02 May 2008

Bab 6: TULIP

Bab 6
TULIP




Setelah kita mengerti doktrin utama Reformed tentang kedaulatan Allah, otoritas Alkitab, dan anugerah Allah, ketiga konsep pertama ini akan menggiring kita lebih memahami poin keempat keunikan theologi Reformed yang diajarkan oleh Dr. John Calvin yaitu: Total Depravity (Kerusakan Total Manusia), Unconditional Election (Pemilihan yang Tidak Bersyarat), Limited Atonement (Penebusan Terbatas), Irresistible Grace (Anugerah yang Tidak Dapat Ditolak), dan Perseverance of the Saints (Ketekunan Orang-orang Kudus). Mari kita mempelajari satu per satu kelima poin Calvinisme yang sering disingkat TULIP ini.

1. Total Depravity (Kerusakan Total Manusia)
Apa arti kerusakan total manusia? Kerusakan total tidak berarti manusia benar-benar jahat dan kejam sehingga tidak ada aspek yang agak baik. Ingatlah, Alkitab mengajar bahwa Allah telah memberi wahyu umum-Nya kepada semua manusia dalam bentuk hati nurani dan alam, sehingga mereka tidak dapat berdalih (Ams. 20:27; Rm. 1:19-20). Dengan adanya hati nurani yang merupakan benih agama yang ditanamkan Allah di dalam setiap manusia, sebagai responnya, manusia masih mampu berbuat “baik” (melalui etika moral, agama, dll) meskipun perbuatan “baik” ini tidak dilakukannya dengan motivasi dan tujuan yang baik yaitu memuliakan Allah. Kerusakan total manusia berarti dua hal. Rev. Prof. Edwin H. Palmer, Th.D., D.D. memaparkan dua konsep kerusakan total ini, yaitu dari sisi positif, berarti selalu dan semata-mata berbuat dosa, dan dari sisi negatif, ketidakmampuan total.
[1] Dari sisi positif, kerusakan total manusia berarti selalu dan semata-mata berbuat dosa. Artinya, tidak ada kecenderungan lain di dalam diri manusia, selain berbuat dosa. Augustinus menyebut kondisi ini sebagai non-posse non-peccare (tidak mungkin tidak berdosa). Mari kita telusuri bagian Alkitab tentang hal ini. Dari Kitab Kejadian 3, kita sudah mendapati realita ini, yaitu manusia pertama, yaitu Adam dan Hawa berdosa secara positif yaitu murni ingin berbuat dosa. Perhatikan Kejadian 3:6, “Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.” Setelah dibujuk oleh iblis, Hawa termakan oleh bujukan itu dengan memandang “keindahan” buah pengetahuan yang baik dan jahat itu, lalu kemudian ia memakannya, ia tidak sadar bahwa pada saat itulah ia jatuh ke dalam dosa. Kejadian 6:5 juga berkata hal serupa, “Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata,” Begitu juga dengan Yeremia 17:9, “Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?” Di Perjanjian Baru, kita mendapati hal serupa. Di Roma 3:10, Paulus mengajar, “Tidak ada yang benar, seorangpun tidak.” Lalu di ayat selanjutnya (11 s/d 18), ia memaparkan kecenderungan perbuatan jahat manusia.

Di sisi negatif, kerusakan total berarti tidak adanya kemampuan total. Artinya, manusia tidak mampu lagi berbuat sesuatu yang menyenangkan Allah. Mengapa manusia tidak mampu? Ada beberapa alasan. Pertama, manusia tidak mampu berbuat baik (dan benar) karena manusia tidak mau mengetahui kebaikan (dan standarnya: kebenaran). Kata “tidak mau” menunjukkan bahwa dari asalnya, karena dosa, manusia memang benar-benar enggan mengetahui kebaikan dan kebenaran. Rasul Paulus menjelaskan konsep ini di dalam 2 Timotius 4:3-4, “Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.” Manusia berdosa memiliki kecenderungan untuk tidak mau lagi mengetahui apa yang baik dan benar, tetapi justru ingin mengetahui apa yang menyenangkan (mengenakkan telinga). Di era pragmatisme di zaman postmodern, apa yang telah dikatakan Paulus telah menjadi kenyataan. Dunia kita tidak mau Kristus dan Kebenaran, tetapi menginginkan sesuatu yang mistik, “akademis”, dll, sehingga novel-novel seperti The Da Vinci Code (fiksi tetapi mengaku fakta juga???) begitu laris di dunia, bahkan filmnya diputar secara serentak di dunia (termasuk Indonesia). Di Indonesia, film ini diputar dalam jangka waktu yang agak lama. Bagaimana dengan film The Passion of the Christ di Indonesia? Ternyata film yang benar-benar berpusat pada Kristus ini diputar di Indonesia dalam jangka waktu lebih pendek dari pemutaran film The Da Vinci Code, bahkan menurut berita, di beberapa negara, film The Passion of the Christ dilarang diputar, tetapi herannya mengapa film The Da Vinci Code diputar serentak, dan hampir tidak ada negara yang melarang pemutaran filmnya? Inilah bukti dunia tidak mau mengetahui kebenaran, tetapi maunya sesuatu yang menyenangkan. Selain tidak mau mengetahui kebenaran, kedua, manusia tidak mampu berbuat baik, karena mereka tidak mau tunduk kepada Kebaikan dan Kebenaran itu. Akibat dari tidak mau mengetahui Kebenaran, maka manusia otomatis tidak mau tunduk kepada Kebaikan/Kebenaran. Kita bisa menjumpainya di dalam pengalaman penginjilan. Ketika kita menginjili beberapa orang yang diinjili itu (yang menolak) secara umum mengatakan bahwa semua agama itu sama, bahkan ada yang tidak menganggap Injil yang kita beritakan. Yang lebih ekstrim lagi, Kekristenan dihina, diancam, gereja-gereja dibakar, Kristus dilecehkan dengan berbagai alasan “akademis”, misalnya kawin dengan Maria, tidak bangkit, dll. Semua itu menunjukkan bahwa manusia sebenarnya tidak mau tunduk kepada Kebenaran, tetapi memberontak kepada Kebenaran. Sayang, semakin mereka memberontak kepada Kebenaran, mereka bukan semakin hebat, tetapi mereka semakin kelihatan bodoh. Ketika membicarakan tentang Bertrand Russell dan Irasionalitas Rasionalisme di dalam Persekutuan dan Pembinaan Pemuda GRII Andhika, Surabaya tanggal 22 April 2008, Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div. memberikan satu ilustrasi bagus. Beliau memaparkan bahwa manusia yang mau melawan Kristus itu seperti benda lunak mau melawan benda keras (misalnya, kapas mau melawan besi/baja), akhirnya, semakin orang itu melawan Kristus, mereka semakin kalah dan tidak bisa apa-apa. Itulah gambaran dunia yang katanya semakin “pintar”, tetapi realitanya bodoh.


2. Unconditional Election (Pemilihan yang Tidak Bersyarat)
Karena semua manusia sudah rusak total, maka jalan keluar dari dosa yaitu keselamatan. Keselamatan itu datang dari pihak Allah (anugerah Allah) yang dimulai dari Allah yang telah memilih beberapa manusia untuk diselamatkan dan pemilihan itu tidak bersyarat. Mari kita telusuri pengajaran Alkitab mengenai bagian ini.

Dengan jelas sekali, Tuhan Yesus berfirman di dalam Yohanes 6:37, “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.” Dengan kata lain, orang bisa datang kepada Kristus setelah orang-orang itu ditarik oleh Bapa. Berarti, tetap ada orang-orang tertentu yang dipilih Bapa untuk dibawa kepada Kristus.

Kedua, Tuhan Yesus juga mengatakan di dalam Yohanes 15:16, “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” Di titik pertama, Tuhan Yesus sudah mengajarkan bahwa bukan manusia yang memilih Tuhan, tetapi Tuhan yang memilih manusia. Ini berarti pemilihan berada di tangan Allah, bukan di tangan manusia. Dengan kata lain, semua doktrin yang mengajarkan bahwa Tuhan menyelamatkan semua orang dan tidak pernah memilih orang-orang tertentu sudah diruntuhkan oleh pengajaran Tuhan Yesus sendiri.

Di Kisah Para Rasul 13:48, atas ilham Roh, dr. Lukas menulis, “Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya.” Perkataan ini terjadi setelah Paulus memberitakan Injil kepada orang-orang Yahudi di Antiokhia di Psidia (baca: ayat 16 dan 44). Orang-orang yang telah dipilih Allah akhirnya meresponi firman yang diberitakan Paulus dan Barnabas (baca: ayat 48), sedangkan yang tidak dipilih, malahan menolak dan geram kepada pemberitaan (dan para pemberita) Injil (baca ayat 45).

Di Efesus 1:4-6, dengan lebih jelas dan gamblang, Paulus mengajarkan, “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.” Ada empat hal yang mau kita soroti pada bagian ini. Pertama, Paulus mengajarkan bahwa di dalam Kristus, Allah telah memilih kita. Berarti, proses keselamatan akhirnya menuju kepada Kristus. Allah Bapa merencanakan keselamatan, Allah Anak (yaitu Tuhan Yesus) menggenapi keselamatan, dan Allah Roh Kudus yang menyempurnakan karya keselamatan Kristus itu dengan mengefektifkan karya penebusan Kristus ke dalam hati setiap umat pilihan yang telah dipilih Allah Bapa. Kedua, Allah telah memilih kita di dalam Kristus sebelum dunia dijadikan. Berarti, Allah memilih manusia jauh sebelum manusia berdosa. Ini juga berarti bahwa Allah yang memilih manusia bukan karena manusia yang ingin diselamatkan, tetapi pemilihan mutlak terjadi dari pihak Allah yang berinisiatif aktif. Ketiga, Allah telah memilih kita di dalam Kristus sebelum dunia dijadikan supaya kita kudus dan tidak bercacat di hadapan-Nya. Artinya, kita dipilih Bapa di dalam Kristus supaya kita memancarkan terang Kristus di hadapan Bapa (bdk. Rm. 12:1-2; Ef. 2:10). Dan terakhir, Allah yang telah memilih kita di dalam Kristus sebelum dunia dijadikan terjadi karena kasih karunia Allah saja. Perhatikan ayat 6 di dalam Ef. 1 ini. Ketika Allah telah menentukan kita di dalam Kristus, itu terjadi karena anugerah-Nya, sehingga anugerah-Nya itulah yang harus dipuji selama-lamanya, bukan karena kehebatan diri kita yang memilih Tuhan. Di sini, proposisi Arminian yang mengajarkan bahwa manusia yang memilih Tuhan dan Ia baru memilih manusia setelah Ia melihat iman manusia yang dipilih-Nya itu sudah digagalkan di bagian ini. Allah memilih beberapa orang bukan atas dasar perbuatan baik manusia, tetapi murni karena anugerah dan kedaulatan Allah (bdk. Ef. 2:8-9; Rm. 8:29-30).

Lalu, apa signifikansi doktrin ini? Pemilihan tanpa syarat memberikan beberapa signifikansi penting, yaitu:
Pertama, bersyukur. Tidak ada respon yang paling penting selain kita terus-menerus bersyukur atas anugerah-Nya yang begitu agung yang telah diberikan-Nya bagi kita yang berdosa. Kalau Allah memilih manusia berdasarkan kebaikan manusia, maka manusia bisa berbangga karenanya, tetapi Alkitab TIDAK mengajar demikian. Alkitab mengajar bahwa Allah memilih manusia TIDAK melihat jasa baik manusia, tetapi murni anugerah dan kedaulatan Allah. Justru karena inilah, kita makin bersyukur bukan hanya karena Ia telah memilih kita, tetapi juga Ia telah memilih kita tanpa melihat diri kita yang kotor dan najis ini. Dengan kata lain, Ia menerima kita apa adanya. Itulah penghiburan umat Tuhan yang tak terkira.

Kedua, bersaksi dan berbuat benar. Kita tidak cukup hanya bersyukur, kita harus menyaksikan cinta kasih Tuhan yang begitu agung ini kepada semua orang tanpa kecuali melalui penginjilan dan perbuatan kita yang memuliakan Tuhan sebagai seorang yang telah dipilih Allah. Kita bisa melakukan hal ini pun merupakan anugerah Allah melalui pekerjaan Roh Kudus. Dengan kata lain, di dalam pemilihan Allah, mengutip perkataan Ev. Mercy G. P. Matakupan, S.Th., Ia menerima kita apa adanya, tetapi Ia tidak membiarkan kita apa adanya. Artinya, Ia menerima kita dalam kondisi apa adanya, tidak melihat jasa baik kita, tetapi Ia tidak selamanya membiarkan kita terus di dalam kondisi rusak (apa adanya), melainkan Ia akan memampukan kita berbuat baik demi kemuliaan-Nya.


3. Limited Atonement (Penebusan Terbatas)
Kata “terbatas” tidak berarti secara kualitas/kemampuan.
[2] Penebusan terbatas berarti penebusan yang cakupannya terbatas hanya pada umat pilihan-Nya. Arminianisme memercayai bahwa Kristus menebus dosa semua umat manusia bahkan mereka yang telah ditentukan untuk binasa. Mereka mengutip ayat-ayat Alkitab yang hanya membicarakan tentang doktrin mereka, misalnya: Yoh. 4:42; 2Kor. 5:14; Tit. 2:11; 1Yoh. 2:2; dll. Benarkah ajaran mereka? Kelihatannya benar, jika ayat-ayat tersebut dicomot dan tidak memperhatikan bagian Alkitab lain. Tetapi jika kita mengerti totalitas Alkitab khususnya Perjanjian Baru, kita akan mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang cakupan penebusan Kristus. Mari kita akan menganalisanya satu per satu.
Tuhan Yesus sendiri di dalam Yohanes 6:37-38 berfirman, “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku.” Kedua ayat ini berada di dalam konteks ketika orang banyak sedang mengerumuni Tuhan Yesus untuk minta roti lagi (baca: ayat 25). Lalu Ia memberikan pengajaran yang sangat sulit diterima untuk mendidik sekaligus menguji motivasi mereka dalam mengikut-Nya. Akibatnya, setelah pengajaran sulit itu disampaikan, ternyata banyak dari mereka yang mengundurkan diri (ay. 60-66). Nah, kedua ayat ini menjadi ayat yang menjelaskan dan membedakan mutlak mana umat Tuhan sejati dan mana yang palsu. Mari kita analisa. Kata “semua” di ayat 37 tidak harus diterjemahkan semua, karena kata Yunaninya: pas bisa diterjemahkan “setiap” atau “seluruh”. Lalu, di dalam struktur bahasa Yunani, “diberikan” di dalam ayat 37 menggunakan bentuk aktif dan present. Begitu juga dengan terjemahan Inggris. English Standard Version (ESV) menerjemahkan, “All that the Father gives me will come to me, and whoever comes to me I will never cast out.” (=Semua yang Bapa berikan kepada-Ku akan datang kepada-Ku, ...) Lalu, “akan datang” di dalam struktur bahasa Yunani menggunakan bentuk akan datang (future). Dengan kata lain, ayat ini berarti semua yang telah ditentukan Allah Bapa menjadi umat-Nya diberikan kepada Kristus untuk ditebus (baca ayat 37 dan 38 secara integratif). Di pasal yang sama, di ayat 44, kembali Tuhan Yesus mengulang pengajaran-Nya, “Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman.” Kata “jikalau” seharusnya diterjemahkan kecuali. Dengan kata lain, tidak mungkin seorang bisa datang kepada Kristus, kecuali orang itu ditarik oleh Bapa untuk datang kepada Kristus.

Kembali, Tuhan Yesus pula mengajarkan konsep penebusan terbatas yaitu Ia mati bagi domba-domba-Nya. Istilah “domba” dan “Gembala” diajarkan-Nya sendiri di dalam Yohanes 10. Mari kita telusuri. Pada ayat 11, Tuhan Yesus berfirman, “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya;” Ia menyatakan diri-Nya sebagai Gembala yang baik (the good shepherd), bukannya gembala murahan/upahan (kontrasnya, baca ayat 12). Apa bedanya? Seorang gembala domba adalah penjaga domba yang sungguh-sungguh menjaga dan memelihara domba serta berani melawan binatang apa pun yang berani mengganggu domba gembalaannya. Sedangkan upahan mungkin kelihatan menjaga domba, tetapi sebenarnya tidak, karena ketika ada bahaya mengancam, ia lari duluan dan meninggalkan domba-dombanya (ay. 12-13). Tuhan Yesus tidak seperti upahan itu, tetapi Ia adalah Gembala yang Baik (bukan hanya sekadar gembala). Gembala yang Baik itu bukan hanya mengasihi domba-domba-Nya, tetapi juga rela mati bagi domba-domba-Nya. Lalu, bagaimana dengan ayat 16 yang mengajarkan bahwa ada domba lain dari kandang lain, dan domba-domba itu juga dituntun-Nya. Apa arti domba dari kandang lain ini? Kita harus mengerti konteks total ketika Kristus mengajar hal ini. Ia mengajar dan mengidentikkan domba-domba-Nya ini sebagai umat pilihan-Nya, Israel rohani. Ketika ada domba lain dari kandang lain, itu menunjuk pada umat pilihan-Nya juga tetapi dari orang-orang non-Israel. Beberapa orang menafsirkan itu sebagai orang kafir (Gentiles). Dengan kata lain, ketika Tuhan Yesus menuntun domba-domba dari kandang lain, itu berarti Ia juga menyelamatkan banyak orang non-Yahudi, karena mereka juga termasuk umat pilihan-Nya. Tetapi hal ini tidak berarti, Ia menyelamatkan semua orang tanpa kecuali, bahkan orang-orang yang telah ditentukan untuk binasa (kaum reprobat). TIDAK! Tidak ada indikasi apa pun dalam ilustrasi Tuhan Yesus ini dan jangan berani menafsirkan apa yang tidak dibicarakan oleh Alkitab.

Hal tentang domba juga diajarkan Paulus dengan menggunakan kata “jemaat”. Mari kita membaca Efesus 5:25-27, “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.” Untuk mengajarkan pola hubungan suami dan istri di dalam keluarga Kristen yang bertanggung jawab, maka Paulus memakai ilustrasi Kristus dan jemaat. Di sini, Paulus mengajarkan bahwa Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya (mati disalib) untuk menebus mereka. Kata “jemaat” dalam bagian ini dalam bahasa Yunani ekklēsia, diterjemahkan: gereja (church). Di titik ini, Arminianisme tidak bisa berkutik, karena Paulus TIDAK mengajar bahwa Kristus mati untuk semua orang, tetapi dikatakan bahwa Ia mati bagi jemaat (gereja) karena Ia mengasihi mereka. Jemaat/gereja ini meliputi semua orang pilihan-Nya dari berbagai bangsa, suku, status, dan kebudayaan.

Lalu, bagaimana dengan anggapan-anggapan kaum Arminian yang mengutip ayat-ayat yang seolah-olah kelihatannya penebusan bersifat universal? Mari kita teliti bersama.

Yohanes 3:16, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Ayat ini tidak asing lagi di telinga orang Kristen, tetapi yang asing adalah penafsirannya. Biasanya, banyak orang Kristen menafsirkan bahwa Kristus menebus semua manusia tanpa kecuali dengan menafsirkan “dunia” menunjuk kepada semua orang. Benarkah? Mari kita analisa. Ayat 16 diawali dengan suatu tesis bahwa karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini. Inilah yang membuktikan anugerah dan kasih Allah bagi umat-Nya dan dasar bagi penebusan Kristus. Lalu, disusul dengan pernyataan, “sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal,” Penebusan Kristus didasarkan pada kasih Allah. Kemudian, penebusan Kristus ini tidak berhenti, tetapi berdampak, yaitu supaya setiap orang yang percaya kepada Kristus tidak binasa, melainkan beroleh hidup kekal. Dengan kata lain, dunia yang dimaksudkan sebagai objek kasih Allah, bukan dunia secara universal, tetapi terbatas hanya kepada mereka yang percaya kepada-Nya. Ada theolog yang menafsirkan bahwa penebusan Kristus itu berlaku universal, tetapi efektif bagi umat pilihan-Nya lalu mengutip ayat ini. Ajaran ini jelas kurang dapat dipertanggungjawabkan. Mengapa? Karena kalau orang ini menafsirkan bahwa penebusan Kristus berlaku universal, tetapi efektif bagi umat-Nya, pertanyaannya adalah buat apa Kristus menebus kalau di titik pertama, Ia mengetahui penebusan-Nya bisa berlaku universal, tetapi efektif hanya pada umat pilihan? Theologi Reformed mengajar bahwa meskipun penebusan Kristus bisa berlaku untuk semua orang (kemampuan penebusan Kristus itu dahsyat), tetapi kenyataannya hanya berlaku pada umat pilihan-Nya saja (cakupan penebusan Kristus itu terbatas/tertentu). Tidak ada pemisahan antara “berlaku” dan “efektif”. Memisahkan dua hal ini berarti memisahkan kedaulatan Allah di dalam penebusan Kristus yang telah ditetapkan-Nya dari semula!

Paulus di dalam 1Tim. 2:6 mengajarkan bahwa Kristus, “yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada waktu yang ditentukan.” Apakah kata “semua” mutlak harus diterjemahkan semua? Tidak. Kembali, kata Yunani yang dipergunakan untuk “semua” di bagian ini adalah pas yang bisa diterjemahkan “setiap”. Dr. Edwin H. Palmer memberikan satu contoh ilustrasi yang menggambarkan bahwa tidak selalu kata “semua” harus diterjemahkan “semua” secara mutlak. Beliau memberi contoh, yaitu di surat kabar diberitakan bahwa ada sebuah kapal tenggelam, tetapi semua orang dapat diselamatkan.
[3] Dari contoh ini, apakah “semua orang” harus diterjemahkan “semua” secara mutlak yang berarti semua orang di dunia? Jelas TIDAK. Semua orang di sini di dalam konteks menunjuk pada semua orang di dalam kapal. Begitu juga di dalam penggunaan kata “semua” di dalam Alkitab, tidak boleh diterjemahkan “semua” secara mutlak.

Masih banyak ayat yang bisa kita teliti bersama, tetapi kita akan mengakhirinya dan langsung mempelajari signifikansi dari doktrin penebusan terbatas ini. Doktrin Penebusan Terbatas memberi beberapa signifikansi penting, yaitu:
Pertama, keselamatan itu personal, bukan borongan. Ketika Kristus telah menebus beberapa orang (termasuk kita), itu merupakan anugerah Allah bagi setiap individu yang dipilih-Nya. Dan individu yang dipilih-Nya harus meresponi apa yang telah dikerjakan-Nya melalui iman. Iman bukan kehebatan manusia yang bisa memilih Tuhan. Iman yang tetap merupakan anugerah Allah adalah respon aktif (sekaligus pasif) yang menerima anugerah penebusan Kristus. Inilah yang saya maksudkan dengan keselamatan personal. Tidak ada istilah borongan di dalam Kekristenan. Maksudnya, orang yang menjadi umat pilihan-Nya bukan karena ia mau dan ikut-ikutan dengan teman Kristen lain. Ingatlah, orang Kristen sejati (umat pilihan-Nya) bukan orang yang lahir dari keluarga Kristen atau sudah dibaptis bahkan pemimpin gereja. Orang Kristen sejati adalah orang-orang yang telah dipilih Allah Bapa, dikuduskan oleh Roh Kudus supaya taat kepada Kristus dan menerima percikan darah-Nya (definisi Pdt. Dr. Stephen Tong yang didapat dari 1Ptr. 1:2) Sungguh luar biasa definisi 1Ptr. 1:2 tentang siapa orang Kristen sejati, yaitu mereka yang: telah dipilih oleh Allah Bapa, lalu dikuduskan oleh Roh Kudus (dilahirbarukan oleh Roh Kudus) supaya bisa percaya dan taat kepada Kristus serta menerima percikan darah-Nya. Di sini, orang Kristen adalah orang yang telah dilahirbarukan oleh Roh Kudus untuk percaya dan taat kepada Kristus. Jadi, kelahiran baru mendahului pertobatan (bdk. 1Kor. 12:3b). Tetapi kelahiran baru yang dikerjakan Roh Kudus tidak berhenti, melainkan harus diteruskan melalui perbuatan kita sehari-hari sebagai wujud ucapan syukur kita atas anugerah-Nya yang telah menebus kita dari dosa. Roh Kudus yang telah melahirbarukan kita sehingga kita bisa bertobat, Ia jugalah yang akan menuntun jalan hidup kita selangkah demi selangkah (tanpa mengorbankan tanggung jawab manusia pribadi) sehingga kita bisa memuliakan Allah melalui kehidupan kita sehari-hari.

Kedua, pemberitaan Injil. Sering kali banyak theolog non-Reformed menuduh Reformed yaitu karena mengajarkan Penebusan Terbatas, maka orang Reformed tidak lagi mau memberitakan Injil. Itu memang kesalahan dari para penganut “Reformed” yang tidak sungguh-sungguh mengerti Reformed (yang pasti Injili). Pdt. Dr. Stephen Tong sering menyebut banyak gereja mengaku atau memasang plang Reformed, tetapi theologinya tidak Reformed, itu sebenarnya bukan Reformed, tetapi De-formed atau bahkan no-formed. Mengapa beliau sampai mengatakan hal ini? Karena beliau mengamati banyak gereja dan pendeta Reformed mendapat pendidikan akademis dari luar negeri tetapi sayang tidak memiliki semangat penginjilan. Beliau sempat menantang bahwa banyak gereja Protestan arus utama yang dipengaruhi Calvinisme tetapi tidak satu pun menghasilkan penginjil dengan kuasa Roh Kudus. Hal ini berbeda dari sejarah tokoh-tokoh Puritan yang bertheologi Reformed, sekaligus berhati murni. Salah satunya adalah Rev. Jonathan Edwards, seorang theolog Reformed lulusan Yale University yang memiliki hati yang berkobar-kobar memberitakan Injil. Sejarah mencatat kebangunan rohani yang dipimpin Rev. Jonathan Edwards sebagai The Great Awakening (Kebangunan Besar). Selain Edwards, Rev. Charles Haddon Spurgeon, theolog dan pendeta Reformed dari gereja Baptis juga seorang pengabar Injil dan pengkhotbah yang berapi-api, sampai beliau dijuluki Pangeran Pengkhotbah (Prince of Preachers). Sayang, di zaman postmodern yang kacau ini, sangat jarang (bukan berarti tidak ada) kita bisa menjumpai pendeta yang bertheologi Reformed sekaligus berhati penginjilan. Oleh karena itu, Pdt. Dr. Stephen Tong mendirikan Gerakan Reformed Injili. Theologi Reformed itu baik, tetapi sejarah membuktikan banyak gereja yang mengaku bertheologi “Reformed” sudah tidak lagi memegang Injil sejati dan memberitakan Injil, karena mungkin diterpa arus postmodern. Tidak usah heran, banyak jemaat dari gereja Protestan arus utama yang mengaku diri bertheologi “Reformed” masih pergi ke dukun, percaya takhayul, dll. Itu semua membuktikan, gereja hanya sibuk mengurusi hal-hal internal, tetapi lupa mengurusi hal yang lebih penting, yaitu hal-hal eksternal, bersaksi bagi Kristus. Gereja terlalu sibuk mementingkan organisasi, tetapi melupakan misi. Sungguh amat mengasihankan. Saat ini, ketika kita sudah belajar banyak theologi Reformed khusus tentang Penebusan Terbatas, biarlah hati kita semakin dikobarkan untuk memberitakan Injil dengan hikmat dan kuasa Roh Kudus. Doktrin Predestinasi tidak pernah menyurutkan api penginjilan, karena doktrin ini justru memberikan kekuatan pendorong pemberitaan Injil. Jika Allah telah menentukan beberapa orang untuk dipilih dan ditebus oleh Kristus, maka kita tinggal menuai hasilnya melalui pemberitaan Injil. Dan lagi, ketika Allah telah menentukan umat pilihan-Nya, kita tidak perlu terlalu ngotot memaksakan Injil di dalam penginjilan, seperti yang dilakukan oleh beberapa misionaris Injili yang dangkal. Ketika orang yang kita injili tidak mau menerima Injil, kita tidak perlu memaksa, biarlah kita tinggalkan orang itu, karena mungkin sekali orang itu bukan umat pilihan-Nya, atau mungkin juga bukan kita yang diutus-Nya memberitakan Injil pada orang itu (mungkin rekan atau sahabat kita yang diutus-Nya menginjili orang itu). Semua aktivitas penginjilan yang kita kerjakan adalah bertujuan untuk memuliakan Allah, bukan untuk menambah jumlah anggota jemaat atau orang Kristen. Ingatlah motivasi dan tujuan ini!


4. Irresistible Grace (Anugerah yang Tidak Dapat Ditolak)
Pertama-tama, kita perlu mengerti arti anugerah. Anugerah adalah sesuatu yang diberikan kepada seseorang yang tidak layak menerima. Misalnya, seorang penjahat yang luar biasa biadabnya kemudian menerima pengampunan dari pengadilan, itu adalah anugerah. Mengerti anugerah harus disandingkan dengan mengerti dosa dan kerusakan total manusia. Memisahkan dua hal penting ini mengakibatkan munculnya bidat-bidat di sepanjang sejarah gereja. Bidat-bidat itu adalah: Pertama, Pelagianisme (lawan Augustinianisme) yang mengajarkan bahwa manusia itu tidak berdosa sejak lahir, melainkan manusia lahir dengan kebaikan sempurna. Ajaran ini ditolak dengan tegas di Sinode Karthage pada tahun 418, Konsili Efesus pada tahun 431, dan Sinode Orange pada tahun 529.
[4] Bidat kedua, Semi-Pelagianisme (Arminianisme) sebagai jalan tengah antara Calvinisme dan Pelagianisme (model Postmodern yang suka “berdamai”). Istilah Semi-Pelagianisme dimunculkan oleh Luis Molina pada tahun 1590 dan 1600 (http://en.wikipedia.org/wiki/Semi-Pelagianism). Bidat ini mengajarkan bahwa manusia memiliki kebaikan di tingkat tertentu, selebihnya mereka hanya bisa beriman melalui anugerah Allah. Tetapi iman yang diberikan Allah ini bisa ditolak. Dengan kata lain, anugerah Allah bisa ditolak, karena itu terserah pada kehendak bebas manusia. Dr. Palmer memberikan istilah “kerja sama” untuk doktrin ini. Artinya, di dalam keselamatan, Allah memberikan anugerah kepada manusia, dan manusia harus menerimanya dengan iman, jika tidak, maka keselamatan itu tidak bisa diperoleh manusia. Benarkah ajaran ini? Jika “benar”, maka di dalam keselamatan manusia, unsur jasa baik manusia (dengan dalih “iman”) tetap diperhitungkan, padahal berkali-kali Alkitab menegaskan bahwa di dalam keselamatan manusia, tidak ada unsur jasa baik yang diperhitungkan, semuanya murni anugerah Allah! Hal ini jelas bertentangan dengan inti pengajaran Alkitab. Bukan hanya itu saja, doktrin ini sangat berbahaya, yaitu mengajarkan bahwa Allah “kewalahan” kalau manusia tidak meresponi anugerah-Nya melalui iman. Jika manusia tidak menerima anugerah Allah melalui iman, maka Allah tidak mau menyelamatkan (istilah kerennya: Allah “ngambek”). Bukankah doktrin ini sangat berbahaya dan merendahkan otoritas keMahakuasaan Allah yang Berdaulat?

Lalu, apa yang Alkitab ajarkan? Kembali, mengerti anugerah Allah yang tidak dapat ditolak harus didasari dari mengerti akan kerusakan total manusia akibat dosa. Di atas, kita telah merenungkan dan mempelajari makna Kerusakan Total manusia berdosa yang merusak seluruh keberadaan manusia, dari rasio, emosi, kehendak, dll, sehingga motivasi kita dalam berbuat baik tidak lagi murni untuk memuliakan Tuhan. Bayangkan kerusakan total manusia itu seperti yang sudah saya ilustrasikan di atas, yaitu seperti seorang penjahat kelas kakap dan sangat biadab yang akan dihukum mati. Lalu, orang yang paling biadab ini tiba-tiba mendapat pengampunan, yaitu tidak jadi dihukum mati, kira-kira sebagai orang normal, apa yang dilakukan oleh orang ini? Menolak? Tentu tidak. Justru, menerima, bahkan mungkin orang ini akan berlutut bersyukur kepada orang yang telah membebaskannya dari hukuman mati. Tidak tahu lagi, kalau orang yang akan dihukum mati ini adalah orang yang kurang waras (atau gila), sehingga ia tidak mau menerima anugerah itu. Begitu juga dengan umat pilihan-Nya. Kepada mereka diberikan anugerah Allah yang menyelamatkan, dan tentu mereka pasti menerima anugerah itu dengan penuh rasa syukur, karena mereka telah dimerdekakan dari dunia kegelapan dan dibawa kepada Terang Allah. Respon mereka ini pun adalah anugerah Allah. Mari kita telusuri apa yang Alkitab ajarkan tentang anugerah yang tidak dapat ditolak.

Seperti yang telah kita bahas di atas, ayat Alkitab pertama yang mengajar bahwa anugerah Roh Kudus tidak dapat ditolak adalah perumpamaan Tuhan Yesus sebagai Gembala Domba yang baik di dalam Injil Yohanes 10. Di ayat 16, Tuhan Yesus mengajarkan bahwa domba-domba lain yang dari kandang lain dituntun-Nya. Ayat ini TIDAK berkata bahwa domba-domba lain yang mau ikut dituntun-Nya, tetapi ayat ini mengatakan bahwa domba-domba lain dituntun-Nya juga. Apakah ini paksaan? TIDAK. Ini terjadi karena anugerah. Bayangkan, Tuhan Yesus menyamakan kita (umat pilihan-Nya) seperti domba-domba yang suka menurut dan mengenal siapa Gembalanya. Kalau kita disamakan seperti domba, mengapa kita maunya seperti buaya atau binatang lain yang mau berjalan sendiri tanpa pemimpin/gembala? Ini kegagalan manusia berdosa yang terus menganggap diri “pintar”.

Rasul Paulus menjelaskan kronologis dari pemilihan sampai pemuliaan anak-anak Allah secara rinci dan teliti di dalam Roma 8:29-30, “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” Pada kedua ayat ini, tidak ada satu pun indikasi bahwa orang yang telah dipilih Allah tiba-tiba menolak anugerah Allah itu lalu binasa. Justru kedua ayat ini menunjukkan kronologis teliti yang Paulus paparkan dari pemilihan, penentuan Allah, pemanggilan, pembenaran, sampai pemuliaan mereka yang telah dipilih-Nya. Tidak ada pemisahan di antara proses ini.

Apa signifikansi doktrin anugerah yang tidak dapat ditolak?
Anugerah Allah yang tidak dapat ditolak membawa kita pada keagungan karya Allah. Justru setelah kita memahami bahwa anugerah Allah tidak dapat ditolak, kita baru menyadari bahwa karya Allah begitu agung sehingga Ia rela menyelamatkan beberapa orang dari manusia dari jurang dosa yang gelap dan membawa mereka kepada Terang Allah yang ajaib. Kalau keselamatan manusia diletakkan pada kehendak bebas manusia, lalu manusia bisa menerima atau menolak anugerah Allah, percayalah, hampir bisa dipastikan manusia berdosa banyak (atau hampir semua) memilih untuk menolak anugerah Allah, karena dosa manusia telah mencengkeram hidup mereka sehingga mereka menolak Kebenaran. Akibatnya, dosa semakin bertambah, dan Allah “kewalahan”. Tetapi puji Tuhan, Alkitab mengajarkan bahwa manusia diselamatkan mutlak dan murni atas inisiatif anugerah Allah. Mungkin seolah-olah bagi kita, anugerah Allah “memaksa” kita sehingga kita menerima Kristus, padahal kita “tidak mau”, tetapi ketika kita makin lama makin melihat “paksaan” Allah ini, kita mendapati begitu agungnya karya Allah yang Mahabesar ini sehingga kita tidak henti-hentinya mengucap syukur atas anugerah Allah yang mahadahsyat ini. Ucapan syukur atas anugerah Allah yang tidak dapat ditolak ini harus diteruskan juga kepada orang-orang lain dengan memberitakan Injil kepada mereka, sehingga kita membawa mereka juga bersama-sama mengalami dan melihat kedahsyatan anugerah Allah di luar rasio manusia yang terbatas.


5. Perseverance of the Saints (Ketekunan Orang-orang Kudus)
Beberapa theolog menjelaskan arti lain dari konsep ini, yaitu ketekunan Allah bagi orang-orang kudus. Orang-orang kudus di sini berarti umat pilihan-Nya (yang percaya kepada Kristus dengan sungguh-sungguh). Dr. Palmer menjelaskan arti sederhana konsep ini sebagai “sekali diselamatkan selamanya diselamatkan.”
[5] Artinya, semua umat pilihan yang telah diselamatkan, otomatis tidak akan pernah mungkin bisa hilang keselamatannya. Konsep ini baru bisa dimengerti setelah kita mengerti ketekunan dan kesetiaan Allah. Di dalam Alkitab, kita mempelajari banyak konsep tentang Allah yang Setia. Bahkan Paulus di Roma 3:3-4 berani menantang jemaat Roma, “Jadi bagaimana, jika di antara mereka ada yang tidak setia, dapatkah ketidaksetiaan itu membatalkan kesetiaan Allah? Sekali-kali tidak! Sebaliknya: Allah adalah benar, dan semua manusia pembohong, seperti ada tertulis: "Supaya Engkau ternyata benar dalam segala firman-Mu, dan menang, jika Engkau dihakimi."” Mereka di sini menunjuk kepada orang Yahudi. Meskipun orang Yahudi banyak yang tidak setia, Allah tetap setia pada janji-Nya menyelamatkan umat pilihan-Nya (termasuk beberapa orang Yahudi).[6] Kepada jemaat di Korintus, Paulus mengajarkan, “Ia juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus. Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia.” (1Kor. 1:8-9) Jika di Roma 3:3, Paulus menggunakan kata Yunani pistis, maka di 1Kor. 1:9, Paulus menggunakan kata pistos, yang keduanya memiliki akar kata Yunani peithō yang bisa diterjemahkan keyakinan, persetujuan, jaminan, dll. Dengan kata lain, Allah yang setia adalah Allah yang bisa dipercayai dan dijamin (trustworthy). Allah yang bisa diandalkan ini adalah Allah yang juga bisa diandalkan di dalam hal keselamatan. Ia yang telah memulai keselamatan, Ia pulalah yang akan menggenapinya. Oleh sebab itu, mari kita akan menelusuri apa yang Alkitab ajarkan tentang hal ini sehingga kita makin lama makin mengerti apa yang Alkitab ajarkan tentang kesetiaan Allah.

Tuhan Yesus di dalam Injil Yohanes 6:39 berfirman dengan jelas, “Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman.” Kata “hilang” dapat diterjemahkan binasa. Dengan kata lain, semua umat pilihan yang telah dibawa oleh Allah Bapa kepada Kristus tidak mungkin binasa, melainkan mereka akan dibangkitkan oleh Kristus pada akhir zaman (bdk. Yoh. 3:16b). Inilah jaminan keselamatan kekal Allah bagi umat-Nya.

Selanjutnya, Tuhan Yesus pula di dalam Yohanes 10:27-29 berfirman, “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa.” Ketiga ayat ini berada di dalam konteks pembahasan Tuhan Yesus tentang Gembala dan domba. Domba mendengarkan suara gembalanya, demikian juga umat pilihan-Nya mendengar suara Kristus sebagai Gembala mereka. Antara Gembala dan domba, saling mengenal, sehingga mereka tidak mungkin tertipu. Sebagai wujud kasih Gembala kepada domba, Ia mau menyerahkan hidup-Nya bagi domba-domba itu (baca ayat 11) dan kemudian, Ia memberikan hidup kekal kepada domba-dombanya itu. Apakah hidup kekal itu? Hidup yang tidak bisa binasa (Yoh. 3:16b). Wujudnya adalah domba-domba-Nya tidak akan bisa direbut dari tangan Kristus dan Bapa. Lebih tegas lagi dikatakan oleh Tuhan Yesus sendiri di ayat 29 bahwa tidak ada seorang pun yang lebih berkuasa dari Bapa yang telah memberikan umat pilihan-Nya kepada Kristus. Dengan kata lain, hanya Allah Trinitas yang berkuasa mutlak atas keselamatan umat-Nya, dan iblis pun tidak bisa merebut umat pilihan-Nya itu. Itulah jaminan keselamatan kekal umat pilihan-Nya. Jika Arminian yang mengajarkan bahwa keselamatan umat pilihan-Nya bisa hilang itu benar, maka patutkah Kristus di ayat 29 mengatakan bahwa Bapa-Nya lebih besar dari siapapun?

Sebagai jaminan bahwa keselamatan kita tidak akan pernah hilang, maka Roh Kudus diutus untuk menjadi saksi. Rasul Paulus mengajarkan hal ini di dalam Efesus 1:13-14, “Di dalam Dia kamu juga--karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu--di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.” Roh Kudus adalah jaminan (bisa diterjemahan stempel sah) bagi umat-Nya bahwa mereka tidak akan binasa. Mengapa? Karena Roh Kudus itu yang menjamin kita memperoleh seluruhnya, yaitu penyempurnaan penebusan yang menjadikan kita milik Allah (baca ayat 14). Sungguh sangat jelas, Roh Kudus menjadi saksi dan jaminan bagi kita bahwa kita benar-benar anak-anak Allah dan tidak akan pernah ditinggalkan sendirian (Rm. 8:16, 28).

Para theolog Arminian menyanggah pandangan ini dengan dua argumentasi, yaitu: pertama, doktrin ini tidak “cocok” dengan fakta bahwa ada banyak orang Kristen yang akhirnya murtad, lalu kedua, doktrin ini mengakibatkan orang Kristen hidup seenaknya sendiri. Bagaimana tanggapan Reformed?
Pertama, kalau ada orang Kristen yang murtad, kita perlu klarifikasikan makna Kristen itu sendiri pada diri orang itu. Apa arti Kristen? Kristen berarti pengikut Kristus (atau bisa diterjemahkan “Kristus-kristus kecil” yang menjadi saksi Kristus di tengah dunia. Untuk menjadi saksi Kristus, hidup orang Kristen sejati harus berpusat kepada Kristus dan firman Allah (Alkitab). Hidup yang berpusat kepada Kristus dan Alkitab adalah hidup yang menTuhankan Kristus dan memuliakan-Nya SAJA. Benarkah orang Kristen sejati tiba-tiba bisa murtad? Dari definisi yang sudah saya paparkan secara jelas ini, kita dapat menjawab dengan pasti, bahwa orang Kristen SEJATI tidak pernah akan mungkin bisa murtad, mengapa? Karena keselamatannya adalah anugerah Allah dan Roh Kudus sendiri yang menjamin kepastian keselamatannya. Kedua, yang bisa murtad lagi tentu BUKAN orang Kristen sejati, tetapi orang yang memakai aksesoris dan mengklaim diri “Kristen”. Bedakan antara aksesoris Kristen dengan iman Kristen. Aksesoris Kristen adalah tempelan-tempelan “Kristen” yang dipakai oleh orang yang sebenarnya tidak pernah beriman Kristen. Contoh, setiap Minggu, rajin ke gereja, ikut Persekutuan Doa, Pendalaman Alkitab, berpuasa, dll, mereka hanya mengenakan aksesoris “Kristen”, tetapi benarkah hatinya berpusat dan tunduk mutlak kepada Kristus? TIDAK! Kalau disuruh belajar Alkitab, ia pasti mau, tetapi kalau disuruh mengubah karakter dan motivasinya, ia belum tentu mau. Saya agak takut dengan banyak orang yang mengaku diri Reformed, studi theologi Reformed di luar negeri, tetapi hidup rohaninya kering, yang dipentingkan debat sini sana (bukan berarti tidak perlu debat), tetapi tidak pernah mengalami anugerah Allah di dalam hidupnya. Otaknya penuh dengan berbagai teori yang dipelajari, tetapi hatinya kering, tidak ada semangat lagi melayani, bahkan ke gereja pun menjadi rutinitas. Tidak heran juga, bahkan seorang pemimpin gereja dari gereja yang mengaku bertheologi “Calvinis” tiba-tiba bisa menulis satu artikel yang membuktikan Kristus tidak bangkit, meskipun kemudian setelah ditegur oleh gerejanya, ia “bertobat” secara akademis.

Kedua, benarkah orang Kristen sejati yang telah diselamatkan hidupnya bisa seenaknya sendiri? Tidak mungkin. Mungkin untuk beberapa saat, iya, tetapi kalau untuk selama-lamanya, tidak. Mengapa? Sekali lagi, karena Roh Kudus yang menjamin kepastian keselamatan umat pilihan-Nya dengan cara memimpin, menegur, dan mengarahkan langkah hidup mereka supaya mereka makin memuliakan Allah (progressive sanctification/pengudusan terus-menerus). Orang Kristen yang hidup seenaknya sendiri jelas bukan orang Kristen sejati, tetapi, seperti yang sudah saya kemukakan di atas, adalah orang yang memakai aksesoris “Kristen” tanpa mengerti arti Kristen sesungguhnya. Terlalu banyak model orang “Kristen” palsu seperti ini di dalam gereja. Marilah kita masing-masing mengintrospeksi diri.

Apa signifikansi doktrin ketekunan orang kudus ini?
Pertama, kedaulatan Allah melebihi semua keterbatasan manusia. Dengan melihat apa yang Alkitab paparkan dengan sangat jelas tentang keselamatan umat pilihan yang tidak mungkin binasa, kita semakin mengerti bahwa Allah adalah Allah yang Berdaulat yang melebihi semua keterbatasan manusia, sehingga ketika umat-Nya di satu saat mengalami penurunan spiritualitas atau hidup tidak beres di saat tertentu, Roh Kudus aktif mengingatkan mereka melalui Firman Tuhan (Alkitab) atau khotbah yang disampaikan oleh pendeta yang bertangggungjawab atau melalui buku-buku rohani yang bermutu. Roh Kudus memakai banyak cara untuk membuat hati kita dimurnikan kembali untuk memuliakan dan menikmati Allah selama-lamanya (bdk. Katekismus Singkat Westminster Pasal 1).

Kedua, realita pembeda. Doktrin ini mengantarkan kita untuk lebih teliti dan tajam lagi membedakan mana orang Kristen sejati dengan orang yang katanya “Kristen” (saya menyebutnya: pseudo-Christian/Kristen palsu). Bedanya adalah orang Kristen sejati dari titik awal sampai penghabisannya tidak akan pernah murtad lagi. Meskipun di kala tertentu sempat murtad, Allah yang berdaulat akan “memukul” dia untuk kembali kepada Kristus. Salah satu contoh artis Indonesia yang menggambarkan realita ini adalah Nafa Urbach. Menurut berita, Nafa Urbach dari kecil adalah Kristen, kemudian ikut neneknya (kalau tidak salah), maka ia menjadi Islam, lalu kira-kira 1-2 tahun lalu, ia “dipukul” Tuhan sehingga ia menjadi Kristen lagi. Sedangkan, orang yang mengaku diri “Kristen” dijamin akan murtad selama-lamanya. Saya belum bisa memastikan contoh praktis di Indonesia, karena mereka yang murtad juga belum meninggal. Yang saya tahu, mereka yang mengaku diri “Kristen” kemudian murtad kebanyakan dari Gereja Katolik, meskipun ada juga dari gereja-gereja Protestan arus utama, sebut saja: Dian Sastrowardoyo (dari Gereja Katolik menjadi Islam), Dewi Lestari dan Marcell Siahaan (suami istri yang dulunya Protestan akhirnya menjadi Buddhis), dll. Mereka yang murtad justru membuktikan iman seperti apa yang mereka miliki. Benarkah mereka beriman sungguh-sungguh kepada Kristus? Atau sebaliknya, mereka sebenarnya “beriman” kepada diri meskipun mengaku di depan umum sebagai “Kristen”? Oleh karena itu, jangan sembarangan mempergunakan nama Kristen (apalagi anak Tuhan) kepada diri atau pun orang Kristen lain, jika kita sendiri (atau orang-orang Kristen lain) belum (layak) mencerminkan hakekat anak Tuhan sejati. Tidak semua orang yang mengaku diri “Kristen” adalah anak Tuhan. Oleh karena itu, marilah kita mengintrospeksi diri, sudahkah kita benar-benar menunjukkan bahwa kita adalah anak Tuhan sejati dengan beriman hanya kepada Kristus?

[1] Edwin H. Palmer, Lima Pokok Calvinisme, terj. Elsye (Surabaya: Momentum, 2005), hlm. 8-9.
[2] Ibid., hlm. 57.
[3] Ibid., hlm. 73.
[4] Ibid., hlm. 84.
[5] Ibid., hlm. 99.
[6] Saya sudah membahas bagian ini di dalam Seri Eksposisi Surat Roma 3:1-8.

Bab 5: Hanya Melalui Anugerah (Sola Gratia)

Bab 5
Hanya Melalui Anugerah (Sola Gratia)




Keunikan ketiga dari theologi Reformed adalah konsep Sola Gratia yaitu segala sesuatu hanya melalui anugerah Allah. Prinsip ini pertama kali ditegakkan oleh Dr. Martin Luther, reformator gereja besar dari Jerman. Pengertian integratif akan Alkitab membuat kita lebih mengerti kedahsyatan anugerah Allah. Mari kita akan mempelajarinya satu per satu dari Perjanjian Baru.

Rasul Paulus di Surat Roma 3:23-24 memaparkan, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Di sini, Paulus memaparkan realita universalitas dosa (baca mulai ayat 9) menuju pada kesimpulan di ayat 23, di mana semua manusia (tanpa kecuali) telah berbuat dosa dan tidak mencukupi kemuliaan Allah (diterjemahkan dari Alkitab bahasa Inggris). Tetapi apakah berhenti sampai keberdosaan manusia? TIDAK. Paulus melanjutkan di ayat 24 bahwa manusia yang berdosa tidak mungkin menemukan jalan keluarnya, sehingga oleh kasih karunia saja manusia yang berdosa bisa dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan di dalam Kristus. Di ayat 24, Paulus mengulang konsep anugerah dengan pernyataan “oleh kasih karunia” dan “dengan cuma-cuma” (KJV: freely; arti: dengan bebas). Penekanan dua kali oleh Paulus jelas membuktikan bahwa keselamatan kita murni adalah anugerah Allah dan tidak ada sedikit pun jasa baik manusia! Hal ini ditunjukkan dengan jelas oleh Paulus di ayat 27 tentang dibenarkan melalui anugerah Allah di dalam iman kepada Kristus, “Jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan apa? Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman!”

Bukan hanya kepada jemaat di Roma, Paulus juga mengajar konsep serupa kepada jemaat di Efesus. Bacalah Efesus 1:7, “Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya,” Kata “kasih karunia” di dalam ayat 7 menggunakan bahasa Yunani yang sama dengan Roma 3:24. Mulai ayat 3 di pasal 1 ini, Paulus mengajarkan tentang doktrin Allah yang telah memilih manusia sebelum dunia dijadikan, lalu sampai pada ayat 7, ia menguraikan bahwa umat pilihan-Nya mendapatkan pembenaran dan penebusan hanya melalui anugerah Allah di dalam penebusan Kristus di kayu salib. Hal serupa diajarkan Paulus di Efesus 2:8-9, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Efesus 2 dimulai dari ayat 1-7 yang menceritakan keberdosaan manusia, lalu diakhiri dengan jalan keluar dari pihak Allah terhadap keberdosaan manusia, yaitu melalui anugerah saja, umat-Nya diselamatkan oleh iman. Apakah tanpa adanya kata “hanya” di ayat ini tidak cukup jelas mengajarkan kita bahwa manusia itu berdosa dan hanya melalui anugerah-Nya kita diselamatkan? Apakah kurang jelas juga penjelasan Paulus di ayat 9 di Efesus 2 bahwa manusia yang dibenarkan BUKAN hasil pekerjaan orang percaya, sehingga mereka tidak perlu memegahkan diri.

Kepada anak rohaninya, Timotius, Paulus mengajarkan, “Aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita, karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku-- aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman. Malah kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus.” (1Tim. 1:12-14) Anugerah Allah saja yang telah menarik Paulus dari kesesatan dan kebutaan rohaninya dahulu kembali kepada jalan yang benar di dalam Kristus.

Kepada Titus, Paulus juga mengajarkan hal yang sama, “Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata.” (Tit. 2:11) Sementara ini, kita tidak akan membahas penggunaan kata “semua” di ayat ini yang bisa membuat rancu dan salah tafsir. Kembali, kepada Titus, Paulus mengajar bahwa manusia (umat pilihan-Nya) diselamatkan hanya melalui kasih karunia Allah. Meskipun tidak ada kata “hanya” di ayat ini, tetapi hal ini sudah nyata baik dari konteks pengajaran Paulus kepada Titus maupun secara integratif dari pengajaran Paulus serupa di Surat Roma, Efesus, dll.

Kita telah menyelidiki empat bagian dari Alkitab tentang doktrin hanya melalui anugerah Allah saja. Apa signifikansinya bagi kita?
1. Anugerah Allah berbicara mengenai Allah sebagai Sumber
Ketika Firman Tuhan berkata bahwa manusia diselamatkan dan dibenarkan melalui anugerah Allah, itu berarti Allah itu sebagai Sumber Keselamatan sejati. Artinya, Dia yang menyediakan keselamatan itu bagi umat pilihan-Nya. Untuk menyediakan keselamatan itu, Dia telah memilih beberapa orang untuk menjadi anak-anak-Nya yang menerima anugerah keselamatan itu melalui Roh Kudus (Ef. 1:4-6; 1Ptr. 1:2). Selain sebagai Sumber, Allah juga sebagai Pribadi yang berinisiatif aktif menyelamatkan umat pilihan-Nya yang telah berdosa itu. Sebagai Inisiator keselamatan, Allah TIDAK perlu menunggu respon manusia berdosa, baru Ia menyelamatkan. Jika “Allah” bertindak seperti itu, berarti Allah bukan Sumber dan Inisiator keselamatan, tetapi Allah pasif terhadap keselamatan. Sebaliknya, yang benar, Allah bertindak aktif menyelamatkan umat-Nya bahkan ketika umat-Nya masih berdosa (Rm. 5:8). Mengapa Allah menyelamatkan manusia? Karena Ia menciptakan mereka segambar dan serupa dengan-Nya, tetapi dosa telah merusakkan segalanya. Oleh karena itu, Ia memulihkan gambar-Nya yang telah dirusak oleh dosa itu di dalam diri umat pilihan-Nya. Apakah anugerah Allah ini hanya berlaku di dalam hal keselamatan? Tidak. Anugerah Allah berlaku bagi seluruh kehidupan kita. Kalau kita hari ini bisa hidup, bernafas, bahkan telah menerima berkat Firman yang kita baca setiap hari, itu merupakan anugerah Allah yang tidak terbatas, sehingga kita patut bersyukur. Bukan hanya bersyukur, kita pun harus menyebarkan dan menyaksikan anugerah Allah itu di dalam kehidupan kita sehari-hari. Caranya adalah dengan menyaksikan Injil Kristus di dalam kehidupan kita baik melalui pemberitaan Injil, pelayanan di gereja, maupun di dalam pekerjaan/kehidupan kita sehari-hari. Artinya, kita mewartakan anugerah Allah itu dengan menjadikan Allah sebagai satu-satunya Sumber sejati di dalam segala sesuatu. Itulah yang dipaparkan oleh Pdt. Sutjipto Subeno sebagai men-Tuhan-kan Kristus. Beliau menuturkan bahwa banyak orang Kristen hanya mengakui sebagai Kristus sebagai Juruselamat, tetapi melupakan bahwa Ia adalah Tuhan dan Pemerintah hidup kita. Dengan menjadikan anugerah Allah di dalam Kristus sebagai sumber, berarti kita men-Tuhan-kan Kristus atau menjadikan Kristus sebagai Pusat yang harus dijadikan Objek penyembahan semua manusia.

Begitu juga dengan spiritualitas dan konsep pelayanan kita. Pdt. Billy Kristanto, Dipl.Mus., M.C.S. di dalam salah satu sesi tentang konsep pelayanan di National Reformed Evangelical Convention (NREC) pernah memaparkan apa bedanya konsep pelayanan Reformed dengan Arminian. Konsep pelayanan Reformed adalah pelayanan karena anugerah Allah, sedangkan konsep pelayanan menurut Arminian adalah pelayanan karena jasa baik (kehendak bebas) manusia. Di dalam theologi Reformed, kami percaya bahwa pelayanan kepada Tuhan adalah respon ucapan syukur kita setelah diselamatkan (bukan untuk diselamatkan atau supaya tidak murtad—seperti pandangan Katolik Roma dan Arminian). Sehingga kalau segala pelayanan kita karena anugerah Allah, berarti di dalam pelayanan, tidak ada lagi tempat bagi ambisi pribadi di dalamnya. Di dalam sejarah gereja, kita mendapati masih adanya ambisi pribadi di dalam gereja. Di zaman Abad Pertengahan, Pdt. Billy Kristanto menceritakan adanya perebutan kekuasaan Paus di Gereja Katolik Roma. Luar biasa, pemimpin gereja bisa berebut kekuasaan. Bukan hanya di zaman dahulu, di zaman sekarang, hal ini terulang kembali. Gereja saling berebut jemaat untuk memperkaya diri, bahkan dengan cara-cara yang tidak etis. Konsep pelayanan ini jelas bukan yang diajarkan Alkitab. Berkali-kali, Paulus mengatakan bahwa hanya melalui anugerah Allah, ia boleh melayani-Nya. Sehingga Paulus tidak pernah berambisi menyaingi Petrus, Yohanes, dll. Perhatikanlah apa yang dipaparkan Paulus di 1Kor. 3:6, “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.” Paulus juga mengajarkan tentang konsep satu tubuh di dalam Kristus yang saling menolong dan melayani bersama di dalam Kristus (baca: 1Kor. 12). Pdt. Dr. Stephen Tong pernah mengajar satu prinsip yang indah bahwa tidak ada orang yang datang untuk membantu Tuhan, tetapi semua orang pilihan datang untuk melayani dan belajar bersama di dalam pekerjaan Tuhan. Tuhan tidak perlu dibantu manusia, Ia bisa mengerjakan sendiri, tetapi ketika Ia mengizinkan manusia pilihan-Nya melayani-Nya, itu adalah semata-mata anugerah Allah. Sudahkah kita melayani Allah dengan konsep anugerah, bukan dengan konsep ambisi pribadi?

2. Anugerah Allah berbicara mengenai ketidaklayakan manusia
Di sisi negatif, anugerah Allah membukakan kepada kita realita bahwa manusia itu sebenarnya tidak layak. Di dalam keselamatan, berkali-kali Paulus mengajar bahwa umat pilihan dibenarkan dan diselamatkan BUKAN karena perbuatan baik yang mereka kerjakan, tetapi hanya melalui anugerah Allah di dalam iman kepada penebusan Kristus (baca: Rm. 3:27; Ef. 2:8-9). Mengapa Allah yang menyelamatkan manusia tidak melihat jasa baik manusia? Karena jasa baik manusia itu dipandang sia-sia oleh Allah. Dari Perjanjian Lama, kita belajar banyak hal tentang standar Allah tentang kekudusan dan kebenaran (kebenaran/truth dan kebenaran-keadilan/righteousness). Allah tidak segan-segan mengatakan Israel munafik karena mereka pura-pura beribadah kepada Allah, tetapi hati mereka busuk. Tuhan Yesus sendiri di dalam Injil Matius 23 dengan keras menuding kemunafikan para ahli Taurat dan orang Farisi. Itu semua mengajarkan bahwa manusia dengan kesalehannya sendiri tidak mungkin bisa melepaskan diri dari kuasa dosa.

Di dalam kehidupan rohani dan pelayanan kita, biarlah konsep ini menjadi pelajaran berharga. Ketika kita mau melayani Tuhan baik di gereja maupun di dunia sekuler, kita harus ingat satu prinsip: kita tidak layak. Dunia akan segera melawan konsep yang Alkitab ajarkan ini. Terlalu banyak tawaran dunia mengancam Kekristenan kita terutama dari psikologi yang ditambah Gerakan Zaman Baru lalu mengajarkan prinsip-prinsip bahwa jangan pernah membicarakan diri ini tidak layak, tetapi bicarakanlah dan doronglah orang dengan kata-kata positif, misalnya, “Kamu bisa”, “Kamu dahsyat”, dll (berpikir positif). Tidak heran, di dunia postmodern, muncullah pikiran-pikiran bahwa yang kita pikirkan itu yang kita dapat. Di dunia sekuler, kita juga sering mendengar, “Di mana ada kemauan, di situ ada jalan”. Semuanya mengajarkan bahwa asal kita ada keinginan, semua pasti berhasil. Yang lebih celaka, pelatihan seperti ini diimpor dan diajarkan oleh/di gereja. Hal ini juga diadopsi di dalam konsep pelayanan “Kristen”. Kita mendapati banyak orang Kristen yang melayani dengan konsep kehebatan diri, membantu sini sana, berfasih lidah di dalam berkhotbah, pintar dalam organisasi, dll, sehingga yang ditonjolkan di dalam pelayanan adalah dirinya yang hebat. Benarkah ajaran demikian? TIDAK. Inilah realita dunia kita yang tidak mau menerima realita negatif. Kekristenan yang beres tidak boleh mengikuti apa kata dunia, tetapi apa kata Alkitab. Realita negatif yang mengajarkan bahwa kita ini tidak layak bukan dengan tujuan melemahkan kita, tetapi berfungsi dua hal: pertama, untuk menyadarkan realita kita yang sebenarnya yaitu benar-benar tidak layak, karena kita telah berdosa dan rusak total, sekaligus, kedua, untuk mendorong kita tidak berfokus pada kehebatan diri kita, tetapi kepada Allah yang memimpin kita di dalam melayani-Nya. Dengan semakin memandang ketidaklayakan kita, kita semakin terus bergantung mutlak/penuh (total surrender) kepada-Nya.

Bab 4: Otoritas Alkitab

Bab 4
Otoritas Alkitab




Keunikan theologi Reformed (akarnya dari Reformasi yang dicetuskan oleh Dr. Martin Luther) yang tidak dijumpai oleh semua theologi lain adalah otoritas Alkitab. Ketika berbicara mengenai otoritas, kita sedang membicarakan tentang mana yang berkuasa. Sehingga kalau kita diperhadapkan pada dua otoritas: Alkitab atau tradisi, mana yang harus dipilih oleh orang Kristen? Katolik memilih dua-duanya dengan dalih “melengkapi” (tradisi “melengkapi” Alkitab), tetapi Protestan (Reformed) memilih otoritas Alkitab (meskipun tetap menghargai sumbangsih tradisi gereja dari para bapa gereja). Semboyan Sola Scriptura (hanya Alkitab saja) pertama kali ditegakkan oleh Dr. Martin Luther, karena Luther menyadari Gereja Katolik Roma telah menyelewengkan Alkitab. Otoritas Alkitab juga ditekankan di dalam theologi Reformed, melalui Dr. John Calvin. Karena sebegitu pentingnya otoritas Alkitab, Dr. John Calvin di dalam bukunya Mutiara Kehidupan Kristen Bab 1 mencatat bahwa Kitab Suci adalah aturan bagi kehidupan. Beliau mendasarkan Alkitab sebagai pusat dan penuntun hidup yang taat pada kehendak Allah.[1] Pengakuan Iman Reformed Injili mengajarkan, “Kami percaya bahwa Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru adalah penyataan Allah yang sempurna yang diilhamkan Roh Kudus kepada para penulisnya dan karena itu adalah benar tanpa salah dalam naskah aslinya. Alkitab menyatakan di dalamnya kesaksian Roh Kudus, dan merupakan wibawa tunggal dan mutlak bagi iman dan kehidupan, baik untuk perseorangan, gereja, maupun masyarakat. Kami percaya bahwa Alkitab tidak bersalah dalam segala hal yang diajarkannya, termasuk hal-hal yang menyangkut sejarah dan ilmu.” The Belgic Confession (Pengakuan Iman Belgia) di artikel 5 tentang Otoritas Alkitab mengajar, “We receive all these books and these only as holy and canonical, for the regulating, founding, and establishing of our faith. And we believe without a doubt all things contained in them—not so much because the church receives and approves them as such but above all because the Holy Spirit testifies in our hearts that they are from God, and also because they prove themselves to be from God. ...” (= Kami menerima semua buku dalam Alkitab ini sebagai satu-satunya yang kudus dan kanonis, untuk mengatur, membangun, dan menentukan/mendirikan iman kita. Dan kami percaya tanpa ragu bahwa segala sesuatu yang termasuk di dalamnya – bukan hanya karena gereja menerima dan menyetujuinya, tetapi Alkitab sendiri yang membuktikan dirinya sendiri dari Allah... .) (http://www.crcna.org/pages/belgic_articles1_8.cfm)

Mengapa otoritas Alkitab begitu penting (dan bukan otoritas tradisi/gereja)? Mari kita pelajari alasannya beserta implikasinya.

1. Otoritas Alkitab berkenaan dengan otoritas Allah
Di atas telah kita pelajari bahwa Allah menyatakan diri-Nya secara khusus dalam bentuk Kristus dan Alkitab. Dengan kata lain, Alkitab diwahyukan Allah. Karena Alkitab diwahyukan dari Allah yang tidak bisa bersalah dan setia adanya (baca: Ibr. 6:18; 2Tim 2:13), maka Alkitab tidak mungkin bersalah dalam naskah aslinya dan Alkitab menjadi otoritas satu-satunya bagi iman dan kehidupan Kristen (Yoh. 17:17; 2Tim. 3:16-17). Sungguh suatu absurditas jika mengajarkan bahwa Alkitab itu tidak bersalah dalam aspek-aspek iman, tetapi bersalah dan perlu “dikritisi” dalam aspek-aspek kehidupan, misalnya tentang gender, dll. Dengan mengajarkan hal ini (meskipun yang mengajarkan ini tidak pernah mau mengakuinya), si pengajar dengan tegas memisahkan wahyu Allah menurut logikanya (lebih tepat diterjemahkan, nafsunya) sendiri. Itulah sebenarnya presuposisi di balik penolakan terhadap otoritas Alkitab. Ajaran tidak bertanggung jawab ini harus ditolak karena tidak sesuai dengan pengajaran Alkitab. Bahkan Rev. W. Gary Crampton, Th.D., Ph.D. di dalam bukunya Verbum Dei (Alkitab: Firman Allah) mengatakan dengan tegas, “Menyangkali inerransi berarti menjuluki Allah pembohong, tetapi Allah tidak dapat berbohong (Titus 1:2)... Waktu seseorang menolak Firman Allah ia menolak Allah Firman tersebut!”
[2]

Lalu, mengapa otoritas tradisi tidak bisa “melengkapi” otoritas Alkitab? Karena tradisi berkaitan dengan suatu zaman yang bisa berubah. Kita bisa melihat perkembangan sejarah gereja. Pertama, di dalam Katolik sendiri, sudah ada dua Konsili Vatikan yang berbeda doktrin. Di Konsili Vatikan Pertama diajarkan bahwa di luar Gereja Katolik tidak ada keselamatan. Sedangkan di Konsili Vatikan Kedua diajarkan bahwa bahkan di luar Kristus masih ada keselamatan. Sekarang, dengan akal sehat, jika memang tradisi berotoritas, tradisi mana yang layak dijadikan otoritas? Bukankah tradisi sendiri berubah-ubah sesuai dengan konteks zaman? Kedua, tradisi rasuli. Beberapa orang Katolik yang saya ajak diskusi mengajar bahwa tradisi rasuli memiliki otoritas. Mari kita buktikan. Alkitab mengajarkan bahwa Paulus menyuruh jemaat di Roma untuk melakukan cium kudus sebagai tanda persekutuan saudara seiman (Rm. 16:16). Kalau mau konsisten, bukankah ini tradisi rasuli? Mengapa Gereja Katolik Roma dan Protestan tidak pernah melakukan hal ini sekarang?


2. Otoritas Alkitab berkaitan dengan pengenalan akan Allah yang benar
Seperti yang telah dikemukakan di atas, mengenal Allah yang sejati harus melalui wahyu khusus Allah di dalam Kristus dan Alkitab. Setelah menjelaskan tentang dosa yang merusak bibit agama (sense of divinity) yang ditanamkan oleh Allah di dalam manusia, maka Dr. John Calvin memaparkan bahwa untuk dapat mengenal Allah sebagai Pencipta, manusia harus kembali kepada Alkitab.
[3] Di sini, Calvin mengajar tentang pemulihan pengenalan akan Allah sejati melalui wahyu-Nya. Tanpa melalui Alkitab, kita tidak mungkin mendapatkan gambaran Allah yang sesungguhnya. Di dalam respon terhadap wahyu umum Allah, kita bisa memperoleh gambaran tentang Allah yang Mahakasih, Mahaadil, Mahakudus, dll, tetapi hanya di dalam wahyu khusus Allah, Allah berani menyatakan diri sebagai Kasih (bukan sekadar sifat, tetapi Pribadi Kasih itu sendiri) (baca: 1Yoh. 4:16). Kita juga mendapatkan pengajaran tentang Allah adalah Kudus (1Ptr. 1:16), bukan sekadar Mahakudus (sifat). Di dalam wahyu khusus Allah, kita juga mengenal Allah di dalam Tritunggal/Trinitas: 3 Pribadi Allah di dalam Satu Esensi yang setara namun bertingkat, berbeda (peran dan kehendak) tetapi satu (ingat: Allah selain Roh, Ia juga Pribadi).

Lalu, mengapa otoritas tradisi tidak bisa membuat kita mengenal Allah dengan benar? Karena tradisi hanya mengenal Allah secara parsial, bukan komprehensif, bahkan ada juga tradisi gereja yang bisa menyesatkan kita jika kita tidak berhati-hati. Augustinus mengajarkan konsep Allah yang benar (mengikuti pandangan Anselmus yang mengajarkan bahwa mengenal Allah melalui iman baru mengerti), sedangkan Thomas Aquinas mengajarkan konsep pengenalan akan Allah melalui rasio dahulu, baru iman (mengerti dahulu baru beriman), karena ia percaya bahwa dosa manusia tidak termasuk dosa pikiran, sehingga pikiran masih “murni” dan bisa memikirkan Allah. Sekarang, kalau ada dua tradisi gereja seperti ini, tradisi yang mana yang layak dijadikan otoritas? Augustinus atau Aquinas? Silahkan renungkan sendiri jawabannya jika Anda berpegang pada otoritas tradisi.


3. Otoritas Alkitab berkaitan dengan kehidupan Kristen
Di dalam Injil dan Perjanjian Baru, Allah Trinitas menandaskan otoritas Alkitab sebagai wahyu-Nya yang berotoritas mutlak di dalam kehidupan Kristen. Perhatikan. Di dalam Yohanes 8:51, Tuhan Yesus berfirman, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya."” Hal serupa dikatakan Tuhan Yesus, “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.” (Yoh. 14:23) Rasul Paulus oleh ilham Roh menulis, “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” (2Tim. 3:16) Rasul Petrus oleh ilham Roh menyatakan, “Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.” (2Ptr. 1:20-21) Kata “Kitab Suci” dalam bahasa Yunani di ayat 20 ini sama dengan kata Yunani di 2Tim. 3:16. Ini membuktikan tulisan Kitab Suci diilhamkan/diwahyukan Allah dan menjadi standar iman dan kehidupan umat-Nya, serta tidak boleh ditafsirkan seenaknya sendiri.

Bagaimana dengan kita? Sampai di manakah Alkitab menjadi otoritas bagi iman dan kehidupan Kristen? Tidak diperlukan IQ besar atau gelar doktor sebanyak mungkin untuk menjadikan Alkitab sebagai otoritas, tetapi diperlukan sikap kerendahan hati dan keterbukaan mau dikoreksi oleh Firman Tuhan. Banyak doktor theologi sekali pun tidak mau rendah hati dikoreksi oleh Firman, bahkan dengan arogannya mengoreksi Firman mana yang sesuai konteks zaman postmodern dan mana yang tidak sesuai untuk dianaktirikan. Mari kita belajar dari para ahli Taurat. Mereka adalah seorang yang belajar Taurat dari kecil, menghafal Taurat, dll, tetapi herannya ketika Kristus datang ke hadapan mereka, mereka bukan malahan bersyukur, melainkan menyalibkan-Nya. “Hebat”, bukan? Tuhan Yesus disalib bukan oleh orang atheis, tetapi para pemimpin agama (mengutip pernyataan Pdt. Dr. Stephen Tong). Begitu juga di zaman postmodern ini, Tuhan Yesus “disalib” lagi bukan oleh orang atheis atau non-Kristen, tetapi justru oleh banyak orang “Kristen” bahkan banyak pemimpin gereja dengan segudang gelar doktor tetapi menghina salib dan kuasa Kristus, bahkan berani menulis artikel di surat kabar yang menyangkal kebangkitan Kristus dengan argumentasi ‘akademis’nya.

Bagaimanakah Alkitab menjadi otoritas bagi kehidupan (dan spiritualitas) Kristen?
Pertama, Alkitab menjadi sumber spiritualitas (atau kehidupan) Kristen. Sumber berarti pusat dan penentu. Ketika Alkitab mengajar kita untuk hidup kudus, maka sebagai orang Kristen, kita harus menjalankannya meskipun penuh dengan pergumulan. Spiritualitas tanpa pergumulan iman perlu diragukan. Mengapa? Karena kita hidup di dalam proses pengudusan, proses berarti ada kesinambungan, bukan suatu kemulusan. Pergumulan iman itu sah-sah saja, dan perlu diluruskan, pergumulan iman itu tidak berhenti menjadi pergumulan, tetapi menjadi kemenangan iman. Mungkin secara kedagingan, kita sulit hidup kudus, tetapi di dalam pergumulan, kita dimampukan Roh Kudus melalui Alkitab untuk hidup kudus dan suatu saat kita pasti menang karena anugerah-Nya.

Kedua, Alkitab menjadi bahan yang mengobarkan spiritualitas Kristen. Kehidupan rohani kita mungkin suatu saat mandeg/berhenti bahkan menurun/tersesat. Di sini, Roh Kudus memakai Alkitab untuk mengobarkan api semangat spiritualitas kita dalam mengenal dan melayani-Nya. Ketika Augustinus melarikan diri dari Allah dan menganut Manichaeisme, Roh Kudus membuat dia bertobat dan berbalik kepada jalan yang benar melalui Alkitab. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita rela taat ditegur oleh Roh Kudus melalui Firman-Nya?
[1] John Calvin, Mutiara Kehidupan Kristen, terj. Grace Purnamasari (Surabaya: Momentum, 2007), hlm. 7-8.
[2] W. Gary Crampton, Verbum Dei (Alkitab: Firman Allah), terj. R. B. G. Steve Hendra (Surabaya: Momentum, 2000), hlm. 67.
[3] Dr. John Calvin di dalam bukunya Institutes of the Christian Religion di dalam judul Bab VI memaparkan, “Scripture Is Needed as Guide and Teacher for Anyone Who Would Come to God the Creator” (= Alkitab Diperlukan Sebagai Penuntun dan Guru bagi Mereka yang Akan Kembali kepada Allah Sang Pencipta) (I.vi.1)

BAGIAN II. Bab 3: Kedaulatan Allah

BAGIAN II:
REFORMED INJILI: INTEGRASI THEOLOGI, SPIRITUALITAS, DAN PRAKTIKA REFORMED
Bab 3
Kedaulatan Allah



Di tengah arus Kekristenan yang tidak seimbang di atas, maka Tuhan mengajar kita melalui pelajaran sejarah dari theologi Kristen yang sehat dan seimbang. Khususnya, kita saat ini membahas dan mempelajari keunikan theologi Reformed (dari Dr. John Calvin, dkk) dan signifikansinya di dalam spiritualitas dan praktika Kristen sejati.

Theologi Reformed memiliki prinsip dasar yaitu kedaulatan Allah.
[1] Apa arti kedaulatan Allah? Saya membagi 7 prinsip kedaulatan Allah secara ringkas beserta aplikasinya:
1. Allah yang berdaulat adalah Allah Pencipta dan Pemelihara alam semesta
Allah orang Kristen sejati adalah Allah yang menciptakan alam semesta sekaligus memeliharanya. Allah yang menciptakan segala sesuatu (Kej. 1) berarti Dia adalah sumber segala sesuatu. Ia yang menciptakan manusia, berarti Ia jugalah sumber kita mengerti manusia. Alangkah tidak masuk akalnya jika seorang manusia mau mengerti manusia bukan dari Allah, tetapi dari ilmu-ilmu dunia bahkan dari interpretasi sendiri. Itulah kegagalan manusia berdosa. Dr. John Calvin di dalam bukunya Institutes of the Christian Religion mengajarkan, “Without knowledge of self there is no knowledge of God” (= Tanpa pengenalan akan diri tidak ada pengenalan akan Allah).
[2] Hal serupa ditekankan sebaliknya oleh Calvin sebagai satu konsep integratif, “Without knowledge of God there is no knowledge of self” (=Tanpa pengenalan akan Allah tidak ada pengenalan akan diri).[3] Artinya pengenalan akan Allah dan pengenalan akan manusia adalah dua hal yang bisa dibedakan, tetapi tidak bisa dipisahkan. Dari dua pernyataan ini, Calvin menyatakan bahwa pengenalan akan diri dimulai dari pengenalan akan Allah, begitu juga sebaliknya. Dengan demikian, Allah adalah sumber kita mengenal diri sendiri. Hal ini akan dibahas pada doktrin manusia dan dosa.

Selain sebagai Pencipta, Allah juga adalah Pemelihara ciptaan-Nya. Bukan seperti Deisme yang mengajarkan bahwa setelah menciptakan alam semesta, Allah meninggalkan ciptaannya untuk diatur oleh hukum alam, Kekristenan sejati mengajarkan bahwa Allah yang mencipta juga adalah Allah yang memelihara ciptaan-Nya. Ini membuktikan adanya providensia Allah. Pemeliharaan Allah atas alam juga mencakup adanya anugerah umum Allah untuk mencegah (bukan menghilangkan) kerusakan alam ini. Hal ini memberi kekuatan bagi iman kita di kala kita putus asa. Banyak orang Kristen masih khawatir akan hidupnya, biarlah Allah sebagai Pemelihara ini menjadi kekuatan bahwa Ia yang menciptakan kita, tidak akan meninggalkan kita dan alam ini begitu saja, sebagaimana dikatakan oleh Tuhan Yesus, “Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?... Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” (Mat. 6:25, 31-34) Allah yang memelihara adalah Allah yang mencukupi kebutuhan anak-anak-Nya asalkan kita terus mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya.





2. Allah yang berdaulat adalah Allah yang Kekal dan tidak bergantung pada siapa/apa pun
Allah adalah Tuhan dan Pencipta segala sesuatu, oleh sebab itu Ia pasti tidak sama dengan ciptaan. Perbedaan antara Pencipta dan ciptaan di bagian ini adalah Allah itu Kekal, sedangkan manusia itu relatif/sementara. Allah yang Kekal berarti Allah yang melampaui ruang dan waktu, Ia bekerja dan menetapkan sebelum dunia dijadikan. Dalam hal keselamatan pun, Allah telah menetapkan beberapa orang untuk menjadi umat-Nya. Ini semua adalah hak dan kedaulatan Allah yang tidak bisa diganggu gugat. Dalam bagian ini, kita juga mengerti Allah yang Kekal juga Allah yang tidak bergantung pada siapa/apa pun (atau lebih tepatnya, Allah tidak membutuhkan siapa pun untuk menasehati-Nya). Mengenai predestinasi dan keselamatan yang berkaitan dengan kedaulatan Allah (Roma 9-11), Rasul Paulus di dalam Roma 11:34 mengatakan, “Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya?” Apa signifikansi konsep ini? Allah yang Kekal dan tidak bergantung pada siapa/apa pun mengajarkan kepada kita tentang Allah yang harus menjadi Sumber Pengharapan dan tempat di mana kita dapat beriman mutlak. Di saat menghadapi penganiayaan, dll, kita bisa terus berharap hanya pada Allah, karena kita percaya hanya pada Dia sajalah kita menemukan Pengharapan sejati. “Allah” yang tidak kekal dan plin-plan, seperti yang diajarkan oleh Arminianisme dan Open-Theism, bukanlah Allah Kristen sejati, dan akibatnya, “Allah” seperti ini tidak layak menjadi Sumber Pengharapan, mengapa? Karena “Allah” seperti ini tidak ada bedanya dengan manusia yang serba plin-plan, lalu ketika kita mengalami penderitaan, kepada siapa kita harus berharap, jika “Allah” yang disandari adalah “Allah” yang plin-plan.


3. Allah yang berdaulat adalah Allah yang Berkuasa mutlak
Pdt. Dr. Stephen Tong di dalam khotbahnya di National Reformed Evangelical Convention (NREC) 2006 mengaitkan kedua konsep ini bahwa beriman di dalam Allah yang Mahakuasa seharusnya juga berkait dengan beriman di dalam Allah yang Berdaulat mutlak. Di dalam Alkitab, Pdt. Dr. Stephen Tong memberikan contoh kasus Hananya (Sadrakh), Misael (Mesakh) dan Azarya (Abednego) yang menolak menyembah ilah asing dalam bentuk patung emas. Mereka berani mengatakan kepada raja Babel, Nebukadnezar (yang sedang menjajah Israel) bahwa mereka tak mau menyembah ilah asing, karena mereka percaya di dalam Allah yang sanggup melepaskan mereka dari hukuman bagi mereka, yaitu dapur perapian. Tetapi seandainya, Allah tidak melepaskan, mereka pun berani mengatakan bahwa mereka tak akan mengkhianati Allah dengan menyembah ilah asing (perhatikan ucapan mereka di dalam Daniel 3:16-18, “Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”) Inilah iman Kristen yang benar, yaitu memercayai Allah yang sanggup melepaskan umat-Nya dari penderitaan sekaligus Allah yang Berdaulat yang bisa juga tidak melepaskan umat-Nya tersebut. Saya menyebutnya sebagai terobosan iman. Iman Kristen bukan iman yang “memercayai” “Allah” yang menurut pada kemauan kita untuk diklaim janji-janji-“Nya”, tetapi iman Kristen adalah iman yang berani menerobos segala kesulitan dengan berharap dan beriman mutlak di dalam Allah yang berdaulat yang bisa melepaskan kita dari kesulitan, dan bisa juga tidak melepaskan kita dari kesulitan, tetapi memberikan kekuatan kepada kita untuk menghadapinya. Mengapa kita dapat beriman sedemikian? Karena kita percaya satu hal bahwa rancangan dan jalan Tuhan bukanlah rancangan dan jalan kita (Yesaya 55:8).


4. Allah yang berdaulat adalah Allah yang menyatakan diri-Nya di dalam Tiga Pribadi, yaitu Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus
Mengapa saya membedakan masing-masing Tiga Pribadi Allah ini dengan menambahkan kata Allah di depannya? Karena Allah Tritunggal bukanlah satu pribadi, tetapi Tiga Pribadi Allah yang berbeda (bdk. Mat. 28:19 terjemahan bahasa Inggris dan teks asli Yunaninya). Keberbedaan masing-masing Pribadi Allah ini TIDAK berarti kita memercayai tiga Allah, tetapi justru kita memercayai 1 Allah yang Esa yang berpribadi tiga. Inilah paradoksikal iman Kristen yang tidak mungkin ditembus dan dimengerti oleh logika orang-orang yang bukan umat pilihan Allah. Lalu, mengapa Allah harus menyatakan diri-Nya di dalam tiga pribadi, bukan satu pribadi saja atau bahkan banyak pribadi? Perhatikan. Jika Allah menyatakan diri-Nya hanya di dalam satu pribadi, lalu Ia berfirman bahwa Ia adalah Kasih, bagaimana umat-Nya bisa memahami kasih Allah jika tidak ada objek kasih? Ingatlah, Allah itu selain Roh, juga adalah Pribadi, berarti tetap harus ada Subjek dan objek kasih. Adalah suatu absurditas (ketidakmasukakalan) suatu agama yang memercayai “Allah” yang hanya satu pribadi, lalu berkoar-koar bahwa agamanya penuh “cinta kasih”. Sebaliknya, jika ada agama yang memercayai banyak “allah”, itu juga merupakan suatu absurditas. Mengapa? Karena jika “allah” itu banyak, maka masing-masing pribadi bisa saling bertengkar, dan itu berakibat fatal bagi konsep ketuhanan agama tersebut (konsep “allah” yang kacau memengaruhi cara pikir manusia yang menyembah “allah” seperti itu). Tidak ada jalan lain, Allah sejati bukan satu pribadi, dan juga bukan banyak pribadi, tetapi hanya tiga pribadi.

Lalu, kita akan berlanjut pada pengertian Tritunggal sendiri. Di dalam Allah Tritunggal, masing-masing Pribadi Allah memiliki perbedaan kehendak, tetapi menuju kepada satu tujuan yang sama, yaitu tujuan Allah Bapa. Beberapa orang mengatakan hal ini sebagai bidat, benarkah? Tidak. “Berbeda” di sini tidak berarti terpisah, berbeda di sini berbeda namun memiliki satu tujuan yang sama. Satu tujuan yang sama di sini berarti unity (kesatuan), bukan oneness (ketunggalan/keseragaman). Di dalam doa-Nya di Taman Getsemani, Tuhan Yesus pernah menyatakan, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” (Mat. 26:39) Pdt. Sutjipto Subeno pernah memberikan tafsiran ayat ini bahwa di sini ada dua kehendak yaitu kehendak Allah Bapa dan kehendak Tuhan Yesus, tetapi Kristus rela membatas diri demi mengerjakan apa yang Bapa-Nya kehendaki. Inilah bukti bahwa masing-masing Pribadi Allah memiliki perbedaan kehendak, tetapi bersatu di dalam tujuan Ilahi. Signifikansinya bagi kita adalah pentingnya unity (kesatuan) di dalam truth (kebenaran). Tidak ada salahnya dengan perbedaan, karena kita hidup di zaman yang penuh dengan perbedaan. Tetapi pertanyaan yang lebih tajam, apakah perbedaan itu mengancam iman dan kebenaran Kristen? Lebih tajam lagi, apakah kita yang mengklaim sebagai “pengikut Kristus” rela mengkompromikan Kebenaran Kristus yang paling agung dan berharga itu demi supaya disesuaikan dengan orang lain? Di dalam beberapa aliran Kristen kontemporer mengajarkan konsep bahwa semua gereja itu sama, yang penting Kristusnya. Sepintas benar, tetapi jika diteliti lebih dalam, benarkah semua gereja itu sama? Tidak. Gereja berbeda, tetapi gereja yang berbeda sungguh menarik dan unik jika masing-masing memberitakan Injil Kristus dan berfokus hanya kepada Kristus yang sama. Gereja Injili, Reformed, Pentakosta, dll adalah gereja yang berbeda secara denominasi, tetapi sejauh mereka memberitakan Kristus dan Injil yang murni (tanpa embel-embel yang tidak perlu), maka mereka layak disebut Gereja. Itulah makna sejati dari unity in diversity in truth (kesatuan di dalam keberbedaan di dalam Kebenaran).

Selain, ada keberbedaan (bukan keterpisahan) di dalam masing-masing Pribadi Allah Tritunggal, kita juga belajar adanya tingkatan sekaligus kesetaraan di dalam masing-masing Pribadi Allah Tritunggal. Biasanya kita sering mendengar adanya kesetaraan saja di dalam masing-masing Pribadi Allah Tritunggal, tetapi saat ini kita akan belajar sisi tingkatan di dalam Pribadi Allah Tritunggal. Prof. Dr. Louis Berkhof di dalam bukunya Teologi Sistematika memaparkan, “Subsistensi dan tindakan dari ketiga pribadi ditandai oleh satu tingkatan yang jelas dan tertentu.” Beliau memaparkan bahwa tingkatan ini bukan tingkatan secara prioritas waktu atau kemuliaan esensial, tetapi hanya pada tingkatan logis derivasi (turunan). Allah Bapa adalah sumber segala sesuatu, Allah Anak secara kekal diperanakkan oleh Allah Bapa, dan Allah Roh Kudus keluar dari Bapa dan Anak dari kekal sampai kekal. Kata “diperanakkan”, “keluar”, dll berada di dalam Keberadaan Ilahi yang kekal. Sekali lagi, tingkatan-tingkatan ini tidak berarti adanya subordinasi di dalam esensi Allah. Artinya, tingkatan-tingkatan ini tidak boleh ditafsirkan bahwa Allah Bapa lebih berkuasa dari Allah Anak dan Roh Kudus. Bagi Berkhof, Tritunggal secara ontologis ini dan kesetaraannya adalah dasar metafisik dari Tritunggal ekonomis yang nantinya tercermin dalam opera ad extra yang lebih tertuju pada masing-masing Pribadi Tritunggal.
[4] Dengan kata lain, kita belajar bahwa Allah Tritunggal adalah Allah yang memiliki ordo (tingkatan) sekaligus kesetaraan di antara masing-masing Pribadinya. Apa signifikansinya? Paradoksikal ini berpengaruh pada kehidupan Kristen kita. Konsep ini mengajarkan bahwa kita harus memandang semua manusia itu sama di hadapan Allah, sekaligus berbeda. Misalnya, antara bos dan karyawan, dua-duanya sama-sama manusia, tetapi meskipun sama, dua jabatan ini jelas berbeda. Bos tetap adalah bos, sedangkan karyawan tetap adalah karyawan, sehingga tidaklah mungkin karyawan bisa memerintah bos, yang terjadi justru sebaliknya, bos yang memerintah karyawan. Begitu juga dengan konsep pria dan wanita di mata Allah. Pria dan wanita diciptakan sama di hadapan Allah, tetapi juga diciptakan bertingkat, artinya, wanita/istri diperintahkan Allah untuk taat kepada pria/suami seperti jemaat tunduk kepada Kristus (Ef. 5:22-30). Melawan konsep ini bukan hanya melawan konsep Paulus, tetapi melawan konsep Alkitab secara integral, karena bukan hanya Paulus yang mengajar hal ini, Petrus juga mengajar hal ini (1Ptr. 3:1) dan bahkan Perjanjian Lama dengan tegas mengajar hal serupa.


5. Allah yang berdaulat adalah Allah yang transenden (nun jauh di sana) sekaligus imanen (yang dekat dengan kita)
Kita melihat ketidakseimbangan konsep ini ditekankan oleh agama-agama non-Kristen. Ada agama yang mengajarkan bahwa Tuhan itu nun jauh di sana, tidak terjangkau, sehingga kalau melakukan ibadah harus menggunakan pengeras suara. Sebaliknya, ada agama lain yang menekankan imanensi Tuhan sehingga semua manusia jika mengamalkan cara tertentu bisa menjadi “allah”. Kekristenan sendiri tidak seimbang dalam mengajar hal ini. Ada golongan Kristen kontemporer yang terlalu subjektif, Allah dipandang hanya sebagai teman/sahabat terbaiknya, dan bukan lagi sebagai Tuhan dan Allah, sehingga mereka tidak menghormati Allah di dalam kebaktian. Sebaliknya, gereja-gereja Protestan arus utama terlalu kaku, menekankan transendensi Allah (dan imanensi Allah yang kacau). Bagaimana Kekristenan sejati bisa berdiri tegak? Alkitab mengajarkan bahwa Allah yang berdaulat adalah Allah yang transenden (nun jauh di sana), sekaligus Allah yang dekat dengan umat-Nya (imanen). Di dalam Perjanjian Lama, konsep ini dijelaskan. Allah menunjukkan kekudusan-Nya kepada umat Israel di Gunung Sinai, sehingga selain Musa, tidak ada yang boleh naik ke Gunung Sinai (baca: Kel. 19). Di sisi lain, Allah menunjukkan imanensi-Nya dengan menyebut umat Israel sebagai anak-Nya (baca: Kel. 4:22, 23; Hos. 11:1). Di Perjanjian Baru, kita juga mendapati hal serupa. Penulis Ibrani mengingatkan bahwa kita jangan sekali-kali menolak Kristus atau pun Allah, “Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan.” (Ibr. 12:29) Di sisi lain, Allah juga digambarkan sangat mengasihi umat pilihan-Nya, sehingga mereka disebut anak-anak-Nya, “Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!" Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.” (Rm. 8:14-16)

Apa signifikansi konsep ini? Konsep ini berimplikasi di dalam dua hal, yaitu: spiritualitas dan konsep pelayanan. Spiritualitas sejati adalah spiritualitas yang didasarkan pada transendensi dan imanensi Allah. Artinya, hidup kerohanian kita tetap berfokus kepada Allah yang adalah Tuhan sekaligus Sahabat terbaik kita. Sehingga di dalam hidup, kita tidak boleh melecehkan Allah hanya sebagai “pembantu” kita, dan di sisi lain, kita tidak perlu takut hanya karena Allah seperti “hantu” yang menyeramkan. Begitu juga di dalam ibadah. Sangat disayangkan banyak orang yang mengaku diri “Kristen” ketika beribadah ke gereja sama sekali tidak menghormati Allah. Mereka dengan rasa tak bersalah mengobrol, mondar-mandir, mengetik SMS, bahkan menerima telepon ketika khotbah disampaikan. Mereka berpikir bahwa Allah itu sahabat baik bagi mereka, sehingga kalau disebut sahabat, berbuat apa pun tidak menjadi masalah. Sebaliknya, beberapa gereja arus utama terlalu menekankan transendensi Allah, sehingga ibadah bagi mereka sangat kaku, ada tata caranya, harus dihafalkan, dll. Theologi Reformed Injili tidak mau terjebak di dalam dua ekstrim ini. Theologi Reformed Injili mau seimbang. Mengapa? Karena Alkitab mengajar hal itu bahkan di dalam bagaimana beribadah dengan bertanggung jawab. Perhatikan apa kata pemazmur. Mazmur 2:11-12 mengajar, “Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut dan ciumlah kaki-Nya dengan gemetar, supaya Ia jangan murka dan kamu binasa di jalan, sebab mudah sekali murka-Nya menyala. Berbahagialah semua orang yang berlindung pada-Nya!” Di saat yang sama, kita diajar juga, “Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai! Ketahuilah, bahwa Tuhanlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya. Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya! Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.” (Mzm. 100:2-5) Di satu sisi, kita tetap beribadah dengan penuh kegentaran karena kita menghadap Raja di atas segala raja. Di sisi lain tanpa berkontradiksi, kita tetap bisa beribadah dengan bersukacita, karena kita tahu bahwa Allah itu yang menjadikan kita dan kita ini adalah umat tebusan-Nya (baca: Mzm. 100:3-5). Hal yang serupa juga terjadi di dalam konsep pelayanan kita. Pelayanan sejati adalah pelayanan yang serius karena kita sedang melayani Raja di atas segala raja. Di saat yang sama juga, kita tetap bersukacita di dalam melayani Tuhan, karena pelayanan kita bukan untuk menambah jasa baik, tetapi sebagai respon ucapan syukur kita karena telah diselamatkan. Orang yang sudah diselamatkan seharusnya melayani Tuhan dengan gentar dan sekaligus berkobar-kobar.


6. Allah yang berdaulat adalah Allah yang menyatakan diri-Nya
Di poin kelima, kita sudah belajar tentang Allah yang transenden sekaligus imanen. Di poin ini, kita akan mengkhususkan tentang imanensi Allah, yaitu Allah yang menyatakan diri-Nya. Allah yang berdaulat adalah Allah yang berdaulat mutlak dan rela membatasi diri-Nya untuk dikenal oleh ciptaan-Nya (Rm. 1:19). Penyataan diri Allah ini berkaitan dengan atribut-atribut Allah yang dikomunikasikan. Berkenaan dengan atribut-atribut Allah, theologi Reformed membagi dua macam atribut Allah, yaitu yang dikomunikasikan (communicable attributes of God) dan atribut yang tidak dikomunikasikan (incommunicable attributes of God). Atribut yang dikomunikasikan adalah atribut-atribut Allah yang dimiliki oleh manusia, misalnya adil, benar, jujur, bermoral, dll. Sedangkan atribut Allah yang tidak dikomunikasikan seperti Kekal, Mahatahu, dll tidak diberikan kepada manusia. Bagi atribut-atribut Allah yang dikomunikasikan inilah, kita dapat mengenal penyataan diri Allah. Berkenaan dengan penyataan diri Allah, theologi Reformed dengan tajam membagi dua, yaitu wahyu umum dan wahyu khusus. Wahyu umum adalah penyataan diri Allah kepada semua manusia melalui hati nurani (internal) dan alam semesta (eksternal) (mengutip pernyataan Pdt. Dr. Stephen Tong). Mengutip Pdt. Dr. Stephen Tong, respon terhadap wahyu umum bisa meliputi agama (respon terhadap hati nurani) dan kebudayaan (respon terhadap alam). Tetapi apakah cukup melalui wahyu umum Allah, manusia mengenal Allah? Tidak. Dr. John Calvin mengajar bahwa meskipun manusia ditanamkan sense of divinity (bibit agama), manusia sudah berdosa dan merusak apa yang sudah ditanamkan Allah di dalam manusia itu, sehingga respon terhadap wahyu umum Allah tidak mungkin dijadikan standar mutlak mengenal Allah sejati. Sehingga, Allah menyatakan diri-Nya secara khusus (wahyu khusus) hanya kepada beberapa orang yang telah dipilih-Nya sebelum dunia dijadikan, yaitu melalui Kristus (Penyataan diri Allah yang nyata dan final) dan Alkitab (Penyataan diri Allah yang tertulis). Dengan standar ini, kita dengan tajam memilah mana yang benar dan mana yang tidak benar berdasarkan wahyu khusus Allah.

Lalu, apa signifikansinya? Wahyu umum dan wahyu khusus mengajar kita bagaimana harus bersikap terhadap orang non-Kristen. Di satu sisi, kita sebagai orang Kristen tetap harus menghargai mereka yang bukan Kristen di dalam beberapa prinsip yang tidak esensial, misalnya menyangkut politik, etika, teknologi, dll. Sebagai respon terhadap wahyu umum Allah, mereka memiliki kebajikan-kebajikan tersendiri (yang tidak melawan Alkitab) yang bisa kita pelajari. Tetapi ingat, karena agama-agama non-Kristen hanya merupakan respon manusia berdosa terhadap wahyu umum Allah, kita tidak boleh mengadopsi mereka semua untuk melengkapi apa yang sudah kita dapatkan di dalam wahyu khusus Allah. Justru sebaliknya, kita yang sudah mendapatkan wahyu khusus Allah menerangi mereka yang hanya meresponi wahyu umum Allah, sehingga nama Tuhan dipermuliakan. Prinsip-prinsip yang tidak melawan Alkitab dan Kristus boleh kita terima, tetapi prinsip-prinsip yang jelas-jelas melawan Alkitab dan Kristus harus kita buang, meskipun prinsip itu laris di pasaran dunia. Selain itu, kita juga dituntut untuk mempertumbuhkan spiritualitas kita untuk hidup kudus, jujur, adil, dll, sebagaimana yang dituntut oleh Allah di dalam firman-Nya.





7. Allah yang berdaulat adalah Allah yang Mahakasih sekaligus Mahaadil (dan Mahakudus)
Allah yang berdaulat adalah Allah yang Mahakasih sekaligus Mahaadil. Kedua atribut Allah ini tidak bisa dipisahkan. Memisahkan kedua atribut Allah ini mengakibatkan munculnya bidat. Bidat di Amerika Serikat, Children of God terlalu mementingkan atribut Allah yang Mahakasih bahkan sampai melegalkan hubungan “kasih” di luar nikah. Baru-baru ini, di surat kabar, kita mendapatkan berita serupa tentang free-sex yang dilakukan oleh bidat Mormonisme (Gereja Orang-orang Suci Zaman Akhir—OSZA). Bukan hanya bidat, Kekristenan sendiri pun ada yang terlalu menekankan Allah yang Mahakasih, sehingga berbuat dosa apa pun tidak menjadi masalah, mengapa? Karena yang membuat manusia berdosa adalah iblis, maka yang perlu ditengking adalah iblisnya. Memang lucu, karena Alkitab mengajarkan, “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” (1Yoh. 1:9) Di sini tidak dikatakan, jika kita mengaku iblis yang mencobai kita, tetapi dikatakan, jika kita mengaku dosa kita. Artinya, kalau kita yang berdosa, itu berarti bukan iblis yang disalahkan, tetapi kita yang disalahkan, karena kita mau ditipu oleh iblis. Di sisi lain, ada golongan Kristen yang terlalu mementingkan aspek keadilan Allah. Kita melihat hal ini di dalam Reformasi Luther. Ketika hidup di biara, Dr. Martin Luther tersiksa, karena setiap hari ia diindoktrinasi bahwa Allah menuntut perbuatan baik dari umat-Nya, jika tidak berbuat baik, maka umat-Nya akan dimurkai Allah. Konsep ini tidak salah, tetapi jika konsep ini terus ditekankan, bisa berbahaya. Puji Tuhan, Dr. Martin Luther tidak frustasi lalu bunuh diri, tetapi atas anugerah Allah, Luther mendobrak ajaran yang berat sebelah ini dan mengajarkan pembenaran hanya melalui iman, karena perbuatan baik tidak cukup syarat menjadi pembenaran umat pilihan-Nya. Mari kita tinggalkan dua ekstrim ini dan kembali kepada Alkitab. Alkitab mengajarkan bahwa Allah itu Mahakasih sekaligus Mahaadil. Di dalam kasih-Nya, Ia tetap menghukum umat-Nya yang bersalah (baca: Why. 3:19, “Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!”)

Apa signifikansi konsep ini? Konsep ini mengajarkan reaksi kita sebagai umat-Nya terhadap Allah. Kita sering kali sudah belajar doktrin ini, tetapi hidup kita masih sembrono. Kita masih menganggap bahwa Allah itu Mahakasih, Maha Pemurah, dll, sehingga kita terus berbuat dosa tanpa mau bertobat. Mari kita hari ini bertobat dari konsep kita yang salah ini, karena selain Mahakasih, Ia juga Mahaadil dan Mahakudus yang menuntut umat-Nya untuk hidup kudus (1Ptr. 1:16). Bagaimana kita bisa bertobat dari dosa ketidakkudusan? Caranya adalah terus memandang kekudusan Allah yang agung. Ketika kita memandang kekudusan Allah, kita baru tahu bobroknya kita dan di saat itu, kita perlu bertobat. Saya tersentuh sekali ketika membaca ucapan dari Dr. John Calvin di dalam bukunya Institutes of the Christian Religion, “… man is never sufficiently touched and affected by the awareness of his lowly state until he has compared himself with God’s majesty.” (= ... manusia tidak pernah cukup disentuh dan dipengaruhi oleh kesadaran akan statusnya yang rendah sampai ia membandingkan dirinya dengan keagungan Allah.)
[5] Biarlah ucapan ini menjadi perenungan bagi kita seberapa dalam kita merenungkan keagungan dan kekudusan Allah.


[1] Loraine Boettner, Iman Reformed, terj. Hendry Ongkowidjojo (Surabaya: Momentum, 2000), hlm. 11.
[2] John Calvin, Institutes of the Christian Religion, ed. John T. McNeill (USA: Westminster John Knox Press, 2006), Buku I, Bab I, Bagian 1, hlm. 35.
[3] Ibid., Buku I, Bab I, Bagian 2, hlm. 37.
[4] Louis Berkhof, Teologi Sistematika: Doktrin Allah, terj. Yudha Thianto (Jakarta: Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1993), hlm. 154-155.
[5] John Calvin, Institutes of the Christian Religion, Buku I, Bab I, Bagian 3, hlm. 39.

Bab 2: Realita Kekristenan dan Kelemahannya

Bab 2
Realita Kekristenan dan Kelemahannya




Seperti dunia, Kekristenan di dalam abad postmodern ini juga mengalami degradasi di dalam dua hal yang tidak seimbang ditekankan, yaitu:

1. Terlalu menekankan rasio
Kekristenan model ini adalah Kekristenan yang terlalu mementingkan rasio, menguasai theologi, filsafat, dll, pandai berdebat dan berargumen theologi dengan siapa pun. Kekristenan model ini diwakili oleh banyak gereja Protestan arus utama. Banyak pemimpin gereja mereka sekolah theologi bahkan di Amerika Serikat dan di Eropa dengan menyandang gelar doktor baik itu dalam theologi, filsafat, dll. Mereka menguasai segala bidang, tetapi pengetahuan mereka hanya berhenti di tataran rasio saja, sehingga hati dan spiritualitas mereka kosong dan kering. Mungkin sekali orang yang hanya pintar di tataran logika suatu saat bisa berpindah agama bahkan sangat mungkin sekali menjadi atheis. Tidak heran, jika seorang “pendeta/theolog” yang sudah sekolah theologi akhirnya berani menulis di Harian Kompas kira-kira tahun lalu (2007) bahwa Tuhan Yesus tidak bangkit, karena ditemukannya makam “Yesus” di Talpiot. Lalu, sang “pendeta” ini akhirnya meminta maaf (secara akademis) bahwa ia telah “salah” menulis artikel di koran tersebut. Perlu diketahui, surat permintaan maaf ini dibuat setelah dirinya ditegur oleh sinode gereja di mana ia “melayani”. Model Kekristenan seperti ini merupakan pengulangan di zaman dahulu: zaman Tuhan Yesus dan zaman modernisme, dan uniknya hal ini sudah dikritik. Di zaman Tuhan Yesus, ketika Ia bertanya tentang siapa diri-Nya menurut kata orang, para murid Tuhan Yesus (selain Petrus) mengajukan pendapat-pendapat orang lain tentang-Nya, tetapi Ia tidak puas dan menyuruh mereka sendiri menjawab secara pribadi siapakah Kristus. Baru pada saat itu, Petrus berani menjawab bahwa Ia adalah Mesias, Anak Allah yang Hidup (Mat. 16:13-16). Di sini, Tuhan Yesus mau mengajarkan bahwa mengenal Allah tidak cukup hanya dari kata orang lain, tetapi lebih kepada pengakuan pribadi. Tuhan tidak menuntut kita mempelajari banyak doktrin untuk mengenal Allah (tanpa aplikasi pribadi), tetapi Ia menuntut hati kita yang taat. Percuma saja, kita bertheologi dengan mengutip perkataan Karl Barth, Rudolf Bultmann, Emil Brunner, dll, tetapi apa yang kita kutip tidak disesuaikan dengan Alkitab dan berimplikasi di dalam kehidupan kerohanian kita. Di zaman modern, ketika manusia mengagungkan rasio, Tuhan menghukum manusia dalam dua hal: pertama, munculnya Perang Dunia (lihat di atas), dan kedua, kekosongan hati manusia. Manusia di zaman modern menjadi kosong dan kering hatinya, karena mereka terlalu mementingkan rasio. Itulah kegagalan fatal rasionalisme, tetapi sering tidak disadari atau sebenarnya memang sengaja tidak mau disadarkan.


2. Terlalu menekankan perasaan/hal-hal fenomenal
Model Kekristenan ini diwakili pertama kali oleh gerakan Pietisme yang dimulai di Jerman pada abad 17-18 setelah gerakan Reformasi dari Luther dan Calvin mengalami kekeringan dan kesuaman. Pietisme berkembang dengan memusatkan perhatian pada hal-hal spiritual, misalnya pertobatan pribadi, pemahaman Alkitab, kehidupan kudus, penginjilan, misi, dll.
[1] Gerakan ini akhirnya memengaruhi Metodisme di abad ke-18. Metodisme didirikan oleh John Wesley (1703-1791), bersama dua orang lainnya: adiknya, Charles Wesley dan rekannya, George Whitefield (bertheologi Reformed). Metodisme mengajarkan bahwa aspek yang sangat penting adalah bukti bagi keselamatan pribadi. Bahkan menurut Wesley, sumber kuasa yang sebenarnya bagi kehidupan Kristen adalah kepastian di lubuk hati (deep-down assurance) yang diberikan oleh pengalaman emosional yang luar biasa dan yang dianugerahkan oleh Roh Kudus. Lalu, penekanan pada bukti keselamatan pribadi ini, oleh John Fletcher (pengikut John Wesley) disebut berkat kedua (second blessing) yaitu baptisan di dalam Roh Kudus. Ajaran inilah yang akhirnya menjadi cikal bakal penekanan ajaran Karismatik/Pentakosta.[2] Jika kita menyelidiki secara ketat, presuposisi di balik pengajaran tentang bukti keselamatan pribadi ini berasal dari Arminianisme yang menekankan kehendak bebas manusia, dan perlu diketahui John Wesley adalah penganut Arminianisme. Metodisme akhirnya memengaruhi Gerakan Kekudusan di abad ke-19. Di era ini terjadi banyak kebangunan rohani besar, seperti Rev. Jonathan Edwards dan Charles G. Finney. Dua tokoh ini berbeda doktrin. Jonathan Edwards adalah seorang theolog Calvinis, sedangkan Finney jelas bukan seorang Calvinis, sehingga mementingkan pengalaman rohani supaya mereka memperoleh kehidupan yang lebih tinggi. Gerakan Kekudusan ini akhirnya memengaruhi Gerakan Pentakosta di abad ke-20 yang pertama kali dimulai oleh seorang pengkhotbah, Charles F. Parham yang mendirikan sekolah Alkitab di Topeka, Kansas, Amerika Serikat. Di sekolah Alkitab itu, Parham mengajar pentingnya doa emosional untuk mengalami semua karunia “Pentakosta”. Hal tersebut berhasil, tepat pada 1 Januari 1901, seorang siswi Alkitabnya, Agnes N. Ozman di jalan Azusa (dikenal dengan: Azusa street) menerima karunia bahasa lidah (glossolali). Pentakostalisme ini akhirnya memengaruhi Gerakan Karismatik sejak tahun 1960 yang lebih menekankan bahasa roh, nubuat-nubuat, kesembuhan, dll.[3]

Akhirnya, pada akhir abad 20 (kira-kira tahun 1994), muncullah gerakan yang disebut Toronto Blessing di Toronto, Canada, di mana pada waktu kebaktian berlangsung, banyak jemaat tiba-tiba tertawa tidak sadarkan diri, meraung-raung seperti singa, dll bahkan sampai berminggu-minggu. Mereka menyebut hal-hal itu sebagai pekerjaan “roh kudus”, sehingga muncul istilah, seperti: tertawa kudus (holy laughter), dll. Gejala ini diimpor ke Indonesia oleh seorang pendeta GKPB (Gereja Kristen Perjanjian Baru) melalui seminar, yang akhirnya setelah itu ia mengakui bahwa gejala ini salah di Majalah Rohani Populer BAHANA. Rupa-rupanya Kekristenan tidak pernah jera. Toronto Blessing sudah tidak “laku”, akhirnya digantikan oleh Pensacola Blessing, lalu disusul “mukjizat” gigi emas yang sempat heboh. Tidak berhenti sampai di situ, Kekristenan sekarang diterpa oleh gejala-gejala pergi ke Korea mengikuti seorang yang mengaku diri “pendeta” yang katanya memiliki gereja terbesar di Korea Selatan, Yoido Full Gospel Church. Tetapi sayangnya, beberapa survei gereja di Korea Selatan mencatat bahwa gerejanya bukan gereja terbesar, tetapi yang terbesar adalah gereja Presbyterian. Sungguh memalukan. Dari Korea Selatan, Kekristenan kontemporer beralih ke Singapore, suatu gereja yang bernama City Harvest Church di mana istri gembala sidangnya berani memakai pakaian yang tidak senonoh. Di Indonesia sendiri, Kekristenan sedang diguncang oleh dua arus, yaitu, pertama, gereja yang mengaku “terbesar” di Surabaya di mana pendiri gereja tersebut mendirikan Graha di Jln Nginden, Surabaya. Kedua, “Festival Kuasa Allah” dari seorang pendeta yang masih muda yang menulis buku Before 30. Bukan hanya itu saja, di Surabaya, barusan ini Kekristenan digoncang oleh arus Mujizat Crusade yang juga dipimpin oleh seorang pendeta yang dulu melayani bersama penulis buku Before 30 di salah satu gereja Karismatik.


Kekristenan diterpa oleh dua arus yang tidak seimbang ini, lalu bagaimana jalan keluarnya? Apakah Kekristenan tidak boleh menggunakan rasio sama sekali karena takut bertentangan dengan iman/Roh Kudus? Ataukah Kekristenan mengilahkan rasio sehingga jika tidak bisa diterima oleh rasio maka tidak benar? Di tengah arus zaman yang serba bengkok ini, marilah kita belajar dari apa yang Tuhan sudah tanamkan di sepanjang sejarah gereja sampai sekarang. Mari kita belajar dari sejarah apa yang diajarkan oleh Kekristenan yang sehat dan bertanggung jawab sejak dari Bapa Gereja Augustinus, Dr. Martin Luther, Dr. John Calvin, para theolog/orang Puritan (Calvinis), sampai sekarang melalui theologi/Gerakan Reformed Injili yang akan dibahas mulai Bagian 2 Bab 3.


[1] Rick Cornish, 5 Menit Sejarah Gereja, terj. Handy Hermanto (Bandung: Pionir Jaya dan NavPress, 2007), hlm. 209.
[2] Hans Maris, Gerakan Karismatik dan Gereja Kita, terj. Gerrit Riemer (Surabaya: Momentum dan Jakarta: LITINDO, 2004), hlm. 10-13.
[3] Ibid., hlm. 14-25.

BAGIAN I. Bab 1: Pendahuluan dan Latar Belakang

BAGIAN I: PENDAHULUAN
Bab 1
Pendahuluan dan Latar Belakang




Kita hidup di suatu dunia yang penuh perubahan. Jika di abad Pertengahan (menurut Colin Brown: abad 5 s/d 15[1]), manusia masih menghargai Tuhan dan meletakkan theologi sebagai ratu ilmu pengetahuan, maka zaman bergeser ke arah rasionalisme, empirisme, deisme, yang akhirnya berpuncak pada Pencerahan (Enlightenment) di mana manusia menganggap rasio dan diri merekalah (rasionalisme dan humanisme atheis) menjadi standar penentu kebenaran. Tidak heran, jika “theologi” liberal yang muncul di zaman postmodern ini sebenarnya merupakan pengulangan sejarah di era modernisme. Ironisnya, zaman di mana manusia mengagungkan diri ini diakhiri bukan dengan perdamaian, tetapi dengan peperangan dunia, yaitu Perang Dunia 1 (1914-1918) dan Perang Dunia 2 (akhir 1930-1945) yang memakan banyak korban jiwa.

Oleh karena kegagalan pengilahan rasio ini, maka banyak manusia mulai sadar, tetapi herannya bukan kembali kepada Tuhan, melainkan kepada sesuatu yang bukan Tuhan. Zaman modern yang menekankan rasio digeser oleh zaman postmodern yang me“mutlak”kan kerelatifan. Kalau di zaman modern, rasio ditekankan, maka di zaman postmodern, perasaanlah yang ditekankan. Hal ini dimulai pada abad 19 melalui seorang tokoh, Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher (1768-1834) yang mengajarkan, “Esensi agama terletak di dalam perasaan bergantung mutlak (“sense of absolute dependence”) di dalam diri kita.” (Schleiermacher, The Christian Faith, hlm. 12)
[2] Lalu, filsafat ini menuju kepada pengajaran Marx Ludwig Feuerbach (1804-1872) di dalam bukunya The Essence of Christianity yang berani mengajarkan, “...teologi tidak lain dari antropologi – pengetahuan tentang Allah tidak lain dari pengetahuan tentang manusia!” (hlm. 207)[3] Kemudian, zaman postmodern mulai ditunggangi oleh spiritualitas Gerakan Zaman Baru (New Age Movement) yang dimulai di Amerika sejak tahun 1980-an (http://en.wikipedia.org/wiki/New_Age). Gerakan ini tidak lagi mengakui adanya penggunaan rasio, tetapi lebih menekankan hal-hal “spiritual” misalnya meditasi, bersatu dengan alam/makrokosmos (monisme), kesembuhan batin, dll. Gerakan ini diadopsi oleh semua agama, tidak terkecuali Kekristenan. Mungkin gejala ini disamarkan di dalam gereja dengan berbagai pengajaran, misalnya: kesembuhan batin (inner healing) “rohani” (dalam nama “Yesus”), dll, sehingga secara tidak sadar, banyak orang Kristen mudah ditipu oleh ajaran-ajaran yang seolah-olah “rohani”, tetapi esensinya justru melawan Alkitab.

Dari fenomena di atas, kita dapat menangkap semangat (Jerman: zeitgeist) dari suatu zaman. Jika di zaman modern, rasiolah yang diilahkan, maka ketika zaman modern diganti dengan zaman postmodern, maka rasio digeser dan spiritualitas ditekankan. Seperti yang dituturkan oleh Pdt. Sutjipto Subeno, spirit zaman kita seperti sebuah pendulum yang bergerak dari satu ekstrim ke ekstrim lain. Bagaimana dengan Kekristenan sendiri? Kita akan membahasnya pada Bab 2.

[1] Colin Brown, Filsafat dan Iman Kristen-1, terj. Lena Suryana dan Sutjipto Subeno (Jakarta: Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1994), hlm. 10.
[2] Ibid., hlm. 153.
[3] Ibid., hlm. 186.

Kata Pengantar

THE INTEGRATED LIFE IN THE TRUTH
(Studi Integrasi Theologi, Spiritualitas, dan Praktika Reformed)
oleh: Denny Teguh Sutandio
Kata Pengantar


Kita hidup di zaman postmodern yang diwarnai oleh beragam filsafat yang banyak dipengaruhi oleh filsafat zaman modern (zaman sebelum postmodern), sekularisme, maupun spiritualitas Gerakan Zaman Baru. Beragam filsafat tersebut memengaruhi semua orang, bahkan tidak sedikit orang Kristen yang terpengaruh. Akibatnya, banyak orang Kristen bahkan pemimpin gereja terlalu ekstrim menekankan salah satu filsafat tersebut. Ada yang terlalu menekankan rasionalitas dan akademis (akibat dari pengaruh sekularisme dan rasionalisme di abad modern), sehingga apa yang tidak akademis dianggap tidak “logis”, akibatnya orang seperti ini memiliki hati yang kering dan bisa menjadi sombong. Di sisi lain, ada orang Kristen bahkan pemimpin gereja yang sangat menekankan spiritualitas (lebih tepatnya pengalaman subjektif à akibat dari pengaruh: filsafat relativisme dan spiritualitas Gerakan Zaman Baru) dan membuang pentingnya rasio. Akibatnya, pengalaman atau spiritualitas apa pun bahkan dari setan dianggap dari “roh kudus”, karena mereka tidak mempunyai dasar uji yang tepat yaitu Alkitab. Ada juga yang terlalu menekankan aspek praktika (akibat dari pengaruh pragmatisme dan materialisme terselubung), yaitu mereka sibuk mengurusi bagaimana melayani masyarakat, tetapi sayangnya mengabaikan penginjilan secara verbal. Ketiga kata kunci ini: Theologi, Spiritualitas, dan Praktika adalah tiga hal yang harus dikerjakan secara bersama-sama dengan satu prinsip mutlak, yaitu: Alkitab. Tetapi hari-hari ini, ketiga kata ini ditekankan secara tidak seimbang dan sangat kacau. Oleh karena itu, saya terbeban menyusun makalah singkat ini untuk menyadarkan kita akan pentingnya tiga hal ini dalam perspektif theologi Reformed yang mau kembali kepada Alkitab.

Dalam menyusun makalah ini, pertama-tama saya bersyukur kepada Allah Trinitas yang telah memimpin saya mengenal kedalaman iman Kristen dan wahyu khusus-Nya, Alkitab. Lalu, saya juga bersyukur hanya melalui anugerah-Nya saja, saya bisa menyusun makalah yang mengintegrasikan theologi, spiritualitas, dan praktika dari kacamata theologi Reformed berdasarkan Alkitab. Setelah itu, saya juga berterima kasih kepada banyak hamba Tuhan dari Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII), di mana saya menjadi anggota jemaatnya. Pertama-tama, kepada hamba-Nya yang setia, Pdt. Dr. Stephen Tong, selaku pendiri Gerakan Reformed Injili dan Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII), yang pertama kali telah menyadarkan saya akan finalitas Kristus dan pentingnya theologi Reformed melalui pengajaran-pengajaran beliau di dalam Kaset Seminar Pembinaan Iman Kristen (SPIK) maupun di dalam National Reformed Evangelical Convention (NREC). Kedua, saya berterima kasih kepada gembala sidang gereja saya, GRII Andhika, Surabaya, Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div. yang telah memberikan banyak inspirasi kepada saya sebagai salah satu bahan studi di dalam makalah ini. Juga tidak lupa saya menghaturkan banyak terima kasih kepada Pdt. Billy Kristanto, Dipl.Mus., M.C.S. yang banyak mencerahkan pikiran saya tentang spiritualitas Reformed melalui khotbah-khotbah beliau yang theologis sekaligus devosional di NREC. Selain itu, saya juga berterima kasih kepada Ev. Ivan Kristiono, S.Sn., M.Div. melalui khotbah-khotbahnya di NREC yang membukakan pikiran saya banyak hal tentang konsep postmodern dan theologi Reformed. Tidak lupa saya menghaturkan terima kasih kepada Pdt. Drs. Thomy Job Matakupan, S.Th., M.Div. yang banyak memberi pencerahan kepada saya melalui kelas Katekisasi GRII Andhika, Surabaya. Kepada Ev. Mercy Grace Preally P. Matakupan, S.Th. (istri Pdt. Thomy Matakupan), saya juga menghaturkan terima kasih karena beliau telah mengajar saya di Sekolah Theologi Reformed Injili Surabaya (STRIS) Andhika di kelas Doktrin Allah.

Selain khotbah dan kaset, saya juga mendapatkan banyak pelajaran berharga dari buku-buku yang pernah saya baca. Pertama-tama, saya berterima kasih kepada satu-satunya theolog yang saya kagumi, yaitu Dr. John Calvin yang telah mencerahkan pikiran saya melalui dua bukunya, yaitu Institutes of the Christian Religion dan Golden Booklet of Christian Life (diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: Mutiara Kehidupan Kristen). Selain itu, saya juga berterima kasih kepada Prof. Anthony A. Hoekema, Th.D. yang telah mencerahkan pikiran saya tentang konsep akhir zaman dan manusia sebagai pribadi ciptaan Allah melalui dua bukunya dalam bahasa Indonesia, yaitu: Alkitab dan Akhir Zaman, dan Manusia: Ciptaan Menurut Gambar Allah. Tentang Lima Pokok Calvinisme, saya juga berterima kasih kepada Rev. Prof. Edwin H. Palmer, Th.D., D.D. (HC) yang mencerahkan pikiran saya melalui bukunya dalam bahasa Indonesia: Lima Pokok Calvinisme. Juga, saya berterima kasih kepada Prof. Dr. Ds. Abraham Kuyper, Prof. Dr. Hans Maris, Rev. W. Gary Crampton, Th.D., Ph.D., Rev. Dr. Richard W. (Rick) Cornish, dll. Biarlah ilmu-ilmu yang pernah saya timba dari buku-buku mereka dapat menjadi berkat melalui makalah yang saya susun ini.

Biarlah melalui makalah yang singkat ini, nama Tuhan semakin dijunjung tinggi dan dipermuliakan, sehingga semua orang boleh melihat kemuliaan Tuhan yang sebenarnya yang tidak ditutupi oleh keberdosaan manusia meskipun mengatasnamakan nama “theologi.” Sekali lagi, biarlah Tuhan, hanya Tuhan saja, dipermuliakan. Amin. Soli Deo Gloria.

“Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.”
(1 Tesalonika 5:21)