02 February 2012

Bagian 8: Karunia Nubuat (1Kor. 12:10; 14:22; Rm. 12:6)

MENGENAL KARUNIA-KARUNIA ROH KUDUS

Bagian 8: Karunia Nubuat (1Kor. 12:10; 14:22; Rm. 12:6)

oleh: Denny Teguh Sutandio

Karunia keenam yang disebut Paulus di Surat Korintus atau karunia pertama yang disebut Paulus di Roma 12:6 adalah karunia bernubuat. Bernubuat (LAI) dalam teks Yunaninya adalah προφητείαν (prophēteian) yang merupakan kata benda, berfungsi sebagai akusatif (objek langsung), feminin, dan tunggal dari kata προφητεία (prophēteia).[1] Kata ini berasal dari kata Yunani prophētēs yang berarti nabi (prophet). Dengan kata lain, ada kaitan erat antara nubuat dengan nabi.

Di dalam bahasa Ibrani, nubuat/bernubuat adalah: nibba (1Raj. 22:12)[2] dan kehinnave’i (Yeh. 37:4, 7, 9, 10).[3] Kata dasar dari dua teks Ibrani tadi adalah navi (artinya nabi) (Kej. 20:7).[4]

Apa kata Alkitab tentang nubuat? Mari kita menyelidikinya.

a) Nubuat sejati berasal dari Allah

Ketika kita membaca kitab Yehezkiel 37, kita mendapatkan penjelasan bahwa Allah menyuruh nabi Yehezkiel untuk bernubuat (ay. 4-6, 9) dan si nabi menyampaikan apa yang difirmankan-Nya (ay. 7, 10).

Bahkan di Amos 3:7, Alkitab mencatat, “Sungguh, Tuhan ALLAH tidak berbuat sesuatu tanpa menyatakan keputusan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, para nabi.” Berikut pengakuan seorang Amos ketika hendak diusir imam Amazia,

Aku ini bukan nabi dan aku ini tidak termasuk golongan nabi, melainkan aku ini seorang peternak dan pemungut buah ara hutan. Tetapi TUHAN mengambil aku dari pekerjaan menggiring kambing domba, dan TUHAN berfirman kepadaku: Pergilah, bernubuatlah terhadap umat-Ku Israel. Maka sekarang, dengarlah firman TUHAN! Engkau berkata: Janganlah bernubuat menentang Israel, dan janganlah ucapkan perkataan menentang keturunan Ishak. (Am. 7:14-16)

Di kitab Amos ini, kita mendapatkan penjelasan yang lebih detail bahwa Allah yang memerintahkan seorang abdi-Nya untuk bernubuat.

b) Nubuat diasosiasikan dengan nabi yang bertugas menyampaikan pesan Allah kepada umat atau keturunan tertentu dalam situasi tertentu

Nubuat dikaitkan dengan nabi Hagai dan Zakharia bin Ido yang bernubuat terhadap orang-orang Yahudi yang tinggal di Yehuda dan di Yerusalem di Ezra 5:1. Konteks penulisan kitab ini adalah meneruskan narasi di dalam 2 Tawarikh yang sudah selesai dan menelusuri sejarah kepulangan umat Yahudi dari pembuangan di Babel dan pembangunan kembali Bait Suci.[5] Dalam Vulgata (terjemahan Alkitab dalam bahasa Latin), kitab Ezra dan Nehemia diberi judul: “1 dan 2 Esdras.”[6]

Selain itu, di dalam 2 Tawarikh 15:8, nubuat dikaitkan dengan nabi Azarya bin Oded. Secara susunan dalam LAI, memang kitab 1 dan 2 Tawarikh diletakkan sebelum kitab Ezra, namun menurut Prof. Andrew E. Hill, Ph.D. dan Prof. John H. Walton, Ph.D. dalam bukunya Survei Perjanjian Lama, kitab 1 dan 2 Tawarikh dibagi menjadi dua kitab ketika teks Perjanjian Lama dalam bahasa Ibrani diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani (Septuaginta) dan uniknya, di dalam Alkitab Ibrani sendiri, kitab ini terletak setelah kitab Ezra dan Nehemia yang menunjukkan mungkin kitab ini diterima dalam kanon Perjanjian Lama di kemudian hari sebagai tambahan pada tulisan sejarah dalam 1 dan 2 Samuel serta 1 dan 2 Raja-raja. Sejarah dalam kitab ini dimulai dari akhir pemerintahan Saul hingga masa pembuangan Yehuda ke Babel (sekitar 1020-586 SM). Kitab ini bertujuan menekankan jabatan raja Daud dan Salomo untuk menunjukkan kesinambungan sejarah Ibrani pada masa pra-pembuangan dan pasca-pembuangan. Selain itu, kitab ini juga sebagai kitab pengharapan di Yerusalem pada masa pasca-pembuangan dengan meyakinkan mereka bahwa Tuhan Allah yang berdaulat yang telah memimpin pemerintahan Daud dan Salomo juga akan memimpin umat-Nya.[7]

Di dalam Perjanjian Baru, di Injil Matius, Tuhan Yesus mengutip nubuat nabi Yesaya sebanyak 2x, yaitu di Matius 13:14-15[8] dan 15:7-9[9] dan uniknya, kedua teks tadi ditujukan kepada orang Israel yang tegar tengkuk. Dari sini, kita belajar bahwa Kristus pun mengaitkan nubuat dengan pekerjaan seorang nabi yang bertugas menyampaikan pesan Allah kepada umat/keturunan tertentu dalam konteks tertentu.

c) Nubuat bersifat masa lalu, masa kini, dan masa depan

Selain berasal dari Allah dan disampaikan melalui para nabi, maka nubuat juga harus dimengerti bukan hanya menyangkut hal-hal yang bersifat masa depan, tetapi juga bisa bersifat masa kini. J. A. Motyer, M.A., B.D. dalam penjelasannya tentang nubuat mengatakan,

Pada diri Musa juga ditemukan kombinasi pemberitaan dan nubuat yang terdapat pada semua nabi. Ini mencolok terperinci sebagai satu corak kenabian pada umumnya. Di sini kita hanya mencatat bahwa Musa juga menetapkan norma, yaitu bahwa bila seorang membicarakan kejadian masa kini, dalam pembicaraannya itu sang nabi juga sering membicarakan kejadian akan datang.[10]

Dari sini, kita mendapatkan penjelasan bahwa nubuat selalu bersifat rangkap dua: masa kini dan masa depan. Nubuat di masa depan berfungsi sebagai peringatan bagi umat Israel di masa kini agar mereka bertobat (Yes. 30:6-9) dan hidup kudus (Yes. 2:5).[11]

Prof. David E. Garland, Ph.D. di dalam tafsirannya tentang kata nubuat di dalam 1 Korintus 12:10 mengatakan dwi sifat nubuat ini di dalam Perjanjian Baru yaitu untuk masa depan (Agabus di Kis. 11:28) dan untuk situasi masa kini yaitu untuk membangun dan menghibur (1Kor. 14:3) sekaligus membuat orang lain sadar bahwa Allah hadir (1Kor. 14:25) dan memanggil seseorang bertobat (Why. 11:3).[12]

Selain itu, nubuat juga bersifat masa lalu. Bagaimana mungkin? Rasul Petrus mengungkapkan hal ini di dalam 2Ptr. 1:20-21 berikut ini,

Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.

Uniknya, semua kata nubuat di kedua ayat ini dalam bahasa Yunaninya berbentuk tunggal, yaitu προφητεία (prophēteia). Kalau kita melihat konteksnya, tentu nubuat dalam Kitab Suci (Yunani: γραφῆς—graphēs) merujuk pada nubuat dalam Perjanjian Lama dan tentu saja Petrus mengaitkan nubuat dengan apa yang sudah terjadi di zaman sebelum Tuhan Yesus.

d) Allah membenci nubuat-nubuat palsu

Pada poin a) dan b) di atas, kita belajar bahwa nubuat sejati berasal dari Allah dan diasosiasikan dengan nabi, pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah dari mana kita mengetahui bahwa nubuat dari seorang nabi itu berasal dari Allah atau tidak. Ada beberapa kriteria yang Allah sendiri ajarkan kepada kita:[13]

(1) Nubuat palsu tidak terjadi

Allah sendiri memberikan penegasan,

Jika sekiranya kamu berkata dalam hatimu: Bagaimanakah kami mengetahui perkataan yang tidak difirmankan TUHAN? -- apabila seorang nabi berkata demi nama TUHAN dan perkataannya itu tidak terjadi dan tidak sampai, maka itulah perkataan yang tidak difirmankan TUHAN; dengan terlalu berani nabi itu telah mengatakannya, maka janganlah gentar kepadanya.” (Ul. 18:21-22)

Memang secara konteks, kitab Ulangan ini ditulis sebagai persiapan bangsa Israel masuk ke Kanaan setelah 40 tahun mengembara di padang gurun.[14] Dengan kata lain, kriteria nubuat palsu adalah ketika nubuat yang disampaikan oleh si nabi tidak terjadi dan Tuhan memerintahkan umat-Nya untuk tidak gentar menghadapi para nabi palsu tersebut.

(2) Hasil akhir dari nubuat palsu: menuntun si pendengar menyembah ilah lain di luar Allah

Selain itu, palsu atau tidaknya suatu nubuat diukur dari tujuan/hasil akhirnya. Jika tujuan/hasil akhir dari nubuat tersebut justru mengarahkan seorang yang mendengarkan nubuat tersebut untuk menyembah ilah lain di luar Allah, maka Allah memerintahkan umat-Nya untuk tidak mendengarkan nubuat palsu tersebut. Tuhan sendiri menegaskan hal ini di Ulangan 13:1-3,

Apabila di tengah-tengahmu muncul seorang nabi atau seorang pemimpi, dan ia memberitahukan kepadamu suatu tanda atau mujizat, dan apabila tanda atau mujizat yang dikatakannya kepadamu itu terjadi, dan ia membujuk: Mari kita mengikuti allah lain, yang tidak kaukenal, dan mari kita berbakti kepadanya, maka janganlah engkau mendengarkan perkataan nabi atau pemimpi itu; sebab TUHAN, Allahmu, mencoba kamu untuk mengetahui, apakah kamu sungguh-sungguh mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu.

Bahkan yang lebih mengerikan, Allah sendiri memerintahkan, “Nabi atau pemimpi itu haruslah dihukum mati, karena ia telah mengajak murtad terhadap TUHAN, Allahmu, yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir dan yang menebus engkau dari rumah perbudakan--dengan maksud untuk menyesatkan engkau dari jalan yang diperintahkan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk dijalani. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu.” (Ul. 13:5; bdk. 18:20)

(3) Nubuat palsu selalu berisi hal yang menyenangkan telinga.

Kriteria terakhir untuk menilai apakah nubuat itu asli atau palsu adalah isi dari nubuat itu. Alkitab mencatat hampir semua nubuat dalam Perjanjian Lama selalu berisi berita pertobatan, peringatan hidup kudus, dan hukuman. Dengan kata lain, setiap nubuat yang tidak berisi hal-hal tadi pasti adalah nubuat palsu. Sejarah Perjanjian Lama mencatat bahwa nubuat-nubuat palsu selalu berisi hal-hal yang menyenangkan dikontraskan dengan nubuat sejati dari para nabi Allah sejati. Mari kita menyelidikinya.

Mari kita membuka nats 1 Raja-raja 22:1-40. Konteksnya adalah waktu itu Aram dan Israel tidak berperang. Kemudian Yosafat, raja Yehuda mendatangi besannya, Ahab, raja Israel (bdk. 2Taw. 18:1). Lalu, Ahab bertanya kepada para pegawainya tentang Ramod-Gileat dan ia berikhtiar ingin merebutnya dari tangan orang Aram. Ia bertanya kepada Yosafat, apakah ia juga mau ikut? Yosafat setuju, tetapi ia ingin mendapatkan firman Tuhan terlebih dahulu sebelum berangkat merebut Ramod-Gileat (ay. 5). Kemudian Ahab mengumpulkan 400 nabi dan bertanya apakah ia boleh pergi berperang melawan Ramod-Gileat, lalu para nabi memberi jawaban positif yaitu “Majulah! Tuhan akan menyerahkannya ke dalam tangan raja.” (ay. 6) Namun, Yosafat tidak puas dengan jawaban itu, maka ia bertanya apakah ada nabi Tuhan lain (ay. 7). Perhatikan jawaban Ahab di ayat 8, “Masih ada seorang lagi yang dengan perantaraannya dapat diminta petunjuk TUHAN. Tetapi aku membenci dia, sebab tidak pernah ia menubuatkan yang baik tentang aku, melainkan malapetaka. Orang itu ialah Mikha bin Yimla.” (bdk. ay. 17) Karena Ahab tidak menyukai nubuat Mikha yang bernada negatif, maka Mikha dipenjarakan (ay. 26-27). Namun, apa yang terjadi? Nubuat mana yang terjadi: 400 “nabi” dengan “nubuat” palsunya ataukah dari Mikha? Jelas, nubuat nabi Mikha yang terjadi dan kisah ini berakhir tragis dengan dibunuhnya Ahab, raja Israel (ay. 34-40).

Dari kisah ini, kita belajar dua sosok raja: Ahab, raja Israel adalah seorang raja yang jahat di mata Tuhan, sehingga ia hanya mau mendengarkan apa yang menyenangkan baginya, sedangkan Yosafat, raja Yehuda adalah sosok raja yang cinta Tuhan (1Raj. 22:43), sehingga ia peka jika ada nubuat palsu. Akibatnya, Tuhan memberkati kerajaannya (2Taw. 17:3). Apa relevansinya bagi kita yang hidup di zaman sekarang? Di zaman ini, kata “nubuat” begitu laris di dalam Kekristenan, namun sayangnya semua “nubuat” tersebut berisi hal-hal positif, misalnya: “Indonesia masuk tahun keemasan”, “Indonesia masuk tahun penuaian”, “pemulihan terjadi”, dll? Hal ini sangat kontras dengan isi nubuat di dalam Perjanjian Lama.

Kisah lain adalah firman Tuhan kepada Yeremia di Yeremia 14. Waktu itu, Tuhan berfirman kepada Yeremia agar Yeremia tidak mendoakan kebaikan bangsa Israel, karena Ia akan menghukum mereka dengan perang, kelaparan, dan penyakit sampar (ay. 11-12). Lalu, Yeremia bertanya kepada Tuhan, bukankah para nabi telah berkata kepada orang-orang Israel bahwa tidak ada lagi perang dan kelaparan, tetapi damai sejahtera? (ay. 13) Perhatikan apa jawab Tuhan kepada Yeremia di ayat 14-16,

Para nabi itu bernubuat palsu demi nama-Ku! Aku tidak mengutus mereka, tidak memerintahkan mereka dan tidak berfirman kepada mereka. Mereka menubuatkan kepadamu penglihatan bohong, ramalan kosong dan tipu rekaan hatinya sendiri. Sebab itu beginilah firman TUHAN mengenai para nabi yang bernubuat demi nama-Ku, padahal Aku tidak mengutus mereka, dan yang berkata: Perang dan kelaparan tidak akan menimpa negeri ini--: Para nabi itu sendiri akan habis mati oleh perang dan kelaparan! Dan bangsa yang kepadanya mereka bernubuat akan tercampak mati di jalan-jalan Yerusalem, disebabkan oleh kelaparan dan perang, dan tidak ada orang yang akan menguburkan mereka: mereka sendiri, isteri-isteri mereka, anak-anak mereka yang laki-laki dan yang perempuan. Demikianlah akan Kutumpahkan kejahatan mereka ke atas mereka.

Di ayat-ayat di atas, Tuhan Allah dengan jelas berkata bahwa mereka yang menubuatkan hal-hal yang seolah-olah dari Allah (bernada positif) ternyata adalah para “nabi” palsu dan Allah menghukum mereka dengan perang dan kelaparan. Lagi-lagi, nubuat sejati tidak pernah menjanjikan kesuksesan, kelancaran, dll tanpa bayar harga! Jadi, jika di zaman sekarang, muncul “nubuat” yang berisi hal-hal positif, patut dipertanyakan, apakah itu nubuat asli atau palsu?

Setelah mempelajari pengertian nubuat di dalam Alkitab khususnya Perjanjian Lama, lalu apa arti karunia bernubuat? Apakah itu berarti karunia meramal? TIDAK. Ketika kita memperhatikan penjelasan makna nubuat di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, maka kita mendapatkan penjelasan bahwa nubuat adalah pemberitaan kehendak Allah kepada umat-Nya melalui para nabi-Nya. Jadi, nubuat tidak harus berarti ramalan masa depan. Oleh karena itu, mengutip Prof. David E. Garland, Ph.D., karunia bernubuat adalah karunia menyatakan kehendak Allah kepada umat-Nya.[15] Dan karunia bernubuat ini bisa bersifat masa lalu, masa kini, dan masa depan, seperti apa yang telah dijelaskan Alkitab di atas.

Namun, patut diperhatikan karunia bernubuat sebagaimana halnya dengan nubuat yang telah dijelaskan Alkitab di atas juga bisa mengandung kesalahan. Kesalahan terletak tentu bukan pada diri Allah, tetapi pada orang yang menerima nubuat dari Allah tersebut. Oleh karena itu, setelah karunia bernubuat, Paulus menyebutkan pentingnya karunia membedakan bermacam-macam roh di bawah ini (akan dibahas minggu depan).



[1] Lebih tepat diterjemahkan: nubuat, karena menggunakan kata ini berbentuk kata benda.

[2] Seharusnya berbentuk jamak: nibbü’îm. Dalam Septuaginta, kata ini juga berbentuk jamak (ἐπροφήτευον; eprophēteuon)

[3] D. L. Baker dan A. A. Sitompul, Kamus Singkat Ibrani Indonesia, hlm. 40.

[4] Ibid., hlm. 41.

[5] Jeane Ch. Obadja, Survei Ringkas Perjanjian Lama (Surabaya: Momentum, 2004), hlm. 67.

[6] Ibid., hlm. 65.

[7] Andrew E. Hill dan John H. Walton, Survei Perjanjian Lama (Malang: Gandum Mas, 2008), hlm. 347, 357.

[8] Dikutip dari Yes. 6:9-10.

[9] Dikutip dari Yes. 29:13.

[10] J. A. Motyer, “Nubuat, nabi-nabi,” dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II, ed. J. D. Douglas, terj. R. Soedarmo, dkk (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1995), hlm. 163.

[11] Ibid., hlm. 164.

[12] David E. Garland, 1 Corinthians, hlm. 583.

[13] Perlu diingat, ketiga kriteria di bawah saling berkaitan erat. Misalnya, jika ada nubuat yang terjadi di masa depan, namun hasil akhirnya menuntun orang kepada ilah lain di luar Allah, maka tetap itu dikategorikan sebagai nubuat palsu. Ketika saya share hal ini kepada teman Kristen saya di sebuah grup di BlackBerry Messenger, seorang rekan Kristen bertanya, bagaimana dengan nubuat keselamatan atau datangnya Mesias, apakah itu bisa dikategorikan nubuat palsu? Tidak. Mengapa? Karena meskipun nubuat keselamatan atau datangnya Mesias bersifat positif, namun hasil akhirnya tetap menuntun umat-Nya kepada Allah yang sejati dan toh nubuat itu sudah terjadi, jadi itu jelas bukan nubuat palsu.

[14] Jeane Ch. Obadja, Survei Ringkas Perjanjian Lama (Surabaya: Momentum, 2004), hlm. 20.

[15] David E. Garland, 1 Corinthians, hlm. 582.

30 January 2012

Resensi Buku-152: WORSHIP MATTERS (Rev. Bob Kauflin)

Ketika orang Kristen mendengar kata “ibadah”, banyak dari mereka selalu mengaitkannya dengan kebaktian di gereja/persekutuan. Benarkah demikian? Apa definisi ibadah sesungguhnya? Apa saja yang terkandung di dalam ibadah?

Temukan jawabannya dalam:
Buku:
WORSHIP MATTERS:
Menuntun Umat Mengalami Kebesaran Allah dalam Ibadah


oleh: Rev. Bob Kauflin

Kata Pengantar: Paul Baloche

Penerbit: Lembaga Literatur Baptis, Bandung, 2010

Penerjemah: Samuel E. Tandei, M.Div.CM



Dengan bahasa yang sederhana disertai pengalaman praktis dalam pelayanan, Rev. Bob Kauflin yang melayani di Covenant Life Church, U.S.A. menguraikan seputar ibadah di dalam bukunya Worship Matters. Hal pertama yang beliau jelaskan adalah definisi ibadah dan apa yang harus dilakukan oleh pemimpin ibadah. Hal penting yang harus diperhatikan oleh seorang pemimpin ibadah adalah: hati, pikiran, tangan, dan keseluruhan hidupnya apakah sudah memuliakan Tuhan atau belum. Kemudian, pemimpin ibadah bukan hanya sibuk mengurusi seputar ibadah, tetapi juga harus menguasai beberapa bidang lainnya, seperti: theologi (terutama), musik, kepemimpinan, dan teknologi. Kemudian, beliau menguraikan adanya tegangan yang sehat (saya menyebutnya: paradoksikal) yang harus diperhatikan oleh seorang pemimpin ibadah. Dan terakhir, beliau menguraikan hubungan yang sehat antara pemimpin ibadah dengan jemaat dan pendeta. Bagi saya, pendekatan Rev. Bob Kauflin cukup seimbang antara: pengertian theologi dan doktrin dengan kerohanian yang mendalam (khususnya bagi pemimpin ibadah), lagu rohani himne dan kontemporer, dll.



Rekomendasi:
“Begitu saya pertama kali bertemu Bob, saya amat suka dengan orang ini. Semakin kenal dia, semakin respek saya kepadanya. Semakin saya mendengarkan dan membaca tulisannya mengenai ibadah jeamat kepada Allah yang rahmani, semakin saya dikuatkan, didewasakan, dan diajar untuk semakin rendah hati. Apakah Anda seorang pemimpin paduan suara atau seorang pendeta musik dalam gereja yang gaya ibadahnya tradisional maupun kontemporer, atau Anda seorang Kristen yang ingin tahu bagaimana Anda dapat dengan lebih baik lagi memuji dan memuliakan Tuhan di tengah-tengah jemaat, buku ini akan menjadi berkat bagi Anda (seperti yang saya alami). Hal-hal yang dibahas Bob dalam buku ini melampaui gaya dan situasi – mengarahkan kita pada prioritas Kristiani yang langgeng dan universal. Saya sangat suka hikmat yang tersirat dalam tantangan Bob kepada kita – hal-hal penting yang ia ingatkan, ketegangan yang perlu dihentikan, dan hubungan baik yang perlu dijalin. Semuanya ini sangat bijak, tepat waktu, Alkitabiah, theologis, reflektif, pastoral, lagipula praktis. Terima kasih, Bob. Sekali lagi saya berutang kepadamu.”
Rev. Prof. J. Ligon Duncan III, Ph.D.
(Pendeta Senior di First Presbyterian Church, Jackson, Mississippi, U.S.A., Presiden dari Alliance of Confessing Evangelicals, dan Profesor di Reformed Theological Seminary, U.S.A.; Bachelor of Arts—B.A. dari Furman University; Master of Divinity—M.Div. dan Master of Arts—M.A. dari Covenant Theological Seminary, U.S.A.; belajar theologi sistematika Free Church of Scotland College di bawah Prof. Donald Macleod, M.A., D.D. (HC); dan Doctor of Philosophy—Ph.D. dari University of Edinburgh)

“Kerendahan hati. Humor yang menertawakan diri sendiri. Nasihat praktis. Buku ini bukan hanya untuk para pemimpin musik. Menyegarkan untuk dibaca! Saya mendapat banyak manfaat dari Bob Kauflin. Anda akan mendapatkannya juga selagi Anda membaca buku ini. Dengan struktur yang jelas, ilustrasi yang tepat, cara penulisan yang menarik, theologi yang cermat, lagipula Alkitabiah, buku ini memberi petunjuk tentang bagaimana kita dapat mengikut Kristus dan memimpin orang lain untuk melakukan hal yang sama. Buku ini menolong para musisi, pendeta, penatua, dan semua orang Kristen untuk lebih mengerti panggilan Tuhan kepada kita ketika kita berkumpul bersama.”
Rev. Mark E. Dever, Ph.D.
(Gembala Sidang Capitol Hill Baptist Church, U.S.A. dan Direktur Eksekutif dari 9Marks Ministries; B.A. magna cum laude dari Duke University; M.Div. summa cum laude dari Gordon-Conwell Theological Seminary; Master of Theology—Th.M. dari The Southern Baptist Theological Seminary, U.S.A.; dan Ph.D. dalam bidang Sejarah Gereja dari Cambridge University, U.K.)

“Allah sedang mencari orang-orang yang menyembah Dia dalam roh dan kebenaran. Bob Kauflin adalah orang yang mempunyai kerinduan untuk beribadah dengan benar. Kerinduannya tidak hanya menular, tetapi juga instruktif. Dalam buku Worship Matters, ia menyajikan pengamatan yang mendalam dan kuat tentang memimpin umat Tuhan dalam ibadah. Pengamatan semacam ini jarang ditemukan dalam pembicaraan tentang ibadah masa kini. Oleh semangat yang kuat, Bob Kauflin digerakkan untuk menyatakan kemuliaan Allah. Perenungannya mengenai musik dan ibadah berlandaskan kebenaran Alkitab. Penelaahan theologisnya pun jernih. Di tengah kesimpangsiuran pendapat tentang ibadah, saya menyambut hadirnya buku yang penting ini.”
Prof. R. Albert Mohler, Jr., Ph.D.
(Rektor kesembilan di The Southern Baptist Theological Seminary, Louisville, Kentucky, U.S.A.; B.A. dari Samford University, Birmingham, Alabama, U.S.A.; M.Div. dan Ph.D. dalam bidang Theologi Sistematika dan Historika dari The Southern Baptist Theological Seminary, U.S.A.; studi lanjut di St. Meinrad School of Theology; dan telah mengadakan riset di Oxford University, U.K.)

“Sovereign Grace Ministries sudah menjadi berkat bagi gereja Tuhan dengan musik yang membantu meningkatkan mutu ibadah. CD musik mereka memadukan doktrin Alkitabiah yang kokoh dengan permain musik yang terampil serta kerinduan mendalam akan Kristen. Ini sangat menggetarkan hati. Jarang sekali ditemukan adanya pembauran yang seimbang dari semua kualitas tersebut. Ini pemberian atas anugerah Allah, namun juga (oleh anugerah-Nya) merupakan hasil pemikiran yang hait-hati. Kini kita mempunyai akses pada buah pemikiran tersebut melalui buku Bob Kauflin, Worship Matters. Buku ini sangat Alkitabiah, komprehensif, seimbang, jelas, dan menarik. Para pemimpin ibadah perlu membacanya. Buku ini akan banyak menolong orang-orang yang ingin mengetahui lebih dalam lagi, seperti apakah ibadah yang Alkitabiah itu, dan bagaimana beribadah dari dalam hati.”
Prof. John M. Frame, D.D.
(Profesor Theologi Sistematika dan Filsafat di Reformed Theological Seminary, Jackson, Mississippi, U.S.A.; Bachelor of Arts—A.B. dari Princeton University, U.S.A.; Bachelor of Divinity—B.D. dari Westminster Theological Seminary, U.S.A.; M.A. dan Master of Philosophy—M.Phil. dari Yale University, U.S.A.; dan Doctor of Divinity—D.D. dari Belhaven College)

“Dalam setiap pembicaraan dan korespondensi saya dengan Bob Kauflin, ada satu hal yang selalu jelas tercermin – kerinduan yang teramat dalam untuk menyembah Tuhan dengan benar. Bob mengasihi Tuhan, menghargai theologi, dan peduli terhadap jiwa-jiwa. Pembauran hal-hal itu tercermin di sepanjang buku yang luar biasa ini. Buku Worship Matters akan memberi inspirasi kepada Anda – penyembah Allah – dan menolong Anda memimpin ibadah.”
Matt Redman
(Pemimpin ibadah dan penulis lagu pujian yang tinggal di Brighton, U.K.)

“Ini dia buku langka – sebuah penelaahan praktis ibadah jemaat yang mencerminkan komitmen terhadap theologi yang kokoh. Kita bisa saja berbeda pandangan dalam beberapa penilaiannya, namun sungguh tidak adil kalau kita menilai Bob Kauflin sebelum memikirkan hal-hal itu secara mendalam. Sesungguhnya, ia sudah memikirkan semuanya itu secara mendalam sementara mengajar generasi baru memandang serius ibadah bersama, melakukannya secara Alkitabiah, dan serasi dengan budaya masa kini.”
Rev. Prof. Donald A. Carson, Ph.D.
(Profesor Perjanjian Baru di Trinity Evangelical Divinity School, Deerfield, Illinois, U.S.A. Bachelor of Science—B.S. dalam bidang Kimia dari McGill University; M.Div. dari Central Baptist Seminary di Toronto, Kanada; dan Ph.D. dalam bidang Perjanjian Baru dari Cambridge University, U.K.)

“Bob Kauflin menulis buku ini mengenai ibadah dengan pembahasan yang penuh hikmat. Buku ini Alkitabiah, meninggikan Kristus, relevan, praktis, dapat dinikmati, lagipula mempunyai kualitas-kualitas lainnya yang saya harapkan. Buku ini penuh pengertian mendalam yang sudah teruji – hasil dari perenungan sang penulis sebagai pemimpin para pemimpin ibadah, Saya mengenal Bob dan respek terhadapnya. Saya suka dengan caranya memimpin ibadah. Bob mempraktikkan apa yang ditulisnya. Jadi, apa yang diajarkannya tentang karakter, integritas, kerendahan hati, dapat dipercaya. Dengan sangat antusias, saya merekomendasikan buku ini kepada semua orang yang ingin meningkatkan kualitas ibadahnya di gereja – membuat ibadah semakin berfokus kepada Kristus.”
Rev. Dr. Randy T. Alcorn
(Pendiri dan Direktur dari Eternal Perspective Ministries—EPM dan penulis buku Heaven and The Treasure Principle: Unlocking the Secrets of Joyful Giving)

“Theologi yang kental dan mulia, pengertian mendalam yang sarat hikmat, pengalaman yang mahal, nasihat yang praktis dan bersifat rendah hati – semua ini kualitas-kualitas yang tercermin dari buku Bob Kauflin, Worship Matters. Dengan kepedulian yang mendalam terhadap kemuliaan Allah dan pembangunan tubuh Kristus melalui ibadah yang mengalir dari dalam hati serta yang dapat dipertanggungjawabkan, Kauflin mengemukakan serangkaian hikmat dan petunjuk mencakup berbagai masalah praktis – semuanya dikemas dalam theologi Allah Tritunggal, anugerah Injili, dan keutamaan salib Kistus. Unsur-unsur ini sangat diperlukan untuk memahami hakikat ibadah dan bagaimana melakukannya. Kiranya visi Allah dan model ibadah yang diutarakan oleh Kauflin akan tersebar luas, meningkatkan kualitas ibadah dalam banyak gereja demi keagungan nama Tuhan.”
Prof. Bruce A. Ware, Ph.D.
(Profesor Theologi Kristen di The Southern Baptist Theological Seminary, U.S.A.; M.Div. dan Th.M. dari Western Conservative Baptist Seminary; M.A. dari University of Washington; dan Ph.D. dari Fuller Theological Seminary, U.S.A.)

“Bob Kauflin adalah pemimpin ibadah favorit saya. Tetapi alasannya mungkin akan mengejutkan orang. Tentu, ia pianis yang luar biasa, penulis lagu, penderta, dan seorang pemimpin. Namun hatinya dan sifatnya yang rendah hati dalam melayani – inilah yang membuat dia berbeda dari orang-orang lainnya. Setahu saya, tidak ada orang lain yang lebih pantas untuk menulis buku tentang tema ini selain Bob. Dan setahu saya pula, tidak ada buku lainnya yang lebih bermanfaat bagi orang-orang yang mau memimpin ibadah.”
Rev. Charles Joseph (C. J.) Mahaney
(Pendiri Sovereign Grace Ministries)

“Buku Bob Kauflin yang baru, Worship Matters, adalah buku yang sangat berbobot bagi mereka yang memimpin ibadah, juga bagi setiap orang Kristen yang ingin menyembah Allah dengan lebih maksimal lagi. Buku ini Alkitabiah, praktis, menarik, dan bijak. Penelaahan setiap topiknya pun luas. Walaupun banyak berkaitan dengan hal praktis dan teknis, buku ini menekankan karakter dan hubungan pribadi sang pemimpin ibadah dengan Tuhan, selain menekankan ajaran Alkitab tentang ibadah. Lain kali saya mengajar mengeani ibadah, saya akan menjadikan buku ini buku wajib.”
Prof. Wayne Grudem, Ph.D.
(Profesor Riset Alkitab dan Theologi di Phoenix Seminary, U.S.A.; B.A. dari Harvard University; M.Div. dari Westminster Theological Seminary, U.S.A.; dan Ph.D. dari University of Cambridge, U.K.)

“Bob Kauflin memadukan keterampilan dalam bidang musik dengan wawasan theologis dan pastoral. Dengan kejelasan dan semangat yang membara, ia memberi petunjuk Alkitabiah praktis bagi mereka yang bertanggung jawab memimpin ibadah jemaat dan membangun jembatan yang kreatif antara tradisi Injili dan Karismatik.”
Rev. David Peterson, Ph.D.
(Senior Research Fellow dan Profesor Perjanjian Baru di Moore Theological College, Sydney, Australia dan penulis buku Enganging With God; B.A. dari University of Sydney; B.D. dari London; M.A. dari Sydney University; dan Ph.D. dari Manchester University, U.K.)

“Tidak ada orang lain yang mengajar saya mengenai ibadah sebanyak yang diajarkan Bob Kauflin. Kalau ia hanya seorang musisi dan pemimpin ibadah senior, ia pantas didengar. Kalau ia hanya seorang guru terampil yang menjunjung theologi Alkitabiah, Anda sebaiknya memperhatikan dia. Kalau ia hanya seorang pendeta yang memiliki kerinduan agar orang-orang Kristen bertumbuh dalam pengenalan dan kasihnya kepada Tuhan, Anda dapat belajar daripadanya. Namun yang benar, ia bukan hanya seorang musisi atau seorang guru atau seorang pendeta, ia ketiga-tiganya! Bob adalah seorang pendeta, seorang guru, dan seorang musisi yang terampil. Buku ini mencerminkan hai dan semangatnya terhadap Allah, juga pengalamannya memimpin ibadah. Itulah sebabnya buku ini patut disimak oleh para pendeta dan pemimpin ibadah.”
Rev. Joshua Eugene Harris
(Gembala Sidang Covenant Life Church, U.S.A. dan penulis buku laris Boy Meets Girl)





Profil Rev. Bob Kauflin:
Rev. Bob Kauflin adalah pendeta dan pemimpin ibadah di Covenant Life Church, U.S.A. Beliau juga adalah Direktur Pengembangan Ibadah di Sovereign Grace Ministries. Beliau dahulu bergabung dengan kelompok pemusik rohani GLAD sebagai penggubah lagu selama 8 tahun. Setiap dua tahun, beliau menjadi tuan rumah konferensi Worship God. Beliau menikah dengan Julie dan dikaruniai 6 orang anak dan banyak cucu. Mereka tinggal di Montgomery Village, Md.

26 January 2012

Buku-7: MENGENAL ROH KUDUS (Denny Teguh Sutandio)


Siapakah Roh Kudus? Apa peranan Roh Kudus? Apa itu baptisan dan kepenuhan Roh Kudus? Apa saja karunia-karunia Roh Kudus?

Temukan jawabannya dalam:
Buku
MENGENAL ROH KUDUS
oleh: Denny Teguh Sutandio

Buku ini akan menguraikan seluk-beluk tentang Roh Kudus, mulai dari Pribadi Roh Kudus, peranan-Nya, baptisan dan kepenuhan Roh Kudus, dan karunia-karunia Roh dengan dasar penafsiran Alkitab yang bertanggung jawab dan teliti.



Apa kata mereka tentang buku “Mengenal Roh Kudus”?

“Dengan tegas dan jelas Denny telah menguraikan beberapa tema penting doktrin Roh Kudus dari sudut pandang Alkitab. Bagi jemaat awam, buku ini menolong untuk meluruskan beberapa pandangan yang keliru atau kontroversil mengenai Roh Kudus. Denny telah menunjukkan pentingnya membaca dan menggali firman Tuhan dengan benar.”
Ev. Hans Wuysang, M.Th.
(Direktur Scripture Union Indonesia)

“Keyakinan orang Kristen terhadap doktrin Allah Tri Tunggal tidak serta-merta membuat mereka bersikap adil dalam usaha untuk mengenal setiap pribadi yang ada di dalam Allah Tri Tunggal. Tidak sedikit dari mereka yang terjebak dalam sikap “meng-anak-tiri-kan” Roh Kudus sebagai pribadi ketiga Tri Tunggal. Setidaknya, hal ini terlihat dari minimnya pemahaman mereka tentang Roh Kudus, dan hidup sebagai penganut saksi YHWH praktis (hidup tanpa pimpinan Roh Kudus).
Di pihak lain, terdapat golongan Kristen lainnya yang cenderung memprioritaskan Roh Kudus dalam bertheologi namun “meng-anak-tiri-kan” pribadi-pribadi yang lain dalam Tri Tunggal. Hal ini membuat mereka terjebak dalam pemahaman dan aplikasi yang keliru tentang pribadi Roh Kudus, karya serta manifestasi-Nya dalam hidup orang Kristen.
Dalam situasi yang sangat memprihatinkan ini, buku MENGENAL ROH KUDUS merupakan suatu langkah awal yang bijak untuk menolong Anda untuk terhindar dari kekeliruan yang sedang terjadi saat ini, dan membawa Anda untuk mengenal pribadi Roh Kudus secara bertanggung jawab.”
Ev. Reyco F. Wattimury, S.Th.
(hamba Tuhan di Gereja Kristus Rahmani Indonesia—GKRI Exodus, Surabaya dan salah satu dosen di Sekolah Theologi Awam Reformed—STAR, Surabaya)

“Salah satu doktrin yang sering kali menjadi perdebatan adalah Pneumatology (Doktrin Roh Kudus). Sepanjang sejarah gereja, banyak muncul pemikiran dan pengajaran yang keliru mengenai pribadi dan karya Roh Kudus. Denny berhasil mengupas materi yang berat ini menjadi sesuatu yang menarik untuk dibaca oleh semua kalangan. Dengan penggalian Alkitab yang bertanggung jawab dan pengupasan masalah yang baik, buku “Mengenal Roh Kudus” ini layak untuk dipelajari dan menjadi pelengkap bagi bahan katekisasi jemaat.”
Ev. David Santoso Kosasih, M.Div.
(Gembala Sidang Gereja Kristen Kalam Kudus Jemaat Kemayoran Baru, Surabaya)


Penerbit: Sola Scriptura


Harga: Rp 50.000, 00/buku
(belum termasuk ongkos kirim)


Berminat??
SMSkan nama dan alamat lengkap Anda beserta judul dan jumlah buku yang ingin Anda pesan ke no: 0878-5187-3719

Bagian 7: Karunia Pekerjaan Kuasa (1Kor. 12:10, 28)

MENGENAL KARUNIA-KARUNIA ROH KUDUS

Bagian 7: Karunia Pekerjaan Kuasa (1Kor. 12:10, 28)

oleh: Denny Teguh Sutandio

Kemudian, Paulus menyebut karunia mengadakan mujizat (LAI). Teks Yunaninya adalah ἐνεργήματα δυνάμεων (energēmata dunameōn). Kata ἐνεργήματα (energēmata) berbentuk kata benda, nominatif (subjek kalimat), netral, dan jamak dari kata ἐνέργημα (energēma). Kata ini berarti working (cara kerja), activity (pekerjaan). Kata δυνάμεων (dunameōn) berbentuk kata benda, genitif (kepemilikan), feminin, dan jamak dari kata δύναμις (dunamis) dan dalam konteks ini, kata ini berarti kuasa/kekuatan (power). Kata dunamis yang berarti kuasa dapat dijumpai di Mat. 14:2[1]; 22:29[2]; Kis. 1:8[3]; Rm. 1:4[4]; Kol. 1:11[5]; 2Tim. 3:5[6]; Ibr. 7:16[7]; 2Ptr. 1:3[8]. Dari dua kata ini, kita menggabungkan artinya menjadi: pekerjaan-pekerjaan kuasa-kuasa.[9]

Apa arti karunia pekerjaan kuasa ini? Apakah sama dengan karunia kesembuhan di bagian 4? Tentu tidak sama. Karunia kesembuhan bisa dikategorikan sebagai karunia pekerjaan kuasa, tetapi karunia pekerjaan kuasa tidak identik dengan karunia kesembuhan, karena karunia pekerjaan kuasa bisa meliputi banyak hal selain kesembuhan.

Kalau kita memperhatikan salah satu teks di atas yang menggunakan kata Yunani dunamis seperti di 1Kor. 12:10 yaitu di Kis. 1:8, kita akan mengerti definisi kuasa. Kita akan mencoba menelusuri sepintas di beberapa pasal kitab Kisah Para Rasul ini tentang kuasa Roh yang dijanjikan Kristus di Kis. 1:8 tadi. Di pasal 2 kitab Kisah Para Rasul, kita melihat kuasa Roh dinyatakan melalui gejala: tiupan angin keras dan lidah-lidah api (Kis. 2:2-3), kemudian disusul dengan bahasa lidah (Kis. 2:4). Kuasa Roh ini mencengangkan banyak orang yang berkumpul di Yerusalem waktu itu, sehingga Petrus dan para rasul berkhotbah (Kis. 2:14-40), dan akibatnya 3.000 jiwa bertobat (Kis. 2:41). Satu pasal sesudahnya, dr. Lukas mencatat kuasa Roh melalui Petrus yang menyembuhkan orang lumpuh (Kis. 3:1-10). Di Kis. 4, kuasa Allah nyata melalui Petrus dan Yohanes yang berani bersaksi di depan Mahkamah Agama (ay. 1-22). Bahkan di Kis. 5, dr. Lukas mencatat kuasa Allah yang menyembuhkan dan mengusir setan melalui para rasul (Kis. 5:15-16). Di Kis. 9, dr. Lukas mencatat kuasa Allah melalui Petrus yang menyembuhkan Eneas yang lumpuh dan membangkitkan Dorkas (ay. 32-43). Di Kis. 19, dr. Lukas mencatat kuasa Allah melalui Paulus yang menyembuhkan orang sakit dan mengusir setan (ay. 11-12).

Dari penyelidikan khusus di kitab Kisah Para Rasul, kita mendapatkan penjelasan bahwa pekerjaan kuasa bisa meliputi kesembuhan, pengusiran setan, dll. Rev. Prof. D. A. Carson, Ph.D. menyebutkan beberapa hal termasuk pekerjaan kuasa ini, “exorcisms, nature miracles, and other displays of divine energy.”[10] (=pengusiran setan, mujizat-mujizat alam, dan pertunjukan lain dari kuasa ilahi.)



[1] LAI: “kuasa-kuasa”.

[2] LAI: “kuasa”.

[3] LAI: “kuasa”.

[4] LAI: “berkuasa” (seharusnya teks aslinya berbentuk kata benda).

[5] LAI: “kekuatan”.

[6] LAI: “kekuatan”.

[7] LAI tidak menerjemahkan kata ini. Young’s Literal Translation (YLT): “power of an endless life” (kuasa dari hidup yang tidak binasa).

[8] LAI: “kuasa”.

[9] English Standard Version (ESV), King James Version (KJV), dan Revised Standard Version (RSV): “the working of miracles.” D. A. Carson menerjemahkan arti literalnya: “workings of powers” (pekerjaan-pekerjaan kuasa-kuasa).

[10] D. A. Carson, Showing the Spirit, hlm. 31.

22 January 2012

Resensi Buku-151: PEMBUKTIAN ATAS KEBENARAN IMAN KRISTIANI (Rev. Lee P. Strobel, D.D.)

...Dapatkan segera...




Buku:
PEMBUKTIAN ATAS KEBENARAN IMAN KRISTIANI:
Investigasi Pribadi Seorang Jurnalis atas Bukti tentang Iman Kristiani


oleh: Rev. Lee Patrick Strobel, D.D. (HC)

Penerbit: Gospel Press, Batam, 2005

Penerjemah: Dra. Magda L. Toruan





Deskripsi singkat dari Denny Teguh Sutandio:
Benarkah semua agama itu sama saja? TIDAK. Fakta membuktikan bahwa hanya Kekristenan satu-satunya agama yang bisa dipertanggungjawabkan baik secara sejarah, rasio, maupun pengalaman hidup manusiawi. Apakah pernyataan ini bukan pernyataan yang gegabah dan “menghakimi”? TIDAK! Pernyataan ini merupakan pernyataan yang bisa dipertanggungjawabkan, salah satunya oleh seorang mantan atheis yang setelah menjelajah ke semua agama dan akhirnya menemukan kebenaran sejati HANYA di dalam Tuhan Yesus Kristus, yaitu Rev. Dr. Lee Strobel. Dengan kemampuan seorang jurnalis yang menguasai hukum, Rev. Lee Strobel menginvestigasi secara pribadi delapan pertanyaan besar yang sering kali menyerang Kekristenan, yaitu: jika Allah ada, mengapa ada kejahatan?; benarkah mukjizat itu ada jika mukjizat bertentangan dengan pengetahuan ilmiah?; benarkah teori evolusi menggeser keberadaan Allah?; benarkah Allah itu kejam dengan membunuh anak-anak kecil yang tak berdosa?; benarkah dengan mengaku bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan kepada Allah itu berarti kita menghina agama lain?; mungkinkah Allah yang Pengasih menyiksa orang di neraka?; bisakah Kekristenan dipercayai jika sejarah gereja dinodai oleh penindasan dan kekerasan?; dan ketika saya ragu, masih bisakah saya menjadi orang Kristen? Sebelum menginvestigasi 8 pertanyaan besar itu, dalam bukunya Pembuktian Atas Kebenaran Iman Kristiani, beliau mengetengahkan sebuah cerita dari Charles Templeton, mantan penginjil (rekan pelayanan Dr. Billy Graham) yang akhirnya menjadi seorang skeptis (meragukan Allah itu ada atau tidak). Setelah itu, beliau mulai mencari jawaban di balik pertanyaan Charles Templeton tersebut dengan mewawancarai 8 tokoh intelektual baik dalam bidang theologi, filsafat, maupun sains, yaitu:
1. Prof. Peter John Kreeft, Ph.D. (Profesor Filsafat di Boston College dan The King’s College yang menyelesaikan studi Bachelor of Arts—A.B. di Calvin College; Master of Arts—M.A. dan Doctor of Philosophy—Ph.D. di Fordham University; dan post-doctoral di Yale University, U.S.A.)
2. Prof. William Lane Craig, Ph.D., D.Theol. (Profesor Riset Filsafat di Talbot School of Theology, Biola University, U.S.A. yang menyelesaikan studi Bachelor of Arts—B.A. dalam bidang Komunikasi di Wheaton College, Illinois, U.S.A.; M.A. dalam bidang Filsafat Agama dan Sejarah Gereja di Trinity Evangelical Divinity School, Deerfield, Illinois, U.S.A.; Ph.D. di University of Birmingham, England; dan Doctor of Theologie—D.Theol. di University of Munich)
3. Prof. Walter L. Bradley, Ph.D. (Director of the Polymer Science and Engineering Program di Texas A&M University, U.S.A. yang menyelesaikan studi Bachelor of Science—B.S. dalam bidang Engineering Science dan Ph.D. dalam bidang Materials science di University of Texas at Austin.)
4. Prof. Norman L. Geisler, Ph.D. (Presiden dari Southern Evangelical Seminary, U.S.A. yang menyelesaikan studi B.A. dan M.A. di Wheaton College; Bachelor of Theology—B.Th. di William Tyndale College; dan Ph.D. dalam bidang Filsafat di Loyola University.)
5. Ravi Zacharias, D.D. (HC), LL.D. (HC) (Presiden dari Ravi Zacharias International Ministries dan Distinguished Visiting Professor of Religion and Culture di Southern Evangelical Seminary, U.S.A. yang menyelesaikan studi B.A. di University of New Delhi; B.Th. di Ontario Bible College; Master of Divinity—M.Div. di Trinity Evangelical Divinity School dan mendapatkan gelar kehormatan: Doctor of Divinity—D.D. dari Houghton College dan Doctor of Laws—LL.D. dari Asbury College)
6. Prof. James Porter (J. P.) Moreland, Ph.D. (Distinguished Professor of Philosophy di Talbot School of Theology, Biola University di La Mirada, California, U.S.A. yang menyelesaikan studi Bachelor of Science—B.S. dalam bidang Kimia di University of Missouri, U.S.A.; Master of Theology—Th.M. di Dallas Theological Seminary, U.S.A.; M.A. dalam bidang Filsafat di University of California-Riverside; dan Ph.D. dalam bidang Filsafat di University of Southern California, U.S.A.)
7. Prof. John D. Woodbridge, Ph.D. (Profesor Riset Sejarah Gereja dan Sejarah Pemikiran Kristen di Trinity Evangelical Divinity School, Deerfield, Illinois, U.S.A. dan anggota dari: the American Society of Church History, the American Society of 18th Century Studies, the American Catholic Historical Association, the French Historical Society, dan the French-Société française d'etude du 18 siècle; menyelesaikan studi B.A. dalam bidang Sejarah di Wheaton College, U.S.A.; M.A. dalam bidang Sejarah di Michigan State University, U.S.A.; M.Div. di Trinity Evangelical Divinity School, U.S.A.; Doctorat de Troisième Cycle dari the University of Toulouse, France, dan menyelesaikan studi post-doctoral di University of Paris di Prancis)
8. Prof. Lynn Anderson, D.Min. (Pendiri Hope Network Ministries yang menyelesaikan studi master di Harding Graduate School of Religion dan Doctor of Ministry—D.Min. di Abilene Christian University)
Setelah mewawancarai 8 tokoh intelektual tersebut, beliau menutup bukunya dengan sebuah kesimpulan yaitu sebuah tantangan bagi pembaca untuk mengambil keputusan untuk menerima dan mengikut Tuhan Yesus Kristus. Biarlah buku yang berisi investigasi seorang mantan jurnalis yang menjadi pendeta ini boleh menguatkan iman Kristen kita di tengah arus zaman yang semakin menghimpit kita.





Rekomendasi:
“Lee Strobel telah memberikan hadiah kepada orang-orang percaya dan kepada mereka yang skeptis. Dia tidak menghindarkan diri dari menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang paling sukar yang dapat dibayangkan – pertanyaan-pertanyaan tentang Allah dan penderitaan, tentang penghakiman Ilahi dan neraka, tentang ketidakadilan, dan juga tentang eksklusivisme Kristus. Dia berani membahasnya dalam segala kerumitannya sehingga dengan begitu dia tidak memberikan jawaban-jawaban yang gampang, yang dapat lebih merugikan daripada mendatangkan kebaikan. Meskipun demikian, gaya penulisannya yang khas – yaitu dengan mencatat wawancara dengan para pakar yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sukar tersebut – membuat buku ini mudah dipahami dan menarik. Bagi saya, buku ini sangat membantu dan menawan hati.”
Prof. Gerald L. Sittser, Ph.D.
(Profesor Agama di Whitworth College dan penulis buku A Grace Disguised dan The Will of God as a Way of Life; Bachelor of Arts—B.A. dari Hope College; Master of Divinity—M.Div. dari Fuller Theological Seminary, U.S.A.; dan Doctor of Philosophy—Ph.D. dari University of Chicago)

“Dengan kegigihan seorang penyelidik yang tangguh, serta keterampilan seorang komunikator yang cerdas, Lee Strobel memecahkan masalah kekakuan iman pada zaman yang diwarnai oleh spiritualitas semu dan lengkingan para skeptis. Jawaban-jawaban yang mencekam pikiran terhadap pertanyaan-pertanyaan yang begitu menyentuh jiwa, yang secara brilian diseleksi oleh orang yang tidak takut mengajukan pertanyaan-pertanyaan keras kepada orang-orang yang mengaku kebenaran iman Kristiani.”
Ravi Zacharias, D.D., LL.D.
(Presiden dari Ravi Zacharias International Ministries dan Distinguished Visiting Professor of Religion and Culture di Southern Evangelical Seminary, U.S.A.; B.A. dari University of New Delhi; Bachelor of Theology—B.Th. dari Ontario Bible College; M.Div. dari Trinity Evangelical Divinity School; Doctor of Divinity—D.D. honorary dari Houghton College; dan Doctor of Laws—LL.D. honorary dari Asbury College)

“Setiap orang – yang sedang mencari-cari, yang bimbang, maupun orang-orang percaya yang teguh – memperoleh manfaat ketika Lee Strobel berangkat mencari jawaban-jawaban, seperti yang dilakukannya lagi dalam Pembuktian Atas Kebenaran Iman Kristiani ini. Di tengah wawancara-wawancara yang tajam ini, beberapa hambatan intelektual yang paling berat pun akhirnya runtuh.”
Dr. Luis Palau
(Presiden dari Luis Palau Evangelistic Association; alumni Multnomah Biblical Seminary di Portland, Oregon)

“Dengan kedalaman intelektual dan kejujuran, Lee Strobel menyelidiki, kemudian meniadakan, argumentasi-argumentasi yang paling keras terhadap iman Kristiani. Sebuah buku yang sempurna bagi kaum intelektual, orang-orang yang bimbang, dan orang yang suka bertanya-tanya. Sebuah karya yang sangat membina iman.”
Dr. Bill Bright
(Pendiri dan Presiden dari Campus Crusade for Christ International)





Profil Rev. Lee Strobel:
Rev. Lee Patrick Strobel, B.J., M.S., D.D. (HC) lahir pada tanggal 25 Januari 1952 di Arlington Heights, Illinois. Beliau menyelesaikan studi Bachelor of Jurnalism (B.J.) di University of Missouri, U.S.A. dan Master of Studies (M.S.) dalam bidang hukum di Yale Law School, U.S.A. Pada tahun 2007, beliau dianugerahi gelar Doctor of Divinity (D.D.) dari Southern Evangelical Seminary. Beliau pernah menjadi editor bidang hukum dalam harian The Chicago Tribune. Perhargaan-penghargaan yang pernah diterimanya di antaranya: Illinois’ highest honors untuk pelaporan investigatif dan jurnalisme untuk layanan masyarakat dari United Press International. Perjalanannya dari atheisme pada Kekristenan terdokumentasi dalam buku-bukunya yang memenangkan penghargaan Gold Medallion dan berhasil menjadi best-seller, yaitu Pembuktian Atas Kebenaran Kristus. Saat ini beliau menjadi pendeta pengajar di Saddleback Valley Community Church, Lake Forest, California, U.S.A. dan juga menjadi anggota dewan dari Willow Creek Association. Buku-bukunya yang lain yang menjadi best-seller, yaitu: Inside the Mind of Unchurched Harry and Mary yang juga memenangkan Gold Medallion, What Jesus Would Say, dan God’s Outrageous Claims yang semuanya diterbitkan oleh Zondervan Publishing House. Beliau telah menikah dengan Leslie dan dikaruniai 2 orang anak: Alison (lulusan dari University of Illinois bidang pendidikan dasar) dan Kyle yang sedang mengambil program studi magister di Talbot School of Theology.