08 December 2010

Resensi Buku-107: BENARKAH YESUS ITU ALLAH? (Rev. Josh McDowell, LL.D.)

...Dapatkan segera...
Buku
BENARKAH YESUS ITU ALLAH?

oleh: Rev. Josh McDowell, LL.D. (HC)

Penerbit: BPK Gunung Mulia, 2006

Penerjemah: Stephen Suleeman





Deskripsi singkat dari Denny Teguh Sutandio:
Pada bab 1, Rev. Josh McDowell memaparkan bahwa nama Yesus adalah satu-satunya nama kontroversial di dunia ini. Mengapa demikian? Karena hanya Yesus yang berani mengklaim diri sebagai Anak Allah. Benarkah Dia adalah Allah? Benarkah Alkitab dapat dipercaya? Bagaimana dengan ilmu pengetahuan? Mengapa Dia mati disalib? Benarkah Dia bangkit dari kematian? Semua pertanyaan tersebut dijawab dengan jawaban yang menggunakan logika yang sederhana dari Rev. Josh McDowell, seorang mantan atheis. Kesimpulan yang saya bisa ambil dari buku ini adalah: Yesus adalah Allah adalah dasar iman Kristen yang mengakibatkan firman-Nya tak mungkin bersalah. Kematian dan kebangkitan-Nya mengakibatkan Paulus dan para rasul Kristus rela mati syahid demi iman mereka. Selain menjelaskan bukti-bukti obyektif akan keilahian Kristus dan keterandalan Alkitab, di bab terakhir, Rev. Josh McDowell menceritakan kesaksian hidupnya yang dulu hidupnya sia-sia, kemudian setelah bertemu dengan Kristus secara pribadi, hidupnya benar-benar berubah. Meskipun Rev. Josh McDowell menyajikan bukti-bukti obyektif iman Kristen, bukti-bukti tersebut janganlah menjadi satu-satunya kriteria kita bisa percaya kepada Kristus, karena kita percaya kepada Kristus karena kelahiran baru yang Roh Kudus kerjakan. Buku kecil ini hanya untuk memperkuat iman kita bahwa iman kita bukan iman yang buta, tetapi iman yang didasarkan pada fakta sejarah.





Profil Rev. Dr. Josh McDowell:
Rev. Josh McDowell, B.A., M.Div., LL.D. (HC) yang lahir pada tahun 1939 di Union City (Battle Creek), Michigan adalah seorang apologet, penginjil, dan penulis Kristen. Beliau adalah pendiri dari pelayanan Kristen Josh.org dan Operation Carelift. Sebagai seorang atheis dulunya, beliau menempuh pendidikan politik di Kellogg College, Michigan, U.S.A. Di college ini, beliau dahulu berusaha membuktikan kesalahan Kekristenan, namun puji Tuhan, atas anugerah-Nya, Tuhan membukakan pintu hatinya untuk bertobat dan menerima Kristus. Kemudian, beliau melanjutkan studinya di Wheaton College, Illinois, U.S.A. dan menyelesaikan program gelar Bachelor of Arts (B.A.). Setelah itu, beliau menempuh studi theologi di Talbot Theological Seminary of Biola University, La Mirada, California dan meraih gelar Master of Divinity (M.Div.) dengan predikat magna cum laude. Pada tahun 1992, beliau dianugerahi gelar Doctor of Laws (LL.D.) dari Simon Greenleaf School of Law. Beliau menikah dengan Dorothy Youd dan memiliki beberapa anak (dan anak adopsi). Mereka tinggal di Dallas, Texas, U.S.A. Salah satu bukunya yang terkenal adalah: Evidence That Demands A Verdict.

EKSPOSISI 1 KORINTUS 9:19-23 (4) (Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.)

EKSPOSISI 1 KORINTUS 9:19-23 (4)

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.



Nats: 1 Korintus 9:19-23 (4)



Dalam beberapa khotbah yang lalu kita sudah belajar bahwa status Paulus sebagai hamba Allah (9:15-18) membuat ia bebas dari semua orang (seorang budak tidak mungkin memiliki dua tuan). Walaupun ia bebas dari semua orang, namun Paulus rela menghambakan diri pada semua orang (9:19). Sebagai contoh, ia mau menjadi seperti orang Yahudi maupun mereka yang hidup di bawah Hukum Taurat supaya ia bisa memenangkan mereka (9:20). Dalam khotbah kali ini kita akan melihat dua kelompok orang yang lain yang kepada mereka Paulus pun mau menghambakan diri. Mereka adalah orang yang tidak hidup di bawah Hukum Taurat (9:21) dan mereka yang lemah (9:22a).


Bagi Orang yang Tidak Hidup Di Bawah Hukum Taurat (ay. 21)
Di ayat ini Paulus menyinggung tentang orang yang tidak hidup di bawah Hukum Taurat (ay. 21a). Dalam teks Yunani dipakai sebutan anomos (a = tidak; nomos = hukum). Kata ini dalam Alkitab seringkali memiliki arti negatif yang merujuk pada orang/tindakan yang anti atau melanggar hukum (Luk. 22:37; Kis. 2:23; 2Tes. 2:8; 1Tim. 1:9; 2Ptr. 2:8). Apakah arti seperti ini yang dimaksud Paulus di 1 Korintus 9:19-23?

Kita tampaknya harus memikirkan alternatif arti yang lain, karena arti di atas tidak sesuai dengan konteks 1 Korintus 9:19-23. Paulus sedang memikirkan anomos dalam arti status (orang yang tidak memiliki Hukum Taurat = non Yahudi), bukan tindakan (orang durhaka/pelanggar Hukum Taurat). Ada beberapa alasan yang kuat mengapa kita sebaiknya memahami anomos di ayat ini bukan secara negatif. Pertama, walaupun kata sifat anomos sering berarti negatif, tetapi kata keterangan anomōs pernah dipakai Paulus untuk orang-orang non Yahudi secara umum yang berdosa tanpa Hukum Taurat (Rm. 2:12). Dari konteks yang ada anomōs di sini berarti “orang yang tidak memiliki Taurat”, bukan yang melanggar Taurat (bdk. “berdosa tanpa Taurat”, “dihakimi tanpa Taurat”). Kedua, paralelisme dengan kelompok “mereka yang hidup di bawah Hukum Taurat” (hypo nomon, 9:20b) mendorong kita menafsirkan anomos secara sejajar tetapi kebalikan dari hypo nomon. Karena hypo nomon lebih mengarah pada status sosial Yahudi, maka anomos juga kemungkinan besar dipahami dalam konteks status sosial non-Yahudi. Ketiga, jika anomos di 9:21 merujuk pada pelanggar Hukum Taurat, maka Paulus tidak mungkin mengungkapkan “aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah Taurat”. Ia tidak mungkin mengikuti dosa mereka, apalagi di ayat ini ia juga menambahkan “aku tidak hidup di luar hukum Allah tetapi di bawah Hukum Kristus”. Jadi, anomos di sini merupakan ungkapan lain untuk orang-orang non-Yahudi yang tidak hidup di bawah Taurat.

Ketika Paulus mengatakan bahwa ia hidup seperti anomos, ia tidak mungkin memaksudkan ini secara etnis, karena ia secara etnis tidak mungkin berubah dari orang Yahudi menjadi orang non-Yahudi. Ungkapan ini pasti merujuk pada kebiasaan hidup atau budaya non Yahudi. Secara khusus, Paulus sedang membicarakan tentang kebiasaan makan, karena memang isu di pasal 8-10 adalah tentang makanan. Di tengah komunitas non-Yahudi Paulus mengikuti pola makan mereka. Ia tidak keberatan jika harus membeli bahan makanan di pasar yang pasti sudah dipersembahkan sebelumnya kepada para dewa (10:25-26). Ia tidak menghindari ajakan makan orang lain (10:27).

Tindakan ini membutuhkan keberanian yang besar dan pemahaman teologis yang kuat. Bagi orang Yahudi, makan bersama orang non-Yahudi merupakan sesuatu yang sangat sensitif, menimbulkan ketidaknyamanan dan agak mustahil untuk dilakukan (Kis. 10:11-15, 28; Gal. 2:11-14). Cara memasak maupun memakan orang non-Yahudi tidak mungkin memenuhi peraturan kosher (halal) versi Yahudi. Bagaimanapun, Paulus rela membangun relasi dengan orang non-Yahudi dengan resiko bahwa ia harus merasa tidak terbiasa dan berpotensi untuk disalahpahami orang Yahudi yang lain. Ia bisa saja dianggap sebagai pelanggar Taurat atau orang yang gaya hidupnya plin-plan sesuai pergaulan yang ada.

Paulus selanjutnya memberi tambahan bahwa ia tidak hidup di luar hukum Allah (ay. 21b). Dalam teks Yunani kita dengan mudah menemukan permainan kata di sini: Paulus menjadi seperti anomos, tetapi ia sendiri bukanlah anomos Allah. Ia memang mengadopsi kebiasaan orang non-Yahudi yang tidak memiliki Taurat, tetapi bukan berarti bahwa ia sendiri hidup tanpa aturan. Ia mau menjadi “without law” (tanpa hukum), tetapi ia bukan“lawless” (“pelanggar hukum”). Hal ini mengajarkan sesuatu yang sangat penting bahwa kebebasan Kristiani di dalam Kristus bukan berarti “antinomianisme” (sebuah paham yang menekankan kebebasan mutlak tanpa aturan sama sekali). Kita memang tidak hidup di bawah Taurat lagi, namun itu bukanlah izin untuk hidup secara sembarangan (Rm. 6:14-15).

Bagi Paulus orang percaya tidak mungkin hidup tanpa hukum. Kita berada di bawah hukum Allah (7:19). Dengan demikian kita bisa mengatakan bahwa selalu ada batasan dalam kebebasan Kristiani. Dalam kaitan dengan isu seputar makanan, Paulus pun memiliki batasan yang jelas. Ia tidak mau makan bersama orang non-Yahudi di dalam kuil mereka, karena itu tergolong penyembahan berhala (10:6-22). Ketika ia menerima undangan makan orang lain dan tindakan itu menjadi batu sandungan, Paulus memilih untuk tidak meneruskan makan (10:28).

Penegasan Paulus bahwa ia tidak hidup di luar hukum Allah merupakan sesuatu yang perlu dilakukan. Paulus memikirkan dua tujuan di sini. Ia ingin menghindari kesalahpahaman atau fitnahan orang lain yang sering menuduh dia meniadakan tuntutan hukum (Kis. 21:21; Rom 3:8) untuk menyenangkan hati banyak orang (Gal. 1:10). Ia juga ingin menegur sebagian jemaat Korintus yang menganggap keselamatan di dalam Kristus sebagai alasan untuk hidup sembarangan (5:1-3; 6:13). Mereka secara sembarangan menggunakan kebebasan Kristiani sampai menjadi batu sandungan bagi orang lain (8:9).

“Hukum Allah” yang dimaksud Paulus sangat berkaitan dengan Kristus (ay. 21c). Hukum ini adalah hukum Kristus. Paulus jelas tidak sedang mengatakan bahwa Hukum Taurat bukanlah hukum dari Allah. Apa yang ingin disampaikan Paulus di sini adalah perspektif yang baru tentang Taurat. Orang Kristen tetap memiliki “Taurat”, yaitu Taurat yang dituliskan Allah dalam hati kita sebagai tanda perjanjian yang baru, seperti yang dinubuatkan oleh para nabi (Yer 31:31-33). Hukum ini diletakkan di dalam diri kita melalui karya Roh Kudus (36:26-27). Dalam Roma 8:2 Paulus secara jelas mengajarkan (NASB “For the law of the Spirit of life in Christ Jesus has set you free from the law of sin and of death”).

Semua tuntutan Taurat sudah digenapi di dalam Kristus melalui ketaatan-Nya yang sempurna (Rm. 8:3-4). Ia memang datang untuk menggenapi Taurat, bukan meniadakannya (Mat. 5:17-19). Di dalam Kristus Taurat telah diberi makna baru. Bagi orang Kristen Taurat bukanlah sebuah legalisme ataupun kumpulan persyaratan untuk keselamatan. Keagamaan legalistik seperti ini (terutama versi Farisi) pasti akan menimbulkan rasa letih lesu dan menjadi beban yang sangat berat bagi mereka yang hidup di bawahnya (Mat. 11:28), karena itu Yesus menawarkan sesuatu yang lain. Kekristenan tetap memiliki beban dan kuk tersendiri, namun kuk ini enak dan bebannya pun ringan, karena kekristenan merupakan proses belajar dari Tuhan Yesus (Mat. 11:29-30). Hidup Kristus merupakan “Taurat” bagi kita. Inilah yang dimaksud dengan hukum Kristus. Sama seperti Kristus telah menunjukkan kasih kepada orang lain, demikian pula ketika kita melakukan hal yang sama kita telah memenuhi hukum Kristus (Gal. 6:2). Sama seperti Kristus telah rela menghambakan diri bagi orang lain (Mrk. 10:43-45), demikian pula Paulus mau mengikuti hukum Kristus ini dengan jalan menjadi hamba bagi semua orang (1Kor. 9:19, 22b). Pendeknya, apa yang dinasehatkan Paulus di 1 Korintus 8-10 dapat dirangkum dalam satu kalimat “jadilah pengikutku sama seperti aku telah menjadi pengikut Kristus” (11:1). Inilah hukum Kristus, Taurat yang sejati.


Bagi Orang yang Lemah (ay. 22a)
Kelompok terakhir yang disinggung Paulus adalah orang yang lemah (asthenēs, ayat 22a). Sekilas kita mungkin berpikir bahwa Paulus sedang membicarakan tentang orang yang lemah secara hati nurani di 8:7-13. Dalam Roma 14:1-15:3 Paulus juga membahas tentang perdebatan seputar makanan dan ia menyinggung tentang orang yang lemah secara hati nurani. Kesan tersebut akan memudar apabila kita memperhatikan konteks yang lebih sempit di 9:19-23. Dalam konteks ini Paulus sedang membicarakan tentang orang-orang yang belum diselamatkan, sebagaimana tersirat dari frase “supaya aku memenangkan mereka…” yang muncul berkali-kali. Dari petunjuk ini kita dapat menyimpulkan bahwa orang yang lemah di 9:22a bukanlah orang Kristen, sedangkan orang yang lemah hati nuraninya di 8:11 adalah orang yang sudah percaya.

Alasan lain mengapa orang yang lemah di 9:22a tidak boleh dipahami sebagai lemah secara hati nurani adalah ketidakadaan kata “seperti” di ayat 22a yang sebelumnya kita dipakai sejak ayat 20. Dalam hal ini terjemahan LAI:TB “aku menjadi seperti orang yang lemah” tidak terlalu tepat (terjemahan ini mungkin dipengaruhi oleh KJV/NKJV “I became as weak”). Semua versi lain memilih “I became weak” (ASV/NASB/RSV/NRSV/NIV/ESV/NET). Jika terjemahan hurufiah ini diikuti maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa Paulus benar-benar lemah. Ia tidak menambahkan “walaupun aku…*tidak lemah+” seperti yang ia pakai di dua ayat sebelumnya (9:20-21), karena ia memang benar-benar lemah. Seandainya lemah di 9:22a dipahami dalam hal hati nurani, maka Paulus pun memiliki kelemahan itu, padahal bukan itu yang terjadi. Jadi, lemah di sini pasti bukan secara hati nurani. Kelemahan di sini adalah kelemahan yang memang dimiliki oleh Paulus juga.

“Orang yang lemah” di 9:22a sebaiknya dilihat dari sisi sosial. Kita sudah membahas berkali-kali bahwa di mata jemaat Korintus Paulus tampak sangat lemah (4:10; 2Kor. 10:10; 11:21; 13:4, 9). Gaya berkhotbah Paulus terlihat lemah jika dibandingkan dengan para orator ulung waktu itu, baik dari sisi isi, penampilan pembicara, maupun cara penyampaian (2:1-5). Pekerjaan Paulus yang kasar sebagai pembuat tenda ikut menegaskan kelemahan Paulus (4:10-13). Semua ini dilakukan Paulus karena ia ingin memenangkan orang lain yang lemah.

Jemaat Korintus sendiri dahulu adalah orang-orang yang lemah menurut ukuran dunia (1:26-28). Setelah bersentuhan dengan hikmat duniawi mereka malah merasa diri kuat dan hebat (1:18, 22-23). Kesombongan inilah yang menjadi salah satu masalah utama dalam jemaat, sehingga Paulus berkali-kali perlu mengajarkan kepada mereka bahwa kekuatan sejati adalah kelemahan di dalam Kristus (2Kor. 11:30; 12:5, 9-10; 13:9). Jika kita lemah, maka kita kuat (2Kor. 12:10a). Sebaliknya, orang yang merasa teguh berdiri maka ia akan jatuh (1Kor. 10:13). Sebuah paradoks yang indah!

Apa yang diajarkan dan dilakukan Paulus di sini bersumber dari ajaran Tuhan Yesus (1Kor. 11:1). Kristus mau mengasihi orang yang lemah (Rm. 5:6). Ia mau menjadi miskin untuk memperkaya orang lain (2Kor. 8:9). Ia disalibkan dalam kelemahan, tetapi dihidupkan dalam kuasa Allah (2Kor. 13:4). Begitu pula dengan Paulus. Ia belajar menjadi lemah menurut ukuran dunia demi injil yang ia beritakan (2Kor. 6:8-10). Sukacita Paulus adalah ketika kelemahannya justru dipakai Tuhan untuk menguatkan orang lain (2Kor. 13:9 “sebab kami bersukacita apabila kami lemah dan kamu kuat).


Aplikasi
Memahami orang lain demi kepentingan Kristus tidaklah mudah. Mengutamakan kepentingan orang merupakan tugas yang rumit. Menjadi seperti orang lain adalah pergumulan yang paling sulit. Bagaimanapun, Allah telah memberikan teladan bagi kita sebagai dorongan bahwa hal itu bukan sesuatu yang mustahil untuk dilakukan. Sama seperti Kristus telah rela meninggalkan kemuliaan sorga dan menjadi sama seperti manusia – bahkan lebih hina daripada semua orang ketika ia menanggung kutuk Allah di kayu salib – demikian pula kita harus mau menjadi lemah demi keselamatan orang lain. Sama seperti Paulus telah mengikuti teladan Yesus yang mau berkorban, demikian pula kita harus mau kehilangan hak dan kebebasan demi Injil. Soli Deo Gloria. #



Sumber:
Mimbar GKRI Exodus, 25 Juli 2010
http://www.gkri-exodus.org/image-upload/SER-1Korintus%2009%20ayat%2019-23%20(4).pdf

06 December 2010

ANUGERAH ALLAH VS KESOMBONGAN: Sebuah Introspeksi Diri Bagi Orang Kristen (Denny Teguh Sutandio)

ANUGERAH ALLAH VS KESOMBONGAN:
Sebuah Introspeksi Diri Bagi Orang Kristen


oleh: Denny Teguh Sutandio



“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”
(Ef. 2:8-9)




Salah satu slogan reformasi Protestan yang dinyatakan oleh Dr. Martin Luther adalah Sola Gratia yang berarti hanya oleh anugerah. Slogan ini bertujuan untuk menyadarkan orang Kristen waktu itu bahwa orang Kristen diselamatkan HANYA melalui anugerah Allah di dalam iman kepada Tuhan Yesus Kristus. Ajaran ini sebenarnya bukan buatan Dr. Luther, tetapi bersumber dari ajaran Alkitab sendiri, salah satunya di Efesus 2:8-9 yang saya kutip di atas. Karena keselamatan adalah melalui anugerah Allah SAJA, maka sudah sepatutnya orang Kristen TIDAK membanggakan dirinya sendiri apalagi ketika berbuat baik.

Anugerah Allah TIDAK hanya berbicara tentang masuk Sorga atau tidak, tetapi berbicara tentang keseluruhan aspek hidup kita. Artinya, anugerah Allah menguasai baik aspek keselamatan, perbuatan baik, dll. Anugerah Allah mengarahkan kita untuk melihat tiga sisi yang saling berkaitan:
Pertama, keutamaan Allah. Orang Kristen yang hidup di dalam anugerah Allah selalu melihat bahwa Allah itu segala-galanya. Ketika ia bisa berbuat baik, ia selalu mengatakan seperti yang Rasul Paulus katakan, “Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” (Flp. 2:13) Berarti, ia sadar bahwa perbuatan baiknya dilakukan bukan karena ia sendiri baik, tetapi karena Allah yang memampukannya. Makin ia sadar tentang hal ini, ia makin memuliakan Allah. Dengan kata lain, Sola Gratia berkaitan erat dengan Soli Deo Gloria (kemuliaan HANYA bagi Allah Trinitas).

Kedua, tanggung jawab manusia. Anugerah Allah yang mengarahkan kita untuk melihat keutamaan Allah juga mengarahkan dan memimpin kita untuk bertanggung jawab. Tanggung jawab manusia ini HANYA respons terhadap anugerah Allah yang telah kita terima sebelumnya, yang meliputi: berapi-api melayani Tuhan dalam segala aspek.

Ketiga, ketidaklayakan manusia. Allah yang telah memberi anugerah kepada kita dan juga memimpin kita untuk bertanggung jawab, Ia juga yang terus menyadarkan kita akan ketidaklayakan kita. Baik melalui Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, Allah berulang kali mengingatkan kita bahwa kita ini hanya debu yang tidak ada apa-apanya tanpa Allah. Beberapa ayat di PB yang jelas mendeskripsikannya: Roma 3:10-18 dan Efesus 2:9.

Namun, bagaimana dengan realitas banyak orang Kristen hari-hari ini? Fakta menyedihkan sekaligus introspeksi diri bagi saya pribadi adalah banyak orang Kristen hari-hari ini sangat menguasai ajaran/doktrin anugerah Allah, namun TIDAK pernah mengaplikasikannya! Tidak heran, makin belajar doktrin anugerah Allah, ia menjadi makin sombong dan merasa diri berjasa serta menghina orang lain. Kesombongan itu termasuk dosa dan dimulai tatkala sebagai manusia, kita sudah merasa diri hebat, lalu menggeser otoritas Allah dan menggantikannya dengan otoritas kita sendiri. Dengan kata lain, kesombongan dimulai dari sikap hati yang ingin melawan Allah dan firman-Nya. Mereka berpikir bahwa dengan melawan Allah dan firman-Nya, mereka merasa hidup mereka akan damai. Namun faktanya adalah justru makin melawan Allah, hidup mereka makin kacau. Perhatikanlah dunia kita sekarang ini: perang, pemerkosaan, dan kejahatan lain yang makin merajalela akibat manusia yang hidup melawan Allah.

Saya membagi dua macam kesombongan: kesombongan aktif dan pasif. Kesombongan aktif adalah suatu kesombongan yang aktif dilakukan seseorang yang bisa dilihat oleh orang banyak, entah itu berupa perkataan maupun tindakan. Misalnya: suka memakai banyak perhiasan dan baju yang bermerk, supaya orang banyak melihat bahwa dirinya itu kaya. Contoh lain, ada orang yang suka membanggakan diri melalui perkataannya kepada orang lain bahwa dia itu orang yang baik, pengertian, suka mengalah, dll.

Sedangkan kesombongan pasif adalah jenis kesombongan yang terselubung yang sering orang tidak sadari. Jenis kesombongan ini hanya bisa dideteksi oleh orang yang cukup dewasa secara rohani yang terus-menerus minta dikoreksi oleh Tuhan sendiri (lebih menyangkut hati). Kesombongan ini mencakup:
1. Kesombongan Rohani
Orang Kristen yang semakin rohani seharusnya makin rendah hati di hadapan Allah, namun faktanya ada juga orang Kristen yang semakin rohani semakin sombong, yang lebih parah lagi jika pendeta yang melakukannya. Kesombongan rohani ditandai dengan:
Pertama, merasa mengetahui segala sesuatu dan tidak membutuhkan bantuan dari orang lain. Misalnya ada beberapa hamba Tuhan yang tanpa benar-benar studi theologi lalu berani naik mimbar dan berkhotbah. Tentu saja khotbahnya banyak yang ngawur, tetapi jika hamba Tuhan ini ditegur kesalahannya, ada yang beralasan bahwa khotbahnya itu dari “Roh Kudus”. Dengan mengatakan hal tersebut, ia menganggap bahwa apa yang diketahuinya itu sudah benar dan tidak mau menerima teguran/kritikan dari orang lain yang lebih mendalami theologi.
Kedua, merasa mengetahui segala sesuatu dan mengkritik yang lain. Kelemahan banyak orang yang belajar theologi adalah makin belajar, makin gemar menuding kesalahan pihak lain. Saya tidak mengatakan bahwa menegur ajaran lain itu salah, tetapi yang saya soroti adalah sampai batas mana kita menegur ajaran lain itu salah. Apakah gara-gara gereja tertentu tidak menjalankan baptisan anak, lalu kita mencap gereja tersebut sebagai sesat? Semakin kita mengurusi hal-hal sekunder dan menganggapnya primer, lalu gemar mengkritik sini-sana, jiwa kritik kita itu membuktikan kita sedang sombong rohani.
Ketiga, merasa mengetahui segala sesuatu dan menunjukkannya kepada orang lain. Ini juga menjadi teguran pribadi buat saya. Orang yang sudah membaca banyak buku biasanya (tidak semua) ingin menunjukkannya kepada orang lain dengan cara mengutip tulisan dari penulis buku, dll. Saya tidak mengatakan bahwa orang yang suka mengutip tulisan itu sebagai orang yang sombong, namun seperti yang Pdt. Billy Kristanto, Ph.D. soroti adalah tatkala kita mengutip tulisan orang lain, apa motivasi kita? Benarkah kutipan itu kita kutip dengan tujuan pembelajaran buat kita dan sharing kepada rekan seiman lain ataukah kita ingin menunjukkan kepada orang lain bahwa kita sudah membaca banyak buku?

2. Kesombongan Dalam Berbuat Baik
Saya tidak menyalahkan perbuatan baik, namun yang saya soroti adalah motivasi di balik kita berbuat baik. Ketika kita hendak menolong orang lain, apa motivasi kita? Benar-benar tulus membantu orang lain ataukah kita ingin orang lain menganggap kita hebat?

3. Kesombongan Dalam Menegur Orang Lain
Ketika kita menegur orang lain, apa motivasi kita? Benarkah kita menegur orang lain sebagai wujud cinta kasih ataukah kita menegur orang lain agar orang lain memandang kita hebat seolah-olah tanpa kita menegurnya, dia akan tersesat, rugi, dll? Sombong atau tidaknya sikap kita dalam menegur orang lain dilihat dari tanggapan kita terhadap reaksi orang yang kita tegur. Jika orang yang kita tegur itu menolak dan marah dengan kita, apa reaksi kita?

4. Kesombongan Karena Usia
Jenis kesombongan ini terjadi HANYA pada orang-orang yang berusia lanjut. Kesombongan ini muncul karena orang-orang ini merasa diri sudah berusia lanjut yang mengaku sudah banyak mengalami banyak hal. Memang harus diakui, dibandingkan generasi muda, orang-orang yang berusia lanjut jauh lebih berpengalaman. Namun pertanyaan saya adalah apakah motivasi mereka terus berkata bahwa mereka lebih berpengalaman daripada generasi muda? Kebanyakan mereka berkata demikian kadang bertujuan baik, yaitu agar para generasi muda memperhatikan nasihat para generasi tua, sehingga tidak salah jalan, namun di sisi lain, mereka sebenarnya hendak mengatakan bahwa perkataan generasi tua harus didengarkan dan ditaati 100%, lalu mereka menganggap orang muda tidak bisa apa-apa (di satu sisi, ada benarnya, namun di sisi lain, tidak selalu benar). Kecenderungan ini dapat dilihat tatkala ada seorang muda yang menegur orang yang berusia lanjut ini. Fakta membuktikan, semakin tua seseorang, ia akan semakin susah ditegur oleh orang lain, bahkan oleh Tuhan sendiri, karena mereka selalu menganggap diri paling hebat, bahkan karena pengaruh beberapa kepercayaan Timur, mereka berani mengidentikkan diri sebagai “Tuhan” yang harus disembah.

5. Kesombongan Karena Pujian Orang Lain
Orang sering kali sombong juga bisa karena terlalu sering dipuji orang lain. Mengapa? Karena orang ini merasa bahwa apa pun yang dia lakukan selalu baik bagi orang lain. Namun pertanyaan lebih tajam, benarkah orang yang memuji orang lain itu selalu tulus? Meskipun saya tidak berani menghakimi motivasi tulus atau tidaknya orang memuji orang lain, namun saya mendapati fakta bahwa ada orang yang suka menyanjung orang lain tidak dengan tulus (tentu tidak semua orang seperti ini). Artinya, di depan orang lain, orang ini bermulut manis menyanjung kehebatan orang lain, namun ketika orang lain tersebut menyingkir, maka orang bermulut manis ini berkata bahwa dia hanya pura-pura memuji dia (bahasa Jawa: mbasahi lambe). Nah, kita yang suka bermulut manis menyanjung orang lain, berhati-hatilah terhadap perkataan kita, karena jika kita terus menyanjung orang lain, kita berpotensi untuk membuat orang lain tersebut itu sombong dan secara tidak langsung, kita juga ikut berdosa, karena mendorong orang lain berdosa.


Namun, patut diperhatikan bahwa kesombongan berbeda dengan mengatakan kebenaran/kejujuran. Perbedaannya terletak pada motivasi hati. Kesombongan dimotivasi ingin membanggakan diri, sedangkan mengatakan kebenaran/kejujuran dimotivasi oleh kasih (ingin berbagi berkat). Misalnya, ada seorang yang menceritakan pengalamannya, entah itu pengalaman pelayanan, dll, motivasi dan tujuan orang itu bercerita itu ada dua: sekadar sharing untuk menjadi berkat bagi orang lain ataukah ingin menyombongkan diri. Kalau benar-benar ingin sharing, maka cerita pengalaman tersebut tidak diucapkannya berulang kali atau mendominasi hampir seluruh pembicaraannya. Sedangkan kalau untuk membanggakan diri, biasanya orang tersebut terus-menerus mengulang cerita pengalaman tersebut atau menceritakan pengalaman tersebut selama mungkin (hampir mendominasi seluruh pembicaraannya) karena orang ini menginginkan pengalamannya itu didengar oleh orang lain dan orang lain akhirnya memuji orang ini yang memiliki banyak pengalaman.


Lalu, bagaimana mengobati penyakit kesombongan kita? Tidak ada jalan lain, kecuali Roh Kudus memampukan kita untuk berfokus pada anugerah Allah. Tatkala kita memfokuskan hidup kita pada anugerah-Nya, kita dimampukan-Nya untuk menyadari bahwa Allah itu segala-galanya, kita harus bertanggung jawab, dan apa pun yang kita lakukan itu tidak berarti tanpa Allah. Sambil menyadari keutamaan Allah dan ketidaklayakan manusia, di saat itulah, kita menyadari bahwa TIDAK ada sesuatu yang patut kita sombongkan, karena kita ini debu adanya. Belajarlah mulai sekarang untuk mengaitkan segala sesuatu yang kita kerjakan yang berkenan di hadapan-Nya sebagai anugerah Allah. Ketika kita belajar dan mendapatkan nilai baik, belajarlah mengakui bahwa itu adalah anugerah Allah dan bersyukurlah serta belajarlah lebih giat lagi untuk memuliakan-Nya. Ketika kita bekerja dan pekerjaan kita diberkati Tuhan, belajarlah melihat bahwa itu adalah anugerah Allah, lalu bersyukurlah dengan bekerja lebih baik demi kemuliaan-Nya. Meskipun kita gagal entah itu di dalam belajar dan bekerja, lihatlah itu sebagai kehendak Allah yang menyadarkan kita agar kita berusaha lebih giat lagi bagi kemuliaan-Nya. Mengaitkan segala sesuatu dengan anugerah dan kehendak Allah membuat kita tidak sombong, selalu bersyukur, dan terus bekerja lebih giat lagi bagi kemuliaan-Nya.


Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menyadari betapa besar anugerah-Nya sambil menyadari bahwa kita tidak layak untuk menyombongkan diri? Biarlah melalui renungan singkat ini bukan hanya kita mengerti secara teori di kepala kita saja, tetapi menyadarkan kita untuk terus-menerus hidup di dalam anugerah Allah. Amin. Soli Deo Gloria.

01 December 2010

EKSPOSISI 1 KORINTUS 9:19-23 (3) (Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.)

EKSPOSISI 1 KORINTUS 9:19-23 (3)

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.



Nats: 1 Korintus 9:19-23 (3)



Dalam beberapa khotbah yang lalu kita sudah belajar bahwa status Paulus sebagai hamba Allah (9:15-18) membuat ia bebas dari semua orang (seorang budak tidak mungkin memiliki dua tuan). Walaupun ia bebas dari semua orang, namun Paulus rela menghambakan diri pada semua orang (9:19). Sebagai contoh, ia mau menjadi seperti orang Yahudi maupun mereka yang hidup di bawah Hukum Taurat supaya ia bisa memenangkan mereka (9:20). Dalam khotbah kali ini kita akan melihat dua kelompok orang yang lain yang kepada mereka Paulus pun mau menghambakan diri. Mereka adalah orang yang tidak hidup di bawah Hukum Taurat (9:21) dan mereka yang lemah (9:22a).


Bagi Orang yang Tidak Hidup Di Bawah Hukum Taurat (ay. 21)
Di ayat ini Paulus menyinggung tentang orang yang tidak hidup di bawah Hukum Taurat (ay. 21a). Dalam teks Yunani dipakai sebutan anomos (a = tidak; nomos = hukum). Kata ini dalam Alkitab seringkali memiliki arti negatif yang merujuk pada orang/tindakan yang anti atau melanggar hukum (Luk. 22:37; Kis. 2:23; 2Tes. 2:8; 1Tim. 1:9; 2Ptr. 2:8). Apakah arti seperti ini yang dimaksud Paulus di 1 Korintus 9:19-23?

Kita tampaknya harus memikirkan alternatif arti yang lain, karena arti di atas tidak sesuai dengan konteks 1 Korintus 9:19-23. Paulus sedang memikirkan anomos dalam arti status (orang yang tidak memiliki Hukum Taurat = non Yahudi), bukan tindakan (orang durhaka/pelanggar Hukum Taurat). Ada beberapa alasan yang kuat mengapa kita sebaiknya memahami anomos di ayat ini bukan secara negatif. Pertama, walaupun kata sifat anomos sering berarti negatif, tetapi kata keterangan anomōs pernah dipakai Paulus untuk orang-orang non Yahudi secara umum yang berdosa tanpa Hukum Taurat (Rm. 2:12). Dari konteks yang ada anomōs di sini berarti “orang yang tidak memiliki Taurat”, bukan yang melanggar Taurat (bdk. “berdosa tanpa Taurat”, “dihakimi tanpa Taurat”). Kedua, paralelisme dengan kelompok “mereka yang hidup di bawah Hukum Taurat” (hypo nomon, 9:20b) mendorong kita menafsirkan anomos secara sejajar tetapi kebalikan dari hypo nomon. Karena hypo nomon lebih mengarah pada status sosial Yahudi, maka anomos juga kemungkinan besar dipahami dalam konteks status sosial non-Yahudi. Ketiga, jika anomos di 9:21 merujuk pada pelanggar Hukum Taurat, maka Paulus tidak mungkin mengungkapkan “aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah Taurat”. Ia tidak mungkin mengikuti dosa mereka, apalagi di ayat ini ia juga menambahkan “aku tidak hidup di luar hukum Allah tetapi di bawah Hukum Kristus”. Jadi, anomos di sini merupakan ungkapan lain untuk orang-orang non-Yahudi yang tidak hidup di bawah Taurat.

Ketika Paulus mengatakan bahwa ia hidup seperti anomos, ia tidak mungkin memaksudkan ini secara etnis, karena ia secara etnis tidak mungkin berubah dari orang Yahudi menjadi orang non-Yahudi. Ungkapan ini pasti merujuk pada kebiasaan hidup atau budaya non Yahudi. Secara khusus, Paulus sedang membicarakan tentang kebiasaan makan, karena memang isu di pasal 8-10 adalah tentang makanan. Di tengah komunitas non-Yahudi Paulus mengikuti pola makan mereka. Ia tidak keberatan jika harus membeli bahan makanan di pasar yang pasti sudah dipersembahkan sebelumnya kepada para dewa (10:25-26). Ia tidak menghindari ajakan makan orang lain (10:27).

Tindakan ini membutuhkan keberanian yang besar dan pemahaman teologis yang kuat. Bagi orang Yahudi, makan bersama orang non-Yahudi merupakan sesuatu yang sangat sensitif, menimbulkan ketidaknyamanan dan agak mustahil untuk dilakukan (Kis. 10:11-15, 28; Gal. 2:11-14). Cara memasak maupun memakan orang non-Yahudi tidak mungkin memenuhi peraturan kosher (halal) versi Yahudi. Bagaimanapun, Paulus rela membangun relasi dengan orang non-Yahudi dengan resiko bahwa ia harus merasa tidak terbiasa dan berpotensi untuk disalahpahami orang Yahudi yang lain. Ia bisa saja dianggap sebagai pelanggar Taurat atau orang yang gaya hidupnya plin-plan sesuai pergaulan yang ada.

Paulus selanjutnya memberi tambahan bahwa ia tidak hidup di luar hukum Allah (ay. 21b). Dalam teks Yunani kita dengan mudah menemukan permainan kata di sini: Paulus menjadi seperti anomos, tetapi ia sendiri bukanlah anomos Allah. Ia memang mengadopsi kebiasaan orang non-Yahudi yang tidak memiliki Taurat, tetapi bukan berarti bahwa ia sendiri hidup tanpa aturan. Ia mau menjadi “without law” (tanpa hukum), tetapi ia bukan“lawless” (“pelanggar hukum”). Hal ini mengajarkan sesuatu yang sangat penting bahwa kebebasan Kristiani di dalam Kristus bukan berarti “antinomianisme” (sebuah paham yang menekankan kebebasan mutlak tanpa aturan sama sekali). Kita memang tidak hidup di bawah Taurat lagi, namun itu bukanlah izin untuk hidup secara sembarangan (Rm. 6:14-15).

Bagi Paulus orang percaya tidak mungkin hidup tanpa hukum. Kita berada di bawah hukum Allah (7:19). Dengan demikian kita bisa mengatakan bahwa selalu ada batasan dalam kebebasan Kristiani. Dalam kaitan dengan isu seputar makanan, Paulus pun memiliki batasan yang jelas. Ia tidak mau makan bersama orang non-Yahudi di dalam kuil mereka, karena itu tergolong penyembahan berhala (10:6-22). Ketika ia menerima undangan makan orang lain dan tindakan itu menjadi batu sandungan, Paulus memilih untuk tidak meneruskan makan (10:28).

Penegasan Paulus bahwa ia tidak hidup di luar hukum Allah merupakan sesuatu yang perlu dilakukan. Paulus memikirkan dua tujuan di sini. Ia ingin menghindari kesalahpahaman atau fitnahan orang lain yang sering menuduh dia meniadakan tuntutan hukum (Kis. 21:21; Rom 3:8) untuk menyenangkan hati banyak orang (Gal. 1:10). Ia juga ingin menegur sebagian jemaat Korintus yang menganggap keselamatan di dalam Kristus sebagai alasan untuk hidup sembarangan (5:1-3; 6:13). Mereka secara sembarangan menggunakan kebebasan Kristiani sampai menjadi batu sandungan bagi orang lain (8:9).

“Hukum Allah” yang dimaksud Paulus sangat berkaitan dengan Kristus (ay. 21c). Hukum ini adalah hukum Kristus. Paulus jelas tidak sedang mengatakan bahwa Hukum Taurat bukanlah hukum dari Allah. Apa yang ingin disampaikan Paulus di sini adalah perspektif yang baru tentang Taurat. Orang Kristen tetap memiliki “Taurat”, yaitu Taurat yang dituliskan Allah dalam hati kita sebagai tanda perjanjian yang baru, seperti yang dinubuatkan oleh para nabi (Yer 31:31-33). Hukum ini diletakkan di dalam diri kita melalui karya Roh Kudus (36:26-27). Dalam Roma 8:2 Paulus secara jelas mengajarkan (NASB “For the law of the Spirit of life in Christ Jesus has set you free from the law of sin and of death”).

Semua tuntutan Taurat sudah digenapi di dalam Kristus melalui ketaatan-Nya yang sempurna (Rm. 8:3-4). Ia memang datang untuk menggenapi Taurat, bukan meniadakannya (Mat. 5:17-19). Di dalam Kristus Taurat telah diberi makna baru. Bagi orang Kristen Taurat bukanlah sebuah legalisme ataupun kumpulan persyaratan untuk keselamatan. Keagamaan legalistik seperti ini (terutama versi Farisi) pasti akan menimbulkan rasa letih lesu dan menjadi beban yang sangat berat bagi mereka yang hidup di bawahnya (Mat. 11:28), karena itu Yesus menawarkan sesuatu yang lain. Kekristenan tetap memiliki beban dan kuk tersendiri, namun kuk ini enak dan bebannya pun ringan, karena kekristenan merupakan proses belajar dari Tuhan Yesus (Mat. 11:29-30). Hidup Kristus merupakan “Taurat” bagi kita. Inilah yang dimaksud dengan hukum Kristus. Sama seperti Kristus telah menunjukkan kasih kepada orang lain, demikian pula ketika kita melakukan hal yang sama kita telah memenuhi hukum Kristus (Gal. 6:2). Sama seperti Kristus telah rela menghambakan diri bagi orang lain (Mrk. 10:43-45), demikian pula Paulus mau mengikuti hukum Kristus ini dengan jalan menjadi hamba bagi semua orang (1Kor. 9:19, 22b). Pendeknya, apa yang dinasehatkan Paulus di 1 Korintus 8-10 dapat dirangkum dalam satu kalimat “jadilah pengikutku sama seperti aku telah menjadi pengikut Kristus” (11:1). Inilah hukum Kristus, Taurat yang sejati.


Bagi Orang yang Lemah (ay. 22a)
Kelompok terakhir yang disinggung Paulus adalah orang yang lemah (asthenēs, ayat 22a). Sekilas kita mungkin berpikir bahwa Paulus sedang membicarakan tentang orang yang lemah secara hati nurani di 8:7-13. Dalam Roma 14:1-15:3 Paulus juga membahas tentang perdebatan seputar makanan dan ia menyinggung tentang orang yang lemah secara hati nurani. Kesan tersebut akan memudar apabila kita memperhatikan konteks yang lebih sempit di 9:19-23. Dalam konteks ini Paulus sedang membicarakan tentang orang-orang yang belum diselamatkan, sebagaimana tersirat dari frase “supaya aku memenangkan mereka…” yang muncul berkali-kali. Dari petunjuk ini kita dapat menyimpulkan bahwa orang yang lemah di 9:22a bukanlah orang Kristen, sedangkan orang yang lemah hati nuraninya di 8:11 adalah orang yang sudah percaya.

Alasan lain mengapa orang yang lemah di 9:22a tidak boleh dipahami sebagai lemah secara hati nurani adalah ketidakadaan kata “seperti” di ayat 22a yang sebelumnya kita dipakai sejak ayat 20. Dalam hal ini terjemahan LAI:TB “aku menjadi seperti orang yang lemah” tidak terlalu tepat (terjemahan ini mungkin dipengaruhi oleh KJV/NKJV “I became as weak”). Semua versi lain memilih “I became weak” (ASV/NASB/RSV/NRSV/NIV/ESV/NET). Jika terjemahan hurufiah ini diikuti maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa Paulus benar-benar lemah. Ia tidak menambahkan “walaupun aku…*tidak lemah+” seperti yang ia pakai di dua ayat sebelumnya (9:20-21), karena ia memang benar-benar lemah. Seandainya lemah di 9:22a dipahami dalam hal hati nurani, maka Paulus pun memiliki kelemahan itu, padahal bukan itu yang terjadi. Jadi, lemah di sini pasti bukan secara hati nurani. Kelemahan di sini adalah kelemahan yang memang dimiliki oleh Paulus juga.

“Orang yang lemah” di 9:22a sebaiknya dilihat dari sisi sosial. Kita sudah membahas berkali-kali bahwa di mata jemaat Korintus Paulus tampak sangat lemah (4:10; 2Kor. 10:10; 11:21; 13:4, 9). Gaya berkhotbah Paulus terlihat lemah jika dibandingkan dengan para orator ulung waktu itu, baik dari sisi isi, penampilan pembicara, maupun cara penyampaian (2:1-5). Pekerjaan Paulus yang kasar sebagai pembuat tenda ikut menegaskan kelemahan Paulus (4:10-13). Semua ini dilakukan Paulus karena ia ingin memenangkan orang lain yang lemah.

Jemaat Korintus sendiri dahulu adalah orang-orang yang lemah menurut ukuran dunia (1:26-28). Setelah bersentuhan dengan hikmat duniawi mereka malah merasa diri kuat dan hebat (1:18, 22-23). Kesombongan inilah yang menjadi salah satu masalah utama dalam jemaat, sehingga Paulus berkali-kali perlu mengajarkan kepada mereka bahwa kekuatan sejati adalah kelemahan di dalam Kristus (2Kor. 11:30; 12:5, 9-10; 13:9). Jika kita lemah, maka kita kuat (2Kor. 12:10a). Sebaliknya, orang yang merasa teguh berdiri maka ia akan jatuh (1Kor. 10:13). Sebuah paradoks yang indah!

Apa yang diajarkan dan dilakukan Paulus di sini bersumber dari ajaran Tuhan Yesus (1Kor. 11:1). Kristus mau mengasihi orang yang lemah (Rm. 5:6). Ia mau menjadi miskin untuk memperkaya orang lain (2Kor. 8:9). Ia disalibkan dalam kelemahan, tetapi dihidupkan dalam kuasa Allah (2Kor. 13:4). Begitu pula dengan Paulus. Ia belajar menjadi lemah menurut ukuran dunia demi injil yang ia beritakan (2Kor. 6:8-10). Sukacita Paulus adalah ketika kelemahannya justru dipakai Tuhan untuk menguatkan orang lain (2Kor. 13:9 “sebab kami bersukacita apabila kami lemah dan kamu kuat).


Aplikasi
Memahami orang lain demi kepentingan Kristus tidaklah mudah. Mengutamakan kepentingan orang merupakan tugas yang rumit. Menjadi seperti orang lain adalah pergumulan yang paling sulit. Bagaimanapun, Allah telah memberikan teladan bagi kita sebagai dorongan bahwa hal itu bukan sesuatu yang mustahil untuk dilakukan. Sama seperti Kristus telah rela meninggalkan kemuliaan sorga dan menjadi sama seperti manusia – bahkan lebih hina daripada semua orang ketika ia menanggung kutuk Allah di kayu salib – demikian pula kita harus mau menjadi lemah demi keselamatan orang lain. Sama seperti Paulus telah mengikuti teladan Yesus yang mau berkorban, demikian pula kita harus mau kehilangan hak dan kebebasan demi injil. Soli Deo Gloria. #



Sumber:
Mimbar GKRI Exodus, 23 Mei 2010
http://www.gkri-exodus.org/image-upload/SER-1 Korintus%2009%20ayat%2019-23%20(3).pdf

28 November 2010

THE DEATH OF THE AUTHOR: Tinjauan Kritis Iman Kristen terhadap Penyimpangan Penggunaan Kata (Denny Teguh Sutandio)

THE DEATH OF THE AUTHOR:
Tinjauan Kritis Iman Kristen terhadap Penyimpangan Penggunaan Kata


oleh: Denny Teguh Sutandio



PENDAHULUAN: THE DEATH OF THE AUTHOR ALA POSTMODERNISME
Mau tidak mau, suka tidak suka, kita sedang hidup di zaman postmodern dengan ide postmodernisme yang salah satu ajarannya berusaha menghilangkan makna asali/sesungguhnya dan menggantikannya dengan makna subjektif. Di dalam ilmu penafsiran (hermeneutika) ala postmodernisme, kita mengenalnya dengan istilah the death of the author (matinya sumber). Istilah ini berarti makna dari suatu teks atau perkataan TIDAK lagi ditafsirkan dari perspektif sumbernya (penulis atau pembicara/orang yang berkata), tetapi boleh ditafsirkan oleh si pembaca dan orang yang mendengarkan perkataan tersebut. Dengan kata lain, istilah ini berarti setiap orang boleh menafsirkan teks atau perkataan orang lain semau gue tanpa harus sesuai dengan maksud asli dari sumbernya. Tidak heran, dunia penafsiran entah itu umum maupun Alkitab semakin kacau. Semakin lama kita juga makin memperhatikan bahwa satu kata yang aslinya bersifat agung dan indah akhirnya ditafsirkan sedemikian rupa, sehingga makna kata tersebut sekarang tidak lagi sesuai dengan makna asali karena telah ditafsirkan dengan muatan tertentu yang menguntungkan diri sendiri. Kata-kata apa saja yang sering ditafsirkan seenaknya sendiri? Bagaimana kita sebagai orang Kristen terpanggil untuk mengatakan sesuatu yang sesuai dengan makna asalinya?




VARIASI PENYIMPANGAN KATA DAN TINJAUAN KRITISNYA
Kita akan mencoba menunjukkan variasi kata yang sering kali ditafsirkan seenaknya sendiri yang tidak sesuai dengan makna asalinya dengan mencoba memberikan definisi yang sebenarnya kemudian penyimpangan maknanya (demi menguntungkan diri sendiri), lalu terakhir kita akan mengkritisinya. Kata-kata tersebut meliputi:
1. Rohani
Dunia kita memahami arti rohani itu sebagai lawan dari jasmani (rohaniah >< batiniah). Tetapi Alkitab memiliki definisi yang lebih agung dari definisi dunia. Alkitab TIDAK pernah memisahkan antara jasmani dan rohani, karena itu satu kesatuan dalam diri manusia. Namun ketika mendefinisikan rohani, maka Alkitab secara implisit memberikan definisi sebagai sebuah kondisi di mana seseorang berjalan bersama Roh Allah untuk taat kepada Kristus dengan menjadikan firman Allah, Alkitab sebagai satu-satunya sumber dan dasar bagi iman dan praktik hidup Kristen. Seorang yang rohani adalah seorang yang taat kepada Allah dan kehendak-Nya melalui firman-Nya. Itulah yang dimaksud Paulus dengan hidup oleh Roh di Galatia 5:16, “Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.” (yang dijelaskan Paulus kemudian sebagai buah Roh di ayat 22-23)

Namun sayang sekali, hari-hari ini, istilah agung “rohani” dimengerti dengan sesuatu yang benar-benar membingungkan. Seorang “Kristen” (lebih tepatnya Katolik Roma) yang mengaku diri “rohani” dapat memilih seorang istri yang berbeda iman sama sekali, apa alasannya? Saudara sepupunya menjawab bahwa agama dari istri ini mirip dengan Kristen, di mana penganut agama ini menyembah “Tuhan” yang sama dengan Kristen (Allah Bapa). Padahal Alkitab dengan jelas dan tanpa kompromi mengajar kita, “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?” (2Kor. 6:14) TIDAK ada pengecualian dari firman Tuhan ini: jangan mencari pasangan yang berbeda iman! Tetapi herannya mengapa yang dikatakan rohani bisa melanggar firman Tuhan? Itu rohani dari sebelah mana?

Definisi “rohani” juga diselewengkan dengan pengertian sebagai suatu aktivitas agamawi atau sekadar pengalaman ekstase agamawi. Orang lain melihat seseorang itu rohani karena orang tersebut berdoa sebelum makan, rajin mengikuti acara gereja, bahkan rajin mendalami Alkitab, namun sayangnya tidak mengalami hubungan intim dengan Tuhan. Pengetahuan theologisnya hanya bersarang di otak tanpa pernah ada pengalaman rohani. Namun di sisi lain, ada yang mengukur orang rohani dari gejala pengalaman ekstase, misalnya: sering bertemu Tuhan di dalam doa, mendapat “wahyu” dari Tuhan, dll, namun sayangnya Alkitab dilecehkan dengan menganggap Alkitab lebih rendah dari pengalaman ekstase mereka. Kedua hal ekstrem ini tentu TIDAK benar, karena rohani TIDAK pernah berat sebelah! Hidup rohani selalu terintegritas dan menyeluruh, di mana pengetahuan iman sesuai dengan Alkitab yang dimulai dari hati yang mengasihi Allah selalu mengakibatkan pemikiran, perkataan, dan tindakannya memuliakan-Nya. Dengan kata lain, di dalam Kekristenan, TIDAK pernah ada dualisme: agama vs sains! Oleh karena itu, makin mencintai Tuhan dan belajar firman-Nya, orang yang rohani makin rendah hati, rela dikoreksi oleh orang lain asalkan itu sesuai dengan firman-Nya. Namun herannya, orang yang mengklaim diri “rohani” hari-hari ini makin hidup “rohani”, makin merasa diri hebat. Jika ada ajaran/imannya salah, lalu ditegur, selalu ada saja alasannya. Saya makin meragukan: layakkah orang tersebut disebut “rohani”?


2. Pendidikan Dekrit Pertama
Seorang yang rohani mempengaruhi cara orang tersebut mendidik anaknya. Orang yang hatinya untuk Tuhan selalu mendidik anaknya untuk takut akan Tuhan. Itulah yang dimaksud oleh Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div. dengan pendidikan dekrit pertama (first decree). Kalau kita kembali kepada Alkitab, maka Alkitab dengan jelas mengajar para orangtua untuk mendidik anak-anak mereka untuk takut akan Tuhan. Perhatikan firman Allah sendiri kepada Musa, “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.” (Ul. 6:4-7) Di dalam Dasa Titah, pada permulaan, Allah sendiri mengingatkan Israel akan siapakah Allah itu yang harus disembah (Kel. 20:2), lalu disusul dengan titah pertama, “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.” (Kel. 20:3) Setelah pengenalan akan Allah beres, baru disusul dengan perintah lain, termasuk salah satunya menghormati orangtua (Kel. 20:12). Dengan kata lain, Allah menginginkan anak dari kecil mengenal Penciptanya terlebih dahulu dan tentunya menjalankan kehendak-Nya secara pribadi di dalam diri anak tersebut, baru setelah itu diajar untuk menghormati orangtua. Namun ada orang yang mendengarkan uraian Pdt. Sutjipto tentang pendidikan dekrit pertama ini lalu (sengaja) menyimpangkan artinya dengan mengajar bahwa anak dari kecil harus dididik yang benar (yang benar ditafsirkan sebagai memenuhi kehendak orangtua). Jadi, yang menjadi Allah dalam hidup seorang anak itu siapa: Allah Trinitas atau orangtua? Benar-benar mengenaskan orang ini.


3. Cinta
Seorang yang hatinya untuk Tuhan sebenarnya memiliki konsep cinta yang beres, karena Allah itu adalah Kasih (God is Love). Apa itu cinta/kasih? Alkitab mengajarkan bahwa Allah adalah Kasih. Di dalam kasih Allah, ada kepemilikan (Allah terlebih dahulu memilih beberapa manusia untuk diselamatkan di dalam Kristus—Rm. 8:29-30), pengorbanan (Kristus berkorban demi mereka yang telah dipilih Allah), Kebenaran atau Truth (menuntun manusia untuk mengenal Allah yang sejati), keadilan (menuntun manusia untuk berlaku adil), kejujuran dan ketulusan (mengajar manusia untuk berkata jujur dan murni dari hati), dll. Dan di dalam perspektif theologi Reformed, objek kasih Allah kepada dunia dibagi menjadi dua: secara umum yaitu kepada semua orang tanpa kecuali (Mat. 5:45) dan secara khusus yaitu HANYA kepada umat pilihan-Nya melalui pemeliharaan keselamatan, kehidupan, dll, sehingga umat pilihan-Nya memiliki hidup yang lebih dari pemenang (Rm. 8:37). Itu semua konteksnya adalah kasih Allah. Namun di Alkitab juga ada wujud kasih lain, yaitu kasih antar saudara, suami dan istri, dll. Tentang hubungan spesial suami dan istri, Alkitab secara konsisten mengajar kita bahwa pernikahan monogami yang dikehendaki-Nya (Kej. 2:24; Mat. 19:5; Ef. 5:31). Di dalam teks Yunaninya, Matius 19:5 dan Efesus 5:31, kata laki-laki dan perempuan sama-sama menggunakan bentuk tunggal, sehingga sangat jelas bahwa Allah memerintahkan pernikahan monogami! Namun karena dosa, maka Allah membiarkan orang-orang di zaman Perjanjian Lama memiliki lebih dari 1 istri (yang akhirnya bermasalah: perkelahian di antara anak-anak dari istri yang berbeda, dll) dengan maksud untuk mengajar kita sekarang tentang bahaya pernikahan poligami. Bahkan di dalam titah ketujuh, Allah sendiri berfirman, “Jangan berzinah.” (Kel. 20:14) Berarti Ia menginginkan kesetiaan di dalam hubungan cinta suami dan istri. Lebih dipertajam lagi, Ia menginginkan jika kita mengatakan bahwa kita mencintai seseorang, kita benar-benar setia terhadap orang yang kita cintai! Berarti, cinta MANUSIA hanya ditujukan kepada satu orang saja (ada komitmen yang jelas, bukan ngegombal)! Di luar itu dianggap berzinah.

Namun hari-hari ini, dunia kita melalui film-film Holywood mengajar generasi muda dengan suatu ide bahwa cinta itu sesuatu yang murah, bisa dikatakan kepada siapa pun tanpa adanya ikatan komitmen yang jelas! Ambil contoh, tontonlah film Holywood (500) Days of Summer (2009) yang mengisahkan seorang cewek (Zooey Deschanel berperan sebagai Summer Finn) yang sudah memiliki pacar dengan mudahnya pergi berdua dengan cowok lain (Joseph Gordon-Levitt berperan sebagai Tom Hansen) bahkan yang paling gila, bermain seks dengan si cowok lain tersebut, lalu setelah itu Summer Finn mengatakan bahwa ia sudah memiliki pacar. Akibatnya Tom Hansen sedih karena telah dibohongi oleh Summer, namun di akhir cerita, Summer yang sudah menikah (dengan pacarnya) ini mendatangi Tom dan masih memegang tangan si Tom. Lain halnya dengan film Holywood yang lain, My Girlfriend’s Boyfriend (2010) yang menceritakan sosok janda yang bernama Jesse Young (diperankan oleh Alyssa Milano) berkenalan dengan dua cowok sekaligus (Ethan Reed dan Troy Parker) di kafe tempat ia bekerja. Kedua cowok ini meminta nomer HP si Jesse, kemudian di tempat dan waktu berbeda, masing-masing cowok mengajak Jesse pergi berkencan, dan si Jesse menyanggupinya. Kemudian, ketika kedua cowok ini mengatakan mencintai Jesse, tanpa pikir panjang si Jesse menerima cinta mereka berdua (dengan mengatakan, “I love you” kepada mereka berdua di tempat dan waktu berbeda) dan berpacaran dengan mereka.

Gara-gara film Holywood ini dan lagu Putus Nyambung ditambah berita perceraian dari banyak artis dan memang karena natur manusia yang berdosa, perhatikanlah gaya hidup generasi muda zaman postmodern. Seorang cowok/cewek yang sudah resmi berpacaran bisa dengan mudahnya berkenalan dengan lawan jenis lain, lalu ketika ditanya, siapa lawan jenis tersebut, mereka menjawab bahwa itu hanya “teman”. Lagi-lagi alasan klise! Benarkah orang tersebut DAPAT membedakan dengan jelas mana teman dengan “teman” (teman spesial)? Kalau dalam tahap berpacaran saja, sudah tidak setia dan mudah berkenalan dengan lawan jenis lain, bagaimana jika orang ini menikah? Dijamin kalau tidak segera bertobat, orang ini akan dengan mudahnya berselingkuh, namun untuk menutupi perselingkuhannya (natur manusia berdosa: sudah berdosa, masih tidak mau mengakui dosanya), maka ia akan beralasan, “kami hanya berteman biasa, tidak lebih.” Saya jadi teringat akan peringatan dari Pdt. Yohan Candawasa, S.Th. dalam rekaman MP3 dari Seminar: Ambillah Aku Melayani Engkau yang mengatakan bahwa perselingkuhan (dalam pernikahan) dimulai dari persahabatan! Beliau mengatakan bahwa awal-awalnya cowok dan cewek (pasangan selingkuh) sama-sama mengatakan, “kami hanya berteman biasa, tidak lebih”, namun waktu membuktikan bahwa “pertemanan” itu mengakibatkan perselingkuhan. Oleh karena itu, beliau memberikan tanda awas kepada para pelayan Tuhan (dan tentunya kita sebagai jemaat Kristen) untuk tidak merasa diri bisa mengendalikan segala pencobaan. Pdt. Dr. Stephen Tong di dalam Seminar Pembinaan Iman Kristen (SPIK) 2010: Rahasia Kemenangan Menuju Cinta dan Seks Menuju Pernikahan juga mengatakan hal serupa bahwa perselingkuhan terjadi justru di dalam persahabatan (rekan bisnis, dll) di mana seorang cowok dan cewek berada di dalam satu kantor yang sama. Si cowok tidak puas dengan istrinya dan si cewek tidak puas dengan suaminya, akhirnya si cowok dan cewek ini akhirnya ada affair dan keluarga mereka berantakan!


4. Bekerja
Seorang yang hatinya untuk Tuhan adalah seorang yang terus-menerus bergumul untuk mencari kehendak Tuhan di dalam profesinya. Ia akan bekerja sesuai dengan talenta yang Tuhan telah percayakan kepadanya. Apa itu bekerja? Apa motivasi bekerja? Rasul Paulus di dalam Efesus 2:10 mengajar kita tentang kaitan panggilan Allah dan profesi, “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” Dari ayat ini, kita diajar oleh Allah melalui Paulus bahwa setelah kita diselamatkan melalui anugerah Allah oleh iman di dalam Kristus (Ef. 2:8-9), maka kita yang telah diciptakan oleh Allah harus mengerjakan sesuatu yang telah disiapkan-Nya sebelumnya. Secara logis, maka Allah yang mencipta manusia tentu adalah Allah yang memberikan talenta yang BERBEDA kepada manusia dan manusia bertugas untuk menemukan talenta itu dan mengembangkannya demi kemuliaan-Nya. Orang yang diberi talenta oleh Tuhan untuk melayani-Nya di dalam bidang musik JANGAN dipaksa untuk bekerja bisnis, karena talentanya bukan di situ, demikian juga sebaliknya kalau orang memang berbakat dagang jangan disuruh menyanyi, biasanya banyak dari mereka suaranya gak karuan, hehehe. Berarti, setiap orang yang telah diberi Tuhan talenta tertentu harus mengembangkan talenta itu di dalam profesi tertentu/khusus yang memuliakan-Nya dan profesi itu TIDAK melulu hanya satu jenis. Mengutip khotbah mimbar dari Pdt. Hendry Ongkowidjojo, M.Th. tanggal 28 November 2010, setiap orang itu bekerja, entah itu ayah/suami bekerja di kantor, ibu/istri bekerja di rumah sebagai ibu rumah tangga, anak bekerja sebagai siswa/mahasiswa, dll.

Namun, karena pengaruh dari materialisme dan utilitarianisme dari manusia berdosa (khususnya pengaruh materialisme dari beberapa filsafat Timur/Tiongkok atau mungkinkah pengaruh dari bukunya Robert T. Kiyosaki, “Rich Dad, Poor Dad”?), maka beberapa orang “Kristen” mengidentikkan bekerja dengan berdagang! Jika seseorang tidak bisa berdagang, maka orang itu dianggap tidak bisa bekerja. Mengapa? Karena bekerja hari-hari ini diidentikkan dengan menghasilkan uang (banyak)! Tidak heran, seorang ibu yang berasal dari sebuah gereja Injili Tionghoa di Surabaya menghina saudara sepupunya yang adalah seorang penginjil sebagai orang yang tidak bisa bekerja. Jika pengertian bekerja identik dengan berdagang, maka orang yang paling tidak bisa bekerja adalah Tuhan Yesus! Saya menantang ibu Kristen ini, beranikah ia menghina Yesus tidak bekerja hanya karena Ia tidak pernah berdagang di dunia? Jika tidak berani, lalu dengan dasar pikir apa ia menghina sepupunya yang adalah seorang penginjil sebagai seorang yang tidak bisa bekerja?


5. Dinamis
Orang yang hatinya untuk Tuhan mengakibatkan ia akan peka melihat pimpinan Roh Kudus di dalam setiap inci kehidupannya. Dan Alkitab mengajar kita bahwa pimpinan Roh Kudus adalah pimpinan yang DINAMIS di dalam hidup kita. Kata dinamis berasal dalam kata Yunani dunamis (δύναμις) yang dalam Alkitab LAI diterjemahkan “kuasa”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia/KBBI (1990), dinamis diartikan sebagai, “penuh semangat dan tenaga sehingga cepat bergerak dan mudah menyesuaikan diri dng keadaan dsb;” (hlm. 206) Berarti, dinamis berarti yang memiliki kekuatan besar, entah itu kuasa, mukjizat, dll dan itu dikaitkan dengan karya Allah. Oleh karena jalan-Nya berbeda dengan jalan kita, maka sesuatu yang dinamis dari Allah pasti sesuatu yang melampaui jalan pikiran manusia. Akibatnya, kita harus siap sedia tatkala Ia menginterupsi apa yang kita ingin kerjakan, karena kehendak kita tidak sesuai dengan kehendak-Nya. Nah, tatkala kita diinterupsi oleh Allah, maka menurut definisi dari KBBI, kita harus dinamis yang berarti harus mudah menyesuaikan diri, karena yang harus kita ikuti adalah kehendak Allah, bukan kehendak kita. Di Alkitab, ketika Paulus dan Silas hendak memberitakan Injil di Asia, Roh Kudus mencegah mereka dan memimpin mereka untuk memberitakan Injil di tanah Frigia dan Galatia (Kis. 16:6). Pdt. Dr. Stephen Tong menyebutnya sebagai pimpinan Allah yang “negatif” (kelihatan negatif, namun bertujuan positif). Saya menyebutnya sebagai pimpinan Allah yang dinamis. Kedinamisan cara kerja Allah ini PASTI berkaitan dan sesuai dengan kehendak-Nya. Cara kerja Allah yang dinamis ini TIDAK berarti Ia melarang kita memiliki rencana hidup, namun kita diperintahkan oleh Allah untuk merencanakan segala sesuatu lalu mengaitkannya dengan kehendak-Nya. Yakobus sangat memahami konsep ini dengan mengajar kita, “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” (Yak. 4:15)

Namun hari-hari ini, kembali, kata dinamis diselewengkan artinya. Dinamis tidak lagi berkaitan dengan kehendak-Nya, namun berkaitan dengan kehendak diri atau lebih tepatnya untuk menutupi kesalahan/kelemahan diri. Sehingga hari-hari ini, kata dinamis hampir TIDAK bisa dibedakan dengan lupa atau plin-plan! Seorang gembala sidang yang suka mengganti jadwal pengkhotbah untuk gerejanya selalu berargumentasi bahwa dirinya itu dinamis. Benarkah itu dinamis? Ataukah itu berkaitan dengan drinya sendiri yang suka lupa atau bahkan karakter dirinya yang memang plin-plan? Mengapa sesuatu yang berubah di dalam salah satu aliran Kristen selalu dikaitkan dengan dinamis? Puji Tuhan, Allah kita yang dinamis tahu batas-batas di mana Ia perlu dinamis, di mana Ia tidak perlu dinamis, sehingga Ia tidak secara tiba-tiba mengangkat Kristus pada waktu Ia berada di jalan salib (via dolorosa). Jika Ia terlalu dinamis lalu mengangkat Kristus pada waktu di jalan salib, maka kita semua pasti binasa karena tidak ada jalan keselamatan. Jika Ia melakukan hal demikian, maka Ia TIDAK layak disebut dinamis, namun Ia lebih layak disebut: TIDAK konsisten, karena rencana kekal-Nya untuk menebus dosa manusia tiba-tiba ditolak-Nya sendiri! Berhati-hatilah menggunakan kata yang agung!


6. Bergumul
Orang yang hatinya untuk Tuhan adalah orang yang peka terhadap pimpinan Roh Kudus dan orang itu selalu bergumul untuk menaati apa yang Tuhan kehendaki di dalam hidupnya. Apa itu bergumul? Bergumul adalah sebuah proses pengalaman hidup rohani anak Tuhan dengan Tuhan untuk makin mengerti dan menjalankan firman dan kehendak-Nya dalam hidupnya. Pergumulan ini terjadi karena adanya ketegangan yang terus-menerus antara kehendak Allah yang Mahakudus dengan keinginan manusia yang berdosa. Misalnya, dalam melawan dosa, anak Tuhan terus-menerus bergumul, karena mereka tahu bahwa Allah membenci dosa, namun anak Tuhan yang masih bertubuh jasmani ini menginginkan dosa tersebut, sehingga mereka harus bergumul bagaimana mengalahkan dosa dengan mengarahkan hatinya HANYA kepada Allah. Dengan kata lain, di dalam proses pergumulan: pusatnya adalah Allah Trinitas dan firman-Nya, Alkitab; kedua, motivasi dan tujuannya untuk menyenangkan Allah dengan menjalankan firman dan kehendak-Nya. Perhatikan pergumulan Paulus melawan dosa di dalam Roma 7:18-26. Itulah pergumulan sejati, karena ia terus-menerus menyadari bahwa Allah dan firman-Nya harus ditaati dan tujuannya hanya untuk memuliakan-Nya.

Namun kata yang begitu agung, “bergumul” dimengerti dengan cara yang ngawur. Seorang pemudi “Kristen” yang sudah mengetahui bahwa pasangan hidupnya itu tidak seiman masih dengan mudahnya mengatakan bahwa ia sedang bergumul dan proses pergumulannya berlangsung satu tahun. Bukankah Alkitab sudah jelas mengajar kita bahwa jangan menjadi pasangan yang tidak seiman? Kalau Alkitab sudah jelas, mengapa perlu waktu satu tahun untuk bergumul? Lebih tajam lagi, apakah benar si pemudi “Kristen” ini berkomitmen menaati firman Tuhan yang melarang umat-Nya mencari pasangan yang tidak seiman? Ataukah sebenarnya ia hanya mengerti firman Tuhan tersebut secara kognitif (nyangkut di otak), namun ia tetap bernafsu dengan pasangan yang tidak seiman, lalu supaya orang lain tidak mengetahui niat buruknya itu, maka ia memoles kata “bernafsu” dengan “bergumul” supaya terkesan “rohani” dan “saleh” (mengingat orang yang mengatakan bahwa dia lagi bergumul ini adalah orang yang keras kepala)? Terus terang, saya ngeri melihat gejala banyak generasi muda (tidak menutup kemungkinan: generasi tua) zaman ini baik yang Kristen maupun non-Kristen yang makin lama bukan makin mengerti firman Tuhan dan berusaha menjalankannya secara konsisten, namun makin sok tahu dan melawan Alkitab seolah-olah mereka lebih hebat dari Allah. Bertobatlah selagi Tuhan memberi kita kesempatan!


7. Baik
Terakhir, orang yang hatinya untuk Tuhan pasti berusaha mengerti apa yang benar dan baik dari perspektif Allah. Kali ini saya tidak hendak mendefinisikan benar, namun saya hendak menyoroti masalah baik, karena hari-hari ini justru definisi baik yang paling suka dipakai setan untuk diselewengkan. Apa itu baik? Kembali kepada Alkitab. Di Roma 12:2, Paulus mengatakan, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Kata “baik” dalam ayat ini teks Yunaninya adalah agathos (ἀγαθός) yang bisa berarti baik atau berguna. “Baik” di sini merupakan salah satu ciri kehendak Allah dan “baik” ini dikaitkan dengan dua ciri kehendak Allah yang lain yaitu: berkenan kepada Allah (bisa diterjemahkan: menyenangkan Allah) dan sempurna. Berarti standar baik menurut firman Allah adalah baik yang berguna, terintegrasi, dan menyeluruh. Allah yang baik pasti berkaitan dengan Allah yang Kudus, Benar, Adil, Jujur, dan Kasih. Memisahkan kesemuanya berarti memisahkan Allah sendiri, karena semuanya itu atribut Allah yang saling berkaitan! Dari perspektif Alkitab, maka penilaian orang Kristen akan “baik” itu harus saling berkaitan, apakah kebaikan itu berkaitan dengan kebenaran, keadilan, kekudusan, dan kemurnian? Ataukah kebaikan itu memiliki unsur terselubung? Dengan kata lain, kebaikan harus dipikirkan: dasar pikir/standarnya (presuposisi), motivasi, dan tujuannya.

Namun banyak orang zaman sekarang terlalu cepat memuji orang lain dengan sebutan “orang itu baik” tanpa standar dan arah yang jelas. Pertama, standar kebaikan sudah mulai rusak. Kebaikan dimengerti sebagai sesuatu yang menyenangkan diri (egosentris). Contoh, seorang guru disebut sebagai guru yang baik oleh anak muridnya karena guru tersebut selalu murah nilai (artinya selalu memberi nilai yang bagus kepada muridnya). Contoh lain, A mengatakan B itu sosok yang baik, karena B itu telah menyenangkan A, misalnya: membelikan (dan memberikan) dia makanan, mengantarkan dia pulang, dll. Jika B menegur si A, apakah A masih menganggap B itu baik? Jika B tidak menuruti beberapa kemauan dari si A agar si A lebih dewasa, apakah A masih menganggap A itu sosok yang baik?

Selain standar kebaikan rusak, motivasi dan tujuan kebaikan itu sendiri rusak. Ketika kita memuji orang lain sebagai orang yang baik, apa motivasi dan tujuan kita? Apakah dengan memuji orang lain itu baik, kita ingin memanfaatkan orang yang kita puji tersebut agar di lain kesempatan kita dapat memanfaatkan lagi tenaga, waktu, dan uangnya demi memenuhi kemauan kita? Ataukah kita memuji orang lain sebagai orang yang baik itu hanya sekadar lip service (bahasa Jawa: mbasahi lambe)? Ataukah kita memuji orang lain sebagai orang yang baik itu keluar dari hati kita yang terdalam?




TANTANGAN BAGI ORANG KRISTEN
Di atas, kita telah membaca dan mengkritisi 7 kata yang sering diselewengkan maknanya oleh banyak orang bahkan tidak sedikit dari mereka yang mengaku diri “Kristen”, apa yang harus kita lakukan sebagai orang Kristen yang normal?
1. Kembali Kepada Alkitab (Sumber)
Salah satu semboyan Reformasi gereja dari Dr. Martin Luther yang terkenal adalah Sola Scriptura yaitu hanya Alkitab! Tuhan memakai momen Reformasi Luther sebagai momen untuk menyadarkan orang Kristen agar mereka kembali kepada Alkitab (back to the Bible) atau kembali kepada sumber (ad fontes). Dari sini, kita melihat bahwa Alkitab sebagai firman-Nya adalah satu-satunya sumber dan dasar mutlak bagi iman dan praktik hidup Kristen serta standar penentu kebenaran mutlak. Oleh karena itu, adalah bijaksananya kita jika kita dengan rendah hati kembali kepada Alkitab, mau dikoreksi oleh Alkitab tatkala kita salah jalan atau salah prinsip. Jangan sok tahu, karena kita memang pada prinsipnya tidak pernah mengetahui segala sesuatu, apalagi kehendak-Nya.


2. Telitilah Makna Suatu Kata
Kembali kepada Alkitab sebagai sumber menuntun kita bukan hanya menjadikan sumber itu satu-satunya kebenaran mutlak, namun juga seharusnya menuntun kita untuk lebih mendalami sumber itu. Ketika membaca satu ayat Alkitab yang belum kita mengerti, coba dalami ayat tersebut dengan membaca ayat sebelum dan sesudahnya, lalu cari terjemahan Alkitab dalam bahasa lain, kemudian bandingkan kitab yang memuat ayat tersebut dengan kitab lain di dalam seluruh Alkitab. Dengan cara mendalami Alkitab demikian, kita dimampukan untuk mengerti ayat Alkitab yang sulit tersebut. Demikian juga, tatkala kita tidak mengerti definisi satu kata entah itu dalam bahasa Indonesia atau bahasa lain, selidikilah makna aslinya dengan membaca kamus bahasa atau menanyakan kepada orang lain yang lebih mengerti. Jangan menafsirkan satu kata dengan pengertian kita sendiri, karena pengertian kita yang seenaknya sendiri akan satu kata BERBEDA dengan pengertian objektif akan satu kata tersebut, lalu perbedaan itu akhirnya mengakibatkan adanya miskomunikasi dan misinterpretasi dan berakhir dengan ketidakmengertian bahkan perpecahan/perselisihan.


3. Pergunakanlah Secara Bertanggung Jawab
Setelah meneliti makna satu kata dengan benar, maka tugas orang Kristen yang normal adalah mempergunakannya secara bertanggung jawab. Jika kita sudah menelitinya dan mendapati bahwa apa yang kita alami/lakukan (atau kebiasaan kita) tidak sesuai dengan makna asli suatu kata, maka jangan lagi mempergunakan kata itu. Contoh, kita adalah sosok pelupa, sehingga kita mudah mengganti jadwal, maka jangan mengidentikkan kebiasaan kita yang suka lupa ini dengan perkataan “dinamis”, karena dinamis TIDAK sama dengan lupa! Jika lupa, katakan LUPA.




PENUTUP
Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita sebagai orang Kristen yang telah ditebus oleh Kristus berkomitmen menggunakan setiap kata dengan bertanggung jawab demi kemuliaan-Nya? Meskipun sulit, biarlah Roh Kudus memampukan dan memimpin hati, pikiran, dan perkataan kita untuk memperkatakan sesuatu yang dapat dipertanggungjawabkan. Amin. Soli Deo Gloria.

24 November 2010

EKSPOSISI 1 KORINTUS 9:19-23 (2) (Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.)

EKSPOSISI 1 KORINTUS 9:19-23 (2)

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.



Nats: 1 Korintus 9:19-23 (2)



Dalam khotbah yang lalu kita sudah bersama-sama belajar bahwa 9:19-23 merupakan penjelasan bagi status Paulus sebagai orang yang bebas (9:1). Sebagai hamba yang dipercaya Allah (9:17-18) Paulus tidak mungkin pada saat yang bersamaan menjadi hamba pihak lain. Jika ia adalah hamba Allah, maka ia bukanlah hamba manusia (Gal. 1:10). Walaupun Paulus tidak terikat pada siapapun, namun ia bersedia melepaskan kebebasannya itu. Ia mau menjadi hamba bagi semua orang (9:19). Semua ini ia lakukan bukan untuk mengambil hati banyak orang bagi kepentingannya sendiri, tetapi untuk membawa sebanyak mungkin orang kepada Kristus. Dalam khotbah kali ini kita akan belajar bagaimana Paulus mau menjadi hamba bagi orang-orang Yahudi dan mereka yang hidup di bawah Hukum Taurat (9:20-21).


Bagi Orang Yahudi Paulus Menjadi Seperti Orang Yahudi (ay. 20a)
Ungkapan Paulus di bagian ini sekilas sulit untuk dipahami. Bagaimana Paulus yang adalah seorang Yahudi tulen (2Kor. 11:22; Flp. 3:4-6) berusaha menjadi seperti orang Yahudi? Mengapa ia memakai ungkapan “bagi orang Yahudi” dan bukan “bagi teman sebangsaku”? Ungkapan ini jelas tidak boleh dipahami secara etnis maupun keterkaitan secara biologis. Jika ini adalah masalah etnis atau hubungan darah, maka Paulus tidak bisa menjadi “seperti orang Yahudi”. Ia adalah orang Yahudi! Semua ini sebaiknya dipahami dalam konteks kebiasaan Yahudi. Pendapat ini sesuai dengan pokok masalah utama yang sedang dibahas Paulus di 1 Korintus 8-10, yaitu perdebatan seputar makanan (1Kor. 8-10).

Bagi orang Yahudi makanan merupakan masalah religius. Mereka hanya makan makanan yang halal (Im. 11). Lebih jauh, mereka mempraktekkan peraturan halal (kosher) yang jauh lebih detail dan kompleks daripada yang diajarkan dalam Alkitab. Peraturan ini mencakup pemilihan bahan makanan, cara memasak maupun cara memakan.

Persoalan seputar makanan ini sering kali menjadi masalah serius dalam interaksi bangsa Yahudi dengan bangsa lain, karena orang-orang non-Yahudi biasanya memakan daging yang dianggap najis menurut kitab suci Yahudi maupun melanggar tradisi lisan tentang tata cara memasak maupun memakan yang halal. Orang non-Yahudi juga sering bersentuhan dengan makanan berhala. Gesekan kultural seputar isu ini menjadi bahaya rentan yang tidak terelakkan. Alkitab sendiri memberikan beberapa contoh tentang gesekan ini. Orang-orang Farisi pernah mengecam murid-murid Yesus karena makan dengan tangan yang tanpa dicuci (Mat. 15:1-2). Para pemimpin gereja mula-mula bahkan perlu untuk mengadakan konsili gereja guna membahas masalah ini dan masalah-masalah kultural yang lain (Kis. 15:28-29).

Paulus pun pernah terlibat perbedaan pendapat yang tajam dengan Petrus karena ia menganggap Petrus telah melakukan kesalahan fatal dalam hal ini (Gal. 2:11-14). Kesalahan yang dilakukan Petrus ini merupakan sesuatu yang luar biasa, karena Petrus sebelumnya sudah diajar oleh Tuhan sendiri melalui sebuah penglihatan bahwa apa yang dinyatakan halal oleh Allah tidak boleh dipandang haram oleh manusia (Kis. 10:15; 11:9). Di tengah budaya yang sangat sensitif terhadap isu tentang makanan seperti ini, Paulus memilih untuk mengadaptasi kebiasaan Yahudi. Tindakan ini tidak boleh dianggap sebagai kemunafikan maupun penyangkalan terhadap kebebasan Kristiani di dalam Injil. Dalam theologi Paulus, makanan tidak mempengaruhi status seseorang di hadapan Allah (8:8; Rm. 14:1-3). Ini semua hanyalah tentang hal-hal yang sementara dan tidak memiliki nilai kekal di hadapan Allah (Kol. 2:22). Semua yang diberikan Allah adalah baik dan tidak haram, jika dinikmati dengan ucapan syukur (1Tim. 4:4), apalagi Tuhan Yesus juga sudah mengajarkan bahwa semua makanan adalah halal (Mrk. 7:19).

Dengan konsep seperti di atas, theologi Paulus membuka ruang bagi orang-orang Yahudi Kristen untuk tetap memperhatikan kebiasaan makan yang lama maupun mengabaikannya. Seandainya mereka memutuskan untuk tetap mengikuti kebiasaan lama, mereka harus melakukannya dengan motivasi yang berbeda. Kalau orang Yahudi begitu menjaga peraturan tentang makanan supaya mereka diperkenan atau dibenarkan oleh Allah, orang Kristen tidak boleh menganggap bahwa tindakan mereka seputar makanan akan mempengaruhi kesalehan mereka di hadapan Allah. Seandainya mereka memutuskan untuk mengabaikan peraturan Yahudi tentang makanan, maka tindakan ini pun tidak apa-apa. Sikap mana pun yang kita pilih, hal itu harus ditujukan untuk kepentingan Injil (9:20) dan kemuliaan Allah (10:31; Rm. 14:6).

Sikap Paulus yang terlihat situasional ini tidak boleh dipahami sebagai sebuah kemunafikan maupun sikap bunglon. Yang terutama kita perlu menyadari bahwa tidak ada satu kebenaran pun yang dikompromikan oleh Paulus. Yang ia korbankan bukan kebenaran Injil, tetapi kebebasannya yang ia terima dari Injil. Ia bisa tetap mengikuti maupun mengabaikan semua peraturan itu, namun demi kepentingan Injil ia bersedia terikat dengan peraturan tersebut.

Jika Paulus memang bersikap situasional dalam hal makanan, mengapa ia menegur Petrus pada saat Petrus bersikap mendua soal makanan kala ia berada di Anthiokia dan bahkan menganggap tindakan itu sebagai kemunafikan (Gal. 2:11-14)? Untuk memahami problem ini kita perlu menyadari bahwa yang dipersoalkan Paulus di Galatia 2:11-14 adalah sikap Petrus yang menjauhi orang-orang non-Yahudi karena takut kepada orang-orang Yahudi garis keras dari Yerusalem (Gal. 2:12; bdk. Kis. 11:2-3). Ia sudah tahu bahwa semua makanan adalah halal (Kis. 10:9-16; 11:4-10), namun ia takut kepada orang-orang Yahudi, seolah-olah peraturan tentang makanan masih mengikat hidupnya. Di sisi lain, sikap Paulus yang situasional (dalam konteks misi sikap ini disebut kontekstualisasi) bukan didasari oleh ketakutan, tetapi demi perkembangan Injil. Perbedaan lain antara sikap Paulus dan Petrus adalah ini: sikap Petrus berpotensi menghalangi pemberitaaan Injil (Gal. 2:14), sedangkan sikap Paulus justru membuka ruang bagi efektivitas pekabaran Injil (1Kor. 9:20a). Jadi, yang menjadi faktor pembeda dalam hal ini adalah motivasi (ketakutan vs. kepentingan Injil) dan konsekuensi (menghalangi vs. membantu).


Bagi Orang yang Berada Di Bawah Hukum Paulus Menjadi Seperti Orang yang Di Bawah Hukum (ay. 20b)
Bagian ini menimbulkan sedikit kesulitan bagi para penafsir. Jika Paulus sudah menyinggung tentang orang Yahudi (9:20a), mengapa ia masih perlu membahas tentang orang-orang yang hidup di bawah hukum (9:20b)? Bukankah “orang Yahudi” identik dengan “mereka yang hidup di bawah Hukum Taurat”?

Beberapa penafsir mengusulkan “orang-orang di bawah Hukum Taurat” sebagai golongan proselit atau orang-orang yang takut kepada Allah, yaitu orang-orang non-Yahudi yang memeluk agama Yahudi (Mat. 23:15; Kis. 10:2), sedangkan yang lain mencoba memahami kata nomos di sini secara umum (hkum sipil, terutama hukum Romawi). Pengamatan yang teliti tampaknya mengarah pada kesimpulan bahwa nomos yang dimaksud Paulus adalah Hukum Taurat (NASB “Law”) dan orang-orang yang ada di bawah hukum ini adalah orang-orang Yahudi. Pilihan ini bisa dibenarkan berdasarkan beberapa pertimbangan: (1) semua pemunculan kata nomos dalam Surat 1 Korintus merujuk pada Hukum Taurat (9:8, 9; 14:21, 34; 15:56); (2) seandainya ini adalah hukum Romawi, maka Paulus tidak mungkin menambahkan “walaupun aku tidak berada di bawah hukum”; (3) secara mendasar tidak ada perbedaan etika antara orang-orang Yahudi asli dengan golongan proselit/orang yang takut kepada Allah. Jika nomos identik dengan Taurat, mengapa Paulus perlu menambahkan kategori “mereka yang berada di bawah Taurat”?

Ada beberapa jawaban atas pertanyaan ini. Pertama, ayat 20b berfungsi untuk memberikan penjelasan tentang “seperti orang Yahudi” di ayat 20a. Menjadi seperti orang Yahudi berarti menjadi seperti orang yang berada di bawah Taurat. Tanpa penjelasan tambahan di ayat 20b, maka ayat 20a akan menjadi lebih sulit untuk dipahami. Kedua, ayat 20b memberikan prinsip yang lebih luas daripada ayat 20a. Paulus tidak hanya membatasi sikap kontekstualisasi dalam konteks makanan saja (ay. 20a), tetapi juga aspek-aspek lain dalam Taurat (ay. 20b). Ketiga, ayat 20b menjelaskan alasan di balik sikap Paulus di ayat 20a. Kontekstualisasi Paulus bukan berarti bahwa ia berada kembali di bawah Taurat, karena itu ia merasa perlu menambahkan frase “sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah Hukum Taurat” (ay. 20b).

Tambahan “sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah Hukum Taurat” di ayat 20b merupakan batasan tegas bagi Paulus. Ia melakukan semua ini bukan karena ia masih terikat oleh Taurat. Ia adalah orang bebas, baik dari orang lain (9:19) maupun Taurat (Rm. 6:14). Apa yang dilakukan Paulus di tengah masyarakat Yahudi mungkin secara eksternal tidak berbeda dengan orang-orang Yahudi lain, tetapi motivasi di balik tindakan itu sangat berbeda. Orang Yahudi melakukan semua ini untuk mendapatkan kebenaran dari Allah dan dengan konsep bahwa mereka masih terikat oleh Taurat, tetapi Paulus melakukan itu justru untuk kepentingan Injil. Bagi Paulus berada di bawah Taurat berarti akan dihakimi menurut Taurat (Rm. 2:12), di bawah hukuman Allah karena melanggar Taurat (Rm. 4:15) dan di bawah kutuk Taurat (Gal. 3:10).

Paulus tidak sedang mengajarkan nilai teologis ketaatan terhadap Taurat, namun ia juga tidak menganggap Hukum Taurat sebagai perintah yang sudah tidak relevan. Ia tidak melarang orang-orang Yahudi meneruskan beberapa kebiasaan mereka sesuai Taurat, tetapi ia secara tegas menolak keyakinan bangsa Yahudi kepada Taurat sebagai jalan keselamatan (Rm. 3:19-20). Ia juga dengan keras menentang kesalahpahaman di kalangan orang Yahudi tentang nilai teologis dari semua kebiasaan Yahudi (Kol. 2:16-17). Bagaimanapun, demi kepentingan Injil ia mau bersusah-payah menghormati kebiasaan Yahudi yang tekait dengan Taurat, sekalipun ia meyakini bahwa semua itu tidak mempengaruhi status seseorang di hadapan Allah. Sikap seperti ini berpotensi untuk disalahpahami, baik oleh orang Yahudi maupun bangsa lain. Paulus sering kali dianggap meniadakan Hukum Taurat (Kis. 21:21) atau mengajarkan hidup yang bebas tanpa aturan sama sekali (Rm. 3:8) guna mencari perkenanan manusia (Gal. 1:10). Walaupun resiko yang muncul cukup besar, tetapi Paulus tetap berpegang pada prinsip ini, karena semua ini dilakukan demi efektivitas Injil.

Alkitab memberikan beberapa contoh konkrit tindakan Paulus yang masih mau mengikuti peraturan Hukum Taurat demi kepentingan Injil. Paulus yang sangat menentang manfaat sunat bagi keselamatan (Gal. 5:12; Flp. 3:2-3) ternyata justru meminta Timotius untuk menyunatkan diri demi efektivitas pekabaran Injil yang akan mereka lakukan (Kis. 16:3). Di kesempatan yang lain Paulus tetap menghormati peraturan Hukum Taurat tentang nazar berupa pencukuran rambut, walaupun ia tidak harus melakukan itu di Yerusalem (Kis. 18:18; Bil. 6:5, 13). Ketika ia ada di Yerusalem dan sedang digunjingkan oleh banyak orang karena dituduh mengabaikan Hukum Taurat, Paulus bersedia membiayai dan menjalani proses pentahiran menurut adat istiadat Yahudi (Kis. 21:21-26). Dari perspektif Paulus ia jelas memandang semua ritual pentahiran ini sebagai tindakan kesalehan yang tidak ada nilainya di hadapan Allah, tetapi ia tetap mau melakukan itu demi Injil dan karena tindakan itu pada dirinya sendiri bukanlah dosa. Ritual ini bukan dosa, hanya sesuatu yang tidak berguna. Yang menjadi dosa adalah motivasi yang keliru di balik ritual tersebut.

Salah satu contoh lain yang menarik dari kemauan Paulus untuk mengadaptasi diri dalam konteks budaya dan keagamaan Yahudi adalah kesediaannya untuk disesah sebanyak lima kali dengan 39 pukulan dalam setiap sesahan (2Kor. 11:24). Hukum Taurat mengatur bahwa orang yang menghujat TUHAN harus dilenyapkan dari tengah bangsa Yahudi (Bil. 15:30-31). Perintah ini tidak bisa dipraktekkan begitu saja dalam konteks hukum Romawi, karena wewenang untuk menghukum mati seseorang melalui prosedur hukum hanya boleh dilakukan melalui pejabat Romawi. Mahkamah Agama Yahudi tidak diberi wewenang tersebut. Untuk menyiasati hal itu, tradisi Yahudi mengganti hukuman yang ada dengan cara lain. Menurut tradisi Yahudi seperti yang tertuang dalam Mishnah, seorang yang dianggap penghujat akan dikeluarkan dari komunitas orang Yahudi. Tindakan ini sering kali disebut “dikucilkan dari synagoge (Yoh. 9:22; 12:42; 16:2). Bagi seorang penghujat yang ingin tetap dianggap sebagai bagian dari komunitas Yahudi, orang tersebut harus rela menerima disiplin secara Yahudi, yaitu berupa pukulan sebanyak 40 kurang satu pukulan (Ul. 25:2-3). Di tengah dua pilihan ini, Paulus memilih yang terakhir. Ini ia lakukan bukan hanya sekali, namun lima kali. Paulus bisa saja memilih alternatif pertama dan tidak peduli lagi dengan keselamatan rohani orang-orang yang menganggap dia sebagai penghujat. Bagaimanapun, ia justru memilih berkorban bagi mereka.

Jika semua tindakan Paulus di atas dicermati, maka kita akan setuju bahwa tindakan itu sangat luar biasa. Paulus adalah orang yang sangat tegas sehubungan dengan kebenaran, tetapi ia masih mau mengompromikan beberapa hal yang tidak prinsip dan tidak terlalu berkaitan dengan kebenaran itu. Ia juga adalah seorang dengan temperamen sangat keras, tetapi ia telah belajar untuk memahami dan berkorban bagi orang lain. Semuanya ini pasti tidak mungkin dilakukan Paulus jikalau ia tidak menerima anugerah dari Allah dan menyadari bahwa tujuan hidup kita adalah kemuliaan Allah melalui pekebaran Injil. Orang-orang yang menempatkan kemuliaan Allah sebagai prioritas hidup tidak akan kesulitan untuk mengorbankan hak, kebebasan, dan kenyamanan hidup mereka. Jikalau kita sulit melepaskan sesuatu demi Injil, maka itu menjadi tanda atau bukti betapa kita sudah terikat kepada dan memberhalakan hal tersebut.


Aplikasi
Apakah selama ini kita sudah meletakkan kepentingan Injil di atas segalanya? Apakah kita telah belajar mengalah supaya Kristus dimuliakan? Apakah kita rela bersabar terhadap orang lain dan berusaha memahami dia demi kepentingan Injil? Biarlah teladan Kristus di atas kayu salib terus menjadi fokus hidup dan dorongan bagi kita. Dia mau mengorbankan kemuliaan sorga dan menjadi sama dengan manusia supaya Ia bisa menyelamatkan kita. Soli Deo Gloria. #




Sumber:
Mimbar GKRI Exodus, 9 Mei 2010
http://www.gkri-exodus.org/image-upload/SER-1Korintus%209%20ayat%2019-23%20%28Bagian%202%29.pdf

EKSPOSISI 1 KORINTUS 9:19-23 (1) (Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.)

EKSPOSISI 1 KORINTUS 9:19-23 (1)

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.



Nats: 1 Korintus 9:19-23 (1)



Pembacaan sekilas dari bagian ini mungkin akan memberikan kesan bahwa bagian ini tidak terlalu berkaitan dengan pembahasan sebelumnya di pasal 9. Pada bagian ini Paulus tidak menyinggung tentang status maupun hak sebagai seorang rasul (topik yang ia sudah bahas secara panjang lebar mulai 9:2-18). Ide tentang kebebasan yang menjadi fokus pembahasan di 9:19-23 juga sekilas berkontradiksi dengan penekanan Paulus di 9:15-18 bahwa dirinya adalah hamba yang tidak memiliki kebebasan selain melakukan apa yang ia harus lakukan. Lebih jauh, bagian ini pun tidak memperlihatkan keterkaitan yang eksplisit dengan isu tentang makan persembahan berhala yang menjadi inti persoalan di pasal 8-10.

Kesan di atas akan segera sirna apabila kita membaca 9:19-23 secara lebih teliti. Bagian ini memiliki keterkaitan dan fungsi yang penting bagi seluruh pembahasan di pasal 9. Ada beberapa petunjuk yang mengarah pada kesimpulan ini. Yang paling penting, ungkapan “aku bebas” di 9:19 jelas merujuk balik pada pertanyaan Paulus di awal pasal ini (9:1 “bukankah aku orang bebas?”). Dengan demikian kita seharusnya melihat 9:19-23 sebagai elaborasi dari pertanyaan “bukankah aku orang bebas?”, sedangkan 9:1b-14 sebagai uraian bagi pertanyaan “bukankah aku rasul?”). Selain itu, ajaran Paulus di 9:19-23 tentang kerelaan menjadi hamba bagi orang lain merupakan teladan lain dari hidup berdasarkan kasih sebagaimana yang ia sudah ajarkan di pasal sebelumnya (8:1). Berbeda dengan jemaat Korintus yang secara salah mempertahankan kebebasan mereka sehingga menjadi batu sandungan bagi orang lain (8:9, 11), Paulus justru melepaskan kebebasan tersebut supaya dapat memenangkan banyak orang (9:19-23).

Sebagian penafsir berpendapat bahwa 9:19-23 memiliki fungsi yang lebih daripada sekadar memaparkan teladan hidup Paulus. Bagian ini diyakini juga berfungsi sebagai pembelaan Paulus terhadap mereka yang mengritik pola pelayanan Paulus yang dipandang tidak konsisten: di suatu konteks Paulus melakukan X, tetapi di konteks lain ia mengambil sikap Y. Paulus dianggap mengajarkan kebebasan dari Taurat supaya ia bisa menyenankan banyak orang (Gal. 1:10). Penekanannya pada anugerah Allah membuat dia difitnah telah mengajarkan kehidupan Kristiani yang sembarangan (Rom 3:8). Di kalangan orang-orang Yahudi ia tidak jarang dimusuhi karena dituduh telah membatalkan Hukum Taurat (Kis. 21:21). Beberapa penafsir bahkan menduga sikap sebagian jemaat Korintus yang makan di kuil dengan mengatasnamakan kebebasan Kristiani (8:7-9) merupakan usaha mereka untuk “mengikuti” pola hidup Paulus yang tampak tidak konsisten. Terlepas dari benar atau tidaknya pendapat ini (tidak ada petunjuk yang konklusif untuk membenarkan maupun menyanggah hal ini), sikap Paulus yang terkesan situasional di 9:19-23 memang bisa menjadi masalah yang pelik di kalangan gereja mula-mula yang sering berhadapan langsung dengan isu tentang makanan (Kis. 15:29; Why. 2:14). Paulus bahkan pernah menegur Petrus yang bersikap munafik soal makanan (Gal. 2:11-14).

Sekarang kita berpindah pada struktur 1 Korintus 9:19-23. Alur berpikir Paulus di bagian ini cukup mudah untuk diikuti. Ayat 19 dan 22b menyatakan prinsip yang sama, sedangkan ayat 20-22a menguraikan prinsip tersebut dalam 4 kategori. Yang agak sulit ditentukan secara pasti adalah fungsi ayat 23. Apakah ayat ini sebaiknya disatukan ayat 22b ataukah disendirikan dengan fungsi yang sedikit berbeda? Pengamatan yang cermat menunjukkan bahwa ayat 23 sebaiknya dipahami secara tersendiri sebagai alasan bagi semua pembahasan di ayat 19-22. Dengan demikian alur berpikir Paulus di 9:19-23 dapat digambarkan sebagai berikut:
Pendahuluan: aku bebas tetapi aku menjadi hamba bagi semua orang demi Injil (ay. 19)
Penjelasan prinsip (ay. 20-22a)
Bagi orang Yahudi (ay. 20a)
Bagi orang yang di bawah Hukum Taurat (ay. 20b)
Bagi orang yang tidak hidup di bawah Hukum Taurat (ay. 21)
Bagi orang yang lemah (ay. 22a)
Penutup: aku menjadi segalanya bagi semua orang demi Injil (ay. 22b)
Alasan: aku melakukan semua ini demi Injil dan


Pendahuluan: Aku Bebas Tetapi Aku Menjadi Hamba bagi Semua Orang Demi Injil (ay. 19)
Ayat ini dimulai dengan kata sambung gar (lit. “karena”) yang dalam beberapa versi (NIV/NLT/LAI:TB) sengaja tidak diterjemahkan karena terkesan agak janggal. Keputusan ini dari sisi keindahan kalimat memang bisa dipahami, namun berpotensi untuk mengaburkan keterkaitan yang erat antara ayat ini dengan ayat 15-18. Paulus sengaja menggunakan kata sambung gar untuk mempertegas keterkaitan itu.

Dalam hal ini ayat 19 seharusnya dilihat sebagai penjelasan dari bagian sebelumnya. Maksudnya, kebebasan yang dinyatakan Paulus di ayat 18 bersumber dari status dan sikap Paulus di ayat 15-18. Paulus adalah hamba Allah (9:17), sehingga ia tidak mungkin menjadi hamba orang lain. Jika ia mau menghambakan diri pada orang lain (9:19, 22b), maka itu merupakan pilihan dari pihak Paulus, bukan paksaan atau keharusan. Status Paulus sebagai hamba Allah memang membuat dia tidak memiliki kebebasan apa pun di hadapan Allah (9:16), namun hal ini tidak berarti bahwa ia juga kehilangan kebebasan di hadapan manusia. Ia tetap orang yang bebas. Pemikiran seperti ini sebelumnya sudah diungkapkan Paulus pada waktu ia membicarakan tentang paradoks budak-orang bebas (7:22 “sebab seorang hamba yang dipanggil oleh Tuhan dalam pelayanan-Nya, adalah orang bebas, milik Tuhan. Demikian pula orang bebas yang dipanggil Kristus, adalah hamba-Nya”).

Struktur kalimat di ayat 19 menyiratkan bahwa Paulus sedang menekankan kata “kebebasan” (eleutheros). Hal ini tampak dari posisi kata eleutheros di awal kalimat. Para penafsir meyakini bahwa kebebasan yang dimaksud di sini bukan hanya secara theologis (sebagai hamba Allah Paulus bukanlah hamba manusia), tetapi juga secara sosiologis (ketidakmauan Paulus menerima tunjangan hidup dari jemaat membuat ia bebas dari tekanan maupun pembatasan oleh orang lain).

Jika Paulus mau menerima tunjangan dari jemaat Korintus, maka ia pun dituntut mengikuti selera jemaat dalam hal khotbah. Mereka ingin menggantikan Injil - yang dianggap kebodohan – dengan filsafat dunia (1:18, 22-23). Mereka ingin Paulus lebih menekankan kemampuan retorika daripada kuasa Roh Kudus (2:1-5). Dengan tidak menerima tunjangan dari mereka, Paulus memiliki kebebasan penuh untuk memberitakan Injil tanpa harus menuruti kemauan orang lain yang melawan kebenaran.

Walaupun Paulus adalah bebas terhadap semua orang, tetapi ia mau menghambakan dirinya kepada semua orang. Dalam kalimat Yunani kata “semua orang” diulang dan diletakkan berdekatan untuk mempertegas kontras (lit. “karena walaupun aku adalah bebas dari semua orang, kepada semua orang aku menghambakan diriku”). Bentuk lampau dari “menghambakan” (edoulosa, KJV/NASB/RSV/NRSV “I have made”, kontra NIV “I make”) menyiratkan bahwa apa yang dilakukan Paulus di sini merupakan tindakan yang sudah ia lakukan. Ia mengajarkan apa yang ia sudah lakukan, bukan hanya berusaha melakukan apa yang ia ajarkan (bdk. Ezr. 7:10 “sebab Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat TUHAN dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel”).

Apa yang dilakukan Paulus ini merupakan sesuatu yang luar biasa jika kita membandingkan dengan dua fakta. Pertama, Paulus sebenarnya tidak anti terhadap kebebasan. Ia memberi ijin dan dorongan bagi orang percaya untuk menggunakan kebebasan mereka (7:21, 35, 39). Paulus pun tidak jarang menegaskan kebebasan Kristiani di daam Kristus Yesus. Di dalam Kristus orang percaya tidak lagi hidup di bawah tuntutan Taurat maupun berbagai tradisi manusia (Kol. 2:16-17). Ketika ia melepaskan kebebasan – yang sangat ia tekankan – maka Paulus pada dasarnya telah melepaskan apa yang ia anggap sangat penting dalam hidupnya.

Melepaskan sesuatu yang berharga dalam hidup kita jelas bukan hal yang mudah. Kita mungkin dengan mudah membiarkan sesuatu yang tidak penting dalam hidup kita untuk dikorbankan bagi orang lain, namun akan menjadi sangat sulit ketika kita harus melepaskan hal yang sangat berharga dalam hidup kita bagi orang lain.

Kedua, filsafat Stoa waktu itu mengajarkan bahwa orang yang bebas adalah mereka yang melakukan apa saja yang mereka kehendaki tanpa memikirkan pandangan orang lain.

Pandangan yang sekilas sangat menekankan kebebasan yang benar-benar bebas ini sebenarnya tidak lebih daripada sebuah perbudakan. Jika kita selalu menuruti kebebasan kita, maka kita pada dasarnya telah diperbudak oleh kebebasan tersebut. Orang yang benar-benar bebas adalah mereka yang benar-benar bebas untuk melepaskan kebebasannya demi kepentingan orang lain. Jika kita mengetahui kebenaran ini, maka kebenaran ini akan memerdekakan kita dalam arti yang sesungguhnya (Yoh. 8:32).

Darimana Paulus memahami rahasia dari kebabasan yang sejati ini? Mengapa ia bisa melepaskan kebebasannya untuk melayani orang lain? Tindakan Paulus ini pasti berakar dari ajaran dan teladan hidup Tuhan Yesus. Dalam kitab Injil diajarkan bahwa keunikan kepemimpinan Kristen adalah kepemimpinan yang menghamba (Mat. 20:26-28//Mrk. 10:43- 45). Yesus mau meninggalkan kemuliaan sorga untuk menjadi hamba yang taat (Flp. 2:5-8) demi menyelamatkan manusia. Ia yang berada di atas Hukum Taurat telah menaklukkan diri-Nya di bawah hukum itu demi menyelamatkan mereka yang takluk kepada Hukum Taurat (Gal. 4:4-5). Teladan inilah yang seharusnya menjadi pola hidup setiap orang Kristen.

Siapa yang menghambakan diri kepada Kristus berarti siap menghambakan diri kepada orang lain (2Kor.. 4:5). Kita memang tidak menjadi hamba orang lain. Satu budak hanya boleh memiliki satu tuan. Jika kita sudah menjadi hamba Allah (9:16-18), maka kita tidak mungkin sekaligus menjadi hamba orang lain. Bagaimanapun, dalam taraf tertentu kita adalah hamba orang lain, dalam arti bahwa Allah sebagai Tuan kita telah memberi tugas kepada kita untuk melayani orang-orang tersebut (2Kor.. 4:5). Hamba Than adalah milik jemaat hanya dalam arti bahwa jemaat pun pada gilirannya adalah milik Kristus (1Kor. 3:21-23). Seorang hamba Tuhan sepenuh waktu adalah hamba Tuhan (bukan hamba jemaat), tetapi ia harus melayani jemaat (menghambakan diri kepada mereka) karena Tuhan Yesus sudah mempercayakan jemaat untuk dilayani para hamba-Nya (Kis. 20:28). Hamba Tuhan tidak boleh diperlakukan seperti karyawan, namun hamba Tuhan juga tidak boleh memposisikan diri sebagai penguasa (bos).

Bagian terakhir ayat 19 menjelaskan tujuan dari sikap Paulus di ayat 19a. Motivasi di balik itu tidak berhubungan dengan kepentingan Paulus, melainkan kepentingan Injil Kristus. Ia berbeda dengan pemberita Injil lain yang condong pada kepentingan diri sendiri (bdk. Flp. 1:17; 2:21). Paulus berani melepaskan kebebasan demi orang lain bukan supaya ia disukai semua orang. Di tempat lain ia bahkan mengajarkan bahwa mereka yang berusaha memperkenankan semua orang pada dasarnya justru bukanlah hamba Kristus (Gal. 1:10). Ini adalah tantangan yang cukup pelik bagi seorang hamba Tuhan. Penerimaan yang baik dari jemaat merupakan faktor yang penting dalam pelayanan hamba Tuhan. Bagaimanapun, hamba Tuhan tidak boleh mengorbankan kepentingan Allah demi mempertahankan penerimaan manusia. Teguran kepada jemaat memang berpotensi merusak relasi hamba Tuhan dan jemaat, namun mengabaikan teguran justru akan merusak relasi jemaat dengan Tuhan.

Bagi Paulus, penghambaan ini ia lakukan hanya untuk satu tujuan: memenangkan sebanyak mungkin orang (ay. 19b). Pemilihan kata “memenangkan” (kedraino, kata ini muncul 5 kali di ay. 19-21) di bagian ini merupakan sesuat yang cukup menarik. Di ayat 22b Paulus memilih kata “menyelamatkan” (sozo) yang memang lebih lazim dipakai dalam konteks pemberitaan Injil. Pemakaian kata kedraino berfungsi untuk mengaitkan bagian ini dengan bagian perikop sebelumnya tentang upah pemberita Injil (9:15-18), karena kata ini secara hurufiah biasanya berarti “mendapatkan materi/keuntungan” (Mat. 16:26//Mrk. 8:36//Luk. 9:25; Mat. 25:16-17, 20, 22; Yak. 4:13), walaupun kata ini juga kadangkala dipakai untuk “mendapatkan Kristus” (Flp. 3:8) maupun “memenangkan orang lain pada keselamatan” (Mat. 18:15; 1Pet 3:1). Penggunaan kata kedraino di ayat 19b menyatakan bahwa inilah upah Paulus dalam pemberitaan Injil, yaitu kebebasan dari semua orang dan kebebasan untuk melepaskan kebebasan tersebut demi semua orang.


Aplikasi
Budaya postmodern yang sangat menekankan kebebasan merupakan salah satu tantangan terbesar bagi orang Kristen. Ditambah dengan natur kita yang berdosa dan condong pada egoisme, melepaskan kebebasan demi orang lain benar-benar merupakan tugas yang sangat sulit. Kalau pun kita berhasil melakukan hal ini, motivasi di balik semua itu seringkali tidak tepat. Kita hanya mencari penerimaan dari orang lain.

Kunci dari semua kesulitan di atas adalah posisi Injil dalam kehidupan kita. Jika kita meletakkan Injil di atas segalanya – termasuk kebebasan, kenyamanan, popularitas, penerimaan orang lain, dsb., – maka melepaskan kebebasan tampak menjadi lebih ringan bagi kita. Sebaliknya, jika kebebasan menjadi barang yang paling berharga dalam hidup kita, maka kita akan mengaami kesulitan untuk melepaskan hal tersebut, apalagi demi Injil yang bagi kita tidak terlalu penting. Biarlah kuasa Injil yang membebaskan kita dari dosa benar-benar membebaskan kita juga dari perbudakan kebebasan.

Kebebasan sejati adalah mengesampingkan kebebasan tersebut untuk menghambakan diri bagi orang lain demi kepentingan Injil Kristus. Soli Deo Gloria. #




Sumber:
Mimbar GKRI Exodus, 25 April 2010
http://www.gkri-exodus.org/image-upload/SER-1Korintus%209%20ayat%2019-23%20%28Bagian%201%29.pdf