03 January 2010

FACEBOOK: Antara Dunia Nyata dan Semu (Tinjauan Kritis Iman Kristen terhadap Gejala dan Penggunaan Facebook) oleh: Denny Teguh Sutandio

FACEBOOK: Antara Dunia Nyata dan Semu
(Tinjauan Kritis Iman Kristen terhadap Gejala dan Penggunaan Facebook)


oleh: Denny Teguh Sutandio




I. PENDAHULUAN
Di abad postmodern, manusia makin lama bukan makin tambah beres, namun semakin kacau dan hidup tidak karuan, mulai dari prinsip hidup sampai aplikasinya. Ya, meskipun hal ini tidak terjadi pada semua manusia, namun gejala postmodernisme (dan postmodernitas) yang salah satunya ditandai oleh pragmatisme sedang merajalela di zaman postmodern. Dengan semangat pragmatisme (atau menggunakan bahasa gaul sekarang: EGP—emang gue pikirin), mereka menganggap ringan banyak hal, bahkan hal-hal penting. Banyak hal dianggap main-main, sehingga banyak generasi muda zaman sekarang sangat susah ditanya mengenai prinsip hidupnya apalagi imannya. Salah satu hal yang dibuat mainan oleh generasi muda zaman sekarang adalah Facebook. Apakah Facebook itu? Dari mana asalnya? Bagaimana penggunaan Facebook di zaman sekarang? Apakah Facebook itu salah? Atau penggunaan yang tidak bertanggungjawab terhadap Facebook yang salah? Artikel yang saya susun ini tidak bermaksud melarang penggunaan Facebook sama sekali, namun menyoroti khusus terhadap penggunaan Facebook.




II. PRESUPOSISI KRISTEN: IMAN KRISTEN DAN MEDIA
A. Beragam Reaksi Kekristenan Terhadap Media
Sebelum kita masuk ke dalam pembahasan mengenai Facebook, mari kita merenungkan dahulu apa yang menjadi dasar presuposisi iman Kristen kita terhadap media. Zaman yang kita hidupi berbeda dari zaman dahulu. Perbedaan tersebut bisa ke arah positif atau negatif. Perbedaan itu ditandai dengan salah satunya oleh kemajuan teknologi. Kalau zaman dahulu, mungkin tidak ada media elektronik yang canggih, seperti HP, laptop, dll, namun di zaman sekarang, semuanya ada, bahkan lebih canggih. Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, kita sedang hidup di zaman serba berteknologi. Dalam hal ini, orang Kristen pun berpartisipasi dan ikut menikmati kemajuan teknologi. Ada beragam reaksi yang dinyatakan oleh orang Kristen berkenaan dengan media.

1. Cuek dan Terlalu Kompromi
Biasanya beberapa atau bahkan mungkin banyak orang Kristen yang prinsip hidupnya tidak beres selalu mengambil jalan pragmatis di dalam hidupnya, yaitu “prinsip” EGP (emang gue pikirin). “Prinsip” ini ditandai dengan dua hal. Pertama, yaitu cuek. Mereka benar-benar cuek dengan kemajuan teknologi dan akibatnya, karena baginya, mereka sangat menikmati teknologi-teknologi tersebut. Kedua, yaitu terlalu kompromi. Selain cuek, orang pragmatis biasanya terlalu menganggap ringan banyak hal. Ia terlalu banyak berkompromi dalam banyak hal. Mereka berpikir bahwa semua media itu baik dan berguna. Bukan hanya media, dalam hal seni pun, mereka berpikir hal yang sama. Saya mendengar perkataan seorang penyiar radio Kristen di sebuah siaran radio Kristen di Surabaya mengatakan bahwa semua musik itu dari Tuhan. Pernyataan ini sebenarnya perlu diklarifikasi dengan penjelasan yang bertanggungjawab. Benarkah semua musik itu dari Tuhan? Apakah si penyiar ini tidak sadar bahwa musik juga termasuk salah satu hasil dari kebudayaan manusia yang berdosa. Hal yang sama dengan media. Media adalah hasil kreativitas dari manusia berdosa. Meskipun TIDAK semua media itu salah dan menyesatkan, namun tetap ada unsur berdosa di dalam setiap hasil penemuan manusia berdosa.

2. Paranoid
Selain cuek dan terlalu kompromi, reaksi ekstrem kedua adalah ketakutan/paranoid terhadap media. Biasanya reaksi ini ditandai dengan tindakan membatasi penggunaan media oleh beberapa orangtua Kristen maupun hamba-hamba Tuhan agar para generasi muda Kristen tidak terpengaruh hal-hal buruk dari media. Saya mendengar sebuah cerita dari seorang teman kuliah saya dahulu yang berjemaat di sebuah gereja yang cukup terkenal di kalangan anak muda di Surabaya. Teman saya bercerita bahwa pendetanya (yang tergolong masih muda dan bukunya cukup terkenal) melarang anggota jemaatnya untuk membaca buku atau/dan menonton film The Da Vinci Code. Di satu sisi, tindakan memproteksi ini baik dan berguna, namun sayang, di sisi lain, hal ini berbahaya, kurang bertanggungjawab, dan kurang bijaksana. Mengapa? Karena: Pertama, motivasinya kurang bisa dipertanggungjawabkan. Apa motivasi dari tindakan pembatasan penggunaan media? Biasanya orang yang paranoid dengan media lalu membatasi penggunaan media berkata bahwa itu kurang baik isinya. Jika ada orang yang berkata demikian, tolong tanya, apakah yang mengatakan hal tersebut sudah mengerti seluk-beluk media yang dibicarakannya atau tidak/belum? Jika sudah mengerti, maka ia berhak mengatakan hal tersebut. Namun, jika belum, hak apa ia bisa mengatakan hal yang belum diketahuinya secara tuntas? Jika orang itu belum mengerti seluk-beluk media secara tuntas, lalu menyuruh jemaat/orang lain untuk membatasi penggunaan media, bukankah sikap ini adalah sikap fanatik berlebihan? Jangan heran, beberapa anak muda Kristen kurang kritis dalam memilih sendiri mana media yang beres atau tidak, karena di gerejanya, mereka diajar oleh pengajar/hamba Tuhan yang paranoid dengan media.

Kedua, tujuannya bisa merusak. Apa tujuan dari pembatasan penggunaan media? Biasanya mereka yang paranoid terhadap media yang mengambil sikap membatasi penggunaan media mengatakan bahwa tujuan mereka agar para generasi muda Kristen tidak rusak imannya. Kembali ke contoh tentang pelarangan menonton/membaca The Da Vinci Code oleh seorang pendeta di atas, apa tujuan pendeta tersebut melarang menonton/membaca The Da Vinci Code? Mungkin sekali tujuannya baik, yaitu agar para generasi muda Kristen tidak rusak imannya, namun apakah tujuan itu benar-benar bijaksana? Saya pikir tidak. Mengapa? Pertama, apakah pelarangan tersebut konsisten dengan tindakan pendeta itu sendiri? Jika pendeta itu melarang menonton/membaca The Da Vinci Code, tolong tanya, apakah pendeta itu sudah membaca/menontonnya? Jika sudah, mengapa ia melarang? Jika belum, hak apa ia melarang orang lain menonton/membacanya? Ataukah ia hanya mendengar dari kata pendeta lain yang sudah mengkritisi The Da Vinci Code, lalu mengambil sikap demikian? Kedua, pelarangan tersebut tidak diimbangi dengan pengajaran iman Kristen secara ketat. Jika pendeta itu melarang menonton/membaca The Da Vinci Code, apakah pendeta itu mengimbanginya dengan mengajar iman Kristen yang ketat dan teliti khususnya dalam aspek sejarah untuk melawan isi dari The Da Vinci Code? Jika tidak, maka pelarangan itu tidak bertanggungjawab dan kurang bijaksana. Jika ya, maka sebenarnya pelarangan itu tidak diperlukan, karena kalau jemaat sudah dibekali dengan apa yang benar, maka ia bisa mengembangkan pikiran kritis di dalam melihat segala sesuatu. Saya berani berkata satu hal bahwa jika ada pendeta yang melarang menonton/membaca The Da Vinci Code, namun tidak mengimbanginya dengan mengajar iman Kristen dengan beres, biasanya pendeta itu kurang beres dalam belajar theologi/Alkitab. Untuk menutupi kelemahannya dalam hal-hal theologi, makanya ia melarang jemaatnya tanpa mau memberi tahu dengan jelas alasan dan hal-hal yang sebenarnya. Di sini, yang paling mengasihankan itu jemaatnya yang diimun oleh pendetanya yang mungkin sekali adalah orang yang kurang belajar theologi baik-baik. Ketiga, pelarangan tersebut mengakibatkan pemberhalaan terhadap si pelarang. Biasanya gejala fanatisme adalah gejala yang percaya apa saja apa yang dikatakan oleh otoritas tertinggi, misalnya: pendeta, pemimpin gereja, orangtua, senior, atasan (bos), dll. Nah, di dalam Kekristenan, gejala fanatisme ini ditandai dengan percaya apa saja yang dikatakan pendeta. Jika pendeta melarang menonton/membaca sesuatu, maka semua jemaatnya serentak menurutinya. Jadi, dari muda, jemaat tidak diajar untuk kritis, namun diajar untuk percaya apa saja yang dikatakan dan dilarang oleh pendeta. Lama-kelamaan, jemaat dan para generasi muda Kristen mengandalkan (bisa dibilang: memberhalakan) pendetanya. Mereka akan bertanya dahulu kepada pendetanya sebelum menonton film atau membaca buku-buku sekular/rohani. Jika pendetanya menyetujuinya, maka mereka dengan berani menonton film atau membaca buku tersebut. Jika pendetanya melarangnya, maka mereka tidak mau melakukannya. Dengan kata lain, benar atau salah ditinjau dari perspektif pendetanya yang mungkin sekali tidak pernah sekolah theologi baik-baik atau tidak pernah mengerti dunia luar dengan teliti dan beres (asal mendengar kata orang).


B. Reaksi Kekristenan yang Benar Terhadap Media
Jika kedua reaksi Kekristenan di atas terhadap media terlalu ekstrem, maka bagaimana sebenarnya reaksi Kekristenan yang normal dan bertanggungjawab? Saya menawarkan alternatif ketiga sebagai alternatif reaksi Kekristenan terhadap media yang saya sebut sebagai reaksi paradoks. Kita sebagai orang Kristen jangan seperti orang dunia yang suka berpikir either or (kalau tidak X, ya Y), tetapi kita harus berpikir paradoks. Artinya, di dalam cara kita berpikir, hendaklah pikiran kita tidak diikat oleh sistem duniawi, namun terikat dengan apa yang Tuhan mau. Untuk hal-hal yang jelas berdosa (seperti: membunuh, mencuri, dll), jelas kita tidak boleh melakukannya, karena Alkitab melarangnya. Namun untuk hal-hal yang sekunder, maka kita tidak perlu mengambil sikap ekstrem. Kita tetap memegang prinsip tegas, namun ketegasan tidak harus selalu identik dengan kekakuan dan kekolotan.

Lalu, dalam hal apa saja kita memiliki ketegasan dalam prinsip? Ada tiga hal di mana kita sebagai orang Kristen harus tegas di dalam prinsip kita menyoroti media. Dua prinsip pertama, saya ambil dari konsep Rev. Craig Cabaniss, M.Div. dan prinsip terakhir saya kembangkan sendiri. Berkaitan dengan perspektif Kristen mengenai media, Rev. Craig Cabaniss, M.Div. di dalam buku yang diedit oleh Rev. C. J. Mahaney yang berjudul Worldliness: Resisting the Seduction of a Fallen World mengungkapkan dua prinsip Kristen menyoroti media, yaitu:1
1. Living Coram Deo (Hidup Di Hadapan Allah)
Rev. Craig Cabaniss, M.Div. menjelaskan bahwa hidup Kristen adalah hidup di hadapan wajah Allah. Artinya setiap inci kehidupan kita baik publik maupun privat adalah hidup di hadapan-Nya. Ketika kita menyadari bahwa Allah itu mengetahui dan mengawasi setiap inci kehidupan kita, hal ini mengakibatkan kita takut akan Allah ketika menjalani hidup kita. Takut di sini tidak seperti takut ketika melihat setan, namun takut di dalam pengertian gentar sekaligus hormat kepada-Nya. Lalu, bagaimana kita bisa takut akan Allah? Rev. Craig Cabaniss menjelaskan, “Fearing God is where we begin our search for knowledge and wisdom.” (=Takut akan Allah adalah di mana kita mulai penyelidikan kita bagi pengetahuan dan bijaksana)2 Dengan kata lain, takut akan Allah mengakibatkan kita bukan duduk diam tak berbuat apa-apa, namun mendorong kita menyelidiki apa yang dikehendaki-Nya bagi umat-Nya melalui firman-Nya. Sehingga ketika kita menggunakan semua media, kita menggunakannya di dalam hadirat Allah (in God’s presence). Kita memilih segala sesuatu di hadapan Allah yang Mahakudus. Yang menarik, selanjutnya, Rev. Cabaniss menjelaskan bahwa ketika kita memilih segala sesuatu, kita melakukannya di hadapan Allah, bukan karena dilihat oleh pendeta, orangtua, anggota kelompok kecil, atau tetangga kita yang belum Kristen. Di sini, pernyataan Rev. Cabaniss menarik. Berarti, seluruh inci kehidupan kita bukan diatur oleh orang-orang di sekitar kita, namun diatur oleh takut akan Allah yang kita miliki.

2. Grace-motivated Obedience (Ketaatan yang Dimotivasi oleh Anugerah)
Hidup di hadapan Allah mengakibatkan kita sadar bahwa Allah itu Mahakudus dan kita berdosa. Dari perspektif ini, kita menyadari ketidaklayakan kita hidup di hadapan-Nya. Namun, puji Tuhan, Bapa mengutus Anak, yaitu Tuhan Yesus Kristus untuk menebus dosa-dosa umat-Nya dan menyelamatkan kita dari ikatan dosa, iblis, dan maut. Sehingga kita yang dahulu hidup di dalam kegelapan, melalui anugerah-Nya, kita masuk ke dalam terang yang sesungguhnya. Rev. Cabaniss menjelaskan lebih lanjut, “Coram Deo, we find grace. Grace that forgives. Grace that empowers us to change. Grace that leads us to desire and pursue obedience.” (=Coram Deo/hidup di hadapan Allah, kita menemukan anugerah. Anugerah yang mengampuni. Anugerah yang memberikan kuasa kepada kita untuk berubah. Anugerah yang memimpin kita untuk menginginkan dan mengejar ketaatan)3 Dengan kata lain, takut akan Allah mengakibatkan kita menemukan anugerah Allah di sana dan anugerah ini memampukan kita taat akan apa yang diperintahkan-Nya. Ketaatan kita bukan agar diperkenan oleh Allah, namun sebagai respons atas anugerah yang Allah telah berikan kepada kita. Ketaatan kita akan perintah-Nya mengakibatkan kita melakukan segala sesuatu untuk memuliakan dan menyenangkan-Nya. Hidup memuliakan dan menyenangkan-Nya tentu ditandai dengan tidak sembarangan mempergunakan hidup demi diri sendiri. Jika kita tidak sembarangan mempergunakan hidup, maka kita dengan bijaksana memilih segala sesuatu mana yang memuliakan dan menyenangkan Allah dan mana yang tidak. Kalau kita membaca Roma 12:2, maka Paulus mengajar kita untuk memilih segala sesuatu berdasarkan kehendak Allah: baik, berkenan kepada Allah (bisa diterjemahkan: menyenangkan Allah), dan sempurna. Rev. Cabaniss mengemukakan tiga karakteristik kesenangan yang sesuai kehendak Allah: good and right and true (baik, adil, dan benar). Kemudian, Rev. Cabaniss melanjutkan perkataannya, “Discerning what pleases the Lord requires critically evaluating media content at all times.” (=Membedakan apa yang menyenangkan Tuhan selalu mewajibkan evaluasi kritis terhadap isi media.)4

3. Alkitab: Satu-satunya Fondasi Kebenaran
Sebagai orang Kristen yang normal yang telah mengalami anugerah Allah dan terus hidup takut akan Allah, maka kita percaya penuh bahwa Alkitab adalah satu-satunya firman Allah yang diwahyukan tanpa salah dalam naskah asli (autographa)nya. Artinya, Alkitab adalah satu-satunya fondasi kebenaran dalam iman dan kehidupan kita sehari-hari. Segala macam iman, agama, kepercayaan, filsafat, sains, tradisi, kebudayaan, gaya hidup, perkataan, pikiran, dan tindakan harus ditundukkan di bawah Alkitab. Segala sesuatu harus diuji berdasarkan Alkitab. Namun, apakah itu berarti kita menjadi orang udik dan aneh? Lalu, kita hanya mau menonton film-film rohani, membaca buku-buku rohani, dan melakukan hal-hal rohani saja? TIDAK. Kita percaya akan ketidakbersalahan Alkitab, namun di dalam aplikasinya, kita jangan menjadi orang aneh. Ingatlah satu hal: kita ada di dalam dunia, namun kita bukan berasal dari dunia. Artinya, status kita memengaruhi dan mendasari hati, pikiran, perkataan, dan tindakan kita di dalam dunia. Meskipun kita adalah anak-anak Allah, kita tetap harus bergaul dan hidup di dunia ini, tentu tidak boleh menyetujui semua pemikiran dan tindakan duniawi/sekular. Ada batas-batas yang harus kita ambil untuk membedakan kita dari orang-orang dunia.

