17 June 2010

Eksposisi 1 Korintus 7:3-5 (Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.)

EKSPOSISI 1 KORINTUS 7:3-5

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.



Nats: 1 Korintus 7:3-5



Dalam pembahasan sebelumnya kita sudah melihat bahwa jemaat Korintus memiliki konsep yang salah tentang hubungan seksual (ay. 1). Mereka menganggap bahwa tidak berhubungan seks (lit. “tidak menyentuh wanita”) adalah baik bagi kerohanian. Mereka bahkan menerapkan ini pada hubungan suami-istri dalam pernikahan. Terhadap kesalahpahaman ini Paulus menasehati jemaat agar berhubungan seks dengan suami atau istri mereka sendiri (ay. 2). Nasihat ini menjadi lebih penting untuk dilakukan mengingat ada bahaya percabulan yang mengancam (ay. 2a; bdk. 6:15-16).

Di ayat 3-4 Paulus memberikan penjelasan mengapa suami-istri harus tetap melakukan hubungan seksual. Dia menjelaskan bahwa relasi suami-istri menuntut kewajiban secara seksual yang harus dipenuhi (ay. 3). Relasi suami-istri juga menyangkut masalah kepemilikan tubuh masing-masing pasangan (ay. 4). Seseorang tidak boleh menggunakan tubuhnya menurut apa yang dia pandang baik dan melupakan suatu kebenaran bahwa pasangannya juga memiliki tubuhnya.

Di ayat 5 Paulus membicarakan perkecualian terhadap nasihat di ayat 2. Suami-istri memang boleh tidak melakukan hubungan seks, namun mereka harus memperhatikan syarat-syarat tertentu. Sikap Paulus ini sangat berbeda dengan jemaat Korintus yang tidak mau berhubungan seks sama sekali dengan pasangan mereka.


Alasan 1: Ada Kewajiban Seksual Dalam Pernikahan (ay. 3)
Dalam ayat ini frase “terhadap istrinya” muncul di bagian awal, seakan-akan Paulus ingin menandaskan “terhadap istrinya, ya, terhadap istrinya seorang suami harus memenuhi kewajibannya.” Pada waktu memberi nasihat kepada para istri di ayat 3b, Paulus tidak meletakkan “terhadap suaminya” di awal kalimat. Hal ini sangat mungkin menyiratkan bahwa problem utama terletak pada pihak suami yang tidak mau berhubungan seks dengan istri (bdk. ay. 1 “adalah baik bagi laki-laki jika ia tidak kawin”). Alasan lain karena telah terjadi dosa perzinahan yang dilakukan oleh laki-laki dengan perempuan pelacur (6:15-16).

Kata “memenuhi” (apodidotō) memakai present tense, sehingga menyiratkan perintah yang harus dilakukan terus-menerus. Pemilihan tense ini bukan tanpa alasan. Beberapa orang telah melupakan hubungan seks dengan pasangan, jadi mereka perlu dinasehati untuk berhenti melakukan hal itu dan sebaliknya melakukan hal itu secara kontinyu dengan pasangannya. Bahkan ketika Paulus memberikan perkecualian di ayat 5 untuk berpisah sementara itu, ia menegaskan bahwa pendapatnya itu bukan perintah tetapi kelonggaran (ay. 6). Artinya, dalam keadaan yang normal suami-istri harus terus-menerus melakukan hubungan seks.

Yang harus dipenuhi adalah “kewajiban” (opheilē). Kata ini dalam PB memiliki arti “utang” (Mrk. 18:32) atau “sesuatu yang harus dibayar” (Rm. 13:7). Dalam bagian lain kata ofeilh sering dipakai sebagai ungkapan halus (eufimisme) untuk berhubungan seks.

Penggunaan kata ofeilh yang memiliki makna “utang” atau “sesuatu yang harus dibayar” menunjukkan penghargaan Paulus yang tinggi terhadap seks dalam pernikahan. Bagi dia berhubungan seks bukan sekadar masalah pilihan atau keinginan, tetapi keharusan. Paulus sangat mungkin dipengaruhi oleh tradisi Yahudi yang mengajarkan bahwa kebutuhan seks merupakan salah satu kewajiban suami terhadap istri selain masalah pakaian dan makanan (Kel. 21:10).

Sikap di atas berbeda dengan konsep umum di kalangan orang Yahudi. Mereka biasanya melihat seks hanya sebagai sarana untuk prokreasi (memiliki anak). Beberapa penulis Yahudi bahkan menganggap hubungan seks yang tidak ditujukan untuk memiliki anak merupakan tindakan yang tercela dan bahkan disamakan dengan binatang. Bagi Paulus hubungan seks bukan hanya masalah prokreasi, tetapi rekreasi dan obligasi. Tuhan menciptakan keagungan seks dan itu harus dinikmati serta dirayakan oleh manusia.


Alasan 2: Ada Kepemilikan Tubuh Bersama Dalam Pernikahan (ay. 4)
Di ayat ini Paulus mengajarkan bahwa suami/istri tidak berkuasa (exousiazō) atas tubuhnya sendiri. Terjemahan “kuasa” (LAI:TB/KJV/ASV) kurang begitu tepat. Kata exousiazō sebaiknya diterjemahkan memiliki otoritas (NASB/NRSV). Bentuk pasif dari kata ini sebelumnya sudah dipakai di pasal 6:12 dengan arti “diperhamba.” Di tempat lain kata ini dipakai untuk pemerintah yang memerintah atas rakyatnya (Luk. 22:25).

Penggunaan istilah ini menyiratkan bahwa jemaat Korintus cenderung terjebak pada konsep “kebebasan” atau “hak” yang keliru. Mereka lupa bahwa kebebasan tetap harus memperhatikan kepentingan orang lain, apalagi dalam konteks pernikahan istri memang memiliki otoritas tubuh suaminya, begitu pula sebaliknya. Inti yang mau disampaikan Paulus bukan “aku memiliki tubuhmu”, tetapi “kamu memiliki tubuhku sehingga aku tidak bisa menggunakannya semauku sendiri.” Paulus tidak mengajarkan eksploitasi tubuh orang lain, tetapi penghormatan terhadap hak orang lain.

Konsep kepemilikan tubuh bersama di atas didasarkan pada dua pemikiran. Yang paling penting, relasi suami-istri memang menyangkut proses menjadi satu daging (Kej. 2:24). Dalam Kidung Agung kedekatan relasi suami-istri berkali-kali digambarkan dengan ungkapan “kekasihku kepunyaanku dan aku kepunyaan dia” (2:16; 6:3; 7:10). Jangankan dengan suami-istri sendiri, perzinahan dengan pelacur pun sudah menciptakan kesatuan yang lebih serius daripada sekadar kontak fisik. Perzinahan membuat seseorang menjadi satu tubuh dengan yang dia ajak berzinah (6:16).

Dasar yang lain adalah prinsip kasih. Orang yang menikah harus mulai memikirkan kepentingan atau urusan pasangannya (7:33-34). Salah satu wujud kasih adalah “tidak mencari kepentingan sendiri tetapi orang lain” (13:7). Setiap orang Kristen harus menunjukkan kasih dalam bentuk tidak mau melakukan sesuatu yang menjadi batu sandungan bagi orang lain,s ekalipun ia mungkin memiliki alasan atau hak untuk melakukan hal tersebut (8:9, 13; 10:24, 33).


Kasus Khusus (ay. 5)
Bentuk present tense dalam larangan “jangan menjauhi” (mē apostereite) lebih bermakna “berhentilah menjauhi.” Makna ini sesuai dengan apa yang memang sudah terjadi dalam jemaat Korintus. Mereka bukan sekadar memiliki konsep yang salah, tetapi mereka sungguh-sungguh sudah mempraktikkan konsep tersebut. Paulus memberi nasihat agar mereka berhenti melakukan kesalahan ini.

Penggunaan kata dasar “apostereō” di ayat ini merupakan ungkapan yang menarik, sayangnya penerjemah LAI:TB gagal menangkap makna yang sebenarnya dari kata ini. Semua versi Inggris menerjemahkan dengan kata “menghilangkan” (KJV/ASV “defraud”, NIV/NASB/NRSV “deprive”). Terjemahan mayoritas ini sangat tepat karena kata apostereō sudah dipakai Paulus sebelumnya dengan arti “merugikan” (6:7-8; bdk. Yak. 5:4). Makna ini juga sesuai dengan kata “kewajiban/utang” (opheilē) yang sudah dipakai di ayat 3. Dari penggunaan ini terlihat bahwa ketika mereka tidak mau melakukan hubungan seksual, mereka sebenarnya sedang menghilangkan sesuatu, yaitu hak atau otoritas dari pasangan mereka masing-masing.

Walaupun dalam keadaan normal suami-istri harus terus melakukan hubungan seksual, namun Paulus tetap memberi sebuah kelonggaran (bdk. ay. 6) Dalam kasus yang khusus suami-istri boleh tidak melakukan kewajibannya. Syarat yang diberikan adalah “atas persetujuan bersama” (ek sumphōnou). Sikap jemaat Korintus yang meninggalkan persetubuhan dengan pasangan merupakan tindakan yang sepihak dan tidak menghargai kepentingan orang lain. Mereka tidak peduli apakah pasangannya akan menyetujui tindakan itu atau tidak, karena itu Paulus menempatkan syarat “atas persetujuan bersama” sebagai syarat pertama.

Selanjutnya ia menambahkan “untuk sementara waktu” (pros kairon). Jika tindakan menjauhi seks yang dilakukan jemaat Korintus didasarkan pada pertimbangan teologis untuk menunjukkan kerohanian yang tinggi, maka kemungkinan besar tindakan ini akan berlangsung lama atau bahkan permanen. Mereka akan berpikir bahwa semakin lama bertarak akan semakin baik bagi kerohanian. Tentang hal ini Paulus memberi syarat yang jelas, yaitu “untuk sementara waktu.”

Di bagian akhir ayat 5 Paulus memakai tiga kata kerja subjunctive untuk menunjukkan tujuan. Kita perlu memperhatikan bahwa tujuan di sini bukan menerangkan “kecuali atas persetujuan bersama”, tetapi “untuk sementara waktu.” Mengapa perlu dibatasi waktunya?

Pertama, supaya dapat berdoa. Sebagian penafsir menganggap bahwa doa di sini tidak merujuk pada doa pribadi pada setiap waktu yang kita maui, tetapi lebih berkaitan dengan persiapan untuk momen-momen khusus tertentu. Orang-orang Yahudi sudah terbiasa untuk menjauhi beberapa hal sebagai persiapan merayakan hari raya atau berjumpa secara khusus dengan Allah (Kel. 19:15; Im. 15:18; 1Sam. 21:4-6). Dari sini terlihat bahwa kita tidak boleh mengeksploitasi waktu doa seenaknya demi menjauhi hubungan seks. Walaupun doa merupakan sesuatu yang rohani dan penting bagi orang Kristen, namun hal ini tidak bisa meniadakan kewajiban suami-istri dalam hal seksual. Ini berarti bahwa di mata Paulus, berdoa dan melakukan hubungan seks dengan pasangan sama-sama merupakan perkara yang rohani.

Kedua, supaya kembali hidup bersama. Penerjemah LAI:TB memberikan titik setelah frase “supaya kamu dapat berdoa” dan menganggap frase palin epi to auto ēte sebagai kalimat perintah (lihat juga NIV). Terjemahan ini tidak tepat, karena kata kerja hte berbentuk subjunctive, sehingga masih memberikan keterangan lanjutan tentang tujuan. Jemaat Korintus diperboleh menjauhi pasangan untuk sementara waktu supaya mereka dapat kembali bersama.

Ketiga, supaya tidak dicobai iblis. Situasi dalam kehidupan jemaat Korintus yang rawan dengan percabulan (6:15-16; 7:2a) merupakan senjata ampuh bagi iblis untuk menjatuhkan mereka. Masalah ini semakin diperparah dengan keadaan beberapa jemaat yang memang tidak tahan bertarak (7:5, 9). Bagi mereka yang tidak memiliki karunia untuk membujang (bdk. 7:7-8), maka godaan dalam bidang seksual yang mereka hadapi adalah lebih besar daripada mereka yang memiliki karunia itu. Berpijak dari pertimbangan ini, maka tindakan jemaat yang meninggalkan hubungan seksual dengan pasangan dalam waktu yang lama merupakan tindakan yang bodoh, karena memberi kesempatan kepada iblis. #




Sumber:
Mimbar GKRI Exodus, 22 Februari 2009
http://www.gkri-exodus.org/image-upload/1Korintus%2007%20ayat%2003-05.pdf

13 June 2010

BERGUMUL MENCARI PASANGAN HIDUP (Denny Teguh Sutandio)

BERGUMUL MENCARI PASANGAN HIDUP

oleh: Denny Teguh Sutandio



“Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?”
(2Kor. 6:14)




Dunia anak muda adalah dunia yang penuh warna, mulai dari bergaul, kuliah, bekerja, hang-out, bahkan sampai memilih pasangan hidup. Khusus mengenai pasangan hidup, banyak anak muda zaman sekarang (tidak terkecuali banyak yang “Kristen”) seenaknya sendiri memilih pasangannya dengan alasan “cocok” (meskipun hal ini tidak salah 100%), dll. Mencari dan menemukan pasangan hidup TIDAKlah mudah, yang harus dilakukan oleh generasi muda Kristen adalah bergumul mencari pasangan hidup. Mengapa untuk mencari pasangan hidup harus bergumul? Apa definisi bergumul? Siapakah pasangan hidup yang Tuhan inginkan bagi anak-anak-Nya? Bagaimana mencarinya? Sebelum membahas bergumul mencari pasangan hidup, kita akan mencoba mengerti dua kata: bergumul dan pasangan hidup, setelah itu kita akan menggabungkan keduanya.


BERGUMUL
BERGUMUL adalah sebuah kata agung yang diajarkan Alkitab dan Kekristenan, namun sayangnya, hari-hari ini kata yang begitu agung ini dipakai secara tidak bertanggungjawab oleh beberapa orang Kristen untuk dipakai pada sesuatu yang “sampah”. Ambil contoh, seorang anak aktivis sebuah gereja di Surabaya menggunakan istilah bergumul untuk mencari pasangan hidup yang tidak seiman dan bahkan telah membina hubungan dengan lawan jenis yang tidak seiman, namun dikabarkan dia sedang mengalami masalah dan kembali orang ini menggunakan kata “bergumul”. Apa sebenarnya arti bergumul? Bergumul sebenarnya adalah sebuah kata yang dipakai hanya oleh umat pilihan-Nya di dalam berjuang menggenapkan kehendak Allah. Dengan kata lain, di dalam bergumul, ada tarik-menarik yang kuat antara kehendak Allah dan kehendak pribadi yang berdosa, namun hasrat umat-Nya ini jelas yaitu ingin taat pada kehendak Allah. Rasul Paulus mengungkapkan hal ini sebanyak 2 kali di dalam Roma 7: “Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.” (ay. 15) dan “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku.” (ay. 19-20) Perhatikan apa yang Paulus katakan di dalam 2 ayat ini. Paulus sadar bahwa yang dia kehendaki itu adalah sesuatu yang jahat yang dia benci. Berarti, di dalam diri Paulus, dia berhasrat menyenangkan Allah, namun dosa tetap merongrong hidup dan pelayanannya. Hal ini diungkapkannya pada 5 ayat terakhir di Roma 7, “Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku. Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa.” (ay. 22-26)

Namun, kata “bergumul” yang kerap kali didengungkan oleh beberapa orang “Kristen” berarti TIDAK ada hasrat untuk menyenangkan Allah dan taat akan firman-Nya. Kembali ke contoh, anak aktivis gereja ini jelas mengetahui bahwa lawan jenis yang dipilihnya (dan yang sekarang telah menjadi pacarnya) adalah orang yang berbeda iman, namun mengapa ia masih memilih lawan jenis yang tidak seiman untuk menjadi pasangan hidupnya? Ia tahu yang dilakukannya itu salah (karena gembala sidangnya telah mengingatkannya secara implisit pada waktu khotbah mimbar), namun yang ia tahu tidak pernah diaplikasikannya (tahu secara kognitif). Dengan kata lain, kata “bergumul” yang ia pakai untuk memilih lawan jenis yang tidak seiman JELAS bukan bergumul yang Allah inginkan. Sebenarnya ia bukan lagi bergumul, karena jelas-jelas ia tidak taat akan firman, sehingga istilah yang tepat untuk menggantikan kata “bergumul” yaitu bernafsu. Saya memperingatkan kepada Anda, khususnya banyak generasi muda Kristen hari-hari ini BERHENTILAH memakai kata-kata yang agung dari Alkitab untuk hal-hal “sampah” yang justru mendukakan hati-Nya.


PASANGAN HIDUP
Apakah dan siapakah pasangan hidup itu? Saya mendefinisikan pasangan hidup (soulmate) adalah seorang lawan jenis yang Tuhan ciptakan dan pimpin untuk melengkapi hidup kita sampai maut memisahkan kita dan orang tersebut. So, dari definisi ini, kita akan belajar 4 prinsip tentang pasangan hidup:
Pertama, pasangan hidup adalah lawan jenis kita. Zaman sekarang adalah zaman postmodern di mana banyak manusia postmodern dengan ide postmodernisme ingin berpikir dan bertindak semau gue yang memenuhi hawa nafsu mereka. Tidak heran, di zaman ini, bukanlah hal baru jika seorang cowok suka dengan cowok (homoseksual) dan cewek suka dengan cewek (lesbian), kemudian mereka menikah bersama. Homoseksual dan lesbian sebenarnya bukan hal baru di zaman postmodern, di zaman Alkitab, Paulus telah mengungkapkan hal ini (Rm. 1:27). Alkitab mengajar kita bahwa pasangan hidup kita haruslah lawan jenis, artinya: cowok dengan cewek, tidak ada alternatif lain! Tuhan mengutuk pernikahan sesama jenis atau pernikahan cowok dengan banci/waria (lady-boy/she-male/transsexual)!

Kedua, pasangan hidup kita diciptakan dan dipimpin Tuhan. Pasangan hidup sejati bagi umat pilihan-Nya diciptakan dan dipimpin langsung dari Tuhan. Berarti, bagi umat pilihan-Nya, pasangan hidup berasal dari Tuhan. Apa artinya? Pertama, pasangan hidup itu diciptakan Tuhan sebagai pribadi yang unik, sehingga satu orang TIDAK mungkin sama dengan orang lain. Inilah yang Tuhan inginkan di dalam pernikahan, laki-laki dan perempuan bersatu dengan keunikan masing-masing. Yang lebih unik, setelah Tuhan mencipta Hawa dan Adam menyadari siapa Hawa, maka Tuhan berfirman, “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.” (Kej. 2:24) Kedua, setelah pasangan hidup kita diciptakan Tuhan, Ia jugalah yang akan memimpin kita mencari pasangan hidup yang telah Tuhan ciptakan itu. Dari poin ini, saya menyimpulkan bahwa sebenarnya pasangan hidup kita ada di dalam tangan-Nya yang berdaulat dan kita sebagai anak-Nya dipimpin-Nya mencari dan menemukan pasangan hidup tersebut. Di sini, saya menggabungkan dua prinsip tentang siapa pasangan hidup kita: ditetapkan Tuhan dan dipimpin Tuhan. Tuhan tentu mengetahui siapa pasangan hidup kita yang cocok dengan kita, karena Ia yang menciptakan kita dan pasangan hidup kita, maka tentu Ia yang mengetahui detailnya. Namun hal ini TIDAK berarti karena Ia telah mengetahui siapa pasangan hidup kita, kemudian kita tidak bergumul mencari pasangan hidup kita atau kita hanya menunggu Tuhan langsung memberikan pasangan hidup kita tepat di depan mata kita. Tuhan yang mengetahui siapa pasangan hidup kita adalah Tuhan yang memimpin umat-Nya untuk mencari pasangan hidup tersebut. Ketiga, pasangan hidup kita harus sesuai dengan apa yang Tuhan mau: SEIMAN! Setelah dicipta dan dipimpin Tuhan, maka poin terakhir yang harus kita pelajari yaitu pasangan hidup kita haruslah sesuai dengan apa yang Tuhan mau di dalam Alkitab yaitu SEIMAN. Artinya, karena Ia yang mencipta, mengetahui, dan memimpin kita mencari pasangan hidup kita, maka Tuhan menginginkan kita taat mutlak untuk mencari pasangan hidup yang Ia mau yang hidupnya berpusat pada Kristus. Adalah suatu kekonyolan bahwa jika kita mengetahui dari khotbah mimbar seorang hamba Tuhan bahwa pasangan hidup kita dicipta dan dipimpin Tuhan, namun yang kita ketahui itu hanya sekadar mengisi otak (kognitif), namun di dalam aplikasinya, kita masih memakai hawa nafsu kita untuk mencari pasangan hidup yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan yaitu tidak seiman (dengan alasan “cocok”)! Kembali, apa arti seiman di dalam mencari pasangan hidup? SEIMAN apakah berarti seagama atau bahkan segereja? TIDAK! Seiman berarti sama-sama beriman pada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Seagama dan bahkan segereja TIDAK menjamin SEIMAN, karena ada banyak orang “Kristen” yang pergi ke gereja hanya sebagai rutinitas, namun imannya masih pada diri sendiri. Kalau kita kembali ke contoh anak aktivis ini, anak aktivis ini adalah seorang yang aktif pergi ke gereja setiap hari Minggu dan katanya “terbeban” melayani Tuhan, namun sayangnya prinsipnya dalam mencari pasangan hidup jelas-jelas bertentangan dengan firman Tuhan. Inikah namanya beriman pada Kristus? Atau sebenarnya beriman pada diri (baca: nafsu diri), namun kedoknya ini ditutupi dengan berpura-pura “melayani Tuhan”? Saya terus terang “takut” dengan model banyak orang “Kristen” zaman ini yang gembar-gembor “melayani Tuhan”, namun iman, konsep, dan prinsip hidupnya bertentangan dengan Alkitab! Hal ini tidak berarti ketika iman, konsep, dan prinsip hidup kita sesuai dengan Alkitab kemudian kita tidak mau melayani Tuhan. Itu juga salah. Yang benar adalah ketika iman, konsep, dan prinsip hidup kita sesuai dengan Alkitab, maka kita makin berapi-api melayani Tuhan secara bertanggungjawab!

Ketiga, saling melengkapi. Pasangan hidup kita selain lawan jenis dan berasal dari Tuhan, maka ia harus seorang yang bisa melengkapi kita dan kita melengkapi lawan jenis/pasangan hidup kita. Melengkapi di sini berarti: saling menegur, mengerti, dan juga memberi. Di sini harus ada hubungan timbal balik. Agar hubungan timbal balik ini bisa terjadi, maka syarat penting seorang pasangan hidup kita kelak adalah seorang yang rendah hati dan dapat diajar (teachable). Orang yang rendah hati dan dapat diajar ditandai dengan kerelaan orang ini untuk ditegur jika ia bersalah atau bahkan berdosa. Rendah hati yang ditandai dengan rela ditegur, bagi saya, merupakan salah satu ciri kedewasaan Kristen yang Alkitabiah. Jika kita aplikasikan di dalam hubungan lawan jenis. Maka, jika si cowok mendapati si cewek berbuat salah, maka si cowok dengan kasih namun tegas menegur si cewek, demikian juga sebaliknya jika si cewek mendapati si cowok ngawur, si cewek harus dengan kasih dan tegas menegur si cowok. Jika masing-masing individu baik cowok maupun cewek rela ditegur, maka mungkin sekali Tuhan menetapkan mereka untuk bersatu kelak di dalam pernikahan kudus. Terus terang, makin lama saya makin memperhatikan banyak orang postmodern (tidak terkecuali orang “Kristen”) adalah orang-orang yang keras kepala, sok tahu, dan tidak mau diajar. Ada orang “Kristen” bahkan hamba Tuhan kalau berkhotbah/mengajar salah atau bertindak salah, orang ini TIDAK mau ditegur dengan alasan “rohani” yaitu kita harus altruistik (memberi bagi orang lain). Orang-orang model ini hanya mau melengkapi pasangan hidupnya, namun pasangan hidupnya TIDAK mau melengkapi dirinya, karena falsafah hidupnya adalah dia hanya mau berbagi/memberi dengan/bagi orang lain (altruistik). Orang yang terus menekankan altruistik (saya setuju bahwa orang Kristen harus altruis, namun TIDAK berarti kita semata-mata hanya altruis) biasanya adalah seorang yang egois, karena orang itu hanya mau memberi, tanpa mau “menerima” (ditegur).

Keempat, pasangan hidup kita harus dijaga sampai maut memisahkan kita. Terakhir, pasangan hidup yang Tuhan mau bagi kita haruslah kita jaga dengan setia sampai pernikahan bahkan sampai maut memisahkan kita. Di sini, kesetiaan sangat dibutuhkan di dalam mempertahankan pasangan hidup. Ada orang bilang bahwa mencari lebih mudah daripada mempertahankan. Mungkin hal ini benar, karena biasanya setelah kita mencari sesuatu atau seorang pasangan hidup dengan sulit, lalu kita biasanya kurang bisa mempertahankannya, sehingga sesuatu atau pasangan hidup kita “digondol” oleh orang lain. Kembali, bagaimana kita bisa setia? Kita bisa setia terhadap pasangan hidup kita dengan berserah total kepada Allah yang telah mencipta dan menentukan pasangan hidup kita ini. Allah adalah Allah yang setia dan sangat mengerti setiap detail hidup kita bahkan pasangan hidup kita, maka kita harus menyerahkan kesetiaan kita (yang telah dipolusi oleh dosa) kepada Allah yang selalu setia.


BERGUMUL MENCARI PASANGAN HIDUP
Setelah memahami kata bergumul dan pasangan hidup, maka sekarang kita akan masuk ke dalam pembahasan bagaimana bergumul mencari pasangan hidup. Saya menulis poin ini BUKAN karena saya telah berhasil mencarinya, namun ini juga pergumulan pribadi saya yang sedang saya jalani. Ada beberapa langkah gimana kita bergumul mencari pasangan hidup:
Pertama, belajar dari Alkitab tentang prinsip mencari pasangan hidup. Orang Kristen adalah mereka yang mengikut Kristus atau istilahnya, “Kristus-kristus kecil”. Di dalam mengikut Kristus, orang Kristen tentunya harus menaati apa yang Ia firmankan dan ajarkan, tentunya semua firman dan pengajaran-Nya ada di dalam Alkitab. Orang Kristen baru layak/pantas disebut orang Kristen jika imannya berpusat kepada Kristus ditambah taat mutlak kepada Alkitab, khususnya berkenaan dengan mencari pasangan hidup. Apa yang Alkitab ajarkan tentang mencari pasangan hidup? Di dalam 2 Korintus 6:14, Tuhan melalui Rasul Paulus mengajar kita, “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?” Memang secara konteks, kata “pasangan” di dalam ayat ini jelas menunjuk kepada pasangan/rekan dalam pelayanan (baca seluruh pasal 6 dari ayat 1-13). Kata “pasangan” di sini di dalam teks Yunaninya heterozugeo yang bisa diterjemahkan bersatu dengan yang tidak sama atau berbeda. Kalimat, “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang” di dalam struktur bahasa Yunaninya menggunakan bentuk aktif. Dengan kata lain, Paulus hendak mengajar kita agar kita jangan berusaha bersatu dengan orang-orang yang tidak seimbang. Namun jika diaplikasikan, kata “pasangan” ini juga bisa menunjuk kepada pasangan hidup. Jelas-jelas, ayat ini mengajar kita bahwa hendaklah kita mencari pasangan (hidup) yang seiman, karena jika tidak seiman/seimbang, maka itu seperti kebenaran (Yunani: dikaiosunē; Inggris: righteousness) dan kedurhakaan (Yunani: anomia bisa diterjemahkan sebagai kondisi tanpa hukum atau penyimpangan hukum) bersatu atau terang dan gelap yang bersatu. Mungkinkah kebenaran-keadilan dan kedurhakaan bersatu? Mungkinkah terang dan gelap bersatu? Pertanyaan ini termasuk pertanyaan retoris yang tentu dijawab: TIDAK. Dengan kata lain, pasangan hidup kita harus sama-sama berada di dalam terang Allah dan juga melakukan kebenaran-keadilan (righteousness). Itulah sebenarnya makna seiman.

Kedua, taat mutlak kepada Alkitab. Setelah belajar dari Alkitab bahwa kita harus mencari pasangan hidup yang seiman (dan tentunya lawan jenis), maka kita harus mengambil langkah aktif yaitu taat mutlak kepada Alkitab! Sayang sekali, banyak anak muda “Kristen” yang tahu bahwa Alkitab memerintahkan orang Kristen untuk mencari pasangan hidup yang seiman, namun pengetahuan itu hanya sekadar pengetahuan kognitif yang tidak pernah mau diaplikasikan. Tidak heran, saya mengamati seorang pemudi Kristen dari gereja Protestan arus utama di Surabaya berpacaran dengan seorang Buddha. Seorang pemuda Kristen mendekati seorang cewek yang beragama Taoisme, meskipun si pemuda ini membawa cewek yang didekatinya ini ke gereja (sisi positifnya). Kembali, bagaimana caranya kita taat mutlak kepada Alkitab?
1. Tanyakan Iman Lawan Jenis Kita
Ketika kita berkenalan dengan lawan jenis atau kita dikenalkan teman kita kepada lawan jenis, pertama-tama tanyalah imannya. Jika lawan jenis kita BUKAN seorang Kristen, saran saya, segera tinggalkan dia, meskipun dia secantik bidadari kayangan, hehehe… Karena jika di titik pertama, kita sudah mengompromikan prinsip mutlak ini, saya berani menjamin, hubungan Anda sampai ke tingkat pacaran dan pernikahan akan kacau balau, karena tidak dibangun di atas dasar pijak yang sama, yaitu Alkitab. Lebih lagi, menurut Pdt. Sutjipto Subeno, pacaran kita pun nanti tidak akan menjadi pacaran yang indah, karena berada di dalam dasar pijak yang berbeda. Namun ada pemuda “Kristen” yang tidak mempermasalahkan pacar beda agama lalu berkelit, “Nanti kan bisa diinjili?” Sepintas, pernyataan ini “benar”, namun saya menangkap motivasi yang tidak beres. Orang yang mengatakan, “nanti kan bisa diinjili”, motivasinya: Pertama, ia mau mengompromikan imannya demi menjalin hubungan dengan lawan jenis yang berbeda iman. Dia pikir, orang yang berbeda iman bisa dengan mudahnya diinjili dan bisa bertobat sungguh-sungguh. Kenyataan berkata lain. Orang yang berbeda iman setelah menikah mungkin “bertobat”, namun sayang “pertobatan”nya biasanya tidak sungguh-sungguh alias hidupnya masih berpusat pada diri. Atau kemungkinan kedua, Pdt. Dr. Stephen Tong di dalam Seminar Pembinaan Iman Kristen (SPIK) 2010: Rahasia Kemenangan dalam Cinta dan Seks Menuju Pernikahan bercerita bahwa mungkin sekali si cewek/lawan jenis ini akan mengiyakan bahwa dia akan menjadi Kristen nanti setelah menikah, namun si cewek ini kemudian memutuskan bahwa dia akan ikut si cowok ke gereja pada hari Minggu dan kemudian menuntut si cowok untuk ikut dia ke klenteng/vihara pada minggu depannya. Kalau kejadiannya sudah seperti gini, apa yang si cowok lakukan hayo???
Kedua, orang yang bilang seperti ini biasanya orang yang TIDAK menjalankan apa yang dikatakannya, dengan kata lain dia hanya mengatakan hal ini secara lip service (bahasa Jawa: mbasahi lambe). Coba cek, apakah orang yang berkata bahwa dia akan menginjili lawan jenisnya adalah orang yang benar-benar menginjili, atau dia akan beralasan bahwa dia tidak tahu bagaimana cara menginjili atau bahkan dia malas menginjili.
Selain, bertanya tentang apakah dia seorang Kristen atau tidak, bertanyalah, lawan jenis kita dari gereja mana? Apakah dia dari gereja yang mengajar bahwa ikut Kristus pasti kaya, sukses, berkelimpahan, sehat, dan bahkan tidak pernah digigit nyamuk? Jika dia dari gereja model demikian, saya menyarankan untuk meninggalkan lawan jenis kita ini, karena jika di gereja dia diajarkan (lebih tepatnya: diindoktrinasi) ajaran ngaco seperti ini, dijamin, dia tidak akan bisa diajar untuk menderita. Oh, kalau begitu, apakah berarti orang yang dari gereja Injili/Reformed yang beres menandakan orang itu akan mampu menderita? Belum tentu. Itu semua kembali kepada masing-masing individu. Kita harus menyelami jenis iman seperti apa yang dimiliki lawan jenis kita?

2. Berusaha Menggali Tingkat Kerohanian Lawan Jenis Kita
Setelah seiman, Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M. di dalam salah satu khotbah mimbar pernah mengajar bahwa kita harus mencari pasangan hidup yang rohani. Artinya, sampai di mana lawan jenis kita mementingkan hal-hal rohani lebih daripada segalanya. Misalnya, ketika memutuskan segala sesuatu, apakah yang diputuskannya itu dipergumulkannya di hadapan Tuhan atau dia langsung memutuskan sendiri seolah-olah tidak ada Tuhan? Bagaimana dengan kesehariannya, apakah lawan jenis kita seorang yang menikmati hadirat Tuhan setiap hari melalui doa dan saat teduh? Ataukah dia seorang yang hanya aktif pergi ke gereja dan membuka Alkitab di gereja saja, sedangkan Senin s/d Sabtu, dia membuka buku pengembangan diri yang melawan Alkitab?

3. Berkomunikasilah Sebanyak Mungkin Untuk Mengetahui Prinsip dan Gaya Hidup Lawan Jenis Kita
Terakhir, setelah seiman dan rohani, kita perlu mengetahui prinsip dan gaya hidup lawan jenis kita. Prinsip dan gaya hidup berkaitan dengan aplikasi praktis iman Kristen di dalam kehidupan sehari-hari seseorang. Apakah orang yang telah ditebus Kristus masih memiliki gaya hidup hedonis yang bersenang-senang demi kepuasaan sesaat? Apakah lawan jenis kita termasuk orang yang doyan belanja seminggu sekali di mall? Apakah dia seorang yang matre yang mengukur segala sesuatu dari uang, kekayaan, dll? Bagaimana dengan prinsip hidupnya? Apakah berpusat pada Tuhan atau berpusat pada orangtua atau mungkin pada diri? Semua itu bisa kita lakukan melalui banyak berkomunikasi dengan lawan jenis kita.

Ketiga, menetapkan standar tertentu yang dinamis/tidak kaku. Setelah seiman dan rohani, kita perlu menetapkan standar tertentu bagi lawan jenis kita, namun standar ini tidak boleh terlalu kaku. Artinya, standar kita harus dibedakan antara primer/mutlak dengan sekunder apalagi tersier. Standar mutlak haruslah tetap mutlak dan jangan direlatifkan (mengutip perkataan Pdt. Dr. Stephen Tong), sedangkan standar relatif haruslah tetap relatif, jangan dimutlakkan. Standar mutlak sudah saya paparkan di atas yaitu seiman dan rohani. Apa saja yang termasuk standar relatif? Saya akan mengurutkan dari hal yang paling penting sampai kepada hal yang paling tidak penting.
1. Karakter dan Sikap
Setelah iman dan prinsip hidup, hal penting yang harus dilihat dari lawan jenis kita adalah karakter. Apa definisi karakter? Baik Rev. Bill Hybels, D.D. maupun Rev. Joshua Eugene Harris (yang mengutip Rev. Dr. Randy Alcorn) sama-sama mendefinisikan karakter sebagai sesuatu yang ada di dalam diri kita tatkala tidak ada seorang pun yang melihat kita. Berarti, karakter berbicara tentang sifat kita yang termurni (tanpa topeng). Bagi Rev. Joshua E. Harris di dalam bukunya I Kissed Dating Goodbye, karakter seseorang dinilai dari hubungan dia dengan Tuhan, memperlakukan orang lain, dan mendisiplin diri sendiri. Hubungan seseorang dengan Tuhan baik mengakibatkan dia dengan orang lain dan diri sendiri juga baik, karena orang tersebut mendasarkan dan memusatkan hidupnya bagi Tuhan, sehingga ia mampu menempatkan orang lain dan diri sendiri dengan tepat dan benar serta berada di bawah Allah.
Selain karakter, sikap juga perlu diperhatikan. Cowok dan cewek adalah dua pribadi manusia yang Tuhan ciptakan unik dan berbeda. Pdt. Sutjipto Subeno pernah berujar bahwa cowok minta dihargai, sedangkan cewek minta diperhatikan dan disayangi. Sudah biasa jika cowok yang mencintai cewek, maka cowok itu akan memperhatikan dan menyayangi cewek, namun bagaimana dengan cewek? Saya menjumpai banyak cewek mau menangnya sendiri, minta diperhatikan, dimanja, dll, tetapi begitu si cowok tidak memenuhi keinginannya, si cowok ditendang dan dihina, padahal penghinaan itu sangat tidak disukai oleh si cowok! Kalau ada cewek yang tidak menghargai si cowok, di dalam masa PDKT (pendekatan), hendaklah si cowok harus memikirkan dua kali (atau kalau mungkin, langsung menjauhi/membatalkan rencana PDKT itu) untuk menjadikan si cewek itu pacar bahkan istrinya, karena saya menilai cewek yang tidak menghargai cowok (meskipun si cowok sudah banyak berkorban) adalah cewek yang hanya mau memanfaatkan si cowok. Sudah bukan lagi sesuatu yang mengagetkan, jika banyak cewek postmodern ahli dalam memanfaatkan cowok demi kepentingannya sendiri. Cowok dijadikan sopir, ATM berjalan, bodyguard dadakan, dll, tetapi kalau si cowok sudah tidak kaya lagi, maka si cowok ditendang dan dibuang seperti sampah.

2. Pengaruh Pendidikan Keluarga
Selain karakter, kita tetap harus mempertimbangkan pengaruh pendidikan keluarga pada diri seorang lawan jenis. Mengapa? Karena mau tidak mau, sedikitnya lawan jenis kita pasti telah diindoktrinasi oleh pendidikan keluarga yang mungkin saja berbeda dari kita. Ada anak yang dari kecil sudah diindoktrinasi bahwa pilihan dan perkataan orangtua adalah yang paling benar (ketidakbersalahan orangtua/infallibility and inerrancy of the parent), sehingga setiap keputusan bahkan keputusan terkecil (misalnya ganti nomer HP) harus disetujui orangtua. Ini bukan teori, saya sudah menemukan faktanya. Untuk memilih pasangan hidup pun, ada anak yang sangat takut, sehingga jika orangtua “menyarankan” anaknya untuk tidak berhubungan dengan lawan jenis tertentu dengan alasan fenomenal yang konyol, yaitu kulitnya agak hitam, maka si anak akan manut tanpa kompromi, padahal semestinya si anak bisa berdiskusi logis. Yang paling parah, jika lawan jenis seperti ini yang kita dekati dan nanti kita pacaran dan menikah dengannya, bersiap-siaplah, Anda sebagai cowok tidak akan dihargai sebagai pacar atau suami kelak, karena segala sesuatu tergantung pada keputusan orangtuanya. Kalau Anda rela diperlakukan seperti itu (tidak dihargai), ya, silahkan saja, tetapi sebagai cowok normal sich, saya ogah deh, maleseeeee. Namun ada juga anak yang diindoktrinasi seperti demikian, namun setelah bertumbuh dewasa, dia akan menghargai cowoknya sebagai pacar dan kelak suaminya. Nah, kalau kasusnya seperti itu, ya, kita bisa mempertimbangkan apakah kita mau menjadikannya pacar dan kelak istri kita. Semua tergantung pada pribadi masing-masing, apakah lawan jenis kita termasuk lawan jenis yang childish yang semua hal tergantung pada keputusan orangtua (bahkan pergi jalan-jalan dengan siapa pun harus disetujui orangtua) ataukah lawan jenis kita cukup dewasa.

3. Suku Bangsa/Ras
Selain karakter, suku bangsa atau ras tetap perlu diperhatikan. Meskipun hal ini bukan hal mutlak, tetapi hal ini tetap perlu dipertimbangkan. Jika seorang keturunan Tionghoa berpacaran atau menikah dengan seorang keturunan Jawa atau Batak, bagaimana dua orang yang berasal dari ras yang berbeda bisa bersatu? Setiap tradisi kebudayaan memiliki keunikan masing-masing. Orang dari budaya Tionghoa terkenal rajin dan hemat (meskipun juga tidak sedikit yang pelit, hehehe), sedangkan orang dari budaya Jawa terkenal dengan ramah tamahnya (dan tentunya: kemalasan dan keborosannya, hehehe) dan orang dari budaya Batak terkenal dengan gaya bicaranya yang keras. Jika orang dari budaya Tionghoa yang rajin dan hemat menikah dengan orang dari budaya Jawa yang malesnya amit-amit (filosofi hidupnya: alon-alon asal kelakon/pelan-pelan asal terlaksana) dan boros pula, apa jadinya keluarga yang dibinanya? Mungkin saja, ada orang dari budaya Jawa yang rajin dan hemat, sehingga bisa bersatu dengan orang dari budaya Tionghoa, namun persentasenya sangat sedikit. Semua itu perlu dipertimbangkan. Jika memang Anda berpikir dan telah mempertimbangkan bahwa Anda bisa bersatu dengan orang Kristen namun berbeda budaya, ya, silahkan saja, itu kebebasan Anda yang harus dipertanggungjawabkan. Ini bukan hal yang mutlak, namun hanya saran saja.

4. Hal-hal Fenomenal (Wajah, Tinggi Badan, Berat Badan, dll)
Terakhir, hal-hal fenomenal lah yang harusnya menjadi hal terakhir bagi kriteria relatif dalam menentukan siapa lawan jenis kita yang pantas menjadi pasangan hidup kita. Hal-hal fenomenal menyangkut: wajah, tinggi badan, berat badan, dll. Memang seperti yang dikatakan Pdt. Dr. Stephen Tong, alangkah idealnya jika kita memilih lawan jenis/cewek yang rohani, baik, dan cantik pula. Namun beliau mengingatkan, karena dosa, hal ideal itu jarang terjadi. Beliau mengingatkan juga, jangan mencari cewek hanya cantik doang, itu bahaya, karena banyak cewek cantik, biasanya otaknya gak ada isinya, soalnya kebanyakan bersolek di depan kaca. Saya mengaminkan apa yang beliau katakan. Namun saya juga mengamati, banyak cewek yang rohani dan baik, wajah selalu amburadul, hehehe. Ya, menurut saran Pdt. Stephen Tong, carilah cewek yang secara kelihatan luar gak usah terlalu cantik seperti bidadari atau gak usah juga terlalu parah puol, yang sedang-sedang saja lah. Juga kalau kita sebagai cowok yang sedang-sedang saja (tidak gentong dan lumayan tinggi) jangan mencari cewek yang badannya gentong kayak kingkong, masalahnya kalau kita mencari kingkong untuk jadi istri kita kelak, pasti tidak sedap dipandang mata, hehehe…Standar saya pribadi selain rohani dan baik, saya juga tetap memperhatikan hal-hal fenomenal, misalnya: wajah lumayan (tidak mengecewakan), tinggi badan proporsional, dan tentunya bukan kingkong. Jangan menjadi orang Kristen yang terlalu idealis yang mengatakan, “Yang penting esensi, hal-hal fenomenal gak penting.” Itu munafik namanya! Jadilah orang Kristen realistis yang berkata bahwa memang hal-hal esensial terpenting, namun bukan berarti hal-hal fenomenal tidak perlu, karena kita masih hidup di dunia yang ada fenomenanya. Kalau kita disuruh memilih antara: cewek cantik tapi atheis vs cewek yang tidak seberapa cantik tapi cinta Tuhan, mana yang harus kita pilih? Bagi saya, saya lebih memilih cewek kedua, karena menurut ko Cun-cun (Ev. Bedjo Lie, M.Div.): cantik itu relatif, tapi jelek itu mutlak, wkwkwk… Gak nyambung, mode: ON, hehehe

Keempat, bertanyalah tentang lawan jenis kita kepada teman-teman dekat atau/dan saudara lawan jenis kita. Karena banyak manusia sangat ahli bermuka dua/bertopeng, adalah bijaksana jika kita bertanya tentang lawan jenis kita ini kepada teman-teman dekat atau/dan saudaranya, supaya kita bisa mendapat gambaran agak jelas tentang siapa lawan jenis kita, sehingga kita tidak ditipu oleh “indah”nya penampilan luar sang lawan jenis. Saya pribadi yang memberikan prinsip ini juga telah, sedang, dan akan terus menjalankan prinsip ini, supaya kita makin mengenal sisi positif dan negatif lawan jenis kita. Meskipun kita tetap harus berbijaksana untuk TIDAK terlalu percaya dengan perkataan teman dekat atau/saudara si lawan jenis, namun setidaknya mereka bisa memberikan sedikit input bagi kita.


KESIMPULAN
Akhir kata, mencari dan menemukan pasangan hidup TIDAKlah mudah, karena saya menyadari banyak orang postmodern sangat ahli bermuka dua, khususnya banyak cewek hari-hari ini (tidak terkecuali banyak “Kristen” di dalamnya). Adalah suatu hal yang bijaksana jika kita mencari dan menemukan pasangan hidup kita di hadapan Tuhan. Artinya, kita menggumulkan terlebih dahulu kehendak Tuhan bagi kita dalam segala hal, termasuk dalam hal pasangan hidup. Dan lagi di dalam proses mencari dan menemukan pasangan hidup yang Tuhan mau, hendaklah kita bersabar. Dahulu saya seorang yang ngebet mencari pasangan hidup, namun sekarang, setelah membaca buku I Kissed Dating Goodbye dari Rev. Joshua E. Harris, saya agak bersabar. Mengapa? Karena menurut nasihat bijak Rev. Joshua E. Harris, pergunakanlah waktu jomblo Anda untuk makin giat melayani Tuhan, karena semakin kita giat melayani Tuhan, hidup kita makin memuliakan-Nya, dan Tuhan suatu hari kelak akan memberikan seorang lawan jenis yang memiliki kerinduan yang sama. Bagaimana dengan kita? Sudahkah cara kita dalam mencari dan menentukan pasangan hidup kita berkenan di hadapan-Nya atau kita menjadi orang “Kristen” yang hidup seolah-olah Tuhan itu tidak ada (“Kristen” Atheis—begitulah definisi Rev. Craig Groschel, M.Div. di dalam bukunya The Christian Atheist: Believing in God but Living as If He Doesn’t Exist)? Mari kita mengintrospeksi diri kita masing-masing. Amin. Kiranya Tuhan memberkati. Soli DEO Gloria.

11 June 2010

Eksposisi 1 Korintus 7:1-2 (Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.)

EKSPOSISI 1 KORINTUS 7:1-2

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.



Nats: 1 Korintus 7:1-2




Bagian ini membahas suatu topik yang baru. Hal ini ditunjukkan melalui penggunaan frase “sekarang tentang...” (7:1) yang selanjutnya akan dipakai berkali-kali untuk memperkenalkan suatu topik yang baru (7:25; 8:1, 4; 12:1; 16:1). Walaupun bagian ini membahas topik yang baru, tetapi bukan berarti tidak memiliki kaitan apa pun dengan bagian sebelumnya (6:12-20). Dua bagian ini sama-sama berbicara tentang bahaya percabulan (6:15-16, 18; 7:2). Keduanya juga menyinggung tentang kesatuan daging antara laki-laki dan perempuan (6:16; 7:4).

Jika memang pasal 7:1-24 membahas tentang topik yang baru, permasalahan apakah yang ditangani Paulus di bagian ini? Jawaban terhadap pertanyaan ini tergantung pada cara kita menafsirkan ayat 1b “adalah bagi laki-laki jika ia tidak kawin.” Apakah bagian ini merupakan kalimat Paulus atau dia sekadar mengutip pernyataan jemaat Korintus? Saya sendiri memilih alternatif yang terakhir (lihat pembahasan detail di ayat 1b). Jika ini diterima, maka kita dapat menyimpulkan bahwa persoalan yang sedang dibicarakan adalah konsep jemaat Korintus yang anti terhadap hubungan seksual atau perkawinan. Mereka melarang suami-istri untuk melakukan hubungan seksual (7:2-5), memaksa orang untuk tidak menikah (7:6-9, 36-40), memerintahkan orang Kristen untuk menceraikan pasangannya yang tidak beriman (7:10-16).

Menghadapi masalah di ayat 1b, Paulus menjelaskan bahwa jika mereka sudah menikah maka mereka tidak boleh saling menjauhkan diri (ay. 2-5). Jika mereka belum menikah, maka mereka bisa menjalani hidup selibat (tidak menikah) jika Tuhan memberi karunia itu (ay. 6-8) atau mereka tidak dapat menguasai nafsu (ay. 9). Jika mereka sudah menikah dan pasangannya belum mengenal Tuhan, maka pihak orang Kristen tidak boleh menceraikan pasangannya (ay. 10-16). Sebagai konklusi, semua orang sebaiknya bertahan dalam keadaannya sekarang, bahkan untuk hal-hal yang di luar konteks perkawinan (ay. 17-24). Mereka tidak perlu mengubah status sosial mereka, apabila dengan motivasi yang salah.


Persoalan: Konsep yang Salah tentang Seksualitas (ay. 1)
Paulus menyebut hal-hal yang akan dia bahas mulai pasal 7:1 sebagai hal-hal yang jemaat Korintus tuliskan kepadanya. Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa isu-isu yang dibahas sebelumnya (pasal 1-6) merupakan hal-hal yang didengar oleh Paulus (bdk. 1:11; 5:1). Walaupun kita tidak boleh secara mutlak menganggap semua isu setelah pasal 7 sebagai
berita tertulis (bdk. 11:18 “aku mendengar...”), namun sebagian besar di antaranya memang seperti itu (bdk. bentuk jamak “hal-hal yang kamu tuliskan...”; bdk. 7:25; 8:1, 4; 12:1; 16:1). Semua ini menunjukkan bahwa Paulus tetap dianggap sebagai bapa rohani mereka (bdk. 4:15), sekalipun sebagian dari mereka tidak menyukai Paulus (1:12; 4:1-5; 9:3). Hal ini sekaligus membuktikan kepedulian Paulus terhadap keadaan jemaat, walaupun ia sudah berpisah dari mereka (5:3) dan tidak didukung secara layak pada saat ia melayani mereka (9:12-18; 2Kor 11:7-9).

Para penafsir berbeda pendapat tentang ayat 1b. Sebagian meyakini bahwa bagian tersebut merupakan kalimat Paulus sendiri, sedangkan yang lain menganggap bagian itu sebagai dua pilihan ini, yang terakhir tampaknya lebih bisa diterima. Ada banyak argumen yang mendukung pendapat ini: (1) dalam surat 1 Korintus Paulus sering mengutip kalimat jemaat lalu memberikan tanggapannya terhadap hal itu (bdk. 6:12-13; 8:1, 4; 10:23); (2) Paulus memiliki konsep yang positif terhadap seksualitas (7:2-5) maupun pernikahan (7:36, 38; bdk. Ef 5:22-33), sehingga sangat janggal jika dia memiliki konsep seperti di ayat 1b; (3) bagi Paulus kehidupan selibat (tidak menikah) tidak boleh dipaksakan pada semua orang, karena hal itu adalah karunia dari Allah (7:7); (4) dalam tradisi Yahudi diajarkan keagungan pernikahan (bdk. Kej. 2:18), walaupun ada sebagian tokoh memilih selibasi. Sulit dipahami jika Paulus berani berkontradiksi dengan ajaran Alkitab yang mengajarkan “tidak baik laki-laki eorang diri saja”; (5) secara umum Paulus sangat menetang gaya hidup asketisisme, yaitu gaya hidup menjauhkan diri secara ekstrem dari semua hal yang berkaitan dengan tubuh supaya memperoleh kehidupan rohani yang lebih tinggi (Kol. 2:20-22; 1Tim. 4:3).

Di 1 Korintus 7 Paulus memang memberi indikasi bahwa tidak menikah itu lebih baik (7:6, 38), tetapi ia tidak pernah menganggap bahwa perkawinan sebagai sesuatu yang tidak baik. Jika ayat 1b berasal dari Paulus, maka ia kemungkinan besar akan menambahkan kata “lebih”, sehingga peredaksiannya menjadi “adalah lebih baik bagi laki-laki kalau ia tidak kawin.” Karena ayat 1b menyiratkan sikap yang negatif terhadap perkawinan, maka dapat dipastikan bahwa hal itu bukan berasal dari Paulus.

Mengapa jemaat Korintus bisa memiliki sikap yang negatif terhadap seks atau perkawinan? Sebagian besar penafsir meyakini bahwa mereka telah terjebak pada konsep spiritualitas yang salah. Sebagai jemaat yang dipenuhi dengan berbagai karunia Roh (1:5) – bahkan hal ini menjadi sumber peselisihan di antara mereka (pasal 12-14) – jemaat Korintus merasa diri sudah berada pada tingkat kerohanian yang sangat tinggi. Mereka meyakini bahwa pada tahap seperti ini semua keinginan jasmani atau material tidak memiliki pengaruh apa pun bagi mereka, baik pengaruh positif maupun negatif. Kalau di 6:12-20 mereka berzinah dengan pemahaman bahwa hal itu tidak akan membawa pengaruh negatif bagi kerohanian mereka, di 7:1-24 mereka justru menjauhi semua bentuk keinginan tubuh (seks). Orang yang mampu menjauhkan diri dari semua hal ini dianggap memiliki tingkat kerohanian yang tinggi. Berdasarkan kesalahan konsep ini, Paulus di akhir pembahasannya menegaskan bahwa ia pun memiliki Roh Allah (7:40). Penegasan seperti ini tentu saja tidak diperlukan apabila persoalan jemaat Korintus tidak berkaitan dengan topik seputar Roh Kudus atau kerohanian yang sifatnya mistis.

Jika ayat 1b merupakan slogan dari jemaat Korintus, maka kata “baik” (kalos) di ayat itu harus dipahami menurut perspektif mereka. “Baik” di sini lebih dipandang secara moral atau spiritual. Paulus di bagian selanjutnya nanti akan mengoreksi konsep “baik” tersebut. Bagi Paulus, tidak menikah memang baik, tetapi kebaikan itu berkaitan dengan efektivitas pelayanan. Mereka yang diberi karunia selibat (7:7) bisa memfokuskan diri pada urusan Tuhan (7:32-34). Pada dirinya sendiri selibasi tidak lebih baik daripada menikah. Orang yang selibat tidak lebih rohani atau bermoral daripada yang menikah.

Sebutan “laki-laki” (LAI:TB) di ayat 1b didasarkan pada jenis kelamin maskulin dari kata Yunani anthrōpos yang dipakai. Secara hurufiah kata anthrōpos sebenarnya memiliki arti yang umum (“manusia”), bisa merujuk pada laki-laki maupun perempuan. Kata yang lebih spesifik untuk laki-laki adalah anhr (7:2, 3, 4, 10, 11, 13, 14, 16, 34, 39). Penggunaan kata anthrōpos mungkin menyiratkan bahwa jemaat Korintus mengaplikasikan prinsip di ayat 1b kepada semua orang, bukan hanya terbatas pada laki-laki. Tidak heran, Paulus pun meresponi persoalan ini dari dua sisi: laki-laki maupun perempuan (7:2-3, 25).

Kita perlu membahas tentang ungkapan “kawin” di bagian akhir ayat 1b. Dalam kalimat Yunani, ungkapan yang dipakai adalah “tidak menyentuh wanita” (haptō gunaikos). Mayoritas versi memilih untuk mempertahankan terjemahan hurufiah ini (ASV/KJV/RSV/NASB), sedangkan yang lain berusaha memperjelas artinya dengan kata “menikah” (NIV). Baik jemaat Korintus maupun Paulus pasti tidak memaksudkan ungkapan ini secara hurufiah. Ungkapan “menyentuh wanita” dalam literatur kuno – baik Alkitab maupun di luar Alkitab – muncul sebanyak 9 kali dengan arti “bersetubuh dengan wanita” (bdk. Kej. 20:6(LXX); Ams. 6:29(LXX)). Dalam hal ini Amsal 6:29 lebih jelas karena “menghampiri (wanita)” disejajarkan dengan “menyentuh (wanita).” Makna seperti ini juga didukung oleh konteks 1 Korintus 7. Isu yang dibahas bukan hanya sekadar tentang pernikahan, tetapi juga hubungan seksual (7:3-5). Di samping itu, jika yang dimaksud oleh jemaat Korintus adalah “menikah”, maka mereka pasti akan memakai kata gamew (7:9, 28, 36, 39), bukan haptō.


Jawaban Paulus: Setiap Orang Hendaknya Memiliki Pasangannya Sendiri (ay. 2)
Kata sambung “tetapi” di awal ayat 2 mengindikasikan kontras antara pandangan jemaat Korintus (ay. 1b) dan Paulus. Di ayat ini Paulus lebih menyoroti tentang bahaya percabulan (ay. 2a). Di ayat 3-5 nanti dia akan lebih banyak memberikan alasan theologis bagi nasehatnya di ayat 2b. Jadi, nasihat Paulus di ayat 2b didasarkan pada dua pertimbangan: bahaya percabulan (ay. 2a) dan kesatuan suami-istri (ay. 3-5).

Peringatan ini harus dilihat dari dua sisi: situasi kota Korintus dan kelemahan jemaat Korintus. Kota Korintus memang terkenal sebagai kota percabulan, bahkan kata korinqiazw sering kali dipakai dalam arti “berbuat zinah.” Percabulan yang sudah dibahas di 5:1-13 dan 6:12-20 cukup sebagai bukti betapa berbahayanya situasi di Korintus. Bentuk jamak “percabulan” (tas porneias) yang dipakai di 7:2a menyiratkan berbagai kemungkinan yang berpotensi menjatuhkan jemaat Korintus.

Di sisi lain kita juga tidak boleh melupakan faktor internal manusia. Kita lemah dalam hal godaan seksual. Paulus pun beberapa kali mengingatkan jemaat Korintus tentang hal ini dengan kalimat “kamu tidak tahan bertarak” (7:5) atau “tidak dapat menguasai diri” (7:9). Kisah kejatuhan Yehuda (Kej. 38), Simson (Hak. 14-16) dan Daud (2Sam. 11-12) sudah cukup sebagai peringatan bagaimana berbahayanya godaan seksual.

Berdasarkan pertimbangan di atas, Paulus memberikan nasihat agar setiap laki-laki mempunyai istrinya sendiri, begitu pula dengan setiap perempuan (ay. 2b). Sekilas nasihat ini tampak mengajarkan sebuah pandangan yang rendah terhadap lembaga pernikahan. Pernikahan hanya dilihat sebagai solusi bagi godaan seksual yang berbahaya. Kesan ini memang tidak terelakkan, karena ungkapan “mempunyai suami/istri” memberi kesan “menikah.” Tidak heran sebagian orang memandang ayat 2b sebagai nasihat kepada mereka yang belum menikah agar segera menikah daripada jatuh ke dalam percabulan. Dengan demikian Paulus terkesan kurang menempatkan keagungan pernikahan pada tempatnya.

Jika kita menyelidiki ayat ini secara lebih teliti, maka kita akan menemukan bahwa nasihat tersebut ditujukan pada mereka yang sudah menikah dan nasihat ini lebih mengarah pada hubungan seks, bukan pernikahan secara status. Pertama, ungkapan “mempunyai suami atau istri” (echō gunaika/andra). Ungkapan ini tidak dapat diartikan “menikah.” Jika Paulus memaksudkan “menikah”, maka ia mungkin akan menggunakan ungkapan “lambanō gunaika/andra (Tobit 4:12), bukan echō gunaika/andra. Ia juga bisa memakai kata yang lebih jelas yang nanti akan dia pakai di bagian selanjutnya, yaitu gameō (terutama 7:9 “biarlah ia kawin”). Berdasarkan pemunculan ungkapan echō gunaika dalam LXX, kita dapat mengetahui bahwa ungkapan ini memiliki arti “berhubungan seksual” (Kel. 2:1; Ul. 28:30; Yes. 13:16).

Kedua, konteks 1 Korintus 7:2-5. Bagian ini secara eksplisit membicarakan tentang hubungan seksual dalam sebuah pernikahan. Di samping itu, ungkapan “menyentuh wanita” di ayat 1b yang mengarah pada makna “hubungan seksual” juga turut menguatkan ide bahwa Paulus memang sedang membicarakan hubungan seksual. Jadi, Paulus tidak sedang membicarakan tentang pria dan wanita yang belum menikah.

