26 January 2012

Buku-7: MENGENAL ROH KUDUS (Denny Teguh Sutandio)


Siapakah Roh Kudus? Apa peranan Roh Kudus? Apa itu baptisan dan kepenuhan Roh Kudus? Apa saja karunia-karunia Roh Kudus?

Temukan jawabannya dalam:
Buku
MENGENAL ROH KUDUS
oleh: Denny Teguh Sutandio

Buku ini akan menguraikan seluk-beluk tentang Roh Kudus, mulai dari Pribadi Roh Kudus, peranan-Nya, baptisan dan kepenuhan Roh Kudus, dan karunia-karunia Roh dengan dasar penafsiran Alkitab yang bertanggung jawab dan teliti.



Apa kata mereka tentang buku “Mengenal Roh Kudus”?

“Dengan tegas dan jelas Denny telah menguraikan beberapa tema penting doktrin Roh Kudus dari sudut pandang Alkitab. Bagi jemaat awam, buku ini menolong untuk meluruskan beberapa pandangan yang keliru atau kontroversil mengenai Roh Kudus. Denny telah menunjukkan pentingnya membaca dan menggali firman Tuhan dengan benar.”
Ev. Hans Wuysang, M.Th.
(Direktur Scripture Union Indonesia)

“Keyakinan orang Kristen terhadap doktrin Allah Tri Tunggal tidak serta-merta membuat mereka bersikap adil dalam usaha untuk mengenal setiap pribadi yang ada di dalam Allah Tri Tunggal. Tidak sedikit dari mereka yang terjebak dalam sikap “meng-anak-tiri-kan” Roh Kudus sebagai pribadi ketiga Tri Tunggal. Setidaknya, hal ini terlihat dari minimnya pemahaman mereka tentang Roh Kudus, dan hidup sebagai penganut saksi YHWH praktis (hidup tanpa pimpinan Roh Kudus).
Di pihak lain, terdapat golongan Kristen lainnya yang cenderung memprioritaskan Roh Kudus dalam bertheologi namun “meng-anak-tiri-kan” pribadi-pribadi yang lain dalam Tri Tunggal. Hal ini membuat mereka terjebak dalam pemahaman dan aplikasi yang keliru tentang pribadi Roh Kudus, karya serta manifestasi-Nya dalam hidup orang Kristen.
Dalam situasi yang sangat memprihatinkan ini, buku MENGENAL ROH KUDUS merupakan suatu langkah awal yang bijak untuk menolong Anda untuk terhindar dari kekeliruan yang sedang terjadi saat ini, dan membawa Anda untuk mengenal pribadi Roh Kudus secara bertanggung jawab.”
Ev. Reyco F. Wattimury, S.Th.
(hamba Tuhan di Gereja Kristus Rahmani Indonesia—GKRI Exodus, Surabaya dan salah satu dosen di Sekolah Theologi Awam Reformed—STAR, Surabaya)

“Salah satu doktrin yang sering kali menjadi perdebatan adalah Pneumatology (Doktrin Roh Kudus). Sepanjang sejarah gereja, banyak muncul pemikiran dan pengajaran yang keliru mengenai pribadi dan karya Roh Kudus. Denny berhasil mengupas materi yang berat ini menjadi sesuatu yang menarik untuk dibaca oleh semua kalangan. Dengan penggalian Alkitab yang bertanggung jawab dan pengupasan masalah yang baik, buku “Mengenal Roh Kudus” ini layak untuk dipelajari dan menjadi pelengkap bagi bahan katekisasi jemaat.”
Ev. David Santoso Kosasih, M.Div.
(Gembala Sidang Gereja Kristen Kalam Kudus Jemaat Kemayoran Baru, Surabaya)


Penerbit: Sola Scriptura


Harga: Rp 50.000, 00/buku
(belum termasuk ongkos kirim)


Berminat??
SMSkan nama dan alamat lengkap Anda beserta judul dan jumlah buku yang ingin Anda pesan ke no: 0878-5187-3719

Bagian 7: Karunia Pekerjaan Kuasa (1Kor. 12:10, 28)

MENGENAL KARUNIA-KARUNIA ROH KUDUS

Bagian 7: Karunia Pekerjaan Kuasa (1Kor. 12:10, 28)

oleh: Denny Teguh Sutandio

Kemudian, Paulus menyebut karunia mengadakan mujizat (LAI). Teks Yunaninya adalah ἐνεργήματα δυνάμεων (energēmata dunameōn). Kata ἐνεργήματα (energēmata) berbentuk kata benda, nominatif (subjek kalimat), netral, dan jamak dari kata ἐνέργημα (energēma). Kata ini berarti working (cara kerja), activity (pekerjaan). Kata δυνάμεων (dunameōn) berbentuk kata benda, genitif (kepemilikan), feminin, dan jamak dari kata δύναμις (dunamis) dan dalam konteks ini, kata ini berarti kuasa/kekuatan (power). Kata dunamis yang berarti kuasa dapat dijumpai di Mat. 14:2[1]; 22:29[2]; Kis. 1:8[3]; Rm. 1:4[4]; Kol. 1:11[5]; 2Tim. 3:5[6]; Ibr. 7:16[7]; 2Ptr. 1:3[8]. Dari dua kata ini, kita menggabungkan artinya menjadi: pekerjaan-pekerjaan kuasa-kuasa.[9]

Apa arti karunia pekerjaan kuasa ini? Apakah sama dengan karunia kesembuhan di bagian 4? Tentu tidak sama. Karunia kesembuhan bisa dikategorikan sebagai karunia pekerjaan kuasa, tetapi karunia pekerjaan kuasa tidak identik dengan karunia kesembuhan, karena karunia pekerjaan kuasa bisa meliputi banyak hal selain kesembuhan.

Kalau kita memperhatikan salah satu teks di atas yang menggunakan kata Yunani dunamis seperti di 1Kor. 12:10 yaitu di Kis. 1:8, kita akan mengerti definisi kuasa. Kita akan mencoba menelusuri sepintas di beberapa pasal kitab Kisah Para Rasul ini tentang kuasa Roh yang dijanjikan Kristus di Kis. 1:8 tadi. Di pasal 2 kitab Kisah Para Rasul, kita melihat kuasa Roh dinyatakan melalui gejala: tiupan angin keras dan lidah-lidah api (Kis. 2:2-3), kemudian disusul dengan bahasa lidah (Kis. 2:4). Kuasa Roh ini mencengangkan banyak orang yang berkumpul di Yerusalem waktu itu, sehingga Petrus dan para rasul berkhotbah (Kis. 2:14-40), dan akibatnya 3.000 jiwa bertobat (Kis. 2:41). Satu pasal sesudahnya, dr. Lukas mencatat kuasa Roh melalui Petrus yang menyembuhkan orang lumpuh (Kis. 3:1-10). Di Kis. 4, kuasa Allah nyata melalui Petrus dan Yohanes yang berani bersaksi di depan Mahkamah Agama (ay. 1-22). Bahkan di Kis. 5, dr. Lukas mencatat kuasa Allah yang menyembuhkan dan mengusir setan melalui para rasul (Kis. 5:15-16). Di Kis. 9, dr. Lukas mencatat kuasa Allah melalui Petrus yang menyembuhkan Eneas yang lumpuh dan membangkitkan Dorkas (ay. 32-43). Di Kis. 19, dr. Lukas mencatat kuasa Allah melalui Paulus yang menyembuhkan orang sakit dan mengusir setan (ay. 11-12).

Dari penyelidikan khusus di kitab Kisah Para Rasul, kita mendapatkan penjelasan bahwa pekerjaan kuasa bisa meliputi kesembuhan, pengusiran setan, dll. Rev. Prof. D. A. Carson, Ph.D. menyebutkan beberapa hal termasuk pekerjaan kuasa ini, “exorcisms, nature miracles, and other displays of divine energy.”[10] (=pengusiran setan, mujizat-mujizat alam, dan pertunjukan lain dari kuasa ilahi.)



[1] LAI: “kuasa-kuasa”.

[2] LAI: “kuasa”.

[3] LAI: “kuasa”.

[4] LAI: “berkuasa” (seharusnya teks aslinya berbentuk kata benda).

[5] LAI: “kekuatan”.

[6] LAI: “kekuatan”.

[7] LAI tidak menerjemahkan kata ini. Young’s Literal Translation (YLT): “power of an endless life” (kuasa dari hidup yang tidak binasa).

[8] LAI: “kuasa”.

[9] English Standard Version (ESV), King James Version (KJV), dan Revised Standard Version (RSV): “the working of miracles.” D. A. Carson menerjemahkan arti literalnya: “workings of powers” (pekerjaan-pekerjaan kuasa-kuasa).

[10] D. A. Carson, Showing the Spirit, hlm. 31.

22 January 2012

Resensi Buku-151: PEMBUKTIAN ATAS KEBENARAN IMAN KRISTIANI (Rev. Lee P. Strobel, D.D.)

...Dapatkan segera...




Buku:
PEMBUKTIAN ATAS KEBENARAN IMAN KRISTIANI:
Investigasi Pribadi Seorang Jurnalis atas Bukti tentang Iman Kristiani


oleh: Rev. Lee Patrick Strobel, D.D. (HC)

Penerbit: Gospel Press, Batam, 2005

Penerjemah: Dra. Magda L. Toruan





Deskripsi singkat dari Denny Teguh Sutandio:
Benarkah semua agama itu sama saja? TIDAK. Fakta membuktikan bahwa hanya Kekristenan satu-satunya agama yang bisa dipertanggungjawabkan baik secara sejarah, rasio, maupun pengalaman hidup manusiawi. Apakah pernyataan ini bukan pernyataan yang gegabah dan “menghakimi”? TIDAK! Pernyataan ini merupakan pernyataan yang bisa dipertanggungjawabkan, salah satunya oleh seorang mantan atheis yang setelah menjelajah ke semua agama dan akhirnya menemukan kebenaran sejati HANYA di dalam Tuhan Yesus Kristus, yaitu Rev. Dr. Lee Strobel. Dengan kemampuan seorang jurnalis yang menguasai hukum, Rev. Lee Strobel menginvestigasi secara pribadi delapan pertanyaan besar yang sering kali menyerang Kekristenan, yaitu: jika Allah ada, mengapa ada kejahatan?; benarkah mukjizat itu ada jika mukjizat bertentangan dengan pengetahuan ilmiah?; benarkah teori evolusi menggeser keberadaan Allah?; benarkah Allah itu kejam dengan membunuh anak-anak kecil yang tak berdosa?; benarkah dengan mengaku bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan kepada Allah itu berarti kita menghina agama lain?; mungkinkah Allah yang Pengasih menyiksa orang di neraka?; bisakah Kekristenan dipercayai jika sejarah gereja dinodai oleh penindasan dan kekerasan?; dan ketika saya ragu, masih bisakah saya menjadi orang Kristen? Sebelum menginvestigasi 8 pertanyaan besar itu, dalam bukunya Pembuktian Atas Kebenaran Iman Kristiani, beliau mengetengahkan sebuah cerita dari Charles Templeton, mantan penginjil (rekan pelayanan Dr. Billy Graham) yang akhirnya menjadi seorang skeptis (meragukan Allah itu ada atau tidak). Setelah itu, beliau mulai mencari jawaban di balik pertanyaan Charles Templeton tersebut dengan mewawancarai 8 tokoh intelektual baik dalam bidang theologi, filsafat, maupun sains, yaitu:
1. Prof. Peter John Kreeft, Ph.D. (Profesor Filsafat di Boston College dan The King’s College yang menyelesaikan studi Bachelor of Arts—A.B. di Calvin College; Master of Arts—M.A. dan Doctor of Philosophy—Ph.D. di Fordham University; dan post-doctoral di Yale University, U.S.A.)
2. Prof. William Lane Craig, Ph.D., D.Theol. (Profesor Riset Filsafat di Talbot School of Theology, Biola University, U.S.A. yang menyelesaikan studi Bachelor of Arts—B.A. dalam bidang Komunikasi di Wheaton College, Illinois, U.S.A.; M.A. dalam bidang Filsafat Agama dan Sejarah Gereja di Trinity Evangelical Divinity School, Deerfield, Illinois, U.S.A.; Ph.D. di University of Birmingham, England; dan Doctor of Theologie—D.Theol. di University of Munich)
3. Prof. Walter L. Bradley, Ph.D. (Director of the Polymer Science and Engineering Program di Texas A&M University, U.S.A. yang menyelesaikan studi Bachelor of Science—B.S. dalam bidang Engineering Science dan Ph.D. dalam bidang Materials science di University of Texas at Austin.)
4. Prof. Norman L. Geisler, Ph.D. (Presiden dari Southern Evangelical Seminary, U.S.A. yang menyelesaikan studi B.A. dan M.A. di Wheaton College; Bachelor of Theology—B.Th. di William Tyndale College; dan Ph.D. dalam bidang Filsafat di Loyola University.)
5. Ravi Zacharias, D.D. (HC), LL.D. (HC) (Presiden dari Ravi Zacharias International Ministries dan Distinguished Visiting Professor of Religion and Culture di Southern Evangelical Seminary, U.S.A. yang menyelesaikan studi B.A. di University of New Delhi; B.Th. di Ontario Bible College; Master of Divinity—M.Div. di Trinity Evangelical Divinity School dan mendapatkan gelar kehormatan: Doctor of Divinity—D.D. dari Houghton College dan Doctor of Laws—LL.D. dari Asbury College)
6. Prof. James Porter (J. P.) Moreland, Ph.D. (Distinguished Professor of Philosophy di Talbot School of Theology, Biola University di La Mirada, California, U.S.A. yang menyelesaikan studi Bachelor of Science—B.S. dalam bidang Kimia di University of Missouri, U.S.A.; Master of Theology—Th.M. di Dallas Theological Seminary, U.S.A.; M.A. dalam bidang Filsafat di University of California-Riverside; dan Ph.D. dalam bidang Filsafat di University of Southern California, U.S.A.)
7. Prof. John D. Woodbridge, Ph.D. (Profesor Riset Sejarah Gereja dan Sejarah Pemikiran Kristen di Trinity Evangelical Divinity School, Deerfield, Illinois, U.S.A. dan anggota dari: the American Society of Church History, the American Society of 18th Century Studies, the American Catholic Historical Association, the French Historical Society, dan the French-Société française d'etude du 18 siècle; menyelesaikan studi B.A. dalam bidang Sejarah di Wheaton College, U.S.A.; M.A. dalam bidang Sejarah di Michigan State University, U.S.A.; M.Div. di Trinity Evangelical Divinity School, U.S.A.; Doctorat de Troisième Cycle dari the University of Toulouse, France, dan menyelesaikan studi post-doctoral di University of Paris di Prancis)
8. Prof. Lynn Anderson, D.Min. (Pendiri Hope Network Ministries yang menyelesaikan studi master di Harding Graduate School of Religion dan Doctor of Ministry—D.Min. di Abilene Christian University)
Setelah mewawancarai 8 tokoh intelektual tersebut, beliau menutup bukunya dengan sebuah kesimpulan yaitu sebuah tantangan bagi pembaca untuk mengambil keputusan untuk menerima dan mengikut Tuhan Yesus Kristus. Biarlah buku yang berisi investigasi seorang mantan jurnalis yang menjadi pendeta ini boleh menguatkan iman Kristen kita di tengah arus zaman yang semakin menghimpit kita.





Rekomendasi:
“Lee Strobel telah memberikan hadiah kepada orang-orang percaya dan kepada mereka yang skeptis. Dia tidak menghindarkan diri dari menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang paling sukar yang dapat dibayangkan – pertanyaan-pertanyaan tentang Allah dan penderitaan, tentang penghakiman Ilahi dan neraka, tentang ketidakadilan, dan juga tentang eksklusivisme Kristus. Dia berani membahasnya dalam segala kerumitannya sehingga dengan begitu dia tidak memberikan jawaban-jawaban yang gampang, yang dapat lebih merugikan daripada mendatangkan kebaikan. Meskipun demikian, gaya penulisannya yang khas – yaitu dengan mencatat wawancara dengan para pakar yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sukar tersebut – membuat buku ini mudah dipahami dan menarik. Bagi saya, buku ini sangat membantu dan menawan hati.”
Prof. Gerald L. Sittser, Ph.D.
(Profesor Agama di Whitworth College dan penulis buku A Grace Disguised dan The Will of God as a Way of Life; Bachelor of Arts—B.A. dari Hope College; Master of Divinity—M.Div. dari Fuller Theological Seminary, U.S.A.; dan Doctor of Philosophy—Ph.D. dari University of Chicago)

“Dengan kegigihan seorang penyelidik yang tangguh, serta keterampilan seorang komunikator yang cerdas, Lee Strobel memecahkan masalah kekakuan iman pada zaman yang diwarnai oleh spiritualitas semu dan lengkingan para skeptis. Jawaban-jawaban yang mencekam pikiran terhadap pertanyaan-pertanyaan yang begitu menyentuh jiwa, yang secara brilian diseleksi oleh orang yang tidak takut mengajukan pertanyaan-pertanyaan keras kepada orang-orang yang mengaku kebenaran iman Kristiani.”
Ravi Zacharias, D.D., LL.D.
(Presiden dari Ravi Zacharias International Ministries dan Distinguished Visiting Professor of Religion and Culture di Southern Evangelical Seminary, U.S.A.; B.A. dari University of New Delhi; Bachelor of Theology—B.Th. dari Ontario Bible College; M.Div. dari Trinity Evangelical Divinity School; Doctor of Divinity—D.D. honorary dari Houghton College; dan Doctor of Laws—LL.D. honorary dari Asbury College)

“Setiap orang – yang sedang mencari-cari, yang bimbang, maupun orang-orang percaya yang teguh – memperoleh manfaat ketika Lee Strobel berangkat mencari jawaban-jawaban, seperti yang dilakukannya lagi dalam Pembuktian Atas Kebenaran Iman Kristiani ini. Di tengah wawancara-wawancara yang tajam ini, beberapa hambatan intelektual yang paling berat pun akhirnya runtuh.”
Dr. Luis Palau
(Presiden dari Luis Palau Evangelistic Association; alumni Multnomah Biblical Seminary di Portland, Oregon)

“Dengan kedalaman intelektual dan kejujuran, Lee Strobel menyelidiki, kemudian meniadakan, argumentasi-argumentasi yang paling keras terhadap iman Kristiani. Sebuah buku yang sempurna bagi kaum intelektual, orang-orang yang bimbang, dan orang yang suka bertanya-tanya. Sebuah karya yang sangat membina iman.”
Dr. Bill Bright
(Pendiri dan Presiden dari Campus Crusade for Christ International)





Profil Rev. Lee Strobel:
Rev. Lee Patrick Strobel, B.J., M.S., D.D. (HC) lahir pada tanggal 25 Januari 1952 di Arlington Heights, Illinois. Beliau menyelesaikan studi Bachelor of Jurnalism (B.J.) di University of Missouri, U.S.A. dan Master of Studies (M.S.) dalam bidang hukum di Yale Law School, U.S.A. Pada tahun 2007, beliau dianugerahi gelar Doctor of Divinity (D.D.) dari Southern Evangelical Seminary. Beliau pernah menjadi editor bidang hukum dalam harian The Chicago Tribune. Perhargaan-penghargaan yang pernah diterimanya di antaranya: Illinois’ highest honors untuk pelaporan investigatif dan jurnalisme untuk layanan masyarakat dari United Press International. Perjalanannya dari atheisme pada Kekristenan terdokumentasi dalam buku-bukunya yang memenangkan penghargaan Gold Medallion dan berhasil menjadi best-seller, yaitu Pembuktian Atas Kebenaran Kristus. Saat ini beliau menjadi pendeta pengajar di Saddleback Valley Community Church, Lake Forest, California, U.S.A. dan juga menjadi anggota dewan dari Willow Creek Association. Buku-bukunya yang lain yang menjadi best-seller, yaitu: Inside the Mind of Unchurched Harry and Mary yang juga memenangkan Gold Medallion, What Jesus Would Say, dan God’s Outrageous Claims yang semuanya diterbitkan oleh Zondervan Publishing House. Beliau telah menikah dengan Leslie dan dikaruniai 2 orang anak: Alison (lulusan dari University of Illinois bidang pendidikan dasar) dan Kyle yang sedang mengambil program studi magister di Talbot School of Theology.


19 January 2012

Bagian 6: Karunia Kesembuhan (1Kor. 12:9, 28, 30)

MENGENAL KARUNIA-KARUNIA ROH KUDUS

Bagian 6: Karunia Kesembuhan (1Kor. 12:9, 28, 30)

oleh: Denny Teguh Sutandio

Selanjutnya, Paulus menyebut karunia menyembuhkan. Kata “menyembuhkan” dalam LAI tidak tepat. Dalam teks Yunaninya, “menyembuhkan” adalah ἰαμάτων (iamatōn) yang berbentuk kata benda, genitif (kepemilikan), netral, dan jamak dari kata Yunani ἴαμα (iama).[1] Kata ini hanya dipakai 3x di dalam Perjanjian Baru yaitu di 1Kor. 12:9, 28, dan 30. Dan menariknya, khusus karunia ini, teks Yunani menambahkan kata χαρίσματα (kharismata), sehingga menjadi: χαρίσματα ἰαμάτων (kharismata iamatōn). Penggunaan kata kharismata di sini menurut Prof. David E. Garland, Ph.D. merupakan kekhususan untuk membedakan karunia kesembuhan dengan kesembuhan yang diperoleh melalui pengobatan medis.[2]

Penggunaan bentuk jamak dari kata Yunani untuk “kesembuhan” (iamatōn), menurut Rev. Prof. D. A. Carson, Ph.D. mengindikasikan,

there were different gifts of healings: not everyone was getting healed by one person, and perhaps certain persons with one of there gifts of healing could by the Lord’s grace heal certain diseases or heal a variety of disease but only at certain times.[3]

ada karunia-karunia kesembuhan-kesembuhan yang berbeda: tidak setiap orang disembuhkan oleh satu orang, dan mungkin beberapa orang dengan satu dari karunia-karunia kesembuhan, atas anugerah-Nya, dapat menyembuhkan penyakit-penyakit tertentu atau menyembuhkan berbagai penyakit tetapi hanya pada saat-saat tertentu.

Dari sini, kita belajar bahwa orang yang mendapat karunia kesembuhan adalah mereka yang diberi karunia untuk menyembuhkan orang sakit, namun hasil akhirnya bergantung pada kedaulatan Allah yang bisa menyembuhkan penyakit orang lain maupun tidak menyembuhkan sama sekali.



[1] Seharusnya diterjemahkan, “karunia kesembuhan”.

[2] David E. Garland, 1 Corinthians, hlm. 581.

[3] D. A. Carson, Showing the Spirit, hlm. 30.

15 January 2012

Resensi Buku-150: BATAS-BATAS DALAM KENCAN DAN PACARAN (Henry Cloud, Ph.D. dan Prof. John Townsend, Ph.D.)

Masa muda salah satunya ditandai dengan aktivitas berkencan dan berpacaran. Namun, apa sebenarnya makna berkencan dan berpacaran? Sampai sejauh mana para muda-mudi Kristen mengerti kedua makna di atas dan mengaplikasikannya?

Temukan jawabannya dalam:
Buku:
BATAS-BATAS DALAM KENCAN DAN PACARAN:
Membangun Hubungan Cinta yang Berhasil


oleh:
Henry Cloud, Ph.D. dan Prof. John Townsend, Ph.D.

Penerbit: Interaksara, Batam, 2004

Penerjemah: Esther S. Mandjani



Henry Cloud, Ph.D. dan Prof. John Townsend, Ph.D. dalam bukunya Batas-batas dalam Kencan dan Pacaran mengemukakan banyak hal perihal kencan dan berpacaran. Di dalam pendahuluan bukunya, mereka mengemukakan tesis bukunya yaitu alasan perlunya berkencan (mengcounter pandangan Rev. Joshua E. Harris). Kemudian, di bagian 1, mereka menguraikan pentingnya garis batas dalam kencan dan pacaran misalnya: melibatkan Tuhan dalam kencan kita, pentingnya kejujuran dalam mengemukakan standar nilai kita dalam berpacaran, dll. Di bagian 2, mereka beralih ke topik siapa yang bisa kita kencani yang menyangkut tema-tema tentang memilih teman kencan dan pacar kita dengan baik dan bijaksana, misalnya: memmpertimbangkan hal-hal apa yang dapat kita terima dan tidak dapat kita terima (mutlak vs relatif), pentingnya persahabatan di dalam hubungan kencan dan pacaran, dll. Di dalam kencan dan berpacaran, tentu kita menghadapi masalah dan masalah itu bisa terjadi karena kita atau teman kencan kita. Bagaimana menghadapi masalah ketika kita yang menjadi bagian dari masalahnya? Hal ini dibahas di bagian 3 buku ini. Sedangkan ketika teman kencan kita yang bermasalah, hal ini dibahas di bagian 4 tentang perlunya memberi batasan yang tegas dan konsekuensi, sehingga teman kencan kita tidak melewati batas-batas kita.



Rekomendasi:
“Boundaries in Dating adalah sumber pengetahuan tentang pacaran yang paling membantu yang pernah kami baca selama bertahun-tahun. Ini jelas akan menjadi klasik. Jika Anda sedang mencari kiat praktis untuk menemukan cinta dalam hidup Anda, Anda tidak boleh melewatkan buku luar biasa ini.”
Prof. Les Parrott III, Ph.D. dan Leslie Parrott
(Profesor Psikologi Klinis sekaligus mendirikan the Center for Relationship Development di Seattle Pacific University dan Penulis Relationships dan Saving Your Marriage Before It Starts; Master of Arts—M.A. dalam bidang Theologi dan Doctor of Philosophy—Ph.D. dalam bidang Psikologi Klinis dari Fuller Theological Seminary, U.S.A.)

“Boundaries in Dating akan membantu Anda menghindari jebakan-jebakan pacaran yang buruk dan mempelajari rahasia pacaran yang baik. Berkencan dan berpacaran dengan batasan-batasan yang baik adalah cara yang bisa dipastikan untuk menemukan hubungan yang bertahan seumur hidup.”
Prof. Gary Smalley, Ph.D.
(Konselor keluarga, Pendiri sekaligus Presiden dari the Smalley Relationship Center, dan Penulis Making Love Last Forever; )



Profil Dr. Henry Cloud dan Dr. John Townsend:
Henry Cloud, Ph.D. dan Prof. John Townsend, Ph.D. (www.CloudTownsend.com) adalah pembicara populer, psikolog, dan pembawa acara bersama dalam program radio nasional New Life Live! dan pendiri Cloud-Townsend Resources.
Henry Cloud, B.S., Ph.D. menyelesaikan studi Bachelor of Science (B.S.) dalam bidang Psikologi di the Center for Relationship Development; Doctor of Philosophy (Ph.D.) dalam bidang Psikologi Klinis di Biola University, U.S.A. dan clinical internship di Los Angeles County Department of Mental Health.
Prof. John Townsend, B.A., Th.M., Ph.D. adalah visiting professor di Dallas Theological Seminary, U.S.A. dan Direktur Klinis di the American Association of Christian Counselors. Beliau menyelesaikan studi Bachelor of Arts (B.A.) di North Carolina State University; Master of Theology (Th.M.) di Dallas Theological Seminary, U.S.A.; dan Ph.D. dalam bidang Psikologi Klinis di Biola University, California, U.S.A.

12 January 2012

Bagian 5: Karunia Iman (1Kor. 12:9)

MENGENAL KARUNIA-KARUNIA ROH KUDUS

Bagian 5: Karunia Iman (1Kor. 12:9)

oleh: Denny Teguh Sutandio

Karunia ketiga yang disebutkan Paulus adalah karunia iman. Kata Yunani untuk “iman” di ayat ini adalah πίστις (pistis) yang bisa berarti kepercayaan, iman, komitmen, dll. Namun dalam konteks ini, “iman” tentu tidak berarti kepercayaan kepada Kristus yang dimiliki semua orang percaya (iman yang menyelamatkan atau saving faith), tetapi “iman” di sini lebih berarti karunia percaya kepada Allah yang bekerja secara dahsyat di luar kemampuan manusia. Prof. Gordon D. Fee, Ph.D., D.D. menyebutnya supernatural faith (iman supranatural),[1] sedangkan Prof. David E. Garland, Ph.D. menyebutnya internal trust in God (kepercayan internal di dalam Allah).[2]

Karunia iman ini mengingatkan kita akan karunia iman yang dimiliki oleh seorang George Muller dari Bristol, Inggris yang terus beriman kepada Allah yang pasti memelihara pelayanannya kepada anak-anak yatim piatu. Dr. Billy Graham menceritakan, “Muller menolak untuk minta uang bahkan serupiah pun kepada orang lain, tetapi ia berdoa agar Tuhan menyediakan uang baginya.”[3]



[1] Gordon D. Fee, God’s Empowering Presence: The Holy Spirit in the Letters of Paul (Peabody, Massachusetts: Hendrickson Publishers, 1994), hlm. 168.

[2] David E. Garland, Baker Exegetical Commentary on the New Testament: 1 Corinthians (Grand Rapids, Michigan: Baker Academic, 2007), hlm. 581

[3] Billy Graham, Roh Kudus: Kuasa Allah dalam Hidup Anda, terj. Susie Wiriadinata (Bandung: Lembaga Literatur Baptis, 2002), hlm. 243.