yang berkata, “Ikutlah aku“. Itu berarti dia telah menggeser posisi Tuhan dengan bermain menjadi Tuhan, playing God. Kejatuhan manusia pertama dalam dosa karena dia ingin menjadi seperti Tuhan. Hanya Kristus satu-satunya yang boleh mengatakan, “Ikutlah Aku“ karena Dialah satu-satunya kesempurnaan manusia sejati, Dialah teladan sempurna bagi manusia di dunia. Kristus tidak berdosa namun demi untuk menebus manusia berdosa, Dia dijadikan berdosa namun Dia bangkit dan Dia naik ke sorga membuktikan kesempurnaan diri-Nya. Dunia mengakui Yesus sebagai Guru Agung meski secara lingkup area pengaruh Yesus sangat kecil namun secara moral pengaruh-Nya sangat besar dibandingkan semua tokoh di sepanjang sejarah dunia. Yesus tidak hanya sekedar mengajar tetapi Dia menjalankannya dengan sempurna. Michael Hart menuliskan hal ini dalam bukunya 100 Tokoh yang Berpengaruh di Dunia. Mahatma Gandhi pun sangat berkesan dengan Alkitab yang setiap hari ia baca terutama kitab Amsal dan ajaran Tuhan Yesus di bukit. Jadi, orang yang mengaku diri sebagai pengikut Kritus tapi tidak dapat melihat teladan Kristus, ia bukanlah seorang Kristen sejati. Setiap manusia harus melihat Kristus sebagai fokus hidup dan mencontoh teladan Kristus Raja di atas segala raja. Jangan sia-siakan anugerah-Nya kalau Tuhan memanggil engkau untuk menjadi warga Kerajaan Sorga hari ini, “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.“ Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber :

Roma 3:25-26 : KRISTUS SEBAGAI SUMBER KESELAMATAN

Seri Eksposisi Surat Roma :
Kasih dan Keadilan Allah-8


Kristus Sebagai Sumber Keselamatan

oleh : Denny Teguh Sutandio


Nats : Roma 3:25-26.

Setelah Paulus memaparkan tentang jalan keluar satu-satunya bagi penyelesaian dosa itu di dalam Kristus, ia mulai memfokuskan pada Pribadi Kristus sebagai Sumber Keselamatan manusia.

Pada ayat 25a, Paulus memulai fokusnya pada Pribadi Kristus dengan mengatakan, “Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya.” King James Version menerjemahkannya, “Whom God hath set forth to be a propitiation through faith in his blood,” Kata “pendamaian” pada terjemahan Bahasa Indonesia kurang tepat, karena King James Version menerjemahkannya propitiation/propisiasi yang dalam bahasa asli (Yunani)nya bisa berarti korban (victim). Ada tiga prinsip tentang penebusan Kristus, yaitu substitusi (kematian Kristus menggantikan kematian kita karena dosa), rekonsiliasi (Kristus menjadi Jalan Pendamaian antara Allah dengan manusia) dan propisiasi (Kristus meredakan murka Allah). Pada arti ketiga inilah, Paulus hendak menjelaskan bahwa Kristus menjadi korban untuk meredakan murka Allah. Di dalam Perjanjian Lama, Allah memerintahkan umat Israel untuk mempersembahkan binatang yang disembelih sebagai korban (ada darah) bagi penebusan dosa mereka, korban itu lah adalah tipologi dari Kristus yang akan diutus Bapa kemudian. Dan menariknya, bukan binatang yang diperkenan Allah, tetapi karena ada darah yang tercurah yang mengakibatkan pada zaman Perjanjian Lama, orang Israel yang berdosa diampuni, karena, “...tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.” (Ibrani 9:22) Demikian pula, Kristus diutus karena Ia telah ditetapkan oleh Allah sejak semula untuk menjadi korban meredakan murka Allah dengan darah-Nya yang menggantikan korban binatang di zaman Perjanjian Lama. Untuk meredakan murka Allah, mengapa harus Kristus melalui darah-Nya sebagai satu-satunya yang mampu melakukannya ? Mengapa bukan para nabi Allah atau melalui agama lain ? TIDAK. Kristus saja yang mampu meredakan murka Allah, karena Pribadi Kristus adalah 100% Allah dan 100% manusia. Kalau melalui para nabi Allah yang tetap adalah manusia, manusia (meskipun suci) tak mungkin mampu menggantikan dosa manusia lain dan bahkan meredakan murka Allah, karena para nabi sendiri pun masih bisa berbuat dosa. Alkitab mencatat bahwa banyak nabi yang diutus oleh Allah tetap masih berbuat dosa, misalnya Musa yang tidak taat ketika Allah memerintahkan untuk menyuruh batu untuk mengeluarkan air untuk diminum oleh orang Israel. Begitu juga dengan Yunus yang sempat tidak taat kepada perintah Tuhan lalu melarikan diri dari panggilan Allah. Semuanya ini menunjukkan para nabi Allah sendiri tidak mampu meredakan murka Allah, karena mereka sendiri tetap harus dimurkai-Nya. Oleh karena itu, Kristus satu-satunya yang layak meredakan murka Allah, karena Ia murni adalah Pribadi Allah. Hanya Allah saja yang bisa mengampuni dosa manusia. Tetapi bagaimana Allah bisa mengampuni dosa manusia ? Tidak ada jalan lain, Kristus yang adalah Allah juga adalah manusia untuk berinkarnasi dan menebus dosa manusia dengan cara disalib dan mati di Kalvari. Allah tidak mungkin mati, sehingga Kristus harus mengambil natur manusia juga (tanpa meninggalkan natur Ilahi-Nya) sehingga Ia dapat mati dan juga kematian-Nya mampu meredakan murka Allah. Penebusan Kristus seharusnya menjadi perenungan kita khususnya menjelang hari Jumat Agung ini (bagian ini ditulis pada tanggal 22 Maret 2007). Sudahkah kita beriman di dalam Kristus yang telah meredakan murka Allah bagi kita ? Kita yang seharusnya dimurkai Allah sudah ditanggung di dalam penebusan Kristus.

