19 April 2010

KENDALIKANLAH LIDAHMU!: Tinjauan Kritis dan Perspektif Iman Kristen terhadap Filosofi dan Aplikasi Cerewet (Denny Teguh Sutandio)

KENDALIKANLAH LIDAHMU!
(Tinjauan Kritis dan Perspektif Iman Kristen Terhadap Filosofi dan Aplikasi Cerewet)


oleh: Denny Teguh Sutandio




“Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar. Lidahpun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka. Semua jenis binatang liar, burung-burung, serta binatang-binatang menjalar dan binatang-binatang laut dapat dijinakkan dan telah dijinakkan oleh sifat manusia, tetapi tidak seorangpun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan. Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi. Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama? Saudara-saudaraku, adakah pohon ara dapat menghasilkan buah zaitun dan adakah pokok anggur dapat menghasilkan buah ara? Demikian juga mata air asin tidak dapat mengeluarkan air tawar.”
(Yak. 3:5-12)




I. PENDAHULUAN: FILOSOFI LIDAH MENURUT ALKITAB
Surat Yakobus merupakan salah satu kitab di dalam Alkitab yang sempat diragukan validitasnya. Dr. Martin Luther, sang reformator, menganggapnya sebagai surat jerami. Alasan keraguan tersebut adalah karena Yakobus seolah-olah mementingkan perbuatan lebih daripada iman, padahal Paulus mengajarkan pentingnya iman daripada perbuatan, karena manusia diselamatkan hanya melalui iman (Rm. 3:21-28). Tetapi benarkah Yakobus mengajarkan bahwa manusia diselamatkan melalui perbuatan? TIDAK. Surat Yakobus ditulis oleh Yakobus kepada orang-orang Kristen yang tersebar luas (Yak. 1:1). Dengan kata lain, sudah jelas bahwa Yakobus menuliskan suratnya BUKAN untuk semua orang, namun hanya untuk orang-orang Kristen. Sehingga seluruh isinya pun merupakan pengajaran iman Kristen yang ditujukan kepada orang-orang Kristen. Di dalam Surat Yakobus, orang Kristen diingatkan dan ditegur Yakobus untuk memperhatikan seluruh kehidupannya agar orang Kristen dapat memuliakan Allah melalui kehidupannya sehari-hari. Nah, sekarang, kita akan langsung masuk ke dalam pembahasan pasal 3 dari Yakobus. Yakobus 3 dimulai pada ayat 1 dengan peringatan agar jangan banyak orang menjadi guru. Peringatan ini muncul karena pada saat itu, banyak orang Kristen yang berambisi ingin menjadi guru. Peringatan ini muncul bukan hanya untuk mengantisipasi masalah yang akan terjadi, tetapi sebagai peringatan bagi mereka yang sudah melakukan kesalahan ini.1 Dengan kata lain, yang hendak ditekankan Yakobus di pasal 3 ayat 1 ini BUKAN larangan untuk menjadi guru, namun larangan BERAMBISI ingin menjadi guru. Mengapa Yakobus melarang orang berambisi ingin menjadi guru? Apakah karena nanti Yakobus takut saingan? Tentu TIDAK. Alasannya ada pada ayat 2, “Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.” Ya, alasannya adalah karena kita semua bersalah dalam banyak hal, khususnya menyangkut perkataan kita. Mengapa Yakobus mengaitkan guru dengan lidah? Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M. di dalam bukunya Tafsiran Alkitab Untuk Awam: Surat Yakobus menafsirkan,
“Contoh yang dipakai di sini sangat berkaitan dengan tugas seorang guru, yaitu penggunaan lidah. Sebagai salah satu pemimpin jemaat dalam ibadah, seorang guru biasanya memberikan pengajaran dan bahkan berkat kepada orang lain (3:10a). Dalam situasi jemaat yang tidak mudah menerima firman dengan lemah lembut (1:19), seorang guru bisa saja menggunakan lidahnya untuk mengutuk orang lain, apalagi guru-guru di sini adalah orang-orang yang tidak memiliki hikmat yang benar (3:13-18).”2

Kemudian ayat ini juga mengajar kita bahwa barangsiapa (kata pengandaian) yang tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang yang sempurna yang dapat mengendalikan seluruh tubuh. Tetapi apakah dengan demikian Yakobus mengakui fakta ada orang yang bisa mengendalikan lidah? TIDAK. Justru ayat 2b ini hendak mengajar kita bahwa tidak mungkin ada orang yang sempurna yang bisa mengendalikan lidah.

Setelah itu, mengapa di ayat 2b ini, Yakobus mengaitkan antara mengendalikan lidah dengan seluruh tubuh? Tubuh di sini tentu adalah tubuh kedagingan kita. Alasannya adalah karena lidah itu merupakan bagian kecil dari seluruh tubuh. Meskipun kecil, lidah bisa menguasai dan mengarahkan seluruh hidup kita. Hal ini dijelaskan Yakobus melalui 2 metafora di ayat 3-4, yaitu: kuda (dan kekang kuda) dan kapal (dan kemudinya). Kuda dan kapal adalah sesuatu yang besar dan kuat, namun keduanya bisa dikuasai oleh sesuatu yang kecil secara ukuran, yaitu: tali kekang kuda dan kemudi kapal. Dari metafora ini, maka di ayat 5a, Yakobus menyimpulkan bahwa lidah meskipun ukurannya kecil namun dapat mengeluarkan sesuatu yang besar. Di ayat 5b, Yakobus menguatkan kembali penjelasannya dengan menyebut lidah itu seperti api yang kecil namun dapat membakar hutan yang besar. Hal ini sesuai dengan Amsal 16:27, “Orang yang tidak berguna menggali lobang kejahatan, dan pada bibirnya seolah-olah ada api yang menghanguskan.” Ayat 5b ini kemudian dijelaskan lebih mendetail oleh Yakobus di ayat-ayat selanjutnya (ay. 6-8). Di ayat 6, ia menjelaskan bahwa lidah itu adalah api dan dunia kejahatan. Kejahatan lidah ini dijelaskan Yakobus di ayat 6: menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan, sedangkan lidah itu sendiri dinyalakan oleh api neraka. Dengan kata lain, dunia kejahatan ini berkaitan erat dengan neraka (English Standard Version, International Standard Version, dan King James Version: hell; Yunani: geenna). Kejahatan lidah juga dijelaskan Yakobus di ayat 8 dengan menggunakan pernyataan bahwa lidah itu buas, tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan. Dari ayat 1-8, kita telah melihat sekilas gambaran buruk dari lidah.

Tetapi keburukan lidah ini lebih diperparah tatkala lidah manusia bukan hanya mengeluarkan sesuatu yang buruk saja, namun yang baik juga. Hal ini dijelaskan pada ayat 9-10a, “Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk.” Berarti, lidah bisa dipergunakan untuk memuji Tuhan dan sekaligus mengutuk ciptaan Tuhan (atau mungkin juga mengutuk Tuhan). Hal ini ditentang oleh Yakobus di ayat 10b-12 dengan mengajarkan bahwa sumber yang satu pasti mengakibatkan hasil yang satu juga. Artinya, ketika kita beriman kepada dan di dalam Kristus, maka seluruh lidah kita dipergunakan hanya untuk memuliakan Tuhan. Hal ini memang tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa kita aplikasikan. Yang diperlukan untuk menjalankan hal ini adalah komitmen kita di hadapan Tuhan.

Berbicara mengenai lidah, kita sering mendengar orang dunia berkata, “Memang lidah tidak bertulang.” Kalimat ini tentu bukanlah kalimat denotatif yang bermakna sebenarnya (tentu lidah tidak bertulang, kalau bertulang, bukan lidah namanya, hehehe), namun kalimat ini adalah kalimat konotatif yang berarti manusia terlalu mudah mempergunakan lidah untuk tujuan tidak jelas dan tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Ya, di sini, saya mengaitkan lidah dengan tanggung jawab. Saya menjumpai beberapa orang (bahkan “Kristen”, lebih parah lagi anak seorang aktivis gereja, mungkin juga “pendeta”) memakai lidahnya untuk memelintir kebenaran (Alkitab) dan menggunakannya untuk mendukung argumentasinya (baca: ambisi/nafsu) yang konyol. Supaya gerejanya bisa untung, maka beberapa “pendeta” yang tidak pernah sekolah theologi baik-baik memelintir sejumlah ayat Alkitab, lalu menipu jemaatnya dengan iming-iming: “Berikanlah persepuluhan kepada Tuhan, maka engkau akan diberi beratus kali lipat ganda”, “Anak-anak raja pasti kaya, sukses, berkelimpahan, bahkan tidak pernah digigit nyamuk”, dll. Bahkan yang lebih ekstrem lagi, seorang motivator (yang menggunakan ayat-ayat Alkitab secara tidak bertanggungjawab—memelintir ayat-ayat Alkitab) menyerukan ide, “Miskin Adalah Dosa (Poor is Sin).” Jika miskin adalah dosa, berarti Tuhan Yesus yang miskin yang tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya ketika di dunia ini adalah sosok Tuhan Yesus yang berdosa. Begitu juga halnya dengan Paulus yang miskin yang harus bekerja sebagai tukang tenda untuk membiayai ongkos pelayanannya juga adalah Paulus yang berdosa, karena ia tidak kaya. Kasihan sekali ide-ide konyol ini bisa ditelan mentah-mentah oleh banyak orang “Kristen.” Slogan-slogan yang beridekan sukses kian bertebaran di panggung “Kristen” kontemporer. Selain itu, istilah-istilah agung seperti bergumul, dinamis, dll diucapkan bukan dengan pengertian yang bertanggungjawab, namun dipelintir supaya cocok dengan “nafsu”nya yang ji-hat (jijik dan jahat). Ya, inilah wajah orang-orang postmodern yang setiap hari kita temui.

Lidah bisa menghasilkan: pujian kepada Tuhan (lagu/nyanyian), gosip, omong kotor, fitnah, cerewet, dll. Kesemuanya itu merupakan produk lidah. Namun kali ini, saya hanya mengkhususkan membahas mengenai filosofi cerewet. Mengapa? Karena cerewet bisa dibilang “netral.” Saya mengatakan bahwa cerewet itu netral karena cerewet bisa positif dan memuliakan Tuhan, namun juga bisa negatif dan membuat orang lain bising (dan tentu justru tidak memuliakan Tuhan). Filosofi cerewet ini kita akan soroti pertama-tama dari definisinya, ciri-ciri orang cerewet, pandangan orang terhadap orang yang cerewet, penyebab cerewet, akibat cerewet, bagaimana iman Kristen menyoroti filosofi cerewet yang beres dan bertanggungjawab, dan bagaimana mengubah kebiasaan dari terlalu cerewet menjadi cerewet bermutu. Sebelum membaca pembahasan tentang cerewet, berdoalah minta Roh Kudus membuka hati dan pikiran Anda, sehingga Anda menjadi rendah hati dikoreksi oleh kebenaran firman Tuhan.






II. DEFINISI CEREWET
Apa itu cerewet? Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan cerewet sebagai:
“suka mencela ini itu (mengomel, mengata-ngatai, dsb); banyak mulut; nyinyir”3

Dalam bahasa Inggris, cerewet itu diterjemahkan: talkative dan dalam Kamus Inggris Indonesia, talkative diartikan: “suka (ber)bicara, banyak bicara.”4

Dari dua definisi ini, kita mendapatkan gambaran definisi cerewet:
A. “Netral”: Suka (ber)bicara
Definisi cerewet pertama adalah suka (ber)bicara. Definisi ini saya katakan “netral”, karena memang definisi ini bisa dipakai untuk sesuatu yang positif (dan membangun orang lain) dan negatif (terlalu mengurusi hal-hal yang sekunder). Kalau untuk hal-hal positif, itu bagus, namun kalau untuk hal-hal negatif, orang yang cerewet ini bisa dibilang masih kekanak-kanakan (childish).




B. Negatif: Suka Mencela/Mengata-ngatai
Definisi cerewet kedua adalah suka mencela/mengata-ngatai. Definisi ini jelas bersifat negatif, karena tujuannya adalah ingin menjatuhkan orang lain. Mungkin sekali motivasi orang yang cerewet ini adalah untuk menonjolkan kehebatan diri, lalu ia dengan mudahnya mencela dan/ mengata-ngatai orang lain dengan kata-kata “sakti” (maksudnya: kata-kata kotor).






III. CIRI-CIRI ORANG CEREWET
Setelah mengerti definisi cerewet, maka apa sih yang menjadi ciri-ciri orang cerewet?
A. Mengurusi Urusan Orang Lain
Ciri umum orang cerewet pertama adalah mengurusi urusan orang lain. Artinya, orang cerewet itu adalah orang yang ikut campur urusan orang lain. Misalnya ada teman atau saudara kita berbuat salah, kita yang menegur dan mengingatkan kesalahannya bisa dibilang oleh mereka (teman/saudara kita tersebut) sebagai orang cerewet. Mengapa mereka bisa mengatakan kita cerewet? Karena kita terlalu mencampuri urusan orang lain yang bukan urusan kita. Mengapa pemikiran ini bisa muncul? Mungkin sekali disebabkan oleh pengaruh egois dalam diri mereka. Bagi mereka, “my business is not your business; your business is not my business; let’s do our own business.” (mengutip perkataan Pdt. Sutjipto Subeno) Bagaimana iman Kristen menyoroti hal ini? Saya menyorotinya dalam dua hal:

Pertama, ketika kita menegur kesalahan atau bahkan dosa orang lain, itu tidak bisa dikategorikan sebagai cerewet yang bernada negatif, karena ketika kita menegur, justru itu merupakan tanda kita mengasihi orang yang kita tegur (meskipun demikian, kita tetap harus memurnikan motivasi, cara, dan tujuan kita menegur orang lain). Alkitab sendiri dengan jelas mengajar kita untuk menegur orang lain yang berdosa. Di Perjanjian Lama, kita melihat contoh para nabi yang diutus Tuhan menegur dosa Raja Daud, bangsa Israel, dll. Di Perjanjian Baru, Tuhan Yesus sendiri memerintahkan kita untuk menegur saudara seiman kita yang berbuat dosa (Mat. 18:15-20). Paulus sendiri menegur Petrus yang munafik (Gal. 2:11-14). Kesemuanya ini merupakan wujud dari “cerewet” positif.

Kedua, ketika kita menegur orang lain, perhatikanlah batas-batasnya. Artinya, jika ada teman atau saudara kita bersalah atau mengalami masalah khusus, hendaklah kita menegur mereka sebatas hal-hal umum dan tidak terlalu mencampuri urusan pribadi mereka. Di sini, kita harus memperhatikan aspek privasi orang lain. Saya terus terang “takut” dengan beberapa orang “Kristen” yang menggalakkan ide persekutuan, akhirnya nanti menjadi komunisme di dalam gereja. Konsep dan aplikasi persekutuan di dalam gereja memang tidak salah, karena Alkitab mengajar hal tersebut, namun konsep dan aplikasi persekutuan HARUS dibedakan secara jelas dari konsep dan aplikasi komunisme. Konsep dan aplikasi persekutuan berangkat dari ketulusan dan kerelaan hati sesama umat Tuhan untuk berbagi hidup: saling berbagi, menegur, mengajar, menguatkan, dan menghibur (bdk. Kis. 2:41-47; 4:32-37). Sedangkan konsep dan aplikasi komunisme didasarkan pada pemaksaan dari orang lain agar semua orang mau saling berbagi. Kalau orang “Kristen” memaksa orang “Kristen” lain agar saling berbagi (bahkan untuk hal-hal privasi), itu namanya bukan persekutuan, namun komunisme dalam gereja. Percuma saja kita sebagai orang Kristen mati-matian melawan ide komunisme yang bertentangan dengan ajaran Alkitab, namun secara aplikasi, kita masih menjalankan komunisme secara terselubung. Belajarlah peka akan hal ini.




B. Memperhatikan Hal-hal Detail
Ciri kedua orang cerewet adalah memperhatikan hal-hal detail. Saya tidak mengatakan bahwa hal-hal detail itu tidak perlu diperhatikan, namun jika kita terlalu memperhatikan dan bahkan menekankan hal-hal detail lebih daripada hal-hal esensial lainnya, maka saya menyebutnya sebagai orang cerewet. Hal-hal detail sendiri saya kategorikan menjadi dua: hal-hal detail primer dan sekunder. Hal-hal detail primer berkaitan dengan hal-hal khusus yang tetap memiliki signifikansi berarti. Misalnya, di dalam dunia Kekristenan, theologi Reformed merupakan salah satu cabang theologi Kristen yang mendetail namun primer. Sedangkan hal-hal detail sekunder berkaitan dengan hal-hal khusus yang kurang memiliki signifikansi berarti. Misalnya, di dalam dunia Kekristenan, theologi Reformed infralapsarian/supralapsarian merupakan salah satu cabang theologi Kristen yang mendetail namun sekunder. Perbedaan infralapsarian dan supralapsarian memang perlu dipelajari, namun kurang memiliki signifikansi berarti. Mengapa? Karena seorang Reformed infralapsarian tidak lebih Alkitabiah daripada Reformed supralapsarian, begitu juga sebaliknya. Perbedaan itu hanyalah perbedaan sekunder (bahkan tersier) yang tidak perlu diperdebatkan secara berlebihan. Di dalam kehidupan sehari-hari, belajarlah untuk membuat perbedaan antara hal-hal utama dan hal-hal detail (detail primer dan sekunder), lalu bersikaplah berbeda terhadap dua hal ini.




C. Berlebih-lebihan
Ciri ketiga orang cerewet biasanya adalah sikapnya yang berlebih-lebihan (bahasa gaulnya: lebay). Biasanya orang cerewet ini gemar membesar-besarkan suatu masalah yang kecil. Di dalam hal doktrin, misalnya tentang baptisan anak. Ajaran tentang baptisan anak adalah hal sekunder yang tidak perlu diberhalakan karena Alkitab TIDAK melarang dan juga TIDAK mewajibkan praktik baptisan anak. Namun ada seorang pendeta Reformed yang terlalu membesar-besarkan konsep baptisan anak (masalah kecil), lalu berkata di atas mimbar bahwa gereja yang tidak menjalankan baptisan anak itu sesat. Silahkan cek di seluruh sejarah Reformed, adakah satu theolog Reformed yang seekstrem si pendeta ini? Inilah tandanya orang cerewet puoolll… Sebentar lagi, tidak usah heran, di dalam dunia Kekristenan (khususnya beberapa Reformed tertentu), ada fatwa haram untuk menyanyikan lagu-lagu rohani kontemporer (meskipun yang sudah diseleksi sesuai dengan Alkitab) atau bahkan mengharamkan jemaat gereja Reformed untuk membaca buku-buku non-Reformed (dengan alasan takut terkontaminasi).5 Jangankan nanti, sekarang saja, saya sudah menemukan contoh praktis orang-orang cerewet namun tidak ada isinya itu di lingkungan Kekristenan koq.

Kedua, membesar-besarkan masalah kecil ditandai dengan reaksi orang cerewet terhadap satu masalah/perkataan/tindakan orang lain. Misalnya jika ada orang lain salah, mungkin bisa dikategorikan salah dalam hal remeh, orang cerewet biasanya langsung bereaksi lebay, bisa ngomel tidak berhenti kira-kira 10 menit, bahkan yang paling ekstrem 1 jam. Biasanya juga orang cerewet ini mudah mengungkit sesuatu yang terjadi di masa lalu. Jika ada suatu masalah yang dahulu sudah diselesaikan, maka biasanya orang cerewet yang mungkin karena kehabisan bahan pembicaraan, akan mengungkit masalah yang dahulu telah diselesaikan untuk didiskusikan bahkan diperdebatkan dengan orang lain (entah itu pasangan, teman, saudara, dll). Atau juga bisa orang cerewet ini mengatakan sesuatu yang telah dikatakannya pada hari-hari sebelumnya. Repetisi menjadi ciri khas orang cerewet. Saya terus terang paling bosan mendengar repetisi.






IV. PANDANGAN ORANG LAIN TERHADAP ORANG YANG CEREWET
Lalu, bagaimana pandangan orang lain terhadap orang yang cerewet?
A. Positif: Memperhatikan Orang Lain
Orang cerewet bisa dinilai orang lain sebagai orang yang memperhatikan orang lain. Mengapa? Karena ia bukan hanya berkutat dengan urusannya sendiri, namun juga urusan orang lain. Biasanya dalam hubungan muda-mudi (masa pendekatan/PDKT atau pacaran), kalau cowok memperhatikan cewek dan/atau sebaliknya, mungkin pihak lain menganggapnya cewek/cowoknya ini sebagai orang cerewet, namun sebenarnya tidak demikian. Kecerewetannya itu merupakan tanda bahwa cewek/cowoknya itu memperhatikan pasangannya. Namun perlu juga diperhatikan bahwa kecerewetan ini tentu memiliki batas-batas, jangan sampai cerewetnya melampaui kewajaran, misalnya setiap menit dipantau. Soalnya ada kejadian yang pernah diceritakan oleh seorang teman saya bahwa ada cowok yang mendekati dia (anak SMA), setiap beberapa menit cowok itu SMS teman saya ini: lagi di mana, ngapain, dll, akibatnya teman saya itu ngomel.




B. Negatif: Aktualisasi Diri
Orang cerewet bisa dinilai orang dengan penilaian negatif sebagai orang yang hanya mau menunjukkan kehebatan diri atau menggunakan bahasa psikologi: aktualisasi diri. Aktualisasi diri ini ditandai dengan dua hal:
1. Egois
Orang cerewet bisa dinilai sebagai orang yang egois, karena biasanya (tidak semua) orang cerewet hanya mau bila pandangan dan perkataannya didengarkan, sedangkan dia sendiri tidak akan pernah mau mendengarkan pandangan orang lain (yang mungkin lebih benar dan bisa dipertanggungjawabkan) ketimbang pandangannya sendiri. Kalau sampai pandangan dan perkataannya (bahkan untuk hal-hal sekunder atau mungkin tersier) tidak didengarkan, maka orang cerewet ini akan bertindak seperti anak kecil, yaitu: ngambek.


2. Sombong
Orang cerewet bisa dinilai sebagai orang sombong, karena melalui kecerewetannya, dia hendak menunjukkan kepada dunia bahwa dia sajalah yang paling pandai, hebat, kuat, bijaksana, dll. Yang lebih parah lagi, ada orang cerewet yang bisa-bisanya berpikir bahwa dunia akan hancur jika dia tidak cerewet atau dia tidak ada. Yang semakin parah, hal ini bukan dilakukan oleh orang non-Kristen, namun dilakukan oleh orang Kristen dan bahkan pemimpin gereja. Biarlah ini menjadi bahan introspeksi diri kita masing-masing.






V. PENYEBAB CEREWET
Setelah belajar definisi, ciri-ciri, dan pandangan orang lain terhadap orang yang cerewet, maka apa sih yang menyebabkan orang cerewet? Orang cerewet bisa disebabkan oleh faktor internal dan eksternal.
A. Penyebab Internal
Orang cerewet disebabkan karena adanya faktor internal, yaitu:
1. Karakter
Secara karakter, memang ada orang yang tergolong cerewetnya puolll. Dan jujur saja, biasanya orang yang cerewetnya puolll itu mayoritas pihak cewek. Adalah suatu keanehan jika cowok lebih cerewet ketimbang cewek (meskipun secara fakta, ada juga cowok bisa lebih cerewet ketimbang ceweknya), hehehe… Kalau kita memiliki pasangan hidup yang cerewetnya puolll (burung beo saja kalah, huahahaha), berdoalah kepada Tuhan, agar Roh Kudus mengubah karakternya itu menjadi sesuatu yang memuliakan Tuhan, misalnya: cerewet dalam memberitakan Injil (mengutip perkataan Pdt. Dr. Stephen Tong di dalam salah satu khotbahnya dalam Seminar Pembinaan Iman Kristen yang berjudul Dinamika Hidup Dalam Pimpinan Roh Kudus).


2. Traumatik
Orang cerewet bisa disebabkan karena trauma dengan pengalamannya dahulu yang kelam. Misalnya, mungkin karena dahulu dirinya tidak dididik oleh orangtuanya untuk mencari pasangan hidup yang tepat, sehingga dia bercerai dengan suaminya, maka seorang istri/ibu bisa cerewet memperhatikan siapa saja yang mendekati anak perempuannya. Sang ibu bisa cerewet bertanya kepada anak perempuan tentang si cowok yang mendekatinya, mulai dari garis keturunan (apakah dari keturunan darah biru atau darah merah atau berdarah-darah, hahaha), riwayat kesehatan (apakah tidak memiliki penyakit turunan, seperti: kanker, kencing manis, darah tinggi, atau mungkin bahkan mata duitan, hahaha), dll. Meskipun hal tersebut tetap perlu diperhatikan, namun jika hal-hal tersebut merupakan faktor mutlak menggantikan standar Alkitab, maka itu sudah menjadi berhala dan sudah berdosa!




B. Penyebab Eksternal: Lingkungan
Selain internal, orang cerewet bisa disebabkan karena faktor eksternal, yaitu lingkungan. Biasanya lingkungan di mana kita hidup tidak selalu sama/cocok dengan karakter dan keinginan kita. Nah, tatkala lingkungan sekitar di mana kita hidup tidak cocok dengan kita inilah yang mengakibatkan banyak orang cerewet. Bagi orang cerewet, dunia harus cocok dengan dirinya. Ketika dunia tidak cocok dengan dirinya, dia akan mengomel dan mengkritik habis-habisan, supaya dunia bisa cocok dengan dirinya. Dengan kata lain, orang cerewet ingin semua orang di dunia ini harus mendengarkan dirinya.

Kedua, lingkungan di mana kita hidup adalah lingkungan manusia berdosa. Dari hati, cara berpikir, perkataan, sikap, dll dipenuhi dosa. Maka, biasanya orang cerewet adalah orang yang terlalu paranoid dengan dunia sekitar. Oleh karena itu, biasanya orang cerewet jarang bisa percaya kepada siapa pun (kecuali dirinya sendiri yang bisa dipercayai) dengan dalih bahwa kita harus berhati-hati. Benarkah sikap demikian? Berwaspada TIDAK sama dengan paranoid lebay! Berwaspada yang Tuhan mau adalah berwaspada aktif, tetapi tidak kaku apalagi paranoid. Perhatikan pola pikir berikut ini. Alkitab memerintahkan kita agar pola pikir kita diubah sesuai dengan firman Tuhan, sehingga kita makin mengerti kehendak Allah: baik, berkenan kepada Allah, dan sempurna (Rm. 12:2) Dengan terus mendekat kepada Tuhan dan firman-Nya, kita akan makin mengerti apa yang Tuhan mau/suka dan otomatis apa yang Tuhan tidak suka. Apa yang Tuhan tidak suka, kita tidak akan melakukannya. Berwaspada dengan apa yang Tuhan tidak suka TIDAK berarti kita terlalu memfokuskan pandangan kita pada apa yang Tuhan tidak suka, tetapi dengan memfokuskan pandangan kita pada apa yang Tuhan suka. Apa yang Tuhan suka mengakibatkan kita kritis terhadap apa yang Tuhan tidak suka yang tentunya bertentangan dengan apa yang Tuhan suka. Contoh: dengan belajar firman, kita mengerti bahwa Tuhan menyukai kemurnian hati dan ketaatan, sedangkan Ia tidak menyukai kemunafikan (Rm. 12:9) dan ketidaktaatan. Berwaspada dengan segala bentuk kemunafikan dan ketidaktaatan tidak berarti kita terlalu berfokus pada kemunafikan dan ketidaktaatan, namun kita perlu berfokus apa arti kemurnian hati dan ketaatan, sehingga kita bisa terhindar dari bahaya kemunafikan dan ketidaktaatan.

Di kalangan Reformed, kami percaya bahwa di antara banyak arus theologi yang kurang setia kembali kepada Alkitab (lingkungan), gerakan Reformasi dan theologi Reformed dipakai Tuhan untuk membawa orang Kristen untuk kembali kepada Alkitab. Dengan kata lain, spirit mula-mula Reformasi dan Reformed adalah Sola Scriptura (hanya Alkitab). Namun, spirit ini mulai bergeser dari Sola Scriptura menjadi Sola Reformed. Mungkin hanya sedikit orang yang sadar akan hal ini. Sebagai orang yang bertheologi Reformed, saya mengamini bahwa theologi Reformed bisa dikatakan sebagai satu-satunya representatif theologi Kristen yang theosentris yang mampu menjawab tantangan zaman (atau mengutip Pdt. Dr. Stephen Tong: mampu menantang zaman untuk kembali kepada Kristus), namun berhati-hatilah, jangan sampai orang Reformed menjadi orang yang sombong dan merasa diri paling benar. Jujur saja saya sudah mendapati beberapa orang bahkan pendeta Reformed bukan lagi mempertahankan Sola Scriptura, melainkan Sola Reformed bahkan Sola Traditio. Mereka biasanya anti mendengarkan khotbah-khotbah dari pendeta non-Reformed bahkan dari pendeta Reformed namun bukan berasal dari gereja yang berplang Reformed. Belajar di seminari theologi yang tidak berdasarkan theologi Reformed dicap bidat. Membaca buku pun harus dilihat, apakah penulisnya bertheologi Reformed atau tidak. Saya mendapati fakta bahwa ketika saya membawa buku When God Writes Your Love Story yang ditulis oleh Eric dan Leslie Ludy, seorang rekan pemudi gereja saya bertanya, “Apakah buku ini buku Reformed?” Saya hanya tersenyum kecil dan tidak menjawab pertanyaan tersebut. Apakah sebagai orang Reformed, kita tidak boleh membaca buku-buku non-Reformed? Apakah dengan membaca buku-buku non-Reformed, kita langsung dicap bidat? Mengapa beberapa orang (bahkan pendeta) Reformed menjadi orang yang pandai menghakimi orang secara membabi-buta? Biarlah ini menjadi bahan introspeksi orang Kristen, khususnya beberapa Reformed tertentu yang gemar mengkritik sini sana secara membabi-buta (tanpa dasar yang jelas).






VI. AKIBAT CEREWET
Semua tindakan pasti memiliki akibat. Demikian juga dengan filosofi dan tindakan cerewet. Apa akibat cerewet? Saya membaginya menjadi dua: akibat cerewet di mata Tuhan dan terhadap orang lain.
A. Akibat Cerewet Di Mata Tuhan
Apa akibat cerewet di mata Tuhan? Alkitab dengan jelas mengajar kita reaksi Tuhan terhadap kecerewetan manusia. Contoh: bangsa Israel yang gemar bersungut-sungut, namun Tuhan tetap mengasihi Israel tersebut dengan mengabulkan permintaan mereka. Ketika di Mara, Israel bersungut-sungut kehausan karena air di Mara pahit rasanya, maka Musa berseru kepada Tuhan, lalu Tuhan menunjukkan sepotong kayu kepada Musa dan memerintahkan Musa untuk melemparkan kayu tersebut ke dalam air, lalu air itu menjadi manis (Kel. 15:22-25). Ketika di padang gurun Sin, Israel minta makanan karena lapar, Ia memberikan roti dan daging (Kel. 16:1-36). Di Masa dan Meriba, Israel kembali bersungut-sungut kehausan, maka Tuhan menyediakan air yang keluar dari batu yang dipukul oleh Musa (Kel. 17:1-7). Namun kecerewetan Israel yang meminta apa pun TIDAK selalu dikabulkan oleh Tuhan. Ketika bangsa Israel bersungut-sungut karena terlalu lama menunggu Musa di gunung Sinai, maka mereka memanggil Harun untuk membuat patung anak lembu emas. Di saat itu, Tuhan benar-benar murka kepada Israel. Ia menyuruh Musa untuk turun dari Gunung Sinai dan amarah Tuhan meluap melalui amarah Musa. Apa yang Musa lakukan? Alkitab mencatat, “dilemparkannyalah kedua loh itu dari tangannya dan dipecahkannya pada kaki gunung itu. Sesudah itu diambilnyalah anak lembu yang dibuat mereka itu, dibakarnya dengan api dan digilingnya sampai halus, kemudian ditaburkannya ke atas air dan disuruhnya diminum oleh orang Israel.” (Kel. 32:19b-20) Kecerewetan Israel benar-benar keterlaluan, sehingga murka Tuhan menimpa mereka. Allah yang Mahakasih juga Allah yang Mahakudus dan Mahaadil. Ingatlah prinsip ini. Oleh karena itu, cerewet tidak selalu positif. Cerewet yang keterlaluan juga mengakibatkan Tuhan sendiri murka. Biarlah ini menjadi introspeksi bagi kita untuk berhati-hati dalam menggunakan lidah kita supaya Tuhan tidak murka atas kita.




B. Akibat Cerewet Terhadap Orang Lain
Cerewet bisa berakibat positif dan negatif terhadap orang lain:
1. Akibat Positif: Orang Lain Diingatkan (Ditegur)
Bagi orang lain, cerewet itu ada manfaatnya, yaitu orang lain yang dicereweti itu diingatkan/ditegur. Ketika seseorang melakukan suatu kesalahan, kemudian ada orang lain yang cerewet menegurnya, maka orang yang melakukan kesalahan itu diingatkan oleh kecerewetan orang lain. Tentu hal ini positif. Saya sendiri mengalami cerewet model ini berguna juga buat saya, menegur dan membangun, meskipun cerewet model ini lama-kelamaan membuat risih juga.


2. Akibat Negatif: Orang Lain Merasa Risih/Bising dan Bosan
Bagi kebanyakan orang, cerewet lebih berakibat negatif ketimbang positif, mengapa? Karena biasanya, orang cerewet itu membuat orang lain merasa risih/bising dengan kecerewetannya. Tidak percaya? Saya akan memberikan sebuah anekdot yang menggambarkan hal ini,
“Pada suatu ketika di Jepang, hiduplah seorang lelaki yang sederhana, namanya Oda. Ia memiliki seorang istri yang sangat cantik dan sangat disayanginya. Namun sang istri mempunyai kebiasaan buruk, yaitu tiap kali diajak bicara pasti akan keterusan alias teramat sangat cerewet sekali.

Selain itu sang istri tersebut juga suka mengumpat dengan kata-kata yang keras dan memekakkan telinga sehingga orang-orang tidak mau dekat-dekat dengannya. Sebenarnya, Oda sangat menyayangi istrinya itu, tapi para tetangganya yang merasa terganggu lambat laun berani juga mengadu pada Oda perihal istrinya itu. Akhirnya Oda pun termakan kata-kata tetangganya. Ia berpikir bagaimana melenyapkan istrinya dari muka bumi.

Suatu ketika Oda mengajak istrinya berjalan-jalan ke kuil tua di tengah hutan ketika melewati bagian belakang kuil yang sudah rusak, Oda melihat sebuah sumur tua yang tak digunakan lagi. Maka ia berpura-pura mengajak istrinya melihat burung di pohon besar dekat sumur itu. Lantas dengan tiba-tiba Oda mendorong istrinya itu masuk ke sumur.

Pada lima menit pertama Oda merasa sangat bahagia karena sepanjang hidupnya baru kali ini ia merasakan suasana yang begitu tenang tanpa celoteh istrinya.

Lima menit kedua, Oda mulai merasa sepi juga karena tidak terbiasa dengan kesunyian. Akhirnya lima menit ketiga dengan keragu-raguan Oda kembali menuju sumur angker tersebut. Ia menurunkan tali timba dan berteriak menyuruh istrinya naik.

Begitu terkejutnya Oda ketika yang naik bukan istrinya melainkan sosok makhluk menyeramkan dengan bulu lebat di sekujur tubuhnya, dialah makhluk penunggu sumur tua itu.

Oda lantas bertanya, “Lho, kenapa kamu yang naik??”

Lantas makhluk itupun dengan wajah pucat ketakutan menjawab, “Aku takut, di bawah ada orang cerewet sekali…””

Perhatikan anekdot di atas. Kecerewetan istri Oda ini memiliki beberapa ciri sesuai dengan yang telah dibahas pada poin sebelumnya dan kecerewetan ini mengakibatkan tetangganya, suaminya, dan makhluk halus penunggu sumur tua sampai kewalahan mendengar ocehan “burung beo” dari si istri Oda. Bayangkan jika Anda berada di situ, Anda juga pasti kewalahan.

Selain risih/bising, orang cerewet mengakibatkan orang lain merasa bosan dengan apa yang diocehkan oleh si cerewet. Bagaimana tidak, misalkan, pada hari Senin, si cerewet berbicara tentang X, kemudian tidak sampai seminggu, di hari Rabu atau Kamis, si cerewet berbicara lagi tentang X dengan nada bicara yang hampir sama, setelah itu hari Sabtu, si cerewet juga berbicara hal yang sama lagi tentang X. Dengan kata lain, dalam seminggu, sudah 3x si cerewet mengatakan hal yang sama. Jika Anda berada di dekat si cerewet, dijamin Anda bisa senewen dan mblenger (bosan) mendengar ocehan gak jelas dari si cerewet. Terus terang, saya paling bosan mendengar ocehan yang sama. Kalau perkataan yang sama diulang sampai 4-5x, bisa dipastikan saya mencuekkan omongan tersebut atau mungkin melakukan tindakan lain. Tindakan serupa saya lakukan jika saya mendengarkan seorang pengkhotbah yang khotbahnya selalu ujung-ujungnya sama (sudah bisa ditebak jalan pikirannya pasti menuju ke topik itu: kritik terhadap materialisme, pragmatisme, dll). Repetisi di dalam mengatakan sesuatu baik di dalam kehidupan sehari-hari maupun khotbah mengakibatkan orang yang mendengarkannya bosan. Orang Kristen dan para pengkhotbah yang rendah hati biarlah peka memperhatikan hal ini. Hai para pengkhotbah, jangan merasa diri Anda pengkhotbah atau gembala sidang, kemudian Anda tidak mendengarkan suara jemaat Anda.






VII. IMAN KRISTEN DAN CEREWET
Setelah mengamati fenomena tentang cerewet, maka bagaimana iman Kristen menyoroti hal ini?
A. Sikap Orang Kristen Secara Umum
1. Menerima dan Melakukannya -> Karena Memang Karakternya Cerewet Puolll (Membela Diri)
Berkaitan dengan cerewet, sikap orang Kristen secara umum yang pertama adalah menerima dan melakukannya. Artinya, mereka setuju sikap cerewet karena bagi mereka, cerewet itu berarti. Kalau dia tidak cerewet, orang lain tidak akan mengerti kesalahannya. Benarkah itu motivasinya? Mungkin ada benarnya, namun sebenarnya, motivasi aslinya bukan demi orang lain, namun demi si cerewet itu sendiri, yaitu memang karakter aslinya cerewet abizzz, maka ia menjadi pendukung gerakan cerewet (talkative “movement”). Orang cerewet ini coba dikumpulkan bersama para ibu di sebuah arisan, dijamin sampai arisan selesai pun, si cerewet ini tidak akan pulang. Ya, manusia berdosa itu paling mudah untuk membela diri. Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M. pernah berkata bahwa manusia kalau sudah salah paling cepat (tidak usah diajari) “berapologetika” (artinya: membela diri), hehehe.


2. Menolak -> Karena Memang Karakternya Pendiam (Argumentasinya: Silence is Gold)
Sikap orang Kristen kedua terhadap gejala cerewet adalah menolak. Artinya, orang Kristen ini menolak sikap cerewet, karena itu menganggu orang lain. Saya heran, banyak orang zaman postmodern ini paling mudah berargumentasi mendukung sikapnya yang seolah-olah demi kepentingan orang lain, tetapi benarkah motivasinya murni? Mungkin benar, namun kembali, sejujurnya, alasannya adalah karena memang karakternya pendiam. Dasar argumentasinya: Silence is Gold (Diam itu Emas). Benarkah diam itu emas? Di satu sisi, ya, namun di sisi lain, tidak. Diam itu emas sejauh diam itu berguna, artinya tatkala memang perlu diam, ya diam. Namun diam itu emas menjadi bermasalah tatkala disuruh berbicara, dia berkata hanya sepatah atau dua patah kata. Sejujurnya saya paling tidak suka bergaul/berteman dengan orang yang terlalu diam, mengapa? Selain terlihat jadul, orang diam itu kurang bisa berekspresi atau mengeluarkan pendapat berarti. Tidak berarti, saya suka dengan orang yang cerewet puolll. Saya senang bersahabat dengan orang yang bisa menyeimbangkan antara cerewet dan diam.




B. Sikap Orang Kristen yang Benar: Paradoks dan Bermutu
Jika orang Kristen umum memandang cerewet secara ekstrem: ada yang mendukung dan menolaknya dengan argumentasi subyektif mereka, maka bagaimanakah orang Kristen yang beres menyoroti cerewet? Pada bagian ini, kita akan mencoba memahami filosofi dan aplikasi cerewet yang bertanggungjawab sesuai dengan Alkitab dan prinsip kedaulatan Allah.
1. Motivasi Cerewet
Sebelum kita melakukan sesuatu, biasakanlah bertanya motivasinya. Sebelum membahas tentang cerewet, apa sih yang menjadi motivasi cerewet yang beres itu?
a. Untuk Memuliakan Tuhan
Motivasi cerewet yang pertama dan terpenting adalah memuliakan Tuhan. Artinya, melalui kebawelan kita, kita membawa Injil Tuhan dan nama Tuhan diagungkan di dalam hidup kita. Itu yang dimaksud Pdt. Dr. Stephen Tong dengan cerewet dalam memberitakan Injil, cerewet melawan dosa, dll. Beliau mengajar bahwa cerewet itu tidak salah asalkan dipakai memuliakan Tuhan. Ketika ada teman/saudara kita yang cerewet yang bermotivasi tulus agar kita makin memfokuskan hidup kepada Tuhan, maka kita tidak boleh marah, karena kebawelannya dipakai Tuhan untuk menyadarkan dan mengarahkan kita kembali kepada Tuhan. Ketika ada seorang Kristen yang saleh yang kelihatannya cerewet dalam memberitakan Injil, jangan pandang dia sebagai orang bawel yang tak bermakna, pandanglah kebawelannya dipakai Tuhan secara luar biasa untuk memberitakan Injil. Maukah kita bawel bagi Tuhan?

b. Untuk Membangun Orang Lain
Kedua, motivasi cerewet adalah untuk membangun orang lain. Melalui kebawelan, biarlah kita membangun orang lain dalam hal-hal primer. Ketika orang lain salah, kita boleh bawel menegur orang lain, namun sekali lagi yang perlu diingat, perhatikan batas kebawelan. Jangan terlalu bawel dalam hal-hal sekunder apalagi tersier. Kalau orang lain lagi dalam masalah, kita boleh “bawel” memberikan kata-kata kekuatan, namun sekali lagi jangan terlalu bawel sampai akhirnya orang yang lagi dalam masalah bukan terhibur, malahan jengkel dengan kehadiran kita yang super duper bawel. Sebelum cerewet, perhatikanlah isi yang mau Anda katakan, supaya orang lain tidak merasa terganggu.


2. Cerewet yang Beres
Setelah memperhatikan motivasi cerewet, maka saat ini kita akan mencoba memahami bagaimana cerewet yang beres. Cerewet yang beres, seperti perenungan kita akan lidah di poin I dan motivasi cerewet di nomer 1 di atas, adalah cerewet yang dipergunakan untuk memuliakan Tuhan. Cerewet yang memuliakan Tuhan adalah cerewet yang bermutu dan tidak egois. Dua prinsip ini kita akan coba aplikasikan di dalam tiga poin di bawah.
a. Memperhatikan Isi
Selain motivasi, cerewet yang beres harus memperhatikan isi dari perkataan yang kita ucapkan. Artinya, kita boleh cerewet asalkan isi cerewet itu memiliki signikansi berarti. Untuk itu, saya membagi dua macam cerewet:
(1) Cerewet Primer
Cerewet primer adalah cerewet yang berkaitan dengan hal-hal primer, seperti: iman, kerohanian, dosa, dll. Ketika kita menyontek pada saat ujian, kemudian teman kita menegur kita agar tidak menyontek lagi, maka teguran itu meskipun seolah-olah kelihatan cerewet, namun itu berguna bagi kita, baik dari sisi spiritual (melawan kehendak Tuhan yang menghargai kejujuran) maupun dari sisi praktika (agar kita lebih giat belajar) maupun dari sisi agak pragmatis (agar di kesempatan lain, tindakan menyontek kita tidak ketahuan oleh guru/dosen).

(2) Cerewet Sekunder
Cerewet sekunder adalah cerewet yang berkaitan dengan hal-hal sekunder bahkan tersier, misalnya: warna baju, makanan favorit, karakter/temperamen, dll. Si cerewet kadang-kadang kalau melampaui batas bisa keterlaluan sekali dan membuat orang lain jengkel. Presuposisi si cerewet ini adalah orang lain TIDAK boleh berbeda dari dia bahkan untuk urusan kecil sekalipun. Urusan (selera) makanan pun diurusi. Di dalam hal theologi, masalah liturgi saja diurusi. Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M. mengatakan kepada saya secara pribadi bahwa hanya gara-gara gereja yang digembalakannya mengadopsi lagu-lagu rohani kontemporer, ada pendeta yang menuduh gerejanya bertheologi Arminian. Si cerewet yang terlalu mengurusi hal-hal sekunder bahkan tersier membuktikan bahwa si cerewet masih kekanak-kanakan (childish). Anak-anak pada waktu masih kecil selalu menuntut bahwa miliknya harus sama bagusnya dengan (atau lebih bagus dari) milik orang lain. Bukankah suatu keanehan jika semangat ini terus diadopsi dan dipelihara sampai dewasa? Masalahnya, ada orang dewasa yang masih memelihara semangat ini, sehingga ia akan bawel abizzz jika orang lain berbeda selera makan atau warna baju dengan dia.

b. Memperhatikan Obyek
Selain isi, kita tetap harus memperhatikan obyek/sasaran yang kepadanya kita cerewet. Dengan kata lain, kita harus memperhatikan orang yang kita ajak bicara, apakah tipe orang yang suka dengan orang yang cerewet atau justru jengkel dengan orang yang bawelnya bukan main. Di sini, kita yang sudah terbiasa cerewet berusaha untuk TIDAK egois.
(1) Suka Dengan Orang yang Cerewet
Ada tipe orang yang memang suka dengan orang yang cerewet. Orang ini mungkin seorang pendiam yang suka didongengi oleh orang yang cerewet atau mungkin juga orang ini juga seorang yang cerewet abizzz, jadi klop tuh, si bawel klop ama si bawel, jadilah: bawel kuadrat (bawel2), hahaha. Kalau dengan orang yang suka dengan orang yang cerewet, maka si cerewet nyaman-nyaman saja jika si cerewet mengaktualisasi dirinya.

(2) Tidak Suka Dengan Orang yang Cerewet
Selain itu, ada juga tipe orang yang benar-benar tidak suka dengan orang yang cerewet. Jika Anda seorang yang cerewet kemudian lawan bicara Anda atau mungkin pasangan Anda adalah seorang yang anti-cerewet, Anda harus berusaha untuk menghentikan kebiasaan bawel Anda supaya orang di sekitar Anda bisa hidup lebih lama sedikit, hehehe…

c. Memperhatikan Situasi dan Kondisi
Selain isi dan obyek, si cerewet harus memperhatikan situasi dan kondisi. Jika si cerewet berada di dalam suatu situasi dan kondisi (sitkon) orang yang lagi kesusahan, misalnya salah satu keluarganya baru meninggal atau sakit parah di rumah sakit, maka sebagai orang Kristen, kita memang harus menghibur dan memberi kata-kata yang menguatkan, namun jika Anda termasuk golongan si cerewet aktif, maka Anda harus peka dengan sitkon itu dan berusaha menghentikan kebiasaan bawel Anda. Di dalam sitkon tersebut, ucapkan beberapa kalimat yang menguatkan orang yang lagi kesusahan tersebut dan jangan membuat “khotbah” berjam-jam, karena orang yang lagi kesusahan membutuhkan penghiburan, bukan “khotbah” semu/menggombal.






VIII. MENGUBAH KEBIASAAN
Di poin sebelumnya, kita telah melihat bahwa cerewet itu ada yang primer dan sekunder. Pertanyaan selanjutnya, jika kita memang orang yang rendah hati dan mau bertobat dari kebiasaan bawel untuk hal-hal yang tidak penting, maka bagaimana kita bisa mengubah kebiasaan kita yang terlalu cerewet itu? Di poin VIII ini, kita akan belajar bagaimana mengubah kebiasaan.
A. Terlalu Cerewet -> Cerewet Bermutu
Jika di poin sebelumnya, kita telah belajar cerewet primer vs sekunder, maka pertanyaan selanjutnya, bagaimana mengubah cerewet sekunder menjadi cerewet primer? Dengan kata lain, bagaimana mengubah kebiasaan terlalu cerewet menjadi cerewet yang bermutu? Sebelum membahas caranya, pertanyaan selanjutnya, mengapa kita perlu mengubah kebiasaan kita dari terlalu cerewet menjadi cerewet bermutu? Mengapa kita bukan mengubah kebiasaan terlalu cerewet menjadi pendiam? Pdt. Dr. Stephen Tong di dalam Seminar Pembinaan Iman Kristen (SPIK): Dinamika Hidup Dalam Pimpinan Roh Kudus menjelaskan bahwa Roh Kudus memimpin temperamen manusia. Beliau bertanya bahwa apabila seseorang sebelum bertobat adalah seorang yang cerewet, lalu apakah setelah bertobat, maka dia menjadi pendiam (si cerewet berdoa kepada Tuhan agar Tuhan menjahit mulutnya)? TIDAK. Beliau menjawab bahwa orang cerewet silahkan tetap cerewet, tetapi yang diubah arah/tujuan cerewetnya, kalau dahulu cerewet untuk hal-hal tak berguna, sekarang diubah Roh Kudus menjadi cerewet untuk memberitakan Injil. Dengan kata lain, yang perlu diubah dari si cerewet adalah arah/tujuannya, bukan karakter aslinya. Jika semua orang cerewet diubah kebiasaannya menjadi pendiam, maka sungguh sangat disayangkan, nanti seluruh dunia pada diam membisu, hehehe…




B. Alasan, Motivasi, dan Tujuan Mengubah Kebiasaan
Lalu, apa alasan, motivasi, dan tujuan mengubah kebiasaan dari terlalu cerewet menjadi cerewet bermutu?
1. Nama Tuhan Dimuliakan
Pertama, jelas alasan, motivasi, dan tujuan terpenting adalah nama Tuhan dimuliakan. Mengapa demikian? Karena Tuhan Yesus sendiri mengajar kita, “Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman.” (Mat. 12:36) Kata “sia-sia” diterjemahkan oleh English Standard Version (ESV), New American Standard Bible (NASB), dan New International Version (NIV) sebagai careless (ceroboh). Kata ini dalam bahasa asli (Yunani)nya adalah argos yang bisa berarti idle (=tak berguna/tak berharga). Kalau kita memperhatikan konteksnya, maka kata sia-sia ini adalah sebuah perkataan yang keluar dari hati yang jahat (ay. 34-35). Dengan kata lain, kata sia-sia diucapkan oleh seorang yang hatinya melawan Allah. Di sini, kita melihat perkataan bersumber dari hati. Ketika hati seseorang sudah berdosa (melawan Allah), maka apa yang diucapkannya pasti jahat, meskipun tampak seolah-olah baik (di mata manusia). Biarlah melalui pengajaran Tuhan Yesus ini, kita semakin mengoreksi diri kita sendiri terlebih dahulu, sudahkah kita benar-benar menggunakan lidah kita dengan bertanggungjawab? Sudahkah kita benar-benar berkata sesuatu yang memuliakan nama-Nya?


2. Orang Lain Dihargai
Alasan, motivasi, dan tujuan dari mengubah kebiasaan ini yang kedua adalah agar orang lain dihargai. Dengan mengubah kebiasaan kita menjadi cerewet bermutu, maka di saat itu, kita sedang menghargai orang lain di sekitar kita dengan membuat mereka hidup lebih lama sedikit. Selain itu, kita juga menghargai orang lain karena telinga orang lain dipakai bukan hanya untuk mendengarkan celotehan si cerewet yang tak bermakna. Namun ketika banyak orang cerewet tanpa makna, maka ini membuktikan:

Pertama, Anda seorang yang egois. Anda hanya ingin telinga orang lain dipakai hanya untuk mendengarkan celotehan Anda yang tak bermakna. Bahkan yang lebih parah, Tuhan pun Anda suruh untuk mendengarkan celotehan Anda. Jika demikian, Anda perlu segera bertobat, karena penyakit Anda benar-benar akut dan perlu direhabilitasi, hehehe…

Kedua, Anda akan memperpendek usia orang lain. Ketika Anda cerewet tanpa makna, maka banyak orang yang berada di dekat si cerewet akan lebih cepat frustasi, putus asa, dan mungkin bunuh diri, karena mereka banyak yang tidak tahan dengan celotehan si cerewet yang tidak habis-habis kalau mengomel atau berkata sesuatu, hehehe.




C. Cara Mengubah Kebiasaan
Setelah mempelajari alasan, motivasi, dan tujuan di atas, maka sekarang kita akan merenungkan bagaimana cara mengubah kebiasaan dari terlalu cerewet menjadi cerewet bermutu?
1. Serahkan Hati dan Lidah Anda Kepada Tuhan
Cara pertama mengubah kebiasaan adalah dengan menyerahkan hati dan lidah kita kepada Tuhan. Kita dapat meneladani sosok pendiri theologi Reformed yaitu Dr. John Calvin yang pernah mengatakan bahwa ia menyerahkan hatinya kepada Tuhan dengan tulus dan murni. Kita pun bisa mengatakan di hadapan Tuhan bahwa kita menyerahkan hati dan lidah kita kepada Tuhan. Mengapa saya mengatakan “hati dan lidah”?

Pertama, karena perkataan kita bersumber dari hati kita. Dengan kata lain, hati kita harus dimurnikan terlebih dahulu di hadapan Tuhan, sehingga dari hati yang murni akan menghasilkan perkataan yang memuliakan nama-Nya. Ingatlah perkataan Tuhan Yesus di dalam Matius 12:34, “Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati.” Lalu, bagaimana kita bisa memurnikan hati kita? Pemazmur mengajar kita tentang hal ini di dalam Mazmur 139 dan pengajarannya ditutup dengan dua ayat terakhir yang luar biasa memberkati kita, “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (Mzm. 139:23-24) Dua ayat ini mengajar kita dua hal: Pertama, dengan mempersilahkan Allah untuk menyelidiki dan mengenal hati kita, menguji dan mengenali pikiran-pikiran kita, maka hati dan seluruh aspek kehidupan kita terus-menerus dimurnikan di hadapan-Nya. Kedua, dengan mempersilahkan Allah sendiri untuk menuntun kita di jalan-Nya, maka kita semakin mengerti kehendak-Nya dan meletakkan kehendak-Nya itu sebagai satu-satunya hal terpenting di dalam hati kita, sehingga kesukaan kita adalah menjalankan kehendak-Nya saja.

Kedua, karena hati kita berkaitan dengan lidah kita. Lidah kita bukan hanya bersumber dari hati kita, namun berkaitan erat dengan hati kita (begitu juga sebaliknya). Sehingga meskipun pada alasan pertama kita percaya bahwa ketika hati kita murni di hadapan Tuhan, maka perkataan kita juga murni, kita tetap perlu untuk terus-menerus memurnikan lidah kita. Kalau kita kembali membaca Yakobus 3, maka kita sekali lagi diperhadapkan dengan pengajaran untuk mengendalikan lidah kita yang liar itu. Lalu, bagaimana kita bisa mengendalikan lidah yang liar itu? Caranya adalah dengan membiarkan Roh Kudus bekerja mengendalikan lidah kita. Hal ini tidak berarti kita terus menunggu gerakan Roh Kudus yang mengendalikan lidah kita, lalu kita tak berbuat apa-apa. Roh Kudus bekerja mengendalikan lidah kita dan tentu Ia juga memurnikan dan membangkitkan kita untuk melakukannya. Bagaimana dengan Anda? Sudahkah Anda hari ini siap menerima gerakan Roh Kudus untuk mentransformasi lidah Anda?


2. Sebelum Berkata Sesuatu, Gumulkan Di Hadapan Tuhan Terlebih Dahulu
Setelah Roh Kudus bekerja mengendalikan lidah kita dengan memurnikan dan membangkitkan kita untuk melakukannya, maka pertanyaannya, kita melakukan apa? Kita perlu melakukan sesuatu, yaitu bergumul di hadapan Tuhan untuk mengatakan sesuatu. Biasakanlah sebelum berkata sesuatu, gumulkanlah di hadapan Tuhan terlebih dahulu. Mengapa demikian? Karena Ia adalah Allah yang Mahatahu tentang apa yang akan kita ucapkan. Pemazmur menyadari hal ini dan mengajar kita di dalam Mazmur 139:4, “Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN.” Menggumulkan di hadapan Tuhan terlebih dahulu berarti mempersilahkan Tuhan sendiri untuk menyensor apa yang akan kita ucapkan, sehingga apa yang akan kita ucapkan bukanlah kata yang sia-sia yang tidak memuliakan Tuhan dan menjatuhkan orang lain. Sebagai kesaksian, saya pun beberapa kali melakukan hal ini, meskipun kadang kala juga keceplosan. Sebelum berkata sesuatu, saya mencoba untuk bergumul di hadapan Tuhan, apakah saya perlu mengucapkan sesuatu yang akan saya ucapkan atau sebenarnya tidak perlu. Beberapa kali saya akhirnya taat kepada kehendak-Nya untuk tidak mengatakan sesuatu yang tidak perlu, karena itu bisa menyakiti orang lain, namun memang harus saya akui, secara kedagingan, saya juga sering tidak mau taat kepada kehendak-Nya. Biarlah di dalam proses bergumul ini, Roh Kudus makin memurnikan hati dan perkataan kita.


3. Rendah Hati dan Terbuka Untuk Menerima Semua Teguran dari Saudara Seiman Kita tentang Perkataan-perkataan Kita
Terakhir, Roh Kudus juga bekerja mengendalikan lidah kita melalui sarana orang lain yaitu saudara seiman kita. Saudara seiman kita yang dekat dan bergaul dengan kita akan memberikan masukan, saran, teguran, dll kepada kita perihal apa yang kita ucapkan, apakah itu sia-sia atau membangun. Nah, tatkala mereka menegur kita, bersikaplah dewasa: rendah hati dan terbukalah utnuk menerima semua teguran yang berguna itu, dan jangan keras kepala apalagi marah terhadap orang yang menegur itu. Saya mengamati banyak orang cerewet ketika ditegur oleh saudara seiman bahwa dia terlalu cerewet, biasanya langsung marah dan “berapologetika” (membela diri) bahwa karakternya memang cerewet. Bukan hanya marah, si cerewet akan mengatakan kepada orang lain bahwa orang yang menegurnya sebagai orang yang cerewet yang mencampuri urusan si cerewet ini. Ya, namanya cerewet ya begitu itu, sekali cerewet tetap cerewet, hidup cerewet! Hahaha… Biarlah Roh Kudus membuat kita makin dewasa untuk semakin rendah hati dan terbuka akan teguran yang membangun kita khususnya berkaitan dengan perkataan kita, sehingga melalui perkataan-perkataan kita, kita makin memuliakan Tuhan dan membangun orang lain.






IX. KESIMPULAN DAN TANTANGAN
Setelah mempelajari dan merenungkan banyak hal tentang cerewet, Tuhan menghendaki kita mempergunakan seluruh aspek hidup kita khususnya lidah untuk makin memuliakan Tuhan dan membangun orang lain. Bagaimana dengan kita? Saya menantang Anda hari ini, sudahkah Anda siap ditransformasi oleh Roh Kudus yang akan mengendalikan lidah Anda untuk memuliakan-Nya dan membangun orang lain? Amin. Soli Deo Gloria.




Catatan kaki:
1. Yakub Tri Handoko, Tafsiran Alkitab Untuk Awam: Surat Yakobus (Surabaya: STAR Publisher, 2008), hlm. 151.
2. Ibid., hlm. 156.
3. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1990), hlm. 164.
4. John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1993), hlm. 578.
5. Sebenarnya di dalam memilih sebuah buku (rohani) untuk dibaca, kita memang perlu berwaspada. Kalau secara doktrin, kita belum kuat, maka hendaklah berhati-hatilah di dalam memilih buku untuk dibaca. Namun kalau secara doktrin, kita sudah cukup kuat, maka kita boleh membaca buku apa saja (namun tentu kita harus tetap tidak melupakan membaca Alkitab). Saran saya adalah: berhentilah menjadi orang lebay, kaku, kolot, dan paranoid, namun juga jangan menjadi orang yang gemar berkompromi!





NB:
Berkenaan dengan perspektif iman Kristen terhadap perkataan, Anda bisa membaca buku War of Words (Perang Kata-kata) yang ditulis oleh Rev. Prof. Paul David Tripp, D.Min. yang diterbitkan oleh Penerbit Momentum.




Denny Teguh Sutandio, S.S. lahir di Surabaya, 19 Juli 1985. Pada tahun 2003, menempuh pendidikan Sastra Inggris di Universitas Kristen Petra, Surabaya dan lulus pada tahun 2007 dengan gelar Sarjana Sastra (S.S.). Dibaptis dewasa di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Andhika, Surabaya pada tanggal 10 Juli 2005 oleh Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div. (gembala sidang). Pendidikan theologi diperoleh dari: kuliah theologi awam di Sekolah Theologi Reformed Injili Surabaya (STRIS) Andhika pada tahun 2004-2009 dan di Sekolah Theologi Awam Reformed (STAR) dari Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M. sejak awal 2010 ini dan juga melalui membaca buku-buku theologi bermutu. Selain itu, pendidikan theologi diperoleh dari mengikuti seminar pembinaan baik dari GRII Andhika maupun STAR/Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M., mendengarkan khotbah MP3 dari Pdt. Joshua Lie, Ph.D. (Cand.) (Reformational Worldview Foundation—RWF, Jakarta) dan Pdt. Erastus Sabdono, D.Th. (GBI Rehobot, Jakarta), dan juga aktif berdiskusi dan bertanya pribadi kepada Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M. Selain kepada orangtua saya, saya juga berterima kasih kepada pada hamba Tuhan dan rekan gereja yang mengajar, mendidik, dan mempengaruhi sikap hati dan pola pikir saya selama ini:
1. Pdt. Dr. Stephen Tong (Pendiri dan Ketua Sinode GRII yang pertama kali mencerahkan pikiran saya tentang keunikan Kekristenan di dalam Kristus dan signifikansi theologi Reformed)
2. Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div. (gembala sidang GRII Andhika, Surabaya yang banyak mengajar saya tentang mandat budaya khususnya mengenai pendidikan)
3. Ev. Yakub Tri Handoko, S.Th., M.A., Th.M., Ph.D. (Cand.) (gembala sidang Gereja Kristus Rahmani Indonesia—GKRI Exodus, Surabaya dan pendiri STAR yang mendorong saya untuk studi Biblika sungguh-sungguh dan daripadanya saya banyak belajar tentang “logika” Reformed. Beliau adalah salah satu hamba Tuhan Reformed yang saya acungi jempol karena selain baik dan care, beliau juga sosok hamba Tuhan yang cerdas.)
4. Pdt. Yohan Candawasa, S.Th. (Care for China Ministries; pendeta yang buku-bukunya banyak saya koleksi dan baca dan dari buku-buku beliau, saya banyak ditegur tentang kerohanian saya)
5. Pdt. Joshua Lie, S.Th., M.Phil., Ph.D. (Cand.) (pendiri Reformational Worldview Foundation—RWF, Jakarta yang banyak memberkati saya melalui pemaparan Reformed worlview melalui MP3 khotbah beliau maupun artikel di web RWF)
6. Pdt. Billy Kristanto, Dipl.Mus., M.C.S., Ph.D. (gembala sidang Mimbar Reformed Injili Indonesia—MRII di Jerman: Berlin, Hamburg, dan Munich yang mengoreksi kerohanian saya baik melalui khotbah maupun pembicaraan pribadi dengan beliau)
7. Pdt. Drs. Thomy Job Matakupan, S.Th., M.Div. (asisten gembala sidang GRII Andhika, Surabaya yang banyak mengoreksi kerohanian saya khususnya di dalam kelas Surat Ibrani di STRIS Andhika)
8. Ev. Bedjo Lie, S.E., M.Div. (Ketua Pusat Kerohanian—Pusroh UK Petra, Surabaya yang banyak menegur dan memberi saya masukan berharga)
9. Dr. Jerry Bridges (pelayan Tuhan di Navigators yang memberkati dan mengoreksi kerohanian saya melalui 3 buku beliau yang sudah saya baca)
10. Rev. Joshua Eugene Harris (gembala sidang di Covenant Life Church, U.S.A. yang memberkati saya melalui khotbah MP3 yang sering saya download dari web gerejanya)
11. Pdt. Erastus Sabdono, S.Th., M.Th., D.Th. (gembala sidang Gereja Bethel Indonesia—GBI Rehobot, Jakarta yang banyak memberkati saya melalui pengajaran beliau melalui khotbah MP3 yang saya download dari website GBI Rehobot maupun dari Majalah TRUTH; beliau adalah sosok pendeta Bethel yang lumayan cerdas dan inspirasional)
12. Pdt. Bigman Sirait (pendeta di Gereja Reformasi Indonesia—GRI Antiokhia, Jakarta dan Pemimpin Umum Tabloid Reformata yang memberkati saya melalui khotbah MP3 yang saya download dari web Reformata maupun artikel di Tabloid Reformata)
13. Sdr. Jimmy Sumendap, S.T., M.T. (rekan saya dari GRII Andhika, Surabaya yang daripadanya saya banyak belajar tentang hal-hal logis)
14. Sdr. Richard Limi, S.T. (rekan saya dari GRII Andhika, Surabaya yang memberi saya beberapa masukan berkenaan dengan hubungan lawan jenis—maklum saya harus belajar dari “suhu”nya, hehehe)
15. Sdri. Ruth Winarto (rekan saya dari GRII Andhika, Surabaya yang daripadanya saya belajar banyak hal)
16. Sdr. Patrick Serudjo, S.Sn. dan Sdr. Djeffry Tedjo Subakti Imam, S.E. (dua rekan saya {GRII Andhika} ketika dahulu saya bekerja di Momentum Christian Literature, Surabaya yang banyak menasihati saya dalam banyak hal)
17. Bp. Franklin Noya (mantan rekan kerja saya di Momentum Christian Literature, Surabaya yang juga sebagai rekan diskusi saya tentang Reformed di Indonesia)
18. Sdr. Abraham Timothy Halim (rekan saya dari GRII Ngagel yang juga merupakan anak sulung dari Pdt. Ir. Andi Halim, S.Th. yang telah memberi saya beberapa masukan ketika saya ada sedikit masalah dahulu)
19. Sdr. Bob Setio (rekan saya dari GRII Andhika yang bersama-sama dengan Abraham Timothy Halim memberi saya beberapa masukan ketika saya ada sedikit masalah dahulu dan juga menjadi rekan diskusi yang menyenangkan)
20. Sdri. Dessy Andriani Liauw, S.T. (rekan saya dari GKRI Exodus, Surabaya yang memberikan masukan cukup bijaksana ketika dahulu saya mengalami sedikit masalah “konyol”)
21. Bp. Ir. Budi S. G. dan Bp. Agus Sani Priadi (kedua rekan saya dari GKRI Exodus, Surabaya yang menjadi tempat saya share)

Kira-kira sejak tahun 2006, melayani Tuhan khususnya di dalam media elektronik/internet dengan mengirimkan artikel/renungan (baik yang ditulis oleh hamba-hamba Tuhan bertanggungjawab maupun dari saya sendiri), resensi buku, kegiatan gerejawi yang terseleksi, dll ke lebih dari 50 milis (di mana saya menjadi anggotanya), 4 forum, Facebook, Friendster, dan blog (dan milis) pribadi.

Denny Teguh Sutandio, S.S.
E-mail:
· dennyteguhsutandio@ymail.com (Yahoo Messenger: dennyteguhsutandio)
· dennyteguh@gmail.com;
· dennyteguh2009@live.com (MSN)
Facebook: www.facebook.com/dennyteguhsutandio
Friendster: www.friendster.com/imagodei
Blog: http://dennytan.blogspot.com
Milis: http://groups.yahoo.com/group/BIBLE_Alone


15 April 2010

Eksposisi 1 Korintus 5:1-5 (Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.)

EKSPOSISI 1 KORINTUS 5:1-5

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.



Nats: 1 Korintus 5:1-5



Bagian ini tidak lagi membahas tentang perpecahan antar jemaat (1:10-3:23) maupun kritikan jemaat terhadap Paulus (4:1-21). Topik tentang hikmat atau salib pun sudah tidak muncul lagi dalam bagian ini. Semua ini menandakan bahwa Paulus sedang beralih pada permasalahan yang baru.

Walaupun bagian ini memperkenalkan persoalan yang baru, namun kita masih dapat melihat keterkaitan antara bagian ini dengan bagian sebelumnya. Sama seperti persoalan di 1:10-3:23 yang diketahui Paulus secara lisan dari keluarga Kloe (bdk. 1:11), persoalan di 5:1-13 juga didengar Paulus secara lisan (bdk. 5:1) dari keluarga Kloe (1:11) atau orang lain (16:16).

Sama seperti pada persoalan sebelumnya yang menyinggung tentang kesombongan jemaat Korintus (1:29, 31; 3:18, 21; 4:6, 7, 18), di pasal 5:1-13 Paulus juga menegur kesombongan mereka (5:2, 6). Kesamaan ide tentang kesombongan ini sangat mungkin menunjukkan bahwa akar masalah dari pasal 1-5 adalah konsep tentang spiritualitas yang salah (lih. pembahasan di 4:8 dan 5:2). Mereka menganggap diri terlalu rohani dengan mengukurnya berdasarkan kriteria tertentu yang mereka ciptakan sendiri.

Alur pemikiran Paulus di pasal 5:1-5 dapat dideteksi dengan mudah. Ia mula-mula menyinggung tentang dosa perzinahan yang melebihi kewajaran yang terjadi di tengah jemaat (5:1). Dosa ini ternyata direspon secara salah oleh jemaat. Mereka bermegah atas dosa tersebut (5:2). Respon seperti ini merupakan persoalan yang lebih serius dari perzinahan di 5:1, karena itu fokus pembahasan di 5:1-13 terletak pada bagaimana jemaat seharusnya menyikapi perzinahan di 5:1. Karena jemaat tidak mampu mengambil sikap yang tepat yang sudah dinasehatkan Paulus berkali-kali, maka Paulus terpaksa mengambil sikap mewakili mereka semua (5:3-5). Ia menjatuhkan hukuman atas pezinah tersebut, sekalipun ia secara badani tidak berada di tengah jemaat Korintus.


Persoalan: Percabulan Incest (ay. 1)
Pada waktu itu kota Korintus dapat diidentikkan sebagai kota percabulan. Begitu melekatnya percabulan dengan kota Korintus sampai-sampai “berbuat cabul” disebut dengan istilah “korinthiazo” (berbuat seperti penduduk Korintus). Situasi ini tersirat dalam surat 1 Korintus juga. Di pasal 6:12-20 sebagian jemaat terjebak pada perzinahan dengan pelacur. Di pasal 7, Paulus menasehatkan jemaat untuk menikah supaya tidak tergoda oleh hawa nafsu (ay. 2, 9), walaupun secara pribadi Paulus lebih condong pada tidak menikah (ay. 7, 25-27). Di pasal 5, jemaat juga terjebak pada percabulan (ay. 1, 9-11). Semua ini tentu saja sangat berhubungan dengan situasi kota Korintus yang dipenuhi percabulan, walaupun apa yang dilakukan orang Kristen di 5:1 melampaui apa yang dilakukan orang kafir.

Kabar yang tidak menyenangkan ini sudah sampai ke telinga Paulus. Terjemahan LAI:TB “memang orang mendengar” dalam bahasa Yunani dapat diterjemahkan dalam beberapa cara. KJV memilih “ini sudah umum dilaporkan” (it is reported commonly), sedangkan mayoritas versi memakai “ini sesungguhnya dilaporkan” (ASV/RSV/NASB/NIV). Terjemahan KJV menyiratkan bahwa kasus perzinahan di 5:1 sudah menjadi rahasia umum bagi banyak orang, sedangkan terjemahan versi lain mengindikasikan kesungguhan dari berita itu. Dari dua alternatif ini, kemungkinan terakhir lebih tepat, karena kata keterangan holos juga dipakai di bagian lain untuk menekankan suatu fakta (6:7 “adanya saja”; 15:29 “sama sekali”). Di samping itu Paulus juga perlu menekankan kebenaran dari berita yang dia dengar supaya tidak menimbulkan keresahan di kalangan jemaat, sebagaimana yang dia lakukan di 1:11.

Bentuk present tense “dilaporkan” (akouetai) menunjukkan bahwa laporan ini bukan hanya sekali ini saja didengar Paulus. Sebelumnya dia sudah mendengar dan membahas masalah ini (5:9). Apa yang dia nasehatkan waktu itu tampaknya tidak sepenuhnya dipatuhi oleh jemaat Korintus (5:10-11). Jika ini benar, maka perzinahan yang terjadi di 5:1 bukanlah tindakan yang sekali dilakukan (bukan “jatuh dalam perzinahan”), tetapi terus-menerus. Ini pula yang menjadi salahs atu alasan mengapa Paulus mengambil sikap yang sangat tegas di 5:3-5.

Untuk memberi penekanan pada apa yang ingin dia sampaikan, Paulus meletakkan frase “di antara kamu” di depan, sehingga 5:1a seharusnya diterjemahkan “ini sesungguhnya dilaporkan bahwa di antara kamu ada percabulan” (kontra LAI:TB “ada percabulan di antara kamu”). Paulus lebih menitikberatkan pada di mana ercabulan ini terjadi. Kalau percabulan ini di luar jemaat, maka dia tidak akan mengambil pusing, karena dia tidak memilik otoritas dalam hal itu (bdk. 5:13) dan karena percabulan merpakan fenomena umum di kota Korintus. Yang dipermasalahkan adalah percabulan ini terjadi di dalam jemaat. Lebih jauh, jenis percabulan ini sangat memalukan karena orang-orang yang tidak mengenal Allah sekalipun tidak melakukan hal ini (5:1b).

Percabulan yang dimaksud Paulus adalah “hidup dengan istri ayahnya” (5:1c). Kata Yunani echo di balik terjemahan “hidup” (LAI:TB/RSV) secara hurufiah berarti “memiliki” (KJV/ASV/NASB/NIV). Kata ini merupakan istilah umum yang bermakna “mengambil sebagai istri” (Mat. 14:4; 22:28; 1Kor. 7:2, 29). Jadi, tindakan ini bukan sekadar berbuat zinah satu kali, tetapi secara permanen. Frase “istri ayahnya” merujuk pada “ibu tiri”, karena di Imamat 18:8 frase ini dipakai untuk membedakannya dengan ibu kandung di Imamat 18:7 (LAI:TB secara tidak tepat memberi terjemahan yang sama “istri ayahmu”, padahal di ayat 7 dipakai kata “ibumu” sebanyak 2 kali).

Paulus tidak menjelaskan apa yang terjadi dengan ayah dari pezinah ini (apakah dia mati atau bercerai?). Apa pun alasannya, perkawinan dengan ibu tiri tetap merupakan aib yang besar. Baik orang Yahudi maupun non-Yahudi sama-sama mengecam tindakan ini. Dalam PL dosa ini dipandang sangat serius. Siapa saja yang melakukannya pasti akan dihukum mati (Im. 18:7-8; 20:11; Ul. 22:30; 27:20). Orang kafir pun melarang untuk membicarakan tentang hal ini karena dianggap tidak pantas. Ironisnya, dosa semacam ini justru dilakukan oleh orang yang mengaku sebagai orang Kristen (bdk. 5:11).


Sikap Toleran Jemaat terhadap Dosa Perzinahan (ay. 2)
Masalah perzinahan di ayat 1 ternyata bukanlah masalah utama. Ada masalah lain yang lebih serius daripada itu, yaitu sikap toleran jemaat terhadap percabulan (5:2a). Mereka bukannya menegur orang yang berzinah, tetapi mereka bahkan menyombongkan hal itu (5:2, 6). Kesombongan ini sebelumnya sudah disinggung Paulus (1:29, 31; 3:18, 21; 4:6, 7, 18), walaupun bukan dalam konteks perzinahan.

Selain menyombongkan dosa itu, mereka juga bersukacita di atasnya. Hal ini terlihat dari kontras dengan nasehat untuk berdukacita di 5:2 dan ide tentang “pesta” di 5:8. Jadi, mereka bukan sekadar membiarkan dosa itu, namun malah menyetujui dan mendukung hal itu. Persetujuan terhadap dosa jelas merupakan dosa yang lebih serius (bdk. Rm. 1:32), karena hal itu menunjukkan mentalitas yang sudah tercemar. Mengapa mereka justru membanggakan dosa percabulan? Sebagian penafsir menduga bahwa hal ini berkaitan dengan ajaran rabi Yahudi tentang para proselit (orang non-Yahudi yang memeluk agama Yahudi) yang dianggap terbebas dari semua ikatan hukum di dunia ini. Tafsiran ini tampaknya sulit diterima, karena tidak ada kaitan yang jelas dengan kesombongan. Kita juga tidak mengetahui dengan pasti apakah pezinah dan jemaat yang mendukung hal itu adalah proselit. Usulan lain dari penafsir yang lebih masuk akal adalah kekeliruan konsep spiritualitas yang dipegang jemaat Korintus. Mereka merasa diri sudah rohani (4:8) dan menganggap bahwa tindakan apa pun yang berkaitan dengan tubuh (materi) tidak akan mempengaruhi kerohanian itu. Mereka memisahkan antara tubuh dan roh. Usulan ini mendapat dukungan dari pasal 6:12-20 yang sama-sama membahas tentang percabulan. Di 6:12-13 Paulus tidak langsung menyinggung tentang percabulan, tetapi menjelaskan konsep yang benar tentang tubuh. Dia mengoreksi konsep jemaat yang salah terhadap tubuh (“segala sesuatu halal bagiku”, “makanan untuk tubuh dan tubuh untuk makanan”, “dua-duanya akan dibinasakan Allah”).

Kepada mereka Paulus memberi nasehat agar berdukacita dan menjauhkan orang itu dari tengah-tengah mereka (5:2b). Nasehat berdukacita karena dosa merupakan pesan umum dari para rabi (Yes. 13:6; Yer 4:8) maupun para rasul (Yak. 4:9; 5:1). Yesus pun menjanjikan berkat bagi mereka yang berdukacita karena dosa (Mat. 5:4). Konsep yang sama diajarkan Paulus di kemudian hari kepada jemaat Korintus (2Kor. 7:10-11; 11:29).

Jemaat juga diperintahkan untuk menjauhkan pezinah dari tengah-tengah mereka. Perintah ini sudah disampaikan Paulus sebelum ia mengirim surat 1 Korintus (5:9-11). Jemaat tampaknya tidak menaati perintah ini sehingga Paulus merasa perlu untuk mengulanginya lagi. Apa yang dilakukan Paulus berakar dari ajaran Yesus tentang disiplin dalam gereja. Kalau berbagai bimbingan sudah diberikan pada pendosa tetapi ia tetap bertekun dalam dosa itu, maka dia harus dianggap sebagai orang yang tidak mengenal Allah (Mat. 18:15-17). Tindakan ini tidak boleh dilakukan dengan kebencian, namun harus dengan kasih, karena tujuan dari disiplin ini adalah untuk kebaikan orang yang bersalah (bdk. 5:5b). Kita harus tetap menganggap dia sebagai saudara (2Tes. 3:14-15).


Sikap Paulus (ay. 3-5)
Karena jemaat Korintus sudah lama tidak melakukan apa yang diperintahkan oleh Paulus, maka sekarang Paulus langsung mengambil tindakan. Dia menjatuhkan hukuman atas orang yang berbuat cabul itu sekalipun ia tidak hadir di tengah jemaat (5:3). Dalam kalimat Yunani, 5:3 dimulai dengan frase “karena aku sendiri” (bdk. NASB). LAI:TB gagal menerjemahkan kata ini, padahal ini penting untuk membuat kontras antara sikap jemaat di ayat dan Paulus di ayat 3-5.

Tindakan tegas yang diambil Paulus tidak didasarkan pada otoritasnya secara pribadi. Sesuai dengan ajaran Yesus (Mat. 18:15-17), Paulus sadar bahwa disiplin gereja harus menjadi keputusan semua orang percaya. Walaupun dia tidak hadir tetapi secara roh ada kesatuan antara dia dengan jemaat Korintus. Dalam kesatuan ini (5:3) dan ketika jemaat berkumpul (5:4a) hukuman secara resmi dijatuhkan. Dasar dari tindakan ini adalah janji Tuhan Yesus bahwa Dia akan hadir jika dua atau tiga orang percaya berkumpul dalam nama-Nya (Mat. 18:20), dan janji ini diucapkan dalam konteks disiplin gereja (Mat. 18:15-19). Paulus mungkin mengharapkan agar jemaat berkumpul dan mengamini isi surat Paulus yang dibacakan dalam ibadah mereka. Dengan demikian jemaat dan Paulus dapat bersama-sama bersehati secara rohani (5:4).

Kesatuan dalam konteks ibadah tersebut sekaligus mengajarkan bahwa otoritas disiplin yang sejati terletak pada kehadiran Tuhan Yesus. Karena itulah Paulus mengatakan bahwa tindakannya ini adalah “dengan kuasa Tuhan Yesus” (5:4b) dan dilakukan “dalam nama Tuhan Yesus” (5:5a). Paulus maupun jemaat lain tidak punya kuasa untuk mengadakan disiplin. Mereka hanya bertindak atas nama Kristus. Ketika tubuh Kristus yang seharusnya kudus (1:2) ternyata dinodai oleh dosa, maka orang percaya lain harus mengambil sikap.

Paulus menyerahkan pezinah ini ke dalam tangan Iblis (5:5a). Ungkapan ini di tempat lain hanya muncul di 1 Timotius 1:20. Apa maksud dari tindakan ini? Kita harus memahami ungkapan ini sebagai istilah yang sedikit teknis untuk pengusiran dari kumpulan orang percaya. Ide tentang pengucilan ini muncul beberapa kali di 5:2, 7, 9, 11, 13b. Pengucilan ini sebaiknya dibatasi dalam konteks ibadah. Artinya, orang percaya lain tidak boleh bergaul dengan orang ini dalam konteks ibadah, termasuk dalam hal makan bersama sebagai bagian dari ibadah (5:11; bdk. 11:20-22, 33-34).

Apa kaitan hal ini dengan Iblis? Dengan mengusir pezinah ini dari lingkup orang percaya, maka dia sebenarnya sedang dikembalikan pada daerah kekuasaan (domain) Iblis lagi. Sebagaimana kita ketahui, orang yang percaya kepada Kristus telah berpindah dari kerajaan kegelapan kepada kerajaan terang (Kol. 1:13). Mereka tidak lagi di bawah otoritas iblis (bdk. Ef. 2:2). Mereka juga dikhususkan atau diperlakukan secara khusus oleh Tuhan. Tidak heran, anggota keluarga dari orang percaya yang non-Kristen pun dikhususkan oleh Tuhan (7:14).

Sama seperti Potifar diberkati karena Yusuf (Kej. 39:5), demikian pula kebersamaan dengan orang percaya akan membawa perlindungan dan berkat khusus dari Tuhan. Ketika pezinah diserahkan ke dalam tangan iblis – dalam arti dikeluarkan dari kumpulan orang percaya – maka dia tidak akan diperlakukan secara khusus lagi oleh Tuhan.

Tindakan disiplin ini sebenarnya bukan didasari pada kebencian, karena tujuan dari semua ini adalah untuk kebaikan. Maksud dari semua ini adalah supaya tubuh (sarx) orang tersebut binasa (5:5b). Sebagian penafsir memahami “binasa tubuhnya” dalam arti kematian fisik. Pendapat seperti ini memiliki banyak kelemahan serius. Paulus tidak mungkin memiliki konsep bahwa tubuh adalah sumber kejahatan yang harus dibinasakan supaya roh mendapat perhentian. Konsep ini sama seperti konsep dualisme Yunani yang menganggap bahwa materi jahat dan roh adalah baik. Di samping itu, jika “binasa tubuhnya” berarti “mati”, bagaimana orang ini akhirnya dapat diselamatkan (5:5c)? Apakah ada unsur pertobatan yang terlibat di dalamnya? Apakah sekadar kematian fisik sudah cukup membuat orang ini diselamatkan?

Kita sebaiknya memahami “tubuh” (sarx) di sini sebagai “kedagingan”, karena dalam tulisan Paulus kata sarx sering kali berarti “kedagingan” apabila dikontraskan dengan roh, sebagaimana kita temukan di 5:5. Dengan demikian ungkapan “binasa tubuhnya” dapat diidentikkan dengan “menyalibkan kedagingan” (Gal. 5:24; Rm. 7:5-6). Tafsiran ini sesuai dengan tujuan di 5:5c (“supaya rohnya diselamatkan”). Pertobatan akan membawa pada keselamatan.

Paulus tidak menjelaskan bagaimana bentuk pembinasaan kedagingan ini. Apakah Iblis akan menghajar orang ini dengan berbagai penyakit sehingga orang ini akhirnya kembali pada Tuhan? Apakah Iblis akan semakin menenggelamkan orang ini dalam dosa sehingga pada akhirnya orang ini menyadari betapa dirinya berdosa dan akhirnya kembali pada Tuhan?

Apakah proses ini tidak berkaitan dengan campur tangan iblis (ungkapan “diserahkan ada Iblis” hanya sekadar ungkapan lain untuk pengusiran dari kumpulan orang percaya)? Jika yang terakhir ini benar, maka Paulus mungkin memaksudkan pengusiran ini sebagai cara untuk membuat orang itu malu dan kehilangan rasa nyaman secara rohani, sehingga dia menyadari betapa dirinya dalam dosa dan bahaya yang besar. Dugaan ini sesuai dengan ajaran Paulus di tempat lain (2Tes.. 3:14 “jika ada orang yang tidak mau mendengarkan apa yang kami katakan dalam surat ini, tandailah dia dan jangan bergaul dengan dia, supaya ia menjadi malu”).

Apa yang dilakukan Paulus di sini tidak boleh dipahami sebagai tindakan yang anti terhadap kasih. Tujuan dari tindakan ini adalah keselamatan dari orang itu (5:5c). Di 2 Tesalonika 3:15, Paulus bahkan menasehatkan agar orang yang dikucilkan tetap diperlakukan sebagai saudara dan bukan sebagai musuh. Di 2 Korintus 2:6-8 dia memerintahkan jemaat untuk menerima kembali orang yang sudah ditegur dala jemaat dan mengasihi orang itu dengan sungguhsungguh.

Dengan pula dengan gereja modern sekarang harus tegas menjalankan disiplin gereja tetapi tetap melakukan itu di dalam kasih dan untuk kebaikan dari orang yang sedang didisiplin. #




Sumber:
http://www.gkri-exodus.org/image-upload/1Korintus%2005%20ayat%2001-05.pdf

Eksposisi 1 Korintus 4:14-21 (Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.)

EKSPOSISI 1 KORINTUS 4:14-21

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.



Nats: 1 Korintus 4:14-21



Kalau di bagian sebelumnya Paulus menjelaskan tentang kehinaan dirinya dan para rasul lain (4:9-13), di bagian ini dia menampilkan diri dalam sisi yang lain, yaitu sebagai bapa rohani. Dia menyebut jemaat Korintus sebagai “anak-anakku yang kukasihi” (4:14), sama seperti dia memanggil Timotius (4:17). Di ayat 15 dia secara khusus menyatakan hubungannya yang unik dengan jemaat Korintus yang tidak dimiliki oleh para pemimpin yang lain, yaitu dia sebagai bapa rohani mereka.

Sebagai bapa, Paulus tidak memiliki keinginan untuk mempermalukan jemaat (4:14). Selanjutnya dia menjelaskan mengapa dia adalah bapa bagi mereka (4:15). Terlepas dari semua pemimpin rohani yang pernah dan sedang membina jemaat, Pauluslah yang pertama kali memberitakan Injil kepada jemaat di Korintus. Setelah menegaskan relasinya yang unik dengan jemaat Korintus dalam gambaran bapa-anak, Paulus lalu menarik konsekuensi dari hubungan seperti ini. Sebagai bapa dia berhak menuntut untuk diteladani (4:16-17, bdk. ay. 16 “sebab itu...”). Dia juga berhak untuk mendisiplin anak-anak rohaninya jika dipandang perlu (4:18-21).


Paulus tidak mempermalukan jemaat Korintus (ay. 14)
Tujuan Paulus menuliskan “hal ini” (tauta) bukanlah untuk memalukan jemaat. Kata tauta berbentuk jamak, sehingga sebaiknya diterjemahkan “hal-hal ini” (ASV/KJV/NASB, kontra NIV/RSV/LAI:TB). Apa yang dimaksud tauta di sini? Kata ini dapat merujuk pada kehinaan para rasul yang diungkapan di 4:6-13 atau seluruh pembahasan mulai pasal 1:10. Di antara dua pilihan ini, yang pertama tampaknya lebih tepat. Apa yang sudah disampaikan di 4:6-13 bisa menimbulkan kesan kalau Paulus sedang menghina jemaat (kalau rasulnya saja mengaku sangat hina, apalagi jemaatnya!). Untuk mengantisipasi hal ini, dia menegaskan bahwa ia tidak bermaksud mempermalukan mereka.

Nasehat Paulus di ayat 14 sekilas tidak konsisten dengan nasehatnya di tempat lain yang tampaknya ingin memalukan orang lain (2Tes. 3:14-15; Tit. 2:8). Jika kita perhatikan secara teliti, maka sebenarnya tidak ada kontradiksi. Di 2 Tesalonika 3:14 Paulus tidak bermaksud mempermalukan orang itu, karena di ayat 15 dia menambahkan “tetapi janganlah anggap dia sebagai musuh, tetapi tegorlah dia sebagai seorang saudara”. Dengan dipisahkan dari komunitas orang percaya maka orang itu diharapkan akan menjadi malu, namun tindakan ini bukan bermaksud mempermalukan dia. Dalam konteks Titus 2:8 Paulus hanya sekadar menasehatkan agar tidak ada celah yang dapat dipakai musuh untuk memfitnah kita, sehingga dengan demikian musuh itu akan malu sendiri. Sekali lagi, ini bukan mempermalukan.

Paulus tidak mempermalukan jemaat (4:14a), sebaliknya dia justru menegur (noutheteo) sebagai anak-anak yang dia kasihi (4:14b). Kata noutheteo hanya dipakai oleh Paulus dan kata ini memiliki arti yang sangat luas (Kis. 20:31; Rm. 15:14; 1Kor. 10:11; Ef. 6:4; Kol. 1:28; 3:16; 1Tes. 5:12, 14; 2Tes. 3:15; Tit. 3:10). Ide yang ditekankan adalah memberikan pengaruh positif kepada orang lain yang bersifat mengoreksi. Pengaruh ini bisa berupa teguran, nasehat, dorongan, dsb. Terjemahan LAI:TB “teguran” tampaknya sesuai dengan konteks yang ada.

Walaupun jemaat Korintus bersikap negatif terhadap dirinya (4:3; 9:3), Paulus tidak memusuhi mereka. Dia justru menyebut mereka sebagai “anak-anak yang kukasihi” (4:14). Panggilan yang hampir sama juga dia pakai di 10:14 dan 15:58. Sikap Paulus ini sungguh luar biasa, karena selain memusuhi dirinya, jemaat Korintus juga jatuh ke dalam berbagai kesalahan yang sangat fatal.


Paulus adalah bapa rohani mereka (ay. 15)
Kalau di ayat 14 Paulus menyebut mereka sebagai anak-anaknya, di ayat 15 dia menjelaskan alasan bagi sebutan itu. Walaupun Paulus bukan satu-satunya pemimpin rohani mereka, namun dia satu-satunya bapa bagi mereka. Dengan bahasa hiperbola Paulus menyatakan bahwa jemaat Korintus mungkin memiliki beribu-ribu pendidik. Kata “pendidik” (paidagogos) jaman dulu dipakai untuk seorang budah kepercayaan yang diberi tugas mengawasi pendidikan dan perkembangan anak dari tuannya. Paidagogos bertugas mengantar dan menemani anak ke sekolah, mengulangi pelajaran yang diberikan dan mengawasi perkembangan anak secara keseluruhan. Bagaimanapun pentingnya dan dekatnya seorang paidagogos dengan anak yang dia bimbing, dia tetap bukanlah ayah dari anak itu. Kata “beribu-ribu” secara hurufiah berarti “sepuluh ribu” (ASV/KJV/NIV), tetapi karena angka ini pada waktu itu adalah angka yang tertinggi, maka tidak saah jika diterjemahkan “beribu-ribu” (LAI:TB) atau “tidak terhitung” (NASB/RSV). Sekalipun jumlah paidagogos yang mengawasi seorang anak tidak terhitung, namun bagi anak itu yang paling penting tetap adalah ayahnya sendiri. Begitu kira-kira maksud Paulus.

Ungkapan “menjadi bapa” di ayat 15b secara hurufiah berarti “melahirkan” (gennao). Penambahan kata “aku” (ego) menunjukkan penekanan bahwa Pauluslah (bukan yang lain) yang telah melahirkan mereka. Apa maksud melahirkan di sini? Sama seperti orang tua yang memberi kehidupan kepada bayi yang dia lahirkan, demikian pula Paulus telah memberi mereka hidup yang baru di dalam Kristus. Kata gennao juga dipakai Paulus di Filemon 1:10 untuk Onesimus yang dia menangkan dalam penjara.

Cara Paulus memposisikan diri sebagai ayah atau ibu seperti ini dapat kita jumpai dalam seluruh surat Paulus, kecuali surat Roma, karena jemaat Roma memang bukan dirintis oleh Paulus (bdk. Rm. 1:10, 13). Dalam konteks jemaat Korintus, Pauluslah yang menanam benih Injil (3:6) atau meletakkan dasar (3:10), yang menunjukkan bahwa dia adalah orang pertama yang membawa Injil kepada mereka.

Konsep tentang seorang pemimpin rohani yang menjadi bapa bagi umat yang dilayani merupakan sesuatu yang umum pada waktu itu. Orang-orang non-Yahudi yang memeluk agama Yahudi (Yudaisme) – disebut dengan istilah proselit - sering kali digambarkan sebagai anak-anak rohani. Orang yang mengajarkan Taurat pada sesamanya juga disamakan dengan orang yang melahirkan orang yang diajar tersebut. Begitu pula dengan orang-orang yang ingin masuk agama misteri Romawi. Mereka disebut sebagai anak-anak rohani dari imam yang melayani mereka.

Ketika Paulus mengklaim diri sebagai bapa rohani, dia tidak bermaksud menyombongkan diri atau membuat dirinya begitu penting bagi jemaat Korintus, dengan demikian melupakan kehinaan posisi para rasul yang sebelumnya sudah didinggung (4:6-13). Dia sangat berhati-hati dalam mengungkapkan statusnya sebagai bapa rohani. Apa yang dia lakukan adalah “di dalam Kristus Yesus” dan “melalui Injil” (4:15b). Paulus dan para petobat tetap menjadi milik Kristus (3:23). Pertobatan mereka bukan karena kehebatan Paulus, tetapi kekuatan Injil (bdk. 2:1-5).


Konsekuensi sebagai bapa rohani (ay. 16-21)
Kata sambung “sebab itu” di awal ayat 16 menunjukkan bahwa Paulus sekarang sedang menarik aplikasi atau konsekuensi dari statusnya sebagai bapa di ayat 15. Ada dua hal yang dia ajarkan.
Bapa rohani berhak menuntut untuk diteladani (ay. 16-17)
Terjemahan “turutilah teladanku” (ay. 16) dapat menimbulkan kesan bahwa jemaat Korintus hanya meniru hal-hal yang baik (teladan), sedangkan hal-hal yang negatif bisa dilupakan. Kesan ini ternyata tidak ada dalam kalimat Yunaninya. Secara hurufiah ayat 16a seharusnya diterjemahkan “jadilah peniruku”. Paulus ingin agar mereka meniru persis kehidupannya. Secara khusus ia ingin agar mereka mengikuti teladan hidupnya yang rela di dalam kehinaan demi Injil (4:6-13).

Tuntutan untuk diteladani dalam konteks relasi bapa-anak memang bukan sesuatu yang asing waktu itu. Yesus pernah mengajarkan bahwa sebagai anak-anak Bapa di surga, orang-orang percaya harus hidup seperti Bapa yang mau mengasihi semua orang (Mat. 5:44-45, 48). Ungkapan modern untuk hal ini adalah “like father like son” (seorang anak sama dengan ayahnya). Di tempat lain Paulus berkata, “jadilah pengikutku sama seperti aku menjadi pengikut Yesus” (1Kor. 11:1). Di 4:17b dia mengatakan “hidup yang kuturuti di dalam Kristus” (bdk. 1Tes. 4:1).

Apa yang ditiru dari Paulus jelas bukan sekadar ajarannya saja, tetapi seluruh hidupnya. Ia berbeda dengan orang-orang Farisi pada umumnya yang hanya bisa mengajar tetapi tidak melakukan apa yang mereka ajarkan (bdk. Mat. 23:3). Paulus bukan hanya memiliki konsistensi antara ajaran dan sikap, namun dia juga konsisten dalam mengajarkan itu di mana-mana di setiap jemaat. Sikap ini sangat luar biasa, karena seseorang biasanya dipengaruhi oleh lingkungan. Jika segala mendukung, orang ini akan bertumbuh, begitu pula sebaliknya. Fenomena ini tidak berlaku bagi Paulus. Dia selalu konsisten mengajar dan menghidupi ajaran itu di mana saja dan selama dia hidup (bdk. 2Tim. 4:7).

Sebagai contoh konkrit, Paulus sengaja mengirim Timotius kepada jemaat Korintus (bdk. “itulah sebabnya aku mengirimkan Timotius...”). Sama seperti jemaat Korintus, Timotius adalah anak rohani yang dikasihi Paulus (4:14, 17). Melalui kehadirannya jemaat Korintus akan diingatkan pada hidup Paulus yang juga dia ajarkan di mana-mana di setiap jemaat. Terjemahan LAI:TB “memperingatkan” sangat tidak tepat. Kata anamimnesko berarti “mengingatkan”. Jadi, kehadiran Timotius bukan untuk memberi peringatan, tetapi mengingatkan tentang kehadiran Paulus dahulu di sana. Dengan kata lain, Timotius ditampilkan sebagai anak rohani yang sempurna yang ajaran dan hidupnya sama persis dengan Paulus sebagai bapa rohaninya.

Para penafsir berdebat tentang waktu kedatangan Timotius. Sebagian berpendapat bahwa Timotius dikirim bersamaan dengan surat 1Korintus. Dengan kata lain, ia dianggap sebagai pembawa surat ini. Kita tampaknya harus menolak dugaan ini, karena di pasal 16:10 Paulus meragukan apakah Timotius bisa datang (kata “jika” pada kata “jika ia datang” di ayat ini menyiratkan sesuatu yang kemungkinan besar tidak tidak terjadi). Timotius sangat mungkin sudah dikirim sebelum surat ini datang, tetapi pengiriman ini bukan secara khusus ke Korintus (Kis. 19:22). Tidak adanya nama Timotius di pendahuluan surat (1:1) maupun salam penutup (16:19-21) lebih cocok apabila dia memang sudah tidak bersama Paulus ada waktu penulisan surat ini.

Bapa rohani berhak mendisiplin anak-anaknya apabila dipandang perlu (ay. 18-21)
Ayat 18 menceritakan tentang keberadaan beberapa orang yang menjadi sombong karena menganggap Paulus tidak akan datang lagi ke Korintus. Mereka ini adalah orang-orang yang tidak menyukai Paulus dan meneruskan kepemimpinan di dalam jemaat namun dengan cara yang salah (3:12-15, 17, 18). Mereka bahkan menjadi pengkritik Paulus (4:3, 6-7). Mereka mungkin berpikir bahwa Paulus tidak ubahnya seorang pengkhotbah keliling belaka yang hanya berhenti di suatu tempat untuk waktu yang pendek tanpa memiliki komitmen terhadap tempat itu. Lebih buruk lagi, mereka melihat kemampuan khotbah dan isi khotbah Paulus tidak sebaik para pengkhotbah keliling.

Sebagai respons terhadap kesalahpahaman ini (4:18) Paulus menegaskan bahwa dia akan segera datang jika Tuhan menghendaki (4:19a). Kata “segera” tidak boleh dipahami dalam konteks waktu yang cepat. Dalam konteks berpikir Yahudi waktu itu, ungkapan “segera” lebih menekankan aspek kepastian daripada kecepatan waktu. Di pasal 16:8 ia mengatakan bahwa ia masih akan tinggal di Efesus sampai Hari Pentakosta. Contoh lain tentang penggunaan ungkapan “segera” dapat dilihat dari perumpamaan Yesus di Lukas 18:1-8. Di ayat 7-8 Yesus menyatakan bahwa Ia akan segera datang, tetapi anehnya perumpamaan ini bertujuan mengajarkan murid-murid untuk berdoa “tanpa jemu-jemu” (ay. 1). Jika “segera” berarti “langsung”, maka murid-murid tidak perlu berdoa tanpa jemu. Justru karena “segera” berarti “pasti”, maka mereka memiliki alasan kuat untuk terus berdoa.

Walaupun tujuan dari kedatangan ini sangat positif, tetapi Paulus tetap merasa perlu bersandar pada kehendak Allah. Ungkapan “jika Tuhan menghendaki” membuktikan bahwa Paulus sangat mengenal arti kedaulatan Allah. Di pasal 16:7 dia mengulangi lagi ungkapan ini (bdk. Rm. 1:10; 15:32; 1Tes. 3:11; Flm. 1:22). Di bagian Alkitab lainnya bahwa diajarkan bahwa untuk hidup pun kita perlu perkenanan Tuhan (Yak. 4:15). Ada banyak hal yang bisa menghalangi rencana kita, misalnya iblis (1Tes. 2:18) atau mungkin pekerjaan Tuhan lain yang lebih besar (1Kor. 16:9; Rm. 15:20-24). Kita perlu benar-benar bersandar pada kehendak Tuhan untuk apa pun rencana kita.

Tujuan kedatangan Paulus bukan untuk menantang orang-orang sombong di ayat 18 berdebat atau unjuk kebolehan berkhotbah dengan dia. Jika dia memfokuskan pada dua hal ini, maka dia akan menjadi sama dengan mereka yang mengandalkan hikmat duniawi. Sebaliknya dia ingin mengetahui kekuatan mereka (ay. 19b-20). Kata “kekuatan membawa kita kembali pada ide tentang Injil yang dianggap kebodohan, tetapi sebetulnya justru kekuatan dan hikmat Allah (1:24). Paulus sendiri memberitakan Injil yang kuat ini dengan kekuatan Roh (2:3-5). Hanya melalui karya Roh Kuduslah seseorang dapat mengenal Allah (2:10-14). Di sisi lain jemaat Korintus hanya menyukai perkataan hikmat duniawi. Orang-orang semacam ini pasti tidak memiliki kuasa untuk mengubahkan orang lain.

Kata sambung “sebab” di ayat 20 menunjukkan alasan bagi ayat 19b. Paulus tidak mau tahu tentang hikmat duniawi, karena Kerajaan Allah adalah soal kuasa, bukan sekadar perkataan. Pemunculan ungkapan “Kerajaan Allah” mengingatkan kembali pada sikap arogan orang-orang ini yang menganggap diri sebagai raja (4:8). Bagaimana mereka bisa menganggap diri sebagai raja dalam Kerajaan-Nya, padahal perkataan mereka tidak memiliki kuasa?

Di ayat 21 Paulus kembali lagi pada posisinya sebagai bapa rohani (bdk. ayat 15). Sebagai bapa, dia berhak mendisiplin anak-anaknya, terutama yang sombong dan mulai kurang ajar dengan dia. Kata Yunani di balik kata “cambuk” (LAI:TB; NIV) adalah rabdos yang merujuk pada sebuah tongkat (ASV/KJV/RSV/NASB). Benda ini merupakan simbol dari cara pendisiplinan yang keras (2Sam. 7:14; Ams 10:13; 13:24; 22:15; 23:13-14; 29:15, 17). Dunia pendidikan Yunani juga mengenal gambaran ini dengan baik. Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa bimbingan rohani dapat melibatkan disiplin yang keras apabila hal ini diperlukan. Bagaimanapun, Paulus tidak memprioritaskan hak ini. Dia lebih senang mengedepankan kasih dan kelemah-lembutan (ay. 20b). Jika hal ini tidak mengubah mereka, maka dia tidak segan-segan memakai disiplin yang keras (2Kor. 10:1-2). Salah satu bukti disiplin yang keras ini akan dia sampaikan di 1 Korintus 5:1-13 ketika dia mengusir orang percaya yang sangat bebal dan mencintai dosa.



Sumber:
Mimbar GKRI Exodus, 21 September 2008

25 March 2010

Renungan Memperingati Jumat Agung 2010: SUDAH SELESAI! (Denny Teguh Sutandio)

Renungan Jumat Agung 2010



SUDAH SELESAI!

oleh: Denny Teguh Sutandio



“Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai." Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.”
(Yoh. 19:30)




Apakah signifikansi dari kematian seseorang? Biasanya jika seorang yang berpengaruh di masyarakat atau negara (entah itu filsuf, ilmuwan, presiden, pejabat, para pendiri agama, nabi, dll), maka kematiannya memiliki signifikansi tertentu, yaitu pada saat pemakamannya, banyak orang yang melayat sebagai tanda ikut berbela sungkawa. Atau mungkin juga kematiannya memberikan dampak langsung kepada masyarakat di sekitarnya melalui teori-teori yang diajarkannya ketika dia masih hidup. Tetapi semua signifikansi tersebut bersifat sementara saja, karena berorientasi pada hal-hal duniawi. Namun, ada kematian yang memberikan signifikansi luar biasa dahsyat yang bukan hanya berorientasi di dunia ini saja, tetapi juga di dunia akan datang. Kematian siapakah itu? Jelas, kematian ini bukan kematian seorang pendiri agama atau nabi, tetapi kematian dari Pribadi Tuhan Yesus Kristus.


Apa signifikansi kematian Kristus ini? Kita bisa mengerti signifikansi penting kematian Kristus melalui satu pernyataan teragung yang tidak akan pernah diucapkan oleh pendiri agama mana pun, yaitu “Sudah selesai.” (Yoh. 19:30) Apa arti “sudah selesai”? Bukankah kedua kata ini bermakna biasa saja di dalam dunia kita? Kedua kata ini telah banyak disalahmengerti. Ada yang menafsirkan bahwa perkataan Kristus ini sebagai sebuah bentuk keputusasaan. Benarkah demikian? Jika kita tidak mengerti kata aslinya, kita akan bisa menyalahtafsirkan kedua kata ini. Apa pentingnya kedua kata ini? Pada momen memperingati Jumat Agung, kita akan merenungkan makna kedua kata ini dan pengaruhnya yang luar biasa dahsyat.


“Sudah selesai” dalam terjemahan King James Version (KJV) maupun English Standard Version (ESV) diterjemahkan, “It is finished.” Dalam teks Yunaninya, kata ini adalah τελέω (teleō) yang bisa berarti telah dipenuhi atau lengkap atau diselesaikan. Dalam struktur katanya, kata ini berbentuk: Verb (kata kerja), third person (orang ketiga), singular (tunggal), perfect, passive (pasif), dan indicative. Di dalam terjemahan Indonesia, “Sudah selesai” tidak bisa dikategorikan apakah bentuk aktif atau pasif, namun dari kata Yunani, kita bisa mengerti bahwa kata ini berbentuk pasif. Dengan kata lain, artinya: sudah diselesaikan atau sudah dibayar. Apa yang diselesaikan atau dibayar oleh Kristus di atas kayu salib?


Pertama, utang dosa. DOSA adalah hal yang semakin langka di tengah dunia postmodern ini. Banyak psikolog non-Kristen TIDAK mau menyebut DOSA secara terus terang, karena bagi mereka, DOSA itu bisa melemahkan semangat dan kemampuan (baca: kehebatan) orang. Oleh karena itu, tidak heran, kata ini berusaha diperhalus dengan istilah-istilah, seperti: kelemahan, ketidakmampuan, dll. Penghalusan kata DOSA ini mengakibatkan manusia berpikir bahwa hal-hal seperti: kelemahan, ketidakmampuan, dll itu hal sepele dan bisa diatasi. Sehingga tidak heran, semakin kata DOSA diperhalus, manusia bukan makin mengerti artinya, tetapi makin berbuat dosa. Inilah ironisnya. Namun, sadar atau tidak sadar, kita harus mengakui satu hal bahwa DOSA itu eksis. Ambil contoh, ketika diberi atau memiliki 2 permen, anak kecil yang tidak diajar oleh siapa pun TIDAK mau membagikan permennya itu kepada temannya. Aneh bukan? Apakah ini yang namanya manusia lahir itu tanpa dosa seperti kertas putih (teori tabula rasa)? Hidup egois, apakah itu tidak berdosa? Mau tidak mau, suka tidak suka, DOSA telah meracuni kita sejak kecil, namun anehnya, kita sering kali tidak sadar (atau sebenarnya pura-pura tidak sadar)! Jika dari kecil kita sudah memiliki bibit dosa, lalu, bagaimana jalan keluarnya? Semua agama, filsafat, etika, kebudayaan, tradisi, ilmu, dll menawarkan beragam solusi. Solusi yang mereka tawarkan adalah solusi yang pragmatis dan berpusat pada manusia, yaitu berbuat baik. Meskipun ada agama yang mengajarkan tentang rahmat Allah, namun sayang, definisi rahmat dan aplikasinya tidak ada pada agama tersebut. Semua agama hanya memberi solusi untuk lepas dari dosa yaitu dengan berbuat baik, misalnya memberikan amal, zakat, menunaikan ibadah tertentu, bertarak (askese), dll. Secara logis, mungkinkah seorang yang berbuat baik bisa terlepas dari dosa? Mari kita berpikir sejenak. Ingatlah, kita dari kecil sudah membawa bibit dosa (dosa asal). Sebagai akibatnya, secara otomatis, apa yang ada pada diri kita, termasuk hati, pikiran, perkataan, tingkah laku, dan tindakan kita telah dicemari oleh dosa. Dosa asal mengakibatkan dosa tindakan. Setiap aspek hidup kita telah dicemari dosa, maka pertanyaan selanjutnya, mampukah kita berbuat baik? Kedua, ketika seseorang menyatakan “perbuatan baik”, tolong tanya, “baik” itu menurut standar apa dan siapa? Banyak orang mendefinisikan baik itu artinya: suka menolong, membantu, memberi, dll. Lalu, bagaimana dengan menegur dosa? Itu dianggap TIDAK BAIK. Mengapa? Karena itu bukan menyenangkan orang lain. Dengan kata lain, BAIK didefinisikan sebagai suatu tindakan yang berpusat kepada diri. Jika definisi BAIK sudah mengalami deviasi ini, maka logiskah seseorang (atau agama) yang mengajar bahwa agar terlepas dari dosa dan masuk “sorga”, manusia berbuat baik, padahal perbuatan baik itu sendiri tidak ada standarnya dan bahkan perbuatan baik itu berpusat kepada manusia? Inilah ketidakkonsistenan paradigma manusia berdosa. Pdt. Sutjipto Subeno memakai istilah: illogical logic (logika yang tidak logis).

Lalu, bagaimana solusinya? DOSA manusia TIDAK bisa diselesaikan dengan cara manusia, karena hal tersebut sia-sia adanya. Makin manusia berusaha berbuat baik, sebenarnya mereka makin tidak baik, karena motivasinya berbuat baik bukan untuk kebaikan itu sendiri. Jika mereka akhirnya tidak masuk “sorga”, apakah mereka masih berbuat baik? Sebuah tanda tanya yang besar… Tetapi puji Tuhan, Allah yang telah mencipta manusia dan menetapkan/mengizinkan dosa masuk ke dalam diri manusia adalah Allah yang juga telah menyediakan solusinya. Itulah dahsyatnya Allah kita. Dari kekekalan, Ia telah mempersiapkan Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus untuk menebus dan menyelamatkan umat pilihan-Nya yang berdosa. Pada saat yang telah ditetapkan Bapa, Kristus berinkarnasi dan menjalankan semua tugas yang diemban-Nya dari Sang Bapa. Hal ini TIDAK berarti Kristus bukan Allah seperti yang dituduhkan oleh para Unitarian (“Kristen” yang menolak Allah Tritunggal dan memercayai satu pribadi Allah). Kristus yang menjalankan mandat dari Bapa juga tetap bernatur Allah, karena natur Allah di dalam Pribadi Kristus itu telah ada sebelum inkarnasi. Puncak karya Kristus adalah pada kematian-Nya di kayu salib. Kematian-Nya bukan seperti kematian para pendiri agama. Kematian para pendiri agama adalah kematian sebagai akibat dosa (upah dosa ialah maut—Rm. 6:23). Namun kematian Kristus bukan kematian akibat dosa, tetapi kematian yang mematikan dosa (theolog Dr. John Owen menulis bukunya berjudul, “The Death of Death in the Death of Christ”; diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Momentum dengan judul: “Kematian yang Menghidupkan”). Kematian-Nya juga membayar lunas utang dosa kita kepada Allah Bapa. Sebagai manusia berdosa, kita berutang dosa kepada Allah. Kita yang telah diciptakan-Nya bukannya hidup memuliakan-Nya, malahan justru menghina bahkan membuang-Nya dari hidup kita. Itulah utang dosa kita kepada Allah. Namun, melalui Kristus, utang dosa kita yang harus kita tanggung sendiri di hadapan Allah telah lunas dibayar oleh Kristus melalui kematian-Nya. Ada orang non-Kristen yang berkata bahwa Kekristenan itu tidak adil: mengapa yang berdosa manusia, yang menanggung hukuman dosa itu Yesus? Sepintas dari perspektif dunia berdosa, memang hal ini tidak adil, namun sesungguhnya hal ini adalah hal teragung sepanjang sejarah. Mengapa teragung? Karena di dalam sejarah, Allah, Sang Pencipta dan Pemelihara alam semesta menjelma menjadi manusia (tanpa meninggalkan natur Ilahi-Nya) demi menyelamatkan manusia yang berdosa. Kristus yang tidak berdosa dijadikan berdosa demi kita yang layak dihukum mati akibat dosa. Bukankah ini suatu keagungan yang terbesar sepanjang sejarah?

Jika kita telah dimerdekakan dari utang dan kuasa dosa, maka sudah seharusnya kita sebagai umat-Nya berusaha melawan dosa. Sebagai umat pilihan-Nya, kita masih bisa berdosa, tetapi kita TIDAK lagi dikuasai oleh dosa. Artinya, meskipun masih bisa berdosa, kita bisa juga terus-menerus melawan dosa. Bagaimana caranya? Berfokuslah kepada Kristus dan karya penebusan-Nya bagi kita, maka kita akan dimampukan untuk hidup terus-menerus memuliakan-Nya dengan melawan dosa. Tentu hal ini tidak mudah, tetapi biarlah Roh Kudus memampukan kita melakukannya demi hormat dan kemuliaan-Nya.


Kedua, kuasa iblis. Dosa mau tidak mau berkaitan erat dengan iblis, karena iblis adalah bapa dosa, tetapi tidak berarti kita dapat mengkambinghitamkan iblis sebagai alasan kita berbuat dosa. Kita berbuat dosa karena kita dengan mudahnya ditipu oleh si iblis. Kembali. Pada mulanya, iblis itu adalah Lucifer, malaikat Allah yang melayani Allah. Ia memiliki talenta suara yang merdu. Namun karena memberontak kepada Allah, maka Allah membuang Lucifer dan para pengikutnya menjadi iblis. Dengan kata lain, iblis berarti pemberontak/penantang Allah. Kejadian ini berlangsung sebelum Allah menciptakan manusia. Iblis yang telah dibuang Allah mulai beroperasi di dunia ini. Pertama, ia mencobai Hawa dan kemudian Adam. Pencobaan ini berhasil, sebagai akibatnya, Adam dan Hawa diusir dari Taman Eden. Kemudian, pencobaan itu terus berlanjut kepada anak Adam dan Hawa, yaitu Kain dan kembali, pencobaan itu berhasil, di mana Kain membunuh Habil. Tidak cukup sampai di situ, iblis mencobai manusia terus melalui dosa, hingga Allah benar-benar merasa “menyesal” telah menciptakan manusia (Kej. 6:6), bahkan Ia berjanji akan menghapuskan manusia (Kej. 6:7). Iblis terus mencobai manusia, bahkan para nabi pun tidak luput dari pencobaan tersebut. Sampai Tuhan Yesus pun, iblis pun nekat mencobai-Nya. Mengapa iblis mau mencobai Tuhan Yesus? Karena ia tahu bahwa kedatangan-Nya ke dunia ini untuk meremukkan kuasa iblis. Tetapi ia tidak menyadari bahwa yang dicobainya itu bukan manusia biasa, tetapi Allah. Tidak heran, pencobaan iblis kepada Tuhan Yesus sebanyak 3x ga-tot (gagal total), bahkan pada pencobaan ketiga, Kristus menghardik iblis. Apakah iblis menyerah? TIDAK. Iblis terus melancarkan serangan dahsyatnya kepada Tuhan Yesus, yaitu melalui para ahli Taurat dan orang Farisi yang mencari-cari kesalahan-Nya sampai pemerintah Pontius Pilatus dan Herodes. Yang paling fatal, salah satu murid Yesus, Yudas Iskariot dirasuk iblis (Yoh. 13:2) untuk melakukan tugas penyaliban Yesus. Menjelang kematian Kristus pun, iblis tidak segan-segan mencobai-Nya. Ketika kita melihat film The Passion of the Christ, Mel Gibson dengan tajam menggambarkan pencobaan iblis tersebut, yaitu ketika Kristus berdoa di Taman Getsemani, iblis yang digambarkan sebagai seorang yang berkepala gundul dengan membawa seorang anak mencobai-Nya dengan mengingatkan bahwa yang akan Ia alami itu begitu berat. Iblis juga datang dalam bentuk ular yang mau mematuk Yesus. Apakah Kristus menyerah? TIDAK. Justru Ia menang di titik awal, yaitu dengan meremukkan kepala si ular. Penggambaran Mel Gibson di dalam film ini begitu tajam.

Kemenangan Kristus dengan meremukkan kepala si ular ketika berada di Taman Getsemani dilanjutkan dengan kemenangan-Nya ketika Ia telah menyelesaikan karya penebusan-Nya melalui kematian-Nya di kayu salib. Kembali, dengan tajam, Mel Gibson mengisahkan di dalam film tersebut, bahwa ketika Kristus mati di kayu salib, iblis berteriak, ya, sebuah teriakan kekalahan. Haleluya! Kematian Kristus benar-benar telah meremukkan kuasa iblis, sehingga iblis TIDAK lagi memiliki kuasanya apalagi atas umat Tuhan. Jaminan kematian Kristus ini menguatkan kita tatkala kita harus bersaksi di tengah dunia. Di tengah dunia, iblis terus menggoda kita untuk menjauh dari Allah. Rev. Joshua Eugene Harris di dalam salah satu khotbahnya yang berjudul Resisting Lust mengungkapkan bahwa hawa nafsu membuat kita tidak berfokus pada (atau menjauh dari) Allah. Meskipun iblis berusaha merayu kita untuk menjauh dari-Nya, sebagai umat-Nya, kembalilah kepada-Nya, percayalah bahwa Kristus yang telah mati bagi kita adalah Kristus yang telah meremukkan kuasa iblis, sehingga ia tidak akan mampu menguasai hidup kita. Oleh karena itu, anak Tuhan sejati TIDAK mungkin akan bisa disantet, karena Roh Kudus yang ada di dalam diri mereka lebih besar dari roh dunia (1Yoh. 4:4) dan juga Roh Kudus tersebut yang mengefektifkan karya penebusan Kristus itu ke dalam diri umat pilihan-Nya, sehingga kuasa iblis TIDAK mampu menembus hidup umat pilihan-Nya. Inilah hak istimewa kita sebagai anak-anak-Nya. Jika kita telah mendapatkan jaminan yang luar biasa agung ini, masihkah kita takut dan menyerah kepada rayuan iblis? Iblis dan kuasanya telah diremukkan melalui kematian Kristus, kita sebagai anak-anak-Nya yang telah ditebus-Nya wajib mengusir iblis dengan kuasa Kristus. Mengusir setan bukan karunia, tetapi hak setiap anak Tuhan yang telah ditebus Kristus. Amin?


Ketiga, kuasa maut. Upah dosa ialah maut (Rm. 6:23). Karena semua manusia telah berbuat dosa dan tidak mencukupi kemuliaan Allah (Rm. 3:23; terjemahan Inggris), maka semua manusia pasti menghadapi maut atau kematian. Kematian mengakibatkan rasa takut dalam diri manusia. Kalau kita memperhatikan beberapa (atau bahkan banyak) orang yang dirawat di UGD rumah sakit dan sudah menunggu ajalnya, mereka akan takut sekali, karena mereka merasa selama hidupnya, mereka sering berdosa. Aneh juga manusia itu. Selama hidup, tidak merasa diri berdosa, tetapi mau menjelang ajal, langsung tiba-tiba sadar dosa. Dengan kata lain, kematian menyadarkan kefanaan dan keberdosaan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung. Mereka menyadari bahwa kematian itu titik kritis manusia. Ketakutan akan kematian juga disebabkan oleh maraknya tema-tema kematian di kalangan media elektronik, seperti film, khususnya film Indonesia. Film-film seperti Suster Ngesot, Suster Keramas, Hantu Jeruk Purut, Jailankung, dll menjadi tema film Indonesia yang banyak beredar. Di TV dan radio pun tidak kalah menariknya. KisMis (Kisah-kisah Misteri) juga beredar. Semua ini membuat manusia makin takut menghadapi kematian.

Lalu, bagaimana jalan keluarnya? Setiap orang termasuk orang Kristen pasti meninggal, namun ada yang membedakan antara anak Tuhan sejati yang meninggal vs orang dunia yang meninggal. Anak Tuhan sejati meninggal bukan dengan ketakutan, tetapi dengan damai sejahtera. Mengapa? Karena mereka telah meninggal di dalam Kristus yang telah mati baginya dan telah mengalahkan kuasa maut. Mereka yang seharusnya menerima hukuman maut akibat dosa telah digantikan oleh kematian Kristus yang membayar lunas utang dan kuasa maut, sehingga anak-anak-Nya meskipun harus mati secara fisik, mereka tidak akan mati kekal, namun menikmati hidup kekal bersama Bapa di Sorga. Sedangkan mereka yang tidak di dalam Kristus akan mengalami kematian dua kali, yaitu: kematian fisik dan kematian kekal (terpisah selama-lamanya dari Allah).


Kematian Kristus telah menyelesaikan utang dosa, mematahkan kuasa iblis, dan mematahkan/membayar kuasa maut kepada Allah Bapa. Kematian-Nya menjamin bahwa kita yang ada di dalam Kristus, tidak akan menerima penghukuman, karena Ia telah menggantikan kita di atas kayu salib. Pengorbanan-Nya membuktikan kasih-Nya kepada kita begitu besar (tak terukur). Bagaimana dengan kita? Ia yang telah berkorban mati di atas kayu salib bagi kita, apakah kita juga rela mati dan berkorban demi Kristus yang telah mati bagi kita? Biarlah Jumat Agung tahun ini menjadi Jumat Agung yang bermakna bagi kita, sehingga kita sebagai anak-anak-Nya dapat hidup terus memuliakan-Nya di mana pun kita ditempatkan Tuhan. Amin. Soli DEO Gloria…

24 March 2010

Eksposisi 1 Korintus 4:10-13 (Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.)

EKSPOSISI 1 KORINTUS 4:10-13

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.



Nats: 1 Korintus 4:10-13



Dalam bagian sebelumnya (4:8-9) Paulus telah menunjukkan bahwa kesombongan jemaat Korintus merupakan sebuah ironi, karena keadaan mereka sekarang adalah berkat pelayanan dari para rasul yang “hina”. Kini di ayat 10-13 ia menjelaskan secara lebih rinci tentang kehinaan yang dia maksud. Ayat 10 memaparkan kontras antara para rasul dan jemaat Korintus. Ayat 11-12a membahas tentang kehinaan para rasul yang terlihat dari beragam penderitaan yang mereka alami. Penderitaan semacam ini menurut kacamata dunia waktu itu memang dpandang sebagai kelemahan, walaupun di dalam Kristus semua itu justru menunjukkan kekuatan. Ayat 12b-13a kehinaan para rasul kembali dibahas oleh Paulus, tetapi kali ini terlihat dari cara mereka menghadapi penderitaan. Menurut budaya waktu itu sikap lunak yang mereka tunjukkan kepada orang-orang yang menentang mereka dapat dilihat sebagai kelemahan. Pada bagian terakhir, yaitu ayat 13b, Paulus menutup dengan menekankan kembali tentang betapa hinanya posisi para rasul menurut ukuran duniawi waktu itu.


Kontras antara para rasul dan jemaat Korintus (ay. 10)
Sama seperti di ayat 8-9, di ayat 10 Paulus tetap memakai gaya bahasa ironis. Hal-hal positif yang dia kemukakan tentang jemaat Korintus sebenarnya memang benar jika dilihat dari sudut pandang injil. Sayangnya, jemaat Korintus sedang berusaha merendahkan injil dan mencari jati diri melalui hikmat dunia. Mereka berpikir bahwa hikmat itu akan membuat mereka berhikmat, kuat dan mulia, padahal semua ini sebelumnya sudah mereka dapatkan dari injil. Keadaan mereka sekarang justru kebalikan dari semuanya itu.

Di ayat 10a Paulus menyebut para rasul sebagai orang yang bodoh karena Kristus, sedangkan jemaat Korintus adalah arif (lit. “berhikmat”) di dalam Kristus. Pernyataan ini jelas merupakan sebuah ironi. Menurut ukuran waktu itu Paulus bukanlah tipikal orang yang bodoh. Dia menguasai berbagai filsafat Yunani dan belajar Taurat di bawah Rabi Gamaliel yang tersohor. Surat-suratnya yang sangat mendalam menunjukkan betapa pikirannya sangat mendalam (bdk. 2Ptr. 3:16). Bagaimanapun, Paulus tetap mengaku sebagai orang bodoh. Ketika dia menerima “kebodohan injil” (1:18, 21, 23), maka dunia akan menganggap dia bodoh juga, tetapi dia tetap tidak peduli. Di pasal 3:18 dia bahkan menasehati jemaat yang merasa berhikmat menurut ukuran dunia untuk menjadi bodoh.

Kebodohan ini adalah karena Kristus (LAI:TB). Semua versi Inggris memilih “untuk atau demi Kristus”. Terjemahan yang terakhir ini tampaknya lebih tepat, meskipun dari sisi tata bahasa terjemahan LAI:TB juga memungkinkan. Para rasul rela dianggap bodoh oleh dunia demi Kristus. Meminjam istilah Paulus di tempat lain, dia mau menganggap semua kelebihan duniawi sebagai sampah supaya dia memperoleh Kristus (Flp. 3:8).

Di sisi lain Paulus menyindir jemaat Korintus yang menganggap diri berhikmat. Menurut ukuran dunia mereka sebenarnya tidak banyak yang berhikmat (1:26a), tetapi mereka malah merasa berhikmat menurut dunia. Mereka seharusnya menyadari bahwa posisi mereka di dalam Kristus (4:10a) telah membuat mereka menjadi berhikmat, karena injil adalah hikmat Allah (1:24, 27a; 2:6-7). Mereka bahkan dipilih untuk memalukan orang-orang yang berhikmat (1:27a). Ironisnya, mereka justru meninggalkan injil dan mencoba menjadi berhikmat melalui ukuran dunia.

Kontras selanjutnya di ayat 10b adalah “lemah – kuat”. Menurut ukuran dunia waktu itu Paulus dulu adalah orang yang kuat atau berpengaruh (Kis. 8:1-3; 9:1-2; Flp. 3:4-6). Ketika dia memutuskan untuk menerima dan memberitakan injil, maka dia dikategorikan oleh dunia sebagai orang yang lemah. Dia sendiri mengakui kelemahannya dalam memberitakan injil jika diukur dari keahlian retorika waktu itu (2:3). Bagaimanapun, dia tetap menonjolkan kelemahan itu supaya iman jemaat tidak didasarkan pada hikmat manusia tetapi pada kekuatan Allah (2:5). Sama seperti Yesus yang disalibkan karena kelemahan tetapi kemudian dibangkitkan dalam kuasa, demikian pula Paulus meyakini hal yang sama akan terjadi atas dia (2Kor. 13:4). Dengan kata lain, kelemahan Paulus justru semakin menunjukkan kekuatan Kristus (2Kor. 12:9). Ketika dia lemah, dia makin kuat (2Kor. 12:10).

Di sisi lain jemaat Korintus menurut ukuran dunia sebenarnya tidak banyak yang punya pengaruh (1:26b). Sekarang mereka merasa diri kuat karena telah menerima hikmat dunia. Situasi ini tentu saja sangat ironis. Mereka seharusnya memahami bahwa kekuatan yang sesungguhnya terletak pada injil, karena injil adalah kekuatan Allah (1Kor. 1:24; bdk. Rm. 1:16-17).

Kontras terakhir disinggung Paulus di ayat 10c. Para rasul adalah hina, sedangkan jemaat Korintus mulia. Perubahan urutan dari “kami-kamu” (ay. 10a-b) menjadi “kamu-kami” (ay. 10c) mungkin dimaksudkan sebagai persiapan ke ayat 11 yang hanya terfokus pada diri para rasul. Walaupun Paulus secara duniawi adalah orang yang terpandang, namun dia mengakui kehinaannya di dalam Kristus. Sebaliknya jemaat Korintus yang tidak terpandang (1:26c) malah menyombongkan diri. Mereka seharusnya mengetahui bahwa Allah memilih orang-orang yang tidak terpandang menurut dunia ini untuk memalukan orangorang yang mulia (1:28). Mereka juga perlu mengerti bahwa Allah telah menyiapkan kemuliaan bagi mereka yang menerima injil (2:7).


Kehinaan para rasul yang terlihat dari beragam penderitaan yang mereka alami (ay. 11-12a)
Ungkapan “sampai pada saat ini” (ay. 11a) menunjukkan bahwa semua penderitaan yang Paulus alami merupakan pengalaman yang terus-menerus dia miliki. Pemunculan ulang ungkapan ini di ayat 13c turut memberi penekanan tentang ha ini. Penekanan seperti ini perlu ditunjukkan Paulus karena jemaat Korintus sudah merasa diri kaya, kenyang dan menjadi raja (4:8).
Jenis penderitaan yang disebut di ayat 11-12a bukanlah daftar yang lengkap. Jika kita bandingkan dengan 2 Korintus 11:23-28, maka kita akan mengetahui bahwa penderitaan Paulus jauh lebih banyak lagi. Semua penderitaan ini tampak bertolak belakang dengan kehidupan para ahli retorika waktu itu. Mereka adalah orang-orang yang mapan secara materi dan dihormati secara sosial. Apa yang menimpa Paulus di mata jemaat Korintus semakin mempertegas kehinaan Paulus sebagai seorang pengkhotbah. Keengganan mereka untuk menghormati Paulus maupun menyokong pelayanannya secara materi (1Kor. 9:1-3, 15; 2Kor. 11:7-9) sangat mungkin dipicu oleh profil Paulus sebagai pengkhotbah rendahan menurut ukuran waktu itu.

Paulus menceritakan bahwa para rasul lapar dan haus (4:11a). Keadaan ini berbeda dengan keadaan jemaat Korintus yang telah merasa kenyang (4:8). Secara jasmani Paulus memang kerap mengalami kekurangan sampai tidak bisa makan (2Kor. 11:27; Flp. 4:11-12), namun secara rohani dia dikenyangkan oleh injil. Sebaliknya, jemaat Korintus yang merasa kenyang secara jasmani maupun rohani sebenarnya belum seberapa kenyang karena masih tidak dapat mengkonsumsi makanan keras (3:2; 4:8)..

Penderitaan lain yang dialami para rasul adalah ketelanjangan (4:11b). Kata Yunani gumniteuw memiliki arti yang sangat luas, dari telanjang bulat sampai kekurangan pakaian luar. Menurut asal-usul kata (etimologi), kata ini mula-mula dipakai dalam konteks militer untuk mereka yang tidak berpakaian perang dengan lengkap. Dalam perkembangan selanjutnya kata ini dapat dipakai dalam konteks lain di luar kemiliteran. Terlepas dari arti yang spesifik dari kata ini, entah benar-benar tidak memiliki pakaian apa pun atau sekadar kekurangan pakaian luar, kita tetap dapat membayangkan rasa dingin yang dialami oleh para rasul (bdk. Ayb. 24:7).

Kekurangan pakaian waktu itu juga memiliki konotasi sosial yang rendah. Orang-orang yang berasal dari kalangan terhormat dan kaya biasanya memiliki pakaian yang berlapis-lapis, sedangkan mereka yang secara sosial berada di bawah biasanya memakai pakaian dalam jumlah yang sedikit. Tidak heran, Alkitab sering kali memakai gambaran “ketelanjangan” untuk menunjukkan status yang rendah atau dipermalukan (Ul. 28:48; Ayb. 12:17; Yes. 20:3-4; Hos. 2:3).

Para rasul juga mengalami pemukulan (4:11c). Sama seperti kata gumniteuw (ay. 11b), kata dasar kolafizw di bagian ini juga memiliki jangkauan arti yang luas. Kata ini dapat berarti menyerang secara verbal maupun fisik. Berdasarkan pemunculan kata “aniaya” di ayat 12, para penafsir biasanya memahami kata kolafizw dalam konteks ini secara lebih serius, mencakup kekerasan secara fisik. Pemunculan kata kolafizw di Alkitab juga menunjukkan bahwa kekerasan fisik merupapakan arti yang umum dari kata ini (Mat. 26:67; Mrk. 14:65; 1Ptr. 2:20). Paulus memang sering mengalami sesahan, deraan, pukulan maupun pelemparan batu selama dia melayani (2Kor. 11:24-25; bdk. Kis. 16:22-23; 21:32; 22:24-25).

Penderitaan lain yang dialami oleh para rasul adalah hidup mengembara (4:11d). Sebagai seorang pengkhotbah keliling, para rasul tidak memiliki tempat tinggal yang tetap. Sama seperti Yesus yang tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya (Mat. 8:20//Luk. 9:58), demikian pula para rasul terus mengembara. Bagi mereka kehidupan seperti ini bukanlah suatu masalah karena kewarganegaraan mereka adalah di surga (Flp. 4:20a). Di dunia ini mereka hanyalah seperti orang asing atau pendatang (Ibr. 11:13; 1Ptr. 1:17).

Penderitaan terakhir yang disebut adalah bekerja keras dengan tangan sendiri (4:12a). Paulus telah memutuskan untuk tidak menerima tunjangan apa pun dari jemat Korintus (1Kor. 9:1-18; 2Kor. 11:7-8). Dia bekerja sebagai pembuat tenda untuk memenuhi kebutuhannya maupun orang lain (Kis. 18:3). Pekerjaan semacam ini termasuk pekerjaan rendahan dan sangat menguras tenaga (1Tes 2:9), karena itu di 1 Korintus 4:12a Paulus menambahkan kata kopiaw yang menyiratkan makna kerja dengan keras, berpeluh atau letih (15:10; 16:16; bdk. Mat. 11;28; Luk. 5:5; Yoh. 4:6; Rm. 16:6, 12; Gal. 4:11; Ef. 4:28; Flp. 2:16; Kol. 1:29; 1Tes. 5:12; 1Tim. 4:10; 5:17; 2Tim 2:6; Why. 2:3).


Kehinaan para rasul yang terlihat dari cara mereka meresponi penderitaan yang mereka alami (Ayb.. 12b-13a)
Paulus tidak hanya berhenti pada beragam penderitaan yang menimpa para rasul, namun dia selanjutnya menjelaskan bagaimana para rasul meresponi semua itu. Menurut budaya waktu itu respons para rasul di sini – memberkati, sabar dan menjawab dengan ramah – merupakan sikap yang menunjukkan kelemahan dan ketidakberdayaan. Orang yang kuat adalah mereka yang berani menentang para penentangnya. Lemah-lembut adalah kelemahan, mengalah adalah kekalahan. Di mata Paulus, respons para rasul justru adalah kemenangan, karena sikap inilah yang juga ditunjukkan oleh Kristus (Luk. 6:27-28). Menderita bagi injil merupakan kebahagiaan (Mat. 5:9-12; Luk. 6:20-23), sekaligus kasih karunia bagi orang percaya (Flp. 1:29; 1Ptr. 2:19).

Di ayat 12b Paulus menyebut kata “memberkati” (eulogew). Secara hurufiah kata ini berarti “mengatakan sesuatu yang baik”. Berdasarkan kontras antara eulogew dan kataraomai (“mengutuk”) di Roma 12:14, kita sebaiknya menafsirkan eulogew sebagai “memberkati”. Eulogew berarti mengharapkan hal-hal yang baik terjadi atas orang lain. Contoh yang paling jelas tentang sikap ini adalah doa Yesus di atas salib agar para musuhnya diampuni oleh Bapa karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan (Luk. 23:34).

Respons yang kedua adalah sabar (ay. 12c). Sabar di sini bukanlah sekadar sikap pasrah karena tidak ada kekuatan untuk melawan atau melarikan diri dari tekanan. Sikap “sabar” (anecomai) muncul karena dorongan kasih, bukan dari keterpaksaan. Kata ini beberapa kali dihubungkan dengan kasih atau pengampunan (Ef. 4:2; Kol. 3:13). Kata ini juga tidak bermakna pasif (sekadar menerima). Kata ini menunjukkan kemauan untuk “bertahan” (ASV/NIV/NASB/RSV) atau “menderita” (KJV), walaupun ada peluang untuk melawan atau melarikan diri (bdk. Mat. 17:17//Mrk. 9:19//Luk. 9:41; 2Tes. 1:4).

Respons berikutnya adalah menjawab dengan ramah (ay. 13a). Kata parakalew yang dipakai di bagian ini cukup sulit untuk diterjemahkan, karena kata ini memiliki arti yang beragam. Tidak heran para penerjemah dalam hal ini memberikan usulan yang berbeda, misalnya “memohon dengan sangat” (ASV/YLT), “berbicara dengan manis” (NIV/RSV) atau “mendamaikan” (RSV/NASB). Pemunculan kata di surat 1 Korintus juga tidak terlalu banyak membantu, karena kata ini dipakai dalam arti “menasehati” (1:10; 4:16), “memberi kekuatan/penghiburan” (14:31), “mendesak” (16:12) maupun “memohon” (16:15). Berdasarkan konteks pasal 4, di sini makna parakalew tampaknya lebih mengarah pada usaha Paulus untuk mendamaikan dirinya dengan jemaat Korintus. Dia ingin agar dia dan jemaat memiliki sikap yang sama (4:16). Jadi, parakalew di ayat 13a sebaiknya diterjemahkan “berdamai”.


Konklusi: menurut ukuran dunia, para rasul tidak berharga sama sekali (Ayb.. 13b)
Di bagian ini Paulus menegaskan kembali tentang kerendahan atau kehinaan para rasul. Dia menggambarkan para rasul sebagai sampah dan kotoran. Kata “menjadi” (ginomai) menyiratkan bahwa mereka bukan hanya diperlakukan seperti sampah atau kotoran, tetapi mereka memang menjadi sampah! Tense aorist yang dipakai (egenhqhmen) turut mempertegas ide tentang kesungguhan ini.

Kata “sampah” (perikaqarma) dan “kotoran” (periyhma) memiliki arti yang sangat mirip. Keduanya sama-sama merujuk pada sesuatu yang tidak berharga dan layak dibuang, baik debu dari tanah (perikaqarma) atau kotoran dari tubuh (periyhma). Pemakaian dua kata ini secara bersamaan bertujuan untuk menekankan betapa hinanya para rasul. Walaupun kata Yunani yang dipakai berbeda, namun ide yang disampaikan Paulus di sini sangat mungkin sama dengan Ratapan 3:45 “kami Kaujadikan kotor dan keji di antara bangsa-bangsa”, yaitu kehinaan. Penggunaan kata “dunia” dan “segala sesuatu” turut memperjelas kehinaan para rasul. Mereka benar-benar adalah yang paling hina (bdk. 4:9).

Sebagian penafsir berpendapat bahwa di ayat 13b Paulus tidak hanya memikirkan kotoran atau sampah secara umum. Ia sedang menampilkan para rasul sebagai penjahat yang layak untuk dihukum demi ketentraman suatu kota. Hal ini didasarkan pada penggunaan kata perikaqarma di Amsal 21:18. Dalam budaya kuno memang sering dijumpai sebuah tradisi tentang upaya penduduk desa menghentikan musibah di desa mereka dengan cara mengorbankan seseorang yang dianggap sebagai penyebab masalah. Orang yang dipilih biasanya adalah yang paling jahat. Orang ini selanjutnya dihukum mati di hadapan semua penduduk dan sebelum dia dihukum mati orang itu harus mengucapkan berkat untuk penduduk tersebut. Gambaran seperti ini tampaknya cocok dengan konteks 1 Korintus 4. Para rasul menjadi tontonan semua orang (4:9) dan merek amengucapkan berkat ketika dicaci-maki. Selain itu, semua ini dilakukan oleh para rasul demi kebaikan jemaat Korintus.


Sumber:
Mimbar GKRI Exodus, 14 September 2008

19 March 2010

Eksposisi 1 Korintus 1:10-12 (Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.)

EKSPOSISI 1 KORINTUS 1:10-12

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.



Nats: 1 Korintus 1:10-12



Surat 1 Korintus membahas berbagai masalah, baik yang didengar Paulus dari keluarga Kloe (1:10-6:20) maupun dari surat-surat mereka (7:1-16:19). Dari sekian banyak problem yang ada, problem perselisihan seputar hikmat dan kultus individu pemimpin (pasal 1-4) merupakan yang paling. Problem ini dibahas lebih dahulu. Problem ini juga dibahas secara panjang lebih (4 pasal).

Jemaat Korintus bukan sekedar mengangungkan para pemimpin lain atas nama hikmat (pasal 1-3), tetapi sebagian mereka juga mempertanyakan kredibilitas Paulus sebagai rasul (pasal 4). Di tengah situasi seperti ini, bagaimana sikap Paulus dalam menghadapinya?


Memberikan Nasehat yang Subyektif (ay. 10)
Walaupun perselisihan yang ada cukup serius dan ditujukan untuk menyerang Paulus, namun dia tetap mampu menyebut semua jemaat Korintus sebagai “saudara-saudara” (ay. 10-11). Sapaan ini bahkan muncul 21 kali dalam seluruh 1 Korintus dan termasuk salah satu surat Paulus yang paling banyak memuat kata “saudara-saudara”. Sapaan ini bukan sekedar kebiasaan atau formalitas. Melalui sapaan ini Paulus ingin mengajarkan bahwa persaudaraan di dalam Kristus tidak akan dapat dibatalkan oleh apapun juga, termasuk oleh perbedaan pendapat yang ada di antara mereka.

Paulus tidak memberikan nasehat untuk sebagian jemaat saja – terutama yang membela dia – namun untuk semua jemaat. Hal ini terlihat dari kata Yunani pantes di ayat 10 (LAI:TB tidak menerjemahkan kata ini). Sesuai teks Yunani yang ada, ayat 10 seharusnya diterjemahkan “...Yesus Kristus, supaya kamu semua...”. Di mata Paulus, siapa pun yang terlibat dalam perpecahan pasti telah melakukan kesalahan (3:3-4), sehingga perlu dinasehati.

Nasehat yang akan diberikan Paulus dilandaskan pada hal yang objektif, yaitu “demi nama Tuhan Yesus Kristus”. Ungkapan seperti ini merupakan salah satu cara yang dipakai Paulus untuk memberi penekanan pada apa yang dia katakan (1Tes. 5:27; 2Tes. 3:6, 12). Bukan hanya untuk penekanan, ungkapan ini juga menyiratkan bahwa apa yang akan dikatakan didasarkan pada karya Kristus Yesus. Dalam 1 Korintus 1:10 Paulus tidak mengarahkan jemaat pada jasa-jasanya selama memulai pelayanan di Korintus. Sebaliknya, dia justru membawa jemaat untuk berpola pikir kristosentris (berpusat pada Kristus). Karya Kristus memberi dasar yang kuat bagi nasehat yang akan dia berikan (bdk. Flp. 2:1-2 “karena di dalam Kristus ada....karena itu...”).

Apa isi nasehat Paulus? Apakah nasehat yang diberikan bersifat memihak atau menguntungkan salah satu pihak? Dia ternyata memberi nasehat yang objektif. Semau nasehat ini berpusat pada kesatuan, sebagaimana tersirat dari pengulangan kata “yang sama” di ayat 10b (terjemahan LAI:TB tidak terlalu jelas).

Pertama, supaya mereka seia-sekata. Menurut teks aslinya, nasehat ini sebaiknya diterjemahkan “supaya kamu semua terus-menerus mengatakan/berkata (legete) yang sama” (ASV/KJV). Versi yang lebih modern memilih “supaya kamu semua setuju [satu dengan yang lain]” (NIV/NASB/RSV). Tense present yang dipakai mengindikasikan bahwa hal ini harus menjadi gaya hidup mereka (terus-menerus).

Kedua, supaya tidak ada perpecahan di antara mereka. Perbedaan pendapat mungkin – bahkan pasti - ada. Jemaat Korintus berasal dari latarbelakang etnis, sosial dan ekonomi yang berbeda. Mungkin mereka masih memiliki perbedaan-perbedaan lain. Semua perbedaan ini sah-sah saja, sejauh hal itu tidak sampai menimbulkan perpecahan.

Ketiga, supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir. Terjemahan yang lebih hurufiah seharusnya “supaya kamu disempurnakan (katertismenoi) dalam pikiran (noi) yang sama dan pandangan/penilaian (gnome) yang sama” (semua versi Inggris). Kata dasar katartizo muncul beberapa kali dalam tulisan Paulus dan memiliki arti “menyempurnakan” (Friberg Lexicon, lih. 2Kor. 13:11; 1Tes. 3:10 – “menambahkan” seharusnya “menyempurnakan”; 2Tim. 3:17). Dari pilihan kata ini terlihat bahwa mereka bukan hanya perlu bersatu (LAI:TB), tetapi persatuan itu harus sempurna (semua versi Inggris).

Mereka perlu disempurnakan dalam cara berpikir yang sama. Kata Yunani yang dipakai adalah nous. Kata ini lebih menyoroti cara berpikir, bukan isi pikiran. Paulus menasehatkan orang percaya agar jangan memiliki cara berpikir (nous) orang-orang non-kafir yang sia-sia (Ef. 4:17). Sebaliknya, orang percaya harus terus-menerus mengalami perubahan nous (Rm. 12:2; Ef. 4:23) dan memiliki nous Kristus (1Kor. 2:16).

Mereka juga perlu disempurnakan dalam pendapat yang sama. Kata Yunani gnome yang dipakai di sini muncul 5 kali dalam tulisan Paulus. Dari 5 pemunculan ini, 4 di antaranya muncul di surat Korintus dan selalu memiliki arti “pendapat” (1Kor. 1:10; 7:25, 40; 2Kor. 8:10).

Dari isi nasehat yang ada, apakah Paulus menganggap bahwa persatuan harus didasarkan pada kesamaan? Bukankah persatuan tetap dapat dipertahankan sekalipun dalam perbedaan (Bhineka Tunggal Ika)? Apakah setiap orang percaya benar-benar harus mengatakan yang sama, disempurnakan dalam cara pikir dan pendapat yang sama?

Pertanyaan seperti di atas dapat dijawab dengan mudah apabila kita menyadari persoalan khusus yang dibahas di 1 Korintus 1:10. Perpecahan ini bukan hanya melibatkan pengultusan pemimpin, tetapi berkaitan dengan isu “hikmat” (kata sophia muncul 14 kali di 1 Korintus 1-3). Sebagian jemaat menganggap diri pandai (menurut ukuran dunia) dan menganggap Injil sebagai sebuah kebodohan. Untuk menghadapi situasi ini, Paulus memerintahkan agar mereka memiliki kesamaan. Hal ini berarti bahwa dalam hal “Injil”, semua harus memiliki pandangan yang sama (bdk. Gal. 1:8-9). Seorang teolog pernah memberi nasehat “dalam hal-hal yang pokok kita harus sama, dalam hal-hal yang tidak pokok boleh berbeda, dalam segala hal adalah kasih”.


Memiliki Sumber Informasi yang Terpercaya (ay. 11-12)
Paulus tidak hanya memberikan nasehat saja. Dia selanjutnya menjelaskan bagaimana dia mengetahui perpecahan yang ada dalam jemaat Korintus. Dia ternyata diberitahukan oleh orang-orang dari keluarga Kloe. Merekalah yang menginformasikan kepada Paulus tentang apa yang sedang terjadi. Paulus tidak mencari tahu, karena tindakan ini dapat menimbulkan lesalahpahaman dan memperkeruh situasi. Dia hanya menerima informasi.

Siapa orang-orang dari keluarga Kloe ini dan siapakah Kloe itu? Dari nama yang ada, Kloe adalah seorang perempuan. Dia sangat mungkin merupakan orang yang kaya dan terpandang. Kata “orang-orang” sebenarnya tidak muncul di teks Yunani, tetapi makna itu memang dapat dibenarkan dari tata bahasa yang ada (lit. “telah diberitahukan oleh [...] Kloe”). “Orang-orang” di sini mungkin adalah para budak Kloe atau rekan-rekan bisnisnya. Ketenaran Kloe dapat dilihat dari fakta bahwa Paulus merasa tidak perlu menjelaskan lagi siapa yang dia maksud sebagai Kloe, sekalipun nama seperti ini mungkin banyak dijumpai waktu itu.

Para sarjana berdebat tentang identitas Kloe. Sebagian menganggap dia adalah salah satu yang diutus jemaat Korintus untuk membawa surat-surat dan menemui Paulus, namun hal ini tampaknya tidak sesuai dengan pasal 16:17-18. Selain itu, seandainya mereka memang dari kalangan jemaat Korintus, bukankah hal itu berpotensi menambah masalah yang ada karena mereka mungkin termasuk pada salah satu pihak yang bertikai (apalagi kalau mereka termasuk golongan Paulus)? Sebagian sarjana lain cenderung melihat Kloe (dan orang-orangnya) sebagai orang yang objektif dan tidak berdomisili di Korintus sehingga tidak terlibat dalam perpecahan yang ada. Kloe mungkin seorang pedagang keliling yang kaya dan para bawahannya pernah mengunjungi jemaat Korintus.

Setelah menyebutkan sumber berita (ay. 11a), Paulus lalu menjelaskan inti berita itu (ay. 11b-12). Jemaat Korintus terlibat perselisihan yang melibatkan nama pemimpin. Penjelasan ini perlu diberikan Paulus karena jemaat Korintus tidak hanya terlibat dalam satu macam perselisihan. Mereka mengalami konflik secara legal (6:1-11), konflik antara yang kuat dan lemah imannya (8:1-13), antara laki-laki dan perempuan (11:1-16), yang kaya dan miskin (11:17-34), konflik seputar karunia roh (pasal 12-14).

Perselisihan yang melibatkan nama pemimpin diungkapkan dalam kalimat “aku dari golongan Petrus, Apolos, Kefas dan Petrus”. Dari teks Yunani yang ada sebenarnya tidak ada kata “dari golongan”. Teks hanya menulis “I am of...”. Terlepas dari apakah “of” di sini berarti “milik” atau “pendukung” (lihat eksposisi selanjutnya), masalahnya sudah cukup jelas. Mereka melibatkan nama para pemimpin, padahal pemimpin-pemimpin itu tidak berhubungan sama sekali dengan perselisihan yang ada. Hal ini terlihat dari pandangan positif Paulus terhadap Apolos (3:6) maupun permintaannya agar Apolos mengunjungi jemaat Korintus (16:12).

Sebagian mendukung Paulus karena dia adalah yang merintis jemaat di Korintus dengan segala kesulitan (Kis. 18:1-18) dan kesederhanaan yang ada (1Kor. 2:1-5). Apolos adalah penerus Paulus (Kis. 19:1; bdk. 1Kor. 3:6 “Paulus menanam, Apolos menyiram”). Dia seorang yang fasih bicara dan menguasai kitab suci (Kis. 18:24-28). Tentang Kefas, tidak ada catatan eksplisit bahwa dia pernah menggembalakan jemaat Korintus. Bagaimanapun, 1 Korintus 9:5 tampaknya menyiratkan hal ini. Di ayat ini Paulus secara khusus menyebut nama Kefas, walaupun Kefas sebenarnya sudah termasuk ke dalam kategori “rasul-rasul lain”.

Bagaimana dengan mereka yang dari golongan Kristus? Apakah mereka orang yang rohani dan tidak terlibat dalam perselisihan yang ada? Dari cara Paulus menyamakan golongan ini dengan yang lain (golongan Kristus adalah golongan keempat) dapat disimpulkan bahwa mereka adalah partai lain dalam perpecahan ini. Para sarjana menduga mereka adalah jemaat yang merasa diri “rohani” padahal sebenarnya tidak. Pertengkaran seputar karunia rohani di pasal 12-14 cukup untuk membuktikan bahwa di antara jemaat ada yang terjebak pada kerohanian yang semu. Mereka ikut dalam perselisihan, tetapi mereka bersembunyi di balik nama Kristus.




Sumber:
Mimbar GKRI Exodus, 11 November 2007

ON TRUE LOVE-3: Kasih dan Pertimbangan (Pdt. Joshua Lie, Ph.D.--Cand.)

Bagian-3: Kasih dan Pertimbangan



“Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia keatas bukit dan setelah Ia duduk….”
(Mat. 5:43-48)



Khotbah di bukit merupakan pengajaran Tuhan Yesus yang menyentak. Bukan hanya menyentak orang banyak yang mendengarkan-Nya saat itu, namun menyentak sepanjang sejarah umat manusia. Bukan pula sekadar apa yang disampaikan-Nya menyentak umat manusia, namun peristiwanya sama menyentak pendengarnya. Jikalau Musa menyampaikan hukum TUHAN, Yesus menyampaikan penggenapan hukum TUHAN kepada umat manusia.

Salah satu perkataan-Nya yang menyentak adalah tentang kasih. Yesus bukan mengulang-ulang perintah tentang kasih, sebaliknya Ia menyampaikan perintah kasih dalam penggenapannya. Inilah perintah-Nya supaya kita mengasihi seperti Bapa di surga mengasihi. Kita mengasihi bukan untuk mendapatkan balasannya. “Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu apakah upahmu?” Mengasihi bahkan kepada musuh dan orang yang menganiaya kita.

Suara itu berkumandang di bukit. Suara itu berkumandang lagi bagi kita saat ini. Hati kita bertanya, apa dasarnya kita mengasihi seperti yang dinyatakan Tuhan Yesus ini? Inilah dasarnya, “Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik, dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” (5:45).

Hati kita bertanya lagi, apakah kasih tidak perlu ada pertimbangan? Apakah kasih tidak memperhitungkan jahat dan baik, benar dan tidak benar?

Sebagian pemikir Kristen menyatakan bahwa inilah kasih agape. Kasih yang “equal regards,” kasih yang mempertimbangkan semua orang patut diperlakukan sama. Kasih kepada semua orang tanpa memandang muka. Kasih sebagaimana Bapa di sorga, dinyatakan kepada semua orang, baik orang yang jahat dan orang baik, baik orang yang adil (just) maupun orang yang tidak adil (unjust).

Sebagian pemikir Kristen lainnya berpendapat kasih tetap ada pertimbangannya. Kasih kepada orang tua kita sendiri bagaimanapun berbeda dengan kasih kepada semua orang tua lainnya. Demikian pula kasih kepada suami atau istri sendiri, jelas berbeda dengan kasih kepada laki-laki atau perempuan lainnya. Menurut mereka bukankah TUHAN juga membedakan antara domba dan kambing.

Kalau kita mengasihi tanpa pertimbangan, maka kasih kita sebenarnya adalah kasih yang impersonal, tidak bersifat pribadi. Kita menganggap semua orang sama, maka kita tidak memperlakukan mereka sebagai satu pribadi.

Bagaimana kita sepatutnya memahami ayat 45?
1. “Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik, dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.”
Apa artinya kita mengasihi bahkan terhadap musuh? Terhadap orang-orang yang tidak adil dan tidak benar? Kita banyak kali terpaku pada obyek kasih, yaitu orang benar dan tidak benar, orang yang adil dan tidak adil. Kita mengabaikan tindakan Bapa di sorga, yaitu menerbitkan matahari dan menurunkan hujan. Bagi kita, terbitnya matahari setiap pagi dan hujan yang turun pada musimnya, merupakan hal yang biasa. Padahal tidaklah demikian bagi kehidupan kita. Bayangkan kita bangun setelah melewati malam yang gelap, tanpa matahari yang bersinar. Bayangkan pula sepanjang tahun demi tahun tanpa hujan yang turun. Demikianlah yang ditegaskan dalam Perjanjian Lama.

“Jikalau kamu hidup menurut ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada perintah-Ku serta melakukannya, maka Aku akan memberi kamu hujan pada masanya, sehingga tanah itu memberi hasilnya dan pohon-pohonan di ladangmu akan memberi buahnya.” (Im. 26:3-4)

Hujan merupakan keniscayaan bagi bangsa Israel sebagai bangsa agraris. Tanpa hujan tidak ada kehidupan. Hujan sekaligus yang terpenting, menyatakan kasih dan kebaikan TUHAN. Hujan tanda berkat dalam ketaatan umat kepada TUHAN. Hujan tanda keberhasilan selanjutnya, karena tanah akan menghasilkan buahnya.

Maka “menurunkan hujan” bukanlah sekadar pekerjaan TUHAN yang biasa saja. “Menurunkan hujan” adalah tanda bahwa TUHANlah pencipta, penguasa dan sekaligus pemelihara dunia buatan tangan-Nya. Bahasa moderen kita menjauhkan kita dari kesadaran ini. Terbitnya matahari dan turunnya hujan dipahami hanya dengan bahasa keilmuan. Kita dibuat lalai mengagumi kasih karunia Pencipta kita.

Maka sekalipun TUHAN menerbitkan matahari dan menurunkan hujan bagi semua orang, tidak berarti tindakannya ini boleh dipahami ala kadarnya saja. Tindakan pemeliharaan TUHAN bagi orang jahat dan orang yang tidak adil tidak hanya membuat mereka menikmati segarnya air hujan dan cerahnya sinar matahari, namun sekaligus merupakan tanda peringatan. Peringatan yang membuat mereka tidak dapat melarikan diri dari tanggung jawab atas ketidak adilan mereka, atas kejahatan mereka di hadapan TUHAN Pencipta langit dan bumi.

Hujan dan matahari diterima semua orang tanpa memandang muka. Namun kenikmatannya tentu berbeda. Anak-anak Bapa di sorga bukan hanya menerima hujan dan matahari namun dengan pengakuan dan pengucapan syukur kepada si Pemberi, mereka menikmati kelimpahan-Nya. Mereka yang “take-it-for-granted” mendapatkan hujan dan matahari namun kehilangan kelimpahan-Nya.


2. “Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik, dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.”
Bagaimana pula kita mengasihi tanpa mengharapkan imbalannya? Mari kita perhatikan kembali apa yang dikatakan Perjanjian Lama tentang tindakan menerbitkan matahari dan menurunkan hujan.

Perjanjian Lama menggambarkan kedua tindakan TUHAN ini: “menerbitkan matahari dan menurunkan hujan” berkaitan dengan gambaran seorang raja yang berkenan kepada TUHAN.

“Kiranya lanjut umurnya selama ada matahari, dan selama ada bulan, turun-temurun! Kiranya ia seperti hujan yang turun ke atas padang rumput, seperti dirus hujan yang menggenangi bumi! Kiranya keadilan berkembang dalam zamannya dan damai sejahtera berlimpah, sampai tidak ada lagi bulan!” (Mzm. 72:5-7)

Mazmur 72 adalah Mazmur Salomo. Mazmur pengangkatan seorang raja yang memulai pemerintahan dengan permohonan kepada TUHAN untuk mengaruniakan kepada raja keadilan dan kebenaran. Jelaslah bahwa bukan raja yang mampu menerbitkan matahari dan menurunkan hujan. Demikian pula matahari dan hujan bukanlah suatu upah bagi kebajikan. Matahari dan hujan merupakan lambang bagi keadilan dan kebenaran yang dijalankan raja sesuai dengan keadilan dan kebenaran TUHAN. Keadilan dan kebenaran bagi seluruh rakyat, tidak memandang muka orang kaya dan orang miskin. Keadilan dan kebenarannya memancar untuk yang tertindas demikian pula untuk yang menindas.

Inilah panggilan kita mengasihi sebagaimana bapa di sorga. Kasih yang digenapi oleh kedatangan Yesus Kristus, adalah kasih yang menyatakan kekuatannya. Bukan kasih yang tersungkur tak berdaya di hadapan orang jahat dan orang yang tidak adil. Bukan kasih yang “lelah” di hadapan orang-orang yang tidak peduli.

Kasih yang digenapi oleh Tuhan Yesus bukan soal pertama-tama soal obyek yang dikasihi, melainkan soal keunikan dan kesejatian kasih itu. Kasih di dalam Yesus Kristus adalah kasih yang sanggup menghadapi orang benar dan tidak benar, orang jahat dan orang yang baik. Berbahagialah kita yang menerima kasih itu dalam keadilan dan kebenaran-Nya, sehingga kita boleh mengalami kelimpahannya dan menyalurkannya kepada segala macam orang di dunia ini. Sebaliknya mereka yang telah beroleh kebaikan Tuhan namun tetap menolaknya dalam kejahatan, mereka tidak dapat mengelak ketika keadilan Tuhan tiba.

Selamat mengasihi dengan kasih yang digenapi oleh Yesus Kristus di kayu salib!



Sumber:
http://www.wkristenonline.org/index.php?option=com_content&view=article&id=28:kasih-dan-pertimbangan&catid=25:on-true-love&Itemid=39