01 July 2010

Bab 2: Ajaran-ajaran Reformed

BAB 2
AJARAN-AJARAN REFORMED




Setelah menyimak sekilas sejarah gerakan Reformed, maka kita bertanya, apa yang diajarkan oleh theologi Reformed? Saya tidak akan menjelaskan ajaran-ajaran Reformed secara panjang lebar, namun saya akan meringkaskan beberapa poin ajaran Reformed. Selain mempercayai doktrin-doktrin dasar iman Kristen, misalnya: Allah Trinitas, Alkitab adalah wahyu Allah, dwi natur Kristus, dll, maka theologi Reformed mengajarkan prinsip-prinsip penting:
I. Kedaulatan Allah
Dr. Loraine Boettner, D.D. di dalam bukunya Iman Reformed menegaskan bahwa inti theologi Reformed adalah kedaulatan Allah.[1] Lebih lanjut, Dr. Boettner menjelaskan definisi kedaulatan Allah, sebagai berikut,
“Prinsip ini menegaskan bahwa maksud dari Allah Tritunggal adalah absolut dan tak bersyarat, tidak bergantung pada seluruh ciptaan yang terbatas, dan bahwa maksud itu semata-mata bermula pada perembukan kekal dari kehendak-Nya. Ia menetapkan jalannya alam dan memimpin jalannya sejarah hingga ke detail yang terkecil. Maka ketetapan-ketetapan-Nya bersifat kekal, tidak berubah, suci, penuh hikmat, dan berdaulat…”[2]
Dari penjelasan ini, Dr. Boettner menjelaskan kepada kita bahwa Allah yang berdaulat adalah Allah yang berada pada diri-Nya sendiri (self-existence of God) dan tidak ada satu pun yang bisa menjadi penasihat-Nya. Setelah membahas doktrin predestinasi, maka Rasul Paulus menjelaskan satu poin penting yang mengajarkan tentang kedaulatan Allah, “Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: "Mengapakah engkau membentuk aku demikian?"” (Rm. 9:20) Jika tak ada satu pun yang bisa membantah atau layak menjadi penasihat Allah, lalu mengapa kita berani sekali mengajari Allah untuk berbuat sesuatu yang menurut kita “adil” dan “benar”? Kedaulatan Allah mengajar kita beberapa prinsip sebagai aplikasinya:
A. Taat Mutlak
Allah adalah Allah yang berdaulat, maka sebagai umat-Nya, kita dituntut untuk taat mutlak akan apa yang Dia perintahkan dan ajarkan. Itulah bukti kita mengasihi Allah. Rasul Yohanes menulis di 1 Yohanes 5:3, “Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat,” Kata “menuruti” dalam teks Yunaninya adalah tereo yang berasal dari akar kata teros yang artinya a watch (=penjagaan). Mayoritas Alkitab terjemahan Inggris menerjemahkannya sebagai keep (=menjaga, memelihara, menyimpan, menghidupi). Dari sekilas studi kata ini, kita mendapatkan pengertian bahwa bukti kita mengasihi Allah adalah kita menyimpan perintah-perintah Allah itu di dalam hati kita (tentu untuk kita laksanakan). Apa buktinya kita taat mutlak? Bukti seorang yang taat mutlak kepada perintah-perintah Allah adalah TIDAK banyak bertanya. Kita sebagai orang Kristen tentu boleh bertanya kepada Allah tentang apa yang sebenarnya terjadi, seperti yang dilakukan oleh Daud dan para pemazmur lainnya. Namun ketika kita bertanya kepada Allah, pertanyaan itu dimotivasi oleh keingintahuan kita untuk selanjutnya taat kepada-Nya, bukan pertanyaan untuk mempertanyakan kedaulatan Allah. Memang tidak mudah untuk taat mutlak dengan tidak terlalu banyak bertanya kepada-Nya, karena natur berdosa kita terus ingin tahu. Oleh karena itu, kita membutuhkan Roh Kudus untuk membantu kita menundukkan diri kita di bawah kedaulatan-Nya yang mutlak itu.


B. Berserah Total
Ketika kita taat mutlak, yang menjadi pertanyaannya, mengapa terkadang (bahkan sering kali) apa yang kita kehendaki tidak terjadi? Apakah ini berarti kita taat dengan terpaksa? TIDAK. Tuhan tidak pernah memaksa umat-Nya untuk taat. Ketaatan kita lahir dari hati yang mengasihi Allah. Selain tidak banyak bertanya, ketaatan kita juga dibuktikan dengan kita berserah total kepada kehendak-Nya. Tatkala kita berserah total kepada kehendak-Nya, di saat itu kita sedang mempercayakan seluruh hidup kita pada kehendak-Nya yang jauh lebih baik dan benar ketimbang kehendak kita. Memang sulit mensinkronkan kehendak kita dengan kehendak Allah, karena dosa selalu membuat kita ingin mengedepankan kehendak kita. Namun atas anugerah Allah, Roh Kudus memimpin kita terus-menerus untuk menyerahkan seluruh hidup kita kepada-Nya. Percayalah, tatkala kita menyerahkan seluruh hidup kita kepada-Nya, kita akan menemukan betapa indahnya jalan-jalan-Nya. Ini bukan sekadar teori, saya telah mengalaminya dan berharap terus-menerus akan mengalaminya, karena saya percaya bahwa kehendak-Nya akan indah pada waktu-Nya.


C. Makin Intim Dengan Tuhan
Orang Kristen yang sudah menyerahkan seluruh hidupnya kepada-Nya adalah orang Kristen yang terus-menerus makin intim dengan Tuhan. Mengapa? Tujuannya jelas yaitu agar ia makin peka akan kehendak-Nya dan melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Mengutip salah satu perkataan Pdt. Ir. Andi Halim, S.Th. di dalam khotbah mimbar tanggal 6 Juni 2010, orang Kristen yang makin intim dengan Tuhan semakin menyadari bahwa dirinya berdosa (paradoxical repentance—pertobatan paradoks). Makin menyadari bahwa dirinya berdosa, semakin dia menyadari bahwa dia membutuhkan Kristus dan kehendak-Nya yang mengontrol hidupnya hari lepas hari, sehingga hidupnya makin memuliakan-Nya.

Jangan pernah bermimpi untuk segera mengetahui kehendak Allah baik di dalam memilih perkuliahan, jodoh, atau pekerjaan, jika setiap hari kita tidak pernah berhubungan intim dengan Allah. Lalu, bagaimana kita bisa intim dengan Tuhan? Yang terutama adalah disiplinkan diri kita dengan aktif dan rutin membaca dan merenungkan Alkitab setiap hari. Bacalah buku-buku rohani yang bermutu untuk meningkatkan iman, pengetahuan, dan kerohanian kita. Berdoalah secara teratur. Berinteraksilah juga dengan saudara seiman lainnya agar kita bisa saling menguatkan, menegur, menasihati, mengajar, dan menghibur. Tuhan memakai cara-cara di atas bagi kita agar kita makin intim dengan-Nya dan mengetahui kehendak-Nya untuk kita laksanakan nantinya.



II. Kedaulatan Allah dan Tanggung Jawab Manusia
Orang Reformed selalu difitnah oleh banyak orang non-Reformed dengan sebutan bahwa Reformed = fatalisme/takdir-isme karena segala sesuatu tergantung kedaulatan Allah. Benarkah demikian? Benarkah Reformed hanya menekankan kedaulatan Allah seperti yang difitnahkan oleh beberapa orang Kristen yang kurang mengerti Reformed secara tuntas?

Pertama-tama, biarlah ini menjadi introspeksi diri kita masing-masing. Benarkah kita yang mati-matian belajar theologi Reformed kemudian menjadi seorang fatalis? Fakta menyebutkan bahwa ada pendeta Reformed yang terlalu menekankan kedaulatan Allah, akibatnya merasionalisasi kesalahannya sebagai sesuatu yang ditetapkan Allah. Misalnya, pendeta itu terlambat bangun pagi dan akhirnya terlambat mengajar di kampus, kemudian si pendeta mengatakan bahwa keterlambatannya ini berada di dalam ketetapan Allah. Tolong tanya, apakah pendeta Reformed ini masih layak disebut Reformed jika menggunakan ketetapan Allah untuk merasionalisasikan kesalahannya? Saya pribadi mengatakan TIDAK. Saya setuju bahwa keterlambatannya ada di dalam ketetapan Allah, namun itu BUKAN berarti keterlambatannya dikehendaki Allah, namun hal tersebut diizinkan bahkan dibiarkan Allah.

Kedua, benarkah Reformed identik dengan fatalisme karena terlalu percaya pada ketetapan Allah di dalam kedaulatan-Nya? TIDAK. Reformed memang benar menekankan kedaulatan Allah sebagai inti doktrinnya, namun hal ini TIDAK berarti meniadakan tanggung jawab manusia. Saya menggunakan istilah “tanggung jawab manusia” ketimbang kehendak bebas manusia, karena istilah tanggung jawab manusia lebih cocok dibandingkan kehendak bebas manusia yang selalu tidak pernah bebas, hehehe. Tanggung jawab manusia ini berarti respons manusia sebagai umat-Nya yang telah ditebus Kristus untuk selanjutnya taat mutlak akan firman-Nya demi menggenapkan kehendak-Nya dan memuliakan nama-Nya di bumi ini. Misalnya: di dalam kedaulatan Allah ada providensia (pemeliharaan) Allah (di dalam penciptaan dan keselamatan), ketetapan Allah, dan predestinasi (hal ini akan dijelaskan pada poin-poin selanjutnya). Sebagai respons umat-Nya, maka mereka harus ikut serta memelihara ciptaan-Nya dan juga melakukan sesuatu yang memuliakan nama-Nya (meskipun tindakan-tindakan ini pun mereka lakukan karena adanya anugerah Allah terlebih dahulu). Sebagai respons terhadap ketetapan Allah, maka umat-Nya tetap harus berdoa. Ketetapan Allah adalah tetap ketetapan Allah yang tidak dapat diubah oleh apa pun dan siapa pun, namun hal ini TIDAK berarti kita tidak perlu berdoa. Jika karena alasan ketetapan Allah tidak dapat diubah, maka kita tidak perlu berdoa, maka di titik pertama, sudah ketahuan motivasi doa orang yang mengatakan hal ini, yaitu doanya untuk mengubah ketetapan Allah. DOA TIDAK PERNAH MENGUBAH KETETAPAN ALLAH! Jika doa bisa mengubah ketetapan Allah, maka logikanya adalah “Allah” akan terkaget-kaget segera mengubah rencana awal-“Nya” setelah ada seorang Kristen berdoa. Yang lebih celaka lagi, jika ada dua tim sepakbola, di mana masing-masing pemimpin timnya berdoa kepada Allah, saya mau bertanya, apa yang “Allah” lakukan? Silahkan berpikir sendiri hasilnya jika masih ngotot mengimani bahwa doa mengubah ketetapan Allah. Namun Tuhan tetap menuntut kita berdoa karena doa adalah komunikasi pribadi Allah dengan umat-Nya (bersifat dua arah). Sebagai respons terhadap predestinasi tersebut, maka umat-Nya bersama dengan umat-Nya yang lain ikut serta memberitakan Injil kepada mereka yang belum percaya. Predestinasi mengobarkan penginjilan, bukan malah menyurutkan penginjilan.

Tanggung jawab manusia juga bisa bersifat negatif untuk dikaitkan dengan kedaulatan-Nya. Contoh, Kristus yang disalibkan, tolong tanya, apakah peristiwa itu ada dalam kedaulatan-Nya atau murni kesalahan manusia? Pada waktu Pentakosta, ketika para murid dituduh sedang mabuk anggur, maka Rasul Petrus berdiri dan berkhotbah. Salah satu isi khotbahnya memberi jawaban kepada kita bahwa ada kaitan kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia di dalam peristiwa Kristus yang tersalib itu, “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka.” (Kis. 2:23) Allah memang merencanakan Putra Tunggal-Nya pasti disalib, namun di sisi lain, Allah yang sama menuntut mereka yang menyalibkan-Nya. Inilah bukti konkrit kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia seimbang ditekankan. Inilah salah satu paradoks dalam iman Kristen.




III. Wahyu Umum dan Wahyu Khusus Allah
Allah yang berdaulat adalah Allah yang menyatakan diri-Nya kepada manusia. Theologi Reformed membagi dua macam wahyu Allah, yaitu: wahyu umum Allah dan wahyu khusus Allah. Wahyu umum Allah (general revelation of God) adalah penyataan diri Allah secara umum kepada semua manusia tanpa kecuali melalui hati nurani, sejarah, dan alam semesta. Nah, mengutip Pdt. Dr. Stephen Tong, wahyu umum Allah ini diresponi oleh manusia, sehingga muncullah: agama dan kebudayaan. Bagi Pdt. Stephen Tong, agama adalah respons manusia berdosa terhadap wahyu umum Allah berupa hati nurani, sedangkan kebudayaan adalah respons manusia berdosa terhadap wahyu umum Allah berupa alam semesta. Saya menambahkan, sains juga termasuk respons manusia terhadap wahyu umum Allah berupa alam semesta. Dari wahyu umum Allah dan responsnya ini, kita mendapatkan gambaran bahwa TIDAK ada orang yang bisa disebut atheis (tidak percaya kepada Allah), karena Allah telah menyatakan diri-Nya dengan begitu jelas (Rm. 1:19-20). Namun mengapa ada orang yang berani mengklaim diri atheis? Benarkah dia atheis murni? Sebenarnya dia bukan atheis, dia hanya percaya bahwa Allah itu tidak ada. Tidak percaya bahwa Allah itu ada berbeda dengan percaya bahwa Allah itu tidak ada. Tidak percaya bahwa Allah itu ada berarti orang itu tidak percaya sama sekali akan keberadaan Allah, sedangkan percaya bahwa Allah itu tidak ada berarti orang itu masih percaya “Allah”, namun “Allah” yang dipercayainya bukan Allah sejati, karena ia telah membuang Allah sejati yang eksis dan menggantinya dengan “Allah” ciptaannya sendiri. Kembali, karena manusia telah jatuh ke dalam dosa dan mengurangi kemuliaan Allah (Rm. 3:23), maka setiap respons manusia pasti mengandung bibit dosa entah itu kecil maupun besar. Dari prinsip ini, kita menemukan bahwa agama (termasuk filsafat/aliran kepercayaan), kebudayaan, dan sains mengandung bibit dosa, sehingga TIDAK mungkin bisa menyelamatkan. Bagaimana penyelesaiannya? Puji Tuhan, Ia menyatakan diri-Nya secara KHUSUS kepada umat pilihan-Nya melalui Kristus dan Alkitab. Kristus adalah wahyu khusus Allah secara nyata/tidak tertulis dan Alkitab (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) adalah wahyu khusus Allah secara tertulis.

Dari pembedaan wahyu umum dan khusus Allah, sebagai aplikasinya, kita belajar beberapa hal:
A. Wahyu Khusus Allah Lebih Tinggi daripada Wahyu Umum Allah (dan Respons Terhadap Wahyu Umum Allah)
Karena kita percaya bahwa wahyu khusus Allah itu bersifat final, terbatas, dan menyelamatkan, maka kita sudah seharusnya percaya bahwa wahyu khusus Allah menempati posisi tertinggi di dalam iman dan kehidupan Kristen kita. Jangan berani mengklaim diri Kristen apalagi Reformed, jika kita masih menempatkan tradisi manusia berdosa (khususnya dari dunia Timur) sebagai satu-satunya otoritas mutlak menggeser Alkitab dan Kristus. Biarlah ini menjadi introspeksi diri kita: benarkah Alkitab dan Kristus yang menjadi satu-satunya otoritas ataukah tradisi orangtua/leluhur dan filsafat manusia berdosa yang menjadi “ilah” kita?


B. Menghargai Wahyu Umum Allah (dan Responsnya) Sesuai Dengan Wahyu Khusus Allah
Meskipun kita memegang teguh satu-satunya otoritas wahyu khusus Allah, hendaklah kita tetap menghargai sumbangsih wahyu umum Allah dan respons terhadapnya. Artinya, kita tetap menghargai sumbangsih pemikiran filsafat, agama, tradisi, kebudayaan, dan sains yang bagus dan bernilai, namun perlu diingat, semuanya itu harus ditundukkan di bawah otoritas Alkitab.




IV. Sola Scriptura
Karena Allah mewahyukan diri-Nya secara khusus kepada umat pilihan-Nya secara tertulis yaitu Alkitab, maka sudah seharusnya kita menjadikan Alkitab sebagai satu-satunya otoritas mutlak dalam iman dan kehidupan Kristen kita. Itulah semangat yang ditegaskan oleh Dr. Martin Luther, yaitu Sola Scriptura (hanya Alkitab). Apa artinya? Apa bedanya dengan Solo Scriptura?[3] Sola Scriptura berarti hanya Alkitab menjadi satu-satunya otoritas dalam iman dan kehidupan Kristen kita, sedangkan tradisi gereja (yang bisa salah) melalui pengakuan iman, katekismus, dll adalah sarana untuk mengerti Alkitab. Di sini, kita mendapatkan pengertian bahwa Sola Scriptura dari Protestantisme atau Reformed TIDAK membuang tradisi gereja. Kami sebagai orang Reformed tetap menghargai tradisi gereja, khususnya dari para rasul, bapa gereja (khususnya Augustinus), para reformator, dll, namun tradisi itu tetap harus ditundukkan di bawah otoritas Alkitab sebagai batu pengujinya. Di dalam iman Reformed, pengakuan-pengakuan iman, seperti: Canons of Dort, Pengakuan Iman Westminster, Katekismus (Singkat dan Besar) Westminster, Katekismus Heidelberg, dll merupakan sarana kita mengerti Alkitab, namun sarana tersebut bisa salah dan perlu terus-menerus diubah sesuai dengan Alkitab. Oleh karena itu, semboyan gereja Reformed yang harus dipelajari adalah: Ecclesia Reformata Semper Reformanda Secundum Verbum Dei yang berarti gereja-gereja Reformed harus terus-menerus di-Reformed-kan sesuai dengan firman Allah. Sedangkan Solo Scriptura merupakan pandangan sejumlah besar kaum Fundamentalisme yang meyakini bahwa sumber otoritas mutlak bagi iman dan kehidupan Kristen adalah Alkitab, sedangkan tradisi gereja dan buku-buku rohani tidak diperlukan lagi. Bahkan seorang ekstremis dari penganut Solo Scriptura menambahi “iman”nya dengan pengalaman yang diklaim dari “Allah” yaitu melalui “mukjizat” bahwa “Allah” menginginkannya untuk membaca Alkitab saja dan bukan buku-buku lain. Orang yang makin ekstrem dengan Solo Scriptura coba perhatikan cara dia menafsirkan Alkitab, kebanyakan ngaco.

Ketika kita belajar tentang Sola Scriptura, ada satu prinsip lagi yang penting yaitu Scriptura sui interpres (=Alkitab menafsirkan dirinya sendiri). Artinya, ketika mengerti dan menafsirkan Alkitab, kita tidak perlu terlalu susah membutuhkan segudang tafsiran Alkitab, karena Alkitab pada dirinya sendiri jelas dan mudah dipahami, namun hal ini TIDAK berarti kita sembarangan menafsirkan Alkitab. Mengapa Alkitab jelas dan mudah dipahami? Karena di dalam theologi Reformed, Alkitab dipercaya menafsirkan dirinya sendiri, di mana ayat-ayat Alkitab yang kurang jelas akan dijelaskan pada ayat-ayat Alkitab yang lebih jelas di bagian kitab lain dalam Alkitab. Dari prinsip ini, theologi Reformed menafsirkan Alkitab bukan asal main comot ayat Alkitab, namun memperhatikan seluruh PL dan PB secara simultan dan komprehensif, sehingga terciptalah doktrin yang ketat dan konsisten dari Alkitab. Di dalam ilmu penafsiran (hermeneutika) Alkitab, hal ini dikenal dengan prinsip penafsiran eksegese yang artinya menggali keluar ayat-ayat Alkitab. Hal ini dibedakan dengan prinsip penafsiran eisegese yang artinya memasukkan ide-ide dari luar ke dalam Alkitab (alias mencocok-cocokkan Alkitab dengan ide luar atau bahasa gaulnya: semau gue).

Ketika kita mempelajari hermeneutika Alkitab, kita akan belajar banyak hal. Sebagai dasar, kita perlu mempelajari 2 bahasa asli Alkitab: Ibrani dan Yunani. Baru setelah itu, kita akan mempelajari prinsip-prinsip penafsiran Alkitab yang bertanggungjawab, yaitu:
A. Memperhatikan Genre Kitab
Pertama-tama, kita harus memperhatikan genre kitab yang akan kita selidiki. Genre berarti jenis literatur kitab. Misalnya, ketika ingin mengerti dan menafsirkan Kitab Mazmur, maka kita harus mengerti genre Kitab Mazmur adalah puisi dan nyanyian, sehingga ketika hendak menafsirkan Mazmur, jangan menjadikan kitab ini sebagai kitab sejarah atau kitab doktrinal. Sedangkan genre Kitab Kisah Para Rasul adalah kitab sejarah, maka perlakukan kitab ini sebagai kitab sejarah dan bukan kitab puisi.


B. Memperhatikan Teks Kitab
Setelah memperhatikan genre, maka kita harus memperhatikan teks ayat dalam kitab yang akan kita selidiki. Memperhatikan teks berarti kita menggali teks tersebut secara mendalam, misalnya dengan memperhatikan bahasa asli dan struktur kalimat dari ayat yang kita baca. Dari teks asli itu, kita mencoba menggali lagi akar kata dan makna sesungguhnya. Kemudian kita membandingkannya dengan Alkitab terjemahan lain selain Alkitab LAI yang kita miliki. Ketika kita mulai masuk ke dalam tahap ini, kita memang harus memerlukan tools atau peralatan untuk memudahkan kita menggali Alkitab, misalnya software Bible Works, Interlinear (Yunani-Indonesia) yang telah disusun oleh Pdt. Hasan Susanto, D.Th., dll.


C. Memperhatikan Konteks Alkitab
Setelah memperhatikan teks, kita harus memperhatikan konteks Alkitab. Konteks di sini dibagi lagi menjadi dua: konteks dekat dan konteks jauh. Konteks dekat Alkitab berarti konteks ayat yang sedang kita selidiki dan pelajari. Misalnya, ketika kita menggali makna Roma 3:23, maka kita harus memperhatikan ayat-ayat sebelum ayat 23 dan ayat-ayat sesudahnya. Tentu juga perlu memperhatikan pasal-pasal sebelum dan sesudah pasal 3. Konteks jauh Alkitab berbicara lebih luas lagi yaitu konteks dalam seluruh kitab yang diselidiki, seluruh kitab dengan penulis yang sama (jika ada), dan tentunya seluruh PL dan PB dalam Alkitab. Misalnya, ketika kita menyelidiki kata dosa pada Roma 3:23, maka kita harus membandingkannya dengan seluruh ayat dalam Surat Roma, kemudian membandingkannya dengan konsep dosa dalam kitab-kitab lain yang ditulis oleh Paulus (misalnya, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, dll), dan terakhir membandingkannya dengan seluruh PL dan PB, sehingga makna dosa menjadi jelas bagi kita.


D. Memperhatikan Latar Belakang Kitab
Selain teks dan konteks, kita tetap perlu memperhatikan latar belakang kitab. Setiap kitab memiliki latar belakangnya tersendiri. Latar belakang ini bisa berupa latar belakang historis, kebudayaan, bahasa, dll. Misalnya, di dalam Roma 3:9, mengapa Paulus menyebut dua bangsa: Yahudi dan Yunani? Karena jemaat Roma pada waktu itu terdiri dari dua bangsa tersebut. Lalu, kita mencoba menyelidiki betapa agungnya Surat Roma, karena Paulus menulis bukan hanya bagi orang Yahudi, tetapi juga bagi orang Yunani, sehingga cara dan konsep berpikir Paulus paling brilian ada di dalam Surat Roma. Dr. Martin Luther menyebut Surat Roma sebagai inti Injil, sehingga meskipun Alkitab semua dibakar dan hanya tersisa Surat Roma, maka itu sudah cukup membuat seseorang mengerti Injil. Mengapa di 1 Korintus 7, Paulus menguraikan masalah pernikahan dengan begitu jelas dan gamblang dan penjelasan lengkap ini tidak ditemukan pada surat-surat Paulus yang lainnya? Karena pada waktu itu jemaat di Korintus memiliki ajaran bahwa seks dan pernikahan itu adalah dosa, maka kalau mau melayani Tuhan, harus tidak boleh menikah. Karena latar belakang inilah, maka Paulus menguraikan panjang lebar bahwa pernikahan BUKANlah dosa.




V. Sola Gratia dan Sola Fide
Karena Alkitab adalah satu-satunya otoritas mutlak, maka dari prinsip Alkitab, kita belajar tentang doktrin keselamatan yaitu: Sola Gratia (keselamatan hanya melalui anugerah Allah) dan Sola Fide (keselamatan hanya melalui iman kepada Kristus). Sola Gratia berarti keselamatan yang kita peroleh di dalam Kristus adalah mutlak 100% anugerah Allah dan tidak ada sedikit pun jasa manusia. Paulus menjabarkan hal ini di dalam Roma 3:23-24, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Dua ayat ini sengaja saya gabungkan agar kita mengerti bahwa fakta dosa membuat kita harus menyadari bahwa kita tak mungkin bisa bertindak apa-apa untuk diselamatkan dari dosa, karena di dalam diri kita tidak ada takut akan Allah dan kita tidak mencari Allah, dilanjutkan dengan perkataan, perbuatan, dan tingkah laku kita menjijikkan di mata Allah (bdk. ay. 9-21). Jika kita benar-benar bobrok di mata Allah, maka logiskah jika kita masih menganggap diri layak diselamatkan melalui jasa baik kita? Inilah citra diri manusia berdosa yang tidak pernah menyadari diri berdosa. Selain itu, di Efesus 2:8, Paulus kembali mengingatkan kita tentang anugerah Allah di dalam keselamatan, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,” Masih banyak ayat lain di dalam Perjanjian Baru yang mengajar kita bahwa keselamatan kita di dalam Kristus adalah anugerah Allah, bukan karena perbuatan baik kita. Semakin kita berbuat baik demi mencapai keselamatan dan sorga, maka pada saat yang sama, kita semakin tidak baik, karena perbuatan baik kita lakukan bukan untuk tujuan kebaikan. Pertanyaan penguji apakah kita sungguh-sungguh berbuat baik adalah jika kita telah susah payah berbuat demi untuk mencapai sorga, kemudian pada akhirnya, kita tidak masuk sorga, apakah kita masih berbuat baik? Ini membuktikan motivasi kita berbuat baik pun sudah tidak baik.

Selain melalui anugerah Allah, kita diselamatkan melalui iman kepada Kristus yang telah menebus kita (Sola Fide). Di Efesus 2:8, kita tadi telah membaca uraian Paulus bahwa kita diselamatkan oleh/melalui iman. Berarti, atas anugerah Allah, kita diselamatkan oleh Allah melalui iman kepada Kristus. Dengan kata lain, kita diselamatkan melalui iman kepada karya Kristus yang telah mati dan bangkit demi menebus dosa-dosa kita. Dari poin ini, apakah berarti tindakan kita beriman kepada Kristus merupakan inisiatif kita? TIDAK. Kembali ke konsep anugerah Allah di atas, maka kita belajar bahwa ketika kita beriman kepada Kristus itu pun adalah anugerah Allah bagi kita yang termasuk umat pilihan-Nya. Jika bukan karena anugerah Allah melalui kelahiran baru dari Roh Kudus, tak mungkin seorang bisa beriman kepada Kristus (bdk. 1Kor. 12:3) Lalu, apakah jika kita diselamatkan melalui iman, maka kita bisa berbuat seenaknya sendiri? TIDAK. Orang Kristen yang sejati yang termasuk umat pilihan-Nya yang telah diselamatkan melalui anugerah Allah di dalam iman kepada Kristus adalah orang Kristen yang telah dilahirbarukan oleh Roh Kudus terlebih dahulu, sehingga hatinya dimurnikan terus-menerus untuk makin mengasihi Allah dan firman-Nya dan secara otomatis, tidak mungkin seorang anak Tuhan sejati berbuat seenaknya sendiri yang menyakiti hati-Nya.




VI. Kristus Sebagai Nabi, Imam, dan Raja
Di dalam doktrin Kristus, iman Reformed mempercayai ada 3 jabatan Kristus, yaitu sebagai nabi, imam, dan raja. Mari kita menyimak apa yang dikatakan oleh Katekismus Singkat Westminster pertanyaan 23 di bawah ini,
“Pertanyaan 23.
P.23 : Jabatan apakah yang dilaksanakan Kristus sebagai Penebus kita?
J : Kristus, sebagai Penebus kita, melaksanakan jabatan nabi, imam, dan raja, baik dalam keadaan perendahan-Nya maupun pemuliaan-Nya.”[4]
Apa artinya jabatan Kristus sebagai nabi, imam, dan raja? Mari kita kembali menyimak penjabaran dari Katekismus Singkat Westminster pada pertanyaan 24-26.
A. “Kristus melaksanakan jabatan sebagai seorang nabi, dengan menyatakan kepada kita, melalui firman dan Roh-Nya, kehendak Allah bagi keselamatan kita.”[5]
Ketika membaca Perjanjian Lama, kita menjumpai para nabi ketika berbicara kepada umat Israel selalu didahului, “Demikian firman Allah, …” atau “TUHAN berfirman, …” Dengan demikian, kita mengetahui para nabi sejati yang Allah utus benar-benar berbicara atas nama Allah kepada umat Israel. Bahkan di Perjanjian Lama, kita mendapatkan keterangan yang jelas tentang siapa nabi palsu dan bagaimana Tuhan menuntut orang Israel untuk menghukum para nabi palsu tersebut. Di dalam kitab Ulangan, 2 kali Tuhan menuntut orang Israel untuk berhati-hati terhadap nabi palsu dan segera menghukum mati para nabi palsu. Di Ulangan 13:1-5, Tuhan berfirman, “Apabila di tengah-tengahmu muncul seorang nabi atau seorang pemimpi, dan ia memberitahukan kepadamu suatu tanda atau mujizat, dan apabila tanda atau mujizat yang dikatakannya kepadamu itu terjadi, dan ia membujuk: Mari kita mengikuti allah lain, yang tidak kaukenal, dan mari kita berbakti kepadanya, maka janganlah engkau mendengarkan perkataan nabi atau pemimpi itu; sebab TUHAN, Allahmu, mencoba kamu untuk mengetahui, apakah kamu sungguh-sungguh mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu. TUHAN, Allahmu, harus kamu ikuti, kamu harus takut akan Dia, kamu harus berpegang pada perintah-Nya, suara-Nya harus kamu dengarkan, kepada-Nya harus kamu berbakti dan berpaut. Nabi atau pemimpi itu haruslah dihukum mati, karena ia telah mengajak murtad terhadap TUHAN, Allahmu, yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir dan yang menebus engkau dari rumah perbudakan--dengan maksud untuk menyesatkan engkau dari jalan yang diperintahkan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk dijalani. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu.” Kemudian Tuhan sendiri membedakan nabi sejati dengan nabi palsu di dalam Ulangan 18:18-20, “seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya. Orang yang tidak mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku, dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban. Tetapi seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah lain, nabi itu harus mati.” Mengapa Tuhan begitu tegas? Karena Tuhan tidak ingin firman-Nya dipermainkan dengan tidak bertanggungjawab. Itulah jabatan Kristus sebagai nabi, yaitu memberitakan isi hati Bapa kepada umat-Nya. Dia bukan hanya nabi biasa, tetapi Dia adalah Nabi di atas segala nabi, karena Dia sajalah yang menyingkapkan isi hati Bapa kepada umat-Nya. Ketika para ahli taurat menyalahartikan makna Taurat, maka Kristus menafsirkan ulang artinya sesuai dengan maksud aslinya, karena Ia adalah Tuhan atas Taurat. Semua firman-Nya ini dicatat di dalam Alkitab dan Alkitab yang diwahyukan-Nya inilah adalah satu-satunya otoritas mutlak dalam iman dan kehidupan Kristen kita.


B. “Kristus melaksanakan jabatan sebagai seorang imam, dengan mempersembahkan diri-Nya sendiri (cukup hanya) satu kali sebagai korban untuk memuaskan keadilan ilahi, dan mendamaikan kita dengan Allah; dan terus-menerus menjadi Pengantara bagi kita.”[6]
Selain sebagai nabi, Ia juga sebagai imam yang menjadi pengantara selama-lamanyaantara Allah yang Mahakudus dengan manusia berdosa. Di dalam Perjanjian Lama, kita belajar bahwa para imam bertugas untuk menjadi pengantara antara Allah dengan manusia di dalam ibadah persembahan korban. Jabatan dan tugas seorang imam diteruskan oleh imam-imam berikutnya, sehingga jabatan dan tugas imam tidak bersifat kekal. Namun keimaman Kristus bukan berlangsung sementara, tetapi berlangsung selama-lamanya. Oleh karena itu, hanya melalui Dia sajalah, kita diselamatkan. Tidak ada pengantara lain yang bisa memuaskan keadilan ilahi dan mendamaikan kita dengan Allah kecuali hanya melalui Kristus. Sehingga siapa pun yang seolah-olah bertindak sebagai pengantara antara Allah dengan manusia di dalam gereja, hendaklah kita berhati-hati, karena orang itu secara sadar atau tidak sadar sedang menggeser posisi Kristus dan itu merupakan dosa besar.


C. “Kristus melaksanakan jabatan sebagai seorang raja, dengan menaklukkan kita kepada-Nya, memerintah serta melindungi kita, dan mengekang serta menaklukkan semua musuh-Nya maupun musuh kita.”[7]
Selain sebagai nabi dan imam, Ia juga memiliki jabatan sebagai seorang raja yang akan memimpin dan menaklukkan kita, memerintah dan melindungi kita, dan juga mengekang dan menaklukkan semua musuh-Nya dan kita. Kristus sebagai raja berarti Dia adalah Raja di atas segala raja yang kerajaan-Nya tak akan berubah dari dahulu, sekarang, dan selama-lamanya, sehingga setiap raja di bumi harus bertekuk lutut menyembah-Nya. Hal ini menjadi nyata bagi kita ketika Kristus nantinya datang kedua kalinya sebagai Hakim dan Raja. Pada saat itu, “raja-raja di bumi dan pembesar-pembesar serta perwira-perwira, dan orang-orang kaya serta orang-orang berkuasa, dan semua budak serta orang merdeka bersembunyi ke dalam gua-gua dan celah-celah batu karang di gunung. Dan mereka berkata kepada gunung-gunung dan kepada batu-batu karang itu: "Runtuhlah menimpa kami dan sembunyikanlah kami terhadap Dia, yang duduk di atas takhta dan terhadap murka Anak Domba itu."” (Why. 6:15-16) Kedahsyatan kuasa Kristus sebagai Raja di atas segala raja mengakibatkan kita:
1. Tunduk kepada-Nya
Ke-Raja-an Kristus mengakibatkan kita memiliki sikap tunduk kepada-Nya. Namun sayang, banyak orang Kristen hanya sering mendengar Kristus sebagai Juruselamat, namun jarang mendengar Kristus sebagai TUHAN dan Raja. Apa arti Kristus sebagai Raja di dalam hidup kita sehingga kita harus tunduk kepada-Nya? Kristus sebagai Raja di dalam hidup kita berarti Kristus menguasai dan memerintah dalam hidup kita, sehingga setiap inci hidup kita ada di dalam kontrol kedaulatan-Nya, seperti yang diteriakkan oleh Prof. Dr. Ds. Abraham Kuyper bahwa di dalam setiap inci hidup kita, tidak mungkin tidak ada Kristus yang bertahta di atasnya. Ini adalah konsekuensi logis dari setiap kita yang telah menyerahkan hidup kita untuk mengikut Kristus. Jangan berani menyebut diri Kristen apalagi Reformed jika belum mengakui ke-Raja-an Kristus dalam hidup kita.

2. Tidak usah takut dan kuatir akan iman dan kehidupan kita.
Ke-Raja-an Kristus juga menghibur kita tatkala kita mengalami penderitaan dan aniaya karena nama-Nya. Tatkala marabahaya mengancam hidup umat-Nya, Kristus sebagai Raja akan datang untuk melindungi kita dan kelak akan menaklukkan semua musuh-Nya dan musuh kita. Itulah pengharapan dan penghiburan kita tatkala kita harus menderita karena nama Kristus. Masihkah kita takut dan kuatir akan perjalanan iman dan kehidupan kita karena mengikut Kristus? Percayalah kepada ke-Raja-an-Nya dan kita akan dilindungi-Nya.




VII. Predestinasi
Di dalam doktrin Keselamatan (Soteriologi), iman Reformed mempercayai bahwa Allah memilih manusia sebelum dunia dijadikan (predestinasi). Di dalam Efesus 1:4, Tuhan melalui Paulus mengajar kita, “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.” Itulah berkat rohani yang Paulus maksudkan di ayat 3, di mana di dalam Kristus, Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan. Di ayat ini, ada tiga prinsip penting tentang pemilihan Allah:
A. Allah Telah Memilih Kita
Prinsip predestinasi adalah Allah telah memilih kita. Berarti, dari sekian banyak orang, Allah telah memilih sebagian orang untuk menjadi anak-anak-Nya yang nantinya akan ditebus dan disempurnakan oleh Roh Kudus. Pemilihan ini mencakup dua tindakan: pemilihan dan penolakan (reprobasi). Di dalam iman Reformed, kita menemukan ada dua pandangan predestinasi: single predestination (yang mempercayai bahwa predestinasi Allah hanya mencakup pemilihan Allah) dan double predestination (predestinasi ganda) yang mempercayai bahwa predestinasi Allah mencakup pemilihan dan penolakan Allah. Manakah yang lebih sesuai dengan Alkitab? Di dalam Surat Efesus, Paulus tidak menjelaskan bahwa di dalam predestinasi, Allah menolak manusia, namun di Surat Roma, khususnya pasal 9, dengan jelas Paulus menjabarkan konsep reprobasi/penolakan dengan memakai contoh bahwa sebelum Esau dan Yakub lahir, Allah memilih Yakub dan menolak Esau (Rm. 9:11-13). Dari sini, kita mendapatkan pengertian bahwa di dalam predestinasi-Nya, Allah telah memilih beberapa manusia untuk menjadi anak-anak-Nya dan secara otomatis membuang/menolak sisanya untuk dicampakkan ke dalam neraka. Namun, kaum Universalis yang melawan Calvinisme menyerang dengan menggunakan ayat Alkitab yang mengajar bahwa Allah menghendaki semua orang diselamatkan (1Tim. 2:4). Bagaimana jawab Reformed? Reformed menjawab bahwa di dalam kasih-Nya, Ia memang menghendaki semua orang diselamatkan, namun di dalam keadilan-Nya yang berdaulat, Ia tetap memilih beberapa manusia untuk diselamatkan. Inilah konsep doktrin Allah yang seimbang antara kasih dan keadilan-Nya. Mengapa Allah rela membuang manusia ke dalam neraka? Apakah Allah tidak adil? Rasul Paulus di Roma 9:15-16 menjawab, “Sebab Ia berfirman kepada Musa: "Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati." Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah.” Alasan kedua, karena dosa manusia. Mengerti predestinasi harus dikaitkan dengan mengerti dosa manusia. Alkitab mengajar kita bahwa semua manusia berdosa, sehingga di mata Allah, tidak ada yang layak diselamatkan, namun dari Sorga dan sebelum dunia dijadikan, Allah memilih beberapa manusia yang berdosa untuk diselamatkan. Di sinilah letak kasih dan keadilan Allah yang berdaulat bersatu. Bagi kita yang telah dipilih-Nya, bukankah seharusnya respons kita bersyukur atas anugerah-Nya dan bukan mengomel mengapa Tuhan tidak memilih semua orang? Bagi kita yang tidak dipilih-Nya, bukankah itu adalah hak-Nya yang berdaulat untuk memilih siapa yang dikehendaki-Nya dan membuang siapa yang tidak dikehendaki-Nya? Apa hak kita sebagai manusia yang sama-sama berdosa menasihati Allah?

Lalu, bagaimana Allah memilih manusia? Iman Reformed berbeda dengan kaum Arminian. Arminian juga mempercayai predestinasi Allah, namun predestinasi bagi Arminian tidak sama dengan yang Reformed ajarkan. Arminianisme mengajarkan bahwa Allah memilih manusia karena Ia mengetahui bahwa pada suatu waktu, manusia yang dipilih-Nya itu akan beriman kepada-Nya. Dengan kata lain, paham predestinasi menurut Arminian bergantung pada peran aktif manusia yang akhirnya beriman kepada-Nya (meskipun memakai konsep predestinasi Allah). Sedangkan iman Reformed dari awal sampai akhir mengajar bahwa Allah memilih dan menolak manusia sebelum dunia dijadikan bukan berdasarkan perbuatan baik manusia, namun mutlak berdasarkan anugerah Allah, sehingga manusia TIDAK dapat memegahkan diri atas sumbangsihnya di dalam keselamatan.


B. Allah Telah Memilih Kita Sebelum Dunia Dijadikan
Konsep kedua tentang predestinasi adalah Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan. Berkenaan dengan hal ini, theologi Reformed terpecah menjadi dua: infralapsarian dan supralapsarian. Supralapsarian percaya bahwa ketetapan Allah memilih dan menolak manusia berlangsung sebelum Allah mengizinkan dosa, sedangkan Infralapsarian percaya bahwa ketetapan Allah memilih dan menolak manusia berlangsung setelah Allah mengizinkan dosa. Manakah yang lebih sesuai dengan Alkitab? Bagi saya, pembedaan dua aliran di dalam theologi Reformed ini sebenarnya rancu, mengapa? Karena ketetapan Allah adalah ketetapan dari Allah yang di luar ruang dan waktu, sehingga tak mungkin bagi Allah, mana yang lebih dahulu dan mana yang belakangan. Dengan kata lain, bagi saya, Allah memilih dan menolak manusia itu terjadi sebelum dunia dijadikan dan itu tidak bisa dideskripsikan dengan jelas, karena bahasa Allah berbeda dari bahasa manusia. Dari sini, kita dituntut untuk mempercayai firman-Nya bahwa Ia telah memilih kita sebelum dunia dijadikan. Apa pun arti “sebelum dunia dijadikan” itu berada pada kedaulatan dan waktu-Nya yang tidak kita ketahui dengan pasti.


C. Supaya Kita Kudus dan Tak Bercacat Di Hadapan-Nya
Tujuan Allah memilih kita adalah supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dengan kata lain, Allah memilih kita bukan karena kita kudus dan tak bercatat, namun agar kita kudus dan tak bercatat di hadapan-Nya. Berarti, pemilihan Allah mengakibatkan hidup kita makin lama makin serupa dengan Kristus. Ini berarti “paket” keselamatan dari Allah, bukan hanya penebusan Kristus saja, namun juga mencakup proses pengudusan (progressive sanctification) dari Roh Kudus di dalam setiap aspek kehidupan kita. Proses pengudusan ini akhirnya membawa kita mencapai kesempurnaan kelak pada waktu kekekalan. Bukankah ini adalah anugerah yang begitu besar bagi umat-Nya?




VIII. Ordo Salutis: Monergisme
Di dalam kaitan dengan predestinasi, iman Reformed memiliki urutan keselamatan (ordo salutis) yaitu Monergisme. Monergisme (sebagai lawan dari sinergisme) percaya bahwa di dalam keselamatan, Allah lah yang memulai keselamatan melalui Roh Kudus yang mengefektifkan karya penebusan Kristus kepada umat pilihan-Nya.[8] Sedangkan Sinergisme mengajar bahwa Allah dan individu yang beriman lah (sinergi = bekerja sama) yang berpartisipasi di dalam keselamatan. Monergisme mendasarkan imannya di atas dasar kedaulatan Allah, sedangkan Sinergisme mendasarkan imannya pada peran Allah dan manusia. Alkitab mengajar kita bahwa Allah yang merencanakan keselamatan, Ia jugalah yang menggenapi keselamatan, dan Ia jugalah yang menyempurnakan keselamatan, sehingga tidak ada satu incipun jasa baik manusia yang berpartisipasi di dalamnya. Di sisi lain, kita telah melihat bahwa semua manusia itu berdosa dan mengurangi kemuliaan Allah, sehingga tidak mungkin seorang manusia bisa secara aktif meresponi anugerah Allah. Jangankan anugerah Allah, nasihat baik dari orang lain kepada kita pun kadang kala kita tidak meresponinya dengan baik. Di sini, kita melihat dosa manusia mengakibatkan manusia tak mungkin meresponi anugerah Allah dengan sendirinya tanpa anugerah Allah melalui kelahiran baru dari Roh Kudus.




IX. TULIP
Belajar Reformed/Calvinisme tidak bisa dilepaskan dari belajar 5 poin Calvinisme. Meskipun Calvinisme/Reformed tidak hanya terbatas pada 5 poin/pokok Calvinisme, namun 5 pokok Calvinisme cukup mewakili apa yang Reformed percayai. Lima pokok Calvinisme itu disingkat TULIP, yaitu: Total Depravity (Kerusakan Total Manusia), Unconditional Election (Pemilihan yang Tak Bersyarat), Limited Atonement (Penebusan Terbatas), Irresistible Grace (Anugerah yang Tak Dapat Ditolak), dan Perseverance of the Saints (Ketekunan Orang-orang Kudus). Mari kita mempelajari kelima pokok Calvinisme tersebut secara ringkas.
A. Total Depravity (Kerusakan Total Manusia)
Pokok pertama dari TULIP adalah berbicara mengenai dosa manusia, yaitu: kerusakan total manusia. Artinya di dalam setiap aspek kehidupan manusia pasti mengandung benih dosa. Hati, pikiran, sifat, perkataan, tingkah laku, dan perbuatan manusia telah dipolusi oleh dosa, sehingga tak ada sesuatu dalam diri manusia yang patut dibanggakan. Meskipun demikian kerusakan total manusia TIDAK berarti manusia TIDAK mampu berbuat baik sedikit pun. Kerusakan total manusia memungkinkan manusia bisa berbuat baik, namun motivasi dan tujuannya sudah dirusak oleh dosa, sehingga makin berbuat baik, manusia makin berdosa, karena perbuatan baiknya pun sudah dipolusi oleh dosa.

Bukankah ada aliran Kristen yang mengajar bahwa meskipun manusia telah berdosa, namun pikiran manusia tidak ikut terpolusi oleh dosa, sehingga pikiran manusia masih mampu beriman kepada Allah? Benarkah pandangan demikian? Alkitab TIDAK mengecualikan sedikitpun aspek di dalam diri manusia yang tidak berdosa. Rasul Paulus dengan jelas dan teliti menjelaskan kepada kita, “Sebab di atas telah kita tuduh baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, bahwa mereka semua ada di bawah kuasa dosa,” (Rm. 3:9) Apakah ayat ini berbunyi, “mereka semua ada di bawah kuasa dosa, kecuali pikiran mereka,”? TIDAK! Tidak ada pengecualian sama sekali! Di ayat berikutnya, Paulus lebih rinci menguraikan setiap aspek kehidupan manusia telah dikuasai dosa: akal budi manusia telah dipolusi dosa, sehingga manusia tak mungkin bisa mencari Allah (ay. 11), perbuatan baik manusia telah dipolusi dosa (ay. 12), perkataan mereka telah diracuni oleh dosa (ay. 13-14), iman dan tingkah laku mereka jelas menunjukkan ciri-ciri orang fasik (ay. 15-18). Apakah penjelasan Paulus masih kurang lengkap dan terang menjelaskan rusaknya setiap aspek kehidupan manusia?


B. Unconditional Election (Pemilihan yang Tak Bersyarat)
Jika manusia telah rusak total akibat dosa, adakah jalan keluar dari dosa manusia tersebut? TIDAK dan YA. TIDAK menurut cara manusia berdosa, namun YA menurut cara Allah. Jalan keluar dari dosa BUKAN dengan cara menyiksa diri, namun dengan cara Allah yaitu menyelamatkan manusia dari dosa melalui penebusan Kristus. “Sebelum” Allah mengutus Kristus untuk menebus dosa manusia, maka Ia “terlebih dahulu”[9] memilih beberapa manusia untuk menjadi anak-anak-Nya. Bagi kaum Arminian, Allah memilih manusia setelah mengetahui bahwa manusia yang dipilih-Nya itu suatu saat akan memilih beriman kepada-Nya. Dari konsep ini, kita mengerti bahwa bagi Arminian, Allah memilih manusia berdasarkan pemilihan manusia akan Allah. Jika manusia tersebut akhirnya tidak memilih Allah, maka Allah pun enggan memilih manusia. Kasihan sekali “Allah” model ini yang menunggu reaksi manusia baru akhirnya memilih manusia. Bukankah ini hampir mirip seperti tindakan manusia berdosa??? Bagi Reformed/Calvinis, Allah memilih beberapa manusia BUKAN berdasarkan perbuatan baik manusia (karena manusia pada dasarnya sudah rusak total akibat dosa), namun berdasarkan anugerah dan kemurahan Allah saja. Di atas kita telah membaca ayat-ayat Alkitab yang begitu banyak berkenaan dengan pemilihan Allah yang tanpa syarat yang tanpa melihat perbuatan baik manusia.

Saya tidak bisa memberikan ilustrasi yang tepat untuk menggambarkan hal ini, karena tindakan Allah tidak bisa dipersamakan dengan contoh apa pun dalam ilustrasi manusia. Yang pasti adalah di antara semua manusia berdosa, kalau kita termasuk salah satu umat pilihan-Nya, bukankah itu adalah hak istimewa yang luar biasa yang Allah berikan kepada kita? Saya akan mencoba memberikan ilustrasi (yang tentunya tidak sempurna) untuk menjelaskan konsep pemilihan yang tak bersyarat. Bayangkan seorang pengemis (yang termasuk salah satu dari puluhan pengemis di sebuah pinggir jalan raya) yang diberi uang oleh seseorang. Si pengemis jelas memiliki status dan kondisi yang sama dengan para pengemis lainnya, namun mengapa ada orang yang memberi uang kepada si pengemis ini dan bukan kepada pengemis lainnya? Ilustrasi ini menjelaskan betapa bobroknya kita di hadapan Allah dan kita dipilih-Nya sebagai anak-anak-Nya untuk hidup memuliakan Dia yang memilih dan memanggil kita. Kita yang telah dipilih-Nya sudah seharusnya mengucap syukur karena kita termasuk umat pilihan-Nya, bukan malahan mengomel mengapa Ia tak memilih suami/istri atau saudara atau orang terdekat kita.


C. Limited Atonement (Penebusan Terbatas)
“Setelah” Allah memilih beberapa manusia untuk menjadi umat-Nya, maka Ia mengutus Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus untuk menebus dosa umat yang telah dipilih-Nya tersebut. Dengan kata lain, penebusan Kristus adalah penebusan yang berlaku hanya bagi umat pilihan-Nya, bukan bagi semua manusia. Hah? Bukankah kita sering mendengar khotbah mimbar bahwa Tuhan Yesus menebus dosa semua umat manusia? Bukankah Yohanes 3:16 mengajar kita bahwa Kristus menebus dosa semua umat manusia? Bagaimana iman Reformed menjawab? Yohanes 3:16 TIDAK mengajar bahwa Kristus menebus semua umat manusia. Perhatikan ayat ini dengan teliti. Tuhan Yesus berfirman, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Memang benar bahwa Allah mengasihi isi dunia ini, sehingga Ia mengutus Kristus, namun frase berikutnya menjelaskan kepada kita bahwa hanya setiap orang yang percaya kepada-Nya yang memperoleh anugerah keselamatan untuk tidak binasa kelak, namun beroleh hidup yang kekal. Tuhan Yesus berfirman di dalam Matius 20:28, “sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."” Di ayat ini, Ia tidak berfirman bahwa Ia memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi semua orang, namun bagi BANYAK orang. Semua Alkitab terjemahan bahasa Inggris menerjemahkan BANYAK sebagai many. Kata Yunani yang dipakai adalah polus yang berarti many, much, large (=banyak, sejumlah besar). Dari ayat ini, kita semakin jelas mengerti bahwa Alkitab mengajar tentang penebusan terbatas.

Mengapa Allah mengaruniakan Kristus untuk menebus banyak orang dan bukan semua orang? Apakah Allah tidak mampu? Allah tentu saja MAMPU menyelamatkan semua orang, namun faktanya adalah Ia MAU menyelamatkan banyak orang. Mengapa demikian? Jawaban singkatnya adalah: KEMURAHAN HATI ALLAH. Itu bergantung pada kemurahan hati-Nya yang tentu didasarkan pada kedaulatan-Nya yang mutlak (bdk. Rm. 9:15). Tugas kita bukan mendebat Allah, namun tunduk dan bersyukur atas anugerah-Nya yang besar bagi kita yang termasuk umat-Nya.


D. Irresistible Grace (Anugerah yang Tak Dapat Ditolak)
Setelah Kristus menebus banyak orang yang termasuk umat-Nya, maka Roh Kudus diutus untuk mengefektifkan karya penebusan Kristus ke dalam hati umat pilihan-Nya. Inilah yang disebut di dalam iman Reformed sebagai effectual calling (panggilan efektif). Panggilan yang merupakan anugerah ini dikerjakan Roh Kudus di dalam hati umat-Nya dan umat-Nya tidak akan bisa menolak anugerah ini. Lho, bukankah ini berarti kita “dipaksa” untuk menerima Kristus karena Roh Kudus? TIDAK. Tuhan tidak pernah memaksa manusia. Lalu, bagaimana kita mengerti anugerah yang tak dapat ditolak? Anugerah yang tak dapat ditolak berarti anugerah Roh Kudus melembutkan hati dan pikiran kita (yang termasuk umat pilihan-Nya) yang dahulu keras terhadap Kristus menjadi lembut dan akhirnya menerima Kristus. Cara kerja Allah berbeda total dengan cara kerja manusia. Jika seseorang ingin membawa orang lain untuk mengikuti prinsipnya, maka manusia kebanyakan menggunakan cara-cara kekerasan atau mungkin dengan cara lembut yang licik. Namun, puji Tuhan, Ia bekerja jauh berbeda dari cara kerja manusia. Allah bekerja di dalam diri manusia bukan dengan merasuk manusia sehingga tidak sadar, namun memenuhi mereka di dalam kesadaran mereka dan melembutkan hati dan pikiran mereka, sehingga atas anugerah-Nya, ia meresponi anugerah Allah. Dari sini, kita belajar satu prinsip penting di dalam iman Reformed: anugerah Allah mendahului respons manusia (the grace of God is prior to human response). Dari prinsip ini juga, kita belajar bahwa kelahiran baru mendahului pertobatan seseorang. Seorang bisa bertobat dan percaya kepada Kristus karena orang tersebut terlebih dahulu telah dilahirbarukan oleh Roh Kudus. Mengapa demikian? Karena Roh Kudus lah yang membuat seseorang bisa menerima Kristus (1Kor. 12:3).

Banyak orang non-Reformed (khususnya yang dipengaruhi oleh Arminianisme) berargumentasi bahwa anugerah Allah bisa ditolak, karena itu tergantung kehendak bebas manusia. Sekarang mari kita berpikir logis. Jika anugerah Allah bisa ditolak dengan alasan “kehendak bebas” manusia, maka saya akan bertanya, jika demikian, lebih tinggi siapa: Allah atau manusia? Jika Allah memang lebih tinggi dari manusia, mengapa anugerah-Nya bisa ditolak dengan alasan “kehendak bebas” manusia? Apakah Allah tidak sanggup mengalahkan “kehendak bebas” manusia? Mengapa Allah seolah-olah “kalah kuasa” tatkala manusia menolak anugerah-Nya? “Allah” seperti ini jelas bukan Allah yang Alkitab beritakan.


E. Perseverance of the Saints (Ketekunan Orang-orang Kudus)
Anugerah Allah yang tak dapat ditolak membawa kita kepada poin terakhir dari TULIP yaitu ketekunan orang-orang kudus. Artinya, karena Allah Roh Kudus telah mengefektifkan karya penebusan Kristus di dalam hati umat pilihan-Nya, maka tentu saja Ia juga yang akan memelihara karya keselamatan ini sampai akhir, sehingga tak seorang pun umat pilihan-Nya yang akan kehilangan keselamatannya. Terlalu banyak ayat Alkitab yang membuktikan kebenaran prinsip ini. Mari kita menelusuri dari 2 kitab dalam Perjanjian Baru, yaitu: Injil Yohanes dan Surat Roma.

Di dalam Injil Yohanes sendiri, ada dua pasal yang berisi pengajaran yang jelas bahwa anak-anak Tuhan tidak mungkin binasa. Di dalam Yohanes 6:39-40, Tuhan Yesus sendiri berfirman dengan jelas, “Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman."” Masih kurang jelas? Di pasal yang sama di ayat 44, kembali Ia menegaskan, “Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman.” Masih kurang jelas lagi? Baiklah, perhatikan firman Kristus sendiri di dalam Yohanes 10:27-29, “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa.” Di dalam 3 ayat di dalam Yohanes 10, Ia memberi penjelasan lebih detail lagi mengapa anak-anak Tuhan tidak mungkin binasa, yaitu karena Bapa yang memberikan mereka kepada Kristus dan Bapa itu jelas lebih besar dari siapa pun, sehingga tak mungkin ada orang yang bisa merebut anak-anak Tuhan dari cengkeraman Bapa. Bukankah 3 ayat di dalam Yohanes 10 jelas-jelas meneguhkan iman kita bahwa jika kita sebagai umat pilihan-Nya, kita tak akan pernah mungkin kehilangan keselamatan, karena Allah yang merencanakan keselamatan, Ia jugalah yang menggenapi dan pasti menyempurnakannya kelak. Ingatlah, Allah kita adalah Alfa dan Omega, yang memulai dan mengakhiri apa yang telah dikerjakan-Nya.

Sekarang kita akan beralih ke Surat Roma. Setelah membahas tentang doktrin predestinasi di Roma 8:28-30, maka di ayat 31-35, Paulus mengajar kita tentang pemeliharaan Allah di dalam keselamatan kita, “Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita? Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?” Di dalam Roma 8 ini, Paulus lebih tajam lagi memberikan jaminan mengapa anak-anak Tuhan tidak mungkin kehilangan keselamatannya, yaitu, “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” (ay. 29-30) Predestinasi Allah yang Alkitab ajarkan benar-benar memberikan jaminan teguh bahwa keselamatan umat-Nya tak akan pernah mungkin hilang.

Lalu, bagaimana kita menafsirkan seorang yang murtad di dalam Ibrani 6:4-6? Apakah murtad berarti tanda kehilangan keselamatan? Jika kita memperhatikan theologi kitab Ibrani, maka kita akan mengerti bahwa penulis Ibrani menulis surat ini untuk memberikan peringatan kepada jemaat-jemaat Ibrani. Di dalam Ibrani di pasal 1-5, penulis Ibrani melukiskan keagungan Kristus yang lebih tinggi dari malaikat-malaikat, nabi, dan imam. Namun di pasal 5, penulis Ibrani “terpaksa” berhenti sebentar di ayat 10 dan kemudian mulai ayat 11 ia mengajar bahwa jemaat-jemaat Ibrani terlalu lamban untuk mendengar dan mereka masih memerlukan “makanan-makanan” halus (susu) untuk dikonsumsi, padahal dari segi waktu, mereka seharusnya cakap mengajar orang lain. Mulai Ibrani 5:11 inilah, penulis Ibrani memberikan peringatan kepada jemaat-jemaat Ibrani untuk bertumbuh dewasa dan mengontraskannya dengan jemaat yang masih kanak-kanak (childish). Tidak ada satu indikasi apa pun yang menyatakan bahwa Ibrani 5:11-6:8 mengandung ajaran bahwa keselamatan bisa hilang. Jika para pendukung keselamatan bisa hilang ngotot berkata bahwa perikop itu berbicara mengenai orang yang kehilangan keselamatan, saya balik bertanya, apakah penulis Ibrani menuliskan contoh orang yang kehilangan keselamatan tersebut? Oleh karena itu, berhati-hatilah jika mencomot satu atau beberapa ayat Alkitab untuk mendukung teori sendiri (metode penafsiran eisegese).

Sebagai aplikasinya, jika anak Tuhan tidak mungkin murtad, bagaimana dengan fakta bahwa beberapa artis/orang “Kristen” setelah menikah dengan pasangan yang tidak seiman, kemudian murtad? Apakah artis/orang “Kristen” tersebut kehilangan keselamatan? Sebelumnya, mari bedakan: orang Kristen vs anak Tuhan. Anak Tuhan pasti (suatu saat) seorang Kristen (mungkin sekarang masih indekos di dalam agama lain untuk nantinya dibawa kembali kepada Kristus), namun orang Kristen BELUM tentu anak Tuhan. Pdt. Dr. Stephen Tong pernah berkata bahwa banyak anak Tuhan yang indekos di dalam agama lain, namun sebaliknya banyak anak setan yang indekos di dalam gereja. Jika ada orang “Kristen” yang murtad sampai akhir hidupnya, maka dapat dipastikan bahwa orang “Kristen” itu tidak sungguh-sungguh bertobat atau pasti bukan termasuk anak Tuhan/umat pilihan-Nya, karena seorang anak Tuhan yang benar-benar bertobat dan menerima Kristus serta berhubungan intim dengan-Nya tak mungkin bisa dengan mudahnya beralih keyakinan hanya demi pasangan hidup yang gak jelas itu. Namun fakta menunjukkan bahwa ada seorang artis wanita Kristen yang sempat murtad, kemudian dipukul oleh Tuhan dan akhirnya menjadi Kristen lagi. Bagi saya, itu mungkin tanda umat pilihan-Nya. Umat pilihan-Nya mungkin sekali dibiarkan Tuhan murtad sebentar, namun Ia pasti akan memukul dia kembali.

Jika dipikir secara logis, keselamatan bisa hilang yang dianut Arminianisme jelas tidak masuk akal. Perhatikan. Bagi Arminianisme, keselamatan bisa hilang karena manusia tidak menjaga keselamatannya. Jika manusia bisa menjaga keselamatannya, maka keselamatan tidak akan mungkin bisa hilang. Jika tidak, maka manusia akan kehilangan keselamatan dan binasa kekal. Lalu, jika manusia gagal menjaga keselamatan tersebut, apa yang terjadi pada Allah? Saya akan mencoba mendramatisirnya. Pada suatu saat Budi (sungguh-sungguh umat pilihan-Nya) telah menerima Kristus setelah mendengar firman pada waktu Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR), kemudian Budi menjalani hidup Kristennya dengan saleh: berdoa, membaca Alkitab, bersekutu, bersaksi, dll. Namun pada suatu kali, pencobaan datang mengganggu Budi, sehingga ia jatuh ke dalam pencobaan. Bagi Arminianisme, pada saat itu, Budi kehilangan keselamatan dan tentunya di “dunia Allah”, “Ia” kecewa dan menangis karena Budi tidak baik-baik menjaga keselamatannya. Lalu, apa yang dilakukan Allah versi Arminian ini? TIDAK ADA, karena Budi tidak sungguh-sungguh memelihara dan menjaga keselamatannya, maka Allah pun tidak sanggup memeliharanya. Dengan kata lain, bagi seorang Arminian Allah dan manusia sama saja: saling membutuhkan satu dengan yang lain. Benarkah ini yang Alkitab ajarkan? Tuhan berfirman di dalam Yesaya 44:6-8, “Beginilah firman TUHAN, Raja dan Penebus Israel, TUHAN semesta alam: "Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Ku. Siapakah seperti Aku? Biarlah ia menyerukannya, biarlah ia memberitahukannya dan membentangkannya kepada-Ku! Siapakah yang mengabarkan dari dahulu kala hal-hal yang akan datang? Apa yang akan tiba, biarlah mereka memberitahukannya kepada kami! Janganlah gentar dan janganlah takut, sebab memang dari dahulu telah Kukabarkan dan Kuberitahukan hal itu kepadamu. Kamulah saksi-saksi-Ku! Adakah Allah selain dari pada-Ku? Tidak ada Gunung Batu yang lain, tidak ada Kukenal!"” Tiga ayat dari Yesaya 44 memberi tahu kita bahwa Allah sejati adalah Allah yang berdaulat atas waktu, sehingga tak ada seorang pun yang bisa menyamai-Nya yang bisa mengetahui segala sesuatu. Jika Allah adalah Allah yang berdaulat atas waktu, mungkinkah Ia terkaget-kaget dengan peristiwa di dunia ini, kemudian putus asa ketika manusia tidak memelihara keselamatannya sehingga keselamatannya hilang? Kasihan sekali memiliki “Allah” yang selalu terkaget-kaget, jangan-jangan karena terlalu sering kaget, “Allah” ini akan sakit jantung dan dirawat di rumah sakit, lalu kalau dirawat di rumah sakit, sungguh aneh bukan jika kita masih percaya pada “Allah” seperti ini? Saya pribadi TIDAK mau mengimani “Allah” yang tidak diajarkan Alkitab ini.

Sebagai kesimpulan akhir, coba kita pikirkan dan gabungan semua konsep Arminianisme. Bagi Arminianisme, karena manusia tidak rusak total, maka Allah memilih manusia setelah melihat bahwa manusia yang dipilih-Nya itu akan beriman kepada-Nya, setelah itu Allah menebus mereka semua (baik yang dipilih maupun tidak dipilih), namun anugerah penebusan itu bisa ditolak oleh manusia karena manusia memiliki kehendak bebas yang bisa menerima atau menolak, dan terakhir, anugerah keselamatan itu tidak bisa berdaya apa-apa tatkala manusia akhirnya murtad dan berbuat jahat. Inilah kronologi doktrin keselamatan dari sebuah theologi yang dibangun dari pola pikir manusia berdosa, yaitu: antroposentris (berpusat kepada manusia), sehingga Allah kelihatan menjadi pribadi yang begitu kecil, lemah, dan perlu pertolongan dari manusia. Jika manusia tidak beriman kepada-Nya, maka Allah ngambek dan tidak akan memilih manusia tersebut. Jika manusia tidak menerima anugerah Allah, maka anugerah Allah itu akan sia-sia. Jika manusia tidak menjaga keselamatan dari Allah, maka keselamatan itu akan hilang. Namun Alkitab mengajar bahwa Allah tidak bergantung pada apa dan siapa pun di dunia ini, karena Ia adalah self-existent (berada pada diri-Nya sendiri) (bdk. Yes. 44:6-8 di atas). Sekarang, bagaimana respons kita? Masihkah kita percaya pada Allah yang terkaget-kaget ataukah Allah yang berdaulat yang tak bergantung pada apa dan siapa pun?




X. Mandat Budaya dan Mandat Injil
Poin kesepuluh keunikan iman Reformed adalah mandat budaya dan mandat Injil. Artinya, sebagai murid Kristus, kita diperintahkan untuk menjadi garam dan terang bagi dunia (Mat. 5:13-16). Menjadi garam dan terang bagi dunia bisa berupa dua wujud, yaitu: memberitakan Injil Kristus kepada orang dunia baik melalui perkataan dan perbuatan. Melalui perkataan, orang Kristen harus memberitakan Injil. Inilah mandat Injil (Mat. 28:19). Penginjilan bisa dilakukan melalui penginjilan pribadi (kepada saudara/sahabat yang belum percaya) maupun penginjilan keluar (misalnya ke rumah sakit, penjara, dll) atau bahkan melalui penginjilan massal (seperti KKR). Melalui perbuatan, orang Kristen harus mengaplikasi kebenaran Kristus di dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari, misalnya: mengaplikasikan kebenaran Kristus di dalam aspek pendidikan, politik, dll. Inilah yang disebut mandat budaya (cultural mandate). Mandat budaya berarti suatu mandat dari Tuhan bagi umat-Nya untuk menebus kembali budaya dunia yang sudah rusak akibat dosa kepada Kristus. Dasar mandat budaya adalah ke-Tuhan-an dan ke-Raja-an Kristus, seperti yang dipaparkan oleh Prof. Dr. Ds. Abraham Kuyper bahwa tidak ada satu inci dalam kehidupanku di mana Kristus tak bertakhta di atasnya. Bagaimana mengejawantahkan kedaulatan Allah, ke-Raja-an Kristus, dan peran aktif Roh Kudus di dalam mendidik anak sejak kecil? Bagaimana menghadirkan Kristus di dalam dunia politik? Semua hal tersebut membawa kemuliaan bagi Kristus saja.




XI. Baptisan Anak (Infant Baptism)
Doktrin terakhir iman Reformed adalah mengenai baptisan anak. Gereja-gereja Reformed sesuai dengan kredo iman Reformed melangsungkan baptisan anak (infant baptism) di dalam salah satu sakramen baptisan. Dari mana dasar baptisan anak? Bukankah Alkitab tidak mengajar baptisan anak? Memang tidak ada ayat Alkitab yang mengajar secara eksplisit tentang baptisan anak, namun konsep baptisan anak bukan tidak ada di dalam Alkitab. Baptisan anak didasarkan pada theologi kovenan (perjanjian) di mana pada zaman Perjanjian Lama, kovenan Allah dengan umat-Nya ditandai dengan sunat dan pada zaman Perjanjian Baru ditandai dengan baptisan. Di dalam PL, seseorang disunat bukan karena ia telah berbuat baik di hadapan-Nya, namun itu sebagai wujud perjanjian Allah dengan umat-Nya. Nah, uniknya, sunat dilakukan pada seorang laki-laki yang berusia sangat dini (yang tentu tidak pernah beriman terlebih dahulu sebelum disunat). Tuhan Yesus disunat pada usia 8 hari. Jika kita menyimak PB, kita mendapati bahwa jika ada seorang yang dibaptis dan mengajak seluruh anggota keluarganya dibaptis, maka tentu anak-anak juga dibaptis. Perhatikan apa yang terjadi dengan kepala penjara Filipi setelah diinjili oleh Paulus dan Silas. Di dalam Kisah Para Rasul 16:33, Alkitab mencatat, “Pada jam itu juga kepala penjara itu membawa mereka dan membasuh bilur mereka. Seketika itu juga ia dan keluarganya memberi diri dibaptis.” Pernyataan “ia dan keluarganya” bisa diterjemahkan “ia dan semua yang ada di rumahnya” atau “semua yang menjadi kepunyaannya” (King James Version). Semuanya menunjukkan bahwa anak-anak pun ikut terlibat di dalamnya. Tidak mungkin jika tidak ada anak-anak atau anak-anak tidak boleh dibaptis. Jika tidak ada anak-anak di sana atau anak-anak tidak boleh dibaptis, maka Alkitab mencatat, “ia dan keluarganya memberi diri dibaptis, kecuali anak-anak.”

Meskipun iman Reformed di dalam gereja-gereja Reformed melangsungkan baptisan anak, namun hal ini tidak berarti sebagai orang Reformed, kita memutlakkan baptisan anak. Ingatlah prinsip ini: Alkitab TIDAK memerintahkan baptisan anak dan juga TIDAK melarang baptisan anak. Oleh karena itu, kita boleh berpegang teguh pada konsep baptisan anak lebih bertanggungjawab daripada penyerahan anak, namun JANGAN menghina gereja yang melangsungkan penyerahan anak apalagi menyebutnya bidat. Baptisan anak adalah doktrin sekunder yang tidak perlu diperdebatkan.
Catatan kaki:
[1] Loraine Boettner, Iman Reformed, terj. Hendry Ongkowidjojo (Surabaya: Momentum, 2000), hlm. 11.
[2] Ibid.
[3] Terima kasih kepada Ev. Bedjo Lie, S.E., M.Div. yang mencerahkan pikiran saya tentang 5 kaitan antara Alkitab dan tradisi di dalam Seminar berseri “Katolik dan Injili: Apa yang Mempersatukan dan Memisahkan Kita?” pada tanggal 1, 8, 15, dan 22 Juni 2010 di GKI Pregolan Bunder, Surabaya.
[4] G. I. Williamson, Katekismus Singkat Westminster 1, terj. The Boen Giok (Surabaya: Momentum, 2006), hlm. 135.
[5] Ibid., hlm. 143.
[6] Ibid., hlm. 151.
[7] Ibid., hlm. 159.
[8] http://en.wikipedia.org/wiki/Monergism
[9] Saya memberikan tanda petik pada kata “Sebelum” dan “terlebih dahulu”, karena bagi Allah yang tidak memiliki konsep waktu seperti manusia, maka tidak ada waktu sebelum, sesudah, dll. Tanda petik ini saya maksudkan agar manusia mengerti.

Bab 1: Sekilas Gerakan Reformasi dan Reformed

QUO VADIS REFORMED??
Arah dan Sikap Gerakan Reformed (Injili) di Indonesia
oleh: Denny Teguh Sutandio
BAB 1
SEKILAS GERAKAN REFORMASI DAN REFORMED



Ketika mendengar kata Reformed, kita mungkin bingung, Reformed itu apa? Dari mana asalnya? Pada bab 1 ini, kita akan mempelajari sejarah singkat tentang gerakan Reformasi dan Reformed.
I. Reformed: Gerakan atau Gereja?
Sebelum membahas sejarah gerakan Reformed, saya ingin mempertajam ruang lingkup pembahasan dalam artikel ini. Mengapa saya mengatakan gerakan Reformed ketimbang gereja Reformed? Karena gerakan Reformed TIDAK dibatasi oleh denominasi gereja Reformed. Pdt. Dr. Stephen Tong menyatakan bahwa gerakan Reformed BUKAN milik gereja Reformed, namun milik semua gereja yang mau setia kepada Alkitab. Sejarah membuktikan perkataan beliau. Rev. Charles H. Spurgeon yang dijuluki Pangeran Pengkhotbah adalah seorang pendeta yang bertheologi Reformed namun berasal dari gereja Baptis. Begitu juga dengan Rev. Augustus Hopkins Strong, D.D. (3 Agustus 1836–29 November 1921). Arthur Walkington (A. W.) Pink juga seorang theolog Reformed Baptis. Selain itu, Rev. George Whitefield yang adalah seorang pendiri gerakan Methodis adalah pendeta yang bertheologi Reformed. Di zaman sekarang, kita mengenal sosok theolog ternama, Prof. James I. Packer, D.Phil. adalah theolog Reformed yang berasal dari gereja Anglikan. Oleh karena itulah, maka saya menspesifikkan artikel ini pada gerakan Reformed bukan gereja Reformed.




II. Sejarah Gerakan Reformed[1]
Theologi Reformed sebenarnya berasal dari gerakan Reformasi yang dipromotori oleh Dr. Martin Luther (10 November 1483–18 Februari 1546), seorang mantan rahib Katolik yang mengadakan reformasi gereja tepat pada tanggal 31 Oktober 1517. Gerakan ini sebenarnya dimulai dahulu oleh John Wycliffe (1324-31 Desember 1384), seorang theolog Inggris, pengkhotbah awam, penerjemah, reformator, dan dosen di Oxford University yang mereformasi gereja di Inggris dan kemudian diikuti oleh John Huss (1372-6 Juli 1415), seorang imam, filsuf, reformator, dan guru dari Cekoslowakia di Charles University, Prague. John Huss waktu itu dibakar oleh gereja Katolik karena dianggap bidat. John Wycliffe dan John Huss mempengaruhi Dr. Martin Luther ketika mereformasi gereja Katolik pada waktu itu yang berani menjual surat pengampunan dosa untuk mengumpulkan uang demi pembangunan Basilika St. Petrus di Roma. Dr. Luther menerbitkan edaran yang berisi 95 tesisnya yang menolak otoritas Paus dan praktik-praktik gereja Katolik Roma. Akibatnya, dia diekskomunikasikan oleh gereja Katolik dan terancam hendak dibunuh oleh Paus pada waktu itu. Puji Tuhan, Ia memelihara hamba-Nya, sehingga Luther berhasil mereformasi Jerman dan menerjemahkan Alkitab dari bahasa Ibrani dan Yunani ke dalam bahasa Jerman.

Semangat Dr. Luther diteruskan oleh para penerusnya, yaitu Ulrich Zwingli dan Philip Melanchthon. Tuhan memakai 3 reformator ini luar biasa, namun Ia sedang mempersiapkan 1 lagi reformator besar yang benar-benar mereformasi gereja dan masyarakat. Reformator tersebut bernama Dr. John Calvin (10 Juli 1509–27 Mei 1564). Dr. John Calvin bukan seorang yang mengenyam pendidikan theologi seperti Dr. Luther, namun Dr. Calvin adalah seorang yang menguasai bahasa-bahasa asli Alkitab. Ditambah pendidikan Dr. Calvin adalah di bidang hukum, jadi dia mampu menafsirkan Alkitab dengan tingkat kedisiplinan yang akurat. Buku yang ditulisnya menjadi buku terkenal dan berpengaruh, yaitu Institutes of the Christian Religion (Institutio Christiane Religionis). Reformasi yang dilakukan oleh Calvin pun berpengaruh di Geneva. Di Geneva, Calvin berkhotbah 2 kali pada hari Minggu dan 3 kali seminggu. Situs Wikipedia mencatat di dalam setiap khotbah, Calvin menggunakan waktu lebih dari 1 jam dan khotbahnya tidak menggunakan catatan khotbah.[2] Selain di Geneva, karya dan tulisan Calvin berpengaruh di Switzerland, Skotlandia, Hungaria, Jerman, dll. Para pengikut Calvin ini nantinya disebut Calvinis atau Reformed. Dengan kata lain, akar theologi Reformed dibangun di atas dasar pengajaran dari Dr. John Calvin yang menekankan kedaulatan Allah. Gerakan Reformed diteruskan oleh sahabatnya, Dr. Theodore Beza. Gerakan Reformed mempengaruhi reformasi di berbagai negara di Eropa. Di Inggris, kaum Puritan mereformasi gereja Inggris supaya gereja di Inggris lebih cocok dengan gereja Reformed di Geneva. Di Skotlandia, Tuhan memakai reformator John Knox yang akhirnya menjadi Church of Scotland. Di Prancis, Tuhan memakai para Hugenot untuk memperjuangkan iman Reformed mereka. Di Belanda, orang Reformed mendirikan Dutch Reformed Church, sebuah gereja Protestan pada tahun 1560-an. Selain, Reformed juga berpengaruh di Hungaria pada sekitar abad XVI. Kemudian Reformed mempengaruhi terjadinya Kebangunan Besar (Great Awakening). Great Awakening dibagi menjadi tiga dan Great Awakening pertama yang benar-benar bersejarah dimulai oleh Rev. Jonathan Edwards, A.M., seorang Reformed/Calvinis yang memimpin kebangunan rohani pada tahun 1742 dengan judul khotbah yang telah dijadikan buku, Sinners in the Hand of an Angry God (Pendosa Di Tangan Allah yang Murka). Great Awakening kedua menghasilkan tokoh-tokoh seperti Charles G. Finney, dll yang nanti melahirkan Gerakan Kekudusan (Holiness Movement). Great Awakening ketiga menghasilkan tokoh-tokoh seperti D. L. Moody, Ira D. Sankey, William Booth, dan yang paling terkenal, Rev. Charles Haddon Spurgeon, seorang Reformed Baptis yang dijuluki Pangeran Pengkhotbah (Prince of The Preachers). Reformed mempengaruhi para theolog dari Princeton di Amerika Serikat, di antaranya Archibald Alexander, Charles Hodge, A. A. Hodge, dan Dr. Benjamin B. Warfield. Kemudian dilanjutkan oleh Geerhadus Vos, Dr. J. Gresham Machen yang kemudian mendirikan Westminster Theological Seminary, disusul Dr. Cornelius Van Til (pencetus apologetika metode presuposisionalis), Dr. Osward T. Allis, Dr. Robert Dick Wilson, dan Dr. John Murray. Selain itu, di Belanda, theolog Reformed yang sangat berpengaruh adalah Prof. Dr. Ds. Abraham Kuyper (29 Oktober 1837(1837-10-29)-8 November 1920), mantan perdana menteri Belanda di mana buku terkenalnya Lectures on Calvinism merupakan kumpulan ceramah beliau di Princeton University, Princeton, U.S.A. Dialah yang menjadi promotor pertama Neo-Calvinisme yang mengemukakan ide common grace (anugerah umum) di dalam theologi Reformed.

Kemudian, gerakan Reformed dipakai Tuhan luar biasa di setiap zaman dengan munculnya para hamba Tuhan yang setia kepada Alkitab. Sebut saja Carl F. H. Henry, Th.D., Ph.D., salah seorang tokoh Injili yang Reformed. Juga seorang dokter bernama David Martyn Lloyd-Jones (20 Desember 1899–1 Maret 1981) yang berkhotbah di Westminster Chapel, London, U.K. Kemudian, Tuhan memakai Francis August Schaeffer, D.D., Litt.D., LL.D. (30 Januari 1912–15 Mei 1984) untuk mendirikan L’Abri Fellowship pada tahun 1955. Di abad XX, kita mengenal banyak theolog dan hamba Tuhan yang bertheologi Reformed di seluruh dunia. Ada hamba Tuhan/theolog Reformed namun dari Anglikan, sebut saja namanya Prof. James I. Packer, D.Phil. yang terkenal melalui bukunya Knowing God[3]. Ada juga theolog/hamba Tuhan yang bertheologi Reformed namun dari gereja Baptis, sebut saja namanya Rev. John S. Piper, D.Theol., seorang pendeta pengkhotbah di Betlehem Baptist Church, U.S.A. yang terkenal baik melalui slogannya, “God is most glorified in us when we are most satisfied in Him.” (=Allah paling dimuliakan di dalam kita ketika kita paling dipuaskan di dalam-Nya), bukunya Desiring God (Mendambakan Allah)[4], dan pelayanannya melalui media yang bernama Desiring God Ministries (www.desiringGod.org). Theolog Reformed Baptis[5] lain di antaranya: Rev. Mark E. Dever, Ph.D. (gembala sidang Capitol Hill Baptist Church di Washington, D.C. dan Direktur Eksekutif dari 9Marks Ministries), Prof. R. Albert Mohler, Jr., Ph.D. (Presiden kesembilan dari Southern Baptist Theological Seminary, Louisville, Kentucky, U.S.A.), Prof. James R. White, Th.D., D.Min. (apologet Kristen dan Direktur dari Alpha and Omega Ministries), dll. Di abad XX, di Indonesia, Tuhan membangkitkan api gerakan Reformed melalui kehadiran hamba-Nya yang setia, Pdt. Dr. Stephen Tong untuk mendirikan Gerakan Reformed Injili di Indonesia.
Catatan kaki:
[1] http://en.wikipedia.org/wiki/History_of_Protestantism
[2] http://en.wikipedia.org/wiki/John_calvin
[3] Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Knowing God: Tuntutan Praktis Untuk Mengenal Allah oleh Yayasan ANDI.
[4] Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Mendambakan Allah oleh Penerbit Momentum.
[5] Reformed Baptis adalah sebuah aliran theologi Baptis yang mendasarkan pemahaman doktrinnya pada theologi Reformed. Perbedaan utama theologi Reformed dengan theologi Reformed Baptis adalah theologi Reformed mengajarkan baptisan anak, sedangkan theologi Reformed Baptis tidak menerima doktrin baptisan anak. Namun masalah baptisan anak tidak perlu diperdebatkan. Penjelasan lebih lengkap silahkan baca bab 2.

30 June 2010

Eksposisi 1 Korintus 7:10-11 (Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.)

EKSPOSISI 1 KORINTUS 7:10-11

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.



Nats: 1 Korintus 7:10-11



Perintah dari Tuhan Sendiri (ay. 10a)
Perhatian Paulus terhadap isu perceraian di sini harus dilihat dalam kaitan dengan problem utama yang sebelumnya sudah dibahas (7:1b). Konsep theologis yang salah dari jemaat Korintus tentang kerohanian membuat mereka menghindari hubungan seksual antara suami-istri. Apa yang mereka sedang lakukan bukan hanya untuk sementara waktu seperti yang dinasehatkan Paulus di ayat 5, tetapi mereka bahkan berpikir untuk bercerai. Kepada mereka, Paulus memberikan nasehat di ayat 10-11.

Paulus menujukan nasehat ini “kepada orang-orang yang sudah kawin” (tois gegamēkosin, ay. 10). Sekilas ungkapan ini tampaknya tidak diperlukan. Kalau mereka belum kawin, tentu Paulus tidak perlu repot-repot memberi nasehat agar jangan jangan bercerai. Paulus ternyata memikirkan kelompok jemaat tertentu pada saat ia menyebut “orang-orang yang sudah kawin”.

Maksud dari sebutan di atas adalah “orang-orang Kristen yang kawin dengan orang Kristen juga”. Dengan kata lain, nasehat ini ditujukan pada pasangan Kristen. Ada beberapa argument yang mendukung bagian ini. Pertama, kelompok jemaat di ayat 10-11 dikontraskan dengan jemaat tertentu di ayat 12-16 yang memiliki pasangan non-Kristen. Di ayat 12 LAI:TB secara kurang tepat menerjemahkan “kepada orang-orang lain”. Semua versi Inggris menerjemahkan “kepada yang lainnya/sisanya” (tois loipois). Yang dimaksud loipoi di ayat ini adalah orang-orang yang berbeda dengan di ayat 10-11. Kedua kelompok ini sama-sama sudah kawin, tetapi kelompok pertama adalah pasangan Kristen, sedangkan yang lainnya bukan dengan orang Kristen.

Kedua, di ayat 2-5 Paulus sudah membahas tentang pasangan Kristen. Hal ini kita ketahui dari ungkapan “supaya kamu dapat berdoa” (ay. 5). Jika salah satu pasangan bukan orang Kristen maka Paulus tidak akan menyinggung tentang doa.

Pembedaan kelompok ini perlu ditekankan, karena Paulus memberikan perintah yang agak berbeda untuk dua kelompok itu. Bagi pasangan Kristen, perceraian dan kawin lagi merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar lagi (ay. 10-11). Bagi pasangan campuran, perceraian tetap dimungkinkan, meskipun harus memperhatikan beberapa syarat dan pertimbangan tertentu (ay. 12-16).

Kepada kelompok pertama Paulus menyatakan bahwa Tuhan sendiri (bukan dia) memerintahkan (ay. 10). Pemilihan kata “memerintahkan” (parangellō) di ayat ini merupakan sesuatu yang menarik dan menyiratkan penekanan. Paulus biasanya hanya memakai ungkapan yang – sekalipun tetap berotoritas – tetapi setegas di ayat ini, misalnya “kelonggaran, bukan perintah” (ay. 6), “aku anjurkan” (ay. 8), “baiklah/adalah baik” (ay. 8, 26), “aku katakan” (ay. 12), “aku memberikan pendapatku” (ay. 25).

Ungkapan “aku, tidak, bukan aku, tetapi Tuhan” (ay. 10) telah mendorong beberapa penafsir untuk menduga bahwa Paulus mengoreksi apa yang sudah terlanjur ia tuliskan. Dugaan ini sama sekali tidak dapat dibenarkan. Di samping alasan doktrinal bahwa Roh Kudus mengilhami dia sehingga tidak mungkin melakukan kesalahan apa pun, dugaan tersebut juga tidak sesuai dengan konteks. Di ayat 12 Paulus menggunakan ungkapan yang sama, sekalipun kali ini ia mengubah susunannya: “aku, bukan Tuhan katakan...”. Berdasarkan hal ini kita seharusnya menyimpulkan bahwa Paulus memang dari semula bermaksud menyatakan dengan ungkapan seperti di ayat 10 dan 12.

Paulus pasti tidak akan berpikir bahwa pernyataannya di ayat 10 memiliki otoritas yang lebih tinggi dan mengikat dibandingkan yang di ayat 12. Di bagian selanjutnya ia menegaskan bahwa ia memberikan pendapat “sebagai orang yang dapat dipercayai karena rahmat yang diterimanya dari Allah” (ay. 25). Dia juga adalah orang “yang mempunyai Roh Allah” (ay. 40). Lebih jauh, setiap bagian dari kitab suci adalah diilhamkan Allah sendiri (2Tim 3:16), walaupun yang menuliskan secara langsung adalah manusia pilihan Allah (2Pet 1:20-21).

Apa maksud dari ungkapan di ayat 10a? Paulus sebenarnya sedang menjelaskan sumber dari pernyataannya. Perintah di ayat 10 memang langsung berasal dari Tuhan Yesus (bdk. Mat. 5:32//Luk. 16:16; Mat. 19:9//Mrk. 10:11), sedangkan perintah di ayat 12 merupakan pandangan Paulus sendiri. Tuhan Yesus tidak pernah memberikan perintah berkaitan dengan pasangan campuran, karena isu ini pada jaman-Nya bukanlah isu yang mendesak. Setelah injil menjangkau orang-orang tidak beriman dari bangsa lain, isu ini menjadi mendesak karena sebagian orang non-Kristen tersebut pasangannya akhirnya menjadi percaya. Dari sini terlihat bahwa Paulus sangat berhati-hati dengan tradisi yang di aterima. Kalau itu memang langsung dari Tuhan (bdk. 1Kor. 9:14; 11:23), dia akan menyatakan hal itu. Kalau itu adalah penafsiran dia, maka ia juga memberitahukan hal tersebut.

Maksud lain dari ungkapan ayat 10 berkaitan dengan situasi konkrit yang dialami jemaat. Pada waktu itu mereka menganggap diri rohani dan menerima “pewahyuan Roh Kudus” (bdk. 7:40), sehingga mereka mengklaim bahwa praktik selibasi atau asketisisme yang mereka sedang lakukan adalah dari “Roh Kudus”. Kepada orang-orang seperti ini Paulus menegaskan bahwa ucapan Tuhan Yesus merupakan otoritas tertinggi. Tidak ada pewahyuan dari Ro Kudus yang bertentangan dengan ajaran Yesus. Tradisi ajaran yang berasal dari Tuhan Yesus dan diajarkan oleh para rasul harus lebih ditaati daripada “wahyu” spektakuler yang sebenarnya bukan dari Roh Kudus (bdk. Kol. 2:7, 18).

Perintah di ayat 10-11 ditujukan pertama kali kepada para istri. Dalam budaya Yahudi hal ini sepertinya tidak akan ditemukan, karena wanita memang tidak memiliki hak untuk menceraikan suaminya. Dalam budaya Yunani-Romawi, baik suami maupun istri bisa mengajukan perceraian. Ketika Paulus menyinggung para istri lebih dahulu, hal ini mungkin tidak lebih daripada sekadar kebiasaan pada waktu itu. Di tempat lain Paulus juga memberikan perintah/nasehat kepada pihak yang lebih lemah/rendah, setelah baru yang lebih kuat/tinggi (Ef. 5:226:9; Kol. 3:18-4:1). Jika kita mengamati pembahasan Paulus di 1 Korintus 7, maka kita akan menemukan bahwa Paulus tidak selalu menyinggung pihak yang lebih rendah lebih dahulu. Ia kadang menasehati suami dulu (ay. 2, 3, 12-13), kadangkala istri (ay. 4, 10-11, 16). Variasi seperti ini memang menyiratkan bahwa Paulus bertindak adil terhadap suami-istri, namun ada kemungkinan lain bahwa sumber masalah di tiap nasehat memang berganti-ganti.

Dalam kasus di ayat 10-11, para penafsir berpendapat bahwa istrilah yang menjadi sumber masalah. Dengan kata lain, istrilah yang menuntut atau mengusahakan perceraian. Beberapa argumen yang dikemukakan antara lain: (1) istri disinggung pertama kali; (2) porsi pembahasan untuk istri jauh lebih banyak (ay. 10-11a) daripada suami (ay. 11b); (3) istri diperintahkan untuk kembali kepada suami (ay. 11a); ini menyiratkan bahwa upaya menceraikan diri berasal dari istri; (4) sikap para wanita yang tidak tertib dalam ibadah (11:1-16) memberi indikasi pada gerakan feminisme kuno; (5) bapa Eusebius mencatat adanya para wanita spiritual/nabiah dalam gerakan bidat Montanisme abad ke-2 M yang meninggalkan suami mereka. Walaupun kisah ini terlalu jauh dari masa hidup jemaat Korintus (pertengahan abad ke-1 M) dan tidak relevan, namun contoh ini tetap menyiratkan bahwa ada kemungkinan konsep spiritualitas yang salah bisa medorong wanita untuk bercerai dari suaminya.


Isi Perintah (ay. 10b-11)
Paulus memberikan dua perintah yang saling berkaitan. Perintah ini tetap berlaku untuk suami-istri, walaupun nasehat untuk suami hanya disebut secara sambil lalu saja oleh Paulus (ay. 11b).

Jangan bercerai (ay. 10b)
Paulus melarang para istri untuk menceraikan (chōrizō) suami mereka. Secara hurufiah kata ini memiliki arti “meninggalkan” (KJV/NASB) atau “memisahkan diri” (NIV/RSV).

Berdasarkan hal ini, beberapa penafsir mencoba membedakan antara kata cwrizw di ayat 10b dengan kata afihmi di ayat 11b. Chōrizō dianggap perceraian tidak resmi (sekadar pisah rumah), sedangkan afihmi disertai dokumen resmi.

Pembedaan di atas tampaknya terlalu dipaksakan. Kata afihmi juga dipakai Paulus untuk istri (ay. 13). Di ayat 15 kata chōrizō dikenakan pada suami maupun istri (bdk. Mat. 19:6//Mrk. 10:9). Selain itu, proses perceraian dalam budaya kuno tidak seformal sekarang. Dalam beberapa konteks, tidak bersetubuh dengan pasangan sudah dianggap “bercerai” sekalipun tidak disertai dengan proses hukum maupun dokumen resmi.

Dalam bagian ini Paulus tidak memberikan alasan apa pun di balik larangan untuk bercerai. Ketidakadaan keterangan ini mengasumsikan bahwa jemaat Korintus sudah mengetahui alasan di baliknya. Hal ini pasti merujuk ada suatu kebenaran yang sudah sangat populer. Paulus sangat mungkin memikirkan ajaran Yesus (Mat. 19:1-12//Mrk. 10:1-12) yang juga sudah dikenal dengan baik oleh jemaat Korintus. Dalam teks ini Yesus menyandarkan larangan perceraian pada rencana awal Allah untuk perkawinan. Perkawinan dirancang supaya dua menjadi satu (Kej 2:24). Allah dari dahulu tidak pernah berkompromi dengan perceraian (Mal. 2:16a). Kalaupun Allah memerintahkan Musa untuk memberikan surat cerai, hal itu dilakukan karena ketegaran hati bangsa Yahudi (Mat. 19:8//Mrk. 10:5).

Jika dilihat dari situasi konkrit jemaat Korintus, larangan untuk bercerai ini merupakan larangan yang luar biasa keras. Alasan yang dipakai oleh jemaat Korintus adalah “kerohanian”. Walaupun mereka memiliki konsep spiritualitas yang salah, tetapi mereka berani bercerai untuk mencapai “tingkat kerohanian yang lebih tinggi”. Kalau untuk alasan “rohani” saja Paulus melarang perceraian, apalagi untuk sekadar alasan-alasan klise seperti tidak cocok, tidak bisa menafkahi, dsb. Kalau untuk saling menjauhi dalam waktu yang tidak tertentu saja dilarang (1Kor. 7:5), apalagi bercerai.

Jangan kawin lagi (ay. 11)
Apakah kata “jikalau” di awal ayat 11 menunjukkan suatu tindakan yang mungkin terjadi atau tidak? Dari tata bahasa Yunani yang dipakai, tindakan yang diasumsikan bisa saja terjadi. Dari sisi konteks, hal ini tampaknya juga sangat mungkin terjadi. Perceraian adalah rencana ideal Allah, namun orang percaya sering kali gagal menaatinya. Jika beberapa orang sudah terlanjur melakukan hal itu, Paulus memberikan nasehat khusus agar situasi mereka tidak menjadi lebih buruk. Pola seperti ini mirip dengan pada jaman Musa. Sekalipun dilarang bercerai, bangsa Israel tetap melakukan hal itu. Supaya para mantan istri tidak diperlakukan lebih sengsara lagi (status mereka terkatung-katung), mereka harus diberikan surat cerai. Jadi, 1 Korintus 7:11 bukanlah bentuk kompromi, tetapi cara pencegahan terhadap dosa lainnya lagi.

Kepada mereka yang bercerai, Paulus memberikan dua alternatif: tetap sendiri atau rujuk dengan suami. Alternatif pertama jelas didasarkan pada pertimbangan dosa perzinahan. Jika seseorang menikah dengan orang yang bercerai, maka keduanya melakukan perzinahan (bdk. Mat. 19:9//Mrk. 10:11-12). Dalam kasus jemaat Korintus, keputusan untuk bercerai sudah merupakan dosa, karena itu mereka tidak boleh menambahi lagi dengan dosa yang lain. Jika dilihat dari larangan Paulus kepada jemaat untuk saling menjauhkan diri (ay. 2-5) maupun bercerai (ay. 10), perintah untuk tetap hidup sendiri ini merupakan sesuai yang menarik. Hdup sendiri untuk kepentingan “kerohanian” adalah dilarang, sebaliknya hidup sendiri setelah perceraian adalah keharusan.

Menariknya, Paulus memberikan alternatif untuk rujuk dengan mantan suami. Hal ini tidak dikategorikan sebagai perzinahan. Mengapa? Di mata Paulus, pernikahan merupakan komitmen seumur hidup sampai salah satu meninggal dunia. Selama keduanya masih hidup maka pernikahan masih mengikat (Rm. 7:1-3). Dengan dasar pertimbangan ini, menikah kembali dengan mantan suami bukanlah perzinahan, karena keduanya memang disatukan untuk seumur hidup.

Walaupun dua alternatif di atas sekilas tampak berupa pilihan eksklusif (pilih satu atau yang lainnya), namun bukan itu maksud Paulus. Keduanya saling berkaitan. Perintah untuk tidak kawin dimaksudkan agar keduanya masih memiliki kesempatan untuk rujuk kembali. Jika salah satu sudah menikah lagi dengan orang lain, maka rujuk menjadi tidak mungkin. Dalam tradisi Yahudi, seorang istri yang sudah kawin atau berzinah dengan laki-laki lain tidak boleh kembali pada suaminya lagi. Ulangan 24:4 “maka suaminya yang pertama, yang telah menyuruh dia pergi itu, tidak boleh mengambil dia kembali menjadi isterinya, setelah perempuan itu dicemari; sebab hal itu adalah kekejian di hadapan TUHAN”. Salah satu contoh tentang budaya ini adalah istri-istri Daud yang sudah dicemari oleh Absalom (2Sam. 16:21-22). Daud tidak lagi bersetubuh dengan mereka. Mereka diperlakukan ibarat janda (2Sam. 20:3).

Dari dua alternatif yang diberikan Paulus tampaknya mengantisipasi kalau para istri sadar terhadap konsep mereka yang salah dan kembali lagi kepada suami mereka. Dengan kata lain, Paulus mengharapkan pertobatan mereka. Dia juga mengantisipasi dalam kesendirian mereka, mereka rentan terhadap dosa percabulan (bdk. ay. 2, 5).

Di akhir ayat 11 Paulus mengaplikasikan perintah di ayat 10-11a kepada suami, tetapi kali ini tidak secara panjang lebar. Hal ini menyiratkan bahwa pihak suami bukanlah sumber perceraian. Hal ini juga membuktikan bahwa sekalipun perceraian merupakan hal yang umum dalam masyarakat Yahudi maupun Yunani, dalam kehidupan gereja hal tersebut merupakan hal yang tidak biasa. Perceraian dilarang, apalagi kawin lagi. Betapa Alkitab sangat menekankan keutuhan keluarga Kristiani! Amin. #




Sumber:
Mimbar GKRI Exodus, 26 April 2009
http://www.gkri-exodus.org/image-upload/1Korintus%2007%20ayat%2010-11.pdf

23 June 2010

Eksposisi 1 Korintus 7:6-9 (Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.)

EKSPOSISI 1 KORINTUS 7:6-9

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.



Nats: 1 Korintus 7:6-9



Dalam bagian sebelumnya telah dijelaskan bahwa jemaat Korintus memiliki sebuah konsep yang salah tentang kerohanian dan seks. Mereka menganggap bahwa kalau tidak melakukan hubungan seks dengan pasangan merupakan sesuatu yang baik bagi kerohanian (7:1b). Sebagai respons terhadap hal ini Paulus menasihatkan agar suami-istri tetap melakukan hubungan seks (7:2). Alasan yang dikemukakan Paulus berkaitan dengan hakekat dasar pernikahan. Dalam pernikahan terdapat kewajiban seksual (7:3) dan kepemilikan tubuh bersama (7:4). Walaupun nasihat di 7:2-4 merupakan sesuatu yang mengikat, namun Paulus masih memberi peluang tentang kemungkinan suami-istri tidak melakukan kewajiban seksual (kasus khusus), yaitu apabila dilakukan atas persetujuan bersama dan hanya untuk sementara waktu saja.

Di 7:6-9 Paulus masih melanjutkan pembahasan sebelumnya. Ia berusaha mempertegas bahwa kasus khusus di 7:5 bukanlah sebuah perintah, tetapi hanya kelonggaran belaka (7:6). Jemaat Korintus tidak boleh memanfaatkan kasus khusus ini untuk saling menjauhi antara suami-istri. Ia lalu menerangkan kasus lain ketika hubungan seks boleh diabaikan, yaitu apabila seseorang diberi karunia untuk selibat/membujang (7:7). Berdasarkan hal ini ia menasihati orang yang tidak kawin dan para janda untuk tetap hidup sendirian jika mereka mendapat karunia untuk selibat (7:8). Apabila mereka tidak mau mengekang hawa nafsu, maka mereka dinasihatkan untuk segera menikah (7:9).


Kasus Khusus di 7:5 Hanyalah Kelonggaran (ay. 6)
Para penafsir berbeda pendapat tentang kata “hal ini” (touto) di ayat ini. Sebagian menganggap kata touto merujuk balik pada pandangan Paulus di ayat 2b yang lebih memilih untuk menjauhi segala macam hubungan seks. Maksudnya, walaupun Paulus lebih cenderung pada selibat (1:2a), tetapi hal itu bukan bersifat perintah yang harus diikuti (7:6). Usulan seperti ini tampaknya kurang dapat diterima. Jarak antara ayat 1b dan ayat 6 terlalu jauh dan secara tata bahasa tidak ada kaitan secara langsung. Selain itu, seperti sudah diterangkan sebelumnya, ayat 1b bukanlah pandangan Paulus. Dalam bagian itu ia sekadar mengutip pernyataan jemaat Korintus (bdk. 7:1a) dan mengoreksi pernyataan ini (7:2-4).

Sebagian penafsir yang lain meyakini bahwa kata touto menunjuk pada semua penjelasan di ayat 2-5. Menurut mereka perintah untuk melakukan hubungan seks dengan pasangan merupakan kelonggaran, bukan sesuatu yang mengikat dan harus ditaati. Paulus sendiri tidak melakukan hal itu atas dasar alasan tertentu (7:7). Pandangan ini memiliki beberapa keberatan serius. Jika ayat 1b adalah sikap jemaat Korintus dan ayat 2-5 adalah koreksi Paulus terhadap sikap ini, maka sulit dimengerti mengapa Paulus menegaskan bahwa pandangan dan koreksinya bersifat tidak mengikat. Lebih jauh, nasihat di ayat 2-4 didasarkan pada kebenaran Alkitab (lihat pembahasan sebelumnya), sehingga sangat janggal apabila hal ini tidak bersifat mengikat (normatif).

Tafsiran yang lebih sederhana dan masuk akal adalah dengan melihat touto di ayat 6 sebagai rujukan untuk kasus khusus di ayat 5. Dengan kata lain, Paulus sedang menegaskan bahwa saling menjauhi di ayat 5 tidak boleh dianggap sebagai perintah yang harus dituruti. Ia menjaga agar jemaat Korintus tidak menyalahgunakan pandangannya. Bagi Paulus saling menjauhi secara seksual antara suami-istri harus didasarkan pada syarat-syarat tertentu (7:5) dan ini pun sebisa mungkin tidak dilakukan (7:6). Bagi jemaat Korintus, saling menjauhi merupakan keharusan dan berlaku untuk seterusnya. Dengan menegaskan bahwa ayat 5 bukanlah suatu perintah, Paulus secara tegas sedang membedakan dirinya dengan jemaat Korintus.

Penggunaan kata “kelonggaran” (sungnōmē) bukan hanya menunjukkan bahwa kasus khusus di ayat 5 bersifat tidak mengikat, tetapi juga menunjukkan usaha Paulus untuk memahami jemaat. Kata yang hanya muncul sekali dalam seluruh Alkitab ini terdiri dari dua kata: sun = bersama-sama dan gnōmē = penilaian (bdk. 7:25). Dengan demikian kata sungnōmē secara hurufiah memiliki arti “bersama-sama menilai” atau “merasakan bersama-sama”.

Dalam pemakaian di luar Alkitab kata sungnōmē menyiratkan usaha untuk memahami orang lain. Pemakaian kata ini di ayat 6 berfungsi untuk menunjukkan bahwa sekalipun Paulus sangat menentang (7:2-4) pandangan jemaat Korintus (7:1b), tetapi ia berusaha memberikan kemungkinan bagi suami-istri untuk tidak melakukan hubungan seks (7:5). Hal ini sekali lagi bukanlah perintah yang mengikat.


Hidup Selibat Adalah Karunia Allah (ay. 7)
Di ayat ini Paulus berusaha menjelaskan bahwa dia diberi karunia Tuhan untuk selibat. Mengapa dia perlu menjelaskan tentang hal ini? Ada beberapa kemungkinan: (1) pandangan Paulus di ayat 2-6 dapat disalahmengerti sebagai sikap yang terlalu menekankan seks (sexoriented) atau anti terhadap gaya hidup selibat, karena itu Paulus menerangkan bahwa dia sendiri pun tidak melakukan hubungan seks; (2) sebagian jemaat Korintus mungkin menjauhi seks akibat salah memahami gaya hidup Paulus yang selibat, sehingga di ayat 7 Paulus berusaha menjelaskan bahwa selibat hanyalah bagi yang menerima karunia ini; (3) gaya hidup Paulus yang selibat tetapi sekaligus menekankan pentingnya seks bagi suami-istri merupakan kombinasi yang seimbang dan efektif untuk mempengaruhi jemaat Korintus. Kalau Paulus yang mendapat karunia selibat saja ternyata tidak anti terhadap seks, mengapa jemaat Korintus yang sudah menikah justru menjauhi hal ini?

Paulus menyatakan bahwa alangkah baiknya kalau semua orang seperti dia (ay. 7a). Terjemahan “alangkah baiknya” (LAI:TB) berpotensi menimbulkan kesalahpahaman, seolah-olah Paulus melihat dirinya terlalu hebat dan selibat adalah sikap hidup yang sangat terpuji. Makna seperti ini jelas bertentangan dengan apa yang dinyatakan Paulus di ayat ini. Sesuai bahasa Yunani yang dipakai, Paulus sebenarnya hanya berkata, “aku berharap semua orang untuk menjadi seperti aku” (semua versi Inggris). Paulus pasti tahu bahwa harapan ini tidak mungkin tercapai (KJV/ASV/NIV/RSV/NASB). Para rasul dan saudara-saudara Yesus menikah (9:5). Kepada orang-orang yang sudah kawin pun Paulus menasihatkan agar mereka tidak mengupayakan perceraian (7:10-16, 27-28).

Paulus tidak memaksakan gaya hidupnya karena ia tahu bahwa “setiap orang menerima dari Allah karunianya yang khas” (ay. 7b). Selibat adalah sebuah karunai ilahi. Jika ini adalah karunia, maka tidak setiap orang Kristen harus mengikuti gaya hidup selibat Paulus. Untuk hal-hal lain yang bukan karunia khusus (misalnya pertumbuhan karakter Kristiani), Paulus berani mengatakan, “jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus” (11:1), tetapi gaya hidup selibat Paulus tidak mengikat bagi setiap orang Kristen.

Pandangan Paulus bahwa selibat adalah karunia didasarkan pada ajaran Yesus (Mat. 19:11-12). Dalam bagian ini Yesus menjelaskan bahwa ada orang-orang tertentu yang diberi karunia untuk tidak menikah; bahkan untuk memahami hal ini pun diperlukan karunia. Dari penjelasan yang diberikan Yesus terlihat bahwa karunia ini dapat direalisasikan melalui banyak cara: faktor sejak lahir, dijadikan demikian oleh orang lain dan atas dasar kemauan sendiri demi Kerajaan Allah. Apa pun sarana yang dipakai Allah untuk menunjukkan karunai ini pada diri seseorang, pada akhirnya orang itu harus memiliki tiga karakteristik sebagaimana yang disinggung di 1 Korintus 7:37: (1) merasa tidak dipaksa; (2) yakin dalam hatinya; (3) benar-benar mampu menguasai kemauannya (1Kor. 7:37). Jika tiga hal ini tidak ada pada diri seseorang, maka walaupun orang itu tidak menikah tetapi ia sebenarnya tidak bisa mensyukuri keadaannya. Akibatnya ia akan menjadi orang yang sangat sensitif, membenci lawan jenis dan menganggap semua kemesraan sebagai tipu muslihat belaka. Orang yang sampai pada tiga karakteristik ini – tidak peduli apakah ia tidak kawin akibat faktor bawaan sejak lahir, dijadikan orang lain atau keinginan sendiri – orang ini akan mampu menikmati kesendiriannya bersama Tuhan.

Konsep tentang selibat sebagai karunia akan membawa banyak implikasi lain bagi orang Kristen. Jika selibat adalah karunia, maka hal ini bukan masalah preferensi (pilihan) pribadi. Kita tidak boleh memilih untuk selibat jika kita tidak menerima karunia ini. Beberapa penulis Yahudi mengajarkan bahwa selibat adalah sesuatu yang perlu diusahakan setiap orang karena menunjukkan kerohanian. Pandangan ini jelas bertentangan dengan konsep selibat sebagai karunia. Jika selibat adalah karunia, maka kemampuan untuk menjalaninya bukan berasal dari manusia tetapi Allah. Disiplin rohani yang kita lakukan memang diperlukan untuk mengekang hawa nafsu, namun yang paling penting adalah karunia Allah yang memampukan kita melakukan hal itu (Flp. 2:13). Gaya hidup asketisisme yang terlihat di abad permulaan menjadi saksi bagaimana orang-orang Kristen mudah terjebak untuk mengagungkan kemampuan dan cara sendiri dalam mengatasi godaan seksual. Jika selibat adalah karunia, maka gaya hidup ini harus dipakai untuk melayani Tuhan. Setiap karunia pasti diberikan untuk kepentingan bersama (12:7). Demikian pula dengan karunia selibat. Orang yang tidak menikah seharusnya bisa lebih fokus dalam melayani Tuhan (7:34).

Paulus tidak hanya menyebut karunia selibat. Ungkapan “yang seorang karunia ini, yang lain karunia itu” (ay. 7c) menyiratkan bahwa Paulus sedang memikirkan karunia yang lain. Yang dimaksud Paulus pasti bukan daftar karunia roh di 12:1-11, karena semua itu tidak berkaitan dengan topik yang ia sedang bahas. Para penafsir meyakini bahwa karunia lain ini adalah menikah. Sebagaimana selibat adalah karunia, demikian pula pernikahan merupakan karunia dari Allah. Kisah penciptaan ketika Allah menciptakan dan memberikan Hawa kepada Adam merupakan bukti yang sangat jelas bahwa pernikahan adalah karunia.

Jika menikah adalah karunia, maka ini berarti bahwa tidak setiap orang Kristen harus menikah. Sebelum kita menggumulkan siapa pasangan hidup kita, kita harus bergumul apakah kita diberi karunia untuk menikah. Bagi orang percaya, menikah bukanlah sesuatu yang alamiah maupun sekadar tuntutan sosial. Menikah adalah karunia, karena itu harus membuat kita lebih bisa melayani Tuhan. Pernikahan seharusnya membuat suami-istri lebih bertumbuh di dalam Tuhan dan lebih efektif bagi pelebaran Kerajaan Allah.


Nasihat Untuk Orang yang Tidak Kawin dan Janda (ay. 8-9)
Berdasarkan konsep di ayat 8, Paulus selanjutnya mengaplikasikan prinsip ini pada suatu situasi khusus, yaitu orang yang tidak kawin dan janda (ay. 8). Siapa yang dimaksud “orang yang tidak kawin” (agamos) di sini? Kita biasanya memahami agamos sebagai para bujangan atau para gadis yang belum menikah. Pandangan ini ternyata salah. Walaupun kata agamos dapat memiliki arti luas dan merujuk pada siapa saja yang tidak dalam keadaan menikah, namun dalam konteks ini artinya adalah para duda.

Ada banyak argumen yang mendukung arti ini: (1) konteks 1 Korintus 7:1b-7 adalah tentang hubungan suami-istri, sehingga agamos di ayat 8 kemungkinan besar merujuk pada mereka yang sudah pernah kawin; (2) tentang para bujangan dan gadis akan dibahas Paulus secara khusus di 7:25-38; (3) di 7:14 kata agamos dibedakan dengan para gadis; (4) di 7:11 perempuan yang bercerai dengan suaminya disebut sebagai agamos; (5) jika agamos di 7:8 merujuk pada para bujangan dan gadis, maka Paulus tidak membahas para duda sama sekali. Hal ini sedikit janggal, karena konteks 7:1b-6 (terutama ay. 3-4) adalah tentang hubungan timbal-balik antara suami-istri.

Kepada para duda dan janda Paulus menasihatkan “adalah baik untuk tetap dalam keadaan seperti aku” (ay. 8b, KJV/ASV/NASB/NIV). “Baik” (kalos) dalam konteks ini tidak boleh dipahami secara spiritual atau moral, seakan-akan tetap menjadi duda atau janda memiliki nilai kerohanian/moral yang lebih baik daripada yang menikah. Kalos berkaitan dengan kebaikan untuk orang lain (pelayanan). Orang yang tidak kawin tidak memusingkan diri dengan perkara duniawi dan dengan demikian dapat melayani Tuhan secara lebih terfokus (7:32-34; bdk. 1Tim 5:5). Inilah yang dimaksud “baik” oleh Paulus.
Walaupun “tidak kawin” merupakan pilihan terbaik bagi para duda dan janda, tetapi Paulus menyadari bahwa tidak semua orang akan bertahan dalam keadaan seperti ini. Semua bergantung pada karunia Allah yang memampukan seseorang untuk tetap hidup sendirian. Sebagian orang jelas tidak menerima karunia selibat. Hal ini ditunjukkan dengan “tidak dapat menguasai diri” (ay. 9a, LAI:TB/KJV/RSV/NIV). Terjemahan “tidak dapat” sebenarnya tidak tepat. Dalam bahasa Yunani hanya disebutkan “tidak menguasai diri”. Beberapa versi memilih “tidak memiliki penguasaan diri” (ASV/NASB), namun yang paling tepat adalah “tidak mempraktekkan penguasaan diri” (NRSV). Jadi, inti persoalan bukan terletak pada “mampu atau tidak”, tetapi “mau atau tidak”. Ada duda atau janda tertentu dalam jemaat Korintus yang tidak mau menahan diri, tetapi tetap bersikeras menjauhi pasangan secara seksual. Akibatnya mereka dengan mudah jatuh ke dalam perzinahan (bdk. 6:15-16; 7:2a). Untuk orang-orang yang seperti ini Paulus menasihatkan agar menikah.

Pernyataan Paulus di ayat 9a tidak berarti bahwa ia memiliki pendangan yang rendah terhadap pernikahan (hanya sebagai solusi bagi dosa seksual). Tanpa dibandingkan dengan dosa percabulan pun pernikahan merupakan sesuatu yang baik (7:38). Jika dibandingkan, maka pernikahan menjadi “lebih baik” daripada hangus karena hawa nafsu (7:9).

Dalam bahasa asli sebenarnya tidak ada kata “karena hawa nafsu” (KJV/ASV/NASB77). Paulus hanya memakai kata “hangus” (puroomai). Hangus karena apa? Beberapa penafsir mencoba mengaitkan hal ini dengan api penghakiman di akhir jaman (3:12-15), namun usulan ini tidak terlalu meyakinkan. Tidak ada ide tentang penghukuman ilahi di 1 Korintus 7. Lebih jauh, jarak antara pasal 3 dan 7 terlalu jauh untuk dihubungkan.

Sebagian besar penafsir lebih cenderung memilih “karena hawa nafsu” (NIV/NASB95/RSV/NRSV/NKJV). Pendapat ini didasarkan pada 2 Korintus 11:29. Dalam ayat ini kata kerja puroomai (LAI:TB “hancur”) dikaitkan dengan sesuatu yang ada dalam diri Paulus (LAI:TB “oleh dukacita”). Jika puroomai memang berhubungan dengan sesuatu dalam diri manusia, maka menerjemahkan puroomai di 1 Korintus 7:9 dengan “hangus karena hawa nafsu” bukanlah pilihan yang salah. #




Sumber:
Mimbar GKRI Exodus, 8 Maret 2009
http://www.gkri-exodus.org/image-upload/1Korintus%2007%20ayat%2006-09.pdf

20 June 2010

GIBOL: BOLEHKAH? (Denny Teguh Sutandio)


GIBOL: BOLEHKAH?
Sebuah Tinjauan dan Refleksi Iman Kristen terhadap Gejala Gila Bola


oleh: Denny Teguh Sutandio





FIFA World Cup: Pendahuluan
Sejak 11 Juni-11 Juli 2010, dunia sedang asyik-asyiknya merayakan Fédération Internationale de Football Association (FIFA) World Cup XIX, ajang sepakbola kelas dunia di Afrika Selatan. Ini merupakan kesempatan pertama kalinya FIFA World Cup diadakan di negara Afrika. Siaran langsung ini disiarkan di banyak negara, termasuk Indonesia. Banyak orang yang menggandrungi bola rela ngelembur untuk menonton tim sepak bola favorit mereka melawan musuhnya. Penontonnya tidak terbatas oleh usia, jenis kelamin, status sosial, agama, status ekonomi, dll.


FIFA World Cup dan Dampaknya
FIFA World Cup yang diadakan di Afrika Selatan ini memiliki dampak positif dan negatifnya. Dampak positifnya adalah diizinkannya siaran ini di tempat-tempat publik di Iran yang dahulu tidak diizinkan pada FIFA tahun 2006.1 Meskipun ada beberapa dampak positif lainnya, namun kita harus mengakui banyak dampak negatif yang dihasilkan melalui FIFA World Cup ini yaitu:
Pertama, pelarangan menonton FIFA World Cup. Kelompok militan radikal dari agama tertentu di Somalia melarang warganya menonton pertandingan FIFA World Cup dan mengancam barangsiapa yang menontonnya dengan hukuman cambuk di depan umum. Alasan mereka adalah FIFA World Cup adalah pertandingan yang membuang waktu dan sumber daya ditambah tidak sesuai dengan agama mereka.2

Kedua, meningkatnya angka kejahatan. Di Afrika Selatan, tempat berlangsungnya FIFA World Cup, turis dari China, Portugal, Spanyol, Korea Selatan, Jepang, dan Kolombia menjadi korban kejahatan. Tiga orang dari tim nasional Yunani melaporkan bahwa uang mereka sebesar £1,300 telah dicuri di ruangan (hotel) mereka.3

Ketiga, kerugian biaya listrik. Menurut informasi dari radio Suara Surabaya FM yang menayangkan siaran 5 menit dari FIFA World Cup ini, banyak perusahaan di beberapa negara merugi karena listrik mereka dipakai oleh para karyawannya untuk menonton pertandingan FIFA World Cup melalui komputer.

Keempat, ketidakharmonisan keluarga. Dampak ini saya dapatkan dari sharing teman saya melalui updated status di Facebook yang mengatakan bahwa karena suaminya seorang gibol (gila bola), maka dia sebagai istri merasa bosan karena pada hari Sabtu, dirinya tidak diajak jalan-jalan. Ya, untung saja, teman saya ini orang yang termasuk cukup sabar dengan suaminya yang gibol ini.

Kelima, kecanduan. Dampak terakhir yang bisa berbahaya dari gibol adalah kecanduan. Sadar atau tidak sadar, pertandingan FIFA yang berlangsung satu bulan ini mengakibatkan para penontonnya menjadi kecanduan. Coba bayangkan, ada orang yang rela tidur sebentar untuk nantinya pada dini hari dapat puas menonton bola. Para penggila bola rela (hampir) setiap hari ngelembur, sehingga besok paginya ketika bekerja, mereka menjadi ngantuk. Akibatnya, efektivitas kerja menurun dan perusahaan/kantor/toko tempat mereka bekerja rugi. Seorang gibol rela membatalkan janji dengan teman bahkan mengacuhkan istrinya hanya demi pertandingan bola ini.


Iman Kristen dan Gibol
Lalu, bagaimana iman Kristen menyoroti gibol ini? Apakah kita sama seperti agama seberang yang melarang umatnya untuk menonton pertandingan FIFA ini dengan alasan tidak sesuai dengan agamanya? Ingatlah prinsip penting dalam iman Kristen: iman Kristen TIDAK pernah legalistik kaku. Artinya, iman Kristen bukanlah iman yang terlalu kaku memberlakukan suatu hukum pada para penganutnya. Iman Kristen adalah iman yang dinamis namun ketat. Inilah paradoksikal iman Kristen. Iman Kristen adalah iman hubungan. Artinya, iman Kristen adalah iman yang didasarkan pada hubungan seseorang dengan Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Semakin dekat hubungan seorang Kristen dengan Kristus, maka ia dengan haus dan rela menaati apa yang Kristus firmankan di dalam Alkitab. Dengan kata lain, semua perintah dan kehendak-Nya ditaati bukan dengan ancaman dan hukuman, namun dari hati yang mengasihi.

Dari presuposisi dasar iman Kristen ini, bagaimana kita memandang seorang yang demen nonton bola atau bahkan seorang gibol? Saya menyebut orang yang suka nonton bola itu adalah orang yang hobinya sepak bola. Iman Kristen menghargai hobi seseorang asalkan hobi itu tidak berdosa, seperti: berzinah, main pelacur, dll. Hobi seseorang itu merupakan salah satu bentuk refreshing dari hidupnya yang mungkin sibuk di kantor atau sibuk dengan urusan rumah tangga. Meskipun saya tidak menyenangi sepak bola, namun bagi saya, tidak ada masalahnya dengan hobi nonton bola. Namun, ada beberapa yang harus diperhatikan:
Pertama, nonton bola jangan menjadi candu. Meskipun kita memang hobi nonton bola, namun jangan sampai hobi kita ini menjadi candu bahkan kita berhalakan secara tidak sadar, sehingga ketika kita nonton bola di TV, tidak ada orang yang boleh mengganggu bahkan istri/suami dan anak sendiri. Ketika kita sampai berlaku ekstrem demikian, berarti sadar atau tidak sadar kita menjadikan sepak bola menjadi berhala dalam hidup kita. Jika sepak bola menjadi berhala dalam hidup kita, ingatlah firman Tuhan mengajar kita, “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.” (Kel. 20:3) Ilah lain tidak harus berupa patung yang kelihatan, namun ilah lain bisa berupa sesuatu yang kita agung-agungkan melebihi Allah yang harus kita agungkan selama-lamanya.

Kedua, orientasi waktu. Ketika kita menonton bola, perhatikan waktu kita. Jangan sampai kita menghabiskan terlalu banyak waktu hanya untuk menonton bola, lalu kita meninggalkan hal-hal lain yang lebih penting, misalnya: kebaktian di gereja, pelayanan di gereja, bekerja, mengurus rumah tangga, dll. Sebuah nasihat bijak yang saya dengar dari Sdri. Ira Natanael, seorang penyiar radio Bahtera Yudha FM kemarin malam (Sabtu, 19 Juni 2010 sekitar Pkl. 21.00 WIB): kita boleh suka nonton bola, namun jangan sampai kita lupa untuk ibadah besoknya. Ini sebuah nasihat bijak yang perlu kita dengarkan. Ada orang Kristen yang benar-benar suka nonton bola, sampai besok paginya lupa ke gereja dengan beragam alasan, misalnya: telat bangun, dll, padahal alasan utamanya karena begadang nonton bola. Aturlah waktu kita dengan mengklasifikasikannya menjadi: hal-hal penting dan hal-hal yang kurang penting. Jika sesuatu termasuk hal penting, lakukan itu terlebih dahulu, baru kemudian melakukan hal-hal yang kurang penting. Misalnya, menonton bola termasuk hal yang kurang penting, maka jika ada sesuatu yang lebih penting (misalnya: kebaktian dan pelayanan di gereja, bekerja, mengurus rumah tangga, dll) yang harus dikerjakan, kerjakanlah itu terlebih dahulu, baru setelah itu, jika ada waktu luang, pergunakanlah itu untuk menonton bola.

Sebagai refleksi iman Kristen, gejala gibol menyadarkan kita beberapa hal:
Pertama, rela. Tidak ada seorang gibol yang tidak rela menghabiskan waktunya untuk menonton sepak bola, apalagi yang main waktu itu tim kesayangannya. Bagaimana dengan kita sebagai orang Kristen yang katanya cinta Tuhan? Benarkah kita benar-benar rela menghabiskan waktu kita demi melayani Tuhan dan mencintai (plus menaati) firman-Nya? Melayani Tuhan TIDAK harus di gereja, melayani Tuhan itu bisa melalui aktivitas kita sehari-hari yang mendatangkan kemuliaan bagi Tuhan. Sering kali ketika ke gereja, kita terpaksa, malas, dan bosan (ingin kebaktian cepat selesai), namun ketika menonton bola, kita rela begadang. Masih layakkah kita disebut orang Kristen? Mari kita introspeksi diri masing-masing.

Kedua, hasrat. Seorang gibol adalah seorang yang memiliki hasrat tinggi untuk nonton bola berjam-jam bahkan (hampir) setiap hari. Ia ingin melihat kemenangan tim favoritnya melawan musuh. Adakah hasrat yang sama kita miliki di dalam iman Kristen kita? Ketika firman Tuhan melalui khotbah yang bertanggungjawab disampaikan, adakah kita berhasrat mendengarkannya dengan hati dan telinga yang terbuka? Ataukah kita malah tidur di gereja pada waktu khotbah disampaikan? (Jika yang salah memang si pengkhotbah, mungkin karena kurang persiapan, ya pengkhotbah yang harus bertobat, namun jika si pengkhotbah sudah persiapan, ya yang bertobat adalah jemaatnya yang suka tidur di gereja)

Ketiga, semangat. Seorang gibol adalah seorang yang bersemangat apalagi ketika melihat tim favoritnya menang melawan musuhnya. Semangat itu ditandai dengan teriakan kemenangan, misalnya: “GOOOOOL!” ketika salah seorang anggota tim favoritnya mencetak gol. Bagaimana dengan kita sebagai orang Kristen? Adakah semangat yang sama menjiwai iman kita? Ketika firman Tuhan melalui khotbah yang bertanggungjawab disampaikan, adakah kita bersemangat mendengarkan dan tentunya menaatinya? Adakah kita bersemangat melakukan firman Tuhan di dalam hidup kita dan berkata, “Puji Tuhan” ketika kita bisa mengalahkan godaan hidup kita? Ataukah kita malah terperosok ke dalam tipu daya iblis?


Kesimpulan dan Tantangan
Bagaimana dengan kita? Apakah hobi kita menjadi candu bagi kita? Ataukah hobi kita bisa kita seimbangkan dengan hal-hal lain yang lebih penting? Apakah hobi kita menginspirasi kita untuk berbuat lebih dahsyat bagi Kerajaan Allah ketimbang untuk urusan-urusan tidak penting? Biarlah renungan singkat ini menyadarkan kita agar hidup kita makin memuliakan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan kita. Amin. Soli Deo Gloria.



Catatan Kaki:
1. http://en.wikipedia.org/wiki/2010_FIFA_World_Cup
2. Ibid.
3. Ibid.

18 June 2010

DANGDUT, KARL MARX, DAN KEKRISTENAN (Ev. Bedjo Lie, S.E., M.Div.)

DANGDUT, KARL MARX, DAN KEKRISTENAN

oleh: Ev. Bedjo Lie, S.E., M.Div.


Apa kaitan antara dangdut, Karl Marx dan Kekristenan? Rasanya kok terlalu mengada-ada ya! Tetapi nama Karl Marx, mbah komunisme itulah yang muncul dalam benak saya ketika menyaksikan pentas musik dangdut di televisi. Supaya tidak salah paham, bukan goyang ngebor atau patah-patah dari artisnya yang ingin kita bicarakan di sini, tetapi goyang lepas dari sebagian penontonnya itulah yang menarik untuk dipikirkan.

Mengapa dipikirkan? Terus terang saya jarang melihat jenis musik lain di Indonesia yang bisa membuat sebagian penontonnya lepas baju alias ote-ote, menari, dan berjoget di atas pundak orang lain selama pentas musik berlangsung. Wow…wajah mereka tampak tanpa beban, dan goyangan mereka selaras mengikuti irama. Betapa dahsyatnya kenikmatan psikologis yang dialami sebagian penikmat dangdut, apalagi jika artisnya manis dan genit seperti Dewi Persik.

Jadi apa dong kaitan dangdut, Karl Marx dengan Kekristenan? Mudah saja! Tanpa bermaksud menilai bagus tidaknya musik dangdut (karena saya bukan pakar musik), saya melihat jelas bahwa musik dangdut “berjasa” dalam menjadi semacam “opium/candu” yang membius sebagian penontonnya sehingga mereka bisa melepaskan beban kehidupan mereka untuk sementara waktu. Dalam aksi joget ria, lepas…bebas, masalah gaji yang rendah, kemarin dimaki-maki atasan, atau besok makan apa atau siapa… semuanya bisa ditinggalkan di rumah dulu. Yang penting joget dulu! Orgasme psikologis kan tidak dilarang! Kira-kira itulah penafsiran saya terhadap ekspresi SEBAGIAN penonton pentas dangdut. Tentu saja tidak semua penonton benar-benar lepas seperti itu, tetapi sebagian dari mereka jelas sekali menghayati dangdut sebagai musik “pelepasan beban psikologis”. Pengalaman pribadi penulis sebagai wong ndeso yang punya teman-teman hobi dangdut-an, mengkonfirmasi pendapat ini.

Nah, sampai di sini kaitan dangdut dengan Karl Marx, mungkin sudah mulai terbaca. Karl Marx (1818-1883) memiliki teori tentang agama sebagai candu bagi masyarakat. Bagi pemikir ateis yang amat berpengaruh ini, agama bersifat membius karena agama menimbulkan fantasi yang tidak nyata! Melalui agama, kepedihan dan penderitaan yang dialami masyarakat yang miskin (kaum buruh) dapat diringankan dengan fantasi tentang sorga, sebuah tempat di mana tidak ada lagi penderitaan dan penindasan. Agama bersifat membius kesadaran orang khususnya si miskin, agar tidak iri kepada orang kaya, agar puas dengan pendapatannya yang minim, karena ada harta di sorga, kelak! Ya, agama membius mirip seperti dangdut membius. Kedua-duanya bisa membuat orang lupa daratan dan realitas. Bedanya, agama membius masyarakat dengan fantasi sorga, tetapi dangdut membius sebagian penonton dengan goyangan seksi dan mungkin fantasi porno!

Konsep Marxisme tentang agama ini tentu saja salah dan tidak terbukti dalam beberapa aspek yang paling mendasar. Sebagai orang kristen kita menolak tuduhan Marx bahwa Allah adalah hasil imajinasi manusia. Kita juga menolak keyakinan bahwa sorga adalah fantasi yang diciptakan manusia untuk meringankan beban wong cilik agar tidak melakukan pemberontakan terhadap golongan berduit. Kita harus maklum karena sebenarnya Marx memang bukan ahli agama, sehingga tampaknya ia tidak tahu bahwa tidak semua agama mengajarkan fantasi sorga. Bagi sebagian agama Yunani/Romawi kuno, hanya kaum penguasa dan ksatria yang memiliki keabadian jiwa; rakyat biasa hanya menjadi bayang-bayang (hantu). Marx juga salah ketika percaya bahwa agama akan lenyap ketika jurang antara si kaya dan si miskin bisa diatasi. Kita meragukan Marx yang percaya bahwa jika semua orang sudah makmur, maka masyarakat tidak memerlukan Allah dan agama. Ateisme dari Marx harus kita tolak secara tegas! Alkitab berkata “…Orang bebal berkata dalam hatinya: "Tidak ada Allah." Busuk dan jijik perbuatan mereka, tidak ada yang berbuat baik” (Mzm. 14:1). Marx termasuk orang bebal, bukan sekedar bodoh secara intelektual.

Tetapi, kontribusi positif Marx bagi umat beragama jelas! Marx menjadi lampu kuning bagi kita agar tidak menjadikan agama sekedar obat bius! Bagi kita, Marx menolong kita berefleksi “Apakah Kekristenan kita adalah candu yang membiuskan atau apa?”

Pengamatan menyedihkan yang saya temukan kadang-kadang mendukung pandangan Marx secara parsial. Sebagian orang Kristen memang punya mentalitas yang menjadikan agama sebagai candu yang membius. Sering kali dalam ibadah-ibadah Kristiani yang diharapkan adalah khotbah yang menghibur, menguatkan, menyegarkan, dan tentu lebih asyik lagi jika ada gelak tawa. Agak jarang, doa sebelum firman Tuhan diberitakan memohon kotbah yang menegur, membentuk karakter dan menyatakan kebenaran. Pergi kebaktian juga sering kali menjadi sarana pelepasan bagi kepenatan jiwa. Sumpek…yuk kebaktian aja! Kebaktian kadangkala jadi mirip pentas dangdut yang membius sebagian penonton dan candu yang meringankan beban hidup persis seperti pemikiran Marx! Lihat saja lagu-lagu yang laris dinyanyikan. Nuansanya terus menghibur kita dengan menggunakan konsep-konsep kepedulian dan kebaikan Allah. Ujung-ujungnya selalu kita yang untung dalam relasi dengan Allah. Kan…Allah peduli, rancangannya indah-buat KITA! Makin lama makin jarang, lagu-lagu yang agung, yang memuji kebesaran, keagungan, dan kekuasaan-Nya tanpa harus dikaitkan-kaitkan dengan keuntungannya bagi kita. Buku yang laris juga yang bicara tentang Heaven …tuh! Yah, di dunia kan susah, jadi paling enak bicara tentang sorga, membuat kita jadi lega!

Jika orang Kristen larut dalam pola-pola seperti ini, tidak mengherankan jika Kekristenan menjadi mandul, orang Kristen menjadi cengeng dan kebaktian menjadi tempat dugem spiritual. Daripada melampiaskan kelelahan hidup di tempat-tempat yang nggak genah, lebih baik kebaktian aja! Duh…sedihnya!

Akhir kata, semoga kita bukan bagian dari orang yang bisa dikritik Karl Marx, yaitu mereka yang menjadikan agama sebagai candu yang membius! Mari kita buktikan bahwa Kekristenan kita adalah bahan bakar yang menghidupkan karya di dunia, mempengaruhi masyarakat sekitar (bdk. konsep Weber), sambil tetap menanti Heaven yang memang real!



Sumber: e-mail yang dikirim langsung dari penulis



Profil Penulis:
Ev. Bedjo Lie, S.E., M.Div. adalah Kepala Pusat Kerohanian (Pusroh) dan dosen Filsafat Agama dan Christian Worldview di Universitas Kristen Petra, Surabaya. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Ekonomi (S.E.) di UK Petra, Surabaya dan Master of Divinity (M.Div.) di Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang. Beliau mendapat sertifikat dari Ravi Zacharias International Ministry, Academy of Apologetics, India.



Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio

17 June 2010

Resensi Buku-98: THE FAITH (Charles Colson dan Harold Fickett)

...Dapatkan segera...




Buku
THE FAITH:
Apa yang Dipercayai Orang Kristen, Mengapa Mereka Mempercayainya, dan Mengapa Hal Itu Penting


oleh: Charles W. Colson dan Harold Fickett

Penerbit: Pionir Jaya





Deskripsi singkat dari Denny Teguh Sutandio:
Iman adalah sesuatu yang sangat penting di dalam hidup keberagamaan, karena iman merupakan suatu dasar yang membuat kita percaya. Demikian juga dengan iman Kristen. Banyak orang beragama Kristen, namun benarkah mereka beriman Kristen? Dengan bahasa yang mudah dimengerti, Charles Colson dan Harold Fickett di dalam bukunya The Faith menjelaskan kepada kita signifikansi penting iman Kristen yang berdasarkan doktrin yang kokoh, yaitu: doktrin Allah (Kebenaran, Wahyu, dan Trinitas), doktrin Alkitab, Dosa, Keselamatan, Gereja, dan Akhir Zaman) dan diaplikasikan di dalam kehidupan sehari-hari. Buku The Faith ini telah mendapat apresiasi (rekomendasi) dari 56 orang baik dari kalangan Kristen Protestan maupun Kristen Katolik.




Rekomendasi (dari 56 perekomendasi diambil 16 baik dari Injili, Reformed, maupun Katolik):
“Kekristenan yang sejati dan Alkitabiah sering kali salah dicirikan oleh media, salah digunakan oleh politikus, dan salah diajarkan oleh kalangan akademis sehingga jadi salah dipahami oleh kebanyakan orang Amerika Serikat. Karenanya, setiap orang akan mendapat manfaat dengan membaca buku ini—entah Anda orang skeptis, pencari kebenaran, orang percaya baru, atau orang ynag sudah lama mengikut Kristus. Paduan pikiran cemerlang Chuck Colson dan prosa Harold Fickett yang memikat memberi kita ikhtisar yang jelas, ringkas, dan menggugah tentang apa yang sebetulnya dipercayai oleh para pengikut Yesus.”
Rev. Richard Duanne (Rick) Warren, D.Min.
(Pendiri dan Pendeta Senior di Saddleback Church, California, U.S.A.; Bachelor of Arts—B.A. dari California Baptist University, Riverside, California, U.S.A.; Master of Divinity—M.Div. dari Southwestern Baptist Theological Seminary, Fort Worth, Texas, U.S.A.; dan Doctor of Ministry—D.Min. dari Fuller Theological Seminary, Pasadena, California, U.S.A.)

“Buku ini terbaca seperti novel dan berisi pukulan godam yang keras. Saya kira ini boleh jadi buku terpenting yang pernah ditulis Chuck.”
Rev. William (Bill) Hybels, D.D.
(Pendeta Senior dan Pendiri dari Willow Creek Community Church, South Barrington, Illinois, U.S.A.; Bachelor in Biblical Studies dari Trinity International University dan dianugerahi gelar Doctor of Divinity—D.D. dari Trinity Evangelical Divinity School, U.S.A.)

“Chuck Colson bukan saja mampu menjelaskan isu-isu moral besar masa kini dengan cara yang hanya bisa dilakukan sedikit orang, tetapi secara fasih dan meyakinkan ia juga mampu menunjuk kepada satu-satunya obat sejati bagi budaya kita yang sakit: pengetahuan yang menyelamatkan tentang Yesus Kristus. Selama bertahun-tahun Allah telah memakai pria baik ini secara luar biasa, dan saya merasa terhormat untuk menyebut dia sahabat dan saudara saya yang hebat.”
Prof. James Clayton (Jim) Dobson, Ph.D.
(Pendiri dan Ketua Focus on the Family; Doctor of Philosophy—Ph.D. dalam bidang child development dari University of Southern California, U.S.A.; mendapat anugerah gelar: Doctor of Laws—LL.D. dari Pepperdine University; Doctor of Humanities—D.Hum. dari Franciscan University of Steubenville, Ohio; Doctor of Humane Letters—L.H.D. dari Seattle Pacific University; L.H.D. dari Asbury Theological Seminary; L.H.D. dari MidAmerica Nazarene College; Doctor of Letters—Litt.D. dari Liberty University; L.H.D. dari Campbell University; L.H.D. dari Point Loma Nazarene College; Doctor of Literature dari Biola University; D.Hum. dari Abilene Christian University; L.H.D. dari Huntington College; Doctor of Public Service dari Greenville College; L.H.D. dari William Tyndale College; Doctor of Humanities dari Harding University; Doctor of Humanities dari Olivet Nazarene University; L.H.D. dari Indiana Wesleyan University; dan D.D. dari Southern Evangelical Seminary)

“Ini karya mutu tinggi dari Charles Colson—diterangkan dengan hati-hati dan diargumenkan dengan bersemangat. Bab yang menceritakan bagaimana Injil sampai kepada para tahanan, dengan sendirinya, cukup untuk merentangkan angan Anda dan membuat hati Anda menyanyi.” Rev. John Ortberg, Jr., Ph.D.
(Pendeta di Menlo Park Presbyterian Church Menlo Park, California, U.S.A. sejak tahun 2003 dan anggota the Board of Trustees di Fuller Seminary, U.S.A.; Bachelor of Arts—B.A. dalam bidang Psikologi dari Wheaton College; Master of Divinity—M.Div. dan Ph.D. dalam bidang Psikologi Klinis dari Fuller Seminary, U.S.A.; dan studi post-graduate di University of Aberdeen, Scotland)

“Buku ini sangat disambut! Wawasan tajam dari seorang pemikir jernih yang menafsirkan doktrin-doktrin inti iman Kristen. Volume ini adalah persembahan lain dari Chuck Colson bagi perkara Kristus.”
Rev. Max Lucado, M.A.
(senior minister di Oak Hills Church, Texas, U.S.A.; B.A. dalam bidang Komunikasi Massa dari Abilene Christian University, Abilene, Texas, U.S.A. dan M.A. dalam bidang Biblical and Related Studies dari Abilene Christian University, Abilene, Texas, U.S.A.)

“Panduan yang sangat diperlukan, berkuasa, dan amat mudah dibaca untuk memahami dunia dari sudut pandang kekekalan.”
Rev. John C. Maxwell, D.Min.
(Pendiri INJOY Stewardship Services dan EQUIP; Bachelor dari Ohio Christian University; M.Div. dari Azusa Pacific University; dan D.Min. dari Fuller Theological Seminary)

“Memahami kebenaran-kebenaran dasar iman Kristen dengan baik adalah penting bagi kedewasaan Kristen… Sekarang Charles Colson dan Harold Fickett telah memberi kita ikhtisar dari kebenaran-kebenaran dasar itu dalam bahasa yang mudah dibaca dan mudah dipahami. Buku ini akan terbukti berharga dalam menolong orang Kristen biasa memahami iman yang mereka percayai.”
Dr. Jerry T. Bridges
(anggota staf di The Navigators dan penulis lebih dari buku-buku, di antaranya The Pursuit of Holiness yang telah terjual lebih dari satu juta kopi)

“Charles Colson telah menulis satu buku lagi dengan kecerdasan yang hebat, iman yang kuat, dan kejelasan yang murni. The Faith (Iman) mempunyai segala ciri karya klasik.”
Rev. Prof. Cornelius Plantinga, Jr., Ph.D.
(Presiden di Calvin Theological Seminary dan Pendeta yang ditahbiskan di Christian Reformed Church, North America; B.A. dari Calvin College; studi di Yale University; Bachelor of Divinity—B.D. dari Calvin Theological Seminary; dan Ph.D. magna cum laude dari Princeton Theological Seminary, U.S.A.)

“Colson dan Fickett berada dalam kondisi terbaik ketika mereka menyoroti titik-titik luhur dari kepercayaan, perilaku, dan kebahagiaan Kristen berlawanan dengan latar gelap kemerosotan kita yang tak terkendali. Syukur kepada Allah atas orang-orang seperti ini dan atas buku seperti ini.”
Prof. James Innell (J. I.) Packer, D.Phil.
(the Board of Governors' Professor of Theology di Regent College, Vancouver, British Columbia, Canada; B.A., M.A., dan Doctor of Philosophy—D.Phil. dari Corpus Christi College, Oxford University, U.K.)

“Masih buku terbaiknya. Panjangnya pas dan sangat seimbang karena menarik dan mudah dibaca serta bijaksana dan informatif.”
Prof. James Porter (J. P.) Moreland, Ph.D.
(Distinguished Professor of Philosophy di Talbot School of Theology di Biola University, La Mirada, California, U.S.A.; Bachelor of Science—B.S. dari University of Missouri, U.S.A; M.A. dari University of California, Riverside, U.S.A.; Master of Theology—Th.M. dari Dallas Theological Seminary, U.S.A.; dan Ph.D. dalam bidang Filsafat dari University of Southern California, U.S.A.)

“Chuck Colson adalah saksi paling menggugah bagi iman Kristen yang saya kenal, dan kekuatan keyakinannya ditandingi oleh kredibilitas hidupnya. Ia telah memberi kita pernyataan kontemporer tentang iman yang rasuli—jelas, meyakinkan, dan menawan. Sebuah buku hikmat bagi orang percaya dan bagi para pencari kebenaran.”
Prof. Timothy George, Th.D.
(Dekan dan Professor of Divinity di Beeson Divinity School, Samford University dan editor eksekutif untuk Christianity Today; Bachelor of Arts—A.B. dari University of Tennessee at Chattanooga; M.Div. dari Harvard Divinity School; dan Doctor of Theology—Th.D. dari Harvard University)

“The Faith (Iman) adalah sajian yang amat mudah dibaca tentang makna dan praktik iman Kristen tradisional di zaman kita yang sangat susah.”
Prof. James W. Sire, Ph.D.
(mantan editor senior di InterVarsity Press dan dosen tamu di berbagai perguruan tinggi di Amerika Serikat dan Eropa, serta dosen bagi InterVarsity Christian Fellowship; Ph.D. dari University of Missouri)

“Selama bertahun-tahun saya telah memberikan copy buku Mere Christianity karya C. S. Lewis kepada mereka yang serius untuk menyelidiki klaim-klaim Yesus Kristus. Sekarang saya juga akan memberikan copy buku The Faith (Iman) karya Chuck Colson, yang dalam banyak hal merupakan pernyataan segar di abad ke-20 tentang iman kita yang bersejarah.”
Rev. Dr. John A. Huffman, Jr.
(Pendeta di St. Andrews Presbyterian Church, Newport Beach, California, U.S.A. dan melayani di: the National Council of the Churches of Christ in the U.S.A., Gordon-Conwell Theological Seminary, and Christianity Today, Inc.)

“Bacaan yang luar biasa menarik! The Faith (Iman) menggugah dan diperlukan dalam waktu genting ini di hadapan keadaan buta doktrin serta pluralisme yang ada… Buku ini adalah bacaan wajib bagi semua orang ynag peduli dengan apa yang terjadi di dunia kita hari ini.”
Prof. Walter C. Kaiser, Jr., Ph.D.
(mantan Colman M. Mockler Distinguished Professor of Old Testament dan mantan Presiden di Gordon-Conwell Theological Seminary, U.S.A.; A.B. dari Wheaton College; B.D. dari Wheaton Graduate School; M.A. dan Ph.D. dalam bidang Mediterranean studies dari Brandeis University)

“Buku penuh wawasan ini mengembangkan dasar sejati bagi pandangan dunia Kristen—suatu pemahaman yang akurat secara Alkitabiah dan relevan secara budaya tentang kebenaran-kebenaran dasar iman.”
Kenneth Boa, Ph.D., D.Phil.
(Presiden dari Reflection Ministries {http://www.reflectionsministries.org} dan Trinity House Publishers; B.S. dari Case Institute of Technology; Th.M. dari Dallas Theological Seminary; Ph.D. dari New York University; dan D.Phil. dari the University of Oxford, England; Website beliau: www.KenBoa.org)

“Paus Yohanes Paulus II membuka surat edarannya tentang kesatuan Gereja dengan menunjuk kepada campuran darah begitu banyak martir Kristen masa kini yang bersatu dalam kesaksian mereka tentang realitas dan kuasa darah Yesus Kristus yang menyelamatkan. Buku ini adalah pernyataan yang murah hati dan jujur tentang dasar-dasar bersama yang dipegang semua martir itu. Buku ini dapat memberi kita informasi dan juga mengilhami kita untuk bersaksi bagi Kristus dan saling memperkaya selagi kita bekerja sama dengan gerakan Roh Kudus yang membawa kita kepada kesatuan yang didoakan Tuhan kita.”
Fr. Francis Martin, B.A., S.T.L., S.S.L., S.S.D.
(Professor of Sacred Scripture at Sacred Heart Major Seminary, imam dari Archdiocese of Washington, D.C. di mana beliau melayani di the Mother of God Community, dan Profesor Studi Biblika di the John Paul II Institute for Studies on Marriage and Family; Licentiate in Sacred Theology—S.T.L. dari Pontifical University of St. Thomas Aquinas in Rome, (Theology); Licentiate in Sacred Scripture—S.S.L. dari Pontifical Biblical Institute; dan Doctorate in Sacred Scripture—S.S.D. dari Pontifical Biblical Institute)






Profil Charles W. Colson dan Harold Fickett:
Charles “Chuck” Wendell Colson, J.D. yang lahir pada tanggal 16 Oktober 1931 adalah seorang pemimpin dalam gerakan hak asasi Kristen, komentator budaya, dan penulis paling sedikit 20 buku, termasuk beberapa di antaranya diakui oleh ECPA Christian Book Awards. Beliau pernah menjadi penasihat khusus dari Presiden U.S.A. Richard Nixon dari 1969 sampai 1973. Beliau juga mendirikan pelayanan penjara yang dinamakan: Prison Fellowship dan mendirikan dan mengetuai: Wilberforce Forum. Beliau menyelesaikan studi Bachelor of Arts (B.A.) di Brown University dan Juris Doctor (J.D.) di George Washington University in 1959.Beliau dianugerahi 15 gelar doktor dan pada tahun 1993 dianugerahi Templeton Prize.

Harold Fickett adalah pengarang sejumlah artikel dan buku, termasuk sebuah novel terkenal tentang pengalaman Injili, The Holy Fool. Sebagai pendiri rekanan Image: Art, Faith, Mystery, sebuah jurnal yang mengupas titik temu antara seni dan agama, dan sebagai penyunting rekanan dari majalah web GodSpy (www.godspy.com), Fickett telah membantu proyek-proyek Colson selama dua puluh lima tahun.