05 December 2007

Matius 8:1-4 : THE KINGDOM AND THE ACTION-1

Ringkasan Khotbah : 21 November 2004

The Kingdom & the Action (1)
oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.
Nats: Mat. 8:1-4


Kita sudah memahami bahwa Injil Matius bukan ditulis secara kronologi tetapi secara tematik, yaitu Kristus Sang Raja dari Kerajaan Sorga itu datang untuk menggenapkan kerajaan-Nya di tengah dunia dan Kerajaan Sorga itu dimulai dari biji sesawi dan kemudian bertumbuh menjadi pohon yang besar sehingga burung dapat bersarang di dalamnya, King and the Kingdom. Untuk menggenapkan Kerajaan Sorga di dunia, Sang Raja itu tidak bekerja seorang diri saja. Sang Raja itu mulai merekrut orang-orang untuk dijadikan-Nya sebagai pekerja di dalam Kerajaan Sorga, the Kingdom and the Workers. Cara Kristus merekrut orang berbeda bahkan berlawanan dengan konsep manusia berdosa namun kita melihat bahwa orang-orang yang Tuhan pilih justru “jadi“ dalam arti mereka berhasil padahal latar belakang sangatlah dihinakan orang. Umumnya sebuah Kerajaan maka Kerajaan Sorga pun mempunyai hukum atau undang-undang yang disebut sebagai hukum Kerajaan Allah yang dipaparkan oleh Sang Raja dalam beberapa khotbah-Nya di atas bukit, the Law of the Kingdom. Sebagai warga Kerajaan Sorga maka kita harus taat pada undang-undang Kerajaan Sorga, orang yang tidak mau taat berarti pemberontak dan konsekuensinya ia harus dikeluarkan dari statusnya sebagai warga Kerajaan Sorga. Sama seperti halnya malaikat yang tidak mau taat, ia memberontak maka ia dibuang dalam penghukuman kekal dan menjadi iblis. Ini merupakan sistem dan prinsip dari hukum Kerajaan Allah. Karena itu Matius pasal 5–7 dimaksudkan untuk menata wawasan berpikir supaya ketika kita melihat dan menilai segala sesuatu dari sudut pandang hukum Kerajaan Allah.
Setelah kita mengerti prinsip hukum Kerajaan Allah maka kini kita masuk dalam bagian implikasi, yaitu bagaimana menjalankan prinsip hukum tersebut dalam kehidupan praktis dengan demikian prinsip tersebut tidak sekedar menjadi pengetahuan kognitif belaka. Bukanlah hal yang mudah bagi kita untuk menjalankan hukum Kerajaan Allah meskipun secara garis besar, isi dari hukum tersebut telah kita mengerti sehingga ada kesenjangan antara teori dan praktek. Namun Alkitab mencatat Kristus Sang Raja itu tidak hanya sekedar berteori tetapi Ia sendiri memberikan teladan pada kita bagaimana menerapkan hukum tersebut dalam kehidupan praktis sehari-hari. Matius mencatat setelah Yesus turun dari bukit, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia (Mat. 8:1), banyak teolog yang menafsirkan bahwa orang banyak yang berbondong-bondong itu adalah orang yang sama yang mendengar khotbah Yesus di atas bukit yang mengajarkan prinsip-prinsip Kerajaan Sorga, yakni karena orang banyak itu mengerti prinsip Kerajaan Sorga yang berkualitas dan berbeda dengan yang diajarkan oleh ahli Taurat. Pendidikan Kerajaan Sorga bukan hanya sebatas teori saja tapi harus diimplikasikan dan implikasi ini menuntut kualitas yang tinggi.
Dunia tidak akan pernah membangun prinsip yang dia sendiri tidak mungkin dapat melakukannya maka satu-satunya cara supaya dapat menjalankan prinsip yang dunia ajarkan adalah dengan membangun prinsip sedemikian rupa yang sekiranya sesuai dan dapat dunia lakukan. Salah! Hal itu justru semakin merendahkan prinsip kualitas kerja kita. Yang benar dan yang seharusnya kita lakukan adalah justru membangun konsep berdasarkan prinsip Kerajaan Sorga yang tinggi lalu hidup kita yang ditata sedemikian rupa supaya dapat memenuhi tuntutan kualitas tersebut. Jadi, kualitas hidup kita naik bukannya menurun; kita dituntut untuk bertumbuh dan membuang semua konsep kita yang salah untuk kembali pada kebenaran Firman. Implikasi iman ini disusun oleh Matius dengan sangat indah (Mat. 8:1– 9:34). Dalam hal ini kurang jelas siapa yang menyusun Injil Matius apakah Matius ataukah Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) hingga setiap pasal dapat tersusun sedemikian rupa dengan indahnya namun saya yakin semua ini tidak lepas dari campur tangan Tuhan. Seperti kita ketahui tulisan asli Alkitab berupa tulisan murni seperti layaknya sebuah surat, tidak ada judul maupun angka-angka yang menandai adanya ayat atau pasal. Kalau kita perhatikan maka bukan suatu kebetulan kalau Matius pasal 8 dan pasal 9 sama-sama terdiri dari 34 ayat dan sama-sama terdiri dari dua tema.
Tema Matius pasal 8, yaitu: 1) Lordship, yaitu Kristus sebagai pusat yang diungkapkan dalam tiga mujizat (ayat 1–17), 2) Disciplership bagaimana menjadi pengikut Kristus, (ayat 18–34). Tema Matius pasal 9, yaitu: 1) Comitmen, bagaimana kita memilih dan berkomitmen dengan benar di antara banyaknya pilihan yang ditawarkan (ayat 1–17), 2) Faith, bagaimana beriman sejati di dalam keseluruhan totalitas (ayat 18–34). Dan bukan suatu kebetulan juga kalau setiap satu tema ada tiga contoh kejadian dimana setiap kejadian tersebut bukanlah kejadian yang terjadi secara berurutan. Semuanya itu pasti karena Tuhan yang turut campur tangan dan juga tidak lepas dari latar belakang kehidupan Matius sebelumnya sebagai seorang pemungut cukai yang selalu berpikir sistematis sehingga Injil Matius dapat terstruktur dengan indah dengan demikian si pembaca dituntun dengan tepat bagaimana seharusnya mengerti mujizat dalam konsep Kristologi, yaitu mujizat merupakan implikasi dari hukum Kerajaan Sorga yang turun ke dunia dan bagaimana sikap manusia yang benar terhadap Sang Raja. Berbeda dengan dunia hanya mengerti mujizat secara antropologi humanis yang berdosa.
Si pembaca juga jadi mengerti bagaimana seharusnya menjalankan kehidupan beriman dengan demikian orang jadi mengerti bahwa ajaran Kristus bukan hanya sekedar teori yang sulit dijalankan. Tidak! Hukum Kerajaan Sorga ternyata dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan itu membutuhkan pendobrakan total karena konsep kita yang salah selama ini kita menganggapnya sebagai konsep Kristen padahal sesungguhnya adalah konsep antropologis humanistik. Pada sub tema yang pertama dari Injil Matius ini kita akan membahas secara lebih mendalam karena di dalamnya mengandung prinsip penting yang perlu kita perhatikan itulah sebabnya Matius meletakkan ayat ini di bagian pertama. Perhatikan, pada ayat pertama dan kedua sangatlah kontras. Setelah Yesus turun dari bukit, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia; orang banyak di situ pastilah juga ada orang Yahudi. Matius tidak menyebut mereka sebagai murid karena nantinya terbukti kalau ternyata mereka bukan murid sejati tetapi hanya sekedar pendukung Yesus sebab mereka tahu Yesus dapat membuat mujizat. Mujizat seharusnya menjadikan kita memahami bahwa:
1. Yesus adalah Raja yang Berotoritas
Matius ingin menunjukkan kalau Kristus adalah Raja dengan banyaknya pengikut di belakang Dia yang mengiringi kedatangan-Nya. Dan Matius memang sengaja mengontraskan hal tersebut dengan kedatangan seorang sakit kusta yang datang di depan-Nya. Pada jaman itu, sakit kusta sama dengan vonis mati karena tidak ada satu obat pun yang dapat menyembuhkan penyakit kusta dan orang juga menganggap kalau sakit kusta merupakan kutukan dari Tuhan sebagai akibat banyaknya dosa yang telah ia perbuat. Dan orang yang sakit kusta harus diasingkan dan dijauhkan dari keluarga. Seorang Raja turun bukit dan di belakangnya diikuti dengan ribuan pendukung namun didepannya ada seorang yang sakit kusta dimana ribuan orang tersebut sangat membenci orang yang sakit kusta tersebut. Bayangkan, andai kita yang menjadi Rajanya saat itu, apa yang akan kita lakukan? Memilih ribuan orang yang menjadi pendukung kita ataukah memilih orang yang sakit kusta dengan konsekuensi ditinggalkan oleh ribuan pendukung? Disini Kristus dihadapkan dengan ajaran-Nya sendiri yang mengajarkan hukum cinta kasih. Posisi ini sangat krusial sekali, Matius ingin membukakan pada kita siapa Kristus? Kejadian yang hampir sama ini pernah juga dialami oleh Petrus di Galatia dimana Petrus sangat baik bersekutu dengan orang non Yahudi seperti orang-orang Yunani dan lain-lain namun setelah orang Yahudi datang maka Petrus mulai menjauhi mereka dan bersekutu dengan orang Yahudi sehingga Paulus menegur Petrus dengan keras.
Alkitab mencatat Tuhan Yesus memilih orang sakit kusta itu, Ia menghampiri dan menjamahnya. Injil Matius membukakan satu hal pada kita bahwa ternyata semua hal yang tidak disuka oleh orang Yahudi justru disanalah Tuhan Yesus melakukan mujizat. Dari doanya orang Yahudi, kita tahu bahwa orang Yahudi sangatlah rasialis dan melecehkan posisi wanita, genderisasi karena itu Matius mengangkat kisah seorang berdosa seperti orang sakit kusta, kisah seorang kafir seperti hamba seorang perwira di Kapernaum dan kisah seorang perempuan, yaitu ibu mertua Petrus untuk dituliskan dengan demikian dapat mengubah konsep mereka yang salah. Ingat, Yesus melakukan mujizat bukan demi supaya orang banyak mengikut Dia. Tidak! Kristus adalah Raja maka Dia berkuasa melakukan apapun sesuai keinginan-Nya termasuk menyembuhkan orang sakit kusta itu dan tindakan Kristus sangatlah tepat. Jadi, mujizat seharusnya menyadarkan kita akan siapa sesungguhnya Kristus, yaitu Dia adalah Raja di atas segala raja maka Dia berhak melakukan apapun. Tuhan tahu apa yang ada di pikiran orang banyak itu dan apa yang menjadi keinginan mereka karena itu Tuhan tidak langsung suka ketika orang banyak berkata, “Guru, aku mau mengikut Engkau.“ Tuhan pasti menanyakan apa motivasi mereka mengikut sebab serigala punya liang, burung di udara ada sarangnya tapi Anak Manusia tidak punya tempat untuk meletakkan kepala-Nya. Itu artinya Tuhan tidak memberikan sesuatu seperti yang manusia harapkan. Masih banyak lagi pernyataan Tuhan Yesus ketika ada orang yang mau mengikut Dia tapi ia mau menguburkan orang tuanya dulu barulah kemudian ia mengikut. Tuhan langsung menegur dengan keras. Kristus menegaskan bahwa barangsiapa mau mengikut Dia maka ia harus menyangkal diri dan memikul salibnya. Sebagai warga Kerajaan Sorga maka kita harus taat mutlak pada otoritas Sang Raja.
2. Yesus adalah Tuhan Pemberi Mujizat
Mujizat merupakan intervensi dari luar yang bersifat supranatural dan sukar dimengerti logika manusia. Bayangkan, hanya dijamah saja oleh Tuhan Yesus, borok yang ada di sekujur tubuhnya menjadi sembuh dan ia menjadi tahir. Berbeda kalau pengobatan itu dilakukan secara natural, yaitu dengan obat-obatan maka orang yang sakit dapat disembuhkan. Itu berarti supranatural tingkatnya lebih tinggi dari yang natural. Tapi manusia berdosa lebih suka kalau yang supranatural itu menguasai yang natural sebaliknya ia tidak suka pada pribadi si supranatural itu sendiri. Orang lebih suka kalau yang supranatural ini turut campur tangan ketika orang dalam kesusahan berbeda halnya kalau orang dalam keadaan sehat dan kaya maka orang benci kalau disuruh tunduk pada yang supranatural tersebut, orang ingin mengatur Tuhan supaya menuruti semua yang menjadi keinginannya. Dengan alasan beriman, orang yang memaksa Tuhan supaya melakukan mujizat. Siapa yang sesungguhnya berhak melakukan mujizat? Tuhan ataukah manusia?
Seorang manusia berdosa pasti tidak akan dapat melakukan perbuatan seperti yang dilakukan oleh orang sakit kusta yang datang sujud menyembah Dia. Sebab menyembah manusia sama dengan menyembah berhala dan bangsa Israel sudah merasakan akibat dari penyembahan berhala, yaitu mereka berada dalam masa pembuangan selama kurang lebih 80 tahun. Bukankah Tuhan Yesus mati karena Ia dituduh mengaku sebagai anak Allah? Hal ini menunjukkan kalau orang kusta ini tahu bahwa Yesus adalah anak Allah. Jiwa seperti inilah yang seharusnya dimiliki oleh seorang anak Tuhan sejati. Matius mengangkat cerita ini dan ditaruh di bagian pertama supaya menjadi refleksi bagi kita, apakah benar kita seorang anak Tuhan sejati ataukah hanya memanipulasi Kekristenan demi untuk keuntungan diri sendiri dengan menaruh Tuhan di posisi bawah. Bukan hal yang biasa bagi orang Yahudi menyembah hingga kepala menyentuh ke tanah maka dapatlah dibayangkan bagaimana reaksi orang banyak itu ketika melihat kejadian ini. Orang kusta ini tahu bahwa Yesus adalah Allah dan kini, Sang Raja menunjukkan siapa diri-Nya karena itu Ia tidak menolak ketika orang kusta itu menyembah diri-Nya.
Orang kusta ini juga mempunyai konsep teologis yang benar, hal ini terbukti dari perkataannya, “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku“. Orang kusta ini tahu pasti bahwa Tuhan Yesus mempunyai kuasa untuk menyembuhkan namun ia berbeda, ia tidak memanipulasi kuasa itu sebaliknya ia tunduk di bawah kuasa Kristus. Hati-hati dengan akal licik si iblis yang selalu memutarbalikkan fakta seperti halnya ketika ia mencobai Yesus di padang gurun: Jika Engkau Anak Allah... Kalau Yesus menuruti perkataan iblis maka itu berarti posisi iblis lebih tinggi dari Yesus padahal iblis yang seharusnya tunduk di bawah Yesus, Raja di atas segala raja. Berbeda dengan orang kusta ini, ia tidak meragukan sedikitpun posisi Kristus sebagai Tuhan. Orang yang beriman sejati tahu siapa yang menjadi Tuan dalam hidupnya. Konsep ini sudah ada sejak Perjanjian Lama, sebagai contoh teman-teman Daniel tidak takut meski mereka dihadapkan pada hukuman kematian kalau tidak mau menyembah pada raja yang berkuasa pada jaman itu. Hari ini justru terbalik, orang baru mau mengikut Yesus kalau ia diuntungkan. Melalui mujizat Matius membukakan pada kita bahwa Yesus adalah Tuhan dan manusia yang harus tunduk di bawah kuasa Yesus.
Yesus telah memberikan teladan indah pada kita bahwa hukum Kerajaan Allah itu bukan hanya sekedar teori tapi dapat kita jalankan. Kiranya hal ini boleh menguatkan iman kita dan memberikan keberanian pada kita sehingga iman kita tidak menjadi goyah ketika menghadapi berbagai tantangan dari dunia. Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber :

Roma 4:9-12 : IMAN, KEBENARAN DAN PERJANJIAN ALLAH

Seri Eksposisi Surat Roma :
Fokus Iman-3


Iman, Kebenaran dan Perjanjian Allah

oleh : Denny Teguh Sutandio


Nats : Roma 4:9-12.

Setelah Paulus memaparkan tentang theologia dibenarkan melalui iman di dalam Perjanjian Lama, ia menjelaskan lebih lanjut bahwa iman itu berfokus/bersumber pada perjanjian Allah.

Pada ayat 9, Paulus mengatakan, “Adakah ucapan bahagia ini hanya berlaku bagi orang bersunat saja atau juga bagi orang tak bersunat? Sebab telah kami katakan, bahwa kepada Abraham iman diperhitungkan sebagai kebenaran.” Melanjutkan ayat 7-8, di ayat 9, Paulus bertanya apakah ucapan bahagia/yang diberkati ini (KJV : blessedness) ini hanya berlaku bagi orang bersunat saja atau lebih luas lagi yaitu juga bagi orang yang tidak bersunat? Pertanyaan ini muncul mengingat surat ini ditulis juga kepada orang-orang Yahudi yang tinggal di Roma yang memiliki konsep bahwa hanya umat Israel yang mendapat berkat Tuhan, sedangkan bangsa lain dianggap kafir. Paulus membongkar konsep umat Israel yang “fanatik” ini dengan pengajaran bahwa selain bangsa Israel, Tuhan juga menyediakan jalan keselamatan. Mengapa ? Karena semua manusia yang beriman seperti iman Abraham diperhitungkan Allah sebagai kebenaran. Para “theolog” religionum/social “gospel” yang notabene liberal terselubung (salah satunya Jusufroni) mungkin menafsirkan ayat ini dengan mengatakan bahwa yang penting beriman di dalam iman Abrahamik (Yahudi, Kristen dan Islam), maka manusia diselamatkan. Tafsiran ini sesat ! Semua manusia tanpa memandang dari suku, ras atau bangsa manapun yang memiliki iman seperti iman Abraham berarti mereka beriman di dalam Kristus, barulah iman mereka diperhitungkan sebagai kebenaran. Mengapa iman Abraham identik dengan iman di dalam Kristus ? Inilah iman Perjanjian Lama yang mengarah dan menuju kepada finalitas Kristus yang diutus Bapa. Mengapa ? Karena Allah yang menyatakan diri kepada Abraham adalah Allah yang sama yang juga menyatakan diri kepada umat pilihan-Nya di dalam Pribadi Kristus. Lalu, kata “iman” sendiri di dalam ayat ini dalam bahasa Yunani pistis bisa berarti secara khusus reliance upon Christ for salvation (bergantung pada Kristus untuk keselamatan). Jadi, iman sejati seperti iman yang dimiliki Abraham adalah iman hanya di dalam Pribadi Tuhan Yesus Kristus. Dengan iman seperti inilah, umat pilihan-Nya diimputasikan kebenaran Allah. Kata “kebenaran” di dalam ayat ini dalam bahasa Yunaninya dikaiosunē berarti righteousness (kebenaran keadilan atau kebenaran dalam proses). Kalimat terakhir pada ayat ini menurut terjemahan King James Version (KJV) adalah, “for we say that faith was reckoned to Abraham for righteousness.” Terjemahan literalnya adalah “karena kita mengatakan bahwa iman diperhitungkan kepada Abraham bagi kebenaran.” Kata “for” kedua pada kalimat ini dalam bahasa Yunani eis berarti to, into (pada, ke dalam). Sehingga kalimat ini dapat diterjemahkan, “karena kita mengatakan bahwa iman diperhitungkan kepada Abraham ke dalam kebenaran.” Jadi, iman di dalam Kristus diperhitungkan Allah dan dimasukkan ke dalam kebenaran. Bagaimana dengan kita ? Kita yang sudah beriman di dalam Kristus pun diperhitungkan Allah dan iman kita dimasukkan ke dalam kebenaran (proses) menuju kebenaran kekal (Yunani : aletheia) di Surga kelak. Dengan kata lain, iman memimpin kita kepada kebenaran. Apakah ini berarti tanpa iman, kebenaran tidak bisa berbuat apa-apa ? Tidak. Yang saya maksudkan adalah iman dan kebenaran saling mengisi. Hal ini mirip dengan pendapat dari Bapa Gereja Augustinus, credo ut intelligam yaitu aku percaya/beriman supaya aku dapat mengerti. Demikian juga dengan hubungan antara iman dan kebenaran. Iman memimpin kita mengenal kebenaran di dalam Allah (Yunani : dikaiosunē) dan kebenaran ini terus memimpin iman kita menuju kepada kebenaran kekal di dalam Kristus (Yohanes 14:6). Saya menyebut hal ini dengan istilah the relationship between progressive faith and progressive knowledge of God in righteousness and truth (=hubungan antara iman yang progresif/berkelanjutan dengan pengetahuan Allah yang progresif di dalam proses kebenaran keadilan dan kebenaran mutlak).

Lalu, Paulus melanjutkan pernyataannya dengan pertanyaan sekaligus jawaban di ayat 10, “Dalam keadaan manakah hal itu diperhitungkan? Sebelum atau sesudah ia disunat? Bukan sesudah disunat, tetapi sebelumnya.” Ayat ini merupakan kelanjutan pernyataan dari ayat 9 dengan mempertajam fokus masalah yaitu ketika iman Abraham diperhitungkan Allah sebagai (atau ke dalam) kebenaran, maka kapankah itu terjadi, apakah sesudah Abraham disunat atau sebelum ? Kata “sunat” sengaja dimunculkan oleh Paulus untuk mengubah pola pikir orang Yahudi. Orang Yahudi menganggap bahwa sunat sebagai perjanjian Allah adalah syarat mutlak bagi seseorang yang ingin diselamatkan/dibenarkan oleh Allah. Padahal konsep ini tidak diajarkan baik di dalam Taurat maupun Perjanjian Lama lainnya. Sehingga Paulus menyadarkan orang Yahudi bahwa Abraham dibenarkan melalui iman bukan setelah ia disunat, tetapi sebelum ia disunat. Perbandingan antara sebelum dan sesudah disunat di dalam terjemahan KJV diartikan circumcision (penyunatan) dan uncircumcision (keadaan tidak disunat), di dalam terjemahan International Standard Version (ISV) dan New American Standard Bible (NASB) juga diartikan circumcised (yang disunat) dan uncircumcised (yang tidak disunat), sedangkan dalam terjemahan English Standard Version (ESV) dan New Revised Standard Version (NRSV) mengartikan sebelum dan setelah disunat sama seperti terjemahan LAI. Kedua terjemahan ini memang hampir mirip artinya, tetapi saya pribadi lebih memilih arti “disunat” dan “tidak disunat”. Mengapa ? Karena arti ini lebih dekat dengan pengertian seluruh perikop yaitu Abraham dibenarkan melalui iman. Kalau kita menggunakan arti “sebelum disunat” dan “setelah disunat”, maka pengertiannya berubah dan berfokus pada pentingnya disunat, padahal hal ini ditentang di dalam perikop ini dan dalam pengajaran Alkitab lainnya secara menyeluruh. Kembali, Abraham diimputasikan kebenaran dari Allah sehingga ia dapat beriman justru terjadi di dalam kondisi Abraham tidak disunat. Kalau kita meneliti kitab Kejadian khususnya mengenai Abraham, maka Allah lah yang mengambil inisiatif aktif untuk memanggil Abraham keluar dari negerinya Urkasdim untuk menuju negeri yang dijanjikan Allah. Setelah itu, barulah Abraham dapat meresponi panggilan Allah ini dengan beriman dan taat. Apa signifikansi pengajaran ini ? Geneva Bible Translation Notes mengatakan, “...Abraham was justified in uncircumcision, therefore this justification belongs also to the uncircumcised…” (=Abraham dibenarkan di dalam kondisi tidak bersunat, oleh karena itu pembenaran ini juga menjadi milik mereka yang tidak bersunat.) Jadi, fokusnya tetap iman yang meresponi panggilan Allah. Sehingga, theologia Reformed yang mendekati pengertian Alkitab mengajarkan bahwa anugerah dan panggilan/pilihan Allah mendahului iman umat pilihan-Nya. Sungguh suatu anugerah Allah yang begitu agung ketika kita sebagai umat pilihan-Nya dikaruniai iman di dalam Kristus, sehingga ketika kita beriman, sudah seharusnya kita bersyukur kepada-Nya dan memuliakan Dia atas apa yang Dia telah kerjakan (bukan atas apa yang kita dengan kemampuan sendiri lakukan). Jadi, “theologia” Arminian yang berfokus pada kehendak bebas manusia adalah salah dan melawan Alkitab, karena “theologia” ini menjunjung tinggi humanisme yang melawan Allah. Bagaimana dengan kita ? Kita yang sudah beriman Kristen sekalipun seringkali memiliki paradigma bahwa kita lah yang beriman (berusaha), seolah-olah tanpa kita, Allah “kewalahan” menawarkan anugerah penebusan Kristus. Konsep ini jelas salah (dipengaruhi oleh “theologia” Arminian) dan melawan Alkitab. Alkitab mengajarkan bahwa iman itu anugerah Allah (Efesus 2:8-9) dan iman itu membawa kita mengenal kebenaran Allah (baik righteousness maupun truth).

Kalau sunat bukan menjadi fokus pembenaran umat pilihan, maka apakah berarti sunat tidak perlu ? TIDAK. Di ayat 11, Paulus mengungkapkan, “Dan tanda sunat itu diterimanya sebagai meterai kebenaran berdasarkan iman yang ditunjukkannya, sebelum ia bersunat. Demikianlah ia dapat menjadi bapa semua orang percaya yang tak bersunat, supaya kebenaran diperhitungkan kepada mereka,” Tanda sunat di dalam Perjanjian Lama tetap berguna bukan sebagai fokus/syarat dibenarkan, tetapi akibat dari pembenaran yaitu janji atau meterai kebenaran berdasarkan iman Abraham. Kata “meterai” sama dengan kata “perjanjian” yang Paulus kutip dari Kejadian 17:10, “Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat;” Kata “perjanjian” di dalam Kejadian 17:10 dalam terjemahan KJV dan ISV adalah covenant. Iman yang berfokus pada perjanjian Allah inilah yang menjadi dasar iman (bapa) bagi semua orang percaya yang tak bersunat, sehingga mereka yang belum mengenal Allah dapat mengenal Allah melalui iman Abraham. Orang yang beriman sejati yang berfokus pada kebenaran dan janji Allah juga melakukan apa yang diimani dengan menaati apa yang difirmankan Allah. Dalam konteks Perjanjian Lama, tindakan menaati firman Allah yaitu dengan melakukan sunat dan segala syariat di dalam Hukum Taurat. Di dalam era Perjanjian Baru, beberapa tafsiran menerjemahkan sunat dengan sunat rohani yaitu sakramen baptisan sebagai tanda pembersihan. Seorang penafsir Matthew Henry menyatakan bahwa sunat itu sebagai tanda pembersihan dengan pemotongan, demikian juga baptisan merupakan tanda pembersihan untuk masuk ke dalam anggota tubuh Kristus di dalam gereja yang kelihatan (visible church). Demikian juga dengan umat pilihan-Nya yang berasal dari agama lain yang masuk ke dalam anggota tubuh Kristus harus menerima sakramen baptisan sebagai tanda pembersihan (tidak ada hubungannya dengan tanda masuk Surga). Selain itu, di dalam ayat ini, kata “tidak disunat” (uncircumcised) dalam bahasa Yunani akrobustia secara figuratif berarti unregenerate (tidak dilahirbarukan). Maka, secara otomatis, sunat identik dengan lahir baru. Dengan demikian, selain sakramen baptisan, sunat bisa berarti pembaharuan. Tetapi jangan langsung menyalahartikan konsep ini lalu mengajarkan bahwa kelahiran baru terjadi sesudah beriman. Kelahiran baru terjadi sebelum umat pilihan-Nya beriman. Lalu, apa arti sebenarnya ? Kelahiran baru di dalam konsep ini adalah proses pengudusan (progressive sanctification) yang dialami oleh semua umat pilihan-Nya setelah mereka beriman di dalam Kristus. Anak Tuhan sejati bukan hanya berhenti di titik beriman di dalam Kristus, tetapi mereka juga tetap berusaha menaati firman Allah dengan bersedia hidup kudus, setia dan taat mutlak sebagai respon dari iman mereka.

Lalu, bagaimana dengan orang percaya yang bersunat ? Di dalam ayat 12, Paulus mengatakan, “dan juga menjadi bapa orang-orang bersunat, yaitu mereka yang bukan hanya bersunat, tetapi juga mengikuti jejak iman Abraham, bapa leluhur kita, pada masa ia belum disunat.” Bagi mereka yang sudah disunat, dalam konteks Perjanjian Lama adalah orang Yahudi, mereka bukan memfokuskan sunat sebagai syarat dibenarkan, tetapi harus pada iman seperti iman Abraham dalam kondisi tidak bersunat sebagai fokus pembenaran. Untuk lebih jelasnya, silahkan membaca Kejadian 15:6 (baca seluruh pasal) sebagai tanda iman Abraham sebelum dia menerima perjanjian sunat dari Allah (Kejadian 17). Ini berarti iman mereka harus melampaui fenomena (sunat dan tanda-tanda lahiriah lainnya). Iman sejati bukan iman yang berfokus pada fenomena, tetapi iman yang melampaui fenomena dan berfokus pada esensi sejati. Itulah iman Kristen yang beres. Sayangnya, di dalam era postmodern, banyak orang “Kristen” selalu memfokuskan iman mereka pada hal-hal fenomenal, sehingga ketika mereka digoyahkan dengan isu-isu seperti penemuan kubur Yesus, Yesus menikah dengan Maria Magdalena, dll, banyak dari mereka yang tergoyahkan dan hampir menjadi ateis. Inilah akibat dari fokus iman pada hal-hal fenomenal. Oleh karena itu, iman sejati di dalam keKristenan harus dibereskan yaitu hanya berfokus kepada Allah dan Alkitab, di luar itu, termasuk mukjizat-mukjizat harus ditundukkan di bawah prinsip Firman Allah (Alkitab).

Sudahkah iman kita berfokus pada kebenaran Allah di dalam Alkitab ? Jika belum, mulai sekarang, bertobatlah dan kembalilah kepada Kristus dan Alkitab. Soli Deo Gloria. Amin.

Resensi Buku-33 : MENDAMBAKAN MAKNA DIRI (Rev. DR. R. C. SPROUL, L.H.D.)

...Dapatkan segera...
Buku
THE HUNGER FOR SIGNIFICANCE
(MENDAMBAKAN MAKNA DIRI)


oleh : Rev. DR. ROBERT CHARLES (R. C.) SPROUL, L.H.D.

Penerbit : Momentum Christian Literature (Fine Book Selection), 2005

Penerjemah : Lana Asali Sidharta.





“Manusia menurut naturnya adalah pemburu,” tulis Dr. R. C. Sproul dalam Pendahuluan buku ini. Sejarah kehidupan manusia diwarnai dengan perburuan dan pencarian, mulai dari pencarian yang eksotis akan ramuan ajaib, pencarian visioner alam dunia baru, sampai perburuan teroris modern. Namun Sproul memberikan argumentasi yang solid bahwa pencarian yang paling mendasar adalah pencarian kembali akan martabat manusia, apalagi pada zaman sekarang di mana institusi impersonal berkuasa, teknologi memegang peranan besar, dan manusia hanyalah menjadi alat.

Dr. Sproul membawa kita untuk melihat dalam berbagai bidang kehidupan kita : keluarga, sekolah, tempat kerja, rumah sakit, penjara, kancah politik, dan bahkan gereja, di mana martabat manusia telah semakin dilucuti, baik melalui perkataan sehari-hari maupun melalui tindakan yang sistematis ; dan tidak berhenti di sana, Dr. Sproul juga menawarkan solusi-solusi yang kuat dari Firman Allah untuk mengembalikan manusia kepada martabatnya, nilai diri yang sesungguhnya sebagai penyandang gambar dan rupa Allah.





Profil Rev. Dr. R. C. Sproul :
Rev. Robert Charles (R. C.) Sproul, Litt.D., L.H.D. adalah Profesor tamu dalam bidang Theologia Sistematika di Westminster Theological Seminary, California, USA sejak tahun 1996. Beliau meraih gelar Bachelor of Arts (B.A.) dari Westminster College, Bachelor of Divinity (B.D.) dari Pittsburgh Theological Seminary, Doktorandus (Drs.) dari Free University of Amsterdam, Doctor of Letters (Litt.D.) dari Geneva College, dan L.H.D. dari Grove City College.
Dr. Sproul adalah seorang pendeta di Presbyterian Church in America dan beliau dikenal secara internasional sebagai seorang pengajar, penulis, dan pengkhotbah yang memanggil gereja kepada ketakutan yang rendah hati akan kekudusan Allah dan kebenaran Injil yang diringkaskan dalam prinsip Sola dari Reformasi. Beliau telah mengajar di Gordon-Conwell Theological Seminary, Reformed Theological Seminary, dan Knox Theological Seminary. Sejak tahun 1971, beliau telah menjadi pendiri dan presiden dari Ligonier Ministries, dan kontributor bulanan pada majalah Ligonier’s TableTalk. Beliau telah melatih kepemimpinan di International Council on Biblical Inerrancy dan the New Geneva Study Bible (editor umum). Beberapa buku yang ditulis oleh beliau : Knowing Scripture, Classical Apologetics, The Holiness of God, Chosen by God, Lifeviews, One Holy Passion, Surprised by Suffering, The Hunger for Significance, Essential Truths of the Christian Faith, The Soul’s Quest for God, Faith Alone, The Invisible Hand, and Grace Unknown. Beliau dan istri, Vesta tinggal di Florida, USA.

02 December 2007

Bab 5 : ANDA ADA BUKAN KARENA KEBETULAN ?? (Analisa Terhadap Bab 2 buku Rick Warren)

Bab 5
Anda Ada Bukan Karena Kebetulan ??
(Antroposentris atau Theosentris ?)


Pada bab 5 ini, kita akan mencoba menggali masing-masing pengajaran Rick Warren di dalam bab/hari kedua dalam renungan 40 harinya. Penggalian ini bisa bersifat positif maupun negatif dari kacamata kebenaran Firman Tuhan, Alkitab. Mari kita akan menelusurinya dengan teliti berdasarkan kebenaran Alkitab.
Dalam bab/hari kedua pengajarannya yang berjudul, Anda Ada Bukan Karena Kebetulan, Warren mengungkapkan hal yang tepat, “Anda bukan ada karena kebetulan.” (Warren, 2005, p. 23). Manusia diciptakan oleh Allah itu bukan karena kebetulan atau nasib atau lebih celaka, takdir, tetapi itu adalah kedaulatan dan kerelaan kehendak-Nya dalam menciptakan kita. Tetapi celakanya, pengajaran ini telah salah ditafsirkan Warren dengan mengatakan satu pernyataan yang bagi saya aneh, “Anda hidup karena Allah ingin menciptakan Anda !” (Warren, 2005, p. 23). Kata “ingin” menjadi sesuatu yang aneh bagi saya, mengapa ? Karena kata “ingin” hendak mengindikasikan bahwa Allah terus-menerus rindu untuk menciptakan kita, seolah-olah kita dibutuhkan oleh Allah sebagai kerabat. Saya akan memberikan ilustrasi di dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita mengatakan bahwa kita ingin (want) bertemu dengan pacar/pasangan kita, itu berarti kita sedang merindukan pasangan kita bahkan yang lebih parah, pasangan kita adalah hidup kita. Dengan demikian, kalau Allah juga dimasukkan ke dalam kategori ini, lalu mengatakan bahwa Allah ingin menciptakan manusia, maka ini berarti Allah rindu menciptakan manusia, karena seolah-olah tanpa manusia, Allah tidak bisa hidup atau manusia itu yang membuat Allah menjadi hidup. Konsep doktrin Allah telah salah diajarkan oleh Warren, seolah-olah manusia yang bersumbangsih bagi Allah, padahal di dalam bab sebelumnya, ia sendiri berkata bahwa kita tidak dapat memberi masukan kepada-Nya. Sungguh suatu kontradiksi yang aneh.

Kemudian, pada halaman 24, ia mengungkapkan,
Walaupun ada orang-tua yang tidak sah, tidak ada anak-anak yang tidak sah. Banyak anak tidak direncanakan oleh orang-tua mereka, tetapi mereka bukanlah tidak direncanakan oleh Allah. Tujuan Allah memperhitungkan juga kesalahan manusia, dan bahkan dosa. (Warren, 2005, p. 24)

Komentar saya :
Memang benar, mungkin sekali anak bisa lahir dari “orangtua” yang statusnya tidak sah atau antara laki-laki dan perempuan yang hidup free-sex dan anak itu memang diberikan oleh Tuhan dengan maksud tertentu yang kita tidak bisa mengetahuinya. Tetapi yang mengganggu dari pernyataan Warren ini adalah pernyataan yang mengajarkan bahwa tujuan Allah memperhitungkan juga kesalahan manusia, dan bahkan dosa. Kata “memperhitungkan” mungkin tidak tepat digunakan dan saya pribadi tidak mengerti kata apa yang dipergunakan di dalam buku aslinya. Allah memang mengizinkan dosa, tetapi tidak pernah Allah menentukan dosa manusia. Ini bedanya pandangan dari Calvinisme/Reformed dengan Hyper-Calvinisme. Pandangan Calvinisme/Reformed mengajarkan bahwa Allah memang mengizinkan dosa terjadi dan hal ini tidak dapat kita ketahui alasannya, karena Allah saja yang mengetahui alasannya. Sedangkan pandangan Hyper-Calvinisme (boleh diidentikkan dengan pandangan Calvinisme sayap Supralapsarian) mengajarkan bahwa Allah menentukan dosa. Kalau Allah menentukan dosa, bukankah Allah juga disebut sebagai Pencipta dosa ? Padahal Allah itu Mahakasih dan Sempurna, masa Ia disebut Pencipta dosa/kejahatan ?! Ini jelas melawan Alkitab. Saya tidak menyalahkan 100% pandangan Warren, karena kata “memperhitungkan” di dalam pernyataan ini kurang begitu jelas dipaparkan oleh Warren. Lebih tepatnya, kata ini diganti dengan “mengizinkan”.

Lalu, pada halaman 25, Warren menjelaskan,
Motivasi Allah dalam menciptakan Anda adalah kasih-Nya. Alkitab mengatakan, “Jauh sebelum dunia dijadikan Allah telah merancang kita di dalam pikiran-Nya, menetapkan kita sebagai pusat kasih-Nya.” (Efesus 1:4a ; Message) (Warren, 2005)
Anda diciptakan sebagai sasaran khusus dari kasih Allah ! (Warren, 2005)

Komentar saya :
Dapat dibenarkan pendapat Warren bahwa kasih Allah sajalah yang memungkinkan kita bisa ada dan diciptakan, tetapi saya kurang sependapat dengan Warren bahwa motivasi sebenarnya Ia menciptakan manusia adalah kasih-Nya dan apalagi ditambah pengutipan Efesus 1:4a yang dengan sengaja memakai terjemahan The Message untuk mendukung teorinya ditambah lagi dengan pendapatnya yang aneh, “Anda diciptakan sebagai sasaran khusus dari kasih Allah !” Konsep doktrin Allah dan manusia di dalam pemikiran Warren begitu kacau. Pada bab 1, ia menjelaskan bahwa tujuan hidup kita oleh Allah dan untuk Allah, tetapi di bab 2, ia menjelaskan bahwa kita ini diciptakan sebagai sasaran khusus dari Allah. Ini membuktikan bahwa arus theologia/filsafat yang tidak berdasarkan Alkitab dengan teliti dan bertanggungjawab pasti akan berkontradiksi dengan dirinya sendiri/menyerang dirinya sendiri (mengutip pernyataan dari Pdt. Dr. Stephen Tong). Kembali, Efesus 1 seperti yang sudah saya jelaskan berbicara mengenai kedaulatan Allah di dalam pemilihan-Nya kepada manusia di dalam keselamatan yang Ia kerjakan dan Efesus 1:4 (TB), Paulus mengajarkan, “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.” Terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari menerjemahkan, “Sebelum dunia ini diciptakan, Allah telah memilih kita melalui Kristus dengan maksud supaya kita menjadi milik-Nya yang khusus dan tidak bercacat di hadapan-Nya...” Alkitab KJV menerjemahkannya, “According as he hath chosen us in him before the foundation of the world, that we should be holy and without blame before him in love:” Tidak ada satu pernyataan pun dari Alkitab TB, BIS maupun KJV yang mengatakan bahwa manusia adalah pusat kasih Allah. Manusia dipilih Allah supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Kalau pun Allah memilih manusia, tujuan akhirnya pasti kembali kepada Allah (Roma 11:36) !

Yang lebih aneh lagi, tetap di halaman yang sama, ia mengungkapkan,
Alkitab berkata, “Allah adalah kasih.” (1 Yohanes 4:8) Ayat ini tidak berkata Allah memiliki kasih. Dia adalah kasih ! Kasih adalah hakikat karakter Allah. Ada kasih yang sempurna dalam persekutuan Trinitas, jadi Allah tidak perlu menciptakan Anda. Dia tidaklah kesepian. Tetapi Dia ingin menciptakan Anda untuk menyatakan kasih-Nya... (Warren, 2005, pp. 25-26)

Komentar saya :
Anda pasti akan sependapat dengan saya bila Anda hanya membaca bab 2 dalam buku ini bahwa bab ini benar-benar saling berkontradiksi. Kalau di atas, Warren mengungkapkan bahwa Allah menetapkan kita sebagai pusat kasih-Nya, maka pada bagian ini, ia mengatakan bahwa Allah tidak perlu menciptakan kita karena Ia tidak kesepian, tetapi Dia ingin menciptakan kita untuk menyatakan kasih-Nya. Lalu, kalau Anda membaca lagi kutipan kembali versi The Message dari Roma 12:3 yang mengatakan, “Satu-satunya cara yang tepat untuk memahami diri kita adalah melalui keberadaan Allah dan apa yang Dia kerjakan bagi kita.”, ia ingin mengajarkan antroposentris, sesuatu yang berpusat kepada diri manusia. Kembali, Roma 12:3 sebenarnya berarti, “For I say, through the grace given unto me, to every man that is among you, not to think of himself more highly than he ought to think; but to think soberly, according as God hath dealt to every man the measure of faith.” (KJV) Ini bukan tentang memahami diri kita, tetapi memahami Allah. Kalau mau ditafsirkan, ayat ini ingin mengajarkan bahwa karena kita telah menerima anugerah Allah, maka kita tidak boleh serupa lagi dengan dunia di dalam pemikiran (Roma 12:2), tetapi kita harus berubah dengan cara memikirkan sesuai dengan apa yang Allah pikirkan melalui firman-Nya, Alkitab. Tidak berarti pikiran kita identik dengan pikiran Allah. Itu jelas mustahil. Tetapi melalui ayat ini, kita diajarkan untuk mensinkronkan pikiran kita yang berdosa dan cemar ini (pikiran/memikirkan tentang hal-hal yang tidak penting, misalnya memikirkan tentang harta, kekayaan, ketenaran, dll) dengan taat mutlak kepada pikiran Allah yang memimpin iman kita untuk dapat berpikir jernih sesuai firman-Nya, Alkitab.

Selanjutnya, ia mengutip puisi dari Russell Kelfer yang puisi ini sengaja tidak saya kutip. Dari puisi yang terdapat di halaman 26-27 buku Warren ini, memang benar bahwa kita itu kekasih Allah, tetapi dari pengamatan saya, puisi ini terlalu menekankan akan imanensi Allah (Allah yang dekat dengan manusia) yang akan berakibat sangat fatal. Imanensi Allah tanpa dibarengi dengan konsep transendensi Allah akan mengakibatkan manusia tidak lagi menyadari dirinya hanyalah ciptaan Allah yang meskipun telah ditebus oleh Kristus masih dapat berbuat dosa lagi (meskipun tidak dikuasai oleh dosa) dan manusia tidak lagi menghargai dan menyembah Allah sebagai Tuhan dan Pemilik hidupnya. Tidak heran, banyak “pemimpin gereja” dan jemaat dari mayoritas kalangan gereja Injili/Pentakosta/Karismatik yang terlalu menekankan imanensi Allah, menjadi kurang ajar dan seenaknya menyembah Allah menggunakan cara mereka sendiri, misalnya dengan melompat-lompat, menari-nari (karena menurut mereka, Daud pun menari), dll di dalam ibadah/kebaktian mereka. Ini sangat berbahaya, lalu kalau mereka ini ditegur, mereka akan membela diri dengan mengatakan bahwa kita jangan “membatasi” kuasa “Allah”. Sebaliknya, transendensi Allah (Allah yang nun jauh di sana) tanpa dibarengi dengan konsep imanensi Allah akan mengakibatkan manusia terus “dihantui” oleh murka Allah, tanpa mengerti bahwa Allah itu juga mengasihi dan dekat dengan manusia/anak-anak-Nya. Kedua konsep tentang Allah jangan ditekankan secara ekstrim, tetapi harus diseimbangkan, agar menciptakan suatu konsep totalitas akan kehidupan Kristen yang beres.

Bab 4 : SEMUANYA DIAWALI DENGAN ALLAH ? (Analisa Terhadap Bab 1 buku Rick Warren)

Bab 4
Semuanya Diawali Dengan allah ??


Pada bab 4 ini, kita akan mencoba menggali masing-masing pengajaran Rick Warren di dalam setiap bab/hari. Penggalian ini bisa bersifat positif maupun negatif dari kacamata kebenaran Firman Tuhan, Alkitab. Mari kita akan menelusurinya dengan teliti berdasarkan kebenaran Alkitab.
Dalam bab/hari pertama pengajarannya yang berjudul, Semuanya Diawali Dengan Allah, Warren mengungkapkan hal yang tepat bahwa segala sesuatu itu diawali dengan (lebih tepatnya : dari) Allah. Dengan mengutip Kolose 1:16 dan perkataan seorang atheis, Bertrand Russell, “Sebelum Anda memikirkan Allah, pertanyaan tentang tujuan hidup tidaklah berarti.” Hal ini tidaklah salah. Warren mencoba membandingkan pencarian tujuan hidup ala dunia dengan filsafat Positive Thinking mereka dengan apa yang Alkitab ajarkan tentang tujuan hidup (Warren, 2005, p. 18-19). Lalu, Warren mengaku bahwa apa yang dunia tawarkan tentang tujuan hidup tidaklah sama dengan tujuan yang Allah telah tetapkan. Berikut penuturannya,
Anda bisa mencapai semua sasaran-sasaran pribadi Anda, menjadi luar biasa berhasil dalam standar dunia, dan tetap tidak mengetahui tujuan-tujuan yang untuknya Allah menciptakan Anda. Anda membutuhkan lebih dari nasihat untuk menolong diri sendiri. Alkitab mengatakan, “Menolong diri sendiri sama sekali tidak menolong, mengorbankan dirilah caranya, untuk menemukan diri Anda, diri sejati Anda.” (Matius 16:25 ; The Message) (Warren, 2005, p. 19)

Komentar saya :
Saya tidak menyalahkan apa yang Warren ajarkan bahwa memang benar apa yang dunia tawarkan dengan possitive thinking dan berbagai program motivasi apalagi dari Andrie Wongso dengan motivasi gilanya Success is My Right kelihatannya “sukses” di mata dunia, tetapi mereka tetap tidak pernah memuliakan-Nya, karena mereka pada intinya sudah melawan Allah dan membanggakan diri. Dalam hal ini, Warren benar, tetapi yang menjadi permasalahannya adalah meskipun Warren menyangkal prinsip dunia tentang sukses, akhirnya ia kembali kepada pemujaan terhadap diri sendiri. Hal ini terlihat dari pengutipan dari Matius 16:25 dengan sengaja menggunakan terjemahan dari versi The Message yang arti sebenarnya tidak demikian jika kita meneliti konteksnya. Mari kita menelusurinya. Di dalam Terjemahan Baru Alkitab Bahasa Indonesia (TB), Matius 16:25 menyatakan, “Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” Atau terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari menerjemahkannya, “Sebab orang yang mau mempertahankan hidupnya, akan kehilangan hidupnya. Tetapi orang yang mengurbankan hidupnya untuk Aku, akan mendapatkannya.” Di dalam ayat ini tidak ada indikasi yang mengajarkan bahwa dengan cara mengorbankan diri, kita dapat menemukan diri kita, diri sejati kita. Tidak ! Versi The Message dalam hal ini salah menerjemahkannya. Bandingkan terjemahan The Message ini dengan terjemahan King James Version (KJV), “For whosoever will save his life shall lose it: and whosoever will lose his life for my sake shall find it.” Kata “for my sake” di dalam KJV (maupun di dalam English Standard Version/ESV maupun International Standard Version/ISV) tidak ditemukan di dalam versi The Message. Jelas, tidak ditemukannya kata “for my sake” dan ditekannya pernyataan, “menemukan diri Anda, diri sejati Anda.”, sebenarnya Warren ingin kembali menekankan konsep memuliakan manusia ketimbang memuliakan Kristus, padahal konteks Matius 16:25 berada di dalam sebuah pengajaran Tuhan Yesus tentang bagaimana mengikut-Nya, dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan pengajaran mengenai tujuan hidup. Jadi, sebenarnya pengajaran Warren yang di awal mengenai tujuan hidup manusia itu untuk Allah, itu hanya sekedar klise/omong kosong, yang tidak pernah Warren realisasikan sendiri dan bahkan perkataan-perkataan Warren sendiri berkontradiksi di dalam satu bab ini saja.

Kemudian, ia melanjutkan bahwa untuk memusatkan perhatian pada apa yang paling penting, ia mengungkapkan, “Sebetulnya, buku ini akan mengajar Anda cara untuk mengurangi kegiatan Anda dalam kehidupan...” Apakah dengan kita terus mencari tujuan hidup dari Allah, itu berarti kita mengurangi kegiatan kita ? TIDAK ! Dari sini, Warren salah lagi di dalam mengerti kehendak Allah. Kehendak Allah tidak bermaksud untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan semua kegiatan Anda demi tujuan-Nya, kalau demikian, “Allah” model ini adalah “Allah” yang egois, tetapi Allah sejati menuntut setiap anak-anak-Nya untuk mengerjakan segala sesuatu semaksimal mungkin untuk memuliakan Allah, seperti yang Paulus ajarkan di dalam Kolose 3:23, “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Ayat ini tidak mengajarkan bahwa apapun yang kita perbuat berusahalah untuk dikurangi untuk Tuhan. Itu ajaran tidak beres.

Lalu, ia mengatakan,
Allah bukan sekedar titik awal dalam kehidupan Anda ; Dialah sumber kehidupan. Untuk menemukan tujuan hidup Anda, Anda harus melihat Firman Allah, bukan hikmat dunia. Anda harus membangun kehidupan Anda di atas kebenaran-kebenaran kekal, bukan psikologi umum, motivasi sukses, atau kisah-kisah yang memberi inspirasi. Alkitab berkata, “Di dalam Kristuslah kita menemukan siapa kita dan untuk apa kita hidup. Jauh sebelum kita mendengar tentang Kristus untuk pertama kali, dan membangkitkan harapan-harapan kita, Dia telah melihat kita, merancang kita bagi kehidupan yang penuh kemuliaan, bagian dari keseluruhan tujuan yang Dia kerjakan di dalam segala sesuatu dan semua orang.” (Efesus 1:11 ; Message). Ayat ini memberikan tiga wawasan ke dalam tujuan Anda.
1. Anda menemukan identitas dan tujuan Anda melalui hubungan dengan Yesus Kristus. Jika Anda tidak memiliki hubungan semacam itu, saya nanti akan menjelaskan bagaimana memulainya.
2. Allah memikirkan Anda jauh sebelum Anda pernah berpikir mengenai-Nya. Tujuan-Nya bagi kehidupan Anda telah ada sebelum keberadaan Anda. Dia merencanakannya sebelum Anda ada, tanpa masukan Anda ! ...
3. Tujuan hidup Anda sesuai dengan tujuan yang jauh lebih besar dan menyangkut alam semesta yang telah Allah rancang bagi kekekalan. Inilah isi buku ini. (Warren, 2005, p. 21)

Komentar saya :
Tidaklah salah bila Warren mengajarkan bahwa Allah itu sumber kehidupan kita, dan untuk menemukan tujuan hidup, kita harus melihat Firman Allah, bukan hikmat dunia dengan trik-trik palsu mereka baik melalui psikologi umum, motivasi sukses, dll. Tetapi sekali lagi yang menjadi permasalahannya adalah pengutipan Efesus 1:11 yang sengaja memakai terjemahan The Message untuk mendukung teorinya. Entah mengapa Warren lebih suka memakai The Message ketimbang terjemahan Alkitab bahasa Inggris lainnya yang lebih mendekati arti aslinya dalam bahasa Yunani. Efesus 1 sedang berbicara tentang pilihan Allah dan berkaitan dengan soteriologi (keselamatan). Paulus di dalam Efesus 1:11 mengajarkan, “Aku katakan "di dalam Kristus", karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan -kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya-” Memang tidak salah jika Warren mengajarkan bahwa di dalam keputusan Allah, manusia tidak bisa memaksa-Nya atau memberikan usulan kepada-Nya, tetapi kembali, konteks ini sedang berbicara mengenai pilihan Allah dan keselamatan bagi manusia, dan tidak berkaitan dengan tujuan hidup yang Allah tetapkan. Baca keseluruhan pasal 1 di dalam Efesus ini untuk mendapatkan totalitas konteks yang Paulus sedang bahas. Kelemahan banyak renungan harian adalah sengaja mencomot satu ayat Alkitab tanpa melihat terlebih dahulu konteks, latar belakang, bahasa aslinya, dll. Metode “comot-menyomot” ayat Alkitab ini banyak dijumpai di banyak gereja Karismatik/Pentakosta/Injili yang mengaku secara teori percaya akan ketidakbersalahan Alkitab sambil seenaknya sendiri menafsirkan Alkitab menurut teorinya sendiri yang tidak memperhatikan apa yang Alkitab sedang bicarakan secara jelas melalui konteks, latar belakang, bahasa asli (Ibrani dan Yunani), dll.

Bab 3 : SEBUAH PERJALANAN DENGAN TUJUAN ??

Bab 3
Sebuah Perjalanan Dengan Tujuan ??

Pada bab 3 ini, kita akan menelusuri kelemahan-kelemahan yang ada (boleh dikatakan sangat fatal) di dalam buku The Purpose Driven Lifenya Rick Warren lalu kita akan mencoba mempelajari apa kata Alkitab terhadap pernyataan-pernyataan yang terkandung di dalamnya.
Kita akan memulai pada bagian awal buku, yaitu pada lembar keempat dalam terjemahan bahasa Indonesia. Berikut penuturannya,
“Buku ini dipersembahkan bagi Anda. Sebelum Anda dilahirkan, Allah merencanakan saat ini dalam kehidupan Anda. Bukanlah kebetulan kalau Anda sedang memegang buku ini. Allah rindu agar Anda menemukan kehidupan yang Allah ciptakan untuk Anda jalani—di bumi ini, dan selamanya dalam kekekalan

Di dalam Kristuslah kita menemukan siapa kita dan untuk apa kita hidup. Jauh sebelum kita mendengar tentang Kristus untuk pertama kali, ... Dia telah melihat kita, merancang kita bagi kehidupan yang penuh kemuliaan, bagian dari keseluruhan tujuan yang Dia kerjakan di dalam segala sesuatu dan semua orang.
Efesus 1:11 (Msg)

Saya berterima kasih kepada ratusan penulis dan pengajar, baik yang klasik maupun kontemporer, yang telah membentuk kehidupan saya dan menolong saya untuk mempelajari kebenaran-kebenaran ini. Saya berterima kasih kepada Allah dan kepada Anda atas hak istimewa untuk membagikan kebenaran-kebenaran tersebut kepada Anda.” (Warren, 2005)


Komentar saya :
Hanya ada satu kejanggalan di dalam ketiga paragraf ini yang akan mempengaruhi totalitas arah buku ini yaitu penafsiran yang dicocok-cocokkan dalam Efesus 1:11. Entah dengan alasan apa Rick Warren sengaja memakai terjemahan Message Bible (bandingkan dengan penuturannya sendiri di dalam bukunya terjemahan Indonesia halaman 361 paragraf kedua) yang menurut bahasa asli dan terjemahan bahasa Inggrisnya tidak mengajarkan demikian. Konteks Efesus 1 adalah berbicara mengenai keselamatan yang telah Allah tetapkan. Di dalam Terjemahan Baru (TB) di dalam ayat ini, Rasul Paulus berkata, “Aku katakan "di dalam Kristus", karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan--kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya--” King James Version menerjemahkannya, “In whom also we have obtained an inheritance, being predestinated according to the purpose of him who worketh all things after the counsel of his own will:” Suatu hal yang aneh jika Rick Warren memakai ayat ini untuk mendukung pengajaran bahwa Allah telah melihat dan merancang kita bagi kehidupan yang penuh kemuliaan. Memang benar, Allah telah menganugerahkan kehidupan yang penuh kemuliaan kelak di akhir zaman, tetapi sekali lagi Efesus 1:11 tidak sedang berbicara tentang hal itu, melainkan tentang keselamatan. Bacalah ayat-ayat sebelumnya (ayat 1-10).

Pada halaman 9 buku terjemahan bahasa Indonesia ini, Rick Warren mengungkapkan,
“Ini lebih dari sekedar buku ; buku ini adalah sebuah penuntun untuk perjalanan rohani 40 hari yang akan memungkinkan Anda menemukan jawaban bagi pertanyaan paling penting : Sesungguhnya untuk apakah aku ada di dunia ? Pada akhir perjalanan ini Anda akan mengetahui tujuan Allah bagi hidup Anda dan akan memahami gambaran besar, yakni bagaimana semua bagian dari kehidupan Anda saling sesuai. Cara pandang ini akan mengurangi rasa stres dan memudahkan Anda untuk mengambil keputusan, meningkatkan kepuasan Anda, dan yang terpenting, mempersiapkan diri Anda bagi kekekalan. (Warren, 2005, p 9)”

Komentar saya :
Manusia di abad postmodern, lebih umumnya, semua manusia di dunia akibat dosa, mereka tidak mampu lagi menemukan arah tujuan hidupnya yang sejati, karena hubungan mereka sudah jauh dari Allah sebagai Sumber Hidup. Tidak heran, mereka kebingungan menemukan tujuan hidup mereka, dan yang paling laku untuk memuaskan keinginan mereka dalam menemukan tujuan hidup, BUKANLAH Alkitab, tetapi training motivasi. Salah satunya melalui buku The Purpose Driven Life yang diklaim oleh Rick Warren bukan tentang Anda, membantu para pembaca untuk mengetahui tujuan Allah bagi hidup mereka, tetapi di sisi lain, tujuan itu BUKAN bermaksud untuk memuliakan Allah, tetapi untuk, “mengurangi rasa stres dan memudahkan Anda untuk mengambil keputusan, meningkatkan kepuasan Anda, dan yang terpenting, mempersiapkan diri Anda bagi kekekalan.” Dari sini saja, kita sudah jelas bahwa ajaran ini sudah menyimpang dari kebenaran Alkitab yang mengatakan, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (Roma 11:36). Kalau Allah telah menetapkan segala sesuatu termasuk tujuan-Nya bagi hidup manusia, itu dimaksudkan untuk memuaskan keinginan manusia, meningkatkan potensi diri manusia, tetapi hanya satu yaitu untuk MEMULIAKAN TUHAN. Karena Rick Warren adalah seorang penganut “theologia” Arminian, maka tidaklah salah bila ia merumuskan Arminianismenya dengan akar humanisme untuk mengajar orang-orang Kristen. Ini jelas berbeda total dengan theologia Reformasi dan Reformed yang bermoto, Soli Deo Gloria, segala kemuliaan hanya bagi nama Tuhan Allah. Apa pun yang dikerjakan oleh anak-anak Tuhan sejati harus dipergunakan untuk memuliakan Allah, bukan untuk manusia. Paulus di dalam Kolose 3:17 mengajarkan, “Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.” Di dalam Kolose 3:23 pun, Paulus mengajarkan juga, “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Ketika segala sesuatu yang kita kerjakan dipergunakan untuk memuliakan Tuhan, itu mengajarkan kepada kita untuk tidak sombong dan selalu mensyukuri anugerah-Nya, karena kita dapat hidup, bekerja, dll itu semua adalah anugerah-Nya yang harus dipertanggungjawabkan. Inilah prinsip theologia Reformed. Sehingga orang-orang Kristen yang bertheologia Reformed akan berusaha bekerja semaksimal mungkin karena mereka sadar bahwa mereka telah banyak mendapatkan anugerah-Nya yang harus dipertanggungjawabkan, lalu pekerjaan yang mereka lakukan pertama-tama untuk memuliakan Allah dan setelah itu berfaedah bagi sesamanya.

Untuk mendukung/mempromosikan renungan harian 40 hari versi Rick Warren di dalam bukunya The Purpose Driven Life, ia mengatakan, “Bukankah suatu penggunaan waktu yang bijaksana jika Anda menyisihkan waktu 40 hari dari masa hidup tersebut (25.550 hari/70 tahun—Red.) untuk menemukan apa yang Allah ingin Anda lakukan dengan sisa hari-hari Anda?”

Komentar saya :
Benarkah kita hanya membutuhkan waktu 40 hari dari kira-kira 70 tahun masa hidup kita untuk menemukan kehendak Allah bagi kita ? Waktu itu terlalu sedikit, mengapa ? Karena hidup kita terlalu banyak menggunakan waktu dengan tidak bertanggungjawab (misalnya, mengunjungi tempat pelacuran, mengikuti training motivasi yang tidak bertanggungjawab, membaca buku Rich Dad, Poor Dad dari Robert T. Kiyosaki, pergi berdansa, ikut band rock bahkan yang “rohani” sekalipun, dll), termasuk dengan membaca buku The Purpose Driven Life yang hampir tidak berfaedah. Di dunia yang berdosa ini, hampir setiap hari, kita terus-menerus sedang diracuni dengan filsafat-filsafat yang anti-kedaulatan Allah di dalam Alkitab, misalnya humanisme yang menjunjung tinggi manusia, materialisme yang berorientasi pada hal-hal jasmaniah, relativisme yang “memutlakkan” kerelatifan, dll, tetapi kita hanya mempunyai 40 hari untuk mengetahui kehendak Allah bagi kita lalu kita dianggap bijaksana ? Itu mustahil. Anda ingin menemukan kehendak Allah bagi hidup Anda ? Jawabannya, BUKAN dengan mengikuti promosi buku The Purpose Driven Life ini, tetapi hanya satu : BACALAH ALKITAB DARI KEJADIAN SAMPAI DENGAN WAHYU. Dengan membaca Alkitab setiap hari (tidak terbatas hanya 40 hari), kita terus-menerus akan mengetahui kehendak Allah bagi kita untuk kita lakukan di dalam kehidupan kita sehari-hari, sehingga kita dimampukan untuk melawan dan menantang filsafat-filsafat dunia yang menyerang keKristenan dan anti kedaulatan Allah. Dari pernyataan singkat ini, sangat jelas, Warren tidak mengajarkan para pembacanya untuk membaca Alkitab, tetapi malahan menganjurkan para pembacanya memakai bukunya. Ini suatu ajaran yang tidak bertanggungjawab. Theologia Reformed berusaha mengajak orang-orang Kristen siapapun untuk hanya kembali kepada Alkitab, bukan untuk membela theologia Reformed. Meskipun theologia Reformed memiliki jiwa Ecclesia Reformata Semper Reformanda yang artinya gereja-gereja Reformed ingin terus-menerus di-Reformed­-kan agar sesuai dengan Alkitab, tetapi tidak berarti theologia Reformed tidak memiliki akar pengertian Alkitab yang solid. Ini jiwa yang sangat mulia. Jiwa theologia Reformed ini dimulai dari jiwa seorang bapa Gereja, Augustinus yang dikutip oleh Pdt. Dr. Stephen Tong bahwa jika ada orang yang menemukan kesalahan pada tulisan Augustinus yang melawan Alkitab, maka buanglah tulisan Augustinus dan peganglah Alkitab. Tetapi herannya, Rick Warren tidak berani mengungkapkan pernyataan seperti Augustinus. Ada apa gerangan dengan Rick Warren ? Waspadalah.

Perhatikan kembali, pernyataan Rick Warren pada halaman 9 bawah - 10 atas ini,
“Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa Allah menganggap 40 hari adalah periode waktu yang penting secara rohani. Kapanpun Allah ingin mempersiapkan seseorang bagi tujuan-tujuan-Nya, Dia mengambil 40 hari :
· Kehidupan Nuh diubahkan dengan 40 hari hujan (Kej. 7:12—Red.).
· Musa diubahkan dengan 40 hari di Gunung Sinai (Kel. 24:18 ; 34:28—Red.).
· Para pengintai diubahkan dengan 40 hari di Tanah Perjanjian (Bil. 13:25—Red.).
· Daud diubahkan dengan 40 hari tantangan dari Goliat (1 Sam. 17:16—Red.).
· Elia diubahkan ketika Allah memberinya 40 hari kekuatan dari makanan (1 Raj. 19:8—Red.).
· Keseluruhan kota Niniwe diubahkan ketika Allah memberi 40 hari bagi bangsa tersebut untuk berubah (Yunus 3:4—Red.).
· Yesus diberi kuasa dengan 40 hari berada di padang gurun (Mat. 4:12 ; Mrk. 1:13 ; Luk. 4:2—Red.).
· Para murid diubahkan dengan 40 hari bersama Yesus setelah kebangkitan-Nya (Kis. 1:3—Red.).”

Komentar saya :
Ayat-ayat ini ditafsirkan menurut kehendak Warren sendiri agar cocok dengan promosi buku renungan harian 40 hari yang ditulisnya ini (metode eisegese). Apakah Allah ingin mempersiapkan Nuh bagi pekerjaan-Nya lalu dengan sengaja memberikan hujan lebat selama 40 hari ? Tidak. Air bah itu adalah wujud hukuman Tuhan bagi manusia berdosa. Perhatikan Kejadian 6:11-18 yang dengan sengaja diabaikan oleh Warren, “Adapun bumi itu telah rusak di hadapan Allah dan penuh dengan kekerasan. Allah menilik bumi itu dan sungguhlah rusak benar, sebab semua manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi. Berfirmanlah Allah kepada Nuh: "Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala makhluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka, jadi Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi. Buatlah bagimu sebuah bahtera dari kayu gofir; bahtera itu harus kaubuat berpetak-petak dan harus kaututup dengan pakal dari luar dan dari dalam. Beginilah engkau harus membuat bahtera itu: tiga ratus hasta panjangnya, lima puluh hasta lebarnya dan tiga puluh hasta tingginya. Buatlah atap pada bahtera itu dan selesaikanlah bahtera itu sampai sehasta dari atas, dan pasanglah pintunya pada lambungnya; buatlah bahtera itu bertingkat bawah, tengah dan atas. Sebab sesungguhnya Aku akan mendatangkan air bah meliputi bumi untuk memusnahkan segala yang hidup dan bernyawa di kolong langit; segala yang ada di bumi akan mati binasa. Tetapi dengan engkau Aku akan mengadakan perjanjian-Ku, dan engkau akan masuk ke dalam bahtera itu: engkau bersama-sama dengan anak-anakmu dan isterimu dan isteri anak-anakmu.” Jelaslah, bahwa dengan menurunkan hujan lebat, Allah menunjukkan murka-Nya atas manusia yang makin lama makin berdosa. Tetapi Ia berkenan memilih Nuh dan keluarganya untuk diselamatkan dengan memerintahkan Nuh untuk membuat bahtera. Hujan lebat memang turun 40 hari, tetapi setelah itu air bah yang berkuasa di atas bumi itu 150 hari lamanya (Kejadian 7:24). Mengapa ayat ini tidak dipakai oleh Warren ? Jawabannya sederhana, karena tidak cocok dengan promosi buku 40 hari renungannya.
Hal kedua, benarkah Musa diubahkan dengan 40 hari di Gunung Sinai ? Ini benar, karena terdapat di dalam Kel. 24:18 (untuk menerima Hukum Tuhan) ; 34:28 (untuk menerima Hukum Tuhan yang baru setelah Musa melemparkan dan memecahkan kedua loh batu yang berisi Hukum Tuhan yang pertama di dalam Keluaran 32:19). Tetapi, Musa yang diubahkan adalah Musa yang tidak taat dan tidak setia, sehingga Allah melarangnya untuk masuk ke Tanah Kanaan (Bilangan 14).
Hal ketiga di dalam delapan poin yang Warren paparkan tentang prinsip 40 harinya, benarkah para pengintai diubahkan dengan 40 hari di Tanah Perjanjian ? Kalau kita sepintas melihat di dalam Bilangan 13:25, hal ini benar, tetapi jika kita dengan teliti membaca Bilangan 14:34 (Terjemahan Baru) yang mengatakan, “Sesuai dengan jumlah hari yang kamu mengintai negeri itu, yakni empat puluh hari, satu hari dihitung satu tahun, jadi empat puluh tahun lamanya kamu harus menanggung akibat kesalahanmu, supaya kamu tahu rasanya, jika Aku berbalik dari padamu:” atau terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari menerjemahkan, “Kamu akan menanggung akibat-akibat dosamu empat puluh tahun lamanya; satu tahun dihitung untuk satu hari dari setiap empat puluh hari yang kamu pakai untuk menyelidiki tanah itu. Kamu akan tahu bagaimana rasanya kalau Aku melawan kamu!” Mereka (para pengintai) dihukum oleh Tuhan selama 40 tahun, karena mereka tidak mengabarkan hal yang benar tentang Tanah Perjanjian. Perhatikan di dalam Bilangan 14:35-38, “Aku, TUHAN, yang berkata demikian. Sesungguhnya Aku akan melakukan semuanya itu kepada segenap umat yang jahat ini yang telah bersepakat melawan Aku. Di padang gurun ini mereka akan habis dan di sinilah mereka akan mati." Adapun orang-orang yang telah disuruh Musa untuk mengintai negeri itu, yang sudah pulang dan menyebabkan segenap umat itu bersungut-sungut kepada Musa dengan menyampaikan kabar busuk tentang negeri itu, orang-orang itu mati, kena tulah di hadapan TUHAN. Tetapi yang tinggal hidup dari orang-orang yang telah pergi mengintai negeri itu hanyalah Yosua bin Nun dan Kaleb bin Yefune.” Banyak pengintai Israel yang melaporkan hal yang palsu sehingga banyak orang Israel bersungut-sungguh karenanya dan akibatnya, para pengintai yang melaporkan kepalsuan itu langsung dihukum mati oleh Allah, tetapi hanya Yosua dan Kaleb yang dibiarkan hidup. Kalau benar bahwa para pengintai diubahkan dengan 40 hari di Tanah Perjanjian, perubahan apa yang dialami para pengintai itu? Perubahan yang positif atau negatif ? Kembali, Warren mengutip ayat Alkitab tanpa memperhatikan ayat Alkitab yang lainnya (metode eisegese).
Hal terakhir dari delapan poin yang ia paparkan tentang renungan 40 harinya yang perlu disoroti adalah benarkah para murid diubahkan dengan 40 hari bersama Yesus setelah kebangkitan-Nya (Kis. 1:3) ? Jelas, tidak. Mengapa ? Para murid Tuhan Yesus itu aneh, mereka sudah menerima pengajaran langsung dari Tuhan Yesus kira-kira 3,5 tahun, ditambah les privat selama 40 hari setelah kebangkitan-Nya tentang Kerajaan Allah, tetapi saat sebelum Kristus naik ke Surga, mereka masih bertanya, “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” (Kis. 1:6) Apakah ini membuktikan dengan waktu 40 hari setelah kebangkitan-Nya, mereka diubahkan ? TIDAK. Mereka (para murid) masih tidak mengerti tentang Kerajaan Allah, sampai-sampai Kristus sendiri berkata, “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” (Kis. 1:7-8) Dalam hal ini, Warren tidak teliti membaca Alkitab dan sengaja menghilangkan ayat 6 untuk mendukung promosi renungan 40 harinya.

Selanjutnya, Warren mengungkapkan bahwa bukunya dibagi menjadi 40 bab singkat dan ia menganjurkan para pembaca untuk membaca satu bab saja sehari, sehingga mereka memiliki waktu untuk berpikir tentang penerapannya bagi kehidupan mereka. Untuk hal ini, Warren mengutip Roma 12:2. Kemudian, ia berkata lagi,
“Satu alasan mengapa sebagian besar buku tidak mengubah kita adalah karena kita begitu ingin membaca bab berikutnya, kita tidak berhenti sejenak dan mengambil waktu untuk berpikir dengan serius apa yang baru saja kita baca. Kita tergesa-gesa menuju kebenaran berikutnya tanpa merefleksikan apa yang telah kita baca.
Jangan sekedar membaca buku ini. Berinteraksilah dengannya. Garis bawahilah. Tulislah pikiran-pikiran Anda sendiri di bagian pinggir. Jadikanlah buku ini buku Anda. Buatlah sesuai selera !...” (Warren, 2005, p. 10)

Komentar saya :
Saya percaya renungan harian yang lebih berkualitas seperti Santapan Harian, Renungan Harian, dll tidak berani mengungkapkan hal yang senekat Rick Warren di dalam bukunya yang mengatakan bahwa jadikanlah bukunya adalah buku bagi para pembaca. Paragraf kedua ini memberikan indikasi secara implisit bahwa bukunya ini “melengkapi” Alkitab, sehingga perlu digarisbawahi, dll. Sungguh aneh, seharusnya, setiap buku rohani apapun yang baik dan berkualitas akan menuntut dan menuntun setiap pembacanya untuk lebih mengerti Alkitab, tetapi Rick Warren di dalam bukunya tidak bertujuan itu, karena di dalam paragraf kedua di dalam pernyataan ini, ia tidak satu kalipun menyebutkan tujuan untuk lebih mengerti Alkitab dengan lebih bertanggungjawab melalui bukunya. Ini jelas sebuah permainan licik dari Rick Warren untuk pelan-pelan mengikuti alur pikirnya yang beridekan humanisme lalu mempermainkan ayat-ayat Alkitab di luar konteksnya untuk mendukung ide humanisnya, setelah itu barulah orang-orang yang mengikuti alur pikiran Warren disebut orang yang memiliki tujuan (purpose) di dalam hidupnya, padahal itu semu belaka.
Di sisi lain, kita juga perlu merefleksikan apa yang Warren katakan, apakah benar ketika kita membaca renungan harian lainnya, kita seakan-akan take it for granted, lalu melupakan, padahal renungan harian yang beres seharusnya menuntun kita untuk lebih mengerti maksud Allah di dalam Alkitab. Renungan harian hanya sebagai pelengkap untuk kita boleh mengerti Alkitab, tetapi ingat satu hal, fokusnya hanya Alkitab. Isi dalam renungan harian yang beres sekalipun mungkin sekali mengandung beberapa kesalahan, oleh karena itulah, kita tidak boleh menganggap bahwa renungan harian itu identik dengan Alkitab yang tidak dapat bersalah.

Kemudian, Warren melanjutkan tulisannya dengan mengatakan,
“Pada akhir setiap bab ada sebuah bagian yang disebut “Berpikir tentang Tujuan Saya.” Di situ Anda akan menemukan :
· Pokok untuk direnungkan. Inilah suatu bongkah kebenaran yang berharga yang merangkum sebuah prinsip kehidupan yang dikendalikan tujuan yang Anda bisa renungkan sepanjang hari...
· Ayat untuk Diingat. Inilah ayat Alkitab yang mengajarkan sebuah kebenaran dari bab tersebut. Jika Anda benar-benar ingin meningkatkan kehidupan Anda, menghafal ayat bisa merupakan kebiasaan terpenting yang bisa Anda mulai. Anda bisa menyalin ayat-ayat ini dalam kartu-kartu kecil untuk Anda bawa, atau membeli Purpose Driven Life Scripture Keeper Plus.
· Pertanyaan untuk Dipikirkan.... “ (Warren, 2005, pp. 10-11)

Komentar saya :
Dari awal saja sudah salah, setiap renungan harian yang beres bukan terus memikirkan tentang saya, saya, dan saya, tetapi tentang kehendak Allah dan memuliakan Allah. Tetapi herannya, Warren mengungkapkan bahwa di dalam akhir setiap bab, ada bagian yang disebut “Berpikir tentang Tujuan Saya.” Dari sini saja, Warren sudah bersifat antroposentris karena yang dipikir selalu tentang diri, diri, dan diri lagi, bukan Allah.
Kedua, pada bagian “Pokok untuk direnungkan.”, Warren mengatakan bahwa prinsip kehidupan itu digerakkan atau dikendalikan oleh tujuan. Benarkah hal demikian ? Mari kita berpikir logis. Kalau memang benar bahwa prinsip kehidupan kita dikendalikan oleh tujuan, maka ada beberapa pertanyaan : pertama, mengapa harus menetapkan tujuan bagi kehidupan (motivasi penetapan tujuan), lalu kedua, tujuan itu tujuan siapa ?, ketiga, tujuan dari penetapan tujuan itu untuk siapa ? Dalam hal ini, Warren menjawab ketiga pertanyaan tadi dengan jawaban-jawaban yang terdapat di dalam bukunya ini : pertama, jelas, motivasi dari menetapkan tujuan itu adalah untuk “mengurangi rasa stres dan memudahkan Anda untuk mengambil keputusan, meningkatkan kepuasan Anda, dan yang terpenting, mempersiapkan diri Anda bagi kekekalan.” (Warren, 2005, p. 9) Dari titik pertama, motivasi menetapkan tujuan ini salah, yaitu antroposentris, dan kesalahan di titik pertama pasti mengakibatkan kesalahan pula di titik kedua dan ketiga. Jawaban kedua dari pertanyaan tadi adalah tujuan itu sebenarnya tujuan yang manusia sendiri tetapkan (lebih tepatnya, Warren telah tetapkan bagi para pembacanya) dengan “meminjam” perkataan bahwa itu tujuan dari “Allah”. Disusul dengan jawaban ketiga, tujuan dari penetapan tujuan itu jelas untuk pemuasan diri sendiri (lihat jawaban 1 di atas) bukan untuk menggenapkan kehendak dan Kerajaan-Nya di dunia ini.
Ketiga, pada poin “Ayat untuk Diingat.”, Warren mengungkapkan bahwa ayat Alkitab itu mengajarkan kebenaran dari bab yang ia bahas. Dari cara pikir ini saja, kita dapat menarik kesimpulan bahwa ayat Alkitab hanya dijadikan boneka yang dapat dipermainkan untuk mendukung ide-ide humanisnya (metode penafsiran eisegese Alkitab ini memang sangat disukai oleh banyak “pemimpin gereja” dari mayoritas golongan Injili, Pentakosta/Karismatik dan Katolik Roma ; tentang problematika penafsiran Alkitab, Anda bisa membaca makalah yang telah saya susun dengan judul, “Bagaimana Menafsirkan Alkitab Dengan Bertanggungjawab ?”). Hal ini sangat kentara dalam pengutipan ayat Alkitab yang ia jelaskan sendiri di dalam Apendiks 3 di dalam buku terjemahan bahasa Indonesia pada halaman 361-363. Lalu, lebih aneh lagi, Warren mengungkapkan, “Jika Anda benar-benar ingin meningkatkan kehidupan Anda, menghafal ayat bisa merupakan kebiasaan terpenting yang bisa Anda mulai. Anda bisa menyalin ayat-ayat ini dalam kartu-kartu kecil untuk Anda bawa, atau membeli Purpose Driven Life Scripture Keeper Plus.” Inilah mistisisme model baru di dalam keKristenan, yaitu menghafal ayat Alkitab sampai-sampai menyalin dan membawanya ke manapun manusia berada. Bukan berarti ini tidak boleh, tetapi tindakan ini sudah menyalahi satu prinsip Alkitab bahwa Roh Kudus bekerja di dalam hati umat pilihan-Nya untuk mengingatkan apa yang telah Kristus ajarkan dan lakukan, sehingga ketika umat pilihan-Nya memiliki keinginan untuk berbuat dosa, maka Roh Kudus mencerahkan pikiran mereka melalui ayat-ayat Alkitab dan manusia pilihan-Nya akan mematuhi suara pencerahan Roh Kudus ini. Kalau dengan menyalin ayat-ayat Alkitab bahkan membawa salinan itu berarti orang ini tidak percaya akan pekerjaan Roh Kudus yang mencerahkan pikiran seseorang atau orang ini ragu akan pekerjaan Roh Kudus yang bisa saja lupa mengingatkan orang Kristen, sehingga orang Kristen harus “berdikari” sendiri. Ini sudah menghina Roh Kudus. Tahukah Anda motivasi Warren dalam mengatakan ini ? Dari pernyataannya saja, dapat disimpulkan bahwa ia ingin produk-produknya laku di pasaran ke“Kristen”an. Kok bisa ? Perhatikan pernyataannya, “Anda bisa menyalin ayat-ayat ini dalam kartu-kartu kecil untuk Anda bawa, atau membeli Purpose Driven Life Scripture Keeper Plus.” Ujung-ujungnya adalah mendorong para pembaca untuk membeli produk-produknya yang lain supaya Warren mendapat untung sebanyak-banyaknya. Tidak heran, buku ini dikategorikan sebagai The #1 New York Times Bestseller dan terjual lebih dari 16 juta buku versi New York Times, Wall Street Journal dan Publisher’s Weekly. Satu hal yang perlu diingat oleh orang Kristen adalah tidak semua buku bestseller ala dunia benar-benar bermutu dan sesuai dengan Alkitab. Saya bertanya bahwa apakah berlian yang paling mahal itu bermutu atau tidak ? Pasti bermutu, tetapi hanya sedikit orang yang mampu membelinya, mengapa ? Karena mahal. Sedangkan yang tidak bermutu pasti mendapatkan market yang banyak dan harganya pasti murah. Jadi, pikir dan renungkan sendiri buku The Purpose Driven Life adalah barang bermutu atau tidak.

Kemudian, pada halaman 11, Warren mengungkapkan hal yang kelihatan Alkitabiah, tetapi jika diteliti sangat aneh. Perhatikan pernyataannya,
“Cara terbaik untuk menjelaskan tujuan Allah bagi kehidupan Anda adalah membiarkan Alkitab berbicara sendiri, jadi di dalam buku ini Alkitab dikutip secara luas, dengan menggunakan lebih dari seribu ayat yang berbeda dari 15 terjemahan dan parafrase bahasa Inggris. Saya menggunakan versi-versi berbeda tersebut untuk beberapa alasan penting, yang saya jelaskan dalam apendiks 3.” (Warren, 2005, p. 11)
“Apendiks 3
MENGAPA MEMAKAI BEGITU BANYAK TERJEMAHAN ?
Buku ini berisi hampir seribu kutipan dari Alkitab. Saya dengan sengaja menyelang-nyeling terjemahan-terjemahan Alkitab yang digunakan karena dua alasan penting. Pertama, tidak peduli seberapa indahnya sebuah terjemahan, toh ada keterbatasannya. Alkitab pada mulanya ditulis menggunakan 11.280 kata-kata Ibrani, Aram dan Yunani, tetapi terjemahan bahasa Inggrisnya menggunakan hanya sekitar 6.000 kata. Jelas, nuansa dan bayangan makna bisa hilang, jadi selalu berguna untuk membandingkan beberapa terjemahan.
Kedua, dan yang terlebih penting, ialah kenyataan bahwa kita seringkali kehilangan makna penuh dari ayat-ayat Alkitab yang umum, bukan karena penerjemahan yang buruk, tetapi hanya karena ayat-ayat tersebut sudah menjadi begitu umum ! ... Karena itu saya dengan sengaja menggunakan parafrase-parafrase guna membantu Anda melihat kebenaran Allah dengan cara yang baru dan segar... Teladan saya untuk hal ini adalah Yesus dan bagaimana Dia dan para rasul mengutip Perjanjian Lama. Mereka seringkali hanya mengutip sebuah frasa untuk menjelaskan sebuah pokok.” (Warren, 2005, p. 361)

Komentar saya :
Mungkin ketika kita membaca pernyataan-pernyataannya ini, Anda akan membenarkan pendapat Warren tentang konsepnya mengenai Alkitab yang memang diterjemahkan dari bahasa Ibrani, Aram dan Yunani dan terjemahan itu memiliki arti yang berbeda ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, bahkan Indonesia. Ini tidak salah. Tetapi benarkah motivasi Warren ingin agar Alkitab itu berbicara sendiri untuk menjelaskan tujuan Allah bagi kehidupan para pembacanya ? TIDAK. Mengapa ? Yang sebenarnya ingin dia katakan adalah membiarkan Alkitab berbicara sesuai dengan idenya, lalu idenya lah yang ia utarakan untuk menjelaskan tujuan yang katanya dari Allah bagi kehidupan para pembaca. Mengapa saya berani mengambil kesimpulan tersebut ? Mari kita perhatikan alur berpikirnya khususnya pada Apendiks 3.
Buku yang memuat beribu tafsiran ayat Alkitab itu memiliki dua indikasi, yaitu pertama, buku itu benar-benar sesuai dengan Alkitab, dan kedua, buku itu hanya ingin mencari ayat-ayat yang sesuai dengan ide sang penulis, sehingga ayat-ayat Alkitab yang dikutip mungkin saja kelihatan sinkron dengan ide penulis, tetapi jika diteliti lebih lanjut, ayat-ayat Alkitab tersebut dikutip tanpa memperhatikan konteks, bahasa Yunani, latar belakang, dan memperbandingkan dengan ayat-ayat Alkitab lainnya (baca Bab 2 di dalam makalah saya ini tentang bagaimana menafsirkan Alkitab dengan bertanggungjawab khusus pada poin 2.4). Saya lebih mengkategorikan buku The Purpose Driven Life ini sebagai buku kedua yaitu buku yang mengutip ayat-ayat Alkitab yang ribuan tanpa memperhatikan konteks, latar belakang, bahasa asli (Ibrani dan Yunani) dan kesesuaian dengan ayat-ayat Alkitab yang lainnya. Ingatlah, jangan mengira sebuah buku dengan ribuan bahkan jutaan ayat Alkitab adalah buku yang Alkitabiah, itu adalah anggapan yang konyol. Menggunakan berbagai terjemahan Alkitab untuk diperbandingkan itu tidak menjadi masalah dan tidak salah, tetapi yang menjadi masalah adalah apa motivasi dan tujuan si penafsir Alkitab menggunakan berbagai terjemahan Alkitab. Jika motivasi dan tujuannya beres, yaitu agar si penafsir Alkitab lebih mengerti maksud Firman Tuhan dengan lebih jelas, itu tidak menjadi masalah, tetapi jika sebaliknya, si penafsir Alkitab sengaja membandingkan terjemahan Alkitab untuk mencari terjemahan Alkitab yang lebih cocok dengan ide yang ia ingin utarakan, itu yang paling celaka.
Dari pernyataan Warren yang mengungkapkan, “kita seringkali kehilangan makna penuh dari ayat-ayat Alkitab yang umum, bukan karena penerjemahan yang buruk, tetapi hanya karena ayat-ayat tersebut sudah menjadi begitu umum ! ... Karena itu saya dengan sengaja menggunakan parafrase-parafrase guna membantu Anda melihat kebenaran Allah dengan cara yang baru dan segar.”, saya menemukan adanya tendensi Warren ingin mengarahkan para pembacanya untuk lebih mengerti isi Alkitab bagi hidup mereka, tetapi ia sebenarnya ingin agar para pembacanya untuk lebih mengerti isi hati Warren dalam menuliskan bukunya lalu mengutip ribuan ayat Alkitab supaya kelihatan sinkron dengan idenya Warren. Mari kita simak baik-baik pernyataan ini. Warren mengungkapkan bahwa kita seringkali kehilangan makna penuh dari ayat-ayat Alkitab yang umum, bukan karena ada terjemahan yang buruk, tetapi ayat-ayat tersebut menurutnya sudah menjadi begitu umum. Pernyataan ini sudah tidak bertanggungjawab di titik awal. Benarkah kita kehilangan makna asli dari ayat Alkitab karena ayat-ayat tersebut telah begitu umum ? TIDAK. Saya ambil contoh, ayat Alkitab yang begitu umum adalah Yohanes 3:16 yang mengajarkan, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Ayat Alkitab ini mungkin kelihatan begitu umum, tetapi bukan berarti karena terlalu umum menjadi tidak bermakna. Yang menjadi masalah ketika kita kehilangan makna asli dari ayat-ayat Alkitab adalah kita kurang bahkan cenderung malas untuk memperhatikan konteks ayat Alkitab, terjemahan-terjemahan Alkitab bahkan menyelidiki sampai bahasa asli Alkitab, yaitu Ibrani, Aram dan Yunani. Kalau kita kembali kepada Yohanes 3:16 tadi dan menelitinya, maka kita mendapatkan beberapa hal yang penting yang kurang diuraikan oleh banyak pemimpin gereja khususnya dari mayoritas kalangan Karismatik/Pentakosta/Injili, yaitu : Pertama, kata “kasih” atau “mengasihi” ini di dalam bahasa Yunani menggunakan kata agapaō yang berarti kasih yang tidak bersyarat. Di dalam bahasa Yunani, kata “kasih” diterjemahkan ke dalam empat pengertian yang berbeda, yaitu agape (kasih yang tidak bersyarat), philia (kasih persaudaraan), storge (kasih antara orangtua dan anak) dan eros (kasih birahi). Sedangkan di dalam bahasa Inggris, hanya dipakai satu istilah yaitu love dan bahasa Indonesia hanya memakai kata kasih. Kedua, kata “percaya kepada-Nya” di dalam Alkitab terjemahan King James Version diterjemahkan, “believeth in him” yang artinya percaya/mempercayakan diri di dalam-Nya (bukan “percaya kepada-Nya”, tetapi “percaya di dalam-Nya). Ketiga, kalau kita bertanya lebih lanjut siapakah orang percaya ini, kita akan kebingungan menjawabnya jika kita tidak memperhatikan konteks dan perikop seluruhnya di dalam Yohanes 3. Di dalam Yohanes 3:3, Tuhan Yesus mengajarkan hal yang sangat penting yang nantinya menentukan pengajaran-Nya di dalam ayat selanjutnya, yaitu, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Jadi, orang yang percaya di dalam-Nya bukan orang yang dengan kemampuannya sendiri mempercayai-Nya (seperti pandangan kaum Injili yang cenderung Arminian), tetapi orang-orang pilihan-Nya yang telah dilahirkan kembali oleh Allah melalui pekerjaan Roh Kudus (pandangan theologia Reformed). Mengapa bisa demikian ? Coba kita pikirkan sejenak. Di dalam ayat 16, Tuhan Yesus menjanjikan barangsiapa yang percaya di dalam-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal, lalu kalau kita menafsirkan “barangsiapa yang percaya di dalam-Nya” ini adalah orang yang dengan kemampuannya sendiri mempercayai-Nya, lalu mengapa di dalam ayat 3, Ia perlu mengajar Nikodemus tentang orang yang dilahirkan kembali baru dapat melihat Kerajaan Allah. Apakah seorang yang dengan kemampuannya sendiri adalah orang yang dilahirkan kembali ? TIDAK. Orang-orang yang telah dipilih-Nya dari semula dapat meresponi panggilan untuk percaya di dalam Kristus, setelah Roh Kudus melahirbarukan mereka dan memimpin mereka untuk percaya di dalam-Nya. Tanpa anugerah Allah melalui pimpinan Roh Kudus, tak mungkin manusia dengan kemampuan sendiri yang sudah dicemari oleh dosa bisa mempercayai Kristus yang benar (1 Kor. 12:3), padahal kita saja kalau memilih kepiting dan durian saja bisa dan bahkan sering salah, yang kita lihat dari luar itu besar dan padat, ternyata dalamnya banyak kosongnya dan sedikit dagingnya (ilustrasi ini dikembangkan dari penjelasan dan ilustrasi Pdt. Dr. Stephen Tong).
Kemudian, tujuan dari perbandingan terjemahan ala Warren ternyata diungkapkannya sendiri dengan jelas yaitu bukan untuk menemukan arti yang lebih mendekati bahasa aslinya, tetapi untuk “melihat kebenaran Allah dengan cara yang baru dan segar”. Jadi, misalnya kalau kita kembali kepada Yohanes 3:16, maka mungkin sekali Warren dengan theologia Injili/Arminiannya dan gayanya yang baru dan segar menafsirkan ayat ini dan mengajarkan bahwa orang yang percaya di dalam-Nya adalah kita dengan kemampuan sendiri harus mempercayai-Nya (kalau tidak, Ia tidak akan menebus dan menyelamatkan kita). Inilah cara tafsiran yang menurut Warren baru dan segar, tetapi sayangnya ngawur di titik awal. Dengan kata lain, penggunaan “dengan cara yang baru dan segar” mengindikasikan bahwa Warren percaya penuh akan adanya “wahyu-wahyu Allah” lagi di zaman sekarang selain Alkitab, sehingga ia perlu menafsirkan Alkitab dengan cara yang baru dan segar yang berbeda dari para penafsir Alkitab terdahulu (pandangan Neo-Orthodoks dari Karl Barth, dll). Yang lebih parah lagi, Warren berani mengungkapkan hal yang sangat aneh, “Teladan saya untuk hal ini adalah Yesus dan bagaimana Dia dan para rasul mengutip Perjanjian Lama. Mereka seringkali hanya mengutip sebuah frasa untuk menjelaskan sebuah pokok.” Inilah gaya Warren yang ingin menyamai (dengan topeng “meneladani”) Tuhan Allah di dalam menafsirkan Kitab Suci sambil membuktikan bahwa Warren tidak mengerti Alkitab secara utuh. Tuhan Yesus mengutip ayat-ayat di dalam Perjanjian Lama untuk ditafsirkan ulang menurut-Nya, itu karena Ia adalah Tuhan atas hukum dan Ia sendiri Pembuat Hukum Taurat dan yang mengwahyukan Perjanjian Lama, sehingga Ia sangat berhak menafsirkan ulang ayat-ayat Perjanjian Lama yang telah diselewengkan oleh orang-orang Yahudi dan ahli-ahli Taurat pada waktu itu. Demikian pula halnya dengan para rasul-Nya yang mengikuti teladan Kristus dengan mengutip ayat-ayat Perjanjian Lama, karena memang Perjanjian Lama berpusatkan pada kedatangan Kristus/Mesias. Tetapi, siapakah Rick Warren ? Kristus ? Bukan ! Salah satu rasul Kristus ? Juga bukan, tetapi berani “meneladani” Kristus dalam menafsirkan ulang ayat-ayat Alkitab. Kalau Kristus dan para rasul-Nya memiliki alasan yang kuat dalam menafsirkan ayat-ayat Perjanjian Lama yang berpusatkan pada Kristus dan karya-Nya, maka dengan alasan dan dasar apakah Warren menafsirkan ulang ayat-ayat Alkitab dengan gaya yang baru dan segar ? Ingin menunjukkan bahwa ayat-ayat Alkitab yang dikutipnya “berpusatkan” kepada ide di balik buku The Purpose Driven Lifenya ?! Itu penghujatan terhadap Kristus dan Alkitab !

ANALYSIS PRAYER OF JABEZ (Ev. Jeffrey Lim, M.Div.-Cand.)

Analysis Prayer of Jabez

oleh : Ev. Jeffrey Lim, M.Div. (Cand.)
(mahasiswa Institut Reformed, Jakarta dan pelayan Tuhan di Mimbar Reformed Injili Indonesia—MRII Taipei dan Taichung, Taiwan)



Halo saudara-saudari di dalam Kristus! Apabila kita ikut persekutuan doa dan kemudian ada jemaat yang berdoa , “Tuhan, berkati gereja Tuhan supaya banyak orang boleh dibangunkan kerohaniannya dan berkati hamba Tuhan,”mungkin kita berkata “Ini doa yang rohani.” Kemudian kalau di persekutuan doa ada jemaat yang berdoa, “Tuhan, kami berdoa untuk penginjilan di Australia dan di seluruh dunia supaya banyak orang mengenal Tuhan Yesus Kristus dan diselamatkan,”mungkin anda berkata, “Inilah doa yang rohani dan sesuai dengan kehendak Tuhan.”Bagaimana kalau ada orang yang berdoa, “Tuhan, kiranya Engkau memberkati aku berlimpah-limpah dan memperluas daerahku,”mungkin anda berkata dalam hati,”Ini adalah doa yang egois sebab berpusat pada diri sendiri.”Apakah doa ini egois ? Apakah egois untuk minta berkat kepada Tuhan? Bukankah Yakub mencari berkat Allah dan berkata, “Saya tidak melepaskan Kamu jika Kamu tidak memberkati aku” (Kejadian 32:26) ? Bolehkah kita meminta berkat Allah yang berlimpah-limpah kepada diri kita ?

Dalam kesempatan ini, saya mau membahas mengenai Doa Yabes. Doa ini unik, mengapa ?
1. Banyak orang yang mempopulerkan doa Yabes ini di mana-mana. Di Indonesia, ada gerakan yang diadakan oleh WorldTeach Indonesia (WorldTeach adalah organisasi dunia yang salah satu ajarannya mengajarkan doa Yabes), gerakan ini cukup lumayan besar dan pelopor gerakan ini adalah seorang pendeta yang juga mempopulerkan Evangelism Explosion (EE) dimana EE ini meluas di banyak kota di Indonesia dan menjadi gerakan penginjilan besar yang dipakai Tuhan. Pendeta ini terus mempopulerkan dan menekankan Doa Yabes di dalam pelayanannya.
2. Banyak buku yang ditulis mengenai doa Yabes. Bagi anda yang berada di Australia dan gemar membaca buku rohani, pasti tahu buku “Prayer of Jabez” yang sekarang sedang populer.
3. Doa Yabes ini unik dan revolusionari karena doanya yang meminta berkat. Seringkali banyak orang yang menganut teologi sukses (prosperity gospel) yang mengajarkan hal ini. Bagaimana pandangan Presbyterian ? Bagaimana orang Reformed menganalisa gerakan ini dari kacamata Firman Tuhan ?
4. Yang juga perlu kita perhatikan yaitu doa ini hanya terdiri dari dua ayat namun dari dua ayat ini dibangun teologi yang bisa dijadikan satu buku dan dijadikan salah satu teologi mengenai prinsip doa orang Kristen. Dua ayat ini memuat informasi yang sangat sedikit. Bagaimana prinsip exegesis (penggalian Alkitab) dan hermeneutic (penafsiran Alkitab) terhadap dua ayat ini ? Apakah ini biblical ? Apakah sesuai dengan metode interpretasi yang baik ?
5. Mungkin anda selama ini belum pernah membaca dua ayat ini karena tersembunyi di dalam kitab Tawarikh yang banyak membahas sejarah dan juga silsilah, namun ayat ini juga dikothbahkan oleh pendeta ternama dari Reformed Baptist, Charles Haddon Spurgeon. Siapakah yang tidak mengenal dia sebagai pendeta yang luar biasa dan pengaruhnya bagi Kekristenan ?

Sebelum kita membahas analisa mengenai doa Yabes, mari kita lihat dua ayat yang menjelaskan doa ini yaitu dari 1 Tawarikh 4:9-10, “Yabes lebih dimuliakan dari pada saudara-saudaranya; nama Yabes itu diberi ibunya kepadanya sebab katanya: “Aku telah melahirkan dia dengan kesakitan.” Yabes berseru kepada Allah Israel, katanya : "Kiranya Engkau memberkati aku berlimpah-limpah dan memperluas daerahku, dan kiranya tanganMu menyertai aku, dan melindungi aku daripada malapetaka, sehingga kesakitan tidak menimpa aku !" Dan Allah mengabulkan permintaannya itu.” Inilah doa Yabes yang luar biasa di dalam Alkitab. Doa ini tercatat di dalam Alkitab dan ini perlu kita perhatikan. Doa pertama di dalam doa ini adalah, “Kiranya Engkau memberkati aku berlimpah-limpah.” Luar biasa ! Saya cukup kagum dan tertegun dengan doa pertama Yabes karena dia meminta berkat Tuhan dengan berseru. Bukan sekedar minta berkat namun meminta berkat yang berlimpah-limpah (abundance). Apakah latar belakangnya dia meminta berkat ? Dia adalah seorang yang bernama Yabes (sakit) dan di dalam Alkitab, nama sering mendeskripsikan hidup seseorang seperti Yakub (penipu), Yesus (Allah menyelamatkan), Petrus (batu karang), dan lain-lain. Dan dia yang sakit-sakitan namun berseru kepada Tuhan langit dan bumi supaya dia diberi berkat. Doa keduanya berkaitan dengan doa pertamanya yaitu : “Perluaslah daerahku.

Seringkali kaum Presbyterian agak anti dengan kata “berkat” karena kata ini dikaitkan dengan “teologi sukses” (prosperity gospel) yang diajarkan banyak gereja pada zaman ini. Teologi sukses mengajarkan bahwa Tuhan ingin memberkati kita dan membuat kita sukses. Bukankah kita anak Raja ? dan apakah anak raja itu miskin ? Dalam nama Tuhan Yesus, anda akan sukses dan kaya. Ini adalah ajaran yang salah. Namun pertanyaan pertama yang perlu direnungkan adalah :”Bolehkah kita meminta berkat kepada Tuhan ?” Sebelum kita menjawab kita harus tahu bahwa berkat itu definisinya adalah pemberian Allah (gift of God). Bolehkah kita meminta pemberian Tuhan (berkat). Kalau anda mengatakan tidak, tanyakan pada diri sendiri apa yang anda doakan buat keluarga anda, gereja anda, dan juga diri anda sendiri ! Bukankah kita sering meminta berkat, baik kesehatan, pemeliharaan, kepintaran, rohani, pasangan hidup, dan lain-lain ? Namun kita selidiki lagi yaitu apakah benar jika kita berdoa meminta berkat ? Apakah ini sesuai dengan Firman Tuhan ?

Mari kita lihat karakter Tuhan kita di dalam Firman Tuhan.
- “Tuhan, Tuhan Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasihNya dan setiaNya” (Keluaran 34:5-6)
- “Tuhan menyinari engkau dengan wajahNya dan memberi engkau kasih karunia; Tuhan menghadapkan wajahNya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera. Demikianlah harus mereka meletakkan namaKu atas orang Israel, maka Aku akan memberkati mereka.” (Bilangan 6:22-27 )
- “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga” (Ef 1:3)
Masih banyak ayat yang memberitahukan kita bahwa Allah adalah sumber berkat dan Ia ingin memberkati umatNya.

Di dalam Reformed Theology dijelaskan bahwa Tuhan memberikan anugerahNya kepada manusia dalam anugerah umum (common grace) dan bagi orang pilihan yaitu anugerah khusus (special grace). Anugerah itu pemberian Tuhan bagi manusia yang tidak layak mendapatkannya. Selain itu ada ayat-ayat dimana Tuhan sendiri mengajarkan kepada kita untuk meminta kepada Tuhan. (Mat 7:7-11 ; Yoh 15:7, dll) Sampai point ini kita simpulkan, bolehkah kita meminta berkat pada Tuhan ? Boleh ! Ya dan Amin !

Namun pengertian Firman Tuhan ini tidak hanya ini. Kita harus melihat perpektif Firman Tuhan dari seluruh Firman Tuhan agar kita mengerti kehendak Tuhan. Kita boleh meminta berkat kepada Tuhan, namun dalam perpektif apakah ? Sampai sini saya melihat ada kelemahan di dalam pembahasan Doa Yabes di dalam buku Prayer of Jabez, yaitu penulis tidak melihat dari perpektif total. Saya pribadi sebelum menulis artikel ini mengikuti retreat doa yang diadakan oleh pendeta yang saya sebut di artikel itu mengenai doa Yabes selama dua hari penuh. Kebenaran yang saya dapat yaitu kita boleh meminta berkat, namun ada perpektif lain yang sangat kurang dibahas sehingga menimbulkan kepincangan.

Prinsip mengerti kebenaran Firman Tuhan itu harus secara menyeluruh dan melihat semua prinsip totalnya. Bolehkah kita mengenal Allah yang Maha kasih dan menyelamatkan manusia dan menekankah hal itu tanpa menekankan keadilan Allah, kesucian Allah dan Allah yang murka akan dosa serta dosa manusia ? Bolehkah kita menekankan kasih karunia tanpa lebih dahulu mempunyai pengertian akan Taurat Tuhan?

Prinsip yang sangat kurang dibahas namun yang sangat penting adalah “Suffering Theology and Cross Theology” Teologi penderitaan dan teologi salib. Berkat harus dilihat dari penderitaan dan salib. Apa yang Tuhan Yesus ajarkan dalam hal mengikut Tuhan Yesus sebagai muridNya ? “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Mark 8:34) Apakah artinya menyangkal diri ? Apakah kita menyangkal keberadaan diri kita ? Bukan! Maksud dari menyangkal diri adalah bahwa kita menyangkal keinginan daging kita. Diri kita mempunyai keinginan daging yang harus kita sangkal. Natur dosa yang harus kita sangkal sebab kita sudah mati terhadap dosa dan hidup untuk Kristus.

Kita boleh meminta berkat. Ketika kita meminta berkat itu kita mempunyai keinginan, bukan ? Keinginan yang bagaimana ? Ini perlu dibahas dan jelas berkaitan dengan menyangkal diri. Yang diajarkan dalam doa Yabez yang saya dengar bahwa meminta berkat itu untuk kemuliaan nama Tuhan sendiri. Ini tentunya benar. Yaitu meminta berkat untuk kemuliaan nama Tuhan. Namun pertanyaannya yaitu bagaimana memuliakan Tuhan ? Tanyalah kepada diri sendiri apakah keinginan saya benar-benar untuk memuliakan Tuhan ? Ataukah itu keinginan daging ? Sebab saya rasa perpektif keinginan akan berkat itu perlu dijelaskan lagi. Apakah dalam hal jasmani dan materi ? Apakah Tuhan ingin kita berlimpah dalam hal jasmani ? Ataukah yang terutama dalam hal rohani ? Saya percaya bahwa yang terutama itu hal rohani.
1. Kita belajar dari sejarah bahwa manusia ingin berkat namun tidak ingin sumber berkat yaitu Tuhan sendiri. Cobalah belajar dari bangsa Israel! Bangsa Israel seringkali ingin makmur dan berkat namun tidak ingin Tuhan. Bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir dan mereka bersukacita namun mereka bersungut-sungut dan ingin kembali ke Mesir karena penderitaan dan ujian yang Tuhan berikan. Mereka merasa di Mesir lebih makmur daripada penyertaan Tuhan. (Keluaran 15, 17, dll). Bangsa Israel juga mendirikan anak lembu emas sebagai “allah” yang memimpin bangsa Israel keluar dari mesir. Selidikilah seluruh Alkitab dan di sana anda akan menemukan bahwa keinginan manusia akan berkat dan bukan sumber berkat. Kedua, kita juga belajar dari agama-agama bahwa agama itu manusia mencari berkat namun bukan Sumber berkat itu. Sebab Alkitab berkata tidak seorangpun yang mencari Allah (Mazmur 53). Sebab keinginan manusia adalah sia-sia (Pengkhotbah).
2. Tuhan Yesus juga mengajarkan kita untuk memikul salib dan mengikut Dia. Mari belajar dari doa Tuhan Yesus. Pertama doanya “Bapa kami yang di dalam surga, dikuduskanlah namamu. Datanglah kerajaanmu, jadilah kehendakMu di bumi seperti di surga” (Mat 6:9-13). Perhatikanlah bahwa kehendak Tuhanlah yang utama dalam doa Tuhan Yesus. Perhatikan juga dalam doa penderitaan Tuhan Yesus di Getsemani “Ya BapaKu jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari padaKu, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau Kehendaki” (Mat 26:39 ; Mark 14:36 ; Lukas 22:42). Lihatlah doanya yang berpusat pada Allah dan KehendakNya! Lihatlah teladan Dia yang menyangkal diriNya bahkan mati di kayu salib! Lihatlah diriNya yang memikul salib dan dosa dunia! Apakah Tuhan Yesus meminta berkat Allah dalam hal materi dan kenikmatan dunia ? Cobalah baca Yesaya 53 dan kita bisa menangis dengan tersedu-sedu : “Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan Tuhan dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknya pun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupa pun tidak sehingga kita menginginkannya. Ia dihina dan dihindari orang seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah dan dipukul dan ditindas Allah; Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh” (Yes 53:2-5)
Lihatlah orang yang mengikut Tuhan Yesus ! Lihatlah nabi Yesaya, Yeremia, Paulus, dan murid-murid Tuhan Yesus, bagaimana mereka menyangkal diri dan memikul salib ! Lihatlah apa doa Paulus !

Saya hanya menyimpulkan mengenai perpektif berkat dalam segi salib dan penderitaan. Dalam segi hermeneutic dan exegesis, coba anda pikirkan sendiri dengan kritis sesuai dengan prinsip penafsiran dan penggalian Firman. Sebelum saya tutup artikel ini saya mengemukakan pandangan pribadi saya mengenai Doa Yabez dan gerakan yang mengajarkan Doa Yabez:
1. Doa Yabez mengenai meminta berkat itu Alkitabiah
2. Permintaan kepada Tuhan harus dilihat dari perpektif mengikuti Tuhan yaitu sangkal diri, pikul salib dan ikut Kristus.
3. Ada bahaya besar bagi gerakan yang mengajarkan doa Yabez ini bila hanya memfokuskan diri pada doa yang terdiri dari dua ayat ini dan bukan pada seluruh Alkitab. Bahaya besar bisa terjadi karena beberapa hal yaitu :
a. teologi sukses sudah menjadi ajaran yang menggerogoti Kekristenan
b. keinginan dasar manusia yang mengingini berkat dan bukan sumber berkat
c. Bagi orang Chinese, mayoritas filsafat hidupnya adalah materialisme dan ajaran ini tentunya mudah masuk. Apakah Tuhan dianggap sebagai TUHAN atau seperti dukun atau dewa-dewa yang memberikan berkat ?
4. Anda perlu mendoakan gerakan ini dan menanggapi ajaran doa Yabes dari perpektif yang benar

Kiranya tulisan ini bisa menjadi berkat bagi saudara-saudari di dalam Kristus. Tuhan memberkatiSoli Deo Gloria
Jeffrey Lim
email :
limpingen@gmail.com

Bibliography :
- Prayer of Jabez by Bruce Wilkinson
- Seminar Doa “Prayer of Jabez” by Pdt. Didi Tirtowidjojo, M.Th.
- Geneva Study Bible by R.C Sproul, dkk
- Alkitab LAI.



Sumber : http://limpingen.blogspot.com