04 July 2010

Ujilah Segala Sesuatu!-1: PENDAHULUAN (Denny Teguh Sutandio)

UJILAH SEGALA SESUATU!-1: PENDAHULUAN

oleh: Denny Teguh Sutandio



“Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.”
(1Tes. 5:21)

“Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia. Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah, dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia. Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia. Mereka berasal dari dunia; sebab itu mereka berbicara tentang hal-hal duniawi dan dunia mendengarkan mereka. Kami berasal dari Allah: barangsiapa mengenal Allah, ia mendengarkan kami; barangsiapa tidak berasal dari Allah, ia tidak mendengarkan kami. Itulah tandanya Roh kebenaran dan roh yang menyesatkan.”
(1Yoh. 4:1-6)



Banyak manusia di zaman sekarang mulai mengatakan bahwa semua agama dan bahkan semua gereja itu sama saja. Mereka mengatakan bahwa tidak peduli agama dan gereja mana saja, yang penting masing-masing individu beribadah kepada “Tuhan” yang sama dengan cara yang berbeda. Benarkah demikian? TIDAK. Justru para penganut relativisme agama sendiri tidak pernah konsisten dengan dirinya sendiri. Mereka mengatakan bahwa semua agama dan gereja itu sama, namun herannya mereka tidak mau menerima orang lain yang berbeda konsep dengan mereka (seharusnya jika mereka konsisten, maka mereka juga menerima semua orang bahkan orang yang berbeda konsep dengan mereka). Jika Rev. Prof. D. A. Carson, Ph.D. menyebut Intolerance of Tolerance (Intoleransi dari Toleransi—sebuah kontradiksi), maka saya menyebut gejala ini: Inrelativism of Relativism (Inrelativisme dari Relativisme). Di sini letak jebolnya semangat zaman yang dipengaruhi dosa.

Bagaimana dengan kita? Apakah sebagai orang Kristen kita mau terus-menerus mengikuti arus zaman di mana setiap zamannya pasti memiliki spirit yang berbeda, berubah, dan bahkan berkontradiksi? Firman Tuhan di dalam Roma 12:2 mengajar kita bahwa kita jangan dijadikan serupa oleh dunia ini, namun kita harus diubah oleh pembaharuan pemikiran, supaya kita mengetahui/menyetujui manakah kehendak Allah yang baik, disenangi Allah, dan sempurna (mengikuti terjemahan Indonesia dari teks asli Yunaninya; sumber: Hasan Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia, 2006, hlm. 862). Yang lebih unik, frase “jangan dijadikan serupa” dan “diubah oleh pembaharuan pemikiran” dalam struktur teks Yunaninya menggunakan bentuk present, pasif, dan imperatif. Dengan kata lain, dua aktivitas ini terjadi bukan dari diri kita, namun atas anugerah Allah melalui karya Roh Kudus. Roh Kudus memimpin hati dan pikiran kita sehingga hati dan pikiran kita tidak lagi ditipu oleh dunia, namun hati dan pikiran kita makin sesuai dengan kehendak Allah di dalam firman-Nya. Nah, bagaimana caranya kita melakukan dua aktivitas tersebut? Roh Kudus mengajar kita melalui Alkitab bahwa caranya adalah dengan menguji segala sesuatu berdasarkan standar satu-satunya kebenaran mutlak yaitu Alkitab. Kata menguji baik dalam 1 Tesanolika 5:21 maupun 1 Yohanes 4:1 sama-sama menggunakan kata Yunani dokimazo yang berarti prove (=membuktikan) atau examine (=menguji/meneliti/memeriksa).

Mengapa kita harus menguji segala sesuatu dengan Alkitab? Ketika Allah memerintahkan kita untuk menguji segala sesuatu, Ia mau agar kita lebih setia, taat, dan mencintai Allah dan kebenaran-Nya. Orang Kristen yang semakin mencintai Allah, seharusnya makin berwaspada dan menguji segala sesuatu dari perspektif Allah, karena ia hanya mau menyenangkan-Nya. Allah melalui firman-Nya memerintahkan kita untuk menguji segala sesuatu, mengapa kita tidak mau menguji segala sesuatu dengan Alkitab? Bukankah ini suatu tindakan tidak bertanggungjawab dan melanggar firman-Nya?

Jika demikian, bagaimana kita menguji segala sesuatu (dengan Alkitab)?
Pertama, ujilah diri kita sendiri terlebih dahulu. Prinsip penting sebelum menguji segala sesuatu adalah ujilah diri kita apakah kita sudah layak menguji atau belum. Artinya, ujilah diri kita apakah iman dan kerohanian kita sudah cukup “baik” dan apakah pengetahuan Alkitab kita sudah cukup beres. Mintalah Tuhan menguji terlebih dahulu hati, pikiran, iman, dan kerohanian kita, sehingga ketika menguji segala sesuatu, kita tidak terlalu gegabah menghakimi sesuatu yang kita uji tersebut (mungkin karena emosional kita). Mari kita berkata seperti pemazmur, “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (Mzm. 139:23-24)

Kedua, belajarlah Alkitab dengan bertanggungjawab. Setelah menguji diri kita, maka kita perlu belajar terus-menerus akan kebenaran Alkitab dengan bertanggungjawab. Caranya adalah bacalah Alkitab secara rutin dan dengan teliti dari Kejadian s/d Wahyu, beli dan bacalah buku-buku rohani dan tafsiran Alkitab yang bertanggungjawab, ikutilah seminar atau pembinaan iman Kristen yang bermutu, dan berdiskusilah dengan sesama orang Kristen atau hamba-hamba Tuhan yang bertanggungjawab untuk menumbuhkan iman, pengetahuan, dan kerohanian kita.

Ketiga, ujilah ajaran-ajarannya apakah sesuai dengan Alkitab atau tidak. Setelah menguji diri dan belajar Alkitab, maka kita perlu menguji segala sesuatu khususnya ajaran-ajaran dari yang kita uji itu apakah sesuai dengan Alkitab atau tidak. Mengapa saya mengatakan menguji ajaran itu penting? Karena ajaran merupakan basic belief (kepercayaan dasar) dari sesuatu yang diuji. Dari ajaran tertentu, muncullah sikap dan tingkah laku dari para penganutnya. Nah, ketimbang kita menguji sikap dari para penganutnya yang belum tentu sesuai dengan ajaran aslinya, maka ujilah ajaran sebagai intinya. Ajaran tersebut bisa kita teliti dari perkataan-perkataan pendiri utamanya (dan juga para penerusnya). Dengan kata lain, menurut Prof. Mark A. Gabriel, Ph.D. dalam bukunya Jesus and Muhammad: Profound Differences and Surprising Similarities, kita harus menemukan original sources (sumber original/asli)-nya untuk mengetahui ajaran obyektif yang kita selidiki. Bagaimana kita mengetahui bahwa ajaran tertentu sesuai dengan Alkitab atau tidak? Prinsip-prinsipnya simple namun mendalam, yaitu: segala sesuatu yang melawan ajaran-ajaran Kristen orthodoks, yaitu: kedaulatan Allah, Allaah sebagai Pencipta alam semesta, Allah Tritunggal, manusia sebagai peta dan teladan Allah, kerusakan total manusia akibat dosa, kelahiran Kristus dari anak dara Maria, kematian dan kebangkitan Kristus yang menyelamatkan, keutamaan dan finalitas Kristus (keselamatan HANYA ada di dalam Kristus), karunia Roh Kudus (sebagai Pribadi) yang melahirbarukan umat-Nya, dan kedatangan Kristus kedua kalinya, maka ajaran itu jelas tidak bertanggungjawab (bahkan mungkin bisa dikatakan: SESAT).

Keempat, ujilah ajaran-ajaran tersebut dari sudut pandang logika Kristen. Sebagai orang Kristen, selain Alkitab, Allah menganugerahkan akal budi kepada kita untuk berpikir, sehingga adalah bijaksana jika kita menggunakan akal budi Kristiani untuk menguji ajaran tertentu. Misalnya, jika ajaran tertentu benar, maka mengutip Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div., kebenaran harus memenuhi syarat-syarat tertentu: universal (berlaku umum), kekal (melampaui kesemantaraan), integral (menyeluruh dan tidak ada pengecualian), dan moral (memiliki etika). Saya menambahkan satu syarat lagi, yaitu: KONSISTEN. Konsisten yang saya maksud ini ada dua: konsisten antar ajaran-ajarannya sendiri dan konsisten antara ajaran dan tindakan (apakah ajaran tersebut bisa secara konsisten dihidupi). Sebuah ajaran jika tidak memenuhi kelima syarat di atas, maka ajaran tersebut tentu saja tidak benar. Contoh, jika ada pendiri suatu kepercayaan yang mengajarkan bahwa segala sesuatu adalah ilusi, maka di titik pertama, Anda sebagai orang Kristen TIDAK perlu mendengarkan ocehannya, karena secara tidak sadar, si pendiri sedang mengatakan sesuatu yang ilusi. Kita bukan orang yang kurang kerjaan mendengar sesuatu yang tidak masuk akal (akal Kristiani) kan? Hehehe…

Kelima, ujilah sikap dan tingkah laku para penganutnya. Setelah menguji ajarannya, maka kita perlu menguji aplikasi ajaran tersebut di dalam sikap dan tingkah laku para pendiri dan penganutnya. Aplikasi ajaran tersebut bisa dikatakan sikap dan tingkah laku pendiri dan para penganutnya sebagai hasil dari ajaran-ajarannya. Meskipun kita tidak bisa mengatakan bahwa sikap yang ngawur dari salah seorang atau beberapa penganutnya mencerminkan kesalahan suatu ajaran, namun kita tetap bisa menguji suatu ajaran/kepercayaan dari sikap dan tingkah lakunya, karena Tuhan Yesus sendiri berfirman, “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.” (Mat. 7:15-20) Jika sebuah kepercayaan mengajarkan mutlaknya perang untuk memberantas para kafir dan kepercayaan ini dijalankan oleh pendiri dan banyak penganutnya, maka sudah pasti kepercayaan itu ngaco.

Setelah melakukan 5 tahap pengujian ini, biarlah kita makin peka terhadap kondisi zaman kita yang makin lama makin tidak karuan, lalu kita dituntut untuk cerdas dan teliti meneliti tanda-tanda zaman sesuai dengan Alkitab, dan kemudian menjadi saksi Kristus di tengah zaman yang rusak ini, agar banyak orang yang telah tersesat oleh filsafat dunia dapat kembali kepada Kristus. Biarlah renungan singkat ini mengingatkan kita betapa pentingnya firman Tuhan yaitu Alkitab di dalam kehidupan orang Kristen yang cinta Tuhan. Amin. Soli Deo Gloria.

Resensi Buku-99: STOP DATING THE CHURCH! (Rev. Joshua Eugene Harris)

...Dapatkan segera...




Buku
STOP DATING THE CHURCH!:
Menghentikan Kebiasaan Berpindah-pindah Gereja dan Menjadi Jemaat yang Berkomitmen


oleh: Rev. Joshua Eugene Harris

Penerbit: Gloria Graffa, 2006

Penerjemah: Andina M. Rorimpandey





Deskripsi singkat dari Denny Teguh Sutandio:
Orang Kristen disebut Kristen karena ia adalah pengikut Kristus atau “kristus-kristus” kecil. Karena disebut pengikut Kristus, maka orang Kristen sudah seharusnya hidupnya hanya bagi Kristus yang diikuti-Nya. Hidup bagi Kristus adalah hidup yang makin menyerupai Kristus. Untuk mencapai hidup yang makin menyerupai Kristus, diperlukan suatu proses pendewasaan iman dan karakter Kristen. Di dalam proses pendewasaan tersebut dibutuhkan peran serta Roh Kudus yang menggunakan Alkitab dan orang-orang seiman (gereja) untuk saling menguatkan, menegur, menghibur, dan mengajar. Itulah pentingnya gereja. Gereja dibagi menjadi dua: gereja kelihatan dan gereja yang tidak kelihatan (universal). Dengan alasan bahwa dirinya adalah gereja yang universal, maka beberapa (atau banyak) orang Kristen enggan berpartisipasi di dalam gereja yang kelihatan. Apa alasan mereka? Mengapa demikian? Seberapa signifikansikah berpartisipasi di dalam gereja yang kelihatan? Kesemuanya itu dibahas dengan sederhana namun jelas oleh Rev. Joshua Eugene Harris di dalam bukunya Stop Dating the Church! yang menguraikan bahwa orang Kristen harus menghentikan kebiasaan berpindah-pindah gereja dan bagaimana menjadi jemaat gereja yang berkomitmen. Di dalam buku ini, Rev. Joshua Harris menguraikan tentang 10 dasar memilih gereja dan bagaimana menghargai hari Minggu sebagai hari sakral untuk beribadah kepada Tuhan di gereja. Buku ini ditutup dengan tantangan dari Rev. Joshua Harris untuk menerapkan teori dari ke-6 bab yang sudah diuraikannya. Biarlah buku ini menjadi berkat bagi kita tentang mengerti signifikansi gereja yang kelihatan di dalam pembangunan tubuh Kristus.




Apresiasi:
“Bukannya menanyakan apa yang dapat mereka berikan atau bagaimana mereka dapat melayani, begitu banyak pengunjung gereja yang hanya tertarik dengan apa yang dapat mereka peroleh. Gereja layak mendapatkan jauh lebih banyak daripada sekadar komitmen setengah hati atau sikap acuh yang apatis, yang terlalu sering diterimanya. Sebenarnya, seperti yang diamati Harris dengan jeli, kehidupan Kristiani tidak dapat dijalani secara utuh apabila terpisah dari kerinduan yang sungguh-sungguh terhadap gereja. Inilah saatnya, orang percaya tidak menyepelekan gereja, dan inilah alasan mengapa pesan dari buku ini begitu penting.”
Rev. John F. MacArthur, Jr., Litt.D., D.D.
(Pendeta pengajar di Grace Community Church, Sun Valley, California, U.S.A., penulis, pembicara konferensi, Presiden dan Professor of Pastoral Ministries di The Master's College and Seminary; Bachelor of Arts—B.A. dari Los Angeles Pacific College; Master of Divinity—M.Div. dari Talbot Theological Seminary; dan mendapat anugerah gelar: Doctor of Letters—Litt.D. dari Grace Graduate School dan Doctor of Divinity—D.D. dari Talbot Theological Seminary)

“Orang Kristiani penginjil memiliki penekanan yang baik dan memadai atas keselamatan pribadi. Namun, penekanan itu tidak diimbangi dengan kehidupan Kristiani yang bersifat dasar menyatu. Orang Kristiani adalah milik gereja – satu-satunya tempat yang memungkinkan kita bertumbuh dan berkembang secara rohani. Dalam buku ini, Joshua Harris menguraikan hal ini dengan bijak, jelas, dan luwes.”
Charles W. Colson
(Prison Fellowship, Washington, D.C.)

“Joshua Harris mengingatkan kita akan tugas mulia surgawi yang telah hilang dari kehidupan kita ketika kita menghindari sentuhan pribadi yang terkait dengan komitmen mengenai konsep gereja sebagai ‘rumah’. Banyak orang ingin merasa nyaman dan kenyang tatkala berada di gereja, tetapi kehidupan bersama adalah masalah besar yang harus diselesaikan oleh hati kita. Melalui gereja, tulis Joshua Harris, ‘Kuasa Injil bukan sekadar mengubah pribadi manusia, tetapi sekaligus menciptakan jenis kemanusiaan baru.”
Sara Groves, B.Sc.
(Penyanyi/Penulis Lagu; Bachelor of Science—B.Sc. dalam bidang Sejarah dan Inggris dari Evangel University)

“Joshua Harris memiliki talenta menyampaikan isu yang sedang berkembang dengan cara yang jelas, tegas, dan mudah diingat. Stop Dating the Church! adalah bentuk tulisan yang dinanti-nantikan serta disukai para pembaca, karena apa yang dikatakannya benar-benar dan realistis. Dengan cara yang menarik ia menunjukkan buah pemikiran yang keliru dari orang-orang yang sekadar menginginkan persekutuan dengan Yesus, tetapi tidak menghendaki persekutuan dengan umat-Nya. Saya percaya Tuhan akan memakai buku ini untuk mengobarkan kasih terhadap apa yang Yesus kasihi: mempelai wanita-Nya, gereja-Nya, di dalam hati banyak orang.”
Rev. Prof. Donald S. Whitney, D.Min., Th.D. (Cand.)
(Associate Professor of Biblical Spirituality dan Senior Associate Dean of the School of Theology di Southern Baptist Theological Seminary, U.S.A.; B.A. dari Arkansas State University; M.Div. dari Southwestern Baptist Theological Seminary, Fort Worth, Texas, U.S.A.; Doctor of Ministry—D.Min. dari Trinity Evangelical Divinity School, Deerfield, Illinois; dan Doctor of Theology—Th.D. (candidate) dalam bidang Spiritualitas Kristen di University of South Africa; website beliau: www.BiblicalSpirituality.org)

“Apakah Anda pendeta yang sedang mencari buku bermutu untuk menolong para pengunjung gereja memahami alasan mereka harus bergabung dengan sebuah gereja? Inilah buku itu! Jelas, sederhana, digambarkan dengan baik, dan bersifat mendorong. Buku kecil ini mencerminkan kasih Kristus terhadap gereja dan menjelaskannya dengan istilah-istilah yang sederhana dan menarik. Bacalah dan manfaatkanlah.”
Rev. Mark E. Dever, Ph.D.
(Pendeta senior di Capitol Hill Baptist Church, Washington, D.C., Direktur Eksekutif dari 9Marks Ministries {dahulu dikenal sebagai the Center for Church Reform}, anggota dari Alliance of Confessing Evangelicals, dan memimpin the Alliance Forum; B.A. magna cum laude dari Duke University; M.Div. summa cum laude dari Gordon-Conwell Theological Seminary; Master of Theology—Th.M. dari The Southern Baptist Theological Seminary; dan Doctor of Philosophy—Ph.D. dalam bidang Sejarah Gereja dari Cambridge University, U.K.)

“Dalam Stop Dating the Church! Joshua Harris dengan semangat yang menyala-nyala mengomunikasikan perlunya umat Allah menjawab panggilan kita di dunia ini serta memberi kita peralatan untuk mulai mengerjakannya. Saya menghargai Josh yang tidak sekadar mengisi bukunya dengan berbagai petunjuk; ia menulisnya sebagai seseorang yang juga bergumul bersama kita untuk menemukan tempat di dalam tubuh Kristus.”
Derek Walsh Webb
(Penyanyi/Penulis Lagu)






Profil Rev. Joshua E. Harris:
Rev. Joshua Eugene Harris lahir pada tahun 1974 di Dayton, Ohio, U.S.A. dari orangtua: Gregg dan Sono Harris. Sejak tahun 2004, beliau menjadi Senior Pastor di Covenant Life Church (www.covlife.org), Gaithersburg, Maryland, U.S.A. Beliau juga adalah anggota dari Council on Biblical Manhood and Womanhood (CBMW) bersama Rev. John S. Piper, D.Theol., dkk. Beliau juga anggota dari the council of The Gospel Coalition. Pada tahun 1998, beliau menikah dengan Shannon dan dikaruniai 3 orang anak. Untuk memperoleh informasi tentang pekerjaan pelayanan Joshua, khotbah online, dan kisah-kisah dari para pembaca, kunjungilah website: www.joshharris.com.

PERENUNGAN UNTUK ORANG SOMBONG (Ev. Bedjo Lie, S.E., M.Div.)

PERENUNGAN UNTUK ORANG SOMBONG

oleh: Ev. Bedjo Lie, S.E., M.Div.



“Semakin sombong seseorang semakin ia membenci kesombongan dalam diri orang lain.”
(C. S. Lewis)



Suatu malam, seorang mahasiswa berkata kepada saya dalam pergumulannya, “Pak, saya sedang bergumul dengan diri saya. Saya merasa sombong dan ini mengganggu saya.” Melihat ekspresi wajahnya yang serius dan tulus, saya menjawabnya, “Tenang saja, kesombonganmu jelas masih dalam taraf yang belum puncak. Pernyataanmu bahwa kamu merasa sombong menunjukkan bahwa kamu tidak benar-benar sombong.” Setelah itu kami berbicara panjang lebar dan saling mendukung.

Komentar saya di atas mencerminkan sebuah keyakinan bahwa mereka yang sombong total biasanya tidak menyadari kesombongannya dan mereka yang mampu mengakui kesombongannya, masih memiliki sisa-sisa kerendahan hati. Hal ini seperti, orang yang agak mabuk sadar bahwa ia agak mabuk, namun orang yang mabuk total tidak sadar bahwa ia mabuk; atau orang yang setengah tertidur sadar bahwa ia setengah tertidur, tetapi mereka yang tertidur lelap tidak sadar bahwa ia sedang tertidur.

Nah, dalam pergulatan melawan dosa yang sama sekali tidak pantas ini, saya tiba pada karya C. S. Lewis, seorang profesor Cambridge yang menulis buku Mere Christianity dan banyak novel seperti The Chronicles of Narnia.

Jika C. S. Lewis ditanya tentang ciri-ciri orang sombong, jelas sekali ia akan menjawab: “orang sombong adalah orang yang sering kali tersinggung dengan orang sombong lainnya.” Kalimat itu bukan kata-katanya, tetapi rangkuman dari pemahamannya. Dalam bahasanya sendiri, ia berkata bahwa kesombongan adalah dosa yang “semakin kita memilikinya semakin kita tidak menyukainya dalam diri orang lain.” Pendeknya, ketika Anda tidak terima, jengkel, dan tersinggung dengan orang yang Anda anggap sombong, sangat mungkin kesombongan dalam diri Anda sedang memberontak melawan kesombongan orang lain. “Emangnya dia aja yang bisa, gua juga bisa tahu!” Begitulah ketika orang sombong tersinggung dengan orang sombong lainnya.

Kebenarannya adalah, semakin sering Anda tersinggung dan tidak menyukai orang-orang yang Anda anggap sombong, semakin mungkin bahwa Anda sendiri adalah orang yang sombong.

Pertama-tama, saya kurang sreg dengan pemikiran C. S. Lewis ini. Bukankah mungkin, seseorang yang pandai menganalisa orang lain (misalnya: psikolog) mampu menemukan kesombongan dalam diri orang lain tanpa terjatuh dalam kesombongan yang sama? Begitu kata saya dalam hati (dan mungkin juga Anda!). Namun, jelaslah bahwa hal ini adalah kesalahpahaman terhadap pemikiran C. S. Lewis. Ia tidak berkata bahwa orang yang sombong adalah orang yang mampu menemukan kesombongan orang lain, tetapi bahwa orang yang sombong adalah orang yang tidak menyukai kesombongan dalam diri orang lain. Selanjutnya, yang harus diingat adalah bahwa motivasi ketidaksukaan (dalam pemikiran C. S. Lewis) ini bukanlah karena kita tahu bahwa kesombongan itu ditentang Allah, melainkan karena kita merasa tersinggung, marah dan tidak suka ketika ada orang yang menyombongkan diri di hadapan kita. Nah, kesombongan jenis inilah yang dibicarakan C. S. Lewis.

Pemikiran C. S. Lewis di atas sungguh sederhana sekaligus mendalam karena ia telah berhasil menemukan ciri-ciri orang yang sombong, bahkan mungkin ciri yang terutama. Selanjutnya C. S. Lewis berkata, “Kesombongan pada hakikatnya bersifat kompetitif – naturnya itu sendiri bersifat kompetitif – sementara kejahatan-kejahatan lainnya, bisa dikatakan hanya berkompetisi secara kebetulan.” Ia menjelaskan, “Kesombongan tidak merasa senang karena memiliki sesuatu, tetapi hanya jika ia memiliki sesuatu yang melebihi apa yang dimiliki oleh orang di sebelahnya.” Kesombongan selalu membuat orang kompetitif terhadap orang lain. Kesombongan eksis dalam konteks perbandingan dengan orang lain dan bukan kesendirian.

Selanjutnya, jika Anda mengamati semua dosa yang lain, misalnya orang yang suka korupsi waktu kerja atau uang perusahaan, pornografi, pornoaksi, mabuk-mabukan, mencuri, bahkan membunuh, Anda akan menemukan bahwa mereka yang melakukannya tidak selalu keberatan jika orang lain juga melakukannya. Itulah sebabnya kita dapat menemukan sekelompok mahasiswa tukang contek yang saling bersahabat, “persekutuan” para pemabuk, kumpulan orang-orang cabul, kelompok para pencuri waktu kerja, dan geng para pembunuh. Dalam bahasa C. S. Lewis, “Kejahatan-kejahatan lainnya terkadang bisa mempersatukan orang: Anda mungkin menemukan persekutuan dan senda gurau dan persahabatan yang erat di engah orang-orang yang mabuk dan tidak suci.”

Namun demikian, kesombongan adalah dosa yang amat berbeda. Kesombongan selalu berarti perseteruan-kesombongan adalah perseteruan. Dan bukan hanya perseteruan antara manusia dengan manusia, tetapi perseteruan dengan Allah. Singkatnya, dalam hikmat C. S. Lewis, dosa-dosa yang lain masih bisa mempersatukan orang-orang, tetapi kesombongan selalu berarti perseteruan, pertikaian, dan konflik yang tidak dengan orang lain. Oleh karena itu, jika ada suatu konflik tak berkesudahan, baik itu di dalam persahabatan, pernikahan, pekerjaan, C. S. Lewis akan menebak, pasti ada orang yang sombong di dalamnya, sehingga begitu sulitnya hal itu diselesaikan. Tentu saja semakin sulit lagi, jika pihak yang sombong selalu berpikir bahwa pihak lawanlah yang sombong. Ini benar-benar lingkaran setan! Tidak ada yang bisa menyelesaikan masalah seperti ini kecuali Tuhan.

Akhirnya, terhadap kesombongan ini C. S. Lewis ingin memberikan peringatan yang tegas, “Selama Anda menjadi orang yang sombong Anda tidak bisa mengenal Allah” Mengapa? “Sebab kesombongan adalah kanker spiritual: yang memakan habis setiap kemungkinan dari kasih, atau perasaan cukup, atau bahkan akal sehat.” Pemikiran C. S. Lewis hanyalah gema cerdas dari kebenaran Alkitab yang berkata, “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong” (1Kor. 13:4). C. S. Lewis menutup pembahasannya dengan menunjukkan jalan menuju kerendahan hati. Ia berkata, “Langkah pertama adalah menyadari bahwa Anda adalah orang yang sombong. Dan langkah itu sekaligus merupakan langkah yang cukup besar. Setidaknya, tidak ada sesuatupun yang bisa dilakukan sebelumnya. Jika Anda berpikir bahwa Anda tidak tinggi hati, itu berarti Anda memang tinggi hati” Selamat Merenung.




Sumber: e-mail yang dikirim langsung dari penulis




Profil Penulis:
Ev. Bedjo Lie, S.E., M.Div. adalah Kepala Pusat Kerohanian (Pusroh) dan dosen Filsafat Agama dan Christian Worldview di Universitas Kristen Petra, Surabaya. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Ekonomi (S.E.) di UK Petra, Surabaya dan Master of Divinity (M.Div.) di Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang. Beliau mendapat sertifikat dari Ravi Zacharias International Ministry, Academy of Apologetics, India.




Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio

01 July 2010

Daftar Pustaka

DAFTAR PUSTAKA




Boettner, Loraine. Iman Reformed. Terj. Hendry Ongkowidjojo. Surabaya: Momentum, 2000.
Calvin, John. Institutes of the Christian Religion. Ed. John T. McNeill. Kentucky, U.S.A.: Westminster John Knox Press, 2006.
Frame, John M. Cornelius Van Til: Suatu Analisis Terhadap Pemikirannya. Terj. Irwan Tjulianto. Surabaya: Momentum, 2002.
“History of Protestantism.” Wikipedia. 2010. 27 Juni 2010. http://en.wikipedia.org/wiki/History_of_Protestantism
“John Calvin.” Wikipedia. 2010. 27 Juni 2010 .
“Monergism.” Wikipedia. 2009. 29 Juni 2010 .
Moeliono, Anton M., ed. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1990.
Piper, John S. Memerangi Ketidakpercayaan. Terj. Grace P. Christian. Bandung: Pionir Jaya, 2010.
Williamson, G. I. Katekismus Singkat Westminster 1. Terj. The Boen Giok. Surabaya: Momentum, 2006.
Zacharias, Ravi. Sang Penenun Agung. Terj. Christian Tirtha. Bandung: Pionir Jaya, 2009.

Bab 5: Kesimpulan dan Tantangan

BAB 5
KESIMPULAN DAN TANTANGAN




Setelah mempelajari dan merenungkan sejarah, ajaran, ciri khas, dan apa yang perlu direformasi dalam gerakan Reformed, apa yang menjadi reaksi kita? Marah? Ngambek? Cuek? Setuju-setuju saja sich tapi susah diaplikasikan (setuju secara kognitif)? Ataukah kita benar-benar menyetujuinya dan berkomitmen menjalankannya demi hormat dan kemuliaan nama-Nya? Saya menyadari bahwa tulisan saya ini kadang terlalu pedas/sengit, namun percayalah, saya ingin menyadarkan Kekristenan, khususnya Reformed, untuk kembali ke semangat Reformasi dan Reformed mula-mula yaitu Sola Scriptura. Jangan mengganti Sola Scriptura dengan Sola Reformed! Berhati-hatilah, dua istilah ini mirip dan bisa rancu pemakaiannya! Mari kita menguji diri kita, benarkah kita Sola Scriptura ataukah Sola Reformed atau Sola Ecclesia (hanya gereja saja)? Jika Anda belum kembali ke semangat Reformed mula-mula, berdoalah, mintalah Roh Kudus terus mengoreksi iman Anda selama ini, lalu kembalilah ke Alkitab. Biarlah semangat Reformed benar-benar kita aplikasikan di dalam kehidupan sehari-hari demi hormat dan kemuliaan nama-Nya. Amin. Soli DEO Gloria.

Bab 4: Reforming Reformed

BAB 4
REFORMING REFORMED




Setelah melihat ciri khas positif dan negatif dari Reformed, maka apa yang harus dilakukan oleh Reformed? TIDAK ada cara lain: Reformed harus BERTOBAT. Reformed harus di-Reformed-kan lagi. Apa yang lebih di dalam iman Reformed patut diteladani, namun apa yang kurang di dalam iman Reformed perlu direformasi lagi dan beberapa hal yang perlu direformasi di dalam gerakan Reformed saat ini:
I. Pentingnya Kerendahan Hati
Yang terpenting yang harus direformasi dalam gerakan Reformed hari-hari ini adalah kerendahan hati. Makin lama saya makin memperhatikan beberapa Reformed telah menjadi arogan dan menganggap remeh gerakan dan gereja lain, kemudian ajaran dari gerakan dan gereja lain dikarikaturkan sendiri untuk nantinya dikritik habis-habisan (mengutip pernyataan teman gereja saya, Sdr. Jimmy Sumendap, M.T.). Lucu bukan? Mengapa Reformed menjadi arogan? Karena Reformed menganggap bahwa Reformed paling benar. Ingatlah, Reformed memang satu-satunya theologi yang membangun doktrinnya dari perspektif kekekalan secara komprehensif dan konsisten, namun hal ini hendaknya TIDAK membuat Reformed menjadi sombong. Hal ini seharusnya membuat Reformed makin lama makin rendah hati. Coba ingat kembali perkataan Dr. John Calvin bahwa beliau mempersembahkan hatinya kepada Tuhan dengan tulus dan murni. Di manakah hati yang tulus dan murni di kalangan Reformed saat ini? Hati yang tulus dan murni ditandai dengan kerendahan hati. Seberapa pentingkah kerendahan hati? Dua orang theolog zaman ini menjelaskan signifikansi penting kerendahan hati. Seorang apologet Kristen terkenal, Dr. Ravi Zacharias, D.D. memaparkan, “Kerendahan hati adalah batu pijak bagi melayani Tuhan.”[1] Jika ingin melayani Tuhan, bukan segudang gelar akademis yang diperlukan, namun kerendahan hati, sebuah hati yang mau ditegur, diajar, dan belajar. Begitu juga halnya dengan Rev. John Stephen Piper, D.Theol. memaparkan, “Kerendahan hati hanya bisa bertahan di dalam hadirat Allah. Ketika Allah berlalu, kerendahan hati berlalu… kerendahan hati mengikuti Allah bagaikan suatu bayangan.”[2] Kerendahan hati untuk melayani sebenarnya berasal dari Allah, sehingga jika kita ingin rendah hati, teruslah berada dalam hadirat Allah, maka Ia akan menjaga hati kita terus-menerus murni dan siap ditegur, diajar, dan belajar. Mari kita mengaplikasikan kerendahan hati seperti apa yang harus dimiliki oleh seorang Reformed?
A. Kerendahan Hati Untuk Mau Ditegur dan Diajar
Siapa yang menegur dan mengajar Reformed? Tentu pertama-tama Tuhan bisa melalui hamba Tuhan dan orang Reformed sendiri (internal) maupun juga bisa melalui hamba Tuhan dan orang Kristen non-Reformed. Teguran dan pengajaran itu bisa berupa khotbah, uraian artikel, penyampaian secara langsung, diskusi, dll. Semua cara yang Tuhan pakai untuk menegur dan mengajar kembali Reformed hendaknya benar-benar diperhatikan dengan seksama oleh Reformed. Meskipun terkadang kritik orang non-Reformed kepada orang Reformed bersifat “menghakimi” tanpa melihat langsung (=fitnahan) dan terkesan kontradiksi dengan dirinya sendiri, namun kritikan tersebut tetap harus kita perhatikan dan refleksikan. Terus terang, saya dahulu seorang penganut Sola Reformed, sehingga barangsiapa yang mengkritik Reformed akan saya kritik balik. Namun puji Tuhan, lama-kelamaan Ia membuka hati dan pikiran saya melalui sharing pribadi dengan Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M. (hamba Tuhan Reformed) untuk terus-menerus mengintrospeksi diri, sehingga “iman” saya dahulu yang Sola Reformed kemudian berubah sesuai dengan iman Reformed awal, yaitu: Sola Scriptura (hanya oleh Alkitab)! Bukankah Reformed percaya: Ecclesia Reformata Semper Reformanda Secundum Verbum Dei (gereja-gereja Reformed terus-menerus di-Reformed-kan sesuai dengan firman Allah)? Mengapa semboyan ini tidak diaplikasikan secara nyata oleh Reformed ketika ada yang mengkritik Reformed? Meskipun tidak semua kritikan itu baik dan Alkitabiah, namun alangkah bijaksananya jika kita sebagai orang Reformed tetap menerima dan merenungkan kritikan itu sesuai dengan prinsip Alkitab.

Ambil contoh, beberapa Reformed sering dikritik baik oleh jemaatnya sendiri maupun orang Kristen non-Reformed bahwa beberapa Reformed “dingin” dan kurang ada kehangatan bersekutu antar jemaat. Mengapa ada kritikan semacam itu? Karena beberapa Reformed terlalu berkutat dengan hal-hal theologis dan doktrinal melalui seminar dan studi literatur, sehingga setelah seminar usai, maka banyak jemaat pulang ke rumah masing-masing tanpa ada sharing sedikit tentang berkat yang didapat melalui seminar, dll. Bagaimana sikap Reformed? Ada yang merasionalisasinya dengan berkata bahwa yang penting itu doktrin yang beres dibangun, karena persekutuan itu hanya indah dipandang mata (superficial). Saya pribadi memang menyetujui sebagian konsep ini, banyak persekutuan itu hanya untuk saling menyenangkan, bukan untuk saling mengajar, menegur, dan menguatkan. Namun sebenarnya rasionalisasi ini sekaligus menunjukkan kebenaran tuduhan terhadap Reformed yang “dingin”. Reformed yang rendah hati seharusnya menerima kritikan tersebut dan mencoba untuk memperbaharuinya. Belajarlah sharing sedikit tentang berkat firman kepada sesama saudara seiman kita di dalam gereja. Jika ada teman kita yang bersalah, tegurlah dengan sopan dan kasih. Jika ada teman kita yang putus asa, hiburlah dan berikan kata-kata yang menunjukkan simpati kita (bukan hanya menggombal/terlalu puitis).

Dan yang terakhir yang perlu diperhatikan dalam kerendahan hati model ini adalah pentingnya Reformed untuk mengkritik diri ketimbang sibuk mengkritik ajaran lain. Saya terus memperhatikan beberapa Reformed (khususnya beberapa hamba Tuhan dan beberapa jemaat yang “senior”) kurang memiliki self-introspection dan lebih menunjukkan kritik kepada ajaran (dan orang) lain. Alangkah bijaksananya jika Reformed memulai terlebih dahulu kritik terhadap diri sendiri, baru mengkritik orang lain, sehingga kita menjadi teladan hidup bagi orang lain.


B. Kerendahan Hati Untuk Mau Belajar dari Hamba Tuhan Lain Non-Reformed
Kerendahan hati tipe kedua ini yang makin lama makin jarang saya jumpai di kalangan Reformed, mengapa? Karena Reformed terlalu arogan menyatakan diri sebagai satu-satunya kebenaran. Kembali, apa maksudnya ketika saya mengatakan bahwa Reformed perlu rendah hati belajar dari hamba Tuhan lain non-Reformed? Maksud saya adalah sebagai orang Reformed, kita perlu belajar dari hamba Tuhan lain non-Reformed untuk mengintrospeksi diri kita dan menumbuhkan iman kita. Untuk belajar dari hamba Tuhan lain non-Reformed, kita memang perlu ekstra ketat menyeleksinya, seberapa bermutu dan bertanggungjawabkah hamba Tuhan non-Reformed tersebut. Saya akan memberikan pengalaman saya pribadi. Saya dahulu berasal dari sebuah gereja Karismatik terbesar di Surabaya, kemudian ayah saya mengenalkan saya kepada theologi Reformed melalui kaset khotbah Seminar Pembinaan Iman Kristen (SPIK) dari hamba-Nya, Pdt. Dr. Stephen Tong. Kemudian makin lama melalui mendengarkan khotbah SPIK Pdt. Stephen Tong, iman saya makin diteguhkan tentang finalitas Kristus dan keunikan theologi Reformed. Meskipun demikian, waktu itu, saya “terpaksa” berada di sebuah gereja Karismatik lain (GBI Alfa Omega, Surabaya), sampai akhirnya 31 Oktober 2004, saya dan keluarga aktif beribadah di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Andhika, Surabaya. Nah, pada saat saya dahulu masih di GBI Alfa Omega tersebut dan telah mendengarkan khotbah Pdt. Stephen Tong, saya berjumpa dengan seorang pendeta Bethel yang berbeda dari pendeta Bethel yang lain melalui khotbah mimbar di GBI Alfa Omega, beliau adalah Pdt. Dr. (HC) Erastus Sabdono, D.Th. yang menggembalakan Gereja Bethel Indonesia (GBI) Rehobot, Jakarta. Dari situ, saya mengamati keunikan Pdt. Erastus sebagai pendeta Bethel yang cukup menguasai bahasa asli Alkitab (Ibrani dan Yunani) dan secara theologi, mendekati inti theologi Reformed: kedaulatan Allah. Setelah saya berbakti di GRII Andhika, sampai sekarang, saya tetap mengoleksi khotbah Pdt. Dr. Erastus Sabdono baik dalam bentuk MP3 (yang saya download dari website GBI Rehobot) maupun di radio Bahtera Yudha FM, Surabaya. Saya pun mengcopy artikel Pdt. Erastus (yang telah saya seleksi ketat) di website GBI Rehobot untuk saya publikasikan di milis, Facebook, dll. Terus terang, saya juga banyak diberkati melalui mendengarkan khotbah Pdt. Erastus, karena khotbah-khotbah beliau juga sama kerasnya seperti khotbah Pdt. Dr. Stephen Tong dan terlebih lagi, khotbah-khotbah beliau kebanyakan bersifat reflektif yang jarang saya jumpai di kalangan Reformed yang selalu “bermain” di tataran filsafat dan theologi yang berat-berat (bukan berarti saya anti yang berat-berat lho). Meskipun dalam beberapa poin dari ajaran Pdt. Erastus, saya kurang sependapat, namun secara mayoritas, khotbah beliau layak diperhitungkan sebagai salah satu khotbah yang bertanggungjawab dari pendeta Bethel.

Selain itu, saya juga mulai melirik buku-buku rohani non-Reformed dan mulai membeli dan tentunya membacanya (dengan selektif). Misalnya, saya menyukai buku The Christian Atheist karya Rev. Craig Groeschel, M.Div. Buku ini ditulis bukan oleh seorang pendeta Reformed, namun isinya bersifat Injili dan melawan ajaran kemakmuran. Meskipun secara kuantitas, saya memang lebih banyak membeli buku-buku Reformed, namun tidak menutup kemungkinan, saya mencoba membeli buku-buku non-Reformed. Mungkin dari buku-buku non-Reformed, saya juga bisa belajar banyak hal yang mungkin kurang dibahas di dalam buku-buku Reformed. Untuk mulai membaca buku-buku non-Reformed, memang diperlukan pengertian theologi yang ketat dahulu, sehingga kita bisa menyensor dalam buku-buku tersebut, mana ajaran yang bertanggungjawab dan mana yang ngaco.




II. Perlunya Bersatu
Selain kerendahan hati, yang perlu direformasi dalam gerakan Reformed adalah persatuan. Semangat bersatu di beberapa Reformed hampir tidak ada, malahan yang terjadi sebaliknya, bahkan, antar cabang dalam satu plang/nama gereja Reformed yang sama saja sering berkelahi. Mengapa mereka tidak mau bersatu? Alasannya simple, namun dipoles dengan kata-kata “rohani”, misalnya “beda visi.” Sebenarnya intinya bukan beda visi, namun beda konsep dan pendekatan Reformed. Ada juga beda organisasi. Kalau masalah organisasi gereja, saya tidak bisa berkata apa-apa, karena saya bukan ketua sinode, hehehe. Namun andaikan alasannya beda organisasi gereja (dan juga kebijakan yang diambil), pertanyaan saya, mengapa gereja yang sama-sama Reformed tidak mau saling mendukung hanya dengan alasan organisasi? Apakah salah satu gereja Reformed merasa kehilangan domba-dombanya jika jemaat dari gereja Reformed yang satu pindah ke gereja Reformed yang lain?

Bagaimana halnya dengan beda pendekatan Reformed? Ada pendekatan Reformed yang frontal mengkritik habis-habisan gereja lain, ada juga pendekatan Reformed yang friendly (bersahabat) dengan gereja lain untuk nantinya dibawa untuk mengerti theologi Reformed. Yang paling parah ada pendekatan Reformed yang tidak Reformed, yaitu pendeta/hamba Tuhan yang kuliah theologi di seminari theologi Reformed di luar negeri, namun tidak membawa semangat dan theologi Reformed ketika kembali ke Indonesia. Bagi orang ini, Reformed atau tidak Reformed, tidak menjadi masalah. Pendekatan terakhir ini saya tidak setuju, karena Reformed memiliki keunikan yang tidak bisa dipersamakan dengan arus theologi lain. Kembali, untuk 2 pendekatan awal Reformed (Reformed frontal dan friendly Reformed), saya menghargai dua macam pendekatan tersebut dan saya tidak menghakimi mana yang paling Alkitabiah, karena Tuhan pun memakai hamba-hamba-Nya dari dua macam pendekatan ini untuk membawa banyak orang untuk kembali kepada Kristus dan theologi yang benar yang mendekati Alkitab. Kalau citra Reformed saja begitu rusak, bagaimana Reformed bisa bersaksi di tengah dunia ini? Apa kata dunia jika mereka melihat pengikut Kristus yang meneladani Calvin bisa bertengkar sendiri untuk hal-hal remeh?

Lalu, bagaimana Reformed bisa bersatu?
A. Tinggalkan “Tembok” Organisasi Gereja
Hal pertama yang harus digarap agar Reformed bisa bersatu adalah tinggalkan dan hancurkan semua “tembok” organisasi gereja. Jangan menghalangi pekerjaan Tuhan hanya dengan alasan “organisasi gereja”. Saya bukan anti organisasi gereja, namun saya sangat anti dengan orang Kristen, majelis, dan pendeta yang lebih memberhalakan organisasi gereja ketimbang khotbah yang bertanggungjawab. Apa gunanya organisasi gereja yang kuat dan terorganisir dengan rapi, namun khotbah yang disampaikan di atas mimbar benar-benar kering (tidak menumbuhkan iman) dan bahkan menidurkan jemaat? Saya terus ngeri melihat banyak gereja Protestan arus utama yang organisasi gerejanya begitu rapi, namun iman dari banyak jemaatnya rapuh ketika filsafat dunia menyerang. Pdt. Dr. Stephen Tong mengajar bahwa di dalam sebuah gerakan/gereja, dahulukan visi, pribadi-pribadi, dan baru terakhir organisasi gereja. Jangan dibalik. Mengapa di dalam gereja Reformed, ada gereja Reformed yang terlalu memberhalakan organisasi gereja sampai-sampai tidak mendukung acara Reformed lainnya? Yang saya perhatikan, alasan sebenarnya adalah mungkin karena ambisi pribadi atau ketidaksetujuan doktrin (sekunder) antara pendeta Reformed X dengan pendeta Reformed Y. Bagi saya, alasan-alasan tersebut tetap BUKAN alasan primer, malah alasan tersebut bisa saya kategorikan sebagai alasan childish yang ngambek kalau dirinya tidak dihormati/disetujui. Masa ini sich citra Reformed? Ayo Reformed, sadarlah dan bertobatlah. Untuk hal-hal sekunder bahkan tersier, belajarlah menerima keunikan masing-masing di dalam kubu Reformed, jangan memaksakan kehendak sendiri. Ingatlah, kita dipanggil untuk menjadi berkat di tengah dunia! Ingatlah, Reformed bukan sebuah gereja, namun gerakan yang harus melintasi batasan denominasi.


B. Bersatulah Antar Gereja dan Lembaga Reformed Untuk Menyelenggarakan Forum/Simposium Theologi dan Tukar Mimbar (Khotbah)
Setelah meruntuhkan tembok “organisasi gereja”, maka Reformed perlu bersatu antar gereja dan lembaga Reformed untuk menyelenggarakan forum/simposium theologi. Rupa-rupanya Reformed di Indonesia perlu belajar dari World Reformed Fellowship (WRF) sebagai persekutuan Reformed dunia yang terdiri dari gereja-gereja Reformed lintas denominasi di seluruh dunia. Reformed di Indonesia perlu bersatu untuk makin memberkati bangsa Indonesia. Saya berangan-angan, andaikan di Indonesia, gerakan Reformed saling melengkapi, maka nama Tuhan dipermuliakan. Gerakan Reformed yang saling melengkapi itu adalah gerakan Reformed lintas denominasi gereja yang menyelenggarakan simposium/seminar theologi bersama membahas masalah: theologi sistematika, theologi biblika, theologi historika, apologetika, filsafat, mandat Budaya, dll, sehingga Reformed yang menguasai Biblika bisa belajar dari Reformed yang menguasai Filsafat, begitu juga Reformed yang menguasai Theologi Sistematika bisa belajar dari Reformed yang menguasai Biblika dan Filsafat, dlsb, sehingga masing-masing Reformed bisa saling belajar, bertumbuh, dan berbuah bagi perluasan Kerajaan Allah di bumi ini.

Gerakan Reformed yang saling melengkapi ini juga bisa berupa adanya inisiatif pendeta/majelis gereja Reformed untuk bisa saling tukar mimbar. Misalnya, pendeta yang melayani di gereja Reformed A diundang berkhotbah di gereja Reformed B, begitu juga sebaliknya, sehingga jemaat di gereja Reformed A juga bisa belajar dari hamba Tuhan dari gereja Reformed B dan juga sebaliknya. Dengan demikian, masing-masing bisa belajar, bertumbuh, dan berbuah untuk bersaksi di tengah zaman ini. Coba bayangkan seorang jemaat Reformed di gereja Reformed yang hanya menekankan studi Biblika dan kurang menyentuh studi yang lain mengakibatkan jemaatnya hanya pandai berbahasa Ibrani dan Yunani dan bereksegese, namun ketika menjalankan mandat budaya dan mengerti filsafat, beberapa jemaatnya (tidak semua) amburadul. Bukan saja tidak karuan, bahkan ada salah satu jemaatnya yang menggunakan istilah agung seperti bergumul untuk maksud “sampah”, misalnya berpacaran dengan yang tidak seiman. Inilah akibat dari gereja Reformed yang hanya menekankan studi Biblika, namun secara doktrinal kurang ditekankan. Begitu juga halnya dengan gereja Reformed yang hanya menekankan studi doktrin/theologi sistematika dan filsafat, biasanya banyak yang jebol di dalam studi Biblika dan apologetika, karena yang dikuasai hanya theologi sistematika dan filsafat. Kalaupun mengusung tema Biblika (misalnya Pemahaman Alkitab), yang diuraikan tetap dari kerangka pikir theologi sistematika, bukan menggali Alkitab dengan teliti. Ayo gereja Reformed, marilah bersatu, wujudkan gerakan Reformed yang satu di dalam Sola Scriptura, jangan terpecah-pecah lagi.




III. Belajarlah Untuk Tidak Gegabah
Hal ketiga yang perlu direformasi dalam gerakan Reformed adalah belajar untuk tidak gegabah khususnya dalam menyoroti suatu ajaran. Artinya, sebelum bercuap-cuap di atas mimbar untuk mengkritik seseorang atau ajaran tertentu, biasakanlah menyelidiki seseorang dan/atau ajaran tersebut sampai tuntas dan JANGAN hanya mendengar dari kata orang! Misalnya, ketika mengkritik ajaran Pdt. Y, maka jangan langsung mengkritik ajaran Pdt. Y hanya karena mendengar dari orang lain atau mendengar dari khotbah singkat dari Pdt. Y atau membaca uraian Pdt. Z tentang ajaran Pdt. Y. Biasakan membaca dan mengamati langsung dari sumber utamanya (primary source) baik melalui buku-buku, uraiannya di dalam sebuah seminar khusus, diskusi langsung, dll, sehingga kita bisa mencegah kemungkinan salah tafsir. Saya mengamati kesalahan tafsir terjadi karena kita sebagai penerima kurang tuntas memahami berita dari si pembawa berita, sehingga kurangnya informasi dan pemahaman tersebut mengakibatkan kita menyalahtafsirkan si pembawa berita tersebut, yang lebih celaka, penyalahtafsiran ini kita ceritakan/khotbahkan di depan jemaat, sehingga jemaat mendengar kesalahan ajaran Pdt. Y dari kita yang mengkhotbahkannya, padahal maksud asli Pdt. Y tidaklah seperti yang disalahtafsirkan oleh kita. Hai orang-orang Reformed yang notabene jago/ahli tafsir Alkitab dengan teliti, mengapa kalian sembrono dan gegabah jika menafsirkan perkataan orang lain? Di manakah ketelitian kalian? Sadarlah Reformed, sadarlah!




IV. Paradoxical Christian (Reformed) Life-style
Hal terakhir yang perlu direformasi dalam gerakan Reformed adalah tentang gaya hidup. Sebagaimana salah satu kelemahan beberapa Reformed adalah masalah gaya hidup yang kaku alias jadul, maka gaya hidup paradokslah yang seharusnya menjadi gaya hidup Reformed. Saya menyebut paradoxical Christian (Reformed) life-style yang berarti sebuah gaya hidup Kristen khususnya Reformed yang menyeimbangkan antara pengejaran hikmat dan kesenangan (belajar dari Ev. Ivan Kristiono yang belajar dari Agustinus). Hari-hari ini, kita melihat dua gaya hidup ekstrem dalam Kekristenan, yaitu:

Pertama, terlalu liar mengejar kesenangan. Ada banyak orang Kristen yang gaya hidupnya terlalu liar, sering hang-out, namun lupa ke gereja, bahkan yang lebih parah, setahun ke gereja hanya 2x, yaitu waktu hari Paskah dan Natal. Yang paling parah, melakukan free-sex. Gaya hidup tipe ini berfokus pada kesenangan sesaat tanpa Allah.

Kedua, terlalu kaku mengejar hikmat. Model orang Kristen biasanya seorang yang kutu buku (bahkan kata Pdt. Sutjipto Subeno: RAYAP buku) dan suka kulakan khotbah dan seminar untuk mengisi otaknya saja. Orang model ini hanya mengerti buku-buku theologi dan filsafat, seperti: Dr. Louis Berkhof, Dr. Cornelius Van Til, Dr. Richard L. Pratt, Dr. Ronald H. Nash, Dr. D. A. Carson, Dr. John M. Frame, Socrates, Plato, Aristoteles, dll, namun jangan tanyakan kepada orang lain apakah dia memiliki akun Facebook (FB) atau Twitter, karena kebanyakan dari mereka sepakat menjawab, “TIDAK! Najis…” HeheheJ

Di antara dua gaya hidup yang ekstrem, belajar dari Agustinus, saya menawarkan solusi yang seimbang dan paradoks yaitu menggabungkan antara pencarian hikmat dan kesenangan. Seperti kata Agustinus, “Cintailah Tuhan dan lakukan segala sesuatu”, maka orang Kristen khususnya Reformed seharusnya mengerti bagaimana mencintai Tuhan dengan tulus dan sungguh-sungguh, dan setelah itu melakukan segala sesuatu dengan koridor Alkitab. Saya mau mengatakan sekali lagi: JANGAN menjadi orang Reformed yang paranoid (terhadap kesenangan, dll)! Jangan lebay, plis. Belajarlah menjadi orang Reformed yang waras yang bisa menyeimbangkan pengejaran hikmat melalui studi theologi dan Alkitab, namun juga tetap rileks dalam hidup sehari-hari misalnya dengan hang-out bersama-sama teman kita ke mal, dll, namun aktivitas rileks kita pun tetap harus ada batasnya, jangan sampai keterlaluan, misalnya dugem, menghisap narkoba, dll.

Catatan kaki:
[1] Ravi Zacharias, Sang Penenun Agung, terj. Christian Tirtha (Bandung: Pionir Jaya, 2009), hlm. 69.
[2] John S. Piper, Memerangi Ketidakpercayaan, terj. Grace P. Christian (Bandung: Pionir Jaya, 2010), hlm. 39.

Bab 3: Ciri-ciri Khas Reformed

BAB 3
CIRI-CIRI KHAS REFORMED




Setelah melihat sekilas sejarah gerakan Reformed dan doktrinnya, maka mari kita menyelidiki apa yang menjadi ciri khas Reformed baik secara positif maupun negatif. Semua ciri khas ini berangkat dari implikasi sejarah dan ajaran dari gerakan/theologi Reformed.
I. Ciri Khas Positif
Harus diakui, gerakan Reformed lebih memiliki ciri khas positif ketimbang negatif, di antaranya:
1. Memiliki Perspektif Kedaulatan Allah
Karena Reformed percaya bahwa Allah adalah Allah yang berdaulat, maka perspektif sudut pandang Reformed selalu berpusat pada kedaulatan Allah. Oleh karena itu, theologi Reformed dapat disebut sebagai theology from above (theologi dari atas). Artinya, orang-orang Reformed yang sungguh-sungguh beriman Reformed selalu mengamati dan menyoroti segala sesuatu di dunia ini dari kacamata kedaulatan Allah. Orang yang melihat segala sesuatu dari perspektif kedaulatan Allah TIDAK akan terkaget-kaget melihat fenomena dunia, mengapa? Karena perspektif yang digunakannya adalah perspektif melampaui fenomena. Ia akan mampu mengatakan seperti yang dikatakan Pengkhotbah, “tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari.” (Pkh. 1:9b) Sedangkan orang yang tidak memiliki perspektif kedaulatan Allah sering kali terkaget-kaget dengan gejala dan fenomena dunia. Perhatikan saja apa yang menyerang Kekristenan belakangan ini. Kita masih ingat serangan-serangan terhadap Kekristenan, yaitu The Da Vinci Code, Injil Yudas, Injil Thomas, The Secret, dll. Kekristenan ramai-ramai mengadakan seminar membahas hal ini. Hal ini tentu tidak salah. Reformed pun mengadakan seminar menyoroti hal-hal tersebut untuk membekali jemaatnya agar tidak tertipu oleh sampah-sampah tersebut. Namun yang menjadi perbedaannya, Reformed mengadakan seminar, bukan karena munculnya isu-isu tersebut, namun karena ingin mendidik jemaat, sehingga jika muncul isu-isu serupa di kemudian hari, orang Reformed tidak kaget lagi. Oleh karena itu, Reformed jarang mengadakan seminar menyikapi isu-isu terlalu detail. Orang Reformed hanya perlu dididik dengan iman Kristen yang beres sesuai dengan Alkitab, kemudian mereka dengan sendirinya (tentu dengan bantuan Roh Kudus) bisa memilah sendiri mana ajaran yang benar dengan yang ngaco.

Bagaimana memiliki perspektif kedaulatan Allah tersebut? Tidak ada jalan lain, yaitu kembali kepada Alkitab. Dengan kembali kepada Alkitab, orang-orang Kristen dan tentunya Reformed sanggup menyoroti dunia dan menyediakan solusi yang benar-benar jitu dan bertanggungjawab. Gaya hidup orang Reformed bukan Purpose-Driven, namun mengutip perkataan Rev. John F. MacArthur, Jr., Litt.D., D.D. yaitu Bible-Driven (digerakkan Alkitab). Ketika segala sesuatu baik kehidupan maupun gereja digerakkan oleh Alkitab, maka kita akan melihat betapa dahsyat dan agungnya cara Allah mengajar kita untuk melihat dunia ini dan juga untuk bersaksi di dunia ini.

Mari kita aplikasikan perspektif kedaulatan Allah di dalam menyoroti masalah penyimpangan penggunaan Facebook pada anak remaja. Belakangan ini, kita dihebohkan oleh media bahwa ada remaja cewek pengguna Facebook (FB) berkenalan dengan seorang cowok dari luar kota dan kemudian mereka bertemu (kopi darat). Setelah bertemu, mereka melangsungkan hubungan seks (free-sex) dan kemudian si cewek sadar, kemudian ketika kembali ke rumahnya, sang ibu yang diberi tahu bahwa anak ceweknya tidak perawan lagi mengusir anaknya keluar rumah. Bagaimana sikap masyarakat umum terhadap kasus ini? Saya pernah membaca sebuah uraian di salah satu surat kabar di Surabaya di mana saran terhadap gejala ini adalah orangtua harus mengawasi penggunaan FB pada anak remaja (bahkan kalau perlu orangtua membuat akun FB untuk memantau anaknya). Tentu saran ini termasuk saran cukup baik mengatasi gejala penyimpangan perilaku akibat penggunaan FB tersebut. Namun, bagi saya, saran tersebut masih kurang jitu dan menimbulkan beberapa pertanyaan. Jika orangtua harus mengawasi penggunaan FB pada anak remaja, saya bertanya, sampai sebatas apa orangtua mengawasinya? Apakah jika anak remajanya pergi bersekolah dengan membawa HP yang memiliki aplikasi FB, maka si orangtua harus duduk di sebelah anaknya tersebut? Apakah jika anak remajanya hang out dengan teman-temannya, orangtua harus ikut untuk mengawasi penggunaan FB? Apakah orangtua layaknya polisi yang selalu patroli ke mana pun si anak berada? Kedua, jika saran ini mengatakan bahwa orangtua kalau perlu membuat akun FB untuk memantau apa yang dilakukan oleh anaknya, berarti alasan orangtua membuat akun FB bukan untuk menambah teman, tetapi sebagai polisi bagi anaknya di dunia maya. Logikanya, jika si anak mengetahui bahwa ia tidak bisa berbuat apa-apa di dalam FB karena dipantau orangtuanya, maka si anak akan membuat 2 macam akun, yaitu akun yang bisa diakses oleh orangtuanya yang isinya selalu baik-baik dan akun yang lainnya yang berisi hal-hal pribadi dan tentunya ini tidak bisa diakses oleh orangtuanya karena mungkin menggunakan nama samaran. Saya hanya menantang, bisakah si “polisi” ini melacak akun samaran dari anaknya? Hehehe…

Lalu, bagaimana solusi yang tepat? Theologi Reformed yang melihat segala sesuatu dari kedaulatan Allah mengajar bahwa anak remaja yang bisa tidak karuan hidupnya disebabkan oleh pola didik orangtua yang tidak beres. Anak yang dari kecil dididik untuk mencintai diri dan orangtua akan mengakibatkan anak tersebut bertumbuh dewasa tidak mengenal Allah dan bahkan memberontak terhadap Allah. Sedangkan anak yang dari kecil sudah dididik untuk takut akan Allah (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div. menyebutnya dekrit pertama/first decree), maka atas anugerah-Nya, Ia akan memimpin anak itu bertumbuh dewasa di dalam pengenalan akan Allah dan melakukan segala sesuatu untuk memuliakan-Nya saja, sehingga atas anugerah-Nya sajalah, si anak yang bertumbuh dewasa mampu memilih sendiri mana yang memuliakan Tuhan dengan yang tidak. Memang benar anak kecil yang tidak dididik dengan iman beres suatu saat pada waktu dewasa, ia akan bertobat melalui kuasa Roh Kudus. Tentu itu benar, namun kasus khusus ini TIDAK boleh digeneralisasi, lalu kita membiarkan anak didik kita yang masih kecil diajar dengan filsafat manusia berdosa. Mari kita melihat apa yang Tuhan sendiri firmankan kepada orang Israel di dalam Perjanjian Lama, “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.” (Ul. 6:4-7) Dari kecil, Tuhan memerintahkan orangtua Israel untuk mendidik anak mereka dari kecil untuk takut akan Tuhan dan menyembah Dia saja. Koq rasanya beda bangetz dengan banyak orangtua zaman sekarang yang menjadikan diri orangtua dan diri anak sebagai “Allah” yang harus disembah dan dituruti.

Sudah terlihat bukan bedanya orang dunia yang melihat segala sesuatu dari perspektif kesementaraan vs perspektif kekekalan? Sekarang, mana yang Anda pilih?


B. Membangun Doktrin yang Konsisten
Karena melihat segala sesuatu dari perspektif kedaulatan Allah, maka iman Reformed membangun doktrinnya secara konsisten. Doktrin ini didasarkannya pada pengertian Alkitab secara komprehensif, jujur, teliti, dan bertanggungjawab. Bagi Reformed, Alkitab bukanlah buku yang bisa dicomot sembarangan untuk dijadikan doktrin murahan, namun Alkitab adalah buku agung dari Allah yang harus ditafsirkan dengan bertanggungjawab sesuai dengan konteks dan maksud aslinya. Meskipun Reformed tidak berani mengklaim sebagai satu-satunya theologi yang menafsirkan Alkitab dengan benar/tanpa salah, namun Reformed berani mengklaim sebagai pendekatan theologi yang mencoba menafsirkan Alkitab seakurat dan seteliti mungkin sesuai dengan konteks dan teks aslinya. Klaim ini bukan klaim sembarangan yang tanpa dasar apa pun, namun dengan dasar kokoh yang dipegang oleh iman Reformed yaitu: Scriptura sui interpres (Alkitab menafsirkan dirinya sendiri). Prinsip ini mengajar bahwa jika ingin menafsirkan Alkitab dengan bertanggungjawab, biarkanlah Alkitab berbicara secara simultan dan komprehensif. Prinsipnya, ayat-ayat yang kurang jelas diterangi oleh ayat-ayat yang sudah jelas. Jangan dibalik. Dari prinsip ini, maka dibangunlah kerangka doktrin Reformed yang kokoh yang teruji sepanjang zaman.

Bandingkan dengan iman Kristen lain yang membangun doktrinnya dari perspektif manusia berdosa, pasti dijumpai banyak ketidakkonsistenan di dalamnya. Ambil contoh, Arminianisme yang mengajarkan tentang anugerah Allah dan pilihan Allah, namun jika dipertajam, ajaran ini sebenarnya tidak sedang mengajarkan anugerah dan pilihan Allah, namun anugerah Allah + “kehendak bebas” manusia yang bersumbangsih. Dengan kata lain, Arminianisme mengajarkan adanya joint venture antara anugerah Allah dan “kehendak bebas” manusia. Logikanya, jika Arminianisme konsisten, maka yang disebut anugerah Allah adalah pemberian dari Allah secara cuma-cuma, namun yang aneh, mengapa yang namanya anugerah harus disertai dengan respons manusia, seolah-olah tanpa respons manusia, anugerah Allah menjadi tak berarti. Jika demikian, layakkah hal ini disebut anugerah Allah jika harus menunggu respons manusia?




C. Memiliki Semangat Perjuangan Iman yang Berkobar-kobar
Selain melihat segala sesuatu dari kedaulatan Allah, gerakan Reformed memiliki semangat perjuangan iman yang berkobar-kobar. Gerakan Reformed yang dimulai oleh pendirinya, Dr. John Calvin memiliki visi dan semangat yang berkobar-kobar untuk mengajar dan mendidik orang Kristen dengan kebenaran Alkitab di kota-kota yang disinggahinya, yaitu Strasbourg, Geneva, dll, sehingga kota-kota tempat Calvin singgah dan dipengaruhi secara tidak langsung dari ajaran Calvin mengakibatkan banyak penduduknya menghidupi firman tersebut di dalam kehidupan sehari-hari mereka yang membawa signifikansi penting bagi perubahan dunia. Ketika “theologi” liberal pengaruh rasionalisme pada kira-kira 4 abad yang lalu mulai menyerang Kekristenan, para theolog Reformed berdiri dengan teguh melawan liberalisme tersebut dan memelihara iman Kristen yang murni. Ketika “theologi” liberal mulai meracuni Princeton Seminary (yang didirikan oleh Presbyterian Church, U.S.A.) dengan ditandatanganinya Auburn Affirmation oleh 1300 “hamba Tuhan” pada tahun 1924 yang menegaskan bahwa doktrin-doktrin penting seperti iluminasi Alkitab, kelahiran Kristus dari anak dara Maria, penebusan-Nya yang menggantikan, kebangkitan jasmani Kristus, dan kedatangan-Nya yang kedua kali dalam arti harfiah tidak diwajibkan sebagai keyakinan bagi calon hamba Tuhan, maka Dr. J. Gresham Machen yang termasuk salah satu dari sejumlah pihak dari Presbyterian Church, U.S.A. yang menolak afirmasi tersebut keluar dari Princeton Seminary dan mendirikan Westminster Theological Seminary pada tahun 1929.[1] Di Westminster Theological Seminary, Rev. Prof. Cornelius Van Til, Ph.D. diminta menjadi profesor sampai masa pensiunnya pada tahun 1972.

Dari sejarah ini, kita melihat bahwa Allah masih menyisakan beberapa umat pilihan-Nya yang masih setia kepada Allah dan firman-Nya di tengah dunia yang kacau. Bagaimana dengan zaman sekarang? Di tengah zaman postmodern di mana banyak Kekristenan sudah menyimpang dengan ajaran yang ngaco, Tuhan mengutus hamba-Nya, Pdt. Dr. Stephen Tong untuk kembali meneruskan gerakan Reformed Injili yang mendidik orang Kristen dengan theologi Reformed yang ketat dan mengobarkan semangat pemberitaan Injil. Selain mendidik theologi Reformed, keunikan Pdt. Stephen Tong adalah beliau juga mendidik semangat Reformed yang kurang ada pada para profesor Reformed di seminari theologi Reformed di luar negeri. Saya pribadi pun melihat gereja-gereja yang mengaku dipengaruhi oleh Reformed/Calvinisme sebenarnya bertradisi Reformed ketimbang bertheologi Reformed. Bagaimana tidak saya mengatakan hal ini, di dalam website salah satu gereja di Surabaya yang mengaku dipengaruhi Calvinsime sendiri mengaku bahwa gerejanya tidak selalu menyetujui ajaran Calvinisme. Pdt. Dr. Stephen Tong menyebut ini bukan Reformed, tetapi Deformed atau bahkan no-formed. Ketika kita memiliki semangat perjuangan iman yang kokoh berdasarkan prinsip Alkitab yang jelas dan komprehensif, maka meskipun zaman merayu kita dengan filsafatnya yang menyesatkan, atas anugerah-Nya, kita tidak akan mampu diperdayai. Sebaliknya, orang Kristen yang terus ikut arus zaman pasti dengan mudahnya ditipu oleh banyak ajaran dunia yang palsu. Pdt. Dr. Stephen Tong berkali-kali mengingatkan kita bahwa JANGAN IKUT ARUS ZAMAN! Ketika kita terus ikut arus zaman, kita sebenarnya sedang “mati” diombang-ambingkan oleh zaman seperti ikan mati yang terus dibawa oleh arus, karena zaman terus-menerus berubah.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita masih gemar ikut arus dunia ataukah kita memiliki semangat perjuangan iman yang melawan arus zaman dengan kebenaran Alkitab? Biarlah hal ini menyadarkan kita masing-masing.


D. Menguasai Banyak Bidang
Selain memiliki semangat perjuangan iman yang berkobar-kobar, orang-orang Reformed dikenal sebagai orang yang menguasai banyak bidang. Misalnya, seorang mantan perdana menteri Belanda yang dijuluki sebagai pendiri Neo-Calvinisme, Prof. Dr. Ds. Abraham Kuyper di dalam bukunya Lectures on Calvinism (Ceramah-ceramah Mengenai Calvinisme) mengaitkan Kekristenan khususnya theologi Reformed dengan sistem kehidupan, agama, politik, ilmu pengetahuan, dan seni. Di zaman sekarang, kita mengenal sosok hamba-Nya yang setia, Pdt. Dr. Stephen Tong sebagai seorang pendeta Reformed yang multi-talenta yang menguasai banyak bidang: theologi, filsafat, seni, arsitektur, musik, ekonomi, politik, pendidikan, bahasa Mandarin, bahasa Inggris, dll. Mengapa orang Reformed dikenal menguasai banyak bidang? Karena dipengaruhi oleh salah satu doktrinnya yaitu mandat budaya (bdk. poin X dalam Bab 2 tentang Ajaran-ajaran Reformed di atas). Seorang Reformed yang didorong oleh ajarannya bahwa kita dipanggil untuk menebus budaya bagi kemuliaan Kristus adalah orang yang berjuang menegakkan iman Kristen di tengah dunia ini dan juga tentunya mengaplikasikannya dengan mengaitkan iman Kristennya yang berdasarkan Alkitab dengan seluruh aspek kehidupan sehari-harinya. Bagaimana dengan kita? Kita memang bukan Tuhan yang menguasai segala sesuatu, namun kita dituntut untuk mengerti banyak bidang agar kita bisa menebus banyak bidang tersebut bagi kemuliaan Kristus. Ini bukan hanya bagi kalangan Reformed, namun juga bagi semua orang Kristen yang sungguh-sungguh yang takut akan Tuhan.


E. Keseimbangan Antara Hati dan Rasio
Ciri khas terakhir dari Reformed adalah keseimbangan antara hati dan rasio. Bukankah kita sering mendengar dari orang lain bahwa Reformed itu gemar adu argumentasi dan terlalu mengandalkan rasio saja? Sebenarnya itu bukan ciri khas Reformed mula-mula. Reformed mula-mula mempraktikkan keseimbangan antara hati dan rasio. Hal ini dipraktikkan sendiri oleh pendiri Reformed, yaitu Dr. John Calvin melalui bukunya yang sangat terkenal, Institutes of the Christian Religion. Mari kita memperhatikan perkataan Calvin sendiri di dalam bukunya ini, “Piety is requisite for the knowledge of God”[2] (=Pietas/kesalehan adalah syarat penting bagi pengetahuan akan Allah) Dengan jelas, Calvin mengajar kita bahwa pengenalan/pengetahuan akan Allah bukan ditandai dengan rajinnya kita mengonsumsi buku-buku theologi sekelas Dr. Louis Berkhof atau menghafal Lima Pokok Calvinisme atau mengikuti kuliah/seminar theologi, namun pengetahuan akan Allah ditandai dengan kesalehan/pietas hidup. Doktrin TIDAK dimulai dari studi theologi atau membaca buku-buku theologi, namun dimulai dari hati kita. Oleh karena itu, Dr. John Calvin pernah mengeluarkan perkataan yang agung yaitu bahwa dia menyerahkan hatinya kepada Allah dengan sungguh-sungguh dan murni. Ketika kita menyerahkan hati kita kepada Allah, maka Allah akan membersihkan hati kita dan mengisinya dengan kebenaran firman. Dari situlah, kita mulai terus-menerus mengenal Allah. Semangat Calvin diteruskan oleh para Puritan dengan kesalehan hidup mereka. Jika Anda membaca tulisan-tulisan dari theolog Puritan, Dr. John Owen, M.A., Anda akan merasakan “aura” kesalehan dalam dirinya. Hal serupa juga kita temui dan perhatikan ketika membaca buku-buku baik dari Rev. John S. Piper, D.Theol. maupun Dr. Jerry Bridges. Bagi saya, membaca buku-buku dari dua penulis ini bukan hanya mengajar kita tentang konsep theologi, namun juga mengoreksi kerohanian kita. Ini menjadi refleksi bagi kita khususnya para Reformed agar kita bukan hanya gemar membaca buku-buku theologi yang berat, namun juga kita perlu untuk membaca buku-buku rohani yang devosional (bersifat renungan/reflektif) untuk membangun kerohanian kita dan tentunya yang paling utama membaca Alkitab sebagai cermin yang mengoreksi iman, kerohanian, dan kehidupan kita. Jangan menjadikan Alkitab hanya sebagai bahan mengkritik (ajaran) orang lain, tetapi jadikanlah Alkitab sebagai bahan untuk mengkritik diri terlebih dahulu.




II. Ciri Khas Negatif
Selain ciri khas positif, saya juga menyajikan ciri khas negatif dari Reformed. Mengapa harus menyajikan ciri khas negatif? Karena dengan menyajikan ciri khas negatif, saya sebagai penganut Reformed pun harus mengintrospeksi diri, sehingga orang-orang Reformed makin rendah hati dan bukan makin menonjolkan diri. Adapun ciri khas negatif tersebut:
A. Gemar Berdebat
Mau tidak mau, tuduhan dari orang non-Reformed kepada orang Reformed pertama adalah orang Reformed gemar berdebat. Debat tersebut bisa berisi doktrin primer maupun doktrin sekunder bahkan tersier. Sejarah Reformed membuktikan perdebatan antara metode apologetika presuposisionalis (mengikuti Dr. Cornelius Van Til) vs metode apologetika klasik (classical apologetics) yang dianut oleh salah satu theolog Reformed zaman sekarang, yaitu Rev. R. C. Sproul, Ph.D. Begitu juga ada perdebatan dalam doktrin-doktrin seperti pemilihan Allah itu terjadi apakah sebelum manusia berdosa atau setelah manusia berdosa (infralapsarian vs supralapsarian). Masih ada lagi perdebatan lain yang tidak dibahas pada bagian ini. Perdebatan-perdebatan tersebut ternyata bukan hanya adu argumentasi, namun juga sampai memisahkan diri. Sebagai contoh, setelah Dr. J. Gresham Machen meninggal pada tahun 1937, Presbyterian Church of America (PCA) yang dibentuknya kemudian terjadi perpecahan. Sejumlah hamba Tuhan meninggalkan PCA dan membentuk Bible Presbyterian Church. Demikian juga Prof. Allen MacRae yang dahulu bersama-sama dengan Dr. J. Gresham Machen mendirikan Westminster Theological Seminary, kemudian meninggalkan Westminster Seminary dan mendirikan Faith Theological Seminary dengan kontroversinya meliputi: dispensasionalisme, “kemerdekaan Kristen” (legitimasi bagi orang Kristen untuk mempergunakan minuman beralkohol), dll.[3] Tidak heran, jika denominasi Reformed/Presbyterian di zaman sekarang cukup banyak memiliki cabang. Sebagai contoh, di sebuah hotel di Singapore, saat saya membuka dan melihat buku kuning daftar gereja-gereja di Singapore, terdapat klasifikasi-klasifikasi khusus denominasi gereja: Katolik, Baptis, Fundamentalis, Orthodoks, dll dan khusus gereja Reformed/Presbyterian terdapat klasifikasi lagi: Bible Presbyterian Church, Independent Presbyterian Church, Reformed Presbyterian Church, dll. Mengapa perdebatan-perdebatan tersebut mengakibatkan Reformed memisahkan diri dan mendirikan gereja sendiri? Apakah ikut-ikut Luther dan Machen di atas yang juga memisahkan diri? Namun Luther dan Machen memisahkan diri dari ajaran yang tidak bertanggungjawab secara esensial, bukan secara fenomenal.

Jika orang Reformed yang gemar berdebat sana-sini, namun tidak memiliki hati yang mengasihi dan menoleransi hal-hal yang tidak penting, saya meragukan iman Reformednya. Reformed dipanggil bukan untuk beradu argumentasi, namun membawa orang kembali kepada Alkitab. Bagaimana dengan kita, khususnya yang mengaku beriman Reformed? Apakah kita gemar menuding kesalahan (ajaran) orang lain, namun hampir tidak pernah menuding kesalahan diri sendiri? Biarlah orang Reformed makin lama makin sadar dan rendah hati.


B. Sektarian
Karena gemar berdebat dan kemudian memisahkan diri, maka kelemahan beberapa Reformed adalah sektarian. Sektarian menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah “1. Anggota (pendukung, penganut) suatu sekte atau mazhab; 2. Picik, terkungkung pada satu aliran saja.”[4] Di dalam beberapa kalangan Reformed, kita melihat adanya kecenderungan sektarian. Para pengikut Reformed X bersama-sama mendukung X dan menghina Reformed Y, begitu pula sebaliknya, para pendukung Reformed Y bersama-sama memuji Y dan menghina X. Mengapa ya sesama Reformed tidak bisa saling mendukung satu sama lain? Mengapa sesama Reformed jadi sektarian dan tidak bisa bersatu menggarap Kekristenan dengan spirit Reformed? Saya tidak menemukan dukungan sejarah sedikitpun tentang Reformed yang sektarian yang hanya mau mendukung Reformed versi tertentu dan tidak mendukung Reformed versi lain. Mengikuti Reformed versi lain dicap sesat, kompromi, dll. Saya sampai hampir “menangis” melihat Reformed terpecah-pecah dan tidak bisa bersatu seperti spirit Reformed di zaman Puritan dahulu. Semua mementingkan ego mereka sendiri dan alasan peraturan gereja yang berbeda. Di zaman Puritan, tidak ada yang mementingkan organisasi dan peraturan. Tetapi bagaimana dengan Reformed di Indonesia? Mengapa Reformed A melarang anggotanya mengikuti seminar Reformed B dan begitu pula sebaliknya? Biarlah ini menjadi bahan introspeksi diri kita masing-masing.

C. Gegabah Menghakimi/Mengkritik (Namun Tidak Mau Dikritik)
Ciri khas negatif kedua dari Reformed adalah gegabah dalam menghakimi. Tentu ketika saya membahas hal ini, Reformed yang saya maksud adalah bukan semua Reformed, namun beberapa/sebagian Reformed, karena saya mengenal ada hamba Tuhan Reformed yang tidak terlalu gegabah menghakimi. Beberapa Reformed terlalu gegabah menghakimi seseorang atau sesuatu ajaran yang tidak diselidikinya secara tuntas. Beberapa orang sampai mencap Reformed terlalu cepat labeling suatu ajaran/seseorang tanpa menyelidikinya secara tuntas. Meskipun orang yang berkata seperti ini pun sedang labeling Reformed (kontradiksi yang melawan dirinya sendiri), namun sebagai bahan refleksi, biarlah kita menyadari teguran orang luar ini terhadap Reformed. Benarkah kita terlalu cepat labeling suatu ajaran/seseorang dan kemudian menghakiminya? Ketika buku The Purpose Driven Life dan The Purpose Driven Church dari Rev. Rick Warren, D.Min. beredar luas, beberapa Reformed mencapnya sebagai buku sesat. Namun, tolong tanya, yang gemar mencap bidat itu apakah telah membaca tuntas buku The Purpose Driven Life? Ataukah yang gembar-gembor mengatakan buku ini sesat hanya mengikuti saran pendeta seniornya yang mencap buku ini sesat juga (ikut-ikutan nich ye, hehehe)? Saya pribadi telah membaca buku terjemahan Indonesia dari The Purpose Driven Life dan saya memang mengakui ada beberapa kesalahan doktrin dan interpretasi Alkitab dari Rick Warren, namun bagi saya, kesalahan itu tidaklah fatal seperti kesalahan (baca: kesesatan) Injil Thomas atau Injil Yudas.

Bagaimana dengan postmodernisme yang sering ditafsirkan oleh beberapa Reformed sebagai filsafat yang mengajarkan relativisme? Benarkah postmodernisme 100% salah? Bacalah buku A Primer on Postmodernism karangan Prof. Stanley J. Grenz, D.Theol. dan Anda akan mendapatkan sekilas[5] tentang filsafat postmodernisme: sisi positif dan negatifnya. Bertanyalah kepada pendeta Reformed yang sungguh-sungguh menyelidiki filsafat postmodernisme, maka ia akan menjawab TIDAK. Pdt. Joshua Lie, Ph.D. (Cand.) sebagai salah satu pendeta Reformed dari Indonesia yang menyelidiki dan studi filsafat di Institute for Christian Studies, Toronto, Canada mengatakan bahwa postmodernisme TIDAK mengajarkan relativisme, karena jika postmodernisme mengajarkan relativisme, maka tidak mungkin para filsufnya menulis buku. Sebaliknya, Pdt. Joshua Lie mengatakan bahwa postmodernisme memiliki ide borderless (tidak memiliki batasan).[6] Misalnya, buku The Da Vinci Code termasuk dalam kategori jenis buku apa? Tidak ada batasan, bisa disebut buku fiksi, sejarah, agama, dll. Bagaimana dengan buku The Secret? Bisa disebut buku sains (lebih tepatnya pseudo-science), filsafat, agama, dll.

Terlalu banyak pengkarikaturan dari beberapa Reformed terhadap ajaran lain, misalnya Arminianisme, Katolik Roma, Orthodoks Syria, dan filsafat lain, dlsb. Bukan hanya gemar menghakimi/mengkritik, Reformed pun juga enggan/tidak suka dikritik balik. Dengan kata lain, beberapa Reformed suka mengkritik orang lain (bahkan dengan kata-kata yang pedas dan menghina), namun mereka tidak suka dikritik. Jika beberapa Reformed dikritik, selalu ada alasan “rohani” untuk menjawabnya, misalnya: “kita harus altruis.”[7] Di dalam wilayah praktika, ada jemaat Reformed yang aktif pelayanan (lumayan senior, di atas 40 tahun) yang gemar mengkritik orang lain bahkan tidak tanggung-tanggung mengkritik orang lain di depan orang lain (maksud hati ingin menegur dan mengajar, namun caranya keterlaluan dan menghina), namun ketika dirinya dikritik, dia tidak pernah minta maaf. Sikapnya ini mengakibatkan dia menjadi batu sandungan bagi seorang tante yang beragama Kristen Katolik.

Kembali, akhir kata, saran saya kepada sesama Reformed: BERHENTILAH mengkarikaturkan ajaran lain sebelum Anda mendalami ajaran tersebut secara tuntas! Jangan sampai orang-orang dunia menertawakan Kekristenan khususnya Reformed yang gemar mengkarikaturkan filsafat orang dunia padahal isi karikaturnya tersebut TIDAK sesuai dengan ide asli filsafat dunia. Belajarlah secara tuntas ajaran-ajaran lain, baru berikan tanggapan!


D. Paranoid
Setelah gegabah menghakimi, beberapa Reformed juga memiliki ciri khas paranoid, khususnya beberapa jemaat dan beberapa hamba Tuhan Reformed. Ciri khas paranoid itu ditunjukkan dengan ketakutan mereka untuk membaca buku-buku non-Reformed dan mendengarkan siaran khotbah non-Reformed. Hal ini bukan rekaan fiktif, namun hal ini sudah terjadi pada Reformed di Surabaya. Ketika saya membawa buku yang saya baca When God Writes Your Love Story yang ditulis oleh Eric dan Leslie Ludy, seorang pemudi dari gereja Reformed bertanya kepada saya, “Apakah buku ini Reformed?” Waktu itu, saya tidak menjawab apa pun, karena bagi saya, pertanyaan itu merupakan pertanyaan paranoid yang tidak perlu dijawab. Kedua, pertanyaan itu hendak mengindikasikan bahwa sebagai orang Reformed, kita hanya boleh membaca buku-buku Reformed. Membaca buku-buku, mengikuti perkuliahan, mendengarkan khotbah di luar Reformed dianggap sesat. Ternyata bukan saya saja yang mengalami hal ini, teman gereja saya yang saat ini berada di Amerika juga mengalami hal yang sama ketika berkumpul bersama teman-teman Reformed di sana. Sungguh mengenaskan hal ini.

Hal ini tidak berarti kita menjadi semaunya sendiri: membaca buku yang tidak bertanggungjawab, mendengarkan khotbah yang seenaknya sendiri, dll. Tentu bukan ini maksud saya, namun yang hendak saya maksudkan, ketika kita mengetahui ada buku rohani bermutu dan hamba Tuhan bermutu (dan bertanggungjawab), meskipun bukan dari denominasi gereja Reformed, mengapa kita tidak mau mendengarkannya sebagai bahan refleksi? Ataukah kita telah menganggap bahwa Reformed itu Kebenaran (Sola Reformed) sehingga di luar Reformed sesat? Apakah citra Reformed serendah itu?? Mari kita introspeksi diri masing-masing.
E. Life-style: Jadul
Ciri khas terakhir yang negatif dari Reformed adalah tentang gaya hidupnya. Saya percaya bahwa yang saya maksud Reformed di sini tidaklah semua Reformed, namun beberapa Reformed atau bahkan mayoritas Reformed. Gaya hidup beberapa/mayoritas Reformed adalah gaya hidup kuno dan kaku (atau istilah gaulnya: jadul/jaman dahulu). Artinya, mereka kebanyakan hanya suka mengonsumsi bahan-bahan theologi melalui seminar dan studi buku/literatur, namun menghindari kesenangan-kesenangan, seperti hang-out di mal, menonton di bioskop, menyewa DVD film dan menontonnya, dll. Kesenangan-kesenangan tersebut dianggapnya berdosa. Saya jadi teringat cerita dari Ev. Ivan Kristiono, M.Div. barusan (23-24 Juni 2010) pada waktu Seminar Khusus: A Pursuit of Happiness (Etika dan Spiritualitas Agustinus) bahwa dia pernah mengajak teman kuliahnya dahulu di Institut Reformed untuk minum es jeruk dan temannya ini menolak karena (kesenangan) itu dosa. Ev. Ivan mengatakan bahwa maklum saja, temannya baru membaca buku tentang Puritan. Benarkah kesenangan tidak boleh di dalam Reformed, bahkan minum es jeruk pun tidak boleh? Jangan lebay (berlebihan), plis… Tidak ada ayat Alkitab yang melarang orang Kristen minum es jeruk.

Selain itu, gaya hidup jadul ditandai dengan raut mukanya yang tampang seperti seorang filsuf dan theolog yang jarang tertawa, kalaupun membuat lelucon, selalu jayus (=sebenarnya tidak lucu) dan gak ada isinya. Bahkan saya mengenal seorang Reformed yang menyoroti sesuatu lelucon dari Pdt. Dr. Stephen Tong (misalnya, perkataan yang sering Pdt. Stephen Tong ucapkan sebagai lelucon, “rupamu”) dari kacamata Alkitab (dia berkata bahwa kita dicipta sesuai gambar dan rupa Allah, oleh karena itu, jangan menghina rupa Allah). Cape dech, hehehe. Memang lelucon harus ada batas-batasnya, namun ini tentu TIDAK berarti kita tidak boleh bersenda gurau bukan? Kalau orang Reformed tidak boleh bersenda gurau, maka percayalah, 10 tahun lagi, orang Reformed bakal stres dan masuk rumah sakit jiwa. Orang Reformed, mengutip Ev. Ivan Kristiono yang menjelaskan tentang Agustinus, harus menyeimbangkan antara mencari hikmat dan mengejar kesenangan (pleasure). Ev. Ivan Kristiono mengutip Agustinus yang berkata, “Cintailah Tuhan dan lakukan segala sesuatu.” Pernyataan Agustinus ini memang hanya bisa dipahami oleh orang Kristen dewasa, karena jika tidak, bisa berbahaya dan bisa disalahtafsirkan. Benar, kita harus mencintai Tuhan. Tatkala kita mencintai Tuhan, kita tentu mengerti apa yang menjadi kehendak-Nya dan memuliakan-Nya, sehingga ketika kita melakukan segala sesuatu, kita melakukannya dengan jiwa takut dan cinta akan Tuhan dan firman-Nya. Ketika kita main game, kaitkan permainan kita dengan hikmat Tuhan, dlsb.

Life-style jadul juga berkaitan dengan metode khotbah (homiletika) beberapa hamba Tuhan Reformed. Meskipun yang hendak saya uraikan ini termasuk hal-hal sekunder, bahkan tersier, namun saya ingin sharing beberapa hal. Beberapa hamba Tuhan Reformed kalau berkhotbah selalu kaku dan terpaku pada teks khotbah (dalam arti: membaca teks khotbah). Yang lebih celaka, mereka yang melakukan hal tersebut mengatakan bahwa seorang pengkhotbah kebangunan rohani, Rev. Jonathan Edwards juga membaca teks ketika berkhotbah. Ya, bagi saya, Jonathan Edwards tetaplah Jonathan Edwards dan Tuhan memakai beliau dengan caranya sendiri, namun apakah berarti semua hamba Tuhan Reformed meniru cara Jonathan Edwards untuk dipakai Tuhan? Kedua, di zaman Jonathan Edwards waktu itu, banyak penduduk Amerika sudah Kristen, jadi tidak menjadi masalah dengan khotbah membaca teks, namun bagaimana dengan sekarang? Coba praktikkan metode khotbah Jonathan Edwards di zaman sekarang, saya jamin, mayoritas jemaat akan mengambil PW (posisi wuenak) untuk tidur, hehehe… Saya pribadi bosan dan pingin tidur kalau mendengar khotbah dari si pengkhotbah yang terus melihat teks khotbah tanpa menatap jemaat (emang jemaat tuh obyek yang boleh ada dan boleh tidak ada kaleee). Saya jadi kebayang, bagaimana jadinya kalau waktu Tuhan Yesus inkarnasi ke dalam dunia, Ia berkhotbah dan mengajar dengan menggunakan (dan membaca) teks khotbah, apa jadinya dengan para pendengarnya? Tuhan Yesus berkhotbah dan mengajar dengan penuh kuasa. Dr. John Calvin, pendiri Reformed juga dikabarkan jika berkhotbah bisa lebih dari 1 jam dan uniknya TIDAK menggunakan naskah khotbah. Namun, mengapa beberapa hamba Tuhan Reformed selalu melihat naskah khotbah kalau berkhotbah dan mengajar? Hal ini TIDAK berarti sebagai hamba Tuhan, Anda tidak perlu naskah khotbah. Naskah khotbah tetap perlu, namun yang saya permasalahkan adalah JANGAN terlalu sering membaca teks khotbah tersebut, belajarlah menatap jemaat (ingatlah, jemaat itu manusia, bukan obyek yang bisa ada dan bisa tidak ada) dan mengimprovisasi gaya khotbah sendiri. Saya kagum dengan 5 hamba Tuhan Reformed yang meskipun menggunakan naskah khotbah, namun tidak terlalu sering membacanya dan mereka juga mengimprovisasi gaya berkhotbah mereka sendiri (tidak terlalu kaku dan suaranya tidak terlalu datar), yaitu: Pdt. Dr. Stephen Tong, Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div., Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M., Ev. Ivan Kristiono, M.Div., dan Ev. Ir. Agus Marjanto Santoso, M.Div.
Catatan kaki:
[1] John M. Frame, Cornelius Van Til: Suatu Analisis Terhadap Pemikirannya, terj. Irwan Tjulianto (Surabaya: Momentum, 2002), hlm. 24-25.
[2] John Calvin, Institutes of the Christian Religion, ed. John T. McNeill (Kentucky, U.S.A.: Westminster John Knox Press, 2006), I.II.1, hlm. 39
[3] John M. Frame, Cornelius Van Til: Suatu Analisis Terhadap Pemikirannya, terj. Irwan Tjulianto (Surabaya: Momentum, 2002), hlm. 26.
[4] Anton M. Moeliono, ed., Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1990), hlm. 797
[5] Dr. Grenz sendiri mengatakan di dalam bukunya bahwa bukunya ini bukan berisi semua ide postmodernisme, namun hanya pengantar kepada filsafat postmodernisme. Oleh karena itu, beliau merekomendasikan buku-buku yang ditulis oleh filsuf postmodernisme sebagai bahan/sumber referensi.
[6] Disarikan dari khotbah Pdt. Joshua Lie, S.Th., M.Phil., Ph.D. (Cand.) melalui CD MP3 dengan judul: Postmodern Spirituality.
[7] Altruis adalah suatu sikap yang mau menjadi berkat bagi orang lain. Sikap ini tentu bukan sikap yang salah, namun terlalu menekankan sikap ini juga berbahaya, apalagi memberikan contoh Tuhan Yesus yang rela berkorban agar kita bisa altruis. Terlalu menekankan sikap altruis mengakibatkan orang tersebut enggan mau belajar dari orang lain, karena dengan belajar dari orang lain itu identik dengan mengambil manfaat dari orang lain (bukan memberi). Tuhan Yesus jelas pasti bisa altruis, karena Dia adalah Tuhan dan Allah yang TIDAK perlu belajar dari siapa pun, sedangkan kita sebagai manusia perlu dan wajib belajar dari orang lain. Ini perbedaannya. Jadi, jangan mentah-mentah menelan khotbah pendeta di atas mimbar, namun ujilah dengan Alkitab dan logika Kristen yang beres.