06 February 2011

KRISTEN atau "KRISTEN"? Sebuah Perenungan Pribadi (Denny Teguh Sutandio)

KRISTEN atau “KRISTEN”?: Sebuah Perenungan Pribadi

oleh: Denny Teguh Sutandio



“Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!”
(Mzm. 139:23-24)




Di dalam Mazmur 139:23-24 ini, Raja Daud mengungkapkan isi hatinya agar Allah sendiri yang menyelidiki dan mengenal hatinya, menguji dan mengenal pikiran-pikirannya, melihat apakah jalannya selama ini serong, dan terakhir ia meminta Allah sendiri menuntunnya di jalan yang kekal. Ungkapan isi hatinya ini didahului oleh pengakuan, “TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku;” (ay. 1) Keterbukaan hati kita kepada Allah didahului oleh suatu keyakinan dan pengakuan bahwa HANYA Allah saja yang mengenal kita. Prof. J. I. Packer, D.Phil. dalam bukunya Knowing God (Mengenal Allah) bahkan mengungkapkan, “Ia mengenal saya sebagaimana adanya, jauh lebih baik daripada saya mengenal diri saya.” (hlm. 96) Karena itu, sudah seharusnya orang Kristen sejati benar-benar terbuka di hadapan-Nya dengan menguji apakah kita sudah percaya dan mencintai-Nya atau belum. Seorang yang percaya dan mencintai-Nya itulah yang layak disebut Kristen! Jika kita masih belum percaya dan mencintai-Nya, biarlah Roh Kudus memproses kita terus-menerus untuk makin percaya dan mencintai-Nya.

Bagaimana kita mengetahui bahwa kita sudah percaya dan mencintai-Nya (=Kristen sejati)? Biarlah kita menguji hati kita terlebih dahulu dengan hal-hal di bawah ini:
1. Allah yang berdaulat dan berkuasa
Alkitab dengan jelas mengajar kita bahwa Allah itu berdaulat dan berkuasa dan ini ditandai dengan pengakuan-Nya sendiri bahwa di luar diri-Nya tidak ada ilah lain (Yes. 44:6; 45:5a). Kedaulatan Allah juga ditandai melalui penciptaan-Nya, pemeliharaan-Nya, dan penyempurnaan-Nya. Di dalam keselamatan umat pilihan-Nya, Allah yang berdaulat telah memilih dan memanggil beberapa orang untuk ditebus di dalam Kristus, mengutus Kristus untuk mati disalib demi menebus dosa-dosa umat pilihan-Nya, dan mengaruniakan Roh Kudus untuk menjaga keselamatan mereka sekaligus menyucikan mereka, sehingga TIDAK ada satu umat pilihan-Nya yang bisa binasa (Yoh. 3:16; 10:27-29). Kepada umat-Nya secara khusus, Allah yang berdaulat telah memanggil mereka melalui talenta yang Ia berikan: theologi (full-timer di gereja: pendeta, penginjil, dll), musik, politik, bisnis, sains, dll. Ya, mungkin kita sudah mengerti ajaran bahwa Allah itu berdaulat, namun pertanyaannya: sudahkah kita menjalankan pengertian kita ini? Sudahkah kita benar-benar mengamini bahwa Ia berdaulat penuh atas hidup kita? Ataukah kita (atau otoritas di atas kita) yang masih bertakhta di dalam hidup kita?

Para orangtua, apakah kita mengarahkan anak-anak kita untuk lebih taat akan pimpinan Allah di dalam hidup anak-anak kita ataukah kita mengarahkan mereka untuk lebih taat akan apa yang kita inginkan? Di surat kabar Jawa Pos, saya membaca sebuah pengakuan seorang ibu (Tionghoa) yang adalah seorang profesor di Amerika Serikat mendidik anak-anak mereka dengan terlalu ketat dan mengancam bahwa anak-anak mereka harus mendapatkan nilai A di semua pelajaran kecuali drama dan olahraga. Di titik pertama, saya mengatakan bahwa ibu ini BUKAN orang Kristen, mengapa? Karena ia tidak mengerti akan panggilan Allah di dalam setiap orang. Si ibu ini menganggap bahwa drama dan olahraga itu tidak penting (dapat nilai di bawah A pun tidak menjadi masalah), namun bagaimana jika salah satu anaknya bertalenta justru di bidang drama? Saya yakin bahwa ibu ini akan mengomeli anaknya ini karena (mengingat si ibu adalah seorang Tionghoa yang kebanyakan beriman materialisme) talenta drama yang anak ini miliki TIDAK “menghasilkan” (=menghasilkan uang). Ada juga seorang anak yang memiliki talenta fotografi, lalu orangtua melarangnya untuk sekolah fotografi dan mengarahkannya untuk studi Sastra Inggris. Mungkin ada sisi positifnya, namun sebenarnya orangtua tersebut tidak mengerti talenta yang dimiliki anaknya. Kalau orangtua seperti ini bukan Kristen itu sih wajar, namun jika orangtua seperti ini sudah Kristen bahkan aktif melayani di gereja yang mengajarkan doktrin secara ketat, saya patut meragukan apakah orangtua ini benar-benar beriman Kristen atau sebenarnya beriman pada tradisi Tionghoa? Saya terus terang sedih melihat perbedaan kontras antara 2 orangtua Kristen. Ada orangtua Kristen yang berbakti di gereja kontemporer yang pop mengarahkan anaknya masing-masing untuk bertanya kepada Tuhan tentang panggilan-Nya dalam hidup mereka dan TIDAK pernah memaksa anak-anak mereka untuk mengikuti jejak ayahnya sebagai seorang usahawan. Sedangkan ada orangtua “Kristen” yang berbakti di sebuah gereja yang mengajarkan doktrin secara ketat (seharusnya lebih mengerti dari orangtua Kristen tipe 1) namun TIDAK pernah satu kali pun mengajar anaknya untuk menaati panggilan-Nya dan memaksa anaknya untuk mengikuti jejak orangtuanya. Faktanya adalah orang yang kelihatannya tidak belajar banyak doktrin justru lebih mengerti iman Kristen secara beres dan takut akan Tuhan ketimbang orang yang berbakti di gereja yang kebanyakan doktrin. Hal ini tidak berarti doktrin tidak penting. Yang saya maksudkan adalah hati yang takut akan Tuhan mengakibatkan ia makin suka belajar doktrin (=ajaran) Kristen. Biarlah ini menjadi refleksi bagi kita masing-masing.


2. Allah Tritunggal
Allah yang berdaulat menyatakan diri-Nya kepada manusia pilihan-Nya sebagai Allah Tritunggal yaitu 3 pribadi Allah yang berbeda di dalam 1 esensi Allah yang sama. Berarti ada keragaman dan kesatuan dalam Allah Tritunggal (unity in diversity). Doktrin Tritunggal begitu penting, sehingga barangsiapa yang tidak mengamini doktrin Tritunggal sebagaimana yang diajarkan Alkitab itu pantas disebut pengikut bidat/ajaran sesat. Ajaran sesat berkenaan dengan Tritunggal beraneka ragam: Sabellianisme, Arianisme, dll. Salah satu ajaran sesat berkenaan dengan Tritunggal yang pernah diajarkan oleh seorang “hamba Tuhan” top di Indonesia yang mantan seorang pemeluk agama mayoritas adalah: “Allah Tritunggal itu bukan keberapaan, tetapi kebagaimanaan.” Kebagaimanaan Allah berbicara tentang bidat Sabellianisme yang mengajarkan bahwa Allah itu satu yang menyatakan diri-Nya di dalam 3 wujud (ilustrasinya: air bisa berubah wujud menjadi es dan uap air). Di dalam sejarah gereja mula-mula, bidat ini sudah dikutuk, namun anehnya, di zaman kita sekarang, justru ajaran ini mudah berkembang melalui seorang “pendeta” yang tersohor di Indonesia gara-gara pertobatannya. Bahkan ada jemaat “Kristen” yang mengamini perkataan si “pendeta” sesat ini, lalu ketika ada orang Kristen yang mengatakan ajaran si “pendeta” ini sesat, jemaat “Kristen” yang fanatik buta dengan si “pendeta” ini kembali mengeluarkan jurus andalan, “Yang terpenting itu kasih. Jangan kebanyakan teori, yang penting praktiknya.” (arti sebenarnya: jangan mengajari dan jangan “menghakimi” kepercayaan saya, itu pokoknya sudah menjadi iman saya) Inilah wajah Kekristenan yang memprihatinkan di abad XXI.

Konsep Tritunggal mempengaruhi cara berpikir dan hidup orang Kristen dalam: hubungan suami-istri, orangtua-anak, tuan-hamba, dll. Suami-istri, orangtua-anak, tuan-hamba, dll adalah setara di hadapan-Nya, karena mereka sama-sama diciptakan Allah, namun masing-masing dari mereka mendapat peran yang berbeda: istri harus tunduk pada suami (selama itu tidak melawan kehendak-Nya) dan suami harus mengasihi istrinya, anak harus tunduk pada orangtua (selama itu tidak melawan kehendak-Nya) dan orangtua harus mengasihi anaknya, hamba harus tunduk kepada tuannya (selama itu tidak melawan kehendak-Nya) dan tuan harus mengasihi hambanya, dll (Kol. 3:18-22). Namun banyak orang Kristen hari-hari ini tidak menyadari hal ini, lalu mengajarkan konsep ekstrem yang tidak seimbang. Kelompok egalitarianisme dalam kubu Injili mengajarkan bahwa ada saling ketundukan (mutual submission) antara suami dan istri (istri harus tunduk pada suami dan suami pun harus tunduk kepada istri) dengan mengutip Efesus 5:21. Ayat tersebut secara konteks TIDAK mengajarkan apa pun tentang mutual submission, karena Paulus baru memulai pengajaran tentang hubungan suami-istri pada ayat 22 (pembahasan lebih lanjut tentang Efesus 5:21, silahkan membaca buku Biblical Foundations for Manhood and Womanhood yang diedit oleh Prof. Wayne Grudem, Ph.D.). Ini membuktikan mereka tidak mengerti bagaimana menafsirkan Alkitab sesuai dengan konteks yang ada (asal main comot ayat). Sebaliknya ada yang terlalu menekankan otoritas, kemudian menjadi seorang penganut otoritarianisme terselubung. Misalnya, ada yang mengajarkan bahwa orangtua itu segala-galanya, sehingga anak hanya memiliki 1 kehendak yaitu menaati setiap keinginan orangtuanya. Konsep ini dipengaruhi oleh kebudayaan dan iman orang Tionghoa yang memberhalakan orangtuanya sebagai ilah. Di dalam dunia pekerjaan, ada yang mengajarkan bahwa bos itu segala-galanya (slogannya: boss can’t do wrong), kalaupun bos kelihatan berbuat salah, bos itu harus dianggap tidak bersalah.


3. Alkitab: Firman Allah yang tak bersalah (dalam naskah aslinya)
Allah yang berdaulat menyatakan diri-Nya kepada umat-Nya melalui Kristus (wahyu yang tidak tertulis) dan Alkitab (wahyu yang tertulis). Melalui Alkitab, kita diajar apa yang dikehendaki dan diperintahkan-Nya (2Tim. 3:16). Iman Kristen sejati adalah iman yang HANYA didasarkan pada Alkitab sebagai sumbernya (Sola Scriptura). Mayoritas orang Kristen dari berbagai denominasi gereja pasti mengamini bahwa Alkitab itu firman Allah, namun pertanyaannya apakah mereka yang mengamininya juga adalah mereka yang taat pada firman-Nya? Ambil contoh, Alkitab mengajar kita untuk mengatakan kejujuran (Mat. 5:37), namun banyak dari kita suka berdusta demi alasan: menipu orang lain dan pasangan kita, yang terpenting karena alasan: SUNGKAN. Budaya sungkan-isme di satu sisi ada baiknya, namun di sisi lain jelas melawan Alkitab, karena kita tidak diajar untuk berkata kejujuran. Setelah kita diberi makanan oleh orang lain, ketika orang lain bertanya kepada kita bagaimana rasa makanan tersebut, kebanyakan dari kita yang sudah terbiasa SUNGKAN selalu mengatakan, “enak kok” (sebenarnya tidak enak). Dari kebiasaan sehari-hari, kita sudah terbiasa tidak jujur, bagaimana jika kita nantinya membina hubungan rumah tangga (padahal dalam hubungan rumah tangga harus ada keterbukaan dan kejujuran) dan memiliki anak? Jangan-jangan, anak-anak kita dididik untuk berbohong, lalu anak-anak kita bertumbuh di dalam sebuah ketidakjujuran, dan terakhir mereka pun menularkan penyakit ini kepada anak-anaknya, dst. Akhirnya terciptalah generasi yang berpura-pura, sehingga tidak heran, makin SUNGKAN seseorang, ia makin digemari oleh banyak orang, namun semakin JUJUR seseorang, ia makin dibenci oleh banyak orang! Yang celaka adalah hal ini terjadi pada diri orang yang menamakan dirinya “Kristen” bahkan aktif melayani. Sungguh-sungguh mengenaskan!

Alkitab juga mengajar kita bahwa kita tidak boleh memiliki bahkan menyembah ilah lain (Kel. 20:3-6). Ilah lain bukan hanya sekadar patung berhala, namun apa dan siapa pun yang menggantikan posisi Allah sebagai pusat dalam hidupnya. Bagaimana praktik banyak orang Kristen? Mereka mengamini bahwa perintah Allah itu benar, namun sayangnya, mereka tetap memiliki ilah lain dalam hidup mereka, misalnya: hobi (khususnya cewek: belanja-ngabisin duit aje), orangtua, pasangan hidup, teman, dll. Ketika mereka memutlakkan hal-hal tersebut di atas Allah, itu sudah menjadi ilah lain dalam hidup kita!

Saya mengerti bahwa menjalankan firman Tuhan itu TIDAKlah mudah, karena saya sendiri mengalaminya, namun TIDAK mudah menjalankan firman-Nya TIDAK berarti TIDAK mungkin. Saya tidak menuntut orang Kristen berubah dengan cepat, karena yang terpenting bukan waktu bertobat/berubahnya, tetapi komitmen total untuk berusaha menjalankan firman Tuhan meskipun itu sulit. Karena sebuah komitmen, berarti kita juga memerlukan teguran, nasihat, dan ajaran dari sesama saudara seiman lainnya agar kita sama-sama saling bertumbuh di dalam pengenalan akan Allah dan firman-Nya.


4. Manusia diciptakan Allah dan berdosa
Alkitab mengajar kita bahwa manusia itu diciptakan segambar dan serupa dengan-Nya (Kej. 1:26-27), namun telah berdosa dan mengurangi kemuliaan Allah (Rm. 3:23). Bahkan Alkitab menjelaskan dengan detail dosa-dosa manusia dalam segala aspek: pikiran, perbuatan, perkataan, tingkah laku, dll (Rm. 3:10-18) Ini berarti tidak ada satu aspek hidup manusia yang dapat memuliakan-Nya. Banyak orang Kristen memahami doktrin ini, namun ketika diajar tentang pelatihan motivasi oleh motivator handal (bahkan di antaranya menggunakan ayat-ayat Alkitab yang tentu saja di luar konteks—asal main comot ayat Alkitab) bahwa di dalam diri manusia ada kekuatan besar yang sedang tidur mayoritas dari mereka mengamininya juga tanpa pernah mengkritisinya. Begitu ada orang Kristen atau hamba Tuhan yang mengkritisi ajaran motivator ini, spontan mereka mengeluarkan jurus andalan mereka yang menghakimi, “Jangan menghakimi orang.” Silahkan renungkan sendiri apakah orang macam ini masih layak disebut Kristen (=pengikut Kristus)?! Jika kita masih berpikir dan berlaku demikian, biarlah hari ini, Roh Kudus boleh menyadarkan kita untuk bertobat dari pikiran sesat ini. Sadarlah, kita ini manusia berdosa yang melawan Allah. Seorang yang menganggap diri berdosa dan bisa salah seharusnya juga seorang yang rendah hati yang siap ditegur dan diajar oleh orang lain, khususnya Alkitab dan hamba Tuhan yang bertanggung jawab. Jangan pernah membanggakan diri kita hebat, karena kita telah berdosa, namun di sisi lain juga jangan terlalu minder, karena kita pun diciptakan-Nya dengan begitu baik.


5. Manusia diselamatkan oleh anugerah Allah melalui iman kepada Kristus
Dosa manusia telah diselesaikan oleh Allah dengan cara-Nya yaitu melalui penebusan Kristus. Bapa mengutus Anak-Nya yang Tunggal, yaitu Tuhan Yesus Kristus untuk menebus dosa-dosa manusia pilihan-Nya, sehingga mereka dapat diselamatkan dari murka Allah. Anugerah-Nya inilah yang menyelamatkan kita melalui iman kita kepada Kristus. Tanpa anugerah-Nya dan iman kita kepada karya penebusan Kristus, maka tak mungkin kita diselamatkan. Orang yang mengerti doktrin anugerah seharusnya orang yang juga mengaplikasikannya dengan terus-menerus berharap pada anugerah Allah dalam setiap aspek kehidupannya. Ia akan menyadari bahwa setiap inci kehidupannya adalah anugerah Allah, sehingga tidak terbersit pun pikiran untuk membanggakan diri agar orang lain mengenang kehebatan kita. Namun jangan salah, orang yang makin mengerti anugerah Allah juga adalah seorang yang bekerja keras demi menggenapkan tujuan dan panggilan Allah di dalam hidupnya.


6. Kristus bernatur Ilahi dan manusia
Iman kepada karya penebusan Kristus juga mencakup iman pada pribadi Kristus itu sendiri yang bernatur Ilahi dan manusia tanpa percampuran, pemisahan, pembagian, dll (pengakuan iman Chalcedon). Kristus adalah Allah pribadi kedua sekaligus manusia (Rm. 1:3-4). Mengapa harus dwi natur? Karena Kristus harus menebus dosa manusia dan itu hanya bisa dikerjakan oleh Allah dan di sisi lain, penebusan dosa itu harus terjadi melalui kematian, padahal Allah tidak bisa mati, sehingga Kristus juga harus mengambil natur manusia. Menyangkal dwi natur Kristus berarti mengikuti ajaran sesat yang telah dikutuk oleh gereja mula-mula! Namun ada “pendeta” top di Indonesia mengajarkan bahwa Kristus bukan Allah, tetapi Anak Allah (yang dibedakan dengan Allah Anak) dan Tuhan/Junjungan Agung. Lagi-lagi, seperti biasa, banyak jemaat “Kristen” mengamini ajaran sesat ini (karena diajarkan oleh “pendeta” terkenal) tanpa pernah belajar baik-baik dari Alkitab dan sejarah gereja.


7. Tuhan Yesus Kristus adalah satu-satunya Juruselamat dunia
Beriman kepada dwi natur Kristus berarti beriman penuh bahwa Tuhan Yesus Kristus adalah satu-satunya Juruselamat dunia dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun kecuali di dalam Tuhan Yesus (Yoh. 14:6; Kis. 4:12). Mengapa? Karena hanya Kristus saja yang berani berkata bahwa Dialah jalan dan kebenaran (Truth) dan hidup yang menghantar umat-Nya kepada Bapa di Sorga (Yoh. 14:6) dan memanggil umat-Nya untuk mengikut-Nya (Kristus), sedangkan para pendiri agama lain hanya menunjukkan jalan kebenaran dan tidak pernah menyuruh para penganutnya untuk mengikutnya. Namun adalah suatu ketidakmasukakalan jika ada orang “Kristen” bahkan “pemimpin gereja” yang berani berkata bahwa semua agama itu sama dan Kristus hanya salah satu jalan menuju ke Sorga.


8. Roh Kudus diutus untuk memproses hidup umat-Nya agar serupa dengan Kristus
Percaya kepada Allah Tritunggal berarti percaya bahwa Roh Kudus adalah Allah pribadi ketiga yang diutus oleh Bapa dan Anak untuk memproses hidup umat-Nya agar serupa dengan Kristus. Roh Kudus bukan kuasa Allah, tetapi pribadi Allah. Kepribadian Roh Kudus dapat dibaca di Alkitab, misalnya: Roh Kudus bisa didukakan (Yes. 63:10; Ef. 4:30), Roh Kudus bisa dihujat (Mrk. 3:29; Luk. 12:10), dll. Karena Roh Kudus adalah pribadi, maka Ia bertugas memproses umat-Nya agar hidup makin serupa dengan Kristus. Inilah yang disebut pengudusan terus-menerus (progressive sanctification). Artinya, di dalam kehidupan orang Kristen, ada saatnya seseorang berbuat dosa, namun Roh Kudus mengangkatnya kembali (proses jatuh bangun dalam iman). Namun banyak orang Kristen hari-hari ini merasa sudah dibaptis, namun tidak mau hidup di dalam pimpinan dan pengudusan Roh Kudus, melainkan berjalan sendiri seolah-olah Allah tidak ada. Apa yang mereka suka, itulah yang dikerjakannya tanpa memikirkan apakah itu mendukakan Roh Kudus atau tidak. Biarlah kita yang mengaku diri Kristen namun masih bersikap seperti ini segera bertobat.


9. Tujuan hidup manusia: memuliakan Allah dan menikmati-Nya selama-lamanya
Karena Roh Kudus menuntun kita untuk hidup serupa dengan Kristus, maka tentu saja Roh yang sama menuntun kita untuk memuliakan Allah dan menikmati-Nya selama-lamanya (Katekismus Singkat Westminster pasal 1). Mengapa? Karena Roh Kudus diutus bukan untuk memuliakan diri-Nya sendiri, tetapi memuliakan Kristus (Yoh. 14:26; 15:26). Jangan percaya pada gejala banyak orang yang mengaku “dipenuhi Roh Kudus”, namun tidak pernah memuliakan Kristus, bahkan menghina firman Allah (Alkitab)! Roh Kudus memimpin kita untuk memuliakan Allah dengan cara dua hal:
Pertama, menjadikan Allah dan kehendak-Nya sebagai sumber dan pusat yang memerintah di dalam hidup kita. Roh Kudus akan terus memimpin kita untuk makin mengerti kehendak/panggilan Allah dan menjalankannya.
Kedua, menikmati-Nya. Rev. John S. Piper, D.Theol. dalam bukunya Mendambakan Allah mengganti kata “dan” dalam katekismus singkat Wesminster ini dengan kata “dengan”, sehingga bunyinya: tujuan hidup manusia adalah memuliakan Allah dengan menikmati-Nya selama-lamanya. Menikmati Allah berarti menikmati: Pribadi Allah yang Kasih dan berdaulat penuh atas hidup kita (sehingga kita tidak perlu kuatir akan hidup kita), firman-Nya (yang menjadi surat cinta-Nya kepada kita dan sumber bijaksana dalam menjalani hidup kita), dan kehadiran-Nya (yang begitu hangat dan berharga bagi kita, karena Dia adalah kekasih jiwa kita yang terdalam yang sangat mengenal kita).

Kita sudah mengerti bahwa tujuan manusia adalah memuliakan Allah, namun faktanya adalah banyak orang “Kristen” memiliki pengakuan iman sendiri, misalnya, “tujuan hidup manusia adalah memuliakan orangtua (atau/dan diri) dan menikmatinya selama-lamanya.” Mereka berpikir bahwa Allah hanya menjadi urusan penting ketika di gereja, namun TIDAK di dalam kehidupan sehari-harinya (atheis praktis). Atau ada juga orangtua “Kristen” yang tidak percaya pada panggilan Allah sesuai dengan talenta (God’s calling in profession), lalu mengajarkan bahwa kehendak Allah itu HANYA melalui orangtua saja (ini termasuk dosa, karena menyamakan orangtua dengan Allah!), sehingga anak harus menaati mutlak kehendak orangtua yang “dibaptis dalam nama yesus” menjadi kehendak “Allah.” Jika kita masih bersikap demikian, izinkan Roh Kudus mengubah hati, pikiran, dan sikap kita, sehingga hidup kita makin memuliakan-Nya.


10. Kristus akan datang kedua kalinya sebagai Hakim
Keyakinan bahwa Kristus adalah Allah juga mengarahkan kita untuk percaya pada firman-Nya di dalam Alkitab bahwa Ia akan datang kedua kalinya untuk menghakimi orang yang hidup dan mati. Ini berarti Allah yang mengasihi kita juga akan menghakimi manusia kelak di akhir zaman. Keyakinan ini menyadarkan kita bahwa di mata-Nya, dosa adalah sesuatu yang serius dan itu akan diselesaikannya kelak di akhir zaman. Kedua, hal ini juga menguatkan kita tatkala kita menghadapi penderitaan dan fitnahan dari orang lain. Kita yang menghadapi penderitaan dari orang-orang non-Kristen, misalnya gereja dibakar, pembangunan gedung gereja dipersulit, dll tidak perlu membalas perbuatan mereka, namun harus menunjukkan kasih kepada mereka. Mengapa kita berlaku demikian? Hal ini penting untuk menunjukkan bahwa Kekristenan adalah agama Kasih yang berpusat pada Kristus sekaligus kita percaya bahwa pembalasan bukan hak kita, tetapi hak Allah (Rm. 12:19).


Mintalah Allah sekali lagi menguji hati kita apakah kita sudah sungguh-sungguh menjadi pengikut-Nya yang mencintai-Nya, lalu mintalah Roh Kudus memproses hidup kita supaya kita segera bertobat dari sikap dan kebiasaan kita yang sering kali mendukakan hati-Nya. Hati seorang anak Tuhan yang benar-benar mengasihi-Nya tidak akan rela ketika hati Tuhan didukakan. Biarlah itu juga menjadi kerinduan kita yang terdalam sebagai anak-anak-Nya yang telah ditebus oleh Kristus. Amin. Soli Deo Gloria.

No comments: