04 August 2008

Roma 9:30-33: "ISRAEL" SEJATI ATAU PALSU-6: Siapakah Umat Pilihan Allah Sejati?-1

Seri Eksposisi Surat Roma:
Doktrin Predestinasi-6


“Israel” Sejati atau Palsu-6:
Siapakah Umat Pilihan Allah Sejati?-1


oleh: Denny Teguh Sutandio


Nats: Roma 9:30-33



Setelah mempelajari tentang problematika predestinasi bagian kedua di ayat 22 s/d 29, kita akan mengerti tentang siapakah umat pilihan Allah sejati di ayat 30 s/d 33.

Setelah menjelaskan bahwa umat pilihan Allah bukanlah semua bangsa Israel, tetapi beberapa orang (sisa) dari bangsa Israel (ayat 27) dan juga ada orang-orang yang dari bangsa bukan Israel/Yahudi yang juga termasuk kaum pilihan Allah, maka Paulus menyimpulkan pengajarannya di ayat 30, “Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Ini: bahwa bangsa-bangsa lain yang tidak mengejar kebenaran, telah beroleh kebenaran, yaitu kebenaran karena iman.” Pernyataan “Jika demikian” menunjukkan adanya akibat dari ayat sebelumnya. King James Version (KJV) menerjemahkannya, “What shall we say then?” (=Apa yang akan kita katakan kemudian ?) Di ayat sebelumnya, kita telah mempelajari bahwa umat pilihan Allah bukanlah seluruh bangsa Israel, tetapi sisa-sisa orang Israel dan beberapa orang dari non-Israel. Konsep ini sebenarnya sudah dibukakan sejak zaman Perjanjian Lama, tetapi sayangnya banyak ahli Taurat dan orang Farisi menutupinya lalu mengajarkan bahwa semua bangsa Israel adalah umat pilihan Allah yang harus memelihara Taurat. Mereka dengan bangganya berdoa di pasar dan tempat ramai dengan kalimat yang menyatakan diri sebagai kaum pilihan Allah (dan bukan orang kafir), dll. Padahal arogansi mereka sebenarnya sia-sia saja, karena fakta menunjukkan bahwa tidak semua orang Israel benar-benar Israel atau kaum pilihan Allah. Ditambah ada beberapa orang dari bangsa lain/non-Yahudi juga termasuk kaum pilihan Allah. Hal ini yang diajarkan Paulus di ayat 30 bahwa bangsa-bangsa lain (bangsa-bangsa non-Yahudi/Gentiles) yang tidak mengejar kebenaran (status yang dibenarkan), telah beroleh status tersebut, yaitu status dibenarkan melalui iman. Ada tiga proposisi yang akan kita renungkan di dalam ayat ini.

Pertama, bangsa-bangsa lain yang tidak mengejar kebenaran. Di dalam Alkitab terjemahan Inggris, bangsa-bangsa lain diterjemahkan Gentiles yang berarti orang kafir/bangsa non-Yahudi. Mengapa ada perbedaan ini? Karena Israel menganggap bahwa bangsa mereka saja yang dipilih Allah, sedangkan sisanya kafir karena tidak dipilih Allah. Akibatnya, status ini tidak membuat mereka bersyukur, malahan menghina bangsa lain yang kafir sebagai bangsa najis yang tidak dipilih Allah. Bangsa-bangsa non-Yahudi ini memang tidak memiliki Taurat seperti Yahudi, sehingga mereka tidak mengejar kebenaran. Kata kebenaran di sini dalam bahasa Yunaninya dikaiosunē yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris: righteousness atau kebenaran keadilan. Pdt. Hasan Sutanto, D.Th. di dalam Perjanjian Baru Interlinear (2003) menafsirkan “kebenaran” ini sebagai status yang dibenarkan (hlm. 852). Artinya, bangsa-bangsa non-Yahudi tidak mengejar status yang dibenarkan. Ini memang benar di mata orang Yahudi, karena di mata mereka, bangsa non-Yahudi tidak memiliki Taurat, maka mereka tidak bisa mengejar status yang dibenarkan. Di satu sisi, hal ini memang benar, tetapi di sisi lain, tidak. Mengapa? Karena selain Taurat sebagai penyataan khusus Allah kepada Israel, bangsa-bangsa non-Yahudi juga memiliki Taurat yang ditanamkan di dalam hati mereka dan alam semesta ciptaan-Nya sebagai penyataan umum Allah bagi semua orang (Roma 1:19-20). Meskipun demikian, penyataan khusus Allah tetap diperlukan.

Kedua, bangsa-bangsa non-Yahudi telah beroleh status kebenaran. Meskipun mereka tidak mengejar status yang dibenarkan (karena tidak memiliki Taurat), ternyata Allah berdaulat mutlak dan mengasihi mereka, sehingga mereka pun telah beroleh status kebenaran tersebut. Perbedaan waktu di dalam kedua kata kerja antara “mengejar” dan “memperoleh” ini sangat unik. Di dalam struktur waktu, kata “mengejar” menggunakan bentuk present, sedangkan kata “memperoleh” menggunakan bentuk aorist. Beberapa terjemahan Inggris juga membedakan kedua kata kerja ini dengan struktur waktu yang berbeda. English Standard Version (ESV) menerjemahkan, “That Gentiles who did not pursue righteousness have attained it,…” King James Version (KJV) hampir sama menerjemahkan, “That the Gentiles, which followed not after righteousness, have attained to righteousness,…” New King James Version (NKJV) juga menerjemahkan, “That Gentiles, who did not pursue righteousness, have attained to righteousness,” Terjemahan Indonesia pun juga membedakan kedua kata kerja ini dengan keterangan waktu yang berbeda, di mana di dalam Alkitab LAI, ditambahkan kata “telah” pada pernyataan “telah beroleh status kebenaran”. Ini berarti status dibenarkan (justified) oleh Allah didapatkan jauh sebelum mereka mengejar status dibenarkan tersebut. Ini adalah kedaulatan dan anugerah Allah yang jauh melampaui respon manusia. Dengan kata lain, kita dibenarkan melalui anugerah Allah yang mendahului respon manusia. Ketika kita sudah dibenarkan melalui anugerah Allah, sudah seharusnya kita bersyukur atas anugerah-Nya yang begitu agung ini.

Ketiga, bangsa-bangsa non-Yahudi dibenarkan melalui iman. Bukan hanya melalui anugerah Allah, bangsa-bangsa non-Yahudi yang dipilih Allah dibenarkan melalui iman. Kata “karena” di dalam pernyataan “kebenaran karena iman” seharusnya diterjemahkan melalui/oleh iman. International Standard Version (ISV) menerjemahkannya, “Gentiles, who were not pursuing righteousness, have attained righteousness, a righteousness that comes through faith.” English Standard Version (ESV) menerjemahkannya, “That Gentiles who did not pursue righteousness have attained it, that is, a righteousness that is by faith;” Semuanya ini menunjukkan bahwa umat pilihan Allah dibenarkan melalui anugerah Allah yang memberikan iman kepada umat-Nya. Jadi, iman bukan penyebab Allah membenarkan seseorang, tetapi iman adalah sarana/media/cara yang dianugerahkan Allah agar seseorang dibenarkan oleh Allah. Dengan kata lain, adalah SALAH ketika Alkitab terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) menerjemahkan, “...Bangsa-bangsa lain yang bukan Yahudi tidak berusaha supaya hubungan mereka dengan Allah menjadi baik kembali. Tetapi karena mereka percaya, maka Allah membuat hubungan mereka dengan Dia menjadi baik kembali.” Ingatlah, iman tidak mengakibatkan Allah membenarkan seseorang, tetapi iman merupakan akibat atau media/cara di mana Allah membenarkan seseorang. Iman itu sendiri merupakan anugerah Allah. Lalu, mengapa di dalam ayat ini dikatakan bahwa bangsa-bangsa non-Yahudi dibenarkan melalui iman? Dibenarkan melalui iman di dalam ayat ini berarti bangsa-bangsa non-Yahudi dibenarkan melalui iman yang bersandar kepada/di dalam Allah yang telah menyatakan diri-Nya secara khusus kepada mereka. Dengan kata lain, mereka dibenarkan melalui iman bukan dibenarkan melalui iman sebagai sesuatu yang aktif tanpa anugerah Allah, tetapi kita dibenarkan melalui iman yang bersandar mutlak pada anugerah Allah. Anugerah Allah menjadi dasar/sumber kita dapat memiliki iman yang melaluinya kita dapat dibenarkan oleh-Nya. Hal ini juga berlaku bagi kita. Kita adalah orang Indonesia yang tentu adalah orang-orang non-Yahudi. Tetapi puji Tuhan, beberapa dari kita yang bukan orang Yahudi telah dipilih Allah menjadi umat-Nya melalui penyataan diri-Nya secara khusus di dalam Kristus dan Alkitab, sehingga melalui Roh Kudus yang menggenapkan karya keselamatan Kristus di dalam hati kita, kita dibenarkan oleh Allah melalui anugerah Allah di dalam iman kepada Kristus.

Kalau bangsa-bangsa non-Yahudi dibenarkan melalui iman, maka sebaliknya di ayat 31, Paulus menjelaskan, “Tetapi: bahwa Israel, sungguhpun mengejar hukum yang akan mendatangkan kebenaran, tidaklah sampai kepada hukum itu.” Kedua ayat kesimpulan pendek dari Paulus ini memutarbalikkan semua paradigma dari banyak orang Israel pada waktu itu. Dulu, Israel berpikir bahwa merekalah yang termasuk umat pilihan Allah yang dibenarkan Allah karena mereka memiliki Taurat, sedangkan orang-orang di luar Israel adalah bangsa kafir yang tidak mungkin dibenarkan Allah. Tetapi Paulus memutarbalikkan paradigma ini dengan mengatakan bahwa justru beberapa orang dari bangsa-bangsa non-Yahudi yang dianggap “kafir” oleh orang-orang Yahudi sebenarnya telah dibenarkan oleh Allah melalui iman, sebaliknya hanya sisa orang dari seluruh bangsa Israel (bukan semua orang Israel) yang dibenarkan oleh Allah. Justru banyak orang Israel yang merasa sudah memiliki Taurat dan dibenarkan Allah, malahan merekalah yang sesungguhnya tidak sampai kepada hukum yang membenarkan dari Allah. Pernyataan “hukum yang akan mendatangkan kebenaran” berarti hukum kebenaran (KJV: the law of righteousness). Secara spesifik, kata “hukum” di sini dalam bahasa Yunani diterjemahkan sebagai hukum Musa (konteksnya adalah Israel). Lalu, kata “sampai” dalam struktur waktu Yunani memakai bentuk aorist. Dengan kata lain, meskipun di dalam perjalanan hidupnya Israel mengejar hukum kebenaran, sebenarnya dari dulu/kekekalan, beberapa dari mereka telah ditetapkan-Nya untuk tidak sampai/tiba pada hukum tersebut. Bagaimana dengan kita ? Seringkali kita sebagai orang Kristen menghina mereka yang bukan Kristen sebagai orang yang layak binasa. Memang benar bahwa di luar Kristus, mutlak tidak ada jalan keselamatan. Tetapi tidak berarti argumen ini mengakibatkan kita menghina mereka yang belum percaya kepada Kristus. Mungkin sekali beberapa orang non-Kristen saat ini telah dipilih Allah sebelum dunia dijadikan untuk menjadi umat-Nya, dan menunggu waktu-Nya, orang-orang ini lama-kelamaan pasti akan menjadi Kristen. Oleh karena itu, sebagai orang Kristen sejati, kita tidak perlu menghina mereka sebagai orang kafir, dll, tetapi kita harus menjadi pewarta Kabar Baik (Injil). Ingatlah, kita mungkin dipakai-Nya menjadi saluran berkat dan terang bagi beberapa orang dari non-Kristen yang telah dipilih Allah. Kita dipersiapkan-Nya untuk menuntun beberapa umat pilihan Allah yang sementara ini belum Kristen agar mereka nantinya menjadi pengikut Kristus yang taat dan setia. Bersediakah kita dipakai-Nya untuk kemuliaan-Nya ? Sebaliknya, kita yang terus merasa diri sudah mendapatkan wahyu khusus Allah di dalam Alkitab, kita malahan yang tidak sampai pada pengertian total akan Alkitab. Mengapa demikian ? Karena sebenarnya kita bukan umat pilihan Allah, tetapi anak-anak setan yang sementara masih indekos di dalam gereja (mengutip pernyataan Pdt. Dr. Stephen Tong). Memang hampir tipis perbedaan antara orang Kristen sejati (anak-anak Tuhan) dengan orang “Kristen” palsu (anak-anak setan). Secara fenomena, mungkin keduanya juga rajin beribadah, suka belajar theologia, “melayani ‘Tuhan’”, dll, tetapi yang membedakannya adalah motivasi dan hati. Motivasi dan hati seorang Kristen sejati adalah murni untuk melayani Tuhan dan rendah hati, sedangkan motivasi dan hati seorang “Kristen” palsu adalah untuk kepuasan dan kebanggaan diri. Biarlah kita mengintrospeksi diri kita ketika kita sedang melayani Tuhan.

