08 March 2007

Matius 4:1-12 : LIFE AND TEMPTATION-3

Life & Temptation (3)

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.
Nats: Mat. 4:1-12


Kuasa Firman mempunyai kekuatan dahsyat mengalahkan iblis dan Tuhan telah memberikan kuasa itu bagi setiap mereka yang percaya dalam nama-Nya (Yoh. 1:12), yakni kuasa untuk mengalahkan pencobaan, kuasa untuk hidup menjalankan kehendak-Nya. Hati-hati dengan akal licik si iblis yang selalu memutarbalikkan Firman; kuasa disini diinterpretasi sebagai kuasa mujizat. Salah! Hendaklah kita peka terhadap segala akal licik si iblis yang selalu berusaha menjauhkan kita dari Allah. Waspadalah dengan segala solusi dan kenikmatan yang ditawarkan iblis karena semua berakhir dengan kebinasaan. Iblis telah dikalahkan tapi itu tidak membuat iblis jera, iblis terus berusaha mencari cara untuk menjatuhkan Kristus kembali. Kali ini kembali iblis mencobai Tuhan Yesus dengan mengajak-Nya ke atas Bait Allah. Firman Tuhan menegaskan janganlah engkau mencobai Tuhan Allahmu. Mencobai Tuhan Allah berarti memaksa atau menginginkan Tuhan untuk melakukan sesuatu yang bukan seharusnya Dia lakukan. Beberapa aspek yang dapat digolongkan mencobai Tuhan Allah adalah:
1. Show force, pamer kekuatan.
Allah adalah Allah yang berdaulat dan orang seharusnya tidak perlu meragukan eksistensi Allah tersebut namun hari ini kita menjumpai banyak orang mengaku percaya Tuhan tetapi meragukan eksistensi Allah. Orang ingin melihat Allah mendemonstrasikan kuasa-Nya bahkan kalau perlu mereka mengalami hal itu sendiri. Meragukan eksistensi Allah sama halnya dengan melawan iman karena kita beriman secara subyektif. Jangan mencobai Tuhan Allah merupakan kunci penting dalam kita mengerti akan pencobaan supaya kita tidak jatuh dalam pencobaan. Manusia telah jatuh dalam dosa, hal ini yang menyebabkan manusia mudah sekali untuk jatuh dalam pencobaan. Manusia mana yang tidak ingin melihat Tuhannya mendemonstrasikan kuasa-Nya yang dahsyat? Kedaulatan Allah tidak perlu dipamerkan. Allah tidak bertindak ketika manusia meminta Dia untuk bertindak itu justru membuktikan Allah berdaulat. Ketika Tuhan Yesus datang ke dunia, Dia tidak lahir dengan segala kejayaan dan kekuatan supranatural. Tidak! Tuhan Yesus tidak pamer kekuatan, Dia lahir di sebuah kandang, di sebuah kota kecil, Betlehem. Disini, kita melihat paradoks antara kedaulatan Allah dengan sikap bersandarnya manusia. Seorang anak Tuhan sejati harus bersandar total pada pimpinan Allah dan membiarkan Tuhan mengatur hidup kita sepenuhnya seperti yang diteladankan Hananya, Misael dan Azarya.
2. Make use, memanipulasi obyek iman, mencobai Tuhan berarti kita tidak melihat Tuhan sebagai Tuhan tetapi kita melihat Tuhan sebagai oknum yang dapat kita manfaatkan. Lalu apa bedanya dengan lampu Aladin, suatu kekuatan besar tetapi tunduk pada manusia yang kecil dan ia harus datang menolong ketika berada dalam kesulitan. Inilah jiwa manusia berdosa, ingin berkuasa, ingin mengatur dan memanipulasi Allah sedemikian rupa untuk memenuhi segala keinginannya. Di satu sisi, orang mengakui bahwa Allah adalah Alah yang Maha Kuasa dan berdaulat tetapi di sisi lain, manusia tidak rela meletakkan Allah yang tempat maha tinggi dan berkuasa atas hidup kita. Hati-hati dengan akal licik iblis, ia memutarbalikkan kebenaran sejati sedemikian rupa supaya orang melihat apapun yang dilakukan Allah justru mewakili sifat berdosa dan ambisi nafsu manusia. Maka tidaklah heran kalau Feurbach menyatakan bahwa allah itu tidak lebih allah yang dicipta menurut gambar dan rupa manusia sebab hanya menunjukkan potensi kekuatan manusia sebagai the highest position lalu buat apa kita percaya pada-Nya? Maka tidaklah heran kalau kemudian ia berbalik menjadi atheis karena ia menjumpai God is created by man according to the image of man. Kesimpulan yang salah! Alkitab menegaskan manusialah yang dicipta Allah menurut gambar dan rupa Allah. Namun hari ini kita masih menjumpai orang yang mempunyai gambaran salah akan Allah seperti yang dipikirkan oleh seorang anak remaja bahwa Allah kasih seharusnya tidak menghukum orang berdosa dan Allah Bijaksana harus siap menolong ketika orang berada dalam kesulitan, Allah harus kaya raya dan selalu membagi berkat. Tuhan seperti itu bukanlah Allah yang sejati. Gambaran Tuhan seperti itulah yang adalah ciptaan manusia. Manusia berdosa mau memakai Tuhan untuk kepentingan manusia. Hat-hati, iblis sengaja membalikkan konsep kebenaran dan mengajarkan theologi humanistik yang mengajarkan bahwa keberadaan Allah itu untuk kepentingan manusia; agama adalah produk budaya manusia yang dicipta manusia untuk menolong manusia. Konsep ini membuat manusia cenderung untuk mencobai Allah, memanipulasi Allah untuk kepentingan manusia; manusia ingin berkuasa dari Allah yang Maha Kuasa. Perhatikan, Tuhan yang dapat diperintah oleh manusia bukanlah Allah sejati; Allah sejati bukanlah pembantu kita yang dapat kita perintah seenak kita. Tidak! Celakanya, banyak orang tidak sadar bahwa iblis juga bisa memberikan berkat, orang beranggapan bahwa dengan berdoa puasa maka Tuhan akan menuruti keinginan kita. Salah! Puasa sejati adalah menyangkal diri, yakni berkata “tidak“ kepada segala sesuatu yang menjadi keinginan nafsu kita dan menyerahkan sepenuhnya pada kehendak Bapa. Biarlah kita menjaga seluruh hidup kita, belajar mengerti, tidak memanipulasi Allah dalam situasi apapun.
3. Tidak mengakui Tuhan sebagai Tuhan dan Allah. Tuhan Allah merupakan dua kata berbeda yang mempunyai arti berbeda. Tuhan berarti Tuan di atas segala tuan, Lord (bhs. Inggris) sedang Allah berarti God (bhs. Inggris), Theos (bhs. Yunani), Sang Pribadi yang mencipta alam semesta. Tuhan adalah jabatan sedang Allah adalah nama. Jelaslah sekarang bahwa Tuhan Allah mempunyai dua pengertian berbeda, jadi hendaklah pengertian ini menyadarkan kita ketika kita menyebut Dia dengan sebutan Tuhan berarti kita adalah hamba dan Dia adalah Tuan kita dan hanya kepada-Nya saja kita harus taat. Demikian juga ketika kita menyebut Allah berarti kita hanyalah ciptaan dan Dia adalah Pencipta. Hamba adalah budak dan seorang budak tidak mempunyai hak secuilpun yang ada hanya kewajiban saja. Namun hari ini istilah hamba telah mengalami pergeseran arti khususnya berkaitan dengan istilah hamba Tuhan. Hari ini seorang hamba Tuhan begitu sombong; hamba Tuhan merasa ia mendapat jabatan tinggi. Kesalahan posisi dan istilah “hamba Tuhan“ ini disebabkan karena adanya peralihan dari ekstrim ke ekstrim. Kurang lebih seratus tahun yang lalu, hamba Tuhan itu begitu hina dimana hamba Tuhan lebih tepat kalau hamba manusia; seorang hamba Tuhan begitu dihina tetapi orang beralih ke ekstrim lain dimana hamba Tuhan sangat dihargai bahkan perkataannya yang salah dianggap sebagai kebenaran. Yang disebut hamba Tuhan adalah semua anak Tuhan yang telah dipilih dan diselamatkan oleh Kristus dan hanya ia harus taat pada perintah Tuhan saja dan setiap aspek hidup kita harus memuliakan Tuhan. Mencobai Tuhan Allah berarti tidak mengakui Dia sebagai Tuhan Allah. Adalah sifat manusia berdosa ketika sukses, kita menantang Tuhan tetapi ketika orang berada dalam kesulitan orang mempersalahkan Tuhan atas semua penderitaan yang terjadi dalam hidupnya. Sadarlah, kita hanya budak, kita tidak mempunyai hak atas apapun, satu hal yang menjadi kewajiban kita adalah melakukan apa yang menjadi perintah-Nya saja. Biarlah ketiga konsep ini menyadarkan kita bagaimana hidup berelasi secara harmonis dengan Tuhan. Ingat, iblis itu musuh Allah dan berarti jadi musuh kita juga. Perhatikan, Tuhan Yesus melawan iblis adalah kuasa Firman Tuhan. Hal ini seharusnya menyadarkan kita bahwa hanya dengan kembali pada Firman sajalah kita dapat melawan si iblis. Waspadalah dengan segala akal licik iblis, yaitu:
1. Menggoda manusia akan status
Iblis sengaja melontarkan kalimat yang sepertinya meragukan Tuhan Yesus, yaitu kalimat “jika Engkau memang Anak Allah" Cara yang sama juga dipakai iblis ketika ia mencobai Adam Hawa dengan memutarbalikkan perintah Tuhan. Kalimat itu sangat menganggu, iritate sehingga membuat orang tergoda untuk menjawab dan kemudian jatuh dalam pencobaan. Siasat inilah yang dipakai iblis untuk menjatuhkan Tuhan Yesus untuk kali kedua. Tuhan Yesus tahu siasat si iblis, itulah sebabnya Tuhan Yesus dengan keras menghardik: “Janganlah engkau mencobai Tuhan Allahmu.“ Kalau kita tidak waspada akan siasat si iblis ini maka kita pasti akan jatuh dalam pencobaan. Manusia telah kehilangan posisinya yang asli, hal inilah yang membuat manusia mudah sekali jatuh dalam dosa. Pertanyaan Tuhan pertama kali ketika manusia jatuh dalam dosa, yaitu: “Adam, dimanakah engkau?“ Pertanyaan ini bukan mau mempertanyakan keberadaan letak Adam. Tidak! Adam telah lepas dari posisi aslinya dan hal ini membuat orang mudah sekali dicobai. Seluruh manusia telah jatuh dalam dosa dan kehilangan kemuliaan-Nya. Perhatikan, kemuliaan Tuhan yang hilang bukan kemuliaan diri kita dan posisi yang hilang itu dikembalikan oleh Allah ketika kita bertobat dan menjalankan kehendak Allah. Namun sayang, banyak orang yang tidak menyadari konsep ini, orang mengejar kemuliaan diri; orang semakin mengejar kemuliaan diri ia semakin hina. Hati-hati dengan siasat iblis yang selalu menggoda sedemikian rupa supaya orang membuktikan sesuatu namun sebelum ia membuktikannya ia telah lebih dahulu jatuh ke dalam dosa. Tuhan Yesus dengan sangat keras menghardik iblis: “Janganlah engkau mencobai Tuhan Allahmu.“ Tuhan Yesus adalah Allah sejati dan Dia tidak perlu membuktikan sesuatu hal ini dengan menuruti perkataan iblis.
2. Menggoda manusia akan kebutuhan rasa aman.
Iblis mencoba mengkutak-kutik yang menjadi kebutuhan dasar kedua manusia, yakni kebutuhan akan rasa aman seperti yang diteorikan Maslow. Iblis tahu, ketakutan akan membuat orang melakukan apapun bahkan mengorbankan imannya. Pada Mei 1998 dimana terjadi kerusuhan yang luar biasa, orang Kristen dan orang Tionghoa diperlakukan dengan mengerikan maka pada saat itu, demi untuk rasa aman, orang Kristen menyangkali iman. Rasa aman atau security suatu hal yang paling menakutkan karena manusia berdosa tahu, kehilangan rasa aman berarti habislah semua pengharapan. Apalah gunanya kepandaian, kekayaan, dan kedudukan kalau kehilangan nyawa. Itulah sebabnya, orang sangat takut ketika ia berhadapan dengan kematian. Adalah ajaran salah dari Yohanes Tetzel yang menyatakan bahwa manusia yang sudah mati dapat loncat ke sorga jika ada salah satu keluarganya yang masih hidup memberikan uang persembahan. Otorisasi bukan di tangan kita, otorisasi bukan terletak pada imajinasi/ide manusia tapi otorisasi ada di tangan Tuhan sebagai pemegang otorisasi tertinggi. Titik absolut bukan terletak di manusia tetapi di tangan Tuhan. Tuhan menegaskan bahwa setiap orang pasti akan binasa, kecuali mereka yang sudah dilahirbarukan dan menjadi anak Tuhan maka ia tidak akan binasa memperoleh hidup kekal dan satu-satunya jalan adalah melalui Kristus. Iblis tahu akan hal ini maka dengan segala cara setan berusaha supaya manusia tidak kembali pada Bapa salah satunya dengan menawarkan rasa aman. Iblis mencoba mengkutik posisi keselamatan yang Kristus nikmati sebagai Anak Allah dengan menyuruh Kristus menjatuhkan diri-Nya dari bubungan Bait Allah. Adalah konsep religiusitas yang salah yang menyatakan bahwa Tuhan pasti akan menolong ketika anak-Nya berada dalam bahaya. Konsep yang sama juga pernah terlintas pada Petrus dan murid-murid yang lain, ketika Tuhan Yesus membukakan pada mereka tentang Anak Manusia yang pergi ke Yerusalem dan harus menanggung penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli taurat lalu dihukum mati dan bangkit pada hari ketiga. Petrus langsung menjauhkan Tuhan Yesus karena Petrus mempunyai konsep bahwa Mesias harus menjadi raja. Petrus lupa bahwa yang ada di hadapan-Nya sekarang adalah Allah. Pemikiran ini datangnya dari iblis, itulah sebabnya Tuhan Yesus menghardik dengan keras,“Enyahlah iblis.“ Ingat, Tuhan tidak pernah janji, anak Tuhan akan hidup nikmat. Tidak! Anak Allah pun harus menderita dan mati di kayu salib. Tuhan janji barangsiapa yang berada dalam Kristus maka ia akan beroleh hidup kekal; satu kali dilahirkan, satu kali mati dan selamanya beroleh hidup kekal. Hati-hati dengan siasat iblis yang memutarbalikkan Firman kalau kita tidak peka maka kita akan jatuh dalam dosa. Jangan menantang pencobaan karena ini sama halnya kita mencobai Tuhan. Dalam doa Bapa Kami diajarkan: jauhkan kami dari pencobaan. Sadarlah, kalau Tuhan tolong itu mungkin karena iman kita kecil; Tuhan tahu kita tidak siap dengan penderitaan yang lebih besar. Tuhan biarkan Ayub dalam penderitaan itu bukan karena Tuhan tidak sayang. Tidak! Tuhan justru ingin menyatakan iman Ayub sampai kelas apa. Hati-hati, jangan sampai kebutuhan akan keamanan membuat kita panik dan membuat kita menyangkali iman.
3. Menggoda manusia akan kebutuhan pengakuan
Iblis tahu, Kristus datang untuk menjadi Juruselamat maka cara pintas ia tawarkan pada Kristus. Iblis menggoda untuk mencapai acknowledgement, manusia ingin mendapat pengakuan dari masyarakat segala cara yang sifatnya supranatural pun dipakai. Pengakuan manusia, siapa pun dia tidak akan menjadikan kita bernilai. Hanya pengakuan dari Allah yang menjadikan kita bernilai sebab pengakuan itu didasarkan pada penilaian yang tepat, jujur, dan adil. Penilaian manusia tidak sah dan bisa salah, karena: 1) pengetahuan manusia sangat terbatas; manusia tidak tahu isi hati; 2) standar penilaian yang dipakai manusia tidak absolut; 3) tidak ada keadilan sejati dalam diri manusia. Allah satu-satunya hakim yang layak memberikan acknowledgement karena penilaian itu didasarkan pada keadilan sejati. Biarlah dalam setiap aspek hidup kita, apapun yang kita lakukan, lakukanlah itu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kualitas yang dituntut bukan kualitas dunia tetapi kualitas seperti yang Allah inginkan. Tuhan sudah memberikan talenta pada setiap anak-anak-Nya dan Tuhan menuntut tanggung jawab sesuai dengan talenta yang sudah Dia berikan. Inilah cara Tuhan bekerja. Tuhan tidak pernah membandingkan antara satu orang dengan orang yang lain. Orang yang mendapat 2 talenta dituntut untuk mengembalikan 2 lagi, orang yang diberi 5 talenta harus mengembalikan 5 talenta lagi. Hendaklah semua pengakuan dan penilaian itu kita kembalikan kepada Allah dengan demikian kita tidak mencobai Tuhan Allah dengan mempermainkan posisi dan mendengar bisikan setan. Hidup di dunia semakin hari bertambah berat dan kita seringkali tergoda untuk mencapai suatu kepuasan kebutuhan seperti yang iblis tawarkan maka mintalah kekuatan dari Tuhan untuk kita melawan iblis.
4. Memutarbalikkan Firman
Iblis memakai Firman untuk mencobai Tuhan Yesus, “Ada tertulis....“ namun tentu saja dengan pengertian yang sangat berbeda. Jadi, jangan pernah berpikir kalau orang memakai Firman Tuhan berarti itu dari Allah. Tidak! Hati-hati, hari ini banyak orang yang mempermainkan Firman, ia telah kehilangan esensi yang mendasar, menginterpretasi dengan sembarangan demi mendapat keuntungan diri. Kita harus peka akan hal ini jangan jatuh dalam akal licik si iblis karena itu, hendaklah tiap-tiap hari kita merenungkan Firman Tuhan supaya tidak jatuh dalam cobaan iblis. Amin.
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)


Sumber :
Ringkasan Khotbah mimbar di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Andhika, Surabaya tanggal 21 Januari 2007 (http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2007/20070121.htm)

No comments: