28 November 2008

Bagian 1

IMAN KRISTEN DAN KEDEWASAAN
(CHRISTIAN FAITH AND MATURITY)


oleh: Denny Teguh Sutandio




KATA PENGANTAR


“Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati."”
1Sam. 16:7b

Ketika Tuhan hendak memilih raja menggantikan Saul, maka Ia menyuruh nabi Samuel untuk mengurapi seorang raja baru. Ketika hendak mengurapi raja pengganti Saul itulah, Tuhan sendiri berfirman kepada Samuel agar ia tidak memilih raja untuk diurapi berdasarkan apa yang dilihat mata, mengapa? Karena Tuhan tidak melihat apa yang manusia lihat yaitu hal-hal fenomenal, tetapi Ia melihat hati manusia. Hati adalah sesuatu yang terdalam dari manusia yang sulit diuji, kecuali Tuhan yang menguji. Tetapi sayang, banyak manusia di zaman postmodern tidak menghiraukan lagi masalah hati, tetapi lebih menitikberatkan pada hal-hal fenomenal, misalnya sikap. Alhasil, tidak heran, banyak konsep, termasuk konsep kedewasaan, dibangun berdasarkan hal-hal fenomenal, tanpa melihat hal-hal esensial. Benarkah Alkitab mengajarkan bahwa kedewasaan hanya menyangkut segi fenomenal saja? Melalui makalah sederhana ini, penulis dengan hati-hati menguraikan poin-poin penting tentang kedewasaan ditinjau dari iman Kristen dan kaitannya dengan pendidikan Kristen dengan tujuan agar orang Kristen memiliki perspektif yang benar dan integratif tentang kedewasaan dan mengaplikasikannya di dalam hidup mereka.
Penulis sangat bersyukur kepada Tuhan Yesus Kristus yang oleh karena anugerah-Nya melalui pimpinan Roh Kudus, penulis mampu menyelesaikan penyusunan makalah yang mulai disusun sejak 17 November 2008. Selain itu, penulis juga menghaturkan terima kasih sebesar-besarnya kepada hamba-Nya yang setia, Pdt. Dr. Stephen Tong yang telah banyak mengajar penulis tentang iman Kristen dan theologi yang sehat (Reformed). Rasa terima kasih juga dihaturkan kepada gembala sidang gereja di mana penulis beribadah (Gereja Reformed Injili Indonesia—GRII Andhika, Surabaya), Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div., yang telah banyak menginspirasi dan mengajar penulis bagaimana menjadi seorang yang dewasa. Tidak lupa terima kasih pula disampaikan kepada Pdt. Billy Kristanto, Dipl.Mus., M.C.S. yang telah banyak mengajar penulis untuk terus menguji motivasi. Kepada Pdt. Yohan Candawasa, S.Th., penulis menghaturkan terima kasih karena bukunya, “Mendapatkan-Mu dalam Kehilanganku” yang penulis baca telah banyak menginspirasi dan mengoreksi banyak kelemahan penulis. Kemudian, kepada G. I. Jeffrey Siauw, S.T., M.Div., penulis juga mengucapkan terima kasih atas khotbahnya di dalam Seminar Redemptive Spirituality Series pada tanggal 20 September 2008 di Surabaya tentang pentingnya komunitas Kristen. Dan terakhir, penulis juga berterima kasih kepada Bp. Ricky Sudarsono, S.E., M.R.E., CFP® sebagai salah satu pembicara di dalam Seminar Pemuda: Etos Kerja Kristen dan Pengelolaan Finansial Keluarga pada tanggal 24-25 November 2008 yang telah mencerahkan pikiran penulis di hari pertama tentang bagaimana menjalankan mandat budaya berkenaan dengan mendidik mahasiswa/i di sebuah kampus “Kristen” di Surabaya tentang etika bisnis Kristiani.
Pada akhirnya, melalui makalah singkat ini, biarlah nama Tuhan senantiasa dipermuliakan melalui paradigma kita di dalam mengerti kedewasaan dari sudut pandang kedaulatan Allah. Amin. Soli Deo Gloria.






I. PENDAHULUAN

“Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.”
Ibrani 5:14

Surat Ibrani 5:14 mengajarkan kepada kita bahwa makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa. Perlu diketahui, penerima surat Ibrani ini adalah orang Kristen Yahudi yang telah mendengar Injil dari para rasul, tetapi herannya meskipun mereka telah mendengar Injil Kristus, iman mereka tidak bertumbuh dewasa. Mengapa bisa demikian? Karena mereka lamban dalam hal mendengarkan (ay. 11). Kata “lamban” dalam ayat 11 ini bukan mengenai cepat atau tidaknya mendengar. Kata Yunaninya nōthros bisa berarti sluggish (=lambat/lamban/tidak aktif/malas). Analytical-Literal Translation (ALT), English Standard Version (ESV), King James Version (KJV), Literal Translation of the Holy Bible (LITV), Modern King James Version (MKJV), Revised Version (RV), dan 1898 Young’s Literal Translation (YLT) menerjemahkannya dull (=bodoh/lamban). International Standard Version (ISV) dan God’s Word menerjemahkannya lazy (=malas). Dengan kata lain, mereka tidak bertumbuh dewasa secara iman, karena mereka bodoh/lamban/malas mendengarkan. Selain bodoh/malas mendengarkan, mereka juga meributkan hal-hal mendasar (Ibr. 6:1-2 dst). Dengan alasan inilah, penulis Surat Ibrani menasihatkan orang Kristen Yahudi untuk bertumbuh dewasa secara iman. Rasul Paulus juga memperhatikan masalah kedewasaan iman umat pilihan-Nya dan itu ditandai dengan perubahan pola pikir mereka sesuai dengan kehendak Allah (Rm. 12:2). Dari realitas ini, kita disadarkan akan pentingnya kedewasaan di dalam kehidupan Kristen.






II. PROBLEMATIKA

Jika penulis Surat Ibrani dan Rasul Paulus di atas menekankan kedewasaan iman sebagai hal yang terpenting di dalam kehidupan Kristen, maka dunia kita sedang mengalami krisis dan problematika berkenaan dengan kedewasaan ini. Saya membagi problematika tentang kedewasaan ini menjadi dua, yaitu:
A. Ketidakdewasaan
Dunia kita mengalami krisis pertama, yaitu ketidakdewasaan. Ketidakdewasaan ini ditandai dengan kemanjaan manusia postmodern ini, khususnya anak muda, ketika menjalani hidup. Bukan hanya anak muda, orang dewasa dan bahkan orang tua pun tidak luput dari krisis kemanjaan ini. Di dalam Kekristenan, hal ini lebih kelihatan jelas. Orang tua dan banyak orang muda lebih memilih gereja dan pendeta yang cocok dengan selera mereka. Misalnya, mereka akan langsung meng“amin”i para “pendeta” yang mengajarkan bahwa menjadi Kristen itu pasti kaya, sukses, sehat, berkelimpahan, dll. Sebaliknya, kalau ada pendeta yang berkhotbah dengan keras dan agak sulit dicerna, mereka langsung mengomel dan anehnya, ada yang mengatakan bahwa khotbahnya tidak bermutu. Padahal bukan khotbahnya yang tidak bermutu, si penerima khotbah itulah yang tidak bisa mencerna khotbah yang disampaikan. Inilah ketidakdewasaan iman.

Bukan hanya dalam masalah iman, ketidakdewasaan ini ditunjukkan dari segi karakter. Dari segi karakter, banyak anak muda (ini juga menjadi pelajaran bagi saya) kurang dewasa. Dalam arti, mereka kurang bisa memiliki karakter yang agung, seperti: bisa mengendalikan emosi, teguh, kokoh, dll. Ini disebabkan oleh pendidikan dari orangtua yang tidak pernah mengajar anak-anak mereka untuk memiliki karakter yang agung tersebut. Atau mungkin sekali dikarenakan orangtua mereka pun tidak memiliki karakter tersebut sehingga tidak mungkin bisa mengajar anak-anak mereka. Ternyata, bukan anak muda saja, orangtua (atau orang yang sudah dewasa/tua) pun tidak terlepas dari ketidakdewasaan karakter. Saya memiliki bukti konkrit akan fakta ini. Ada seorang editor buku theologi/rohani bermutu yang tentunya banyak membaca buku theologi, tetapi maafkan, secara karakter, dia sangat childish (kekanak-kanakan). Selain itu, ada juga orang tua yang merasa diri sudah “bijaksana” menganggap bahwa tanpa dirinya, segala sesuatu akan hancur berantakan. Padahal, hal itu tidak 100% sesuai dengan realitas yang digembar-gemborkannya. Itulah bukti ketidakdewasaan karakter.




B. Konsep Kedewasaan yang Salah: Menekankan Aspek Fenomenal
Di sisi lain, dunia kita bukan hanya tidak dewasa, tetapi dunia kita sedang menanamkan dan mengajarkan konsep kedewasaan secara salah. Mereka mengerti konsep dewasa hanya secara fenomenal (bisa dilihat secara kasat mata). Misalnya, kedewasaan diukur dari berapa banyak gelar akademis yang mereka peroleh. Orang yang sudah bergelar Profesor (Prof.), Doktor (Dr.), Doctor of Philosophy (Ph.D.), dll banyak sampai sepuluh buah itulah yang dinamakan orang yang bijaksana dan dewasa.

Selain itu, ada juga yang menganggap bahwa orang yang dewasa itu ditandai dengan usianya. Kalau orang yang berusia matang, maka orang itu dikatakan sudah dewasa. Pdt. Dr. Stephen Tong pernah berkata di dalam salah satu khotbahnya bahwa ketika beliau masih muda, sebelum beliau naik mimbar untuk berkhotbah, beberapa pendeta tua dan orang tua sebagai pendengarnya agak menghina beliau karena usia beliau yang waktu itu masih muda. Mereka berpikir bahwa orang yang masih muda tidak dewasa. Ternyata itu salah. Fakta membuktikan bahwa orang yang masih muda pun bisa dikategorikan dewasa, karena kedewasaan bukan masalah usia.

Kemudian, ada yang menganggap kedewasaan itu diukur dari seberapa bisanya orang itu mengetahui segala sesuatu dan mandiri. Ini tidak berarti salah. Ini benar, tetapi ini hanya sebagian kecil kriteria kedewasaan (hal ini akan kita bahas nanti). Tetapi anehnya, fakta membuktikan orang yang katanya sudah mandiri (cari uang sendiri, dll) dan mengerti segala sesuatu tetap menunjukkan ketidakdewasaan baik di dalam iman maupun karakternya. Contoh, ada orangtua (atau orang dewasa) yang merasa diri sudah mandiri dan bisa segala sesuatu tetap seperti anak kecil yang ngambek kalau dirinya disinggung. Orang yang masih merasa tersinggung kalau dirinya ditegur atau dikritik membuktikan ketidakdewasaan orang itu, meskipun orang ini secara fenomena sudah berusia 30 tahun ke atas atau bahkan sudah bisa membeli rumah sendiri dan sudah berkeluarga.






III. APA KATA ALKITAB TENTANG KEDEWASAAN?

Di poin II di atas, kita telah membicarakan 2 problematika konsep dunia kita berkenaan dengan kedewasaan. Lalu, kedewasaan yang bagaimanakah yang Tuhan inginkan melalui firman-Nya? Sebelum kita membahas kedewasaan yang Alkitab ajarkan, kita perlu mengerti terlebih dahulu realitas kedewasaan itu sendiri.
A. Realitas Kedewasaan
Ketika kita membicarakan mengenai kedewasaan, ada beberapa hal yang harus kita perhatikan:
1. Kedewasaan: Proses
Hal pertama yang perlu kita perhatikan tentang kedewasaan bahwa kedewasaan adalah suatu proses. Tidak ada orang yang dari kecil tiba-tiba langsung berubah menjadi dewasa baik dari segi usia, iman, maupun karakter. Semua membutuhkan proses. Jika kedewasaan adalah sebuah proses, bukankah lebih bijaksana jika kita tidak pernah menganggap diri lebih dewasa dari orang lain? Mengapa? Karena standar kedewasaan kita belum tentu benar-benar sesuai dengan standar kedewasaan yang Allah tetapkan. Oleh karena itu, setiap anak Tuhan diharapkan menguji dan mengintrospeksi diri masing-masing akan tingkat kedewasaan kita baik dari segi iman, karakter, dll.

2. Signifikansi Pihak Luar di dalam Proses
Karena kedewasaan Kristiani adalah sebuah proses, maka kita sangat membutuhkan pihak luar untuk membentuk proses kedewasaan itu. Pihak luar yang terpenting di dalam pembentukan proses kedewasaan ini adalah Allah Roh Kudus yang memimpin kita sebagai anak-anak Tuhan di dalam pengudusan terus-menerus (progressive sanctification). Roh Kudus inilah yang memimpin langkah hidup kita untuk terus-menerus dewasa di dalam iman, karakter, dll untuk memuliakan Tuhan. Selain Roh Kudus, kita juga memerlukan Alkitab sebagai sumber kedua yang memimpin kita untuk lebih dewasa mengerti kehendak-Nya. Sebagai sarana ketiga, kita membutuhkan saran dan nasihat dari saudara seiman, hamba Tuhan yang bertanggungjawab, orangtua, dan teman sebagai masukan bagi kita agar kita menjadi lebih dewasa lagi.




B. Macam-macam Kedewasaan Kristiani yang Sehat
Setelah kita mengerti 2 realitas mengenai kedewasaan, maka kita sekarang mulai masuk dan mengerti macam kedewasaan Kristiani yang sehat dan bertanggungjawab. Saya membagi ada 2 macam kedewasaan Kristiani yang sehat, yaitu:
1. Kedewasaan Internal (Internal/Essential Maturity)
Kedewasaan internal yang saya maksud di sini adalah kedewasaan yang dilihat bukan seperti yang dunia lihat yaitu secara fenomenal, tetapi kedewasaan ini lebih ke dalam hidup dan iman anak-anak Tuhan. Itulah esensi kedewasaan yang tidak bisa ditipu. Kalau kita mengukur kedewasaan hanya dari segi fenomenal, itu bisa menipu dan itu bukan hal terpenting, karena Tuhan tidak mementingkan hal-hal tersebut. Tuhan lebih memperhatikan aspek dalam yang dibereskan terlebih dahulu yang nantinya diwujudkan keluar di dalam aspek eksternal. Ingatlah, Tuhan menilai hati kita, bukan kelakuan kita (1Sam. 16:7b). Karena Tuhan lebih menilai hati kita sebagai hal esensial, mari kita melihat tingkat kedewasaan yang terpenting dan mendasar adalah kedewasaan internal. Kita akan kembali menggali Ibrani 5:14 ini sebagai dasar kita mengerti kedewasaan internal. Dari Ibrani 5:14 yang kita renungkan di atas, kita mendapatkan 2 kriteria kedewasaan internal yang dipaparkan oleh penulis Surat Ibrani, yaitu:
a) Mengonsumsi makanan keras
Di dalam Ibrani 5:13, penulis Surat Ibrani mengatakan bahwa anak kecil yang tidak memahami (bahasa aslinya bisa diterjemahkan: bodoh atau mengabaikan) ajaran tentang kebenaran itu suka minum susu, sedangkan di ayat 14 dijelaskan bahwa orang yang sudah dewasa tidak lagi mengonsumsi susu, tetapi mengonsumsi makanan keras. “Makanan keras” di dalam KJV diterjemahkan strong meat (=daging yang keras/kuat). Kata “keras” di dalam bahasa Yunaninya stereos bisa diterjemahkan solid (=kokoh/padat/penuh/kuat/murni). Artinya, orang dewasa lebih suka mengonsumsi makanan atau sesuatu yang keras. Apa tujuannya? Tujuannya agar otot-otot mulut dan giginya bisa terlatih ketika makan makanan yang keras. Jika orang yang sudah dewasa masih gemar mengonsumsi makanan yang lembek/lembut, seperti: bubur, dll (kecuali waktu sakit), ada yang tidak beres pada orang dewasa tersebut. Kalau secara duniawi/fisik, kita mengerti logika ini, tetapi herannya, mengapa dalam aspek rohani, kita hampir tidak bisa mengerti logika ini? Oleh karena itu, melalui ilustrasi secara jasmani ini, penulis Surat Ibrani ini mengingatkan kepada kita bahwa orang yang dewasa harus mengonsumsi makanan keras, yaitu kebenaran firman Tuhan yang sangat tidak cocok dengan keinginan kita yang berdosa. Meskipun tidak cocok dengan keinginan (baca: nafsu) kita yang berdosa, makanan keras yaitu kebenaran firman Tuhan itu memiliki 2 signifikansi:
(1) Untuk mendewasakan iman Kristen
Kebenaran firman Tuhan itu memiliki signifikansi pertama, yaitu untuk mendewasakan iman Kristen. Iman Kristen yang dewasa didapatkan ketika seorang Kristen yang taat dan cinta Tuhan memberikan waktunya untuk membaca, menggumuli, dan merenungkan, serta mengaplikasikan firman Tuhan. Ketika kita mengalami masalah terberat, kembalilah kepada firman Tuhan, maka Roh Kudus akan memakai firman Tuhan itu untuk menguatkan kita yang sedang mengalami masalah. Firman Tuhan itulah mengubah seluruh perspektif hidup kita dari hidup yang berpusat kepada diri (antroposentris) kepada hidup yang berpusat kepada Allah (Theosentris). Sehingga meskipun kita mengalami penderitaan berat sekalipun, firman-Nya menguatkan dan mengajak kita melihat ke atas (yaitu, Allah) dan berharap kepada-Nya (bukan seperti anak kecil yang memaksa Tuhan mengabulkan permintaan kita). Pada hari Minggu, 16 November 2008, Pdt. Thomy J. Matakupan, M.Div., pendeta di gereja saya, Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Andhika, Surabaya yang mengidap penyakit kanker kelenjar getah bening memberikan sedikit kesaksian tentang penyakit yang beliau derita dan pemeliharaan Allah atas dirinya. Beliau menceritakan bahwa ketika beliau mendengar kata “kanker” yang diberitahukan oleh dokter, beliau langsung shock dan merasa down, karena bagi beliau, kanker itu sesuatu yang menakutkan dan bisa berakibat fatal, yaitu kematian. Di saat seperti itulah, beliau berdoa dan meminta jawaban Tuhan mengapa beliau bisa menderita kanker. Di saat itulah, Tuhan tidak langsung menjawab, Ia menjawab secara tidak langsung melalui istri beliau yang mengingatkan ayat Alkitab di dalam 1 Petrus 5:7, “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” Sarana inilah yang mengakibatkan Pdt. Thomy memiliki perspektif yang berbeda tentang penyakit yang dideritanya. Kebenaran firman Tuhan menguatkan beliau ketika mengalami penderitaan. Kebenaran inilah yang mengakibatkan beliau tetap bersukacita walaupun mengalami penyakit stadium 3 lebih ini. Hal ini nampak dari sinar wajahnya yang tetap berseri. Hal serupa juga dialami oleh pendeta GRII di Jakarta yang sudah meninggal, (alm.) Pdt. Ir. Amin Tjung, M.Th. Beliau juga mengidap penyakit kanker tenggorokan (kalau tidak salah) dan sampai akhir hidupnya, beliau tetap melayani Tuhan. Walaupun Tuhan tidak menyembuhkan penyakit kanker yang beliau (Pdt. Amin) derita, beliau tetap melayani Tuhan (bahkan masih meneruskan studi M.Th. bidang Pendidikan Kristen di UKI, Jakarta dan sudah lulus) dan tidak pernah mengomel. Inilah kedewasaan iman Kristen yang didapatkan ketika membaca, menggumuli, dan merenungkan firman Tuhan. Ingatlah, kedewasaan iman Kristen di poin ini TIDAK diukur dari seberapa banyak kita membaca buku-buku theologi yang berbobot dan tafsiran Alkitab (meskipun ini penting), tetapi diukur dari pergumulan umat-Nya setiap hari bersama Tuhan dan pemeliharaan-Nya.

(2) Untuk membentuk karakter Kristen
Bukan hanya untuk mendewasakan iman Kristen, firman Tuhan juga membentuk karakter Kristen. Firman Tuhan ini membentuk karakter kita yang dahulu adalah budak iblis menjadi anak-anak Tuhan yang memiliki karakter ilahi. Karakter ilahi tersebut sesuai dengan pengajaran Tuhan Yesus di dalam Matius 5:16, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."” Terang Kristus itu bisa bercahaya jika kita hidup sebagai manusia baru dan anak-anak terang yang Paulus jelaskan di dalam Efesus 4:17-6:20. Hal serupa juga dijelaskan Paulus di dalam Galatia 5:22-23 melalui pengajaran tentang 9 rasa dalam buah Roh dan diakhiri dengan kesimpulan yang tegas di ayat 24-25, “Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh,” Bagaimana dengan kita? Maukah kita berkomitmen memperbaiki karakter kita sesuai dengan karakter ilahi yang Alkitab ajarkan dan Allah inginkan? Biarlah Roh Kudus memimpin kita di dalam membentuk karakter ilahi tersebut, sehingga kita bisa menjadi pemancar terang Kristus.


b) Peka membedakan yang baik daripada yang jahat
Selain mengonsumsi makanan keras yaitu firman Tuhan, kedewasaan internal ditandai dengan peka membedakan yang baik daripada yang jahat. Kata “membedakan” dalam Ibrani 5:14 ini di dalam terjemahan Inggris ada yang diterjemahkan discern (=mengetahui dengan jelas/mengenal) dan ada yang diterjemahkan distinguish (=membedakan/menggolongkan). Dalam bahasa Yunani, kata ini adalah diakrisis bisa berarti discern atau disputation (=perdebatan, pertentangan, perselisihan). Dengan kata lain, kedewasaan internal diukur dari kepekaan seseorang (Kristen) mengetahui dengan jelas sesuatu atau seseorang apakah itu baik atau jahat, lalu pengetahuan itu menuntut pembedaan yang jelas antara keduanya, sehingga tidak mengaburkan dan menyesatkan. Kepekaan mengetahui dengan jelas dan kemudian membedakannya hanya dimiliki oleh seorang yang sudah dewasa. Sedangkan anak kecil atau orang yang mengklaim diri dewasa tetapi masih kekanak-kanakan (childish) tetap tidak akan memiliki kepekaan ini, mengapa? Karena mereka belum terlatih. Lalu, bagaimana memiliki kepekaan ini? Roh Kudus memimpin orang Kristen dewasa memiliki kepekaan ini melalui sarana Alkitab. Ketika seorang Kristen dewasa menggumuli dan mempelajari Alkitab dengan teliti dan ketat, maka ia memiliki tingkat kepekaan rohani yang tajam membedakan yang baik daripada yang jahat. Lebih tajam lagi, menurut Paulus di dalam Roma 12:2, orang Kristen dewasa ini tidak lagi dipengaruhi oleh dunia, tetapi mereka memiliki perubahan pola pikir yang mengikuti kehendak Allah.

Setelah kita tahu bahwa Roh Kudus memimpin kita memiliki kepekaan ini melalui Alkitab, maka bagi siapa/apakah kepekaan membedakan ini berlaku?
(1) Berlaku bagi diri kita sendiri (internal)
Sering kali secara sadar atau tidak sadar, ketika berkhotbah, beberapa hamba Tuhan mengajar bahwa kita harus waspada dan berjaga-jaga, yang sering ditekankan adalah aspek/pihak luar. Maksud saya, mereka berkhotbah bahwa kita harus berwaspada terhadap pihak luar (ajaran dari luar) yang menyesatkan dan menipu kita. Hal tersebut tidak salah, jika memang itu sesuai dengan kebenaran Alkitab. Tetapi itu sebenarnya adalah poin kedua yang kita perlu perhatikan. Poin yang lebih penting adalah kepekaan membedakan yang baik daripada yang jahat pertama-tama berlaku bagi diri kita sendiri. Orang Kristen dewasa TIDAK melihat orang atau ajaran lain untuk ditegur atau dinyatakan salah, melainkan mereka melihat ke dalam dirinya sendiri untuk dikoreksi (bdk. Mat. 7:1-5). Tuhan menuntut kita peka melihat ke dalam diri kita, sudahkah kita mampu membedakan yang baik daripada yang jahat dari segi: motivasi, cara, dan tujuan? Sebelum kita melakukan segala sesuatu, sudahkah kita menguji motivasi hati kita terlebih dahulu, lalu disusul dengan cara yang kita pergunakan dan tujuan yang akan kita tuju/inginkan, kemudian kita serahkan semuanya untuk kemuliaan Tuhan? Bukankah yang sering terjadi adalah sebelum kita melakukan segala sesuatu, yang kita pertimbangkan adalah aspek untung ruginya, ketimbang apakah motivasi kita murni atau tidak sesuai dengan kehendak dan kemuliaan-Nya? Jika kita masih demikian, meskipun kita mengklaim diri orang dewasa, sejujurnya kita masih seperti anak kecil yang menginginkan segala sesuatu untuk kesenangan diri. Itu sama sekali TIDAK menunjukkan kedewasaan. Uji motivasi hati kita, lalu segeralah bertobat jika kita menjumpai adanya ketidakmurnian motivasi kita.
Bukan hanya motivasi, cara yang kita gunakan pun perlu kita pertimbangkan apakah sesuai dengan kehendak Allah. Motivasi yang murni perlu disertai dengan cara yang kita pergunakan. Adalah suatu kesia-siaan jika kita memiliki motivasi yang murni, kita menggunakan cara-cara yang tidak etis dan bahkan kasar. Ini juga menjadi refleksi dan koreksi bagi saya pribadi yang sering kali tidak peka akan hal ini. Misalnya, di dalam diskusi/debat theologi, saya menjumpai realitas bahwa ada hamba Tuhan yang mengadakan debat theologi dengan pihak lawan mungkin memiliki motivasi murni untuk mempertobatkan mereka (pihak lawan), tetapi sayangnya cara-cara yang mereka gunakan itu terlalu keras dan kasar. Bahkan di dalam makalah yang ditulis hamba Tuhan ini terkandung kata-kata dan kalimat-kalimat yang kasar yang tidak etis dituliskan oleh seorang hamba Tuhan yang berpendidikan theologi dari USA.
Bukan hanya motivasi dan cara, kita juga perlu mempertimbangkan tujuan yang akan kita raih/dapatkan. Apakah tujuan itu sungguh membawa kemuliaan bagi Tuhan atau sebenarnya untuk kepuasan diri kita? Kalau kita mempelajari dari realitas yang saya paparkan di atas tentang ada hamba Tuhan yang gemar mengadakan debat theologi. Mungkin saja dari segi motivasi, dia memiliki motivasi benar-benar ingin mempertobatkan orang yang diajak debat, tetapi sayang, tujuan debat itu berakhir dengan kemenangan dirinya dan kekalahan pihak lawan, bukan pertobatan pihak lawan. Kemenangan itu seperti kemenangan perang/pertandingan (saya melihat sendiri foto kemenangan mereka di internet, tidak ada bedanya dengan orang yang menang perang atau memenangkan suatu pertandingan). Jika demikian, apa tujuan debat jika hasil akhirnya untuk kemenangan dan kepuasan diri dan bukan untuk kemuliaan Tuhan? Bukankah itu kesia-siaan?

(2) Berlaku bagi luar (eksternal)
Setelah kita memberlakukan kepekaan mengetahui dengan jelas dan membedakan yang baik daripada yang jahat, maka barulah kita peka mengetahui dengan jelas dan membedakan sesuatu dari luar (entah itu doktrin, praktik hidup, orang, dll) apakah baik atau jahat. Dewasa ini, praktik membedakan dan menegur ajaran yang salah dinyatakan haram oleh sebagian (bahkan banyak) orang “Kristen” dan tidak sedikit hamba Tuhan. Dengan dalih toleransi dan relativisme ala postmodern, mereka dengan berani mengutip ajaran Tuhan Yesus di dalam Matius 7:1 lalu mengajar bahwa Kristus sendiri mengajar untuk tidak menghakimi. Benarkah perkataan Tuhan Yesus itu berarti kita tidak boleh menghakimi? Sangat tidak masuk akal jika yang dimaksud Kristus di Matius 7:1 itu adalah kita tidak boleh menghakimi, padahal di ayat 15-23, para murid-Nya (termasuk anak-anak Tuhan di zaman kita) diperintahkan oleh Kristus sendiri untuk waspada terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepada mereka (kita) dengan menyamar sebagai domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala buas. Tidak berhenti di situ, Ia mengajarkan kepada kita bagaimana kita membedakan dengan jelas mana yang benar dan salah dilihat dari buah yang dihasilkan yang berpangkal pada pohonnya. Dari pemaparan di atas, bagi para penganut paham toleransi-isme dan relativisme, sungguh suatu kontradiksi yang tidak bisa mereka hindarkan ketika mereka dengan sok berani menafsirkan Matius 7:1 bahwa Kristus melarang kita menghakimi. Lalu, apa maksud Tuhan Yesus di dalam Matius 7:1? Sesuai dengan salah satu kaidah penafsiran Alkitab yang bertanggungjawab dan beres, sebuah ayat tidak bisa ditafsirkan begitu saja tanpa memperhatikan konteks yang ada dengan memperhatikan ayat sesudahnya. Dari Matius 7:1-5, ada dua hal yang menjadi alasan peringatan Tuhan Yesus untuk tidak menghakimi, yaitu: pertama, ukuran (ay. 2); dan kedua, self-judgment atau penghakiman terhadap diri sendiri sebelum kita berani menghakimi orang lain (ay. 3-5). Ketika kita sudah menghakimi diri sendiri, kita baru dapat menghakimi orang lain dengan ukuran yang beres (ay. 5). Dengan dasar yang sama, Paulus dengan tegas dan keras mengingatkan jemaat Galatia untuk TIDAK berzinah dengan “injil-injil” lain (ALT, ESV, ISV, dan RV menerjemahkannya, a different gospel/injil yang berbeda) di luar Injil Kristus yang Paulus beritakan, meskipun “injil-injil” lain itu diberitakan oleh malaikat sekalipun (Gal. 1:6-10). Rasul Yohanes pun mengingatkan kita untuk TIDAK percaya kepada segala roh dan menguji roh-roh itu apakah mereka berasal dari Allah atau tidak. Bagaimana caranya? Setiap roh yang mengaku Yesus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah, maka itu adalah Roh Kudus, jika tidak, maka itu bukan datang dari Allah (1Yoh. 4:1-4). Dari realitas yang diajarkan Alkitab ini, maka kita bisa menguji suatu ajaran benar atau salah juga dari segi: motivasi, cara, dan tujuan. Dasar ujinya adalah apakah suatu ajaran itu motivasinya, caranya, dan tujuannya dari Allah, oleh Allah, dan untuk Allah (Rm. 11:36)? Jika salah satunya tidak ada Allah di dalamnya, maka ajaran itu jelas salah.
Ajaran salah sering kali dilatarbelakangi oleh motivasi yang tidak beres, yaitu mencari kesenangan diri. “Theologi” kemakmuran muncul di kala manusia sedang mengalami penderitaan, maka para “theolog” kemakmuran mencetuskan ide bahwa yang percaya “Kristus” pasti kaya, sukses, sehat, dll. Dari segi motivasi, jelas mereka tidak beres, karena mereka membangun theologi bukan dari pengertian Alkitab yang menyeluruh, tetapi dari asumsi manusia berdosa yang mencari dukungan ayat-ayat Alkitab yang sama sekali di luar konteks. “Theologi” religionum pun tidak ada bedanya dengan “theologi” kemakmuran lahir di zaman postmodern yang merelatifkan kemutlakan. Lucunya, jika “theologi” religionum itu “Alkitabiah”, mengapa “theologi” ini TIDAK muncul di zaman para bapa gereja dan Reformasi, tetapi HANYA muncul di zaman postmodern ini? Bukankah motivasi para pencetusnya sudah tidak beres, yaitu mengikuti arus zaman dan bukan mengikuti apa yang Alkitab ajarkan?! Tahukah Anda bahwa ikan apa yang terus ikut arus? Pdt. Dr. Stephen Tong mengutip perkataan hamba Tuhan lain mengatakan bahwa HANYA ikan MATI yang terus ikut arus! Itulah kondisi gereja sekarang, terus mengikuti arus zaman, tanpa mau mengikuti arus pimpinan Roh Kudus sesuai Alkitab. Semua ini membuktikan bahwa kedua macam “theologi” ini jelas TIDAK datang dari Allah, karena motivasinya pun BUKAN dari Allah.
Dari segi cara, ajaran salah jelas menggunakan cara-cara yang salah dan tidak bertanggungjawab demi menambah jumlah pengikut. Mengapa ajaran kemakmuran bisa laris di dalam Kekristenan postmodern ini? Karena para pengajar yang memopulerkan ajaran ini memakai beribu cara untuk menarik jemaat Kristen dari gereja lain untuk menerima ajaran ini. Berbagai tipuan mereka gunakan, misalnya, dengan mengiming-imingi jemaat gereja lain yang datang ke gerejanya akan diberikan souvenir cantik atau bahkan mendapat doorprize, penyelesaian masalah, diberkati, bisnis lancar, dll. Dengan kata lain, gereja model ini TIDAK ada bedanya dengan dukun (apalagi gereja yang “pendeta”nya suka mempromosikan minyak urapan), bedanya hanya: gereja menggunakan “dalam nama ‘Yesus’”, sedangkan dukun tidak. Bagaimana dengan “theologi” religionum? Mudah, caranya adalah khotbahkan selalu hal-hal yang membuat hati jemaat merasa miris, misalnya, “Saudara-saudara, masa kita tega melihat rekan atau saudara Anda yang tidak Kristen tidak masuk Sorga? Tentu tidak, bukan? Maka, agama lain pun bisa selamat, tidak selalu Kristen.” Atau khotbahkan selalu hal-hal sosial yang mengetuk pintu hati jemaat untuk memberikan bantuan sosial dan melupakan pentingnya penginjilan verbal! Di hari Natal, jangan pernah khotbahkan kelahiran Kristus dari Alkitab, tetapi khotbahkanlah kelahiran Kristus yang membawa damai, lalu kaitkan dengan perdamaian dunia, PBB, dll. Pelan namun pasti, jemaat digiring untuk menjauh dari berita kebenaran Alkitab, lalu mengikuti ajaran “theologi” religiounum dan social “gospel”! Mengerikan, tetapi banyak yang tertipu!
Kalau motivasi dan caranya sudah tidak beres, tentu tujuan akhirnya lebih tidak beres. Kalau ajaran kemakmuran motivasinya untuk kesenangan diri, lalu mencari cara untuk mewujudkan motivasi itu, maka tujuan akhirnya tentu agar diri dan ajarannya makin populer. Tidak usah heran, para penganut ajaran ini yang notabene “hamba Tuhan” sukses besar menipu orang Kristen, sehingga orang Kristen yang miskin tetap miskin, sedangkan para “hamba Tuhan” yang dulunya miskin tiba-tiba kaya mendadak dan memiliki rumah mewah dan banyak mobil. Dari mana mereka bisa kaya mendadak? Dari persembahan yang mereka kumpulkan yang diimingi dengan janji pelipatgandaan bagi yang memberikannya. Bagaimana pula dengan tujuan akhir “theologi” religionum? Jelas lebih tidak beres, para “theolog” religionum akan dengan bangga jika mampu menggiring jemaatnya untuk tidak lagi percaya finalitas Kristus dan lebih “dewasa” dalam iman yaitu berpaham inklusif (atau relatif atau apa pun nama yang mereka ciptakan sendiri, ujung-ujungnya hanya satu: menolak finalitas Kristus!) dengan menerima “kebenaran” dan keselamatan semua agama. Tujuannya jelas yaitu antroposentris, memuaskan semua orang, tetapi sayangnya memuakkan bagi Tuhan Allah! Kristus diinjak-injak dan manusia dipuja-puji! Anehnya, TIDAK ada satupun nabi, rasul, bapa gereja, theolog di zaman dahulu yang berpaham “theologi” religionum, entah dari mana ajaran ini bisa muncul? Hehehe...

24 November 2008

Matius 11:28-30: THE COMPASSION OF CHRIST

Ringkasan Khotbah : 10 September 2006

The Compassion of Christ
oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 11: 28-30



Puji Tuhan, hari ini kita masuk pada bagian akhir yang sekaligus menjadi inti dari Injil Matius 11. Melalui Injil Matius, Tuhan membukakan bagaimana kita sebagai warga Kerajaan Sorga berespon dengan benar pada Kristus Raja yang mempunyai posisi paradoks, Tuhan yang adil (Mat. 11:20-24) sekaligus Tuhan yang lemah lembut dan rendah hati (Mat. 11:28-30). Pernyataan Tuhan Yesus yang mengatakan bahwa Ia lemah lembut dan rendah hati ini sangat tidak disuka oleh dunia sebab kalau pernyataan ini benar itu seperti sebuah cermin yang ada di depan kita yang membukakan pada kita tentang siapa kita yang sesungguhnya. Di sisi lain, orang langsung berpikir negatif tentang Kristus dan mengatai Dia sombong. Manusia berdosa yang egois tidak suka ketika dibukakan tentang kebenaran sejati, manusia berdosa lebih suka kalau ia dibukakan tentang berbagai hal yang berkenaan dengan nafsu dan keinginan ambisinya. Di tengah-tengah dunia yang rusak moral ini, kita akan kesulitan untuk menemukan orang seperti Tuhan Yesus yang lemah lembut, rendah hati dan mengasihi manusia, hal ini disebabkan karena:
Pertama, lemah lembut dan rendah hati identik dengan kekalahan dan kelemahan dan biasanya orang yang lemah selalu ditindas. Sadarkah kita kalau hari ini dunia pendidikan melatih anak-anak kita untuk tidak menjadi lemah lembut dan rendah hati? Sebaliknya, anak selalu dipacu untuk menang dan berkompetisi karena kemenangan menunjukkan kekuatan. Jiwa lemah lembut dan rendah hati bertentangan dengan jiwa manusia berdosa yang egois dan humanis maka tidaklah heran kalau semua ucapan “berbahagia... “ yang tertulis dalam Matius 5 dan Lukas 6 tidak disuka oleh manusia.
Kedua, lemah lembut dan rendah hati identik dengan kegagalan. Dosa bersifat destruktif akibatnya ketika orang dipaksakan untuk hidup lemah lembut dan rendah hati maka itu berubah menjadi pukulan negatif yang memutar balik dirinya dan berakibat kehancuran. Lemah lembut dan rendah hati hanya dapat dilakukan jika ada kekuatan internal lain yang menguatkan dan menopang dia. Seharusnya, orang yang sangat pandai lebih mudah untuk menjadi rendah hati tetapi sayang, keunggulan yang ada pada dirinya justru menjadikannya sombong. Seorang Kristen dimungkinkan untuk menjadi lemah lembut dan rendah karena kita mempunyai Kristus yang telah melahirbarukan dan itu menjadi kekuatan kita; kuasa Kristus menguasai kita.
Ketiga, di dunia tidak ada ukuran standar yang tepat untuk mengukur karakter akibatnya orang menjadi under estimated atau over estimated. Kedua penilaian ini salah. Seharusnya manusia bisa mengukur dirinya dengan tepat, tidak lebih atau tidak kurang namun manusia kehilangan standar mutlak yang dijadikan sebagai standarisasi untuk mengukur diri. Untuk mengukur suatu panjang maka digunakan standar ukuran panjang, seperti meter, inci, feet barulah kita dapat mengatakan apakah suatu benda itu lebih panjang ataukah lebih pendek. Pertanyaanya sekarang adalah standarisasi apa yang kita pakai untuk mengukur karakter dan hidup seseorang? Bagaimana seorang dapat dikatakan lemah lembut dan rendah hati? Di dunia tidak ada satupun standar yang dapat dipakai untuk mengukur karakter manusia, dunia hanya melihat secara relatif, dunia tidak tahu ukuran yang pas akibatnya orang mengalami kesulitan untuk menjalankannya. Maka tidaklah heran kalau kemudian dunia menanggapi negatif pernyataan Kristus; dunia menganggap Kristus sombong. Dunia tidak pernah memahami bahwa pernyataan Kristus bukanlah kesombongan tapi justru menyatakan kemurnian motivasi Kristus.
Untuk memahami dan mengerti makna dari pernyataan Kristus: “Aku lemah lembut dan rendah hati“ maka kita harus memperhatikan konteks secara keseluruhan. Konteks Injil Matius adalah Kristus sebagai Raja dimana otoritas tertinggi ada di tangan-Nya; Dia adalah Juruselamat, Dia adalah Mesias. Kemesiasan Kristus ini bukan dikatakan tetapi dibuktikan dengan kuasa yang ditandai dengan enam hal, yakni: 1) orang buta melihat, 2) orang lumpuh berjalan, 3) orang kusta tahir, 4) orang tuli mendengar, 5) orang mati dibangkitkan, 6) orang miskin mendapatkan kabar baik. Pada bagian lain, Tuhan Yesus menunjukkan kuasa-Nya yang besar, Ia “menentukan nasib“ dari suatu kota (Mat. 11:20-24). Orang yang mendengar dan melihat kuasa Kristus ini seharusnya menjadi takut dan gentar karena Kristus adalah Raja di atas segala raja, Dia memegang otoritas tertinggi dan Dia penentu atas sejarah di alam semesta ini. Namun Kristus mengontraskan kuasa yang dimiliki dengan mengatakan, “Aku lemah lembut dan rendah hati.“ Janganlah kita melihat Kristus dari satu sisi saja, yakni dari sudut manusia, kita akan gagal mengerti jiwa dan karakter Kristus yang sesungguhnya. Maka tidaklah heran kalau muncul kesimpulan bahwa Tuhan itu kejam. Melihat Allah hanya dari sudut manusia, tidak pernah mau mengerti dari sudut Allah maka kesimpulan yang didapat pasti salah. Untuk mengenal suatu barang, kita dapat membongkar dan mengacak-acak isi barang tersebut namun berbeda halnya, kalau mengenal karakter manusia maka kita tidak dapat melihat dari tampilan luarnya saja, kita akan mudah terkecoh sebab yang kita hadapi bukanlah suatu pribadi.
Pertama, Untuk mengenal suatu pribadi adalah tidak sah kalau kita hanya mengambil data sepihak saja, yakni dari sudut pandang luar lalu kita menarik kesimpulan. Data haruslah kita dapatkan melalui revelation, orang tersebut harus membukakan dirinya sendiri, orang tersebut membuktikan apa yang dia kerjakan barulah kita dapat mengenal dan menyimpulkan; dengan demikian obyek berubah menjadi subyek; si obyek yang memberitakan informasi pada kita maka kita yang subyek berubah menjadi obyek. Relasi interpersonal bila dibatasi dengan saya-subyek dan orang lain – obyek maka kita tidak akan pernah mendapatkan pengenalan yang benar dan tepat. Dunia psikologi sangat memahami hal ini, untuk mengenal suatu pribadi bukan dengan membedah isi kepala orang tersebut tapi kita harus menjadi obyek dan orang tersebut sebagai subyek; dengarkan apa yang menjadi keluhannya maka itu menjadi informasi bagi kita untuk kita dapat mengenal dia lebih dalam.
Merupakan kesalahan fatal apabila dalam suatu konseling, kita menyerap semua informasi dan menganggapnya sebagai kebenaran. Hati-hati, informasi tersebut bersifat subyektif, segala sesuatu yang diceritakan dari sudut pandang dia dan yang diceritakan pastilah sesuatu yang menyenangkan dan menguntungkan dia saja, apa yang menjadi kesalahan orang lain itulah yang diceritakan. Berita yang dikemukakan tidak obyektif lagi tetapi telah mengalami: 1) pencemaran atau distorsi, 2) pergeseran motivasi, 3) beritanya tidak asli, ada penambahan atau pengurangan. Rasa curiga dan tidak percaya merupakan salah satu penyebab komunikasi tidak berjalan baik. Komunikasi akan terjalin dengan baik apabila ada ketulusan dan kejujuran di dalamnya namun di tengah dunia berdosa, hal itu sulit didapat.
Di tengah dunia berdosa yang kejam kalau Tuhan berkata, “Aku lemah lembut dan rendah hati maka kalimat itu bagaikan air yang turun di kala teriknya panas mentari. Apalagi kita hidup diantara manusia yang mementingkan diri bahkan orang tidak lagi peduli meski demi untuk mendapatkan keuntungan, ia harus mengorbankan orang lain. Konsep utilitarian telah mengakar dalam hidup manusia modern, hal ini nampak jelas ketika orang menawarkan berbagai macam produk dan jasa maka orang tidak akan langsung berterus terang kalau sesungguhnya, ia yang diuntungkan sebaliknya ia akan berkata hendak membantu kita. Pertanyaannya, sesungguhnya dia yang membantu kita atau kita yang membantu dia ataukah sama-sama saling bantu? Tepatnya adalah sama-sama saling membantu dan yang lebih tepat lagi sesungguhnya kita yang paling banyak membantu sebab jika terjadi sesuatu hal yang tidak mengenakkan, kita yang dikorbankan terlebih dahulu, “sebelum dimakan, kita harus memakan terlebih dahulu.“
Inilah wajah dan kondisi dunia berdosa yang kejam dan keras. Puji Tuhan, di tengah kondisi dunia kacau ini, Allah yang berkuasa menawarkan kelemahlembutan dan kerendahan hati. Kristus, Raja yang berdaulat bukanlah diktator yang sewenang-wenang, Dia bukanlah Allah yang menghancurkan, Dia tidak pendendam. Allah yang kita sembah adalah Allah yang kasih, lemah lembut dan rendah hati. Dan hal itu telah terbukti, hal ini termanifestasi dalam diri Kristus, Dia dari sorga mulia rela datang ke dunia untuk manusia berdosa. Manusia sulit mengerti arti pengorbanan Kristus, Allah pemilik alam semesta datang ke dunia. Kalau Allah Sang Pencipta turun berinkarnasi menjadi ciptaan maka itu merupakan penurunan posisi yang sangat dahsyat. Cobalah kalau kita yang turun posisi menjadi seorang pengemis hanya satu kali 24 jam saja, maukah dan relakah anda? Penurunan posisi ini sesungguhnya tidaklah sebanding dengan Kristus sebab dalam hal ini, manusia adalah ciptaan tetap menjadi ciptaan tetapi dengan derajat rendah, bandingkan dengan Kristus, Dia adalah Pencipta turun menjadi ciptaan. Orang yang bisa turun posisi sedemikian rupa maka mudah sekali baginya untuk menjadi rendah hati dan lemah lembut karena ia sudah pernah merasakan semua penderitaan dan kesusahan. Karena kasih, Tuhan datang ke dunia, Dia rela berkorban demi manusia berdosa. Kristus rela meninggalkan sorga mulia dan mengambil rupa seorang hamba itulah bukti kasih Tuhan. Pertanyaannya sekarang adalah maukah kita datang pada-Nya dan mendapatkan kelegaan sejati? Seberapa jauhkah anda mau mengerti dan memahami kasih Allah?
Kedua, Kristus bukan sekedar Penguasa yang memerintah tetapi Dia turun dan hidup bersama-sama dengan kita, Dia juga pernah merasakan seluruh pergumulan dan beban hidup kita. Inilah yang disebut dengan compassion. Kristus telah menjadi teladan sejati bagi manusia maka hal Ini sekaligus menjadi kekuatan kita. Tentulah kita akan merasa lega kalau kita mempunyai seorang yang mengerti segala kesulitan dan bukan hanya sekedar mengerti secara teori saja. Tidak! Dia pernah mengalami semua kesusahan dan penderitaan yang kita rasakan saat ini. Demikian pula halnya dengan mereka yang pernah merasakan berkemenangan di dalam Tuhan, hal itu akan menjadi kekuatan untuk menolong orang lain yang menderita. Pdt. Amin Tjung bertahun-tahun berjuang melawan kanker namun dia tidak pernah merasa putus asa dan Tuhan pakai beliau menjadi berkat bagi banyak orang yang mengalami penderitaan yang sama.
Penderitaan manusia tidaklah sebanding dengan penderitaan Kristus; penderitaan Kristus jauh lebih dahsyat. Penderitaan manusia sebagai akibat dari dosa yang kita perbuat namun kalau Kristus menderita itu bukan karena Dia berdosa. Tidak! Kristus tidak berdosa! Kristus menderita karena Dia mengasihi manusia yang bersalah dan untuk itu Dia harus mengalami penderitaan. Kalau kita memahami penderitaan Kristus maka itu harusnya menyadarkan kita betapa kita ini adalah manusia berdosa, manusia lemah yang rentan tetapi Tuhan mau selamatkan, Tuhan memanggil kita untuk datang kepada-Nya dan mendapat kelegaan maka itu harusnya menjadikan kita lebih mengasihi Tuhan, menjadikan Dia sebagai pusat hidup kita. Hidup di dunia ini hanya sementara, pertanyaannya adalah apa yang kita cari di dunia? Betapa indah hidup kita kalau kita berada dalam pelukan orang yang sangat mengasihi kita, orang yang peduli dan hanya memikirkan yang terbaik untuk kita. Betapa bahagia hidup kita kalau kita berada dalam lindungan orang yang mempunyai kekuatan dan ketika berada dalam bahaya, dia maju menolong dan kita pun berkemenangan. Semua itu hanya ada dalam Kristus. Allah kita bukanlah Allah yang kejam; Allah Kristen adalah Allah yang ingin kebenaran sejati, keadilan dan kesucian itu dinyatakan di tengah dunia berdosa dan di sisi lain, Dia adalah Allah yang rendah hati dan lemah lembut; Allah yang mengerti setiap pergumulan kita.
Ketiga, Kristus bukan hanya sekedar mengerti setiap pergumulan kita tetapi Dia memberikan jalan keluar untuk kita. Orang berpendapat bahwa untuk menjadi seorang konselor yang baik cukup dengan menjadi pendengar yang baik saja. Di dunia ini kita sulit mendapatkan orang yang mengerti dan mengasihi kita maka ketika ada seorang yang mau mengerti dan memahami kita sepertinya kita mendapat kelegaan. Kristus tidak hanya sekedar memberi kelegaan, Dia juga memberikan jalan keluar – Dia memasang kuk yang baru untuk kita, Dia memegang kendali atas hidup kita maka kita akan merasakan sukacita ketika hidup berjalan dalam pimpinan-Nya. Menjadi warga Kerajaan Sorga tidak cukup hanya berhenti dalam kepasifan dimana kita hanya melampiaskan semua kesusahan dan kita menjadi lega kemudian kita melangkah sendiri dan ternyata kita mendapat kesusahan maka kita pun mulai mencari seorang konselor, begitu seterusnya. Tidak! Dunia tidak dapat memberikan solusi, dunia hanya menjadi tempat pelampiasan kebebalan, pelampiasan ketidakadilan, pelampiasan penderitaan.
Kekristenan tidak pasif, mengikut Kristus bukan hanya sekedar mendapatkan Kristus yang mencintai dan mengasihi kita. Tidak! Tuhan mengajak kita untuk bangkit dan mendapat kekuatan baru; Tuhan memberikan kuk dan Dia yang memegang kendali atas hidup kita. Dunia tidak akan pernah merubah menjadi baik, dunia semakin menuju pada kehancuran maka kita yang harus berubah dan ingat, perubahan yang terjadi atas kita itu bukan karena kemampuan kita tetapi Tuhan yang memampukan kita untuk berubah. Kuk yang baru, yaitu kuk yang dari Tuhan itu yang merubahkan hidup kita. Adalah tugas setiap anak Tuhan yang telah diubahkan untuk menjadi saksi bagi-Nya, menjadi terang bagi dunia yang gelap. Kuasa mengubahkan ini tidak dapat dibangun dengan kekuatan kita sendiri tetapi hanya kuasa Kristuslah yang memampukan kita.
Di tengah dunia ini sulit melepaskan antara pemerintahan dengan kekuasaan. Kristus memimpin tidak memakai otorisasi tetapi Dia memimpin dengan kelemahlembutan dan rendah hati. Pertanyaannya relakah kita dipimpin Tuhan? Hanya di dalam Kristus kita mendapatkan kelegaan; hanya di dalam Kristus kita mendapatkan kemenangan. Dunia ini sangat kejam, banyak penderitaan dan kekerasan terjadi, kelaparan terjadi dimana-mana; hidup makin hari makin susah akibatnya, di tengah situasi seperti ini banyak orang yang panik, orang tidak tahu harus bersandar dan berpegang pada siapa. Puji Tuhan, di tengah kondisi yang demikian ini Kristus datang kepada kita dan tangan-Nya yang terbuka menyambut kita: “Marilah kepada-Ku kamu yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepada-Mu“ dan Dia juga memberikan jalan keluar bagaimana kita menghadapi gejolak dunia tanpa kita hanyut di dalamnya karena Tuhan memegang pimpinan atas hidup kita. Di dunia masih banyak orang yang terombang-ambing, tidak mempunyai sandaran hidup, tugas kita untuk mewartakan pada mereka bahwa masih ada Seorang yang mengasihi kita yang akan memimpin setiap langkah hidup kita dan Dia adalah Kristus. Kristus mengasihi manusia berdosa tetapi Dia sangat membenci dosa, Dia tidak berkompromi dengan dosa. Jangan pernah mengeluh ketika kita mengalami kesulitan karena mungkin Tuhan membiarkan kita melewati penderitaan supaya kita dapat merasakan kemenangan dari Kristus, bagaimana Dia menolong dan menopang hidup kita. Biarlah kita dipakai menjadi saksi yang memancarkan terang-Nya di tengah dunia gelap. Amin

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber:

Roma 11:33-36: RESPON YANG BENAR TERHADAP PREDESTINASI

Seri Eksposisi Surat Roma :
Doktrin Predestinasi-19


Respon yang Benar Terhadap Predestinasi

oleh: Denny Teguh Sutandio


Nats: Roma 11:33-36


Tidak ada respon yang benar terhadap predestinasi, kecuali kagum dan bersyukur. Itulah tesis utama Paulus sebagai kesimpulan di empat ayat terakhir ini (33 s/d 36). Apa yang kita bisa kagumi dan syukuri? Mari kita membahasnya pada empat ayat terakhir di pasal 11 ini.

Diawali di ayat 33, Paulus mengatakan, “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!” Kalimat pertama dalam ayat ini memiliki beragam makna terjemahan. King James Version menerjemahkan, “O the depth of the riches both of the wisdom and knowledge of God!” Begitu juga dengan terjemahan New King James Version (NKJV), Modern King James Version (MKJV), New American Standard Bible (NASB), Analytical-Literal Translation (ALT), American Standard Version (ASV), Geneva Bible 1587, Revised Version (RV), 1833 Webster Bible. Sedangkan terjemahan-terjemahan seperti English Standard Version (ESV), James Murdock New Testament, 1898 Young’s Literal Translation (YLT), Literal Translation of the Holy Bible (LITV), God’s Word (GW), International Standard Version (ISV) membedakan tiga hal, yaitu betapa dalamnya: kekayaan, hikmat, dan pengetahuan Allah. Dalam terjemahan Yunani, Pdt. Hasan Sutanto, D.Th. memberikan penjelasan bahwa arti yang tepat adalah yang terakhir, yaitu membedakan tiga hal yaitu kekayaan, hikmat, dan pengetahuan Allah yang begitu dalam. Untuk membedakan ketiga hal ini, tiga kata ini sama-sama menggunakan kata benda (noun) dan dipisahkan dengan kata “dan” (hlm. 861). Di sini, kita belajar bahwa Paulus menekankan begitu dalamnya: kekayaan, hikmat, dan pengetahuan Allah. Apa yang dimaksudkan Paulus dengan tiga kata kunci ini?
Pertama, dalamnya kekayaan Allah. Kata “kekayaan” dalam ayat ini diterjemahkan riches dalam Alkitab terjemahan Inggris. Kata Yunaninya adalah ploutos bisa diterjemahkan kepenuhan (fulness). Dengan kata lain, di titik pertama, Paulus menekankan akan kepenuhan Allah. Apa yang dimaksud dengan kepenuhan Allah? Kepenuhan Allah berarti Allah itu begitu penuh, limpah, dan kaya dengan segala macam anugerah-Nya bagi kita. Jika kita mencoba membayangkan makna penuh dan kaya, kita akan mendapatkan gambaran pengertian yang lebih melimpah. Kaya atau penuh bukan secara materi, tetapi secara kualitas. Ketika air minum di dalam gelas dikatakan telah penuh, berarti tidak ada satu inci pun di gelas tersebut yang bisa diisi air. Begitu juga dengan kepenuhan atau kekayaan Allah. Allah yang penuh berarti tidak ada satu inci pun yang kurang pada diri Allah. Dengan kata lain, di dalam Dia ada kesempurnaan yang kepada-Nya kita menaruh iman dan pengharapan. Kesempurnaan-Nya inilah yang diajarkan Paulus berikutnya di ayat ini, yaitu bahwa keputusan-keputusan-Nya tak terselidiki dan jalan-jalan-Nya tak terselami. Allah yang sempurna (penuh) adalah Allah yang memiliki keputusan dan jalan yang sangat berbeda dari manusia (bdk. Yes. 55:8). Kata “keputusan” di sini di dalam KJV diterjemahkan judgment (penghakiman), di mana bahasa Yunaninya adalah krima (yang mungkin ada hubungannya dengan kriminal). Mengapa Allah yang sempurna adalah Allah yang memiliki keputusan yang tak terselidiki dan jalan yang tak terselami? Karena keputusan dan jalan Allah selalu bersifat kekekalan, sedangkan keputusan dan jalan manusia selalu bersifat kesementaraan. Dalam konteks ini, Paulus ingin: pertama, mengingatkan baik orang Yahudi maupun non-Yahudi melihat akan kesempurnaan Allah yang keputusan (penghakiman) dan jalan-Nya sangat luar biasa dan dahsyat, dan bukan melihat pada kehebatan diri. Ketika manusia melihat terus pada kesempurnaan Allah, pada saat itulah manusia semakin sadar kelemahan dirinya. Dr. John Calvin di dalam bukunya yang terkenal Institutes of the Christian Religion mengajar bahwa manusia baru bisa menyadari akan naturnya yang lemah dan terbatas sampai dia membandingkan dirinya dengan Allah yang Mahakudus itu. Artinya, kesempurnaan dan kekudusan Allah mengakibatkan manusia sadar diri dan bertobat, serta kembali kepada-Nya. Bagaimana dengan kita? Apakah kesempurnaan dan kekudusan Allah menguduskan kita yang berdosa ini? Ataukah doktrin ini hanya menjadi doktrin yang memenuhi kepala kita sebagai bahan theologi saja? Biarlah kita ditegur dan diajar kembali tentang pentingnya kita sadar akan diri kita yang berdosa, lemah, dll, dan mengarahkan hati dan hidup kita kepada kesempurnaan dan kekudusan Allah yang mengakibatkan kita memiliki hidup yang berarti dan berkemenangan. Hidup yang berarti adalah hidup yang menempatkan arti itu pada Sang Sumber Pengertian, yaitu Tuhan, di saat itulah kita menemukan arti hidup. Jangan pernah mencari arti hidup di dalam pengertian dunia yang berdosa, karena itu sia-sia adanya. Kedua, Paulus juga ingin mengingatkan adanya kaitan erat antara predestinasi dengan respon pertama yang tepat yaitu kagum akan kedalaman kekayaan/kepenuhan Allah. Ketika seseorang telah dipilih Allah menjadi umat-Nya, respon yang paling tepat sebagai orang yang telah dipilih adalah kagum akan kesempurnaan Allah. Tetapi berapa banyak kita melihat realita baik dari jemaat Kristen maupun pemimpin gereja, setelah mereka mengetahui doktrin predestinasi/pemilihan Allah, mereka banyak yang tidak setuju dan bahkan menolak, karena dianggap itu pilih kasih atau Allah tidak adil? Realita yang tidak bertanggungjawab ini BUKAN respon orang Kristen yang beres dan tepat, karena jika kita berlaku demikian, kita sedang mempertanyakan Allah itu sendiri yang berdaulat (bdk. Rm. 9:12-21). Respon yang benar setelah kita merenungkan kedaulatan Allah di dalam pemilihan/predestinasi ini, kita semakin kagum akan kesempurnaan Allah dan bersyukur. Bagaimana dengan kita? Apakah predestinasi hanya menjadi bahan untuk kita berdebat theologi dengan orang lain? Ataukah predestinasi menyadarkan kita akan anugerah Allah dan membagikan anugerah itu kepada orang lain melalui pemberitaan Injil? Ingatlah! Predestinasi menjadi dasar pengabaran Injil, bukan malahan memperkecil mandat penginjilan?

Kedua, dalamnya hikmat Allah. Kata “hikmat” dalam bahasa Yunani sophia artinya kebijaksanaan (wisdom). Poin kedua yang bisa kita pelajari adalah tentang dalamnya hikmat Allah. Apa itu hikmat? Apakah orang yang memiliki hikmat identik dengan orang pandai? TIDAK! Orang pandai belum tentu berhikmat, tetapi orang berhikmat bisa pandai. Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div. mengajar bahwa orang berhikmat adalah orang yang memakai hikmatnya di dalam memutuskan hal-hal praktis, sedangkan orang pandai hanya pandai berteori saja. Dunia lebih memerlukan orang berhikmat ketimbang orang pandai, karena orang pandai hanya tahu teori, tetapi orang berhikmat tahu teori dan praktik. Lalu, hikmat itu sumbernya dari mana? Tentu dari Allah. Allah memberikan hikmat kepada manusia sebagai peta dan teladan Allah. Tetapi dosa mengakibatkan hikmat manusia menjadi rusak total, akibatnya hikmat yang seharusnya dipakai untuk memuliakan Allah di dalam memutuskan segala sesuatu akhirnya menjadi hikmat yang menguntungkan diri sendiri. Itulah sebabnya, Kristus diutus menebus dosa manusia. Kristus bukan hanya menebus dosa manusia saja, tetapi Ia juga mengembalikan manusia kepada natur aslinya demi kemuliaan-Nya. Itu sebabnya, dalam memulihkan natur asli manusia, Ia (Kristus) adalah hikmat kita (bdk. 1Kor. 1:30; Kol. 2:3; Why. 5:12). Dengan menaruh sumber hikmat kita pada Kristus dan firman-Nya (Alkitab), kita akan mendapatkan hikmat sejati yang datang dari Allah, bukan dari manusia. Melalui firman-Nya ini, kita juga mendapatkan hikmat bahwa Allah adalah Sumber Hikmat yang jauh lebih berhikmat dari manusia yang sebenarnya tidak berhikmat secara sempurna. Dia yang adalah Sumber Hikmat memberikan hikmat itu kepada kita yang adalah umat pilihan-Nya untuk menangkap hikmat Allah meskipun samar-samar. Dalam konteks ini, kita mendapatkan betapa dahsyat hikmat Allah yang mengajar kita akan predestinasi Allah. Oleh karena itu, di ayat 35, Paulus mengatakan, “Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya?” Terjemahan KJV, “Or who hath first given to him, and it shall be recompensed unto him again?” Terjemahan dari teks Yunani yang diterjemahkan oleh Pdt. Hasan Sutanto, D.Th. (2003), “Atau siapa yang sebelumnya memberikan kepada-Nya, lalu (itu) akan diberi kembali kepadanya?” (hlm. 862) Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) bisa memberikan pengertian yang lebih jelas akan ayat ini, “Siapakah pernah memberi sesuatu kepada Tuhan sehingga bisa menuntut balasan-Nya?”” Di sini, kita belajar bahwa karena hikmat bersumber dari Allah, maka tidak ada satu orang pun yang layak memberikan petunjuk hikmat kepada Allah, lalu kita berani menagih balik hak kita setelah kita “mengajari” Allah! Bagaimana dengan kita? Kita seringkali merasa diri berhikmat. Mungkin karena kita sudah merasa diri dewasa, berumur tua, dll. Umur, perawakan, dan hal-hal fenomenal lainnya tidak membuktikan kita berhikmat SEJATI. Orang yang memiliki hikmat sejati diukur dari seberapa dalam, setia, taat, jujur, kita menaklukkan diri kita yang berdosa ini ke bawah kedaulatan Allah di dalam Alkitab. Orang yang berhikmat sejati ditandai oleh suatu ciri bahwa orang itu bisa membedakan dengan tegas manakah kehendak Allah dengan kehendak manusia: yang baik vs yang tidak, yang berkenan kepada Allah vs yang tidak berkenan, yang sempurna vs fana/tidak sempurna (Rm. 12:2). Mari kita memiliki hikmat sejati untuk memuliakan Tuhan!

Ketiga, dalamnya pengetahuan Allah. Kata “pengetahuan” dalam bahasa Yunani gnōsis yang berarti pengetahuan (knowledge). Bukan hanya kesempurnaan dan hikmat, Allah juga memiliki pengetahuan yang luar biasa. Ketika dunia berdosa menawarkan segala macam pengetahuan dunia, maka Paulus “menawarkan” dan mendorong kita bukan melihat pengetahuan dunia terlalu banyak, tetapi melihat pengetahuan Allah yang Mahadahsyat. Apakah pengetahuan di sini identik dengan hikmat Allah? Ada kaitannya, tetapi tidak sama. Hikmat lebih mengarah kepada kebijaksanaan, sedangkan pengetahuan lebih mengarah kepada totalitas pengetahuan/pikiran. Allah yang memiliki pengetahuan jauh melampaui manusia adalah Allah yang memiliki totalitas pemikiran dan kehendak yang jauh di atas manusia. Apa perbedaannya? Pertama, pemikiran Allah selalu bersifat kekekalan, sedangkan pikiran manusia selalu sementara sifatnya. Allah selalu memikirkan hal-hal yang kekal, bukan kesementaraan, karena Allah itu sendiri pada diri-Nya kekal. Kekekalan Allah ini ditunjukkan dengan dipilih-Nya beberapa manusia untuk menjadi anak-anak-Nya. Bukan hanya itu saja, Allah yang kekal adalah Allah yang memelihara umat-Nya baik di dalam keselamatan maupun kehidupan sehari-hari. Di dalam memelihara inilah, kadang-kadang Allah memakai cara-cara yang di luar pikiran manusia. Ia menguji manusia melalui penderitaan, kesakitan, bahkan penganiayaan. Semuanya itu membuktikan Allah memelihara iman umat-Nya sehingga umat-Nya bukan menjadi umat yang manja, tetapi menjadi umat pilihan-Nya yang dewasa secara rohani. Lalu, bagaimana dengan pikiran manusia? Manusia selalu berpikir pendek. Melihat sesuatu tampak sulit, manusia sudah marah, putus asa, dll, sehingga jalan pikirannya selalu sementara sifatnya. Tetapi puji Tuhan, umat pilihan-Nya dimungkinkan memiliki pikiran Allah (meskipun tidak sempurna), di mana mereka tidak perlu putus asa dan khawatir ketika menghadapi penderitaan, melainkan mereka terus berharap hanya kepada Allah yang memiliki pengetahuan tak terbatas. Kedua, pemikiran Allah tidak pernah berkontradiksi, sedangkan pemikiran manusia banyak yang berkontradiksi. Kalau di poin pertama, kita belajar sifat pengetahuan Allah, di poin kedua, kita belajar akan kualitas pengetahuan Allah. Ev. Ivan Kristiono, M.Div. pernah mengajar bahwa di dalam Allah tidak ada kontradiksi. Karena Pribadi Allah tidak berkontradiksi dengan diri-Nya, maka begitu juga pengetahuan-Nya. Ketika Dia memiliki kehendak dan pikiran yang telah ditetapkan-Nya sebelumnya, maka itulah yang Ia jalankan dan kehendak-Nya itu berkaitan erat dengan karakter dan Pribadi-Nya. Jadi, tidak ada istilah Allah “ragu-ragu” atau plin-plan! Itu sebabnya doktrin Open-Theism dan Dispensasionalisme (salah satu doktrin akhir zaman) yang mengajarkan bahwa Allah itu plin-plan adalah salah! Bagaimana dengan pikiran manusia? Karena manusia adalah pribadi ciptaan Allah yang berdosa, maka semua pengetahuannya juga rusak total, bahkan banyak yang berkontradiksi. Ambil contoh, orang tertentu bisa berkata X di hari pertama, mungkin di hari kedua, dia akan berkata Y bahkan sesuatu yang sangat bertolak belakang dengan X. Itu membuktikan ketidakkonsistenan pengetahuan/pikiran manusia berdosa. Bahkan lebih tajam lagi, Pdt. Dr. Stephen Tong mengajarkan bahwa semua filsafat manusia berdosa yang melawan Allah akan berkontradiksi dengan dirinya sendiri (self-contradictory). Mengapa bisa demikian? Karena semua filsafat manusia berdosa itu adalah produk manusia berdosa yang terlepas bahkan menolak Kebenaran Allah sebagai satu-satunya dasar pengetahuan.

Dengan dasar dua pengertian tentang perbedaan pengetahuan Allah dari pengetahuan manusia, maka Paulus membukakan pengertian kita di ayat 34, “Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya?” Karena pengetahuan Allah jauh melampaui pengetahuan manusia, maka Paulus mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui pikiran Tuhan bahkan pernah menjadi penasihat-Nya untuk menentukan mana yang adil, benar, dan baik (bdk. Yes. 40:13-14). Dalam konteks ini, Paulus mengingatkan jemaat Roma, khususnya orang-orang non-Yahudi akan pikiran Tuhan yang tidak dapat diketahui tentang pemilihan Allah, sehingga mereka tidak perlu protes kepada-Nya. Ayat ini mengajarkan kita satu prinsip penting bahwa pengetahuan Allah mengakibatkan kita harus tunduk mutlak kepada-Nya. Sikap taat adalah sikap yang harus kita lakukan ketika kita sadar bahwa Allah lebih memiliki pengetahuan yang sempurna ketimbang kita. Ketika kita taat, kita akan menemukan banyaknya pemikiran Allah yang akan disingkapkan kepada kita (meskipun tidak pernah 100%). Inilah paradoks. Dunia mengajarkan bahwa kalau ingin berpengetahuan, carilah pengetahuan itu. Tetapi firman Tuhan mengajarkan hal sebaliknya, jika ingin memiliki pengetahuan sejati, sikap pertama: TAAT dan menundukkan diri di bawah Tuhan, baru di situ, Tuhan lah yang memberi kita pengetahuan. Tuhan yang memberi kita pengetahuan tidak berarti kita tidak perlu mencari pengetahuan. Kita tetap perlu mencari pengetahuan, tetapi itu adalah tindakan kita setelah kita taat kepada-Nya. Ketaatan kita mengakibatkan kita semakian giat mengerti, mengenal, dan mengalami sendiri pengetahuan Allah di dalam hidup kita. Jika kita tidak pernah taat, kita tidak akan memiliki pengetahuan sejati dari Allah, meskipun kita memiliki gelar akademis yang berpuluh-puluh. Gelar tidak membuktikan kita berpengetahuan sejati. Gelar akademis hanyalah tempelan fenomenal. Utamakan mutu dan pengetahuan sejati dari Allah, baru pertimbangkanlah gelar akademis. Tuhan tidak mempertanyakan berapa gelar akademis yang kita dapat dari kampus terkenal, tetapi Tuhan menguji hati kita yang paling dalam tentang bagaimana kita mengetahui dan mengenal Dia, meskipun pendidikan akademis tetap diperlukan.


Setelah menjelaskan tentang dahsyat dan dalamnya kekayaan, hikmat, dan pengetahuan Allah, Paulus akhirnya menutup rangkaian doktrinnya dengan satu kesimpulan yang paling agung di ayat 36, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Kemuliaan Allah sajalah yang menjadi sasaran/fokus penting keselamatan dalam pemilihan/predestinasi Allah bagi umat-Nya di dalam Kristus. Kemuliaan Allah ini diuraikan Paulus di dalam tiga prinsip:
Pertama, segala sesuatu adalah dari Allah. Dari Allah, berarti segala sesuatu bersumber dari Allah. Sumber segala sesuatu adalah Allah. Sumber pemilihan atas beberapa orang untuk menjadi anak-anak-Nya itu adalah dari Allah, bukan dari apa yang manusia perbuat! Lebih tajam lagi, pemilihan adalah anugerah Allah yang berdaulat! Bagaimana dengan kita? Prinsip ini bisa diimplikasikan pada kehidupan kita sehari-hari. Kalau dikatakan bahwa segala sesuatu adalah dari Allah, itu berarti apa yang kita punya, baik harta, kepintaran, hikmat, bahkan pengertian rohani dari Alkitab yang kita dapatkan semua berasal dari Allah. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi kita untuk sombong atau memegahkan diri kalau kita memilikinya semua itu. Agar kita tidak memegahkan diri, biarlah kita membagikan apa yang ada pada kita kepada orang lain sebagai berkat, sehingga orang lain juga melihat kedahsyatan Allah kita.

Kedua, segala sesuatu adalah oleh Allah. Kata “oleh” seharusnya diterjemahkan melalui (through). Dalam konteks ini, “segala sesuatu adalah oleh/melalui Allah” berarti pemilihan Allah bukan hanya bersumber dari Allah, tetapi juga dipelihara oleh Allah. Ini membuktikan pemeliharaan Allah. Allah yang telah memilih, Ia juga yang akan memeliharanya sampai pada kesudahannya, karena Ia adalah Alfa (Yang Awal) dan Omega (Yang Terakhir). Sehingga, kita tidak perlu khawatir kehilangan keselamatan, karena jika kita termasuk umat pilihan-Nya, pada saat itu juga, kita beriman bahwa Allah yang telah memulai keselamatan, Ia pula-lah yang akan menyempurnakannya. Konsep ini juga bisa diimplikasikan di dalam hidup kita. Kalau di poin pertama, kita belajar bahwa segala sesuatu adalah dari Allah yang artinya kita tidak perlu sombong akan apa yang kita miliki, maka di poin kedua, kita belajar bahwa apa pun yang kita miliki ini dari Allah dipergunakan oleh Allah sebagai sarana mempertumbuhkan iman kita. Tuhan memakai harta kita untuk mencukupi kehidupan kita, dan juga untuk melayani-Nya (dikaitkan dengan poin ketiga, nantinya). Tuhan memakai iman dan pengertian kita akan firman-Nya sebagai sarana untuk menghindarkan kita dari tamak uang, dan cinta diri. Tuhan memakai pasangan kita untuk mengingatkan kita akan kelemahan kita dan kembali kepada Tuhan. Tuhan bisa memakai siapa pun yang ada di dekat kita untuk mengingatkan kita. Bagaimana dengan kita? Kita pun bisa dipakai oleh-Nya sebagai sarana berkat-Nya. Maukah kita menyalurkannya?

Ketiga, segala sesuatu adalah bagi Allah. Di dalam konteks ini, kita belajar bahwa pemilihan Allah berasal dari Allah, dipelihara oleh Allah, maka secara otomatis, ujungnya harus berakhir pada kemuliaan bagi Allah itu sendiri sebagai Sumber dan Pemelihara. Allah sebagai Sumber dan Pemelihara, Dia-lah yang juga harus menerima pujian, hormat, dan kemuliaan. Konsep ini bisa diimplikasikan di dalam hidup kita. Kalau kita sadar bahwa segala yang kita miliki adalah dari Allah, orang lain menjadi sarana yang melaluinya Allah menegur kita (atau kita bisa menjadi sarana berkat-Nya), maka kita melakukan kedua hal ini bersama-sama untuk memuliakan Tuhan (Soli Deo Gloria). Bagaimana kita memuliakan Tuhan? Katekismus Singkat Westminster Pasal 1 memberikan jawaban atas pertanyaan apakah tujuan utama manusia: “Tujuan utama manusia adalah memuliakan Allah dan menikmati Dia selama-lamanya.” Rev. Dr. John S. Piper dalam bukunya Desiring God mengganti kata “dan” dengan kata “oleh” (by). Dengan kata lain, umat pilihan-Nya dapat memuliakan Tuhan dengan menikmati Dia. Apa arti menikmati Tuhan? Apakah menikmati Tuhan merupakan perasaan subjektif? TIDAK. Menikmati Tuhan dapat dibagi menjadi dua, yaitu: menikmati Pribadi Allah. Seseorang bisa menikmati Allah itu setelah ia mengenal Allah melalui Alkitab. Inilah kaitan erat antara doktrin dan spiritualitas. Banyak gereja terlalu mementingkan doktrin dan melupakan spiritualitas. Akibatnya, mereka pandai berdebat theologi, tetapi hati mereka kering. Sebaliknya, di sisi lain, banyak gereja mengesampingkan doktrin dan mementingkan kesalehan, akibatnya kesalehan yang dibangun adalah kesalehan yang antroposentris (berpusat pada manusia) dan tidak memuliakan Tuhan. Alkitab mengajarkan kita konsep yang seimbang, yaitu kita mengenal Allah dulu melalui Alkitab, baru kita mengalami Allah dengan menikmati-Nya. Menikmati-Nya adalah kebanggaan terbesar umat pilihan-Nya yang telah ditebus Kristus, karena kita memiliki Allah yang Mahadahsyat dan Mahaagung yang tidak bisa dijumpai pada ilah-ilah lain! Kedua, menikmati firman-Nya. Setelah menikmati pribadi-Nya, kita dituntut untuk menikmati firman-Nya. Seberapa dalam kita mencintai firman-Nya? Seberapa setianya kita taat kepada firman-Nya? Ataukah kita taat kepada firman-Nya hanya untuk hal-hal yang tidak melawan logika/rasio (lebih tepatnya, nafsu) kita? Mari kita menguji hati kita.


Kita telah merenungkan empat ayat kesimpulan dari doktrin pemilihan Allah yang diajarkan Paulus. Biarlah kita bukan hanya memenuhi pengetahuan kita tentang theologi predestinasi ini, tetapi kita semakin menguatkan kerohanian kita dan mengintrospeksi diri kita seberapa dalam, setia, dan taat kah kita mengagumi karya Allah, mensyukurinya, dan membagikannya kepada orang lain? Tuhan TIDAK memerintahkan kita untuk diam saja, tetapi Ia memerintahkan kita untuk keluar dan menjadi berkat. Maukah kita berkomitmen melakukannya dengan semangat yang berapi-api? Amin. Soli Deo Gloria.

17 November 2008

Matius 11:28-30: PIKULLAH DAN BELAJARLAH (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Ringkasan Khotbah : 3 September 2006


PIKULLAH DAN BELAJARLAH

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.



Nats: Mat. 11:28-30



Abad 20 merupakan abad di mana filsafat posmodern berkembang dengan pesat. Hal ini terlihat jelas, banyak orang menegakkan otoritas diri. Machiavelli yang disebut juga bapak penguasa menyatakan untuk memerintah dunia haruslah dengan otoritas. Dari sini, orang berpikiran negatif tentang otoritas, orang mengontraskan konsep penguasa dengan konsep demokrasi dan menganggap konsep penguasa lebih kejam daripada konsep demokrasi. Pandangan yang keliru, kalau kita perhatikan, konsep penguasa dan konsep demokrasi ini sama-sama memaksakan kehendak dan bersifat diktator. Bedanya, konsep penguasa pemegang otoritasnya satu orang sedang konsep demokrasi pemegang otoritas banyak orang. Kedua konsep tiran ini menimbulkan kebencian dalam diri Michael Foucoult tetapi toh kebencian pada otoritas ini tidak menghilangkan konsep otoritas itu, ia mengalihkan otoritas itu ke dalam dirinya, dengan kata lain ia mau menyatakan bahwa hanya dirinyalah yang berotoritas dan di luar itu, orang mati. Sampai hari ini kebencian terhadap otoritas itu tidak hilang, hal ini ditandai dengan munculnya berbagai macam opini maupun aliran yang pro dan kontra. Pada saat yang sama, setiap orang ingin menegakkan otoritas dan tidak mau tunduk kepada orang lain karena ia menganggap diri itu adalah kebenaran. Akibatnya orang langsung bereaksi negatif ketika mendengar segala hal yang berbau perintah tak terkecuali dengan Firman Tuhan, orang langsung melawan apa yang menjadi perintah Tuhan.

Dalam Injil Matius, dengan jelas Tuhan Yesus memerintahkan: pikullah dan belajarlah (Mat. 11:29). Perintah untuk belajar di sini bukan belajar dalam hal materi. Tidak! Dunia selalu berpikir kalau belajar itu belajar apa? Salah! Konsep belajar yang Tuhan ajarkan adalah belajar siapa? Orang langsung bereaksi negatif ketika mendengar suatu perintah apalagi kalau perintah itu dikenakan atas dirinya. Pertanyaannya kenapa manusia sulit menerima perintah? Ada 3 aspek yang mendasari kenapa orang sulit menerima perintah dan hal ini sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi kita, yaitu:
1. Paranoid
Paranoid merupakan salah satu penyakit jiwa di mana orang selalu merasa ketakutan dan tidak ada sebab-sebab pasti kenapa orang merasa takut. Ia selalu menganggap orang lain sebagai musuh yang akan mencelakakan dirinya. Pertanyaannya adalah apa yang menjadi penyebab orang menjadi paranoid? Dosa menyebabkan orang selalu takut, dan ketakutan ini sifatnya laten. Sesungguhnya, orang sadar kalau ia telah berbuat bersalah dan kesalahan itu harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Orang mencoba melupakan hal ini dengan cara menekan setiap permasalahan ke dalam diri sendiri tapi hal itu malah menjadikan orang berbeban berat. Seorang anak yang berbuat salah tapi ia tidak mau mengakui perbuatannya karena takut kena marah dan dihukum ayahnya maka ia menyimpan dosa itu. Akibatnya, ia menjadi paranoid, ia takut terhadap siapa pun, ia takut kalau-kalau perbuatan dosanya diketahui orang lain. Penundaan hukuman justru memunculkan hukuman-hukuman lain di mana hal itu seharusnya tidak perlu kita alami. Sadarlah, kita tidak bisa lepas dari penghukuman sebagai akibat dari perbuatan dosa; keadilan Tuhan nyata nyata atas orang-orang berdosa, cepat atau lambat hukuman itu pasti tiba. Satu-satunya cara supaya orang lepas dari beban adalah orang harus kembali pada Tuhan, kita akan mendapatkan kelegaan kalau kita mengakui segala perbuatan dosa kita.

2. Sombong
Orang selalu merasa dirinya itu lebih dari segala-galanya dari orang lain; orang hanya mau memerintah tapi tidak mau diperintah. Itulah sebabnya, orang selalu melawan ketika ia diperintah. Bandingkan antara perintah Tuhan Yesus dan perintah dunia. Dunia memerintah dengan otoritas dan arogan bahkan kalau perlu dengan kekerasan sebaliknya, Kristus memerintahkan pada kita untuk kembali pada-Nya karena Dia lemah lembut dan rendah hati. Ketika manusia merasa diri lebih dari yang lain maka itu merupakan titik fatal, orang akan sulit mengerti dan menanggapi suatu perintah.

3. Egois
Manusia berdosa tidak suka dengan sesuatu yang benar, yang baik, yang adil, yang suci, dan yang mulia. Manusia hanya suka pada apa yang menyenangkan dirinya. Inilah yang menjadi konsep dasar egoisme. Orang egois selalu memperjuangkan apa yang menjadi keinginan dirinya, yakni bagaimana diri disenangkan. Jiwa utilitarianistik dan jiwa hedonis menjadi citra dalam diri mereka, ia selalu berpikir, bagaimana ia mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya. Pernahkah terpikir oleh kita kalau sesungguhnya kita telah mempengaruhi orang lain untuk berpikir sama seperti kita? Bayangkan, kalau setiap orang ingin mendapatkan keuntungan maka yang jadi korban pertama tentu saja, orang terdekatnya. Jelaslah bahwa jiwa hedonis menjadi dasar konsep utilitarian. Jiwa hedonis ini telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat, itulah sebabnya kita sulit menyadarkan orang untuk kembali pada kebenaran sejati.

Perintah yang ditegakkan berdasarkan konsep paranoia, kesombongan, dan berjiwa hedonis dan egois menjadikan dunia semakin kacau. Dan yang lebih celaka, tanpa kita sadari kita terjebak masuk dalam perputaran otoritas sistem dunia. Ketika kita melihat perintah, kita melihat arogansi dan egois si pemberi perintah, itu membangkitkan kebencian dan arogansi dalam diri, tapi kita tidak dapat melawannya maka kitapun memerintah orang lain dengan arogansi yang sama maka itu menjadi putaran arogansi. Di satu sisi, kita tidak suka dengan perintah dan benci tetapi di sisi lain, ternyata kita berlaku sama seperti mereka. Betapa semakin kacau dan rusaknya dunia ini kalau perputaran perintah yang arogan ini terjadi dalam keluarga, gereja ataupun masyarakat.

Kalau kita perhatikan, orang tidak peduli dengan perintah yang berbentuk past karena sudah lewat, dan perintah yang berbentuk future sebab perintah tersebut belum berlaku. Orang hanya peduli pada perintah yang bentuknya present, perintah yang sedang berlaku hari ini. Tuhan Yesus memberikan perintah yang berbeda dengan dunia. Alkitab memberikan suatu tenses lain, yakni aorist tense (Yunani) artinya perintah tidak bergantung pada waktu dan subyeknya. Immanuel Kant menyebutnya sebagai categorical imperatif dan pada abad pencerahan, konsep Kant ini merupakan teori moral yang terbesar dibandingkan teori lain yang ia cetuskan. Bagi Kant, kalau saya berbuat baik, kenapa? maka tidak ada alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan itu sebab berbuat baik merupakan hakekat dasar yang bersifat mutlak dan tidak dapat ditiadakan. I do it because it is onthological absolute necessity. Jauh sebelumnya, Tuhan Yesus telah mengajarkan prinsip ini, sesuatu absolut harus kembali pada kekekalan dan kebenaran Allah. Kata perintah yang digunakan Kristus ini berbentuk auris imperatif artinya perintah ini diberikan kepada manusia bukan untuk menyusahkan manusia tapi demi kebaikan kita.

Ironisnya, manusia menganggap Tuhan hendak memanipulasi manusia maka tidaklah heran kalau manusia selalu melawan perintah Tuhan, salah satunya perintah Kristus yang berbunyi: “Barangsiapa mau mengikut Aku, ia harus menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Aku” disikapi paranoia, orang langsung berpikir negatif tentang Kristus. Tidak sadarkah kita kalau musuh terbesar adalah diri sendiri, orang banyak berbuat dosa justru ketika ia tidak menyangkal diri. Jadi, menyangkal diri adalah demi kebaikan kita. Demikian juga halnya ketika Tuhan memerintahkan pada kita untuk memikul kuk dan belajar pada-Nya itu untuk kebaikan kita. Perintah Tuhan itu sifatnya absolute necessity, categorical imperatif – mutlak harus kita lakukan, tidak ada kemungkinan lain yang lebih baik kecuali orang kembali pada Tuhan dan perintah itu sifatnya kekal; kita harus lakukan perintah itu terus menerus. Namun dunia tidak suka dengan segala sesuatu yang “berbau“ perintah, orang hanya menjalankan perintah ketika ia diawasi sebaliknya, perintah itu akan langsung dilanggar ketika ia tidak berada dalam pengawasan. Di dunia modern ini jarang sekali kita temukan bahkan dalam diri orang Kristen yang mempunyai konsep: melakukan yang terbaik di manapun ia berada. Tuhan ingin kita melakukan perintah-Nya secara terus menerus dan akhirnya menjadi suatu kebiasaan baik.

Perintah Tuhan seharusnya menyadarkan manusia akan kasih Allah. Segala sesuatu yang Tuhan kerjakan adalah untuk kebaikan kita dan ingat, Tuhan tahu apa yang terbaik untuk manusia daripada manusia itu sendiri. Allah adalah Baik, Dialah sumber segala kebajikan yang ada di dunia ini. Manusia yang dicipta menurut gambar dan rupa Allah juga mempunyai semua kebajikan itu tapi sifatnya relatif dan derivatif (turunan). Dosa membuat konsep kebajikan menjadi rusak. Ironisnya, manusia masih berpikir kalau ia lebih baik dari Tuhan; manusia berpikir kalau kuk yang sekarang ditanggungnya lebih enak daripada kuk Tuhan. Salah! Memikul kuk Tuhan justru jauh lebih enak dan beban pun menjadi ringan. Terkadang kita tidak mengerti apa yang menjadi rencana Tuhan namun satu hal yang pasti, Tuhan tidak akan membawa anak-Nya menuju pada kebinasaan. Sangatlah sulit menjalankan kekuasaan, perintah dan demokrasi secara sinkron. Hal ini disadari oleh A. S. Hikam, tokoh politik sekaligus tokoh muslim yang mempertanyakan bagaimana caranya supaya orang bisa berjiwa asketik, jiwa rela berkorban. Dunia tidak akan berterima kasih ketika ada orang lain yang berkorban untuknya, orang selalu menginginkan lebih, dari sini muncullah peribahasa jawa berbunyi: diwenehi ati ngrogoh rempela. Namun Tuhan Yesus tidaklah demikian, Dia rela berkorban untuk manusia dan Dia tidak mengharapkan imbalan apa pun dari kita bahkan Ia memberi yang terbaik untuk kita, Ia merancangkan yang terbaik untuk kita. Tuhan tahu sampai di mana kapasitas dan kemampuan kita sehingga Dia tidak memberikan pada kita beban yang berlebih yang tidak dapat kita tanggung dan ingat, kuk yang Tuhan beri itu ringan. Bagaimana reaksi manusia mendengar tentang hal ini? Berterima kasihkah? Tidak! Manusia jahat, manusia ingin lebih, manusia pikir kalau Tuhan baik seharusnya Tuhan tidak memberikan kuk seharusnya Tuhan angkat kuk. Betapa jahatnya manusia, tidak pernah puas diri. Manusia tidak dapat melihat kebajikan Allah sebagai suatu kebajikan. Jiwa paranoid, egois, dan hedonis itu langsung nampak dan tercermin keluar. Hendaklah kita berserah sepenuh hidup kita pada-Nya karena Dia tahu apa yang terbaik untuk kita.Tuhan memerintahkan kepada kita supaya kita belajar pada-Nya karena Ia lemah lembut dan rendah hati. Konsep ini sangat berlawanan dengan konsep dunia. Dunia kalau memerintah haruslah ditunjang dengan otorisasi bahkan kalau perlu dengan kekerasan akibatnya orang balik melawan maka di sini terjadi adu otorisasi; siapa yang lebih berotoritas maka dia yang akan memerintah. Perputaran otoritas ini tidak pernah berhenti. Berbeda halnya dengan Kristus, Dia tidak memakai otorisasi sebab Ia lemah lembut dan rendah hati. Kristus mengajak kita keluar dari perputaran otorisasi dunia. Dunia tidak pernah memahami ajaran Kristus yang mengajarkan kalau kamu ditampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu (Mat. 5:39). Ajaran Kristus yang agung itu justru dianggap merugikan dan konyol. Dunia mengajarkan kejahatan harus dibalas dengan kejahatan bahkan pembalasan itu harus lebih kejam dari tindakan. Inilah sifat manusia berdosa. Pertanyaannya sekarang adalah kita mau mengikut pola siapa? Pola dunia yang berdosa ataukah pola Kristus yang agung? Ketika kita memutuskan tidak ingin menjadi sama seperti mereka maka pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana reaksi kita menghadapi orang-orang yang membenci kita? Apakah kita harus membalasnya dengan melakukan agresi ataukah seperti yang Kristus ajarkan, yaitu dengan lemah lembut dan rendah hati?

Memang tidaklah mudah untuk lemah lembut dan rendah hati pada orang yang membenci kita sebab melawan natur manusia berdosa. Tuhan Yesus tidak hanya sekadar memberikan perintah atau mengajar kebenaran. Tidak! Tuhan Yesus adalah kebenaran; Dia menjalankan kebenaran. Dalam suatu seminar, Stephen Chan menyatakan jangan samakan seorang politis teoritis dengan seorang politis praktis sebab seorang pembuat teori-teori politik belum tentu ia dapat menjadi seorang politikus sebaliknya seorang politikus kemungkinan tidak mengerti teori politik tetapi sehari-hari ia mempraktekkannya. Demikian juga halnya antara theolog dengan pendeta, theolog bisa berteori tentang Kekristenan tetapi ia tidak melayani jemaat. Dunia tidak dapat menggabungkan keduanya. Hanya Kristus satu-satunya yang dapat menggabungkan keduanya. He’s the truth. Inilah yang membedakan Kristus dengan pendiri agama yang lain. Pendiri agama hanya dapat berteori tetapi mereka bukanlah kebenaran. Kembali pada Kristus berarti kita kembali pada true wisdom. Pertanyaannya sekarang masihkah kita menaruh curiga pada-Nya saat Dia memerintahkan pada kita untuk memikul kuk yang dari Tuhan dan belajar pada-Nya? Sadarlah, siapakah manusia di hadapan Tuhan yang Maha Agung dan mulia sehingga kita berani menyombongkan diri di hadapan-Nya?

Di dunia terjadi banyak pertikaian otoritas dan setiap orang mengklaim kalau dirinyalah yang paling benar dan berotoritas. Ingat, pemegang otoritas tertinggi adalah Kristus, Dia adalah Raja di atas segala raja dan kita bukanlah siapa-siapa. Firman yang Hidup itu adalah kebenaran sejati dan tidak ada kebenaran lain di dunia maka kita mau datang pada-Nya untuk belajar kebenaran sejati itu dan memikul kuk Tuhan. Biarlah kita menjatuhkan si aku yang sedang duduk di kursi dan membiarkan Kristus duduk di kursi dan bertahta di dalam kerajaan hidup kita. Biarlah kita mengevaluasi diri, sudah berapa lamakah kita menjadi Kristen dan selama itu sudahkah kita men-Tuhankan Kristus dalam hidup kita? Sudahkah Kristus menjadi pusat hidup kita? Kalau selama ini kita banyak tahu tentang Kebenaran Firman, sudahkah kebenaran itu terimplikasi dalam setiap aspek hidup kita? Sudahkah kita menjadi saksi-Nya? Apalah artinya kebenaran kalau kebenaran itu hanya sekadar kita mengerti secara konseptual dan pengetahuan belaka? Merupakan suatu keindahan dan sukacita ketika kebenaran itu terimplikasi, kita akan merasakan kebahagiaan sejati ketika berjalan dalam pimpinan Tuhan.

Terkadang Tuhan membiarkan kita mengalami berbagai tantangan dan kesulitan namun percayalah, kalau Tuhan ijinkan semua itu terjadi atas hidup kita itu untuk kebaikan kita. Berbagai tantangan dan kesulitan itu merupakan tempat pembelajaran bagi kita; Tuhan Yesus ingin kita belajar seperti Dia yang lemah lembut dan rendah hati. Tuhan ingin kita menikmati kuk yang Dia pasangkan itu ringan dan beban pun menjadi ringan. Namun meski demikian toh manusia tetap melawan, orang tidak suka memakai kuk Tuhan. Memang, tidaklah mudah menjalankan semua perintah Tuhan, tidaklah mudah mewartakan kebenaran di tengah-tengah dunia berdosa; kita pasti mengalami banyak kesulitan, kita jatuh bangun dalam iman kita namun hati-hati, janganlah kita dikendalikan oleh kondisi di sekeliling kita tapi hendaklah kita berserah dan taat pada Tuhan dan membiarkan Tuhan yang bekerja dalam setiap aspek hidup kita.

Janganlah kita menjadi orang-orang yang hanya berteori saja atau menjadi orang yang mengerti kebenaran Firman tapi hanya sebatas pengetahuan tanpa kita pernah menjalankannya. Semua itu percuma. Jangan pernah berpikir karena kita sudah memiliki theologi sempurna maka hidup kita sudah sempurna. Tidak! Tuhan menuntut pada setiap kita yang mengaku sebagai warga Kerajaan Sorga untuk memikul kuk dan belajar pada-Nya karena Tuhan lemah lembut dan rendah hati. Hendaklah kita mencontoh teladan Kristus, Dia mengajarkan kebenaran dan sekaligus melakukannya. Biarlah kita semakin diubahkan untuk semakin serupa Dia dan menjadi saksi-Nya di tengah dunia berdosa. Amin

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)



Sumber:
http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2006/20060903.htm

Roma 11:28-32: "ISRAEL" SEJATI ATAU PALSU-20: Konsep Keselamatan dan Anugerah-2

Seri Eksposisi Surat Roma :
Doktrin Predestinasi-18


“Israel” Sejati atau Palsu-20 (Penutup) :
Konsep Keselamatan dan Anugerah-2


oleh: Denny Teguh Sutandio


Nats: Roma 11:28-32



Setelah menjelaskan tentang anugerah Allah bagi orang non-Yahudi dan nasihat Paulus agar mereka tidak berbangga diri di ayat 19 s/d 24, maka ia membukakan pengajaran tentang rahasia mengapa mereka tidak boleh berbangga diri mulai ayat 25. Alasan kedua terletak pada ayat 28-32.

Di ayat 28, Paulus mengatakan, “Mengenai Injil mereka adalah seteru Allah oleh karena kamu, tetapi mengenai pilihan mereka adalah kekasih Allah oleh karena nenek moyang.” Kata “seteru” identik dengan musuh (enemies). Dengan kata lain, di dalam Injil, orang-orang Yahudi yang tidak dipilih Allah adalah seteru Allah oleh karena orang-orang non-Yahudi, tetapi mengenai pilihan, orang-orang Yahudi termasuk kekasih Allah oleh karena nenek moyang mereka. Di sini unik, Paulus mengemukakan dua standar yaitu Injil dan pilihan. Injil mengakibatkan orang-orang Yahudi yang tidak dipilih menjadi musuh Allah karena orang-orang non-Yahudi. Mengapa orang-orang Yahudi yang tidak dipilih ini disebut musuh Allah? Karena mereka menolak Kristus. Tuhan Yesus sendiri di dalam Injil Lukas 10:16 berfirman, “Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku."” Kristus berani berfirman bahwa barangsiapa yang menolak Dia berarti menolak Bapa yang mengutus-Nya. Di sini ada kaitan antara Allah Bapa dan Allah Anak. Mengapa mereka menolak Tuhan Yesus Kristus, padahal mereka menantikan-nantikan datangnya Mesias atau Kristus itu? Mereka menolak Tuhan Yesus sebagai Kristus karena Kristus yang hadir di hadapan mereka tidak sesuai dengan keinginan mereka yang menginginkan Kristus bertakhta di Israel mengalahkan semua bangsa lain. Kristus membongkar semua kebusukan orang Yahudi yang tidak terpilih bahwa mereka tidak datang dari Allah. Di dalam Yohanes 8:37-59, Kristus membongkar kebusukan orang Yahudi tersebut dengan menuding mereka sebenarnya tidak berasal dari Allah, karena mereka tidak datang kepada Kristus (bdk. ay. 43-44, 47). Orang yang tidak datang kepada Kristus dan bahkan menentang-Nya, itulah tanda orang itu sebenarnya tidak berasal dari Allah, lebih tepatnya disebut antikristus (bdk. 1Yoh. 4:1-3). Ketidakpercayaan Israel mengakibatkan bangsa-bangsa non-Yahudi mendapat anugerah keselamatan. Di dalam bangsa pilihan (Israel) saja, ada yang tidak datang kepada Kristus, apalagi di dalam orang Kristen. Jangan mengira bahwa semua orang Kristen pasti beriman kepada dan di dalam Kristus. Secara fenomenal, mereka mungkin menyanyikan pujian kepada Kristus, tetapi jauh di dalam hati mereka, merekalah yang ingin dipuji. Apa bedanya orang Kristen sejati yang beriman kepada Kristus dengan yang tidak? Orang Kristen yang sungguh-sungguh beriman kepada Kristus adalah mereka yang meletakkan iman dan hidupnya total hanya kepada dan di dalam Kristus sebagai Tuhan dan Raja dalam hidup mereka. Sebaliknya, mereka yang secara esensi tidak pernah menTuhankan Kristus, mereka dapat disebut musuh Allah, meskipun secara aktivitas, mereka aktif melayani di gereja. Marilah kita menguji hati kita masing-masing? Sejauh mana Kristus bertakhta di dalam hidup kita? Apakah Kristus hanya menjadi objek rasio dan analisa theologi kita ataukah Kristus sungguh-sungguh kita rasakan dan benar-benar bertakhta di dalam hati dan seluruh keberadaan hidup kita? Jangan kira semua orang Kristen pasti selamat. Tuhan berkenan memakai orang-orang non-Kristen untuk diselamatkan ketika mereka kembali kepada Kristus melalui Roh Kudus. Kesemuanya ini membuktikan bahwa keselamatan itu merupakan anugerah Allah, bukan kehendak bebas manusia.
Kedua, mengenai pilihan, mereka adalah kekasih Allah karena nenek moyang mereka. Siapakah “mereka”? Mereka di sini saya tafsirkan sebagai orang-orang Yahudi yang dipilih Allah. Mengapa? Karena ayat ini merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya yang membedakan dua macam orang: Israel secara jasmani vs Israel secara rohani. Israel secara jasmani telah dibahas dan disimpulkan bahwa mereka yang secara jasmani umat pilihan sebenarnya bukan umat pilihan secara pribadi, tetapi ada beberapa dari mereka yang dipilih (Israel rohani: Israel yang dipilih dan beberapa orang dari bangsa-bangsa non-Israel yang dipilih). Mereka yang TIDAK terpilih disebutkan di bagian pertama tadi, yaitu mereka adalah musuh Allah. Sedangkan mereka yang dipilih Allah inilah yang dimaksudkan Paulus bahwa mereka dipilih dan menjadi kekasih Allah karena nenek moyang mereka. Karena Allah telah mengadakan kovenan dengan Abraham, maka Ia yang adalah Allah yang Setia pasti memelihara kovenan-Nya pada umat Israel sejati secara rohani, sehingga Ia akan menuntun mereka kepada Injil Kristus. Ingatlah! Kita yang termasuk orang Kristen di Indonesia juga diselamatkan karena pemeliharaan kovenan Allah melalui Abraham dan Kristus, sehingga kita yang termasuk orang-orang non-Yahudi juga dimasukkan ke dalam umat pilihan Allah. Karena itulah, kita dapat disebut kekasih Allah atau orang yang dikasihi Allah. Disebut “kekasih” berarti kita itu dikasihi Allah, menjadi anak-anak-Nya yang meskipun memiliki hak, tetapi juga menerima disiplin dari Allah yang Mahakasih sekaligus Mahaadil. Jangan pernah membayangkan bahwa ketika kita disebut “kekasih,” kita bisa berbuat apa saja, lalu mengklaim Allah. Itu ajaran tidak bertanggungjawab! Menjadi “kekasih” Allah, selain mendapat hak sebagai anak-anak Allah, kita juga harus menerima disiplin dari Allah dan menunaikan kewajiban kita sebagai anak-anak-Nya. Di dalam Wahyu 3:19, Allah justru berfirman bahwa tanda Allah mengasihi umat-Nya adalah dengan menegor dan menghajar mereka, oleh karena itu, marilah kita dengan rendah hati belajar dan bertobat jika ditegur dan dihajar-Nya. Di Roma 12:1-2 juga dijelaskan aplikasi praktis tentang kewajiban anak-anak Allah sebagai implementasi dari doktrin-doktrin yang sudah diajarkan Paulus dari pasal 1 s/d 11. Ini semua membuktikan bahwa menjadi “kekasih” Allah, bukan berarti kita menjadi manja, tetapi justru menjadi “kekasih” Allah berarti kita menjadi anak-anak Tuhan yang dewasa. Sudahkah kita layak disebut kekasih Allah? Marilah kita mengintrospeksi diri masing-masing.

Karena Allah berkenan memilih dan memanggil siapa pun, maka tidak ada kata “salah” dalam rencana Allah termasuk dalam pemilihan orang-orang Israel maupun non-Israel. Dengan dasar bahwa Allah itu tidak berubah di dalam rencana-Nya, maka di ayat 29, Paulus mengatakan, “Sebab Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya.” Dalam bahasa Yunani, kata “tidak menyesali” identik dengan tidak menarik kembali (Hasan Sutanto, 2003, hlm. 861). Artinya, rencana-Nya di dalam memanggil dan memilih beberapa orang tidak pernah gagal. Ia adalah Allah yang setia, maka Ia memelihara setiap kovenan yang telah Dia tetapkan. Karena Allah itu setia dan tidak berubah, maka kita dapat mengamini setiap kovenan yang Dia berikan kepada kita. Tetapi seolah-olah kita melihat bahwa Allah mengubah rencana-Nya dari memilih Israel akhirnya memilih bangsa non-Israel, benarkah demikian? TIDAK. Dari awal, Allah memilih Israel bukan secara bangsa, tetapi secara individu. Kovenan Allah pada Abraham diteruskan kepada keturunan-keturunannya asalkan mereka beriman seperti Abraham kepada Allah Yahweh. Meskipun banyak orang Israel yang termasuk keturunan Abraham, mereka tidak semua disebut umat pilihan, karena mereka tidak semua beriman kepada Allah dengan sungguh-sungguh, tetapi hanya secara lahiriah. Di dalam Perjanjian Baru, hal ini makin dibukakan sejak Tuhan Yesus yang mengatakan bahwa bapak orang Israel yang tidak dipilih adalah Iblis, lalu disambung dengan pengajaran Paulus di Surat Roma dan Galatia (bdk. Gal. 2:15-3:14). Di sini, kita melihat kekonsistenan Allah di dalam menyatakan kehendak dan rencana-Nya. Dari dahulu, Ia mengadakan kovenan kepada Abraham dan keturunan-keturunannya yang percaya kepada-Nya (individual), lalu Ia melanjutkan kovenan-Nya dengan membawa orang-orang pilihan-Nya untuk datang kepada Kristus dan diselamatkan melalui penebusan Kristus. Secara tidak langsung, ayat ini menyerang pandangan sesat dari Open-Theism yang mengajar bahwa Allah itu dapat mengubah rencana-Nya. Jika Allah dapat mengubah rencana-Nya, berarti Ia plin-plan, dan jika Ia plin-plan, masihkah Dia layak disebut Allah yang tidak berubah? Padahal, Alkitab berkali-kali dari PL sampai dengan PB mengajar bahwa Allah itu tidak berubah dan tidak ada rencana-Nya yang gagal (Ayb. 42:2; Ibr. 13:8). Kita bersyukur beriman kepada Allah yang setia dan tidak berubah ini di tengah kondisi dunia postmodern ini yang selalu berubah.

Allah yang tidak menarik kembali anugerah dan panggilan-Nya adalah Allah yang menyatakan anugerah-Nya kepada manusia dengan bebas dan tanpa syarat. Ini dijelaskan Paulus di ayat 30-31, “Sebab sama seperti kamu dahulu tidak taat kepada Allah, tetapi sekarang beroleh kemurahan oleh ketidaktaatan mereka, demikian juga mereka sekarang tidak taat, supaya oleh kemurahan yang telah kamu peroleh, mereka juga akan beroleh kemurahan.” Kedua ayat ini merupakan pengulangan Paulus di ayat 11-12 dengan perspektif agak berbeda. Jika di ayat 11-12, Paulus mengingatkan orang-orang non-Yahudi agar mereka tidak sombong, maka di ayat 30-31, Paulus mengaitkan tegurannya dengan anugerah Allah yang tidak berubah (bdk. ay. 29 di atasnya). Karena adanya anugerah Allah yang tidak dapat ditarik kembali, maka sebagai orang yang termasuk umat pilihan-Nya baik orang Yahudi maupun non-Yahudi, mereka sudah seharusnya bersyukur. Kita pun demikian. Dahulu kita adalah seteru Allah, tetapi karena anugerah Allah di dalam Kristus, kita dimampukan untuk datang kepada Kristus, taat kepada-Nya, dan hidup bagi-Nya. Sungguh suatu anugerah Allah jika kita yang dahulu tidak taat, lalu menjadi taat. Inilah mukjizat yang sesungguhnya secara esensial.

Untuk menjelaskan lebih tajam lagi tentang anugerah dan kemurahan Allah, Paulus mengemukakan hal ini di ayat 32, “Sebab Allah telah mengurung semua orang dalam ketidaktaatan, supaya Ia dapat menunjukkan kemurahan-Nya atas mereka semua.” Anugerah dan kemurahan Allah ditunjukkan-Nya dengan membuat manusia sadar bahwa mereka itu tidak ada apa-apanya tanpa-Nya. Cara membuat mereka sadar adalah dengan mengurung mereka di dalam ketidaktaatan. Kata “mengurung” di dalam bahasa Yunani dapat diterjemahkan “menahan” (ibid., hlm. 861). Terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) mengartikan ayat ini, “Sebab Allah sudah membiarkan seluruh umat manusia dikuasai ketidaktaatan, supaya Ia dapat menunjukkan belas kasihan-Nya kepada mereka semuanya.” Artinya, cara membuat sadar manusia akan keterbatasan dan kelemahan mereka adalah dengan menunjukkan bahwa mereka itu adalah hamba dosa dan dosalah (=ketidaktaatan) yang memerintah hidup mereka. Jika mereka adalah hamba dosa, mustahil mereka bisa keluar dari jeratan dosa dengan sendirinya tanpa anugerah Allah berlaku bagi umat pilihan-Nya yang menarik mereka keluar dari kegelapan menuju kepada terang-Nya yang ajaib di dalam Kristus. Di sini, kita kembali melihat pengajaran Paulus yang Theosentris yang memusatkan segala sesuatunya pada anugerah Allah yang mahadahsyat. Jika bukan karena anugerah Allah, usaha manusia itu nihil. Bagaimana dengan kita? Seberapa dalam dan jelas kita memahami anugerah Allah yang mahadahsyat itu? Anugerah Allah seharusnya BUKAN menjadi teori yang berkutat di dalam rasio kita saja, tetapi kita implementasikan di dalam kehidupan kita sehari-hari. Anugerah Allah memungkinkan kita di dalam menjalankan mandat dari Allah selalu bergantung pada anugerah-Nya dan tidak memegahkan diri. Ketika kita terus bergantung pada anugerah-Nya, di saat itulah, kita mendapatkan kemurahan-Nya. Luar biasa. Kemurahan Allah dapat kita rasakan terus pada saat kita terus bergantung pada anugerah-Nya. Sudahkah kita bergantung pada anugerah-Nya sekarang?

Dari perenungan kelima ayat ini, kita disadarkan kembali akan pentingnya konsep anugerah Allah. Inti berita Alkitab bukan pada rumitnya doktrin, tetapi hanya satu, yaitu anugerah Allah yang dikaitkan dengan kedaulatan Allah. Allah yang berdaulat adalah Allah yang memberikan anugerah, dan Allah yang memberikan anugerah adalah Ia yang berdaulat memberi anugerah keselamatan kepada orang-orang yang telah dipilih-Nya sebelum dunia dijadikan. Sungguh suatu anugerah yang mahadahsyat jika kita boleh mengerti konsep agung ini, lalu kita implementasikan dengan cara kita memberitakan Injil Kristus kepada mereka yang belum percaya. Maukah kita berkomitmen menjalankan mandat Injil ini? Amin. Soli Deo Gloria.