Ketiga, kata “sendiri” (heautou/idion) Penambahan kata “sendiri” setelah kata “istri/suami” merupakan indikasi yang penting. Jika “mempunyai istri/suami” dipahami dalam arti “menikah”, maka kalimat di ayat 2b menjadi tidak masuk akal. Mengapa Paulus perlu menasehati orang untuk menikahi (mempunyai) istri/suaminya sendiri? Penambahan kata “sendiri”di sini akan menjadi lebih bermakna apabila “mempunyai istri/suami” ditafsirkan sebagai “berhubungan seksual.” Jadi, di bagian ini Paulus memberikan nasihat agar jemaat Korintus berhubungan seks dengan pasangannya masing-masing. Jika mereka melupakan hal ini, maka bahaya percabulan siap menghadang mereka. Menjauhkan diri dari pasangan (bdk. 7:5) bukanlah ide yang bijaksana jiak dilihat dari potensi kejatuhan yang akan terjadi.

Terakhir, kata “setiap” (hekastos/hekastē). Jika “mempunyai istri/suami” di ayat 2b dipahami dalam arti “menikah”, maka nasihat di ayat 2b “hendaklah setiap laki-laki/wanita menikah” akan berkontradiksi dengan ayat lain. Tidak setiap orang harus menikah, karena beberapa orang diberi karunia untuk selibat (7:6-8). Bagi mereka yang belum menikah pun Paulus menganjurkan agar tidak menikah supaya bisa konsentrasi kepada pelayanan (7:28, 32-34). Bagaimanapun, Paulus tetap memberi kebebasan kepada setiap orang untuk menikah atau selibat (7:6, 35).

Semua penjelasan di atas sudah cukup untuk meyakinkan kita bahwa nasihat di ayat 2b bukan ditujukan pada mereka yang belum menikah. Jika ini diterima, maka kesan sekilas bahwa Paulus menganggap rendah lembaga pernikahan akan segera sirna. Walaupun di ayat 9 Paulus tetap memikirkan pernikahan sebagai salah satu solusi bagi godaan seksual, namun kita perlu menggarisbawahi bahwa hal ini bukanlah pilihan yang ideal. Pilihan ini hanya bagi mereka yang tidak memiliki penguasaan diri. Bagi yang dewasa da kuat di dalam Tuhan, pernikahan bukanlah sekadar jalan keluar dari godaan seksual.


Refleksi
Kesalahan yang dilakukan oleh jemaat Korintus di atas ternyata terulang kembali sepanjang sejarah gereja, sekalipun dengan bentuk dan motivasi yang agak berbeda. Pada masa awal tradisi kebiaraan, banyak orang Kristen sengaja menyiksa diri dengan cara membuat diri mereka lapar, haus, menderita, menyendiri dari semua orang, dsb. Hidup selibat menjadi pilihan dan dianggap sebagai salah satu bukti kerohanian.

Di zaman modern ini kita masih bisa melihat sisa-sisa pemikiran yang sama, walaupun bentuknya tidak seekstrim dulu. Keengganan orang Kristen membicarakan seks secara detail sesuai dengan firman Tuhan menyiratkan bahwa seks masih dipandang sebagai sesuatu yang tabu atau – paling tidak – sesuatu yang tidak bersentuhan dengan kerohanian. Khotbah-khotbah di mimbar sangat jarang membahas topik tentang seks. #




Sumber:
Mimbar GKRI Exodus, 8 Februari 2009
http://www.gkri-exodus.org/image-upload/1Korintus%2007%20ayat%2001-02.pdf

MASA PDKT (Denny Teguh Sutandio)


MASA PDKT

oleh: Denny Teguh Sutandio





Pendahuluan
Masa pendekatan atau dalam bahasa gaul anak muda: PDKT (pedekate) adalah sebuah masa antara dari tahap persahabatan biasa menuju ke tahap yang lebih serius yaitu berpacaran. Rev. Joshua Eugene Harris di dalam bukunya I Kissed Dating Goodbye (pada waktu menulis buku ini, beliau berusia 21 tahun) menyebut masa ini sebagai “Persahabatan yang lebih mendalam.”[1] Rev. Joshua E. Harris di dalam buku yang lain, yaitu Boy Meets Girl (Saat Cowok Ketemu Cewek): Menjalin Hubungan Lawan Jenis (buku yang beliau tulis sesudah I Kissed Dating Goodbye) menyebutnya, “Lebih dari Teman Biasa, Tapi Belum Jadi Kekasih.”[2] Ev. Djohan Kusnadi, M.Div. di dalam bukunya Berpacaran yang Sehat menyebutnya sebagai “Tahap Teman Dekat.”[3] Dengan kata lain, masa PDKT ini adalah masa sesudah kita telah berteman dengan sebanyak mungkin lawan jenis, namun masa ini belum bisa disebut sebagai masa/tahap berpacaran, karena belum ada komitmen jelas. Oleh sebab itu, saya menyebutnya sebagai masa antara dari persahabatan menuju ke berpacaran. Masa ini juga merupakan masa di mana masing-masing lawan jenis mengenal masing-masing pribadi (iman, karakter, perkataan, sikap, tingkah laku, dll) dan lingkungan sekitarnya baik dari sisi keluarga, teman, saudara, dll.


PDKT: Komitmen?
Di dalam masa PDKT, pertanyaan pertamanya, apakah kita sedang memasuki pra-komitmen sebelum berpacaran? Menurut Rev. Joshua E. Harris di dalam bukunya I Kissed Dating Goodbye, “keintiman adalah upah dari komitmen.”[4] Namun di dalam halaman189-194, Rev. Joshua E. Harris menjabarkan bahwa di dalam persahabatan yang lebih mendalam pun, kita hendaknya tidak terlalu melibatkan emosi kita. Dari dua hal ini, saya menggabungkan prinsip bahwa tahap PDKT bukanlah tahap yang disertai komitmen, maka di dalam tahap ini:
Pertama, hindarilah keintiman sebagai puncaknya. Jangan mengejar keintiman sebelum waktunya, karena keintiman hanya milik orang yang sudah jadian dan paling puncak yaitu pada saat menikah. Tuhan menginginkan kesucian kita di dalam masa PDKT, bukan hanya secara fisik, namun secara motivasi, begitulah saran implisit yang saya tangkap dari Rev. Joshua E. Harris di dalam bukunya I Kissed Dating Goodbye. Istilah praktisnya, jangan memberikan seluruh hatimu tatkala kita sedang PDKT dengan lawan jenis, karena lawan jenis tersebut belum tentu menjadi pasangan hidup kita.

Kedua, hindarilah sikap saling “memiliki”. Memang ada beberapa cowok/cewek yang merasa “memiliki” lawan jenisnya tatkala masih dalam tahap PDKT. Sebenarnya hal itu kurang bagus, karena tahap PDKT masih tahap penjajagan sebelum akhirnya jadian. Nah, celakanya, ada cewek akan marah jika dia merasa “dimiliki” oleh seorang cowok, namun herannya cewek tersebut merasa telah “memiliki” si cowok, sehingga ada cewek yang curiganya amit-amit sampai-sampai menanyakan teman cowok dari cowok yang lagi deket sama dia. Bagi saya inilah sikap egois.

Ketiga, hindarilah sikap pengorbanan yang berlebihan. Cinta memang harus berkorban dan menurut Rev. Bill Hybels, D.D. di dalam bukunya Who You Are When No One’s Looking, ada 3 komoditi yang perlu dikorbankan di dalam kasih yaitu: waktu, energi, dan uang.[5] Namun, sekali lagi, karena tahap PDKT merupakan tahap yang belum dilandasi oleh suatu komitmen tertentu, maka hendaknya jangan terlalu banyak berkorban. Saya memiliki sebuah prinsip yang sudah, sedang, dan akan terus saya aplikasikan: when there is no commitment, there is no sacrifice (ketika tidak ada komitmen, tidak ada pengorbanan). Hal ini tidak berarti kita sebagai cowok tidak perlu berkorban terhadap lawan jenis kita, namun yang saya tekankan jangan terlalu banyak berkorban! Berkorban itu sah-sah saja dan itu menunjukkan kita “ada hati” atau perhatian ama cewek yang kita taksir, namun batasilah pengorbanan itu, jangan sampai kita para cowok diperbudak oleh para cewek, sehingga kita hanya dijadikan pembantu/sopirnya si cewek. Saya terus terang harus jujur di sini, banyak cewek postmodern hari-hari ini ahli “memelas” demi memanfaatkan cowok (apalagi cowok yang lagi PDKT ama cewek itu). Si cowok yang lagi PDKT dengan si cewek diperalat untuk dijadikan sopir gratis untuk mengantarkan si cewek ke mana saja si cewek mau, kemudian kalau si cewek bosen, si cewek akan menendang keluar si cowok dan beralih ke cowok lain yang lebih tajir dan bisa disuruh-suruh. Rev. Joshua E. Harris mengeluarkan suatu pernyataan yang mewakili apa yang saya bicarakan barusan, “Jika godaan terbesar bagi seorang pria adalah menjadi pasif, godaan terbesar bagi wanita adalah mengatur.”[6] Berkenaan dengan hal ini, Ev. Chang Khui Fa, M.Div. di dalam bukunya Garam dan Terang for Youth: Road to Transformation di dalam menjelaskan tentang pacaran berujar,
“Pacaran adalah persiapan untuk menemukan siapa sesungguhnya diriku dan diri pasangan. Pacaran merupakan sarana untuk mengenali pasangan menuju pernikahan.
Pacaran bukan kesempatan makan gratis, nonton hemat, free transportation karena ada tukang ojek atau supir taxi yang setia menunggu.
Hi gadis-gadis yang budiman, saat pacaran jangan memperalat kaum Adam.
…
Hi para pria! Andapun jangan mau dibodohi, apalagi diperalat kaum Hawa.”[7]

Terlepas dari tipe cewek yang suka memanfaatkan cowok atau tidak, hendaknya sebagai cowok, jangan terlalu berkorban terlalu banyak. Ambil contoh, ketika ingin membelikan hadiah bagi cewek yang kita taksir pada saat ultahnya, berpikirlah dua kali tentang harga dari hadiah itu. Jika barang yang akan kita belikan dan berikan kepada cewek itu sebagai hadiah harganya Rp 100.000, 00 bahkan lebih, hendaklah kita berpikir dua kali untuk itu. Ingat, cewek itu belum sah menjadi pacar kita! Kalau pun kita hendak membelikan dan memberikan sesuatu yang spesial bagi lawan jenis kita, pertimbangkan harganya terlebih dahulu, belilah barang-barang yang harganya di bawah Rp 100.000, 00 atau bahkan di bawah Rp 50.000, 00. Konsep ini bukan saya paparkan secara teori, namun sudah saya jalankan! Ingatlah, hidup kita tidak hanya difokuskan pada si cewek itu, si cewek itu hanya nomer kedua, setelah Tuhan. Jangan mau dibodohi dan dirayu oleh cewek yang kita taksir untuk membelikan barang-barang yang mahal bahkan sampai Rp 1.000.000, 00, trus setelah si cewek mendapatkan barang yang diinginkan, kita sebagai cowok ditendang keluar. Hal ini mirip seperti banyak orang “Kristen” kontemporer hari-hari ini yang hanya mau berkat Tuhan, namun tidak mau Pribadi Tuhan itu sendiri, akibatnya kalau dia bangkrut, imannya pun ikut bangkrut dan mulai mengutuki Tuhan seperti istri Ayub.


Tiga Macam Masa PDKT
Sebagai masa perkenalan, saya membagi masa PDKT ini menjadi 3 masa, yaitu: masa awal, masa tengah, dan masa akhir.

Pertama, masa awal PDKT dimulai ketika seorang cowok memutuskan untuk menaksir seorang cewek untuk nantinya menuju ke tahap yang lebih serius yaitu berpacaran dan akhirnya menikah. Di masa awal ini, adalah bijaksana jika seorang cowok bertanya kepada cewek yang ditaksirnya apakah si cewek sudah punya gebetan atau pacar. Jika memang belum, si cowok baru melancarkan serangan PDKT. Kalau si cewek sudah memiliki gebetan, itu terserah si cowok. Dulu saya pernah memiliki pengalaman hendak melancarkan PDKT kepada seorang cewek. Belum sampai 1 bulan, si cewek sudah jujur bahwa dia sudah punya calon pacar. Saya curhat ama teman Kristen (cewek) dari GKRI Exodus, Surabaya dan teman saya ini menasihati saya bahwa jika cewek yang saya taksir ini benar-benar layak diperjuangkan/dikejar, ya kejar saja, jika tidak layak, ya gak usah dikejar. Dari situ, seolah-olah Tuhan membuka pikiran saya dan kemudian saya akhirnya mengurungkan niat mendekati cewek itu. Dan puji Tuhan, setelah mengetahui sifat asli si cewek itu, saya tidak henti-hentinya bersyukur kepada Tuhan karena tidak mendekati (dan jadian dengan) si cewek yang gak layak dikejar. Mengapa saya mengatakan bahwa cowok lebih baik bertanya tentang status si cewek? Hal tersebut penting, agar kita tidak membuang-buang waktu, biaya, tenaga percuma untuk mendekati cewek yang sudah punya gebetan ataupun pacar. Sebelum masa PDKT inipun, seharusnya seorang cowok harus menggumulkan cewek yang dia taksir apakah itu sesuai dengan kehendak-Nya atau bukan. Masa ini terjadi maksimal 1 bulan. Di masa ini, biasanya seorang cowok dan cewek yang sedang membina sebuah hubungan lawan jenis hanya akan menampilkan sisi positifnya saja (terutama banyak cewek yang ahli bermuka dua dengan “alasan” agar tidak melukai orang lain), sehingga adalah bijaksana jika seorang cowok tidak perlu terlalu cepat “menembak” cewek yang ditaksirnya. Di masa awal ini, seorang cowok dan cewek pun diwajibkan berdoa untuk menggumulkan benarkah mereka dikehendaki Tuhan untuk bersatu selamanya. Selain doa, cowok dan cewek harus berkonsultasi dengan orangtua dan beberapa saudara seiman mereka yang cukup dewasa rohani untuk meminta nasihat (namun, keputusan terakhir tetap harus diambil oleh cowok dan cewek yang membina hubungan tersebut!).[8] Orangtua dan saudara seiman ini diharapkan memberikan nasihat yang bermutu, dewasa, dan bertanggungjawab.

Kedua, masa tengah PDKT. Masa tengah ini biasanya terjadi antara 1-3 bulan. Di dalam masa ini, biasanya antara cowok dan cewek yang lagi berhubungan agak sedikit terbuka dan mulai dech hal-hal negatif masing-masing kelihatan. Di dalam masa ini, cowok dan cewek diharapkan kembali bergumul di hadapan Tuhan, benarkah mereka layak bersatu di dalam Tuhan? Pada masa ini juga, biasanya si cewek akan memberikan “sinyal” apakah dia menerima cinta si cowok atau tidak. Jika si cewek memang menerima cinta si cowok, maka cowok dan cewek ini harus berusaha saling melengkapi satu sama lain (dengan catatan: cowok dan cewek ini bukan orang yang keras kepala yang sok tahu dan mau menang sendiri). Selain saling melengkapi, mereka harus saling mengerti. Jika ada perkataan si cowok yang kurang bisa dimengerti, si cewek harus bertanya apa maksud perkataan si cowok itu (dengan catatan: perkataan cowok ini memang kurang jelas atau ambigu). Begitu juga sebaliknya. Jangan asal main tafsir semaunya sendiri, apalagi memfitnah tanpa bukti yang valid. Kalau dari sisi ini saja, si cewek/cowok main tafsir semaunya sendiri akan apa yang dimaksud oleh lawan jenisnya, ya, bergumullah, apakah lawan jenisnya ini benar-benar pasangan hidup yang cocok? Mengapa? Karena dari sisi komunikasi saja, mereka tidak nyambung (bahasa kerennya: lemot alias lola {loading lambat}).

Ketiga, masa akhir PDKT. Masa akhir ini biasanya terjadi lebih dari 3 bulan. Di dalam masa ini, biasanya cowok dan cewek lebih terbuka dari masa tengah PDKT itu, karena masing-masing bukan hanya saling mengerti sisi positif dan negatif, namun bisa saling mengerti dan melengkapi.


Komunikasi dalam PDKT
Di dalam PDKT, yang penting untuk diperhatikan adalah komunikasi. Perbanyaklah komunikasi dengan lawan jenis Anda baik melalui sms, telepon, maupun bertemu langsung. Saran saya adalah perbanyaklah komunikasi langsung (bertatap muka). Dengan berkomunikasi langsung dengan lawan jenis, kita akan mengerti prinsip, iman, karakter, sikap, perkataan, dan tingkah lakunya. Dari prinsip, iman, karakter, dll, kita bisa mempertimbangkan apakah lawan jenis kita layak kita jadikan pacar dan bahkan suatu hari kelak istri/suami kita. Lalu, apa yang perlu dibicarakan di dalam komunikasi tersebut?

Pertama, rohani. Hal-hal rohani dan tentang iman harus dibicarakan di dalam komunikasi pada saat PDKT. Orang Kristen hari-hari ini kalau PDKT dengan lawan jenisnya selalu menghindari hal-hal rohani dari pembicaraan dan menggantikannya dengan hal-hal remeh, padahal hal rohani adalah hal yang terpenting yang harus dibicarakan, karena ini akan menentukan tahap kita selanjutnya di dalam berpacaran dan akhirnya menikah. Namun, jangan lebay plis. Saya mengatakan hal-hal rohani harus dibicarakan, namun TIDAK berarti saya mengatakan hal-hal rohani selalu menjadi topik pembicaraan setiap kali ketemu dengan lawan jenis. Hal-hal rohani tetap penting dibicarakan, namun intensitasnya jangan terlalu sering, karena hidup kita bukan hidup yang hanya dikelilingi oleh kerohanian saja, namun juga ada hal-hal lain yang perlu dibicarakan di dalam komunikasi saat PDKT tersebut, misalnya prinsip hidup, karakter, cara berpikir, dan tentunya hal-hal yang fun (misalnya: hobi, makanan favorit, kebiasaan sehari-hari, dll – jangan terlalu membicarakan hal-hal serius, kita perlu juga membicarakan hal-hal yang fun, supaya lawan jenis kita tidak stres), dll.

Kedua, prinsip dan gaya hidup. Selain hal-hal rohani, pertimbangkan unsur prinsip dan gaya hidup untuk kita bicarakan dalam komunikasi kita. Apakah lawan jenis kita termasuk orang yang pelit atau bahkan menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang tidak penting atau paradoks/seimbang, yaitu bisa mengatur keuangan dengan bijaksana. Pertimbangkan juga pengaruh keluarga terhadap lawan jenis kita. Apakah orangtua terlalu ikut mencampuri anaknya sehingga prinsip orangtua harus ditaati mutlak oleh anaknya tanpa diskusi logis lebih lanjut ataukah orangtua masih rendah hati berdiskusi dengan anaknya? Mengapa saya memasukkan pengaruh keluarga ini? Karena pengaruh keluarga pasti mempengaruhi prinsip dan gaya hidup lawan jenis kita. Jika orangtua terlalu mencampuri (prinsip) anaknya, maka biasanya (tidak semua sih) si anak akan taat mutlak (tanpa berpikir panjang) untuk menyerahkan prinsip hidupnya untuk dikendalikan oleh orangtuanya. Yang lebih celaka, jika hal ini terus dibawa sampai ke jenjang pernikahan, maka si cowok/cewek harus menanggung akibatnya karena lawan jenisnya akan terus taat mutlak kepada orangtuanya dan bukan pada suaminya. Saya mendengar cerita dari saudara sepupu saya (cewek) yang menikah dengan seorang cowok. Karena mama cewek ini terlalu ikut campur dan matre, maka si mama langsung menyetujui anaknya menikah dengan seorang cowok yang katanya memiliki toko di luar kota. Namun, ketika sepupu saya dan tentunya mamanya yang matre ini melihat sendiri bahwa toko yang dipunyai si cowok ini adalah toko kecil, maka si mama berubah pikiran. Sepupu saya ini diracuni supaya bercerai dari si cowok ini (padahal pernikahan ini berjalan belum 1 tahun). Kemudian si cowok ini bertanya kepada sepupu saya, “Jika aq dan mamamu bertengkar, siapa yang kamu bela?” Anda akan kaget mendengar jawaban sepupu saya, “Ya, tentu mamaku lha ko, soale aq deket ama mamaku sudah lebih dari 20 tahun, sedangkan ama kamu belum 1 tahun.” Kalau masih nempel dengan mamanya, pertanyaan saya, ngapain menikah? Cape dech, heheheJ

Ketiga, cara berpikir dan mengambil keputusan. Hal selanjutnya yang perlu kita perhatikan dalam komunikasi yaitu cara lawan jenis kita berpikir dan mengambil keputusan. Ketika ada masalah/hal tertentu yang menuntut pengambilan keputusan, perhatikanlah cara pikir lawan jenis kita dan tentunya gimana sikapnya dalam mengambil keputusan. Cara berpikir menyangkut daya nalar lawan jenis kita. Apakah dia seorang yang bijaksana (bukan hanya sekadar pandai dan akademis) dan berpikir panjang? Ataukah dia seorang yang pikirannya sempit? Selain cara berpikir, perhatikanlah sikap lawan jenis kita dalam mengambil keputusan. Apakah dia gegabah dalam mengambil keputusan atau bertanya terlebih dahulu kepada kita (dan orangtua dan saudara seiman lain yang dewasa rohani dan bijaksana) untuk nantinya dicarikan solusinya bersama ataukah dia hanya bertanya kepada kita untuk mendapat persetujuan dari kita saja (sedangkan kalau kita tidak setuju, dia tetap menuruti kemauannya sendiri)? Kalau lawan jenis kita hanya memanfaatkan kita melalui pertanyaan yang dia ajukan, hendaklah kita berhati-hati untuk mempertimbangkan lawan jenis kita untuk menjadi pasangan hidup kita, karena jelas sekali orang itu berbahaya dan bukan tidak mungkin setelah kita pacaran dan menikah dengan orang model demikian, kita sebagai cowok dengan mudah dimanfaatkan oleh lawan jenis kita dalam segala hal. Waspadalah… Waspadalah…

Keempat, hal-hal yang fun. Terakhir, kita juga perlu lho membicarakan hal-hal yang fun. Saya terus terang “takut” dengan beberapa pemuda Kristen apalagi yang gemar membaca buku-buku theologi yang berat sekelas Dr. Louis Berkhof, Dr. Cornelius Van Til, Dr. Ronald H. Nash, Dr. Carl F. H. Henry, Dr. John M. Frame, dll dan juga buku-buku filsafat sekelas Rene Descartes, Immanuel Kant, F. Nietzsche, dll. Mengapa? Karena orang-orang ini terlalu banyak membaca buku-buku theologi dan filsafat, akibatnya di dalam PDKT pun, yang dibicarakan berkutat hal-hal seputar theologi dan filsafat. Misalnya, si cewek curhat ama si cowok kutu buku ini bahwa dia sedang ragu dalam mengambil keputusan, nah, biasanya si cowok kutu buku ini langsung menjawab, “Kamu ini diracuni oleh skeptisisme, itu bahaya. Skeptisisme itu salah dan melawan Alkitab.” Bla bla bla… Yang dibutuhkan si cewek bukan jawaban filsafat yang njelimetisasi seperti itu, yang cewek butuhkan hanya telinga yang mau mendengar (boleh saja sih kalau kita sebagai cowok memberi sedikit masukan). Jika Anda termasuk salah satu cowok seperti ini, segera bertobatlah, sebelum Anda mendapati fakta bahwa diri Anda gagal terus mendekati seorang cewek, heheheJ Kembali, selain tentang hal-hal rohani, prinsip hidup, cara berpikir dan mengambil keputusan, kita tetap perlu membicarakan hal-hal yang “remeh”, seperti makanan favorit, hobi, lagu favorit, genre film favorit, hobi, dan kebiasaan sehari-hari lawan jenis kita. Dengan membicarakan hal-hal tersebut, kita bisa mengetahui apa yang lawan jenis kita sukai dan kita bisa belikan dan berikan pada saat dia ulang tahun atau pada saat acara khusus, misalnya Natal, Imlek, Tahun Baru, dll.


PDKT dan Waktu yang Tepat untuk “Menembak” Lawan Jenis
Lalu, pertanyaan terakhir, kapankah seorang cowok harus “menembak” cewek yang ditaksirnya? Tidak ada aturan baku untuk itu, yang jelas jangan terlalu cepat dan jangan terlalu lama. Jika hanya dalam waktu beberapa minggu, si cowok langsung “menembak” cewek yang ditaksirnya, maka itu berakibat kurang bagus. Jika memang cewek yang di“tembak”nya itu bener-bener baik dan rohani ya puji Tuhan, namun kalau si cewek yang di“tembak”nya keras kepala, parah, matre, dll, ya apesnya si cowok. Jika sudah hampir setahun, si cowok baru “menembak” cewek yang ditaksirnya, biasanya si cewek akan menganggap si cowok ini hanya mau berteman dengan dia saja, sehingga pupus sudah harapan si cowok. Meskipun hasilnya gagal, dahulu, jangka waktu terlama yang saya butuhkan untuk “menembak” seorang cewek 3-4 bulan. Jangka waktu ini juga merupakan waktu Tuhan membentuk dan memproses kita di dalam menjalin hubungan lawan jenis.


Kesimpulan
Akhir kata, masa PDKT adalah masa antara yang perlu kita pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Tatkala lawan jenis yang kita dekati itu bertanggungjawab, lanjutkanlah hubungan kita dengannya, namun jika tidak beres, segera tinggalkan dia, sebelum hubungan kita dengannya terlalu jauh. Biarlah Tuhan memimpin kita (dan tentunya saya) untuk menemukan pasangan hidup yang tepat yang cinta Tuhan, takut akan Tuhan, jujur, rendah hati, mencintai kita, dan mencintai keluarga kita. Amin. Soli Deo Gloria.






Catatan Kaki:
[1] Joshua Harris, I Kissed Dating Goodbye, terj. Claudia Kristanti (Jakarta: Immanuel, 2010), hlm. 187
[2] Joshua Harris, Boy Meets Girl (Saat Cowok Ketemu Cewek): Menjalin Hubungan Lawan Jenis, terj. Samuel E. Tandei (Bandung: Lembaga Literatur Baptis, 2007), hlm. 81-97.
[3] Djohan Kusnadi, Berpacaran yang Sehat (Jakarta: Metanoia, 2006), hlm. 50.
[4] Joshua Harris, I Kissed Dating Goodbye, …, hlm. 22.
[5] Bill Hybels, Who You Are When No One’s Looking: Memilih Ketetapan Hati, Menolak Kompromi, terj. Dwi Maria Handayani (Jakarta: Metanoia, 2008), hlm. 95
[6] Joshua Harris, Boy Meets Girl, …, hlm. 132.
[7] Chang Khui Fa, Garam dan Terang for Youth: Road to Transformation (Bandung: Pionir Jaya, 2010), hlm. 81.
[8] Sebuah saran bijak dikemukakan oleh Rev. Joshua Eugene Harris di dalam bukunya Boy Meets Girl, “Masa menjalin hubungan jangan sampai terlepas dari keterlibatan orang lain, tapi jangan sampai ditentukan atau dimanipulasi orang lain pula. Sikap yang alkitabiah adalah sikap yang dengan rendah hati, rela meminta pertolongan orang lain. Tapi ini bukan berarti kita harus bergantung kepada orang lain dalam mengambil keputusan tentang siapa dan kapan kita menikah. Oleh sebab itu, tidak ada satu orang pun – apakah itu orangtua, pendeta, teman – yang dapat mengambilkan keputusan bagi kita. Nasihat mereka perlu menjadi masukan, namun kitalah yang harus mendengarkan Tuhan dan beriman dalam mengambil keputusan menikah.” (hlm. 159)

03 June 2010

Eksposisi 1 Korintus 6:15-20 (Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.)

EKSPOSISI 1 KORINTUS 6:15-20

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.



Nats: 1 Korintus 6:15-20



Dalam bagian sebelumnya (6:12-14) kita sudah membahas bahwa Paulus mengoreksi kesalahpahaman jemaat Korintus tentang kebebasan Kristiani (ay. 12) dan tubuh (ay. 13-14). Sekarang kita akan melihat argumen Paulus bagi pendapatnya di bagian tersebut. Argumen ini mencakup tiga hal yang masing-masing dimulai dengan pertanyaan retoris, “tidak tahukah kamu...” (ay. 15, 16, 19). Argumen Paulus adalah sebagai berikut: (1) tubuh orang percaya adalah anggota Kristus (ay. 15); (2) orang percaya sudah disatukan secara rohani dengan Kristus (ay. 16-18); (3) tubuh orang percaya adalah bait Roh Kudus (ay. 19-20).

Dari pertanyaan retoris yang diberikan terlihat bahwa jemaat Korintus sebenarnya sudah pernah mengetahui kebenaran yang disampaikan Paulus. Mereka mungkin melupakan hal itu atau mereka bahkan sengaja tidak mau tahu dengan hal itu serta mendirikan kebenaran mereka sendiri. Manapun yang benar, Paulus merasa tetap perlu untuk memberitakan kebenaran tersebut.


Tubuh Orang Percaya Adalah Anggota Kristus (ay. 15)
Argumen pertama yang diberikan Paulus adalah tubuh orang percaya sebagai anggota Kristus. Apakah arti dari ungkapan “tubuh kita adalah anggota Kristus” di sini? Sebagian penafsir beranggapan bahwa ungkapan ini memiliki makna yang sama dengan konsep tubuh Kristus di 1 Korintus 12:12-26. Walaupun pendapat ini cukup populer, namun kita sebaiknya menolak ini. Penelitian yang teliti menunjukkan bahwa konsep “tubuh kita adalah anggota Kristus” di 6:15 berbeda dengan konsep “kita adalah tubuh Kristus” di 12:12-26: (1) pasal 6:15 berbicara tentang relasi antara kita dan Kristus (vertikal), sedangkan 12:12-26 lebih menyoroti relasi kita dengan sesama orang percaya (horizontal); (2) yang menjadi anggota Kristus di 6:15 adalah tubuh kita, sedangkan 12:12-26 mengajarkan bahwa seluruh hidup kita bersama dengan orang percaya lain adalah tubuh Kristus; (3) pasal 6:15 membicarakan tentang tubuh kita sebagai anggota Kristus (individual), sedangkan 12:12-26 tentang seluruh anggota jemaat sebagai tubuh Kristus (komunal).

Ungkapan “tubuh kita sebagai anggota Kristus” harus dipahami sesuai konteks pasal 6:12-20. Konsep ini sangat berkaitan dengan ajaran tentang kebangkitan. Dalam kebangkitan, tubuh kita dipersatukan dengan tubuh Kristus, sehingga kebangkitan-Nya juga menjadi dasar dari kebangkitan kita (6:14; Rm. 6:3-6). Karena tubuh kita sudah disatukan dengan tubuh-Nya, maka tubuh kita adalah bagian dari tubuh-Nya. Tubuh kita adalah untuk Dia dan Dia untuk tubuh (6:13).
Jika tubuh kita adalah anggota Kristus, akan kita mengambilnya dan menyerahkannya kepada pelacur (ay. 15b)? Kata “mengambil” (airō) memiliki arti yang lebih dari sekadar mengambil biasa (kontra KJV/NIV/RSV). Kata ini bermakna mengambil secara total (ASV/NASB “take away”). Jika Paulus memikirkan tindakan mengambil yang biasa, maka dia pasti akan memakai kata lambanō. Penggunaan kata airō di sini berfungsi untuk menunjukkan bahwa jemaat Korintus bukan sekadar jatuh ke dalam perzinahan, tetapi terus-menerus hidup dalam dosa itu. Mereka tidak memandang tindakan perzinahan ini sebagai dosa yang serius (bdk. 6:12-13).

Kata “menyerahkan kepada pelacur” (LAI:TB) merupakan terjemahan yang kurang pas. Sesuai dengan kalimat Yunani yang dipakai (poieō pornēs melē), frase ini secara hurufiah berarti “menjadikan anggota pelacur” (KJV/ASV/RSV/NASB). Apa arti dari ungkapan ini? Penerjemah NIV memberikan penafsiran yang tepat untuk memahami ugkapan di atas, yaitu “menyatukannya dengan pelacur” (unite them with a prostitute). Sebagaimana tubuh kita sebagai anggota Kristus berarti bahwa tubuh kita disatukan dengan tubuh Kristus, maka menjadikan tubuh kita sebagai anggota pelacur juga berarti bahwa tubuh kita disatukan dengan tubuhnya. Dua hal ini jelas tidak mungkin bisa berjalan bersamaan.

Jawaban “sekali-kali tidak” (mh genoito) merupakan fenomena umum dalam gaya bahasa diatribe (dialog imajiner pada masa kuno). Seruan ini berguna untuk memberi penekanan. Versi Inggris kuno memakai “God forbid!” (KJV/ASV), sedangkan yang lebih modern memakai “never” RSV/NASB/NIV). Dalam hal ini penerjemah LAI:TB dengan tepat memilih “sekali-kali tidak!”. Bukan sekadar “tidak”, tetapi “sama sekali tidak”.


Orang Percaya Sudah Disatukan Secara Rohani Dengan Kristus (ay. 16-18)
Kalau ayat 15 hanya menyoroti tentang kesatuan tubuh, maka ayat 16-18 membahas tentang kesatuan yang lebih luas. Kesatuan kita dengan Kristus adalah kesatuan rohani yang mencakup seluruh hidup kita. Demikian pula kesatuan fisik dengan pelacur mencakup kesatuan yang lebih serius daripada sekadar kontak fisik.

Di ayat 16a Paulus mengingatkan (pertanyaan retoris “tidak tahukah kamu?” menyirakan bahwa mereka sebenarnya sudah tahu) bahwa siapa yang mengikatkan diri (kollōmenos) dengan pelacur menjadi satu tubuh dengan dia. Kata kollaomai di bagian ini harus dipahami lebih dari sekadar bersetubuh atau kontak seksual secara fisik: (1) ayat 16b menyejajarkan kesatuan yang terbentuk dari perzinahan dengan kesatuan dalam pernikahan (bdk. Kej 2:24); (2) jika “satu tubuh” hanya sekadar berarti “bersetubuh”, maka pertanyaan di ayat 16a (“tidak tahukah...mengikat diri...menjadi satu tubuh?”) menjadi tidak berguna sama sekali; bukankah perzinahan identik dengan bersetubuh?; (3) di ayat 17 kesatuan tubuh di sini disejajarkan dengan kesatuan roh dengan Tuhan; (4) dalam bagian PB lain kata kollaomai juga dipakai untuk kesatuan antara suami-istri (Mat. 19:5); (5) di luar konteks pernikahan, kata kollaomai juga dipakai untuk merujuk pada suatu ikatan, misalnya ikatan kerja (Luk. 15:15). Sesuai penjelasan ini kita dapat menyimpulkan bahwa terjemahan LAI:TB “mengikat dirinya” merupakan pilihan yang tepat, lebih tepat dari sekadar “menggabungkan” (ASV/KJV/RSV/NASB “join”).

Di bagian ini Paulus tidak lagi menyebut “seorang pelacur” (bdk. ayat 15), tetapi ia memakai artikel di depan kata pelacur (The Darby Bible “the prostitute”, kontra mayoritas versi Inggris). Penambahan artikel ini menyiratkan bahwa prinsip yang diajarkan bukan hanya berlaku untuk pelacur tertentu, tetapi semua pelacur. Penambahan artikel ini merujuk pada suatu kelas masyarakat, bukan suatu individu tertentu. Jadi, pelacuran jenis apa pun – entah pelacur bakti dalam agama misteri atau pelacur komersial – tetap menciptakan “satu tubuh”.

Mengapa persetubuhan dengan pelacur membuat orang percaya menjadi satu tubuh dengan dia? Di ayat 16b Paulus mengutip Kejadian 2:24, suatu teks dalam konteks pernikahan (Adam dan Hawa). Yesus pun pernah mengutip teks ini untuk menekankan bahwa kesatuan yang terbentuk tidak dapat dipisahkan oleh manusia (Mat. 19:5-6). Kesatuan ini jelas sangat mengikat, lebih dari sekadar kontak fisik. Di 1 Korintus 7 Paulus juga membahas tentang kesatuan yang mendalam dari hubungan suami-istri: (1) menjadi satu tubuh berarti saling menguasai tubuh masing-masing (7:4); (2) dalam pernikahan salah satu pasangan memberikan pengaruh pada yang lain (7:12-16). Bagian Alkitab yang lain juga menceritakan bagaimana istri-istri Salomo telah membuat hatinya berpaut kepada mereka (1Kor. 11:2b). Semua penjelasan ini menunjukkan bahwa dalam hubungan seksual tercipta kesatuan yang jauh lebih mendalam daripada sekadar kontak fisik, entah hubungan seksual ini dilakukan dengan pasangan yang sah atau orang lain.

Di ayat 17 Paulus menjelaskan mengapa orang percaya tidak boleh mengikatkan diri dengan pelacur, yaitu karena mereka sudah diikatkan (kollaomai) dengan Tuhan. Mereka menjadi satu roh dengan Dia. Dalam bagian sebelumnya kita sudah membahas bahwa kollaomai menyirakan unsur keterikatan atau kesatuan. Sekarang kita akan melihat bahwa kata ini juga sering dipakai untuk ikatan dengan hal-hal yang rohani. Dalam Ulangan 10:20 (LXX) kata ini dipakai untuk berpaut (kollaomai) kepada Tuhan. Hizkia juga disebut sebagai orang yang berpaut (kollaomai) kepada TUHAN (2Raj. 18:6).

Kesatuan rohani di atas tercipta karena Yesus dan Roh Kudus berdiam di dalam kita (Rm. 8:10-11). Yesus hidup di dalam kita (Gal. 2:20). Kita menjadi satu dengan kematian dan kebangkitan-Nya (6:14; bdk. Rm. 6:3-6; Flp. 3:10). Kesatuan yang telah diperoleh dengan harga yang mahal ini tidak mungkin kita batalkan untuk mencari kesatuan yang lain dengan pelacur. Apakah kita mau membuang sesuatu yang begitu mulia untuk mendapatkan sesuatu yang begitu rendah? Apakah kita bisa memiliki dua kesatuan – dengan pelacur dan Tuhan – pada waktu yang bersamaan? Bukankah hal ini mustahil?

Mengingat dosa percabulan berpotensi menciptakan kesatuan yang serius dengan pelacur (ay. 16) dan merusak kesatuan yang indah bersama Kristus (ay. 17), maka kita harus menjauhi hal itu (ay. 18a). Kata “menjauhi” (pheugō) muncul 29 kali dalam PB dan sering kali berarti “melarikan diri” (Mat. 2:13; 10:23; 23:33; 24:16; Kis. 7:29; 27:30). Dari tense present yang dipakai kita tahu bahwa perintah ini harus dilakukan terus-menerus. Pemakaian kata yang tegas dan tense present dalam bagian ini menyiratkan bahwa dibutuhkan usaha yang ekstra keras untuk terbebas dari dosa perzinahan. Jika usaha kita hanya setengah-setengah atau pada waktu tertentu saja maka kita pasti akan kalah lagi dengan dosa ini.

Di ayat 18b Paulus selanjutnya mengajarkan tentang keunikan (baca: keseriusan) dosa perzinahan. Dosa ini adalah satu-satunya yang dilakukan di dalam diri kita dan terhadap diri kita. Apa maksudnya? Pertama-tama kita perlu mengetahui bahwa terjemahan “diri” (LAI:TB) tidak tepat. Kata swma seharusnya diterjemahkan “tubuh”. Berikutnya, pernyataan Paulus di ayat 18b harus dipahami dalam kaitan dengan pembahasan sebelumnya. Tubuh kita sudah disatukan dengan tubuh Kristus di kayu salib (ay. 15), sehingga dosa perzinahan yang berpotensi menciptakan kesatuan lain (ay. 16-17) merupakan dosa terhadap tubuh kita yang sudah disatukan tersebut (ay. 18b). Dosa lain tidak langsung berkaitan dengan kesatuan tubuh ini, sekalipun dosa-dosa itu mungkin dilakukan dengan menggunakan tubuh atau berpnegaruh buruk terhadap tubuh. Sebagai contoh, dosa kemabukan memang dilakukan untuk kepentingan tubuh dan dapat merusak tubuh, namun dosa ini tidak berkaitan secara langsung dengan kesatuan tubuh di dalam Kristus. Kemabukan tidak menciptakan kesatuan tubuh dengan alkohol (sekalipun menimbulkan kecanduan, tetapi tetap bukan kesatuan tubuh seperti yang tercipta dengan pelacur).


Tubuh Orang Percaya Adalah Bait Roh Kudus (ay. 19-20)
Konsep tentang “bait Roh Kudus” di ayat 19 berbeda dengan konsep di 3:16. Di sini yang menjadi bait Roh Kudus adalah tubuh orang percaya, sedangkan di 3:16 bait Roh Kudus merujuk pada seluruh orang percaya sebagai suatu komunitas. Yang satu secara indidvidual, yang satunya lain secara komunal.

Tubuh kita disebut sebagai bait Roh Kudus karena Dia tinggal di dalam kita (ay. 19). Bagi orang Yahudi yang ibadahnya terfokus pada bait Allah atau orang-orang Korintus yang terbiasa dengan berbagai macam kuil, pernyataan Paulus di sini merupakan sesuatu yang cukup mengagetkan. Orang Yahudi membutuhkan berpuluh-puluh tahun untuk mendirikan bait Allah agar Allah mau berdiam di tengah mereka (Yoh. 2:20). Orang Korintus berlomba membangun kuil dan mengadakan berbagai ritual supaya dewa mereka hadir di tempattempat itu. Semua ini berbeda dengan konsep Kekristenan. Kita menyembah Allah di dalam roh, yang berarti penyembahan kita tidak dibatasi oleh tempat (Yoh. 4:21-24). Allah tidak mungkin dibatasi oleh suatu bait atau kuil tertentu (bdk. Kis. 17:24). Di mana Allah diam, di situlah rumah-Nya. Yang luar biasa, Allah memilih untuk berdiam di dalam tubuh (diri) kita. Kalau Dia begitu menghargai tubuh kita dan menjadikannya sebagai rumah-Nya, apakah pantas kalau kita justru tidak menghargai tubuh kita dan menajiskannya?

Bagian selanjutnya dari ayat 19 menekankan bahwa Roh Kudus ini kita terima (lit. “miliki”) dari Allah. Kita tidak mengupayakan hal ini. Allah yang memberikan bagi kita. Tanpa Roh Kudus kita tidak mungkin memahami berita injil (2:10-11) dan kita juga tidak akan dibangkitkan bersama dengan Kristus (6:12; Rm. 8:11). Ini semua menunjukkan bahwa kehadiran Roh Kudus di dalam diri kita adalah semata-mata anugerah Allah bagi kita. Apakah kita akan menganggap remeh anugerah ini?

Di bagian akhir ayat 19 Paulus menjelaskan konsekuensi dari kehadiran Roh Kudus dalam diri kita. Kehadiran ini menyiratkan perubahan status kepemilikan. Kalau Allah di dalam kita, maka kita bukan milik kita lagi. Sama seperti bait Allah di Yerusalem adalah milik Allah (sekalipun orang-orang Yahudi yang membangunnya), demikian pula dengan tubuh kita. Tubuh kita sudah dipersatukan dengan tubuh Kristus melalui karya Roh Kudus, sehingga tubuh itu bukan lagi menjadi milik kita. Tubuh kita sudah kita persembahkan kepada Dia (Rm. 12:1).

Untuk memperjelas poin di atas Paulus selanjutnya menjelaskan konsep penebusan di ayat 20a. Ide tentang “membeli” (agorazō) dan “harga” (timē) secara eksplisit merujuk pada budaya pasar budak kuno. Seorang budak yang dibeli oleh orang lain, dia akan menjadi milik pembeli itu. Dia bebas dari tuan yang lama, tetapi pada saat yang sama dia terikat dengan yang lainnya. 1 Korintus 7:22-23 menyinggung tentang hal ini. Kita memiliki kebebasan dan keterikatan sekaligus. Allah telah membeli tubuh kita dengan harga yang mahal (1Ptr. 1:19), dengan demikian tubuh kita menjadi milik Dia.

Jika tubuh kita adalah miliknya (ay. 19c-20a), maka tidak berlebihan jika kita harus memuliakan Dia dengan tubuh kita (ay. 20b). Ada sedikit permainan kata yang dipakai Paulus di sini. Kata “harga” (timē, ayat 20a) sebenarnya juga bisa memiliki makna kehormatan atau kemuliaan (bdk. Ibr 5:4). Karena kita sudah dibeli dengan kehormatan tertentu (timē), maka kita pun sudah selayaknya memberi kehormatan (doxazō) kepada Dia yang sudah membeli kita. Memuliakan Allah dengan tubuh dalam konteks ini memang lebih berkaitan dengan penggunaan tubuh untuk kekudusan (bdk. 6:12-20; Rm. 6:12-13), namun aplikasi dari perintah ini sangat luas. Kita harus menggunakan hidup dan tenaga kita untuk melayani Dia.

Dari sisi budaya Yunani waktu itu, penebusan tubuh (ay. 20a) dan penggunaannya untuk memuliakan Allah (ay. 20b) merupakan sesuatu yang unik. Dualisme Yunani cenderung melihat tubuh (materi) secara negatif. Tubuh adalah penjara dari jiwa dan harus selalu kita jauhi. Bahkan keselamatan sejati menurut mereka adalah keterlepasan dari tubuh. Dalam Kekristenan, tubuh dan roh/jiwa sama pentingnya. Keduanya saling berkaitan. Kita disatukan dengan Kristus secara tubuh (ay. 15) maupun roh (ay. 17). Keduanya sama-sama berharga di mata Allah. Mari kita menghargai tubuh kita sebagaimana Allah sudah menghargainya. Soli Deo Gloria. #





Sumber:
Mimbar GKRI Exodus, 25 Januari 2009
http://www.gkri-exodus.org/image-upload/1Korintus%2006%20ayat%2015-20.pdf

30 May 2010

Eksposisi 1 Korintus 6:12-14 (Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.)

EKSPOSISI 1 KORINTUS 6:12-14

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.



Nats: 1 Korintus 6:12-14




1 Korintus 6:12-20 membahas tentang suatu topik yang baru, yaitu perzinahan dengan pelacur (6:16). Pembacaan yang teliti menunjukkan bahwa kesalahan jemaat Korintus bukan hanya terletak pada tindakan perzinahan tersebut, tetapi juga pada konsep theologis yang salah yang mendorong mereka melakukan hal itu. Mereka menganggap bahwa tindakan itu bukanlah suatu hal yang mempengaruhi kerohanian. Anggapan seperti ini bersumber dari konsep mereka tentang kebebasan Kristiani (6:12) dan tubuh (6:13-14) yang salah. Sama seperti kasus percabulan dengan ibu istri yang justru dibanggakan oleh mereka (5:1-2), kasus perzinahan dengan pelacur pun tidak membuat mereka malu. Mereka bahkan memiliki berbagai macam alasan untuk membenarkan tindakan ini.

Terhadap persoalan ini Paulus mula-mula mengoreksi konsep telogis mereka yang salah tentang kebebasan Kristiani dan tubuh (6:12-14). Menurut Paulus, kebebasan di dalam Kristus tidak berarti perijinan atau hak untuk melakukan segala sesuatu yang kita kehendaki. Kebebasan ini harus memperhatikan dua hal: apakah orang lain mendapat keuntungan atau dibangun melalui tindakan kita (6:12a)? apakah kebebasan itu justru memperbudak kita (ay. 12b)? Selanjutnya Paulus memberikan argumen yang mendukung pandangannya (6:15-20). Ada tiga argumen yang masing-masing dimulai dengan pertanyaan retoris “tidak tahukah kamu” (bdk. 6:15, 16, 19). Di ayat 15 dia menegaskan bahwa tubuh kita adalah anggota Kristus yang tidak boleh diserahkan kepada percabulan. Di ayat 16-18 dia mengajarkan bahwa orang percaya sudah diikatkan dengan Kristus secara rohani, sehingga mereka tidak boleh mengikatkan diri dengan pelacur. Terakhir, di ayat 19-20 Paulus mengingatkan bahwa tubuh mereka adalah bait Roh Kudus, sehingga tidak boleh dicemarkan dengan dosa perzinahan.

Dalam khotbah minggu ini kita tidak akan membahas keseluruhan respons Paulus di 1 Korintus 6:12-20. Kita hanya akan memfokuskan pada koreksi Paulus terhadap kesalahpahaman theologis jemaat Korintus (ay. 12-14). Kita akan belajar bagaimana pandangan Paulus terhadap kebebasan Kristiani (ay. 12) dan tubuh (ay. 13-14).


Kesalahpaham Seputar Kebebasan Kristiani (ay. 12)
Hampir semua penafsir setuju bahwa frase “segala sesuatu adalah halal bagiku” merupakan slogan jemaat Korintus yang dikutip dan ditentang oleh Paulus. Pendapat ini didasarkan pada dua hal: (1) kata sambung “tetapi” yang mengontraskan slogan ini dengan konsep Paulus; (2) di pasal 10:23 Paulus mengutip slogan ini lagi dan memberi jawaban “benar, tetapi...”. Dari cara Paulus meresponi frase ini terlihat bahwa frase ini memang slogan dari jemaat Korintus.

Mereka berpendapat bahwa segala sesuatu adalah halal. Terjemahan LAI:TB “halal” dalam konteks ini sedikit kurang tepat. Kata “halal” memberi kesan bahwa persoalan yang dibahas hanyalah seputar makanan, padahal isu yang dibahas lebih daripada itu. Sesuai bahasa Yunani yang dipakai, kita seharusnya menerjemahkan frase ini dengan “segala sesuatu bagiku diperbolehkan” (exestin). Kata exestin muncul sebanyak 31 kali dalam PB dan selalu memiliki arti “diperbolehkan” (Mat. 12:2, 4, 10, 12; 14:4; 19:3; 20:15; 22:17). Hampir semua versi Inggris dengan tepat menerjemahkan kata ini dengan “lawful” (ASV/KJV/RSV/NASB) atau “permissible” (NIV).

Konsep tentang boleh atau tidak boleh (baca: kebebasan) merupakan isu yang krusial bagi jemaat Korintus. Paulus berkali-kali menyinggung tentang hal ini. Kadang dia berhati-hati agar pernyataannya tidak disalahmengerti sebagai penolakan terhadap kebebasan mereka (7:35). Di sisi lain dia dengan tegas memperingatkan agar mereka tidak menyalahgunakan kebebasan tersebut tanpa memperhatikan kepentingan orang lain (8:9; 10:23).

Mengapa jemaat Korintus bisa terjebak pada konsep tetang kebebasan Kristiani yang salah sampai-sampai mereka membenarkan perzinahan dengan pelacur? Para penafsir biasanya menduga bahwa mereka telah salah paham (lebih tepatnya menyalahgunakan) ajaran Paulus tentang kebebasan Kristiani. Paulus memang sering kali menegaskan bahwa orang Kristen berada di bawah anugerah dan sudah tidak di bawah Taurat atau berbagai tradisi manusia yang lain (bdk. Rm. 6:14). Penekanan seperti ini sering kali disalahmengerti oleh orang-orang yang mengagungkan kebebasan, seperti yang diakui juga oleh Paulus (Rm. 3:8) maupun Petrus (2Ptr. 3:16). Orang-orang seperti ini telah terjebak pada gaya hidup antinomianisme (berasal dari kata anti = “tidak” dan nomos = “hukum”).

Terhadap kesalahpahaman jemaat ini Paulus memberikan dua jawaban. Pertama, kebebasan harus membawa kegunaan/keuntungan (ay. 12a “tetapi bukan segala sesuatu berguna”). New English Bible (NEB) menerjemahkan “not everything is for my good” seolah-olah kegunaan ini berkaitan dengan diri sendiri. Jika kita menyelidiki pemunculan kata sumpherō dalam surat 1 Korintus, maka kita akan menemukan bahwa kata ini selalu dikaitkan dengan kegunaan bagi orang lain. Dalam pasal 10:23-24 kata sumpherō disejajarkan dengan “membangun” dan hal ini dikaitkan dengan kepentingan orang lain. Di pasal 12:7 kata ini muncul lagi dalam konteks kepentingan bersama.

Dengan demikian Paulus di 6:12a tidak sedang membicarakan keuntungan yang akan diterima oleh orang tersebut, tetapi kepentingan untuk seluruh jemaat. Dia secara tersirat ingin memperingatkan bahwa kebebasan jemaat Korintus tidak membawa keuntungan bagi gereja. Sebaliknya, sama seperti kasus percabulan dengan ibu tiri (5:1), kebebasan ini justru akan mencoreng reputasi gereja. Tindakan ini juga bisa berdampak buruk bagi jemaat yang lain seandainya mereka terpengaruh dan meniru tindakan ini, sama seperti ragi yang mencemari seluruh adonan (5:7-8).

Dari sini terlihat bahwa etika Kristiani bukan hanya masalah boleh atau tidak boleh maupun benar atau tidak benar. Sekalipun yang kita lakukan adalah benar, hal ini tidak berarti bahwa kita boleh melakukan hal itu. Jika apa yang kita lakukan menjadi batu sandungan bagi orang percaya yang lain (8:8-9), maka kita tidak boleh melakukan hal itu. Apalagi dalam kenyataan kita sering kali menganggap benar apa yang sebenarnya salah, sama seperti yang dilakukan oleh jemaat Korintus. Jadi, di 6:12a Paulus sebenarnya belum membahas tentang kesalahan dalam perzinahan dengan pelacur, tetapi dia telah meletakkan salah satu dasar etika Kristiani yang penting: terlepas dari benar atau tidak benar, jika tindakan itu tidak membangun orang lain, maka kita tidak boleh melakukannya!

Jawaban Paulus yang kedua terhadap kesalahpahaman jemaat Korintus tentang kebebasan Kristiani dapat kita lihat di ayat 12b. Dia memperingatkan jemaat agar berhati-hati dengan kebebasan karena kebebasan sering kali justru menjadi perbudakan (ay. 12b “tetapi aku tidak mau diperhamba oleh suatu apa pun”). Kata “diperbudak” (LAI:TB) berasal dari kata exousiasthesomai (dari kata dasar exousiazō yang berarti “menguasai”, bdk. 7:4). Jika dilihat dari kalimat Yunani yang dipakai, maka kita akan menemukan permainan kata antara exestin (“diperbolehkan”) dan exoussiasthesomai (“dikuasai”). Berdasarkan permainan kata ini kita dapat memahami ayat 12b sebagai berikut: “segala sesuatu bagiku diperbolehkan (aku punya kuasa), tetapi aku tidak akan dikuasai oleh suatu apa pun”.

Apa yang disampaikan Paulus di bagian ini merupakan suatu hal yang penting untuk diperhatikan. Kita memang sering kali berpikir bahwa kita bebas melakukan suatu tindakan, tetapi ketika kita tidak bisa tidak melakukan hal itu, maka hal itu sudah menjadi tuan yang merampas kebebasan kita. Kita berpikir bahwa kita bebas dalam melakukan suatu dosa, padahal dosa itu pada akhirnya akan menguasai kita sehingga kita akan terus mengikuti kemauannya. Dengan demikian kebebasan kita telah menjadi perbudakan bagi diri kita sendiri.


Kesalahpahaman Seputar Tubuh (ay. 13-14)
Di ayat 13-14 Paulus mengoreksi kesalahpahaman lain yang dipegang oleh jemaat Korintus, yaitu tentang tubuh. Mereka mengatakan bahwa “perut adalah untuk makan dan makan untuk perut, sedangkan dua-duanya akan dibinasakan oleh Allah” (ay. 13a). Maksudnya, jika semua hal yang berkaitan dengan materi (tubuh kita) akan dibinasakan, maka semua hal itu tidak terlalu penting. Semua itu tidak berpengaruh terhadap kerohanian kita maupun berdampak pada kekekalan. Nah, jika keinginan terhadap makanan dan perut tidak penting, maka dengan demikian keinginan terhadap seks dan tubuh juga tidak penting. Bukankah rasa lapar dan hawa nafsu seksual sama-sama berasal dari keinginan materi dalam diri manusia?

Kesalahpahaman seperti di atas sangat mungkin merupakan hasil penyalahgunaan ajaran Paulus dan perpaduan dengan filsafat Yunani. Paulus memang beberapa kali menegaskan bahwa masalah makanan adalah masalah yang sementara (Kol 2:20-22), tetapi dia tidak pernah melangkah lebih jauh daripada itu. Jemaat Korintus yang cenderung mengagungkan hikmat duniawi (1:18-3:23) mungkin merasa bahwa ajaran Paulus itu selaras dengan filsafat dualisme Yunani yang menganggap materi jahat, tidak penting dan tidak berhubungan dengan kerohanian yang sejati. Mereka berpikir bahwa sebagai orang yang sudah rohani mereka tidak seyogyanya dipengaruhi oleh apa yang dilakukan oleh materi. Petunjuk lain yang mengarah pada dugaan ini adalah munculnya frase “segala sesuatu diperbolehkan” dalam beberapa tulisan filsafat Yunani yang memegang paham dualisme, misalnya Stoa, Cynisisme, Gnostisisme. Walaupun filsafat Gnostisisme tidak relevan bagi jemaat Korintus – filsafat ini baru menjadi -isme pada abad II – namun konsep dualisme Yunani yang melandasi ketiga filsafat ini sudah lama berkembang.

Sekilas cara berpikir jemaat Korintus tampak sangat logis dan menarik. Makanan dan perut memang tidak bernilai kekal. Seks juga berkaitan dengan kebutuhan biologis. Bagaimanapun, Paulus berhasil menunjukkan kesalahan berpikir ini. Pertama, tubuh adalah untuk Tuhan (ay. 13b). Tubuh bukan hanya untuk sesuatu yang sifatnya sementara, misalnya makanan dan seks. Tubuh terutama adalah untuk Tuhan. Sebagai orang Kristen yang sudah ditebus, kita tidak boleh membiarkan dosa menguasai tubuh kita dan sebaliknya kita harus menggunakan tubuh ini untuk melayani Allah (Rm. 6:12-13). Kita wajib mempersembahkan tubuh sebagai kurban yang kudus, hidup dan berkenan kepada Allah (Rm. 12:1). Tubuh kita yang material ini memang akan binasa pada saat kita dikubur, namun sebelum hal itu terjadi kita harus menggunakannya untuk melayani Tuhan. Hal ini berbeda dengan konsep berpikir jemaat Korintus. Mereka menganggap bahwa karena tubuh ini akan binasa maka sekarang ini kita tidak perlu menjaganya. Sebaliknya, Paulus menekankan bahwa karena dibinasakannya baru nanti maka sekarang harus dipakai untuk kebenaran.

Kedua, Tuhan adalah untuk tubuh (ay. 13c-14). Apa maksud dari ungkapan ini? Berdasarkan konteks yang ada, maka ungkapan ini pasti berhubungan dengan kebangkitan (ay. 14) dan penebusan (ay. 20). Kristus bukan hanya menebus roh atau jiwa kita, tetapi Dia juga menebus tubuh kita. Bahkan kebangkitan Kristus juga menjadi jaminan bahwa tubuh kita pun akan dibangkitkan di akhir jaman (15:20-23; bdk. Rm. 8:11; Kol. 1:18). Allah yang membangkitkan Tuhan Yesus juga akan membangkitkan tubuh kita kelak (6:14). Poin tentang kebangkitan tubuh ini selanjutnya akan dibahas Paulus secara panjang lebar (15:51-54) ketika dia menegur sebagian jemaat yang tidak mempercayai kebangkitan orang mati (15:12).

Ungkapan “Allah yang membangkitkan Tuhan...” di ayat 14 tidak boleh dipahami bahwa Kristus tidak berkuasa untuk membangkitkan diri-Nya sendiri. Alkitab kadangkala memang menyatakan bahwa subjek kebangkitan adalah Allah, tetapi Alkitab juga mengajarkan bahwa subjek tersebut adalah Roh Allah (Rm. 1:4; 8:11) atau Kristus sendiri (Yoh. 2:19, 21; 10:18). Jadi, kebangkitan adalah pekerjaan satu Allah, Allah Tritunggal.

Nah, jikalau Allah dan Kristus sangat menghargai tubuh kita – yang dibuktikan dengan penebusan dan jaminan kebangkitan – maka kita pun seharusnya menghormati tubuh kita. Kita harus menjaganya dari semua dosa, terutama dari dosa-dosa yang langsung bersentuhan dengan tubuh kita, misalnya percabulan dengan pelacur (bdk. 6:18 “orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri”). Orang Kristen yang masih terjebak pada percabulan adalah orang-orang yang tidak menghargai tubuhnya sebagaimana Tuhan menghargai hal itu. Kalau Tuhan sudah melakukan segala sesuatu untuk tubuh kita (6:13c), berlebihankah jika Ia menuntut kita memberikan tubuh kita untuk Dia (6:13b)? #




Sumber:
Mimbar GKRI Exodus, 11 Januari 2009
http://www.gkri-exodus.org/image-upload/1Korintus%2006%20ayat%2012-14.pdf