11 March 2007

FINALITAS KARYA YESUS SEBAGAI TUHAN DAN JURUSELAMAT (Pdt. Tumpal H. Hutahaean)

FINALITAS KARYA YESUS SEBAGAI TUHAN DAN JURUSELAMAT
Tinjauan Kritis terhadap “Teologi” Religionum

oleh : Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.A.



BAB I : PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pembahasan
Keberadaan agama-agama dan kerukunannya ditengah-tengah kemajemukan dan keunikan agama, sangat didukung oleh undang-undang dan kesadaran akan perlunya toleransi. Keberadaan toleransi antar umat beragama di Indonesia sangat tumbuh subur di Indonesia.
Namun tanpa disadari metode tolerasi (dialog lintas agama) yang dikembangkan oleh Gereja di Indonesia secara khusus dan dunia secara umum telah merubah arti dan hakekat dari iman Kristen itu sendiri. Metode dialog antar umat beragama yang pada mulanya hanya sekedar wadah persekutuan dan sebagai ekspresi saling menghargai dan menghormati. Dalam perkembangannya berubah menjadi usaha dari masing-masing agama dan antar umat beragama yang lainnya untuk saling mempelajari kesamaan-kesamaan kebenaran yang mereka anut, sampai taraf dimana mereka dapat saling menerima keabsahan dan kebenaran semua agama (Pluralisme Agama).[1] Dan dalam perkembangannya gerakan ini yaitu “Pluralisme Agama” akhirnya melahirkan suatu teologi yang mereka sebut sebagai “Teologi Religionum”.
Jika gerakan “Pluralisme Agama” hanya sekedar menerima dan mengakui ada kebenaran-kebenaran dalam semua agama-agama, tanpa membuang keunikan kebenaran agama-agama yang mereka percayai. Tetapi lain dengan “Teologi Religionum”, gerakan teologi ini lebih maju lagi, yaitu mau menggabungkan semua kebenaran-kebenaran yang ada di dalam agama-agama dan menolak semua kemutlakan yang ada di dalam agama-agama, yang dapat menjadi benteng pemisah di antara mereka. Dalam hal ini termasuk juga “Finalitas Karya Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat” di dalam kekristenan. Dengan kata lain mereka menolak semua klaim agama yang bersifat ekslusif, absolute, unik dan final. Karena bagi mereka semua kebenaran dalam agama dan tentang agama itu adalah “relative”. Semboyan dari gerakan “Teologi Religionum” yang sering mereka kumandangkan adalah “Deep down, all religions are the same – different paths leading to the same goal”.[2]
Jadi gerakan pluralisme agama[3] dan Teologi Religionum ini adalah suatu gerakan yang sangat berbahaya di dalam menghancurkan identitas iman Kristen dan juga menjadi tantangan bagi iman Kristen. Teologi Religionum ini bukanlah sekedar suatu konsep sosiologis, antropologis, melainkan konsep filsafat agama yang bukan bertolak dari Alkitab, melainkan dari fakta kemajemukan yang diikuti oleh tuntutan toleransi dan di dukung oleh keberadaan social-politik yang mendukung kemajemukan etnis, budaya dan agama, serta disponsori oleh semangat globalisasi, filsafat relativisme dan filsafat postmodernisme.

B. Batasan Pembahasan Seminar
Di dalam seminar hari ini pembahasannya hanya memfokuskan pada “Finalitas Karya Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat” yang ditolak oleh “Teologi Religionum”. Karena mengingat seminar kita ini waktunya sangat pendek, & pembahasan teologi religionum” sendiri itu sangat luas isinya. Maka kita harus mempersempit pengulasannya pada pandangan teologi religionum dalam dunia kekristenan yang menolak “Keunikan Yesus Kristus”, yang menjadi inti pengajaran “Teologi Religionum” di dalam kekristenan.
Walaupun kita memfokuskan pembahasannya pada “Keunikan Yesus Kristus”. Hal ini bukan berarti kita tidak akan menyinggung bidang-bidang yang lain dari “Teologi Religionum”, misalnya pandangan mereka tentang Alkitab, Manusia & Dosa, Hermeneutika.
Besar harapan saya para peserta seminar ditempat ini dapat mengembangkan studi kritis tentang teologi religionum di depan demi kemuliaan Kristus, sehingga kita tidak membiarkan virus ajaran ini masuk gereja.


BAB II : LATAR BELAKANG & SEJARAH BANGKITNYA TEOLOGI RELIGIONUM

A. Pengertian Kata: Pluralitas, Pluralisme dan Teologi Religionum.

Kata “Plural” berasal dari kata bahasa Inggris yang artinya “jamak” dan ketika kata ini ditambah akhirannya menjadi “Pluralitas” ini berarti “kemajemukan”. Dan jika akhir dari kata “plural” ini ditambah dengan kata “isme” ini berarti ada ajaran-ajaran/isme-isme di dalam kemajemukan agama. Jadi arti “Pluralisme Agama” adalah gerakan yang berupaya untuk mempersatukan agama-agama agar kebenaran-kebenaran yang beragam dapat saling mengisi dan melengkapi. Jadi dengan kata lain mereka saling membuka diri untuk saling dapat menerima semua keberadaan agama-agama yang lainnya, dengan tidak membicarakan atau mempertajam keberbedaan pengajaran mereka masing-masing.
Kata “Teologi” berasal dari Yunani “Theos” dan “Logos”. Kata Theos artinya Allah, dan kata logos sendiri artinya Firman/Kebenaran yang dinyatakan.[4] Jadi “Teologi“ artinya suatu peryataan atau interprestasi kebenaran tentang Allah. Jadi “Theology is taught by God, teaches of God, and leads to God.“[5] Sedangkan kata “Religionum“ berasal dari bahasa Inggris “Religions“ yang artinya agama-agama. Jadi pada waktu kata ini digabung menjadi teologi religionum (Theology of Religions) secara umum pengertian ini oke-oke saja. Tetapi secara khusus saya tidak setuju karena jika ke dua kata ini dilihat dari iman Kristen, ini tidak mungkin dapat digabung, mari kita ulas. Pengertian teologi secara umum dimengerti sebagai bentuk studi tentang Tuhan (Atribut-atribut-Nya dan sifat-sifat-Nya) yang telah Ia nyatakan melalui Alkitab sebagai wahyu khusus. Jika istilah kata “teologi“ digabung dengan kata “religionum“ menjadi “teologi religionum“ ini artinya kita mengakui adanya Tuhan yang benar di dalam agama-agama yang lain, di luar kekristenan. Jika demikian arti teologi religionum adalah suatu gerakan yang berupaya untuk mempersatukan agama-agama yang ada dengan spirit menolak semua klaim agama yang bersifat ekslusif, absolute, unik dan final. Mereka memiliki cita-cita untuk melahirkan suatu konsep agama yang baru dan agama ini saya sebut sebagai agama bersama (Together Religion).
Saya percaya gerakan ini tidak akan berhasil karena teologi religionum adalah filsafat agama yang dilahirkan oleh orang-orang yang mengaku beragama, tetapi pada dasarnya mereka tidak menghormati keunikan agama mereka sendiri. Gerakan ini akan gagal karena tidak ada dasar Alkitab yang mendukungnya dan sudah pasti Allah tidak akan turut campur.
Sebagai kesimpulan, jadi gerakan “teologi religionum” di dalam kekristenan adalah suatu gerakan yang berupaya untuk membuang dan menolak “Finalitas Karya Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat satu-satunya”. Teologi Religionum memakai pendekatan “The Christology from Below“ yaitu suatu teologi yang dibangun dari bawah ke atas. Teologi seperti ini lebih mementingkan kontekstual dari pada teks dan juga mementing teologi fungsional daripada ontological. [6]
Teologi dari bawah ke atas ini sangat disenangi dikalangan mereka. Seperti juga yang ditekankan oleh Th. Sumartana, bahwa yang diperlukan bukan hanya sekedar Kritologi agama-agama, Inklusif, lebih dalam lagi kita memerlukan teologi religionum.[7]

B. Sejarah Pluralisme di dalam Alkitab
1. Perjanjian Lama
Ketika Tuhan memanggil Abraham sebagai Bapa orang Israel untuk keluar dari Urkasdim. Panggilan Tuhan ini disertai dengan penyataan khusus (Special Revelation) dari Allah. Panggilan khusus inilah yang menjadi asal-muasal agama orang Israel, yaitu agama yang lahir dari atas (Tuhan) ke bawah (manusia). Sedangkan agama-agama lain di luar Israel adalah agama-agama yang lahir dari manusia sebagai ekspresi terhadap wahyu umum (General Revelation).
Ketika dua sumber agama ini hadir di PL, berarti pada saat itu sudah ada persoalan dalam kemajemukan agama yaitu agama penyataan khusus dan agama penyataan umum. Dimana agama penyataan umum berusaha untuk membuang keunikan iman bangsa Israel, supaya dapat beribadah dengan agama mereka yang menyembah berhala-berhala. Sebagai contoh ketika raja Israel yaitu Ahab menikah dengan Izebel anak raja Tirus, maka akhirnya raja Ahab dipengaruhi istrinya untuk menyembah Baal dari Tirus, agar dijadikan sebagai resmi di Israel. Tetapi upaya Izebel ini di lawan oleh nabi Elia (1 Raja 18) dengan cara menantang para nabi-nabi palsu mereka. Dan Elia pada saat itu membuktikan bahwa Allah Yahweh adalah Allah yang sejati yang layak untuk disembah dan bukan berhala-berhala (Kel 20:2-5). Jadi di PL Allah sangat mengecam dan tidak kompromi dengan kegiatan-kegiatan ibadah dari ilah-ilah asing untuk masuk dalam komunitas umat-Nya (dengan sikap Eksklusif).
Allah memang mengajarkan umat-Nya agar memiliki sikap yang eksklusif terhadap agama-agama asing yang tidak mempercayai Allah Yahweh atau Allah yang esa (Ul 6:4). Agama-agama asing yang ada pada saat itu sangatlah tidak cukup untuk mengerti wahyu umum karena sifatnya mereka hanya dapat berespon terhadap wahyu umum. Oleh karena itu mereka sangat membutuhkan “penerangan dari kepercayaan bangsa Israel“ dan penerangan itu di dapat hanya melalui pengenalan terhadap Allah Yahweh, sebagai agama resmi bangsa Israel pada saat itu.[8]

2. Perjanjian Baru
Kemajemukan agama di dalam era Perjanjian Baru sangat nampak terjadi. Hal ini nyata dengan adanya agama-agama rakyat yang tersebar di berbagai tempat pada era pemerintahan kaisar Romawi (Pantheon Greko Romawi).[9] Mereka pada saat itu menyembah kepada “Realitas Ilahi“ yang tidak berpribadi, namun ada dan diam di alam semesta dan diri manusia (Pantheisme & dualisme), misalnya kepada dewi Diana di Korintus, dewi Isis dan Osiris di Mesir, para Baal di Siria, dewa Mitras di Persia dan dewi Kybele di Asia kecil. Hal ditambah lagi dengan agama rakyat Yunani yang percaya pada Jupiter (Zeus), Juno (Hera), Neptune (Posedon), Marcury (Hermes).
Selain berhadapan dengan kemajemukan agama pada saat itu. Gereja mula-mula juga berhadapan dengan kemajemukan iman yang pada saat itu ada, yaitu: penyembahan kepada Kaisar, Agama Yudaisme dan Filsafat Helenistik.[10] Penyembahan kepada kaisar pada saat itu bersifat mutlak dan tidak dapat di tawar-tawar lagi. Mereka percaya bahwa kaisar merupakan titisan dewa yang memiliki kuasa ilahi karena berasal dari dunia metafisik. Penyembahan kepada kaisar ini juga merupakan ekspresi kesetiaan rakyat kepada kaisar. Oleh karena jika para pengikut Kristus pada saat menolak untuk menyembah Kaisar dan tetap mempertahankan imannya kepada Yesus, mesti resikonya mengalami penganiayaan dan hukuman mati (band. Kol 2:18-19). Mereka tetap setia kepada Kristus dan tetap bersikap Ekslusifitas.
Sikap gereja saat menghadapi kemajemukan agama pada saat itu tetap eksklusif. Pengikut Kristus pada saat itu disebut sebagai “Kristen”. Kata ini saja sudah menjelaskan sikap yang eksklusif dan special (Kis 11:26, 26:28 & I Pet 4:16). Sebutan kata “Kristen” ini sering dipakai oleh mereka yang tidak percaya kepada Kristus sebagai bentuk kata pengejekan. Walaupun demikian orang-orang Kristen pada saat itu tetap bangga dengan kepercayaannya kepada Kristus dan menolak agama-agama lain di luar Kristus. Walaupun orang-orang Kristen pada saat itu bersikap eksklusif bukan berarti mereka tidak bergaul dengan mereka (Yudaisme dan Helenistik, dll). Sebagai contoh, ketika Barnabas dan Paulus berhadapan dengan agama-agama lain, yang memuja dewa Zeus dan Hermes. Mereka menghadapinya dengan sopan, arif dan menghargai. Maksudnya tidak ada sikap untuk menghakimi kepercayaan mereka itu. (KPR 14). Jemaat di Korintus juga hidup berdampingan dengan agama-agama lain (1 Kor 8-11).
Contoh yang lainnya adalah tentang latar belakang dari penulis Injil Matius yang mengalamatkan Injilnya pada orang-orang Kristen Yahudi, dengan tidak mengambil pengajaran Yudaisme. Demikian juga dengan penulis Injil Lukas dan Injil Yohanes, yang mengalamatkan suratnya kepada orang Kristen Yunani. Baik Lukas dan Yohanes tidak memakai pemikiran Helenistik di dalam tulisannya, kecuali penggunaan istilah. Sikap para penulis Injil menunjukkan kepada kita bahwa sikap eksklusif sangat Alkitabiah.

C. Di dalam Sejarah
1. Clement & Origenes (Universalisme)
Clement (150-215) berpendapat bahwa “pengenalan akan Allah bagi orang Yahudi adalah melalui “Torat”, sedangkan bagi orang Yunani adalah melalui filsafat inspirasi “Logos”.
Origenes juga berpendapat bahwa “pada akhirnya, semua mahluk akan diselamatkan, termasuk setan.”[11] Pandangan mereka ini mempunyai dampak sampai abad pertengahan.

2. Renaisance (abad ke-14 akhir) & Enlightenment (abad ke-18)
Johann Wilhelm Peterson (1649-1717) & Ernest Christoph Hockmann (1670-1721). Ke dua tokoh ini mengajarkan mengenai konsep pemulihan akhir dari jiwa-jiwa kepada Allah. Pengajaran mereka ini sampai membangkitkan “Universalisme” di Amerika.

3. Friedric Schleiermacher (1768-1834)
Pengaruh konsep universalisme sangat mempengaruhi pemikiran Friedric S dan tokoh ini sering disebut sebagai bapak Teologi Liberal karena konsep-konsep pemikirannya yang radikal. Ia berani mengkritik Alkitab, bahkan menghasilkan suatu konsep yang menyatakan bahwa Alkitab bukanlah Firman Tuhan, tulisan Injil-injil bukanlah laporan tentang Yesus yang histories, melainkan Yesus yang di percayai (diimani). Maksudnya para penulis Injil tidak menulis Yesus yang sesungguhnya, yaitu Yesus yang histories yang sungguh-sungguh pernah ada. Jadi bagi Schleirmacher para penulis Injil hanya menulis Yesus berdasarkan apa yang mereka tangkap dengan iman dan apa yang ada di dalam pikiran mereka. Bahkan ia percaya ada unsure rekaan dari para penulis Injil. Karena ada jurang pemisah antara waktu Yesus hidup dengan waktu penulisan Injil itu sendiri. Oleh karena itu bagi Schleirmacher setiap para penafsir Alkitab harus menyingkirkan mitos-mitos, khususnya yang berkenaan dengan peristiwa-peristiwa mujijat yang tidak rasional seperti apa yang dilakukan oleh Yesus dan karya-karya-Nya.
Konsep Schleirmacher yang mendukung teologi religionum adalah:
a. Ia menerima konsep universalisme dengan mutlak. Ia percaya bahwa keselamatan diberikan Allah bagi semua orang, termasuk agama-agama lain.[12]
b. Ia menolak konsep “Predestinasi”. Ia menolak konsep bahwa keselamatan melalui penebusan Kristus adalah satu-satu jalan. Ia percaya bahwa hal itu hanya salah satu jalan di dalam kekristenan dan agama lain juga mempunyai jalan keselamatan.
c. Ia hanya menekan konsep “Kasih & Kemurahan Allah“ saja. Bagi konsep Liberal, Allah tidak akan menyediakan dan mengirim seorang pun untuk dihukum dalam hukuman kekal, karena jika hal ini terjadi bertentangan dengan sifat kasih Allah.

Pandangan Schleirmacher ini sangat mendukung untuk berkembangnya teologi religionum di kalangan kekristenan, khususnya yang beraliran teologi Liberal. Yang dari mulanya menolak ke allahan Yesus, yang sungguh-sungguh Allah (100%).

4. Konsili Vatikan II (1962-1965)
Melalui konsili ini sikap katholik yang tadinya eksklusif berubah menjadi inklusif. Mereka memutuskan bahwa “Kebenaran bukan hanya milik orang Kristen saja.“ Keputusan konsili ini menjadi pijakan baru di dalam menjawab tuntutan dalam hidup bersama dengan agama-agama lain. Konsili melahirkan konsep demikian:
“Mereka (agama-agama lain) juga dapat memperoleh keselamatan yang kekal, yang bukan karena kesalahannya sendiri tidak mengenal Injil Kristen atau gerejanya, namun toh dengan tulus ikhlas mencari Allah dan tergerak oleh anugerah, berupaya dengan perbuatan-perbuatan mereka melakukan kehendak-Nya sebagaimana diketahui melalui hati nuraninya.“[13]

Konsep VatiKan II ini telah mempengaruhi para teolog-teolog modern katholik hingga pada saat ini, seperti:
a. Karl Rahner
Di dalam bukunya “Christianity and Non Christian Religions,“[14] Ia mengatakan sesungguhnya setiap manusia terbuka terhadap pengaruh rahmat ilahi yang adi-kodrati. Orang-orang dapat diselamatkan karena kasih karunia Kristus, sekalipun tanpa disadari oleh mereka. Ia dulu bersikap eksklusif, tetapi akhirnya berubah oleh karena pengalaman-pengalaman spritualitas dan pengamatannya terhadap perkembangan agama-agama yang ada. Sikap inklusifnya dibangun berdasarkan konsep “Anonymous Christian“ yang artinya bahwa sesungguhnya orang-orang dapat memperoleh keselamatan sekalipun ia tidak memeluk agama Kristen. Mereka-mereka inilah yang disebut Kristen tanpa nama atau tanpa agama Kristen. Yang penting mereka menjalankan agamanya dan bermoral.

b. Paul F. Knitter
Di dalam bukunya “No Other Name“[15] ia mengatakan bahwa tidak ada klaim yang eksklusif yang menjadi milik inti ajaran Kristen. Ia menekankan sikap inklusif dari gereja katholik di dalam bersikap dengan agama-agama lain. Dengan kata lain Knitter mengatakan bahwa ada juga kebenaran tentang keselamatan di luar iman Kristen. Karena Allah ada juga di dalam agama-agama lain di luar kekristenan. Judul buku yang diberikan oleh Knitter ini bermaksud untuk mengejek kaum eksklusif yang percaya tidak ada nama lain yang menyelamatkan selain nama Kristus. Knitter justru melalui tulisannya memaparkan justru ada nama yang lain (the other) yang dapat menyelamat umat manusia yang ada di agama-agama lain. Konsep Knitter ini telah meracuni juga pemikir teologi religionum di Indonesia yang Emanuel G. Singgih. Singgih mengusulkan untuk membangun sebuah gambaran teologis mengenai “the other”, yang dimaksud “the other” ini adalah agama-agama lain.[16] Walaupun ia menyebut teologis yang dapat dipertangung jawabkan secara Alkitabiah dan kontekstual. Tetap ia lebih mengutamakan konteks dari pada teks Alkitab itu sendiri. Jadi istilah teologis yang dimaksud oleh Kitter dan Singgih adalah teologi kompromi.

c. Hans Kung
Walaupun Hans Kung tidak menjadi teolog di Vatican lagi, namun ajarannya sudah mempengaruhi pemikir-pemikir Katholik dan juga beberapa dari kalangan Protestan. Di dalam bukunya “Christianity and The World Religions“[17] dan “Theology of Third Millenium”[18] . Khususnya pembahasannya tentang sikap misi gereja yang kontekstual. Ia menyarankan bersikap inklusif. Dengan asumsi dasar pertanya tentang “What is True Religion Towards an Ecumenical Criteriology“.[19] Ia mengemukakan ada 4 sikap di observasinya terhadap agama-agama lain.
1. Sikap Ateistik.
Sikap ini berpendapat bahwa semua agama yang ada sama-sama tidak benar. Tokoh dari sikap ini adalah Friedrich Nietzsche, yang berpendapat bahwa tidak ada agama yang benar. Argumen ini diperkuat lagi dengan filsafat agamanya yang mengatakan bahwa “Allah sudah mati”. Ia menyatakan bahwa agama-agama adalah sia-sia dan tidak berguna bagi orang yang bebas dan yang telah maju. Bagi Nietzsche, Allah adalah sesuatu yang keberadaannya tidak dapat dibuktikan secara ilmiah dan empiris.[20]
2. Sikap Katholik Tradisional.
Sikap Katholik Tradisional ini lahir dari Konsili Latheran ke-4 (1215), yang mengatakan bahwa “hanya satu saja agama yang benar yaitu Katholik Roma dan keselamatan hanya ada di dalam gereja dan bukan di dalam Kristus”.
Sikap seperti ini dibangun agar setiap orang yang mau melakukan gerakan untuk mencoba memisahkan diri dari Roma Katholik dan mencoba untuk mengkritik kepausan dari gereja Roma. Diperingatkan akan mendapatkan kutuk dengan cap sebagai bidat dan tidak memperoleh keselamatan.
3. Sikap Relativistik.[21]
Sikap ini mengatakan bahwa semua agama adalah sama benar atau benar secara sama. Tidak ada agama yang tidak berasal dari dalamnya. Bagi orang-orang pluralis kontemporer, Allah sebagai Realitas Tertinggi dan mutlak, serta tidak terbagi-bagi adalah dasar bagi keberadaan agama-agama. Baik di dalam kekristenan maupun di dalam agama-agama lain sama sekali tidak ada keunikan di dalamnya. Agama-agama yang ada mempunyai keselamatannya sendiri dari dalam agama itu sendiri.
4. Sikap Inklusivistik.
Menurut pengertian Hans Kung “inklusif” adalah hanya ada satu agama yang benar dan semua agama mendapat bagian dari kebenaran agama yang satu itu. Sikap ini diperlukan dalam rangka membangun toleransi beragama, sehingga mengkompromikan juga suatu kebenaran agama. Pendukung pendapat ini adalah Raimundo Panikkar yang mengatakan bahwa agama-agama lain juga mempunyai kebenaran sebagian dan sebagai pendahuluan serta ikut dalam kebenaran yang universal, sehingga orang lain dari agama lain dapat diselamatkan. Dan orang-orang ini disebut sebagai “Orang Kristen Anonim.”

d. Raimundo Panikkar (Inclusive)
Di dalam bukunya “Dialog Intra Religions“[22] dan “The Unknown Christ of Hinduism, Asia Trading Corporation“[23] Panikkar percaya bahwa agama-agama lain juga mempunyai kebenaran sebagian dan sebagai pendahuluan serta ikut dalam kebenaran yang universal, mereka disebut sebagai “Anonymous Christian“. Ia percaya seorang dari agama Budha, Hindu, Islam adalah orang Kristen, walaupun mereka belum sempat datang secara aktual ke dalam kekristenan, namun mereka tetap akan diselamatkan karena kebenaran Kristen ada di dalam agama-agama mereka. Panikkar percaya bahwa penyataan Allah ada di dalam semua agama dan Yesus Kristus hanyalah salah satu penyataan Allah yang juga ada di dalam agama-agama lain, dimana menyadari ada realitas ilahi. Oleh karena itu bagi Panikkar Yesus bukan Tuhan dan Juruselamat yang Final dan satu-satunya.[24]

D. Sidang Raya Dewan Gereja-Gereja se-Dunia di Uppsala (1968)
Sidang ini berhasil merumuskan sikap teologis dari kalangan protestan terhadap agama-agama lain yang harus terbuka. Misalnya, aspek Perintah Amanat Agung (PI) dihilangkan di dalam tugas gereja dan diarahkan pada dialog lintas agama. Konsep keselamatan, diubah menjadi keselamatan manusia dari penderitaan di dunia, konsep berita Injil diubah menjadi “Social Gospel.“.[25]
Sidang di Uppsala ini menjadi benih awal, terbuka protestan terhadap agama-agama lain dan juga konsep teologis tentang misi dan hakekat gereja. Dan rumusan-rumusan Uppsala menjadi pemicu dan pendorong untuk teologi religionum berkembang di gereja-gereja di dunia dan juga di Indonesia.[26]

E. Kalangan Teolog Modern (Kontemporer)
1. John Hick (Pluralisme-Relativisme)
Hick adalah seorang dosen di “Claremont School of Theology, USA“. Sekolah ini sangat terkenal di Amerika sebagai sekolah yang Liberal. John Hick sangat dipengaruhi oleh pemikiran “Johann Wilhelm Peterson (1649-1717) & Ernest Christoph Hockmann (1670-1721)“ tentang “Universalisme“.
John Hick di dalam pendekatannya terhadap agama-agama lain lebih menekankan filsafat dan society dari pada pandangan Alkitab sendiri. Ia merupakan seorang pelopor utama pluralism yang merubah konsepnya tentang Allah dan lebih melihat Allah dari sifat kasih-Nya saja. Baginya penderitaan dan kejahatan dari dunia ini dapat dibenarkan jika Allah dapat membawa manusia kepada pemulihan akhir setiap pribadi manusia.[27]
Ia menolak pendekatan “Kristosentris“ terhadap agama-agama lain karena pendekatan ini tidak sesuai lagi dengan konteks pada jaman ini lagi. Ia mengusulkan pendekatan “Teosentris“ dimana Allah yang menjadi pusat dari agama-agama yang lain.[28] Hick dalam hal ini sangat dipengaruhi oleh konsep Karl Rahner dengan konsepnya “Anonymous Christian“. Oleh karena itu ia menolak peryataan bahwa Kristus adalah satu-satunya jalan, kebenaran dan hidup (Yoh 14:3).[29] Bagi Hick apa yang tercatat di dalam Injil mitos atau lagenda sifatnya termasuk juga tentang pribadi dan karya Yesus. Hick berani menyerukan agar untuk setiap orang Kristen untuk membuka diri untuk mencari pengertian yang baru tentang Yesus di dalam sejarah dan di dalam konteks sekarang.[30]

2. Choan-Seng Song (Pluralisme)
Ia adalah teolog dari Taiwan yang beraliran Pluralisme. Bagi Song “Semua sejarah adalah sejarah Allah dan sekaligus sejarah keselamatan dan tidak ada sejarah, bahkan sejarah Cina atau Vietnam yang berada di luar sejarah Allah. Sejarah ada di dalam Allah dan kembali kepada Allah.“[31] Song tidak percaya adanya “Wahyu Umum“ dan “Wahyu Khusus“, khususnya ia menolak adanya wahyu khusus di dalam dan melalui Yesus Kristus.
Bagi Song orang Kristen yang menyembah Yesus sebagai Allah yang hidup, mereka ini sedang hidup dalam penyembahan berhala. Bagi Song Yesus sendiri tidak memahami diri-Nya sebagai Allah dan Yesus justru memberitakan tentang Allah Bapa dan bukan diri-Nya sebagai Allah.[32]
Song berusaha juga untuk membuang konsep “Sentrisme“ yang sudah berakar dalam pemahaman doktrin Kristen, bahwa Yesus Tuhan dan Juruselamat.[33] Ia juga tidak percaya bahwa bahwa Israel, Yesus Kristus dan Gereja-Nya sebagai pusat sejarah keselamatan, yang dimulai dari penciptaan sampai penggenapan akhir.[34]
Song sangat dipengaruhi oleh sidang raya gereja-gereja se-dunia di Upsalla (1968) dan hal ini nyata melalui konsep-konsepnya. Song menekankan bahwa sejarah keselamatan bukan hanya menyangkut aspek keselamatan yang bersifat rohani saja, melainkan juga berkaitan dengan keselamatan manusia dari dehumanisasinya karena masalah sosial, politik dan ekonomi. Bagi Song semua sejarah umat manusia merupakan penyataan Allah.

F. Perkembangan Teologi Religionum di Indonesia
Keberadaan negara Indonesia yang memiliki keragaman (kemajemukan) budaya, suku, bahasa dan agama. Dan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia yang memayungi dan mengayomi secara hukum adanya keberagaman agama ini. Sangat mendorong di dalam perkembangan teologi religionum di Indonesia.
Berkembangnya teologi religionum di Indonesia juga sangat didukung oleh para pimpinan-pimpinan gereja yang sangat mendukung gerakan teologi ini. Sebagai contoh adalah surat Gembala “Majelis Sinode Am Gereja Protestan Di Indonesia“, point ke-3, yang mengatakan:
“Operasionalisasi dalam kemajemukan keagamaan berarti mengembangkan dan membudayakan paham pluralism sebagai sikap hidup yang menghormati dan menghargai agama dan keyakinan orang lain. Pluralisme tidak identik dengan Relativisme yang menganggap semua agama sama saja. Namun Pluralisme itu mengakui dan menghargai kebenaran yang terdapat di dalam semua agama. Pilihan terhadap agama manapun adalah bagian fundamental dari Hak Azasi Manusia. Bagi kita umat Kristen, Yesus Kristus adalah mutlak! Tetapi keyakinan ini tidak harus membuat kita menutup diri terhadap Kemahakuasaan TUHAN Allah yang dapat menempuh berbagai cara untuk menjumpai umat manusia yang diciptakan-Nya segambar dengan Dia. Dengan demikian mengakui dan menghargai kebenaran agama lain tidak berarti merelatifkan kebenaran penyataan Allah di dalam Yesus Kristus.”[35]
Isi surat gembala Majelis Sinode Am GPI di atas sangat kental nuansa “Pluralisme”. Dan hal ini hanya sedikit contoh yang ada dan nyata, belum lagi yang belum ketahuan tetapi secara diam-diam ajaran dan sikap pluralisme sudah masuk ke dalam gereja secara halus dan mulus.
Agama-agama dan kerukunannya ditengah-tengah kemajemukan dan keunikan agama, memang sangat didukung oleh undang-undang dan kesadaran akan perlunya toleransi. Oleh karena itulah toleransi antar umat beragama di Indonesia sangat tumbuh subur di Indonesia. Namun tolerasi ini yang pada mulanya dalam bentuk dialog lintas agama. Dalam perkembangannya berubah ke arah saling menerima ajaran-ajaran dan mengakuinya sebagai kebenaran yang dari Tuhan dan membuang semua keunikan, keabsolutan, finalitas dari ajaran agama-agama lain. Dan yang lebih ekstrim lagi mereka (yang bersikap: Inklusivisme Relativisme, Akomodasi, Pluralisme) merindukan adanya gerakan untuk menghadirkan konsep agama yang baru yaitu agama bersama (Together Religions) dengan basic teologi adalah “Teologi Religionum”.
Perkembangan gerakan teologi religionum di Indonesia yang pesat ini bukan begitu saja berkembang. Tetapi sudah melalui proses waktu 15-20 tahun terakhir ini. Apalagi semakin gencar-gencarnya konflik antara agama yang terjadi di Indonesia, yang menuntut adanya pertemuan-pertemuan antara para pemimpin agama di Indonesia. Membuat para pemikir kristiani untuk mencoba merefleksikan ulang tentang teologi yang tepat pada konteks Indonesia yang majemuk ini.
Adapun tokoh-tokoh nya yang mencoba mempengaruhi teologi Kristen di Indonesia adalah Victor Tanja, Eka Darmaputera, Th. Sumartana, A.A. Yewangoe, Ioanes Rahmat, dll. Dan puncak dari buah pemikiran-pemikiran mereka tentang “Teologi Religionum” ini tertuang dalam buku “Merentas Jalan Teologi Agama-Agama di Indoensia – Theologia Religionum.” Yang disusun oleh Tim Balitbang PGI. Penulis dari buku ini bersumber dari lintas agama dan bukan hanya dari Kristen & Katholik saja, tetapi ada juga dari kalangan pemikiran Islam. Adapun di antara mereka yang sangat mendukung dan menyonsong teologi ini supaya dapat hadir di Indonesia, khususnya kalangan Kristen dan Katholik adalah Martin L. Sinaga; Th. Sumartana; B.J Banawiratma, SJ; Franz Von Magnis-Suseno, SJ; E.G Singgih; John A. Titaley. Buku ini telah diterbitkan tiga kali, tahun 1999, 2000, dan 2003. Buku ini merupakan hasil-hasil seminar agama-agama selama 15 tahun yang disimpulkan sebagai puncak pergulatan Balitbang PGI tentang toleransi beragama dan sebagai dasar dialog lintas agama.


BAB III : FINALITAS KRISTUS SEBAGAI TUHAN DAN JURUSELAMAT
(Tinjauan Kritis Terhadap Kristologi Religionum)
A. Yesus Kristus adalah Pusat dari Kekristenan
Kekristenan adalah Kristus dan Kristus adalah pusat dari kekristenan. Mengapa demikian? Karena segala sesuatu tentang kekristenan ditentukan oleh pribadi dan pekerjaan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Bahkan seluruh kehidupan dan sifat kekristenan sampai hal-hal yang sederhana juga ditentukan oleh Yesus Kristus. Kristuslah asal mula adanya kekristenan dan yang akan menggenapkan seluruh rencana keselamatan bagi umat manusia.
Finalitas Kristus ada pada diri-Nya sendiri dan tidak tergantung pada apapun juga, seperti teologi Kristen, Pengakuan Iman Gereja, dan Apologetika Kristen. Walaupun hal itu penting, namun finalitas Kristus melampui semuanya itu karena Dia Allah yang Omniprence, Omnipotence, Omniscience dan Immutability. Maksudnya Finalitas Kristus tidak tercipta di dalam proses waktu karena Ia adalah yang awal (Alfa) dan yang akhir (Omega).
Jati diri Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat ada karena Ia sendiri yang menyatakan-Nya. Yesus berkata :
“Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?“ Maka jawab Simon Petrus: ”Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!“ Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.[36]
Jika kita mengaku sebagai seorang Kristen, tetapi salah di dalam pengenalan kita akan Yesus, maka hal ini akan berakibat fatal dalam keseluruhan hidup kita. Kefatalan ini akan tersingkap di dalam hal bersikap, berpikir, berbicara dan bertingkah laku yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip yang Yesus ajaran. Demikianpun dengan penganut teologi religionum yang menolak finalitas Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat satu-satunya. Walaupun Alkitab sudah jelas-jelas menyaksikan bahwa Yesus Tuhan dan Juruselamat satu-satunya. Yesus berkata,
“Akulah Jalan dan Kebenaran dan Hidup, tidak seorangpun datang kepada Bapa kecuali melalui Aku.”[37]
“Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab dibawah kolong langit ini tidak ada nama lain. Yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.”[38]
Kaum Universalisme, Inklusivisme, Relativisme dan Pluralisme, tetap saja menolak perkataan Yesus dan kesaksian dari Lukas ini tentang keselamatan di dalam Yesus.
Penolakan kaum Teologi Religionum terhadap finalitas karya Yesus ini nyata, seperti apa yang dikatakan oleh Stanley Samartha (Teolog India),
“All Christian approaches to other religions based on a theory of anonymous Christianity or cosmic Christology.”[39]

Dan juga apa yang dikatakan oleh Ioanes Rakhmat, yang memegang konsep sub-ordinasionisme dan menolak Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat,
“Dengan adanya sub-ordinasionisme fungsional di dalam Injil Yohanes, penulis Injil ini (Yohanes) memandang figur “Anak Manusia” sebagai suatu “oknum” atau “hakikat” adikodrati yang lebih rendah kedudukan-Nya dari Allah, yang dalam ketaklukan-Nya kepada Allah menerima tugas pengutusan untuk turun ke dalam dunia. Kedudukan Anak Manusia yang “lebih rendah“ ini menyiratkan bahwa oknum “Anak Manusia“ itu adalah oknum atau suatu hakikat adikodrati yang terpisah dari Allah.“[40]

Apa yang tercatat di di dalam Injil Yohanes justru tidak sama dengan apa yang dipaparkan oleh Ioanes. Jadi mana yang salah, yach sudah jelas adalah Ioanes dan Alkitab itu tidak salah di dalam penyataannya. Seluruh isi dari Injil Yohanes yang mempunyai tujuan yaitu:
“Supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.“[41]

Jadi apa yang di duga oleh Ioanes dan juga Hick bahwa Yesus Kristus bukan Tuhan dan Juruselamat menurut Injil Yohanes adalah salah dan tidak sesuai dengan maksud atau tujuan dari Yohanes sendiri sebagai penulis.
Jika kita membaca Injil Yohanes justru kita akan menemukan konsep tentang ke Allahan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Misalnya apa yang tercatat di dalam:
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.“[42]
“Kata Yesus kepadanya: Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.“[43]

Dan lebih jauh lagi penyataan ajaran Yohanes tentang “Ego Emi“ yang diikuti predikat:
“Akulah Roti Hidup“[44]
“Akulah Terang Dunia“[45]
“Akulah Pintu“[46]
“Akulah Gembala yang baik“[47]
“Akulah kebangkitan dan hidup“[48]
“Akulah Jalan Kebenaran dan Hidup“[49]
“Akulah Pokok Anggur yang benar“[50]

Setelah kita melihat tujuh predikat “Ego Emi“ diatas, Injil Yohanes mencatat ada lagi “Ego Emi“ yang tidak diikuti predikat, misalnya:
“Sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu.“[51]
“Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu, bahwa ’Akulah Dia’“[52]

Perkataan di atas menjelaskan bahwa Yesus sungguh-sungguh Tuhan dan Juruselamat. Jadi Yohanes tidak pernah bermaksud mengajarkan supaya orang Kristen bersikap Universalisme, Relativisme, Inklusive dan Pluralisme. Justru sebaliknya melalui Injil Yohanes kita di ajar untuk Eksklusive di dalam mempertahan kebenaran Kristus yang bersifat absolut,[53] mutlak dan Final.

B. Yesus Kristus adalah Pencipta
Firman Tuhan berkata bahwa Yesus Kristus adalah Pencipta, Pemelihara dan Penopang alam semesta ini. Untuk lebih jelasnya mari kita memperhatikan ayat-ayat yang menyatakannya:
“Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.“[54]
“Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan Firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tertinggi.“[55]

Ayat-ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa Yesus sungguh-sungguh Tuhan Pecipta. Jika Yesus bukan Tuhan mengapa ia mau menerima sembah dari manusia, dimana sembah ini layak ditujukan kepada Tuhan. Yesus menerima pujian dari Tomas dan bukannya Ia menegur Tomas yang bimbang imannya. Dengan rasa hormat Tomas menyembah Yesus dan berkata:
“Ya Tuhanku dan Allahku! Kata Yesus kepadanya: Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.“[56]

Yesus yang sama pula yang menolak ketika Iblis menyuruh Dia untuk menyembahnya. Yesus mengusir Iblis itu dan berkata:
“Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!“[57]
Jadi jika Yesus bukan Allah tidak mungkin ia mau menerima penyembahan dari manusia dan dapat menghardik Iblis agar tunduk kepada prinsip penyembahan yang benar.
Tokoh Pluralisme Asia yaitu Choan Seng Song sangat tidak menyetujui jika orang Kristen menyembah Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Karena bagi dia tindakan itu adalah penyembahan kepada berhala.[58] Bagi Song Yesus sendiri bukan Tuhan dan Yesus tidak pernah menyatakan diri-Nya Tuhan. Saya kira Song dan tokoh-tokoh Inklusive-Relativisme (Paul F. Knitter, Lesslie Newbigin & Raimundo Pannikar, dll) yang lainnya tidak mempercayai penyataan Alkitab yang bersifat absolute (mutlak), khusus dan tidak ada salahnya dalam isinya (Infallibility). Karena sudah jelas-jelas ayat-ayat yang kita bahas di atas menunjukan Yesus Kristus itu Tuhan dan Juruselamat.
Para tokoh-tokoh teologi Religionum ini selalu mempunyai presuposisi bahwa semua sejarah dalam dunia ini adalah penyataan Allah dan kebenaran Allah, termasuk di dalamnya aspek keselamatan. Dengan pandangan yang seperti ini mereka menganggap Yesus hanya manusia biasa yang ada dalam sejarah dan tidak unik. Karena bagi mereka Yesus sama dengan tokoh-tokoh dari pendiri agama yang lain. Mereka lupa bahwa Yesus Kristus itu adalah Allah Pencipta.
Kita percaya bahwa Allah ada di dalam sejarah dan diatas sejarah. Yang mengontrol sejarah dan yang melampaui sejarah. Tokoh-tokoh teologi religionum tidak memisahkan antara sejarah dunia sebagai bentuk Kronos dan sejarah kebenaran sebagai penyataan Allah yang bersifat khusus sebagai bentuk Kairos. Jadi bagi mereka semua sejarah di dalam proses waktu keberadaannya sama dan tidak ada yang unik. Dengan demikian mereka juga tidak dapat membedakan mana tindakan Iblis dan juga tindakan Allah, bagi mereka semuanya ini dapat campur aduk.
Yesus Kristus sudah ada sebelum dunia dijadikan dan sebelum Ia turun ke dunia menjadi serupa dengan manusia. Kristus tidak pernah “menjadi” Anak Allah, pada saat kelahiran-Nya di dunia dan pada saat Ia hidup di dunia ini (Inkarnasi). Pada mulanya “Dahulu” sampai “Sekarang” Yesus Kristus tetap adalah Anak Kekal Allah, yang ada dan kekal bersama-sama dengan Allah Bapa. Yesus Kristus berani berkata bahwa:
“Sebelum Abraham jadi, Aku telah ada”[59]
Perkataan Yesus ini tidak mungkin bohong, karena apa yang dilakukan Yesus di dalam karya-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat dapat membuktikan bahwa ia bukan penipu (pembohong) dan juga bukan orang yang berkata-kata seperti orang gila saja.

C. Yesus Kristus adalah Allah
Menurut John Hick dan Paul F. Knitter Yesus bukanlah Anak Allah dan Mesias. Karena menurut mereka Yesus tidak mengatakan hal itu secara langsung. Jika ada orang-orang Kristen yang mengaku bahwa Yesus adalah Anak Allah, Kristus, dan oknum ke dua dari Allah Tritunggal. Hal ini dikarenakan kesalahan para penulis Injil yang telah menambahkannya menurut iman dan pemikiran mereka sendiri tentang Yesus. Jadi bagi mereka semuanya itu hanya mitos dari para penulis Injil. [60] Pandangan mereka ini sangat tidak sesuai dengan apa yang Yesus katakan sendiri, siapa Dia (Yesus) sesungguhnya.
Di dalam Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Allah, hal itu disampaikannya dengan jelas dan tuntas. Yesus berkata:
“Aku dan Bapa adalah satu”[61]
Perkataan Yesus ini merupakan perkataan yang revolusioner pada saat itu karena tidak pernah mereka mendengar perkataan yang seperti itu. Sehingga pada waktu para pemimpin agama mendengar perkataan ini. Yesus dianggap menghujat karena Ia menganggap diri-Nya Anak Allah.[62] Ketika persidangan berlangsung Imam besar bertanya kepada Yesus,
“Katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak“
Jawab Yesus, “Engkau telah mengatakannya.“[63]
Yesus berkata dengan benar bahwa Ia adalah Allah, tetapi penyataan Yesus ini tidak dapat diterima oleh para pemimpin agama pada saat itu. Dan berdasarkan kalimat Yesus ini mereka sepakat untuk menyalibkan Yesus. Ketika Yesus dipersalahkan, Ia tetap menghadapinya dengan keanggunan dan kesabaran. Tindakan Yesus ini menunjukan bahwa Ia merupakan pribadi yang agung dan memiliki mutual hidup yang berbeda dari manusia biasa. Jikalau Yesus bukan Allah bagaimana Ia dapat melalui semuanya itu dengan baik dan mendoakan orang-orang yang menyalibkan diri-Nya di kayu salib.
Keunikan[64] Yesus Kristus sebagai Tuhan, juga Ia nyatakan melalui hak istimewa dan wewenang Allah yang Ia miliki, yaitu:
1. Yesus mengatakan bahwa Ia mempunyai wewenang untuk mengampuni dosa.[65]
2. Yesus juga berkata, bahwa Ia akan datang ditengah-tengah awan-awan di langit, duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa.[66]
3. Yesus juga berkata bahwa “Bapa tidak menghakimi siapapun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak.“[67]
4. Yesus juga memiliki wewenang dan kuasa untuk membangkitkan orang mati.[68]

Yesus juga memiliki sifat-sifat yang hanya Allah miliki sendiri. Misalnya, Yesus menyatakan bahwa Ia itu Mahakuasa dan memiliki segala kuasa.[69] Sebagai contoh:
1. Di dalam kehidupan-Nya, Yesus mendemonstrasikan kuasa-Nya atas alam dan meneduhkan angin rebut.[70]
2. Mengubah air menjadi anggur.[71]
3. Berkuasa atas penyakit tubuh.[72]
4. Berkuasa atas dunia roh jahat.[73]
5. Berkuasa atas kematian dengan membangkitkan Lazarus dari kubur.[74]
6. Mempunyai kuasa atas segala penguasa di udara.[75]
7. Yesus Mahatahu dengan mengetahui segala sesuatu, apa yang ada di dalam pikiran manusia sebelum mereka mengucapkannya.[76]
8. Yesus Mahahadir dan berjanji untuk menyertai semua murid-Nya sampai akhir jaman.[77]

D. Yesus Kristus adalah Manusia
Yesus bukan saja sungguh-sungguh Allah (100%) tetapi juga sungguh-sungguh manusia (100%). Pemahaman tentang pribadi Kristus yang utuh ini (Kristologi) akan membuat kita sadar dan bangga punya Allah seperti Yesus. Jika Yesus bukan manusia yang sungguh-sungguh, bagaimana Ia dapat menebus dosa-dosa kita melalui diri-Nya sebagai pengganti (Redemtion by substitutions) di kayu Salib. Dan bagaimana Yesus dapat menjadi Imam Besar yang dapat menghibur dan menguatkan kita. Karena Ia sudah pernah mengalami apa yang kita alami sebagai manusia dan oleh karena itu Ia sangat mengerti setiap pergumulan kita dan berempati kepada kita, sebagai anak-anak-Nya. Firman Tuhan berkata:
“Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.“[78]
“Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.”[79]

Walaupun keberadaan Yesus di dalam kandungan Maria hadir secara supranatural, tetapi proses persalinannya normal sebagaimana seorang anak lahir dari rahim ibunya.[80] Yesus sebagai anak yang tumbuh dengan normal juga mengalami pertumbuhan secara jasmani dan mental. Firman Tuhan berkata:
“Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat…Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.”[81]

Yesus juga memiliki tubuh dan jiwa, sama seperti layaknya manusia. Yesus dapat merasakan lapar[82] dan haus.[83] Yesus dapat mengalami kelelahan karena perjalanan yang jauh,[84] Ia memerlukan tidur.[85] Yesus memiliki belas kasihan dan kasih.[86] Yesus dapat marah kepada orang-orang yang menajiskan rumah Bapa-Nya[87] dan kepada mereka yang menolak kebenaran Allah.[88] Yesus dapat menangis dan bersedih. Puncaknya pada waktu Ia mengalami penderitaan dan jiwanya mengalami kesusahkan yang luar biasa ketika di kayu Salib.[89]
Alkitab mencatat 72 kali di dalam empat Injil Yesus menyebut diri-Nya sebagai Anak Allah. Pada waktu Yesus menyebut dirinya Anak Allah, saat yang bersamaan Ia juga menyatakan diri-Nya sebagai Allah, kepada kita sebagai anak-anak-Nya. Kemanusian dan keallahan Yesus tidak saling bercampur, walaupun ada di dalam keberadaannya. Oleh karena itulah kemanusiaan Yesus itu sangat unik dan sempurna. Mengapa saya katakan demikian, karena sebagai manusia,
“Yesus tidak mempunyai dosa keturunan dan juga tidak pernah berbuat dosa“
“Yesus tidak pernah memberikan persembahan korban dan
meminta pengampunan dosa bagi diri-Nya sendiri“
“Yesus mengajarkan supaya setiap orang bertobat dan perlu mengalami kelahiran kembali,
kecuali diri-Nya tidak“
“Yesus menantang orang-orang untuk menunjukan dosa sekecil apapun yang pernah Ia lakukan,
jika memang ada“

Jadi kemanusiaan Yesus itu sungguh-sungguh (100%), demikian juga dengan keallahan-Nya (100%). Ke dua esensi ini harus kita percayai dan kita pertahankan dari serang-serangan “Defective Theology“ termasuk juga teologi religionum. Dan kita juga tidak perlu memperdebatkan manakah dari ke dua tabiat Yesus ini yang lebih besar atau lebih super dan akhirnya mengorbankan keunikan jati diri Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.[90]
John Hick sebagai tokoh teologi religionum menolak konsep inkarnasi Yesus datang ke dunia sebagai manusia. Di dalam bukunya “The Myth of God Incarnate“[91] ia percaya bahwa peristiwa inkarnasi Yesus adalah “mitos”. Setelah tidak puas dengan pemikirannya ini, lalu ia mengeluarkan buku baru yaitu “The Metaphor of God Incarnate”.[92] Di dalam buku ini Hick berubah konsepnya tentang “inkarnasi sebagai mitos dan ke inkarnasi sebagai metaphor”. Semua ini dilakukan untuk mengkritik kaum eksklusif yang percaya peristiwa inkarnasi Yesus adalah sebagai peristiwa supranatural. Bagi Hick keselamatan manusia tidak memerlukan perantara seperti Yesus dan juga tidak perlu pengampunan dari Yesus. Karena Yesus hanya manusia biasa yang mau membawa manusia untuk memohon pengampunan kepada Bapa. Pendapat Hick ini didukung oleh pandangannya tentang Doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus dimana kita diminta untuk meminta pengampunan kepada Bapa dan juga tentang perumpamaan anak yang hilang, dimana pengampunan tidak memerlukan perantara.[93] Bagi Hick semuanya menjelaskan bahwa pusat dari kekristen dan keselamatan adalah Bapa dan bukan Kristus.
Hick tidak melihat teks dalam konteks yang tepat di dalam keseluruhan Alkitab, sehingga bangunan Kristologinya berantakan dan bersifat partsial. Hick tidak melihat Alkitab secara menyeluruh tentang Kristologi. Sebagai contoh Alkitab berkata:
“Hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.”[94]
“Hai anakKu, dosamu sudah diampuni.....Supaya kamu tahu , bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa”[95]
Ayat-ayat di atas dengan jelas mengatakan bahwa konsep pengampunan harus melalui darah dan Yesus telah mencurahkan darah-Nya di kayu salib. Dan Yesus pada waktu ia hidup juga memiliki hak prerogative Allah Bapa untuk mengampuni dan menyelamatkan.
Jadi dalam bagian ini baik Hick dan tokoh-tokoh teologi religionum yang lain tidak konsisten di dalam membaca dan memahami teks secara keseluruhan. Mereka berani mengambil teks sebagian-sebagian demi mendukung pendapat mereka yang sesat dan ini sangat tidak sesuai dengan prinsip-prinsip hermeneutika.

E. Yesus Kristus adalah Juruselamat
Jikalau Yesus bukan sepenuhnya Allah, bagaimana mungkin Ia dapat menjadi Juruselamat bagi kita semua. Dan jika Ia adalah Allah tetapi tidak melakukan sesuatu untuk menebus dosa-dosa kita, maka Ia juga bukan Juruselamat bagi kita. Alkitab menyaksikan bahwa Yesus menjadi Juruselamat karena Ia melakukan pekerjaan penebusan bagi dosa-dosa kita dan Yesus dapat memenuhi syarat untuk menjadi Juruselamat kita semua. Perlu saya ingatkan Yesus bukan hanya dapat menyelamatkan manusia berdosa, tetapi Ia sudah menyelamatkan manusia berdosa.
Kesempurnaan hidup Yesus merupakan suatu keharusan yang mutlak sebagai pra-syarat sebagai Tuhan dan Juruselamat:
1. Kesucian hidup yang sempurna. Yesus berkata “Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa?”[96] dan musuh-musuh-Nya tidak membuktikan. Hal ini menunjukkan Yesus sungguh-sungguh manusia yang sempurna. Di dalam PL semua korban yang dipersembahkan harus baik dan tak bercacat cela. Ini sebagai syarat mutlak di dalam pengampunan. Jika demikian Yesus memenuhi syarat sebagai korban penghapus dosa-dosa umat manusia.
2. Ketaatan yang sempurna. Setelah Adam pertama gagal di dalam menjalankan ketaatannya, maka Yesus sebagai Adam kedua dapat membuktikan bahwa Ia sempurna di dalam menjalankan ke taatanya kepda Allah.[97]
3. Pengantara dan Imam Besar yang sempurna. Keterhilangan dan keterjualan manusia ke dalam dosa, membuat manusia terbelenggu dengan dosa. Hanya Yesus yang dapat meyelesaikan problema keberdosaan manusia ini, dengan jalan Ia sendiri menjadi penebus dan pengantara antara manusia yang berdosa kepada Allah yang suci. Yesus adalah Allah yang mengerti pergumulan dan penderitaan dari anak-anak-Nya dan Yesus merindukan supaya anak-anak-Nya ini selalu hidup berkenan kepada Allah dan memuliakan Allah dalam keseluruhan hidupnya.[98]

Dinamika hidup berkemenangan di dalam kekristenan karena Yesus yang telah mati dan bangkit pada hari yang ketiga. Yesus sendiri yang menubuatkan tentang kematian-Nya dan kebangkitan-Nya.[99] Kematian Yesus yang pro-aktif dan kebangkitan-Nya yang nyata membuktikan bahwa Ia sungguh Allah yang layak menjadi Juruselamat. Tidak ada pemimpin agama atau pendiri-pendiri agama yang seperti Yesus, dimana Ia tetap hidup menyertai pengikut-Nya.
Kebangkitan Yesus membuktikan bahwa apa yang tercatat di dalam Injil dan keseluruhan Alkitab tentang Kristus itu bukan “mitos dan metaphor” seperti apa yang dipercayai oleh tokoh-tokoh teologi religionum. Kebangkitan Yesus memberi kepastian bahwa yang kita percayai tentang Yesus di dalam sejarah Alkitab, sungguh-sungguh benar dan bukan rekayasa dari para penulis Alkitab, tetapi sungguh-sungguh inspirasi dari Allah. Paulus berkata,
“Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu.”[100]
Kepastian keselamatan dan pengampunan yang di dasarkan pada kubur yang kosong dan Kristus yang telah bangkit dari kematian. Membuktikan apa yang Yesus katakan mengenai seluruh hidup dan karya-Nya adalah sungguh-sungguh benar, bukan mitos dan hal itu menyatakan Yesus adalah Tuhan.
Tuhan Yesus bukan saja menubuatkan kematian-Nya dan kebangkitan-Nya saja, tetapi juga mengenai kenaikan-Nya ke sorga dan pemuliaan-Nya.[101] Para murid Yesus dapat melihat peristiwa kenaikan Tuhan Yesus ke sorga.[102] Setelah naik ke sorga, Allah Bapa memberikan kepada-Nya tempat yang mulia di sorga. Allah telah,
“mendudukkan Dia disebelah kanan-Nya di sorga, jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut.”[103]
Kristus mempunyai kedudukan yang berkuasa dan mulia di sorga. Kenaikkan-Nya ke sorga dan pemuliaan-Nya sangat mendukung seluruh karya penebusan-Nya sebagai Juruselamat satu-satunya. Kita percaya bahwa Kristus sudah pergi untuk menyiapkan tempat bagi kita di sorga.[104]


BAB IV : KESIMPULAN

1. Gereja secara umum dan jemaat tidak menyadari tentang bahayanya ajaran teologi religionum ini. Mengapa sangat berbahaya karena teologi ini dapat melahirkan bentuk agama yang baru dan termasuk membuang segala keunikan iman Kristiani yang kita percayai.
2. Gereja tidak berani mengkritiskan ajaran teologi ini, sebagai bentuk ajaran yang salah dan menyesatkan (Defective Theology). Hal ini dapat terjadi karena banyak gereja yang sudah tidak memiliki spirit lagi di dalam menegakan kebenaran Firman Tuhan dan akhirnya gereja menjadi gereja yang kompromi dan toleransi dengan semua ajaran agama-agama lain. Dengan kata lain gereja sudah kehilangan jati dirinya dan fungsinya sebagai alat Tuhan. Hal ini bukan berarti semua gereja telah sakit, saya percaya masih ada gereja-gereja yang sehat di dalam keberadaan dan pertumbuhannya.
3. Saya percaya gerakan ini tidak akan berhasil karena teologi religionum adalah filsafat agama yang dilahirkan oleh orang-orang yang mengaku beragama, tetapi pada dasarnya mereka tidak menghormati keunikan agama mereka sendiri (khususnya dari kaum theology Liberal). Gerakan ini akan gagal karena tidak ada dasar Alkitab yang mendukungnya dan sudah pasti Allah tidak akan turut campur.
4. Kesulitan kita di dalam menghadapi kaum “Teologi Religionum” secara umum adalah:
A. Secara Antropologis mereka menyakini bahwa setiap manusia adalah sebagai insan yang beragama dan mereka berhak untuk membangun dimensi religiositas yang unik secara sendiri-sendiri.
B. Secara Theologis semua system agama di dunia ini, besar atau kecil, yang amat primitif, sederhana maupun yang telah berkembang, maju dan komplek, semuanya mengakui adanya keselamatan menurut jalan mereka masing-masing.
Dan setiap agama yang sudah mapan umumnya mempunyai Kitab Sucinya masing-masing sebagai perwujudan baku dari wahyu yang mereka terima dari “Realitas Ilahi”. Orang Muslim mempunyai Al Quran dan orang Hindu memiliki Kitab Weda dan orang Budha memiliki Kitab Tripitaka, dll.
C. Secara Filosofi setiap para penganut agama-agama tertentu secara umum pandangannya sudah dipengaruhi oleh konsep nilai-nilai keimanan yang mereka yakini itu benar. Sehingga hal ini mempengaruhi pandangan hidupnya dan perilakunya sehari-hari. Terkadang phenomena ini dapat menjadi lapisan kebudayaan yang menutupi lapisan yang lebih dalam lagi, yaitu persoalan agama itu sendiri.

Perbandingan Teologi Liberal, Teologi Religionum dan Teologi Reformed
No.
Pembahasan
Teologi Liberal
Teologi Religionum
Teologi Reformed
1.
Alkitab



a.
Alkitab (Penyataan)
Bukan Wahyu Allah secara full (Limited)
Bukan Wahyu Umum & juga Wahyu Khusus
Sebagai Wahyu Allah secara khusus
b.
Sumber
Dari Allah, Manusia & Setan
Produk sejarah secara umum (keselamatan)
100% dari Allah (Inspirasi Allah melalui para penulis Alkitab)
c.
Sifat
Dapat salah (Mitos)
Interpretasi para penulis saja (Methapore-rekaan)
Unik, Final
2.
Allah



a.
Hakekat-Nya
Umum: bagi semua orang (Universal)
Umum: ada dalam semua agama
Khusus & tidak pernah berubah
b.
Sifat-Nya: Kasih & Keadilan
Kasih yang lebih menonjol
Kasih bagi semua orang
Kasih & keadilan-Nya seimbang
c.
Penyataan-Nya
Ada di dalam sejarah
Pusat Sejarah (keselamatan)
Progresif di dalam Trinitas
3.
Kristus



b.
Juruselamat
Bukan Juruselamat melainkan Bapa
Salah satu Juruselamat
Satu-satunya Juruselamat
c.
Pengampunan
Bukan sumber pengampunan
Bukan sumber pengampunan
Sumber pengampunan dosa
4.
Penginjilan



a.
Pusat
Manusia
Manusia
Kristus
b.
Berita
Social Gospel
Freedom of Dehumanisation
Keberdosaan manusia, Pengampunan melalui Kristus dan Keselamatan di dalam Kristus
5.
Theologi



a.
Pusat
Allah Bapa
Allah Bapa
Kristus
b.
Berita
Toleransi Agama
Teologi Agama-agama
Allah Tritunggal di dalam fungsi & hakekat-Nya, dll.



[1]. Stevri I. Lumintang, Theologia Abu-abu, ed., (Malang: Gandum Mas, 2004), hlm. 14
[2]. Paul F. Knitter, No Other Name (New York: Orbis Books, 1985), hlm. 37
[3]. Mengapa saya kata bahwa teologi Religionum ini merupakan “Gerakan” karena mereka sudah memiliki teologi dan sistem hermeneutika sendiri. Di Indonesia mereka memakai kendaraan “Tim Balitbang PGI” secara intitusi dan para pimpinan Gereja melalui seminar-seminar yang mereka adakan. Dan tidak berhenti disitu saja mereka juga giat menyajikan buku-buku yang mendukung seluruh pemikiran mereka. Adapun beberapa buku yang sangat mendukung adanya gerakan ini adalah:
a. Tim Balitbang PGI, Meretas Jalan Teologi Agama-agama di Indonesia – Theologia Religionum (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003). Tokoh yang perlu kita perhatikan berkaitan dengan pemikiran teologi religionum adalah Martin Sinaga dan Th. Sumartana, dll.
b. Soetarman SP, Weinata Sairin, Ioanes Rakhmat, Fundamentalis, Agama-agama & Teknologi (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993).
c. Victor I. Tanja, Spritualitas, Pluralisme & Pembangunan di Indonesia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993).
d. World Council of Churches, trans. Eka Darmaputera, Iman sesamaku & imanku (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994). Buku ini dipakai untuk memperkaya penghayatan teologi kita melalui “Dialog antar Agama“.
e. Leslie Newbigin, Injil Dalam Masyrakat Majemuk (Jakarta, BPK Gunung Mulia, 1999). Pemikiran dia sangat jelas “Pluralism-Inklusif“ dalam bab 13 & 14.
f. A.A. Yewangoe, Agama-agama & Kerukunan (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001). Penulis sekarang menjabat sebagai ketua PGI dan pemikiran beliau sangat dipengaruhi oleh pemikiran Paul F. Knitter.
g. Paul F. Knitter, Satu Bumi Banyak Agama (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004), dengan kata pengantar: HansKung
h. Olaf H. Schumann, Menghadapi Tantangan, Memperjuangkan Kerukunan (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004), dengan pengantar: Prof. DR. Komaruddin Hidayat (Salah satu pemikir Islam yang modern).
i. Asnath N. Natar, Cahyana E. Purnama, Karmito, Teologi Operatif (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004).
j. John Hick, ed, The Myth of God Incarnate (London: SCM Press, 1977) & John Hick, The Metaphor of God Incarnate: Christology in a Pluralistic Age (Louisville: Wesminster Press, 1993).
k. dll.

[4] Barclay M. Newman, A Consice Greek-English Dictionary of the New Testament (Stuttgart: Deutsche Bibelgesellschaft, …), hlm.100.
[5]. D.F. Wright, “Theology,” New Dictionary of Theology, ed. by Sinclair B. Ferguson (Leicester: Inter-Varsity Press, 1994), hlm. 681
[6]. Theology yang benar dibangun dengan prinsip “The Christology from Above” yaitu teologi yang dibangun dari atas ke bawah. Berteologi dengan cara ini sangat mementingkan teks dibandingkan dengan konteks dan bersifat ontological.
[7]. Th. Sumartana, “Theologi Religionum,” dalam Merentas Jalan Teologi Agama-agama di Indonesia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003), hlm. 23
[8]. Richard S. Hess, Pluralisme agama di Israel Kuno “Satu Allah Satu Tuhan” (Jakarta: BPK Gunung Mulai, 1997), hlm. 32.
[9]. Pantheon Greko Romawi artinya pemujaan yang bebas terhadap banyak dewa.
[10]. Tim Dowley (ed), The History of Christianity (Oxford: A Lion Book, 1977), hlm. 21.
[11]. N.T. Wright, Universalism “New Dictionary of Theology”, Sinclair B. Ferguson (ed) , hlm. 702
[12]. J.B. Webster, Friedrich Schleiermacher “ New Dictionary of Theology“, hlm. 619.
[13]. Tony Lane, Runtut Pijar (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996), hlm 275.
[14]. Karl Rahner, Christianity and The Non Christian Religions, hlm 63.
[15]. Paul F. Knitter, No Other Name? (London: SCM 1985), hlm. 120.
[16]. Emanuel Gerrit Singgih, Iman dan Politik dalam Era Reformasi di Inonesia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000), hlm. 25
[17]. Hans Kung, Christianity and The World Religions (Garden City, New York: Dobleday, 1986).
[18]. Hans Kung , Theology of Third Millenium (Garden City, New York: Doubleday, 1987)
[19]. ibid, hlm. 227-256.
[20]. Nietzsche juga mengkritik apa yang diajarkan Alkitab tentang etika moral. Bagi dia etika Kristen ini membuat kemandegan kemanusiaan dan ketidakbebasan manusia (lihat, bukunya Nietzsche, Ecce Homo: Lihatlah Dia, terj., (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998).
[21]. Istilah kata “Relative” ini timbul jika ada sesuatu yang dapat “dihubungkan dan diperbandingkan“ antara satu dengan yang lainnya. Relativisme percaya tidak ada kemutlakan dan keunikan dalam satu kebenaran. Jadi bagi mereka kebenaran itu sifatnya relatif. Kebenaran dapat disebut kebenaran karena tergantung “kebudayaan“, “lingkungan“ dan “orang-orang dalam yang mengiterprestasikan“. Jadi maksudnya sesuatu kebenaran atau ajaran belum tentu benar jika masuk dalam kebudayaan, lingkungan yang sesudah berubah. Iman Kristen sangat menolak pandangan ini.
[22]. Raimundo Panikkar, Dialog Intra Religius (Yogyakarta: Kanisius, 1992)
[23]. Raimundo Panikkar, The unknown Christ of Hinduism, Asia Trading Corporation (Bangelore, 1992)
[24]. Victor I. Tanja, Spritualitas, Pluralitas dan Pembangunan di Indonesia,…hlm. 123-124.
[25]. Roger Hedlund, “Document Seventeen, Section II of the Uppasala Report”, Roots of the Great Debate in Mission (Bangalore: Theological Book Trust, 1997), hlm. 243.
[26]. Ioanes Rakhmat, Pluralitas Agama, Dialog dan Perspektif, ....hlm. 70. dan juga, Olaf Schumann, Dialog antar Umat Beragama, Di manakah kita berada kini? (Jakarta: LPS-DGI, 1980), hlm. 57.
[27]. Bong Rin Ro, “Salvation In Asia Contexts,” Salvation, Some Asian Perspective, ed by Ken Gnanakan (Bangalore: Asia Theological Association, 1992), hlm. 20.
Ken Gnanakan di dalam bukunya “Pluralist Predicament” (Banglore: Theological Trust Book, 1992). Ia melihat tiga sikap pendekatan gereja di dalam memahami agama-agama lain. Pertama, Eksklusivisme; Kedua, Inklusif-Sinkretisme; Ketiga, Pluralisme-Relativisme.
[28]. John Hick, Christianity and Other Religions (Philadelphia: Fortress, 1980), hlm. 171.
[29]. John Hick, Philosophy of Religion (Englewood Cliffs: Prentice Hall, 1985), hlm. 35.
[30]. John Hick, The Metaphore of God Incarnat: Christology in Pluralistic Age (Philadelphia: Westminster/John Knox, 1993), hlm. 163.
[31]. Choan Seng Song, The Compassionate God, ….. hlm. 57.
[32]. Choan Seng Song, Jesus and the Reign of God (Minneapolis: Fortress Press, 1993), hlm. 31.
[33]. Choan Seng Song, The Compassionate God, ….. hlm. 16.
[34]. Ibid., hlm. 25.

[35]. Surat Gembala “Majelis Sinode Am Gereja Protestan di Indonesia”, yang bersidang di Jemaat GPIB Paulus dari tgl 30 Juli sampai 2 Agustus 2005, sungguh menggumuli dan membahas tentang berbagai persoalan yang menjadi kelemahan serta tantangan Gereja dalam pelayanannya ke masa depan….Persoalan yang krusial adalah menyangkut kinerja dan partisipasi Gereja Prostestan di Indonesia di tengah kemajemukan masyarakat Indonesia dalam krisis multidimensional.
[36]. Matius 16:15-17
[37]. Yohanes 14:6
[38]. Kisah Para Rasul 4:12
[39]. Paul F. Knitter, No Other Name? …, hlm 158.
[40]. Ioanes Rakhmat, “Kristologi Anak Manusia,” di dalam Injil Yohanes dan Monotheisme Yahudi, Dalam kumpulan Allah Kumpulan Karangan dalam Rangka Dies Natalis STT Jakarta ke-60, 1990, hlm. 63. Ioanes juga setuju dengan dengan konsep “Teosentris” dan bukan “Christosentris”. Dalam hal ini ia sama konsepnya dengan John Hick. Hick juga menganggap Yesus di dalam Injil adalah Mitos dan akhirnya berubah menjadi “inkarnasi Metafor“.
[41]. Yohanes 20:30-31
[42]. Yohanes 3:16
[43]. Yohanes 14:6
[44]. Yohanes 6:35,48
[45]. Yohanes 8:12, 9:5
[46]. Yohanes 10:7
[47]. Yohanes 10:11
[48]. Yohanes 11:25
[49]. Yohanes 14:6
[50]. Yohanes 15:1
[51]. Yohanes 8:24
[52]. Yohanes 8:28 band. Yes 43:10
[53]. Kata “Absolute“ itu berasal dari bahasa Latin “Ab-Solvere“ artinya “dibebaskan dari“. Jadi keberadaan Yesus itu tidak bergantung kepada interprestasi manusia di dalam sejarah dan juga tanggapan-tanggapan agama-agama lain.
[54]. Yohanes 1:3
[55]. Ibrani 1:3
[56]. Yohanes 20:28-29
[57]. Matius 4:10 (band. Ulangan 6:13 “Engkau harus takut akan Tuhan, Allahmu; kepada Dia haruslah engkau beribadah dan demi nama-Nya haruslah engkau bersumpah.”)
[58]. Choan Seng Song, Jesus and the Reign of God (Minneapolis: Fortress Press, 1993), hlm. 31.
[59]. Yohanes 8:58
[60]. Paul F. Knitter, No Other Name? A Critical Survey of Christian Attitudes Toward the World Religions (Maryknoll: Orbis Books, 1985)
[61]. Yohanes 10:30
[62]. Yohanes 19:7
[63]. Matius 26:63-64
[64]. Kata “Unik” berasal dari kata bahasa Inggris “Unique” yang artinya “berbeda, tidak sama tetapi memiliki kualitas dari yang lainnya.”
[65]. Markus 2:10
[66]. Markus 16:42
[67]. Yohanes 5:22
[68]. Yohanes 6:39,40,54; 10:17,18)
[69]. Matius 28:18
[70]. Markus 4:39
[71]. Yohanes 2:7-11
[72]. Markus 3:10
[73]. Lukas 4:35
[74]. Yohanes 11:43-44
[75]. Efesus 1:20-22
[76]. Markus 2:8 & Yohanes 2:25
[77]. Matius 28:20.
[78]. Ibrani 2:18
[79]. Ibrani 4:15
[80]. Matius 1:18 (band. Kej 3:15 & Ibra 2:16)
[81]. Lukas 2:40,52
[82]. Matius 4:2; 8:2
[83]. Yohanes 19:28
[84]. Yohanes 4:6
[85]. Matius 8:24
[86]. Matius 9:36
[87]. Matius 21:13
[88]. Markus 3:5
[89]. Yohanes 12:27
[90]. Sebelum teologi religionum tampil, di dalam sejarah gereja sudah tercatat ada aliran-aliran teologi yang sesat, seperti:
a. Kristologi Ebionitisme: Menyangkal ke allahan Yesus. Bagi mereka Yesus hanya seperti manusia biasa, walaupun dikandung secara supranatural. Jadi Yesus hanya mempunyai hubungan yang istimewa saja dengan Allah, secara khusus melalui peristiwa baptisan Yesus. Konsep ini sangat mempengaruhi pemikiran C.S. Song dan Paul F. Knitter, dll.
b. Kristologi Docetisme: Menyangkal kemanusiaan Yesus yang sungguh-sungguh. Mereka mengatakan bahwa tubuh Yesus itu sifatnya “maya” tetapi nampak seperti manusia. Bagi mereka tubuh ini jahat. Mereka percaya bahwa kehidupan Yesus di dunia ini hanyalah ilusi saja.
c. Kristologi Arius-Unitarianisme: Yesus itu dicipta oleh Bapa, oleh karena itu kedudukan Yesus lebih rendah dari Bapa. Pengaruh ajaran ini pengaruhi konsepnya Ioanes Rakmat dan John Hick, dll.
d. Kristologi Appollinarius: Yesus tidak sepenuhnya manusia karena keberadaan tubuh dan jiwa-Nya ditempati oleh wujud Ilahi-Nya. Aliran ini dipengaruhi oleh Helenistik dan sudah dianggap sesat oleh Sidang Konstantinopel pada tahun 381.
e. Kristologi Nestorius: Mereka menolak persatuan Kristus di dalam dua tabiat Ilahi dan Insani. Bagi mereka persatuannya hanya dari aspek moral saja dan bukan bersifat organis atau pribadi. Mereka percaya di dalam tubuh Yesus ada dua pribadi dan bukan dua tabiat dalam satu tubuh.
f. Kristologi Eutychus: Mereka percaya persatuan ke dua tabiat Kristus itu bersifat campur antara yang satu dengan yang lainnya. Mereka percaya bahwa tabiat insani Yesus itu diserap oleh tabiat ilahi-Nya dan mengakibatnya tabiat ilahi-Nya mengalami perubahan. Aliran ini sudah dianggap bidat pada Sidang di Chalcedon pada tahun 451.
[91]. John Hick, ed, The Myth of God Incarnate (London: SCM Press, 1977)
[92]. John Hick, The Metaphor of God Incarnate: Christology in a Pluralistic Age (Louisville: Westminster Press, 1993)
[93]. Ibid., hlm 127.
[94]. Ibrani 9:22
[95]. Markus 2:5,10
[96]. Yohanes 8:46
[97]. Roma 5:19; Ibrani 10:6,7
[98]. Ibrani 2:11-18
[99]. Markus 8:31; 10:32-34
[100]. 1 Korintus 15:17
[101]. Yohanes 6:62; 17:1
[102]. KPR 1:9-11
[103]. Efesus 1:20-21
[104]. Yohanes 14:3-4

Sumber : http://www.grii-andhika.org

No comments: