06 April 2011

WHAT'S WRONG IN THE GARDEN OF EDEN?-9: Eden dan Dosa-8: Menyembunyikan Diri

WHAT’S WRONG IN THE GARDEN OF EDEN?-9:
Eden dan Dosa-8: Menyembunyikan Diri


oleh: Denny Teguh Sutandio



Nats: Kejadian 3:8




Setelah melihat diri mereka telanjang, maka saat itu Allah berjalan menemui mereka. Dan ketika mereka mendengar langkah Allah, maka Alkitab mencatat, “bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman.” (Kej. 3:8) Ayat ini hendak berbicara bahwa ketika Adam dan Hawa mendengar suara langkah Allah di Taman Eden, maka mereka menyembunyikan diri mereka dari Allah di antara pohon-pohonan. Dengan kata lain, selain malu melihat diri mereka yang telanjang, mereka juga takut, sehingga mereka menyembunyikan diri mereka dari hadapan Allah.

Dosa mengakibatkan manusia bukan hanya malu melihat realitas diri, namun juga takut, sehingga makin manusia berdosa, makin manusia menyembunyikan diri dari hadirat Allah. Menyembunyikan diri dari hadirat Allah ternyata dilakukan baik oleh manusia pertama maupun manusia di zaman sekarang. Bagaimana cara manusia berdosa menyembunyikan diri dari hadirat Allah?
1. Menyembunyikan Diri Secara Langsung
Cara pertama manusia menyembunyikan diri dari hadirat Allah adalah dengan cara langsung, yaitu langsung menyembunyikan diri ketika ada Allah. Hal ini mirip seperti seorang anak kecil yang bersalah, lalu setelah mendengar suara orangtuanya yang mencari dirinya, maka dia langsung bersembunyi (ngumpet) di bawah meja atau di tempat lain untuk menghindar dari orangtuanya. Dia tidak mau orangtuanya mengetahui apa yang telah dilakukannya. Apakah dengan si anak ngumpet, maka orangtuanya pasti tidak bisa menemukan keberadaan si anak? Tentu orangtuanya mengetahui, meskipun tetap perlu proses mencari, kalau si anak benar-benar bersembunyi di tempat yang benar-benar susah ditemukan Seperti itulah yang dilakukan oleh manusia pertama yang tidak ingin Allah mengetahui apa yang telah dilakukannya. Mereka tidak menyadari bahwa di mana pun mereka bersembunyi, Allah pasti mengetahui tempat persembunyian itu.

2. Menyembunyikan Diri Secara Tidak Langsung
Manusia bukan hanya bersembunyi dari hadirat Allah secara langsung, namun juga secara tidak langsung. Artinya, mereka berani berhadapan dengan kehadiran Allah, namun ketika Allah meminta dia bertanggung jawab atas apa yang diperbuatnya, dia langsung “bersembunyi” dengan tidak mau mempertanggungjawabkan perbuatannya. Hal ini mirip seperti si anak yang bersalah namun tidak takut ketika didatangi orangtuanya, namun ketika orangtua menginterogasi si anak dengan meminta pertanggungjawabannya, si anak tidak mau bertanggung jawab, lalu menyalahkan orang lain atau membenarkan diri atau meminta orangtuanya mengasihani dirinya yang tidak tahu apa-apa. Manusia yang berdosa bukan sadar diri berdosa, namun “bersembunyi” dengan nekat membenarkan diri sendiri di hadapan Allah. Bahkan yang lebih parah, demi membenarkan diri sendiri, dia nekat mengutip ayat-ayat Alkitab (yang tentunya di luar konteks).


Sebenarnya, apa yang sedang terjadi dengan manusia, sehingga mereka berani menyembunyikan diri dari hadapan-Nya? Apa sih inti permasalahannya? Bagi saya, inti permasalahannya adalah tidak mau jujur terhadap diri. Karena tidak mau jujur terhadap diri, maka tidak heran, sejak manusia berdosa di Taman Eden sampai sekarang, manusia paling suka menipu diri dengan tidak pernah melihat realitas tentang diri yang adalah ciptaan Allah yang lemah, terbatas, dan berdosa! Tiga hal negatif ini (lemah, terbatas, dan berdosa) dipandang sebagai aib bagi mereka yang perlu dihilangkan, sehingga tidak heran, sejak manusia pertama di Eden sampai sekarang, manusia berusaha untuk menjadi manusia super yang ingin menyamai Allah. Tidak heran, tren pengembangan diri melalui pelatihan motivasi dengan segala merk sedang laris di dunia postmodern ini demi mengembangkan potensi diri yang katanya hebat dan luar biasa. Berbagai yel-yel digembar-gemborkan, seperti: “Salam dahsyat”, “Sukses adalah hak saya”, “Salam sukses”, dll. Melalui yel-yel tersebut, mereka hendak mengindoktrinasi para pendengarnya untuk melupakan bahkan jangan pernah mengucapkan kata-kata: “gagal”, “miskin”, “melarat”, dll, karena apa yang mereka ucapkan pasti terjadi. Yang ironisnya adalah konsep ini juga diimpor ke dalam Kekristenan. Melalui berpikir positif (Positive Thinking dan Possibility Thinking) ala Norman Vincent Peale dan Robert H. Schuller, maka banyak orang Kristen diajar untuk selalu berpikir positif dengan selalu mengatakan hal-hal positif saja dan melarang berkata hal-hal negatif. Mereka mengimani bahwa apa yang mereka katakan pasti terjadi. Karena di dalam “kamus” mereka tidak ada hal-hal negatif, maka dosa didefinisikan sebagai tindakan yang merampas diri dari harga dirinya. Dan dilahirbarukan didefinisikan sebagai tindakan pemulihan gambar diri dari yang rendah diri menjadi percaya diri, dari negatif kepada positif, dll. Konsep-konsep ini nantinya mempengaruhi berkembangnya ajaran kemakmuran yang dianut oleh banyak gereja kontemporer sekarang yang mengajarkan bahwa percaya Yesus pasti kaya, sukses, berkelimpahan, sehat, bahkan tidak pernah digigit nyamuk. Jika ada orang Kristen yang masih miskin, para penganut ajaran kemakmuran langsung menghakimi bahwa itu tanda orang Kristen itu tidak beriman, karena orang beriman kepada Tuhan Yesus pasti kaya. Orang Kristen yang masih sakit-sakitan dihakimi sebagai orang Kristen yang tidak beriman, karena menurut mereka, Tuhan tidak membiarkan anak-anak-Nya sakit.

Selain itu, menipu diri juga bisa dilakukan dengan cara memperindah diri secara fisik, misalnya mempercantik diri dengan pergi ke salon, dll. Tentu tidak salah jika kita pergi ke salon ketika mau menghadiri pesta pernikahan, perayaan spesial, dll. Namun yang menjadi permasalahannya adalah ketika pergi ke salon menjadi budaya untuk membuat diri makin terlihat cantik, seksi, menawan, dll. Orang ini tidak mau terlihat jelek dan tak terawat, sehingga dia menyibukkan dirinya dengan pedicure, manicure, operasi plastik, dll.

Sejujurnya, makin seseorang menipu diri entah itu secara fisik maupun rohani/psikologi, makin dia hidup di dalam kemunafikan yang semakin parah dan kontradiksi yang ironis. Contoh, seorang cowok yang terpana dengan cewek yang berdandan wah dengan full make up mungkin akan terkesima sesaat, tetapi perhatikan wajah asli si cewek kalau nanti sudah menikah (tanpa make up), apakah wajah wah si cewek sama dengan wajah aslinya? Kebanyakan tidak. Hal ini tidak berarti cewek tidak perlu berdandan. Yang saya maksudkan adalah cewek perlu berdandan sewajarnya! Dan ironis yang lain adalah kebanyakan (tidak semua) cewek yang berdandan full make up bukanlah cewek yang beres! Perhatikan saja kasus baru-baru ini di mana sosok mantan manager senior sebuah bank yang berpenampilan wah dengan dandanan bak seorang “putri” dan harta melimpah menipu tabungan nasabahnya, namun tetap tidak mau mengakui perbuatannya. Seorang yang terus menipu diri bahwa diri sendiri hebat, pandai, kaya, dll suatu saat pasti mengalami kegagalan yang tak pernah disadarinya, lalu setelah gagal, dia baru menyadari bahwa dirinya tidak cukup hebat. Perhatikan saja beberapa pemimpin gereja yang mengajarkan bahwa percaya Yesus pasti kaya, sukses, dll selalu memiliki masalah dalam hal keuangan, misalnya: terlilit utang, dll. Bukankah seorang yang beriman bahwa percaya Yesus pasti kaya adalah orang yang tidak perlu lagi terlilit utang? Namun apa faktanya? Benar-benar suatu ironis yang memalukan.

Makin seorang berdosa dengan menipu dan membius diri, sejujurnya makin membukakan fakta bahwa manusia itu memang benar-benar: lemah, terbatas, dan berdosa. Daripada terus-menerus membius diri, lebih bijaksana jika kita berani jujur tentang diri di hadapan Allah. Caranya?
1. Jujurlah bahwa Allah itu Kebenaran dan Sumber Segala Sesuatu
Beranilah jujur terhadap diri dan katakan kepada diri kita sendiri bahwa saya BUKAN kebenaran, tetapi Allah itulah Kebenaran sejati dan sumber segala sesuatu. Karena Ia adalah Kebenaran sejati dan sumber segala sesuatu, maka tentu saja Ia berotoritas dan berdaulat atas segala sesuatu. Pengakuan tulus dan jujur tentang otoritas Allah mengakibatkan kita menyadari bahwa kita harus memusatkan segala sesuatu kepada-Nya dengan mengaitkan segala sesuatu dengan Allah dan firman-Nya. Pendidikan, politik, ekonomi, sosial, hukum, dll yang seolah-olah tak berkaitan dengan hal-hal religius tetap harus dikaitkan kepada Allah, karena Allah adalah Kebenaran sekaligus Sumber segala sesuatu! Sengaja melepaskan Allah dari hal-hal yang tampak “tak religius”, seperti: politik, ekonomi, pendidikan, dll sebenarnya merupakan dosa karena membatasi ruang kerja Allah hanya pada wilayah kerohanian!

2. Jujurlah bahwa Kita Bergantung Pada Anugerah-Nya
Karena Allah itu berotoritas dan berdaulat, maka sudah seharusnya kita sebagai umat-Nya menyadari bahwa tanpa Allah dan anugerah-Nya, kita tak mungkin bisa hidup dan hidup di dunia ini, karena nafas dan keseluruhan hidup ini adalah milik Allah yang diberikan kepada kita untuk kita pertanggung jawabkan. Oleh karena itu, respons yang wajar dari umat-Nya adalah terus-menerus menggantungkan dan menyerahkan hidup kita kepada Allah dan anugerah-Nya. Seorang yang terus memusatkan hidupnya pada anugerah-Nya adalah seorang yang menyadari bahwa Allah itu adalah Pribadi yang paling berharga dan paling dikasihinya. Lalu, orang ini akan mempertanggungjawabkan anugerah Allah ini dengan bekerja keras melayani-Nya demi memuliakan-Nya sambil tetap menyadari bahwa responsnya ini tetap merupakan anugerah-Nya, sehingga tak ada satu inci perbuatan baiknya yang patut dibanggakan!

3. Jujurlah bahwa Kita: Lemah, Terbatas, dan Berdosa
Seorang yang terus hidup bergantung pada anugerah-Nya adalah seorang yang juga menyadari bahwa tanpa anugerah-Nya, dia bukanlah siapa-siapa dan tak mampu berbuat apa-apa. Dia pun juga menyadari bahwa meskipun ada anugerah Allah, dia pun tetap adalah ciptaan Allah yang lemah, terbatas, dan berdosa. Dengan kata lain, orang Kristen yang hidup bergantung pada anugerah Allah mengakibatkan dirinya terus memandang ke atas kepada Allah yang paling berharga dan terus mengintrospeksi diri untuk menyesuaikan kehendak diri dan kehendak Allah. Seorang yang mengintrospeksi diri tentu juga seorang yang rela dan rendah hati ketika ditegur oleh saudara seiman lain di dalam proses pertumbuhan dan pengudusan. Sebaliknya orang yang tidak hidup di dalam anugerah Allah adalah orang yang keras kepala yang terus berpikir dirinya sendiri adalah kebenaran!


Bagaimana dengan kita? Masihkah kita sebagai orang Kristen terus-menerus menipu diri dengan cara fisik maupun rohani/psikologi? Sadarlah bahwa ketika kita makin menipu diri, kita makin hidup di dalam kemunafikan yang tak pernah selesai. Mulai sekarang, bertobatlah dan kembalilah jujur terhadap diri bahwa Allah itu Kebenaran sejati dan hidup kita bergantung mutlak pada anugerah-Nya sambil mengakui kelemahan, keterbatasan, dan keberdosaan kita.

03 April 2011

WHAT'S WRONG IN THE GARDEN OF EDEN?-8: Eden dan Dosa-7: Malu Melihat Diri

WHAT’S WRONG IN THE GARDEN OF EDEN?-8:
Eden dan Dosa-7: Malu Melihat Diri


oleh: Denny Teguh Sutandio



Nats: Kejadian 3:7




Setelah Adam menerima buah pemberian Hawa, apa yang terjadi? Alkitab mencatat di Kejadian 3:7, “Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.” Ya, mata mereka terbuka. Bukankah hal ini mirip seperti yang iblis katakan di ayat 4-5, “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.”? Memang mirip yaitu mata mereka memang benar-benar terbuka, tetapi terbuka terhadap apa? Iblis mendustai mereka bahwa nanti mata mereka terbuka dan akan menjadi seperti Allah yang bisa mengetahui apa yang baik dan jahat, tetapi benarkah tipu daya iblis itu sesuai dengan faktanya? TIDAK. Mata mereka memang terbuka, tetapi terbuka terhadap keadaan diri yang telanjang! Sebelum makan buah tersebut, mereka tidak pernah merasa diri telanjang, karena itu adalah sesuatu yang baik di mata Allah, namun setelah makan buah tersebut, mereka justru merasa diri telanjang. Dengan kata lain, dosa mengakibatkan manusia menyadari fakta sebenarnya, yaitu fakta telanjang yang sekarang bukan lagi baik, tetapi menjijikkan dan malu. Oleh karena itu, Alkitab mencatat bahwa setelah mereka mengetahui bahwa mereka telanjang, mereka langsung menyemat (terjemahan Inggris: sew artinya menjahit) daun-daun pohon ara, lalu dari daun tersebut, mereka membuat cawat untuk menutupi tubuh mereka yang telanjang.

Dari sini, kita belajar bahwa dosa mengakibatkan manusia menjadi malu melihat diri yang sebenarnya yaitu yang telanjang/terbuka dan lemah. Oleh karena malu, maka mereka membuat semacam pakaian untuk menutupinya. Pdt. Dr. Stephen Tong pernah mengatakan bahwa inilah awal mula munculnya budaya berbusana. Sebenarnya, ini bukan hanya awal mula budaya busana, tetapi lebih ke masalah keterbukaan. Dosa mengakibatkan manusia bukan hanya malu melihat diri yang sebenarnya, tetapi enggan melihat diri yang sebenarnya. Mengapa? Karena dengan melihat diri yang sebenarnya, mereka malah mendapati diri mereka yang lemah, dll. Keengganan itulah yang mengakibatkan manusia makin lama makin membius diri, supaya dirinya tidak terbuka. Bagaimana caranya?
1. Terus melihat kelebihan diri
Seorang yang terus membius diri atau memanipulasi diri biasanya akan terus melihat bahwa diri sendiri hebat, pandai, dll. Ia paling bangga jika dirinya dibutuhkan oleh orang lain, lalu dengan sombongnya, ia akan berkata bahwa tanpa dirinya, orang lain pasti gagal, dll. Sebaliknya, ia tidak akan menyukai jika ada orang lain yang menunjukkan kelemahannya. Dari mana konsep ini muncul? Mungkin saja memang dari kecil, dirinya selalu dimanja, sehingga ia dari kecil tumbuh dengan sikap egois dan sombong karena ia merasa terus dibutuhkan oleh orang lain termasuk saudara-saudara dan orangtuanya. Jika orang lain tidak mendengarkan saran atau nasihatnya (bahkan untuk hal-hal yang sepele), ia akan langsung marah-marah dan mencap orang lain itu bodoh, dll. Atau mungkin juga konsep ini muncul karena ia sering mendengar pelatihan motivasi yang terus menggenjot kehebatannya sendiri bahwa ia bisa melakukan apa pun.

2. Terus melihat kelemahan orang lain
Seorang yang terus melihat kelebihan diri adalah orang yang tidak akan puas jika ada orang lain yang (sedikit) lebih hebat dari dia, karena jika ada orang lain yang lebih hebat dari dia, ia akan tersaingi. Oleh karena itu, seorang yang terus melihat diri pasti mengakibatkan ia akan terus melihat bahwa orang lain itu lebih lemah dari dirinya. Ia paling gemar mengkritik orang dari hal-hal primer sampai yang tersier (seperti cara jalan, berpakaian, dll). Sebaliknya, ia paling susah dikritik dengan segudang alasan yang dibuat-buat (namun tidak logis). Yang paling celaka, orang “Kristen” yang terus melihat kelemahan orang lain adalah ia yang nekat mengkritik kelemahan penulis Alkitab yang terlalu bertele-tele.


Seorang yang terus membius diri supaya dirinya tidak terbuka baik di hadapan Allah dan orang lain sebenarnya bukan hal yang benar, karena:
1. Makin membius diri, ia makin berdosa dengan mengganti otoritas Allah dengan otoritas dirinya sendiri.
Orang yang makin membius diri dengan terus melihat kelebihan diri sekaligus kelemahan orang lain sebenarnya membuktikan bahwa ia makin berdosa di hadapan Allah. Mengapa? Karena ia dengan berani membuang otoritas Allah atas segala sesuatu dan menggantinya dengan otoritasnya sendiri yang paling hebat! Coba buktikan: orang yang terus menganggap diri paling hebat (mirip “Allah”) selalu menginginkan orang lain HANYA mendengarkan perkataannya saja dan tidak mendengarkan perkataan orang lain dengan alasan klise, “itu demi kebaikanmu”, dll. Benarkah motivasi baik pasti benar di mata Allah? (motivasi baik TIDAK selalu benar dan kudus di mata Allah!) Bukankah orang yang berani berkata bahwa HANYA perkataannya saja yang patut didengar membuktikan bahwa dia menjadikan diri sendiri sebagai “Tuhan”? Dan itulah DOSA!

2. Makin membius diri, ia makin munafik.
Orang yang makin membius diri bukan hanya makin berdosa, namun juga makin munafik. Artinya: karena terus merasa diri paling hebat, maka dengan segala daya upaya, ia akan menutupi segala kelemahannya dengan berpura-pura “hebat” dan “pandai”, padahal faktanya tidak. Makin ia berpura-pura, makin terlihat ia sebenarnya tidak terlalu hebat. Makin ia terlihat tidak terlalu hebat, pada saat yang sama, makin ia benar-benar sangat tidak hebat. Dan itulah fakta aslinya yang kerap kali disembunyikannya!

3. Makin membius diri, ia makin tersendiri.
Seorang yang sudah berdosa apalagi munafik, tetapi masih menganggap diri paling hebat mengakibatkan hidupnya pasti makin tersendiri, karena banyak orang di sekitarnya akan mulai menjauhinya. Mengapa? Karena orang yang terus membius diri terus merasa bahwa ia tidak memerlukan orang lain, namun anehnya sambil berkata demikian (bahwa ia tidak memerlukan orang lain), ia berkata kepada orang lain. Sebuah keanehan cara berpikir! Bayangkan saja, jika Anda hidup bersama dengan orang yang terus memamerkan kelebihan diri dan menghina Anda setiap hari, siapkah Anda menerima semua cercaannya baik primer maupun tersier? Kalau saya pribadi sih, saya benar-benar tidak sanggup.


Jika membius diri bukan sesuatu yang benar, apa yang harus orang Kristen lakukan? Kita sebagai orang Kristen harus melihat diri kita secara tepat dan benar di mata Allah. Prof. Anthony A. Hoekema, Th.D. di dalam bukunya Manusia: Ciptaan Menurut Gambar Allah (2003) mengajarkan bahwa manusia itu termasuk pribadi yang diciptakan. (hlm. 8) Artinya:
1. Manusia: Pribadi
Manusia adalah sosok makhluk yang berpribadi yang tentunya memiliki tubuh dan jiwa/roh yang terdiri dari: hal-hal fisik (wajah dan bentuk tubuh), pikiran, emosi, dan kehendak. Ia tidak seperti binatang yang hanya menggunakan naluri saja. Ia juga tidak seperti malaikat yang hanya memiliki roh. Karena memiliki tubuh dan jiwa/roh, maka tentu saja manusia bisa berpikir, merasa, menangis, tertawa, dll. Karena memiliki pikiran, maka manusia yang berpribadi juga adalah manusia yang kreatif yang mampu menciptakan hal-hal baru. Dari kreativitas dan segala sesuatu yang ada di dalam diri manusia, maka manusia dapat mandiri hidup di dunia ini. Inilah sisi positif dari seorang manusia.

2. Manusia: Diciptakan/Ciptaan
Namun, manusia juga memiliki sisi negatifnya, yaitu selain sebagai makhluk yang berpribadi, maka manusia juga sebagai makhluk ciptaan/dicipta. Dengan kata lain, segala kreativitas dan kemandirian manusia bersifat relatif. Karena dicipta, maka ia tentu juga seorang makhluk yang terbatas sekaligus berdosa.
Sebagai makhluk yang terbatas, ia hanya mengetahui sesuatu berdasarkan ruang dan waktu: di tempat ini dan pada masa kini dan/atau masa lalu. Ia otomatis tidak mengetahui apa yang terjadi di masa depan atau pada orang lain di tempat yang berbeda, karena itu di luar kemampuannya. Ia bisa menerka apa yang terjadi kemudian atau apa yang akan dilakukan oleh orang lain di tempat yang berbeda, namun terkaan itu hanya bersifat relatif yang belum bisa dibuktikan keabsahannya.
Sebagai makhluk yang berdosa, ia tentu memiliki bibit dosa asal dari Adam dan Hawa. Dan ini menyadarkannya bahwa ia bukan manusia sempurna yang paling hebat. Makin seorang Kristen menyadari bahwa diri sendiri berdosa, makin ia tidak sombong dan menyadari bahwa ia tentu memerlukan orang lain entah itu nasihat, saran, pengajaran, penghiburan, dll.


Setelah kita mengerti 2 poin penting berkenaan dengan siapakah manusia, maka apa yang harus orang Kristen lakukan selanjutnya?
1. Bersyukur dan makin bergantung kepada Allah
Orang Kristen sejati adalah orang Kristen yang telah, sedang, dan terus-menerus menyerahkan hatinya kepada Allah. Ketika menyadari bahwa ia adalah pribadi yang dicipta, maka orang Kristen yang telah menyerahkan hatinya kepada Allah seharusnya bersyukur. Bersyukur atas apa? Bersyukur atas anugerah-Nya yang telah menghembuskan nafas hidup-Nya kepada kita, sehingga kita menjadi makhluk yang hidup. Bersyukur karena Ia telah memberikan kita akal budi, hati, dll untuk dipergunakan di dalam dunia. Bersyukur pula karena selain sebagai pribadi, kita juga diciptakan (dengan potensi keterbatasan dan dosa) dan hal ini menyadarkan kita agar kita jangan sombong, tetapi makin bergantung kepada Allah.

2. Terbuka di hadapan Allah
Seorang yang sudah bersyukur dan terus bergantung kepada Allah adalah orang Kristen yang memiliki kerinduan terdalam untuk terbuka di hadapan Allah. Ia rela “telanjang” di hadapan-Nya dengan maksud agar Ia menyelidiki, mengoreksi, dan memimpin dirinya kepada Kebenaran sejati. Orang Kristen ini akan berkata seperti Raja Daud yang berkata, “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (Mzm. 139:23-24) Di kedua ayat ini, Daud bukan hanya memohon agar Allah mengenal hatinya dan menguji dirinya, namun juga agar Allah menuntunnya ke jalan yang kekal. Berarti, keterbukaan hati Daud kepada Allah tidak membuat Daud menjadi egois yang ingin agar Allah mengenal hatinya saja, tetapi ia juga ingin agar Allah juga mengoreksi dirinya yang salah sekaligus memimpinnya kepada jalan-Nya yang kekal. Dengan kata lain, seorang yang terbuka di hadapan Allah adalah seorang yang benar-benar menginginkan Allah mengenal dan menguji hatinya sekaligus mengoreksi iman dan cara berpikirnya yang salah, lalu menuntunnya kepada jalan Allah yang kekal. Keterbukaan seorang Kristen terhadap Allah membuktikan bahwa ia adalah seorang Kristen yang tulus dan murni di hadapan-Nya.

3. Terbuka di depan orang lain
Seorang yang sudah terbuka di hadapan Allah mengakibatkan ia juga terbuka di depan orang lain. Artinya:
a) Orang ini siap ditegur.
Orang Kristen yang menyadari bahwa dirinya terbatas dan berdosa adalah orang Kristen yang selalu menyadari bahwa ia bukan segala-galanya dan ia membutuhkan orang lain untuk menegur dan mengingatkannya ketika ia bersalah atau bahkan berdosa. Rev. Bob Kauflin dalam bukunya Worship Matters mengatakan, “mencintai teguran akan membuat saya lebih sadar akan kenyataan bahwa saya membutuhkan kasih karunia Allah dalam hidup aya. Teguran membantu saya bergumul melawan sikap meninggikan diri. Teguran merupakan pertanda bahwa saya membutuhkan orang-orang lainnya ketika menjalani proses pengudusan. Teguran membantu saya mengakui bahwa saya tidak mengetahui segalanya.” (hlm. 322)
Dari perkataannya ini, kita menyimpulkan bahwa teguran menyadarkan kita bahwa: Pertama, kita terbatas dan terus membutuhkan anugerah Allah dalam hidup kita. Tanpa anugerah-Nya, kita tak bisa apa-apa. Kedua, kita tidak boleh sombong. Teguran menyadarkan kita bahwa kita bukan orang yang terhebat yang bisa seenaknya sendiri menghina orang lain. Ketiga, kita membutuhkan orang lain di dalam proses pengudusan kita. Ketika kita berjalan di dalam perjalanan iman Kristen kita, kita pasti mengalami saat-saat kita down secara rohani dan saat itulah teguran dari saudara seiman menyadarkan dan membangkitkan kita untuk hidup bagi Kristus. Keempat, kita tidak mengetahui segalanya. Meskipun kita memiliki pikiran, kita harus menyadari bahwa pikiran kita terbatas dan ada hal-hal yang tidak kita pikirkan ternyata dipikirkan oleh orang lain. Oleh karena itulah, kita harus terbuka terhadap teguran, karena dari teguran, kita bisa menimba ilmu dari orang lain!

b) Orang ini konsisten dan tulus.
Selain siap ditegur, orang ini juga termasuk orang yang konsisten dan tulus di mana apa yang dikatakan dan dilakukannya berasal dari hatinya yang terdalam dan murni. Dengan kata lain, tidak ada tedeng aling-aling di dalam apa pun yang dikatakan dan dilakukannya. Ia bukan orang yang pandai merayu orang lain dengan rayuan gombal demi motivasi busuk dan/atau di sisi lain, ia bukan seorang yang gemar mengkritik orang lain. Dengan kata lain, ia adalah seorang yang jujur. Ia akan memuji orang yang benar-benar pantas dipuji dan ia akan mengkritik orang yang pantas dikritik sambil memberikan teguran yang membangun.


Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menyerahkan hati kita kepada-Nya, lalu terbuka di hadapan Allah dan sesama? Biarlah renungan singkat ini menyadarkan kita tentang siapa kita di hadapan-Nya.

Resensi Buku Khusus Memperingati Jumat Agung & Paskah: PANTAS IA DISEBUT SANG JURUSELAMAT (Rev. Max Lucado, M.A.)

…Dapatkan segera…



Buku Khusus Memperingati Jumat Agung dan Paskah
PANTAS IA DISEBUT SANG JURUSELAMAT

oleh: Rev. Max Lucado, M.A.

Penerbit: VISI Press, Bandung, 2011





Deskripsi singkat dari Denny Teguh Sutandio:
Siapakah Yesus? Hanya sekadar guru yang baik dan pendiri agama? TIDAK. Kristus adalah Juruselamat. Dari mana kita mengetahui bahwa Kristus adalah Juruselamat? Dari Alkitab melalui salib. Ketika kita merenungkan Alkitab dan menghampiri kisah tentang salib Kristus, di situ kita mengerti Pribadi Kristus yang sesungguhnya. Di dalam salib, Rev. Max Lucado, M.A. di dalam bukunya Pantas Ia Disebut Sang Juruselamat memaparkan bahwa kita dapat merenungkan kata-kata-Nya di kayu salib yang berpengaruh. Di dalam salib pula, kita dapat melihat saksi-saksi di seputar penyaliban Kristus, mulai dari Petrus, Yohanes, dll. Dan akhirnya, melalui salib pula dan tentunya kebangkitan-Nya, kita dapat merenungkan hikmat-Nya yang tak terselami yang mampu menjawab permasalahan manusia, khususnya pengharapan. Biarlah melalui buku renungan menjelang Jumat Agung dan Paskah ini dapat membawa hati dan pikiran untuk merenungkan kematian dan kebangkitan-Nya.





Profil Rev. Max Lucado:
Rev. Max Lucado, B.A., M.A. yang lahir pada tahun 1955 di San Angelo, Texas sebagai anak bungsu dari empat orang anak dari Jack dan Thelma Lucado adalah Pendeta senior bidang literatur dan khotbah di The Oak Hills Church, San Antonio, Texas, U.S.A. Beliau menyelesaikan studi Bachelor of Arts (B.A.) dalam bidang Mass Communications di Abilene Christian University, Abilene, Texas, U.S.A. dan Master of Arts (M.A.) dalam bidang Biblical and Related Studies di Abilene Christian University, Abilene, Texas, U.S.A.





Dapatkan segera di: http://www.visi-bookstore.com

01 April 2011

THEOLOGY AND SCIENCE (Pdt. Yakub Tri Handoko, Th.M., Ph.D.-Cand.)

THEOLOGY AND SCIENCE:
Short History of Debate & Theological-Philosophical Assesment


oleh: Pdt. Yakub Tri Handoko, Th.M.




Signifikansi
Perdebatan antara theologi dan sains sudah berlangsung sangat lama. Perdebatan ini telah menghasilkan beragam sikap untuk menjelaskan relasi antara theologi dan sains. Sebagian orang menganggap bahwa dua hal ini sama sekali terpisah dan tidak seharusnya dibicarakan bersama-sama, apalagi dalam konteks mencari kaitan antara keduanya. Yang lain berpandangan bahwa salah satu dari bidang ini memiliki kebenaran yang lebih tinggi daripada yang lain. Jika keduanya bertentangan, maka kebenaran terletak pada salah satu bidang yang dianggap lebih otoritatif, entah itu theologi atau sains. Sebagian yang lain mempercayai bahwa dua bidang ini masih dapat diharmoniskan.

Walaupun perdebatan di atas sudah berlangsung sangat lama, namun hal ini masih signifikan untuk dibahas. Ada dua hal yang mendasari keyakinan ini. Pertama, pelajaran dari sejarah. Sejarah perdebatan yang panjang antara theologi dan sains telah mengubah pandangan banyak orang terhadap gereja, theologi, bahkan otoritas Alkitab itu sendiri. Perubahan yang terjadi cenderung ke arah yang negatif. Dampak yang sudah terjadi ini semakin sulit untuk diperbaiki dalam sebuah zaman yang semakin sekuler dan humanis. Kecil kemungkinan bagi para theolog untuk mempengaruhi dan mengubah opini yang sudah tercipta, karena hanya sedikit orang yang belajar theologi. Mereka lebih banyak bersentuhan denga buku-buku sains daripada theologi. Di samping itu, alam memang tampak lebih dekat dengan manusia daripada Allah yang terkesan jauh sekalian abstrak bagi kebanyakan orang. Manusia cenderung memusatkan perhatian pada yang tampak, sedangkan yang tidak tampak kurang diminati.[1]

Kedua, beragam kepentingan di balik perdebatan. Selain melibatkan motivasi theologis seperti disinggung di atas, perseteruan antara theologi dan sains juga merambah pada bidang lain, misalnya moral. Willem B. Drees dengan tepat menjelaskan bahwa sebagian orang yang tertarik dengan perdebatan ini ternyata lebih mengedepankan aspek pragmatis daripada teoritis. Mereka ingin melihat kontribusi apa yang dapat diberikan oleh para theolog dan ilmuwan bagi kesejahteraan umat manusia. Secara khusus mereka menggumulkan tentang solusi bagi problem-problem ekologis.[2] Mereka bukan hanya tertarik pada isu epistemologis (siapa yang benar dan bagaimana hal itu dapat dibuktikan), tetapi pada isu praktis.


SEJARAH SINGKAT PERDEBATAN ANTARA THEOLOGI DAN SAINS
Dalam sejarah perkembangannya, theologi terus mendapatkan lawan tangguh yang berusaha menjadikan diri sebagai ratu ilmu pengetahuan (the Queen of Science). Dari awal Kekristenan ilmu filsafat selalu bersaing dengan theologi. Dalam beberapa kasus fisafat berhasil mempengaruhi jemaat Kristen mula-mula (1Kor. 1:23; 15:12; Kol. 2:8; 1Yoh. 4:2). Pada abad permulaan filsafat semakin merajalela, terutama filsafat gnostisisme. Sepanjang sejarah gereja pun filsafat terus berebut posisi dengan theologi.

Tanpa mengecilkan pengaruh dari filsafat terhadap orang-orang Kristen, makalah ini hanya akan memfokuskan pada satu ilmu, yaitu ilmu alam (sains). Pembatasan ini didasari pada judul seminar yang memang membahas tentang relasi Kitab Suci dan alam. Walaupun fokus utama dalam makalah ini bukanlah filsafat, namun - seperti akan dipaparkan berikut ini – filsafat tetap tidak bisa diabaikan secara total, karena perdebatan antara theologi dan sains juga mencakup filsafat. Baik theologi maupun sains sama-sama mengandung muatan filosofis di dalamnya.

Jika perdebatan hanya difokuskan pada sains, maka titik awal pertama yang perlu disinggung berkaitan dengan seorang ilmuwan yang bernama Nikolas Kopernikus (1473-1543 M) dan Galileo Galilei (1564-1542 M). Keduanya dikenal sebagai tokoh yang mempopulerkan teori Heliosentris (matahari sebagai pusat tata surya). Pada waktu konsep ini mulai berkembang, gereja merespon pandangan ini secara negatif dan menganggap keduanya sebagai pengajar ajaran sesat yang merendahkan otoritas gereja dan Alkitab. Mereka pun dipaksa untuk mengubah pandangan.

Satu hal yang perlu diketahui dalam perseteruan ini adalah perseteruan ini lebih bersifat filosofis daripada theologis. Yang ditentang oleh dua ilmuwan tersebut bukanlah otoritas Alkitab tetapi validitas filsafat Aristotelian yang mendasari pandangan geosentris (bumi sebagai pusat dari tata surya) yang dianut oleh gereja. Thomas H. Henderson menulis, “It was not a simple conflict between science and religion, as usually portrayed. Rather it was a conflict between Copernican science and Aristotelian science which had become Church tradition.”[3] Berdasarkan konsep kosmologisnya yang bertingkat-tingkat, Aristotle meyakini bahwa alam semesta memiliki batasan dan berbentuk sebuah bola dengan bumi sebagai pusat yang tidak bergerak.[4] Konsep inilah yang diadopsi oleh gereja dan dijadikan ajaran resmi. John Dillenberger mengungkapkan hal ini dalam sebuah kalimat, “The Ptolemaic system which had originated in Hellenic soil and which subsequently acquired Aristotelian form, had been brought into close relationship with the Biblical picture...his understanding of nature had been accepted but it was given Christian baptism.[5] Jadi, perseteruan ini “was not a choice between one science and another, or between one philosophy and a scientific view; it was a choice between philosophies, between the Aristotelian-Ptolemaic or the Neo-Platonic-Phthagorean.” [6]
Bukti lain bahwa Kopernikus dan Galileo tidak berusaha merendahkan ajaran ALkitab dapat dilihat dari kesalehan dan iman mereka. Dari semua catatan tentang kehidupan dan perkataan Galileo terlihat bahwa dia adalah seorang Katholik yang ketat.[7] Dalam suratnya kepada Madame Christina, pemimpin di Tuscany, Galileo menulis dengan tegas bahwa Kitab Suci tidak mungkin menyatakan sesuatu yang tidak benar. Ia juga menegaskan bahwa Kopernikus tidak mengabaikan Alkitab.[8]

Apa yang diajarkan oleh Kopernikus dan Galileo jelas merupakan sesuatu yang sangat serius di mata gereja pada waktu itu. Jika pandangan Aristotle yang sudah sedemikian terhisap dalam dogma gereja ternyata salah, maka berbagai masalah akan mencuat ke permukaan. Menurut Dillenberger ada tiga alasan utama mengapa teori yang baru ini menimbulkan masalah bagi para theolog: “First, it seemed to run counter to those Bible passages which assumed the centrality of the earth and the movement of the sun. Second, it dislodged the comfortable interrelation of space and destiny. Third, it confronted man with the anxiety engendered by infinity.”[9]

Seiring dengan “kemenangan” Kopernikus dan Galileo atas gereja, sebagian orang mulai menyangsikan wibawa para pemimpin gereja. Pada akhirnya sikap skeptis ini juga diarahkan pada Alkitab. Mulai akhir abad ke-18 otoritas Alkitab dalam hal-hal yang berkaitan dengan alam mulai dipertanyakan secara serius. Pada masa inilah terjadi perubahan pemahaman yang sangat radikal dan kritis terhadap Alkitab. Hal ini berkaitan dengan perkembangan ilmu-ilmu baru dalam bidang geogologi, palaentologi dan biologi. Kalau penemuan Kopernikus dan Galileo sebelumnya hanya berhubungan dengan sesuatu di luar dunia ini, penemuan-penemuan baru dalam tiga bidang ini lebih berkaitan dengan sejarah dunia. Ketika hasil penemuan ini berkontradiksi dengan catatan Alkitab, maka akibat yang ditimbulkan akan menjadi lebih serius. Langdon Gilkey menyatakan, “When Copernican, Galilean, and Newtonian astronomy had taken away the view of the spatial realms of the universe implied in scriptre, that was incidental to the Bible, which was in essence no geographical tract. But when the new sciences showed that the Biblical history was in error, that was something else again, and the understanding of what Biblical truth was had perforce to change.” [10] Pendapat yang senada juga disuarakan oleh Bernard Ramm, “The battle to keep the Bible as a respected book among the earned scholars and the academic world was fought and lost in the nineteenth century. The astronomy of Copernicus did not begin to have the influence on human thought as did the events of the nineteenth century. During that period there was a mushrooming of anti-Biblical, anti-Christian movements.”[11]

Kalau pada masa sebelumnya semua catatan Alkitab yang berkaitan dengan alam dianggap sebagai kebenaran yang tidak perlu dibuktikan lagi, mulai abad ke-19 kecenderungan ini berbalik arah. Semua keterangan Akitab tentang alam, sejarah maupun geografi mulai ditolak. Sains sekarang menjadi hakim atas Alkitab.

Situasi di atas pada gilirannya membawa banyak perubahan penting yang bersifat negatif. Pengaruh ini pun akhirnya merambah pada bidang keagamaan secara umum. Gilkey berpendapat bahwa “the most important change in the understanding of religious truth in the last centuries – a change that still dominates our thought today – has been caused more by the work of science than by any other factor, religious or cultural.”[12] Situasi ini semakin diperparah dengan perkembangan berbagai filsafat yang anti Kekristenan seperti rasionalisme, empirisisme dan eksistensialisme. Salah satu perubahan yang esensial pada masa ini adalah cara pandang terhadap Alkitab yang hanya dilihat sebagai buku yang penuh simbol, bukan catatan historis, sebagaimana dirangkum dengan baik oeh Gilkey, “The change referred to is that from the understanding of religious truths as made up of propositions containing, among other things, divinely revealed “information” on almost any topic of interest, to the understanding of them as a system of symbols which make no authoritative assertions about concrete matters of fact.”[13]

Kondisi di atas memberikan tantangan yang berat bagi para theolog Injili yang masih mempercayai kebenaran Alkitab. Mengingat pada waktu itu bukti-bukti ilmiah yang mendukung Alkitab tidak terlalu banyak, sebagian theolog terjebak untuk mengikuti kebenaran sains. Mereka berpendapat bahwa jika theologi dan sains berbeda pendapat, maka theologi harus menyesuaikan dengan sains. Salah satu contoh dari hal ini adalah upaya beberapa orang untuk menerapkan Gap Theory pada waktu menafsirkan Kejadian 1:1-2.[14] Kecenderungan yang salah seperti ini disinggung sekaligus ditentang oleh Weston W. Field. Ia mengatakan:

Some have intentionally abandoned the clear implications of Scripture that the earth and everything on it, the universe and everything in it (even allowing for reasonable gaps in the genealogies of Genesis) were created ex nihilo (out of nothing) but a few thousand years ago. Others, in an unconscious, or perhaps even a conscious, desire to gain respectability with those in the fields of science who completely dismiss the Bible as unscientific and, therefore, of little or no value where it impinges upon matters of scientific interest, have unwittingly compromised the truth of Scripture by seeking what appear to be unnatural interpretations of Scripture, in order to form supposed harmonisations between the facts of the Bible and what are felt to be the facts of science, many of which are only theories.[15]




INTEGRASI: SEBUAH PERSPEKTIF THEOLOGIS
Bagaimana orang Kristen seharusnya menyikapi perdebatan antara theologi dan sains? Apakah keduanya memang bertentangan dan tidak mungkin diharmonisasikan? Penjelasan berikut ini akan membuktikan bahwa kontradiksi sebenarnya hanya terjadi pada tingkat penafsiran (theologi versus sains). Secara ontologis kitab suci (scripture) dan alam (nature) tidak tidak mungkin mengandung kontradiksi. Jika keduanya ditafsirkan secara tepat, maka tidak mungkin ada kontradiksi antara keduanya. Raam menulis:
If we believe that the God of creation is the God of redemption, and that the God of redemption is the God of creation, then we are committed to some very positive theory of harmonization between science and evangelicalism. God cannot contradict His speech in Nature by His speech in Scripture. If the Author of Nature and Scipture are the same God, then the two books of God must eventually recite the same story.[16]

Jack Wood Sears dengan yakin menyatakan:
I recognize that conflicts now exist between our understanding of scientific truth and our understanding of Biblical truth, but I believe these conflicts should not surprise anyone but should be expected. I also believe that as we approach more nearly the Truth (and I believe that there is Absolute Truth) these conflicts will diminish. If ultimate truth is ever attained in science and in our understanding of the Bible, I believe the conflict will evaporate completely.[17]

Pendapat di atas mendapat dukungan yang kuat dalam Alkitab. Pertama, Alkitab dimulai dengan Allah yang menciptakan langit dan bumi (Kej 1:1).[18] Pemunculan di bagian paling awal Alkitab menunjukkan betapa pentingnya teks ini. Posisi seperti ini menyiratkan bahwa konsep penciptaan dunia oleh Allah merupakan dasar dari seluruh Alkitab. Dalam salah satu judul bab dari bukunya yang terkenal yaitu Philosophy for Understanding Theology, Diogenes Allen menyebut bahwa pondasi dari theologi Kristen adalah fakta bahwa dunia diciptakan.[19]

Kisah penciptaan selanjutnya menunjukkan bahwa manusia adalah pusat dari dunia. Manusia diciptakan sebagai mahkota ciptaan yang diberi mandat untuk menguasai bumi (Kej. 1:26, 28).[20] Untuk menguasai bumi jelas diperlukan pengenalan terhadap alam. Manusia harus mengeksplorasi semua informasi tentang alam supaya mereka mampu menaklukkannya. Ayat inilah yang telah menjadi dasar sekaligus keunikan Kristiani dalam pergumulan ilmiah. Pandangan Timur kuno umumnya menganggap alam bersifat ilahi,[21] karena itu tidak mungkin diselidiki sedemikian rupa seolah-olah manusia berada di atas alam. Di sisi lain pandangan Hellenis justru melihat alam (materi) sebagai sesuatu yang sangat rendah,[22] karena itu tidak layak untuk diselidiki. Hanya Alkitab yang memberikan pandangan seimbang tentang alam. Kebenaran ini seharusnya mendorong orang Kristen untuk berani meneliti alam dan menggunakannya untuk kemuliaan Allah.

Kedua, Allah dapat dikenal melalui alam (wahyu umum). Keyakinan bahwa alam dapat menyatakan sesuatu tentang Allah bukanlah ide yang baru ditemukan pada masa sains modern. Mazmur 19:1 mengajarkan bahwa ciptaan menyatakan kemuliaan Allah. Paulus pun menegaskan bahwa melalui alam semesa manusia seharusnya dapat mengetahui kekuatan yang kekal dan keilahian Allah (Rm. 1:19-21). Pemberian hujan dan pengaturan musim pun di mata Paulus membuktikan bahwa sesuatu dalam diri Allah, yaitu kebaikan-Nya (Kis. 14:17; bdk. Mat. 5:45; Kis. 17:26-27).

Kebenaran ini tetap didengungkan oleh bapa-bapa gereja dan para pemikir Kristen pada periode-periode selanjutnya.[23] Menurut Origen (sekitar 185-254 M), bapa gereja yang menganut penafsiran alegoris, Allah telah meletakkan pengajaran dan pengetahuan tentang hal-hal yang tidak terlihat dalam benda-benda yang terlihat di dunia ini. Konsep ini diteruskan oleh Ambrose dari Milan (340-397 M) dan Basil Agung (329-379 M). Agustinus (354-430 M) adalah orang pertama yang memakai istilah “kitab alam” sebagai rujukan pada alam semesta sebagai refleksi kebenaran ilahi. Konsep yang lebih integratif dan konkrit tentang penggunaan alam sebagai sarana mengenal Allah dipopulerkan oleh Anselmus dan Thomas Aquinas. Keduanya berusaha membuktikan keberadaan Allah melalui argumentasi yang alamiah dan rasional.[24]

Ketiga, kedaulatan Allah yang mutlak atas segala sesuatu. Alkitab memberikan bukti yang melimpah tentang bagaimana Allah menguasai alam. Ia bukan hanya menciptakannya, tetapi juga menggunakannya untuk menggenapi rencana-Nya. Allah berada di balik semua fenomena alam, baik yang ada di langit, bumi maupun lautan (Mzm. 135:6). Dia memberikan hujan dan mengatur musim-musim (Kis. 14:17; 17:26; bdk. Kej. 2:7; Im. 26:4). Api, hujan es, salju, kabut dan angin badai dikatakan “melakukan firman-Nya” (Mzm. 148:8; bdk. Ayb. 37:6-13; 38:22-30). Mazmur 135:6 “Ia menaikkan kabut dari ujung bumi, Ia membuat kilat mengikuti hujan, Ia mengeluarkan angin dari dalam perbendaharaan-Nya.” Kemunculan matahari dan fajar setiap hari membutuhkan perintah Dia (Ayb. 38:12; Mat. 5:45a). Allah menumbuhkan rumput untuk binatang maupun tanaman untuk manusia (Mzm. 104:14-15). Ia memelihara burung di udara (Mat. 6:26), sehingga tidak ada satu pun yang jatuh ke tanah di luar kehendak Allah (Mat. 10:29). Tentang binatang-binatang di laut, pemazmur berkata kepada Tuhan, “semuanya menantikan Engkau, supaya diberikan makanan pada waktunya” (Mzm. 104:27). Jika Allah sedemikian berdaulat atas alam, sulit dimengerti jika kebenaran yang Dia letakkan di alam dan Dia jaga akhirnya berkontradiksi dengan kebenaran-Nya di kitab suci.


Problem Epistemologi: Sebuah Perspektif Filosofis
Dalam perdebatan antara theologi dan sains muncul suatu kesan bahwa apa yang dikatakan Alkitab baru akan diterima sebagai kebenaran kalau sudah dibuktikan. Di sisi lain sains mendapat posisi yang lebih kuat. Penemuan dalam sains diasumsikan sebagai sesuatu yang objektif dan pasti benar. Mereka yang tetap mempercayai catatan Alkitab yang berkontradiksi dengan suatu teori sains secara otomatis dianggap sebagai orang yang kurang rasional. Di kalangan para ilmuwan sendiri sempat timbul suatu kesan bahwa mereka yang percaya kepada kebenaran Alkitab dianggap bukan seorang ilmuwan yang sejati.

Kecenderungan di atas jelas masih memerlukan pengujian lebih lanjut. Sayangnya dalam banyak kasus, asumsi seseorang lebih banyak berperan. Inti persoalan bukan lagi terletak pada ketersediaan fakta yang mendukung satu pandangan, tetapi pada asumsi dasar yang dipakai. Dengan kata lain, inti perdebatan terletak pada masalah epistemologi.

Benarkah sains bersifat objektif dan tanpa penafsiran? Benarkah sesuatu yang benar harus dapat dibuktikan terlebih dahulu baru diterima sebagai kebenaran? Apakah sains dapat menjadi hakim atas Alkitab? Penjelasan berikut akan menjawab deretan persoalan ini.

Pertama-tama yang perlu diketahui adalah bahwa sains tidak seobjektif yang dipikirkan oleh sebagian orang.[25] Dalam sains ada penafsiran. Dalam sains bahkan ada “iman” terhadap beberapa asumsi yang tidak mungkin dibuktikan dan karena itu dianggap sebagai “kebenaran yang tidak perlu dibuktikan.” Sains kadangkala lebih merupakan suat kepercayaan daripada penyimpulan ilmiah. Walaupun hal ini dapat dimengerti, tetapi tetap tidak dapat dipertanggungjawabakan.[26]

Dalam diskusi seputar asal-usul dunia maupun manusia, sains tidak akan pernah dapat memberikan bukti yang konklusif. Scott M. Huse menulis, “it is impossible to prove scientifically any theory of origins. This is because the very essence of the scientific method is based on observation and experimentation, and it is impossible to make observations or conduct experiments on the origin of the universe.”[27] Apabila seorang ilmuwan ingin meneliti asal-usul dunia, maka dia harus memiliki iman tertentu terhadap sebuah asumsi. Dia harus beriman pada “the doctrine of uniformity, which assumes that these present processes may be extrapolated indefinitely into the past or future.”[28]

“Iman” dalam sains juga dapat dilihat dalam kasus evolusi. Huse mengutip pernyataan Harrison Matthews yang memberikan prakata untuk buku Darwin Origin of Species edisi tahun 1971 sebagai berikut: “belief in the theory of evolution is thus exactly parallel to belief in special creation – both are concepts which believers know to be true but neither, up to the present, has been capable of proof.”[29] Dengan kata lain, “evolution can only be correctly labelled as a belief, a subjective philosophy of origins, the religion of many scientists.”[30]

Hal lain yang perlu kita pahami sehubungan dengan sains adalah titik tolaknya yang berbeda dengan kebenaran Alkitab. Dalam beberapa kasus perdebatan, inti masaah terletak pada titik tolak yang berbeda. Sebagai contoh, dalam hal usia bumi. Dengan memperhitungkan kecepatan cahaya dan jarak bintang-bintang dengan bumi, sebagian ilmuwan meyakini bahwa usia alam semesta pasti sudah jutaan tahun. Pandangan ini sekalipun secara perhitungan matematis masuk akal, namun tetap didasarkan pada satu asumsi dasar yang linear (setelah bintang diciptakan, bintang memerlukan waktu jutaan tahun untuk mencapai bumi). Asumsi dasar linear ini berbeda dengan konsep penciptaan yang simultan. Dalam Kejadian 1:1 disebutkan bahwa Allah menciptakan langit dan bumi. Frase “langit dan bumi” merujuk pada segala sesuatu, termasuk bumi dan bintang-bintang. Karena keadaan bumi masih belum siap didiami (Kej. 1:2), maka Allah mulai menata dan menciptakan apa yang belum ada (Kej 1:3-31).[31] Di antara dua asumsi dasar ini – linear atau simultan - sulit ditentukan mana yang secara objektif tepat, karena tidak ada cara ilmiah apa pun untuk membuktikan mana yang tepat. Dalam hal ini orang Kristen harus mempercayai apa yang diajarkan dalam Alkitab sekalipun hal itu tidak bisa dibuktikan benar atau salah. Alkitab sendiri mengajarkan bahwa “karena iman kita mengerti bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat” (Ibr. 11:3).

“Beriman” dalam hal-hal yang ilmiah adalah tidak salah. Jika para ilmuwan mau jujur, dalam kasus-kasus tertentu secara logika lebih masuk akal mengimani ajaran Alkitab daripada ajaran sains. Contoh yang paling jelas adalah Teori Ledakan Besar (Big Bang Theory). Untuk mempercayai bahwa alam semesta yang relatif teratur ini berasal dari sebuah ledakan diperlukan iman yang lebih besar daripada mempercayai bahwa alam semesta diciptakan oleh Allah yang mahakuasa dan bijaksana. Begitu pula dengan evolusi. Diperlukan iman yang sangat besar untuk mengamini bahwa sistem tubuh manusia yang begitu kompleks dan relatif teratur merupakan hasil proses alamiah yang panjang dari sebuah zat yang paling sederhana. Diperlukan iman yang sangat besar untuk percaya bahwa sebuah keberadaan yang berpribadi dihasilkan dari sesuatu yang tidak berpribadi.


Meninjau Ulang Hermeneutika Tradisional
Dalam bagian sebelumnya telah dijelaskan bahwa kontradiksi tidak mungkin terjadi antara kitab suci dan alam. Kontradiksi hanya terjadi antara theologi dan sains. Kekalahan gereja melawan sains pada zaman dulu seharusnya memberi pelajaran yang berharga bagi orang Kristen modern untuk jeli dalam menafsirkan Alkitab.

Hal mendasar yang harus diketahui adalah bahwa Alkitab bukan buku pegangan sains. Pernyataan ini tidak berarti bahwa Alkitab tidak mengandung kebenaran ilmiah sama sekali. Beberapa buku sudah ditulis untuk membuktikan bahwa Alkitab sejak dulu sudah memberikan banyak kebenaran ilmiah yang baru diungkap oleh sains modern, misalnya bumi berbentuk bulat (Yes. 40:22), bumi terletak pada kehampaan (Ayb. 26:7).[32]

Semua “bukti ilmiah” tersebut memang membuktikan keunikan Alkitab, tetapi hal ini tidak berarti bahwa semua bagian Alkitab harus ditafsirkan secara ilmiah tanpa mengetahui makna yang sebenarnya dari teks tersebut. Orang Kristen harus memahami jenis literatur (genre), konsep dunia kuno maupun konteks suatu teks, sehingga tidak salah dalam menafsirkannya. Ketika Yosua memberhentikan matahari di Gibeon (Yos. 10), peristiwa ini tampaknya memang faktual karena banyak suku bangsa di dunia memiliki kisah leluhur tentang matahari yang tidak keluar dalam satu hari.[33] Bagaimanapun, kisah ini tampaknya tidak mengajarkan bahwa matahari yang bergerak mengelilingi bumi. Penulis Kitab Yosua hanya mencatat apa yang dikatakan Yosua waktu itu sesuai dengan konsep berpikir dunia kuno. Apa yang dikatakan Yosua hanyalah sebuah ungkapan waktu itu yang menggambarkan pergerakan matahari. Sampai sekarang pun orang modern tetap memiliki ungkapan tertentu yang menyiratkan pergerakan matahari, misalnya “matahari terbit dari timur”, “terbenam di barat.” Orang modern juga kadangkala masih menggunakan istilah “ujung dunia” sekalipun mereka mengetahui bahwa bumi adalah bulat.

Hal lain yang perlu dimiliki orang Kristen adalah keterbukaan untuk menyelidiki alam atau hal lain. Orang Kristen tidak perlu alergi dengan ilmu pengetahuan. Seiring dengan perkembangan berbagai ilmu pengetahuan, kebenaran Alkitab justru semakin lebih jelas dan diteguhkan. Dalam bidang arkheologi misalnya, berbagai penemuan baru telah memberi kontribusi positif bagi studi biblika maupun apologetika.[34] Jika ilmu alam semakin berkembang, maka di kemudian hari kebenaran Alkitab justru akan semakin terlihat. Orang Kristen harus menyatakan kebenaran dari dua buku Allah: scripture (kitab suci) dan nature (alam). #


Catatan kaki:
[1] W. Stanley Heath, Sains Iman & Teknologi (Yogyakarta: Yayasan ANDI, 1997), hlm. 42.
[2] “Where to Look for Guidance: On the Nature of “Religion and Science”, Zygon, Vol. 39, no. 2 (June 2004), hlm. 367-368.
[3] Dikutip dari “What were Galileo's scientific and biblical conflicts with the Church?”, http://www.christiananswers.net/q-eden/galileo.html.
[4] Charles E. Hummel, The Galileo Connection (Downer Grove: InterVarsityPress, 1986), hlm. 27-29.
[5] John Dillenberger, Protestant Thought & Natural Science: A Historical Study (Nashville/New York: Abingdon Press, 1960), hlm. 22. Italics ditambahkan.
[6] Ibid., 27.
[7] Salah satu sumber yang bermanfaat untuk melihat figur Galileo dari perspektif yang lain – selain dari perspektif gereja yang cenderung menempatkan Galileo sebagai tokoh sejarah gereja yang sangat negatif – adalah Dava Sobel, Galileo’s Daughter (New York: Walker & Company, 1999), hlm. 11-12; Stillman Drake, Discoveries and Opinions of Galileo (New York: Doubleday Anchor Books, 1957), hlm. 173-216.
[8] Henderson, “What were…”
[9] Protestant Thought, hlm. 26.
[10] Langdon Gilkey, Religion and the Scientific Future (New York: Harper & Row Publishers, 1970), hlm. 9.
[11] The Christian View of Science and Scripture (Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Co., 1954), 15.
[12] Religion and the Scientific Future, hlm. 4.
[13] Ibid.
[14] Sebagai contoh George H. Pember, Earth’s Earliest Ages (London: Hodder and Stoughton, reprinted, 1907).
[15] Unformed and Unfilled: The Gap Theory (Phillipsburg: Presybterian and Reformed Pblishing Co., 1976), hlm. 5.
[16] Ramm, The Christian View, hlm. 25.
[17] Conflict and Harmony in Science and the Bible (Grand Rapids: Baker Book House, 1968), hlm. 13.
[18] Ibid., 26.
[19] (Atlanta: John Knox Press, 1985), 1-14.
[20] “Berkuasa” dalam konteks ini tidak menagndung makna eksploitasi seperti yang sempat dituduhkan oleh beberapa orang terhadap Kekristenan sebagai penyebab kerusakan ekologis. Untuk jawaban singkat tapi berbobot terhadap tuduhan ini, lihat Walter C. Kaiser, Hard Saying of the Old Testament (Downer Grove: InterVarsityPress, 1988), hlm. 16-19.
[21] W. Andrew Hoffecker, ed., Membangun Wawasan Dunia Kristen Volume 2 (diterjemahkan oleh Peter Suwadi Wong; Surabaya: Momentum, 2008), hlm. 11-24.
[22] Ibid.,25-44.
[23] Untuk ringkasan yang baik dan bermanfaat tentang hal ini, lihat Peter Harrison, “The Bible and the Emergence of Modern Science”, Science & Chrisian Belief, Vol. 18, No. 2 (2006), hlm. 116-119.
[24] Lihat Collin Brown, Philosophy & the Christian Faith (Downer Grove: InterVarsityPress, 1968), hlm. 20-32.
[25] Untuk pembahasan lebih detil tentang mitos seputar sains, lihat Rousas John Rushdoony, The Mythology of Science ( Nutley, NJ: The Craig Press, 1978), hlm. 1-15.
[26] Heath, Sains, Iman & Teknologi, 8.
[27] The Collapse of Evolution (Grand Rapids: Baker Book House, 1983), 1.
[28] Henry M. Morris, Studies in the Bible and Science (Philadelphia: Presbyterian and Reformed Publishing Co., 1966), hlm. 109.
[29] Ibid., hlm. 1.
[30] Ibid.
[31] John Sailhamer, “Genesis”, Expositor’s Bible Commentary Vol. II (Grand Rapids: Zondervan Publishing House). Electronic edition.
[32] Jeff Harvey & Charles Pallaghy, Alkitab & Ilmu Pengetahuan (diterjemahkan oleh Wimanjaya K. Liotohe; Jakarta: Yayasan Pekabaran Injil “Immanuel”, 1984), hlm. 17. Harvey & Pallaghy juga memberikan banyak contoh lain dari beragam disiplin sains.
[33] Ibid., 8.
[34] Lihat William Ramsay, St. Paul the Traveller and the Roman Citizen (London: Hodder and Stoughton, 1908); The Cities of St. Paul (London: Hodder and Stoughton, 1907); The Bearing of Recent Discovery on the Trustworthiness of the New Testament (Grand Rapids: Baker Book House, 1953); Alfred J. Hoerth, Archaeology and the Old Testament (Grand Rapids; Baker Books, 1998); John McRay, Archaeology & the New Testament (Grand Rapids: Baker Academic, 1991); Merrill F. Unger, Archaeology and the New Testament (Grand Rapids: Zondervan Publishing House, 1962).




Sumber:
http://www.gkri-exodus.org/image-upload/APO%2012%20History%20of%20Debate.pdf




Profil Pdt. Yakub Tri Handoko, Th.M.:
Pdt. Yakub Tri Handoko, S.Th., M.A., Th.M., Ph.D. (Cand.), yang lahir di Semarang, 23 November 1974, adalah gembala sidang Gereja Kristus Rahmani Indonesia (GKRI) Exodus, Surabaya (www.gkri-exodus.org) dan dosen di Sekolah Tinggi Theologi Injili Abdi Allah (STT-IAA) Pacet serta dosen tetap di Sekolah Theologi Awam Reformed (STAR) dari GKRI Exodus, Surabaya. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Theologi (S.Th.) di Sekolah Tinggi Alkitab Surabaya (STAS); Master of Arts (M.A.) in Theological Studies di International Center for Theological Studies (ICTS), Pacet–Mojokerto; dan Master of Theology (Th.M.) di International Theological Seminary, U.S.A. Mulai tahun 2007, beliau sedang mengambil program gelar Doctor of Philosophy (Ph.D.) part time di Evangelische Theologische Faculteit (ETF), Leuven–Belgia. Beliau menikah dengan Nike Pamela, M.A. dan dikaruniai 2 orang putra: Calvin Gratia Handoko dan Aurel Fide Handoko. Beliau ditahbiskan menjadi pendeta di sinode GKRI pada tanggal 27 Maret 2011.




Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio.

27 March 2011

Resensi Buku-116: MAKSUD ANDA ITU TIDAK ADA DI ALKITAB? (David A. Rich)

...Dapatkan segera...




Buku
MAKSUD ANDA ITU TIDAK ADA DI ALKITAB?:
10 Kepercayaan Populer yang Tidak Benar


oleh: David A. Rich



Penerbit: Immanuel, 2010



Penerjemah: Budijanto











Deskripsi singkat dari Denny Teguh Sutandio:
Tradisi adalah sesuatu yang mendarahdaging atau turun-menurun dari nenek moyang dalam diri seseorang. Tradisi itu juga bisa berupa tradisi “Kristen” yang menyejarah (dari nenek moyang) kita yang mengajar sesuatu yang seolah-olah “masuk akal”, namun sayangnya banyak yang melawan Alkitab. Tradisi “Kristen” ini tentu tidak harus berarti berasal dari nenek moyang kita ratusan tahun lalu, mungkin dari pendeta atau orangtua atau rekan Kristen kita berpuluh-puluh tahun yang lalu. Ketika sudah terbiasa dengan tradisi “Kristen”, kita pun terlena dengan “kebenaran” yang diajarkannya seolah-olah itulah yang diajarkan Alkitab. Tradisi itu mencakup pengajaran, seperti: Ada banyak jalan menujur sorga; Tuhan menolong mereka yang menolong diri sendiri (pengaruh psikologi); Tuhan ingin Anda menjadi kaya; berdoalah giat, maka Tuhan akan menjawab; semua orang mempunyai kehendak bebas, dll. Benarkah itu sesuai Alkitab? Ataukah itu sesuai dengan filsafat manusia berdosa? David A. Rich di dalam bukunya Maksud Anda Itu Tidak Ada di Alkitab membeberkan 10 kepercayaan populer yang sering kita dengar di kalangan Kekristenan, namun bertentangan dengan Alkitab. Kemudian Rich menjelaskan alasan mengapa kepercayaan itu muncul dan bagaimana kepercayaan itu bukan saja melawan Alkitab, namun juga menghina kemuliaan Allah. Di bab terakhir, Rich menyimpulkan dan menantang para pembaca untuk kembali kepada semangat Reformasi mula-mula yaitu kembali kepada Alkitab. Biarlah buku dengan pembahasan yang sederhana bagi para pembaca Kristen awam ini boleh menuntun kita untuk makin mengerti rusaknya kepercayaan populer yang seolah-olah Alkitabiah itu dan bagaimana kita kembali kepada Alkitab dengan pengertian yang konsisten, teliti, jujur, dan bertanggungjawab.











Profil David A. Rich:
David A. Rich adalah seorang penulis dan salah seorang dari 500 pembicara profesional yang diakui di seluruh dunia.. Suatu tantangan untuk melihat dengan cara yang baru pada Alkitab memperbarui kehidupan rohaninya dan menuntunnnya untuk menulis buku 7 Biblical Truths You Won’t Hear in Church. Melalui GraceCamp Ministries, David sekarang membagikan kebenaran ajaib firman Tuhan ini di retret dan forum Kristen di samping penyajian bersamanya.


ADA APA DI BALIK SALIB-3: Salib, Penderitaan, & Awal Kemenangan Di Balik Penderitaan (Denny Teguh Sutandio)

Renungan Menjelang Jumat Agung 2011



ADA APA DI BALIK SALIB?-3:
Salib, Penderitaan, dan Awal Kemenangan Di Balik Penderitaan


oleh: Denny Teguh Sutandio



“Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.”
(Yes. 53:5)




Salib Kristus menghantarkan kita untuk merenungkan bagaimana sebagai pengikut-Nya, kita pun harus menderita bagi-Nya. Namun penderitaan yang harus kita tanggung demi mengikut-Nya bukanlah penderitaan biasa, namun penderitaan mulia. Saya menyebutnya penderitaan mulia, karena di dalam penderitaan itu terkandung tujuan mulia dan pengharapan adanya kemenangan mutlak bagi anak-anak Tuhan yang sungguh beriman di dalam-Nya. Dengan kata lain, kita mampu berkata seperti yang Paulus katakan, “Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.” (Rm. 8:18) Ada kemuliaan kekal yang pasti tersedia bagi anak-anak Tuhan meskipun harus didahului oleh penderitaan. Inilah jawaban iman Kristen terhadap problematika penderitaan. Ketika agama lain berputar terus tentang penderitaan dan solusinya, maka HANYA Kekristenan menyediakan satu-satunya jalan keluar yaitu beriman di dalam Kristus, maka penderitaan pasti berakhir dengan kemenangan total.


Pertanyaan selanjutnya, mengapa kita bisa beriman demikian? Apakah ini sebuah ilusi semu seperti yang dikatakan oleh Karl Marx yaitu seperti candu? BUKAN! Mengapa? Karena pengharapan kemenangan atas penderitaan kita didasarkan pada pengharapan pasti di dalam Kristus yang telah mati (dan bangkit) yang telah dibuktikan di dalam sejarah (iman Kristen bisa dipertanggung jawabkan secara historis)! Kematian Kristus di salib bukanlah kekalahan-Nya, tetapi justru awal kemenangan-Nya, karena:
Pertama, Ia mati bukan karena dosa-Nya, tetapi demi dosa-dosa kita. Kebanyakan orang, bahkan para pemimpin agama, meninggal di dalam dosa-dosa mereka, namun HANYA Kristus saja yang mati disalib bukan karena dosa-dosa-Nya, tetapi demi dosa-dosa umat-Nya. Dengan kematian-Nya di kayu salib, itu membuktikan tugas-Nya menebus dosa umat-Nya telah selesai dan dengan demikian, itu berarti semua dosa umat-Nya telah ditanggungkan kepada Kristus. Dan itu juga membuktikan kuasa dosa, iblis, dan maut TIDAK ada daya apa pun dalam hidup umat-Nya. Kalau kita memperhatikan film The Passion of the Christ, di situ dipertontonkan, ketika Kristus selesai mengucapkan “Sudah selesai” dan menyerahkan nyawa-Nya, di dunia lain, yaitu iblis langsung berteriak kalah. Mel Gibson sangat cerdas menggambarkan hal ini: kematian-Nya merupakan kemenangan awal yang nantinya memimpin kepada kemenangan demi kemenangan.

Kedua, Ia mati bukan karena terpaksa, tetapi karena rela demi menebus dosa umat pilihan-Nya, meskipun iblis berusaha mencobai-Nya selama itu. Saya teringat akan khotbah MP3 Pdt. Bigman Sirait yang berjudul 7 Fakta Salib, di situ beliau memaparkan bahwa kematian-Nya bukan menunjukkan bahwa Allah kita lemah dan tak berdaya, tetapi kematian-Nya merupakan kematian-Nya yang rela. Jika kematian-Nya bukan kematian yang rela, maka tidak ada seorang pun yang sanggup menahan-Nya. Bagaimana tidak, kuasa-Nya begitu dahsyat. Perhatikan Yohanes 18:4-6, “Maka Yesus, yang tahu semua yang akan menimpa diri-Nya, maju ke depan dan berkata kepada mereka: "Siapakah yang kamu cari?" Jawab mereka: "Yesus dari Nazaret." Kata-Nya kepada mereka: "Akulah Dia." Yudas yang mengkhianati Dia berdiri juga di situ bersama-sama mereka. Ketika Ia berkata kepada mereka: "Akulah Dia," mundurlah mereka dan jatuh ke tanah.” Perkataan-Nya saja sanggup membuat orang banyak mundur dan jatuh ke tanah, apalagi kalau mereka berani menahan-Nya, apa yang bakal terjadi nantinya? Tetapi Ia rela menyerahkan nyawa-Nya demi menebus dosa manusia.

Ketiga, kematian-Nya menunjukkan ketaatan-Nya mutlak kepada Bapa yang telah mengutus-Nya. Kerelaan kematian-Nya disebabkan karena Ia taat mutlak kepada Bapa yang telah mengutus-Nya. Ia bisa saja melarikan diri ketika hendak disalib, namun itu tidak dilakukan-Nya, karena Ia taat kepada perintah Bapa.


Karena kematian-Nya di salib menjamin kemenangan kita atas penderitaan, maka apa yang harus kita lakukan tatkala kita menderita?
Pertama, memfokuskan iman dan pengharapan kita kepada Kristus. Penderitaan selalu mengalihkan fokus iman kita kepada penderitaan itu sendiri, sehingga makin kita menderita, makin kita jauh dari Allah. Kematian Kristus menyadarkan kita bahwa biarlah Kristus menjadi fokus iman dan pengharapan kita, karena kehadiran Kristus di dalam penderitaan bukan kehadiran pribadi yang tak pernah menderita, tetapi kehadiran Pribadi yang paling menderita di bumi ini. Hal ini seperti yang dikatakan penulis surat Ibrani, “Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.” (Ibr. 2:18) Terlalu banyak pemimpin agama yang berkoar-koar tentang penderitaan, tetapi mereka tidak pernah mengalami penderitaan berat, melainkan mereka malah hanya mencicipi sedikit penderitaan, langsung pergi ke dunia lain. Tetapi Kristus TIDAK demikian! Dari lahir sampai mati, Ia merasakan penderitaan dan bahkan penderitaan paling berat. Pada waktu lahir, Ia lahir di kandang binatang (bandingkan dengan kelahiran pendiri agama lainnya). Ia hidup sebagai anak tukang kayu (bandingkan dengan kehidupan pendiri agama lain yang berasal dari keluarga kerajaan). Kehadiran-Nya banyak dimusuhi bahkan anehnya oleh para pemimpin agama yang seharusnya menerima-Nya. Kematian-Nya begitu tragis yaitu disalib yang merupakan hukuman terberat pada zaman Romawi. Oleh karena Ia telah mengalami penderitaan dan bahkan terberat, maka Ia adalah satu-satunya yang layak kita imani tatkala kita menderita.

Kedua, melihat Kristus ada di dalam setiap penderitaan. Karena kita percaya bahwa Kristus yang pernah menderita akan menolong kita yang menderita, maka kita percaya bahwa Kristus pasti ada di dalam setiap penderitaan kita, meskipun seolah-olah Ia tidak mengulurkan tangan-Nya secara langsung untuk menolong kita. Kita percaya bahwa kehadiran-Nya memimpin dan menguatkan kita di dalam penderitaan, sehingga kita dimampukan-Nya untuk menderita bagi-Nya. Mengapa Paulus tetap tegar dan kuat di dalam memberitakan Injil? Apakah itu karena karakternya yang memang seorang tegas dan keras? Tentu tidak! Di Roma 7, ia memaparkan kepada kita tentang pergumulannya dengan dosa yang ada di dalam dirinya. Pergumulan itu bagi Paulus merupakan penderitaan berat yang bisa disamakan dengan penderitaan eksternal (bdk. renungan Ada Apa Di Balik Salib-2 tentang macam-macam penderitaan Kristen). Ketika menderita diri/internal itu, Paulus menyadari bahwa Kristus adalah jawaban final bagi pergumulan penderitaan internalnya (Rm. 7:25). Kristus jugalah yang menguatkan Paulus ketika ia sempat merasa berat dalam pelayanan (bdk. Kis. 23:11). Bahkan Ia sendiri menguatkan hati para murid, rasul, dan kita melalui Roh Kudus ketika mereka dan kita berada di dalam penderitaan. Di dalam Injil Lukas, hal ini dikatakan-Nya sebanyak 2x, yaitu di Lukas 12:11-12, “Apabila orang menghadapkan kamu kepada majelis-majelis atau kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, janganlah kamu kuatir bagaimana dan apa yang harus kamu katakan untuk membela dirimu. Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan.” dan di Lukas 21:12-15, “Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku. Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi. Sebab itu tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu. Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu.” Kesemuanya ini sudah jelas bahwa Ia selalu ada bersama-sama dengan umat-Nya ketika umat-Nya menderita, bahkan Ia menjamin di Lukas 21:16-18, “Dan kamu akan diserahkan juga oleh orang tuamu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu dan sahabat-sahabatmu dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku. Tetapi tidak sehelaipun dari rambut kepalamu akan hilang.” Penderitaan seberat apa pun yang harus ditanggung umat-Nya karena nama Kristus TIDAK akan melebihi kekuatan umat-Nya (bdk. 1Kor. 10:13). Inilah bukti jaminan bahwa Kristus pasti ada di dalam penderitaan umat-Nya. Masihkah kita kuatir ketika kita menderita?

Ketiga, melihat Kristus yang memberi kemenangan sebagai akhir penderitaan. Kita bukan hanya melihat Kristus hadir di dalam penderitaan kita, tetapi kita juga melihat Kristus yang menang dan memberi kemenangan mutlak kepada umat-Nya yang terus bertahan di dalam penderitaan. Kemenangan apa saja? Pertama, kemenangan di Sorga. Dalam ucapan bahagia, Kristus sendiri berfirman, “Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu."” (Mat. 5:11-12) Ia berjanji akan memberikan kita upah di Sorga bagi kita yang sudah menderita bagi nama-Nya. Tidak hanya itu, Tuhan melalui Paulus mengajar kita, “Seperti ada tertulis: "Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan." Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.” (Rm. 8:36-37) Kita bukan hanya diberikan upah di Sorga, bahkan kita disebut sebagai lebih dari para pemenang, karena Kristus yang telah menang dan memberi kita kemenangan demi kemenangan. Cukupkah kemenangan di Sorga? TIDAK. Kemenangan kita juga bisa sedikit dicicipi dan dilihat dampaknya ketika di dunia. Perhatikanlah sejarah gereja. Ketika gereja makin dihambat perkembangannya, gereja bukan makin sedikit, tetapi makin meluas, sehingga ada istilah yang menggambarkan hal ini: makin dibabat, makin merambat. Penganiayaan terhadap Kristen baik di Roma dahulu maupun di negara-negara komunis sekarang misalnya di RRT bukan mengecilkan jumlah pengikut Kristus, tetapi justru membuat para pengikut Kristus bertambah banyak berlipat kali ganda. Ini semua membuktikan bahwa Kristus yang kita percayai adalah Allah yang hidup dan dahsyat yang memberi kemenangan bagi umat-Nya yang menderita.

Keempat, mengarahkan hati kita untuk taat. Kemenangan Kristus di salib yang juga memberi kemenangan kita hendaklah TIDAK membuat kita terbuai, lalu lupa apa yang harus kita kerjakan. Memang di dalam penderitaan, ada Kristus di sana dan Ia pasti memberi kemenangan bagi kita, tetapi jangan lupa satu hal, di dalam penderitaan itu, kita dituntut Tuhan untuk taat pada pimpinan-Nya. Sebagaimana Kristus taat kepada Bapa dan itu mengakibatkan kematian-Nya di kayu salib menjadi awal kemenangan-Nya, maka ketaatan kita kepada-Nya merupakan awal kemenangan kita di dalam penderitaan. Ketaatan berarti siap mengatakan YA kepada kehendak Tuhan dan TIDAK kepada kehendak diri. Dengan kata lain, di dalam ketaatan harus ada unsur menyangkal diri demi menggenapkan kehendak-Nya. Mengapa perlu ketaatan dan menyangkal diri? Karena ketika kita menderita, pasti ada godaan yang mengakibatkan kita nantinya mungkin berkompromi dan akhirnya meninggalkan-Nya. Hal itulah yang Kristus alami, namun puji Tuhan, Ia berhasil melewati semuanya karena Ia taat pada Bapa. Biarlah kemenangan Kristus atas segala macam godaan itu menjadi teladan bagi kita untuk juga menang terhadap godaan di dalam penderitaan.

Kelima, mengembalikan segala kemuliaan hanya bagi Allah. Ketaatan yang dibarengi menyangkal diri ditunjukkan salah satunya dengan tidak menonjolkan diri ketika sudah dan sedang mengalami penderitaan. Sering kali saya mengamati beberapa orang Kristen yang sudah (dan sedang) mengalami banyak penderitaan, lalu menyombongkan diri di depan orang lain bahwa ia sudah menderita, lalu menghina mereka yang belum menderita. Seharusnya anak Tuhan sejati yang diizinkan Tuhan menderita bukan malahan sombong, tetapi bersyukur dan kemudian mengembalikan segala kemuliaan hanya bagi Allah Tritunggal. Mengapa? Karena mereka mengetahui bahwa penderitaan diizinkan-Nya bukan demi kehebatan mereka, tetapi untuk menguji iman mereka dan pada akhirnya memuliakan-Nya. Jangan sekali-kali mengambil kemuliaan-Nya dan menggantikannya dengan kemuliaan diri, karena jika kita berbuat demikian, sambil kita menderita, kita semakin menghina Allah yang ingin menguji iman kita. Berwaspadalah. Makin kita menderita bagi Kristus, makin kita rendah hati di hadapan-Nya karena kita menyadari bahwa tanpa-Nya, kita tidak ada apa-apanya dan tidak bisa berbuat apa-apa.


Bagaimana dengan kita? Ketika kita menderita demi Kristus, masihkah kita memiliki pengharapan iman di dalam Kristus dan kemenangan yang Dia janjikan? Masihkah kita taat pada-Nya dan memuliakan-Nya di dalam penderitaan kita? Biarlah renungan singkat ini boleh menyadarkan kita untuk terus memuliakan-Nya di dalam setiap aspek kehidupan kita sehari-hari. Amin. Soli Deo Gloria.

23 March 2011

IMAN KRISTEN DAN PERATURAN (Denny Teguh Sutandio)

IMAN KRISTEN DAN PERATURAN

oleh: Denny Teguh Sutandio




Di dunia ini, mau tidak mau, suka tidak suka, kita pasti menemukan banyaknya peraturan, entah itu bersifat umum, maupun khusus. Yang bersifat umum: peraturan di lalu lintas, sekolah/kampus, mal/plaza, gereja, dll, sedangkan peraturan yang bersifat khusus: peraturan di rumah tangga, “peraturan” antar cowok dan cewek yang sedang berpacaran (atau “peraturan” suami istri). Apa itu peraturan? Apa signifikansinya? Bagaimana pandangan orang sekitar kita tentang peraturan? Bagaimana pandangan iman Kristen yang seimbang berkenaan dengan peraturan?




PERATURAN DAN SIGNIFIKANSINYA
Peraturan adalah sekumpulan pernyataan yang bersifat mengatur seseorang atau orang-orang di berbagai tempat, seperti: sekolah, rumah, gereja, dll. Karena bersifat mengatur, maka tentu si pembuat peraturan adalah otoritas yang lebih tinggi dari orang lain, entah itu: guru, kepala sekolah, orangtua, pendeta/pastur, dll. Mengapa ada peraturan? Tujuan aslinya adalah agar masyarakat menjadi tertib dan teratur. Dengan kata lain, menurut tujuan aslinya, suatu peraturan itu bersifat positif dan sosial. Namun, karena sifat dosa pada manusia, maka peraturan yang aslinya bersifat dan bertujuan positif dan sosial akhirnya dipergunakan secara tidak bertanggung jawab dengan menambahi serangkaian peraturan yang membelenggu, sehingga peraturan menjadi suatu momok yang memberatkan.




PANDANGAN ORANG SEKITAR (TERMASUK KRISTEN) TERHADAP PERATURAN
Karena dipandang memberatkan, maka banyak orang sekarang, bahkan tak terkecuali beberapa (atau banyak?) orang Kristen menjadi orang yang anti peraturan (disebut antinomianisme yang berasal dari kata Yunani: anti = melawan; nomos: peraturan). Memang sejujurnya mayoritas penganut paham ini adalah banyak generasi muda (meskipun juga bisa dianut oleh generasi tua) entah yang mengaku Kristen atau non-Kristen. Prinsip hidup mereka adalah EGP (emang gue pikirin) dengan kepercayaan bahwa saya adalah kebenaran dan penentu kebenaran. Beberapa ciri yang muncul:

Pertama, masa bodoh dengan iman. Karena berprinsip EGP, maka banyak orang (Kristen) yang anti peraturan sama sekali cuek dengan inti hidupnya yaitu iman. Baginya, iman bukan hal penting, sehingga dalam mencari pasangan hidup pun, banyak generasi muda tanpa pikir panjang mencari pasangan yang berbeda iman dengan segudang alasan, “dia lebih baik, meskipun tidak Kristen” atau “nanti kan bisa diinjili”, dll. Rupanya, orang Kristen yang gemar melayani Tuhan pun tidak luput dari gejala masa bodoh dengan iman. Tandanya adalah mereka enggan bahkan malas belajar theologi dan membaca Alkitab. Mereka tanpa berpikir kritis menerima mentah-mentah semua khotbah mimbar, sehingga ketika ada “pendeta” sesat yang tidak percaya Allah Tritunggal pun, mereka percayai dan idolakan, meskipun itu jelas-jelas melawan Alkitab! Dengan keluguan, mereka suatu saat pasti ditipu oleh ajaran sesat: Saksi Yehuwa, dll, karena mereka pun tidak mengerti apa itu Saksi Yehuwa. Benar-benar mengerikan Kekristenan zaman sekarang.

Kedua, membuang hampir semua tradisi. Karena sudah masa bodoh dengan iman, maka tidak heran, semua hal yang berbau kuno (alias jadul: jaman dulu) dibuang, termasuk tradisi. Di dalam Kekristenan, banyak generasi muda zaman sekarang membuang hampir semua tradisi gerejawi, seperti: pengakuan iman rasuli, lagu-lagu rohani berabad-abad lalu, dll dan menggantinya dengan banyak lagu rohani yang kurang bermutu. Mereka hanya mengetahui lagu-lagu Hillsong, Franky Sihombing, dll, tetapi tidak mengetahui lagu-lagu rohani gubahan Fanny J. Crosby, Charles Wesley, Horatius Bonar, dll. Dibuangnya tradisi ditandai dengan beberapa orang Kristen ekstrem yang menganggap bahwa tradisi itu semua produk setan, sehingga tidak boleh merayakan Imlek, dll. Memang harus diakui tradisi adalah produk manusia berdosa yang pasti mengandung bibit dosa (respons manusia berdosa terhadap penyataan umum Allah melalui hati nurani), namun tradisi tetap dihormati selama tradisi itu tidak melawan Alkitab.

Ketiga, membuang etika. Karena membuang tradisi, maka tentu, banyak generasi muda membuang etika, seperti sopan santun, dll. Contohnya, banyak generasi muda sekarang melakukan free-sex sebelum menikah. Bahkan ada yang memiliki pacar lebih dari 1, tanpa merasa bersalah. Ada yang mempermainkan lawan jenis dengan rayuan manis, lalu mempermainkannya dengan menjadikan lawan jenis itu supir, ATM, dll.

Paradigma anti peraturan ini tentu saja berdampak negatif, yaitu masyarakat makin kacau. Coba terapkan paradigma anti peraturan ini di lalu lintas, lalu setiap orang yang anti peraturan menafsirkan sendiri arti lampu merah (X bilang lampu merah itu artinya berhenti, Y bilang lampu merah itu artinya jalan terus), maka silahkan pikirkan sendiri apa akibatnya?

Selain itu, penganut anti peraturan juga tidak konsisten dengan dirinya sendiri. Mau bukti? Biasanya penganut anti peraturan ini akan menyuarakan prinsipnya baik secara eksplisit maupun implisit, misalnya dengan perkataan, “Jangan atur-atur gue, gue ngelakuin apa yang gue suka. Suka-suka gue dunkz.” Logikanya, kalau dia mau konsisten sebagai penganut anti peraturan, ia tidak perlu mengeluarkan pernyataan itu, karena dengan mengeluarkan pernyataan itu, itu sudah membuktikan bahwa dia sedang “mengatur” orang lain agar orang lain tidak mengatur dirinya. Dan lagi biasanya, orang yang anti peraturan enggan dirinya diatur, tetapi gemar mengatur orang lain. Itu lebih aneh


Karena banyak generasi muda yang menganut paham anti peraturan, maka demi mendidik mereka, banyak generasi tua yang memberlakukan peraturan dengan ketat, bahkan yang ekstrem dapat disebut: legalisme. Motivasi dan tujuan mereka baik yaitu untuk mendidik generasi muda, namun sayangnya cara yang mereka terapkan pada generasi muda itu tidak benar yaitu dengan memberlakukan peraturan yang ketat dan membelenggu. Beberapa ciri yang muncul:

Pertama, peraturan = iman. Jika para penganut konsep anti peraturan masa bodoh dengan iman, maka para penganut legalisme kebanyakan bahkan mengidentikkan iman mereka dengan peraturan. Artinya, mereka sangat peduli dengan iman, namun iman mereka bukan iman yang hidup, tetapi iman yang mati. Mengapa? Karena mereka menganggap iman identik dengan peraturan atau tata cara religius yang harus diikuti, seperti: kebaktian rutin setiap hari Minggu, saat teduh, berdoa, menyanyi, dll. Atau mungkin juga, mereka mengidentikkan iman dengan peraturan theologi yang baku dan kaku yang seolah-olah diambil dari Alkitab (mungkin ada yang benar-benar dari Alkitab, ada juga bagian Alkitab yang ditafsirkan secara subjektif). Hal ini mirip seperti kelakuan orang Farisi yang dikatakan oleh Tuhan Yesus sebagai orang munafik di Matius 23. Mereka adalah orang yang mempelajari dan menghafal Taurat sebagai peraturan agamawi yang menancap di pikiran mereka, tetapi hati dan perbuatan mereka kosong.

Kedua, tradisi dan hal-hal kuno = kebenaran. Jika para penganut konsep anti peraturan sangat anti dengan tradisi, maka para penganut legalisme ini sangat memberhalakan tradisi. Di dalam Kekristenan, hal ini ditandai dengan beberapa aliran/gereja Kristen yang terlalu menekankan lagu-lagu rohani himne dan membuang hampir semua lagu rohani kontemporer dengan alasan lagu-lagu rohani himne itu bersejarah. Meskipun harus diakui hal ini ada benarnya bahwa banyak lagu rohani himne lebih bermutu ketimbang banyak lagu rohani kontemporer, tetapi hal ini hendaklah tidak menjadi suatu kesombongan tersendiri, lalu menutup cara kerja Allah menginspirasi beberapa penyanyi rohani kontemporer, apalagi menganggapnya sebagai “sampah”. Mungkin ada gereja pengagum lagu rohani himne yang mengizinkan lagu-lagu rohani kontemporer, namun lagu yang dinyanyikan hanya itu-itu saja, seperti kekurangan bahan lagu! Ada juga tipe gereja Kristen yang karena terlalu memberhalakan tradisi gerejawi, semua kebaktian gerejanya harus menggunakan liturgi, hampir tidak ada ekspresi dalam ibadahnya. Mereka menjadikan jemaatnya seperti robot hidup yang hanya tinggal menyanyi, mengucapkan Pengakuan Iman Rasuli, duduk mendengarkan khotbah, lalu pulang. Diberhalakannya tradisi juga ditandai dengan beberapa (atau banyak?) generasi tua (bahkan yang mengaku “Kristen”) mendidik anaknya untuk menaati orangtuanya 100% tanpa kompromi. Mereka masa bodoh dengan Allah dan panggilan-Nya yang unik bagi setiap anak, yang terpenting bagi mereka adalah kehendak dan keinginan orangtua yang harus dipenuhi oleh si anak, jika tidak, si anak pasti dicap bu hao (tidak patuh). Beberapa orangtua mewajibkan anaknya ikut sembahyang di depan foto kakek dan neneknya yang meninggal, meskipun si anak sudah menjadi Kristen.

Para penganut legalisme meskipun secara motivasi itu baik, namun secara tidak sadar mereka memberhalakan peraturan dengan mengidentikkannya sebagai kebenaran dan Allah yang harus disembah. Selain itu, saya jamin beberapa dari mereka yang memberlakukan peraturan secara ketat tidak akan pernah bisa konsisten dengan peraturan yang dibuatnya. Dimulai dari perilaku orang Farisi dan ahli Taurat yang suka menuding orang lain berbuat dosa, seperti membunuh, namun mereka tidak sadar bahwa mereka sendiri telah membunuh Anak Allah yang Mahatinggi, yaitu Tuhan Yesus dan berusaha melenyapkan para pengikut Kristus, mulai dari Paulus, dll. Lalu, ada beberapa orangtua yang ketat memberlakukan peraturan kepada anaknya, namun dia sendiri tidak menjadi teladan bagi anaknya. Contoh, di dalam acara reality show Uya Memang Kuya tanggal 16 Maret 2011, seorang ibu melarang anak perempuannya menggunakan rok mini, namun ibunya sendiri pernah menggunakan rok mini meskipun jarang. Saya mengerti maksud ibu ini tentu saja baik, namun peraturan itu seharusnya menjadi peraturan bagi dirinya sendiri terlebih dahulu.




IMAN KRISTEN YANG SEIMBANG TERHADAP PERATURAN
Jika dunia kita dan beberapa orang Kristen terjebak ke dalam 2 titik ekstrem: antinomianisme dan legalisme, maka bagaimana pandangan iman Kristen yang seimbang terhadap peraturan? Mari kita kembali ke Ulangan 6:4-7.

Di Ulangan 6:4, Allah mengajar umat-Nya, Israel tentang iman kepercayaan mereka yang benar, “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!” Ayat ini sering disebut sebagai shema, karena bahasa Ibrani dari kata “dengarlah” dalam ayat ini adalah shâma‛. Pernyataan/pengakuan iman (=kredo) ini dilanjutkan dengan firman Allah, “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” (ay. 5) Kredo mengakibatkan seorang percaya bukan hanya menghafal kredo, namun juga mengerti artinya yaitu dengan mengasihi Allah yang membuat dan menjadi inti dari kredo itu. Inilah yang membedakan Kekristenan berbeda dari semua agama. Jika semua agama percaya adanya Tuhan, mereka akan mengajar umatnya untuk takut akan Dia, tanpa ada perintah untuk mengasihi-Nya. Kekristenan mengajar: kepercayaan mengakibatkan tindakan mengasihi yang dipercaya. Cukupkah sampai di sini? TIDAK. Di ayat 6-7, Allah berfirman, “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.” Berarti Allah ingin mereka yang mengasihi-Nya juga adalah mereka yang menerapkan peraturan agar keturunannya mengasihi Allah juga.

Dari Ulangan 6:4-7, kita belajar beberapa poin penting:
Pertama, peraturan sejati berasal dari Allah. Ketika kita membaca ulang Ulangan 6:4-7, maka urutannya menjadi jelas: kredo mengakibatkan kasih dan kasih mengakibatkan peraturan. Dengan kata lain, peraturan sejati dan benar hanya berasal dari otoritas tertinggi alam semesta, yaitu Allah. Lebih tajam lagi, Allah berada di atas peraturan! Peraturan mana pun dan dari siapa pun harus diuji oleh Allah dan firman-Nya. Peraturan yang tidak melawan firman-Nya sajalah yang patut dijalankan, sedangkan peraturan yang melawan firman-Nya TIDAK patut dijalankan, meskipun pembuat peraturan itu mengklaim memiliki otoritas tinggi! Selain itu, orang Kristen, kita harus sanggup memisahkan mana peraturan yang mutlak vs peraturan yang relatif. Peraturan yang mutlak yang sesuai dengan Alkitab tentu harus kita ikuti, misalnya sopan santun, etika: jangan melakukan free-sex sebelum menikah, dll, sedangkan peraturan relatif yang bersifat subjektif, misalnya perbedaan selera musik atau perbedaan prinsip sepele jangan dibesar-besarkan, lalu dijadikan baku dan kaku! Bersikaplah tegas dalam hal-hal mutlak, namun hargailah orang lain dalam hal-hal relatif. Itulah salah satu ciri orang yang bijaksana.

Kedua, peraturan sejati timbul dari kasih. Sebelum berfirman kepada Israel agar Israel mengajar anak-anak mereka, maka di ayat 5, Allah berfirman kepada Israel agar mereka mengasihi Allah. Dengan kata lain, peraturan timbul dari kasih. Jika seorang tidak memiliki hati yang mengasihi Allah, maka ia juga tidak rindu ingin menyenangkan-Nya dengan mematuhi apa yang diperintahkan-Nya. Inilah bedanya Kekristenan dengan agama lain. Jika agama lain mengajarkan perintah-perintah agama harus dijalani tanpa adanya kasih, maka Kekristenan mengajarkan kasih terlebih dahulu baru ada perintah. Hal ini pertama kali berlaku pada Allah sendiri. Allah yang memberi perintah adalah Allah yang terlebih dahulu telah mengasihi umat-Nya. Allah yang memberi sepuluh perintah (Dasa Titah) kepada Israel adalah Allah yang telah terlebih dahulu mengasihi Israel dengan melepaskan mereka dari perbudakan di Mesir (Kel. 20:2). Allah yang menuntut kita untuk mengasihi-Nya adalah Allah yang telah terlebih dahulu mengasihi kita dengan mengutus Kristus untuk disalib demi menebus dosa-dosa kita. Hal yang sama Ia tuntut dari kita bahwa kita pun harus menaati firman-Nya setelah kita benar-benar mengasihi-Nya dengan tulus. Allah ingin agar ketika kita menaati firman-Nya, kita tidak melakukannya dengan terpaksa, tetapi dengan kerelaan hati karena hati kita benar-benar mengasihi-Nya. Hal yang sama seharusnya kita terapkan tatkala orangtua ingin memberi perintah kepada anaknya. Ketika orangtua memberi perintah kepada anaknya hendaknya tidak dengan membentak atau mengomeli atau mengindoktrinasi, namun dengan motivasi tulus ingin mengasihi anak dan menginginkan anak juga mengasihi orangtuanya. Orangtua yang terlalu banyak memberikan peraturan kepada anaknya bahkan sampai detail sejujurnya bukan mengakibatkan anaknya makin taat dengan tulus, tetapi justru mengakibatkan anaknya taat dengan terpaksa. Apa gunanya seorang anak yang taat kepada orangtuanya namun dengan terpaksa? Jika Anda sebagai orangtua ingin anak Anda menaati Anda karena benar-benar mengasihi Anda, ajarlah anak Anda dengan peraturan, namun juga beri kelonggaran kepada mereka dan berkomunikasilah dengan mereka untuk mengerti dunia mereka. Jangan menuntut anak-anak Anda untuk HANYA mengerti kondisi Anda! Teladanilah pola Allah mendidik anak-anak-Nya. Allah menggembleng mereka, namun juga mengasihi mereka sambil mengerti kondisi umat-Nya, sehingga Ia mengutus Roh Kudus untuk memimpin hidup mereka, karena Allah mengetahui bahwa tanpa bantuan Roh Kudus, umat-Nya tak akan sanggup dengan sendirinya menaati firman-Nya.




KESIMPULAN DAN TANTANGAN
Bagaimana dengan kita? Apakah kita masih terjebak ke dalam dualisme ekstrem yang anti peraturan dan memberhalakan peraturan? Kekristenan yang Alkitabiah tampil memberikan satu-satunya jalan keluar yang jitu yaitu menempatkan Allah di atas peraturan dan kasih di atas peraturan! Biarlah kita bukan hanya berteori mengerti hal ini, tetapi kita juga berkomitmen menjalankannya dengan pertolongan Roh Kudus. Amin. Soli DEO Gloria.