Kembali, ketidakbersalahan Alkitab yang kita imani memengaruhi sikap kita di dalam melihat segala sesuatu. Ketidakbersalahan Alkitab memengaruhi sikap kita untuk kritis dalam segala hal. Namun, ketidakbersalahan Alkitab yang mengakibatkan kita kritis tidak seharusnya membuat kita antipati atau paranoid terhadap hal-hal duniawi. Saya pernah mendengar seorang pendeta berkata bahwa kalau beliau mau menonton film di DVD, beliau akan memutarnya secara cepat di laptop untuk mengetahui alur ceritanya, supaya kita yang menonton tidak terikat pada alur cerita yang diatur oleh sutradara. Di satu sisi, hal ini ada baiknya, namun di sisi lain, kita kurang menikmati sebuah cerita. Kembali, apakah dengan mengimani ketidakbersalahan Alkitab, lalu kita menjadi orang-orang Kristen yang kurang menikmati cerita/film/dll? Lebih tajam lagi, apakah ketidakbersalahan Alkitab mengakibatkan kita menjadi orang yang kurang bersukacita? Tidak heran, beberapa orang Kristen khususnya Reformed di sebuah gereja tertentu, mukanya lonjong-lonjong dan tidak ada gairah sukacita di dalamnya. Pendetanya mengkritik buku Rev. John S. Piper, D.Theol. yang membahas hedonisme Kristen. Pendeta ini menyangka bahwa hedonisme itu ngawur, maka hedonisme Kristen itu juga ngawur. Padahal ketika si pendeta berkata demikian, ia kurang bertanggungjawab, karena ia tidak mau membaca terlebih dahulu buku-buku dan penjelasan Dr. John S. Piper tentang makna hedonisme Kristen di dalam bukunya Desiring God (Mendambakan Allah). Pendeta ini baik, yaitu beliau kritis, namun kekritisannya tidak didasarkan pada bukti yang kuat yang mengakibatkan sikap generalisasi berlebihan.

Dengan mengimani ketidakbersalahan Alkitab, kita dituntut untuk kritis, namun kekritisan kita hendaklah merupakan kekritisan yang wajar dan tidak terlalu ekstrem/berlebih-lebihan. Kalau kita tidak mengerti tentang sesuatu hal, hendaklah kita tidak sembarangan berkomentar! Belajarlah untuk menyelidiki sesuatu hal tersebut secara tuntas, baru berkomentar. Jangan seperti banyak orang postmodern yang pragmatis yang asal-asal ngomong. Kembali, bagaimana kita bisa kritis secara wajar? Ya, sebenarnya ini tidak mudah. Fondasi agar kita bisa kritis adalah kita belajar iman Kristen dan Alkitab terlebih dahulu. Setelah kita belajar banyak hal tentang iman Kristen dan Alkitab dengan beres, maka kita bisa kritis secara wajar. Ini bukan hanya teori, namun sudah saya aplikasikan. Ketika menonton film baik di DVD maupun bioskop, tingkat kekritisan kita harus tajam, namun tidak berarti kita tidak menikmati alur cerita filmnya. Artinya, sambil menikmati alur cerita filmnya, kita sambil kritis menyoroti nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Misalnya, ketika kita menonton film Star Trek, ya, kita menikmati saja alur ceritanya yang seru dan menegangkan, namun kita tetap harus kritis nilai-nilai yang sedang diajarkan melalui film itu apakah sesuai dengan Alkitab. Jangan menerima mentah-mentah semua nilai di dalam media, namun juga jangan menolak semua nilai di dalam media. Kita harus bijaksana memilih dan memilah sendiri mana yang sesuai dengan Alkitab dan tidak untuk kita aplikasikan. Contoh lain, ketika kita menonton film Yes Man yang dibintangi oleh aktor, Jim Carrey, kita boleh menikmati alur ceritanya yang lucu dan konyol, namun kita tetap harus waspada bahwa film itu sedang mencoba mengajarkan Berpikir Positif kepada para penontonnya. Sebagai penonton Kristen, kita tidak boleh langsung meng“amin”kannya, kita harus mengujinya dan memang bahwa Berpikir Positif itu lebih banyak berdampak buruk dan tidak sesuai dengan Alkitab.




III. SEPUTAR FACEBOOK
Setelah kita mengerti presuposisi Kristen terhadap media, maka kita akan menyoroti seputar Facebook: definisi, asal mula, pelarangan terhadap penggunaannya, dan hal-hal lainnya. Untuk selanjutnya, Facebook akan disingkat FB.
A. FB: Definisi, Asal Mula, dan Perkembangannya
Apa itu Facebook (FB)? Situs Wikipedia5 menjelaskan bahwa FB adalah situs jejaring sosial yang dioperasikan dan secara privat dimiliki oleh Facebook, Inc. di Cambridge, Massachusetts, USA. FB pertama kali bernama Facemash ditemukan oleh Mark Zuckerberg pada tanggal 28 Oktober 2003 bersama dengan teman kosnya, Eduardo Saverin, Dustin Moskovitz, dan Chris Hughes ketika mereka menjadi mahasiswa di Harvard University. Facemash sebenarnya merupakan situs jejaring sosial yang hanya diperuntukkan untuk mahasiswa Harvard, namun telah meluas sampai ke kampus-kampus lain di daerah Boston area, Ivy League, dan Stanford University. Kemudian, situs ini meluas keanggotaannya mulai dari siswa/i SMU sampai mahasiswa/i, dan semua orang yang berusia di atas 13 tahun. Wikipedia mencatat, anggota FB yang aktif sekarang adalah 350 juta. Facebook Inc. memiliki karyawan berjumlah lebih dari 900 orang dan meraup pendapatan di atas US$ 300 juta. FB diluncurkan pada tanggal 4 Februari 2004. FB tersedia dalam berbagai bahasa: Afrika, Albania, Arab, Azeri, Basque, Bengali, Bosnia, Bulgaria, Catalan, Mandarin (disederhanakan), Mandarin (Hong Kong), Mandarin (Taiwan), Kroasia, Cekoslowakia, Denmark, Belanda, Inggris (UK), Inggris (US), Inggris (Pirate), Inggris (kacau balau), Esperanto, Estonia, Faroese, Filipino, Finlandia, Prancis (Kanada), Prancis (France), Galicia, Georgia, Jerman, Yunani, Ibrani, Hindi, Hungarian, Islandia, Indonesia, Irlandia, Italia, Jepang, Korea, Latin, Latvia, Lithuania, Makedonia, Melayu, Malayalam, Maltese, Nepal, Norwegia (Bokmål), Norwegia (Nynorsk), Polandia, Portugis (Brazil), Portugis (Europe), Persia, Punjabi, Romania, Rusia, Serbia, Slovakia, Slovene, Spanyol, Spanyol (Castile), Swahili, Swedia, Tamil, Telugu, Thai, Turkish,Ukrainian, Vietnam, Wales.

FB ternyata bukan hanya bisa diakses di laptop atau komputer, namun juga bisa diakses di HP, BlackBerry (BB), dan i-Phone. HP merk tertentu bahkan sudah dilengkapi dengan fasilitas FB (selain Yahoo Messenger, e-Buddy, dll) di dalamnya. Di BB, ketika kita mengaktifkan internet, pada saat yang sama, satu-satunya situs jejaring sosial yang ada adalah FB ini dan FB ini kemudian kita bisa install, meskipun membuka FB di BB berbeda dengan membuka FB di laptop/komputer. Bagi saya pribadi, lebih enak membuka FB di laptop daripada membuka FB di BB, hehehe…


B. Hal-hal Seputar FB: Isi, Anggota, dan Motivasi Anggotanya
Setelah mengerti definisi, asal mula, dan perkembangan FB, maka kita akan menyoroti hal-hal yang ada di dalam FB.
1. Isi FB
Sesudah kita melihat definisi, asal mula, dan perkembangan FB, maka kita mungkin penasaran, apa isi FB sehingga FB begitu meluas dan terkenal? Di FB, kita bisa mendaftar menjadi anggota gratis. Ketika kita sudah menjadi anggota, kita bisa memanfaatkan semua fasilitas di FB. Tentunya kita mengisi profil dan gambar kita supaya orang lain mengetahui siapa kita. Di bagian profil, kita bisa mengisi jenis kelamin, informasi kelahiran (tanggal, bulan, dan tahun), status hubungan (jomblo, rumit, berpacaran, menikah, dll), mencari (teman, jaringan, teman kencan, pacar), no HP, telepon, e-mail, Yahoo Messenger, MSN, informasi kuliah, informasi tempat kerja, tentang saya (About Me), dll. Kemudian kita bisa mengupdate status kapan pun dan di mana pun kita berada. Status itu berisi apa yang ada di dalam pikiran kita atau apa yang kita lakukan atau kita bisa mengisi apa pun di dalam status. Selain status, kita bisa mengisi catatan di bagian Notes (Catatan). Selain Catatan, kita juga mengisi Acara (Event) yang terletak di sebelah kira Notes. Notes, Event, dll ada di bagian bawah FB. Kemudian, kita juga bisa menjelajahi aplikasi yang ada (baik legal maupun illegal) di FB, misalnya: kuis, dll. Aplikasi-aplikasi tersebut kebanyakan berisi hal-hal yang tidak serius atau hanya untuk bersenang-senang saja (guyonan). Jangan percaya akan setiap isi di dalam aplikasi tersebut, karena itu hanya untuk fun. Inilah sisi fun di FB dan hal itu ok-ok saja. Selain itu, kita juga bisa membuat sendiri aplikasi dan fan page tentang tokoh, organisasi, atau siapa pun yang kita inginkan (bisa guru, dosen, kampus, dll).

2. Anggota/Pengguna FB
Karena isinya menarik, FB adalah situs jejaring sosial yang dulunya digandrungi oleh banyak anak muda. Namun karena zaman terus berubah, maka, bukan hanya anak muda, anak-anak (bahkan SD) sampai orangtua pun menggandrunginya. Tidak jarang kita menjumpai banyak hamba Tuhan yang menjadi anggota di FB. Begitu juga anak SD yang berusia di bawah 12 tahun pun sudah mendaftar menjadi anggota di FB. Variasi para anggota/pengguna FB sangat beraneka ragam membuat FB makin terkenal.

3. Alasan dan Motivasi Anggota/Pengguna FB
Jika kita melihat begitu beragamnya para anggota FB, maka kita perlu mengklarifikasi apa alasan para anggota mendaftarkan diri mereka menjadi anggota di FB. Ada yang mendaftar karena didaftarkan temannya atau ikut-ikutan teman yang mendaftar di FB. Secara motivasi, ada yang mendaftar FB untuk menonjolkan diri (narsis). Sangat sedikit orang yang mendaftar FB untuk melayani Tuhan, misalnya: menginjili, memberitakan Firman, dll.


C. Kritik dan Pelarangan Terhadap Penggunaan FB dan Tinjauan Kritisnya
Suatu media tidak lepas dari pro dan kontra. Begitu juga halnya dengan FB. FB tidak lepas dari sejumlah kontra, yaitu kritik dan pelarangan terhadap penggunaan FB. Situs Wikipedia memberi tahu kita tentang berbagai kritik dan pelarangan terhadap penggunaan FB.6
1. Anak Di Bawah Umur 13 Tahun
Karena tidak ada larangan keras bagi anggota yang berusia di bawah 13 tahun, maka masyarakat kuatir bahwa FB berbahaya bagi anak-anak yang berusia di bawah 13 tahun. Sebenarnya alasan ini masuk akal, karena anak-anak yang berusia di bawah 13 tahun biasanya kurang mengerti kegunaan FB dan hal-hal di dalamnya. Bukan tidak mungkin anak-anak tersebut mengakses halaman FB yang berisi hal-hal tidak senonoh dan chatting dengan teman-teman yang tidak jelas asal usulnya. Namun kekuatiran tersebut sebenarnya bisa diatasi dan tidak perlu dibombastiskan. Bagaimana mengatasinya? Kalau Anda orang Kristen yang beres dan memiliki anak, tentu dari kecil, anak Anda sudah dididik dan diajar dengan iman Kristen yang beres, sehingga dari kecil, mereka sudah takut akan Allah. Ketika mereka dari kecil sudah takut akan Allah, mereka akan dengan sendirinya memilih dan memilah mana yang beres dan mana yang tidak. Namun tindakan pemilihin dan pemilahan ini harus dibarengi dengan peran serta orangtua terus-menerus agar mereka semakin tumbuh dewasa.

2. Tidak Berhubungan Dengan Kampus (dan Pekerjaan)
Pada Oktober 2005, University of New Mexico memblokir akses ke FB bagi semua komputer dan jaringan di kampus tersebut. Mengapa? Karena pihak kampus menyatakan bahwa FB tidak berkaitan dengan urusan kampus dan pekerjaan di staf kampus. Hmmm, mungkin hal ini ada benarnya, karena FB bisa mengganggu kinerja para staf kampus. Akhirnya pekerjaan bisa terbengkalai karena terlalu sering mengakses FB. Namun, di sisi lain, biasanya peraturan tersebut, khususnya pembuat peraturan itu, biasanya tidak konsisten dengan dirinya sendiri. Ini bukan sekadar teori, saya sudah menemukan realitasnya. Ada “asisten” manajer sebuah perusahaan penerbitan melarang (secara implisit) anak buahnya menggunakan Yahoo Messenger (YM) jika tidak berkaitan dengan pekerjaan. Dia akan mengomel dan menyindir anak buahnya yang chatting dengan menggunakan YM untuk hal-hal yang tidak berkaitan dengan pekerjaan. Tetapi tahukah Anda bahwa yang membuat peraturan implisit tersebut adalah orang yang sama yang TIDAK mengenakan peraturan tersebut berlaku bagi si pembuat peraturan! Artinya, orang itu melanggar peraturan yang dia buat sendiri. Saya tahu dari mana? Orang ini chatting dengan menggunakan YM dengan rekan anak buahnya dan membicarakan tentang panda. Tolong tanya, apakah panda ada kaitannya dengan pekerjaan di perusahaan penerbitan? Oleh karena itu, bersikaplah dewasa dalam membuat keputusan, jangan asal-asalan!

3. Larangan dari Pemerintah Negara
Alasan ketiga adalah karena FB dipakai oleh pihak-pihak yang bertanggungjawab untuk mengkritik pemerintah dan mendukung partai-partai illegal di suatu negara. Oleh karena itu, pemerintah negara-negara tertentu, misalnya: Iran, Tiongkok, Syria, dan Vietnam melarang penggunaan FB. Hal ini ada benarnya untuk mengurangi ketidakbertanggungjawaban pihak-pihak tertentu dalam menggunakan FB untuk hal-hal yang tidak beres. Namun, di sisi lain, patut diragukan motivasi pelarangan FB oleh pemerintah negara. Apakah suatu pemerintah negara tertentu merasa terganggu dengan kekuasaannya, maka ia melarang penggunaan FB, bahkan memenjarakan mereka yang mengakses FB? Misalnya, suatu pemerintahan negara tertentu tidak beres, korupsi di mana-mana, diktator, dll, kemudian melalui FB, ada warga yang menyindir kebusukan pemerintahan. Dengan diblokirnya penggunaan FB oleh pemerintah tersebut gara-gara ulah warga tadi, bukankah itu makin menandakan kejelekan pemerintah tersebut? Bukankah ini tindakan konyol yang dilakukan tanpa pertimbangan yang matang dan bijaksana? Jika pemerintah tidak melakukan kesalahan, mengapa harus takut dikritik oleh warganya?

4. Penyalahgunaan Privasi
Alasan keempat adalah profil FB sering disalahgunakan oleh pihak-pihak tak bertanggungjawab untuk hal-hal yang tidak beres. Wikipedia menceritakan bahwa dua mahasiswa Massachusetts Institute of Technology (MIT) dapat mendownload 70.000 profil FB dari empat kampus (MIT, New York University, the University of Oklahoma, dan Harvard University) dengan menggunakan sebuah program. Hal ini patut diperhatikan bagi para anggota FB agar kita tidak terlalu membuka semua profil kita, khususnya berkaitan dengan alamat.

5. Merusak Remaja
Uskup agung Katolik Roma Westminster yang bernama Vincent Nichols mengatakan bahwa FB dan situs jejaring sosial lainnya dapat mengarahkan para remaja melakukan tindakan bunuh diri. Selain itu, dia juga mengatakan bahwa situs jejaring sosial dapat merusak hubungan intim dan membiarkan para remaja tanpa ikatan sosial. Apa yang dikatakan uskup ini ada benarnya, karena para remaja biasanya masih labil dan mudah meniru. Namun, sayangnya perkataan uskup ini kurang didukung bukti konkrit akan apa yang dikuatirkannya. Kalau pun ada kasus seperti yang dikatakannya, itu pun kasus khusus dan solusi agar tidak terjadi kasus tersebut bukan melarang penggunaan FB, tetapi mengarahkan para remaja dengan iman dan etika yang beres, sehingga mereka tidak terpengaruh hal-hal negatif dari penggunaan FB.

Saya terus terang takut dan kuatir, Kekristenan bukan tumbuh dewasa, namun menjadi kekanak-kanakan. Satu (atau beberapa) kasus mengakibatkan orang Kristen menjadi paranoid, lalu bertindak ekstrem. Misalnya, karena ada berita kejahatan, orangtua Kristen yang anaknya tidak mau ikut-ikutan, maka anak-anaknya dilarang membaca surat kabar, menggunakan FB, dll. Namun secara tidak sadar, beberapa dari orangtua tersebut ternyata membaca surat kabar, menggunakan FB, dll. Jika ditanya, mengapa orangtua bertindak demikian, sedangkan anak-anaknya tidak boleh? Jawaban yang sering didengar adalah karena orangtua sudah banyak makan asam garam, jadi tahu mana yang beres dan tidak. Jawaban klise tersebut sebenarnya bukan jawaban, namun hanya rasionalisasi atas tindakannya sendiri yang tidak bijaksana. Pdt. Dr. Stephen Tong di dalam salah satu khotbahnya pernah menceritakan kasus di mana orangtua yang terlalu mengimun anaknya. Pada suatu kali, dulu waktu Pdt. Stephen Tong masih muda, beliau bertemu dengan pendeta yang sudah berumur/tua, kemudian si pendeta tua ini mengajar Pdt. Stephen Tong bahwa karena surat kabar di Hong Kong isinya selalu hal-hal buruk, seperti: pembunuhan, pemerkosaan, dll, maka setelah membaca surat kabar tersebut, si pendeta tua menggunting-gunting berita yang berisi hal-hal negatif di surat kabar tersebut, kemudian menyerahkan surat kabar tersebut kepada anak-anaknya untuk dibaca. Kemudian, Pdt. Stephen Tong berpikir dan berkata kepada si pendeta tua, jika si pendeta tua melakukan hal tersebut, maka anak-anaknya malah semakin penasaran dengan isi dari surat kabar yang sudah digunting-gunting tersebut dan bukan sesuatu yang mustahil jika anak ini bisa meminjam surat kabar tetangganya khusus untuk melihat berita apa yang digunting-gunting oleh ayahnya itu. Bukankah ini lebih gawat? Kemudian, Pdt. Stephen Tong bersenda gurau di dalam khotbahnya menyebut koran yang bolong-bolong (setelah digunting oleh pendeta tua) itu sebagai holy newspaper, bukan surat kabar/koran yang kudus, tetapi koran yang banyak lubangnya, maka disebut holy (àhole: lubang), hehehe…




IV. PENGGUNAAN FACEBOOK: BERTANGGUNGJAWAB VS TIDAK BERTANGGUNGJAWAB DAN TINJAUAN KRITISNYA
Terakhir, setelah mengerti seluk-beluk FB, maka sekarang kita akan menyoroti penggunaan FB. FB sendiri boleh dibilang netral, karena FB hanya sarana menjalin hubungan baik pertemanan, jaringan, dll. Namun yang menjadi permasalahannya adalah masalah penggunaannya. Banyak yang menggunakan FB secara tidak bertanggungjawab dan ada juga yang menggunakannya secara bertanggungjawab. Dengan membedakan dua hal ini, sekali lagi, saya TIDAK bermaksud terlalu serius menyoroti FB, lalu kita tidak boleh fun di dalam FB. Kita boleh fun di FB, namun tetap harus ada batas fun tersebut.
A. Penggunaan FB yang Tidak Bertanggungjawab
Apa saja yang termasuk penggunaan FB yang tidak bertanggungjawab?
1. Membuat Halaman-halaman Khusus yang Berisi Hal-hal Porno
Tindakan penggunaan FB yang tidak bertanggungjawab biasanya dilakukan oleh banyak orang Amerika Serikat sendiri yang hidup tidak karuan. Salah satunya adalah membuat halaman khusus yang berisi hal-hal dan gambar-gambar porno. Mungkin, di Indonesia, hal ini kurang atau mungkin tidak ada yang melakukannya. Namun, kita harus mewaspadai hal-hal ini.

2. Iseng dan Mencari Sensasi
Tindakan penggunaan FB yang tidak bertanggungjawab kedua adalah keisengan dan mencari sensasi. Zaman di mana kita hidup adalah zaman postmodern dengan ide postmodernisme dan postmodernitas yang mulai meracuni para generasi muda, tidak terkecuali yang “Kristen.” Selain postmodernisme, ingatlah, manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang diciptakan dengan segala kreativitasnya, namun telah berdosa dan rusak total. Jika kedua konsep ini digabungkan, maka timbullah suatu sikap: iseng dan mencari sensasi. Lho, apa tidak boleh iseng? Iseng sebenarnya tidak apa-apa, asalkan ada batasnya. Iseng dan mencari sensasi muncul karena kreativitas manusia yang diberi oleh Allah disalahgunakan dengan tidak bertanggungjawab.

Orang zaman sekarang gemar mencari dan menimbulkan sensasi untuk mencari keuntungan. Jangankan orang dunia, beberapa aliran Kristen juga gemar kok dengan tindakan mencari dan menimbulkan sensasi. Coba perhatikan dunia Kristen sejak zaman dahulu sampai sekarang. Dulu banyak orang Kristen tergila-gila dengan sensasi Toronto Blessing (TB), lalu setelah TB selesai, maka pindah lagi ke sensasi gereja di Singapore di mana istri sang pendeta berpakaian tidak senonoh. Sekarang, sensasinya berpindah lagi ke Surabaya dengan pendeta yang masih muda, tampangnya seperti bintang film, dan terkenal melalui bukunya. Di dalam kebaktian besar yang dipimpinnya, si pendeta menyuruh jemaatnya untuk bergandengan tangan untuk menerima kuasa dari si pendeta (mirip tindakan tenaga dalam dalam Gerakan Zaman Baru). Baru-baru ini, meledak lagi 2 sensasi yang lebih heboh. Pertama, seorang muda yang mengklaim diri sebagai “nabi”, menulis buku, dan mendirikan persekutuan di Surabaya, namun semuanya hanya kedok, karena seseorang menceritakan bahwa setelah memimpin persekutuan yang didominasi oleh banyak mahasiswi, “nabi” ini melakukan free-sex. Seorang pendeta dari sebuah gereja Karismatik Injili melalui e-mail yang saya baca geleng-geleng kepala dan menegur keras “nabi” ini dan hamba Tuhan yang ikut mendukung “nabi” ini. Sensasi kedua datang dari kota besar di Jawa Tengah. Saya mendengar cerita ini dari seorang rekan pendeta. Rekan saya ini bercerita bahwa ada seorang “pendeta” yang sudah beristri kemudian ingin memiliki istri kedua yang tidak lain adalah anak buah di dalam pelayanannya. Tahukah Anda apa alasan yang dia pakai untuk menikah kedua kalinya? Anda pasti tertawa mendengarnya. Si “pendeta” ini mengatakan bahwa ia “menikah dalam roh” dengan anak buah pelayanannya itu. Huahahahaha… Lucu dan konyol kan?

Kalau dunia Kekristenan suka mencari dan menimbulkan sensasi, maka jangan heran, dunia FB pun tidak lepas dari sensasi. Biasanya, orang yang gemar mencari dan menimbulkan sensasi dengan cara berbohong melalui profilnya di FB. Alasannya sich katanya fun, tetapi fun yang ngawur. Misalnya, mengenai relationship status (status hubungan), seorang bisa mengganti-ganti sesukanya sendiri: dari single, kemudian it’s complicated, kemudian single, kemudian engaged, kemudian married, kemudian single, kemudian married, dll. Lalu, kalau orang ini ditanya, mengapa statusnya diganti-ganti? Jawabannya sungguh pragmatis: ISENG. Kalau dia mau konsisten dengan keisengannya, mengapa jenis kelaminnya tidak diganti sekalian? Mengapa Agama tidak diganti sekalian dari Kristen menjadi atheis? Ini membuktikan keisengannya bukan keisengan tanpa berpikir bukan? Bukan hanya mengganti status hubungan, tetapi juga berdusta. Saya menemukan fakta di FB bahwa adik teman saya yang masih remaja (di bawah 17 tahun) sudah memasang status hubungannya: MARRIED (menikah), kemudian disusul dengan nama seorang yang berjenis kelamin sama dengan dia. Lucu sih gejala ini, namun konyol. Apa hanya karena alasan iseng, hal-hal itu dipermainkan? Kalau saya pribadi sudah mengetahui adik teman saya itu, maka saya mengetahuinya, namun bagaimana dengan orang lain yang tidak mengetahuinya?

Bukan hanya relationship status, hal-hal lain seperti Siblings pun suka ditulis sesuka hatinya. Menurut arti kata, sibling berarti saudara kandung. Namun dasar orang postmodern yang iseng, nama-nama di FB yang berkaitan dengan sibling diisi dengan nama teman-temannya. Aneh bukan? Iseng mengakibatkan segala sesuatu mungkin tampak lucu, namun lama-kelamaan jika diperhatikan konyol.

Rupa-rupanya HTS (Hubungan Tanpa Status)7 atau istilahnya TTM (Teman Tapi Mesra) atau teman “dekat” atau istilah gaulnya: gebetan yang lagi marak di kalangan generasi muda zaman postmodern sekarang ternyata tidak luput diaplikasikan di FB. Bagaimana saya mengetahuinya? Meskipun ini bukan generalisasi dan tidak mutlak, saya bisa membaca gejala ini dengan mencocokkan antara Relationship Status dengan Looking For di dalam profil seseorang. Biasanya kalau seseorang sedang menjalin HTS atau memiliki TTM, ada orang yang menulis status hubungannya: it’s complicated (rumit). Namun ada juga remaja yang memasang status it’s complicated, namun tidak mengerti artinya (atau pura-pura tidak mengerti artinya?). Saya menghargai orang jujur yang mengerti hubungannya. Namun ada juga orang lain yang sudah memiliki TTM, tetapi tetap menulis status hubungannya: single (jomblo), namun dia hanya mencari persahabatan (di dalam Looking For, dia menulis: Persahabatan/Friendship). Meskipun orang yang menulis seperti ini TIDAK harus berarti dia sudah memiliki TTM, tetapi kebanyakan seperti itu. Lalu, kalau orang ini ditanya, dia akan berkata bahwa itu hanya teman dekat. Teman dekat namun berbeda jenis kelamin dan mau diajak pergi berdua. Apakah itu hanya sebatas teman?? Kalau teman, mengapa mau diajak pergi hanya berdua?? Ada juga yang sudah bertunangan, namun tidak mau menulis status: Engaged, entah apa motivasinya. Kalau kita melihat gejala generasi muda di FB, kita akan geleng-geleng kepala. Jangankan generasi muda dunia, banyak generasi muda Kristen pun terlalu fun di FB, sampai hampir tidak bisa dibedakan mana yang Kristen dan mana yang bukan.


B. Penggunaan FB yang Bertanggungjawab
Lalu, bagaimana menggunakan FB secara bertanggungjawab? Apakah di FB tidak boleh fun dan selalu serius? Sekali lagi TIDAK. Bagaimana kita menggunakan FB secara bertanggungjawab prinsipnya sama dengan perspektif Kristen mengenai media. Kita menggunakan semua hal untuk kemuliaan Allah, maka kita menggunakan FB untuk memuliakan Allah. Kita memiliki prinsip-prinsip yang tegas di dalam menyoroti media, namun TIDAK berarti kita kaku dan kolot di dalam aplikasinya. Begitu juga halnya dengan FB. Kita memiliki prinsip dan motivasi yang jelas dan tegas mengapa kita bergabung menjadi anggota di dalam FB, yaitu untuk memuliakan Allah dan membawa berita firman. Namun tidak berarti kita menjadi orang yang sok religius ketika memanfaatkan FB. Kita harus bisa memiliki sikap seimbang antara hal-hal rohani dan hal-hal fun. Saya pribadi sebagai anggota FB berusaha menyeimbangkan dua hal ini, meskipun saya lebih menekankan hal-hal rohani di FB. Namun, saya tetap mencoba aplikasi-aplikasi fun di FB untuk refreshing.




V. KESIMPULAN DAN TANTANGAN
Sebagai penutup dan kesimpulan, bagaimana sikap kita? Apakah kita meniru apa yang dunia ajar dan lakukan melalui penggunaan FB secara tidak bertanggungjawab? Ataukah kita melakukan ekstrem lainnya yaitu tidak mau memanfaatkan FB sama sekali? Ataukah kita berusaha seimbang dan paradoks yaitu mempergunakan FB secara bertanggungjawab: fun namun tetap memiliki prinsip? Biarlah kita sebagai anak-anak Tuhan menjadi garam dan terang dunia di dalam setiap aspek kehidupan, termasuk memanfaatkan FB secara seimbang demi hormat dan kemuliaan nama-Nya. Biarlah ini bukan teori saja, tetapi kita aplikasikan di dalam cara kita memanfaatkan FB. Amin. Soli Deo Gloria.




Catatan kaki:
1 C. J. Mahaney, ed., Worldliness: Resisting the Seduction of a Fallen World (U.S.A.: Crossway, 2008), hlm. 46-51.
2 Ibid., hlm. 46.
3 Ibid., hlm. 47.
4 Ibid.
5 http://en.wikipedia.org/wiki/Facebook
6 http://en.wikipedia.org/wiki/Facebook
7 Saya mendapatkan istilah ini setelah membaca sebuah artikel yang ditulis oleh Lidya yang berjudul “Hubungan Tanpa Status, Trend Anak Muda Masa Kini” di Tabloid Reformata (
http://www.reformata.com/index.php?m=news&a=view&id=3274). Lidya sebagai penulis artikel tersebut mengungkapkan inti HTS adalah, “kedekatan dan keintiman tanpa sebuah pengakuan dan komitmen.”

31 December 2009

Resensi Buku-87: A PRIMER ON POSTMODERNISM (Prof. Stanley J. Grenz, D.Theol.)

...Dapatkan segera...
Buku
A PRIMER ON POSTMODERNISM:
Pengantar Untuk Memahami Postmodernisme dan Peluang Penginjilan Atasnya


oleh: Prof. Stanley J. Grenz, D.Theol.

Penerbit: Yayasan ANDI, 2001

Penerjemah: Ev. Wilson Suwanto, S.Th., M.A.





Deskripsi dari Denny Teguh Sutandio:
Setiap zaman memiliki semangat zaman (spirit of the age). Semangat zaman ini adalah presuposisi dasar yang membentuk kehidupan di zaman tersebut. Jika di zaman modern, semangat zamannya mementingkan rasio, maka di zaman postmodern, semangat zaman yang dibangunnya hendak meruntuhkan semangat zaman modern. Apa yang dimaksud dengan postmodern, postmodernisme, dan postmodernitas? Apa latar belakang munculnya postmodernisme? Bagaimana ide postmodernisme mempengaruhi gaya hidup orang-orang postmodern? Bagaimana pula kita sebagai orang Kristen menjadi saksi Kristus di abad postmodern ini? Prof. Stanley J. Grenz, Th.D. di dalam bukunya A Primer on Postmodernism memaparkan dengan jelas dan cukup mudah dimengerti tentang postmodern, filsafat postmodernisme, postmodernitas, dan panggilan Kekristenan di abad postmodern ini. Di awal bukunya, Dr. Grenz telah mengungkapkan bahwa bukunya ini hanya sebagai sebuah pengantar (tidak bisa mencakup semua pandangan postmodernisme) dan beliau menyarankan para pembaca untuk mencari buku-buku para tokoh postmodernisme sendiri. Dr. Grenz di dalam bukunya ini memaparkan tentang ide postmodernisme dan etos postmodernitas yang berpengaruh ke dalam kehidupan sehari-hari, misalnya: arsitektur, musik, sastra, gaya hidup, dll. Kemudian, beliau menganalisa filsafat modernisme (yang dilawan oleh postmodernisme), filsafat postmodernisme, dan tokoh-tokoh postmodernisme (Michel Foucault, Jacques Derrida, dan Richard Rorty). Pada bab terakhir, Dr. Grenz memaparkan pandangan iman Kristen terhadap postmodernisme dan tantangan Kekristenan memberitakan Injil kepada orang-orang di abad postmodern ini. Biarlah melalui buku ini, Kekristenan diperlengkapi dengan sedikit filsafat postmodernisme dan bagaimana memberitakan Injil kepada orang-orang di zaman postmodern ini tanpa harus mengkompromikan berita Injil.




Apresiasi:
“Ditulis secara anggun dengan penelitian yang cermat, Pengantar ini memberikan sebuah tinjauan pengantar yang sangat menolong dari beragam ekspresi kultural yang membentuk postmodernisme. Walaupun penafsirannya atas beberapa pemikir seperti Foucault, Derrida, dan Rorty masih bisa diperdebatkan (lagipula, pendapat siapa yang tidak bisa diperdebatkan?), karya Grenz ini adalah sebuah pedoman yang bisa diandalkan baik dalam masalah-masalah filosofis yang penting maupun terhadap konteks historis dan kontemporer yang melingkupinya.”
Prof. Merold Westphal, Ph.D.
(Philosophy Department, Fordham University, Bronx, New York, U.S.A.; Bachelor of Arts—B.A. summa cum laude dari Wheaton College, Illinois, U.S.A.; Master of Arts—M.A. dan Doctor of Philosophy—Ph.D. dari Yale University, U.S.A.)


“Buku Grenz ini memberikan suatu pengantar yang baik mengenai arus intelektual yang penting bagi orang Kristen. Meskipun pemikiran postmodernisme tentunya beragam, Grenz mensurvei sebagian dari apa yang lebih dikenal sebagai para claimant atau penuntut terhadap istilah itu. Buku ini ditulis dengan jelas, bisa dipahami oleh semua kalangan pembaca buku, dan cukup menarik.”
Prof. Nancey Murphey, Ph.D., Th.D.
(Professor of Christian Philosophy di Fuller Theological Seminary, Pasadena, California, U.S.A.; B.A. dalam bidang Filsafat dan Psikologi dari Creighton University; Ph.D. dari the University of California at Berkeley; dan Doctor of Theology—Th.D. dari the Graduate Theological Union)


“Ketika banyak pengamat budaya melihat ancaman terhadap Injil dalam postmodernisme, Grenz justru melihat peluang… Bagi mereka yang serius memahami etos yang baru ini dan terhadap pentingnya memperlengkapi gereja untuk menghadapi praanggapan dari budaya kita, buku ini akan merupakan suatu pedoman yang berguna sekaligus sebuah sumber harapan.”
Prof. Steve Hayner, Ph.D.
(Peachtree Associate Professor of Evangelism and Church Growth di Columbia Seminary, U.S.A.; Master of Theological Studies—M.T.S. dari Harvard Divinity School; Master of Theology—Th.M. dari Gordon-Conwell Theological Seminary; dan Ph.D. dalam Perjanjian Lama dari the University of St. Andrews, Scotland)






Profil Dr. Stanley J. Grenz:
Prof. Stanley J. Grenz, D.Theol. lahir di Alpena, Michigan pada tanggal 7 Januari 1950. Pada Desember 1971, beliau menikah dengan Edna Sturhahn (dari Vancouver, BC). Mereka menyelesaikan undergraduate studies di University of Colorado. Dr. Stanley menamatkan studi Master of Divinity (M.Div.) dari Denver Seminary pada tahun 1976. Kemudian, Dr. Stanley dan istri pindah ke Munich, Jerman di mana Dr. Stanley menamatkan studi Doctor of Theology (D.Theol.) di University of Munich di bawah bimbingan Wolfhart Pannenberg. Dr. Stanley dan Edna dikaruniai 2 orang anak: Joel dan Corina serta dikaruniai seorang cucu: Anika. Sejak musim gugur tahun 2004, beliau menjabat sebagai Professor of Theological Studies di Mars Hill Graduate School, Seattle WA, U.S.A.

Eksposisi 1 Korintus 1:26-31 (Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.)

EKSPOSISI 1 KORINTUS 1:26-31

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.



Nats: 1 Korintus 1:26-31



Kalau di ayat 18-25 Paulus lebih menyoroti “Injil” yang dianggap kebodohan menurut pemikiran duniawi, di ayat 26-31 ia memfokuskan pembahasan pada jemaat Korintus. Perubahan fokus ini dapat dilihat dari penggunaan sapaan “saudara-saudara” di awal ayat 26. Paulus memang masih membahas tentang isu “hikmat”, namun kini dia sudah berpindah ke argumen lain.

Paulus ingin membuktikan bahwa kepercayaan mereka yang dahulu terhadap Injil merupakan bukti karya Allah yang luar biasa melalui kekuatan Injil. Mengapa? Karena mereka dulu adalah orang-orang yang rendah menurut ukuran dunia. Kesombongan mereka sekarang merupakan kontradiksi dengan keadaan mereka yang dahulu.


Mayoritas Jemaat Korintus Dahulu Adalah Orang yang Hina Menurut Dunia (ay. 26)
Terjemahan LAI:TB “ingatlah” kurang mengekspresikan kata Yunani yang dipakai. Katablepete di ayat ini seharusnya diterjemahkan “terus-menerus mempertimbangkan”. “Mempertimbangkan” (NASB/RSV) jelas melibatkan pemikiran yang lebih serius dibandingkan sekadar “mengingat”. Tense present yang dipakai turut mempertegas maksud Paulus bahwa tindakan “mempertimbangkan” ini harus dilakukan berulang-ulang. Kita perlu terus melihat diri kita dahulu, supaya kita dapat menghargai keadaan kita yang sekarang.

Apa yang harus dipertimbangkan oleh jemaat Korintus? Penerjemah LAI:TB tampaknya mengadopsi terjemahan NIV ketika mereka memilih terjemahan “keadaan kamu ketika kamu dipanggil” (NIV “think of what you were when you were called”). Berbagai versi lain memilih terjemahan yang lebih hurufiah, yaitu “panggilanmu” (KJV/NASB/RSV). Terjemahan ini lebih sesuai dengan teks asli (klhsin humwn), walaupun maksud dari “panggilanmu” di sini sama dengan “keadaan kamu ketika dipanggil”.

Terjemahan “menurut ukuran manusia” (LAI:TB/NIV “by human standards”) tidak terlalu tegas. Ungkapan Yunani kata sarka dalam ayat ini seharusnya berarti “menurut daging” (KJV/NASB). Pemakaian kata sarx menyiratkan pandangan Paulus bahwa semua hal yang dianggap hebat oleh jemaat Korintus hanyalah hebat secara kedagingan. Ukuran yang dipakai untuk menilai sangat tidak Alkitabiah. Penerjemah RSV mengungkapkan hal ini dengan ungkapan “menurut ukuran duniawi” (according to wordly standards).

Kata “tidak banyak” (ou polloi) menunjukkan bahwa ada sebagian kecil dari jemaat Korintus yang dapat dikategorikan sebagai orang yang mulia menurut dunia. Hal ini sesuai dengan petunjuk yang ada di bagian lain dari surat 1 Korintus. Pasal 11:17-22 menyinggung tentang orang-orang kaya yang menghina jemaat lain yang miskin. Krispus, Gaius dan Stefanas (lih. eksposisi pasal 1:14-16) merupakan beberapa nama orang penting di kalangan jemaat Korintus yang juga sukses menurut ukuran dunia. Penyebutan tiga nama ini dan ucapan Paulus di ayat 26 mungkin menyiratkan sebuah sindiran: Krispus, Gaius, dan Stefanas yang menurut ukuran dunia hebat ternyata tidak memandang rendah Injil, sedangkan mayoritas jemaat lain yang menurut dunia tidak hebat justru memandang rendah Injil.

Kehebatan duniawi yang dimaksud Paulus diungkapkan melalui tiga kata: “bijak” (sofos), “berpengaruh” (dunatos) dan “terpandang” (eugenhs). Kata pertama merujuk pada para pemikir, terutama para filsuf. Kata kedua bisa berarti “kuat” (KJV/NASB), “berpengaruh” (NIV) atau “berkuasa” (RSV), namun kata ini jika diterapkan pada manusia sering kali memiliki arti “punya pengaruh, wewenang atau posisi” (Kis. 25:5 “orang yang berwewenang”). Kata terakhir secara hurufiah berarti “memiliki kelahiran yang baik”. Makna yang tersirat dalam kata ini adalah terpandang dari sisi keluarga atau keturunan (NIV/RSV “not many were of noble birth”).

Mengapa Paulus memilih tiga kriteria ini? Ia sangat mungkin sedang memikirkan Yeremia 9:23 yang berisi kecaman terhadap tiga golongan manusia yang sombong, yaitu orang yang bijaksana, orang yang kuat dan orang yang kaya. Walaupun istilah yang dipakai tidak semuanya identik, tetapi jumlah yang sama memberi petunjuk ke arah itu. Paulus juga sangat mungkin mengubah beberapa istilah di Yeremia 9:23 untuk menyesuaikan dengan situasi sosiologis jemaat Korintus. Dalam konteks budaya kuno waktu itu, sofos, dunamosdan eugenhs memang saling berkaitan secara erat. Orang yang berasal dari keluarga terpandang memiliki kesempatan yang besar untuk belajar (menjadi berhikmat dari sisi keilmuan), sehingga orang itu juga memiliki pengaruh/jabatan di masyarakat. Di samping itu, dengan menyebut tiga golongan ini Paulus telah mencakup orang-orang yang dianggap hebat di bidang filsafat, politik dan sosial.


Tujuan Allah Memilih Orang-orang yang Dianggap Rendah Oleh Dunia (ay. 27-31)
Dengan memaparkan status mayoritas jemaat Korintus yang rendah menurut ukuran dunia, Paulus sekaligus ingin menonjolkan anugerah Allah dalam memilih mereka. Status mereka yang rendah menunjukkan bahwa pilihan atas hidup mereka tidak didasarkan pada kebaikan atau kelebihan mereka. Mereka sebenarnya tidak layak untuk dipilih, tetapi Allah berkenan memilih mereka (bdk. ay. 21b). Pola pilihan seperti ini konsisten dengan cara kerja Allah di seluruh Alkitab (bdk. Yak. 2:5).

Di samping itu, pemunculan kata “dipilih” yang berulang-ulang di ayat 27-28 memberi penekanan pada keaktifan dan inisiatif Allah dalam proses pemilihan ini. Bukan mereka yang memilih Allah, tetapi Allah yang memilih mereka (Yoh. 15:16). Allah telah memanggil mereka (1Kor. 1:9) untuk menjadi orang-orang kudus (1Kor. 1:2). Allah telah memanggil mereka sehingga mereka dulu dapat melihat Kristus sebagai hikmat dan kekuatan Allah (1Kor. 1:24).


Apa tujuan Allah memberi anugerah kepada orang-orang yang sebetulnya tidak layak untuk menerima hal itu? Dalam ayat 27-31 Paulus menjelaskan dua tujuan utama pemilihan berdasarkan anugerah. Dua tujuan ini dapat dideteksi melalui penggunaan kata “untuk” di ayat 27 dan “supaya” di ayat 29.

Supaya Allah merendahkan orang-orang yang hebat menurut dunia (ay. 27-28)
Di ayat 19-20 Paulus sudah menyatakan bahwa Allah membinasakan hikmat dunia, bahkan menjadikannya sebagai kebodohan. Kali ini Paulus tidak lagi menyoroti hikmat, tetapi orangnya. Pemilihan Allah atas orang yang rendah menurut ukuran dunia bertujuan untuk memalukan (ay. 27) dan meniadakan (ay. 28) orang-orang yang hebat.

Ungkapan “mempermalukan” tidak sekadar berhubungan dengan perasaan malu. Ungkapan ini merupakan ungkapan umum orang Yahudi yang menunjuk pada kemenangan yang diberikan Allah kepada orang benar atau tindakan Allah yang mengalahkan orang fasik. Dalam Alkitab ungkapan ini sering kali dipakai dalam konteks perselisihan atau pertengkaran antara orang fasik dan orang benar (Mzm. 6:11; 31:18; 35:4, 26-27). Dengan menggunakan ungkapan ini Paulus ingin mengingatkan jemaat Korintus bahwa Allah telah dan akan mengalahkan orang-orang yang fasik dan merasa diri hebat.

Bagaimana cara Allah mempermalukan orang-orang hebat tersebut? Di ayat 21a Paulus menerangkan bahwa hikmat dunia justru tidak dapat mengenal Allah. Di ayat 27-28 dia lebih menyoroti kelebihan-kelebihan duniawi yang justru menghalangi orang untuk percaya kepada Tuhan. Sama seperti orang-orang pada zaman Yeremia yang menganggap diri hebat dan tidak memerlukan Tuhan, demikian pula orang-orang yang “hebat” pada zaman Paulus cenderung tidak mau mengandalkan Tuhan. Sebagai akibat dari tindakan ini, mereka akan mengalami kekalahan. Mereka tidak mampu mengenal dan bersandar pada Allah, padahal pengakuan terhadap ketidakmampuan diri merupakan kekuatan yang besar.

Ungkapan lain yang dipakai Paulus untuk menyatakan perendahan orang-orang duniawi yang hebat adalah “meniadakan”. Kata Yunani katargew sering dipakai dalam konteks eskatologis (futuris). Kata ini dipakai beberapa kali dalam surat 1 Korintus untuk menunjuk pada hal-hal yang sifatnya sementara dan suatu ketika akan lenyap (2:6; 6:13; 13:8, 10; 15:24, 26). Melalui penggunaan katargew Paulus bermaksud menegaskan bahwa hal-hal yang dikagumi oleh dunia dan sebagian jemaat Korintus merupakan hal-hal yang tidak kekal. Semua itu pasti akan lenyap.

Supaya tidak ada yang sombong di hadapan Allah (ay. 29-31)
Allah memilih orang yang rendah menurut dunia supaya tidak ada satu manusia pun yang memegahkan diri di hadapan Allah (ay. 29, lit. “tidak ada satu daging pun”). Kata “memegahkan diri” (kaucaomai) merupakan salah satu kata favorit Paulus. Dari total pemunculan kata ini sebanyak 59 kali di dalam Alkitab, 55 di antaranya muncul dalam tulisan Paulus. Dari 55 kali pemunculan ini, 39 di antaranya ditemukan di surat 1 dan 2 Korintus. Statistik ini mengindikasikan bahwa kesombongan merupakan salah satu masalah utama jemaat Korintus, sehingga Paulus merasa perlu menyinggung hal ini berkali-kali. Penggunaan kata kaucaomai di ayat 29-31 mungkin didasarkan pada konteks Yeremia 9:23-24 yang sudah disinggung di ayat 27-28 dan akan dikutip lagi di ayat 29-31. Selain itu, penggunaan kaucaomai cocok dengan situasi jemaat Korintus yang sedang membanggakan diri.

Kesombongan di atas merupakan sebuah kontradiksi dengan anugerah Allah. Jemaat Korintus dipilih oleh Allah bukan karena mereka baik (ay. 27-28). Oleh karena Allah, mereka berada di dalam Kristus oleh karena Allah (ay. 30a). Oleh karena Allah, Kristus telah menjadi hikmat yang membenarkan, menguduskan dan menebus mereka (ay. 30b). Perubahan kata ganti dari “kamu” menjadi “kita” menyirakan bahwa Paulus pun berada dalam posisi yang sama dengan jemaat Korintus. Semua orang percaya – baik yang terpandang menurut dunia maupun tidak – dapat datang kepada Kristus karena karya Allah. Jika memang keselamatan kita adalah semata-mata anugerah, maka kita tidak memiliki tempat untuk memegahkan diri (Rm. 4:2). Roma 3:27 “jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan apa? Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman!”.

Paulus selanjutnya mengajarkan bahwa kemegahan kita seharusnya di dalam Tuhan (ay. 31), bukan di hadapan Tuhan (ay. 29). Untuk mempertegas poin ini, Paulus mengutip firman Allah dari Yeremia 9:24 dalam bentuknya yang lebih ringkas. Tidak semua tindakan memegahkan sesuatu (kaucaomai) adalah negatif. Paulus pun dalam bagian suratnya yang lain juga memegahkan diri (Rm. 5:2; 15:17; Flp. 2:16; 2Tes. 1:4). Yang paling penting adalah dasar yang kita pakai untuk bermegah. Ketika Paulus bermegah, dia bermegah di dalam Allah (Rm. 5:11) atau di dalam Kristus (Rm. 15:17; Gal. 6:14; Flp. 3:3).

Dengan memahami dasar kemegahan yang benar – yaitu Allah yang telah memberi anugerah keselamatan – orang percaya tidak akan menaruh kesombongan pada hal-hal yang dianggap hebat oleh dunia. Sebaliknya, kita bahkan mampu bermegah atas hal-hal yang oleh dunia dipandang sebelah mata. Kita bermegah dalam penderitaan (Rm. 5:3) dan kelemahan (2Kor. 11:30; 12:9) kita. Inilah kemegahan yang sejati, bukan seperti kemegahan jemaat Korintus yang didasarkan pada hikmat dunia, pengaruh di bidang politik maupun kehormatan dari sisi sosial.




Sumber:
Mimbar GKRI Exodus, 23 Desember 2007

28 December 2009

Renungan Menyambut Tahun Baru 2010: THE CHRISTIAN PARADIGM OF OLD AND NEW (Denny Teguh Sutandio)

Renungan Menyambut Tahun Baru 2010




THE CHRISTIAN PARADIGM OF OLD AND NEW
Paradigma Kristen Menyoroti Sesuatu yang Lama dan Baru


oleh: Denny Teguh Sutandio




“Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari. Adakah sesuatu yang dapat dikatakan: "Lihatlah, ini baru!"? Tetapi itu sudah ada dulu, lama sebelum kita ada.”
(Pkh. 1:9-10)

“Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus. Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.”
(Ef. 4:20-24)





PENDAHULUAN
Tahun 2009 akan segera berakhir dan tahun 2010 akan datang. Dunia kita mengerti tahun baru sebagai sesuatu yang baru yang akan datang. Berbagai ramalan dan “nubuatan” dari beberapa aliran Kristen bermunculan menyatakan sesuatu yang terjadi di tahun baru 2010. Ada yang mengatakan hal-hal yang baik, sukses, dll, namun ada juga yang mengatakan hal-hal negatif, misalnya bencana, dll. Bagaimana sikap Kristen seharusnya memandang sesuatu yang baru? Bagaimana pula sikap Kristen terhadap sesuatu yang lama? Mana yang penting?




DUA KECENDERUNGAN EKSTREM: LAMA VS BARU DAN TINJAUAN KRITIS
Ketika orang Kristen berbicara mengenai sesuatu yang baru yang dibandingkan dengan sesuatu yang lama, ada dua kecenderungan ekstrem yang muncul:
1. Terlalu Mengagungkan Sesuatu yang Baru
Dunia di mana kita hidup dipenuhi dengan ide pragmatisme yang tidak lagi memperhatikan prinsip, kebenaran, iman, dll. Maka tidak heran, ketika hal-hal inti dibuang, hal-hal remeh yang ditekankan. Biasanya, orang-orang seperti ini dengan mudahnya tertipu oleh banyak gejala fenomena yang sesaat. Apa yang sedang tren selalu diikuti oleh banyak orang seperti ini. Dengan kata lain, orang ini boleh disebut orang yang selalu up-to-date, tidak pernah ketinggalan zaman. Baju yang dikenakannya selalu baju yang sesuai dengan tren zaman. Begitu juga halnya dengan hal-hal lainnya, seperti: rambut, sepatu, dll. Namun, sayangnya, jika ditanya mengenai prinsip, iman, dan kebenaran, banyak dari antara mereka menjadi bingung dan kacau. Baginya, yang penting hal-hal fenomenal, bukan hal-hal esensial.

Ternyata Kekristenan pun tidak luput diterpa oleh arus pragmatisme. Banyak orang Kristen menggandrungi sesuatu yang baru. Mereka ingin lepas dari ikatan tradisi liturgi dan menciptakan kebebasan selera ibadah di dalam gereja. Mereka menciptakan lagu rohani baru untuk menggantikan lagu rohani yang lama dengan dalih, “Tuhan memberikan nyanyian baru.” Gedung gereja tidak lagi hanya menjadi tempat untuk menyembah Allah, tetapi ditambah dengan hal-hal yang tidak berkaitan dengan gereja, misalnya: restoran, ATM, hotel, dll. Bahkan pendeta di sebuah gereja kontemporer di salah satu negara Asia Tenggara ketika berkhotbah menggunakan pakaian casual. Jangan kaget, jika suatu saat pendeta nanti tidak lagi memakai sepatu, tetapi sandal jepit, heheheJ

Sebenarnya apa paradigma dasar dari mereka yang menginginkan sesuatu yang baru? Sebenarnya presuposisi mereka adalah perubahan. Mereka bosan dengan tatanan dunia yang lama. Mereka ingin mengubahnya menjadi sesuatu yang baru yang berbeda. Kebosanan adalah penyakit zaman kita. Mengapa seseorang menjadi bosan? Ada banyak penyebabnya. Ev. Ivan Kristiono, M.Div. di dalam salah satu khotbahnya yang berjudul Kasih Mengalahkan Kebosanan di National Reformed Evangelical Convention (NREC) 2007 memaparkan bahwa salah satu alasan orang bosan adalah karena adanya repetisi (pengulangan). Repetisi di dalam rutinitas aktivitas sehari-hari, misalnya: bangun pagi à mandi à gosok gigi à makan pagi à berangkat kerja/kuliah à pulang kerja/kuliah à makan à tidur, mengakibatkan seseorang menjadi bosan. Bukan hanya rutinitas aktivitas, repetisi perkataan orang lain pun membuat seseorang menjadi bosan. Saya sendiri mengalami apa yang namanya kebosanan ketika mendengar perkataan yang diulang-ulang. Memang ada manfaatnya jika perkataan seseorang diulang (untuk mengingatkan kita), namun TIDAK berarti hal itu terus-menerus diulang-ulang dan tidak ada yang baru.

Benarkah kita harus mengagungkan sesuatu yang baru? Jika ya, ada beberapa kelemahan konsep ini:
Pertama, konsep ini sendiri sedang melawan Alkitab. Alkitab memberi tahu kita di dalam Pengkhotbah 1:9, “Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari.” Jika ada yang menyangka bahwa tindakan tertentu yang terjadi di zaman ini adalah sesuatu yang baru, sebenarnya orang itu sedang tidak mempelajari sejarah, karena kalau kita mempelajari sejarah, sebenarnya kesalahan yang dilakukan oleh orang zaman sekarang sudah dilakukan oleh orang-orang zaman dahulu. Seorang filsuf bernama F. Hegel, seperti dikutip oleh Pdt. Dr. Stephen Tong, pernah berujar, “Pengajaran terbesar dari sejarah bagi manusia adalah manusia tidak menerima pelajaran sejarah.”1 Ya, manusia bukannya bertobat dari kesalahan masa lalu, malah membangkitkan kesalahan masa lalu. Sekarang, mari kita ambil contoh. Misalnya, homo dan lesbian. Apakah kedua hal ini hanya milik dunia modern saja? TIDAK. Di dalam Roma 1:27-28, kedua hal ini sudah dituliskan. Contoh lain, di bidang theologi. Di dalam gereja mula-mula, Arianisme dan Sabellianisme sudah dinyatakan sesat oleh gereja, karena paham mereka yang tidak mengakui Trinitas seperti yang diajarkan oleh gereja mula-mula/orthodoks. Namun, anehnya, kedua ajaran sesat ini dimunculkan kembali melalui paham Unitarianisme (=monotheisme “Kristen”) dan ajaran seorang pendeta tersohor yang dulunya berlatar belakang agama mayoritas yang menyatakan bahwa Tritunggal bukan keberapaan, tetapi kebagaimanaan.

Kedua, konsep ini sedang melawan dirinya sendiri. Jika ada orang yang mati-matian mengagungkan sesuatu yang baru dan menggembar-gemborkannya kepada orang lain, pengagung sesuatu yang baru itu sudah melawan diri dan konsepnya sendiri. Saya akan menjelaskan. Ambil contoh, X adalah seorang pengagung sesuatu yang baru. X ke mana-mana menggembar-gemborkan bahwa ia ingin sesuatu yang baru. “Perubahan,” begitu teriaknya. Kepada Y, X mengatakan, “Perubahan.” Setelah kepada Y, ia juga berteriak, “Perubahan” kepada Z, A, B, C, D, dll. Bukankah dengan teriakannya kepada Z, A, B, C, D, dll sebenarnya ia sedang meneriakkan hal lama yang sudah dikatakannya kepada Y tadi? Sesuatu yang diulang, apakah masih layak disebut sesuatu yang baru dan “perubahan”?

Ketiga, konsep ini tidak bisa diaplikasikan. Jika ada pengagung konsep sesuatu yang baru, tolong tanya kepada orang tersebut, apakah ia masih minum air putih/mineral (mineral water)? Jika orang itu berkata YA, maka orang itu sebenarnya tidak sadar sedang inkonsisten dengan teorinya sendiri yang mengagungkan sesuatu yang baru, karena air mineral bukan sesuatu yang baru, namun sesuatu yang lama. Jika penganut sesuatu yang baru diuji kekonsistenannya, maka dijamin jebol di titik pertama dan aplikasinya. Jika mereka mau konsisten dengan pengagungan konsep sesuatu yang baru, maka ia tidak perlu lagi makan roti, keju, dll dan minum susu, air mineral, kopi, teh, dll, karena itu semua produk sesuatu yang lama, kemudian orang tersebut seharusnya menggantinya dengan makan batu bata dan minum oli, huahahahaJ


2. Terlalu Mengagungkan Sesuatu yang Lama
Jika banyak orang zaman sekarang mengagungkan sesuatu yang baru, maka di zaman kita juga ada orang yang terlalu mengagungkan sesuatu yang lama. Biasanya mereka yang mengagungkan sesuatu yang lama adalah orang tua/orangtua. Mereka selalu menekankan pentingnya prinsip dan hal-hal esensial lainnya. Mereka selalu membandingkan zaman sekarang dengan zaman dahulu di mana mereka masih hidup. Mereka sering berujar, “Dulu, anak muda beretika. Sekarang, anak muda semakin tidak beretika.” Hal ini tentu tidak salah. Memang jika dibandingkan zaman sekarang, banyak anak muda zaman dahulu lebih beretika. Namun jangan diekstremkan. Contoh lain, biasanya mereka lebih suka memakai barang-barang yang sudah “kadaluwarsa”, misalnya kacamata yang lensanya besar, dasi yang out-of-date, dll, heheheJ Mereka sering berkata bahwa barang-barang tersebut awet dan tahan lama. Jangankan orangtua/orang tua, ada anak muda yang berpakaian juga seperti itu (bahasa gaulnya: jadul­—jaman dulu).

Konsep ini herannya juga diaplikasikan di dalam Kekristenan. Kebanyakan gereja Protestan arus utama yang sudah mapan dengan organisasi terstruktur susah sekali diubah. Para pendeta dan majelisnya yang notabene sudah berumur (tua) memiliki paradigma kolot di dalam mengatur gereja. Untuk memasukkan brosur acara rohani dari gereja lain, biasanya di banyak gereja Protestan arus utama, hal ini harus menunggu rapat majelis yang bisa diselenggarakan sekali sebulan. Setelah rapat selesai, baru ada keputusan. Saya tidak mengerti apa motivasi di balik tindakan kolot ini. Jika motivasinya beres dan murni agar jemaat gereja semakin bertumbuh di dalam iman yang beres itu bisa dipertanggungjawabkan (meskipun tidak harus mengimun jemaatnya), namun jika motivasinya hanya karena acara gereja lain itu bukan dari gerejanya, maka ditolak, maka mungkin sekali yang salah adalah struktur organasi dan doktrin yang dipegang oleh gereja tersebut. Bukan hanya masalah struktur organisasi, tata liturgi pun tidak lepas dari sorotan para penganut konsep lama ini. Baginya, tata liturgi yang tertib dan terstruktur itu yang paling “Alkitabiah.” Mereka akan memblame gereja-gereja yang kurang menekankan liturgi yang tertib dan terstruktur. Bahkan seorang hamba Tuhan yang bertheologi Reformed pernah berkata kepada saya bahwa hanya gara-gara gereja yang digembalakannya menggunakan alat musik modern dan lagu-lagu rohani kontemporer, dia dicap bertheologi Arminian.

Konsep ini sebenarnya dilatarbelakangi oleh suatu konsep bahwa yang lama pasti 100% benar, sedangkan yang baru selalu salah. Meskipun konsep ini tidak dicetuskan secara eksplisit, namun konsep ini secara implisit selalu ditekankan. Yang lebih heran lagi, saya mengamati bahwa mayoritas pendidikan keluarga dari tradisi Timur (Asia Timur, secara khusus: Tionghoa) lah yang memberhalakan sesuatu yang lama. Saya adalah orang keturunan Tionghoa, namun saya harus dengan jujur dan terbuka mengakui kelemahan fatal tradisi Tionghoa yang diadopsi dari kebudayaan leluhur yang mengaburkan perbedaan antara menghormati orangtua vs menyembah orangtua. Meskipun secara perkataan, banyak orangtua/orang tua dari tradisi Tionghoa menolak konsep pemberhalaan sesuatu yang lama, secara sadar atau tidak sadar, mereka sudah diikat oleh setan sejak lama. Konsep apa yang mengikat mereka? Konsep dari banyak filsafat, agama, dan kebudayaan Tiongkok yang tidak mengenal Allah secara tuntas. Pimpinan dan kehendak Tuhan bagi setiap anak secara unik tidak lagi diakui dan diganti dengan pimpinan dan kehendak orangtua. Yang lebih celaka dan berdosa lagi, pimpinan dan kehendak orangtua (“Kristen”) diklaim mutlak berasal dari Allah. Penggunaan otoritas Allah secara tidak bertanggungjawab ini dimaksudkan agar anak-anaknya menuruti apa yang dikehendaki orangtua mereka. Bandingkan gejala tidak beres ini dengan ajaran firman Tuhan sendiri di dalam Ulangan 6:4-7, “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.” Sejak kecil, anak-anak dari orangtua Israel dididik untuk mengenal dan mengasihi Allah mereka dengan tulus. Mengasihi Allah dengan tulus tentu berakibat pada mengasihi dan menghormati orangtua. Namun ordo/urutan tetap TIDAK boleh dibalik: pertama, Allah, baru, orangtua. Bandingkan hal ini dengan banyak orangtua (keturunan) Tionghoa yang mengajar anak-anak mereka dari kecil untuk mengasihi uang dan orangtua lebih daripada Tuhan Allah yang mencipta mereka.

Konsep ini meskipun ada hal positif yang bisa dipelajari, namun terlalu menekankan konsep ini secara ekstrem memiliki kebahayaan dan kelemahan yang mungkin disadari atau tidak disadari:
Pertama, konsep benar atau salah diukur dari waktu kurang bisa dipertanggungjawabkan. Biasanya para pengagung konsep yang lama mengatakan bahwa yang lama pasti 100% benar, sedangkan yang baru selalu salah. Benarkah kriteria benar atau tidaknya sesuatu diukur dari waktu? Jawabannya: YA dan TIDAK. Ya, karena mengutip perkataan Pdt. Dr. Stephen Tong, waktu adalah ujian yang paling kejam menyatakan bahwa sesuatu itu beres atau tidak. Ajaran yang bertahan lama biasanya beres, sedangkan yang tidak bertahan lama biasanya tidak beres. Alkitab sendiri mengajar hal ini melalui nasihat Gamaliel di dalam Kisah Para Rasul 5:34-39. Namun hal ini TIDAK berarti bahwa kriteria kebenaran hanya mutlak diukur dari sudut pandang waktu, karena bukan sesuatu yang mustahil jika ada ajaran yang bertahan lama juga termasuk ajaran yang tidak beres bahkan sesat. Tuhan Yesus sendiri di dalam Matius 13:24-30 berfirman bahwa lalang dan gandum dibiarkan Tuhan tumbuh bersama sampai suatu saat penuaian, lalang dipisahkan dari gandum. Dengan kata lain, kita tidak bisa mengambil kesimpulan mutlak bahwa sesuatu yang lama dan bertahan lama pasti 100% benar, karena di dalamnya mungkin saja Tuhan mengizinkan iblis beroperasi secara perlahan namun ganas.

Kedua, konsep ini mengakibatkan para pengagungnya TIDAK akan pernah maju dan menjadi aneh. Orang yang keras kepala memberhalakan konsep yang lama biasanya tidak akan pernah maju, mengapa? Karena ia hanya mau berhenti di dalam paradigma, tingkah laku, dan sikap yang lama. Ia tidak mau belajar lebih banyak untuk makin mengerti kondisi zaman, namun ia secara statis dikunci oleh konsep lamanya. Jangankan orang dunia, ada orang Kristen bahkan Reformed pun tidak terkecuali memiliki keanehan ini. Mayoritas dari mereka yang sudah terbiasa berkutat dengan hal-hal rohani dan filsafat, coba perhatikan tingkah laku mereka. Biasanya banyak dari antara mereka menjadi orang aneh. Di dalam “kamus” orang tersebut, hampir tidak ada senda gurau. Senda gurau dianggapnya serius. Hal ini bukan teori saja, saya sudah menemukan realitas orang yang aneh seperti ini. Senda gurau sedikit langsung dikritiknya dan tidak tanggung-tanggung ia menggunakan ayat Alkitab sekalian. Mereka seperti gudang theologi, Alkitab, dan filsafat, namun sayangnya mereka akhirnya menjadi sombong. Entah mengapa, orang yang makin belajar theologi dan hal-hal rohani, banyak dari mereka menjadi sombong dengan segudang argumentasi theologis dan filosofis yang “rasional” dan “Alkitabiah.”

Ketiga, konsep ini tidak bisa diaplikasikan. Jika para pengagung konsep sesuatu yang lama mau bersikap konsisten, maka seluruh hidupnya harus memberhalakan konsep yang lama, mulai dari cara berpakaian, pikiran, perkataan, tingkah laku, dan sikap harus bersumber dari tradisi lama. Yang perlu ditekankan adalah para pengagung konsep ini jangan dibiarkan bersentuhan dengan dunia teknologi, termasuk: komputer, HP, mobil, sepeda motor, dll. Biarkan para pengagung konsep sesuatu yang lama jika hendak bepergian jauh TIDAK usah menggunakan mobil atau sepeda motor atau pesawat terbang, suruhlah mereka berjalan kaki. Bisakah mereka konsisten dengan pola pikir mereka sendiri? Dijamin TIDAK MUNGKIN.




SIKAP KRISTEN YANG BERTANGGUNGJAWAB TERHADAP SESUATU YANG LAMA DAN BARU
Jika dunia menawarkan konsep yang ekstrem tentang sesuatu yang lama dan baru, bagaimana sikap Kristen yang bertanggungjawab? Sebelum kita masuk ke dalam sikap Kristen menyoroti sesuatu yang lama dan sesuatu yang baru, kita harus mengerti dahulu presuposisi dasarnya, yaitu tentang status kita sebagai anak-anak Tuhan dan waktu.
1. Status Kita: Manusia Baru (Anak-anak Tuhan)
Di titik pertama, kita harus mengerti bahwa kita yang sungguh-sungguh di dalam Kristus adalah umat pilihan Allah yang telah Allah pilih sebelum dunia dijadikan dan dikuduskan oleh Roh Kudus untuk taat kepada Kristus dan menerima percikan darah-Nya (1Ptr. 1:2). Sebagai orang yang telah dipindahkan dari kerajaan gelap menuju kepada kerajaan terang, maka orang Kristen seharusnya menyadari statusnya bukan lagi anak gelap, namun anak terang yang harus memiliki kehidupan baru yang berbeda dari kehidupan lamanya sebagai manusia yang dikuasai oleh daging. Rasul Paulus mengajarkan konsep ini dengan tegas di dalam surat-suratnya, khususnya Galatia, Efesus, dan Kolose. Di dalam Galatia 5:16-26, ia mengajar perbedaan konsep hidup oleh Roh vs hidup menurut daging. Di dalam Efesus 4:17-6:9, ia mengajar bagaimana hidup Kristen adalah hidup baru menurut Roh, bukan menurut daging. Di dalam Kolose 2:6-4:6, ia juga mengajar bagaimana penebusan Kristus membawa dampak perubahan signifikan di dalam diri anak-anak Tuhan. Dengan kata lain, predestinasi Allah, penebusan Kristus, dan kelahiran baru yang Roh Kudus kerjakan mengakibatkan umat pilihan-Nya menjadi manusia baru yang terus-menerus bertumbuh seperti gambaran Kristus. Manusia baru tentu tidak akan terikat lagi dengan kehidupan lama yang diikat dosa, namun terus-menerus bertumbuh di dalam iman dan pengenalan akan Allah. Ia tentu makin lama makin rendah hati diajar oleh firman Tuhan. Namun herannya, ada orang Kristen yang mengaku sudah lahir baru, tetapi makin sombong dan merasa bahwa tanpa dirinya, dunia bakal hancur. Layakkah orang ini disebut orang Kristen lahir baru? Biarlah kita mengintrospeksi diri kita dan mendoakan mereka.


2. Waktu dan Kedaulatan Allah
Setelah kita mengerti status kita sebagai manusia baru di dalam Kristus, maka secara bertahap, kita akan mengerti bagaimana iman Kristen memandang waktu yang dikaitkan dengan kedaulatan Allah. Ia tidak akan menjadi seorang yang antipati terhadap zaman dulu atau pun zaman sekarang, namun ia melihat zaman dahulu dan sekarang dari perspektif kedaulatan Allah. Mengapa? Karena Allah yang berdaulat adalah Allah yang berkuasa atas sejarah dunia ini. Ia yang memakai orang-orang-Nya di zaman dahulu, Ia juga lah yang memakai orang-orang-Nya yang lain di zaman sekarang. Selain itu, Ia jugalah yang memelihara sejarah dunia ini demi maksud dan tujuan-Nya yang agung. Dunia yang tidak dicipta dan dipelihara oleh Allah akan menjadi dunia yang hancur. Begitu juga halnya dengan waktu dan sejarah dunia ini akan menjadi kacau jika tidak ada kendali Allah yang berdaulat. Oleh karena itu, menjadi orang Kristen yang normal dan bertanggungjawab adalah menjadi orang Kristen yang memusatkan hidupnya pada kedaulatan Allah di mana Ia yang memimpin seluruh kehidupan kita.


3. Paradigma Lama dan Baru: Tetap dan Berubah
Jika kita telah mengerti bahwa zaman dahulu dan sekarang ada di dalam kedaulatan Allah, maka kita tidak akan menjadi orang yang antipati terhadap salah satu dari dua zaman tersebut, namun menjadi orang yang menebus dua zaman tersebut bagi kemuliaan Allah. Orang yang menebus dua zaman bagi kemuliaan Allah adalah mereka yang menjalani hidupnya secara paradoks dan bukan secara either or (kalau tidak X, ya Y). Mereka tidak akan memberhalakan salah satu zaman, namun menundukkan kedua zaman di bawah kedaulatan Allah.

Dua paradigma zaman yaitu lama dan baru mempengaruhi respons manusia, yaitu apakah manusia harus tetap atau berubah di dalam segala sesuatu. Orang yang sudah terbiasa dengan pola pikir either or selalu mengambil salah satu opsi/pilihan, entah itu dia mau tetap pada pendiriannya yang kolot ataupun dia terus mau berubah namun tanpa arah. Kekristenan yang berdasarkan Alkitab mengajarkan suatu paradoksikal yang tidak mungkin bisa dimengerti oleh orang-orang di luar anugerah Allah. Di dalam theologi Reformed, kita belajar bahwa Allah adalah Pribadi yang tidak berubah dari dulu, sekarang, dan selama-lamanya, namun di dalam relasinya dengan manusia, Ia bisa berubah. Apakah ini suatu kontradiksi? TIDAK. Ini paradoks. Paradoks adalah sesuatu yang seolah-olah bertolak belakang, namun sebenarnya tidak/berkaitan. Keberadaan diri Allah yang tidak mungkin diubah oleh waktu, tempat, dll mengakibatkan Dia adalah Allah yang Kekal (transenden). Namun di sisi lain, kita mengenal Allah yang transenden bukanlah Allah yang nun jauh di sana, tetapi Allah yang dekat dengan umat-Nya (imanen). Transendensi dan imanensi Allah diungkapkan di dalam firman-Nya, Alkitab sehingga fondasi kebenaran kita di dalam memandang reaksi “tetap dan berubah” harus bersumber dari Alkitab dan konsep kita tentang Allah.

Lalu, apa saja yang termasuk kategori tetap dan bisa berubah/diubah di dalam Kekristenan? Kekristenan mempunyai dasar pikir yang kokoh yaitu Alkitab. Alkitab adalah satu-satunya firman Allah yang tidak mungkin bersalah dalam naskah aslinya, sehingga Alkitab adalah satu-satunya fondasi kebenaran yang sah. Konsep ini harus kita pegang teguh. Inilah wilayah di mana kita harus berpendirian tetap dan teguh. Jika konsep ini kita biarkan lemah dan berkompromi dengan semua arus filsafat dunia, maka percayalah, hidup Anda akan kacau dan hancur. Pendirian dan iman yang beres mengakibatkan seluruh unsur hidup kita beres. Namun, di dalam aplikasi praktis dari iman/pendirian yang beres, hendaklah kita bijaksana memilah mana yang patut dipertahankan secara tetap dan mana yang perlu diubah. Kecenderungan Kekristenan khususnya aliran Reformed tertentu mendiskreditkan semua filsafat dunia sebagai ajaran salah. Hal ini memang benar, tetapi tidak berarti kita tidak bisa belajar sedikitpun dari filsafat dunia. Jangan lupa, theologi Reformed percaya bahwa segala kebenaran adalah kebenaran Allah (all truth is God’s truth). Adalah tidak bijaksana jika karena suatu (tidak semua) ajaran dunia itu salah, lalu kita memblacklist semua ajaran dunia. Jangan menjadi orang lebay! Bersikaplah bijaksana. Jangan suka mengeneralisasi segala sesuatu tanpa mengertinya secara tuntas dan teliti! Kembali, Kekristenan harus dewasa dan bijaksana. Apa yang mutlak secara prinsip/iman, misalnya Allah Trinitas, finalitas Kristus, keberdosaan manusia, jangan berzinah, jangan berdusta, dll itu memang harus dipegang teguh. Namun, sesuatu yang tidak mutlak di dalam prinsip jangan terlalu dipegang teguh secara membabi buta. Jika kita membabi buta menjalankan satu prinsip yang tidak mutlak, bukan tidak mungkin kita nantinya menjadi orang aneh dan tidak menutup kemungkinan kita bisa menjadi orang yang dibenci Tuhan. Anda tahu orang Farisi? Siapa mereka? Mereka adalah para rohaniwan yang belajar Taurat, namun sayangnya mereka tidak mengerti inti Taurat. Yang mereka ajarkan tetap bersumber dari Perjanjian Lama, namun dengan tambahan peraturan yang mereka buat sendiri agar mereka dan orang-orang Israel makin saleh. Melanggar satu peraturan yang para ahli Taurat buat sendiri itu dicap berdosa. Dan tahukah bahwa Kristus menegur orang-orang seperti ini. Ia mengatakan bahwa mereka munafik. Mereka seolah-olah bersih dari luar, namun busuk di dalam hatinya. Itulah citra orang Kristen tertentu yang gemar mengurusi hal-hal sekunder lebih daripada hal-hal primer. Biarlah kita menjadi orang Kristen yang makin lama makin bijaksana yang mempertahankan apa yang perlu tetap dipertahankan dan menghargai hal-hal yang patut dihargai (dan tidak perlu terlalu ketat dipertahankan).

Hal selanjutnya yang perlu kita mengerti adalah mengenai perubahan di dalam Kekristenan. Bolehkah ada sesuatu yang berubah/baru di dalam Kekristenan? Apakah dengan adanya perubahan/hal-hal baru membuat Kekristenan menjadi tidak unik, karena dunia pun menghendaki yang sama? Ke arah manakah perubahan di dalam Kekristenan? Sampai batas manakah perubahan itu? Di dalam Kekristenan, kita tentu mengenal istilah perubahan dan hal-hal baru. Di titik pertama tadi, kita sudah mengerti presuposisi bahwa status kita adalah anak-anak Tuhan/manusia baru yang hidup bagi Kristus. Berarti di dalam Kekristenan kita mengenal istilah baru/perubahan. Jika Kekristenan mengenal istilah perubahan/hal-hal baru, dunia pun mengenal istilah yang sama. Jika demikian, apa beda kedua konsep perubahan/hal-hal baru antara Kekristenan dengan konsep dunia? Dunia kita mengenal konsep perubahan/hal-hal baru sering kali tanpa dasar dan arah tujuan yang jelas. Ambil contoh, pada masa kampanye, Presiden U.S.A. Barack Husein Obama meneriakkan “perubahan” untuk memenuhi selera masyarakat Amerika Serikat. Namun, fakta membuktikan, perubahan seperti apa yang dia buat? Benarkah perubahan itu benar-benar beres? Fakta membuktikan tidak. Perubahan yang dibuatnya justru malah negatif. Etika, perdamaian dunia, dll dilanggar. Dengan kata lain, dunia yang meneriakkan perubahan, kebanyakan dari mereka tidak mengerti perubahan yang dimaksud dan tujuan yang hendak dicapai dari perubahan tersebut. Namun, Kekristenan mengenal dan mengerti konsep perubahan/hal-hal baru dengan dasar dan arah tujuan yang jelas yaitu firman Allah dan kemuliaan-Nya. Mereka mau berubah bukan karena dunia menginginkannya atau karena ambisi masyarakat, namun karena Allah menginginkan mereka berubah. Berarti mereka berubah karena kehendak Allah. Kedaulatan Allah mengakibatkan orang Kristen mau berubah, tentu berubah makin bertumbuh di dalam iman, kerohanian, karakter Kristen yang beres sesuai dengan gambar dan rupa Kristus, Kakak Sulung kita. Dengan kata lain, Kekristenan mengenal perubahan bukan tanpa batas, tetapi dengan batas yaitu kedaulatan Allah di dalam firman-Nya.

Bagaimana kita mengaplikasikannya? Perubahan yang dibatasi oleh kedaulatan Allah mengakibatkan kita hati-hati di dalam menjalani hidup sesuai dengan standar Allah dan firman-Nya. Dengan mengatakan hal ini, saya tidak bermaksud menyuruh orang Kristen menjadi orang paranoid yang ketakutan terhadap semua budaya dunia. Ingatlah, sebagai orang Kristen, kita hidup di dalam dunia dan kita diutus ke dalam dunia oleh Allah, namun kita bukan dari dunia. Sebuah istilah yang bagus sekali di dalam judul konferensi yang digagas oleh Rev. C. J. Mahaney, Rev. Joshua E. Harris, dkk: “In the World but not of the World” (Di dalam dunia, namun bukan dari dunia). Status kita bukan dari dunia, namun panggilan kita ke dalam dunia. Dengan kata lain, ada pembeda yang harus kita buat antara anak-anak Tuhan dengan orang dunia, namun tidak berarti kita menjadi aneh di mata dunia melalui sikap hidup kita. Saya menyebut hal ini sebagai paradoxical Christian life-style (gaya hidup Kristen yang paradoks). Sebagai orang Kristen, secara prinsip, kita adalah anak-anak Allah yang memiliki prinsip dan aturan Kerajaan Allah/Sorga, namun secara aplikasi, kita dituntut untuk menjadi berkat bagi dunia. Ketika kita menjadi berkat bagi dunia, Kekristenan selalu mengambil dua jalan ekstrem, yaitu: kompromi dengan dunia atau tidak mau bergaul dengan dunia. Kekristenan yang beres adalah Kekristenan yang paradoks di dalam pikiran dan gaya hidupnya. Kekristenan yang beres selalu berprinsip tegas, namun tidak kaku di dalam implementasinya ke dalam dunia. Tegas tidak selalu identik dengan kaku dan kolot. Tegas identik dengan prinsip dan kasih. Sebagai aplikasinya, kita boleh berubah mengikuti dunia. Kalau di zaman dahulu, dasi yang laris di kalangan para pria adalah dasi kupu-kupu, maka di zaman sekarang, dasi yang laris adalah dasi panjang. Begitu juga dengan model rambut, baju, dll. Tidak ada salahnya kita mengikuti mode. Namun ada hal yang harus kita perhatikan, sampai batas manakah kita mengikuti mode dan tren zaman? Kita harus menempatkan standar kebenaran Allah di atas mode dan tren zaman. Kita boleh mengikuti mode baju zaman sekarang, namun jangan sampai baju yang kita pakai yang sesuai dengan mode tersebut tidak lagi memperhatikan etika. Di dalam kita bersikap dan bertingkah laku sehari-hari pun, kita harus menampilkan ciri khas Kekristenan kita, namun tidak berarti kita menjadi orang sok religius. Menyeimbangkan dan memparadokskan gaya hidup Kristen memang tidak mudah. Kadang gaya hidup kita (orang Kristen) terlalu duniawi/sekular, di sisi lain, gaya hidup kita terkadang terlalu religius, sampai-sampai teman-teman kita enggan berteman dengan kita. Kekristenan harus mendobrak kedua ekstrem ini dan menjadi berkat bagi dunia kita dengan prinsip yang jelas dan dengan aplikasi yang tidak kolot/kaku. Belajarlah menjadi orang Kristen yang gaul, jangan jadul dan freak, heheheJ


Bagaimana dengan kita? Ketika kita hendak menyambut pergantian tahun dan menuju ke tahun yang baru, sudahkah kita mempersiapkan hati kita untuk memilah apa yang patut diubah dan apa yang patut dipertahankan secara tetap? Biarlah hati kita terus diubah dan dimurnikan oleh Roh Kudus untuk makin taat dan setia kepada firman-Nya yang tak akan pernah berubah selama-lamanya. Amin. Soli Deo Gloria.



Catatan kaki:
1 Louis Berkhof, Teologi Sistematika: Doktrin Allah (Surabaya: Momentum/LRII, 1993), viii.

25 December 2009

Eksposisi 1 Korintus 1:18-25 (Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.)

EKSPOSISI 1 KORINTUS 1:18-25

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.



Nats: 1 Korintus 1:18-25



Kata sambung “sebab” (gar) di awal ayat 18 mengindikasikan bahwa ayat 18-25 memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan bagian sebelumnya. Bagian ini merupakan penjelasan terhadap apa yang sudah disinggung di ayat 10-17. Secara khusus, bagian ini menjelaskan ayat 17b “itupun bukan dengan hikmat perkataan supaya salib Kristus tidak dikosongkan kuasanya”. Hal ini terlihat dari kata “perkataan” (logos) yang muncul di ayat 17b (“hikmat perkataan”) dan dan ayat 18a (“perkataan salib”;LAI::TB “pemberitaan salib”).

Keterkaitan dua bagian di atas, terletak pada ide tentang “hikmat” (sophia). Hampir semua penafsir setuju bahwa perpecahan jemaat Korintus di pasal 1-3 berhubungan dengan hikmat. Hal ini didukung oleh pemunculan kata “hikmat” sebanyak 14 kali di pasal 1:18-2:16. Dukungan lain terdapat pada penutup pembahasan Paulus di pasal 1-3 di pasal 3:19 (“karena hikmat dunia ini adalah kebodohan bagi Allah”).

Sebagian jemaat Korintus bersentuhan dengan berbagai filsafat dunia yang ada pada waktu itu. Mereka lalu menganggap diri berhikmat. Ketika mereka melihat kebenaran Injil dari perspektif hikmat duniawi ini, mereka memandang rendah berita Injil yang dulu mereka terima. Mereka juga mulai mengultuskan pemimpin rohani yang menurut mereka sesuai dengan konsep mereka.

Bagaimana respons Paulus terhadap mereka yang menganggap diri berhikmat dan melihat kebenaran Injil sebagai suatu kebodohan? Paulus memberikan beragam respons dari pasal 1:18-2:16. Kali ini kita hanya menyelidiki pasal 1:18-25. Ada beberapa penjelasan yang diberikan untuk meresponi kesombongan intelektual di atas.


Injil Memang Kebodohan Bagi yang Binasa (ay. 18)
Dalam ayat ini Paulus menjelaskan bahwa pemberitaan tentang salib adalah kebodohan bagi yang mereka binasa (tois appolumenois). LAI:TB menerjemahkan kata Yunani ini dengan “mereka yang akan binasa”, seolah-olah kebinasaan mereka bersifat futuris. Terjemahan ini kurang sesuai dengan tense present yang dipakai. Beberapa versi Inggris dengan tepat memilih terjemahan “those who are perishing” (NIV/NASB/RSV). Orang-orang ini sedang mengalami kebinasaan. 2Korintus 4:3 “jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka yang akan (lit. “sedang”) binasa”.

Setelah menjelaskan hal tersebut, Paulus menyatakan keyakinannya tentang keselamatan jemaat Korintus. Hal ini tersirat dari kata ganti “kita” di ayat 18b. Paulus tidak mengatakan “bagi mereka yang diselamatkan” (bdk. ayat 18a), tetapi “bagi kita yang diselamatkan”. Bentuk tense present yang dipakai di ayat ini menunjukkan bahwa keselamatan orang percaya merupakan sesuatu yang sudah terjadi. Orang percaya sudah diselamatkan di dalam Kristus Yesus. Di ayat-ayat selanjutnya Paulus menerangkan bagaimana keselamatan ini bisa terjadi, yaitu melalui perkenanan (ay. 21) dan panggilan Allah (ay. 24).

Bagi yang sedang diselamatkan, Injil adalah kekuatan Allah. Karena Injil sudah memiliki kekuatan ilahi, maka Paulus tidak mau memberitakan Injil dengan hikmat perkataan (1:17b; 2:1-5). Hikmat manusia tidak akan menambah kekuatan apa pun pada Injil. Ungkapan “Injil adalah kekuatan Allah” harus dilihat dalam konteks keselamatan (Rm. 1:16 “Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya”). Paulus juga mungkin memikirkan kekuatan Allah dalam hal merendahkan hikmat dunia (1Kor. 1:19-21).


Allah Telah Merendahkan Orang-orang Dunia yang Berhikmat (ay. 19)
Keyakinan Paulus di ayat 18 didasarkan pada firman Tuhan (bdk. kata sambung “karena” di awal ayat 19). Seperti biasanya, Paulus memulai kutipan firman Allah dengan kata “ada tertulis” (gegraptai). Kata muncul gegraptai muncul 63 kali dalam seluruh tulisan Paulus. Melalui pengutipan ini Paulus menegaskan bahwa firman Tuhan sebagai argumen yang cukup kuat. Dia tidak perlu berbantah-bantah atau memberi bukti-bukti lain di luar Alkitab. Allah telah berfirman, semua telah diputuskan.

Kutipan yang diambil dari Yesaya 29:14 ini sangat relevan dengan situasi yang dihadapi jemaat Korintus. Pada zaman Yesaya, ketika bangsa Yehuda menghadapi ancaman dari bangsa Babel, mereka tidak mau bersandar pada kekuatan Tuhan walaupun Tuhan sudah mengatakan bahwa dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatan mereka (Yes 30:15). Mereka justru memilih untuk mengikuti pemikiran mereka sendiri dengan cara mengikuti dewa-dewa kafir dan meminta bantuan dari bangsa Mesir. Allah sudah menegur tindakan ini dengan menyatakan bahwa hikmat-Nya tidak terbatas dan jauh melampaui siapapun (Yes 40:12-14, 25). Allah menyatakan bahwa para pembesar Zoan dan penasehat Mesir adalah orang yang bodoh semata-mata. Perkataan Allah ini kemudian menjadi kenyataan. Bangsa Yehuda tetap kalah dan dibuang selama 70 tahun.

Melalui pengutipan ini Paulus ingin mengajarkan bahwa Allah selalu merendahkan orang-orang yang menganggap dirinya berhikmat (bdk. 1Kor. 1:29). Sebaliknya, Allah justru sering kali memakai orang-orang yang dianggap bodoh atau lemah oleh dunia (1Kor. 1:27-28). Jemaat Korintus seharusnya tidak sombong karena mereka juga akan diendahkan oleh Allah.


Allah Membuat Hikmat Dunia Ini Menjadi Kebodohan (ay. 20-21)
Kalau di ayat 19 Paulus lebih menyoroti apa yang terjadi atas orang-orang yang menganggap diri berhikmat, di ayat 20-21 dia memfokuskan pada hikmat itu sendiri. Hal ini tersirat dari pertanyaan retoris terakhir di ayat 20b dan penjelasan terhadap pertanyaan ini di ayat 20. Ia memang masih menyinggung tentang orang-orang yang “berhikmat” (ay. 20a), tetapi yang dia tekankan bukan itu.

Pertanyaan retoris di ayat 20a tidak boleh dianggap sebagai tantangan Paulus kepada jemaat Korintus. Dia menyadari bahwa sebagian besar jemaat adalah orang-orang yang lemah dan bodoh menurut dunia (ay. 26). Dia hanya menyadarkan jemaat Korintus bahwa semua orang yang dianggap berhikmat menurut ukuran dunia ternyata tidak mampu bertahan.

Para penafsir berbeda pendapat tentang identitas tiga golongan yang disebut di ayat 20a: orang-orang berhikmat (sophos), ahli Taurat (grammateus) dan para pembantah (suzetetes). Grammateus jelas merujuk pada ahli Taurat (kontra NIV “scholar”), karena hampir semua pemunculan kata ini di PB menunjuk pada salah satu golongan pemimpin agama Yahudi, walaupun kata ini juga dipakai untuk pejabat pemerintahan (Kis. 19:35). Perdebatan di kalangan penafsir biasanya berkaitan dengan golongan pertama dan terakhir. Mayoritas penafsir memahami sophos sebagai para pemikir (filsuf) Yunani, sedangkan suzetetes merupakan rujukan umum untuk semua orang yang suka berdebat. NIV menerjemahkan suzetetes dengan filsuf, mungkin dengan pertimbangan bahwa perdebatan biasa terjadi dalam lingkungan para filsuf.

Paulus selanjutnya menutup rentetan pertanyaan retoris di ayat 20 dengan pertanyaan inti: “bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan?”. Penggunaan ungkapan “hikmat dunia” (sophia kosmou) di ayat ini bukan hanya menunjukkan jenis hikmat yang duniawi, tetapi juga kesementaraan dari hikmat ini. Hal ini tersirat dari ungkapan “para pembantah dunia ini” di ayat 20a. Kata “dunia” di bagian ini memakai kata aion yang secara hurufiah berarti “zaman”. Dengan demikian Paulus ingin menegaskan bahwa hikmat zaman ini bersifat sementara (bdk. 7:31). Kenyataannya, Allah telah membuat hikmat seperti ini menjadi kebodohan.

Di ayat 21 Paulus memberikan alasan mengapa hikmat dunia menjadi kebodohan. Hikmat dunia ini tidak dapat menolong orang untuk mengenal Allah (ay. 21a). Seberapa pun kepandaian manusia, hal itu tidak menjamin bahwa dia mengenal Allah, karena pengenalan terhadap Allah hanya dimungkinkan oleh karya Roh Kudus (2:6-16). Di bagian suratnya yang lain Paulus memberi contoh tentang hal ini. Walaupun manusia sebenarnya dapat mengenal Allah melalui ciptaan-Nya (Rm. 1:19-20), tetapi mereka justru menindas kebenaran tersebut (Rm. 1:18). Mereka terjebak pada berbagai kebodohan, yaitu penyembahan berhala dan dosa-dosa (Rm. 1:21-31).

Alasan lain mengapa hikmat dunia telah dijadikan kebodohan adalah keselamatan dari orang-orang yang percaya pada kebodohan Injil (ay. 21b). Identitas orang-orang yang diselamatkan ini memang tidak dijelaskan Paulus di ayat ini, tetapi ayat-ayat selanjutnya menunjukkan bahwa orang-orang ini adalah mereka yang dianggap bodoh dan lemah oleh dunia (ay. 25-27). Bagaimana mungkin orang yang berhikmat malah tidak mengenal Allah sedangkan yang bodoh justru percaya kepada Dia? Kuncinya terletak pada kata “Allah berkenan menyelamatkan”. Di ayat 24 dijelaskan lebih lanjut bahwa perkenanan Allah ini berhubungan dengan panggilan-Nya untuk orang-orang pilihan (bdk. Rm. 8:29-30; Ef. 1:4; 2Tim. 2:9).

Konsep iman di ayat 21b bukanlah sekadar persetujuan intelektual belaka. Jika hanya sekadar keputusan rasio, maka tidak ada orang yang mau percaya pada kebodohan pemberitaan Injil. Iman di sini berarti penyerahan hidup. Jemaat Korintus yang terjebak pada hikmat duniawi dan mulai berani menghakimi Injil sebenarnya telah melupakan satu fakta yang penting: mereka dulu diselamatkan melalui iman, bukan terutama pergumulan rasio atau kepuasan intelektual.


Allah Tidak Mau Diatur Oleh Tuntutan Manusia (ay. 22-25)
Paulus menyadari bahwa konsep keselamatan melalui salib merupakan hal yang sulit diterima oleh orangorang pada jamannya, baik orang Yahudi maupun Yunani. Bagi orang Yahudi yang selalu menuntut tanda ajaib (Mat. 11:38-39; Mrk. 8:11; Luk. 11:16; Yoh. 6:30), konsep tentang Mesias yang disalib merupakan batu sandungan (lit. “skandal”). Mereka mengharapkan mesias yang perkasa dan mampu menyelamatkan mereka dari tangan bangsa Romawi (bdk. Kis. 1:6). Menurut mereka, kematian Yesus di kayu salib menunjukkan bahwa Dia tidak mampu menyelamatkan diri-Nya sendiri, apalagi mau menyelamatkan bangsa Yahudi. Lebih jauh, kematian di atas kayu salib merupakan bukti bahwa orang itu terkutuk di hadapan Allah dan manusia (Ul. 21:23; Gal. 3:13).

Di sisi lain, orang-orang Yunani yang menyukai “hikmat” (bdk. Kis. 17:21) melihat berita salib sebagai kebodohan. Sebagian dari mereka mungkin mempercayai konsep seorang dewa yang menjadi manusia (walaupun sebagian dari mereka – terutama di kalangan filsuf – menganggap hal ini sebagai mitos), namun konsep yang mereka pegang berbeda dengan inkarnasi Yesus. Dewa yang menjadi manusia tidak mungkin mengalami kematian. Di samping itu, kematian di atas kayu salib hanya dikhususkan bagi para penjahat yang biadab. Bagaimana bisa Allah menjadi manusia, mati dan dengan cara disalib? Semua ini jelas sulit diterima oleh orang Yunani.

Walaupun manusia pada zaman Paulus menuntut tanda dan hikmat, Allah tidak mau kompromi. Jalan keselamatan tetap harus melalui salib. Inilah yang diberitakan oleh Paulus. Apakah itu berarti bahwa pemberitaan Injil adalah perkataan kosong dan hanyalah konsep yang tidak rasional? Sama sekali tidak! Di ayat 24 Paulus menegaskan bahwa Injil adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah. Bagaimana bisa? Ya, Injil adalah kekuatan dan hikmat Allah bagi yang dipanggil oleh Allah, baik bagi orang-orang Yahudi maupun non-Yahudi. terlepas dari paradigma berpikir dari dua golongan manusia ini, kalau Allah memang memanggil seseorang, maka orang ini pasti akan mempercayai Injil. Dengan demikian, bagi orang seperti ini Injil adalah kekuatan dan hikmat Allah.

Di ayat 25 Paulus menutup penjelasannya dengan menyatakan kebenaran teologis yang penting: Allah jauh lebih berhikmat dan kuat daripada manusia. Terjemahan hurufiah dari ayat ini adalah “sebab kebodohan Allah adalah lebih ebrhikmat daripada manusia dan kelemahan Allah adalah lebih kuat daripada manusia”. Jangankan membandingkan hikmat Allah dan hikmat manusia, kebodohan Allah pun juga lebih hebat daripada semua kepandaian manusia. Jangankan membandingkan kekuatan Allah dengan manusia, kelemahan Allah pun sudah jauh melebihi semua kekuatan manusia. Salib merupakan bukti betapa kekuatan dan hikmat manusia telah dipermalukan oleh Allah. Keselamatan melalu salib hanya dimungkinkan oleh hikmat dan kuasa Allah.




Sumber:
Mimbar GKRI Exodus, 9 Desember 2007

21 December 2009

Roma 16:19-20: KESATUAN DAN KEBENARAN DI DALAM TUBUH KRISTUS: Solusinya

Seri Eksposisi Surat Roma:
Penutup-16


KESATUAN DAN KEBENARAN DI DALAM TUBUH KRISTUS: Solusinya

oleh: Denny Teguh Sutandio



Nats: Roma 16:19-20



Dikontraskan dengan dua ayat sebelumnya yang menyatakan bahwa ada sekumpulan jemaat yang berniat memecah belah jemaat Roma, maka di ayat 19, Paulus memuji jemaat Roma yang setia/taat sekaligus tetap memberikan nasihat-nasihat, “Kabar tentang ketaatanmu telah terdengar oleh semua orang. Sebab itu aku bersukacita tentang kamu. Tetapi aku ingin supaya kamu bijaksana terhadap apa yang baik, dan bersih terhadap apa yang jahat.” Dibandingkan dengan beberapa jemaat yang berusaha memecah belah, maka jemaat Roma dipuji Paulus adalah jemaat yang setia dan kesetiaannya telah didengar banyak orang. Kata “kesetiaan” dalam bahasa Yunaninya hupakoē bisa berarti ketaatan atau ketundukan atau kepatuhan. Kata “terdengar” dalam bahasa Yunaninya aphikneomai bisa berarti tersebar luas atau tiba (to arrive at). Berarti, ketaatan jemaat Roma tersebar luas ke semua orang (bdk. Rm. 1:8). Sebagai reaksinya, Paulus bersukacita karena ketaatan jemaat Roma tersebut. Lalu, apa maksud Paulus mengungkapkan hal ini? Di ayat 19b, ia mengatakan, “Tetapi aku ingin supaya kamu bijaksana terhadap apa yang baik, dan bersih terhadap apa yang jahat.” Apa maksud ayat ini? Adam Clarke di dalam tafsirannya Adam Clarke’s Commentary on the Bible menafsirkan bahwa pernyataan Paulus yang bersukacita akan ketaatan jemaat Roma dimaksudkan agar jemaat Roma terus mendengar ajaran yang benar dan menjauhi para pengajar yang salah. Berarti Paulus ingin agar jemaat Roma memiliki discerning power (kekuatan membedakan). Mendengar ajaran yang benar dan menjauhi para pengajar yang salah ditandai dengan dua sikap yang Paulus kemukakan di ayat 19b ini:
Pertama, bijaksana terhadap apa yang baik. Kata “baik” dalam bahasa Yunaninya agathos bisa berarti baik atau berguna. Teks Yunani lain ada yang menerjemahkannya men berarti benar-benar (truly). Dengan kata lain, Paulus di titik pertama hendak mengajar jemaat Roma untuk bijaksana terhadap apa yang sungguh-sungguh/berguna/baik. Berarti, bijaksana di titik awal harus dikaitkan dengan suatu kebaikan atau kesungguhan. Bijaksana tanpa dikaitkan dengan kebaikan/kesungguhan bisa berakibat fatal. Berapa banyak dari kita yang menganggap diri bijaksana, namun sayangnya konsep bijaksana mayoritas tidak dibangun di atas dasar kebaikan/kesungguhan, sehingga bijaksana kita menjadi bijak-sini. Selain itu, bijaksana bukan hanya dibangun di atas dasar kebaikan/kesungguhan, tetapi juga melakukan yang baik. Sebagai perbandingan, di Roma 12:9b, Paulus juga mengajar, “lakukanlah yang baik” (King James Version: “cleave to that which is good.”) Kata Yunani untuk “baik” di ayat 9b ini juga agathos. Struktur kata kerja Yunani di dalam ayat ini adalah pasif, berarti bukan kita yang aktif, tetapi kita pasif, mengapa? Karena Roh Kudus yang aktif pertama kali membuat kita berpaut pada dan melakukan kebaikan. Karena Roh Kudus yang aktif dan memulai karya ini, maka Ia pulalah yang menuntun kita di dalam proses bijaksana melakukan yang baik demi kemuliaan-Nya. Melakukan sesuatu yang baik memang diperlukan suatu kebijaksanaan, karena jika tidak, bisa berbahaya. Banyak orang berbuat baik, namun sayangnya tidak bijaksana. Misalnya, menolong orang yang kekurangan dengan menghambur-hamburkan uang, tanpa mendidik orang yang berkekurangan itu untuk bekerja. Akibatnya, pengemis bukan tambah sedikit, tetapi tambah banyak. Biarlah Roh Kudus terus memurnikan dan menuntun kita agar kita makin bijaksana melakukan yang baik demi kemuliaan-Nya.
Kedua, bersih terhadap apa yang jahat. Kata “bersih” di sini memiliki beragam terjemahan. KJV menerjemahkannya simple (=jujur, tidak bercampur, murni). Terjemahan Indonesia dari teks Yunani yang diterjemahkan oleh Pdt. Hasan Sutanto, D.Th. di dalam Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia adalah tidak bernoda. New International Version (NIV) dan New American Standard Bible (NASB) menerjemahkannya innocent (=tidak berdosa/tidak bersalah). Berarti, selain bijaksana terhadap apa yang baik, Paulus menuntut jemaat Roma untuk memiliki kerohanian yang bebas dari sesuatu yang jahat. NIV Spirit of the Reformation Study Bible menafsirkannya bahwa jemaat Roma membutuhkan kebijaksanaan dan hati rohani tanpa campuran dari sesuatu yang jahat. Dengan kata lain, selain bijaksana terhadap apa yang baik, kita pun dituntut untuk memiliki kemurnian hati yang tidak dikontaminasi oleh sesuatu yang jahat. Bagaimana caranya agar tidak tercampur dengan hal-hal yang jahat? Kembali, di dalam Roma 12:9b, Paulus mengajar kita, “Jauhilah yang jahat” KJV menerjemahkannya, “Abhor that which is evil” Ya, bukan hanya sekadar menjauhi kejahatan, tetapi sangat bencilah kejahatan itu. Seorang yang telah membangun bijaksananya di atas dasar kebaikan dan melakukan kebaikan itu dengan sendirinya (dengan bantuan Roh Kudus, tentunya) mengakibatkan orang itu di titik pertama memiliki motivasi hati yang murni, cara yang murni, dan tentunya tujuan yang murni, bukan untuk diri, namun untuk Tuhan. Dia tidak akan mau apa yang dilakukannya dari motivasi, cara, dan tujuan bercampur dengan hal-hal kejahatan, karena itu mendukakan hati-Nya. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menguji hati kita ketika melakukan segala sesuatu? Apakah kita melakukannya dengan motivasi, cara, dan tujuan yang beres di hadapan-Nya?


Lalu, Paulus bukan hanya memberi pujian dan nasihat, ia juga memberi kekuatan kepada jemaat Roma untuk menjalankan nasihat Paulus itu. Sebagai kekuatan dan penghiburan, di ayat 20, ia menyatakan, “Semoga Allah, sumber damai sejahtera, segera akan menghancurkan Iblis di bawah kakimu. Kasih karunia Yesus, Tuhan kita, menyertai kamu!” Kekuatan dan penghiburan dari Paulus kepada jemaat Roma untuk menjalankan nasihat Paulus untuk memiliki kekuatan pembeda adalah bahwa mereka bisa melakukan hal tersebut karena Allah akan menghancurkan Iblis di bawah kaki umat-Nya. Kata “menghancurkan” di dalam bahasa Yunani suntribō bisa berarti menghancurkan/mematahkan sampai berkeping-keping (to break in pieces). Kata ini di dalam struktur teks Yunani menggunakan bentuk keterangan waktu future (masa depan) dan aktif. Berarti, ketika kita berada di dalam pergumulan melawan kejahatan ketika kita hendak berbijaksana melakukan yang baik, maka percayalah, ada Allah menyertai kita, Ia akan meremukkan iblis sampai berkeping-keping dan meletakkannya di bawah kaki kita, umat-Nya. Dengan kata lain, kemenangan Allah menjadi kemenangan kita asalkan kita tetap berpaut kepada-Nya. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita mengalami kemenangan yang Tuhan anugerahkan kita di dalam kesatuan dan kebenaran di dalam tubuh Kristus? Mari kita mengalami terus-menerus kemenangan Allah itu di dalam hidup kita. Amin. Soli Deo Gloria.

Resensi Buku-86: GARAM DAN TERANG BAGI KELUARGA (Ev. Chang Khui Fa, S.E., M.Div.)

...Dapatkan segera...
Buku
GARAM DAN TERANG BAGI KELUARGA

oleh: Ev. Chang Khui Fa, S.E., M.Div.

Penerbit: Pionir Jaya, 2009





Deskripsi dari Denny Teguh Sutandio:
Dunia kita mengajar bahwa keluarga adalah bagian terkecil dari suatu masyarakat. Ketika keluarga beres, maka hidup bermasyarakat pun beres. Di dalam Kekristenan, keluarga menjadi hal utama. Namun sayang, dunia kita bahkan termasuk beberapa (atau bahkan mungkin banyak?) orang Kristen tidak mengerti signifikansi keluarga. Tidak heran, angka perceraian makin lama makin meningkat. Mengapa bisa terjadi perceraian? Apa yang sedang terjadi dengan keluarga di era postmodern ini? Bagaimana orang Kristen menyikapinya? Ikut arus ataukah melawan arus serta menjadi berkat bagi orang lain melalui kehidupan keluarga kita?

Dengan bahasa yang mudah dimengerti, enak dibaca, jelas, dan aplikatif, Ev. Chang Khui Fa, M.Div. yang telah menikah selama 9 tahun memaparkan kepada orang Kristen yang cinta Tuhan untuk menggarap kehidupan pernikahan Kristen yang sehat, agar menjadi: GARAM dan TERANG. Beliau bukan hanya memaparkan segudang teori untuk menjelaskan prinsip kehidupan pernikahan Kristen, tetapi juga disertai dengan aplikasi praktis dan pergumulan pribadi beliau bersama keluarganya. Hal ini yang membuat buku yang beliau tulis menjadi buku yang konseptual sekaligus aplikatif, tidak seperti buku-buku konseling pernikahan lain yang cenderung teoritis, di sisi lain ada yang terlalu menekankan sisi praktika (tanpa konsep). Sebagai aplikasi praktis dan pergumulan pribadinya, beliau tidak segan-segan memaparkan kesulitan-kesulitan di dalam pernikahan, misalnya: komunikasi, konflik, dll (di mana beliau sendiri mengalaminya) dan juga solusi mengatasinya, sehingga para pasutri muda maupun yang sudah bertahun-tahun mengalami indahnya pernikahan Kristen di dalam Tuhan.






Prakata dari Pdt. Caleb Tong, D.Min.:
Sebelum menjadi terang dunia, Tuhan mau kita menjadi pelita bagi keluarga terlebih dulu. Terang dan Garam yang tidak bersuara, namun diam-diam memberi pengaruh yang besar secara aktif, positif, dan berinisiatif.
Temperamen seseorang merupakan bawaan sejak lahir dan sulit berubah, namun tatkala berkembang menjadi sebuah personality, bila Tuhan campur tangan, mukjizat akan terjadi. Segala kekurangan dan kelemahan akan dibentuk kembali, sehingga karakter Kristianinya akan nampak indah sesuai dengan Imago Dei (kodrat citra ciptaan Allah) yang mulia.
Tuhan menghendaki kita semua menadi penyambung lidah dan perpanjangan tangan-Nya. Agar dapat menjangkau mereka yang jauh dari Tuhan, kembali kepada-Nya, supaya rencana agung penyelamatan dunia ini dapat terwujud, maka menjadi Garam dan Terang bagi dunia adalah panggilan mulia yang tak mungkin dielakkan.
Ev. Chang Khui Fa, rekan hamba Tuhan di GII Hok Im Tong, sudah lama dikenal melalui Program Siaran Radio “I Do” telah membuka cakrawala konsultasi bagi pasangan suami-istri yang ingin menanyakan hal-hal yang sedang dihadapi. Melalui pembahasan firman Tuhanlah, nilai-nilai Kristiani dapat ditegakkan.
Kini, ia meluncurkan buku “Garam dan Terang bagi Keluarga” dengan penegasan, sebuah pernikahan yang indah bagi keluarga harus dibangun di atas landasan kokoh yakni Firman Tuhan. Melalui kecakapan komunikasi guna membatasi timbulnya konflik tanpa pertentangan yang semu. Kemurahan hati dan kepercayaan yang meyakinkan antara suami-istri yang saling mengasihi dengan sikap dewasa dan romantis. Fleksibel, tidak mementingkan diri sendiri dalam keegoisan, kasih, dan harapan dalam iman akan bertumbuh menuju kesempurnaan nan indah. Perkara yang dikemukakannya merupakan hal-hal penting bagi setiap keluarga yang merindukan kebahagiaan.
Bila Tuhan telah menetapkan istri sebagai pendamping suami dan pengasuh anak, maka ia patut menjadi pelita keluarga dan mahkota suaminya. Jika Tuhan memanggil suami sebagai kepala keluarga, maka dia harus memimpin dengan baik, agar anak-anak terlindung dan terbina dengan sempurna. Akhirnya, anak-anak menadi sukacita orangtua, bagaikan anak panah di tangan seorang pahlawan serta menjadi kebanggaan keluarga. Karena itu, sebelum kita menjadi terang dan garam dalam dunia, seharusnya terlebih dahulu menjadi garam dan terang bagi keluarga.
Kiranya Tuhan sumber hikmat dan berkat memberi iman, kekuatan, dan keberanian kepada kita semua. Terlebih, buku ini dipakai Tuhan menjadi berkat bagi setiap pembaca yang mau taat kepada panggilan mulia-Nya untuk membahagiakan orang-orang yang Tuhan percayakan kepada kita.

Soli Deo Gloria, Pdt. Dr. Caleb Tong





Apresiasi:
(sebenarnya ada 31 orang yang memberikan apresiasi terhadap buku ini, namun saya hanya mengutip 4 apresiasi dari 4 orang)
“Semangat untuk mengembangkan diri adalah bagian integral dari pengalaman pribadi dengan Tuhan. Makna penulisan sebuah buku diberikan Tuhan bagi mereka yang telah dengan tulus melayani-Nya dalam motto Trust and Obey.
Bagi mereka yang hidup dalam iman yang sejati, “INFLUENCE adalah Fruits of Obedience.” Influence tidak boleh dicari dan atau diupayakan oleh orang-orang percaya, sebab spirit pelayanan Kristen adalah Striving for Excellence dan buka Striving for Superiority. Hanya mereka yang setia dengan “hal kecil, yang disediakan Tuhan baginya,” akan mengerjakan talenta yang Than berikan padanya.
BACALAH buku ini dan Anda akan menemukan apa yang saya MAKSUDKAN. Tuhan memberkati mereka yang haus akan kebenaran.”
Pdt. Yakub B. Susabda, Ph.D.
(Rektor Sekolah Tinggi Theologi Reformed Injili Indonesia—STTRII Jakarta; Sarjana Theologi—dari STT Jakarta; Master of Christian Education—M.C.E. dari Reformed Theological Seminary, Jackson, Mississippi, U.S.A.; Master of Theology—M.Th. dalam Psychology dan Counseling dari Trinity Evangelical Divinity School, Illinois, U.S.A.; dan Doctor of Philosophy—Ph.D. dari Biola University, U.S.A.)


“Buku keluarga yang wajib dibaca pasangan suami-istri dan mereka yang ingin menikah. Penuh dengan MUTIARA hikmat berdasarkan pergumulan pribadi serta pengolahan dari masukan teoritis dan dilandasi oleh Firman Tuhan.
Buku ini ditulis dengan bahasa renyah, sehingga enak dibaca dan mudah dicerna serta DIJAMIN TIDAK MEMBOSANKAN!”
Pdt. Paul R. Gunadi, Ph.D.
(Dosen Konseling di Seminari Alkitab Asia Tenggara—SAAT Malang; Bachelor of Arts—B.A. Psikologi dari Azusa Pacific College; Master of Arts—M.A. Konseling dari Denver Seminary; dan Ph.D. Psikologi Konseling dari University of Southern California)


“Buku yang BERKUALITAS, ditulis oleh orang yang berpengetahuan. Buku yang BERMANFAAT, ditulis oleh roang yang berpengalaman. Buku yang MENGUBAH HIDUP, ditulis oleh orang yang menulis dengan hati.
Chang Khui Fa memenuhi tiga kriteria ini dan mendorong kita semua untuk menjadikan tulisannya sebagai bagian dalam pertumbuhan keluarga dan pelayanan kita. Kiranya Tuhan memberkati baik penulis maupun para pembaca.”
Anne Kartawidjaja, M.Div.
(Ibu Rumah Tangga, Pencipta Pujian Sahabat Kristus 1,2,3, dan Pendiri Yayasan Eunike)


“Sekian lama mengenal Chang Khui Fa dan bergaul dengannya, sekian lama juga menunggu datangnya buku semacam ini yang ditulis olehnya. Akhirnya… Datang Juga! Sesuai dengan gayanya yang khas, buku ini praktis namun ada KERANGKA berpikir yang jelas. Bisa dikembangkan untuk menjadi bahan PA Pasutri atau KTB Married Couple. Pasti MENYESAL bila tidak membaca dan memanfaatkan buku ini.”
Pdt. Paulus Kurnia, C.B.A., D.Min.
(Anggota Dewan Penasihat dan Konselor Lifespring Counseling Center, Anggota Kehormatan Asosiasi Konselor Kristen Indonesia, dan Dosen Konseling Keluarga di STT Amanat Agung, Jakarta; B.A. dari Universitas Tarumanagara, Jakarta; S.Th. dari SAAT Malang; M.Th. dari International Theological Seminary, El Monte, California, U.S.A.; M.Th. dari Fuller Theological Seminary, Pasadena, California, U.S.A.; Doctor of Ministry—D.Min. dari Reformed Theological Seminary, Jackson, Mississippi, U.S.A.; dan C.B.A. dari Counseling Skills Counseling Care Centre, Singapore)








Profil Ev. Chang Khui Fa:
Ev. Chang Khui Fa, S.E., M.Div. lahir di Jakarta, 3 Juni 1972. Beliau menyelesaikan pendidikan Sarjana Ekonomi (S.E.) di Institut Bisnis Nusantara, Jakarta. Beliau pernah menggeluti dunia Auditor beserta Financial Statement-nya di Kantor Akuntan Publik Internasional KPMG dan terakhir sebagai Senior Auditor. Beliau juga menjabat sebagai Finance and Accounting Manager di PT. German Centre Indonesia. Beliau menyelesaikan studi theologi Master of Divinity (M.Div.) di STTRII, Jakarta pada tahun 2003 dan saat ini melayani penuh waktu di Gereja Injili Indonesia (GII) Hok Im Tong, Bandung. Beliau menikah dengan Liana pada tanggal 18 Mei 2000 dan dikaruniai 3 orang anak: Jostein Adams, Joylynne Adams, dan Joshen Adams. Beliau dapat dihubungi melalui e-mail: khuifa@gmail.com.