01 July 2010

Bab 3: Ciri-ciri Khas Reformed

BAB 3
CIRI-CIRI KHAS REFORMED




Setelah melihat sekilas sejarah gerakan Reformed dan doktrinnya, maka mari kita menyelidiki apa yang menjadi ciri khas Reformed baik secara positif maupun negatif. Semua ciri khas ini berangkat dari implikasi sejarah dan ajaran dari gerakan/theologi Reformed.
I. Ciri Khas Positif
Harus diakui, gerakan Reformed lebih memiliki ciri khas positif ketimbang negatif, di antaranya:
1. Memiliki Perspektif Kedaulatan Allah
Karena Reformed percaya bahwa Allah adalah Allah yang berdaulat, maka perspektif sudut pandang Reformed selalu berpusat pada kedaulatan Allah. Oleh karena itu, theologi Reformed dapat disebut sebagai theology from above (theologi dari atas). Artinya, orang-orang Reformed yang sungguh-sungguh beriman Reformed selalu mengamati dan menyoroti segala sesuatu di dunia ini dari kacamata kedaulatan Allah. Orang yang melihat segala sesuatu dari perspektif kedaulatan Allah TIDAK akan terkaget-kaget melihat fenomena dunia, mengapa? Karena perspektif yang digunakannya adalah perspektif melampaui fenomena. Ia akan mampu mengatakan seperti yang dikatakan Pengkhotbah, “tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari.” (Pkh. 1:9b) Sedangkan orang yang tidak memiliki perspektif kedaulatan Allah sering kali terkaget-kaget dengan gejala dan fenomena dunia. Perhatikan saja apa yang menyerang Kekristenan belakangan ini. Kita masih ingat serangan-serangan terhadap Kekristenan, yaitu The Da Vinci Code, Injil Yudas, Injil Thomas, The Secret, dll. Kekristenan ramai-ramai mengadakan seminar membahas hal ini. Hal ini tentu tidak salah. Reformed pun mengadakan seminar menyoroti hal-hal tersebut untuk membekali jemaatnya agar tidak tertipu oleh sampah-sampah tersebut. Namun yang menjadi perbedaannya, Reformed mengadakan seminar, bukan karena munculnya isu-isu tersebut, namun karena ingin mendidik jemaat, sehingga jika muncul isu-isu serupa di kemudian hari, orang Reformed tidak kaget lagi. Oleh karena itu, Reformed jarang mengadakan seminar menyikapi isu-isu terlalu detail. Orang Reformed hanya perlu dididik dengan iman Kristen yang beres sesuai dengan Alkitab, kemudian mereka dengan sendirinya (tentu dengan bantuan Roh Kudus) bisa memilah sendiri mana ajaran yang benar dengan yang ngaco.

Bagaimana memiliki perspektif kedaulatan Allah tersebut? Tidak ada jalan lain, yaitu kembali kepada Alkitab. Dengan kembali kepada Alkitab, orang-orang Kristen dan tentunya Reformed sanggup menyoroti dunia dan menyediakan solusi yang benar-benar jitu dan bertanggungjawab. Gaya hidup orang Reformed bukan Purpose-Driven, namun mengutip perkataan Rev. John F. MacArthur, Jr., Litt.D., D.D. yaitu Bible-Driven (digerakkan Alkitab). Ketika segala sesuatu baik kehidupan maupun gereja digerakkan oleh Alkitab, maka kita akan melihat betapa dahsyat dan agungnya cara Allah mengajar kita untuk melihat dunia ini dan juga untuk bersaksi di dunia ini.

Mari kita aplikasikan perspektif kedaulatan Allah di dalam menyoroti masalah penyimpangan penggunaan Facebook pada anak remaja. Belakangan ini, kita dihebohkan oleh media bahwa ada remaja cewek pengguna Facebook (FB) berkenalan dengan seorang cowok dari luar kota dan kemudian mereka bertemu (kopi darat). Setelah bertemu, mereka melangsungkan hubungan seks (free-sex) dan kemudian si cewek sadar, kemudian ketika kembali ke rumahnya, sang ibu yang diberi tahu bahwa anak ceweknya tidak perawan lagi mengusir anaknya keluar rumah. Bagaimana sikap masyarakat umum terhadap kasus ini? Saya pernah membaca sebuah uraian di salah satu surat kabar di Surabaya di mana saran terhadap gejala ini adalah orangtua harus mengawasi penggunaan FB pada anak remaja (bahkan kalau perlu orangtua membuat akun FB untuk memantau anaknya). Tentu saran ini termasuk saran cukup baik mengatasi gejala penyimpangan perilaku akibat penggunaan FB tersebut. Namun, bagi saya, saran tersebut masih kurang jitu dan menimbulkan beberapa pertanyaan. Jika orangtua harus mengawasi penggunaan FB pada anak remaja, saya bertanya, sampai sebatas apa orangtua mengawasinya? Apakah jika anak remajanya pergi bersekolah dengan membawa HP yang memiliki aplikasi FB, maka si orangtua harus duduk di sebelah anaknya tersebut? Apakah jika anak remajanya hang out dengan teman-temannya, orangtua harus ikut untuk mengawasi penggunaan FB? Apakah orangtua layaknya polisi yang selalu patroli ke mana pun si anak berada? Kedua, jika saran ini mengatakan bahwa orangtua kalau perlu membuat akun FB untuk memantau apa yang dilakukan oleh anaknya, berarti alasan orangtua membuat akun FB bukan untuk menambah teman, tetapi sebagai polisi bagi anaknya di dunia maya. Logikanya, jika si anak mengetahui bahwa ia tidak bisa berbuat apa-apa di dalam FB karena dipantau orangtuanya, maka si anak akan membuat 2 macam akun, yaitu akun yang bisa diakses oleh orangtuanya yang isinya selalu baik-baik dan akun yang lainnya yang berisi hal-hal pribadi dan tentunya ini tidak bisa diakses oleh orangtuanya karena mungkin menggunakan nama samaran. Saya hanya menantang, bisakah si “polisi” ini melacak akun samaran dari anaknya? Hehehe…

Lalu, bagaimana solusi yang tepat? Theologi Reformed yang melihat segala sesuatu dari kedaulatan Allah mengajar bahwa anak remaja yang bisa tidak karuan hidupnya disebabkan oleh pola didik orangtua yang tidak beres. Anak yang dari kecil dididik untuk mencintai diri dan orangtua akan mengakibatkan anak tersebut bertumbuh dewasa tidak mengenal Allah dan bahkan memberontak terhadap Allah. Sedangkan anak yang dari kecil sudah dididik untuk takut akan Allah (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div. menyebutnya dekrit pertama/first decree), maka atas anugerah-Nya, Ia akan memimpin anak itu bertumbuh dewasa di dalam pengenalan akan Allah dan melakukan segala sesuatu untuk memuliakan-Nya saja, sehingga atas anugerah-Nya sajalah, si anak yang bertumbuh dewasa mampu memilih sendiri mana yang memuliakan Tuhan dengan yang tidak. Memang benar anak kecil yang tidak dididik dengan iman beres suatu saat pada waktu dewasa, ia akan bertobat melalui kuasa Roh Kudus. Tentu itu benar, namun kasus khusus ini TIDAK boleh digeneralisasi, lalu kita membiarkan anak didik kita yang masih kecil diajar dengan filsafat manusia berdosa. Mari kita melihat apa yang Tuhan sendiri firmankan kepada orang Israel di dalam Perjanjian Lama, “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.” (Ul. 6:4-7) Dari kecil, Tuhan memerintahkan orangtua Israel untuk mendidik anak mereka dari kecil untuk takut akan Tuhan dan menyembah Dia saja. Koq rasanya beda bangetz dengan banyak orangtua zaman sekarang yang menjadikan diri orangtua dan diri anak sebagai “Allah” yang harus disembah dan dituruti.

Sudah terlihat bukan bedanya orang dunia yang melihat segala sesuatu dari perspektif kesementaraan vs perspektif kekekalan? Sekarang, mana yang Anda pilih?


B. Membangun Doktrin yang Konsisten
Karena melihat segala sesuatu dari perspektif kedaulatan Allah, maka iman Reformed membangun doktrinnya secara konsisten. Doktrin ini didasarkannya pada pengertian Alkitab secara komprehensif, jujur, teliti, dan bertanggungjawab. Bagi Reformed, Alkitab bukanlah buku yang bisa dicomot sembarangan untuk dijadikan doktrin murahan, namun Alkitab adalah buku agung dari Allah yang harus ditafsirkan dengan bertanggungjawab sesuai dengan konteks dan maksud aslinya. Meskipun Reformed tidak berani mengklaim sebagai satu-satunya theologi yang menafsirkan Alkitab dengan benar/tanpa salah, namun Reformed berani mengklaim sebagai pendekatan theologi yang mencoba menafsirkan Alkitab seakurat dan seteliti mungkin sesuai dengan konteks dan teks aslinya. Klaim ini bukan klaim sembarangan yang tanpa dasar apa pun, namun dengan dasar kokoh yang dipegang oleh iman Reformed yaitu: Scriptura sui interpres (Alkitab menafsirkan dirinya sendiri). Prinsip ini mengajar bahwa jika ingin menafsirkan Alkitab dengan bertanggungjawab, biarkanlah Alkitab berbicara secara simultan dan komprehensif. Prinsipnya, ayat-ayat yang kurang jelas diterangi oleh ayat-ayat yang sudah jelas. Jangan dibalik. Dari prinsip ini, maka dibangunlah kerangka doktrin Reformed yang kokoh yang teruji sepanjang zaman.

Bandingkan dengan iman Kristen lain yang membangun doktrinnya dari perspektif manusia berdosa, pasti dijumpai banyak ketidakkonsistenan di dalamnya. Ambil contoh, Arminianisme yang mengajarkan tentang anugerah Allah dan pilihan Allah, namun jika dipertajam, ajaran ini sebenarnya tidak sedang mengajarkan anugerah dan pilihan Allah, namun anugerah Allah + “kehendak bebas” manusia yang bersumbangsih. Dengan kata lain, Arminianisme mengajarkan adanya joint venture antara anugerah Allah dan “kehendak bebas” manusia. Logikanya, jika Arminianisme konsisten, maka yang disebut anugerah Allah adalah pemberian dari Allah secara cuma-cuma, namun yang aneh, mengapa yang namanya anugerah harus disertai dengan respons manusia, seolah-olah tanpa respons manusia, anugerah Allah menjadi tak berarti. Jika demikian, layakkah hal ini disebut anugerah Allah jika harus menunggu respons manusia?




C. Memiliki Semangat Perjuangan Iman yang Berkobar-kobar
Selain melihat segala sesuatu dari kedaulatan Allah, gerakan Reformed memiliki semangat perjuangan iman yang berkobar-kobar. Gerakan Reformed yang dimulai oleh pendirinya, Dr. John Calvin memiliki visi dan semangat yang berkobar-kobar untuk mengajar dan mendidik orang Kristen dengan kebenaran Alkitab di kota-kota yang disinggahinya, yaitu Strasbourg, Geneva, dll, sehingga kota-kota tempat Calvin singgah dan dipengaruhi secara tidak langsung dari ajaran Calvin mengakibatkan banyak penduduknya menghidupi firman tersebut di dalam kehidupan sehari-hari mereka yang membawa signifikansi penting bagi perubahan dunia. Ketika “theologi” liberal pengaruh rasionalisme pada kira-kira 4 abad yang lalu mulai menyerang Kekristenan, para theolog Reformed berdiri dengan teguh melawan liberalisme tersebut dan memelihara iman Kristen yang murni. Ketika “theologi” liberal mulai meracuni Princeton Seminary (yang didirikan oleh Presbyterian Church, U.S.A.) dengan ditandatanganinya Auburn Affirmation oleh 1300 “hamba Tuhan” pada tahun 1924 yang menegaskan bahwa doktrin-doktrin penting seperti iluminasi Alkitab, kelahiran Kristus dari anak dara Maria, penebusan-Nya yang menggantikan, kebangkitan jasmani Kristus, dan kedatangan-Nya yang kedua kali dalam arti harfiah tidak diwajibkan sebagai keyakinan bagi calon hamba Tuhan, maka Dr. J. Gresham Machen yang termasuk salah satu dari sejumlah pihak dari Presbyterian Church, U.S.A. yang menolak afirmasi tersebut keluar dari Princeton Seminary dan mendirikan Westminster Theological Seminary pada tahun 1929.[1] Di Westminster Theological Seminary, Rev. Prof. Cornelius Van Til, Ph.D. diminta menjadi profesor sampai masa pensiunnya pada tahun 1972.

Dari sejarah ini, kita melihat bahwa Allah masih menyisakan beberapa umat pilihan-Nya yang masih setia kepada Allah dan firman-Nya di tengah dunia yang kacau. Bagaimana dengan zaman sekarang? Di tengah zaman postmodern di mana banyak Kekristenan sudah menyimpang dengan ajaran yang ngaco, Tuhan mengutus hamba-Nya, Pdt. Dr. Stephen Tong untuk kembali meneruskan gerakan Reformed Injili yang mendidik orang Kristen dengan theologi Reformed yang ketat dan mengobarkan semangat pemberitaan Injil. Selain mendidik theologi Reformed, keunikan Pdt. Stephen Tong adalah beliau juga mendidik semangat Reformed yang kurang ada pada para profesor Reformed di seminari theologi Reformed di luar negeri. Saya pribadi pun melihat gereja-gereja yang mengaku dipengaruhi oleh Reformed/Calvinisme sebenarnya bertradisi Reformed ketimbang bertheologi Reformed. Bagaimana tidak saya mengatakan hal ini, di dalam website salah satu gereja di Surabaya yang mengaku dipengaruhi Calvinsime sendiri mengaku bahwa gerejanya tidak selalu menyetujui ajaran Calvinisme. Pdt. Dr. Stephen Tong menyebut ini bukan Reformed, tetapi Deformed atau bahkan no-formed. Ketika kita memiliki semangat perjuangan iman yang kokoh berdasarkan prinsip Alkitab yang jelas dan komprehensif, maka meskipun zaman merayu kita dengan filsafatnya yang menyesatkan, atas anugerah-Nya, kita tidak akan mampu diperdayai. Sebaliknya, orang Kristen yang terus ikut arus zaman pasti dengan mudahnya ditipu oleh banyak ajaran dunia yang palsu. Pdt. Dr. Stephen Tong berkali-kali mengingatkan kita bahwa JANGAN IKUT ARUS ZAMAN! Ketika kita terus ikut arus zaman, kita sebenarnya sedang “mati” diombang-ambingkan oleh zaman seperti ikan mati yang terus dibawa oleh arus, karena zaman terus-menerus berubah.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita masih gemar ikut arus dunia ataukah kita memiliki semangat perjuangan iman yang melawan arus zaman dengan kebenaran Alkitab? Biarlah hal ini menyadarkan kita masing-masing.


D. Menguasai Banyak Bidang
Selain memiliki semangat perjuangan iman yang berkobar-kobar, orang-orang Reformed dikenal sebagai orang yang menguasai banyak bidang. Misalnya, seorang mantan perdana menteri Belanda yang dijuluki sebagai pendiri Neo-Calvinisme, Prof. Dr. Ds. Abraham Kuyper di dalam bukunya Lectures on Calvinism (Ceramah-ceramah Mengenai Calvinisme) mengaitkan Kekristenan khususnya theologi Reformed dengan sistem kehidupan, agama, politik, ilmu pengetahuan, dan seni. Di zaman sekarang, kita mengenal sosok hamba-Nya yang setia, Pdt. Dr. Stephen Tong sebagai seorang pendeta Reformed yang multi-talenta yang menguasai banyak bidang: theologi, filsafat, seni, arsitektur, musik, ekonomi, politik, pendidikan, bahasa Mandarin, bahasa Inggris, dll. Mengapa orang Reformed dikenal menguasai banyak bidang? Karena dipengaruhi oleh salah satu doktrinnya yaitu mandat budaya (bdk. poin X dalam Bab 2 tentang Ajaran-ajaran Reformed di atas). Seorang Reformed yang didorong oleh ajarannya bahwa kita dipanggil untuk menebus budaya bagi kemuliaan Kristus adalah orang yang berjuang menegakkan iman Kristen di tengah dunia ini dan juga tentunya mengaplikasikannya dengan mengaitkan iman Kristennya yang berdasarkan Alkitab dengan seluruh aspek kehidupan sehari-harinya. Bagaimana dengan kita? Kita memang bukan Tuhan yang menguasai segala sesuatu, namun kita dituntut untuk mengerti banyak bidang agar kita bisa menebus banyak bidang tersebut bagi kemuliaan Kristus. Ini bukan hanya bagi kalangan Reformed, namun juga bagi semua orang Kristen yang sungguh-sungguh yang takut akan Tuhan.


E. Keseimbangan Antara Hati dan Rasio
Ciri khas terakhir dari Reformed adalah keseimbangan antara hati dan rasio. Bukankah kita sering mendengar dari orang lain bahwa Reformed itu gemar adu argumentasi dan terlalu mengandalkan rasio saja? Sebenarnya itu bukan ciri khas Reformed mula-mula. Reformed mula-mula mempraktikkan keseimbangan antara hati dan rasio. Hal ini dipraktikkan sendiri oleh pendiri Reformed, yaitu Dr. John Calvin melalui bukunya yang sangat terkenal, Institutes of the Christian Religion. Mari kita memperhatikan perkataan Calvin sendiri di dalam bukunya ini, “Piety is requisite for the knowledge of God”[2] (=Pietas/kesalehan adalah syarat penting bagi pengetahuan akan Allah) Dengan jelas, Calvin mengajar kita bahwa pengenalan/pengetahuan akan Allah bukan ditandai dengan rajinnya kita mengonsumsi buku-buku theologi sekelas Dr. Louis Berkhof atau menghafal Lima Pokok Calvinisme atau mengikuti kuliah/seminar theologi, namun pengetahuan akan Allah ditandai dengan kesalehan/pietas hidup. Doktrin TIDAK dimulai dari studi theologi atau membaca buku-buku theologi, namun dimulai dari hati kita. Oleh karena itu, Dr. John Calvin pernah mengeluarkan perkataan yang agung yaitu bahwa dia menyerahkan hatinya kepada Allah dengan sungguh-sungguh dan murni. Ketika kita menyerahkan hati kita kepada Allah, maka Allah akan membersihkan hati kita dan mengisinya dengan kebenaran firman. Dari situlah, kita mulai terus-menerus mengenal Allah. Semangat Calvin diteruskan oleh para Puritan dengan kesalehan hidup mereka. Jika Anda membaca tulisan-tulisan dari theolog Puritan, Dr. John Owen, M.A., Anda akan merasakan “aura” kesalehan dalam dirinya. Hal serupa juga kita temui dan perhatikan ketika membaca buku-buku baik dari Rev. John S. Piper, D.Theol. maupun Dr. Jerry Bridges. Bagi saya, membaca buku-buku dari dua penulis ini bukan hanya mengajar kita tentang konsep theologi, namun juga mengoreksi kerohanian kita. Ini menjadi refleksi bagi kita khususnya para Reformed agar kita bukan hanya gemar membaca buku-buku theologi yang berat, namun juga kita perlu untuk membaca buku-buku rohani yang devosional (bersifat renungan/reflektif) untuk membangun kerohanian kita dan tentunya yang paling utama membaca Alkitab sebagai cermin yang mengoreksi iman, kerohanian, dan kehidupan kita. Jangan menjadikan Alkitab hanya sebagai bahan mengkritik (ajaran) orang lain, tetapi jadikanlah Alkitab sebagai bahan untuk mengkritik diri terlebih dahulu.




II. Ciri Khas Negatif
Selain ciri khas positif, saya juga menyajikan ciri khas negatif dari Reformed. Mengapa harus menyajikan ciri khas negatif? Karena dengan menyajikan ciri khas negatif, saya sebagai penganut Reformed pun harus mengintrospeksi diri, sehingga orang-orang Reformed makin rendah hati dan bukan makin menonjolkan diri. Adapun ciri khas negatif tersebut:
A. Gemar Berdebat
Mau tidak mau, tuduhan dari orang non-Reformed kepada orang Reformed pertama adalah orang Reformed gemar berdebat. Debat tersebut bisa berisi doktrin primer maupun doktrin sekunder bahkan tersier. Sejarah Reformed membuktikan perdebatan antara metode apologetika presuposisionalis (mengikuti Dr. Cornelius Van Til) vs metode apologetika klasik (classical apologetics) yang dianut oleh salah satu theolog Reformed zaman sekarang, yaitu Rev. R. C. Sproul, Ph.D. Begitu juga ada perdebatan dalam doktrin-doktrin seperti pemilihan Allah itu terjadi apakah sebelum manusia berdosa atau setelah manusia berdosa (infralapsarian vs supralapsarian). Masih ada lagi perdebatan lain yang tidak dibahas pada bagian ini. Perdebatan-perdebatan tersebut ternyata bukan hanya adu argumentasi, namun juga sampai memisahkan diri. Sebagai contoh, setelah Dr. J. Gresham Machen meninggal pada tahun 1937, Presbyterian Church of America (PCA) yang dibentuknya kemudian terjadi perpecahan. Sejumlah hamba Tuhan meninggalkan PCA dan membentuk Bible Presbyterian Church. Demikian juga Prof. Allen MacRae yang dahulu bersama-sama dengan Dr. J. Gresham Machen mendirikan Westminster Theological Seminary, kemudian meninggalkan Westminster Seminary dan mendirikan Faith Theological Seminary dengan kontroversinya meliputi: dispensasionalisme, “kemerdekaan Kristen” (legitimasi bagi orang Kristen untuk mempergunakan minuman beralkohol), dll.[3] Tidak heran, jika denominasi Reformed/Presbyterian di zaman sekarang cukup banyak memiliki cabang. Sebagai contoh, di sebuah hotel di Singapore, saat saya membuka dan melihat buku kuning daftar gereja-gereja di Singapore, terdapat klasifikasi-klasifikasi khusus denominasi gereja: Katolik, Baptis, Fundamentalis, Orthodoks, dll dan khusus gereja Reformed/Presbyterian terdapat klasifikasi lagi: Bible Presbyterian Church, Independent Presbyterian Church, Reformed Presbyterian Church, dll. Mengapa perdebatan-perdebatan tersebut mengakibatkan Reformed memisahkan diri dan mendirikan gereja sendiri? Apakah ikut-ikut Luther dan Machen di atas yang juga memisahkan diri? Namun Luther dan Machen memisahkan diri dari ajaran yang tidak bertanggungjawab secara esensial, bukan secara fenomenal.

Jika orang Reformed yang gemar berdebat sana-sini, namun tidak memiliki hati yang mengasihi dan menoleransi hal-hal yang tidak penting, saya meragukan iman Reformednya. Reformed dipanggil bukan untuk beradu argumentasi, namun membawa orang kembali kepada Alkitab. Bagaimana dengan kita, khususnya yang mengaku beriman Reformed? Apakah kita gemar menuding kesalahan (ajaran) orang lain, namun hampir tidak pernah menuding kesalahan diri sendiri? Biarlah orang Reformed makin lama makin sadar dan rendah hati.


B. Sektarian
Karena gemar berdebat dan kemudian memisahkan diri, maka kelemahan beberapa Reformed adalah sektarian. Sektarian menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah “1. Anggota (pendukung, penganut) suatu sekte atau mazhab; 2. Picik, terkungkung pada satu aliran saja.”[4] Di dalam beberapa kalangan Reformed, kita melihat adanya kecenderungan sektarian. Para pengikut Reformed X bersama-sama mendukung X dan menghina Reformed Y, begitu pula sebaliknya, para pendukung Reformed Y bersama-sama memuji Y dan menghina X. Mengapa ya sesama Reformed tidak bisa saling mendukung satu sama lain? Mengapa sesama Reformed jadi sektarian dan tidak bisa bersatu menggarap Kekristenan dengan spirit Reformed? Saya tidak menemukan dukungan sejarah sedikitpun tentang Reformed yang sektarian yang hanya mau mendukung Reformed versi tertentu dan tidak mendukung Reformed versi lain. Mengikuti Reformed versi lain dicap sesat, kompromi, dll. Saya sampai hampir “menangis” melihat Reformed terpecah-pecah dan tidak bisa bersatu seperti spirit Reformed di zaman Puritan dahulu. Semua mementingkan ego mereka sendiri dan alasan peraturan gereja yang berbeda. Di zaman Puritan, tidak ada yang mementingkan organisasi dan peraturan. Tetapi bagaimana dengan Reformed di Indonesia? Mengapa Reformed A melarang anggotanya mengikuti seminar Reformed B dan begitu pula sebaliknya? Biarlah ini menjadi bahan introspeksi diri kita masing-masing.

C. Gegabah Menghakimi/Mengkritik (Namun Tidak Mau Dikritik)
Ciri khas negatif kedua dari Reformed adalah gegabah dalam menghakimi. Tentu ketika saya membahas hal ini, Reformed yang saya maksud adalah bukan semua Reformed, namun beberapa/sebagian Reformed, karena saya mengenal ada hamba Tuhan Reformed yang tidak terlalu gegabah menghakimi. Beberapa Reformed terlalu gegabah menghakimi seseorang atau sesuatu ajaran yang tidak diselidikinya secara tuntas. Beberapa orang sampai mencap Reformed terlalu cepat labeling suatu ajaran/seseorang tanpa menyelidikinya secara tuntas. Meskipun orang yang berkata seperti ini pun sedang labeling Reformed (kontradiksi yang melawan dirinya sendiri), namun sebagai bahan refleksi, biarlah kita menyadari teguran orang luar ini terhadap Reformed. Benarkah kita terlalu cepat labeling suatu ajaran/seseorang dan kemudian menghakiminya? Ketika buku The Purpose Driven Life dan The Purpose Driven Church dari Rev. Rick Warren, D.Min. beredar luas, beberapa Reformed mencapnya sebagai buku sesat. Namun, tolong tanya, yang gemar mencap bidat itu apakah telah membaca tuntas buku The Purpose Driven Life? Ataukah yang gembar-gembor mengatakan buku ini sesat hanya mengikuti saran pendeta seniornya yang mencap buku ini sesat juga (ikut-ikutan nich ye, hehehe)? Saya pribadi telah membaca buku terjemahan Indonesia dari The Purpose Driven Life dan saya memang mengakui ada beberapa kesalahan doktrin dan interpretasi Alkitab dari Rick Warren, namun bagi saya, kesalahan itu tidaklah fatal seperti kesalahan (baca: kesesatan) Injil Thomas atau Injil Yudas.

Bagaimana dengan postmodernisme yang sering ditafsirkan oleh beberapa Reformed sebagai filsafat yang mengajarkan relativisme? Benarkah postmodernisme 100% salah? Bacalah buku A Primer on Postmodernism karangan Prof. Stanley J. Grenz, D.Theol. dan Anda akan mendapatkan sekilas[5] tentang filsafat postmodernisme: sisi positif dan negatifnya. Bertanyalah kepada pendeta Reformed yang sungguh-sungguh menyelidiki filsafat postmodernisme, maka ia akan menjawab TIDAK. Pdt. Joshua Lie, Ph.D. (Cand.) sebagai salah satu pendeta Reformed dari Indonesia yang menyelidiki dan studi filsafat di Institute for Christian Studies, Toronto, Canada mengatakan bahwa postmodernisme TIDAK mengajarkan relativisme, karena jika postmodernisme mengajarkan relativisme, maka tidak mungkin para filsufnya menulis buku. Sebaliknya, Pdt. Joshua Lie mengatakan bahwa postmodernisme memiliki ide borderless (tidak memiliki batasan).[6] Misalnya, buku The Da Vinci Code termasuk dalam kategori jenis buku apa? Tidak ada batasan, bisa disebut buku fiksi, sejarah, agama, dll. Bagaimana dengan buku The Secret? Bisa disebut buku sains (lebih tepatnya pseudo-science), filsafat, agama, dll.

Terlalu banyak pengkarikaturan dari beberapa Reformed terhadap ajaran lain, misalnya Arminianisme, Katolik Roma, Orthodoks Syria, dan filsafat lain, dlsb. Bukan hanya gemar menghakimi/mengkritik, Reformed pun juga enggan/tidak suka dikritik balik. Dengan kata lain, beberapa Reformed suka mengkritik orang lain (bahkan dengan kata-kata yang pedas dan menghina), namun mereka tidak suka dikritik. Jika beberapa Reformed dikritik, selalu ada alasan “rohani” untuk menjawabnya, misalnya: “kita harus altruis.”[7] Di dalam wilayah praktika, ada jemaat Reformed yang aktif pelayanan (lumayan senior, di atas 40 tahun) yang gemar mengkritik orang lain bahkan tidak tanggung-tanggung mengkritik orang lain di depan orang lain (maksud hati ingin menegur dan mengajar, namun caranya keterlaluan dan menghina), namun ketika dirinya dikritik, dia tidak pernah minta maaf. Sikapnya ini mengakibatkan dia menjadi batu sandungan bagi seorang tante yang beragama Kristen Katolik.

Kembali, akhir kata, saran saya kepada sesama Reformed: BERHENTILAH mengkarikaturkan ajaran lain sebelum Anda mendalami ajaran tersebut secara tuntas! Jangan sampai orang-orang dunia menertawakan Kekristenan khususnya Reformed yang gemar mengkarikaturkan filsafat orang dunia padahal isi karikaturnya tersebut TIDAK sesuai dengan ide asli filsafat dunia. Belajarlah secara tuntas ajaran-ajaran lain, baru berikan tanggapan!


D. Paranoid
Setelah gegabah menghakimi, beberapa Reformed juga memiliki ciri khas paranoid, khususnya beberapa jemaat dan beberapa hamba Tuhan Reformed. Ciri khas paranoid itu ditunjukkan dengan ketakutan mereka untuk membaca buku-buku non-Reformed dan mendengarkan siaran khotbah non-Reformed. Hal ini bukan rekaan fiktif, namun hal ini sudah terjadi pada Reformed di Surabaya. Ketika saya membawa buku yang saya baca When God Writes Your Love Story yang ditulis oleh Eric dan Leslie Ludy, seorang pemudi dari gereja Reformed bertanya kepada saya, “Apakah buku ini Reformed?” Waktu itu, saya tidak menjawab apa pun, karena bagi saya, pertanyaan itu merupakan pertanyaan paranoid yang tidak perlu dijawab. Kedua, pertanyaan itu hendak mengindikasikan bahwa sebagai orang Reformed, kita hanya boleh membaca buku-buku Reformed. Membaca buku-buku, mengikuti perkuliahan, mendengarkan khotbah di luar Reformed dianggap sesat. Ternyata bukan saya saja yang mengalami hal ini, teman gereja saya yang saat ini berada di Amerika juga mengalami hal yang sama ketika berkumpul bersama teman-teman Reformed di sana. Sungguh mengenaskan hal ini.

Hal ini tidak berarti kita menjadi semaunya sendiri: membaca buku yang tidak bertanggungjawab, mendengarkan khotbah yang seenaknya sendiri, dll. Tentu bukan ini maksud saya, namun yang hendak saya maksudkan, ketika kita mengetahui ada buku rohani bermutu dan hamba Tuhan bermutu (dan bertanggungjawab), meskipun bukan dari denominasi gereja Reformed, mengapa kita tidak mau mendengarkannya sebagai bahan refleksi? Ataukah kita telah menganggap bahwa Reformed itu Kebenaran (Sola Reformed) sehingga di luar Reformed sesat? Apakah citra Reformed serendah itu?? Mari kita introspeksi diri masing-masing.
E. Life-style: Jadul
Ciri khas terakhir yang negatif dari Reformed adalah tentang gaya hidupnya. Saya percaya bahwa yang saya maksud Reformed di sini tidaklah semua Reformed, namun beberapa Reformed atau bahkan mayoritas Reformed. Gaya hidup beberapa/mayoritas Reformed adalah gaya hidup kuno dan kaku (atau istilah gaulnya: jadul/jaman dahulu). Artinya, mereka kebanyakan hanya suka mengonsumsi bahan-bahan theologi melalui seminar dan studi buku/literatur, namun menghindari kesenangan-kesenangan, seperti hang-out di mal, menonton di bioskop, menyewa DVD film dan menontonnya, dll. Kesenangan-kesenangan tersebut dianggapnya berdosa. Saya jadi teringat cerita dari Ev. Ivan Kristiono, M.Div. barusan (23-24 Juni 2010) pada waktu Seminar Khusus: A Pursuit of Happiness (Etika dan Spiritualitas Agustinus) bahwa dia pernah mengajak teman kuliahnya dahulu di Institut Reformed untuk minum es jeruk dan temannya ini menolak karena (kesenangan) itu dosa. Ev. Ivan mengatakan bahwa maklum saja, temannya baru membaca buku tentang Puritan. Benarkah kesenangan tidak boleh di dalam Reformed, bahkan minum es jeruk pun tidak boleh? Jangan lebay (berlebihan), plis… Tidak ada ayat Alkitab yang melarang orang Kristen minum es jeruk.

Selain itu, gaya hidup jadul ditandai dengan raut mukanya yang tampang seperti seorang filsuf dan theolog yang jarang tertawa, kalaupun membuat lelucon, selalu jayus (=sebenarnya tidak lucu) dan gak ada isinya. Bahkan saya mengenal seorang Reformed yang menyoroti sesuatu lelucon dari Pdt. Dr. Stephen Tong (misalnya, perkataan yang sering Pdt. Stephen Tong ucapkan sebagai lelucon, “rupamu”) dari kacamata Alkitab (dia berkata bahwa kita dicipta sesuai gambar dan rupa Allah, oleh karena itu, jangan menghina rupa Allah). Cape dech, hehehe. Memang lelucon harus ada batas-batasnya, namun ini tentu TIDAK berarti kita tidak boleh bersenda gurau bukan? Kalau orang Reformed tidak boleh bersenda gurau, maka percayalah, 10 tahun lagi, orang Reformed bakal stres dan masuk rumah sakit jiwa. Orang Reformed, mengutip Ev. Ivan Kristiono yang menjelaskan tentang Agustinus, harus menyeimbangkan antara mencari hikmat dan mengejar kesenangan (pleasure). Ev. Ivan Kristiono mengutip Agustinus yang berkata, “Cintailah Tuhan dan lakukan segala sesuatu.” Pernyataan Agustinus ini memang hanya bisa dipahami oleh orang Kristen dewasa, karena jika tidak, bisa berbahaya dan bisa disalahtafsirkan. Benar, kita harus mencintai Tuhan. Tatkala kita mencintai Tuhan, kita tentu mengerti apa yang menjadi kehendak-Nya dan memuliakan-Nya, sehingga ketika kita melakukan segala sesuatu, kita melakukannya dengan jiwa takut dan cinta akan Tuhan dan firman-Nya. Ketika kita main game, kaitkan permainan kita dengan hikmat Tuhan, dlsb.

Life-style jadul juga berkaitan dengan metode khotbah (homiletika) beberapa hamba Tuhan Reformed. Meskipun yang hendak saya uraikan ini termasuk hal-hal sekunder, bahkan tersier, namun saya ingin sharing beberapa hal. Beberapa hamba Tuhan Reformed kalau berkhotbah selalu kaku dan terpaku pada teks khotbah (dalam arti: membaca teks khotbah). Yang lebih celaka, mereka yang melakukan hal tersebut mengatakan bahwa seorang pengkhotbah kebangunan rohani, Rev. Jonathan Edwards juga membaca teks ketika berkhotbah. Ya, bagi saya, Jonathan Edwards tetaplah Jonathan Edwards dan Tuhan memakai beliau dengan caranya sendiri, namun apakah berarti semua hamba Tuhan Reformed meniru cara Jonathan Edwards untuk dipakai Tuhan? Kedua, di zaman Jonathan Edwards waktu itu, banyak penduduk Amerika sudah Kristen, jadi tidak menjadi masalah dengan khotbah membaca teks, namun bagaimana dengan sekarang? Coba praktikkan metode khotbah Jonathan Edwards di zaman sekarang, saya jamin, mayoritas jemaat akan mengambil PW (posisi wuenak) untuk tidur, hehehe… Saya pribadi bosan dan pingin tidur kalau mendengar khotbah dari si pengkhotbah yang terus melihat teks khotbah tanpa menatap jemaat (emang jemaat tuh obyek yang boleh ada dan boleh tidak ada kaleee). Saya jadi kebayang, bagaimana jadinya kalau waktu Tuhan Yesus inkarnasi ke dalam dunia, Ia berkhotbah dan mengajar dengan menggunakan (dan membaca) teks khotbah, apa jadinya dengan para pendengarnya? Tuhan Yesus berkhotbah dan mengajar dengan penuh kuasa. Dr. John Calvin, pendiri Reformed juga dikabarkan jika berkhotbah bisa lebih dari 1 jam dan uniknya TIDAK menggunakan naskah khotbah. Namun, mengapa beberapa hamba Tuhan Reformed selalu melihat naskah khotbah kalau berkhotbah dan mengajar? Hal ini TIDAK berarti sebagai hamba Tuhan, Anda tidak perlu naskah khotbah. Naskah khotbah tetap perlu, namun yang saya permasalahkan adalah JANGAN terlalu sering membaca teks khotbah tersebut, belajarlah menatap jemaat (ingatlah, jemaat itu manusia, bukan obyek yang bisa ada dan bisa tidak ada) dan mengimprovisasi gaya khotbah sendiri. Saya kagum dengan 5 hamba Tuhan Reformed yang meskipun menggunakan naskah khotbah, namun tidak terlalu sering membacanya dan mereka juga mengimprovisasi gaya berkhotbah mereka sendiri (tidak terlalu kaku dan suaranya tidak terlalu datar), yaitu: Pdt. Dr. Stephen Tong, Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div., Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M., Ev. Ivan Kristiono, M.Div., dan Ev. Ir. Agus Marjanto Santoso, M.Div.
Catatan kaki:
[1] John M. Frame, Cornelius Van Til: Suatu Analisis Terhadap Pemikirannya, terj. Irwan Tjulianto (Surabaya: Momentum, 2002), hlm. 24-25.
[2] John Calvin, Institutes of the Christian Religion, ed. John T. McNeill (Kentucky, U.S.A.: Westminster John Knox Press, 2006), I.II.1, hlm. 39
[3] John M. Frame, Cornelius Van Til: Suatu Analisis Terhadap Pemikirannya, terj. Irwan Tjulianto (Surabaya: Momentum, 2002), hlm. 26.
[4] Anton M. Moeliono, ed., Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1990), hlm. 797
[5] Dr. Grenz sendiri mengatakan di dalam bukunya bahwa bukunya ini bukan berisi semua ide postmodernisme, namun hanya pengantar kepada filsafat postmodernisme. Oleh karena itu, beliau merekomendasikan buku-buku yang ditulis oleh filsuf postmodernisme sebagai bahan/sumber referensi.
[6] Disarikan dari khotbah Pdt. Joshua Lie, S.Th., M.Phil., Ph.D. (Cand.) melalui CD MP3 dengan judul: Postmodern Spirituality.
[7] Altruis adalah suatu sikap yang mau menjadi berkat bagi orang lain. Sikap ini tentu bukan sikap yang salah, namun terlalu menekankan sikap ini juga berbahaya, apalagi memberikan contoh Tuhan Yesus yang rela berkorban agar kita bisa altruis. Terlalu menekankan sikap altruis mengakibatkan orang tersebut enggan mau belajar dari orang lain, karena dengan belajar dari orang lain itu identik dengan mengambil manfaat dari orang lain (bukan memberi). Tuhan Yesus jelas pasti bisa altruis, karena Dia adalah Tuhan dan Allah yang TIDAK perlu belajar dari siapa pun, sedangkan kita sebagai manusia perlu dan wajib belajar dari orang lain. Ini perbedaannya. Jadi, jangan mentah-mentah menelan khotbah pendeta di atas mimbar, namun ujilah dengan Alkitab dan logika Kristen yang beres.

1 comment:

Bayu Probo said...

Dalam rangka memuculkan penulis-penulis Kristen kreatif, akan diselenggarakan festival penulis dan pembaca kristiani. Salah satu pre-event adalah lomba menulis cerpen dan novelet berdasar Alkitab. Anda mungkin berminat untuk ikut?
Info lengkap dapat Anda klik di Lomba Menulis Cerpen dan Novelet Berdasar Alkitab