22 December 2007

Bab 11 : DIRENCANAKAN BAGI KESENANGAN ALLAH ?? (Analisa Terhadap Bab 8 Buku Rick Warren)

Bab 11
Direncanakan bagi Kesenangan Allah ??


Pada bab 11 ini, kita akan mencoba menggali masing-masing pengajaran Rick Warren di dalam bab/hari kedelapan dalam renungan 40 harinya. Penggalian ini bisa bersifat positif maupun negatif dari kacamata kebenaran Firman Tuhan, Alkitab. Mari kita akan menelusurinya dengan teliti berdasarkan kebenaran Alkitab.
Tidak usah membahas terlalu jauh, dari judulnya saja, kita dapat menemukan apa yang diajarkan Warren mulai bab ini sudah mulai kacau dan ngawur. Benarkah kita direncanakan bagi kesenangan Allah ? Kalau benar, bukankah berarti bahwa kita itu paling agung bahkan melebihi Allah ? TIDAK. Mari kita akan menelusuri apa yang Warren ajarkan di dalam bab yang aneh ini.
Ayat pembuka bab ini diambil dari Wahyu 4:11 yang dikutip dari terjemahan New Living Translation (NLT), “Engkau telah menciptakan segala sesuatu, dan bagi kesenangan-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.

Komentar saya :
Lagi-lagi, penyakit buruk Warren kambuh, ia suka mengutip ayat-ayat Alkitab yang sengaja dicarikan versi terjemahan yang cocok dengan yang ingin ia ajarkan di dalam bab ini. Kata “kesenangan-Nya” tidak ditemukan dalam terjemahan bahasa asli (Yunani), Terjemahan Baru (TB) LAI, Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS), King James Version (KJV), International Standard Version (ISV) dan English Standard Version (ESV). ISV dan ESV menggunakan kata will yang tidak menunjukkan kesenangan, tetapi kehendak. Demikian pula, TB LAI dan BIS menggunakan kata “kehendak-Nya”. King James Version (KJV) menggunakan kata pleasure, tetapi kata aslinya adalah thelēma yang berarti choice, will, purpose, decree, desire, dll. Tidak ada satu arti dari kata Yunani thelēma ini yang menunjukkan kesenangan.

Lalu, ia melanjutkan pengajarannya yaitu dengan mendatangkan kegembiraan bagi Allah, hidup bagi kesenangan-Nya, menurut Warren, itulah yang menjadi tujuan pertama hidup manusia dan ini mengakibatkan kita tidak pernah lagi memiliki perasaan yang tidak berarti (Warren, 2005, p. 69)

Komentar saya :
Tujuan pertama hidup kita bukan untuk mendatangkan kegembiraan bagi-Nya, tetapi untuk bersekutu dengan-Nya, sehingga kita tidak bisa hidup tanpa Allah ! Kecenderungan kita bisa minder bisa disebabkan karena kita ditelantarkan dan dibenci oleh orang-orang sekitar kita serta dianggap tidak berguna. Tetapi Allah memang mengasihi manusia dan manusia itu berharga di mata-Nya. Tetapi ingatlah satu hal, meskipun Allah memahkotai manusia dengan kemuliaan karena mereka dicipta segambar dan serupa dengan-Nya, jangan lupa, manusia sudah berbuat dosa dan telah mengurangi kemuliaan Allah. Dari awal sampai bab ini, saya sedikit lagi membaca pengajaran tentang dosa yang dipaparkan oleh Warren. Entah apa alasannya. Kembali, ini disebut paradoks di dalam iman Kristen, yaitu kita memang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah, oleh karena itu kita tidak boleh minder, tetapi di sisi lain, kita sudah berdosa, ini mengakibatkan kita tidak boleh terlalu sombong, seolah-olah kita pintar, hebat, dan tidak membutuhkan Allah. Ketidakseimbangan mengajarkan doktrin manusia ini akan berakibat sangat fatal. Misalnya, terlalu menekankan keberhagaan manusia bisa mengakibatkan manusia menjadi sombong dan sok tahu, persis seperti yang saya lihat pada banyak dosen “Kristen” di kampus “Kristen” (?) di mana saya menempuh studi Sastra Inggris ! Banyak dosen “Kristen” baru memiliki pengetahuan sedikit, sudah sombongnya minta ampun, bahkan ada yang mengklaim diri “melayani Tuhan” tetapi anehnya “alergi” mendengar nama Tuhan disebut di dalam perkuliahan. Inilah realita orang “Kristen” abad postmodern, sok tahu dan sombong !

Kemudian, ia melanjutkan penuturannya bahwa kita dapat mendatangkan kesenangan bagi-Nya melalui “penyembahan” (halaman 70). Di dalam poin ini, ia memaparkan,

Tergantung latar belakang agama Anda, Anda mungkin perlu memperluas pemahaman Anda tentang “penyembahan.” Anda mungkin berpikir tentang ibadah minggu dengan menyanyi, berdoa, dan mendengarkan khotbah. Atau Anda mungkin berpikir tentang upacara-upacara, lilin-lilin, dan perjamuan. Atau Anda mungkin berpikir tentang kesembuhan, mukjizat dan pengalaman-pengalaman ekstatis. Penyembahan bisa meliputi unsur-unsur ini, tetapi penyembahan jauh lebih dari sekedar ekspresi-ekspresi ini. Penyembahan adalah gaya hidup. (Warren, 2005, p. 71)

Komentar saya :
Saya mengamati ada tiga kesalahan yang menurut saya sangat fatal.
Pertama, dari kalimat pembuka pada pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa Warren mengajarkan bahwa semua agama itu menyembah Allah, lalu ia hanya ingin memperluas pengetahuan tentang makna “penyembahan”, sehingga masing-masing pemeluk agama bisa “menyembah” Tuhan. Ini jelas salah total ! Dari titik pertama, Warren sudah membuka peluang bagi bidat/ajaran sesat “theologia” religionum/social “gospel” masuk ke dalam keKristenan. Apakah semua agama menyembah Allah ? MUSTAHIL ! Dr. John R. W. Stott, theolog abad 20 yang dikutip oleh Pdt. Dr. Stephen Tong pernah mengatakan bahwa agama itu bukan sedang mencari Allah, tetapi melarikan diri dari hadirat Allah. Kok bisa ? Bukankah setiap agama keras-keras meneriakkan bahwa mereka sedang mencari Allah ? TIDAK. Sebenarnya, mengikuti pandangan Feuerbach, agama itu hanya ingin menciptakan ilah-ilah yang cocok dengan idaman manusia sendiri. Mari kita berpikir secara logis, kalau benar semua agama mencari dan bahkan menyembah Allah, mengapa ketika Kristus berinkarnasi dan menjadi manusia, Alkitab menyatakan, “…orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya.” (Yohanes 1:11) Benarkah agama mencari dan menyembah Allah ? TIDAK. Sangat amat mustahil !
Kedua, perhatikan kalimat yang saya garisbawahi yang kedua di mana Warren mengatakan bahwa penyembahan bisa meliputi unsur-unsur beribadah di hari Minggu, mendengarkan khotbah, upacara-upacara, kesembuhan, mukjizat, dll. Dari sini, saya menyimpulkan bahwa Warren tidak bisa membedakan antara penyembahan sejati yang Theosentris dengan penyembahan palsu. Mengapa ? Karena pada poin pertama, ia telah menyetarakan penyembahan sejati di dalam iman Kristen dengan penyembahan palsu dari agama-agama dunia (non-Kristen), lalu disambung dengan pengajaran bahwa mukjizat, kesembuhan, dll itu juga termasuk bagian dari penyembahan. Tidak semua mukjizat, kesembuhan dan hal-hal supranatural itu termasuk bagian dari penyembahan. Bahkan kalau mau dikatakan banyak gereja kontemporer yang pop sangat menggemari ibadah kesembuhan ilahi untuk memuaskan hawa nafsu mereka yang menyesatkan yaitu ingin sembuh, bukan ingin Tuhan. Benarkah ini menyembah Allah ? TIDAK ! Banyak gereja tidak lagi menyembah Allah dengan bertanggungjawab mengajarkan Firman Allah dengan teliti, konsisten, jujur, terintegrasi, tetapi banyak gereja suka menyembah diri ketimbang Allah dengan mengadakan banyak kebaktian yang sebenarnya menurut saya : BUANG-BUANG WAKTU, misalnya mengundang artis menyanyi, menari, dll. Itu SIA-SIA ! Kalau ibadah seperti itu, apa bedanya dengan konser musik dangdut atau konser dunia yang ada sekarang ?! Itu sama sekali tidak bernilai dan memuakkan !
Ketiga, saya tidak pernah menjumpai Alkitab pernah mengajarkan bahwa penyembahan itu adalah gaya hidup ! Penyembahan BUKAN gaya hidup tetapi keharusan ! Ini bukan sekedar perbedaan istilah, tetapi perbedaan esensi. Kalau penyembahan dikatakan sebagai gaya hidup, berarti penyembahan itu bisa berubah-ubah tergantung spirit dan kondisi zaman. Kalau zaman itu postmodern yang me“mutlak”kan kerelatifan ditambah munculnya musik-musik rock, pop, dll, lalu apakah penyembahan juga ikut-ikutan zaman postmodern yang sudah gila ini ?! TIDAK ! Kalau jawabannya ya, maka tidak usah heran, Warren dengan tidak bertanggungjawab mengatakan, “Tetapi tidak ada gaya musik yang alkitabiah !... Musik suatu kelompok etnik bisa kedengaran seperti sebuah keributan bagi kelompok lainnya. Tetapi Allah menyukai keragaman dan menikmati semuanya.” (Warren, 2005, p. 72). Benarkah Alkitab tidak mengajarkan tentang musik ? Secara eksplisit dan terang-terangan jelas tidak, tetapi secara konsep implisit pasti. Perhatikan. Di dalam theologia Reformed, Allah mewahyukan diri-Nya melalui dua sarana, yaitu wahyu umum dan wahyu khusus. Wahyu umum merupakan bukti penyataan diri Allah kepada semua manusia tanpa kecuali melalui cara alam semesta (eksternal) dan hati nurani (internal). Wahyu umum Allah yang internal, hati nurani, diresponi oleh manusia yang berdosa dengan cara menciptakan agama, sedangkan wahyu umum Allah yang eksternal diresponi oleh manusia yang berdosa dengan cara menciptakan kebudayaan (culture). Kalau kita mempelajari budaya, maka musik adalah salah satu produk budaya, dan budaya itu sendiri adalah hasil respon manusia berdosa terhadap alam semesta. Karena manusia yang meresponi wahyu umum Allah sudah berdosa, secara otomatis respon ini pasti mengandung unsur berdosa, sehingga manusia seenaknya sendiri memakai budaya untuk memuaskan keinginan pribadinya, demikian halnya dengan musik, mereka menggunakan musik bukan untuk memuliakan Allah, tetapi untuk memuaskan diri. Yang lebih celaka, gereja Tuhan tidak mau dan sangat malas mempertahankan tradisi musik gereja yang agung sepanjang sejarah, tetapi malahan membuang dan menggudangkannya lalu menghinanya dengan sebutan, “musik yang tidak ada ‘roh kudus’”. Inilah citra “gereja” abad postmodern ! Bukankah Warren sendiri mengajarkan bahwa penyembahan itu bukan untuk kepentingan kita (halaman 72) ? Lalu, mengapa di halaman yang sama, ia mengatakan, “Tetapi Allah menyukai keragaman dan menikmati semuanya.” Bagi saya, ini jelas sangat tidak konsisten ! Kalau penyembahan itu bukan untuk kepentingan kita, tetapi untuk Tuhan, maka jelas, kita menggunakan musik-musik dan seluruh keberadaan hidup kita hanya bagi kemuliaan-Nya. Caranya ? Apakah gereja-gereja harus 100% menggunakan lirik-lirik lagu himne dan membuang lagu-lagu Karismatik/Pentakosta ? TIDAK. Lagu-lagu himne juga ada yang salah, tetapi sebaliknya ada sedikit lagu-lagu rohani kontemporer yang bermutu dan Alkitabiah. Tentang musik, gereja-gereja Reformed tidak pernah sedikitpun berkompromi, mereka hanya menggunakan musik-musik klasik. Apakah ini kuno ? TIDAK. Kalau ini kuno dan perlu dibuang, maka Pdt. Dr. Stephen Tong pernah mengatakan bahwa kita tidak perlu makan nasi, karena nasi itu kuno ! Tradisi yang beres dan Alkitabiah harus kita jaga kualitasnya, tetapi kita juga harus rendah hati menerima budaya-budaya kita di zaman postmodern ini yang masih beres dan Alkitabiah. Marilah kita menggunakan semua budaya untuk memuliakan Allah, asalkan budaya itu bukan seperti yang Warren ajarkan bahwa Allah menyenangi keragaman musik bahkan yang ribut sekalipun. Ini jelas salah, karena Allah menghendaki keteraturan, bukan kekacauan (1 Korintus 14:33 ; konteksnya tentang bahasa Roh). Budaya Kristen mutlak berbeda 180 derajat dengan budaya dunia. Budaya Kristen harus dibangun sebagai respon kita sebagai anak-anak Tuhan terhadap wahyu khusus Allah, yaitu Kristus dan Alkitab.


Setelah itu, pada halaman 73, Warren mengajarkan bahwa penyembahan itu berarti segala sesuatu yang kita kerjakan itu hanya untuk memuliakan Allah.

Komentar saya :
Pandangan ini benar. Tetapi pandangan ini berkontradiksi dengan pandangan lainnya antara lain pandangannya yang mengajarkan bahwa penyembahan itu gaya hidup, dll. Dari sini, saya menyimpulkan bahwa konsep sistematika pemikiran Warren di dalam penulisan bukunya sangat kacau (Jawa : amburadul).

No comments: