02 May 2008

Bab 2: Realita Kekristenan dan Kelemahannya

Bab 2
Realita Kekristenan dan Kelemahannya




Seperti dunia, Kekristenan di dalam abad postmodern ini juga mengalami degradasi di dalam dua hal yang tidak seimbang ditekankan, yaitu:

1. Terlalu menekankan rasio
Kekristenan model ini adalah Kekristenan yang terlalu mementingkan rasio, menguasai theologi, filsafat, dll, pandai berdebat dan berargumen theologi dengan siapa pun. Kekristenan model ini diwakili oleh banyak gereja Protestan arus utama. Banyak pemimpin gereja mereka sekolah theologi bahkan di Amerika Serikat dan di Eropa dengan menyandang gelar doktor baik itu dalam theologi, filsafat, dll. Mereka menguasai segala bidang, tetapi pengetahuan mereka hanya berhenti di tataran rasio saja, sehingga hati dan spiritualitas mereka kosong dan kering. Mungkin sekali orang yang hanya pintar di tataran logika suatu saat bisa berpindah agama bahkan sangat mungkin sekali menjadi atheis. Tidak heran, jika seorang “pendeta/theolog” yang sudah sekolah theologi akhirnya berani menulis di Harian Kompas kira-kira tahun lalu (2007) bahwa Tuhan Yesus tidak bangkit, karena ditemukannya makam “Yesus” di Talpiot. Lalu, sang “pendeta” ini akhirnya meminta maaf (secara akademis) bahwa ia telah “salah” menulis artikel di koran tersebut. Perlu diketahui, surat permintaan maaf ini dibuat setelah dirinya ditegur oleh sinode gereja di mana ia “melayani”. Model Kekristenan seperti ini merupakan pengulangan di zaman dahulu: zaman Tuhan Yesus dan zaman modernisme, dan uniknya hal ini sudah dikritik. Di zaman Tuhan Yesus, ketika Ia bertanya tentang siapa diri-Nya menurut kata orang, para murid Tuhan Yesus (selain Petrus) mengajukan pendapat-pendapat orang lain tentang-Nya, tetapi Ia tidak puas dan menyuruh mereka sendiri menjawab secara pribadi siapakah Kristus. Baru pada saat itu, Petrus berani menjawab bahwa Ia adalah Mesias, Anak Allah yang Hidup (Mat. 16:13-16). Di sini, Tuhan Yesus mau mengajarkan bahwa mengenal Allah tidak cukup hanya dari kata orang lain, tetapi lebih kepada pengakuan pribadi. Tuhan tidak menuntut kita mempelajari banyak doktrin untuk mengenal Allah (tanpa aplikasi pribadi), tetapi Ia menuntut hati kita yang taat. Percuma saja, kita bertheologi dengan mengutip perkataan Karl Barth, Rudolf Bultmann, Emil Brunner, dll, tetapi apa yang kita kutip tidak disesuaikan dengan Alkitab dan berimplikasi di dalam kehidupan kerohanian kita. Di zaman modern, ketika manusia mengagungkan rasio, Tuhan menghukum manusia dalam dua hal: pertama, munculnya Perang Dunia (lihat di atas), dan kedua, kekosongan hati manusia. Manusia di zaman modern menjadi kosong dan kering hatinya, karena mereka terlalu mementingkan rasio. Itulah kegagalan fatal rasionalisme, tetapi sering tidak disadari atau sebenarnya memang sengaja tidak mau disadarkan.


2. Terlalu menekankan perasaan/hal-hal fenomenal
Model Kekristenan ini diwakili pertama kali oleh gerakan Pietisme yang dimulai di Jerman pada abad 17-18 setelah gerakan Reformasi dari Luther dan Calvin mengalami kekeringan dan kesuaman. Pietisme berkembang dengan memusatkan perhatian pada hal-hal spiritual, misalnya pertobatan pribadi, pemahaman Alkitab, kehidupan kudus, penginjilan, misi, dll.
[1] Gerakan ini akhirnya memengaruhi Metodisme di abad ke-18. Metodisme didirikan oleh John Wesley (1703-1791), bersama dua orang lainnya: adiknya, Charles Wesley dan rekannya, George Whitefield (bertheologi Reformed). Metodisme mengajarkan bahwa aspek yang sangat penting adalah bukti bagi keselamatan pribadi. Bahkan menurut Wesley, sumber kuasa yang sebenarnya bagi kehidupan Kristen adalah kepastian di lubuk hati (deep-down assurance) yang diberikan oleh pengalaman emosional yang luar biasa dan yang dianugerahkan oleh Roh Kudus. Lalu, penekanan pada bukti keselamatan pribadi ini, oleh John Fletcher (pengikut John Wesley) disebut berkat kedua (second blessing) yaitu baptisan di dalam Roh Kudus. Ajaran inilah yang akhirnya menjadi cikal bakal penekanan ajaran Karismatik/Pentakosta.[2] Jika kita menyelidiki secara ketat, presuposisi di balik pengajaran tentang bukti keselamatan pribadi ini berasal dari Arminianisme yang menekankan kehendak bebas manusia, dan perlu diketahui John Wesley adalah penganut Arminianisme. Metodisme akhirnya memengaruhi Gerakan Kekudusan di abad ke-19. Di era ini terjadi banyak kebangunan rohani besar, seperti Rev. Jonathan Edwards dan Charles G. Finney. Dua tokoh ini berbeda doktrin. Jonathan Edwards adalah seorang theolog Calvinis, sedangkan Finney jelas bukan seorang Calvinis, sehingga mementingkan pengalaman rohani supaya mereka memperoleh kehidupan yang lebih tinggi. Gerakan Kekudusan ini akhirnya memengaruhi Gerakan Pentakosta di abad ke-20 yang pertama kali dimulai oleh seorang pengkhotbah, Charles F. Parham yang mendirikan sekolah Alkitab di Topeka, Kansas, Amerika Serikat. Di sekolah Alkitab itu, Parham mengajar pentingnya doa emosional untuk mengalami semua karunia “Pentakosta”. Hal tersebut berhasil, tepat pada 1 Januari 1901, seorang siswi Alkitabnya, Agnes N. Ozman di jalan Azusa (dikenal dengan: Azusa street) menerima karunia bahasa lidah (glossolali). Pentakostalisme ini akhirnya memengaruhi Gerakan Karismatik sejak tahun 1960 yang lebih menekankan bahasa roh, nubuat-nubuat, kesembuhan, dll.[3]

Akhirnya, pada akhir abad 20 (kira-kira tahun 1994), muncullah gerakan yang disebut Toronto Blessing di Toronto, Canada, di mana pada waktu kebaktian berlangsung, banyak jemaat tiba-tiba tertawa tidak sadarkan diri, meraung-raung seperti singa, dll bahkan sampai berminggu-minggu. Mereka menyebut hal-hal itu sebagai pekerjaan “roh kudus”, sehingga muncul istilah, seperti: tertawa kudus (holy laughter), dll. Gejala ini diimpor ke Indonesia oleh seorang pendeta GKPB (Gereja Kristen Perjanjian Baru) melalui seminar, yang akhirnya setelah itu ia mengakui bahwa gejala ini salah di Majalah Rohani Populer BAHANA. Rupa-rupanya Kekristenan tidak pernah jera. Toronto Blessing sudah tidak “laku”, akhirnya digantikan oleh Pensacola Blessing, lalu disusul “mukjizat” gigi emas yang sempat heboh. Tidak berhenti sampai di situ, Kekristenan sekarang diterpa oleh gejala-gejala pergi ke Korea mengikuti seorang yang mengaku diri “pendeta” yang katanya memiliki gereja terbesar di Korea Selatan, Yoido Full Gospel Church. Tetapi sayangnya, beberapa survei gereja di Korea Selatan mencatat bahwa gerejanya bukan gereja terbesar, tetapi yang terbesar adalah gereja Presbyterian. Sungguh memalukan. Dari Korea Selatan, Kekristenan kontemporer beralih ke Singapore, suatu gereja yang bernama City Harvest Church di mana istri gembala sidangnya berani memakai pakaian yang tidak senonoh. Di Indonesia sendiri, Kekristenan sedang diguncang oleh dua arus, yaitu, pertama, gereja yang mengaku “terbesar” di Surabaya di mana pendiri gereja tersebut mendirikan Graha di Jln Nginden, Surabaya. Kedua, “Festival Kuasa Allah” dari seorang pendeta yang masih muda yang menulis buku Before 30. Bukan hanya itu saja, di Surabaya, barusan ini Kekristenan digoncang oleh arus Mujizat Crusade yang juga dipimpin oleh seorang pendeta yang dulu melayani bersama penulis buku Before 30 di salah satu gereja Karismatik.


Kekristenan diterpa oleh dua arus yang tidak seimbang ini, lalu bagaimana jalan keluarnya? Apakah Kekristenan tidak boleh menggunakan rasio sama sekali karena takut bertentangan dengan iman/Roh Kudus? Ataukah Kekristenan mengilahkan rasio sehingga jika tidak bisa diterima oleh rasio maka tidak benar? Di tengah arus zaman yang serba bengkok ini, marilah kita belajar dari apa yang Tuhan sudah tanamkan di sepanjang sejarah gereja sampai sekarang. Mari kita belajar dari sejarah apa yang diajarkan oleh Kekristenan yang sehat dan bertanggung jawab sejak dari Bapa Gereja Augustinus, Dr. Martin Luther, Dr. John Calvin, para theolog/orang Puritan (Calvinis), sampai sekarang melalui theologi/Gerakan Reformed Injili yang akan dibahas mulai Bagian 2 Bab 3.


[1] Rick Cornish, 5 Menit Sejarah Gereja, terj. Handy Hermanto (Bandung: Pionir Jaya dan NavPress, 2007), hlm. 209.
[2] Hans Maris, Gerakan Karismatik dan Gereja Kita, terj. Gerrit Riemer (Surabaya: Momentum dan Jakarta: LITINDO, 2004), hlm. 10-13.
[3] Ibid., hlm. 14-25.

BAGIAN I. Bab 1: Pendahuluan dan Latar Belakang

BAGIAN I: PENDAHULUAN
Bab 1
Pendahuluan dan Latar Belakang




Kita hidup di suatu dunia yang penuh perubahan. Jika di abad Pertengahan (menurut Colin Brown: abad 5 s/d 15[1]), manusia masih menghargai Tuhan dan meletakkan theologi sebagai ratu ilmu pengetahuan, maka zaman bergeser ke arah rasionalisme, empirisme, deisme, yang akhirnya berpuncak pada Pencerahan (Enlightenment) di mana manusia menganggap rasio dan diri merekalah (rasionalisme dan humanisme atheis) menjadi standar penentu kebenaran. Tidak heran, jika “theologi” liberal yang muncul di zaman postmodern ini sebenarnya merupakan pengulangan sejarah di era modernisme. Ironisnya, zaman di mana manusia mengagungkan diri ini diakhiri bukan dengan perdamaian, tetapi dengan peperangan dunia, yaitu Perang Dunia 1 (1914-1918) dan Perang Dunia 2 (akhir 1930-1945) yang memakan banyak korban jiwa.

Oleh karena kegagalan pengilahan rasio ini, maka banyak manusia mulai sadar, tetapi herannya bukan kembali kepada Tuhan, melainkan kepada sesuatu yang bukan Tuhan. Zaman modern yang menekankan rasio digeser oleh zaman postmodern yang me“mutlak”kan kerelatifan. Kalau di zaman modern, rasio ditekankan, maka di zaman postmodern, perasaanlah yang ditekankan. Hal ini dimulai pada abad 19 melalui seorang tokoh, Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher (1768-1834) yang mengajarkan, “Esensi agama terletak di dalam perasaan bergantung mutlak (“sense of absolute dependence”) di dalam diri kita.” (Schleiermacher, The Christian Faith, hlm. 12)
[2] Lalu, filsafat ini menuju kepada pengajaran Marx Ludwig Feuerbach (1804-1872) di dalam bukunya The Essence of Christianity yang berani mengajarkan, “...teologi tidak lain dari antropologi – pengetahuan tentang Allah tidak lain dari pengetahuan tentang manusia!” (hlm. 207)[3] Kemudian, zaman postmodern mulai ditunggangi oleh spiritualitas Gerakan Zaman Baru (New Age Movement) yang dimulai di Amerika sejak tahun 1980-an (http://en.wikipedia.org/wiki/New_Age). Gerakan ini tidak lagi mengakui adanya penggunaan rasio, tetapi lebih menekankan hal-hal “spiritual” misalnya meditasi, bersatu dengan alam/makrokosmos (monisme), kesembuhan batin, dll. Gerakan ini diadopsi oleh semua agama, tidak terkecuali Kekristenan. Mungkin gejala ini disamarkan di dalam gereja dengan berbagai pengajaran, misalnya: kesembuhan batin (inner healing) “rohani” (dalam nama “Yesus”), dll, sehingga secara tidak sadar, banyak orang Kristen mudah ditipu oleh ajaran-ajaran yang seolah-olah “rohani”, tetapi esensinya justru melawan Alkitab.

Dari fenomena di atas, kita dapat menangkap semangat (Jerman: zeitgeist) dari suatu zaman. Jika di zaman modern, rasiolah yang diilahkan, maka ketika zaman modern diganti dengan zaman postmodern, maka rasio digeser dan spiritualitas ditekankan. Seperti yang dituturkan oleh Pdt. Sutjipto Subeno, spirit zaman kita seperti sebuah pendulum yang bergerak dari satu ekstrim ke ekstrim lain. Bagaimana dengan Kekristenan sendiri? Kita akan membahasnya pada Bab 2.

[1] Colin Brown, Filsafat dan Iman Kristen-1, terj. Lena Suryana dan Sutjipto Subeno (Jakarta: Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1994), hlm. 10.
[2] Ibid., hlm. 153.
[3] Ibid., hlm. 186.

Kata Pengantar

THE INTEGRATED LIFE IN THE TRUTH
(Studi Integrasi Theologi, Spiritualitas, dan Praktika Reformed)
oleh: Denny Teguh Sutandio
Kata Pengantar


Kita hidup di zaman postmodern yang diwarnai oleh beragam filsafat yang banyak dipengaruhi oleh filsafat zaman modern (zaman sebelum postmodern), sekularisme, maupun spiritualitas Gerakan Zaman Baru. Beragam filsafat tersebut memengaruhi semua orang, bahkan tidak sedikit orang Kristen yang terpengaruh. Akibatnya, banyak orang Kristen bahkan pemimpin gereja terlalu ekstrim menekankan salah satu filsafat tersebut. Ada yang terlalu menekankan rasionalitas dan akademis (akibat dari pengaruh sekularisme dan rasionalisme di abad modern), sehingga apa yang tidak akademis dianggap tidak “logis”, akibatnya orang seperti ini memiliki hati yang kering dan bisa menjadi sombong. Di sisi lain, ada orang Kristen bahkan pemimpin gereja yang sangat menekankan spiritualitas (lebih tepatnya pengalaman subjektif à akibat dari pengaruh: filsafat relativisme dan spiritualitas Gerakan Zaman Baru) dan membuang pentingnya rasio. Akibatnya, pengalaman atau spiritualitas apa pun bahkan dari setan dianggap dari “roh kudus”, karena mereka tidak mempunyai dasar uji yang tepat yaitu Alkitab. Ada juga yang terlalu menekankan aspek praktika (akibat dari pengaruh pragmatisme dan materialisme terselubung), yaitu mereka sibuk mengurusi bagaimana melayani masyarakat, tetapi sayangnya mengabaikan penginjilan secara verbal. Ketiga kata kunci ini: Theologi, Spiritualitas, dan Praktika adalah tiga hal yang harus dikerjakan secara bersama-sama dengan satu prinsip mutlak, yaitu: Alkitab. Tetapi hari-hari ini, ketiga kata ini ditekankan secara tidak seimbang dan sangat kacau. Oleh karena itu, saya terbeban menyusun makalah singkat ini untuk menyadarkan kita akan pentingnya tiga hal ini dalam perspektif theologi Reformed yang mau kembali kepada Alkitab.

Dalam menyusun makalah ini, pertama-tama saya bersyukur kepada Allah Trinitas yang telah memimpin saya mengenal kedalaman iman Kristen dan wahyu khusus-Nya, Alkitab. Lalu, saya juga bersyukur hanya melalui anugerah-Nya saja, saya bisa menyusun makalah yang mengintegrasikan theologi, spiritualitas, dan praktika dari kacamata theologi Reformed berdasarkan Alkitab. Setelah itu, saya juga berterima kasih kepada banyak hamba Tuhan dari Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII), di mana saya menjadi anggota jemaatnya. Pertama-tama, kepada hamba-Nya yang setia, Pdt. Dr. Stephen Tong, selaku pendiri Gerakan Reformed Injili dan Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII), yang pertama kali telah menyadarkan saya akan finalitas Kristus dan pentingnya theologi Reformed melalui pengajaran-pengajaran beliau di dalam Kaset Seminar Pembinaan Iman Kristen (SPIK) maupun di dalam National Reformed Evangelical Convention (NREC). Kedua, saya berterima kasih kepada gembala sidang gereja saya, GRII Andhika, Surabaya, Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div. yang telah memberikan banyak inspirasi kepada saya sebagai salah satu bahan studi di dalam makalah ini. Juga tidak lupa saya menghaturkan banyak terima kasih kepada Pdt. Billy Kristanto, Dipl.Mus., M.C.S. yang banyak mencerahkan pikiran saya tentang spiritualitas Reformed melalui khotbah-khotbah beliau yang theologis sekaligus devosional di NREC. Selain itu, saya juga berterima kasih kepada Ev. Ivan Kristiono, S.Sn., M.Div. melalui khotbah-khotbahnya di NREC yang membukakan pikiran saya banyak hal tentang konsep postmodern dan theologi Reformed. Tidak lupa saya menghaturkan terima kasih kepada Pdt. Drs. Thomy Job Matakupan, S.Th., M.Div. yang banyak memberi pencerahan kepada saya melalui kelas Katekisasi GRII Andhika, Surabaya. Kepada Ev. Mercy Grace Preally P. Matakupan, S.Th. (istri Pdt. Thomy Matakupan), saya juga menghaturkan terima kasih karena beliau telah mengajar saya di Sekolah Theologi Reformed Injili Surabaya (STRIS) Andhika di kelas Doktrin Allah.

Selain khotbah dan kaset, saya juga mendapatkan banyak pelajaran berharga dari buku-buku yang pernah saya baca. Pertama-tama, saya berterima kasih kepada satu-satunya theolog yang saya kagumi, yaitu Dr. John Calvin yang telah mencerahkan pikiran saya melalui dua bukunya, yaitu Institutes of the Christian Religion dan Golden Booklet of Christian Life (diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: Mutiara Kehidupan Kristen). Selain itu, saya juga berterima kasih kepada Prof. Anthony A. Hoekema, Th.D. yang telah mencerahkan pikiran saya tentang konsep akhir zaman dan manusia sebagai pribadi ciptaan Allah melalui dua bukunya dalam bahasa Indonesia, yaitu: Alkitab dan Akhir Zaman, dan Manusia: Ciptaan Menurut Gambar Allah. Tentang Lima Pokok Calvinisme, saya juga berterima kasih kepada Rev. Prof. Edwin H. Palmer, Th.D., D.D. (HC) yang mencerahkan pikiran saya melalui bukunya dalam bahasa Indonesia: Lima Pokok Calvinisme. Juga, saya berterima kasih kepada Prof. Dr. Ds. Abraham Kuyper, Prof. Dr. Hans Maris, Rev. W. Gary Crampton, Th.D., Ph.D., Rev. Dr. Richard W. (Rick) Cornish, dll. Biarlah ilmu-ilmu yang pernah saya timba dari buku-buku mereka dapat menjadi berkat melalui makalah yang saya susun ini.

Biarlah melalui makalah yang singkat ini, nama Tuhan semakin dijunjung tinggi dan dipermuliakan, sehingga semua orang boleh melihat kemuliaan Tuhan yang sebenarnya yang tidak ditutupi oleh keberdosaan manusia meskipun mengatasnamakan nama “theologi.” Sekali lagi, biarlah Tuhan, hanya Tuhan saja, dipermuliakan. Amin. Soli Deo Gloria.

“Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.”
(1 Tesalonika 5:21)

29 April 2008

Roma 8:1-4: JAMINAN HIDUP YANG TIDAK DIKUASAI DOSA

Seri Eksposisi Surat Roma :
Manusia Lama Vs Manusia Baru-12


Jaminan Hidup yang Tidak Dikuasai Dosa

oleh: Denny Teguh Sutandio


Nats: Roma 8:1-4.

Setelah mempelajari tentang jalan keluar dari masalah dosa tersebut dan fungsi Hukum (Taurat) itu sesungguhnya, maka Paulus mulai melanjutkan pembahasannya tentang adanya jaminan hidup dari suatu hidup yang tidak lagi dikuasai oleh dosa mulai pasal 8.

Di pasal 7 ayat 25, Paulus sudah mengajarkan bahwa satu-satunya jalan dilepaskan dari kuasa dosa adalah Tuhan Yesus yang diutus untuk menjadi jalan pendamaian dosa kita dengan Allah, substitusi (pengganti) kita yang seharusnya mati akibat dosa, dan peredaan murka Allah (propisiasi), lalu di ayat 26, ia melanjutkan bahwa meskipun Kristus telah diutus untuk menebus dosa, kita tetap dituntut untuk tetap mematuhi hukum-hukum Allah sebagai pedoman dan penuntun tingkah laku, perkataan, pikiran, dll dalam hidup kita sehari-hari. Lalu, apa yang menjadi jaminan dari hidup yang tidak lagi dikuasai oleh dosa ini ? Di pasal 8 ayat 1, Allah melalui Paulus menjelaskan, “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.” King James Version (KJV) menerjemahkannya, “There is therefore now no condemnation to them which are in Christ Jesus, who walk not after the flesh, but after the Spirit.” International Standard Version menerjemahkannya, “Therefore, there is now no condemnation for those who are in union with Christ Jesus.” Jaminan dari hidup yang tidak lagi dikuasai oleh dosa adalah hidup yang bersatu di dalam Kristus Yesus. KJV menambahkan bahwa hidup di dalam Kristus Yesus adalah hidup yang tidak berjalan menurut daging, tetapi menurut Roh. New International Version (NIV) memberikan catatan kaki (footnote) pada akhir ayat ini dengan mengatakan bahwa beberapa manuskrip belakangan menyebutnya, “Jesus, who do not live according to the sinful nature but according to the Spirit.” (=Yesus, yang tidak hidup menurut natur berdosa tetapi menurut Roh.) ISV menerjemahkan hidup di dalam Kristus dengan hidup bersatu dengan Kristus. Ketika kita ingin mengerti hidup bersatu dengan Kristus, kita akan teringat dengan penjelasan Rasul Paulus di dalam Surat Efesus 2:11-22 yang menjelaskan tentang dipersatukan di dalam Kristus, di mana kita (konteks waktu itu adalah orang-orang Yunani/non-Yahudi dan dapat diimplikasikan bagi kita, umat pilihan Allah dari segala bangsa, suku, ras, status sosial, ekonomi) yang dahulu jauh dari Allah, karena bukan termasuk umat Israel (rohani), tetapi sudah dipersatukan di dalam Kristus sebagai warga negara Kerajaan Allah, sehingga kita mendapatkan warisan umat pilihan Allah. Bukan hanya menerima warisan dalam Keluarga Kerajaan Allah, Paulus menyambungnya di ayat terakhir, yaitu ayat 22 di dalam Efesus 2 dengan mengajarkan bahwa di dalam Kristus, kita juga dibangun menjadi tempat kediaman Allah. Ini berarti, kita bukan hanya menerima hak sebagai anak-anak Allah, tetapi kita juga harus menjalankan kewajiban kita sebagai umat pilihan-Nya menjadi tempat kediaman Allah (=tempat berdiamnya Allah). Orang yang sudah hidup bersatu di dalam/dengan Kristus, Alkitab mengatakan, kita tidak lagi dihukum. Tuhan Yesus juga mengajarkan hal serupa di dalam Yohanes 3:18, “Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.” Di sini, Tuhan Yesus lebih jelas mengartikan bahwa orang yang tidak akan dihukum adalah barangsiapa yang mempercayakan dirinya di dalam/kepada Kristus. Kembali ke Surat Roma 8 ayat 1, di dalam ayat ini baik frase “tidak ada penghukuman” maupun “yang ada di dalam Kristus Yesus” sama-sama menggunakan present tense (bentuk sekarang), sehingga arti dari ayat ini adalah ketika kita hidup bersatu di dalam Kristus, pada saat yang sama kita pasti tidak dihukum. Ini adalah jaminan bagi kita yang sangat agung dan mulia. Berbahagialah mereka yang percaya karena anugerah Allah. Bagaimana dengan kita yang termasuk umat pilihan Allah ? Sudahkah kita benar-benar mempercayakan hidup dan hati kita di dalam Kristus dan bersatu di dalam-Nya ? Ketika orang-orang dunia mulai terkatung-katung hidupnya karena hidup mereka tak berpengharapan dan di luar Kristus, serta mereka tinggal menunggu waktu untuk dihukum Allah, umat pilihan Allah tidak seharusnya hidup tak berpengharapan, karena hidup kita sangat berbeda jauh dari hidup orang-orang dunia, di mana hidup kita sudah dijamin oleh Allah di dalam Kristus yang telah menebus dosa-dosa kita sehingga kita tidak lagi dihukum. Bukan hanya bersukacita atas hidup kita yang berpengharapan, kita juga diperintahkan oleh Kristus untuk memberitakan Kabar Baik (Injil) ini kepada semua orang (Matius 28:19) supaya orang-orang yang telah dipilih Allah sebelum dunia dijadikan pun dapat meresponi Injil setelah dilahirbarukan oleh Roh Kudus.

Mengapa kita bisa memiliki pengharapan yang sangat agung ini ? Puji Tuhan, di ayat 2, Roh Kudus mencerahkan kita melalui Paulus, “Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut.” KJV menerjemahkan dengan tepat, “For the law of the Spirit of life in Christ Jesus hath made me free from the law of sin and death.” NIV menerjemahkannya, “because through Christ Jesus the law of the Spirit of life set me free from the law of sin and death.” ISV menerjemahkannya, “For the law of the Spirit of life in Christ Jesus has set me free from the law of sin and death.” Dari ketiga terjemahan Alkitab bahasa Inggris kita mendapatkan suatu pengertian pengontrasan antara hukum Roh kehidupan dengan hukum dosa dan hukum maut. Alkitab terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) tidak menerjemahkan sejelas ketiga terjemahan Alkitab bahasa Inggris di atas. Kata “hukum” baik yang dipakai di dalam pernyataan “hukum Roh kehidupan” maupun di dalam “hukum dosa dan maut” sama-sama menggunakan kata Yunani nomos yang berarti peraturan (ingat, kata Ekonomi juga berasal dari kata Yunani, yaitu oikos yang berarti rumah tangga dan nomos berarti peraturan). Hukum Roh kehidupan menurut Dr. John Gill di dalam tafsirannya John Gill’s Exposition of the Entire Bible bukanlah hukum yang berdasarkan perbuatan. Ini berarti hukum Roh melampaui hukum manusia apalagi dikontraskan dengan hukum dosa dan maut. Hukum Roh yang melampaui hukum manusia inilah yang dimengerti sebagai hukum dari Roh yang memberi hidup (terjemahan LAI). Orang-orang Yahudi di zaman Perjanjian Lama sangat terikat dengan dan dibelenggu oleh Taurat, karena mereka tak mengerti esensi Taurat yaitu kasih Allah. Oleh karena itu, mereka melakukan Taurat tanpa ada penghidupan di dalamnya. Artinya, mereka melakukan Taurat tanpa ada semangat dan motivasi hidup yang bersukacita di hadapan-Nya, tetapi mereka melakukannya supaya tidak dihukum Allah. Hal ini terbukti dari kecaman Tuhan Yesus terhadap para ahli Taurat dan orang Farisi yang menetapkan sejumlah adat istiadat yang mengikat orang-orang Yahudi (Matius 15 dan 23). Oleh karena itu, ketika Kristus datang berinkarnasi menjadi manusia (tanpa meninggalkan natur Ilahi-Nya), Ia mengajar mereka bukan peraturan manusia, tetapi langsung dari Allah dan melalui kuasa Roh Kudus. Kristus datang mengajar mereka dengan kuasa Roh Kudus, sehingga banyak yang bertobat dari kesalahan mereka dahulu, sebaliknya cukup banyak juga yang menolaknya. Ini juga menandakan bahwa hukum Roh Kehidupan yang memberi hidup diberikan bagi umat pilihan-Nya, sedangkan sisanya dibiarkan oleh-Nya untuk binasa sehingga mereka diikat oleh hukum dosa dan maut. Kalau hukum Roh kehidupan memberi hidup, maka sebaliknya hukum dosa dan maut juga memberikan kematian kekal. Orang yang terikat dan menjadi budak dari hukum dosa dan maut tidak akan memiliki hidup sejati, karena mereka sudah dikuasai oleh iblis. Bagaimana dengan kita ? Apakah kita berada di bawah hukum Roh yang memberi hidup atau hukum dosa dan maut yang pasti membawa kita kepada kematian kekal ? Kembali, orang-orang dunia telah berada di bawah hukum dosa dan maut. Hal ini terbukti dengan kecenderungan mereka menganut suatu keyakinan yang memuaskan keinginan mereka, seperti mengizinkan mereka menjadi poligami, melakukan free-sex, menjadi pragmatis, materialis, humanis, atheis, pluralis dan is-is lainnya. Bukan hanya itu saja, mereka juga mencari para pemimpin yang dapat menyetujui semua filsafat hidup mereka dan menyerang siapapun yang menyerang mereka sebagai orang yang “menghakimi”, padahal secara tidak sadar, mereka pun sedang menghakimi orang yang mengkritik mereka. Memang suatu kontradiksi yang aneh ! Semua ini, jika dapat dikatakan, memenuhi nubuat Paulus di dalam 2 Timotius 4:3-4 yang mengajarkan, “Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.” Tetapi sebagai umat pilihan Allah, kita tidak perlu lagi terkatung-katung dan hidup diperbudak oleh si setan dan kroni-kroninya baik berupa manusia atau filsafat atau agama palsu lainnya, kita harus keluar dari belenggu si jahat, dan kembali menghambakan diri di bawah Kebenaran sejati yaitu di dalam Kristus dan Alkitab. Itulah hukum Roh yang memberi kita kehidupan sejati, karena Roh Kudus adalah Roh yang menghidupkan hidup kita sehingga hidup kita lebih bermakna dan berkenan di hadapan Allah.

Lalu, mengapa Roh Kudus memberikan hidup kepada kita, dan bukan oleh manusia atau peraturan agama palsu lainnya ? Di ayat 3-4, Paulus menjelaskan hal ini dengan teliti, “Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging, supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh.” KJV menerjemahkannya, “For what the law could not do, in that it was weak through the flesh, God sending his own Son in the likeness of sinful flesh, and for sin, condemned sin in the flesh: That the righteousness of the law might be fulfilled in us, who walk not after the flesh, but after the Spirit.” Manusia atau agama atau filsafat manapun tak mungkin dapat memberikan hidup. Ini dijelaskan Paulus dengan mengatakan bahwa hukum Taurat tak mungkin atau tak dapat memberi hidup kepada kita, mengapa ? Apakah hukum Taurat itu salah, berdosa, dll ? TIDAK. Tetapi karena hukum Taurat itu adalah hukum yang mati dan tidak menghidupkan. Hal ini dijelaskan Paulus dengan alasan di dalam ayat 3, “karena tak berdaya oleh daging,” Lalu, bagaimana solusinya ? Paulus menjelaskan bahwa Taurat dan hukum-hukum agama/manusia/filsafat/kebudayaan tak mampu menghidupkan manusia karena keterbatasan daging mereka, tetapi apa yang tak mungkin bagi manusia, sangat mungkin bagi Allah, sehingga Allah pasti bisa melakukannya yaitu memberi hidup, karena hanya Dia satu-satunya Sumber Hidup sejati. Dengan kata lain, ketika kita ingin memiliki hidup, kembalilah kepada Sumber asli yaitu di dalam Allah, jangan kepada manusia atau agama atau kebudayaan atau filsafat palsu lainnya, karena itu menyesatkan kita dari jalan Kebenaran sejati. Ketika kita kembali kepada Allah, lalu kita bertanya, apa yang Allah sediakan supaya kita memperoleh hidup sejati ? Banyak agama mengajarkan bahwa supaya kita memperoleh “hidup”, kita harus melakukan ini, itu dan semua perintah agamawi misalnya bertarak/menyiksa diri, berpuasa, dll. Tetapi itu semua bukan dikehendaki Allah, karena itu semua mendukakan hati-Nya tetapi menyenangkan manusia. Tidak ada jalan lain, Alkitab menyatakan bahwa Allah sendiri yang menyediakan jalan bagi manusia supaya kita bisa memiliki hidup yaitu dengan jalan mengutus Tuhan Yesus Kristus, Putra Tunggal-Nya untuk menebus dosa-dosa manusia. Paulus menjelaskan di ayat 4 bahwa Kristus diutus dalam daging, yang serupa dengan daging, ini berarti Kristus selain bernatur Ilahi, juga bernatur manusiawi 100%. Ini juga berarti Kristus adalah Allah yang berkuasa yang sanggup memakai materi yang berdosa ini sebagai sarana untuk menebus dosa manusia. Hal ini dipaparkan Paulus, “Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging,” Luar biasa pemaparan theologia Paulus ! Ia mampu mengaitkan natur kemanusiaan Tuhan Yesus dengan kuasa Kristus yang juga bernatur Ilahi untuk meremukkan kuasa dosa dalam diri manusia/daging. Ini berarti Kristus sekalipun bernatur manusia, Ia tak berdosa, karena Ia menjadi manusia untuk mengalahkan dosa dan kedagingan serta Ia menjadi teladan bagi kita di dalam mengalahkan dosa. Penulis Kitab Ibrani mengajarkan, “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” (Ibrani 4:15) Puji Tuhan, Tuhan Yesus Kristus yang diutus oleh Allah Bapa bukan hanya bernatur Ilahi, tetapi juga bernatur manusia, Ia rela merendahkan diri dan taat sampai mati demi menebus dosa manusia (Filipi 2:8) sekaligus menjadi teladan bagi kita bagaimana mengalahkan pencobaan dan dosa serta menolong kita di saat kita dicobai.

Bukan hanya menjadi teladan mengalahkan pencobaan dan dosa serta menolong kita di saat kita dicobai, pengorbanan Kristus di kayu salib lebih bertujuan, “supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh.” Mengutip perkataan Rev. G. I. Williamson dan beberapa penulis bertheologia Reformed yang dipengaruhi oleh theologia Paulus di Surat Roma ini, ketidaktaatan kita diimputasikan kepada Kristus sehingga Ia menanggung kelemahan dan dosa kita melalui ketaatan-Nya secara sempurna kepada hukum-hukum Allah. Selanjutnya ketaatan Kristus tersebut diimputasikan kepada kita sehingga kita yang tadinya tidak mungkin bisa taat akibat dosa dilayakkan oleh Allah dan dijadikan taat oleh-Nya karena ketaatan Kristus. Inilah yang Paulus maksudkan dengan mengajarkan bahwa dengan kematian-Nya di kayu salib, Ia menggenapi tuntutan hukum Taurat di dalam kita sehingga kita tidak lagi hidup menurut daging, tetapi menurut Roh. Dengan kata lain, pengimputasian ketaatan Kristus di dalam kita mengakibatkan adanya transformasi hidup yang dahulu menurut daging (dikuasai hawa nafsu yang menyesatkan) menjadi hidup menurut Roh (dikuasai oleh Roh). Orang yang mengaku diri Kristen dan sudah lahir baru seharusnya pasti memiliki kerinduan untuk hidup menurut Roh dan tidak lagi hidup menurut kedagingan yang menyesatkan.

Bagaimana dengan kita ? Sudahkah kita hari ini berkomitmen untuk mau bertobat dari kedagingan kita ketika kita menjadi manusia lama dan berubah menjadi manusia baru yang hidup menurut Roh ? Maukah kita dirombak pikiran kita dan dipimpin oleh Roh Kudus agar hidup taat pada pimpinan-Nya dan berbuah bagi kemuliaan nama Allah Trinitas ? Ingatlah, kita yang termasuk umat pilihan Allah sudah menerima jaminan kelepasan dari hidup yang dikuasai daging dan dosa, maukah kita benar-benar berkomitmen untuk hidup baru bagi Kristus ? Soli Deo Gloria. Amin.

Matius 9:27-31: THE CONTENT OF FAITH

Ringkasan Khotbah : 7 Agustus 2005
The Content of Faith

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.


Nats: Matius 9:27-31



Minggu lalu kita sudah memahami kalimat Tuhan Yesus: “Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?“ ini mengandung esensi iman sejati sekaligus mendobrak konsep iman yang muncul di sepanjang sejarah jaman sebab pada dasarnya, manusia tidak suka melihat ada orang lain yang lebih mampu dan lebih berkuasa dari dirinya dan kini orang dituntut untuk percaya penuh pada Kristus sebagai Tuhan, hal ini tidaklah mudah sebab orang biasa dilatih bahwa “aku bisa“ bukan “Aku (Tuhan) yang bisa.“ Sungguh merupakan suatu kebodohan kalau manusia merasa diri hebat dan tidak membutuhkan Tuhan, kita adalah manusia berdosa yang terbatas yang tidak mampu melakukan semua hal karena itu manusia harus beriman penuh pada Tuhan. Perhatikan, kedua orang buta ini menyebut Yesus dengan Anak Daud (Mat. 9:27) ini berarti mereka percaya kalau Yesus Kristus adalah Mesias, keturunan Daud yang nantinya membebaskan bangsa Israel dari penjajah dan menegakkan Kerajaan Israel. Pada hari itu, menyebut Yesus sebagai Mesias dan Tuhan sangatlah beresiko, yaitu nyawa menjadi taruhannya namun mereka berani mengambil resiko itu.

Tuhan Yesus ingin mengajak mereka masuk ke dalam kepercayaan yang penuh pada Dia maka Tuhan Yesus tidak berkata seperti sebelumnya tetapi dengan tegas Tuhan Yesus berpesan kepada mereka untuk tidak mengatakan tentang mujizat ini kepada orang lain. Kalau tadinya kedua orang buta ini beriman penuh pada Tuhan Yesus namun beberapa saat setelah mereka disembuhkan begitu keluar, mereka langsung melanggar perintah Tuhan. Dari kisah ini, Matius ingin kita memahami bahwa iman tidak berhenti pada suatu komitmen pertama, yaitu percaya Kristus saja, tidak, tetapi setelah kita beriman pada Kristus bagaimana kita mengimplikasikan iman itu. Pertanyaannya sekarang adalah kenapa Tuhan Yesus berpesan kepada kedua orang buta itu supaya mereka tidak menceritakannya kepada orang lain? Pesan ini bukanlah sekedar pesan biasa maka bukan tanpa alasan kalau Tuhan Yesus berbuat demikian dan merupakan hak Tuhan kalau Dia merasa tidak perlu menjelaskannya, satu hal yang perlu kita lakukan hanyalah taat. Celakanya, kedua orang buta ini tidak pernah menanyakan apa yang menjadi alasan Tuhan Yesus kenapa mereka tidak boleh menceritakan hal tersebut pada orang lain maka setelah dicelikkan, begitu keluar dari rumah mereka langsung melanggar perintah Tuhan.

Kedua orang buta ini pastilah punya alasan kenapa mereka berbuat demikian. Bukankah hari ini pun seringkali kita juga bersikap sama seperti kedua orang buta tersebut, kita langsung membeberkan berbagai macam alasan demi untuk membenarkan diri sendiri. Tuhan Yesus mempunyai pemikiran dan perintah dan orang percaya juga mempunyai pemikiran dan tindakan, celakanya keduanya terjadi konflik. Kedua orang buta ini merasa kalau perbuatannya menceritakan kejadian itu adalah benar, dia merasa tidak melanggar, dia merasa lebih bijak, dia merasa lebih pandai, dia merasa telah menolong Tuhan Yesus. Disinilah terjadi kerusakan iman yang paling fatal karena iman hanya sampai pada titik awal, yaitu percaya. Iman bukanlah berhenti pada titik awal tetapi percaya adalah tidak menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Rm. 12:1-2). Paulus sangat memahami bahwa iman menuntut adanya content atau isi.

Ada beberapa alasan yang menjadi pemikiran mereka kenapa kedua orang buta ini melanggar perintah Tuhan:
1. Mujizat sebagai Alat untuk Popularitas Kedua orang buta ini berpikir Tuhan Yesus berpesan demikian hanyalah sekedar basa basi, seperti yang biasa diucapkan oleh orang dengan tujuan supaya kelihatan rendah hati. Bukankah hal ini juga sering orang lakukan pada jaman ini, orang sangat suka bila kebaikannya diketahui orang lain dan akhirnya ia mendapatkan pujian. Inilah sifat manusia berdosa. Mereka berpikir kalau hal kesembuhan ini diberitakan maka nama Tuhan Yesus akan menjadi termasyhur apalagi mencelikkan mata yang buta hanya dapat dilakukan oleh Tuhan Yesus dan ini sudah menjadi “trade mark“ daripada Tuhan Yesus lagipula yang diceritakan bukan tentang hal-hal yang buruk. Kesalahan fatal kedua orang buta ini adalah memakai standar orang berdosa, mereka menyamakan Tuhan Yesus dengan manusia berdosa. Tuhan Yesus berbeda, Dia bukanlah manusia berdosa tetapi orang menganggap Yesus sama seperti dunia, yakni apa yang dikatakan tidak sama dengan keinginan hatinya atau dengan kata lain munafik. Tidak! Tuhan Yesus tidaklah demikian sebaliknya dunialah yang penuh dengan kemunafikan. Celakanya, hari ini orang Kristen pun bisa mempunyai pemikiran yang sama seperti dunia pada umumnya. Sebagai anak Tuhan, biarlah kita diubahkan, jangan memakai pemikiran orang berdosa lalu menyamakannya dengan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus mengerjakan sesuatu berdasarkan kehendak kedaulatan-Nya, Tuhan Yesus tidak dikendalikan oleh orang lain maka itu merupakan salah satu alasan kenapa Tuhan Yesus melarang kedua orang buta itu untuk tidak menceritakan hal tersebut kepada orang lain. Misi kedatangan Tuhan Yesus ke dunia bukan untuk menjadi terkenal seandainya benar misi-Nya supaya menjadi terkenal maka Ia akan memilih tidak dilahirkan di kandang domba yang hina, bukan? Kekristenan harus mengatakan tentang kebenaran saja; jika benar katakan benar dan jika salah katakan salah. Kejujuran dan ketulusan ini seharusnya menjadi citra Kekristenan, kita tidak sama dengan dunia; anak Tuhan sejati mempunyai kualitas hidup lebih tinggi dari dunia, yaitu hidup berdasarkan kehendak Kristus.


2. Mujizat untuk Sarana Penginjilan Kedua orang buta ini mempunyai pemikiran kalau mereka bersaksi, menceritakan apa yang diperbuat Tuhan Yesus atas dirinya pada orang lain berarti mereka turut membantu mencarikan pengikut buat Yesus dengan demikian pengikut Yesus semakin bertambah banyak. Bukankah Tuhan ingin kita bersaksi? Bukankah ini juga menjadi salah satu sarana penginjilan? Perhatikan, semua pemikiran itu adalah menurut logika manusia. Dari dulu hingga sekarang manusia tidak berubah, yakni menggunakan mujizat untuk penginjilan. Tuhan Yesus tidak ingin mujizat dijadikan sebagai sarana penginjilan. Apa yang dimengerti oleh Tuhan Yesus tidak dimengerti oleh mereka yang percaya pada Kristus. Banyak orang berpikir kalau sakit disembuhkan maka orang menjadi percaya dan mengikut Tuhan Yesus. Cara Kristus berbeda dengan cara dunia, cara dunia justru akan membuat rusak iman Kristen.

Pada Injil Yohanes pasalnya yang ke – 6 dicatat Tuhan Yesus membuat mujizat dengan 5 roti dan 2 ikan, Tuhan Yesus memberi makan lima ribu orang laki-laki belum termasuk wanita dan anak-anak maka diperkirakan jumlahnya lebih dari lima ribu orang. Setelah Tuhan Yesus melakukan mujizat tersebut, Yesus berangkat ke seberang dan orang berbondong-bondong mengikut Dia, mereka sangat bersemangat mengikut Yesus, mereka bahkan berhasil mendahului Yesus sampai ke seberang. Puji Tuhan, Tuhan Yesus tidaklah sama seperti manusia berdosa yang sangat senang dengan pujian, Tuhan Yesus tahu apa yang menjadi motivasi mereka mengikut, yaitu sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti dan kamu kenyang (Yoh. 6:26). Maka sepanjang hari itu, Tuhan Yesus mengajar dengan sangat keras tentang roti hidup dan lihat, reaksi orang banyak itu, satu per satu mereka pergi meninggalkan Yesus. Apakah Tuhan Yesus menyesal karena berkhotbah dengan keras ataukah bersedih karena ditinggalkan oleh para pengikut-Nya? Tidak! Tuhan tidak butuh manusia sebaliknya manusialah yang butuh Tuhan.

Rick Warren dalam bukunya “Purpose Driven Life“ menuliskan Allah mencipta manusia karena Allah butuh manusia sebagai obyek kasih. Salah! Tuhan tahu bagaimana mengasihi manusia secara tepat. Setelah semua orang itu pergi dan tidak lagi mengikut Dia, Tuhan kemudian memanggil kedua belas murid-Nya dan menantang mereka: “Apakah kamu tidak mau pergi juga?“ (Yoh. 6:67). Tuhan tidak pernah menjanjikan mujizat pada orang yang mau percaya kepada-Nya. Sebagai anak Tuhan, kita yang seharusnya melayani Tuhan bukan Tuhan yang melayani manusia. Anak Tuhan sejati harus mengerti imannya dengan tepat menurut iman Kristus dan cara Kristus bukan menurut cara dunia yaitu mengiming-imingi dengan mujizat supaya percaya Kristus. Injil sejati tidak bicara tentang popularitas tetapi Injil sejati berbicara tentang orang berdosa harus bertobat, Yesus datang ke dunia untuk memberitakan tentang kematian-Nya yang menebus manusia berdosa dan kebangkitan-Nya memberikan hidup kekal bagi yang percaya pada-Nya. Sayangnya, hari ini banyak orang Kristen menggunakan cara dunia, yaitu menggunakan mujizat sebagai pancingan, mengundang artis dengan tampilan yang seronok, dan masih banyak lagi. Memang, bukan hal yang mustahil bagi Tuhan untuk membuat suatu mujizat akan tetapi Tuhan tidak pernah menggunakan pancingan mujizat supaya orang mau datang dan percaya pada-Nya. Tidak! Orang yang selalu ingin mendapatkan mujizat sukar sekali untuk diajar taat, hal ini dibuktikan dengan reaksi dari kedua orang buta ini, setelah memperoleh mujizat, Tuhan Yesus berpesan untuk tidak memberitahukan hal tersebut pada orang lain namun sekeluar dari ruangan itu mereka langsung melanggar perintah Kristus tersebut. Paulus menegaskan janganlah engkau menjadi serupa dengan dunia ini tetapi berubahlah oleh pembaharuan akal budimu sehingga engkau dapat membedakan mana kehendak Allah, mana yang baik dan yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Pengertian “baik“ disini bukan dilihat dari sudut pandang manusia tetapi “baik“ dilihat dari sudut pandang Tuhan. Lihat bagaimana cara Tuhan bekerja dengan sangat indah atas Paulus.

Tuhan tidak memanggil Paulus untuk memberitakan Injil di Bitinia dan Asia Kecil, Tuhan mempunyai rencana lain buat Paulus, yakni ia dipanggil untuk memberitakan Injil di Makedonia di daerah jazirah Yunani (Kis. 16). Paulus adalah seorang filsuf yang menguasai berbagai macam filsafat Yunani karena itu Tuhan menempatkan dia di daerah jazirah Yunani yang merupakan pusat dari filsafat kuno. Kedua orang buta ini tidak tahu apa yang menjadi alasan Tuhan Yesus melarang mereka bersaksi, Paulus juga tidak tahu kenapa ia dilarang masuk ke Bitinia, Frigia dan Asia Kecil namun sekarang, kita tahu ternyata Tuhan mempersiapkan tempat itu sebagai ladang pelayanan bagi Petrus. Inilah cara Tuhan bekerja, cara Tuhan sungguh tak terjangkau oleh pikiran kita, mungkin cara manusia membuat kita kelihatan “sukses“ namun justru berakhir dengan kebinasaan. Biarlah kita peka akan rencana dan pimpinan Tuhan dengan demikian kita tidak salah melangkah. Ingat, beriman bukan berhenti pada komitmen pertama tetapi kita harus terus mengimplikasikan iman dalam hidup sehari-hari.


3. Mujizat berdampak Politis yang Merugikan Manusia tidak berhak mempertanyakan alasan pada Kristus kenapa melarang menceritakan mujizat yang mereka alami. Manusia seharusnya taat. Konsep mesianic sangat mencengkeram pikiran orang Yahudi, tidak terkecuali murid Tuhan Yesus, yaitu suatu hari nanti akan berdiri suatu Kerajaan Israel yang berpusat di Yerusalem dimana kerajaan ini akan mengalahkan semua kekuasaan dunia yang berkuasa pada jaman itu; kerajaan Israel kembali seperti Kerajaan Daud. Pikiran ini begitu mencengkeram bahkan sampai Tuhan Yesus mati, bangkit dan naik ke Sorga, murid Tuhan Yesus masih bertanya, “Guru, kapan Kerajaan-Mu didirikan?“ Kenapa Tuhan Yesus mengacuhkan ketika kedua orang buta ini berteriak-teriak: “Kasihanilah kami, hai Anak Daud“, beberapa orang menafsirkan Tuhan Yesus memang sengaja. Istilah mesianic tidaklah sesederhana yang kita pikirkan, istilah mesianic merupakan istilah politis. Orang Yahudi tidak akan dapat “berbuat apa-apa“ pada Yesus sejauh itu masih di wilayah rohani bahkan mahkamah agama tertinggi Yahudi, Sanhendrin tidak dapat menghukum Tuhan Yesus karena tuduhan mengajarkan agama sesat sehingga mereka menggeser ke masalah politik dengan demikian mereka dapat melakukan tindakan hukum, Tanpa perintah Herodes atau Pilatus sebagai pemegang kuasa pemerintahan maka Tuhan Yesus tidak dapat dihukum.

Tuhan Yesus datang ke dunia bukan urusan politik, Dia datang untuk menyelamatkan manusia berdosa supaya kembali kepada Kristus. Andai waktu itu Tuhan Yesus menanggapi perkataan kedua orang buta itu berarti Yesus mengakui di depan umum kalau benar Dia adalah Anak Daud maka hari itu Yesus bisa dianggap sebagai pemberontak dan ditangkap untuk dihukum. Itulah sebabnya, Tuhan Yesus menyembuhkan kedua orang buta dalam sebuah rumah (Yoh. 9:28). Namun mereka melanggar perintah Tuhan Yesus, mereka tidak menyadari kalau tindakan tersebut akan berefek fatal. Orang terpicu dengan keinginan manusiawi, orang mudah terpancing dengan berbagai macam isu dunia. Kedua orang buta ini merasa telah membantu Tuhan dengan tindakan yang mereka lakukan. Tidak! Jangan pernah berpikir manusia sedang membantu Tuhan. Biarlah kita peka dan bijak hidup di tengah dunia dengan demikian nama Tuhan semakin dipermuliakan. Iman berkait erat dengan isi iman, kalau kita mengaku percaya pada Kristus maka biarlah kita bertekad untuk tidak menjadi serupa dengan dunia tetapi berubah oleh pembaharuan akal budi sehingga kita dapat membedakan mana kehendak Allah, mana yang baik dan yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Amin.
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)


Sumber:
http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2005/20050807.htm

Resensi Buku-54: YESUS KRISTUS JURUSELAMAT DUNIA (Pdt. DR. STEPHEN TONG)

...Dapatkan segera...
Buku
YESUS KRISTUS JURUSELAMAT DUNIA

oleh: Pdt. DR. STEPHEN TONG

Penerbit: Momentum Christian Literature, 2004

Transkrip: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.





Dunia postmodern yang menjunjung tinggi relativisme mengajarkan bahwa semua agama sama dan menuju ke “Tuhan”. Dan anehnya tidak sedikit orang “Kristen” (bahkan “pemimpin gereja”) teracuni oleh filsafat ini. Benarkah pandangan ini? Apa kata Alkitab? Alkitab mengajarkan dengan tegas bahwa di luar Kristus tidak ada jalan keselamatan lain (Yohanes 14:6). Siapakah Kristus sehingga Ia sajalah sebagai satu-satunya jalan keselamatan dunia? Melalui pemaparannya yang sistematis dan apologetis, hamba-Nya yang taat dan setia, Pdt. Dr. Stephen Tong menguraikan siapa Yesus Kristus sebagai Juruselamat, mulai dari doktrin penciptaan manusia sebagai gambar dan rupa Allah, manusia sebagai obyek yang perlu diselamatkan, keharusan mutlak manusia diselamatkan, doktrin wahyu umum Allah (dan responnya dalam bentuk agama dan kebudayaan), dan wahyu khusus Allah hanya kepada umat pilihan-Nya, salah satunya: Kristus, serta terakhir, memaparkan tentang tujuh syarat-syarat Juruselamat dunia dan itu HANYA dapat dipenuhi oleh Tuhan Yesus Kristus. Biarlah melalui buku yang merupakan rangkuman khotbah beliau di dalam rally KKR 2003 di Jakarta, Surabaya dan Bandung dengan judul “Yesus Kristus Satu-satunya Juruselamat Dunia.” mencerahkan pikiran kita tentang keunikan dan finalitas Kristus di antara semua agama dan kebudayaan dunia, lalu menyadarkan kita akan tugas pemberitaan Injil yang lebih besar lagi yang sangat diperlukan bagi zaman yang berdosa ini.







Profil Pdt. DR. STEPHEN TONG :
Pdt. Stephen Tong, B.Th., D.L.C.E., D.D. (HC) dilahirkan di Fukien daratan Tiongkok pada tahun 1940. Pada usia 17 tahun (tahun 1957) beliau menyerahkan diri untuk menjadi hamba Tuhan. Sampai tahun 2007 ini, beliau telah berkhotbah 28 ribu kali dihadapan lebih dari 20 juta orang. Paling sedikit yang pernah menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan dalam pelayanannya adalah 200 ribu orang. Beliau pernah berkhotbah dan memimpin seminar dalam Bahasa Inggris, Mandarin dan Indonesia di Amerika Utara, Amerika Latin, Australia, Asia dan Eropa. Kota-kota yang pernah dikunjunginya lebih dari 600 kota besar di seluruh belahan dunia termasuk Paris, New York, Toronto, Hongkong, Roma dan seterusnya. Sejak tahun 2000, beliau memimpin Expository Preaching di Jakarta (Hari Minggu Pagi : Bahasa Indonesia & Minggu Siang : Bahasa Mandarin), Singapura (Hari Minggu Sore : Bahasa Indonesia, Hari Minggu Malam : Bahasa Mandarin-English), Kuala Lumpur (Hari Senin : Bahasa Mandarin-English), Hongkong (Hari Selasa : Bahasa Mandarin-Kanton) dan Taipei (Hari Rabu : Bahasa Mandarin) setiap minggunya dengan pendengar lebih dari 6000 orang.

Pdt. Stephen Tong berbeban khusus untuk menegakkan theologi Reformed dan menyingkirkan penghalang-penghalang bagi pertumbuhan iman Kristen dan berusaha untuk membawa manusia kembali kepada anugerah Allah melalui penafsiran Alkitab yang sangat ketat. Selain berkhotbah, beliau juga pernah mengajar di berbagai seminari di dalam dan luar negeri dalam bidang teologi dan filsafat yakni 25 tahun di Seminari Alkitab Asia Tenggara hingga menjabat Ketua Yayasan, pendiri dan mantan Rektor Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili Indonesia (STTRII), pendiri dan Rektor Institut Reformed di USA (Reformed Institute for Christianity and 21st Century) & Asia (Singapura dan Jakarta). Beliau pernah mengajar sebagai dosen tamu di China Graduate School of Theology Hongkong, China Evangelical Seminary Taipei dan Trinity Theological College Singapura.

Beliau studi theologi di Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang hingga gelar Bachelor of Theology (B.Th.). Pada tahun 1985, beliau dianugerahi gelar Doktor Kehormatan dalam bidang Kepemimpinan Penginjilan Kristen dari La Madrid International Academy of Leadership di Manila. Belau pernah diundang sebagai pembicara utama dalam Lausanne Congress, International Prayer Assembly di Seoul, Amsterdam 1988 dan terakhir General Assembly of World Reformed Fellowship di Afrika Selatan pada tahun 2006. Kira-kira pada tahun 2007, beliau juga dianugerahi gelar kehormatan Doctor of Divinity (D.D.) dari Westminster Theological Seminary, USA.

Beliau selain berkhotbah dan mengajar, beliau adalah seorang maestro dalam bidang musik klasik, di mana telah menjadi konduktor dan komponis. Beliau memimpin konser-konser musik klasik di berbagai kota di Asia serta mengkomposisi puluhan lagu hymn berbobot yang telah dinyanyikan di seluruh dunia. Selain itu beliau juga merupakan arsitek ulung di mana telah merancang gedung gereja dan aula pertemuan di berbagai kota.

Beliau adalah pendiri dari Stephen Tong Evangelistic Ministries International, Sinode Gereja Reformed Injili Indonesia, Sekolah Theologia Reformed Injili (STRI) di berbagai kota, Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili Indonesia (STTRII), Institut Reformed, Jakarta Oratorio Society, Christian Drama Society, Reformed Center for Religion and Society dan seterusnya. Buku-bukunya antara lain:
· Iman dan Agama
· Hidup Kristen Yang Berbuah
· Iman Kristen, Penderitaan dan HAM
· Iman, Rasio dan Kebenaran
· Baptisan dan Karunia Roh Kudus
· Roh Kudus, Suara Hati Nurani dan Suara Setan
· Roh Kudus dan Kebangunan
· Dinamika Hidup dalam Pimpinan Roh Kudus
· From Faith to Faith
· Keluarga Bahagia
· Membesarkan Anak dalam Tuhan
· Allah Tritunggal
· Peta dan Teladan Allah
· Dosa, Kebenaran dan Penghakiman
· Siapakah Kristus?
· Yesus Kristus Juruselamat Dunia
· Mengetahui Kehendak Allah
· Waktu dan Hikmat
· Pengudusan Emosi

24 April 2008

TINJAUAN IMAN KRISTEN TERHADAP UTILITARIANISME (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Tinjauan Iman Kristen Terhadap Utilitarianisme

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.


1. MANFAATKU ATAU MANFAAT-KU

Nats: Kol. 3:17, 23



1. Latar Belakang Permasalahan
Munculnya John Stuart Mill
[1] dengan filsafat Utilitarianisme mo­dern, telah merubah dunia modern menjadi dunia yang penuh gai­rah. Seluruh gagasan ini diterima dengan pujian dan penyem­bah­an, karena inilah yang selalu didambakan oleh setiap manusia.
Ide Utilitarian adalah usaha untuk mengejar kebahagiaan yang puncak. Yang dimaksud kebahagiaan puncak adalah segala hal yang bisa dikejar untuk kita bisa menikmati dunia ini. Itu se­babnya timbul perdebatan aspek moral dari filsafat ini. Pertama, bagaimana konsep utilitarian ini dilukiskan dan diaplikasikan de­ngan tepat, dan kedua, apakah implikasi moral dari utilita­rian­isme ini bisa diterima atau harus ditolak.

2. Konsep Bahagia Utilitarianisme
a) Menganut sifat hedonisme, di mana kesenangan dan tidak ada­nya kepedihan adalah utility dan nilai intrinsik yang perlu dike­jar. Nilai intrinsik ini bernilai untuk kepentingannya sendiri dan tidak ada hubungan atau konsekwensi terhadap yang lain.
b) Tetapi sebagian utilitarian menganggap pandangan pertama terlalu sempit. Mereka melihat bahwa utilitarianisme ideal adalah sesuatu atau pengalaman tertentu, seperti pengetahuan atau menjadi mandiri, secara intrinsik bernilai atau bersifat baik, entah orang menghargai atau tidak, ataupun lebih berbahagia atau tidak dengan itu.
c) Persoalannya adalah perbandingan nilai kebaikan itu sendiri. Pada utilitarian, bisa nilai perbandingan itu dinilai berdasarkan diri sendiri, yang membandingkan beberapa tindakan yang berbeda untuk mencari nilai tertinggi (intrapersonal utility com­pa­rison), atau nilai perbandingan itu juga diperbandingan de­ngan kepentingan dan kebaikan bagi orang-orang lain (inter­personal utility comparison).
d) Pada umumnya, para utilitarian menuduh para moralis telah menciptakan kesusahan bagi manusia karena tuntutan moral seringkali membuat orang tidak bisa hidup nikmat. Misalnya timbulnya rasa bersalah bila kita pergi nonton atau pesta makan, karena uang yang kita pakai bisa kita berikan kepada orang miskin yang tidak bisa makan. Maka bagi utilitarian, setiap orang harus menjadi agen bagi dirinya sendiri. Kalau ia gagal mencapai kebahagiaannya, maka tidak ada tuntutan moral dari orang lain untuk menolong dia.

3. Bahaya Utilitarianisme
a) Semua dilihat dari aspek kepentingan manusia, sehingga seperti telah diungkap diatas, terjadi konflik kepentingan dan timbul masalah moral yang sulit diselesaikan. Se­mang­at hedonistis yang mewarnai citra utilitarianisme menjadi­kan sifat moral dikesampingkan ataupun diganti dengan nilai moral yang sangat relatif dan rendah sifatnya. Disini sifat dosa diumbar dan dipuaskan tanpa ada penghalang yang membatas lagi.
b) Di sini terjadi kesalahan fatal. Utilitarian telah memutlakkan yang relatif. Ketika manusia mengejar kebahagiaan pribadi dengan batasan dan perbandingan nilai yang relatif, tanpa standard yang sejati, telah kehilangan basis kemutlakkan yang sesungguhnya. Akibatnya, diri dijadikan basis mutlak, dan itu berarti akan menolak Allah sebagai penentu dan standard kemutlakkan yang benar.
c) Hidup hanya mengejar kekinian yang akan meniadakan aspek kekekalan. Karena utilitarian hanya bisa melihat nilai-nilai yang ada di dunia ini, maka seluruh pengharapan akan kekekalan dan sifat-sifat ilahi diabaikan.

4. Tuntutan Alkitab
a) Segala sesuatu yang kita lakukan harus direferensikan dengan Diri dan Sifat Allah sebagai basis kemutlakkan. Inilah utilitarian yang sejati. Kita adalah utility dari Allah. Kita adalah alat, dan kita bukan menggunakan alat untuk kepentingan kita, tetapi kita adalah alat yang hidup di hadapan Allah (the living vessel - 2 Tim 2:20-21).
b) Karena kita adalah utility di tangan Allah, maka kita harus memurnikan diri kita dan menyatakan sifat-sifat Allah di dalam diri kita. Inilah misi Kristen yang menjadi saksi bagi Allah di tengah dunia. Ini pula yang dituntut oleh Alkitab terhadap kita (2 Tim 2:22-26).
c) Seluruh hidup kita harus diukur bukan diatas azas manfaat bagi diri kita, tetapi bagi Tuhan. Manfaat tertinggi adalah ketika semua yang kita kerjakan adalah penggenapan rencana Allah yang Ia kehendaki untuk kita tuntaskan. Inilah utilitarian yang sejati (Kis 20:24).
d) Untuk itu, semua yang kita lakukan, haruslah kita lakukan seperti untuk Tuhan dan bukan untuk diri kita sendiri. Se­mang­at mau mempermuliakan Tuhan harus mengalahkan egois­me dan semangat humanisme yang duniawi. Hanya dengan cara ini kita bisa menghindar diri dari sifat utilitarian yang duniawi.

Diskusikan sifat Saul ketika ia menggunakan pola utilitarian di dalam berdialog dengan Samuel, yang telah membuat Allah marah (1Sam 15:1-26).






2. YUDAS: UTILITARIAN SEJATI

Nats: Luk. 22:3-6



1. Pendahuluan
Satu pertanyaan yang sering dilontarkan adalah: apakah utilita­rian­isme merupakan suatu pikiran filsafat yang baru diutarakan dan dikenal oleh masyarakat sejak Jeremy Bentham atau bahkan sejak J. S. Mill, ataukah filsafat ini sebenarnya sudah merupakan pikiran yang kuno? Secara singkat kita bisa menjawab bahwa pi­kiran ini bukan baru, tetapi sangat kuno, bahkan sejak dari zaman Tuhan Yesus, atau bahkan bisa dikatan sejak Kejatuhan.
Untuk menjawab pertanyaan di atas, Alkitab memberikan satu contoh yang sangat baik untuk melihat kasus Utilitarian. Hal ini terlihat nyata dalam kasus Yudas.

2. Luk 22:3-6
Yudas adalah salah seorang dari murid-murid Tuhan Yesus. Dan di dalam perjalanan pelayanannya, ia dipercaya menjadi bendahara dari kelompok rasul yang Kristus pimpin. Rupanya, ia memang memiliki kemampuan untuk mengatur keuangan. Tetapi rupanya, kemudian ia memikirkan lebih jauh dan mulai terjebak dengan pikiran-pikiran dan cara kerja yang tidak sesuai dengan kebenaran. Ia mulai terjebak menjadi seorang utilitarian.
Di dalam ayat yang kita baca dan paralelnya, kita dengan segera melihat sikap oportunis dan utilitarianistis dari Yudas. Ia merasa dengan cara yang ia pakai, maka semua orang akan disenangkan. Yang pertama, ia merasa dia sendiri untung; kedua, ia merasa juga bahwa pasti para ahli taurat dan orang Farisi juga senang dan diuntungkan; dan ketiga, ia bahkan yakin Tuhan Yesus tidak akan mau ditangkap mentah-mentah begitu saja, dan pasti jika Tuhan Yesus melawan, tidak ada kuasa apapun yang bisa mengalahkan. Yudas sangat mengerti kuasa yang Tuhan Yesus mi­liki. Tetapi apa yang Yudas pikirkan adalah pikiran seorang utilita­rianis. Ia hanya memikir menurut kepentingannya dan sekaligus kepentingan yang kelihatan "lebih luas", tetapi yang pasti tidak berpikir di dalam kebenaran. Maka tanpa sadar, Yudaspun akan menjadi seorang oportunis. Dengan harapan keuntungan 30 keping perak, atau bahkan keuntungan-keuntungan lain yang bisa diperolehnya, maka ia rela menjual Tuhan-nya. Dari sini kita bisa belajar secara lebih kongkrit sikap utilitarian di dalam sejarah.

3. Aplikasi Pemikiran Yudas
Di dalam kehidupan sebagai orang Kristen, kita seringkali me­ne­rapkan pola utilitarian, masuk ke dalam iman Kristen kita. Apalagi dengan berbagai format Kekristenan modern, sangatlah mudah bagi orang Kristen untuk terjebak "merohanikan" pemikiran utilitarianistik ini. Beberapa hal yang mungkin perlu kita pikirkan:
a. Christianity is a pleasure.
Pemikiran bahwa Tuhan tidak menghendaki ma­­nusia seng­sara, sehingga Ia harus menolong kita. Pengem­bang­an dari pe­mikiran utilitarian masuk ke Kekristenan dengan ang­gap­an bahwa jika kita sengasara (pain), maka itu pasti bukan kehen­dak Tuhan. Maka dengan kata lain, Kekristenan harus identik dengan pleasure. Maka gereja adalah tempat untuk pleasure yang utama. Maka tidak heran jika kemudian ada gereja yang mene­rap­kan disco di gereja atau bahkan undian "kunci kamar" di antara pe­mu­da-pemudi di gereja, atau segala bentuk pleasure lainnya. Pada saat seperti itu, posisi Allah menjadi tidak jelas, atau menjadi budak manusia.
b. Manage your God.
Yudas berpikir bahwa jika ia bisa me­ran­cang segala yang baik, maka Tuhan Yesus akan ikut di dalam "ske­nario"-nya. Ketika ia berpikir, jika Tuhan Yesus diserahkan, pasti itu akan "mem­per­cepat" proses Tuhan Yesus menjadi Raja. Ia sa­ma sekali tidak menyangka bahwa apa yang ia pikir, bukanlah ran­cangan Tuhan. Ia hanya berpikir bahwa semua bisa menjadi alat untuk mencapai tujuannya, termasuk Tuhan Yesus. Hari ini, begitu banyak orang yang mau memperalat Tuhan demi apa yang dipi­kir­kan­nya. Mere­ka berpikir persis seperti Yudas. Jika manusia bisa merancang apa yang menurut dia baik untuk Tuhan, dan bisa ber­ja­lan menu­rut ke­pen­tingan bersama (win-win solution), maka ma­ri­lah kita ker­ja­kan, maka Tuhan pasti akan menurut kalau sudah "terjepit."
c. God is for our own-sake.
Allah mencipta manusia dan meng­inginkan manusia bisa berbahagia. Maka kita bisa berdoa dan me­mo­hon pada Allah untuk semua yang kita butuhkan. Allah yang sejati adalah Allah yang akan memenuhi semua kebutuhan kita (Mat 6). Dalam hal ini kita harus berani "mengklaim" janji Allah agar seluruh kebutuhan kita bisa dipenuhi. Inilah format yang Yudas pakai. Ia merasa bahwa Yesus harus terus memenuhi kebutuhannya. Jika perlu, segala cara bisa ia pakai untuk itu. Banyak orang Kristen masa kini juga cenderung mau memanipulasi Allah, sehingga Allah tidak lain hanya sebagai utiliti bagi manusia. Ia bukan Allah yang berdaulat, tetapi Allah yang harus menjadi budak manusia.






3. HOMO HOMINI LUPUS

Nats: Mat. 26:14-16; Mrk. 14:10-11; Luk. 22:3-6



1. Pendahuluan
Istilah "homo homini lupus" berarti: manusia adalah pemakan sesamanya. Ada anekdot yang mengatakan bahwa orang miskin akan bertanya "hari ini kita makan apa?", sedangkan orang me­nengah bertanya "hari ini kita makan dimana?, dan orang kaya ber­­ta­nya "hari ini kita makan siapa?" Anekdot di atas mau meng­gam­barkan bahwa orang menjadi kaya karena telah mema­kan atau mengorbankan sesamanya.
Tentu munculnya anekdot seperti itu bukanlah tanpa alasan. Hal itu terjadi karena di dalam dunia berdosa ini begitu banyak orang yang menjadi kaya akibat "memakan" sesamanya. Tentu tidak semua demikian. Namun, rupanya pola mengorbankan sesamanya untuk mencari keuntungan dan kekayaan bagi diri sudah merupakan suatu "ciri" dalam kehidupan manusia. Mengapa demikian?

2. Sifat Manusia Humanistis
Sifat manusia yang memuncakkan diri dan menganggap diri sebagai makhluk yang tertinggi dan termulia, telah menjadikan manusia menyingkirkan posisi Allah sebagai posisi mutlak. Hal ini dianggap sebagai kemenangan Humanisme. Tetapi sebenarnya, justru disinilah kekalahan dan kehancuran manusia.
Ketika manusia memutlakkan diri, manusia lupa bahwa "manu­sia" itu bukanlah tunggal, bukan multi-tunggal tetapi murni plural. Manusia mutlak adalah makhluk relatif. Akibatnya, terjadi pemutlakkan relativisme. Situasi ini menjadikan semangat Human­isme memukul manusia balik.
Manusia yang sebenarnya harus memikirkan sesamanya dan tidak boleh memutlakkan diri, kini menjadikan dirinya sebagai "Tuhan" untuk mengganti posisi Tuhan yang sesungguhnya, yang telah disingkirkannya. Maka, ketika ia memutlakkan diri, orang atau manusia lain akan menjadi obyek yang harus memenuhi kemutlakkan dirinya. Disini terjadi semangat manipulatif. Manusia mulai dengan menganggap dirinya sebagai kebenaran yang mutlak sehingga orang lain yang berbeda pandangan dengan dia selalu tidak disukainya dan begitu sulit bagi dia untuk menerima pandangan yang kontras dengan dia. Ketika situasi seperti itu terjadi, tidak ada basis penentu kebenaran yang menjadi tolok ukur baginya untuk menguji siapa yang benar. Maka kemungkinan terbesar adalah orang lain dianggap salah olehnya.
Lebih jauh lagi, ketika ia sudah mulai memikirkan dirinya, maka ia mulai melangkah kepada kebutuhannya. Ketika kebutuhannya berkonflik dengan kebutuhan orang lain, maka ia merasa bahwa kebutuhan dirinyalah yang harus dipenuhi terlebih dahulu, barulah orang lain. Kalau perlu, biarlah orang lain dirugikan asalkan diri menjadi untung. Disini semangat utilitarian mulai mengusik dan masuk dalam pikiran orang. Maka orang tidak rela jika ia harus berkorban dan dirugikan demi kepentingan orang lain, kecuali jika ia memiliki kepentingan lain yang lebih besar atau menghindari kerugian yang lebih besar lagi.

3. Argumentasi Utilitarian
a. Manusia harus pandai-pandai memanfaatkan situasi
Seorang utilitarian tidak pernah mengerti adanya rencana Allah atau ketaatan kepada kehendak Allah. Yang dipikirkan adalah manusia perlu pandai-pandai memanfaatkan situasi, karena hidup matinya manusia tergantung kepada manusia itu sendiri.
Maka, cara terbaik bagi manusia adalah hidup memanfaatkan situasi yang ada. Tujuannya adalah untuk mencapai kebaha­giaan. Sejauh kebahagiaan itu bisa dicapai, maka manusia harus mengejarnya, karena itulah sasaran akhir hidup manusia.
Seperti Bentham tegaskan, bahwa tidak perlu terlalu dirisaukan dengan berbagai pertimbangan yang akhirnya hanya menyu­sah­kan kita (pain), seperti berbagai pertimbangan moral, kare­na moral adalah kesenangan (pleasure). Maka manusia harus mengejar kesenangan ini.

b. Korban adalah akibat kesalahan sendiri
Dalam kaitan dengan kesenangan yang manusia kejar, terkadang terjadi konflik sehingga ada pihak yang dirugikan. Dalam hal ini, maka yang salah adalah pihak yang dirugikan. Jika ia rugi, berarti ia gagal mencari kesempatan atau meng­gu­na­kan kesempatan secara tepat, sehingga ia telah menjadi kor­ban dari kelemahannya. Akibatnya ia mengalami kepedihan (pain). Jadi untuk seseorang bisa mencapai kesenangan, tidak ada salahnya jika orang lain sampai dirugikan, karena itu tidak ada kaitannya dengan obligasi moral sama sekali.

c. Hidup di dunia adalah memakan atau dimakan (utilitarianistis)
Hal ini merupakan realita kehidupan di dunia. Jika kita tidak berhasil menggunakan kesempatan di dunia, pastilah kita akan "dimakan" oleh orang lain. Maka di dalam dunia hanya ada satu hukum utama, yaitu memakan atau dimakan. Maka dalam hal ini, pilihan haruslah diletakkan pada yang pertama. Dimakan berarti mengalami pain, dan itu tidak sesuai dengan asas hidup, maka kita lebih baik memakan demi untuk mencapai pleasure.
Konsep di atas secara logis membenarkan jika seseorang memakan sesamanya demi untuk mencapai apa yang dianggapnya sebagai pleasure.

4. Kritik Kristen
a. Benarkah bahagia identik dengan pleasure?
Kesalahan utilitarian adalah mengidentikkan bahagia dengan plea­sure. Kebahagiaan adalah suatu kondisi akibat dari men­jalankan kehendak Allah dan mendapatkan "kredit point" dari Tuhan sebagai upahnya. Pleasure adalah kenikmatan yang dikaitkan dengan kedagingan, entah secara pribadi, kelompok atau masyarakat yang lebih luas. Dalam hal ini, sering terjadi konflik antara pleasure dengan kehendak Allah, maka tidak mungkin pleasure bisa identik dengan kebahagiaan. Di dalam fak­tanya, justru pleasure seringkali hanya merupakan kenik­mat­an sesaat yang membawa seseorang pada keti­dak­ba­ha­giaan.

b. Benarkah ketika kita memakan orang lain itu pleasure?
Problem kedua dari utilitarianisme adalah mengabaikan aspek moral manusia. Manusia adalah makhluk yang dicipta dengan sifat moral. Bentham dan Mills lupa bahwa mereka bukanlah kuda atau anjing. Jika binatang memang tidak memiliki obligasi moral, tidak memiliki akal budi dan pertimbangan moral, maka manusia yang dicipta menurut gambar dan rupa Allah, memiliki akal budi dan pertimbangan moral. Itu alasan, sifat moral ini tidak bisa ditiadakan begitu saja. Hanya manusia yang sudah kebinatangan yang tidak lagi memiliki pertimbangan moral. Sifat moral inilah yang menjadikan manusia bisa memiliki tuntutan keadilan dan hukum. Apabila tidak ada moral, tidak perlu ada hukum dan pengadilan.
Aspek moral manusia menjadikan manusia tidak pernah bisa tenang apabila ia telah merugikan dan menghancurkan orang lain. Tuduhan moral akan tiba padanya dan hal itu akan membuat manusia kehilangan kebahagiaannya. Mungkin ia bisa menikmati sukacita di atas kesusahan dan pengorbanan orang lain, tetapi hal itu akan mendatangkan tuntutan keadilan kepadanya, paling tidak nanti di dalam kekekalan. Hal itu yang menyebabkan orang berdosa akan begitu takut mati, karena ia sadar tidak bisa lepas dari tuntutan keadilan yang harus dipertanggungjawabkan.

c. Tidak sadarnya realita dosa dan pertobatan
Seperti telah diungkapkan sepintas, maka kelemahan utama utilitarian adalah penyangkalan akan adanya dosa dan perlunya pertobatan.
Utilitarian justru menganggap dosa sebagai kewajaran, karena dosa telah menjadi "mayoritas" dalam kehidupan masyarakat. Disini utilitarian yang ingin mencapai kebahagiaan justru gagal mengerti kaitan antara kebahagiaan dan kebenaran, serta perlawanan terhadap dosa dan kedagingan. Maka, sebenarnya yang dibutuhkan oleh dunia ini adalah pertobatan. Memang dunia sudah jatuh ke dalam dosa, dan sifat makan-memakan antar manusia berdosa telah menjadi ciri dunia yang berdosa. Itu alasan di dunia ini perlu ada polisi, pengadilan, dan penjara. Jika memang dunia ini baik, seperti asumsi utilitarianisme, maka tentulah polisi dan pengadilan tidak akan banyak peker­jaan. Sikap dan prinsip utilitarianisme justru akan menjadikan dunia ini semakin penuh dengan dosa, kepedihan dan keseng­sa­raan. Jika dunia ingin baik, maka satu-satunya jalan adalah kembali kepada Kristus, yang telah menebus dosa di kayu salib, dan bertobat sungguh-sungguh, taat kepada kebenaran yang Allah nyatakan kepada kita.





Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div. adalah gembala sidang Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Andhika, Surabaya; Direktur: Toko Buku Momentum, Studi Korespondensi Reformed Injili Internasional (SKRII), dan Sekolah Theologi Reformed Injili Surabaya (STRIS) Andhika. Beliau adalah co-founder dari Yayasan Pendidikan Reformed Injili LOGOS (LOGOS Reformed Evangelical Education). Selain itu, beliau adalah dosen di Institut Reformed, Jakarta dan Sekolah Theologi Reformed Injili Jakarta (STRIJ). Beliau juga adalah seorang pengkhotbah KKR dan hamba Tuhan yang menguasai bidang-bidang, seperti ekonomi, pendidikan, hukum, etika dan sosial politik. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Theologi (S.Th.) dan Master of Divinity (M.Div.) dari Sekolah Tinggi Theologi Reformed Injili Indonesia (STTRII) Jakarta. Beliau menikah dengan Ev. Susiana Jacob Subeno, B.Th. dan dikaruniai dua orang anak, Samantha Subeno (1994) dan Sebastian Subeno (1998).




Sedikit diedit oleh: Denny Teguh Sutandio.



[1] Sebenarnya Utilitarianisme dicetuskan oleh Jeremy Bentham (1748-1832) dan James Mill (1773-1836), tetapi menjadi begitu populer di tangan John Stuart Mill (1806-1873) dengan bukunya Utilitarianism (1869). Jeremy Bentham terkenal dengan bukunya An Introduction to the Principles of Morals and Legislation (1789). Bagi dia, "pleasure is the only good, and pain is the only evil." Bagi dia moral itu tidak ada artinya sama sekali jika mendatangkan kepedihan. Moral adalah kesenangan. Ia adalah seorang psikolog hedonis menurut Richard B. Brandt. Nantinya J.S. Mill mengembangkan pemikiran tentang pleasure ini di dalam bukunya, Utilitarianism, dengan membedakan berbagai bidang yang dianggap tingkat pleasure-nya berbeda-beda. Melalui buku ini istilah Utilitarianisme menjadi terkenal.