01 March 2008

Bab 4: TENTANG YESUS KRISTUS

IV. Tentang Yesus Kristus
Penulis berulang-ulang mengatakan bahwa kalau Kitab Suci menyebut Yesus sebagai Anak Allah, itu bukan sungguh-sungguh, tetapi cuma metafor belaka, dan tujuannya hanya untuk menunjukkan kesatuan Allah dengan Yesus.
* hal 22: "Disini jelas Yesus bukan Anak Allah dalam arti biologis, karena Allah memang tidak mempunyai anak. Jadi sebutan gelar Yesus sebagai Anak Allah bersifat metaforis, yaitu untuk menunjukkan kebersatuanNya dengan TUHAN Allah"
* hal yang sama ia katakan dalam hal 109, dan hal 123-124.
Saya berpendapat bahwa gelar/istilah 'Anak Allah' itu menunjukkan bahwa Yesus mempunyai hakekat yang sama dengan Allah (Bdk. Yoh 5:18 Yoh 10:30,33 Yoh 19:7). Tetapi saya juga percaya bahwa kalau Kitab Suci menggunakan istilah 'Anak', 'memperanakkan', 'Bapa' dsb, itu tentu ada maksudnya. Karena itu saya percaya pada doktrin yang disebut 'The Eternal Generation of the Son' yang menyatakan bahwa Allah Bapa betul-betul memperanakkan Allah Anak secara kekal. Tetapi karena sukarnya doktrin ini, saya tak merasa perlu untuk menjelaskannya secara panjang lebar disini.

Bab 3: TENTANG ROH KUDUS

III. Tentang Roh Kudus
A. Pandangan Penulis tentang Roh Kudus
Penulis berulang-ulang menekankan bahwa Roh Kudus itu hanyalah merupakan 'kuasa Allah' dan bahwa Roh Kudus bukanlah pribadi / person. Ini terlihat dari:
* hal 117: "Karena Roh Kudus pada hakikatnya adalah TUHAN Allah sendiri. Tepatnya Roh Kudus secara khusus menunjuk pada daya atau kuasa Ilahi yang merupakan lingkup dari karya Allah. Atau kuasa Ilahi yang dinamis untuk melaksanakan kehendak dan karya Allah. Jadi bila Roh Kudus Allah disebut berkarya dalam suatu peristiwa atau melalui orang-orang tertentu, berarti hal itu menjadi bukti kehadiran dari kekuatan atau kekuasaan Allah yang dinamis".
* hal 130: "Menurut Alkitab secara umum, pengertian 'ruakh' (Roh) lebih menunjuk pada suatu daya atau kuasa yang merupakan lingkup dari karya Allah yang membebaskan dan yang membaharui"
* hal 132: "Ini berarti bahwa arti ROH (ruakh) adalah daya atau kuasa dan kekuatan Allah yang menghidupkan orang-orang Israel yang telah mati secara rohaniah".
* hal 133: "Kalau kita meneliti teologi rasul Paulus, ternyata dia tidak pernah menempatkan Roh Kudus sebagai suatu 'person'"
Pengertian penulis yang seperti ini menyebabkan ia mengatakan:
* hal 18: "Maria mengandung oleh kuasa Roh Kudus"
* hal 93-94: "... sebab anak yang dikandung Maria adalah dari kuasa Roh Kudus"
* hal 110: "... anak yang ada di dalam kandungan Maria adalah dari kuasa Roh Kudus (Matius 1:20)"
* hal 136: "Allah menaungi Maria sehingga dia mengandung dari kuasa Roh Kudus"
Padahal baik Kitab Suci (Mat 1:20) maupun 12 Pengakuan Iman Rasuli sama-sama mengatakan bahwa Maria mengandung dari Roh Kudus (bukan dari kuasa Roh Kudus).
Pada segi yang lain, perlu juga dipertanyakan: kalau Roh Kudus itu adalah 'kuasa Allah', lalu apa artinya istilah 'kuasa Roh Kudus'? Bukankah artinya menjadi 'kuasa dari kuasa Allah'? Ini betul-betul menjadi sesuatu yang menggelikan!

Selanjutnya, di sini saya ingin memberikan 2 buah kutipan dari sebuah buku (bukan dari buku TAA ini!):
a. "Roh Kudus yang digunakan dalam Alkitab menyatakan bahwa ini adalah suatu kekuatan atau tenaga yang dikendalikan yang digunakan oleh Allah Yehuwa untuk melaksanakan berbagai maksud tujuanNya. Sampai taraf tertentu, ini dapat disamakan dengan listrik, tenaga yang dapat digunakan untuk melakukan beragam fungsi. Dalam Kej 1:2 Alkitab berkata bahwa 'Roh (bahasa Ibrani, ruach) Allah melayang-layang di atas permukaan air'. Disini Roh Allah adalah tenaga aktifNya yang bekerja untuk membentuk bumi" (hal 20).
b. "Walaupun roh ini sering dipersonifikasikan, tampak jelas sekali bahwa para penulis kitab-kitab suci (dari Kitab-Kitab Ibrani) tidak pernah menganggap atau menyatakan bahwa roh ini adalah suatu pribadi tersendiri" (hal 21)
Kalau kita membandingkan, maka akan jelas terlihat bahwa pandangan dan pengertian penulis buku TAA tentang Roh Kudus banyak persamaannya dengan dua buah kutipan di atas, padahal kedua kutipan itu saya kutip dari buku yang berjudul "Haruskah Anda Percaya Kepada Tritunggal?" yang diterbitkan oleh Saksi Yehovah!


B. Doktrin yang benar tentang keilahian dan kepribadian Roh Kudus
1. Keilahian Roh Kudus
1. Sebutan Allah dan Roh Kudus digunakan secara interchangeable
Kitab Suci menggunakan sebutan Roh Kudus dan Allah / Tuhan (ADONAI) / TUHAN (Yahweh) secara interchangeable (= bisa dibolak-balik). Contoh:
a. Suara Tuhan = Firman Roh Kudus
Bandingkan Yes 6:8-10 dengan Kis 28:25-27
Yes 6:8-10 - "Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: 'Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?'. Maka sahutku: 'Ini aku, utuslah aku!'. Kemudian firmanNya: 'Pergilah, dan katakanlah kepada bangsa ini: Dengarlah sungguh-sungguh, tetapi mengerti: jangan! Lihatlah sungguh-sungguh, tetapi mengerti: jangan! Buatlah hati bangsa ini keras dan buatlah telinganya berat mendengar dan buatlah matanya melekat tertutup, supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya lalu berbalik dan menjadi sembuh'".
Kis 28:25-27 - "Maka bubarlah pertemuan itu dengan tidak ada kesesuaian di antara mereka. Tetapi Paulus masih mengatakan perkataan yang satu ini: 'Tepatlah firman yang disampaikan Roh Kudus kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi Yesaya: Pergilah kepada bangsa ini, dan katakanlah: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap. Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka'".
Kalau kita membandingkan 2 bagian Kitab Suci di atas, maka jelas terlihat bahwa apa yang dikatakan Paulus dalam Kis 28:25-27 itu ia kutip dari Yes 6:8-10. Tetapi dalam Yes 6:8-10 itu dikatakan bahwa itu adalah 'suara Tuhan' kepada nabi Yesaya, sedangkan dalam Kis 28:25-27 itu Paulus berkata bahwa 'firman itu disampaikan oleh Roh Kudus' dengan perantaraan nabi Yesaya. Ini menunjukkan bahwa Roh Kudus adalah Tuhan sendiri!

b. Mencobai Roh Kudus = mencobai Allah
Bandingkan Ibr 3:7-11 dengan Maz 95:7b-11 dan Kel 17:1-7
Ibr 3:7-11 - "Sebab itu, seperti yang dikatakan Roh Kudus: 'Pada hari ini, jika kamu mendengar suaraNya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman pada waktu pencobaan di padang gurun, di mana nenek moyangmu mencobai Aku dengan jalan menguji Aku, sekalipun mereka melihat perbuatan-perbuatanKu, empat puluh tahun lamanya. Itulah sebabnya Aku murka kepada angkatan itu, dan berkata: Selalu mereka sesat hati, dan mereka tidak mengenal jalanKu, sehingga Aku bersumpah dalam murkaKu: Mereka takkan masuk ke tempat perhentianKu'".
Karena kata-kata dalam Ibr 3:7-11 ini merupakan kata-kata Roh Kudus, maka kata-kata 'mencobai Aku' berarti 'mencobai Roh Kudus'.
Kalau sekarang kita melihat dalam Maz 95:7b-11, yang hampir-hampir identik dengan Ibr 3:7-11 tadi, maka bisa kita dapatkan dari Maz 95:8 bahwa itu adalah peristiwa yang terjadi di Masa & Meriba. Dan peristiwa Masa & Meriba itu diceritakan dalam Kel 17:1-7. Sekarang perhatikan Kel 17:7 yang berbunyi: "Dinamailah tempat itu Masa dan Meriba, oleh karena orang Israel telah bertengkar dan oleh karena mereka telah mencobai TUHAN dengan mengatakan: 'Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?'".
Jadi ternyata disini dipakai istilah 'mencobai TUHAN (Yahweh)', padahal tadi dalam Ibr 3:7-11 dikatakan bahwa mereka 'mencobai Roh Kudus'. Ini menunjukkan bahwa Roh Kudus itu adalah TUHAN (Yahweh)!

c. Mendustai Roh Kudus = mendustai Allah
Mari kita melihat pada Kis 5:3-4 yang berbunyi sbb: "Tetapi Petrus berkata: 'Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu? Selama tanah itu tidak dijual, bukankah itu tetap kepunyaanmu, dan setelah dijual, bukankah hasilnya itu tetap dalam kuasamu? Mengapa engkau merencanakan perbuatan itu dalam hatimu? Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah".
Perhatikan bahwa kalau dalam Kis 5:3 Petrus berkata bahwa Ananias 'mendustai Roh Kudus', maka dalam Kis 5:4 Petrus berkata bahwa Ananias 'mendustai Allah'. Ini lagi-lagi menunjukkan bahwa Roh Kudus adalah Allah!

d. Roh Kudus = Allah
Dalam 1Kor 3:16 Paulus berkata bahwa tubuh kita adalah 'bait Allah' (= rumah Allah), tetapi anehnya ia melanjutkan dengan kata-kata 'dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu'.
Kalau memang tubuh kita adalah bait / rumah Allah, maka itu seharusnya berarti bahwa Allahlah yang tinggal di dalam tubuh kita. Tetapi Paulus mengatakan Roh Allah (= Roh Kudus) yang tinggal di dalam kita.
Dan kalau kita melihat dalam 1Kor 6:19 maka di sana Paulus berkata bahwa tubuh kita adalah 'bait Roh Kudus'. Semua ini menunjukkan bahwa Roh Kudus itu adalah Allah!
e. Roh TUHAN = TUHAN
Kalau kita membandingkan Yes 40:13 dengan Yes 40:14 maka bisa kita simpulkan bahwa 'Roh TUHAN' dalam Yes 40:13 itu adalah 'TUHAN' dalam Yes 40:14.

2. Roh Kudus memiliki sifat-sifat Allah
Kitab Suci juga menunjukkan bahwa Roh Kudus mempunyai sifat-sifat Allah seperti:
w kekal (Ibr 9:14)
w maha ada (Maz 139:7-10)
w maha tahu (1Kor 2:10-11 Yes 40:13)
1Kor 2:10-11 yang menunjukkan bahwa Roh Kudus itu tahu apa yang ada dalam diri Allah, jelas menunjukkan bahwa Roh Kudus itu maha tahu!
w maha kuasa (Mat 12:28)
w suci
Ini terlihat dari sebutan 'kudus', dan juga terlihat dari Ef 4:30 yang menunjukkan bahwa dosa kita mendukakan Roh Kudus.

3. Roh Kudus melakukan pekerjaan Ilahi
Kitab Suci juga menunjukkan bahwa Roh Kudus melakukan pekerjaan-pekerjaan ilahi seperti:
w penciptaan (Kej 1:2 Ayub 33:4)
w melahirbarukan (Yoh 3:5-6 Tit 3:5)
w membangkitkan Yesus (Ro 8:11)

4. Nama Roh Kudus sejajar dengan Nama Bapa dan Anak
Nama Roh Kudus ditempatkan dalam posisi yang sejajar dengan nama Bapa dan Anak, seperti dalam Mat 28:19 dan 2Kor 13:13.
Memang tidak selalu penyejajaran nama berarti bahwa orang-orangnya setingkat. Misalnya dikatakan bahwa presiden Suharto berbicara dengan si A. Ini tentu tidak berarti bahwa si A juga harus adalah presiden / kepala negara.
Tetapi perlu sdr ingat bahwa dalam Mat 28:19 nama Bapa, Anak dan Roh Kudus disejajarkan bukan dalam sembarang peristiwa, tetapi dalam formula baptisan. Adalah aneh, bahkan tidak masuk akal, kalau Yesus memerintahkan supaya seseorang dibaptis dalam nama Bapa (yang adalah Allah), Anak (yang juga adalah Allah), dan Roh Kudus (yang bukan Allah, bahkan bukan pribadi).
Demikian juga dalam 2Kor 13:13 Paulus menyejajarkan Yesus, Allah (Bapa) dan Roh Kudus, bukan dalam peristiwa sembarangan, tetapi pada saat ia memberi berkat kepada gereja Korintus.
Karena itu bisa disimpulkan bahwa dalam 2 ayat tsb, penyejajaran Bapa, Anak dan Roh Kudus menunjukkan bahwa 3 pribadi itu setingkat! Dan ini membuktikan bahwa Roh Kudus adalah Allah sendiri!

2. Kepribadian Roh Kudus
Sebetulnya dengan terbuktinya bahwa Roh Kudus adalah Allah sendiri (bukan sekedar 'kuasa Allah' yang jelas tak berpribadi), maka sudah jelas bahwa Roh Kudus adalah seseorang yang berpribadi! Dan kalau dikatakan oleh penulis TAA maupun orang-orang Saksi Yehovah bahwa rasul Paulus / penulis Kitab Suci tidak pernah secara explicit mengatakan bahwa Roh Kudus adalah seorang pribadi, itu belum / tidak berarti bahwa Roh Kudus bukanlah seorang pribadi. Perlu sdr ingat bahwa Kitab Suci juga tak pernah secara explicit menyatakan Allah Bapa atau Yesus sebagai seorang pribadi!
Sekarang saya akan memberikan bukti-bukti dari Kitab Suci yang menunjukkan bahwa Roh Kudus memang adalah seseorang yang berpribadi.
1. Sebutan terhadap Roh Kudus
Sebutan yang digunakan terhadap Roh Kudus menunjukkan bahwa Ia adalah seorang pribadi.
Dalam Yoh 14:16, Yoh 14:26, Yoh 15:26, dan Yoh 16:7, Roh Kudus disebut sebagai 'Penolong / Penghibur'. Dalam bahasa Yunani, semua ayat ini menggunakan istilah yang sama yaitu PARAKLETOS.
Penggunaan istilah ini untuk Roh Kudus menunjukkan bahwa Ia adalah seorang Pribadi.
Perlu juga diketahui bahwa istilah PARAKLETOS ini juga digunakan terhadap Yesus Kristus dalam 1Yoh 2:1 (Kitab Suci Indonesia menterjemahkan 'Pengantara'). Lalu Yoh 14:16 menyebut Roh Kudus sebagai 'PARAKLETOS (= Penolong) yang lain'.
Ada 2 kata bahasa Yunani yang berarti 'yang lain (= another)', yaitu ALLOS dan HETEROS. Tetapi kedua kata ini ada bedanya.
W.E. Vine dalam An Expository Dictionary of New Testament Words mengatakan sbb: "ALLOS ... denotes another of the same sort; HETEROS ... denotes another of a different sort" (= ALLOS ... menunjuk pada yang lain dari jenis yang sama; HETEROS ... menunjuk pada yang lain dari jenis yang berbeda).
Kata Yunani yang diterjemahkan 'yang lain' dalam Yoh 14:16 bukanlah HETEROS, tetapi ALLOS. Andaikata yang digunakan adalah HETEROS, maka itu akan menunjukkan adanya perbedaan sifat antara Yesus dan Roh Kudus, sehingga bisa saja Yesus adalah Allah dan seorang yang berpribadi, sedangkan Roh Kudus bukan. Tetapi karena kata Yunani yang digunakan adalah ALLOS, ini menunjukkan bahwa Roh Kudus, sekalipun adalah PARAKLETOS yang lain dari pada Yesus, tetapi mempunyai sifat-sifat yang sama dengan Yesus.
Karena itu dalam komentarnya tentang ayat ini William Hendriksen mengatakan: "He is another Helper, not a different Helper. The word another indicates one like myself, who will take my place, do my work. Hence, if Jesus is a person, the Holy Spirit must also be a person" (= Ia adalah Penolong yang lain, bukan Penolong yang berbeda. Kata yang lain menunjukkan seseorang seperti aku sendiri, yang akan mengambil tempatku, melakukan pekerjaanku. Jadi, jika Yesus adalah seorang pribadi, Roh Kudus harus juga adalah seorang pribadi).
William Hendriksen bahkan melanjutkan dengan berkata: "For the same reason, if Jesus is divine, the Spirit, too, must be divine" (= dengan alasan yang sama, jika Yesus bersifat ilahi / adalah Allah, Roh juga harus bersifat ilahi / adalah Allah).

2. Ciri-ciri pribadi dalam diri Roh Kudus
Roh Kudus mempunyai ciri-ciri seorang pribadi, yaitu adanya:
a. Pikiran
Yoh 14:26 mengatakan bahwa fungsi Roh Kudus adalah mengajar dan mengingatkan orang percaya akan firman Tuhan. Bahwa Ia bisa mengajar dan mengingatkan, jelas menunjukkan bahwa Ia mempunyai pikiran.
b. Perasaan
Ef 4:30 mengatakan bahwa kita tidak boleh mendukakan Roh Kudus. Yes 63:10 juga berbicara tentang orang-orang yang mendukakan Roh Kudus. Ini jelas menunjukkan bahwa Roh Kudus mempunyai perasaan.
c. Kehendak
1Kor 12:11 mengatakan: "Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendakiNya. Ayat ini jelas menunjukkan bahwa Roh Kudus mempunyai kehendak.

3. Roh Kudus bertindak sebagaimana layaknya seorang pribadi
Kitab Suci juga menyatakan bahwa Roh Kudus melakukan hal-hal seperti:
w mengajar (Luk 12:12 Yoh 14:26)
w mengingatkan (Yoh 14:26)
w bersaksi (Yoh 15:26 Ro 8:16)
w menginsafkan dunia (Yoh 16:8)
w berkata dan memerintah (Kis 8:29 Kis 13:2)
w memutuskan (Kis 15:28)
w membangkitkan, menghidupkan (Ro 8:11)
w menyelidiki, tahu apa yang ada dalam diri Allah (1Kor 2:10-11)
Hal-hal seperti ini hanya bisa dilakukan oleh 'seseorang yang berpribadi', bukan oleh 'sesuatu yang tak berpribadi'!

Bab 2: TENTANG ALLAH TRITUNGGAL

II. Tentang Allah Tritunggal
A. Sabelianisme
Ajaran Tritunggal yang diajarkan oleh penulis berbau ajaran sesat yang disebut Modalistic Monarchianism, atau juga disebut Patripassianism, dan mungkin sebutan yang paling lazim adalah Sabelianism.

Ajaran ini mengatakan bahwa Allah hanya mempunyai 1 pribadi, tetapi mempunyai 3 perwujudan / manifestasi. Jadi Allah yang esa itu bisa menjadi Bapa, atau Anak/Yesus, atau Roh Kudus (ke 3 perwujudan itu tak bisa keluar pada saat yang sama, harus bergantian). Jadi yang berinkarnasi menjadi Yesus, adalah Allah Bapa sendiri. Pada waktu Ia menjadi Yesus, Ia berhenti menjadi Bapa. Dan yang turun pada hari Pentakosta sebagai Roh Kudus juga adalah pribadi yang sama ini.

Kalau Allah Tritunggal memang seperti ini, maka Allah Tritunggal bisa dillustrasikan secara tepat / sempurna dengan es - air - uap air yang merupakan 3 perwujudan dari 1 zat yaitu H2O.
Bahwa penulis buku TAA mengajarkan doktrin ini terlihat dari:
* hal 110: "... dalam Yesus Kristus yang adalah 'Anak Allah', Allah menyatakan ke-Bapa-anNya. Sehingga setiap orang yang memandang Yesus Kristus dengan iman, dia telah melihat bagaimana Allah sebagai Bapa. ... Dengan kata lain: pada saat seseorang melihat Yesus, ketika itu dia melihat Bapa"
Sekalipun pada bagian ini penulis memberikan dukungan ayat, yaitu dari Yoh 14:9, jelas sekali bahwa ia sudah menafsirkan secara salah!
* hal 110: "Yesus Kristus itu Tuhan; Roh Allah yang menjelma menjadi manusia"
* hal 117: "Sebab SUBYEK dari Roh Kudus adalah TUHAN ALLAH sendiri di dalam Yesus Kristus"
* hal 128: "Tidak ada Allah Bapa disamping Allah Anak"
* hal 133: "... Israel tidak pernah berpikir-pikir mengenai Roh Allah sebagai suatu pribadi atau bukan. Bagi mereka, Tuhan Allah sendiri yang menjadi subyek atau person ilahi. Seandainya disebut bahwa Israel mendukakan Roh KudusNya (Yesaya 63:10), maka sebenarnya yang didukakan Israel adalah Tuhan Allah sendiri"
* hal 133: "Kalau kita meneliti teologi rasul Paulus, ternyata dia tidak pernah menempatkan Roh Kudus sebagai suatu person. Sebenarnya penggunaan kata 'person' atau pribadi dalam arti modern menunjuk kepada suatu subyek yang berdiri sendiri (berdaulat), memiliki kebebasan sendiri, cara berpikir sendiri dan keunikan sendiri. Sehingga bila dikenakan kepada Allah, Yesus Kristus dan Roh Kudus justru akan menunjukkan pemisahan yang radikal"
* hal 134: "Subyek dari Roh Kudus adalah Tuhan Allah sendiri. Jadi Roh Kudus bukan suatu subyek di samping subyek Allah"
* hal 136: "Berarti Roh Kudus disini adalah Yesus Kristus yang telah dimuliakan dalam kemuliaan Allah, sehingga kehadiranNya yang penuh kuasa itu dapat dialami oleh jemaatNya"
Ajaran Sabelianisme ini salah/sesat, karena Kitab Suci memang menunjukkan adanya lebih dari satu pribadi dalam diri Allah.
* Allah sering menggunakan kata ganti orang bentuk jamak untuk menyebut diriNya sendiri. Misalnya: dalam Kej 1:26 Allah menyebut diriNya sendiri dengan sebutan 'Kita'. Kata 'Kita' ini hanya menunjuk kepada Allah, dan tak mungkin menunjuk kepada 'Allah dan malaikat-malaikat' karena kalau demikian, akan menyatakan malaikat juga sebagai Pencipta (co-creator).
* Yoh 1:1 mengatakan 'Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah'. Ini tak mungkin menunjukkan bahwa Firman dan Allah itu adalah pribadi yang sama, karena kalau demikian, tak mungkin dikatakan 'Firman itu bersama-sama dengan Allah'!
w Kitab Suci sering menggambarkan Bapa, Anak, dan Roh Kudus itu berbicara satu kepada yang lain, saling mengasihi, saling mengutus dsb (Markus 1:11 Yoh 17:1-dst Yoh 17:3 Yoh 17:23-24 Yoh 14:26 Yoh 15:26)


B. Penulis menolak ajaran Tertullian
Penulis menolak ajaran Tertulian (Tertulianus) yang mengatakan bahwa Allah adalah 1 zat tetapi 3 pribadi
* hal 127: "Dari Yohanes 10:25 ini Yesus menempatkan kesatuanNya dengan Allah sebagai kesatuan dalam pekerjaan". Dan hal 128: "Jelas menurut Injil Yohanes, makna kesatuan Allah dan Yesus bukan kesatuan di dalam zat Allah sebagaimana yang dikatakan oleh Tertullian. Alkitab tidak mau berspekulasi tentang ZAT ILAHI. ... Jadi menurut Perjanjian Baru, kesatuan Allah dan Yesus adalah kesatuan di dalam pekerjaan-pekerjaan penyelamatan".
Pertanyaan saya adalah: kalau memang kesatuan Allah dan Yesus itu hanya dalam hal pekerjaan, mengapa dalam Yoh 1:1, yang jelas menunjuk pada kekekalan, sebelum Allah melakukan penciptaan atau pekerjaan apapun juga, dikatakan bahwa Firman (Yesus) itu bersama-sama dengan Allah, dan bahwa Firman (Yesus) itu adalah Allah?
Juga perlu kita perhatikan bahwa pada waktu Yesus berkata 'Aku dan Bapa adalah satu' (Yoh 10:30), maka orang-orang Yahudi lalu mau merajam Yesus, dengan alasan 'karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diriMu (perhatikan: bukan 'pekerjaanMu') dengan Allah' (Yoh 10:33b).
* hal 131: "Jadi karena hakikat Alkitab berfungsi sebagai pewartaan iman maka dalam kesaksiannya tidak pernah berspekulasi juga mengenai masalah sebagaimana yang dikemukakan oleh Tertullianus. Alkitab tidak pernah membuat hipotesa tentang Allah Bapa, Allah Anak dan Roh Kudus dengan kategori-kategori 'UNA SUBSTANTIA, TRES PERSONAE' (satu zat yang memiliki tiga pribadi). Cara berpikir Tertullianus adalah cara berpikir yang filsafati ketimbang cara berpikir teologis-alkitabiah. Bila demikian, identitas Roh Kudus bukan dalam pengertian ZAT ILAHI yang memiliki kepribadian sendiri. Alkitab tidak pernah mengenal atau mempergunakan istilah dan pengertian ZAT ILAHI"

Jadi, penulis menolak ajaran Tertullian ini dengan alasan bahwa istilah 'zat ilahi' itu tidak ada dalam Kitab Suci. Tetapi anehnya:
* dalam hal 109 penulis berkata: "Secara matematis memang berjumlah tiga. Tetapi dari penghayatan iman dan materi Allah: ketigaNya adalah YANG TUNGGAL"
* dalam hal 110 penulis berkata: "Jadi Allah dan Yesus adalah satu, tapi bukan satu dalam arti matematis, juga bukan dalam arti satu zat. Allah dan Yesus adalah satu dalam ciri hakiki ilahi dan karya (pekerjaan)Nya"
* dalam hal 135 penulis berkata: "... sehingga dalam diri Yesus Kristus nampak seluruh ciri hakiki Allah sendiri"
Yang ingin saya tanyakan adalah: dari mana penulis mendapatkan istilah 'ciri hakiki Allah/ilahi' dan 'materi' itu? Apakah istilah itu ada dalam Kitab Suci? Kalau tidak ada mengapa penulis mau menggunakannya tetapi pada saat yang sama menolak penggunaan istilah 'zat ilahi', karena tidak ada dalam Kitab Suci? Bukankah semua ini menunjukkan ketidak-konsekwenan penulis?

Juga pada hal 42 penulis berkata: "Walaupun dalam Kejadian 1:1-31 dan 2:1-5 tidak kita jumpai kata syaloom, namun gambaran keadaan yang penuh syaloom (keadaan penuh selamat, damai sejahtera dan utuh) dilukiskan dengan sangat hidup. Sebab Allah menciptakan langit dan bumi serta manusia adalah agar dalam kehidupan itu tercipta suatu keadaan syaloom. Paling tidak ada 3 dimensi keadaan syaloom, yaitu dimensi vertical, dimensi sosial, dimensi kosmis".

Pertanyaan saya adalah: kalau penulis bisa mengatakan bahwa sekalipun kata syaloom itu tidak ada tetapi gambaran syaloom itu ada, mengapa penulis tidak bisa berpikir seperti itu dalam hal doktrin Allah Tritunggal? Istilah 'zat ilahi' memang tidak ada, tetapi penggambaran Alkitab tentang diri Allah menunjukkan bahwa hal itu ada!

Kalau saudara ingin tahu mengapa harus digunakan istilah 'zat ilahi' dan 'pribadi ilahi' yang sebetulnya tidak ada dalam Kitab Suci, maka perhatikan kata-kata John Calvin dalam komentarnya tentang Yoh 1:1 sebagai berikut:
"And yet the ancient writers of the Church were excusable, when, finding that they could not in any other way maintain sound and pure doctrine in opposition to the perplexed and ambiguous phraseology of the heretics, they were compelled to invent some words, which after all had no other meaning than what is taught in the Scriptures. They said that there are three Hypostases, or Subsistences, or Persons, in the one and simple essence of God" (= dan penulis-penulis kuno dari gereja bisa dimaafkan / dibenarkan, karena pada waktu mereka melihat bahwa tidak ada jalan lain untuk mempertahankan doktrin yang sehat dan murni untuk menentang penyusunan kata yang membingungkan dan berarti dua dari orang-orang sesat, maka mereka terpaksa menciptakan beberapa kata-kata, yang sebetulnya tidak mempunyai arti yang lain dari pada apa yang diajarkan dalam Kitab Suci. Mereka berkata bahwa ada tiga pribadi dalam hakekat Allah yang satu dan sederhana).

Doktrin yang sesat tentang Allah Tritunggal dalam buku TAA ini membuat kita harus merenungkan satu hal: dalam baptisan, nama Allah Tritunggal dipergunakan sebagai formula baptisan. Kalau GKI membaptis dengan kepercayaan terhadap Allah Tritunggal yang sesat seperti yang diajarkan oleh buku TAA, maka baptisan tsb tidak berlaku/tidak sah (sama halnya dengan baptisan yang dilakukan oleh Saksi Yehovah)!

Bab 1: TENTANG KITAB SUCI

I. Tentang Kitab Suci
A. Penulis plin-plan dalam ajarannya tentang Kitab Suci
Dalam bagian-bagian tertentu ia meninggikan Kitab Suci dan mengakuinya sebagai firman Allah, tetapi dalam bagian-bagian tertentu yang lain ia merendahkan Kitab Suci.
1. Bagian dimana ia meninggikan Kitab Suci:
a. Hal 28: "kita juga tidak setuju dengan paham liberalisme yang menolak Alkitab sebagai firman Allah".
b. Hal 131: "Oleh karena itu penulisan Alkitab merupakan hasil inspirasi dan pengilhaman Roh Kudus sendiri (bdk. 2Tim 3:16)".
c. Hal 211: "Sebagai jemaat Allah kita mengakui kewibawaan Alkitab sebagai Firman Allah yang menuntun kepada keselamatan dan menjadi dasar normatif bagi kehidupan serta tingkah laku kita".
2. Bagian dimana ia merendahkan Kitab Suci:
a. Hal 28: "infallibility = doktrin yang tidak menghargai Alkitab sebagai kitab-kitab yang bersifat teologis".
b. Hal 77: "Oleh karena itu firman Allah sejati tidak pernah hanya merupakan suatu kumpulan ayat-ayat dalam Kitab Suci. Pendewa-dewaan kumpulan ayat-ayat dalam Kitab Suci sebenarnya sama saja dengan pemberhalaan. Iman kristen menyadari, bahwa firman Allah sejati menjelma menjadi Yesus Kristus yang adalah Anak Allah. Artinya firman Allah sejati tidak pernah menjelma menjadi sebuah 'buku yang turun dari sorga'".
Hal yang senada dengan ini ia katakan dalam hal 214: "Atas dasar pemikiran yang demikian, theologia Alkitab tidak pernah mendudukkan Alkitab sejajar dengan Firman Allah sendiri. Alkitab adalah alat yang dipakai oleh Allah untuk menyampaikan firmanNya. Sedangkan firman Allah yang sejati (realitas obyektif-ilahi) menjelma menjadi manusia yang kelihatan dan yang menyejarah. Sebab itu sikap penghargaan kita yang tinggi terhadap Alkitab sebagai alat dari firman Allah tidak boleh melebihi penghargaan kita kepada Yesus Kristus. Jadi Alkitab berada di bawah kuasa pribadi Yesus Kristus, tidak boleh sebaliknya!".
Selanjutnya dalam hal 215 penulis berkata: "Semua usaha penelitian ilmiah ini tidak menggoyahkan iman mereka, sebab iman mereka tertuju kepada Yesus Kristus bukan kepada Alkitab".
Ada beberapa hal yang perlu dibahas tentang pernyataan-pernyataan ini:
* Kalau Yesus ditinjau sebagai Allah yang merendahkan diri menjadi manusia, maka Yesus justru tunduk pada firman Tuhan!
Gal 4:4 - "Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus AnakNya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat"
w Kalau Yesus ditinjau sebagai Allah, apakah Ia lebih tinggi dari firman Allah / Kitab Suci?
Dalam arti tertentu, memang ya! Karena Yesus adalah Allah sendiri, maka Ia harus kita sembah, sedangkan Kitab Suci tidak boleh disembah! Tetapi ditinjau dari sudut otoritas / kebenarannya, maka pertanyaan itu harus dijawab dengan 'tidak'! Yesus sebagai Allah sekalipun tidak lebih tinggi otoritas / kebenarannya dibandingkan Kitab Suci / firman Allah, karena Yesus tidak mungkin bisa mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan Kitab Suci / firman Allah! Bdk. Mat 5:17-18!
* Kita tidak bisa meninggikan Yesus dan pada saat yang sama merendahkan Kitab Suci, karena Kitab Suci adalah firman Tuhan sendiri! Mungkinkah kita bisa menghormati seseorang tetapi merendahkan kata-katanya?
John Murray memberikan komentar tentang seorang teman sejawatnya yang bernama E.J. Young (yang memang sangat getol dalam mempertahankan otoritas Kitab Suci) sebagai berikut: "He knew nothing of an antithesis between devotion to the Lord and devotion to the Bible. He revered the Bible because he revered the Author" (= Ia tidak mengenal pertentangan antara kesetiaan / pembaktian diri terhadap Tuhan dan kesetiaan / pembaktian diri terhadap Alkitab. Ia menghormati Alkitab karena ia menghormati Pengarangnya).
* Kita harus percaya baik kepada Yesus Kristus / Allah, maupun kepada firmanNya/ Alkitab, karena hanya dari firmanNya / Alkitab itulah kita bisa mengenal / percaya kepada Yesus Kristus / Allah dengan benar. Perhatikan bahwa beberapa ayat Kitab Suci jelas menyuruh kita untuk percaya kepada firman Tuhan!
Dalam Maz 119:66b Daud berkata: "sebab aku percaya kepada perintah-perintahMu".
Dalam Mark 1:15 Yesus sendiri berkata: "Bertobatlah dan percayalah kepada Injil".
c. Hal 209: "Alkitab memang berfungsi sebagai Firman Allah, tetapi Firman Allah yang bersabda melalui perkataan-perkataan manusia"
Jelas ada perbedaan antara mengatakan bahwa 'Alkitab adalah Firman Allah' dan 'Alkitab berfungsi sebagai firman Allah'!
d. Penulis juga menyebutkan Kej. 1 sebagai 'ungkapan religius umat Israel' (hal 26), 'usaha perumusan kredo dari umat Allah' (hal 29), 'formulasi kredo (perumusan pengakuan iman)' (hal 29), 'ungkapan religius' (hal 29), 'pengakuan iman' (hal 31), 'bahan bukti iman' (hal 31), 'pengakuan teologis (iman)' (hal 31)
Semua ini ia perjelas maksudnya dalam hal 31 dimana ia berkata: "Namun melalui kisah penciptaan itu, penulis kitab Kejadian mengajak kepada seluruh para pembaca (umat manusia) agar bersama-sama hidup dalam iman kepada Tuhan Allah saja, sebab Dialah Pencipta langit dan bumi"
Hal yang serupa ia katakan dalam hal 32: "Sehingga isi kesaksian Kitab Kejadian sebenarnya merupakan jawaban dan sikap penulis Kitab Kejadian yang mewakili orang-orang beriman terhadap latar belakang kehidupan budaya dan pandangan hidup pada jaman itu"
Pandangan penulis tentang Kej 1 ini juga berlaku dalam pandangannya tentang seluruh Alkitab, dan ini terlihat dari:
* hal 27-28: "Atau Alkitab sebagai kitab yang memuat kumpulan kesaksian iman orang-orang percaya kepada Tuhan Allah. Sehingga berita atau kesaksian Alkitab berisi ungkapan-ungkapan iman orang-orang percaya terhadap karya yang dilakukan Tuhan Allah"
* hal 28-29: "Sikap yang alkitabiah dalam menafsirkan kisah penciptaan langit dan bumi serta manusia adalah menempatkan Alkitab yang memiliki bidang disiplin yang khas dan unik itu sebagai kumpulan kitab yang berisi kesaksian iman. Melalui kesaksian iman orang-orang percaya ini, Tuhan Allah menyampaikan firman dan kehendakNya. Sebab itu sebagai firman Allah, Alkitab berfungsi untuk menyampaikan kesaksian tentang karya dan tindakan Allah yang dialami dalam sejarah oleh orang-orang percaya, yaitu sebagai karya yang menyelamatkan".
* hal 130: "Jadi fungsi Alkitab adalah menyampaikan kesaksian (pewartaan) iman dari orang-orang percaya pada jaman dan waktu yang lain dan masa yang akan datang".
* hal 131: "Jadi karena hakikat Alkitab berfungsi sebagai pewartaan iman ..."
* hal 208: "Bila demikian, kebenaran Alkitab merupakan kebenaran iman. Sebagai kebenaran iman, Alkitab memberi kesaksian iman orang-orang percaya dari dunia Perjanjian Lama dan Perjanjian baru tentang karya atau tindakan-tindakan Tuhan Allah yang menyelamatkan di dalam sejarah kehidupan manusia"
* hal 209: "Secara keseluruhan konteks Alkitab adalah kesaksian iman orang-orang percaya tentang karya penyelamatan Allah. ... Kita harus menghormati fungsi dan kedudukan Alkitab sebagai buku keagamaan yang berisi kesaksian iman manusia namun dipakai Allah untuk menyampaikan kehendakNya yang menyelamatkan".
Ada 3 hal yang perlu dipertanyakan tentang pandangan penulis yang mengatakan bahwa Kej 1 / Kitab Suci merupakan 'kesaksian iman':
* Bukankah semua ini menunjukkan bahwa Kej 1 maupun seluruh Alkitab dituliskan atas inisiatif manusia, dan datang dari manusia? Dengan demikian, Alkitab bukan firman Allah!
* Dari mana penulis kitab Kejadian itu bisa tahu bahwa Allah adalah Pencipta? Bagaimana ia tahu cara Allah mencipta alam semesta, sehingga ia lalu bisa memberikan kesaksian iman? Mungkinkah ia bisa tahu dengan sendirinya kalau Allah tidak memberikan firmanNya kepadanya?
w Dari mana penulis kitab Kejadian / Kitab Suci itu bisa beriman (sehingga lalu bisa memberi kesaksian iman) kalau mereka tidak lebih dulu menerima firman Tuhan? Kitab Suci sendiri mengatakan: "Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus" (Roma 10:17)

B. Penulis menggunakan penafsiran yang salah/sesat
Ia menggunakan sistim penafsiran yang dikembangkan oleh tokoh Liberal dari Jerman yang bernama Rudolf Bultmann (sekalipun hal ini tidak dikatakan oleh penulis).

Rudolf Bultmann menafsirkan Kitab Suci dengan melakukan apa yang disebut demythologizing. Bultmann percaya bahwa Kitab Suci mengandung myth (= mitos / dongeng), dan untuk mengerti kitab suci ia berpendapat bahwa kita harus memisahkan mitos / dongeng (yang tidak benar) tsb dari kebenaran yang ingin diajarkan oleh Kitab Suci tsb. Pembuangan mitos untuk mendapatkan kebenaran yang ingin diajarkan oleh Kitab Suci inilah yang disebut dengan demythologizing itu. Kalau cara penafsiran ini digunakan terhadap bagian kitab suci yang merupakan perumpamaan, maka itu mungkin sekali bisa diterima, karena cerita yang digunakan dalam perumpamaan memang tidak sungguh-sungguh terjadi. Tetapi Bultmann menerapkan metode penafsirannya terhadap bagian-bagian yang bersifat sejarah dan yang betul-betul terjadi. Jadi kalau ia menafsirkan cerita kebangkitan Lazarus dalam Yoh 11, mungkin sekali ia akan berkata bahwa mujijat kebangkitan itu cuma mitos / dongeng yang tidak sungguh-sungguh terjadi. Kebenaran yang ingin diajarkan oleh Kitab Suci, mungkin cuma bahwa Yesus berkuasa atas kematian.

Ajaran Bultmann ini jelas merupakan ajaran sesat yang harus kita tolak, karena secara tak langsung ajaran ini menyatakan bahwa dalam firmanNya Allah mencampur kebenaran dengan dusta!

Tetapi penulis TAA ini justru menggunakan metode penafsiran Bultmann ini, dan hal itu terlihat dari:
1. Hal 29-31 (tentang penciptaan) dimana ia berkata:
w "Makna kisah penciptaan langit, bumi serta manusia adalah mengajak kita untuk memahami makna iman kepada Tuhan Allah. Oleh karena itu kisah Penciptaan dalam Kejadian 1:1-27 bukan dimaksudkan sekedar laporan informasi sejarah atau laporan Ilmu Pengetahuan" (hal 29)
* "Urut-urutan hari dalam kisah penciptaan dimaksudkan oleh penulis Kitab Kejadian tidak dalam arti laporan eksak ilmiah mengenai terjadinya segala sesuatu. Namun urut-urutan hari ditulis dimaksudkan sebagai pengakuan iman bahwa Allah mencipta dengan perencanaan (program kerja) yang baik" (hal 31)
w "Jadi gagasan inti yang harus kita mengerti adalah kisah penciptaan dalam Kitab Kejadian bukan laporan jurnalistik atau bukan informasi ilmiah tentang ilmu arkeologi" (hal 31)
Semua kata-katanya ini jelas menunjukkan bahwa penulis beranggapan bahwa kisah penciptaan dalam Kej 1 itu tidak sungguh-sungguh terjadi. Yang ia pentingkan hanyalah makna dari kisah itu. Dengan demikian jelas bahwa ia sudah melakukan demythologizing sesuai dengan ajaran Bultmann.

2. Hal 36 (tentang pembuatan / penciptaan Hawa) dimana ia berkata:
w "Kisah penciptaan manusia perempuan yang diambil dari tulang rusuk manusia laki-laki jelas bukan dimaksudkan sebagai informasi medis atau laporan ilmu biologi. Tetapi untuk mengungkapkan suatu makna iman. Makna iman yang dimaksud adalah bahwa manusia laki-laki dan manusia perempuan berada dalam keterjalinan hubungan lahir dan batin, jasmaniah dan rohaniah ...."
Ini lagi-lagi menunjukkan bahwa ia tak percaya kalau peristiwa itu betul-betul terjadi. Yang ia tekankan hanyalah maknanya.

3. Hal 51 (tentang hukuman dosa dalam Kej 3) dimana ia berkata:
w "Di Kejadian 3:14-17, hukuman Allah kepada manusia pria (Adam) dan manusia perempuan (Hawa) adalah sebagai berikut:
- perempuan harus menderita pada waktu hendak bersalin
- laki-laki harus bekerja keras mencari rezeki karena tanah menjadi terkutuk bagi manusia
- ular dikutuk sehingga harus merayap dengan perutnya
- terjadi permusuhan antara manusia dengan ular.
Empat hukuman Allah tersebut sebenarnya lebih bersifat 'etiologis', yaitu mau menyampaikan asal-mula beberapa persoalan. Yang dimaksudkan bukan asal-mula persoalan secara historis (bersifat sejarah), melainkan asal-mula beberapa persoalan yang bersifat religius (keagamaan). Sebab itu yang diutamakan dalam kisah etiologis adalah makna yang terkandung dalam kisah yang dipaparkan. Sehingga pesan yang bermakna itu dapat membawa manusia kepada pengenalan jati-dirinya di hadapan Allah".

4. Hal 114 (tentang kebangkitan Kristus) dimana ia berkata:
w "Peristiwa ini dapat diartikan secara historis, juga dapat dihayati sebagai peristiwa iman yang faktual"
Terus terang saya tidak mengerti apa yang dimaksud penulis dengan istilah 'peristiwa iman yang faktual'. Tetapi dalam kalimat itu 'peristiwa iman yang faktual' itu kelihatannya dikontraskan dengan 'arti secara historis' (benar-benar terjadi). Kalau ini benar, maka itu berarti bahwa ia beranggapan bahwa Kebangkitan Yesuspun bisa diartikan tidak bersifat historis!

5. Hal 307 menunjukkan bahwa Buku 'Theology of the New Testament, vol I' karangan Bultmann, masuk dalam daftar kepustakaan penulis.


C. Penulis mempunyai pengertian yang kacau tentang kata inspirasi / ilham.
Ini terlihat pada waktu ia berkata: "Sebab melalui pembacaan Alkitab, manusia sepanjang abad memperoleh inspirasi dan dorongan untuk melakukan sesuatu yang sangat penting" (hal 204). Padahal inspirasi / ilham hanya ada pada saat penulis-penulis Kitab Suci menuliskan Kitab Suci. Kalau jaman sekarang masih ada inspirasi/ilham, kita pasti akan mendapatkan Kitab Suci jilid 2!


D. Penulis beranggapan bahwa Kitab Suci bisa bertentangan dengan ilmu pengetahuan.
Ia berpendapat bahwa Kitab Suci dan ilmu pengetahuan mempunyai bidangnya sendiri-sendiri dan tidak boleh saling mencampuri. Ini terlihat dari:
w hal 26: "Jadi menurut pandangan fundamentalisme, Allah menciptakan langit dan bumi beserta manusia selama 6 x 24 jam. Dan kaum fundamentalis ini memakai Kitab Kejadian sebagai dasar penjelasan ilmiah tentang terjadinya langit dan bumi (alam semesta). Akibatnya terjadilah perbedaan antara pandangan kaum fundamentalis dengan hasil-hasil ilmu pengetahuan"
* hal 26: "Menurut Alkitab (sudut pandang kaum fundamentalis), bila dihitung dari Kitab Kejadian sampai Maleakhi umur bumi hanya sekitar 4000 tahun. Sedangkan menurut ilmu pengetahuan, umur bumi sudah mencapai ratusan juta tahun"
* hal 28: "Sikap yang tepat adalah memisahkan dan menghargai tiap-tiap bidang disiplin Alkitab dengan ilmu pengetahuan. Jadi bidang kebenaran Alkitab tidak boleh diberlakukan untuk menilai kebenaran ilmu pengetahuan; sebaliknya kebenaran-kebenaran ilmu pengetahuan tidak boleh dipakai sebagai tolok ukur untuk menilai kebenaran-kebenaran Alkitab"
* hal 212: "Kewibawaan Alkitab tidak berkurang nilainya apabila tidak cocok dengan hasil-hasil ilmu pengetahuan"
Ada beberapa hal yang perlu dipersoalkan tentang pernyataan-pernyataan ini:
1. Mengapa penulis begitu gampang mengatakan bahwa ilmu pengetahuan berpendapat bahwa umur bumi sudah ratusan juta tahun? Tidak tahukah penulis bahwa hasil ilmu pengetahuan tentang umur bumi begitu bervariasi dan tidak pasti, dan bahkan sering terbukti salah? Tidak tahukah penulis bahwa ada metode-metode ilmu pengetahuan yang menghasilkan umur bumi hanya di bawah 20.000 tahun atau bahkan di bawah 10.000 tahun? Perlu diingat oleh penulis bahwa para ahli ilmu pengetahuan pada umumnya adalah orang kafir (bahkan banyak yang anti kristen), sehingga kalau mereka mendapatkan hasil jutaan tahun, hasil itu disebarluaskan, tetapi kalau dari metode tertentu mereka mendapatkan hasil yang kira-kira sesuai dengan ajaran Alkitab, maka hasil itu mereka sembunyikan!
Apa yang penulis sebut dengan 'hasil-hasil ilmu pengetahuan' sebetulnya hanya merupakan teori / hipotesa yang bahkan sudah direkayasa!
Disamping itu ada satu hal lagi yang ingin saya kemukakan, yaitu bahwa pada saat Allah mencipta alam semesta dengan segala isinya, Allah menciptakan semua itu dalam keadaan 'sudah mempunyai umur tertentu (yang tidak kita ketahui)'.
Misalnya:
* Pada waktu Adam dibuat / diciptakan, ia tidak diciptakan sebagai seorang bayi yang baru lahir, tetapi sebagai manusia yang sudah dewasa. Andaikata pada hari ke 7 seorang ilmuwan memeriksa Adam, mungkin sekali ia akan mendapati bahwa Adam sudah berumur 30 atau 40 atau 50 tahun. Padahal sebetulnya Adam baru berumur 1 hari!
* Pada waktu pohon-pohonan diciptakan oleh Allah, maka pohon-pohonan itupun diciptakan bukan sebagai biji yang baru bertunas, tetapi sebagai pohon-pohon yang sudah besar, yang sudah mempunyai umur tertentu. Andaikata pada hari ke 7, seorang ilmuwan menebang sebuah pohon, dan memeriksa umurnya, mungkin sekali ia akan mendapati bahwa pohon itu sudah berumur 100 tahun, padahal pohon itu baru berumur 4 hari!
* Pada waktu bumi dengan lapisan batu-batuannya diciptakan oleh Allah, maka semua itupun sudah diciptakan dalam keadaan sudah punya umur tertentu. Mungkin 1000 tahun, mungkin 10.000 tahun, mungkin pula jutaan tahun! Jadi, kalau pada hari ke 7 seseorang meneliti bumi dan lapisan batu-batuan itu dengan metode pencari umur yang tepat, maka dia akan mendapatkan hasil ribuan, atau jutaan tahun, padahal semua itu baru berumur 7 hari!
Karena itu kalau para ilmuwan jaman sekarang bisa menemukan suatu metode penemu umur yang betul-betul dapat dipercaya, dan dengan metode itu mereka menemukan bahwa bumi ini sudah berusia 3 juta tahun, maka itu tidak menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan bertentangan dengan Kitab Suci. Siapa tahu memang Allah mencipta bumi dalam keadaan sudah berumur mendekati 3 juta tahun? Ingat bahwa kita tidak tahu umur bumi pada saat diciptakan!

2. Mungkinkah Alkitab (yang ditafsirkan secara benar) dan ilmu pengetahuan (yang betul-betul benar, bukan yang bersifat hipotesa seperti teori Darwin/evolusi, umur bumi dsb) bisa bertentangan? Dua hal yang sama-sama benar tidak mungkin bisa bertentangan!
Dalam hal 212 penulis berkata "Sebagai contoh manusia Perjanjian Lama masih beranggapan bahwa matahari yang mengelilingi bumi, sebab dia terbit dari sebelah Timur dan terbenam di sebelah Barat (Mazmur 19:6-7). Padahal menurut Ilmu Pengetahuan bukan matahari yang mengelilingi bumi sebaliknya bumilah yang mengelilingi matahari".

Dalam hal ini harus saya akui bahwa hasil Ilmu Pengetahuan dalam hal ini (bahwa bumilah yang mengelilingi matahari) bukanlah sekedar suatu teori / hipotesa, tetapi adalah suatu fakta yang memang benar. Tetapi apakah itu menunjukkan bahwa Kitab Suci (khususnya Maz 19:6-7) itu salah? Saya berpendapat tidak! Mengapa demikian? Karena Alkitab tidak ditulis sebagai buku ilmiah, dan karenanya tidak ditulis menurut cara ilmiah. Banyak bagian Alkitab yang ditulis menurut pandangan mata manusia / sebagaimana kelihatannya oleh mata manusia. Karena dalam mata manusia kelihatannya mataharilah yang mengelilingi bumi, maka demikianlah ditulisnya.

Contoh lain: dalam Kej 1:14-16 Allah menciptakan benda-benda penerang (matahari, bulan dan bintang-bintang). Dikatakan dalam Kej 1:16 bahwa matahari dan bulan adalah benda penerang yang besar, dan ini secara implicit / tak langsung berarti bahwa bintang-bintang adalah benda-benda penerang yang kecil. Padahal kita tahu bahwa bintang-bintang itu lebih besar dari bulan bahkan lebih besar dari matahari! Tetapi Kitab Suci tetap menulis begitu, karena Kitab Suci menuliskan sebagaimana kelihatan oleh mata manusia (bintang kelihatan kecil, matahari dan bulan kelihatan besar). Hal ini tidak berarti bahwa Kitab Suci bertentangan dengan ilmu pengetahuan, juga tidak berarti bahwa Kitab Suci tidak inerrant!

3. Kalau ilmu pengetahuan itu benar, dan Alkitab bertentangan dengannya, bagaimana mungkin kewibawaan Alkitab bisa tidak berkurang? Itu kata-kata paling dungu yang pernah saya dengar! Coba pikirkan, jika di dalam hal-hal yang kelihatan (dan yang bisa dibuktikan secara ilmiah) Alkitab bisa salah, maka bukankah hanya orang dungu saja yang mau percaya pada hal-hal yang tidak kelihatan (dan tidak bisa dibuktikan secara ilmiah) yang diceritakan oleh Alkitab seperti iman, keselamatan, surga, neraka, dll.
Selain itu, bagaimana mungkin kita bisa mempercayai bahwa Allah yang bisa membawa kita ke dalam hidup yang kekal ternyata bisa salah di dalam hal-hal yang sederhana mengenai dunia jasmani ini? Allah yang semacam itukah yang dipercayai oleh penulis? Jadi, jika seseorang sudah menyatakan bahwa di dalam hal-hal yang bersifat jasmani ia tidak mempercayai Alkitab, maka jelas adalah suatu omong kosong yang besar jika ia mengatakan bahwa dirinya bisa beriman pada segala hal-hal rohani yang diceritakan Alkitab.


E. Alkitab dikatakan tidak pernah menyampaikan informasi tentang Allah dan kehendakNya terlepas dari kehidupan manusia
Dalam hal 209 penulis berkata: "Alkitab memang berfungsi sebagai Firman Allah, tetapi Firman Allah yang bersabda melalui perkataan-perkataan manusia. Ini berarti bahwa Alkitab tidak pernah menyampaikan suatu informasi tentang Allah dan kehendakNya terlepas dari kehidupan manusia"
Ini adalah suatu omong kosong belaka! Memang Allah sering berfirman melalui kata-kata dan kehidupan manusia, tetapi jelas bahwa Ia bisa dan pernah berfirman terlepas dari kehidupan manusia.
Contoh:
* saya percaya bahwa Kej 1 jelas menyatakan Allah terlepas dari kehidupan manusia, karena saat penciptaan itu belum ada manusia.
* Kata-kata Yesus yang mengatakan bahwa Ia akan datang keduakalinya juga merupakan firman Allah yang terlepas dari kehidupan manusia!
* Banyak bagian dari kitab Wahyu yang merupakan nubuat, dan ini juga merupakan firman Allah yang terlepas dari kehidupan manusia.


F. Penulis adalah orang yang suka mengkompromikan firman Tuhan.
Hal ini terlihat dari:
* hal 72: "... sifat Sepuluh Firman Allah tidaklah kaku. Maksudnya orang-orang Israel tidak pernah menganggap Sepuluh Firman Allah itu sekedar kumpulan undang-undang yang kaku ... Ini disebabkan baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru tidak mau menjadikan Sepuluh Firman Allah sebagai Undang-Undang Yuridis yang mutlak dan statis. Sehingga dalam menafsirkan Sepuluh Firman Allah, kita tetap perlu memperhatikan situasi yang berubah-ubah walaupun tanpa perlu mengurangi arti (makna) aslinya"
* hal 158: "Saat ini metode penafsiran Alkitab yang kontekstual diperjuangkan untuk menafsirkan Alkitab secara tepat dan dapat dipertanggung jawabkan"
* hal 21: "... sikap Yesus yang lebih mengutamakan keselamatan jiwa orang dari pada ketaatan pada hukum Hari Sabat, ... Yesus sangat menghormati hukum Taurat sebagai hukum Allah, namun Dia tidak mau menjadikan hukum-hukum Allah sebagai suatu belenggu".
Ini menunjukkan bahwa:
a. Penulis menganggap bahwa Yesus melanggar peraturan Sabat! Padahal dengan menyembuhkan orang pada hari Sabat, Yesus tidak melanggar peraturan Tuhan tentang hari Sabat, karena Tuhan tidak pernah melarang untuk menyembuhkan orang pada hari Sabat. Ahli-ahli Taurat jaman itulah yang melarang untuk menyembuhkan orang pada hari Sabat, dan Yesus melanggar peraturan mereka, bukan peraturan Tuhan!
b. Penulis adalah orang yang kompromistis / suka mengkompromikan firman Tuhan! (bdk. Mat 5:17-19!)

Pendahuluan dan Tujuan Penulisan

BENAR atau SESAT ? :
Buku Pegangan Katekisasi GKI "Tuhan Ajarlah Aku"

oleh: Pdt. Budi Asali, M.Div.


Pendahuluan dan Tujuan Penulisan
Sejak beberapa waktu yang lalu Gereja Kristen Indonesia (GKI) dihebohkan karena munculnya buku pegangan Katekisasi yang berjudul 'Tuhan, Ajarlah Aku' yang disusun oleh Pdt. Yohanes Bambang Mulyono, S.Th.
Persoalannya adalah karena banyak jemaat GKI sendiri yang menilai buku itu sebagai buku yang berisikan ajaran-ajaran yang salah atau bahkan sesat. Banyak jemaat dan hamba Tuhan GKI yang menentang buku itu, tetapi banyak juga yang mendukung dan menyetujui buku itu, dan banyak juga yang tidak mengerti apakah buku itu sesat atau tidak.

Saya sendiri sebagai Gembala/Pendeta dari GKRI Golgotha, sebetulnya adalah 'orang luar', tetapi akhirnya saya memutuskan untuk menulis suatu pembahasan tentang buku Katekisasi yang dihebohkan itu. Ada beberapa alasan mengapa akhirnya saya memutuskan untuk menulis pembahasan tentang buku Katekisasi tersebut:
w Saya berpendapat bahwa baik Kitab Suci maupun 12 Pengakuan Iman Rasuli mempercayai SATU GEREJA YANG KUDUS DAN AM. Dan karena itu sekalipun saya adalah Pendeta dari GKRI Golgotha, tetapi saya merasa bahwa saya tidak bisa duduk berpangku tangan melihat ada gereja lain yang diserang oleh ajaran yang sesat. Saya merasa bahwa saya mempunyai hak dan kewajiban untuk untuk ikut campur dalam persoalan penyesatan ini!
w Saya sendiri dibaptis di GKI Sulung, jadi dulunya saya adalah anggota GKI. Sekalipun sekarang saya sudah keluar dari GKI, tetapi saya tidak sampai hati membiarkan gereja lama saya dirusak oleh ajaran-ajaran yang sesat. w Beberapa anggota keluarga saya sampai sekarang masih ada di GKI. Karena itu, jika saya membiarkan GKI tersesat, maka sama saja dengan membiarkan anggota keluarga saya diracuni oleh ajaran sesat tersebut.
w Sebagian dari jemaat saya di GKRI Golgotha berasal dari GKI dan bahkan ada yang masih berbakti di GKI. Membiarkan GKI tersesat berarti sama saja dengan membiarkan jemaat saya sendiri disesatkan oleh ajaran tersebut.
w Ada permintaan dari beberapa jemaat GKI kepada saya supaya saya menulis pembahasan mengenai buku Katekisasi tersebut.

Berdasarkan alasan-alasan tersebut di atas, maka saya akhirnya membaca buku Katekisasi tersebut, dan memang saya menjumpai bukan main banyaknya kesalahan dalam buku Katekisasi tersebut. Semua itu akhirnya saya tuliskan dalam buku pembahasan ini, dengan harapan supaya buku ini bisa mencegah atau menghentikan penyesatan di GKI.
Penulis buku 'Tuhan, Ajarlah Aku' dalam Kata Pengantar di bukunya (hal 9) berkata: "Kami sangat mengharapkan bahan-bahan masukan dari jemaat-jemaat yang bersedia memakai buku ini berupa usul, saran dan kritik yang positif". Saya berharap bahwa penulis tersebut mau dan bisa membaca pembahasan saya ini, dan bertobat dari kesesatan dan penyesatan yang ia lakukan!
Saya berdoa supaya Tuhan menyertai dan mencelikkan mata semua orang lain yang membaca pembahasan ini, sehingga mereka semua mendapatkan pengertian yang benar, sehingga akhirnya nama Tuhan saja yang dipermuliakan! Haleluya!

28 February 2008

ADA APA DENGAN CINTA? (Ev. Yadi S. Lima, M.Div.)

Ada Apa Dengan Cinta:
Sebuah Refleksi atas Ajaran Cinta dalam Yohanes 15: 9 – 17

oleh: Ev. Yadi S. Lima, M.Div.
(Pembina Pemuda di Gereja Reformed Injili Indonesia--GRII Pondok Indah, Jakarta dan dosen di Institut Reformed, Jakarta; Master of Divinity dari Institut Reformed, Jakarta)



Tiap orang Kristen sudah tahu bahwa Tuhan memerintahkan kita untuk mengasihi. Dalam khotbah bulan lalu saya menekankan bahwa perintah Tuhan ini bersifat timbal-balik. Yesus bukan memerintahkan kita untuk menjadi ‘Juara Satu Mengasihi’ atau menjadi ‘Jagoan Mengasihi’. Ia memerintahkan kita untuk saling mengasihi. ‘Saling’ di sini berbicara mengenai keterkaitan, matriks inter-relasi, transaksi cinta di antara orang-orang percaya. Ia tidak menyuruh tiap individu untuk melatih kemampuan mengasihi agar makin tinggi levelnya. Ini bukan perintah yang berbasis individu, tetapi komunitas. Yesus menyuruh murid-murid-Nya (plural) untuk menjadi komunitas yang transaksi sosialnya bernafaskan kasih. Kasih itu bukan hanya terletak dalam hati tiap murid, tetapi di dalam ketersalingan tindakan, perkataan, dan niat yang ditransaksikan satu sama lain. Kasih itu terwujud dalam keselarasan tiap sel tubuh Kristus dalam menikmati dan memancarkan kemuliaan Tuhannya. Perintah ini adalah perintah untuk menjadi satu tubuh – Tubuh Kristus. Perintah Yesus untuk mengasihi adalah perintah yang diberikan agar kita menjadi Gereja. “To love each other as Jesus does, as the Father does, is to be a Church.”

Yesus berkata, “Tinggallah dalam kasih-Ku itu.” Bagaimanakah ‘tinggal dalam kasih-Nya’ itu? Yesus berkata, “Dengan menaati perintah-perintah-Ku.” Perintah yang mana yang Ia maksudkan di sini? Saya percaya ‘perintah’ yang Yesus maksudkan adalah perintah Bapa yang ditaati-Nya saat dalam konteks ini. Bagaimana saya menyimpulkan begini? Karena Kristus mengatakan, “Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.” Apakah perintah Bapa yang sedang ditaati Kristus dalam konteks ini? (Perintah yang dengan melakukannya Kristus tinggal dalam kasih Bapa). Kristus kemudian menjawab, “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu (ayat 12).” Seperti apakah Kristus telah mengasihi kita? Jawabannya ada di ayat 9: "Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu.” Jadi kita harus saling mengasihi sebagaimana Bapa mengasihi Kristus. Kenyataan ini sering dilupakan. Kita lebih sering menekankan bahwa teladan kasih yang Kristus berikan adalah: “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya (ayat 13),” sementara kenyataan bahwa Kristus juga mengasihi kita sebagaimana Bapa mengasihi-Nya (ayat 9) kita lupakan. Menekankan teladan Kasih Kristus yang berkorban bagi kita menghasilkan kasih di antara murid-murid Kristus masa kini yang secara radikal berbeda dengan kasih yang dipraktekkan dunia. Seperti apakah ‘kasih’ yang dipraktekkan dunia? Mengasihi diri sendiri. Tiap-tiap orang mengasihi dirinya sendiri, bekerja-sama demi kepentingan masing-masing (tak ada sahabat abadi, tak ada musuh abadi, yang abadi hanyalah kepentingan masing-masing), lalu keluarlah hal-hal yang baik daripadanya. Kita pada dasarnya egois! Jatuhnya Negara-negara komunis di penghujung abad ke-20 menjadi bukti nyata kesalahan asumsi Marx tentang sifat manusia. Karl Marx mengasumsikan bahwa manusia pada dasarnya bersifat altruistik (suka berkorban dan berbuat baik kepada sesama – suka charity). Asumsi ini tidak jalan dalam lingkup global. Lebih dari 200 tahun sejak revolusi industri asumsi Adam Smith bahwa ekonomi digerakkan oleh prinsipself-interest (tiap-tiap orang sesungguhnya hanya mau mencari kepentingannya sendiri saja) kelihatannya lebih realistis. Transaksi menjadi lebih kondusif ketika orang dibebaskan dan dilindungi untuk secara bebas berkompetisi mencari kepentingan dan kebahagiaannya sendiri. Lihat saja kesuksesan kapitalisme Barat. Banyak orang terbunuh ketika mencoba menyeberangi tembok Berlin dari Timur ke Barat. Tetapi tak ada yang berminat untuk melakukan sebaliknya! Nobody beats the (free) market! Satu sisi perintah Yesus di sini, “Hendaklah kalian saling mengasihi sebagaimana Aku mengasihi kalian – dengan berkorban sampai mati,” adalah antitesis dari apa yang secara de facto dipraktekkan dunia. Masalahnya, apakah ini realistis? Marx mengasumsikan tiap manusia bersifat altruis (rela berkorban demi kasih pada sesama) dan ia membangun filsafat yang benar-benar dipraktekkan oleh sepertiga umat manusia di dunia di bawah kepemimpinan Lenin, Mao, Castro, dkk, hanya untuk membuktikan bahwa asumsi ini adalah keliru. Adakah tempat bagi perintah Yesus ini dalam masyarakat? Mimpi utopiakah ini?

Ini hal yang krusial. Sisi pertama perintah Yesus (‘saling mengasihi dengan berkorban’) tidak dapat dipisahkan dari sisi yang lainnya (‘saling mengasihisebagaimana Bapa mengasihi Kristus dan Kristus tinggal dalam kasih Bapa’). Bagian pertama sangat ditekankan di dalam Protestanisme Barat dengan doktrin penalsubstitution, sedangkan bagian kedua dapat kita pahami dalam ajaran yang lebih kuno dalam sejarah doktrin, yaitu: perichoresis di antara pribadi Allah Tritunggal. Yang belakangan ini lebih banyak berkembang dalam teologia Orthodox Timur. Pengakuaniman Nicea mengajarkan bahwa di antara pribadi Tritunggal ada kesaling-meresapan yang tuntas, ada unity di dalam Tritunggal – jadi kita tidak menyembah ‘tiga Allah’ (atau lebih tepatnya: ‘dua Allah’ - sebagaimana dipahami oleh para penganut bidatArianisme). Tetapi unity ini juga tidak mencampur-leburkan Pribadi Bapa dari Anak dan dari Roh hingga tak dapat dibedakan seperti dipahami oleh bidat Sabelianisme. Pendek kata: distinctio sed non separatio – tidak tercampur, tidak terpisah. Dibedakan, tetapi tidak dipisahkan. Ada ruang untuk keunikan sejati tiap pribadi, tetapi ada keintimanrelasi yang radikal dan kekal di antara Ketiga-Nya. Misteri relasi cinta yang paradigmatis bagi komunitas tubuh Kristus. Yesus memerintahkan murid-murid-Nyauntuk saling mengasihi sebagaimana Allah Tritunggal saling mengasihi dalam kesatuannya yang kekal. Tambahan lagi, kesatuan tubuh Kristus ini tidak berhenti pada dirinya sendiri. Kesatuan tubuh Kristus ini dimaksudkan untuk menyatukan kita dengan Bapa (bnd. Yoh 17:21 “…supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.”)

Sedari kekekalan Allah menginginkan kita untuk bersekutu satu sama lain, sama seperti Allah Tritunggal saling bersekutu dalam diri-Nya sendiri didalam kekekalan. Manusia diciptakan untuk menikmati dan mempermuliakan Tuhan (Westminster Shorter Catechism Q/A #1) di dalam komunitas (Kej. 1:27; 2:18). Salah satu kesalahpahaman kaum fundamentalis Injili adalah mereka melihat perintah mempermuliakan Tuhan di dalam ciptaan, kenyataan kejatuhan dalam dosa, dan keselamatan yang diberikan Tuhan melalui penebusan Kristus, semuanya di dalam kerangka individualisme. Aku yang melakukan dosa dan terbelenggu dosa, aku yang diselamatkan Tuhan dari dosa, dan akhirnya aku yang harus mempermuliakanTuhan, lalu kita jatuh-bangun dalam realitas dunia berdosa yang membuat ketatan kepada Tuhan seperti mission impossible juga sebagai seorang individu. Penekanan tak sadar yang kelewatan kepada individualitas ini mereduksi berita keselamatan Tuhanhanya untuk menyingkirkan takut akan kematian dan hukuman neraka, serta menceraikan mandat budaya dari mandat Injil. Individualisme membuat berita Injilterlepas dari tujuan kultural dan mediasi kulturalnya (dalam kasus kaum fundamentalisme injili). Seolah-olah penebusan yang dilakukan Kristus hanya berlaku padalingkup pribadi, tingkah-laku, atau ‘hal-hal rohani’ saja. Injil Kristus sesungguhnya merupakan berita sukacita bagi segala mahluk! Keseluruhan alam semesta yang diciptakan dengan luar biasa indah oleh Tuhan inilah yang ditebus, dipulihkan dari kerusakan akibat dosa manusia dalam pekerjaan Kristus. Inilah yang dimaksudkan Paulus sewaktu ia menuliskannya dalam Roma 8:19-21, “…dengan sangat rindu seluruh mahluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan. Karena seluruh mahluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia yang telah menaklukkannya, tetapi dalam pengharapan, karena mahluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.” Seluruh ciptaan. Jelas bukan terbatas pada individu-individu saja.

Seluruh jejaring makna yang melimpah dengan kehidupan (dan di dalamnya ada aspek aritmetis, geometris, fisis, biologis, sensitif, analitik, linguistik, inter-relasi sosial, ekonomi, estetis, hukum, etis, dan gereja) inilah yang mau dipulihkan oleh Tuhan di dalam rencana besar penebusan-Nya. Sampai di sini jelas sudah bahwa tiap individu orang percaya tidak berhenti sampai keputusannya untuk ‘menerima Yesus sebagai satu-satunya juru selamat pribadinya’. Tidak berhenti sampai ia mengaku sebagai orang Kristen. Pemberitaan Injil jelas berbeda dengan kristenisasi - yang sudah puas saat seseorang masuk Kristen saja. Berita Injil itu integral – satu paket – dengan keseluruhan realitas.

Yesus datang untuk mempersatukan kita satu sama lain di dalam kasih, ke dalam diri-Nya (menjadi satu tubuh Kristus) dan dengan demikian kita disatukan dalam saturelasi cinta dengan Bapa Pencipta langit dan bumi. Komunitas kasih gereja menjadi analogi dari komunitas kasih Allah Tritunggal. Maka tidaklah heran jika momenpaling sakral dalam ibadah orang Kristen adalah Perjamuan Kudus. Dengan menyantap roti dan anggur kita dipersatukan secara ‘mistis’ (atau kalau anda merasalebih nyaman, silakan pakai istilah: ‘secara rohani’) dengan Yesus Kristus. Kekristenan adalah tentang pembentukan komunitas suci tubuh Kristus. Di sinilah kita melihat sentralitas perintah saling mengasihi dalam kehidupan Kristiani kita.

Sampai di sini anda mungkin bertanya, “Jadi bagaimana kita melakukan perintah ini secara nyata?” Buat apa menjelaskan ruwet-ruwet begini kalau kesimpulanakhirnya sama saja: “Kita harus mengasihi!” Mungkin metafora yang Kristus berikan dapat memperjelas. Ia ingin murid-muridnya menjadi sahabat. Tuhan ingin kitamenjadi sekumpulan sahabat dengan memperlakukan kita (hamba-hamba) sebagai sahabat-sahabat-Nya (Yoh. 15:14-15). Sahabat itu tidak mengenal perbedaanstatus pendidikan, status sosial, warna kulit, bahkan agama! Setiap manusia adalah manusia bagi sesamanya. Saya suka cara Richard Mouw dalam bukunya, Calvinism in the Las Vegas Airport menyatakan bagaimana ia melihat dirinya: “I am first and foremost a human being. But I find being a Christian to be the best way for me to be a human being ...” Inilah tujuan Kristus datang dalam dunia: Untuk menjadikan kita sekumpulansahabat yang saling mengasihi, dan melalui sahabat-sahabat-Nya inilah Kristus memulai penebusan radikal-Nya bagi seluruh ciptaan.

Pondok Indah, 3 Februari 2008


Sumber:
http://groups.yahoo.com/group/METAMORPHE/message/7065

26 February 2008

Matius 9:9-13: RADICAL CONVERSION

Ringkasan Khotbah : 17 April 2005



Radical Conversion


oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.




Nats: Mat. 9:9-13




Pendahuluan

Kita telah memasuki bagian ketiga dari implikasi Kerajaan Sorga, yaitu separasi atau pemisahan; mengikut Tuhan berarti memisahkan diri dari dunia. Tuhan Yesus menegaskan bahwa tidak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan, yaitu Allah dan Mamon; kita harus pilih salah satu, mengikut Tuhan berarti kita harus meninggalkan mamon dan sebaliknya. Pilihan ini menjadi tantangan besar bagi manusia sebab manusia ingin Allah sekaligus mamon dengan kata lain manusia ingin dirinyalah sebagai tuan yang jadi penentu. Tapi, manusia bukanlah pemegang kontrol maka manusia harus taat pada siapa yang ia pilih untuk menjadi tuannya. Kita telah memahami bahwa tema sentral dari bagian cerita orang lumpuh yang disembuhkan ini terletak pada kalimat “dosamu sudah diampuni“ dan ini menimbulkan konflik antara Tuhan Yesus dengan para ahli Taurat dan orang Farisi. Ahli Taurat dan orang Farisi merasa diri sebagai orang yang beragama, mereka merasa bahwa ia sudah mendapatkan Sorga namun Tuhan Yesus membukakan bahwa mereka bukanlah bagian dari pemisahan itu.

Kalau pada kisah tentang orang lumpuh disembuhkan, Markus dan Lukas menulis lebih detail dibandingkan dengan Matius maka pada kisah pemungut cukai yang mengikut Yesus ini, pembahasan Matius, Markus maupun Lukas sama bahkan urutan dan settingnya pun sama. Dan menurut kebudayaan Yahudi merupakan hal yang biasa kalau seseorang mempunyai lebih dari satu nama, ada orang yang menyebut Petrus dengan Simon atau Kefas dan Matius dengan Lewi. Alkitab mencatat selain Tuhan Yesus yang diundang, banyak pemungut cukai dan orang berdosa yang juga diundang dan datang ke pesta itu. Pesta perjamuan ini kemungkinan adalah pesta perpisahan, farewell party. Ironisnya, Matius yang mengadakan pesta tetapi yang menjadi tuan rumah dalam pesta itu adalah Tuhan Yesus dan hal itu mendatangkan kejengkelan dari ahli Taurat dan orang Farisi.

Mengapa Matius jadi Pemungut Cukai?

Sesungguhnya para ahli Taurat dan orang Farisi ini sangat mengagumi hikmat bijaksana yang ada pada Yesus akan tetapi mereka tidak menyukai perilaku Yesus sebab perilaku Yesus sebagai salah seorang Rabbi Yahudi dirasakan tidak sesuai dengan para ahli Taurat dan orang Farisi pada umumnya. Mereka marah pada Tuhan Yesus akan tetapi seperti kejadian sebelumnya, kali inipun, mereka hanya menggerutu dalam hati, mereka tidak berani berbicara langsung pada Tuhan Yesus tetapi mereka menegur murid-murid-Nya. Tuhan Yesus tahu apa yang menjadi ganjalan hati mereka dan Tuhan Yesus memberi jawab dimana jawaban ini bersifat paradoxical: Bukan orang sehat yang perlu tabib tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa (Mat. 8:12,13). Jawaban ini terasa menyakitkan hati sebab mereka harus memikirkan ulang kembali dirinya, pikiran theologi dan hidupnya.

Matius bukanlah seperti pemungut cukai umumnya yang ada di pinggir jalan. Matius mengambil pajak dari setiap barang yang keluar atau masuk maka kantor bea cukai ini berada di daerah sentral, yaitu daerah perbatasan atau perdagangan. Penetapan pajak ini sudah menjadi peraturan dari pemerintah Romawi. Bayangkan, orang Yahudi yang bekerja keras tetapi pemerintah Romawi yang mengambil keuntungan maka tidaklah heran kalau orang Yahudi ini begitu membenci pemungut cukai apalagi Matius adalah orang Yahudi tetapi pro bangsa Romawi maka kebencian mereka pastilah berlipat-lipat. Orang Yahudi yang bekerja untuk pemerintah Romawi dikatakan sebagai pengkhianat atau kafir sebab mereka telah mempermainkan imannya dengan pro pada bangsa Romawi yang menyembah berhala. Ada ungkapan yang berbunyi: orang Romawi menjajah tubuh orang Yunani tapi orang Yunani menjajah otak orang Romawi. Memang benar, bangsa Yunani tidak dapat melawan bangsa Romawi tapi semua pemikiran filsafat Yunani sudah mencengkeram pemikiran orang-orang Romawi dimana dewa-dewa yang disembah dan cara penyembahannya mencontoh orang Yunani hanya namanya saja yang diganti, sebagai contoh dewi Artemis diganti menjadi Diana.

Bagi orang Yahudi, orang yang menyembah dewa adalah orang yang berdosa. Orang Yahudi telah belajar dari pengalaman 400 tahun mereka dibuang karena berulang kali jatuh ke dalam dosa penyembahan berhala maka sejak masa pembuangan itu, mereka tidak menyentuh berhala sedikitpun. Mereka takut kejadian yang sama terulang kembali maka orang Yahudi membuat peraturan-peraturan yang sedemikian ketat, salah satunya yaitu tidak boleh bersentuhan dengan orang kafir. Karena itu orang Yahudi sangat benci pada pemungut cukai yang bergaul dengan orang Romawi yang kafir. Yang menjadi pertanyaan adalah apa yang membuat Matius rela dicap sebagai pengkhianat dan dimusuhi oleh bangsanya sendiri? Jawabannya hanya satu, yaitu demi uang; Matius adalah seorang materialis. Pada jaman itu, semua pemungut cukai hidup kaya, mereka digaji besar oleh pemerintah Romawi demi untuk menjaga agar mereka tidak korupsi dan Matius merupakan salah seorang yang hidupnya kaya sebab untuk membuat suatu pesta sedemikian besar pasti dibutuhkan biaya yang besar.

Akan tetapi, Matius tidak peduli dengan semua pandangan orang atas dirinya sebab baginya yang terpenting hanya satu, yaitu kaya. Bukankah hal ini terjadi sampai sekarang? Demi uang, orang rela berkorban dan mengorbankan apapun. Matius berpikir kekayaan akan membuat hidup bahagia; ia telah dikunci oleh paradigma hidupnya. Namun ketika Matius menjalankan seperti yang ia pikirkan ternyata berbeda; apa yang ia pikir ternyata tidak sesuai dengan realita. Orang tidak mau belajar, orang selalu ingin mengalami sendiri. Begitu juga dengan Matius ketika ia memilih menjadi pemungut cukai dan menjadi kaya, apakah hidupnya bahagia? Alkitab mencatat ternyata tidaklah demikian, Matius menjadi orang yang tersendiri, lonely. Pekerjaannya menjadi rutinitas, ia tidak dapat keluar dari pekerjaannya sebab oleh bangsanya sendiripun ia ditolak dan kalaupun ia keluar dari pekerjaannya maka tidak ada tempat lain yang lebih menjanjikan daripada pemungut cukai.

Hari inipun orang masih berpikir kalau ia kaya maka akan mudah mendapatkan segala sesuatu dan itu membuat bahagia. Tidak! Semua itu membuktikan bahwa kita belum pernah kaya sebab kalau orang sudah kaya maka pasti tidak akan pernah keluar kalimat seperti demikian. Apalah artinya kekayaan kalau keluarga kita berantakan, apalah artinya kekayaan kalau uang justru membuat kita tidak dapat hidup damai sejahtera. Inilah kehidupan orang kaya banyak beban yang harus ia tanggung, banyak tuntutan yang harus dipenuhi. Kalau bukan Tuhan yang memberikan kekuatan maka sulit baginya untuk menanggung beban itu. Ingat, barangsiapa diberikan lima talenta maka Tuhan menuntut lima, barangsiapa mempunyai dua talenta maka Tuhan juga menuntut dua begitu juga jikalau kita diberikan satu talenta maka Tuhan hanya menuntut satu, tidak lebih dan tidak kurang. Kalau kita hanya diberikan satu talenta tapi kita mengerjakan secara berlebihan maka kita akan hancur sebab kita tidak mempunyai kekuatan cukup untuk menanggungnya.

Mengapa Matius mengikut Tuhan?

Di tengah-tengah kesibukannya bekerja, Tuhan Yesus mendatangi Matius dan berkata: “Ikutlah Aku.“ Seandainya kita berada di situasi itu bagaimanakah reaksi kita? Matius tentu bukan pertama kali mendengar tentang Yesus, pastilah Matius mendengar tentang segala perbuatan yang dilakukan oleh Yesus. Matius berasumsi bahwa Yesus sama seperti Rabbi Yahudi yang lain yang mempunyai konsep sama, yaitu menganggap dirinya pengkhianat dan orang berdosa. Akan tetapi di dalam hatinya sebenarnya Matius mempunyai kerinduan untuk lebih dekat dan mengenal Yesus, ia tahu bahwa Yesus pastilah dapat merubah hidupnya namun ia mengubur dalam-dalam impiannya tersebut sampai suatu ketika Tuhan Yesus datang padanya dan berkata: “Ikutlah Aku.“ Momen itu sangatlah krusial sebab mengikut Yesus bukanlah hal yang sederhana, orang tidak bisa masuk dan pergi kapan ia mau. Tidak!

Mengikut berasal dari kata akulotheo (bhs Ibrani) yang berarti mengikut tanpa syarat dan itu bersifat selamanya. Kalau mengikut Yesus berarti Matius harus keluar dari pekerjaannya sebagai pemungut cukai selamanya sebab banyak orang yang ingin menggantikan pekerjaan Matius. Hari itu, banyak orang yang berpikir sama, yaitu kekayaan akan membawa kenikmatan. Ingat, iblis sangat licik menjebak manusia dengan kekayaan yang justru akan membelenggu hidupnya dan akan sulit baginya untuk keluar dari belenggu iblis. Jangan pikir hidup kita akan menjadi nikmat ketika kita berpenghasilan semakin tinggi, tidak, sebab ketika kita jatuh maka tingginya penghasilan justru mencelakakan hidup kita dan menjadi tiang gantung bagi kita. Tuhan tahu sampai dimana batas kecukupan kita maka kalau sudah melampaui batas maka pasti bukan Tuhan yang memberi tapi asalnya dari iblis.

Tuhan tidak akan memberikan kemiskinan supaya jangan sampai kita mencuri dan mempermalukan nama Tuhan atau memberikan kekayaan sehingga kita melupakan Tuhan. Orang kaya sejati adalah orang yang tidak diikat dengan kekayaannya, dengan penghasilan seratus juta rupiah ia dapat hidup tapi dengan uang hanya satu juta rupiah pun ia dapat hidup. Biarlah kita belajar dari pengalaman iman Yusuf berjalan bersama Tuhan menyadarkannya bahwa Tuhan satu-satunya sandaran hidup kita. Inilah bedanya orang yang hidup bersandar pada mamon dan Tuhan. Tentunya menjadi pergumulan berat dalam diri Matius ketika Tuhan memanggilnya akan tetapi Matius telah melangkah dengan iman. Ingat, Tuhan tidak menjanjikan hidup kita akan bahagia dan nikmat ketika kita menjadi murid-Nya tetapi Tuhan janji: Ia akan selalu beserta ketika badai itu datang menimpa kita. Pilihan Matius adalah pilihan sempurna, dibutuhkan kesadaran penuh dan cara pandang Matius kini berbeda, ia melihat ada pengharapan di dalam Kristus.

Kesaksian indah mengikut Tuhan

Alangkah indahnya kalau hidup kita dipimpin Tuhan, memang saat ini mungkin yang ada di depan mata kita hanyalah kegelapan ketika kita mengikut Yesus tapi satu hal yang pasti Tuhan tidak akan membiarkan kita berjalan sendiri, Ia akan menuntun kita keluar dari kegelapan itu. Orang selalu terjebak dengan kekinian, mata kita mudah sekali melihat ke bawah tetapi sulit memandang Sorga. Cobalah renungkan, kalau memang benar, kekayaan dapat membuat hidup kita bahagia maka pasti tidak ada orang kaya yang bertobat. Karena itu dibutuhkan langkah iman yang besar untuk orang dapat bertobat. Hati-hati, dengan akal licik si iblis yang selalu menggoda manusia dengan segala kenikmatan namun berakhir dengan kehancuran. Iblis selalu meminta imbalan atas pemberiannya, ia tidak pernah memberikan gratis; iblis ingin nyawa kita sebagai gantinya. Berbeda dengan Tuhan, Ia memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi kita. Pada saat kita dihadapkan pada suatu titik kritis yang menuntut suatu keputusan maka disana nampaklah siapa sesungguhnya kita, termasuk orang bodoh ataukah orang bijak? Hendaklah kita menjadi bijak dengan tidak mudah tertipu oleh akal licik si iblis. Orang bijak bukanlah orang yang pandai tapi orang yang bijak adalah orang yang taat kehendak Tuhan.

Makna hidup kita tidak ditentukan oleh uang sebab ketika kita gagal menguasai uang maka uang itu berganti yang menguasai hidup kita dan akhirnya kita menjadi budak uang. Banyak orang yang ingin kaya, orang berharap dengan kekayaannya itu, ia dapat mengatur hidup namun fakta terbalik justru uang yang mengatur hidup kita, uang menjadi tuan yang membelenggu hidup. Kisah hidup seorang Elvis Presley dan para selebritis lain dapatlah kita jadikan pelajaran bagi kita. Demi untuk mendapatkan uang dan ketenaran maka Elvis harus membayar mahal, ia harus menukarnya dengan kebebasan dan hidupnya berakhir dengan kehancuran. Namun hari ini, masih banyak orang yang ingin hidup seperti Elvis Presley atau Lady Di yang dipuja dan kaya namun semua ketenaran dan kekayaan itu justru menghantar mereka menuju kehancuran. Hidup mereka berakhir dengan sangat mengenaskan.

Keputusan yang diambil Matius bukanlah keputusan biasa atau sekedarnya. Pesta yang ia adakan menjadi proklamasi dirinya, ia dapat bersaksi keindahan menjadi pengikut Tuhan Yesus. Matius tahu, mengikut Yesus berarti ia akan kehilangan kekayaannya tapi ia tahu ia akan mendapatkan kepenuhan hidup. Ketika Matius kembali pada Kristus, disana ia mendapatkan kemerdekaan dalam Kristus, ia tidak lagi menjadi budak uang. Matius telah mendapatkan yang terindah. Dunia hanya dapat memamerkan kekayaan tapi yang menjadi pertanyaan sekarang adalah bagaimana kehidupan yang sesungguhnya? Kita tidak tahu, apa yang tersembunyi di balik senyum dan penampilan seseorang yang memukau mungkin disana ada air mata yang berderai. Ketika kita mengikut Kristus mungkin hidup kita tidak akan kaya bahkan mungkin tidak banyak orang yang mengenal kita tapi hidup akan bahagia sebab kita mendapatkan makna hidup. Jangan sia-siakan waktumu dengan percuma tetapi jadikanlah hidupmu penuh makna sehingga hidup kita di dunia yang singkat ini tidak menjadi sia-sia dan berakhir dengan kehancuran. Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)





Sumber:

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2005/20050417.htm