01 February 2009

Matius 12:43-45: PRINSIP "RUMAH KOSONG" (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Ringkasan Khotbah: 25 Februari 2007

Prinsip "Rumah Kosong"
oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 12:43-45



Perenungan kita hari ini masih berkait erat dengan ayat sebelumnya dan masih ditujukan untuk golongan Farisi dan para ahli Taurat. Disini Tuhan Yesus kembali menegaskan tentang orang Farisi dan para ahli Taurat sebagai angkatan yang jahat, the evil generations. Injil Mat. 12:43-45 ini merupakan suatu bentuk pengandaian “if clause.“ Jadi, hal yang tidak eksis dan tidak mungkin terjadi. Tuhan Yesus mau mengontraskan hidup orang yang men-Tuhankan Kristus dengan mereka yang tidak men-Tuhankan Kristus dan menganggap dirinya sebagai “tuan“ atas rumah kosong. Konsep humanisme ini bukan baru pertama muncul tetapi sejak jaman Adam dan Hawa, manusia ingin menegakkan keinginan dirinya dengan menjadi seperti Allah.
Konsep humanisme ini memuncak di akhir abad ini, banyak orang yang berteriak dan menuntut kebebasan. Yang dimaksud “bebas“ disini adalah tidak diatur oleh apapun atau siapapun. Manusia lupa kalau sesungguhnya manusia tidak pernah bebas. Kebebasan yang diinginkan itu hanyalah ilusi yang menjadi kerinduan manusia untuk dapat menjadi pemegang otoritas tertinggi, inlogical conclusion. Adalah natur manusia berdosa yang selalu ingin mengatur segala sesuatu tetapi tidak mau diatur. Manusia bukan dicipta sebagai pemegang otoritas tertinggi, makhluk independent. Manusia dicipta sebagai dependent being itu berarti orang berada di bawah otoritas. Sadarkah kita kalau hari inipun kita hidup tidak lepas dari otoritas, baik di rumah tangga, di sekolah maupun hidup bernegara. Namun perhatikan, semua otoritas yang ada di dunia ini hanya bersifat sementara dan relatif. Ada otoritas yang lebih tinggi dan mutlak, yaitu otoritas Allah Sang Pencipta.
Hati-hati dengan akal licik si iblis yang sengaja menanamkan hal-hal jahat dalam pikiran manusia. Iblis menanamkan pada Hawa bahwa ia akan menjadi “seperti“ Tuhan tahu tentang hal yang baik dan jahat. Tentu saja, hal ini sangat menggiurkan, manusia tidak sadar kalau yang ditawarkan iblis hanyalah sepotong kecil, yakni hanya tahu hal yang baik dan jahat. Cara iblis sangat licik, ia menawarkan suatu kenikmatan “seolah-olah“ hal luar biasa padahal yang ia berikan sangat terbatas. Sadarkah kita kalau cara iblis ini sampai hari inipun masih digunakan, banyak iklan yang menawarkan diskon besar-besaran tetapi dibelakangnya ada catatan tertentu yang sengaja ditulis sangat kecil. Hawa tidak sadar justru pada saat ia ingin seperti Tuhan sesungguhnya hal itu tidak membuat ia setingkat dengan Tuhan sebab pada saat yang sama ia telah tunduk pada iblis dan menjadi budak iblis.
Semangat humanisme ini memuncak di abad 20 maka layaklah kalau abad 20 dikatakan sebagai abad yang bodoh oleh Pdt. Dr. Stephen Tong. Abad 20 banyak mengadopsi dan tunduk dibawah konsep pemikiran filsafat seperti humanisme yang telah dicetuskan di abad sebelumnya. Di abad 20 juga jutaan manusia mati dalam pertempuran yang terjadi di abad 20 bahkan kalau dijumlah maka jumlah manusia yang mati sejak abad 1 hingga abad 19 dibandingkan dengan jumlah manusia yang mati di abad 20 maka abad 20 lebih banyak manusia yang mati. Manusia yang katanya hebat, maju dan berotoritas tetapi ia telah menjadi mesin pembunuh manusia yang paling menakutkan. Ironis, kehancuran infra struktur kehidupan tidak menjadikan orang bertobat. Manusia menganggap kehancuran yang terjadi sebagai hal yang biasa. Orang mulai jatuh dalam pemikiran pragmatisme; orang ingin mendapatkan segala sesuatu dengan cepat dan mudah.
Di tahun 1960-an muncul gerakan feminisme dimana para wanita ingin menegakkan otoritas dirinya. Para wanita mulai menduduki posisi pria dan berubah menjadi wanita maskulin. Ini merupakan pelanggaran esensi. Alkitab menegaskan bukan wilayah wanita untuk mengambil posisi-posisi penting dalam mengambil suatu keputusan sebab wanita merupakan sasaran empuk bagi iblis menjatuhkan manusia. Iblis tidak menggoda pria karena pada pria, Tuhan memberikan perlengkapan cukup, salah satunya yaitu berpikir secara rasional. Adam ada pada saat iblis menggoda Hawa tetapi saat itu, iblis tidak menggoda Adam tetapi ia masuk lewat Hawa. Kesalahan Adam adalah membiarkan Hawa dipermainkan oleh iblis. Itu menjadi kesalahan laten yang membuat ia harus dihukum juga. Berbeda halnya dengan wanita, segala keputusan tidak dipikirkan secara rasional tetapi segala keputusan diambil berdasar perasaan dan insting. Jadi, dapatlah disimpulkan bahwa orang yang menegakkan otoritas diri dan tidak mau tunduk pada Allah malah akan menjadikan dunia bertambah buruk dan hancur. Karena itu, kita harus kembali pada otoritas yang absolut, yaitu Kristus Tuhan.
Tuhan Yesus membukakan pada kita bahwa kita bukanlah “tuan“ atas sebuah rumah kosong. Tuhan menegaskan “apabila...“ berarti hal itu tidak pernah terjadi karena itu bukan sesuatu yang riil. Dan kalaupun terjadi, setan akan bekerja lebih ganas, hal ini digambarkan dengan angka tujuh yang melambangkan kesempurnaan; iblis tidak pernah membiarkan rumah itu kosong.
I. Tidak Ada Posisi Netral
Orang Farisi dan para ahli Taurat meminta tanda pada Kristus Yesus. Pertanyaannya siapakah manusia sehingga mereka berani meminta tanda pada Tuhan? Kitalah yang seharusnya tunduk dan taat pada Kristus Tuhan; kita bukanlah “tuan“ atas hidup kita sendiri. Namun pada angkatan yang jahat dan tidak setia ini toh Tuhan tetap memberikan tanda, yaitu tanda nabi Yunus. Tanda ini seharusnya menyadarkan mereka untuk bertobat seperti yang dilakukan bangsa Niniwe. Tuhan Yesus juga membandingkan mereka dengan ratu dari Selatan yang datang dari ujung bumi untuk mendengar hikmat Salomo maka Sang Hikmat Sejati itu ada di depan mereka, mereka justru menolaknya. Ironis, bukan? Manusia merasa diri bijak dengan menegakkan otonomi diri. Salah! Manusia bukanlah makhluk independent, manusia bukanlah makhluk yang bisa mengatur segala sesuatu dalam otoritas dirinya. Jadi, secara esensial tidak ada yang namanya rumah kosong, kita menjadi tuan rumah atas hidup kita sendiri. Manusia harus tunduk di bawah otoritas tertentu. Yang menjadi pertanyaan adalah pada otoritas siapakah kita harus tunduk? Alkitab menegaskan hanya ada dua otoritas, yaitu otoritas Allah dan otoritas setan. Kalau kita tidak membiarkan Allah yang mengisi dan menjadi tuan yang berkuasa atas rumah kosong kita maka iblis yang akan masuk dan berkuasa atasnya.
Siapakah yang menjadi tuan atas hidup kita? Cobalah kita mengevaluasi diri, apa yang mendasari keputusan kita? Apakah keputusan yang kita buat itu adalah kehendak Tuhan ataukah kehendak iblis? Ingat, tidak pernah ada posisi yang independen dan tidak ada posisi netral. Seorang penafsir, Leon Moris menyatakan bahwa kalau muncul suatu kesadaran bahwa hidup itu tidak netral maka kesadaran itu sendiri merupakan hikmat tertinggi. Seorang yang rajin ke gereja setiap minggu bukanlah jaminan ia seorang Kristen sejati sebab kemungkinan saja ia masih mempunyai pemikiran duniawi, segala keputusan yang diambil tidak lebih hanyalah untuk mendapat keuntungan diri. Tuhan Yesus menegaskan apabila roh jahat keluar dari manusia maka ia akan kembali lagi dengan lebih dahsyat. Hati-hati dengan akal licik si iblis yang menanamkan konsep “manusia adalah allah.“ Sadarlah, secara esensi tidak pernah ada rumah kosong. Kalau kita mengaku sebagai Kristen sejati berarti Tuhan yang menjadi penguasa dan memimpin hidup kita. Di tengah dunia, terlalu banyak pemalsuan, banyak orang yang menawarkan hal-hal yang kelihatan manis dan indah di depan, maka tidaklah heran kalau orang menjadi kecewa karena orang baru menyadari bahwa apa yang ia kerjakan selama ini ternyata sia-sia dan berakhir dengan kebinasaan. Firman Tuhan telah membukakan pada kita tentang segala akal licik iblis, jadi tidak ada alasan bagi anak Tuhan untuk tidak memahami akan hal ini. Kita bukanlah sebuah rumah kosong dimana kita menjadi tuannya yang berhak mengatur dan menata rumah kita. Tidak! Ingat, manusia bukanlah makhluk independen, manusia harus tunduk pada suatu otoritas. Pertanyaannya otoritas siapakah kita harus tunduk?
II. Tipuan Iblis dan Otonomi Manusia
Alkitab membukakan pada kita bahwa tidak ada konsep empty house lalu yang menjadi pertanyaan kenapa konsep empty house ini meluas di tengah dunia? Bahkan orang Kristen pun masih mempunyai pemikiran bahwa dirinya adalah sebuah rumah kosong dimana ia yang berhak mengatur rumah itu. Orang Kristen terbuai untuk menjadi tuan dalam kehidupannya. Dalam hal ini iblis telah berhasil menggoda manusia untuk masuk dalam jebakannya. Sejak Kejadian pasal 3, iblis menggoda manusia dengan kalimat yang sangat manis “seolah-olah“ Hawa mempunyai otorisasi tertinggi dan sejajar dengan Tuhan. Hati-hati, tawaran iblis sangatlah menggiurkan, tawaran yang ia berikan bukanlah tawaran yang menjatuhkan sebaliknya ia menawarkan sesuatu yang sangat nikmat dan semua itu kelihatan “sah dan legal“ secara hukum dunia. Kalau kita tidak peka, kita akan jatuh dalam jebakannya. Cara yang sama digunakan sampai hari ini – sepertinya keuntungan atau kenikmatan yang kita dapatkan tapi ternyata semua itu hanyalah kebohongan belaka. Sebagai contoh, hari ini banyak tawaran potongan harga besar-besaran tetapi tentu saja ada catatan yang ditulis kecil di bawahnya, yaitu dengan syarat dan ketentuan yang berlaku dan biasanya, catatan ini luput dari perhatian kita. Memang, tidak ada yang salah dengan semua itu; cara yang dipakai sah. Letak permasalahannya adalah pada motivasi; di depan kelihatan sangat baik tetapi sesungguhnya, di belakangnya ada kejahatan yang mengerikan. Hendaklah kita waspada dengan segala akal licik si iblis.
Kitab Amsal 26:25 juga mengingatkan pada kita untuk berhati-hati pada orang-orang jahat yang tersenyum ramah pada kita karena di balik itu ada tujuh kejahatan yang tersimpan dalam hatinya. Angka tujuh merupakan simbol kesempurnaan. Hati-hati dan pekalah terhadap segala macam akal licik si iblis yang kelihatan manis di depan. Sebagai anak Tuhan sejati hendaklah kita mempunyai integritas dan hidup jujur. Anak Tuhan harus apa yang menjadi kebenaran saja. Sangatlah disayangkan, hari ini banyak orang Kristen yang ikut dengan cara setan tapi ia tetap merasa dirinya “Kristen“ maka tidaklah heran kalau di dunia banyak orang Kristen yang berkonsep satanic dan banyak gereja yang tidak memuliakan nama Tuhan lagi. Cara yang dipakai iblis sangat licik dan halus sehingga orang tidak menyadarinya kalau ia telah masuk dalam jebakan termasuk orang “Kristen.“
Banyak orang tidak suka men-Tuhankan Kristus sebab orang ingin menjadi “tuan“ atas hidupnya. Inilah konsep empty house yang diajarkan iblis. Ingat, kita bukan pemilik atas hidup kita; rumah kita bukanlah rumah kosong. Biarlah kita serahkan rumah hidup kita di bawah otoritas Tuhan dengan demikian hidup menjadi indah. Hidup berjalan dalam pimpinan Kristus Tuhan adalah hidup yang paling indah. Tidak ada hal yang lebih indah selain Kristus menjadi Tuan atas rumah kita.
III. Kristus Tuan Sejati
Kristus harus menjadi Tuhan. Pertanyaannya sekarang adalah kenapa harus Kristus? Kenapa kita tidak boleh memakai konsep “empty house“ seperti yang diajarkan iblis. Perhatikan, konsep “empty house“ yang diajarkan iblis ini tidak bedanya dengan rumah pelacuran dimana semua konsep boleh singgah di dalamnya termasuk materialisme, atheisme, humanisme sebab diri inilah yang menjadi tuan rumah. Alkitab menegaskan kalau Kristus mengetok pintu, Ia akan masuk dan mendapati kita di dalamnya artinya pada saat Kristus masuk dalam rumah hidup kita, Ia yang akan mengontrol hidup kita; Kristus menjadi Tuhan atas hidup kita. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah maukah hidup kita dikontrol oleh-Nya? Anak Tuhan sejati melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan. Tuhan Yesus menegaskan bukan orang yang berseru,“Tuhan, Tuhan“ yang akan masuk dalam Kerajaan Sorga tetapi Dia yang melakukan kehendak Bapakulah yang akan masuk dalam Kerajaan Sorga. Orang menyebut Kristus dengan Tuhan tetapi hidupnya tidak men-Tuhankan Kristus. Barangsiapa mengasihi Aku, ia memegang perintah-Ku dan melakukannya dan ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku, Bapa-Ku akan tinggal bersama dia dan Aku juga akan tinggal bersama dia. Ingat, cinta Tuhan bukan sekedar di mulut saja. Tidak! Jangan kenakan konsep cinta duniawi pada Tuhan. Cinta Tuhan berarti taat melakukan kehendak Bapa (Yoh. 14:16). Paulus juga menegaskan bahwa cinta Tuhan berarti hidupku bukan aku yang hidup tetapi Kristus yang hidup di dalamnya (Gal. 2:20). Siapa yang men-Tuhankan Kristus maka Dialah milik Kristus. Jadi, tidak ada konsep rumah kosong tetapi rumah itu harus diserahkan pada Kristus. Carilah dulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, hal ini juga ditekankan oleh Kristus.
Banyak orang Kristen yang ingin menjadi “tuan“ atas rumahnya dan mereka hanya menyediakan satu ruangan kecil untuk Tuhan dan kalau kita membutuhkannya barulah Dia kita panggil – Tuhan tidak lebih hanyalah budak kita. Ingat, Kristus bukan budak; Dia adalah Tuhan, Tuan atas segala tuan, Dia adalah Raja Sang pemilik alam semesta. Sangatlah disayangkan, hari ini banyak orang Kristen yang mencoba mengaburkan identitas dirinya sebagai orang Kristen, orang mau lari dari perintah Tuhan. Memang tidaklah mudah untuk taat pada perintah Tuhan, banyak tantangan yang harus kita hadapi, apalagi iblis tidak akan tinggal diam, ia akan mencari segala cara supaya orang menyeleweng dari perintah Tuhan. Iblis akan berusaha menawarkan segala kenikmatan semu yang menjadikan kita jauh dari Tuhan dan supaya kita tidak taat pada perintah-Nya. Namun percayalah, Tuhan pasti akan memelihara hidup anak-Nya yang setia dan taat pada-Nya. Orang Kristen bukanlah orang yang sempurna dan Tuhan juga tidak menuntut kita harus sempurna seutuhnya. Tidak! Bahkan para tokoh Alkitab pun bukan orang yang sempurna namun satu hal yang membedakan orang Kristen adalah mereka mempunyai suatu komitmen dan usaha implikasi, hidup yang berjuang men-Tuhankan Kristus tiap-tiap harinya.
Hati-hati dengan segala bentuk jebakan iblis sebab sekali kita masuk dalam jebakannya sulit bagi kita untuk keluar kecuali anugerah Tuhan yang melepaskan kita barulah kita dapat lepas dari belenggu ikatannya. Dan ingat, kita bukanlah sebuah rumah kosong yang menjadi tuan atas hidup kita. Tidak! Tuhanlah yang menjadi pemilik atas hidup kita. Pertanyaannya sekarang adalah maukah kita dipimpin oleh Kristus Tuhan dan membiarkan Dia menjadi Tuan atas hidup kita? Tuhan Yesus tidak janji akan berikan segala kenikmatan dunia yang semu seperti yang ditawarkan iblis. Tidak! Satu hal yang Tuhan Yesus janjikan dan janji-Nya pasti terlaksana, yaitu Tuhan berikan sukacita kekal dan kenikmatan sorgawi – keselamatan jiwa kita. Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber:

25 January 2009

Resensi Buku-64: AJARLAH KAMI BERGUMUL: Refleksi Atas Kitab Mazmur (Pdt. Billy Kristanto, Dipl.Mus., M.C.S., Ph.D.--Cand.)

...Dapatkan segera...
Buku
AJARLAH KAMI BERGUMUL
(Refleksi Atas Kitab Mazmur)


oleh: Pdt. Billy Kristanto, Dipl.Mus., M.C.S., Ph.D. (Cand.)

Penerbit: Momentum Christian Literature (Fine Book Selection), 2008





Deskripsi singkat dari Denny Teguh Sutandio:
Hidup sebagai orang percaya adalah hidup yang terus-menerus dikuduskan oleh Roh Kudus agar taat kepada Kristus. Salah satu tanda hidup orang percaya yang dikuduskan adalah hidup yang bergumul. Hidup Kristen yang tak pernah bergumul adalah hidup Kristen yang sia-sia. Mengapa? Karena bergumul adalah tanda kita memiliki hubungan pribadi dengan Allah, bukan hanya mengenal Allah secara kognitif/theologi. Makin kita bergumul di hadapan Allah, kerohanian kita makin ditumbuhkan, karena kita semakin mengenal Allah kita secara eksistensial. Pergumulan itu ditandai dengan penyesalan dan kekaguman, keyakinan dan keraguan, jawaban dan pertanyaan, sorak-sorai dan ratapan, bahkan berdiam diri. Semua itu bukan bertujuan ingin mempertanyakan kedaulatan Allah lalu meninggalkan-Nya, tetapi semuanya bertujuan agar orang percaya makin mengenal Allah secara pribadi di dalam setiap jalan-jalan-Nya yang sering kali tidak kita pahami. Dengan bahasa yang sederhana dan mendalam, hamba-Nya, Pdt. Billy Kristanto menuntun kita untuk terus bergumul melalui refleksi singkat atas Kitab Mazmur yang penuh dengan pergumulan para penulisnya (termasuk Raja Daud) di hadapan Tuhan. Beberapa konsep dari buku ini telah mencerahkan dan mengoreksi hati dan pikiran saya yang sering kali lemah. Bukan hanya buku, secara pribadi, Pdt. Billy Kristanto adalah sosok hamba Tuhan yang cerdas, bijaksana, namun memiliki kerendahan hati dan tingkat spiritualitas yang matang. Mendengarkan banyak khotbah dan pengajaran dari beliau membuka wawasan iman saya dan mengoreksi spiritualitas saya. Biarlah Tuhan boleh memakai buku ini dan penulisnya menjadi berkat bagi pertumbuhan kerohanian kita agar makin memuliakan Tuhan. Soli Deo Gloria.





Profil Pdt. Billy Kristanto:
Pdt. Billy Kristanto, Dip.Mus., M.C.S., Ph.D. (Cand.) lahir pada tahun 1970 di Surabaya. Sejak di sekolah minggu mengambil bagian dalam pelayanan musik gerejawi. Setelah lulus SMA melanjutkan studi musik di Hochschule der Künste di Berlin majoring in harpsichord (Cembalo) di bawah Prof. Mitzi Meyerson (1990-96).
Setelah menamatkan studi musik di Hochschule der Künste di Berlin pada tahun 1996 Pdt. Billy Kristanto melanjutkan post-graduate study di Koninklijk Conservatorium (Royal Conservatory). Beliau melayani sebagai Penginjil Musik di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Jakarta sejak Februari 1999 dan pada tahun yang sama memulai studi theologi di Institut Reformed dan lulus pada tahun 2002 dengan mendapatkan gelar Master of Christian Studies (M.C.S.) beliau menjabat sebagai Dekan School of Church Music di Institut Reformed Jakarta. Ditahbiskan menjadi pendeta sinode GRII di tahun 2005 beliau saat ini menggembalakan jemaat MRII Berlin, MRII Hamburg, PRII Munich, dan Persekutuan Reformed Stockholm. Saat ini beliau sedang menyelesaikan studi doktoral di bidang musikologi di Universitas Heidelberg, Jerman. Beliau menikah dengan Suzianty Herawati dan dikaruniai dua orang anak, Pristine Gottlob Kristanto dan Fidelle Gottlieb Kristanto.

Matius 12:38-42: TRUE RELIGIOUSITY (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Ringkasan Khotbah: 18 Februari 2007

True Religiousity
oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 12:38-42


Hari ini kita masuk dalam suatu bagian pelik, yaitu pergunjingan antara Ketuhanan Kristus dan kereligiusitasan manusia. Khususnya setiap orang Kristen yang telah bertahun-tahun menjadi Kristen hendaklah berhati-hati jangan sampai terjebak dalam suatu bentuk keagamaan dan kita menjadi kehilangan makna. Betapa sia-sia seluruh ibadah dan pelayanan yang kita kerjakan selama bertahun-tahun kalau kita tidak kembali pada iman sejati sebab semua perjuangan kita akan berakhir dengan kebinasaan.
Peristiwa dimulai ketika orang-orang Farisi menuntut legitimasi Kristus. Para ahli Taurat dan golongan Farisi – orang yang katanya “beragama“ ini sekarang berjumpa dengan Kristus Yesus yang menjadi esensi iman. Seberapa jauhkah orang-orang yang mengaku “mengerti agama“ ini dapat beriman pada Kristus? Perdebatan antara orang Farisi dengan Kristus ini tidak berakhir memuaskan, yaitu pertobatan orang-orang Farisi dan para ahli Taurat. Tidak! Adalah wajar kalau orang meminta legitimasi. Legitimasi ini juga yang diminta oleh Musa pada Allah. Tentang diri-Nya, Allah menyatakan: “I am that I am.“ Pertanyaannya bagaimana membangun legitimasi? Religiusitas tanpa legitimasi adalah religiusitas palsu. Religiusitas yang dibangun di atas iman yang fanatik itu membinasakan. Kalau kita tidak pernah memahami obyek yang kita percaya berarti kita telah masuk dalam suatu penipuan diri dan akibatnya adalah kehancuran. Karena itu, sebelum kita mempercayakan hidup kita maka kita harus mengujinya terlebih dahulu. Siapakah dia? Layakkah dia untuk dipercaya? Apakah setiap perkataannya merupakan kebenaran? Sesuaikah hidupnya dengan perkataannya? Ini menjadi pertanyaan legitimasi sebelum akhirnya kita memutuskan untuk mempercayakan hidup kita padanya. Iman sejati haruslah mempunyai obyek sejati.
Meminta legitimasi iman bukanlah hal yang salah, itulah sebabnya ketika orang Farisi meminta legitimasi pada Kristus, Tuhan Yesus tidak menolaknya. Yang menjadi pertanyaan adalah untuk apa mereka membutuhkan legitimasi? Kenapa legitimasi diberikan pada orang Farisi? Orang-orang Farisi adalah orang-orang terpandang tetapi mereka mempunyai sifat jahat. Perkataan keras dan tajam dikatakan Kristus pada mereka, yakni ular beludak dan mereka juga dikatakan sebagai angkatan yang jahat dan tidak setia (Mat. 12:39). Kata “tidak setia“ ini dalam bahasa aslinya mempunyai arti penzinah. Namun pada angkatan yang jahat ini, Tuhan Yesus tetap memberikan tanda yang mereka minta, yaitu tanda nabi Yunus. Tanda nabi Yunus ini bukanlah tanda yang sederhana.
1. Lordship of Christ or Humanistic Religiousity
Kalau kita tidak dapat memilah antara religiusitas humanistik dan the Lordship of Christ maka kita akan jatuh dalam kegagalan hidup beriman seperti yang terjadi pada orang Farisi. Tanda yang diminta oleh orang Farisi dari Kristus sesungguhnya adalah tanda yang sesuai dengan keinginannya. Orang Farisi mengasumsikan Kristus sama seperti guru yang lain yang perlu meminta legitimasi. Pertanyaannya adalah apakah Kristus menyetujui posisi itu? Tidak! Ketika orang Farisi mempunyai konsep berpikir maka konsep berpikir mereka langsung dikoreksi oleh Kristus dengan cara berpikir Kristus. Inilah iman sejati. Iman di dalam Kristus adalah iman yang kembali pada legitimasi Kristus bukan legitimasi manusia. Ini titik pertama dalam perdebatan antara legitimasi antara religiusitas humanistik dengan legitimasi Kristus sebagai Tuhan. Kristus memberikan legitimasi dan legitimasi yang diberikan oleh Kristus ini sangat dahsyat dan kuat tetapi legitimasi yang diminta oleh orang Farisi dan ahli Taurat tidak sama dengan yang diberikan oleh Kristus.
Kalau kita mau mencoba berandai-andai, seandainya tanda yang diberikan oleh Kristus sama persis seperti yang diminta oleh orang Farisi dan ahli Taurat maka pertanyaannya apakah hal ini akan menjadikan mereka bertobat? Seharusnya mereka bertobat tetapi Alkitab mencatat tidak. Pertanyaannya apakah Allah harus menyesuaikan tanda-Nya dengan tanda yang diinginkan oleh manusia? Tidak! Tanda yang Kristus berikan berbeda dengan yang diharapkan oleh golongan Farisi dan para ahli Taurat. Disinilah letak perbedaan religiusitas duniawi dengan Ketuhanan Kristus. Ironisnya, hari ini banyak orang yang mempunyai pemikiran sama persis dengan orang Farisi dan ahli Taurat. Orang berpendapat bahwa untuk menginjili maka kita harus menyesuaikan dengan keinginannya. Sebagai contoh, orang ingin musik rohani seperti layaknya musik dunia maka gereja menyediakannya dan kalau orang sudah bertobat barulah kita bawa ke musik yang benar. Mungkinkah hal itu terjadi? Alkitab menegaskan orang yang lahir baru berarti segala sesuatu yang lama harus dibuang dan diganti dengan hal yang baru maka kalau yang baru itu justru menuju ke yang lama, itu tidak akan menjadikan orang bertobat. Tanda membawa seseorang kembali pada legitimasi asli. Sebaliknya kalau tanda itu tidak kembali pada legitimasi asli tetapi mencocokkan dengan apa yang diinginkan oleh manusia pada umumnya maka itu bukan tanda asli tetapi pemalsuan tanda. Saya adalah saya dengan tanda-tanda yang ada pada saya tetapi ketika tanda saya bertemu dengan orang lain, saya tidak memberikan tanda saya, saya mengikuti apa yang menjadi keinginan orang lain berarti saya sedang mengorbankan identitas diri saya, dengan kata lain saya tidak menjadi diri saya sendiri. Pertanyaannya saya membuat orang lain mengenal saya ataukah saya sedang menipu orang lain tentang saya. Namun dunia tidak suka kebenaran, dunia hanya suka apa yang dia suka. Ia tidak peduli meski yang kita katakan atau berikan itu kebohongan sebab yang terpenting adalah dia suka. Inilah dunia berdosa. Apakah Kristus membuang identitas-Nya dan mencocokkan identitas-Nya seperti yang diharapkan oleh golongan Farisi dan para ahli Taurat? Tidak! Kristus menuntut setiap manusia untuk mengikut pada tanda-Nya sebab tanda Kristus itulah tanda sejati. Inilah bedanya tanda dengan mujizat. Mujizat tidak bisa menjadi tanda; setiap orang dapat membuat hal yang spektakuler. Tanda itu menunjukkan siapakah Kristus; tanda menunjukkan identitas murni.
Dunia hanya ingin keagamaan yang cocok dengan pemikiran mereka, yaitu: 1) keagamaan yang selalu menolong setiap mereka berada dalam kesulitan sebab dunia tahu bahwa hidup di dunia tidaklah mudah, banyak faktor X yang tidak dapat dikendalikan oleh manusia maka kalau ada agama yang dapat menolong mereka lepas dari kesulitan, manusia akan sangat suka. Orang tidak suka dengan tanda Yunus sebab tiga hari di perut ikan merupakan gambaran kelemahan. Demikian juga dengan tanda Anak Manusia tiga hari berada dalam rahim bumi, 2) keagamaan yang dapat memberikan rasa aman dari aspek tuntutan dosa. Sesungguhnya, manusia sadar kalau dirinya berdosa dan dosa itu harus dihukum maka manusia ingin agama yang membuatnya tidak terikat dan ia masih bisa berbuat dosa dan kalaupun ia telah berdosa maka masih ada jalan untuk menyelesaikannya. Inilah yang dunia suka.
Manusia tidak suka disadarkan akan dosa. Tanda yang mereka harapkan adalah tanda yang menyenangkan seperti tanda 5 roti 2 ikan yang dapat memberi makan 5000 orang. Namun tanda yang diberikan oleh Kristus justru tanda pertobatan. Orang Farisi dan ahli Taurat sangat memahami mengapa Yunus harus masuk dalam perut ikan, yakni karena ia melawan Tuhan. Tiga hari Yunus di perut ikan implikasinya pada Tuhan Yesus harus mati menanggung dosa manusia. Mereka tidak dapat menerima tanda Kristus sebab tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh manusia. Disinilah letak perbedaan the Lorship of Christ; kalau benar kita men-Tuhankan Kristus maka kita harus kembali pada tanda sejati dan kita akan men-Tuhankan Kristus dalam seluruh hidup kita.
Biarlah dalam seluruh aspek hidup kita, kita memohon pada Tuhan kalau kita meminta tanda, hendaklah tanda yang kita minta itu sesuai dengan apa yang Tuhan pikir bukan sebaliknya, Tuhan yang harus mencocokkan dengan kita. Mentuhankan Kristus berarti kita taat pada tanda Kristus. Sangatlah disayangkan, orang justru dibawa pada Kristus palsu seperti yang dunia berdosa inginkan. Cobalah tengok cara atau konsep beragama termasuk Kekristenan yang ada hari ini; semua keputusan dibuat berdasar keinginan dan tuntutan manusia. Maka tidaklah heran kalau hari ini menjumpai banyak orang Kristen yang berpindah ke agama lain yang sifatnya humanistik sebab “iman Kristennya“ juga berbasis pada religius humanistik. Biarlah kita mengevaluasi diri sudahkan kita mengenal “siapakah Kristus sejati“? Sudahkah kita men-Tuhankan Kristus dalam seluruh aspek hidup kita? Kita yang harus mengubah seluruh konsep berpikir kita untuk menjadi serupa dengan Kristus. Ingat, Allah bukan budak kita yang harus menuruti semua keinginan kita. Tidak! Manusia yang harus taat pada perintah Allah maka itu menjadikan seluruh hidup kita indah.
2. Lordship of Christ or Supremacy of Culture
Manusia mudah sekali dibawa ke dalam konsep yang salah, hal ini tidak aneh sebab sebelumnya telah mempunyai konsep iman yang palsu, yakni iman yang berpijak pada “allah-alah idol.“ Allah yang menjadi obyek iman itu tidak lebih merupakan pencerminan dari egoisme dan humanisme manusia seperti yang diungkapkan oleh Feurbach. Dunia berpendapat bahwa agama itu tidak lebih sebagai hasil pemikiran budaya. Jauh sebelumnya, golongan Farisi dan para ahli Taurat juga mempunyai konsep yang sama. Richard Niebuhr dalam bukunya Christ and Culture mengemukakan orang Yahudi sangat membenci Kristus sebab tanda Kristus membentur keagamaan Yahudi dan menghantam budaya Yahudi. Orang Yahudi telah menempatkan budaya di posisi paling atas dan hasil budaya antara lain, seni, arsitektur, tradisi termasuk keagamaan. Salah! Budaya telah bercampur dengan tradisi dan agama. Merupakan suatu kesalahan fatal kalau kita menyembah agama sebagai produk budaya; orang tidak akan pernah bertemu dengan Allah sejati karena “allah“ yang kita sembah itu tidak lebih hasil pemikiran kita secara budaya. Inilah keagamaan humanistik yang hari ini dijalankan oleh hampir seluruh manusia di setiap tatanan hidup dan semua kultur manusia. Alkitab menegaskan Allah harus berada di atas budaya dan Allah yang harus membentuk budaya; budaya harus tunduk di bawah agama. Kristus adalah the Lord of Culture dan orang Yahudi tidak suka hal ini, itulah sebabnya mereka bersepakat untuk membunuh Yesus Kristus. Orang Yahudi tidak ingin iman sejati itu berada di atas budaya. Teologi Reformed menyadari bahwa culture mandate harus tunduk di bawah iman; budaya harus kembali pada Kristus, the Lordship of Culture sebab Dia satu-satunya sandaran mutlak bagi manusia.
3. Lordship of Christ or Humanistic Sign
Tuhan Yesus adalah absolute standar namun dunia berdosa tidak mau kembali pada standar mutlak. Dunia menetapkan agama itulah yang harus menjadi standar akibatnya agama menjadi pluralistik dan bersifat relatifistik. Maka tidaklah heran kalau orang mencari agama yang cocok dengan keinginan kita begitu pula di Kekristenan, orang mencari gereja yang sesuai dengan keinginannya. Esensi iman telah rusak. Perhatikan, iman bukan cocok dengan kita; iman bukan apa yang kita suka; iman tidak bersifat relatifistik. Iman mengandung unsur kemutlakan dan Allah yang dipercaya sebagai dasar iman harus bersifat mutlak. Orang tidak pernah mau mengakui bahwa iman itu bersifat mutlak tetapi di sisi lain, orang harus mempunyai iman yang mutlak. Jadi kalau ada orang yang mengaku beriman Kristen tetapi tidak mengakuinya kebenaran Alkitab maka dapatlah dipastikan ia bukan Kristen. Pertanyaan lebih lanjut, ia beriman pada apa? Banyak kemungkinan, bisa saja ia beriman pada materialisme, kalau Kristen dapat membuatnya menjadi kaya barulah ia menjadi Kristen; iman harus cocok dengan apa yang menjadi keinginannya. Adapula orang yang beriman pada segala sesuatu yang menurutnya baik – iman subyektif sebab sesungguhnya yang menjadi “allah“ dalam dirinya tidak lebih adalah dirinya sendiri. Di satu sisi mungkin ia anggota dari salah satu gereja Kristen tetapi ia bukan Kristen; antara identitas sorga dan identitas dunia tidak sama.
Iman sejati harus kembali pada Kristus karena iman sejati harus mengandung kemutlakkan. Pertanyaannnya sekarang adalah kenapa harus Kristus? Tanda Yunus 3 hari dalam perut ikan menjadi gambaran Kristus. Peristiwa Yunus tentulah tidak asing bagi golongan Farisi dan para ahli Taurat apalagi pekerjaan mereka sehari-hari adalah menyalin kitab Perjanjian Lama. Mereka sangat memahami bahwa kalau Niniwe bertobat itu karena Injil Pertobatan yang diberitakan oleh Yunus – utusan Allah. Alkitab mencatat tidak hanya seluruh penduduk Niniwe yang bertobat bahkan seluruh binatang pun ikut berkabung. Kedatangan Yunus sangat simple tetapi dengan tanda yang luar biasa - Allah Jehovah bukanlah allah yang dapat dipermainkan. Allah sangat marah pada Yunus karena Yunus memberontak maka hal ini membuat orang-orang Niniwe menjadi gentar dan takut pada Allah Jehovah. Dengan kata lain Tuhan Yesus mau menanyakan pada orang-orang Farisi dan para ahli Taurat, kalau orang-orang Niniwe bertemu dengan tanda Yunus langsung bertobat lalu bagaimana dengan sikap orang-orang Farisi dan para ahlit Taurat yang setiap hari bergelut dengan kitab Perjanjian Lama sekian lama, sudah bertobatkah mereka? Tidak!
Keagamaan humanisme selalu menuntut Tuhan yang mesti cocok dengan diri kita. Inilah sikap manusia berdosa dan gejala ini telah masuk dalam semua manusia bahkan hampir seluruh agama. Termasuk orang Kristen hanya mau ikut pada “Tuhan“ yang sesuai dengan keinginannya. Tuhan Yesus telah memberikan tanda seperti yang diminta oleh orang Farisi dan para ahli Taurat. Kota Niniwe didiami oleh orang-orang jahat itulah sebabnya, Yunus melarikan diri ketika ia diutus Allah untuk pergi memberitakan Injil Pertobatan, ia tidak rela kalau kota yang kejam dan jahat ini mendapat pengampunan dari Tuhan. Apalagi Kristus, Ia rela datang dan mengampuni setiap manusia berdosa yang tidak layak mendapat pengampunan dari Tuhan. Kalau Yunus saja tidak rela terlebih lagi Anak Allah seharusnya lebih tidak rela menyelamatkan manusia berdosa namun kalau Tuhan masih berkenan menyelamatkan kita maka itu merupakan suatu anugerah besar. Inilah tanda sejati yang Kristus berikan dan tunjukkan namun sangatlah disayangkan, dunia tidak dapat mengerti dan melihat tanda sejati. Mereka sangat bebal. Kalau Allah sudah sangat mencintai Niniwe, kota yang seharusnya dihukum apalagi pada kita, manusia berdosa, Tuhan sangat mencintai kita; Dia mengirim anak-Nya yang tunggal untuk menyelamatkan manusia berdosa. Kristus ingin membawa kita kembali pada kebenaran sejati.
Tanda yang Kristus berikan mempunyai makna dan nilai yang jauh lebih besar daripada sekedar tanda yang diharapkan oleh orang Farisi dan ahli Taurat. Kristus juga memberikan tanda lain dengan menggunakan gambaran hikmat yang dimiliki oleh Salomo. Dengan kata lain, Tuhan Yesus mau menegaskan bahwa hikmat yang Ia berikan jauh lebih besar dari hikmat Salomo. Problematika yang sama masih terjadi di abad 21, manusia sulit menerima kebenaran sejati; manusia lebih suka diberikan sesuatu benda yang cocok dengan nafsunya. Biarlah kita melihat dan mengerti tanda Kristus yang sejati dan tanda itu semakin menguatkan iman kita; kita tidak mudah diguncangkan oleh berbagai-bagai ajaran sesat yang berkembang hari ini. Dunia tidak membutuhkan orang pandai, dunia membutuhkan orang bijaksana – orang yang dapat mempertim-bangkan semua aspek dengan matang lalu mengambil keputusan tepat seperti kehendak Allah. Bijaksana sejati itu bisa kita dapatkan dalam Kristus Yesus; Dia adalah satu-satunya sumber bijaksana sejati. Hendaklah kita menjadi bijaksana, kita dapat melihat tanda sejati yang Kristus berikan. Tidak ada apapun di dunia yang dapat melawan Ketuhanan Kristus. Biarlah kita mengevaluasi diri, apa yang telah kita perbuat bagi-Nya, sudahkah engkau giat bekerja bagi-Nya? Memohonlah pada Allah supaya kita diberikan kekuatan dan kebijaksanaan supaya kita dapat men-Tuhankan Kristus dalam seluruh aspek hidup kita. Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber:

Roma 12:17-21: KASIH SEJATI-5: Kasih Persekutuan Menjadi Teladan-2

Seri Eksposisi Surat Roma:
Aplikasi Doktrin-8


Kasih Sejati-5:
Kasih Persekutuan Menjadi Teladan-2


oleh: Denny Teguh Sutandio



Nats: Roma 12:17-21.


Setelah kita merenungkan prinsip utama di dalam kasih di antara tubuh Kristus di ayat 16, Paulus memaparkan beberapa konsep tentang kasih persekutuan itu mulai ayat 17 s/d 21, sebagai berikut:
Pertama, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan (ay. 17a, 19). Sebagai reaksi dari konsep sehati sepikir di dalam persekutuan tubuh Kristus (ay. 16), maka Paulus menasihatkan jemaat Roma untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Seorang yang memiliki hati dan pikiran yang terarah kepada Kristus tentu tidak akan memiliki satu detik pun untuk membalas kejahatan dengan kejahatan. Mengapa? Karena Allah adalah Kasih, maka Ia menginginkan umat-Nya untuk mengasihi sesama umat-Nya, sehingga wujud kasih umat-Nya adalah tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Jadi, kasih Allah adalah teladan dan sumber dari kasih umat-Nya yang nantinya dinyatakan kepada orang luar. Jika kita tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, lalu apa yang kita lakukan? NIV Spirit of the Reformation Study Bible memberikan referensi ayat ini dengan Amsal 20:22, “Janganlah engkau berkata: “Aku akan membalas kejahatan,” nantikanlah TUHAN, Ia akan menyelamatkan engkau.” Ketika kita diperintahkan Tuhan untuk tidak membalas kejahatan, kita diperintahkan selanjutnya untuk mengarahkan dan menyerahkannya kepada Tuhan yang akan menyelamatkan kita. Penulis Ibrani menyatakan hal yang sama juga, “Sebab kita mengenal Dia yang berkata: “Pembalasan adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan.” Dan lagi: “Tuhan akan menghakimi umat-Nya.”” (Ibr. 10:30; bdk. Rm. 12:19) Lalu, mengapa kita disuruh menyerahkan hak pembalasan kepada Tuhan? Karena “Hak-Kulah dendam dan pembalasan, pada waktu kaki mereka goyang, sebab hari bencana bagi mereka telah dekat, akan segera datang apa yang telah disediakan bagi mereka. Sebab TUHAN akan memberi keadilan kepada umat-Nya, dan akan merasa sayang kepada hamba-hamba-Nya; apabila dilihat-Nya, bahwa kekuatan mereka sudah lenyap, dan baik hamba maupun orang merdeka sudah tiada.” (Ul. 32:35-36) Di sini, Allah sendiri menyatakan kepada kita bahwa hanya Dia saja yang menyatakan hak pembalasan kepada orang-orang yang berani mengganggu umat-Nya. Ketika di dalam persekutuan tubuh Kristus, ada orang Kristen yang berani menganggu kita, kita tidak perlu membalas mereka dan kita menyerahkannya kepada Tuhan. Lihatlah, Ia akan bertindak menghajar dan menghukum mereka yang berani mengganggu umat-Nya. Hal ini juga membukakan kepada kita bahwa di dalam gereja Tuhan pun, ada antek-antek iblis yang menyamar sebagai malaikat terang. Bagaimana dengan kita? Ketika seorang Kristen menyakiti kita dengan menipu atau memfitnah kita, apakah kita membalas orang itu atau tidak membalasnya dan menyerahkannya kepada Tuhan? Ingatlah satu hal, Allah kita bukan Allah yang buta yang tidak peduli dengan kesengsaraan umat-Nya, tetapi Ia adalah Allah yang hidup yang peduli dengan kesengsaraan umat-Nya. Meskipun Ia mengizinkan umat-Nya melalui banyak penderitaan, Ia tidak membiarkan umat-Nya mengalaminya sendiri tanpa bantuan-Nya, melainkan Ia memberi kekuatan bahkan termasuk membalas semua kekejian yang dilakukan oleh orang-orang di luar Kristus kepada umat-Nya. Itulah providensi Allah bagi umat-Nya. Percayakah kita pada providensi Allah yang memelihara umat-Nya?


Kedua, berhati-hatilah melakukan apa yang baik di depan semua orang (ay. 17b). Sepintas jika kita membaca terjemahan LAI dalam ayat 17b, kita membaca seolah-olah kita tidak boleh membalas kejahatan dengan kejahatan, lalu kita dituntut untuk melakukan apa yang baik di depan semua orang. Tetapi jika kita benar-benar memerhatikan dari terjemahan Inggris dan Yunani, kita mendapatkan gambaran berbeda di mana ayat 17a dan 17b tidak berkaitan (dalam arti bersambungan). Teks Yunani untuk ayat ini diterjemahkan, “perhatikanlah (hal-hal) yang baik menurut pandangan semua orang-orang;” (Hasan Sutanto, 2003, hlm. 865) New International Version (NIV) menerjemahkan, “Be careful to do what is right in the eyes of everybody.” (=berhati-hatilah melakukan apa yang baik di depan semua orang). Artinya kita dituntut untuk berhati-hati melakukan apa yang baik di depan semua/setiap orang. Mengapa kita dituntut demikian? Karena apa yang kita lakukan di depan semua orang harus bersumber dari iman dan kasih kita kepada Allah. Seorang yang mengasihi Allah adalah orang yang mengasihi manusia/saudaranya (bdk. 1Yoh. 4:21). NIV Spirit of the Reformation Study Bible dan Dr. John Gill di dalam tafsirannya John Gill’s Exposition of the Entire Bible mereferensikan 2Kor. 8:21 sebagai ayat yang mengajar bahwa kita harus menjalankan kasih baik di hadapan Allah dan manusia. Mari kita menyelidiki ayat ini. Di dalam 2Kor. 8:21, Paulus mengajar, “Karena kami memikirkan yang baik, bukan hanya di hadapan Tuhan, tetapi juga di hadapan manusia.” Konteks ayat ini adalah tentang pelayanan kasih dan tentang Titus yang diutus. Berarti, di dalam persekutuan tubuh Kristus, kasih diwujudnyatakan dengan melakukan apa yang baik di hadapan Allah dan manusia. Bagaimana dengan kondisi Kekristenan saat ini? Banyak orang Kristen hanya menunjukkan sikap mengasihi Allah, tetapi tidak menunjukkan kasih kepada sesama manusia terutama saudara seiman. Mereka gemar membaca buku-buku theologi dan ikut pembinaan iman, tetapi sayangnya mereka kurang bisa bersosialisasi dengan sesama jemaat dan memerhatikan mereka. Mereka hanya bisa mengisi otak mereka dengan pengetahuan theologi, sedangkan hati mereka kering dan semangat mereka loyo. Mengapa mereka bisa demikian? Karena mereka tidak mengasihi manusia sebagaimana mereka mengasihi Allah. Seorang yang mengasihi Allah adalah orang yang memerhatikan isi hati Allah dan menjalankannya, begitu pula dengan orang yang mengasihi manusia adalah orang yang memerhatikan sesama saudara seiman dan berusaha membantu mereka. Adakah semangat ini di dalam tubuh Kristus?


Ketiga, hidup berdamai (ay. 18). Seorang yang memiliki kasih Kristus di dalam persekutuan tubuh Kristus adalah mereka yang hidup berdamai dengan semua orang. King James Version (KJV) menerjemahkannya, “If it be possible, as much as lieth in you, live peaceably with all men.” (=Jika mungkin, sejauh itu bergantung padamu, hiduplah berdamai dengan semua orang.) Kata “berdamai” dalam ayat ini dalam bahasa Yunani menggunakan struktur kalimat aktif. Berarti, kita harus aktif berdamai dengan semua orang. Selain itu, kata ini juga menggunakan keterangan waktu present. Berarti, kata kerja ini (=hidup berdamai) dilakukan terus-menerus. Apa itu hidup berdamai? Dr. John Gill kembali di dalam tafsirannya memperluas makna ini menjadi: jadilah, carilah, kejarlah, dan peliharalah damai itu.
Bagaimana kita bisa menjadi damai? NIV Spirit of the Reformation Study Bible merujuk ke Markus 9:50, “Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain.”” Di sini, Tuhan Yesus mengaitkan bagaimana umat-Nya bisa menjadi damai ketika umat-Nya menggarami (memengaruhi) dunia. Tuhan tidak mau kita yang digarami/dipengaruhi, tetapi kita yang memengaruhi dunia. Kita bisa memengaruhi dunia ini tatkala kita kembali kepada Firman Tuhan. Berarti Firman Tuhan memengaruhi kita menjadi garam dan ketika kita menggarami dunia, di saat itu kita sedang menjadi agen damai Allah bagi dunia. Lalu, pertanyaan selanjutnya, apa yang perlu diperdamaikan? Pdt. Dr. Stephen Tong mengemukakan 5 relasi damai ini, yaitu damai antara Allah dan manusia, damai antara manusia dengan diri, damai antara manusia dengan sesama, mendamaikan manusia lain dengan Allah, dan mendamaikan sesama manusia. Pertama, menjadi agen damai harus dimulai dengan diperdamaikannya kita sebagai manusia berdosa dengan Allah yang Mahakudus di dalam penebusan Tuhan Yesus Kristus yang menyelamatkan. Setelah kita diperdamaikan, kita dituntut untuk memperdamaikan kita dengan diri kita sendiri. Orang yang terus tidak bisa mendamaikan diri dengan diri sendiri adalah orang yang lama-kelamaan stres, karena sering terjadinya konflik pribadi. Kemudian, kita juga dituntut untuk mendamaikan diri kita dengan sesama. Artinya, kita tidak perlu mencari konflik yang tidak perlu dan tidak penting. Setelah itu, kita dituntut untuk mendamaikan manusia lain dengan Allah. Inilah tugas penginjilan. Kita bukan hanya berdamai dengan semua orang saja, tetapi kita juga dituntut untuk mendamaikan orang lain dengan Allah melalui penginjilan. Mengapa ini perlu? Ini diperlukan supaya kita tidak berkompromi ketika kita mendamaikan diri dengan orang lain. Bukan menjadi rahasia umum, atas nama “damai”, manusia postmodern merelatifkan dan mengompromikan kebenaran, sehingga mereka terus mencari persamaan semua agama dan bukan mencari mana yang benar. Oleh karena itu, di dalam zaman postmodern, kita perlu memberitakan Injil untuk memperdamaikan orang lain dengan Allah. Kemudian, terakhir, kita juga menjadi agen yang mendamaikan manusia lain dengan sahabatnya yang bertengkar/berkelahi. Di sini, kita lebih dalam lagi, kita menjadi alat yang membawa damai bagi sesama kita sehingga sesama kita yang saling bertengkar lama-lama melihat perdamaian yang kita lakukan dan memuliakan Bapa di Surga. Setelah menjadi agen perdamaian, kita dituntut untuk terus mengejar kedamaian itu dan akhirnya, jangan lupa mempertahankan/memelihara kedamaian itu. Bagaimana dengan kita? Ketika kita atau sesama kita bertengkar, sudahkah kita menjadi agen perdamaian Allah bagi dunia ini, sehingga nama-Nya dipermuliakan? Atau malahan kita yang menyulut pertengkaran itu? Mari introspeksi diri kita masing-masing.


Keempat, berbuat baik bagi musuh kita yang membutuhkan (ay. 20). Kasih Kristus juga diwujudnyatakan dengan berbuat baik bagi mereka yang membutuhkan, yaitu memberi makan kepada musuh kita yang lapar dan memberi minum kepada mereka yang haus. Yang lebih unik lagi, di ayat ini, Paulus menambahkan kata “seteru” yang menandakan bahwa kasih Kristus adalah kasih yang diwujudnyatakan juga kepada musuh kita. Ketika musuh kita lapar, haus, dll, apa yang kita lakukan? Membiarkannya? Atau menolongnya? Kasih dari Kristus seharusnya memampukan kita mengampuni musuh kita dan menolongnya ketika mereka kesusahan. Bagaimana dengan kita? Ada orang Kristen yang ketika dirinya disakiti dan difitnah oleh sesama/saudaranya yang Kristen atau orang lain (bahkan hamba Tuhan), dia tidak mau lagi ke gereja, tidak mau menyapa sesama/saudaranya itu, dan tragisnya, cuek habis dengan kondisi mereka. Mengapa bisa demikian? Karena mereka sebagai orang Kristen hanya mau orang lain memerhatikan dia dan bukan sebaliknya. Di ayat ini, Paulus mencerahkan dan menegur kita bahwa meskipun kita harus dihina, difitnah, dll, sudahkah kita menunjukkan kasih kita kepadanya bukan hanya mengampuninya saja, tetapi juga menolongnya ketika ada masalah? Paulus yang mengajar ini adalah Paulus yang sudah mempraktikkannya. Paulus mengasihi orang dan kaisar Romawi dengan memberitakan Injil kepada Kaisar Romawi, yaitu Raja Agripa (baca: Kis. 26) meskipun negara ini telah menjajah negaranya, Israel. Itulah yang diteladankan Paulus bagi kita bagaimana mengasihi jiwa bahkan musuh kita sendiri. Sudahkah kita melakukannya?


Kelima, mengalahkan kejahatan dengan kebaikan (ay. 21). Ayat ini menyambung penjelasan Paulus di ayat 17a dan 19. Tadi kita sudah diperintahkan untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, maka di ayat ini, Paulus menambahkan bahwa kita harus membalas dan mengalahkan kejahatan dengan kebaikan. Bukan hanya menyerahkan pembalasan itu kepada Tuhan, kita pun dituntut mengalahkan kejahatan dengan kebaikan. Berarti bukan hanya Allah yang bertindak, kita pun harus bertindak. Bedanya, Allah bertindak membalas mereka yang berbuat jahat kepada kita, sementara kita melakukan apa yang baik bagi mereka yang berbuat jahat pada kita. Dunia tidak bisa melakukan hal ini, karena mereka tidak mengerti dan mengalami penebusan Kristus yang telah mengalahkan kejahatan dengan kebaikan. Hanya Kekristenan yang sanggup mengerti dan menjalankannya. Bagaimana dengan kita pribadi? Memang sulit mengalahkan kejahatan dengan kebaikan, tetapi tidak ada yang mustahil jika Roh Kudus yang memimpin kita melakukannya. Sudah siapkah kita dipakai menjadi agen pelaksana kebaikan yang mengalahkan kejahatan?


Setelah kita merenungkan kelima ayat ini, sudah siapkah kita dipakai Roh Kudus menjadi agen pewarta kasih, kedamaian, dan kebaikan dari Allah di tengah dunia berdosa ini? Biarlah kita dipakai Tuhan sehingga nama-Nya sajalah dipermuliakan dari dahulu, sekarang, dan selama-lamanya. Amin. Soli Deo Gloria.

18 January 2009

Resensi Buku-62: MENAPAKI HARI BERSAMA ALLAH (Pdt. Yohan Candawasa, S.Th.)

...Dapatkan segera...
Buku
MENAPAKI HARI BERSAMA ALLAH

oleh: Pdt. Yohan Candawasa, S.Th.

Penerbit: Pionir Jaya dan Unveilin GLORY, Bandung, 2006





Deskripsi singkat dari Denny Teguh Sutandio:
Waktu adalah anugerah yang Tuhan berikan kepada manusia. Khususnya sebagai anak-anak Tuhan, kita bukan hanya mengerti waktu adalah anugerah Tuhan, kita diperintahkan untuk menebus waktu kita demi kemuliaan-Nya (terjemahan Inggris dari Ef. 5:16). Menebus waktu itu bisa kita lakukan dengan mempergunakan setiap waktu kita untuk memuliakan Tuhan setiap hari. Mempergunakan setiap waktu untuk memuliakan Tuhan itu bisa dilakukan dengan berjalan bersama Allah di dalam setiap hari yang Tuhan beri. Lalu, bagaimana kita bisa berjalan bersama Allah di dalam setiap hari tersebut? Di dalam bukunya Menapaki Hari Bersama Allah, hamba-Nya, Pdt. Yohan Candawasa memaparkan prinsip-prinsip bagaimana kita bisa menjalani hari demi hari bersama dan di dalam Allah untuk menggenapi kehendak-Nya.

Buku ini dimulai dengan Bab 1 yang membentuk ulang paradigma Kristen kita tentang hidup. Di dalam bab ini, Pdt. Yohan Candawasa memaparkan bahwa hidup itu dilihat bukan dari awalnya, tetapi dari akhirnya, karena itu yang mencerminkan keaslian kita. Hal itu ditandai dengan obituari yang akan kita tuliskan kelak. Lalu, mungkin di dalam hidup yang kita jalani, kita menemukan banyak rintangan. Bagaimana mengatasinya? Di dalam Bab 2, dengan menguraikan Mazmur 73, Pdt. Yohan menguraikan alasan kita sering kali enggan menerima rintangan hidup, yaitu kita menyangka bahwa kita bisa barter dengan Allah. Kalau kita baik dan melayani Tuhan, maka Ia pasti tidak akan memberikan kecelakaan kepada kita. Agama timbal balik ini bukan Kekristenan, karena Kekristenan mengenal konsep anugerah. Anugerah ini memimpin hidup umat Tuhan untuk mengerti bahwa meskipun seolah-olah Allah itu tidak adil dengan membiarkan orang fasik itu hidup sukses, tetapi sesungguhnya kesuksesan orang fasik itu mengarah kepada kebinasaan. Sebaliknya, meskipun anak Tuhan mengalami penderitaan, tetapi Ia memberi kekuatan kepada kita, sehingga kita pasti mengalami kemenangan karena kemenangan Kristus. Kemudian, di Bab 3, beliau menguraikan lebih dalam lagi makna penderitaan di dalam perspektif Ilahi, di dalam tema, Kala Allah Tak Terpahami. Setelah memahami penderitaan, pembaca digiring untuk mulai masuk ke dalam setiap hari bersama Allah. Melalui Bab 4, Menapaki Hari Bersama Allah, Pdt. Yohan menguraikan melalui kisah Yusuf di dalam Kejadian 50:15-21, bahwa ketika kita menapaki hari bersama Allah, hendaknya orang Kristen tidak perlu menyesal akan masa lalu (“Kalau saja...”) dan tidak perlu kuatir akan masa depan (“Bagaimana kalau...”), sebaliknya kita harus: melihat ke atas (yaitu iman dan pengharapan) ketika menapaki hari-hari bersama Allah dan mengurus/bertanggung jawab atas apa yang Tuhan percayakan kepada kita hari ini.

Setelah kita mengerti bagaimana menapaki hari bersama Allah, kita digiring untuk mengerti tentang problematika hidup orang percaya. Hal ini dimulai di Bab 5, “Anda Meminta Allah Memberi”, di mana Pdt. Yohan memaparkan bahwa ketika kita meminta sesuatu, Allah memberikan sesuai dengan kehendak-Nya yang terbaik, sehingga jangan pernah memaksa Allah di dalam permintaan kita. Selain tentang permintaan, kita digiring ke dalam tema membayar harga. Di dalam Bab 6, Jika Allah Meminta, kita diingatkan bahwa bukan hanya kita yang terus meminta seperti pengemis, Tuhan pun bisa meminta kita. Apa tujuannya? Agar fokus hidup kita bukan pada pemberian Allah saja, tetapi kepada pribadi Allah, sehingga meskipun Allah meminta sesuatu dari kita, kita tidak akan kecewa. Beliau mengajarkan prinsip penting, “Penting sekali untuk hidup dua arah bersama Tuhan: melepas untuk menangkap, menggenggam untuk melepas; kosong untuk diisi, isi untuk dikosongkan; dari tiada kita mendapatkan, dan mendapatkan untuk memberi.” (hlm. 135) Setelah diajar mengenai Allah meminta sesuatu dari kita, kita dibawa masuk lebih dalam lagi oleh Pdt. Yohan Candawasa untuk bersyukur senantiasa. Dasar dari bersyukur adalah segala sesuatu yang kita miliki dan kerjakan berasal dari Allah. Setelah bersyukur, Pdt. Yohan memaparkan empat dampak dari bersyukur, yaitu: mengingatkan kita akan Pemberi (Allah) dan bukan hanya pemberiaan saja, melibatkan si Pemberi itu di dalam pemberian yang diberikan-Nya itu sehingga kita mampu mempertanggungjawabkan pemberiaan itu sesuai aturan main dari si Pemberi, menghindarkan kita dari banyak dosa: perzinahan, pencarian rezeki haram, iri hati, dan ketamakan, dan terakhir, membawa sukacita dalam hidup. Setelah bersyukur, kita diingatkan kembali di Bab 8, Akulah Kebangkitan dan Hidup, tentang kuasa Kristus yang memberikan hidup kekal dan kebangkitan kepada kita secara rohani, sehingga hidup yang kita jalani bukan hidup rutinitas, tetapi hidup yang berkelimpahan (Yoh. 10:10b). Mengapa? Karena kita telah, sedang, dan akan mencicipi taste of heaven (suasana sorga) di dalam hidup yang berjalan bersama Allah.

Melalui buku ini, kita disadarkan kembali tentang menapaki setiap hari kita bersama dan dari sudut pandang Allah, sehingga hidup kita memiliki makna sejati. Maukah kita berkomitmen menjalani hidup kita bersama dan dari sudut pandang Allah saja? Biarlah buku ini memberkati dan menguatkan kita untuk menjadi saksi Kristus di tengah dunia berdosa ini.




Kata Pengantar dari Para Pembaca lain:
Kumpulan khotbah Pdt. Yohan Candawasa, S.Th. ini lahir dari kepekaan terhadap kebutuhan umat Kristen untuk menemukan jawab di tengah kompleksnya realitas pergumulan iman orang percaya dengan Allahnya. Bagi Pdt. Yohan Candawasa, sisi-sisi gelap dan tak terduga dari kehidupan manusia tidak menutup kehadiran Allah dan karya keselamatan-Nya. Bahkan sering kali aspek kehidupan tersebut menjadi konteks kehadiran kasih karunia-Nya yang tak terhingga. Saya percaya kumpulan khotbah ini akan memperkaya iman setiap orang Kristen yang secara sungguh-sungguh merindukan kehidupan rohani yang lebih diperkenan Allah.
Pdt. Yakub B. Susabda, Ph.D.
Rektor Sekolah Tinggi Theologi Reformed Injili Indonesia (STTRII), Jakarta

Pdt. Yohan Candawasa mampu mengintegrasikan dua unsur penting dalam berkhotbah, yakni unsur Alkitabiah dan unsur praktis. Khotbah-khotbahnya didasarkan pada prinsip-prinsip Alkitabiah yang ketat, tetapi tidaklah menjadikan khotbah-khotbahnya hanya berbau akademis. Khotbah-khotbahnya adalah khotbah-khotbah yang praktis, tetapi khotbah-khotbahnya tidak sampai terjebak hanya untuk menyenangkan telinga para pendengarnya semata. Dalam membicarakan hal-hal yang praktis, Pdt. Yohan tetap mengajak kita untuk berefleksi dan berpikir sesuai dengan kebenaran firman Tuhan. Saya mendapat banyak berkat melalui mendengar dan membaca khotbah-khotbahnya.
Pdt. Yohanes Adrie Hartopo, Ph.D.
Rektor Sekolah Tinggi Theologi Amanat Agung (STTAA), Jakarta

Membaca buku ini, selain membuka wawasan iman kita, sekaligus juga membuktikan bahwa penulis merupakan salah satu dari sedikit hamba Tuhan yang berkarunia dalam memimpin pikiran orang percaya di tengah pergumulan imannya melalui pengupasan dan penguraian firman Tuhan yang begitu mendalam, namun dengan cara penyampaian yang sederhana dan mudah dicerna.
Pdt. Jusak Wijaja
Pimpinan Radio Pelita Kasih (RPK)

Pdt. Yohan Candawasa adalah seorang hamba Tuhan yang setia, intelektual, bersemangat besar, dan mampu mengintegrasikan prinsip-prinsip kebenaran firman Allah dalam relevansi hidup manusia setiap hari.
Dr. James T. Riady
Pengusaha, salah satu pendiri Universitas Pelita Harapan (UPH), dan sedang mengambil studi theologi program gelar Master of Arts in Christian Ministry (M.A.C.M.) di STTRII Jakarta





Profil Pdt. Yohan Candawasa:
Pdt. Yohan Candawasa, S.Th. dilahirkan pada tanggal 11 Maret 1960. Selulus SMA, beliau melanjutkan studi di Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang, sebagai jawaban atas panggilan Tuhan baginya.
Beliau mendalami studi Biblika dan Eklesiologi yang kemudian dituangkan dalam skripsinya.
Kerinduannya untuk membina jemaat Tuhan dinyatakan selama pelayanan di Gereja Kristen Abdiel Elyon, Surabaya (1985-1987) dan juga Gereja Kristen Immanuel Bandung (1988-1996). Selama pelayanan tersebut, beliau berkesempatan mengunjungi RRC dalam rangka perjalanan misi. Dalam kunjungan tersebut, beliau memperoleh beban pelayanan dari Tuhan untuk menggumuli penginjilan di RRC.
Beliau menikah dengan Stephanie, dan telah dikaruniai seorang putra bernama Yeiel Candawasa.
Tahun 1996-1997 beliau melayani sebagai Gembala Sidang di Mimbar Reformed Injili di Taipei. Kemudia tahun 1998-1999 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Granada, Jakarta.
Mulai tahun 2000 beliau melayani di CCM (Care for China Ministry). Selain itu, beliau juga mengajar di Sekolah Tinggi Theologi Reformed Injili Indonesia (STTRII) Jakarta.

Roma 12:16: KASIH SEJATI-4: Kasih Persekutuan Menjadi Teladan-1

Seri Eksposisi Surat Roma:
Aplikasi Doktrin-7


Kasih Sejati-4:
Kasih Persekutuan Menjadi Teladan-1


oleh: Denny Teguh Sutandio


Nats: Roma 12:16.


Pada bagian ketiga ini, kita akan menelusuri konsep kasih Kristen yang sejati di dalam persekutuan yang menjadi teladan bagi orang-orang di luar Kristen.

Sebelum mempraktikkan kehidupan Kristen, Paulus menjelaskan prinsip utama di dalam kasih di antara tubuh Kristus yaitu di ayat 16, “Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai!” Ada dua bagian penting yang Paulus ingin singkapkan bagi kita sebagai pokok-pokok penting kasih persekutuan di dalam tubuh Kristus yang menjadi teladan bagi kasih kepada orang-orang di luar Kristen, yaitu:
Pertama, kerukunan di dalam satu pikiran/pendapat. Paulus mengajar kita, “Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama;” King James Version (KJV) menerjemahkannya, “Be of the same mind one toward another.” (=milikilah pikiran yang sama satu dengan yang lain) English Standard Version (ESV) dan New International Version (NIV) menerjemahkannya, “Live in harmony with one another.” (=rukunlah satu sama lain) Kata “pikiran” di sini dalam bahasa Yunani phroneō bisa berarti pikiran atau pendapat. Dengan kata lain, di dalam tubuh Kristus, kita harus memiliki kesamaan pendapat. LAI memperluasnya menjadi sehari sepikir. Inilah konsep penting pertama tentang kasih persaudaraan yang ingin Paulus tekankan. Di dalam kasih, ada kesamaan arah pikiran dan hati kita. Kesamaan ini bukan berarti kesamaan yang dipaksakan, tetapi kesamaan ini dibangun di atas dasar sesuatu yang kokoh. Apakah dasar itu? Yaitu kebenaran Firman. Jemaat Tuhan memiliki kesamaan hati dan pikiran ketika mereka bersama-sama tunduk di bawah otoritas Firman. Saat itu pula sesama jemaat Tuhan dapat hidup rukun. Mengapa jemaat Korintus bisa terpecah-pecah (1Kor. 1:11-12)? Karena mereka tidak hidup di bawah otoritas Firman, melainkan mengagungkan para pelayan Tuhan. Mereka mengagungkan Apolos lebih hebat dari Paulus, dll. Dalam hal ini, Paulus mengingatkan jemaat Korintus agar mereka sehati sepikir (1Kor. 1:10). Meskipun “sehati sepikir” di sini menggunakan kata Yunani yang berbeda dari Rm. 12:16 ini, tetapi kita mendapatkan konsep serupa dari Paulus, yaitu jemaat Tuhan harus memiliki kesamaan arah, tujuan, hati, dan pikiran yang tertuju kepada Kristus. Ketika jemaat Tuhan mengarahkan hati, tujuan, dan pikiran hanya kepada Kristus, maka mereka tidak lagi mempersoalkan hal-hal remeh di dalam gereja Tuhan. Paulus menegaskan hal ini bahwa dirinya, Apolos, Kefas adalah sama-sama pelayan Tuhan yang sama-sama melayani Tuhan dan hanya Tuhan yang patut ditinggikan (1Kor. 3:5-9). Bagaimana dengan kita? Apakah sebagai sesama jemaat Tuhan kita lebih senang mempersoalkan hal-hal remeh lalu mengakibatkan sesama jemaat Tuhan bermusuhan? Teguran Paulus ini mengingatkan kita agar kita boleh rukun dengan jemaat lain di dalam kebenaran Firman.

Pertanyaan berikutnya, apakah kalau rukun, berarti kita tidak boleh menegur jemaat lain yang berdosa? Tidak. Ingat, prinsipnya, kerukunan antar sesama jemaat dibangun di atas kesamaan arah, tujuan, hati, dan pikiran di bawah otoritas Firman. Ketika ada jemaat yang berdosa, kita yang mengasihinya wajib menegur dan mengingatkan serta mendorongnya untuk keluar dari dosa itu dan bertobat. Di saat kita menegur dia, di saat itu pula kita membangun terciptanya kerukunan antar jemaat Tuhan.


Kedua, ketidaksombongan. Kasih yang sehati sepikir/rukun di atas dapat diwujudnyatakan dengan tidak adanya kesombongan di dalam kasih persekutuan. Paulus memaparkannya, “janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana.” Ayat ini bisa disalahmengerti dan dipakai oleh banyak hamba Tuhan dari arus kontemporer lalu mengajar bahwa doktrin itu tidak penting, yang penting beriman saja. Kesalahtafsiran ini disebabkan oleh ketidakmengertian mereka di dalam menggali ayat ini dan ayat ini dalam terjemahan LAI memang kurang tepat (perhatikan kata-kata yang digarisbawahi antara terjemahan LAI dengan terjemahan Alkitab Inggris dan Yunani). KJV menerjemahkan, “Mind not high things, but condescend to men of low estate.” (=Janganlah pikirkan hal-hal yang tinggi, tetapi rendahkanlah dirimu kepada orang yang statusnya rendah) NIV menerjemahkan, “Do not be proud, but be willing to associate with people of low position.” (=Jangan sombong, tetapi berusahalah bergaullah dengan orang-orang yang statusnya rendah) International Standard Version (ISV) menerjemahkan, “Do not be arrogant, but associate with humble people.” (=Jangan arogan, tetapi bergaullah dengan orang sederhana). Pdt. Hasan Sutanto, D.Th. di dalam Perjanjian Baru Interlinear (2003) mengartikan ayat ini, “janganlah (hal-hal) yang tinggi memikirkan tetapi (kepada orang-orang/kepada hal-hal) yang (statusnya) rendah/sederhana bergaullah/disesuaikanlah” (=janganlah memikirkan hal-hal yang tinggi, tetapi bergaullah dengan orang-orang yang statusnya rendah) (hlm. 864-65). Dari beragam terjemahan Alkitab Inggris dan Yunani ini kita mendapatkan kesimpulan bahwa Paulus TIDAK sedang mengajar bahwa doktrin itu tidak penting, tetapi ia mengajarkan bahwa di dalam kasih tidak ada kesombongan. Dia mengajar bahwa kasih itu tidak sombong. Kasih yang tidak sombong ini diwujudkan dengan orang itu tidak merasa diri hebat, pintar, tetapi bersedia merendahkan diri dan bergaul dengan orang yang statusnya rendah atau sederhana. Orang yang statusnya rendah/sederhana ini menurut NIV Spirit of the Reformation Study Bible menunjuk kepada to do menial work (=berhubungan dengan pembantu rumah tangga). Orang yang merendahkan dirinya bagi orang yang statusnya rendah ini adalah orang yang benar-benar mengasihi orang yang statusnya rendah tersebut. Dr. John Gill di dalam John Gill’s Exposition of the Entire Bible menafsirkan bahwa orang yang statusnya rendah ini bisa berarti rendah statusnya secara jasmani (sosial) dan rohani. Artinya, orang ini bisa berarti orang miskin atau kurang terpelajar atau/dan orang-orang yang imannya kurang kuat. Di sini, Paulus mengingatkan kita untuk bersedia memahami kesulitan orang-orang “bawah.” Bagaimana dengan kita? Terus terang saya pribadi kuatir, banyak hamba Tuhan yang sudah sekolah theologi ketika berkhotbah di atas mimbar selalu menggunakan bahasa-bahasa “tingkat atas” yang penuh dengan muatan filosofis, theologis, dll, sehingga banyak jemaat yang kurang terpelajar kurang mengerti apa yang disampaikan. Di sini, memang jemaat perlu belajar tentang firman Tuhan dan istilah-istilah tersebut. Tetapi di sisi lain, si pengkhotbah merasa diri hebat apalagi berkhotbah dengan mengutip bahasa Yunaninya apalagi ditambah bahasa Inggris (yang tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia), padahal ada jemaat yang kurang terpelajar tidak mengerti bahasa Inggris. Di sini, kembali Paulus menegur kita, seberapa kita peka akan kondisi sesama jemaat lain yang secara status rendah baik kurang terpelajar atau mungkin kurang iman. Bagaimana sebuah khotbah itu mendalam, tegas, jelas, namun sederhana, itu yang harus dipergumulkan oleh seorang pengkhotbah (dan tentunya kita sebagai jemaat awam). Jemaat awam pun juga harus memerhatikan jemaat lain yang statusnya rendah tersebut mungkin dengan menguatkan imannya atau yang lain.

Ketidaksombongan ini juga diwujudkan dengan tindakan kedua, yaitu tidak merasa diri bijak. LAI menerjemahkan, “Janganlah menganggap dirimu pandai!” KJV menerjemahkan, “Be not wise in your own conceits.” (terjemahan bebas: Janganlah merasa diri bijak di dalam pemikiranmu). Pdt. Hasan Sutanto, D.Th. kembali menerjemahkan dari bahasa Yunani ayat ini, “Janganlah menjadi bijaksana dengan mengandalkan dirimu sendiri.” (idem, hlm. 865) Orang yang tidak sombong bukan hanya merendahkan diri dan mengerti kondisi orang “bawah” saja, tetapi juga tidak menganggap diri bijak. Ini adalah aspek negasi dari ketidaksombongan. Mengapa Paulus mengajar agar kita tidak merasa diri bijak dengan mengandalkan diri kita? Karena dengan mengandalkan diri kita, sebenarnya kita sedang memberhalakan diri kita (atau menjadikan kita “Tuhan”), padahal kita adalah manusia yang diciptakan, terbatas, dan berdosa (istilah Pdt. Dr. Stephen Tong: created, limited, and polluted). Perjanjian Lama mengajar kita tentang hal ini. Di dalam Amsal 3:5-7, Salomo mengajar kita, “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan;” Di sini, Salomo mengajar apa artinya percaya kepada Tuhan, yaitu: tidak bersandar kepada pengertian sendiri, mengakui Dia di dalam segala laku kita, tidak menganggap diri bijak, dan takut akan Tuhan. Dengan kata lain, Salomo (raja yang terkenal hikmatnya) hendak mengajarkan bahwa larangan Tuhan agar kita tidak menganggap diri sendiri bijak ini dikaitkan dengan kewajiban kita menundukkan diri kita mutlak di bawah Tuhan dengan percaya kepada (lebih tepatnya: di dalam) Tuhan yang Mahabijak. Ketika kita memandang kepada Tuhan yang Mahabijak, tentu di saat itu pula kita tidak menganggap diri hebat, karena Allah jauh lebih bijak dan pandai ketimbang diri manusia yang berdosa. Kalau Salomo yang hikmatnya terkenal saja rela menaklukkan dirinya di bawah hikmat Allah, bagaimana dengan kita? Apakah kita masih menganggap diri bijak bahkan lebih bijak daripada Tuhan? Bukankah sering kali ketika Alkitab mengajar bahwa Allah memilih manusia, lalu kita memberontak dengan berkata bahwa Allah itu tidak adil? Itulah bukti kekurangajaran dan kesombongan kita di hadapan/kepada Tuhan yang Mahabijak! Paulus keras mengajar ini dengan mengatakan bahwa manusia sehebat apa pun tidak mungkin bisa membantah/mengajar Allah tentang pemilihan Allah (predestinasi) ini (baca: Rm. 9:20). Ini berarti, jangan pernah menganggap diri bijak lalu mengajari Allah tentang konsep keadilan Allah.

Bukan hanya itu saja, di dalam persekutuan, kita juga merasa diri “bijak” atau/dan “pandai.” Bagaimana kita bisa mengetahui hal ini? Saya sudah menemukan contoh konkritnya di gereja saya. Setiap selesai kebaktian, ada seorang jemaat (suami istri) selalu memberikan “khotbah” tambahan kepada jemaat gereja tersebut. Bukan hanya itu saja, ketika mampir ke toko ayah saya pun, sang jemaat ini juga memberikan “khotbah.” Masalahnya adalah “khotbah” yang disampaikannya cenderung memaksa dan menganggap semua jawaban dari lawan bicaranya itu salah dan hanya jawaban dia saja yang paling benar. Di sini, dia seolah-olah hendak “menghakimi” semua jawaban orang lain dengan jawaban dia yang menurutnya “paling benar.” Bukankah cara ini adalah cara yang tidak tepat apalagi diucapkan persis setelah kebaktian gereja. Orang ini merasa diri lebih berbijak dan pandai ketimbang orang lain (apalagi orang ini mengklaim langsung bertanya kepada “Tuhan” ketika dia tidak mengerti ayat Alkitab yang dibacanya).



Saat ini, setelah kita merenungkan satu ayat ini, marilah kita berkomitmen menyatakan kasih persekutuan yang sehati sepikir dan tidak sombong sehingga itu mengakibatkan timbulnya kerukunan antar sesama tubuh Kristus dan kita menjadi berkat bagi orang-orang di luar Kristus. Maukah Anda melakukannya? Amin. Soli Deo Gloria.

Matius 12:22-28: KRISTUS: TUHAN ATAS PARA PENGUASA ANGKASA (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Ringkasan Khotbah: 3 Desember 2006

Kristus - Tuhan atas Para Penguasa Angkasa
oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 12:22-28


Pendahuluan
Secara keseluruhan tema dari Injil Matius adalah Kerajaan Sorga dimana Kristus sebagai Raja. Konsep Kerajaan Sorga yang ditegakkan oleh Kristus memiliki konsep yang berbeda dengan pemikiran para pemimpin agama bahkan para murid dan para rasul yang berpikir bahwa Kerajaan Sorga bersifat duniawi atau materi. Kristus menegaskan Kerajaan Sorga tidak dibatasi pada materi, ruang dan waktu sebaliknya Kerajaan Allah bersifat kekal; Kerajaan Allah bersifat spiritual dimana orang yang hidup di dalam-Nya akan mendapatkan sukacita kekal. Sebagai warga Kerajaan Sorga, kita harus tunduk mutlak pada Kristus Yesus Raja; Dia adalah pemilik alam semesta ini; Dia adalah Tuhan atas hukum. Di dunia tidak ada hukum yang mempunyai kekuatan kecuali kita kembali pada Kritus Tuhan sebagai satu-satunya sumber hukum. Tentang Ketuhanan Kristus ini telah dinubuatkan jauh hari sebelumnya, hal ini membuktikan satu hal, yakni Allah berkuasa atas sejarah manusia. Kita telah memahami bahwa sejarah bukanlah fakta tetapi sejarah adalah interpretasi fakta secara subyektif; sejarah menjadi sejarah yang relatif. Sejarah sejati haruslah dilihat dari sudut pandang Kristus sebagai pemegang otoritas mutlak.
Matius membukakan pada kita bahwa orang yang secara fenomena bisu dan buta sesungguhnya di balik fenomena tersebut ada kuasa iblis yang membelenggu hidupnya. Dosa adalah akar segala kejahatan, kerusakan dan sakit penyakit. Penyebab dosa adalah manusia karena ia memberontak pada Allah. Sebelumnya Tuhan telah menekankan konsep dosa dengan menaruh pohon pengetahuan baik dan jahat dan memberikan hak pilih pada manusia – melawan perintah Tuhan maka ia mati sampai manusia melawan Tuhan barulah dosa itu riil. Sesungguhnya, hak pilih inilah yang menjadikan manusia hidup sebagai manusia yang sejati sebab tanpa hak pilih tersebut, manusia tidak ubahnya seperti binatang yang tidak mengerti makna dan tujuan hidup. Perhatikan, bukan pohonnya yang membuat manusia menjadi manusia sejati tetapi perintah Allah itulah yang menjadikan manusia sejati. Tuhan mencipta manusia berbeda dengan binatang; dengan akal budi, manusia dapat mempertimbangkan segala sesuatu secara rasional tentang yang baik dan jahat. Manusia adalah satu-satunya makhluk berakal budi yang mempunyai pertimbangan emosi dan rasional untuk mencapai suatu hidup yang bermoralitas dan berintegritas.
Seorang bijak akan mempertimbangkan segala hal termasuk akibatnya tentang hal yang baik dan buruk dan dari sudut pandang Tuhan, ia mengambil keputusan dengan tepat. Untuk mencapai suatu bijaksana sedikitnya harus ada dua pilihan supaya orang dapat mempertimbangkan apa yang baik dan buruk. Itulah tujuan Tuhan menempatkan pohon di tengah-tengah taman supaya manusia dengan akal budinya dapat mengambil keputusan yang tepat itulah yang dinamakan moralitas. Ingat, setiap keputusan ada resiko yang harus ditanggung karena itu kita harus bertindak bijaksana.
Seharusnya bukan hal yang berat bagi Adam untuk tidak makan buah pengetahuan baik dan jahat itu, sebab di antara sekian banyak pohon dalam taman Eden Tuhan hanya perintahkan satu pohon saja yang tidak boleh dimakan. Namun manusia berdosa menginterpretasi Firman salah; orang mempertanyakan kebaikan Allah dengan mengajukan pertanyaan: apakah Tuhan tahu kalau manusia jatuh dalam dosa? Lalu kenapa Tuhan tidak mencegahnya? Pertanyaan ini membuktikan bahwa manusia adalah manusia berdosa yang selalu berpikiran buruk. Manusia yang berdosa tapi melempar kesalahan itu pada orang lain, dalam hal ini Tuhan yang disalahkan. Adalah salah kalau orang berpendapat bahwa Tuhan adalah pengambil keputusan sebab pada saat yang sama, orang tidak suka ada pihak lain yang mengambil keputusan untuk kita. Tuhan tidak menjadikan kita robot yang harus dikendalikan sedemikian rupa. Tidak! Pilihan itu justru menjadikan kita seorang manusia sejati yang tahu harus bertanggung jawab.
Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mulia yang dapat berproses menuju pada kesempurnaan dan manusia harus membuktikan bahwa benar dia adalah makhluk mulia, yakni di saat kritis, manusia diuji apakah keputusan yang ia ambil tersebut bijaksana? Ingat, keputusan moral sangat mempengaruhi dan menentukan integritas kita. Adalah suatu sukacita kalau keputusan kita tepat berarti sudah naik tingkat semakin dekat menuju pada sempurna seperti yang Tuhan inginkan. Jadi, setiap langkah keputusan yang kita ambil sangat menentukan posisi kita – semakin menuju pada kemuliaan atau semakin menuju pada kehancuran. Ketika kita menyadari kalau kita telah salah langkah maka kita harus kembali pada posisi yang tepat. Hati-hati, iblis akan menggunakan segala cara untuk menghancurkan manusia, salah satunya dengan memutarbalikkan konsep berpikir manusia. Ketika dibawa seorang yang kerasukan setan, orang itu buta dan bisu, Tuhan Yesus langsung menyembuhkannya. Tuhan ingin menunjukkan ada kuasa lain yang lebih besar dari kuasa iblis. Tuhan Yesus menyembuhkan orang buta, tuli, bisu ini menjadi tanda bahwa Dia adalah Mesias. Sebagian orang langsung sadar dan langsung menyebut Kristus sebagai Anak Daud. Orang tidak berani menyebut Yesus langsung dengan sebutan Mesias karena hukumannya mati. Itulah sebabnya, kita banyak menjumpai banyak kiasan atau simbol-simbol untuk menyebut Mesias. Faktanya, Kristus menyembuhkan orang kerasukan setan. Lalu bagaimana orang melihat dan menafsir fakta tersebut? Sebagian orang langsung menafsirkan bahwa Kristus adalah Anak Daud tetapi di pihak lain, orang Farisi melihat fakta yang sama tetapi menafsir lain dengan mengatakan bahwa Kristus adalah penghulu setan. Inilah sejarah, sebuah fakta yang sama tetapi menghasilkan dua kesimpulan yang berbeda, tergantung dari interpretasi manusia. Jelaslah paradigma atau konsep berpikir manusia itu sangat menentukan sebuah fakta sejarah yang sedang terjadi. Sebuah fakta kecelakaan mobil namun kesimpulan yang didapat akan berbeda tergantung dari konsep berpikir orang; seorang ekonom langsung menganalisa dan memperhitungkan kerugian, seorang dokter menganalisa secara medis, seorang ahli hukum menganalisa dari sisi hukum dan langsung terpikir tentang pasal-pasal tertentu yang sesuai untuk dikenakan pada si pengendara maupun si korban. Setiap orang melihat suatu fakta yang sama, pertanyaannya kesimpulan siapa yang paling benar?
Hal ini seharusnya menyadarkan manusia bahwa:
1. Manusia adalah makhluk terbatas.
Manusia hanyalah makhluk relatif yang berpandangan subyektif; manusia tidak berhak memutlakkan satu hal dari dirinya sendiri. Pertanyaannya adalah siapakah manusia sehingga ia berani memutlakkan diri sebagai kebenaran? Adalah sifat manusia berdosa yang ingin menjadi “tuhan“ dan berotoritas. Tuhan memberikan pada kita suatu kapasitas otorisasi namun ketika otorisasi itu diberikan manusia telah melanggar dua aspek penting, yakni: 1) manusia tidak kembali pada kebenaran sejati, betapa mengerikan hari ini kita hidup berada di antara tingkatan otoritas tinggi dan medium, sebab ketika suatu keputusan diambil berdasar otoritas tertinggi maka orang yang berada di tingkat bawah menjadi korban dari hasil keputusan tersebut. Dalam suatu perusahaan, pengambil keputusan berada di tangan komisaris dan tentu saja, orang yang berada di bawahnya, yaitu direksi yang menjalankannya tetapi ketika keputusan itu bermasalah dengan hukum maka yang celaka adalah orang-orang yang berada di bawah, 2) otoritas dipakai untuk keuntungan diri, memperkaya diri, dan kenikmatan diri akibatnya, orang yang berada di bawah otoritas itu, hidupnya menjadi sangat sengsara.
Manusia bukan pemegang otoritas mutlak. Tuhan menegaskan manusia harus tunduk mutlak pada Kristus Sang kebenaran sejati; Kristuslah pemegang otoritas mutlak. Di dunia modern, semangat humanis-egois terus diajarkan, orang terus dipacu untuk mendapatkan otoritas mutlak dan semua keinginannya. Hati-hati jangan termakan dengan ajaran yang menyatakan bahwa manusia adalah manusia yang tidak terbatas, , manusia bisa berbuat apa saja dengan kapasitas yang ada sekarang. Caranya manusia dipaksa sedemikian rupa dibawa pada suatu titik atau posisi kritis maka orang dapat menjadi superman. Orang sengaja dimasukkan dalam situasi kritus sampai muncul suatu kekuatan dari dalam dirinya yang ia sendiri tidak tahu darimana muncul kekuatan tersebut. Mungkin kita pernah mendengar banyak kisah serupa, entah kekuatan darimana, seorang ibu tiba-tiba dapat membengkokkan terali besi demi menolong anaknya dari kebakaran. Konsep “superman“ ini sangat berbahaya sekali.
Di dunia, kita mengenal ada konsep kelelahan, fatique, orang tidak akan pernah mengalami pengalaman yang sama seperti yang dialami pertama kali yakni mempunyai kapasitas besar untuk berbuat hal yang di luar batas dan kalaupun bisa maka pengalaman kedua mempunyai kualitas lebih rendah dari yang pertama begitu seterusnya semakin lama semakin menurun sampai akhirnya manusia menjadi fatique. Manusia tidak bisa ditaruh pada situasi kritis terus menerus, manusia akan menjadi gila. Sangatlah disayangkan, banyak orang yang tidak menyadari bahayanya konsep ini, manusia berlomba-lomba ingin menjadi manusia super dan celakanya, anak yang dijadikan korban. Tentu saja banyak pihak diuntungkan, nama sekolah menjadi terkenal karena ada anak-anak yang “sengaja“ dijadikan super. Namun perhatikan, gejala ini tidaklah lama, kualitas anak makin lama akan makin turun. Gejala yang sama juga dapat kita lihat hari ini, orang buta disembuhkan, orang lumpuh berjalan tapi perhatikan, beberapa hari ia akan kembali ke keadaan semula. Manusia adalah makhluk relatif, makhluk yang dependent and limited karena itu, orang harus kembali pada Kristus kebenaran mutlak. Ketika kita melihat suatu realita, kita harus mengintepretasi dengan tepat, yakni dengan melihat dari kacamata Tuhan. Setiap momen yang terjadi dalam setiap aspek hidup kita, banyak interpretasi yang dapat kita buat tapi Tuhan ingin bukan kehendak kita yang jadi melainkan kehendak-Nya.
2. Memutarbalikkan Kebenaran.
Orang Farisi adalah orang yang paling mengerti theologi bahkan sebelum ia berada dalam kelompok Farisi, ia dituntut untuk menghafal dan mengerti hukum Taurat dengan baik. Itulah sebabnya, orang Farisi dianggap sebagai orang paling saleh dan pandai diantara golongan lain seperti Saduki maupun Herodian. Namun ironis, orang yang paling saleh dan pandai justru memberikan interpretasi salah terhadap fakta kesembuhan yang dilakukan Tuhan Yesus. Sangatlah mengenaskan kalau para ilmuwan, para profesor, para doktor justru membuat kerusakan dalam ilmu pengetahuan. Orang menafsirkan Alkitab dengan sembarangan dan sembrono justru dilakukan oleh para doktor theologi. Memang, ironis, orang yang belajar Alkitab malah menjadi penghujat Tuhan.
Puji Tuhan, Tuhan munculkan Marthin Luther dan John Calvin dalam waktu yang hampir bersamaan. Marthin Luther, seorang doktor theologi, ia merombak paradigma yang salah tentang keselamatan. Luther menegaskan dengan keras bahwa keselamatan bukan tergantung dari uang seperti yang diajarkan oleh Johan Tetzel pada hari itu. Namun Marthin Luther tidak membangun sistematik Kekristenan yang kokoh dan Tuhan munculkan seorang bernama John Calvin, seorang yang mempunyai latar belakang hukum tapi ia belajar Alkitab dengan baik, ia membangun pondasi iman Kekristenan. Seorang doktor theologi sangat diperlukan selama ia berpaut dan bersandar pada Tuhan tetapi apalah gunanya seorang doktor theologi kalau ia menyeleweng dari jalan Tuhan dan tidak memuliakan Tuhan.
Celakalah, hidup kita kalau kita tidak men-Tuhankan Kristus sebab kemungkinan besar kita akan salah dalam memahami kebenaran, twisting the truth. Hal inilah yang terjadi pada orang Farisi, orang yang paling banyak belajar Taurat tetapi malah mengeluarkan pernyataan salah dengan mengatakan Yesus adalah penghulu setan. Seorang teolog, Leon Morris berpendapat bahwa bukanlah menjadi kebiasaan Matius memaparkan suatu kejadian dengan panjang lebar. Biasanya, Matius mengambil inti dari suatu peristiwa yang terjadi, ia tidak terlalu mempedulikan data tetapi khusus, bagian ini Matius memaparkan dengan jelas. Matius ingin menegaskan bahwa otoritas Kristus merupakan otoritas mutlak yang berada diatas kuasa setan. Hati-hati, di tengah-tengah percaturan filsafat, agama, gereja, dunia sangat senang bermain dengan hal-hal yang sifatnya relatif, dunia suka memelintir kebenaran sejati dengan multi interpretation. Bukanlah hal yang mudah untuk men-Tuhankan Kristus tapi hanya dengan men-Tuhankan Kristuslah yang menjadi satu-satunya kemungkinan bagi kita untuk dapat menginterpretasi realita yang terjadi di dunia dengan tepat. Biarlah kita setia pada Firman dan kembali pada Kristus karena Dia berhak atas hidup kita.
3. Kuasa Kristus lebih besar dari kuasa iblis.
Kristus menyatakan kalau kuasa-Ku nyata melawan kuasa setan maka itu berarti Kerajaan-Ku hadir. Pernyataan Kristus ini menjadi pernyataan final dan penentu dari semua berita yang hari ini berkembang – menghujat Roh Kudus. Hat-hati dengan iblis yang seolah-olah mempunyai kuasa besar tetapi sesungguhnya, dia hanyalah seorang penipu besar, ia mempunyai kekuatan yang dipakai untuk menghancurkan. Perhatikan, itu bukan Allah sejati tetapi “allah palsu.“ Di tengah dunia ini ada dua kekuatan besar yang diletakkan secara paralel atau sejajar. Di dunia barat, ada konsep dualisme yang menekankan bahwa di alam semesta ini ada dua kekuatan yang sama kuat, yakni baik – jahat, hitam – putih dimana dua kekuatan ini selalu ada di sepanjang sejarah jaman. Di dunia timur juga dikenal konsep yang hampir sama, yakni konsep Yin Yang dimana di dalam baik ada jahat dan di dalam jahat ada baik; konsep semi dualisme monoistik ini lebih jahat dibanding konsep dualisme murni sebab tidak ada kebaikan yang benar-benar baik atau kejahatan yang benar-benar jahat. Dunia timur lebih kompromistik dibanding dunia barat. Konsep yang salah! Alkitab menegaskan kuasa jahat di bawah kuasa Tuhan; ketika kuasa Tuhan itu dinyatakan, kuasa iblis harus menyingkir. Kalau hari ini kita melihat fenomena sepertinya kuasa Tuhan dikalahkan maka perhatikan, kekalahan itu sifatnya sementara, yakni karena Tuhan memang mengijinkan namun sampai suatu titik tertentu Tuhan akan bertindak. Tuhan adalah Tuhan yang berdaulat atas alam semesta maka jangan bermain dengan kuasa apapun di dunia, jangan bermain dengan konsep Yin Yang sebab konsep itu tidak pernah terjadi dalam realita, kuasa yang kelihatan hebat itu hanyalah semu belaka.
Jangan takut, kalau kita adalah anak Tuhan yang sejati maka tidak ada kuasa apapun di dunia yang dapat menyentuh atau mempermainkan anak Tuhan sejati. Kuasa Tuhan lebih besar dari kuasa iblis. Kita mungkin pernah mendengar banyak kesaksian dari anak-anak Tuhan sejati dimana kuasa iblis tidak mampu menyentuh mereka. Hal yang sama juga terjadi pada suatu kebaktian kebangunan rohani yang dipimpin Pdt. Stephen Tong, orang mencoba bermain-main dengan kuasa iblis untuk dikenakan padanya tetapi kuasa Tuhan yang besar itu sungguh nyata, kuasa iblis dikalahkan. Sejarah membuktikan bahwa kekuatan Tuhan dan kekuatan iblis tidak berada pada posisi sejajar; kuasa Tuhan lebih besar dari kuasa iblis; kuasa iblis harus tunduk di bawah kuasa Tuhan. Biarlah kita mengevaluasi diri, sudahkah kita men-Tuhankan Kristus dalam seluruh aspek hidup kita? Sadarlah bahwa ketika kuasa Roh Allah dinyatakan di tengah-tengah dunia itu berarti Kerajaan Allah sudah datang kepadamu. Biarlah kita mau menyerahkan diri kepada Tuhan untuk disucikan maka Kerajaan Tuhan hadir di dalam hidup kita, bukan secara fisik tetapi secara rohani dan membiarkan Dia memerintah total atas hidup kita. Amin
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber: