11 October 2007

Resensi Buku-25 : PENDERITAAN YESUS KRISTUS (Rev. DR. JOHN S. PIPER)

...Dapatkan segera...
Buku
THE PASSION OF JESUS CHRIST (PENDERITAAN YESUS KRISTUS)

oleh : Rev. DR. JOHN S. PIPER

Penerbit : Momentum Christian Literature (Fine Book Selection), 2005

Penerjemah : Stevy Tilaar.





Pertanyaan-pertanyaan terpenting yang bisa diajukan manusia adalah : Mengapa Yesus Kristus disalibkan ? Mengapa Dia mengalami penderitaan yang begitu hebat ? Apa kaitan semuanya ini dengan saya ? Dan yang terakhir, Siapa yang mengutus-Nya untuk mati di dunia ini ? Jawaban untuk pertanyaan terakhir ini adalah Allah sendiri. Yesus adalah Anak Allah. Penderitaan yang dilalui-Nya tiada taranya, tetapi seluruh berita di dalam Alkitab membawa kita kepada jawaban ini : Allah yang mengutus-Nya untuk mati.

Mengapa Kristus harus menderita dan mati ? Isu sentral dari kematian Kristus bukanlah mengenai sebabnya, melainkan makna dari penderitaan dan kematian-Nya—makna yang diberikan oleh Allah. Inilah inti dari buku yang Anda sedang baca sekarang. John Piper telah mengumpulkan dari Perjanjian Baru lima puluh alasan mengapa Yesus datang untuk mati. Bukan lima puluh sebab, melainkan lima puluh tujuan—untuk menjawab pertanyaan terpenting yang dihadapi setiap orang percaya : Apa yang diperoleh Allah bagi orang-orang berdosa dengan mengutus Anak-Nya untuk mati ?






Profil Rev. DR. JOHN S. PIPER:
Rev. DR. JOHN STEPHEN PIPER adalah Pendeta Senior di Bethlehem Baptist Church dan seorang penulis yang sangat produktif dari perpektif Calvinis. Piper lahir di Chattanooga, Tennessee dari Bill dan Ruth Piper pada tanggal 11 Januari 1946.
Di
Wheaton College (1964–1968), John mengambil mata kuliah utama di dalam bidang Literature dan mata kuliah lain di bidang Filsafat. Mempelajari Romantic Literature dengan Clyde mendorong sisi puitis dari naturnya dan sekarang beliau sering menulis puisi-puisi untuk merayakan saat-saat khusus keluarga sebaik menggubah puisi-cerita (berdasarkan kehidupan dari watak Alkitab) untuk jemaatnya selama empat minggu Adven setiap tahunnya. Di Wheaton, John juga bertemu dengan Noël Henry yang dinikahinya pada tahun 1968.
Beliau menyelesaikan gelar Bachelor of Divinity (B.D.) di
Fuller Theological Seminary di Pasadena, California pada tahun 1968-1971. John melakukan studi doktoralnya di dalam bidang Perjanjian Baru di University of Munich, Munich, Jerman Barat pada tahun 1971-1974). Disertasinya, Love Your Enemies, diterbitkan oleh Cambridge University Press dan Baker Book House. Pada penyelesaian doktoralnya, beliau pergi untuk mengajar studi Alkitab di Bethel College di St. Paul, Minnesota selama enam tahun (1974-1980).
Pada tahun
1980, John menjadi Pendeta Senior di Bethlehem Baptist Church di Minneapolis, Minnesota di mana beliau telah melayani sejak itu. John juga seorang kontributor pada Majalah WORLD. John dan Noël (istrinya) memiliki empat anak laki-laki, seorang anak perempuan dan tiga orang cucu.

04 October 2007

Matius 4:12-17 : ESSENCE OF CALLING, SUFFERING AND KERYGMA-4

Ringkasan Khotbah : 22 Agustus 2004

The Essence of Calling, Suffering & Kerygma (4)

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 4: 12-17


Kita telah memahami bahwa konsep panggilan Tuhan berbeda dengan dunia dan merupakan suatu anugerah kalau Tuhan perkenankan kita turut menderita bersama-sama dengan Dia. Namun penderitaan yang kita alami tersebut bukanlah penderitaan yang seperti dunia pikir, yakni menderita yang tidak ada pahalanya. Tidak! Penderitaan yang dari Tuhan tersebut mempunyai kuasa rohani, yakni kuasa yang dapat mengubahkan hidup seseorang dari gelap menuju kepada terang. Alkitab mencatat, sejak waktu itulah Yesus memberitakan: “Bertobatlah sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!“ (ay. 17), hal ini menunjukkan satu hal, yakni “sejak waktu itu“ adalah kairos yang menjadi titik putar yang membedakan antara waktu sebelumnya dan sesudahnya berarti “sejak waktu itu“ ada perubahan signifikan yang terjadi di dalam sejarah pekerjaan Tuhan.
Kalau kita hanya menjalani hidup sekedar rutinitas maka kita akan melewatkan suatu momen-momen yang sifatnya kairos, yakni sejak waktu itu menjadi momen yang sangat penting; ingat, momen itu tidak akan pernah terulang kembali. Sudahkah kita menyadari momen penting dan bersejarah yang terjadi dalam hidup kita? Momen penting apa yang menjadi sejarah di dalam hidup kita? Banyak momen penting dalam hidup kita namun momen terpenting yang menjadi kairos, yakni momen dimana Tuhan memanggil kita untuk bertobat dari gelap menuju kepada terang. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (2Tim. 3:16). Puji Tuhan, Dia yang adalah Raja alam semesta masih mengingat kita, manusia berdosa yang seharusnya dibuang ini untuk turut ambil bagian dalam kerajaan-Nya.
Kristus memulai pelayanan-Nya secara aktif di dunia pada saat yang tepat, yakni usia 30 tahun. Menurut tradisi Yahudi, seseorang dianggap dewasa ketika ia berusia 30 tahun. Kini, konsep kedewasaan telah terdegradasi, usia 17 tahun telah dianggap sebagai usia dewasa. Memang secara usia, ia cukup matang namun tidak demikian secara pengalaman. Usia matang ditambah dengan pengalaman yang cukup barulah ia dapat dikatakan dewasa karena hal itu akan membentuk pola berpikir yang menuju pada realita. Karena kalau tidak demikian ia hanya akan menjadi seorang yang idealis, orang hanya tahu konsep bagus tapi tidak demikian ketika konsep itu diterapkan. Hari ini di dunia modern, banyak kita jumpai anak-anak kecil yang sudah dewasa. Anak-anak tersebut dipaksa dewasa sebelum waktunya, anak dipacu sedemikian rupa untuk berprestasi setinggi mungkin. Para orang tua akan sangat bangga kalau pada usia dini anaknya bersekolah pada jenjang tinggi, usia sekolah dasar tapi mereka sudah masuk universitas. Secara ilmu, si anak mampu tetapi di sisi lain, pertumbuhan moralnya tidak sesuai dengan usianya karena lingkungan pergaulannya tidak sesuai dengan usianya.
Kalau kita tidak tahu bagaimana menangkap momen dengan tepat maka itu menjadi penyebab kehancuran. Ingat, sejarah terus berjalan tetapi momen hanya tiba satu kali di sepanjang sejarah perjalanan hidup kita; momen itu tidak akan pernah kembali lagi. Menyadari suatu kejadian sebagai momen yang bersifat kairos, bukanlah hal yang mudah. Kita harus mengkaitkan setiap momen dalam rencana kekekalan Allah karena itu diperlukan kedewasaan rohani sehingga cara pikir kita tidak dikendalikan oleh dunia. Kita harus kembali pada Firman yang menjadi dasar untuk kita menerapkan semua ide pemikiran kita ke dunia masyarakat dengan bijaksana yang dari Tuhan. Hendaklah Firman Tuhan itu menjadi kompas hidup kita dengan demikian kita tidak salah dalam mengambil keputusan. Keputusan yang diambil dari diri sendiri tidaklah sah karena diri bukan penentu kebenaran dan diri bukanlah kebenaran maka keputusan yang ia ambil pastilah hanyalah yang menguntungkan dirinya saja dan itu pasti mengandung unsur nafsu dan segala macam kepentingan pribadi akan mempengaruhi keputusannya. Orang tidak menyadari keputusan yang dikuasai oleh dosa tersebut justru akan menghancurkan diri sendiri. Kembalinya manusia pada Kristus sang kebenaran sejati merupakan momen yang sangat penting, itulah sebabnya berita utama yang Yesus wartakan adalah supaya manusia kembali pada konsep utama, yaitu “Bertobatlah sebab Kerajaan Sorga sudah dekat“. Berita yang sama diteriakkan juga oleh Yohanes Pembaptis sebelumnya yang memulai pelayanan ketika ia berusia 30 tahun. Saat terindah dalam hidup kita adalah pada saat Tuhan memanggil kita untuk bertobat. Bertobat bukan hanya sekedar menyesal tapi berbalik arah dari hidup yang gelap menuju kepada terang dan tidak melakukan hal yang sama lagi. Hidup yang tanpa pertobatan sangatlah hampa, semua yang kita kerjakan hanyalah sia-sia karena semua akan berakhir dengan kehancuran. Satu-satunya cara agar orang keluar dari dosa maka ia harus menyadari bahwa dirinya adalah orang berdosa. Bagaimana dengan kita, apakah kita sudah menyadari momen dimana Tuhan memanggil kita?
“Sejak waktu itu...“ kalau belum pernah kita alami maka itu berarti belum ada perubahan sedikitpun dalam hidup kita. “Sejak waktu itu...“ yaitu sejak Tuhan memanggil seharusnya merubah hidup kita secara esensial. Adalah anugerah kalau Tuhan memanggil kita untuk hidup dalam kebenaran karena tidak semua orang mau kembali pada kebenaran. Manusia telah jatuh ke dalam dosa sehingga mempunyai pola pikir yang rasionalis rasionalis humanis. Bayangkan, seandainya kita menolak panggilan-Nya ketika momen itu datang, maka apa jadinya hidup kita, semua berlalu dengan sia-sia. Bagaimana dengan anda? Apakah momen “sejak waktu itu...“ sudah merubah hidup kita? Inilah teriakan Tuhan Yesus: “Bertobatlah sebab Kerajaan Sorga sudah dekat“. Konsep ini bukan hanya sekedar teori tetapi menjadi titik yang dapat merubah hidup kita, yaitu hidup kekal bersama Tuhan.


I. Waktu yang Tanpa Syarat
Orang pasti menginginkan semua hal yang baik dan indah dalam hidupnya terjadi “sejak waktu itu“, yaitu sejak kita menetapkan momen. Setiap orang pasti menginginkan momen pertobatannya menjadi momen yang terindah dalam hidupnya namun Alkitab menegaskan momen indah belum tentu kita dapati. Kita mungkin bisa mengalami momen surgawi tetapi kemungkinan juga tidak. Momen surgawi yang indah itu mungkin Tuhan perkenankan untuk kita lewati tetapi mungkin juga tidak. Pengalaman yang dialami Tuhan Yesus justru berbeda. Pengalaman pertama Kristus melayani, “sejak waktu itu“ adalah sejak yang tidak kondisional, semua yang diharapkan paling indah tidak terjadi. Kristus harus memulai melayani di sebuah desa kecil, sebuah tempat yang jauh dari Yerusalem, tempat yang nantinya menjadi pusat pemberitaan-Nya.
Hendaklah kita mencontoh teladan Kristus yang senantiasa bersiap sedia memberitakan Firman baik atau tidak baik waktunya. Pelayanan pekerjaan Tuhan tidak tergantung situasi dan kondisi baik atau tidak baik karena Tuhan mungkin justru mau memakai kita di dalam situasi yang paling sulit. Kristus taat mutlak pada Bapa itulah sebabnya dalam kondisi yang secara logika manusia tidak mungkin, unconditional, Dia tetap melayani; dalam hal ini tidak ada syarat, batasan maupun pertimbangan duniawi apapun. Di dunia yang kacau balau khususnya di Indonesia inilah waktunya bagi kita untuk memberitakan kebenaran bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya Juruselamat pada dunia.
Pimpinan Tuhan terkadang sulit untuk kita mengerti namun ketika kita taat mutlak pada-Nya maka kita akan merasakan pimpinan Tuhan sangatlah indah. Rancangan Tuhan sangat jauh berbeda dengan rancangan manusia; kita mungkin merasa rencana Tuhan tidak sesuai dengan logika namun percayalah rancangan-Nya adalah yang terindah. Kapankah terakhir anda mengerjakan pekerjaan Tuhan? Apakah kita mengerjakan pekerjaan Tuhan hanya ketika situasi dan kondisi baik? Ingat, panggilan Tuhan dalam hidup kita adalah kairos, bukan tergantung baik atau tidak baik waktunya dan ketika Tuhan memanggil kita untuk melayani sangatlah mungkin kalau Tuhan memanggil kita menderita.


II. Kuasa Rohani
Panggilan Tuhan tidak meniadakan penderitaan dan kesulitan kita. Hanya satu pertanyaan apakah kita mau taat panggilan-Nya dan dipakai menjadi alat di tangan-Nya? Merupakan suatu anugerah besar bagi kita kalau Tuhan, Raja semesta alam memakai kita menjadi alat-Nya untuk mengerjakan pekerjaan-Nya yang besar. Karena itu jangan biarkan hidupmu dikendalikan oleh manusia. Jangan samakan kesulitan dan penderitaan yang kita alami karena nama-Nya itu sebagai suatu kecelakaan. Ketika Tuhan memperkenankan kita mengalami penderitaan apakah itu berarti kecelakaan bagi kita? Tidak! Sejauh penderitaan itu adalah di dalam panggilan dan perkenan Allah maka Allah turut bertanggung jawab di dalamnya. Tuhan berjanji kesulitan yang kita alami tidak akan melebihi kekuatan kita karena Tuhan pasti menjagai kita. Tuhan mengijinkan iblis untuk mencobai Ayub namun Tuhan memberikan batasan, yaitu tidak boleh mengambil nyawanya. Tuhan tahu sampai dimana kekuatan setiap anak-anak-Nya untuk dapat menanggung semua penderitaan. Hari ini banyak orang yang beranggapan salah, yaitu seseorang yang dapat dan berhasil melewati penderitaan berarti ia mempunyai iman yang besar. Salah! Justru kalau Tuhan memperkenankan kita mengalami penderitaan yang lebih besar buat Tuhan dan kita dapat bertahan seperti Ayub, hal itu membuktikan bahwa kita mempunyai iman yang besar.
Kesaksian mereka yang mampu bertahan sampai akhir dalam penderitaan dan tidak bergoyah imannya inilah yang dapat menguatkan dan membangun iman orang lain. Bukan kesaksian sebaliknya, anak Tuhan pasti hidup lancar dan sukses; kesaksian seperti ini justru tidak membangun iman karena secara tidak langsung ia mengatakan bahwa orang yang mengalami penderitaan apakah itu berarti ia tidak mempunyai iman? Kristus harus menderita ketika Ia dipanggil untuk melakukan tugas yang diberikan oleh Bapa-Nya begitu juga dengan Paulus dan murid-murid lain di sepanjang sejarah jaman. Orang seperti inilah yang berhak memberikan kesaksian. Tuhan tidak janjikan hidup kita akan senang dan lancar ketika Ia memanggil kita namun Tuhan janjikan hidup kuat, ujian dan bahaya disertai-Nya. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu; dan pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya (1Kor. 10:13).
Penderitaan bukanlah akhir dari segala sesuatu; penderitaan justru akan membuat kita mempunyai kuasa kerygma yang besar. Mereka yang dapat melewati penderitaan itulah yang justru Tuhan pakai untuk memberitakan kuasa Firman dan dapat menyadarkan orang akan dosa untuk kembali bertobat. Dunia sangat membenci orang demikian itulah sebabnya kedatangan John Sung ke Cina untuk mengabarkan Injil dianggap sebagai pengacau oleh pemerintah setempat dan yang membuat para prajurit terheran-heran adalah sikap yang ditunjukkan oleh orang-orang yang bertobat; mereka mengaku diri bahwa mereka orang berdosa dan hal ini mereka lakukan dengan tanpa paksaan. Kalau bukan kuasa dari Tuhan maka kuasa dari manakah yang bisa membuat orang bertobat? Banyak penderitaan yang harus dialami oleh John Sung dalam memberitakan Injil namun hal itu tidak membuatnya mundur dan kehilangan kuasa rohani.


III. Tugas Progresif
Cara Tuhan memanggil berbeda dengan dunia. Dunia selalu menggunakan uang untuk mendapatkan kuasa, kedudukan dan lain-lain dan semuanya itu justru akan membawa orang menuju pada kehancuran. Murid-murid Tuhan Yesus pun bukan orang kaya atau orang yang mempunyai kedudukan, mereka hanyalah seorang nelayan namun Tuhan pakai mereka dengan luar biasa. Esensi panggilan Tuhan dan penderitaan yang Kristus alami justru membuat berita Kristus mempunyai kuasa rohani: “Bertobatlah sebab Kerajaan Surga sudah dekat“. Biarlah setiap kita mempunyai kerinduan untuk mau diubahkan oleh Kristus dengan demikian kita mempunyai kuasa rohani dan dipakai Tuhan menjadi alat di tangan-Nya. Adalah tugas setiap anak Tuhan untuk mengabarkan Injil sehingga orang kembali disadarkan akan dosa dan kembali pada kebenaran.
Hendaklah setiap kita mempunyai kerinduan untuk dipakai Tuhan, bukan hanya sekedar mengerti doktrin yang benar meski ajaran yang benar juga penting namun apa artinya semua doktrin kalau kita tidak mengabarkan Injil. Kita hanya akan menjadi orang-orang Kristen yang tidak seimbang, kepala besar tetapi kaki dan lengan tidak berkembang karena tidak pernah kita gunakan. Biarlah pengalaman iman kita berjalan bersama Kristus dapat dirasakan oleh orang lain juga maka Tuhan akan memakai kita lebih heran lagi. Ingat, hidup di dunia hanya sementara oleh sebab itu jangan cari kesuksesan di dunia tetapi carilah kesuksesan di surga. Suatu sukacita besar kalau Tuhan berkenan memuji kita kelak di surga. Penderitaan karena menggenapkan Kerajaan-Nya di muka bumi tidak akan sia-sia karena Tuhan pasti akan memberikan mahkota. Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

Roma 3:13-14 : BERDOSA TERHADAP ALLAH-2

Seri Eksposisi Surat Roma :
Kasih dan Keadilan Allah-4


Berdosa Terhadap Allah-2

oleh : Denny Teguh Sutandio


Nats : Roma 3:13-14.

Setelah Paulus memaparkan tentang dosa pikiran di ayat 10 s/d 12, maka kedua ayat selanjutnya, ia memaparkan tentang dosa perkataan yang tidak kalah parahnya dengan dosa pikiran.

Pada ayat 13a, Paulus memaparkan, “Kerongkongan mereka seperti kubur yang ternganga,” (bandingkan Mazmur 5:10b) Kata “kerongkongan” diidentikkan dengan tenggorokan (KJV, ISV dan ESV : throat) dan kata “ternganga” diidentikkan dengan terbuka (KJV, ISV dan ESV : open). Sifat dosa perkataan pertama adalah perkataan itu busuk. Kubur adalah tempat dimakamkannya orang meninggal dan jika kubur itu terbuka berarti mayat orang yang sudah meninggal akan keluar bau busuk yang akan dihirup oleh orang lain. Jadi, perkataan manusia berdosa/fasik itu busuk jika keluar/dicium oleh orang lain, mengapa bisa demikian ? Perkataan manusia keluar dari hati manusia, seperti yang Tuhan Yesus ajarkan, “apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang.” (Matius 15:18) Perbendaharaan kata yang busuk dari orang fasik menurut Tuhan Yesus keluar dari hati orang fasik yang busuk juga dan itulah yang menajiskan. Di sini, Tuhan Yesus ingin membongkar paradigma orang Farisi yang terikat dengan tradisi yang mengatakan bahwa makan binatang tertentu adalah najis, dll, padahal yang najis bukanlah apa yang dimasukkan ke dalam mulut, tetapi yang keluar dari mulut. Yang keluar dari mulut itulah perkataan-perkataan kotor, menghina, mencemooh, dll. Bagaimana dengan kita ? Kita sebagai orang Kristen, masihkah kita berkata kotor atau mengumpat ketika dalam situasi tertentu (misalnya, kaget, dll) ? Hendaklah kita introspeksi diri, kalau kita masih berkata kotor/busuk, itu membuktikan isi hati kita belum sepenuhnya murni di hadapan Allah. Berusahalah memurnikan hati kita di hadapan Allah, sehingga kita dapat menghasilkan perkataan yang memuliakan Allah.

Selanjutnya, Paulus menjelaskan di ayat 13b, “lidah mereka merayu-rayu,” (bandingkan dengan Mazmur 5:10c) Sifat dosa perkataan kedua adalah menipu. King James Version menerjemahkan ayat ini, “with their tongues they have used deceit;” (=“dengan lidah mereka, mereka menyatakan tipuan;”) English Standard Version menerjemahkan, “they use their tongues to deceive.” (= “mereka menggunakan lidah mereka untuk menipu.”). Terjemahan ESV lebih tepat menunjukkan bahwa orang fasik menggunakan lidah mereka (atas dorongan sendiri) untuk menipu orang. Dengan kata lain, orang fasik selalu berdusta/membohongi orang lain. Tuhan Yesus menegur keras kemunafikan orang-orang Farisi dan para ahli Taurat yang menipu orang lain dengan ibadah yang ditonjol-tonjolkan. Mereka beribadah supaya dilihat orang lain sambil menipu diri agar mereka kelihatan “rohani”. Bagi Tuhan Yesus, itu sampah adanya. Di Indonesia, hal ini ditiru persis oleh agama mayoritas di Indonesia yang selalu membuat orang lain berisik dengan suara gaduh dari “ibadah” mereka. Mereka mengklaim diri “melengkapi” agama-agama Semitik, menipu orang lain agar kembali kepada agama mereka, tetapi sejujurnya seperti yang Tuhan Yesus anggap, mereka itu sampah adanya. Bagaimana dengan kita sebagai orang Kristen ? Apakah kita juga berkata yang menipu? Banyak orang “Kristen” di abad postmodern juga menipu orang lain dengan “jubah agama” mereka entah itu mereka sebagai majelis, pendeta, dll, mereka selalu menganggap diri lebih rohani dari orang lain, karena mereka bisa berkarunia tertentu, dll. Banyak “pemimpin gereja” menipu jemaat dengan perkataan yang seolah-olah kelihatan “Alkitabiah” padahal mendorong jemaat untuk memperkaya diri sang “pemimpin gereja” ini melalui persembahan persepuluhan. Selain itu, orang-orang “Kristen” sendiri dengan mudahnya mau ditipu oleh arus filsafat dunia yang menipu, seperti dualisme, materialisme, dll ditambah aksi Multi Level Marketing (MLM), dll yang menipu untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. “Tipuan” itulah yang gemar dikerjakan setan (Yohanes 8:44) dan kroni-kroninya (Ayub 15:35 ; Amsal 10:32 ; 12:20), tetapi herannya malah disukai oleh manusia gila termasuk banyak orang “Kristen” di dalamnya. Perjanjian Lama jelas mengajar hal ini. Di dalam Yeremia 14:14, Allah bersabda, “Jawab TUHAN kepadaku: "Para nabi itu bernubuat palsu demi nama-Ku! Aku tidak mengutus mereka, tidak memerintahkan mereka dan tidak berfirman kepada mereka. Mereka menubuatkan kepadamu penglihatan bohong, ramalan kosong dan tipu rekaan hatinya sendiri.” Konteks ayat ini sedang berbicara mengenai hukuman Allah bagi bangsa Israel yaitu datangnya musim kering, tetapi para nabi palsu datang mengajarkan “theologia” kemakmuran dan ajaran inilah yang disebut oleh Allah sendiri sebagai tipuan. Sebagai hukumannya, para nabi harus menanggung hukuman dari Allah (baca Yeremia 14:15). Selanjutnya, di dalam 1 Korintus 6:10, Paulus menyatakan bahwa manusia yang bertindak jahat, salah satunya penipu tidak mungkin masuk ke dalam Kerajaan Allah. Oleh karena itu, marilah kita sebagai orang Kristen sejati meninggalkan segala tipuan dan kembali kepada Allah sebagai Sumber Kebenaran, seperti yang diajarkan di dalam Amsal 8:13, “Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat.” Beranikah kita berkata tegas seperti yang Salomo ajarkan ini ?

Di ayat 13c, Paulus melanjutkan, “bibir mereka mengandung bisa.” Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) menambahkan kata “menyemburkan fitnah” pada ayat ini. Jadi, sifat dosa perkataan ketiga adalah kata yang memfitnah. Ada orang berkata “memfitnah lebih kejam dari membunuh”. Ini benar, karena memfitnah itu dilakukan secara diam-diam, menusuk dari belakang, meskipun kelihatan dari luar orang yang memfitnah itu manis perkataannya. Pada taraf yang mengerikan, memfitnah bisa berakibat orang yang difitnah bisa marah dan akhirnya membunuh orang yang memfitnah. Fitnahan bisa menimbulkan pertengkaran dan perselisihan yang keji dan tidak jarang mengakibatkan pembunuhan. Apakah kita sebagai orang Kristen juga ikut-ikutan memfitnah orang lain ? Saya sering mendengar banyak “pemimpin gereja” khususnya dari gereja-gereja kontemporer yang pop sering memfitnah banyak gereja Protestan sebagai gereja yang tidak ada “roh kudus”, dll. Fitnahan ini didasarkan pada tidak adanya bahasa lidah seperti yang mereka ajarkan di dalam gereja mereka. Apakah fitnahan mereka benar ? TIDAK. Fitnahan itu sangat tidak bertanggungjawab. Fitnahan tersebut sama seperti menghujam saudara seiman dari belakang. Fitnahan tersebut tak mungkin menghasilkan perdamaian, apalagi pertobatan. Fitnahan ini terjadi karena adanya unsur iri hati atau pemaksaan kehendak yang menggunakan “Alkitab” sebagai “dasar”nya, padahal Alkitab tersebut sudah dimanipulasi supaya cocok dengan dirinya sendiri. Maka dari itu, sudah seharusnya orang Kristen tidak lagi gemar memfitnah, tetapi saling mengasihi dengan kasih yang bertanggungjawab yang tidak meniadakan konsep keadilan dan kebenaran ! Alkitab mengajarkan, “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.” (Efesus 4:31) dan “Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal…Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah.” (1 Petrus 1:23 ; 2:1)

Pada ayat 14, Paulus mengungkapkan, “Mulut mereka penuh dengan sumpah serapah,” (bandingkan dengan Mazmur 10:7a) Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) menambahkan arti, “penuh dengan kutuk dan kecaman,” King James Version (KJV) hampir sama menerjemahkan, “full of cursing and bitterness:” (penuh dengan kutukan dan kepahitan). Inilah sifat dosa perkataan keempat, yaitu perkataan yang mengutuk. Bangsa Israel adalah bangsa yang gemar mengutuk orang lain sebagai orang “kafir” karena tidak mengenal Taurat. Kegemaran ini ditiru oleh orang-orang yang beragama mayoritas di Indonesia. Perkataan mengutuk timbul bukan dari sifat kasih, tetapi sifat mendendam. Perkataan yang mengutuk seringkali menjatuhkan orang lain sehingga mereka makin lama semakin rendah diri dan akhirnya mungkin bisa bunuh diri atau mungkin orang yang dikutuk akan balas mengutuk. Yang pasti adalah hasil dari perkataan yang mengutuk itu tidak baik. Raja Daud berkata di dalam Mazmur 109:17 bahwa orang fasik “cinta kepada kutuk--biarlah itu datang kepadanya; ia tidak suka kepada berkat--biarlah itu menjauh dari padanya.” Berarti, perkataan yang mengutuk adalah kegemaran orang fasik, dan bukan bagi orang percaya. Bagaimana dengan kita sebagai orang Kristen ? Apakah kita sering mengutuki orang lain sebagai orang “kafir” ? Kalau kita melakukan hal ini, kita tidak jauh berbeda dengan para ahli Taurat dan orang Farisi. Kutukan dan kecaman tidak membuahkan hasil, tetapi sebagai orang Kristen yang telah dibebaskan dari kutuk dosa, marilah kita mengasihi orang lain bukan membenci mereka, tetapi kutuklah dosa yang mereka perbuat (jangan dibalik). Semua dosa harus dikutuk, tetapi kita harus mengasihi orang yang berbuat dosa agar mereka kembali kepada Kristus.

Marilah kita yang telah ditebus oleh Kristus meninggalkan 4 dosa perkataan yang bersama-sama kita telah renungkan di atas dan kembali kepada Kristus Sang Firman (Word), sehingga apa yang kita katakan sesuai dengan kehendak-Nya. Soli Deo Gloria.

Resensi Buku-24 : KETETAPAN HATI & NASIHAT BAGI PETOBAT MUDA (Rev. Jonathan Edwards, A.M.)

...Dapatkan segera...
Buku
KETETAPAN HATI DAN NASIHAT BAGI PETOBAT MUDA

oleh : Rev. Jonathan Edwards, A.M.

Pengantar dan Penyunting : Prof. Stephen J. Nichols, Ph.D.

Penerbit : Momentum Christian Literature (Fine Book Selection), 2005

Penerjemah : The Boen Giok.





Sementara menyelesaikan persiapannya untuk menjadi hamba Tuhan, Jonathan Edwards menuliskan tujuh puluh butir ketetapan hati yang kemudian menjadi pegangan seumur hidupnya. Kurang lebih dua puluh tahun kemudian, dia menulis sepucuk surat kepada Deborah Hatheway, seorang petobat baru di kota tetangga, berisi nasihat mengenai kehidupan Kristen.

Buku ini menggabungkan dua tulisan Edwards tersebut yang telah sering dicetak ulang. Dengan banyak nasihat praktis yang berdasarkan konsep-konsep Alkitabiah yang sangat relevan untuk zaman ini, tulisan-tulisan Edwards bahkan melampaui kebanyakan buku Kristen praktis populer yang marak beredar sekarang. Setiap orang Kristen yang rindu untuk menjalankan hidup yang penuh ketaatan kepada Allah akan mendapatkan banyak pertolongan dari tokoh kebangunan rohani ini.







Profil Rev. Jonathan Edwards :
Rev. Jonathan Edwards, A.M. lahir pada tanggal 5 Oktober 1701 di East Windsor, CT. Pada tahun 1716-1720, pada ulang tahunnya ke-13, beliau merupakan mahasiswa yang tanpa gelar (undergraduate) di Yale College. Beliau studi theologia pada tahun 1720 dan pada tahun 1722 meraih gelar Master of Arts (M.A.) dari Yale dengan tesis berjudul “Of Being”. Pada tahun 1722-1723, beliau melayani sebagai pendeta di sebuah gereja Presbyterian di New York. Pada waktu inilah, Edwards memulai “Diary”, “Resolutions”, "Miscellanies"nya, dan menulis "The Mind". Di bulan Juli pada tahun 1727, beliau menikah dengan Sarah Pierpont. Pada bulan Februari 1729, beliau menjadi Pendeta penuh di First Church of Northampton setelah kematian Solomon Stoddard. Pada tahun 1734, beliau memulai kebangunan rohani di Northampton, mulai dengan rangkaian khotbah “Justification by Faith” (Dibenarkan Melalui Iman). Pada tahun 1737, beliau menerbitkan buku, “
A Faithful Narrative of the Surprising Work of God. Kebangunan besar pertama (The Great Awakening) terjadi pada tahun 1740-1741, di mana untuk pertama kalinya George Whitefield mengunjungi New England pada tahun 1740. Pada waktu itu, Edwards mengkhotbahkan, "Sinners in the Hands of an Angry God di Enfield, CT pada tahun 1741. Pada tahun 1746, beliau menulis, "A Treatise Concerning Religious Affections". Tulisan-tulisan beliau : "Freedom of the Will, “Concerning the End for Which God Created the World”, “The Nature of True Virtue”, dan “Original Sin”. Pada tahun 1758, Edwards menerima jabatan Presiden dari the College of New Jersey (Princeton) pada bulan Januari, dan meninggal akibat suntikan penyakit cacar yang menular pada tanggal 22 Maret pada tahun itu.

30 September 2007

LOGOS Reformed Evangelical Education in Surabaya

Postmodern adalah sebuah abad yang tidak lagi mementingkan kualitas yang bertanggungjawab, pengertian iman, dll. Tidak heran, abad ini menghasilkan banyak anak didik yang hidup tidak karuan diakibatkan dari pengertian iman yang tidak bertanggungjawab. Bagaimana kita sebagai orangtua mendidik anak-anak kita ? Atau bagaimana kita sebagai paman atau kerabat mengarahkan keponakan/sepupu kita untuk mendapatkan pendidikan yang diintegrasikan dengan iman yang beres ? Banyak sekolah yang mengaku diri “Kristen” tetapi sayangnya mengajarkan atheisme di dalamnya, lalu bagaimana masa depan sekolah dan anak didik di dalamnya ? Tidak ada jalan lain, theologia Reformed yang menegakkan mandat budaya menggarap pendidikan Kristen dengan serius dengan mengintegrasikan iman Kristen yang berbasiskan kedaulatan Allah dengan setiap ilmu yang dipelajari. Satu-satunya sekolah Kristen yang berbasiskan theologia Reformed di Surabaya adalah Sekolah LOGOS (LOGOS Reformed Evangelical Education) yang didirikan oleh hamba-Nya, Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div. Pertimbangkanlah dengan tingkat kedewasaan orangtua yang bertanggungjawab di hadapan Tuhan, apakah Sekolah LOGOS adalah salah satu sekolah Kristen yang Anda pilih atau Anda memilih sekolah-sekolah yang tidak jelas identitasnya lalu menghasilkan anak-anak didik dengan iman, karakter dan pengetahuan yang tidak beres ?? Pilihan ada di tangan Anda.



LOGOS Reformed Evangelical Education

Founder : Rev. Sutjipto Subeno, M.Div.
(a pastor of Reformed Evangelical Church of Indonesia, Andhika, Surabaya)

General Secretary : Ev. Warsoma Kanta, M.Div.



BACKGROUND
In the year of 2000, the burden for this LOGOS school started to bud. We began to conduct a class of STRIS Education, teaching the history and philosophy of education, and presenting the right concepts of education to STRIS students and other teachers or educators.

In 2003, LOGOS called some persons to involve in a team for founding this school. Besides, GRII-Andhika just got a loan of two stored-buildings at Andhika Plaza C/10-11 to be used for LOGOS Playgroup and Kindergarten.

In 2004, this team was supported by more full-timers who had LOGOS prepared and provided more devices to develop its curriculum for LOGOS schools. By then, GRII (Reformed Evangelical Church of Indonesia) Andhika prepared to buy a land of 6000 m2 at Citra Land for future Elementary School.

It's only by the Grace of God, we pray to God hoping to start this school in 2005.

VISION
LOGOS Reformed Evangelical Education sees the need to build Christians with integrative characters by developing every God's given talent for them to fulfill God's divine purpose in and through their lives.

MISSION
To Provide an integrative education in intellectual, moral and spiritual aspects based on the Biblical truth, in the light of Reformed Theology, for the glory of God.

ACTION
We work out an integrative curriculum in science and faith in the light of the Scripture to promote tripartheid-education; to motivate dedicated Christian teachers with adequate knowledge and skills; to love the Lord and children.

UNIQUENESS
V INTEGRATIVE - We are commited to base every aspect of the learning teaching process with Biblical (Reformed) teaching.

V TRIPARTHEID - We, the church, parents, teachers are commited to educate the children together.

V TRANSPARENCY - We are commited to engage in a transparent financial system that can be accessed by all involved parties.

V PERSONAL EDUCATION - We are commited to develop self-potential and self-competency in a small group.
Playgroup - 3 teachers for 16 children
Kindergarten - 2 teachers for 16 children



CONFESSION OF FAITH
We believe :
& We believe that true education is total personality building of human being, according to the will of God, so he can accomplish God’s will, in and through his life, under God’s sovereign power and for the glory of God only.

& We believe that human being is created by God according to the image of God. Being the crown of creation which is essentially different in quality to all other creatures.

& We believe of total depravity of all human being as the consequence of the Fall, so he can not understand and accomplish God’s sovereign will. His mind is bound in sin and became the slave of sin.

& We believe every educational process should start with repentance and regeneration by the blood of Christ, which reconcile man to God as the first and ultimate Source of knowledge and wisdom.

& According to the Word of God, we believe that fear of the Lord is the beginning of all knowledge. Without fear of the Lord and enlightenment of the Holy Spirit, no true and accurate interpretation about nature and history.

& We believe that every educator should be true Christian, have been regenerated, fear to the Lord, have good integrity and morality, due to understanding that education is not just transfer knowledge, but life building and personality through examples.

& We believe that church, parents and education institution, are related simultaneously as Tripartheid to build holistic and integrative Christian education.

OUR COMMITMENTS
To manage and develop the “fear of the Lord” education, with integration between faith and true science, according to and under the authority of the Bible in Reformed perspectives with Evangelical spirit.

Committed and responsible to do integrative education through example of life and true scientific responsibility.

To organize and develop education to the glory of God, to love neighbors, to be blessing for family, nation and country, with good morality, true knowledge and skills.

Understand that we should appreciate good and qualified educators; we should manage good finance policies. Understand that we should involve education institution, church and parents to succeed true integrative Christian education.

CURRICULUM
· Devotion
· Chapel
· Topic
· Mathematics
· Language
· Science
· Fine Motor Skill
· Gross Motor Skill (P/E)
· Show and Tell
· Library
· Computer
· Art and Craft
· Music and Movement
· Story Time
· Assembly
· Movie

PROGRAMME
Ø Playgroup (age : 3-4 years old) : Monday to Friday ; 8-11 a.m.
Ø K 1 (age : 4-5 years old ) : Monday to Friday ; 8-12 a.m.
Ø K 2 (age : 5-6 years old ) : Monday to Friday ; 8-12 a.m.
Ø K 3 (age : 6-7 years old ) : Monday to Friday ; 8 a.m.-1 p.m.

TEACHERS
Reformed Theology Commitment
Heart for Education Commitment
Passion for Children
Distinguished Skill and Ability

FACILITIES
Indoor and Outdoor Playground
Water Pool and Sand Pool
Safe and Appropriate Toys
Library
Computers
Art and Music Materials
Air-conditioned Rooms
Perfect Location

REGISTRATION
Registration-1 (for internal) :
Application form : October 1st-November 30th, 2007
Open House : November 23rd, 2007
Forms should be returned at the latest December 7th, 2007
Interview/child test/acceptance : January 6th-16th, 2008

Registration-2 (for external) :
Application form : start December 2nd, 2007
Open House : February 1st, 2008
Forms should be returned at the latest February 1st, 2008
Interview/child test/acceptance : February 6th-16th, 2008

Place of application form :
1. LOGOS School, Andhika Plaza C/10-11, Simpang Dukuh 38-40, Surabaya
Ph. +62.31.5312817/60696699 (Up. Sugihartini) (8.00 am - 3.00 pm)
2. Momentum Book Store, Andhika Plaza C/5-7, Simpang Dukuh 38-40, Surabaya
Ph. +62.31.5472422 (10.00 am - 7.30 pm)

Registration Fee : Rp 100.000, 00



Info Session : July 5th, 2008 ; 4.00 p.m.

Free Trial : by appointment.



LOGOS School Curriculum References :
V Great Commission Publications (GCP)
V Christian Schools International
V AVKO Educational Research Foundation (a non-profit organization devoted to helping teachers, parents, and researchers since 1974)
V Apologia Educational Ministries, Inc.
V BJU PRESS (Christ-centered resources for education, edification, and evangelism)


LOGOS is a member of :
v Association of Christian School International (ACSI)
v Association of Classical and Christian Schools



For further information : http://www.logos.sch.id

PELAGIANISM : The Religion of Natural Man (Prof. Michael S. Horton, Ph.D.)

PELAGIANISM :
The Religion of Natural Man

by : Prof. Michael S. Horton, Ph.D.
©1993, 1998 Alliance of Confessing Evangelicals


Cicero observed of his own civilization that people thank the gods for their material prosperity, but never for their virtue, for this is their own doing. Princeton theologian B. B. Warfield considered Pelagianism "the rehabilitation of that heathen view of the world," and concluded with characteristic clarity, "There are fundamentally only two doctrines of salvation: that salvation is from God, and that salvation is from ourselves. The former is the doctrine of common Christianity; the latter is the doctrine of universal heathenism."1

But Warfield's sharp criticisms are consistent with the witness of the church ever since Pelagius and his disciples championed the heresy. St. Jerome, the fourth century Latin father, called it "the heresy of Pythagoras and Zeno," as in general paganism rested on the fundamental conviction that human beings have it within their power to save themselves. What, then, was Pelagianism and how did it get started?

First, this heresy originated with the first human couple, as we shall see soon. It was actually defined and labeled in the fifth century, when a British monk came to Rome. Immediately, Pelagius was deeply impressed with the immorality of this center of Christendom, and he set out to reform the morals of clergy and laity alike. This moral campaign required a great deal of energy and Pelagius found many supporters and admirers for his cause. The only thing that seemed to stand in his way was the emphasis that emanated particularly from the influential African bishop, Augustine. Augustine taught that human beings, because they are born in original sin, are incapable of saving themselves. Apart from God's grace, it is impossible for a person to obey or even to seek God. Representing the entire race, Adam sinned against God. This resulted in the total corruption of every human being since, so that our very wills are in bondage to our sinful condition. Only God's grace, which he bestows freely as he pleases upon his elect, is credited with the salvation of human beings.

In sharp contrast, Pelagius was driven by moral concerns and his theology was calculated to provide the most fuel for moral and social improvement. Augustine's emphasis on human helplessness and divine grace would surely paralyze the pursuit of moral improvement, since people could sin with impunity, fatalistically concluding, "I couldn't help it; I'm a sinner." So Pelagius countered by rejecting original sin. According to Pelagius, Adam was merely a bad example, not the father of our sinful condition-we are sinners because we sin-rather than vice versa. Consequently, of course, the Second Adam, Jesus Christ, was a good example. Salvation is a matter chiefly of following Christ instead of Adam, rather than being transferred from the condemnation and corruption of Adam's race and placed "in Christ," clothed in his righteousness and made alive by his gracious gift. What men and women need is moral direction, not a new birth; therefore, Pelagius saw salvation in purely naturalistic terms-the progress of human nature from sinful behavior to holy behavior, by following the example of Christ.

In his Commentary on Romans, Pelagius thought of grace as God's revelation in the Old and New Testaments, which enlightens us and serves to promote our holiness by providing explicit instruction in godliness and many worthy examples to imitate. So human nature is not conceived in sin. After all, the will is not bound by the sinful condition and its affections; choices determine whether one will obey God, and thus be saved.

In 411, Paulinus of Milan came up with a list of six heretical points in the Pelagian message. (1) Adam was created mortal and would have died whether he had sinned or not; (2) the sin of Adam injured himself alone, not the whole human race; (3) newborn children are in the same state in which Adam was before his fall; (4) neither by the death and sin of Adam does the whole human race die, nor will it rise because of the resurrection of Christ; (5) the law as well as the gospel offers entrance to the Kingdom of Heaven; and (6) even before the coming of Christ, there were men wholly without sin. 2 Further, Pelagius and his followers denied unconditional predestination.

It is worth noting that Pelagianism was condemned by more church councils than any other heresy in history. In 412, Pelagius's disciple Coelestius was excommunicated at the Synod of Carthage; the Councils of Carthage and Milevis condemned Pelagius' De libero arbitrio--On the Freedom of the Will; Pope Innocent I excommunicated both Pelagius and Coelestius, as did Pope Zosimus. Eastern emperor Theodosius II banished the Pelagians from the East as well in AD 430. The heresy was repeatedly condemned by the Council of Ephesus in 431 and the Second Council of Orange in 529. In fact, the Council of Orange condemned even Semi-Pelagianism, which maintains that grace is necessary, but that the will is free by nature to choose whether to cooperate with the grace offered. The Council of Orange even condemned those who thought that salvation could be conferred by the saying of a prayer, affirming instead (with abundant biblical references) that God must awaken the sinner and grant the gift of faith before a person can even seek God.
Anything that falls short of acknowledging original sin, the bondage of the will, and the need for grace to even accept the gift of eternal life, much less to pursue righteousness, is considered by the whole church to be heresy. The heresy described here is called "Pelagianism."


Pelagianism in the Bible
Cain murdered Abel because Cain sought to offer God his own sacrifice. The writer to the Hebrews tells us that Abel offered his sacrifice in anticipation of the final sacrifice, the Lamb of God, and did so by faith rather than by works (Heb. 11). However, Cain sought to be justified by his own works. When God accepted Abel instead, Cain became jealous. His hatred for Abel was probably due in part to his own hatred of God for refusing to accept his righteousness. This pattern had already emerged with the contrast between the fig leaves that Adam and Eve sewed to cover their nakedness. Running from God's judgment, covering up the shame that resulted from sin-these are the characteristics of human nature ever since the fall. "There is no one who is righteous, not even one; there is no one who understands, no one who seeks after God. All have turned away, they have together become worthless; there is no one who does good, not even one" (Rom. 3:10-12). The nearer God comes to us, the greater sense we have of our own unworthiness, so we hide from him and try to cover up our shame with our own clever masks.

At the Tower of Babel, the attitude expressed is clearly Pelagian: "Come, let us build ourselves a city, with a tower that reaches to the heavens, so that we may make a name for ourselves. " In fact, they were certain that such a united human project could ensure that nothing would be impossible for them (Gen 11:4­6). But God came down, just as they were building upward toward the heavens. "So the LORD scattered them from there over all the earth, and they stopped building the city" (v.8). This is the pattern: God provides the sacrifice, and judges those who offer their own sacrifices to appease God. God comes down to dwell with us, we do not climb up to him; God finds us, we do not find him.

The people of Israel regularly found themselves reverting to the pagan way of thinking. God had to remind them, "'Cursed is the one who trusts in man, who depends on flesh for his strength and whose heart turns away from the LORD But blessed is the man who trusts in the LORD, whose confidence is in him.'" Jeremiah responds, "The heart is deceitful above all things and beyond cure. Who can understand it?... Heal me, O LORD, and I will be healed; save me and I will be saved, for you are the one I praise" (Jer 17:5, 7, 9, 15). Jonah learned the hard way that God saves whomever he wants to save. Just as soon as he declared, "Salvation comes from the LORD," we read: "And the Lord commanded the fish, and it vomited Jonah onto dry land" (Jon 2:9­10). The Babylonian king Nebuchadnezzar faced a similar confrontation, when his self-confidence was turned to humiliation by God. He finally raised his eyes toward heaven and confessed, "All the peoples of the earth are regarded as nothing. He does as he pleases with the powers of heaven and the peoples of the earth. No one can hold back his hand or say to him: 'What have you done'" (Dn 4:35). The clear message: God saves freely, by his own choice and action, to his own praise and glory.

We find Pelagianism among the Pharisees in the New Testament. Remember, the foundation of Pelagianism is the belief that we do not inherit Adam's sinful condition. We are born morally neutral, capable of choosing which way we will turn. Sin is something that affects us from the outside, so that if a good person sins, it must be due to some external influence. This is why it is so important, according to this way of thinking, to avoid bad company and evil influences: It will corrupt an otherwise good person. This Pelagian mentality pervaded the thinking of the Pharisees, as when they asked Jesus why they he did not follow the Jewish rituals. "Jesus called the crowd to him and said, 'Listen and understand. What goes into a man's mouth does not make him 'unclean,' but what comes out of his mouth, that is what makes him 'unclean.'" This theological orientation was so unfamiliar to the disciples that Jesus had to restate the point: "For out of the heart come evil thoughts, murder, adultery, sexual immorality, theft, false testimony, slander. These are what make a man 'unclean'" (Mt 15:10­20). Later, Jesus scolded the Pharisees with these harsh words: "Woe to you, teachers of the law and Pharisees, you hypocrites! You clean the outside of the cup and dish, but inside they are full of greed and self-indulgence. Blind Pharisee! First clean the inside of the cup and dish, and then the outside also will be clean. Woe to you, teachers of the law and Pharisees, you hypocrites! You are like whitewashed tombs, which look beautiful on the outside but on the inside are full of dead men's bones and everything unclean. In the same way, on the outside you appear to people as righteous, but on the inside you are full of hypocrisy and wickedness" (Mt 23:25­28).

Therefore, Jesus told them that they must be "born from above" (Jn 3:5). The Pharisees believed that God had given them his grace by giving them the law, and if they merely followed the law and the traditions of the elders, they would remain in God's favor. But Jesus said that they were unbelievers who needed to be regenerated, not good people who needed to be guided. "No man can even come to me unless my Father who sent me draws him" (Jn 6:44), for we must be born again, "not of the will of the flesh or of the will of man, but of God" (Jn 1:13). "Apart from me you can do nothing. You did not choose me, but I chose you and appointed you to go and bear fruit-fruit that will last" (Jn 15:5, 16).

This message was at the center of the apostolic message, as Paul defended the grace of God against the Judaizing heresy that sought to turn Jesus into merely another Moses. Centering on the person and work of Christ, Paul and the other apostles denied any place for self-confidence before God. Instead, they knew that we possess neither the ability, free will, power, nor the righteousness to repair ourselves and escape the wrath of God. It must all be God's work, Christ's work, or there is no salvation at all. Surely the Judaizing heresy that troubled the apostles was larger than the issue of Pelagianism, but self-righteousness and self-salvation lay at the bottom of it. As such, the Council of Jerusalem, recorded in Acts 15, was the first church council to actually condemn this heresy in the New Testament era.


Pelagianism in Church History
Every dark age in church history was due to the creeping influence of the human-centered gospel of "pulling oneself up by the bootstraps." Whenever God is seen as the sole author and finisher of salvation, there is health and vitality;. To the degree that human beings are seen as agents of their own salvation, the church loses its power, since the Gospel is "the power of God unto salvation for everyone who believes" (Rom 1:16).

Throughout the period that is popularly known as the "dark ages," Pelagianism was never officially endorsed, but it was certainly common and perhaps even the most popular and widespread tendency among the masses. That should come as no surprise, since thinking good of our nature and of possibilities for its improvement is the tendency of our sinful condition. We are all Pelagians by nature. There were debates, for instance, in the eighth century, but these did not end well for those who defended a strict Augustinian point of view. Since Pelagianism had been condemned by councils, no one dared defend a view as "Pelagian," but Semi-Pelagianism was acceptable, since the canons of the Council of Orange, which condemned Semi-Pelagianism, had been lost and were not recovered until after the closing of the Council of Trent in the sixteenth century.

On the eve of the Reformation, there were fresh debates over free will and grace. Reformers benefited from something of a renaissance of Augustinianism. In the fourteenth century, two Oxford lecturers, Robert Holcot and Archbishop of Canterbury Thomas Bradwardine, became leading antagonists in this battle. Two centuries before the Reformation, Bradwardine wrote The Case of God Against the New Pelagians, but, "Holcot and a host of later interpreters found Bradwardine's defense of the 'case of God' was at the expense of the dignity of man." 3 If that sounds familiar, it should, since the truth and its corresponding objections never change. The archbishop's own story gives us some insight to the place of this debate:
Idle and a fool in God's wisdom, I was misled by an unorthodox error at the time when I was pursuing philosophical studies. Sometimes I went to listen to the theologians discussing this matter [of grace and free will], and the school of Pelagius seemed to me nearest the truth. In the philosophical faculty I seldom heard a reference to grace, except for some ambiguous remarks. What I heard day in and day out was that we are masters of our own free acts, that ours is the choice to act well or badly, to have virtues or sins and much more along this line." Therefore, "Every time I listened to the Epistle reading in church and heard how Paul magnified grace and belittled free will-as is the case in Romans 9, 'It is obviously not a question of human will and effort, but of divine mercy,' and its many parallels-grace displeased me, ungrateful as I was." But later, things changed:
"However, even before I transferred to the faculty of theology, the text mentioned came to me as a beam of grace and, captured by a vision of the truth, it seemed I saw from afar how the grace of God precedes all good works with a temporal priority, God as Savior through predestination, and natural precedence. That is why I express my gratitude to Him who has given me this grace as a free gift."

Bradwardine begins his treatise, "The Pelagians now oppose our whole presentation of predestination and reprobation, attempting either to eliminate them completely or, at least, to show that they are dependent on personal merits." 4

These are important references, since many think of the emphasis of Luther in The Bondage of the Will and of Calvin in his many writings on the subject as extreme, when in actual fact, they were in the mainstream of Augustinian revival. In fact, Luther's mentor, Johann von Staupitz, was himself a defender of Augustinian orthodoxy against the new tide of Pelagianism, and contributed his own treatise, On Man's Eternal Predestination. "God has covenanted to save the elect. Not only is Christ sent as a substitute for the believer's sins, he also makes certain that this redemption is applied. This happens at the moment when the sinner's eyes are opened again by the grace of God, so that he is able to know the true God by faith. Then his heart is set afire so that God becomes pleasing to him. Both of these are nothing but grace, and flow from the merits of Christ Our works do not, nor can they, bring us to this state, since man's nature is not capable of knowing or wanting or doing good. For this barren man God is sheer fear."

But for the believer, "the Christian is just through the righteousness of Christ," and Staupitz even goes so far as to say, that this suffering of Christ "is sufficient for all, though it was not for all, but for many that his blood was poured out." 5 This was not an extreme statement, as it is often considered today, but was the most common way of talking about the atonement's effect: sufficient for everyone, efficient for the elect alone.

To be sure, these precursors of the Reformation were not yet articulating a clear doctrine of justification by the imputation of Christ's righteousness, but the official position of the Roman Catholic Church even before the Reformation was that grace is necessary for even the will to believe and live the Christian life. This is not far enough for evangelicals, but to fall short of this affirmation is to lose touch with even the "catholic" witness shared at least on paper by Protestants and Roman Catholics.


What About Today?
Ever since the Enlightenment, the Protestant churches have been influenced by successive waves of rationalism and moralism that have made the Pelagian heresy attractive. It is fascinating, if frustrating, to read the great architects of modern liberalism as they triumphantly announce their project. They sound as if it were a new theological enterprise to say that human nature is basically good, history is marked by progress, that social and moral improvement will create happiness, peace, and justice. Really, it is merely a revival of that age-old religion of human nature. The rationalistic phase of liberalism saw religion not as a plan of salvation, but as a method of morality. The older views concerning human sinfulness and dependence on divine mercy were thought by modern theologians to stand in the way of the Enlightenment project of building a new world, a tower reaching to heaven, just as Pelagius viewed Augustinian teaching as impeding his project of moral reform.

Instead of defining Christianity in terms of an announcement of God's saving work in Jesus Christ, Schleiermacher and the liberal theologians redefined it as a "feeling." Ironically, the Arminian revivals shared with the Enlightenment a confidence in human ability. This Pelagian spirit pervaded the frontier revivals as much as the New England academy. Although poets such as William Henley might put it in more sophisticated language ("I am the master of my fate, the captain of my soul"), evangelicals out on the frontier began adapting this triumph of Pelagianism to the wider culture.

Heavily influenced by the New Haven theology and the Second Great Awakening, Charles Finney was nearly the nineteenth-century reincarnation of Pelagius. Finney denied original sin. "Moral depravity is sin itself, and not the cause of sin," 6 and he explicitly rejects original sin in his criticism of the Westminster Confession, 7 referring to the notion of a sinful nature as "anti-scriptural and nonsensical dogma." 8 According to Finney, we are all born morally neutral, capable either of choosing good or evil. Finney argues throughout by employing the same arguments as the German rationalists, and yet because he was such a successful revivalist and "soul-winner," evangelicals call him their own. Finney held that our choices make us either good or sinful. Here Finney stands closer to the Pharisees than to Christ, who declared that the tree produced the fruit rather than vice versa. Finney's denial of the substitutionary atonement follows this denial of original sin. After all, according to Pelagius, if Adam can be said to be our agent of condemnation for no other reason than that we follow his poor example, then Christ is said to be our agent of redemption because we follow his good example. This is precisely what Finney argues: "Example is the highest moral influence that can be exerted. If the benevolence manifested in the atonement does not subdue the selfishness of sinners, their case is hopeless." 9 But how can there be a "benevolence manifested in the atonement" if the atonement does not atone? For those of us who need an atonement that not only subdues our selfishness, but covers the penalty for our selfishness, Finney's "gospel," like Pelagius's, is hardly good news.

According to Finney, Christ could not have fulfilled the obedience we owed to God, since it would not be rational that one man could atone for the sins of anyone besides himself. Furthermore, "If he obeyed the law as our substitute, then why should our own return to personal obedience be insisted upon as the sine qua non of our salvation?"10 One wonders if Finney was actually borrowing directly from Pelagius' writings. Many assume "that the atonement was a literal payment of a debt, which we have seen does not consist with the nature of the atonement. It is objected that, if the atonement was not the payment of the debt of sinners, but general in its nature, as we have maintained, it secures the salvation of no one. It is true, that the atonement, of itself, does not secure the salvation of any one." 11

Furthermore, Finney denies that regeneration depends on the supernatural gift of God. It is not a change produced from the outside. "If it were, sinners could not be required to effect it. No such change is needed, as the sinner has all the faculties and natural attributes requisite to render perfect obedience to God." 12 Therefore, "...regeneration consists in the sinner changing his ultimate choice, intention, preference." Those who insist that sinners depend on the mercy of God proclaim "the most abominable and ruinous of all falsehoods. It is to mock [the sinner's] intelligence!"13
Of the doctrine of justification, Finney declared it to be "another gospel," since "for sinners to be forensically pronounced just, is impossible and absurd. As has already been said, there can be no justification in a legal or forensic sense, but upon the ground of universal, perfect, and uninterrupted obedience to law...The doctrine of an imputed righteousness, or that Christ's obedience to the law was accounted as our obedience, is founded on a most false and nonsensical assumption" and "representing the atonement as the ground of the sinner's justification has been a sad occasion of stumbling to many." 14

From Finney and the Arminian revivalists, evangelicalism inherited as great a debt to Pelagianism as modern liberalism received from the Enlightenment version directly. When evangelists appeal to the unbeliever as though it was his choice that determines his destiny, they are not only operating on Arminian assumptions, but Pelagian assumptions that are rejected even by the official position of the Roman Catholic Church as a denial of grace. Whenever it is maintained that an unbeliever is capable by nature of choosing God, or that men and women are capable of not sinning or of reaching a state of moral perfection, that's Pelagianism. Finney even preached a sermon titled, "Sinners Bound To Change Their Own Hearts." When preachers attack those who insist that the human problem is sinfulness and the wickedness of the human heart-that's Pelagianism. When one hears the argument, whether from the Enlightenment (Kant's "ought implies can"), or from Wesley, Finney, or modern teachers, that "God would never have commanded the impossible," 15 they are echoing the very words of Pelagius. Those who deny that faith is the gift of God are not merely Arminians or Semi-Pelagians, but Pelagians. Even the Council of Trent (condemning the reformers) anathematized such a denial as Pelagianism.

When evangelicals and fundamentalists assume that infants are pure until they reach an "age of accountability," or that sin is something outside-in the world or in the sinful environment or in sinful company that corrupts the individual-they are practicing Pelagians. That which in contemporary evangelicalism is often considered "Calvinism" is really "Augustinianism," which embraces orthodox Roman Catholics and Lutherans as well. And that which in our circles today is often considered "Arminianism" is really Pelagianism.

The fact that recent polls indicate that 77% of the evangelicals today believe that human beings are basically good and 84% of these conservative Protestants believe that in salvation "God helps those who help themselves" demonstrates incontrovertibly that contemporary Christianity is in a serious crisis. No longer can conservative, "Bible-believing" evangelicals smugly hurl insults at mainline Protestants and Roman Catholics for doctrinal treason. It is evangelicals today, every bit as much as anyone else, who have embraced the assumptions of the Pelagian heresy. It is this heresy that lies at the bottom of much of popular psychology (human nature, basically good, is warped by its environment), political crusades (we are going to bring about salvation and revival through this campaign), and evangelism and church growth (seeing conversion as a natural process, just like changing from one brand of soap to another, and seeing the evangelist or entrepreneurial pastor as the one who actually adds to the church those to be saved).

At its root, the Reformation was an attack on Pelagianism and its rising influence, as it choked out the life of Christ in the world. It asserted that "salvation is of the LORD" (Jon 2:9), and that "it therefore does not depend on the decision or effort of man, but on the mercy of God" (Rom 9:16). If that message is recovered, and Pelagianism is once more confronted with the Word of God, the glory of God will again fill the earth.


Notes1. B. B. Warfield, The Plan of Salvation (Grand Rapids: Eerdmans, reprinted 1980), p. 33.
2. Taken from the entry on Pelagianism in the Westminster Dictionary of Church History.
3. Heiko Oberman, Forerunners of the Reformation (Philadelphia: Fortress, 1966), p.134.
4. Ibid., pp. 151-162.
5. Ibid., pp. 175-200.
6. Charles Finney, Finney's Systematic Theology (Minneapolis: Bethany, 1976), p. 172.
7. Ibid., p. 177.
8. Ibid., p. 179.
9. Ibid., p. 209.
10. Ibid., p. 206.
11. Ibid., p. 213.
12. Ibid., p.221.
13. Ibid., p.226.
14. Ibid., pp. 319-323.
15. B. R. Rees, ed., The Letters of Pelagius and His Followers (Woodbridge, England: The Boydell Press, 1991), p.169.


Biography of the Author :
Prof. Michael S. Horton, Ph.D. is the vice chairman of the Council of the Alliance of Confessing Evangelicals, and is associate professor of historical theology at Westminster Theological Seminary in California. Dr. Horton is a graduate of Biola University (B.A.), Westminster Theological Seminary in California (M.A.R.) and Wycliffe Hall, Oxford (Ph.D.). Some of the books he has written or edited include Putting Amazing Back Into Grace, Beyond Culture Wars, Power Religion, In the Face of God, and most recently, We Believe.



Source :
FROM
Heresy, JAN/FEB 1994



Taken from :
©1998 - 2001 Alliance of Confessing Evangelicals

29 September 2007

Iman Kristen dan Musik-1 (Pendahuluan)

Iman Kristen dan Musik (1)
oleh : Pdt. Billy Kristanto, Dipl.Mus., M.C.S.

Dear beloved brothers and sisters in Christ,

Saya ingin sharing pengertian yang saya dapatkan melalui perjalanan kehidupan saya mengikut Tuhan, khususnya berkenaan dengan musik, suatu bidang yang dihadirkan Tuhan dalam kehidupan saya sejak kecil (namun saya tidak pernah terjatuh ke dalam piano, apalagi tertimpa piano ketika masih orok, seperti halnya Obelix ke dalam ramuan ajaib).

Saya lahir dalam keluarga Kristen, tumbuh di dalam lingkungan keluarga yang menyukai musik, hanya saja di antara keluarga saya, saya satu-satunya yang diberi kesempatan oleh Tuhan boleh mengembangkan talenta yang Dia berikan melalui suatu pendidikan musik yang formal.

Sejak sekolah minggu saya mulai melayani musik di gereja di mana saya beribadah. Keluarga saya beribadah di Gereja Pentakosta, seperti pada umumnya, kami menggunakan seperangkat alat musik yang membentuk suatu band dalam ibadah. Saya kadang-kadang juga dipercaya untuk ikut bermain di dalamnya, biasanya saya mengisi keyboard atau piano. Ada banyak hal di mana Tuhan membentuk dan menenun kehidupan saya melalui komunitas di tempat ini, di tengah segala kekurangan dan kelemahan yang ada. Saya menyaksikan teladan orang-orang Kristen yang suka berdoa dan hidup bergantung kepada Tuhan dengan iman yang sederhana. Orang-orang percaya yang dengan tulus melayani Tuhan dengan kerelaan berkorban, hidup memikul salib, tidak takut susah. Orang-orang yang sangat bergairah dalam memberitakan Injil keselamatan, menyaksikannya kepada orang-orang yang belum mengerti pengorbanan Tuhan Yesus Kristus. Orang-orang yang saling menerima dan mengasihi satu sama lain, sekalipun kita tahu setiap orang punya kelebihan dan kekurangan serta kelemahannya masing-masing. Namun sekaligus di tempat yang sama saya juga menyaksikan kehidupan yang berkeping-keping, sehabis menerima Perjamuan Kudus yang selalu mengharukan banyak orang, segera melanjutkan konflik dan kepahitan di antara jemaat, keuangan perpuluhan yang tidak jelas digunakan untuk apa, pelayanan yang dimotivasi oleh uang dan kekayaan, termasuk mulai merambatnya ajaran-ajaran kesuksesan (orang Kristen tidak seharusnya sakit, tidak seharusnya miskin) yang menyusup menggantikan ajakan hidup menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Yesus. Ya, Alkitab sendiri mengatakan bahwa realita Kerajaan Allah pun digambarkan oleh Yesus sebagai benih gandum dan ilalang yang tumbuh bersama. Tampaknya konsep steril tentang Kerajaan Allah di mana hanya ada gandum saja merupakan impian yang tidak mungkin akan terwujud selama kita masih berada di dunia ini.

Saya terbentuk dalam suatu kultur yang sangat menggemari pop-culture, suatu kultur yang pada umumnya dapat diterima oleh sebagian besar manusia kesederhanaan kualitas yang tidak harus menuntut penggemarnya untuk banyak berpikir dan mempersoalkannya, surely it’s OK because I feel good, I can enjoy, so I just consume it. Selain musik ini saya sangat akrab dengan musik dangdut yang banyak dikonsumsi oleh karyawan yang bekerja di tempat saya. Keluarga saya tampaknya tidak keberatan untuk menyediakan konsumsi ini sepanjang hari dengan volume suara yang dapat didengar oleh seluruh karyawan, termasuk saya sendiri, sehingga saya sempat hafal paling sedikit puluhan lagu-lagu jenis ini.

Sampai suatu saat saya berkenalan dengan musik jazz yang certainly much more deeper and has a certain depth and quality di dalamnya. Membandingkan jenis musik ini dengan yang selama ini banyak saya konsumsi, saya sadar bahwa yang dulu jauh lebih sederhana daripada yang terakhir, baik di dalam aspek harmony, melody and rhythm. Saya mulai lebih tertarik dengan jenis musik ini bahkan juga belajar untuk bisa memainkannya sendiri, and so God will, pikir saya, saya juga bisa menggunakan kreativitas ini ketika saya melayani di Gereja. Why not? Musical creativity is God’s gift and definitely not from Satan! Dalam kesungguhan saya untuk melayani Tuhan dan dengan motivasi yang saya rasa cukup tulus, saya berusaha untuk mempertanggungjawabkan apa yang saya percaya saya terima sebagai anugerah Tuhan dengan mengembalikannya kepada Sang Pencipta.

Sampai suatu saat saya berkenalan dengan karya piano dari Beethoven, a very simple piece, perhaps not so complicated seperti kebanyakan musik-musik rumit yang sebelumnya saya pernah dengar, tapi juga bukan jenis keserdahanaan seperti musik-musik jenis pertama yang saya pernah konsumsi. Saya mendapati bahwa karya-karya seperti ini berbeda dan memiliki keunikan tersendiri, namun saya belum dapat mengetahuinya dengan jelas mengapa. Saya mulai belajar untuk memainkan jenis musik ini, demikian seterusnya untuk mempersingkat cerita, sampai suatu saat saya akhirnya memutuskan untuk mengambil study jurusan musik setelah lulus dari SMA.

Dalam periode ini saya mulai belajar dan mengaitkan apa yang saya pelajari dan geluti (yaitu bidang musik) dan berusaha untuk mengintegrasikannya dengan apa yang saya pelajari dari firman Tuhan. Saya tidak puas jika hanya sampai pada batas penguasaan bidang saya pelajari (dalam hal ini musik) di satu sisi, dan di sisi lain pengenalan akan Tuhan yang saya peroleh melalui merenungkan dan membaca firman Tuhan dan buku-buku yang membangun iman saya, tanpa bisa mengaitkan kedua hal ini. Saya sadar bahwa Alkitab memang bukanlah buku musik. Kita akan kecewa jika mencari untuk mendapatkan di dalam Alkitab bagian yang menyatakan penggunaan alat musik tertentu yang lebih “kudus” daripada yang lain, atau jenis musik apa yang disetujui oleh Alkitab (pop-culture kah, dangdut kah, Klassik, Romantik, Barock, postmodern, New Age or Gregorian Chant, atau jangan-jangan musik yang pernah dipakai oleh Daud, yang kita semua sekarang tidak tahu lagi bagaimana merekonstruksinya). Kita juga pasti akan sangat kecewa jika kita berusaha dengan segala kesungguhan untuk mendapatkan dalam Alkitab apakah pada bagian tertentu dari suatu lagi saya lebih baik bergerak ke c-minor atau C Mayor atau ke D7, perlu pakai sus4 atau saya lebih baik diam saja (seperti diusulkan oleh John Cage misalnya).

Saya percaya bagian penjelasan yang seperti itu tidak ada dan memang juga tidak perlu, karena itu akan menjadikan iman kita iman instant yang tidak perlu lagi bergumul. Alkitab menjadi buku pedoman how-to, di mana kita dapat menyelesaikan seluruh persoalan dari rumus fisika, matematika, kimia, persoalan ekologi, ekonomi, science, dan akhirnya juga seni dan musik. Kalau Alkitab harus memuat semuanya seperti layaknya sebuah textbook, kita semua pasti tidak sanggup untuk beribadah dengan membawa Kitab Suci, karena itu berarti saya harus membawa buku dengan berat berton-ton.

Namun ini juga tidak berarti bahwa Alkitab tidak membicarakan tentang ekologi, ekonomi, seni, science dsb. Karena kita percaya ilmu-ilmu itu (logi) sebenarnya berasal dari LOGOS atau Firman. Allah yang menyatakan diriNya melalui firman Tuhan (Maz 19:8-12) adalah Allah yang sama yang juga menyatakan diriNya melalui alam (Maz 19:1-7), yaitu alam di mana manusia menggali dan menemukan berbagai macam disiplin ilmu yang menyatakan kemuliaan Allah di dalamnya. Kita tidak mungkin memisahkan penemuan dalam alam (sebagai wahyu umum Allah) dengan pengenalan melalui firman Tuhan dan di dalam Yesus Kristus (wahyu khusus Allah).

Yang menyedihkan adalah pendapat yang banyak diterima saat ini adalah Alkitab hanya membicarakan kehidupan gerejawi, membicarakan teologi, tapi Alkitab tidak mungkin membicarakan tentang musik, jenis musik, komposisi musik, Alkitab tidak membicarakan semua bidang yang lain, entah itu fisika, geologi, ekologi, ekonomi karena memang Alkitab hanya membicarakan urusan keselamatan jiwa manusia. Dengan kata lain: ilmu-ilmu tersebut silahkan independen dari Alkitab, Alkitab tidak usah mencampuri hal itu karena kedua hal tersebut adalah hal yang terpisah satu dengan yang lainnya. Konsekuensi dari pandangan seperti ini adalah: kita boleh menggunakan dan menkonsumsi jenis seni/musik apapun, kita boleh memiliki pandangan ekonomi apapun, teori ekologi juga terserah, karena science adalah wilayah fakta sedangkan Alkitab berbicara dalam wilayah nilai. Maka kita harus memisahkan keduanya. Teori seperti ini sebenarnya bukanlah apa yang kita terima dari Firman Tuhan, melainkan suatu dualisme yang diciptakan oleh para pemikir enlightenment. Pandangan seperti ini langsung akan menyediakan angin untuk sekularisme masuk ke dalam semua bidang, karena di situ kerajaan Kristus (the kingship of Christ) tidak boleh dinyatakan dalam bidang apapun kecuali teologi (itupun kalau masih ada kekuatan!). Bidang-bidang yang lain pada akhirnya akan diisi oleh isme-isme yang lain, sinful culture yang tidak tunduk pada Alkitab segera akan meresap ke dalam bagian-bagian yang dengan sengaja dibuka untuk dibebaskan dari otoritas firman Tuhan. Kita sekarang berada dalam keadaan pengaruh ecological disaster yang makin lama akan makin mengerikan. Di mana pengaruh pandangan Kristen terhadap ekologi? Tidak perlu? Karena Alkitab tidak membicarakan geologi, sama seperti juga tidak membicarakan c-minor or a-minor? Kita tidak boleh membicarakan teori Adam Smith berdasarkan perspektif Alkitab karena Alkitab adalah buku teologi? Biarkanlah Picasso dan Polluck mengembangkan talenta dan kreativitasnya, itu toh juga berasal dari Tuhan? Kalau seandainya John Cage dan Stockhausen mengusulkan musiknya dipakai dan dipergunakan untuk ibadah, kita pasti selalu akan ada tempat untuk memberikan akomodasi berbintang lima baginya, sebab hati kita sangat luas, kita bukanlah orang-orang sempit yang tidak bisa menerima keaneka-ragaman?

Welcome to our contemporary time: a world with an almost unlimited possibilities to embrace and accomodate all theories of ecology, economy, politics, aesthetics, science, sociology … (BTW we don’t even know which one is ecology, economy, sociology, theology, sociology … it looks all the same).

I’m terribly sorry to stop here today, and thank you for listening my confused thoughts. I really hope I may have the same patience as yours …. and the strength .... to continue ….

Tu excitas, ut laudare te delectet, quia fecisti nos ad te et inquietum est cor nostrum, donec requiescat in te (Augustinus).
Sumber : http://groups.yahoo.com/group/METAMORPHE (mailinglist Pdt. Billy Kristanto)














Profil Pdt. Billy Kristanto :
Pdt. Billy Kristanto, Dipl.Mus., M.C.S. lahir pada tahun 1970 di Surabaya. Sejak di sekolah minggu mengambil bagian dalam pelayanan musik gerejawi. Setelah lulus SMA melanjutkan studi musik di Hochschule der Künste di Berlin majoring in harpsichord (Cembalo) di bawah Prof. Mitzi Meyerson (1990-96).
Setelah lulus dari situ melanjutkan post-graduate study di Koninklijk Conservatorium (Royal Conservatory) di Den Haag, a conservatory with the largest early music department in the world (mempelajari historical performance practice). Belajar di bawah Ton Koopman, seorang dirigen, organis, cembalis dan musicolog yang sangat ahli dalam interpretasi karya J.S. Bach. Selain itu juga mempelajari fortepiano di bawah Prof. Stanley Hoogland.
Setelah lulus dari situ pada tahun 1998 pulang ke Indonesia, lalu melayani sebagai Penginjil Musik di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) di Jakarta pada Februari 1999. Pada tahun yang sama memulai studi Teologi di Institut Reformed di Jakarta. Lulus pada tahun 2002 dengan Master of Christian Studies. Sejak tahun 2002 sampai sekarang menjabat sebagai Dekan School of Music di Institut Reformed Jakarta serta menggembalakan jemaat Mimbar Reformed Injili Indonesia (MRII) Jerman : Berlin, Hamburg dan Munich. Beliau ditahbiskan menjadi pendeta sinode GRII pada Paskah 2005 dan saat ini sedang menyelesaikan studi doktoral di bidang filsafat di Universitas Heidelberg, Jerman. Beliau menikah dengan Suzianti Herawati dan dikaruniai seorang putri, Pristine Gottlob Kristanto.