24 November 2010

EKSPOSISI 1 KORINTUS 9:19-23 (1) (Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.)

EKSPOSISI 1 KORINTUS 9:19-23 (1)

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.



Nats: 1 Korintus 9:19-23 (1)



Pembacaan sekilas dari bagian ini mungkin akan memberikan kesan bahwa bagian ini tidak terlalu berkaitan dengan pembahasan sebelumnya di pasal 9. Pada bagian ini Paulus tidak menyinggung tentang status maupun hak sebagai seorang rasul (topik yang ia sudah bahas secara panjang lebar mulai 9:2-18). Ide tentang kebebasan yang menjadi fokus pembahasan di 9:19-23 juga sekilas berkontradiksi dengan penekanan Paulus di 9:15-18 bahwa dirinya adalah hamba yang tidak memiliki kebebasan selain melakukan apa yang ia harus lakukan. Lebih jauh, bagian ini pun tidak memperlihatkan keterkaitan yang eksplisit dengan isu tentang makan persembahan berhala yang menjadi inti persoalan di pasal 8-10.

Kesan di atas akan segera sirna apabila kita membaca 9:19-23 secara lebih teliti. Bagian ini memiliki keterkaitan dan fungsi yang penting bagi seluruh pembahasan di pasal 9. Ada beberapa petunjuk yang mengarah pada kesimpulan ini. Yang paling penting, ungkapan “aku bebas” di 9:19 jelas merujuk balik pada pertanyaan Paulus di awal pasal ini (9:1 “bukankah aku orang bebas?”). Dengan demikian kita seharusnya melihat 9:19-23 sebagai elaborasi dari pertanyaan “bukankah aku orang bebas?”, sedangkan 9:1b-14 sebagai uraian bagi pertanyaan “bukankah aku rasul?”). Selain itu, ajaran Paulus di 9:19-23 tentang kerelaan menjadi hamba bagi orang lain merupakan teladan lain dari hidup berdasarkan kasih sebagaimana yang ia sudah ajarkan di pasal sebelumnya (8:1). Berbeda dengan jemaat Korintus yang secara salah mempertahankan kebebasan mereka sehingga menjadi batu sandungan bagi orang lain (8:9, 11), Paulus justru melepaskan kebebasan tersebut supaya dapat memenangkan banyak orang (9:19-23).

Sebagian penafsir berpendapat bahwa 9:19-23 memiliki fungsi yang lebih daripada sekadar memaparkan teladan hidup Paulus. Bagian ini diyakini juga berfungsi sebagai pembelaan Paulus terhadap mereka yang mengritik pola pelayanan Paulus yang dipandang tidak konsisten: di suatu konteks Paulus melakukan X, tetapi di konteks lain ia mengambil sikap Y. Paulus dianggap mengajarkan kebebasan dari Taurat supaya ia bisa menyenankan banyak orang (Gal. 1:10). Penekanannya pada anugerah Allah membuat dia difitnah telah mengajarkan kehidupan Kristiani yang sembarangan (Rom 3:8). Di kalangan orang-orang Yahudi ia tidak jarang dimusuhi karena dituduh telah membatalkan Hukum Taurat (Kis. 21:21). Beberapa penafsir bahkan menduga sikap sebagian jemaat Korintus yang makan di kuil dengan mengatasnamakan kebebasan Kristiani (8:7-9) merupakan usaha mereka untuk “mengikuti” pola hidup Paulus yang tampak tidak konsisten. Terlepas dari benar atau tidaknya pendapat ini (tidak ada petunjuk yang konklusif untuk membenarkan maupun menyanggah hal ini), sikap Paulus yang terkesan situasional di 9:19-23 memang bisa menjadi masalah yang pelik di kalangan gereja mula-mula yang sering berhadapan langsung dengan isu tentang makanan (Kis. 15:29; Why. 2:14). Paulus bahkan pernah menegur Petrus yang bersikap munafik soal makanan (Gal. 2:11-14).

Sekarang kita berpindah pada struktur 1 Korintus 9:19-23. Alur berpikir Paulus di bagian ini cukup mudah untuk diikuti. Ayat 19 dan 22b menyatakan prinsip yang sama, sedangkan ayat 20-22a menguraikan prinsip tersebut dalam 4 kategori. Yang agak sulit ditentukan secara pasti adalah fungsi ayat 23. Apakah ayat ini sebaiknya disatukan ayat 22b ataukah disendirikan dengan fungsi yang sedikit berbeda? Pengamatan yang cermat menunjukkan bahwa ayat 23 sebaiknya dipahami secara tersendiri sebagai alasan bagi semua pembahasan di ayat 19-22. Dengan demikian alur berpikir Paulus di 9:19-23 dapat digambarkan sebagai berikut:
Pendahuluan: aku bebas tetapi aku menjadi hamba bagi semua orang demi Injil (ay. 19)
Penjelasan prinsip (ay. 20-22a)
Bagi orang Yahudi (ay. 20a)
Bagi orang yang di bawah Hukum Taurat (ay. 20b)
Bagi orang yang tidak hidup di bawah Hukum Taurat (ay. 21)
Bagi orang yang lemah (ay. 22a)
Penutup: aku menjadi segalanya bagi semua orang demi Injil (ay. 22b)
Alasan: aku melakukan semua ini demi Injil dan


Pendahuluan: Aku Bebas Tetapi Aku Menjadi Hamba bagi Semua Orang Demi Injil (ay. 19)
Ayat ini dimulai dengan kata sambung gar (lit. “karena”) yang dalam beberapa versi (NIV/NLT/LAI:TB) sengaja tidak diterjemahkan karena terkesan agak janggal. Keputusan ini dari sisi keindahan kalimat memang bisa dipahami, namun berpotensi untuk mengaburkan keterkaitan yang erat antara ayat ini dengan ayat 15-18. Paulus sengaja menggunakan kata sambung gar untuk mempertegas keterkaitan itu.

Dalam hal ini ayat 19 seharusnya dilihat sebagai penjelasan dari bagian sebelumnya. Maksudnya, kebebasan yang dinyatakan Paulus di ayat 18 bersumber dari status dan sikap Paulus di ayat 15-18. Paulus adalah hamba Allah (9:17), sehingga ia tidak mungkin menjadi hamba orang lain. Jika ia mau menghambakan diri pada orang lain (9:19, 22b), maka itu merupakan pilihan dari pihak Paulus, bukan paksaan atau keharusan. Status Paulus sebagai hamba Allah memang membuat dia tidak memiliki kebebasan apa pun di hadapan Allah (9:16), namun hal ini tidak berarti bahwa ia juga kehilangan kebebasan di hadapan manusia. Ia tetap orang yang bebas. Pemikiran seperti ini sebelumnya sudah diungkapkan Paulus pada waktu ia membicarakan tentang paradoks budak-orang bebas (7:22 “sebab seorang hamba yang dipanggil oleh Tuhan dalam pelayanan-Nya, adalah orang bebas, milik Tuhan. Demikian pula orang bebas yang dipanggil Kristus, adalah hamba-Nya”).

Struktur kalimat di ayat 19 menyiratkan bahwa Paulus sedang menekankan kata “kebebasan” (eleutheros). Hal ini tampak dari posisi kata eleutheros di awal kalimat. Para penafsir meyakini bahwa kebebasan yang dimaksud di sini bukan hanya secara theologis (sebagai hamba Allah Paulus bukanlah hamba manusia), tetapi juga secara sosiologis (ketidakmauan Paulus menerima tunjangan hidup dari jemaat membuat ia bebas dari tekanan maupun pembatasan oleh orang lain).

Jika Paulus mau menerima tunjangan dari jemaat Korintus, maka ia pun dituntut mengikuti selera jemaat dalam hal khotbah. Mereka ingin menggantikan Injil - yang dianggap kebodohan – dengan filsafat dunia (1:18, 22-23). Mereka ingin Paulus lebih menekankan kemampuan retorika daripada kuasa Roh Kudus (2:1-5). Dengan tidak menerima tunjangan dari mereka, Paulus memiliki kebebasan penuh untuk memberitakan Injil tanpa harus menuruti kemauan orang lain yang melawan kebenaran.

Walaupun Paulus adalah bebas terhadap semua orang, tetapi ia mau menghambakan dirinya kepada semua orang. Dalam kalimat Yunani kata “semua orang” diulang dan diletakkan berdekatan untuk mempertegas kontras (lit. “karena walaupun aku adalah bebas dari semua orang, kepada semua orang aku menghambakan diriku”). Bentuk lampau dari “menghambakan” (edoulosa, KJV/NASB/RSV/NRSV “I have made”, kontra NIV “I make”) menyiratkan bahwa apa yang dilakukan Paulus di sini merupakan tindakan yang sudah ia lakukan. Ia mengajarkan apa yang ia sudah lakukan, bukan hanya berusaha melakukan apa yang ia ajarkan (bdk. Ezr. 7:10 “sebab Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat TUHAN dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel”).

Apa yang dilakukan Paulus ini merupakan sesuatu yang luar biasa jika kita membandingkan dengan dua fakta. Pertama, Paulus sebenarnya tidak anti terhadap kebebasan. Ia memberi ijin dan dorongan bagi orang percaya untuk menggunakan kebebasan mereka (7:21, 35, 39). Paulus pun tidak jarang menegaskan kebebasan Kristiani di daam Kristus Yesus. Di dalam Kristus orang percaya tidak lagi hidup di bawah tuntutan Taurat maupun berbagai tradisi manusia (Kol. 2:16-17). Ketika ia melepaskan kebebasan – yang sangat ia tekankan – maka Paulus pada dasarnya telah melepaskan apa yang ia anggap sangat penting dalam hidupnya.

Melepaskan sesuatu yang berharga dalam hidup kita jelas bukan hal yang mudah. Kita mungkin dengan mudah membiarkan sesuatu yang tidak penting dalam hidup kita untuk dikorbankan bagi orang lain, namun akan menjadi sangat sulit ketika kita harus melepaskan hal yang sangat berharga dalam hidup kita bagi orang lain.

Kedua, filsafat Stoa waktu itu mengajarkan bahwa orang yang bebas adalah mereka yang melakukan apa saja yang mereka kehendaki tanpa memikirkan pandangan orang lain.

Pandangan yang sekilas sangat menekankan kebebasan yang benar-benar bebas ini sebenarnya tidak lebih daripada sebuah perbudakan. Jika kita selalu menuruti kebebasan kita, maka kita pada dasarnya telah diperbudak oleh kebebasan tersebut. Orang yang benar-benar bebas adalah mereka yang benar-benar bebas untuk melepaskan kebebasannya demi kepentingan orang lain. Jika kita mengetahui kebenaran ini, maka kebenaran ini akan memerdekakan kita dalam arti yang sesungguhnya (Yoh. 8:32).

Darimana Paulus memahami rahasia dari kebabasan yang sejati ini? Mengapa ia bisa melepaskan kebebasannya untuk melayani orang lain? Tindakan Paulus ini pasti berakar dari ajaran dan teladan hidup Tuhan Yesus. Dalam kitab Injil diajarkan bahwa keunikan kepemimpinan Kristen adalah kepemimpinan yang menghamba (Mat. 20:26-28//Mrk. 10:43- 45). Yesus mau meninggalkan kemuliaan sorga untuk menjadi hamba yang taat (Flp. 2:5-8) demi menyelamatkan manusia. Ia yang berada di atas Hukum Taurat telah menaklukkan diri-Nya di bawah hukum itu demi menyelamatkan mereka yang takluk kepada Hukum Taurat (Gal. 4:4-5). Teladan inilah yang seharusnya menjadi pola hidup setiap orang Kristen.

Siapa yang menghambakan diri kepada Kristus berarti siap menghambakan diri kepada orang lain (2Kor.. 4:5). Kita memang tidak menjadi hamba orang lain. Satu budak hanya boleh memiliki satu tuan. Jika kita sudah menjadi hamba Allah (9:16-18), maka kita tidak mungkin sekaligus menjadi hamba orang lain. Bagaimanapun, dalam taraf tertentu kita adalah hamba orang lain, dalam arti bahwa Allah sebagai Tuan kita telah memberi tugas kepada kita untuk melayani orang-orang tersebut (2Kor.. 4:5). Hamba Than adalah milik jemaat hanya dalam arti bahwa jemaat pun pada gilirannya adalah milik Kristus (1Kor. 3:21-23). Seorang hamba Tuhan sepenuh waktu adalah hamba Tuhan (bukan hamba jemaat), tetapi ia harus melayani jemaat (menghambakan diri kepada mereka) karena Tuhan Yesus sudah mempercayakan jemaat untuk dilayani para hamba-Nya (Kis. 20:28). Hamba Tuhan tidak boleh diperlakukan seperti karyawan, namun hamba Tuhan juga tidak boleh memposisikan diri sebagai penguasa (bos).

Bagian terakhir ayat 19 menjelaskan tujuan dari sikap Paulus di ayat 19a. Motivasi di balik itu tidak berhubungan dengan kepentingan Paulus, melainkan kepentingan Injil Kristus. Ia berbeda dengan pemberita Injil lain yang condong pada kepentingan diri sendiri (bdk. Flp. 1:17; 2:21). Paulus berani melepaskan kebebasan demi orang lain bukan supaya ia disukai semua orang. Di tempat lain ia bahkan mengajarkan bahwa mereka yang berusaha memperkenankan semua orang pada dasarnya justru bukanlah hamba Kristus (Gal. 1:10). Ini adalah tantangan yang cukup pelik bagi seorang hamba Tuhan. Penerimaan yang baik dari jemaat merupakan faktor yang penting dalam pelayanan hamba Tuhan. Bagaimanapun, hamba Tuhan tidak boleh mengorbankan kepentingan Allah demi mempertahankan penerimaan manusia. Teguran kepada jemaat memang berpotensi merusak relasi hamba Tuhan dan jemaat, namun mengabaikan teguran justru akan merusak relasi jemaat dengan Tuhan.

Bagi Paulus, penghambaan ini ia lakukan hanya untuk satu tujuan: memenangkan sebanyak mungkin orang (ay. 19b). Pemilihan kata “memenangkan” (kedraino, kata ini muncul 5 kali di ay. 19-21) di bagian ini merupakan sesuat yang cukup menarik. Di ayat 22b Paulus memilih kata “menyelamatkan” (sozo) yang memang lebih lazim dipakai dalam konteks pemberitaan Injil. Pemakaian kata kedraino berfungsi untuk mengaitkan bagian ini dengan bagian perikop sebelumnya tentang upah pemberita Injil (9:15-18), karena kata ini secara hurufiah biasanya berarti “mendapatkan materi/keuntungan” (Mat. 16:26//Mrk. 8:36//Luk. 9:25; Mat. 25:16-17, 20, 22; Yak. 4:13), walaupun kata ini juga kadangkala dipakai untuk “mendapatkan Kristus” (Flp. 3:8) maupun “memenangkan orang lain pada keselamatan” (Mat. 18:15; 1Pet 3:1). Penggunaan kata kedraino di ayat 19b menyatakan bahwa inilah upah Paulus dalam pemberitaan Injil, yaitu kebebasan dari semua orang dan kebebasan untuk melepaskan kebebasan tersebut demi semua orang.


Aplikasi
Budaya postmodern yang sangat menekankan kebebasan merupakan salah satu tantangan terbesar bagi orang Kristen. Ditambah dengan natur kita yang berdosa dan condong pada egoisme, melepaskan kebebasan demi orang lain benar-benar merupakan tugas yang sangat sulit. Kalau pun kita berhasil melakukan hal ini, motivasi di balik semua itu seringkali tidak tepat. Kita hanya mencari penerimaan dari orang lain.

Kunci dari semua kesulitan di atas adalah posisi Injil dalam kehidupan kita. Jika kita meletakkan Injil di atas segalanya – termasuk kebebasan, kenyamanan, popularitas, penerimaan orang lain, dsb., – maka melepaskan kebebasan tampak menjadi lebih ringan bagi kita. Sebaliknya, jika kebebasan menjadi barang yang paling berharga dalam hidup kita, maka kita akan mengaami kesulitan untuk melepaskan hal tersebut, apalagi demi Injil yang bagi kita tidak terlalu penting. Biarlah kuasa Injil yang membebaskan kita dari dosa benar-benar membebaskan kita juga dari perbudakan kebebasan.

Kebebasan sejati adalah mengesampingkan kebebasan tersebut untuk menghambakan diri bagi orang lain demi kepentingan Injil Kristus. Soli Deo Gloria. #




Sumber:
Mimbar GKRI Exodus, 25 April 2010
http://www.gkri-exodus.org/image-upload/SER-1Korintus%209%20ayat%2019-23%20%28Bagian%201%29.pdf

No comments: