27 May 2007

Refleksi Hari Pentakosta 2007 : THE ROLE OF THE HOLY SPIRIT (Denny Teguh Sutandio)

Refleksi Hari Pentakosta 2007

THE ROLE OF THE HOLY SPIRIT
oleh : Denny Teguh Sutandio


Hari-hari ini, tema tentang Roh Kudus menjadi tema yang “membingungkan” di dalam mayoritas orang Kristen dan gereja. Hal ini tidak mengherankan karena di sepanjang gereja, doktrin tentang Trinitas pun menjadi perdebatan yang cukup rumit, termasuk doktrin tentang Pribadi Roh Kudus, apakah Dia adalah Pribadi Allah atau hanya sekedar kuasa Allah yang tak berpribadi. Adanya kebingungan ini dikarenakan mereka tidak mau belajar Alkitab dengan baik-baik dan bertanggungjawab tentang siapa dan apa peran Roh Kudus. Oleh karena itu, sangatlah penting di hari Pentakosta atau hari turunnya Roh Kudus yang jatuh tepat 10 hari setelah kenaikan Tuhan Yesus, kita merenungkan peran-peran Roh Kudus baik secara pribadi maupun global.
Peran Roh Kudus Dalam Pribadi
Pertama-tama, tentang peran Roh Kudus dalam pribadi, mari kita belajar dari pengajaran Paulus di dalam 1 Korintus 12:3 dan pernyataan Tuhan Yesus sendiri di dalam Injil Yohanes 14 dan 16.
Pertama, Roh Kudus melahirbarukan umat pilihan Allah dan membawa mereka untuk percaya di dalam Kristus. Hal ini diajarkan Paulus di dalam 1 Korintus 12:3 bahwa tidak ada seorangpun yang dapat menyebut Yesus sebagai Tuhan selain oleh Roh Kudus. Di sini, kita melihat bahwa orang percaya dapat percaya kepada dan di dalam Kristus karena ada pekerjaan Roh Kudus yang telah melahirbarukan umat pilihan Allah dengan memberikan iman dan pertobatan serta keberanian untuk kembali kepada Kristus. Tanpa Roh Kudus memimpin, maka tak seorang pun dapat sendirinya memilih untuk percaya kepada Kristus. Jika ada orang yang berpendapat bahwa ia dapat sendirinya memilih untuk percaya kepada Kristus, berarti ia sedang berhalusinasi atau ia sedang menghina Roh Kudus. Karena adanya pekerjaan Roh Kudus, maka iman di dalam Kristus adalah anugerah Allah (sola gratia) yang diberikan hanya kepada umat pilihan yang telah Allah tetapkan (Efesus 1:3-6).


Kedua, Roh Kudus memimpin kita melakukan perintah-perintah Kristus dan menyertai kita selama-lamanya. Setelah Roh Kudus memimpin kita untuk percaya di dalam/kepada Kristus, maka Ia memimpin kita untuk melakukan perintah-perintah-Nya. Di dalam Yohanes 14:1-14, Tuhan Yesus sedang berbicara mengenai rumah Bapa dan hanya melalui Dia sajalah, manusia dapat sampai kepada rumah Bapa. Selanjutnya, di ayat 15, Tuhan Yesus bersabda, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” Kata “mengasihi” di dalam ayat ini dalam bahasa Yunani agapaō merupakan kasih yang sempurna yang tanpa syarat. Lalu, terjemahan King James Version, kedua frase antara “mengasihi Aku” dan “menuruti” TIDAK terdapat perbedaan waktu (sama-sama menggunakan present tense/waktu sekarang). Sehingga, arti ayat ini adalah ketika kita mengasihi Allah tanpa syarat atau tanpa meragukan Pribadi Allah, maka dengan sendirinya kita langsung menuruti/melakukan semua perintah-Nya. Tetapi bagaimana kita dapat mengasihi Allah dengan cara menaati perintah-perintah-Nya? Untuk itulah, Tuhan Yesus langsung melanjutkan perkataan-Nya di ayat 16-17, “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.” Kristus mengetahui bahwa kita sendiri tidak mungkin mampu menaati perintah-perintah-Nya, oleh karena itu Ia berjanji mengirim Penolong yang lain yang menyertai kita selama-lamanya. Kata Penolong di dalam bahasa Inggris Comforter berasal dari bahasa Yunani paraklētos berarti consoller, intercessor. Albert Barnes di dalam tafsirannya Albert Barnes’ Notes on the Bible memberikan perluasan arti kata Penolong ini, “a counsellor, a guide, a friend” (=konselor, pemimpin, teman). Lalu, Adam Clarke di dalam tafsirannya Adam Clarke’s Commentary on the Bible memberikan perluasan arti yang lain dari kata Penolong, “an advocate, a defender of a cause, a counsellor, patron, mediator” (=penyokong, pembela perkara, penasehat, pelindung, pengantara). Jadi, Penolong yang lain yang adalah Roh Kebenaran itu menjadi pemimpin kita di dalam hidup sehari-hari, penasehat kita ketika kita sedang melakukan dosa yang melawan Allah, pelindung kita ketika kita sedang mengalami marabahaya, sahabat yang baik ketika kita sedang berada di dalam kesusahan/kesendirian dan pengantara antara kita dengan Allah.
Sebagai Pemimpin, Roh Kudus memimpin hidup kita sehingga hidup kita menggenapkan kehendak Allah. Di dalam Alkitab, kita melihat Roh Kudus memimpin hidup Paulus di dalam setiap karya penginjilan yang ia lakukan, bahkan Roh Kudus melarang Paulus dan Silas memberitakan Injil di Asia lalu memimpinnya untuk memberitakan Injil ke Makedonia melalui suatu penglihatan, dan terhadap penglihatan itu, Paulus dan Silas taat (Kisah 16:6-12). Roh Kudus memimpin mereka untuk menginjili daerah Makedonia dan bukan Asia, karena daerah Makedonia termasuk daerah Eropa, di mana penduduknya dikuasai oleh berbagai filsafat Yunani, sehingga hanya Paulus yang pintar (menguasai filsafat Yunani) yang dapat bersoal jawab dengannya dan memberitakan Injil kepada mereka. Sedangkan untuk daerah Asia, Tuhan mempercayakan penginjilan kepada Petrus. Di sini, kita melihat Roh Kudus memimpin hidup kita untuk menggenapkan apa yang Tuhan inginkan, bukan apa yang kita inginkan sendiri. Bagaimana dengan hidup kita ? Apakah kita sebagai orang Kristen hanya mau menjalankan kehendak kita sendiri ataukah kita mau dengan taat dan rela menaati dan melakukan apa yang Tuhan inginkan di dalam hidup kita ? Beranikah kita mengambil keputusan dengan pencerahan Roh Kudus untuk menaati perintah-perintah-Nya ? Kalau kita berani, itulah tandanya kita mengasihi Allah dengan kasih yang sempurna. Jika tidak, janganlah kita berani mengatakan bahwa kita mencintai/mengasihi-Nya, padahal kita lebih senang mengerjakan apa yang kita kehendaki.
Sebagai Penasehat, Roh Kudus menasehati dan menegur kita ketika kita mulai melakukan dosa terhadap Allah. Di sini, bukan hanya hati nurani manusia biasa yang berbicara, tetapi ada Pribadi Roh Kudus di dalam hati orang percaya yang akan menegurnya ketika ia mulai berdosa. Mengapa Roh Kudus menegur dosa ? Karena Roh Kudus adalah Pribadi Allah yang kudus yang membenci dosa. Adalah suatu absurditas yang konyol ketika banyak “pemimpin gereja” menggembar-gemborkan Roh Kudus, tetapi hidupnya tidak kudus, bahkan lebih amoral daripada orang-orang yang non-Kristen. Ketika kita mau melakukan dosa, Roh Kudus pasti bersuara menegur kita, pertanyaan selanjutnya, apakah kita mau mendengarkan suara-Nya atau kita bersikukuh dengan keinginan berdosa kita sendiri ? Ketika kita menaati suara-Nya, itulah tandanya kita mengasihi-Nya karena kita membenci dosa dan mencintai Allah/Kebenaran dan Kekudusan.
Sebagai Pelindung, Roh Kudus melindungi kita ketika kita berada di dalam marabahaya. Ketika kita menghadapi suatu pencobaan, penganiayaan, penderitaan, dll, kita mungkin terasa sendiri, tetapi ingatlah satu hal bahwa Roh-Nya yang Kudus tidak pernah akan meninggalkan kita. Ketika di dalam penginjilan, Paulus mengalami penganiayaan yang mengakibatkan dirinya hampir meninggal, Roh Kudus datang untuk menguatkan Paulus di dalam memberitakan Injil. Roh Kudus pulalah yang melindungi Paulus dengan cara mencerahkan Paulus ketika harus berhadapan dengan para pembesar Yahudi dan Romawi yang mendakwanya. Ini semua adalah bukti bahwa Roh Kudus tidak pernah meninggalkan kita dan selalu bersama kita ketika kita mengerjakan pekerjaan Allah. Biarlah ini menjadi penghiburan bagi kita.
Sebagai Sahabat, Roh Kudus menghibur kita ketika kita sedang dalam keadaan tersendiri. Bagaimana caranya ? Roh Kudus akan memimpin dan mencerahkan hati dan pikiran kita akan kebenaran Firman yang menguatkan dan menghibur kita bahwa Tuhan adalah gembala kita, sehingga kita tidak perlu takut di dalam keadaan tersendiri sekalipun. Di sini, saya mengaitkan peran Roh Kudus dan Firman bagi hidup orang percaya. Jangan memisahkan antara Firman dan Roh Kudus, karena Roh Kudus mewahyukan Firman (Alkitab). Roh Kudus datang menghibur kita bukan dengan memberi pengalaman yang aneh-aneh yang melebihi/di luar Alkitab, tetapi Ia datang menghibur dan menjadi sahabat bagi kita melalui pencerahan Firman Tuhan. Sebaliknya, kalau setan datang “menghibur”, ia akan menawari kita dengan berbagai tanda-tanda supranatural yang malahan membawa kita jauh dari Allah.
Terakhir, sebagai Pengantara, Roh Kudus menjadi pengantara antara kita dengan Allah di dalam doa. Di dalam Roma 8:26-27, Paulus mengajarkan bahwa Roh Kudus menjadi “penyeleksi” doa-doa yang kita panjatkan kepada Bapa di Surga di dalam Kristus. Dengan kata lain, struktur doa Kristen : kita berdoa kepada Allah Bapa di dalam nama Tuhan Yesus Kristus melalui Roh Kudus. Jadi, tidaklah benar, kalau ada “pemimpin gereja” yang mengajarkan : doa kepada Roh Kudus atau doa di dalam Roh Kudus. Mengapa Ia menjadi “penyeleksi” doa-doa kita dan pendoa bagi kita ? Jawabannya ada di dalam Roma 8:27, yaitu karena Allah yang menyelidiki hati nurani mengetahui maksud Roh Kudus bahwa Ia, sesuai kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus.


Ketiga, Roh Kudus mengajarkan dan mengingatkan Kebenaran Kristus kepada kita. Hal ini tercatat di dalam Yohanes 14:26, di mana Tuhan Yesus berfirman, “tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” Selain memimpin kita menaati perintah-perintah-Nya, Ia sendiri juga akan mengajar kita dengan cara mengingatkan kita tentang apa yang Kristus telah katakan. Dewasa ini, banyak “pemimpin gereja” yang gemar sekali berbicara tentang Roh Kudus, tetapi herannya yang dibicarakan selalu merupakan hal-hal yang di luar Alkitab, padahal di dalam bagian ini, Roh Kudus datang untuk mengingatkan orang percaya tentang perkataan-perkataan Kristus. Artinya, secara implikasi di dalam zaman kita, Roh Kudus datang untuk mengingatkan kita tentang Firman Tuhan (Alkitab) yang sudah sempurna diwahyukan, bukan memberikan “wahyu-wahyu” baru di luar Alkitab. Dengan kata lain, Roh Kudus mencerahkan (illuminates) kita tatkala kita sedang membaca Alkitab atau mungkin kita sedang mengalami kesulitan. Pokoknya, peran Roh Kudus tidak bisa dilepaskan dari Alkitab, Firman Allah. Ketika seseorang berusaha memisahkannya dengan beribu alasan “rohani” sekalipun, itu tidaklah sah dan menghujat Roh Kudus sendiri, karena Roh Kudus datang untuk mengajarkan dan mengingatkan apa yang telah Kristus ajarkan. Mengapa ? Karena Roh Kudus datang untuk memuliakan Kristus (hal ini akan dibahas pada poin berikutnya).


Keempat, Roh Kudus menegur dosa, memimpin manusia kepada kebenaran, memuliakan Kristus dan mengingatkan kita akan hari penghakiman. Hal ini tercatat di dalam Yohanes 16:8-14. Selain mengajarkan dan mengingatkan kita tentang perkataan-perkataan Kristus, Roh Kudus datang untuk menegur dosa, memimpin manusia kepada kebenaran dan memuliakan Kristus. Pertama, Roh Kudus datang untuk menegur dosa. Adalah suatu absurditas ketika ada “pemimpin gereja” mengatakan bahwa orang Kristen harus saling mengasihi, oleh karena itu tidak perlu menegur dosa, karena Allah adalah Kasih. Allah yang Kasih bukanlah Allah yang menolerir segala dosa, karena Ia adalah Mahakudus. Karena Ia adalah Allah yang Mahakudus, maka Roh Kudus datang untuk menegur dosa. Jika ada yang mengklaim “Roh Kudus”, tetapi “Dia” tidak menegur dosa, maka berhati-hati terhadap roh ini, karena ini jelas bukan Roh Kudus, karena Roh Kudus yang sejati menegur dosa. Kalau Roh Kudus menegur dosa, maka hamba-hamba Tuhan sejati yang dipenuhi Roh Kudus pun berani menegur dosa dengan segala kesabaran dan pengajaran (2 Timotius 4:2). Kembali, adalah suatu absurditas jika ada “hamba Tuhan” yang tidak berani menegur dosa dengan alasan “rohani” : “Kasih”. Bukan hanya menegur dosa, Roh Kudus juga memimpin manusia kepada kebenaran. Kata “kebenaran” di sini dalam bahasa Yunaninya dikaiosunē yang berarti righteousness (=kebenaran keadilan) atau kebenaran di dalam proses. Dengan kata lain, Roh Kudus memproses kita untuk makin lama makin menyerupai Kristus dengan cara kita menaati Firman-Nya (kembali ke poin pertama peran Roh Kudus). Ketika Roh Kudus memimpin kita kepada kebenaran, itu berarti Roh Kudus yang sama menolong kita untuk berani meninggalkan dosa dan manusia lama kita. Adalah suatu absurditas jika ada orang “Kristen” yang selalu mengklaim dipenuhi “Roh Kudus”, tetapi hidupnya masih amoral. Lalu, bagaimana caranya Roh Kudus memimpin kita kepada kebenaran ? Dengan mengingatkan umat pilihan-Nya tentang Firman Kristus (kembali kepada peran Roh Kudus pertama di atas). Mengapa harus memakai Firman Kristus ? Apakah ini berarti Roh Kudus tidak memiliki Firman-Nya sendiri ? TIDAK ! Roh Kudus datang bukan untuk mengatakan sesuatu di luar Firman Kristus, tetapi mengajar Firman Kristus, karena Roh Kudus datang untuk memuliakan Kristus, bukan diri Roh Kudus sendiri (baca : Yohanes 16:13-14). Dengan kata lain, barangsiapa yang mengklaim dipenuhi “Roh Kudus” tetapi tidak memuliakan Kristus, maka itu jelas bukan dari Roh Kudus, karena Roh Kudus datang untuk memuliakan Kristus. Terakhir, Roh Kudus datang mengingatkan kita tentang hari penghakiman. Artinya, pertama, Roh Kudus datang untuk memimpin kita terus hidup di dalam kemenangan bersama Kristus karena Roh Kudus mencerahkan kita bahwa di akhir zaman, Kristus datang sebagai Hakim yang pasti mengalahkan musuh-musuh-Nya (Roh Kudus memberikan kekuatan dan penghiburan serta pengharapan bagi umat Allah). Selain itu, Roh Kudus yang mengingatkan kita akan hari penghakiman berarti Roh Kudus yang mengingatkan kita agar kita tidak terus-menerus berbuat dosa sebelum akhir zaman tiba.


Peran Roh Kudus Dalam Pelebaran Kerajaan Allah
Kedua, peran Roh Kudus dalam memperlebar/memperluas Kerajaan Allah mencakup beberapa hal :
Pertama, Roh Kudus memimpin pengabaran Injil. Hal ini diajarkan di dalam Kisah 1:8, di mana Tuhan Yesus sendiri berfirman, “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Roh Kudus sejati memimpin umat pilihan dan gereja-Nya melakukan pekabaran Injil, sehingga barangsiapa yang mengklaim dipenuhi “Roh Kudus” tetapi tidak mengabarkan Injil sejati, maka itu jelas bukan dari Roh Kudus. Mengapa penginjilan diperlukan ? Beberapa orang “Kristen” menolak penginjilan dengan alasan “rohani” : orang-orang pilihan akan dengan sendirinya percaya kepada Kristus atau alasan bahwa Matius 28:19-20 hanya ditujukan kepada para murid. Benarkah demikian ? TIDAK. Kedaulatan Allah yang memilih beberapa orang untuk diselamatkan sejak kekekalan adalah tanggung jawab-Nya sendiri dan di dalam kedaulatan-Nya, Ia tetap memberikan mandat kepada manusia untuk bertanggungjawab mengabarkan Injil-Nya. Dengan kata lain, mengutip pernyataan Pdt. Billy Kristanto, kita melakukan apa yang menjadi kewajiban/tugas kita (yaitu menginjili) dan Allah melakukan apa yang menjadi tugas-Nya (memilih beberapa orang untuk diselamatkan).


Kedua, Roh Kudus memberikan karunia-karunia supranatural untuk memuliakan Allah dan membangun jemaat. Hal ini pertama kali dicatat di dalam Kisah Para Rasul 2:1-13 ketika orang percaya berkumpul, maka Roh Kudus datang dengan tanda-tanda yang mengherankan yaitu tiupan angin keras, lidah-lidah api yang hinggap di atas kepala mereka dan mereka mulai berkata-kata dengan bahasa lain (bahasa Roh). Tetapi nats ini tidak hanya berhenti di sini, orang-orang yang berbahasa lidah ini menggunakan karunia Roh ini bukan untuk disombongkan atau dipamerkan atau sebagai kriteria pembeda orang Kristen yang beriman dan yang tak beriman, tetapi untuk mengabarkan Kristus kepada orang-orang yang berbeda bahasa/suku/bangsa dengan kita supaya mereka mengerti Injil dengan bahasa-bahasa mereka (baca Kisah 2:8-41). Karunia bahasa lidah dipergunakan untuk memuliakan Allah, tetapi herannya dewasa ini, orang yang mengklaim berkarunia lidah selalu dipergunakan untuk menyatakan kehebatan diri atau menjadi kriteria pembeda antara orang yang “beriman” dengan yang tak “beriman” (ada yang mengajarkan bahwa orang “Kristen” yang mau melayani harus bisa berbahasa lidah).

Lebih lanjut tentang bahasa lidah, Paulus menguraikan dengan tuntas di dalam 1 Korintus 12-14. Sebagai pendahuluan, kitab 1 Korintus 12-13 merupakan prinsip penting di dalam memahami karunia Roh yang di dalamnya terkandung beberapa hal, yaitu : pertama, karunia Roh Kudus dimaksudkan untuk menyatakan kemuliaan Kristus (1 Korintus 12:3). Kedua, Roh Kudus yang satu memberikan karunia-karunia kepada orang-orang pilihan-Nya secara beraneka ragam, sehingga tidak boleh ada pemaksaan (1 Korintus 12:4-6). Ketiga, karunia-karunia Roh Kudus dipergunakan untuk membangun komunitas jemaat Tuhan/bersama di dalam satu tubuh Kristus (1 Korintus 12:7,12-30). Keempat, karunia-karunia Roh Kudus diberikan kepada masing-masing orang pilihan-Nya sesuai dengan kehendak-Nya (1 Korintus 12:11), sehingga tidaklah benar jika ada gereja yang mengajarkan jemaatnya untuk meminta “Roh Kudus” untuk memberikan karunia bahasa roh ! Kelima, semua karunia Roh Kudus harus tunduk di bawah Kasih, karena yang lebih utama dari karunia Roh Kudus adalah kasih (1 Korintus 12:31-13:13).
Setelah itu, mari kita masuk ke dalam pembahasan 1 Korintus 14:1-40 tentang penggunaan bahasa roh. Ada beberapa prinsip penggunaan bahasa roh di dalam pasal 14 ini dan prinsip ini BUKAN “membatasi” Roh Kudus, tetapi membiarkan Roh Kudus bekerja dengan bebas dengan mengikat diri-Nya sendiri. Artinya, Roh Kudus sejati tidak mungkin menyangkali apa yang telah Dia wahyukan melalui Alkitab ! Mari kita memperhatikan beberapa prinsip tentang penggunaan bahasa roh ini :
Pertama, karunia Roh yang penting BUKAN berbahasa lidah/roh tetapi bernubuat (ayat 1). “Bernubuat” tidak boleh langsung diidentikkan dengan karunia menyatakan hal-hal yang akan datang. Nubuat bisa berarti menyatakan hal-hal yang telah, sedang dan akan terjadi. Sehingga “bernubuat” identik dengan “berkhotbah atau menyampaikan Firman Allah.” Mengapa bernubuat ini lebih penting daripada bahasa roh ? Karena di dalam ayat 2-4, Paulus mengatakan bahwa bahasa roh itu hanya membangun diri sendiri, sedangkan karunia bernubuat membangun Jemaat. Orang yang terlalu mementingkan bahasa roh berarti orang itu EGOIS, karena tidak mementingkan apakah orang lain mengerti atau tidak !
Kedua, karunia bahasa roh harus ditafsirkan/diterjemahkan (ayat 5-13). Mengapa bahasa roh perlu ditafsirkan ? Karena bahasa roh hanya membangun diri dan hanya dapat membangun Jemaat ketika bahasa roh itu diterjemahkan supaya orang lain dalam Jemaat Tuhan mengerti artinya. Jika tidak diterjemahkan, Paulus mengatakan bahwa kata-kata itu sia-sia diucapkan di udara (ayat 9-10).
Ketiga, karunia bahasa roh harus berisi penyataan Allah atau pengetahuan atau nubuat atau pengajaran (ayat 6). Ini berarti ada sesuatu yang Allah ingin sampaikan kepada manusia melalui bahasa lidah YANG DITERJEMAHKAN. Pikirkanlah kalau bahasa roh tidak diterjemahkan, bagaimana bisa manusia menangkap apa yang hendak Allah sampaikan itu ?!
Keempat, bahasa manusia biasa lebih penting daripada beribu bahasa roh tanpa arti (ayat 18-19). Ayat 18 sering dipotong oleh banyak “hamba Tuhan” gerakan Kristen kontemporer lalu mengajarkan bahwa orang Kristen harus berbahasa roh karena Paulus juga berbahasa roh. Ayat ini memang sengaja dilepaskan dari ayat 19 (supaya cocok dengan doktrin Karismatik/Pentakostanya) yang mengatakan, “Tetapi dalam pertemuan Jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa roh.” Jadi, bahasa yang dapat dimengerti lebih penting dipergunakan di dalam Jemaat ketimbang menggunakan bahasa roh yang tidak berarti.
Kelima, karunia bahasa roh adalah tanda untuk orang-orang yang beriman anak-anak/tidak beriman, sedangkan karunia menyampaikan Firman/bernubuat adalah tanda untuk orang-orang yang beriman (ayat 22). Jangan membalik atau memelintir arti ayat ini seperti pengajaran dari buku “Pdt.” Abraham Alex Tanuseputra dari Bethany ! Ayat ini sangat amat jelas dan berkaitan dengan ayat 20-21, di mana Allah memakai lidah-lidah asing untuk menghukum bangsa Israel, tetapi kenyataan mereka tetap tidak mau mendengarkan-Nya. Jadi, bahasa roh cocok untuk orang “Kristen” yang beriman dan bermental anak-anak yang ingin dimanja terus, sedangkan orang Kristen sejati yang beriman dewasa tidak lagi perlu minum susu, tetapi makan makanan yang keras melalui khotbah dan pengajaran Firman Tuhan.
Keenam, bahasa roh harus disertai dengan karunia Roh lainnya (ayat 26) untuk membangun tubuh Kristus. Mementingkan karunia bahasa roh dan membuang karunia Roh lainnya adalah suatu ciri kesesatan di dalam gereja Tuhan !
Ketujuh, bahasa roh yang dipergunakan di dalam Jemaat harus diucapkan maksimal tiga orang, bergiliran dan harus diterjemahkan (ayat 27). Diucapkan maksimal tiga orang dan bergiliran, supaya bahasa roh sejati itu tidak liar dan tidak dipakai setan untuk mengacaukan jemaat ! Lalu, bahasa roh perlu diterjemahkan (lihat ciri/prinsip kedua) agar Jemaat Tuhan boleh dibangun imannya. Jadi, bahasa roh yang banyak dipergunakan di banyak gereja Karismatik/Pentakosta MUTLAK PALSU, mengapa ? Karena melanggar prinsip Alkitab ini, yaitu maksimal tiga orang, bergiliran dan harus diterjemahkan.
Kedelapan, bahasa roh yang tidak memenuhi prinsip ayat 27 tidak boleh diucapkan di dalam Jemaat (ayat 28). Entah ajaran dari mana ketika ada seorang song leader berani mengajarkan atau mengajak jemaatnya untuk bersama-sama berbahasa roh, padahal Alkitab tidak mengajarkan adanya pengucapan bahasa roh secara serentak atau berupa ajakan ! Ceklah Alkitab !
Kesembilan, prinsip penggunaan bahasa roh harus sopan dan teratur, karena ALLAH TIDAK MENGHENDAKI KEKACAUAN (ayat 33 dan 40). Jadi, dapat disimpulkan, setiap kebaktian dan gereja yang melanggar atau memelintir prinsip 1 Korintus 14 tentang penggunaan bahasa roh sejati ini adalah kebaktian yang mengacaukan dan jelas bukan berasal dari Allah (mungkin dari diri sendiri/halusinasi atau sangat mungkin sekali dari setan).

Pada akhirnya, semua karunia Roh Kudus dipergunakan untuk memperluas Kerajaan Allah di muka bumi ini dan membangun Jemaat di dalam pengenalan akan Allah dan Firman-Nya. Semua karunia Roh yang melawan prinsip-prinsip Alkitab ini tentulah bukan karunia Roh sejati, mungkin adalah karunia roh palsu atau pekerjaan iblis yang menyamar sebagai malaikat terang.


Diharapkan melalui refleksi kita pada hari Pentakosta, kita dapat diteguhkan imannya bahwa Roh Kudus sejati memimpin kita dan gereja-Nya untuk menggenapkan dan memperluas Kerajaan dan kehendak Allah di bumi ini agar nama-Nya sajalah yang dipermuliakan selama-lamanya. Sudahkah kita mengalami pimpinan-Nya di dalam kehidupan kita sehari-hari untuk menggenapkan kehendak dan rencana-Nya dalam kehidupan kita. Soli Deo Gloria. Amin.




Euaggelion Ministries (Pelayanan Pribadi)
Webblog : http://dennytan.blogspot.com

23 May 2007

Matius 3:1-5 : YOHANES PEMBAPTIS


Ringkasan Mimbar di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Andhika, Surabaya tanggal 21 Maret 2004

Yohanes Pembaptis
oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 3:1-5




Matius mengakhiri berita kelahiran Yesus dengan berita kepindahan Yusuf ke Galilea di kota Nazaret supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi-nabi, bahwa Ia akan disebut: Orang Nazaret (Mat. 2:23). Matius tidak mencatat masa kecil Yesus seperti halnya Lukas; karena Matius merasa tidak ada sesuatu yang signifikan untuk manusia. Matius justru melihat signifikansi peranan Yohanes Pembaptis sebagai fore rider, dan dimulainya misi Kerajaan Allah untuk diberitakan pada manusia. Yohanes Pembaptis sebagai pembuka jalan bagi Tuhan Yesus, telah mencetuskan prinsip “Kerajaan Sorga“ terlebih dahulu. Semua ini tidak lepas dari campur tangan Allah yang telah menetapkan Yohanes Pembaptis sebagai fore rider termasuk kelahirannya yang 6 bulan lebih cepat dari Yesus dan hubungan kekerabatannya sebagai saudara sepupu.
Hubungannya yang dekat dengan Tuhan Yesus seharusnya bisa membuat dirinya menjadi “besar“, dia dapat menyombongkan diri namun dengan rendah hati ia mengaku di hadapan Yesus akan keberadaan dirinya yang tidak layak (Mat. 3:11,14). Yohanes Pembaptis telah memberikan teladan yang baik bagi setiap orang Kristen to how to be a good Christian. Kenapa? Orang yang mempunyai jabatan/posisi tinggi, biasanya sulit untuk dia tidak menjadi sombong; sebaliknya orang akan menjadi rendah diri bila tidak mempunyai sesuatu yang dapat dibanggakan akibatnya orang akan berusaha keras untuk mendapatkan sesuatu, seperti jabatan atau kekayaan supaya dihormati. Dosa telah mencengkeram hidup manusia dengan kuat sehingga sukar bagi manusia untuk lepas.
Ironisnya, hari ini tidak hanya para pejabat atau orang kaya saja yang “belagu“, anaknya pun ikut-ikutan “belagu“ bahkan cenderung mempunyai pola tingkah laku rusak; mereka hanya mendompleng untuk menaikkan pamor dirinya. Sayang, mereka telah menyia-nyiakan semua kapasitas dan kesempatan yang ada pada dirinya. Padahal “anak“ itu sendiri mempunyai dua arti, yakni: 1) secara esensial, berarti ada kesamaan natur antara orang tua dan anaknya, contoh: anak kambing berarti induknya juga kambing 2) secara ekstensial, contoh: anak dokter, anak pejabat, dll bukan berarti dia seorang dokter. Semua arti ekstensial bila dipaksakan menjadi esensial pasti timbul kerusakan yang fatal. Matius ingin agar kita meneladani sikap hidup dan pelayanan Yohanes Pembaptis dengan demikian kita dapat menjadi seorang hamba Tuhan yang baik dan yang berkenan kepada Allah.
1. Low Profile Ministry
Dengan kelahirannya yang mengherankan seharusnya Yohanes Pembaptis bisa menyombongkan diri; ia dikandung oleh Elizabeth yang mandul, ayahnya bisu selama ia dikandung dan dapat berbicara kembali setelah dilahirkan; ia mempunyai hubungan saudara dengan Tuhan Yesus. Namun, keistimewaan tersebut tidak membuatnya menjadi tinggi hati, ia justru memandang dirinya rendah. Sama seperti Paulus yang menganggap semua kelebihan yang ada pada dirinya sebagai sampah karena pengenalan akan Yesus Kristus (Flp. 3:8). Dunia modern selalu menuntut kita agar mempunyai identitas diri/sesuatu yang bernilai untuk menjadi kebanggaan tetapi melalui Yohanes Pembaptis kita disadarkan bahwa seorang hamba Tuhan yang baik harus low profile dan ingat, Tuhan memandang rendah segala sesuatu yang menjadi kesombongan manusia.
Teladan lain yang ditunjukkan Yohanes Pembaptis, yaitu ia tidak mementingkan sarana dan prasarana disaat melayani; dia tidak berkhotbah di tempat yang besar seperti di Bait Allah tapi ia justru berkhotbah di padang gurun Yudea. Ironisnya, hari ini banyak hamba Tuhan lebih mengutamakan sarana daripada isi Firman, itulah sebabnya kita lebih memilih menggunakan istilah “mimbar“ daripada “pos PI“ karena kata "pos" lebih menunjuk pada gedung. Kita harus mengutamakan hal yang primer maka dengan sendirinya semua yang sekunder tetap menjadi sekunder sebaliknya kalau hal-hal sekunder kita jadikan primer maka posisi menjadi terbalik. Jadi, Firman Tuhan lebih utama dibanding gedung gereja ataupun sarana yang lain.
Waspadalah dengan akal si iblis yang selalu ingin memutarbalikkan kebenaran. Hendaklah prinsip Yohanes Pembaptis yang sadar bahwa Dia yang harus makin bertambah dan dirinya harus semakin berkurang boleh menjiwai hidup pelayanan kita. Yohanes Pembaptis lebih mengutamakan misi Kerajaan Surga; dia tidak peduli dengan segala keistimewaan dan keunggulan yang ada pada dirinya. Paulus pun juga menyadari bahwa Kristus yang adalah Allah namun Ia telah mengosongkan diriNya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia (Flp. 2:6-7). Biarlah kita mempunyai sikap rendah hati dalam pelayanan sehingga bersama-sama kita membangun tubuh Kristus.

2. Controversy Ministry
Di tengah-tengah kesombongan orang Yahudi yang selalu ingin menaklukkan setiap musuh-musuhnya dan menegakkan Yudaisme, Yohanes Pembaptis justru memberitakan: ”Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” Berita ini sangat mengejutkan orang-orang Yahudi pada jaman itu bahkan sampai detik ini, berita ”Kerajaan Sorga sudah dekat” masih dianggap berita kontroversi. Banyak orang Kristen takut mewartakan kebenaran, yaitu semua manusia di dunia berdosa dan satu-satunya jalan supaya manusia diselamatkan hanya melalui Yesus Kristus. Inilah berita Injil yang sejati yang menjadi berita kontroversial sejak jaman Yohanes Pembaptis hingga sekarang. Kita dapat melihat hal ini dengan banyaknya perdebatan dan pertentangan yang timbul ketika gerakan Reformed hendak memberitakan ”Yesus Kristus Juruselamat Dunia” melalui KKR di beberapa kota.
Orang Kristen yang takut memberitakan berita Injil karena dianggap sebagai berita yang kontroversi tidak berhak menyebut dirinya ”Kristen”. Jangan pernah berpikir, suatu saat nanti berita Injil tidak akan menjadi berita yang kontroversi justru berita yang kontroversi itulah berita kebenaran yang sejati. Tuhan Yesus pun sama seperti Yohanes Pembaptis memberitakan berita yang kontroversi, yaitu: ”Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” (Mat. 4:17); Dia tidak takut meskipun untuk itu banyak musuh dan dibenci dunia. Orang Kristen dapat menjalankan misi Kerajaan Allah bila ia mempunyai sikap rendah hati, low profile. Hati-hati rendah hati berbeda dengan rendah diri dan low profile jangan membuat low spiri. Orang rendah diri adalah orang yang ingin mencapai sesuatu yang bernilai tinggi supaya dapat dipakai untuk menyombongkan diri namun karena ia tidak dapat mencapainya akibatnya ia tidak mempunyai daya juang untuk mengerjakan segala sesuatu termasuk memberitakan berita kontroversi. Sebaliknya, orang yang rendah hati bukanlah orang yang kehilangan spirit tapi ia justru berani memberitakan berita kontroversi.
Filsafat timur berpendapat bahwa dalam menjalankan hidup, manusia harus menjadi seperti air yang senantiasa mengalir; kerikil bahkan batu sebesar apapun tidak akan membuat air berhenti mengalir. Kini, filsafat ini telah mempengaruhi dunia modern, sebagai contoh: gerakan new age telah menyebar ke seluruh dunia. Setiap kesulitan yang menghadang di saat berita Injil disampaikan tidak boleh membuat anak Tuhan menjadi ciut justru dengan kekuatan Tuhan kita harus berani menghadapinya. Jadi, filosofi ini tidak cocok untuk seorang anak Tuhan sejati. Jangan takut kuasa Tuhan lebih besar dari kuasa dunia; Dia pasti akan memberikan kekuatan dan penghiburan ketika kita menghadapi tantangan.
Hati-hati dengan ajaran liberal yang sudah merasuki kekristenan. Kaum liberal tidak mau memberitakan berita Injil yang utama, yaitu berita Yesus Kristuslah satu-satunya Juruselamat Dunia (Yoh. 14:6) karena dianggap sebagai berita kontroversi yang hanya akan menimbulkan pertentangan. Kebenaran sejati selalu dimusuhi oleh ketidakbenaran karena kebenaran sejati akan menelanjangi ketidakbenaran; kebenaran sejati akan mencoreng ketidakbenaran. Ironisnya, orang justru menganggap ketidakbenaran sebagai kebenaran dan kebenaran itu sendiri dianggap sebagai eksklusivitas. Ingat, jangan mudah terpengaruh dengan segala ajaran dunia karena semua yang diajarkan dunia pasti bertentangan dengan Firman Tuhan. Karena itu, bertobatlah, hai, engkau yang mengaku diri Kristen tapi telah menyelewengkan berita kebenaran.
Hanya iman sejati, yaitu iman dalam Yesus Kristus yang dapat membuat kita taat melakukan firmanNya. Manusia harus taat dulu barulah kemudian ia memperoleh pengertian sejati karena kalau logika manusia yang membuat orang taat pada Tuhan maka dapat dikatakan ia tidak mempunyai iman sejati. Justru karena kita tidak mengerti apa yang menjadi rencana dan maksud Tuhan itulah maka kita berjalan dengan iman setelah itu barulah kita akan memperoleh pengertian yang benar. Bukankah setiap hari setiap saat kita melangkah dengan iman karena jalan Tuhan sukar dimengerti logika manusia? Sebagai anak Tuhan, kita harus berani menyatakan kebenaran meski kebenaran itu bersifat kontroversi, yakni setiap manusia di dunia berdosa dan hanya Yesus satu-satunya Juruselamat. Dosa adalah dosa, tidak ada setitik pun alasan yang dapat membenarkan kita untuk kita dapat berbuat dosa. Alasan dibuat manusia untuk menutupi kesalahan yang telah diperbuatnya.

3. Sacrifice Ministry
Ketika melayani Tuhan, seorang Kristen sejati harus berani berkorban, berani menderita, dan berani menghadapi segala tantangan maupub resiko; orang Kristen harus berani melawan arus dunia. Pada umumnya, orang Kristen takut memberitakan Injil karena takut akan resiko yang harus dihadapi. Dunia menjuluki mereka sebagai ”smallman”, yaitu orang yang mau enak saja tetapi tidak mau susahnya, dia tidak mau bertanggung jawab, dia lari ketika menghadapi resiko. Sebaliknya orang yang berani menghadapi resiko sebagai akibat dari tanggung jawab yang harus dihadapinya disebut ”gentleman”, dialah orang bernilai tinggi. Orang Kristen harus menjadi seorang gentleman, berani berbuat harus berani bertanggung jawab dan menghadapi segala resiko. Di dunia bisnis, banyak orang yang takut rugi, tidak berani menghadapi resiko ketika hendak menjalankan bisnisnya sehingga solusi yang dianggap paling tepat adalah MLM (Multi Level Marketing). Ingat, orang Kristen tidak boleh menjalankan MLM. Apakah seseorang dapat dikatakan sukses bila kesuksesan tersebut didapat dari hasil berjudi?
Seorang pemimpin yang baik adalah seorang yang berani memperjuangkan segala hal tanpa harus takut menghadapi segala resiko. Akan tetapi orang yang demikian belum dapat dikatakan sebagai seorang Kristen sejati because he just do it by responsibility. Kristen sejati harus mempunyai komitmen, bukan sekedar tanggung jawab. Komitmen mengandung unsur inisiatif, kerelaan hati. Jadi, jangan mengerjakan tugas atau berkorban karena sebatas tanggung jawab. Yohanes Pembaptis tahu bahwa untuk membela kebenaran, ia harus berani berkorban. Yohanes Pembaptis rela berkorban nyawa, dipenggal kepalanya oleh Herodes demi untuk membela kebenaran. Bagaimana dengan kita? Relakah kita berkorban demi untuk Kerajaan Sorga diberitakan di muka bumi ini?
Orang yang berinisiatif, yaitu orang yang mengajukan usul demi untuk perbaikan dalam pelayanan, demi untuk mengembangkan Kerajaan Sorga di bumi maka dialah yang terlebih dahulu harus mengerjakannya dan ia harus berani menerima segala resiko. Pengorbanan yang agung itu dapat kita lihat dari teladan Kristus. Dia adalah Allah, Dia berhak menolak tapi karena kasihNya pada manusia membuatNya berinisiatif datang ke dunia dan menjadi serupa dengan dunia untuk menebus dosa. Itulah arti pengorbanan yang sesungguhnya; dengan kuasa yang ada pada diriNya Dia berhak dan tidak harus mati disalib tetapi karena kasihNya Dia rela berkorban untuk kita dan menggenapkan misi Kerajaan Sorga di bumi.

4. Godly Ministry
Sia-silah semua pengorbanan kalau dilakukan untuk dunia tetapi semua pengorbanan tidak akan menjadi sia-sia kalau kita melakukannya demi untuk kemuliaan Tuhan. Allah akan akan menghargai semuanya itu. Biarlah seluruh hidup dan pelayanan kita hanya berpusat pada Tuhan. Seperti Yohanes Pembaptis yang tidak hanya sekedar berteriak–teriak untuk sesuatu hal yang sia-sia tetapi ia tahu dengan jelas tujuannya, yaitu memberitakan misi Kerajaan Sorga. Banyak aspek yang masih harus dikerjakan oleh setiap anak Tuhan tapi adakah orang yang berani berkorban demi berita Injil yang kontroversif digenapkan di dunia? Hendaklah dalam segala aspek hidup, kita peka akan pimpinan Tuhan dan biarlah kita mau bertekad untuk mau hidup menyenangkan hati Tuhan sehingga hidup kita bukan hidup yang berambisi dan kemudian dibuang dunia. Untuk mengerti kehendak Tuhan kita harus bergaul erat dengan Tuhan dalam setiap aspek hidup kita termasuk hal yang kecil dalam hidup sehari-hari. Dengan demikian kita menjadi seorang yang godly, saleh, yaitu orang yang mau taat pimpinan Tuhan, peka terhadap kehendak Tuhan dan hidup mau menyenangkan Tuhan. Biarlah hidup dan pelayanan Yohanes Pembaptis boleh menjadi teladan bagi kita dan memberi kekuatan dan keberanian pada kita untuk hidup melayani Tuhan di sepanjang hidup kita. Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber :

Resensi Buku-7 : REFORMASI DAN TEOLOGI REFORMED (Pdt. DR. STEPHEN TONG)

...Dapatkan segera...
Buku Seri Theologia Reformed

REFORMASI DAN TEOLOGI REFORMED

oleh : Pdt. DR. STEPHEN TONG

Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia (LRII), 1991.








Reformasi Luther merupakan peristiwa penting dalam sejarah gereja dan memberikan dampak khusus bagi perjalanan theologia selanjutnya. Namun Luther tidak terlalu mengembangkan theologia, perkembangan theologia dilakukan oleh Melanchton dan Calvin.

Khususnya theologia yang dikerjakan oleh John Calvin dengan begitu agung dan ketat kini menjadi dasar dari Gereja Reformed yang dikenal sebagai Theologia Reformed (atau Calvinisme).

Pdt. DR. STEPHEN TONG selaku pendiri dari Lembaga Reformed Injili Indonesia dan Gereja Reformed Injili Indonesia memberikan wawasan tentang pengertian Reformed dan Theologia Reformed.

Buku ini diharapkan bisa menjadi pengantar untuk selintas mengenal apa dan bagaimana Theologia Reformed.






Profil Pdt. DR. STEPHEN TONG :
Pdt. DR. STEPHEN TONG melayani Tuhan sejak tahun 1957, baik di dalam bidang penginjilan, teologi, maupun penggembalaan. Pelayanan beliau yang telah terbukti menjadi berkat bagi zaman ini telah menarik perhatian banyak pemimpin gereja, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Perhatian tersebut khususnya ditujukan kepada Reformed Theology yang senantiasa beliau tegaskan. Sejak tahun 1974, beliau mengadakan seminar-seminar di Surabaya. Pada tahun 1984, beliau mulai mengadakan Seminar Pembinaan Iman Kristen (SPIK) di Jakarta, untuk menegakkan doktrin Reformed dan semangat Injili. SPIK dipimpin Tuhan untuk menjadi pendahuluan bagi berdirinya Lembaga Reformed Injili Indonesia (LRII) pada tahun 1986, di mana Pdt. Dr. Stephen Tong mengajak Pdt. Dr. Yakub Susabda dan Pdt. Dr. Caleb Tong untuk menjadi pendiri bersama.

Selain memimpin SPIK, Pdt. Dr. Stephen Tong juga mendirikan Sekolah Teologi Reformed Injili (STRI) Surabaya (1986), STRI Jakarta (1987), dan STRI Malang (1990). Beliau juga memperluas seminar-seminar pembinaan iman tersebut ke kota-kota besar lainnya di Indonesia dan kota-kota di luar negeri, yang pelaksanaannya diserahkan kepada Stephen Tong Evangelical Ministries International (STEMI). Sejak tahun 1991 hingga saat ini (2006), Pdt. Dr. Stephen Tong menjabat sebagai Rektor STTRII (saat ini Rektor STTRII dipegang oleh Pdt. Yakub B. Susabda, Ph.D.) dan sejak tahun 1998 sebagai Rektor Institut Reformed.

Selain menegakkan doktrin Reformed di Indonesia, beliau juga pernah menjadi dosen tamu pada seminari-seminari di luar negeri, termasuk di China Graduate School of Theology di Hong Kong (1975 dan 1979), China Evangelical Seminary di Taiwan (1976), Trinity College di Singapura (1980, dan memberikan ceramah-ceramah termasuk di Westminster Theological Seminary, Regent College dan lain-lain di Amerika Serikat.

Di samping itu, Pdt. Dr. Stephen Tong pernah menjabat sebagai dosen teologi dan filsafat di Seminari Alkitab Asia Tenggara (1964-1988), pendiri STEMI (1979), pendiri Jakarta Oratorio Society (1986), pendiri Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) pada tahun 1989, Gembala Sidang GRII Pusat, ketua Sinode GRII, pendiri Institute Reformed for Christianity and the 21st Century (1996) di Indonesia dan Amerika, Christian Drama Society (1999).

Roma 1:24-25 : MURKA ALLAH TERHADAP KEBEBALAN MANUSIA-1

Seri Eksposisi Surat Roma :
Realita Murka Allah-4


Murka Allah Terhadap Kebebalan Manusia-1

oleh : Denny Teguh Sutandio


Nats : Roma 1:24-25

Setelah kita membahas tentang realita kebebalan manusia yang merasa diri pintar dan mengganti kemuliaan Allah dengan kemuliaan ciptaan yang terbatas pada ayat 21-23, maka sekarang kita akan menyoroti murka Allah kepada mereka pada bagian pertama di ayat 24-25.
Pada ayat 24-32, saya membagi murka Allah kepada kebebalan manusia menjadi tiga bagian, yaitu murka Allah yang menyerahkan mereka kepada keinginan hati yang jahat/cemar (ayat 24), hawa nafsu yang busuk (ayat 26) dan pikiran-pikiran yang terkutuk (ayat 28). Pada bagian ini, saya akan membahas murka Allah bagian pertama yaitu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati yang jahat. Pada ayat 24, Paulus mengajarkan, “Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka.” (Terjemahan Baru) atau Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) menerjemahkannya, “Oleh sebab itu Allah membiarkan mereka dikuasai oleh keinginan hati mereka untuk berbuat yang bejat, sehingga mereka melakukan hal-hal yang kotor terhadap sama sendiri.” King James Version (KJV) menerjemahkan, “Wherefore God also gave them up to uncleanness through the lusts of their own hearts, to dishonour their own bodies between themselves:” Kata “menyerahkan” dalam kalimat, “Allah menyerahkan mereka” di dalam BIS diterjemahkan “Allah membiarkan mereka”, lalu di dalam terjemahan KJV diterjemahkan God also gave them up (Allah melepaskan/menyerahkan mereka juga). Apakah ini berarti Allah sengaja merancangkan kejahatan kepada manusia ? TIDAK. Saya pikir kata “membiarkan” itu lebih cocok untuk dikenakan kepada tindakan Allah terhadap dosa manusia. Allah membiarkan mereka dikuasai oleh keinginan hati mereka sendiri untuk berbuat jahat/cemar sebagai hukuman Allah terhadap kebebalan manusia. Dosa tidak pernah dirancangkan Allah, tetapi diizinkan dan dibiarkan oleh Allah sehingga nantinya manusia yang harus bertanggungjawab atas segala sesuatu yang telah mereka perbuat. Tetapi Allah yang Mahaadil dan Mahakasih mengasihi umat pilihan-Nya dengan menebus dosa-dose mereka melalui pengutusan karya penebusan Kristus, Anak-Nya yang Tunggal. Mengapa Allah membiarkan mereka dikuasai oleh keinginan hati dan bukan keinginan pikiran atau yang lain ? Karena dari hati lah, keinginan itu muncul, entah itu baik atau jahat. Salomo berkata di dalam Amsal 27:19, “Seperti air mencerminkan wajah, demikianlah hati manusia mencerminkan manusia itu.” Tuhan Yesus juga bersabda, “Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.” (Matius 15:19 ; TB LAI) atau Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) lebih jelas mengartikannya, “Sebab dari hati timbul pikiran-pikiran jahat, yang menyebabkan orang membunuh, berzinah, berbuat cabul, mencuri, memberi kesaksian palsu dan memfitnah.” Dari ajaran Tuhan Yesus ini, kita mendapatkan kesimpulan bahwa hati mempengaruhi keinginan pikiran dan pikiran itu menimbulkan suatu aksi/tindakan. Ketika hati kita sudah busuk, maka pikiran pun juga ikut busuk dan akhirnya pikiran busuk tersebut mengakibatkan kita melakukan apa yang busuk di mata Tuhan. Kembali, setelah Allah menyerahkan/membiarkan mereka dikuasai oleh keinginan hati yang berbuat jahat, maka mereka sendiri mencemarkan (atau bahasa aslinya atimazō berarti contemn or maltreat, despise, dishonour, suffer shame, entreat shamefully atau merendahkan) tubuh mereka satu sama lain (tidak berarti Allah yang berinisiatif, tetapi Allah hanya membiarkan dosa yang sudah mansia lakukan sendiri). Ini berarti perendahan tubuh atau pencemaran tubuh ini dilakukan dalam suatu interaksi/hubungan. Bisa juga ini menunjukkan perselingkuhan/perzinahan/dll (ini akan dibahas pada ayat 26-27). Sungguh aneh, memang, hati kita diciptakan untuk berhubungan dengan Allah, dicemarkan oleh manusia berdosa, sehingga hati mereka sudah bebal dan rusak total. Hati yang rusak ini mengakibatkan mereka melakukan sesuatu yang tidak berkenan di hati-Nya. Apa wujud dari hati mereka yang rusak ini ?
Hati yang rusak ditandai dengan keengganan mereka menerima kebenaran Allah. Hal ini diajarkan Paulus pada ayat selanjutnya, ayat 25 yang berkata, “Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya, amin.” Alkitab mengajarkan bahwa kerusakan hati manusia ditandai dengan dua prinsip di dalam ayat ini.
Pertama, mereka mulai menggantikan atau menukarkan kebenaran Allah dengan sesuatu yang palsu/dusta (bahasa Yunaninya, pseudos berarti falsehood/kepalsuan). Kata “kebenaran” di sini menggunakan kata alētheia yang berarti Truth atau kebenaran sejati atau yang sungguh-sungguh benar. Kebenaran ini tentu adalah kebenaran Allah di dalam Kristus (Yohanes 14:6). Hati manusia yang rusak berusaha menggantikan kebenaran Allah yang paling berharga dan penting dengan suatu kepalsuan. Inilah realitanya, manusia menyukai hal-hal yang palsu ketimbang yang asli. Di abad postmodern, manusia dunia bukan tambah lama semakin mencintai Kristus dan kebenaran, malahan sebaliknya, mereka justru menyenangi (Jawa : doyan) sesuatu yang palsu, entah itu barang palsu, bahkan yang paling celaka adalah kebenaran/agama palsu. Apa bedanya kebenaran yang asli dengan “kebenaran” yang palsu ? “Kebenaran” yang palsu menampakkan fenomena yang menyenangkan fisik/jasmaniah seolah-olah ingin mengajarkan bahwa di dalam mayoritas baru terkandung “kebenaran”, sedangkan Kebenaran sejati bukan menampakkan fenomena yang wah, tetapi lebih mementingkan esensi yang darinya menghasilkan fenomena yang bertanggungjawab. Penggantian kebenaran Allah ini dengan “kebenaran” palsu sudah dimulai pada manusia pertama. Hawa terjebak oleh rayuan gombal iblis untuk memakan buah pengetahuan yang baik dan jahat yang telah Allah larang. Dari jebakan iblis yang mengakibatkan hati Hawa terpikat, maka hati Hawa mulai meragukan dan menggantikan kebenaran Allah dengan “kebenaran” diri yang bersumber dari setan. Itulah dosa. Dosa bukan sekedar membunuh, mencuri, dll, tetapi dosa itu suatu sikap hati yang meragukan dan menggantikan kebenaran Allah dengan “kebenaran” lain. Dosa Hawa dimulai bukan ketika ia mulai meraba buah itu atau bahkan memakannya, tetapi ketika hati Hawa sudah mulai meragukan dan menggantikan kebenaran Allah dengan “kebenaran” dirinya sendiri yang bersumber dari setan. Mari kita juga belajar perbedaan antara Kebenaran yang sejati dengan “kebenaran” yang palsu dari cerita Nabi Elia di hadapan 450 orang nabi-nabi palsu pada masa pemerintahan Raja Ahab di dalam 1 Raja-raja 18. Bangsa Israel pada waktu itu tidak lagi menyembah Allah, melainkan baal, dan Tuhan mengutus Nabi-Nya, Elia untuk menyadarkan bangsa Israel. Pada 1 Raja-raja 18:18-19, Elia menantang Ahab dengan berkata, “Bukan aku yang mencelakakan Israel, melainkan engkau ini dan kaum keluargamu, sebab kamu telah meninggalkan perintah-perintah TUHAN dan engkau ini telah mengikuti para Baal. Sebab itu, suruhlah mengumpulkan seluruh Israel ke gunung Karmel, juga nabi-nabi Baal yang empat ratus lima puluh orang itu dan nabi-nabi Asyera yang empat ratus itu, yang mendapat makan dari meja istana Izebel.” Setelah Ahab mengirimkan 450 nabi-nabi Baal itu, mari kita melihat peristiwa ini dari ayat 21-39, “Lalu Elia mendekati seluruh rakyat itu dan berkata: "Berapa lama lagi kamu berlaku timpang dan bercabang hati? Kalau TUHAN itu Allah, ikutilah Dia, dan kalau Baal, ikutilah dia." Tetapi rakyat itu tidak menjawabnya sepatah katapun. Lalu Elia berkata kepada rakyat itu: "Hanya aku seorang diri yang tinggal sebagai nabi TUHAN, padahal nabi-nabi Baal itu ada empat ratus lima puluh orang banyaknya. Namun, baiklah diberikan kepada kami dua ekor lembu jantan; biarlah mereka memilih seekor lembu, memotong-motongnya, menaruhnya ke atas kayu api, tetapi mereka tidak boleh menaruh api. Akupun akan mengolah lembu yang seekor lagi, meletakkannya ke atas kayu api dan juga tidak akan menaruh api. Kemudian biarlah kamu memanggil nama allahmu dan akupun akan memanggil nama TUHAN. Maka allah yang menjawab dengan api, dialah Allah!" Seluruh rakyat menyahut, katanya: "Baiklah demikian!" Kemudian Elia berkata kepada nabi-nabi Baal itu: "Pilihlah seekor lembu dan olahlah itu dahulu, karena kamu ini banyak. Sesudah itu panggillah nama allahmu, tetapi kamu tidak boleh menaruh api." Mereka mengambil lembu yang diberikan kepada mereka, mengolahnya dan memanggil nama Baal dari pagi sampai tengah hari, katanya: "Ya Baal, jawablah kami!" Tetapi tidak ada suara, tidak ada yang menjawab. Sementara itu mereka berjingkat-jingkat di sekeliling mezbah yang dibuat mereka itu. Pada waktu tengah hari Elia mulai mengejek mereka, katanya: "Panggillah lebih keras, bukankah dia allah? Mungkin ia merenung, mungkin ada urusannya, mungkin ia bepergian; barangkali ia tidur, dan belum terjaga." Maka mereka memanggil lebih keras serta menoreh-noreh dirinya dengan pedang dan tombak, seperti kebiasaan mereka, sehingga darah bercucuran dari tubuh mereka. Sesudah lewat tengah hari, mereka kerasukan sampai waktu mempersembahkan korban petang, tetapi tidak ada suara, tidak ada yang menjawab, tidak ada tanda perhatian. Kata Elia kepada seluruh rakyat itu: "Datanglah dekat kepadaku!" Maka mendekatlah seluruh rakyat itu kepadanya. Lalu ia memperbaiki mezbah TUHAN yang telah diruntuhkan itu. Kemudian Elia mengambil dua belas batu, menurut jumlah suku keturunan Yakub. --Kepada Yakub ini telah datang firman TUHAN: "Engkau akan bernama Israel." -- Ia mendirikan batu-batu itu menjadi mezbah demi nama TUHAN dan membuat suatu parit sekeliling mezbah itu yang dapat memuat dua sukat benih. Ia menyusun kayu api, memotong lembu itu dan menaruh potongan-potongannya di atas kayu api itu. Sesudah itu ia berkata: "Penuhilah empat buyung dengan air, dan tuangkan ke atas korban bakaran dan ke atas kayu api itu!" Kemudian katanya: "Buatlah begitu untuk kedua kalinya!" Dan mereka berbuat begitu untuk kedua kalinya. Kemudian katanya: "Buatlah begitu untuk ketiga kalinya!" Dan mereka berbuat begitu untuk ketiga kalinya, sehingga air mengalir sekeliling mezbah itu; bahkan parit itupun penuh dengan air. Kemudian pada waktu mempersembahkan korban petang, tampillah nabi Elia dan berkata: "Ya TUHAN, Allah Abraham, Ishak dan Israel, pada hari ini biarlah diketahui orang, bahwa Engkaulah Allah di tengah-tengah Israel dan bahwa aku ini hamba-Mu dan bahwa atas firman-Mulah aku melakukan segala perkara ini. Jawablah aku, ya TUHAN, jawablah aku, supaya bangsa ini mengetahui, bahwa Engkaulah Allah, ya TUHAN, dan Engkaulah yang membuat hati mereka tobat kembali." Lalu turunlah api TUHAN menyambar habis korban bakaran, kayu api, batu dan tanah itu, bahkan air yang dalam parit itu habis dijilatnya. Ketika seluruh rakyat melihat kejadian itu, sujudlah mereka serta berkata: "TUHAN, Dialah Allah! TUHAN, Dialah Allah!"” Elia menantang Israel apakah mereka masih bercabang hati dengan menyembah ilah lain, Baal atau mereka mau kembali kepada Allah ? Pada kisah ini, nabi-nabi Baal menggebu-gebu beribadah dan berseru kepada ilahnya, seolah-olah itu adalah ibadah yang mengandung “kebenaran”. Gereja-gereja dan agama-agama sekarang tidak beda dengan banyak nabi palsu yang Elia hadapi pada masa itu. Mereka menggebu-gebu berdoa, beribadah, bersembahyang, lalu berseru-seru kepada “Allah” seolah-olah mereka ingin mengatakan bahwa gereja/agama mereka ada “kebenaran” dan “roh kudus”nya, lalu menghina gereja/agama lain tidak memiliki kebenaran dan “roh kudus”. Benarkah demikian ? Elia langsung mengejek “kebenaran” seperti ini, “Panggillah lebih keras, bukankah dia allah? Mungkin ia merenung, mungkin ada urusannya, mungkin ia bepergian; barangkali ia tidur, dan belum terjaga.” (TB-LAI) atau terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) lebih jelas mengartikannya, “Berdoalah lebih keras! Ia ilah, bukan? Mungkin ia sedang melamun, atau ke kamar kecil. Boleh jadi juga ia sedang bepergian! Atau barangkali ia sedang tidur, dan kalian harus membangunkan dia!” “Kebenaran” palsu seolah-olah “benar”, berteriak-teriak seolah-olah ilah mereka ketiduran dan perlu dibangunkan, tetapi bagaimana dengan Kebenaran sejati ? Kebenaran sejati bukan tidak mengutamakan fenomena, tetapi fenomena menjadi efek/akibat dari esensi. Pdt. Billy Kristanto pernah mengatakan bahwa Kebenaran sejati (Kristen sejati) tidak pernah show off, yang selalu show off itu pasti “kebenaran” palsu. Saya mengaminkan perkataan ini. Di dalam inkarnasi-Nya, Kristus tidak pernah show off, sengaja memamerkan mukjizat-Nya di depan orang banyak, dll, Ia pasti mampu menyembuhkan penyakit, tetapi itu dilakukan atas kemauan-Nya sendiri bukan mau pamer. Tetapi herannya banyak “pemimpin gereja” yang doyan memamerkan kuasa “ilahi” bahkan sampai perlu difestivalkan (supaya gerejanya penuh), padahal yang mereka miliki itu hanya diberikan, sedangkan Kristus sendiri yang memiliki atau sumber kuasa itu tidak pernah satu kalipun memamerkan kuasa-Nya dan mengundang orang yang sakit, dll untuk datang kepada-Nya ! Kalau “pemimpin gereja” bertindak melebihi apa yang Kristus lakukan, renungkanlah sendiri, kuasa mereka datang dari Allah atau setan ?! Kembali, peristiwa Elia yang melawan 450 nabi-nabi Baal akhirnya dimenangkan oleh Elia dan akhirnya seluruh bangsa Israel berbalik menyembah Allah. Ayat 36-40, Alkitab mencatat, “Ketika tiba saat mempersembahkan kurban petang, Nabi Elia mendekati mezbah itu lalu berdoa, "Ya TUHAN, Allah yang disembah oleh Abraham, Ishak dan Yakub, nyatakanlah sekarang ini bahwa Engkaulah Allah di Israel, dan saya hamba-Mu. Nyatakanlah juga bahwa segala yang saya lakukan ini adalah atas perintah-Mu. Jawablah, TUHAN! Jawablah saya supaya rakyat ini tahu bahwa Engkau, ya TUHAN, adalah Allah, dan bahwa Engkaulah yang membuat mereka kembali kepada-Mu." Lalu TUHAN mengirim api dari langit dan membakar hangus kurban itu bersama kayu apinya, batu-batunya dan tanahnya serta menjilat habis air yang terdapat di dalam parit itu. Pada saat rakyat melihat hal itu mereka tersungkur ke tanah sambil berkata, "TUHAN itu Allah! Sungguh TUHAN itu Allah!" Maka berkatalah Elia, "Tangkap nabi-nabi Baal itu! Jangan biarkan seorang pun lolos!" Lalu orang-orang menangkap nabi-nabi Baal itu, kemudian Elia membawa mereka ke Sungai Kison dan di sana ia membunuh mereka semuanya.” Kebenaran sejati pasti menang dan “kebenaran” palsu pasti kalah, tetapi kondisi ini hanya bisa diamati oleh orang-orang pilihan-Nya saja. Di dalam Perjanjian Baru, Kebenaran sejati itu adalah Kristus dan Ia telah mengalahkan iblis, “kebenaran” palsu atau bapa segala penipu. Pengharapan kemenangan ini memimpin kita terus berharap akan penyempurnaan karya Kristus secara menyeluruh kelak di akhir zaman. Pengharapan ini menumbuhkan iman kita untuk tidak tergoda oleh rayuan gombal iblis atau “kebenaran” palsu itu tetapi semakin lama semakin mengharapkan dan beriman di dalam Kristus yang pasti menang dan mengalahkan si iblis.
Kedua, menyembah dan melayani ciptaan ketimbang Penciptanya. Kata “makhluk” dalam bahasa Yunaninya ktisis yang bisa menunjukkan sebuah bentuk : bangunan, ciptaan, dll. Lalu, kepada “makhluk” ini, manusia berdosa menunjukkan sikap hati yang menggantikan kebenaran Allah dengan cara menyembah dan melayani ilah lain di luar Allah. Ada dua kata yang dipakai yaitu “menyembah” (adore/worship) dan melayani (serve). Manusia berdosa bukan hanya sekedar mengganti kebenaran Allah, tetapi mereka juga rela menyembah ilah lain di luar Allah, padahal dalam Titah Ketiga di dalam Keluaran 20:5, Allah bersabda, “Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku,” (TB-LAI) atau terjemahan English Standard Version (ESV) menerjemahkannya, “You shall not bow down to them or serve them, for I the LORD your God am a jealous God, visiting the iniquity of the fathers on the children to the third and the fourth generation of those who hate me,” Kata “bow down” (ESV dan KJV) dalam bahasa Ibraninya shâchâh bisa berarti menyembah (worship) dan kata “serve” (ESV dan KJV) dalam bahasa Ibraninya ‛âbad yang bisa berarti melayani (serve). Paulus mengutip kedua prinsip tindakan dalam Titah Ketiga ini untuk dipakai di dalam suratnya kepada jemaat di Roma untuk menunjukkan bahwa dari dahulu Allah telah memerintahkan larangan untuk menyembah dan melayani ilah lain di luar Allah, tetapi manusia yang sudah berdosa susah diajar, akibatnya mereka seenaknya sendiri melanggar perintah-Nya dengan menyembah dan melayani ilah lain. Mengapa dipakai kata “menyembah” dan “melayani” ? Seorang yang menyembah ilah lain di luar Allah, pasti juga seorang yang melayani ilah tersebut secara tidak sengaja atau diperbudak oleh ilah lain. Kalau ilah lain dalam bentuk tempat ibadah atau patung atau bahkan diri sendiri, maka ilah lain yang disembah itu pasti lama-kelamaan akan menguasai hidup manusia, sehingga akibatnya penyembah ilah lain itu akan dikuasai oleh ilahnya. Di dalam zaman postmodern yang semakin menggila ini, ilah lain berwujud filsafat-filsafat gila yang dicetuskan oleh manusia gila dari abad 19-20, misalnya humanisme, materialisme ditambah filsafat relativisme yang “memutlakkan” segala sesuatu yang relatif (kerelatifan semu). Tidak heran, akibat dari filsafat gila ini, banyak manusia kehilangan standar moral dan nilai hidup yang sesungguhnya. Akibatnya, mereka semakin menggila, depresi dan banyak yang bunuh diri. Lalu, bagaimana jalan keluarnya ? Melalui agama ? TIDAK ! Agama yang diciptakan manusia untuk mengatur manusia justru makin merusak tatanan masyarakat. Para terorisme bukan dari orang-orang atheis, pelaku bom bunuh diri (suicide bombers) atau yang menabrakkan pesawat ke gedung WTC di Amerika Serikat atau yang membakar gereja, mereka bukan orang-orang yang tidak beragama, tetapi MEREKA ADALAH PEMELUK AGAMA ! Itu faktanya ! Pdt. Dr. Stephen Tong pernah mengatakan bahwa di RRT, negara komunis, hanya sedikit gereja yang dibakar, tetapi di Indonesia yang mengaku berPancasila, ratusan gereja lebih banyak dari di RRT yang dibakar. Pancasila, agama, dll bisa menjadi jalan keluar dari problema manusia ? MUSTAHIL ! Hanya ada satu-satunya jalan keluar, yaitu kembali kepada kebenaran Allah di dalam Kristus (bukan di dalam para pendiri agama lain yang tetap adalah manusia yang berdosa yang perlu diselamatkan) ! Hidup sejati bukan didapat dari cara-cara licik manusia entah itu dari psikologi, materialisme, dll, tetapi ketika manusia pilihan-Nya menyerahkan hidup sepenuhnya kepada Kristus Yesus sebagai Raja, Tuhan, Pemilik Hidup dan satu-satunya Juruselamat dunia. Hukuman Allah atas dosa manusia ditanggungkan kepada Kristus yang bernatur 100% Allah (karena hanya Allah yang mampu mengampuni dosa manusia) dan 100% manusia (karena hanya manusia yang dapat mati) untuk menebus dosa manusia pilihan-Nya.
Hari ini, setelah kita merenungkan bagian murka Allah yang pertama ini, maukah kita menyerahkan seluruh totalitas hidup kita hanya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Raja dalam hidup kita ? Soli Deo Gloria.

18 May 2007

BAGAIMANA MEMILIH SEKOLAH ?
Pemikiran Signifikansi Pendidikan


oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.


Memilih sekolah bagi anak-anak, ataupun memilih sekolah bagi diri kita untuk berbagian di dalamnya, entah sebagai pendidik, sebagai pendukung, dll, bukanlah hal yang sepele.
Namun sebelumnya, kita perlu bertanya kepada diri kita sendiri, seberapa jauh kita melihat kepentingan ini ? Bukankah banyak orang yang berpikir, bahwa menyekolahkan anak di mana saja sama saja ?
Tetapi sebagian orang lagi, begitu serius berjuang agar anaknya bisa diterima di sekolah tertentu, sehingga menimbulkan penggolongan sekolah favorit dan non-favorit. Apakah sekolah favorit langsung dapat dikatakan sebagai sekolah yang tepat dan benar ?

A. Mengapa Perlu Memilih Sekolah ?
Sungguh tidak realistik apabila kita mengatakan bahwa semua sekolah sama. Setiap sekolah memiliki karakteristik dan kualitasnya masing-masing. Ada banyak variabel yang menentukan karakteristik dan kualitas sekolah itu. Mulai dari kualitas guru-gurunya, kekuatan kurikulumnya (sekalipun sepintas kelihatan kurikulumnya sama dengan sekolah lain), fasilitas sekolah, dan penerapan disiplin sekolah. Semua itu akan menentukan sekolah itu akan menjadi sekolah yang bagaimana.

Dengan adanya perbedaan variabel yang ada dalam sekolah, maka kualitas maupun kekuatan sekolah itu menjadi unik. Ada sekolah yang memiliki kekuatan di bidang eksakta, karena memiliki guru-guru yang yang sangat baik untuk mata pelajaran tersebut. Ada juga yang kuat di bidang seni dan olah raga, karena memiliki guru yang baik dan juga fasilitas yang memadai untuk itu.

Kita perlu memilih sekolah, karena sekolah yang berkualitas rendah akan menghambat proses belajar mengajar anak-anak kita. Demikian juga sekolah yang kurang baik, akan membentuk karakter anak kita juga menjadi kurang baik. Biasanya itu ditandai dengan pergaulan yang kurang baik, kehidupan sosial sekolah yang tidak disiplin, masuknya berbagai hal buruk ke dalam sekolah, seperti narkoba, film porno, dll. Lebih tajam lagi, kita perlu memilih sekolah dengan lebih teliti, karena sebagai orang percaya, kita melihat pembentukan iman akan sangat mempengaruhi pertumbuhan dan kedewasaan anak-anak kita kelak di dalam menghadapi berbagai godaan dunia.

B. Bagaimana Memilih Sekolah ?
Ada banyak artikel bertema sama. Dan artikel ini bukan bertujuan memberikan satu tambahan yang memperbanyak koleksi, namun ingin memberikan satu terobosan untuk memikirkan hal yang perlu diperhatikan secara serius.
1. Apa Tujuan Pendidikan ?
Setiap sekolah memiliki filosofinya sendiri di dalam memikirkan dan menggarap pendidikan. Ada pemikiran bahwa pendidikan adalah upaya menjadikan anak itu seperti yang ia inginkan (Alexander S. Neill). Maka pendidikan akan menekankan kebebasan murni kepada anak. Ada pendidikan menekankan kreativitas (Jean Piaget). Di sini kemampuan kreativitas dan pendalaman pengetahuan menjadi tekanan penting. Dan masih banyak tujuan pendidikan lainnya, seperti untuk memenuhi kebutuhan dunia usaha, menjadi alat politik pemerintah, atau bahkan untuk menjadi alat agama. Namun, pendidikan sejati adalah membawa anak menadi seorang rohani. Menjadi rohani bukan berarti menjadi rohaniawan, pendeta, penginjil, atau sejenisnya (meskipun itu tentu termasuk), tetapi menjadi orang yang tahu apa yang Tuhan inginkan dari dirinya dengan mengembangkan semua yang Tuhan berikan kepadanya sebaik mungkin melalui studi yang dilewatinya. Anak-anak diharap belajar untuk bisa memuliakan Allah dan menjadi berkat bagi sesama manusia, bagi bangsa dan negaranya. Sekolah seperti ini sangat langka pada zaman seperti sekarang ini. Jika tidak, pendidikan justru akan menjadikan manusia-manusia yang hanya memikirkan dirinya, kepentingannya, kesuksesannya, dan akhirnya hidup moralnya rusak, merugikan orang lain, merusak dan menghancurkan masyarakat, bangsa dan negara.

2. Apa Sifat Pendidikan ?
Pendidikan banyak yang hanya menekankan aspek-aspek intelektuallitas, karena variabel kesuksesan pendidikan modern kebanyakan diarahkan pada kesuksesan material. Orang sukses jika setelah sekolah ia nanti menjadi kaya, menjadi trilyuner dan dengan demikian akan terpandang di masyarakat. Inilah nilai-nilai masyarakat yang akan membangun sifat atau karakteristik pendidikan. Seluruh pendidikan diarahkan ke arah orientasi bisnis. Maka banyak sekali pendidikan sekarang yang juga di titik awal berorientasi kepada uang.

Seorang pakar pendidikan dan pendiri seminari terkenal di Amerika Serikat, Prof. Cornelius Van Til, Ph.D., menekankan bahwa sekolah yang baik harus mengerti dengan tepat siapa manusia, karakteristiknya, dan tujuan keberadaannya. Manusia bukan budak materi dan bukan alat kerja seperti seekor binatang. Manusia adalah makhluk unik yang dicipta menurut gambar dan rupa Allah, tetapi telah jatuh ke dalam dosa. Itu berarti pendidikan mengacu pada pembentukan manusia secara utuh, agar ia bisa kembali menggenapkan apa yang Allah maksudkan. Namun, pendidikan menurut beberapa pakar saat ini dipersempit hanya sebagai sekolah, yaitu lembaga yang memberikan informasi, memberi pengetahuan, agar anak memiliki kemampuan intelektual dan sosial agar bisa hidup di masyarakat. Aspek spiritual, aspek mental, aspek moral, tidak mendapatkan porsi yang cukup dibandingkan dengan porsi intelektual, keterampilan dan sosial.

Seorang filsuf dan guru besar terkenal, Dr. Nicholas Wolterstorff, menekankan bahwa pendidikan adalah untuk membentuk hidup dalam arti yang sesungguhnya, baik segi natur manusianya, pertumbuhannya, perannya, dan juga penggenapannya. Itu terlihat jelas dari judul bukunya, Educating for Life. Teriakan ini berusaha mengajak banyak orang tua dan pakar pendidikan mengevaluasi kembali seluruh pendidikan yang ada, dan sekaligus memilih pendidikan atau sekolah yang tepat untuk membentuk anak-anak, calon-calon pemimpin masa depan. Kita perlu memilih sekolah yang paling bisa membawa anak kita kembali menjadi manusia sejati, karena di situlah pusat pendidikan. Pendidikan bukan untuk uang atau dunia, tetapi menjadikan manusia kembali menjadi manusia sejati seperti yang Allah kehendaki. Kita perlu memilih sekolah yang paling bisa membentuk anak-anak kita kembali menjadi manusia yang sejati, karena di situlah pusat pendidikan !

3. Apa Peran Pendidikan ?
Seorang manusia dicipta oleh Tuhan dengan rencana yang unik dan khusus. Ia diberi talenta dan perlengkapan khusus, kelebihan dan kekurangan yang unik, semua itu demi untuk menggenapkan apa yang Allah ingin kerjakan di dalam dan melalui dirinya. Bagaimana sekolah tertentu yang tepat bisa mendidik dan mengembangkan apa yang Allah berikan, yang nantinya bisa dikembalikan untuk kemuliaan Allah. Saat ini begitu banyak sekolah yang membawa anak menjadi alat manipulasi, sebagai pemuas obsesi, dari sekolah, dan orangtua, dari negara, dari kebutuhan industri, dll, sehingga pendidikan kehilangan peran aslinya, tetapi menjadi, tetapi menjadi alat pelengkap dunia materi dan sarana pemuas nafsu manusia. Seorang pakar pendidikan Indonesia menyatakan bahwa pendidikan mempersiapkan anak agar bisa memainkan peranannya secara tepat dalam tugas hidupnya, baik untuk melaksanakan tugasnya sebagai pekerja, maupun tugas hidup sebagai manusia. Di sini kita melihat, sekalipun terlihat baik, tetapi akhirnya manusia hanya mempersiapkan diri melalui sekolah menjadi pekerja bagi kebutuhan dunia. Dari situ, pendidikan merekayasa beberapa model pendidikan.

Peran sekolah yang baik adalah menyadarkan dan memperlengkapi anak agar anak itu sadar panggilannya di hadapan Allah dan berjuang seumur hidup untuk menggenapkan panggilan itu. Sekolah yang sedemikian akan membawa anak pada suatu kualitas hidup dan kerja yang bukan berstandar diri atau masyarakat, tetapi berstandar kebenaran dan sifat Allah sendiri. Di sini peranan pendidikan tidak sesederhana yang biasa dipikirkan manusia. Itu sebab, manusia cenderung menurunkan standard ini, dan mengalihkan perhatian pada insan pendidikan, para intelektual pendidikan dan orang tua untuk kembali memikirkan pendidikan yang baik bagi anak-anak. Kini kita terpanggil untuk bersama-sama saling bahu-membahu menggarap pendidikan yang baik. Kita juga terpanggil untuk tidak sembarangan menyekolahkan anak kita.

Memang sekolah bukan hal yang murah, tetapi bukan berarti jika sekolah itu penuh dengan segala fasilitas, dengan biaya yang mahal, akan menjamin pendidikan yang baik dan benar. Pendidikan yang baik dan benar akan terlihat dari beberapa hal praktis, yang merupakan implikasi dari beberapa elemen di atas :
· Guru dan Civitas Akademika yang bukan hanya berintelektualitas, berketerampilan baik, tetapi juga memiliki teladan hidup yang baik, yang bisa menjadi contoh hidup bagi anak-anak, dan memiliki kerohanian yang baik. Guru bukan hanya memberikan ilmu, tetapi memberikan hidup. Maka hidup yang rusak akan menjadi teladan yang buruk.
· Kurikulum yang bukan hanya menekankan satu atau dua aspek intelektualitas, tetapi mengarahkan manusia menjadi manusia yang utuh. Memberikan integritas (keutuhan) dan kelengkapan dari aspek spiritual, aspek moral, aspek sosial, aspek intelektual dan aspek emosional. Penilaian pertumbuhan dilihat secara utuh dari kehidupan itu sendiri.
· Kemurnian Motivasi di dalam penyelenggaraan pendidikan. Sekalipun tidak murah, pendidikan bukan tempat untuk bisnis dan bukan suatu anjang cari uang. Pendidikan adalah pembentukan manusia, sehingga tidak boleh dikomersialkan. Yang justru seharusnya ada adalah pengorbanan dan cinta kasih dalam membentuk manusia. Jika anak didik adalah obyek keuntungan, komoditi yang diperdagangkan, betapa mengerikannya pendidikan !
· Koordinatif di dalam penyelenggaraan pendidikan, di mana sekolah melibatkan orang tua dan juga gereja, sehingga anak tidak mendapatkan opini berbeda dari tiga otoritas berbeda. Perpecahan otoritas akan mengakibatkan kerusakan perkembangan epistemologis dan aksiologis anak. Anak akan bingung apa yang benar dan yang salah, bingung apa yang baik dan tidak baik, dan akhirnya anak akan mengembangkan sifat pluralistik yang tidak peduli pada otoritas manapun.

Kiranya terobosan pemikiran ini bisa membukakan wawasan para pendidik dan juga orang tua untuk memikirkan ulang bagaimana memilih dan membentuk suatu pendidikan yang diambil, baik bagi anaknya, bagi dirinya, maupun bagi kepentingan seluruh umat manusia, bangsa dan negara tercinta ini. Soli Deo Gloria.


Sumber :
Artikel utama pada brosur pendidikan LOGOS yang dicetak untuk pameran pendidikan KIDO tanggal 24 s/d 28 Januari 2007 di Plaza Tunjungan 3, Convention Hall, Lantai 6, Surabaya.



Profil Pdt. Sutjipto Subeno :
Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div. dilahirkan di Jakarta pada tahun 1959. Beliau menyerahkan diri untuk menjadi hamba Tuhan ketika sedang kuliah di Fakultas Teknik Elektro Universitas Trisakti Jakarta. Menyelesaikan studi Sarjana Theologia (S.Th.)-nya di Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili Indonesia (STTRII) di Jakarta tahun 1995 dan tahun 1996 menyeleselaikan gelar Master of Divinity (M.Div.)-nya di sekolah yang sama.

Setelah pelayanan di Malang dan Madura, sejak tahun 1990 beliau bergabung dengan Kantor Nasional Lembaga Reformed Injili Indonesia (LRII) di Jakarta. Beliau melayani di bidang literatur yang meliputi penerjemahan dan penerbitan buku-buku teologi. Selain itu beliau juga mengelola Literatur Kristen Momentum di Jl. Tanah Abang III/1 (sejak tahun 1993) dan di Jl. Cideng Timur 5A-5B (sejak tahun 1995).

Beliau ditahbiskan sebagai pendeta pada Mei 1996 dan mulai Juni 1996 menjadi gembala sidang GRII Surabaya. Selain sebagai gembala sidang, saat ini beliau juga sebagai direktur operasional dari penerbitan dan jaringan toko buku Momentum dan direktur International Reformed Evangelical Correspondence Study (IRECS), sebuah sekolah teologi korespondensi untuk awam berbahasa Indonesia dengan jangkauan secara internasional. Selain itu beliau adalah dosen terbang di Sekolah Theologia Reformed Injili (STRI) Jakarta dan Institut Reformed di Jakarta.

Beliau juga banyak melayani khotbah dan seminar di berbagai gereja, persekutuan kampus dan persekutuan kantor, baik di dalam negeri maupun di luar negeri; seperti Yogyakarta, Palembang, Batam, Singapura, Australia dan Eropa (Jerman dan Belanda).

Beliau menikah dengan Ev. Susiana Jacob Subeno, B.Th. dan dikaruniai dua orang anak bernama Samantha Subeno (1994) dan Sebastian Subeno (1998). Pada tahun 2000, beliau bersama anak-anak Tuhan yang menempuh pendidikan theologia di Sekolah Theologia Reformed Injili Surabaya (STRIS) Andhika bergumul masalah pendidikan dan pada tahun 2006, beliau akhirnya mendirikan Pendidikan Reformed Injili LOGOS (LOGOS Reformed Evangelical Education) untuk Playgroup, Kindergarten dan Elementary.

Matius 1:7-17 : THE GENEOLOGY-5

Ringkasan Khotbah Mimbar di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Andhika, Surabaya tanggal 22 Februari 2004

The Geneology (5)

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat 1: 7-17



Hari ini kita kembali merenungkan bagian ketiga, yaitu bagian terakhir dari silsilah Yesus Kristus yang setiap bagiannya ada 14 keturunan (3 bagian x 14 keturunan). Alkitab tidak pernah menuliskan hal-hal yang tidak penting tidak terkecuali silsilah. Orang selalu menganggap bahwa silsilah tidak terlalu penting dan membosankan. Salah! Karena silsilahpun memang Tuhan wahyukan demi untuk kebaikan manusia; ada arti atau makna yang dalam di balik nama-nama tersebut. Jadi, semua yang tertulis dalam Alkitab adalah kebenaran mutlak dan Alkitab tidak mungkin bersalah maka kalau sampai terjadi kesalahan dalam menafsirkan Alkitab, kesalahan ada pada diri kita bukan pada Firman Tuhan. Dunia modern membuat orang Kristen selalu berpikir pragmatis; orang tidak mau berkorban harta dan waktu demi untuk memperoleh kebenaran sejati yang terdapat dalam Alkitab. Orang hanya menginginkan segala sesuatu secara instant. Setiap orang Kristen hendaklah mempunyai hati yang selalu ingin belajar sehingga kita dapat saling membangun dan gereja dapat bertumbuh.

Bukan suatu kebetulan atau tanpa tujuan Matius membagi silsilah Yesus Kristus menjadi tiga segmen di dalam seluruh sejarah perencanaan Allah (Mat. 1:17). Segmen pertama, Tuhan memakai orang-orang patriakh untuk menegakkan umatNya; segmen kedua, Tuhan memakai orang-orang dari keturunan kerajaan; dan segmen ketiga, Tuhan memakai orang-orang yang beriman dan masih setia di tengah-tengah reruntuhan umat Israel setelah pembuangan di Babel. Sejak masa pembuangan, bangsa Israel mengalami masa-masa sulit; mereka dijajah terus menerus sehingga iman mereka terombang ambing dan pada saat yang sama Tuhan berhenti berfirman kurang lebih 400 tahun lamanya. Puji Tuhan, ternyata Allah tidak diam; Ia tetap menjaga sejarah KerajaanNya. Tuhan memilih 14 keturunan yang beriman kokoh dan setia untuk meneruskan garis benang merah sejarah kerajaanNya diantara mereka yang sudah mulai melupakan Allah.

Ayat 17 merupakan titik penghubung antara ayat 16, yang berbicara tentang kehadiran Kristus dengan ayat 18 yang berbicara tentang bagaimana kelahiran Kristus. Beberapa penafsir berpendapat bahwa Matius sepertinya “memaksakan“ angka 14 karena di setiap bagian sebenarnya ada lebih dari 14 nama. Catatan sejarah dalam Alkitab berbeda dengan catatan sejarah manusia. Alkitab hanya mencantumkan nama-nama yang mengandung makna dan mempunyai signifikansi; mereka yang tidak mempunyai nilai akan dihilangkan dari catatan sejarah. Pada hakekatnya, manusia tidak suka bila ditiadakan atau dianggap tidak ada, keberadaannya tidak berpengaruh apapun. Celakanya, kalau keberadaan seseorang tersebut sangat menganggu lingkungan sekitar dan ketika dia tidak ada justru menjadi kelegaan bagi orang di sekitar. Manusia dicipta dengan tuntutan makna karena itu jadikanlah hidupmu penuh makna sehingga nama kita ada dalam catatan sejarah Kerajaan Allah.

Matius ingin menyampaikan berita kebenaran, yaitu perjanjian (covenant) Allah dengan Abraham tetap berlangsung dan digenapi dalam Kristus Yesus. Jadi, Kristus merupakan titik pusat dari covenant karena itu Matius meletakkannya di tengah (ay. 16). Untuk lebih jelasnya, kita harus kembali pada teks Alkitab yang asli yang hanya berisi tulisan, tanpa pasal, ayat ataupun judul maka kita akan melihat ayat 16 berada tepat di tengah antara ay. 1-ay. 25. Adanya pasal, ayat dan judul dalam Alkitab dapat menguntungkan sekaligus merugikan, yaitu memudahkan bagi kita dalam membaca tapi juga dapat memotong pemikiran dalam Alkitab yang sebenarnya mengalir.

Beberapa penafsir berpendapat, angka 14 hanyalah simbol. Dalam beberapa aspek ini bukan sekedar simbol, Matius memang sengaja meletakkan 14 nama di setiap bagiannya. Empat belas keturunan di bagian ketiga dianggap yang paling sulit karena mereka harus mempertahankan imannya di tengah dunia yang sudah mulai kehilangan iman. Pada jaman itu banyak tekanan, ancaman, penjajahan dan konsep-konsep dunia yang mulai menyimpang dari Firman maka tidaklah heran kalau muncul golongan Parisi, golongan Saduki, golongan Herodian, dan lain-lain. Signifikansi Matius mencantum 3 x 14 pada silsilah Yesus Kristus :
1. Gambaran Kesempurnaan (The Perfectness) Pekerjaan Allah.
Di satu aspek manusia mengaku beriman dengan sungguh namun pada saat yang sama manusia seringkali meragukan Tuhan karena pertolongan Tuhan yang datang tepat waktu justru dirasakan sebagai keterlambatan. Pada saat kita tidak bersandar mutlak pada Tuhan maka pada saat itu juga keyakinan, confidence kita mulai goyah sehingga dengan mudah iblis akan menguasai kita. Hati-hati, janganlah engkau merasa yakin bahwa engkau mempunyai iman yang kuat karena pada saat itulah justru menampakkan bahwa imanmu sudah mulai goyah. Iman dan keyakinan merupakan dua hal berbeda. Kalau kita menggabungkan iman dan keyakinan maka kita masuk dalam empirisme dimana pengalaman dianggap sebagai iman. Sesungguhnya, iman menghasilkan pengalaman dan iman menghasilkan keyakinan bukan sebaliknya. Kesalahan yang fatal, kalau kita menggabungkan keduanya seperti yang dilakukan oleh aliran karismatik dan positive thinkers. Orang tidak mengerti definisi iman dan keyakinan dengan tepat maka wajarlah kalau mereka menjadi sesat.

Melalui tulisannya Matius ingin agar para pembacanya mempunyai kebenaran iman sejati yang berobyek pada Kristus yang adalah sempurna. Jangan pernah berpikir bahwa kerajaan Tuhan bisa digagalkan di tengah dunia ini. Tuhan sudah mengatur sejarah kerajaanNya sedemikian rupa dengan sempurna. Allah berfirman bahwa akan datang seorang Juruselamat, yaitu Kristus Tuhan maka hal itu pasti terjadi. Tidak ada satu manusiapun yang dapat menggagalkan rencana Allah. Dia adalah Allah sang pemilik sejarah; Dialah yang memulai dan yang sekaligus mengakhiri sejarah dunia ini. Janganlah mudah tergoda dengan berbagai macam iman yang ditawarkan dunia. Iman yang ditawarkan dunia tidak akan membawa kita pada kesempurnaan.

Sebagai contoh, Kant mengemukakan bahwa tidak ada satupun obyektifitas iman di dunia yang perlu untuk manusia percayai. Salah! Masih ada obyektifitas iman yang dapat kita percayai, yaitu Firman yang mengajarkan kesempurnaan iman. Matius menawarkan kerajaan surga yang sempurna yang dihadirkan dalam diri Kristus yang adalah sempurna. Kerajaan surga yang Allah janjikan berbeda dengan kerajaan dunia. Sepintas lalu, manusia melihat kesuksesan raja-raja dunia, seperti Saul, Daud dan Salomo. Ternyata masa kejayaan Raja Salomo tidak berlangsung selamanya; kerajaan Israel mulai hancur, terpecah belah dan saling bermusuhan sampai akhirnya nama Yekhonya (bukan raja) yang tertulis dan berakhir di pembuangan. Inikah kerajaan dunia yang dibanggakan oleh manusia? 3 x 14 menggambarkan kesempurnaan total kerajaan Surga; Kristus Juruselamat yang dijanjikan itu lahir.


2. Gambaran Kesempurnaan Total Rencana Allah, Total Planning of God.
Angka 7 mempunyai arti yang sangat istimewa bagi orang Yahudi, 3x14=3x2x7. Angka 7 merupakan gambaran sempurna maka tidaklah heran orang Yahudi sangat suka dengan kelipatan 7. Tuhan mencipta 7 hari lamanya dan Tuhan menguduskan pada hari ke-7. Bahkan sampai hari ini kelipatan 7 menjadi angka sempurna, bukankah dalam kalender ada 7 hari yang dimulai dari Minggu dan berakhir di hari Sabtu? Petrus memulai khotbah penginjilan yang pertama, yaitu berita tentang Kristus Juruselamat pada hari Minggu dan di hari yang sama itu 3000 orang bertobat. Tapi sayang, hari ini justru banyak orang Kristen tidak berani secara terang-terangan memberitakan kebenaran bahwa kita adalah manusia berdosa dan hanya melalui Yesus Kristuslah kita diselamatkan. Orang Kristen ketika memberitakan injil justru menghilangkan inti berita dan mereka justru menawarkan hal-hal duniawi seperti kesembuhan, kemakmuran, dan lain-lain. Iman Kristen yang kehilangan esensi Kristus bukanlah iman sejati.

Angka 6 menggambarkan manusia yang dicipta pada hari ke-6; angka 7 menggambarkan kerajaan Allah; angka 3 menggambarkan Allah Tritunggal. Itulah sebabnya Matius memakai angka 3x2x7. Matius mengkontraskan antara angka manusia dengan angka Allah. Angka 666 (enam ratus enam puluh enam) yang tertulis dalam Wahyu melambangkan kesempurnaan manusia. Matius membukakan pikiran para pembacanya agar mempunyai cara pandang yang berbeda, yaitu dari memikirkan hal yang bersifat manusia ke hal yang bersifat Allah. Sejak awal Matius telah memberitakan tentang hal Kerajaan meski kata “Kerajaan“ baru muncul di pasal 3. Tuhan ketika berencana, Dia pasti merencanakan secara totalitas. 3 x 14 menunjukkan tatanan yang simultan yang menggabungkan seluruh aspek dan mencakup semua unsur. Ini merupakan total planning dimana Tuhan merencanakan kerajaanNya.

Manusia yang tidak mau taat pada rencana Allah maka dia akan terbuang dari sejarah. Pembentukkan Kerajaan Allah harus melewati sejarah yang bersifat totalitas. Cara Tuhan membentuk hidup anak-anakNya sangatlah unik; terkadang Tuhan mengijinkan manusia untuk mengalami kesusahan dan penderitaan terlebih dahulu sebelum ia mengalami kesuksesan. Tuhan membentuk Musa, Daud, Yusuf dan masih banyak lagi melalui penderitaan dan tantangan berat sebelum akhirnya mereka menjadi berhasil dan mempunyai hidup yang bernilai. Hal ini sangat disadari Socrates bahwa hidup yang tidak teruji tidak layak untuk dihidupi, unexamined live unworth living.

Seseorang dapatlah dikatakan “sukses” bila: pertama, dapat melewati setiap ujian dalam hidupnya. Hal ini tidaklah mudah hanya kekuatan Tuhan saja yang dapat memampukan kita. Tetaplah bertahan dalam iman kepada Yesus Kristus meski kita berada dalam keadaan yang paling sulit sekalipun. Jangan pernah berkompromi dengan iblis. Ingat, saat kita mengalami ujian dalam hidup, Tuhan tahu seberapa kekuatan kita (I Kor. 10:13). Tuhan memberikan batasan pada iblis ketika Ayub hendak dicobai. Kita tidak akan pernah tahu seberapa kekuatan iman kita kecuali kalau kita melewati kesulitan tersebut. Kedua, tidak menjadi lupa diri ketika ia berada di kesuksesan. Setiap orang pasti ingin sukses akan tetapi kesuksesan tanpa disertai iman yang kuat akan membuat kita mudah jatuh dalam dosa. Pada umumnya, orang akan beriman dengan sungguh ketika ia berada dalam kesusahan tapi ia akan melupakan Tuhan ketika berada dalam kesuksesan. Jangan pernah berpikir bahwa kekayaan menjadikan hidup kita nikmat. Tuhan akan memberikan kekayaan ketika Dia merasa kita sudah cukup kuat menanggungnya dan Tuhan tahu sampai dimana kekuatan kita. Fakta menunjukkan kekayaan tidak membuat hidup menjadi nikmat tetapi justru mematikan iman, merusak hubungan antar manusia, dan membunuh diri kita sendiri. Karena itu, benarlah kalau Tuhan Yesus mengajarkan berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya supaya kita tidak mencuri dan mencemarkan nama Tuhan atau kita tidak menyangkali Tuhan ketika kita kenyang (Ams. 30:8-9).

Sejarah adalah ceritanya Tuhan, history is His story. Sejarah selalu mempunyai 2 unsur, yaitu sejarah utama dan sejarah figuran. Kita berada di posisi yang mana? Kalau kita ingin menjadi pemeran utama dalam sejarah Kerajaan Allah maka taatlah dan bersandarlah hanya kepadaNya; Ia akan membentuk hidup kita secara total. Sayangnya, hari ini banyak orang tidak suka untuk dibentuk; kita mulai melarikan diri dari Tuhan. Ingat, setiap penderitaan yang kita alami memang Tuhan maksudkan untuk membentuk kita supaya semakin serupa Kristus. Iman Kristen bukanlah iman yang fanatisme akan tetapi kita tahu dengan pasti kenapa kita hanya beriman pada Kristus, the King of kings yang diturunkan dari 3x14. Karena itu jangan pernah sekalipun imanmu goyah dan meninggalkan Tuhan supaya penuh sukacitamu. Kristus adalah Raja di atas segala raja maka Dia pasti memperhatikan dan memelihara setiap umatNya. Dan hanya Kristus satu-satunya kekuatan dan Juruselamat yang kepadaNya kita dapat berharap. Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)


Sumber :
http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2004/20040222.htm

Roma 1:21-23 : KEBEBALAN MANUSIA

Seri Eksposisi Surat Roma :
Realita Murka Allah-3


Kebebalan Manusia

oleh : Denny Teguh Sutandio


Nats : Roma 1:21-23


Setelah kita membahas tentang realita murka Allah atas segala kefasikan dan kelaliman manusia yang menindas kebenaran dengan kelaliman di ayat 18, dengan cara mengabaikan hati nurani dan alam semesta yang merupakan wujud dari wahyu umum Allah, maka saat ini melalui ayat 21-23, Alkitab hendak menjelaskan kepada kita tentang realita kebebalan manusia yang meskipun sudah mengenal Allah, tetapi tidak mau menyembah-Nya.
Pada ayat 21, Alkitab menyatakan, “Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.” Atau terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) menerjemahkan, “Manusia mengenal Allah, tetapi manusia tidak menghormati Dia sebagai Allah dan tidak juga berterima kasih kepada-Nya. Sebaliknya manusia memikirkan yang bukan-bukan; hati mereka sudah menjadi gelap.” Melalui apa yang telah Allah wahyukan kepada semua manusia yaitu melalui hati nurani dan alam semesta, manusia bukan tidak mengenal Allah, tetapi mereka mengenal-Nya. Ini yang Alkitab ajarkan. Kata “mengenal” dalam bahasa aslinya (Yunani) yaitu ginōskō yang berarti mengetahui atau mengerti (understand), tetapi Alkitab terjemahan King James Version (KJV) menerjemahkan kata “mengenal” ini sama dengan kata “ketahui” di ayat 19 dengan satu kata know, tetapi Alkitab Terjemahan Baru (TB) membuat perbedaan kata, di mana ayat 19 menggunakan kata “mengetahui”, sedangkan di ayat 21 memakai kata “mengenal”. Mengapa Alkitab TB membuat perbedaan semacam ini ? Jika kita menyelidiki, di ayat 19, Alkitab berkata bahwa manusia sudah mengetahui tentang keberadaan Allah, karena Ia telah menyatakan diri-Nya secara umum yaitu melalui hati nurani dan alam semesta. Tetapi apakah mereka hanya sebatas tahu ? TIDAK. Di ayat 21, Paulus memaparkan fakta bahwa mereka pun juga sudah mengenal Allah (satu tahap lebih dalam ketimbang mengetahui), tetapi meskipun demikian, mereka tidak memuliakan-Nya. Kata “memuliakan” dalam bahasa Yunaninya adalah doxazō berarti menghormati (honor) atau memuliakan (magnify) atau memberikan kemuliaan. Di dalam KJV dan International Standard Version (ISV), kata “memuliakan” diterjemahkan glorify, di dalam terjemahan English Standard Version (ESV) memakai kata honor. Yang lebih menarik, Alkitab menambahkan bahwa mereka bukan hanya tidak memuliakan-Nya tetapi juga tidak memuliakan-Nya sebagai Allah. Ketika Allah tidak dipermuliakan sebagai Allah, hanya ada satu “saingan” yaitu manusia yang dipermuliakan sebagai “Allah”. Itu adalah ide dari atheisme dan humanisme yang berlaku dari zaman modernisme hingga postmodern yang semakin menggila.
Di dalam titah pertama dari kesepuluh Titah yang Allah berikan melalui Musa, Allah bersabda, “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.” (Keluaran 20:3 ; TB) atau terjemahan BIS lebih jelas mengartikannya, “Jangan menyembah ilah-ilah lain. Sembahlah Aku saja.” Perintah ini sudah sangat jelas, tetapi kembali, di dalam sejarah bangsa Israel, mereka yang dari dulu sudah mengikat perjanjian dengan Allah bahwa mereka akan berbakti selama-lamanya kepada-Nya, akhirnya mereka melanggar perjanjian tersebut dengan bersungut-sungut (tidak bersyukur kepada-Nya), dll. Itulah realita yang Alkitab ajarkan mengenai kebebalan manusia. Apakah ini juga tidak terjadi di zaman postmodern ? TIDAK. Hal ini bukan saja tidak terjadi di zaman postmodern yang gila ini, tetapi sudah menjadi life style bagi manusia berdosa, khususnya banyak orang “Kristen” yang dengan bangganya menyebut diri Kristen apalagi “melayani Tuhan” di gereja. Kalau mereka ditanya apakah mereka sudah mengenal Tuhan Yesus, mereka pasti menjawab dengan lantang, “Sudah !”, tetapi sebaliknya jika mereka ditanya pertanyaan lebih dalam lagi, “Apakah Anda sudah memuliakan-Nya dengan membawa berita Injil di dalam kehidupan Anda dan bersyukur kepada-Nya ?”, mereka yang menjawab semakin berkurang kuantitasnya. Mengapa ? Karena meskipun mereka sudah mengenal Tuhan Yesus bahkan sejak dari kecil di sekolah minggu sampai dewasa bahkan ikut terlibat aktif di dalam pelayanan gereja, mereka pada dasarnya masih childish, mau mengenakkan diri tetapi tidak mau menyangkal diri. Itulah realita keKristenan di abad postmodern ini. Mereka menganggap Allah bukan sebagai Allah lagi, tetapi sebagai “pembantu”nya yang selalu mengabulkan apapun yang mereka perlukan di dalam doa, lalu mereka terus mengklaim mereka sedang “melayani Tuhan”. Yang lebih parah lagi, banyak orang “Kristen” yang mengaku “melayani Tuhan”, ketika dirinya diberikan penyakit yang ganas, mereka langsung marah-marah kepada Tuhan, dan bertanya mengapa Tuhan memberikan penyakit kepadanya, padahal mereka sudah melayani-Nya. Mereka mengira Tuhan membutuhkan mereka untuk melayani-Nya. Ini adalah akibat kesalahan fatal dari konsep “theologia” sukses dan “theologia” Arminian yang menekankan kehendak bebas manusia dan menghilangkan kedaulatan Allah (termasuk di dalamnya pengaruh dari buku Rick Warren, “The Purpose Driven Life”). Allah hanya dianggap sebagai pemuas kebutuhan jasmaniah (yang dibungkus dengan hal-hal “rohani”, misalnya, “Dengan ‘iman’, maka minta apa saja, pasti dikabulkan.”, dll), tidak beda dengan pekerjaan seorang pelacur (maaf). Itu bukan Allah Alkitab ! Itu setan ! Jangan mengira setiap orang “Kristen” beriman di dalam-Nya, kebanyakan mereka beriman di dalam diri mereka sendiri, yang lebih celaka lagi beriman di dalam setan, meskipun setiap Minggu pergi ke gereja. Apakah dengan cara demikian, mereka boleh dikatakan mereka pintar ? TIDAK. Alkitab jelas mengajarkan di dalam ayat 21 ini bahwa pikiran mereka sebenarnya sia-sia atau tidak berharga (worthless) dan hati mereka itu bodoh dan menjadi gelap. Di sini menurut pengamatan saya, kebebalan manusia yang tidak mau memuliakan Allah berdampak kepada seluruh kehidupannya, yaitu pikiran dan hati mereka menjadi rusak/cemar. John Calvin mengatakan bahwa manusia itu sudah rusak total, artinya seluruh keberadaannya sudah rusak, tidak peduli, apakah itu otak, hati, perkataan, dll. Tidak usah heran, mengapa di ayat 21, Paulus menjabarkan dua bagian di dalam pribadi manusia yang merupakan efek langsung dari kebebalan manusia, yaitu otak/pikiran dan hati. Ketika manusia bebal, pikiran mereka ikut bebal juga. Pikiran ini diungkapkan Paulus sebagai pikiran yang tidak berharga/sia-sia. Pikiran manusia yang sudah diciptakan oleh Allah dengan tujuan untuk memuliakan-Nya, tetapi faktanya, akibat dosa, pikiran itu dicemari oleh dosa, dan akhirnya dipergunakan untuk memuliakan diri manusia sendiri. Selain itu, hati mereka juga dikatakan bodoh dan gelap. Kata “bodoh” diterjemahkan foolish oleh terjemahan KJV dan dalam bahasa aslinya asunetos berarti without understanding (tanpa pengertian). Lalu, kata “gelap” dalam bahasa aslinya skotizō berarti obscure (=samar-samar, kabur, tidak jelas, dll). Albert Barnes dalam Albert Barnes’ Notes on the Bible mengaitkan heart dengan afeksi. Ini berarti ketika manusia berdosa, hati/afeksinya sudah dicemari dosa, sehingga mereka tidak lagi peduli dengan orang lain yang menderita, tetapi sangat sedih jika dirinya yang menderita. Ambil contoh, manusia berdosa akan sangat kegirangan (secara implisit, bahkan eksplisit) bila orang lain yang ditipu, tetapi akan sangat sedih bila dirinya yang ditipu (atau orang lain menipu dia). Inilah realita efek dosa di dalam diri manusia, yaitu pikiran mereka itu sebenarnya sia-sia/tidak berharga dan hati mereka itu tidak disertai pengertian yang beres dan kabur.

Kemudian, apakah pikiran ini mereka akui sebagai pikiran yang sia-sia ? TIDAK. Di ayat 22, Paulus membuka fakta lebih dalam lagi, “Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh.” Atau terjemahan BIS mengartikannya, “Mereka merasa diri bijaksana, padahal mereka bodoh.” Kalau kita melihat kembali konteks surat Roma ini, di Roma, banyak filsuf Yunani yang merasa diri hebat, bijaksana, pintar, dll, lalu pikiran dan hati mereka tertutup oleh apa yang mereka anggap sebagai bijaksana dan pandai. Kalau Plato menegaskan filsafat dualisme yang sengaja memisahkan hal-hal yang jasmaniah (natural) dengan hal-hal rohaniah (supranatural), di mana filsafat gila ini digandrungi oleh hampir semua manusia (termasuk banyak orang “Kristen” yang tidak bertanggungjawab) di dalam abad postmodern, maka Max Horkheimer menegakkan filsafat Dialectical Positivism yang berusaha menggabungkan hal-hal yang bertentangan satu sama lain. Tidak heran, di dunia Timur, muncul istilah Yin Yang, di mana kebaikan pasti bersatu dengan kejahatan (di dalam hitam ada putih dan di dalam putih ada hitam). Mereka menganggap bahwa mereka itu berbijaksana dan pintar karena bisa mengeluarkan suatu teori yang diakui oleh seluruh dunia (bahkan yang paling celaka, juga diakui oleh banyak orang “Kristen”). Apakah teori mereka benar ? Mari kita uji. Teori Plato jelas salah karena telah memisahkan kedua bagian manusia yang saling bersatu, yaitu antara tubuh dan jiwa/roh. Jika kita memisahkan tubuh dan roh/jiwa, maka kita pasti mati. Sebaliknya, teori Horkheimer pun juga salah, karena menggabungkan hal-hal yang bertentangan menjadi satu, lalu teori ini juga ada di dunia Timur dengan konsep Yin Yang. Benarkah konsep Yin Yang dari kacamata Kristen ? Setelah mendapat penjelasan singkat dari Pdt. Sutjipto Subeno, saya setuju dengan pendapat beliau bahwa Yin Yang itu tidak sesuai dengan Alkitab. Perhatikan. Kalau di dalam hitam ada putih dan di dalam putih ada hitam, pertanyaannya bukankah yang hitam dan putih sama-sama menjadi kabur dan tidak jelas (persis yang Paulus ungkapkan di dalam ayat 21 tadi dengan mengatakan bahwa pikiran mereka itu sia-sia dan hati mereka menjadi kabur/gelap). Lalu, apakah kita berani mengajarkan kepada anak-anak kita akan konsep Yin Yang ini lalu berkata bahwa kita jangan selalu berbuat baik saja, tetapi kita juga perlu berbuat jahat sesuai dengan ajaran Yin Yang bahwa putih dan hitam selalu bersatu ? TIDAK. Pdt. Sutjipto Subeno mengatakan bahwa hitam itu bukan sebuah warna yang bertentangan dengan putih, tetapi hitam adalah ketidakadaan putih, demikian pula, gelap bukan suatu entity, tetapi gelap adalah suatu ketidakadaan terang. Kalau terang ada, maka gelap pasti tidak ada. Itu yang Alkitab ajarkan sejak Allah menciptakan dunia (Kejadian 1:1-3). Di dalam penciptaan, ketika Allah melihat dunia ini gelap, maka Ia berkata, “Jadilah terang.” (Kejadian 1:3), maka terang itu mengalahkan kegelapan dan kegelapan tidak ada lagi di dalam dunia ini. Dengan kata lain, teori Horkheimer salah. Lalu, manakah yang benar ? Jelas, iman Kristen yang berpusat di dalam Kristus. Di dalam 1 Korintus 1:18, Paulus mengajarkan satu prinsip penting, “Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.” Di dalam pasal yang sama, di ayat 22-25, Paulus mengajarkan pula, “Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah. Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia.” Orang-orang dunia selalu merasa diri pemikiran mereka hebat, tetapi benarkah demikian ? Bagi Allah, pemikiran orang-orang dunia yang paling pintar sekalipun lebih kecil dari kebodohan Allah. Lho, kok bisa ? Kebodohan Allah, yang artinya Allah yang dianggap “bodoh” oleh orang-orang dunia yang berdosa, tetap lebih pandai daripada hikmat manusia yang selalu membanggakan diri mereka pandai dan berbijaksana. Inilah pemikiran paradoks di dalam iman Kristen. Kebodohan Allah itulah salib, yang sebenarnya melambangkan kemenangan dan kebijaksanaan Allah yang terbesar yang tak mungkin bisa dicapai dan dimengerti oleh manusia yang selalu menganggap diri bijaksana dan pandai, padahal mereka sesungguhnya bodoh dan berdosa. Zaman postmodern adalah zaman yang lebih celaka daripada zaman modern, karena di zaman yang gila ini, banyak orang bahkan boleh dibilang dosen-dosen sekuler menimba ilmu di luar negeri bahkan sampai Doctor of Philosophy (Ph.D.), tetapi apakah itu menunjukkan diri mereka pandai ? TIDAK. Sori, saya harus mengatakan satu hal, banyak dosen saya di kampus Petra yang bergelar Master dan Doctor, pemikirannya masih dangkal sekali apalagi tentang iman Kristen. Jangan mengira orang yang sudah studi Master dan Doctor pasti lebih pintar ! Ada seorang dosen saya yang baru bergelar Master sudah sok tahunya bahkan menghina saya yang selalu bersaksi tentang Tuhan. Dia kira dia hebat, TIDAK, saya boleh mengatakan bahwa dia lebih bodoh dari siapapun, karena TELAH MENGHINA ALLAH. Celakalah kamu jika menganggap diri pintar, lalu tidak membutuhkan Allah. Anda tahu cerita dari F. Nietzsche yang mencetuskan God’s Death “Theology” (“Theologia” Allah Mati) ? Nietzsche yang adalah seorang anak pendeta dan katanya pernah sekolah theologia akhirnya mengatakan bahwa ia telah membunuh mati Allah bukan dengan pistol, tetapi dengan pikirannya, lalu apakah dengan demikian, “Allah” yang telah Nietzsche bunuh mati lalu benar-benar mati ? TIDAK. Sejarah membuktikan bahwa Nietzsche pada akhirnya harus mati, tetapi, puji Tuhan, Allah kita tetap hidup untuk selama-lamanya. Ini membuktikan suatu kebodohan orang-orang yang menganggap diri pintar. Dengan mengutip Yesaya 29:14, di dalam 1 Korintus 1:19, Tuhan berkata melalui Paulus, “Aku akan membinasakan hikmat orang-orang berhikmat dan kearifan orang-orang bijak akan Kulenyapkan.” Kalau sejenak kita membaca Yesaya 29:14, ayat ini sebenarnya ingin mengajarkan bahwa hikmat para orang berhikmat di dalam bangsa Israel yaitu mereka yang menghafal dan mengajarkan Taurat secara harafiah (ayat 10-13) akan hilang dan kearifannya pun akan bersembunyi.

Apakah wujud kebebalan manusia hanya sekedar merasa diri pintar ? TIDAK. Pada ayat 23, Paulus melanjutkan penjelasannya, “Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar.” (TB) atau terjemahan BIS mengartikannya, “Bukannya Allah yang abadi yang mereka sembah, melainkan patung-patung yang menyerupai makhluk yang bisa mati; yaitu manusia, burung, binatang yang berkaki empat, dan binatang yang melata.” Melalui ayat 23 ini versi Terjemahan Baru (TB) maupun Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS), kita mendapatkan suatu kesimpulan bahwa kebebalan manusia bukan hanya sekedar merasa diri pintar, tetapi juga ketidakmampuan mereka membedakan antara esensi dengan fenomena, antara hal yang bersifat kekal dan tidak kekal. Di zaman postmodern ini pun, realita ini juga sering dan banyak terjadi. Mereka tidak melihat esensi dan hal-hal yang bernilai kekekalan, tetapi selalu berkutat pada hal-hal fenomenal dan bersifat kesemantaraan, lalu anehnya, mereka terhibur jika sudah melihat hal-hal fenomenal tersebut. Sungguh celaka mereka. Apakah wujud hal-hal fenomenal tersebut ? Alkitab menjelaskan bahwa wujudnya adalah menyembah patung-patung yang dapat dilihat sebagai ilah lain yang menggantikan Allah. Kata “patung-patung” menunjukkan sebuah sesembahan lain (ilah lain) di luar Allah yang sejati yang disembah oleh manusia yang berdosa. Manusia di dunia ini merasa bahwa dengan menyembah patung-patung tersebut identik dengan menyembah “Allah”, yang lebih parah lagi, mereka berdalih bahwa bukan patung yang mereka sembah, tetapi “Allah”, lalu patung hanya mereka jadikan sebagai sarana/cara. Apakah ini dapat dibenarkan ? Di dalam titah kedua dan ketiga di dalam Dasa Titah, Allah bersabda, “Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.” (Keluaran 20:4-6) Titah kedua ini mengajarkan kepada kita untuk tidak membuat patung. Tindakan membuat patung adalah suatu tindakan kedua setelah tindakan menganggap sesuatu sebagai ilah lain selain Allah (pelanggaran dari titah pertama). Jadi, urutannya adalah jika seorang di dalam ide dan “iman”nya sudah menganggap diri atau sesuatu yang lain sebagai ilah lain di luar Allah, maka otomatis orang ini akan berusaha untuk merealisasikannya dengan membuat patung sebagai obyek realisasinya. Jangan mempercayai orang yang berkata bahwa patung hanya sebagai cara/sarana untuk menyembah “Allah”. Allah tidak ingin kita membuat patung dalam bentuk apapun. Lalu, titah ketiga juga mengajar kepada kita bukan hanya untuk tidak boleh membuat patung, tetapi kita pun tidak boleh menyembah patung yang dibuat tersebut, karena Allah adalah Allah yang cemburu yang tidak segan-segan menghukum mereka yang tidak setia kepada-Nya. Inilah realita murka Allah yang jarang disampaikan di dalam banyak khotbah mimbar di dalam banyak gereja-gereja kontemporer yang pop. Setelah Allah selesai menuliskan kesepuluh titah-Nya kepada bangsa Israel melalui Musa, apa yang terjadi dengan bangsa Israel sambil menunggu Musa di atas gunung Sinai ? Keluaran 32:1-6 memberitahu kita tentang peristiwa yang mengerikan ini, “Ketika bangsa itu melihat, bahwa Musa mengundur-undurkan turun dari gunung itu, maka berkumpullah mereka mengerumuni Harun dan berkata kepadanya: "Mari, buatlah untuk kami allah, yang akan berjalan di depan kami sebab Musa ini, orang yang telah memimpin kami keluar dari tanah Mesir--kami tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dia." Lalu berkatalah Harun kepada mereka: "Tanggalkanlah anting-anting emas yang ada pada telinga isterimu, anakmu laki-laki dan perempuan, dan bawalah semuanya kepadaku." Lalu seluruh bangsa itu menanggalkan anting-anting emas yang ada pada telinga mereka dan membawanya kepada Harun. Diterimanyalah itu dari tangan mereka, dibentuknya dengan pahat, dan dibuatnyalah dari padanya anak lembu tuangan. Kemudian berkatalah mereka: "Hai Israel, inilah Allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir!" Ketika Harun melihat itu, didirikannyalah mezbah di depan anak lembu itu. Berserulah Harun, katanya: "Besok hari raya bagi TUHAN!" Dan keesokan harinya pagi-pagi maka mereka mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan, sesudah itu duduklah bangsa itu untuk makan dan minum; kemudian bangunlah mereka dan bersukaria.” Hal ini sangat berkontradiksi dengan puji-pujian yang mereka nyanyikan sendiri di dalam Keluaran 15 tentang kebesaran dan keagungan Allah Israel. Harun yang sebenarnya harus menuntun Israel untuk tidak berbuat dosa selama Musa berada di atas gunung Sinai, ternyata malahan membuat bangsa Israel tambah berdosa dengan menuruti permintaan bangsa Israel untuk membuat patung dan ditambah dengan perkataan bahwa patung itulah Allah yang telah menuntun Israel keluar dari Mesir. Dosa yang diperbuat Harun itu berlapis dua, yaitu menuruti kemauan berdosa dari Israel ditambah dengan pernyataan Harun yang mengatakan bahwa patung itu adalah Allah yang menuntun mereka keluar dari Israel. Itulah agama yang diciptakan manusia yang menyimpang dari kebenaran Allah di dalam Alkitab. Israel kalau boleh diimplikasikan ke dalam zaman sekarang adalah para penganut agama-agama non-Kristen yang melawan Kristus yang menggantikan Allah dengan ilah-ilah lain yang bisa dilihat secara kasat mata, dan Harun boleh diimplikasikan sebagai para pemimpin agama yang juga ikut berdosa dengan menuruti kemauan umatnya yang memberontak terhadap Allah. Bagaimana respon Allah dan Musa setelah mengakui kebiadaban Israel tersebut ? Apakah mereka bisa mentolerir kesalahan mereka lalu mengatakan bahwa jangan menghakimi, itu tergantung pada pribadi masing-masing, patung hanya sebagai sarana untuk menyembah “Allah” ? TIDAK. Allah murka kepada mereka dan Alkitab mencatatnya, “Siapa yang berdosa kepada-Ku, nama orang itulah yang akan Kuhapuskan dari dalam kitab-Ku…Demikianlah TUHAN menulahi bangsa itu, karena mereka telah menyuruh membuat anak lembu buatan Harun itu.” (Keluaran 32:33, 35). Musa pun marah sesuai dengan kemarahan Allah. Hal ini dapat dibaca pada Keluaran 32:19-20, “Dan ketika ia dekat ke perkemahan itu dan melihat anak lembu dan melihat orang menari-nari, maka bangkitlah amarah Musa; dilemparkannyalah kedua loh itu dari tangannya dan dipecahkannya pada kaki gunung itu. Sesudah itu diambilnyalah anak lembu yang dibuat mereka itu, dibakarnya dengan api dan digilingnya sampai halus, kemudian ditaburkannya ke atas air dan disuruhnya diminum oleh orang Israel.” Para hamba Allah sejati memiliki emosi dan afeksi yang dikuduskan sehingga emosi mereka sinkron dengan emosi Allah, lalu ketika Allah murka, mereka pun marah sesuai dengan kemarahan-Nya. Belajarlah dari Musa. Allah tidak pernah mentolerir setiap dosa penyembahan berhala, karena Ia adalah Allah yang Mahakudus dan Tidak Terbatas yang tidak dapat dipersamakan dengan hal-hal yang tidak kudus atau terbatas. Kalau di zaman penulisan kitab Roma, banyak manusia pada waktu itu menyembah patung, maka di zaman postmodern, ilah lain bukan lagi berwujud patung, tetapi rasio dan feeling. Di zaman postmodern, meskipun remah-remah penekanan rasio pada zaman modern masih ada, tetapi feelinglah yang sangat diutamakan bahkan disembah oleh mereka sebagai ilah di dalam hidup mereka, meskipun mereka tidak pernah mau mengakuinya. Tidak usah heran, di dalam zaman yang gila ini, ada seorang dosen “Kristen” yang adalah seorang pemuja relativisme mengatakan bahwa kita tidak boleh menghakimi, masing-masing memiliki standar yang berbeda-beda, itu tergantung masing-masing orang. Itukah orang Kristen ? TIDAK. Mereka boleh dengan bangga menyebut diri “Kristen”, tetapi sori, saya lebih menyebut mereka sebagai seorang atheis yang berjubah “Kristen”. Jangan mengira orang Kristen cukup ditandai dengan KTP mereka yang menyebut agama mereka Kristen. Banyak orang “Kristen” (bahkan para “pemimpin gereja) yang sebenarnya bukan termasuk umat pilihan Allah sedang meracuni gereja dan keKristenan perlahan-lahan. Ingatlah akan perkataan Tuhan melalui Paulus di dalam Galatia 6:7-8, “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.” Ketika Anda lebih mengilahkan relativisme di dalam hidup kita, terimalah akibatnya bahwa suatu saat Anda akan dihajar oleh murka Allah karena Anda telah menggantikan kemuliaan Allah yang suci dan kekal dengan sesuatu yang najis dan fana. Ingatlah, Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan, “Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan.” (Ibrani 12:29).
Kalau Allah kita adalah api yang menghanguskan, maukah kita hari ini tidak lagi mempermainkan iman kita dan Allah yang kita sembah ? Maukah Anda hari ini bertobat dari dosa dan kebiasaan kita yang menghina Allah baik secara eksplisit maupun implicit ? Amin.