22 July 2008

Roma 9:19-21: "ISRAEL" SEJATI ATAU PALSU-4: Problematika Predestinasi dan Kedaulatan Allah-1

Seri Eksposisi Surat Roma:
Doktrin Predestinasi-4


“Israel” Sejati atau Palsu-4:
Problematika Predestinasi dan Kedaulatan Allah-1


oleh: Denny Teguh Sutandio


Nats: Roma 9:19-21


Setelah mempelajari tentang proses pemilihan/predestinasi-Nya yang meliputi tiga tahap di ayat 9 s/d 18, kita akan merenungkan lebih dalam lagi tentang problematika predestinasi di ayat 19 s/d 29. Pada bagian ini, kita hanya akan merenungkan tiga ayat yang menjadi pendahuluan dari problematika predestinasi ini.

Banyak orang “protes” dan marah-marah terhadap orang Kristen Reformed yang mengajarkan predestinasi dengan argumentasi bahwa dengan mengajarkan predestinasi, maka orang-orang Kristen Reformed sedang menyombongkan diri dan Allah versi Reformed pilih kasih, karena Ia hanya memilih beberapa orang (dan tidak semua orang—sesuai paham Universalisme di dalam “theologia” religionum terselubung). Di sisi lain, serangan terhadap Reformed di dalam predestinasi juga muncul dengan argumentasi bahwa kalau beberapa orang sudah ditetapkan untuk binasa/ditolak Allah, maka otomatis orang tersebut bisa hidup seenaknya sendiri dan Allah tidak boleh mempersalahkan mereka. Benarkah demikian ? Di ayat 19, Paulus mengatakan, “Sekarang kamu akan berkata kepadaku: "Jika demikian, apa lagi yang masih disalahkan-Nya? Sebab siapa yang menentang kehendak-Nya?"” Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) menerjemahkannya, “Nah, Saudara akan berkata kepada saya, "Kalau begitu mengapa Allah masih mau menyalahkan manusia? Bukankah tidak seorang pun dapat mencegah keinginan Allah?"” English Standard Version (ESV) menerjemahkannya, “You will say to me then, "Why does he still find fault? For who can resist his will?"” Terjemahan Baru (TB) LAI kurang tepat menerjemahkan “...apa lagi yang masih disalahkan-Nya ?...”, seharusnya terjemahan yang lebih tepat, “Mengapa Dia masih menyalahkan kita ?” Di sini, Tuhan mengetahui akal licik manusia berdosa, sehingga Ia mewahyukan Paulus untuk membukakan hal ini. Hal licik apakah itu ? Manusia berdosa pasti berpikir bahwa kalau Allah telah menetapkan beberapa orang untuk diselamatkan dan menolak sisa-Nya, maka orang-orang yang termasuk kaum reprobat (tidak dipilih Allah) bebas hidup seenaknya sendiri dan jika demikian, mereka tidak boleh dipersalahkan oleh Allah, karena bagi mereka, “Allah” lah yang membuat mereka ditolak. Dan lagi, bukankah tidak ada seorangpun yang dapat mencegah keinginan Allah ? Bagi mereka, sangat “kebetulan” sekali, mereka bisa hidup semaunya sendiri di luar Allah, karena mereka sudah ditetapkan untuk binasa. Inilah cara pikir manusia berdosa yang licik dan hal ini sudah diketahui oleh Tuhan Allah, sehingga melalui Paulus, Ia mewahyukan hal ini untuk membukakan mata hati dan pikiran kita. Esensi pernyataan licik manusia berdosa ini sebenarnya adalah dosa. Dosa berarti pemberontakan terhadap Allah dan sengaja melarikan tanggung jawab terhadap Allah. Manusia sejati adalah manusia yang hidup mencerminkan naturnya sebagai peta dan teladan Allah, yaitu menjalankan keadilan, kejujuran, kebenaran, kasih, dll, tetapi dosa mengakibatkan manusia melarikan diri dari tanggung jawab tersebut, bahkan melawan tanggung jawab dari Allah tersebut. Sehingga tidak heran, di dunia postmodern, makin lama kita semakin melihat manusia yang tidak ada bedanya seperti binatang yang liarnya bukan main. Habis perkosa satu gadis, cukup ? TIDAK. Mau perkosa dua, tiga, empat, bahkan sekelompok gadis. Ini bejatnya manusia berdosa. Mereka menginginkan hak asasi mereka terpenuhi dan meniadakan tanggung jawab mereka, sebaliknya anehnya mereka TIDAK pernah mau memperdulikan hak asasi manusia lainnya. Ambil contoh, banyak pekerja di Indonesia sedang ramai-ramainya menuntut Upah Minimum Regional (UMR), atau sejenisnya dengan argumentasi bahwa dengan UMR yang “layak”, mereka bisa hidup “layak”. Benarkah mereka bisa hidup “layak” dengan UMR yang “layak” ? TIDAK ! Mereka sebenarnya bukan ingin hidup “layak”, tetapi hidup kaya/nyaman. Kedua, mereka menginginkan gaji yang besar, tetapi kualitas kerja mereka tak pernah besar. Contoh sederhana, kita bisa memperhatikan pekerjaan para tukang. Para tukang biasanya bekerja bukan dengan giat, tetapi dengan santai. Hal ini didasari oleh filosofi kerja orang Jawa (mayoritas Islam): alon-alon asal kelakon (pelan-pelan, yang penting terlaksana). Tidak heran, pekerjaan yang sebenarnya bisa diselesaikan mungkin dalam waktu 1-2 hari, ternyata dikerjakan oleh orang-orang Indonesia bisa sampai seminggu, dengan alasan: capek, gaji terlalu kecil, dll. Terhadap tindakan manusia yang licik ini, Tuhan tetap menuntut tanggung jawab, meskipun beberapa orang yang tidak dipilih-Nya pasti akan binasa. Di sini, ada kaitan erat antara kedaulatan Allah dengan tanggung jawab manusia. Dosa memang diizinkan oleh Allah, tetapi dosa tetaplah tanggung jawab manusia di hadapan Allah.

Terhadap pertanyaan di ayat 19, Paulus tidak menjawab “Ya” atau “Tidak”, tetapi ia membukakan hati dan pikiran para pembaca suratnya (dan juga kita) tentang kedaulatan Allah dengan satu prinsip di ayat 20 dan diikuti oleh ilustrasi di ayat 21.
Di ayat 20, Paulus mengatakan, “Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: "Mengapakah engkau membentuk aku demikian?"” Inti theologia Paulus di dalam setiap suratnya adalah kedaulatan Allah. Di dalam ayat ini, ia mengajarkan tentang kedaulatan Allah dengan cara ia menyadarkan manusia siapakah mereka sesungguhnya di hadapan Allah, Sang Pencipta. Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) memberikan arti lebih jelas, “Tetapi, Saudara! Saudara hanya manusia saja. Dan Saudara tidak boleh berani menyahut kepada Allah! Bolehkah pot kembang bertanya kepada orang yang membuatnya, "Mengapa engkau membuat saya begini?"” Di dalam terjemahan BIS ini, Paulus menyatakan bahwa manusia tetap adalah manusia sebagai ciptaan Allah yang tidak boleh membantah/menyahut Allah. Manusia harus taat mutlak kepada Allah dan pimpinan-Nya yang kekal dan suci adanya. Konsep ini diambil dari dua bagian di Kitab Yesaya, yaitu Yesaya 29:16 dan 45:9. Yesaya 29:16 ditulis di dalam konteks ketika Allah menyingkapkan kebutaan dan kemunafikan bangsa Israel yang kelihatan beribadah, tetapi hatinya jauh dari Allah (Yes. 29:13-14). Mereka berlaku munafik karena mereka berpikir bahwa Allah bisa disenangkan melalui ibadah mereka. Dengan kata lain, mereka mau mmperalat Allah. Inilah yang disebut Yesaya sebagai tindakan memutarbalikkan segala sesuatu (ayat 16a). Artinya, mereka sebagai ciptaan Allah lah yang seharusnya tunduk kepada Allah, tetapi karena kemunafikan mereka, mereka memperalat Allah, sehingga Ia harus tunduk kepada permintaan mereka. Yang lebih parah lagi, Israel tidak mengakui Allah yang kepada-Nya mereka harus tunduk. Di ayat 16, Allah melalui Yesaya mengajar kondisi bangsa Israel seperti apa yang dibuat (Israel) tidak mengenal siapa yang membuatnya (Allah) bahkan yang membentuknya (Allah) tidak mengerti apa-apa tentang yang dibentuknya (Israel). Kemunafikan Israel berwujud ganda. Di satu sisi, Israel ingin Allah agar tunduk kepada permintaan mereka. Inilah tindakan orang “Kristen” kanak-kanak (childish “Christian”). Mereka TIDAK pernah mau taat kepada Allah, tetapi sebaliknya mereka memperalat Allah untuk memenuhi ambisinya yang berdosa (baik secara langsung maupun tidak langsung). Di sisi lain, wujud kemunafikan Israel adalah tidak diakuinya Allah sebagai Pencipta, Pemelihara dan Penyelamat Israel. Dengan kata lain, mereka “cuek” terhadap Allah, bagi mereka, yang penting, mereka sudah beribadah rutin, berpuasa dua hari (Senin dan Kamis), mempersembahkan korban, berdoa, membaca Taurat, dll. Di dalam Yesaya 45:9, sekali lagi Tuhan mengajar Israel secara langsung tentang status mereka yang seharusnya di hadapan Allah, “Celakalah orang yang berbantah dengan Pembentuknya; dia tidak lain dari beling periuk saja! Adakah tanah liat berkata kepada pembentuknya: "Apakah yang kaubuat?" atau yang telah dibuatnya: "Engkau tidak punya tangan!"” Di sini, Roma 9:20 dijelaskan oleh Yesaya 45:9 dengan langsung menyatakan bahwa mereka yang membantah Allah adalah mereka yang celaka. Mengapa ? Karena manusia adalah seperti beling periuk dari tanah liat yang tidak bisa menjadi periuk jika tidak dibentuk oleh si Pembentuk. Dengan kata lain, sebagai manusia ciptaan-Nya, kita harus taat mutlak dan tidak membantah Allah bahkan terhadap kehendak-Nya yang misterius/belum kita pahami. Tuhan meminta kita DIAM terhadap kehendak-Nya yang belum diketahui, karena itu berada di dalam kehendak-Nya yang kekal yang nanti kelak akan dibukakan-Nya kepada kita sebagai umat pilihan-Nya di dalam kekekalan. Baik di dalam Roma 9:20 maupun di dalam Yesaya 45:9, kita diibaratkan seperti barang yang mati yang sedang dibentuk oleh Pribadi yang hidup, sehingga barang yang mati menjadi barang yang berharga. Itulah sebenarnya kita, tanpa Allah yang menghembuskan nafas hidup ke dalam hidung kita, kita tak mungkin akan hidup, kita hanya seonggok tanah liat yang tidak bisa apa-apa. Di sini, kita belajar bahwa yang mati harus bergantung dan taat mutlak kepada yang hidup. Sudahkah kita bergantung dan taat mutlak kepada-Nya ? Itulah tindakan iman. Iman bukan sarana kita meminta apapun kepada Allah. Itu bukan iman, tetapi kepercayaan diri (self-confidence) ! Iman berarti bersandar mutlak kepada Allah. Ketika kita bersandar kepada-Nya, pada saat yang sama, kita harus taat dan setia kepada-Nya. Jangan hanya bersandar kepada-Nya tetapi tidak mau taat dan setia kepada-Nya, itu berarti kita egois, kita mau Dia ikut campur di dalam hidup kita, tetapi kita tidak mau taat dan setia. Tuhan menuntut kita untuk berserah total kepada-Nya. Apa artinya ? Amsal 3:5-7 mengajarkan kita tentang hal ini, “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan;” Berserah total kepada-Nya mengandung empat pengertian di dalam tiga ayat ini, yaitu:
Pertama, percaya di dalam TUHAN dengan seluruh hati. King James Version (KJV) menerjemahkan “Percayalah kepada TUHAN” dengan “Trust in the LORD” (=Percayalah di dalam TUHAN). Di dalam penyerahan total kita kepada-Nya, di saat itu pula kita sedang percaya di dalam-Nya. Ada dua pengertian yang terkandung di dalamnya. Pertama, percaya di dalam. Kata depan “di dalam” menunjuk adanya suatu tempat di mana kita harus mempercayakan diri, yaitu Allah sendiri. Kita bukan mempercayakan diri di dalam harta, orang lain, teman, atau bahkan diri kita, tetapi kita harus mempercayakan diri di dalam Allah. Kedua, TUHAN (the LORD). Terjemahan Inggris begitu tepat dengan menambahkan kata the yang menunjukkan kekhususan. Alkitab tidak berkata bahwa kita percaya di dalam TUHAN saja, tetapi kita harus percaya di dalam satu-satunya TUHAN. Kata the menunjukkan bahwa hanya TUHAN saja yang harus kita percayai. TUHAN itu tidak lain adalah TUHAN Allah, Yahweh, bukan “tuhan” materialisme, humanisme atheis, hedonisme, skeptisisme, dll. Dengan kata lain, the menunjuk kepada TUHAN yang adalah Pribadi, bukan konsep/ide seperti yang diajarkan oleh filsafat Yunani dan agama-agama dunia. Ketika kita percaya di dalam TUHAN, kita percaya BUKAN dengan setengah hati, tetapi dengan SEPENUH hati. “Sepenuh hati” menunjuk kepada totalitas hati kita yang taat dan setia hanya kepada TUHAN. Itulah yang dimaksud dengan ibadah sejati di dalam Roma 12:1. TUHAN tidak menginginkan ritualitas tertentu di dalam ibadah, tetapi Ia menginginkan hati kita yang taat mutlak. Tidak berarti, liturgi kebaktian tidak penting hanya gara-gara masalah hati, karena liturgi tetap diperlukan untuk membawa para jemaat beribadah kepada-Nya dengan tertib, karena Roh Kudus adalah Roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban (2 Timotius 1:7). Di atas semuanya, Tuhan lebih memperhatikan hati kita ketika kita beribadah dan menyembah-Nya di dalam kebaktian dan/atau di dalam kehidupan sehari-hari.
Kedua, jangan bersandar kepada pengertianmu sendiri. Ketika kita percaya di dalam TUHAN, secara otomatis pada saat yang sama, kita dituntut untuk TIDAK lagi bersandar kepada pengertian kita sendiri. Mengapa ? Karena pengertian kita adalah pengertian yang terbatas, sudah berdosa, dan sementara sifatnya, sehingga pengertian kita pasti mudah berubah. Kalau pengertian kita mudah berubah, bagaimana kita bisa mengarahkan hidup kita ? Hidup yang tidak berarah disebabkan hidup yang tidak dimengerti dengan benar (atau hidup yang tak bermakna). Dari mana kita bisa mendapatkan pengertian ? Dari TUHAN saja ! Oleh karena itu, ketika kita percaya di dalam TUHAN, pada saat yang sama, Ia akan memberikan pengertian kepada kita untuk menjalani hidup yang berkemenangan di dalam TUHAN, Raja dan Pemilik hidup kita.
Ketiga, akuilah Dia dalam segala jalan kita. Percaya di dalam TUHAN menuntut kita untuk mengakui-Nya di dalam segala jalan kita. Apa artinya mengakui-Nya ? Apakah cukup mengakui-Nya di mulut kita ? TIDAK ! Mengakui-Nya berarti mengundang-Nya masuk dan memerintah di dalam setiap jalan hidup kita, sehingga yang kita katakan, pikirkan, kerjakan adalah sesuatu yang dari Allah, oleh Allah dan untuk kemuliaan-Nya (Roma 11:36). Ketika kita sudah mengundang-Nya menjadi TUHAN dan Raja dalam setiap jalan hidup kita, maka Ia berjanji akan meluruskan jalan kita (atau lebih tepatnya, Ia akan memimpin setiap langkah hidup kita). Dengan kata lain, ketaatan menghasilkan keberhasilan di mata Allah, bukan di mata manusia. Kunci sukses di hadapan Allah bukan seperti yang diinginkan manusia, tetapi kunci sukses di mata Allah adalah kita taat dan setia kepada perintah-Nya yang berlawanan dengan perintah/keinginan manusia berdosa.
Keempat, jangan menganggap diri sendiri bijak, tetapi takutlah akan TUHAN dan menjauhi kejahatan. Di dalam percaya di dalam TUHAN, ada unsur ketaatan plus ketakutan di dalam-Nya. Orang yang katanya percaya di dalam TUHAN tetapi tidak pernah taat, itu kebohongan terbesar ! Orang yang percaya di dalam TUHAN sungguh-sungguh pasti tidak boleh sombong, tetapi takut dan taat hanya di dalam TUHAN. Mengapa ? Karena dia sudah memmpercayakan diri di dalam TUHAN, dan pada saat yang sama, dia pasti mengundang-Nya menjadi Raja dan TUHAN yang memerintah dan memimpin setiap langkah hidupnya (baca poin ketiga). Ketika seseorang takut dan taat di dalam TUHAN, pada saat yang sama juga, dia akan menjauhi kejahatan/membenci dosa. Orang yang mengaku percaya di dalam TUHAN tetapi masih mencintai dosa, orang itu patut dipertanyakan, “Tuhan” seperti apa yang mereka percayai ? Mengapa mereka bisa membenci dosa ? Karena mereka lebih mencintai apa yang dicintai oleh Tuhan dan membenci apa yang dibenci oleh Tuhan. Itulah yang disebut Pdt. Dr. Stephen Tong sebagai menyangkal diri dan fungsi hati nurani yang dipimpin oleh Roh Kudus.

Paulus memberikan ilustrasi di ayat 21 untuk menjelaskan ayat 20. Di ayat 21, ia menjelaskan, “Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?” Allah diibaratkan seperti tukang periuk yang berhak/berdaulat penuh atas tanah liat (ibarat manusia), untuk membuat dari gumpalan tanah liat: sebuah benda yang bagus/dihargai (terjemahan Inggris: honor) atau benda yang tidak dihargai/tidak bagus (terjemahan Inggris: dishonor). Terjemahan Baru (TB) LAI kurang tepat mengontraskan dua hal ini, karena di dalam TB LAI mengontraskan antara “tujuan yang mulia” dengan “tujuan yang biasa”. Kedua pernyataan ini bukanlah suatu kontras yang bertolak belakang, karena “tujuan yang biasa” tidak sama dengan “tujuan yang tidak mulia”. Terjemahan yang lebih tepat yaitu adanya kontras antara “barang-barang yang dihargai” dengan “barang-barang yang TIDAK dihargai”. Si tukang periuk berhak membentuk gumpalan tanah liat menjadi periuk yang bagus dan mulia, atau menjadi sesuatu yang tidak bagus. Ini adalah kedaulatan mutlak si tukang periuk. Anak si tukang periuk tidak berhak menasehati ayahnya, atau bahkan tanah liat sendiri tidak boleh “demo” terhadap si tukang periuk, karena ia dijadikan untuk barang yang tidak bagus. Itulah kedaulatan Allah. Allah yang berdaulat adalah Allah yang berhak menciptakan manusia untuk tujuan mulia (dipilih-Nya untuk diselamatkan di dalam Kristus), dan berhak juga menciptakan manusia lainnya untuk tujuan yang tidak mulia (ditetapkan untuk dibinasakan). Fakta kedua dari ilustrasi tanah liat ini adalah TIDAK ada tanah liat yang mengkilap, lalu dipakai oleh si tukang periuk untuk membentuk barang yang anggun, melainkan semua tanah liat pasti kotor, sehingga si tukang periuk berhak menjadikan barang yang anggun dari tanah liat yang semuanya kotor. Demikian juga halnya dengan predestinasi dan reprobasi di dalam pemilihan Allah TIDAK bergantung pada jasa baik manusia (baca lagi Roma 9:16). Ia berdaulat dan berkuasa memilih dan menentukan beberapa manusia yang berdosa untuk menjadi anak-anak-Nya yang mengerjakan panggilan Tuhan dengan taat kepada-Nya. Inilah kuasa-Nya yang hebat. Kita seringkali mengerti kuasa Allah melalui mukjizat, hal-hal supranatural, dll. Itu tidak salah, tetapi kurang lengkap. Kuasa Allah yang lebih hebat adalah membuat kita yang dahulu berdosa, cinta diri, cinta uang, dll (self-centered life) menjadi pribadi umat pilihan-Nya yang semakin membenci dosa, dan lebih mencintai Tuhan dan kehendak-Nya (God-centered life) melalui kuasa Roh Kudus di dalam hati mereka.

Melalui perenungan ketiga ayat ini, kita kembali disadarkan bahwa kita semua itu berdosa dan rusak total, tidak ada yang baik di dalam diri kita (Roma 3:10-18,23), tetapi puji Tuhan, beberapa dari orang berdosa ini dipilih-Nya dari kekekalan untuk menjadi anak-anak-Nya di dalam Kristus. Doktrin predestinasi seharusnya membuat kita yang sudah menjadi anak-anak-Nya secara sungguh-sungguh bersyukur atas anugerah-Nya yang begitu besar dan dahsyat. Ingatlah, kita semua seperti tanah liat yang kotor, lemah, tetapi Ia seperti si tukang periuk berdaulat dan berkuasa menjadikan kita yang kotor dan lemah ini menjadi “barang” yang berharga di mata-Nya. Puji Tuhan. Biarlah sebagai umat pilihan-Nya di dalam Kristus, kita semakin mempercayakan hidup kita di dalam-Nya sepanjang hari sebagai Raja, TUHAN, dan Pemilik hidup kita. Jadikanlah Kristus sebagai Raja di dalam hidup Anda, maka Anda akan melihat sesuatu yang dahsyat terjadi di dalam kehidupan Anda sesuai dengan kehendak-Nya. Amin. Soli Deo Gloria.

20 July 2008

CARA SETAN MEMPERDAYA MANUSIA (Pdt. Effendi Susanto, S.Th.)

Ringkasan Khotbah Mimbar di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Sydney tgl 13 Juli 2008

CARA SETAN MEMPERDAYA MANUSIA

oleh: Pdt. Effendi Susanto, S.Th.
(gembala sidang GRII Sydney yang meraih gelar Sarjana Theologi dari Seminari Alkitab Asia Tenggara—SAAT Malang)



Nats: 2 Kor. 2:11; 4:3; 11:13-14



Paulus berkata, ”...supaya Iblis jangan beroleh keuntungan atas kita sebab kita tahu apa maksudnya…” (2 Kor. 2:11), atau di dalam bahasa aslinya lebih mempunyai pengertian seperti ini: jangan biarkan Iblis melakukan manuver sehingga dia menggunakan strategi mendahului langkah kita, sebab kita tahu apa taktik dia. Hari ini saya akan mengajak saudara melihat aspek dari si Jahat yang berusaha membuat orang tidak bisa menerima Injil. Setan menggunakan berbagai cara untuk terus menghalangi dan membutakan mata orang. Setan bekerja dengan cara melakukan manuver, dengan cara menimbulkan kekaburan dan pembutaan.

Dari tiga ayat yang kita baca ini Paulus sekaligus membongkar tiga cara yang dipakai oleh si Jahat dengan 3 istilah yang penting sekali. Yang pertama, outwit. Setan melakukan manuver yang kadang-kadang mendahului langkah kita. Kita kalah strategi terus-menerus sama dia. Yang kedua, Setan melakukan cara pembutaan rohani, penipuan rohani, pengkaburan rohani sehingga orang tidak melihat kebenaran Injil Yesus Kristus yang adalah gambaran Allah yang sejati. Yang ketiga, Setan melakukan cara penyamaran, disguise, menyamar seolah-olah dia adalah malaikat terang, seolah-olah dia adalah hamba Tuhan yang sejati, padahal dia adalah setan, dia adalah rasul palsu, dia adalah nabi palsu. Paulus mengatakan, kita tahu strategi dia, kita tahu taktik dia, kita tahu cara yang dipakai oleh si Jahat. Namun pertanyaan selanjutnya adalah sanggupkah dan dapatkah kita bisa mengerti cara itu dan belajar bagaimana meneliti segala taktik yang dipakai oleh Setan mendatangkan pencobaan dan penipuan kepada kita? Pada waktu Paulus mengatakan, kita tahu taktiknya, saya memikirkan kalimat ini untuk bagaimana kita mengerti, waspada, dan bagaimana kita antisipasi manuver dia.

Paulus mengatakan, hati-hati terhadap Iblis karena kita tahu cara-cara yang dipakai oleh Setan yang kadang-kadang membawa kita kepada pencobaan. Ada dua bagian firman Tuhan di mana Setan diekspose sungguh-sungguh sehingga kita bisa mengerti taktik dia. Yang pertama, pada waktu Setan datang mencobai Tuhan Yesus. Yang kedua adalah waktu Setan datang mencobai manusia pertama, yaitu Hawa di dalam Kej. 3 yang akan kita teliti hari ini. Melalui bagian ini saya melihat beberapa langkah taktik Setan yang ingin menjatuhkan kita. Kita berjalan di situ, kita pasti akan terjerumus ke dalam pencobaan. Menghadapi pencobaan bukanlah dosa. Menerima pencobaan bukanlah dosa. Yesus sendiri dicobai oleh Setan. Hidup kita tidak akan lepas dibawa terus untuk masuk ke dalam pencobaan. Itu sebab Tuhan Yesus mengajar kita berdoa “Bapa, janganlah membawa kami ke dalam pencobaan tetapi lepaskanlah kami dari yang jahat.” Tetapi kalaupun akhirnya kita menghadapi kesulitan dan pencobaan, jangan sampai kita jatuh dan terjerat oleh pencobaan itu. Setan akan mem-blindfold mata kita dan Setan akan disguise himself untuk mengelabui kita.

Langkah Setan yang pertama, dia berkata kepada Hawa, “Tentulah Allah berfirman semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” Langkah pertama, Setan tidak akan datang kepada kita dalam rupa Setan yang menakutkan. Tetapi Setan akan datang sebagai theologian. Setan akan datang dalam rupa seorang pengajar theologi membawa kita kepada penyesatan. Dalam percakapan dengan Hawa, Setan mengatakan, “tentulah Allah berfirman…” artinya Setan dengar firman Tuhan, Setan belajar firman Tuhan. Setan akan memasukkan kita ke dalam pencobaan dengan cara menjadi seorang hamba Tuhan yang ahli pelintir firman Tuhan. Dia akan menjadi seorang ahli theologi yang men-twist apa yang Tuhan katakan. Jangan lupa Setan adalah salah satu kepala malaikat. Kalau dia pernah menjadi salah satu kepala malaikat, berarti Setan pernah memiliki akses yang free kepada Tuhan, pernah memiliki persekutuan yang intim dengan Tuhan, pernah menikmati segala pengetahuan mengenai siapa Tuhan. Tetapi pengetahuan yang dimiliki oleh Setan mengenai siapa Tuhan bukan menjadi pengetahuan yang membuat dia menjadi hormat dan takut dan setia kepada Tuhan, justru sebaliknya menjadi firman yang dipakai untuk melawan Tuhan. Paulus mengatakan, “Jangan heran, karena Setan juga bisa menyamar sebagai malaikat terang.” Di dalam tradisi orang Yahudi menafsir Kej. 3 mereka mengatakan Setan datang menyamar bukan sebagai ular yang menakutkan melainkan Setan datang kepada Hawa dalam nyanyian yang memuji Tuhan. Dari situ kita bisa mengerti kalimat Paulus ini, dia bisa datang menyamar seperti malaikat terang.

Saya minta saudara juga perlu hati-hati di dalam gereja. Saya percaya kalimat Paulus mengenai dua cara pelayanan rasul-rasul palsu ini bisa menjadi pelayanan yang mirip dengan apa yang terjadi di dalam gereja sekarang. Kita akan ketemu dengan banyak pendeta yang merangkap sebagai paranormal. Mereka berani bilang Tuhan mengatakan kepada mereka mengenai masa depanmu sepuluh tahun yang akan datang. Mereka berani bilang kepada dua orang yang sedang pacaran bahwa Tuhan mengatakan kepada dia, you tidak cocok dengan dia. Hati-hati dengan pendeta yang berkata-kata seperti itu. “Tuhan bicara kepada saya, kamu berjodoh dengan pria ini.” Hati-hati dengan pendeta yang bicara seperti itu. Kalau saudara membaca Alkitab dengan teliti, saudara akan menemukan hanya satu kali indikasi saja Roh Kudus berbicara mengenai suatu masa depan secara pribadi kepada seseorang yaitu kepada Paulus. Di dalam Kis. 21 dicatat bahwa Roh Kudus memberi peringatan kepada Paulus kalau dia pergi ke Yerusalem, di situ dia akan menghadapi marabahaya. Hanya itu. Selebih dari itu kalau kita bicara mengenai pimpinan Tuhan, maka pegang prinsip ini: Alkitab firman Tuhan memimpin hidup anak Tuhan. Prinsip yang kedua, Tuhan memimpin anak Tuhan step by step. Kalau ada pendeta mengatakan dia bisa melihat masa depanmu, dia sedang praktek ‘kuamia’ Kristen. Hati-hati, karena cara Tuhan tidak bekerja seperti itu. Setan mengutip dan Setan berbicara seolah-olah dia mengerti dengan jelas firman Tuhan. Saudara baca kembali bagaimana dia memberikan pencobaan kepada Tuhan Yesus, dia mengutip firman Tuhan, bukan? Maka hal yang pertama, Setan membawa kita kepada pencobaan dengan memberikan firman Tuhan yang di-twist di sana-sini.


Yang kedua, Setan merubah perintah menjadi pertanyaan. Tuhan berfirman, “Jangan makan buah pohon pengetahuan yang baik dan jahat…” Itu adalah suatu perintah, suatu command. Tetapi oleh Setan ini kemudian God’s command kemudian diubah menjadi question. Kepada Hawa dia berkata, “Apakah benar Tuhan mengatakan seperti itu?” Hawa memang tidak mendengar langsung dari Tuhan mengenai perintah ini, maka pertanyaan Setan membawa kebingungan bagi dia. Apa benar ini perintah Tuhan, atau sebenarnya ini hanya usul saja, bukan perintah? Atau mungkin kamu salah tafsir?

Kenapa Setan datang memberikan pencobaan itu kepada Hawa? Bagi saya bukan karena perempuan itu lebih mudah jatuh ke dalam pencobaan dibanding laki-laki. Kalau mau jujur, saya rasa perempuan lebih tahan tidak jatuh ke dalam pencobaan daripada laki-laki. Jadi Setan datang mencobai Hawa karena Hawa bukan penerima pertama command itu melainkan Adam yang memberitahu Hawa mengenai hal itu. Namun kita menemukan di tengah transmisi pengetahuan itu, Setan tahu psikologinya dan menarik sekali di situ. Hawa mengatakan, “Tuhan berkata, jangan makan dan jangan pegang buah itu.” Apakah Tuhan melarang manusia memegang buah pohon pengetahuan baik dan jahat? Tidak. Setan bukan saja pengerti pengetahuan mengenai siapa Tuhan, Setan juga mengerti dan mengetahui psikologi manusia karena ini memang bagian aspek yang sangat tricky sekali.

Tuhan menciptakan kita menurut gambar dan rupa Dia. Maka kita memiliki segala potensi yang Tuhan taruh di dalam diri kita menjadi kreator-kreator kecil yang mengusahakan dan memelihara alam semesta ini. Tetapi gampang sekali manusia bisa jatuh di situ, tidak menyadari pemberian kuasa itu adalah hal yang diberi, bukan ada secara intrinsik di dalam diri kita. Kita harus bertanggung jawab kepada Dia yang memberi kuasa itu. Saudara dan saya sebagai orang Kristen wajar bertanya, apakah benar pengajarannya, apakah sesuai dengan firman Tuhan. Tetapi merubah perintah Allah menjadi question adalah merupakan satu langkah dari Setan yang menyebabkan engkau dan saya masuk ke dalam langkah selanjutnya yang akan memimpin kita jatuh ke dalam jerat Setan.


Langkah ketiga, yaitu Setan berkata kepada Hawa, “Allah berfirman bukankah semua pohon di dalam taman ini tidak boleh kamu makan buahnya?” Sekarang Setan minta kita fokus kepada larangan Tuhan dan bukan kepada kemerdekaan yang Tuhan berikan. Paulus melawan Injil yang palsu yang datang kepada jemaat Korintus. Tuhan Yesus mengatakan “My truth will set you free.” Itu Injil yang sejati. Injil yang sejati adalah hanya oleh anugerah saja, tidak ada campur tangan dari jasa manusia, tetapi semata-mata anugerah Tuhan. Tidak ada kesalehan manusia yang membuatnya beroleh keselamatan. Itu arti Injil. Tetapi sebagian intruder mengatakan jangan makan makanan tertentu, mesti ikuti cara ibadah dari Perjanjian Lama, mesti melakukan ini dan itu untuk menjadi orang Kristen yang baik. Setan berkata, “Bukankah semua pohon di dalam taman ini tidak boleh kamu makan buahnya?” Akibatnya Setan meminta Hawa hanya fokus kepada satu larangan Tuhan yang membuat dia lupa bahwa Tuhan memberi kebebasan yang berlimpah dalam hal yang lain. Adam dan Hawa boleh makan semua buah yang ada di dalam taman, menikmati semua buah yang ada di dalam taman, kecuali yang satu itu. Seharusnya itu membuat mereka bersyukur kepada Tuhan dan menikmatinya. Tetapi Setan membuat Hawa fokus kepada larangan yang satu itu. Akhirnya ini membuat kebebasan yang lain dianggap menjadi tidak ada indahnya.

Saudara melihat cermin, saudara kecewa kepada satu tahi lalat yang posisinya tidak bagus di wajahmu, akhirnya saudara kehilangan sukacita dan kecantikan diri. Sayang sekali, bukan? Saudara perhatikan itu, berapa banyak kita bisa dibawa kepada pencobaan pada waktu kita berada dalam kehidupan tidak fokus kepada berapa banyak berkat yang sudah Tuhan kasih, tetapi hanya fokus kepada satu larangan. Dan karena itu akhirnya kita menghancurkan semua yang ada. Akhirnya Setan membuat manusia berpikir bahwa Tuhan itu adalah a control freak, menjadi orang Kristen tidak boleh ini dan itu, dsb. Itu penipuan Setan. Kembali kepada apa yang Tuhan sudah katakan, everything you can enjoy and take as a blessing from God. Itu yang Paulus angkat di dalam 2 Tim.4:4, bagaimana Paulus merestorasi konsep PL sebelum jatuh ke dalam dosa, khususnya berkaitan dengan enjoyment terhadap apa saja yang Tuhan ciptakan. Semua enjoyment di dalam creation dipulihkan kembali setelah kebangkitan Yesus Kristus menghancurkan dosa dan membalikkan kita kembali kepada keadaan sebelum manusia jatuh ke dalam dosa. “Karena semua yang diciptakan Allah itu baik dan suatupun tidak ada yang haram jika diterima dengan ucapan syukur, sebab semuanya itu dikuduskan oleh firman Allah dan oleh doa.” Justru itulah kebebasan yang sejati. Allah menciptakan Adam dan Hawa, membawa mereka ke dalam aman Eden untuk bisa menikmati dengan syukur dan enjoyment dan sukacita bersama Tuhan. Semua boleh engkau makan, karena semua itu baik adanya. Kenapa buah yang satu itu tidak boleh dimakan? Karena itu merupakan bagian dari bagaimana engkau menikmati semua di dalam ketaatan kepada Tuhan. Di dalam mengikuti kebenaran-Ku, engkau akan menjadi orang Kristen yang bebas. Di dalam ketaatanmu kepada Tuhan, engkau tidak merasa diperbudak dan dikontrol habis oleh Tuhan. Engkau menjadi orang Kristen yang penuh dengan joy dan sukacita. Barangsiapa ikut Tuhan dan makin lama makin merasa Tuhan mengontrol hidup kita dan membuat kita kehilangan sukacita, itu adalah cara Setan mengelabui kita, ‘bukankah ikut Tuhan itu berarti tidak boleh makan semua? Bukankah ikut Tuhan itu membuatmu tidak bisa hidup dengan syukur dan memuji Tuhan?’ Ini cara yang ketiga, Setan pelan-pelan membawa manusia jatuh ke dalam pencobaan pada waktu kita hanya fokus kepada satu hal yang dilarang Tuhan dan kita lupa ratusan hal lain yang diberi dengan freely, diberi dengan sukacita kelimpahan dalam hidup kita. Cara yang keempat, dengan pertanyaan itu Setan membawa manusia meragukan motivasi dan kejujuran Tuhan. “Sebenarnya kalau engkau makan buah ini, matamu akan terbuka dan engkau akan menjadi sama seperti Tuhan” kata Setan. Artinya, Tuhan melarangmu makan sebab Tuhan tidak ingin engkau seperti dia. Berarti di balik dari larangan ini Tuhan memiliki maksud untuk melarang dengan motivasi mencegahmu menjadi lebih lengkap sebagai manusia. Manusia selalu akan gampang jatuh ke dalam pencobaan sampai kepada tangga keempat ini ketika kita ragu bahwa Tuhan itu baik dalam hidup kita, kita ragu motivasi Tuhan itu baik di dalam hidup kita. Setan bilang “tujuan Tuhan melarangmu supaya engkau dibatasi tidak mengerti potensimu sebagai manusia. Makan saja, expose yourself, menjadi seorang manusia yang bisa menikmati segala sesuatu, maka engkau baru tahu,” itulah tawaran Setan.

Seorang hamba Tuhan mengatakan kebahayaan besar yang masuk ke dalam gereja sekarang berkaitan dengan penipuan Setan ini adalah konsep dari Prosperity Theology dan Self-actualization di dalam gereja. Gereja tidak lagi mengajarkan konsep mengenai dosa, tetapi melulu “Be yourself.” Orang Kristen itu hidup berarti you mendapatkan sukacita dan kebebasan dan kemakmuran selama-lamanya dari Tuhan. Saya setuju dengan teguran keras ini. Konsep mengenai Self-actualization itu di belakangnya sebenarnya adalah konsep kebebasan manusia yang bersifat Libertanian.

Kereta api berjalan di atas rel, itu sebenarnya bebas atau terbatas? Bagi Libertanian, kereta api itu baru bebas sebebasnya kalau tidak ada force. Artinya saya mau berbuat seturut dengan apa yang saya mau, tidak ada yang boleh paksa, itu baru bebas yang sejati. Maka kereta yang berjalan di atas rel itu tidak bebas sebab dia dibatasi oleh dua rel. Maka dia baru bebas kalau tidak ada rel itu dan dia bisa jalan kemana saja yang dia mau. Buat saya itu bukan bebas, tapi merusak. Libertanian punya konsep seperti itu, yaitu Tuhan kalau kasih izin boleh makan semua, tetapi ada batasannya, itu bukan kebebasan yang sejati. Kebebasan yang sejati tidak boleh ada aturan dan tekanan yang menyuruh saya. Saya bebas sesuai dengan apa yang saya mau. Maka konsep ini muncul, “Makan saja, sebab waktu engkau makan, matamu akan terbuka...” Libertanian konsep membuat orang Kristen berpikir Tuhan tidak boleh campur tangan, saya mau melakukan apa saja seturut dengan yang saya mau.

Saya ingin mengajak saudara melihat perbedaan konsep kebebasan dari Libertanian dengan konsep yang diajarkan oleh Reformed Theology, bahwa kebebasan yang kita terima adalah kebebasan yang punya compatibility. Kebebasan kompatibilitas adalah kebebasan yang bukan saja saya bebas, tetapi saya bebas seturut dengan kompatibilitas, dengan kemampuan dan keinginan yang compatible dengan kebebasan saudara. Itu namanya bebas. Sebab kalau saudara bebas tetapi tidak punya compatibility dengan kemampuan, itu bukan bebas.

Contoh, saudara bebas untuk terjun dari lantai tingkat 10. Tetapi apakah itu namanya kebebasan? Bukan, sebab tidak ada compatibility-nya. Tidak sesuai dengan kemampuan, keinginan, dan kemauan di situ. Manusia bebas, tetapi tidak boleh bebas melawan Tuhan karena kebebasan kita adalah kebebasan di dalam ketaatan kepada Tuhan. Sebab kita dicipta oleh Tuhan, hidup kita diberi awal oleh-Nya, itu sebab Dia berhak untuk memberi prinsip dan aturan. Itu sebab Yesus berkata, “My truth will set you free.” Itu namanya kebebasan yang compatible.

Film Kungfu Panda memberi contoh bagus mengenai hal ini. The Master bilang kepada Po, “You free to eat this dumpling.” Tetapi waktu Po mau ambil, gurunya menghalangi. Po bilang, “You said I’m free to eat.” Benar, engkau bebas untuk makan, tetapi apakah engkau punya ability untuk ambil?

Dosa tidak merubah kebebasan manusia. Kebebasan itu tetap sama, sebelum jatuh dalam dosa dan sesudah jatuh dalam dosa. Tetapi dosa merusak keinginan, motivasi manusia. Sehingga di dalam Reformed Theology dikatakan dosa tidak merusak freedom manusia, dosa merusak ability manusia. Manusia punya freedom to obey God dan compatibility-nya sesuai dengan desire yang Tuhan tanam di dalam diri manusia, manusia punya keinginan untuk mengasihi Tuhan. Tetapi dosa menyebabkan freedom itu tetap ada, tetapi desire yang ada bukan lagi desire untuk obey kepada Tuhan melainkan desire untuk melawan Tuhan. Sehingga manusia berdosa still free to do good, tetapi manusia sudah kehilangan desire to do good. Manusia sudah kehilangan ability to do good. Dosa membuat hati manusia lari menjauh dari Tuhan. Meragukan motivasi dan kejujuran Tuhan untuk membuat manusia menjadi lebih utuh mengasihi Tuhan dengan menaati Dia, akibatnya maka jatuhlah manusia ke dalam pencobaan. Kita menolak semua yang benar dari Tuhan, itulah dosa.

Paulus bilang, kita tahu cara Setan bekerja. Setan bisa memberikan penipuan di dalam pengajaran, melalui penipuan itu Setan membuat engkau dan saya hanya fokus kepada hal yang dilarang oleh Tuhan dan kita lupa anugerah dan berkat Dia yang berkelimpahan di dalam hidup kita. Sehingga membuat saudara menjadi ragu apakah Tuhan itu betul-betul baik di dalam hidup saudara, apakah betul firman-Nya jujur atau tidak. Manusia berpikir semua yang Tuhan katakan itu hal yang tidak benar.

Melalui firman Tuhan ini saya mengajak saudara untuk waspada, seperti yang Paulus katakan, Setan bisa outwit, Setan bisa manuver, jangan kita tidak mengerti taktik dia. Dan mari kita belajar pada waktu dia memberikan penipuan dan godaan seperti ini, biarlah firman Tuhan menjadi pegangan bagi kita.(kz)




Sumber:
http://www.griisydney.org/ringkasan-khotbah/2008/2008/07/13/cara-setan-memperdaya-manusia/

18 July 2008

Bagian 5: Khotbah dan Waktu Khotbah

V. KHOTBAH DAN WAKTU KHOTBAH
Poin terakhir, kita akan bersama-sama merenungkan kaitan khotbah dengan waktu khotbah. Waktu yang dipergunakan di dalam khotbah di berbagai gereja beraneka ragam: ada yang 15 menit, 30, 45 menit, ada yang 1 jam, 1½ jam, dll. Penggunaan waktu khotbah ini tentu dilatarbelakangi oleh presuposisi tertentu. Misalnya, ada gereja Protestan arus utama yang memakai waktu khotbah hanya 30 menit dengan presuposisi bahwa yang terpenting di dalam kebaktian bukan hanya khotbah, tetapi juga puji-pujian, dll. Di sisi lain, ada gereja kontemporer yang memakai waktu khotbah sampai 1 jam, tetapi sayangnya banyak pengkhotbah tidak mempergunakan 1 jam khotbah tersebut untuk menyampaikan berita Firman yang tegas, jelas, dan aplikatif, tetapi mereka biasanya banyak bercanda di dalam khotbah agar waktunya pas 1 jam.

Waktu khotbah tentu tidak memengaruhi isi khotbah. Memang bukan menjadi suatu jaminan bahwa khotbah yang berdurasi 1 jam pasti bermutu, sedangkan khotbah yang hanya memakan waktu 30 menit pasti tidak bermutu. Tetapi meskipun demikian kita tetap perlu memerhatikan kaitan waktu khotbah dan isi khotbah.

Saya membagikan dua prinsip kaitan waktu dan isi khotbah:
· Waktu dan isi khotbah bukan bergantung pada penentuan manusia
Di poin pertama, kita perlu mempelajari bahwa waktu dan isi khotbah yang ada tidak bergantung pada penentuan manusia. Manusia berdosa meskipun sudah Kristen tidak layak mengatur jadwal atau durasi khotbah. Mengapa? Karena khotbah bukan sekadar pidato, tetapi memberitakan Firman. Inilah yang kurang disadari di beberapa gereja Protestan arus utama dan Katolik yang kurang menghargai berita/khotbah mimbar. Mereka menganggap khotbah hanya sekadar salah satu dari liturgi sehingga bisa dibatasi waktunya. Bahkan saya membaca sendiri tanggapan seorang rekan Kristen di sebuah milis Kristen mengatakan bahwa ada gereja yang majelisnya memperingatkan si pengkhotbah jika berkhotbah melewati durasi khotbah yang telah ditentukan. Hal ini tentu tidak pernah diajarkan baik di PL, PB, para bapa gereja, dan para reformator. Para nabi di PL bebas menyampaikan berita Firman Tuhan tanpa dikekang oleh waktu/durasi. Begitu juga di sinagoge-sinagoge, saya yakin tidak ada jemaat Yahudi yang memperingatkan imam untuk berhenti karena waktu khotbahnya sudah selesai. Di PB, Yohanes Pembaptis memberitakan Firman tanpa dikekang oleh waktu/durasi khotbah. Tetapi herannya, mengapa gereja sekarang membatasi waktu berkhotbah? Ini membuktikan gereja sudah tidak lagi menghargai signifikansi berita Firman di dalam khotbah, sehingga tidak heran semakin sedikit khotbah diberitakan, semakin banyak jemaat Kristen yang tidak beriman Kristen sungguh-sungguh, karena kekurangan konsumsi makanan rohani yang mereka dapatkan.

· Waktu dan isi khotbah bergantung pada kedalaman Firman dan kuasa Roh Kudus yang memakai berita Firman di atas mimbar dan kedalaman Firman
Jika bukan bergantung pada penentuan manusia, waktu dan isi khotbah tentu sebaliknya bergantung pada kedalaman Firman dan kuasa Roh Kudus yang memakai berita Firman di atas mimbar. Di sini, Allah (baik melalui firman-Nya maupun Roh Kudus) yang berotoritas di dalam khotbah, bukan manusia. Allah bebas mempergunakan durasi khotbah yang dikehendaki-Nya ketika Ia berbicara melalui para hamba-Nya di atas mimbar. Konsep ini mengajar kita dua hal, yaitu:
Pertama, kedalaman Firman. Di sini saya mengaitkan waktu dan isi khotbah dengan kedalaman Firman. Khotbah yang baik dan bertanggungjawab bukan hanya mengutip puluhan ayat Alkitab, tetapi yang menguraikan ayat Alkitab secara eksposisional (ayat per ayat, pasal per pasal, dll di dalam kitab di Alkitab). Misalnya, menguraikan Injil Matius secara rutin setiap hari Minggu. Jika kita benar-benar menerapkan metode eksposisi Alkitab secara rutin setiap hari Minggu, maka kita baru menyadari bahwa Alkitab kita bukan Alkitab yang dangkal, tetapi dalam. Pdt. Dr. Stephen Tong sendiri mencontohkan bahwa beliau mengeksposisi Surat Roma sudah hampir lebih dari 5 tahun secara rutin, begitu juga dengan Surat Ibrani dan Injil Yohanes. Di sini, kita mengetahui alasan mengapa saya mengatakan waktu dan isi khotbah tidak pernah ditentukan manusia, karena Firman Tuhan ini sangat mendalam dan tidak bisa dijelaskan dengan waktu yang singkat.

Kedua, Roh Kudus memakai para pengkhotbah di luar khotbah yang telah disiapkannya. Kadang-kadang, Roh Kudus memakai para pengkhotbah untuk memberitakan Firman dengan pengertian yang berbeda di luar khotbah yang telah disiapkan si pengkhotbah. “Berbeda” di sini bukan bertolak belakang, tetapi berbeda dalam pengertian yang lebih tajam, luas, jelas, dan mudah dimengerti. Oleh karena itulah, waktu khotbah bergantung pada kedaulatan Allah di dalam khotbah yang bebas memakai hamba-Nya untuk menyampaikan berita Firman yang urgent. Jika memang Roh Kudus ingin menyampaikan berita Firman secara singkat, maka si pengkhotbah jangan sengaja memanjangkan khotbahnya supaya pas 1 jam. Tetapi jika Roh Kudus ingin menyampaikan berita Firman dengan jelas dan agak lama, maka jangan sengaja memendekkan durasi khotbah sampai menjadi 30 menit. Ia yang menciptakan waktu, Ia berhak memakai waktu yang diciptakan-Nya untuk memberitakan Firman-Nya. Hak apa kita berani membatasi-Nya?


Dengan kata lain, kedua poin ini menuntut suatu kepekaan khusus dari para pengkhotbah yang diurapi Tuhan. Pengkhotbah yang baik selain studi Alkitab yang ketat, juga terbuka pada dinamika pimpinan Roh Kudus ketika mereka berkhotbah.


Bagaimana dengan Anda sebagai pengkhotbah? Maukah Anda hari ini sungguh-sungguh memberitakan Firman Tuhan dengan hikmat dan kuasa Roh Kudus demi kemuliaan-Nya? Tuhan menuntut hamba-hamba-Nya memberikan Firman Tuhan dengan bertanggungjawab, murni, teliti, tegas, jelas, dan aplikatif serta memuliakan nama-Nya. Sudahkah Anda melakukannya? Amin. Soli Deo Gloria.

Bagian 4: Khotbah dan Teknik Berkhotbah (Homiletika)

IV. KHOTBAH DAN TEKNIK BERKHOTBAH (HOMILETIKA)
Sesudah memikirkan signifikansi dan aspek khotbah, sekarang kita akan memikirkan teknik berkhotbah. Seperti telah dijelaskan di atas, saya sudah menjelaskan khotbah yang terpenting bukan transfer data akademis yang kita dapatkan di sekolah/seminari theologi dan bukan juga teknik berkhotbah yang bagus, tetapi khotbah yang terpenting adalah khotbah yang memberitakan Firman. Konsep ini benar, tetapi ada tendensi lain di balik konsep ini yaitu tidak mementingkan teknik khotbah. Ada beberapa pengkhotbah yang karena terlalu mementingkan berita di dalam Firman, lalu tidak memerhatikan teknik berkhotbah. Saya menyetujui bahwa teknik berkhotbah itu adalah hal sekunder, tetapi tidak berarti teknik berkhotbah tidak perlu sama sekali. Teknik khotbah tetap perlu sebagai implikasi signifikansi dan aspek khotbah yang telah kita pelajari di atas.

Khotbah yang baik tetap memerhatikan teknik berkhotbah. Apa arti teknik berkhotbah? Teknik berkhotbah berarti cara yang digunakan oleh si pengkhotbah di dalam menyampaikan khotbah. Cara yang dipakai si pengkhotbah ini beraneka ragam, ada yang terlalu akademis, di sisi lain ada yang tidak karuan. Supaya kita tidak terjebak ke dalam kedua ekstrim ini, kita perlu memerhatikan satu poin penting di dalam teknik khotbah yaitu dinamika khotbah (dynamics of preaching). Dinamika khotbah ini meliputi dua hal: persiapan dan kuasa Roh Kudus; antara naskah dan isi khotbah. Mari kita memikirkan dua hal ini.
A. Dinamika Khotbah: Antara Persiapan dan Kuasa Roh Kudus
Teknik khotbah berdinamika yang pertama yaitu antara persiapan dan kuasa Roh Kudus. Di dalam gereja Kristen saat ini, ada dua kecenderungan ekstrim para pengkhotbah, yaitu di satu sisi, sangat memerhatikan persiapan sebelum berkhotbah, tetapi tidak terbuka pada kuasa Roh Kudus yang spontan. Di sisi lain, ada pengkhotbah yang terlalu mementingkan kuasa Roh Kudus, tetapi mengabaikan persiapan khotbah, sehingga khotbahnya pun asal-asalan, yang penting “dari Roh Kudus.” Kedua hal ini tidak benar. Jika kita terlalu menekankan persiapan yang matang tetapi tidak terbuka pada pimpinan spontan dari Roh Kudus berarti kita terlalu mengandalkan kehebatan manusia di dalam menyampaikan berita Firman. Sebaliknya, jika kita terlalu menekankan pimpinan spontan dari Roh Kudus dan tidak mempersiapkan khotbah dengan baik, itu berarti kita tidak bertanggungjawab. Teknik khotbah yang bertanggungjawab adalah teknik khotbah yang seimbang. Pdt. Billy Kristanto, M.C.S. mengajarkan bahwa teknik khotbah yang seimbang ini maksudnya si pengkhotbah harus menyiapkan khotbah semaksimal mungkin (bahkan kalau perlu sampai titik dan komanya sekalian) sambil tetap terbuka pada pimpinan spontan dari Roh Kudus (spontaneous guidance of the Holy Spirit). Mengapa harus seimbang? Karena di dalam keseimbangan ini, kita dituntut untuk tetap bertanggungjawab (mempersiapkan khotbah semaksimal mungkin) sambil tetap bergantung pada kuasa Roh Kudus yang kadang-kadang memakai mulut si pengkhotbah untuk membicarakan hal-hal yang tidak dipersiapkan sebelumnya. Dari sini, kita belajar bahwa dalam berkhotbah pun, kita dituntut menggabungkan antara kedaulatan dan kuasa Allah dengan tanggung jawab manusia yang tidak pernah berkontradiksi, namun berkaitan satu sama lain.

B. Dinamika Khotbah: Antara Naskah, Isi, dan Keluwesan Khotbah
Kedua, dinamika khotbah yang harus diperhatikan yaitu antara naskah, isi, dan keluwesan khotbah. Untuk poin kedua ini, pendekatannya agak subjektif. Ada empat kemungkinan yang cukup signifikan pada poin ini:
1. Tidak terpaku pada naskah khotbah, tetapi isi khotbahnya bermutu (sesuai dengan Alkitab), dan si pengkhotbah luwes menyampaikannya
Kemungkinan pertama adalah si pengkhotbah tidak terpaku pada naskah khotbah. Tidak terpaku dalam hal ini bukan berarti tidak melihat naskah khotbah sama sekali, tetapi artinya tidak terikat dengan membaca naskah khotbah terus-menerus. Seorang pengkhotbah dituntut untuk tidak terlalu terpaku pada naskah khotbah, mengapa? Karena pengkhotbah adalah seseorang yang menyampaikan berita Firman kepada jemaat dan secara otomatis pengkhotbah harus banyak berinteraksi dengan jemaat misalnya dengan sering menatap jemaat yang dia layani. Pengkhotbah juga bukan hanya tidak terpaku pada naskah khotbah saja, di bagian ini, pengkhotbah juga menyampaikan isi khotbah yang bermutu. Artinya, ada suatu struktur yang jelas di dalam khotbahnya, bukan asal-asalan. Struktur di sini bukan berarti struktur akademis yang kaku, tetapi struktur di sini adalah struktur pembahasan yang saling berkait antara satu bagian dengan bagian lain di dalam khotbahnya Meskipun ini bukan hal terpenting, tetapi hal ini tetap perlu diperhatikan. Ketiga, bukan hanya itu saja, si pengkhotbah juga dituntut luwes menyampaikan khotbah. Di sini, saya berbicara mengenai intonasi suara si pengkhotbah. Keluwesan dalam menyampaikan khotbah berarti si pengkhotbah harus memberikan intonasi suara yang lebih jelas ketika ia menekankan sesuatu yang perlu ditekankan di dalam khotbahnya. Intonasi suara harus jelas dimaksudkan agar jemaat berkonsentrasi pada penekanan tertentu dari si pengkhotbah dan juga agar jemaat tidak mengantuk.
Untuk model kemungkinan pertama ini, saya tidak bisa memungkiri bahwa setahu saya, hamba Tuhan/pengkhotbah yang bisa melakukan hal ini adalah Pdt. Dr. Stephen Tong. Beliau adalah seorang pengkhotbah yang sangat dinamis. Beliau hampir tidak terpaku pada naskah khotbah, meskipun tentu beliau telah mempersiapkan khotbahnya. Beliau juga adalah seorang pengkhotbah dengan isi khotbah yang bermutu, cukup terstruktur, dan mendalam. Selain itu, beliau tidak kaku dalam menyampaikan khotbah, artinya ada keluwesan di dalam menyampaikan khotbahnya. Beliau tidak monoton.

2. Terpaku pada naskah khotbah, isi khotbahnya bermutu (sesuai dengan Alkitab), dan si pengkhotbah luwes menyampaikannya
Kemungkinan kedua adalah si pengkhotbah terpaku pada naskah khotbah. Dalam arti, si pengkhotbah hampir sering melihat naskah khotbah. Saya tidak mengatakan ini tidak boleh, tetapi cara seperti ini kurang efektif. Banyak pengkhotbah yang sering melihat naskah khotbah lalu memberikan contoh bahwa Jonathan Edwards, seorang revivalis di Amerika Serikat juga membaca naskah khotbahnya. Itu tidak salah, tetapi jangan belajar dari seorang hamba Tuhan saja. Itu picik namanya. Mengapa saya mengatakan bahwa pengkhotbah yang terus melihat naskah khotbah itu kurang efektif? Karena si pengkhotbah itu tidak berinteraksi dengan jemaat. Coba Anda bayangkan jika si pengkhotbah membacakan naskah khotbahnya, “Saudara-saudara ...”, tetapi tidak menghadap ke jemaat, tetapi kepada naskah khotbahnya. Apa signifikansi berita mimbar seperti itu bagi jemaat? Jemaat, bagi pengkhotbah itu, berada di dalam naskah khotbahnya, bukan langsung dihadapi. Meskipun begitu, pengkhotbah ini tetap luwes menyampaikannya. Artinya, si pengkhotbah tetap bisa menguraikan sendiri apa yang dia cantumkan di dalam naskah khotbah yang dia bawa, misalnya dengan memberikan contoh, ilustrasi, dan sedikit kesaksian/humor.

3. Tidak terpaku pada naskah khotbah, isi khotbahnya tidak bermutu (tidak sesuai dengan Alkitab), tetapi si pengkhotbah luwes menyampaikannya
Jika poin pertama dan kedua masih ada sisi positifnya yaitu khotbahnya bermutu, maka pada kemungkinan ketiga ini, kita mendapati suatu keanehan. Keanehan itu adalah si pengkhotbah tidak terpaku pada naskah khotbah (dalam hal ini, saya terjemahkan: tidak menggunakan naskah khotbah), ia luwes menyampaikan khotbahnya, tetapi sayangnya tidak bermutu. Mengapa bisa demikian? Karena biasanya pengkhotbah seperti ini tidak mempersiapkan khotbah dengan baik. Ia asal mencomot ayat Alkitab mungkin sehari sebelum dia berkhotbah, lalu mencari ayat-ayat referensi dari Konkordansi Alkitab bahasa Indonesia untuk mendukung apa yang mau dia khotbahkan. Si pengkhotbah mungkin sekali membolak-balik dan mengutip puluhan ayat Alkitab, tetapi yang dia kutip selalu dia lepaskan dari konteksnya. Akibatnya, isi khotbah tersebut tidak lain hanya kutipan ayat Alkitab tanpa penguraian yang dalam. Itu yang saya katakan sebagai khotbah yang tidak bermutu, yaitu khotbah yang tidak menjelaskan ayat Alkitab secara mendalam beserta aplikasinya yang tepat.

4. Terpaku pada naskah khotbah, tetapi isi khotbahnya tidak bermutu (=tidak sesuai dengan Alkitab) ditambah si pengkhotbah kaku menyampaikannya.
Kemungkinan terakhir yang saya soroti ini adalah si pengkhotbah terpaku pada naskah khotbah, ditambah isi khotbahnya tidak bermutu, ditambah lagi si pengkhotbah kaku menyampaikannya. Ketika si pengkhotbah sudah memiliki teknik khotbah di tahap keempat ini, si pengkhotbah boleh dibilang gagal disebut pemberita Firman. Mengapa? Karena meski si pengkhotbah membaca naskah khotbah yang dia bawa, tetap saja, ia tak mampu mengembangkan apa yang dia persiapkan itu, sehingga terkesan monoton, ditambah tidak ada penggalian Alkitab yang komprehensif dan aplikatif.

Meskipun teknik berkhotbah di poin IV ini bukan hal terpenting, tetapi kita tetap saja perlu memerhatikan teknik berkhotbah, bukan untuk memuaskan telinga pendengar, tetapi agar berita yang kita sampaikan dapat diserap dengan lugas, tegas, jelas, dan mudah dimengerti.

Bagian 3: Aspek-aspek Khotbah

III. ASPEK-ASPEK KHOTBAH
Lalu, apa yang perlu diperhatikan setiap pengkhotbah di dalam khotbah yang disampaikannya? Setelah kita memikirkan signifikansi khotbah, kita akan memikirkan dan merenungkan aspek-aspek khotbah. Prof. Stephen J. Nichols, Ph.D. di dalam bukunya Jonathan Edwards: A Guided Tour of His Life and Thought memaparkan tiga ciri khas khotbah orang-orang Puritan, yaitu: teks, doktrin, dan aplikasi. Hal senada juga diungkapkan oleh Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div. memaparkan tiga aspek/hal penting di dalam khotbah, yaitu khotbah yang: theologis, biblika, dan apologetis, dan saya menambahkan satu aspek lagi yaitu aplikatif.

A. Khotbah yang Theologis
Khotbah yang bertanggungjawab adalah khotbah yang theologis. Artinya, di dalam khotbah, sang pengkhotbah mengajar theologi sebagai pokok-pokok penting iman Kristen. Theologi di sini yang dimaksud adalah theologi sistematika, yang mencakup Doktrin Allah, Doktrin Alkitab, Doktrin Manusia dan Dosa, Doktrin Keselamatan, Doktrin Kristus, Doktrin Roh Kudus, Doktrin Gereja, dan Doktrin Akhir Zaman. Kedelapan doktrin di dalam theologi sistematika harus diajarkan di dalam setiap khotbah. Mengapa? Karena kedelapan doktrin ini adalah doktrin inti sebagai presuposisi iman Kristen yang bertanggungjawab. Sebuah khotbah yang bertanggungjawab dapat dinilai dari kesinambungan dan integrasi semua theologi/doktrin yang dia ajarkan. Sedangkan khotbah yang asal-asalan adalah khotbah yang didasarkan pada satu atau beberapa doktrin yang tidak berkaitan atau bahkan berkontradiksi dengan doktrin lain di dalam kedelapan doktrin ini. Misalnya, jika seorang pengkhotbah mengkhotbahkan Allah itu adalah Tuhan, Raja, dll, lalu ia juga mengkhotbahkan bahwa orang Kristen minta apa saja pasti Tuhan berikan. Contoh khotbah ini jelas tidak bertanggungjawab, karena adanya kontradiksi. Di mana letak kekontradiksian khotbah ini? Dalam contoh ini, sang pengkhotbah mengajar bahwa Allah adalah Tuhan, Raja, dll tanpa (mau) mengerti apa arti sesungguhnya konsep ini dari Alkitab, sehingga akhirnya ia mengajar konsep Allah menurut anggapannya sendiri lalu dikaitkan dengan ajaran bahwa minta apa saja pasti Tuhan berikan. Kalau benar bahwa orang Kristen minta apa saja pasti Tuhan berikan, bukankah Allah bukan lagi sebagai Raja, Tuhan, dll, tetapi sebagai pembantu/budak kita? Di sini letak kekontradiksian khotbah tersebut.


B. Khotbah yang Biblika/Ekspositoris: Homiletika dan Hermeneutika
Khotbah yang theologis harus diimplementasikan di dalam aspek khotbah kedua, yaitu khotbah yang Biblika. Artinya, khotbah yang bertanggungjawab adalah khotbah yang mengeksposisi Alkitab per pasal/ayat, sehingga jemaat mendapatkan konsep yang menyeluruh akan kebenaran Firman. Dr. Martin Luther, Dr. John Calvin, dan para reformator mengajarkan pola ini yaitu mengeksposisi setiap bagian Alkitab di dalam khotbah pada kebaktian/ibadah, sehingga jemaat mendapatkan berkat firman Tuhan secara menyeluruh, bukan parsial (sebagian). Apa arti mengeksposisi setiap bagian Alkitab? Artinya, di dalam khotbah, pengkhotbah menyampaikan eksposisi satu kitab, misalnya Injil Matius di dalam rangkaian seri setiap Minggu. Misalnya, minggu pertama, si pengkhotbah mengkhotbah Matius 1 ayat 1, lalu pada minggu berikutnya, ia mengeksposisi Matius 1 ayat 2, begitu seterusnya sampai keseluruhan Injil Matius selesai. Setelah selesai, si pengkhotbah juga mengeksposisi kitab lain dalam Alkitab, misalnya Surat Roma, dll. Di sini, saya mendapatkan istilah dari Pdt. Dr. Bambang H. Widjaja (Gereja Kristen Perjanjian Baru – GKPB) di dalam Majalah Rohani BAHANA, yaitu homiletika (ilmu berkhotbah) harus dikaitkan dengan hermeneutika (ilmu menafsirkan Alkitab). Untuk mengeksposisi setiap bagian Alkitab, diperlukan hermeneutika atau ilmu menafsirkan Alkitab. Agar kita dapat menjelaskan ayat per ayat di dalam sebuah pasal di dalam satu kitab di Alkitab, kita perlu menafsirkan ayat tersebut dengan memerhatikan beberapa poin penting, misalnya: latar belakang kitab yang akan kita eksposisi, perbandingan terjemahan Indonesia dengan Inggris, Mandarin (kalau bisa berbahasa Mandarin), dll sampai ke bahasa aslinya (Ibrani dan Yunani), konteks ayat tersebut dan kaitannya dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya, kaitan bagian/ayat tersebut di dalam kitab tersebut dengan bagian lain di dalam kitab sejenis dengan penulis yang sama dan kitab lain baik dari Perjanjian Lama (PL) maupun Perjanjian Baru (PB), dan terakhir perbandingan tafsiran ayat yang kita selidiki/khotbahkan ini dengan tafsiran dari para penafsir Alkitab baik dari para bapa gereja, theolog, maupun para ekspositor Alkitab lainnya. Jika kita benar-benar memerhatikan konsep ini, maka khotbah ini tidak akan pernah habis-habis, karena kita menggali kelimpahan berita Alkitab ayat per ayat, bagian per bagian, dll. Pdt. Dr. Stephen Tong telah mencontohkan hal ini di mana beliau mengeksposisi Surat Roma, Ibrani, Yakobus, dll sudah bertahun-tahun. Tetapi “kelemahan” pola seperti ini adalah para pengkhotbah dituntut untuk mengeksegese Alkitab (menafsirkan Alkitab dengan mengeluarkan makna Alkitab seseungguhnya) secara teliti, di mana tuntutan ini menyita waktu yang sangat lama. Jika pengkhotbah dituntut seteliti ini, maka pengkhotbah tersebut tentu tidak bisa berprofesi ganda misalnya sambil menjadi pendeta sambil bekerja sekuler (seperti: jadi dokter, dll).


C. Khotbah yang Apologetis
Ketiga, selain theologis dan biblika, khotbah seharusnya apologetis. Artinya, khotbah harus memberikan pertanggungjawaban iman Kristen di tengah dunia berdosa. Ketika dunia mengajar konsep-konsep yang berpusat pada manusia (antroposentris), misalnya bagaimana menjadi kaya, dll, khotbah di mimbar harus mengajar konsep-konsep Firman (berpusat pada Allah/Kristus – theosentris/Kristosentris) yang bertolak belakang dengan konsep manusia. Dengan kata lain, khotbah yang bertanggungjawab bukan meniru konsep dunia, tetapi menantang konsep dunia untuk ditundukkan di bawah Ketuhanan Kristus! Kita bisa menantang dunia berdosa karena kita memiliki wahyu khusus (Kristus dan Alkitab) yang memiliki konsep yang lebih agung dan bijaksana dari semua konsep dunia berdosa. Sudahkah Anda sebagai pengkhotbah mengkhotbahkan konsep theosentris yang bertentangan dengan konsep dunia yang antroposentris? Ataukah kita mengkhotbahkan konsep yang sama dengan konsep dunia demi menyenangkan konsep (“iman”) pendengar/jemaat?


D. Khotbah yang Aplikatif (Memberitakan Firman)
Di dalam khotbah harus ada unsur berita sebagai aplikasi dari khotbah yang theologis, biblika, dan apologetis. Di sini, saya mengaitkan khotbah dengan pemberitaan Firman Tuhan. Khotbah bukan hanya masalah teknik pidato/khotbah (di dalam theologi disebut homiletika), bukan hanya masalah penguasaan bahan secara akademis, tetapi khotbah yang terpenting adalah berita (message). Pdt. Dr. Stephen Tong di dalam master-class dengan tema, “Kuasa Dalam Pelayanan Berita Mimbar” mengajar bahwa pelayanan khotbah mimbar adalah pelayanan yang memberitakan Firman, bukan transfer data. Apa beda berita dengan data? Berita/pesan (di dalam khotbah mimbar) berarti pernyataan kembali apa yang telah Allah wahyukan di dalam Alkitab (bersifat dinamis), sedangkan data itu statis. Pdt. Stephen Tong memberikan contoh yang saya parafrasekan. Misalnya, melalui surat kabar/koran, kita mendapatkan data tentang kelulusan siswa/i sekolah tahun ini, sedangkan jika seorang ibu memberi tahu anaknya bahwa anaknya lulus, itulah berita. Anak bukan mendapatkan data dari ibunya, tetapi pesan/berita, di mana berita itu didapatkan sang ibu dari berita di koran. Banyak gereja Protestan/Reformed yang mementingkan doktrin, melupakan aspek berita di dalam khotbah mereka. Mereka sibuk menggali Alkitab sampai ke dalam bahasa Ibrani dan Yunani, membandingkan banyak terjemahan, mengutip segudang tafsiran orang lain akan satu ayat/nats Alkitab bahkan di dalam khotbah mimbar, tetapi mereka lupa menyampaikan berita/pesan pribadi bagi jemaatnya sebagai aplikasi. Sebaliknya, di dalam banyak gereja kontemporer, para pengkhotbah terlalu banyak memerhatikan aspek berita, bahkan terlalu ekstrim, sampai mengklaim bahwa mereka menerima “wahyu” baru, lalu membuang semua studi Alkitab yang kritis dan teliti. Reformed Injili mau menyeimbangkan kedua hal ini. Di satu sisi, tetap memerhatikan studi eksegesis Alkitab yang ketat dan berita yang segar yang disampaikan di atas mimbar.

Lalu, apa yang harus kita beritakan di dalam khotbah? Untuk itu, kita perlu belajar dari Alkitab, tentang berita apa saja yang dikhotbahkan baik oleh para nabi di PL, Tuhan Yesus, dan para rasul di PB. Berita tersebut saya bagi menjadi tiga:
1. Berita pertobatan
Nabi Natan diutus untuk menegur Raja Daud yang berdosa (2Sam. 12:7). Nabi Yesaya diutus Tuhan untuk memberitakan pertobatan bagi orang Israel, “Bertobatlah, hai orang Israel, kepada Dia yang sudah kamu tinggalkan jauh-jauh!” (Yes. 31:6) Begitu juga dengan nabi Yeremia (Yer. 25:5). Hal yang sama juga dilakukan nabi Yehezkiel, Hosea, dll. Nabi Yunus diutus untuk memberitakan berita pertobatan bagi negeri Niniwe (Yun. 3:4). Di dalam Perjanjian Baru, Yohanes Pembaptis memberitakan berita pertobatan di padang gurun Yudea sebagai jalan untuk menyambut Tuhan Yesus (Mat. 3:2). Tuhan Yesus juga memberitakan berita pertobatan kepada manusia yang hidup pada zaman-Nya (Mat. 4:17). Para rasul Kristus pun memberitakan berita yang sama yaitu berita pertobatan. Semua ini menunjukkan bahwa pemberitaan Firman Tuhan tidak bisa dilepaskan dari berita pertobatan manusia berdosa agar mereka kembali kepada Tuhan Allah. Tetapi sayangnya, di zaman postmodern, berita ini sudah jarang didengar. Yang didengungkan di atas mimbar adalah khotbah yang menjanjikan kemakmuran, kesuksesan, kelancaran, kesembuhan, dll bagi semua orang yang mengikut Kristus. Selain itu, para pengkhotbah tidak menegur dosa jemaat, malahan menutupi dosa tersebut dan mengkambinghitamkan setan sebagai penyebabnya. Contoh, jika ada jemaat yang berzinah, bukan jemaatnya yang ditegur supaya bertobat, tetapi roh/setan zinahnya yang ditengking. Dari dulu sampai sekarang, Alkitab memberi tahukan bahwa setan dari sananya memang penggoda dan penipu, sehingga kalau manusia mau digoda setan, itu salah manusianya mengapa ia mau ditipu oleh setan, bukan salah setannya.

2. Berita kasih karunia
Selain berita pertobatan, Alkitab juga mengajar bahwa para nabi, Kristus, dan para rasul pun memberitakan berita sukacita yaitu kasih karunia Allah. Allah melalui Yeremia mengajar, “Bertobatlah masing-masing kamu dari tingkah langkahmu yang jahat dan dari perbuatan-perbuatanmu yang jahat; maka kamu akan tetap diam di tanah yang diberikan TUHAN kepadamu dan kepada nenek moyangmu, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya.” (Yer. 25:5) Konteks Perjanjian Lama menjelaskan bahwa berkat/kasih karunia Tuhan selalu berbentuk jasmani, karena itulah tanda penyertaan Tuhan. Di dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus memberitakan kasih karunia kepada mereka yang percaya, yaitu mereka akan memperoleh hidup yang kekal/tidak binasa (Yoh. 3:16), hidup berkelimpahan (Yoh. 10:10b), dll. Rasul Petrus yang berkhotbah dengan kuasa Roh Kudus di hari Pentakosta memberitakan berita pertobatan ditambah kasih karunia, “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.” (Kis. 2:38) Rasul Paulus juga memberitakan anugerah Allah yang menyelamatkan manusia dari jerat dan kuasa dosa (Rm. 3:23-26). Di sini, kita melihat kesinambungan PL dan PB tentang berita kasih karunia yang diberitakan selain berita pertobatan. Beberapa gereja hanya menekankan berita pertobatan dan tidak memberitakan berita kasih karunia. Ini juga salah, karena Alkitab mengajar dua hal ini secara seimbang. Berita kasih karunia ini diberitakan dengan tujuan agar umat pilihan-Nya bertobat dan kembali kepada-Nya. Ini berarti anugerah Allah mendahului dan mengakibatkan terjadinya pertobatan sejati.

3. Berita penghukuman
Di dalam Perjanjian Lama, kita menjumpai banyak kali Tuhan berfirman melalui para nabi-Nya selain berita pertobatan, juga disertai berita penghukuman. Berita penghukuman ini bisa dibedakan menjadi dua, yaitu: berita penghukuman bagi umat pilihan-Nya agar mereka bertobat dan berita penghukuman kekal bagi manusia yang bukan termasuk umat pilihan-Nya.
a. Berita penghukuman bagi umat pilihan-Nya
Berita penghukuman pertama ditujukan bagi umat pilihan-Nya dengan tujuan agar umat-Nya bertobat dari dosa-dosa mereka dan kembali kepada-Nya. Berita penghukuman ini bisa berupa penghukuman langsung atau teguran keras berupa hajaran, dll. Di dalam Perjanjian Lama, setelah menegur dosa Daud, nabi Natan memberitakan penghukuman kepada Daud yang berdosa (2Sam. 12:10-15). Di dalam Perjanjian Baru, kepada jemaat di Laodikia, Tuhan Yesus berkata, “Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!” (Why. 3:19) Penghukuman Tuhan berupa hajaran ini dimaksudkan agar jemaat di Laodikia tidak suam-suam kuku dan tidak sombong (baca ay. 15 dan 17). Kedua bagian Alkitab PL dan PB ini mengingatkan kita bahwa Tuhan yang mengasihi adalah Tuhan yang menghajar anak-anak-Nya bahkan dengan keras agar anak-anak-Nya bertobat. Hajaran Tuhan mungkin terasa sakit sekali, tetapi percayalah, tujuannya adalah supaya kita bertobat dan kembali kepada-Nya. Mungkin sekali untuk menghukum kita agar tidak tamak uang, Tuhan menghajar dan menghukum kita dengan membuat kita bangkrut. Ketika Tuhan menghukum kita demikian, introspeksilah diri kita apakah kita telah berbuat dosa yang menyakitkan hati-Nya dengan mengilahkan uang/harta kita (mamon)? Jika ya, segeralah bertobat dan kembali kepada-Nya, serta tidak tamak akan uang, tetapi beriman total kepada Tuhan.

b. Berita penghukuman kekal bagi manusia yang bukan termasuk umat pilihan-Nya.
Berita penghukuman kedua adalah penghukuman kekal yang diterima bagi mereka yang bukan termasuk umat pilihan-Nya. Kekristenan postmodern berusaha menghapuskan ajaran predestinasi ini dengan dasar bahwa Tuhan memilih semua orang untuk diselamatkan. Tidak. Alkitab mengajar bahwa Allah memilih beberapa orang untuk diselamatkan dan secara otomatis, membuang sisanya (bdk. Rm. 8:29-30; Ef. 1; 1Ptr. 1:2). Kepada mereka yang tidak dipilih, Tuhan memberitakan penghukuman kekal bagi mereka. Di dalam Perjanjian Lama, Ia menghanguskan bangsa kafir (non-Israel) karena ketidaktaatan mereka kepada Tuhan. Di dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus memberitakan penghukuman kepada para penyesat. Hal ini tercantum di dalam Mat. 18:6-9, “Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut. Celakalah dunia dengan segala penyesatannya: memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. Jika tanganmu atau kakimu menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung atau timpang dari pada dengan utuh kedua tangan dan kedua kakimu dicampakkan ke dalam api kekal. Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan bermata satu dari pada dicampakkan ke dalam api neraka dengan bermata dua.” Ia tidak segan-segan menghajar siapa pun yang tidak mau bertobat bahkan menyesatkan. Kristus juga memberitakan berita penghukuman bagi mereka yang menolak-Nya (Yoh. 3:18b), setelah Ia memberitakan anugerah hidup kekal bagi mereka yang percaya (Yoh. 3:16b, 18a). Kepada jemaat di Pergamus, Tuhan Yesus berfirman, “Sebab itu bertobatlah! Jika tidak demikian, Aku akan segera datang kepadamu dan Aku akan memerangi mereka dengan pedang yang di mulut-Ku ini.” (Why. 2:16) Penghukuman ini dialamatkan kepada jemaat Pergamus yang menganut ajaran Bileam (ay. 14). Penghukuman serupa juga dialamatkan kepada jemaat di Tiatira yang menganut ajaran Izebel (Why. 2:20) yang menipu jemaat untuk berzinah baik jasmani maupun rohani yaitu, “Lihatlah, Aku akan melemparkan dia ke atas ranjang orang sakit dan mereka yang berbuat zinah dengan dia akan Kulemparkan ke dalam kesukaran besar, jika mereka tidak bertobat dari perbuatan-perbuatan perempuan itu.” (ay. 22) Tuhan tidak pernah bermain-main dengan dosa manusia khususnya yang bukan umat pilihan-Nya. Selain berita anugerah, kita juga dituntut memberitakan berita penghukuman, meskipun orang (Kristen) postmodern tidak suka mendengarkannya. Lalu, apa makna berita penghukuman kekal ini diberitakan di dalam khotbah? Ada dua, yaitu: pertama, agar manusia dunia sadar bahwa dosa bukanlah sesuatu yang bisa dipermainkan. Setiap dosa yang keji harus menerima hukuman yang berat. Kedua, agar umat Tuhan juga sadar adanya realita pembeda yaitu anak-anak Tuhan sejati di dalam gereja vs anak-anak setan yang masih indekos di dalam gereja Tuhan. Jangan pernah mempermainkan Allah, “Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan.” (Ibr. 12:29)

Bagian 2: Khotbah dan Signifikansinya

II. KHOTBAH DAN SIGNIFIKANSINYA
Khotbah adalah salah satu bentuk/acara liturgi di dalam semua gereja Kristen (Protestan dan Katolik). Bukan hanya digunakan di dalam gereja, di zaman para nabi di Perjanjian Lama, Tuhan Yesus, para rasul di Perjanjian Baru, para bapa gereja, dan para reformator, semua berkhotbah. Tetapi sayangnya di zaman postmodern, orang Kristen sudah menyepelekan signifikansi khotbah. Khotbah bagi banyak orang Kristen postmodern adalah khotbah yang tidak berarti apa-apa. Tidak heran, ketika khotbah mimbar disampaikan oleh pengkhotbah, banyak orang Kristen sendiri tidak menghargainya, misalnya dengan mengetik SMS, menerima panggilan HP, mengobrol, bersenda gurau, dll. Mereka memperlakukan khotbah seperti menonton film di bioskop, terserah mau didengarkan/disimak atau tidak. Akibatnya, orang Kristen seperti ini tidak memiliki pertumbuhan iman, karakter, dan nilai hidup, sehingga meskipun mereka menyebut diri “Kristen”, iman, karakter, nilai hidup mereka tidak ada bedanya dengan orang-orang dunia yang berpusat pada manusia (antroposentris), misalnya mengukur segala sesuatu dari segi manfaat --> untung atau rugi (utilitarianisme), materi (materialisme), kesenangan (hedonisme), dll. Tidak heran juga, orang “Kristen” seperti ini tidak akan merasa bersalah, jika mereka membaca dan meng“iman”i buku-buku/ajaran-ajaran yang antroposentris, seperti buku Rich Dad, Poor Dad dari Robert T. Kiyosaki, buku The Secret, ajaran-ajaran psikologi humanis atheis dari para motivator seperti: “Success is My Right”, “Poor is Sin”, “Dahsyat!”, dll. Sudah saatnya, orang Kristen di zaman ini bertobat! Pertobatan itu dimulai dari pertama-tama memiliki hati dan pikiran yang ditundukkan di bawah Firman Tuhan (Alkitab) yang kesemuanya itu dikerjakan terlebih dahulu oleh Roh Kudus. Kedua, hati dan pikiran tersebut juga harus terbuka pada setiap khotbah yang berdasarkan Firman Tuhan yang ditafsirkan secara ketat. Lalu, apa signifikansi khotbah yang berdasarkan Firman Tuhan tersebut?
A. Khotbah Sebagai Sarana Untuk Mengajar Iman Kristen/Doktrin
Pertama-tama, khotbah dimaksudkan bukan sebagai sarana menghibur jemaat (entertainment), tetapi khotbah itu sebagai sarana untuk mengajar iman Kristen/doktrin. Pdt. Erastus Sabdono, M.Th. (gembala sidang GBI Rehobot, Jakarta) di dalam salah satu khotbahnya mengatakan bahwa gereja adalah sekolah Alkitab. Berarti, khotbah mimbar di gereja juga sebagai sebuah studi Alkitab dan doktrin. Mengapa khotbah sebagai sarana untuk mengajar doktrin? Karena khotbah yang mengajar doktrin iman Kristen adalah khotbah yang berisi sesuatu yang terpenting yang harus dipegang di dalam iman dan kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, doktrin iman Kristen adalah doktrin/ajaran yang paling penting yang membentuk iman, karakter, dan kehidupan sehari-hari kita sebagai umat-Nya di dunia ini. Ketika khotbah tidak lagi mengajar doktrin, maka dapat dipastikan banyak orang “Kristen” meskipun menyebut diri “Kristen”, tetapi sebenarnya atheis praktis, materialis, hedonis, dan pragmatis. Mereka berani mengaku di depan umum sebagai seorang “Kristen” bahkan “melayani Tuhan”, tetapi mereka lah justru yang melarang nama Tuhan dan theologi dipakai di dalam ilmu sebagai pengejawantahan integrasi iman dan ilmu. Pertanyaan lebih lanjut, apakah berarti khotbah yang sudah mengajar doktrin secara bertanggungjawab pasti mengakibatkan semua jemaatnya beriman beres? Belum tentu juga, karena perubahan iman, karakter, dan kehidupan jemaat bergantung mutlak pada kuasa Roh Kudus yang menguduskan seseorang. Meskipun tidak semua jemaat tersebut beriman beres, gereja tetap perlu mengajar doktrin, karena Alkitab mengajar hal tersebut (baca lagi: 2Tim. 4:1-2). Bagi para pengkhotbah sendiri, sebelum mereka berkhotbah di atas mimbar dengan mengajar doktrin, hendaklah mereka menguji apa yang hendak mereka ajarkan, supaya apa yang mereka ajarkan tidak menyesatkan jemaat. Hal ini pun diajarkan Alkitab. Paulus memperingatkan anak rohaninya, Timotius, “Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.” (1Tim. 4:16)


B. Khotbah Sebagai Sarana Untuk Menguatkan Iman Orang Kristen
Kedua, khotbah bukan hanya sebagai sarana mengajar doktrin, khotbah juga sebagai sarana untuk menguatkan iman orang Kristen. Artinya, khotbah itu harus menyampaikan berita/pesan Firman Tuhan yang menguatkan iman orang Kristen ketika mereka menghadapi masalah, kesulitan, sakit penyakit, dll. Dengan kata lain, khotbah bukan hanya memenuhi pikiran saja dengan doktrin, tetapi juga berimplikasi di dalam kehidupan sehari-hari. Di dalam Alkitab, Paulus adalah seorang pengkhotbah yang berkhotbah dengan mengajar doktrin iman Kristen yang penting sambil menguatkan iman jemaat Kristen yang dia layani. Kepada jemaat di Roma, Paulus bukan hanya mengajar doktrin (Rm. 1-11), tetapi juga menguatkan iman jemaat Roma, salah satunya nasihat/khotbah agar jemaat Roma saling menguatkan (Rm. 15). Hal yang sama juga terjadi pada Timotius sebagai anak rohani Paulus. Di dalam 2Tim. 1:12, Paulus menyampaikan khotbah/nasihatnya kepada Timotius tentang apa yang harus Timotius lakukan ketika berada di dalam penderitaan, “Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.” (2Tim. 1:12) Bagaimana dengan Anda yang melayani sebagai seorang pengkhotbah? Apakah Anda berkhotbah dengan mengandalkan semua bahan akademis yang Anda pelajari di sekolah theologi saja? Ataukah Anda hari ini berkomitmen menyeimbangkan antara mengajar doktrin dan menguatkan iman orang Kristen di tengah berbagai pergumulan hidup mereka?


C. Khotbah Sebagai Sarana Untuk Mendidik Karakter dan Kehidupan Kristen
Selain untuk mengajar doktrin dan menguatkan iman orang Kristen, khotbah juga sebagai sarana untuk mendidik dan membangun karakter dan kehidupan Kristen. Selain iman dibangun dan dikuatkan, orang Kristen juga perlu memiliki karakter dan kehidupan Kristen yang terintegrasi yang memuliakan Tuhan. Untuk itulah, khotbah mimbar seharusnya sebagai sarana mendidik jemaat Tuhan dengan karakter, moral/etika, perkataan, pikiran, dan perbuatan yang memuliakan Tuhan. Artinya, sang pengkhotbah harus memberitakan teguran bagi mereka/jemaat yang hidup tidak beres, misalnya selingkuh, mencuri, dll. Teguran-teguran seperti itu dimaksudkan agar jemaat tersebut dan jemaat lain memiliki karakter, etika, perkataan, dan perbuatan yang berpusat kepada Kristus dan memuliakan Tuhan. Sebelum menegur jemaat, sang pengkhotbah sendiri harus memiliki ia memiliki karakter, motivasi, moral/etika, perkataan, pikiran, dan perbuatan yang beres terlebih dahulu, sehingga apa yang disampaikannya memiliki kuasa mengubah jemaat.

Bagian 1: Signifikansi Memberitakan Firman

BERITAKAN FIRMAN:
Bagaimana Berkhotbah Dengan Bertanggungjawab?


oleh: Denny Teguh Sutandio



“Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.”
(2Tim. 4:2)



I. SIGNIFIKANSI MEMBERITAKAN FIRMAN
Peringatan Rasul Paulus kepada anak rohaninya, Timotius di dalam nats ini adalah agar Timotius memberitakan Firman (Preach the word), bersiap sedia/bersiaga di dalam setiap waktu/situsiasi dan kondisi (sitkon), menyatakan apa yang salah, menegur, dan menasihati dengan segala kesabaran dan pengajaran (longsuffering and teaching). Mengapa Paulus memerintahkan Timotius untuk memberitakan Firman? Di ayat 3-4, Paulus memberi tahu alasannya, “Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.” Alasannya cukup jelas, yaitu di masa hidup mereka berdua telah ada bibit penyesatan yang akan bertumbuh makin besar, siapakah mereka? Mereka adalah orang-orang yang tidak mau lagi menerima (atau bisa diterjemahkan tahan terhadap) ajaran yang benar/sehat, lalu mereka mengumpulkan guru-guru menurut kehendak mereka untuk memuaskan telinga mereka yang gatal (itching ears). Selain itu, mereka makin menjadi-jadi, mereka sengaja memalingkan (turn away) telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng (fables).

Bukan hanya di zaman Paulus dan Timotius, di zaman postmodern, kita menghadapi realita yang tidak jauh berbeda, bahkan lebih parah. Di zaman postmodern, orang cuek dengan kebenaran. Gejala cuek-isme ini ditandai dengan gejala orang-orang postmodern yang sengaja memalingkan telinga mereka dari mempelajari Kebenaran, tidak sedikit orang Kristen termasuk di dalamnya. Sebaliknya, mereka lebih suka mendengarkan sesuatu yang menyenangkan telinga: yang lucu, penuh kesaksian, pengalaman, dll. Tidak heran, kepercayaan manusia zaman postmodern adalah kepercayaan yang kerdil, termasuk orang Kristen. Banyak orang Kristen di zaman postmodern adalah orang Kristen yang beriman kekanak-kanakan (childish faith). Apa itu beriman kekanak-kanakan? Artinya, mereka tidak pernah bertumbuh imannya di dalam pengertian akan Firman. Ketidaktumbuhan iman tersebut ditandai dengan malasnya mereka menggali kekayaan Firman, belajar theologi dengan membaca buku, dll. Selain itu, ketidaktumbuhan iman juga ditandai dengan ketidaksiapan mereka ketika mereka harus menghadapi penderitaan dan penganiayaan di dalam mengikut Kristus, karena mereka telah diajar bahwa mengikut Kristus pasti kaya, sukses, lancar, sehat, bahkan tidak pernah digigit nyamuk. Kedua gejala inilah yang dikritik oleh penulis Surat Ibrani, “Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras. Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil.” (Ibr. 5:12-13) Kata “kamu” di sini menunjuk kepada orang Kristen Yahudi (bdk. NIV Spirit of the Reformation Study Bible, hlm. 1978) yang telah mendengar Injil dari para rasul, tetapi tetap tidak mau (lebih tepatnya: malas) mengerti juga. Oleh karena itu, penulis Ibrani menegur mereka yang memiliki iman kekanak-kanakan yang tidak mengerti keagungan Kristus (baca konteks di dalam Ibr. 1-5:10; 6:1).

Dengan alasan dan kondisi seperti ini, Paulus mengingatkan Timotius untuk memberitakan Firman. Pemberitaan Firman ditekankan sungguh-sungguh oleh Paulus kepada Timotius. Di dalam 2Tim. 4:1, Paulus berkata, “Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu demi penyataan-Nya dan demi Kerajaan-Nya:” Ini berarti Paulus tidak sedang bermain-main ketika memerintahkan Timotius untuk memberitakan Firman. Pemberitaan Firman adalah hal yang serius. Keseriusan pemberitaan Firman Tuhan ini ditandai dengan mengaitkannya pada otoritas Allah (perhatikan kata-kata: Allah, Tuhan Yesus, dan -Nya). Seseorang yang memberitakan Firman adalah seorang yang mengkhotbah apa yang difirmankan-Nya demi memperluas Kerajaan-Nya. Tetapi sayangnya di zaman postmodern, pemberitaan Firman bukan lagi hal yang serius. Pemberitaan Firman tidak lagi mengkhotbahkan Firman Tuhan (Alkitab), tetapi lebih mengkhotbahkan hal-hal fenomenal, seperti kesaksian, lelucon, dll. Kesaksian, lelucon, dll tidaklah salah, tetapi jika itu yang ditekankan, maka itu bukanlah pemberitaan Firman. Oleh karena itulah, marilah kita memikirkan bersama-sama panggilan memberitakan Firman khususnya di dalam berkhotbah.