Lalu, mengapa Kristus harus meredakan murka Allah ? Kristus meredakan murka Allah untuk menyatakan keadilan-Nya (atau menurut bahasa Yunani : dikaiosune berarti kebenaran-Nya yang adil) kepada manusia baik yang hidup di zaman dahulu maupun di zaman sekarang (ayat 25b dan 26). Mari kita membahas dua poin ini.
Pada ayat 25b, Kristus meredakan murka Allah untuk menyatakan kebenaran-Nya yang adil kepada manusia yang hidup di zaman dahulu (“Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya.”). Pada zaman dahulu (Perjanjian Lama), Allah membiarkan dosa tetap ada, bahkan Ia tidak menghukum semua manusia ke dalam neraka, karena kesabaran-Nya. Tetapi ini tidak berarti Allah tidak pernah menghukum bangsa Israel sama sekali. Allah pernah menghukum bangsa Israel, tetapi di dalam keadilan-Nya, Ia tetap mengasihi mereka, ketika mereka berbalik dan bertobat kepada-Nya. Tetapi sayangnya karena kebebalan hati mereka, mereka hanya sebentar bertobat, lalu setelah itu mereka kumat lagi, dengan tidak taat kepada-Nya. Tetapi terus-menerus di dalam keadilan-Nya, Ia tetap mengasihi mereka. Itulah yang disebut Paulus dengan istilah “kesabaran-Nya” di dalam ayat ini. Bagaimana dengan kita ? Kita mungkin sudah bertahun-tahun menjadi orang Kristen, tetapi seringkali menyepelekan dosa. Dosa bagi kita hanya sebuah kesalahan yang bisa ditolerir dengan alasan Allah itu Mahakasih dan Maha Pengampun. Itu bukan citra diri orang Kristen yang bertanggungjawab. Alkitab mengajarkan keseimbangan yaitu Allah itu Mahakasih sekaligus Mahaadil. Ketika kita berdosa, ingatlah Allah memang mengasihi kita yang berdosa, tetapi tidak berarti Ia membiarkan kita terus-menerus. Di dalam kasih-Nya, Ia tetap mendisiplin kita dengan menghukum seperti yang dinyatakan oleh Rasul Yohanes, “Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!” (Wahyu 3:19). Tindakan mendisiplin yang Allah kerjakan justru merupakan tanda kasih dan kepedulian-Nya kepada kita. Justru ketika Allah diam dan tidak menegur kita, berwaspadalah dan mulailah kita mengoreksi apakah dosa yang sudah kita lakukan begitu besar dan banyak, sehingga Allah diam. Ketika Allah diam (the silence of God), sadarlah, bertobatlah dan kembalilah kepada-Nya sebelum murka-Nya tiba pada kita. Itulah citra diri orang Kristen yang dewasa dan bertanggungjawab.
Lalu, kebenaran-Nya yang adil juga dinyatakan pada kita yang hidup di saat ini untuk menyatakan, “Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus.” Kalau pada ayat 25b, Allah menunjukkan kebenaran-Nya yang adil kepada mereka yang tidak percaya, maka pada ayat 26, Allah yang sama tetap menunjukkan kebenaran-Nya yang adil kepada mereka yang percaya di dalam Kristus. Apakah wujud kebenaran-Nya yang adil kepada umat pilihan-Nya yang percaya itu ? Wujudnya adalah pembenaran Allah di dalam Kristus bagi mereka yang telah dipilih-Nya. Sungguh suatu mukjizat besar, ketika kita sebagai manusia sebagai manusia yang berdosa yang layak dibinasakan, tetapi kita yang sudah dipilih-Nya dibenarkan di dalam Kristus. G. I. Williamson di dalam bukunya Pengakuan Iman Westminster menyatakan dua prinsip tentang pengimputasian di dalam Kristus, yaitu, pertama, dosa-dosa manusia pilihan-Nya dilimpahkan/diimputasikan di dalam Kristus, sehingga kita yang seharusnya menanggung dosa-dosa itu, tetapi Kristus menanggungnya bagi kita. Kedua, setelah Kristus menanggung dosa-dosa kita dengan ketaatan-Nya kepada Bapa sampai mati disalib, maka kebenaran dan ketaatan Kristus ini diimputasikan kepada kita. Kita yang tidak taat dan tidak benar dijadikan taat dan benar oleh karena Kristus sudah melakukannya bagi kita yang tidak pernah akan mampu taat dan benar. Sudah seharusnya semua manusia yang berdosa dihukum dan mati, tetapi karena kasih sekaligus keadilan-Nya, Ia menetapkan beberapa orang dari mereka untuk diselamatkan dan ditebus di dalam Kristus. Apakah ini berarti Allah tidak adil ?! TIDAK. Paulus justru mengajarkan bahwa tindakan keadilan Allah ini benar/right (atau bisa diterjemahkan kudus/holy, adil/just). Kita yang sudah dibenarkan di dalam Kristus sudah seharusnya bersyukur selalu dan juga terus mengerjakan keselamatan kita dengan memberitakan Injil kepada mereka yang belum mendengar Injil Kristus. Itulah bukti bahwa kita percaya kepada (di dalam) Yesus. Seorang yang percaya di dalam (believe in) Kristus berarti orang itu berani mempercayakan dirinya seutuhnya di dalam Kristus atau menTuhankan Kristus di dalam hidupnya. Dengan kata lain, orang Kristen sejati yang termasuk anak-anak Tuhan harus menjadikan Kristus sebagai yang Terutama dan Final di dalam hidupnya. Sedangkan, mereka yang secara KTP mengaku diri “Kristen” tentulah bukan anak-anak Tuhan dan itu ditunjukkan dengan ketidaksudian mereka menTuhankan Kristus tetapi men“tuhan”kan diri mereka sendiri atau men“tuhan”kan filsafat-filsafat dunia berdosa, misalnya dualisme, materialisme, humanisme, dll. Baiklah kita berwaspada dan berusaha membedakan manakah orang yang percaya di dalam Kristus yang telah dibenarkan di dalam Kristus dengan orang yang sebenarnya percaya di dalam dirinya yang tentu tidak pernah memperoleh pembenaran di dalam Kristus.

Hari ini, ketika kita telah merenungkan bagian ini, sadarkah kita bahwa kita (yang termasuk umat pilihan Allah) yang berdosa dan tidak layak ini sudah dilayakkan dan dibenarkan di dalam Kristus ? Lalu, sadarkah kita bahwa kita yang sudah dilayakkan harus menjadi saksi Kristus di dalam hidup kita baik melalui perkataan (pemberitaan Injil) maupun perbuatan kita yang memuliakan-Nya? Ketika kita mau berbuat baik untuk memuliakan Allah, itu merupakan akibat dan tanda sejati dari orang yang sungguh-sungguh percaya di dalam Kristus. Amin. Soli Deo Gloria.