09 September 2009

Resensi Buku-79: PERNAK-PERNIK PERJODOHAN (Pdt. Paul R. Gunadi, Ph.D. dan Lortha Gb. Mahanani)

…Dapatkan segera…




Buku
PERNAK-PERNIK PERJODOHAN

oleh:
Pdt. Paul R. Gunadi, Ph.D. dan Lortha Gb. Mahanani

Penerbit: Metanoia, 2006





Deskripsi dari Denny Teguh Sutandio:
Siapa sich pasangan hidup kita? Bagaimana memilih pasangan hidup kita? Bolehkah memilih pasangan hidup yang tidak seiman? Semua ini merupakan pertanyaan para lajang Kristiani. Namun sayangnya tidak semua lajang Kristiani berkomitmen ingin mengerti tips-tips memilih pasangan hidup yang berkenan di hadapan-Nya. Ada banyak lajang Kristiani yang TIDAK mementingkan hal-hal esensi, seperti iman, sehingga dengan mudahnya bisa menjalin hubungan dan “suka” dengan lawan jenis yang berbeda iman dengan alasan konyol: “COCOK”. Lalu, untuk menutupi/merasionalisasi kesalahannya, dia berargumen, “Kan nanti bisa diinjili...” Ada juga yang terlalu mengandalkan emosi sesaat.

Jika demikian, bagaimana sikap kita sebagai orang Kristen di dalam memandang pasangan hidup? Dengan dasar Alkitab yang beres dan panduan konseling yang hangat, Pdt. Paul R. Gunadi, Ph.D. dan Lortha Gb. Mahanani menjelaskan prinsip-prinsip memilih pasangan hidup yang dimulai dari konsep jodoh dan kehendak Tuhan. Lalu, dilanjutkan dengan tahap mulai berpacaran yang diawali dengan tahap persahabatan. Setelah itu, kita menguji pasangan hidup kita apakah ia cocok dengan kita untuk menikah kelak. Tidak lupa, peran orangtua dan sikap anak di dalam memilih pasangan hidup: tetap memperhatikan nasihat orangtua namun keputusan ada di tangan anak sendiri. Dan kemudian diakhiri dengan pertanyaan-pertanyaan seputar perjodohan.

Inti dari buku kecil ini adalah mengajar kita tentang pentingnya kehendak Tuhan di dalam memilih pasangan hidup. Kemudian, disusul dengan pertanggungjawaban dan penggunaan nalar di dalam bercinta (tidak hanya menggunakan emosi sesaat). Dan setelah itu kematangan di dalam menjalin hubungan menuju pernikahan. Terakhir, bersikap realistis di dalam memilih pasangan hidup (mempertimbangkan kecocokan dengan pasangan hidup itu tidaklah salah, tetapi TIDAK perlu sampai terlalu kritis dan menuntut kesempurnaan).






Profil Penulis:
Pdt. Paul R. Gunadi, Ph.D. adalah dosen purnawaktu di bidang Konseling di Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang dan dosen Konseling di Sekolah Tinggi Theologi Reformed Injili Indonesia (STTRII) Jakarta. Beliau menyelesaikan studi Bachelor of Arts (B.A.) di bidang Psikologi di Azusa Pacific College); Master of Arts (M.A.) di bidang Konseling di Denver Seminary; dan Doctor of Philosophy (Ph.D.) di bidang Psikologi Konseling di University of Southern California, U.S.A. Beliau ditahbiskan sebagai pendeta di Gereja Injili Indonesia, Azusa, California dan pernah melayani di sana sebagai pendeta pembantu. Pengalaman lainnya adalah Children’s Social Worker di Los Angeles County Department of Children’s Services dan Behavioural Specialist, College Hospital, Cerritos, California. Beliau bermukim di Malang bersama istri dan ketiga anak mereka.

06 September 2009

Roma 16:11-12: SALAM KEPADA SAUDARA SEIMAN-5

Seri Eksposisi Surat Roma:
Penutup-11


Salam Kepada Saudara Seiman-5

oleh: Denny Teguh Sutandio



Nats: Roma 16:11-12



Setelah menyampaikan salam kepada 4 budak, maka ia menyampaikan salam terakhirnya kepada beberapa orang. Orang-orang tersebut adalah:
Pertama, Herodion (ay. 11a). Siapa Herodion? Paulus mengatakan bahwa ia adalah teman sebangsanya (KJV: kinsman; NIV: relative; International Standard Version—ISV: fellow Jew). Karena Paulus mengatakan bahwa Herodion adalah teman sebangsanya, maka Dr. John Gill di dalam tafsirannya John Gill’s Exposition of the Entire Bible menafsirkan bahwa Herodion juga adalah orang Yahudi dari suku Benyamin dan sedarah dengan Paulus. Adam Clarke di dalam tafsirannya Adam Clarke’s Commentary on the Bible menafsirkan bahwa mungkin sekali Herodion adalah orang Yahudi yang bertobat. Dr. John Gill juga menunjukkan hal serupa dengan mengaitkan Herodion ini dengan nama salah seorang ke-70 murid Kristus dan kemudian menjadi uskup di Tarsus. Dengan kata lain, Herodion ini sama seperti nama orang-orang yang Paulus sebut di ayat 7.


Kedua, mereka yang ada di rumah Narkisus yang ada di dalam Tuhan. Siapa Narkisus? Dr. John Gill menafsirkan bahwa Narkisus adalah sekretaris Claudius Caesar dan ia sangat kaya. NIV Spirit of the Reformation Study Bible memberikan tambahan keterangan bahwa Narkisus dipaksa bunuh diri oleh Agrippina setelah Nero naik takhta. Mengapa Paulus memberi salam kepada orang-orang yang ada di rumah Narkisus? Matthew Henry di dalam tafsirannya Matthew Henry’s Commentary on the Whole Bible menafsirkan bahwa mungkin sekali Narkisus (seperti Aristobulus di ayat 10) pada waktu itu telah meninggal atau tidak ada pada saat Paulus menyapa atau mungkin bukan seorang Kristen. Yang lebih unik adalah tafsiran Matthew Henry tentang alasan mengapa Paulus memberi salam bukan kepada Narkisus, tetapi kepada orang-orang yang ada di dalam rumah Narkisus. Matthew Henry menafsirkan bahwa Paulus mengerti bahwa Tuhan memanggil dan memilih orang-orang yang miskin di mata dunia dan membiarkan orang kaya mati dalam ketidakpercayaan mereka. Meskipun hal ini ada benarnya, namun tidak bisa dijadikan standar mutlak, lalu diekstrimkan bahwa orang kaya pasti masuk neraka. Memang benar, bahwa Allah memanggil dan memilih orang-orang yang miskin, bodoh, tidak terpandang di mata dunia untuk mempermalukan orang-orang yang merasa diri kaya, pandai, bijaksana, dan terpandang, supaya tidak ada seorang manusia yang boleh memegahkan diri karena kehebatan mereka (bdk. 1Kor. 1:26-29). Tetapi tidak berarti tidak ada orang kaya yang tidak Tuhan panggil dan pilih menjadi umat-Nya. Di dalam PL, Allah memanggil Abraham, seorang kaya. Kesemuanya ini mengingatkan kita pada satu prinsip, “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” (1Sam. 16:7b) Tuhan tidak melihat seberapa kaya, hebat, pintar, terpandang seseorang, karena itu tidak ada apa-apanya di mata-Nya, namun IA lebih melihat kedalaman hati kita, karena di situlah, IA menguji kita. Bagaimana dengan kita? Maukah kita meneladani Dr. John Calvin yang mengatakan bahwa kita menyerahkan hati kita kepada Tuhan dengan tulus dan murni? Ketika kita menyerahkan hati kita kepada Sang Pemilik Hati kita, maka percayalah, kita akan terus-menerus dimurnikan oleh Roh-Nya melalui firman-Nya, sehingga kita makin lama makin menikmati dan memuliakan Dia selama-lamanya.


Ketiga, para pelayan Tuhan yang membanting tulang demi pekerjaan Tuhan. Orang ketiga yang Paulus beri salam adalah orang-orang yang membanting tulang demi pekerjaan Tuhan. Ayat 12 menjelaskan tiga nama orang tersebut: Trifena, Trifosa, dan Persis. Matthew Henry menafsirkan bahwa ketiga nama ini adalah nama perempuan. Nelson Compact Series (Compact Bible Commentary) menafsirkan bahwa Trifena dan Trifosa secara umum dianggap saudara. Kedua saudara ini, menurut tafsiran Dr. John Gill, adalah perempuan bangsawan Yahudi yang tinggal di Ikonium lalu pindah ke Roma. Setelah mereka bertobat, mereka membanting tulang/giat melayani Tuhan. The People’s New Testament menafsirkan bahwa mungkin sekali kedua saudara ini adalah diakones. Apa saja yang mereka kerjakan? Dr. Gill menjelaskan bahwa mereka melayani orang miskin dan para pelayan Injil dengan pengajaran, teguran, nasihat, dll. Tugas ini bukanlah tugas yang mudah. Meskipun demikian, mereka melayani Tuhan melalui pekerjaan-pekerjaan tersebut dengan sukacita. Mereka melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh tanpa mau kelihatan menonjol. Inilah jiwa pelayanan. Melayani Tuhan TIDAK boleh diidentikkan dengan naik mimbar/berkhotbah. Melayani Tuhan adalah memiliki jiwa hamba yang terus-menerus mengabdi kepada Tuhan di dalam setiap aspek kehidupan. Jika seorang hamba Tuhan pintar berkhotbah, namun ia tidak memiliki jiwa mengabdi kepada Tuhan sebagai budak-Nya, maka hamba Tuhan itu belum layak disebut melayani Tuhan, karena esensi melayani Tuhan adalah esensi budak, bukan esensi mau menonjolkan diri. Yohanes Pembaptis adalah sosok hamba Tuhan yang memiliki jiwa melayani, karena ia tidak mau menonjolkan diri. Tentang Kristus, ia mengatakan, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” (Yoh. 3:30) Kepada jemaat di Korintus, Rasul Paulus juga mengatakan hal yang serupa, “Demikianlah pula, ketika aku datang kepadamu, saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu. Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan. Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar. Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah.” (1Kor. 2:1-5) Yohanes Pembaptis dan Rasul Paulus adalah sosok dua hamba Tuhan yang benar-benar menghambakan diri mereka taat kepada panggilan Tuhan. Mereka rela merendahkan diri mereka supaya nama Allah ditinggikan. Bagaimana dengan kita? Masihkah kita ingin menonjolkan diri meskipun secara perkataan kita menyangkalinya? Ketika kita melakukan sesuatu yang berguna bagi orang, masihkah kita ingin nama dan perbuatan kita diingat oleh orang lain? Mengapa kita masih berani merebut kemuliaan Allah? Biarlah orang Kristen memiliki hati seorang hamba yang benar-benar mengabdi kepada Allah sebagai Tuhan, Raja, dan Pemerintah di dalam segala aspek kehidupan mereka, bukan hanya secara perkataan saja.

Meskipun di dalam terjemahan LAI, ketiga orang ini dikatakan bekerja keras demi pekerjaan Tuhan, namun beberapa terjemahan menerjemahkan bahwa Persis lebih banyak bekerja keras daripada dua orang lain. King James Version (KJV) menerjemahkan, “Salute Tryphena and Tryphosa, who labour in the Lord. Salute the beloved Persis, which laboured much in the Lord.” Kata much di dalam KJV ini di dalam teks Yunaninya polus berarti banyak. Siapa Persis? Dr. John Gill menafsirkan bahwa Persis adalah istri dari Rufus yang disebutkan di ayat 13. Kalau Trifena dan Trifosa disebutkan membanting tulang demi pekerjaan Tuhan, maka Persis dikatakan lebih banyak bekerja keras demi pekerjaan Tuhan. Ayat 12 ini memberikan pelajaran bagi kita tentang sosok perempuan. Di dalam tradisi Yahudi, perempuan dianggap kelas kedua yang lebih rendah daripada laki-laki. Namun di dalam Kristus, meskipun tetap ada perbedaan natur dan urutan antara pria dan wanita, tidak ada lagi perbedaan antara pria dan wanita di dalam melayani-Nya. Di dalam melayani-Nya, tidak ada perbedaan jenis kelamin. Bahkan uniknya, para wanita lah yang disebutkan di ayat 12 bekerja keras melayani Tuhan. Ini juga menjadi pelajaran bagi para pria dan wanita. Kaum pria biasanya diidentikkan dengan kaum pekerja keras, namun Tuhan menegur para pria melalui Paulus bahwa mereka tidak bisa lebih banyak bekerja keras untuk pekerjaan Tuhan ketimbang wanita. Bagi kaum wanita, bersyukurlah karena Tuhan memakai tiga orang wanita untuk menjadi para pelayan Tuhan yang berapi-api dan bekerja keras demi kerajaan-Nya.


Dari dua ayat ini saja, kita banyak belajar tentang konsep pelayanan. Pelayanan kepada Tuhan adalah pelayanan yang diawali dari hati yang taat kepada Tuhan, rela menghambakan diri terus-menerus kepada Allah sebagai Tuhan dan Raja, dan diakhiri dengan semangat kerja keras yang berapi-api. Kalau orang dunia bisa berapi-api dan bekerja keras demi mengejar hal-hal sementara, mengapa untuk hal-hal yang bersifat kekekalan kita tidak bisa lebih banyak bekerja keras? Biarlah renungan 2 ayat ini menyadarkan kita tentang konsep pelayanan yang beres kepada Allah. Amin. Soli Deo Gloria.

Resensi Buku-78: CAN MAN LIVE WITHOUT GOD? (DR. RAVI ZACHARIAS, D.D.)

...Dapatkan segera...

Buku
CAN MAN LIVE WITHOUT GOD?
(Dapatkah Manusia Hidup Tanpa Allah?)


oleh: DR. RAVI ZACHARIAS, D.D.

Penerbit: Interaksara, 2009

Penerjemah: Wim Salampessy





Deskripsi dari Denny Teguh Sutandio:
Dunia kita makin lama makin ingin meninggalkan Allah. Jika di zaman rasionalisme, manusia mengilahkan rasio. Maka di zaman postmodernisme ini, manusia mulai mengilahkan perasaannya. Apa yang cocok menurut perasaan subyektifnya, itulah yang dianggap “kebenaran.” Allah sudah diletakkan di tempat sampah/pembuangan, begitulah kata Prof. David F. Wells, Ph.D. Sebagai buktinya, dunia kita makin lama makin menawarkan beragam kepercayaan yang kurang bahkan tidak bertanggungjawab. Intinya mereka tidak mau Allah sejati, tetapi ingin memiliki “allah” versi mereka. Dan anehnya, dengan konsep “allah” tersebut, mereka sudah berbangga bahkan merasa sudah hebat. Konsep Ubermensch ala F. Nietzsche sudah meracuni pikiran mereka. Tetapi benarkah manusia dan dunia ini bisa hidup dan memiliki makna tanpa Allah? Seorang apologet terkenal, Dr. Ravi Zacharias di dalam bukunya ini memaparkan dengan begitu tegas, jelas, dan tajam tentang pembelaan Theisme dan Kekristenan. Inti bukunya adalah, “Di luar Allah, kekacauan menjadi norma: bersama Allah, keinginan pikiran dan batin menemukan pemenuhan.” Dari inti buku ini, beliau menguraikan semua problematika sulit yang dilontarkan kepada Theisme, khususnya Kekristenan, misalnya mengenai masalah penderitaan dan makna hidup. Dan bagian terakhir dari buku ini ditutup dengan tanya jawab Theisme Vs Atheisme di dalam ceramah Veritas yang dipimpin Dr. Ravi di Harvard University. Biarlah buku apologetika yang kritis ini menguatkan iman Kristen kita di tengah arus zaman yang rusak ini.



Pujian-pujian:
“Ravi Zacharias menyelidiki kebangkrutan kehidupan tanpa Allah dan mengemukakan pembelaan yang kuat mengenai bagaimana Yesus Kristus membawa arti dan pengharapan kepada kehidupan perorangan.”
(Rev. Dr. William Franklin Graham, Jr., KBE—Billy Graham; Bachelor of Theology—B.Th. dari Florida Bible Institute {sekarang: Trinity College); Bachelor of Arts—B.A. dalam bidang antropologi dari Wheaton College, U.S.A.)

“Saya tidak mengenal intelek yang lebih piawai atau pembela iman yang lebih relevan dan setia daripada Ravi Zacharias.”
(Rev. Charles R. Swindoll, D.D., L.H.D., LL.D., Litt.D. {HC}; Pendiri dan Senior Pastor di Stonebriar Community Church, Frisco, Texas, U.S.A. dan Pendiri dari siaran Insight for Living; lulus magna cum laude dari Dallas Theological Seminary, U.S.A. pada tahun 1963 dan menerima gelar kehormatan: Doctor of Divinity—D.D. dari Talbot Theological Seminary pada tahun 1977; Doctor of Humane Letters—L.H.D. dari Taylor University pada tahun 1986; Doctor of Laws—LL.D. dari Pepperdine University pada tahun 1990; dan Doctor of Literature—Litt.D. dari Dallas Baptist University pada tahun 1997)

“Ravi Zacharias mempersembahkan pembelaan yang hebat dan luar biasa atas iman Kristiani untuk zaman kita.”
(Rev. R. C. Sproul, L.H.D., D.Litt.; Pendiri dan Presiden Ligonier Ministries dan Vising Professor of Systematic Theology di Westminster Seminary di California, U.S.A.; Bachelor of Arts—B.A. dari Westminster College; Bachelor of Divinity—B.D. dari Pittsburgh Theological Seminary; Drs. dari Free University of Amsterdam; Doctor of Letters —Litt.D. dari Geneva College; dan Doctor of Humane Letters—L.H.D. dari Grove City College.)

“Bagi setiap generasi Allah mengirim seorang nabi. Ravi Zacharias adalah nabi untuk generasi ini. Anda harus mendengar dia.”
(Josh McDowell, M.Div., LL.D.—HC; penulis buku terkenal “Evidence That Demands A Verdict”; Master of Divinity—M.Div. dari Talbot Theological Seminary, California, U.S.A. dan dianugerahi gelar Doctor of Laws—LL.D. dari
Simon Greenleaf School of Law)

“Penyajian Ravi Zacharias mengenai kebenaran merupakan ceramah yang paling menarik, tajam, dan menantang yang pernah saya dengar.”
(Prof. Norman L. Geisler, Ph.D.; Presiden
Southern Evangelical Seminary; B.A. dan Master of Arts—M.A. dari Wheaton College; Bachelor of Theology—Th.B. dari William Tyndale College; dan Ph.D. dalam bidang Filsafat dari Loyola University)





Profil Dr. Ravi Zacharias:
Dr. Ravi Zacharias, D.D. lahir di Madras, India tahun 1946. Beliau dikenal sebagai seorang apologetika Kristen dari Kanada, Amerika. Beliau dan keluarganya pindah ke Toronto, Kanada, ketika beliau masih sebagai seorang remaja, tetapi sekarang beliau berada di Atlanta, Georgia. Beliau terlahir dari keluarga pandita Hindu (kasta Nambudiri Brahmin), kemudian beliau bertobat kepada Tuhan Yesus dan menyerahkan diri menjadi hamba-Nya yang setia. Beliau pindah ke Kanada pada tahun 1966. Beliau mendapatkan gelar Master of Divinity (M.Div.) dari Trinity International University di Deerfield, Illinois. Beliau menguasai banyak disiplin ilmu, di antaranya perbandingan agama, aliran agama, dan filsafat, dan oleh karena itu beliau memimpin departemen Penginjilan dan Pemikiran Kontemporer di Alliance Theological Seminary selama 3,5 tahun. Beliau mendapatkan anugerah gelar Doctor of Divinity (D.D.) baik dari Houghton College, NY maupun dari Tyndale College and Seminary, Toronto. Beliau juga dianugerahi gelar Doctor of Laws (LL.D.) dari Asbury College di Kentucky. Beliau juga melakukan studi khusus mengenai para pujangga Inggris aliran Romantisme di Cambridge University, U.K. Beliau sekarang menjadi dosen tamu di Wycliffe Hall, Oxford University di Oxford, England.

Beliau juga menjadi pembicara utama pada the National Day of Prayer di Washington, D.C. dan the Annual Prayer Breakfast for the United Nations di New York City. Beliau telah menulis beberapa buku tentang Kekristenan, di antaranya, Can Man Live Without God? (1994), The Lotus and the Cross: Jesus Talks with Buddha (2001), and Sense and Sensuality: Jesus Talks with Oscar Wilde (2002), Cries of the Heart, Recapture The Wonder, dan Deliver Us From Evil. Selain itu, beliau juga adalah Presiden Direktur dari Ravi Zacharias International Ministries yang berpusat di Norcross, Georgia. Pada tahun 2009 ini, pelayanan beliau telah mencapai lebih dari 36 tahun. Beliau telah berceramah lebih dari 50 negara, termasuk di universitas-universitas terkemuka, seperti: Harvard dan Princeton. Program mingguannya di radio Let My People Think disiarkan di lebih dari 550 stasiun radio di seluruh dunia.

Pada undangan dari Billy Graham, beliau menjadi pembicara pleno di dalam International Conference for Itinerant Evangelists di Amsterdam pada tahun 1983, 1986, dan 2000. Beliau bersama istri, Margie, memiliki tiga orang anak, yaitu; Sarah, yang menikah dengan Jeremy, Naomi, dan Nathan.

30 August 2009

Roma 16:8-10: SALAM KEPADA SAUDARA SEIMAN-4: Budak

Seri Eksposisi Surat Roma:
Penutup-10


Salam Kepada Saudara Seiman-4: Budak

oleh: Denny Teguh Sutandio



Nats: Roma 16:8-10



Setelah menyampaikan salam kepada 3 profesi/jabatan saudara seiman Paulus di ayat 5b s/d 7, kita akan menyelidiki salam Paulus pada 3 ayat berikutnya, ayat 8 s/d 10. Di dalam 3 ayat ini, Paulus menyebut 4 nama, yaitu: Ampliatus, Urbanus, Stakhis, dan Apeles. Nelson Compact Series Compact Bible Commentary menafsirkan 4 nama di dalam 3 ayat ini sebagai nama-nama budak yang umum. Mari kita menyelidiki satu per satu.

Pertama, salam kepada Ampliatus. Paulus hanya menyebut Ampliatus sebagai orang yang ia kasihi di dalam Tuhan. Siapa Ampliatus? Dr. John Gill di dalam tafsirannya John Gill’s Exposition of the Entire Bible memaparkan bahwa Ampliatus adalah nama Romawi. New International Version (NIV) Spirit of the Reformation Study Bible menafsirkan bahwa nama ini adalah nama budak Romawi yang kemungkinan nama Ampliatus muncul di makam di Catacomb of Domitilla, keponakan perempuan dari Kaisar Domitian. Dari keterangan singkat ini, maka mungkin sekali Ampliatus adalah perempuan. Namun dari struktur bahasa Yunaninya, nama Ampliatus menggunakan bentuk maskulin, bukan feminin (bdk. nama Priskila/Priska di ayat 3 yang menggunakan bentuk feminin). Meskipun ada perbedaan tafsiran jenis kelamin Ampliatus, itu bukanlah yang terpenting. Berita yang terpenting adalah Paulus menganggap seorang budak yang bernama Ampliatus ini sebagai orang yang ia kasihi di dalam Kristus. Ini menunjukkan bahwa budak atau pun status seseorang bukanlah menjadi halangan mereka dikasihi, apalagi di dalam Kristus, tidak ada perbedaan status budak dan tuan, meskipun kedua status ini masih ada/tidak dihapus (Kol. 3:11, 22-23). Artinya, umat Tuhan TIDAK perlu melihat perbedaan status di dalam Kristus, namun secara urutan (ordo), hal ini TIDAK berarti budak bisa setara dengan tuan, lalu budak menginjak-injak si tuan. Inilah paradoksikal iman Kristen: SETARA namun BERTINGKAT. Hal ini diderivasikan dari konsep Allah Tritunggal yang SETARA dalam hakikat, namun BERTINGKAT dalam ordo (misalnya, Allah Bapa mengutus Allah Anak, bukan sebaliknya).

Kedua, salam kepada Urbanus. NIV Spirit of the Reformation Study Bible juga menafsirkan bahwa nama Urbanus juga adalah nama budak Romawi. Tidak ada keterangan lengkap di Alkitab mengenai Urbanus, kecuali pemaparan sangat singkat dari Paulus, yaitu Urbanus adalah seorang teman sekerja Paulus di dalam Kristus. Alkitab tidak mencatat profil lengkap Urbanus juga bukanlah hal terpenting. Berita terpenting adalah sosok budak bagi Paulus bukan profesi yang rendah, bahkan Paulus menganggap budak Romawi yang bernama Urbanus ini sebagai teman sekerjanya di dalam Kristus atau dengan kata lain, Urbanus dianggap Paulus sebagai teman sepelayanan Paulus. Berarti, Paulus mengubah status Urbanus dari hamba manusia menjadi hamba Tuhan. Meskipun sama-sama berpredikat “hamba”, namun peralihan status ini berdampak besar bagi hidupnya. Seorang hamba manusia adalah orang yang menghambakan diri kepada manusia yang sama-sama berdosa, terbatas, dan dicipta oleh Allah, namun seorang hamba Allah adalah seorang yang menghambakan diri kepada Allah yang Mahakuasa, Berdaulat, Mahakasih, Mahaadil, dan Mahakudus. Hal serupa juga terjadi pada kita. Kita mungkin adalah hamba manusia dan bahkan hamba dosa ketika kita masih belum diselamatkan, namun di dalam Kristus, kita telah dipulihkan menjadi hamba Allah. Kita tidak lagi menjadi hamba manusia, uang, dll, karena itu terbatas sifatnya. Lalu, bagaimana jika kita bekerja di bawah orang lain? Apakah kita bisa disebut hamba manusia? YA dan TIDAK! YA secara fenomena, tetapi TIDAK secara esensi. YA secara fenomena berarti secara status di dalam masyarakat, jika kita sebagai karyawan/pegawai/staf di bank atau perusahaan apa pun, kita memang berada di bawah otoritas bos/manajer/direktur/dll, namun TIDAK secara esensi berarti meskipun berada di bawah otoritas bos, kita sebagai orang Kristen TIDAK harus mengikuti apa pun kata bos (termasuk hal-hal yang tidak menyenangkan hati Allah). Inilah bedanya kita menjadi hamba Allah di dalam segala aspek kehidupan kita dengan menjadi hamba manusia!

Ketiga, salam kepada Stakhis. Siapa Stakhis? Tidak ada keterangan apa pun di Alkitab. Dr. John Gill memaparkan bahwa nama ini adalah nama Yunani. Robertson’s Word Pictures mengartikan nama ini sebagai bongkol butir padi (bdk. Mat. 12:1). Selanjutnya, Dr. Gill menjelaskan bahwa Stakhis adalah salah seorang dari 70 murid (bdk. Luk. 10:1) yang kemudian menjadi Bishop/Uskup gereja di Byzantium. Hal yang sama terjadi pada Ampliatus, budak Romawi yang Paulus kasihi juga.

Keempat, salam kepada Apeles. Apeles bagi Paulus adalah seorang yang sudah tahan uji di dalam Kristus. “Tahan uji dalam Kristus” diterjemahkan oleh King James Version (KJV) sebagai approved in Christ. Kata approved di dalam bahasa Yunaninya adalah dokimos yang artinya acceptable (dapat diterima). NIV Spirit of the Reformation Study Bible menafsirkan bahwa nama Apeles adalah nama yang unik, karena Paulus menggunakan satu kata Yunani untuk menggabungkan dua konsep tentang tested and approved (diuji dan disetujui). Dengan kata lain, Apeles berarti seorang yang sudah melewati ujian dan dinyatakan lulus dari ujian tersebut. Dari hal ini, kita belajar poin ketiga tentang konsep salam Paulus kepada budak, yaitu konsep budak yang menderita di dalam Kristus. Jika di poin pertama, kita belajar bahwa status budak tidak masalah bagi Paulus, bahkan dikasihi Paulus, maka di poin kedua, kita belajar adanya peralihan status budak manusia menjadi budak Allah. Dan di poin terakhir, kita belajar tentang status budak yang menderita dan diterima di dalam Kristus. Berarti, ada perkembangan pelajaran yang ingin Paulus ajarkan. Pertama, status budak itu tetap berharga di mata Allah. Kedua, budak tersebut diubah dari budak manusia menjadi budak Allah. Dan terakhir, budak yang menjadi budak Allah ini bukanlah budak yang hidup nyaman, tetapi harus melewati berbagai macam penderitaan demi imannya dan ia dipastikan menang karena kesetiaannya kepada Allah yang ia layani.

Ketiga pelajaran ini juga menjadi pelajaran bagi kita. Pertama, dulu kita adalah hamba dosa. Kita sebagai manusia yang dicipta, terbatas, dan berdosa (mengutip istilah Pdt. Dr. Stephen Tong) lebih cenderung menghambakan diri kepada dosa daripada kepada Allah. Lalu, Allah memilih kita sebelum dunia dijadikan dan Ia menentukan dan membawa kita kepada penebusan Kristus melalui karya Roh Kudus. Di dalam penebusan Kristus, kita beralih dari status hamba manusia yang diperbudak oleh dosa menjadi hamba Allah yang dipimpin oleh Allah. Kita tidak lagi menyenangi apa yang kita senangi, tetapi apa yang Tuhan senangi. Kesukaan-Nya menjadi kesukaan kita. Tetapi ketika kita menjadi hamba-Nya, itu BUKAN hal mudah. Ada beragam ujian yang Tuhan sediakan untuk menguji dan mendewasakan iman dan seluruh hidup kita. Penderitaan, penyakit, kegagalan, dll adalah sarana yang Tuhan pakai untuk menempa kita untuk terus-menerus makin setia kepada-Nya. Meskipun harus menderita, umat Tuhan bukan kalah di dalam penderitaan tersebut, tetapi pasti menang, karena Allah yang telah mengalahkan dunia tersebut bagi mereka adalah Allah yang memberi kekuatan di kala penderitaan itu mencengkeram hidup mereka. Itulah citra budak Allah. Mengutip Ev. Agus Marjanto Santoso, M.Div. di dalam khotbah di National Reformed Evangelical Convention (NREC) 2008, kita dulu adalah orang berdosa (sin), dipanggil menjadi orang kudus Allah di dalam Kristus (saint), dan setelah ditebus-Nya, kita dipanggil untuk melayani-Nya (servant). Sin -> saint -> servant.

Kelima, salam kepada orang-orang di rumah Aristobulus. Tidak ada keterangan apa pun di dalam Alkitab tentang siapa Aristobulus dan orang-orang di dalam rumah Aristobulus. NIV Spirit of the Reformation Study Bible mengontraskan gaya salam Paulus di ayat 10c ini dan 11 dengan ayat 5, 14-15, di mana ayat 10c dan 11, Paulus tidak memberi salam kepada orangnya langsung, tetapi kepada orang-orang yang ada di dalam rumah orang-orang yang disebut (Aristobulus dan Narkisus). Mengapa Paulus tidak menyampaikan salam kepada Aristobulus, melainkan kepada orang-orang di dalam rumah Aristobulus? Beberapa tafsiran Alkitab yang saya baca meragukan bahwa Aristobulus adalah seorang Kristen. NIV Spirit of the Reformation Study Bible menafsirkan bahwa kemungkinan Aristobulus adalah cucu dari Herodes Agung dan teman dari Kaisar Klaudius. Dengan kata lain, salam Paulus BUKAN ditujukan kepada Aristobulus, tetapi kepada orang-orang yang ada di dalam rumah Aristobulus, yang kemungkinan para budak Kristen. Dari bagian ini, kita mendapatkan pelajaran bahwa Paulus yang memperhatikan empat budak di atas, juga memperhatikan budak-budak lain di bawah pengawasan majikan/tuan mereka. Selain memperhatikan, ia tentu juga mengajar para budak Kristen untuk taat kepada tuan mereka seperti kepada Kristus (Kol. 3:22-23).


Dari 3 ayat ini, kita belajar tentang konsep budak. Tidak ada salahnya dengan konsep budak, yang salah adalah perlakuan terhadap budak (mengutip perkataan Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div. dan Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.). Jika konsep budak itu salah, maka kita disebut budak Allah pun juga salah, padahal Alkitab juga mengajar bahwa kita adalah hamba-hamba Allah (Rm. 6:22; Ef. 6:6; 1Ptr. 2:16). Di sini letak kegagalan “theologi” pembebasan ala dunia berdosa yang melawan Alkitab! Sebagai hamba/budak Allah, sudahkah kita benar-benar menjalankan panggilan sebagai budak-Nya yang hanya men-Tuhan-kan Kristus dan menggenapkan kehendak dengan memperluas kerajaan-Nya di bumi ini? Biarlah ini menjadi pelajaran penting bagi kita. Amin. Soli Deo Gloria.

28 August 2009

Resensi Buku-77: WHEN GOD WRITES YOUR LOVE STORY (Eric dan Leslie Ludy)

…Dapatkan segera…




Buku
WHEN GOD WRITES YOUR LOVE STORY:
Prinsip Menghadapi Patah Hati Berulang-ulang dan Mengalami Cinta Sejati


oleh: Eric dan Leslie Ludy

Penerbit: Gloria Graffa, 2009 (cetakan kedua)

Penerjemah: Deesis Edith Mesiani





Deskripsi dari Denny Teguh Sutandio:
Adakah cinta sejati itu? Bagaimana mendapatkan cinta sejati tersebut? Seorang yang patah hati sering kali bertanya demikian karena frustasi dengan kisah cintanya yang terdahulu. Bukan hanya orang yang patah hati, orang yang masih lajang/single pun tidak jarang berpikir demikian, karena dia tidak segera menemukan pasangan hidup yang tepat. Bagaimana mengatasi semuanya ini? Eric dan Leslie Ludy di dalam bukunya When God Writes Your Love Story memaparkan tesis bukunya yaitu dengan menyerahkan pena kita kepada Allah agar Ia menulis kisah cinta bagi kita, maka kita akan menemukan cinta sejati yang disebut “nyanyian yang lebih merdu.” Di dalam bukunya, Leslie mengajar kita, “Hanya dengan bergantung kepada Bapa kita yang setia dan kerinduan untuk menyenangkan-Nya dengan setiap hal yang kita lakukan, yang akan menyiapkan panggung bagi kisah cinta yang indah!” (hlm. 84) Berarti Allah pun ikut terlibat bahkan dalam urusan kisah cinta umat-Nya. Namun sebelum kita tergesa-gesa melihat cara kerja Allah di dalam hal percintaan, Eric dan Leslie Ludy mengajar kita untuk terlebih dahulu menyerahkan hati dan hidup kita bagi Kristus. Ketika kita sudah menyerahkan hati dan hidup kita bagi Kristus, kita akan melihat proses yang Allah bentuk bagi kita di dalam hal percintaan. Salah satu bentuk menyerahkan hati dan hidup kita bagi Kristus adalah dengan bentuk menyangkal diri. Ketika kita sudah terlatih menyangkal diri demi kehendak Allah, maka kita pun bisa menyangkal diri dan berkorban bagi pasangan kita.

Yang lebih menarik lagi, Eric dan Leslie Ludy bukan hanya sekadar memaparkan konsep tersebut secara muluk-muluk, namun juga secara praktis. Mereka memaparkan realitas pengalaman mereka sendiri di dalam menemukan kehendak Allah di dalam urusan cinta tersebut. Mereka sempat frustasi karena tidak menemukan pasangan hidup yang sesuai dengan kehendak Allah, namun karena mereka masing-masing membiarkan Allah menuliskan kisah cinta bagi mereka masing-masing, maka mereka akhirnya bisa bertemu dan menikah sesuai dengan kehendak-Nya. Bagi saya, ini adalah suatu pengalaman hidup cinta dari seorang muda/i Kristen yang didasari oleh konsep Alkitab yang beres dan jelas namun menyentuh. Biarlah buku ini menjadi berkat bagi kaum muda/i Kristen yang akan, sedang, bahkan telah berpacaran agar mereka makin mencintai Tuhan melalui hubungan berpacaran dan menikah nantinya. Amin.



Pujian-pujian:
“Jika kamu mencari cara praktis membangun hubungan yang memuliakan Allah, jangan lewatkan buku ini.”
(Les Parrot, Ph.D. dan Leslie Parrot; Penulis Saving Your Marriage Before It Starts)

“Begitu blak-blakan dan tak ada yang ditutup-tutupi. Buku ini menyelidiki kehidupan cinta para lajang Kristiani secara mendalam.”
(Beverly LaHaye; Pendiri dan Pemimpin Concerned Women for America)

“Jika kau ingin menyelamatkan dunia dari satu lagi patah hati atau memenuhi sebuah hati yang sedang menguncup oleh cinta, belilah buku ini dan berikan pada sahabat istimewa.”
(Dr. Joe White; Presiden Kanakuk Kamps)





Profil Eric dan Leslie Ludy:
Eric dan Leslie Ludy (www.ericandleslie.com) adalah penulis best-seller, pembicara internasional, dan artis rekaman yang menantang anak muda seluruh dunia untuk mengejar kehidupan yang diabdikan secara penuh kepada Yesus Kristus. Buku-buku mereka di antaranya: When God Writes Your Love Story, When Dreams Come True, Authentic Beauty, dan God’s Gift to Women. Mereka tinggal di dekat Rocky Mountains di kota Colorado yang indah.

23 August 2009

Roma 16:5b-7: SALAM KEPADA SAUDARA SEIMAN-3

Seri Eksposisi Surat Roma:
Penutup-9


Salam Kepada Saudara Seiman-3

oleh: Denny Teguh Sutandio



Nats: Roma 16:5b-7



Setelah menyampaikan salam kepada Priskila dan Akwila, maka Paulus menyampaikan salamnya kepada saudara seiman lainnya. Di dalam bagian ini, ayat 5b s/d 7, kita akan menyelidiki 3 jabatan/profesi saudara seiman Paulus. Mari kita menyelidiki satu per satu.


Salam pertama ditujukan kepada Epenetus. Siapa Epenetus? Di ayat 5b, Paulus memberi tahu kita, “saudara yang kukasihi, yang adalah buah pertama dari daerah Asia untuk Kristus.” Kata “Asia” di dalam ayat ini diterjemahkan dalam beberapa terjemahan bahasa Inggris: Achaia (Akhaya). New International Version (NIV) tetap menerjemahkannya: the province of Asia (provinsi Asia). Terjemahan Yunaninya adalah (Provinsi) Asia (Hasan Sutanto, 2003, hlm. 879) Dengan kata lain, Epenetus (NIV Spirit for the Reformation Study Bible mengartikan namanya: worthy of praise yang artinya patut dipuji) adalah seorang yang bertobat melalui pelayanan Paulus pertama di Akhaya. Jika kita menelusuri kembali Akhaya, maka di tempat itu, Paulus menyebut bahwa Stefanus lah yang merupakan buah pertama pelayanannya di Akhaya. Mari kita membaca 1 Korintus 16:15, “Kamu tahu, bahwa Stefanus dan keluarganya adalah orang-orang yang pertama-tama bertobat di Akhaya, dan bahwa mereka telah mengabdikan diri kepada pelayanan orang-orang kudus.” Jadi, mana yang benar? Matthew Henry di dalam tafsirannya Matthew Henry’s Commentary on the Whole Bible, John Gill di dalam tafsirannya John Gill’s Exposition of the Entire Bible, The People’s New Testament, dan Robertson’s Word Pictures manafsirkan bahwa mungkin sekali Epenetus adalah salah seorang keluarga Stefanus yang bertobat melalui pelayanan Paulus pertama tersebut. Dari keterangan singkat siapa Epenetus, kita belajar satu hal menarik, yaitu Paulus tidak melupakan buah pelayanannya yang pertama dan daerah asal mereka (meskipun mereka telah pindah ke Roma). Berarti, ia tetap mengingat para petobat pertama. Luar biasa. Sering kali para hamba Tuhan dan orang Kristen lainnya yang memberitakan Injil kepada orang banyak menjadi lupa kepada orang yang pertama kali mereka injili yang telah bertobat. Paulus tidak demikian dan hal ini menjadi pelajaran bagi kita agar kita mengingat siapa orang yang pertama kali kita injili dan bertobat, lalu setelah mengingat orang tersebut, kunjungi dia dan ajarlah dia untuk bersama-sama bertumbuh di dalam pengenalan akan Allah dan firman-Nya.


Selain Epenetus, Paulus menyebut nama Maria. Di ayat 6, Paulus hanya memberikan keterangan sangat singkat tentang Maria, “yang telah bekerja keras untuk kamu.” Beberapa tafsiran Alkitab yang saya baca sepakat tidak mengetahui profil lengkap Maria. Albert Barnes di dalam tafsirannya Albert Barnes’ Notes on the Bible menafsirkan bahwa Maria mungkin adalah mantan warga Yunani yang mengikuti pelayanan Paulus di Roma. Di Roma inilah, Maria dikenal sebagai orang yang melayani Tuhan sama seperti Trifena dan Trifosa (ay. 12). Adam Clarke di dalam tafsirannya Adam Clarke’s Commentary on the Bible mengatakan bahwa meskipun sosok Maria tidak diketahui dan tersembunyi dari manusia, pelayanannya tidak mungkin tersembunyi di mata Allah dan apa yang ia lakukan bagi jemaat-Nya akan tercatat di dalam Kitab Kehidupan. Perkataan Clarke ini memberikan kekuatan bagi kita yang membaca ayat ini. Tuhan mengizinkan sosok Maria ini tidak diketahui agar jemaat Tuhan baik pada zaman itu maupun pada zaman sekarang bukan melihat kehebatan sosok Maria, tetapi melihat kemuliaan Allah melalui karya dan pelayanan yang ia lakukan. Itulah arti pelayanan. Pelayanan kepada Tuhan adalah pelayanan yang dilakukan sebagai respons terhadap anugerah Allah, melalui kuasa Allah, dan bagi kemuliaan-Nya. Berarti, di dalam melayani Tuhan, tidak ada satu inci jasa baik manusia yang diperhitungkan. Dengan kata lain, di dalam melayani Tuhan, bukan diri kita yang ditonjolkan, tetapi nama Tuhan. Bagaimana dengan kita? Kita yang suka menonjolkan diri di dalam melayani Tuhan sudah seharusnya bertobat dari kebiasaan ini dan kembali kepada hakekat pelayanan Kristen yang sehat sesuai dengan Alkitab.


Orang ketiga yang Paulus berikan salam yaitu Andronikus dan Yunias (ay. 7). Siapa mereka? Paulus menjelaskan, “saudara-saudaraku sebangsa, yang pernah dipenjarakan bersama-sama dengan aku, yaitu orang-orang yang terpandang di antara para rasul dan yang telah menjadi Kristen sebelum aku.” NIV Spirit of the Reformation Study Bible menafsirkan bahwa kedua nama ini diterjemahkan sebagai nama laki-laki, tetapi para penafsir awal mempercayai bahwa mereka adalah suami istri (Andronikus dan Yunia). Menurut Dr. John Gill di dalam tafsirannya, Andronikus adalah nama Yunani, sedangkan istrinya, Yunia adalah nama Latin. Kedua pasutri ini disebut Paulus sebagai saudara sebangsa. Berarti kedua pasutri ini adalah orang Yahudi yang bertobat dan percaya kepada Kristus, bahkan sebelum Paulus bertobat. Dr. John Gill bahkan menafsirkan mungkin sekali kedua pasutri ini berasal dari keturunan Benyamin seperti Paulus dan memiliki hubungan darah yang dekat dengan Paulus. Bukan hanya memiliki hubungan darah dengan Paulus, mereka juga dikatakan pernah dipenjarakan bersama-sama dengan Paulus. Berarti, mereka juga ikut menderita demi Kristus bersama-sama dengan Paulus. Dan terakhir, mereka disebut orang yang terpandang di antara para rasul. NIV Spirit of the Reformation Study Bible menafsirkan bahwa mereka mungkin adalah para pembawa berita khusus bagi gereja-gereja, tetapi mereka tidak menduduki jabatan otoritatif rasul. Dengan kata lain, “orang-orang yang terpandang di antara para rasul” ini berarti orang yang dikenal oleh para rasul. Bahkan, Dr. John Gill menafsirkan bahwa Andronikus inilah Uskup di Pannonia atau di Spanyol. Dari keterangan singkat ini, kita mendapatkan gambaran jelas bahwa Paulus mengingat saudara sebangsanya bukan karena mereka satu bangsa, tetapi satu iman dan bersama-sama di dalam satu penderitaan bagi Kristus. Inilah jiwa pelayanan. Pelayanan bukan menomersatukan kesamaan ras atau suku, tetapi kesamaan misi, visi, dan beban di dalam memperluas Kerajaan-Nya. Jika di dalam melayani Tuhan, anak-anak Tuhan memiliki kesamaan dan kemurnian yang sama di dalam motivasi, misi, visi, dan beban, maka mereka akan melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh dan setia. Sudahkah kita memiliki hal demikian?


Biarlah melalui perenungan 3 ayat ini membawa kita lebih mengerti konsep pelayanan yang diperkenan Allah bagi perluasan kerajaan-Nya. Amin. Soli Deo Gloria.

20 August 2009

PARADOXICAL CHRISTIAN LIFE STYLE (Denny Teguh Sutandio)

PARADOXICAL CHRISTIAN LIFE STYLE:
Analisis Gaya Hidup Kristen dan Panggilan Gaya Hidup Kristen yang Paradoks Di Era Postmodern


oleh: Denny Teguh Sutandio



“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”
(Rm. 12:2)





PENDAHULUAN
Alkisah ada dua orang Kristen yang beribadah di gereja yang sama. Sebut saja A dan B. A adalah sosok jemaat gereja ideal. Dia seorang yang aktif pelayanan dan aktif mengikuti kegiatan-kegiatan gereja. Bahkan ia aktif dan gemar membaca buku-buku theologi dan rohani berkualitas. Tidak jarang dia juga aktif berdiskusi theologi bahkan berdebat dengan orang lain tentang doktrin Kristen yang sehat. Meskipun A gemar dengan hal-hal theologi, namun sayangnya ia tidak pandai bergaul dan kaku. Semua dinilai dari perspektif Alkitab, bahkan untuk hal-hal kecil/sekunder sekalipun. Sedangkan B adalah sosok jemaat gereja yang biasa-biasa saja, bahkan boleh dibilang kurang aktif ke gereja. Dia sosok jemaat yang malas pergi ke gereja. Dia lebih sering keluar hang out bersama teman-temannya ketimbang harus belajar doktrin. Bahkan ada yang sampai ekstrim, lebih memilih hang out ketimbang harus beribadah.




VARIASI GAYA HIDUP ORANG KRISTEN
Ilustrasi di atas adalah gambaran dua gaya hidup orang Kristen di zaman ini.
Di satu sisi, ada orang Kristen yang gemar belajar doktrin, namun sayangnya gaya hidupnya sangat kaku (istilah kerennya: jadul—jaman dulu). Mengapa bisa demikian? Karena ia mengamini khotbah pendetanya yang mengutip Roma 12:2 bahwa kita tidak boleh serupa dengan dunia, tetapi harus berubah oleh pembaharuan budi kita. Gara-gara konsep tersebut, maka di dalam pola pikirnya, segala sesuatu di dunia ini pasti rusak dan harus dihakimi menurut perspektif Alkitab. Alhasil, jangan heran, mereka buta terhadap hal-hal duniawi. Jangan tanyakan kepada orang ini tentang Facebook, Friendster, dll. Yang dia tahu bukan Facebook, tetapi book (=buku), hehehe J Bagaimana bisa tahu gaya hidup orang ini? Memang agak susah, tetapi bisa ditebak kok. Adapun ciri-ciri orang ini seperti:
Pertama, tidak mampu membedakan mana yang primer dengan sekunder. Semua hal dianggapnya primer, apalagi menyangkut doktrin. Orang ini akan mendengungkan bahwa esensi lebih penting dari fenomena. Semua doktrin dianggap primer/esensi, sehingga tidak heran jika ada orang yang berbeda doktrin dengannya dalam hal-hal sekunder pun dianggap oleh orang Kristen kaku ini sebagai hal primer. Ambil contoh, baptisan bayi/anak (infant baptism). Alkitab TIDAK melarang praktek baptisan bayi dan TIDAK mengharuskan baptisan bayi. Namun ada seorang pendeta dengan nada emosinya mengatakan di atas mimbar bahwa gereja yang tidak menjalankan baptisan anak itu sesat. Ini contoh orang Kristen yang tidak bisa membedakan mana yang primer dan mana yang sekunder.

Kedua, tidak mampu membedakan mana yang merupakan humor dengan yang serius. Bagi orang ini, semua hal dianggap serius, tidak ada humor. Saya menjumpai ada seorang Kristen yang menguasai banyak bidang doktrin dan hal-hal lain ternyata adalah seorang yang tidak bisa membedakan antara humor dengan yang tidak humor. Sesuatu yang humor dianggap serius dan lebih parahnya dia mendukung argumentasinya berdasarkan Alkitab.

Ketiga, tidak bisa bergaul. Orang model ini jarang bisa bergaul. Saya sudah mendapati orang-orang model seperti ini. Orang model ini biasanya seorang pendiam dan sangat kaku.

Keempat, cara berpakaian. Entah mengapa cara berpakaian orang Kristen seperti ini sangat old fashioned. Kalau orang Kristen ini orang yang sudah tua atau orangtua, itu wajar, namun jika orang Kristen model ini masih muda, maka sangat ketinggalan zaman orang seperti ini. Bayangkan seorang muda Kristen masih menggunakan celana panjang hitam, baju dimasukkan, dll. Bukan berarti kita tidak boleh rapi, tetapi kerapian itu harus disesuaikan dengan konteksnya.


Di sisi lain, ada orang (Kristen) yang malas beribadah (ke gereja), namun gaya hidupnya gaul luar biasa. Ciri-ciri orang (Kristen) seperti ini bertolak belakang dari ciri orang Kristen model A di atas:
Pertama, tidak memerhatikan esensi. Jika orang Kristen model A terlalu mementingkan esensi dan cenderung membuang fenomena, maka orang (Kristen) model B sangat mementingkan fenomena dan cenderung membuang esensi. Baginya, hidup hanya sekali, maka hidup harus dinikmati sebebas-bebasnya. Masa bodoh dengan iman, karakter, komitmen, dll. Prinsip hidupnya: “muda foya-foya, tua kaya-raya, dan mati masuk ‘sorga’” Gaya hidupnya: enjoy aja. Tidak ada ikatan di dalam hidupnya. Mereka bebas melakukan apa yang mereka ingin lakukan. Tidak heran, di zaman postmodern ini, free-sex begitu laku di pasaran bahkan mereka bisa bersuka karena telah melakukan free-sex. Konsep ini jelas tidak beres. Jika semua orang bebas seperti ini, ada beberapa hal yang tidak disadarinya: Pertama, kriteria bebas seperti apa yang ia tetapkan? Kedua, kebebasan seseorang pasti melawan kebebasan orang lain dan pasti terjadi perkelahian di antara mereka.

Kedua, semua hal dianggap humor/tidak serius. Jika di dalam “kamus” hidup orang model A tidak ada humor, maka di dalam “kamus” hidup orang model B semua dianggap humor. Tidak ada jiwa serius apalagi bertanggungjawab atas apa yang dikatakannya. Ya, inilah era di mana tanggung jawab sudah mulai hilang bahkan di kalangan banyak orang “Kristen.” Semua bisa berkata sesuka hatinya tanpa mau mempertanggungjawabkan apa yang dikatakannya.

Ketiga, sangat pandai bergaul. Orang model B ini sangat mudah dan pandai bergaul. Dia memiliki banyak teman/sahabat bahkan dari luar negeri. Dia mungkin seorang yang mudah akrab dengan orang yang baru pertama kali ditemui. Tetapi sayangnya, kita tidak pernah mengetahui apa motivasi sebenarnya dari orang yang sangat mudah/pandai bergaul tersebut.

Keempat, cara berpakaian sangat up-to-dated. Orang model B tidak usah diragukan lagi cara berpakaiannya: sangat gaul, up-to-dated, dan funky. Namun sayangnya, yang ekstrim, mereka berpakaian melampaui batas-batas etika. Hal ini bisa dilihat biasanya pada seorang artis wanita terkenal atau penyanyi pop/dangdut yang berpakaian tidak senonoh. Sebuah berita mengabarkan seorang istri pemimpin gereja besar di Singapore yang adalah seorang penyanyi sekuler mengenakan pakaian yang tidak senonoh yang mempertontonkan payudaranya.


Manakah yang harus dipilih orang Kristen? Orang Kristen jika dituntut untuk memilih, selalu berpikir either … or… Kalau tidak menjadi orang Kristen model A (kepalanya penuh dengan doktrin, namun jadul), maka ia akan menjadi orang Kristen model B. Jika orang Kristen memilih menjadi orang Kristen model A di atas, jangan harap orang dunia bisa bertobat, karena mungkin sekali orang dunia akan melihat keanehan orang Kristen yang benar-benar kaku dan jadul. Sebaliknya, jika orang Kristen memilih model B di atas, mungkin sekali ia cocok dengan orang dunia, namun sayangnya orang dunia yang benar-benar kritis tidak akan menghargai orang semacam demikian, karena orang model B tidak memiliki prinsip hidup bahkan komitmen. Jadi, manakah yang harus kita pilih dengan bertanggungjawab?




PANDANGAN ALKITABIAH TENTANG GAYA HIDUP KRISTEN YANG SEHAT
Jika kita telah melihat ketidakseimbangan gaya hidup “Kristen” di atas, maka sudah saatnya kita melihat apa kata Alkitab tentang gaya hidup Kristen yang sehat. Sebelumnya kita akan menelusuri makna gaya hidup dan dikaitkannya dengan pengajaran Alkitab mengenai gaya hidup Kristen.

Apakah gaya hidup itu? Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003) mendefinisikan gaya hidup sebagai, “pola tingkah laku sehari-hari segolongan manusia di dalam masyarakat.” (hlm. 258) Dari definisi ini, kita mendapatkan kesimpulan bahwa gaya hidup berkaitan dengan golongan/kelompok masyarakat. Bukankah ini hal menarik jika kita menggunakannya sebagai saksi Kristus yang menggarami dan menerangi dunia ini? Melalui sekelompok masyarakat Kristen yang memiliki gaya hidup Kristen yang NORMAL/SEHAT, maka kita bisa memenangkan orang banyak demi Kristus. Lalu, bagaimana memiliki gaya hidup Kristen yang NORMAL/SEHAT tersebut? Apakah kita memilih jalan kaku seperti orang Kristen model A atau kita berkompromi seperti orang Kristen model B? Jawabannya: TIDAK. Saya mengembangkan satu istilah: Paradoxical Christian Life Style (Gaya Hidup Kristen yang Paradoks). Artinya, di dalam mengembangkan gaya hidup Kristen, kita TIDAK mengikuti gaya hidup A yang jadul, kaku, dan old-fashioned tersebut, namun kita juga TIDAK mengikuti gaya hidup B yang tidak bertanggungjawab dan kompromi tersebut. Kita mengembangkan satu gaya hidup yang tetap berpusat kepada Allah namun tetap “mendarat” di dunia kita, sehingga kita bisa menjadi garam dan terang bagi dunia berdosa ini.

Roma 12:2 memang mengajar kita bahwa agar kita jangan serupa dengan dunia ini. Frase ini di dalam teks Yunaninya menggunakan bentuk pasif. Artinya, kita TIDAK boleh dipengaruhi dunia ini. Lalu, Paulus mengajar kita untuk memperbaharui akal budi kita agar kita bisa membedakan mana yang kehendak Allah: yang baik, berkenan kepada Allah (=menyenangkan Allah), dan sempurna. Dengan kata lain, di dalam Roma 12:2, Tuhan melalui Paulus menuntut kita memiliki gaya hidup yang berpusat kepada Allah, di mana hati, pikiran, perkataan, dan sikap kita memuliakan Allah. Itu esensi yang harus kita pegang dan tidak boleh dikompromikan. Kita harus mati-matian mempertahankan pola pikir ini bahkan mungkin harus berperang melawan postmodern yang anti-konsep dan semau gue. Tetapi meskipun demikian, kita jangan salah. Kita adalah anak-anak Tuhan yang diutus oleh Tuhan ke dalam dunia, seperti yang dikatakan Kristus sendiri kepada Bapa-Nya tentang para murid-Nya (dan umat pilihan-Nya), “Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat. Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.” (Yoh. 17:14-17) Perhatikan doa Tuhan Yesus ini. Kristus mengajar hal paradoks seperti yang telah saya paparkan di atas:

Pertama, umat pilihan-Nya BUKAN berasal dari dunia ini sama seperti Kristus bukan berasal dari dunia ini. Berarti, Kristus sedang mengajar kita tentang status kita. Bagi kita yang termasuk umat pilihan-Nya, kita adalah orang-orang yang BUKAN berasal dari dunia ini, karena kita adalah warga Kerajaan Sorga yang dilahirkan dari Roh (bdk. Yoh. 3:3, 5-6). Seorang yang dilahirkan dari Roh secara status telah dilahirbarukan oleh Roh Kudus untuk percaya kepada Kristus, namun secara kondisi, orang ini perlu terus-menerus hidup dipimpin Roh Kudus (Rm. 8:14). Kita bisa melakukan hal ini semata-mata karena anugerah Allah melalui kuasa pencerahan dan pimpinan Roh Kudus tersebut (bdk. Flp. 2:12-13). Orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah mereka yang menyenangi apa yang Allah senangi dan membenci apa yang Allah benci. Itulah definisi paling jitu tentang menyangkal diri dari hamba-Nya, Pdt. Dr. Stephen Tong.

Kedua, meskipun bukan berasal dari dunia, Tuhan Yesus tidak meminta kepada Bapa agar umat pilihan-Nya diambil dari dunia ini. Mengapa? Karena Kristus mengutus mereka untuk menjadi saksi-Nya yang harus mewartakan kasih Kristus kepada banyak orang (Mat. 5:13-16; Kis. 1:8). Dari sini, kita belajar bahwa kita sebagai anak-anak-Nya DIUTUS menggarami dan menerangi dunia. Lalu, bagaimana cara menggarami dan menerangi dunia? Apakah caranya seperti orang Kristen model A tersebut? TIDAK! Jika kita mencontoh orang Kristen model A, orang dunia dijamin tidak akan bertobat, malah mungkin merasa risih dengan keanehan kita. Cara kita menggarami dan menerangi dunia adalah dengan melihat dunia sekeliling kita dengan perspektif kedaulatan Allah. Berarti, prinsip pertama di dalam cara menjadi garam dan terang dunia, yaitu kedaulatan Allah. Prinsip kedua adalah mengamati kondisi dunia kita (secara obyektif). Kita harus mengerti apa yang sedang terjadi di dunia kita. Caranya adalah dengan kita membaca surat kabar, mengakses internet, menonton film/DVD, dll. Misalnya, ditangkapnya teroris yang ternyata bukan Noordin M. Top oleh Densus 88, dll. Jika kita tidak tahu-menahu tentang kondisi dunia sekitar, bagaimana kita bisa menggarami dunia?

Ketiga, meskipun kita diutus oleh Kristus, Ia meminta kepada Bapa agar Bapa melindungi mereka dari yang jahat dengan menguduskan mereka dengan firman-Nya. Berarti, ketika kita diutus menjadi saksi-Nya, kita tidak ditinggalkan begitu saja, Roh Kudus diutus dan Firman Allah diwahyukan untuk memimpin hidup kita terus-menerus agar kita makin taat kepada Kristus dan siap menggarami dan menerangi dunia kita. Dengan kata lain, Alkitab dan Roh Kudus adalah dua sarana/pagar agar kita bisa menjadi garam dan terang dunia dengan teliti, waspada, dan bertanggungjawab. Berarti kita harus memakai semua sarana dunia yang baik untuk memuliakan Allah. Di dalam theologi Reformed, kita mengenal konsep mandat budaya. Seperti ajaran Dr. John Calvin tentang spiritualitas Kristen, kita tidak anti terhadap dunia, namun kita memanfaatkan segala hal di dunia ini untuk memuliakan Allah. Itulah inti pengajaran Alkitab, kita menaklukkan semua pikiran di bawah kaki Kristus, seperti yang Rasul Paulus ajarkan kepada jemaat di Korintus, “Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus,” (2Kor. 10:5) Saya akan memberikan contoh praktisnya. Di dalam zaman sekarang, Facebook sedang ngetren. Apa yang menjadi sikap Kristen? Beberapa orang Kristen yang sangat anti dengan Facebook. Sedangkan banyak orang Kristen yang tergila-gila dengan Facebook. Lalu, bagaimana sikap kita? Ingat, gaya hidup orang Kristen adalah gaya hidup paradoks! Berarti sebagai orang Kristen, kita memiliki misi dan visi tersendiri di dalam mendayagunakan Facebook tersebut. Meskipun tidak harus melulu diisi dengan hal-hal rohani, kita harus menebus Facebook bagi Kristus. Caranya dengan memberitakan Injil dan kebenaran Firman melalui Catatan/Notes di Facebook atau yang lainnya. Hal serupa dengan forum dan milis (Kristen) di internet. Masuklah ke forum dan milis tersebut, beritakan suara kebenaran dari iman Kristen yang beres, supaya nama Tuhan dipermuliakan.




KESIMPULAN
Melalui gaya hidup Kristen yang paradoks:
Pertama, kita TETAP memiliki prinsip hidup yang kokoh dan kuat untuk hal-hal primer sesuai dengan prinsip Alkitab yang konsisten dan menyeluruh, namun kita TIDAK kaku terhadap hal-hal sekunder. Hal-hal seperti baptisan anak, model baptisan (percik, selam, dll), penggunaan Facebook (dan sejenisnya), dll adalah hal-hal sekunder yang TIDAK perlu diributkan bahkan dipertengkarkan. Kita memegang teguh prinsip dasar dan pentingnya, namun kita tetap menghargai unsur-unsur sekunder yang tidak terlalu penting. Saya takut khususnya mereka yang bertheologi Reformed, gemar berdebat untuk urusan-urusan sekunder bahkan memblame sesat/bidat bagi mereka yang menolak doktrin Reformed yang sekunder (misalnya: baptisan anak, dll). Hal itu TIDAK menjadi berkat bahkan mungkin bisa menjadi batu sandungan! Bertobatlah dan jangan menjadi orang Kristen (Reformed) EKSTRIM!

Kedua, kita tetap mempertahankan pentingnya esensi ketimbang fenomena, tetapi TIDAK mengabaikan fenomena sama sekali. Artinya, kita memang melihat esensi lebih penting dan signifikan ketimbang fenomena, namun fenomena tidak boleh dibuang sama sekali. Mengapa? Karena kita adalah manusia yang hidup di DUNIA. Mau tidak mau, suka tidak suka, fenomena tetap perlu. Adalah suatu kegilaan jika ada orang Kristen yang terlalu mementingkan esensi bahkan untuk hal-hal tidak terlalu penting. Misalnya, untuk urusan makan lemper, bakso, dll, ada pendeta yang mengajar bahwa kita harus mementingkan unsur nilai, bukan hanya murah atau mahalnya. Nilai memang harus diperhatikan, tetapi TIDAK berarti setiap detail hidup kita sangat mementingkan nilai, itu GILA namanya! Pdt. Dr. Stephen Tong sendiri yang mengerti nilai TIDAK sampai seekstrim si pendeta itu. Pdt. Stephen Tong kalau makan dan bepergian dengan menggunakan transportasi selalu mencari yang paling murah. Berarti NILAI/ESENSI ada batasnya! Belajar hidup NORMAL sebagai anak Tuhan!



Setelah merenungkan tentang gaya hidup Kristen yang paradoks, bagaimana reaksi kita? Masihkah kita bersikukuh pada pandangan kita yang kaku, kolot, dan jadul tersebut? Ataukah kita rendah hati menerima apa yang Alkitab ajarkan tentang gaya hidup Kristen yang NORMAL/PARADOKS tersebut? Amin. Soli DEO Gloria.