10 November 2010

EKSPOSISI 1 KORINTUS 9:15-18 (2) (Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.)

EKSPOSISI 1 KORINTUS 9:15-18 (2)

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.



Nats: 1 Korintus 9:15-18 (2)



Sebagaimana sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya, Paulus di pasal 9:15-18 sedang menguraikan sikapnya yang tidak mau menerima tunjangan (ay. 15a-b) dan alasan mengapa ia melakukan hal itu (ay. 15c-17). Penjelasan ini berbentuk serangkaian kalimat yang dimulai dengan kata sambung “karena” atau “sebab” (gar, ay. 15c, 16a, 16b, 16c, 17a). Di akhir pembahasan Paulus menunjukkan apa yang menjadi hak sesungguhnya bagi dia (ay. 18).

Dalam uraian Paulus tentang alasan di balik sikapnya yang tidak mau menerima tunjangan, ia mengajarkan bahwa daripada ia menerima tunjangan tetapi pemberitaan Injil justru menjadi terhalang, maka ia lebih memilih mati daripada Injil yang mati (ay. 15c-d). Bekerja secara keras dan hina untuk mendukung pemberitaan Injil merupakan kemegahan yang tidak dapat dikosongkan oleh siapa pun. Hal ini tidak berarti bahwa Paulus sedang menyombongkan apa yang ia lakukan. Bagi Paulus tidak ada yang istimewa dari tugas pemberitaan yang ia lakukan, karena ini merupakan keharusan ilahi bagi dirinya (ay. 16a-b). Ia hanya melakukan apa yang seharusnya ia lakukan.

Dalam khotbah minggu ini kita akan meneruskan beberapa penjelasan lain mengapa Paulus tidak memiliki dasar untuk bermegah dalam pemberitaan Injil. Ada baiknya kita melihat kembali alur pemikiran Paulus di ayat 16-17. Perhatikan struktur berikut ini:
Paulus tidak memiliki dasar untuk bermegah (ay. 16a)
Alasan: pemberitaan Injil adalah keharusan ilahi (ay. 16b)
Penjelasan: celaka bagi yang melalaikan (ay. 16c)
Penjelasan: jika ini adalah keharusan, maka tidak ada upah (ay. 17)


Celaka bagi yang melalaikan keharusan ilahi (ay. 16c)
Seruan “celakalah” (ouai) hanya muncul sekali dalam seluruh tulisan Paulus. Di bagian lain Alkitab kata ini seringkali berhubungan dengan keadaan rohani yang mengenaskan atau penderitaan tertentu. Yesus menujukan seruan ouai kepada mereka yang menolak kabar baik (Mat. 11:21//Luk. 10:13), para penyesat (Mat. 18:7//Luk. 17:1), orang yang menyerahkan Anak Manusia (Mat. 26:24//Luk. 22:22), orang-orang Farisi (Mat. 23:13-29//Luk. 11:42-47).

Seruan ini juga pernah ditujukan oleh Yesus pada para wanita yang sedang mengandung pada saat tanda-tanda akhir zaman berlangsung (Mat. 24:19//Luk. 21:23). Dalam sebuah perikop di Injil Lukas, seruan ini dikontraskan dengan “berbahagialah/diberkatilah” (6:20-26). Dalam Kitab Wahyu seruan ini seringkali dikaitkan dengan penderitaan di bumi sebagai bentuk hukuman ilahi (Why. 8:13; 9:12; 11:14; 12:12; 18:10, 16, 18).

Dari penggunaan seruan ouai di atas terlihat bahwa dua makna seruan ouai (keadaan rohani yang mengenaskan dan penderitaan fisik) saling berkaitan. Apakah Paulus memikirkan kebinasaan rohani yang kekal atau sekadar penderitaan tertentu sebagai hukuman Allah? Dalam hal ini kita sulit menentukan sejauh mana Paulus memaksudkan celaka di sini.

Beberapa petunjuk berikut ini mendorong kita untuk memilih alternatif pertama. Paulus tampaknya memang serius memandang hukuman ilahi akibat kelalaian dalam pemberitaan Injil. Pertama, berpijak pada ide tentang kematian yang sudah disinggung sebelumnya (ay. 15 “...adalah lebih baik mati daripada...”), Paulus tampaknya sedang memikirkan “celaka” sebagai sesuatu yang lebih serius daripada kematian fisik. Walaupun dalam pemberitaan Injil Paulus selalu diperhadapkan pada kematian (4:9; 15:31-32; 2Kor. 1:8-10), namun bagi dia kematian fisik masih lebih baik daripada “celaka” akibat lalai memberitakan Injil. Kedua, di akhir pasal 9 Paulus mengungkapkan kerinduannya supaya setelah memberitakan Injil ia sendiri tidak ditolak gara-gara tidak mampu menguasai diri dalam segala hal (9:27). Ketiga, di pasal 10 Paulus memaparkan orang-orang Israel di zaman dahulu yang binasa akibat penyembahan berhala (10:5-12). Jadi, seruan “celaka” yang diucapkan Paulus sebaiknya diterima sebagai sebuah peringatan yang sungguh-sungguh. Ini jauh lebih serius daripada sekadar perasaan bersalah. Ini bahkan lebih serius daripada hukuman tertentu yang kita takutkan jika tidak memberitakan Injil.

Apakah penjelasan ini bertentangan dengan doktrin kepastian keselamatan? Sama sekali tidak! Apakah penjelasan ini mengajarkan bahwa keselamatan ditentukan oleh usaha kita dalam memberitakan Injil? Tidak juga! Semua ini perlu dipahami dalam konteks “sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar” (Kis. 4:20). Seseorang yang merasakan dan memahami keselamatan sebagai sebuah peristiwa dan anugerah yang istimewa tidak akan bisa berdiam diri untuk tidak menceritakan hal tersebut! Jika seseorang tidak terdorong untuk memberitakan keselamatan yang sedemikian besar, maka kita patut mempertanyakan seberapa besarkah arti keselamatan tersebut bagi orang itu.

Hal ini mirip dengan ajaran Yesus dalam Doa Bapa Kami yang berbunyi “ampunilah kesalahan kami seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (Mat. 6:12). Dalam sebuah perumpamaan Yesus juga pernah mengatakan bahwa Bapa tidak akan mengampuni orang yang tidak mau mengampuni saudaranya (Mat. 18:35). Perkataan ini jelas tidak mengajarkan bahwa pengampunan Allah bergantung pada kemauan kita mengampuni orang lain. Sebaliknya, karena Allah sudah lebih dahulu mengasihi kita, maka kita harus mengasihi orang lain (Mat. 18:33). Sangat tidak masuk akal seandainya hutang kita yang 10 ribu talenta telah dianggap lunas oleh Allah tetapi kita tidak mau menganggap lunas hutang saudara kita yang hanya 100 dinar (Mat. 18:23-34). Begitu pula dengan pemberitan Injil. Jika kita sudah mengalami berkat rohani yang luar biasa melalui Injil (hidup kekal, damai sejahtera, penyertaan Allah, dsb.), sangat tidak masuk akal jika kita tidak mau memberitakan kabar kesukaan ini kepada orang lain.

Kesulitan kita untuk memahami keseriusan makna “celaka” dalam seruan Paulus lebih banyak ditentukan oleh asumsi theologis kita yang salah. Allah memang menjamin keselamatan kita sehingga tidak mungkin gagal (Yoh. 10:28-29; Rm. 8:31-32), namun kita harus melihat ini dalam perspektif yang luas. Allah memang akan menjaga kita dari semua pencobaan dengan cara memberikan jalan keluar (1Kor. 10:13), tetapi kita tetap harus berhati-hati dan jangan sombong dengan jalan menyangka bahwa kita teguh berdiri (1Kor. 10:12). Kita perlu mengingat bahwa Allah menjaga keselamatan kita melalui pemberian kemauan dan kemampuan dalam hati kita (Flp. 2:13).


Jika pemberitaan Injil adalah keharusan, maka tidak ada upah (ay. 17)
Dalam bagian ini Paulus memberikan penjelasan lain melalui metafora orang bebas dan budak. Seorang yang bekerja secara sukarela (orang bebas) berhak menerima upah dari apa yang dikerjakan (ay. 17a; bdk. Rm. 4:4; 1Tim. 5:17-18), sedangkan seorang yang mengerjakan apa yang dia harus lakukan (budak) tidak berhak mengharapkan upah (ay. 17b). Kontras ini pasti sangat dipahami oleh orang-orang pada masa itu yang sangat dekat dengan urusan perbudakan.

Dalam kontras di atas Paulus memandang dirinya sebagai budak, karena pemberitaan Injil yang ia lakukan memang bukan pilihan dia sendiri. Ini merupakan keharusan ilahi dan mengandung hukuman serius jika dilalaikan (ay. 16). Secara khusus Paulus melihat dirinya sebagai seorang budak yang dipercayakan “tugas penyelenggaraan” (LAI:TB). Kata dasar oikonomia secara tepat diterjemahkan “penatalayanan” (“stewardship”) dalam beberapa versi (NASB/ESV). Tugas ini sebelumnya sudah pernah dipakai Paulus untuk menggambarkan kerasulannya (4:1). Seorang penatalayan adalah orang yang dipercaya sepenuhnya untuk mengelola sesuatu, baik uang, rumah maupun properti lainnya. Sesuai budaya waktu itu, oikonomos bertugas mewakili pemilik untuk memutuskan segala sesuatu, sama seperti Yusuf di rumah Potifar (Kej 39:4).

Ketika seorang budak menyelesaikan pekerjaannya, ia tidak boleh mengharapkan upah dari apa yang ia kerjakan. Sebaliknya, seorang budak seharusnya berkata, “kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan” (Luk. 17:10). Budak harus menempatkan kepentingan dan keuntungan tuannya sebagai tujuan dari segala sesuatu yang ia lakukan (Mat. 25:14-30). Demikian pula dengan Paulus. Ia bukanlah orang yang mencari keuntungan dari Injil, tetapi seorang hamba yang melakukan semua pekerjaan atas perintah Tuan dan di hadapan Tuan tersebut (2Kor. 2:17).

Gambaran tentang seorang budak di atas telah menimbulkan dua persoalan bagi sebagian penafsir. Mereka memahami hal ini sebagai sebuah bentuk keterpaksaan Paulus dalam memberitakan Injil. Di samping itu, gambaran ini tidak sesuai dengan keyakinan Paulus sebelumnya bahwa setiap pekerja akan mendapatkan upahnya (3:8; 9:7-14). Bagaimana kita menjawab persoalan ini?

Berkaitan dengan persoalan ke-1 kita tidak boleh melupakan bahwa sekalipun Paulus adalah seorang budak, tetapi ia adalah budak Allah. Ia bahkan dipercayakan rahasia-rahasia Allah (4:1) yang sejak kekekalan sudah direncanakan bagi kemuliaan orang-orang pilihan (2:7). Status inilah yang memberikan kebanggaan tertentu dalam diri Paulus, sehingga ia melakukan pemberitaan Injil dengan sukacita, sekaipun hal itu merupakan keharusan. Jadi, keharusan tidak selalu identik dengan keterpaksaan.

Sekarang tentang persoalan ke-2. Dalam hal ini kita perlu memahami beberapa hal berikut ini:
1. Perbedaan inti metafora yang dipakai. Di 3:5-9 Paulus memakai metafora tukang kebun atau petani untuk menunjukkan perbedaan tugas dari para pekerja dan keutamaan Tuhan sebagai pemilik ladang. Petani jelas berbeda dengan budak. Buruh tani berhak atas upah, budak tidak berhak atas hal itu.
2. Perbedaan pemberi upah. Seorang penatalayan tidak boleh menerima upah dari orang-orang yang ia atur. Ia mendapatkan upah dari tuan yang ia layani.
3. Perspektif yang teosentris. Walaupun para rasul berhak mendapatkan tunjangan hidup dari jemaat tetapi Paulus tetap memandang hal ini sebagai bentuk upah material dari Tuhan. Yang menjamin kehidupan para hamba Tuhan bukanlah jemaat, tetapi Tuhan melalui jemaat-Nya. Dengan perspektif seperti ini kita bisa melihat harmonisasi antara metafora seorang budak yang tidak berhak mendapat upah (9:17) dengan para pekerja yang berhak atas upah (9:7-14). Tidak ada yang salah seandainya para rasul menerima tunjangan jemaat, selama hal itu dipandang sebagai upah dari Tuhan.
4. “Upah” sebagai anugerah. Tuhan tidak harus meresponi pelayanan kita kepada-Nya dengan memberikan upah. Ia bahkan tidak membutuhkan pelayanan manusia (Kis. 17:24-25). Adalah sebuah keharusan bagi ciptaan untuk melayani Pencipta-Nya, karena semua diciptakan bagi kemuliaan Pencipta (Rm. 11:36; Ef. 1:11-12). Dalam kedaulatan dan kasih-Nya sendiri, Ia telah menetapkan untuk memberikan perhargaan sesuai dengan pekerjaan kita masing-masing (Mat. 25:14-30).


Konklusi: Upah Sesungguhnya Adalah Memberikan Injil Tanpa Upah (ay. 18)
Setelah memberikan penjelasan (ay. 15b-17) terhadap sikapnya yang tidak mau menerima tunjangan dari jemaat (ay. 15a), Paulus sekarang menutup paragraf di ayat 15-18 dengan sebuah pertanyaan “kalau demikian, apakah upahku?” (ay. 18a). Ayat 18 akan menunjukkan bahwa di balik ketidakmauan Paulus untuk menerima upah ia sebenarnya sudah mendapatkan upah yang lebih baik.

Upah Paulus adalah “memberitakan Injil tanpa upah” (ay. 18b). Sekilas pernyataan ini sulit dipahami. Beberapa penafsir berpendapat bahwa Paulus sedang memikirkan upah rohani eskhatologis yang akan ia terima di akhir zaman (bdk. 3:8; 9:24-26). Walaupun upah ini pasti akan diterima oleh Paulus (15:58; 2Tim. 4:6-8), namun bukan ini yang sedang dipikirkan Paulus. Sebagian bahkan melangkah lebih jauh dengan mengatakan bahwa Paulus sengaja melampaui tuntutan firman Tuhan (rasul berhak mendapat upah) supaya di akhir zaman ia memperoleh berkat rohani yang lebih besar daripada rasul-rasul lain. Dugaan seperti ini jelas tidak dapat dibenarkan, karena ketidakmauan Paulus dalam menerima upah bukan berarti ia lebih rohani daripada rasul-rasul yang lain. Beberapa menganggap upah yang dimaksud Paulus adalah perasaan puas dalam hatinya karena sudah berhasil mencapai kehidupan yang sangat menderita demi Injil. Pandangan ini mengasumsikan Paulus sebagai seorang yang sangat anti terhadap kenyamanan duniawi. Hal ini tentu tidak sesuai dengan sikap Paulus yang mau menerima dukungan materi secara insidentil dari jemaat lain (2Kor. 11:8-9; Flp. 2:25; 4:10, 14-15). Ia juga pernah mengalami apa yang disebut dengan kelimpahan dan rasa kenyang (Flp. 4:12).

Upah yang dimaksud Paulus di ayat 18 adalah kebebasan dalam memberitaan Injil. Dengan memberitakan Injil tanpa upah dari orang-orang yang dilayani, maka Paulus sebenarnya memperoleh upah berupa kebebasan penuh dalam memberitakan Injil. Dengan menjadi budak Allah yang tanpa upah dari manusia, ia adalah orang bebas (9:19). Ia bukan budak manusia!

Kebebasan di atas memungkinkan pemberitaan Injil yang tanpa rintangan (9:12b), misalnya berupa fitnahan (1Tes. 2:3, 5). Seandainya Paulus menerima tunjangan dari jemaat Korintus maka ia pasti akan dituntut untuk memenuhi obsesi sebagian jemaat terhadap filsafat dan retorika kafir waktu itu yang menganggap Injil sebagai kebodohan (1:18-2:5). Dengan memberitakan Injil tanpa upah (freely) Paulus mendapatkan kebebasan (freedom).

Tidak hanya itu, sikap Paulus ini sekaligus menjadi pelajaran konkrit dalam pemberitaan Injil. Apa yang ia lakukan telah menjadi paradigma yang hidup dari Injil itu sendiri. Pemberitaan Injil yang gratis akan memberi kesan kuat tentang natur Injil yang juga gratis. Seorang pemberita Injil yang bebas dari tekanan orang-orang lain memberi kesan yang kuat tentang kuasa Injil yang membebaskan. Pendeknya, kita dapat merangkum semua ini dalam sebuah kalimat: “free preacher preaches freely a free gospel that sets people free!”

Bagian terakhir dari ayat 18 merupakan penjelasan terhadap frase “memberitakan Injil tanpa Fungsi bagian ini sebagai penjelas menjadi sedikit kabur karena penerjemah LAI:TB menambahkan kata “dan” di antara ayat 18b dan 18c, padahal dalam teks Yunani tidak ada kata penghubung yang dipakai. Seperti sudah dibahas sebelumnya (ay. 15), kata Yunani “katachraomai” yang dipakai di sini bisa memiliki bermakna negatif dalam arti “menyalahgunakan” (KJV) atau bermakna netral dalam arti “menggunakan sepenuhnya” (RSV/NRSV/NASB/NET/ESV). Manapun yang benar, maknanya tetap sama. Paulus tidak mau menggunakan hak sebagai rasul dan itulah yang menjadi haknya.


Aplikasi
Kesadaran bahwa setiap orang percaya harus melayani Tuhan akan mendorong kita untuk bekerja keras bagi Tuhan. Pelayanan – dalam hal ini adalah pemberitaan Injil – merupakan keharusan ilahi bagi kita yang mengandung ancaman hukuman serius jika dilalaikan. Lebih jauh daripada itu, kesadaran terhadap keharusan ilahi ini juga menolong kita untuk tidak mengharapkan penghargaan dari orang-orang yang kita layani. Kita hanya melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Justru ketika kita melayani dengan motivasi untuk mendapatkan sesuatu dari orang yang kita layani, maka kita telah kehilangan kebebasan untuk memberitakan Injil dengan bebas. Tidak jarang kebaikan dan penerimaan orang lain terhadap kita telah membuat kita tidak berani menyatakan kebenaran secara jelas. Amin. Soli Deo Gloria. #




Sumber:
Mimbar GKRI Exodus, 11 April 2010
http://www.gkri-exodus.org/image-upload/SER-1Korintus%2009%20ayat%2015-18%20_2.pdf

07 November 2010

MEMILIKI KERENDAHAN HATI (Denny Teguh Sutandio)

MEMILIKI KERENDAHAN HATI

oleh: Denny Teguh Sutandio



“TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; … Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku”
(Mzm. 139:1, 23)




Raja Daud yang menulis Mazmur 139 ini merupakan seorang raja yang diurapi oleh Tuhan sendiri menggantikan Saul. Pengurapan Daud menjadi raja merupakan pemilihan Tuhan sendiri, karena Ia mendapati kemurnian hati Daud. Ketika hendak mengurapi seorang raja menggantikan Saul, Tuhan memberikan petunjuk kepada nabi Samuel, “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” (1Sam. 16:7) Dari hati yang cinta akan-Nya, akhirnya Daud yang terpilih, meskipun di mata dunia, Daud justru tidak terpandang. Di sini, kita melihat Tuhan lebih melihat hati ketimbang hal-hal yang lahiriah. Di dalam Perjanjian Baru, Kristus sendiri berkata kepada orang Farisi dan hamba-hamba uang, “Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah.” (Luk. 16:15) Di sini, sangat jelas dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru, Alkitab secara konsisten mengajar kita bahwa Allah sangat melihat hati kita yang terdalam.

Kemurnian hati Daud inilah yang mengakibatkan ia bisa menuliskan Mazmur 139 ini yang meminta Allah sendiri yang mengenal dirinya menyelidiki dan mengenal hatinya serta kemudian di Mazmur 139:24, ia meminta Tuhan melihat apakah jalannya selama ini serong sekaligus memimpinnya kepada jalan-Nya yang kekal. Dengan kata lain, kemurnian hati Daud mengakibatkan ia menjadi seorang yang rendah hati.

Apa itu rendah hati? Apa bedanya dengan rendah diri? Rendah diri alias minder berarti terus-menerus menjelek-jelekkan diri, sedangkan rendah hati berarti membuka hati kita untuk terus-menerus belajar dan ditegur. Menurut Pdt. Dr. Stephen Tong, rendah hati BUKAN selalu mengatakan YA sambil senyum (bahasa Jawa: enggih-isme). YA, rendah hati bukan sikap lahiriah, tetapi lebih merupakan sikap batin/hati yang terdalam. Sebegitu signifikannya sikap rendah hati, sehingga salah satu apologet Kristen ternama abad ini, Dr. Ravi Zacharias dalam bukunya Sang Penenun Agung pernah berkata, “Kerendahan hati adalah batu pijak bagi melayani Tuhan.” (hlm. 69) Seorang pelayan Tuhan yang tidak memiliki kerendahan hati akan menjadi pelayan Tuhan yang arogan dan merasa diri paling benar sehingga sulit ditegur. Kerendahan hati bukan hanya perlu dimiliki seorang pelayan Tuhan, tetapi juga semua orang Kristen yang mengaku percaya kepada Kristus. Lalu, dari manakah kerendahan hati itu bersumber? Penulis buku laris, Desiring God, Rev. John S. Piper, D.Theol. dalam bukunya Memerangi Ketidakpercayaan berujar, “Kerendahan hati hanya bisa bertahan di dalam hadirat Allah. Ketika Allah berlalu, kerendahan hati berlalu… kerendahan hati mengikuti Allah bagaikan suatu bayangan.” (hlm. 39) Ya, kerendahan hati berasal dari Allah dan orang yang rendah hati adalah orang yang memusatkan iman dan kehidupannya hanya pada Allah SAJA.

Seorang yang memusatkan iman dan kehidupannya hanya pada Allah SAJA berarti orang yang sadar bahwa dirinya adalah manusia berdosa yang memerlukan Allah sebagai Pusat hidupnya. Kesadaran ini disusul dengan kerinduannya yang mendalam untuk menempatkan Allah dan firman-Nya berotoritas dalam kehidupannya. Tentu saja, orang ini bukanlah orang yang keras kepala yang ngotot dengan pandangannya sendiri, sebaliknya ia berkata dan bersikap seperti apa yang Daud minta, yaitu meminta Tuhan melihat apakah jalan hidup kita serong dan memimpin kita ke jalan-Nya yang kekal. Setelah Alkitab dijadikan patokan dasar iman dan kehidupannya, maka ia pun dengan rendah hati meminta saran, teguran, dan nasihat dari orang lain: orangtua, teman, saudara, pacar, suami/istri, dll. Namun perlu dicamkan: semua nasihat tersebut HARUS diuji terlebih dahulu oleh otoritas Alkitab. Jika nasihat tersebut lolos ujian, maka kita boleh menuruti nasihat itu, namun jika TIDAK, hargai nasihat tersebut, namun JANGAN menaatinya, karena menaati apa pun yang melawan apa yang Allah firmankan adalah DOSA!

Orang yang memberi nasihat, saran, dan teguran pun jika seorang Kristen yang sehat hendaklah memberi nasihat, saran, dan teguran yang Alkitabiah dan bijaksana, namun sampaikanlah dengan kasih dan tegas, namun TIDAK memaksa! Beberapa kali saya menemukan orang yang memberi saran selalu berkata manis, “Saya hanya menasihati, tidak memaksa”, namun ujung-ujungnya kalau orang yang tidak dinasihati itu tidak sependapat dan tidak menaati nasihatnya, orang itu dicap: bodoh, kurang ajar, dll. Aneh! Kalau memang orang itu tidak memaksa, kenapa dia marah kalau tegurannya tidak dituruti? Lalu, orang yang menegur orang lain pun SEHARUSNYA juga rendah hati belajar jika mungkin tegurannya itu salah dalam hal isinya atau kurang tepat waktunya atau kurang mengerti konteks/situasi orang lain (salah tafsir). Dengan kata lain, orang yang menegur dan ditegur sama-sama rendah hati mau mengerti satu sama lain, bukan merasa diri paling hebat, berjasa, dan pandai jika sudah menegur orang. Murnikan motivasi kita ketika mau menegur orang lain!

Dengan kata lain, menurut saya, kerendahan hati dalam iman Kristen meliputi dua hal: rela ditegur jika salah (pasif) dan rela/siap belajar mengerti orang lain (aktif)! Dan kedua hal ini bersumber dan berpusat pada Allah dan firman-Nya (Alkitab), sehingga kemuliaan hanya bagi nama Allah Trinitas selama-lamanya.

Bagaimana dengan kita? Sudah siap dan relakah kita rendah hati? Saya mengerti bahwa menjadi orang yang rendah hati itu sulit, tetapi biarlah Roh Kudus melembutkan hati kita untuk pertama-tama taat akan firman-Nya dan kemudian selektif menerima teguran dan saran dari orang lain sesuai dengan firman-Nya. Amin. Soli Deo Gloria.

06 November 2010

Resensi Buku-105: KEBENARAN YANG MEMERDEKAKAN (Prof. Wayne A. Grudem, Ph.D.)

...Dapatkan segera...
Buku
KEBENARAN YANG MEMERDEKAKAN:
Menjawab 20 Pertanyaan Mendasar Mengenai Iman Kristen


oleh:
Prof. Wayne A. Grudem, Ph.D.

Editor: Rev. Elliot Grudem, M.Div.

Penerbit: Metanoia, 2009

Penerjemah: Daniel Budiantoro





Deskripsi singkat dari Denny Teguh Sutandio:
Iman Kristen adalah iman yang berpusat kepada Allah dan kedaulatan-Nya. Mengerti iman Kristen harus mengerti apa yang Allah firmankan di dalam Alkitab. Lalu, sebagai orang Kristen, bagaimana kita dapat mengerti iman Kristen secara tuntas sesuai dengan Alkitab? Prof. Wayne A. Grudem, Ph.D. melalui bukunya Kebenaran yang Memerdekakan menguraikan 20 doktrin dasar iman Kristen ditinjau dari perspektif iman Kristen (theologi Reformed) yang bertanggungjawab. Ke-20 doktrin dasar tersebut menjelaskan Bibliologi (Doktrin Alkitab) sebagai dasar semua doktrin (atau disebut juga Prolegomena), Theologi (Doktrin Allah), Christian Antropologi (Doktrin Manusia), Hamartologi (Doktrin Dosa), Kristologi (Doktrin Kristus), Soteriologi (Doktrin Keselamatan), Ekklesiologi (Doktrin Gereja), dan Eskatologi (Doktrin Akhir Zaman). Uniknya, ke-20 doktrin dasar iman Kristen yang diuraikan Dr. Grudem ini begitu sederhana, karena buku ini merupakan ringkasan dari dua buku beliau yaitu Systematic Theology dan Bible Doctrine. Meskipun dalam beberapa konsep, saya kurang menyetujui pandangan Dr. Grudem, tetapi mayoritas pengajaran dalam buku ini patut diacungi jempol, karena mampu menyajikan perdebatan doktrinal di dalam theologi dengan bahasa yang mudah dimengerti. Di bagian Apendiks, beliau menyelipkan dua bab. Bab pertama berisi Pengakuan Iman Nicea, Konstantinopel, dan Calcedonia ditambah The Chicago Statement on Biblical Inerrancy. Kemudian di Bab 2, Dr. Grudem memasukkan referensi bacaan lanjutan mengenai theologi sistematis yang berisi buku-buku bacaan theologi sistematika yang ditulis oleh para theolog Injili (beliau khusus memasukkan dua buku dari orang Katolik di dalamnya sebagai bahan studi)





Rekomendasi:
“Ini benar-benar 20 ajaran dasar yang harus diketahui setiap orang Kristen. Wayne Grudem adalah pakar pengajar yang memiliki kemampuan menjelaskan kebenaran yang rumit dalam bahasa sederhana. Dia adalah orang dengan keyakinan yang dalam dan hasrat theologi – dan mereka yang membaca buku ini akan terdidik dan termotivasi dalam iman.”
Prof. R. Albert Mohler, Jr., Ph.D.
(Presiden kesembilan dan Profesor Theologi Kristen dari Southern Baptist Theological Seminary, Louisville, Kentucky, U.S.A. dan anggota dewan dari: Focus on the Family dari James Dobson dan Council on Biblical Manhood and Womanhood; Bachelor of Arts—B.A. dari Samford University; Master of Divinity—M.Div. dan Doctor of Philosophy—Ph.D. dalam bidang Theologi Sistematika dan Historika The Southern Baptist Theological Seminary)

“Didasarkan pada Systematic Theology, ringkasan ini akan sangat membantu pemula dengan Kristus untuk meneguhkan imannya.”
Prof. James Innell (J. I.) Packer, D.Phil.
(Board of Governors’ Professor of Theology di Regent College, Vancouver, Canada; B.A.; Master of Arts—M.A.; dan Doctor of Philosophy—D.Phil. dari Corpus Christi College, Oxford University, U.K.

“Meskipun buku ini adalah hasil pemadatan dari Systematic Theology karya Wayne A. Grudem, namun saya tidak kehilangan antusiasme akan kebenaran yang dicintainya dan kejelasan kata-katanya.”
Rev. John Stephen Piper, D.Theol.
(Pendeta Pengkhotbah dan Visi di Betlehem Baptist Church, Minneapolis, Minnesota, U.S.A. dan Pendiri sekaligus Presiden dari Desiring God Ministries {website: www.desiringgod.org}; B.A. dari Wheaton College, U.S.A.; Bachelor of Divinity—B.D. dari Fuller Theological Seminary, Pasadena, California, U.S.A.; dan Doctor of Theologie—D.Theol. dari University of Munich, Munich, Jerman Barat)





Profil Dr. Wayne A. Grudem dan Rev. Elliot Grudem:
Prof. Wayne A. Grudem, B.A., M.Div., Ph.D. adalah Research Professor bidang Theologi dan Studi Biblika di Phoenix Seminary, Phoenix, Arizona. Beliau menyelesaikan studi B.A. di Harvard University; M.Div. di Westminster Theological Seminary, U.S.A.; dan Ph.D. di University of Cambridge, U.K.

Rev. Elliot Grudem, B.A., M.Div. yang adalah anak kandung dari Prof. Wayne A. Grudem, Ph.D. adalah gembala dari Christ the King Presbyterian Church sejak Musim Panas 2005. Beliau juga adalah editor dari Christian Beliefs: Twenty Basics Every Christian Should Know (buku yang ditulis oleh ayahnya ini). Beliau menyelesaikan studi B.A. dalam bidang Sejarah dan Bahasa Inggris di Miami Univeristy dan M.Div. di Reformed Theological Seminary, U.S.A. Beliau ditahbiskan sebagai pendeta di the Presbyterian Church in America dan anggota dari Acts 29 Network.

KRISTEN MISTIK: Tinjauan Kritis dan Tantangan (Denny Teguh Sutandio)

KRISTEN MISTIK:
Tinjauan Kritis dan Tantangan


oleh: Denny Teguh Sutandio



PENDAHULUAN
Di abad modernisme, khususnya abad Pencerahan, manusia lebih menekankan fungsi rasio, sehingga apa pun yang tidak sesuai dengan rasio dianggap bukan kebenaran sejati. Matinya modernisme ditandai dengan Perang Dunia 1 dan 2. Namun sayangnya, matinya modernisme TIDAK menyadarkan manusia kembali kepada Tuhan, malahan justru tambah parah. Setelah meninggalkan modernisme, manusia sekarang masuk ke dalam zaman postmodern. Di zaman ini, ide postmodernisme muncul. Di satu sisi, ide ini mengandung sisi positifnya yaitu menyadari bahwa rasio bukan segala-galanya dan mengembangkan kemampuan manusia yang bukan hanya sisi kognitif saja (selain IQ, saat ini kita mengenal istilah: EQ, SQ, dll), namun di sisi lain, ide ini juga mengandung sisi negatif, yaitu kaburnya batasan yang jelas (Pdt. Joshua Lie, Ph.D. {Cand.} menyebutnya: borderless). Postmodernisme kemudian saat ini disisipi dengan sebuah gerakan yang kerap kali disebut: Gerakan Zaman Baru (New Age Movement) yang merupakan sebuah perkawinan antara filsafat Barat (rasionalisme dan empirisisme) dan filsafat Timur ditambah Monisme (percaya bahwa segala sesuatu itu satu atau dengan bahasa agama, segala sesuatu menuju “tuhan” yang sama) dan Pantheisme (percaya bahwa segala sesuatu itu adalah “allah”). Kalau kita telusuri, ide Gerakan Zaman Baru (GZB) sebenarnya mirip dengan ide dalam Buddhisme dan Taoisme yang menekankan pentingnya persatuan dengan alam.




KRISTEN MISTIK: PENGARUH GERAKAN ZAMAN BARU
Sebagai sebuah gerakan yang muncul kira-kira 40-50 tahun yang lalu, GZB telah merembes ke dalam segala bidang kehidupan manusia, mulai dari kesehatan, pendidikan, sains, bahkan agama, khususnya Kekristenan. Reiki, Kundalini, Yoga, dll digemari oleh banyak orang, bahkan tidak terkecuali orang “Kristen”. Bahkan menurut pengakuan salah seorang Kristen yang pernah mencoba Reiki dan Kundalini, pemimpin gereja baik dari Protestan maupun Katolik mencoba Reiki dan Kundalini. Meskipun GZB merupakan perkawinan antara filsafat Barat dan Timur, namun kalau kita memperhatikan dengan teliti, unsur filsafat Timur yang lebih menonjol. Oleh karena itu, saya menyebut zaman ini sebagai zaman mistik. Bahkan Kekristenan pun secara sadar atau tidak sadar telah diracuni oleh mistisisme ala GZB. Ciri-cirinya:
Pertama, mengaburkan antara Allah dan manusia. Kekristenan sejati sesuai dengan Alkitab mengajarkan bahwa meskipun menyandang gambar dan rupa-Nya, manusia dan Allah TETAP berbeda secara kualitatif. Namun karena diracuni oleh GZB, maka beberapa Kristen mulai menganut konsep bahwa Allah dan manusia itu satu adanya. Misalnya, ada yang mengatakan bahwa karena kita ada di dalam Kristus dan Kristus di dalam kita, maka apa yang kita katakan itu yang Kristus katakan. Bahkan yang lebih ekstrem lagi, ada seorang pendeta yang berani mengatakan bahwa kita adalah allah-allah kecil (little gods). Sebuah kekonyolan terjadi, jika Allah dan manusia itu sama, mengapa di gereja si pendeta tersebut, si pendeta dan jemaatnya masih berdoa kepada Allah, dll? Bukankah logisnya, mereka menyuruh jemaatnya untuk berdoa kepada diri mereka sendiri yang adalah “Allah”?


Kedua, mementingkan kuasa kata-kata. Karena manusia dianggap sebagai allah-allah kecil, maka tidak heran, banyak Kristen bahkan pemimpin gereja berani mengajarkan bahwa kata-kata orang Kristen memiliki kuasa untuk mendatangkan berkat atau kutuk, oleh karena itu, selalu katakan kata-kata positif. Jadi, ketika ada orang yang sakit kanker, para penganut berpikir positif ini menyuruh orang yang sakit tersebut berkata, “Saya tidak pernah dan tidak boleh sakit.” Namun apakah setelah mengatakan hal tersebut, pengidap kanker tersebut menjadi sembuh? Dalam beberapa hal, sebagai orang Kristen, memang adalah bijak jika kita lebih banyak berkata-kata positif untuk menegur dan membangun orang dan mengurangi kata-kata negatif, karena kata-kata negatif kebanyakan melemahkan semangat orang (namun TIDAK berarti TIDAK boleh berkata-kata negatif), namun ketika kita terlalu menekankan mutlaknya kata-kata positif dan menghilangkan sama sekali kata-kata negatif, bagi saya itu terlalu naif! Coba buktikan: jika Anda pergi ke dokter untuk berobat, kemudian dokter mengatakan bahwa Anda sakit malaria atau TBC, lalu Anda mengatakan, “JANGAN dokter, dokter gak boleh bilang gitu. Bilang dong, saya sehat!” Setelah Anda berkata demikian, saya jamin, si dokter akan menelpon petugas rumah sakit jiwa untuk membawa Anda untuk segera direhabilitasi, wkwkwk.


Ketiga, larisnya roh-roh lain. Karena berfokus pada persatuan dengan alam, maka beberapa (banyak) orang Kristen dan pemimpin gereja mengalihkan perhatiannya pada dunia roh. Rev. Prof. Cornelius Van Til, Ph.D. di dalam bukunya Pengantar Theologi Sistematik mengatakan bahwa sebuah khotbah yang berpusat pada Allah menghindarkan jemaatnya dari: keduniawian (worldliness) dan kedunia-lainan (other-worldliness). Namun karena banyak khotbah hari ini tidak berpusat pada Allah, maka tidak heran, terciptalah suatu generasi “Kristen” yang maniak dengan dunia roh. Hari-hari ini, buku yang bertemakan dunia roh, dunia santet, dll laris di kalangan Kristen dan penulis bukunya ramai diundang di gereja. Bahkan seorang teman saya “Kristen” dan tentunya bersama dengan beberapa orang Kristen yang berasal dari gereja yang suka dengan dunia roh mengatakan bahwa beberapa orang Kristen diberi karunia untuk melihat setan. Saya terkaget-kaget, di Alkitab TIDAK ada satu orang pun yang diberi karunia dari Tuhan untuk melihat setan! Anehnya, koq melihat setan bisa bangga ya, apa motivasi orang yang bisa melihat setan? Kemudian, setelah melihat setan, mau diapain? Mau ditengkingin satu per satu? Tugas orang Kristen dan pemimpin gereja seharusnya memberitakan Injil dan mengajar iman Kristen, sekarang berubah menjadi gemar menengking setan (ada setan mati lampu, setan air mampet, dll). Saya TIDAK anti dengan pengusiran setan, namun saya paling tidak suka mengatakan apa-apa sebagai setan. Guci tua yang ada gambar naganya dianggap setan, tetapi herannya salah satu mata uang negara tertentu yang ada gambar naganya, mengapa uang tersebut tidak dibakar? Di Alkitab, ada tulisan naga di kitab Wahyu, apakah kitab Wahyu perlu dibakar juga? Gara-gara sibuk dengan urusan setan dan kroni-kroninya, Kekristenan mulai dialihkan oleh setan sendiri dari mimbar yang seharusnya memberitakan firman menjadi mimbar yang suka membuka kedok setan, sehingga jemaat bukan makin mengerti firman, tetapi makin mengerti dan mendalami setan.


Keempat, larisnya para pelayan roh-roh lain. Karena roh-roh lain juga laris, maka tidak heran para pelayan roh-roh tersebut juga laris. Beberapa orang Kristen merasa TIDAK bersalah apa-apa tatkala mereka mendatangi peramal nasib atau dukun untuk meminta petunjuk entah itu petunjuk agar kariernya lancar atau enteng jodoh, dll. Bagaimana tidak, seorang tacik yang melayani dalam tim pembesukan jemaat di salah satu gereja Injili di Surabaya mendatangi seorang peramal! Mereka tidak menyadari bahwa peramal lebih tidak bisa diandalkan ketimbang Allah. Mari buktikan: peramal tetap adalah manusia yang terbatas dan berdosa, apakah ia bisa meramal sampai 10 bahkan 100 tahun kemudian? Kata seorang rekan saya, ada seorang peramal perempuan yang kerap kali masuk televisi hanya bisa meramal sampai tahun 2012, kenapa hanya bisa sampai 2012? Apa setelah dia melihat film 2012? Aneh-aneh ae, hahaha. Kedua, biasanya isi ramalan itu merupakan isi yang umum. (alm.) Pdt. Ir. Amin Tjung, M.Th. pernah mengatakan bahwa ada seorang yang mau buka perusahaan datang ke peramal, si peramal menasihati bahwa ia harus hati-hati. Gak usah pergi ke peramal pun, orang lain juga bisa menasehati hal yang sama, cape dech… Ketiga, apakah si peramal itu sendiri bisa meramal kehidupannya yang akan datang? Jika tidak bisa, ngapain ngeramal orang lain?


Kelima, larisnya sarana yang dipakai oleh roh-roh lain. Selain para pelayan roh-roh lain, roh-roh lain juga menggunakan sarana-sarana tertentu yang disakralkan. Banyak orang Kristen hari-hari ini mensakralkan barang-barang tertentu atau tempat tertentu, misalnya: berdoa lebih afdhol kalau di bukit doa, mutlaknya minyak urapan sebagai sarana kesembuhan, dll. Berdoa di bukit doa tidaklah salah, namun jika sudah memutlakkannya lalu mengajar bahwa jika berdoa di bukit doa maka pasti dikabulkan Tuhan itu sudah memberhalakan tempat dan jangan salahkan jika iblis gemar tinggal di sana. Di Alkitab Perjanjian Baru, tidak ada satu ayat pun yang mengajar minyak urapan sebagai media kesembuhan. Ada pendeta yang menafsirkan kata “minyak” di Yakobus 5:14 sebagai minyak urapan. Minyak di situ artinya minyak sebagai obat dan di seluruh Injil, Kristus TIDAK pernah satu kali pun menggunakan minyak sebagai sarana menyembuhkan orang sakit. Nah, yang aneh, pendeta yang kerap kali gembar-gembor minum kopi dan sarapan sama Tuhan Yesus, koq bisa gak sehati ama Tuhan Yesus: Kristus TIDAK pernah menggunakan minyak urapan, koq si pendeta malah memberhalakan minyak urapan? Yang error itu sebenarnya siapa toh? HeheheJ

Sarana lain yang dipakai roh-roh lain adalah tradisi mistik Timur. Kalau kita melihat di Tiongkok, orang-orang Tionghoa percaya dengan shio. Shio ini sebenarnya merupakan tanda supaya orang bisa mengetahui dia lahir pada tahun apa dan usianya sekarang berapa. Namun dalam perkembangannya, shio disisipi muatan mistik dengan mengatakan bahwa orang yang shionya babi itu penidur, perempuan yang shionya macan itu tidak laku (karena keras), bahkan ada yang membanggakan diri bahwa orang yang shionya kambing itu perhatian, mengerti, lemah lembut, dll (maklum gak ada yang muji dia), hahaha. Ada juga yang mengajar bahwa orang yang shio X jiong dengan orang yang shionya Y. Tetapi begitu ditunjukkan fakta bahwa ada seorang pendeta yang bershio babi namun bukan penidur, orang yang memuja shio ini mengatakan bahwa itu mungkin babi air atau babi tanah. Hahaha. Yang lebih ekstrem, seorang pendeta supaya kelihatan “rohani” mengatakan bahwa shionya shio Yesus (bukan rohani, tetapi justru menghina Yesus dengan menyamakan-Nya dengan binatang). Di dalam tradisi Indonesia juga kita sering mendengar bahwa jangan berdiri di depan pintu saat maghrib, jangan buang air kecil di bawah pohon besar (lha ya jelas, pesing toh, wkwkwk), dll. Semuanya ini juga masih dipercaya dan dilakukan oleh beberapa orang Kristen.




IMAN KRISTEN DAN MISTIK
Apakah berarti iman Kristen tidak mengandung unsur mistik? Tentu ada, tetapi yang disoroti di sini, iman Kristen bukan iman mistik yang buta, tetapi iman “mistik” yang obyektif dan ada dasarnya. Di dalam ajaran Alkitab yang dikembangkan oleh seorang theolog, kita mengenal doktrin persatuan mistis orang percaya dengan Kristus (mystical union with Christ). Kita juga mengenal beberapa tokoh mistik Kristen, misalnya: Bernard of Clairvaux dan Thomas à Kempis yang terkenal dengan bukunya The Imitation of Christ. Mereka berdua mengajarkan iman Kristen secara mistis, namun mistik versi mereka berdasarkan Alkitab, karena mengajarkan doa, kontemplasi/meditasi (merenungkan firman Tuhan, bukan mengosongkan pikiran), dll. Mistisisme Kristen yang Alkitabiah ini seharusnya menyadarkan kita pentingnya kesalehan (pietas) hidup kita. Saya terus terang takut dan kuatir dengan beberapa orang Kristen yang terlalu gemar berkutat di dalam hal-hal theologi, mereka kebanyakan menjadi kering dalam hal kerohanian: malas saat teduh, berdoa, rendah hati bersekutu dengan sesama saudara seiman, dll, sebaliknya mereka menjadi arogan, gemar mengkritik sini sana dan ahli dalam berdebat. Namun ingatlah mistik versi Kristen yang sesuai dengan Alkitab BERBEDA dari mistisisme ala GZB yang anti hal-hal rasional dan cenderung subyektif (meskipun beberapa istilah yang dipakai antara versi Alkitab dan versi GZB hampir sama).

Dunia yang dipenuhi oleh semangat mistisisme ala GZB TIDAK seharusnya membuat orang Kristen menjadi ikut-ikutan! Sebagai pengikut Kristus, kita diperintahkan untuk diubah pola pikir kita untuk mengerti kehendak Allah (Rm. 12:2) dengan cara berfokus kepada Kristus (Kol. 2:8). Hidup Kristen yang berfokus kepada Kristus berarti hidup yang men-Tuhan-kan Kristus dan tunduk di bawah otoritas Alkitab. Tunduk di bawah otoritas Alkitab berarti diawali dengan belajar Alkitab baik-baik dan bertanggung jawab, lalu menguji segala sesuatu di dunia ini dengan dasar Alkitab (1Tes. 5:21).

Bagaimana dengan kita? Masihkah kita sebagai orang Kristen percaya pada tradisi dan ajaran-ajaran yang tidak bertanggung jawab yang melawan Alkitab? Saatnya kembali kepada Alkitab dan fokuskan iman dan hidup kita kepada Kristus, Kakak Sulung kita. Ujilah tradisi, ajaran, dan filsafat dunia dengan Alkitab: terimalah yang positif dan buanglah yang negatif (melawan Alkitab). Amin. Soli Deo Gloria.

03 November 2010

EKSPOSISI 1 KORINTUS 9:15-18 (1) (Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.)

EKSPOSISI 1 KORINTUS 9:15-18 (1)

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.



Nats: 1 Korintus 9:15-18 (1)



Ketika kita membaca bagian ini kita mungkin sedikit bingung. Kalau Paulus memang tidak mau menggunakan hak yang seharusnya ia terima sebagai rasul (9:15-18, juga 9:12b), mengapa ia perlu bersusah payah menjelaskan hak-hak para rasul (9:4-6) dan argumen-argumen (9:7-14) yang melandasi hak tersebut? Semua ini harus dipahami dalam konteks relasi antara Paulus dan jemaat Korintus yang unik (4:15; 9:1-2) sekaligus kurang harmonis (4:3-5). Kerasulan Paulus sempat diragukan oleh sebagian jemaat. Hal ini berkaitan dengan khotbah Paulus yang dianggap kebodohan (1:18-21) dan cara berkhotbah yang tidak sesuai dengan hikmat maupun retorika Yunani waktu itu (2:1-5). Situasi bertambah parah kala Paulus memutuskan untuk tidak mau menerima tunjangan dari jemaat Korintus. Sebaliknya, ia lebih memilih bekerja keras membuat tenda; sebuah pekerjaan yang dianggap hina pada waktu itu (4:12).

Dengan menegaskan status kerasulannya (9:1-3), hak-hak para rasul (9:4-6), maupun alasan-alasan di balik hak tersebut (9:7-14) Paulus ingin mengoreksi konsep pikir jemaat Korintus yang keliru. Ia tidak mau menerima tunjangan buka karena ia tidak berhak atau karena ia bukanlah seorang rasul. Keputusan untuk tidak mau menerima tunjangan lebih didasarkan pada pertimbangan efektivitas Injil (9:12b, 15-18), bukan ketidaklayakan Paulus untuk mendapatkan hak tersebut.

Pasal 9:15-18 merupakan elaborasi yang lebih detail dari apa yang sudah disinggung secara sekilas di ayat 12b. Bagian ini diawali dengan pernyataan bahwa Paulus tidak mau menggunakan satu pun dari hak itu (ay. 15a-b). Pernyataan ini selanjutnya diikuti serangkaian kalimat penjelasan yang diawali dengan kata sambung “karena” (gar, ay. 15c, 16a, 16b, 16c, 17a). Sesudah rangkaian kalimat ini Paulus menutup dengan penjelasan tentang upah yang sesungguhnya, yaitu memberitakan Injil tanpa upah (ay. 18).


Paulus Tidak Mau Menggunakan Hak (ay. 15a-b)
Pernyataan Paulus di sini mengandung penekanan. Ia menambahkan kata ganti “aku” (egō) sekaligus meletakkannya di awal kalimat (ay. 15a). Penekanan pada kata “aku” di sini dimaksudkan untuk menunjukkan keunikan sikap Paulus. Ia tidak sedang mengecam atau merendahkan rasul-rasul lain yang mau menerima tunjangan hidup (mereka semua memang memiliki hak untuk itu), tetapi ia hanya menegaskan posisi dirinya dalam pelayanan, terutama dalam relasi dengan jemaat Korintus. Penekanan lain terletak pada pemakaian kata “satu pun” (oudeni) dan penggunaan tense perfect untuk kata “mempergunakan” (kechrēmai). Tense ini menyiratkan bahwa ketidakmauan untuk menerima tunjangan merupakan sikap Paulus dari dahulu sampai sekarang. Dengan kata lain, ini sudah menjadi gaya pelayanan Paulus. Pernyataan di atas sempat dipersoalkan oleh beberapa penafsir. Mereka menganggap Paulus terlalu melebih-lebihkan hal ini, karena dalam kenyataannya Paulus beberapa kali mau menerima tunjangan dari jemaat Filipi (Flp. 4:14-20; 2Kor. 11:8-9). Apakah Paulus benar-benar kurang jujur dalam hal ini? Sama sekali tidak!

Kita harus mengetahui bahwa dalam konteks 1 Korintus 9:1-18 Paulus sedang membicarakan tentang tunjangan tetap sebagai pemberita Injil/rasul. Di manapun seorang rasul melayani, jemaat setempat berkewajiban untuk melayani kebutuhan hidup dan pelayanan rasul itu. Hal ini jelas berbeda dengan pemberian yang diberikan oleh jemaat FIlipi. Mereka tidak memberikan tunjangan secara periodik dan tetap (Flp. 4:10, 15-16). Pemberian ini bersifat sukarela dan insidentil. Bagian Alkitab yang lain menunjukkan bahwa bekerja keras untuk memnuhi kebutuhan hidup dan pelayanan sudah menjadi kebiasaan Paulus (1Tes. 2:9; 2Tes 3:8; 1Kor. 4:12; Kis. 18:3).

Setelah menandaskan bahwa ia tidak mau menggunakan hak sebagai rasul (ay. 15a), Paulus segera menambahkan kalimat “Aku tidak menulis semuanya ini, supaya akupun diperlakukan juga demikian” (ay. 15b). Kalimat ini perlu ditambahkan supaya tidak ada kesan (kesalahpahaman) bahwa Paulus sedang menyindir jemaat Korintus. Ini menunjukkan kepekaan Paulus dalam pelayaan pastoral, khususnya dalam hal materi. Sikap seperti ini juga tercermin dalam suratnya yang lain. Ketika ia menerima pemberian kasih dari jemaat Filipi melalui Epafroditus (Flp. 2:25), Paulus bersyukur atas kesempatan yang dimiliki oleh jemaat Filipi untuk mengambil bagian dalam pelayanan Paulus (Flp. 4:10, 14-16). Tidak lupa ia menegaskan bahwa ucapan syukur ini bukan dimaksudkan sebagai sindiran agar jemat Filipi lebih sering memberikan dukungan materi (Flp. 4:11).

Di samping menunjukkan kepekaan Paulus dala pelayanan pastoral, pernyataan tersebut juga menyiratkan konsistensi sikap. Ia menolak pemberian tunjangan dari jemaat Korintus bukan hanya pada saat ia melayani di sana. Ketika ia menulis surat ini pun Paulus tetap tidak mau mengharapkan hal itu. Ia bahkan mengambil sikap yang sama di tempat-tempat lain. Konsistensi seperti ini jelas tidak mudah, karena kadangkala Paulus benar-benar berada dalam keadaan yang mengenaskan dan memerlukan bantuan dari orang lain (2Kor. 4:23-28).

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menemukan orang yang baik tetapi ia gagal mempertahankan sikap itu dalam segala situasi. Benarlah apa yang dikatakan penulis amsal bahwa menemukan orang setia jauh lebih sulit daripada menemukan orang baik (Ams. 20:6).


Karena Lebih Baik Mati daripada Injil Terhalang (ay. 15c-d)
Bagian ini dimulai dengan kata sambung gar (“karena”) yang menyiratkan bahwa bagian ini merupakan penjelasan atau alasan bagi sikap di ayat 15a-b. Mengapa Paulus tidak mau menggunakan hak sebagai rasul maupun tidak mau dianggap sedang menyindir jemaat Korintus? Karena ia lebih suka mati daripada...... (LAI:TB, ay. 15c).

Terjemahan LAI:TB “lebih suka” sedikit kurang tepat. Terjemahan ini bisa menyiratkan kesan bahwa sikap di ayat 15c hanyalah masalah perasaan Paulus semata-mata. Walaupun beberapa versi juga mengadopsi terjemahan ini (RSV/NIV/ESV), tetapi terjemahan “lebih baik” (KJV/NASB/NET) sebaiknya dipertahankan. Teks Yunani dalam bagian ini memakai kata kalon mallon (“lebih baik”). Jika arti harfiah ini dipertahankan maka akan menyiratkan bahwa sikap yang diambil Paulus bukan hanya secara subyektif lebih disukai Paulus, namun secara obyektif memang lebih baik. Ini bukan tentang kenyamanan perasaan Paulus, tetapi tentang kebenaran yang obyektif.

Dalam teks Yunani kalimat Paulus memang tidak sempat diteruskan sampai engkap (LAI:TB mencoba mempertahankan terjemahan harfiah dengan cara memberi tanda titik panjang setelah kata “daripada”). Gaya penulisan seperti ini disebut dengan istilah aposiopes, yang biasa dipakai pada saat seseorang dikuasai oleh perasaannya dengan begitu kuat sehingga ia tidak berkuasa meneruskan kalimat yang ia sudah ucapkan/teruskan. Hal yang sama dapat kita jumpai dalam tulisan Paulus yang lain (Gal. 2:6). Gaya ini memberitahu kita bahwa Paulus menuliskan ayat 15c dengan penuh perasaan, walaupun ini bukan hanya masalah perasaan pribadi Paulus. Dengan kata lain, perasaannya sedang dikuasai oleh sebuah kebenaran penting tentang Injil.

Bagaimana kita sebaiknya menebak kelanjutan dari kalimat Paulus? Beberapa versi memilih untuk tidak berspekulasi (NRSV/NET). Beberapa menganggap ayat 15d sebagai kelanjutan (Paulus lebih baik mati daripada seseorang meniadakan kemegahannya, lihat KJV/RSV/NIV/ESV). Pilihan pertama tidak terlalu banyak membantu. Pilihan kedua ini sebaiknya ditolak, karena secara tata bahasa ayat 15d memang bukan kelanjutan dari ayat 15c. Ayat 15c merupakan kalimat tersendiri yang tidak lengkap. Berdasarkan konteks yang ada, Paulus kemungkinan besar ingin mengatakan bahwa lebih baik baginya mati daripada menerima upah tetapi Injil terhalang (ay. 12b). Dengan kata lain, Paulus lebih memilih mati daripada injilnya yang mati. Ini merupakan ungkapan dari seseorang yang menyadari bahwa hidupnya adalah untuk Injil. Injil adalah lebih penting daripada kehidupan pemberita Injil itu sendiri. Tidak heran dalam sejarah misi dunia, Allah dalam kedaulatan-Nya membiarkan para pemberita Injil mati syahid, tetapi Ia tidak pernah membiarkan Injil-Nya mati (tidak diberitakan).

Di ayat 15d Paulus menambahkan bahwa ia tidak mau seorang pun meniadakan kemegahannya. Konsep tentang “bermegah” dalam Alkitab bisa bermakna positif maupun negatif. Sebelumnya Paulus sudah menyinggung tentang dua makna ini dalam konteks yang sama (1:29, 31). Apa yang dimaksud dengan kemegahan di ayat 15d ini? Paulus jelas tidak sedang membanggakan diri di atas para rasul yang mau menerima tunjangan dari jemaat. Para rasul memang berhak atas hal tersebut. Lagipula, Paulus tidak pernah membanggakan kelebihan dirinya. Ia sebaliknya selalu membanggakan Allah atau kelemahan dirinya yang justru menunjukkan kekuatan Allah. Ia bermegah dalam kelemahan (2Kor. 12:9-10). Dalam konteks 1 Korintus 9 ia sedang membanggakan kehinaannya sebagai pekerja kasar (4:11-13).

Pekerjaan ini memang hina, tetapi Paulus justru bermegah di atas kehinaan, karena semua itu untuk kemajuan Injil. Kemegahan di atas kelemahan dan kehinaan jelas sangat kontras dengan prinsip dunia yang mengagung-agungkan kelebihan dan kehormatan. Paulus tidak mau kemegahan tersebut ditiadakan. Kata Yunani “ditiadakan” (kenōsei, dari kata dasar kenoo) sebenarnya lebih bermakna “dikosongkan”. Hampir semua versi memilih terjemahan “dihilangkan” atau “dicabut”. Melalui pemilihan kata “dikosongkan” Paulus ingin menegaskan bahwa ia tidak ingin terlihat hebat di luar tetapi di dalamnya tidak ada isi sama sekali. Ia tidak mau terlihat bersusah-payah bagi Injil tetapi dengan motivasi yang keliru. Ia melakukan pekerjaan berat bukan supaya terlihat menderita dan akhirnya dibantu banyak orang. Ia tidak perlu menyimpan otivasi terselubung semacam itu karena ia sudah menikmati kemegahan di dalam penderitaan dan kehinaan tersebut.


Karena Dalam Pemberitaan Injil Tidak Ada Dasar Untuk Bermegah (ay. 16-17)
Bagian ini merupakan penjelasan terhadap ayat 15d. Ia tidak ingin disalahpahami oleh orang lain, seolah-olah ia sedang menyombongkan diri. Dalam taraf tertentu Paulus memang memiliki kemegahan (ay. 15d), tetapi bukan dalam arti mutlak (ay. 16a). Jika ia melakukan pemberitaan Injil secara terus-menerus (bdk. tense present pada kata euangelizomai), hal itu bukanlah sesuatu yang perlu dibanggakan. Apa maksud Paulus di sini? Apakah ayat 16a berkontradiksi dengan ayat 15d?

Pertanyaan ini hanya bisa dijawab dengan baik apabila kita mengetahui perbedaan dasar kemegahan yang sedang dibicarakan oleh Paulus. Di ayat 15d ia menyinggung tentang pekerjaannya yang hina sebagai pembuat tenda. Kehinaan yang harus dipikul ketika melayani Tuhan merupakan kehormatan bagi seorang pelayanan Tuhan. Paulus bermegah atas hal ini. Di sisi lain, konsistensi Paulus dalam memberitakan Injil tidak boleh dilebih-lebihkan seolah-olah hal ini merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa atau seolah-olah Paulus sendiri memang mengambil inisiatif untuk melakukan itu. Tidak ada yang istimewa dari apa yang dilakukan Paulus. Mengapa demikian?

Alasan pertama berkaitan dengan keharusan dalam memberitakan Injil (ay. 16b “ini merupakan keharusan bagiku”). Secara harfiah frase ini berarti “keharusan yang diletakkan di pundakku”. Bentuk pasif yang tidak disertai subyek seperti dalam kasus ini secara tata bahasa disebut pasif ilahi (divine passive), yang menyiratkan bahwa Allah sebagai subyek (NLT “I am compelled by God”). Paulus sangat mungkin sedang memikirkan pilihan ilahi dalam hidupnya sejak ia berada dalam kandungan (Gal. 1:15-16) atau panggilan Tuhan yang tidak terelakkan pada waktu ia bertobat (Kis. 26:14; dalam NLT ungkapan “sukar bagimu menendang ke galah rangsang” diterjemahkan “it is useless for you to fight against my will”). Jika pemberitaan Injil merupakan keharusan yang sudah ditetapkan Allah, maka Paulus tidak memilki alasan untuk bermegah. Ia hanya melakukan apa yang harus ia lakukan. Ia tidak memiliki motivasi lain di luar penetapan ilahi ini. Jadi, ini bukan masalah perasaan pribadi (Paulus memangs edang bepergian ke mana saja) maupun kepentingan pribadi (Paulus ingin mendapatkan sesuatu untuk dirinya dari pemberitaan Injil).

Keharusan untuk memberitakan Injil ini berbeda dengan keharusan untuk menerima tunjangan dari pemberitaan tersebut. Dari sisi pemberita Injil tunjangan adalah hak (bukan keharusan), walaupun dari sisi penerima Injil ini merupakan kewajiban. Sebagai sebuah hak (sekalipun sah) tunjangan hidup dapat dikesampingkan untuk mencapai sesuatu yang lebih baik (supaya Injil tidak terhalang). Kelonggaran memang ada dalam taraf tunjangan pemberita Injil, tetapi dalam hal pemberitaan tidak ada kelonggaran sama sekali. Kita memang bebas untuk tidak menerima dukungan materi dari pemberitaan Injil, tetapi kita tidak bebas untuk tidak memberitakan Injil (we are free not to accept support, yet we are not free not to preach the gospel). Dengan kata lain, tugas tidak boleh ditolak, upah dari tugas tersebut bisa ditolak....... (bersambung) #




Sumber:
Mimbar GKRI Exodus, 28 Maret 2010
http://www.gkri-exodus.org/image-upload/SER-1Korintus%2009%20ayat%2015-18%20%281%29.pdf

31 October 2010

HIDUP OLEH DAN DI DALAM ANUGERAH ALLAH (Denny Teguh Sutandio)

HIDUP OLEH DAN DI DALAM ANUGERAH ALLAH

oleh: Denny Teguh Sutandio



“Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.”
(1Kor. 15:10)



Salah satu semboyan penting Reformasi Gereja dari Dr. Martin Luther adalah sola gratia (hanya oleh anugerah Allah). Memang dalam konteksnya, Dr. Luther mengaitkan anugerah Allah ini dengan keselamatan di dalam Kristus, namun saya sangat percaya bahwa anugerah Allah sebenarnya bukan hanya berkaitan dengan keselamatan di dalam Kristus, namun di dalam seluruh aspek kehidupan Kristen. Dengan kata lain, hidup orang Kristen seharusnya merupakan hidup oleh dan di dalam anugerah Allah. Kata anugerah berarti suatu pemberian kepada orang yang tak layak menerimanya. Anugerah Allah di sini mencakup baik anugerah umum (common grace) dan anugerah khusus (saving grace) dari Allah, namun di dalam Kristus, kita mengkhususkan pada anugerah khusus. Jika demikian, apa yang dimaksud dengan hidup oleh dan di dalam anugerah Allah?


Hidup oleh anugerah Allah berarti:
Pertama, hidup yang berpusat pada anugerah Allah. Ini berarti dalam setiap inci kehidupan kita, baik dalam sekolah, kuliah, pekerjaan, jodoh, keluarga, dll, kita mengakui bahwa Allah saja yang berperan serta di dalamnya. Mengakui anugerah Allah identik dengan mengakui Allah berperan serta di dalamnya yang juga berarti mengakui bahwa Ia adalah Raja sekaligus Sahabat kita yang terbaik yang memelihara setiap inci kehidupan kita. Tanpa anugerah dan pemeliharaan-Nya, kita tidak mungkin seperti sekarang ini (bdk. pengakuan Paulus di dalam 1Kor. 15:10 di atas).

Kedua, tidak merasa diri hebat. Seperti dua sisi mata uang yang saling berkaitan, maka hidup oleh anugerah Allah di sisi lain juga berarti sebagai umat-Nya, kita tidak perlu merasa diri hebat. Terlalu banyak orang Kristen yang secara mulut mengakui anugerah Allah, namun secara hati dan kelakuan, mereka masih menyombongkan diri dan menganggap bahwa tanpa dirinya, orang lain akan merasa rugi bahkan tidak bisa hidup, dll (biasanya ini terjadi pada orang yang berusia tua atau sudah mengenyam pendidikan tinggi). Hal ini bisa kita ketahui dari motivasi seseorang tatkala menegur orang lain. Coba introspeksi diri kita masing-masing: ketika kita menegur orang lain yang salah, apa yang ada di benak kita? Apakah kita berpikir bahwa jika kita tak menegurnya, maka orang itu akan binasa atau lainnya? Ataukah kita menegur dengan kasih? Kedua, coba introspeksi diri kita dengan reaksi orang yang kita tegur. Setelah menegur seseorang, kita pasti mendapatkan reaksi dari orang tersebut, entah itu menerima atau menolak teguran kita. Jika orang tersebut menolak teguran kita, apa yang kita pikirkan? Akankah kita berpikir, “Jangan belagu lu, masih muda/belum berpengalaman sudah berani gak mau terima teguran orang tua yang sudah berpengalaman!”? Jika ini masih ada di dalam pikiran kita, bertobatlah sekarang, karena kita ternyata masih menyimpan bibit kesombongan secara tidak sadar meskipun secara mulut berkali-kali berkata tentang anugerah. Kita bisa membodohi manusia, namun jangan sekali-kali membodohi Allah!


Setelah kita menyadari bahwa segala sesuatu itu terjadi oleh anugerah Allah, maka apakah itu berarti kita tidak usah berbuat apa-apa? TIDAK! Doktrin anugerah Allah TIDAK menjadikan orang Kristen malas, malahan justru membangkitkan semangat orang Kristen untuk memuliakan-Nya. Karena segala sesuatu itu adalah anugerah Allah, maka anugerah-Nya memampukan kita untuk hidup di dalam anugerah-Nya yang berarti:
Pertama, meresponi anugerah-Nya. Meresponi anugerah Allah berarti sebuah tindakan pasif (sekaligus aktif) yang menghadirkan anugerah Allah itu di dalam setiap aspek kehidupan kita. Di sini kita dimampukan-Nya untuk tidak merebut kemuliaan-Nya demi kepentingan sendiri. Ketika kita dipuji seseorang karena kita baik atau tampan/cantik atau cinta Tuhan, apa reaksi kita? Meresponi anugerah-Nya menuntut kita untuk mengembalikan semua pujian hanya kepada Allah saja, karena kita menyadari bahwa tanpa anugerah-Nya, kita ini hina dan bobrok.

Kedua, memancarkan anugerah-Nya. Tidak cukup hanya menghadirkan anugerah-Nya, kita dipanggil juga untuk memancarkan anugerah-Nya dengan melakukan segala kehendak-Nya dengan penuh pengorbanan. Perhatikan perkataan Paulus di dalam 1 Korintus 15:10. Di ayat 9, ia memaparkan fakta bahwa dia adalah yang paling hina dari semua rasul, karena ia pernah menganiaya Jemaat Allah, namun di ayat 10 merupakan turning point bagi Paulus, yaitu karena anugerah (atau kasih karunia) Allah, ia bisa seperti sekarang ini (memberitakan Injil) dan bahkan ia mengakui bahwa ia lebih bekerja keras daripada semua rasul, namun itu semua bukan karena dirinya sendiri yang hebat, namun karena anugerah Allah. Anugerah-Nya memampukan Paulus dan kita sebagai umat-Nya bekerja keras memberitakan Injil dan melayani-Nya dengan penuh semangat dan pengorbanan kepada sebanyak mungkin orang sambil mengakui pelayanan yang kita kerjakan inipun bukan karena kehebatan kita, namun karena anugerah-Nya.


Sebagaimana hidup Paulus adalah hidup yang dipenuhi oleh anugerah Allah dan ia sendiri hidup di dalam anugerah-Nya itu, bagaimana dengan kita? Sudahkah anugerah Allah bekerja dan melingkupi iman dan kehidupan kita sehari-hari kita sebagai saksi Kristus? Biarlah Roh Kudus membuka hati dan pikiran kita agar kita makin menyadari anugerah Allah yang begitu besar bagi umat-Nya sekaligus mendorong kita untuk makin bersaksi bagi-Nya demi hormat dan kemuliaan nama Allah Tritunggal. Amin. Soli Deo Gloria.

JOHN CALVIN DAN TRADISI GEREJA (Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.)

JOHN CALVIN DAN TRADISI GEREJA

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.




Salah satu semboyan reformasi yang terkenal adalah sola scriptura (lit. “hanya Alkitab”). Penekanan pada semboyan ini tidak terletak pada kata “scriptura”, karena gereja pada waktu itu (sekarang disebut Gereja Roma Katolik) juga menerima Alkitab. Seperti semboyan yang lain (sola fide dan sola gratia), penekanan dalam semboyan ini terletak pada kata “sola.” Konsep ini secara jelas terungkap dalam pernyataan Martin Luther (1483-1546) yang terkenal pada waktu Diet of Worms, 16 April 1521:
Unless I am convinced by the testimony of the Scriptures or by clear reason (for I do not trust either in the pope or in councils alone, since it is well known that they have often erred and contradicted themselves), I am bound by the Scriptures I have quoted and my conscience is captive to the Word of God. I cannot and I will not retract anything, since it is neither sale nor right to go against conscience. “I cannot do otherwise, here I stand, may God help me, Amen1

Sikap yang sama juga ditunjukkan oleh John Calvin. Terlepas dari beberapa kontroversi seputar konsep bibliologi Calvin,2 dalam buku monumentalnya, The Institutes of Christian Religion, ia secara eksplisit menjelaskan bahwa Alkitab bersumber dari Allah sendiri dan bukan dari gereja (1.6.1; 1.7.1-2; 2.8.12).

Semangat yang diusung melalui semboyan sola scriptura adalah penolakan terhadap pandangan gereja yang memakai dua standar otoritas, yaitu Alkitab dan tradisi. Para reformator menganggap gereja telah mempraktekkan banyak hal yang tidak diajarkan dalam Alkitab. Gereja lebih mementingkan tradisi daripada kitab suci. Keputusan gereja Katolik dalam Konsili Trent yang menerima kitab-kitab apokrifa3 sebagai firman Allah (untuk mendukung theologi dan praktek kegerejaaan mereka) merupakan gambaran paling jelas tentang sikap gereja terhadap otoritas Alkitab dan tradisi. Sebagai reaksi terhadap kesalahan ini, para reformator mengumandangkan semangat sola scriptura.

Penjelasan di atas secara sekilas bisa memberikan dua kesan: (1) para reformator benar-benar menolak semua yang disebut tradisi gereja; (2) para reformator membangun theologi dan praktek kegerejaaan mereka langsung dari Alkitab (tanpa dipengaruhi oleh tradisi gereja).

Apakah kesan di atas benar? Apakah para reformator memiliki penilaian yang benar-benar negatif terhadap tradisi? Penulis akan membatasi penyelidikan terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas pada reformasi John Calvin saja. Dengan kata lain, Penulis ingin secara khusus menyelidiki sikap John Calvin terhadap tradisi gereja. Pembatasan ini diambil berdasarkan beberapa pertimbangan.

Pertama, semi-jurnal Reformata berlatarbelakang theologi Reformed (bukan Protestan secara umum). Kedua, setiap reformator memiliki pandangan dan sikap yang berbeda tentang tradisi gereja, sehingga semuanya tidak mungkin dibahas dalam satu tulisan. Mengingat tulisan ini dirancang untuk sebuah semi-jurnal, Penulis akan menghindari pembahasan yang bersifat sangat teknis dan terlalu mendetail.


JOHN CALVIN DAN TRADISI
Earle E. Cairns, seorang ahli sejarah gereja, memberikan perbandingan singkat yang sangat bermanfaat tentang Luther dan Calvin. Salah satu yang disinggung adalah perbedaan sikap terhadap praktek gerejawi sehubungan dengan liturgi dan pemakaian hal-hal tertentu di dalam ibadah: “Luther rejected only what the Scriptures would not prove, but Calvin refused everything of the past that could not be proved by the Scriptures.”4 Pernyataan ini bukan tanpa alasan. Dari tulisan-tulisan Calvin terlihat jelas bahwa ia memang sangat menentang apa pun yang diyakini dan dipraktekkan oleh gereja kalau hal-hal itu tidak diajarkan oleh Alkitab. Dalam hal seputar kontroversi penggunaan gambar (iconoclastic controversy), Calvin memberikan penolakan yang sangat tegas dan komprehensif: gereja hanya boleh mempraktekkan apa yang memang diajarkan oleh Alkitab.

Pernyataan ini di atas bisa menimbulkan kesan bahwa dibandingkan Luther, Calvin memiliki pandangan yang lebih negatif terhadap tradisi gereja. Seandainya kesan ini benar, maka sikap tersebut merupakan sesuatu yang luar biasa, karena Calvin sendiri mengakui betapa ia “was more stubbornly addicted to the superstitions of the Papacy.”5 Beberapa sarjana, mengikuti pandangan Theodorus Beza, bahkan berpendapat bahwa pertobatan Calvin sudah terjadi jauh sebelum ia akhirnya memisahkan diri secara total dengan Gereja Roma Katolik pada tahun 1533.6

Penyelidikan yang lebih komprehensif ternyata mampu memberikan penjelasan yang lebih seimbang dan tepat tentang sikap Calvin terhadap tradisi. Ia sebenarnya tidak bersikap negatif secara mutlak terhadap gereja dan tradisinya.

Hal pertama yang perlu dipahami adalah pengertian “tradisi.” Istilah “tradisi” berasal dari kata Latin tradition/traditio, yaitu tindakan meneruskan sesuatu.7 Pemakaian istilah ini dalam sejarah gereja menunjukkan adanya perubahan (keberagaman) konsep tentang tradisi.8 Pada zaman gereja mula-mula istilah “tradisi” bermakna positif. Sebagai reaksi terhadap ajaran sesat Gnostisisme yang menekankan “pewahyuan” Allah yang eksklusif dan mistis, para bapa gereja membuktikan bahwa ajaran mereka mengikuti tradisi para rasul. Apa yang bapa gereja sampaikan bukanlah sesuatu yang baru. Sebaliknya, mereka hanya meneruskan apa yang sebelumnya telah diteruskan oleh para rasul. Hal ini sesuai dengan sikap para rasul sendiri. Paulus menekankan bahwa ajarannya adalah apa yang dia terima sendiri dari Tuhan dan ia teruskan kepada jemaat (1Kor. 11:23; 15:1-3). Yohanes memberitakan apa yang telah para rasul dengar, lihat dan raba dari Yesus (1Yoh. 1:1). Lukas menginformasikan adanya penerusan tradisi tentang Yesus, baik secara lisan maupun tertulis (Luk. 1:1-4).

Pada periode abad pertengahan, pengertian seperti di atas mengalami pergeseran. Tradisi dianggap sebagai sumber otoritas baru yang sifatnya melengkapi atau menambahkan Alkitab. Mula-mula pemahaman ini hanya diterapkan pada hal-hal yang tidak dibicarakan secara jelas dalam Alkitab. Selanjutnya tradisi justru semakin mendapat tempat. Tradisi tidak lagi menyentuh hal-hal yang “Alkitab diam”, tetapi tradisi juga menetapkan hal-hal yang bertentangan dengan Alkitab. Calvin dapat dikatakan anti tradisi hanya dalam pengertian tradisi yang populer waktu itu. Beberapa kutipan dari tulisan Calvin yang tampak sangat anti tradisi, sebenarnya hanya ditujukan pada pemahaman gereja waktu itu yang menganggap tradisi sebagai firman Allah atau sejajar dengan firman Allah. Berikut ini adalah dua pernyataan Calvin tentang tradisi yang dikutip oleh Alister E. McGrath:
Let this then be a sure axiom: that nothing ought to be admitted in the church as the Word of God, save that which is contained, first in the Law and the Prophets, and secondly in the writings of the Apostles; and that there is no other method of teaching in the church than according to the prescription and rule of his Word...I approve only of those which are founded upon the authority of God and derived from Scriptures (garis bawah ditambahkan)9

Sehubungan dengan pengertian tradisi sebagai warisan para rasul, Calvin justru bersikap sangat positif, bahkan lebih positif daripada Luther. Ketika Gereja Roma Katolik menuduh para reformator telah mengobarkan konsep dan praktek yang inovatif, Luther dan Calvin meresponi dengan cara yang berbeda. Luther merasa sudah cukup untuk meresponi tuduhan tersebut dengan berdiri di atas firman Allah. Calvin, di sisi lain, juga berusaha menunjukkan bahwa ajarannya sesuai dengan theologi bapa-bapa gereja awal. Hal ini tentu saja tidak berarti bahwa Calvin telah menggantikan Alkitab dengan tradisi bapa gereja abad permulaan. Calvin memang mengakui bahwa Kekristenan abad awal lebih murni dan benar, namun “for him, only Scripture contains the authentic, reliable, and normative tradition in the truest sense.”10

Calvin ingin menunjukkan bahwa ketika ajaran Gereja Roma Katolik berbeda dengan ajarannya, pihak Gereja Roma Katoliklah yang telah melenceng dari tradisi gereja yang sebenarnya di abad permulaan. Dengan kata lain, Gereja Roma Katolik telah mengadakan inovasi.11 Dalam The Institutes of the Christian Religion, Calvin secara khusus mengutip banyak bapa gereja dan mengontraskan pandangan mereka dengan pandangan Gereja Roma Katolik.12 Ketika ia terlibat dalam Perdebatan Lausanne (the Lausanne Disputation) melawan para pengikut Gereja Roma Katolik pada Oktober 1536, ia berhasil mematahkan tuduhan mereka. Ia mengutip kalimat-kalimat bapa-bapa gereja di luar kepala – lengkap dengan nama dan sumber tulisan tersebut – untuk membuktikan bahwa tuduhan terhadap orang Protetan yang dianggap telah menyalahi ajaran bapa-bapa gereja tentang Perjamuan Kudus adalah tidak benar.13 Pengenalannya yang luar biasa terhadap tulisan bapa-bapa gereja telah mempertobatkan seorang imam Katolik saat itu juga dan 200 imam lainnya selanjutnya juga meninggalkan Gereja Roma Katolik.14

Walaupun studi detail tentang pengaruh bapa-bapa gereja bagi pemikiran Calvin merupakan tugas yang sangat kompleks,15 mayoritas sarjana umumnya sepakat bahwa Calvin sangat berhutang pada bapa-bapa gereja. Dalam pembahasannya tentang sumber-sumber yang dipakai Calvin dalam buku The Institutes of the Christian Religion, Francois Wendel tidak lupa menyebutkan tulisan-tulisan bapa gereja.16 Pendapat ini sangat bisa dibenarkan. Jumlah kutipan dari bapa-bapa gereja abad permulaan dalam tulisan Calvin sangat melimpah.17 Pendeknya, Calvin bisa disebut sebagai murid bapa-bapa gereja.18 Di antara bapa gereja yang ia kutip, Calvin terutama sangat berhutang pada Agustinus: jumlah kutipan dari tulisan Agustinus melebihi jumlah total kutipan dari tulisan bapa gereja yang lain (Lane); 2000 kutipan dari Agustinus tersebut tidak ditemukan dalam tulisan-tulisan Agustinus yang ditemukan (Payne).19 Perbandingan antara tulisan Agustinus dan Calvin juga menunjukkan bahwa Calvin sangat dipengaruhi oleh Agustinus, baik pengaruh secara langsung dari tulisan-tulisan Agustinus yang dipelajari Calvin maupun dari tulisan tokoh-tokoh Kristen abad pertengahan yang mengikuti tradisi Agustinus.20


KONKLUSI DAN REFLEKSI
Gerakan reformasi pada abad ke-16, terutama reformasi dalam tradisi Calvinis/Reformed, bukanlah upaya untuk meletakkan hal-hal yang baru dalam Kekristenan. Sebaliknya, sama seperti semboyan ad fontes (lit. “kembali ke sumber”) dari para pemikir renaissance, reformasi Calvinis benar-benar ingin mengembalikan gereja pada sumber utama Kekristenan, yaitu ajaran Alkitab yang diteruskan (ditradisikan) kepada bapa-bapa gereja awal. Konsistensi ajaran inilah yang menjadi ciri khas dari theologi Reformed.

Situasi dunia dan tantangan gereja terus berubah, tetapi gereja harus mampu meresponi situasi ini dan merelevansikan Injil sambil terus berdiri di atas konsistensi ajaran para pemikir Reformed, pendahulu gerakan reformasi, bapa-bapa gereja, dan Alkitab. Hal ini semakin penting untuk direnungkan seiring dengan semangat zaman yang mendewakan perubahan dan kebebasan. Semangat ini tidak jarang juga berimbas pada mereka yang mengaku memegang pandangan Reformed, tetapi tidak mengenal dan mengajarkan kekayaan warisan theologi Reformed yang terprasasti dalam berbagai tulisan theolog Reformed dan kredo/pengakuan iman yang ada. Mereka merasa berhak mengklaim sebagai orang Reformed tanpa harus terikat pada sistem theologi dan tradisi Reformed. Akhirnya, saya ingin menutup dengan sebuah pertanyaan, “hal esensial apa yang menjadikan seorang menjadi Reformed?” #




Catatan kaki:
1. J. J. Pelikan, H. C. Oswald & H. T. Lehmann, Ed. Luther, M. 1999, c1958. Luther's works, vol. 32: Career of the Reformer II (Philadelphia: Fortress Press, 1999, c1958), hlm. 112-113.
2. Beberapa topik seputar konsep bibliologi Calvin yang dianggap kontroversial adalah pernyataan Calvin dalam The Institutes 4.8.9 (“sure and genuine scribes of the Holy Spirit” who composed Scripture “under the Holy Spirit’s dictation”) yang dianggap mendukung teori pengilhaman dikte. Di sisi yang lain, sebagian sarjana berpendapat bahwa Calvin tidak menerima ketidakbersalahan (inerrancy) Alkitab. Calvin dianggap membatasi ketidakbersalahan Alkitab hanya pada masalah iman. Terhadap mereka yang melihat doktrin inspirasi Calvin (dan Luther) berbeda dengan doktrin Injili modern, Louis Berkhof mengatakan, “But why should they rely on mere inferences, when these great Reformers use several expressions and make many plain statements, which are clearly indicative of the fact that they held the strictest view of inspiration” (Systematic Theology: New Combined Edition, Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company, 1996, 145).
3. Gereja Katolik memakai istilah deuterokanonika (lit. “kanon kedua”) daripada apokrifa (lit. “kitab-kitab yang tidak jelas”).
4. Christianity Through the Centuries: A History of the Christian Church (3rd. Rev & exp. ed., Grand Rapids: Zondervan Publishing House, 1996), 302.
5. John Thomas McNeill, The History and Character of Calvinism (New York: Oxford University Press, 1954), hlm. 108.
6. Kisah pertobatan Calvin merupakan salah satu topik yang sampai sekarang masih diperdebatkan. Tidak seperti Agustinus, Luther maupun Wesley, Calvin jarang sekali menceritakan tentang kehidupan pribadinya, termasuk pertobatannya. Para sarjana modern berusaha merekonstruksi kapan dan bagaimana Calvin bertobat berdasarkan rujukan yang sangat terbatas. Dua teks yang sering dijadikan dasar (sekaligus pusat perdebatan) adalah surat kepada Sadoleto dan tafsiran kitab Mazmur. Lihat, John Bratt, The Rise and Development: A Concise History (Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1964), hlm. 12.
7. Secara umum dalam bidang keagamaan dan sosial, tradisi dapat dipahami sebagai “an inherited, established, or customary pattern of thought, action, or behavior (as a religious practice or a social custom).” Merriam-Webster, I. 1996, c1993. Merriam-Webster's Collegiate Dictionary. Includes index. (10th ed.). Merriam-Webster: Springfield, Mass., U.S.A.
8. Lihat bab terakhir dari Heiko A. Oberman, The Dawn of the Reformation: Essays in Late Medieval and Early Reformation Thought (Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company, 1992, c1986), hlm. 269-296.
9. Historical Theology: An Introduction to the History Christian Thought (Malden, Massachusets: Blackwell Publishers, 1998), hlm. 177.
10. John E. Burkhart, “Tradition” in Encyclopedia of the Reformed Faith, ed. Donald K. McKim (Louisville/Edinburgh: Westminster/John Knox Press/Saint Andrew Press, 1992), hlm. 373.
11. David J. Marshall, “Calvin, John” dalam Augustine Through the Ages: An Encyclopedia, Allan D. Fitzgerald, gen. ed., (Grand Rapids: William. B. Eerdmans Publishing Company, 1999), 116-117.
12. James Swan dalam artikelnya yang berjudul “Calvin, the Church Fathers and the Roman Church” (http://beggarsallreformation.blogspot.com/2005/12/calvin-church-fathers) memberikan 13 kontras antara bapa-bapa gereja dan Gereja Roma Katolik, sekaligus menjelaskan nama dan sumber tulisan bapa gereja yang dikutip oleh Calvin.
13. Donald K. McKim, ed., The Cambridge Companion to John Calvin (excerpt; Cambridge: Cambridge University Press, t.th), 10.
14. Erroll Hulse, “John Calvin and his Missionary Enterprise”, http://www.reformedtheology.org/html/issue04/calvin.htm, 1. Posted on 9/29/2006.
15. Kesulitan dalam diskusi ini terkait dengan metodologi yang dipakai, lingkup rujukan yang ada (hanya yang eksplisit atau termasuk yang implisit), pembuktian pengaruh (apakah kesamaan konsep secara otomatis mengindikasikan pengaruh?), mediasi (apakah Calvin dipengaruhi bapa-bapa gereja secara langsung atau melalui para pemikir skolastik?), dll.
16. Calvin: Origins and Development of His Religious Thought (terj. Philip Mairet; Durham: The Labyrinth Press, 1987), hlm. 123-125.
17. Artikel terbaik yang membahas tentang hal ini, sejauh yang saya tahu, ditulis oleh A. N. S. Lane, “Calvin’s Use of the Fathers and the Medieval”, CTJ 16/2 (1981), hlm. 149-190.
18. A. N. S. Lane, John Calvin: Student of the Church Fathers (Grand Rapids: Baker Book House, 2000). Sejauh ini, buku ini adalah yang paling komprehensif dan spesifik dalam memaparkan pengaruh bapa-bapa gereja bagi pemikiran Calvin.
19. David E. Parks, John Calvin: The Man and His Doctrine. www.wcofc.org/going_deep.htm, Oktober 03, 2002. Menurut Smits, jumlah kutipan dari Agustinus dalam tulisan Calvin adalah 1700 kutipan eksplisit dan 2400 kutipan/alusi yang tidak disertai referensi. Lihat, Marshall, “John Calvin”, hlm. 117.
20. Sebuah buku klasik tentang perbandingan kedua tokoh ini ditulis oleh seorang theolog Reformed yang bernama B. B. Warfield, Calvin and Augustine (Philadelphia: Presbyterian and Reformed, 1956). Sayangnya, buku ini tidak terlalu menolong para pemula untuk mengetahui benang merah pemikiran Agustinus ke Calvin.





Sumber:
http://www.gkri-exodus.org/image-upload/HIS%2015%20John%20Calvin%20&%20Tradisi.pdf




Profil Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.:
Ev. Yakub Tri Handoko, S.Th., M.A., Th.M., Ph.D. (Cand.), yang lahir di Semarang, 23 November 1974, adalah gembala sidang Gereja Kristus Rahmani Indonesia (GKRI) Exodus, Surabaya (www.gkri-exodus.org) dan dosen di Institut Theologi Abdiel Indonesia (ITHASIA) Pacet serta dosen tetap di Sekolah Theologi Awam Reformed (STAR) dari GKRI Exodus, Surabaya. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Theologi (S.Th.) di Sekolah Tinggi Alkitab Surabaya (STAS); Master of Arts (M.A.) in Theological Studies di International Center for Theological Studies (ICTS), Pacet–Mojokerto; dan Master of Theology (Th.M.) di International Theological Seminary, U.S.A. Mulai tahun 2007, beliau sedang mengambil program gelar Doctor of Philosophy (Ph.D.) part time di Evangelische Theologische Faculteit (ETF), Leuven–Belgia. Beliau menikah dengan Ev. Nike Pamela, M.A. dan dikaruniai 2 orang putra: Calvin Gratia Handoko dan Aurel Fide Handoko.




Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio.