22 December 2007

Iman Kristen dan Musik-6 (Diskusi)

Iman Kristen dan Musik (6)—Diskusi
(Sdr. Jimmy—S dan Pdt. Billy Kristanto—B)


J :
Sekali lagi, saya angkat topi utk upaya kamu meninjau masalah ini dari seluruh dimensi yg penting... Tidak disangkal lagi, kamu sangat bertanggung jawab dan serius mendalami hal ini... Kami semua dapat belajar banyak dari kamu... Pembahasan kamu menyegarkan motivasi saya utk belajar lbh serius lagi...

B :
Saya pikir diskusi ini juga mempertajam dan memperjelas kesimpang-siuran konsep tentang musik gerejawi yang banyak dianut, sekalipun mungkin kita belum bisa 100% sependapat.

J :
Satu pertanyaan saja karena saya belum menemukan jawabannya secara lugas dalam pembahasan kamu: Apa properties dari suatu jenis musik yang memungkinkan kita melakukan pengkategorian musik yang kudus atau tidak (selain teks, apalagi)?
Saya setuju bahwa dari sudut pandang estetika, maka ada kemungkinan bahwa jenis musik tertentu (seperti Klasik) adalah high-art. Mungkin inilah perbedaan kita berdua. Kamu berangkat dari estetika. Sedangkan saya berangkat dari preferensi musikal manusianya.

B :
As you already noticed, pengujian musik yang good or bad, atau lebih baik: better and worst.
[1] Pengujian ini terutama dilakukan dengan menyelidiki estetika musik tersebut.[2] Tentang approach (pendekatan) tentunya bisa beraneka-ragam dan tidak mutlak, namun kita harus selalu ingat bahwa ketika kita membicarakan “starting point” (bukan “approach”) maka hanya ada satu-satunya starting point yaitu penilaian dari Alkitab sendiri. Persoalan berangkat dari preferensi musikal bagi saya adalah ini bukan hanya sekedar perbedaan approach (which I have no problem at all with), melainkan sudah berurusan dengan “starting point”. Preferensi musikal ini berangkat dari diri sebagai subyek yang menyukai musik tertentu (saya suka musik A, kamu musik B, yang lain lagi musik C dan seterusnya). Dengan kata lain starting pointnya masih berada di bawah tradisi filsafat Cartesian (Rene Descartes). Kita tahu bahwa pengaruh Descartes dan Kant (yang mulai dari diri manusia sebagai subyek) hanya membawa kepada agnostisisme, skeptisisme, relativisme, dan terakhir (menurut Hauerwas) nihilism. Kalau kita mulai starting point dari diri (padahal kita tahu diri kita berdosa dan tidak sempurna) maka yang akan terjadi adalah “you can choose whatever you like, what you think is best and good for you”. Starting point dari diri (manusia) pasti tidak akan ada jalan temu karena setiap orang mempunyai pendapatnya sendiri-sendiri. Musicology yang dimulai dengan starting point diri bukan jalan dari Alkitab tetapi dari Descartes and co.
Sebaliknya ketika kita melakukan penyelidikan estetis, kita percaya bahwa terlepas dari selera musik saya secara pribadi, ya, terlepas dari pendapat saya sebagai manusia yang berdosa dan tidak sempurna, Alkitab memberikan prinsip-prinsip tentang apa itu keindahan. Dengan kata lain, Alkitab membicarakan tentang estetika. Menurut Fil 4:8 ada kaitan antara keindahan (aspek estetik) dengan kebenaran, kemuliaan, keadilan, kesucian dsb). Apa yang indah adalah apa yang kudus dan apa yang benar. Sehingga musik yang indah (menurut kriteria Alkitab) dapat juga dikatakan kudus, musik yang tidak indah adalah tidak kudus dan tidak benar. Di sini kita langsung berbeda dengan para relativist yang mengatakan bahwa indah adalah persoalan selera, tidak bisa diuji etc. Pandangan itu bukan pandangan Alkitab tapi pandangan filsafat dunia.
Bagaimana kita menguji estetika suatu musik tertentu, atau lebih detail, suatu karya komponis tertentu? Untuk suatu pengujian yang lebih kompleks dan komprehensif kita perlu untuk mempelajari musik tersebut terbentuk dari latar belakang yang bagaimana (di sini diperlukan study interdisipliner bidang-bidang yang lain seperti sosiologi, filsafat, kebudayaan dsb). Atau kalau mempelajari estetika komponis tertentu, kita perlu mengetahui biografinya, kepercayaan atau ideologi yang dia anut (saya sudah sharingkan secara singkat di tulisan yang terdahulu tentang John Cage misalnya yang banyak dipengaruhi oleh Zen-Buddhism). Selain itu juga dia berada di bawah pengaruh tradisi apa, adakah pengaruh estetika Kristen dalam tradisi ini? Jika ada, seberapa jauh? Berapa banyak penyimpangannya?
Konsep estetika ini berkaitan dengan penggarapan yang terjadi dalam 5 musical parameter dasar (harmoni, melodi, ritme, dinamika dan suara [Klang]). Estetika tertentu digarap dalam harmoni atau melodi tertentu yang merefleksikan estetika tadi (kembali dalam pembahasan tentang John Cage saya mencoba untuk mensharingkan kaitan antara estetika yang dianut oleh Cage dengan teknik penggarapan komposisi musiknya). Dengan demikian musik tidak mungkin netral. Dan kalau kita menerima pandangan Alkitab tentang keindahan (bukan pandangan relativisme), kita tahu bahwa keindahan memiliki kriteria obyektif dalam suatu pengujian yang dilakukan di bawah terang Alkitab. Yang indah adalah kudus dan benar, yang tidak indah tidak kudus dan tidak benar. Dengan kata lain, there is better aesthetics and worst aesthetics. Estetika tidak relatif menurut konsep Alkitab.


J : Analogi saya sederhana saja. Dalam dunia linguistik pun kita dapat menemukan beberapa bahasa yang jauh lebih tinggi dalam pengungkapan dan kedalaman makna. Contohnya saja bahasa Inggris dan Indonesia lebih unggul Inggris karena memiliki tenses. Sementara bahasa Yunani mungkin lebih tinggi daripada bahasa Inggris. Ada pula yang bilang bahasa Mandarin lebih tinggi karena kandungan filosofis dalam perkawinan pelbagai karakter yang menghasilkan karakter baru, dsbnya. Namun, apakah dengan demikian kita seharusnya berdoa/berkomunikasi kepada Tuhan dalam bahasa Yunani/Inggris/Mandarin ketimbang Indonesia karena Indonesia lebih inferior?

B:
Kamu mengangkat satu point yang penting di sini (“higher culture”) yang saya percaya akan semakin memperjelas diskusi ini. Mengenai “higher culture” ini saya ada beberapa tanggapan:
1. Saya pribadi lebih suka menggunakan istilah kebudayaan yang lebih kompleks/berbobot dan kebudayaan yang lebih sederhana, instead of high and low. Pembedaan high and low arts bisa membawa orang terjebak dalam spirit cultural elitist yang salah (menghina culture yang lebih rendah), dengan demikian, seperti sudah saya bahas sebelumnya, merupakan ketidak-mengertian terhadap theology of grace. Dalam tradisi Reformed theology orang lebih suka menggunakan istilah kebudayaan yang lebih kompleks di satu sisi dan lebih sederhana di sisi yang lain.
2. Pembedaan ini penting karena adanya konsep takaran yang berbeda-beda bagi setiap orang. Tidak setiap orang diberikan takaran yang sama, let say, untuk mengecap ‘high’ education, ‘high’ cultural living, ‘high’ civilization dsb. Alkitab mengajarkan agar kita memberikan yang terbaik bagi Tuhan (motivasi, tujuan dan pemberiannya sendiri). “Yang terbaik” yang dimaksud di sini tentunya adalah “yang terbaik yang dapat saya berikan.” Yang terbaik, sesuai dengan takaran yang Tuhan percayakan pada saya. Persoalan yang terjadi pada cultural elitist adalah tidak mengerti bahwa setiap orang memiliki takaran yang berbeda-beda dari Tuhan. Yang penting di sini adalah setiap orang harus jujur dan mengenal diri dengan benar.
3. Namun ini tidak berarti bahwa takaran itu statis dan tidak dapat berubah. Alkitab juga mengajarkan bahwa mereka yang setia dalam perkara kecil akan dipercayakan perkara yang lebih besar. Dalam takaran pun terjadi progresi. Point ini juga sama pentingnya dengan point ke-2, karena tanpa pengertian ini kita cenderung menjadikan konsep takaran itu sebagai rasionalisasi untuk mempertahankan status quo alias keengganan untuk bertumbuh dan terus maju. Di sini saya sulit untuk menerima pop-culture karena salah satu kecenderungan yang sangat kuat dalam kebudayaan ini adalah spirit yang suka mempertahankan “lack of depth” yang menjadi karakteristiknya.
[3] Bukan hanya di dalam musik/seni saja, dalam pengenalan akan firman Tuhan juga bisa merembet spirit pop-culture,[4] dalam filsafat pelayanan juga dapat dipengaruhi oleh pop-culture.[5] Spirit instant dan mau langsung jadi, “how-to Christianity” yang mau jawaban siap pakai (tanpa harus bergumul) menjadi karakteristik umum di jaman kita sekarang. Sebaliknya jika kita mengikuti Alkitab, kita harus dengan rendah hati untuk terus mau bertumbuh dengan dipercayakan perkara yang lebih besar oleh Tuhan, termasuk di dalamnya pengenalan teologis yang lebih dalam dan lebih kaya akan Firman Tuhan, juga musik yang lebih berbobot dan lebih kompleks yang Tuhan ingin berikan kepada kita. Ini termasuk dalam bagian pertumbuhan yang wajar dalam hidup Kristen.
4. Sekalipun benar memang ada perbedaan seni yang lebih kompleks dan yang lebih sederhana, namun concern saya sebagai orang percaya lebih berurusan dengan apakah suatu karya memiliki good or bad aesthetics daripada ‘high’ or ‘low’ aesthetics. I have no problem at all dengan estetika musik yang lebih sederhana, karena bagi saya, kedua-duanya (musik yang kompleks atau yang sederhana) dapat dipakai oleh Tuhan. Yang menjadi persoalan bukanlah tingkat kompleksitas musiknya, melainkan estetika yang benar atau tidak. Ada musik yang sangat kompleks estetikanya, and yet bad aesthetics (seperti John Cage misalnya). Sebaliknya ada musik yang lebih sederhana and good aesthetics. Sebagai orang percaya kita mempertahankan yang good aesthetics dan membuang yang bad aesthetics (mengikuti anjuran Paulus untuk menguji segala sesuatu dan memegang yang baik [I Tes 5:21]). Di sinilah perbedaan kita dengan para cultural elitists karena mereka (para elitists) akan mempertahankan ‘high’ arts dan menghina serta membuang ‘low’ arts. Bagi kita, good aesthetics bisa ada pada karya seni yang kompleks maupun yang lebih sederhana, demikian juga halnya dengan bad aesthetics. Sama halnya dengan perdebatan musik trasional – kontemporer, perdebatan musik dalam kategori ‘high – low’ arts totally miss the point, karena yang dipersoalkan Alkitab adalah benar dan tidak benar, kudus dan tidak kudus (bukan tinggi atau rendah).
[6]

Mengenai analogi bahasa, saya sudah pernah singgung bahwa analogi ini lemah dan tidak cukup untuk menggambarkan kompleksitas persoalan dalam pengujian estetika. Mengapa? Karena bahasa lebih bersifat universal, yang paling dasar yang ada pada setiap bangsa/suku. Jika analogi ini tetap mau dipaksakan juga, yang mungkin dapat menjadi perbandingan yang lebih tepat adalah dengan etno-musik, yang juga ada pada setiap bangsa/suku.
[7] Sementara jenis musik seperti Rock, New Age, Expressionism, bi-tonality etc, bukanlah produk universal setiap bangsa (seperti keanekaragaman dalam etno musik misalnya), melainkan merupakan kebudayaan yang lebih banyak berkait dengan ideologi, bahkan agama tertentu. Ini yang membuat kategori jenis musik yang terakhir ini sangat tidak tepat jika dianalogikan dengan bahasa (karena kandungan nilai kepercayaannya yang sangat kuat).


J :
Kembali ke ibadah, saya melihat kesamaan masalah bila kita juga apply cara pikir yg sama. Saya melihat begini: mari kita pakai bahasa musik kita masing-masing... namun tetap terapkan striving for excellence within each categories...

B :
Jika ada seseorang yang dilahirkan dalam ‘bahasa musik’ New Age lalu dia ingin bertumbuh dalam ‘bahasa musik’nya itu dan menggunakannya dalam ibadah, bagaimana respon kita? Saya pribadi sulit dengan hati nurani yang jujur dan bertanggungjawab di hadapan Tuhan mengatakan “silakan saja, itu memang ‘bahasa musik’ kamu …” karena saya tahu musik-musik seperti itu lahir dari pergumulan agamawi yang melawan Tuhan. ‘Bahasa musik’ kita pun tidak netral, dan perlu terus dikuduskan oleh Firman Tuhan.


J :
Saya tidak menolak aspek keunggulan estetika namun itu menjadi tahap berikut, bukan titik awal.... makanya dalam credo saya, quality saya letakan setelah diversity dan love... jika kita mau pakai musik kontemporer, maka berikan musik kontemporer terbaik...

B :
Saya sependapat dengan kamu jika itu berurusan dengan estetika ‘tinggi – rendah’ maka tidak terlalu matters (asal kita tetap memperhatikan bahwa takaran kita bersifat progresif). Tapi itu matters jika berurusan dengan good/bad aesthetics (bagi saya memberikan yang terbaik mencakup pengujian musik yang baik dan benar). Sudah saya bahas di atas bahwa concern kita lebih berurusan dengan good or bad music instead or ‘high/low’ (complex/simple). Dalam konteks yang pertama (good and bad aesthetics), saya sedikit terganggu dengan kalimat di atas bahwa keindahan boleh ditempatkan setelah diversity and love, karena dalam Firman Tuhan kita tidak mendapati bahwa keindahan (yang berkait dengan kebenaran, kekudusan dsb) boleh dibicarakan ‘belakangan’. Sulit untuk mendapati bahwa Firman Tuhan mengajarkan bahwa pluralitas dan kasih lebih dahulu daripada kebenaran, kekudusan, keindahan, kemuliaan dsb.
[8] Bagi saya, semuanya harus diuji, tanpa mendahulukan yang satu dan mengesampingkan yang lain. Dalam Alkitab kebenaran, keindahan, kemuliaan, kekudusan tidak mungkin dipisahkan dari kasih. Kebenaran ada dalam keaneka-ragaman faset (namun ini tidak berarti semua faset dapat ditampung dalam kebenaran), keaneka-ragaman ini dipersatukan oleh kasih, di dalam kebenaran. Mengenal kebenaran berarti menerima keaneka-ragaman di dalam kasih. Ketika kita menomor-duakan kebenaran (yang berkait dengan keindahan, kekudusan, kemuliaan dsb) kita cenderung akan terjebak pada pluralisme yang diajarkan oleh dunia (bukan pluralitas yang diajarkan oleh Alkitab) dan kasih kita akan menjadi kasih yang tidak berkait dengan pengertian (blind love). Sebaliknya hanya menekankan ‘kebenaran’ tanpa bisa menerima keaneka-ragaman di dalam kasih juga bukanlah merupakan pengenalan kebenaran yang sejati. Allah yang kita percaya adalah Allah yang benar, Allah yang mengasihi, dan Allah di dalam tiga Pribadi. Tuhan memberkati kita sekalian. Sola scriptura.

In Christ,
one of the greatest sinners, forgiven by God
[1] Seperti sudah saya bahas dalam tulisan yang lalu bahwa tidak ada musik yang sepenuhnya sempurna, demikian juga tidak ada musik yang sepenuhnya rusak dan tidak ada keindahan yang tersisa di dalamnya. Maka kita lebih baik berbicara tentang musik yang lebih baik dan kurang baik, yang lebih alkitabiah dan kurang alkitabiah, dalam berbagai macam tingkat kebaikan atau kerusakan.
[2] Penyelidikan estetis ini bisa terjadi dalam beberapa tahap tentunya, mulai dari tahap yang paling general, seperti misalnya estetika musik Rock, musik Barock, musik medieval, serial music, expressionism, new age etc, atau yang lebih detail misalnya Barock Perancis, Barock Jerman, Italia etc, dan lebih detail lagi dengan menguji estetika per komponis (let say Mozart misalnya), lebih detail lagi: Mozart pada periode kehidupan yang mana, atau lebih detail lagi: per karya, dan lebih detail lagi: bagian tertentu pada karya tertentu. Pengujian estetika yang general mencoba untuk mencari karakteristik umum dari musik yang diuji (misalnya musik Rock, Klassik, Romantik etc), kelemahan dari pengujian yang seperti ini pasti adalah kecenderungan generalisasinya (ini tidak bisa dihindarkan karena memang pengujiannya terjadi pada tahap yang general). Kalau kita mau melakukan pengujian yang lebih kompleks harus bicara lebih detail.
[3] Ini wajar dan dapat dimengerti karena jika goal yang ingin dicapai adalah mendapatkan jangkauan sebanyak-banyaknya maka yang seringkali harus dikompromikan adalah kualitasnya. Pop-culture yang menuju kepada “depth” tidak akan menjadi pop-culture lagi dan akan dituduh menjadi penganut cultural elitist. Bagi saya pilihan cultural elitist di satu sisi dan pop-culture di sisi yang lain, dua-duanya salah. Alkitab memberikan alternatif yang lain mengenai ini yaitu konsep takaran dalam progresi.
[4] Kalimat seperti “Untuk apa susah-susah mempelajari teologi, itu hanya bikin tambah bingung, bahkan sombong, lebih baik kita belajar saling mengasihi saja” saya kuatir tanpa sadar sebenarnya juga dipengaruhi oleh kecenderungan pop-culture yang cenderung menolak untuk belajar lebih dalam dan terus maju. Dalam Alkitab kasih tidak dapat dipisahkan dengan pengertian yang benar, demikian pula sebaliknya.
[5] Misalnya mencoba untuk mendapatkan jiwa sebanyak-banyaknya dengan mengkompromikan kualitas yang ditakar oleh Tuhan.
[6] Tuhan dapat memakai tulisan dengan kapasitas teologi yang sangat kompleks seperti J. Edwards, maupun juga khotbah-khotbah yang sangat sederhana dari D.L. Moody. Tulisan Kant boleh jadi jauh lebih kompleks, lebih ‘tinggi’ daripada Moody namun ini tidak berarti pemikiran Kant lebih benar dan kudus daripada Moody hanya karena dia lebih kompleks. Pengujiannya adalah kesetiaan kepada Firman Tuhan (entah kompleks atau sederhana).
[7] Ini pun bagi saya juga tidak dapat diakomodasi begitu saja sebagai totally neutral tanpa critical reflection terlebih dahulu. Di satu sisi kita percaya seperti diajarkan dalam Reformed Theology, ada anugerah umum dalam setiap kebudayaan, dan di sisi yang lain kita juga tidak boleh melupakan tanpa pencerahan wahyu khusus, pengertian wahyu umum sesungguhnya kabur dan bahkan cenderung ditekan oleh manusia berdosa (Roma 1:21-23). Dalam etno-musik pasti ada respon terhadap pengenalan akan Allah dalam wahyu umum (bayang-bayang dan kabur), namun juga sekaligus produk keberdosaan dan ketidak-taatan manusia.
[8] Sekali lagi menurut Alkitab konsep keindahan tidak dapat dipisahkan dengan kebenaran, kekudusan, kemuliaan dsb.

Bab 11 : DIRENCANAKAN BAGI KESENANGAN ALLAH ?? (Analisa Terhadap Bab 8 Buku Rick Warren)

Bab 11
Direncanakan bagi Kesenangan Allah ??


Pada bab 11 ini, kita akan mencoba menggali masing-masing pengajaran Rick Warren di dalam bab/hari kedelapan dalam renungan 40 harinya. Penggalian ini bisa bersifat positif maupun negatif dari kacamata kebenaran Firman Tuhan, Alkitab. Mari kita akan menelusurinya dengan teliti berdasarkan kebenaran Alkitab.
Tidak usah membahas terlalu jauh, dari judulnya saja, kita dapat menemukan apa yang diajarkan Warren mulai bab ini sudah mulai kacau dan ngawur. Benarkah kita direncanakan bagi kesenangan Allah ? Kalau benar, bukankah berarti bahwa kita itu paling agung bahkan melebihi Allah ? TIDAK. Mari kita akan menelusuri apa yang Warren ajarkan di dalam bab yang aneh ini.
Ayat pembuka bab ini diambil dari Wahyu 4:11 yang dikutip dari terjemahan New Living Translation (NLT), “Engkau telah menciptakan segala sesuatu, dan bagi kesenangan-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.”

Komentar saya :
Lagi-lagi, penyakit buruk Warren kambuh, ia suka mengutip ayat-ayat Alkitab yang sengaja dicarikan versi terjemahan yang cocok dengan yang ingin ia ajarkan di dalam bab ini. Kata “kesenangan-Nya” tidak ditemukan dalam terjemahan bahasa asli (Yunani), Terjemahan Baru (TB) LAI, Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS), King James Version (KJV), International Standard Version (ISV) dan English Standard Version (ESV). ISV dan ESV menggunakan kata will yang tidak menunjukkan kesenangan, tetapi kehendak. Demikian pula, TB LAI dan BIS menggunakan kata “kehendak-Nya”. King James Version (KJV) menggunakan kata pleasure, tetapi kata aslinya adalah thelēma yang berarti choice, will, purpose, decree, desire, dll. Tidak ada satu arti dari kata Yunani thelēma ini yang menunjukkan kesenangan.

Lalu, ia melanjutkan pengajarannya yaitu dengan mendatangkan kegembiraan bagi Allah, hidup bagi kesenangan-Nya, menurut Warren, itulah yang menjadi tujuan pertama hidup manusia dan ini mengakibatkan kita tidak pernah lagi memiliki perasaan yang tidak berarti (Warren, 2005, p. 69)

Komentar saya :
Tujuan pertama hidup kita bukan untuk mendatangkan kegembiraan bagi-Nya, tetapi untuk bersekutu dengan-Nya, sehingga kita tidak bisa hidup tanpa Allah ! Kecenderungan kita bisa minder bisa disebabkan karena kita ditelantarkan dan dibenci oleh orang-orang sekitar kita serta dianggap tidak berguna. Tetapi Allah memang mengasihi manusia dan manusia itu berharga di mata-Nya. Tetapi ingatlah satu hal, meskipun Allah memahkotai manusia dengan kemuliaan karena mereka dicipta segambar dan serupa dengan-Nya, jangan lupa, manusia sudah berbuat dosa dan telah mengurangi kemuliaan Allah. Dari awal sampai bab ini, saya sedikit lagi membaca pengajaran tentang dosa yang dipaparkan oleh Warren. Entah apa alasannya. Kembali, ini disebut paradoks di dalam iman Kristen, yaitu kita memang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah, oleh karena itu kita tidak boleh minder, tetapi di sisi lain, kita sudah berdosa, ini mengakibatkan kita tidak boleh terlalu sombong, seolah-olah kita pintar, hebat, dan tidak membutuhkan Allah. Ketidakseimbangan mengajarkan doktrin manusia ini akan berakibat sangat fatal. Misalnya, terlalu menekankan keberhagaan manusia bisa mengakibatkan manusia menjadi sombong dan sok tahu, persis seperti yang saya lihat pada banyak dosen “Kristen” di kampus “Kristen” (?) di mana saya menempuh studi Sastra Inggris ! Banyak dosen “Kristen” baru memiliki pengetahuan sedikit, sudah sombongnya minta ampun, bahkan ada yang mengklaim diri “melayani Tuhan” tetapi anehnya “alergi” mendengar nama Tuhan disebut di dalam perkuliahan. Inilah realita orang “Kristen” abad postmodern, sok tahu dan sombong !

Kemudian, ia melanjutkan penuturannya bahwa kita dapat mendatangkan kesenangan bagi-Nya melalui “penyembahan” (halaman 70). Di dalam poin ini, ia memaparkan,

Tergantung latar belakang agama Anda, Anda mungkin perlu memperluas pemahaman Anda tentang “penyembahan.” Anda mungkin berpikir tentang ibadah minggu dengan menyanyi, berdoa, dan mendengarkan khotbah. Atau Anda mungkin berpikir tentang upacara-upacara, lilin-lilin, dan perjamuan. Atau Anda mungkin berpikir tentang kesembuhan, mukjizat dan pengalaman-pengalaman ekstatis. Penyembahan bisa meliputi unsur-unsur ini, tetapi penyembahan jauh lebih dari sekedar ekspresi-ekspresi ini. Penyembahan adalah gaya hidup. (Warren, 2005, p. 71)

Komentar saya :
Saya mengamati ada tiga kesalahan yang menurut saya sangat fatal.
Pertama, dari kalimat pembuka pada pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa Warren mengajarkan bahwa semua agama itu menyembah Allah, lalu ia hanya ingin memperluas pengetahuan tentang makna “penyembahan”, sehingga masing-masing pemeluk agama bisa “menyembah” Tuhan. Ini jelas salah total ! Dari titik pertama, Warren sudah membuka peluang bagi bidat/ajaran sesat “theologia” religionum/social “gospel” masuk ke dalam keKristenan. Apakah semua agama menyembah Allah ? MUSTAHIL ! Dr. John R. W. Stott, theolog abad 20 yang dikutip oleh Pdt. Dr. Stephen Tong pernah mengatakan bahwa agama itu bukan sedang mencari Allah, tetapi melarikan diri dari hadirat Allah. Kok bisa ? Bukankah setiap agama keras-keras meneriakkan bahwa mereka sedang mencari Allah ? TIDAK. Sebenarnya, mengikuti pandangan Feuerbach, agama itu hanya ingin menciptakan ilah-ilah yang cocok dengan idaman manusia sendiri. Mari kita berpikir secara logis, kalau benar semua agama mencari dan bahkan menyembah Allah, mengapa ketika Kristus berinkarnasi dan menjadi manusia, Alkitab menyatakan, “…orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya.” (Yohanes 1:11) Benarkah agama mencari dan menyembah Allah ? TIDAK. Sangat amat mustahil !
Kedua, perhatikan kalimat yang saya garisbawahi yang kedua di mana Warren mengatakan bahwa penyembahan bisa meliputi unsur-unsur beribadah di hari Minggu, mendengarkan khotbah, upacara-upacara, kesembuhan, mukjizat, dll. Dari sini, saya menyimpulkan bahwa Warren tidak bisa membedakan antara penyembahan sejati yang Theosentris dengan penyembahan palsu. Mengapa ? Karena pada poin pertama, ia telah menyetarakan penyembahan sejati di dalam iman Kristen dengan penyembahan palsu dari agama-agama dunia (non-Kristen), lalu disambung dengan pengajaran bahwa mukjizat, kesembuhan, dll itu juga termasuk bagian dari penyembahan. Tidak semua mukjizat, kesembuhan dan hal-hal supranatural itu termasuk bagian dari penyembahan. Bahkan kalau mau dikatakan banyak gereja kontemporer yang pop sangat menggemari ibadah kesembuhan ilahi untuk memuaskan hawa nafsu mereka yang menyesatkan yaitu ingin sembuh, bukan ingin Tuhan. Benarkah ini menyembah Allah ? TIDAK ! Banyak gereja tidak lagi menyembah Allah dengan bertanggungjawab mengajarkan Firman Allah dengan teliti, konsisten, jujur, terintegrasi, tetapi banyak gereja suka menyembah diri ketimbang Allah dengan mengadakan banyak kebaktian yang sebenarnya menurut saya : BUANG-BUANG WAKTU, misalnya mengundang artis menyanyi, menari, dll. Itu SIA-SIA ! Kalau ibadah seperti itu, apa bedanya dengan konser musik dangdut atau konser dunia yang ada sekarang ?! Itu sama sekali tidak bernilai dan memuakkan !
Ketiga, saya tidak pernah menjumpai Alkitab pernah mengajarkan bahwa penyembahan itu adalah gaya hidup ! Penyembahan BUKAN gaya hidup tetapi keharusan ! Ini bukan sekedar perbedaan istilah, tetapi perbedaan esensi. Kalau penyembahan dikatakan sebagai gaya hidup, berarti penyembahan itu bisa berubah-ubah tergantung spirit dan kondisi zaman. Kalau zaman itu postmodern yang me“mutlak”kan kerelatifan ditambah munculnya musik-musik rock, pop, dll, lalu apakah penyembahan juga ikut-ikutan zaman postmodern yang sudah gila ini ?! TIDAK ! Kalau jawabannya ya, maka tidak usah heran, Warren dengan tidak bertanggungjawab mengatakan, “Tetapi tidak ada gaya musik yang alkitabiah !... Musik suatu kelompok etnik bisa kedengaran seperti sebuah keributan bagi kelompok lainnya. Tetapi Allah menyukai keragaman dan menikmati semuanya.” (Warren, 2005, p. 72). Benarkah Alkitab tidak mengajarkan tentang musik ? Secara eksplisit dan terang-terangan jelas tidak, tetapi secara konsep implisit pasti. Perhatikan. Di dalam theologia Reformed, Allah mewahyukan diri-Nya melalui dua sarana, yaitu wahyu umum dan wahyu khusus. Wahyu umum merupakan bukti penyataan diri Allah kepada semua manusia tanpa kecuali melalui cara alam semesta (eksternal) dan hati nurani (internal). Wahyu umum Allah yang internal, hati nurani, diresponi oleh manusia yang berdosa dengan cara menciptakan agama, sedangkan wahyu umum Allah yang eksternal diresponi oleh manusia yang berdosa dengan cara menciptakan kebudayaan (culture). Kalau kita mempelajari budaya, maka musik adalah salah satu produk budaya, dan budaya itu sendiri adalah hasil respon manusia berdosa terhadap alam semesta. Karena manusia yang meresponi wahyu umum Allah sudah berdosa, secara otomatis respon ini pasti mengandung unsur berdosa, sehingga manusia seenaknya sendiri memakai budaya untuk memuaskan keinginan pribadinya, demikian halnya dengan musik, mereka menggunakan musik bukan untuk memuliakan Allah, tetapi untuk memuaskan diri. Yang lebih celaka, gereja Tuhan tidak mau dan sangat malas mempertahankan tradisi musik gereja yang agung sepanjang sejarah, tetapi malahan membuang dan menggudangkannya lalu menghinanya dengan sebutan, “musik yang tidak ada ‘roh kudus’”. Inilah citra “gereja” abad postmodern ! Bukankah Warren sendiri mengajarkan bahwa penyembahan itu bukan untuk kepentingan kita (halaman 72) ? Lalu, mengapa di halaman yang sama, ia mengatakan, “Tetapi Allah menyukai keragaman dan menikmati semuanya.” Bagi saya, ini jelas sangat tidak konsisten ! Kalau penyembahan itu bukan untuk kepentingan kita, tetapi untuk Tuhan, maka jelas, kita menggunakan musik-musik dan seluruh keberadaan hidup kita hanya bagi kemuliaan-Nya. Caranya ? Apakah gereja-gereja harus 100% menggunakan lirik-lirik lagu himne dan membuang lagu-lagu Karismatik/Pentakosta ? TIDAK. Lagu-lagu himne juga ada yang salah, tetapi sebaliknya ada sedikit lagu-lagu rohani kontemporer yang bermutu dan Alkitabiah. Tentang musik, gereja-gereja Reformed tidak pernah sedikitpun berkompromi, mereka hanya menggunakan musik-musik klasik. Apakah ini kuno ? TIDAK. Kalau ini kuno dan perlu dibuang, maka Pdt. Dr. Stephen Tong pernah mengatakan bahwa kita tidak perlu makan nasi, karena nasi itu kuno ! Tradisi yang beres dan Alkitabiah harus kita jaga kualitasnya, tetapi kita juga harus rendah hati menerima budaya-budaya kita di zaman postmodern ini yang masih beres dan Alkitabiah. Marilah kita menggunakan semua budaya untuk memuliakan Allah, asalkan budaya itu bukan seperti yang Warren ajarkan bahwa Allah menyenangi keragaman musik bahkan yang ribut sekalipun. Ini jelas salah, karena Allah menghendaki keteraturan, bukan kekacauan (1 Korintus 14:33 ; konteksnya tentang bahasa Roh). Budaya Kristen mutlak berbeda 180 derajat dengan budaya dunia. Budaya Kristen harus dibangun sebagai respon kita sebagai anak-anak Tuhan terhadap wahyu khusus Allah, yaitu Kristus dan Alkitab.


Setelah itu, pada halaman 73, Warren mengajarkan bahwa penyembahan itu berarti segala sesuatu yang kita kerjakan itu hanya untuk memuliakan Allah.

Komentar saya :
Pandangan ini benar. Tetapi pandangan ini berkontradiksi dengan pandangan lainnya antara lain pandangannya yang mengajarkan bahwa penyembahan itu gaya hidup, dll. Dari sini, saya menyimpulkan bahwa konsep sistematika pemikiran Warren di dalam penulisan bukunya sangat kacau (Jawa : amburadul).

Bab 10 : ALASAN UNTUK SEGALA SESUATU ? (Analisa Terhadap Bab 7 Buku Rick Warren)

Bab 10
Alasan untuk Segala Sesuatu ??




Pada bab 10 ini, kita akan mencoba menggali masing-masing pengajaran Rick Warren di dalam bab/hari ketujuh dalam renungan 40 harinya. Penggalian ini bisa bersifat positif maupun negatif dari kacamata kebenaran Firman Tuhan, Alkitab. Mari kita akan menelusurinya dengan teliti berdasarkan kebenaran Alkitab.
Pada bab ini, halaman 59-65, Warren mengajarkan bahwa segala sesuatu dicipta bagi kemuliaan Allah. Ini sangat tepat. Kemuliaan Allah menurut Warren dapat dilihat di sekeliling kita mulai dari kehidupan mikroskopik yang terkecil sampai Bima Sakti yang luas. Inilah yang disebut theologia Reformed sebagai wahyu umum Allah (the general revelation of God), yaitu penyataan diri Allah kepada semua manusia tanpa kecuali melalui sarana alam semesta (eksternal) dan hati nurani (internal). Tetapi wahyu umum Allah bukan satu-satunya cara kita dapat mengenal Allah dan kemuliaan-Nya. Mengapa ? Karena Alkitab menyatakan bahwa dosa telah masuk dan meracuni keseluruhan termasuk alam semesta yang Ia ciptakan. Oleh karena itu, Bapa menyatakan diri-Nya melalui wahyu khusus yaitu Tuhan Yesus Kristus dan Alkitab untuk memimpin umat pilihan-Nya mengenal Allah dan kemuliaan-Nya. Tidak ada jalan lain. Ini juga diajarkan oleh Warren, “Kemuliaan Allah yang termulia tampak dalam diri Yesus Kristus. Dia, Terang Dunia, itu menjelaskan sifat Allah. Karena Yesus, kita tidak lagi buta mengenai rupa sebenarnya dari Allah...” (Warren, 2005, p. 60) Pengajaran ini tepat dan inilah wahyu khusus yang Allah nyatakan hanya kepada umat pilihan-Nya.
Tetapi, Warren juga mengajarkan bahwa sayangnya dosa masuk dan meracuni dunia ini, sehingga manusia sebagai ciptaan Allah gagal mendatangkan kemuliaan bagi-Nya.

Komentar saya :
Hal ini tidak salah, tetapi saya sedikit kurang setuju dengan istilah “mendatangkan kemuliaan bagi-Nya”, saya lebih memilih istilah “memuliakan Allah”. Istilah “mendatangkan kemuliaan bagi-Nya” seolah-olah ingin mengajarkan bahwa Allah itu kurang mulia, sehingga perlu ditambahi oleh tindakan manusia yang memuliakan Allah. Saya tahu bahwa bukan ini yang diajarkan oleh Warren karena ia sendiri mengajarkan, “Kita tidak bisa menambah apapun pada kemuliaan-Nya ini, sama seperti mustahil bagi kita untuk membuat matahari bersinar lebih terang.” (Warren, 2005, p. 60). Lebih baik, Warren menggunakan istilah “memuliakan-Nya”.

Lalu, ia mengemukakan 5 hal yang dapat kita lakukan untuk dapat mendatangkan kemuliaan bagi Allah. Sebelumnya, ia mengemukakan, “Bila sesuatu di dalam ciptaan memenuhi tujuannya, hal tersebut mendatangkan kemuliaan bagi Allah.” (Warren, 2005, p. 61). Dilanjutkan dengan pengajaran bahwa burung-burung dapat mendatangkan kemuliaan bagi Allah ketika mereka terbang, berkicau, membuat sarang, dan melakukan sesuatu yang diinginkan Allah.
Komentar saya :
Pandangan ini memang benar, bahwa kita dapat memuliakan-Nya ketika kita taat mutlak dan hanya menjalankan apa yang Ia perintahkan. Tetapi saya kurang setuju dengan pendapat bahwa Allah begitu mengurusi burung-burung sampai hal-hal terkecil yaitu berkicau, terbang, dll. Allah memang memelihara semua ciptaan-Nya, tetapi tidak untuk hal-hal yang terkecil. Pengajaran ini mirip dengan pengajaran Hyper-Calvinisme yang terlalu menekankan kedaulatan Allah, sampai-sampai tanggung jawab manusia dihilangkan sama sekali, bahkan pandangan Hyper-Calvinisme ini mengajarkan bahwa dosa pun telah ditentukan oleh Allah dan segala sesuatu ada di bawah kontrol-Nya, sampai hal-hal terkecil sekalipun, misalnya rambut, dll. Alkitab mengajarkan bahwa Allah memang adalah Allah yang Berdaulat, tetapi keberdaulatan-Nya tidak meniadakan tanggung jawab manusia. Burung-burung memang dipelihara oleh-Nya (perumpamaan Tuhan Yesus di dalam Matius 6:26), tetapi apakah burung itu terbang, berkicau, dll, itu bukan urusan Allah, tetapi urusan si burung tersebut.

Pada halaman 62-63, ia mengemukakan 5 hal yang dapat dilakukan oleh manusia untuk memuliakan-Nya, yaitu dengan cara : menyembah-Nya, mengasihi orang-orang percaya lainnya, menjadi seperti Kristus, melayani orang lain dengan karunia-karunia kita, dan memberitakan kepada orang lain tentang Dia (memberitakan Injil).

Komentar saya :
Apa yang Warren katakan adalah pengajaran yang tepat. Tetapi saya sedikit kurang setuju dengan pengajarannya poin kedua bahwa kita dapat memuliakan-Nya dengan mengasihi orang-orang percaya lainnya. Kekurangsetujuan saya tidak berarti saya menyalahkan 100% ajaran Warren, tetapi Warren kurang tegas dan jelas menguraikan poin ini. Memang, kita sebagai orang percaya harus mengasihi sesama kita, tetapi apakah mengasihi itu murni mengasihi, artinya tidak ada tindakan menegur sesama kita yang salah dengan prinsip Firman Tuhan ?
Lalu, pada poin ketiga pengajarannya yaitu kita dapat memuliakan Allah dengan menjadi seperti Kristus. Ia memang mengajarkan bahwa Roh Kudus memimpin kita untuk menjadi seperti Kristus dengan memberi kehidupan dan sifat yang baru. Ini jelas tidak salah, karena ini diajarkan oleh Alkitab. Tetapi ia tidak menjelaskan lebih lanjut bahwa kehidupan baru ini adalah kehidupan yang menyangkal diri dengan mematikan kehidupan lama kita yang penuh dosa.

Pada halaman 64-65, ia mengajarkan bahwa Allah mengundang para pembaca bukunya untuk hidup bagi kemuliaan-Nya dengan memenuhi tujuan-tujuan yang untuknya kita telah diciptakan-Nya. Lebih lanjut, ia juga mengatakan, “Kehidupan yang sesungguhnya dimulai dengan menyerahkan diri Anda sepenuhnya kepada Yesus Kristus...” (Warren, 2005, p. 64) Caranya ?
Pertama, percaya. Percaya bahwa Allah mengasihi Anda dan bahwa Ia menciptakan Anda untuk tujuan-tujuan-Nya. Percaya bahwa Anda ada bukan karena kebetulan. Percaya bahwa Anda diciptakan untuk hidup kekal. Percaya bahwa Allah telah memilih Anda untuk memiliki hubungan dengan Yesus, yang mati di kayu salib bagi Anda. Percaya bahwa apapun yang telah Anda perbuat, Allah ingin mengampuni Anda.
Kedua, menerima. Menerima Yesus dalam kehidupan Anda sebagai Tuhan dan Juruselamat Anda. Menerima pengampunan-pengampunan-Nya atas dosa-dosa Anda. Menerima Roh-Nya, yang akan memberi Anda kekuatan untuk memenuhi tujuan hidup Anda... (Warren, 2005, p. 65).

Komentar saya :
Kehidupan sejati memang dimulai ketika kita menyerahkan diri kita kepada Kristus. Tetapi sayangnya penyerahan diri yang dimengerti oleh Warren bukan yang diajarkan oleh Alkitab. Warren mengajarkan bahwa kita perlu percaya dan menerima apa yang Kristus lakukan bagi kita untuk mendapatkan kehidupan sejati. Bahkan, ia sendiri mengajarkan bahwa kita perlu percaya bahwa apapun yang telah kita perbuat, Allah ingin mengampuni kita. Kembali, kata “ingin” dimunculkan oleh Warren, seolah-olah berarti Allah benar-benar membutuhkan manusia, padahal tidak demikian. Benarkah Allah mengampuni kita meskipun kita telah berbuat apa saja ? Di satu sisi, ya, karena Allah mengasihi kita. Di sisi lain, jelas tidak. Dan di sisi lain inilah Alkitab lebih tegas dan jelas mengajarkannya kepada kita. Rasul Yohanes mengajarkan, “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” (1 Yohanes 1:9 ; Terjemahan Baru) Alkitab tidak mengajarkan bahwa ketika kita hanya percaya, maka Ia akan mengampuni dosa kita, tetapi Alkitab dengan tegas mengajarkan bahwa ketika kita mengaku dosa kita atau BERTOBAT, maka Ia itu setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni dosa kita dan menguduskan kita dari segala kejahatan. Allah kita bukan sekedar Mahakasih yang suka mengampuni dosa kita, tetapi Ia juga Mahaadil. Setiap dosa harus dihukum, tetapi Kristus sudah mati bagi dosa-dosa umat pilihan-Nya sebagai bukti keadilan sekaligus kasih-Nya dilimpahkan kepada kita. Kalau Kristus sudah mati bagi kita, apakah kita terus-menerus berbuat sesuka hati kita lalu baru menangis minta ampun di hadapan-Nya ? TIDAK. Alkitab mengatakan bahwa kita harus BERTOBAT dan Allah akan mengampuni dosa kita, lalu Ia juga menyucikan kita dari segala kejahatan. Pengampunan-Nya selalu dilanjutkan pengudusan-Nya (progressive sanctification), sehingga kita terus-menerus hidup di dalam kekudusan yang Allah inginkan.
Apakah cukup hanya dengan percaya dan menerima saja untuk mendapatkan kehidupan sejati ? TIDAK. Warren sendiri mengatakan bahwa kita harus menyerahkan hidup kita kepada Kristus, tetapi ia tidak menjelaskan maknanya. Menyerahkan hidup kita kepada Kristus berarti menjadikan Kristus sebagai Tuhan dan Raja yang memerintah di dalam hidup kita. Mungkin, inilah yang banyak tidak disukai oleh banyak orang Kristen yang mengaku sudah menjadi Kristen puluhan tahun kalau perlu ratusan bahkan ribuan tahun (meskipun pasti tidak ada). Banyak orang “Kristen” hari ini maunya menjadikan Kristus sebagai ban serep kalau sakit langsung menghubungi-Nya untuk minta disembuhkan, kalau susah segera berdoa kepada-Nya minta kekuatan dan penghiburan. Tetapi jarang sekali saya menjumpai orang Kristen yang taat mutlak kepada perintah-Nya meskipun itu bertentangan dengan keinginan dagingnya. Kalau ada orang Kristen yang mau taat mutlak, itulah orang Kristen sejati, bukan sekedar menangis minta ampun, percaya dan menerima Kristus. Bagaimana dengan kita ? Apakah kita mau taat mutlak kepada pimpinan-Nya meskipun itu tidak menyenangkan ?

21 December 2007

Renungan Natal 2007 (3) : KEAGUNGAN INKARNASI : Prinsip Inkarnasi Vs Prinsip Zaman (Denny Teguh Sutandio)

Renungan Natal 2007 (3)



KEAGUNGAN INKARNASI :
Prinsip Inkarnasi Vs Prinsip Zaman


oleh : Denny Teguh Sutandio



Nats : Yohanes 1:1-5, 9-14



“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya…. Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.”



Hari Natal adalah hari di mana kita merayakan hari kelahiran Tuhan Yesus Kristus. Tetapi apa signifikansi hari kelahiran Kristus ini ? Bukankah semua orang juga merayakan hari ulang tahun (HUT)nya ? Tidak. Hari kelahiran Kristus bukan hari kelahiran biasa, tetapi hari kelahiran yang luar biasa. Mengapa ? Karena hari kelahiran Kristus adalah hari di mana Allah yang Berdaulat dan Berkuasa rela merendahkan diri-Nya menjelma menjadi manusia. Dengan kata lain, hari kelahiran Kristus adalah hari Inkarnasi yang dahsyat sekaligus paradoks. Pada momen Natal ini, kita akan merenungkan beberapa semangat Inkarnasi yang akan dikontraskan dengan semangat zaman dari dunia berdosa, lalu akan ditutup dengan tantangan untuk kembali kepada Kristus melalui pertobatan yang sejati.

Semangat Inkarnasi Vs Semangat Zaman
Mungkin bagi orang Kristen, kata “inkarnasi” bukan kata yang asing. Kita sudah mendengar kata ini beratus kali pada hari Natal atau pada momen ketika kita mempelajari Kristologi (doktrin Kristus), tetapi seberapa dalamkah kita mengerti inkarnasi dan semangat inkarnasi ini ? Apakah kita bisa mengerti dan mengimplikasikan semangat inkarnasi ini di dalam kondisi zaman postmodern yang juga menyuarakan semangat dunia berdosanya ? Biarlah melalui perenungan singkat ini, kita akan dipimpin oleh Roh Kudus untuk menikmati berkat Tuhan melalui kebenaran Firman-Nya tentang semangat inkarnasi yang harus kita wujudnyatakan di dalam kondisi zaman postmodern.

Ada beberapa prinsip Inkarnasi yang dikontraskan dengan prinsip zaman :
Pertama, Inkarnasi berarti Allah menjadi manusia, sedangkan postmodern (yang ditunggangi oleh Gerakan Zaman Baru) mengajarkan manusia menjadi seperti “allah”. Di bagian pertama, kita melihat bahwa semangat Inkarnasi bukanlah konsep murahan, tetapi prinsip/konsep dan semangat yang agung luar biasa, yaitu Allah yang Mahakudus, Mahakuasa, Berdaulat, Kekal, Mahaadil, Mahakasih, dll rela menjadi manusia (tanpa meninggalkan atribut Ilahinya). Mengapa Allah menjadi manusia ? Ia melakukannya karena Ia begitu mengasihi kita (Yohanes 3:16). Kasih Allah memungkinkan Ia mengutus Kristus untuk menebus dosa-dosa umat pilihan-Nya yang berdosa. Dengan tepat sekali, hamba-Nya yang setia, Pdt. Dr. Stephen Tong di dalam salah satu khotbahnya di Seminar Pembinaan Iman Kristen (SPIK) pernah menuturkan bahwa di dalam Penciptaan, manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah, lalu di dalam Penebusan/Inkarnasi, Allah menjadi/menjelma di dalam gambar manusia (Yoh. 1:14). Semangat inkarnasi ini jelas sangat bertolak belakang dengan semangat dosa yang ada di dalam zaman postmodern ini. Dunia kita sejak zaman Pencerahan (Inggris : Enlightenment ; Jerman : Aufklaerung), romantisisme, sampai abad postmodernisme, menawarkan beragam ide yang berfokus pada manusia. Pencerahan berfokus kepada rasio manusia. Lalu, hal ini menjumpai kegagalan dan diganti oleh romantisisme dengan pencetus pertamanya bernama Friedrich D. E. Schleiermacher yang mengajarkan bahwa agama itu adalah feeling absolute dependency (perasaan kebergantungan mutlak). Romantisisme akhirnya mengarah kepada postmodern sekarang ini yang berfokus pada perasaan manusia, sehingga kebenaran bersifat relatif. Bukan hanya itu saja, zaman postmodern juga ditunggangi oleh spiritualitas Gerakan Zaman Baru (New Age Movement). Pdt. Dr. Stephen Tong menyebutkan bahwa postmodern adalah filsafatnya, dan Gerakan Zaman Baru adalah macam spiritualitas yang sedang mengancam keKristenan. Gerakan Zaman Baru adalah suatu spiritualitas yang merupakan gabungan dari spiritualitas Timur, Buddhisme, Pantheisme, Hinduisme, mistisisme, Orientalisme, dll yang mengajarkan bahwa segala sesuatu adalah “allah”. Ir. Herlianto, M.Th. dalam bukunya Humanisme dan Gerakan Zaman Baru (1990) menyebut Gerakan Zaman Baru (GZB) sebagai model Humanisme Baru atau Humanisme Kosmis (hlm. 31). Beliau menjelaskan bahwa kalau humanisme lama dan humanisme sekuler sebagai dua model humanisme yang menekankan superioritas rasio manusia, maka humanisme baru ini menekankan “pengalaman kemanusiaan yang bersifat mistis dan kosmis, ...” (hlm. 31) Bagi para penganut GZB, manusia memiliki suatu potensi dan energi yang dahsyat yang bisa dikembangkan mencapai keilahiannya yang penuh. Di sini, kita melihat TIDAK adanya pembedaan kualitatif antara Allah sebagai Pencipta dan manusia sebagai ciptaan. Bagi para penganut GZB, manusia identik dengan “Allah”, sehingga tidak heran, berbagai training motivasi yang membangkitkan potensi diri yang “ilahi” ini digemari oleh banyak orang di abad postmodern ini. Sebenarnya, ide dasar dari GZB bukanlah ide yang baru. Pengkhotbah 1:9 mengatakan, “Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari.” Seperti kata Pengkhotbah bahwa tidak ada sesuatu yang baru di bawah matahari, maka spiritualitas GZB bukanlah hal baru. Ide dasar dari spiritualitas GZB sudah ditemukan di dalam realita dosa manusia pertama (Adam dan Hawa). Dosa manusia pertama sebenarnya bukan terletak ketika mereka makan buah pengetahuan yang baik dan jahat, tetapi pada ketidaktaatan mereka kepada perintah Allah. Sebelum menciptakan Hawa, Allah berfirman kepada Adam bahwa semua pohon dalam taman Eden boleh dimakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, tidak boleh dimakan oleh Adam, karena pada hari Adam memakannya, ia pasti mati (Kejadian 2:16-17). Perintah Allah sudah sangat jelas dan gamblang. Tetapi apa yang dilakukan Adam dan Hawa ? Mereka tidak taat kepada perintah-Nya. Apa yang mengakibatkan ketidaktaatan tersebut? Ketidaktaatan tersebut diakibatkan oleh diterimanya ide iblis yang mengatakan, “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” (Kejadian 3:4-5) Dengan kata lain, ketidaktaatan mereka disebabkan oleh iming-iming iblis tentang bagaimana manusia bisa menjadi seperti Allah, dan iming-iming itu akhirnya diikuti oleh manusia. Di dalam benaknya, manusia pertama berpikir adalah sungguh “indah”nya ketika mereka ingin menjadi seperti Allah, tahu mana yang baik dan yang jahat, dan akhirnya mereka tidak lagi membutuhkan tuntunan dan firman Allah. Jadi, keinginan manusia menjadi seperti Allah yang mengakibatkan mereka tidak taat dan ketidaktaatan itu melahirkan dosa. Itulah Gerakan Zaman Baru. Para penganut GZB tidak ingin tunduk kepada otoritas Allah dan Kebenaran, sebaliknya mereka malahan memberontak dan mereka berpikir bahwa mereka juga adalah “allah”. Tetapi herannya, ketika mereka berpikir bahwa mereka semua adalah “allah”, mereka tidak pernah berpikir bahwa jika benar bahwa semua adalah “allah”, bukankah tidak ada standar kebenaran dan hal ini bisa mengakibatkan terjadinya pertengkaran ? Kalau tidak ada standar kebenaran, bagaimana mereka bisa sampai kepada kesimpulan Gerakan Zaman Barunya ? Bukankah untuk sampai kepada kesimpulan bahwa semua manusia adalah “allah” perlu suatu standar kebenaran yang harus diverifikasi sebelumnya ? Di sinilah letak kegagalan spiritualitas GZB. Bagaimana dengan kita ? GZB banyak bermunculan di dunia postmodern ini, bahkan beberapa sudah meracuni keKristenan. Apa yang harus kita lakukan ? Tidak ada jalan lain, kita sebagai manusia ciptaan harus menyadari natur kita yang dicipta, terbatas, dan berdosa (created, limited and polluted—meminjam istilah dari Pdt. Dr. Stephen Tong). Bukan hanya itu saja, meminjam pengajaran John Calvin, kita dapat mengenal dan mengerti natur kita sebagai ciptaan ketika kita mengenal dan mengerti Allah sebagai Pencipta. Ketika kita mengerti hal ini, kita sadar betapa kita berdosa di hadapan Allah, dan tidak ada jalan lain untuk melepaskan dan menebus kita dari dosa, kecuali melalui inkarnasi Kristus.

Kedua, di dalam Inkarnasi ada hidup dan terang manusia, sedangkan di dalam zaman dunia berdosa hanya ada kematian dan kegelapan. Karena Allah menjadi manusia di dalam Pribadi Kristus, maka hidup manusia memiliki makna sejati dan terang. Mengapa ? Karena hidup manusia sebagai ciptaan memiliki makna sejati ketika hidup itu berkait dengan Sang Sumber Kehidupan (Yoh. 14:6). Dengan kata lain, hidup manusia sejati yang terbatas harus berkait dengan Kekekalan Sejati. Di sini lah segala problematika antara kekekalan dan keterbatasan dapat diatasi. Semua filsafat dan agama dunia tak mampu menyelesaikan kaitan erat antara kekekalan dan keterbatasan, tetapi puji Tuhan, Allah menyatakan diri-Nya secara nyata (tidak tertulis) hanya di dalam Kristus di mana di dalam Dia yang Kekal sajalah ada hidup dan terang bagi manusia yang terbatas. Dia inilah yang akan memimpin langkah hidup kita menuju makna hidup yang sejati melalui proses pengudusan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, sehingga umat pilihan-Nya akan bertumbuh makin lama makin sempurna seperti Kakak Sulung mereka yaitu Tuhan Yesus Kristus (Roma 8:29). Sehingga di dalam proses pengudusan ini, kita makin lama makin menemukan terang yang ada di dalam Kristus. Dengan ditemukannya terang itu, kita tidak lagi berada di dalam kegelapan dunia dan kematian (Yohanes 1:5, “Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.”). Berbeda dari makna Inkarnasi ini, di dalam zaman postmodern (dan abad-abad sebelumnya) kita tidak melihat adanya secercah harapan, terang dan kehidupan. Sejak jatuhnya manusia ke dalam dosa, hubungan antara manusia dengan Allah, manusia dengan diri, manusia dengan sesama manusia dan manusia dengan alam menjadi terputus. Manusia tidak lagi mencintai Allah dan firman-Nya, tetapi makin lama makin mencintai diri dan materi. Hal ini makin terlihat jelas di dalam abad-abad Pencerahan yang menitikberatkan kebenaran pada superioritas rasio manusia dan abad Postmodern yang menitikberatkan pada relativitas kebenaran. Manusia semakin lama semakin hidup terlepas dari Allah, bahkan sengaja ingin melepaskan diri dari Allah. Tetapi akibatnya ? Apakah mereka menemukan kehidupan dan terang di dalam hidupnya ? Tidak. Mungkin, mereka sesaat menemukan “kebahagiaan” (kesenangan), tetapi itu tidak bernilai kekal. Justru semakin hidup mereka terlepas dari Allah, mereka semakin tidak menemukan arti hidup dan terang di dalam hidupnya, apalagi sukacita sejati. Tidak heran, di dalam zaman kita ini, tingkat bunuh diri bukan makin menurun, tetapi makin naik, ditambah meningkatnya tingkat perceraian, aborsi, free-sex, perilaku homoseksual, transeksual (banci), dll. Semuanya itu membuktikan bahwa hidup manusia yang terlepas dari standar kebenaran Allah menemukan kebingungan, kematian dan kegelapan. Meskipun mereka belum mati final, mereka sudah mencicipi kematian di dunia ini, karena keberdosaan mereka. Bukan hanya itu saja, hidup mereka pun akan menemui kegelapan demi kegelapan, sehingga akhirnya keputusasaan menimpa mereka. Bagaimana dengan kita ? Apakah kita juga menemui keputusasaan di dalam hidup ? Jika ya, saya menantang Anda untuk bertobat, kembalilah kepada Kristus sebagai Sumber Hidup dan Terang manusia yang akan memberikan kepada kita makna hidup sejati dan terang yang ada di dalam hidup kita, sehingga makin lama hidup kita akan menemukan damai dan sukacita sejati meskipun harus menghadapi berbagai penganiayaan, masalah dan penindasan. Maukah Anda sekarang menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi Anda ?

Ketiga, di dalam Inkarnasi ada semangat kerendahan hati, sedangkan di dalam dunia berdosa hanya ada semangat tinggi hati. Ketika Allah mau menjelma menjadi manusia dan mengenakan tubuh manusia (meskipun tidak meninggalkan atribut Ilahinya), itu membuktikan bahwa Ia sangat rendah hati. Kerendahan hati-Nya juga ditunjukkan dengan lahirnya bayi Kristus di kandang binatang. Di dalam pemikiran umumnya, seorang raja yang agung pasti lahir di istana yang mewah. Tetapi bayi Kristus yang adalah Raja di atas segala raja, bahkan Allah Pribadi Kedua itu tidak dilahirkan di istana yang mewah, tetapi di kandang binatang yang hina. Pdt. Dr. Stephen Tong di dalam Natal Akbar 2007 di Surabaya (13 Desember 2007) memberikan judul khotbahnya, “Juruselamat Dalam Palungan”. Judul ini sangat tepat mengartikan bahwa Kristus yang adalah Raja yang paling agung, Allah itu sendiri bersedia dan rela lahir di kandang binatang yang hina, bau, dan kotor itu. Status-Nya sebagai Raja di atas segala raja tidak mau ditonjolkan, tetapi ditutupi, mengapa ? Apakah Ia munafik ? TIDAK. Justru itu membuktikan bahwa Dia sangat rendah hati. Dia tidak minta dilahirkan di hotel berbintang, istana yang megah, dilayani oleh para pelayan, dll. Dia malahan lahir di kandang binatang, hidup melayani sesuai dengan tugas dari Bapa, bahkan mati disalib, dikubur di dalam kuburan yang dipinjam dari Yusuf dari Arimatea, serta bangkit dari antara orang mati. Semua kehidupan-Nya menunjukkan bahwa Ia benar-benar Anak Allah yang Mahatinggi yang harus dipuji, bukan karena fenomena-fenomena yang membuktikan hal itu, tetapi esensi yang tersembunyi di balik fenomena-fenomena yang kelihatan lemah, hina, dll. Sesuai dengan prinsip kerendahan hati ini, sebagai orang Kristen sejati, kita dituntut untuk hidup rendah hati seperti Kristus juga adalah Pribadi yang rendah hati (Matius 11:29). Bagaimana kita bisa hidup rendah hati ? Rendah hati berarti tidak menonjolkan diri. Rendah hati adalah sikap ingin menyenangkan hati Tuhan dan tidak menuruti keinginan diri yang berdosa. Bagaimana dengan dunia kita ? Dunia kita berbeda total dengan prinsip Inkarnasi. Kalau Inkarnasi mengajarkan dan menuntut kerendahan hati bagi umat pilihan-Nya, maka konsep dunia mengajarkan dan menuntut adanya pemuasan diri (sombong/tinggi hati). Artinya, dunia kita terus mendengungkan konsep bahwa manusia itu hebat, maka mereka harus mengaktualisasi diri (prinsip Abraham Maslow), supaya mereka makin dikenal. Prinsip ini diadopsi oleh mayoritas filsafat dan agama di dunia. Mereka ingin dirinya dikenal, tampak religius, dll. Bahkan di dalam keKristenan, konsep ini pun ada. Beberapa hamba Tuhan dari gereja kontemporer minta diinapkan di hotel berbintang, minta dibayar dengan gaji besar, dll. Kalau tidak, “hamba Tuhan” ini tidak mau berkhotbah (melayani) di gereja yang mengundangnya. Bandingkan perilaku-perilaku ini dengan prinsip Inkarnasi Kristus yang tidak minta dilayani, tetapi melayani. Prinsip ini seharusnya menyadarkan kita bahwa sebagai umat pilihan-Nya di dalam Kristus, kita tidak boleh sombong, tetapi kita harus rendah hati, mintalah agar kiranya Tuhan memurnikan hati dan motivasi kita di hadapan-Nya, sehingga semakin lama kita semakin rendah hati, bersedia dikoreksi dan bertumbuh sesuai pertumbuhan yang diinginkan Tuhan (Efesus 4:13). Sikap rendah hati hanya bisa didapat ketika hati dan motivasi kita terlebih dahulu dimurnikan oleh Tuhan melalui Roh Kudus. Bersiapkah kita untuk dimurnikan Tuhan ?

Keempat, di dalam Inkarnasi ada semangat pengorbanan, sedangkan di dalam dunia berdosa hanya ada semangat mencari untung. Prinsip Inkarnasi terakhir adalah prinsip pengorbanan. Di dalam kerendahan hati-Nya, Kristus memiliki semangat pengorbanan. Pengorbanan berarti ada semangat/hasrat ingin menyenangkan orang lain dengan mengorbankan apapun yang kita miliki. Prinsipnya adalah kita mau menderita, rugi, dll demi sesuatu/seseorang (yang berharga/bernilai). Itulah yang dilakukan Kristus. Di dalam kerendahan hati dan ketaatan-Nya menjalankan kehendak Bapa, Ia mengorbankan hidup-Nya. Dari lahir, Ia harus mengorbankan tubuh mungil-Nya untuk diletakkan di dalam palungan di kandang binatang. Di dalam masa hidup-Nya, Ia banyak difitnah oleh orang lain bahkan oleh para pemimpin agama pada waktu itu (ahli Taurat). Ketika memberitahu tentang penyaliban-Nya, Ia sempat tidak dimengerti oleh Petrus yang “menasehati”-Nya agar Dia tidak usah disalib (Matius 16:22). Salah satu “murid”-Nya, Yudas Iskariot mengkhianati-Nya dengan menjual Yesus dengan tiga puluh keping perak (Matius 26:15) dan akhirnya mati gantung diri (Matius 27:3-5). Pengorbanan-Nya yang terbesar ditunjukkan ketika Ia harus menyerahkan diri-Nya untuk disalib di Golgota. Ketika kita melihat banyaknya pengalaman pahit yang harus dialami-Nya, kita harus menyadari bahwa itu semua dilakukan-Nya untuk mengasihi dan menebus umat pilihan-Nya yang berdosa. Kasih-Nya kepada umat pilihan-Nya sangat besar, sehingga Ia rela membayar harga sebesar apapun untuk menunaikan tugas dari Bapa-Nya untuk menebus kaum pilihan-Nya. Seperti Kristus yang rela berkorban bagi kita, kita pun dituntut untuk hidup rela menyangkal diri. Hidup berkorban identik dengan hidup menyangkal diri. Jangan pernah berkorban demi sesuatu yang fana/tidak kekal. Tetapi berkorbanlah demi sesuatu yang bernilai kekal. Berkorban untuk sesuatu yang kekal itulah hidup yang menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Kristus (Matius 16:24). Pdt. Dr. Stephen Tong mengartikan hidup menyangkal diri sebagai hidup yang sinkron dengan kehendak Tuhan, yaitu mencintai apa yang dicintai oleh Tuhan dan membenci apa yang dibenci oleh Tuhan. Sebagaimana Kristus telah melakukan hal tersebut bagi kita, kita pun dituntut untuk hidup meneladani Kristus. Hidup menyangkal diri adalah hidup yang tidak menghiraukan hidup mati, untung rugi sendiri, tetapi rela menyerahkan nyawa kita demi Kristus. Sebelum dijamah Tuhan, Paulus (Si Kecil) yang dulu bernama Saulus (Si Besar) ingin menganiaya jemaat Kristus. Ia menuruti ambisi dirinya yang berdosa. Tetapi puji Tuhan, setelah ia dijamah oleh Kristus sendiri dalam perjalanan menuju ke Damsyik, ia dipulihkan. Dulu ia berambisi untuk membunuh jemaat Kristus, sekarang ia “berambisi” dan berapi-api melayani Tuhan dengan memberitakan Injil Kristus meskipun harus mengalami penderitaan dari para ahli Taurat, orang-orang lain bahkan mengalami karamnya kapal, dan berbagai rintangan lainnya. Ia melakukan semuanya hanya demi Kristus. Di dalam Kisah Para Rasul 20:24, ia berkata, “Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah.” Di dalam Filipi 1:21, Paulus berani mengatakan, “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Hal yang sama juga terdapat di dalam Filipi 3:7-8, di mana Paulus juga mengatakan, “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,” Mengapa Paulus bisa mengatakan hal-hal yang agung tersebut ? Karena ia telah ditempa oleh Tuhan untuk menjadi rendah hati dan siap berkorban apapun demi Kristus. Bandingkan hal ini dengan semangat zaman kita yang tidak mau mengorbankan diri, tetapi gemar mengorbankan orang lain demi kesenangan diri (win-win solution). Zaman kita sungguh menakutkan dan mengerikan. Manusia tidak segan-segan memanfaatkan orang lain demi kesenangannya sendiri. Bahkan yang lebih mengerikan, anak tidak segan-segan membunuh orangtuanya sendiri hanya karena permintaannya (yaitu minta dibelikan sepeda motor atau HP) tidak dipenuhi oleh orangtua. Saudara tidak segan-segan menghasut saudara lainnya hanya supaya bisa mengeruk keuntungan saudara lainnya. Sehingga Amsal 18:24 sampai berkata, “Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara.” Di sini kita melihat parahnya dunia berdosa yang makin lama makin rusak. Bagaimana dengan kita ? Apakah kita ikut-ikutan rusak atau kita dipanggil menjadi duta Kristus untuk siap berkorban bagi Kristus dengan memberitakan Injil ? Di tengah arus dunia postmodern yang makin tidak menentu dan tidak berpengharapan ini, biarlah semangat Inkarnasi yaitu semangat berkorban mencerahkan dan mendorong hati dan pikiran serta tindakan kita untuk memberitakan Injil dan rela membayar harga demi Injil tersebut. Ketika kita rela mengorbankan apapun demi Kristus, percayalah, jerih payah kita tidak akan pernah sia-sia, mengapa ? Karena Kristus sendiri bersabda, “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.” (Matius 5:10-12).


Di tengah arus dunia berdosa yang semakin gelap, tak menentu, tak berarah, tak bermakna, bahkan putus asa ini, kepada siapakah kita meletakkan dasar hidup kita ? Kepada diri sendiri atau harta atau orang lain yang hebat/baik, dll ? Ataukah kita dengan kerendahan hati mengaku bahwa kita yang terbatas harus mendasarkan hidup hanya kepada Allah, Sang Pencipta dan Sumber Kehidupan, sehingga hidup kita menjadi bermakna ? Biarlah perenungan di momen Natal ini menjadi perenungan dan komitmen hidup dan hati kita di hadapan-Nya bahwa di dalam kehidupan kita sebagai anak-anak-Nya di dalam Kristus, kita hanya mau menTuhankan dan meRajakan Kristus di dalam kehidupan kita, sehingga nama-Nya sajalah yang dipermuliakan sampai selama-lamanya. Maukah kita berkomitmen demikian ? Ingatlah : ada pengharapan sejati di dalam Kristus di hari Natal. Selamat Natal. Kiranya Tuhan Yesus memberkati. Soli Deo Gloria. Solus Christus. Amin.


19 December 2007

Resensi Buku-35 : MERUPA HIDUP DALAM RUPA-NYA (Pdt. Yohan Candawasa, S.Th.)

...Dapatkan segera...
Buku
MERUPA HIDUP DALAM RUPA-NYA :
Mengalami Pembentukan Allah Atas Iman dan Karakter Orang Percaya

oleh : Pdt. Yohan Candawasa, S.Th.

Penerbit : Unveilin GLORY, Bandung bekerja sama dengan Pionir Jaya, Bandung, 2005





Menjadi manusia di dalam Kristus sama artinya berada di dalam studio Allah untuk dirupa menjadi serupa dengan gambar Anak-Nya, Yesus Kristus. Supaya Ia “menjadi yang sulung di antara banyak saudara” ; sama pula artinya dengan berada di dalam bengkel Allah utnuk direparasi dari kerusakan-kerusakan yang menghambat kita berjalan maju dalam rencana-Nya.

Buku ini merupakan kumpulan khotbah yang memberi wawasan tentang apa yang Allah lakukan dalam merupa dan mereparasi kita menuju hidup Kristiani yang lebih tinggi.

Komentar dari Pdt. Buby Ticoalu, D.Min. :
Setiap orang percaya mengalami pergumulan baik di dalam mengenal dirinya maupun di dalam berseikap terhadap Allah. Buku ini mengungkapkan banyak hal akan kebenaran firman Tuhan yang menolong ita untuk mengintrospeksi diri di hadapan Alalh.

“Merupa Hidup Dalam Rupa-Nya” dan “Mendapatkan-Mu dalam Kehilanganku” yang keduanya ditulis oleh Yohan Candawasa, bagi saya adalah dua buku terbaik dalam bahasa Indonesia, yang pernah saya baca untuk menjawab secara Alkitabiah dan realistis apa arti sesungguhnya percaya kepada Tuhan.

Gaya penulisan yang jelas, aplikatif dan komunikatif membuat orang yang membacanya akan dikuatkan dan didorong terus untuk berjalan bersama Tuhan.





Profil Pdt. Yohan Candawasa :
Pdt. Yohan Candawasa, S.Th. dilahirkan pada tanggal 11 Maret 1960. Selulus SMA, beliau melanjutkan studi di Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang, sebagai jawaban atas panggilan Tuhan baginya.
Beliau mendalami studi Biblika dan Eklesiologi yang kemudian dituangkan dalam skripsinya.
Kerinduannya untuk membina jemaat Tuhan dinyatakan selama pelayanan di Gereja Kristen Abdiel Elyon, Surabaya (1985-1987) dan juga Gereja Kristen Immanuel Bandung (1988-1996). Selama pelayanan tersebut, beliau berkesempatan mengunjungi RRC dalam rangka perjalanan misi. Dalam kunjungan tersebut, beliau memperoleh beban pelayanan dari Tuhan untuk menggumuli penginjilan di RRC.
Beliau menikah dengan Stephanie, dan telah dikaruniai seorang putra bernama Yeiel Candawasa.
Tahun 1996-1997 beliau melayani sebagai Gembala Sidang di Mimbar Reformed Injili di Taipei. Kemudia tahun 1998-1999 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII)-Granada Jakarta.
Mulai tahun 2000 beliau melayani di CCM (Care for China Ministry). Selain itu, beliau juga mengajar di Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili Indonesia (STTRII) Jakarta.

Matius 8:1-4 : IMPLICATION OF THE KINGDOM

Ringkasan Khotbah : 5 Desember 2004

Implication of the Kingdom

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.
Nats: Mat. 8:1-4


Matius tidak sembarangan menuliskan dan meletakkan kisah tentang orang sakit kusta yang disembuhkan oleh Tuhan Yesus di bagian pertama dari pernyataan implikasi Kerajaan Sorga. Di dunia modern, banyak orang hanya mengambil dan memotong sebagian ayat dalam Alkitab tanpa tahu konteksnya secara keseluruhan akibatnya orang jadi salah menafsirkan ayat tersebut. Seperti halnya kalau orang mengambil sebagian kalimat dari perkataan kita dimana sebelumnya ia tidak tahu konteks pembicaraan secara keseluruhan lalu ia menyampaikannya pada orang ketiga maka hal tersebut bisa berakibat positif atau negatif, yaitu kita akan merasa tersanjung atau kita akan merasa terfitnah. Ketika kita sedang terlibat pembicaraan dengan seseorang maka setiap kalimat yang keluar pasti bukanlah kalimat yang sekenanya. Setiap kalimat yang keluar pasti ada latar belakang atau motivasi tertentu dan pastinya juga kerangka/cara berpikir kita turut aktif di dalamnya.
Jadi, kalau seseorang bisa mempunyai ide negatif maka janganlah kita cepat menghakimi dan menyalahkannya tetapi hendaklah kita mempertanyakan pada dia dengan jelas dan secara runtut kalimat seperti apa yang ia dengar dengan demikian dapat jelas apa yang menjadi konteks pembicaraan. Hati-hati karena kalimat yang diambil di luar dari konteks dapat digunakan oleh orang-orang tertentu yang memang berniat buruk dan ingin menjatuhkan untuk melakukan intrik-intrik dan fitnah. Orang itu sudah terlebih dahulu mempunyai keinginan dan pemikiran lalu mencari cara untuk menjatuhkan kita dengan mencopot sebagian kalimat dari pembicaraan untuk mendukung niat buruknya. Sebaliknya orang yang suka pada kita maka dengan cara yang sama, sebagian kalimat kita akan digunakan untuk memuji-muji diri kita. Disini kita melihat subyektifitas diri sangat berperan besar.
Untuk dapat mengerti Firman Tuhan dengan benar, kita harus melihat konteksnya secara keseluruhan sehingga kita tidak terjebak dalam konsep pemikiran kita dimana di dalamnya mengandung berbagai macam keinginan nafsu. Orang hanya membaca ayat-ayat yang disuka dan mengabaikan ayat-ayat yang tidak sesuai dengan konsep pemikirannya. Suatu anugerah kalau kita dapat memahami Firman Tuhan, ingat, itu bukan karena kepandaian kita. Untuk dapat memahami ayat demi ayat yang ada dalam Injil Matius maka kita harus membacanya secara keseluruhan, yakni dari pasalnya yang pertama hingga pasal dua puluh delapan. Sebab perikop yang sama, jika kita bandingkan dengan Injil yang lain, Injil Lukas misalnya maka kita akan menjumpai kronologi yang tidak sama. Ingat, Injil Matius ditulis bukan berdasar kronologi waktu tetapi disusun berdasarkan tema. Itulah sebabnya Matius meletakkan kisah tiga mujizat kesembuhan, yaitu bagaimana Kritus Sang Raja itu turun dan menyembuhkan pada posisi pertama dari bagian implikasi Kerajaan Sorga.
Di dunia modern ini, banyak orang yang salah mengerti tentang konsep mujizat karena melepaskannya dari konteks implikasi Kerajaan Sorga. Banyak hamba Tuhan yang salah mengerti tentang mujizat, mereka mengaku dapat membuat mujizat kesembuhan dan menggunakan “mujizat kesembuhan“ untuk kepentingan pribadi, tentu saja banyak orang yang suka, orang sakit mana yang tidak mau sembuh apalagi kalau sakit yang diderita adalah sakit fatal yang sukar disembuhkan? Manusia mana yang tidak tergiur ketika mendengar mujizat kesembuhan dimana dengan cara yang mudah dan tanpa biaya pula. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah mujizat tersebut merupakan mujizat sejati dari Tuhan? Perhatikan, mujizat yang palsu tidak pernah menyembuhkan dan membebaskan manusia secara esensi. Iblis tidak pernah memberikan mujizat kesembuhan dengan motivasi jujur dan gratis, pasti ada harga yang harus dibayar. Licik adalah salah satu sifat jahat si iblis. Berhati-hatilah jangan mudah tergoda dengan cara licik iblis yang selalu berusaha menggoda manusia supaya jatuh ke dalam jeratan dan belenggunya. Tuhan Yesus dengan tegas berkata,“ Perhatikan, jangan engkau memberitahukan hal ini kepada siapapun....“ (Mat. 8:4) ini sangatlah signifikan, yakni supaya orang mengerti konsep mujizat sejati dengan demikian orang tahu untuk maksud dan tujuan apa ia disembuhkan. LAI menerjemahkan dengan kata “ingatlah“ padahal bahasa aslinya adalah hora yang lebih tepat kalau diterjemahkan dengan “perhatikan atau look at“, yakni sesuatu yang harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh jadi, bukan sekedar ingatlah, remember. Dan banyak orang yang mengabaikan kata “perhatikan“ dan menganggapnya biasa. Tidak! Firman Tuhan berbeda dengan konsep manusia karena itu Tuhan Yesus menegaskan, “Perhatikan....“ Tuhan ingin supaya kita melihat implikasi Kerajaan Sorga dengan tepat, yakni Allah Sang Raja yang berdaulat itu sedang bekerja menghadirkan Kerajaan Sorga di dunia. Namun orang tidak dapat melihat hal itu, orang hanya melihat sembuhnya, orang hanya melihat berkatnya saja.
Kita dapat melihat perbedaan antara anak Tuhan dan anak Iblis dari cara mereka meresponi suatu mujizat. Kita sering mendengar kesaksian yang berkata, “Puji Tuhan, dulu aku sakit dan sekarang aku sembuh.“ Perhatikan dibalik kata-kata ini sesungguhnya bukan Tuhan yang dimuliakan namun dirinyalah yang dipermuliakan dan secara tidak langsung ia juga ingin mengatakan bahwa kita pun bisa mengalami hal yang sama, yaitu disembuhkan. Bukankah sikap sombong ini serupa dengan iblis. Malaikat jatuh ke dalam dosa dan menjadi iblis karena kesombongan dirinya, ia ingin menjadi seperti Tuhan. Sifat ini muncul pada manusia yang berafiliasi pada iblis dan kita tidak akan menjumpai sifat ini pada anak Tuhan sejati. Ketika Tuhan Yesus memerintahkan supaya orang kusta ini tidak menceritakan tentang kesembuhannya pada orang lain tentulah bagi si orang kusta ini sangatlah berat. Bayangkan, kalau kita yang mengalami sakit kusta sekian lamanya kita diasingkan dan menderita tapi kini sembuh tentu kita ingin menceritakannya kepada orang lain, bukan? Mujizat bukan sarana promosi atau tempat kita untuk pamer. Mujizat merupakan pernyataan karya kedaulatan Allah. Mujizat bukan untuk kepentingan manusia tapi demi untuk kemuliaan nama-Nya. Inilah bedanya setan dengan Tuhan kalau membuat mujizat. Mujizat yang dilakukan setan tidak gratis, secara fisik disembuhkan namun secara rohani kita masuk dalam kebinasaan kekal.
Kita tidak pernah menyadari dan kita tidak pernah tahu apa akibatnya kalau kita bercerita, seperti bagaimana perasaan orang lain yang mempunyai sakit yang sama tetapi belum juga disembuhkan. Di dunia ini masih banyak orang sakit dan yang tidak dapat disembuhkan lalu kalau kita bersaksi, “Puji Tuhan, aku telah disembuhkan“ maka bayangkan bagaimana perasaan orang yang menderita sakit ketika mendengar kesaksian tersebut padahal kesembuhan yang dialami tersebut belum jelas dari Tuhan atau iblis. Orang yang menderita sakit tentu akan merasa kecewa dan akhirnya menjadi marah dan menganggap Tuhan itu jahat dan tidak adil. Mujizat Tuhan tidak diberikan pada setiap orang. Tuhan memberikan mujizat pada mereka yang imannya kurang supaya imannya semakin kuat dan pada mereka yang mempunyai iman lebih baik, Tuhan memberikan kemungkinan untuk dia menghadapi tantangan. Layaknya seorang bayi yang lemah dan bergantung pada orang lain dimana untuk melakukan semua hal ia membutuhkan orang lain. Kita yang sudah dewasa tidak bisa iri pada seorang bayi, bukan? Dengan mujizat, orang seharusnya melihat kemuliaan dan kedaulatan Tuhan Sang Raja. Sangatlah disayangkan, hari ini mujizat justru dimanipulasi sedemikian rupa demi untuk kepentingan diri. Orang semakin salah kaprah dalam mengerti mujizat.
Ironisnya, orang berani mengklaim bahwa kalau kita tidak disembuhkan maka itu berarti kita yang salah karena kurang beriman dan banyak dosanya. Bahkan ada yang lebih berani lagi mengatakan bahwa anak Tuhan pasti tidak akan pernah sakit. Salah! Orang Kristen dan rasul pun bisa sakit bahkan Tuhan Yesus sendiri juga mengalami kesakitan yang luar biasa. Ingat, jika seseorang mendapat mujizat kesembuhan maka bukan berarti kita atau orang lain yang sakit juga harus mengalami mujizat yang sama. Tidak! Itulah sebabnya Tuhan Yesus melarang orang kusta ini berbicara pada orang lain. Jadi, jikalau anda pernah mengalami mujizat kesembuhan atau mujizat apapun juga itu maka kita harus lebih berhati-hati supaya tidak bicara pada sembarang orang. Mujizat terbesar yang terjadi dalam diri kita adalah kesembuhan rohani bukan kesembuhan jasmani. Dengan sembuhnya fisik bukan berarti kita akan hidup selamanya karena manusia pasti mati. Mujizat terbesar adalah pertobatan kita, yaitu saat kita menyadari dan mengakui bahwa kita adalah manusia berdosa dan kita mau bertobat, kembali pada Tuhan dan mau hidup taat pada Tuhan. Seorang yang memang bertobat dengan sungguh maka dengan rendah hati dan hati yang hancur ia datang di hadapan Tuhan. Anugerah Tuhan bukan menjadikan kita sombong tapi justru seharusnya menjadikan kita tahu bagaimana berespon dengan tepat.
Tuhan melarang orang kusta ini untuk bercerita pada orang lain namun Tuhan memerintahkan supaya ia pergi, memperlihatkan diri kepada imam dan mempersembahkan persembahan seperti yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka. Kalau kita membaca ayat ini sekilas saja maka kita akan salah menafsirkan. Perjanjian Baru tidak boleh kita lepaskan dari Perjanjian Lama. Dengan demikian kita tahu bahwa seseorang yang dinyatakan tahir haruslah mematuhi berbagai macam peraturan dan harus memenuhi berbagai macam persyaratan. Proses pentahiran itu tidaklah mudah. Sebelum dinyatakan tahir, seorang kusta tidak boleh masuk dalam Bait Allah maka imam yang harus keluar dan menghampirinya karena kuatir kalau-kalau ia belum sembuh benar. Langkah pertama yang harus dilakukan oleh orang kusta sebelum dinyatakan tahir adalah ia harus membawa dua ekor burung tekukur, satu ekor disembelih lalu darahnya dipercikkan pada orang kusta itu sebagai tanda pentahiran sedang satu ekor lagi dilepaskan sebagai tanda Tuhan mengampuni dosa. Semua prosedur tersebut dilakukan di luar Bait Allah. Dan orang kusta ini harus tinggal selama delapan hari di luar perkemahan setelah didapati ia betul-betul tahir barulah kemudian ia boleh masuk ke dalam Bait Allah sambil membawa dua ekor domba jantan yang tidak bercacat dan satu ekor domba betina. Persembahan domba ini pun harus melewati beberapa prosedur yang tidak kalah rumitnya.
Semua prosedur yang rumit ini mempunyai arti yang sangat dalam. Darah domba jantan merupakan lambang darah Kristus yang menyembuhkan dan minyak yang tercurah menjadi lambang curahan berkat Tuhan, yaitu anugerah Tuhan mendahului semua hal yang dialami. Semuanya dapat kita lihat dalam kitab Imamat pasal 14. Beratnya prosedur yang harus dikerjakan seharusnya menyadarkan kita betapa besar pengorbanan Kristus yang harus dialami demi untuk menebus dan menyucikan manusia dari dosa. Namun prosedur yang demikian ini tidak ada satu orang pun yang melakukannya. Hari ini, orang hanya melihat kesembuhannya saja lalu merasa diri hebat karena mempunyai iman yang besar dan kemudian menjadi sombong. Mujizat adalah Kristus memulihkan hubungan kita yang telah terputus dengan Bapa. Respon orang kusta ini berbeda, ketika Tuhan Yesus menyembuhkannya, ia menyadari siapa dirinya yang sesungguhnya sehingga dengan rendah hati ia datang pada imam. Kita seharusnya menyadari, kalau dulu kita hanyalah manusia berdosa yang hina namun karena anugerah-Nya kini, kita bisa menjadi warga Kerajaan Sorga dan disebut anak-anak Allah. Kita harus hidup taat dan mau menyenangkan Tuhan saja. Respon seperti inilah yang seharusnya muncul dalam diri anak Tuhan yang telah mengalami mujizat. Namun, setelah disembuhkan dan mengalami mujizat, orang justru makin menuntut Tuhan supaya terus memberkati dan kemudian ia menjadi sombong.
Matius menulis tentang mujizat bukan supaya orang menjadi gila mujizat lalu menuntut Tuhan supaya melakukan mujizat juga pada kita. Tidak! Dan Matius juga tidak bermaksud memamerkan kuasa Tuhan sehingga orang dapat berpikir kalau kita datang dan mengikut Dia maka hidup kita akan enak. Bukan! Alkitab juga tidak mengajarkan kita supaya memberitahukan pada orang lain sehingga memungkinkan kita menjadi sombong. Tidak! Ketika kita mengalami sesuatu bersama Tuhan, itu merupakan suatu anugerah dan kita patut bersyukur, kita harus melihat pada Tuhan, yakni Kristus, Sang Raja sedang mengimplikasikan Kerajaan Sorga di tengah dunia. Betapa indah hidup kita kalau hidup kita berpusat pada Kristus, melihat Kristus sebagai Tuan, Pemilik alam semesta yang memelihara hidup kita. Tak terasa kita sudah memasuki akhir tahun 2004, hendaklah kita mengevaluasi diri, sudahkah kita men-Tuhan-kan Kristus dalam hidup kita? Tantangan dunia semakin hari semakin berat lalu apa yang harus kita kerjakan supaya nama Tuhan semakin dipermuliakan? Disitulah peranan anak Tuhan sangat diperlukan, peranan gereja, peranan iman Kristen, yaitu menjadi garam dan terang dunia. Kekristenan bukan menjawab tantangan jaman namun lebih dari itu Kekristenan harus menantang jaman dan jangan takut dan kuatir karena kita mempunyai Tuhan yang hidup; Dia akan memberikan kekuatan pada kita dalam menghadapi tantangan dunia sehingga kita tidak terseok-seok dalam menapaki tahun demi tahun di depan yang tantangannya semakin berat. Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Roma 4:16-17 : IMAN : ANUGERAH DAN JANJI ALLAH

Seri Eksposisi Surat Roma :
Fokus Iman-5


Iman : Anugerah dan Janji Allah

oleh : Denny Teguh Sutandio


Nats : Roma 4:16-17.

Setelah Paulus membandingkan konsep iman dan hukum Taurat sebagai prinsip dibenarkan lalu memaparkan tentang kegagalan Taurat sebagai syarat untuk dibenarkan, maka Paulus mulai menjelaskan lebih dalam lagi bahwa anak-anak Tuhan dibenarkan bukan hanya dibenarkan melalui iman tetapi iman yang dianugerahkan dari Allah.

Pada ayat 16a, Paulus mengatakan, “Karena itulah kebenaran berdasarkan iman supaya merupakan kasih karunia,” Kata “Karena itulah” dalam terjemahan King James Version (KJV) dan International Standard Version (ISV) adalah therefore (=oleh karena itu). Kata ini menunjukkan bahwa ayat 16 ini merupakan konklusi dan penegasan kembali dari Paulus bahwa kita dibenarkan melalui iman yang adalah anugerah Allah. Lalu, kalimat pada ayat 16a ini dalam terjemahan KJV adalah, “Therefore it is of faith, that it might be by grace;” Dalam terjemahan ini, kita mendapatkan pelajaran bahwa janji Allah bagi Abraham (telah dijelaskan pada ayat 13-15) adalah janji pembenaran oleh iman bagi anak-anak-Nya dan janji Allah ini murni adalah/karena anugerah Allah. Jadi, iman itu sendiri adalah anugerah Allah. Prinsip ini juga diajarkan oleh Paulus di dalam Efesus 2:8-9, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Di dalam kedua ayat ini, Paulus lebih tajam lagi melihat dan mengajar bahwa karena manusia dibenarkan melalui iman yang dianugerahkan Allah, maka tidak ada seorangpun yang boleh memegahkan diri karena perbuatan baiknya. Oleh karena itu, semua tindakan Allah adalah tindakan aktif dan tindakan manusia adalah tindakan reaktif/pasif sekaligus “aktif” yang pasif. Artinya, di dalam sejarah keselamatan dan kehidupan umat-Nya, Allah selalu bertindak pertama (aktif), yaitu merencanakan (Allah Bapa), menggenapi (Allah Putra/Tuhan Yesus Kristus) dan menyempurnakan keselamatan (Roh Kudus). Lalu, manusia pilihan-Nya selalu bertindak reaktif terhadap tindakan Allah yaitu dengan iman. Tindakan reaktif ini pun atas inisiatif karya Roh Kudus di dalam hati orang-orang yang telah dipilih oleh Allah sejak kekekalan. Maka segala sesuatu yang terjadi di dalam keselamatan kita adalah murni 100% karya Allah, sehingga kita patut bersyukur kepada-Nya karena Dia adalah satu-satunya Pribadi yang patut dipuji, disembah dan disandari untuk selama-lamanya.

Lalu, di ayat 16b, Paulus melanjutkan, “sehingga janji itu berlaku bagi semua keturunan Abraham, bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum Taurat, tetapi juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham.” Janji Allah yaitu dibenarkan melalui iman berlaku bagi semua keturunan Abraham. Siapakah keturunan Abraham ? Terjemahan KJV menerjemahkan “semua keturunan Abraham”, “to the end the promise might be sure to all the seed;” Kata “seed” di dalam KJV ini dalam bahasa Yunaninya adalah sperma yang secara khusus berarti remnant (sisa). Sehingga ayat ini seharusnya berkata bahwa akhir janji Allah berlaku bagi sisa-sisa/keturunan Abraham. Mengapa harus sisa, sedangkan terjemahan Indonesia menerjemahkan “semua” ? Kata “semua” bisa disalahtafsirkan dan diartikan semua orang tanpa kecuali, padahal pengertian Alkitab secara menyeluruh mengajarkan bahwa hanya beberapa orang dibenarkan melalui iman. Jadi, bukan semua orang tanpa kecuali yang menerima janji Abraham, tetapi orang-orang yang telah dipilih Allah sejak semula. Sisa-sisa keturunan Abraham ini dijelaskan Paulus bukan hanya mereka yang hidup dari Taurat, tetapi juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham. Orang-orang Yahudi pada waktu itu tetap percaya bahwa hanya mereka yang dapat mewarisi iman dan berkat Abraham. Tetapi Paulus merombak seluruh paradigma mereka, bahwa yang mewarisi iman dan berkat Abraham bukan hanya terbatas pada orang-orang Yahudi tetapi semua orang dari berbagai bangsa, suku, ras yang menerima iman Abraham.

Apa alasan janji Allah juga berlaku bagi semua orang dari berbagai bangsa, suku dan ras ? Karena, “Abraham adalah bapa kita semua,” Kata “semua” dalam bahasa Yunani bisa berarti semua secara keseluruhan (whole), atau berarti setiap (every). Dengan kata lain, Abraham menjadi bapa/orangtua yang mempersatukan kita semua (umat pilihan) di dalam iman Abraham. Yang sangat disayangkan adalah beberapa penganut “theologia” religionum atau “Kristen” tauhid yang mempercayai ketunggalan Allah menyalahtafsirkan ayat ini lalu mereka berani mengajarkan bahwa Yahudi, Kristen dan Islam adalah agama Abrahamik yang sama-sama menyembah “Allah” yang sama. Ajaran ini sudah menyeleweng dari Alkitab dan sangat menyesatkan. Lalu, apa arti ayat ini yang mengajarkan bahwa Abraham adalah bapa kita semua dan janji Allah diberikan juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham ? Paulus di dalam suratnya kepada jemaat Galatia pasal 3 ayat 7 mengatakan, “Jadi kamu lihat, bahwa mereka yang hidup dari iman, mereka itulah anak-anak Abraham.” Dengan kata lain, sebagaimana Abraham dibenarkan Allah melalui iman, maka mereka yang hidup dari iman adalah anak-anak Abraham. Iman seperti apakah yang dipegang oleh Abraham ? Jelas, iman kepada Allah Trinitas. Apakah Trinitas sudah diajarkan di dalam Perjanjian Lama ? Bukankah banyak orang “Kristen” hari-hari ini (khususnya para pemuja “Kristen” Tauhid/“theologia” religionum mengatakan bahwa konsep Trinitas tidak ada di dalam Alkitab, maka lebih baik kita memakai konsep ketunggalan Allah daripada ketritunggalan Allah ? Ajaran ini sangat tidak bertanggungjawab. Dari kitab Kejadian 1:26, kata “Kita” yang disebut dua kali dalam terjemahan LAI (disebut tiga kali dalam terjemahan KJV, English Standard Version/ESV dan Bahasa Indonesia Sehari-hari/BIS) sudah menunjukkan ketritunggalan Allah. Jadi, barangsiapa yang beriman di dalam Allah Trinitas seperti Abraham maka mereka disebut anak-anak Abraham. Bagaimana dengan orang-orang Islam yang mati-matian menegakkan Tauhid/Allah yang satu pribadi, apakah mereka termasuk keturunan Abraham ? TIDAK ! Karena mereka tidak mempercayai Allah Trinitas. Lebih dalam lagi, Paulus mengajarkan, “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!" Yesus Kristus telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu.” (Galatia 3:13-14) Kembali, berkat Abraham dan janji Allah kepada Abraham yaitu dibenarkan melalui iman dapat dinikmati oleh umat pilihan-Nya bukan karena jasa baik mereka, tetapi atas inisiatif dua Pribadi Allah, yaitu Kristus yang telah menebus kita dari kutuk Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita dan Pribadi Roh Kudus yang mengefektifkan karya penebusan Kristus ini di dalam diri umat pilihan-Nya. Dan dua Pribadi Allah ini otomatis didahului oleh rencana kekal Allah Bapa yang merencanakan keselamatan. Sehingga, “Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.” (Galatia 3:29) Konklusi terakhir dari Paulus ini mengajarkan hal yang mendalam yaitu ketika kita milik Kristus atau dipilih oleh Allah untuk diadopsi menjadi anak-Nya di dalam Kristus, maka kita pun adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah. Janji Allah itu dipaparkan Paulus di dalam Galatia 3:8 yaitu semua bangsa akan menerima berkat dan itu dinyatakan secara jelas serta diterima oleh kita yang hidup sekarang. Jadi, janji Allah hanya dapat digenapi oleh Allah sendiri tanpa perantaraan siapapun dari dunia dan kita sebagai anak-anak-Nya harus mempercayai bahwa janji Allah itu ya dan amin.

Abraham adalah bapa semua bangsa adalah sesuai dengan Kejadian 17:5, “...engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa.” yang dikutip di dalam Roma 4:17 dengan mengganti kata “sejumlah besar bangsa” menjadi “banyak bangsa”. Penggantian ini tidak mengubah arti. Kata “telah” menunjukkan bahwa Allah mengganti nama Abram menjadi Abraham bukan karena ia telah berbuat sesuatu yang menyenangkan Allah, tetapi Allah telah menetapkan Abraham menjadi bapa banyak bangsa. Di sini, theologia Reformed selalu memandang Allah adalah inisiator pertama segala tindakan dan keselamatan manusia. Abraham yang telah ditetapkan menjadi bapa banyak bangsa diucapkan “di hadapan Allah yang kepada-Nya ia percaya, yaitu Allah yang menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada.” (Roma 4:17) Di sini, kita mendapatkan penjelasan yang tuntas dari Paulus bahwa Allah yang berjanji kepada Abraham adalah Allah yang hidup dan berkuasa, sehingga tidak ada satu janji-Nya yang gagal atau meleset. Dengan kata lain, janji Allah sangat berkaitan erat dengan sifat dan Pribadi Allah yang jujur, bertanggungjawab, Mahakuasa, Hidup dan Kekal. Sehingga kita sebagai anak-anak-Nya tidak perlu kuatir akan janji-Nya bagi kita. Janji Allah Putra juga dinyatakan kepada kita ketika memberitakan Injil yaitu bahwa Ia akan menyertai kita selama-lamanya (Matius 28:20). Penyertaan-Nya adalah janji-Nya yang dapat diandalkan, sehingga janji-Nya ini harus menjadi sumber dan pedoman hidup bagi kita ketika kita mengerjakan tugas panggilan-Nya di dunia ini. Paulus di dalam suratnya kepada Timotius yang kedua mengungkapkan, “Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah… Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.” (2 Timotius 1:8,12) Ketika menulis suratnya kepada Timotius, Paulus sedang berada di dalam penjara (lihat 2 Timotius 1:8), tetapi ia tetap dapat menguatkan Timotius tentang pentingnya pemberitaan Injil, pengajaran dan pendidikan bagi jemaat Tuhan sebagai seorang pelayan Tuhan (2 Timotius 4:1-5). Mengapa Paulus dapat memiliki kekuatan ini ? Karena ia percaya bahwa Allah itu kekal, jujur dan setia yang berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadanya hingga pada hari Tuhan. Dengan kata lain, Paulus percaya bahwa Allah itu setia pada janji-Nya dan memelihara janji-Nya yang telah diberikan kepada Paulus hingga pada hari Tuhan. Sebagaimana janji Allah menguatkan iman dan pelayanan Paulus, bagaimana dengan kita ? Apakah kita masih tetap berpegang pada janji Allah yang pasti akan digenapi ? Ketika kita berpegang pada janji Allah, itu membuktikan bahwa kita beriman dan setia kepada dan di dalam-Nya meskipun penderitaan mengancam dan menggoda kita.

Sudah saatnya kita sebagai orang Kristen tidak lagi tertipu oleh rayuan gombal dari dunia dengan sederetan filsafat dan buaian psikologinya, tetapi kita sebagai orang Kristen dan anak Tuhan harus tetap berpegang pada janji Allah yang kekal dan setia, karena Allah kita adalah Allah yang berdaulat mutlak. Maukah kita berpegang teguh pada janji Allah ? Amin. Soli Deo Gloria...