19 March 2010

ON TRUE LOVE-2: Kasih dan Perkataan (Pdt. Joshua Lie, Ph.D.--Cand.)

Bagian-2: Kasih dan Perkataan



“But speaking the truth in love, we are to grow up in all aspects into Him who is the head, even Christ,”
(Eph. 4:15)


Kasih dan perkataan tidak dapat dipisahkan. Sebagaimana kasih tampak dalam sikap dan tindakan, demikian pula kasih tampak ketika kita memperkatakan kebenaran. Kasih tidak akan tega untuk memperkatakan kebenaran tanpanya, dan tidak akan sanggup memperkatakan ketidakbenaran dengannya.

Kasih dan perkataan kebenaran berjalan seiring. Kenyatannya jelas tidak mudah apalagi di dalam dunia yang berdosa, namun itulah panggilan kita sebagai gereja yang bertumbuh kearah Kristus.

Bukankah kita yang sering kita temui adalah kasih justru lebih mudah berlangsung tanpa kebenaran? Bukankah lebih mudah kasih berwujud dengan memberikan kebebasan bagi setiap orang untuk mendapatkan apa yang diinginkan? Kasih bukankah lebih dekat dengan kebebasan untuk berbuat apa yang kita inginkan?

Perkataan kebenaran kesannya lebih kepada aturan, hukum dan komitmen. Bagaimana itu bisa sejalan dengan kasih?

Mari kita tengok satu masa dalam kehidupan bangsa Israel sebagaimana dinyatakan dalam Kitab Hakim-Hakim. Kitab ini ditutup dengan pernyataan “Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri.” (“In those days there was no king in Israel; everyone did what was right in his own eyes,” 21:25)

Kesimpulan ini pertama-tama menjelaskan pasal 21 tentang kelakuan suku Benyamin. Krisis besar menimpa keutuhan bangsa Israel. Kelakuan suku Benyamin mengakibatkan ancaman peperangan di antara mereka, bahkan hampir saja suku ini dibuang dari kesatuan bangsa Israel. Apa kelakuan suku Benyamin yang menimbulkan krisis besar bahkan memberikan kesimpulan pada ayat terakhir kitab ini?

Kelakuan suku Benyamin dinyatakan mulai pasal 19. Peristiwa yang keji dan menyedihkan terjadi di kota Gibea, daerah suku Benyamin (19:14). Penduduk kota itu dikatakan sebagai orang-orang dursila (19:22). Mereka bertindak tidak lagi seperti umat Allah seharusnya. Sebaliknya mereka bersikap dan bertindak seperti orang-orang kota Sodom. Mereka mengepung rumah yang dikunjungi seorang Lewi dengan gundiknya (19:1). Mereka bermaksud untuk merampas dan ‘memakai’ orang asing yang menumpang itu. Si pemilik rumah tidak mengijinkan penduduk kota itu berbuat jahat kepada tamunya. Ia menawarkan anak perempuannya untuk diperlakukan apa saja yang mereka pandang baik (19:24). Penduduk kota Gibea menolak. Akhirnya tamu itu menyerahkan gundiknya. Kemudian mereka memperkosa gundik itu sampai akhirnya mati menjelang pagi (19:28). Selanjutnya peristiwa ini disusul dengan kekejian yang menggetarkan seluruh Israel.

Peristiwa yang mengerikan itu menyisakan suatu gema perkataan, “Perbuatlah apa yang kamu pandang baik.” Inilah yang menghantar kita memahami kesimpulan kitab Hakim-Hakim.

Tuan rumah di Gibea yang dengan baik hati menampung tamunya bahkan rela mengorbankan anak gadisnya demi keselamatan tamu dan gundiknya itu.

Tuan rumah bersedia berkorban demi tamunya. Namun berhadapan dengan orang dursila di kota Gibea di daerah Benyamin, tidak tepat menyuarakan perkataan “perbuatlah apa yang kamu pandang baik.” Bahkan ketika kita mempertegas lagi, apakah ada manusia yang berhak menyuarakan perkataan itu sekalipun alasannya karena kasih?

Perkataan ini menggemakan suara yang sama dengan peristiwa yang mirip, yaitu peristiwa di kota Sodom. Lot, keponakan Abraham yang memilih tinggal di Sodom, kedatangan tamu di rumahnya. Penduduk kota menyerbu dan memaksa Lot untuk menyerahkan tamunya kepada mereka. Lot bersedia mengorbankan anak gadisnya demi keselamatan tamunya. Dan Lot berseru kepada orang-orang itu, “perbuatlah kepada mereka [anak gadisnya] seperti yang kamu pandang baik.” (Kej. 19:8). Suara ini berkumandang, di dengar oleh kedua anak gadisnya, namun dilecehkan oleh penduduk Sodom (Kej. 19:9).

Perkataan itu diucapkan dengan maksud melindungi dan menyelamatkan orang asing. Suatu perbuatan yang mulia. Namun apakah perkataan itu sesuai dengan maksud yang baik?

Dari rumah Lot, perkataan itu bergema. Akibat yang pertama tampak dari keberanian anak gadisnya untuk bersetubuh dengan ayahnya setelah mereka diselamatkan dari kehancuran kota Sodom dan Gomorah (Kej. 19:33).

Dari rumah di Gibea, perkataan itu bergema. Akibat kedua tampak dengan kekejaman penduduk Gibea yang membawa ancaman peperangan antara suku Benyamin dengan suku-suku Israel.

Kasih dan perkataan. Bagaimana perkataan yang sejalan dengan kasih yang sejati? Apakah kasih memperbolehkan kita berbuat apa saja yang kita pandang baik?

Perkataan itu disimpulkan diakhir kitab Hakim-Hakim. Ketika manusia tidak lagi mengindahkan kebenaran TUHAN, tunduk kepada kedaulatan-Nya, manusia berbuat apa saja yang dipandangnya baik, maka kasih menguap.

Puji Tuhan, kisah zaman Hakim-Hakim tidak berakhir disana. “Pada zaman para hakim memerintah ada kelaparan di tanah Israel. Lalu pergilah seorang dari Bethlehem-Yehuda beserta isterinya dan kedua anaknya laki-laki ke daerah Moab untuk menetap di sana sebagi orang asing.” (Rut 1:1)

Pada zaman para hakim, zaman yang menggemakan suara Lot, ada seorang perempuan tua yang kehilangan suami dan kedua anak laki-laki di tanah asing, di tanah Moab. Tanah Israel, tanah kelahirannya sedang dilanda kelaparan. Kekeringan menandai tanah Israel sekaligus menandai kekeringan rohani mereka. Perempuan tua itu adalah Naomi. “Sebutkanlah aku Mara,” katanya ketika ia kembali ke tanahnya di Israel. Mara adalah kepahitan. Kepahitan kehilangan orang-orang yang dikasihinya. Tiada kata lain yang dapat ia ucapkan kecuali Mara.

Kata-kata Naomi mengungkapkan kepahitannya. Kasih seolah-olah lenyap. Ia kembali. Apakah berakhir kisah yang menyedihkan ini sehingga menambah ‘kegelapan’ zaman para hakim? Tidak!

Naomi ketika ia kembali ke Bethlehem, ia tiba “pada permulaan musim menuai jelai.” (1:22). Suatu permulaan yang baik. Masih ada kasih karunia TUHAN baginya. Bukan itu saja, Naomi tidak kembali seorang diri. Salah seorang menantunya, Rut, seorang perempuan keturunan Moab turut bersamanya. Apa kepentingan peristiwa ini?

Rut tidak sekadar menyatakan kesetiaan dengan tindakannya mengikut mertuanya. Namun terlebih lagi ia memulai tindakannya dengan perkataannya,“Tetapi kata Rut: “Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!” (1:16-17)
Suara Rut seumpama cahaya lilin dalam kegelapan. Suara seorang perempuan Moab, keturunan Lot dan anak perempuannya. Suara yang membalikkan gema suara Lot. Suara yang mengungkapkan kasih yang sejati, kasih di dalam perjanjian (covenant). Kalimat Rut yang diucapkannya kepada Naomi adalah ucapan perjanjian. Ia bersedia bersama (be-with) dengan mertuanya dalam tanah yang dipijaknya, dalam iman kepada Allah yang sejati, dan tetap bersama sampai akhir perjalanan hidupnya. Kasih yang sejati adalah kasih yang dinyatakan dalam kedatangan Yesus Kristus, Imanuel, Allah beserta kita. Ia berkenan beserta dengan kita!

Kasih tidak mudah hanya diukur dengan kata-kata yang manis. Kasih tidak semata-mata sama dengan kata-kata yang memperbolehkan segala sesuatu. Kasih adalah perkataan kebenaran yang bersedia dinyatakan dengan kerelaan bertumbuh bersama dalam kasih Kristus. Kasih yang rela tunduk dalam kebenaran Tuhan.

Nyatakanlah kasih itu dalam kebersamaan baik dalam kehidupan keluarga, gereja maupun di dunia ini.




Sumber:
http://www.wkristenonline.org/index.php?option=com_content&view=article&id=27:kasih-dan-perkataan&catid=25:on-true-love&Itemid=39

ON TRUE LOVE-1: Kasih dan "Utang" (Pdt. Joshua Lie, Ph.D.--Cand.)

ON TRUE LOVE
Bagian-1: Kasih dan “Utang”

oleh: Pdt. Joshua Lie, M.Phil., Ph.D. (Cand.)



Nats: Matius 18:23-35



Kasih merupakan tema sepanjang kehidupan manusia. Kasih tidak akan luntur menjadi kebajikan yang patut dimiliki oleh manusia. Tanpa kasih tidak akan ada perjalanan kehidupan itu sendiri.

Namun tidak berlebihan jika kita mengatakan bahwa “kasih” sering kali membawa malapetaka. Dengan alasan kasih, seorang pemuda merasa layak membawa anak gadis di bawah umur untuk dinikahinya. Dengan alasan kasih, kita membiarkan keteledoran terjadi. Karena kasih kita bahkan membuat sesama kita menderita.

Bagaimana kita sepatutnya memahami dan mengalami kasih itu? Kasih merupakan berita utama Alkitab. Allah adalah kasih, demikian penegasan rasul Yohanes. Kasih sejati tidak akan pudar. Kini panggilan kita sebagai orang percaya, menunjukkan kasih sejati itu dalam kehidupan kita.

Augustinus, Bapa Gereja yang hidup pada abad ke-4 dalam bukunya “Confession” mengungkapkan kalimat pertanyaan tentang kasih kepada Allah “What I do love when I love God?” Kasih kepada Allah bukanlah suatu yang dapat kita pahami tanpa urusan lainnya. Untuk itu dalam ketiga pembahasan tentang kasih, kita merangkaikannya dengan soal lain sebagaimana dinyatakan oleh Alkitab.

Tema pertama dalam seri ini adalah kaitan antara kasih dan “utang” (Love and Debt). Alkitab menyatakan kasih bukan suatu yang berdiri sendiri. Kasih tersebar dalam seluruh pengajaran dan kehidupan Tuhan Yesus. Kasih tidak hanya muncul ketika ia disebut. Kasih hadir dalam bentuk yang nyata. Mari kita memahaminya dalam perumpanaan yang disampaikan Tuhan Yesus dalam Matius 18:23-35.

Perumpamaan ini mengungkapkan kenyataan hidup manusia dalam soal utang. Utang merupakan bagian kehidupan manusia. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang tanpa “utang” sama sekali. Kehidupan tanpa utang hanyalah karena kita melupakan, mengabaikan atau tidak pernah kita memperhitungkannya.

Seorang penulis tentang keindahan alam Kanada, Ernst T. Seton mengalami suatu kejadian mengejutkan saat memperingati ulang tahunnya yang ke-21. Ayahnya memberikan kepadanya suatu bundel berkas kepadanya. Berkas-berkas itu adalah semua pengeluaran ayahnya bagi Ernst sejak masa kecilnya. Di dalamnya tersimpan bon-bon rumah sakit sejak Ernst dilahirkan. Kita mungkin jengkel menyaksikan sikap seorang ayah seperti itu kepada anaknya. Namun peristiwa ini mengingatkan kita tidak ada orang yang lahir dan hidup di dunia ini tanpa utang sama sekali!

Alkitab bahkan menegaskan dalam doa Bapa kami sebagaimana diajarkan oleh Tuhan Yesus soal utang. John Wycliffe menggunakan kata “utang” dalam menerjemahkan doa Bapa kami pada tahun 1381. “Forgive us our debts as we forgive our debtors.” Terjemahan ini mengingatkan kita akan kata Aramik yang sama digunakan untuk utang dan dosa.

Adakah kita yang tidak berhutang? Kita dilahirkan dengan keberadaan dosa sebagai warisan. Kita dibesarkan dalam dunia yang berdosa. Utang dan dosa melekat dalam kehidupan kita.
Inilah kisah utang kita:



BABAK PERTAMA
18:23 “Seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya”
Utang suatu hari akan diperhitungkan. Entah itu utang pribadi, keluarga maupun masyarakat. Pada sistim yang mengabaikan kejujuran dan keadilan, suatu saat ketika tiba masa krisis, sistim itu akan diperhitungkan utang-hutangnya. Sistim itu akan rusak dan merusak kehidupan. Seorang anak yang tidak mau belajar jalan, ketika ia beranjak remaja ia akan diperhitungkan hutangnya, yaitu kemalasannya belajar berjalan membuatnya lumpuh. Seorang pelajar dalam kemalasannya tidak mempersiapkan diri untuk ujian, akan diperhitungkan hutangnya dalam kegagalannya.
18:24 “Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta (100 juta dinar).”
Ada utang yang mudah kita bayarkan kalau kita mempunyai pekerjaan yang baik. Ada pula utang lebih sulit dibayarkan kalau itu berkenaan dengan budi. Namun semua kita berada dalam keadaan tidak sanggup membayar utang dosa yang melilit kehidupan kita. Gambaran 100 juta dinar adalah gambaran ketidak berdayaan. Ada kisah seorang mempunyai utang 100 ribu dolar dengan kartu kreditnya padahal ia hanya mempunyai income 55 ribu dolar setahunnya. Ini saja sudah menjadikannya tidak berdaya apalagi dengan nilai 100 juta dinar.18:25 “Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak istrinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya.”
Maka kisah ini berlangsung kepada konsekuensinya. Utang harus dibayar. Kalau tidak sanggup maka ia akan berserta keluarganya akan menjadi budak selama-lamanya. Bagaimana seharusnya kisah ini berlanjut?

Tamatlah kehidupan hamba itu. Utang membawa maut dan kehancuran. Kisahnya telah berakhir. Namun tidaklah demikian! Mari kita lanjutkan.

18:26 “Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan.”
Hamba itu masih berusaha. Ia menyembah. Ia minta waktu dan kesempatan untuk membayar hutangnya. Ia berusaha mengulur waktu meskipun tanpa harapan. Kalaupun ia diberi kesempatan hidup seratus tahun lagi, ia tetap tidak akan sanggup melunaskan hutangnya.


18:27 “Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya”
Surprise! Mengejutkan! Inilah ciri penting perumpamaan Tuhan Yesus! Amazing! Raja itu tergerak hatinya oleh belas kasihan. Hatinya bergetar oleh kemurahan. Hatinya bergejolak oleh kebaikan. Ia menghapuskan utang hamba itu! Inilah gambaran penting akan kasih Tuhan kita Yesus Kristus! Kasih bukan suatu yang abstrak. Kasih membereskan utang! Kasih tidak memperhitungkan utang sebagai hukuman dan perhambaan, tetapi memperhitungkan utang dengan kelunasannya!

Kasih Tuhan adalah kasih yang membebaskan. Kita menerimanya oleh Roh Kudus yang mencurahkan kasih itu (Rm. 5:5). Kasih tanpa pengampunan akan utang-utang kita, bukanlah kasih sejati. Kasih memperhitungkan utang, namun sekaligus kasih berkuasa melunaskannya.Bagaimana dengan kasih kita kepada sesama?




BABAK KEDUA
18:28a “Hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya.”
Hamba ini mempunyai kedudukan yang luar biasa. Sebagai penghutang sekaligus pemberi utang. Inilah gambaran hidup kita, manusia berdosa. Kita berhutang kebenaran, keadilan, kesetiaan, kesucian, kebajikan kepada Tuhan. Namun saat yang sama kita merasa orang lain berhutang yang sama kepada kita!

Bagaimana sikap kita kalau sudah dihapuskan utang kita? Bersyukur, bersorak lalu berbagi kasih itu dengan menghapuskan utang sesama kepada kita. Sayangnya tidak demikian! Perumpamaan ini mengagetkan kita dengan kejutan kedua.
18:28b: “Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu!”
Mengejutkan! Dengan geram, ia bertindak kejam kepada kawannya itu. Ia lebih kejam dari raja yang kepadanya ia berhutang 100 juta dinar. Kawannya berhutang kepadanya 100 dinar. Ah, utang tidak lagi peduli besar kecilnya. Kemarahan bisa terjadi hanya karena uang sedikit. Kita tertegun dengan perbuatan hamba yang pertama ini.

Inilah kejutan manusia yang berdosa. Dunia yang berdosa sanggup pula memberikan kejutan (surprise) dalam kehidupan kita. Namun kejutan itu menjatuhkan kita. Kejutan itu mencengkram hidup kita. Menggoncangkan keadilan dan kebenaran. Ia menyukakan kita seketika namun menjerat kehidupan kita.
18:29 “Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan”
Hamba itu seharusnya ketika mendengar mendengar suara kawannya, mendengar kembali gema suaranya sendiri kepada raja. Ingatan menjadi pendek ketika kasih hambar. Ingatan yang punah membuat telinga kita tertutup akan gema suara kita sendiri.


18:30 “Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya”
Inilah kasih kita kepada sesama. Kasih yang tidak menghapuskan utang. Dari utang menjadi kebencian, dan penjara. Dari dosa kepada dosa. Inilah kejutan manusia berdosa.

Bagaimana kasih kita setelah kita menerima kasih ajaib dari Golgota? Adakah kita yang menyerukan kasih, memiliki kasih yang dari Roh Kudus. Kasih yang menghapuskan utang sehingga kita bisa terus bertumbuh dan menghasilkan buah yang berkenan kepada-Nya?



BABAK KETIGA
Matius 18:31-34
Sikap hamba itu tidak dapat diterima oleh kawan-kawannya. Demikian pula ketika raja sekaligus tuan dari hamba itu mendengar kelakuan hamba itu, menjadi marah dan menarik pengampunan dan pelunasan utang hamba itu. Kisah ini berakhir tragis. Pelunasan utang dibatalkan!
Perumpamaan ini diakhir dengan surprise utama, yaitu “Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.” (18:35)
Suatu kejutan yang dahsyat. Bagaimana mungkin Bapa di sorga tidak bermurah hati mengampuni dan melunaskan segala utang kita.

Inilah kasih yang melunaskan! Kasih Bapa adalah kasih yang melunaskan. Kasih yang kita terima di dalam Tuhan Yesus Kristus adalah kasih yang memungkinkan kita juga melunaskan “utang” orang lain kepada kita!
“Owe no one anything except to love one another, for he who loves another has fulfilled the law” (Rm.ns 13:8)




Sumber:
http://www.wkristenonline.org/index.php?option=com_content&view=article&id=26:kasih-dan-hutang&catid=25:on-true-love&Itemid=39

Eksposisi 1 Korintus 4:8-9 (Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.)

EKSPOSISI 1 KORINTUS 4:8-9

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.



Nats: 1 Korintus 4:8-9



Dalam bagian ini Paulus memberikan respons yang sedikit berbeda dengan di bagian sebelumnya. Di ayat 1-5 dia menjelaskan posisi para rasul sebagai pelayan Tuhan yang akan dihakimi Tuhan di akhir zaman (karena itu jemaat Korintus tidak berhak menghakimi para rasul); di ayat 6-7 dia memaparkan bahwa segala sesuatu yang dimiliki oleh jemaat Korintus adalah anugerah Allah (karena itu jemaat Korintus tidak boleh memegahkan diri seolah-olah tidak pernah menerima itu); di ayat 8-9 dia mengarahkan pembahasan pada kesombongan jemaat Korintus (ay. 8) dan kerendahan para rasul (ay. 9).
Kesombongan jemaat Korintus (ay. 8)
Walaupun para penafsir sudah sepakat bahwa ucapan Paulus di ayat ini adaah sebuah ironi (sindiran), namun mereka masih berdebat tentang penyebab atau jenis kesombongan jemaat Korintus. Sebagian menganggap bahwa kesombongan ini dipicu oleh konsep eskhatologis (akhir zaman) yang salah. Menurut mereka, jemaat Korintus memiliki konsep bahwa akhir zaman sudah terjadi pada zaman mereka dan mereka sudah memerintah dalam kerajaan mesianis, karena itu mereka bertindak seolah-sebagai raja. Sebagian penafsir yang lain meyakini bahwa kesombongan jemaat Korintus tetap berkaitan dengan konsep hikmat duniawi yang salah.

Di antara dua dugaan di atas, yang terakhir tampaknya lebih dapat diterima. Disharmoni antara Paulus dan jemaat Korintus di pasal 4 masih terkait dengan pasal 1-3, sehingga sangat beralasan jika kita menafsirkan kesombongan jemaat Korintus dalam terang pasal 1-3. Dalam konteks sosial waktu itu, ungkapan “kenyang”, “kaya” maupun “raja” sering dipakai untuk menggambarkan kesombongan. Secara khusus dalam konteks filsafat Stoa waktu itu, orang yang berhikmat dianggap sebagai raja. Di samping itu, jawaban Paulus di 4:9-13 yang lebih banyak menjelaskan kerendahan para rasul sebagai konsekuensi dari hidup menurut salib sangat kontras dengan kesombongan jemaat Korintus yang didasarkan pada hikmat. Dengan kata lain, ayat 8 menggambarkan kehidupan berdasarkan hikmat dunia, sedangkan ayat 9-13 berdasarkan hikmat salib.

Ungkapan pertama yang dipakai Paulus adalah “kamu telah menjadi kenyang” (ay. 8a). Dalam teks asli, kata “telah” diletakkan paling depan sebagai bentuk penekanan (ASV/RSV/NRSV/NIV mengikuti susunan kalimat Yunani yang ada dengan cara meletakkan kata “already” di awal kalimat). Kata “kenyang” (korennumi) secara hurufiah berarti “memiliki semua yang diinginkan” (NIV/NRSV “already you have all you want”). Karena yang didinginkan seringkali dalam konteks makanan (bdk. Kis. 27:38), maka ungkapan ini diartikan “kenyang.” Bukan sekadar kenyang, tetapi sangat keyang.

Ketika Paulus mengatakan bahwa jemaat Korintus telah kenyang, dia sebenarnya sedang menegur mereka melalui ironi. Mereka memang dalam arti tertentu telah kenyang, karena mereka telah minum dari Roh yang memberi mereka berbagai karunia (12:13). Di sisi lain mereka sebenarnya tidak benar-benar kenyang! Mereka hanya mengkonsumsi susu, karena mereka belum siap menerima makanan keras (3:2).

Ungkapan kedua adalah “kamu telah menjadi kaya” (ay. 8b). Sama seperti sebelumnya, kata “telah” juga diletakkan di depan sebagai penekanan. Dalam arti tertentu jemaat Korintus memang kaya secara rohani. Mereka memiliki banyak karunia rohani (1:5; ps. 12). Bagaimanapun, mereka sebenarnya tidak kaya, karena semua pemberian itu adalah kasih karunia Allah (1:4) yang diberikan di dalam Yesus (1:5). Hanya di dalam Yesuslah mereka mendapatkan itu, sehingga ketika mereka mulai berpaut pada hikmat dunia tetapi masih merasa diri kaya, hal ini merupakan sebuah ironi.

Ungkapan terakhir adalah “kamu telah menjadi raja” (ay. 8c). Secara hurufiah “menjadi raja” (basileuo) dapat diterjemahkan “telah memerintah” (ASV “ye have come to reign”). Ungkapan “kaya” dengan tepat melukiskan kesombongan jemaat Korintus dalam berbagai sisi. Sama seperti seorang raja yang memiliki kedudukan tertinggi, mereka juga menganggap diri lebih daripada Paulus. Sama seperti seorang raja yang memiliki kebebasan untuk melakukan apapun (Kaisar Caligula, “aku bebas melakkan apapun kepada siapapun”), demikian pula jemaat Korintus memiliki semboyan “segala sesuatu halal bagiku [6:12; 10:23; lit. “aku memiliki kebebasan dalam segala sesuatu”]. Sama seperti orang berhikmat waktu itu yang seringkali disamakan dengan raja, jemaat Korintus pun merasa diri berhikmat dan layak untuk menganggap diri sebagai raja.

Gambaran tentang kesombongan jemaat Korintus di atas ternyata masih belum cukup. Mereka bukan hanya menganggap diri hebat, tetapi mereka juga merasa bahwa “kehebatan” tersebut mereka miliki tanpa bantuan para rasul. Kepada mereka Paulus menyindir “tanpa kami [choris hemon] kamu telah menjadi raja.” Dalam teks asli frase “tanpa kami” diletakkan di depan sebagai penekanan. Walaupun LAI:TB memilih susunan kalimat yang sama, namun penekanan ini tetap tidak terlihat dengan jelas. Sebaliknya, NIV yang meletakkan frase “tanpa kami” di akhir kalimat justru berhasil mengekspresikan penekanan yang ada (“you have become kings --- and that without us!”).

Para penafsir meyakini bahwa frase tersebut bukan sekadar menunjukkan bahwa jemaat Korintus telah melupakan jasa Paulus, tetapi mereka juga tidak mau menyertakan Paulus dalam pemerintahan mereka. Maksudnya, dalam budaya kuno seorang yang menjadi raja biasanya akan memberikan posisi atau jabatan tertentu kepada para pendukungnya, sehingga dengan demikian mereka turut memerintah bersama dia. Jemaat Korintus telah menganggap diri sebagai raja, tetapi mereka tidak mau memberi posisi yang tinggi kepada Paulus yang sudah berjasa dala pertumbuhan rohani mereka. Karena itulah Paulus di bagian akhir ayat 8 menyindir, “ah, alangkah baiknya jika benar demikian....sehingga kamipun turut menjadi raja dengan kamu.”


Kerendahan Para Rasul (ay. 9)
Berbeda dengan sikap jemaat Korintus yang menyombongkan diri (ay. 8), Paulus justru menampilkan kerendahan para rasul (ay. 9). Semua ini dilakukan Paulus mencapai dua tujuan sekaligs. Yang pertama, dia ingin menyindir kesombongan jemaat dan menunjukkan bahwa kesombongan itu adalah sesuatu yang tidak logis. Kalau jemaat Korintus bisa menjadi seperti sekarang karena jasa para rasul dan para rasul sendiri adalah orang-orang yang rendah, maka tidak ada alasan bagi jemaat untuk sombong. “Kehebatan” mereka tidak lain adalah hasil pekerjaan para rasul yang “sangat rendah.” Dengan kata lain, jemaat Korintus telah melupakan darimana, oleh siapa dan bagaimana keadaan mereka dahulu. Jika mereka memahami hal ini tentu mereka tidak akan memegahkan diri.

Tujuan kedua yang ingin dicapai Paulus adalah memberikan teladan tentang hidup yang berdasarkan hikmat salib. Sebelumnya Paulus sudah menjelaskan cara kerja Allah yang sangat kontras dengan dunia, yaitu Allah memakai orang-orang yang rendah menurut dunia ini supaya mereka tidak sombong dan sekaligus supaya orang-orang yang tinggi menurut ukuran dunia ini direndahkan (1:25-29). Dengan menekankan kerendahan dan kelemahan para rasul, Paulus sekai lagi mengingatkan jemaat Korintus bahwa Allah tetap berkenan memakai orang-orang yang rendah menurut dunia ini. Ini adalah hidup berdasarkan salib: salib dianggap kebodohan, tetapi itu justru adalah hikmat Allah; salib dianggap sebagai batu sandungan, tetapi itu justru merupakan kekuatan Allah (1:23-24).

Lebih jauh, keteladan hidup yang ditampilkan Paulus di ayat 9 sesuai dengan teladan yang sudah diberikan Yesus Kristus sendiri. Kristus mau berkorban demi orang lain. Dia yang kaya telah menjadi miskin supaya kita menjadi kaya (2Kor. 8:9). Demikian pula dengan Paulus. Dia mengambarkan para rasul dalam pelayanan “sebagai orang yang miskin namun telah memperkaya banyak orang” (2Kor. 6:10). Semua kerendahan dan penghinaan yang diterima para rasul ini dipakai Allah untuk membuat orang-orang lain dimuliakan di dalam Kristus. Jemaat Korintus seharusnya menyadari hal ini, sehingga tidak memegahkan diri lagi. Sebaliknya, mereka harus belajar merendahkan diri demi kepentingan orang lain.

Sekalipun keadaan para rasul sangat rendah menurut ukuran dunia, namun Paulus tidak mengeluhkan hal itu. Dia bahkan meyakini bahwa Allah yang telah menentukan hal itu bagi mereka (ay. 9). Allah berdaulat secara mutlak untuk mengatur jalan hidup setiap orang, termasuk para rasul. Paulus sendiri dari awal pertobatan dan pelayanannya sudah mengetahui bahwa pelayanannya akan diwarnai dengan penderitaan yang begitu banyak, seperti yang dikatakan Tuhan kepada Ananias yang dipaki untuk menyembuhkan Paulus, “Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku” (Kis. 9:16).

Bagaimana cara Paulus menggambarkan kerendahan para rasul? Di ayat 9b para rasul diberi tempat yang paling rendah. Dalam teks asli kata “tempat yang paling rendah” secara hurufiah berarti “yang paling akhir” (ASV/NASB/RSV/NRSV “last of all”; KJV “last”). Jika dilihat dari konteks yang ada, Paulus tampaknya sedang merujuk pada momen kekalahan dalam sebuah peperangan. Ketika suatu bangsa kalah, maka pemimpin dan penduduknya yang masih hidup akan diangkut sebagai tawanan dalam sebuah iring-iringan yang sangat panjang. Di akhir dari rombongan ini biasanya diletakkan para tawanan yang nanti akan dihukum mati dengan cara diadu dengan para algojo atau binatang buas di arena serta menjadi tontonan bagi banyak orang. Gambaran ini cocok dengan beberapa petunjuk yang ada di dalam teks, misalnya “yang paling akhir”, “telah dijatuhi hukuman mati” dan “menjadi tontonan.” Penerjemah NIV dengan tepat mengartikan “yang paling akhir” sebagai “di bagian akhir sebuah prosesi.”

Penyebutan “malaikat-malaikat” sebagai penonton mungkin dimaksudkan Paulus untuk memberi gambaran tentang sebuah peperangan rohani yang bersifat kosmik (berhubungan dengan seluruh ciptaan). Apa yang dialami para rasul adalah dalam konteks peperangan ini. Bagi Paulus, posisi terkahir dalam peperangan bukanlah kekalahan. Dunia mungkin akan memandang seperti itu, tetapi dari perspektif Allah para rasul justru “selalu berada di jalan kemenangan-Nya” (2Kor. 2:14).




Sumber:
Mimbar GKRI Exodus, 24 Agustus 2008

Resensi Buku-94: PEMULIHAN CIPTAAN (Prof. Albert M. Wolters, Ph.D.)

...Dapatkan segera...
Buku
PEMULIHAN CIPTAAN
(Creation Regained)


oleh: Prof. Albert M. Wolters, Ph.D.

Penerbit: Momentum Christian Literature, 2009

Penerjemah: Pdt. Dr. Ichwei Gusti Indra





Deskripsi singkat dari Denny Teguh Sutandio:
Secara sadar maupun tidak sadar, setiap manusia memiliki cara pandang terhadap sesuatu hal. Cara pandang itu bisa beraneka ragam. Ada yang berpusat kepada Allah dan ada yang berpusat kepada manusia. Perbedaan di antara keduanya bertolak belakang. Jika cara pandang yang berpusat kepada manusia memusatkan segala sesuatunya pada diri manusia dan kehebatannya, maka cara pandang yang berpusat kepada Allah memusatkan segala sesuatu pada kedaulatan Allah. Lalu, sebagai orang Kristen, mana yang harus kita pilih? Dengan bahasa yang mudah dimengerti dan analisis yang cukup tajam, Prof. Albert M. Wolters, Ph.D. membawa kita ke dalam pengertian menyeluruh tentang cara pandang Kristen yang berpusat pada Allah. Cara pandang ini adalah cara pandang reformasional yang didasarkan pada theologi Reformed yang percaya pada kedaulatan Allah. Pada bab awal dalam buku ini, Dr. Wolters menjelaskan terlebih dahulu apa itu wawasan dunia. Kemudian, 3 bab selanjutnya, beliau membawa kita untuk melihat segala sesuatu pada tiga tingkatan: Penciptaan, Kejatuhan (Dosa), dan Penebusan. Dr. Wolters menyebut tingkatan pertama sebagai struktur ciptaan dan tingkatan kedua dan ketiga sebagai arah ciptaan. Tiga bab penjelasan ini diaplikasikan di dalam kehidupan sehari-hari yaitu: reformasi/pembaruan sosial. Pembaruan sosial berarti wawasan dunia reformasional ini memperbaharui tatatan sosial yang kacau akibat dosa. Pembaruan pribadi berarti aspek-aspek pribadi diperbarui, misalnya menyangkut: agresi, karunia-karunia Roh, seksualitas, dan tari-tarian. Di dalam buku yang baru dicetak ulang pada tahun 2005 (edisi aslinya), diselipkan catatan tambahan yang berjudul Wawasan Dunia Antara Kisah dan Misi yang ditulis oleh Prof. Michael W. Goheen, Ph.D. dan Dr. Albert M. Wolters sebagai suatu penjelasan bahwa wawasan dunia bukan hanya sekadar segudang teori abstrak, namun juga sebagai panggilan misi untuk memberitakan Firman Tuhan di tengah zaman yang rusak dan kacau ini. Biarlah buku ini menjadi berkat dan mencerahkan hati dan pikiran kita tentang pentingnya memiliki cara pandang Kristen yang berpusat kepada Allah di dalam melihat segala sesuatu, sehingga kita tidak mudah ditipu dan diterpa oleh arus krisis zaman.




Rekomendasi:
“Pernyataan terbaik yang saya ketahui tentang wawasan dunia Kristen ‘reformasional.’ Ditulis dengan jelas, menggunakan berbagai analogi dan ilustrasi yang membantu pemahaman dan dengan nada yang bersahabat.”
Prof. Nicholas Wolterstorff, Ph.D.
(Professor of Church History and the History of Christian Thought dan Direktur dari the Carl F. H. Henry Center for Theological Understanding di Trinity Evangelical Divinity School; Bachelor of Arts—B.A. dalam bidang Sejarah dari Wheaton College, U.S.A.; Master of Arts—M.A. dalam bidang the History of Christian Thought dari Trinity Evangelical Divinity School; Master of Arts in Religion—M.A.R. dan Doctor of Philosophy—Ph.D. dari Vanderbilt University)

“Menerjemahkan pemahaman-pemahaman dan kategori-kategori inti tradisi neo-Calvinis ke dalam bahasa yang segar dan nonteknis, dan menjelaskannya dengan ilustrasi dan gambaran yang membantu…. Sangat direkomendasikan bagi semua orang yang menginginkan pengantar yang renyah pada wawasan dunia Kristen secara umum, atau tradisi neo-Calvinis secara khusus.”
Christian Scholar’s Review

“Istimewa…. Layak mendapatkan pembacaan yang luas bukan hanya dalam konteks akademis di antara pengajar, pengkhotbah, dan mahasiswa, tetapi juga di antara kelompok orang-orang percaya yang lebih luas, yang tertarik dengan isu-isu seputar wawasan dunia, theologi, dan filsafat Kristen.”
Calvin Theological Journal






Profil Dr. Albert M. Wolters:
Prof. Albert M. Wolters, Ph.D. yang lahir di Belanda tahun 1942 adalah Profesor Agama dan Theologi, dan Studi Naskah Kuno di
Redeemer University College, Ancaster, Ontario, Kanada. Beliau menyelesaikan studi Bachelor of Arts (B.A.) di Calvin College, U.S.A. dan Doctor of Philosophy (Ph.D.) di Free University, Amsterdam, Belanda. Beliau pernah menjadi Anggota Senior dalam bidang Sejarah Filsafat di the Institute for Christian Studies, Toronto, Kanada.

Prof. Michael W. Goheen, Ph.D. adalah Profesor dalam bidang Worldview dan Religious Studies di Trinity Western University, U.S.A. Beliau menyelesaikan studi B.A. di Florida Atlantic University, Boca Raton, Florida, U.S.A.; Master of Arts (M.A.) di Westminster Theological Seminary, Philadelphia, U.S.A.; dan Ph.D. di University of Utrecht, Belanda.

11 March 2010

Resensi Buku-93: GERAKAN NAMA SUCI: Nama Allah yang Dipermasalahkan (Ir. Herlianto, M.Th.)

...Dapatkan segera...
Buku:
GERAKAN NAMA SUCI:
Nama ALLAH yang Dipermasalahkan


oleh: Ir. Herlianto, M.Th.

Penerbit: BPK Gunung Mulia, 2009





Penjelasan singkat dari Denny Teguh Sutandio:
Sensasi adalah salah satu hal yang digemari oleh banyak manusia berdosa. Karena diciptakan oleh Allah dengan kreativitas, maka manusia berdosa cenderung menyalahgunakan kreativitas tersebut untuk tujuan-tujuan tidak beres. Sejarah membuktikan bahwa di setiap zaman, manusia suka mencari dan menimbulkan sensasi. Nah, sensasi yang hangat baru-baru ini adalah sensasi pemuja nama YHWH. YHWH-isme ini menurut Ir. Herlianto, M.Th. berasal dari suatu gerakan di Amerika Serikat pada tahun 1930-an yang bernama Sacred Name Movement (Gerakan Nama Suci) yang dipengaruhi oleh paham Hebraic Roots Movement yang menekankan kembali ke akar Yudaik. Mereka mempermasalahkan bahkan memejahijaukan LAI karena memuat kata Allah. Di Malaysia, hal serupa terjadi, namun dilakukan oleh orang non-Kristen. Mengapa nama Allah dipermasalahkan? Mengapa harus mengganti nama Allah dengan YHWH? Kesemuanya itu dijawab dengan penjelasan yang teliti secara historis dari Ir. Herlianto, M.Th. Biarlah buku ini membuka cakrawala berpikir kita tentang gerakan YHWH-isme dan kelemahannya.





Profil Ir. Herlianto, M.Th.:
Ir. Herlianto, M.Th. adalah Pemimpin Umum Yayasan Bina Awam (YABINA), Bandung (situs: http://www.yabina.org) dan dosen dalam bidang Sosiologi dan Aliran Kontemporer di Sekolah Tinggi Theologi Bandung. Beliau adalah seorang insinyur lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 1968 lalu memperdalam ilmu dalam bidang Pembangunan Perkotaan dan memperoleh diploma International Course on Housing, Planning and Building di Boueweentrum International Education, Rotterdam pada tahun 1979 serta mengikuti Urban Studies Course pada Princeton University di USA pada tahun 1982. Beliau belajar theologi di Institut Injil Indonesia, Batu pada tahun 1972, lalu dilanjutkan ke Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang dan pada tahun 1976 memperoleh gelar Bachelor of Theology (Th.B.) Pada tahun 1982, beliau menyelesaikan studi Master of Theology (M.Th.) di Princeton Theological Seminary, USA dengan spesialisasi masalah kemasyarakatan dan perbandingan agama. Beliau dapat dihubungi melalui e-mail: herlianto@yabina.org.

Eksposisi 1 Korintus 4:6-7 (Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.)

EKSPOSISI 1 KORINTUS 4:6-7

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.



Nats: 1 Korintus 4:6-7



Penerjemah LAI:TB menganggap bagian ini sebagai sebuah perikop yang baru. Pemisahan ini memberi kesan bahwa apa yang disampaikan di 4:1-5 tidak terlalu berkaitan dengan 4:6-21. Jika kita selidiki secara teliti, maka kita akan mendapati bahwa dua bagian tersebut sama-sama membahas tentang perselisihan antara Paulus dan jemaat Korintus. Kalau di 4:1-5 Paulus sekedar menjelaskan bagaimana jemaat Korintus seharusnya memandang para rasul sebagai para pelayan Tuhan yang tidak boleh dihakimi kecuali oleh Tuhan sendiri, di 4:6-21 ia secara lebih terbuka memberikan teguran kepada mereka. Secara khusus di 4:6-7 Paulus menegur kesombongan jemaat Korintus.

Alur berpikir Paulus di 4:6-7 dapat digambarkan sebagai berikut:
Paulus menerapkan apa yang dia ajarkan (ay. 6a)
Tujuan dari teladan ini (ay. 6b-c)
Supaya jemaat belajar untuk tidak melampaui apa yang tertulis (ay. 6b)
Supaya jemaat tidak menyombongkan diri (ay. 6c)
Alasan bagi tujuan: semua karena anugerah Tuhan (ay. 7)


Paulus Menerapkan Apa yang Dia Ajarkan (ay. 6a)
Sapaan “saudara-saudara” (adelphoi) di ayat 6a memberi petunjuk bahwa bagian ini adalah pokok pikiran yang baru (1:10, 26; 2:1; 3:1), sekalipun masih sangat terkait dengan isu utama di pasal 4. Selain itu, kata sambung “sekarang” (de, ASV/NASB/NIV) turut mempertegas petunjuk ini (kontra KJV “dan” maupun RSV/LAI:TB yang tidak menerjemahkan kata ini). Apa yang disampaikan di 4:6-7 juga memperjelas bahwa Paulus sedang memaparkan suatu pokok pikiran yang baru.

Kata Yunani tauta (LAI:TB “kata-kata ini”) secara hurufiah berarti “hal-hal ini”. Mayoritas versi bahasa Inggris menerjemahkan tauta secara hurufiah (“these things, KJV/ASV/NASB/NIV) atau “semua hal ini” (“all this”, RSV). Terjemahan LAI:TB “kata-kata ini” bisa menimbulkan kesan bahwa tauta hanya merujuk pada pernyataan Paulus di 4:1-5. Para penafsir umumnya meyakini bahwa tauta merujuk pada semua gambaran/metafora yang telah diberikan Paulus sebelumnya, mulai pasal 3:5 sampai 4:5. Pandangan ini dapat dibenarkan berdasarkan arti kata “mengenakan” (skematizo, lih. pembahasan selanjutnya) maupun pemunculan nama Paulus dan Apolos (bdk. 3:5-9; 4:1-5 “kami”).

Kata kerja “mengenakan” (metaskematizo) beberapa kali dipakai oleh Paulus dalam arti “mengubah bentuk luar dari sesuatu, tetapi sesuatu itu tetap tidak berubah”. Kata ini dipakai untuk iblis maupun para rasul palsu yang pandai menyamar (2Kor. 11:13-15). Kata ini juga digunakan dalam konteks perubahan tubuh menjadi tubuh kemuliaan (Flp. 3:21). Dari arti umum ini dan sesuai konteks 1 Korintus 3-4 kita dapat mengetahui bahwa arti kata skematizo di 4:6 adalah “mengubah prinsip yang diajarkan dalam metafora menjadi sebuah kehidupan nyata” (ASV/KJV “I have in a figure transferred”; NASB “I have figuratively applied”). Secara sederhana, skematizo dapat dipahami dalam arti “mengaplikasikan” (RSV/NIV).

Paulus mengatakan bahwa aplikasi ini tidak hanya berkaitan dengan dirinya, tetapi juga dengan Apolos. Melalui pernyataan ini Paulus sekali lagi ingin menegaskan bahwa tidak ada masalah antara dirinya dan Apolos (bdk. 3:6; 16:12). Jemaat Korintuslah yang melebih-lebihkan perbedaan antara dua rasul tersebut. Para pemimpin jemaat di Korintus seharusnya dapat meniru kebersamaan dua rasul ini dan bukannya malah menjadikan figur dua rasul tersebut sebagai dasar untuk bertikai satu dengan yang lain.

Pernyataan Paulus di ayat 6a juga menunjukkan bahwa Paulus bukan sekedar seorang hamba Tuhan yang pandai mengajar, tetapi ia juga hebat dalam memberi teladan. Dia menghidupi apa yang dia ajarkan, sehingga di 4:16 dia berani mengatakan “turutilah teladanku”. Sikap yang mirip dengan ini ditunjukkan juga oleh Ezra yang bertekad “untuk meneliti Taurat TUHAN dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel” (Ezr. 7:10).

Semua keteladan ini diberikan Paulus untuk kepentingan jemaat. Terjemahan LAI:TB “karena kamu” tidak terlalu tepat menyatakan makna kata Yunani di’ hymas di ayat 6a. Versi Inggris dengan tepat memakai “untuk kepentingan/keuntungan kamu” (NIV/RSV) atau “demi kamu” (ASV/KJV/NASB). Paulus memberi teladan bukan untuk kepentingannya sendiri, misalnya mendapat pujian atau memenangkan hati jemaat. Teladan ini juga bukan dirancang untuk memalukan jemaat Korintus dengan cara membuat mereka tampak lebih buruk karena sangat kontras dengan Paulus (4:14).


Tujuan dari Keteladan (ay. 6b-c)
Di ayat 6a Paulus hanya sekedar menyatakan bahwa teladan yang dia tunjukkan adalah untuk kepentingan jemaat, namun sekarang dia menjelaskan bagaimana keteladan itu membawa keuntungan bagi mereka. Dia ingin agar jemaat dapat belajar dari dia dan Apolos (ay. 6b “supaya dari kami kamu dapat belajar”). Pilihan kata “belajar” (manthano) memberi ide penting bahwa hidup Kristiani adalah sebuah proses peniruan/pemuridan. Kekristenan bukanlah legalisme yang terdiri dari sekumpulan perintah atau hukum. Kekristenan tidak seperti ajaran Farisi dan ahli Taurat yang membuat banyak orang letih. Sebaliknya, seperti yang diucapkan Yesus, “marilah kepada-Ku semua yang letih lesu dan berbeban berat...belajarlah kepada-Ku...”

Apa yang dapat dipelajari dari teladan Paulus dan Apolos? Pertama, supaya jemaat tidak melampaui “apa yang tertulis” (gegraptai, ay. 6b). Para penafsir berdebat tentang apa yang dimaksud Paulus dengan gegraptai. Sebagian menduga Paulus sedang mengutip sebuah peribahasa/ungkapan populer waktu itu. Dugaan ini menarik tetapi sebaliknya ditolak karena bukti historis yang dipaparkan tidak meyakinkan. Sebagian yang lain menganggap gegraptai merujuk ada semua penjelasan Paulus di pasal 1-3. Pandangan yang paling tepat adalah dengan melihat gegraptai sebagai rujukan pada teks-teks PL, karena dari 30 kali pemunculan kata ini selalu merujuk pada PL. Dalam konteks 1 Korintus 4:6, teks PL yang dimaksud adalah beberapa ayat yang sebelumnya sudah dikutip Paulus (1:19; 1:31; 2:9; 3:19-20). Semua teks ini mengajarkan keterbatasan hikmat manusia dan sikap Allah yang konsisten dalam merendahkan orang-orang yang merasa diri berhikmat. Sikap jemaat Korintus yang merasa diri berhikmat dan berusaha mengganti injil dengan hikmat duniawi merupakan tindakan yang melampaui apa yang tertulis. Mereka merasa diri lebih hebat daripada firman Tuhan.

Kedua, supaya jemaat tidak sombong (ay. 6c). Tujuan ini dapat dilihat secara sejajar dengan tujuan yang pertama atau dianggap sebagai penjelasan dari tujuan yang pertama itu. Para penafsir biasanya memegang kemungkinan yang kedua. Kata “menyombongkan diri” (phusioun) yang dipakai dalam bagian ini secara hurufiah berarti “menggelembungkan diri”. Kesan yang diungkapkan adalah usaha untuk melebih-lebihkan diri melampaui apa yang sebenarnya. Gambaran modern yang pas untuk menyatakan ini adalah sebuah balon yang ditiup: walaupun keliatannya besar, tetapi balon itu tidak ada isinya apa-apa selain kumpulan udara.

Pemunculan kata phusioun yang berulang-ulang di surat Korintus (4:6, 18, 19; 5:2; 8:1; 13:4; 2Kor. 12:20) mengindikasikan bahwa jemaat ini memang terkenal dengan kesombongan mereka. Jika pendapat beberapa penafsir tepat, maka penggunaan phusioun di sini cocok dengan kesombongan jemaat Korintus yang merasa diri pneumatikos (“rohani”), suatu kata yang berasal dari kata pneuma yang berarti “roh” atau “angin”. Dalam konteks sosial yang lebih luas, penduduk Korintus memang dikenal sebagai orang yang sombong dan suka berada di awang-awang. Kita tidak pernah bisa memastikan seberapa besar pengaruh mentalitas kota Korintus terhadap kesombongan jemaat, namun paling tidak kita dapat melihat gambaran bahwa bagi jemaat Korintus sikap sombong bukanlah sesuatu yang asing.

Kesombongan jemaat Korintus dapat dilihat dari beberapa hal. Mereka melupakan salah satu rasul – entah Paulus atau Apolos - yang telah dipakai Tuhan untuk mempertobatkan dan menumbuhkan iman mereka, sehingga Paulus sampai menyindir bahwa keadaan mereka sekarang yang hebat (paling tidak menurut mereka sendiri) adalah “tanpa para rasul” (4:8). Mereka juga merendahkan para rasul dan menganggap diri mereka lebih mulia daripada para rasul (4:10). Kesombongan ini sangat mungkin dipicu oleh ketidakadaan Paulus dan Apolos di Korintus sehingga beberapa pemimpin mencoba mengagungkan diri di atas yang lain. Mereka berpikir bahwa Paulus tidak akan datang lagi (4:18), sedangkan Apolos belum mau datang ke Korintus (16:12). Ketika mereka kehilangan figur pemimpin seperti inilah mereka lalu berebut menempatkan diri sebagai pemimpin. Mereka bahkan menganggap diri mereka lebih baik daripada para pendahulunya. Mereka seharusnya menyadari bahwa setiap pelayan mendapat tugas yang khusus dari Tuhan (3:5), sehingga tidak seharusnya memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada yang mereka patut pikirkan (Rm. 12:3).


Alasan bagi Tujuan (ay. 7)
Kata sambung “sebab” di awal ayat ini menunjukkan bahwa bagian ini adalah penjelasan bagi ayat sebelumnya. Paulus ingin memberitahu alasan mengapa mereka tidak boleh melampaui apa yang tertulis dan tidak boleh sombong. Beberapa pertanyaan retoris yang ada di ayat ini semuanya berfokus pada satu ide: segala sesuatu adalah anugerah dari Tuhan. Jika semua adalah anugerah, maka sikap sombong jelas menjadi sikap yang harus dihindari.

Pertanyaan pertama (ay. 7a) dapat dipahami secara negatif atau positif. Secara negatif berarti “siapakah yang menganggap engkau penting/berbeda?” (LAI:TB/NASB/RSV). Secara positif berarti “siapakah yang membuat engkau menjadi berbeda [dari yang lain]?” (ASV/KJV/NIV/NRSV). Jika pertanyaan ini dipahami secara negatif, maka Paulus sedang menegur jemaat Korintus yang terlalu tinggi menilai diri mereka padahal mereka tidak ada apa-apanya. Jika secara positif, maka Paulus sedang mengingatkan jemaat tentang tangan Tuhan yang telah membuat mereka berbeda dari orang-orang lain. Di antara dua pilihan ini, yang terakhir tampaknya lebih tepat, karena ayat 7b-c berbicara tentang anugerah Allah. Jika ini diterima, maka ayat 7a merupakan usaha Paulus untuk mengingatkan jemaat bahwa keselamatan dan pertumbuhan rohani mereka berhutang pada Allah: Allah yang menyelamatkan (1:18), memilih (1:27-28), menyatakan rahasia (2:10-12) maupun memberikan berbagai karunia rohani (1:4-5; 12:6). Jika memang kekayaan rohani mereka berasal dari Allah, mereka tidak seharusnya menyombongkan diri.

Pertanyaan kedua (ay. 7b) menantang jemaat untuk melihat seluruh hidup mereka dalam kacamata anugerah. Apakah ada yang mereka miliki yang tidak mereka terima [dari Tuhan]? Paulus ingin mengajarkan bahwa apapun yang kita miliki adalah dari Tuhan, karena pada dasarnya segala sesuatu adalah milik Allah (2:23). Allah adalah sumber, agen dan tujuan dari segala sesuatu (Rm. 11:36). Kita bisa hidup (Yak. 4:15; Kis. 17:28a), makan (Mat. 6:11), selamat (Ef. 2:8-9), memiliki karunia rohani tertentu (1Kor. 1:4-5), melayani (1Kor. 3:5b) maupun melihat buah pelayanan (1Kor. 3:6-7) adalah karena Allah yang memberikan semua itu bagi kita. Hal ini dinyatakan dengan jelas oleh Paulus di tempat lain, “karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang” (1Kor. 15:10).

Pertanyaan ketiga (ay. 7c) lebih berupa teguran. Jika segala sesuatu adalah pemberian dari Tuhan, maka segala bentuk kesombongan merupakan penyangkalan terhadap anugerah Allah. Konsep anugerah dan pencapaian diri/usaha tidak dapat disatukan, karena keduanya saling kontradiktif. Roma 11:6 “jika hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia”. Ketika mereka memegahkan diri (kauchaomai), mereka sedang berlagak seolah-olah segala sesuatu adalah hasil pekerjaan mereka. Mereka lupa bahwa semua karunia tetaplah menjadi milik Allah. Alkitab mengajarkan stewarship (penatalayanan), bukan ownership (kepemilikan). Mereka seharusnya bermegah (kauchaomai) di dalam Tuhan (1:31), bukan di dalam pemberian-pemberian-Nya. Sama seperti orang tua yang memberikan barang-barang kepada anak-anak mereka dengan tujuan supaya mereka memperoleh sukacita dan bukan dijadikan alasan untuk saling membandingkan diri, demikian pula Allah memberi anugerah bukan untuk dibanding-bandingkan.

Dari penjelasan di ayat 7 kita dapat belajar bahwa konsep anugerah membawa pada ucapan syukur, sedangkan konsep pencapaian diri menghantar pada kesombongan. Konsep anugerah memampukan kita melihat kesamaan antara kita dan orang lain, yaitu sama-sama orang yang tidak layak tetapi tetap dipercaya oleh Tuhan. Di sisi lain, konsep pencapaian diri membuat kita menghakimi orang lain. Konsep anugerah membantu kita melihat diri kita sebagaimana adanya, tetapi konsep pencapaian diri membuat kita menilai diri terlalu tinggi. Konsep anugerah membantu kita menerima apapun keadan kita, sedangkan konsep pencapaian diri mendorong kita menginginkan yang lebih dan lebih lagi. Intinya, seberapa jauh kita memahami hidup kita sebagai sebuah anugerah, sejauh itu pula konsep tersebut akan mempengaruhi cara kita hidup.






Sumber:
Mimbar GKRI Exodus, 6 Juli 2008

04 March 2010

Eksposisi 1 Korintus 4:1-5 (Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.)

EKSPOSISI 1 KORINTUS 4:1-5

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.



Nats: 1 Korintus 4:1-5



Jika kita membaca bagian ini, sekilas kita sulit melihat kaitan bagian ini dengan pasal 1:10-3:23. Kita mungkin berpikir bahwa masalah perselisihan antar jemaat sudah dibahas dengan tuntas oleh Paulus dalam 3 pasal pertama. Dalam tingkat tertentu, hal ini memang benar, tetapi Paulus belum membahas hal itu secara tuntas. Penyebutan nama Apolos dan Paulus di pasal 4:6 memberi petunjuk bahwa isu favoritisme terhadap pemimpin rohani masih terus berlanjut (bdk. 1:12; 3:4-6; 3:22).

Jika kita memperhatikan pasal 4 dengan seksama maka kita dapat menemukan satu poin penting: jemaat Korintus ternyata memiliki sikap antipati terhadap Paulus. Ketika mereka memilih Apolos atau Kefas, hal itu tidak semata-mata didasarkan pada kelebihan dari dua tokoh tersebut. Pilihan ini didasarkan pada ketidaksenangan mereka terhadap Paulus. Mereka sedang menghakimi Paulus (4:3). Mereka melupakan semua jasa Paulus yang telah berjuang begitu keras di kota Korintus (4:7-13; bdk. Kis 18). Mereka meragukan kerasulan Paulus (9:1-3).

Dalam responnya terhadap serangan ini, Paulus berusaha memberikan pembelaan yang sifatnya umum maupun khusus. Pembelaan yang umum dapat kita lihat dari penggunaan kata ganti orang pertama jamak “kami” di pasal 4 (ay. 1, 6, 8-13), sedangkan pembelaan khusus terlihat dari kata ganti “aku” (ay. 3-4, 14-16). Dia ingin mengajarkan prinsip umum yang dapat diterapkan pada semua pemimpin rohani, tetapi dia juga berusaha menjelaskan keunikan relasinya dengan jemaat Korintus dibandingkan dengan rasu-rasul lain (ay. 14-16).

Inti pembahasan di pasal 4:1-5 adalah posisi para pemimpin sebagai hamba Kristus (ay. 1). Sebagai hamba Kristus, mereka nanti akan dihakimi oleh Tuhan sendiri (ay. 5). Dua hal ini – posisi sebagai hamba dan penghakiman terakhir – sebelumnya sudah dibahas secara terpisah oleh Paulus: pemimpin sebagai pelayan ada di pasal 3:5-9, sedangkan penghakiman terhadap para pemimpin ada di pasal 3:10-17. Dengan demikian Paulus sebenarnya hanya menerapkan prinsip tersebut dalam kasus jemaat Korintus yang menghakimi dia.

Paulus merasa perlu menegaskan posisinya sebagai hamba Kristus (4:1) untuk menghindari kesalahpahaman dari jemaat Korintus. Para rasul memang milik jemaat (3:21-22), tetapi hal itu tidak berarti bahwa mereka dapat diperlakukan semau jemaat. Mereka memang melayani kebutuhan keselamatan jemaat (lihat pembahasan di pasal 3:21-23), namun mereka tetap adalah hamba Kristus, bukan hamba mereka. Sebagai hamba Kristus, para rasul bertanggung-jawab kepada Kristus yang menjadi tuan mereka. Kristuslah yang berhak menghakimi mereka, bukan jemaat Korintus.

Alur berpikir Paulus di pasal 4:1-5 dapat dijelaskan sebagai berikut:
Inti: para rasul adalah hamba Kristus (ay. 1)
Konsekuensi sebagai hamba Kristus (ay. 2-5)
Harus dapat dipercaya (ay. 2)
Tidak menganggap penghakiman manusia sebagai hal yang penting (ay. 3-4a, 5a)
Menyadari bahwa tuan kita akan menghakimi kita di akhir zaman (ay. 4b, 5b)


Inti: Para Rasul Adalah Hamba Kristus (ay. 1)
Paulus ingin orang lain menganggap dia dan para pemimpin lain sebagai “hamba-hamba Kristus” (ay. 1a). Kata Yunani hyperetes lebih tepat diterjemahkan sebagai “pelayan” (KJV/ASV “minister”) atau asisten. Terjemahan “hamba” bisa memberi kesan “budak”, padahal seorang hyperetes bukanlah seorang budak. Hyperetes adalah orang merdeka. Kata ini pernah dipakai untuk Yohanes Markus yang membantu Paulus dan Barnabas dalam pekerjaan misi (Kis 13:5). Di tempat lain (Rm. 1:1; Tit. 1:1) Paulus memang menyebut dirinya sebagai budak (doulos) Allah, tetapi bukan makna ini yang ingin dia tegaskan di 1 Korintus 4:1.

Paulus bukan hanya seorang hyperetes, tetapi dia adalah pemimpin dari semua pelayan. Dia adalah oikonomos (ay. 1b, LAI:TB “yang kepadanya dipercayakan”), yaitu orang yang dipercaya sepenuhnya untuk mengelola sesuatu, baik uang, rumah maupun properti lainnya. Mayoritas versi lebih memilih terjemahan “penatalayan” (steward, KJV/ASV/RSV/NASB). Sesuai budaya waktu itu, oikonomos bertugas mewakili pemilik untuk memutuskan segala sesuatu. Keputusannya adalah keputusan pemilik. Salah satu contoh yang tidak asing bagi kita adalah Yusuf yang diberi wewenang penuh di rumah Potifar (Kej. 39:4).

Sebagai seorang oikonoos rohani, Paulus dipercayakan “rahasia-rahasia Allah” (ay. 1c). Kita pernah membahas sebelumnya bahwa “rahasia” (mysterion) merujuk pada sesuatu yang dulu tidak diketahui tetapi kemudian dibukakan oleh Allah. Dalam hal ini yang dimaksud dengan rahasia Allah adalah injil. Injil adalah hikmat Allah yang tersembunyi sejak kekekalan namun sekarang dinyatakan dalam Kristus Yesus (2:7).


Konsekuensi (ay. 2-5)
Menjadi hyperetes dan oikonomos Kristus bukanlah tanggung-jawab yang ringan. Beberapa konsekuensi besar sudah siap menanti kita di depan. Hal ini bisa dipahami karena Tuan kita adalah Pribadi yang mahamulia dan yang dipercayakan kepada kita juga adalah harta rohani yang sangat mulia. Sangat wajar kalau tugas ini menuntut konsekuensi tertentu.
Harus dapat dipercaya (ay. 2)
Sebagai orang yang dipercaya, kepercayaan dari tuan memegang peranan sangat vital. Inilah yang disebut Paulus pertama kali ketika dia membicarakan tentang konsekuensi para pelayan Kristus. Apa yang dimaksud dengan “bisa dipercaya” di sini? Dalam teks asli, kata yang dipakai adalah pistos, yang berarti “setia”.

Setia bukan sekadar merujuk pada lamanya seseorang bekerja. Setia lebih mengarah pada ketaatan pelayan terhadap instruksi yang diberikan oleh tuannya. Dua contoh pemakaian kata oikonomos dalam Alkitab menunjukkan bahwa lamanya seseorang bekerja bukanlah hal yang penting. Yang paling penting adalah apakah orang itu selalu siap melakukan pekerjaannya pada waktu tuannya datang (Luk 12:42-43) atau apakah orang itu menjalankan wewenang yang diberikan tuannya degan tepat (Luk 16:1-2; kata “bendahara” di ayat ini memakai oikonomos).

Ketika Paulus menekankan nilai kesetiaan dalam konteks tugas para pemimpin rohani, dia sebenarnya sedang menyinggung konsep jemaat Korintus yang salah. Bagi mereka, seorang pemberita injil dinilai dari kefasihan bicara maupun kepandaian yang mereka miliki. Bagi Paulus, keberhasilan pemberita injil dinilai dari kesetiaannya terhadap injil itu sendiri. Sebagian jemaat yang mencoba menggantikan injil dengan hikmat dunia tentu saja tidak bisa disebut sebagai pelayan yang dapat dipercaya.


Tidak menganggap penghakiman manusia sebagai hal yang penting (ay. 3-4a, 5a)
Sebagai seorang pelayan Kristus yang melayani kebutuhan keselamatan orang lain, kita kadangkala terjebak pada keinginan untuk diterima orang lain. Kita ingin menyenangkan hati orang lain, padahal keinginan ini tidak sesuai dengan status sebagai pelayan Kristus (Gal. 1:10). Akibatnya, para pelayan Kristus sering kali terlalu memperdulikan penilaian orang lain. Ketika mereka dikritik orang yang mereka layani, mereka mudah putus asa dan kecewa. Ketika mereka mendapat pujian dari jemaat, mereka jatuh dalam kesombongan. Untuk menghindari dua hal ini, seorang pelayan harus memandang penilaian manusia bukan sebagai hal yang terpenting.

Mengapa penilaian orang lain tidak sepenting yang kita sering sangka? Karena manusia tidak berhak menilai sesamanya. Kita adalah sesama hamba yang tidak boleh saling menghakimi. Ketika kita menhakimi hamba lain, maka kita sudah mencampuri urusan tuan yang empunya hamba itu. Di Roma 14:4 Paulus memberi teguran keras, “siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri”.

Alasan kedua mengapa penilaian orang lain tidak pentng adalah karena mereka tidak bisa mengetahui kedalaman hati orang lain. Mereka sering salah menilai sesamanya, bahkan diri mereka sendiri. Hal ini berbeda dengan penghakiman Allah, karena Allah mampu menyelidiki hati manusia dan segala sesuatu yang tersembunyi (1Kor. 4:5b; Rm. 2:16).

Paulus berusaha memberi penjelasan tentang siapa saja yang dia maksud dengan “manusia” ini. Pertama-tama adalah jemaat (ay. 3a “dihakimi oleh kamu”). Selanjutnya adalah pengadilan manusia (ay. 3b). Ungkapan ini kemungkinan besar merujuk pada orang-orang non-Kristen. Mereka jelas tidak layak untuk menghakimi karena mereka tidak dapat menilai hal-hal yang rohani (2:14-15; bdk. 6:6). Yang terakhir adalah diri Paulus sendiri (ay. 3c-4a). Walaupun dia mengaku bahwa dia “tidak sadar akan sesuatu” (secara hurufiah “hati nuraninya murni [NIV] atau “tidak ada sesuatu pun yang menuduh hati nuraninya” [NASB/RSV]), namun dia tetap menganggap dirinya tidak layak menghakimi diri sendiri. Perasaan benar tetap tidak layak dijadikan patokan. Bukankah sebagian orang (termasuk kita) sering kali merasa diri benar padahal kenyataannya justru kita yang lebih berdosa? Sikap Paulus yang tidak mau bersandar pada penilaian pribadinya sendiri sangat mungkin berkaitan dengan hidupnya yang lama dahulu. Dia menganggap diri benar dan menaati Alah dengan sempurna (Flp. 3:6), namun kenyataannya semua itu dia lakukan tanpa pengetahuan (1Tim. 1:13).

Jika manusia tidak layak menghakimi orang lain, maka kita tidak boleh menghakimi orang lain. Kita harus menunggu sampai hari penghakiman Tuhan di akhir zaman (ay. 5a). Secara hurufiah ayat 5a seharusnya diterjemahkan “berhentilah menghakimi sebelum waktunya” (NASB “do not go on passing judgment before the time”). Jemaat Korintus memang sudah melakukan penghakiman. Paulus meminta mereka untuk menghentikan sikap tersebut.

Larangan ini tentu saja tidak berarti bahwa orang Kristen dilarang menilai sesuatu atau memutuskan suatu perkara. Paulus bahkan meminta jemaat untuk menghakimi orang cabul yang ada di dalam jemaat (5:12) atau menyelesaikan suat perkara di antara mereka (6:5). Jadi, bagaimana kita mengharmonisasikan hal ini? Kata Yunani krino memiliki beragam arti: menghakimi, menilai, memberi keputusan hukum, dsb, tergantung pada konteks pemakaian. Dalam sebuah perkara rohani yang membutuhkan sebuah keputusan, kita tentu saja diperbolehkan menilai masalah itu berdasarkan firman Tuhan dan mengambil tindakan yang sepatutnya. Hal ini sangat berbeda dengan sikap menghakimi orang lain dalam arti menganggap orang lain buruk/salah dengan hati yang penuh kebencian.


Menyadari bahwa tuan kita akan menghakimi kita di akhir zaman (ay. 4b, 5b)
Seorang oikonomos harus memberi pertanggungjawaban apabila tuannya datang. Sang tuan akan menilai hasil kerja orang yang sudah dia percayai. Begitu pula dengan para oikonomos rohani. Kita harus menghadap Tuan kita dan siap untuk dinilai oleh-Nya.

Kata kurios (“Tuhan”) di ayat 4b hampir dapat dipastikan merujuk pada Kristus, karena para rasul adalah hamba-hamba Kristus (ay. 1), sehingga sangat wajar jika mereka akan dihakimi oleh Tuan mereka, yaitu Kristus. Jika ini diterima, maka Yesus Kristus di ayat 5b ditampilkan sebagai Pribadi yang mahatahu. Dia mampu mengetahui hati manusia untuk menyatakan hal-hal yang tersembunyi. Penjelasan ini dalam konteks Yahudi waktu itu sangat mencengangkan karena hak untuk menghakimi dan kemampuan melihat hal-hal tersembunyi adalah sifat khas Allah (1Sam. 16:27; 1Taw. 28:9; Mzm. 139:1, 11-12; Yer. 17:10; Mat. 6:4, 6, 18; Rm. 2:16; Ibr. 4:12-13).

Dalam penghakiman biasanya ada dua hasil: upah atau hukuman. Ketika Kristus menghakimi nanti, Dia juga akan memberikan upah dan hukuman. Menariknya, Paulus tidak menyinggung tentang hukuman sama sekali. Sebaliknya, dia justru mengharapkan agar setiap orang akan menerima puji-pujian dari Allah (ay. 5c). Dia tidak berharap agar para pengkritiknya menerima hukuman. Walaupun jemaat membenci dia, namun Paulus tetap berharap yang baik bagi mereka.

Upah berupa “puji-pujian” bagi orang modern yang terpengaruh materialisme memang tampak tidak terlalu istimewa. Kita cenderung menuntut penghargaan terhadap usaha keras kita dengan gaji yang tinggi atau kenaikan jabatan. Hal ini sangat berbeda dengan mentalitas orang-orang kuno. Mereka tidak terlalu mempedulikan besaran gaji atau kenaikan pangkat sebagaimana mereka mempedulikan pujian dari tuan mereka. Mereka bekerja untuk tuan mereka, bukan untuk mendapatkan gaji atau posisi. Kita juga perlu memahami bahwa seorang oikonomos memang sudah memiliki jabatan tertinggi di bawah pemilik dan dia dapat menikmati segala yang dimiliki tuanya. Dia hanya bekerja demi kepuasan tuan, dalam arti membayar kepercayaan yang sudah diletakkan di bahunya.






Sumber:
Mimbar GKRI Exodus, 6 Juli 2008