09 August 2010

WHAT'S WRONG IN THE GARDEN OF EDEN?-5: Eden dan Dosa-4: Berfokus Pada Fenomena

WHAT’S WRONG IN THE GARDEN OF EDEN?-5:
Eden dan Dosa-4: Berfokus Pada Fenomena


oleh: Denny Teguh Sutandio



Nats: Kejadian 3:6a




Setelah melihat inkonsitensi pada diri Hawa, maka di bagian ini, kita akan melihat dosa kedua yang Hawa lakukan dari Kejadian 3:6a. Mari kita sekali lagi menyimak ayat 6, “Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.” Setelah iblis mencobai Hawa untuk menjadi seperti Allah yang mengetahui yang baik dan jahat, maka Hawa pun tergoda dan Alkitab mencatat bahwa Hawa melihat bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya. Dengan kata lain, buah ini bagi Hawa bukan hanya baik untuk dimakan, namun juga sedap. English Standard Version (ESV) menerjemahkannya, “So when the woman saw that the tree was good for food, and that it was a delight to the eyes, and that the tree was to be desired to make one wise” Kata good di dalam ayat ini dalam bahasa Ibraninya adalah †ôb yang artinya baik. Kata sedap di dalam ayat ini dalam bahasa Ibraninya ta´áwâ berarti (membangkitkan) keinginan/desire, kemudian disusul dengan kata Ibrani lä`ênaºyim yang berarti bagi mata (lä = kata depan). Selain itu, Alkitab mencatat bahwa buah ini juga diinginkan untuk membuat seseorang bijaksana (wise). Kata “pengertian” dalam terjemahan Indonesia berasal dari bahasa Ibrani śâkal yang berarti intelligent. Di dalam mayoritas Alkitab terjemahan Inggris kata ini diterjemahkan wise (=bijaksana). New International Version (NIV) menerjemahkannya wisdom (=kebijaksanaan). Dari sini, menurut Hawa, ada tiga ciri dari buah pohon pengetahuan yang baik dan jahat: baik, membangkitkan selera/sedap, dan memberi pengertian/kebijaksanaan. Dan uniknya, tiga ciri fenomenal ini didapatkan oleh Hawa SETELAH iblis meracuni pikirannya, padahal Allah tidak memberikan deskripsi apa pun tentang buah pohon pengetahuan yang baik dan jahat (kecuali hanya larangan untuk memakannya). Di sini, kita mendapatkan pengertian bahwa iblis selalu mengakibatkan kita terus memperhatikan hal-hal fenomenal.


Dosa mengakibatkan manusia terus memusatkan perhatiannya pada hal-hal fenomenal. Mengapa? Karena:
Pertama, hal-hal fenomenal lebih jelas dilihat dengan mata. Iblis meracuni Hawa untuk melihat hal-hal fenomenal dari buah pohon tersebut dengan tujuan agar Hawa lebih bisa melihat dengan jelas deskripsi buah pohon tersebut dan tidak lagi memusingkan apa yang Allah firmankan. Iblis mulai meracuni Hawa untuk membuang perspektif Allah dalam menyoroti segala sesuatu dan menggantinya dengan perspektif Hawa sendiri untuk melihat fenomena di depan mata. Dan ternyata Hawa ternyata menyetujui konsep iblis bahwa buah pohon tersebut memang baik, sedap dipandang, dan memberi pengertian. Dari mana Hawa mengetahui bahwa buah pohon tersebut kelihatan baik, sedap, dan memberi pengertian? Apakah dia sudah memverifikasikannya secara ilmiah? TIDAK. Ia tahu dari iblis. Di sini, kita belajar bahwa dosa dimulai tatkala manusia lebih memercayai perkataan iblis yang mengatakan “kebenaran” ketimbang Allah. Yang aneh adalah konsep ini terus ditiru oleh manusia sepanjang abad. Makin meniru “pengetahuan/kebenaran” dari iblis, manusia makin kelihatan bodohnya. Mari kita buktikan. Orang atheis selalu gembar-gembor mengatakan bahwa Allah itu sudah mati dan menantang orang Kristen untuk membuktikan keberadaan Allah. Mereka berpikir bahwa Allah itu tidak nampak, oleh karena itu Allah tidak ada. Mereka terlalu berfokus pada hal-hal fenomenal yang kelihatan lebih jelas dipandang mata, namun mereka tidak menyadari bahwa suatu eksistensi (keberadaan) TIDAK harus identik dengan sesuatu yang bisa dilihat mata dengan jelas. Sebuah cerita humor yang menarik yang diceritakan oleh Prof. Gary T. Meadors, Th.D. di dalam bukunya Decision Making God’s Way: Mengambil Keputusan Tepat Sesuai Kehendak Allah (2009): ada seorang ibu Kristen jemaat Quaker yang menitikberatkan pada pentingnya pengalaman pribadi untuk mengenal Allah ditantang oleh seorang atheis untuk membuktikan keberadaan Allah. Si atheis terus bertanya kepada si ibu apakah si ibu itu sudah melihat dan menjamah Allah. Si ibu berkata tidak pernah. Lalu, si atheis dengan bangga menyimpulkan bahwa Allah itu tidak ada. Kemudian si ibu balik bertanya kepada si atheis, apakah si atheis ini melihat otak? Si atheis menjawab bahwa dia melihat hasil otak dalam pemikiran. Kemudian si ibu bertanya lagi, apakah si atheis dapat menyentuh otaknya? Si atheis bingung menjawab, lalu si ibu menyimpulkan bahwa karena si atheis belum (tidak) pernah menyentuh otaknya sendiri, maka si atheis tidak memiliki otak!

Dari cerita lucu di atas, kita mendapat kesimpulan bahwa semakin seseorang menekankan hal-hal fenomenal, ia bukan makin mengerti tuntas fenomena, namun justru ditipu oleh fenomena, karena cara pikirnya selalu bersifat materi/fisik.

Kedua, hal-hal fenomenal bersifat menyenangkan. Selain bisa dilihat oleh mata dengan jelas, maka hal-hal fenomenal juga bersifat menyenangkan. Ada unsur hiburan di dalam hal-hal fenomenal. Perhatikanlah pengaruh racun iblis terhadap penilaian Hawa terhadap buah pohon pengetahuan yang baik dan jahat. Bukankah penilaian tersebut adalah penilaian terhadap fenomena yang kelihatan menyenangkan? Hal serupa yang dipakai iblis untuk menipu dunia kita hari-hari ini. Iblis menipu kita melalui konsep takhayul yang dipercaya oleh banyak masyarakat, agar kedok iblis tidak dikenal dengan jelas. Orang dunia melalui media film maupun lainnya selalu memiliki konsep bahwa iblis itu nampak dalam rupa makhluk yang menyeramkan, seperti genderuwo, pocong, kuntilanak, vampire, dll. Tidak heran, banyak orang pun juga mengadopsi pikiran serupa, lalu ketakutan sendiri ketika berada di rumah sendirian atau pergi ke tempat yang gelap. Akibatnya, iblis makin berulah yang lebih dahsyat lagi untuk menakuti manusia. Benarkah iblis selalu muncul dalam bentuk yang menyeramkan? Mungkin sekali, namun itu TIDAK selalu, bahkan kebanyakan iblis BUKAN muncul dalam bentuk yang menyeramkan, melainkan dalam bentuk yang luar biasa baik. Ketika iblis mencobai Hawa, apakah iblis datang dalam bentuk yang menyeramkan? TIDAK! Iblis datang dalam bentuk ular, seekor hewan. Terus terang saya mengatakan bahwa jika iblis selalu datang dalam bentuk makhluk yang menyeramkan, itu iblis kelas kampungan, karena kedoknya sudah diketahui terlebih dahulu. Karena iblis itu bapa pendusta, maka ia datang mencobai manusia BUKAN dalam bentuk makhluk yang menyeramkan, namun melalui sesuatu yang kelihatan baik, indah, dan menyenangkan. Perhatikan sekali tawaran iblis kepada Hawa (ay. 4-5), adakah sesuatu yang buruk di dalamnya? TIDAK, semua baik, bahkan seolah-olah membukakan realitas “asli” kepada Hawa, namun ia tidak membukakan kebenaran sejati kepada Hawa secara tuntas. Itulah cara kerja iblis dari dahulu sampai sekarang. Di zaman sekarang, iblis datang melalui “ular-ular” yang begitu bagus, menarik, indah, menyenangkan, dll, namun berdampak akhir yang fatal: kematian. Iblis tidak lagi suka indekos di dalam klub-klub malam dan tempat pelacuran, ia sekarang gemar indekos di dalam orang Kristen, pemimpin gereja, dll yang seolah-olah rohani. Mengapa ia memakai orang-orang “rohani” ini? Karena iblis mau menghancurkan Kekristenan pelan-pelan. Bagaimana caranya iblis mulai indekos di dalam pribadi-pribadi yang seolah-olah rohani ini? Iblis mulai memakai orang-orang ini untuk mengajarkan dan melakukan apa yang tidak diperintahkan Alkitab, misalnya: percaya Yesus pasti kaya, sukses, tidak pernah sakit, bahkan tidak pernah digigit nyamuk. Ada lagi yang mengajarkan bahwa Yesus itu hanya manusia biasa, bukan Allah yang patut disembah. Ada lagi yang mengajarkan bahwa ada banyak jalan menuju ke “sorga”. Semua ajaran ini jelas bertentangan dengan apa yang Tuhan Yesus ajarkan di Alkitab sendiri. Namun, meskipun bertentangan dengan Alkitab, bukankah ajaran-ajaran tersebut seolah-olah menyenangkan telinga pendengar? Bukankah ajaran yang menyatakan bahwa keselamatan juga ada di luar Tuhan Yesus itu lebih terkesan menghargai agama lain dan “damai” (istilah kerennya: tidak dogmatis) ketimbang memberitakan bahwa Tuhan Yesus itu satu-satunya Juruselamat dunia? Bukankah ajaran yang menyatakan bahwa percaya Yesus itu pasti sukses, kaya, sehat, makmur, dll lebih menyenangkan ketimbang memberitakan bahwa percaya Yesus harus menyangkal diri dan memikul salib (Mat. 10:38; 16:24)? Melalui indoktrinasi ajaran-ajaran yang tidak bertanggungjawab ini, Kekristenan makin lama makin dijauhkan dari kebenaran Alkitab dan mulai menganut nilai-nilai duniawi, meskipun berKTP Kristen. Tidak heran, di zaman ini, kita makin lama makin menjumpai banyak orang Kristen bukan makin taat kepada Tuhan, tetapi makin atheis (entah itu atheis secara teori maupun praktis).


Lalu, jika terlalu menekankan hal-hal fenomenal termasuk akibat dosa, bagaimana respons orang Kristen terhadap hal-hal fenomenal? Karena tidak mau ditipu oleh hal-hal fenomenal, ada sekelompok orang Kristen yang akhirnya menjadi ekstrem kanan, yaitu anti terhadap hal-hal fenomenal, lalu HANYA mementingkan hal-hal esensial saja. Hal-hal esensial ini menyangkut konsep: iman, nilai (aksiologi), keindahan (estetika), dll. Orang Kristen yang terlalu berlebihan menekankan hal-hal esensial biasanya dapat saya kategorikan sebagai orang antik. Misalnya, kalau mau membeli makanan tertentu (misalnya lemper), orang yang terlalu mementingkan hal-hal esensial selalu mementingkan aspek nilai/mutu dari makanan, jadi ia akan pergi ke tempat yang jauh hanya untuk membeli lemper yang paling enak. Ada orang Kristen yang terlalu mementingkan hal-hal esensial, lalu menjadi orang Kristen jadul, khususnya anak muda. Ciri orang/anak muda Kristen jadul yang terlalu mementingkan hal-hal esensial ini ditandai dengan kegemaran mereka membaca buku (rohani/theologi), namun kurang bersosialisasi. Apa alasan mereka? Mereka menjawab bahwa bersosialisasi itu hal-hal fenomenal yang membuang-buang waktu. Hang out di mall atau menonton film di bioskop dianggap sesuatu yang fenomenal dan membuang-buang waktu. Jangan tanyakan kepada orang jadul ini, apakah memiliki Facebook (FB), kebanyakan mereka menjawab, “TIDAK!” Memiliki akun dan “berselancar” di dalam dunia FB pun dianggap sesuatu yang fenomenal dan membuang-buang waktu. Di dalam iman, orang yang hanya menekankan aspek-aspek esensial selalu kurang menekankan aspek fenomenal, akibatnya ia kering pengalaman rohani bersama Tuhan. Bagi orang ini, yang terpenting adalah ia sudah melahap habis buku-buku theologi dan filsafat, sudah menghafal theologi, atau mungkin sudah menggali Alkitab sampai ke bahasa aslinya. Ia tidak akan peduli jika kerohaniannya benar-benar miskin, pertimbangan dalam mengambil keputusan yang dibuatnya benar-benar melawan kehendak Allah, dll.


Kekristenan yang SEHAT tidak beralih dari ekstrem kiri maupun ekstrem kanan, namun harus seimbang! Memang, Alkitab mengajarkan bahwa hal-hal esensial itu paling penting, namun hal itu TIDAK berarti kita membuang semua hal-hal fenomenal. Di dalam Kekristenan, ajaran/doktrin/theologi itu penting, karena itu mengarahkan kita untuk mengetahui dan mengenal Allah. Tanpa doktrin yang benar, Kekristenan bisa hancur diracuni oleh zaman yang berdosa. Namun doktrin yang benar TIDAK berarti doktrin itu segala-galanya, lalu membuang pengalaman bersama Allah (unsur fenomenal). Makin seseorang belajar prinsip theologi tentang kedaulatan dan pemeliharaan Allah, ia makin menyadari bahwa secara terus-menerus, ia hidup di dalam suatu waktu yang dipelihara oleh-Nya sesuai kehendak-Nya, sehingga di dalam kehidupannya, ia mengaitkan segala aspek hidupnya dengan Allah sebagai Raja dan Tuhan yang memerintah. Terus terang, saya pribadi sulit menjalankan konsep ini, karena menjalankan firman Tuhan dan doktrin yang telah kita pelajari bukanlah seperti membalik telapak tangan, namun membutuhkan sebuah proses panjang. Ambil contoh, kita percaya bahwa Allah itu berdaulat atas segala sesuatu bahkan di dalam kehidupan manusia, khususnya di dalam masalah pasangan hidup. Kita percaya bahwa Allah yang menciptakan kita adalah Allah yang mengetahui apa yang terbaik bagi kita di dalam mencari pasangan hidup yang tepat bagi kita. Konsep ini sering kali hanya ada di dalam benak pikiran kita, tanpa kita sungguh-sungguh aplikasikan, sehingga ketika kita gagal terus dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis, kita langsung marah dan mengomel kepada Tuhan. Dahulu saya seperti itu, namun lama-kelamaan Tuhan terus memproses saya khususnya melalui khotbah mimbar dan buku-buku rohani yang khusus membahas mengenai hubungan lawan jenis (saya merekomendasikan buku-buku yang ditulis oleh Rev. Joshua E. Harris) untuk mengajar saya pentingnya berserah total kepada kedaulatan-Nya yang akan memberikan pasangan hidup yang tepat. Sambil berserah total, saya juga tetap bertanggungjawab mencarinya sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitab. Dan uniknya, makin saya mengalami Allah di dalam mencari pasangan hidup tersebut, makin saya melihat campur tangan Allah yang luar biasa. Meskipun Ia tidak mengizinkan saya menjalin hubungan dengan lawan jenis A, saya terlalu percaya bahwa di dalam kedaulatan-Nya, Ia pasti menyediakan yang terbaik yang cocok bagi saya yang belum saya ketahui pada saat ini. Di sini, saya mengaitkan pentingnya kedaulatan Allah dan iman yang progresif (atau: knowing God and experiencing Him atau menggunakan bahasa versi Katekismus Singkat Westminster: glorifying God and enjoying Him forever).


Orang Kristen yang mementingkan hal-hal esensial juga tetap memperhatikan hal-hal fenomenal lainnya. Mengapa? Karena kita harus mengakui bahwa selain sebagai warga negara Kerajaan Sorga, kita juga masih hidup sebagai warga negara dunia, sehingga mau tidak mau, hal-hal fenomenal tetap kita perlukan. Di dalam Matius 4:4, Tuhan Yesus berfirman, “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Kata “saja” atau dalam bahasa Inggris: alone menandakan bahwa selain mementingkan firman Tuhan, manusia hidup juga memerlukan roti untuk dimakan. Jangan sampai kita yang mengaku rohani, lalu tidak mau lagi minum es jeruk atau makan nasi goreng, dengan alasan itu hal-hal fenomenal. Hal-hal fenomenal lain juga bisa berupa kesenangan (pleasure), seperti hang out di mall, menonton bioskop, dll. Orang Kristen yang beres tentu TIDAK dilarang untuk menikmati kesenangan, karena menurut Dr. John Calvin sendiri, kesenangan dunia inipun diberikan oleh Tuhan kepada manusia untuk dinikmati. Namun yang menjadi batasannya adalah kita TIDAK boleh bertindak semaunya sendiri! Meskipun kita boleh menikmati kesenangan tersebut, namun jangan sampai kesenangan tersebut menjadi berhala dalam hidup kita, sehingga kita menjadi lupa untuk berdoa, membaca Alkitab, bersekutu dengan saudara seiman lain, dll.


Dengan kata lain, bagaimana cara orang Kristen menyeimbangkan hal-hal esensial dan fenomenal demi kemuliaan Allah? Mengutip perkataan Pdt. Ivan Kristiono, M.Div. yang mengutip perkataan Bapa Gereja Augustinus, “Cintailah Tuhan dan lakukanlah segala sesuatu.” Berarti, di titik pertama, kita harus menempatkan Tuhan sebagai Tuhan dalam hidup kita yang memerintah seluruh aspek kehidupan kita. Hal ini dimulai dari kerelaan kita menyerahkan hati kita kepada-Nya untuk dikuasai dan dipimpin-Nya setiap hari. Hati yang telah dikuasai dan dipimpin-Nya, melalui anugerah dan pemeliharaan-Nya, pasti menginginkan sesuatu yang memuliakan nama-Nya, oleh karena itu, di dalam melakukan segala sesuatu, ia menginginkan apa yang dilakukannya selalu memuliakan nama-Nya. Ketika ia bekerja, ia bekerja seperti untuk Tuhan. Ketika orang tersebut bermain, ia bermain seperti untuk Tuhan. Ketika orang itu sedang berekreasi atau hang out di mal, ia melakukannya seperti untuk Tuhan, sehingga tidak ada satu inci pun dalam kehidupannya yang dapat melukai hati Tuhan.


Bagaimana dengan kita? Apakah kita masih tergila-gila dengan hal-hal fenomenal? Ataukah kita beralih ke ekstrem kanan, yaitu terlalu mementingkan hal-hal esensial dan anti fenomenal? Biarlah Tuhan memimpin hidup kita untuk makin seimbang dalam menjalani hidup yang memuliakan nama-Nya. Amin. Soli Deo Gloria.

05 August 2010

WHAT'S WRONG IN THE GARDEN OF EDEN?-4: Eden dan Dosa-3: Inkonsistensi

WHAT’S WRONG IN THE GARDEN OF EDEN?-4:
Eden dan Dosa-3: Inkonsistensi


oleh: Denny Teguh Sutandio



Nats: Kejadian 3:6a




Setelah dua tahap iblis mencobai Hawa, apa reaksi Hawa? Di ayat 6, Alkitab mencatat, “Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.” Pada bagian ini, kita hanya menguraikan kalimat pertama yaitu pada ayat 6a sebagai fokus pembahasan kita. Setelah iblis mencobai Hawa untuk menjadi seperti Allah yang mengetahui yang baik dan jahat, maka Hawa pun tergoda dan Alkitab mencatat bahwa Hawa melihat bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya. Di sini, kita mulai melihat pergeseran pemikiran Hawa yang dahulu (seolah-olah) berpusat pada Allah (Kej. 3:2-3), sekarang tidak lagi. Hawa sekarang memusatkan perhatiannya pada iming-iming rayuan iblis, sehingga ia mulai melihat buah pohon pengetahuan itu dari perspektif iblis.


Dari kasus ini saja, kita bisa mengambil dua kesimpulan yang akan saya bahas pada dua bagian (bagian ini dan bagian selanjutnya).

Kesimpulan pertama, dosa mengakibatkan manusia hidup tidak konsisten dan inkonsistensi ini uniknya dimulai dari Hawa. Karena mementingkan perasaan ketimbang kebenaran Allah, maka Hawa akhirnya dengan mudahnya termakan oleh bujuk rayu iblis. Itu sebabnya tidak heran juga, jika banyak keturunan Hawa yang sudah meleset akibat dosa ini juga hidup secara tidak konsisten di dalam dunia ini. Tidak usah heran kalau ada cewek yang hari ini berkata A, minggu berikutnya berkata B, bulan berikutnya kembali mengatakan A, tahun depan berkata B, begitu seterusnya, akhirnya beberapa tahun kemudian berkata C. Inkonsistensi ini wajar, karena BANYAK cewek terlalu menggunakan perasaan ketimbang rasio. Inkonsistensi ini nantinya mempengaruhi Adam (cowok). Inkonsistensi ini mencakup banyak hal: iman, pikiran, perkataan, dan sikap. Pertanyaan selanjutnya, mengapa manusia hidup tidak konsisten? Saya (5 poin teratas) dan Sdr. Richard Limi, S.T., teman gereja saya menemukan ada 6 alasan inkonsistensi dalam hidup manusia:
1. Iman Kepercayaan yang Tidak Beres
Inkonsistensi paling mengerikan dan fatal terjadi karena adanya iman kepercayaan yang tidak beres. Saya mengatakan paling fatal, karena iman kepercayaan adalah jantung/inti dari hidup seseorang. Ketika iman seseorang berkontradiksi akibat tidak konsisten, maka dapat dipastikan cara berpikir, perkataan, dan sikapnya kacau (Jawa: amburadul). Mengapa iman kepercayaan seseorang bisa tidak konsisten? Karena iman tersebut dibangun di atas dasar pikiran manusia berdosa meskipun menggunakan nama “Tuhan” di dalamnya. Ketika iman seseorang dibangun di atas dasar pikiran manusia yang sendirinya berdosa dan tidak konsisten, maka tidak heran ajaran-ajaran dalam iman tersebut juga berkontradiksi satu sama lain. Ada ajaran yang mengatakan bahwa hidup ini penderitaan dan penderitaan itu disebabkan karena keinginan, maka kalau mau lepas dari penderitaan, seseorang harus meniadakan keinginan dan menggantinya dengan keinginan berbuat benar. Dari ajaran ini saja, kita menemukan kontradiksi fatal. Mengutip Ev. Bedjo Lie, S.E., M.Div. di dalam salah satu artikelnya mengatakan bahwa jika penderitaan itu dilepaskan dengan meniadakan keinginan, maka mengapa ajaran yang sama mengatakan bahwa perlunya keinginan untuk berbuat benar? Apakah berbuat benar itu tidak disertai keinginan? Kedua, yang lebih aneh, orang yang mengatakan bahwa penderitaan bisa dilepaskan dengan meniadakan keinginan pun dengan sendirinya memerlukan suatu keinginan untuk mengatakannya. Tidak heran, Pdt. Dr. Stephen Tong pernah mengatakan satu pernyataan yang tajam bahwa semua agama, kepercayaan, filsafat, dll yang melawan Alkitab PASTI berkontradiksi dengan dirinya sendiri.

2. Karakter Kekanak-kanakan
Inkonsistensi juga bisa terjadi karena seseorang memiliki karakter kekanak-kanakan (childish). Orang yang childish adalah orang yang tidak dewasa dalam segala hal (iman, pikiran, perkataan, dan sikap), sehingga orang itu hanya memikirkan kepentingannya sendiri. Tidak heran orang childish selalu beriman, berpikir, berkata, dan bersikap semaunya sendiri, sehingga banyak inkonsistensi yang terjadi di dalam pribadi orang ini. Hal ini tercermin dari apa yang dikatakan orang tersebut. Orang childish selalu plin-plan jika berkata sesuatu. Seperti yang telah saya paparkan di atas, hari ini, orang itu bisa berkata A, beberapa hari kemudian bisa berkata B, beberapa minggu kemudian bisa kembali berkata A, beberapa bulan kemudian kembali berkata B, beberapa tahun kemudian berkata C, dst. Mengapa demikian? Karena prinsipnya: emang gue pikirin (EGP). Paradigmanya adalah yang penting saya suka ngomong, masa bodoh dengan orang lain ngerti ato gak, masa bodoh apakah saya ngomongnya konsisten atau gak. Kalau ada cewek yang karakternya seperti ini, hai para cowok, berpikirlah dua kali untuk menjadikan si cewek tersebut pacar Anda, karena ini bisa sangat berbahaya kelak waktu kalian berpacaran dan menikah.

3. Proses: Situasi dan Kondisi
Selain itu, inkonsistensi juga bisa disebabkan karena proses waktu yang mencakup situasi dan kondisi. Penyebab inkonsistensi ini bisa bersifat positif maupun negatif. Penyebab inkonsistensi negatif ini berarti inkonsistensi yang terjadi berubah dari positif menjadi negatif. Contohnya bisa kita lihat langsung pada inkonsistensi Hawa. Hanya karena godaan iblis, Hawa tidak konsisten: dahulu mendengar apa yang difirmankan-Nya, setelah dicobai iblis, langsung mengikuti apa kemauan iblis. Adam pun bisa tidak konsisten (hal ini akan dibahas pada bagian selanjutnya). Penyebab inkonsistensi positif terjadi karena seseorang baru mengalami proses waktu yang sulit atau menerima informasi yang akhirnya mengubah cara pandang seseorang (ada unsur positif). Misalnya, seseorang bisa berkata A pada hari Senin, namun di hari Kamis, ia bisa berkata B, dikarenakan pada hari Kamis atau hari kemarin, Rabu, dia mengalami suatu situasi yang sulit, misalnya kecelakaan, dll. Atau mungkin juga pada bulan Juni, seseorang bisa memuji A, namun di bulan Juli/Agustus, orang yang sama bisa menghina A. Mengapa demikian? Karena di antara bulan Juni dan Juli/Agustus tersebut, orang tersebut menerima informasi tambahan tentang A yang membuat orang tersebut mengubah penilaiannya terhadap A. Informasi tersebut bisa didapat dari salah satu saudara atau teman dekatnya. Informasi tambahan tersebut tentu sangat berguna karena jika orang tersebut akhirnya berhubungan dengan A, maka orang tersebut harus berpikir panjang tentang pribadi A dan cara pikir si A, sehingga orang tersebut tidak tertipu oleh penampilan luar si A yang begitu manis.

4. Lupa
Inkonsistensi bisa juga terjadi karena seseorang itu lupa. Artinya, hari ini, A bisa berkata X dan beberapa hari kemudian A berkata Y, mengapa? Karena A ternyata orang yang pelupa akan apa yang telah dikatakannya, sehingga seolah-olah apa yang A katakana itu tidak konsisten, namun sebenarnya ia lupa. Kalau memang faktor ketidakkonsistenan ini karena lupa, ya kita harap maklum, asalkan lupa ini bukan dikambinghitamkan/dirasionalisasikan terus-menerus. Kepada pelupa, ya kita harus mengingatkan akan apa yang telah dikatakannya beberapa hari kemudian. Pelupa “sejati” adalah pelupa yang dengan rendah hati mengakui kelupaannya dan kemudian mencoba menyusun cara/perkataan baru. Namun yang terjadi justru sebaliknya, banyak pelupa ketika diingatkan akan apa yang telah dikatakannya beberapa hari yang lalu menjadi marah dan ngambek, yang lebih konyol lagi, ngotot bahwa apa yang telah dikatakannya sama dengan apa yang baru saja dikatakannya. Kalau kasusnya seperti ini, ya lain kali, orang lain yang mendengar perkataan si pelupa ini harus menyiapkan tape recorder untuk merekam setiap perkataan si pelupa, lalu kalau beberapa hari kemudian, si pelupa ini mengatakan sesuatu yang berlainan dengan apa yang telah dikatakannya, maka orang tersebut cukup memutar ulang hasil rekamannya tersebut.

5. Slip of Tongue
Faktor kelima mengapa seseorang tidak konsisten karena slip of tongue atau keselip lidah. Khusus faktor ini saya kaitkan dengan inkonsistensi dalam perkataan. Faktor ini bisa kita pahami jika memang sejujurnya seseorang tidak konsisten dalam berkata-kata adalah murni karena keselip lidah. Artinya, ia sebenarnya mau berkata B, namun ia tidak sengaja berkata A, sehingga ketika dicocokkan dengan perkataannya barusan (yang berkata B), ia seolah-olah tidak konsisten. Kalau masalah keselip lidah, ya harap dimaklumi, namun jangan dirasionalisasikan terus-menerus!

6. Kecewa
Mengutip perkataan Sdr. Richard Limi, S.T., faktor terakhir yang mengakibatkan seseorang tidak konsisten adalah kecewa. Pada suatu saat, A bisa mengidolakan X, namun beberapa saat kemudian, A akhirnya mengidolakan Y, ketika ditanya mengapa terjadi perubahan idola tersebut, A menjawab bahwa ia kecewa dengan X yang ternyata moralitasnya tidak karuan. Jika hal ini terjadi terus-menerus, maka lama-kelamaan ia frustasi dan akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa ia tidak akan mengidola siapa pun dan yang paling ekstrem, ia akan memuji-muji dirinya sendiri yang pantas diidolakan. Itulah kelemahan orang tidak konsisten karena kecewa.


Lalu, apa akibat dari orang yang tidak konsisten ini?
1. Orang Lain Bingung
Orang yang tidak konsisten pasti mengakibatkan orang lain yang berada di dekatnya akan bingung. Mengapa? Karena apa yang diimani, dipikirkan, dikatakan, dan dilakukannya tidak bisa dipegang. Jika kita mengamati kasus demikian, maka saya menyarankan agar kita TIDAK termakan oleh tafsiran orang tersebut, lalu ikut-ikutan menyalahkan orang yang tidak konsisten. Adalah bijaksana jika kita menyelidiki secara tuntas faktor apa yang menyebabkan seseorang itu tidak konsisten, baru kemudian kita mengambil suatu penilaian. Jika memang faktor penyebab inkonsistensi adalah karena adanya proses waktu yang bersifat positif, maka kita tentunya harus menghargai, karena adanya informasi tambahan tersebut seiring berjalannya waktu mengakibatkan seseorang bisa mengubah penilaiannya terhadap A. Bagaimana

2. Orang Lain Tidak Akan Percaya Lagi
Orang yang pada awalnya bingung akan mengakibatkan dampak yang lebih fatal yaitu orang tersebut tidak akan percaya lagi akan apa yang diimani, dipikirkan, dikatakan, dan dilakukan oleh orang yang tidak konsisten tersebut. Orang lain yang tidak percaya lagi ditandai dengan orang tersebut akan mengacuhkan apa pun yang dikatakan oleh orang yang tidak konsisten tersebut.


Orang yang tidak konsisten pasti membutuhkan penanganan/solusi untuk melepaskan diri dari inkonsistensi tersebut. Apa saja solusinya?
1. Cari Tahu Penyebab Inkonsistensi
Solusi pertama adalah JANGAN GEGABAH! Berusahalah untuk mencari tahu apa sebenarnya yang menyebabkan seseorang tidak konsisten. Temukan salah satu/dua dari 6 faktor penyebab di atas. Jika penyebabnya adalah penyebab yang bisa ditolerir, seperti pelupa atau/dan slip of tongue, maka kita perlu memakluminya dan tidak perlu terlalu mempermasalahkannya. Namun jika penyebabnya fatal yaitu karena faktor iman kepercayaan yang tidak beres, maka kita harus menunjukkan letak inkonsistensi tersebut, supaya orang tersebut bisa sadar dan bertobat.

2. Pecahkan Masalah Penyebab Inkonsistensi Tersebut
Setelah mengetahui bahwa faktor penyebab inkonsistensi, maka kita perlu memecahkan masalah tersebut dengan menunjukkan di mana letak ketidakkonsistenan tersebut dan mencari solusinya. Di sini, ada unsur menunjukkan kesalahan dan mengajarkan kebenaran. Di dalam apologetika, cara ini bisa dipergunakan yaitu menunjukkan inkonsistensi ajaran lain dan menawarkan solusinya yaitu Alkitab, sehingga mereka yang salah perlu ditegur dan ditunjukkan jalan kebenaran. Adalah bijaksana jika ada orang yang sering tidak konsisten menyadari inkonsistensi kita, bertobat, dan kembali kepada Kristus.


Dari sejak Adam sampai sekarang, problematika inkonsistensi terus terjadi, yang menadi pertanyaannya adalah bagaimana dengan kita? Apakah kita pernah tidak konsisten? Jawabannya pasti pernah. Nah, apa reaksi kita selanjutnya? Menyadari, mengakui, dan bertobat? Ataukah kita masih ngotot akan ketidakkonsistenan kita? Biarlah Roh Kudus mencerahkan hati dan pikiran kita untuk terus-menerus mengintrospeksi diri kita masing-masing. Amin. Soli Deo Gloria.

04 August 2010

EKSPOSISI 1 KORINTUS 7:32-34 (Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.)

