15 August 2009

KASIH Vs KEMUNAFIKAN (Denny Teguh Sutandio)

KASIH Vs KEMUNAFIKAN

oleh: Denny Teguh Sutandio




“Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik.”
(Rm. 12:9)




Surat Roma adalah salah satu kitab di dalam Alkitab yang paling berpengaruh di dalam sejarah gereja. Bapa Gereja Augustinus bertobat setelah membaca surat ini. Begitu juga reformator, Dr. Martin Luther kembali menemukan kebenaran bahwa manusia dibenarkan melalui iman pun ketika dia menyelidiki Surat Roma. Surat ini ditulis oleh Rasul Paulus kira-kira pada tahun 55 atau 56 Masehi. (The Wycliffe Bible Commentary Vol. 3, 2008, hlm. 509) Surat ini ditujukan kepada orang Yahudi dan Yunani yang tinggal di Roma dan berisikan dasar-dasar iman Kristen tentang Allah, kesucian-Nya, dosa manusia, keselamatan di dalam Kristus, pengudusan, dan kehidupan Kristen sebagai aplikasi doktrin yang telah mereka pelajari. Biasanya surat ini dibagi menjadi 2 bagian pembahasan, yaitu: pembahasan doktrin (Rm. 1 s/d 11) dan pembahasan aplikasi dari doktrin (Rm. 12 s/d 16). Pada bagian pertama yaitu di Roma 1 s/d 11, Rasul Paulus membahas doktrin dosa dan keselamatan dengan menelusuri Perjanjian Lama dan diakhiri dengan suatu kesimpulan final bahwa segala sesuatu adalah dari Allah, oleh Allah, dan untuk Allah, bagi Dia kemuliaan selama-lamanya (Rm. 11:36). Kesimpulan tersebut merupakan kesimpulan tentang sangat agungnya keselamatan yang telah Allah berikan bagi umat-Nya dan tentu saja kesimpulan ini juga berlaku bagi seluruh kehidupan Kristen yang seharusnya memusatkan hidup mereka pada anugerah dan kemuliaan-Nya. Oleh karena itulah, konsep bahwa segala sesuatu adalah dari Allah, oleh Allah diimplikasikan oleh Paulus di dalam seluruh aspek kehidupan Kristen sehari-hari. Implikasi ini dimulai dari konsep ibadah sejati yang menyeluruh yang berpusat pada Allah di Roma 12:1-2. Di dalam ibadah tersebut, kita sebenarnya sedang melayani Allah. Oleh karena itu, kemudian, ia mengimplikasikan konsep kemuliaan Allah di dalam pelayanan yang saling melengkapi di dalam Kerajaan Allah di Roma 12:3-8. Di dalam pelayanan pun, salah satu unsur yang perlu diperhatikan adalah kasih. Tanpa kasih, tidak mungkin ada orang yang mau melayani. Tanpa kasih pula, pelayanan kita tidak akan benar-benar memuliakan-Nya, karena pelayanan kita akan dikuasai oleh semangat kompetisi dan keegoisan. Karena alasan itulah, Paulus menjelaskan ulang konsep kasih yang berpusat kepada Allah mulai ayat 9 s/d 20. Pada kali ini, kita tidak akan membahas keduabelas ayat tersebut, namun hanya mengkhususkannya di ayat 9 sebagai bahan renungan kita tentang kemunafikan, lalu bagaimana kita bisa keluar dari kemunafikan kita dengan kembali kepada kasih yang berpusat pada Allah.




Bukan suatu kebetulan, Rasul Paulus mendefinisikan tentang kasih dengan mengaitkannya pertama-tama dengan kepura-puraan atau kemunafikan. Di ayat 9, ia mengajar, “Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik.” Di dalam terjemahan Yunani, kata “hendaklah” tidak ditemukan, namun di dalam beberapa terjemahan Inggris, kata ini diterjemahkan let (=biarlah) dan ada juga terjemahan Inggris lain yang tidak menerjemahkannya. Dr. John Gill di dalam tafsirannya John Gill’s Exposition of the Entire Bible menafsirkan bahwa ayat ini adalah berupa nasihat/dorongan (exhortation). Tentunya karena ini merupakan nasihat/dorongan, maka ini bukan paksaan. Lalu, setelah “hendaklah”, Paulus menyambung dengan kata “kasih.” Kasih apakah yang Paulus maksudkan? Bahasa Indonesia tidak jelas mendefinisikannya, begitu juga bahasa Inggris. Ketika kita menyelidiki bahasa Yunaninya, kata yang dipergunakan adalah agapē yang berarti unconditional love (kasih yang tidak bersyarat) dan jenis kasih ini adalah kasih yang tertinggi yang hanya pantas diperuntukkan untuk kasih Allah bagi umat-Nya.




Dari penjelasan di atas, kita belajar bahwa kasih agapē ini BUKAN suatu keharusan yang memaksa, tetapi suatu nasihat yang membebaskan. Mengapa demikian? Karena kasih dan mengasihi (konteks: agapē) merupakan suatu hal yang keluar dari hati yang terdalam. Allah mengasihi manusia dengan kasih agapē dan kasih ini telah ditunjukkan-Nya dengan sempurna melalui karya penebusan Kristus di kayu salib. Kasih agapē tersebut keluar dari hati Allah yang terdalam dan termurni. Seorang Kristen yang telah dikasihi dan ditebus-Nya seharusnya merespons kasih-Nya tersebut dengan mengasihi Allah dan sesama dengan kasih yang tak bersyarat atau kasih yang murni. Jangan pernah memaksa seseorang untuk mengasihi orang lain apalagi memaksa seseorang mengasihi Allah, karena itu tidak akan berguna apa-apa, bahkan mungkin sekali orang yang kita paksa untuk mengasihi itu memiliki kasih yang pura-pura. Oleh karena itu, maka Paulus melanjutkan, “kasih itu jangan pura-pura!” Pernyataan “jangan pura-pura” memiliki beragam arti di dalam terjemahan Inggris maupun bahasa Yunaninya. English Standard Version (ESV) menerjemahkannya, “Let love be genuine.” (=biarlah kasih itu sungguh-sungguh) International Standard Version (ISV) menerjemahkannya, “Your love must be without hypocrisy.” (=Kasihmu harus tanpa kemunafikan.) King James Version (KJV) menerjemahkannya, “Let love be without dissimulation.” (=Biarlah kasih itu tanpa topeng/berpura-pura.) New International Version (NIV) menerjemahkannya, “Love must be sincere.” (=Kasih harus tulus.) Terjemahan Indonesia dari teks Yunaninya adalah “Kasih itu bukan yang berpura-pura.” (Hasan Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia, 2006, hlm. 864) Dari beragam terjemahan ini, kita mendapatkan penjelasan bahwa kasih itu tidak boleh berpura-pura atau kasih itu tidak boleh munafik. Apa itu munafik? Mengapa dikontraskan dengan kasih? Mari kita menyelidikinya.




Menurut NIV Spirit of the Reformation Study Bible, kata “munafik” yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris sebagai hyprocrisy berasal dari kata hypocrites (aktor) di dalam drama Yunani kuno yang menggunakan topeng. Dengan kata lain, si hipokrites/aktor yang bermain dalam drama ini menggunakan topeng. Nah, melalui ayat ini, Paulus hendak mengajar jemaat Roma dan kita bahwa kasih agapē bukanlah kasih yang bertopeng seperti demikian. Ketika kita berbicara mengenai topeng, kita sebenarnya berbicara mengenai kepalsuan. Di dalam dunia yang kita hidupi ini, sudah terlalu banyak kepalsuan yang kita tonton dan perhatikan. Mulai dari film, drama, dll, kita menjumpai beraneka ragam kepalsuan. Tidak jarang di dalam dunia realitas, kita menjumpai kepalsuan ini bahkan di dalam diri banyak orang Kristen. Mereka aktif ke gereja, suka menghadiri seminar dan acara-acara rohani, namun mereka hidup di dalam kepalsuan. Atau dengan kata lain, mereka bermuka dua. Di hadapan semua orang, orang seperti ini bisa kelihatan baik, alim, dll, tetapi ketika tidak ada orang yang memperhatikan, ia bisa berlaku sebaliknya. Di hadapan orang tertentu, ia bisa menyanjung orang tersebut, namun sayangnya, ketika orang tertentu itu telah pergi, ia bisa mengata-ngatai orang tertentu kepada orang lain. Ya, hidup di dalam topeng berarti hidup di dalam kepalsuan dan hidup di dalam kepalsuan ditandai dengan bermuka dua. Tetapi, pertanyaan selanjutnya adalah mengapa bisa demikian?




Ada beberapa alasan mengapa orang (bahkan banyak orang “Kristen”) munafik:
1. Tidak Rendah Hati
Seorang Kristen yang munafik pertama-tama harus diragukan status Kekristenannya. Dengan kata lain, apakah benar seorang Kristen yang munafik benar-benar seorang pengikut Kristus sejati ataukah sebenarnya orang “Kristen” palsu (meminjam istilah Pdt. Dr. Stephen Tong, anak setan yang masih indekos di dalam gereja)? Dengan mengatakan hal ini, saya TIDAK bermaksud langsung menghakimi bahwa orang “Kristen” munafik pasti bukan anak Tuhan sejati. Mungkin sekali ada orang Kristen sungguh-sungguh yang munafik, tetapi jikalau itu pun ada, kemunafikan itu tidak akan berlangsung lama, karena Roh Kudus akan terus-menerus memurnikan hidupnya. Kembali, mengapa saya bisa berkata bahwa orang “Kristen” munafik adalah orang “Kristen” palsu? Mari kita lihat perbedaannya. Orang Kristen yang sungguh-sungguh adalah orang Kristen yang rendah hati. Orang disebut Kristen BUKAN dilihat dari seberapa dia aktif ke gereja atau mengikuti acara rohani, tetapi dilihat dari sampai seberapa rendah hatinya ia di hadapan Allah dan kebenaran firman-Nya. Kerendahan hati itu ditunjukkan dengan keterbukaan hatinya untuk mau dikoreksi oleh firman dan otomatis berkomitmen menjalankan firman Tuhan tersebut di dalam setiap aspek kehidupannya. Saya menyebutnya sebagai: TAAT DI DALAM PROSES PENGUDUSAN ROH KUDUS. Artinya, kerendahan hati membuahkan sikap taat dan itu bisa dimungkinkan melalui pencerahan dan pengudusan yang Roh Kudus kerjakan di dalam hati umat pilihan-Nya. Sedangkan orang “Kristen” palsu adalah orang yang tidak rendah hati, namun sombong. Kesombongannya itu mengakibatkan ia dengan mudahnya mengkritik bahkan menghakimi beberapa khotbah dan pengajaran firman yang bertanggungjawab hanya karena itu tidak cocok dengan dirinya (bukan karena tidak sesuai dengan Alkitab). Atau mungkin sekali ia meng“amin”i semua khotbah dan pengajaran yang didengarnya, namun sayang ia TIDAK mau rendah hati mengoreksi kesalahan dan mengaplikasi khotbah tersebut. Jangan heran, khususnya, seorang muda Kristen (bahkan mungkin anak majelis/tua-tua/hamba Tuhan) bisa dengan mudahnya meng“amin”i khotbah yang mengajar bahwa carilah pasangan hidup yang seiman, namun secara praktik hidup, ia dengan mudahnya menjalin hubungan dekat dengan lawan jenis yang berbeda iman (dengan alasan: “cocok” dengan lawan jenis tersebut). Bagaimana dengan kita? Jangan menuduh orang lain munafik, tetapi introspeksi diri kita masing-masing terlebih dahulu, masihkah kita munafik? Jika ya, berhati-hati dan bertobatlah.


2. Tidak Suka Kebenaran
Orang “Kristen” bisa munafik mungkin sekali karena ia tidak suka Kebenaran. Kalau di poin pertama, orang “Kristen” munafik saya sebut sebagai “Kristen” palsu yang tidak rendah hati, maka di poin kedua, sikap tidak rendah hati ini menghasilkan suatu sikap yang tidak suka Kebenaran. Mengapa ia tidak suka Kebenaran? Karena baginya, pertama, Kebenaran itu idealisme yang terlalu tinggi dan di awang-awang serta tidak mungkin diwujudnyatakan dalam kehidupan dunia ini. Tidak heran, karena pikiran ini, maka orang “Kristen” munafik bisa hidup mendua hati. Jika di gereja, ia akan meng“amin”i khotbah yang mengajarkan tentang pentingnya hidup kudus, jujur, taat, setia, dll, tetapi setelah keluar gereja, ia kembali ke hidup aslinya yang tidak karuan, gemar berdusta, dll. Benarkah kebenaran itu hanya idealisme kosong dan tidak bisa diwujudnyatakan? TIDAK! Yang kita perlukan bukan bagaimana menghidupi Kebenaran itu dalam waktu singkat, namun yang kita perlukan adalah bersediakah kita dengan rendah hati taat menghidupi Kebenaran itu? Dan ketaatan itu BUKAN suatu proyek singkat, namun proyek yang membutuhkan waktu yang sangat lama, karena ketaatan itu adalah sebuah PROSES.

Kedua, Kebenaran itu tidak enak dan perlu bayar harga untuk itu. Tuhan Yesus sudah mengajar hal demikian, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Mat. 16:24; bdk. 10:38) Rasul Paulus juga mengajar hal serupa kepada anak rohaninya, Timotius di dalam 2 Timotius 3:12, “Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya,” Tidak ada bagian Alkitab yang mengajarkan bahwa ikut Kristus pasti kaya, sukses, berkelimpahan, makmur, selalu sehat, bahkan tidak pernah digigit nyamuk. Itu jelas bukan ajaran Alkitab! Namun, sayangnya, begitu banyak orang “Kristen” dengan mudahnya ditipu oleh ajaran-ajaran yang tidak bertanggungjawab demikian. Sehingga jangan heran orang “Kristen” demikian hidup mendua hati. Jika di gereja, ia bisa dengan bangganya mengaku diri “Kristen”, namun ketika bahaya mengancam nyawanya, mungkin sekali ia menyangkal imannya dan mengatakan bahwa dirinya bukan Kristen. Itu yang sering saya dengar pada beberapa atau bahkan banyak orang Kristen ketika berhadapan dengan bahaya nyawa pada kerusuhan Mei 1998. Sungguh mengerikan kemunafikan demikian. Terhadap orang “Kristen” demikian, Tuhan Yesus berfirman, “Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga."” (Mat. 10:32-33)


3. Melihat Kemunafikan Orang “Kristen” Lainnya
Alasan ketiga orang “Kristen” bisa munafik adalah karena ia sendiri melihat orang “Kristen” lainnya munafik. Jika ada orang “Kristen” lain atau bahkan beberapa pemimpin gereja munafik, orang “Kristen” ini akan langsung mengambil sikap serupa. Lalu, kalau orang ini ditanya oleh orang lain mengapa dia munafik, dia akan berargumentasi bahwa dia bersikap munafik karena orang lain bahkan pemimpin gereja munafik. Berarti, kemunafikan dirinya lebih disebabkan oleh pihak luar/eksternal, ketimbang internal. Jika hal demikian yang terjadi, maka orang yang munafik ini sudah berdosa dobel. Pertama, dia munafik. Kedua, dia munafik dan menyalahkan orang lain munafik yang mempengaruhi sikapnya yang munafik. Jadi, istilahnya, dia tidak mau disalahkan (karena sikapnya yang munafik) dan dengan mudahnya menyalahkan orang lain, padahal orang Kristen bertugas menjadi saksi Kristus yang mempengaruhi dunia luar, bukan dipengaruhi oleh dunia luar.

Di sisi lain, ini juga menjadi teguran bagi orang Kristen yang sungguh-sungguh namun masih hidup di dalam kemunafikan. Kalau kita sungguh-sungguh mengaku telah beriman kepada Kristus, seharusnya kita tidak lagi hidup munafik dan kita terus-menerus berkomitmen untuk menjadi garam dan terang bagi dunia sekitar, sehingga melalui sikap kita, orang lain bahkan orang Kristen lain diberkati dan memuliakan Tuhan. Ini juga menjadi teguran bagi saya pribadi.




Jika kita telah mengerti alasan kemunafikan, lalu bagaimana orang Kristen bisa keluar dari sikap hidup munafik? Kembali ke ayat 9a, Paulus mengatakan bahwa KASIH itu TIDAK MUNAFIK. Berarti jalan keluar dari sikap hidup kemunafikan adalah kembali kepada KASIH AGAPE! Di dalam kasih, tidak ada kemunafikan. Artinya, di dalam kasih, selain harus ada Kebenaran, juga ada kemurnian, ketulusan, kejujuran, dan kesetiaan. Rasul Paulus juga mengajar hal serupa kepada Timotius di dalam 1 Timotius 1:5 tentang pentingnya nasihat di ayat 3-4, “Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas.” Kata “kasih” di ayat 5 ini di dalam KJV diterjemahkan charity (=amal/kebajikan) dan bahasa Yunaninya JUGA menggunakan kata agapē. “Hati yang suci” di ayat 5 ini diterjemahkan oleh KJV sebagai, “pure heart” (=hati yang bersih/murni) dan kata Yunani untuk pure ini adalah katharos yang berarti bersih, jernih/jelas (clean, clear). Lalu, bagaimana kita memiliki kasih agapē yang murni tersebut?




Di ayat 9b, Paulus menjelaskan bahwa di dalam kasih agapē yang murni tersebut terkandung dua sikap:
1. Membenci yang Jahat
Di ayat 9b, bagian pertama, Paulus mengajar, “Jauhilah yang jahat” Kalau kita memperhatikan terjemahan Indonesia ini, seolah-olah kita mendapatkan gambaran bahwa kasih yang murni itu hanya MENJAUHI yang jahat. Terjemahan Indonesia ini kurang tepat artinya dan cenderung masih terlalu lembut bahasanya. Jika kita membandingkan terjemahan Indonesia ini dengan terjemahan Inggris dan teks asli Yunaninya, kita mendapatkan pengertian yang lebih tegas dan jelas. Analytical-Literal Translation (ALT), 1889 Darby Bible, English Majority Text Version (EMTV), ESV, ISV, KJV, Revised Version (RV), 1833 Webster Bible, 1898 Young’s Literal Translation (YLT) menerjemahkan “jauhilah” ini dengan kata abhor (=sangat membenci). Terjemahan lain untuk kata “jauhilah” ini adalah hate (=membenci) dan terjemahan ini dipakai oleh James Murdock New Testament, 1965 Bible in Basic English (BBE), Bishops’ Bible 1568, God’s Word, Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS), dan NIV. Kata Yunani yang dipakai di sini adalah apostugeō dan oleh Pdt. Hasan Sutanto, D.Th. di dalam Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia diterjemahkan, “Bencilah.” Dan di dalam struktur bahasa Yunani, kata ini menggunakan bentuk aktif dan present. Dari studi kata ini, kita mendapatkan penjelasan bahwa kasih yang murni adalah kasih yang MEMBENCI kejahatan secara aktif dan sekarang. Artinya:
Pertama, kasih bukan hanya MENJAUHI kejahatan (bukan hanya mengenai jauh atau dekat), tetapi kasih yang murni adalah kasih yang benar-benar MEMBENCI kejahatan. Kasih yang membenci kejahatan artinya kasih yang TIDAK mau melihat kejahatan sedikitpun. Hal ini sangat berbeda total dari konsep dunia tentang kasih. Dunia kita (tidak jarang termasuk banyak orang Kristen di dalamnya) mendefinisikan kasih sebagai tindakan yang mengasihi kejahatan bahkan bersuka di dalam kejahatan tersebut. Tidak heran, free-sex, dianggap sah, normal, bahkan para pelakunya bersuka di dalam tindakan-tindakan tersebut. Namun, Alkitab memiliki definisi yang teragung mengenai kasih yang murni, yaitu kasih yang membenci kejahatan. Atau saya berani menafsirkan: KASIH yang MURNI adalah KASIH yang JIJIK terhadap kenajisan. Mengapa kita bisa membenci alias jijik terhadap kejahatan/kenajisan? Karena kita adalah anak-anak Allah yang mengasihi kesucian hidup sebagaimana yang Allah sendiri perintahkan melalui Rasul Petrus, “Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” (1Ptr. 1:14-16)

Kedua, kasih yang MEMBENCI kejahatan dilakukan secara AKTIF. Kasih yang membenci kejahatan bukan dilakukan secara pasif, yaitu menunggu sampai kejahatan itu benar-benar mencobai kita. TIDAK! Justru, kita secara AKTIF membenci kejahatan baik kejahatan itu PASIF maupun AKTIF mencobai kita. Berarti, ada suatu langkah MAJU dan BERANI di dalam sikap kita dalam MEMBENCI kejahatan. Hal ini sama seperti yang dipaparkan oleh Rasul Petrus ketika berbicara mengenai si setan, “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama.” (1Ptr. 5:8-9) Kata “sadarlah”, “berjaga-jagalah”, dan “lawanlah” di dalam kedua ayat ini (8-9) di dalam struktur bahasa Yunani menggunakan bentuk AKTIF. Berarti, kita bukan diperintahkan PASIF terhadap kejahatan/setan, tetapi AKTIF. Dengan kata lain, mengutip perkataan Pdt. Dr. Stephen Tong, kita sebagai orang Kristen yang beres TIDAK dipanggil hanya untuk menjawab tantangan/serangan zaman/setan, tetapi untuk MENANTANG zaman agar kembali kepada Kebenaran!
Lalu, bagaimana kita mewujudnyatakan kasih yang membenci kejahatan secara aktif ini? Caranya adalah dengan TIDAK terikat pada kejahatan atau apa pun yang jahat yang memisahkan kita dari Allah dan juga kita menegur sesama saudara seiman atau orang lain agar tidak terikat juga. Berarti: Pertama, kita memberlakukan “membenci kejahatan” itu pada diri kita sendiri terlebih dahulu. Kita membenci kejahatan dengan TIDAK terikat pada kejahatan apa pun yang memisahkan kita dari Allah. Caranya adalah, seperti yang dipaparkan Paulus di ayat-ayat sebelumnya (Rm. 12:1-2), kita mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah yang ditandai dengan pembaharuan akal budi kita. Ketika kita mempersembahkan tubuh kita untuk dipakai bagi kemuliaan-Nya (melalui pembaharuan akal budi kita), maka pada saat yang sama, melalui proses pengudusan yang Roh Kudus kerjakan, kita tidak akan lagi terikat pada kejahatan yang mendukakan hati-Nya. Berarti fokus kepada Allah mengakibatkan kita tidak lagi berfokus kepada hal-hal yang jahat. Kedua, kita pun dipanggil untuk menyadarkan sesama saudara seiman/orang lain agar mereka juga tidak terikat. Berarti kita bukan hidup egois yang hanya memperhatikan kepentingan kita, tetapi kita juga mengingat orang lain akan bahaya kejahatan itu. Bagaimana kita dapat menyadarkan mereka? Caranya adalah dengan menegur mereka agar mereka juga tidak terikat pada kejahatan. Di dalam Alkitab, Paulus menegur Petrus yang munafik (Gal. 2:11-14). Jelas tujuan teguran itu BUKAN untuk mempermalukan Petrus atau membuktikan Paulus lebih hebat dan rohani ketimbang Petrus, tetapi motivasi dan tujuannya agar Petrus bertobat dari kemunafikan itu dan kembali kepada jalan yang benar. Berarti di dalam suatu teguran, yang diperhatikan adalah isi teguran beserta motivasi, cara, dan tujuan yang beres. Kepada Timotius yang ditugasi Paulus untuk melayani jemaat bersama, Paulus menasihatkan Timotius, “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.” (2Tim. 4:2) Selain memberitakan firman, di dalam pelayanan, Paulus juga mengingatkan Timotius untuk tidak lupa menegur jemaat. Berarti, teguran tetap diperlukan bagi orang Kristen/jemaat agar mereka juga bertobat. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menegur diri kita sendiri dan orang lain demi pertumbuhan masing-masing anggota tubuh Kristus ke arah Kristus? Ingatlah, jangan sungkan-sungkan menegur dan biarkan Roh Kudus sendiri yang bekerja di dalam teguran itu untuk menyadarkan kita maupun orang lain.


2. Melekat Pada yang Baik
Bukan hanya membenci kejahatan, kasih yang murni juga melekat pada yang baik. Terjemahan Indonesia, “lakukanlah yang baik.” Kata “lakukanlah” di dalam KJV diterjemahkan cleave (=berpegang erat/setia pada). Di dalam NIV dan ISV diterjemahkan cling (=mendekat/menempel) dan terjemahan Indonesia dari teks Yunaninya adalah bergabunglah dengan (yang baik). Kedua bagian ini, yaitu membenci yang jahat dan melekat pada yang baik saling berkaitan. Kasih yang murni adalah kasih yang MEMBENCI yang jahat dan sekaligus setelah itu langsung MELEKAT pada yang baik. Apa arti “baik” di dalam bagian ini? Kata “baik” dalam ayat 9b ini dalam bahasa Yunaninya agathos berarti good, well (baik, bagus). Pdt. Hasan Sutanto, D.Th. di dalam Konkordansi Perjanjian Barunya menerjemahkan agathos sebagai baik, baik hati, jujur, berguna. Jika kita membaca kembali ayat-ayat sebelumnya, yaitu di ayat 2, maka kita mendapatkan penjelasan utuh tentang konsep baik di dalam ayat 9b ini. Di Roma 12:2, Paulus mengajarkan, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Kata “baik” di ayat 2 ini dalam bahasa Yunani sama dengan kata “baik” di ayat 9b. Berarti, BAIK bukan hanya BAIK secara standar moral saja, tetapi BAIK dikaitkan dengan: kehendak Allah, berkenan kepada Allah (menyenangkan Allah), dan sempurna. Dengan kata lain, melekat pada/bergabung dengan yang baik berarti bergabung dengan yang baik, berguna, berkenan kepada Allah, menyenangkan-Nya, dan sempurna. Setelah bergabung, tentu orang Kristen dituntut untuk menjalankannya. Berarti, makna bergabung, bukan hanya sekadar bergabung seperti bergabung di dalam sebuah anggota kelompok, tetapi juga berpartisipasi di dalamnya.

Bergabung dengan/melekat pada yang baik ini di dalam struktur bahasa Yunaninya menggunakan bentuk PASIF. Mengapa PASIF? Karena posisi kita yang bergabung dengan kebaikan itu BUKAN posisi aktif yang berasal dari diri kita, tetapi PASIF, karena Allah yang menarik kita kepada kebaikan itu. Inilah bedanya theologi yang menekankan kedaulatan dan anugerah Allah vs theologi yang terlalu menekankan tanggung jawab manusia. Theologi yang berpusat pada Allah adalah theologi yang melihat segala sesuatu dari perspektif anugerah dan kedaulatan Allah yang membawa manusia mengenal kebenaran dan kebaikan, sedangkan theologi yang berpusat pada manusia selalu melihat kehebatan manusia yang secara aktif mencari Allah dan melekat pada kebenaran dan kebaikan secara sendiri. Kembali, ketika kita bisa melekat pada yang baik itu terjadi karena anugerah Allah yang begitu agung, karena tanpa anugerah-Nya, kita tidak mungkin menyukai apa yang benar dan baik.




Bagaimana dengan Anda? Sudahkah Anda memiliki kasih yang murni yang: MEMBENCI kejahatan dan MELEKAT pada yang baik demi hormat dan kemuliaan nama-Nya? Jika belum, sudah saatnya Anda bertobat dan kembali kepada-Nya. Jika sudah, teruslah perbaharuilah komitmen Anda di hadapan-Nya dan jangan lupa untuk mengingatkan orang lain/saudara seiman lain supaya mereka juga memiliki kasih yang murni. Kiranya Tuhan memberkati komitmen hati kita dan pelayanan kita di hadapan-Nya. Amin. Soli DEO Gloria.

12 August 2009

Resensi Buku-76: I, ISAAC Take THEE, REBEKAH: Beralih dari Cinta Romantis Menuju Cinta yang Tidak Berkesudahan (DR. RAVI ZACHARIAS, D.D.)

…Dapatkan segera…




Buku
I, ISAAC Take THEE, REBEKAH
(SAYA, ISHAK Mengambil ENGKAU, RIBKA):
Beralih dari Cinta Romantis Menuju Cinta yang Tidak Berkesudahan


oleh: DR. RAVI ZACHARIAS, D.D.

Penerbit: Pionir Jaya, 2009

Penerjemah: Paulus Gunawan





Deskripsi dari Denny Teguh Sutandio:
Cinta dan Pernikahan? Apa itu cinta? Apa hubungannya dengan pernikahan? Bagaimana kita mendefinisikan dua hal tersebut? Beberapa atau bahkan tidak sedikit orang “Kristen” seperti orang dunia dalam mendefinisikan kedua hal tersebut, yaitu terlalu memfokuskan hal-hal fenomenal dan yang lebih parah lagi bersifat kedagingan (hawa nafsu). Sudah saatnya orang Kristen bertobat dari penyakit parah ini dan kembali kepada makna asali dari dua hal tersebut. Tentang cinta, Dr. Ravi Zacharias di dalam bukunya ini memaparkan bahwa unsur-unsur cinta yang berbeda dari konsep dunia tentang cinta. Konsep Alkitab tentang cinta, bagi Dr. Ravi, adalah cinta yang berkorban dan menyangkal diri (tidak egois). Cinta inilah yang nantinya mengarahkan kita ke jenjang lebih serius di dalam pernikahan. “Pernikahan adalah ide Allah dan Ia sendiri yang memiliki hak untuk mendefinisikan bagaimana seharusnya pernikahan itu.” demikian kata Dr. Ravi Zacharias di dalam bukunya ini. Karena pernikahan adalah ide Allah, maka sudah seharusnya pernikahan dibangun dengan prinsip-prinsip Alkitab yang berpusat kepada Allah (Theosentris). Dengan menguraikan kisah Ishak dan Ribkah serta keluarganya di dalam Kejadian 24-26, Dr. Ravi Zacharias di dalam bukunya ini menguraikan dengan tajam tentang prinsip-prinsip pernikahan yang Alkitabiah dan apa saja yang seharusnya dipersiapkan seorang Kristen sebelum siap menikah. Karena ditulis oleh seorang yang berkebudayaan Timur, maka Dr. Ravi mempertimbangkan unsur bijaksana dari orangtua di dalam memilih pasangan hidup kita, meskipun tetap memberikan kebebasan penuh (dengan bertanggungjawab) kepada si anak untuk menentukan sendiri (seperti contoh Ribka). Biarlah buku ini menjadi berkat bagi kita khususnya mereka yang sudah pacaran dan hendak menikah untuk membangun pernikahan di atas dasar Alkitab dengan bertanggungjawab dan bagi kemuliaan Allah Tritunggal.

Saya membaca buku ini setelah mendapat rekomendasi buku dari seorang rekan gereja saya dan setelah saya selesai membaca buku ini, saya bersyukur bahwa Dr. Ravi mengajar saya banyak hal dengan prinsip-prinsip bertanggungjawab dan Alkitabiah tentang cinta dan pernikahan.



Pengantar dari buku:
I, Isaac Take Thee, Rebekah membukakan beberapa prinsip dan isu penting mengenai pernikahan yang saleh seperti:
· Membedakan antara jatuh cinta dan keinginan untuk mencintai
· Memahami pentingnya berkat restu dari orangtua serta peran orangtua sebagai penasihat sewaktu kita memilih pasangan
· Mengejar kekudusan dan mengetahui pandangan seks yang benar
· Belajar arti sebuah doa
· Menyiapkan hati dan pikiran untuk suatu pernikahan yang sehat
· Menerapkan kebaikan dalam hubungan Anda
· Mendapatkan pertolongan untuk menyelesaikan konflik pernikahan
· Mengetahui rencana Allah mengenai pernikahan dan membentuk pernikahan kita menurut cara Allah

Baik Anda yang sedang pacaran serius, yang sedang memikirkan mengenai pernikahan, atau berkomitmen membuat pernikahan Anda kuat, buku yang penuh pengertian ini, penuh dengan bimbingan yang Alkitabiah, akan menawarkan Anda kekuatan dan bijaksana sewaktu Anda beralih dari cinta romantis menuju cinta yang tidak berkesudahan.





Profil Dr. Ravi Zacharias:
Dr. Ravi Zacharias, D.D. lahir di Madras, India tahun 1946. Beliau dikenal sebagai seorang apologetika Kristen dari Kanada, Amerika. Beliau dan keluarganya pindah ke Toronto, Kanada, ketika beliau masih sebagai seorang remaja, tetapi sekarang beliau berada di Atlanta, Georgia. Beliau terlahir dari keluarga pandita Hindu (kasta Nambudiri Brahmin), kemudian beliau bertobat kepada Tuhan Yesus dan menyerahkan diri menjadi hamba-Nya yang setia. Beliau pindah ke Kanada pada tahun 1966. Beliau mendapatkan gelar Master of Divinity (M.Div.) dari Trinity International University di Deerfield, Illinois. Beliau menguasai banyak disiplin ilmu, di antaranya perbandingan agama, aliran agama, dan filsafat, dan oleh karena itu beliau memimpin departemen Penginjilan dan Pemikiran Kontemporer di Alliance Theological Seminary selama 3,5 tahun. Beliau mendapatkan anugerah gelar Doctor of Divinity (D.D.) baik dari Houghton College, NY maupun dari Tyndale College and Seminary, Toronto. Beliau juga dianugerahi gelar Doctor of Laws (LL.D.) dari Asbury College di Kentucky. Beliau juga melakukan studi khusus mengenai para pujangga Inggris aliran Romantisme di Cambridge University, U.K. Beliau sekarang menjadi dosen tamu di Wycliffe Hall, Oxford University di Oxford, England.

Beliau juga menjadi pembicara utama pada the National Day of Prayer di Washington, D.C. dan the Annual Prayer Breakfast for the United Nations di New York City. Beliau telah menulis beberapa buku tentang Kekristenan, di antaranya, Can Man Live Without God? (1994), The Lotus and the Cross: Jesus Talks with Buddha (2001), and Sense and Sensuality: Jesus Talks with Oscar Wilde (2002), Cries of the Heart, Recapture The Wonder, dan Deliver Us From Evil. Selain itu, beliau juga adalah Presiden Direktur dari Ravi Zacharias International Ministries yang berpusat di Norcross, Georgia. Pada tahun 2009 ini, pelayanan beliau telah mencapai lebih dari 36 tahun. Beliau telah berceramah lebih dari 50 negara, termasuk di universitas-universitas terkemuka, seperti: Harvard dan Princeton. Program mingguannya di radio Let My People Think disiarkan di lebih dari 550 stasiun radio di seluruh dunia.

Pada undangan dari Billy Graham, beliau menjadi pembicara pleno di dalam International Conference for Itinerant Evangelists di Amsterdam pada tahun 1983, 1986, dan 2000. Beliau bersama istri, Margie, memiliki tiga orang anak, yaitu; Sarah, yang menikah dengan Jeremy, Naomi, dan Nathan.

09 August 2009

Roma 16:1-2: SALAM KEPADA SAUDARA SEIMAN-1: Febe

Seri Eksposisi Surat Roma:
Penutup-7


Salam Kepada Saudara Seiman-1: Febe

oleh: Denny Teguh Sutandio



Nats: Roma 16:1-2.



Saat ini kita beralih ke pasal terakhir dari surat Roma. Pasal ini dibagi menjadi tiga perikop oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), yaitu: Salam, Peringatan, dan Segala kemuliaan bagi Allah. Tiga perikop ini saya klasifikasikan sendiri, sebagai: salam kepada saudara seiman dan sepelayanan (16:1-16, 21-24), peringatan akan bahaya perpecahan (16:17-20), dan salam terakhir Paulus (melalui Tertius) yang berisi penyingkapan kemuliaan Allah (16:25-27). Perikop pertama adalah tentang salam kepada saudara seiman/sepelayanan. Mengapa salam ini diperlukan? Geneva Bible Translation Notes menafsirkan bahwa nama-nama saudara seiman/sepelayanan itu disebutkan dan diberi salam bertujuan agar jemaat di Roma mengetahui siapa yang paling dihargai dan juga kepada siapa mereka harus mengikuti. Menarik sekali tafsiran ini. Dengan kata lain, melalui penyebutan nama-nama di dalam salamnya, Paulus ingin agar jemaat Roma mengenal orang-orang yang disebutkan dan mengikuti mereka. Di luar orang-orang yang disebutkannya, Paulus tentu tidak mengenalnya dan itu bisa berbahaya bagi pertumbuhan iman (=menyesatkan) jemaat Roma (bdk. Rm. 16:17).


Di ayat 1, Paulus menyatakan, “Aku meminta perhatianmu terhadap Febe, saudari kita yang melayani jemaat di Kengkrea,” Sebagai pembukaan terhadap salamnya, Paulus menyapa Febe. Siapakah Febe? Terjemahan Indonesia kurang jelas menyatakan identitas asli Febe. New International Version (NIV) Spirit of the Reformation Study Bible memberikan keterangan tambahan tentang Febe, yaitu Febe adalah seorang pembawa surat Paulus. Selain itu, Febe adalah seorang Yunani dan menjabat sebagai pelayan Tuhan di jemaat Roma. Kata “servant” di dalam NIV, King James Version (KJV), dan mayoritas Alkitab terjemahan Inggris di dalam bahasa aslinya menggunakan kata diakonos yang diterjemahkan: diaken/pelayan (minister). Analytical-Literal Translation (ALT) menambahkan satu kata setelah servant yaitu deaconess (diaken wanita). NIV Spirit of the Reformation Study Bible memberikan penjelasan bahwa ada sedikit persetujuan tentang jabatan Febe, apakah ia benar-benar seorang diaken di gereja ataukah ia hanya melayani Tuhan di gereja (bukan diaken). Sedangkan Albert Barnes, Adam Clarke, dan Matthew Henry di dalam tafsiran mereka menegaskan bahwa Febe adalah seorang diaken yang melayani di Kengkrea. Menurut Adam Clarke di dalam tafsirannya Adam Clarke’s Commentary on the Bible, diaken pada waktu itu bertugas mengurus para petobat wanita untuk dibaptis, mengajar para katekumen atau para calon baptisan, mengunjungi orang sakit dan mereka yang ada di dalam penjara. Syarat diaken ditetapkan di dalam 1 Timotius 3:8-9. Lalu, Febe dikatakan melayani jemaat di Kengkrea. Kengkrea, menurut Dr. John Gill dan Albert Barnes di dalam tafsiran mereka, adalah pelabuhan laut kota Korintus. Dari ayat ini, kita belajar dua hal penting:
Pertama, menyebut Febe sebagai saudara. Paulus menyebut Febe sebagai saudara. Dr. John Gill menafsirkan “saudara” ini bukan saudara secara jasmaniah, namun secara rohaniah. Begitu juga halnya dengan Matthew Henry yang menafsirkan “saudara” ini sebagai pengertian saudara di dalam anugerah. Lalu, apa pentingnya kata “saudara” ini? Pentingnya adalah Paulus menyebut Febe, seorang perempuan sebagai saudara seiman. Di dalam tradisi Yahudi, ada pemisahan antara pria dan wanita, bahkan di dalam ibadah. Paulus menerobos budaya Yahudi dengan pengertian integratif bahwa pria dan wanita itu sama di mata Tuhan dan di dalam persekutuan di dalam Kristus, meskipun masih ada perbedaan natur dan otoritas di antara keduanya.

Kedua, memperhatikan para pelayan Tuhan di tempat lain. Luar biasa, Paulus bukan mengingatkan jemaat Roma untuk memperhatikan orang-orang yang melayani di Roma, tetapi justru orang yang melayani di luar Roma, yaitu di daerah Korintus. Ini adalah suatu teladan bagi kita. Kita sering kali hanya memperhatikan para pelayan Tuhan di tempat kita berada, namun tidak memperhatikan para pelayan Tuhan di tempat lain atau bahkan di pelosok-pelosok daerah. Paulus mengajar kita agar kita juga memperhatikan para pelayan Tuhan di tempat lain misalnya dengan mendoakan mereka atau/dan mengirimkan bantuan bagi mereka melalui lembaga pelayanan yang bertanggungjawab.


Bukan hanya menganggap Febe sebagai saudara seiman dan pelayan Tuhan, Paulus mengingatkan jemaat Roma untuk menyambutnya dan memberikan bantuan kepadanya. Di ayat 2, ia berkata, “supaya kamu menyambut dia dalam Tuhan, sebagaimana seharusnya bagi orang-orang kudus, dan berikanlah kepadanya bantuan bila diperlukannya. Sebab ia sendiri telah memberikan bantuan kepada banyak orang, juga kepadaku sendiri.” Dari ayat ini, kita belajar dua poin penting:
Pertama, menyambut saudara seiman di dalam Tuhan. Paulus mengingatkan jemaat Roma untuk menyambut Febe sebagai saudara seiman di dalam Tuhan, seperti seharusnya bagi orang-orang kudus. Berarti, seorang diaken bisa diidentikkan dengan orang kudus pada zaman itu, karena yang bisa menjadi diaken haruslah orang yang memelihara kekudusan. Bagaimana dengan kita? Kita sebagai orang Kristen juga disebut orang-orang kudus, bukan karena kita sudah kudus 100%, tetapi secara status kita telah dikuduskan melalui penebusan Tuhan Yesus Kristus. Kita pun harus menerima dan menyambut saudara seiman kita juga di dalam Tuhan sebagai sesama anggota tubuh Kristus. Bagaimana caranya? Dengan menerima dan menyambut mereka apa adanya, misalnya dengan share iman, kerohanian, karakter, dll dengan mereka dan kita pun bisa belajar dari mereka banyak hal. Dengan menerima dan menyambut saudara seiman di dalam Kristus, kita sedang membangun sebuah persekutuan yang indah di dalam Kristus yang mengakibatkan orang-orang di luar Kristen akan merasakan cinta kasih Kristus.

Kedua, membantu saudara seiman jika diperlukan. Menyambut saudara seiman di dalam Tuhan bukan hanya ditandai dengan ucapan di mulut bibir kita saja, tetapi juga melalui perbuatan kita. Perbuatan itu ditandai dengan kerelaan kita membantu saudara seiman kita jika diperlukan. Ketika kita membantu mereka, kita menunjukkan kasih yang tulus dan benar kepada mereka dan mereka yang kita bantu akan melihat cinta kasih Kristus.

Lalu, mengapa Paulus mengingatkan jemaat Roma untuk membantu Febe? Paulus mengatakan bahwa karena Febe telah membantu banyak orang dan Paulus sendiri. Apakah ini berarti Paulus merasa hutang budi kepada Febe? Saya pikir, Paulus tidak demikian. Maksud Paulus tentu bukan ingin membalas budi kepada Febe, tetapi sebagai wujud rasa syukur Paulus kepada Allah sekaligus sebagai contoh untuk diteladani oleh jemaat Roma di dalam memberikan bantuan kepada sesama anak Tuhan.


Dari dua ayat ini, kita belajar sosok Febe dan pengakuan Paulus akan Febe. Bagaimana dengan kita? Maukah kita memperhatikan para pelayan Tuhan di tempat lain dan membantu mereka sesuai dengan gerakan Tuhan di dalam hati kita? Kiranya melalui pembelajaran 2 ayat, kita dimengertikan akan signifikansi sesama anak Tuhan dan pelayan Tuhan demi pertumbuhan dan pelebaran Kerajaan Allah di bumi ini. Amin. Soli Deo Gloria.

08 August 2009

Resensi Buku-75: SEPULUH PEMIKIRAN BESAR DARI SEJARAH GEREJA (Prof. Mark Shaw, Th.D.)

...Dapatkan segera...




Buku
SEPULUH PEMIKIRAN BESAR DARI SEJARAH GEREJA
(Panduan Pengambilan Keputusan yang Akan Menentukan Arah Gereja Anda)


oleh: Prof. Mark Shaw, Th.D.

Penerbit: Momentum Christian Literature, 2009

Penerjemah: The Boen Giok





Deskripsi dari Denny Teguh Sutandio:
Sejarah sering kali menjadi suatu momok bagi manusia pada zaman kita. Mereka yang belajar dari sejarah sering dicap sebagai orang kuno (istilah gaulnya: jadul—jaman dulu). Padahal secara tidak sadar, mereka yang mengatakan hal tersebut sedang menciptakan sejarah bagi diri mereka sendiri di zaman ini dan kelak di zaman akan datang. Memang benar, tidak semua sejarah itu baik, tetapi adalah bijaksana untuk belajar dari sejarah, apalagi sejarah dari orang-orang yang dipakai Tuhan luar biasa. Sejarah para hamba Tuhan yang dipakai-Nya secara dahsyat menjadi sumber inspirasi dan teladan bagi kita yang hidup di zaman sekarang supaya kita bisa hidup lebih mencintai Tuhan dan firman-Nya serta hidup berkenan di hadapan-Nya. Itulah tujuan yang ingin dicapai oleh Dr. Mark Shaw melalui bukunya Sepuluh Pemikiran Besar dari Sejarah Gereja. Melalui bukunya, Dr. Shaw memaparkan 10 pemikiran besar dari para theolog dan hamba Tuhan yang dipakai Tuhan luar biasa, yaitu:
1. Visi Mengenai Kebenaran dari Dr. Martin Luther
2. Visi Mengenai Kekudusan/Spiritualitas Kristen dari Dr. John Calvin
3. Visi Mengenai Persatuan (Unity) dari Jeremiah Burroughs
4. Visi Mengenai Jaminan dari William Perkins
5. Visi Mengenai Ibadah (Worship) dari Richard Baxter
6. Visi Mengenai Pembaharuan (Renewal) dari Rev. Jonathan Edwards, A.M.
7. Visi Mengenai Pertumbuhan (Growth) dari Rev. John Wesley
8. Visi Mengenai Misi dari William Carey
9. Visi Mengenai Keadilan dari William Wilberforce
10. Visi Mengenai Kebersamaan dari Dr. Dietrich Boenhoeffer

Kesepuluh pemikiran besar dari theolog dan hamba Tuhan ini dipaparkan dengan cara yang unik, yaitu dengan menjabarkan: presuposisi yang akan membawa pembaca masuk ke dalam masing-masing pemikiran tersebut, profil tokoh, pemikiran-pemikirannya, dan aplikasi praktis pemikiran-pemikiran tersebut di dalam gereja di mana kita beribadah. Lalu di bagian kesimpulan, Dr. Shaw memaparkan bahwa bagaimana menjalankan ke-10 visi tersebut ke dalam aksi gereja Kristen.

Biarlah buku ini menjadi berkat bagi kita di dalam meneladani para tokoh yang Tuhan telah bangkitkan di atas.



Pujian dari Prof. Mark A. Noll, Ph.D.:
Anda akan merasa surprised. Anda akan merasa tertantang. Anda akan mendapatkan pencerahan. Anda juga mungkin akan mengalami transformasi dalam kehidupan Kristen Anda.






Profil Dr. Mark Shaw:
Prof. Mark Shaw, M.T.S., Th.D. bersama istrinya, Lois dan kedua anak mereka bekerja sebagai misionaris bersama Africa Inland Mission. Beliau adalah Profesor Studi Historika dan Kepala Departemen di Nairobi Evangelical Graduate School of Theology (NEGST). Beliau menyelesaikan studi Diploma di Moody Bible Institute, Chicago, Illinois, U.S.A. pada tahun 1970; Bachelor of Arts (B.A.) di Gordon Conwell College, South Hamilton, MA pada tahun 1973; Master of Theological Studies (M.T.S.) di Gordon Conwell Seminary, South Hamilton, MA pada tahun 1976; dan Doctor of Theology (Th.D.) di Westminster Theological Seminary, Philadelphia, PA pada tahun 1981.

15 July 2009

Resensi Buku-73: APOLOGETIKA BAGI KEMULIAAN ALLAH (Prof. John M. Frame, D.D.)

...Dapatkan segera...




Buku
APOLOGETIKA BAGI KEMULIAAN ALLAH:
Sebuah Pengantar


oleh: Prof. John M. Frame, D.D.

Penerbit: Momentum Christian Literature, 2002

Penerjemah: Irwan Tjulianto





Deskripsi dari Denny Teguh Sutandio:
Di dalam Matius 28:19-20, Tuhan Yesus berfirman, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Dua ayat ini sering dikenal sebagai ayat Amanat Agung (Great Commision) di mana Kristus memerintahkan para murid-Nya untuk memberitakan Injil. Penginjilan adalah suatu mandat agung dari Kristus sendiri. Lalu, bagaimana caranya kita menginjili? Apa yang harus kita persiapkan? Selain harus bergantung mutlak pada kuasa Roh Kudus, di dalam penginjilan, kita perlu suatu studi yang akan memimpin kita untuk berhadapan dengan pribadi-pribadi yang kita injili. Studi itulah yang disebut apologetika, yang didefinisikan oleh Dr. John M. Frame sebagai “ilmu yang mengajar orang Kristen bagaimana memberi pertanggungan jawab tentang pengharapannya” atau “aplikasi Alkitab kepada mereka yang tidak percaya.” (hlm. 1) Dasar apologetika ini diambil dari 1 Petrus 3:15-16, “Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu.”

Setelah itu, kita digiring oleh Dr. John M. Frame melalui buku ini kepada pendahuluan, presuposisi, isi berita, dan aspek-aspek apologetika yang membawa kita makin melihat kemuliaan Allah di dalam studi apologetika. Sebagai pendahuluan, Dr. Frame memaparkan bahwa apologetika merupakan tanggung jawab Allah sekaligus manusia, berarti Allah akan memimpin setiap tugas apologetika di dalam penginjilan yang kita lakukan. Lalu, apa dasar presuposisi apologetika kita? Dr. Frame memaparkan bahwa dasarnya adalah Alkitab (Sola Scriptura), namun juga tetap memperhitungkan aspek-aspek wahyu umum Allah dan nilai-nilai. Lalu, apa isi berita yang dibawa oleh seorang apologis? Dr. Frame memaparkan dua hal: filsafat (yang meliputi konsep metafisika, epistemologi, dan etika) dan kabar baik. Di sini, beliau menggabungkan antara fungsi logika, pengabaran Injil, dan kuasa Roh Kudus. Bagi Dr. Frame, apologetika tidak bisa dipisahkan dari penginjilan, begitu juga penginjilan tidak bisa dipisahkan dari apologetika.

Dengan dasar inilah, beliau memaparkan 3 aspek apologetika yaitu apologetika sebagai: pembuktian, pembelaan, dan penyerangan. Di dalam tiga aspek ini, Dr. Frame dengan tajam sekali memulai aspek pertamanya dengan aspek aktif (bukan pasif) yaitu aspek pembuktian. Berarti, di dalam tugas apologetika, kita dituntut aktif “menyampaikan dasar-dasar rasional bagi iman kepercayaan” atau istilah singkatnya, “membuktikan kebenaran Kekristenan.” (Yoh. 14:11; 20:24-31; 1Kor. 15:1-11) Apa saja yang perlu kita buktikan? Dr. Frame sebelumnya menjelaskan dasar pembuktiannya yaitu menggunakan Alkitab dan bukti, argumentasi-argumentasi positif dan negatif, dan presuposisi dari hati (untuk lebih jelasnya silahkan membaca sendiri buku ini). Kemudian, dasar ini memimpin kita untuk membuktikan 2 poin, yaitu eksistensi (keberadaan) Allah dan Injil. Aspek kedua apologetika adalah apologetika sebagai pembelaan. Setelah aktif menjelaskan dasar rasional iman Kristen, maka biasanya akan muncul pertanyaan dari orang yang kita injili yang biasanya mempertanyakan keberadaan Allah di dalam problema kejahatan. Lalu, apa jawab kita? Dr. Frame di dalam aspek kedua membela iman Kristen dengan menjawab permasalahan tentang kejahatan. Di poin ini, beliau memaparkan terlebih dahulu 9 hal yang TIDAK Alkitab katakan tentang problema kejahatan, lalu setelah itu beliau memaparkan tanggapan Alkitabiah tentang problema kejahatan di mana Allah adalah standar bagi tindakan-Nya. Setelah membela iman Kristen, Dr. Frame memimpin kita masuk ke dalam aspek apologetika terakhir yang bersifat penyerangan. Di dalam aspek ini, kita dituntut aktif membuktikan inkonsistensi dan ilogisnya pikiran-pikiran yang non-Kristen, lalu membawa orang-orang tersebut kembali kepada Kristus. Kepada siapa aspek ketiga ini ditujukan? Dr. Frame memaparkan bahwa aspek ketiga ini ditujukan kepada dua jenis orang: atheis dan yang memuja berhala (dan sekaligus: atheis dan memuja berhala).

Sebagai aspek praktika, Dr. Frame memberikan contoh praktis bagaimana berbicara kepada orang non-Kristen yang tidak dikenal. Contoh yang beliau pakai adalah percakapan imajiner di sebuah pesawat terbang antara John (Dr. Frame) dengan Al. Percakapan ini dimulai dari saling menyapa, saling bertanya profesi, lalu masuk ke dalam pembahasan filsafat, logika, dan penginjilan. Satu hal yang saya pelajari dari contoh ini adalah ketajaman Dr. Frame menunjukkan inkonsistensi pikiran manusia berdosa dengan memutar balik ide-ide yang mereka katakan, lalu membawanya untuk mempercayai keberadaan Allah yang Personal dan Kristus! Sebagai 2 apendiks tambahan, di apendiks 1, beliau menganalisa pemahaman apologetika Ligonier dari Dr. R. C. Sproul, dll terhadap Dr. Cornelius Van Til. Lalu, di apendiks 2, beliau menjelaskan tanggapan Dr. Jay E. Adams terhadap konsep Dr. Frame tentang kejahatan. Melalui buku ini, kita dipimpin untuk masuk ke dalam theologi yang benar-benar Theosentris (berpusat kepada Allah): dari Allah, oleh Allah, dan untuk Allah (Rm. 11:36)





Profil Dr. John M. Frame:
Prof. John M. Frame, M.A., M.Phil., D.D. adalah Profesor Theologi Sistematika dan Filsafat di Reformed Theological Seminary, U.S.A. Beliau meraih gelar Bachelor of Arts (A.B.) dari Princeton University; Bachelor of Divinity (B.D.) dari Westminster Theological Seminary; Master of Arts (M.A.) dan Master of Philosophy (M.Phil.) dari Yale University; dan gelar Doctor of Divinity (D.D.) dari Belhaven College. Beliau menulis beberapa buku, di antaranya:
· Van Til, the Theologian (1976)
· The Doctrine of the Knowledge of God (1987) (sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: Doktrin Pengetahuan tentang Allah oleh Literatur SAAT Malang)
· Medical Ethics (1988)
· Perspectives on the Word of God (1990)
· Evangelical Reunion (1991)
· Apologetics to the Glory of God (1994) (sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: Apologetika bagi Kemuliaan Allah oleh Penerbit Momentum)
· Cornelius Van Til: An Analysis of his Thought (1995) (sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: Cornelius Van Til: Sebuah Analisis Terhadap Pemikirannya oleh Penerbit Momentum)
· Worship in Spirit and Truth (1996)
· Contemporary Music: a Biblical Defense (1997)

Resensi Buku-74: THEOLOGI KONTEMPORER (Prof. Harvie M. Conn, Litt.D.)

...Dapatkan segera...




Buku
THEOLOGI KONTEMPORER

oleh: Prof. Harvie M. Conn, Litt.D.

Penerbit: SAAT Malang

Penerjemah: Lynne Newell

Prakata: Pdt. DR. STEPHEN TONG





Prakata dari Pdt. Dr. Stephen Tong:
Pada zaman Pencerahan di Eropa, telah timbul aliran empirisisme di Inggris dan aliran rasionalisme di Perancis, Belanda, dan Jerman. Kedua aliran ini sangat memukul kepercayaan-kepercayaan agama tradisional pada waktu itu. Oleh karena itu kepercayaan agama sangat bergantung pada wahyu Allah, sedangkan Pencerahan menganggap manusia sudah mencapai kedewasaan untuk mengetahui segala bidang pengetahuan. Dengan kata lain, mereka berpendapat bahwa tanpa penyataan Allah, yaitu hanya melalui rasio, sudah cukup bagi manusia untuk dapat menjawab segala persoalan dan menemukan segala kebenaran. Apabila pernyataan itu benar, maka suatu pertanyaan yang besar adalah: “Di manakah tempatnya Kekristenan?” Berkenaan dengan hal itu, maka ada tokoh-tokoh pemikir yang berusaha menolong atau menyelamatkan Kekristenan dari kesulitan semacam itu.

Kant menggolongkan Kekristenan dan nilai Kekristenan di bawah wilayah moral, sedangkan Schleiermacher menggolongkan Kekristenan di bawah wilayah perasaan, dan Albrecht Ritschl menempatkan Kekristenan di bawah nilai. Persamaan dari tokoh-tokoh itu termasuk Adolf von Harnack dan Hermann, ialah meniadakan kebutuhan wahyu sebagai sumber dasar dan standar untuk mengenal Allah. Itulah bahaya yang mengancam theologi pada akhir abad ke-19, namun orang yang sungguh setia kepada Tuhan mengetahui bahwa kemungkinan untuk mengenal pengetahuan dalam dunia alam semesta telah diberikan oleh Tuhan pada waktu Tuhan menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya, di mana salah satu aspek yang diberikan ialah sifat rasio, sehingga manusia dapat menemukan pengetahuan alam. Tetapi dalam hal pengenalan terhadap Allah, manusia hanya diberi kemungkinan untuk mengetahui keberadaan-Nya, sedangkan untuk mengetahui rencana Allah, keselamatan Allah, manusia tidak dapat mengetahuinya selain melalui penyataan Allah. Dengan demikian maka pengenalan terhadap Allah merupakan suatu ilmu khusus yang melampaui kemungkinan manusia untuk mengenal alam, di mana untuk pengenalan terhadap Allah membutuhkan suatu keharusan, yaitu Allah yang menyatakan diri kepada manusia.

Pada abad ke-20, berdasarkan pemikiran di atas, Karl Barth dan Brunner menganggap penyataan adalah kunci untuk mengenal Allah. Pernyataan ini sangat serupa dengan theologi Reformasi. Theologi perlu memutar arah atau banting stir, sehingga bisa mendapatkan suatu dasar yang lebih kuat lagi. Namun konsep Allah dan konsep penyataan dari Karl Barth, sangat terpengaruh oleh Soren Aaby Kierkegaard dari Denmark. Oleh karena itu, dalam usaha untuk menyelamatkan theologi keluar dari kebahayaan liberalisme, mereka tetap tidak berdiri di atas dasar yang kuat, yang pernah diberikan oleh Martin Luther dan John Calvin, sehingga usaha untuk kembali ke Alkitab belum tuntas.

Sejak Karl Barth, kita dapat melihat aliran-aliran lain yang menjadi pokok aliran dalam dunia theologi, yang makin kacau dan makin menyimpang dari otoritas Alkitab. Meskipun setiap aliran theologi itu mempunyai sumbangsih dan kreativitas tertentu, namun penyimpangan dari Alkitab dapat kita lihat dengan jelas. Maka sebagai orang Kristen yang berkecimpung dalam dunia theologi, atau orang Kristen awam yang tertarik pada doktrin, seharusnya kita berjaga-jaga dan mendapat pedoman lebih lanjut untuk dapat menganalisa dan dapat membeda-bedakan ajaran mana yang setia dan ajaran mana yang menyimpang.

Di sekolah theologi di mana saya mengajar, yaitu SAAT (Seminari Alkitab Asia Tenggara), saya telah memasukkan salah satu buku Profesor Harvie M. Conn dari Westminster Theological Seminary di Philadelphia, menjadi buku pegangan yang saya pilih. Buku ini bukan merupakan suatu buku yang memberikan penjelasan panjang lebar, tetapi cukup memberikan pedoman yang jelas dan tepat. Buku ini bersifat akademis serta tidak terlalu sulit untuk dimengerti oleh orang Kristen di Indonesia.

PUJI TUHAN, di dalam kelas saya pada tahun 1984, sekelompok murid-murid telah terbeban untuk menerjemahkan seluruh buku ini ke dalam bahasa Indonesia. Saya mengharapkan melalui dicetaknya buku ini, orang Kristen di Indonesia mendapat berkat dan Allah dipermuliakan di tempat yang Mahatinggi. Kiranya Tuhan berkenan memakai buku ini untuk maksud-Nya sendiri.

(Malang, akhir Januari 1985)




Deskripsi dari Denny Teguh Sutandio:
Theologi berasal dari bahasa Yunani Theos yang berarti Allah dan logos berarti ilmu, jadi theologi berarti ilmu yang mempelajari tentang Allah. Tetapi sayang sekali theologi yang menjamur di era sekarang belum bisa dikategorikan sebagai 100% ilmu yang mempelajari tentang Allah, karena beragam pandangan yang ditegakkan tidak bersumber dari Allah dan firman-Nya, namun dari pemikiran manusia berdosa. Hal ini yang sedang dibawa oleh Prof. Harvie M. Conn, Litt.D. melalui bukunya Theologi Kontemporer. Di dalam bukunya, Dr. Conn menjabarkan berbagai macam arus theologi dari Neo-Orthodoksinya Karl Barth, Demitologisasinya Rudolf Bultmann, Sejarah Keselamatan dari Dr. Oscar Cullmann, “Theologi” Sekuler yang dimulai dari Bishop Dr. John T. Robinson melalui bukunya yang terkenal Honest to God, Etika Situasinya Joseph Fletcher, Theologi Pengharapan dari Jurgen Moltmann, Theologi Sejarahnya Wolfhart Pannenberg, Theologi Evolusi dari Pierre Teilhard de Chardin, Theologi Proses dari Prof. Dr. Charles Hartshorne, Theologi Ada dari Paul Tillich, Mistisisme, Pietisme yang dimulai dari Philip Spener, Dispensasionalisme yang dimulai dari kelompok Brethren yang dipimpin oleh John Nelson Darby, Fundamentalisme, Neo-Fundamentalisme, Neo-Evangelisme, dan diakhiri dengan 1 Bab terakhir yang membahas keunikan theologi Reformed yang terintegrasi.

Keunikan penjelasan Dr. Conn ini adalah masing-masing arus theologi dijelaskan latar belakang munculnya, ajaran-ajarannya, pengaruh ajarannya, dan tinjauan kritisnya. Tinjauan kritis yang Dr. Conn berikan bersifat positif dan negatif. Beliau membenarkan ajaran-ajaran tertentu dari masing-masing arus theologi, namun di sisi lain, mengkritik ajaran-ajaran dari masing-masing arus theologi yang kurang/tidak sesuai dengan Alkitab, lalu Dr. Conn memberikan analisa singkat jawaban Alkitab terhadap ajaran tersebut. Biarlah melalui buku ini, kita semakin mengerti sedikit tentang variasi arus theologi di dalam Kekristenan dan bagaimana ajaran-ajaran dari arus theologi tersebut diuji berdasarkan keakuratan penafsiran yang beres dari Alkitab.





Profil Dr. Harvie M. Conn:
Prof. Harvie M. Conn, Th.M., Litt.D., yang lahir di Regina, SK, Canada pada tahun 1933 dan menjadi warga negara Amerika pada tahun 1957, adalah Profesor Misi di Westminster Theological Seminary, Philadelphia, U.S.A. pada tahun 1972-1998. Beliau meninggal pada Agustus 1999 karena penyakit kanker. Beliau menyelesaikan studi Bachelor of Arts (A.B.) di Calvin College pada tahun 1953; Bachelor of Divinity (B.D.) pada tahun 1957 dan Master of Theology (Th.M.) pada tahun 1958 dari Westminster Theological Seminary. Beliau dianugerahi gelar Doctor of Letters (Litt.D.) dari Geneva College pada tahun 1976.
Tulisan-tulisan yang paling berpengaruh:
Ø Eternal Word In A Changing World: Theology, Anthropology, and Missions in Trialogue (New Jersey: P&R; 1984)
Ø Evangelism: Doing Justice and Preaching Grace (New Jersey: P&R; 1982)

Buku-buku lainnya:
ü Urban Ministry: The Kingdom, the City, & the People of God co-authored by Manny Ortiz (Illinois: IVP; 2001)
ü Contemporary World Theology: A Layman’s Guide (New Jersey: P&R; 1974)
ü Studies In The Theology Of The Korean Presbyterian Church (Westminster Seminary Bookstore)
ü The American City And The Evangelical Church: A Historical Overview (Michigan: Baker Books; 1994)

Buku-buku yang diedit:
F Practical Theology And The Ministry Of The Church 1952-1984: Essays in Honor of Edmund P. Clowney (New Jersey: P&R; 1990)
F Planting And Growing Urban Churches: From Dream to Reality (Michigan: Baker Books; 1997)
F The Urban Face Of Mission: Ministering the Gospel in a Diverse and Changing World (New Jersey: P&R; 2002)
F Inerrancy And Hermeneutic: A Tradition, a Challenge, a Debate (Michigan: Baker Books; 1988)
F Reaching The Unreached: The Old-New Challenge (New Jersey: P&R; 1984)
F Theological Perspectives On Church Growth (USA; Dulk Foundation; 1976)
F Missions And Theological Education In World Perspective (Gabriel Resources; 1985)

Artikel-artikel:
· “Luke’s Theology of Prayer.” Christianity Today, Desember 22, 1972: pp. 6-8.
· “God’s Urban Surprises.” Urban Mission 14:4, Juni 1997: pp. 3-6.
· “Refugees, the City, and Missions.” Urban Mission 15:2, Desember 1997: pp. 3-6.
· “Blaming the Victim?” Urban Mission 15:4, Juni 1998: pp. 3-6.
· “Looking at Some of Africa’s Urban Challenges.” Urban Mission 16:2, December 1998: pp. 3-6.
· “Training the Layman for Witness,” Training for Missions, diedit oleh Paul G. Schrotenboer. (Grand Rapids: Reformed Ecumenical Synod, 1977), 74-103.
· “Contextualization: Where Do We Begin?” Evangelicals and Liberation, edited by Carl E. Amerding. (Phillipsburg, NJ: Presbyterian and Reformed Publishing Company, 1977) 90-119.
· “Contextualization: A New Dimension for Cross-Cultural Hermeneutic,” Evangelical Missions Quarterly 14 (Januari 1978): 39-46.
· “Theologies of Liberation,” Tensions in Contemporary Theology. Edisi Revisi ke-3, diedit oleh Stanley Gundry dan Alan Johnson (Chicago: Moody Press, 1979), 327-434.
· “Review of ‘Black Theology: A Documentary History, 1966-1979′,” Journal of the Evangelical Theological Society 25 (Juni 1982): 238-40.
· “The Gospel and Culture,” Gospel in Context 1 (Januari 1978): 19-21.

Karya yang tidak dipublikasikan:
“The Concept of Reason in the Theology of John Calvin.” Tesis Th.M. yang tidak dipublikasikan yang diajukan ke Westminster Theological Seminary, Philadelphia, 1958.

03 July 2009

Renungan Memperingati 500 tahun Dr. John Calvin: REFORMED or REFORMING? (Denny Teguh Sutandio)

Renungan Memperingati 500 Tahun Dr. John Calvin



REFORMED or REFORMING?:
Theologi Reformed dan Sola Scriptura


oleh: Denny Teguh Sutandio




“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!”
(Rm. 11:36)

“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.”
(2Tim. 3:16)



Roma 11:36 merupakan konklusi terakhir dari seluruh penjelasan doktrinal Rasul Paulus tentang konsep dosa, keselamatan, dan anugerah Allah dari pasal 1 s/d 11. Konklusi ini bukan sekadar konklusi biasa, namun konklusi yang dahsyat dan terpenting di dalam iman Kristen yang menunjukkan bahwa Kekristenan didasarkan bukan pada iman yang berpusat kepada diri, tetapi kepada PRIBADI Allah yang menciptakan, memelihara, dan menyempurnakan segala sesuatu demi hormat dan kemuliaan nama-Nya sendiri. Agama, iman, dan theologi yang berpusat kepada Allah mengakibatkan seluruh pola pikir, kerohanian, karakter, perkataan, dan sikap hidupnya BERBEDA dari konsep dunia berdosa. Lalu, bagaimana caranya kita memiliki agama, iman, dan theologi yang hanya berpusat kepada Allah? Pertama, tidak ada jalan lain, HANYA melalui anugerah Allah, kita dimampukan untuk beriman dan membangun dasar iman dan theologi yang berpusat kepada Allah. Anugerah Allah yang memampukan itu juga menggunakan sarana tertulis sebagai pedoman bagi kita untuk beriman dan memusatkan iman kita HANYA pada Allah saja. Sarana tertulis itu adalah Alkitab. Di dalam Perjanjian Lama, hal itu ditunjukkan melalui diwahyukannya Taurat Musa dan Kitab Para Nabi. Dan Tuhan Yesus sendiri mengakui otoritas Perjanjian Lama tersebut (Mat. 5:17-48). Setelah itu, Roh Kudus mengilhami para rasul Kristus untuk menuliskan wahyu Allah (2Tim. 3:16; 2Ptr. 1:20-21). Wahyu tersebut dikanonisasikan menjadi 27 kitab di dalam Perjanjian Baru. Setelah PL dan PB ini selesai dikanosisasikan, maka Allah berfirman, “Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini.” (Why. 22:18-19) Ada yang menafsirkan bahwa kedua ayat ini hanya berlaku untuk kitab Wahyu. Memang secara konteks, kedua ayat ini berlaku untuk Kitab Wahyu, namun jika kita mempercayai integrasi Alkitab, maka kita percaya bahwa kedua ayat ini juga berlaku untuk seluruh Alkitab. Dengan kata lain, selesai Kitab Wahyu ditulis sebagai akhir dari keseluruhan Alkitab baik PL maupun PB, maka sebagai orang Kristen yang BERES, kita TIDAK lagi mempercayai adanya “wahyu baru” dari “Allah.” Itu sebabnya, TIDAK ada satu otoritas pribadi, theologi, atau apa pun juga yang LAYAK menggantikan otoritas Alkitab.


Ini yang ditegaskan sejak zaman reformator Dr. Martin Luther dengan semboyannya Sola Scriptura (hanya Alkitab). Kemudian semangat ini diteruskan oleh para penerusnya, Ulrich Zwingli, Philip Melanchton, Dr. John Calvin, Dr. Theodore Beza, dll. Khususnya melalui Dr. John Calvin, semangat ini diteruskan dengan begitu ketat melalui bukunya Institutes of the Christian Religion. Pdt. Dr. Stephen Tong memaparkan bahwa di dalam buku ini, Dr. Calvin mengutip kira-kira 6000 ayat Alkitab dengan prinsip terintegrasi antara PL dan PB. Ini sebenarnya jiwa Reformasi yang sebenarnya, bukan hanya slogan mati semata! Jiwa Calvin mengakibatkan semua penerusnya memegang teguh Alkitab sebagai satu-satunya fondasi kebenaran yang mutlak dan final. Hal ini bisa terlihat melalui 3 hal. Pertama, kesungguhan kaum Puritan yang dipengaruhi Calvinisme/Reformed dalam menyelidiki Alkitab. Kedua, pengakuan iman gereja Reformed baik Katekismus Heidelberg, Pengakuan Iman Westminster, Pengakuan Iman Belgia, dll yang menegaskan otoritas Alkitab. Selain itu, hal ini juga terlihat dengan kegigihan para theolog, apologet, dan hamba Tuhan Reformed menegakkan Kekristenan orthodoks (BUKAN aliran Orthodoks Syria!) di tengah kondisi zamannya yang dipengaruhi oleh filsafat Rasionalisme ala Abad Pencerahan. Dr. Francis A. Schaeffer, Dr. J. Gresham Machen, Dr. Cornelius Van Til, dll dibangkitkan oleh Tuhan sebagai para pembela kebenaran Alkitab di tengah dunia mereka yang sudah dikuasai iblis. Namun sayang, Reformed yang dulu yang memegang teguh Sola Scriptura telah luntur dimakan oleh arus zaman. Gereja-gereja Reformed yang dulu kuat memegang teguh Sola Scriptura kemudian merosot. Hal ini ditandai dengan dua hal. Pertama, munculnya Karl Barth dengan theologi Neo-Orthodoksnya. Barth melalui buku tafsiran Surat Roma yang ditulisnya pada tahun 1919 mengikis habis otoritas Alkitab dengan pengajaran ide bahwa Alkitab baru menjadi firman Allah jika itu menyentuh (perasaan) kita. Meskipun ada beberapa konsep Barth yang cukup baik untuk kita pelajari, namun konsep ini sebenarnya memiliki bahaya yang sangat fatal. Barth tidak menyetujui liberalisme dari guru-guru mereka, tetapi secara berkontradiksi, Barth sebenarnya menegakkan model baru dari liberalisme (saya menyebutnya: half-liberalism). Konsep Barthianisme ini berkembang bukan hanya di gereja (yang berTRADISI) Reformed yang makin lama makin meninggalkan otoritas Alkitab, namun juga di gereja-gereja non-Reformed. Di sebuah milis Kristen, saya berkenalan dengan seorang pemimpin gereja dari gereja Protestan arus utama (gereja ini mengklaim berTRADISI Reformed), namun ia marah-marah ketika saya melabeli Barth dengan Neo-Orthodoks. Sepanjang diskusi dengan si pemimpin gereja ini, dia pernah mengatakan bahwa otoritas utamanya bukan lagi Alkitab, tetapi Kristus. Bagi si pemimpin gereja ini, segala sesuatu harus berpusat kepada Kristus. Hal ini tidak salah, namun ada keanehan dan kekontradiksian konsep ini. Dari konsep ini, saya menemukan dua kelemahan, yaitu:
Pertama, secara tidak langsung (atau bahkan langsung), dia sudah mendualismekan Alkitab dan Kristus. Bagi dia, Alkitab tidak sempurna dan Kristus lebih sempurna. Memang benar bahwa Kristus lebih sempurna dari Alkitab (Alkitab TIDAK mungkin sempurna menggambarkan keagungan Kristus), tetapi saya menangkap ada kejanggalan presuposisi. Dia mengatakan hal ini didasarkan pada konsep/iman bahwa Alkitab bukan firman Allah! Benarkah Alkitab sendiri mengajarkan bahwa Alkitab bukan firman Allah? Bagaimana dengan 2 Timotius 3:16 dan 2 Petrus 1:20-21? Bagaimana pula dengan legitimasi Tuhan Yesus terhadap otoritas kanonisasi Perjanjian Lama? Apakah itu bukan firman Allah? Jika demikian, siapa yang lebih berotoritas menetapkan mana yang merupakan firman Allah: Roh Kudus sebagai Pengwahyu atau si pemimpin gereja ini?!
Kedua, jika otoritas utamanya adalah Kristus, tolong tanya, dari mana dia bisa mengenal Pribadi dan karya Kristus jika bukan dari Alkitab? Memang kita bisa menyebut dan mengaku Kristus sebagai Tuhan adalah karena pekerjaan Roh Kudus, namun untuk mengenal lebih dalam lagi akan pribadi dan karya Kristus, kita membutuhkan wahyu-Nya, Alkitab. Melalui Alkitab, kita mengamini akan perkataan Kristus bahwa Ia adalah satu-satunya jalan dan kebenaran dan hidup, tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa jika tidak melalui-Nya (Yoh. 14:6). Melalui Alkitab, kita juga mengenal Kristus sebagai Pribadi Allah kedua dari Trinitas yang mengadakan mukjizat-mukjizat, memberitakan Injil, dan mengusir setan. Jika bukan dari Alkitab, bisakah kita mengenal pribadi dan karya Kristus dengan lengkap? Atau sudah pintarkah kita dari Alkitab dalam mengenal pribadi dan karya Kristus? Sebagai refleksi, hal ini sekaligus membedakan dua jenis orang (meskipun mengklaim “pemimpin gereja”): orang pertama adalah orang yang rendah hati dan taat mau dibentuk oleh firman Tuhan (2Tim. 3:16). Orang pertama ini seharusnya menjadi sikap hati dan hidup orang-orang yang telah ditebus oleh Kristus. Namun orang kedua adalah orang yang merasa dirinya pintar dan berani mengkritisi firman-Nya. Orang model kedua ini tentu bukanlah ciri anak Tuhan sejati, karena di titik pertama, ia sudah menjadi penghakim bagi firman-Nya. Dengan kata lain, ia lebih berotoritas bahkan dari Allah sekalipun.

Konsep Barthianisme ini juga mempengaruhi gereja-gereja non-Reformed, yaitu mayoritas gereja kontemporer pop zaman ini yang membedakan logos dengan rhema (padahal kedua kata Yunani ini sama artinya dan penggunaannya dipakai secara silih berganti di Alkitab) dan lebih mementingkan rhema. Tidak heran, sebagian besar mereka yang memutlakkan rhema ketimbang logos lebih mementingkan pengalaman pribadi dekat dengan Tuhan ketimbang harus belajar menggali Alkitab. Meskipun konsep ini ada kelemahannya, yaitu pengalaman TIDAK bisa dijadikan standar mengukur kebenaran dan iman seseorang, namun sebenarnya konsep ini pun menjadi teguran bagi kita khususnya yang bertheologi Reformed. Orang non-Reformed meskipun tidak mengerti Reformed sesungguhnya tetap dipakai Tuhan untuk menyadarkan kita bahwa pengetahuan akan Allah bukan semata-mata kognitif saja, tetapi juga menyentuh ke segala bidang, bahkan termasuk pengalaman rohani dan sikap yang mau taat. Mari kita kembali kepada semangat bapak pendiri theologi Reformed, yaitu Dr. John Calvin. Dr. John Calvin sendiri di dalam bukunya Institutes of the Christian Religion memaparkan satu pernyataan yang bagi saya sangat penting, “Knowledge of God involves trust and reverence” (=Pengetahuan akan Allah melibatkan ketaatan dan penundukan) (I.II.2, hlm. 41) Pada halaman sebelumnya, Dr. Calvin juga mengatakan hal yang lebih penting lagi, “Piety is requisite for the knowledge of God” (=Kesalehan adalah perlu bagi pengetahuan akan Allah) (hlm. 39) Kedua kutipan Calvin ini TIDAK ada satu pun yang menginsyaratkan bahwa pengetahuan akan Allah mencakup perdebatan theologi dengan segudang argumentasi akademis dan rincian ayat-ayat Alkitab. Calvin TIDAK mementingkan hal-hal tersebut, tetapi bagi Calvin, pengetahuan akan Allah melibatkan sikap hati yang sungguh-sungguh mau taat akan firman dan kehendak-Nya. Bagaimana dengan kita? Sungguhkah kita telah menyerahkan hati kita kepada Allah dengan taat dan tunduk mutlak kepada firman dan kehendak-Nya? Ataukah kita masih suka hidup mendualisme: percaya doktrin kedaulatan Allah dan ketidakbersalahan Alkitab, namun praktik hidup kita mengatakan kedaulatan kita atau pemimpin gereja kita? Biarlah ini menjadi refleksi bagi kita masing-masing.

Menanggapi Barthianisme, theolog-theolog Reformed yang setia mengkritisi Barth dan mengembalikan gereja kembali kepada Alkitab. Hal ini baik, namun sayangnya, akibatnya, di sisi lain, Reformed menjadi kaku dan suka menjadi pengkritik theologi lain. Theologi dan gereja Reformed bukan lagi menjadi suatu semangat yang berkobar-kobar, tetapi menjadi theologi yang akademis, dingin, kaku, dan mau mati.


Di tengah kelesuan Kekristenan dan kesimpangsiuran arus zaman khususnya di zaman postmodern, Tuhan membangkitkan hamba-Nya yang setia, Pdt. Dr. Stephen Tong melalui Gerakan Reformed Injili. Melalui Gerakan Reformed Injili, beliau membangunkan orang Kristen dari kelesuan dan kecuekan zaman dengan mengajar kembali apa yang Alkitab ajarkan dan memberitakan Injil sebanyak mungkin kepada banyak orang. Gerakan ini telah mempengaruhi cukup banyak orang baik melalui institusi Institut Reformed, Momentum Christian Literature, Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII), dan gereja-gereja Reformed di luar GRII. Beliau dan Pdt. Billy Kristanto, M.C.S. pernah mengatakan satu hal penting bahwa Gerakan Reformed Injili BUKAN dimonopoli oleh GRII, tetapi untuk semua gereja. Berarti beliau TIDAK membatasi gerakan Reformed Injili HANYA untuk GRII SAJA, tetapi untuk semua gereja yang mau kembali kepada Alkitab. Prinsipnya bukan Reformed-isme, tetapi Alkitab! Dengan semangat kembali kepada Alkitab, beliau TIDAK segan-segan mengkritik kelemahan Reformed sendiri di dalam aspek penginjilan dan semangat pelayanan. Dengan semangat ini pula, beliau berani mengatakan bahwa apa yang mutlak jangan direlatifkan dan apa yang relatif jangan dimutlakkan. Pernyataan ini sangat penting bagi theologi dan gerakan Reformed. Mengutip Bapa Gereja Augustinus, beliau juga pernah mengatakan bahwa jika ada ajaran beliau yang tidak sesuai dengan Alkitab, buang ajaran beliau dan kembalilah kepada Alkitab. Di sini, saya TIDAK sedang memberhalakan Pdt. Stephen Tong, lalu mengatakan semua ajaran beliau 100% benar. Tetapi yang saya maksudkan adalah misi, visi, dan panggilan Pdt. Stephen Tong yaitu kembali kepada Alkitab! Namun sayang, semangat mulia dari Pdt. Dr. Stephen Tong disalahtafsirkan oleh banyak orang bahkan oleh seorang hamba Tuhan yang melayani di Gereja Reformed. Jika Pdt. Stephen Tong menegakkan bahwa apa yang relatif jangan dimutlakkan, maka ada seorang hamba Tuhan yang melayani di sebuah Gereja Reformed mengutip perkataan Pdt. Stephen Tong secara perkataan dan doktrin, namun TIDAK pernah dia aplikasikan. Di satu sisi, si pendeta ini mengutip Pdt. Stephen Tong bahwa yang relatif jangan dimutlakkan, namun secara berkontradiksi, di sisi lain, si pendeta ini pada waktu acara baptisan di gereja dengan berani mengatakan bahwa gereja yang tidak menjalankan baptisan anak itu sesat. Pada waktu saya mendengar perkataan si pendeta ini, saya hanya tersenyum mendengar khotbah yang kurang bertanggungjawab tersebut, karena saya percaya di dalam sejarah theologi Reformed, doktrin baptisan anak dijalankan dengan pola pikir theologi sistematika yang berdasar pada ciri khas Reformed yaitu theologi kovenan. Saya percaya akan baptisan anak (infant baptism), tetapi saya TIDAK memutlakkannya, karena Alkitab jika diteliti secara Biblika TIDAK ada satu ayat pun memutlakkan pengajaran baptisan anak dan sebaliknya, TIDAK melarang baptisan anak. Jika demikian, dengan argumentasi Biblika sebelah mana si pendeta ini dengan berani mengatakan bahwa gereja yang tidak menjalankan baptisan anak itu sesat? Ataukah dia mengajar hal ini karena didorong oleh emosinya yang menggebu-gebu, padahal secara berkontradiksi pula, dia juga pernah mengatakan bahwa pikiran harus menguasai emosi? Hehehe J Jika demikian presuposisinya, sesuaikah logika ini dengan Pdt. Stephen Tong yang menggerakkan kita kembali kepada Alkitab (bukan kepada GRII)?!




Apa yang bisa kita pelajari dari pembahasan saya di atas?
1. Theologi Reformed bukan Kebenaran (Alkitab adalah Kebenaran: Sola Scriptura)
Prinsip penting yang harus kita pegang adalah theologi Reformed BUKAN Kebenaran! Artinya, mengutip perkataan Pdt. Dr. Stephen Tong, jangan pernah menyamakan theologi Reformed dengan Alkitab. Theologi Reformed adalah theologi yang berusaha seketat mungkin menginterpretasi (menafsir) Alkitab. Oleh karena itu, semboyan Reformed yang cukup terkenal adalah: Ecclesia Reformata Semper Reformanda (gereja Reformed mau diReformedkan terus-menerus). Namun sayangnya, semboyan ini dimanipulasi oleh mereka yang sebenarnya tidak beriman Reformed sungguh-sungguh, lalu semboyan ini dipelintir artinya, sehingga secara implisit menjadi: gereja-gereja Reformed harus diReformedkan terus-menerus, supaya sesuai dengan konteks zaman. Tidak heran, di zaman postmodern ini, ada nama arus “theologi” yang aneh-aneh, misalnya: “theologi” Asia, dll. Mereka menggunakan nama tersebut dengan tujuan agar theologi Kristen bisa diaplikasikan di dalam konteks budaya. Theolog Asia memakai istilah theologi Asia. Theolog Afrika menggunakan istilah theologi Afrika. Semangat mereka sebenarnya tidak salah, yaitu agar kita tidak terlalu memberhalakan theologi Barat, tetapi semangat mereka kurang bisa dipertanggungjawabkan. Mengapa? Pdt. Billy Kristanto pernah mengatakan bahwa mereka yang menciptakan istilah theologi Asia, dll sebenarnya lupa satu hal bahwa Rasul Paulus memberitakan Injil bukan ke Sidoarjo atau Banyuwangi, tetapi ke Roma, Galatia, dll. Kelemahan kedua, apakah isi theologi Asia yang mereka gembar-gemborkan masih sesuai dengan Alkitab ataukah isi Alkitab sudah direduksi sedemikian rupa sehingga isi Alkitab yang melawan konteks Asia dihilangkan (istilahnya: teks tunduk kepada konteks)? Jika isi theologi Asia sudah tidak lagi sesuai dengan inti berita Alkitab, masih layakkah theologi Asia disebut theologi (theologi artinya ilmu yang mempelajari keTuhanan)? Seharusnya, mengutip perkataan Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M., theologi lokal/kontekstual seharusnya menundukkan konteks di bawah teks. Atau dengan kata lain, theologi kontekstual seharusnya berarti mengaplikasikan teks Alkitab ke dalam konteks zaman kita TANPA menghilangkan arti asli teks Alkitab (theologi kontekstual tidak bisa dipisahkan dari bidang-bidang theologi lain, seperti: theologi sistematika, theologi Biblika, theologi historika, theologi filosofika, dan theologi praktika)! Dari kasus tadi, kita belajar bahwa liberalisme terselubung telah meracuni gereja-gereja Reformed dengan mengambil alih semboyan Reformed yang agung lalu ditambahi muatan-muatan filsafat manusia berdosa. Sungguh mengerikan. Mari kita kembali kepada semboyan mula-mula dari Reformasi di zaman Luther bahwa hanya Alkitab saja satu-satunya otoritas bagi iman dan kehidupan Kristen kita. Mengutip perkataan Pdt. Billy Kristanto, Reformed sejati bukan Reformed statis/tidak bisa diubah (Reformed), tetapi always Reforming (selalu mau diReformedkan terus-menerus sesuai dengan Alkitab). Kita mengagumi dan mempelajari pengakuan-pengakuan iman Reformed, seperti Canons of Dort, Katekismus Heidelberg, Pengakuan Iman Westminster, Katekismus Westminster, Pengakuan Iman Belgia, dll, tetapi kekaguman kita jangan sampai menggantikan kekaguman dan ketundukan kita hanya kepada Alkitab!


2. Theologi Reformed = Hati
Jika kita sudah mengerti bahwa Alkitab adalah satu-satunya standar kebenaran bagi iman dan kehidupan Kristen kita, lalu apa yang menjadi respons kita? Tidak ada respons lain yang lebih bertanggungjawab selain TAAT mutlak. TAAT di sini lebih merupakan masalah HATI. HATI adalah sesuatu yang paling penting di mata Allah. Ketika hendak memilih raja menggantikan Saul, Allah berfirman kepada Samuel, “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” (1Sam. 16:7b) Ayat ini juga menjadi peringatan bagi kita bahwa iman bukan urusan pengalaman pribadi atau belajar theologi, namun urusan HATI! Tidak berarti theologi dan pengalaman itu tidak penting. Dua hal tersebut itu penting, tetapi yang terpenting adalah hati. Ketika kita telah menyerahkan HATI kita kepada Allah untuk dibentuk-Nya sesuai kehendak-Nya, maka secara otomatis kita memiliki kerinduan untuk makin mengenal Allah dan mengalami-Nya melalui firman-Nya. Hal ini sangat disadari oleh bapak pendiri theologi Reformed yaitu Dr. John Calvin. Perkataannya yang terkenal adalah bahwa ia menyerahkan hatinya kepada Allah dengan tulus dan murni. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita dengan tulus dan murni menyerahkan hati kita kepada-Nya untuk dibentuk-Nya? Jangan hanya pintar mengkhotbahkan perkataan Calvin ini, tetapi tidak pernah mengaplikasikannya!

Bagaimana memiliki hati yang tulus dan murni? Kita bisa memiliki hati yang tulus dan murni dengan menjaga kemurnian hati kita dengan firman Tuhan. Menjaga kemurnian hati kita dengan firman Tuhan ditunjukkan dengan cara terus mengintrospeksi diri kita sesuai dengan firman Tuhan. Belajarlah bertanya kepada diri: sebelum saya mengkritik/menuntut orang lain, sudahkah saya menjalankannya? Tuhan TIDAK memerintahkan kita pintar menuntut orang lain untuk belajar Kebenaran, tetapi Ia memerintahkan kita menuntut diri sendiri TERLEBIH DAHULU untuk belajar Kebenaran, baru setelah itu mengajar orang lain (bdk. Mat. 7:1-5). Saya pribadi sebagai jemaat GRII harus mengakui bahwa beberapa hamba Tuhan di Gereja Reformed kurang memiliki jiwa introspeksi diri (self-introspection), padahal itulah yang Tuhan Yesus ajarkan! Saya pribadi sedih melihat beberapa hamba Tuhan Gereja Reformed menjadi pengkritik filsafat dunia berdosa, tetapi di sisi lain, secara tidak sadar mereka sedang mengimpor beberapa filsafat tersebut di dalam sikap hidupnya. Orang-orang Reformed harus BERTOBAT!


Sosok Dr. John Calvin memang adalah sosok theolog yang dipakai Tuhan luar biasa baik dari segi semangat, doktrin, kesalehan, dan kehidupan pribadinya. Namun satu hal yang penting yang harus kita sadari adalah meskipun Calvin adalah sosok theologi yang agung, ia tetap seorang manusia biasa. Oleh karena itu, meskipun kita banyak belajar melalui Calvin, kita tetap harus kritis terhadap ajaran Calvin dan tetap berpegang pada Alkitab. Seorang rekan saya yang dulu menjadi teman saya sewaktu bekerja di Momentum Christian Literature menyadarkan saya bahwa kita jangan terlalu mengagung-agungkan Calvin lebih dari Allah! Orang-orang Reformed harus peka akan nasihat bijak ini.


Biarlah melalui renungan memperingati 500 tahun Dr. John Calvin, kita benar-benar meneladani dan mengaplikasikan semangat, doktrin, kesalehan, dan kehidupan praktis dari Dr. John Calvin di dalam hidup kita yaitu: kembali kepada Alkitab dan hiduplah terintegrasi sesuai dengan Alkitab! Amin. Soli Deo Gloria.





“…the true light of wisdom, sound virtue, full abundance of every good, and purity of righteousness rest in the Lord alone.”
(Dr. John Calvin; Institutes of the Christian Religion, I.I.1, hlm. 36)