06 November 2010

Resensi Buku-105: KEBENARAN YANG MEMERDEKAKAN (Prof. Wayne A. Grudem, Ph.D.)

...Dapatkan segera...
Buku
KEBENARAN YANG MEMERDEKAKAN:
Menjawab 20 Pertanyaan Mendasar Mengenai Iman Kristen


oleh:
Prof. Wayne A. Grudem, Ph.D.

Editor: Rev. Elliot Grudem, M.Div.

Penerbit: Metanoia, 2009

Penerjemah: Daniel Budiantoro





Deskripsi singkat dari Denny Teguh Sutandio:
Iman Kristen adalah iman yang berpusat kepada Allah dan kedaulatan-Nya. Mengerti iman Kristen harus mengerti apa yang Allah firmankan di dalam Alkitab. Lalu, sebagai orang Kristen, bagaimana kita dapat mengerti iman Kristen secara tuntas sesuai dengan Alkitab? Prof. Wayne A. Grudem, Ph.D. melalui bukunya Kebenaran yang Memerdekakan menguraikan 20 doktrin dasar iman Kristen ditinjau dari perspektif iman Kristen (theologi Reformed) yang bertanggungjawab. Ke-20 doktrin dasar tersebut menjelaskan Bibliologi (Doktrin Alkitab) sebagai dasar semua doktrin (atau disebut juga Prolegomena), Theologi (Doktrin Allah), Christian Antropologi (Doktrin Manusia), Hamartologi (Doktrin Dosa), Kristologi (Doktrin Kristus), Soteriologi (Doktrin Keselamatan), Ekklesiologi (Doktrin Gereja), dan Eskatologi (Doktrin Akhir Zaman). Uniknya, ke-20 doktrin dasar iman Kristen yang diuraikan Dr. Grudem ini begitu sederhana, karena buku ini merupakan ringkasan dari dua buku beliau yaitu Systematic Theology dan Bible Doctrine. Meskipun dalam beberapa konsep, saya kurang menyetujui pandangan Dr. Grudem, tetapi mayoritas pengajaran dalam buku ini patut diacungi jempol, karena mampu menyajikan perdebatan doktrinal di dalam theologi dengan bahasa yang mudah dimengerti. Di bagian Apendiks, beliau menyelipkan dua bab. Bab pertama berisi Pengakuan Iman Nicea, Konstantinopel, dan Calcedonia ditambah The Chicago Statement on Biblical Inerrancy. Kemudian di Bab 2, Dr. Grudem memasukkan referensi bacaan lanjutan mengenai theologi sistematis yang berisi buku-buku bacaan theologi sistematika yang ditulis oleh para theolog Injili (beliau khusus memasukkan dua buku dari orang Katolik di dalamnya sebagai bahan studi)





Rekomendasi:
“Ini benar-benar 20 ajaran dasar yang harus diketahui setiap orang Kristen. Wayne Grudem adalah pakar pengajar yang memiliki kemampuan menjelaskan kebenaran yang rumit dalam bahasa sederhana. Dia adalah orang dengan keyakinan yang dalam dan hasrat theologi – dan mereka yang membaca buku ini akan terdidik dan termotivasi dalam iman.”
Prof. R. Albert Mohler, Jr., Ph.D.
(Presiden kesembilan dan Profesor Theologi Kristen dari Southern Baptist Theological Seminary, Louisville, Kentucky, U.S.A. dan anggota dewan dari: Focus on the Family dari James Dobson dan Council on Biblical Manhood and Womanhood; Bachelor of Arts—B.A. dari Samford University; Master of Divinity—M.Div. dan Doctor of Philosophy—Ph.D. dalam bidang Theologi Sistematika dan Historika The Southern Baptist Theological Seminary)

“Didasarkan pada Systematic Theology, ringkasan ini akan sangat membantu pemula dengan Kristus untuk meneguhkan imannya.”
Prof. James Innell (J. I.) Packer, D.Phil.
(Board of Governors’ Professor of Theology di Regent College, Vancouver, Canada; B.A.; Master of Arts—M.A.; dan Doctor of Philosophy—D.Phil. dari Corpus Christi College, Oxford University, U.K.

“Meskipun buku ini adalah hasil pemadatan dari Systematic Theology karya Wayne A. Grudem, namun saya tidak kehilangan antusiasme akan kebenaran yang dicintainya dan kejelasan kata-katanya.”
Rev. John Stephen Piper, D.Theol.
(Pendeta Pengkhotbah dan Visi di Betlehem Baptist Church, Minneapolis, Minnesota, U.S.A. dan Pendiri sekaligus Presiden dari Desiring God Ministries {website: www.desiringgod.org}; B.A. dari Wheaton College, U.S.A.; Bachelor of Divinity—B.D. dari Fuller Theological Seminary, Pasadena, California, U.S.A.; dan Doctor of Theologie—D.Theol. dari University of Munich, Munich, Jerman Barat)





Profil Dr. Wayne A. Grudem dan Rev. Elliot Grudem:
Prof. Wayne A. Grudem, B.A., M.Div., Ph.D. adalah Research Professor bidang Theologi dan Studi Biblika di Phoenix Seminary, Phoenix, Arizona. Beliau menyelesaikan studi B.A. di Harvard University; M.Div. di Westminster Theological Seminary, U.S.A.; dan Ph.D. di University of Cambridge, U.K.

Rev. Elliot Grudem, B.A., M.Div. yang adalah anak kandung dari Prof. Wayne A. Grudem, Ph.D. adalah gembala dari Christ the King Presbyterian Church sejak Musim Panas 2005. Beliau juga adalah editor dari Christian Beliefs: Twenty Basics Every Christian Should Know (buku yang ditulis oleh ayahnya ini). Beliau menyelesaikan studi B.A. dalam bidang Sejarah dan Bahasa Inggris di Miami Univeristy dan M.Div. di Reformed Theological Seminary, U.S.A. Beliau ditahbiskan sebagai pendeta di the Presbyterian Church in America dan anggota dari Acts 29 Network.

KRISTEN MISTIK: Tinjauan Kritis dan Tantangan (Denny Teguh Sutandio)

KRISTEN MISTIK:
Tinjauan Kritis dan Tantangan


oleh: Denny Teguh Sutandio



PENDAHULUAN
Di abad modernisme, khususnya abad Pencerahan, manusia lebih menekankan fungsi rasio, sehingga apa pun yang tidak sesuai dengan rasio dianggap bukan kebenaran sejati. Matinya modernisme ditandai dengan Perang Dunia 1 dan 2. Namun sayangnya, matinya modernisme TIDAK menyadarkan manusia kembali kepada Tuhan, malahan justru tambah parah. Setelah meninggalkan modernisme, manusia sekarang masuk ke dalam zaman postmodern. Di zaman ini, ide postmodernisme muncul. Di satu sisi, ide ini mengandung sisi positifnya yaitu menyadari bahwa rasio bukan segala-galanya dan mengembangkan kemampuan manusia yang bukan hanya sisi kognitif saja (selain IQ, saat ini kita mengenal istilah: EQ, SQ, dll), namun di sisi lain, ide ini juga mengandung sisi negatif, yaitu kaburnya batasan yang jelas (Pdt. Joshua Lie, Ph.D. {Cand.} menyebutnya: borderless). Postmodernisme kemudian saat ini disisipi dengan sebuah gerakan yang kerap kali disebut: Gerakan Zaman Baru (New Age Movement) yang merupakan sebuah perkawinan antara filsafat Barat (rasionalisme dan empirisisme) dan filsafat Timur ditambah Monisme (percaya bahwa segala sesuatu itu satu atau dengan bahasa agama, segala sesuatu menuju “tuhan” yang sama) dan Pantheisme (percaya bahwa segala sesuatu itu adalah “allah”). Kalau kita telusuri, ide Gerakan Zaman Baru (GZB) sebenarnya mirip dengan ide dalam Buddhisme dan Taoisme yang menekankan pentingnya persatuan dengan alam.




KRISTEN MISTIK: PENGARUH GERAKAN ZAMAN BARU
Sebagai sebuah gerakan yang muncul kira-kira 40-50 tahun yang lalu, GZB telah merembes ke dalam segala bidang kehidupan manusia, mulai dari kesehatan, pendidikan, sains, bahkan agama, khususnya Kekristenan. Reiki, Kundalini, Yoga, dll digemari oleh banyak orang, bahkan tidak terkecuali orang “Kristen”. Bahkan menurut pengakuan salah seorang Kristen yang pernah mencoba Reiki dan Kundalini, pemimpin gereja baik dari Protestan maupun Katolik mencoba Reiki dan Kundalini. Meskipun GZB merupakan perkawinan antara filsafat Barat dan Timur, namun kalau kita memperhatikan dengan teliti, unsur filsafat Timur yang lebih menonjol. Oleh karena itu, saya menyebut zaman ini sebagai zaman mistik. Bahkan Kekristenan pun secara sadar atau tidak sadar telah diracuni oleh mistisisme ala GZB. Ciri-cirinya:
Pertama, mengaburkan antara Allah dan manusia. Kekristenan sejati sesuai dengan Alkitab mengajarkan bahwa meskipun menyandang gambar dan rupa-Nya, manusia dan Allah TETAP berbeda secara kualitatif. Namun karena diracuni oleh GZB, maka beberapa Kristen mulai menganut konsep bahwa Allah dan manusia itu satu adanya. Misalnya, ada yang mengatakan bahwa karena kita ada di dalam Kristus dan Kristus di dalam kita, maka apa yang kita katakan itu yang Kristus katakan. Bahkan yang lebih ekstrem lagi, ada seorang pendeta yang berani mengatakan bahwa kita adalah allah-allah kecil (little gods). Sebuah kekonyolan terjadi, jika Allah dan manusia itu sama, mengapa di gereja si pendeta tersebut, si pendeta dan jemaatnya masih berdoa kepada Allah, dll? Bukankah logisnya, mereka menyuruh jemaatnya untuk berdoa kepada diri mereka sendiri yang adalah “Allah”?


Kedua, mementingkan kuasa kata-kata. Karena manusia dianggap sebagai allah-allah kecil, maka tidak heran, banyak Kristen bahkan pemimpin gereja berani mengajarkan bahwa kata-kata orang Kristen memiliki kuasa untuk mendatangkan berkat atau kutuk, oleh karena itu, selalu katakan kata-kata positif. Jadi, ketika ada orang yang sakit kanker, para penganut berpikir positif ini menyuruh orang yang sakit tersebut berkata, “Saya tidak pernah dan tidak boleh sakit.” Namun apakah setelah mengatakan hal tersebut, pengidap kanker tersebut menjadi sembuh? Dalam beberapa hal, sebagai orang Kristen, memang adalah bijak jika kita lebih banyak berkata-kata positif untuk menegur dan membangun orang dan mengurangi kata-kata negatif, karena kata-kata negatif kebanyakan melemahkan semangat orang (namun TIDAK berarti TIDAK boleh berkata-kata negatif), namun ketika kita terlalu menekankan mutlaknya kata-kata positif dan menghilangkan sama sekali kata-kata negatif, bagi saya itu terlalu naif! Coba buktikan: jika Anda pergi ke dokter untuk berobat, kemudian dokter mengatakan bahwa Anda sakit malaria atau TBC, lalu Anda mengatakan, “JANGAN dokter, dokter gak boleh bilang gitu. Bilang dong, saya sehat!” Setelah Anda berkata demikian, saya jamin, si dokter akan menelpon petugas rumah sakit jiwa untuk membawa Anda untuk segera direhabilitasi, wkwkwk.


Ketiga, larisnya roh-roh lain. Karena berfokus pada persatuan dengan alam, maka beberapa (banyak) orang Kristen dan pemimpin gereja mengalihkan perhatiannya pada dunia roh. Rev. Prof. Cornelius Van Til, Ph.D. di dalam bukunya Pengantar Theologi Sistematik mengatakan bahwa sebuah khotbah yang berpusat pada Allah menghindarkan jemaatnya dari: keduniawian (worldliness) dan kedunia-lainan (other-worldliness). Namun karena banyak khotbah hari ini tidak berpusat pada Allah, maka tidak heran, terciptalah suatu generasi “Kristen” yang maniak dengan dunia roh. Hari-hari ini, buku yang bertemakan dunia roh, dunia santet, dll laris di kalangan Kristen dan penulis bukunya ramai diundang di gereja. Bahkan seorang teman saya “Kristen” dan tentunya bersama dengan beberapa orang Kristen yang berasal dari gereja yang suka dengan dunia roh mengatakan bahwa beberapa orang Kristen diberi karunia untuk melihat setan. Saya terkaget-kaget, di Alkitab TIDAK ada satu orang pun yang diberi karunia dari Tuhan untuk melihat setan! Anehnya, koq melihat setan bisa bangga ya, apa motivasi orang yang bisa melihat setan? Kemudian, setelah melihat setan, mau diapain? Mau ditengkingin satu per satu? Tugas orang Kristen dan pemimpin gereja seharusnya memberitakan Injil dan mengajar iman Kristen, sekarang berubah menjadi gemar menengking setan (ada setan mati lampu, setan air mampet, dll). Saya TIDAK anti dengan pengusiran setan, namun saya paling tidak suka mengatakan apa-apa sebagai setan. Guci tua yang ada gambar naganya dianggap setan, tetapi herannya salah satu mata uang negara tertentu yang ada gambar naganya, mengapa uang tersebut tidak dibakar? Di Alkitab, ada tulisan naga di kitab Wahyu, apakah kitab Wahyu perlu dibakar juga? Gara-gara sibuk dengan urusan setan dan kroni-kroninya, Kekristenan mulai dialihkan oleh setan sendiri dari mimbar yang seharusnya memberitakan firman menjadi mimbar yang suka membuka kedok setan, sehingga jemaat bukan makin mengerti firman, tetapi makin mengerti dan mendalami setan.


Keempat, larisnya para pelayan roh-roh lain. Karena roh-roh lain juga laris, maka tidak heran para pelayan roh-roh tersebut juga laris. Beberapa orang Kristen merasa TIDAK bersalah apa-apa tatkala mereka mendatangi peramal nasib atau dukun untuk meminta petunjuk entah itu petunjuk agar kariernya lancar atau enteng jodoh, dll. Bagaimana tidak, seorang tacik yang melayani dalam tim pembesukan jemaat di salah satu gereja Injili di Surabaya mendatangi seorang peramal! Mereka tidak menyadari bahwa peramal lebih tidak bisa diandalkan ketimbang Allah. Mari buktikan: peramal tetap adalah manusia yang terbatas dan berdosa, apakah ia bisa meramal sampai 10 bahkan 100 tahun kemudian? Kata seorang rekan saya, ada seorang peramal perempuan yang kerap kali masuk televisi hanya bisa meramal sampai tahun 2012, kenapa hanya bisa sampai 2012? Apa setelah dia melihat film 2012? Aneh-aneh ae, hahaha. Kedua, biasanya isi ramalan itu merupakan isi yang umum. (alm.) Pdt. Ir. Amin Tjung, M.Th. pernah mengatakan bahwa ada seorang yang mau buka perusahaan datang ke peramal, si peramal menasihati bahwa ia harus hati-hati. Gak usah pergi ke peramal pun, orang lain juga bisa menasehati hal yang sama, cape dech… Ketiga, apakah si peramal itu sendiri bisa meramal kehidupannya yang akan datang? Jika tidak bisa, ngapain ngeramal orang lain?


Kelima, larisnya sarana yang dipakai oleh roh-roh lain. Selain para pelayan roh-roh lain, roh-roh lain juga menggunakan sarana-sarana tertentu yang disakralkan. Banyak orang Kristen hari-hari ini mensakralkan barang-barang tertentu atau tempat tertentu, misalnya: berdoa lebih afdhol kalau di bukit doa, mutlaknya minyak urapan sebagai sarana kesembuhan, dll. Berdoa di bukit doa tidaklah salah, namun jika sudah memutlakkannya lalu mengajar bahwa jika berdoa di bukit doa maka pasti dikabulkan Tuhan itu sudah memberhalakan tempat dan jangan salahkan jika iblis gemar tinggal di sana. Di Alkitab Perjanjian Baru, tidak ada satu ayat pun yang mengajar minyak urapan sebagai media kesembuhan. Ada pendeta yang menafsirkan kata “minyak” di Yakobus 5:14 sebagai minyak urapan. Minyak di situ artinya minyak sebagai obat dan di seluruh Injil, Kristus TIDAK pernah satu kali pun menggunakan minyak sebagai sarana menyembuhkan orang sakit. Nah, yang aneh, pendeta yang kerap kali gembar-gembor minum kopi dan sarapan sama Tuhan Yesus, koq bisa gak sehati ama Tuhan Yesus: Kristus TIDAK pernah menggunakan minyak urapan, koq si pendeta malah memberhalakan minyak urapan? Yang error itu sebenarnya siapa toh? HeheheJ

Sarana lain yang dipakai roh-roh lain adalah tradisi mistik Timur. Kalau kita melihat di Tiongkok, orang-orang Tionghoa percaya dengan shio. Shio ini sebenarnya merupakan tanda supaya orang bisa mengetahui dia lahir pada tahun apa dan usianya sekarang berapa. Namun dalam perkembangannya, shio disisipi muatan mistik dengan mengatakan bahwa orang yang shionya babi itu penidur, perempuan yang shionya macan itu tidak laku (karena keras), bahkan ada yang membanggakan diri bahwa orang yang shionya kambing itu perhatian, mengerti, lemah lembut, dll (maklum gak ada yang muji dia), hahaha. Ada juga yang mengajar bahwa orang yang shio X jiong dengan orang yang shionya Y. Tetapi begitu ditunjukkan fakta bahwa ada seorang pendeta yang bershio babi namun bukan penidur, orang yang memuja shio ini mengatakan bahwa itu mungkin babi air atau babi tanah. Hahaha. Yang lebih ekstrem, seorang pendeta supaya kelihatan “rohani” mengatakan bahwa shionya shio Yesus (bukan rohani, tetapi justru menghina Yesus dengan menyamakan-Nya dengan binatang). Di dalam tradisi Indonesia juga kita sering mendengar bahwa jangan berdiri di depan pintu saat maghrib, jangan buang air kecil di bawah pohon besar (lha ya jelas, pesing toh, wkwkwk), dll. Semuanya ini juga masih dipercaya dan dilakukan oleh beberapa orang Kristen.




IMAN KRISTEN DAN MISTIK
Apakah berarti iman Kristen tidak mengandung unsur mistik? Tentu ada, tetapi yang disoroti di sini, iman Kristen bukan iman mistik yang buta, tetapi iman “mistik” yang obyektif dan ada dasarnya. Di dalam ajaran Alkitab yang dikembangkan oleh seorang theolog, kita mengenal doktrin persatuan mistis orang percaya dengan Kristus (mystical union with Christ). Kita juga mengenal beberapa tokoh mistik Kristen, misalnya: Bernard of Clairvaux dan Thomas à Kempis yang terkenal dengan bukunya The Imitation of Christ. Mereka berdua mengajarkan iman Kristen secara mistis, namun mistik versi mereka berdasarkan Alkitab, karena mengajarkan doa, kontemplasi/meditasi (merenungkan firman Tuhan, bukan mengosongkan pikiran), dll. Mistisisme Kristen yang Alkitabiah ini seharusnya menyadarkan kita pentingnya kesalehan (pietas) hidup kita. Saya terus terang takut dan kuatir dengan beberapa orang Kristen yang terlalu gemar berkutat di dalam hal-hal theologi, mereka kebanyakan menjadi kering dalam hal kerohanian: malas saat teduh, berdoa, rendah hati bersekutu dengan sesama saudara seiman, dll, sebaliknya mereka menjadi arogan, gemar mengkritik sini sana dan ahli dalam berdebat. Namun ingatlah mistik versi Kristen yang sesuai dengan Alkitab BERBEDA dari mistisisme ala GZB yang anti hal-hal rasional dan cenderung subyektif (meskipun beberapa istilah yang dipakai antara versi Alkitab dan versi GZB hampir sama).

Dunia yang dipenuhi oleh semangat mistisisme ala GZB TIDAK seharusnya membuat orang Kristen menjadi ikut-ikutan! Sebagai pengikut Kristus, kita diperintahkan untuk diubah pola pikir kita untuk mengerti kehendak Allah (Rm. 12:2) dengan cara berfokus kepada Kristus (Kol. 2:8). Hidup Kristen yang berfokus kepada Kristus berarti hidup yang men-Tuhan-kan Kristus dan tunduk di bawah otoritas Alkitab. Tunduk di bawah otoritas Alkitab berarti diawali dengan belajar Alkitab baik-baik dan bertanggung jawab, lalu menguji segala sesuatu di dunia ini dengan dasar Alkitab (1Tes. 5:21).

Bagaimana dengan kita? Masihkah kita sebagai orang Kristen percaya pada tradisi dan ajaran-ajaran yang tidak bertanggung jawab yang melawan Alkitab? Saatnya kembali kepada Alkitab dan fokuskan iman dan hidup kita kepada Kristus, Kakak Sulung kita. Ujilah tradisi, ajaran, dan filsafat dunia dengan Alkitab: terimalah yang positif dan buanglah yang negatif (melawan Alkitab). Amin. Soli Deo Gloria.

03 November 2010

EKSPOSISI 1 KORINTUS 9:15-18 (1) (Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.)

EKSPOSISI 1 KORINTUS 9:15-18 (1)

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.



Nats: 1 Korintus 9:15-18 (1)



Ketika kita membaca bagian ini kita mungkin sedikit bingung. Kalau Paulus memang tidak mau menggunakan hak yang seharusnya ia terima sebagai rasul (9:15-18, juga 9:12b), mengapa ia perlu bersusah payah menjelaskan hak-hak para rasul (9:4-6) dan argumen-argumen (9:7-14) yang melandasi hak tersebut? Semua ini harus dipahami dalam konteks relasi antara Paulus dan jemaat Korintus yang unik (4:15; 9:1-2) sekaligus kurang harmonis (4:3-5). Kerasulan Paulus sempat diragukan oleh sebagian jemaat. Hal ini berkaitan dengan khotbah Paulus yang dianggap kebodohan (1:18-21) dan cara berkhotbah yang tidak sesuai dengan hikmat maupun retorika Yunani waktu itu (2:1-5). Situasi bertambah parah kala Paulus memutuskan untuk tidak mau menerima tunjangan dari jemaat Korintus. Sebaliknya, ia lebih memilih bekerja keras membuat tenda; sebuah pekerjaan yang dianggap hina pada waktu itu (4:12).

Dengan menegaskan status kerasulannya (9:1-3), hak-hak para rasul (9:4-6), maupun alasan-alasan di balik hak tersebut (9:7-14) Paulus ingin mengoreksi konsep pikir jemaat Korintus yang keliru. Ia tidak mau menerima tunjangan buka karena ia tidak berhak atau karena ia bukanlah seorang rasul. Keputusan untuk tidak mau menerima tunjangan lebih didasarkan pada pertimbangan efektivitas Injil (9:12b, 15-18), bukan ketidaklayakan Paulus untuk mendapatkan hak tersebut.

Pasal 9:15-18 merupakan elaborasi yang lebih detail dari apa yang sudah disinggung secara sekilas di ayat 12b. Bagian ini diawali dengan pernyataan bahwa Paulus tidak mau menggunakan satu pun dari hak itu (ay. 15a-b). Pernyataan ini selanjutnya diikuti serangkaian kalimat penjelasan yang diawali dengan kata sambung “karena” (gar, ay. 15c, 16a, 16b, 16c, 17a). Sesudah rangkaian kalimat ini Paulus menutup dengan penjelasan tentang upah yang sesungguhnya, yaitu memberitakan Injil tanpa upah (ay. 18).


Paulus Tidak Mau Menggunakan Hak (ay. 15a-b)
Pernyataan Paulus di sini mengandung penekanan. Ia menambahkan kata ganti “aku” (egō) sekaligus meletakkannya di awal kalimat (ay. 15a). Penekanan pada kata “aku” di sini dimaksudkan untuk menunjukkan keunikan sikap Paulus. Ia tidak sedang mengecam atau merendahkan rasul-rasul lain yang mau menerima tunjangan hidup (mereka semua memang memiliki hak untuk itu), tetapi ia hanya menegaskan posisi dirinya dalam pelayanan, terutama dalam relasi dengan jemaat Korintus. Penekanan lain terletak pada pemakaian kata “satu pun” (oudeni) dan penggunaan tense perfect untuk kata “mempergunakan” (kechrēmai). Tense ini menyiratkan bahwa ketidakmauan untuk menerima tunjangan merupakan sikap Paulus dari dahulu sampai sekarang. Dengan kata lain, ini sudah menjadi gaya pelayanan Paulus. Pernyataan di atas sempat dipersoalkan oleh beberapa penafsir. Mereka menganggap Paulus terlalu melebih-lebihkan hal ini, karena dalam kenyataannya Paulus beberapa kali mau menerima tunjangan dari jemaat Filipi (Flp. 4:14-20; 2Kor. 11:8-9). Apakah Paulus benar-benar kurang jujur dalam hal ini? Sama sekali tidak!

Kita harus mengetahui bahwa dalam konteks 1 Korintus 9:1-18 Paulus sedang membicarakan tentang tunjangan tetap sebagai pemberita Injil/rasul. Di manapun seorang rasul melayani, jemaat setempat berkewajiban untuk melayani kebutuhan hidup dan pelayanan rasul itu. Hal ini jelas berbeda dengan pemberian yang diberikan oleh jemaat FIlipi. Mereka tidak memberikan tunjangan secara periodik dan tetap (Flp. 4:10, 15-16). Pemberian ini bersifat sukarela dan insidentil. Bagian Alkitab yang lain menunjukkan bahwa bekerja keras untuk memnuhi kebutuhan hidup dan pelayanan sudah menjadi kebiasaan Paulus (1Tes. 2:9; 2Tes 3:8; 1Kor. 4:12; Kis. 18:3).

Setelah menandaskan bahwa ia tidak mau menggunakan hak sebagai rasul (ay. 15a), Paulus segera menambahkan kalimat “Aku tidak menulis semuanya ini, supaya akupun diperlakukan juga demikian” (ay. 15b). Kalimat ini perlu ditambahkan supaya tidak ada kesan (kesalahpahaman) bahwa Paulus sedang menyindir jemaat Korintus. Ini menunjukkan kepekaan Paulus dalam pelayaan pastoral, khususnya dalam hal materi. Sikap seperti ini juga tercermin dalam suratnya yang lain. Ketika ia menerima pemberian kasih dari jemaat Filipi melalui Epafroditus (Flp. 2:25), Paulus bersyukur atas kesempatan yang dimiliki oleh jemaat Filipi untuk mengambil bagian dalam pelayanan Paulus (Flp. 4:10, 14-16). Tidak lupa ia menegaskan bahwa ucapan syukur ini bukan dimaksudkan sebagai sindiran agar jemat Filipi lebih sering memberikan dukungan materi (Flp. 4:11).

Di samping menunjukkan kepekaan Paulus dala pelayanan pastoral, pernyataan tersebut juga menyiratkan konsistensi sikap. Ia menolak pemberian tunjangan dari jemaat Korintus bukan hanya pada saat ia melayani di sana. Ketika ia menulis surat ini pun Paulus tetap tidak mau mengharapkan hal itu. Ia bahkan mengambil sikap yang sama di tempat-tempat lain. Konsistensi seperti ini jelas tidak mudah, karena kadangkala Paulus benar-benar berada dalam keadaan yang mengenaskan dan memerlukan bantuan dari orang lain (2Kor. 4:23-28).

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menemukan orang yang baik tetapi ia gagal mempertahankan sikap itu dalam segala situasi. Benarlah apa yang dikatakan penulis amsal bahwa menemukan orang setia jauh lebih sulit daripada menemukan orang baik (Ams. 20:6).


Karena Lebih Baik Mati daripada Injil Terhalang (ay. 15c-d)
Bagian ini dimulai dengan kata sambung gar (“karena”) yang menyiratkan bahwa bagian ini merupakan penjelasan atau alasan bagi sikap di ayat 15a-b. Mengapa Paulus tidak mau menggunakan hak sebagai rasul maupun tidak mau dianggap sedang menyindir jemaat Korintus? Karena ia lebih suka mati daripada...... (LAI:TB, ay. 15c).

Terjemahan LAI:TB “lebih suka” sedikit kurang tepat. Terjemahan ini bisa menyiratkan kesan bahwa sikap di ayat 15c hanyalah masalah perasaan Paulus semata-mata. Walaupun beberapa versi juga mengadopsi terjemahan ini (RSV/NIV/ESV), tetapi terjemahan “lebih baik” (KJV/NASB/NET) sebaiknya dipertahankan. Teks Yunani dalam bagian ini memakai kata kalon mallon (“lebih baik”). Jika arti harfiah ini dipertahankan maka akan menyiratkan bahwa sikap yang diambil Paulus bukan hanya secara subyektif lebih disukai Paulus, namun secara obyektif memang lebih baik. Ini bukan tentang kenyamanan perasaan Paulus, tetapi tentang kebenaran yang obyektif.

Dalam teks Yunani kalimat Paulus memang tidak sempat diteruskan sampai engkap (LAI:TB mencoba mempertahankan terjemahan harfiah dengan cara memberi tanda titik panjang setelah kata “daripada”). Gaya penulisan seperti ini disebut dengan istilah aposiopes, yang biasa dipakai pada saat seseorang dikuasai oleh perasaannya dengan begitu kuat sehingga ia tidak berkuasa meneruskan kalimat yang ia sudah ucapkan/teruskan. Hal yang sama dapat kita jumpai dalam tulisan Paulus yang lain (Gal. 2:6). Gaya ini memberitahu kita bahwa Paulus menuliskan ayat 15c dengan penuh perasaan, walaupun ini bukan hanya masalah perasaan pribadi Paulus. Dengan kata lain, perasaannya sedang dikuasai oleh sebuah kebenaran penting tentang Injil.

Bagaimana kita sebaiknya menebak kelanjutan dari kalimat Paulus? Beberapa versi memilih untuk tidak berspekulasi (NRSV/NET). Beberapa menganggap ayat 15d sebagai kelanjutan (Paulus lebih baik mati daripada seseorang meniadakan kemegahannya, lihat KJV/RSV/NIV/ESV). Pilihan pertama tidak terlalu banyak membantu. Pilihan kedua ini sebaiknya ditolak, karena secara tata bahasa ayat 15d memang bukan kelanjutan dari ayat 15c. Ayat 15c merupakan kalimat tersendiri yang tidak lengkap. Berdasarkan konteks yang ada, Paulus kemungkinan besar ingin mengatakan bahwa lebih baik baginya mati daripada menerima upah tetapi Injil terhalang (ay. 12b). Dengan kata lain, Paulus lebih memilih mati daripada injilnya yang mati. Ini merupakan ungkapan dari seseorang yang menyadari bahwa hidupnya adalah untuk Injil. Injil adalah lebih penting daripada kehidupan pemberita Injil itu sendiri. Tidak heran dalam sejarah misi dunia, Allah dalam kedaulatan-Nya membiarkan para pemberita Injil mati syahid, tetapi Ia tidak pernah membiarkan Injil-Nya mati (tidak diberitakan).

Di ayat 15d Paulus menambahkan bahwa ia tidak mau seorang pun meniadakan kemegahannya. Konsep tentang “bermegah” dalam Alkitab bisa bermakna positif maupun negatif. Sebelumnya Paulus sudah menyinggung tentang dua makna ini dalam konteks yang sama (1:29, 31). Apa yang dimaksud dengan kemegahan di ayat 15d ini? Paulus jelas tidak sedang membanggakan diri di atas para rasul yang mau menerima tunjangan dari jemaat. Para rasul memang berhak atas hal tersebut. Lagipula, Paulus tidak pernah membanggakan kelebihan dirinya. Ia sebaliknya selalu membanggakan Allah atau kelemahan dirinya yang justru menunjukkan kekuatan Allah. Ia bermegah dalam kelemahan (2Kor. 12:9-10). Dalam konteks 1 Korintus 9 ia sedang membanggakan kehinaannya sebagai pekerja kasar (4:11-13).

Pekerjaan ini memang hina, tetapi Paulus justru bermegah di atas kehinaan, karena semua itu untuk kemajuan Injil. Kemegahan di atas kelemahan dan kehinaan jelas sangat kontras dengan prinsip dunia yang mengagung-agungkan kelebihan dan kehormatan. Paulus tidak mau kemegahan tersebut ditiadakan. Kata Yunani “ditiadakan” (kenōsei, dari kata dasar kenoo) sebenarnya lebih bermakna “dikosongkan”. Hampir semua versi memilih terjemahan “dihilangkan” atau “dicabut”. Melalui pemilihan kata “dikosongkan” Paulus ingin menegaskan bahwa ia tidak ingin terlihat hebat di luar tetapi di dalamnya tidak ada isi sama sekali. Ia tidak mau terlihat bersusah-payah bagi Injil tetapi dengan motivasi yang keliru. Ia melakukan pekerjaan berat bukan supaya terlihat menderita dan akhirnya dibantu banyak orang. Ia tidak perlu menyimpan otivasi terselubung semacam itu karena ia sudah menikmati kemegahan di dalam penderitaan dan kehinaan tersebut.


Karena Dalam Pemberitaan Injil Tidak Ada Dasar Untuk Bermegah (ay. 16-17)
Bagian ini merupakan penjelasan terhadap ayat 15d. Ia tidak ingin disalahpahami oleh orang lain, seolah-olah ia sedang menyombongkan diri. Dalam taraf tertentu Paulus memang memiliki kemegahan (ay. 15d), tetapi bukan dalam arti mutlak (ay. 16a). Jika ia melakukan pemberitaan Injil secara terus-menerus (bdk. tense present pada kata euangelizomai), hal itu bukanlah sesuatu yang perlu dibanggakan. Apa maksud Paulus di sini? Apakah ayat 16a berkontradiksi dengan ayat 15d?

Pertanyaan ini hanya bisa dijawab dengan baik apabila kita mengetahui perbedaan dasar kemegahan yang sedang dibicarakan oleh Paulus. Di ayat 15d ia menyinggung tentang pekerjaannya yang hina sebagai pembuat tenda. Kehinaan yang harus dipikul ketika melayani Tuhan merupakan kehormatan bagi seorang pelayanan Tuhan. Paulus bermegah atas hal ini. Di sisi lain, konsistensi Paulus dalam memberitakan Injil tidak boleh dilebih-lebihkan seolah-olah hal ini merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa atau seolah-olah Paulus sendiri memang mengambil inisiatif untuk melakukan itu. Tidak ada yang istimewa dari apa yang dilakukan Paulus. Mengapa demikian?

Alasan pertama berkaitan dengan keharusan dalam memberitakan Injil (ay. 16b “ini merupakan keharusan bagiku”). Secara harfiah frase ini berarti “keharusan yang diletakkan di pundakku”. Bentuk pasif yang tidak disertai subyek seperti dalam kasus ini secara tata bahasa disebut pasif ilahi (divine passive), yang menyiratkan bahwa Allah sebagai subyek (NLT “I am compelled by God”). Paulus sangat mungkin sedang memikirkan pilihan ilahi dalam hidupnya sejak ia berada dalam kandungan (Gal. 1:15-16) atau panggilan Tuhan yang tidak terelakkan pada waktu ia bertobat (Kis. 26:14; dalam NLT ungkapan “sukar bagimu menendang ke galah rangsang” diterjemahkan “it is useless for you to fight against my will”). Jika pemberitaan Injil merupakan keharusan yang sudah ditetapkan Allah, maka Paulus tidak memilki alasan untuk bermegah. Ia hanya melakukan apa yang harus ia lakukan. Ia tidak memiliki motivasi lain di luar penetapan ilahi ini. Jadi, ini bukan masalah perasaan pribadi (Paulus memangs edang bepergian ke mana saja) maupun kepentingan pribadi (Paulus ingin mendapatkan sesuatu untuk dirinya dari pemberitaan Injil).

Keharusan untuk memberitakan Injil ini berbeda dengan keharusan untuk menerima tunjangan dari pemberitaan tersebut. Dari sisi pemberita Injil tunjangan adalah hak (bukan keharusan), walaupun dari sisi penerima Injil ini merupakan kewajiban. Sebagai sebuah hak (sekalipun sah) tunjangan hidup dapat dikesampingkan untuk mencapai sesuatu yang lebih baik (supaya Injil tidak terhalang). Kelonggaran memang ada dalam taraf tunjangan pemberita Injil, tetapi dalam hal pemberitaan tidak ada kelonggaran sama sekali. Kita memang bebas untuk tidak menerima dukungan materi dari pemberitaan Injil, tetapi kita tidak bebas untuk tidak memberitakan Injil (we are free not to accept support, yet we are not free not to preach the gospel). Dengan kata lain, tugas tidak boleh ditolak, upah dari tugas tersebut bisa ditolak....... (bersambung) #




Sumber:
Mimbar GKRI Exodus, 28 Maret 2010
http://www.gkri-exodus.org/image-upload/SER-1Korintus%2009%20ayat%2015-18%20%281%29.pdf

31 October 2010

HIDUP OLEH DAN DI DALAM ANUGERAH ALLAH (Denny Teguh Sutandio)

HIDUP OLEH DAN DI DALAM ANUGERAH ALLAH

oleh: Denny Teguh Sutandio



“Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.”
(1Kor. 15:10)



Salah satu semboyan penting Reformasi Gereja dari Dr. Martin Luther adalah sola gratia (hanya oleh anugerah Allah). Memang dalam konteksnya, Dr. Luther mengaitkan anugerah Allah ini dengan keselamatan di dalam Kristus, namun saya sangat percaya bahwa anugerah Allah sebenarnya bukan hanya berkaitan dengan keselamatan di dalam Kristus, namun di dalam seluruh aspek kehidupan Kristen. Dengan kata lain, hidup orang Kristen seharusnya merupakan hidup oleh dan di dalam anugerah Allah. Kata anugerah berarti suatu pemberian kepada orang yang tak layak menerimanya. Anugerah Allah di sini mencakup baik anugerah umum (common grace) dan anugerah khusus (saving grace) dari Allah, namun di dalam Kristus, kita mengkhususkan pada anugerah khusus. Jika demikian, apa yang dimaksud dengan hidup oleh dan di dalam anugerah Allah?


Hidup oleh anugerah Allah berarti:
Pertama, hidup yang berpusat pada anugerah Allah. Ini berarti dalam setiap inci kehidupan kita, baik dalam sekolah, kuliah, pekerjaan, jodoh, keluarga, dll, kita mengakui bahwa Allah saja yang berperan serta di dalamnya. Mengakui anugerah Allah identik dengan mengakui Allah berperan serta di dalamnya yang juga berarti mengakui bahwa Ia adalah Raja sekaligus Sahabat kita yang terbaik yang memelihara setiap inci kehidupan kita. Tanpa anugerah dan pemeliharaan-Nya, kita tidak mungkin seperti sekarang ini (bdk. pengakuan Paulus di dalam 1Kor. 15:10 di atas).

Kedua, tidak merasa diri hebat. Seperti dua sisi mata uang yang saling berkaitan, maka hidup oleh anugerah Allah di sisi lain juga berarti sebagai umat-Nya, kita tidak perlu merasa diri hebat. Terlalu banyak orang Kristen yang secara mulut mengakui anugerah Allah, namun secara hati dan kelakuan, mereka masih menyombongkan diri dan menganggap bahwa tanpa dirinya, orang lain akan merasa rugi bahkan tidak bisa hidup, dll (biasanya ini terjadi pada orang yang berusia tua atau sudah mengenyam pendidikan tinggi). Hal ini bisa kita ketahui dari motivasi seseorang tatkala menegur orang lain. Coba introspeksi diri kita masing-masing: ketika kita menegur orang lain yang salah, apa yang ada di benak kita? Apakah kita berpikir bahwa jika kita tak menegurnya, maka orang itu akan binasa atau lainnya? Ataukah kita menegur dengan kasih? Kedua, coba introspeksi diri kita dengan reaksi orang yang kita tegur. Setelah menegur seseorang, kita pasti mendapatkan reaksi dari orang tersebut, entah itu menerima atau menolak teguran kita. Jika orang tersebut menolak teguran kita, apa yang kita pikirkan? Akankah kita berpikir, “Jangan belagu lu, masih muda/belum berpengalaman sudah berani gak mau terima teguran orang tua yang sudah berpengalaman!”? Jika ini masih ada di dalam pikiran kita, bertobatlah sekarang, karena kita ternyata masih menyimpan bibit kesombongan secara tidak sadar meskipun secara mulut berkali-kali berkata tentang anugerah. Kita bisa membodohi manusia, namun jangan sekali-kali membodohi Allah!


Setelah kita menyadari bahwa segala sesuatu itu terjadi oleh anugerah Allah, maka apakah itu berarti kita tidak usah berbuat apa-apa? TIDAK! Doktrin anugerah Allah TIDAK menjadikan orang Kristen malas, malahan justru membangkitkan semangat orang Kristen untuk memuliakan-Nya. Karena segala sesuatu itu adalah anugerah Allah, maka anugerah-Nya memampukan kita untuk hidup di dalam anugerah-Nya yang berarti:
Pertama, meresponi anugerah-Nya. Meresponi anugerah Allah berarti sebuah tindakan pasif (sekaligus aktif) yang menghadirkan anugerah Allah itu di dalam setiap aspek kehidupan kita. Di sini kita dimampukan-Nya untuk tidak merebut kemuliaan-Nya demi kepentingan sendiri. Ketika kita dipuji seseorang karena kita baik atau tampan/cantik atau cinta Tuhan, apa reaksi kita? Meresponi anugerah-Nya menuntut kita untuk mengembalikan semua pujian hanya kepada Allah saja, karena kita menyadari bahwa tanpa anugerah-Nya, kita ini hina dan bobrok.

Kedua, memancarkan anugerah-Nya. Tidak cukup hanya menghadirkan anugerah-Nya, kita dipanggil juga untuk memancarkan anugerah-Nya dengan melakukan segala kehendak-Nya dengan penuh pengorbanan. Perhatikan perkataan Paulus di dalam 1 Korintus 15:10. Di ayat 9, ia memaparkan fakta bahwa dia adalah yang paling hina dari semua rasul, karena ia pernah menganiaya Jemaat Allah, namun di ayat 10 merupakan turning point bagi Paulus, yaitu karena anugerah (atau kasih karunia) Allah, ia bisa seperti sekarang ini (memberitakan Injil) dan bahkan ia mengakui bahwa ia lebih bekerja keras daripada semua rasul, namun itu semua bukan karena dirinya sendiri yang hebat, namun karena anugerah Allah. Anugerah-Nya memampukan Paulus dan kita sebagai umat-Nya bekerja keras memberitakan Injil dan melayani-Nya dengan penuh semangat dan pengorbanan kepada sebanyak mungkin orang sambil mengakui pelayanan yang kita kerjakan inipun bukan karena kehebatan kita, namun karena anugerah-Nya.


Sebagaimana hidup Paulus adalah hidup yang dipenuhi oleh anugerah Allah dan ia sendiri hidup di dalam anugerah-Nya itu, bagaimana dengan kita? Sudahkah anugerah Allah bekerja dan melingkupi iman dan kehidupan kita sehari-hari kita sebagai saksi Kristus? Biarlah Roh Kudus membuka hati dan pikiran kita agar kita makin menyadari anugerah Allah yang begitu besar bagi umat-Nya sekaligus mendorong kita untuk makin bersaksi bagi-Nya demi hormat dan kemuliaan nama Allah Tritunggal. Amin. Soli Deo Gloria.

JOHN CALVIN DAN TRADISI GEREJA (Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.)

JOHN CALVIN DAN TRADISI GEREJA

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.




Salah satu semboyan reformasi yang terkenal adalah sola scriptura (lit. “hanya Alkitab”). Penekanan pada semboyan ini tidak terletak pada kata “scriptura”, karena gereja pada waktu itu (sekarang disebut Gereja Roma Katolik) juga menerima Alkitab. Seperti semboyan yang lain (sola fide dan sola gratia), penekanan dalam semboyan ini terletak pada kata “sola.” Konsep ini secara jelas terungkap dalam pernyataan Martin Luther (1483-1546) yang terkenal pada waktu Diet of Worms, 16 April 1521:
Unless I am convinced by the testimony of the Scriptures or by clear reason (for I do not trust either in the pope or in councils alone, since it is well known that they have often erred and contradicted themselves), I am bound by the Scriptures I have quoted and my conscience is captive to the Word of God. I cannot and I will not retract anything, since it is neither sale nor right to go against conscience. “I cannot do otherwise, here I stand, may God help me, Amen1

Sikap yang sama juga ditunjukkan oleh John Calvin. Terlepas dari beberapa kontroversi seputar konsep bibliologi Calvin,2 dalam buku monumentalnya, The Institutes of Christian Religion, ia secara eksplisit menjelaskan bahwa Alkitab bersumber dari Allah sendiri dan bukan dari gereja (1.6.1; 1.7.1-2; 2.8.12).

Semangat yang diusung melalui semboyan sola scriptura adalah penolakan terhadap pandangan gereja yang memakai dua standar otoritas, yaitu Alkitab dan tradisi. Para reformator menganggap gereja telah mempraktekkan banyak hal yang tidak diajarkan dalam Alkitab. Gereja lebih mementingkan tradisi daripada kitab suci. Keputusan gereja Katolik dalam Konsili Trent yang menerima kitab-kitab apokrifa3 sebagai firman Allah (untuk mendukung theologi dan praktek kegerejaaan mereka) merupakan gambaran paling jelas tentang sikap gereja terhadap otoritas Alkitab dan tradisi. Sebagai reaksi terhadap kesalahan ini, para reformator mengumandangkan semangat sola scriptura.

Penjelasan di atas secara sekilas bisa memberikan dua kesan: (1) para reformator benar-benar menolak semua yang disebut tradisi gereja; (2) para reformator membangun theologi dan praktek kegerejaaan mereka langsung dari Alkitab (tanpa dipengaruhi oleh tradisi gereja).

Apakah kesan di atas benar? Apakah para reformator memiliki penilaian yang benar-benar negatif terhadap tradisi? Penulis akan membatasi penyelidikan terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas pada reformasi John Calvin saja. Dengan kata lain, Penulis ingin secara khusus menyelidiki sikap John Calvin terhadap tradisi gereja. Pembatasan ini diambil berdasarkan beberapa pertimbangan.

Pertama, semi-jurnal Reformata berlatarbelakang theologi Reformed (bukan Protestan secara umum). Kedua, setiap reformator memiliki pandangan dan sikap yang berbeda tentang tradisi gereja, sehingga semuanya tidak mungkin dibahas dalam satu tulisan. Mengingat tulisan ini dirancang untuk sebuah semi-jurnal, Penulis akan menghindari pembahasan yang bersifat sangat teknis dan terlalu mendetail.


JOHN CALVIN DAN TRADISI
Earle E. Cairns, seorang ahli sejarah gereja, memberikan perbandingan singkat yang sangat bermanfaat tentang Luther dan Calvin. Salah satu yang disinggung adalah perbedaan sikap terhadap praktek gerejawi sehubungan dengan liturgi dan pemakaian hal-hal tertentu di dalam ibadah: “Luther rejected only what the Scriptures would not prove, but Calvin refused everything of the past that could not be proved by the Scriptures.”4 Pernyataan ini bukan tanpa alasan. Dari tulisan-tulisan Calvin terlihat jelas bahwa ia memang sangat menentang apa pun yang diyakini dan dipraktekkan oleh gereja kalau hal-hal itu tidak diajarkan oleh Alkitab. Dalam hal seputar kontroversi penggunaan gambar (iconoclastic controversy), Calvin memberikan penolakan yang sangat tegas dan komprehensif: gereja hanya boleh mempraktekkan apa yang memang diajarkan oleh Alkitab.

Pernyataan ini di atas bisa menimbulkan kesan bahwa dibandingkan Luther, Calvin memiliki pandangan yang lebih negatif terhadap tradisi gereja. Seandainya kesan ini benar, maka sikap tersebut merupakan sesuatu yang luar biasa, karena Calvin sendiri mengakui betapa ia “was more stubbornly addicted to the superstitions of the Papacy.”5 Beberapa sarjana, mengikuti pandangan Theodorus Beza, bahkan berpendapat bahwa pertobatan Calvin sudah terjadi jauh sebelum ia akhirnya memisahkan diri secara total dengan Gereja Roma Katolik pada tahun 1533.6

Penyelidikan yang lebih komprehensif ternyata mampu memberikan penjelasan yang lebih seimbang dan tepat tentang sikap Calvin terhadap tradisi. Ia sebenarnya tidak bersikap negatif secara mutlak terhadap gereja dan tradisinya.

Hal pertama yang perlu dipahami adalah pengertian “tradisi.” Istilah “tradisi” berasal dari kata Latin tradition/traditio, yaitu tindakan meneruskan sesuatu.7 Pemakaian istilah ini dalam sejarah gereja menunjukkan adanya perubahan (keberagaman) konsep tentang tradisi.8 Pada zaman gereja mula-mula istilah “tradisi” bermakna positif. Sebagai reaksi terhadap ajaran sesat Gnostisisme yang menekankan “pewahyuan” Allah yang eksklusif dan mistis, para bapa gereja membuktikan bahwa ajaran mereka mengikuti tradisi para rasul. Apa yang bapa gereja sampaikan bukanlah sesuatu yang baru. Sebaliknya, mereka hanya meneruskan apa yang sebelumnya telah diteruskan oleh para rasul. Hal ini sesuai dengan sikap para rasul sendiri. Paulus menekankan bahwa ajarannya adalah apa yang dia terima sendiri dari Tuhan dan ia teruskan kepada jemaat (1Kor. 11:23; 15:1-3). Yohanes memberitakan apa yang telah para rasul dengar, lihat dan raba dari Yesus (1Yoh. 1:1). Lukas menginformasikan adanya penerusan tradisi tentang Yesus, baik secara lisan maupun tertulis (Luk. 1:1-4).

Pada periode abad pertengahan, pengertian seperti di atas mengalami pergeseran. Tradisi dianggap sebagai sumber otoritas baru yang sifatnya melengkapi atau menambahkan Alkitab. Mula-mula pemahaman ini hanya diterapkan pada hal-hal yang tidak dibicarakan secara jelas dalam Alkitab. Selanjutnya tradisi justru semakin mendapat tempat. Tradisi tidak lagi menyentuh hal-hal yang “Alkitab diam”, tetapi tradisi juga menetapkan hal-hal yang bertentangan dengan Alkitab. Calvin dapat dikatakan anti tradisi hanya dalam pengertian tradisi yang populer waktu itu. Beberapa kutipan dari tulisan Calvin yang tampak sangat anti tradisi, sebenarnya hanya ditujukan pada pemahaman gereja waktu itu yang menganggap tradisi sebagai firman Allah atau sejajar dengan firman Allah. Berikut ini adalah dua pernyataan Calvin tentang tradisi yang dikutip oleh Alister E. McGrath:
Let this then be a sure axiom: that nothing ought to be admitted in the church as the Word of God, save that which is contained, first in the Law and the Prophets, and secondly in the writings of the Apostles; and that there is no other method of teaching in the church than according to the prescription and rule of his Word...I approve only of those which are founded upon the authority of God and derived from Scriptures (garis bawah ditambahkan)9

Sehubungan dengan pengertian tradisi sebagai warisan para rasul, Calvin justru bersikap sangat positif, bahkan lebih positif daripada Luther. Ketika Gereja Roma Katolik menuduh para reformator telah mengobarkan konsep dan praktek yang inovatif, Luther dan Calvin meresponi dengan cara yang berbeda. Luther merasa sudah cukup untuk meresponi tuduhan tersebut dengan berdiri di atas firman Allah. Calvin, di sisi lain, juga berusaha menunjukkan bahwa ajarannya sesuai dengan theologi bapa-bapa gereja awal. Hal ini tentu saja tidak berarti bahwa Calvin telah menggantikan Alkitab dengan tradisi bapa gereja abad permulaan. Calvin memang mengakui bahwa Kekristenan abad awal lebih murni dan benar, namun “for him, only Scripture contains the authentic, reliable, and normative tradition in the truest sense.”10

Calvin ingin menunjukkan bahwa ketika ajaran Gereja Roma Katolik berbeda dengan ajarannya, pihak Gereja Roma Katoliklah yang telah melenceng dari tradisi gereja yang sebenarnya di abad permulaan. Dengan kata lain, Gereja Roma Katolik telah mengadakan inovasi.11 Dalam The Institutes of the Christian Religion, Calvin secara khusus mengutip banyak bapa gereja dan mengontraskan pandangan mereka dengan pandangan Gereja Roma Katolik.12 Ketika ia terlibat dalam Perdebatan Lausanne (the Lausanne Disputation) melawan para pengikut Gereja Roma Katolik pada Oktober 1536, ia berhasil mematahkan tuduhan mereka. Ia mengutip kalimat-kalimat bapa-bapa gereja di luar kepala – lengkap dengan nama dan sumber tulisan tersebut – untuk membuktikan bahwa tuduhan terhadap orang Protetan yang dianggap telah menyalahi ajaran bapa-bapa gereja tentang Perjamuan Kudus adalah tidak benar.13 Pengenalannya yang luar biasa terhadap tulisan bapa-bapa gereja telah mempertobatkan seorang imam Katolik saat itu juga dan 200 imam lainnya selanjutnya juga meninggalkan Gereja Roma Katolik.14

Walaupun studi detail tentang pengaruh bapa-bapa gereja bagi pemikiran Calvin merupakan tugas yang sangat kompleks,15 mayoritas sarjana umumnya sepakat bahwa Calvin sangat berhutang pada bapa-bapa gereja. Dalam pembahasannya tentang sumber-sumber yang dipakai Calvin dalam buku The Institutes of the Christian Religion, Francois Wendel tidak lupa menyebutkan tulisan-tulisan bapa gereja.16 Pendapat ini sangat bisa dibenarkan. Jumlah kutipan dari bapa-bapa gereja abad permulaan dalam tulisan Calvin sangat melimpah.17 Pendeknya, Calvin bisa disebut sebagai murid bapa-bapa gereja.18 Di antara bapa gereja yang ia kutip, Calvin terutama sangat berhutang pada Agustinus: jumlah kutipan dari tulisan Agustinus melebihi jumlah total kutipan dari tulisan bapa gereja yang lain (Lane); 2000 kutipan dari Agustinus tersebut tidak ditemukan dalam tulisan-tulisan Agustinus yang ditemukan (Payne).19 Perbandingan antara tulisan Agustinus dan Calvin juga menunjukkan bahwa Calvin sangat dipengaruhi oleh Agustinus, baik pengaruh secara langsung dari tulisan-tulisan Agustinus yang dipelajari Calvin maupun dari tulisan tokoh-tokoh Kristen abad pertengahan yang mengikuti tradisi Agustinus.20


KONKLUSI DAN REFLEKSI
Gerakan reformasi pada abad ke-16, terutama reformasi dalam tradisi Calvinis/Reformed, bukanlah upaya untuk meletakkan hal-hal yang baru dalam Kekristenan. Sebaliknya, sama seperti semboyan ad fontes (lit. “kembali ke sumber”) dari para pemikir renaissance, reformasi Calvinis benar-benar ingin mengembalikan gereja pada sumber utama Kekristenan, yaitu ajaran Alkitab yang diteruskan (ditradisikan) kepada bapa-bapa gereja awal. Konsistensi ajaran inilah yang menjadi ciri khas dari theologi Reformed.

Situasi dunia dan tantangan gereja terus berubah, tetapi gereja harus mampu meresponi situasi ini dan merelevansikan Injil sambil terus berdiri di atas konsistensi ajaran para pemikir Reformed, pendahulu gerakan reformasi, bapa-bapa gereja, dan Alkitab. Hal ini semakin penting untuk direnungkan seiring dengan semangat zaman yang mendewakan perubahan dan kebebasan. Semangat ini tidak jarang juga berimbas pada mereka yang mengaku memegang pandangan Reformed, tetapi tidak mengenal dan mengajarkan kekayaan warisan theologi Reformed yang terprasasti dalam berbagai tulisan theolog Reformed dan kredo/pengakuan iman yang ada. Mereka merasa berhak mengklaim sebagai orang Reformed tanpa harus terikat pada sistem theologi dan tradisi Reformed. Akhirnya, saya ingin menutup dengan sebuah pertanyaan, “hal esensial apa yang menjadikan seorang menjadi Reformed?” #




Catatan kaki:
1. J. J. Pelikan, H. C. Oswald & H. T. Lehmann, Ed. Luther, M. 1999, c1958. Luther's works, vol. 32: Career of the Reformer II (Philadelphia: Fortress Press, 1999, c1958), hlm. 112-113.
2. Beberapa topik seputar konsep bibliologi Calvin yang dianggap kontroversial adalah pernyataan Calvin dalam The Institutes 4.8.9 (“sure and genuine scribes of the Holy Spirit” who composed Scripture “under the Holy Spirit’s dictation”) yang dianggap mendukung teori pengilhaman dikte. Di sisi yang lain, sebagian sarjana berpendapat bahwa Calvin tidak menerima ketidakbersalahan (inerrancy) Alkitab. Calvin dianggap membatasi ketidakbersalahan Alkitab hanya pada masalah iman. Terhadap mereka yang melihat doktrin inspirasi Calvin (dan Luther) berbeda dengan doktrin Injili modern, Louis Berkhof mengatakan, “But why should they rely on mere inferences, when these great Reformers use several expressions and make many plain statements, which are clearly indicative of the fact that they held the strictest view of inspiration” (Systematic Theology: New Combined Edition, Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company, 1996, 145).
3. Gereja Katolik memakai istilah deuterokanonika (lit. “kanon kedua”) daripada apokrifa (lit. “kitab-kitab yang tidak jelas”).
4. Christianity Through the Centuries: A History of the Christian Church (3rd. Rev & exp. ed., Grand Rapids: Zondervan Publishing House, 1996), 302.
5. John Thomas McNeill, The History and Character of Calvinism (New York: Oxford University Press, 1954), hlm. 108.
6. Kisah pertobatan Calvin merupakan salah satu topik yang sampai sekarang masih diperdebatkan. Tidak seperti Agustinus, Luther maupun Wesley, Calvin jarang sekali menceritakan tentang kehidupan pribadinya, termasuk pertobatannya. Para sarjana modern berusaha merekonstruksi kapan dan bagaimana Calvin bertobat berdasarkan rujukan yang sangat terbatas. Dua teks yang sering dijadikan dasar (sekaligus pusat perdebatan) adalah surat kepada Sadoleto dan tafsiran kitab Mazmur. Lihat, John Bratt, The Rise and Development: A Concise History (Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1964), hlm. 12.
7. Secara umum dalam bidang keagamaan dan sosial, tradisi dapat dipahami sebagai “an inherited, established, or customary pattern of thought, action, or behavior (as a religious practice or a social custom).” Merriam-Webster, I. 1996, c1993. Merriam-Webster's Collegiate Dictionary. Includes index. (10th ed.). Merriam-Webster: Springfield, Mass., U.S.A.
8. Lihat bab terakhir dari Heiko A. Oberman, The Dawn of the Reformation: Essays in Late Medieval and Early Reformation Thought (Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company, 1992, c1986), hlm. 269-296.
9. Historical Theology: An Introduction to the History Christian Thought (Malden, Massachusets: Blackwell Publishers, 1998), hlm. 177.
10. John E. Burkhart, “Tradition” in Encyclopedia of the Reformed Faith, ed. Donald K. McKim (Louisville/Edinburgh: Westminster/John Knox Press/Saint Andrew Press, 1992), hlm. 373.
11. David J. Marshall, “Calvin, John” dalam Augustine Through the Ages: An Encyclopedia, Allan D. Fitzgerald, gen. ed., (Grand Rapids: William. B. Eerdmans Publishing Company, 1999), 116-117.
12. James Swan dalam artikelnya yang berjudul “Calvin, the Church Fathers and the Roman Church” (http://beggarsallreformation.blogspot.com/2005/12/calvin-church-fathers) memberikan 13 kontras antara bapa-bapa gereja dan Gereja Roma Katolik, sekaligus menjelaskan nama dan sumber tulisan bapa gereja yang dikutip oleh Calvin.
13. Donald K. McKim, ed., The Cambridge Companion to John Calvin (excerpt; Cambridge: Cambridge University Press, t.th), 10.
14. Erroll Hulse, “John Calvin and his Missionary Enterprise”, http://www.reformedtheology.org/html/issue04/calvin.htm, 1. Posted on 9/29/2006.
15. Kesulitan dalam diskusi ini terkait dengan metodologi yang dipakai, lingkup rujukan yang ada (hanya yang eksplisit atau termasuk yang implisit), pembuktian pengaruh (apakah kesamaan konsep secara otomatis mengindikasikan pengaruh?), mediasi (apakah Calvin dipengaruhi bapa-bapa gereja secara langsung atau melalui para pemikir skolastik?), dll.
16. Calvin: Origins and Development of His Religious Thought (terj. Philip Mairet; Durham: The Labyrinth Press, 1987), hlm. 123-125.
17. Artikel terbaik yang membahas tentang hal ini, sejauh yang saya tahu, ditulis oleh A. N. S. Lane, “Calvin’s Use of the Fathers and the Medieval”, CTJ 16/2 (1981), hlm. 149-190.
18. A. N. S. Lane, John Calvin: Student of the Church Fathers (Grand Rapids: Baker Book House, 2000). Sejauh ini, buku ini adalah yang paling komprehensif dan spesifik dalam memaparkan pengaruh bapa-bapa gereja bagi pemikiran Calvin.
19. David E. Parks, John Calvin: The Man and His Doctrine. www.wcofc.org/going_deep.htm, Oktober 03, 2002. Menurut Smits, jumlah kutipan dari Agustinus dalam tulisan Calvin adalah 1700 kutipan eksplisit dan 2400 kutipan/alusi yang tidak disertai referensi. Lihat, Marshall, “John Calvin”, hlm. 117.
20. Sebuah buku klasik tentang perbandingan kedua tokoh ini ditulis oleh seorang theolog Reformed yang bernama B. B. Warfield, Calvin and Augustine (Philadelphia: Presbyterian and Reformed, 1956). Sayangnya, buku ini tidak terlalu menolong para pemula untuk mengetahui benang merah pemikiran Agustinus ke Calvin.





Sumber:
http://www.gkri-exodus.org/image-upload/HIS%2015%20John%20Calvin%20&%20Tradisi.pdf




Profil Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.:
Ev. Yakub Tri Handoko, S.Th., M.A., Th.M., Ph.D. (Cand.), yang lahir di Semarang, 23 November 1974, adalah gembala sidang Gereja Kristus Rahmani Indonesia (GKRI) Exodus, Surabaya (www.gkri-exodus.org) dan dosen di Institut Theologi Abdiel Indonesia (ITHASIA) Pacet serta dosen tetap di Sekolah Theologi Awam Reformed (STAR) dari GKRI Exodus, Surabaya. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Theologi (S.Th.) di Sekolah Tinggi Alkitab Surabaya (STAS); Master of Arts (M.A.) in Theological Studies di International Center for Theological Studies (ICTS), Pacet–Mojokerto; dan Master of Theology (Th.M.) di International Theological Seminary, U.S.A. Mulai tahun 2007, beliau sedang mengambil program gelar Doctor of Philosophy (Ph.D.) part time di Evangelische Theologische Faculteit (ETF), Leuven–Belgia. Beliau menikah dengan Ev. Nike Pamela, M.A. dan dikaruniai 2 orang putra: Calvin Gratia Handoko dan Aurel Fide Handoko.




Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio.

27 October 2010

EKSPOSISI 1 KORINTUS 9:13-14 (Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.)

EKSPOSISI 1 KORINTUS 9:13-14

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.



Nats: 1 Korintus 9:13-14



Bagian ini merupakan kelanjutan dari argumen Paulus tentang hak para rasul. Mereka berhak menerima tunjangan hidup dan pelayanan (9:4-6), karena realitas kehidupan sehari-hari mengajarkan bahwa setiap pekerja mendapatkan sesuatu dari yang ia kerjakan (9:7). Lebih jauh, Hukum Taurat juga menegaskan bahwa lembu yang mengirik pun berhak untuk makan dari hasil panen yang ia kirik, sehingga ia tidak boleh diberangus mulutnya pada waktu mengirik (9:8-10). Sekarang Paulus menambahkan dua argumen lagi: (1) praktek keagamaan secara umum menunjukkan bahwa setiap imam atau rohaniwan berhak menerima upah dari pelayanan yang ia lakukan (9:13); (2) Tuhan Yesus pun mengajarkan bahwa para pemberita Injil harus hidup dari Injil yang mereka beritakan (9:14).

Sebelum kita membahas setiap argumen secara detil, kita perlu memikirkan posisi 9:11-12 dalam keseluruhan argumen ini. Mengapa Paulus tidak langsung melanjutkan argumen dari 9:7-10 ke 9:13-14? Mengapa ia perlu menegaskan lebih dahulu bahwa ia tdak mau mempergunakan apa yang menjadi haknya (9:11-12)? Bukankah penegasan ini nanti juga akan dibahas ulang secara lebih detil di 9:15-18? Apakah 9:11-12 merupakan sebuah sisipan, transisi, atau memang sejak awal dimaksudkan seperti sekarang?

Sebagian penafsir menduga bahwa Paulus awalnya memang ingin menutup argumennya di 9:10, karena itu ia langsung menegaskan sikapnya yang tidak mau mempergunakan hak (9:11-12). Setelah mengutarakan hal tersebut, Paulus baru ingat bahwa masih ada dua argumen lain yang perlu ia sampaikan (9:13-14). Dengan demikian para penafsir ini menganggap 9:13-14 sebagai tambahan spontan dari Paulus. Walaupun dugaan ini sangat menarik, tetapi hal ini tampak bertentangan dengan petunjuk yang ada di dalam teks.

Pertama, 9:7-18 menunjukkan struktur yang seimbang:
Dua alasan bagi hak para rasul (9:6-1)
Paulus tidak mau mempergunakan hak itu (9:11-12)
Dua alasan bagi hak para rasul (9:13-14)
Paulus tidak mau mempergunakan hak itu (9:15-18)

Kedua, Paulus sengaja memisahkan kelompok argumen ke-1 (9:7-10) dengan ke-2 (9:13-14) untuk tujuan tertentu. Ia ingin menampilkan perbedaan dari dua kelompok argumen ini. Kelompok ke-1 lebih berkaitan dengan pekerjaan yang “sekuler”, misalnya peperangan, pertanian, penggembalaan, atau pengirikan, sedangkan kelompok ke-2 secara lebih khusus menyoroti pekerjaan yang langsung berkaitan dengan hal-hal rohani (pelayan di kuil/bait Allah maupun pemberita Injil). Berdasarkan pengaturan seperti ini dan peletakkan ajaran Tuhan Yesus di argumen terakhir, tersirat bahwa Paulus sedang mengajak jemaat Korintus untuk memikirkan argumen-argumen lain yang lebih relevan daripada argumen sebelumnya.

Dengan berpindah ke kelompok argumen berikutnya, Paulus sekarang bisa mengaitkan hal ini dengan isu utama di pasal 8-10 secara lebih dekat. Inti masalah yang sedang dibahas adalah tentang makanan berhala (8:1, 4), terutama tindakan makan di kuil (8:10; 10:14-22). Sebagian jemaat merasa punya hak untuk melakukan itu dan mereka tidak mau melepaskan kebiasaan ini demi kepentingan saudara seiman. Dalam kaitan dengan hal ini, sangat wajar apabila Paulus menyinggung tentang hak para pelayan di kuil/bait Allah (9:13). Penggunaan ajaran Tuhan Yesus sebagai argumen yang klimaks (9:14) dan ketidakmauan Paulus untuk menggunakan hak tersebut (9:15-18) mengajarkan jemaat Korintus bahwa memiliki hak bukanlah segala-galanya, apalagi dari sisi logis maupun theologis jemaat Korintus sebenarnya tidak memiliki hak untuk makan di kuil. Mereka bukan pelayan rohani di kuil yang memang harus makan dari sana, melainkan mereka hanya datang dalam kapasitas sebagai pengunjung.


Praktek Keagamaan Secara Umum (ay. 13)
Ayat ini dimulai dengan sebuah pertanyaan retoris (ouk oidate) yang mengharapkan jawaban “ya”. Dari bentuk kalimat tanya yang dipakai terlihat bahwa apa yang disampaikan di ayat ini bukanlah sesuatu yang baru. Seandainya jemaat Korintus lebih peka dan mau berpikir, maka mereka pasti sudah mengetahui argumen ini, apalagi di Kota Korintus memang terdapat banyak kuil penyembahan. Dalam hal ini Paulus hanya sekadar mengingatkan mereka terhadap hal-hal kecil atau sehari-hari yang seringkali lepas dari pengamatan serius.

Siapakah yang dimaksud dengan “mereka yang melayani tempat kudus” atau “melayani mezbah” di sini? Apakah mereka adalah orang-orang Lewi dan para imam di bait Allah? Beberapa penafsir menjawab “ya” untuk pertanyaan ini, namun jawaban yang mereka berikan bertentangan dengan petunjuk yang ada di dalam teks. Paulus tidak sedang membatasi diri pada ibadah di bait Allah. Ia memikirkan ibadah secara umum, baik ibadah Yahudi (di bait Allah) maupun kafir (di kuil-kuil).
• Kata “tempat kudus” di ayat ini dalam bahasa Yunani berbentuk jamak (ta hiera). Secara harfiah kata ini lebih tepat diterjemahkan “tempat-tempat ibadah” (baik bait Allah maupun kuil kafir). Sebagian versi mempertahankan bentuk jamak, tetapi menganggap ta hiera merujuk bentuk pelayanan, bukan tepat ibadah (KJV “holy things”, NASB “sacred services”, RSV/NRSV “temple service”). Versi lain dengan tepat menerjemahkan “temple” (NIV/NET), tetapi mereka gagal mempertahankan bentuk jamak yang dipakai. Mempertimbangkan bentuk jamak ta hiera, kita sebaiknya tidak memahami ayat 13 hanya sebatas ibadah Yahudi di bait Allah, karena bait Allah hanya satu sedangkan ta hiera yang dipakai di sini jamak.
• Kata “melayani” (ay. 13b) dalam bahasa Yunani adalah paredreuo. Kata ini hanya muncul sekali di seluruh Akitab (hapax legomena). Pemakaian di luar Alkitab menunjukkan bahwa kata paredreuo seringkali digunakan untuk aktivitas para imam kafir dalam mempersembahkan korban kepada dewa-dewa mereka.
• Kata dasar to hieron (bentuk tunggal dari ta hiera) dalam Alkitab memang bisa merujuk pada bait Allah (Kis. 3:2, 10) maupun kuil kafir (Kis. 19:27).
• Kata “mezbah” (ay. 13b) memakai kata Yunani thysiasterion yang hanya dipakai untuk altar persembahan di bait Allah.

Dari semua petunjuk di atas terlihat bahwa Paulus memikirkan bait Allah di Yerusalem maupun tempat-tempat ibadah yang lain. Ia ingin menunjukkan bahwa semua aliran keagamaan mengadopsi pandangan yang sama, yaitu para pekerja rohani berhak mendapatkan tunjangan materi dari apa yang mereka lakukan.

Sebagain penafsir mencoba membedakan “mereka yang melayani tempat-tempat kudus” dengan “mereka yang melayani mezbah”, terutama para penafsir yang meyakini bahwa ayat 13 berbicara secara khusus tentan ibadah di bait Allah. Mereka menganggap bahwa frase “yang melayani tempat kudus” merujuk ada orang-orang Lewi, sedangkan frase “yang melayani mezbah” pada para imam. Walaupun Alkitab memang membedakan pekerjaan orang-orang Lewi dan para imam serta mengatur upah yang mereka dapatkan dari pekerjaan tersebut (Bil. 18:8-4; Ul. 18:1-8), namun kita sebaiknya tidak membedakan ayat 13a dengan 13b. Ayat 13b hanya bersifat menegaskan saja.

Ada dua argumen yang mengarah pada kesimpulan ini. Dalam kalimat Yunani, antara ayat 13a dan 13b tidak dihubungkan dengan kata sambung kai (“dan”, kontra semua versi). Penggunaan kata kai akan lebih jelas menunjukkan bahwa Paulus sedang membicarakan dua kelompok pelayan, namun ia ternyata tidak memakai kata sambung ini. Alasan lain berhubungan dengan kesejajaran (paralelisme) antara ayat 13a dan 13b. Baik ayat 13a maupun 13b memakai struktur kalimat “artikel + kata benda + participle present + kata benda + indikatif present”. Paralelisme ini menyiratkan bahwa Paulus tidak sedang membedakan para pelayan di ayat 13a dan 13b.


Ajaran Tuhan Yesus (ay. 14)
Penempatan argumen ini di bagian terakhir menyiratkan keyakinan Paulus bahwa ajaran Tuhan Yesus merupakan otoritas tertinggi dalam semua argumen. Apa yang dikatakan Tuhan Yesus sudah merupakan argumen yang konklusif. Di samping itu, hal ini juga dimaksudkan sebagai klimaks yang spesifik, karena ajaran Tuhan Yesus yang dikutip memang sangat dan langsung berkaitan dengan hak para rasul sebagai pemberita. Pemakaian kata “demikian pula” (houtos kai) di awal ayat ini mengajarkan sebuah kebenaran yang penting tentang kebenaran. Allah telah menempatkan kebenaran-Nya dalam realitas kehidupan sehari-hari (9:7), Hukum Taurat (9:8-10) maupun praktek keagamaan secara umum (9:13). Walaupun dunia sudah dipengaruhi oleh dosa dan seluruh dimensi kehidupan manusia sendiri juga tercemar, tetapi Allah tetap memberi anugerah dengan cara menyisakan kebenaran di dunia ini. Semua kebenaran ini perlu ditinjau dari perspektif ajaran Kristus, karena pewahyuan sempurna hanya ada di dalam Dia (Yoh. 1:18; Ibr. 1:1-3). Berdasarkan penjelasan ini kita perlu mengingat bahwa semua kebenaran adalah kebenaran Allah dan Ia memakai semua kebenaran itu sebagai salah satu cara untuk mengontrol dunia ini, karena itu kita perlu respek terhadap penganut agama lain yang dalam hal-hal tertentu memang mengetahui beberapa kebenaran berdasarkan wahyu/anugerah umum. Kita memang harus tegas menyatakan bahwa tidak ada keselamatan di luar Kristus Yesus (Yoh. 14:6), tetapi hal ini bukan berarti bahwa kita meremehkan atau mengabaikan kebenaran umum di dalam agama-agama. Sebaliknya, kita patut mensyukuri hal itu, karena Allah memang telah meletakkan banyak kebenaran di alam, realitass kehidupan seharihari, pikiran manusia, dsb., walaupun kebenaran tertinggi hanya ada satu, yaitu di dalam firman Tuhan.

Kutipan dari ajaran Tuhan Yesus ini semakin membuktikan bahwa Paulus mengenal tradisi lisan dari Yesus dengan baik, sekalipun ia bukan saksi mata kehidupan Yesus. Ia beberapa kali mengutip perkataan Yesus (1Kor. 7:10; 11:23-25; 1Tim. 5:18), bahkan perkataan yang nantinya tidak dicatat dalam kitab-kitab Injil (Kis. 20:35). Ia mungkin mendapatkan ajaran Yesus dari para rasul maupun secara langsung.

Di 1 Korintus 9:14 ini Paulus mengutip perkataan Tuhan Yesus sebelum Ia mengutus murid-murid untuk memberitakan Injil ke seluruh daerah Israel (Mrk. 6:7-11; Mat. 10:1-15; Luk. 9:1-15; 10:1-12). Tuhan Yesus melarang mereka untuk menguatirkan kehidupan mereka dengan cara membawa banyak persediaan atau perlengkapan hidup. Larangan ini bukan dimaksudkan untuk menyengsarakan mereka, tetapi justru untuk mengajar mereka bersandar kepada Allah. Allah pasti akan memelihara kehidupan mereka dengan cara menyediakan orang-orang yang mau menerima Injil yang mereka sampaikan sekaligus memberikan tempat tinggal serta makanan bagi mereka.

Seandainya para pemberita Injil harus hidup dari Injil – seperti yang diajarkan Tuhan Yesus – maka keputusan Paulus untuk menolak tunjangan materi dari jemaat Korintus merupakan sikap yang menarik untuk ditelaah. Apakah dalam hal ini Paulus telah melanggar perintah Tuhan Yesus? Apakah ada pertimbangan lain yang lebih tinggi daripada perintah Tuhan Yesus? Hampir semua penafsir percaya bahwa Paulus tidak menentang ajaran Tuhan Yesus, tetapi tidak semua mereka memberikan penjelasan yang tepat. Beberapa mencoba menerjemahkan diatasso di ayat ini dengan kata “menetapkan” (LAI:TB/KJV) untuk memperlunak bobot dari perkataan Tuhan Yesus. Perkataan Tuhan Yesus bukan sebuah perintah, tetapi hanya sekadar ketetapan. Upaya ini tidak dapat dipertahankan. Kata diatasso dalam Alkitab selalu berarti “memerintahkan”. Kalaupun kata ini mau diterjemahkan “menetapkan”, sulit dimengerti mengapa “ketetapan” dianggap kurang berbobot daripada “perintah”. Tidak ada perbedaan esensial dari dua kata ini.

Beberapa yang lain mencoba menerjemahkan diatasso dengan makna yang umum (“memerintahkan”), tetapi mereka mengangap perintah ini ditujukan pada penerima Injil, bukan pemberitanya. Beberapa versi menyiratkan bahwa tidak ada objek khusus dari perintah ini. Tuhan Yesus hanya memerintahkan sesuatu (konsepnya). Mereka memilih terjemahan “demikian pula Tuhan Yesus memerintahkan/menetapkan bahwa mereka yang memberitakan Injil harus hidup dari Injil” (NIV/RSV/NRSV).

Alasan yang paling tepat harus dilihat dari konteks perkataan Tuhan Yesus. Jika kita memperhatikan konteks ucapan Tuhan Yesus (Mrk. 6:7-11; Mat. 10:1-15; Luk. 9:1-15; 10:1-12), maka kita akan melihat bahwa memang ada ruang atau kemungkinan bahwa pemberita Injil tidak mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan. Ada kemungkinan mereka ditolak oleh para pendengar Injil. Ketika murid-murid mengalami ini, Tuhan Yesus tidak memerintahkan mereka untuk memaksa para pendengar mereka. Hal ini menyiratkan bahwa menerima tunjangan materi dari para pendengar Injil lebih merupakan suatu hak daripada kewajiban. Konsep inilah yang dipahami Paulus dan ditekankan dalam 1 Korintus 9. Sebagai sebuah hak, maka ada ruang untuk tidak menggunakan hak tersebut tanpa melanggar Sang Pemberi hak. Sebagai contoh, kita wajib menolong orang lain yang sedang menderita kesusahan, tetapi orang itu tetap memiliki hak untuk tidak bersedia menerima pertolongan dari kita dengan alasan tertentu. Orang tersebut belum tentu secara sengaja menentang hukum kasih yang menjadi dasar mengapa kita wajib menolong dia. Dia mungkin hanya sekadar sungkan atau sudah ada orang lain yang memberi pertolongan kepadanya. Paulus juga demikian. Ia tidak mau menerima tunjangan dari jemaat Korintus dengan pertimbangan khusus (tidak mau disamakan dengan para filsuf keliling, lihat eksposisi 9:11-12), namun ia tetap mau menerima tunjangan dari jemaat di Makedonia (2Kor. 11:8-9).

Sikap Paulus yang tidak mau menggunakan hak sebagai peberita Injil merupakan teladan sekaligus teguran bagi jemaat Korintus. Mereka sebenarnya tidak berhak makan di kuil, baik secara logis (mereka bukan pelayan kuil) maupun theologis (tindakan itu termasuk penyembahan berhala). Mereka hanya berhak atas makanan itu jika mereka datang dan turut dalam ibadah di sana. Jika mereka tidak mau melepaskan “hak” ini demi orang lain, maka mereka patut merasa malu dan mulai meneladani Paulus. Ia memiliki hak penuh (dalam arti yang sesungguhnya) atas tunjangan materi bagi kehidupan dan pelayanannya, tetapi ia justru rela melepaskan hak itu demi orang-orang lain. Mengapa jemaat Korintus begitu sulit melepaskan “hak” yang sebenarnya tidak berarti itu? Biarlah pertanyaan ini juga menjadi perenungan kita selama seminggu ini. Apakah ada hal-hal tertentu yang selama ini kita pertahankan dan itu justru menyakiti atau menjadi batu sandungan bagi orang lain? #




Sumber:
Mimbar GKRI Exodus, 14 Maret 2010
http://www.gkri-exodus.org/image-upload/SER-1Korintus%2009%20ayat%2013-14.pdf

24 October 2010

WHO (WHAT) IS YOUR GOD? (Denny Teguh Sutandio)

WHO (WHAT) IS YOUR GOD?

oleh: Denny Teguh Sutandio



“Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.”
(Kel. 20:3)




PENDAHULUAN
Di gunung Sinai, Allah memberikan Sepuluh Perintah yang lebih dikenal dengan Dasa Titah kepada umat-Nya Israel. Sebelum memberi Dasa Titah, di Keluaran 20:2, Ia mengingatkan mereka bahwa Ia adalah Allah yang membawa mereka keluar dari Tanah Mesir, tanah perbudakan. Setelah itu, Ia langsung mengeluarkan titah pertama kepada Israel bahwa tidak boleh ada ilah lain di hadapan-Nya di antara Israel. Jika kita memperhatikan Dasa Titah ini di dalam bahasa Indonesia, maka kita menjumpai bahwa setiap titah diawali kata “Jangan.” Di dalam bahasa Ibrani, ada dua bentuk perintah dari kata kerja Qal, yaitu: lō (al{) yang berarti tidak (termasuk larangan tetap/ilahi) dan ’al (לa) yang berarti jangan (termasuk larangan pada saat itu). Nah, khusus di Keluaran 20, setiap titahnya diawali kata Ibrani lō yang berarti tidak, bukan jangan. Mengapa menggunakan kata “tidak” dan bukan “jangan”? Pdm. F. Abigail Susana, D.Th., dosen bahasa Ibrani saya di Sekolah Theologi Awam Reformed (STAR) Surabaya menjelaskan bahwa penggunaan kata lō di dalam Keluaran 20 itu dilatarbelakangi oleh suatu alasan theologis, yaitu titah tersebut diwahyukan oleh Allah dengan maksud agar ditaati sebagai respons terhadap cinta kasih Allah yang telah dialami dan dirasakan oleh orang Israel, jadi bukan merupakan suatu paksaan. Uniknya, titah pertama langsung melarang Israel untuk tidak ada ilah lain di hadapan-Nya karena titah ini sebagai persiapan iman bagi Israel tatkala mereka hidup di tengah bangsa kafir pada waktu itu dan di kemudian hari. Titah ini juga merupakan pendahuluan/presuposisi bagi titah-titah selanjutnya yang berisi kaitan dengan sesama manusia (titah kelima sampai dengan kesepuluh). Ketika kita tidak mengerti siapakah Allah yang kita sembah dan TIDAK boleh ada ilah lain di hadapan-Nya, maka kita pun tidak akan mengerti relasi manusia dengan sesamanya, entah itu dengan otoritas turunan (dari Allah) di atas kita maupun yang sederajat dengan kita, karena sumber otoritas berasal dari Allah.




ALLAH VS “ILAH-ILAH” LAIN
Jika sumber otoritas adalah Allah, benarkah orang Kristen hari-hari ini menjadikan Allah sebagai Allah yang harus disembah? Fakta membuktikan banyak orang Kristen hari-hari ini rajin menghadiri kebaktian di gereja, namun mereka sebenarnya tidak menTuhankan Kristus, tetapi memiliki ilah-ilah lain di luar Allah sejati. Apa itu ilah lain? Sering kali kita mengira bahwa patung itu wujud ilah lain. BUKAN! Itu hanya sebagian kecil. Ilah lain lebih dari sekadar patung. Dr. Martin Luther pernah mengatakan bahwa ilah lain adalah sesuatu yang membuat diri kita terpikat dan terikat dengannya. Dengan kata lain, ilah lain bisa berupa kesenangan, kepandaian, kehebatan, dll yang kita banggakan lebih dari Allah. Ilah-ilah ini bisa dibedakan menjadi dua: ilah mati dan ilah hidup.
1. Ilah Mati
Ilah lain wujud pertama adalah ilah yang merupakan sesuatu yang mati yang mengikat hidup banyak orang Kristen. Ilah-ilah ini meliputi:
Pertama, uang. Duit merupakan ilah tertinggi dalam kehidupan banyak orang Kristen. Demi uang, orang Kristen rela mengurangi jam kebaktian gereja (belum ibadah selesai, sudah pulang duluan) demi mengerjakan sesuatu yang berduit. Tidak jarang orang Kristen yang siap meninggalkan imannya demi uang. Demi uang, mantan pebisnis yang menjadi pemimpin gereja berani membentuk dan mendirikan gereja lalu berkhotbah dengan tidak bertanggungjawab demi mengeruk uang persepuluhan dari jemaat. Demi uang, orangtua “Kristen” yang seharusnya mendidik anak-anaknya untuk takut akan Tuhan, malahan mendidik anak-anaknya untuk melakukan segala sesuatu yang “menghasilkan”.

Kedua, tradisi. Selain duit, tradisi juga bisa menjadi ilah tatkala tradisi ditekankan begitu rupa melebihi apa yang Tuhan inginkan. Demi tradisi budaya tertentu, orang Kristen dari suku tertentu dilarang menikah dengan orang Kristen dari suku yang lain (meskipun harus dipertimbangkan juga perbedaan suku; namun ini bukan hal mutlak). Demi tradisi budaya tertentu, banyak orang Kristen rela membungkukkan diri di depan foto orang yang sudah meninggal dengan dalih “menghormati.” Menghormati koq ditunjukkan dengan membungkukkan diri? Demi tradisi budaya tertentu, orang Kristen dari suku yang sama sekalipun dilarang menikah dengan alasan konyol: shionya jiong!

Ketiga, muka. Ilah ketiga dalam diri banyak orang Kristen hari-hari ini adalah MUKA alias jaga muka atau jaga gengsi. Pdt. Dr. Stephen Tong mengatakan bahwa muka banyak orang Kristen ingin terus dielus-elus. Demi muka, banyak orang Kristen enggan ditegur, karena teguran membuat mukanya tercoreng. Demi muka, mereka enggan bertobat karena bertobat berarti meninggalkan “muka”nya yang lama dan menggantikannya dengan “muka” yang baru. Demi muka, karena tidak mau ditegur dan bertobat, banyak orang Kristen gemar mencari gereja yang menyenangkan telinga mereka (bdk. 2Tim. 4:3-4). Demi muka, beberapa orang Kristen menjadi seorang yang bermuka dua, kelihatan baik di depan banyak orang, selalu memuji banyak orang, namun jika orang tersebut sudah pergi, orang yang bermuka dua tersebut menjelek-jelekkan mereka.

Keempat, cuek. Karena muka telah menjadi ilahnya, maka banyak orang Kristen akan menjadikan mukanya tetap bersih dengan cuek terhadap segala sesuatu yang berbeda dari pendiriannya. Mereka cuek dengan kebenaran. Yang mereka pegang adalah apa yang mereka anggap sendiri benar. Mereka merayakan kebenaran subyektif dan menghina kebenaran obyektif (Alkitab). Yang penting bagi mereka adalah mereka mengalami dan tidak peduli apakah pengalaman yang dialaminya itu sesuai dengan Alkitab atau tidak. Selain itu, cuek-isme ditandai dengan beberapa orang Kristen (bahkan beberapa pemimpin gereja) yang berani mengatakan bahwa semua agama itu sama saja yang sama-sama menuju ke satu “Tuhan” (ada miripnya dengan ide Monisme dalam Gerakan Zaman Baru). Pernyataan ini tentu tidak keluar dari penyelidikan tuntas akan semua agama, namun berasal dari kesimpulan gegabah dari kecuekan. Beberapa kali saya menjumpai tipe orang Kristen seperti ini ketika saya mencoba menegur ajaran yang selama ini ia imani.

Kelima, waktu luang. Waktu luang bisa menjadi ilah dalam hidup kita tatkala kita menjadikan waktu luang itu segala-galanya. Waktu luang tersebut bisa berupa: hobi, jadwal rutin, dll. Olahraga badminton merupakan refreshing dalam hidup manusia, namun refreshing ini bisa menjadi ilah tatkala refreshing tidak lagi menjadi refreshing. Misalnya, jika ada acara pembinaan iman, saya menjumpai beberapa orang Kristen sibuk justru dengan refreshingnya bermain badminton. Ia tidak rela jadwal rutin main badminton diganti atau ditiadakan demi mengikuti pembinaan iman atau bersekutu dengan orang Kristen lain. Selain itu, menonton TV pun bisa menjadi ilah ketika waktu menonton TV lebih besar porsinya dari waktu lain terutama waktu bersekutu dengan Tuhan. Demi melihat sinetron berseri atau reality show tertentu, beberapa orang Kristen malas pergi ke gereja.

Keenam, barang-barang tertentu. Selain waktu luang, barang-barang tertentu yang kita sukai ternyata bisa menjadi ilah dalam hidup kita. Mulai dari baju, aksesoris, sampai BlackBerry (BB), dll bisa menjadi berhala. Buktinya, ketika ada midnight sale dengan diskon besar untuk baju-baju terbaru, tidak jarang cewek Kristen rela berjubel dan tidak telat semenit pun, namun sebaliknya kalau disuruh ke gereja, mereka dengan mudahnya terlambat dengan segudang alasan, misalnya: jalanan macet, dll. BlackBerry yang dirancang untuk mempermudah komunikasi di dalam berbisnis telah menjadi gadget gengsi, seolah-olah tidak memiliki BB dianggap jadul alias kuno. Bahkan demi BB, banyak orang Kristen tidak ada waktu lagi untuk membaca Alkitab, membaca buku, berdoa, dll.


2. Ilah Hidup
Ilah kedua ini adalah ilah yang merupakan sesuatu yang hidup, yaitu manusia.
Pertama, orangtua. Karena tradisi merupakan ilah mati yang bisa mengikat manusia, maka kaitannya adalah orangtua pun juga bisa merupakan ilah hidup yang bisa mengikat manusia khususnya anak-anaknya. Ada suatu fakta, orangtua perempuan (ibu) berasal dari sebuah gereja Injili Tionghoa di Surabaya (yang kemudian tidak lagi ke gereja karena ditipu oleh seorang majelis gereja—bisa dilihat iman macam apa yang dimiliki oleh si perempuan ini) mengindoktrinasi anak-anaknya dari kecil untuk mengikuti apa yang dikehendaki si orangtua dengan meneruskan usaha orangtuanya. Dengan kata lain, demi orangtua, anak harus mengikuti apa kemauan mereka meskipun itu tidak sesuai dengan kehendak dan panggilan khusus Allah dalam hidup si anak. Kredonya: segala sesuatu adalah dari orangtua, oleh orangtua, dan untuk orangtua; bagi orangtua kemuliaan sampai selama-lamanya (bdk. Rm. 11:36).

Kedua, pasangan hidup. Pasangan hidup (bisa berarti pacar atau istri/suami) seharusnya menjadi seseorang yang melengkapi kita di dalam mengarungi kehidupan sehari-hari kita, namun tidak jarang justru pasangan hidup menjadi ilah kita tatkala kita menjadikan pasangan hidup tersebut segala-galanya, bahkan tanpanya, kita akan mati. Dari konsep konyol ini, muncullah pernyataan puitis yang tidak logis, seperti: “Cinta itu tak harus memiliki”, “cinta itu buta”, dll dan herannya pernyataan ini bisa diimani oleh seorang anak sulung dari seorang majelis gereja! Demi pasangan hidup pula, seorang Kristen bisa dengan mudahnya berkompromi iman dan akhirnya meninggalkan iman Kristennya. Dari selebritis/artis sampai orang awam, gejala ini sudah terlalu banyak terjadi.

Ketiga, selebritis/artis atau tokoh favorit. Selebritis/artis atau tokoh favorit pun bisa menjadi ilah tatkala kita menggandrungi si artis sedemikian rupa sampai-sampai lupa daratan. Misalnya, karena menggandrungi si Brandon di Indonesia Mencari Bakat (IMB), banyak orang (Kristen) rela menghabiskan pulsa demi mendukung tokoh favoritnya. Karena menggandrungi Batman, seorang anak kecil dibelikan baju bergambar Batman (ada “sayap”nya) oleh orangtuanya. Karena menggandrungi film anak-anak Upin Ipin, boneka Upin Ipin dan bahkan bahasanya ditiru. Karena menggandrungi F4 dari Taiwan, banyak anak muda dulu ingin rambutnya dipotong seperti para personel F4. Namun masih adakah anak-anak dan orang-orang Kristen yang meneladani ajaran-ajaran dan tokoh-tokoh Alkitab? Saya jarang menemukannya.




BERTOBAT: MEMBUANG “ILAH-ILAH” LAIN DAN KEMBALI KEPADA ALLAH SEJATI!
Setelah mengamati 9 ilah lain dalam hidup banyak orang Kristen, bagaimana reaksi kita? Firman Tuhan di dalam Keluaran 20:3 mengingatkan kita kembali agar kita jangan ada ilah lain di hadapan-Nya. Saatnya kita bertobat dari kepemilikan dan keterikatan kita akan 9 ilah lain di atas. Menurut Rev. Joshua E. Harris, bertobat adalah turn away from sins and turn back to God (menolak/memalingkan diri dari dosa dan kembali kepada Allah). Bagi saya, bertobat berarti menolak ilah-ilah lain (pseudo-gods: ilah-ilah palsu) dan kembali kepada Allah sejati. Pertobatan kita dimulai dari:
Pertama, peka terhadap Roh Kudus yang mencerahkan hati dan pikiran kita akan kebenaran firman-Nya. Pertobatan terjadi bukan karena aksi kita, tetapi karena reaksi kita (atas anugerah-Nya) terhadap aksi Roh Kudus yang pertama kali melahirbarukan kita dengan mencerahkan dan membukakan hati dan pikiran akan kebenaran firman-Nya akan adanya ilah-ilah lain dan kesalahannya yang dulu kita miliki dan pegang kuat-kuat.

Kedua, peka terhadap Roh Kudus menggunakan media khotbah dan persekutuan untuk menegur kita. Selain firman Tuhan, Roh Kudus dapat menggunakan media khotbah/penyampaian berita firman Tuhan yang murni untuk menegur kita yang memiliki ilah-ilah lain di dalam hidup kita. Khotbah yang murni dan beres adalah khotbah yang berpusat kepada Kristus dan berdasarkan Alkitab. Khotbah inilah yang mampu dan layak mengoreksi iman, kerohanian, dan kehidupan kita. Selain khotbah, Roh Kudus dapat menggunakan sarana orang percaya untuk menegur dan mengingatkan kita akan bahaya memiliki ilah-ilah lain dan memimpin kita untuk kembali kepada Alkitab!

Ketiga, peka terhadap Roh Kudus yang memimpin kita untuk berkomitmen membuang ilah-ilah lain dan kembali kepada Allah. Setelah melalui firman-Nya, khotbah, dan persekutuan orang percaya, maka Roh Kudus akan memimpin kita untuk mengambil komitmen yang tegas dan kuat untuk membuang ilah-ilah lain dan kembali kepada Allah! Roh Kudus memimpin kita di dalam proses, sehingga makin lama kita menjumpai bahwa pimpinan Roh Kudus makin jelas mengarahkan kita untuk percaya kepada Allah dan membuang ilah-ilah lain.

Keempat, peka terhadap Roh Kudus yang memimpin kita bijak dalam bersikap. Setelah memimpin kita membuang ilah-ilah lain dan kembali kepada Allah, Roh Kudus yang sama memimpin kita untuk bersikap bijak. Artinya, meskipun kesembilan hal yang bisa menjadi ilah kita itu salah dan melawan Allah, itu TIDAK berarti mayoritas dari kesembilan hal tersebut TIDAK penting. Kita perlu memiliki uang, menghargai tradisi, mempergunakan waktu luang, memiliki dan menggunakan barang tertentu, menghormati orangtua, menyayangi pasangan hidup, dan menghargai selebritis, namun itu TIDAK berarti kita menjadikan kesemuanya itu sebagai ilah yang menggantikan posisi Allah di dalam hidup kita.


Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita peka akan ilah-ilah lain di dalam hidup kita sebagai orang Kristen? Relakah kita ditegur oleh Roh Kudus untuk membuang ilah-ilah lain dan kembali kepada Allah sejati? Relakah kita juga dipimpin-Nya untuk tetap menghargai apa yang patut dihargai dalam batas-batas kewajaran di bawah otoritas Allah dan firman-Nya, Alkitab? Biarlah Roh Kudus memimpin komitmen yang telah, sedang, dan akan kita buat demi hormat dan kemuliaan nama-Nya. Amin. Soli DEO Gloria.