Mengapa Israel tidak sampai kepada hukum yang membenarkan tersebut ? Paulus menjelaskannya di ayat 32, “... Karena Israel mengejarnya bukan karena iman, tetapi karena perbuatan. Mereka tersandung pada batu sandungan,” Ini adalah ayat kunci kita mengerti ayat 31, yaitu Israel (sudah) tidak sampai kepada hukum kebenaran tersebut karena mereka mengejarnya berdasarkan/melalui perbuatan, BUKAN berdasarkan/melalui iman. Kata “karena” dalam bahasa Yunani adalah ek atau ex yang berarti from (dari), dll. Beberapa terjemahan Inggris menerjemahkannya secara berbeda. American Standard Version (ASV), Geneva Bible, King James Version (KJV) dan New King James Version (NKJV) menerjemahkannya dengan kata by (oleh). Di sisi lain, English Standard Version (ESV) menerjemahkan, “Because they did not pursue it by faith, but as if it were based on works.” dan ISV menerjemahkannya, “Because they did not pursue it on the basis of faith, but as if it were based on works.” Dari perbedaan terjemahan ini, kita bisa menyimpulkan bahwa bangsa Israel tidak bisa sampai pada hukum kebenaran karena mereka mengejar kebenaran berdasarkan perbuatan mereka, bukan melalui iman. Kata “perbuatan” ditambahkan oleh Pdt. Hasan Sutanto, D.Th. di dalam Perjanjian Baru Interlinear (2003) dengan: perbuatan-perbuatan (yang dituntut Taurat) (p. 852) Dengan kata lain, perbuatan-perbuatan itu lah yang mendorong mereka terus mengejar hukum kebenaran. Mengapa demikian ? Karena mereka berpikir bahwa dengan melakukan seluruh hukum Taurat, mereka akan dibenarkan. Dari mana mereka berpikir demikian ? Apakah dari Abraham, dll ? TIDAK. Justru Abraham dipanggil oleh Allah BUKAN karena ia telah berbuat baik, melainkan justru ia dipanggil oleh-Nya di dalam suatu kondisi di mana lingkungan sekitarnya adalah para penyembah berhala. Allah memanggil Abraham murni karena kedaulatan dan anugerah-Nya. Juga kepada Abraham, Allah membenarkannya melalui iman, BUKAN melalui perbuatan baik. Inilah kekonsistenan pengajaran Alkitab dari Perjanjian Lama sampai dengan Perjanjian Baru, dengan satu esensi utama yaitu manusia dibenarkan dan diselamatkan melalui anugerah Allah di dalam iman. Jika ada orang Katolik yang mengajarkan bahwa kita dibenarkan melalui iman + perbuatan baik (dengan dalih mengutip Yakobus 2:14-26 plus “tradisi rasuli”), maka ajaran itu jelas salah. Mengapa? Karena sejak Perjanjian Lama, Alkitab melaporkan kepada kita bahwa Abram pernah berbuat dosa dengan tidak mengakui Sarai sebagai istrinya kepada Firaun (Kejadian 12:10-20). Uniknya dosa ini dilakukan setelah Allah memanggilnya (Kejadian 12:1-9). Kalau benar manusia dibenarkan melalui iman + perbuatan baik, maka Allah tidak jadi memberkati Abram, padahal tidak ada satu pun catatan Alkitab yang mengatakan bahwa setelah Abram berdosa demikian (Kej. 12:10-20), maka Allah mengurungkan niat-Nya untuk memberkati Abram seperti yang telah dijanjikan-Nya (Kejadian 12:2-3). Dosa kedua Abraham yaitu tidak mempercayai janji Allah. Hal ini ditunjukkanya dengan menyodorkan Ismael saja yang menerima berkat perjanjian Allah (Kejadian 17:18), karena pada waktu itu Abraham belum dikaruniai oleh Allah seorang anak dari rahim Sara, padahal Ia telah berjanji sebelumnya bahwa Abraham akan diberkati dengan keturunan yang banyak (Kejadian 17:6-8). Kembali, jika manusia dibenarkan melalui iman + perbuatan baik, maka “seharusnya” Alkitab mencatat bahwa pada saat itu, Allah langsung memutuskan ikatan perjanjian-Nya dengan Abraham “hanya” gara-gara Abraham meragukan janji-Nya dengan menyodorkan Ismael untuk menerima berkat perjanjian. Tetapi, sayangnya Alkitab TIDAK pernah mengajar hal demikian. Sayangnya Katolik sampai hari ini TIDAK bisa membuktikan ajaran mereka (yang diklaim berasal dari “tradisi rasuli”) bahwa manusia dibenarkan melalui iman + perbuatan baik, tetapi mati-matian menekankan ajaran yang katanya dari “tradisi rasuli” tetapi melawan konsep Alkitab dari Perjanjian Lama sampai dengan Perjanjian Baru. Inikah yang disebut “tradisi rasuli”? Apakah para rasul Kristus tidak menyadari pengajaran penting ini seperti mayoritas orang Katolik ? Ataukah sebenarnya mayoritas orang Katolik dengan sengaja memutarbalikkan berita Injil dengan menitikberatkan pembenaran melalui perbuatan baik (dalihnya: iman + perbuatan baik)? Inilah kegagalan presuposisi manusia berdosa yang juga sama-sama menggunakan dalih dan argumentasi “rohani”, yaitu “tradisi rasuli”, tetapi sayangnya sama sekali TIDAK memahami kekonsistenan PL dan PB sebagai satu benang merah yang saling terkait di dalam Alkitab.

Bukan hanya mereka mengejar hukum kebenaran melalui perbuatan saja, mereka pun tersandung pada batu sandungan. Batu sandungan bisa diterjemahkan batu yang membuat mereka jatuh tersandung (Sutanto, 2003, p. 852). King James Version (KJV) menerjemahkannya stumblingstone. Kata ini dalam bahasa Yunani proskommatos. Kata ini berasal dari dua kata Yunani yaitu proskomma yang berarti a stub, that is, (figuratively) occasion of apostasy (sesuatu yang membuat tersandung, yaitu, secara figuratif berarti waktu/alasan pemurtadan) dan lithos yang berarti stone (batu). Dr. John Gill di dalam tafsirannya John Gill’s Exposition of the Entire Bible menafsirkan bahwa batu sandungan ini adalah Perkataan Injil (the word of Gospel) atau lebih tepatnya (salib) Kristus sendiri yang oleh Paulus dikatakan, “untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan” (1 Korintus 1:23). Untuk lebih jelasnya, mari kita perhatikan ayat 33, di mana Paulus mengatakan, “seperti ada tertulis: "Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu sentuhan dan sebuah batu sandungan, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan."” Ayat ini diambil dari Yesaya 28:16 yang berbunyi, “sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: "Sesungguhnya, Aku meletakkan sebagai dasar di Sion sebuah batu, batu yang teruji, sebuah batu penjuru yang mahal, suatu dasar yang teguh: Siapa yang percaya, tidak akan gelisah!” Ayat ini ditujukan kepada para pemimpin Yerusalem (baca dari ayat 7) yang tidak mau mendengarkan Firman Tuhan. Beberapa penafsir yang saya baca tafsirannya hampir sama menunjuk kedua batu ini sebagai batu pembangun bangunan yang mengarah kepada Kristus. Batu ini ada dua, yaitu batu penguji dan batu penjuru yang mahal. Batu penguji dalam KJV diterjemahkan a tried stone. Batu ini menurut Albert Barnes dalam tafsirannya Albert Barnes’ Notes on the Bible menunjuk kepada suatu bahan logam (metals) yang diuji dengan api untuk menguji kualitasnya. Barnes mengutip hal ini dari: Ayub 23:10 ; Mazmur 66:10; Yeremia 9:6 (LAI: Yer. 9:7); dan Zakharia 13:9. Hal ini penting supaya bangunan yang akan dibangun dari batu tidak hancur di titik dasar. Batu penguji/yang diuji ini, menurut Matthew Henry dalam tafsirannya Matthew Henry’s Commentary on the Whole Bible menunjuk kepada para nabi di PL yang membangun dasar kebenaran. Lalu, batu ini disusul dengan batu penjuru yang mahal. KJV menerjemahkannya a precious corner stone. Kembali, Barnes menafsirkan bahwa batu ini adalah batu yang sangat kuat/kokoh untuk menahan sudut bangunan. Batu ini juga menunjuk kepada Kristus. Di dalam Kisah Para Rasul 4:11, Rasul Petrus yang penuh Roh mengatakan, “Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan--yaitu kamu sendiri--, namun ia telah menjadi batu penjuru.” “Batu penjuru” di dalam ayat ini berarti kepala dari penjuru/ujung (the head of the corner) yang menunjukkan bahwa Kristus adalah Sumber/Kepala segala sesuatu. Di dalam Efesus 2:19-20, Rasul Paulus mengatakan hal serupa, “Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.” “Batu penjuru” di dalam ayat ini dalam KJV diterjemahkan the chief corner stone. Dengan kata lain, kedua batu ini menunjuk kepada Kristus sebagai dasar yang telah diuji untuk suatu bangunan sekaligus sebagai dasar bangunan yang kokoh dan tak tergoyahkan. Kedua batu inilah yang mengakibatkan Allah berfirman bahwa barangsiapa yang percaya, tidak akan gelisah. Mengapa Allah berkata bahwa barangsiapa yang percaya kepada kedua batu ini tidak akan gelisah ? Kedua batu ini memiliki makna dan mengarah kepada Kristus (bukan sekedar batu biasa), sehingga barangsiapa yang percaya kepada-Nya tidak akan gelisah (ayat 33: tidak akan dipermalukan ; bandingkan: Roma 10:11; 1 Petrus 2:6). Kristus itulah yang menjadi batu sandungan bagi bangsa Israel yang terus mengagungkan perbuatan sebagai syarat diselamatkan. Dengan kata lain, bangsa Israel tidak sampai kepada hukum Kebenaran, selain karena mereka mengejarnya melalui perbuatan, mereka tidak mengarah kepada Kristus di dalam iman, sehingga mereka kehilangan arah dan makna hidup sejati. Bagaimana dengan kita? Sebagai kaum pilihan Allah, kita seharusnya berfokus kepada iman dan bersumber hanya kepada Kristus yang adalah batu teruji dan batu penjuru yang mahal/berharga. Kristus itulah yang menjadi Sumber Hidup kita yang kepadanya hidup kita terkait mutlak. Ketika kita berfokus kepada iman dan bersumber hanya kepada Kristus, hidup kita pasti akan memiliki makna sejati meskipun harus melewati berbagai pergumulan dan penderitaan. Sudahkah kita menjadikan Kristus sebagai Tuhan dan Raja dalam hidup kita? Sudahkah kita menjadikan Kristus sebagai Batu Teruji dan Batu Penjuru yang Berharga di dalam hidup kita? Itulah tandanya kita adalah umat pilihan Allah sejati.

Melalui perenungan keempat ayat ini, kita seharusnya disadarkan bahwa umat pilihan Allah sejati hidup hanya melalui anugerah Allah di dalam iman kepada Kristus. Iman ini yang mengarahkan dan menuntun hidup kita terus berjalan dan setia kepada-Nya meski harus menderita aniaya. Sudahkah kita hidup oleh iman kepada/di dalam Kristus saja ? Amin. Soli Deo Gloria.

Matius 10:28-31: CHRISTIANITY AND PERSECUTION: The Providence-2

Ringkasan Khotbah: 26 Maret 2006

Christianity & Persecution: The Providence 2
oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.
Nats: Mat. 10:28-31



Pendahuluan
Sejak awal Tuhan Yesus telah membukakan bahwa setiap orang yang mau menjadi murid-Nya, yaitu ia harus menyangkal diri, memikul salibnya dan mengikut Aku, hal ini berarti banyak tantangan dan penderitaan yang harus dihadapi maka gambaran domba di tengah serigala yang diberikan oleh Kristus itu sangatlah tepat. Adalah wajar kalau dunia membenci anak Tuhan sejati sebab dunia telah terlebih dahulu membenci Kristus, Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya (Yoh. 1:12). Perhatikan, Firman Tuhan tidak pernah mengajarkan kalau anak Tuhan akan selalu hidup nyaman dan bahagia. Tidak! Jadi, jangan tertipu dengan ajaran sesat yang sengaja diajarkan demi untuk suatu tujuan pribadi yang sekular, hedonis, dan humanis materialis. Perhatikan, Tuhan tidak pernah menjanjikan hidup nikmat ataupun kesuksesan, Tuhan janjikan pimpinan dan penyertaan bagi anak Tuhan yang sejati.

Sangatlah mengenaskan, gereja seharusnya menjadi manifestasi Kerajaan Sorga di dunia tapi kini, mulai berkompromi dengan ajaran dunia yang humanis materialis. Ironis, gereja tidak menyenangkan hati Tuhan tetapi gereja justru takut kalau tidak dapat menyenangkan hati manusia. Di tengah situasi dan kondisi yang kacau ini Tuhan menegaskan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka (Mat. 10:28). Betapa indah dan bahagia hidup kita kalau kita mempunyai rasa takut akan Tuhan dalam segala aspek kita selalu ingin menyenangkan hati Tuhan. Takut akan Tuhan menjadi landasan providensia Allah. Providensia Allah adalah Allah yang sejati akan menyertai, memimpin dan menjaga umat-Nya yang sejati. Kalau burung pipit yang harganya sangat murah Tuhan pelihara apalagi manusia yang adalah umat Allah, tentu Tuhan akan menjaga bahkan di tengah tantangan dan bahaya Dia tetap menjaga dan melihara anak-Nya.
I. Allah adalah satu-satunya sandaran absolut.
Perasaan takut yang Tuhan tanamkan dalam diri setiap manusia seharusnya menyadarkan manusia bahwa manusia adalah makhluk relatif. Perasaan takut ini muncul ketika orang merasakan tidak ada keseimbangan. Seorang yang berbadan dan berotot besar tidak akan takut pada anak kecil umur dua tahun yang mencoba menantang dia. Lain halnya kalau ada orang lain yang mempunyai badan lebih besar mencoba menantangnya maka saat itulah rasa takut itu akan muncul. Ketakutan ini merupakan ketakutan yang relatif. Di saat perasaan takut itu muncul, barulah orang menyadari kalau dirinya membutuhkan sesuatu yang dapat disandari. Sandaran itu dapat berupa kekuatan fisik, kekayaan, kedudukan dan lain-lain namun semua sandaran itu sifatnya relatif belaka. Dapatlah dibayangkan bagaimana jadinya hidup manusia yang relatif tapi menyandarkan hidupnya pada sandaran relatif. Setiap orang pasti mempunyai sandaran atau lebih tepatnya ia harus mencari sandaran sebab tanpa sandaran, orang akan terus berada dalam ketakutan.

Manusia sadar kalau sesungguhnya ia butuh sandaran tetapi orang tidak tahu kepada sandaran manakah yang sifatnya absolut yang layak untuk dijadikan sandaran. Jangan pernah berpikir kalau kita menyandarkan hidup kita pada dunia, hidup kita akan bahagia. Tidak! Iblis memang akan mengabulkan semua permintaan kita tapi ingat, semua pemberian itu tidak gratis. Selama kita masih berguna maka iblis akan memberikan apa saja yang kita minta tapi setelah kita tidak berguna lagi maka kita akan dibuang, habis manis sepah dibuang. Hanya bersandar pada Allah yang berdaulat, Allah yang absolut, kita akan mendapatkan sukacita sejati. Allah berdaulat menata seluruh alam semesta mulai dari titik alfa hingga titik omega; tidak ada satu pun rencana Allah dalam alam semesta ini yang dapat digagalkan oleh manusia. Bayangkan, seandainya Allah yang menjadi sandaran itu seperti “allah“ yang ada dalam konsep manusia – “allah“ bereaksi tergantung dari aksi manusia sedangkan keinginan manusia selalu berubah-ubah maka “allah“ pasti akan mengalami kesulitan akibatnya seluruh alam semesta tidak dapat tertata dengan baik. Teologi Reformed menegaskan Allah di dalam kedaulatan-Nya memilih manusia untuk diselamatkan. Manusia tidak suka dengan Allah yang berdaulat, manusia juga ingin berdaulat sehingga muncul konsep bahwa segala sesuatu yang akan terjadi barulah terjadi apabila manusia beriman atau percaya. Jadi, segala sesuatu ditentukan oleh imannya dan kalau yang diimani tersebut ternyata tidak terjadi maka kesalahan ada pada imannya, yaitu kurang beriman. Pertanyaannya sekarang adalah siapakah manusia sehingga berani mengatur Tuhan? Lalu kalau “allah“ dapat diatur manusia masih layakkah “dia“ dijadikan sandaran? Biarlah kita mengevaluasi diri, kepada siapakah kita menyandarkan hidup kita? Iman sejati harus kembali pada Allah sejati. Ingat, Allah sejati tidak dapat dipermainkan manusia dan manusia yang berani bermain-main dengan Allah sejati maka ia sendiri yang akan hancur karena itu, bertobatlah. Anak Tuhan yang sejati tidak boleh takut pada semua oknum yang ada di dunia tetapi takutlah kepada Dia yang dapat membunuh baik tubuh sekaligus jiwa di dalam neraka. Kita telah mempunyai Allah sejati, Allah yang mutlak sehingga kita tidak memerlukan lagi “allah“ lain sebagai cadangan. Celakanya, hari ini masih banyak orang Kristen yang meragukan reliability Tuhan sehingga orang mencari “allah cadangan“ maka itu merupakan suatu pelecehan. Betapa bodohnya manusia kalau masih meragukan reliability Tuhan.

II. Allah adalah satu-satunya jaminan pasti.
Allah adalah Allah yang mutlak karena itu, Dia layak menjadi sandaran. Pertanyaannya sekarang adalah kenapa dan atas dasar apa sehingga Dia mau menjadi sandaran dan membela manusia? Kalau kita datang pada seorang yang kuat untuk dijadikan sebagai backing tentulah kita ingin adanya suatu jaminan kuat yang memastikan kita bahwa dia akan membela ketika kita dalam kesulitan. Pertanyaannya adalah apa yang bisa menjamin si bodyguard dapat tetap setia pada kita? Bagaimana jika suatu saat dia berbalik melawan kita, bukankah tidak ada jaminan yang pasti? Puji Tuhan, kita mempunyai Allah yang sejati, Dia tidak akan meninggalkan kita. Tuhan Allah mencipta kita, Dia pemilik kita maka wajarlah kalau Dia menjaga kita. Namun hal itu bukanlah dasar providensia Allah sebab manusia dapat memberontak.

Allah yang memelihara hidup kita adalah Allah yang kuat, Allah yang berdaulat, Allah yang absolut maka yang menjadi pertanyaan adalah siapakah kita sehingga Allah mau memelihara kita? Melalui Rasul Paulus, rahasia Ilahi itu dibukakan: Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri tetapi menyerahkan-Nya untuk kita maka bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita? Sama halnya kalau si bodyguard tadi mau menyerahkan anaknya pada kita untuk dijadikan sebagai jaminan bahwa dia akan tetap setia dan menjagai kita maka kita pasti tidak akan merasa kuatir kalau-kalau dia akan berkhianat, bukan? Tapi di dunia ini, manusia mana yang mau menyerahkan anaknya untuk dijadikan sebagai jaminan? Dalam segala hal, dunia selalu membutuhkan jaminan untuk memastikan segala sesuatu terjadi, entah jaminan dalam bentuk uang, perkataan, surat perjanjian, dan masih banyak lagi bentuk jaminan lain tetapi di antara semua jaminan itu tidak ada jaminan yang berbentuk nyawa. Kita telah mendapatkan garansi terbesar, yaitu Allah yang sejati itu telah memberikan nyawa Anak-Nya pada kita (Rm. 8:31-32); kasih-Nya yang besar telah dibuktikan dengan menyerahkan anak-Nya.

Seluruh karya Kristus mulai dari inkarnasi sampai kebangkitan-Nya merupakan jaminan bagi kita. Allah menyertai kita mulai dari inkarnasi sampai kebangkitan Kristus. Ketika Tuhan Yesus hendak dilahirkan, malaikat datang memberitahukan kabar sukacita ini pada Maria maka itu menjadi gambaran Allah menyertai dan ketika Tuhan Yesus hendak naik ke Sorga, Ia memberikan perintah terakhir yang menjadi amanat agung bagi kita dan Tuhan tetap beserta kita (Mat. 28:19-20). Allah beserta kita ada dalam konteks Kristus hadir ke tengah dunia from the empty womb to the empty tomb maka ini menjadi jaminan Allah beserta kita. Barangsiapa percaya dalam Kristus maka ia diselamatkan. Allah rela menggunakan segala kedaulatan-Nya untuk memelihara kita karena kita adalah umat pilihan-Nya.

III. Allah memberikan providensia eksklusif pada umat-Nya.
Jika Allah di pihak kita, siapakah lawan kita? (Rm. 8:31), ini berarti Tuhan tidak membela semua manusia, Tuhan hanya berpihak pada umat-Nya. Pertanyaannya sekarang adalah apakah kita ada di pihak Allah? Benarkah Allah di pihak kita? Yang menjadi penentu apakah Allah di pihak kita atau kita di pihak Allah adalah Allah bukan manusia. Kalau kita yang merasa di pihak Allah itu belumlah sah sebab bisa saja itu hanya perasaan relatif. Hanya Allah yang absolutlah yang berhak menentukan bahwa kita berada di pihak-Nya. Semua itu barulah sah ketika Dia berkata, “Engkau ada dipihak-Ku“ maka itu menjadi kekuatan bagi kita. Allah yang sejati memberikan providensia pada umat-Nya yang sejati. Kalau kita adalah umat-Nya maka Allah akan beserta kita dan Tuhan menuntut kita untuk taat bukan mempertahankan hak. Alkitab tidak pernah mengajarkan pada kita untuk kita mempertahankan hak asasi sebaliknya Tuhan mengajarkan pada kita untuk taat dan mengorbankan diri. Yang menjadi pertanyaan adalah ketika manusia tidak mempertahankan hak, apakah itu berarti kita boleh dipermainkan? Tidak! Pembalasan itu menjadi hak Tuhan, Tuhanlah yang akan menjadi pembela kita. Inilah prinsip providensia Allah. Orang yang berada dalam providensia Allah adalah orang yang bersandar pada Allah maka saat itulah Tuhan akan memimpin dan percayalah, pimpinan Tuhan ini tidak akan sia-sia. Kalaupun kita harus berkorban maka pengorbanan itu tidak akan sia-sia karena Tuhan akan turut bekerja dalam setiap langkah kita. Jikalau Tuhan ada di pihak kita maka siapakah yang berani melawan kita?

Alkitab menegaskan bahwa Tuhan akan memelihara dan menjaga setiap anak-anak-Nya yang bersandar pada-Nya. Perhatikan, Tuhan menjaga bukan berarti anak Tuhan tidak akan mengalami kesulitan; kita mungkin akan mengalami penderitaan, aniaya bahkan mati tetapi ingat, dalam semua aspek itu Tuhan tetap menjaga artinya setiap hal yang terjadi berkait dengan rencana Tuhan. Teladan yang terbaik adalah Ayub, dia hidup menderita, Tuhan tahu sampai dimana batas kemampuannya maka pada titik kritis Tuhan mengambil alih. Iblis tidak akan dapat menghancurkan anak Tuhan yang sejati. Iblis tahu akan hal ini sehingga satu-satunya cara untuk menghancurkan Kekristenan adalah menjatuhkan orang Kristen palsu yang notabene adalah anak iblis dimana Kekristenan juga yang terkena dampaknya. Hati-hati, janganlah kita merasa senang kalau kita dibela oleh iblis sebab suatu hari nanti ketika kita tidak diperlukan lagi maka kita akan dikorbankan.

Sesungguhnya, dunia tahu dan dapat membedakan mana Kristen sejati dan mana Kristen palsu. Orang Kristen palsu pasti akan menjadi sasaran iblis. Sedangkan orang kristen sejati, kuasa iblis tidak akan dapat menganggu dan menghancurkannya justru kuasa kegelapan itu berbalik menghantam dan menghancurkan dirinya sendiri. Kuasa iblis tidak akan dapat menghancurkan anak Tuhan sejati karena providensia Allah itu selalu beserta. Namun hati-hati, kalau dengan cara vulgar iblis tidak berhasil maka ia akan terus mencari cara untuk menghancurkan anak Tuhan. Dalam sebuah KKR di sebuah kota di Jatim, seorang dukun dengan kuasa kegelapan mencoba menghancurkan Pdt. Stephen Tong namun kuasa kegelapan justru menghantam dirinya dan ia jatuh terpental dan terluka hingga 3 hari lamanya. Dalam hal ini, bukan Pdt. Stephen Tong yang hebat, bahkan ia sendiri tidak tahu ada orang dengan kuasa kegelapan hendak menghancurkannya namun satu hal yang pasti, Tuhanlah yang menjaganya dengan menjauhkannya dari kuasa-kuasa kegelapan. Sesungguhnya orang yang bermain-main dengan kuasa kegelapan itu tahu bahwa melawan anak Tuhan yang sejati tidak akan dapat berhasil dan justru akan mendatangkan celaka bagi dirinya sendiri.

Setiap penderitaan yang kita alami itu tidak lepas dari rencana Tuhan yang indah. Penderitaan yang kita alami itu bernilai kekekalan. Tuhan ubahkan setiap penderitaan kita menjadi kemuliaan bagi-Nya. Seorang aktor Taiwan tampan baru saja menikah namun belum genap setahun pernikahan mereka ternyata diketahui ia menderita sakit kanker dan penyakit itu menggerogoti ketampanannya. Wajah yang tampan berubah menjadi sangat menyeramkan tetapi dalam penderitaannya, ia tetap beriman dan bersandar pada Tuhan. Iman percayanya membawa orang percaya kepada Kristus, ia menjadi kesaksian yang hidup. Kesaksian iman yang indah ini difilmkan dengan judul “Love Never Fails“ dan menjadi berkat. Banyak kesaksian-kesaksian serupa yang hari ini telah menjadi berkat. Tuhan tidak membiarkan penderitaan yang kita alami itu menjadi sia-sia. Berbeda halnya dengan penderitaan yang dialami oleh dunia, semua tidak bernilai kekekalan. Tuhan ubahkan penderitaan menjadi sesuatu yang bermakna kekekalan dan menjadi berkat bagi banyak orang. Inilah bedanya antara seorang anak Tuhan yang sejati dan anak Tuhan yang palsu. Pertanyaannya sekarang adalah kita berada di pihak mana? Biarlah kita pakai sisa hidup kita untuk hal-hal yang bermakna kekekalan dan segala kemuliaan hanya bagi Dia. Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber:

KASUS STT SETIA, UJIAN TOLERANSI (Pdt. Ir. Victor Mangapul Sagala, D.Th.)

KASUS SETIA, UJIAN TOLERANSI

oleh: Pdt. Ir. Victor Mangapul Sagala, D.Th.




Sekolah Tinggi Theologi Injili Arastamar (SETIA) untuk kesekian kalinya mengalami musibah. Ribuan massa datang menyerang kampus dan asrama mereka. Alasannya sepele, seorang mahasiswa dituduh mencuri sandal. Padahal menurut mahasiswa, yang terjadi adalah mahasiswa melempar seekor tikus dengan sandalnya! Entah bagaimana caranya, peristiwa itu berlanjut dengan hadirnya massa dengan begitu cepat membawa alat-alat tajam, melempari asrama mahasiswa putra mau pun asrama putri.

Untuk mencegah jatuhnya banyak korban akibat amukan massa tersebut, terpaksa aparat keamanan mengevakuasi seluruh mahasiswa dari kampus dan asrama-asrama yang berlokasi di Kampung Pulo, Pinang Ranti, Jakarta Timur. Ratusan mahasiswa putri tinggal di sebuah penampungan, jauh dari kampus. Ratusan lainnya mahasiswa putra terpaksa tinggal dan tidur seadanya di lantai di gedung DPR sambil mengadukan nasib mereka kepada wakil-wakil rakyat yang seharusnya membela mereka dari berbagai macam ketidakadilan. Penulis sangat terharu menyaksikan bagaimana mereka tertidur dan telentang di sebuah ruangan yang sangat pengap. Merasa kepanasan tidur di dalam ruangan, sebagian lagi tertidur di luar di lapangan parkir. Mereka benar-benar menderita, apalagi ketika tadi malam (Kamis) air dimatikan oleh pihak penguasa!

Dalam kondisi yang demikian, Wali Kota Jakarta Timur, Murdani, memberikan pernyataan yang membuat keluarga besar SETIA semakin menderita: “Warga minoritas harus menyadari keberadaannya” . Apa maksudnya ucapan tersebut? Apa maknanya “menyadari keadaannya?” Apakah itu berarti kelompok minoritas (dalam hal ini Kristen) tidak boleh tinggal di daerah dengan penduduk mayoritas (Islam), dan sebaliknya? Wah, bagaikan gaya bahasa orang muda, “Hari gini masih ada pemimpin atau pejabat yang berlaku tidak adil berdasarkan minoritas dan mayoritas?”


Membangun Toleransi Beragama
Apakah pemahaman seperti di atas, sekadar dimiliki oleh oknum tertentu atau telah merasuk banyak rakyat, khususnya para pejabat? Jangan jangan, ada pejabat atau pemerintah yang mengkapling- kapling Republik ini dengan daerah Islam dan daerah Kristen. Jika demikian, kita telah mengalami masalah dan kemunduran besar.

Pernyataan Wali Kota tersebut mengingatkan penulis pada masa lalu, di mana mantan menteri agama (alm) Alamsjah Ratuperwiranegara melarang pembangunan Gereja dengan alasan daerah mayoritas Muslim. Karena itu, mantan KASAD, (alm) T. B.Simatupang memberi reaksi keras. Dengan nada tinggi beliau menegaskan bahwa tidak ada daerah di kawasan RI yang dapat disebut sebagai daerah kelompok tertentu, Muslim atau Kristen. Ketika RI direbut dari tangan penjajah, tidak satu jengkal pun dapat dinyatakan sebagai daerah Kristen atau Islam. Alasannya, karena semua rakyat bersatu tanpa membedakan SARA, bersama-sama berjuang untuk kemerdekaan RI. Setiap wilayah yang disebut dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan milik bersama rakyat Indonesia, tanpa memandang bulu.

Jadi, memunculkan istilah minoritas mayoritas atau daerah Kristen atau Muslim merupakan pengingkaran kepada sejarah perjuangan anak-anak bangsa yang secara bersama telah memproklamirkan: “Bertanah air satu, tanah air Indonesia”. Orang-orang seperti itu harus segera mengubah pola pikir dan sikapnya. Dan jika ada Wali Kota atau pejabat yang masih memiliki pola pikir diskriminatif seperti itu, sungguh sangat bertentangan dengan semangat perjuangan bangsa. Juga bertentangan dengan esensi RI sebagai negara kesatuan.

Itulah sebabnya, sungguh menyejukkan hati ketika membaca pernyataan reaksi dua tokoh Muslim, keduanya mantan Ketua Umum PB HMI, Dr. Anas Urbaningrum dan Hasanuddin yang memprotes pernyataan dan tindakan diskriminatif Wali Kota tersebut di atas. Anas memprotes sikap tidak adil dengan memunculkan isu mayoritas. Dia juga menegaskan bahwa kelompok-kelompok yang berbeda “harus hidup berdampingan secara tulus, damai, harmonis serta jauh dari sikap semena-mena”. Hasanuddin malah memberi usulan keras dan tegas, yaitu agar setiap pejabat yang tidak adil dan memunculkan isu negatif tersebut di atas “sebaiknya berhenti saja jadi pejabat”. (SH, 29.7.08).

Menjadi perenungan dan tantangan buat kita semua, apakah rakyat kita di seluruh wilayah NKRI, khususnya yang tinggal di Kampung Pulo, Jakarta Timur memiliki pandangan dan kerinduan yang sama seperti kedua tokoh tersebut di atas? Jika demikian, maka kehadiran SETIA di wilayah tersebut tidak perlu dipersoalkan. Sebaliknya, disyukuri. Jika ada yang perlu dipermasalahkan, maka hal itu bukan karena keyakinan yang dianut. Tetapi lebih kepada masalah sikap dan perilaku yang tidak benar. Sikap yang demikian, memang perlu dikoreksi, tapi itu pun harus dilakukan dengan semangat persaudaraan.

Dalam hal ini memang sangat diperlukan semangat toleransi dan nasionalisme yang tinggi. Terlebih lagi, dibutuhkan penghayatan agama yang benar. Bukankah, agama tanpa kecuali, mendorong umat-Nya untuk mencintai kehidupan serta memeliharanya? “Kasihilah sesamamu manusia SEPERTI dirimu sendiri”, demikian sabda Tuhan Yesus (Luk.10:27). Nampaknya, seruan itulah yang dicoba dilakukan mahasiswa SETIA sehingga mereka rela dievakuasi tanpa memberi serangan balik. Alangkah nikmatnya hidup di NKRI jika semua orang memiliki pola pikir dan semangat yang demikian, di mana setiap individu benar-benar diakui, diterima dan dikasihi.- Soli Deo Gloria.-


Salam hangat,www.mangapulsagala.com(Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan–Why.2:10)

31 July 2008

Update terakhir STT SETIA setelah penyerangan

Setelah penyerangan dan pengrusakan kampus STT Arastamar (SETIA) & asramanya di Kamp Pulo, Pinang Ranti, Jakarta Timur, Pak Walikotanya malah berkomentar: "warga minoritas harus menyadari keberadaannya". Inilah pada umumnya watak dan posisi seorang pejabat publik di negara Indonesia? Mari kita doakan dan membantu para mahasiswa yg menjadi korban penyerangan tsb. Menurut kuasa hukum SETIA ada dua mahasiwa yg dibacok kepalanya pakai pedang samurai di depan mata polisi, kini dirawat di RS UKI. Mungkinkah kita masih berharap dari kearifan & keberanian Gubernur DKI Jakarta di dalam menegakkan keadilan mereka yang ditindas dan diperlakukan seperti sebagai "penduduk kelas 2" dari DKI Jkt?

28 July 2008

DUALISME DALAM KEKRISTENAN DAN KEABSOLUTAN KEBENARAN ALKITAB SEBAGAI FIRMAN ALLAH (Anna Mariana Poedji C., M.A.)

Dualisme Dalam Kekristenan dan Keabsolutan Kebenaran Alkitab sebagai Firman Allah

oleh: Anna Mariana Poedji Christanti, S.Si., M.Si., M.A.




Pendahuluan: Dualisme, Sebagai Permasalahan yang Sedang Dihadapi
Manusia sekarang ini tidak lagi percaya akan kebenaran. Bahkan lebih parah lagi, bahwa mereka tak mengakui konsep kebenaran. Hal ini adalah sesuatu yang sangat mengkhawatirkan, sebab dengan tidak dapatnya kebenaran diterima, maka segala sesuatu tak lagi memiliki arah dan patokan. Artinya terjadi hilangnya fokus pada kebenaran. Selain itu akan sangat mudah bagi setiap orang untuk kehilangan kemutlakan. Di sinilah terjadi mode relativitas, sebab kebenaran bersifat tidak normatif bagi semua orang. Inilah akibat hilangnya universalitas kebenaran. Dan ketika sifat universalitas kebenaran itu hilang, maka akan terjadi juga kehilangan kebenaran universal dari suatu wawasan dunia yang utuh. Segalanya akan menjadi kebenaran-kebenaran yang sifatnya fragmental tanpa koherensi di dalamnya (Holmes, 2000:18-19).Kebenaran-kebenaran yang bersifat fragmental itu dapat terlihat di antaranya:pada banyak kalangan yang menganggap sesuatu benar di bidang agama dan sekaligus tidak benar di bidang pengetahuan serta sejarah, dan sebaliknya. Kebenaran di sini terbagi dua dan kedua bagian itu tidak berhubungan satu dengan yang lainnya. Keadaan ini dapat menimbulkan beberapa akibat negatif, sebagaimana dikemukakan oleh Cupples (1996:17-19).

Pertama, ilmu terpisah dari agama. Masalah spiritual terpisah dari masalah intelektual. Ajaran Alkitab tentang penciptaan jelas disangkal oleh ilmu. Sebab menurut ajaran itu segala sesuatu berhubungan dengan Allah sebagai Penciptanya, dan inilah yang disebut sebagai masalah-masalah agama. Demikian juga saat ini maraknya gejala saintisme (mengutamakan ilmu dan mengabaikan yang lainnya) yang memutlakkan kebenaran sains dan menolak peranan iman seiring dengan gejala fanatisme agama (mengutamakan agama dan mengabaikan yang lainnya) yang memutlakkan kebenaran pewahyuan Allah dan menolak ilmu pengetahuan.

Kedua, iman terpisah dengan akal budi. Berbagai hal yang akali tidak dimasukkan dalam wilayah tak nyata dan tak masuk akal seperti halnya iman. Masalah iman adalah masalah yang tak dapat diukur, diraba, dilihat, dan dibuktikan secara matematis atau fisis. Sementara itu fenomena alam ini menurut intelektual harus dapat dijelaskan secara masuk akal dan hal ini ada dalam wilayah ilmu. Kegemaran manusia untuk menekuni segala hal yang terlihat, yang kasat mata, yang dapat diukur dan dihitung, dapat diperkirakan, dapat dimanipulasi sesuai dengan kehendak mereka, menyebabkan mereka sangat memegang ilmu sekuler (ilmu dugaan) lebih daripada iman. Bagi mereka, iman adalah sesuatu yang bersifat metafisika, yang tak terlihat, tak kasat mata, tak realistis, tak terukur dan terhitung, tak dapat diperkirakan, serta tak dapat dimanipulasi sesuai kehendak mereka. Sementara itu yang berhubungan dengan iman adalah Alkitab sebagai Firman Allah. Hal ini pula yang mendorong fenomena pemisahan antara iman dan ilmu, antara iman dan akal budi, secara khusus antara Kekristenan dan ilmu. Ada orang - orang yang sangat memegang ilmu tetapi terlepas dari iman (inilah golongan ilmuwan atheis); ada pula yang memegang iman begitu kuat dan tetapi tak berilmu (inilah golongan orang Kristen yang bodoh); dan ada banyak pula yang memegang keduanya secara bersamaan namun mereka cenderung mengkotak-kotakannya (inilah golongan Kristen dualisme). Keduanya tak berhubungan sama sekali, demikian ungkapan mereka.

Ketiga, iman terpisah dengan sejarah. Segala peristiwa dalam Alkitab ditolak sebagai sesuatu peristiwa yang nyata dalam sejarah kehidupan. Akibatnya, ketika seseorang berhadapan dengan Alkitab, ia bagaikan menghadapi suatu negeri dongeng atau legenda.

Keempat, pemakaian bahasa menjadi terpisah. Pemaknaan istilah-istilah tertentu disesuaikan pengalaman pembicara dan tidak memiliki arti obyektif. Perkataan seseorang hanya akan dapat dibenarkan sebagai pengungkapan pengalaman pribadi secara subyektif apabila pengalaman rohani terpisah dari pengalaman yang lain. Di sini pemakaian bahasa secara umum berubah. Hal benar secara subyektif, merupakan tanda bagi pengalaman subyektif saja. Penilaian benar dan salah hanya berlaku bagi pembicara yang bersangkutan saja, dan tidak bagi umum. Akhirnya dalam pemberitaan karya Allah yang ajaib, tak ada peristiwa-peristiwa obyektif yang benar dan yang berarti bagi semua orang di semua tempat. Demikianlah nyata terdapat penyangkalan arti dan nilai bahasa secara umum, sekaligus pengakuan iman kita secara khusus.

Kehidupan rohani dan kehidupan akademis yang terpisah tentulah berakibat buruk. Di antaranya dapat disebutkan sebagai berikut:(1) gaya hidup sekuler yang memisahkan Allah dari kehidupan sehari-hari; (2) kemajuan ilmu pengetahuan bersamaan dengan kemerosotan moral manusia; (3) marginalisasi iman/agama dari kehidupan masyarakat modern; (4) peningkatan kejahatan yang dilakukan oleh kelompok intelektual; (5) hancurnya makna hidup berkeluarga dalam perspektif Tuhan; (6) berkembangnya gaya hidup bebas meliputi semua aspek hidup manusia; (7) tidak dihargainya otoritas, hukum, dan agama; (8) semakin merosotnya penghargaan hak azasi manusia; (9) kehidupan manusia tidak dihormati sebagaimana seharusnya; dan (10) fokus hidup pada diri sendiri dan hidup tanpa visi, misi, dan makna. Setiap orang yang beriman pasti menghadapi tantangan intelektual.

Dualisme yang terjadi pada orang Kristen membuktikan mereka beriman tanpa akal. Selain itu, dualisme akan menjadikan orang Kristen tidak dapat melakukan Firman Tuhan yang terdapat dalam Matius 5:14-16 sebab hal ini akan membuat orang Kristen tidak dapat menjadi terang bagi orang lain, sebab iman percayanya pada Kekristenan hanya bersifat pribadi dan tidak berlaku bagi orang lain.

Selain itu pula, sikap dualisme menjadikan seorang Kristen tidak ada bedanya dengan dunia ini yang lebih mementingkan pengalaman (Roma 12:2). Manusia modern yang senantiasa dilingkupi tantangan dan kegerahan atas dunia yang kejam, harus mencari pelarian kepada dunia khayal yang penuh kehangatan dan kesenangan. Pada akhirnya, pengalaman indah dalam pengenalan akan Allah menjadi suatu hal yang tak ada bedanya dengan kehangatan dan kesenangan rekayasa seperti halnya pengalaman kebatinan atau pemakaian obat bius.

Keberadaan Alkitab sebagai Firman Allah yang bernilai benar karena Allah adalah kebenaran itu sendiri lebih mustahil lagi untuk diterima. Terlampau banyak alasan untuk menolak Alkitab, bisa jadi karena anggapan bahwa Alkitab berisi berbagai macam hal yang tak dapat diterima akal, sekedar isapan jempol, dan dongeng belaka. Selain itu karena tak realistis dan tak dapatnya dimanipulasi sekehendak hati. Itulah sebabnya paparan ini disusun untuk dapat memperlihatkan kebenaran yang bersifat absolut dari Alkitab sebagai Firman Allah.


Argumentasi Apologetis Terhadap Kesalahan Pengertian
Pada dasarnya dualisme yang terjadi dalam Kekristenan tersebut berpangkal pada dikotomi iman dan ilmu. Dari sinilah munculnya berbagai dualisme Kekristenan yang lainnya. Oleh karena itu pembahasan mengenai dualisme iman dan ilmu menjadi fokus utama dalam menyusun paparan ini. Selanjutnya diharapkan dengan paparan inilah akan diperoleh gambaran dengan sendirinya berbagai dualisme lainnya berikut realita, akibat, serta premis kebenaran-Nya maupun konklusinya sebagai argumentasi apologetis yang dapat diajukan.

Berdasarkan pemikiran-pemikiran Cornelius Van Til, Frame (2002:145, 156-157) mengatakan bahwa rasio (kapasitas untuk berpikir dan berlaku yang disesuaikan aturan logika, yang mencakup juga kapasitas pembentuk keyakinan, menarik kesimpulan dan merumuskan argumentasi) berhak menilai konsistensi logis dari wahyu, namun rasio itu juga harus tunduk secara mutlak kepada Allah. Allah yang rasional, memiliki sistem kebenaran yang mutlak. Rasionalitas manusia yang diciptakan Allah, sesungguhnya mengekspresikan rasionalitas Allah. Di sinilah hukum kontradiksi ini berlaku, yaitu bahwa “natur Allah terekspresi secara koherensi dalam tingkat ciptaan” (Antara Pencipta dan yang dicipta selalu ada tenggang yang penting yang disebut sebagai Kualitas Pembeda. Perbedaan secara kualitas dan perbedaan secara esensi menunjukkan bahwa antara Pencipta dan yang dicipta pasti tidak sama. (Tong, 1996:27). Bagi orang-orang tidak percaya, walaupun nampaknya mereka menindas kebenaran namun pada kenyataannya mereka tetap mempertahankan sejumlah sisa dari pengetahuan akan Allah yaitu pengetahuan akan sumber sejati dan makna dari posibilitas dan probabilitas. Merujuk kepada ‘kesadaran umum’ dari manusia di dalam pengertian ini bukan hanya sah, tetapi secara mutlak diharuskan. Allah tidak mungkin melakukan, menyetujui, atau memerintahkan apa yang salah secara moral, atau yang ‘berkontradiksi dengan hukum keyakinan yang telah Ia tanamkan di dalam natur manusia. Allah tidak ilogis, jadi Ia sangat konsisten dengan hukum-hukum dari naturNya sendiri. Allah hanya mewahyukan hal yang konsisten dengan naturNya sebagai satu Keberadaan yang mengidentifikasikan diri-Nya sendiri.

Penerimaan kemampuan rasio dalam melakukan penalaran atas realita alam sebagai ciptaan Allah justru menggambarkan harkat dan martabat manusia, demikian dijelaskan dalam pengarahan Referensi Pembina PTPAMB 1996 UK. Petra Surabaya oleh Ibu Magdalena Pranata S., S.Th., M.Si. Selanjutnya dijelaskan bahwasanya:kemampuan manusia berikut rasionya bersifat sangat terbatas, dan ada dalam wilayah natural / alamiah. Fokus penalaran manusia adalah menemukan kebenaran dalam alam semesta yang dibatasi oleh ruang dan waktu, dapat menghasilkan ilmu pengetahuan. Melalui proses penalaran manusia mampu menghasilkan ilmu dan teknologi, namun sifatnya relatif, belum final, dan bisa salah.

Manusia juga menerima pengetahuan supra alami, yang dinyatakan atau diwahyukan oleh Allah. Pengetahuan kebenaran sifatnya melampaui alam, sehingga rasio manusia tidak akan mampu untuk memahaminya. Karena manusia tidak mampu memahami pengetahuan supra alami dengan rasionya yang terbatas, Allah yang membukakan kebenaran pengetahuan supra alami itu, dengan mengaruniakan pengertian atau hikmat oleh pertolongan kuasa Roh Allah. Ketika manusia dapat mempercayai pengetahuan supra alami itu sebagai suatu kebenaran, itulah iman.

Dalam Ibrani 11:1-3, 6, 8, 13 nyata bahwa iman adalah pengembalian rasio kepada kebenaran. Iman bukan sekedar mau percaya tanpa mengetahui apa yang ia percaya. Iman bukan sekedar pengertian di dalam otak tanpa kelanjutan apapun. Tetapi iman harus sampai pada menerima, mengakui apa yang ia mengerti (Tong, 1996:29).

Segala sesuatu berhubungan dan tak terpisahkan dalam hal logika dengan fakta, atau rasio dengan pengalaman, demikian juga dalam pengalaman manusia, subyek, obyek, dan norma. Apa yang kita tahu tentang satu hal, akan mempengaruhi pengetahuan kita akan hal yang lainnya. Oleh karenanya, adalah salah jika seseorang berupaya mencari kebenaran hanya melalui wilayah natural saja sebagai suatu bentuk ciptaan, secara terpisah dari wahyu Allah yang dinyatakan juga melalui wilayah supranatural.

Sesungguhnya Allah (di dalam anugerah umumNya) mengekang tujuan-tujuan orang tidak percaya, sehingga “orang tersebut tidak dapat melaksanakan prinsipnya dengan sepenuhnya”. Sehingga, orang tidak percaya hanyalah memiliki sedikit ‘kebenaran’ yang masih dapat ditemukan. Namun anehnya, manusia telah menjadikan diri-Nya sebagai ’standar tertinggi atas apa yang benar dan salah, atas yang tepat dan keliru’. Inilah suatu bentuk penilaian yang palsu oleh manusia. Suatu bentuk kesombongan yang sama sekali tidak mendasar.

Usaha menyangkal Allah Alkitab dengan cara apapun berarti berpendapat bahwa alam semesta secara ultimat tidaklah bermakna – yaitu merupakan hasil dari peluang, atau ‘murni kebetulan’ demikianlah Frame (2002:244-245) dalam memaparkan pemikiran Cornelius Van Til. Selanjutnya dikatakan bahwa kalau toh Allah itu ada, maka bagiNya dunia ini misterius, seperti juga bagi kita. Jadi dalam hal ini, apakah gunanya kemutlakan atau berbagai penilaian yang coba dibangun manusia, bila semuanya adalah misterius (atau tanpa jawaban dan kepastian) ?

Dalam dunia ilmu pengetahuan terdapat kontrakdisifitas yang tak mampu dipecahkan ilmuwan sendiri. Ini terbukti bila para evolusionis yang mentahbiskan golongannya sebagai ilmuwan mempercayai adanya proses perubahan progresif dalam keseluruhan alam semesta, sementara itu dunia ilmu pengetahuan sendiri mengakui adanya hukum entropi yang merupakan ukuran kemerosotan segala yang ada di alam semesta ini sebagai suatu fakta. Secara ilmiah, entropi adalah kadar energi tak termanfaatkan di bumi ini, yang senantiasa bertambah. Ini menunjukkan adanya kontradiksifitas dalam dunia ilmu pengetahuan sendiri. Secara nyata dapat menunjukkan bahwa dasar berpijak kebenaran ilmu pengetahuan masih dapat dipertanyakan dan lebih parah lagi adalah bahwa hal ini tak dapat dijadikan sebagai pedoman suatu keyakinan.

Dalam hal ini fakta alam yang diakui dunia ilmu pengetahuan, sesuai dengan catatan Alkitab mengenai kemerosotan segala sesuatu di alam ini, sebenarnya seiring kejatuhan manusia pertama kali ke dalam dosa. Yang pada akhirnya menunjukkan keterbatasan manusia, yang dapat dirangkum sebagi berikut:(1) manusia tidak mampu menciptakan atau membinasakan; (2) manusia serta lingkungannya sedang dan senantiasa merosot; dan (3) manusia tidak dapat memperbaiki alam atau wataknya sendiri tanpa pertolongan dari luar.

Iman melampaui akal budi (rasio), tetapi kalau iman Kristen itu benar, maka ajarannya harus juga masuk akal. Artinya antara iman dan akal budi seharusnya tidak bertentangan. Beriman tidak berarti mudah percaya tanpa alasan. Iman berarti keterlibatan diri secara penuh di dalam kehidupan yang berdasarkan penyataan Allah. Penyataan itu sesuai dengan kenyataan dan dengan demikian sungguh masuk akal. Akal budi dan iman berhubungan erat. Penyataan Allah dapat melalui akal budi maupun iman. Kalau iman dipisahkan dari akal budi, iman menjadi cara untuk mencapai suatu pengalaman rohani tanpa mempertimbangkan apakah ada alasannya yang logis, sehingga beriman seperti melangkah ke dalam kegelapan, bukan ke dalam terang.

Bukti bahwa iman melampaui akal budi adalah bahwa apa yang ditangkap oleh akal budi atau rasio yaitu ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang tak mampu membuat penilaian mengenai apa pun yang diukurnya. Banyak orang yang berkecimpung di bidang ilmiah mengakui bahwa dalam ilmu pengetahuan tidak ada sesuatu yang dapat dijadikan pedoman dalam menerapkan penemuan-penemuan mereka. Dalam ilmu pengetahuan itu sendiri tidak ada sesuatu yang dapat menentukan apakah laser akan digunakan untuk persenjataan perang ataukah untuk terapi kesehatan. Penilaian semacam inilah yang samasekali tak dapat ditentukan dengan menggunakan metode ilmiah. Ilmu pengetahuan dapat menceritakan kepada kita bagaimana sesuatu bergerak, tetapi tidak dapat menerangkan mengapa pergerakan itu demikian. Apakah ada tujuan tertentu dalam alam semesta ini, tidak pernah dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan hanya dapat memberitahukan ‘bagaimana’, tetapi tidak dapat memberitahukan ‘mengapa’, (Little, 1999:90-91).

Herlianto dalam Nisbah Antara Iman Kristen Dengan Ilmu Pengetahuan, yang dimuat dalam Surat Gembala edisi April 1991 memaparkan:
Iman sangat diperlukan bagi ilmu pengetahuan, karena ia memberi visi dan dimensi pelengkap untuk melihat realita materi yang lebih utuh, yaitu yang menyangkut nilai-nilai sebaliknya ilmu pengetahuan diperlukan oleh umat beriman untuk memperjelas pengertiannya dalam mengerti Firman Tuhan yang telah mewahyukannya dalam Alkitab ataupun alam. (1991:70)

Ini memberikan pengertian bahwa iman menjadi penuntun manusia untuk mengenali kehendak Allah, sedangkan ilmu dapat mengabdikan diri-Nya untuk kesejahteraan manusia dan kemuliaan nama Allah Sang Pencipta. Iman memberikan arah dan nilai sehingga ilmu dapat dikembangkan secara positif, bermoral, manusia dan bertanggung jawab. Kehidupan iman dan profesi keilmuan harus dikembangkan dalam relasi pribadi dengan Allah sebagai sumber kehidupan dan kebenaran. Dinyatakan dalam kehidupan yang bermoral, mengasihi, dan menjadi berkat bagi semua.

Jelaslah di sini bahwa iman merupakan cahaya dan kompas bagi ilmu pengetahuan, dan ilmu merupakan tongkat bagi iman. Ilmu menjadi bahasa iman yang melayani dan mengabdi masyarakat. Keduanya saling meneguhkan dan melengkapi demi mewujudkan kesejahteraan hidup bagi manusia dalam kebenaran. Demikianlah iman yang berdasarkan wahyu Allah menjadi perspektif untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, menjadi landasan etis moral yang memberikan tempat tertinggi bagi hak dan kedaulatan Allah, sebagaimana dipaparkan dalam Amsal 3:5-7. Ilmu yang dihasilkan melalui proses penalaran yang ilmiah dalam integritas tidak akan konflik dan pasti harmonis dengan iman berdasarkan pewahyuan Allah yang direfleksikan secara benar dalam pimpinan Roh Kudus, begitulah ibu Magdalena Pranata S., S.Th., M.Si. menjelaskan kepada mahasiswa UK Petra Surabaya dalam kuliah Sains Penciptaan tahun 2001.

Beberapa peristiwa historis, khususnya kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus dari Nazaret merupakan dasar ajaran Kristen. Di dalam Alkitab terdapat catatan tentang peristiwa-peristiwa tersebut serta penafsirannya. Dengan demikian, agama Kristen terbuka untuk diselidiki secara historis, tentu saja dengan resiko bahwa dasar-dasar iman dapat diserang atau disangsikan. Andaikata peristiwa-peristiwa sejarah itu dapat ditiadakan, iman Kristen turut ditiadakan. Bagaimanapun, tak akan dapat diingkari bahwasanya peristiwa historis Alkitab adalah suatu realita yang melibatkan aspek natural yang dapat ditangkap oleh akal budi atau rasio. Seorang Kristen yang mengingkari peristiwa histori Alkitab secara nyata sebagai aspek natural, maka itu berarti juga mengingkari akal budinya sendiri. Iman dan sejarah jelaslah tidak boleh dipisahkan.

Berita Kristen tak dapat dilepaskan dari fakta-fakta. Pengakuan iman tak dapat dilepaskan dari dasar historisnya. Di sinilah Kekristenan terlindung dari keraguan akibat penyelidikan historis. Iman kita berpusat pada Allah, Sang Raja sejarah, yang berkarya dalam sejarah untuk menyelamatkan umatNya dan yang akan mengakhiri sejarah pada waktunya.

Istilah pertentangan atau dualisme antara Alkitab (yang ditangkap oleh iman) dengan ilmu pengetahuan (ditangkap oleh akal budi atau rasio), seringkali merupakan pertentangan dalam menginterpretasikan fakta. Dugaan yang diterapkan seseorang pada suatu fakta tertentu, seringkali menentukan kesimpulan yang diambilnya lebih daripada fakta-fakta itu sendiri. Demikian pula argumentasi yang dapat disampaikan sehubungan dengan masalah pemisahan pemakaian bahasa.

Bagaimanapun, kepastian dan kemutlakan kebenaran adalah suatu hal yang sangat penting dalam kesatuan penggunaan makna bahasa yang tetap terkait dalam hal budaya dan etnis. Kehilangan fokus kebenaran yang diakibatkan adanya konsep relativisme adalah penyebab utama terjadinya bias dan pemisahan bahasa. Rasio manusia setelah jatuh dalam dosa bersifat cacat (Roma 3:23; 1:18-22) dan terjadi penyimpangan motivasi dan fokus, yang tidak pada kebenaran dan kemuliaan Allah melainkan pada diri manusia itu sendiri. Kecenderungan ini memicu ketidakjujuran dalam pemakaian dan penyampaian bahasa sehingga menjadi bebas nilai dan mengabaikan otoritas dan kedaulatan Allah. Pada hakekatnya tidak ada pertentangan antara ilmu pengetahuan dan Alkitab, antara ilmu dan iman, antara akal budi atau rasio dan iman, juga dalam pemakaian bahasa selama segala sesuatu berada pada koridor otoritas dan kedaulatan Allah yang menjadi muara atas segala sumber kebenaran yang sejati.


Keabsolutan Kebenaran Alkitab Sebagai Firman Allah
Allah sendiri berfirman bahwa Alkitab tersebut ditulis untuk tujuan:kita dapat mengenal Allah dan AnakNya Yesus Kristus dengan pengenalan sejati yang mendatangkan hidup yang kekal (Yohanes 17:3), inilah pernyataan Diri Allah secara pribadi. Pranata, 2002:31 memaparkan bahwa secara proposisional, Tuhan Allah menyatakan Diri-Nya secara verbal, melalui perkataan atau informasi yang dapat dipahami manusia. Ini merupakan perbuatan supranatural Allah yang menyatakan kebenaran-Nya dengan sifat kognitif, artinya dapat ditangkap oleh rasio manusia. Mengenai hal ini Arthur F. Holmes juga menerangkan dalam Segala Kebenaran Adalah Kebenaran Allah bahwa:
Hubungan yang sama antara kebenaran proposisional dan kebenaran personal juga terlihat berkenaan dengan penyataan khusus. Kebenaran proposisional didasarkan pada kebenaran personal Allah. (2000:64).

Siapapun yang percaya akan kemahakuasaan Allah meyakini bahwa Allah adalah sumber segala kebenaran tentang segala sesuatu, dan bahwa pengetahuanNya adalah sempurna itu merupakan sumber pengetahuan kita. Sehingga apapun yang kita kejar demi memperoleh kebenaran adalah bersumber daripadaNya. Hal ini memberi gambaran kepada kita bahwa kebenaran itu bersifat absolut dan bahwa kebenaran itu hanya milik Allah saja.

Holmes (2000:59-60, 62, 128, 136) juga menyampaikan bahwa kebenaran bersifat absolut, yang artinya bahwa kebenaran itu tak dapat berubah, sekaligus bersifat universal, jadi selalu tetap dan tak berubah di manapun dan kapanpun. Kebenaran hanya milik Allah membuktikan bahwasanya kebenaran itu bersifat personal dan bukan bersifat otonom. Hal ini juga menjelaskan bahwa kebenaran Allah itu meliputi seluruh aspek rasional (nyata terlihat dalam alam semesta) maupun aspek kognitif manusia. Kebenaran yang dapat diperoleh manusia dari Allah itu bukan bersifat teoritis melainkan sangat personal, yaitu melibatkan hati dan pikiran manusia itu sendiri. Ini pun diungkapkan oleh David Cupples dalam bukunya Beriman Dan Berilmu bahwa:

Allah bukan suatu obyek penelitian, begitu juga Firman-Nya. Salahlah sikap kita kalau kita ingin mendekati Allah dan Firman-Nya tanpa iman (Ibrani 11:6). Dialah Allah yang hidup, yang harus kita muliakan, percayai, dan puja. Oleh sebab itu, Alkitab pun sebagai Firman Allah, tidak boleh diperlakukan sebagai buku biasa yang hanya diteliti secara obyektif dan akademis saja. Sikap netral terhadap Firman Allah sama dengan sikap netral terhadap Allah sendiri. Cara kita meneliti Firman Allah harus sesuai dengan cara kita bersekutu dengan Allah.

Dalam teknis pelaksanaannya, tidak boleh ada perbedaan mutlak antara cara kita mempelajari Alkitab dalam ibadah pribadi dan dalam ruang kuliah. Kapan saja kita membaca Alkitab, akal budi dan hati harus terlibat. Kita akan selalu berusaha untuk makin mengerti suatu nats Alkitab serta makin menghayati dan menghormati arti nats tersebut sebagai Firman yang berasal dari Allah. (1996:29)

Lebih lanjut, Frame (2002:128-131) menceritakan pemikiran Cornelius Van Til bahwa pesan Alkitab adalah suatu pesan mengenai anugerah Allah yang mutlak berdaulat dan berbicara dengan otoritas mutlak juga. Karena Alkitab adalah Firman Allah, dalam hal ini Alkitab menyampaikan otoritas ultimat Allah yang bersifat inerrancy (ketidakbersalahan Alkitab) sebagai bentuk komitmen teologis yang berdasarkan pada Pribadi Allah dan pengajaran Alkitab. Ini berarti bahwa Alkitab dalam naskah dan bahasa aslinya, menyajikan pernyataan-pernyataan yang benar sepenuhnya, meliputi berbagai bidang di antaranya bidang iman, etika, sejarah, dan alam semesta.

Pengilhaman Alkitab juga bersifat infallibility. Ini tercakup dalam kedaulatan ilahi. Allah berdaulat di dalam kekuasaan-Nya atas umat manusia yang rasional, yang berarti juga bahwa Ia berdaulat di dalam wahyu-Nya mengenai diri-Nya sendiri kepada umat manusia tersebut. Secara otomatis Allah yang berdaulat di dalam hal keberadaan, maka pastilah Ia juga berdaulat dalam bidang pengetahuan.

Allah perlu mengilhamkan Alkitab sebagai Firman-Nya yang tertulis kepada manusia. Sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa, manusia tidak dapat dibiarkan sendiri, karena manusia berdosa ’sudah pasti akan salah menginterpretasikan’ tindakan-tindakan Allah yang menyelamatkan mereka itu. Oleh karena itu keberadaan Alkitab sangat penting, sehingga pesan Allah yang menyelamatkan tersebut dapat: 1) tetap ada sepanjang masa; 2) menjangkau semua umat manusia; 3) ditawarkan kepada manusia secara obyektif; dan 4) menyaksikan kebenaran-Nya di dalam diri-Nya sendiri.

Secara naturnya Alkitab berotoritas, yang menyampaikan klaim Allah akan otoritas mutlak yaitu Ketuhanan-Nya atas manusia. Dan hal itu menjadi penantang klaim manusia akan otonomi. Sehingga tidak ada yang bisa ditambahkan kepada Alkitab sebagai suatu otoritas yang setara dengan Alkitab. Di sinilah terbukti bahwa Alkitab memiliki kecukupan.

Alkitab yang sangat jelas penyataan-Nya, membuatnya tidak memerlukan ‘penengah’ antara Alkitab dengan penerimanya. Menyangkali kejelasan Alkitab berarti juga menyangkali otoritasnya. Seandainya pengajaran manusia diperlukan agar Alkitab bisa dipergunakan sebagaimana seharusnya, maka otoritas manusia tersebut menjadi otoritas ultimat di dalam gereja. Sekali lagi Alkitab tidak memiliki ketidakmampuan tersebut, sehingga sangat jelaslah bahwa Alkitab tidak memerlukan perantara agar dapat diterima targetnya.

Penyataan Alkitab sendiri terhadap diri-Nya sendiri itulah yang membuatnya pantas untuk dipercayai. Dalam 2 Timotius 3:16; 1 Korintus 2:13 dan 2 Petrus 1:20-21 nyata mengenai hal itu. Pengilhaman dalam penulisan Alkitab memberikan pengertian bahwa inisiatif penulisan itu datang dari Allah dan dikendalikan oleh Allah sendiri. Demikian juga bahwasanya nubuat-nubuat yang terdapat dalam Alkitab tidak berasal dari kehendak para penulis. Para penulis tersebut benar-benar hanyalah menyampaikan apa yang diperintahkan Allah (dengan gerakan dan kuasa dari Roh Kudus) kepada mereka sehingga mereka dikendalikan dan dihindarkan dari kemungkinan melakukan kesalahan pada saat menuliskannya, dengan tidak meninggalkan kepribadian dan gaya penulisan para penulis itu sendiri (Haan, 2000:7-8).

Sementara itu banyak sekali penemuan sains dewasa ini yang justru mendukung kebenaran Alkitab. Di antaranya kebenaran mengenai penciptaan yang dibuktikan adanya:umur bumi yang masih muda; adanya sisa bencana air bah sebagai peristiwa katastropik yang mengubah seluruh kondisi fisik bumi; runutan silsilah manusia atas bangsa-bangsa maupun kenyataan jumlah manusia yang sekarang memenuhi bumi; pengkopian sifat jenis mahluk hidup; penurunan kondisi bumi dan alam semesta yang membawa dampak global keseluruhan aspek manusia yang sejalan dengan hukum termodinamika II; catatan historis atas tokoh pelaku yang terdapat dalam Alkitab; ketepatan, keefektifan, maupun keakuratan segala sistem yang dijalankan tokoh-tokoh pelaku Alkitab sebagai bentuk pengilhaman oleh Allah. Semuanya yang menyangkut bidang ilmu pengetahuan alam, sosial, tatanegara, ekonomi, sejarah, dan lainnya ini telah membuktikan kebenaran Alkitab yang tak terbantahkan oleh siapapun dan apapun juga. Kebenaran Alkitab Sebagai Firman Allah adalah Absolut.


Perspektif Iman Kristen
Fokus utama ilmu dan iman adalah kebenaran yang bermuara pada Pribadi Allah sebagai sumber segala kebenaran. Kehidupan iman dan profesi keilmuan harus dikembangkan dalam relasi pribadi dengan Allah sebagai sumber kehidupan dan kebenaran. Dinyatakan dalam kehidupan yang bermoral, mengasihi, dan menjadi berkat bagi semua.

Selanjutnya dipaparkan bahwa dalam perspektif iman Kristen, orang Kristen mengimani Tuhan Yesus Kristus sebagai Jalan dan Kebenaran dan Hidup (Yohanes 14:6). Artinya, demensi iman dan ilmu dalam kehidupan seorang Kristen, dibangun dalam relasi pribadi dengan Tuhan Yesus Kristus. Sebab dari sinilah kunci seluruh jalan keluar bagi terjadinya pemisahan atau dikotomi bangunan iman Kristen. Baik iman dan maupun ilmu, keduanya dihayati sebagai karunia Allah yang harus dikembangkan sesuai dengan kehendakNya. Karena Tuhanlah yang memberikan hikmat, dari mulutNya datang pengetahuan dan kepandaian (Amsal 2:6).

Ilmu dalam kehidupan orang Kristen adalah sebagai ibadah dan tanggung jawab orang Kristen terhadap kehidupan dan alam semesta yang dikaruniakan Allah. Sedangkan iman Kristen yang berdasarkan Alkitab dan berpusat pada pribadi Yesus Kristus, menjiwai dan menjadi perspektif hidup orang Kristen terhadap realita hidup. Karena itu sesungguhnya iman Kristen bersifat dinamis, aktif, dan senantiasa relevan dengan realita kehidupan. Sebab orang Kristen yang sungguh-sungguh, seluruh aspek hidupnya terikat dalam relasi/persekutuan pribadi dengan Kristus, Penguasa alam semesta sepanjang jaman.


Daftar Pustaka
Cupples, David, terj. Beriman dan Berilmu. Jakarta: PT. BPK. Gunung Mulia, 1996.
Frame, John M. Cornelius Van Til: Suatu Analisis Terhadap Pemikirannya. Terj. Irwan Tjulianto. Surabaya: Penerbit Momentum, 2002.
Haan II, Martin R. De. Apakah Alkitab Dapat Dipercaya (Seri Mutiara Iman). Terj. Okdriati Handoyo. Yogyakarta:Yayasan Gloria, 2000.
Herlianto. Nisbah Antara Iman Kristen Dengan Ilmu Pengetahuan, dalam Sahabat Gembala edisi April 1991
Holmes, Arthur F. Segala Kebenaran Adalah Kebenaran Allah. Surabaya: Penerbit Momentum, 2000.
Little, Paul E. Akal dan Kekristenan. Terj. Inggriani Samuel. Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1999.
Pranata S., Magdalena. Tt Integrasi Iman dan Ilmu (Bahan Referensi Pembina PTPAMB 1996 dan kuliah Sains Penciptaan 2001 UK. Petra Surabaya)
Pranata S., Magdalena. Agama Kristen (Buku pegangan untuk kuliah agama Kristen UK Petra Surabaya) 2002.
Tong, Stephen. Iman, Rasio, dan Kebenaran. Jakarta: Institut Reformed dan Stephen Tong Evangelistic Ministries International, 1996.


Sumber: http://www.tiranus.net/?cat=5




Profil Penulis:
Anna Mariana Poedji Christanti, S.Si., M.Si., M.A. adalah dosen Sains Penciptaan di Universitas Kristen Petra, Surabaya. Beliau menamatkan studi Master of Arts (M.A.) di Institut Alkitab Tiranus, Bandung.



Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio

STT SETIA Diserang Massa

STT SETIA Diserang Massa


Sekolah Tinggi Theologi Arastamar (STT Setia) Jakarta, Sabtu, 26 Juli 2008, jam 11 malam diserang ribuan massa bersenjata tajam, terjadi bentrokan pisik, dan ada yang mengalami luka-luka. Massa yang berjumlah ribuan itu sebagian besar berasal dari luar kampung Pulo, bukan warga setempat.

Penyerangan itu telah direncanakan, karena sebagian penyerang yang berasal dari luar kampung itu telah menginap dirumah-rumah penduduk, sebelum penyerangan. Polisi lagi-lagi tak mampu bertindak tegas, apalagi mengantisipasinya. Sebagian mahasiswa telah dievakuasi, dan pada hari minggu tanggal 27 malam ini, 500 mahasiswa yang masih berada di asrama akan di evakuasi oleh aparat kepolisian. Bukan hanya itu, warga Kristen yang berdomisili dekat kampus tersebut juga ikut mengungsi kerumah-kerumah sudara, kenalan mereka yang berada di luar kampung itu. Suasana mencekam masih dirasakan hingga kini.

Menurut cerita penduduk setempat, penyerangan itu dilatar belakangi olehpersoalan "sepele". Seorang mahasiswa baru mengalami kesulitan untukkembali ke kampus. Saat itu adalah masa orientasi sekolah. Mahasiswa tersebut ingin bertanya mengenai jalan pulang pada warga, kebetulan pada waktu itu adapengajian di sebuah rumah warga. Beberapa orang meneriakkan mahasiswa itu maling, dan jadilah ia bulan-bulanan amuk massa, dan kemudian dibawa ke kantor polisi.

Peristiwa itu kemudian diumumkan di Mesjid di sekitar Kampung Pulo, tempatsekolah itu berada, "Telah tertangkap seorang mahasiswa STT Setia yangkedapatan Mencuri, dan telah diserahkan ke kantor polisi". Setelah kejadian itu, ratusan orang berdatangan ke kampung Pulo, dan tinggal di rumahpenduduk. Sekitar 70-an orang setiap hari, sebelum kejadian itu, berlalu lalang membawa senjata tajam di jalan-jalan dekat kampus STT Setia. Puncaknya dua hari kemudian, tanggal 26/7/2008 jam sebelas malam terjadilah penyerangan terhadap STT Setia. Mahasiswa melawan, yang berasal dari Irian, menggunakan panah melawan penyerang. Beberapa kali bom molotop dilemparkan ke areal kampus, namun selalu berhasil dipadamkan. kepolisian tampaknya kewalahan menghadapi hal tersebut, dan berusaha mengevakuasi mahasiswa yang ada. Kemarin malam mahasiswa yang berada di RT 4 dan RT 2, khususnya mahasiswa putri telah di evakuasi. Sisanya kira-kira sejumlah 500 orang akan di evakuasi malam ini, 27/8/2008. Kalau saja polisi tanggap, peristiwa tersebut tidak perlu terjadi, karena sebelum penyerangan sekitar 70 orang setiap hari berlalu lalang membawa senjata tajam di depam kampus STT Setia. Peristiwa penyerangan terhadap STT Setia sekali lagi merupakan kegagalan pemerintah untuk melindungi warganya. Sampai saat ini tak ada bukti bahwa mahasiswa STT Setia yang dipukuli warga tersebut kedapatan mencuri. Namun, jika pun ada bukti, penyerangan terhadap STT tetap saja tak dapat dibenarkan.

Tahun lalu, salah satu asrama STT ini dibakar massa FPI, dan itu sebenarnya itu bisa menjadi alasan bahwa polisi semestinya mewaspadai kejadian itu. Lebihmengherankan lagi, Bin juga tak mampu mendeteksi serangan yang sebenarnya kasatmata itu.

Jumlah mahasiswa STT Setia kira-kira 1300 mahasiswa, saat ini mereka beradadalam kesulitan. Ketua STT Setia bersedia pindah dari tempat itu, asal sajapemerintah mau membayar asset STT setia yang ada. Setelah evakuasi terakhir,kita tidak tahu sampai kapan tempat itu dapat digunakan kembali. Bayangkanlahapa jadinya dengan nasib ribuan mahasiswa itu.

Pdt. Binsar A. Hutabarat, M.C.S.



Sumber: http://groups.yahoo.com/group/Komunitas-Penjunan

Matius 10:28-33: CHRISTIANITY AND PERSECUTION: The Providence

Ringkasan Khotbah: 19 Maret 2006

Christianity & Persecution: The Providence
oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.
Nats: Mat. 10:28-33


Alkitab memberikan gambaran yang sangat tepat bagi anak Tuhan, yaitu seperti domba di tengah-tengah serigala. Domba adalah binatang yang sangat lemah, helpless maka ancaman dan bahaya itu selalu mengintai dirinya. Di tengah-tengah ancaman bahaya itu, Tuhan ingin kita mempunyai bijaksana sorgawi dengan tidak menantang bahaya tetapi Tuhan mengajarkan supaya kita lari ke kota lain namun ingat, kalau memang waktu Tuhan itu tiba, kita tidak boleh lari. Kita telah memahami sebelumnya, orang mengalami aniaya bisa disebabkan dua hal, yaitu: 1) sebagai hukuman atas dosa – implikasi keadilah Allah yang ditegakkan atas alam semesta, 2) karena orang hidup dalam kebenaran dan kesucian, hidup takut akan Allah, dunia tidak suka ada orang yang hidup benar itulah sebabnya dunia akan menganiaya orang Kristen.
Dunia bahkan orang Kristen sulit menerima pernyataan Firman Tuhan yang menyatakan bahwa orang yang hidup benar justru akan dianiaya. Bukanlah hal yang mengherankan kalau orang bisa berasumsi salah sebab orang mendasarkan asumsinya pada religiusitas/keagamawian dunia. Petrus juga pernah berasumsi salah terhadap Tuhan Yesus, ketika Tuhan Yesus memberitakan tentang penderitaan yang harus ia alami di Yerusalem, Petrus beranggapan kalau Tuhan Yesus tidak akan mengalami penganiayaan karena Allah akan menjauhkannya (Mat. 16:21-28). Bahkan sampai detik ini, kita masih menjumpai banyak orang Kristen yang masih berpandangan salah, orang disesatkan dengan berbagai-bagai ajaran sesat yang menyimpang dari ajaran Firman Tuhan. Firman Tuhan adalah kebenaran sejati karena datang dari Allah berbeda halnya dengan ajaran dunia yang datang dari iblis – kuasa keduniawian dimana kedagingan manusia berdosa itulah mendominasi cara berpikir seseorang.
Adalah panggilan setiap anak Tuhan untuk memproklamasikan kebenaran sejati, menjadi terang di tengah dunia yang gelap. Celakanya, hari ini banyak orang Kristen yang takut memproklamasikan kebenaran sejati. Adalah wajar kalau kita merasa takut, Tuhan Yesus pun tahu akan ketakutan yang dihadapi oleh anak-anak-Nya. Domba mana yang tidak akan merasa takut ketika ia hidup di tengah-tengah serigala. Perasaan takut merupakan salah satu emosi yang harus ada dalam diri manusia. Tuhan menanamkan perasaan takut yang positif dalam diri setiap manusia, hal ini seharusnya menyadarkan manusia akan keterbatasan dirinya namun orang tidak mau mengakuinya. Ingatlah, di dalam penganiayaan, Tuhan tidak akan meninggalkan kita – providensia Allah selalu beserta kita.

Perasaan takut yang positif seharusnya menyadarkan kita akan beberapa aspek, yaitu:
I. Mereferensikan hidup hanya pada Tuhan saja karena Dia adalah Maha segalanya – Maha Tahu, Maha Bijaksana, Maha Kuasa, seluruh Maha ada dalam diri-Nya.
Orang seharusnya merasa takut dan gentar ketika Dia berhadapan dengan Tuhan atas alam semesta yang Maha Besar. Bangsa Israel sadar akan hal ini itulah sebabnya mereka langsung tunduk menyembah hingga ke tanah, to bow down ketika mereka datang ke hadirat Tuhan. Takut yang benar adalah takut yang diarahkan kepada Tuhan. Celakanya, hari ini orang tidak takut kepada Tuhan tetapi orang justru lebih takut pada iblis maka tidak salah kalau orang menyebutnya sebagai anak iblis karena seluruh hidup dan pemikirannya telah dikuasai oleh iblis. Sungguh ironis, orang malah lebih takut pada serigala daripada takut pada Gembala Agung yang senantiasa menjagai domba-domba-Nya. Biarlah kita mengevaluasi diri kita sampai seberapa jauhkah kita takut pada Tuhan?
Ada tiga aspek sehingga orang tidak mempunyai rasa takut dan gentar pada Tuhan, yaitu:
1) hilangnya penekanan keadilan dan murka Allah. Alkitab memperkenalkan Allah Tritunggal sebagai Allah yang murka, Allah yang menegakkan keadilan, Allah yang tidak berkompromi dengan dosa. Allah sangat mengasihi manusia namun Allah yang mengasihi adalah Allah yang juga menyediakan neraka bagi manusia yang dikasihinya. Namun sayang, berita ini mulai dihilangkan, Kekristenan tidak lagi mengajarkan tentang takut akan Tuhan dan sebagai gantinya dan sekaligus sebagai alasan kedua, orang tidak takut Tuhan yaitu karena:

2) masuknya semangat humanis materialis dalam Kekristenan. Berita kebenaran didegradasi/diturunkan sedemikian rupa hingga inti kedaulatan Allah menjadi hilang. Gereja tidak berani memberitakan kebenaran sejati, gereja hanya memilih dan memberitakan Firman yang menyenangkan jemaat saja karena alasan untuk membuat jemaat senang dan tidak kehilangan anggota atau lebih tepat kalau dikatakan tidak kehilangan sumber mata uang. Allah yang diberitakan tidak lebih hanya Allah humanisme, Kekristenan mulai berkompromi dengan dosa. Hari ini, tidak banyak orang yang mau memberitakan ayat-ayat Firman Tuhan yang sifatnya eksplisit seperti dalam 1Tim. 6:10 maka tidaklah heran kalau kemudian orang mulai mengeliminasi ayat-ayat yang menyatakan kebenaran secara eksplisit. Kekristenan menjadi sinkretis/bercampur dengan konsep humanisme;

3) agama: “allah“ proyeksi. Agama seharusnya membawa manusia kembali kepada Allah tetapi setelah kejatuhan manusia dalam dosa, agama hanyalah alat untuk melarikan diri dari Allah. Agama yang ada di dunia tidak memberikan kemungkinan bagi manusia untuk bereferensi pada Allah yang sejati, karena “allah“ hanya alat untuk memproyeksikan pikiran manusia, projection of idea. Manusia mempunyai ambisi dan keinginan diri namun manusia tidak mau mengakui hal tersebut sehingga seluruh ambisi dan keinginan dirinya tersebut diproyeksikan ke “allah“ kalau “allah“ itu mulai tidak cocok dengan pikiranku, orang akan mencari “allah“ lain yang cocok dengan pikiran manusia. Allah bukan lagi “siapa“ tetapi allah adalah “apa“ karena allah tidak lebih hanyalah sebuah ide yang harus cocok dengan pikiran kita; “allah“ telah menjadi budak manusia. Orang memperlakukan “allah“ tidak lebih hanya sebagai rekanan bisnis belaka; “allah“ harus memberikan lebih besar dari apa yang diberikan oleh manusia. Pertanyaannya sekarang adalah apakah “allah“ yang demikian itu layak untuk kita hormati yang kepada-nya kita mereferensikan seluruh hidup kita? Tidak!

4) agama: “allah“ proteksi. “allah“ yang dibuat manusia hanyalah “allah“ yang lemah. Hari ini, kita menjumpai banyak orang yang membela “allah“ secara mati-matian. Pertanyaannya adalah siapakah yang harusnya membela dan dibela? Allah membela manusia atau manusia membela Allah? Kalau manusia yang membela “allah“ berarti “allah“ itu lebih kecil dari manusia maka tidaklah heran kalau manusia mulai mempermainkan “allah“ dan “allah“ demikian ini tidak layak untuk menjadi referensi kita. Semangat anarkis – humanisme telah membuat manusia tidak mempunyai rasa takut pada Tuhan maka di tengah dunia ini kalau kita mau hidup takut akan Tuhan, kita sulit mencari teladan. Kekristenan satu-satunya yang mengajarkan kepada kita untuk takut akan Tuhan.

5) Pendidikan atheistik. Takut akan Tuhan merupakan kunci utama bagi manusia untuk dapat mempunyai pengetahuan (Ams. 1:7) namun pengembangan pengetahuan menjadikan manusia bias, manusia tidak dapat membedakan antara true knowledge, pengetahuan sejati dengan pengetahuan dunia. Alkitab menegaskan janganlah kamu takut pada mereka yang dapat membunuh tubuh tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka (Mat. 10:28). Seharusnya hal ini menyadarkan manusia akan satu hal: siapa yang seharusnya menjadi referensi hidup kita? Kepada siapakah seharusnya kita takut dan gentar? Orang yang mempunyai rasa takut pada Tuhan maka ia tidak akan mempunyai rasa takut pada apapun dan siapapun karena ia tahu, Tuhan yang ia sembah dan kepada-Nya ia takut itu adalah Tuhan yang hidup, Tuhan yang Immanuel, Tuhan yang selalu beserta kita. Hanya kepada Tuhan yang hidup inilah kita patut mereferensikan hidup kita. Allah yang hidup itu akan menopang hidup kita.

Kita seringkali mendengar tentang Allah yang beserta namun yang menjadi pertanyaan sekarang adalah kapan kita merasakan Allah beserta? Apakah kita merasakan Allah beserta ketika kita merasa nyaman saja? Tidaklah heran ketika orang mengalami kesulitan dan aniaya orang mulai bertanya dimanakah Allah? “Allah beserta“ hanya sekedar ungkapan di mulut saja, tidak teraplikasi dalam kehidupan kita sehar-hari. Ingat, ajaran Tuhan Yesus bukanlah sekedar teori. Tidak! Tuhan Yesus mengajarkan tentang kehidupan. Tuhan Yesus menegaskan ketika kita mengalami aniaya maka janganlah takut kepada mereka yang hanya dapat membunuh tubuh tetapi takutlah pada Tuhan yang dapat membunuh tubuh dan jiwa. Biarlah kita senantiasa menyandarkan dan mereferensikan hidup kita hanya pada Sang Gembala Agung.

II. Hidup dalam kebenaran, takut untuk berbuat dosa sehingga dalam segala aspek, akan melakukan segala sesuatu yang berkenan kepada Allah.
Dalam dunia modern ini kita akan menjumpai banyak sekali pilihan dan tawaran, tentu saja dengan berbagai resikonya. Puji Tuhan, Tuhan memberikan perasaan takut pada manusia, perasaan takut ini menjadi peringatan bagi kita. Seorang yang berbuat dosa atau melakukan kesalahan dalam dirinya pasti akan muncul rasa takut. Perasaan takut yang demikian ini adalah ketakutan yang positif. Ironisnya, orang tidak takut memberitakan kebenaran sejati seharusnya kita tidak perlu takut karena kita mempunyai Gembala Agung, Dia tidak pernah meninggalkan kita. Hari ini kalau kita menjumpai ada seekor domba yang takut menunjukkan ia telah kehilangan identitas dirinya. Manusia takut dimusuhi maka cara teraman adalah domba itu menjadi mirip seperti serigala.

Kita harus berani mengaku bahwa kita adalah Kristen sejati. Namun, kita juga perlu berhati-hati dan peka karena hari ini banyak orang yang mengaku diri Kristen tetapi ternyata, ia tidak lebih hanyalah seorang bidat, orang tidak mau mengakui kedaulatan Allah, orang masih mempunyai konsep humanis materialis. Manusia tidak mau menjadi domba akibatnya, orang memilih menjadi serupa dengan dunia. Domba adalah gambaran binatang yang suci dan bersih, semua sifat positif ada dalam diri domba namun sayang, orang tidak mengerti akibatnya manusia tidak menghargai sifat positif yang diberikan Tuhan dalam diri kita. Sungguh ironis, orang justru menjadi takut dan tidak percaya diri kalau ia disebut sebagai orang suci. Salah! Sebutan sebagai orang suci harusnya membuat diri kita bangga karena secara tidak langsung, orang mengakui bahwa kita mempunyai kualitas lebih tinggi dibanding dengan dirinya.

Tuhan memanggil kita untuk menjadi terang bagi dunia yang gelap maka janganlah takut dengan semua sifat positif yang ada dalam diri kita. Dunia akan terus berusaha membuat kita semakin terjepit sehingga akhirnya orang tidak berani mengaku sebagai Kristen sejati. Hidup akan menjadi indah ketika seluruh hidup kita didasarkan pada takut akan Tuhan, kita mempunyai sandaran kuat, tidak mudah digoyahkan oleh berbagai-bagai godaan dunia. Dalam kesaksiannya, Pdt. Stephen Tong mengungkapkan bahwa ibunya tidak takut lagi melepaskan dia pergi mengelilingi duni karena ibunya tahu, takut akan Tuhan yang selama ini ia ajarkan itu telah tertanam dalam hidupnya. Sebaliknya, kalau kita takut pada dunia maka dunia akan membuat kita melakukan dosa, menjauhkan kita dari Tuhan maka saat itu menjadi titik kehancuran kita karena membawa kita hidup dalam kebinasaan.

Sadarlah, pada saat kita hidup takut akan Tuhan maka itulah waktunya Tuhan memproses hidup kita semakin hari semakin sempurna. Hidup di tengah dunia ini banyak tantangan dan cobaan karena itu, mohonlah pada-Nya supaya Dia memberikan kepekaan pada kita, dengan demikian kita mempunyai alert system yang senantiasa memperingatkan kita dan menjadikan kita lebih waspada. Tuhan telah membukakan kebenaran, anak Tuhan akan mengalami aniaya tetapi janganlah kita menjadi takut pada dunia yang hanya dapat membunuh tubuh tetapi tidak dapat membunuh jiwa tetapi takutlah kepada Dia yang dapat membunuh tubuh sekaligus jiwa. Tuhan tidak membiarkan kita sendiri; kalau burung pipit saja Tuhan perhatikan apalagi manusia yang sangat berharga masakan Tuhan tidak memperhatikan? Allah sangat mengasihi manusia bahkan Ia tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita, bagaimana mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? (Rm. 8:32).

Kasih Allah yang begitu besar ini telah melampaui pikiran manusia. Inilah konsep providensia Allah yang diberikan pada anak-Nya. Perhatikan, dunia tidak mau berkorban untuk kita, dunia selalu mengharapkan imbalan dari apa yang ia berikan dan ingat, imbalan itu haruslah lebih besar dari pemberiannya. Sebaliknya, Allah memberikan anak-Nya yang tunggal untuk kita maka pertanyaannya sekarang adalah apa yang dapat kita berikan pada-Nya? Masihkah kita berani berdialog dengan prinsip untung dan rugi pada Tuhan? Sadarlah, Tuhan telah begitu mengasihi kita dengan memberikan anak-Nya bagi kita dan tidak hanya sampai disitu saja, providensia Allah diberikan juga kepada kita bahkan ketika kita berada dalam penganiayaan dan penderitaan yang paling berat sekalipun, Dia tidak pernah meninggalkan kita. Biarlah kita mengevaluasi diri kita, siapakah yang lebih kita takuti, Tuhankah atau duniakah? Sudahkah kita mereferensikan hidup kita hanya kepada Allah yang hidup? Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber: