18 May 2007

BAGAIMANA MEMILIH SEKOLAH ?
Pemikiran Signifikansi Pendidikan


oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.


Memilih sekolah bagi anak-anak, ataupun memilih sekolah bagi diri kita untuk berbagian di dalamnya, entah sebagai pendidik, sebagai pendukung, dll, bukanlah hal yang sepele.
Namun sebelumnya, kita perlu bertanya kepada diri kita sendiri, seberapa jauh kita melihat kepentingan ini ? Bukankah banyak orang yang berpikir, bahwa menyekolahkan anak di mana saja sama saja ?
Tetapi sebagian orang lagi, begitu serius berjuang agar anaknya bisa diterima di sekolah tertentu, sehingga menimbulkan penggolongan sekolah favorit dan non-favorit. Apakah sekolah favorit langsung dapat dikatakan sebagai sekolah yang tepat dan benar ?

A. Mengapa Perlu Memilih Sekolah ?
Sungguh tidak realistik apabila kita mengatakan bahwa semua sekolah sama. Setiap sekolah memiliki karakteristik dan kualitasnya masing-masing. Ada banyak variabel yang menentukan karakteristik dan kualitas sekolah itu. Mulai dari kualitas guru-gurunya, kekuatan kurikulumnya (sekalipun sepintas kelihatan kurikulumnya sama dengan sekolah lain), fasilitas sekolah, dan penerapan disiplin sekolah. Semua itu akan menentukan sekolah itu akan menjadi sekolah yang bagaimana.

Dengan adanya perbedaan variabel yang ada dalam sekolah, maka kualitas maupun kekuatan sekolah itu menjadi unik. Ada sekolah yang memiliki kekuatan di bidang eksakta, karena memiliki guru-guru yang yang sangat baik untuk mata pelajaran tersebut. Ada juga yang kuat di bidang seni dan olah raga, karena memiliki guru yang baik dan juga fasilitas yang memadai untuk itu.

Kita perlu memilih sekolah, karena sekolah yang berkualitas rendah akan menghambat proses belajar mengajar anak-anak kita. Demikian juga sekolah yang kurang baik, akan membentuk karakter anak kita juga menjadi kurang baik. Biasanya itu ditandai dengan pergaulan yang kurang baik, kehidupan sosial sekolah yang tidak disiplin, masuknya berbagai hal buruk ke dalam sekolah, seperti narkoba, film porno, dll. Lebih tajam lagi, kita perlu memilih sekolah dengan lebih teliti, karena sebagai orang percaya, kita melihat pembentukan iman akan sangat mempengaruhi pertumbuhan dan kedewasaan anak-anak kita kelak di dalam menghadapi berbagai godaan dunia.

B. Bagaimana Memilih Sekolah ?
Ada banyak artikel bertema sama. Dan artikel ini bukan bertujuan memberikan satu tambahan yang memperbanyak koleksi, namun ingin memberikan satu terobosan untuk memikirkan hal yang perlu diperhatikan secara serius.
1. Apa Tujuan Pendidikan ?
Setiap sekolah memiliki filosofinya sendiri di dalam memikirkan dan menggarap pendidikan. Ada pemikiran bahwa pendidikan adalah upaya menjadikan anak itu seperti yang ia inginkan (Alexander S. Neill). Maka pendidikan akan menekankan kebebasan murni kepada anak. Ada pendidikan menekankan kreativitas (Jean Piaget). Di sini kemampuan kreativitas dan pendalaman pengetahuan menjadi tekanan penting. Dan masih banyak tujuan pendidikan lainnya, seperti untuk memenuhi kebutuhan dunia usaha, menjadi alat politik pemerintah, atau bahkan untuk menjadi alat agama. Namun, pendidikan sejati adalah membawa anak menadi seorang rohani. Menjadi rohani bukan berarti menjadi rohaniawan, pendeta, penginjil, atau sejenisnya (meskipun itu tentu termasuk), tetapi menjadi orang yang tahu apa yang Tuhan inginkan dari dirinya dengan mengembangkan semua yang Tuhan berikan kepadanya sebaik mungkin melalui studi yang dilewatinya. Anak-anak diharap belajar untuk bisa memuliakan Allah dan menjadi berkat bagi sesama manusia, bagi bangsa dan negaranya. Sekolah seperti ini sangat langka pada zaman seperti sekarang ini. Jika tidak, pendidikan justru akan menjadikan manusia-manusia yang hanya memikirkan dirinya, kepentingannya, kesuksesannya, dan akhirnya hidup moralnya rusak, merugikan orang lain, merusak dan menghancurkan masyarakat, bangsa dan negara.

2. Apa Sifat Pendidikan ?
Pendidikan banyak yang hanya menekankan aspek-aspek intelektuallitas, karena variabel kesuksesan pendidikan modern kebanyakan diarahkan pada kesuksesan material. Orang sukses jika setelah sekolah ia nanti menjadi kaya, menjadi trilyuner dan dengan demikian akan terpandang di masyarakat. Inilah nilai-nilai masyarakat yang akan membangun sifat atau karakteristik pendidikan. Seluruh pendidikan diarahkan ke arah orientasi bisnis. Maka banyak sekali pendidikan sekarang yang juga di titik awal berorientasi kepada uang.

Seorang pakar pendidikan dan pendiri seminari terkenal di Amerika Serikat, Prof. Cornelius Van Til, Ph.D., menekankan bahwa sekolah yang baik harus mengerti dengan tepat siapa manusia, karakteristiknya, dan tujuan keberadaannya. Manusia bukan budak materi dan bukan alat kerja seperti seekor binatang. Manusia adalah makhluk unik yang dicipta menurut gambar dan rupa Allah, tetapi telah jatuh ke dalam dosa. Itu berarti pendidikan mengacu pada pembentukan manusia secara utuh, agar ia bisa kembali menggenapkan apa yang Allah maksudkan. Namun, pendidikan menurut beberapa pakar saat ini dipersempit hanya sebagai sekolah, yaitu lembaga yang memberikan informasi, memberi pengetahuan, agar anak memiliki kemampuan intelektual dan sosial agar bisa hidup di masyarakat. Aspek spiritual, aspek mental, aspek moral, tidak mendapatkan porsi yang cukup dibandingkan dengan porsi intelektual, keterampilan dan sosial.

Seorang filsuf dan guru besar terkenal, Dr. Nicholas Wolterstorff, menekankan bahwa pendidikan adalah untuk membentuk hidup dalam arti yang sesungguhnya, baik segi natur manusianya, pertumbuhannya, perannya, dan juga penggenapannya. Itu terlihat jelas dari judul bukunya, Educating for Life. Teriakan ini berusaha mengajak banyak orang tua dan pakar pendidikan mengevaluasi kembali seluruh pendidikan yang ada, dan sekaligus memilih pendidikan atau sekolah yang tepat untuk membentuk anak-anak, calon-calon pemimpin masa depan. Kita perlu memilih sekolah yang paling bisa membawa anak kita kembali menjadi manusia sejati, karena di situlah pusat pendidikan. Pendidikan bukan untuk uang atau dunia, tetapi menjadikan manusia kembali menjadi manusia sejati seperti yang Allah kehendaki. Kita perlu memilih sekolah yang paling bisa membentuk anak-anak kita kembali menjadi manusia yang sejati, karena di situlah pusat pendidikan !

3. Apa Peran Pendidikan ?
Seorang manusia dicipta oleh Tuhan dengan rencana yang unik dan khusus. Ia diberi talenta dan perlengkapan khusus, kelebihan dan kekurangan yang unik, semua itu demi untuk menggenapkan apa yang Allah ingin kerjakan di dalam dan melalui dirinya. Bagaimana sekolah tertentu yang tepat bisa mendidik dan mengembangkan apa yang Allah berikan, yang nantinya bisa dikembalikan untuk kemuliaan Allah. Saat ini begitu banyak sekolah yang membawa anak menjadi alat manipulasi, sebagai pemuas obsesi, dari sekolah, dan orangtua, dari negara, dari kebutuhan industri, dll, sehingga pendidikan kehilangan peran aslinya, tetapi menjadi, tetapi menjadi alat pelengkap dunia materi dan sarana pemuas nafsu manusia. Seorang pakar pendidikan Indonesia menyatakan bahwa pendidikan mempersiapkan anak agar bisa memainkan peranannya secara tepat dalam tugas hidupnya, baik untuk melaksanakan tugasnya sebagai pekerja, maupun tugas hidup sebagai manusia. Di sini kita melihat, sekalipun terlihat baik, tetapi akhirnya manusia hanya mempersiapkan diri melalui sekolah menjadi pekerja bagi kebutuhan dunia. Dari situ, pendidikan merekayasa beberapa model pendidikan.

Peran sekolah yang baik adalah menyadarkan dan memperlengkapi anak agar anak itu sadar panggilannya di hadapan Allah dan berjuang seumur hidup untuk menggenapkan panggilan itu. Sekolah yang sedemikian akan membawa anak pada suatu kualitas hidup dan kerja yang bukan berstandar diri atau masyarakat, tetapi berstandar kebenaran dan sifat Allah sendiri. Di sini peranan pendidikan tidak sesederhana yang biasa dipikirkan manusia. Itu sebab, manusia cenderung menurunkan standard ini, dan mengalihkan perhatian pada insan pendidikan, para intelektual pendidikan dan orang tua untuk kembali memikirkan pendidikan yang baik bagi anak-anak. Kini kita terpanggil untuk bersama-sama saling bahu-membahu menggarap pendidikan yang baik. Kita juga terpanggil untuk tidak sembarangan menyekolahkan anak kita.

Memang sekolah bukan hal yang murah, tetapi bukan berarti jika sekolah itu penuh dengan segala fasilitas, dengan biaya yang mahal, akan menjamin pendidikan yang baik dan benar. Pendidikan yang baik dan benar akan terlihat dari beberapa hal praktis, yang merupakan implikasi dari beberapa elemen di atas :
· Guru dan Civitas Akademika yang bukan hanya berintelektualitas, berketerampilan baik, tetapi juga memiliki teladan hidup yang baik, yang bisa menjadi contoh hidup bagi anak-anak, dan memiliki kerohanian yang baik. Guru bukan hanya memberikan ilmu, tetapi memberikan hidup. Maka hidup yang rusak akan menjadi teladan yang buruk.
· Kurikulum yang bukan hanya menekankan satu atau dua aspek intelektualitas, tetapi mengarahkan manusia menjadi manusia yang utuh. Memberikan integritas (keutuhan) dan kelengkapan dari aspek spiritual, aspek moral, aspek sosial, aspek intelektual dan aspek emosional. Penilaian pertumbuhan dilihat secara utuh dari kehidupan itu sendiri.
· Kemurnian Motivasi di dalam penyelenggaraan pendidikan. Sekalipun tidak murah, pendidikan bukan tempat untuk bisnis dan bukan suatu anjang cari uang. Pendidikan adalah pembentukan manusia, sehingga tidak boleh dikomersialkan. Yang justru seharusnya ada adalah pengorbanan dan cinta kasih dalam membentuk manusia. Jika anak didik adalah obyek keuntungan, komoditi yang diperdagangkan, betapa mengerikannya pendidikan !
· Koordinatif di dalam penyelenggaraan pendidikan, di mana sekolah melibatkan orang tua dan juga gereja, sehingga anak tidak mendapatkan opini berbeda dari tiga otoritas berbeda. Perpecahan otoritas akan mengakibatkan kerusakan perkembangan epistemologis dan aksiologis anak. Anak akan bingung apa yang benar dan yang salah, bingung apa yang baik dan tidak baik, dan akhirnya anak akan mengembangkan sifat pluralistik yang tidak peduli pada otoritas manapun.

Kiranya terobosan pemikiran ini bisa membukakan wawasan para pendidik dan juga orang tua untuk memikirkan ulang bagaimana memilih dan membentuk suatu pendidikan yang diambil, baik bagi anaknya, bagi dirinya, maupun bagi kepentingan seluruh umat manusia, bangsa dan negara tercinta ini. Soli Deo Gloria.


Sumber :
Artikel utama pada brosur pendidikan LOGOS yang dicetak untuk pameran pendidikan KIDO tanggal 24 s/d 28 Januari 2007 di Plaza Tunjungan 3, Convention Hall, Lantai 6, Surabaya.



Profil Pdt. Sutjipto Subeno :
Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div. dilahirkan di Jakarta pada tahun 1959. Beliau menyerahkan diri untuk menjadi hamba Tuhan ketika sedang kuliah di Fakultas Teknik Elektro Universitas Trisakti Jakarta. Menyelesaikan studi Sarjana Theologia (S.Th.)-nya di Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili Indonesia (STTRII) di Jakarta tahun 1995 dan tahun 1996 menyeleselaikan gelar Master of Divinity (M.Div.)-nya di sekolah yang sama.

Setelah pelayanan di Malang dan Madura, sejak tahun 1990 beliau bergabung dengan Kantor Nasional Lembaga Reformed Injili Indonesia (LRII) di Jakarta. Beliau melayani di bidang literatur yang meliputi penerjemahan dan penerbitan buku-buku teologi. Selain itu beliau juga mengelola Literatur Kristen Momentum di Jl. Tanah Abang III/1 (sejak tahun 1993) dan di Jl. Cideng Timur 5A-5B (sejak tahun 1995).

Beliau ditahbiskan sebagai pendeta pada Mei 1996 dan mulai Juni 1996 menjadi gembala sidang GRII Surabaya. Selain sebagai gembala sidang, saat ini beliau juga sebagai direktur operasional dari penerbitan dan jaringan toko buku Momentum dan direktur International Reformed Evangelical Correspondence Study (IRECS), sebuah sekolah teologi korespondensi untuk awam berbahasa Indonesia dengan jangkauan secara internasional. Selain itu beliau adalah dosen terbang di Sekolah Theologia Reformed Injili (STRI) Jakarta dan Institut Reformed di Jakarta.

Beliau juga banyak melayani khotbah dan seminar di berbagai gereja, persekutuan kampus dan persekutuan kantor, baik di dalam negeri maupun di luar negeri; seperti Yogyakarta, Palembang, Batam, Singapura, Australia dan Eropa (Jerman dan Belanda).

Beliau menikah dengan Ev. Susiana Jacob Subeno, B.Th. dan dikaruniai dua orang anak bernama Samantha Subeno (1994) dan Sebastian Subeno (1998). Pada tahun 2000, beliau bersama anak-anak Tuhan yang menempuh pendidikan theologia di Sekolah Theologia Reformed Injili Surabaya (STRIS) Andhika bergumul masalah pendidikan dan pada tahun 2006, beliau akhirnya mendirikan Pendidikan Reformed Injili LOGOS (LOGOS Reformed Evangelical Education) untuk Playgroup, Kindergarten dan Elementary.

Matius 1:7-17 : THE GENEOLOGY-5

Ringkasan Khotbah Mimbar di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Andhika, Surabaya tanggal 22 Februari 2004

The Geneology (5)

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat 1: 7-17



Hari ini kita kembali merenungkan bagian ketiga, yaitu bagian terakhir dari silsilah Yesus Kristus yang setiap bagiannya ada 14 keturunan (3 bagian x 14 keturunan). Alkitab tidak pernah menuliskan hal-hal yang tidak penting tidak terkecuali silsilah. Orang selalu menganggap bahwa silsilah tidak terlalu penting dan membosankan. Salah! Karena silsilahpun memang Tuhan wahyukan demi untuk kebaikan manusia; ada arti atau makna yang dalam di balik nama-nama tersebut. Jadi, semua yang tertulis dalam Alkitab adalah kebenaran mutlak dan Alkitab tidak mungkin bersalah maka kalau sampai terjadi kesalahan dalam menafsirkan Alkitab, kesalahan ada pada diri kita bukan pada Firman Tuhan. Dunia modern membuat orang Kristen selalu berpikir pragmatis; orang tidak mau berkorban harta dan waktu demi untuk memperoleh kebenaran sejati yang terdapat dalam Alkitab. Orang hanya menginginkan segala sesuatu secara instant. Setiap orang Kristen hendaklah mempunyai hati yang selalu ingin belajar sehingga kita dapat saling membangun dan gereja dapat bertumbuh.

Bukan suatu kebetulan atau tanpa tujuan Matius membagi silsilah Yesus Kristus menjadi tiga segmen di dalam seluruh sejarah perencanaan Allah (Mat. 1:17). Segmen pertama, Tuhan memakai orang-orang patriakh untuk menegakkan umatNya; segmen kedua, Tuhan memakai orang-orang dari keturunan kerajaan; dan segmen ketiga, Tuhan memakai orang-orang yang beriman dan masih setia di tengah-tengah reruntuhan umat Israel setelah pembuangan di Babel. Sejak masa pembuangan, bangsa Israel mengalami masa-masa sulit; mereka dijajah terus menerus sehingga iman mereka terombang ambing dan pada saat yang sama Tuhan berhenti berfirman kurang lebih 400 tahun lamanya. Puji Tuhan, ternyata Allah tidak diam; Ia tetap menjaga sejarah KerajaanNya. Tuhan memilih 14 keturunan yang beriman kokoh dan setia untuk meneruskan garis benang merah sejarah kerajaanNya diantara mereka yang sudah mulai melupakan Allah.

Ayat 17 merupakan titik penghubung antara ayat 16, yang berbicara tentang kehadiran Kristus dengan ayat 18 yang berbicara tentang bagaimana kelahiran Kristus. Beberapa penafsir berpendapat bahwa Matius sepertinya “memaksakan“ angka 14 karena di setiap bagian sebenarnya ada lebih dari 14 nama. Catatan sejarah dalam Alkitab berbeda dengan catatan sejarah manusia. Alkitab hanya mencantumkan nama-nama yang mengandung makna dan mempunyai signifikansi; mereka yang tidak mempunyai nilai akan dihilangkan dari catatan sejarah. Pada hakekatnya, manusia tidak suka bila ditiadakan atau dianggap tidak ada, keberadaannya tidak berpengaruh apapun. Celakanya, kalau keberadaan seseorang tersebut sangat menganggu lingkungan sekitar dan ketika dia tidak ada justru menjadi kelegaan bagi orang di sekitar. Manusia dicipta dengan tuntutan makna karena itu jadikanlah hidupmu penuh makna sehingga nama kita ada dalam catatan sejarah Kerajaan Allah.

Matius ingin menyampaikan berita kebenaran, yaitu perjanjian (covenant) Allah dengan Abraham tetap berlangsung dan digenapi dalam Kristus Yesus. Jadi, Kristus merupakan titik pusat dari covenant karena itu Matius meletakkannya di tengah (ay. 16). Untuk lebih jelasnya, kita harus kembali pada teks Alkitab yang asli yang hanya berisi tulisan, tanpa pasal, ayat ataupun judul maka kita akan melihat ayat 16 berada tepat di tengah antara ay. 1-ay. 25. Adanya pasal, ayat dan judul dalam Alkitab dapat menguntungkan sekaligus merugikan, yaitu memudahkan bagi kita dalam membaca tapi juga dapat memotong pemikiran dalam Alkitab yang sebenarnya mengalir.

Beberapa penafsir berpendapat, angka 14 hanyalah simbol. Dalam beberapa aspek ini bukan sekedar simbol, Matius memang sengaja meletakkan 14 nama di setiap bagiannya. Empat belas keturunan di bagian ketiga dianggap yang paling sulit karena mereka harus mempertahankan imannya di tengah dunia yang sudah mulai kehilangan iman. Pada jaman itu banyak tekanan, ancaman, penjajahan dan konsep-konsep dunia yang mulai menyimpang dari Firman maka tidaklah heran kalau muncul golongan Parisi, golongan Saduki, golongan Herodian, dan lain-lain. Signifikansi Matius mencantum 3 x 14 pada silsilah Yesus Kristus :
1. Gambaran Kesempurnaan (The Perfectness) Pekerjaan Allah.
Di satu aspek manusia mengaku beriman dengan sungguh namun pada saat yang sama manusia seringkali meragukan Tuhan karena pertolongan Tuhan yang datang tepat waktu justru dirasakan sebagai keterlambatan. Pada saat kita tidak bersandar mutlak pada Tuhan maka pada saat itu juga keyakinan, confidence kita mulai goyah sehingga dengan mudah iblis akan menguasai kita. Hati-hati, janganlah engkau merasa yakin bahwa engkau mempunyai iman yang kuat karena pada saat itulah justru menampakkan bahwa imanmu sudah mulai goyah. Iman dan keyakinan merupakan dua hal berbeda. Kalau kita menggabungkan iman dan keyakinan maka kita masuk dalam empirisme dimana pengalaman dianggap sebagai iman. Sesungguhnya, iman menghasilkan pengalaman dan iman menghasilkan keyakinan bukan sebaliknya. Kesalahan yang fatal, kalau kita menggabungkan keduanya seperti yang dilakukan oleh aliran karismatik dan positive thinkers. Orang tidak mengerti definisi iman dan keyakinan dengan tepat maka wajarlah kalau mereka menjadi sesat.

Melalui tulisannya Matius ingin agar para pembacanya mempunyai kebenaran iman sejati yang berobyek pada Kristus yang adalah sempurna. Jangan pernah berpikir bahwa kerajaan Tuhan bisa digagalkan di tengah dunia ini. Tuhan sudah mengatur sejarah kerajaanNya sedemikian rupa dengan sempurna. Allah berfirman bahwa akan datang seorang Juruselamat, yaitu Kristus Tuhan maka hal itu pasti terjadi. Tidak ada satu manusiapun yang dapat menggagalkan rencana Allah. Dia adalah Allah sang pemilik sejarah; Dialah yang memulai dan yang sekaligus mengakhiri sejarah dunia ini. Janganlah mudah tergoda dengan berbagai macam iman yang ditawarkan dunia. Iman yang ditawarkan dunia tidak akan membawa kita pada kesempurnaan.

Sebagai contoh, Kant mengemukakan bahwa tidak ada satupun obyektifitas iman di dunia yang perlu untuk manusia percayai. Salah! Masih ada obyektifitas iman yang dapat kita percayai, yaitu Firman yang mengajarkan kesempurnaan iman. Matius menawarkan kerajaan surga yang sempurna yang dihadirkan dalam diri Kristus yang adalah sempurna. Kerajaan surga yang Allah janjikan berbeda dengan kerajaan dunia. Sepintas lalu, manusia melihat kesuksesan raja-raja dunia, seperti Saul, Daud dan Salomo. Ternyata masa kejayaan Raja Salomo tidak berlangsung selamanya; kerajaan Israel mulai hancur, terpecah belah dan saling bermusuhan sampai akhirnya nama Yekhonya (bukan raja) yang tertulis dan berakhir di pembuangan. Inikah kerajaan dunia yang dibanggakan oleh manusia? 3 x 14 menggambarkan kesempurnaan total kerajaan Surga; Kristus Juruselamat yang dijanjikan itu lahir.


2. Gambaran Kesempurnaan Total Rencana Allah, Total Planning of God.
Angka 7 mempunyai arti yang sangat istimewa bagi orang Yahudi, 3x14=3x2x7. Angka 7 merupakan gambaran sempurna maka tidaklah heran orang Yahudi sangat suka dengan kelipatan 7. Tuhan mencipta 7 hari lamanya dan Tuhan menguduskan pada hari ke-7. Bahkan sampai hari ini kelipatan 7 menjadi angka sempurna, bukankah dalam kalender ada 7 hari yang dimulai dari Minggu dan berakhir di hari Sabtu? Petrus memulai khotbah penginjilan yang pertama, yaitu berita tentang Kristus Juruselamat pada hari Minggu dan di hari yang sama itu 3000 orang bertobat. Tapi sayang, hari ini justru banyak orang Kristen tidak berani secara terang-terangan memberitakan kebenaran bahwa kita adalah manusia berdosa dan hanya melalui Yesus Kristuslah kita diselamatkan. Orang Kristen ketika memberitakan injil justru menghilangkan inti berita dan mereka justru menawarkan hal-hal duniawi seperti kesembuhan, kemakmuran, dan lain-lain. Iman Kristen yang kehilangan esensi Kristus bukanlah iman sejati.

Angka 6 menggambarkan manusia yang dicipta pada hari ke-6; angka 7 menggambarkan kerajaan Allah; angka 3 menggambarkan Allah Tritunggal. Itulah sebabnya Matius memakai angka 3x2x7. Matius mengkontraskan antara angka manusia dengan angka Allah. Angka 666 (enam ratus enam puluh enam) yang tertulis dalam Wahyu melambangkan kesempurnaan manusia. Matius membukakan pikiran para pembacanya agar mempunyai cara pandang yang berbeda, yaitu dari memikirkan hal yang bersifat manusia ke hal yang bersifat Allah. Sejak awal Matius telah memberitakan tentang hal Kerajaan meski kata “Kerajaan“ baru muncul di pasal 3. Tuhan ketika berencana, Dia pasti merencanakan secara totalitas. 3 x 14 menunjukkan tatanan yang simultan yang menggabungkan seluruh aspek dan mencakup semua unsur. Ini merupakan total planning dimana Tuhan merencanakan kerajaanNya.

Manusia yang tidak mau taat pada rencana Allah maka dia akan terbuang dari sejarah. Pembentukkan Kerajaan Allah harus melewati sejarah yang bersifat totalitas. Cara Tuhan membentuk hidup anak-anakNya sangatlah unik; terkadang Tuhan mengijinkan manusia untuk mengalami kesusahan dan penderitaan terlebih dahulu sebelum ia mengalami kesuksesan. Tuhan membentuk Musa, Daud, Yusuf dan masih banyak lagi melalui penderitaan dan tantangan berat sebelum akhirnya mereka menjadi berhasil dan mempunyai hidup yang bernilai. Hal ini sangat disadari Socrates bahwa hidup yang tidak teruji tidak layak untuk dihidupi, unexamined live unworth living.

Seseorang dapatlah dikatakan “sukses” bila: pertama, dapat melewati setiap ujian dalam hidupnya. Hal ini tidaklah mudah hanya kekuatan Tuhan saja yang dapat memampukan kita. Tetaplah bertahan dalam iman kepada Yesus Kristus meski kita berada dalam keadaan yang paling sulit sekalipun. Jangan pernah berkompromi dengan iblis. Ingat, saat kita mengalami ujian dalam hidup, Tuhan tahu seberapa kekuatan kita (I Kor. 10:13). Tuhan memberikan batasan pada iblis ketika Ayub hendak dicobai. Kita tidak akan pernah tahu seberapa kekuatan iman kita kecuali kalau kita melewati kesulitan tersebut. Kedua, tidak menjadi lupa diri ketika ia berada di kesuksesan. Setiap orang pasti ingin sukses akan tetapi kesuksesan tanpa disertai iman yang kuat akan membuat kita mudah jatuh dalam dosa. Pada umumnya, orang akan beriman dengan sungguh ketika ia berada dalam kesusahan tapi ia akan melupakan Tuhan ketika berada dalam kesuksesan. Jangan pernah berpikir bahwa kekayaan menjadikan hidup kita nikmat. Tuhan akan memberikan kekayaan ketika Dia merasa kita sudah cukup kuat menanggungnya dan Tuhan tahu sampai dimana kekuatan kita. Fakta menunjukkan kekayaan tidak membuat hidup menjadi nikmat tetapi justru mematikan iman, merusak hubungan antar manusia, dan membunuh diri kita sendiri. Karena itu, benarlah kalau Tuhan Yesus mengajarkan berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya supaya kita tidak mencuri dan mencemarkan nama Tuhan atau kita tidak menyangkali Tuhan ketika kita kenyang (Ams. 30:8-9).

Sejarah adalah ceritanya Tuhan, history is His story. Sejarah selalu mempunyai 2 unsur, yaitu sejarah utama dan sejarah figuran. Kita berada di posisi yang mana? Kalau kita ingin menjadi pemeran utama dalam sejarah Kerajaan Allah maka taatlah dan bersandarlah hanya kepadaNya; Ia akan membentuk hidup kita secara total. Sayangnya, hari ini banyak orang tidak suka untuk dibentuk; kita mulai melarikan diri dari Tuhan. Ingat, setiap penderitaan yang kita alami memang Tuhan maksudkan untuk membentuk kita supaya semakin serupa Kristus. Iman Kristen bukanlah iman yang fanatisme akan tetapi kita tahu dengan pasti kenapa kita hanya beriman pada Kristus, the King of kings yang diturunkan dari 3x14. Karena itu jangan pernah sekalipun imanmu goyah dan meninggalkan Tuhan supaya penuh sukacitamu. Kristus adalah Raja di atas segala raja maka Dia pasti memperhatikan dan memelihara setiap umatNya. Dan hanya Kristus satu-satunya kekuatan dan Juruselamat yang kepadaNya kita dapat berharap. Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)


Sumber :
http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2004/20040222.htm

Roma 1:21-23 : KEBEBALAN MANUSIA

Seri Eksposisi Surat Roma :
Realita Murka Allah-3


Kebebalan Manusia

oleh : Denny Teguh Sutandio


Nats : Roma 1:21-23


Setelah kita membahas tentang realita murka Allah atas segala kefasikan dan kelaliman manusia yang menindas kebenaran dengan kelaliman di ayat 18, dengan cara mengabaikan hati nurani dan alam semesta yang merupakan wujud dari wahyu umum Allah, maka saat ini melalui ayat 21-23, Alkitab hendak menjelaskan kepada kita tentang realita kebebalan manusia yang meskipun sudah mengenal Allah, tetapi tidak mau menyembah-Nya.
Pada ayat 21, Alkitab menyatakan, “Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.” Atau terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) menerjemahkan, “Manusia mengenal Allah, tetapi manusia tidak menghormati Dia sebagai Allah dan tidak juga berterima kasih kepada-Nya. Sebaliknya manusia memikirkan yang bukan-bukan; hati mereka sudah menjadi gelap.” Melalui apa yang telah Allah wahyukan kepada semua manusia yaitu melalui hati nurani dan alam semesta, manusia bukan tidak mengenal Allah, tetapi mereka mengenal-Nya. Ini yang Alkitab ajarkan. Kata “mengenal” dalam bahasa aslinya (Yunani) yaitu ginōskō yang berarti mengetahui atau mengerti (understand), tetapi Alkitab terjemahan King James Version (KJV) menerjemahkan kata “mengenal” ini sama dengan kata “ketahui” di ayat 19 dengan satu kata know, tetapi Alkitab Terjemahan Baru (TB) membuat perbedaan kata, di mana ayat 19 menggunakan kata “mengetahui”, sedangkan di ayat 21 memakai kata “mengenal”. Mengapa Alkitab TB membuat perbedaan semacam ini ? Jika kita menyelidiki, di ayat 19, Alkitab berkata bahwa manusia sudah mengetahui tentang keberadaan Allah, karena Ia telah menyatakan diri-Nya secara umum yaitu melalui hati nurani dan alam semesta. Tetapi apakah mereka hanya sebatas tahu ? TIDAK. Di ayat 21, Paulus memaparkan fakta bahwa mereka pun juga sudah mengenal Allah (satu tahap lebih dalam ketimbang mengetahui), tetapi meskipun demikian, mereka tidak memuliakan-Nya. Kata “memuliakan” dalam bahasa Yunaninya adalah doxazō berarti menghormati (honor) atau memuliakan (magnify) atau memberikan kemuliaan. Di dalam KJV dan International Standard Version (ISV), kata “memuliakan” diterjemahkan glorify, di dalam terjemahan English Standard Version (ESV) memakai kata honor. Yang lebih menarik, Alkitab menambahkan bahwa mereka bukan hanya tidak memuliakan-Nya tetapi juga tidak memuliakan-Nya sebagai Allah. Ketika Allah tidak dipermuliakan sebagai Allah, hanya ada satu “saingan” yaitu manusia yang dipermuliakan sebagai “Allah”. Itu adalah ide dari atheisme dan humanisme yang berlaku dari zaman modernisme hingga postmodern yang semakin menggila.
Di dalam titah pertama dari kesepuluh Titah yang Allah berikan melalui Musa, Allah bersabda, “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.” (Keluaran 20:3 ; TB) atau terjemahan BIS lebih jelas mengartikannya, “Jangan menyembah ilah-ilah lain. Sembahlah Aku saja.” Perintah ini sudah sangat jelas, tetapi kembali, di dalam sejarah bangsa Israel, mereka yang dari dulu sudah mengikat perjanjian dengan Allah bahwa mereka akan berbakti selama-lamanya kepada-Nya, akhirnya mereka melanggar perjanjian tersebut dengan bersungut-sungut (tidak bersyukur kepada-Nya), dll. Itulah realita yang Alkitab ajarkan mengenai kebebalan manusia. Apakah ini juga tidak terjadi di zaman postmodern ? TIDAK. Hal ini bukan saja tidak terjadi di zaman postmodern yang gila ini, tetapi sudah menjadi life style bagi manusia berdosa, khususnya banyak orang “Kristen” yang dengan bangganya menyebut diri Kristen apalagi “melayani Tuhan” di gereja. Kalau mereka ditanya apakah mereka sudah mengenal Tuhan Yesus, mereka pasti menjawab dengan lantang, “Sudah !”, tetapi sebaliknya jika mereka ditanya pertanyaan lebih dalam lagi, “Apakah Anda sudah memuliakan-Nya dengan membawa berita Injil di dalam kehidupan Anda dan bersyukur kepada-Nya ?”, mereka yang menjawab semakin berkurang kuantitasnya. Mengapa ? Karena meskipun mereka sudah mengenal Tuhan Yesus bahkan sejak dari kecil di sekolah minggu sampai dewasa bahkan ikut terlibat aktif di dalam pelayanan gereja, mereka pada dasarnya masih childish, mau mengenakkan diri tetapi tidak mau menyangkal diri. Itulah realita keKristenan di abad postmodern ini. Mereka menganggap Allah bukan sebagai Allah lagi, tetapi sebagai “pembantu”nya yang selalu mengabulkan apapun yang mereka perlukan di dalam doa, lalu mereka terus mengklaim mereka sedang “melayani Tuhan”. Yang lebih parah lagi, banyak orang “Kristen” yang mengaku “melayani Tuhan”, ketika dirinya diberikan penyakit yang ganas, mereka langsung marah-marah kepada Tuhan, dan bertanya mengapa Tuhan memberikan penyakit kepadanya, padahal mereka sudah melayani-Nya. Mereka mengira Tuhan membutuhkan mereka untuk melayani-Nya. Ini adalah akibat kesalahan fatal dari konsep “theologia” sukses dan “theologia” Arminian yang menekankan kehendak bebas manusia dan menghilangkan kedaulatan Allah (termasuk di dalamnya pengaruh dari buku Rick Warren, “The Purpose Driven Life”). Allah hanya dianggap sebagai pemuas kebutuhan jasmaniah (yang dibungkus dengan hal-hal “rohani”, misalnya, “Dengan ‘iman’, maka minta apa saja, pasti dikabulkan.”, dll), tidak beda dengan pekerjaan seorang pelacur (maaf). Itu bukan Allah Alkitab ! Itu setan ! Jangan mengira setiap orang “Kristen” beriman di dalam-Nya, kebanyakan mereka beriman di dalam diri mereka sendiri, yang lebih celaka lagi beriman di dalam setan, meskipun setiap Minggu pergi ke gereja. Apakah dengan cara demikian, mereka boleh dikatakan mereka pintar ? TIDAK. Alkitab jelas mengajarkan di dalam ayat 21 ini bahwa pikiran mereka sebenarnya sia-sia atau tidak berharga (worthless) dan hati mereka itu bodoh dan menjadi gelap. Di sini menurut pengamatan saya, kebebalan manusia yang tidak mau memuliakan Allah berdampak kepada seluruh kehidupannya, yaitu pikiran dan hati mereka menjadi rusak/cemar. John Calvin mengatakan bahwa manusia itu sudah rusak total, artinya seluruh keberadaannya sudah rusak, tidak peduli, apakah itu otak, hati, perkataan, dll. Tidak usah heran, mengapa di ayat 21, Paulus menjabarkan dua bagian di dalam pribadi manusia yang merupakan efek langsung dari kebebalan manusia, yaitu otak/pikiran dan hati. Ketika manusia bebal, pikiran mereka ikut bebal juga. Pikiran ini diungkapkan Paulus sebagai pikiran yang tidak berharga/sia-sia. Pikiran manusia yang sudah diciptakan oleh Allah dengan tujuan untuk memuliakan-Nya, tetapi faktanya, akibat dosa, pikiran itu dicemari oleh dosa, dan akhirnya dipergunakan untuk memuliakan diri manusia sendiri. Selain itu, hati mereka juga dikatakan bodoh dan gelap. Kata “bodoh” diterjemahkan foolish oleh terjemahan KJV dan dalam bahasa aslinya asunetos berarti without understanding (tanpa pengertian). Lalu, kata “gelap” dalam bahasa aslinya skotizō berarti obscure (=samar-samar, kabur, tidak jelas, dll). Albert Barnes dalam Albert Barnes’ Notes on the Bible mengaitkan heart dengan afeksi. Ini berarti ketika manusia berdosa, hati/afeksinya sudah dicemari dosa, sehingga mereka tidak lagi peduli dengan orang lain yang menderita, tetapi sangat sedih jika dirinya yang menderita. Ambil contoh, manusia berdosa akan sangat kegirangan (secara implisit, bahkan eksplisit) bila orang lain yang ditipu, tetapi akan sangat sedih bila dirinya yang ditipu (atau orang lain menipu dia). Inilah realita efek dosa di dalam diri manusia, yaitu pikiran mereka itu sebenarnya sia-sia/tidak berharga dan hati mereka itu tidak disertai pengertian yang beres dan kabur.

Kemudian, apakah pikiran ini mereka akui sebagai pikiran yang sia-sia ? TIDAK. Di ayat 22, Paulus membuka fakta lebih dalam lagi, “Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh.” Atau terjemahan BIS mengartikannya, “Mereka merasa diri bijaksana, padahal mereka bodoh.” Kalau kita melihat kembali konteks surat Roma ini, di Roma, banyak filsuf Yunani yang merasa diri hebat, bijaksana, pintar, dll, lalu pikiran dan hati mereka tertutup oleh apa yang mereka anggap sebagai bijaksana dan pandai. Kalau Plato menegaskan filsafat dualisme yang sengaja memisahkan hal-hal yang jasmaniah (natural) dengan hal-hal rohaniah (supranatural), di mana filsafat gila ini digandrungi oleh hampir semua manusia (termasuk banyak orang “Kristen” yang tidak bertanggungjawab) di dalam abad postmodern, maka Max Horkheimer menegakkan filsafat Dialectical Positivism yang berusaha menggabungkan hal-hal yang bertentangan satu sama lain. Tidak heran, di dunia Timur, muncul istilah Yin Yang, di mana kebaikan pasti bersatu dengan kejahatan (di dalam hitam ada putih dan di dalam putih ada hitam). Mereka menganggap bahwa mereka itu berbijaksana dan pintar karena bisa mengeluarkan suatu teori yang diakui oleh seluruh dunia (bahkan yang paling celaka, juga diakui oleh banyak orang “Kristen”). Apakah teori mereka benar ? Mari kita uji. Teori Plato jelas salah karena telah memisahkan kedua bagian manusia yang saling bersatu, yaitu antara tubuh dan jiwa/roh. Jika kita memisahkan tubuh dan roh/jiwa, maka kita pasti mati. Sebaliknya, teori Horkheimer pun juga salah, karena menggabungkan hal-hal yang bertentangan menjadi satu, lalu teori ini juga ada di dunia Timur dengan konsep Yin Yang. Benarkah konsep Yin Yang dari kacamata Kristen ? Setelah mendapat penjelasan singkat dari Pdt. Sutjipto Subeno, saya setuju dengan pendapat beliau bahwa Yin Yang itu tidak sesuai dengan Alkitab. Perhatikan. Kalau di dalam hitam ada putih dan di dalam putih ada hitam, pertanyaannya bukankah yang hitam dan putih sama-sama menjadi kabur dan tidak jelas (persis yang Paulus ungkapkan di dalam ayat 21 tadi dengan mengatakan bahwa pikiran mereka itu sia-sia dan hati mereka menjadi kabur/gelap). Lalu, apakah kita berani mengajarkan kepada anak-anak kita akan konsep Yin Yang ini lalu berkata bahwa kita jangan selalu berbuat baik saja, tetapi kita juga perlu berbuat jahat sesuai dengan ajaran Yin Yang bahwa putih dan hitam selalu bersatu ? TIDAK. Pdt. Sutjipto Subeno mengatakan bahwa hitam itu bukan sebuah warna yang bertentangan dengan putih, tetapi hitam adalah ketidakadaan putih, demikian pula, gelap bukan suatu entity, tetapi gelap adalah suatu ketidakadaan terang. Kalau terang ada, maka gelap pasti tidak ada. Itu yang Alkitab ajarkan sejak Allah menciptakan dunia (Kejadian 1:1-3). Di dalam penciptaan, ketika Allah melihat dunia ini gelap, maka Ia berkata, “Jadilah terang.” (Kejadian 1:3), maka terang itu mengalahkan kegelapan dan kegelapan tidak ada lagi di dalam dunia ini. Dengan kata lain, teori Horkheimer salah. Lalu, manakah yang benar ? Jelas, iman Kristen yang berpusat di dalam Kristus. Di dalam 1 Korintus 1:18, Paulus mengajarkan satu prinsip penting, “Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.” Di dalam pasal yang sama, di ayat 22-25, Paulus mengajarkan pula, “Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah. Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia.” Orang-orang dunia selalu merasa diri pemikiran mereka hebat, tetapi benarkah demikian ? Bagi Allah, pemikiran orang-orang dunia yang paling pintar sekalipun lebih kecil dari kebodohan Allah. Lho, kok bisa ? Kebodohan Allah, yang artinya Allah yang dianggap “bodoh” oleh orang-orang dunia yang berdosa, tetap lebih pandai daripada hikmat manusia yang selalu membanggakan diri mereka pandai dan berbijaksana. Inilah pemikiran paradoks di dalam iman Kristen. Kebodohan Allah itulah salib, yang sebenarnya melambangkan kemenangan dan kebijaksanaan Allah yang terbesar yang tak mungkin bisa dicapai dan dimengerti oleh manusia yang selalu menganggap diri bijaksana dan pandai, padahal mereka sesungguhnya bodoh dan berdosa. Zaman postmodern adalah zaman yang lebih celaka daripada zaman modern, karena di zaman yang gila ini, banyak orang bahkan boleh dibilang dosen-dosen sekuler menimba ilmu di luar negeri bahkan sampai Doctor of Philosophy (Ph.D.), tetapi apakah itu menunjukkan diri mereka pandai ? TIDAK. Sori, saya harus mengatakan satu hal, banyak dosen saya di kampus Petra yang bergelar Master dan Doctor, pemikirannya masih dangkal sekali apalagi tentang iman Kristen. Jangan mengira orang yang sudah studi Master dan Doctor pasti lebih pintar ! Ada seorang dosen saya yang baru bergelar Master sudah sok tahunya bahkan menghina saya yang selalu bersaksi tentang Tuhan. Dia kira dia hebat, TIDAK, saya boleh mengatakan bahwa dia lebih bodoh dari siapapun, karena TELAH MENGHINA ALLAH. Celakalah kamu jika menganggap diri pintar, lalu tidak membutuhkan Allah. Anda tahu cerita dari F. Nietzsche yang mencetuskan God’s Death “Theology” (“Theologia” Allah Mati) ? Nietzsche yang adalah seorang anak pendeta dan katanya pernah sekolah theologia akhirnya mengatakan bahwa ia telah membunuh mati Allah bukan dengan pistol, tetapi dengan pikirannya, lalu apakah dengan demikian, “Allah” yang telah Nietzsche bunuh mati lalu benar-benar mati ? TIDAK. Sejarah membuktikan bahwa Nietzsche pada akhirnya harus mati, tetapi, puji Tuhan, Allah kita tetap hidup untuk selama-lamanya. Ini membuktikan suatu kebodohan orang-orang yang menganggap diri pintar. Dengan mengutip Yesaya 29:14, di dalam 1 Korintus 1:19, Tuhan berkata melalui Paulus, “Aku akan membinasakan hikmat orang-orang berhikmat dan kearifan orang-orang bijak akan Kulenyapkan.” Kalau sejenak kita membaca Yesaya 29:14, ayat ini sebenarnya ingin mengajarkan bahwa hikmat para orang berhikmat di dalam bangsa Israel yaitu mereka yang menghafal dan mengajarkan Taurat secara harafiah (ayat 10-13) akan hilang dan kearifannya pun akan bersembunyi.

Apakah wujud kebebalan manusia hanya sekedar merasa diri pintar ? TIDAK. Pada ayat 23, Paulus melanjutkan penjelasannya, “Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar.” (TB) atau terjemahan BIS mengartikannya, “Bukannya Allah yang abadi yang mereka sembah, melainkan patung-patung yang menyerupai makhluk yang bisa mati; yaitu manusia, burung, binatang yang berkaki empat, dan binatang yang melata.” Melalui ayat 23 ini versi Terjemahan Baru (TB) maupun Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS), kita mendapatkan suatu kesimpulan bahwa kebebalan manusia bukan hanya sekedar merasa diri pintar, tetapi juga ketidakmampuan mereka membedakan antara esensi dengan fenomena, antara hal yang bersifat kekal dan tidak kekal. Di zaman postmodern ini pun, realita ini juga sering dan banyak terjadi. Mereka tidak melihat esensi dan hal-hal yang bernilai kekekalan, tetapi selalu berkutat pada hal-hal fenomenal dan bersifat kesemantaraan, lalu anehnya, mereka terhibur jika sudah melihat hal-hal fenomenal tersebut. Sungguh celaka mereka. Apakah wujud hal-hal fenomenal tersebut ? Alkitab menjelaskan bahwa wujudnya adalah menyembah patung-patung yang dapat dilihat sebagai ilah lain yang menggantikan Allah. Kata “patung-patung” menunjukkan sebuah sesembahan lain (ilah lain) di luar Allah yang sejati yang disembah oleh manusia yang berdosa. Manusia di dunia ini merasa bahwa dengan menyembah patung-patung tersebut identik dengan menyembah “Allah”, yang lebih parah lagi, mereka berdalih bahwa bukan patung yang mereka sembah, tetapi “Allah”, lalu patung hanya mereka jadikan sebagai sarana/cara. Apakah ini dapat dibenarkan ? Di dalam titah kedua dan ketiga di dalam Dasa Titah, Allah bersabda, “Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.” (Keluaran 20:4-6) Titah kedua ini mengajarkan kepada kita untuk tidak membuat patung. Tindakan membuat patung adalah suatu tindakan kedua setelah tindakan menganggap sesuatu sebagai ilah lain selain Allah (pelanggaran dari titah pertama). Jadi, urutannya adalah jika seorang di dalam ide dan “iman”nya sudah menganggap diri atau sesuatu yang lain sebagai ilah lain di luar Allah, maka otomatis orang ini akan berusaha untuk merealisasikannya dengan membuat patung sebagai obyek realisasinya. Jangan mempercayai orang yang berkata bahwa patung hanya sebagai cara/sarana untuk menyembah “Allah”. Allah tidak ingin kita membuat patung dalam bentuk apapun. Lalu, titah ketiga juga mengajar kepada kita bukan hanya untuk tidak boleh membuat patung, tetapi kita pun tidak boleh menyembah patung yang dibuat tersebut, karena Allah adalah Allah yang cemburu yang tidak segan-segan menghukum mereka yang tidak setia kepada-Nya. Inilah realita murka Allah yang jarang disampaikan di dalam banyak khotbah mimbar di dalam banyak gereja-gereja kontemporer yang pop. Setelah Allah selesai menuliskan kesepuluh titah-Nya kepada bangsa Israel melalui Musa, apa yang terjadi dengan bangsa Israel sambil menunggu Musa di atas gunung Sinai ? Keluaran 32:1-6 memberitahu kita tentang peristiwa yang mengerikan ini, “Ketika bangsa itu melihat, bahwa Musa mengundur-undurkan turun dari gunung itu, maka berkumpullah mereka mengerumuni Harun dan berkata kepadanya: "Mari, buatlah untuk kami allah, yang akan berjalan di depan kami sebab Musa ini, orang yang telah memimpin kami keluar dari tanah Mesir--kami tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dia." Lalu berkatalah Harun kepada mereka: "Tanggalkanlah anting-anting emas yang ada pada telinga isterimu, anakmu laki-laki dan perempuan, dan bawalah semuanya kepadaku." Lalu seluruh bangsa itu menanggalkan anting-anting emas yang ada pada telinga mereka dan membawanya kepada Harun. Diterimanyalah itu dari tangan mereka, dibentuknya dengan pahat, dan dibuatnyalah dari padanya anak lembu tuangan. Kemudian berkatalah mereka: "Hai Israel, inilah Allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir!" Ketika Harun melihat itu, didirikannyalah mezbah di depan anak lembu itu. Berserulah Harun, katanya: "Besok hari raya bagi TUHAN!" Dan keesokan harinya pagi-pagi maka mereka mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan, sesudah itu duduklah bangsa itu untuk makan dan minum; kemudian bangunlah mereka dan bersukaria.” Hal ini sangat berkontradiksi dengan puji-pujian yang mereka nyanyikan sendiri di dalam Keluaran 15 tentang kebesaran dan keagungan Allah Israel. Harun yang sebenarnya harus menuntun Israel untuk tidak berbuat dosa selama Musa berada di atas gunung Sinai, ternyata malahan membuat bangsa Israel tambah berdosa dengan menuruti permintaan bangsa Israel untuk membuat patung dan ditambah dengan perkataan bahwa patung itulah Allah yang telah menuntun Israel keluar dari Mesir. Dosa yang diperbuat Harun itu berlapis dua, yaitu menuruti kemauan berdosa dari Israel ditambah dengan pernyataan Harun yang mengatakan bahwa patung itu adalah Allah yang menuntun mereka keluar dari Israel. Itulah agama yang diciptakan manusia yang menyimpang dari kebenaran Allah di dalam Alkitab. Israel kalau boleh diimplikasikan ke dalam zaman sekarang adalah para penganut agama-agama non-Kristen yang melawan Kristus yang menggantikan Allah dengan ilah-ilah lain yang bisa dilihat secara kasat mata, dan Harun boleh diimplikasikan sebagai para pemimpin agama yang juga ikut berdosa dengan menuruti kemauan umatnya yang memberontak terhadap Allah. Bagaimana respon Allah dan Musa setelah mengakui kebiadaban Israel tersebut ? Apakah mereka bisa mentolerir kesalahan mereka lalu mengatakan bahwa jangan menghakimi, itu tergantung pada pribadi masing-masing, patung hanya sebagai sarana untuk menyembah “Allah” ? TIDAK. Allah murka kepada mereka dan Alkitab mencatatnya, “Siapa yang berdosa kepada-Ku, nama orang itulah yang akan Kuhapuskan dari dalam kitab-Ku…Demikianlah TUHAN menulahi bangsa itu, karena mereka telah menyuruh membuat anak lembu buatan Harun itu.” (Keluaran 32:33, 35). Musa pun marah sesuai dengan kemarahan Allah. Hal ini dapat dibaca pada Keluaran 32:19-20, “Dan ketika ia dekat ke perkemahan itu dan melihat anak lembu dan melihat orang menari-nari, maka bangkitlah amarah Musa; dilemparkannyalah kedua loh itu dari tangannya dan dipecahkannya pada kaki gunung itu. Sesudah itu diambilnyalah anak lembu yang dibuat mereka itu, dibakarnya dengan api dan digilingnya sampai halus, kemudian ditaburkannya ke atas air dan disuruhnya diminum oleh orang Israel.” Para hamba Allah sejati memiliki emosi dan afeksi yang dikuduskan sehingga emosi mereka sinkron dengan emosi Allah, lalu ketika Allah murka, mereka pun marah sesuai dengan kemarahan-Nya. Belajarlah dari Musa. Allah tidak pernah mentolerir setiap dosa penyembahan berhala, karena Ia adalah Allah yang Mahakudus dan Tidak Terbatas yang tidak dapat dipersamakan dengan hal-hal yang tidak kudus atau terbatas. Kalau di zaman penulisan kitab Roma, banyak manusia pada waktu itu menyembah patung, maka di zaman postmodern, ilah lain bukan lagi berwujud patung, tetapi rasio dan feeling. Di zaman postmodern, meskipun remah-remah penekanan rasio pada zaman modern masih ada, tetapi feelinglah yang sangat diutamakan bahkan disembah oleh mereka sebagai ilah di dalam hidup mereka, meskipun mereka tidak pernah mau mengakuinya. Tidak usah heran, di dalam zaman yang gila ini, ada seorang dosen “Kristen” yang adalah seorang pemuja relativisme mengatakan bahwa kita tidak boleh menghakimi, masing-masing memiliki standar yang berbeda-beda, itu tergantung masing-masing orang. Itukah orang Kristen ? TIDAK. Mereka boleh dengan bangga menyebut diri “Kristen”, tetapi sori, saya lebih menyebut mereka sebagai seorang atheis yang berjubah “Kristen”. Jangan mengira orang Kristen cukup ditandai dengan KTP mereka yang menyebut agama mereka Kristen. Banyak orang “Kristen” (bahkan para “pemimpin gereja) yang sebenarnya bukan termasuk umat pilihan Allah sedang meracuni gereja dan keKristenan perlahan-lahan. Ingatlah akan perkataan Tuhan melalui Paulus di dalam Galatia 6:7-8, “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.” Ketika Anda lebih mengilahkan relativisme di dalam hidup kita, terimalah akibatnya bahwa suatu saat Anda akan dihajar oleh murka Allah karena Anda telah menggantikan kemuliaan Allah yang suci dan kekal dengan sesuatu yang najis dan fana. Ingatlah, Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan, “Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan.” (Ibrani 12:29).
Kalau Allah kita adalah api yang menghanguskan, maukah kita hari ini tidak lagi mempermainkan iman kita dan Allah yang kita sembah ? Maukah Anda hari ini bertobat dari dosa dan kebiasaan kita yang menghina Allah baik secara eksplisit maupun implicit ? Amin.

Resensi Buku-6 : THE FIVE POINTS OF CALVINISM (LIMA POKOK CALVINISME) oleh : Rev. Prof. Edwin H. Palmer, Th.D., D.D.

...Dapatkan Segera...
Buku
THE FIVE POINTS OF CALVINISM (Lima Pokok Calvinisme)

oleh : Rev. Prof. EDWIN H. PALMER, Th.D., D.D. (HC)

Penerbit : Momentum Christian Literature (Fine Book Selection) 2005

Penerjemah : Elsye.







TULIP sudah begitu terkenal sebagai akronim untuk lima pokok ajaran Calvinisme berkenaan dengan keselamatan manusia, ajaran yang masih mengundang perdebatan dari pihak-pihak yang tidak memiliki pemahaman yang komprehensif akan kebenaran ajaran Alkitab tentang kedaulatan anugerah Allah dalam keselamatan manusia.

Dalam buku ini, Dr. Palmer menguraikan dengan bahasa yang mudah dimengerti, tetapi sama sekali tidak mengurangi keagungan dari kebenaran yang Alkitabiah tentang :
Total Depravity (Kerusakan Total)
Unconditional Election (Pemilihan Tanpa Syarat)
Limited Atonement (Penebusan Terbatas)
Irresistible Grace (Anugerah yang Tidak Dapat Ditolak)
Perseverance of the Saints (Ketekunan Orang-orang Kudus)

Membangun di atas uraian Firman Allah, Palmer kembali menunjukkan keunggulan doktrin Reformed serta menjawab serangan-serangan yang dengan mengatasnamakan Alkitab ditujukan kepada doktrin Reformed ; melalui analisis yang tajam dia menunjukkan bahwa semua serangan itu justru berlawanan dengan ajaran Alkitab.

Buku ini menyajikan kebenaran yang membuatkan setiap orang percaya menjadi rendah hati dan mendorongnya untuk bersyukur kepada Allah atas kehendak-Nya yang tak terukur, dan memuliakan nama-Nya. Lima Pokok Calvinisme adalah salah satu batu pijakan dalam langkah iman menuju kematangan. Dengan bagian pendalaman di akhir masing-masing bab, setiap pembaca dituntun untuk menemukan dan mengalami sendiri kedalaman kebenaran Firman dan keajaiban anugerah Allah.







Profil Dr. Edwin H. Palmer :
Rev. Prof. Edwin H. Palmer, Th.D., D.D. (HC) yang lahir pada tanggal 29 Juni 1922 dan bersekolah di Quincy, Massachusetts, adalah Direktur Pelaksana untuk penerjemahan Alkitab New International Version (NIV) dan Editor Umum untuk NIV Study Bible yang merupakan penuntun studi Alkitab terbaik dan terlaris. Beliau melayani sebagai Gembala di Christian Reformed Churches di Spring Lake, Ann Arbor, dan Grand Rapids serta menjabat sebagai pengajar dalam bidang Theologia Sistematika di Westminster Theological Seminary.
Beliau lulus dengan gelar Bachelor of Arts (A.B.) dari Harvard College pada tahun 1940, lalu meraih gelar Bachelor of Theology (Th.B.) dari Westminster Theological Seminary pada tahun 1949 dan Doctor of Theology (Th.D.) dari The Free University of Amsterdam pada tahun 1953. Pada tahun 1977, beliau mendapatkan gelar kehormatan Doctor of Divinity (D.D.) dari Houghton College. Beliau meninggal pada tahun 1980.

14 May 2007

SIAPAKAH KRISTUS YANG NAIK KE SURGA ? (oleh : Pdt. DR. STEPHEN TONG)

SIAPAKAH KRISTUS YANG NAIK KE SURGA?

oleh : Pdt. DR. STEPHEN TONG

Artikel ini disarikan dari Kotbah Pdt. Dr. Stephen Tong di GRII Jakarta




Dalam Mazmur 24:7-10, kita membaca ada pintu kekekalan, dan pintu kekekalan itu dibuka, menyambut seorang pemenang untuk selama-lamanya. Di Vatikan, di dalam gereja Basilica of Saint Peter, ada pintu yang hanya boleh dibuka satu kali dalam 50 tahun. Pada waktu mereka membuka pintu itu, kadang-kadang mereka membaca ayat ini. Mereka menganggap itu merupakan suatu upacara yang agung sekali. Sebenamya pintu itu tidak mempunyai makna terlalu berarti dibandingkan dengan ayat-ayat yang tercantum di sini.
'Semua pintu gerbang, terbukalah!' Untuk siapa pintu yang kekal dibuka? 'Untuk raja yang pernah berperang di dalam medan peperangan.' Siapakah raja yang pernah menang perang di medan peperangan? 'Yaitu yang diutus oleh Yehovah, yang menjadi Tuhan di atas segala sesuatu.'
'Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang! Dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad supaya masuk Raja Kemuliaan!' Siapakah dia itu Raja Kemuliaan? 'Tuhan semesta alam, Dialah raja semesta alam, Dia Raja Kemuliaan!'
Tapi Dia pernah datang, pernah dicobai, pernah diberikan kesempatan untuk berjuang, untuk bertarung dengan kuasa-kuasa kejahatan; Iblis berusaha untuk meremukkan Dia; Iblis berusaha menjatuhkan Dia, tetapi Kristus naik ke surga. Ini membuktikan bahwa Dia adalah Raja yang mulia, Raja yang menang; Raja yang pernah bertempur di dalam medan pertempuran rohani menggantikan engkau dan saya.
'Hai pintu gerbang, gerbang yang mulia, pintu yang kekal, bukalah! Angkatlah kepalamu, bukalah pintumu menyambut Yesus Kristus sebagai yang menang!'
Di dalam Pengakuan Iman Rasuli tertulis: 'Dia naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa.' Bagian ini jangan dimengerti sebagai suatu lokasi atau semacam pengertian secara tata ruang. Jikalau Yesus betul-betul berada di sebelah kanan, artinya ada lokasinya. Bukankah ini juga berarti bahwa Bapa berada di sebelah kiri Yesus? Kalau begitu, arti seperti ini akan membuat kita kurang jelas tentang apa arti rohaninya. Jikalau Bapa berada di kiri, lalu Yesus di kanan, yang mana yang lebih besar?Yang di kanan atau yang kiri? Lalu, Roh Kudus akan berada di mana? Dan sebagainya. Itu tidak akan ada habisnya.
Seperti juga kita membaca bahwa Lazarus berada di dalam pangkuan Abraham. Apakah Lazarus betul-betul dipangku Abraham? Kalau ya, waktu kita datang, Lazarus akan menjadi penyek, bukan? Pengertian tempat seperti itu mempunyai arti rohani yang jauh lebih dalam.
Di dalam pemikiran Kitab Suci, tempat kanan mempunyai tiga arti:
Arti pertama, Yesus Kristus adalah orang yang sudah diterima dengan suka hati oleh Tuhan Allah. Ini adalah delighted decision. Suatu tempat yang diterima dengan baik, tempat yang diberikan karena yang memberi begitu senang kepada Dia. Kristus adalah Anak kesayangan Bapa. 'Dengarlah Dia! Dengarlah Anak yang Aku suka ini.' Itu arti yang pertama.
Arti kedua, tempat sebelah kanan berarti tempat pemenang. Setelah orang yang bertempur dalam medan peperangan pulang, ia diberikan tempat di sebelah kanan oleh raja. Jenderal yang menang, jenderal yang begitu penting, duduk di sebelah kanan. Yesus Kristus menjadi pemenang di dalam medan peperangan. Itu sebabnya Ia duduk di sebelah kanan Bapa.
Ketiga, tempat kanan berarti tempat penguasa. Tuhan memberikan kekuatan kepada Dia, memberikan kuasa kepada Dia, mandat yang melampaui segala surga dan bumi. Itulah kuasa yang diberikan kepada Yesus Kristus.
Puji Tuhan! 'Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang! Dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan. Siapakah Dia, Raja Kemuliaan itu?' Itulah Tuhan semesta alam, Dialah Raja Kemuliaan.
Bagian kedua diambil dari Matius 28:18 dst. Yesus Kristus bukan saja seorang pemenang, tapi Dia naik ke surga. Pada waktu Dia naik ke surga, Dia memberikan suatu amanat yang paling agung kepada semua orang yang mengikuti Dia.
Pada jaman reformasi, orang-orang reformasi, khususnya orang-orang yang berada di Jenewa, menganggap amanat agung hanya diberikan kepada rasul-rasul pada waktu itu. Ini merupakan suatu kelemahan yang besar yang mengakibatkan kira-kira selama dua abad orang-orang reformasi, orang-orang lutheran, selain mengerjakan pekerjaan penggembalaan di Eropa mereka tidak mengutus orang ke luar untuk mengabarkan Injil. Karena kesalahan tanggapan itu, akhirnya menjadikan gereja lemah di dalam penginjilan.
Tetapi lambat laun Tuhan membangkitkan orang-orang untuk membawa kita kembali kepada visi yang benar, bahwa penginjilan itu bukan tugas gereja mula-mula saja, tetapi tugas segala jaman. Penginjilan bukan sudah tidak ada, tetapi ada pada setiap jaman. Para rasul memang sudah tidak ada, para nabi juga sudah tidak ada, yang ada hanya fungsi-fungsi kerasulan, fungsi-fungsi kenabian. jadi yang diutus dan yang mewakili Tuhan berbicara adalah fungsi yang masih berada dalam segala jaman. Maka kita harus menegaskan juga hal ini. Pengertian tentang kesadaran semacam ini akan mengubah dan akan menggugat kembali tugas kita terhadap dunia ini.
Yesus berkata, "Pergilah ke seluruh dunia dan jadikan segala bangsa murid-Ku." Ini merupakan suatu penanaman visi, semacam pikiran yang begitu besar kepada gereja. Di jaman yang tidak ada visi, jaman itu penuh dengan kekacauan. Gereja yang sudah kehilangan ketajaman melihat visi, di situ gereja menjadi tidak berdaya, tidak dinamis lagi. Tetapi kapan saja visi itu kembali dipertajam, visi itu sekali lagi menggugah hati manusia, dan mau tidak mau gereja menjadi gereja yang militan dan dinamis di dalam pelayanan.
Begitu banyak orang Kristen yang malas, begitu banyak orang Kristen yang imannya kendor, hidup rohaninya begitu sembarangan dan etikanya begitu tidak bertanggung jawab karena mereka sudah kehilangan ketajaman dan keinsyafan tentang visi dan mandat dari Tuhan! Tetapi puji Tuhan! Yesus bukan memberikan suatu kotbah dan amanat yang agung itu kepada mereka di tempat sembarangan. Mereka naik ke gunung dan di atas gunung itu Yesus mengutus mereka.
Pada waktu kita naik ke atas bukit, berada di tempat yang tinggi, kita akan melihat suatu dataran yang lebih besar, kita akan mempunyai pemandangan yang jauh lebih luas dan di situ Tuhan membentuk suatu pemikiran atau semacam wawasan yang luas bagi orang-orang yang mau mengabarkan Injil. Barangsiapa yang tidak mempunyai hati yang luas, barangsiapa yang tidak mempunyai pandangan rohani dengan wawasan yang luas, tidak mungkin mempunyai penginjilan yang kekuatannya lebih besar daripada pelayanan yang lain. Di sini kita melihat, gereja harus kembali mengikuti teladan dan menaati perintah Yesus Kristus.
Yesus yang naik ke surga; bukan hanya merupakan suatu catatan sejarah, tapi ini merupakan suatu amanat: Dia pergi dan tugas-Nya dikerjakan oleh engkau dan saya. Barangsiapa merayakan hari kenaikan, barangsiapa mengingat Kristus naik ke surga, dia juga harus ingat apa pesan Yesus sebelum Ia pergi.
Pesannya adalah: 'Pergilah ke seluruh dunia, jadikan segala bangsa murid-Ku. Apa yang Aku katakan kepadamu ajarkanlah mereka, supaya mereka menjalankannya dan engkau yang mengabarkan Injil akan Kusertai, sampai kesudahan, sampai selama-lamanya!'
Yang ketiga, kita akan melihat apa yang dikaitkan dengan kenaikkan Yesus ke surga. Dalam Yohanes 16:7-8, tertera suatu perjanjian yang lebih penting lagi. Jikalau Yesus Kristus, yang sudah memberikan suatu perintah untuk pergi mengabarkan Injil ke seluruh dunia hanya membiarkan pengikut-pengikut-Nya dengan keadaan yang begitu sulit, dengan penganiayaan-penganiayaan yang kejam, yang ganas dan tidak berprikemanusiaan, maka bukankah Tuhan juga adalah Tuhan yang meletakkan kewajiban dan pergi melarikan diri? Tetapi bukanlah demikian. Alkitab mengatakan: 'Aku pergi justru berfaedah besar bagimu. Aku pergi untuk kamu, karena jikalau Aku tidak pergi Roh Kudus tidak turun: Di sini Yesus Kristus mengaitkan kenaikkan-Nya ke surga dengan rencana yang berkesinambungan di dalam konsistensi pikiran Tuhan Allah yang kekal.
Allah, bukanlah Allah yang tidak berprogram. Allah, adalah Allah yang mempunyai program yang tertinggi. Allah, adalah Allah yang mempunyai cara berorganisasi dan mempunyai cara pemikiran dan jadwal yang paling tepat. Itu sebabnya Tuhan berkata:'Jikalau Aku tidak pergi, tidak ada faedahnya bagimu, tetapi jikalau Aku pergi itu akan mendatangkan keuntungan bagimu, sebab setelah Aku pergi akan dikirim Roh Kudus, turun dan menyertai serta menjadi penghibur bagimu.' Siapakah Kristus yang naik ke surga? Kristus yang naik ke surga adalah Kristus, Raja pemenang.
Siapakah Kristus yang naik ke surga? Kristus yang naik ke surga adalah Kristus, yang mengutus kita mengabarkan Injil ke seluruh dunia. Siapakah Kristus yang naik ke surga? Kristus yang naik ke surga adalah Kristus, yang bersama dengan Bapa mengutus Roh Kudus menjadi pendamping bagi gereja.
Jikalau kita melihat ke dalam abad pertama, kita mengetahui bahwa orang Kristen bukan saja minoritas, orang Kristen berada di kalangan bawah. Yang menjadi orang Kristen kebanyakan adalah: budak, nelayan, orang miskin, orang di pasar dan sedikit sekali pejabat-pejabat tinggi, konglomerat atau orang-orang yang penting di dalam masyarakat yang.beriman kepada Yesus Kristus. Dari antara 12 murid Yesus, kita melihat begitu banyak nelayan, yang Yesus panggil. Pengaruh mereka mulai dari grass-root, mulai dari lapisan yang paling bawah sekali. Yesus menjadi teman, menjadi kawan dari pemungut cukai, dari orang-orang berdosa; Ia menerima orang-orang yang dibuang oleh masyarakat.
Melalui kira-kira 300 tahun, kita melihat pengaruh kekristenan sudah mengakibatkan Raja Konstantin akhirnya harus berlutut di hadapan Yesus dan mengaku Dia sebagai Tuhan. Di sini kita melihat di dalam 300 tahun permulaaan itu, gereja mengalami penganiayaan, pengucilan, dibunuh, disiksa. Begitu banyak martir yang mati mengalirkan darah, mati syahid bagi kepercayaan dan iman kekristenan yang mereka yakini.
Siapakah yang memberikan kekuatan? Bagaimana mereka bisa bertahan, kecuali ada kuasa yang tidak kelihatan, ada penolong yang setiap saat berada dengan mereka, yang mempunyai kuasa ilahi, yang berada di tengah-tengah mereka? Siapakah Dia? Dia adalah Roh Kudus.
Maka Yesus berkata, "Aku harus pergi. Aku pergi, maka Dia akan datang. Aku pergi dan bersama dengan Bapa mengirim Roh Kudus agar turun ke atas kamu. Roh Kudus turun ke atas kamu, maka kamu akan berkuasa."
Berkuasa atas apa? Berkuasa untuk tahan menderita. Berkuasa atas apa? Berkuasa untuk dapat tahan penganiayaan. Berkuasa atas apa? Berkuasa agar di dalam segala kesulitan tetap memegang imanmu.
Di dalam Perjanjian Lama dan di dalam masyarakat sekarang umumnya mengerti kuasa Allah dengan penolongan dan dengan suatu kelancaran hidup dan pemberian berkat secara materi atau jasmani. Tetapi kuasa yang kita lihat dalam Perjanjian Baru setelah Kristus naik justru sama sekali terbalik. Kalau Tuhan berkuasa, kenapa tidak menyembuhkan saya?Kalau Tuhan berkuasa kenapa tidak menyertai? Kalau Tuhan berkuasa, kenapa situasi politik dan situasi ekonomi begitu jelek? Kalau Tuhan berkuasa, mengapa Nero saja bisa menganiaya rasul? Bisa memaku mati Petrus secara terbalik? Di mana kuasa Tuhan?
Justru iman kekristenan mengerti kuasa dari kerajaan Tuhan secara antitesis. Di dalam penganiayaan, di dalam kesulitan, di dalam desakan, di dalam kesempitan, di dalam segala sesuatu: kesulitan, sengsara, penderitaan politik, ekonomi dan apapun juga, iman orang Kristen tidak berkompromi, orang Kristen tidak menyerah kepada musuh. Itulah kuasa dan itu namanya kuasa Roh Kudus.
Saya sangat takut kalau gereja sudah menjadi kaya sekali. Saya sangat takut kalau hamba Tuhan sudah diberikan segalakelonggaran, sehingga akibatnya mereka tidak lagi bersandar kepada Tuhan. Pada waktu gereja berada dalam kemiskinan, kesulitan; justru iman mempunyai kesempatan untuk dilatih, menjadi suatu kekayaan rohani. Tetapi pada waktu kita sudah mempunyai segala sesuatu, kita menjadi sangat miskin di dalam Iman.
Tuhan berkata, "Aku pergi dan Aku mengirim Roh Kudus. Roh Kudus mendampingi engkau, saat engkau diutus ke dalam dunia sebagai utusan Tuhan." Saya minta maaf jikalau saya harus memakai suatu kalimat: itu adalah pengutusan yang paling kejam dalam sejarah. Jangan heran jikalau ada orang Kristen dibunuh. Jangan heran kalau gereja dianiaya. Jangan heran kalau kadang-kadang kita dibiarkan miskin dan sulit luar biasa. Jangan ngomel, jangan heran, karena itu cara pengutusan dari Tuhan. 'Aku mengutus engkau seperti domba di tengah-tengah kawanan serigala! Bukankah itu hal yang paling kejam? Coba Saudara bayangakan, seekor domba yang begitu tersendiri dikelilingi oleh kawanan serigala yang begitu kejam. Serigala mempunyai gigi yang begitu tajam, mempunyai sifat yang begitu keras, kelompok yang begitu banyak kawannya. Domba hanya seekor. Itulah namanya utusan Tuhan. 'Aku mengutus engkau seperti domba di tengah-tengah serigala.'
Itu sebabnya saya minta maaf kalau saya katakan utusan Tuhan adalah utusan yang kejam. Tetapi tidak menjadi soal, jikalau domba itu mengerti bahwa Roh Kudus sedang diutus untuk.menyertainya. 'Aku pergi supaya Roh Kudus turun.' Inilah sudut ketiga yang kita lihat dari kenaikkan Yesus ke surga.
Siapakah Dia yang naik ke surga? Dia Raja yang menang di dalam pertempuran rohani. Siapakah Dia yang naik ke surga? Dia adalah Tuhan yang memberikan mandat kepada kita, amanat yang paling agung: mengabarkan Injil ke seluruh dunia. Siapakah Yesus yang naik ke surga? Dia adalah yang mengutus Roh Kudus yang menjadi parakletos, menjadi penghibur, pendamping untuk kita.
Keempat kita membaca dalam Ibrani 4:14-16. Dalam ayat-ayat ini, dikatakan bahwa kita memiliki seorang Iman Besar yang sudah melintasi segala langit. Yesus naik ke surga bukan berarti dia menghilang dari bumi ini setelah ± selama 33 tahun berada di dunia. Atau seperti yang dikatakan oleh doketisme, hanya suatu dokaio saja, Dia hanya dibayang-bayangkan pernah datang ke dalam dunia, lalu hilang. Yesus, setelah Ia pergi, Ia naik ke surga, Ia melintasi segala langit. Ini merupakan suatu ajaran yang begitu besar.
Pada hari kenaikan ini, saya merenungkan, terus merenungkan tentang kenaikan Yesus Kristus. Lalu saya berkata, "Puji Tuhan! Agama lain tak pernah mempunyai seorang pendiri, tak pernah mempunyai seorang penghulu agama yang datang dari sana ke sini, juga tidak pernah ada yang dari sini ke sana dengan melintasi segala langit, kecuali Yesus Kristus. Mereka hanya membayangkan ada satu allah. Allah, yang belum pernah datang ke dunia. Allah, yang katanya mungkin dia yang mencipta, katanya dia menyelamatkan, dia mengampuni, dia satu-satunya, dia adalah rahmani, rahimi. Tapi mereka yang membayangkan allah berbeda dengan Yesus Kristus, yang adalah Allah yang pernah meninjau sendiri, pernah datang sendiri, pernah menyelamatkan kita, pernah hidup di tengah-tengah kita, pernah juga dengan mulut-Nya, memakai bahasa manusia memberikan pengajaran yang terindah di dalam sejarah kepada kita. Sesudah itu Ia pergi, setelah Ia menyelesaikan tugas di bumi.
Sewaktu kita mengenang Kristus, kita mengenang Allah yang pernah datang. Wujud-Nya begitu konkrit, begitu sungguh-sungguh intim hubungan Tuhan dengan kita. Dalam bagian Firman ini dikatakan suatu kalimat yang begitu menyentuh: kita bukan mempunyai seorang Imam yang tidak mengerti segala kelemahan kita. Saya percaya di dalam hidup setiap orang, sedalam-dalamnya ada keluhan kesusahan hidup dalam dunia. Baik engkau orang kaya atau engkau orang miskin, baik engkau orang sukses atau orang yang penuh dengan kegagalan, baik engkau yang kelihatan mempunyai materi yang begitu besar, begitu banyak, atau mereka yang selalu mengejar hanya untuk menyambung hidup saja.
Siapapun mempunyai keluhan akan hal yang begitu sulit, mempunyai air mata sedalam-dalamnya di dalam hatinya. Saya ingin bertanya, siapakah yang sungguh-sungguh mengerti setiap orang? Suami ingin dimengerti oleh isteri. Tapi justru isteri ingin dimengerti oleh suami! Kekuatan kita untuk mengerti dan kemampuan kita untuk mau mengerti dibandingkan dengan kebutuhan kita untuk dimengerti, selalu tidak seimbang.
Adakah yang mengerti? Ada! Yesus Kristus. Dia pernah datang. Dia pernah dilahirkan di dalam tempat binatang. Dia pernah. diejek oleh bangsanya sendiri. Dia pernah seorang diri mengalami puasa 40 hari dan dicobai oleh iblis. Dia pernah menanggung berat. Dia pernah menderita, berkorban emosi, berkorban perasaan. Yesus Kristus mengerti segala kelemahan kita. Dia mengerti karena Dia sama seperti kita. Dia merasakan segala pengalaman kita. Sebaliknya sama seperti kita, Ia telah dicobai tetapi Ia tidak berbuat dosa.
Yesus yang telah naik ke surga menjadi Imam Besar. Iman besar ini adalah imam yang membawa kesulitan kita kepada Allah yang sulit kita capai. Ia juga membawa anugerah dari Allah kepada kita, anugerah yang tidak layak kita terima.Inilah pekerjaan Imam! Imam yang berada di tengah-tengah yang hidup dan yang mati. Imam yang berada di tengah-tengah yang tidak kelihatan dan yang kelihatan. Imam berada di tengah-tengah Allah dan manusia. Kristus adalah pengantara yang menjalankan tugas imam, sekaligus Ia adalah korban. Di sini perbedaan imam yang berada di dalam sejarah orang Yahudi dibandingkan dengan Imam yang paling besar, Yesus Kristus, bagi gereja-Nya. Karena imam-iman yang lain itu tidak menjadi korban. Mereka mengkorbankan korban, mereka mempersembahkan korban dan mereka sendiri bukan korban. Yesus Kristus adalah Iman Besar yang sekaligus menjadi korban.
Kalimat manusia bagaimanapun tidak akan sempat, tidak akan cukup dan tidak akan layak untuk mengungkapkan betapa agungnya, betapa besarnya cinta kasih Tuhan: Imam Besar yang sekaligus korban. Ia mempersembahkan diri, dengan roh-Nya yang kekal, dengan darah-Nya yang suci tidak bercacat cela untuk membersihkan kita dan menjadikan kita milik-Nya yang dilayakkan untuk berdamai dengan Tuhan Allah. Inilah Imam kita. Dan inilah bagian keempat yang kita lihat.
Kita akan bersama-sama melihat lagi dalam Ibrani 7:24-25. Di sini kita melihat bahwa Yesus Kristus mempunyai pekerjaan lain setelah Ia naik ke surga. Berlainan dengan imam-imam yang lain, yang tugasnya terputus-putus karena kematian mereka. Mereka tidak mempunyai kekekalan. Yesus Kristus mempunyai hidup yang tidak berkebinasaan.
Dalam ayat 26, dikatakan bahwa Yesus Kristus mempunyai tingkatan yang tertinggi dan Yesus Kristus menjadi pengantara untuk berdoa syafaat bagi kita masing-masing. Dalam pasal 7, ayat 27-28 serta pasal 9, ayat 27-28, terlihat di sini bahwa Dialah yang menanggung dosa kita dan yang menjadi pengantara yang berdoa syafaat bagi setiap orang yang percaya kepada Dia.
Siapakah Kristus? Dia pemenang, bukan? Siapakah Kristus? Dia pengutus, bukan? Siapakah Kristus? Dia yang memberikan Roh Kudus kepada kita. Siapakah Kristus? Dia yang berdoa bagi kita dengan pengertian, karena Ia sendiri pernah datang ke dalam dunia ini. Bukan saja demikian. Siapakah Yesus Kristus? Yesus Kristus juga menyiapkantempat bagi kita.
Kita baca dari Injil Yohanes 14:1-4: 'Aku pergi untuk menyediakan tempat bagimu. Jikalau Aku tidak pergi tidak ada yang menyediakan tempat bagimu dan jikalau Aku sudah menyediakan tempat bagimu Aku pasti akan datang kembali lagi. Di mana Aku ada disana pun engkau akan berada!
Adakah penghiburan yang lebih besar dari ini? Tidak ada. Adakah seorang Juruselamat seperti Kristus? Tidak ada. Dialah satu-satunya dan Dialah yang paling sempurna di dalam menyediakan segala sesuatu bagi umat-Nya. 'Di jalan itu Aku pergi. Jalan satu-satunya dan engkau tahu juga.'
Pada waktu Filipus bertanya kepada Dia, "Hai Guru, tunjukan jalan itu kepada kami. Maka Yesus Kristus dengan menggelengkan kepala-Nya bertanya, "Sudan sekian lama engkau mengikut Aku, engkau masih belum tahu dimana jalan itu? Dengan sesungguh-sungguhnya Aku berkata kepadamu: "Akulah jalan, Akulah kebenaran dan Akulah hidup."
Saya membagi ketiga titik, ketiga butir ini menjadi satu gambaran tentang seluruh dunia: di dalam filsafat, di dalam kebudayaan agama dan di dalam bijaksana, segala sesuatu yang paling kristalisasi di dalam dunia mental manusia.
'Akulah jalan, Akulah kebenaran.' Mengapa Yesus mengatakan: 'Akulah jalan?' Karena di dalam agama semua mencari jalan. Itulah yang dibutuhkan oleh orang di Timur. 'Akulah kebenaran.' Mengapa Yesus menyatakan kebenaran diidentikkan dengan diri-Nya? Karena manusia di Barat mencari filsafat dan ingin mengetahui kebenaran dan Yesus mengisi kebutuhan itu. Pada waktu Yesus mengatakan: 'Akulah jalan', Ia sedang menunjukkan kepada orang Timur yang mau mendapatkan jalan di dalam agama. Ia berkata, " The way is not there. The way you are seeking is not in religion, but in me, in my life." 'Akulah jalan, Akulah kebenaran'
Yesus telah mengajak, baik dunia Timur maupun dunia Barat dan Ia menyimpulkan dengan satu kalimat, "Akulah hidup yang tidak ada pada agama-agama, tidak ada pada filsafat-filsafat dan sistem epistemologi dunia; Karena semua pendiri agama akhirnya mati di tengah-tengah usahanya mencari jalan, semua filsuf akhirnya mati di tengah-tengah usahanya mencari kebenaran. Dan Kristus akhirnya berkata, "Jalan itu dimana? Akulah jalan itu. Kebenaran itu di mana? Akulah kebenaran itu. Dan Aku adalah hidup."
Ini adalah solusi satu-satunya. The only solution, the only answer, for seeking the truth in way thruth philosophy, religion, culture and human wisdom concluded only in Jesus Christ, the truth revelation of God in human form. Puji Tuhan! Dia adalah pernyataanAllah yang berbentuk manusia, yang telah menyimpulkan segala sesuatu yang sedang digumuli dan dicari agama maupun filsafat.
Paul Tiliich seorang teolog besar mengatakan, munculnya Yesus di dalam sejarah harus menghentikan usaha dari semua agama mencari hal apapun yang paling berharga yang mereka inginkan. The revelation of Christ, the appearance of Chrsit in history is to cease off the effort of seeking truth and way in religions. Puji Tuhan!
'Akulah jalan, dan jalan itu bukan dari sini ke sana, jalan itu adalah dari sana ke sini. Akulah yang menghampiri manusia.'
Adalah mustahil manusia dengan usaha dan kekuatan sendiri pergi kepada tahta Allah, karena Ia suci dan engkau berdosa, Ia kekal dan engkau sementara. Bagaimana dari suatu yang terbatas, yang dicipta, yang bisa rusak, dapat menghampiri Tuhan yang tidak terbatas, yang kekal? Itu tidak mungkin. Kecuali hanya dari tahta yang tidak terbatas, yang kekal, yang tidak bisa rusak, rela mengirim turun, lalu rela pergi kembali untuk menjadi jaminan kita.
Kalau agama-agama lain adalah one way traffic in human effort, jalan yang hanya satu arah dari usaha manusia, kekristenan percaya kepada suatu sistem keselamatan.yang adalah two way traffic which initiative from God and assured in the term of God. Kita percaya pada sistem dua jalur dari sana telah ke sini dan membawa kita dari sini ke sana, dan dijamin di dalam segala kekuatan yang kekal di dalam tahta Tuhan. Puji Tuhan!
'Aku pergi untuk menyediakan tempat bagimu. Aku pergi untuk mempersiapkan segala sesuatu bagimu dan Aku akan datang kembali untuk menyambut engkau sebagai seorang mempelai lelaki yang akan menyambut mempelai perempuan.' Gereja harus siap sedia, gereja harus mempersiapakan diri senantiasa dengan tidak menodai, tidak mencemari tubuh Kristus; Yaitu gereja yang disiapkan untuk menjadi mempelai perempuan Kristus, yang akan bersatu dengan kita di dalam cinta kasih yang paling inti yang digambarkan dalam hubungan suami isteri.
Ia akan datang kembali dan Ia telah menyediakan tempat bagi kita. Ia berkata, "Di mana Aku berada, engkau pun akan berada."
Bagian terakhir kita baca dari Kisah Para Rasul 1:9-11. 'Hai orang Galilea, mengapa engkau melihat seperti ini? Ingatlah, Yesus yang kau lihat diangkat ke surga, akan datang dengan cara yang sama, kembali ke dalam dunia ini.'
Seluruh Kitab Suci mempunyai suatu konsistensi, mempunyai suatu hubungan organis yang begitu erat, sehingga tidak bisa dipisah-pisahkan sembarangan, kecuali oleh mereka yang sengaja atau mereka yang tidak mengerti.
Di dalam seluruh Kitab Suci kita melihat rencana Allah yang sudah terbentuk begitu sempurna. Yesus Kristus naik ke surga bukan karena Ia melarikan diri. Ia tidak menyembunyikan diri. Ia pergi dengan tugas. Ia pergi dengan rencana Allah yang sudah ditetapkan dan itu bukan akhir, itu bukan titik yang terakhir. Itu merupakan suatu janji bahwa suatu hari kelak Ia akan datang kembali dengan cara yang sama, kembali ke dalam dunia.
Saya membayangkan orang-orang Galilea: Petrus, Yohanes, mereka yang sudah terbiasa didampingi oleh Yesus, mereka yang kalau ada kesulitan langsung beralih kepada Yesus. 'Bagaimanakah Tuhan, bagaimanakah Guru cara-Mu menangani kesulitan ini?' Mereka sudah terbiasa disertai, ditolong dan berada bersama dengan Yesus Kristus. Tetapi sekarang di dalam hidup mereka, pertama kalinya meraka sadar bahwa Yesus tidak selamanya berada di samping mereka. Yesus harus pergi dan mereka harus menghadapi dunia secara faktual, menghadapi dunia ini dengan segala sesuatu yang tidak terlalu bersahabat dengan orang Kristen. 'Akan bagaimana perlakuan Herodes terhadap kita? Akan bagaimana Pilatus terhadap kita? Dan bagaimana prinsip Kaisar dan potitikus politikus Romawi? Dan jika berganti gubernur yang lain, akan bagaimana? Kami tidak tahu.'
Mereka hanya tahu Yesus pergi. 'Lalu 3½ tahun yang lampau itu, mimpikah? Itu janji kosongkah? Itu suatu hal yang menjadi catatan sejarahkah? Atau itu suatu kesempatan yang belum pernah ada dalam sejarah, sehingga kami sendiri memiliki. Tetapi kalau Tuhan sudah pernah turun, kenapa pergi lagi? Kalau Dia sudah menyertai, kenapa naik lagi? Setelah naik, lalu bagaimana?'
Kenaikan Yesus Kristus memaksa mereka harus memikirkan pertangungjawaban iman mereka, respon mereka kepada setiap kalimat nubuat yang pernah diucapkan oleh Yesus. Mereka harus mempertanggungjawabkan bagaimana mereka meresponi, bagaimana mereka beriman, bagaimana mereka mengaplikasikan setiap kalimat nubuat yang pernah diucapkan waktu Yesus ada di dunia.
Kadang-kadang saat papa dan mama ada, kita tidak menghargai mereka. Sampai Tuhan memanggil papa kita pulang, memanggil mama kita pulang baru kita mulai sadar, baru kita kalang kabut. 'Sekarang.kita harus bagaimana menghadapi hidup di dalam dunia ini? Baru kita ditantang untuk berpikir kembali: dulu papa pernah berkata kalau menghadapi orang yang begini harus bagaimana?' Sekarang mulai mengingat-ingat. Sama persis dengan keadaan pada waktu Yesus naik ke surga.
Waktu Yesus naik ke surga Ia berkata, "Aku akan mengirim Roh Kudus untuk mengingatkanmu kembali akan perkataan-perkataan yang sudah pernah Aku katakan kepadamu."
Itu sebabnya Saudara-saudara, tantangan respon, tantangan tanggung jawab, tantangan berdikari, tantangan gereja menjadi wakil Tuhan di dalam dunia, bagaimana memuliakan Tuhan, bagaimana merefleksikan segala moral kesucian, keadilan, cinta kasih Allah dalam jaman ke jaman; Ini menjadi tugas gereja.
'Hai Orang Galilea, untuk apa melihat terus ke awan? Hai Orang Galilea, mengapa melihat terus ke langit? Yesus yang pernah beserta denganmu, Yesus yang pernah kau sakslkan pelayanan-Nya, sekarang sudah naik ke surga dan akan datang kembali.'
Setelah kita membaca enam bagian Kitab Suci yang begitu penting ini, kita akan melihat; Jikalau kita sungguh-sungguh menunggu Yesus Kristus datang kembali, jikalau kita, sunggah-sungguh mengharapkan Yesus Kristus datang kembali, maka ada dua hal pentlng yang harus kita kerjakan.
Pertama, kita harus mengabarkan Injil kepada sesama. Tidak ada jalan lain. Ini merupakan keikhlasan orang yang menantikan kedatangan Yesus Kristus. Jikalau Injil ini dikabarkan ke seluruh dunia, maka hari itu akan tiba. Berarti sebelum Injil dikabarkan kepada segala bangsa, segala suku, segala sudut, Kristus tidak akan kembali.
Saya betul-betul salut, sedalam-dalamnya dari dalarn hati saya kepada orang di Wiclyfe Bible Translation Association, orang berada di dalarn lembaga Alkitab yang khusus menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa-bahasa yang terpencil di daerah-daerah yang dilupakan oleh manusia. Kepada mereka yang pergi ke tempat yang begitu terpelosok, begitu dalam, begitu sulit dicapai, di pegunungan, di pedesaan., Saya salut melihat mereka.
Saya berdoa dan mengajak kita semua supaya menjadikan gereja kita gereja yang mau mendukung penginjilan, gereja yang menghasilkan penginjil, gereja yang mengerti makna Injil dan gereja yang mau melibatkan diri ke dalarn penginjilan misi seluruh dunia. Menunggu Yesus datang kembali dengan hati yang sungguh-sungguh ikhlas haruslah dengan kita menunjang dan melibatkan diri ke dalarn penginjilan.
'Hai Orang-orang Galilea, mengapa melihat seperti ini? Mengapa terus menengadah ke langit? Memang Yesus sudah naik, tapi tugasmu bukan memandang Dia, tetapi pergi ke dunia mengabarkan Injil!'
Kedua, orang yang sungguh-sangguh menanti kedatangan Yesus Kristus adalah mereka yang menjaga hidup dalam kesucian. Hidup di dalam kesucian, berarti kita terus memelihara diri kita supaya pada waktu Ia datang kembali kita sudah siap, boleh menerima Dia dan boleh diterima oleh Dia. Barangsiapa yang menaruh pengharapan semacam ini kepada Dia, biarlah ia membersihkan dirinya! Ini adalah perintah dari Yohanes di dalam 1 Yohanes pasal 3. Barangsiapa yang menaruh pengharapan kepada kedatangan Kristus biarlah ia menjaga dirinya, memelihara kesucian dan menunggu di dalam doa akan kedatangan Yesus Kristus.
Terakhir kita akan membaca ayat terakhir dari seluruh Kitab Suci, yaitu dalam Wahyu 22:20-21. Ayat terakhir dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, diakhiri dengan kutukan. Ayat terakhir dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, diakhiri dengan berkat.Ia dalam ayat 20, siapakah ini? Ia, yang memberikan kesaksian tentang semuanya ini berfirman. Jadi, Yesus Kristus berkata: 'Ya, Aku datang segera. Aku akan datang kembali secepat mungkin.! 'Amin. Datanglah Tuhan Yesus.' Atau terjemahan lain: 'Oh Yesus, aku mengharapkan Engkau datang.' Yesus berkata, "Ya, aku datang segera." Gereja menjawab, "Amin. Kami menunggu kedatangan-Mu."
Kiranya Tuhan memberkati kita masing-masing di dalam hidup kita sebagai orang Kristen di dunia. Kita mengingat Dia naik ke surga. Kita kembali menyadari Ia pemenang, Ia pemberi Roh Kudus, Ia pendoa syafaat bagi kita, Ia mengerti kesengsaraan kita, Ia menyediakan tempat di sorga bagi kita, Ia akan datang kembali dan kita bersedia untuk menanti kedatangan Tuhan kedua kalinya.

Sumber: Majalah MOMENTUM No. 40 - Juli 1999

Refleksi Kenaikan Tuhan Yesus ke Surga 2007 : KENAIKAN TUHAN YESUS KE SURGA, KERAJAAN ALLAH DAN PENGINJILAN (Denny Teguh Sutandio)

Refleksi Kenaikan Tuhan Yesus ke Surga 2007

Kenaikan Tuhan Yesus ke Surga, Kerajaan Allah dan Penginjilan

oleh : Denny Teguh Sutandio



Nats : Kisah Para Rasul 1:1-11


Kitab Kisah Para Rasul ditulis oleh dr. Lukas, salah seorang murid Tuhan Yesus yang juga menulis Injil Lukas (Lukas 1:1). Kitab ini dimulai dari pernyataan Lukas kepada Teofilus tentang apa yang dikerjakan dan diajarkan Tuhan Yesus sampai pada hari kenaikan-Nya ke Surga yaitu memberikan perintah kepada para rasul-Nya melalui Roh Kudus (Kis. 1:1-2). Pada ayat 3, Lukas mencatat tentang kebangkitan Kristus yang disusul dengan 40 hari penyataan diri-Nya yang membuktikan bahwa Dia hidup sambil mengajar mereka tentang Kerajaan Allah. Selanjutnya, di ayat 4-5, Lukas mencatat perkataan Tuhan Yesus yang mengingatkan para rasul-Nya untuk tidak meninggalkan Yerusalem karena mereka harus menantikan janji Bapa yaitu menerima baptisan Roh Kudus. Setelah selesai mengatakan semuanya ini, Ia akan naik ke Surga. Tetapi sebelumnya, di ayat 6, mendadak, para rasul bertanya, “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” Sebuah pertanyaan yang mengejutkan dari para rasul kepada Kristus. Mengutip pernyataan Pdt. Dr. Stephen Tong, Tuhan Yesus kalau boleh dikatakan “geleng-geleng kepala” setelah mendengar pertanyaan para rasul, karena menjelang kenaikan-Nya ke Surga dan setelah mendapatkan pengajaran selama 3 tahun ditambah “les privat” 40 hari setelah kebangkitan-Nya, mereka masih belum mengerti Kerajaan Allah. Kekonyolan mereka tidak berubah seperti pada saat Ia masih bersama dengan mereka dengan menganggap bahwa Kristus datang untuk mendirikan kerajaan duniawi (Matius 20:20-21). Konsep kerajaan Mesias sesungguhnya tidak dapat dimengerti karena mereka selalu mengharapkan kerajaan mesianik itu bersifat politis yang akan menghancurkan pemerintahan Romawi yang sedang menjajah mereka (Israel). Seringkali, di dalam keKristenan pun, hal serupa terjadi. Di dalam khasanah theologia Kristen, konsep kerajaan Allah duniawi dianut oleh para penganut premillenialisme (khususnya dispensasionalisme) di mana mereka mengajarkan bahwa di akhir zaman, Allah akan mendirikan kerajaan-Nya secara jelas/harafiah di Sion. Sehingga tidak heran, mereka mati-matian membela Israel bahkan rela mati demi Israel, karena mereka mempercayai bahwa Sion adalah tempat kedatangan Kristus yang kedua kalinya membangun Kerajaan Daud. Antusiasme mereka sama dengan antusiasme bangsa Israel yang tidak mengerti konsep Firman Tuhan secara menyeluruh.

Bagaimana respon Tuhan Yesus terhadap pertanyaan mereka ? Di ayat 7, Tuhan Yesus bersabda, “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya.” Kata “masa” di dalam ayat ini dalam bahasa Yunaninya chronos yang berarti a space of time (=suatu jarak waktu) dan kata “waktu” di dalam bahasa Yunaninya kairos yang berarti set or proper time (=waktu yang diatur atau tertentu/tepat). Lalu, kata “kuasa” di dalam frase “ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya” diterjemahkan power dalam King James Version dan bahasa Yunaninya exousia yang artinya privilege (=hak istimewa). Ini berarti dengan jawaban di ayat 7, Tuhan Yesus mengajarkan bahwa Kerajaan Allah yang kedua kali datang pada waktu tertentu atau jarak waktu yang hanya ditetapkan menurut hak istimewa Allah Bapa sendiri. Apakah ini berarti Tuhan Yesus tidak tahu ? TIDAK. Tuhan Yesus jelas tahu akan hal ini, tetapi melalui ayat ini, Ia mengajarkan bahwa kapan Kerajaan Allah yang kedua kali datang (berhubungan dengan waktu kedatangan Kristus yang kedua) bukanlah urusan para murid/rasul, sehingga mereka tidak perlu mempersoalkannya. Lalu, kalau mereka tidak mempersoalkan waktu kedatangan Kerajaan Allah yang kedua, apakah berarti para rasul-Nya hanya berdiam diri saja ? TIDAK. Di ayat 8, Tuhan Yesus melanjutkan pengajaran-Nya, “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Yang seharusnya menjadi perhatian para rasul-Nya bukanlah tentang waktu kedatangan Kristus yang kedua, tetapi mandat penting di dalam menyongsong kedatangan-Nya yang kedua yaitu mandat Injil, memberitakan Injil kepada semua orang dengan kuasa Roh Kudus. Di dalam keKristenan, kita pun seringkali terjebak dengan ramal-meramal kapan Tuhan Yesus akan datang yang kedua kali, padahal hal itu tidaklah penting. Yang lebih penting daripada kegiatan ramal-meramal itu adalah menunaikan mandat yang Kristus perintahkan yaitu memberitakan Injil kepada semua orang. Momen kenaikan Tuhan Yesus ke Surga merupakan momen di mana kita sebagai anak-anak-Nya sekaligus murid Kristus harus memberitakan Injil sebagai wujud kesaksian iman kita.

Memberitakan Injil kepada siapa saja ? Di dalam ayat 8 ini, Kristus mengatakan bahwa para murid harus menjadi saksi-Nya di : pertama, Yerusalem. Yerusalem adalah tempat kediaman dan tempat tinggal mereka sehari-hari sebagai orang Yahudi. Yerusalem pula menjadi tempat di mana Kristus pernah dihakimi secara tidak adil, sehingga menjelang Kristus masuk ke tempat ini, Ia bersedih hati (Lukas 13:33-34 ; Matius 23:37-39). Tetapi justru di dalam tempat ini, para rasul harus bersaksi dan memberitakan Injil. Pertama-tama, Rasul Petrus yang mantan seorang pengecut dan penakut (karena telah mengkhianati Kristus sebanyak 3x), di hari Pentakosta ketika ia adalah salah satu rasul yang dipenuhi Roh Kudus, ia berani memberitakan Injil kepada orang-orang di luar dan akibatnya, 3000 orang yang bertobat dan menerima Kristus (Kisah 2:1-41). Rasul Paulus yang mantan seorang penganiaya keKristenan juga dipakai Tuhan untuk memberitakan Injil kepada orang-orang Yahudi di Yerusalem (Kisah 9:28-29 ; 20:22-24 ; 21:15-22:22 ; 25:1-13). Ini membuktikan bahwa para rasul menunaikan apa yang Kristus perintahkan. Bagaimana dengan kita ? Kita yang berada di dalam zaman postmodern juga diperintahkan untuk memberitakan Injil pertama-tama kepada kerabat atau saudara atau keluarga kita yang masih belum mengenal Kristus. Sudahkah kita melakukannya ?
Kedua, selain di Yerusalem, Kristus juga memerintahkan para murid untuk menjadi saksi-Nya di Yudea. Yudea, menurut Ensiklopedia Alkitab Masa Kini-II (1995), adalah sebuah Kerajaan yang diperintah oleh Herodes (37-4 sM) meliputi seluruh Palestina dan beberapa daerah di sebelah timur Sungai Yordan. Selanjutnya, kata ini (“Yudea”) berarti kata sifat (‘bersifat Yahudi’) dengan gé (tanah/negeri) atau khora (negeri) (halaman 636). Kata ini muncul ketika Injil Matius 2:1 menunjuk Betlehem sebagai sebuah kota di wilayah/negeri/tanah Yudea. Berarti, pekabaran Injil juga harus dilakukan di Yudea, seperti yang dilakukan oleh Paulus (Kisah 26:20). Di dalam keKristenan, Yudea merupakan wilayah yang lebih luas dari sekedar kerabat, keluarga, atau saudara, yaitu orang yang belum kita kenal sama sekali. Kepada mereka yang belum kita kenal yang kita temui mungkin di mal, kampus, dll, kita perlu memberitakan Injil.
Ketiga, Samaria adalah wilayah ketiga yang Tuhan Yesus inginkan para rasul menjadi saksi. Samaria menurut Kamus Alkitab adalah ibukota Kerajaan Israel Utara sejak raja Omri (1 Raj. 16:24) di mana penduduk daerah ini dicampur dengan bangsa-bangsa lain, sehingga juga agama dicampur (2 Raj. 17:24-41). Penduduknya dibenci oleh orang-orang Yahudi karena adanya perbedaan agama dan kebiasaan (Yohanes 4:9). Di dalam peta, kota Samaria ini termasuk di dalam wilayah/negeri Israel, bukan di dalam wilayah Yudea. Di dalam kitab Kisah Para Rasul, Lukas mencatat Filipus memberitakan Injil di daerah ini (Kisah 8:5,25). Kota Samaria melambangkan bahwa keKristenan harus memberitakan Injil bahkan kepada musuh yang kita benci sekalipun yang tidak sependapat dengan kita. Dan terakhir, kita dituntut Tuhan Yesus untuk memberitakan Injil sampai ke ujung bumi. Melalui ayat 8 ini, kita dituntut Tuhan Yesus untuk menjadi saksi-Nya dalam menyongsong kedatangan-Nya yang kedua sama seperti yang telah dinubuatkan-Nya, “Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.” (Matius 24:14) Selain itu, melalui ayat 8, Kristus ingin menyadarkan mereka bahwa perihal Kerajaan Allah bukan sesuatu yang spektakuler atau fenomenal, tetapi menyangkut perihal esensi dan sikap hati yang mau taat akan perintah-Nya. Ayat 8 juga masih berlaku bagi kita yang hidup di zaman postmodern untuk terus taat akan perintah-Nya sambil menyongsong kedatangan-Nya yang kedua dengan memberitakan Injil untuk menggenapkan Kerajaan Allah yang sudah, sedang dan akan ada kelak.

Setelah memerintahkan para rasul-Nya untuk menjadi saksi-Nya, Kristus terangkat ke Surga dan para murid menyaksikannya (Kisah 1:9). Ketika mereka sedang asyik menyaksikan peristiwa terangkatnya Kristus, tiba-tiba 2 malaikat Tuhan berdiri dan mengatakan, “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.” (Kisah 1:11). Kembali, ayat 11 ini merupakan suatu peringatan dan hubungan antara kenaikan Kristus ke Surga dengan kedatangan-Nya yang kedua kalinya. Kenaikan-Nya ke Surga menjadi jaminan bahwa Dia akan kembali lagi untuk kedua kalinya dengan cara yang sama ketika Ia naik ke Surga. Dan juga kedatangan-Nya yang kedua menunaikan Kerajaan Allah.

Sudahkah kita memaknai Kenaikan-Nya yang kedua sebagai momen memberitakan Injil kepada mereka yang terhilang akibat dosa untuk menghadirkan Kerajaan Allah ? Kita harus memberitakan Injil, karena, “...Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya,…” (Roma 1:16).
Amin. Soli Deo Gloria. Solus Christus.

12 May 2007

ESENSI ATAU FENOMENA ? (oleh : Denny Teguh Sutandio)

ESENSI ATAU FENOMENA ?

oleh : Denny Teguh Sutandio



PENDAHULUAN
Dunia postmodern adalah dunia yang sedang mengilahkan relativisme dengan me“mutlak”kannya. Memang terdengar aneh, tetapi begitulah kenyataannya. Selain relativisme, abad postmodern ini juga ditandai dengan semangat pragmatisme murni yang mengabaikan prinsip dan mengilahkan sesuatu yang bukan prinsip. Dengan kata lain, zaman postmodern adalah zaman yang lebih menitikberatkan pada fenomena dan meniadakan esensi. Sehingga, tidak usah heran, sesuatu yang fenomena gemar digandrungi orang. Misalnya saja, diluncurkannya buku The Da Vinci Code dari Dan Brown, Misquoting Jesus dari Bart D. Ehrman, Jesus Tomb, dll mengakibatkan tidak sedikit orang “Kristen” tergoncang imannya karena menemukan bahwa Kristus tidak mati dan kubur-Nya ditemukan. Sebaliknya, gereja-gereja Kristen terlalu dangkal dan pasif serta tidak mau mengajar doktrin Kristen yang solid. Yang lebih parah, banyak gereja “Kristen” yang malas mengajar doktrin, tiba-tiba begitu fenomena yang mendiskreditkan Kristus muncul, mereka langsung mengadakan pembinaan jemaat. Jika tidak ada fenomena yang menantang, mereka diam dan membisu seperti orang mati. Untuk itu, marilah kita melihat sekilas apa yang dunia ajarkan tentang hubungan esensi dengan fenomena ini.


PANDANGAN ABAD POSTMODERN TERHADAP HUBUNGAN ESENSI DAN FENOMENA
Seperti yang telah dijelaskan bahwa abad postmodern salah satunya ditandai dengan filsafat pragmatisme yang mencengkeram manusia, bahkan tidak sedikit banyak orang yang mengaku diri “Kristen” bahkan “melayani ‘tuhan’” ternyata juga seorang pragmatis tulen. Apa yang mereka pikirkan di dalam jiwa pragmatis ini?

Prinsip utama yang mereka pikirkan adalah, “jangan hanya teori saja, yang penting prakteknya.” Bukankah ini yang kerapkali didengungkan oleh banyak orang dunia, bahkan tidak sedikit orang “Kristen” yang pragmatis ? Mereka hendak mengatakan bahwa doktrin itu tidak penting, yang penting itu perbuatannya. Dengan mengutip Yakobus 2:26, banyak orang “Kristen” terkesan “religius” dengan mengajar bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati. Apa motivasi di balik perkataan mereka ? Benarkah motivasi mereka tulus ? TIDAK. Justru, motivasi mereka busuk. Mengapa ? Karena dengan mengatakan demikian, mereka sejujurnya sedang menawarkan beberapa prinsip konyol yang sebenarnya melawan Alkitab, yaitu : pertama, mereka sedang mementingkan perbuatan baik (jasa) ketimbang iman. Para pragmatis “Kristen” lebih memilih mengajarkan bahwa perbuatan baik menentukan iman seseorang. Atau dengan kata lain, mereka hendak mengajarkan bahwa perbuatan baik seseorang itu sangat berharga bahkan lebih berharga daripada iman. Mereka sedang menegakkan prinsip humanisme (mengilahkan manusia) dan membuang theisme (meskipun mereka menganggap diri “Kristen”). Kalau ditelusuri, apa yang mereka ajarkan sangat mirip dengan pandangan Arminianisme yang mengajarkan bahwa kehendak bebas manusia itu lebih menentukan ketimbang kedaulatan Allah, sehingga mereka mengajarkan bahwa iman itu adalah tindakan aktif manusia tanpa melibatkan tindakan aktif Allah di dalam Roh Kudus. Konsep ini jelas-jelas ditentang oleh Alkitab dengan berkali-kali mengajarkan bahwa orang percaya dibenarkan dan diselamatkan hanya melalui iman saja, bukan melalui perbuatan baik (Efesus 2:8-9). Tetapi hal ini tidak berarti perbuatan tidak penting. Yakobus 2:14-26 mengajarkan suatu konsep penting bahwa iman sejati harus menghasilkan perbuatan baik sejati yang berfokus pada iman. Jangan asal-asalan menafsirkan Alkitab khususnya Yakobus 2:14-26 ! Kedua, konsep yang penting perbuatan sebenarnya dilontarkan oleh seseorang yang malas belajar doktrin. Dewasa ini, seperti yang diungkapkan juga oleh Prof. David F. Wells, Ph.D. dalam bukunya No Place for Truth, banyak gereja Injili yang dahulu ketat di dalam theologia tetapi sekarang sudah berkompromi dengan psikologi dan manajemen. Di dalam abad ini, doktrin bukan lagi konsumsi para jemaat gereja, tetapi yang menjadi konsumsi orang “Kristen” saat ini adalah training psikologi ala Gerakan Zaman Baru dengan salah satu idenya adalah Success is My Right (dari Andrie Wongso), dll ditambah training manajemen lewat MLM (Multi Level Marketing). Bukan hanya itu, banyak orang “Kristen” apalagi yang selalu mengklaim diri “melayani ‘tuhan’” ternyata tidak suka mengenal Tuhan melalui studi Alkitab, tetapi lebih menyukai hal-hal fenomenal seperti konser musik yang tidak jelas arahnya (kontemporer, rock), dll. Tidak usah heran, banyak dari mereka pasti menolak kalau diajak untuk belajar theologia (apalagi kalau membayar), tetapi herannya, orang yang sama ketika diajak melihat konser musik kontemporer (baik sekuler maupun yang berjubah “religius”), tidak usah diajak dan meskipun bayar mahal, mereka pasti mau. Ditambah lagi, gereja yang gemar dicari oleh para pragmatis ini adalah gereja-gereja yang sanggup memuaskan hawa nafsu mereka, misalnya gereja yang tidak mau menggunakan liturgi, membuang doktrin/pengajaran di dalam mimbar gereja, dll. Inilah realita dunia kita yang pragmatis dan anti-doktrin, tetapi mereka selalu menyangkalnya.

Kalau gereja-gereja dan orang-orang “Kristen” terus mementingkan fenomena, mau jadi apa hari depan keKristenan ? Tidak ada jalan lain, keKristenan tidak seharusnya mementingkan berbagai fenomena, tetapi terus-menerus berfokus pada esensi, karena esensi lebih penting daripada fenomena. Oleh karena itu, marilah kita mempelajari beberapa prinsip Kristen tentang hubungan esensi dengan fenomena dari sudut pandang theologia Reformed.


PANDANGAN KRISTEN (REFORMED) TENTANG HUBUNGAN ESENSI DAN FENOMENA
Kalau orang-orang postmodern mengabaikan pentingnya esensi/konsep, bagaimana sikap keKristenan sebenarnya ? Saya mengkategorikan hubungan antara esensi dan fenomena ke dalam beberapa prinsip :
Pertama, esensi bukanlah fenomena. Prinsip ini sangatlah penting, yaitu jangan mengidentikkan esensi dengan fenomena. Mengapa ? Karena kedua hal ini berbeda secara prinsip. Esensi adalah suatu inti yang mendasar dan sangat penting (pusat), sedangkan fenomena adalah suatu turunan yang dapat dilihat (dari bahasa Yunani : phainomenon yang berarti “apa yang bisa terlihat”). Di dalam keKristenan, yang menjadi esensi adalah iman. Ibrani 11:1 mendefinisikan iman sebagai, “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Kata “dasar” dalam terjemahan King James Version adalah substance dan teks Yunaninya adalah hupostasis yang secara konkrit berarti esensi (essence) dan secara abstrak berarti jaminan/asuransi (assurance). Jadi, iman adalah inti atau pusat dari keKristenan. Dengan kata lain, seperti yang pernah diungkapkan oleh Pdt. Dr. Stephen Tong, keKristenan adalah agama yang berinti iman. Apa arti iman ? Dalam bahasa Yunani, kata “iman” di dalam Ibrani 11:1 adalah pistis yang secara khusus berarti reliance upon Christ for salvation (=bergantung pada Kristus untuk keselamatan). Dengan kata lain, iman sebagai esensi keKristenan adalah suatu kebergantungan total kepada Allah di dalam Kristus. Sehingga, tidaklah benar jika mengidentikkan iman dengan berpikir positif, karena iman bukan 100% tindakan aktif manusia, tetapi merupakan 100% tindakan anugerah Allah sehingga manusia pilihan-Nya dapat beriman. Khusus di dalam theologia Reformed, kita belajar bahwa iman sejati harus berfokus kepada kedaulatan Allah yang menjadi inti berita Alkitab. Itulah yang disebut esensi. Kedaulatan Allah adalah esensi berita Alkitab. Prinsip pertama ini dapat disimpulkan bahwa karena esensi bukan fenomena, maka ingatlah prinsip : jangan mengorbankan esensi hanya demi fenomena ! Jika kita berani melakukannya, kita sedang menurunkan makna hidup dan nilai yang berarti.

Kedua, esensi menghasilkan fenomena. Selanjutnya, kita harus mengerti bahwa esensi sejati harus menghasilkan fenomena. Di dalam keKristenan, iman sejati sebagai esensi harus menghasilkan fenomena yang sejati yaitu perbuatan baik yang benar-benar baik (Yakobus 2:14-26). Meskipun kita tidak dibenarkan melalui perbuatan baik, tidak berarti kita dapat sembarangan hidup dengan dalih kita dibenarkan melalui iman. Kita memang dibenarkan melalui iman yang dianugerahkan oleh Allah, tetapi kita diperintahkan oleh Allah melalui Paulus untuk mengerjakan keselamatan kita (Filipi 2:12) dan ingatlah bahwa kalau pun kita dapat berbuat baik sesuai iman kita itu juga merupakan anugerah Allah yang bekerja di dalam diri kita (Filipi 2:13), sehingga baik iman maupun perbuatan baik yang kita kerjakan semuanya untuk memuliakan Allah (Roma 11:36). Dan ingatlah satu prinsip bahwa perbuatan baik kita sama sekali tidak mempengaruhi keselamatan yang telah kita peroleh, karena perbuatan baik hanyalah respon/ucapan syukur setelah kita diselamatkan oleh Allah di dalam Kristus. Di dalam theologia Reformed, ketika kedaulatan Allah menjadi esensi, maka esensi itu menghasilkan fenomena positif yaitu mendorong orang untuk memberitakan Injil. Banyak orang yang bertheologia Reformed malas atau enggan memberitakan Injil karena mereka percaya bahwa kalau segala sesuatu sudah ditentukan oleh Allah, untuk apa memberitakan Injil, toh nanti orang-orang pilihan akan kembali kepada Kristus dengan sendirinya. Pandangan ini salah dan harus ditolak, karena Alkitab sendiri mengajarkan tentang pentingnya memberitakan Injil dengan memuridkan orang (Matius 28:19-20). Justru, ketika kita mempercayai kedaulatan Allah, kita semakin giat memberitakan Injil, karena kita percaya bahwa ada kuasa Allah yang menaungi dan memimpin kita sehingga kita tidak salah sasaran dalam memberitakan Injil.

Ketiga, esensi menjadi standar penghakim bagi semua fenomena.
Bukan hanya sebagai penghasil fenomena, esensi juga harus berperan sebagai pusat sekaligus penghakim bagi semua fenomena. Semua fenomena harus tunduk di bawah esensi. Di dalam keKristenan, iman yang menjadi esensi harus berani menghakimi semua fenomena yang tidak beres, misalnya munculnya buku-buku seperti The Da Vinci Code, Misquoting Jesus, dll harus dihakimi dengan kacamata iman di dalam Kristus dan Alkitab. Sehingga, sudah sewajarnya orang-orang dan gereja-gereja “Kristen” tidak terlalu meresponi apa yang dunia tawarkan, misalnya dengan mengadakan seminar yang mengkritik semua fenomena dunia. Itu tanda orang dan gereja Kristen yang tidak dewasa. Kedewasaan iman Kristen dinilai dari kesiapan dan ketangguhan iman Kristen yang berpusat pada Alkitab untuk menghakimi dan menilai semua fenomena dari sudut pandang Allah. Khusus, di dalam theologia Reformed, ketika kedaulatan Allah menjadi esensi berita Alkitab, maka semua fenomena yang kerapkali terjadi di dalam lingkungan “Kristen” misalnya mukjizat kesembuhan, minyak urapan, dan fenomena lainnya harus diuji dan dihakimi berdasarkan prinsip esensi kedaulatan Allah. Mujizat kesembuhan dan hal-hal fenomena supranatural lainnya dari Allah dapat terjadi di zaman sekarang ini, karena Allah kita adalah Allah yang tetap berkuasa (Mahakuasa), tetapi jangan berhenti hanya pada konsep Allah yang Mahakuasa, itu berbahaya. Allah yang Mahakuasa juga adalah Allah yang Maha Berdaulat. Meskipun Ia mampu menyembuhkan seseorang yang sakit, tetapi Ia belum tentu mau melakukannya, karena kehendak-Nya selalu berbeda dari kehendak kita (Yesaya 55:8). Kalau kita selalu terjebak dengan banyaknya mukjizat supranatural lalu kita mengidentikkannya pasti dari “Allah”, kita sedang ditipu oleh setan, karena setan dapat menyamar sebagai malaikat terang dan pesuruh-pesuruhnya dapat menyamar juga sebagai pesuruh-pesuruh Allah (2 Korintus 11:14-15). Semua fenomena yang tidak mau diuji berdasarkan esensi Kebenaran di dalam Alkitab, berhati-hatilah terhadap fenomena itu, fenomena itu pasti datang dari setan, bukan dari Allah. Oleh karena itu, kita harus memperhatikan teguran Paulus di dalam 1 Tesalonika 5:21, “Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.” (King James Version : “Prove all things; hold fast that which is good.”)

Sudahkah kita sebagai orang Kristen lebih memperhatikan esensi yaitu iman sejati di dalam Kristus lebih dari fenomena-fenomena yang dapat menipu ? Iman sejati bukanlah iman yang berfokus kepada fenomena, tetapi kepada kedaulatan Allah dan firman-Nya, Alkitab sehingga iman itu terus-menerus bertumbuh di dalam kedewasaan (maturity of faith) sekaligus kesederhanaan (meminjam istilah dari Pdt. Billy Kristanto : simplicity of faith) sampai menuju kepada kesempurnaan kelak melalui tindakan aktif Roh Kudus yang memimpin kita di dalam pengudusan dan pengenalan akan Allah terus-menerus (progressive sanctification dan progressive knowledge of God). Soli Deo Gloria... Amin.