EKSPOSISI 1 KORINTUS 7:32-34

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.



Nats: 1 Korintus 7:32-34



Di ayat 29-31 Paulus sudah mengajarkan agar orang percaya tidak terikat dengan hal-hal yang bernilai sementara, misalnya pernikahan, kebahagiaan-kesedihan, kepemilikan dan benda-benda duniawi. Kita diingatkan bahwa semua itu akan berlalu seiring dengan dunia yang juga sedang berlalu. Waktu yang pendek selama menanti akhir jaman ini harus dihidupi dengan fokus hidup yang eskatologis (menantikan kedatangan Kristus kedua kali).

Di ayat 32-34 Paulus masih membahas isu yang sama, namun kali ini ia berusaha untuk lebih spesifik. Hal-hal duniawi yang sementara bukan hanya akan berlalu, tetapi hal itu juga berpotensi untuk merusak fokus kita dalam menantikan Kristus. Secara khusus Paulus menyinggung tentang pernikahan, karena hal itulah yang sedang menjadi inti pembahasan di seluruh pasal 7. Apa yang ingin disampaikan Paulus di bagian ini konsisten dengan pandangannya bahwa tidak menikah adalah lebih baik daripada menikah (7:6, 8, 38, 40), walaupun ia tetap tidak menganggap perkawinan sebagai dosa (7:7, 9, 28, 38-39). Orang yang menikah bukan hanya akan ditimpa kesusahan badani yang besar (7:28b), tetapi fokus hidupnya yang eskatologis dapat terganggu (7:32-34). Ayat 32-34 menunjukkan bahwa secara umum kualitas penantian eskatologis orang yang menikah akan berbeda dengan yang tidak menikah.

Mula-mula Paulus menyatakan harapannya agar jemaat Korintus bebas dari kekuatiran (amerimnos, ayat 32a). Selanjutnya ia menjelaskan perbedaan antara orang yang tidak menikah dengan yang menikah sehubungan dengan fokus merimnaō (bisa “menguatirkan” atau “memperhatikan”) mereka. Perhatian/kekuatiran orang yang tidak menikah adalah perkara-perkara Tuhan (dibahas di ay. 32b dan 34c), sedangkan yang menikah adalah perkara duniawi (dibahas ay. 32a dan 34b).


Tujuan Nasehat: Supaya Tidak Hidup Dalam Kekuatiran (ay. 32a)
Dalam bagian ini Paulus menyatakan keinginan hatinya (“aku ingin”). Walaupun ini adalah keinginan pribadi Paulus, tetapi manfaatnya justru untuk jemaat Korintus (“supaya kamu...”). Ia ingin agar mereka hidup bebas dari kekuatiran. Ini menunjukkan bahwa Paulus sedang memikirkan kepentingan mereka (bdk. 7:35 “semuanya ini kukatakan untuk kepentingan kamu sendiri”). Kepentingan yang dimaksud Paulus bukan dalam arti kenyamanan atau kesenangan. Kepentingan ini lebih mengarah pada keuntungan secara rohani. Bagian selanjutnya (ay. 32b-35) menjelaskan bahwa tujuan nasehat ini adalah eskatologis, yaitu mempersiapkan jemaat untuk berfokus kepada kedatangan Kristus tanpa terganggu dengan hal-hal lain. Paulus tidak sedang membicarakan tentang enak atau tidaknya menikah. Fokusnya adalah hidup bagi Kristus (kristologis), bukan kenyamanan hidup manusia (anthroposentris). Kata Yunani di balik “hidup tanpa kekuatiran” (LAI:TB) adalah amerimnos. Kata ini dipakai di apokrifa (Keb. Sal. 6:15; 7:23) dan Matius 28:14b (lit. “membuat kamu tanpa kekuatiran”). Dari penggunaan ini terlihat bahwa kata amerimnos memiliki makna negatif.

Bagaimanapun, kata kerja merimnaō yang dipakai Paulus di ayat 32-b-34 bisa memiliki makna negatif atau positif. Jika bermakna positif, kata merimnaō diterjemahkan “memperhatikan” (Flp. 2:20; 1Kor. 12:25; 2Kor. 11:28), sedangkan jika sebaliknya dipakai terjemahan “menguatirkan” (Flp. 4:6). Berdasarkan keberagaman arti kata ini, para penafsir berbeda pendapat dalam memahami nasehat Paulus di 1 Korintus 7:32-34. Apakah kata merimnaō dalam bagian ini semua bermakna negatif (Barret), ada yang positif ada yang negatif (Garland) atau semua positif (Fee)? Jika mengikuti pandangan Barret, maka “memusatkan perhatian pada perkara Tuhan” juga bermakna negatif dan merupakan sindiran Paulus terhadap sikap jemaat Korintus yang mengabaikan seks demi kerohanian. Jika mengikuti Garland, maka memperhatikan perkara Tuhan adalah positif, sedangkan memperhatikan perkara duniawi adalah negatif. Jika Fee benar, maka dua hal tersebut sama-sama positif.

Dari tiga kemungkinan ini, yang terakhir tampaknya lebih tepat. Paulus tidak menganggap bahwa memperhatikan pasangan (ay. 33-34a, 34c) adalah sesuatu yang negatif. Ia bahkan melarang suami-istri saling menjauhi secara seksual (ay. 2-5). Di tempat lain ia memerintahkan suami untuk mengasihi isteri seperti Kristus mengasihi jemaat (Ef. 5:25-31). Sama seperti pandangan Paulus di 1 Korintus 7:29-31 yang tidak melarang orang Kristen menikah, bersedih, bergembira, membeli atau menggunakan sesuatu sejauh hal-hal itu tidak mengikat orang percaya, begitu pula di 1 Korintus 7:32-34 Paulus tidak melarang orang percaya memperhatikan suami/istrinya. Yang menjadi inti persoalan adalah bahaya “perhatian yang terbagi-bagi” (ay. 34a). Jadi, yang disorot bukanlah “memilih yang mana”, tetapi “mengutamakan yang mana”.


Perhatian Orang yang Tidak Menikah (ay. 32b, 34b)
Paulus memakai beberapa sebutan untuk mereka yang tidak memiliki suami/isteri. Di ayat 32b ia memakai agamos (“tidak kawin”, ayat 32b), gunē agamos (“wanita tidak kawin”, ayat 34b) dan parthenos (“gadis”, ayat 34b). Seperti yang sudah dibahas pada bagian-bagian sebelumnya, kata agamos bisa merujuk pada semua orang yang tidak memiliki pasangan, termasuk janda dan duda (7:8). Kata parthenos bisa merujuk pada semua wanita yang belum menikah, termasuk yang berada dalam tahap pertunangan (7:25, 27). Pada dasarnya di ayat 32-34 Paulus hanya membedakan dua golongan orang: yang sedang memiliki pasangan dan yang tidak. Agamos (termasuk janda) dan parthenos masuk dalam kategori yang terakhir.

Orang yang tidak menikah memusatkan perhatian (merimnaō) pada perkara Tuhan (ay. 32b, 33b). Penggunaan bentuk jamak “perkara” (ta, KJV/NASB “the things”; NIV/RSV “the affairs”) menunjukkan bahwa Paulus sedang memikirkan beberapa (banyak) hal. Ada beberapa hal yang dapat dikategorikan sebagai memperhatikan perkara-perkara Tuhan (merimnaō ta tou kuriou). Penjelasan selanjutnya di ayat 32b dan 33b membuktikan hal itu. Supaya jemaat Korintus tidak menebak-nebak apa yang dia maksud dengan “memperhatikan perkara-perkara Tuhan”, Paulus lalu memberikan keterangan tambahan. Penjelasan seperti ini sangat diperlukan, mengingat jemaat Korintus sudah memiliki konsep yang salah tentang kerohanian (menganggap seks sebagai dosa yang harus dijauhi).

Penjelasan pertama adalah “bagaimana Tuhan berkenan kepadanya” (ay. 32b). Sesuai teks Yunani yang ada, bagian ini seharusnya diterjemahkan “bagaimana ia menyenangkan Tuhan”. Di tempat lain Paulus berkali-kali mengajarkan bahwa orang Kristen harus menyenangkan Tuhan selama menghidupi keselamatan yang Tuhan sudah karuniakan kepada mereka (Rm. 8:8; 2Kor. 5:9; Kol. 1:10; 1Tes. 2:15; 4:1). Nasehat ini memang berlaku bagi semua orang, tetapi tidak semua orang menjadikan hal ini sebagai prioritas hidup. Karena orang-orang yang tidak menikah secara umum tidak terlalu terikat dengan banyak hal lain, maka mereka lebih dapat memfokuskan diri untuk menyenangkan Tuhan.

Penjelasan kedua yang masih terkait dengan poin di atas adalah “supaya tubuh dan jiwa mereka kudus” (ay. 34b). Kekudusan yang dimaksud Paulus di sini bukan dalam arti menjauhi hubungan seks antara suami-istri (bdk. 7:2-5). Kekudusan ini juga bukan dalam arti posisi setiap orang Kristen di dalam Kristus (bdk. 1:2). Kekudusan di sini lebih mengarah pada arti “pengkhususan”. Ada beberapa argumen yang mengarah pada tafsiran ini: (1) di 7:14 Paulus sudah menyinggung tentang “kudus” dalam arti “dikhususkan oleh Allah”; (2) konteks 7:32-34 berbicara tentang fokus hidup yang khusus untuk Tuhan.

Penekanan Paulus di ayat 34b terletak pada frase “tubuh dan jiwa”, bukan pada kata “kudus”. Setiap orang Kristen harus kudus (1Tes. 5:23; bdk. Rm. 6:12, 19; 12:1; 1Kor. 6:13, 19–20; 2Kor. 7:1; Flp. 1:20; 1Tes. 4:4), tetapi tidak semua orang menjadikan itu sebagai fokus hidup satu-satunya. Frase “tubuh dan jiwa” di 1 Korintus 7:34b (versi Inggris “body and spirit”) berguna untuk menekankan ide “totalitas”. Secara umum orang yang tidak menikah bisa lebih total dalam mengejar kekudusan (dalam arti mengkhususkan hidup bagi Tuhan). Waktu dan perhatiannya terhadap hal-hal rohani tidak terbagi-bagi untuk hal-hal lain. Paulus tidak hanya bisa memberikan nasehat, tetapi ia sendiri sudah mengalami apa yang dia ajarkan. Berbeda dengan para rasul lain yang memiliki isteri dan membawa isteri mereka dalam perjalanan misi (9:5), Paulus dan Barnabas tidak perlu merisaukan isteri. Dengan demikian mereka lebih mudah untuk bekerja keras membiayai pelayanan mereka sendiri (9:6). Keputusan mereka untuk tidak mau menerima tunjangan dari jemaat (9:18) mungkin akan lebih sulit diambil jika mereka harus membiayai keluarga mereka, belum lagi situasi pelayanan Paulus yang penuh dengan bahaya dan penderitaan (2Kor. 11:23-27).


Perhatian Orang yang Menikah (ay. 33-34a, 34c)
Paulus juga menjelaskan tentang orang yang menikah. Di ayat 33-34a ia melihat dari perspektif suami, sedangkan di ayat 34c dari pihak isteri. Orang yang menikah memusatkan perhatian pada perkara duniawi (merimnaō ta tou kosmo, ayat 33, 34c). Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, frase ini tidak bermakna negatif. Orang percaya tidak dituntut untuk keluar dari dunia nyata (5:10) maupun mengisolasi diri secara total dari semua persoalan dunia (7:29-31). Setiap orang bahkan diharuskan untuk bekerja supaya bisa memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri (2Tes. 3:10-11). Perkara duniawi di sini harus dipahami sebagai hal-hal yang bersifat sementara (perkawinan, harta, benda, dsb.). Hal-hal ini pada dirinya sendiri adalah netral, tetapi bisa menjadi jerat bagi kita. Uang tidak dosa, tetapi kita harus waspada supaya tidak menjadi hamba uang (Mat. 6:21; 1Tim 6:10). Jabatan tidak berdosa, tetapi kita perlu berhati-hati dengan virus gila hormat (Mat. 23:5-7).

Untuk memperjelas apa yang dimaksud dengan “memperhatikan perkara duniawi”, Paulus lalu menambahkan keterangan “bagaimana menyenangkan pasangan” (ay. 33, 34c). Memperhatikan pasangan jelas bukanlah dosa. Suami-isteri harus tetap memenuhi kebutuhan seksual pasangan (7:2-5). Suami-isteri tidak boleh bercerai (7:10-11). Perceraian hanya dimungkinkan jika berasal dari inisiatif pihak yang non-Kristen, tetapi hal ini pun bukanlah pilihan yang paling ideal (7:12-16). Suami-isteri tetap terikat selama hidup mereka (7:39). Paulus tidak melarang suami-isteri saling memperhatikan. Yang dipersoalkan adalah perhatian yang terbagi-bagi (merizō, ayat 34a). Kata Yunani merizō memang memiliki akar kata (bukan kata dasar) yang sama dengan merimnaō. Orang yang kuatir (merimnaō dalam arti negatif) adalah orang yang memiliki alternatif lebih dari satu. Jika ia hanya memiliki satu kemungkinan atau pilihan, maka ia pasti tidak akan kuatir.

Para penafsir meyakini bahwa Paulus sedang memikirkan Ulangan 6:4-5 (Mat. 22:37//Mrk. 12:30//Luk. 10:27). Tuntutan untuk mengasihi Allah dengan totalitas hidup kita bukanlah sesuatu yang mudah. Ada banyak hal yang sering kali mencuri perhatian kita sehingga kita tidak bisa total dalam mengasihi Tuhan, termasuk pasangan kita. Ketika seseorang memperhatikan pasangannya, sangat mungkin perhatian itu terlalu berlebihan sehingga mengganggu perhatiannya pada hal-hal rohani. Nasehat Paulus ini sekaligus menyiratkan pandangannya bahwa suami-isteri memang harus saling memperhatikan. Suami harus berkorban bagi isteri (Ef. 5:25-27) dan memperhatikannya (Ef. 5:28-29). Perhatian ini bahkan secara umum sangat besar sehingga berpotensi merusak fokus hidup seseorang kepada Kristus. Jika suami-isteri tidak perlu saling memperhatikan, maka Paulus juga tidak perlu merisaukan hal itu bisa mengganggu perhatian kepada Tuhan. Siapa yang diberi karunia khusus untuk menikah (7:7), maka orang itu harus memperhatikan pasangannya sedemikian rupa, tetapi tidak boleh mengalahkan perhatiannya pada perkara-perkara Tuhan.


Penutup
Ajaran Paulus di 1 Korintus 7:32-34 tidak berarti bahwa semua orang yang menikah pasti tidak memperhatikan perkara Tuhan. Perkawinan hanyalah salah satu dari sekian banyak perkara-perkara duniawi yang dapat merusak fokus hidup kita. Isunya bukanlah menikah atau tidak, tetapi apakah pernikahan itu mengganggu fokus eskatologis kita. Jika seseorang tidak menikah namun fokus hidupnya terletak pada uang atau karir, maka hal itu sama saja.

Sebaliknya, seseorang yang menikah bisa jadi justru tetap bisa memiliki fokus yang benar. Nasehat Paulus ini mengajarkan bahwa orang yang tidak menikah seharusnya lebih bisa fokus untuk memperhatikan hal-hal yang bernilai kekal. Mereka seharusnya bisa bekerja bagi Tuhan lebih keras daripada orang-orang yang menikah. Begitu pula bagi yang sudah menikah, mereka tetap harus memenuhi kewajiban perkawinan, tetapi pada saat yang sama mereka tetap harus berfokus pada kedatangan Kristus yang kedua kali. Kita bahkan harus membimbing pasangan dan anak-anak untuk memiliki fokus hidup yang sama. #




Sumber:
Mimbar GKRI Exodus, 9 Agustus 2009
http://www.gkri-exodus.org/image-upload/1Korintus%2007%20ayat%2032-34.pdf

28 July 2010

WHAT’S WRONG IN THE GARDEN OF EDEN?-3: Eden dan Dosa-2: Ingin Menyamai Allah

WHAT’S WRONG IN THE GARDEN OF EDEN?-3:
Eden dan Dosa-2: Ingin Menyamai Allah


oleh: Denny Teguh Sutandio



Nats: Kejadian 3:4-5



Setelah menyelidiki dosa pertama di taman Eden yaitu penyimpangan kebenaran, maka dosa kedua yang akan kita renungkan bersama adalah dosa menyamai Allah yang ingin mengetahui segala sesuatu. Setelah Hawa menjawab pertanyaan iblis di ayat 2-3, maka iblis melancarkan serangan pamungkasnya di ayat 4-5, “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” Dari dua ayat ini, kita akan merenungkan dua poin penting, yaitu:
1. Iblis Menyangkal Seluruh Kebenaran Allah dan Menggantinya Dengan Kebenaran Tandingan
Pada ayat 4, kita membaca pernyataan iblis yang mengatakan bahwa ketika makan buah dari pohon pengetahuan yang baik dan jahat, iblis berjanji bahwa Hawa tidak akan mati, padahal Allah sendiri berfirman bahwa manusia pasti mati ketika makan buah pohon pengetahuan yang baik dan jahat. Di sini, kita melihat cara iblis menyangkal seluruh kebenaran Allah dan kemudian menggantinya dengan kebenaran tandingan versinya sendiri. Iblis bukan hanya menyangkal kebenaran Allah, tetapi ia juga menawarkan “solusi”, yaitu “kebenaran” yang ia ciptakan sendiri. Mengapa iblis tidak cukup hanya menyangkal seluruh kebenaran Allah? Mengapa iblis pun akhirnya mengeluarkan “kebenaran” versinya sendiri? Iblis melakukannya agar manusia lebih memilih untuk taat kepada iblis ketimbang Allah. Dengan kata lain, kita mendapati fakta adanya antitesis antara kebenaran Allah vs “kebenaran” setan di dunia ini. Antitesis ini sebenarnya bukan hanya terjadi di Taman Eden saja, namun juga berlanjut sampai kita yang hidup di zaman sekarang. Antitesis ini akan berhenti total dan kebenaran Allah pasti menang tatkala Kristus datang kedua kalinya sebagai Raja dan Hakim yang akan memusnahkan semua musuh-Nya (dan musuh anak-anak-Nya). Namun ketika di dunia kita, mau tidak mau, kita diperhadapkan dengan antitesis ini. Manakah yang kita pilih? Kebenaran Allah ataukah “kebenaran” setan?


2. Iblis Menawarkan “Kebenaran” Versinya Sendiri Dengan Mengiming-imingi Manusia Untuk Menjadi Seperti Allah
Iblis menginginkan manusia untuk lebih taat kepada iblis daripada kepada Allah. Sekarang pertanyaan selanjutnya, bagaimana caranya? Iblis adalah bapa pendusta dan secara otomatis dia itu licik, oleh karena itu, ia pasti memiliki segudang cara untuk menjerat kita untuk lebih taat kepada dirinya ketimbang kepada Allah. Cara licik iblis tersebut meliputi:
Pertama, meragukan Allah. Cara iblis paling licik adalah meragukan Allah. Iblis tentu tidak akan mengatakan secara gamblang kepada manusia pertama itu bahwa Allah itu salah, karena jika iblis menggunakan cara itu, manusia pertama pasti mengetahui akal bulusnya. Namun iblis menggunakan cara liciknya yang cukup ampuh yaitu mulai meracuni manusia untuk meragukan Allah. Iblis berusaha untuk meracuni manusia dengan pengajaran bahwa Allah bukan satu-satunya yang Mahatahu dan Benar mutlak. Iblis juga meracuni manusia bahwa dirinya (iblis) juga termasuk mahatahu. Maka tidak heran, iblis berjanji kepada Hawa bahwa ketika ia makan buah pohon pengetahuan baik dan jahat, matanya akan terbuka. Di zaman sekarang pun, siasat iblis tetap sama. Iblis juga akan meracuni manusia untuk mulai meragukan Allah dengan mengajarkan bahwa bukan Allah saja yang Mahatahu dan Benar, masih ada sosok lain yang juga bisa mahatahu. Tidak heran, di dunia kita hari-hari ini, khususnya di dunia Timur, para peramal laris dicari orang, dari Mama Loren sampai Mama Lemon (hehehe) Banyak orang dunia, bahkan tidak sedikit orang “Kristen” yang juga ikut-ikutan pergi ke tukang ramal entah itu dengan alasan supaya enteng jodoh atau ingin coba-coba. Saya sendiri melihat ada seorang tante yang melayani di sebuah gereja Injili di Surabaya pergi ke tukang ramal. Mereka berpikir bahwa peramal pun juga bisa mengetahui masa depan manusia, jadi tidak perlu Tuhan. Atau mungkin ada juga pandangan yang mengatakan bahwa memang Tuhan yang menentukan, namun manusia juga perlu mencari cara untuk mengerti kehendak Tuhan. Wah, yang terakhir ini seolah-olah kelihatan “rohani”, namun rusaknya amit-amit. Mencari kehendak Tuhan diidentikkan dengan pergi ke dukun atau peramal? Jaka Sembung naik ojek, gak nyambung jek! HahahaJ So, bolehkah orang Kristen pergi ke dukun? Jawaban saya bukan BOLEH atau TIDAK BOLEH, tetapi apa motivasi di balik pergi ke dukun? Jika Anda menjawab, supaya enteng jodoh dan bisnis lancar. Saya bertanya kepada Anda, apakah dukun itu Tuhan yang Mahatahu dan menciptakan manusia? Kedua, apakah ramalan dukun/peramal 100% akurat? Ketiga, dasar apakah yang bisa membuktikan validitas ramalan si dukun/peramal tersebut? Jika misalnya, si peramal meramalkan nasib seseorang 10 tahun kemudian dan misalnya hasil ramalan tersebut tidak cocok dengan ramalan si peramal, kemudian Anda mendatangi untuk meminta pertanggungjawaban, apa kira-kira reaksi si peramal? Keempat, apakah si peramal/dukun tersebut dapat meramal nasibnya SENDIRI di masa depan? Saya pernah mendengar cerita dari seorang rekan bahwa salah seorang peramal top di Indonesia yang sering masuk di TV mengatakan bahwa dirinya tidak mampu meramal setelah tahun 2012. Saya jadi bingung dan bertanya-tanya, kenapa gak bisa meramal setelah tahun 2012? Apa si peramal ini juga ketakutan setelah menonton film 2012? Please dech ya…

Kedua, manusia = “mahatahu”. Iblis tidak cukup hanya meracuni manusia untuk meragukan Allah dan lebih mempercayai si iblis, ia melancarkan serangan puncaknya yaitu meracuni manusia dengan cara mengiming-imingi manusia untuk menjadi seperti Allah. Dengan presuposisi bahwa bukan Allah saja yang Mahatahu, maka iblis mengiming-imingi manusia untuk menjadi seperti Allah dengan slogan-slogan (yang saya dramatisir), “Ah, jangan gitu, Allah tahu koq bahwa ketika kamu makan buah pohon itu, matamu pasti terbuka, bisa membedakan mana yang baik dan jahat.” Gara-gara slogan “motivasi” ini, akhirnya Hawa tergiur dan akhirnya makan buah pohon pengetahuan yang baik dan jahat. Bukankah taktik licik iblis di Taman Eden juga bisa kita lihat aplikasinya di dunia postmodern ini? Jangan kaget, jika di zaman postmodern ini, kita menjumpai maraknya pelatihan motivasi yang ditunggangi oleh pemikiran Gerakan Zaman Baru yang mengajarkan bahwa karena segala sesuatu adalah “allah” (manusia = “allah; ide Monisme digabungkan Pantheisme), maka di dalam diri manusia, ada suatu kekuatan besar yang sedang tidur yang harus dibangunkan. Tidak usah heran, dari presuposisi ini, kita sering mendengar slogan-slogan dari para motivator, “Sukses adalah hak saya”, “Miskin itu dosa”, “Dahsyat”, dll. Meskipun tidak bisa menghakimi semua motivator itu seorang New Age (penganut Gerakan Zaman Baru), namun secara mayoritas, mereka bisa dikategorikan seorang New Age, karena mereka TIDAK pernah sekalipun menyebut nama Allah dan melibatkan Allah di dalam pelatihan motivasinya. Kalaupun ada yang menyebut nama Allah di dalam pelatihan motivasinya maupun di dalam bukunya, biasanya mereka hanya memperalat nama Allah untuk mendukung teorinya sendiri yang melawan Alkitab. Ini fakta dan saya sudah membuktikannya dengan membaca sekilas buku dari salah seorang motivator “Kristen” terkenal dengan slogannya “Miskin itu dosa.” Dan fakta lain membuktikan bahwa pelatihan motivasi baik melalui buku, CD, dan VCD/DVD ini berkait erat dengan bisnis MLM. Saya sendiri melihat dengan mata saya sendiri ketika saya ditawari oleh teman sekolah saya sebuah produk MLM yang mengikutsertakan sebuah buku panduan dari Dale Carnegie untuk memompa semangat para pebisnis MLM untuk bersemangat menjual produk-produknya. Saya sendiri sampai geleng-geleng kepala, untuk bisnis MLM, para pebisnis (tidak terkecuali yang “Kristen” di dalamnya) bisa bersemangat menjualnya, mengapa untuk memberitakan Injil kepada rekan, teman, saudara, mereka tidak ada semangat sama sekali?


Banyak orang dengan mudahnya tanpa berpikir panjang begitu termakan oleh pelatihan motivasi. Yang aneh, orang yang sama jika diundang untuk percaya Tuhan Yesus, saya bisa memastikan bahwa banyak dari mereka akan berkata, “Pikir-pikir dulu dech.” Perkataan ini sebenarnya tidak bermaksud bahwa orang ini akan sungguh-sungguh memikirkannya siang dan malam, namun perkataan ini maksud aslinya adalah “Jangan menginjili saya. Saya ini sudah beragama.” (biasa, banyak orang dari dunia Timur kalau mengatakan sesuatu selalu tidak pernah terus terang—peribahasa: memang lidah tak bertulang) Atau mungkin orang itu akan mengatakan, “Lain kali aja ya.” Yang bernilai kekekalan, dicuekkan, sedangkan yang bernilai kesementaraan dan bahkan menipu bisa dengan mudahnya diterima tanpa pikir panjang. Saya jadi inget nich ama anjing. Coba sodorkan kepada anjing, sebuah Alkitab dengan sepotong tulang, apa reaksi si anjing? Apakah si anjing akan meraih Alkitab itu dan membacanya? Mimpi kaleeee… Yang pasti si anjing akan meraih sepotong tulang untuk dimakannya. Koq rasanya gak ada bedanya dengan banyak manusia yang tergila-gila ama “tulang” ketimbang Alkitab.


Kalau mau ditelusuri lebih dalam, apa yang menyebabkan manusia ingin menjadi seperti Allah lalu dengan mudahnya tertipu oleh pelatihan motivasi? Saya menemukan ada dua penyebab:
Pertama, manusia menginginkan kebebasan. Allah menciptakan manusia sebagai makhluk ciptaan atau pribadi yang dicipta. Dengan cerdas sekali, Prof. Anthony A. Hoekema, Th.D. di dalam bukunya Manusia: Ciptaan Menurut Gambar Allah (2003) mengajarkan bahwa selain sebagai makhluk yang dicipta, manusia juga sebagai pribadi yang berarti adanya suatu kemandirian yang bukan bersifat mutlak, namun relatif (hlm. 8) Dengan demikian, Dr. Hoekema menyarikan dari Alkitab bahwa manusia itu pribadi yang dicipta. Namun, dosa mengakibatkan manusia membuang bagian “yang dicipta” dan mengagungkan sosok “pribadi”, karena manusia ingin lepas dari Allah. Di Abad Pencerahan, kita telah melihat gejala ini di mana manusia ingin bebas dari Allah dan berpegang pada otoritas rasio, meskipun masih tetap mempercayai wahyu Allah. Kemudian, di abad postmodern, gejala ini makin menggila dengan ide-ide postmodernisme dan Gerakan Zaman Baru yang mengarahkan manusia makin terlepas dari Allah dan akhirnya mempercayai alam gaib. Makin melepaskan diri dari Allah, manusia bukan tambah beres, melainkan makin hancur tidak karuan. Ketika kita membaca surat kabar, berita apakah yang kita baca? Bukankah lebih sering berita: korupsi, kejahatan, bencana alam, hamil di luar nikah, dll? Itulah wajah dunia kita. Nah, anehnya manusia yang setiap hari begitu familiar dengan berita-berita seperti itu tidak pernah sadar akan dosanya, malah menjadi rusak? Membaca berita kriminal bukannya malah menyadarkan manusia, malah manusia makin meniru aksinya.

Kedua, manusia yang tidak puas. Manusia yang menginginkan kebebasan pasti juga seorang yang tidak puas. Ia ingin kebebasan yang dimilikinya itu terus-menerus, oleh karena itu, kebebasan tanpa batas biasanya mengakibatkan ketidakpuasan. Seorang yang katanya “bebas” untuk merokok, namun ia makin terikat dengan kebebasannya, sehingga ia makin tidak puas dan minta lagi, lagi, dan lagi. Perhatikanlah cara kerja MLM yang berkait erat dengan pelatihan motivasi dan Anda akan mulai menganggukkan kepala tanda setuju dengan pernyataan saya. Para pebisnis MLM TIDAK pernah merasa puas, karena mereka selalu diiming-imingi dengan hadiah yang menggiurkan. Saya pernah ditawari oleh teman sekolah saya dahulu sebuah produk MLM dan di setiap jenjangnya, ada tawaran hadiah mobil mewah dan paling tinggi sebuah kapal pesiar (dan bisa diuangkan). Setelah mendapatkan semuanya, manusia nanti pasti menjadi sombong dan merasa diri hebat lalu melupakan Tuhan, sehingga jangan heran, banyak pebisnis MLM meskipun dirinya “Kristen” akan lebih bersemangat berada di dalam lingkungan bisnis MLM ketimbang melayani Tuhan di gereja. Kalaupun ia sedang melayani di gereja, ia dengan beraninya menawarkan produk MLM kepada teman gerejanya. Lihatlah, cara kerja iblis dari sejak di Taman Eden sampai di zaman sekarang tidak jauh berbeda bukan?


Apa akibat dari dosa yang ingin menjadi sama seperti Allah?
Pertama, jatuh ke dalam dosa. Setelah iblis menawarkan “solusi” yang enak kepada Hawa di ayat 4-5 ini, apakah perkataan iblis tersebut terjadi? Pdt. Dr. Stephen Tong di dalam Seminar Pembinaan Iman Kristen (SPIK) 2010: Rahasia Kemenangan dalam Cinta dan Seks Menuju Pernikahan pernah menafsirkan bahwa perkataan Allah seolah-olah tidak terjadi, sedangkan perkataan iblis seolah-olah terjadi, buktinya setelah manusia pertama makan buah pohon pengetahuan baik dan jahat, mata mereka seolah-olah terbuka (Kej. 3:7). Namun Pdt. Stephen Tong melanjutkan, lalu ketika mata mereka terbuka, apa yang mereka lihat? Si ular/iblis? TIDAK. Alkitab menyatakan bahwa yang mereka lihat justru ketelanjangan mereka (Kej. 3:7). Ketelanjangan mereka membukakan suatu fakta bahwa mereka lebih memilih untuk mendengarkan setan ketimbang Allah. Pdt. Dr. Stephen Tong menafsirkan bahwa dari sinilah (dosa), budaya berpakaian muncul. Iblis yang kelihatan menawarkan “kebenaran” yang seolah-olah sesuai dengan fakta sebenarnya hendak menjerumuskan kita ke dalam dosa. Dan herannya manusia sejak zaman Adam dan Hawa sampai sekarang, banyak yang tidak sadar akan hal ini, malah bukan hanya tidak sadar, tetapi sudah tergila-gila di dalam bujuk rayu iblis.

Kedua, terikat di bawah kuasa dosa. Bukan hanya jatuh ke dalam dosa, manusia menjadi terikat di bawah kuasa dosa. Setelah kasus Adam dan Hawa, kita membaca cerita anaknya sendiri, yaitu Kain yang membunuh Habil. Kemudian cerita berlanjut sampai Menara Babel, dll. Makin menginginkan kebebasan, manusia makin terikat di bawah kuasa dosa, karena kebebasan yang dibangunnya terlepas dari Allah. Dalam istilah bapa gereja Augustinus, kondisi ini disebut: non posse non peccare (tidak bisa tidak berdosa). Artinya, manusia yang telah terikat di bawah kuasa dosa tidak memiliki keinginan lain kecuali berdosa. Pdt. Dr. Stephen Tong memberikan ilustrasi mengenai kebebasan yang tidak bebas. Orang yang menginginkan kebebasan murni selalu tidak pernah bebas 100%. Orang yang bebas untuk makan apa pun pada saat pesta pernikahan atau acara makan-makan, apakah setelah pulang dari acara tersebut, ia akan bebas berjalan? TIDAK, ia pasti kekenyangan. Orang yang bebas untuk merokok, apakah ia akan memiliki kebebasan untuk TIDAK merokok? TIDAK mungkin! Menjadi orang Kristen bukan berarti kita tidak boleh bebas. Orang Kristen perlu dan bahkan harus dan pasti bebas, karena kebebasannya adalah benar-benar bebas di dalam Kristus: bebas untuk TIDAK berbuat dosa, bebas dari kutuk dosa, bebas untuk taat kepada Kristus, dll. Mengutip Ev. Ivan Kristiono, M.Div., bapa gereja Augustinus mengatakan, “Cintailah Tuhan dan lakukan segala sesuatu.” Pernyataan “lakukan segala sesuatu” ini tentu harus dikaitkan sebelumnya dengan “cintailah Tuhan” dan itu jelas menunjukkan adanya unsur kebebasan di dalam takut akan Tuhan. Diperlukan sebuah kedewasaan iman untuk mengerti pernyataan Augustinus ini.


Bagaimana dengan kita? Apakah kita masih terlibat dalam dosa yang ingin menyamai Allah? Apakah kita ingin mengetahui segala sesuatu tanpa Allah? Apakah kita terus-menerus dengan mudahnya menyetujui semua filsafat dunia tanpa mengujinya berdasarkan Alkitab? Periksalah hati, iman, pikiran, perkataan, dan tindakan kita, benarkah itu memuliakan Tuhan? Jika belum, biarlah Roh Kudus membuka hati dan pikiran kita untuk menyadari dosa Anda, bertobat, dan kembali kepada Kristus. Amin. Soli Deo Gloria.

EKSPOSISI 1 KORINTUS 7:29-31 (Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.)

EKSPOSISI 1 KORINTUS 7:29-31

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.



Nats: 1 Korintus 7:29-31



Bagian ini lebih terfokus pada ide tentang akhir zaman, sehingga beberapa orang menganggap bagian ini sebagai sisipan tambahan yang tidak berhubungan dengan pembahasan di seluruh pasal 7. Anggapan ini tidak dapat dibenarkan. Rujukan eksplisit tentang perkawinan masih bisa ditemukan di ayat 29b. Selain itu, pembahasan dalam bagian ini masih terkait dengan pembahasan sebelumnya, karena sama-sama mengaitkan perkawinan dengan akhir zaman (7:26 “waktu darurat”; 7:29 “waktu telah singkat”). Dengan kata lain, ayat 29-31 merupakan penjelasan tentang apa yang harus dilakukan selama waktu darurat di ayat 26.

Dalam bagian ini Paulus mula-mula menyatakan dasar pemikirannya, yaitu waktu yang telah singkat (ay. 29a). Selanjutnya ia menjelaskan konsekuensi dari pemikiran itu (ay. 29b-31a). Pemikiran itu ternyata memiliki kaitan dengan begitu banyak hal dalam hidup kita, mulai dari perkawinan, perasaan (kesedihan dan kegembiraan), kepemilikan sampai penggunaan barang-barang duniawi. Di akhir pembahasan Paulus memaparkan alasan mengapa waktu telah singkat (ay. 31b).


Dasar Pemikiran: Waktu Telah Singkat (ay. 29a)
Sapaan “saudara-saudara” di ayat ini berfungsi untuk menyiratkan adanya perubahan topik dan memperluas kelompok jemaat yang dimaksud Paulus. Kalau di ayat 25-28 target nasehat Paulus adalah mereka yang belum kawin (sedang bertunangan), di ayat 29-31 Paulus memaksudkan nasehatnya untuk semua jemaat (bdk. “saudara-saudara” di ayat 24). Apa yang ia sampaikan dalam bagian ini memang mencakup juga mereka yang sudah kawin (ay. 29b).

Di ayat 29a kata Yunani yang dipakai untuk “waktu” adalah kairos. Kata ini sering kali dibedakan dengan kata kronos yang hanya menyiratkan urutan waktu (bdk. kata “kronologi”). Kairos merujuk pada waktu yang spesifik di dalam rangkaian kronos. Terjemahan RSV “appointed time” menunjukkan usaha penerjemah RSV untuk memperjelas makna kairos, walaupun dalam teks Yunani tidak ada kata “appointed”. Jadi, kairos selalu menjadi bagian dari kronos, tetapi tidak semua kronos adalah kairos.

Waktu spesifik seperti apa yang dipikirkan Paulus melalui penggunaan kata kairos di ayat ini? Walaupun sebagian penafsir berbeda pendapat dalam hal-hal detil, namun secara umum mereka setuju bahwa kairos di sini merujuk pada masa antara kedatangan Kristus ke-1 dan ke-2. Paulus memang sering membandingkan rentang waktu ini dengan kekekalan kelak (Rm. 8:18; 13:11; 1Kor. 4:5; 2Kor. 6:2; 1Tes. 5:1) untuk mengingatkan bahwa orang-orang percaya berada dalam dua ketegangan waktu ini: kita masih hidup dalam kesementaraan, namun sekaligus mempersiapkan diri untuk kekekalan). Rentang waktu ini bersifat soteriologis (terkait dengan karya keselamatan dalam Kristus) dan eskatologis (antisipasi terhadap kedatangan Kristus di akhir zaman). Waktu ini tidak akan terus-menerus ada, karena itu ini merupakan waktu yang spesifik yang harus dimanfaatkan sepenuhnya oleh orang-orang percaya.

Paulus mengajarkan bahwa kairos telah singkat. Frase sunestalmenos estin (LAI:TB “telah singkat”) dapat dipahami dalam dua cara: sebagai kata kerja pasif partisipel (NASB “the time has been shortened”) atau kata sifat (KJV/NIV “the time is short”). Jika alternatif pertama benar, maka Paulus kemungkinan besar sedang memikirkan ajaran Yesus telah pemercepatan kedatangan-Nya karena situasi khusus dari orang-orang percaya (Mrk. 13:20).

Di antara dua alternatif ini sulit ditentukan mana yang ada dalam pikiran Paulus. Walaupun alternatif pertama dari sisi tata bahasa lebih memungkinkan, namun tidak ada indikasi apa pun dalam 1 Korintus 7 yang mengarah pada kedatangan Kristus yang dipercepat. Memang ada kemungkinan konsep pemercepatan kedatangan ini sudah begitu populer waktu itu (bdk. 2Ptr. 3:21), sehingga Paulus merasa tidak perlu menyinggung hal itu secara eksplisit. Rujukan tentang kesusahan eskatologis di ayat 26 dan 28 mungkin dianggap cukup untuk mengasumsikan hal itu. Bagaimanapun, kita tidak dapat mencapai kepastian dalam hal ini.

Jika dilihat dari perspektif kekekalan (sesuai konteks ayat 25-31), maka waktu kita di dunia ini hanyalah waktu yang sangat singkat. Semakin hidup kita bergerak menuju kekekalan, maka waktu ini menjadi semakin dipersingkat, entah jarak kita dengan kematian semakin dekat maupun dengan kedatangan Kristus kedua kali. Yang jelas, waktu yang kita miliki sekarang hanyalah sisa-sisa kesempatan (ay. 29 “waktu yang masih sisa ini”). Kita tidak punya banyak waktu! Kekekalan menjadi semakin dekat dan jelas bagi kita. Kita berada dalam penantian itu (1:7).


Konsekuensi (ay. 29b-31a)
Kata sambung “karena itu” (LAI:TB; NIV “so that”) menyiratkan bahwa Paulus sedang berpindah pada aplikasi. Ia sedang mengajarkan bahwa suatu konsep theologis seharusnya membawa konsekuensi praktis. Cara hidup kita sekarang harus dibentuk sesuai dengan konsep kita tentang kekekalan. Satu kaki kita ada dalam kesementaraan, tetapi kaki yang lain berada dalam kekekalan. Dengan kata lain, kita harus melihat kesementaraan waktu kita dari perspektif kekekalan. Dengan perspektif yang eskatologis ini kita akan mampu menilai semua hal di sekitar kita: mana yang bernilai kekal dan mana yang tidak.

Paulus lalu memberikan 5 contoh aplikasi dari konsep di atas (ay. 29b-31a). Apa yang dia tuliskan tidak boleh dipahami secara hurufiah. Ini hanyalah sebuah gaya retorik. Jika dipahami secara hurufiah, maka ayat 29b akan berkontradiksi dengan ayat 2-5. Di samping itu, ayat 30 akan tampak aneh karena menyiratkan bahwa orang Kristen adalah orang yang tidak boleh mengekspresikan perasaan mereka.

Kita harus lebih memperhatikan inti dalam keseluruhan gaya retorik ini. Inti yang ingin ditampilkan adalah perubahan perspektif [dari kekekalan]. Paulus ingin menegaskan bahwa sekalipun kita masih hidup dalam dunia yang sementara dan bergelut dengan semua elemen di dalamnya yang juga sementara, namun kita harus tetap memiliki fokus hidup pada kekekalan. Berbeda dengan golongan apokaliptis Yahudi dan sebagian jemaat Korintus yang memiliki pandangan terlalu negatif terhadap kehidupan normal di dunia ini, Paulus memandang kehidupan ini sebagai sesuatu yang netral; tergantung pada cara kita menyikapinya. Uang bukanlah dosa, tetapi cinta uanglah yang menjadi sumber dosa (1Tim. 6:10). Seks bukanlah dosa, tetapi perzinahanlah yang merupakan dosa. Berbeda dengan para filsuf Stoa yang mengajarkan penyangkalan realita, Paulus tetap mengakui dan menerima semua realita yang ada, namun semua itu harus dilihat dari perspektif eskatologis.

Contoh praktis ke-1 yang disinggung adalah perkawinan (ay. 29b). Topik ini menduduki urutan pertama dalam daftar karena inti pembahasan memang terletak di sini. Ayat 29a tidak boleh ditafsirkan sebagai dukungan bagi praktik hidup selibat. Paulus tidak anti perkawinan (ay. 2-5). Dia pun mengajarkan bahwa selibat merupakan anugerah khusus untuk orang-orang tertentu (ay. 7). Ia bahkan menyadari bahwa tugas orang yang sudah menikah adalah menyenangkan pasangannya (ay. 33).

Apa yang ingin Paulus ajarkan adalah sederhana: perkawinan merupakan hal yang sementara, karena itu jangan sampai hal itu menganggu fokus kita pada hal-hal yang kekal. Perkawinan hanya mengikat selama seseorang hidup (ay. 39; Rm. 7:2). Setelah orang itu mati, ikatan perkawinan maupun seks akan menjadi tidak relevan lagi (Mrk. 12:25). Paulus tetap setuju bahwa perkawinan dan seks adalah hal yang bisa dinikmati oleh sebagian orang yang mendapat karunia untuk menikah, tetapi jangan sampai merusak fokus hidup yang sebenarnya. Hal ini berbeda dengan konsep jemaat Korintus yang menganggap seks sebagai dosa dan pasti merusak kerohanian.

Contoh praktis yang ke-2 dan ke-3 dapat digabungkan karena sama-sama membahas tentang perasaan (ay. 30a). Nasehat Paulus di ayat ini tidak berarti bahwa orang Kristen harus bersikap munafik dengan cara menutupi apa yang ada dalam perasaannya. Nasehat ini juga bukan mendorong orang Kristen menjadi orang yang tanpa perasaan atau ekspresi. Di tempat lain Paulus justru memberi nasehat untuk bersukacita dengan orang yang bersukacita dan menangis dengan orang yang menangis (Rm. 12:15). Ia pun mengungkapkan kesedihan melalui tangisan (Rm. 9:2; 2Kor. 2:4; Flp. 2:25–30; 3:18) maupun meluapkan kegembiraan (1Kor. 16:17; 2Kor. 7:4–10; Flp. 1:12–19; 4:10).

Poin yang ingin disampaikan Paulus adalah jangan sampai orang Kristen terlalu terikat dengan kesedihan maupun kegembiraan dalam dunia ini. Apa yang membuat kita bergembira atau bersedih selama ini biasanya adalah hal-hal yang bersifat sementara. Kita bersukacita ketika memiliki kekayaan, kesehatan dan kesuksesan. Kita bersedih ketika semua itu hilang. Paulus ingin mengajarkan bahwa perspektif eskatologis seharusnya mengubah cara pandang kita terhadap kesedihan dan kegembiraan. Yang bersedih sekarang akan mendapat sukacita, begitu pula sebaliknya (Luk. 6:21, 25; Yoh. 16:20). Selama kita menanti pembalikan keadaan ini, kita pun perlu memandang hidup kita sebagai sebuah paradoks yang indah, sebagaimana dinyatakan dengan luar biasa di 2 Korintus 6:9-10 “sebagai orang yang tidak dikenal, namun terkenal; sebagai orang yang nyaris mati, dan sungguh kami hidup; sebagai orang yang dihajar, namun tidak mati; sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita; sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu”.

Contoh praktis ke-3 berhubungan dengan kepemilikan (ay. 30b). Orang membeli biasanya karena ia ingin memiliki barang itu atau ingin agar barang itu dimiliki orang lain. Jadi, pembelian dan kepemilikan memiliki kaitan yang sangat erat. Dalam bagian ini Paulus justru menasehatkan agar orang yang membeli seolah-olah tidak memiliki apa yang mereka beli. Apa maksud perkataan ini?

Paulus jelas tidak anti terhadap segala bentuk transaksi ekonomi. Orang Kristen tidak diminta untuk meninggalkan dunia ini (bdk. 1Kor. 5:10). Paulus pun memperingatkan jemaat Tesalonika untuk bekerja sehingga mampu memenuhi kebutuhan hidup mereka (2Tes. 3:10, 12). Yang disorot Paulus adalah kata “memiliki” (katecein). Kata ini biasanya mengandung makna “memegang sesuatu dengan kuat”, baik itu firman Tuhan (Luk. 8:15; 1Kor. 15:2; 1Tes. 5:21) maupun barang (Mat. 21:38). Ide yang ada bukan hanya “memiliki”, tetapi “memiliki dengan kuat”.

Melalui nasehat ini Paulus ingin menekankan konsep Kristiani yang benar tentang kepemilikan. Hak yang dimiliki oleh orang Kristen adalah hak untuk menggunakan, bukan untuk memiliki. Semua yang bisa kita beli bersifat sementara dan kita harus menggunakan itu untuk menghasilkan hal-hal yang kekal. Kita tidak boleh memegangi apa yang kita beli seolah-olah hal itu tidak boleh lepas dari tangan kita. Ketika kita mati atau Kristus datang kedua kali, kita akan kehilangan semuanya itu (Ayb. 1:21). Sebaliknya, orang Kristen harus memiiki konsep bahwa ia sebenarnya memiliki segala sesuatu (1Kor. 3:22; 2Kor. 6:10).

Alkitab memberi banyak peringatan tentang bahaya materialisme. Orang yang terlalu memikirkan materi sebenarnya sudah menjadi hamba dari materi. Di mana harta kita berada, di situ hati kita berada (Mat. 6:21). Kita tidak boleh menjadi seperti orang kaya yang bodoh dalam perumpamaan Yesus yang akhirnya mati tanpa bisa membawa hartanya dalam kematiannya (Luk. 12:16-21). Jangan pula seperti orang-orang dalam perumpamaan Yesus yang tidak menghiraukan ajakan ke pesta karena sibuk dengan urusan lain yang tidak penting (Luk. 14:15-24). Jika ini yang terjadi, maka ketika Kristus datang situasinya seperti orang-orang pada zaman Nuh yang sibuk dengan hal-hal duniawi (Luk. 17:26-27).

Contoh praktis terakhir (ke-5) berhubungan dengan isu tentang penggunaan (ay. 30a). Penerjemah LAI:TB memahami bagian ini sebagai kesimpulan dari 4 poin sebelumnya, sehingga bagian ini diberi tambahan “pendeknya”. Dari sisi tata bahasa bagian ini tidak seharusnya dijadikan konklusi. Dalam teks Yunani tidak ada kata “pendeknya”. Jadi, bagian ini merupakan kelanjutan dari poin-poin sebelumnya. Poin yang disampaikan Paulus dalam bagian ini akan menjadi jelas apabila kita mengetahui bahwa kata “mempergunakan” yang muncul dua kali dalam bagian ini memakai kata Yunani yang berbeda. Yang pertama adalah craomai (“menggunakan”), yang kedua adalah katacraomai (“menggunakan sepenuhnya”). Dengan pembedaan ini Paulus ingin mengajarkan bahwa semua yang diciptakan Allah di dunia ini memang baik dan boleh digunakan (bdk. 1Tim. 4:4), tetapi tidak boleh digunakan sepenuhnya. Artinya, orang Kristen tidak boleh terpaku pada barang-barang tersebut, sehingga kalau barang itu tidak ada maka kita merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidup kita.

Paulus sendiri memberi teladan yang baik dalam hal ini. Sebagai seorang rasul ia memiliki hak untuk diberi upah dan menggunakan tunjangan hidup itu (1Kor. 9:1-14). Walaupun ia berhak menggunakan hak itu, namun ia memilih untuk tidak menggunakannya (9:15-18). Ini merupakan contoh bagaimana seseorang mampu tidak menggunakan apa yang sebenarnya bisa ia gunakan. Ia bisa melakkan ini karena ia menyadari bahwa fokus hidup orang Kristen bukanlah menikmati keindahan dunia semau kita. Semua yang kita miliki adalah dari, oleh dan untuk Allah (Rm. 11:36).


Alasan (ay. 31b)
Kata sambung “sebab” di ayat ini menyiratkan alasan. Lebih spesifik, alasan bagi pemikiran Paulus di ayat 29a. Mengapa waktunya singkat (ay. 29a)? Karena dunia akan berlalu. Ajaran ini merupakan doktrin yang umum di kalangan orang Kristen abad pertama (1Yoh. 2:17; 2Ptr. 3:10). Bentuk present tense “berlalu” (paragei, kontra LAI:TB “akan berlalu”) menunjukkan bahwa proses yang dimaksud Paulus sudah berlangsung pada jamannya.

Frase “dunia yang kita kenal sekarang” (LAI:TB/NIV) dalam teks Yunani adalah to schēma tou kosmou. Versi Inggris menerjemahkan kata schma di sini dengan “form” (NIV/NASB/RSV) atau “fashion” (KJV/YLT). Kata Yunani schēma memang sering mengandung makna sesuatu yang tampak dari luar. Dalam literatur di luar Alkitab kata ini juga sering kali dipakai dalam konteks teater ketika pemain memakai pakaian, topeng dan kostum tertentu untuk memerankan suatu tokoh yang berbeda dengan dirinya yang sebenarnya. Melalui pemilihan kata ini Paulus mengingatkan bahwa apa pun yang kita lihat dari dunia ini – betapa pun indahnya hal itu – tidak akan memiliki karakter atau sifat yang permanen. Sama seperti para pemain teater yang harus segera menanggalkan kostum dan topeng mereka serta masuk dalam kehidupan sehari-hari, demikian pula dunia ini akan berlalu. Yang tetap bertahan adalah nilai-nilai kekal yang muncul dari penggunaan hal-hal yang sementara. Soli Deo Gloria. #





Sumber:
Mimbar GKRI Exodus, 26 Juli 2009
http://www.gkri-exodus.org/image-upload/1Korintus%2007%20ayat%2029-31.pdf

25 July 2010

PENGARUH PASCAMODERNISME TERHADAP HERMENEUTIKA BIBLIKA (Ev. Pancha Wiguna Yahya, M.Th.)

PENGARUH PASCAMODERNISME TERHADAP HERMENEUTIKA BIBLIKA1

oleh: Ev. Pancha Wiguna Yahya, M.Th.



Since the death of the godlike Author, any number of idols have been erected in His place under the names of our diverse theoretical schools as the ultimate reference of literature and resting point of this study. Each of these schools promises its own version of salvation through correct interpretation in a grounder, and by that token valid, reading of texts
—Howard Felerpin2


PROLOG
There is a spectre haunting classical Christianity, that of postmodernism,” demikian R. Albert Mohler, Jr. mengawali artikelnya yang dimuat dalam sebuah antologi yang bertemakan “tantangan pascamodernisme bagi Kekristenan Injili.”3 Pendapat Mohler tersebut adalah sebuah fakta yang tidak dapat disangkal bahwa pengaruh (negatif) pascamodernisme merupakan ancaman bagi Kekristenan, termasuk di dalam ranah hermeneutika.4 Menurut Roy B. Zuck, hermeneutika adalah “sains sekaligus seni”dalam menafsir Alkitab.5 Hermeneutika, di satu sisi adalah sains karena ia adalah teknik menafsir Alkitab dengan mengikuti kaidah-kaidah tertentu,6 di sisi lain ia juga adalah seni karena melibatkan imajinasi dan perasaan penafsir, serta membutuhkan keterampilan penafsir untuk menerapkan kaidah-kaidah penafsiran tersebut.7 Namun, hermeneutika tidak berhenti pada teknik menafsir Alkitab; hermeneutika juga harus mengaplikasikan hasil penafsiran tersebut pada situasi kontemporer.8

Selain sains dan seni, Osborne menambahkan satu unsur lagi dalam hermeneutika, yaitu tindakan spiritual (spiritual act karena menurutnya, penafsiran Alkitab dilakukan di bawah pimpinan Roh Kudus).9 Sehubungan dengan adanya pengaruh pascamodernisme terhadap hermeneutika biblika, artikel ini akan menjawab beberapa pertanyaan berikut ini: (1) Apa saja dan sejauh mana pengaruh (negatif) pascamodernisme terhadap hermeneutika? (2) Bagaimana seharusnya kita menghadapi pengaruh-pengaruh tersebut? (3) Apakah pascamodernisme hanya berdampak negatif? Adakah sumbangsih positif dari pascamodernisme bagi hermeneutika biblika?




KARAKTERISTIK PASCAMODERNISME YANG MEMENGARUHI HERMENEUTIKA BIBLIKA
Mendefinisikan pascamodernisme tidaklah mudah karena tidak seragamnya para ahli dalam mendefinisikannya. Beberapa definisi atas pascamodernisme yang pernah ditawarkan antara lain:
Jean Francois Lyotard menyebutnya “akhir dari narasi-narasi besar”atau “ketidakpercayaan terhadap narasi-narasi besar;”Fredric Jameson, “upaya untuk mengatur suhu zaman tanpa alat bantu dan dalam situasi di mana kita bahkan tidak yakin lagi adanya sesuatu yang begitu koheren sebagai suatu ‘zaman’ atau Zeitgeist (‘semangat zaman’) atau ‘sistem’ atau ‘situasi masa kini’”; Terry Eagleton, “ragam gaya hidup dan permainan bahasa yang heterogen yang menyudahi nostalgia desakan untuk mentotalkan [sic] serta mengesahkan dirinya sendiri;”atau Richard Bernstein, “suatu serangan melawan humanism serta legasi pencerahan.”10

Selain itu, kalangan pascamodern sendiri menolak untuk mendefinisikan pascamodernisme secara bulat, utuh, dan monolitik karena justru pengertian semacam itulah yang ditolak oleh pascamodernisme.11 Secara garis besar, ragam definisi pascamodernisme dapat digolongkan ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama adalah yang mendefinisikan pascamodernisme sebagai sebuah periodisasi yang terjadi setelah masa modern.12 Sedangkan kelompok kedua memandang pascamodernisme sebagai produk budaya yang menolak, menyempurnakan, merevolusi, atau mendekonstruksi modernisme.

Dari sekian banyak karakteristik pascamodernisme, penulis hanya memilih tiga karakteristik yang paling berpengaruh terhadap hermeneutika biblika. Tiga karakteristik itu adalah: (1) Tiadanya kebenaran objektif; (2) Permasalahan bahasa: dari prastrukturalisme ke pascastrukturalisme; (3) Matinya sang pengarang: dari makna pengarang menuju makna pembaca.13


Tiadanya Kebenaran Objektif
Bangkitnya modernisme diinspirasikan oleh Rene Descartes yang melalui wawasan humanismenya menjadikan manusia—dengan segala kemampuan rasionya—pusat dan tolok ukur alam semesta. Kemudian filsafat Descartes dikokohkan oleh gerakan Pencerahan (Enlightenment/Aufklärung) di mana sains mendominasi umat manusia. Pada saat itu, berkembang filsafat positivisme yang memiliki keyakinan akan adanya fakta yang objektif, dan juga semua fakta dapat dijelaskan dan diuji melalui teori yang objektif.14 Yang dimaksud dengan objektif di sini adalah memiliki realitas dan validitas yang extra-mental, yaitu realitas dan validitas yang berlaku secara universal bagi semua orang—tidak peduli apakah orang itu menganggapnya sebagai kebenaran atau tidak—dan melintasi ruang dan waktu.15 Selain keobjektifan ilmu pengetahuan dan kebenaran, hal lain yang menandai zaman modern adalah keyakinan yang kokoh akan kebaikan (goodness) dan kepastian (certainty) rasio manusia dan ilmu pengetahuan.16

Di pihak lain, pascamodernisme menolak kebenaran objektif yang diagungkan oleh modernisme. Bagi penganut pascamodernisme, tidak ada satu pun kebenaran yang objektif; sebaliknya semua kebenaran hanya partikular, terbatas, dan insuler.17 Menurut Carson, Immanuel Kant dalam tulisannya yang berjudul The Critique of Pure Reason telah menjadi benih bagi tumbuhnya pascamodernisme.18 Dalam tulisan itu Kant menyatakan bahwa diri (self) tidak dapat menemukan secara objektif apa yang ada di dalam dunia, tetapi sebaliknya “projects order creatively uponthe world.”19 Penolakan pascamodernisme atas adanya kebenaran yang absolut dan objektif menjadi ancaman serius bagi Kekristenan, secara khusus bagi otoritas Alkitab yang diyakini oleh orang Kristen golongan Injili sebagai tulisan yang diinspirasikan Allah.20 Jika penganut pascamodernisme mengklaim tidak ada kebenaran yang objektif, maka dengan sendirinya otoritas Alkitab yang universal atas diri pemercaya Kristen tidak diakui.

Lalu, apa dampak hal itu bagi hermeneutika biblika? Seperti yang telah dijelaskan pada bagian prolog, tugas hermeneutika tidak sekadar menemukan makna teks Alkitab tetapi lebih jauh lagi ia harus mengaplikasikan makna (baca: kebenaran) itu dalam kehidupan pembacanya. Jika kebenaran Alkitab tidak dianggap absolut, maka—sama dengan karya sastra lain atau buku sejarah—pengaplikasian kebenaran Alkitab bukanlah hal yang mutlak. Dengan demikian, maka hermeneutika telah gagal dalam melaksanakan tugasnya.

Pengaruh lain dari tiadanya kebenaran yang objektif adalah terciptanya subjektivisme dalam penafsiran Alkitab. Jika kebenaran yang objektif disangkal, maka semua hasil tafsir adalah benar dan sah, meskipun berbeda satu sama lain bahkan saling bertolak belakang.21 Iklim subjektivisme itu akan menyuburkan penafsiran-penafsiran “ngawur,”dan tak jarang penafsiran Alkitab yang anarkis, yaitu “pemerkosaan”makna (yang dimaksud) penafsir terhadap makna (yang dimaksud) penulis Alkitab.22


Permasalahan Bahasa: Dari Prastrukturalisme ke Pascastrukturalisme
Menurut Sugiharto, saat ini filsafat sedang mengalami pembalikan ke arah bahasa (lingistic turn). Sekitar seratus tahun yang lalu, istilah kunci dalam filsafat adalah “akal,”“Roh,”“pengalaman,”dan “kesadaran.”Kini, istilah kunci itu adalah “bahasa.”23 Seorang tokoh yang memberikan pengertian baru dalam bidang linguistik adalah Ferdinand de Saussure (1857-1913). Saussure tidak menyetujui pandangan umum pada masanya, yang mengatakan bahwa bahasa harus dipandang secara historis. Pada masa itu, studi tentang bahasa menekankan perilaku linguistik actual (perkataan manusia; yang disebut Saussure sebagai parole), yaitu sebuah usaha untuk menelusuri perkembangan kata-kata dan ekspresi dengan meneliti pengaruh geografi, migrasi, pergerakan populasi dan hal-hal eksternal lainnya.24 Namun, Saussure menawarkan pendekatan yang berbeda, yaitu pendekatan antihistoris yang memandang bahasa sebagai sebuah sistem yang koheren secara internal (yang disebutnya langue).25

Pandangannya ini disebut dengan strukturalisme karena menekankan struktur bahasa ketimbang perkembangan historis sebuah bahasa. Oleh sebab itu, teori Saussure disebut bersifat sinkronis (ahistoris, menekankan pada literary) yang berbeda dengan sifat diakronis (historis, menekankan pada perkembangan bahasa).26 Pandangan Saussure tersebut memberikan pengaruh terhadap lahirnya kritik sastra (literary criticism), yaitu: metode penafsiran yang memfokuskan pada penelitian sastra tanpa memusingkan masalah-masalah historis seperti: identitas penulis, keadaan sosial budaya penulisan Alkitab, pembaca pertama dan sebagainya.

Macam-macam kritik sastra antara lain kritik naratif (narrative criticism)27 dan kritik retorik (rhetorical criticism).28 Strukturalisme dengan sifat antihistorisnya telah membuka jalan munculnya pandangan yang disebut pascastrukturalisme. Pandangan pascastrukturalisme ini diusung oleh sejumlah pemikir kontemporer Perancis seperti: Roland Barthes (1915-1980), Michael Foucault (1926-1984), Pierre-Félix Guattari (1903-1992), Julia Kristeva (1941- ), dan Jacques Derrida (1930-2004). Para pemikir ini memiliki pandangan yang berlawanan dengan yang diyakini oleh strukturalisme. Bila strukturalisme berpandangan sistem bahasa itu stabil, bagi mereka justru sistem bahasa itu sangat labil.29 Berkenaan dengan itu, Derrida menyatakan bahwa kestabilan stuktur sistem bahasa seperti yang dinyatakan oleh strukturalisme adalah upaya untuk mengontrol dan mereduksi fenomena ke dalam sistem yang baku; padahal menurutnya, bahasa tidak dapat direduksi dan dibakukan karena selalu terbuka kemungkinan-kemungkinan yang baru.30 Pembatasan teks oleh struktur yang baku merupakan contradictio in terminis dengan watak teks yang terbuka dan jalin menjalin.

“Teks”berakar dari bahasa Latin textus, yang berarti kain (tissu) dan kata texere yang berarti rajutan (tisser). Dengan demikian, teks pada prinsipnya selalu bersifat intertekstual dan saling berjalin dengan teks-teks lain di dalam proses yang tidak kunjung usai.31 Kritik lain Derrida atas strukturalisme adalah strukturalisme masih dipengaruhi logosentrisme filsafat modern. Yang dimaksud dengan logosentrisme ialah “the general assumption that there is a realm of ‘truth’ existing prior to and independent of its representation by linguistic signs.”32 Para filsuf modern meyakini bahwa suatu bahasa ada untuk menandai (to signify) dan mewakili logosentrisme itu.33 Namun, bagi Derrida logosentrisme tidak ada karena tidak ada sesuatu pun yang menjadi dasar sistem pikiran dan bahasa manusia.34 Oleh sebab itu, dibanding menelusuri logosentrisme di balik suatu teks, Derrida lebih memilih mendekonstruksi teks. Dekonstruksi, yang merupakan ciri khas penafsiran pascamodern, adalah “usaha untuk membongkar teks demi menemukan kontradiksi-kontradiksi yang inheren di dalam teks, lalu membiarkan teks itu centang-perenang sehingga tidak dimungkinkan untuk dibangun kembali.”35 Coba bayangkan, apa yang akan terjadi bila dekonstruksi dipraktikkan dalam penafsiran Alkitab? Selain dekonstruksi menghancurkan otoritas Alkitab, cara penafsiran seperti ini akan membuat Alkitab kehilangan maknanya karena semua teksnya telah dibongkar habis.36


Matinya Sang Pengarang: Dari Makna Pengarang Menuju Makna Pembaca
Julukan bapak penafsiran modern dikenakan pada diri Friedrich Schleiermacher (1768-1834) atas jasanya dalam merumuskan metodologi penafsiran yang baku.37 Menurutnya, penafsiran Alkitab tidak cukup dilakukan hanya melalui penyelidikan grammatika, melainkan juga penafsiran psikologis atas diri pengarang. Penafsiran psikologis tersebut dilakukan melalui intuisi, imajinasi, dan empati penafsir atas pengalaman hidup pengarang.38 Dengan melakukan baik penyelidikan grammatika maupun penafsiran psikologis pengarang, menurutnya, niscaya penafsir akan menemukan makna yang dimaksud pengarang bahkan lebih lengkap dari yang dimiliki pengarang.39

Pandangan Scheiermacher itu diteruskan dan disempurnakan oleh penulis biografinya, Wilhelm Dilthey (1833-1911). Dilthey berpandangan bahwa melalui ilmu-ilmu kemanusiaan (Geisteswissenschaften), yang memiliki wilayah studi yang berbeda dengan ilmu-ilmu alam (Naturwissenschaften), seorang penafsir mungkin memahami kehidupan dan pengalaman pengarang.40 Pemahaman akan kehidupan dan pengalaman pengarang itu mungkin dimiliki oleh penafsir, karena menurutnya terdapat “keterhubungan hidup”(the connected of life) antar umat manusia di segala tempat dan zaman.41 Schleiermacher beserta Dilthey telah berhasil meletakkan dasar bagi metode kritik historis (historical criticism)—meliputi kritik sumber (source criticism), kritik bentuk (form criticism) dan kritik redaksi (redactional criticism)—yang bertujuan mencari makna yang dimaksudkan oleh pengarang.42

Pada tahun 1960 Hans-Georg Gadamer (1900-2002) menerbitkan magnum opus-nya, Wahrheit und Methode (Truth and Method). Dalam buku itu, ia merevisi pengertian hermeneutika seperti yang telah dijelaskan oleh Schleiermacher. Baginya, hermeneutika bukanlah sebuah proses mekanis melainkan suatu pekerjaan seni sehingga tidak dapat menghasilkan kebenaran objektif seperti yang dihasilkan oleh penelitian ilmiah.43 Bertentangan dengan Schleiermacher, ia menyangkal adanya kemungkinan penafsir untuk dapat memahami pikiran dan maksud pengarang maupun sejarah masa lampau mengingat di antaranya terbentang jarak waktu dan budaya yang lebar.44 Gadamer juga menentang pendapat Dilthey yang mengklaim adanya prinsip yang objektif untuk dapat memahami pengalaman orang lain pada masa lampau.45

Pandangan Gadamer itu telah memicu tumbuhnya penafsiran yang berorientasi pada teks, seperti yang dipelopori oleh seorang filsuf Perancis bernama Paul Ricoeur (1913-2005). Ricoeur beranggapan bahwa teks itu bukanlah sebuah sistem yang bersifat tertutup, melainkan bersifat otonom. Artinya, teks memiliki hidupnya sendiri yang terlepas dari diri sang pengarang, sehingga teks terbuka akan kemungkinan dibaca lebih luas sesuai dengan konteks pembacanya. Ricoeur menyatakan bahwa menafsir adalah pertama-tama melakukan dekontekstualisasi, yaitu proses membebaskan teks dari konteks pengarangnya dan dilanjutkan dengan rekontekstualisasi, yaitu: proses memasukkan teks ke dalam konteks pembacanya.46 Pemikiran Ricoeur ditambah dengan strukturalisme ala Saussure telah menyuburkan metode kritik sastra (literary criticism). Rupanya, pendulum hermeneutika tidak berhenti pada penafsiran yang berpusat pada makna teks, namun telah bergerak kepada penafsiran yang berpusat pada pembaca. Salah satu bentuk penafsiran semacam ini adalah kritik respons-pembaca (reader-response criticism) yang dipelopori oleh Stanley Fish (1938- ) dan Wolfgang Iser (1926- ). Asumsi dasar dari kritik respons-pembaca ialah teks tidak pernah lengkap dan hidup sebelum dilengkapi dan dihidupkan oleh pembaca. Menurut mereka teks itu sendiri masih merupakan “bahan mentah”yang harus diolah oleh pembaca.47 Secara garis besar metode kritik respons-pembaca dibagi menjadi dua, yaitu: yang konservatif dan yang radikal. Kritik respons pembaca yang konservatif berpandangan bahwa tugas penafsir adalah menemukan makna dengan mengisi “lubang-lubang”yang terdapat pada teks dengan makna mereka sendiri.48 Sedang kritik respons-pembaca yang radikal menolak adanya makna normatif yang dimaksudkan pengarang sehingga pembaca berhak mengisi teks dengan makna mereka sendiri. Kritik respons-pembaca ini, terlebih yang radikal, akan menghasilkan subjektivisme yang liar. Semangat pascamodernisme yang menjiwai kritik respons-pembaca ini membuka peluang bagi berbagai kritik ideologis (ideological criticism), seperti kritik feminis (feminist criticism), kritik theologi hitam (black theology criticism), kritik pembebasan (liberation criticism) atau kritik homoseksual (gay criticism).49

Kritik ideologis sangat bersifat subjektif karena ia tidak berusaha mencari makna yang dimaksud pengarang, namun sebaliknya memasukkan ideologi atau theologi yang dimiliki penafsir ke dalam penafsiran, seperti yang ditulis Kwok Pui Lan, seorang tokoh feminis Asia,
Since I reject both the sacrality of the text and the canon as a guarantee of truth, I also do not think that Bible provides the norm for interpretation in itself. For a long time, such “mystified”doctrine has taken away the power from women, the poor and the powerless, for it helps to sustain the notion that the “divine presence”is located somewhere else and not in ourselves. Today, we must claim back the power to look at the Bible with our own eyes and to stress that divine immanence is within us, not in something sealed off and handed down from almost two thousand years ago.50

Subjektivisme metode penafsiran pascamodernisme mencapai puncaknya dalam metode dekonstruksi yang “diilhami”oleh filsafat dekonstruksi Derrida. Metode penafsiran dekonstruksi melakukan pembongkaran atas teks Alkitab dengan mencari kontradiksi-kontradiksi di dalam dirinya sendiri maupun dengan pemahaman dan pengalaman penafsir, sehingga tidak jarang penafsiran dekonstruktif justru mempersalahkan teks-teks Alkitab ketimbang mencari makna yang terkandung di dalamnya dan mengaplikasikan makna tersebut.51




TANGGAPAN
Kritik utama atas hermeneutika biblika yang dipengaruhi pascamodernisme adalah penafsiran ini sangat kental dengan subjektivisme, karena menurut mereka setiap penafsir sah untuk memasukkan maknanya sendiri dalam proses hermeneutika. Subjektivitas semacam itu tidak dapat diterima. Seorang penafsir tidak diperkenankan memasukkan maknanya sendiri, melainkan ia harus berusaha menemukan makna yang dimaksud penulis Alkitab. Menurut Vanhoozer, maksud penulis adalah penyebab terciptanya sebuah teks. Teks itu sendiri tidak pernah berdiri sendiri, melainkan ia hanya “dipinjam”oleh penulis untuk menyampaikan maksudnya.52 Oleh sebab itu, penafsiran yang benar adalah penafsiran yang bertujuan menemukan makna yang dimaksud oleh pengarang, seperti yang diucapkan E. D. Hirsch, “All valid interpretation, of every sort, is founded on the recognition of what an author meant.”53

Lebih lanjut, kita meyakini bahwa Allah adalah Penulis Utama di balik para penulis Alkitab. Allah, dalam keMahatahuan dan keMahakuasaan-Nya, telah menginspirasikan para penulis Alkitab untuk memilih kata-kata tertentu sehingga kebenaran-kebenaran-Nya dapat terkomunikasikan dengan baik (2Tim. 3:16). Tentu saja kita yang berdosa dan terbatas ini mungkin saja salah dalam mengerti Alkitab, namun Alkitab itu sendiri tetaplah objektif, seperti yang ditulis oleh Carson,
Of course, we will misunderstand the communication in all sorts of ways, owing both to our finiteness and to our sinfulness. But the content itself is objectively true, a subset of what Omniscience knows, and cast in culture-laden forms that demand of modern reader that we attempt to fuse the horizon of our understanding with that of the culture and language in which the deposit was given. Moreover, this God not only knows perfectly and in advance what wrong interpretation mortals will assign his words, he also knows that some later mortal will see true connections (meanings) in the complex of his words. . . .54

Kelemahan kedua dari hermeneutika yang dipengaruhi faham pascamodernisme adalah sifatnya yang ahistoris bahkan antihistoris. Padahal, Alkitab bukanlah karya sastra biasa—semacam buku fiksi atau sebuah antologi puisi—melainkan Alkitab menceritakan sejarah umat Allah yang bergumul dalam melaksanakan kehendak Allah dalam hidup mereka. Jadi, tugas hermeneutika pertama-tama adalah melakukan penelitian sejarah terhadap teks Alkitab (identitas penulis, latar belakang zaman penulis, keadaan pembaca pertama) di samping melakukan penelitian sastra (literary) untuk, sedapat mungkin, menemukan makna yang dimaksud pengarang.55

Selain memiliki kelemahan, pascamodernisme memberikan sumbangsih kepada hermeneutika. Paling sedikit ada dua sumbangsih; pertama, pascamodernisme “mengajar”kita untuk memperhatikan konteks pembaca dalam melakukan penafsiran Alkitab. Pada satu pihak, pascamodernisme terlalu menekankan konteks pembaca dan mengabaikan konteks pengarang sehingga melahirkan penafsiran Alkitab yang anarkis, di pihak lain sebagian penafsir kadangkala kurang “membumi”dalam mengaplikasikan makna (baca: kebenaran) Alkitab ke dalam konteks pembaca sehingga kebenaran Alkitab dirasakan di awang-awang.

Kedua, pascamodernisme “menyadarkan”kita bahwa praanggapan (presupposition) seorang penafsir pasti memengaruhi proses hermeneutika. Berkaitan dengan hal itu, Robertson McQuilkin dan Bradford Mullen menulis demikian:
Apart from these basic disagreement with postmodern thinking, however, we recognize some legitimate contributions to evangelical thinking, primarily in alerting us to issues that we have not sufficiently addressed. Postmodern perspectives have sensitized us to the difficulty of verbal communication, alerted us to nearly imperceptible influence of preunderstanding....56

Berkaitan hal tersebut, Graham N. Stanton menyatakan hal yang benar bahwa “Even a master of historical method is not able to remain completely free from the prejudice of his time, his social environment, his national position etc.”57

Bagi pemikir pascamodernisme, praanggapan penafsir memiliki peran yang penting, kalau tidak dikatakan yang paling utama, dalam hermeneutika. Menurut mereka, karena sang pengarang telah mati, maka setiap penafsir memiliki hak yang sama untuk memaknai teks menurut praanggapan mereka masing-masing.58 Bagi kita yang percaya bahwa otoritas Alkitab mutlak dan mengutamakan pencarian makna yang dimaksud oleh para penulis Alkitab, pandangan yang diyakini oleh pascamodernisme itu seharusnya ditolak. Namun ironis, kita sendiri sering terjebak di dalam praktik penafsiran Alkitab subjektif ala pascamodernisme yang sebenarnya kita tolak. Sebagai contoh, betapa seringnya kita mengutip ayat-ayat Alkitab demi melakukan atas pandangan theologis atau pendapat kita (proofing text)?59 Mengenai hal ini Osborne menyatakan pendapatnya:
I might note that a great deal of what the deconstructionist argues actually occurs in some modern preaching and Bible study groups. The tendency has often been to ignore the historical dimension of biblical text and to ask directly, “How does this relate to my situation?”The difference of course that Derrida denies the historical referent while many evangelical merely unaware of it. However, the result (namely, subjective interaction with text) is quite similar.60

Penafsiran yang menafikan makna historis bukanlah eksegesis melainkan eisegesis. Meski kita tidak menyetujui sebagian pandangan Rudolf Bultmann, pendapatnya berikut ini adalah benar, “every exegesis that is guided by dogmatic prejudices does not hear what text says, but only lets the latter says what it want to hear.”61

Jika kita menerima fakta bahwa seorang penafsir tidak mungkin dapat melepaskan diri dari praanggapannya, lalu bagaimana caranya agar kita dapat menafsir Alkitab secara objektif? Menjawab pergumulan itu, ada beberapa rambu yang harus kita patuhi supaya kita tidak terjebak pada subjektivisme buta. Pertama, kita harus sadar bahwa kita menafsir Alkitab dengan praanggapan tertentu.62 Meski praanggapan dapat menjerumuskan penafsir ke dalam jurang subjektivisme, namun sebetulnya praanggapan diperlukan sebagai dasar untuk mengerti Alkitab.63 Untuk itu, kita harus sadar bahwa saat menafsir Alkitab, kita sedang menafsir dengan praanggapan kita, entah itu pemahaman theologis atau pengalaman kita. Kesadaran ini penting untuk menaati rambu yang berikutnya.

Kedua, kita harus selalu terbuka untuk dikoreksi oleh kebenaran-kebenaran firman Tuhan. Osborne menyebut pengoreksian praanggapan penafsir oleh kebenaran-kebenaran secara terus-menerus sebagai spiral hermeneutika.64 Spiral hermeneutika adalah sebuah proses yang terus berputar antara penafsir dan Alkitab. Pertama-tama penafsir membaca Alkitab dengan praanggapan tertentu, namun jika penafsiran itu menghasilkan kebenaran yang berbeda dengan praanggapan penafsir, ia harus bersedia dikoreksi oleh kebenaran firman Tuhan. Pemahaman yang telah dikoreksi oleh kebenaran firman Tuhan itu kini menjadi praanggapan penafsir yang baru untuk menafsirkan Alkitab begitu seterusnya sehingga secara progresif penafsir mencapai pemahaman yang benar.65

Ketiga, penafsir harus menggunakan alat-alat dan metode tafsir yang tepat. Yang dimaksud dengan alat-alat tafsir adalah segala hal yang dapat membantu penafsir melakukan tugasnya dengan maksimal, seperti kamus bahasa Ibrani dan Yunani, buku tata bahasa Ibrani dan Yunani, konkordansi, kamus Alkitab dan buku-buku latar belakang politik ekonomi- sosial-budaya zaman penulisan Alkitab. 66 Sedang metode penafsiran yang tepat adalah menafsirkan teks Alkitab sesuai dengan genrenya, melakukan penyelidikan bahasa yang ketat, dan menelusuri latar belakang sejarah penulisan Alkitab.67

Keempat, sebagai bagian dari komunitas orang percaya seorang penafsir harus berinteraksi dengan tafsiran-tafsiran lainnya agar hasil penafsiran kita tidak subjektif.68




EPILOG
Setiap zaman—pramodern, modern, dan pascamodern—dengan karakteristiknya masing-masing telah memberikan pengaruh terhadap hermeneutika biblika. Dalam makalah ini telah dibahas bahwa pascamodernisme telah memberikan pengaruh-pengaruh yang buruk terhadap penafsiran Alkitab, yaitu sifatnya yang ahistoris serta subjektivitas yang anarkis terhadap otoritas kebenaran Alkitab. Namun, di lain pihak pascamodernisme “memaksa”kita untuk memikirkan dengan serius mengenai peran praanggapan dalam penafsiran Alkitab.

Setelah zaman pascamodern ini entah zaman apa lagi yang akan memengaruhi peradaban umat manusia. Namun zaman apa pun tidak akan pernah dapat menggerus otoritas Alkitab, karena kebenaran firman Allah itu kekal seperti diri Allah sendiri, “The authority of the holy Scripture, for which it ought to be believed and obeyed, dependent not upon the testimony of any man or church, but wholly upon God (who is truth itself), the author thereof.”69




Catatan kaki:
1. Penulis dengan sengaja menggunakan istilah “hermeneutika biblika”dalam artikel ini mengingat hermeneutika dipakai juga secara luas dalam disiplin ilmu lain, seperti: filsafat (mis. lih. Gianni Vattimo, Beyond Interpretation: the Meaning of Hermeneutics for Philosophy [tr. David Webb; Palo Alto: Stanford University Press, 1997]).
2. Beyond Deconstruction: The Uses and Abuses of Literary Theory (Oxford: Clarendon, 1985), hlm. 204.
3. “The Integrity of the Evangelical Tradition and the Challenge of the Postmodern Paradigm”dalam The Challenge of Postmodernism: An Evangelical Engagement (ed., David S. Dockery; Grand Rapids: Baker, 2001), hlm. 67. Dalam buku yang sama, Carl F. Henry menulis sebuah artikel yang berjudul “Postmodernism: The New Spectre?”(ibid., hlm. 34-52). Dalam kaitan ini adalah penting bagi pembaca untuk mengetahui bahwa terdapat perbedaan yang cukup hakiki antara pascamodernisme dengan pascamodernitas. I. Bambang Sugiharto mendefinisikan pascamodernitas sebagai situasi dan tata sosial produk teknologi informasi, globalisasi, fragmentasi gaya hidup, konsumerisme yang berlebihan, deregulasi pasar uang dan sarana publik, usangnya negara bangsa, serta penggalian kembali inspirasi-inspirasi tradisi (Postmodernisme: Tantangan Bagi Filsafat [Yogyakarta: Kanisius, 1996], hlm. 24). Istilah “pascamodernisme”pertama kali muncul pada tahun 1934 dalam karya sastra yang ditulis oleh Frederico de Oniz yang berjudul Antologia de la Poesia Espanola a Hispanoamericana. Dalam karya itu, de Oniz menuliskan kata “postmodernismo”untuk menunjukkan reaksi terhadap modernisme. Namun, penggunaan yang signifikan terhadap kata itu dilakukan oleh Arnold Tonybee yang pada tahun 1939 menyatakan bahwa masa modern telah berakhir pada tahun 1914, dan era yang bangkit dari puing-puing pengalaman kegalauan akibat Perang Dunia I harus disebut dengan “Post-Modern”(ibid.; bdk. Mohler, “The Integrity”, hlm. 54).
4. Pascamodernisme telah memengaruhi segala lini kehidupan; salah satu buktinya adalah istilah ini tidak hanya dipakai dalam bidang filsafat tetapi juga dalam bidang musik (mis. Cage, Stockhausen, dan Glass), seni rupa (Rauschenberg, Baselitz, Warhol, dan Bacon), fiksi (mis. novel-novel dari Vonnegut, Barth, Pynchon, dan Burroughs), film (Lynch, Greenaway, dan Jarman), drama (teater dari Artaud), kritik sastra (mis. Spanos, Hassan, Sontag, dan Fiedler), antropologi (Clifford, Tyler, dan Marcus), sosiologi (Denzin), dan geografi (Soja) (Sugiharto, Postmodernisme, hlm. 23).
5. Basic Bible Interpretation (Wheaton: Victor, 1991) 19; bdk. Grant R. Osborne, The Hermeneutical Spiral: A Comprehensive Introduction to Biblical Interpretation (Downers Grove: InterVarsity, 1991), hlm. 5. Kata “hermeneutika”dari kata Yunani hermēneuō yang berarti “to explain, to interpret, to translate”(William F. Ardnt dan Willbur Gingrich, A Greek-English Lexicon of the New Testament and Other Early Christian Literature [2nd ed.; Chicago: The University of Chicago Press, 1979], hlm. 310).
6. Elliot E. Johnson, Expository Hermeneutics: An Introduction (Grand Rapids: Zondervan, 1990), hlm. 8; Zuck, Basic Bible Interpretation, hlm. 19; William W. Klein, Craig L. Blomberg, dan Robert L. Hubbard Jr., Introduction to Biblical Interpretation (Dallas: Word, 1993) xix, 4, 19, 97; Osborne, The Hermeneutical Spiral 5, 353; Moses Silva dan Walter C. Kaiser Jr., An Introduction to Biblical Hermeneutics: The Search for Meaning (Grand Rapids: Zondervan, 1994) 15; Millard J. Erickson, Evangelical Interpretation (Grand Rapids: Baker, 1993), hlm. 9; Robert L. Thomas, Evangelical Hermeneutics: The New Versus Old (Grand Rapids: Kregel, 2002), hlm. 27.
7. Yohanes Adrie Hartopo, “Catatan Kuliah Isu-Isu Hermeneutika Kekinian”(Malang: Seminari Alkitab Asia Tenggara, 2006); Osborne, The Hermeneutical Spiral, hlm. 5.
8. Ibid. 5, hlm. 265; Gordon D. Fee dan Douglas Stuart, How to Read the Bible for All Its Worth (2nd ed.; Grand Rapids: Zondervan, 1993), hlm. 25; Klein, Introduction, hlm. 18; Dan McCartney dan Charles Clayton, Let the Reader Understand: A Guide to Interpreting and Applying the Bible (Wheaton: Victor, 1994), hlm. 78.
9. The Hermeneutical Spiral, hlm. 5. Sebuah bacaan yang dapat membantu kita untuk mengerti peran Roh Kudus dalam penafsiran Alkitab ditulis oleh Roy B. Zuck, “The Role of the Holy Spirit in Hermeneutics,”Bibliotheca Sacra 141/2 (1984), hlm. 120-129.
10. Nindyo Sasongko, “Tinjauan Terhadap Hermeneutika Tindak-Komunikatif Sebagai Metode Bertheologi Injili yang Hermeneutis di Era Pascamodern”(Skripsi S.Th.; Seminari Alkitab Asia Tenggara, 2002), hlm. 2-3.
11. Hal itu diungkapkan antara lain oleh Dick Hebdige, “upaya pendefinisian posmodernisme hanya mengundang munculnya masalah-masalah”(dikutip dalam Yasfar Amir Piliang, Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies atas Matinya Makna [Yogyakarta: Jalasutra, 2003], hlm. 101) bdk. Christian Sulistio, “Penerapan Konsep Kebenaran Cornelius Van Til untuk Menghadapi Tantangan Pascamodernisme”(Tesis M.Th.; Seminari Alkitab Asia Tenggara, 2004), hlm. 1.
12. Yang mendefinisikan demikian misalnya adalah Kristi Siegel, “Introduction to Modern Literary Theory: Literary Trends and Influences,”
http://www.kristisiegel.com/theory.htm.
13. Karakteristik pascamodernisme lainnya yang tidak dibahas dalam makalah ini antara lain: anti fondasionalisme, menolak proses, penekanan pada komunitas ketimbang individu, dan melibatkan intuisi (Hartopo, “Catatan Kuliah”).
14. Ernest Gellner, Menolak Posmodernisme: Antara Fundamentalisme Rasionalis dan Fundamentalisme Religius (Jakarta: Mizan, 1994), hlm. 42.
15. D. A. Carson, The Gagging of God: Christianity Confronts Pluralism (Grand Rapids: Zondervan, 1996) 120.
16. Stanley J. Grenz, “Star Trek and the Next Generation: Postmodernism and the Future of Evangelical Theology”dalam The Challenge of Postmodern, hlm. 91.
17. Mohler, “The Integrity of Evangelical Tradition”, hlm. 71.
18. The Gagging of God, hlm. 67.
19. Dikutip dalam ibid.
20. Mohler, “The Integrity of Evangelical Tradition”, hlm. 73.
21. Henry, “Postmodernism: The New Spectre”, hlm. 36.
22. Kevin J. Vanhoozer menyebut penafsiran pascamodern sebagai kekerasan penafsiran (interpretative violence) (Is There Meaning in This Text?: The Bible, The Reader, and the Morality of Literary Knowledge [Grand Rapids: Zondervan, 1998], hlm. 161-162).
23 Postmodernisme 79 bdk. Vanhoozer, Is There Meaning, hlm. 17.
24. Stanley J. Grenz, A Primer on Postmodernism (Grand Rapids: Eerdmans, 1996), hlm. 115.
25. Ibid.
26. Beberapa prinsip strukturalisme adalah: (1) prinsip struktural, yaitu: bahasa dilihat memiliki relasi struktural di mana tanda dilihat sebagai kesatuan yang bersifat material; (2) prinsip kesatuan, yaitu: penanda (signifier)—yaitu: suara, tulisan, gambar, objek—tidak dapat dipisahkan dengan petanda (signified), yaitu: konsep, ide, gagasan, makna; (3) prinsip konvensional, yaitu relasi struktural antara penanda dan petanda sangat bergantung pada konvensi, yaitu: kesepakatan sosial di antara komunitas bahasa; (4) prinsip sinkronik, yaitu: kajian tanda sebagai suatu sistem yang tetap pada konteks waktu dianggap konstan, stabil dan tidak berubah; (5) prinsip representasi, yaitu: hubungan antara penanda dan petanda bersifat mewakili. Dengan kata lain, keberadaan penanda sangat bergantung pada realitas. Dalam hal ini realitas mendahului penanda; ketiadaan realitas berakibat logis pada ketiadaan tanda; (6) prinsip kontinuitas, yaitu: relasi struktural penanda dan petanda selalu berlanjut dan tidak pernah berubah, sehingga di dalamnya tidak dimungkinkan adanya perubahan radikal (Piliang, Hipersemiotika, hlm. 47-49).
27. Secara garis besar kritik naratif adalah penafsiran Alkitab dengan melakukan sebuah “pembacaan yang cermat”(close reading) terhadap teks Alkitab dengan memperhatikan kaidah-kaidah penceritaan, tanpa melakukan pendekatan historis. Secara umum kaidah-kaidah tersebut menyangkut dua hal, yaitu: isi cerita dan cara penyampaian cerita. Yang dimaksud dengan isi cerita antara lain: (1) tokoh; (2) alur cerita; (3) adegan; (4) latar (setting): tempat, waktu, dan suasana. Sedangkan cerita disampaikan dengan cara: (1) pengulangan; (2) pemelukan (inklusio); (3) kesejajaran; (4) rujukan pada Perjanjian Lama; (5) nubuatan; (6) ringkasan; (7) kontras. Untuk mengerti metode kritik ini secara mendetail dapat membaca beberapa tulisan berikut: Armand Barus, “Analisis Naratif: Apa dan Bagaimana?,”Forum Biblika 9 (1999) 48-60; Adji A. Sutama, Mengapa Kamu Menengadah ke Langit?: Analisis Naratif Kisah Kenaikan Yesus (Jakarta: Gunung Mulia, 2001); Adji A. Sutama, “Hermeneutik Kritik Naratif dan Posmodernisme,”Penuntun 3/20 (2004), hlm. 365-381; Osborne, The Hermeneutical Spiral, hlm. 153-173; E. Gerrit Singgih, “Apa dan Mengapa Exegese Naratif?,”Gema 45 (1993), hlm. 5-26; Steven L. McKenzie dan Stephen R. Haynes, eds., To It’s Own Meaning: A Introduction to Biblical Criticisms and Their Application (rev. & ed.; Lousville: Westminster: John Knox, 1999), hlm. 201-229.
28. Kritik retorik adalah metode penafsiran dengan membaca Alkitab secara cermat (close reading) dengan memperhatikan struktur dan substansi teks serta gaya penulisan, kebanyakan digunakan untuk menafsirkan surat-surat. Penjelasan lebih dalam mengenai kritik retorik dapat dibaca dalam ibid., hlm. 156-180; Duane F. Watson dan Alan J. Hauser, Rhetorical Criticism of the Bible: A Comprehensive Bibliography with Notes on History Method (Leiden: E. J. Brill, 1994); George A. Kennedy, New Testament Interpretation through Rhetorical Criticism (Cape Hill: University of North Carolina Press, 1987).
29. Vanhoozer, Is There, hlm. 150.
30. Muhammad Al-Fayyadl, Derrida (Yogyakarta: LkiS, 2005), hlm. 63.
31. Ibid., hlm. 64, 68.
32. “Deconstruction”dalam Encyclopædia Britannica 2005 [CD ROM] (Chicago: Encyclopædia Britannica Inc., 2005). Dalam tulisan-tulisan filsafat logosentrisme itu adalah sang pengarang sebagai subjek yang memiliki otoritas terhadap makna yang hendak disampaikannya (Al-Fayyadl, Derrida, hlm. 16).
33. Grenz, A Primer, hlm. 141.
34. Ibid., hlm. 142.
35. Al-Fayyadl, Derrida, hlm. 21; bdk. dengan definisi berikut ini, “to deconstruct is to explore the tensions and contradictions between the hierarchical ordering assumed (and sometimes explicitly asserted) in the text and other aspects of the text's meaning, especially those that are indirect or implicit or that rely on figurative or performative uses of language”(“Denconstruction”dalam Britannica).
36. Yasraf Amir Piliang menyatakan bahwa penafisiran pascamodernisme yang dekonstruktif akan menghasilkan “diseminasi” yakni keadaan kehampaan makna (Dunia yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan [Yogyakarta: Jalasutra, 2004], hlm. 268-269).
37. Hartopo, “Catatan Kuliah.” Meski demikian, menurut Anthony Thiselton, Schleiermacher bukanlah orang pertama yang memikirkan metodologi hermeneutika. Sebelumnya, telah ada orang-orang yang menggumulkan hal tersebut, seperti Origenes dan Irenaeus (lih. “Biblical Studies and Theoritical Hermeneutics”dalam The Cambridge Companion to Biblical Interpretation [ed. John Barton; Cambridge: Cambridge University Press, 1998], hlm. 96).
38. David S. Dockery, Biblical Interpretation Then and Now: Contemporary Hermeneutics in the Light of the Early Church (Grand Rapids: Baker, 1992), hlm. 163.
39. Ibid.
40. E. Sumaryono, Hermeneutik: Sebuah Metode Filsafat (Yogyakarta: Kanisius, 1999), hlm. 50-51.
41. Ibid., hlm. 62.
42. Penjelasan yang mendalam mengenai kritik historis dapat dilihat dalam Roy A. Harrisville dan Walter Sundberg, The Bible in Modern Culture: Theology and Historical-Critical Method from Spinoza to Käsemann (Grand Rapids: Eerdmans, 1992); Edgar Krentz, The Historical-Critical Method (Philadelphia: Fortress, 1975). Sedangkan tanggapan atas metode ini dari kubu Injili dapat dilihat dalam Grant R. Osborne, “Historical Criticism and The Evangelical,”Journal of the Evangelical Theological Society 42/2 (Juni 1999), hlm. 193-210. Pemaparan kelemahan-kelemahan metode kritik historis secara ekstensif dilihat dalam tiga karya Eta Linneman, Historical Criticism of the Bible: Methodology or Ideology? Reflections of a Bultmannian Turned Evangelical (Grand Rapids: Baker, 1990); Is There A Synoptic Problem?: Rethinking the Literary Dependence of the First Three Gospels (Grand Rapids, Baker, 1992); Biblical Criticism on Trial: How Scientific Is "Scientific Theology"? (Grand Rapids: Kregel, 2001).
43. Sumaryono, Hermeneutik, hlm. 77; Grenz, A Primer on Postmodern, hlm. 109.
44. Dockery, Biblical Interpretation, hlm. 169.
45. Grenz, A Primer on Postmodern, hlm. 109.
46. Sumaryono, Hermeneutik, hlm. 108-109.
47. Vanhoozer, Is There Meaning153; bdk. Osborne, Hermeneutical Spiral, hlm. 378-380.
48. Ibid.
49. Ibid., hlm. 162-163; Richard L. Pratt, Jr., He Gave Us Story: The Bible Student’s Guide to Interpreting Old Testament Narratives (Grentwood: Wolgemuth & Hyatt, 1990), hlm. 27.
50. “Discovering the Bible in the Non-biblical”dalam Voices from the Margin: Interpreting the Bible in the Third World (ed. R. S. Sugirtharajah; London: Society for Promoting Christian Knowledge, 1991), hlm. 311.
51. Hartopo, “Catatan Kuliah.”
52. Is There Meaning, hlm. 44.
53. Validity in Interpretation (Chicago: University of Chicago Press, 1976), hlm. 126; bdk. pendapat Osborne yang mengatakan bahwa mengetahui makna yang dimaksudkan pengarang adalah tanggung jawab etis seorang penafsir (lih. Hermeneutical Spiral, hlm. 385).
54. The Gagging, hlm. 130-131.
55. Dockery, Biblical Interpretation, hlm. 178.
56. “The Impact of Postmodern Thinking on Evangelical Hermeneutics,”Journal of Evangelical Theological Society 40/1 (Maret 1997) 71 [penekanan ditambah oleh penulis]; bdk. Johnson Liem, “Contemporary Hermeneutics: Bane or Boon?,”Stulos Theological Jurnal 9/1 & 2 (Mei-November 2001), hlm. 6.
57. “Presuppositions in New Testament Criticism”dalam New Testament Interpretation: Essays on Principles and Methods (ed. I. Howard Marshall; Grand Rapids: Eerdmands, 1977), hlm. 62.
58. Vanhoozer, Is There Meaning 162; Robert P. Carrol, “Poststructuralist Approaches New Historicism and Postmodernism”dalam The Cambridge Companion, hlm. 61.
59. Bill Flatt, “Function of Presuppositions and Attitudes in Biblical Interpretation”dalam Biblical Interpretations: Principles and Practices Studies in Honor of Jack Pearl Lewis Professor Bible Harding Graduate School of Religion (eds. F. Furman Kearly, Edward P. Myers, dan Timothy D. Hadley; Grand Rapids: Baker, 1986), hlm. 61.
60. The Hermeneutical Spiral, hlm. 384. John Calvin pun mengatakan hal senada, “it is audacity akin to sacrilege to use the scripture at our own pleasure and to play with them as with a tennis ball, which many before us have done”(dikutip dari Bernard Ramm, Protestant Biblical Interpretation: A Textbook of Hermeneutics [3rd. ed.; Grand Rapids: Baker, 1970], hlm. 58).
61. Dikutip dari Stanton, “Presuppositions in New Testament”, hlm. 64.
62. Liem, “Contemporary Hermeneutics”, hlm. 8-9; Stanton, “Presuppositions in New Testament”, hlm. 62, 68.
63. Hartopo, “Catatan Kuliah.”
64. The Hermeneutical Spiral, hlm. 6.
65. Bdk. McQuilkin, “The Impact of Postmodern Thinking”, hlm. 76; Stanton, “Presuppositions in New Testament”, hlm. 68; Flatt, “Function of Presuppositions”, hlm. 70.
66. Ibid., hlm. 65.
67. Osborne, The Hermeneutical Spiral, hlm. 413-415.
68. Pratt, He Gave Us Story, hlm. 40.
69. The Westminster Confession Faith bab 1 artikel 4 (Atlanta: The Committee for Christian Education & Publication, 1990), hlm. 5.





Sumber:
VERITAS 10/1 (April 2009), hlm. 117-133




Profil Pancha Wiguna Yahya, M.Th.:
Ev. Pancha Wiguna Yahya, M.Th. adalah Dosen Biblika di Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Theologi (S.Th.) dan Master of Theology (M.Th.) di SAAT Malang.