07 December 2008

Roma 12:2: IBADAH SEJATI-2: Mempersembahkan Hidup Bagi Tuhan-2

Seri Eksposisi Surat Roma :
Aplikasi Doktrin-2


Ibadah Sejati-2: Mempersembahkan Hidup Bagi Tuhan-2

oleh: Denny Teguh Sutandio


Nats: Roma 12:2.


Kalau di ayat 1, kita dituntut Paulus untuk mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah, lalu bagaimana kita dapat melakukannya? Cara kita mempersembahkan tubuh kita ini kepada Allah dipaparkan Paulus di ayat 2.

Pada ayat 2, Paulus mengajar, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Agar kita dapat mempersembahkan tubuh kita kepada Tuhan sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan yang berkenan kepada Allah, di ayat ini, Paulus memaparkan beberapa cara:
Pertama, cara negasi dan pasif: tidak mau dipengaruhi dunia ini. Jika kita memerhatikan terjemahan LAI ini, sepintas yang ditekankan adalah dunia, lalu kita yang menjadi serupa dengan dunia. Tetapi jika diperhatikan struktur bahasa Yunani, hal itu tidak demikian. Pernyataan “menjadi serupa” di dalam terjemahan Yunani diartikan, “dijadikan serupa,” dan struktur bahasa Yunaninya: kata kerja orang kedua, jamak (plural), waktu sekarang (present), pasif (passive), dan imperatif (imperative) (Hasan Sutanto, 2003, Perjanjian Baru Interlinear, hlm. 862). Dengan kata lain, secara negasi dan pasif, agar dapat mempersembahkan tubuh kita kepada Allah, pertama-tama kita tidak mau dipengaruhi dunia ini. Apa arti dipengaruhi dunia ini? Albert Barnes di dalam tafsirannya Albert Barnes’ Notes on the Bible memaparkan artinya yaitu mengambil bentuk, cara hidup, dll dari dunia ini. Selain itu, Geneva Bible Translation Notes menafsirkannya sebagai tindakan kita yang mengambil pendapat atau perilaku/tindakan orang lain sebagai peraturan hidup kita. Dari dua tafsiran/catatan Alkitab ini, kita belajar bahwa orang yang dipengaruhi dunia ini adalah orang yang memiliki cara hidup, pendapat, perilaku, dll yang murni dipengaruhi dunia. Ketika dunia menampilkan tindakan-tindakan asusila, seperti free-sex, merokok, narkoba, dll, orang tersebut dipengaruhi dan meniru tindakan-tindakan tersebut.
Lalu, mengapa orang-orang tersebut bisa dipengaruhi dunia? Karena mereka berpikir bahwa dunia itu menyenangkan, menguntungkan, dll. Gaya hidup hedonisme, materialisme, dan utilitarianisme telah mengancam dunia kita terutama abad postmodern. Manusia selalu mencari keuntungan dengan cara-cara yang tidak wajar, bahkan makan uang orang lain. Itulah akibat pola pikir dunia yang serba “menguntungkan, menyenangkan, dll.” Mereka tidak mempedulikan makna dan hakikat hidup manusia sejati. Yang mereka pedulikan adalah hal-hal remeh, seperti makan, minum, jalan-jalan, dll. Benarkah itu semua membawa kebahagiaan? Apakah kekayaan, kenikmatan, dll itu nikmat? TIDAK! Realita dan tentunya Alkitab mengajar kita bahwa hal-hal tersebut itu remeh adanya dan bersifat sementara. Pengkhotbah 1:1-11 mengajarkan kepada kita bahwa segala sesuatu di bawah matahari (di dunia) ini sia-sia, bahkan mengejar hikmat itu sia-sia (ay. 12-18). Mengapa sia-sia? Karena itu dilakukannya sendirian tanpa Allah. Dengan kata lain, hidup kita di dunia ini tidak akan pernah sia-sia jika kita mengaitkan hidup kesementaraan ini dengan kekekalan Allah. Orang yang mau hidupnya berkait dengan kekekalan Allah adalah orang yang mau mempersembahkan tubuh dan hidupnya bagi kemuliaan Allah. Dan orang yang mau mempersembahkan tubuhnya bagi kemuliaan Allah adalah orang yang tentu tidak mau dipengaruhi dunia ini. Mengapa tidak mau dipengaruhi dunia ini? Karena ia percaya bahwa dunia ini bersifat sementara dan akan lenyap, sedangkan firman Tuhan itu kekal dan tidak akan lenyap. Tuhan Yesus berfirman, “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu."” (Luk. 21:33) Dengan menaruh iman dan pengharapan kita kepada yang kekal yaitu firman Tuhan, hidup kita akan menemukan suatu pengharapan yang pasti dan kokoh, karena firman Tuhan itu ya dan amin, serta menjamin hidup kita bersama Tuhan akan berkelimpahan (TIDAK secara jasmani—Yoh. 10:10b). Hidup yang berkelimpahan di dalam Tuhan adalah hidup yang terus merasakan cinta kasih Tuhan di dalam setiap hidupnya sambil membagikannya kepada orang lain baik melalui Injil, mandat budaya, maupun menolong sesama. Dengan kata lain, dengan hidup berkait dengan kekekalan, kita tidak lagi mau dipengaruhi dunia ini, tetapi kita justru memengaruhi dunia ini dengan Injil. Pendidikan Kristen yang beres bukan takut dipengaruhi dunia atau menyalahkan dunia/lingkungan yang telah membentuk suatu individu menjadi tidak beres, tetapi pendidikan Kristen harus keluar dari belenggu dunia dan kembali kepada prinsip-prinsip Alkitab, sehingga bukan kita yang dipengaruhi dunia, melainkan kita memengaruhi dunia, khususnya dunia pendidikan. Begitu juga dengan ekonomi, politik, dll, ketika sesama kita menawari cara hidup korupsi, nepotisme, dll, kita tidak boleh ikut arus dan ikut-ikutan dipengaruhi dunia, tetapi kita harus melawan arus dengan memengaruhi dunia melalui Injil yang kita aplikasikan di tempat kita berada.

Kedua, cara positif dan aktif: diubah pola pikir kita. Agar kita dapat memengaruhi dunia kita melalui Injil, kita harus pertama-tama mengubah pola pikir kita. Di ayat 2 ini, Paulus mengajar, “berubahlah oleh pembaharuan budimu” Kata “berubah” di sini di dalam struktur bahasa Yunani menggunakan bentuk yang sama dengan kata “menjadi serupa” di atas, yaitu menggunakan bentuk kata kerja orang kedua, jamak (plural), waktu sekarang (present), pasif (passive), dan imperatif (imperative). Dengan kata lain, artinya adalah sebuah perintah Paulus agar semua jemaat Roma (dan juga kita) saat ini juga diubah oleh pembaharuan budi/akal budi/pikirannya. Bentuk pasif pada kata “berubah” di sini menandakan bahwa kita bisa mengubah pola pikir kita tidak dari diri kita sendiri, tetapi ada yang mengubah pikiran kita. Roh Kudus yang mengubah pikiran kita melalui iman yang telah diberikan Allah sebagai anugerah kepada umat pilihan-Nya. Ketika kita sudah beriman, kita baru bisa mengubah pola pikir kita melalui pertolongan dan pencerahan Roh Kudus di dalam Alkitab. Di sini, kita belajar satu prinsip yaitu iman mendahului pengertian (bdk. Ibr. 11:3). Iman kita memungkinkan kita terus ingin mengerti kebenaran firman Tuhan, sehingga pikiran kita yang dahulu didistorsi oleh dunia berdosa, akhirnya secara berkelanjutan dimurnikan oleh firman melalui Roh Kudus. Adalah suatu absurditas (ketidakmasukakalan) jika ada orang Kristen yang mengaku sudah beriman, tetapi enggan atau lebih parahnya, malas mempelajari firman Tuhan dengan teliti. Itu patut diragukan keimanannya, benarkah ia sungguh-sungguh beriman atau hanya di mulut saja?
Lalu, dengan pencerahan Roh Kudus melalui Alkitab, bagaimana kita bisa diubah pikirannya? Karena Roh Kudus diutus untuk memuliakan Kristus, maka Ia akan memimpin umat-Nya terus-menerus memusatkan pikiran (dan hidup) mereka hanya kepada Kristus sebagai Kakak Sulung dan Tuhan kita. Pikiran Kristen yang sehat adalah pikiran yang berpusat pada Kristus. Sedangkan pikiran “Kristen” yang kacau adalah pikiran yang berpusat pada kehendak manusia berdosa, lalu mengutip Rm. 12:2 dengan menafsirkan bahwa pikiran kita harus “diubah” agar sesuai dengan zaman kita. Ini pikiran licik manusia berdosa dengan topeng “Kristen.” Berhati-hatilah, iblis bisa menyamar sebagai malaikat terang! Kembali, pikiran yang berpusat pada Kristus itulah iman Kristen. Pdt. Dr. Stephen Tong mengajar bahwa iman sejati adalah pengembalian rasio kepada Kebenaran. Berarti, iman Kristen tidak meniadakan rasio, tetapi memakai rasio yang diciptakan Tuhan untuk memuliakan Tuhan. Dengan kata lain, anugerah Tuhan melalui rasio dipergunakan dan dikuduskan oleh firman Tuhan untuk mempermuliakan Tuhan. Intinya, dari Tuhan, oleh Tuhan, dan untuk Tuhan (Soli Deo Gloria).
Mari kita menggumulkan tiga bagian tentang rasio ini. Pertama, rasio adalah anugerah Allah. Tidak ada satu ciptaan Allah selain manusia yang dikaruniai rasio. Rasio diciptakan oleh Allah bagi manusia agar manusia bisa berpikir, menganalisa, dan menemukan sesuatu, terutama alam yang telah diciptakan-Nya sebagai penyataan diri-Nya secara umum. Respon manusia yang telah menganalisa dan mengelola alam ini disebut ilmu pengetahuan (science). Tetapi kita perlu mengingat satu hal yaitu manusia telah berdosa dan rusak total, sehingga ketika manusia meresponi wahyu umum Allah pun pasti mengandung bibit dosa (meskipun tidak semua). Sehingga rasio tidak hanya dimengerti sebagai pemberian Allah (dari Allah), tetapi juga rasio harus dimurnikan oleh firman Allah, inilah poin kedua kita. Bagi Dr. Martin Luther, rasio itu seperti pelacur. Nah, rasio seperti pelacur ini harus dikuduskan melalui firman Allah agar tidak selalu melacur. Mengapa firman Allah harus menundukkan rasio? Karena rasio itu terbatas, sedangkan firman Allah itu dari Allah yang tidak terbatas, sehingga firman Allah lebih tinggi dan melampaui rasio. Lalu, bagaimana firman Allah memurnikan rasio? Caranya adalah pertama-tama kita menaklukkan pikiran kita di bawah terang firman Allah sebagai pedoman, cermin, dan penuntun pikiran kita. Ketika firman Allah berbicara bahwa istri harus tunduk kepada suami dan suami harus mengasihi istri (Ef. 5:22-33), maka rasio Kristen yang sehat dan bertanggungjawab harus ditundukkan, sehingga mereka HANYA menerima kebenaran Alkitab ini dengan mutlak. Tetapi yang terjadi di abad postmodern ini sangat berlawanan. Banyak yang mengaku pemimpin gereja studi di luar negeri, tetapi ketika membaca Ef. 5:22-33, rasionya mulai “menghakimi” dan tidak setuju dengan Alkitab dengan segudang argumentasi “logis.” Itulah pelacur! Pelacur bukan pelacur secara fisik, tetapi ada pelacur rohani, seperti halnya berzinah, ada berzinah rohani. Yang lebih menakutkan bukan pelacur jasmani atau berzinah jasmani, tetapi pelacur rohani dan berzinah rohani, karena pelacur dan berzinah rohani jelas menggunakan “rohani” sebagai dalih, padahal sebenarnya jasmani sifatnya. Itulah kemunafikan banyak pemimpin gereja! Mereka harus bertobat! Kembali, karena rasio itu diberikan oleh Allah, dan rasio itu telah dikuduskan oleh firman Allah, maka rasio itu baru dapat memenuhi poin ketiga, yaitu memuliakan Allah. Jangan pernah mengharapkan rasio bisa memuliakan Allah jika sebelumnya tidak pernah dikuduskan oleh firman Allah, karnea Allah TIDAK mau menerima rasio seperti pelacur, karena itu menjijikkan di hadapan-Nya. Jika hari ini, rasio kita masih melacur dan mengatakan semua filsafat dunia berdosa itu benar, saya menantang hari ini: bertobatlah, Tuhan muak dengan rasio kita yang suka melacur!


Setelah kita secara negasi dan pasif tidak mau dipengaruhi dunia dan kita secara aktif diubah pola pikirnya, maka kita baru, “dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Kata “membedakan” dalam bahasa Yunaninya dokimazō yang bisa berarti menguji (test) atau membuktikan (prove). Di sini, unik, Paulus mengaitkan konsep ibadah sejati dengan konsep membedakan/menguji kehendak Allah. Di abad postmodern ini, banyak orang “Kristen” mengajar atau diajar konsep bahwa kalau beribadah, beribadah saja, tidak perlu menggunakan rasio, alami saja Allah itu, dll. Pengalaman tidaklah salah, tetapi pengalaman yang dilepaskan dari pengenalan akan Allah melalui firman-Nya itu bisa berbahaya, dan bisa menimbulkan munculnya bidat. Berbeda dari konsep postmodern ini yang anti-doktrin dan anti sesuatu yang bernilai tinggi dan kekal, maka Paulus justru mengajar bahwa ibadah sejati adalah ibadah yang mempersembahkan tubuh kita kepada Tuhan dengan menguji kehendak Allah. Sebelum kita bisa mempersembahkan tubuh kepada Tuhan, kita harus menguji dahulu apa itu kehendak Allah. Bagaimana kita bisa mengetahui kehendak Allah jika kita tidak pernah membaca dan mempelajari firman-Nya? Di sini, saya mencoba mengaitkan: mempelajari Alkitab mengakibatkan kita semakin mengetahui kehendak Allah, dan kita bisa menguji kehendak Allah di dalam hidup kita, sehingga kita makin memuliakan Allah. Lalu, apakah yang menjadi kehendak Allah? Paulus menjabarkan hal ini ke dalam tiga bagian:
Pertama, kehendak Allah itu adalah apa yang baik. Luar biasa, di titik pertama, Paulus mengatakan tentang konsep kebaikan yang dikaitkan dengan kehendak Allah. Baik di sini bukan berarti Allah menyenangkan kita, tetapi baik berarti baik menurut standar Allah. Ketika kita mau mencoba mengerti arti hidup, carilah kehendak Allah, karena kehendak Allah itu (adalah apa yang) baik. Kebaikan kehendak Allah (atau sesuatu yang baik di dalam kehendak Allah) adalah kebaikan yang tidak bisa dipisahkan dari atribut-atribut Allah yang lainnya, yaitu Kekal, Mahakudus, Mahaadil, Mahabijak, dan Mahasempurna. Sehingga, ketika kita memahami kehendak Allah yang baik, berarti kita harus memahami keutuhan maknanya, yaitu kehendak Allah yang baik adalah kehendak yang tidak bertentangan dengan natur-Nya yang Mahakudus. Dengan demikian, jangan pernah berharap bahwa Allah yang memiliki kehendak yang baik akan memenuhi semua kebutuhan kita (termasuk yang berdosa). Bukan hanya itu saja, kehendak Allah yang baik berkait dengan Allah yang Kekal dan Mahabijak. Artinya, ketika menjawab doa/pergumulan kita, Allah mengetahui apa yang terbaik bagi kita menurut standar Allah, sehingga ketika Ia tidak mengabulkan doa kita, percayalah Ia memiliki maksud baik di dalam kekekalan dan kebijakan-Nya bagi kita meskipun kita belum mengetahuinya. Selain itu, berkaitan dengan Allah yang Mahaadil, kebaikan kehendak Allah adalah menginginkan keadilan yang benar (righteouness). Jangan pernah mengharapkan Allah yang memiliki kehendak yang baik adalah menerima semua orang berdosa untuk diselamatkan. Kebaikan Allah justru kebaikan yang adil yang justru memilih beberapa manusia untuk diselamatkan. Predestinasi (pemilihan Allah sebelum dunia dijadikan atas beberapa orang) justru menunjukkan di mana kebaikan dan keadilan Allah bertemu.

Kedua, kehendak Allah itu adalah apa yang berkenan kepada Allah. “Berkenan kepada Allah” di dalam bahasa Yunani dapat diterjemahkan sebagai disenangi Allah (Ibid., hlm. 862). Dengan kata lain, apa yang berkenan kepada Allah adalah apa yang disenangi atau merupakan kesenangan Allah. Apa yang membuat Allah senang? Sebelum memikirkan terlalu rumit, mari kita bayangkan jika kita memiliki pasangan kita yang sangat kita cintai. Bagaimana kita bisa menyenangkan pasangan kita sebagai bukti kita mencintainya? Tentu dengan memberikan kepada pasangan kita apa yang dia paling sukai, bukan? Apakah kita mau menyenangkan dia dengan memberikan apa yang kita sukai dan dia tidak sukai? TIDAK! Itu bukan tanda kita menyenangkan dan mencintai dia. Kalau kepada pasangan hidup saja kita bisa menunjukkan kesenangan kita kepadanya dengan memberikan apa yang paling dia sukai, mengapa ini tidak kita terapkan kepada Allah? Anehnya, di abad postmodern ini kita menjumpai berbagai upaya dilakukan orang beragama bahkan orang “Kristen” untuk “menyenangkan” Allah justru dengan memuaskan hawa nafsu manusia itu sendiri. Mereka mengajarkan bahwa ikut Tuhan pasti kaya, sukses, lancar, bahkan tidak pernah digigit nyamuk. Inikah ajaran yang menyenangkan Allah?! Benarkah jika kita mau menyenangkan Allah, kita malahan memberikan kepada diri kita sendiri kesenangan? Mari kita introspeksi diri kita. Menyenangkan Allah, seperti menyenangkan pasangan hidup yang kita cintai, adalah memberikan kepada-Nya apa yang paling Dia sukai. Apa yang paling Dia sukai? Allah menyukai kekudusan hidup, kebenaran, keadilan, kejujuran, pertanggungjawaban, keberanian yang benar, kasih, pengendalian diri, dll. Sudahkah kita menjalankan apa yang paling Dia sukai? Ataukah kita kembali kepada standar kita yang “rohani” untuk menyenangkan Allah? Hari ini, kita bukan hanya berteori banyak tentang apa yang menyenangkan Allah, marilah kita saat ini juga melakukan apa yang menyenangkan hati Allah, karena itu bukti kita mau mempersembahkan hidup bagi Tuhan. Jangan pernah berpikir bahwa kita mau berkorban bagi Tuhan, tetapi untuk hal-hal yang menyenangkan Allah pun kita tidak pernah mau lakukan.

Ketiga, kehendak Allah itu adalah apa yang sempurna. Kata “sempurna” dalam bahasa Yunani teleios berarti penuh (full) atau komplit/lengkap (complete). Berarti, kehendak Allah itu adalah sesuatu yang penuh/ lengkap. Apa itu lengkap/penuh?
Lengkap/penuh menyangkut totalitas. Sempurna/lengkap/penuh tidak pernah parsial, tetapi menyeluruh. Dengan demikian, sempurna mutlak hanya bisa dikenakan kepada Allah dan firman-Nya saja, karena hanya Allah dan firman-Nya yang tidak bersalah dan menyeluruh. Adalah sungguh berbahagia jika sebagai umat-Nya, kita hidup di dalam firman Tuhan. Hidup di dalam firman Tuhan adalah hidup yang totalitas, yang tidak terpecah-pecah. Ketika firman Tuhan mengajar kita tentang ketaatan, marilah itu bukan menjadi bahan theologi yang kita gali, tetapi kita aplikasikan di dalam setiap hidup kita, baik pikiran, sikap hati, sifat, perkataan, dll, sehingga totalitas hidup kita makin memuliakan-Nya. Adalah suatu keanehan jika kita berbicara tentang hidup totalitas, tetapi kita masih memisahkan antara theologi dan spiritualitas serta praktika. Theologi, spiritualitas, dan praktika adalah hal yang saling berkaitan erat. Itulah totalitas hidup dan iman Kristen yang sehat dan bertanggungjawab. Tuhan mau hidup kita menyeluruh dan utuh, sehingga tidak ada bagian di mana iblis bisa menipu dan mengambil kemuliaan Allah di dalam hidup kita. Maukah kita hari ini menyerahkan totalitas hidup kita hanya kepada Tuhan sebagai persembahan hidup yang tulus?
Selain totalitas, lengkap/penuh menyangkut kekonsistenan. Ibadah sejati adalah ibadah yang konsisten dan setia kepada Tuhan. Tuhan tidak hanya menuntut totalitas, tetapi juga kekonsistenan. Percuma saja kita hidup totalitas kepada Tuhan, tetapi itu kita lakukan jarang-jarang, atau hanya dalam jangka waktu tertentu. Tuhan mau kita melakukannya secara konsisten. Konsisten berarti ada suatu proses yang sebenarnya menuju kepada pertumbuhan sampai sempurna. Di dalam hidup dan iman kita, kita dituntut untuk konsisten, makin lama makin bertumbuh dewasa secara rohani, tidak lagi seperti anak-anak yang mudah diombang-ambingkan oleh angin pengajaran yang tidak bertanggungjawab (Ef. 4:13-14). Tanda seorang anak Tuhan yang dewasa rohani adalah ia tidak kaget dengan segala ajaran yang tidak bertanggungjawab yang muncul, karena ia sudah tahu mana yang benar dan mana yang salah dengan standar Alkitab. Ia memiliki tanda awas (alert) di dalam kerohanian dan imannya. Ia juga mau terus mengintrospeksi diri dan segera bertobat jika ia menjumpai kekurangan (dan dosa) yang ada pada dirinya yang tidak berkenan di hati Tuhan. Sedangkan orang-orang yang memiliki kerohanian seperti anak kecil (childish) adalah mereka yang mudah terkejut ketika ada ajaran aneh menyerang, bahkan tidak sedikit dari mereka yang terbujuk oleh rayuan ajaran aneh itu. Mengapa bisa demikian? Karena mereka tidak memiliki fondasi yang membentengi dan mendasari hidup kerohaniannya. Selain itu, orang yang tidak dewasa rohani selalu mengagungkan diri bersumbangsih/berjasa di dalam gereja/pelayanan, dll, dan tidak mau mengintrospeksi diri, apalagi bertobat. Mereka maunya orang lain menaati dia, sedangkan dia tidak mau menaati orang lain yang etikanya lebih agung. Hari ini, marilah kita tinggalkan sifat kekanak-kanakan rohani kita dan kembali menjadi orang Kristen dewasa rohani di dalam tahap pertumbuhan iman dan kerohanian kita. Lalu, bagaimana kita bisa memelihara kekonsistenan hidup dan iman kita tersebut? Kita bisa melakukannya dengan setia, dan kesetiaan kita bisa dimungkinkan ketika Roh Kudus memimpin kita terus-menerus melalui firman Allah, Alkitab. Kita dituntut untuk membaca dan mempelajari firman Allah tersebut sehingga kita makin mengenal kehendak Allah yaitu apa yang sempurna. Di sini, saya mengaitkan: firman Allah melalui pencerahan Roh Kudus memungkinkan kita mengenal kehendak Allah, dan ini memungkinkan kita setia kepada-Nya, dan kesetiaan ini mengakibatkan kita konsisten menguji dan menjalankan kehendak Allah di dalam hidup kita.


Setelah kita merenungkan ayat 2 ini, beranikah kita berkomitmen pada hari ini untuk mau mempersembahkan tubuh dan hidup kita kepada Tuhan sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan menyenangkan Allah dengan tidak mau dipengaruhi dunia, tetapi justru memengaruhi dunia melalui perubahan pola pikir kita, sehingga kita makin mengenal dan menguji kehendak Allah? Kiranya Tuhan menuntun kita di dalam proses pertumbuhan ini. Amin. Soli Deo Gloria.

Matius 12:1-15: IMAN DAN HUKUM-1 (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Ringkasan Khotbah: 01 Oktober 2006

Iman & Hukum-1
oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 12:1-15



Pendahuluan
Pada dasarnya manusia di dunia hidupnya pasti diikat atau terikat dengan hukum. Pertanyaannya adalah bagaimana kita seharusnya melihat aspek hukum dalam kehidupan kita? Ada orang berpendapat bahwa hukum adalah salah satu sub bidang dari suatu budaya demikian juga dengan iman. Hari ini kita menjumpai banyak buku-buku sekuler dan pendidikan modern yang mengajarkan salah, yakni meletakkan budaya di posisi paling atas dan iman diletakkan di bawah budaya. Alkitab dengan tegas menyatakan iman haruslah mengontrol budaya dan semua sub bidang yang ada di bawahnya. Konsep ini sangat jelas dimengerti dan diajarkan oleh teologi Reformed yang menyebutnya sebagai cultural mandate. Manusia harus kembali pada Firman, kebenaran yang sejati maka dengan kacamata iman yang benar barulah kita dapat memahami budaya dan semua aspeknya dengan benar.
Hari ini, dunia masuk dalam suatu budaya yang disebut dengan pop culture maka semua aspek yang ada di dunia, seperti musik, arsitektur, bahasa, tradisi, cara berpakaian, dan lain-lain haruslah berdasarkan budaya pop yang sedang berlaku saat itu. Tugas kita sebagai anak Tuhan yang telah dibukakan dan mengerti kebenaran Firman untuk mengkritisi budaya pop yang salah, kita harus berani mengatakan kebenaran di tengah-tengah dunia yang rusak moral. Hal itu tidaklah mudah, banyak tantangan yang harus dihadapi dan kita harus siap dengan segala resikonya. Namun tugas orang Kristen haruslah menjadi mercusuar yang menyinari kegelapan. Kristus sendiri harus banyak mengalami tantangan ketika Dia datang ke dunia untuk menerobos budaya. Hal ini dapat kita baca dalam Injil Matius yang kita renungkan hari ini – Kristus berdebat panjang dengan orang Farisi dan perdebatan itu diakhiri dengan mereka hendak membunuh Yesus dan Tuhan Yesus yang mengetahui maksud mereka lalu menyingkir dari sana (Mat. 12:14-15). Untuk sementara waktu, sepertinya Kristus kalah melawan budaya Yahudi yang sudah established dan keras dan harus diakhiri dengan naiknya Tuhan Yesus ke atas salib. Namun Tuhan kita adalah Tuhan yang hidup, hal ini dibuktikan Ia bangkit pada hari ketiga; Tuhan Yesus keluar sebagai pemenang maka kuasa kebangkitan mengkoreksi seluruh budaya.
Sejarah juga telah membuktikan budaya Kristen pada awal abad pertama meski minoritas telah menenggelamkan seluruh kebudayaan Yunani, kebudayaan Mesir, kebudayaan Timur Tengah tenggelam. Sungguh amatlah disayangkan, Kekristenan gagal mempertahankan hak kesulungan. Pada abad 10, Kekristenan mulai declined, Kekristenan menggeser prinsip otoritas Firman dan berkompromi dengan prinsip dunia maka saat itu mulai terjadi kerusakan kultur dan terjadilah perang salib, orang Kristen memerangi kaum muslim. Itu menjadi sejarah terburuk yang sampai hari ini selalu diingat dunia. Kebudayaan Kristen menjadi merosot. Kebudayaan Yunani yang tadinya dikubur mulai digali kembali, pemikiran filsafat Aristotle dengan konsep humanismenya mulai menguasai dunia. Di Eropa muncul suatu gerakan humanisme yang dikenal dengan gerakan renaissance. Puji Tuhan, Tuhan memunculkan seorang bernama John Calvin yang adalah seorang ahli hukum tapi ia sangat memahami kebenaran Firman menyadarkan orang untuk kembali pada budaya Kristen.
Latar belakang pendidikan Calvin adalah hukum maka dia sangat memahami semua hal tentang hukum dalam seluruh tatanan humanisme. Ketika Calvin berada di Geneva, ia mulai membandingkan konsep hukum Yunani dengan konsep hukum dalam Kekristenan dan dari ia menemukan suatu hal penting, yaitu hukum sudah menjadi tuan maka hukum harus dikembalikan ke tempat yang tepat. Calvin melihat hukum hanyalah suatu aturan yang bersifat diam, the silence magistrate akan tetapi meski bersifat diam, the silence magistrate ini tidak boleh dilepaskan dari the living magistrate, yaitu para pelaku, para pemimpin dan penegak hukum. Merupakan suatu kesalahan fatal kalau hukum dikunci di dalam diri hukum itu sendiri dimana hukum itu seolah-olah mempunyai otoritas besar padahal hukum itu sendiri tumpul karena ia bisu. Konsep ini tidak dipahami oleh dunia akibatnya orang mengalami kesulitan dalam menjalankan hukum tersebut di tengah-tengah budaya. Orang-orang Yahudi sangat menekankan hukum dan mencari kesalahan orang lain melalui hukum. Dengan hukum, mereka mencari-cari kesalahan Tuhan Yesus dan dengan alasan hukum, mereka menjebak Tuhan Yesus.
Perhatikan, perdebatan yang terjadi antara Tuhan Yesus dengan orang Farisi ini bukan sekedar perdebatan biasa yang memperdebatkan tentan masalah Sabat. Tidak! Dari perdebatan ini kita dapat melihat bagaimana orang Yahudi menginterpretasi hukum Sabat, hukum yang sifatnya diam, silence magistrate yang dilepaskan dari the living magistrate. Tuhan Yesus yang adalah the living law, Tuhan atas hukum dan sabat datang ke depan mereka namun mereka tidak mengenal Dia. Hari inipun sadar atau tidak sadar, orang seringkali terjepit dalam kesalahan yang sama seperti yang dilakukan oleh orang Farisi dan ahli taurat, yakni terjebak dalam hukum-hukum tertulis dan lupa kalau masih ada hukum lain yang lebih dari sekedar hukum tertulis, yaitu Kristus, the living law.
Orang seingkali memakai setiap ayat yang tercantum dalam aturan hukum tersebut dan kemudian menginterpretasinya lalu orang merasa diri yang paling benar akibatnya dapatlah dibayangkan yang ada hanya kekacauan dan perselisihan; orang mempermainkan hukum untuk kepentingan diri. Perhatikan, silence magistrate tidak boleh dilepaskan dari the living magistrate. Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa orang sulit mengkaitkan antara the silence magistrate dengan the living magitrate?
Pertama, manusia bersifat dualisme antara legalisme dan antinomianisme. Pertama kali Tuhan memberikan hukum Taurat pada manusia maka manusia langsung mau menjebakkan diri masuk dalam aspek legalisme; manusia memegang hukum Taurat tapi melepaskan Allah yang menciptakan hukum Taurat. Hukum Taurat disusun sedemikian rupa menjadi 600 lebih aturan tertulis dan setiap orang Yahudi dituntut untuk hafal dan menjalankannya bahkan jika ada satu hukum yang dilanggar maka orang yang melanggar tersebut akan menerima hukuman. Adalah kesalahan fatal, orang Yahudi merasa dengan menjalankan seluruh hukum Taurat berarti ia sudah beribadah dan bertemu Tuhan. Ingat, hukum bukanlah Tuhan. Hukum yang bersifat silence magistrate diinterpretasi manusia lalu ia ditaruh dibawah manusia maka ini berarti manusia yang lebih tinggi dari hukum namun ironisnya, manusia harus taat pada hukum yang telah diinterpretasi menurut kehendak manusia. Pertanyaannya sekarang adalah kalau ada orang lain menginterpretasi berbeda maka hukum tersebut berubah ataukah tetap? Fakta membuktikan adanya perubahan pemimpim maka hukum yang diam tersebut yang seharusnya tidak berubah akan turut berubah pula. Orang tidak sadar bahwa hidup yang diikat oleh hukum akan mencelakan diri sendiri. Cobalah anda membuat suatu peraturan atau jadual kegiatan anda tiap jam selama satu minggu dan hiduplah sesuai dengan aturan dan jam yang anda buat tersebut dan tidak boleh ada satu detikpun dari yang dilanggar maka setelah satu minggu apa yang dapat anda simpulkan? Hidup manusia tidak ubahnya seperi sebuah mesin berjalan.
Tuhan Yesus menentang keras konsep legalisme (Mat. 12:1-14) dengan mempertanyakan pada orang Yahudi, yaitu jika kamu mempunyai seekor domba dan domba itu terjatuh ke dalam lobang pada hari Sabat, tidakkah kamu akan menangkapnya dan mengeluarkannya? Tuhan Yesus tahu orang Yahudi pasti lebih memilih domba dan melanggar hukum karena sudah menjadi sifat orang Yahudi yang tidak mau dirugikan. Di satu sisi kita melihat, legalisme murni tidak mungkin dijalankan maka muncul suatu kelompok yang menamakan diri sebagai kelompok antinomian menyatakan diri untuk tidak taat pada hukum. Setelah perang dunia kedua, manusia berubah menjadi sangat curiga dan tidak suka dengan hukum dan semua peraturan yang ada. Pada saat yang sama muncul pula tokoh-tokoh liberal yang memaparkan konsep antinomian, mereka juga kembali mengajarkan konsep filsafat hedonisme, yaitu manusia hidup untuk nikmat maka kalau manusia dikunci oleh suatu peraturan yang membuat hidup manusia tidak nikmat maka untuk apa manusia hidup. Muncul juga tokoh yang bernama John S. Mill yang mengajarkan konsep utilitarian- isme - etika atau hukum haruslah sesuai dan menunjang kenikmatan hidup. Dari sini muncul suatu kesimpulan kalau hukum tersebut menyengsarakan manusia maka segala macam bentuk hukum yang mengikat harus dibuang.
Celakanya setiap manusia berdosa mempunyai jiwa dualisme dan tidak mempunyai standar sama. Untuk sesuatu yang dikenakan pada dirinya sendiri, orang lebih suka antinomian tetapi sebaliknya, kalau untuk orang lain, ia ingin supaya orang lain menjalankan legalisme. Sebagai contoh, seorang murid tidak suka dengan aturan sekolah tetapi seorang guru pasti menginginkan muridnya untuk mentaati peraturan sekolah akan tetapi kalau dia mau jujur sesungguhnya, seorang guru juga tidak suka kalau ada peraturan dikenakan atas dirinya. Inilah jiwa manusia yang tidak konsisten. Alkitab justru mengajarkan sebaliknya pada diri sendiri kita harus menuntut diri untuk berdisiplin akan tetapi pada orang lain, janganlah kita menuntut terlalu banyak dan berlebihan.
Ketika manusia hanya mempermainkan hukum-hukum yang tertulis, entah dia itu menjadi seorang yang legalis atau menjadi seorang antinomianis maka ia akan terjepit ke dalam tataran hukum itu sendiri. Seorang yang konsisten dengan legalisme maka ia akan mati dalam legalisme sebab tidak ada satu pun manusia yang dapat hidup dengan legalisme murni. Imanuel Kant, seorang tokoh moralis murni hidup di desa dan ia hidup tidak pernah lebih dari 30 km dari tempat ia tinggal mencoba menjalankan aturan-aturan yang ia buat sendiri, seperti keluar rumah dan berjalan secara tepat sesuai waktu yang ia tetapkan. Konsep legalisme ini menimbulkan gejolak, tanpa sadar manusia telah membuang Tuhan dan kini berbalik, hukum menjadi Tuhan. Sebaliknya, orang yang menganut antinomian hidupnya tidak akan menjadi lebih baik, hidupnya menjadi sangat liar dan justru mencelakakan dirinya sendiri. Dapatlah dibayangkan, apa jadinya orang yang sengaja melawan peraturan lalu lintas, tentu ia akan mendapat celaka. Setiap aturan harus dikembalikan pada Kristus Sang Kebenaran sejati. Tuhanlah yang menjadi dasar kebenaran, Dia menata suatu aturan sedemikian rupa dimana setiap aturan tersebut merupakan manifestasi dari jiwa-Nya yang ingin membawa manusia kembali pada kebenaran. Untuk memahami hukum dengan benar maka manusia harus kembali pada Tuhan, the living magistrate barulah kita dapat menjalankan kehidupan berdasarkan tatanan hukum dengan tepat. Hidup yang sejati harus kembali pada kebenaran Allah.
Kedua, manusia diikat dengan semangat humanime yang mementingkan relativitas di atas kemutlakan. Hukum menuntut semua orang tunduk pada satu kebenaran dasar yang tunggal maka kebenaran dasar harus bersifat mutlak. Celakalah hidup kita kalau kebenaran itu tidak mutlak tapi dimutlakkan. Ketika kita membangun tataran hukum berdasarkan spirit legalisme humanis maka akan terjadi kesulitan yang besar. John Rolls seorang filsuf hukum dan juga seorang pakar konsep keadilan menyatakan kalau hukum ditegakkan untuk memuaskan suatu kelompok atau mayoritas tertentu apalagi hukum itu dibuat dengan semangat utilitarian maka selamanya keadilan tidak akan dapat ditegakkan; keadilan hanyalah bersifat relatif yang menindas kepentingan minoritas. Hukum yang ditegakkan di atas dasar kepentingan manusia akan menimbulkan kekacuan sebab antara satu dengan yang lain tidak mempunyai kepentingan yang sama. Di dunia ini tidak ada satu hukum yang dapat memuaskan seluruh manusia sebab manusia adalah manusia berdosa yang relatif maka manusia relatif harus tunduk pada sesuatu yang mutlak.
Ketika manusia mulai mengadopsi hukum anglo-american law, yakni hukum dibangun berdasarkan konsep humanisme dari Hume, Locks, dan sebagainya maka hari itu, manusia mulai mempermainkan hukum, tidak kembali pada kemutlakan hukum. Kristus adalah Tuhan atas hukum maka hukum harus kembali pada kemutlakan asli. Ketika manusia menolak Kristus Sang Kebenaran, akibatnya adalah kebinasaan. Hari ini, peraturan hukum Indonesia dibangun di atas dasar konsep utilitarianisme. Hukum dibuat untuk memenuhi kepentingan mayoritas; hukum tidak lagi kembali pada kebenaran tetapi hukum ditundukkan di bawah otoritas anarki. Hari ini, banyak hukum yang tidak berjalan karena mayoritas melawan hukum tersebut. Hukum sudah diselewengkan – siapa yang mempunyai kepentingan paling besar maka dialah yang akan dibela oleh hukum. Siapa kuat dialah yang memegang hukum, konsep ini dikenal sebagai survival of the fittest dan dicetuskan oleh Darwin. Michael Foucoult menentang keras konsep Darwin karena ia merasa hukum menjadi permainan otoritas yang selalu bersifat jahat dan menindas, orang yang memegang hukum selalu merasa dirinya adalah kebenaran padahal dia bukan kebenaran namun sekali lagi ia jatuh dalam konsep yang salah. Hukum ketika masuk dalam tataran relativitas maka hukum tidak akan pernah memberikan kenyamanan dan keamanan dalam diri manusia.
Pada dasarnya, manusia ingin hidup sejahtera tetapi perhatikan, tanpa keadilan yang sejati maka tidak ada kesejahteraan dan keadilan sejati tidak mungkin ditegakkan tanpa ada kebenaran sejati. Bagaimana mungkin disebut adil kalau orang hanya mementingkan mayoritas sedang yang minoritas ditindas? Perhatikan, mayoritas tidak pernah menjadi mayoritas. Mayoritas barulah menjadi mayoritas ketika ada suatu kelompok minoritas tertentu yang memakai dan memperalat dia demi untuk kepentingan mereka, yaitu untuk menindas kelompok minoritas yang lain. Orang tidak menyadari kalau sesungguhnya kelompok minoritas ini justru kelompok yang lebih baik dibanding yang mayoritas. Mayoritas biasanya terdiri dari orang-orang yang tidak berpendidikan, ia selalu berada diposisi bawah, grass root position dan biasanya orang-orang seperti ini tidak bisa menalar suatu peristiwa, mereka dibayar untuk menindas yang kelompok minoritas lain. Orang mulai tidak peduli orang lain, orang berbuat anarkis maka ini menjadi kerusakan hukum. Hukum yang ditegakkan dengan semangat humanisme dipelopori oleh mayoritas lalu menggunakan spirit anarkis dan dipakai untuk menekan kelompok yang lain, hal ini menjadi kesalahan fatal hukum di titik pertama. Semangat mayoritas menginginkan Tuhan Yesus disalibkan. Pertanyaannya sekarang adalah dimanakah keadilan? Sejarah membuktikan ketidakadilanlah yang banyak terjadi di dunia. Ketika kita menegakkan hukum apapun maka ingatlah, kita harus kembali pada prinsip dasar utama, yakni Kristus adalah Tuhan atas sabat; Kristus adalah Tuhan atas hukum.
Ketiga, manusia berdosa pada hakekatnya bersifat pemberontak terhadap kebenaran. Manusia tidak suka tentang hal-hal yang benar, manusia lebih suka segala sesuatu yang bersifatnya dosa, segala sesuatu yang memuaskan nafsu dan keinginan daging. Pemberontakan ini ditandai dengan konsep kebebasan, freedom yang diteriakkan oleh manusia pada pada abad 20. Hal yang sama dicetuskan pula oleh suatu kelompok yang menamakan dirinya woodstock live show. Adalah jiwa manusia berdosa ketika berhadapan dengan kebenaran, ia langsung melawan. Ironis, di satu sisi manusia ingin merdeka tapi ketika Tuhan Yesus datang dan Dia ingin memerdekan dengan melepaskan kita dari ikatan belenggu dosa, manusia malah menolak-Nya. Demikian juga halnya dengan orang Yahudi, orang yang katanya “taat hukum“ tetapi ketika dirinya bertemu dengan kebenaran sejati, ia menentang dan melawan dengan keras; mereka hanya mau hukum yang ia suka saja (Yoh. 8). Sangatlah disayangkan, hari ini sedikit sekali orang yang mau mencari dan mengejar kebenaran sejati, truth dan tunduk dan taat dibawah kebenaran sejati tersebut. Biarlah sebagai anak Tuhan sejati, kita mempunyai hati dan jiwa yang selalu ingin dibentuk dibawah kebenaran sejati – Kristus Tuhan. Kristus adalah kebenaran sejati dan kebenaran sejati berada di atas semua aturan hukum yang ada di dunia. Hendaklah dalam setiap aspek hidup kita, kita belajar untuk menekan dan melawan jiwa pemberontakan yang ada dalam diri kita. Kita harus kembali pada Kristus, the living magistrate bukan terjepit dengan the silence magistrate; kita mau taat pada aturan tetapi bukan terkunci oleh aturan. Biarlah kita senantiasa mau belajar rendah hati untuk semakin dibentuk oleh Dia dan menjadi semakin serupa Dia. Amin

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber:

Resensi Buku-57: FIRMAN ALLAH DAN AKAL BUDI MANUSIA (alm. Prof. Ronald H. Nash, Ph.D.)

...Dapatkan segera...
Buku
THE WORD OF GOD AND THE MIND OF MAN
(Firman Allah dan Akal Budi Manusia)


oleh: (alm.) Prof. Ronald H. Nash, Ph.D.

Penerbit: Momentum Christian Literature (Fine Book Selection), 2008

Penerjemah: Sulyani Wiryo.





