17 May 2008

PRESUPOSISI (Pdt. Hendra Gustiana Mulia, M.Th.)

Presuposisi

oleh: Pdt. Hendra Gustiana Mulia, M.Th.



1. Setiap orang punya presuposisi
Sebenarnya ada keselarasan antara penyelidikan ilmu pengetahuan dengan penyelidikan Alkitab. Jadi bagaimana orang menyelidiki Alkitab itu secara tidak sadar dipengaruhi oleh cara penyelidikan ilmiah, baik itu Filsafat, Fisika dan lain-lainnya. Yang ingin saya bahas adalah perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri sehingga kita tahu apa yang mempengaruhi kita untuk menyelidiki Alkitab itu. Di dalam penyelidikan Ilmu Pengetahuan itu dikenal suatu istilah yang dinamakan Metode Ilmiah. Semua penyelidikan yang memakai seluruh prosedur yang ditetapkan di dalam metoda ilmiah ini bisa disebutkan dan diterima sebagai suatu ilmu yang Ilmiah. Diluar itu berarti ilmunya tidak ilmiah. Ilmu-ilmu yang ilmiah dapat dibuktikan secara ilmiah. Contoh: Besi dipanaskan akan memuai.

Seorang yang bernama Francis Bacon pertama kali memulai metode ilmiah ini. Pada abad 17 metode yang dipakai adalah metode Aristoteles sejak abad 12. Metode ini di bawa oleh para sarjana Arab. Kemudian sejak itu ajaran Aristoteles ini menyebar ke seluruh Eropa. Bayangkan bahwa setelah berabad-abad filsuf Yunani ini mati, pikirannya itu bisa menyebar dan menjajah seluruh Eropa.

Seluruh ajaran Aristoteles itu menyebar, termasuk cara bagaimana mereka mengerjakan Ilmu Pengetahuan. Aristoteles mengemukakan tentang logika Deduksi. Yaitu, dimulai dari satu kebenaran yang umum, sampai kepada kebenaran yang particular, atau khusus.

Misalnya begini. “Semua ayam berkaki dua.” Kemudian kita katakan, “Si Kuning berkaki dua.” Kesimpulannya apa? “Si Kuning adalah ayam.” Logika deduksi dimulai dengan satu kebenaran umum lalu sampai kepada kebenaran yang particular atau kebenaran yang khusus. Lalu misalnya syarat-syarat di dalam deduksi ini terpenuhi, kesimpulan yang diberikan itu merupakan suatu hasil yang pasti benar. Jadi misalnya segala persyaratan yang dikendaki dalam logika deduksi ini terpenuhi, kesimpulan yang didapat dari sini merupakan suatu pengetahuan yang ilmiah.

Kalau contoh itu kita ubah, seperti ini, “Semua ayam berkaki dua. Si Kuning adalah ayam,” sehingga kesimpulannya adalah, “Si Kuning berkaki dua.” Ini suatu kesimpulan yang pasti benar. Tidak akan menyalahi peraturan apa-apa. Jadi sepanjang itu mengikuti peraturan-peraturan yang ditetapkan di dalam logika deduksi, dan selama premis yang diberikan itu merupakan suatu premis yang benar, yang dihasilkan adalah sesuatu yang pasti.

Nah hal inilah yang mereka kerjakan berdasarkan apa yang mereka ungkapkan. Dan mereka sebenarnya dikuasai oleh suatu pemikiran seperti ini. Kemudian ada satu pertanyaan, bagaimana mereka menetapkan suatu premis seperti ini? Nah, pada waktu itu ada yang berlaku yang namanya ‘otoritas’. Mereka mengatakan seperti ini, segala sesuatu yang dikemukakan oleh Aristoteles atau filsuf-filsuf lainnya, ini diakui sebagai sesuatu yang merupakan kebenaran. Misalnya, bagaimana Aristoteles tahu tentang kosmologi? Dan ini yang dipakai sebagai premis mayornya. Dan setelah itu, penyelidikan-penyelidikan didasarkan pada semua kebenaran yang pernah diungkapkan oleh ilmuwan sebelumnya. Dan mereka hanya melanjutkan penyelidikan yang sudah dilakukan atau dimulai oleh para filsuf tadi.

Akhirnya, lahirlah para ilmuwan yang hidup sebagai pembelot. Yang pertama-tama memang muncul dari si Francis Bacon tadi. Misalnya ketika mengadakan penyelidikan tentang ayam tadi. Misalkan kita akan menyelidiki tentang pertanyaan, “Ayam itu kakinya sebenarnya berapa sih?" Caranya, bukan dengan pergi ke perpustakaan dan bertanya, “Apa yang dikatakan Aristoteles tentang ‘perayaman’? Atau kira-kira Socrates atau Plato pernah ngomong-ngomong masalah ‘perayaman’ nggak, ya? O iya, katanya ayam itu pasti kakinya dua.” Menurut Francis Bacon, hal itu salah. Seharusnya, kalau memang kita mau menyelidiki masalah ayam ini, kita jangan pergi ke Aristoteles atau ke Plato atau ke Socrates, pergi ke ayam itu sendiri, dong! Yang mau diselidiki, kan ayam!

Contoh penyelidikan :
Ayam 1Þ Kaki : 2 (Gampang kan ngitungnya?)
Ayam 2 Þ Kaki : 2 (Ini semua ayam kita, siapa tau ayam tetangga beda!)
Ayam 3Þ Kaki : 2 (Oh, kita kan tinggalnya di kampung, siapa tau ayam kota beda?)
Ayam 4Þ Kaki : 2..(Oh, ini semua ayam Indonesia, siapa tau ayam Singapura sudah lebih maju!)
Ayam 5Þ Kaki : 2 (Kalau di daerah dingin siapa tau kakinya tambah satu!)
Ayam 6Þ Kaki : 2 (Kemudian ada yang lain dari yang lain, yang ini nih, kakinya cuma satu. Setelah diperiksa-periksa, oh, baru kelindes mobil! Nggak jadi, deh.)

Setelah syarat-syarat seperti ‘Contohnya harus banyak’ terpenuhi harus ada kesimpulan dong! Maka kesimpulan kita adalah, “Ayam berkaki dua.”

Semua ini sebenarnya adalah Metode Ilmiah yang kalian sudah pelajari sendiri. Walaupun mungkin metode yang sekarang sudah ditambah dengan beberapa unsur-unsur yang baru.

Pada waktu mengerjakan metode induksi ini, mereka tuh sebenarnya dipengaruhi oleh ajaran-ajaran Aristoteles. Jadi pada waktu mereka mengadakan penyelidikan ilmu pengetahuan, misalnya tentang “Bumi ini adalah pusat.” Mengapa bumi ini adalah pusat alam semesta? Mereka mencari jawabannya. Dan dari Aristoteles sendiri diberikan jawaban, “Bumi ini bisa dikatakan sebagai pusat, sebab di dalam dunia ini gerakan hanya terdiri dari dua macam. Ke atas dan ke bawah! Karena itulah, Aristoteles mengatakan,"Bumi ini adalah pusat alam semesta.”

Dan karena selama itu mereka menganggap bahwa apa yang dikatakan Aristoteles itu adalah sesuatu yang benar, mereka percaya. Dan jangan lupa, mereka belum tahu gravitasi kan, baru setelah ada Newton, mereka tau. Begitu ada Francis Bacon, dunia mulai sadar bahwa perlunya Ilmu Pengetahuan itu terbebas dari otoritas. Harus terbebas dari sesuatu yang mempengaruhi jalannya penyelidikan. Sebab kalau dari awal kita sudah menganggap bahwa bumi ini adalah pusat dari alam semesta, seluruh penyelidikan Ilmu Pengetahuan pun akan dipengaruhi oleh Pengetahuan yang sudah ada sebelumnya. Itu sebabnya di dalam Metode Induksi itu sebenarnya, mereka akan mengerjakannya seperti ini: Pada waktu mereka akan mengadakan penyelidikan, harus terbebas dari segala hal yang bisa mempengaruhi pengertian kita. Segala otoritas, segala pengetahuan, yang mungkin mendikte jalannya penyelidikan pengetahuan itu, merupakan sesuatu yang akan mempengaruhi hasil dari penyelidikan itu. Itu sebabnya mereka melihat perlunya suatu keadaan penyelidikan pengetahuan terbebas dari segala macam prasangka, otoritas, prejudice, bebas dari presuposisi, bebas daripada anggapan atau asumsi sebelumnya, karena mereka harus mengadakan penyelidikan yang obyektif. Tanpa pengaruh, tanpa tekanan yang sangat mungkin mempengaruhi.

Nah, inilah yang sebenarnya terjadi di dalam Ilmu Pengetahuan. Berdasarkan metode dari Ilmu Pengetahuan ini, terjadi perkembangan metode. Sekarang begini, setelah kemudian Francis Bacon, kira-kira hampir sezaman dengan Galileo Galilei pada waktu itu. Nah, Galileo itu sebenarnya adalah seorang scientist yang merupakan tokoh yang mengembangkan sesuatu yang belakangan disebut sebagai metode Induksi ini. Bacon tadi sendiri memang merupakan seseorang yang bekerja menurut apa yang kita sebut sebagai Metode Ilmiah zaman kita sekarang ini.

Galileo juga mengadakan penyelidikan-penyelidikan. Memang pada zaman Galileo, dia ini masih kalah dengan gereja pada waktu itu. Tetapi setelah itu penyelidikan Ilmu Pengetahuan memang benar-benar mengalami revolusi. Seperti yang kita tahu ditemukannya Barometer misalnya, dll. Abad 17 dan 18 merupakan zaman revolusi Ilmu Pengetahuan. Sampai kita bisa mengatakan bahwa Ilmu Pengetahuan itu menjadi ‘jantung’ dari kehidupan kita, sebab seolah-olah, segala segi dari kehidupan kita betul-betul ditunjang oleh Ilmu Pengetahuan. Misalnya, kertas yang kita pakai, harus dipikirkan pembuatannya. Sehingga kita bisa melihat bahwa, ternyata, Metode Ilmu Pengetahuan yang dihasilkan itu memberikan dampak yang luar biasa. Karena Ilmu Pengetahuan itu membuktikan dirinya sebagai sesuatu yang benar-benar berhasil, maka pada waktu itu orang-orang mempunyai pengertian bahwa Metode Ilmu Pengetahuan ini adalah sesuatu yang betul-betul berhasil luar biasa. Kira-kira abad ke 19, ada suatu filsafat yang disebut sebagai positivisme. Logical Positivism ini membentuk suatu kelompok yang disebut Vienna-circle. Kelompok ini terdiri dari ahli matematika, filsuf, dan sebagainya yang berkumpul dan akhirnya mereka inilah yang menetapkan bahwa metode dari Induksi ini adalah metode yang disebut sebagai Metode Ilmiah. Yang mereka ungkapkan pada waktu itu adalah , apa yang mereka kenal selama ini adalah apa yang mereka kenal sebagai the Scientific Method. Perhatikan kata ‘the’ yang menunjukkan bahwa metode ini sudah tertentu. Dengan menyatakan hal ini, mereka menetapkan bahwa metode Ilmu Pengetahuan yang selama ini mereka pakai adalah metode yang pasti benar.

Kemudian di dalam perkembangan lebih lanjut, kita mulai melihat bahwa apa yang dikemukakan di dalam metode Induksi ini, sebenarnya tetap mempunyai kelemahan. Misalnya, angsa warnanya apa? Belum pernah melihat Angsa, lagi?! Ok, jadi kita bikin penyelidikan. Kesimpulannya, "Angsa dan berwarna putih." Dan memang selama sekian abad, ini merupakan pengetahuan yang benar. Tetapi sampai pada suatu saat, ternyata, ada satu bagian di dunia yang angsanya tidak putih! Di salah satu bagian di kota Perth, Australia itu, angsanya berwarna hitam! Satu-satunya di dunia dan satu-satunya di Australia, yang angsanya hitam! Saya sendiri pada waktu ke Perth sana, diajakin, "Ayo, mau lihat angsa hitam?" Sebenarnya apa bagusnya, sih, angsa hitam? Tetapi karena satu-satunya tempat, ya okelah, kita lihat angsa hitam. Kita lihat ternyata dengan hasil penemuan yang semacam ini ternyata perngetahuan yang sebelumnya langsung gugur, bukan?

Sehingga ada seorang yang bernama Sir Carol Topper dianugerahkan gelar ‘Sir’ oleh Inggris mengemukakan seperti, “Sebenarnya, teori Ilmu Pengetahuan ini hanyalah satu hal nyata, bahwa dia hanya menunggu untuk disalahkan saja.”

Tapi kita lihat begini loh, ternyata di dalam perkembangan Ilmu Pengetahuan, banyak hal terbukti menjadi sesuatu yang nantinya bisa saja digugurkan oleh teori baru yang lain, yang muncul kemudian. Jadi, di dalam Induksi ini, kita lihat bahwa sesuatu menjadi tidak kekal. Kalau mau dibilang sebenarnya, bahwa kita dapat mengadakan penyelidikan itu tanpa asumsi, ini merupakan suatu hal yang nonsense. Tidak mungkin dilakukan. Misalnya kita mau mengadakan penyelidikan, tentang AIDS. Kita bertanya, "Mengapa orang bisa kena AIDS?" Tadi dikatakan bahwa tidak boleh ada praduga berupa apapun. Jadi, kita akan mulai menyelidiki dengan teori acak,"Siapa tahu AIDS itu ada karena ketelan lalat." Jadi, dicobain, orang dikasih makan lalat. Oh, ternyata nggak kena, berarti bukan karena lalat. Terus,"Siapa tahu orang kejedug tembok jadi kena AIDS." Selidiki, dong!

Nah, kita tidak mungkin menyelidiki dengan cara demikian, karena kita akan ngawur-ngawuran dong! Segala sesuatu harus diperiksa, diselidiki, tanpa praduga apa pun. Sampai tua mungkin kita nggak temukan apa-apa. Nah, malah pada zaman sekarang ini orang-orang mulai melihat, sebenarnya penyelidikan ini justru harus ada sesuatu yang membimbing penyelidikan tersebut. Begini, loh, kalau kalian mendapat suatu metode ilmiah, di dalam prosedur penelitian itu, yang paling pertama yang harus ada, adalah apa? Harus ada Hipotesa, pasti. Jadi, suatu praduga yang kira-kira akan mempengaruhi jalannya penyelidikan kita. Misalnya ditemukan di Amerika, kenapa nih ada orang yang masuk angin, kok lama-lama mati. Masa masuk angin aja mati? Terus ada lagi orang pilek terus, mati. Kok mati, pilek aja? Begitu diperiksa, oh, kekebalannya nggak ada. Begitu. Nah, dari orang-orang yang matinya konyol-konyol begini, –orang mati tuh mestinya karena kanker kek, ini pilek aja mati– ternyata diketahui mereka ini adalah golongan orang-orang yang homoseksual. Rupanya ada sesuatu di dalam hubungan homoseksual ini yang, bisa menimbulkan AIDS ini. Jadi, selalu ada hipotesa dulu. Tetapi ternyata itu adalah suatu hipotesa yang salah, yang nantinya diperbaiki. Ternyata ini bukan sekedar didapat dari hubungan homoseksual tetapi dari hubungan seksual. Jadi, semua ini dilakukan justru harus ada suatu prejudice, atau prasangka sebelum kita adakan penyelidikan.

Saking orang-orang ini terlalu menganggap bahwa scientific method adalah the Scientific Method dan sesuatu yang ilmiah, maka semua penyelidikan yang bukan dari metode ini, tidak ilmiah. Itu sebabnya, segala ilmu akan berusaha mengikuti apa yang menjadi prosedur dari metode ilmiah ini. Nah, ketika mulai muncul Ilmu-ilmu sosial, mereka juga mencoba mengarahkan ilmu mereka ini ke metode ilmiah tadi supaya Ilmu Sosial ini jangan menjadi suatu Ilmu yang boleh-percaya-boleh-nggak. Nah, mau tidak mau, penyelidikan Alkitab pun harus dipengaruhi oleh hal ini. Apabila kita melakukan penyelidikan Alkitab, dan penyelidikan ini kita lakukan dengan cara maunya kita sendiri, mereka tidak menerima.

Nah, saudara-saudara, persoalan macam demikian ini, merupakan suatu persoalan di mana kita bisa lihat dengan jelas, bagaimana saya dapat mempertanggung jawabkan tafsiran saya dengan metode yang diberikan secara metode yang memang ilmiah. Nah, dengan pengaruh itulah, kelak, kita lihat bahwa penyelidikan Alkitab itupun mengikuti apa yang dikatakan metode penyelidikan ilmiah ini. Tanpa sadar, mereka mengikuti prosedur itu, dengan persyaratan yang diperlukan, sehingga kemudian ditetapkan bahwa, kita itu, kalau mau menafsirkan Alkitab, jangan dipengaruhi oleh apapun.

Saudara kenal, nggak Metode penyelidikan secara Induktif? Saya rasa itu salah satu metode PA yang sedikit banyak dipengaruhi oleh metode ilmiah ini. Bagaimana kita mau menyelidiki Alkitab? Ada satu dosen theologi yang mengatakan begini, mengenai Renungan Harian (sebenarnya ini merupakan terjemahan dari "Our Daily Bread" yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah edisi tahun sebelumnya), "Kalau kita mau bersaat teduh, jangan pakai Renungan Harian, itu sama saja dengan kalau kamu mau makan nasi goreng, mau nggak kamu makan nasi goreng yang sudah dikunyahin sama orang lain? Makanya, kalau mau baca Alkitab, jangan mau pakai begitu-begitu, baca sendiri! Kunyah sendiri!” Sebenarnya pernyataan seperti itu sedikit banyak mencerminkan pengaruh Metode Ilmiah tadi yang mengharapkan bahwa penyelidikan ilmiah itu sebenarnya harus bebas dari presuposisi. Itu sebabnya jangan baca Renungan Harian, karena nanti akan keburu diarahkan oleh Renungan Harian itu. Itulah yang sebenarnya terjadi, sehingga di dalam peyelidikan Alkitab kita punya pengertian seperti ini: pada saat membaca suatu perikop, kita pelajari, jangan baca commentary, jangan dengar orang, jangan apa-apa, sebab apa? Karena itu hasil kunyahan pendeta kamu, misalnya. Iih, mau digigitin! Setelah kita baca perikop, Interpretasi kita kerjakan, setelah itu akhirnya kita dapatkan hasilnya. Katakanlah Eksegesis. Kita sangka demikian, bebas dari prasangka, bebas dari prejudice, bebas dari presuposisi. Kita harus berpikir secara objektif 100 %. Itu yang mereka pikir, meniru apa yang dikatakan oleh Ilmu Pengetahuan. Sampai di sini, ternyata hal ini merupakan sesuatu yang tidak bisa dipertahankan, termasuk di dalam Metode Ilmu Pengetahuan itu sendiri hanya merupakan suatu impian dari para Positivisme yang sebenarnya sudah ditinggalkan sendiri oleh Metode Ilmu Pengetahuan itu.

Kira-kira tahun 60-an, muncul satu buku, “The Structure of Scientific Revolution,” oleh Thomas Kühn. Seharusnya di dalam Universitas diberikan, sebab ini merupakan buku filsafat Ilmu Pengetahuan. Kü hn ini tidak membahas secara filosofis, tetapi dia mengambil kesimpulan dari sejarah Ilmu Pengetahuan. Buku ini sudah diterjemahkan juga menjadi, “Peran Paradigma di dalam Revolusi Sains.” Saya mengajar Sains dan Teknologi, dan buku ini merupakan buku wajib bagi mahasiswa. Tetapi setelah baca, mereka ribut sekali, “Susah, nggak ngerti.” Dulu juga waktu pertama kali baca, dalam bahasa Inggris, memang sulit sekali, nggak ngerti apa-apa, saya frustrasi sekali, kenapa goblok begini? Giliran mahasiswa baca, “Oh, ternyata nggak goblok-goblok amat, dulunya juga sama.” Agak terhibur juga, mereka bilang sulit! Tetapi buku itu memang sangat baik sekali. Pengaruhnya tidak hanya ke dalam Ilmu Pengetahuan tetapi ke dalam segala segi, termasuk di dalam theologi.

Walaupun Thomas Kühn ini sempat sangat extreme, sampai pengikutnya juga extreme, dan saya tidak menyetujui hal itu, Tetapi ada satu segi yang menurut saya benar, yaitu bahwa di dalam melakukan penyelidikan itu justru seseorang akan melakukannya di dalam paradigmanya sendiri. Ia mengatakan bahwa seseorang akan berpikir dan tidak mungkin keluar dari paradigma yang dia punyai, setiap orang akan berpikir di dalam paradigmanya. Misalnya kalau kita lihat di dalam masalah Galileo itu sendiri. Orang-orang yang pada waktu itu melawan Galileo bukannya mempunyai alasan karena hasil penyelidikan dia bertentangan dengan Alkitab atau semacam itu, tetapi yang namanya paradigma adalah segala sesuatu yang mempengaruhi orang di dalam penyelidikan Ilmu Pengetahuan, jadi, cara menyelidiki memang sudah ditentukan oleh Aristoteles seperti itu, dan pengetahuan yang sudah mengatakan bahwa semesta itu geosentris, kenapa mendadak jadi heliosentris? Jadi pada waktu itu mereka memang terikat pada paradigma mereka dan tidak mungkin seseorang akan bisa terlepas dari paradigma itu. Dan memang paradigma itu memang terlepas baru setelah Revolusi itu.

2. Setiap orang akan menerapkan presuposisinya dalam membaca Alkitab
Sehingga, kalau Anda nanti akan membaca Alkitab, Anda tidak akan terlepas dari suatu asumsi, suatu prejudice, suatu paradigma. Pada waktu Anda membaca Alkitab, Anda sudah pasti mempunyai paradigma. Saya akan memisalkan paradigma itu sebagai kacamata. Pada waktu Anda memakai kacamata kuning, Anda melihat sekeliling menjadi semua kuning. Sebenarnya, bagaimana saya melihat dunia ini akan ditentukan oleh kacamata apa yang saya pakai. Paradigma juga hal yang seperti itu. Pengertian hal ini akan kita masukan ke dalam pengertian penafsiran Alkitab ini. Jadi, ternyata prinsip yang dikemukakan di dalam penafsiran Alkitab ini, dengan tanpa membaca buku, jangan denger orang, pikiran kita 100% objektif, dan hasilnya akan menjadi suatu eksegesis yang murni dst. Ini sebenarnya suatu metode yang tidak tepat. Justru pada waktu orang menafsirkannya, bagaimanapun, dia itu sebenarnya memakai kacamata yang menghalangi dia untuk bisa menafsirkan Alkitab itu dengan 100% objektif. Tidak munkin bisa.

Di dalam Sekolah Theologi, waktu itu, misalnya, terbagi dua, ada theologi Calvinis, ada theologi Arminian. Di dalam suatu percakapan, ada pernyataan, seperti, “Saya mah bukan theologi Calvinis ataupun Arminian, saya mah theologi yang Alkitabiah.” Nah, sepertinya, Alkitabiah ini yang paling bagus, dong, betul nggak? Dulu pertama kali saya tidak tahu apa-apa. Memang benar ya, bagus kan Alkitabiah? Memangnya Alkitab itu Calvin? Alkitab itu kan lebih tinggi daripada Calvin! Jangan Calvinis, mesti Alkitabiah dong!

Tetapi sekarang setelah kita mempelajari hal ini, maka kita akan lihat bahwa, Alkitabiah itu justru istilah yang paling jelek. Jadi, kalau kamu dibilangin Alkitabiah, itu justru kamu jelek. Sebab begini, Alkitabiah itu seolah-olah sebagaimana yang Alkitab katakan, betul nggak? Tetapi itu tidak mungkin. Nah, sekarang saya mau tanya begini, Saksi Yehuwa itu Kristen atau non-Kristen? Non-Kristen aja? Nggak takut disembelih, ya? Itu termasuk di dalam apa yang disebut dengan bidat. Ini merupakan ajaran sesat. Kita tidak melihat mereka sebagai orang Kristen. Pertanyaan lain. Saksi Yehuwa punya buku suci lain nggak? Mormon punya. Christian Science punya. Tetapi Saksi Yehuwa punya Alkitab lain nggak? Nggak, aja deh, supaya cepat, karena kamu memang nggak tahu sih ya.

Sekarang saya mau tanya yang lain: Apa yang membedakan saya dengan seorang Saksi Yehuwa? Dia baca Alkitab, saya baca Alkitab. Tetapi apa perbedaannya? Penafsirannya! Betul, nggak? Pengertian Alkitabnya! Jadi yang namanya Alkitabiah, itu maksudnya apa? Orang Saksi Yehuwa itu paling Alkitabiah! Kamu hafal satu ayat aja lama sekali, begitu loh! Mereka tahu ayat ini di sini, ayat itu di situ, dengan detail lagi.

Tapi apa yang membedakan saya dengan Saksi Yehuwa? Satu, theologinya berbeda. Mereka membaca Alkitab dan menyimpulkan bahwa Yesus itu bukan Tuhan, tetapi saya membaca Alkitab dan menyimpulkan bahwa Yesus adalah Tuhan. Jadi itulah sebabnya apakah kamu boleh membaca Alkitab dengan pengertian orang Saksi Yehuwa? Nggak boleh! Sehingga kita bisa melihat bahwa penafsiran tanpa presuposisi adalah non-sense. Misalnya kita melihat begini, “Pada mulanya adalah Firman. Firman itu bersama-sama dengan Allah. Dan Firman itu adalah Allah.” Jadi Firman=Allah, Allah=Allah. Misalnya kita simpulkan, let the Bible speak. Kalau kita membiarkan Alkitab berbicara sendiri, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa ada dua Allah. Nanti kalau ada Roh Kudus, kita bisa mengatakan bahwa Allah itu ada tiga. Let the Bible speak! Alkitabiah! Alkitabiah! Jadi, kita punya Allah berapa? Tiga! Betul, nggak kita punya Allah tiga? Kenapa nggak betul? Karena ada theologi mengenai Allah Tritunggal. Tetapi begini, timbal balik, pada waktu Yohanes menulis hal itu, apakah Yohanes sudah mengerti Allah Tritunggal nggak? Pada waktu itu tidak merupakan suatu pertanyaan sih. Pokoknya mereka mengerti bahwa Yesus itu Allah. Dan persisnya bagaimana hubungan Yesus dengan Allah Bapa itu, mereka tidak selesaikan. Itu baru dipikirkan kemudian. Yesus itu Allah. Bapa itu Allah. Roh Kudus itu Allah. Dan dikatakan juga bahwa Allah itu satu. Jadi bagaimana? Di satu pihak, ada keEsaan. Di pihak lain ada keTigaan. Sehingga itu kemudian diformulasikan menjadi doktrin Tritunggal.

Dan setelah itu, boleh nggak kita melihat bahwa Allah itu tidak Tritunggal? Satu-satunya yang membedakan agama Kristen dengan agama lain apa? Kalau baik, semua agama juga baik. Kalau surga, semua juga ada surganya. Satu-satunya yang membedakan cuma Allah Tritunggal yang disebut dengan Swigeneris, satu-satunya dan tidak terdapat di dalam agama mana pun.

Di sini dapat dilihat tidak mungkin orang bisa menulis suatu penafsiran tanpa presuposisi, tanpa theologi. Di sini, bukan hanya sekedar theologi yang berpengaruh, Tetapi macam-macam. Misalnya gereja saudara, saudara dibesarkan di dalam gereja apa? Saudara dibaptiskan dengan cara apa? Misalnya saudara dibaptiskan dengan percik, maka saudara ketika membaca Yesus dibaptiskan, Anda akan membayangkan Yesus dipercik. Kalau Anda dibaptis dengan cara diselam, memangnya saudara akan membayangkan Tuhan Yesus diselam. Jadi kita melihat Alkitab itu bagaimana? Dengan pengalaman dan pengertian kita sendiri. Nah, yang namanya paradigma, yang namanya kacamata itu jadi begini loh: theologinya kamu itu apa? Kita nggak tahu theologinya apa, mungkin theologi ngawur, atau apa. Tetapi yang jelas saudara sedikit banyak pasti bertheologi. Lalu gerejanya apa? Pengalamannya apa? Dibesarkannya bagaimana? Pernah trauma apa? Kesenangannya apa? Dan itu semua sebenarnya akan sangat mempengaruhi. Nanti kalau kita akan masuk ke dalam aplikasi, mau tidak mau ini akan sangat berpengaruh sekali.

Sampai di sini kita lihat bahwa itu adalah sesuatu yang tidak mungkin sama sekali kalau kita menafsirkan Alkitab itu tanpa presuposisi. Jadi, setiap orang pasti akan menafsirkan Alkitab itu dengan kacamatnya yang dimiliki masing-masing.

3. Siapa yang benar ?
Nah, sekarang muncul satu masalah. Kalau saya menafsirkan Alkitab dengan kacamata saya sendiri, dia menafsirkan Alkitab dengan kacamata dia sendiri. Lalu bagaimana saya menentukan saya punya atau dia punyalah yang benar? Misalnya saya pake merah, dia pake biru. Lalu kita bilang, merah! Merah! Begini aja nggak bisa ngelihat, bodoh! Dia bilang, “Biru, goblok!” Dan seterusnya kita berantem-berantem. Akhirnya ada satu orang datang, “Udah deh, diamlah! Dua orang goblok bertengkar. Kuning, bodoh!” Dan ada orang lain bilang, “Putih! Putih!” Dan warnanya memang putih. Dan saya mau tanya bagaimana kita bisa nentuin bahwa ini putih? Apakah Alkitab ini menjadi seperti ‘bagaimana-kamu-aja’? Akhirnya tidak menjadi sesuatu yang ilmiah?

Syukurlah, kalian sudah bisa melihat beberapa point di mana kita mengatasi subjektifitas di dalam pikiran. Kita bukan sekedar menafsir secara subjektif, Tetapi betul-betul ada keobjektivitasnya supaya itu tidak menjadi sesuatu yang mistik. Jadi, memang pertama-tama seperti yang kalian kemukakan, ada doalah, ada Roh Kuduslah. Cuma kaitannya begini. Pengarang dari Alkitab ini adalah Allah sendiri. Dan misalnya kamu punya film, dan diartikan dan dimengerti oleh orang lain, seperti yang sudah kamu katakan, yang mau kita sampaikan begini, yang diterima adalah lain. Kita tidak mau mreka mempunyai pengertian yang berbeda dari apa yang kita pikirkan, bukan? Kalau kita pun seperti demikian, masa Roh Kudus juga – yang anak-anakNya diberikan Firman Tuhan oleh Dia lalu kita menafsirkan ini lain, itu lain,... semua lain-lain – di situ kita temukan satu penafsiran yang dikerjakan oleh Roh Kudus itu sendiri di dalam diri kita. Ini faktor yang saya sebutkan sebagai faktor subjektif yang objektif. Sebagai salah satu contoh, kita mau mengatakan bahwa saat teduh itu adalah satu pengalaman yang indah. Tetapi persoalannya begini, kalau mau dijelaskan secara ilmiah, saya mau tanya, “Indahnya apa?” Hal itu akan susah diutarakan, karena kita masing-masing mengalami pengalaman pribadi yang belum tentu sama.

Nah, pada waktu seseorang makan sesuatu, dia menikmati apa yang namanya enak juga. Akhirnya begini loh: Enak itu kita nggak bisa ngejelasin bagaimana, tetapi begitu dia merasakannya juga, enak-nya kita dengan enak-nya dia ketemu di dalam keobjektifannya. Walaupun yang satu enaknya karena wangi, dan yang satunya lagi enaknya karena asin, misalnya. Di sini kita bisa melihat bahwa di sini ada unsur kesubjektifan yang bisa menjadi objektif karena masing-masing bisa merasakan itu. Itu sebabnya kalau kita saat teduh, dan punya pengalaman Tuhan berbicara, kita akui. Tetapi itu memang pengalaman subjektif. Itu sebabnya kenapa doa, pada waktu Anda mau PA itu bukan basa-basi. Sebab kita sadari paradigma kita. Sampai kita bisa mengerti betul Alkitab itu, itu hanya bisa dikerjakan oleh Roh Kudus sendiri. Ini faktor subjektif yang objektif. Semua juga punya unsur Roh Kudusnya.

Dan yang kedua: Ada esensi-nya. Dari mana kita bisa dapatkan? Ini yang mau saya bilang, penafsiran itu ad di dalam komunitas, penafsiran itu tidak dilakukan secara sendiri. Kenapa saya mengerti Allah Tritunggal? Karena saya berada di dalam penafsiran Kekristenan. Comunity ini adalah semua Bapak-bapak gereja yang dari dulu sampai sekarang. Dan paling sedikit esensinya yang ada misalnya apa? Pengakuan Iman Rasuli. Ini dirumuskan oleh gereja, untuk membatasi penafsiran. Jadi segala penafsiran harus berada di situ. Perbedaan boleh ada, asal kita berada di dalam lapangan permainan tersebut.

Yang dua lagi adalah caranya, bagaimana kita menafsirkan. Yang pertama, kenali presuposisi kamu. Yang kedua adalah yang disebut akal sehat atau common sense. Semua harus ada argumentasinya.




Profil Pdt. Hendra G. Mulia:
Pdt. Hendra Gustiana Mulia, M.Div., M.Th. adalah gembala sidang Gereja Kristus Yesus (GKY) Green Ville, Jakarta. Beliau menamatkan studi Sarjana Theologi (S.Th.) dari Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang; Master of Divinity (M.Div.) dan Master of Theology (M.Th.) dari Reformed Theological Seminary, U.S.A.



Diedit oleh: Denny Teguh Sutandio.

13 May 2008

Resensi Buku-56: MUTIARA KEHIDUPAN KRISTEN (DR. JOHN CALVIN)

...Dapatkan segera...
Buku
GOLDEN BOOKLET OF CHRISTIAN LIFE
(Mutiara Kehidupan Kristen)

oleh: DR. JOHN CALVIN

Penerbit: Momentum Christian Literature (Fine Book Selection), 2007

Penerjemah: Grace Purnamasari.





Deskripsi dari Denny Teguh Sutandio:
Rasul Paulus di dalam Roma 12:2 mengajarkan, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Bagaimana agar hidup kita berpadanan dengan kehendak Allah? Caranya dengan membaharui akal budi kita sesuai dengan firman-Nya. Bagaimana caranya memperbaharui akal budi kita? Dengan menguji hati dan motivasi kita melalui kebenaran firman-Nya. Itulah sebabnya kita memerlukan suatu penuntun bagi hati kita agar hati kita murni di hadapan-Nya. Sebagai bahan penuntun praktis, Dr. John Calvin menulis buku “Mutiara Kehidupan Kristen” yang sebenarnya merupakan bagian dari buku besarnya The Institutes of the Christian Religion. Menurut Henry J. Van Andel dari Calvin College di dalam Pendahuluan buku ini memaparkan bahwa buku ini aslinya berjudul “Golden Booklet of the True Christian Walk” yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1550 dalam bahasa Latin dan Prancis dengan judul De Vita Hominis Christiani (bahasa Inggrisnya: On the Life of the Christian Man; Indonesianya: Mengenai Kehidupan Manusia Kristen), dan kemudian juga dalam bahasa Inggris (1594) dan Jerman (1857) dengan judul serupa. Buklet edisi sekarang ini merupakan terjemahan dari salinan Calvin yang sudah direvisi seluruhnya dan didasarkan pada teks-teks Golden Booklet dalam bahasa Prancis dan Latin (Inst. III, Bab 6 sampai 10, edisi keenam).

Isi buklet ini sangat menarik, karena menyajikan pengajaran-pengajaran praktis Dr. John Calvin dalam kehidupan Kristen yang diawali dari ketaatan yang sederhana dan keserupaan sejati dengan Kristus yang berdasarkan dan berpusat pada Alkitab dan meliputi kekudusan dan kemajuan rohani. Dilanjutkan dengan pembahasan Calvin di Bab 2 tentang tahap penyangkalan diri yang merupakan bentuk praktis dari ketaatan yang telah Calvin jelaskan di Bab 1. Penyangkalan diri ini meliputi mencari kemuliaan Allah, kerendahan hati dengan menghormati orang lain, berani berkorban bagi kebaikan orang lain, lalu dikaitkan dengan pemeliharaan dan berkat Allah. Di Bab 3, Calvin menguraikan tahap yang lebih tinggi daripada penyangkalan diri, yaitu kesabaran dalam memikul salib. Di 3.1., Calvin menyatakan bahwa memikul salib lebih sulit daripada menyangkal diri. Di dalam memikul salib, Calvin mendaftarkan 10 prinsip tentang memikul salib, yaitu Salib: menjadikan kita rendah hati, menjadikan kita berpengharapan, mengajarkan ketaatan, membuat kita hidup disiplin, membawa pertobatan, menghasilkan perkenan Allah, menghasilkan sukacita rohani, tidak seharusnya membuat kita menjadi tidak acuh (masa bodoh dengan kesulitan), menghasilkan ketundukan, dan mutlak diperlukan bagi keselamatan kita. Ketiga bab ini mengarah kepada pembahasan Calvin di 2 bab terakhir, yaitu mengenai pengharapan akan dunia yang akan datang dan bagaimana menjalani kehidupan Kristen sekarang dengan benar. Taat, menyangkal diri, dan memikul salib menuntun kita makin memahami apa artinya kita hidup di dunia sekarang ini dengan terus mengarahkan pandangan kita kepada masa depan yang penuh kemenangan bersama Kristus sambil tetap mensyukuri anugerah Tuhan di dalam dunia sekarang ini. Prinsip keseimbangan di dalam hidup inilah yang ditekankan Calvin. Kita tidak boleh terlalu membuang segala sesuatu bersifat jasmani, karena itu adalah pemberian Allah bagi hidup kita sekarang seperti seorang musafir yang sedang menuju kepada kehidupan kekal. Sebaliknya, kita tidak perlu terlalu tergiur oleh kenikmatan dunia. Cara supaya kita bisa hidup seimbang, menurut Calvin, adalah pertama, dengan menyadari bahwa hal-hal duniawi adalah pemberian Allah, di mana “penggunaan atas pemberian Allah tidak mungkin salah jika semuanya itu disesuaikan dengan tujuan Sang Pencipta dalam menciptakannya.” (hlm. 84) Cara kedua yaitu dengan kita bersyukur atas anugerah Allah. Dengan mensyukuri anugerah Allah, kita semakin dapat menjauhkan diri dari penyalahgunaan hal-hal jasmani yang Tuhan percayakan kepada kita. Cara ketiga yaitu kita hidup dengan penguasaan diri yaitu dengan “mengalihkan pandangan kita dari kehidupan yang sekarang dan merenungkan keabadian sorga.” (hlm. 87). Cara keempat yaitu bersabar dan mencukupkan diri dalam kesulitan. Calvin menuturkan hal sederhana, “orang yang tidak bersabar dalam kesulitan biasanya akan menunjukkan kebiasaan buruk yang sebaliknya ketika dia berada dalam kemewahan.” (hlm. 89) Cara terakhir yaitu dengan setia dalam panggilan Allah bagi perbuatan kita. Calvin menuturkan, “Orang yang tidak menghargai panggilannya tidak akan pernah mempertahankan jalan yang lurus dalam tugas-tugas pekerjaannya.” (hlm. 92) Sebagai penutup, dengan setia kepada panggilan Allah bagi hidup kita, Calvin menuturkan, “Jika kita menaati panggilan ilahi kita, kita akan menerima penghiburan yang luar biasa bahwa tidak ada pekerjaan yang begitu hina dan begitu kotor yang tidak tampak benar-benar terhormat dan sangat penting dalam pandangan Allah (Coram Deo!) (Kej. 1:28; Kol. 1:1 dst.)!” (hlm. 93)

Biarlah buklet kecil ini dapat berguna untuk mempertumbuhkan iman dan kerohanian kita makin memuliakan Tuhan. Soli Deo Gloria.






Profil Dr. John Calvin :
Dr. John Calvin (10 Juli 1509-27 Mei 1564) adalah theolog Protestan Prancis selama Reformasi Protestan dan seorang tokoh yang mengembangkan sistem theologi Kristen yang disebut Calvinisme atau theologi Reformed. Calvin lahir dengan nama Jean Chauvin (atau Cauvin, dalam bahasa Latin Calvinus) di Noyon, Picardie, Prancis, dari
Gérard Cauvin dan Jeanne Lefranc. Pada tahun 1523, ayah Calvin mengirimkan anaknya yang berusia 14 tahun itu ke Universitas Paris untuk belajar humanitas (humanities) dan hukum. Pada tahun 1532, beliau mencapai gelar Doctor of Laws di Orléans. Pada tahun 1539, beliau menikah dengan Idelette de Bure, seorang janda, yang telah memiliki seorang anak laki-laki dan perempuan dari pernikahannya dahulu dengan seorang Anabaptis di Strasbourg. Calvin dan Idelette memiliki seorang anak laki-laki yang meninggal setelah hanya 2 minggu. Idelette Calvin meninggal pada tahun 1549. John Calvin sendiri meninggal di Geneva pada tanggal 27 Mei 1564. Beliau dimakamkan di Cimetière des Rois. Karya tulisnya yang sangat terkenal: The Institutes of the Christian Religion (edisi pertama ditulis pada saat beliau berusia 26 tahun). Karya ini telah dipakai sebagai buku teks untuk dogmatika, etika, dan filsafat selama dua ratus tahun. Selain itu, karya tulis lainnya dari Calvin adalah buku-buku tafsirannya yang disebut Calvin Commentaries dan baru-baru ini tafsiran-tafsirannya dicetak ulang di Amerika.

Matius 9:35-38: THE HEART OF THE KINGDOM

Ringkasan Khotbah : 4 September 2005

The Heart of the Kingdom
oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.
Nats: Mat. 9:35-38


Puji Tuhan, kita telah memahami secara keseluruhan implikasi Kerajaan Sorga yang dipaparkan oleh Sang Raja, yaitu Kristus Tuhan dengan demikian sebagai warga Kerajaan Sorga kita tahu bagaimana seharusnya hidup di tengah-tengah dunia yang kacau ini dan memancarkan terang Kristus dan kini kita sampai pada bagian penutup yang merupakan misi Kerajaan Sorga. Ketika kita hidup sebagai warga Kerajaan Sorga, sebagai seorang Kristen sejati maka hal itu bukan sekedar menjadi sebuah visi atau panggilan dan menjadikan kita egois, yakni seluruh anugerah Tuhan untuk diri sendiri. Memang tidak salah kalau kita mempunyai tekad untuk hidup menjadi anak Tuhan yang sejati, bertumbuh dalam iman dan hidup memuliakan Tuhan akan tetapi kalau orientasi hidup kita berhenti hanya pada diri maka itu menjadi kefatalan dalam hidup kita sebab seluruh pelayanan dan keberadaan hidup tersebut merupakan implikasi dari egoisme, yakni pencarian aktualisasi diri yang berorientasi pada diri.
Kristus tidak mengajar kita hidup egois, hidup hanya berorientasi pada diri sendiri. Tidak! Kristus Sang Raja pemilik alam semesta telah memberikan teladan indah pada kita, Dia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani, Dia selalu mempedulikan orang-orang lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Maka tidaklah heran kalau kemudian orang mengakui ajaran Tuhan Yesus yang kita kenal sebagai khotbah di bukit sebagai the golden rule atau hukum emas sebab di dalamnya etika hukum Kerajaan Sorga, the highest ethics, somo bo num yang tidak ada dalam seluruh pemikiran atau filsafat dunia diajarkan oleh Kristus Tuhan. Dan sebagai puncak dari hukum Kerajaan Sorga adalah: Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka (Mat. 7:12).
Ajaran Socrates yang mewakili filsafat barat dan ajaran Manxius yang mewakili filsafat timur mengajarkan hukum yang kalau sepintas bunyinya hampir sama, yakni: apa yang kau tidak ingin orang lain lakukan kepadamu maka jangan lakukan hal itu pada orang lain. Hati-hati, kalau kita tidak pahami maka kita akan menganggapnya sama tapi ajaran filsafat dunia ini banyak kelemahannya, ajaran dunia tersebut bersifat negatif maka akibatnya orang menjadi pasif. Dengan kata lain, ajaran ini mengajarkan kalau kita tidak melakukan hal-hal negatif, seperti tidak membunuh, tidak berzinah, tidak menyakiti atau tidak merugikan orang lain atau tidak melakukan hal negatif yang lain berarti diri sudah “benar.“ Namun perhatikan, ketika ia tidak melakukan hal-hal yang negatif atau hal-hal negatif lain yang dapat merugikan orang lain maka pada saat yang sama juga, ia tidak melakukan hal yang positif.
Sebaliknya, Alkitab mengajarkan kalau kita menginginkan orang lain supaya menolong kita ketika kita berada dalam kesusahan maka kita harus terlebih dahulu menolong mereka yang sedang berada kesusahan. Konsep yang diajarkan oleh Tuhan Yesus ini bersifat positif, yakni orientasi pada orang lain berbeda dengan ajaran dunia yang berorientasi pada diri semata. Tuhan Yesus tidak berorientasi pada diri-Nya sendiri melainkan Dia pergi berkeliling ke semua kota dan desa untuk mengajar, memberitakan Injil dan melenyapkan segala penyakit dan kelemahan manusia. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala (Mat. 9:35-36). Tuhan Yesus ingin supaya kita juga melihat bahwa di dalam Kekristenan ada suatu misi yang kita lakukan ebagai warga Kerajaan Sorga; kita harus hidup menurut aturan hukum Kerajaan Sorga yang Kristus tetapkan, yaitu men-Tuhankan Kristus, menjadi murid Kristus selamanya, dipisahkan dari dunia dan beriman pada Kristus namun setelah kita memahami semua itu maka semua itu tidak berhenti untuk diri sendiri. Pertanyaannya sudah seberapa jauhkah kita mengasihi orang lain? Mengasihi dan memperhatikan orang lain merupakan hal yang sangat penting mengingat keadaan dunia yang kacau balau saat ini dimana orang mementingkan dirinya sendiri, orang ingin diperhatikan bukan memerhatikan orang lain.
Celakanya, di dunia modern ini muncul suatu pendapat yang mengatakan bahwa egoisme malah membuat orang menjadi sukacita dan justru merupakan suatu kesalahan fatal kalau kita menganggap egoisme itu sebagai suatu kesalahan. Pendapat yang salah, sebab ketika orang mengembangkan sikap egoisme, pertanyaannya sekarang adalah sampai seberapa besarkah egoisme itu dapat terpuaskan? Coba pikir, kalau hanya satu orang saja yang berpikir egois maka hal itu tidak menjadi soal karena itu berarti satu orang mendapat kepuasan diri dan orang lain yang dirugikan akan tetapi, kalau semua orang egois, semua orang ingin diperhatikan maka akibatnya, orang akan saling dirugikan satu sama lain. Lalu yang menjadi pertanyaan sekarang adalah kalau orang tidak boleh egois lalu orang harus berbuat apa? Seorang atheis pastilah tidak menemukan jawabannya karena ia tidak tahu segala sesuatu yang ia kerjakan harus untuk siapa lagi kalau bukan untuk diri. Maka tidaklah heran kalau banyak orang yang setuju untuk mengembangkan konsep egoisme. Biarlah kita menyadari bahwa anak Tuhan memang berbeda dengan dunia, Tuhan memanggil kita untuk melihat bahwa relasi hidup bukan sekedar horizontal tetapi ada yang lebih dari itu yakni secara vertikal.
Pertama, Tuhan mencipta manusia bukan untuk dilayani melainkan melayani, Tuhan mencipta kita bukan untuk dikasihi melainkan mengasihi orang lain. God create man not to get but to share. Ketika pertama kali, Tuhan menciptakan manusia, Tuhan melihat itu tidak baik maka Tuhan tidak langsung menciptakan Hawa tetapi Tuhan menciptakan binatang dan memberikan tugas pada Adam untuk menamai binatang-binatang tersebut dan ternyata baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan maka dari tulang rusuk Adam dibangunNya-lah seorang perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki. Inilah hakekat pertama manusia sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, yakni manusia dicipta untuk saling berbagi. Seluruh struktur penciptaan adalah struktur berbagi. Manusia akan merasakan suatu kepuasan tersendiri dalam hatinya, orang akan merasakan sukacita ketika ia dapat berbagi pada orang lain ketika ia dapat meringankan beban dan menolong orang lain. Kepuasan hati dan sukacita yang kita dapatkan ini tidak akan dapat dinilai dengan uang karena harganya melampaui nilai material. Jadi, jelaslah bahwa secara natur, manusia dicipta untuk berbagi dengan orang lain.
Kedua, Tuhan Yesus melihat bukan secara fenomena, Tuhan Yesus melihat dalam diri manusia seperti domba yang tidak bergembala. Domba menjadi gambaran manusia berdosa. Seperti kita ketahui, domba adalah seekor binatang lemah, ia tidak mempunyai pertahanan diri, ia tidak mempunyai cakar yang cukup kuat untuk melawan musuh, ia juga tidak dapat berlari kencang untuk menghindar dari musuh, ia hanya dapat berteriak namun toh teriakan itu tidak dapat menghindarkannya dari maut akan tetapi meski demikian domba ini termasuk binatang yang keras kepala, ia selalu ingin berjalan sendiri padahal domba kalau dibiarkan sendiri tanpa seorang gembala pastilah akan tersesat. Inilah gambaran manusia berdosa. Manusia merasa dirinya hebat sehingga ia tidak memerlukan pertolongan orang lain dan orang baru menyadari bahwa ia tidak memiliki kekuatan cukup ketika ia berada dalam kesulitan dan tantangan, orang tidak memiliki cukup kekuatan untuk melawan kuasa si ibilis. Maka satu-satunya jalan, supaya kita diselamatkan adalah kita harus kembali pada Kristus Sang Gembala yang agung namun sayang, manusia lebih suka jalan sendiri.
Kita sepatutnya bersyukur karena kita aman berada di dalam naungan perlindungan Kristus Sang Raja namun hal itu janganlah kita menjadi egois sebab di luar Kristus masih banyak orang yang lelah dan terlantar, seperti domba yang tidak bergembala dan celakanya, mereka tidak merasa sebagai orang yang tersesat. Namun kita juga perlu berhati-hati sebab ketika kita merasa nyaman, janganlah kita merasa diri hebat dan kita merasa tidak memerlukan pertolongan Tuhan lagi hingga suatu saat nanti, ketika kita berada dalam kesulitan, ketika orang lain tidak dapat menolong kita maka saat itulah kita baru benar-benar membutuhkan pertolongan-Nya, kita berteriak meminta tolong tapi terlambat sebab saat itu ternyata kita sudah jauh dari Sang Gembala. Itu kesalahan kita karena kita tidak mau dipimpin oleh Sang Gembala, kita menjadi terlantar dan tersesat. Sudahkah kita mempunyai hati penuh dengan belas kasih seperti Kristus yang tergerak hati-Nya ketika melihat orang-orang yang terlantar dan tersesat? Sudahkah kita mempunyai hati tidak berorientasi pada diri sendiri tetapi memandang pada Kristus? Tugas kitalah sebagai warga Kerajaan Sorga untuk berbagi dan menjadi berkat bagi mereka yang tersesat, menyadarkan orang untuk kembali dalam perlindungan Sang Gembala Agung.
Ketiga, Tuhan mengajak kita bukan berhenti sampai sekedar mempunyai hati yang berbelas kasihan saja lalu tidak bertindak apa-apa. Tidak! Tuhan ingin supaya hati yang digerakkan oleh belas kasihan itu terpancar keluar dan menjelma menjadi tindakan nyata. Jangan tertipu dengan konsep yang diajarkan Robert Tiyosaki dalam bukunya Retired Rich Retired Young. Orang hidup bukan untuk bekerja saja tetapi orang menikmati hasilnya dengan pensiun dini kalau untuk beberapa saat mungkin kita akan merasa nikmat dengan tidak bekerja tetapi bayangkan, kalau kita tidak bekerja dan seharian hanya menganggur saja maka lama kelamaan kita pasti akan mati sebab manusia bukan dicipta untuk menganggur; manusia kalau dihentikan dari suatu aktivitas yang bermanfaat maka orang tidak akan merasa sukacita tetapi ia justru kehilangan nilai dan makna hidupnya dan orang akan putus asa dan kecewa. Kristus telah memberikan teladan indah pada kita, Dia bekerja dari pagi-pagi buta sampai malam hari, Dia pergi berkeliling ke semua kota dan desa untuk memberitakan Injil pada orang yang terlantar dan tersesat. Biarlah kita terus bekerja dan bekerja bukan demi untuk egois kita tapi saat kita bekerja hendaklah kita menjadi berkat bagi orang lain. Ingat, kalau kita bekerja hanya untuk uang dan demi memenuhi kepuasan diri sendiri maka selamanya kita tidak akan merasa sukacita sejati sebab dimana hartamu berada maka disana hatimu berada maka tidaklah heran orang akan menjadi gila ketika ia kehilangan hartanya.
Mungkin kita bukanlah orang kaya, hari ini mungkin kita hidup dalam kesusahan dan kemiskinan tapi lihatlah, di luar sana masih banyak orang yang lebih sengsara dan lebih miskin dari kita maka seharusnya tidak ada alasan bagi kita untuk tidak memberi. Justru pada saat memberi itulah kita akan merasakan hidup berkelimpahan. Biarlah kita mempunyai jiwa pelayanan yang tidak berorientasi pada diri tetapi hendaklah ketika kita bekerja itu menjadi berkat bagi orang lain. Lihatlah, seorang ibu berjerih lelah, ia tidak pernah mengeluh, ia bekerja siang malam, mengurus rumah tangga, suami dan anak, pertanyaannya untuk apa ia kerjakan semua itu? Demi uangkah? Ataukah penghargaan? Tidak! Semua yang dikerjakannya bukan berorientasi pada diri. Celakalah kalau seorang istri atau seorang ibu bekerja demi uang, ia tidak mau lagi bekerja dan mengurus rumah tangganya maka dapatlah dipastikan rumah tangga itu akan menjadi hancur. Hati-hati, di dunia modern, konsep ini mulai ditanamkan maka tidaklah heran kalau banyak kaum wanita yang tidak mau menjadi ibu rumah tangga dan lebih memilih berkarir.
Berbeda halnya kalau kita bekerja karena ada cinta kasih demi untuk menjadi berkat bagi orang lain maka kita akan mendapatkan sukacita tersendiri dimana sukacita ini tidak dapat diukur dengan materi. Begitu juga ketika kita bekerja melayani Tuhan kalau pelayanan demi untuk mendapatkan imbalan maka sia-sialah seluruh pelayanan kita sebab Tuhan tidak berkenan dengan pelayanan yang kita. Lain halnya kalau orang yang melayani Tuhan dimana seluruh hidupnya tergantung dari pelayanan saja maka Alkitab menegaskan hidupnya akan dijamin dengan demikian ia tidak berbeban ketika sedang melayani Tuhan.
Dunia semakin ke belakang semakin menuju pada kehancuran, banyak orang yang mengalami kesulitan tak terkecuali kita yang adalah anak Tuhan juga mengalami kesulitan dan di saat seperti itu akan ada banyak orang yang merasa putus asa dan kecewa maka ingatlah, di saat itu kita tidak berjalan sendiri, pandanglah ke atas sebab kita mempunyai Tuhan yang hidup, tak pernah sedetikpun kita ditinggalkan-Nya sebab tangan Tuhan selalu memegang kita namun sayang, masih banyak orang yang belum mengenal Kristus, masih banyak orang yang tidak tahu harus berpegang pada siapa maka tugas kita untuk menjadi berkat bagi mereka dengan membawa mereka kembali kepada Kristus Sang Gembala Agung. Janganlah berhenti dan cukup hanya sampai hati yang tergerak oleh berbelas kasih, tidak, tapi biarlah kita dipakai menjadi berkat bagi orang lain. Biarlah kita meneladani Kristus Tuhan, Dia Sang Raja pemilik alam semesta ini tetapi Dia berkeliling ke semua desa dan kota untuk menyembuhkan dan mengabarkan Injil. Sebagai warga Kerajaan Sorga, biarlah kita dipakai menjadi pelaku Firman bukan pendengar saja. Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber:

Roma 8:9-11: ALASAN DAN MAKNA HIDUP OLEH ROH

Seri Eksposisi Surat Roma :
Menjadi Manusia Baru-1


Alasan dan Makna Hidup oleh Roh

oleh: Denny Teguh Sutandio


Nats : Roma 8:9-11.

Setelah mempelajari tentang tiga perbedaan esensial antara hidup oleh Roh vs hidup oleh daging mulai ayat 5 s/d 8, Paulus melanjutkan dengan menjelaskan bahwa jemaat Roma seharusnya hidup di dalam Roh mulai ayat 9 s/d 11, dilanjutkan dengan pengertian apa saja yang kita dapat ketika kita hidup di dalam Roh mulai ayat 12 s/d 17.

Di pasal 8 ayat 5-8, Paulus sudah mengajarkan adanya tiga perbedaan esensial antara hidup di dalam daging dan hidup di dalam Roh, maka ia mulai menjelaskan definisi hidup di dalam Roh pertama-tama di dalam ayat 9, “Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.” Di dalam ayat ini, kita menjumpai ada dua prinsip mengapa kita harus hidup di dalam Roh ? Yaitu, Pertama, kita harus hidup di dalam Roh karena Roh Allah diam (KJV : dwell) di dalam kita. Ketika Roh Kudus hidup dan diam di dalam kita, maka kita seharusnya hidup di dalam Roh. Mengapa ? Karena Roh Kudus mengerjakan hal-hal yang bersifat rohani di dalam diri setiap manusia pilihan-Nya sehingga mereka dimampukan untuk hidup bagi kemuliaan Allah. Tuhan Yesus mengajarkan bahwa Roh Kudus diutus untuk “menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum.” (Yohanes 16:8-11) Roh Kudus juga diutus untuk memuliakan Kristus dan mengingatkan para murid dan kita juga akan perkataan-perkataan Kristus (Yohanes 16:13-14). Di sini kita belajar kembali bahwa di dalam menuntun umat pilihan-Nya untuk hidup bagi Kristus, Roh Kudus melakukan dua tindakan, yaitu menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman serta Ia juga membawa mereka kepada Kristus. Ada empat kata kunci di dalam bagian ini, yaitu : dosa, kebenaran, penghakiman, dan Kristus. Roh Kudus menginsyafkan dosa berarti Roh Kudus membuat/menyadarkan seseorang yang masih tidak percaya kepada-Nya. Bukan hanya dosa, Roh yang sama juga menginsyafkan manusia pilihan-Nya akan kebenaran bahwa Kristus diutus oleh Bapa untuk menebus dosa-dosa manusia dengan mati disalib, bangkit dan naik ke Surga. Lalu, Roh yang sama juga menginsyafkan dunia akan adanya penghakiman bagi mereka yang masih tidak mau percaya karena kebebalan mereka. Siapakah mereka itu ? Mereka adalah para penguasa dunia yang menghina Kristus. Dan terakhir, Roh Kudus juga menuntun umat pilihan-Nya untuk mempelajari apa yang Kristus ajarkan, meneladani apa yang Ia lakukan dan hidup hanya bagi Kristus saja. Dengan kata lain, Roh Kudus sejati memimpin umat pilihan Bapa untuk hidup hanya bagi Kristus dengan mempelajari dan meneladani apa yang telah Kristus ajarkan dan lakukan. Ingat, barangsiapa yang mengaku dipenuhi “Roh Kudus”, tetapi hidupnya tidak berpadanan dengan ajaran dan tindakan Kristus, jangan mempercayai orang ini, karena Roh Kudus datang untuk mengingatkan kita akan dosa, kebenaran dan penghakiman serta akhirnya membawa seseorang untuk makin mengenal Kristus dan hidup bagi-Nya. Bagaimana dengan kita ? Seberapa dalam kita mengenal Kristus Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita ? Apakah kita hanya mengenal Kristus sebagai Juruselamat yang menyelamatkan kita dari dosa-dosa saja lalu kita tidak lagi men-Tuhan-kan Kristus ?? Ataukah kita malahan hanya mempercayai Kristus sebagai salah satu jalan keselamatan, sehingga orang-orang di luar Kristen masih bisa diselamatkan tanpa Kristus ?? Pengenalan kita akan Kristus merupakan “iman” kita dan itu akan menentukan tindakan kita sehari-hari. Ketika kita mengenal Kristus sebagai salah satu jalan keselamatan (bukan satu-satunya), di saat itu pulalah, “iman” dan pikiran kita dibentuk (meskipun salah), lalu menghasilkan pikiran dan tindakan yang tidak lagi menghormati Kristus, malahan melecehkan dan menghina-Nya. Banyak orang bahkan yang mengaku diri “pendeta” bergelar doktor theologia dan mengajar di sekolah tinggi theologia sekalipun tetapi imannya kacau, doktrinnya lebih parah lagi : amburadul, diakhiri dengan sikap mereka yang melecehkan Kristus dan dipublikasi di depan umum. Apakah orang demikian hidup di dalam Roh ? Mutlak TIDAK ! Orang ini meskipun mengklaim diri “pendeta”, sebenarnya orang ini hidup di dalam kedagingan, mengapa ? Karena orang ini tidak memuliakan Kristus, tetapi memuliakan kehebatan diri yang serba akademis. Saya bukan anti akademis, tetapi jangan pernah mendewakan akademis atau organisasi. Pdt. Dr. Stephen Tong pernah mengajarkan bahwa gereja yang terlalu kuat organisasinya, percayalah, gereja itu pasti mati, karena gereja tersebut tidak terbuka terhadap gerakan Roh Kudus yang mampu mendobrak organisasi mati buatan manusia. Tetapi hal ini tidak berarti kita tidak usah membutuhkan organisasi, karena segala sesuatu bergantung pada Roh Kudus. Ini pemahaman yang berat sebelah. Gereja sejati memang membutuhkan organisasi, tetapi itu bukan ditempatkan di titik pertama. Pdt. Dr. Stephen Tong mengajarkan bahwa gereja sejati harus menempatkan iman dan doktrin di titik pertama, kemudian SDM (Sumber Daya Manusia) baru terakhir organisasi. Urutan ini tidak boleh terbalik.
Kedua, kita harus hidup di dalam Roh karena itu adalah tanda kita milik Kristus. Kristus adalah Pribadi kedua Allah Trinitas yang menjelma menjadi manusia. Di dalam hidup-Nya, Kristus taat mutlak kepada Allah Bapa sampai mati disalib demi menebus dosa-dosa umat pilihan-Nya, pada hari yang ketiga, Ia bangkit dan naik ke Surga. Ketaatan Kristus ditunjukkan dengan semangat dan ketegasan disertai kasih-Nya ketika Ia mengajar dan menegur orang-orang Farisi yang munafik. Kristus juga mengkhotbahkan hal-hal yang berbeda dari khotbah/ajaran dunia di dalam Khotbah di Bukit (Matius 5-7) yang telah menginspirasi banyak orang, salah satunya Mahatma Gandhi dari India. Kristus juga sangat peka pada pimpinan Roh Kudus, sehingga ada kalanya Ia menyingkir ketika Ia mau dilempari batu (karena waktu di mana Ia harus menyerahkan diri belum sampai), dan ketika waktu Ia harus menyerahkan diri-Nya sudah sampai, Ia tidak melarikan diri, melainkan Ia taat mutlak, bahkan Ia sendiri yang pergi ke Yerusalem untuk nantinya mati disalib. Tuhan Yesus Kristus adalah sosok Pribadi yang teragung, termulia di sepanjang abad. Hal ini adalah satu-satunya bukti bahwa Kristus bukan hanya bernatur manusia, tetapi Ia juga adalah Allah. Jika Ia bukan Allah, mana mungkin Ia bisa taat mutlak 100% kepada Bapa ? Lalu, bagaimana kita bisa menjadi milik Kristus, padahal kita menyadari bahwa kita tak mungkin taat mutlak kepada Allah ? Hal ini tentu tidak terlepas dari peran aktif Roh Kudus yang mengefektifkan karya penebusan Kristus dan mengimputasikan ketaatan-Nya pada diri setiap umat pilihan-Nya. Kita boleh menjadi milik Kristus dan anak-anak-Nya adalah mutlak karena pekerjaan Roh Kudus (1 Korintus 12:3), sehingga tidak ada jasa baik manusia secuil pun yang patut dibanggakan di depan umum. Dengan kata lain, menjadi milik Kristus berarti menjadi apa yang diinginkan-Nya untuk kita lakukan. Itulah sebabnya Ia sendiri berfirman bahwa barangsiapa yang mengikut-Nya harus menyangkal diri dan memikul salib (Matius 16:24). Penyangkalan diri dan memikul salib adalah dua tindakan yang tidak lagi mementingkan diri sendiri, tetapi lebih mementingkan kehendak Allah di dalam hidup meskipun penderitaan mengancam dan menghimpit kita. Bagaimana dengan kita ? Kita pasti memiliki barang berharga di dalam rumah. Barang-barang tersebut kita jaga, bersihkan dan pelihara baik-baik supaya tidak kotor dan tidak ada yang mencuri. Ketika orang lain melihat barang tersebut, mungkin barang tersebut menunjukkan pemilik barang tersebut, yaitu kita. Demikian juga dengan kita. Kita semua adalah milik Kristus. Jika kita mengaku diri adalah milik Kristus, berarti kita semua harus memancarkan sinar kemuliaan, terang kasih dan kebenaran yang Kristus pancarkan. Itulah citra diri orang Kristen sejati, yaitu berani menyatakan kebenaran Kristus (meskipun banyak halangan dan penderitaan/fitnahan), tetapi tetap mengasihi mereka yang berdosa seperti Kristus yang berani menyatakan kebenaran tanpa kompromi dan mengasihi mereka yang tersesat. Seringkali dengan barang milik kita lebih memperhatikan dengan teliti, tetapi kita sendiri tidak memperhatikan diri sendiri untuk menjadi terang Kristus, padahal kita sudah menjadi milik-Nya. Maukah kita menyadari hal ini ?

Lalu, apa tanda kita menjadi milik Kristus ? Paulus menjelaskannya di ayat 10, “Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran.” Di sini ada pembedaan (bukan berarti terpisah satu sama lain) di dalam diri kita yang adalah milik Kristus yaitu tubuh dan roh. King James Version (KJV) lebih tepat membedakan kedua hal ini dengan mengatakan, “And if Christ be in you, the body is dead because of sin; but the Spirit is life because of righteousness.” Apa maksud pembedaan ini ? Maksudnya adalah kita harus menyadari bahwa tubuh kita tetap adalah tubuh berdosa yang mau tidak mau harus mati sebagai upah dosa, tetapi di dalam Kristus, roh kita tetap hidup karena di dalam roh ada kehidupan baru dari Roh Kudus yang memancarkan kebenaran keadilan Allah. Hal ini tidak berarti tubuh kita tidak dibangkitkan, tetapi pembedaan ini dimaksudkan supaya kita harus mengerti bahwa pengudusan terus-menerus yang dikerjakan Roh Kudus bukanlah sesuatu yang instan, tetapi melewati proses yang akhirnya membawa kepada kesempurnaan tubuh dan jiwa/roh. Dengan kata lain, menurut tafsiran Geneva Bible Translation Notes, orang yang hidup di dalam Roh akan mengalahkan kedagingan dan dosa. Mengapa ? Karena di dalam roh kita ada kehidupan yang sanggup mengalahkan kematian.

Pembedaan ini dijelaskan dengan gamblang di ayat 11, “Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.” Ayat ini merupakan pembanding yang jelas. Paulus menjelaskan bahwa jika Roh Kudus telah membangkitkan Kristus dari antara orang mati, maka Roh yang sama yang diam di dalam kita akan menghidupkan tubuh kita yang fana itu. Ini berarti seperti kebangkitan tubuh Kristus, maka tubuh kita pun akan dibangkitkan juga kelak. Hal ini bisa menunjuk kepada dua hal, yaitu : tubuh kita di dunia ini dipakai untuk memuliakan Allah (1 Korintus 3:16) dan kebangkitan tubuh kelak (1 Korintus 15).
Pertama, tubuh kita yang telah ditebus oleh Kristus harus dipergunakan untuk memuliakan Allah, karena tubuh kita adalah bait Allah/tempat di mana Roh Kudus berdiam (1 Korintus 3:16 ; 6:19). Ini adalah penjelasan Alkitab yang paling tinggi melampaui dari semua konsep dan pemikiran filsafat, agama, kebudayaan dan ilmu apapun juga. Banyak agama, filsafat, kebudayaan, dll selalu mengajarkan bahwa tubuh ini jahat dan roh itu baik, sehingga agama-agama Timur selalu mengajarkan adanya penyiksaan diri (askese). Askese dilakukan karena ada “iman” bahwa tubuh ini jahat sehingga harus “dimatikan”, dan pada saat melakukan askese inilah, kita “diselamatkan”. Cara melakukan askese adalah dengan bersemedi, puasa, pergi ke gua-gua, dll. Konsep seperti ini mutlak BUKAN ajaran Alkitab dan ditentang oleh Alkitab, mengapa ? Karena Alkitab mengajarkan bahwa Allah menciptakan manusia sesuai gambar dan rupa-Nya sendiri, sehingga meskipun telah jatuh ke dalam dosa, Ia tak pernah menganggap tubuh manusia ciptaan-Nya sebagai sebuah kejahatan. Hal ini lebih ditegaskan kembali ketika Ia mengajar melalui Paulus bahwa tubuh umat pilihan-Nya adalah bait Roh Kudus di mana Roh Kudus berdiam. Inilah hak istimewa yang kita peroleh. Tubuh kita yang dipengaruhi oleh dosa disucikan terus-menerus oleh Roh Kudus melalui pendiaman diri-Nya di dalam tubuh kita. Bayangkan, jika seorang presiden mengatakan bahwa ia akan berkunjung ke rumah kita besok atau seminggu lagi, mungkin kita akan mempersiapkan segala sesuatu dengan membersihkan rumah dari debu dan kotoran, mengecat dinding rumah, menyemprotkan wewangian, mencuci baju, dll. Segala sesuatu dipersiapkan untuk menyambut kedatangan sang presiden. Tetapi ketika Roh Kudus berdiam di dalam tubuh kita, kita seringkali masa bodoh dengan tubuh kita. Kita seringkali tidak mandi sebulan, atau bahkan membuat tubuh kita tidak bernilai. Hal ini tidak berarti kita harus benar-benar memperhatikan dan merawat tubuh kita dengan manicure, pedicure, mandi susu, dll sehingga hal tersebut mengalihkan fokus kita untuk melayani-Nya di dalam hidup kita. TIDAK. Itu bukan maksudnya. Merawat tubuh tidak berarti lebih memperhatikan tubuh jasmaniah, tetapi berarti kita lebih mempergunakan tubuh ini untuk memuliakan Allah, karena tubuh kita adalah bait Roh Kudus. Caranya adalah dengan mempergunakan mata, pendengaran, pikiran, perkataan, dan seluruh tindakan kita untuk memuliakan Allah. Pergunakanlah mata kita untuk melihat hal-hal yang beres dan memuliakan Allah. Pergunakanlah telinga kita untuk mendengar firman Allah yang beres. Pergunakanlah mulut kita untuk memberitakan Injil dan mengajar firman Allah, bukan untuk bergosip. Pergunakanlah pikiran kita untuk memikirkan kebenaran firman Allah, bukan terus memikirkan hal-hal yang bernilai fana. Pergunakanlah tindakan kita untuk memberitakan Injil, menjadi saksi-Nya, dll. Semua itu bersumber dari hati yang telah dilahirbarukan oleh Roh Kudus.
Kedua, hal ini berbicara tentang kebangkitan tubuh. Di dalam 1 Korintus 15:1-11, Paulus mengajar kita tentang kebangkitan Kristus, disambung dengan pengajaran tentang kebangkitan kita dan kebangkitan tubuh di ayat 12 s/d 58. Ini berarti ada kesinambungan tetap bahwa Kristus yang dibangkitkan secara tubuh, maka kita juga akan dibangkitkan secara tubuh di akhir zaman. Kebangkitan tubuh ini membuktikan bahwa semua ajaran agama, filsafat, kebudayaan, ilmu yang mengajarkan bahwa tubuh ini jahat dan harus dikutuk adalah salah. Sebaliknya, kebangkitan tubuh ini jelas mengajarkan bahwa Allah memandang tubuh manusia ciptaan-Nya sendiri adalah baik dan perlu disempurnakan di dalam kekekalan. Ini membuktikan bahwa Allah kita sangat berkuasa untuk menyempurnakan tubuh kita yang fana untuk bisa hidup di dalam kekekalan dengan tubuh yang tidak berdosa sama sekali. Hal inilah yang mengakibatkan Paulus dengan iman yang berani mengatakan di ayat 58, “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” Kebangkitan tubuh jelas membangkitkan semangat kita untuk terus bekerja melayani Tuhan dan bersekutu dengan-Nya, karena semua itu tidak sia-sia. Bagaimana dengan kita ? Kita percaya di dalam kebangkitan tubuh di akhir zaman, dan pengharapan inilah yang seharusnya mendorong kita untuk makin giat melayani Tuhan dan bersekutu dengan-Nya. Berapa banyak dari kita mengamini kebangkitan tubuh, tetapi di dalam hidup masih mengikuti intrik-intrik dunia berdosa. Maukah kita berubah dari paradigma kita yang lama dan berbalik kepada Kebenaran ??

Setelah merenungkan ketiga ayat ini tentang alasan dan makna hidup oleh Roh, bersediakah kita berkomitmen untuk hidup sepenuhnya di dalam Roh Kudus dengan men-Tuhan-kan Kristus di dalam hidup kita ? Biarlah komitmen kita dijalankan dengan motivasi dan tujuan yang murni di hadapan-Nya. Amin. Soli Deo Gloria.

10 May 2008

PERJAMUAN KUDUS KRISTUS & MANFAAT YANG DIBERIKAN KEPADA KITA (DR. JOHN CALVIN)



Bagian 1

Melalui baptisan, Allah telah menerima kita sebagai anak-anak-Nya untuk selamanya. Karena itu, untuk memenuhi kewajiban-Nya sebagai Bapa yang baik terhadap anak-anak-Nya, Dia berikhtiar untuk memberi kita makan sepanjang hidup kita. Dan untuk meyakinkan kita akan kemurahan-Nya yang tak habis-habisnya, Ia memberikan suatu jaminan. Dan jaminan itu ialah sakramen perjamuan kudus, di mana Kristus menegaskan diri-Nya sebagai roti pemberi hidup, yang memberikan makanan bagi jiwa kita untuk memperoleh kebahagiaan sejati dan kekal. Tanda-tanda yang dipakai ialah roti dan anggur, yang mewakili tubuh dan darah Kristus yang diberikan menjadi makanan rohani bagi kita. Jadi sekarang Kristus adalah satu-satunya makanan bagi jiwa kita, dan setiap kali menyambut makanan rohani ini, kita disegarkan dan memperoleh kekuatan, sampai kita ke sorga.
Karena misteri persatuan Kristus dengan orang percaya ini melampaui pengertian kita, maka untuk menyesuaikan dengan kemampuan akal kita yang terbatas, Allah menunjukkan hal ini dalam tanda yang kelihatan. Kita diperintahkan untuk makan tubuh yang pernah sekali untuk selamanya dipersembahkan bagi keselamatan kita, supaya ketika kita melihat bahwa diri kita telah dijadikan berbagian di dalamnya, kita diyakinkan bahwa kuasa dari kematian yang menghidupkan itu akan berlaku dalam diri kita.
Orang percaya mendapatkan jaminan dan kesukaan yang besar dari Perjamuan Kudus ini. Perjamuan Kudus menjadi saksi bahwa kita telah menjadi satu tubuh dengan Kristus, sehingga segala kepunyaan-Nya menjadi kepunyaan kita. Dengan demikian, kita berani meyakini bahwa hidup kekal yang diwarisi-Nya, kini telah menjadi milik kita. Dan bahwa Kerajaan Sorga yang telah dimasuki-Nya, sekarang telah menjadi milik kita. Kita dapat meyakini bahwa kita tidak akan dihukum atas dosa-dosa kita, karena semua itu telah ditanggungkan ke atas-Nya. Ini merupakan pertukaran yang ajaib, yang dilakukan-Nya berdasarkan kemurahan-Nya yang besar terhadap kita, yaitu: dengan menjadi Anak Manusia bersama kita, Dia telah menjadikan kita anak-anak Allah bersama-Nya; dengan turun ke bumi, Ia telah membuka jalan bagi kita untuk naik/masuk ke sorga; dengan menerima kefanaan kita, Dia telah memberikan kekekalan kepada kita; dengan menerima kelemahan kita, Dia telah menguatkan kita dengan kuasa-Nya; dengan menjadi miskin karena kita, Dia mengalihkan kekayaan-Nya kepada kita; dengan menanggung beban kesalahan kita di atas diri-Nya, Dia telah mengenakan kebenaran kepada kita.

Dalam sakramen, kita harus meyakini bahwa Kristus sungguh-sungguh hadir sehingga kita dapat melihat-Nya dengan mata kita dan meraba-Nya dengan tangan kita. Dengan memerintahkan kita untuk makan tubuh-Nya dan minum darah-Nya, Ia menunjukkan bahwa apa yang kita makan dan minum akan menjadi satu substansi dengan kita, dan bahwa tubuh-Nya yang telah diserahkan dan darah-Nya yang telah ditumpahkan untuk mendatangkan keselamatan, kini telah menjadi milik kita. Roti dan anggur dalam sakramen ini dapat mendatangkan berkat/manfaat bagi kita, karena pernah satu kali Ia diserahkan bagi penebusan dan keselamatan kita. Seperti yang sebelumnya dikatakan: oleh hal-hal fisik yang dikemukakan dalam sakramen, kita dibimbing melalui suatu analogi kepada hal-hal rohani. Jadi kita melihat roti dan anggur itu sebagai yang melambangkan tubuh yang terpecah dan darah Kristus yang tercurah bagi keselamatan. Dan dengan merenungkan hal ini, kita dapat ditumbuhkan, disegarkan, dikuatkan, dan dijadikan bersukacita.

Dua kesalahan ini harus kita waspadai: pertama, kita tidak boleh meremehkan tanda-tanda ini, sehingga memisahkannya dari misteri (kebenaran) yang terikat dalam tanda-tanda itu. Kedua, Kita tidak boleh meninggikannya secara berlebihan, sehingga mengaburkan misteri (kebenaran) yang terkandung di dalamnya. (John Calvin, Institutes of the Christian Religion, IV.17., disadur oleh syo)


To search for wisdom apart from Christ means not simply foolhardiness, but utter vanity.
"MENCARI HIKMAT DI LUAR KRISTUS BUKAN HANYA SUATU PETUALANGAN YANG BODOH, TETAPI SAMA SEKALI SIA-SIA."
– John Calvin.




Bagian 2

Pengajaran Gereja yang benar menyatakan bahwa Perjamuan Kudus terdiri dari dua hal: tanda-tanda fisik, yang menggambarkan dalam lambang, hal-hal yang tidak kelihatan; dan kebenaran rohani, yang disampaikan oleh lambang itu. Untuk menunjukkan kebenaran ini, saya mengemukakan tiga hal: (1) signifikansinya, yang terdapat di dalam janji-janji yang terselubung di dalam tanda itu; (2) materi atau substansinya, yaitu Kristus dengan kematian dan kebangkitan-Nya; dan (3) akibatnya, yaitu penebusan, kebenaran, pengudusan, dan hidup kekal, serta semua manfaat yang diberikan Kristus kepada kita.

Walaupun semuanya ini berhubungan dengan iman, namun saya tidak mengatakan bahwa Kristus yang kita terima dengan iman hanya diterima dalam pengertian dan imajinasi. Janji yang Ia berikan, tidak berhenti hanya pada pengamatan dan pengetahuan kosong, tetapi supaya kita menikmati partisipasi yang sejati di dalam Dia. Karena di dalam partisipasi dengan Kristus inilah, kita yang percaya memperoleh penebusan dan kebenaran dalam salib-Nya dan memperoleh kehidupan dalam kematian-Nya. Semua manfaat itu tidak akan menjadi milik kita jika Kristus tidak terlebih dahulu menjadi milik kita. Dalam misteri Perjamuan Kudus, Kristus sungguh-sungguh ditunjukkan kepada kita melalui simbol roti dan anggur (tubuh-Nya dan darah-Nya), di mana Dia telah memenuhi seluruh ketaatan untuk mendapatkan kebenaran bagi kita. Tujuannya, ialah supaya kita yang menjadi satu tubuh dengan-Nya dapat merasakan kuasa-Nya dan berbagian dalam semua manfaat-Nya.

Kita menolak pandangan yang mengajarkan bahwa dalam Perjamuan Kudus tubuh Kristus hadir secara fisik (Gereja Katolik Roma mengajarkan bahwa roti dan anggur itu berubah menjadi tubuh dan darah Kristus – transubstansiasi; Gereja Lutheran mengajarkan bahwa tubuh Kristus “berada bersama roti, di dalam roti, dan di bawah roti” – consubstansiasi), sehingga dapat disentuh oleh tangan, dikunyah dengan gigi, dan ditelan dengan mulut. Calvin menegaskan bahwa roti itu bukanlah tubuh Kristus, tetapi kesaksian terhadap tubuh Kristus. Dalam perjamuan Kudus, memang tubuh Kristus yang diberikan menjadi makanan kita, tetapi bukan dalam pengertian harfiah dan konyol. Tubuh Kristus dibatasi oleh ciri-ciri manusiawi-Nya, dan tetap tinggal di sorga hingga kelak Ia kembali untuk kedua kalinya. Hanya melalui Roh-Nya, kita memiliki Kristus sepenuhnya, sehingga kita menjadi satu dengan-Nya. Dua hal ini harus kita hindari: (1) mengurangi kemuliaan Kristus – Ia dimasukkan ke dalam unsur-unsur dunia ini yang dapat binasa, atau dikaitkan dengan suatu ciptaan yang ada di bumi ini; (2) memikirkan tubuh-Nya memiliki suatu sifat yang tidak sesuai dengan natur manusiawi-Nya – mengatakan bahwa tubuh-Nya bersifat tidak terbatas atau berada di beberapa tempat sekaligus. Sebab menurut kehadiran kemuliaan-Nya, Kristus hadir di mana-mana bersama kita (Mat. 28:20), sedangkan menurut kehadiran fisik, tubuh Kristus tetap tinggal di sorga (Mat. 26:11; Kis. 3:21. Mereka yang tidak menerima kehadiran tubuh Kristus pada Perjamuan Kudus kecuali di dalam roti melakukan kesalahan yang besar karena mereka tidak memberi tempat bagi pekerjaan Roh yang tersembunyi, yang menyatukan Kristus dengan kita.

Bagaimana Perjamuan Kudus dirayakan? Dimulai dengan doa bersama; selanjutnya disampaikan khotbah. Menuturkan bagaimana Perjamuan itu ditetapkan oleh Tuhan. Menyebutkan janji-janji yang diberikan Tuhan di dalamnya; pada saat yang sama, mengucilkan semua orang yang oleh larangan Tuhan ditolak dari Perjamuan. Selanjutnya, berdoa memohon Tuhan mengajar dan membentuk kita agar kita menerima sakramen itu dengan iman dan syukur, dan agar kita dilayakkan untuk menerimanya. Lalu, menyanyikan mazmur atau membacakan sesuatu. Dan hendaklah setiap orang menerima roti dan cawan itu dengan tertib ketika dibagikan kepada mereka. Setelah itu, jemaat dinasihati untuk sungguh-sungguh mengamalkan iman mereka, mengasihi dan menjalankan hidup Kristen yang layak. Akhirnya, syukur harus dinaikkan, dan pujian dinyanyikan kepada Allah. Setelah itu, hendaklah jemaat dilepas dengan damai sejahtera. (John Calvin, Institutes of the Christian Religion, IV.17., disadur oleh syo)


Faith does not depend on miracles, or any extraordinary sign, but is the peculiar gift of the spirit, and is produced by means of the word … There is to which the flesh is more inclined than to listen to vain revelation.
"IMAN TIDAK BERGANTUNG PADA MUJIZAT, ATAU TANDA AJAIB, TETAPI MERUPAKAN KARUNIA KHUSUS DARI ROH KUDUS DAN DIHASILKAN MELALUI SARANA FIRMAN ... KEDAGINGAN KITA MEMILIKI KECENDERUNGAN UNTUK MENDENGARKAN WAHYU YANG HAMPA."
– John Calvin.




Sumber:
Artikel mingguan ke-125 di Reformed Evangelical Daily Bible Readings (Ready Bread)

06 May 2008

Matius 9:32-34: INTERPRETATION OF REALITY

Ringkasan Khotbah : 14 Agustus 2005
Interpretation of Reality
oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.
Nats: Matius 9:32-34



Kalau kita bandingkan etika hukum Kerajaan Sorga yang diajarkan oleh Kristus dalam Khotbah di Bukit (Mat. 5-7) dengan konsep hukum dan filsafat dunia yang dipaparkan tokoh filsuf dunia seperti Aristotle, Socrates, Plato, Lao Tze dan lain-lain maka semua konsep tersebut tidak berarti. Hal ini diakui oleh dunia karena itulah dunia menyebut hukum Kerajaan Sorga ini sebagai the Golden Rule sebab sepanjang sejarah jaman ini tidak ada standar hukum atau etika kehidupan yang lebih tinggi dari etika yang diajarkan oleh Kristus. Setiap aturan atau hukum dunia yang ditata dengan menggunakan standar atau mengacu pada the Golden Rule pastilah mempunyai kualitas lebih tinggi dibandingkan dengan hukum dunia yang menggunakan standar lain.
Setiap orang yang menjadi warga Kerajaan Sorga tentulah harus mentaati setiap hukum Kerajaan Sorga yang ditetapkan oleh Kristus Sang Raja. Kita telah memahami implikasi hukum Kerajaan Sorga, yakni: pertama, the Lordship of Christ, yakni melihat Kristus bukan sekedar sebagai Juruselamat tetapi Kristus adalah Tuhan yang berkuasa atas hidup kita. Hari ini banyak orang yang mengaku percaya Kristus tetapi tidak mengakui Dia sebagai Tuhan, orang hanya mencari keuntungan, orang tersebut beriman humanis; kedua, discipleship, pengikut Kristus bukan bersifat sementara tetapi selamanya; ketiga, separation, anak Tuhan sejati haruslah hidup kudus dan memancarkan sifat Ilahi sebab kita memang dipisahkan untuk suatu tugas khusus di tengah-tengah dunia yang bobrok, keempat, faith, beberapa waktu lalu kita telah memahami tentang iman sejati melalui orang buta yang disembuhkan dan kini, kita kembali memahami iman tetapi terkait dengan orang bisu yang kerasukan dan disembuhkan.
Sepintas kalau kita baca kisah tentang orang bisu ini sepertinya tidak berkaitan dengan iman sebab tidak ada kata “percaya atau iman.“ Di dunia modern ini orang seringkali mengkaitkan iman dengan hal-hal yang spektakuler sebaliknya orang tidak peduli dengan pemikiran yang mendasari kepercayaannya padahal justru disinilah letak permasalahan iman yang paling besar sebab dalam hal berbicara itulah nampaklah imannya. Orang bisu yang dikisahkan oleh Matius disini bisunya bukanlah pembawaan sejak lahir tetapi karena ia dirasuk setan, terbukti setelah Tuhan Yesus mengusir setan yang ada padanya maka ia pun dapat berkata-kata kembali. Di satu pihak, ada orang ingin berbicara tetapi ia tidak dapat berbicara namun di pihak lain, ada orang yang dapat berbicara namun kata-kata yang keluar dari mulutnya bukanlah kebenaran. Realitanya sama, yakni orang bisu yang kerasukan disembuhkan namun orang Farisi justru mempunyai penafsiran berbeda. Ternyata realita yang tampak di depan mata bukan sekedar realita tetapi di belakangnya ada masalah rohani; kisah ini bukan sekedar bicara sebab di balik perkataan itu, iman seperti apakah yang mendasari?
Pertama, iman, realita dan penafsiran saling terkait erat. Alkitab yang sama tetapi diinterpretasikan berbeda-beda dan dari hasil interpretasi ini terungkaplah iman seseorang. Wajarlah kalau hari ini banyak orang dibingungkan karena banyaknya ajaran Kristen yang muncul dan semuanya mengajarkan hal yang berbeda. Iman tersembunyi di belakang tapi iman tidak dapat disembunyikan. Iman menjadi kacamata ketika seseorang melihat suatu realita, iman itu akan mempengaruhi seluruh pemikiran kita. Jadi, letak permasalahannya bukan pada Alkitabnya sebab Alkitab tidak pernah bersalah. Seorang teolog bernama Ronald Nash mengungkapkan bahwa terbentuknya pola pikir seseorang itu dipengaruhi oleh pendidikan baik dari sekolah maupun lingkungan dan membentuk suatu kerangka pemikiran yang menyatu dan saling terkait layaknya sebuah jaringan laba-laba dan ini menjadi dasar pemikiran ketika seseorang hendak mempertimbangkan, memutuskan dan melihat suatu realita. Alkitab menyebutnya dengan akal budi (Rm. 12:2). Seorang atheis melihat suatu realita maka penafsiran yang muncul pastilah menggunakan konsep atheis dan itu bertentangan dengan iman Kekristenan maka ketika dia bertobat, akal budi itu tidak langsung berubah, jelaslah ini menjadi suatu perintah aktif: 1) jangan serupa dengan dunia; 2) berubahlah oleh pembaharuan akal budimu. Iman sejati barulah dapat diimplikasikan kalau kita mempunyai obyek iman yang tepat dengan demikian ketika kita melihat suatu realita kita tidak salah menafsirkan. Sebuah realita misalnya kecelakaan mobil bila dilihat dari sudut pandang yang berbeda, yakni: ekonomi, hukum, kedokteran akan menghasilkan interpretasi yang berbeda. Orang ekonomi pasti melihat dari kacamata ekonomi sehingga interpretasi yang muncul terkait erat dari sudut mana orang memandang suatu realita. Presuposisi yang muncul bukan sekedar presuposisi; presuposisi yang ada di sekitar wilayah dunia maka akan menjadi suatu relativitas belaka tetapi ketika kita memandang dari presuposisi Tuhan maka disanalah kita mendapatkan obyek iman yang sejati.
Orang Farisi mengaku diri sebagai seorang beriman, seorang yang mempraktekkan seluruh peraturan hukum Taurat tetapi ketika ia melihat mujizat yang dilakukan oleh Tuhan Yesus reaksinya justru berbeda. Hati-hati jangan terlalu cepat menafsir sebuah realita, cobalah kita mengevaluasi diri sendiri kenapa muncul interpretasi demikian? Apakah iman yang mendasari itu iman sejati ataukah iman dari setan? Iman sejati seharusnya terimplikasi dalam seluruh bidang kehidupan kita namun hari ini, orang cenderung mendualismekan antara iman dan kehidupannya; iman tidak dapat terintegrasi dalam seluruh bidang kehidupan. Di dunia modern orang biasa dididik konsep dualisme sehingga antara ilmu dan iman tidak saling berhubungan dan ironisnya orang tidak menyadari pentingnya integrasi tetapi merasa diri pandai dan paling benar, orang tidak mau kembali pada kebenaran sejati. Iman, realita menimbulkan penafsiran, hal ini menjadi aspek spiritual. Orang yang bisu ini bukan cuma sebatas tidak berbicara tetapi kebisuan ini masuk dalam urusan rohani sebab yang membuat bisu adalah setan sebaliknya orang yang dapat berbicara ternyata tidak beda dengan orang yang bisu, ia tidak lebih dari alat setan sebab kata-kata yang keluar dari berasal dari iblis. Karena itu kita harus berhati-hati dalam berkata-kata, biarlah kita uji dan mengevaluasi diri kita masing-masing benarkah setiap perkataan kita itu berasal dari Tuhan dan sesuai dengan kehendak Tuhan ataukah kita sama seperti orang Farisi, tidak lebih hanya sebuah alat setan?
Beberapa hal yang perlu kita perhatikan adalah: Pertama, apakah setiap perkataan yang keluar itu memuliakan Tuhan? Kalau memang benar dari Tuhan dan sesuai dengan kebenaran maka siapa kita manusia sehingga berani melawan Allah? Kedua, setiap perkataan yang sudah keluar dari mulut kita haruslah dipertanggung jawabkan. Kekristenan sangat melawan keras konsep postmodern, yaitu the death of the author yang mengajarkan bahwa setiap perkataan yang sudah keluar dari mulut kita bukanlah menjadi tanggung jawab kita maka perkataan lepas dari pembicaranya. Allah berfirman maka Firman yang keluar dipertanggung jawabkan oleh Allah. Begitu pula setiap hamba Tuhan yang memberitakan Firman haruslah mempertanggung jawabkan di hadapan Tuhan. Panggilan Tuhan dan perkataan saling terkait erat; Ketiga, hasil akhir adalah untuk kemuliaan Tuhan bukan untuk kemuliaan diri. Sebab segala sesuatu dari Dia, oleh Dia dan kepada Dia; Bagi Dia kemuliaan untuk selama-lamanya (Rm. 11:36). Ini merupakan prinsip Kekristenan.
Kedua, Kisah orang bisu ini sekaligus membukakan suatu fakta bahwa mujizat itu tidak akan membawa orang semakin mengenal Tuhan. Terbukti, Tuhan Yesus, Anak Allah sendiri yang melakukan mujizat tetapi toh orang tidak bertobat tetapi orang justru melawan Tuhan dengan mengatai-ngatai Tuhan Yesus adalah penghulu setan. Jelaslah bahwa orang kalau sudah menolak Tuhan maka ia akan tetap tidak mau percaya meski ia sudah melihat bukti; segala sesuatu yang positif akan menjadi negatif. Realita tergantung dari iman maka kalau orang dapat beraksi tepat dan menanggapi suatu mujizat dengan benar, itu merupakan suatu anugerah. Ingat, hari ini kalau kita dapat beriman maka itu bukan hasil usaha kita tetapi pemberian Allah. Mujizat paling besar bukan orang buta dicelikkan atau orang bisu berbicara atau memberi makan lebih dari lima ribu orang dengan lima roti dua ikan. Bukan! Mujizat terbesar di dunia adalah Kristus yang sudah mati itu bangkit kembali pada hari ketiga. Kristus bangkit dan Dia hidup bukanlah sekedar isapan jempol sebab hal ini disaksikan dan dibuktikan oleh kurang lebih 500 orang. Namun fakta sejarah yang sedemikian dahsyat ini toh tidak membuat orang percaya dan bertobat karena pada dasarnya orang menolak Kristus, dengan segala cara orang memelesetkan semua kebenaran bahkan berusaha menutupinya. Iman adalah pekerjaan Roh Kudus di dalam hati setiap manusia. Jelaslah, mujizat bukanlah sarana atau cara yang Tuhan kehendaki untuk mempertobatkan seseorang. Itulah sebabnya Tuhan Yesus melarang untuk kedua orang buta yang telah dicelikkan untuk tidak mengatakan pada orang lain. Jangan sandarkan iman pada mujizat atau hal-hal yang spektakuler. Sayangnya, dunia tidak mengerti hal ini, memang benar, mujizat menjadikan orang kagum namun hal tersebut tidak membuat orang bertobat. Biarlah kita meneladani iman dari Sadrakh, Mesakh dan Abednego, yakni Iman sejati adalah kembalinya kita pada Kristus, percaya bahwa Kristus dapat melakukannya dan kita juga akan tetap percaya kalau seandainya Tuhan tidak melakukan mujizat atas kita.
Ketiga, Perhatikan, kata-kata yang diucapkan oleh orang Farisi: “Dengan kuasa penghulu setan Ia mengusir setan“ sepintas kalau kita dengar sepertinya orang Farisi ini memusuhi setan namun kalau kita cermat, sesungguhnya ia telah menjadi alat untuk mempublikasikan kuasa setan. Setan sangatlah licik, ia mempromosikan dirinya dengan cara mengusir setan dan ia memakai seorang teolog sebagai alat. Strategi yang sangat licik. Kalimat yang diucapkan itu sekaligus membalik semua kebenaran. Tuhan Yesus melakukan tindakan benar tapi dengan perkataan orang Farisi itu, kini seolah-olah ia menjadi salah sebaliknya mereka yang salah justru menjadi benar; hanya dengan satu kalimat seluruh pekerjaan Tuhan Yesus menjadi tidak bernilai. Biarlah kita mengevaluasi diri, hati-hati dengan segala akal licik iblis karena itu, kita harus kembali pada Firman Kebenaran itu, sola scriptura. Itulah sebabnya Martin Luther dengan keras menentang tindakan Yohan Tetzel, seorang pastor yang menjual surat pengampunan dosa sebab apa yang dilakukan justru tidak membuat orang kembali pada Kristus tapi semakin merusak iman Kekristenan. Iblis tidaklah bodoh, cara yang dipakai sangatlah luar biasa; iblis memakai seorang teolog sebagai ajang untuk mempromosikan dirinya.
Orang-orang Israel berdecak kagum melihat hal yang spektakuler, katanya: “Yang demikian belum pernah dilihat di Israel.“ Namun orang Farisi langsung mematahkan dengan kalimat yang diucapkan: “Dengan kuasa penghulu setan Ia mengusir setan“ disini jelas, setan memakai orang Farisi ini untuk menyatakan bahwa yang melakukan mujizat itu bukan Tuhan Yesus tetapi setan. Dengan kata lain: pakai kekuatan Tuhan Yesus tapi dipasangi label setan sehingga seolah-olah setan yang lebih hebat dari Tuhan Yesus. Inilah cara licik yang dipakai oleh setan maka kita harus berhati-hati dan waspada. Tuhan Yesus tahu segala tipu muslihat iblis yang memakai kekuatan Tuhan tapi mengakui itu sebagai kekuatannya. Tuhan tidak akan tinggal diam karena tiba hari-Nya Tuhan akan menghukum mereka. Tuhan menegaskan bahwa pada hari terakhir banyak orang akan berseru: “Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi namaMu, mengusir setan demi namaMu, dan mengadakan banyak mujizat demi namaMu juga? Pada waktu itulah Aku berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari padaKu kamu sekalian pembuat kejahatan!“ (Mat. 7:23-24).
Janganlah kita mudah terjebak dengan akal licik si iblis yang memang sengaja membuat manusia merasa terganggu dan akhirnya menjadi marah ketika melihat orang mempermainkan kebenaran dan itu berakibat pada tindakan kita. Biarlah kita menjadi bijak sehingga kita dapat bertindak tepat. Dalam bagian ini Tuhan Yesus membukakan suatu kebenaran dan tugas kebenaran adalah memproklamasikan kebenaran dan Tuhan memberikan kebebasan bagi kita untuk memilih dan tugas kita mempertanggung jawabkan setiap keputusan yang kita pilih. Biarlah kita meneladani sikap dan tindakan Kristus ini dengan demikian di tengah dunia ini kita dapat melangkah dengan tepat. Setan sangat pandai membalik setiap realita, setan sangat pandai membuat orang sepertinya mengikuti arah yang benar padahal itu berujung dengan maut. Tugas setiap anak Tuhan untuk memberitakan kebenaran, membawa orang kembali pada kebenaran.
Bagian terakhir ini tidak ada kata “iman“ namun ini justru menjadi puncak evaluasi iman kita, yakni bagaimana kita mengimplikasikan iman. Inilah yang membuktikan siapakah kita? Apakah kita seperti orang Farisi yang katanya “beriman“ namun sesungguhnya kita tidak beda dengan anak iblis? Dimanakah keberadaan posisi kita? Cara kita melihat suatu realita dan menafsirkannya itu membuktikan iman kita, membuktikan siapa sesungguhnya diri kita. Karena itu, janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber:

Roma 8:5-8: HIDUP OLEH ROH VS HIDUP OLEH DAGING

Seri Eksposisi Surat Roma :
Manusia Lama Vs Manusia Baru-12


Hidup oleh Roh Vs Hidup oleh Daging

oleh: Denny Teguh Sutandio


Nats : Roma 8:5-8.

Setelah mempelajari tentang adanya jaminan hidup dari suatu hidup yang tidak lagi dikuasai oleh dosa di ayat 1 s/d 4, kita akan mempelajari kedalaman jaminan tersebut melalui pemaparan Paulus tentang tiga perbedaan esensial antara hidup oleh Roh vs hidup oleh daging mulai ayat 5 s/d 8.

Di pasal 8 ayat 3-4, Paulus sudah mengajarkan bahwa kita tidak lagi hidup di bawah Taurat, karena Taurat tak mungkin menyelamatkan, tetapi kita hidup di bawah anugerah Allah. Hal ini justru mengakibatkan kita yang telah dibenarkan di dalam Kristus mampu melakukan Taurat dengan motivasi yang beres, yaitu memuliakan Allah, bukan untuk diperkenan di hadapan Allah. Hidup oleh Roh adalah hidup yang berada di bawah anugerah Allah dan sekaligus Taurat Allah yang memerdekakan umat pilihan-Nya dan memimpin mereka di dalam jalan ketaatan kepada Allah. Inilah yang dijelaskan Paulus di ayat 5, “Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh.” International Standard Version (ISV) menerjemahkannya, “For those who live according to the flesh set their minds on the things of the flesh, but those who live according to the Spirit set their minds on the things of the Spirit.” Di dalam ayat ini, Paulus mulai mengontraskan dua prinsip hidup yang berbeda dan bahkan saling bertentangan. Prinsip hidup pertama adalah hidup oleh daging. Ketika manusia hidup oleh daging, Paulus mengatakan bahwa pertama, orang tersebut hidup dikuasai oleh keinginan daging. Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) menerjemahkannya, “Orang-orang yang hidup menurut tabiat manusia, terus memikirkan apa yang diinginkan oleh tabiat manusia.” “Menurut daging” diterjemahkan oleh Alkitab BIS sebagai tabiat manusia, artinya natur manusia, yaitu manusia yang dicipta, terbatas dan berdosa. Bukan hanya hidup menurut tabiat manusia, orang yang hidup oleh daging juga terus memikirkan apa yang diinginkan oleh tabiat manusia. Dengan kata lain, orang yang hidup oleh daging terus tunduk di bawah keinginan tabiat manusia yang berdosa. Ambil contoh, ketika seseorang merokok, dia merokok bukan tanpa sebab. Mungkin dia merokok karena terpengaruh teman, atau sedang frustasi, dll, tetapi kebiasaan hidup oleh daging ini terus berlanjut, mengapa ? Karena hidup oleh daging mengakibatkan orang tersebut mau ditundukkan oleh kedagingan. Dengan kata lain, keinginan daging menjadi “tuan” mereka. Pdt. Billy Kristanto di dalam National Reformed Evangelical Convention (NREC) 2005 pernah menuturkan bahwa orang yang rakus adalah orang yang menjadikan makanan sebagai “tuan/tuhan”nya. Memang sungguh aneh dan lucu kedengarannya. Kalau kita mengerti bahwa manusia itu makhluk hidup dan hal-hal lain seperti makanan, keinginan, dll adalah hal-hal yang mati, maka adalah bodoh ketika kita menjadikan sesuatu yang mati sebagai “tuan”/penentu bagi kita yang hidup. Seharusnya, kita yang hidup menguasai dan menjadi tuan atas hal-hal yang mati, tetapi kondisi asli ini berubah dan bahkan berganti posisi, mengapa ? Karena kita telah berdosa. Pdt. Dr. Stephen Tong pernah mengatakan bahwa dosa mengakibatkan adanya pembalikan posisi, yaitu ketika manusia seharusnya menguasai alam dan tunduk di bawah Allah, malahan manusia mau menguasai Allah dan dikuasai alam. Itulah kegagalan hidup oleh daging. Lalu, bagaimana dengan hidup oleh Roh ? Prinsip hidup kedua yaitu hidup oleh Roh adalah, “terus memikirkan apa yang diinginkan oleh Roh Allah.” (terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari) Hidup oleh Roh adalah pertama, hidup yang menTuhankan Kristus dan taat pada pimpinan Roh Kudus. Dengan kata lain, hidup oleh Roh adalah hidup yang menTuhankan apa yang patut diTuhankan (=dijadikan Penguasa/Pemerintah yang mutlak harus ditaati di dalam hidup kita) yaitu Sumber Kehidupan sejati. Ketika kita menTuhankan Sumber Kehidupan sejati, maka pasti kita mendapatkan hidup sejati. Jadi, hidup oleh Roh adalah hidup sejati. Lalu, kita memperhatikan kata “terus” di dalam terjemahan BIS. Hidup Kristen yang adalah hidup oleh Roh bukan menghasilkan suatu kehidupan Kristen yang instan, artinya langsung kudus, bebas dari cacat cela, dll, tetapi hidup oleh Roh berada di dalam proses pengudusan Roh Kudus. Sehingga terjemahan BIS menambahkan kata “terus” yang mengindikasikan bahwa hidup oleh Roh adalah hidup yang terus-menerus (berkelanjutan) memikirkan apa yang diinginkan oleh Roh Allah. Bagaimana dengan kita ? Kita mungkin sudah menjadi Kristen berpuluh-puluh tahun, mungkin kita berasal dari keluarga Kristen (meskipun bukan jaminan bahwa kita adalah orang Kristen sejati yang termasuk anak-anak Allah), sudahkah hidup kita diserahkan total kepada-Nya untuk dikuasai dan dipimpin oleh Roh Allah ? Tuhan melalui Paulus mengingatkan kita bahwa hidup oleh Roh adalah hidup yang terus memikirkan apa yang diinginkan oleh Roh Allah, bukan yang diinginkan oleh kita sebagai manusia berdosa. Janganlah kita berani mengaku di depan umum sebagai orang Kristen, tetapi sayangnya kita masih hidup oleh daging, itu adalah penyangkalan. Paulus sudah membedakan kedua prinsip hidup ini dengan tegas, sejelas membedakan hitam dengan putih. Jadi, jangan menyamarkan kedua prinsip hidup ini.

Lalu, apa yang dimaksud dengan kedua prinsip hukum di atas ? Poin kedua dalam perbedaan dua prinsip hidup ini akan dibahas pada ayat 6, “Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.” Hal kedua yang dipelajari dari hidup oleh daging yang adalah hidup yang dikuasai oleh keinginan daging adalah maut. Artinya, akibat dari hidup oleh daging adalah kematian (mengutip dari Geneva Bible Translation Notes). Mengapa ? Karena hidup oleh daging adalah hidup yang dikuasai oleh keinginan daging yang sudah berdosa, sehingga yang dihasilkannya tentu adalah efek dari sesuatu yang berdosa yaitu kematian. Paulus sudah menjelaskan bahwa upah dosa ialah maut (Roma 6:23), dan gambaran inilah yang ia maksudkan ketika menjelaskan bahwa keinginan daging berbuahkan kematian/maut. Ketika kita mulai mendasarkan hidup pada yang bukan kehidupan, maka terimalah konsekuensinya yaitu kita pasti mengalami kematian (entah itu fisik maupun spiritual) yang sia-sia. Sedangkan, hidup oleh Roh dalam poin kedua dijelaskan Paulus membawa kepada kehidupan dan damai sejahtera. Geneva Bible Translation Notes menafsirkan kedua hal ini sebagai joy and everlasting life (kesukacitaan dan kehidupan yang kekal). Berbeda dari hidup oleh daging yang mengakibatkan kematian, maka hidup oleh Roh menghasilkan kehidupan sejati/kekal. Artinya, kehidupan yang kita jalani di dalam prinsip hidup oleh Roh adalah kehidupan yang memiliki tiga hal yang Paulus ajarkan di dalam Surat 1 Korintus 13:13 yaitu : iman, pengharapan dan kasih. Rev. Dr. John R. W. Stott di dalam bukunya Kristus yang Tiada Tara (Incomparable Christ) memaparkan bahwa ketiga hal ini berkaitan dengan tiga masa dan sekaligus tindakan yang harus dilakukan oleh orang Kristen, yaitu : Iman, kepada sesuatu yang sudah terjadi (tentu juga yang belum terjadi) ; Pengharapan, kepada sesuatu yang akan terjadi dan Kasih adalah tindakan yang harus kita lakukan saat ini. Dari sini, kita dapat mempelajari bahwa hidup oleh Roh bukan hidup yang sementara tetapi hidup yang melintasi waktu (dulu, sekarang dan akan datang) dan bahkan sampai kepada kekekalan. Mengapa bisa demikian ? Karena hidup oleh Roh adalah hidup yang bergantung kepada Kekekalan, bukan kesementaraan, sehingga barangsiapa yang hidup oleh Roh, hidupnya pasti tidak menemui kebinasaan, tetapi kekekalan, seperti yang telah dijanjikan Tuhan Yesus, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16). Kedua, berbeda dari hidup yang dikuasai oleh kedagingan yang membawa kepada maut/hidup yang tidak tenang (Pdt. Sutjipto Subeno menyebutnya “mati sebelum mati”), maka hidup oleh Roh adalah hidup yang dipenuhi dengan damai sejahtera. Geneva Bible Translation Notes menafsirkan damai sejahtera sebagai sukacita (joy). Orang dunia terus mendengungkan suatu kondisi negara yang damai, tenteram, aman, dll, tetapi sayangnya banyak dari mereka sangat tidak mengerti apa arti damai, mengapa ? Karena mereka tidak mengenal dan mengalami sendiri Sumber Damai Sejahtera sejati yaitu Tuhan Yesus. Tuhan Yesus berfirman, “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” (Yohanes 14:27) Dan uniknya ayat ini berada tepat setelah ayat 26, yang mengajarkan bahwa Roh Kudus yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Nya (Kristus) akan mengingatkan para murid-Nya tentang segala sesuatu yang Kristus telah ajarkan. Dengan kata lain, Roh Kudus yang diutus bukan hanya Roh yang memimpin kepada Kristus, tetapi juga Roh yang memberikan damai sejahtera Kristus di dalam hidup umat pilihan-Nya. Ketika kita hidup oleh Roh, hidup kita pasti dipenuhi oleh damai sejahtera Kristus. Lalu, apa arti damai sejahtera itu ? Tuhan Yesus tadi sudah mengatakan bahwa damai sejahtera-Nya yang diberikan-Nya kepada para murid (dan juga kepada kita yang termasuk umat pilihan-Nya) BERBEDA dari damai sejahtera yang diberikan oleh dunia kepada kita. Di mana letak perbedaannya ? Dalam perkataan selanjutnya, Ia menjelaskan makna damai sejahtera-Nya yaitu “Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Dengan kata lain, makna damai sejahtera Kristus adalah hidup yang tidak gelisah dan hati yang tidak gentar. Dari bahasa Yunani, kedua hal ini berarti hati yang tidak risau dan jangan takut. Damai sejahtera Kristus adalah damai sejahtera yang memberikan ketidakrisauan dan ketidaktakutan di dalam segala hal. Kalau kita melihat konteks Yohanes 14, maka kita mengerti bahwa pada waktu itu, Tuhan Yesus akan disalib, dan para murid-Nya gemetar ketakutan akan ditinggal sendirian, nah, saat itulah Tuhan Yesus menguatkan iman mereka bahwa Roh Kudus yang akan datang akan memberikan damai sejahtera Kristus sehingga mereka tak perlu takut ataupun kuatir dan cemas, karena meskipun Ia nantinya akan meninggalkan mereka untuk mati disalib, mereka tidak akan sendirian, karena Roh Kudus ada di dalam hati mereka. Bagaimana dengan kita ? Dunia di sekitar kita menghimpit dan menjepit kita dengan berbagai teror, ketakutan, kriminalitas, dll. Lalu, apakah kita yang tinggal di dalam dunia (negara) yang berdosa ini, masihkah kita takut dengan semuanya itu ? Kalau kita masih takut, saya mengundang Anda, segeralah datang kepada Tuhan Yesus yang akan memberikan damai sejahtera sejati kepada kita. Mungkin dunia, agama, filsafat, ilmu, kebudayaan, dll datang dan menawarkan kedamaian bagi Anda, tetapi ingatlah damai sejahtera Kristus sangat BERBEDA dari apa yang dunia tawarkan, mengapa ? Karena damai sejahtera Kristus selain memberikan ketidakrisauan dan ketidaktakutan, damai sejahtera-Nya adalah damai sejahtera abadi, karena Pemberinya adalah Kristus yang adalah Pribadi kedua Allah Trinitas yang kekal. Ketika Sang Kekal memberikan damai sejahtera, tentu damai ini sangat berbeda dengan damai sejahtera yang diberikan oleh kesementaraan.

Kemudian, perbedaan esensial ketiga antara kedua prinsip hidup ini dijelaskan pada ayat 7-8, “Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.” Prinsip hidup oleh daging ketiga adalah perseteruan terhadap Allah. Kata ini lebih tepat diterjemahkan perlawanan menentang Allah (menurut terjemahan langsung dari King James Version : enmity against God dan bahasa Yunani : echthra yang bisa berarti opposition/perlawanan). Kedua kata ini sedikit berbeda, di mana kata “perseteruan” hanya sebatas permusuhan (yang mungkin bisa melawan, tetapi bisa juga tidak melawan), tetapi kata “perlawanan” jelas menunjuk kepada tindakan melawan/menyerang. Dengan kata lain, hidup oleh daging bukan hanya bermusuhan dengan Allah, tetapi juga melawan Allah. Mengapa demikian ? Pernyataan berikut menjelaskannya yaitu karena keinginan daging tidak takluk kepada hukum Allah. Mengapa setan disebut “setan” (=penantang) ? Karena setan tidak takluk kepada Allah dan memberontak melawan-Nya. Ketika itulah, setan disebut penantang dan musuh yang melawan Allah. Ketika hidup kita tidak tunduk kepada hukum Allah, di saat itu pula hidup kita dikatakan melawan Allah. Mengapa ? Karena ketika kita tidak tunduk kepada hukum Allah, di saat yang sama, kita mencoba membangun suatu formulasi hukum yang kita anggap menyenangkan. Rev. Dr. W. Gary Crampton di dalam bukunya Verbum Dei (Alkitab : Firman Allah) memaparkan bahwa “otonomi” berarti self-law (hukum yang dibuat sendiri). Hukum ini dibuat untuk menyaingi bahkan melawan hukum Allah. Itu yang terjadi pada Adam dan Hawa ketika berbuat dosa sehingga Allah mengusir mereka dari Taman Eden karena ketidaktaatan mereka. Dosa ketidaktaatan sama dengan dosa melawan Allah. Adam dan Hawa bukan hanya tidak taat pada perintah Allah untuk tidak makan buah pengetahuan baik dan jahat, mereka juga berusaha menciptakan “hukum” sendiri (self-law) yang diimpor dari setan untuk melawan Allah, sehingga dari hukum tersebut, mereka lebih menaati hukum sendiri (Kejadian 3:6) dengan memakan buah pengetahuan baik dan jahat. Apakah hukum sendiri ini berhasil ? TIDAK ! Mengapa ? Karena hukum yang dibangun oleh diri sendiri yang adalah makhluk ciptaan, terbatas dan berdosa adalah hukum yang berdosa dan terbatas/sementara yang pasti mengakibatkan kehancuran dan kematian. Dunia kita sudah membuktikan hal ini sampai sekarang. Di zaman rasionalisme, ketika orang-orang mulai menegakkan self-lawnya dengan men”tuan”kan rasio mereka, maka apa yang terjadi ? Meletuslah Perang Dunia 1 dan 2 (1942-1945). Bukan kebaikan yang mereka tuai, tetapi perang yang mematikan ribuan jiwa. Lalu, orang-orang rasionalis menyadari hal ini, tetapi masih tidak mau kembali kepada Tuhan, malahan kembali menegakkan self-lawnya dengan men”tuan”kan diri/perasaan. Sehingga zaman modern digantikan dengan zaman postmodern yang menekankan universalisme, pluralisme ditambah terpaan dari filsafat Gerakan Zaman Baru yang menjadikan diri sendiri sebagai “allah”. Jangan heran, dunia kita hari-hari ini banyak dipenuhi dengan buku yang bertemakan “How to” (Bagaimana...) ditambah buku-buku yang bernuansakan Pengembangan Diri tanpa Allah (Human Potential Development). Pdt. Thomy J. Matakupan mengatakan bahwa orang lebih suka membaca buku yang bertemakan “How to” ketimbang “Why...” (Mengapa...). Hal ini jelas menunjukkan budaya pragmatisme di dalam dunia postmodern. Lalu, apa akibatnya ? Tetap sama, dunia postmodern tidak pernah menghasilkan budaya yang beres di mata Tuhan, berkualitas tinggi, dll, sebaliknya justru dari zaman postmodern, keluarlah budaya-budaya yang aneh, misalnya homoseksual (yang belum terjadi di zaman rasionalisme), feminine leadership (=kepemimpinan dipegang oleh wanita), death of the author (=kematian penulis ; artinya budaya hermeneutika postmodern tidak lagi memperhatikan sumber asli penulis, konteks, dll, tetapi lebih menekankan tafsiran para pembaca yang sembarangan), dll. Semua hal ini justru mengakibatkan budaya postmodern tidak pernah berkualitas tinggi dan malahan tragisnya lebih parah daripada budaya rasionalisme. Itu semua menunjukkan self-law manusia mengakibatkan kehancuran dan kematian manusia secara perlahan.
Bukan hanya melawan Allah, Alkitab mengajarkan bahwa keinginan daging tidak berkenan bagi Allah. Di dalam Galatia 5:19-21, Paulus memberikan gambaran yang jelas tentang hidup oleh daging, “Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu--seperti yang telah kubuat dahulu--bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.” Di dalam ayat 21b, Paulus mengingatkan jemaat Galatia bahwa keinginan daging yang mengakibatkan perbuatan daging “tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.” Artinya, hal-hal tersebut merupakan suatu kekejian di mata Allah. Mengapa ? Karena Allah yang Mahakudus menghendaki umat pilihan-Nya hidup terus-menerus di dalam kekudusan, dan Ia sangat membenci dosa (tetapi mengasihi umat pilihan-Nya yang berdosa). Bukan hanya berbicara mengenai aspek kekudusan, hal-hal tersebut bersifat sementara, sehingga Allah menginginkan kita bukan berpikir sementara, tetapi berpikir yang mengandung unsur kekekalan. Kembali, Paulus di dalam Filipi 4:8 mengajarkan, “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Inilah yang saya maksudkan dengan berpikir yang mengandung unsur kekekalan, yaitu pikiran yang : benar, mulia, adil, suci/kudus, manis, sedap didengar, mengandung kebajikan dan patut dipuji (BIS menerjemahkannya, “hal-hal yang benar, yang terhormat, yang adil, murni, manis, dan baik.”). Tuhan menginginkan kita sebagai anak-anak-Nya memikirkan hal-hal yang menyenangkan-Nya, karena itulah tandanya kita hidup oleh Roh, yaitu hidup yang terus memikirkan keinginan Roh Allah. Ingatlah, semuanya terjadi karena Ia menginginkan kita berbeda total dari dunia dan memperbaharui pikiran kita untuk melakukan segala sesuatu yang berkenan bagi-Nya (Roma 12:1-2).

Bagaimana dengan kita ? Setelah merenungkan keempat ayat ini, sudahkah kita mulai hari ini berkomitmen untuk hidup oleh Roh dan tidak hidup lagi oleh daging yang menghasilkan kematian ? Ketika kita hidup oleh Roh di dalam Kristus, kita bersedia dengan sukarela dan sukacita menyerahkan diri dan seluruh hidup kita untuk dikuasai dan diperintah oleh Kristus melalui Roh Kudus. Itulah sebabnya saya menyebut hidup oleh Roh sebagai hidup yang men-Tuhan-kan Kristus. Mari kita mengintrospeksi diri kita, sudahkah kita hidup bagi Kristus dan tidak lagi hidup mentuankan dunia dan segala hal yang bersifat fana ? Kiranya Roh Kudus terus memurnikan motivasi, misi, aksi dan visi kita bagi kemuliaan-Nya. Soli Deo Gloria. Amin.