06 December 2010

ANUGERAH ALLAH VS KESOMBONGAN: Sebuah Introspeksi Diri Bagi Orang Kristen (Denny Teguh Sutandio)

ANUGERAH ALLAH VS KESOMBONGAN:
Sebuah Introspeksi Diri Bagi Orang Kristen


oleh: Denny Teguh Sutandio



“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”
(Ef. 2:8-9)




Salah satu slogan reformasi Protestan yang dinyatakan oleh Dr. Martin Luther adalah Sola Gratia yang berarti hanya oleh anugerah. Slogan ini bertujuan untuk menyadarkan orang Kristen waktu itu bahwa orang Kristen diselamatkan HANYA melalui anugerah Allah di dalam iman kepada Tuhan Yesus Kristus. Ajaran ini sebenarnya bukan buatan Dr. Luther, tetapi bersumber dari ajaran Alkitab sendiri, salah satunya di Efesus 2:8-9 yang saya kutip di atas. Karena keselamatan adalah melalui anugerah Allah SAJA, maka sudah sepatutnya orang Kristen TIDAK membanggakan dirinya sendiri apalagi ketika berbuat baik.

Anugerah Allah TIDAK hanya berbicara tentang masuk Sorga atau tidak, tetapi berbicara tentang keseluruhan aspek hidup kita. Artinya, anugerah Allah menguasai baik aspek keselamatan, perbuatan baik, dll. Anugerah Allah mengarahkan kita untuk melihat tiga sisi yang saling berkaitan:
Pertama, keutamaan Allah. Orang Kristen yang hidup di dalam anugerah Allah selalu melihat bahwa Allah itu segala-galanya. Ketika ia bisa berbuat baik, ia selalu mengatakan seperti yang Rasul Paulus katakan, “Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” (Flp. 2:13) Berarti, ia sadar bahwa perbuatan baiknya dilakukan bukan karena ia sendiri baik, tetapi karena Allah yang memampukannya. Makin ia sadar tentang hal ini, ia makin memuliakan Allah. Dengan kata lain, Sola Gratia berkaitan erat dengan Soli Deo Gloria (kemuliaan HANYA bagi Allah Trinitas).

Kedua, tanggung jawab manusia. Anugerah Allah yang mengarahkan kita untuk melihat keutamaan Allah juga mengarahkan dan memimpin kita untuk bertanggung jawab. Tanggung jawab manusia ini HANYA respons terhadap anugerah Allah yang telah kita terima sebelumnya, yang meliputi: berapi-api melayani Tuhan dalam segala aspek.

Ketiga, ketidaklayakan manusia. Allah yang telah memberi anugerah kepada kita dan juga memimpin kita untuk bertanggung jawab, Ia juga yang terus menyadarkan kita akan ketidaklayakan kita. Baik melalui Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, Allah berulang kali mengingatkan kita bahwa kita ini hanya debu yang tidak ada apa-apanya tanpa Allah. Beberapa ayat di PB yang jelas mendeskripsikannya: Roma 3:10-18 dan Efesus 2:9.

Namun, bagaimana dengan realitas banyak orang Kristen hari-hari ini? Fakta menyedihkan sekaligus introspeksi diri bagi saya pribadi adalah banyak orang Kristen hari-hari ini sangat menguasai ajaran/doktrin anugerah Allah, namun TIDAK pernah mengaplikasikannya! Tidak heran, makin belajar doktrin anugerah Allah, ia menjadi makin sombong dan merasa diri berjasa serta menghina orang lain. Kesombongan itu termasuk dosa dan dimulai tatkala sebagai manusia, kita sudah merasa diri hebat, lalu menggeser otoritas Allah dan menggantikannya dengan otoritas kita sendiri. Dengan kata lain, kesombongan dimulai dari sikap hati yang ingin melawan Allah dan firman-Nya. Mereka berpikir bahwa dengan melawan Allah dan firman-Nya, mereka merasa hidup mereka akan damai. Namun faktanya adalah justru makin melawan Allah, hidup mereka makin kacau. Perhatikanlah dunia kita sekarang ini: perang, pemerkosaan, dan kejahatan lain yang makin merajalela akibat manusia yang hidup melawan Allah.

Saya membagi dua macam kesombongan: kesombongan aktif dan pasif. Kesombongan aktif adalah suatu kesombongan yang aktif dilakukan seseorang yang bisa dilihat oleh orang banyak, entah itu berupa perkataan maupun tindakan. Misalnya: suka memakai banyak perhiasan dan baju yang bermerk, supaya orang banyak melihat bahwa dirinya itu kaya. Contoh lain, ada orang yang suka membanggakan diri melalui perkataannya kepada orang lain bahwa dia itu orang yang baik, pengertian, suka mengalah, dll.

Sedangkan kesombongan pasif adalah jenis kesombongan yang terselubung yang sering orang tidak sadari. Jenis kesombongan ini hanya bisa dideteksi oleh orang yang cukup dewasa secara rohani yang terus-menerus minta dikoreksi oleh Tuhan sendiri (lebih menyangkut hati). Kesombongan ini mencakup:
1. Kesombongan Rohani
Orang Kristen yang semakin rohani seharusnya makin rendah hati di hadapan Allah, namun faktanya ada juga orang Kristen yang semakin rohani semakin sombong, yang lebih parah lagi jika pendeta yang melakukannya. Kesombongan rohani ditandai dengan:
Pertama, merasa mengetahui segala sesuatu dan tidak membutuhkan bantuan dari orang lain. Misalnya ada beberapa hamba Tuhan yang tanpa benar-benar studi theologi lalu berani naik mimbar dan berkhotbah. Tentu saja khotbahnya banyak yang ngawur, tetapi jika hamba Tuhan ini ditegur kesalahannya, ada yang beralasan bahwa khotbahnya itu dari “Roh Kudus”. Dengan mengatakan hal tersebut, ia menganggap bahwa apa yang diketahuinya itu sudah benar dan tidak mau menerima teguran/kritikan dari orang lain yang lebih mendalami theologi.
Kedua, merasa mengetahui segala sesuatu dan mengkritik yang lain. Kelemahan banyak orang yang belajar theologi adalah makin belajar, makin gemar menuding kesalahan pihak lain. Saya tidak mengatakan bahwa menegur ajaran lain itu salah, tetapi yang saya soroti adalah sampai batas mana kita menegur ajaran lain itu salah. Apakah gara-gara gereja tertentu tidak menjalankan baptisan anak, lalu kita mencap gereja tersebut sebagai sesat? Semakin kita mengurusi hal-hal sekunder dan menganggapnya primer, lalu gemar mengkritik sini-sana, jiwa kritik kita itu membuktikan kita sedang sombong rohani.
Ketiga, merasa mengetahui segala sesuatu dan menunjukkannya kepada orang lain. Ini juga menjadi teguran pribadi buat saya. Orang yang sudah membaca banyak buku biasanya (tidak semua) ingin menunjukkannya kepada orang lain dengan cara mengutip tulisan dari penulis buku, dll. Saya tidak mengatakan bahwa orang yang suka mengutip tulisan itu sebagai orang yang sombong, namun seperti yang Pdt. Billy Kristanto, Ph.D. soroti adalah tatkala kita mengutip tulisan orang lain, apa motivasi kita? Benarkah kutipan itu kita kutip dengan tujuan pembelajaran buat kita dan sharing kepada rekan seiman lain ataukah kita ingin menunjukkan kepada orang lain bahwa kita sudah membaca banyak buku?

2. Kesombongan Dalam Berbuat Baik
Saya tidak menyalahkan perbuatan baik, namun yang saya soroti adalah motivasi di balik kita berbuat baik. Ketika kita hendak menolong orang lain, apa motivasi kita? Benar-benar tulus membantu orang lain ataukah kita ingin orang lain menganggap kita hebat?

3. Kesombongan Dalam Menegur Orang Lain
Ketika kita menegur orang lain, apa motivasi kita? Benarkah kita menegur orang lain sebagai wujud cinta kasih ataukah kita menegur orang lain agar orang lain memandang kita hebat seolah-olah tanpa kita menegurnya, dia akan tersesat, rugi, dll? Sombong atau tidaknya sikap kita dalam menegur orang lain dilihat dari tanggapan kita terhadap reaksi orang yang kita tegur. Jika orang yang kita tegur itu menolak dan marah dengan kita, apa reaksi kita?

4. Kesombongan Karena Usia
Jenis kesombongan ini terjadi HANYA pada orang-orang yang berusia lanjut. Kesombongan ini muncul karena orang-orang ini merasa diri sudah berusia lanjut yang mengaku sudah banyak mengalami banyak hal. Memang harus diakui, dibandingkan generasi muda, orang-orang yang berusia lanjut jauh lebih berpengalaman. Namun pertanyaan saya adalah apakah motivasi mereka terus berkata bahwa mereka lebih berpengalaman daripada generasi muda? Kebanyakan mereka berkata demikian kadang bertujuan baik, yaitu agar para generasi muda memperhatikan nasihat para generasi tua, sehingga tidak salah jalan, namun di sisi lain, mereka sebenarnya hendak mengatakan bahwa perkataan generasi tua harus didengarkan dan ditaati 100%, lalu mereka menganggap orang muda tidak bisa apa-apa (di satu sisi, ada benarnya, namun di sisi lain, tidak selalu benar). Kecenderungan ini dapat dilihat tatkala ada seorang muda yang menegur orang yang berusia lanjut ini. Fakta membuktikan, semakin tua seseorang, ia akan semakin susah ditegur oleh orang lain, bahkan oleh Tuhan sendiri, karena mereka selalu menganggap diri paling hebat, bahkan karena pengaruh beberapa kepercayaan Timur, mereka berani mengidentikkan diri sebagai “Tuhan” yang harus disembah.

5. Kesombongan Karena Pujian Orang Lain
Orang sering kali sombong juga bisa karena terlalu sering dipuji orang lain. Mengapa? Karena orang ini merasa bahwa apa pun yang dia lakukan selalu baik bagi orang lain. Namun pertanyaan lebih tajam, benarkah orang yang memuji orang lain itu selalu tulus? Meskipun saya tidak berani menghakimi motivasi tulus atau tidaknya orang memuji orang lain, namun saya mendapati fakta bahwa ada orang yang suka menyanjung orang lain tidak dengan tulus (tentu tidak semua orang seperti ini). Artinya, di depan orang lain, orang ini bermulut manis menyanjung kehebatan orang lain, namun ketika orang lain tersebut menyingkir, maka orang bermulut manis ini berkata bahwa dia hanya pura-pura memuji dia (bahasa Jawa: mbasahi lambe). Nah, kita yang suka bermulut manis menyanjung orang lain, berhati-hatilah terhadap perkataan kita, karena jika kita terus menyanjung orang lain, kita berpotensi untuk membuat orang lain tersebut itu sombong dan secara tidak langsung, kita juga ikut berdosa, karena mendorong orang lain berdosa.


Namun, patut diperhatikan bahwa kesombongan berbeda dengan mengatakan kebenaran/kejujuran. Perbedaannya terletak pada motivasi hati. Kesombongan dimotivasi ingin membanggakan diri, sedangkan mengatakan kebenaran/kejujuran dimotivasi oleh kasih (ingin berbagi berkat). Misalnya, ada seorang yang menceritakan pengalamannya, entah itu pengalaman pelayanan, dll, motivasi dan tujuan orang itu bercerita itu ada dua: sekadar sharing untuk menjadi berkat bagi orang lain ataukah ingin menyombongkan diri. Kalau benar-benar ingin sharing, maka cerita pengalaman tersebut tidak diucapkannya berulang kali atau mendominasi hampir seluruh pembicaraannya. Sedangkan kalau untuk membanggakan diri, biasanya orang tersebut terus-menerus mengulang cerita pengalaman tersebut atau menceritakan pengalaman tersebut selama mungkin (hampir mendominasi seluruh pembicaraannya) karena orang ini menginginkan pengalamannya itu didengar oleh orang lain dan orang lain akhirnya memuji orang ini yang memiliki banyak pengalaman.


Lalu, bagaimana mengobati penyakit kesombongan kita? Tidak ada jalan lain, kecuali Roh Kudus memampukan kita untuk berfokus pada anugerah Allah. Tatkala kita memfokuskan hidup kita pada anugerah-Nya, kita dimampukan-Nya untuk menyadari bahwa Allah itu segala-galanya, kita harus bertanggung jawab, dan apa pun yang kita lakukan itu tidak berarti tanpa Allah. Sambil menyadari keutamaan Allah dan ketidaklayakan manusia, di saat itulah, kita menyadari bahwa TIDAK ada sesuatu yang patut kita sombongkan, karena kita ini debu adanya. Belajarlah mulai sekarang untuk mengaitkan segala sesuatu yang kita kerjakan yang berkenan di hadapan-Nya sebagai anugerah Allah. Ketika kita belajar dan mendapatkan nilai baik, belajarlah mengakui bahwa itu adalah anugerah Allah dan bersyukurlah serta belajarlah lebih giat lagi untuk memuliakan-Nya. Ketika kita bekerja dan pekerjaan kita diberkati Tuhan, belajarlah melihat bahwa itu adalah anugerah Allah, lalu bersyukurlah dengan bekerja lebih baik demi kemuliaan-Nya. Meskipun kita gagal entah itu di dalam belajar dan bekerja, lihatlah itu sebagai kehendak Allah yang menyadarkan kita agar kita berusaha lebih giat lagi bagi kemuliaan-Nya. Mengaitkan segala sesuatu dengan anugerah dan kehendak Allah membuat kita tidak sombong, selalu bersyukur, dan terus bekerja lebih giat lagi bagi kemuliaan-Nya.


Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menyadari betapa besar anugerah-Nya sambil menyadari bahwa kita tidak layak untuk menyombongkan diri? Biarlah melalui renungan singkat ini bukan hanya kita mengerti secara teori di kepala kita saja, tetapi menyadarkan kita untuk terus-menerus hidup di dalam anugerah Allah. Amin. Soli Deo Gloria.

1 comment:

Anton Triyanto said...

kadang juga kita masih hidup dengan cara pikir bahwa kita tidak sepenuhnya diselamatkan oleh Anugrah, ada hal-hal di dalam hidup kita di mana kita merasa bisa tanpa Anugrah, seolah-olah ada beberapa hal di dalam hidup kita bisa lakukan oleh usaha kita, sedangkan kalau yang kelihatannya impossible baru diserahkan kepada Tuhan.