Deskripsi singkat dari Denny Teguh Sutandio:
Apakah hubungan akal budi Allah dengan akal budi manusia? Selama kurang lebih tiga abad, Kekristenan diserang oleh beragam filsafat dan theologi yang mengajarkan bahwa akal budi Allah tidak ada hubungannya dengan akal budi manusia. Prof. Ronald H. Nash, Ph.D. menjabarkan bahwa permasalahan ini dimulai dari filsafat David Hume yang mengajarkan iman didasarkan bukan pada rasio atau pengalaman tetapi pada insting, kebiasaan, dll. Lalu, pandangan ini dikemukakan lebih lanjut oleh Immanuel Kant yang menekankan pentingnya hal-hal praktis di dalam iman, Friedrich Schleiermacher yang menekankan agama sebagai perasaan kebergantungan mutlak kepada Allah, dan Albercht Ritschl yang membuang metafisika dari theologi dan menekankan pentingnya etika di dalam iman. Keempat tokoh ini akhirnya memengaruhi tidak sedikit para theolog Injili, seperti Donald Bloesch, G. C. Berkouwer, dll, sehingga mereka tidak lagi memegang teguh pandangan penyataan/wahyu proposisional sebagai penyataan logos Allah kepada logos manusia. Akibatnya, mereka lebih menekankan bahwa logos Allah tidak bisa dimengerti oleh logos manusia. Benarkah pandangan ini? Dengan penguraian yang jelas dan mudah dimengerti, Dr. Nash menjabarkan kelemahan pandangan mereka dengan menunjukkan kekontradiksian pandangan tersebut, lalu menjawabnya dengan prinsip-prinsip kebenaran Alkitab yang bertanggungjawab bahwa logos Allah berhubungan dengan logos manusia. Mengapa bisa berhubungan? Karena manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah, maka mengutip Augustinus, Dr. Nash mengajarkan bahwa logos manusia adalah derivatif (turunan) logos Allah (hlm. 108). Kedua, karena Allah telah menyatakan diri-Nya secara khusus dalam bentuk tertulis yaitu Alkitab, sehingga Alkitab adalah satu-satunya logos manusia bisa mengenal logos Allah. Biarlah buku yang berbobot ini boleh mencerahkan hati dan pikiran kita serta memimpin kita untuk lebih mengenal Pribadi Allah kita yang Mahaagung itu melalui Alkitab.



Komentar dari Prof. Carl F. Howard Henry, Th.D., Ph.D.:
“Karya yang hadir tepat waktu, penting, dan benar-benar tajam. Buku ini memberikan kontribusi yang signifikan di dalam perdebatan yang kontroversial mengenai penyataan ilahi.”





Profil Dr. Ronald H. Nash:
Prof. Ronald H. Nash, Ph.D. adalah seorang Profesor theologi dan filsafat di Reformed Theological Seminary, Orlando, Florida, USA. Beliau meraih gelar Bachelor of Arts (B.A.) dari Barrington College (1958); Master of Arts (M.A.) dari Brown University (1960); dan Doctor of Philosophy (Ph.D.) dari Syracuse University (1964). Beliau menjalani studi post-doctoral di Stanford University pada tahun 1969 atas dukungan/biaya dari National Endowment for the Humanities. Dari sekian banyak buku yang ditulisnya, beberapa di antara telah diterbitkan oleh Penerbit Momentum, antara lain: Iman dan Akal Budi (Faith and Reason), Keselamatan Di Balik Kematian Bayi (When a Baby Dies), dan Konflik Wawasan Dunia (Worldviews in Conflict).

01 December 2008

Roma 12:1: IBADAH SEJATI-1: Mempersembahkan Hidup Bagi Tuhan-1

Seri Eksposisi Surat Roma :
Aplikasi Doktrin-1


Ibadah Sejati-1: Mempersembahkan Hidup Bagi Tuhan-1

oleh: Denny Teguh Sutandio


Nats: Roma 12:1.


Selain kagum dan bersyukur, respon yang tepat terhadap predestinasi adalah bagaimana kita beribadah kepada Tuhan. Apa itu ibadah? Apakah ibadah identik dengan pergi ke gereja? Tidak. Ibadah sejati bukan ibadah fenomenal, tetapi ibadah esensial. Ibadah inilah yang diajarkan Paulus mulai pasal 12 s/d 16 sebagai aplikasi atau respon secara praktis dari doktrin predestinasi.

Dua ayat pertama pada pasal 12 diawali dengan pengajaran penting Paulus tentang konsep ibadah sejati. Di ayat 1, Paulus memaparkan, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Dalam ayat ini, Paulus mendesak jemaat Roma untuk melakukan ibadah sejati. Terjemahan New American Standard Bible (NASB) untuk kata “menasihatkan” adalah kata urge (mendesak). Sedangkan banyak terjemahan Inggris menggunakan kata yang berarti memohon (beseech, plead, dll) Dari struktur bahasa Yunani, kata ini menggunakan bentuk orang pertama, tunggal, waktu sekarang (present), aktif, dan indikatif. Lalu apa signifikansinya dari struktur bahasa Yunani ini? Dari struktur bahasa Yunani ini, kita bisa belajar sebegitu pentingnya dorongan/desakan Paulus ini di dalam beberapa hal:
Pertama, permohonan/desakan Paulus bersifat langsung (bentuk kata ganti orang pertama). Kata “menasihatkan” di sini menggunakan bentuk kata ganti orang pertama. Di dalam bahasa Inggris, kita mengerti contohnya, yaitu penggunaan subjek I, you, dll sebagai bentuk kata ganti orang pertama. Nasihat yang menggunakan bentuk seperti ini adalah nasihat yang langsung ditujukan kepada jemaat Roma agar mereka menunaikan ibadah sejati.
Kedua, permohonan Paulus ini bersifat tunggal. Artinya, nasihat ini berlaku untuk masing-masing individu jemaat Roma, bukan borongan. Dengan kata lain, Tuhan melalui Paulus mengajar masing-masing pribadi jemaat Roma agar mereka masing-masing beribadah dengan konsep yang benar kepada Tuhan. Ibadah sejati bukanlah ibadah borongan, tetapi ibadah pribadi kepada Tuhan (meskipun tentu tetap memerhatikan konsep persekutuan di dalam ibadah).
Ketiga, permohonan ini penting dan berlaku sekarang. Artinya, nasihat ini tidak berlaku untuk waktu mendatang, tetapi sekarang. Dengan kata lain, nasihat ini memiliki tingkat urgensi tinggi. Tuhan melalui Paulus mengingatkan agar jemaat Roma setelah mendapatkan banyak doktrin iman Kristen, mereka langsung mengaplikasikannya ke dalam kehidupan mereka sehari-hari di dalam ibadah. Bagaimana dengan hidup kita? Apakah kita yang sudah banyak belajar theologi, kita makin dingin, kering, statis, dan tidak ada perubahan? Biarlah kita mengoreksi spiritualitas dan praktik hidup kita?
Keempat, permohonan ini bersifat aktif. Aplikasi doktrin bukanlah pasif, tetapi aktif. Aktif di sini harus diartikan bahwa kita bisa melakukan perbuatan/ibadah yang memuliakan Tuhan hanya karena anugerah Allah melalui Roh Kudus. Tetapi jangan salah mengerti dan dibalik bahwa kita tidak berbuat apa-apa dengan alasan menunggu Roh Kudus bekerja di dalam kita. Di sini, uniknya, Paulus menggunakan bentuk aktif di dalam kata “menasihatkan,” berarti nasihat ini harus dilakukan secara aktif, bukan menunggu pimpinan Roh Kudus atau yang lain.

Nasihat ini bukan nasihat saja, tetapi Paulus mengatakan bahwa nasihat ini diberikan demi kemurahan Allah. Kemurahan Allah bisa diterjemahkan belas kasihan Allah (Hasan Sutanto, 2003, hlm. 862). Apa signifikansinya? Nasihat ini yang dikaitkan dengan belas kasihan Allah berarti Paulus ingin menasihati jemaat Roma agar mereka beribadah secara benar kepada Allah dengan mengingat belas kasihan-Nya yang telah memilih dan menetapkan mereka sebagai anak-anak-Nya. Seringkali para pemimpin gereja menasihati jemaatnya untuk memuliakan Tuhan, mereka menasihati sekaligus menakuti mereka dengan murka Allah. Hal ini tidak salah, tetapi itu adalah separuh kebenaran. Paulus mendorong umat Tuhan untuk beribadah secara benar bukan dengan menakuti mereka, tetapi mengingatkan mereka akan belas kasihan-Nya kepada mereka. Hal ini juga berlaku bagi kita saat ini. Ingatlah, Tuhan telah menyelamatkan kita dari jurang kegelapan dan maut dengan mengangkat kita untuk bertemu dengan terang-Nya yang ajaib di dalam Kristus, oleh karena itu, biarlah kasih setia dan belas kasihan-Nya ini mendorong dan memimpin langkah hidup kita untuk makin memuliakan Tuhan selama-lamanya.

Lalu, nasihat apakah yang Paulus berikan sehingga nasihat ini begitu penting? Dari ayat 1, kita belajar beberapa konsep penting tentang makna ibadah sejati:
Pertama, ibadah sejati adalah ibadah totalitas. Seperti yang telah saya kemukakan di atas, ibadah sejati bukanlah ibadah fenomenal, kelihatan aktif di berbagai kegiatan gereja. Ibadah sejati adalah ibadah totalitas, artinya menyeluruh di dalam seluruh aspek hidup kita. Hal ini diajarkan Paulus di dalam ayat ini dengan mengatakan bahwa kita harus mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan/kurban yang hidup. Kata “mempersembahkan” dalam bahasa Yunani bisa diterjemahkan “menyembahkan” (ibid., hlm. 862). Kembali, kata yang dipergunakan di sini menggunakan bentuk aktif. Berarti, ibadah sejati adalah ibadah yang terjadi ketika kita secara aktif mempersembahkan/menyembahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan. Itulah arti berserah total. Berserah adalah kita berani menyerahkan seluruh hidup kita dikuasai oleh Kristus sebagai Tuhan, Raja, dan Pemerintah hidup kita. Ketika kita menyerahkan hidup kita, dengan kata lain, kita juga harus berani menyesuaikan hidup kita dengan kehendak Tuhan. Di sini, saya menggabungkan konsep berserah dengan menyangkal diri. Ketika kita berserah, di saat yang sama kita menyangkal diri untuk mengatakan “tidak” kepada kehendak kita dan mengatakan “ya” kepada kehendak-Nya. Hal ini diteladani sendiri oleh penulis surat Roma, yaitu Paulus. Paulus adalah salah satu rasul Kristus yang sudah menyerahkan totalitas hidupnya kepada Kristus (Flp. 1:21), dan di saat yang sama, ia bisa mematikan kehendaknya yang berlawanan dengan kehendak Allah. Kapan Paulus berani mematikan kehendak dirinya sendiri? Ketika Paulus mendapatkan suatu hambatan (baca: 2Kor. 12:7-9). Para penafsir tidak sepakat ketika menafsirkan arti “duri dalam daging” di dalam 2Kor. 12:7 ini. Ada yang menafsirkan penyakit, ada juga yang menafsirkan hambatan/halangan dalam pelayanan Paulus. Intinya hanya satu: tantangan/hambatan dalam pelayanan Paulus (bisa berupa penyakit, dll). Ketika Tuhan menguji Paulus dengan “duri dalam daging”, Paulus pernah berdoa 3x memohon agar Tuhan mencabut duri itu, tetapi Tuhan menolaknya, dan Paulus taat (baca ayat 9-10). Bahkan di dalam penderitaan, Paulus pun dengan berani tetap percaya kepada-Nya (2Tim. 1:12). Biarlah kita meneladani Paulus sebagai rasul Kristus yang telah menjalankan apa yang diajarkannya sendiri di bagain ini. Adalah suatu ketidakmasukakalan jika orang yang menyanyikan “Aku Berserah”, tetapi masih percaya kepada kehendak diri yang lebih baik daripada kehendak Tuhan.

Kedua, ibadah sejati adalah ibadah yang kudus. Bukan saja sebagai kurban/persembahan yang hidup, Paulus juga menasihatkan jemaat Roma agar mereka juga mempersembahkan tubuh mereka sebagai kurban yang kudus. Kudus berarti dipisahkan (separated). Dengan kata lain, dengan mempersembahkan tubuh kita sebagai kurban yang kudus, berarti kita memiliki keunikan yang lain dari dunia ini. Paulus bukan hanya mempersembahkan tubuh/hidupnya sebagai kurban yang hidup, tetapi ia juga mempersembahkan hidupnya sebagai kurban yang kudus. Dari manakah ia mempersembahkan kurban yang kudus itu? Dari Roh Kudus. Roh Kudus yang telah menguduskan hidup Paulus dan umat Tuhan, Ia menuntut kita untuk mempersembahkan tubuh yang telah dikuduskan-Nya itu untuk dipakai memuliakan Tuhan. Kepada jemaat Korintus, Paulus mengajarkan konsep ini di dalam 1Kor. 6:19-20, “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, --dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” Melalui dua ayat ini, kita mendapatkan gambaran yang lebih jelas bahwa tubuh kita adalah bait Roh Kudus atau dikuduskan Roh Kudus di dalam penebusan Kristus, sehingga kita harus memuliakan Tuhan melalui tubuh kita. Kata “tubuh” baik di dalam Roma 12:1 maupun 1Kor. 6:19-20 sama-sama menggunakan kata Yunani soma. Karena Roh Kudus yang telah menguduskan tubuh/hidup kita, maka kita harus mempersembahkan tubuh kita sebagai kurban yang kudus bagi-Nya yang berbeda dari dunia.

Ketiga, ibadah sejati adalah ibadah yang menyenangkan Allah. Bukan hanya hidup dan kudus, ibadah sejati adalah ibadah yang berkenan kepada Allah. Kata “berkenan kepada Allah” diterjemahkan oleh Pdt. Hasan Sutanto, D.Th. dalam Perjanjian Baru Interlinear (2003) sebagai “menyenangkan Allah” (hlm. 862). NASB, English Standard Version (ESV), Analytical-Literal Translation (ALT), Geneva Bible, Young’s Literal Translation (YLT), dll menerjemahkannya acceptable to God (dapat diterima/memuaskan bagi Allah). International Standard Version (ISV) menerjemahkannya pleasing to God (menyenangkan Allah). Dengan kata lain, ibadah yang berkenan kepada Allah adalah ibadah yang menyenangkan atau memuaskan Allah. Bagaimana ibadah bisa dikatakan menyenangkan Allah? Ibadah bisa menyenangkan Allah ketika ibadah dilakukan (baik di gereja ataupun kehidupan sehari-hari) bukan memuliakan diri, tetapi memuliakan Tuhan (God-centered worship). Ibadah yang memuliakan diri adalah ibadah yang menggunakan segala cara untuk menyenangkan diri sebagai objek dan subjek ibadah. Ini dilakukan oleh orang-orang kafir di dalam Alkitab. Mereka beribadah untuk mencari keuntungan. Tetapi ibadah yang berpusat pada Allah yang menyenangkan-Nya adalah ibadah yang memuliakan Dia saja (Soli Deo Gloria). Bukan hanya ibadah, pelayanan kita kepada Tuhan pun juga demikian. Di dalam pelayanan, pelayanan yang menyenangkan Allah adalah pelayanan yang berpusat dari Allah, oleh Allah, dan bagi Allah saja (Rm. 11:36). Sehingga pelayanan yang berpusat pada Allah adalah pelayanan yang tidak mencari keuntungan sendiri. Di dalam 2Kor. 2:17, Paulus menyatarkan konsep pelayanan palsu vs sejati, “Sebab kami tidak sama dengan banyak orang lain yang mencari keuntungan dari firman Allah. Sebaliknya dalam Kristus kami berbicara sebagaimana mestinya dengan maksud-maksud murni atas perintah Allah dan di hadapan-Nya.” Di dalam ayat ini, Paulus memaparkan pelayanan yang palsu adalah pelayanan yang mau cari untung sendiri, sedangkan pelayanan yang menyenangkan Allah adalah pelayanan yang memuliakan-Nya dengan memberitakan firman Tuhan dengan murni dan jujur sesuai apa yang difirmankan-Nya. Di dalam pelayanan firman, jangan pernah mengkompromikan kebenaran firman Tuhan. Ketika firman Tuhan berbicara keras kepada jemaat, sebagai hamba-Nya yang memberitakan firman-Nya, kita harus tegas dan keras berbicara dengan murni sesuai apa yang difirmankan-Nya di dalam Alkitab. Jangan pernah membuatnya lunak atau bahkan menghapuskannya. Teladanilah Paulus yang tidak segan-segan menuding kemunafikan Petrus (Gal. 2:11-14). Semua itu dilakukan Paulus karena ia mau melayani dengan kemurnian hati dan ia tidak suka melihat kemunafikan. Ingatlah, kalau Paulus membenci kemunafikan, apalagi Tuhan, Ia lebih membenci hamba-Nya yang munafik yang memperhalus berita firman Tuhan yang keras, tetapi Ia memuji hamba-Nya yang setia, taat dan jujur menyampaikan berita firman Tuhan yang keras. Itu yang Tuhan melalui Paulus ajarkan di dalam 2Kor. 2:17 ini. Ingatlah, jangan pernah mengukur konsep pelayanan dari kuantitas, tetapi kualitas apakah pelayanan itu God-centered atau man-centered. Biarlah kita menyelidiki motivasi sedalam-dalamnya hati kita tentang konsep pelayanan kita yang kita jalani.
Lalu, bagaimana kita menjalankan ibadah dan pelayanan yang memuliakan Tuhan? Sebuah slogan terkenal dari Rev. Dr. John S. Piper adalah, “God is most glorified in us when we are most satisfied in Him.” (=Allah paling dimuliakan di dalam kita ketika kita dipuaskan di dalam-Nya). Seolah-olah, slogan ini antroposentris, tetapi jika diselidiki kita menemukan kelimpahan maknanya. Dr. Piper menegaskan bahwa Allah itu paling dimuliakan di dalam kita BUKAN ketika kita (merasa) dipuaskan saja, tetapi dipuaskan DI DALAM Dia. Artinya, Allah itu sebagai sumber kepuasan ultimat yang di dalam-Nya kita menemukan anugerah, belas kasihan, kebenaran, keadilan, kejujuran, dll, dan di dalam Dia saja kita semakin memuliakan-Nya. Ini mirip dengan jawaban pertanyaan di dalam Katekismus Singkat Westminster Pasal 1 yang mengajar bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk memuliakan Allah dan menikmati-Nya selama-lamanya. Jadi, ibadah dan pelayanan yang memuliakan Allah adalah ibadah dan pelayanan yang menikmati Allah. Bagaimana menikmati Allah? Apakah suatu pengalaman ekstase yang tidak sadarkan diri? TIDAK! Menikmati Allah adalah menikmati Pribadi Allah dan firman-Nya. Menikmati Pribadi Allah berarti ada suatu pengenalan yang mendalam tentang Pribadi Allah. Paulus menikmati Pribadi Allah, sehingga ia berani mengatakan bahwa hidup baginya adalah Kristus dan mati adalah keuntungan (Flp. 1:21). Seorang yang tidak pernah menikmati Allah tak akan pernah mungkin mengatakan hal seagung itu. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita berani mengatakan seperti Paulus bahwa hidup kita adalah Kristus di mana Kristus bertahta dan bertitah mutlak dalam hidup kita? Kedua, menikmati Pribadi Allah tidak bisa dilepaskan dari menikmati firman-Nya. Kita baru bisa mengenal Allah dengan benar melalui firman-Nya, Alkitab. Ibadah dan pelayanan kita tidak pernah menyenangkan Allah ketika ibadah dan pelayanan kita tidak didasari oleh konsep firman Tuhan yang beres. Berapa banyak kita melihat kekacauan konsep pelayanan? Saya sendiri memperhatikan bahwa banyak orang yang mengklaim diri “melayani Tuhan,” tetapi sayangnya, ia aktif melayani Tuhan tanpa mengenal Pribadi yang dilayaninya. Mereka sibuk melayani sebagai panitia retret, kebaktian, KKR, seminar rohani, dll, tetapi ketika firman diberitakan pada saat acara-acara tersebut, dijamin kebanyakan mereka langsung mengambil posisi “saat teduh” (alias tidur). Mengapa? Karena mereka mau melayani “Tuhan”, tetapi tidak mau belajar firman Tuhan untuk lebih mengenal Pribadi yang mereka layani. Mari kita merombak konsep pelayanan kita. Ingatlah, ketika kita melayani Tuhan, perhatikanlah siapa yang kita layani dan kenalilah Pribadi yang kita layani itu melalui firman Tuhan. Pelayanan tidak bisa dilepaskan dari firman Tuhan. Pelayanan yang mengabaikan konsep kebenaran firman Tuhan adalah pelayanan yang sia-sia dan antroposentris (berpusat kepada manusia), dan tentu saja, Tuhan muak dengan pelayanan tersebut, karena kita sebenarnya sedang melayani diri kita sendiri, bukan Tuhan (meskipun kita menggunakan topeng “Tuhan”). Bertobatlah dan introspeksilah diri kita masing-masing.


Dari ayat 1 ini saja kita banyak memperoleh berkat dari firman Tuhan tentang apa arti ibadah dan pelayanan sejati. Biarlah kita dikoreksi oleh kebenaran firman Tuhan ini sehingga konsep ibadah dan pelayanan kita makin menyenangkan dan memuliakan-Nya selama-lamanya. Amin. Solus Christus. Soli Deo Gloria.

Matius 12:1, 8, 50: KRISTUS ADALAH TUHAN (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Ringkasan Khotbah: 24 September 2006

Kristus adalah Tuhan
oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.
Nats: Matius 12:1, 8, 50


Pendahuluan
Hari ini kita masuk pada injil Matius pasalnya yang kedua belas di mana pada pasal ke-12 ini Matius membukakan pada kita tentang siapakah Kristus, yaitu Kristus adalah Tuhan. Injil Matius 12 ini dibuka dengan suatu peristiwa yang terjadi pada hari Sabat. Seperti kita ketahui hari Sabat adalah hari yang sangat penting bagi orang Yahudi dimana didalamnya banyak aturan Sabat yang harus ditaati dan bagi mereka yang melanggar, akan dihukum. Orang Yahudi sangat ketat menjalankan aturan sabat tersebut dan khusus aturan sabat, mereka setitik pun tidak mau bertoleransi. Sabat dimulai jam 6 sore – 6 pagi – 6 sore maka selama 24 jam itu mereka menjalankan ritual yang sangat ketat; mereka tidak akan berjalan atau mengangkat benda seberat dan sejauh seperti yang ditetapkan dalam aturan Sabat dan masih banyak lagi aturan-aturan Sabat yang harus mereka taati. Dapatlah dikatakan iman Yahudi adalah iman Sabat. Bagaimana dengan kita?
Pertama, Kristus adalah Tuhan atas semua ritual agama.
Adalah pendapat yang salah kalau dengan melakukan semua ritual agama berarti: 1) ia sudah menyembah dan beriman pada Allah. Salah! Ritual ini bersifat visual, artinya dapat dilihat dengan langsung oleh orang lain dan siapapun dapat melakukan ritual agama bahkan dalam beberapa aspek secara psikologi, semua ritual agama itu dapat memberikan suatu kepuasan batiniah, 2) orang yang menjalankan ritual agama dianggap sebagai orang saleh dan ia sangat dihormati. Dengan kata lain, orang yang menjalankan ritual agama ini mendapat status sosial di tengah masyarakat, 3) orang melakukan ritual agama berarti ia telah menggenapkan seluruh tuntutan agama, fulfill maka timbullah rasa aman karena ia merasa telah mendapatkan surga.
Dalam hal ini Tuhan tidak lagi menjadi yang utama tetapi ritual agama itulah yang dipentingkan. Perhatikan, ritual agama tidak salah. Setiap agama pasti ada ritualitas, ada aturan, tata cara atau liturgi tertentu tetapi ritual agama sejati harusnya membawa manusia melihat kebesaran dan keagungan Tuhan bukan sebaliknya mengunci orang dalam ritual agama. Orang Yahudi sangat ketat memelihara dan mengutamakan sabat sampai-sampai ia tidak kenal Kristus yang adalah Allah atas sabat. Lalu semua ritual sabat itu dilakukan untuk siapa dan buat apa? Untuk sekedar bersabatkah atau menyembah Tuhan? Kalau kita bertanya pada orang Yahudi, mereka pasti mengaku bahwa semua ritual sabat itu dilakukan untuk menyembah Tuhan. Benarkah demikian? Mengapa ketika Kristus Tuhan ada di depan mata mereka, mereka tidak mengenal-Nya? Orang menjalankan ritual tetapi ia tidak tahu siapakah yang sesungguhnya disembah dalam semua ritual tersebut.
Iman sejati harus kembali pada Allah. Iman sejati tidak dikunci pada suatu ritual keagamawian atau tindakan-tindakan yang sifatnya ritualitas. Perhatikan, semua aturan keagamaan yang lepas dari Kristus berarti penyelewengan agama maka seluruh ritual agama tersebut tidak ada artinya. Apalah artinya kita mempersembahkan korban dan menjalankan seluruh ritual agama tetapi hal yang utama, yaitu Tuhan justru kita buang. Orang lebih mementingkan ritual atau aturan di atas Tuhan tidak hanya terjadi pada jaman Alkitab saja, di dunia modern sekarang inipun, orang disibukkan dengan berbagai ritual agama, bagaimana menikmati ibadah untuk mendapat kepuasan diri sehingga ketika Kristus hadir, kita justru tidak mengenalinya karena kita telah menggantikan Dia dengan figur-figur lain. Kristus dengan menegur keras dan bukan hanya pada orang Yahudi tetapi juga pada kita hari ini, biarlah kita kembali pada Kristus sebagai the final authority.
Pertanyaannya sekarang adalah apa yang dimaksudkan Allah dengan sabat dalam seluruh iman Kekristenan? Tanpa kita sadari, sesungguhnya konsep agama yang ada dalam pemikiran kita itu terbentuk dari ritualitas yang kita kerjakan selama ini akibatnya ketika Tuhan hadir, kita tidak mengenal Dia. Pertanyaannya adalah sekarang siapa yang lebih berotoritas, Tuhan ataukah aturan Sabat? Pengenalan akan Yesus akan kita peroleh melalui kita menyangkal diri, memikul salib lalu mengenal Kristus dengan benar maka seluruh ritual agama itu tidak artinya. Adalah percuma setiap minggu kita rajin beribadah dan melayani tetapi kita tidak mengutamakan Kristus. Terkadang, kita sering mendengar ada orang yang berkata,“Saya merasakan ada sesuatu yang tidak enak atau hilang ketika ia tidak pergi ke gereja“; perasaan tersebut tidak dapat dipersalahkan sepenuhnya namun yang menjadi letak permasalahan disini adalah bukan pada kepuasaan diri orang tersebut, yakni orang merasa lega karena ia telah pergi ke gereja, ia telah menjalankan ritual agamanya. Tidak! Akan tetapi yang menjadi evaluasi kita adalah sudahkah Firman itu mengubahkan hidup anda? Sudahkah kita melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan? Realitanya justru berkata orang tidak peduli dengan apa yang menjadi kehendak Tuhan, orang merasa sudah melakukan kehendak Tuhan dengan melakukan semua ritual agama. Orang tidak sadar kalau ia telah lepas dari Kristus yang adalah esensi iman yang sejati. Kristus adalah Tuhan yang mengatur hidup kita, Dia adalah pemegang otoritas tertinggi yang menentukan segala sesuatu.
Janganlah kita menjadi orang yang sok pandai dan berani menentang dan melawan Dia karena kita sudah merasa menyembah Allah dengan semua ritual agama yang kita jalankan. Matius di titik pertama mengajak orang Yahudi untuk merekonstruksi ulang, membongkar konsep mereka yang salah tentang Sabat dan ritual agama untuk mengenal siapa Kristus yang sesungguhnya. Kristus adalah Tuhan atas sabat dan semua ritual agama.
Kedua, Kristus adalah Tuhan atas kuasa-kuasa iblis.
Pada pasalnya yang kedua belas, Matius mencatat tentang Tuhan Yesus melakukan mujizat. Sebelumnya kita telah merenungkan suatu kebenaran, yakni mujizat hanya dapat dilakukan oleh Kristus Tuhan dan enam hal telah dikerjakan oleh Tuhan Yesus dimana itu membuktikan bahwa Dia adalah Mesias. Manusia tidak mungkin dapat melakukan mujizat seperti yang dilakukan oleh Kristus (Mat. 11:5-6), sebab kuasa setan yang bekerja di dalamnya. Orang yang melihat tanda yang Kristus kerjakan tersebut harusnya mengakui Dia adalah Mesias, Anak Daud. Perhatikan, Anak Daud disini merupakan figurasi yang menggambarkan Kristus sebagai keturunan Daud yang akan menjadi Mesias namun ironisnya, orang Yahudi tidak percaya tetapi mereka justru menyelewengkan kebenaran. Bagi orang Farisi yang begitu kuat memegang konsep Yudaisme menganggap Tuhan Yesus dianggap sebagai ancaman. Mereka memfitnah Kristus dengan mengatakan bahwa otoritas yang ada pada-Nya bukan dari Allah melainkan dari setan.
Hati-hati dengan akal licik si setan yang sengaja memutarbalikkan kebenaran – Roh Kudus dianggap sebagai roh setan dan sebaliknya roh setan dianggap sebagai Roh Kudus. Upaya memutarbalikkan kebenaran ini bukan terjadi baru-baru ini saja. Tidak! Tetapi sejak jaman Tuhan Yesus, orang sudah memakai metode memutarbalikkan kebenaran. Puji Tuhan, Kristus adalah Tuhan, Dia telah membuktikan bahwa kuasa setan dan kuasa lain yang diagung-agungkan oleh manusia tersebut berada di bawah kuasa Ilahi. Kristus adalah otoritas final, yang mengalahkan kuasa setan. Matius membukakan pada kita dua macam orang yang kerasukan setan, yaitu: 1) orang secara harafiah kerasukan setan, hal ini dapat kita lihat secara visual, seperti ia berteriak-teriak, orang ini juga dikucilkan karena dianggap membahayakan orang lain dan biasanya orang kerasukan setan juga bisu, tuli atau buta tetapi Tuhan Yesus membuktikan kuasa setan berada dibawah kuasa Ilahi dan orang yang kerasukan setan masih bisa disembuhkan, 2) orang yang kerasukan setan tapi tidak nampak secara visual, ciri-ciri ini nampak dalam diri orang-orang Farisi. Dengan kuasa yang dimilikinya, mereka berani menyelewengkan kebenaran sejati. Mereka tidak sadar kalau melawan Roh Kudus akan berakibat fatal, tidak ada lagi keselamatan baginya; mereka akan binasa di dalam kebinasaan.
Adalah lebih berbahaya orang yang berada dalam kuasa iblis namun tidak nampak secara visual, mereka selalu melawan kebenaran sejati dan menaruh kuasa Roh Kudus di bawah kuasa Beelzebul, mereka menganggap diri penuh dengan kuasa Roh Kudus padahal bukan kuasa Roh Kudus yang ada pada dirinya tetapi kuasa Beelzebul. Adalah lebih berbahagia orang yang kerasukan setan secara harafiah sebab ketika kuasa Kristus itu melawat dirinya, ia dapat melihat kuasa Kristus yang mengalahkan kuasa setan yang mencengkeram dirinya. Waspadalah dengan akal licik si iblis yang selalu berusaha menggoda manusia supaya masuk dalam cengkeraman kuasanya. Hendaklah kita kembali pada Kristus satu-satunya otoritas final sebab tidak ada kuasa siapapun dalam alam semesta ini yang lebih besar dari kuasa Kristus. Kalau kita tidak kembali pada kuasa Kristus maka kita akan diombang-ambingkan oleh berbagai rupa-rupa pengajaran dunia apalagi sekarang kita berada dalam suatu jaman dimana gerakan new age yang bermain-main dengan roh-roh setan ini secara pelan namun pasti telah mempengaruhi dunia. Pada awal abad 20, gejala spiritualitas ini ditandai dengan gejala-gejala psikologis dan luapan emosi, yakni orang menangis, ketawa, berbahasa roh dan masih banyak lagi. Dan celakanya, orang yang menampakkan gejala spritualitas semu tersebut malah menuduh orang-orang yang menyatakan kebenaran, mendidik orang untuk hidup benar, belajar Firman dengan baik justru dikatakan sebagai orang yang tidak ada Roh Kudus. Ironis, bukan? Perhatikan, gejala psikologis yang ditunjukkan tersebut bukanlah pekerjaan Roh Kudus. Alkitab menegaskan kalau Roh Kudus turun atas seseorang maka orang diinsyafkan akan dosa, kebenaran dan penghakiman (Yoh. 16:8).
Ketiga, Kristus adalah Tuhan diatas semua kebenaran dan keadilan manusia.
Orang-orang Farisi dan Saduki mengadu antara otoritas Kristus dengan kebenaran yang mereka miliki, otoritas Yudaisme. Sungguh ironis, manusia menolak dua esensi yang paling penting, yakni kebenaran dan keadilan maka dapatlah dipastikan akibatnya, yakni dunia semakin rusak dan hancur. Sesungguhnya setiap manusia pasti ingin hidup sejahtera tetapi orang tidak sadar kalau hidup sejahtera itu tidak mungkin tercapai tanpa kebenaran dan keadilan. Hari ini, berapa banyak orang yang dihukum atas perbuatan mereka membakar gereja, membunuh dan menganiaya orang-orang Kristen? Tidak ada satu orang pun yang diadili. Namun percayalah, keadilan Tuhan tidak akan dapat dipermainkan, keadilan Tuhan akan dinyatakan di muka bumi ini. Tidak hanya sampai disitu, dua tokoh terbesar yang ada di dunia harus mati dengan cara keji: 1) Socrates, seorang filsuf Yunani yang sangat berpengaruh dalam pemikiran garis besar filsafat Yunani harus mati dengan cara keji. Hal ini menjadikan Plato dan Aristotle benci dengan demokrasi sebab pemimpin yang sangat baik justru mati dalam permainan massa yang mempermainkan kebenaran dan keadilan, 2) Tuhan Yesus, Dia datang mengajarkan kebenaran sejati, Dia datang dengan cinta kasih, Dia membawa manusia kembali pada Allah tetapi Dia justru berhadapan dengan kayu salib. Inilah permainan kebenaran dari para ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang menyebut diri sebagai orang beragama. Sepintas, mereka memang mempunyai kekuatan otoritas yang menyatakan kebenaran dan keadilan palsu dari manusia, tetapi mereka tidak sadar bahwa otoritas yang ada padanya sekarang itu asalnya dari Tuhan; kalau Tuhan tidak berikan kuasa itu kepadanya maka orang tidak ada apa-apanya. Pdt. Stephen Tong dalam pengajarannya menyatakan pertemuan antara Pilatus dan Kristus merupakan pertemuan dua otoritas yang paling besar. Pada saat itu, Pilatus menaikkan otorisasi ke posisi tertinggi sebaliknya Kristus menurunkan otorisasi ke posisi terendah, hal ini justru menunjukkan kebodohan dan kegagalan otorisasi manusia. Otorisasi manusia berakhir dengan kehancuran dan Kristus yang bangkit justru menjadi kekuatan kemenangan; Dia melawan kuasa kejahatan dengan kebajikan. Kristus adalah otoritas final atas semua kebenaran dan keadilan manusia. Tidak ada satu pun kebenaran dan keadilan di alam semesta ini yang dapat melawan kebenaran sejati.
Keempat, Kristus adalah Tuhan atas semua otoritas yang ada di dunia.
Dalam religiusitas, orang seringkali mengkontraskan antara otoritas Tuhan dengan otoritas keluarga. Khususnya di dunia timur, hal ini seringkali terjadi dan banyak menimbulkan konflik. Dalam bagian ini, Injil Matius membukakan pada kita siapa pemegang otoritas tertinggi dengan menuliskan tentang kehadiran ibu dan saudara-saudara Tuhan Yesus. Menurut kebudayaan yang berlaku jaman itu, anak harus tunduk pada orang tua namun Tuhan Yesus menegaskan barangsiapa melawan Allah dan mentaati otoritas yang lain berarti ia melawan Allah. Dalam bagian ini, Alkitab tidak mengajarkan kita menjadi seorang pemberontak. Tidak! Alkitab mengajarkan kita untuk menghormati orang tua akan tetapi kalau orang tua tidak lagi beriman pada Kristus atau orang tua menyeleweng pada kebenaran Allah maka anak tidak perlu taat pada orang tua tetapi ia harus taat pada Allah sebagai otoritas final. Seorang anak haruslah taat pada Allah lebih daripada pada orang tua kita karena Dia adalah pemegang otoritas tertinggi. Biarlah sebagai orang tua kita hidup taat dan beriman sejati sehingga apa yang kita nyatakan merupakan wakil dari kebenaran Allah. Hai, para orang tua janganlah mengambil alih otoritas yang merupakan otoritas Allah lalu memakai otoritas untuk memisahkan anak dari Allah. Orang tua yang demikian akan berhadapan langsung dengan Allah sebagai pemegang otoritas tertinggi. Kristus membukakan kebenaran tentang siapakah ibu-Ku, siapakah saudara-Ku laki-laki, siapakah saudara-Ku perempuan? Dia adalah yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Konsep ini mengharuskan kita melihat Kristus sebagai otoritas tertinggi, tidak ada siapa pun yang dapat menggeser Kristus sebagai otoritas final dalam garis order.
Sebagai seorang warga negara yang baik, kita harus tunduk dan taat pada pemerintah tapi ketaatan itu hanya sejauh pemerintah tersebut takut akan Tuhan maka kalau pemerintah mulai menyeleweng dari kebenaran Tuhan, kita harus melawannya. Sebagai contoh, kalau suatu hari kelak pemerintah mengeluarkan larangan beribadah dan menyembah pada Tuhan Yesus bagi mereka yang beragama Kristen maka apa yang harus kita lakukan? Tunduk pada pemerintah ataukah melawannya? Kristus tidak ingin ada cabang dalam garis otoritas yang Ia sendiri tetapkan sebab hal ini merupakan penyelewengan rohani. Mempermainkan otoritas Allah karena kita takut pada otoritas lain berarti membuktikan otoritas lain tersebut lebih berkuasa dari otoritas Allah. Tuhan akan sangat marah dan Dia berhak untuk marah karena Dialah satu-satunya pemegang otoritas tertinggi. Otoritas dalam Kristus itulah yang manjadi dasar kehidupan kita. Bayangkan, apa jadinya hidup kita kalau kita hidup dalam multiple authority, yakni banyak otoritas yang berbeda-beda dan celakanya, tidak berada dalam satu garis otoritas. Tentu saja, kita akan dibingungkan, kita tidak tahu harus taat pada otoritas yang mana; taat pada otoritas A maka si B akan marah, taat pada otoritas B maka si A dan si C akan marah, begitu seterusnya akibatnya kalau dalam dunia kerja mungkin kita dipecat namun bayangkan, kalau itu menyangkut hidup kita. Betapa celaka hidup kita kalau kita berani mempermainkan otoritas Tuhan dan menggantinya dengan otoritas lain maka kita akan dibuang dari Kerajaan Sorga maka itu berarti kehancuran hidup kita.
Otoritas siapakah yang menjadi otoritas final dalam hidup kita? Siapa yang mengatur hidup kita? Siapa yang menjadi penentu setiap keputusan kita? Kalau kita mengaku anak Tuhan yang sejati maka Tuhan menuntut kita untuk taat pada-Nya. Biarlah dalam hidup kita semakin takut dan hormat kepada Allah yang berdaulat dan biarlah kita juga semakin taat dan setia. Berpeganglah senantiasa pada perintah Kristus sebagai pemegang otoritas tertinggi. Hendaklah kita terus berproses untuk semakin diubahkan dan semakin bertumbuh dalam iman untuk menjadi semakin serupa Dia. Amin

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber:

28 November 2008

Bagian 4

B. Pendidikan Sekolah dan Gereja
Pendidikan kedua yang harus diperhatikan adalah pendidikan sekolah dan gereja. Setelah keluarga mendidik anak-anak kecil, maka tugas kedua yang harus mendidik anak tersebut adalah sekolah dan gereja. Saya menggabungkan dua elemen ini, yaitu sekolah dan gereja, karena sekolah Kristen yang beres TIDAK bisa dilepaskan dari peran gereja di mana anak itu beribadah. Tetapi sayang, di era postmodern yang serba relatif, sekolah “Kristen” pun relatif dan tidak ada kaitannya dengan gereja, bahkan dengan Kekristenan secara teori maupun praktis. Akibatnya, satu sekolah “Kristen” di Surabaya bisa didukung oleh berbagai denominasi gereja, tetapi herannya tidak pernah mengajar anak dari kecil untuk menggumuli panggilan hidupnya di hadapan Tuhan. Sungguh ironis! Sudah saatnya sekolah-sekolah Kristen bertobat dari dosa-dosa mereka di zaman dahulu maupun sekarang. Sekolah Kristen dan gereja harus bersama-sama menggarap anak-anak didik Kristen dari kecil untuk memiliki hati seorang hamba yang taat kepada Allah sebagai Tuhannya. Itulah kedewasaan sejati yang Tuhan inginkan. Lalu, bagaimana mendidik kedewasaan kepada anak di lingkungan sekolah Kristen dan gereja? Prinsipnya sama seperti pendidikan yang dilakukan oleh orangtua, tetapi aplikasinya agak sedikit berbeda.
1. Mengajar dan Mendidik Iman Kristen Sejak Kecil
Tugas para pendidik Kristen yang terutama adalah mengajar dan mendidik iman Kristen sejak kecil kepada para anak didik mereka. Iman Kristen bukan hanya menjadi bidang yang harus diajar oleh guru agama Kristen, tetapi seharusnya diajar oleh semua guru bidang apa saja. Dengan kata lain, pendidik Kristen harus menguasai banyak bidang termasuk theologi dan iman Kristen. Nah, agar para pendidik Kristen menguasai bidang theologi, tentu, mereka harus belajar Alkitab dan theologi terlebih dahulu (meskipun tidak harus bergelar akademis di bidang theologi). Lalu, apa tujuan para pendidik Kristen menguasai theologi untuk mengajar para anak didik mereka tentang iman Kristen?
a) Mengarahkan arti dan panggilan hidup: memuliakan Tuhan
Tujuan pertama yaitu untuk mengarahkan para anak didik akan pentingnya arti dan panggilan hidup masing-masing pribadi yaitu memuliakan Tuhan. Ada dua hal: arti dan panggilan hidup. Belajarlah hai para pendidik Kristen untuk mengajar dan mendidik dari kecil bahwa arti hidup mereka TIDAK ditentukan oleh diri mereka sendiri, dll, tetapi oleh Tuhan Allah yang menciptakan mereka. Dari kecil, ajarkanlah konsep penciptaan kepada anak-anak, sehingga mereka dari kecil mengerti bahwa hidup mereka baru memiliki arti ketika mereka kembali kepada Pencipta mereka. Jika mereka dari kecil sudah mengerti hal ini, percayalah, ketika mereka dewasa, mereka tidak akan lagi kebingungan akan arah dan arti hidup mereka. Selain tentang konsep penciptaan, kita sebagai para pendidik Kristen perlu mengajar mereka tentang konsep dosa dan penebusan. Setelah Allah menciptakan manusia, manusia memberontak dan melawan-Nya, itulah dosa. Ajarkanlah bahwa dosa bukan sekadar membunuh, mencuri, dll, tetapi inti dosa adalah melawan ketetapan-Nya. Ajarkanlah pula bahwa sebagai pendidik Kristen pun jika kita melawan ketetapan-Nya, kita tetap berdosa. Ajarkan kepada mereka bahwa dosa itu tidak bisa diselesaikan oleh manusia siapa pun, kecuali oleh Tuhan Allah. Karena kasih-Nya, Ia mengutus Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus untuk menebus dosa-dosa manusia pilihan-Nya. IA mati di salib demi menggantikan dosa-dosa kita. Tentu, ketika kita mengajar konsep dosa dan penebusan, kita tidak perlu memakai bahasa-bahasa tingkat theolog, tetapi kita bisa memakai bahasa-bahasa yang sederhana dan alat-alat peraga yang memadai supaya anak-anak dari kecil bisa mengerti. Berarti, di dalam sekolah Kristen, mandat penginjilan tidak bisa dilepaskan dari ilmu. Sekolah Kristen yang tidak lagi memberitakan Injil, patutkah sekolah itu disebut sekolah yang menyandang nama “Kristen”? Setelah mengajar dan mendidik konsep penciptaan, dosa, dan penebusan, kita sudah mulai menanamkan konsep dasar iman Kristen yang mengakibatkan anak dari kecil sudah tahu bahwa Allah mencipta mereka (bukan berdasarkan teori evolusi bahwa manusia ada dari monyet yang berevolusi), bahwa mereka berdosa dengan melawan ketetapan-Nya (bukan konsep bahwa manusia dilahirkan tanpa dosa), dan bahwa mereka sudah ditebus oleh Kristus (bukan konsep bahwa mereka bisa diselamatkan dengan sendirinya melalui jasa, dll).

Poin kedua yang harus kita mengerti selain arti hidup, yaitu tentang panggilan hidup. Setelah diajar dan dididik tentang arah hidup yang berpaut kepada Allah sebagai Pencipta, lalu diajar tentang dosa dan penebusan di dalam Kristus, anak-anak perlu diajar dan dididik juga tentang respons mereka akan apa yang sudah Allah perbuat bagi mereka yaitu panggilan hidup mereka dari Allah. Karena mereka telah dicipta dan ditebus oleh Kristus, maka sudah seharusnya para pendidik Kristen harus mengajar anak-anak didik mereka untuk HANYA menaati apa yang menjadi panggilan Allah bagi setiap pribadi mereka yang unik. Jangan pernah membiarkan mereka memiliki ambisi pribadi sendiri, tetapi ajarkan kepada mereka untuk menggumuli panggilan Allah bagi hidupnya sejak kecil melalui talenta yang Ia percayakan kepada masing-masing anak secara berbeda. Ini bukan sekadar teori, tetapi harus kita aplikasikan. Panggilan Allah ini bukan hanya berlaku bagi mereka yang menyerahkan diri secara penuh waktu menjadi hamba Tuhan, tetapi juga bagi kita yang melayani Tuhan “di dunia luar.” Artinya, di dalam pekerjaan mana yang harus kita geluti pun, Tuhan memanggil setiap kita berbeda berdasarkan talenta yang Tuhan berikan kepada kita masing-masing SECARA BERBEDA. Mandat kita hanya satu yaitu memuliakan Tuhan sesuai dengan talenta yang Tuhan percayakan kepada kita. Sebagai para pendidik Kristen, kita harus menyadarkan anak didik kita sejak kecil tentang talenta yang Tuhan berikan kepadanya untuk nantinya mereka perkembangkan.


b) Mengarahkan motivasi hidup
Selain arti dan panggilan hidup, para pendidik Kristen harus mengajar dan mendidik anak-anak mereka tentang motivasi. Artinya, para pendidik Kristen harus mengajar dan mendidik anak-anak mereka tentang motivasi sebelum para anak didik mereka melakukan segala sesuatu. Ketika mereka mau bertindak sesuatu, mereka harus diajar bagaimana memiliki motivasi yang murni terlebih dahulu, sehingga ketika mereka bertindak, bukan kehendak mereka yang diutamakan, tetapi kehendak Tuhan. Di sini, perlu kepekaan rohani yang tinggi dari para pendidik Kristen. Sebelum mengajar anak-anak mereka, hendaklah para pendidik Kristen terlebih dahulu mengintrospeksi diri tentang motivasi hidup. Setelah mereka mengintrospeksi diri tentang motivasi hidup, barulah mereka layak membimbing para anak didik mereka. Anak didik yang dari kecil sudah diajar dan dididik untuk memiliki motivasi yang murni ketika melakukan segala sesuatu, maka anak didik itu pasti tumbuh dewasa dengan beriman, berkarakter, dan bermental dewasa pula, bukan hanya secara fisiknya dewasa. Adalah suatu kekonyolan jika ada pendidik Kristen yang tidak memiliki motivasi yang murni (misalnya, mereka mau menjadi guru, bukan karena panggilan menjadi guru, tetapi untuk mencari uang atau mencari pengalaman) berani mengajari para anak didik mereka untuk memiliki motivasi yang murni.




2. Membentuk Kemandirian
Setelah mengajar dan mendidik iman Kristen sejak kecil, para pendidik Kristen harus membentuk kemandirian para anak didik mereka. Ini adalah wujud kedewasaan eksternal yang diaplikasikan di dalam wilayah pendidikan Kristen dalam sekolah dan gereja. Membentuk kemandirian tidak berarti kita mengajar mereka individualis, tetapi mengajar dan mendidik para anak didik untuk hidup berdikari (sambil tetap bersosialisasi). Apa yang perlu diperhatikan untuk membentuk kemandirian tersebut?
a) Mengajar etika dan moralitas, karakter, dan ilmu-ilmu
Setelah mengajar tentang arti, panggilan, dan motivasi hidup secara Kristiani, para pendidik Kristen harus mengajar hal-hal lain, misalnya: etika, moralitas, karakter, dan ilmu-ilmu lain. Ini untuk membentuk keseimbangan antara pengertian iman dengan kehidupan sehari-hari sebagai wujud aplikasinya. Banyak pendidik “Kristen” yang melupakan aspek pengajaran iman dan hanya menekankan aspek pendidikan kognitif semata, akibatnya, sampai dewasa, anak-anak mereka tidak memiliki iman yang beres. Pendidikan kognitif (akademis) tanpa iman akan menciptakan para bajingan, penipu, dan teroris masa depan, karena tidak dibarengi dengan pengertian iman, etika, moralitas, dan karakter. Oleh karena itu, sudah seharusnya para pendidik Kristen mengajar iman Kristen terlebih dahulu kepada anak-anak mereka, baru setelah itu hal-hal lain, seperti: etika, moralitas, karakter, dll, sehingga struktur pikiran para anak didik Kristen dari kecil mulai terbentuk mulai dari takut akan Tuhan, lalu mulai menguasai banyak hal untuk memuliakan-Nya. Hal-hal itulah yang akan kita uraikan di sini.
(1) Mengajar etika dan moralitas
Setelah mengajar iman, para pendidik Kristen harus mengajar para anak didik mereka dengan etika dan moralitas. Etika dan moralitas berbicara mengenai apa yang baik dan tidak yang berkaitan dengan nilai hidup. Etika dan moralitas dipelajari bukan karena kita adalah orang Timur. Alkitab sudah mengajar hal ini. Etika dan moralitas Alkitabiah adalah etika dan moralitas yang theosentris, itulah yang kita taati. Sedangkan etika-etika dan moralitas duniawi yang MELAWAN Alkitab tidak boleh kita taati. Hal ini tidak berarti kita anti-duniawi. Yang saya maksud adalah jika ada etika-etika (dan moralitas) sekuler yang tidak melawan Alkitab, kita ikuti, tetapi yang melawan Alkitab, hal tersebut tidak boleh kita ikuti. Dengan kata lain, saya menggabungkan 2 macam etika dan moralitas: Alkitabiah dan duniawi. Etika Alkitabiah adalah wahyu khusus dari Allah (yang 100% benar), sedangkan etika duniawi adalah respons manusia berdosa terhadap wahyu umum Allah (yang bisa benar dan bisa salah). Kepada anak didik yang masih kecil, para pendidik Kristen harus bijaksana mengajar etika dan moralitas dengan cara yang mudah dimengerti. Misalnya, mengajar mereka agar tidak berbohong, tidak mencuri, dll bukan dengan menakuti-nakuti mereka, tetapi dengan mendorong mereka melakukannya sebagai respons cinta mereka kepada Tuhan dan perintah-perintah-Nya. Ini yang membedakan etika Alkitabiah dengan etika duniawi. Kalau dunia mengajar anak dari kecil untuk tidak berbohong, tidak mencuri, dll sebagai suatu perintah yang menakutkan, tetapi etika Kristen yang Alkitabiah mengajarkan bahwa kita melakukan semuanya itu sebagai respons kita mengasihi-Nya dan firman/perintah-Nya (1Yoh. 5:3).

Lalu kepada para mahasiswa/i di kampus, para pendidik Kristen bisa meningkatkan kualitas dalam mendidik mereka agar memiliki etika. Saya baru mengikuti Seminar Pemuda: Etos Kerja Kristen dan Pengelolaan Finansial Keluarga di gereja saja (GRII Andhika, Surabaya) pada tanggal 24-25 November 2008 oleh Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div. dan Bp. Ricky Sudarsono, S.E., M.R.E., CFP (Ketua Jurusan IBM—International Business Management di sebuah universitas “Kristen” di Surabaya). Nah, pada hari pertama seminar, Bp. Ricky sebagai seorang dosen yang berpengalaman di universitas tersebut memaparkan bagaimana beliau memaparkan prinsip-prinsip etika Kristen sebelum beliau mengulas teori bisnis. Beliau menyadari bahwa hal ini bisa dianggap aneh di universitas “Kristen” yang sudah menjadi atheis praktis tersebut, tetapi beliau melakukannya dengan tujuan agar para mahasiswa memiliki etika di dalam berbisnis, sehingga tidak menjadi penipu-penipu cerdik lalu celakanya memakai label “Kristen.”

(2) Mengajar karakter
Setelah selesai mengajar etika dan moralitas, para pendidik Kristen harus mengajar karakter kepada para anak didik mereka. Karakter ini berbicara mengenai sifat, kepribadian, dll dari seorang manusia. Nah, masalahnya adalah manusia sering menyembunyikan karakter mereka, seolah-olah mereka itu baik, apalagi kalau di gereja. Karakter kita akan nampak jelas ketika kita berhadapan dengan kesulitan. Orang yang memiliki karakter dewasa ketika menghadapi kesulitan, ia tidak mudah mengomel/bersungut-sungut atau meminta orang lain memperhatikan dirinya, tetapi orang yang karakternya dewasa akan berusaha menahan dan menyangkal diri di dalam kesulitan itu, lalu berusaha mencari jalan keluarnya serta berharap kepada Tuhan. Para pendidik Kristen harus mengajar para anak didik mereka untuk memiliki karakter Kristen yang dewasa, yaitu dengan:
Pertama, belajar menyangkal diri di dalam kesulitan. Ketika ada kesulitan menghimpit, para pendidik Kristen harus mengajar para anak didik mereka untuk tidak membicarakannya kepada teman-temannya terlebih dahulu, melainkan harus menyangkal diri. Mereka harus diajar untuk memecahkan masalah itu sendiri, sambil mengajar mereka untuk berserah kepada Tuhan di dalam doa. Jika memang masalah itu tidak bisa diatasi oleh para anak didik tersebut, mereka boleh mensharekan kepada temannya agar temannya bisa membantu mencari jalan keluarnya.

Kedua, belajar memperhatikan orang lain. Di dalam kesulitan dan dalam segala hal, biasakan untuk tidak mencari perhatian dari orang lain, tetapi justru memberi perhatian kepada orang lain. Para pendidik Kristen harus mengajar para anak didik mereka untuk tidak terus mencari perhatian dari temannya ketika mereka menghadapi masalah, tetapi justru ajari mereka untuk memperhatikan temannya yang mengalami masalah lebih berat dari dirinya. Hal ini mengajar mereka agar tidak egois.

Ketiga, belajar tidak memiliki kepribadian ganda. Setelah belajar memperhatikan orang lain, kita harus belajar juga untuk tidak berkepribadian ganda. Para pendidik Kristen harus mengajar para anak didik untuk tidak berkepribadian ganda atau munafik. Caranya adalah dengan memiliki ketulusan dan kasih. Kasih itu tidak berpura-pura/munafik/bertopeng (Rm. 12:9).

(3) Mengajar ilmu-ilmu
Setelah mengajar etika dan moralitas ditambah karakter, para pendidik Kristen baru mengajar para anak didik mereka tentang ilmu-ilmu. Saya meletakkannya di urutan terakhir, karena ilmu memang adalah urutan terakhir setelah pembentukan iman, etika, moralitas, dan karakter. Ilmu yang diajarkan oleh para pendidik Kristen ini pun harus dihakimi oleh iman dan etika Kristiani. Hal ini tidak berarti para pendidik Kristen hanya mengajar ilmu-ilmu yang cocok dengan iman Kristiani saja. Para pendidik Kristen harus mengajar semua ilmu, tetapi mereka harus jujur mengakui dan mengatakan kepada para anak didiknya tentang kesalahan suatu ilmu jika ilmu itu melawan iman Kristen. Mengatakan kesalahan itu pun harus dengan bahasa yang sederhana, supaya para anak didik dari kecil sudah mengerti mana yang benar dan mana yang salah, lalu menunjukkan ketidakberesan yang salah itu. Kalau anak didik kita sudah beranjak remaja, dewasa, bahkan sudah mahasiswa/i, sebagai para pendidik Kristen, kita dituntut untuk lebih kritis lagi mengajar dan menghakimi semua ilmu sesuai dengan kebenaran Alkitab. Kita dituntut untuk berani mengatakan ilmu tertentu itu salah sambil menunjukkan ketidaklogisan dan ketidakberesan cara berpikir ilmu tertentu yang salah itu.


b) Mengajar bijaksana
Setelah mengajar etika dan moralitas, karakter, dan ilmu-ilmu, para pendidik Kristen dituntut untuk mengajar para anak didik mereka tentang kebijaksanaan. Kepandaian dan akhlak itu perlu dan penting, tetapi harus disertai dengan kebijaksanaan. Kebijaksanaan yang harus diajarkan oleh para pendidik Kristen meliputi dua hal:
(1) Bijaksana dalam mengambil keputusan
Sejak kecil, para pendidik Kristen harus mengajar para anak didik untuk bijaksana dalam mengambil keputusan. Bagaimana caranya? Tentu dengan mengajar mereka konsep-konsep sederhana tentang bijaksana, lalu mengajar dan mengaitkan konsep bijaksana itu dengan Allah sebagai Sumber Bijaksana. Setelah itu, baru, mereka dididik untuk bijaksana dalam mengambil keputusan menurut kehendak dan pimpinan-Nya. Apa yang dimaksud dengan bijaksana mengambil keputusan? Para pendidik Kristen harus mengajar kepada para anak didik bahwa bijaksana dalam mengambil keputusan itu adalah bijaksana dalam mengambil keputusan di saat tertentu bukan bertujuan untuk memikirkan diri sendiri, tetapi juga memikirkan aspek dan orang lain. Dengan kata lain, bijaksana dalam mengambil keputusan menuntut kematangan rohani dan mementingkan kepentingan orang lain.

Kepada para anak didik yang lebih dewasa, seperti mahasiswa/i, para pendidik/dosen Kristen harus lebih menekankan bagaimana bijaksana dalam mengambil keputusan yang tepat di saat mendesak. Hal ini penting, mengingat usia mereka yang cukup dewasa dan menuju ke jenjang karier dan pernikahan. Keputusan tersebut diambil bukan berdasarkan hikmat manusia saja, tetapi terlebih berdasarkan hikmat Allah yang melampaui hikmat manusia.

(2) Bijaksana dalam mengelola: waktu, keuangan, dll
Selain bijaksana dalam mengambil keputusan, para pendidik Kristen juga harus mengajar para anak didik tentang bijaksana dalam mengelola: waktu, keuangan, dll. Sebelum kita mengajar mereka untuk bijaksana mengelola waktu, keuangan, dll, terlebih dahulu kita mengajar mereka tentang konsep nilai. Ajarkanlah kepada mereka bahwa sesuatu memiliki nilai dan nilai itu ditentukan oleh Kebenaran Allah. Jika nilai sesuatu itu tinggi, belajarlah mengelola waktu dan keuangan demi mengejar nilai tersebut, sebaliknya jika nilai sesuatu itu rendah, tidak usah terlalu meributkan sesuatu tersebut. Setelah mengajar mereka tentang konsep nilai, maka ajarkan mereka bahwa waktu itu anugerah Allah bagi kita yang harus dipertanggungjawabkan. Lalu, ajarkanlah kepada mereka bagaimana mengatur waktu secara tepat dan menomersatukan hubungan pribadi dengan Allah sebagai aktivitas terpenting di dalam waktunya. Dari sini, kita melatih dan mendidik anak dari kecil untuk menTuhankan yang patut diperTuhankan di dalam hidup dan waktu yang dianugerahkan-Nya. Selain waktu, uang pun adalah anugerah Allah yang diberikan kepada kita untuk dipertanggungjawabkan. Sehingga, para pendidik Kristen harus mengajar para anak didik untuk bijak mengelola uang Tuhan tersebut untuk kemuliaan-Nya. Caranya, ajarkan mereka untuk pertama-tama memberikan uang persembahan kepada Tuhan sebagai hal yang terpenting, baru sesudah itu untuk keperluan lain, seperti: sekolah, jajan, dan bermain.

Kepada para mahasiswa/i, tugas para pendidik/dosen Kristen lebih berat lagi, yaitu mendidik mereka untuk mempertanggungjawabkan uang dan waktu yang Tuhan berikan demi kemuliaan-Nya. Ini lebih tidak mudah, mengapa? Karena para mahasiswa/i yang sudah besar sulit diatur apalagi diarahkan untuk menomersatukan Tuhan. Bukan hanya sulit diatur, apalagi bagi para mahasiswa yang sudah/sedang berpacaran, Tuhan dijadikan ban serep, lalu pacar dijadikan hal terpenting, maka seorang mahasiswa bisa lebih rela mentraktir pacarnya hampir setiap hari di restoran mahal dan menyediakan waktunya untuk berkomunikasi dengan pacarnya daripada memberikan persepuluhan dan persembahan untuk pekerjaan Tuhan dan menyediakan waktu untuk saat teduh. Inilah tugas berat dari seorang pendidik Kristen yang harus mengajar para mahasiswa/i untuk bijaksana dalam mengelola waktu dan keuangan. Caranya, sadarkan mereka apalagi mereka yang sedang berpacaran untuk lebih memikirkan masa depan ketimbang masa sekarang. Jika di masa sekarang, mereka tidak bisa mengelola waktu dan keuangan, maka bagaimana mungkin di masa depan mereka bisa bertahan apalagi nantinya menikah yang membutuhkan dana yang tidak murah. Oleh karena itu, ajarkan mereka untuk bijaksana dalam mengelola keuangan, salah satunya adalah hemat dan menabung, lalu bijaksana juga dalam mengelola waktu dengan tidak membuang-buang waktu untuk aktivitas yang tidak perlu.


c) Mengajar bertanggungjawab
Selain mengajar bijaksana, para pendidik Kristen harus mengajar para anak didiknya untuk bertanggungjawab. Dari kecil, ajarkan kepada mereka untuk selalu mempertanggungjawabkan apa yang telah mereka pikirkan, katakan, dan lakukan. Caranya, setelah seorang anak kecil selesai berkata sesuatu dan ada perkataannya yang salah, seorang guru Kristen yang beres harus segera menegur anak itu yang berkata salah. Jangan pernah sungkan atau malu menegur kesalahan anak, karena itu adalah hal penting. Jangan meniru pola pendidikan Montessori (berakar dari filsafat Tabula Rasa yang dicetuskan oleh J. J. Rouseau) yang mengajar bahwa setiap anak itu dilahirkan baik dan guru dibutuhkan untuk membentuk karakter anak itu lebih baik lagi. Itu bukan Kristen! Ketika dari kecil, guru Kristen tidak mau menegur kesalahan seorang anak, maka anak itu tidak tahu mana yang benar dan salah sampai anak itu bertumbuh dewasa. Jika demikian, yang patut disalahkan selain orangtuanya adalah gurunya juga. Para pendidik Kristen dituntut untuk tidak meniru format pendidikan dunia, karena Kekristenan mengajar hal yang berbeda total dari format pendidikan dunia khususnya dalam hal ini, di mana Tuhan Yesus mengajar, “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” (Mat. 5:37) Yakobus mengutip kembali pengajaran Tuhan Yesus ini di dalam Yakobus 5:12.

Kepada para mahasiswa/i, para pendidik Kristen lebih berat lagi dalam tugasnya mengajar hal ini. Mengapa? Karena seorang anak didik yang sudah besar sulit diajar untuk mempertanggungjawabkan segala sesuatu, apalagi di era postmodern di mana cuek-isme dijunjung tinggi (pragmatis). Meskipun berat, para pendidik Kristen tetap harus mengajar para mahasiswa/i untuk mempertanggungjawabkan segala sesuatu, sehingga di kemudian hari, mereka bisa hidup lebih dewasa lagi. Bagaimana caranya? Ketika ada seorang mahasiswa/i yang etikanya tidak beres di sebuah kelas, dosen Kristen yang beres harus menegurnya. Sayangnya, hal ini jarang kita jumpai lagi, apalagi di sebuah kampus “Kristen.” Jangankan ada dosen Kristen yang berani menegur mahasiswanya, dosennya sendiri ada yang tidak beres. Saya sedih melihat sikap seorang dosen di kampus “Kristen” yang merokok sebelum kelas dimulai, padahal di kampus ini diberlakukan peraturan tidak boleh merokok. Untung saja, mungkin, tidak banyak mahasiswa yang melihat tindakan dosen ini.


d) Melatih anak untuk hidup susah
Hal terakhir yang harus diajarkan oleh para pendidik Kristen adalah melatih para anak didik untuk hidup susah. Artinya ajarkan kepada mereka untuk memiliki mental yang lebih mandiri, yaitu berani menyangkal diri dan mencari jalan keluar sendiri ketika ada masalah. Contohnya, jika ada seorang anak didik yang bertanya tentang hal-hal yang sudah diajarkan sejak lama kepada gurunya, seorang guru Kristen tidak perlu terus menjawab pertanyaan tersebut. Ajari mereka untuk mencari jawaban sendiri misalnya dengan bertanya kepada teman atau memikirkan sendiri jawabannya.

Kepada para mahasiswa/i, para dosen Kristen harus melatih mereka untuk hidup susah juga. Tetapi tentu ini adalah tugas yang lebih sulit lagi, mengingat jika dosen Kristen ini mengajar di kampus swasta di mana banyak mahasiswanya naik mobil sendiri. Meskipun sulit, para dosen Kristen harus mengajar para mahasiswa/i untuk menyangkal diri dan mencari jalan keluar sendiri ketika ada masalah. Misalnya, latihlah mereka tentang logika dan bagaimana berpikir logis ketika ada masalah. Selain itu, latihlah mereka untuk mengerjakan pekerjaan yang sulit dan kotor, sehingga mereka terbiasa untuk hidup tidak terlalu enak-enakan. Anak yang sudah terbiasa mengerjakan sesuatu yang sulit dan kotor, anak itu akan lebih memiliki ketahanan yang kuat ketika nantinya harus mengalami kesusahan hidup yang lebih berat. Sayangnya, banyak mahasiswa yang tidak mampu menghadapi kesulitan hidup dikarenakan mereka dari kecil tidak diajar untuk berani susah. Bukan hanya mahasiswa, seorang hamba Tuhan pun sampai sekarang tidak berani susah, dalam arti jijik melihat sesuatu yang kotor, bahkan saya sendiri melihat di jok mobilnya ditutupi dengan alas surat kabar supaya tidak kotor. Waduh, kalau hal-hal sepele begini saja sudah seperti itu, bagaimana dia bisa berperang menghadapi kesulitan hidup?



3. Mendidik untuk Hidup Bersosialisasi
Setelah mendidik untuk mandiri, para pendidik Kristen harus mengajar para anak didik mereka untuk hidup bersosialisasi. Ini penting, supaya para anak didik Kristen tidak hanya diajar untuk berani mandiri, tetapi juga untuk berani berbagi hidup dengan temannya dan orang lain. Bagaimana caranya?
a) Mengajar pentingnya peranan orang lain
Poin dasar untuk mengajar para anak didik untuk hidup bersosialisasi adalah mengajar mereka pentingnya peranan orang lain, terutama teman dan orangtua. Ajarkan mereka bahwa manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk sosial. Ini bukan hanya belajar PPKn atau pelajaran Pancasila, tetapi ini mengarahkan mereka untuk belajar menerima teguran, kritikan, dll dari orang lain yang membangun ketika mereka bersalah. Dari situlah, seorang anak didik Kristen sejak kecil menerima realitas bahwa orang lain itu berperan di dalam hidupnya. Lalu, setelah dewasa, ia tidak akan hidup egois lagi. Tetapi, sayangnya, dunia postmodern sangat tidak menyukai kritikan yang membangun, karena bagi mereka, itu menghakimi. Alhasil, tidak usah heran, banyak pemuda/i dan orang dewasa/tua Kristen ketika ditegur dosanya, mereka akan marah-marah, apalagi orang yang sudah tua ketika ditegur, mereka akan balik memarahi kita yang menegurnya lalu mengatakan bahwa kita kurang ajar berani mengajari orang tua. Semuanya itu disebabkan karena tidak adanya pendidikan tentang bagaimana hidup bersosialisasi dengan orang lain.


b) Mengajar untuk memperhatikan orang lain
Setelah diajar mengenai pentingnya peranan orang lain, para anak didik Kristen harus diajar juga untuk memperhatikan mereka. Artinya, kita bukan memanfaatkan peranan orang lain itu demi keuntungan kita. Kita dituntut untuk memperhatikan orang lain. Para pendidik Kristen harus mengajar para anak didik mereka untuk segera tanggap ketika ada temannya yang sakit atau membutuhkan bantuan. Ketika anak dari kecil diajar demikian, maka saat dewasa pun, anak ini akan memperhatikan orang lain bahkan mereka yang lebih menderita.


c) Mengajar untuk berbagi berkat kepada orang lain
Wujud dari memperhatikan orang lain adalah dengan berbagi berkat kepada orang lain. Inilah tugas para pendidik Kristen di dalam mengajar para anak didik mereka. Didiklah mereka dari kecil untuk berbagi berkat kepada orang lain. Bagaimana caranya? Caranya adalah mendidik anak kecil untuk berbagi bekal makanan yang mereka bawa dari rumah kepada temannya. Hal ini mendidik anak kecil agar hidupnya tidak egois. Nanti, setelah beranjak dewasa, yaitu pada waktu mahasiswa/i, coba didik mereka bukan hanya berbagi makanan, tetapi juga berbagi hidup, pengetahuan, dan pengalaman, terutama mengenai iman dan karakter kepada orang lain, sehingga orang lain diberkati melalui sharing mereka. Jika ada teman mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugasnya, maka para mahasiswa/i dituntut untuk membantu meringankan kesulitan itu, mungkin dengan mengajari temannya yang belum mengerti itu. Ketika kita berbagi berkat kepada orang lain, selain orang lain diberkati, kita pun dikuatkan. Semakin kita banyak membantu mengajari teman yang belum mengerti, selain teman kita yang diberkati, kita pun juga mendapat banyak berkat yaitu bertambahnya ilmu yang kita kuasai. Saya bukan sekadar berteori, saya sudah menjalankannya dan telah mendapat banyak berkat dengan banyak sharing kepada orang lain.






V. KESIMPULAN DAN TANTANGAN BAGI KITA

Dari sekian banyak penjelasan tentang iman Kristen dan kedewasaan, kita bisa menyimpulkan beberapa hal:
1. Jangan pernah mengukur tingkat kedewasaan seseorang hanya dari hal-hal fenomenal, tetapi ukurlah tingkat kedewasaan dari segi esensial dan fenomenal.
2. Kedewasaan bukan sesuatu yang instan, tetapi sebuah proses. Maka dibutuhkan suatu waktu agar seseorang bisa menjadi dewasa. Oleh karena itu, jangan pernah SEGERA memvonis seseorang sebagai orang yang tidak dewasa. Kita boleh menegur dia sebagai orang yang masih kekanak-kanakan, tetapi kita harus melakukan tindakan yang membangun, misalnya melatih dia untuk hidup dewasa (bukan hanya sekadar menghinanya seperti anak kecil).
3. Karena kedewasaan adalah suatu proses, maka untuk membentuk kedewasaan seseorang, diperlukan media pendidikan Kristiani yang sehat dan bertanggungjawab. Pendidikan Kristen ini dimulai dari pendidikan orangtua yang dibarengi dengan pendidikan sekolah dan gereja yang sejalan. Semua pendidikan Kristen ini harus berpusat kepada Allah (Theosentris), sehingga anak-anak yang dididik pun memiliki takut akan Allah di dalam seluruh hidupnya.

Setelah kita belajar tentang penjelasan yang panjang dan kesimpulan singkat di atas, lalu apa yang menjadi respons kita? Apa kita mempelajari hal-hal tersebut sebagai teori yang memenuhi otak kita saja? Jika itu yang kita lakukan, percuma saja Anda membaca penjelasan di atas. Tetapi jika kita digerakkan Roh Kudus untuk memiliki komitmen menjalankan apa yang telah dipelajari, maka sasaran dan tujuan saya menyusun pemaparan ini tidaklah sia-sia dan yang terpenting, nama Tuhan dipermuliakan. Amin. Soli Deo Gloria.