22 April 2008

PEMUJA NAMA YAHWEH (Ir. Herlianto, M.Th.)

PEMUJA NAMA YAHWEH

oleh: Ir. Herlianto, M.Th.
(Pemimpin Umum Yayasan Bina Awam—YABINA dan dosen di Sekolah Tinggi Theologi Bandung yang meraih gelar: Insinyur—Ir. dari Institut Teknologi Bandung—ITB; Bachelor of Theology—B.Th. dari Seminari Alkitab Asia Tenggara—SAAT Malang: Master of Theology—M.Th. dari Princeton Theological Seminary, U.S.A.)



“LAI dimejahijaukan Pemuja Yahwe,” demikianlah cover story tabloid Reformata Edisi 80 (1-15 Maret 2008). Ada apa dengan Pemuja Yahwe, dan siapakah mereka? Pemuja Yahwe atau lebih tepat disebut ‘Pemuja Nama Yahweh’ adalah perkembangan baru dalam kekristenan di Indonesia yang dipengaruhi Yudaisme dan dipopulerkan di Indonesia sejak dua dasawarsa lalu.

Latar belakang gerakan ini sudah terjadi jauh seabad sebelumnya. Pada abad-19, ada gerakan internasional kebangkitan Yahudi (Zionisme) yang kala itu hidup dalam diaspora khususnya di Asia Utara (Rusia), Eropah dan Amerika. Puncaknya adalah dibentuknya World Zionist Organization dengan kongres pertama di Basel (1897). Gerakan ini semula bersifat politik dengan tujuan mendirikan negara Yahudi di Palestina (Erets Yisrael), dan dari gerakan ini terdapat beberapa aliran termasuk yang menekankan Religious Zionism. Umumnya kalangan Yahudi perantauan sudah hidup secara sekular, namun ada kalangan orthodox yang berpendapat bahwa zionisme harus dicapai dengan mengembalikan orang Yahudi kepada agama dan bahasa mereka, yaitu Ibrani.

Misi Religious Zionism adalah mengajak umat Yahudi sedunia untuk menggali lagi agama Yahudi dengan Torat mereka dan menghidupkan kembali bahasa Ibrani bukan sekedar sebagai bahasa tulis tetapi juga sebagai bahasa percakapan yang selama berabad-abad menjadi bahasa lisan yang mati. Pengaruh Zionisme dengan kekuatan uang mereka menyebar ke Eropah dan Amerika Serikat. Dalam kelompok orthodox Yahudi itu ada juga sekte yang lebih jauh ingin mengembalikan ‘Nama Yahweh (YHWH, tetragrammaton)’ sebagai nama diri Tuhan, nama yang selama ini di kalangan Yahudi tradisional dianggap terlalu suci untuk diucapkan sehingga disebut dengan nama ‘Adonai’ (Tuhan) atau ‘Ha-Shem’ (Nama Itu) dan di kalangan Yahudi berbahasa Inggers disebut ‘The Lord’ (LORD). Semangat fundamentalisme agama Yahudi ini bukan saja terjadi di kalangan orang Yahudi sendiri, namun dengan mulainya banyak orang berziarah ke Israel, mereka juga mempengaruhi orang-orang Kristen yang datang ke Palestina dan terutama yang ada di Amerika Serikat.


Perkembangan di Amerika Serikat
Abad-19 terjadi kekosongan rohani di Amerika Serikat sehingga banyak aliran baru tumbuh yang menekankan khususnya nubuatan tentang Akhir Zaman, yaitu Adventis (1844), Saksi-Saksi Yehuwa (1874), dan kemudian Pentakosta (Church of God, 1886). Di samping nubuatan Akhir Zaman, Adventisme menekankan hari Sabat dan kesucian makanan, Saksi-Saksi Yehuwa mengajarkan ajaran Unitarian/Arian, dan COG menekankan karunia roh. SSY-lah yang pertama terpengaruh nama YHWH (tetragramammaton) sehingga pada pertemuan mereka di Ohio (1931) mereka secara resmi menggunakan nama Jehovah Witnesses (Saksi-Saksi Yehuwa) dan menganggap nama YHWH itu suci dan bahwa penerjemahan nama itu adalah perbuatan setan.

Dari kalangan Church of God, ada yang kemudian terpengaruh Adventisme dan menekankan hari Sabat dan membentuk Church of God, 7thday. Tiga tokoh dibelakang gerakan yang merintis pemujaan nama Yahweh berasal dari gereja COG, 7thday, yang kemudian memisahkan diri di tahun 1933 menjadi COG, 7thday, Salem, yaitu Andrew N. Dugger, Clarence O. Dodd dan Herbert W. Armstrong. Dodd setelah mengklaim didatangi dua malaekat dan dikeluarkan dari COG, 7thday, mendirikan Assembly of Yahweh yang menggunakan kembali nama Yahweh, merayakan hari Sabat, dan menjalankan bulan baru dan hari-hari raya Yahudi, dan menerbitkan majalah ‘The Faith’ (1937) untuk menyebarkan pandangannya itu.

Amstrong sefaham dengan Dodd dan di ditahbis menjadi pendeta di COG, 7thday, Oregon. Pandangannya kontroversial karena sama seperti Dodd, yang merayakan hari Sabat, kesucian makanan, dan merayakan bulan baru dan hari-hari raya Yahudi sesuai hukum Musa, ia menubuatkan bahwa orang-orang Inggeris dan Amerika adalah keturunan dari 10 suku Israel yang terhilang. Ia dikeluarkan dari COG, 7thday, karena ajarannya yang ekstrim, dan ia kemudian mendirikan Worldwide Church of God (1946) dan Ambassador College dan menerbitkan majalah Ambassador dan The Plain Truth yang disebarkan ke seluruh dunia. Pandangannya mengenai keadaan sesudah mati sama dengan Saksi-Saksi Yehuwa, yaitu bahwa orang mati dalam keadaan tidur rohani dan pada saat penghakiman akan dibangkitkan atau dimusnahkan. Ia menolak Trinitas dan beranggapan bahwa roh kudus bukan pribadi hanya kekuatan ilahi sama dengan pandangan SSY (binitarian) .

Pada umumnya pemuja nama Yahweh menolak Trinitas dan menganut faham unitarian modalis (sabelianisme, yaitu Yahweh itu Esa dan menyatakan diri [modal] sebagai bapa dan firman) atau unitarian subordinasionis (arianisme, pandangan SSY bahwa Yahshua itu ciptaan lebih rendah dari Yahweh). Dan sekalipun kepercayaan mereka bervariasi, pada umumnya mereka sepakat bahwa nama Yahweh, Elohim dan Yahshua harus dipulihkan dan tidak menyebut diri sebagai Kristen karena nama itu dianggap berasal kafir. Pemuja Nama Yahweh mudah terpecah-belah dan cenderung mendirikan gereja dengan ke khasannya sendiri seperti House of Yahweh yang menolak pre-eksistensi Yahshua. The Assembly of Yahvah lebih memilih nama Yahvah dan The Assemblies of Yah memilih nama Yah daripada Yahweh, yang lainnya memilih ejaan sendiri untuk menyebut nama Yahweh dan Yahshua.

Angelo B. Triana, murid Dodd, menolak surat-surat Paulus, namun kemudian ia menjiplak King James Bible dan mengganti nama-nama ‘LORD’ dengan Yahweh, ‘God’ dengan Elohim, dan ‘Jesus’ dengan Yahshua dan menyebutnya Holy Name Bible (PB-1950 dan PL&PB-1963) sejalan dengan terbitnya New World Translation dari Jehovah Witnesses/Saksi-Saksi Yehuwa (PB-1950 dan PL&PB-1961) yang memunculkan kembali nama YHWH. John Briggs, murid Triana mempopulerkan nama Yahshua dan kemudian mendirikan Yahveh Beth Israel.

Murid Triana lainnya, Jacob O Meyer terpecah dari Assembly of Yahweh dan mendirikan Assemblies of Yahweh (1960), dan gereja ini pecah lagi dan dibawah Donald Mansager mendirikan Yahweh’s Assembly in Messiah (1980). Adanya skandal seks beberapa pendeta mendorong Mansager memisahkan diri dan mendirikan Yahweh’s New Covenant Assembly (1985), dan pecah lagi menjadi Yahweh’s Assembly in Yahshua (2006) yang percaya bahwa ‘bahasa Ibrani adalah bahasa yang digunakan Yahweh di surga dan di taman Eden dan digunakan dalam penulisan kitab suci PL dan PB. Bahasa Ibrani adalah induk semua bahasa di dunia.’ Putranya, Alan Mansager berbeda pendapat dengan ayahnya dan mendirikan Yahweh’s Restoration Ministry. Assembly of Yahweh kemudian pecah lagi dan Robert Wirl mendirikan Yahweh’s Philadelphia Truth Conggregation (2002).

Dari perkembangan sidang jemaat pemuja nama Yahweh yang bertebaran dimana-mana yang umumnya tidak berhubungan satu dengan lainnya itu, kita dapat melihat bahwa mereka mudah sekali terpecah-pecah menjadi berbagai fraksi dan memberi nama baru sesuai dengan penekanan mereka, namun sekalipun begitu, ada beberapa butir yang sejalan, yaitu:
(1) Adanya pengaruh Adventisme soal memelihara Sabat dan Kesucian Makanan dan Saksi-Saksi Yehuwa dan sekte Yahudi yang menekankan perlunya dikembalikannya nama ‘YHWH’ (tetragrammaton) sekalipun ditafsirkan berbeda-beda (Yahweh/Yahvah/ Yah dll.) dan kembali kepada bahasa Ibrani. Ada juga yang menekankan kembali nama Elohim dan Yahshua;

(2) Mereka menolak Kitab Suci yang memuat nama-nama Lord, God, dan Jesus dan menggantinya dengan nama-nama Ibrani Yahweh, Elohim, dan Yahshua. Saat ini ada belasan versi ‘Kitab Suci’ yang diterbitkan pemuja nama Yahweh’ di Amerika Serikat;

(3) Menjalankan hukum Musa dengan konsekwen seperti merayakan Sabat, Kesucian makanan (halal-haram) , dan merayakan bulan baru dan hari-hari raya Yahudi, dengan ibadat seperti agama Yahudi. Perjamuan Kudus dirayakan setahun sekali pada malam sebelum Pasah Yahudi dan menolak perayaan Natal sama halnya dengan Saksi-Saksi Yehuwa;

(4) Menolak Trinitas, ada yang menganggap Yahweh sebagai Unitarian Modalis (Sabellianisme, Yahweh itu esa dan firmannya menjadi manusia Yahshua) atau Unitarian Subordinasionis (Arianisme, Yahshua itu lebih rendah dari Yahweh seperti pandangan SSY), atau berbagai ajaran non-trinitarian lainnya seperti tidak mempercayai pre-eksistensi Yahshua dll. Namun, sekalipun demikian banyak yang mensyaratkan agar dibaptis kembali dalam nama Yahshua;

(5) Tidak merupakan satu organisasi yang solid melainkan merupakan sidang-sidang jemaat yang independen dengan ke khasannya masing-masing, namun jelas membedakan diri dengan kekristenan pada umumnya dan lebih bercorak agama Yahudi dengan semua ritualnya.

Dari beberapa butir kesimpulan ini menjadi jelas apa yang diyakini oleh Pemuja Nama Yahweh yang kemudian masuk ke Indonesia sekitar tahun 1990.

Perkembangan di Indonesia (dilanjutkan dalam artikel ‘Pemuja Nama Yahweh di Indonesia’).

Salam kasih dari Herlianto
www.yabina.org

Resensi Buku-53: ESCAPE FROM REASON (DR. FRANCIS A. SCHAEFFER)

...Get it now...
Book
ESCAPE FROM REASON :
A Penetrating Analysis of Trends in Modern Thought


by: DR. FRANCIS A. SCHAEFFER

Publisher: InterVarsity Fellowship, England 2006

Foreword: J. P. Moreland.





Book Description :
Truth used to be based on reason. No more. What we feel is now the truest source of reality. Despite our obsession with the emotive and the experiential, we still face perennial existential problems—anxiety, despair, purposelessness.

How did we get here ? And where do we find a remedy ?

In this modern classic, Francis A. Schaeffer traces trends in twentieth-century thought and unpacks how key ideas have shaped our society. Wide-ranging in his analysis, Schaeffer examines philosophy, science, art and popular culture to identify dualism, fragmentation and the decline of reason.

Schaeffer’s work takes on a newfound relevance today in his prescient anticipation of the contemporary postmodern ethos. His critique demonstrates Christianity’s promise for a new century, one in as much need as ever of purpose and hope.







Biography of DR. FRANCIS A. SCHAEFFER :
DR. FRANCIS A. SCHAEFFER founded L’Abri Fellowship in Switzerland and was the author of many books, including The God Who is There and Art and the Bible. Until his death in 1984, he was a noted speaker with a worldwide ministry. His ministry continues through his books, with over two million copies in print.

Matius 9:18-26: ELEMEN IMAN

Ringkasan Khotbah : 24 Juli 2005

Elemen Iman
oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 9:18-26


Pendahuluan
Kita telah memahami bahwa seorang warga Kerajaan Sorga harus taat pada Sang Raja, yakni Kristus Yesus. Kristus berdaulat penuh atas hidup kita sebab Dia adalah Tuhan dan kita adalah budak-Nya maka iman sejati haruslah berpusat pada Kristus. Kalau aku ada di dalam Kristus maka bukan aku lagi yang hidup tetapi Kristus yang hidup didalamku maka sub tema kedua adalah pemuridan, yakni menjadi pengikut Kristus bukan sementara tetapi mengikut Kristus bersifat selamanya, secara mutlak hidup hanya bersandar pada-Nya, bukan kita yang mengatur diri tetapi Tuhan yang mengatur setiap langkah hidup kita dan kita akan merasakan sukacita dan damai sejahtera hidup dibawah pimpinan Sang Raja yang Maha Bijaksana. Seorang pengikut Kristus sejati haruslah berbeda dengan pengikut dunia dengan demikian kita menjadi berkat dan saksi bagi dunia; kita bagaikan domba yang ada di tengah-tengah serigala. Memang tidak mudah bagi seorang anak Tuhan hidup di tengah dunia, kita akan dimusuhi karena kita berbeda maka satu-satunya kekuatan hanya dengan berpaut dan beriman pada Kristus, Tuhan dan Raja atas alam semesta. Keempat sub tema ini dipaparkan oleh Matius sedemikian rupa dimana di setiap masing-masing sub tema diberikan tiga kisah dengan demikian setiap pengikut Kristus semakin dicerahkan dan hidup seperti teladan Kristus.

Pada sub tema keempat, yaitu iman maka Matius banyak menuliskan kata “percaya“, Matius ingin menekankan bahwa sebagai pengikut Kristus sejati maka sepenuhnya kita harus beriman pada Kristus bukan beriman pada “hasil iman“ tetapi lebih daripada itu, beriman pada Kristus adalah iman yang menyelamatkan. Bangkitnya anak perempuan Yairus dari kematian bukanlah sekedar kebangkitan jasmani tetapi kebangkitan rohani yang bersifat kekal. Maka pada kisah yang kedua, sekali lagi Matius mengajak kita melihat pada kisah yang mirip dengan sebelumnya, yakni orang buta yang disembuhkan. Kisah tentang orang buta yang disembuhkan ini juga terjadi di kota Yerikho, yakni kisah Bartimeus, seorang buta yang dicelikkan. Perhatikan, di sepanjang Alkitab banyak mujizat terjadi tetapi tidak ada satupun nabi atau para rasul yang melakukan mujizat mencelikkan mata orang buta; hanya Tuhan Yesus saja yang dapat melakukannya. Satu-satunya orang buta yang dicelikkan bukan oleh Tuhan Yesus adalah Saulus, itupun Saulus tidak buta sejak lahir tetapi karena hukuman Tuhanlah ia menjadi buta dan Tuhan memakai Ananias untuk memulihkannya kembali. Mujizat ini sebenarnya merupakan gambaran bahwa Kristus bukan hanya dapat mencelikkan mata jasmani tetapi lebih daripada itu, Tuhan Yesus mencelikkan mata rohani.

Perhatikan, ketika Tuhan Yesus bertanya kepada kedua orang buta ini, “Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?“ disini tidak ada satu penekanan; Tuhan Yesus tidak menuntut manusia untuk berespon sebab itu merupakan hak setiap manusia untuk berespon. Justru setelah Tuhan Yesus mencelikkan mata mereka, dengan tegas, Tuhan Yesus berpesan supaya mereka tidak menceritakan hal ini pada orang lain tapi mereka melanggarnya, yang terjadi hari ini justru sebaliknya, egoisme dan kesombongan manusia mendorong supaya mereka “bersaksi“ demi untuk keuntungan diri. Pertanyaannya sekarang adalah kalau kita beriman, elemen iman seperti apakah yang seharusnya kita miliki sehingga kita memiliki iman sejati? Ada lima elemen iman yang hendak dipaparkan oleh Matius terdiri dari:
1. Aktif
Percaya adalah suatu langkah aktif menghampiri Kristus sebagai obyek iman sejati. Hal ini dilakukan oleh kedua orang buta ini, mereka mengikuti kemanapun Yesus pergi sambil berseru-seru: “Kasihanilah kami, hai Anak Daud“ berarti mereka tahu kalau Yesus adalah Mesias yang dinubuatkan itu. Tentu tidaklah mudah mengikuti kemanapun Yesus pergi, pasti banyak kesulitan dan hambatan bagi kedua orang buta ini namun toh mereka tetap mengikut. Inilah yang namanya fokus iman, aktif beriman pada Kristus yakni sekali mengarahkan diri pada Kristus maka tidak akan berpaling lagi. Beriman bukanlah pasrah, hopeless, orang yang pasrah justru menunjukkan ia tidak beriman, ia tidak tahu harus berbuat apa. Maka jelaslah bahwa beriman bukan pasrah tetapi aktif mengerjakan dan menuju pada obyek iman yang sejati, yaitu Kristus dan ini sekaligus kita menghancurkan obyek iman yang lain termasuk diri kita sendiri. “Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?“, dunia menganggap pertanyaan ini tidaklah logis namun justru disinilah inti man sejati; pertanyaan ini sekaligus menguji diri kita, yakni bagaimana mata kita diarahkan pada Kristus, obyek iman sejati. Bukanlah hal yang mudah bagi manusia untuk percaya sebab manusia telah terbiasa dilatih untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Hari ini banyak orang yang mengaku Kristen, mereka mengaku percaya pada Kristus Yesus tetapi sekaligus juga percaya pada obyek iman lain dan celakanya, manusia berani mengadu diantara obyek iman tersebut, siapa yang lebih kuat Kristus Yesuskah atau diri yang juga menjadi obyek iman.

2. Penundukan Diri
Elemen iman yang kedua ini sepertinya berlawanan dengan elemen iman yang pertama namun sesungguhnya tidaklah demikian, maka lebih tepat dikatakan paradoks. Hati-hati, iman yang aktif memfokus pada Kristus bukanlah sebuah ambisi atau keinginan maka disamping aktif, kita juga harus sekaligus menundukkan diri secara total kepada Kristus. Inilah kunci iman yang sejati. Dua orang buta ini tunduk mutlak pada Kristus, mereka tetap taat pada Kristus. Dua orang buta ini aktif datang pada Kristus, mereka selalu mengikut kemanapun Tuhan Yesus pergi sambil berseru-seru: “Kasihanilah kami, hai Anak Daud“, mereka tidak peduli meskipun mereka mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari orang-orang yang ada di sekitar Tuhan Yesus, mereka hanya tahu satu hal yakni taat pada Kristus. Aktif sekaligus tunduk, kedua aspek ini sangat sulit dilakukan oleh manusia, orang cenderung mendualismekan; seorang yang aktif tidak akan mau tunduk, ia selalu berjalan menurut kemauannya sendiri sebaliknya orang yang tunduk selalu cenderung pasif, setelah ada perintah barulah ia kerjakan kalau tidak ada perintah maka ia pasif, tidak mengerjakan apapun. Seorang warga Kerajaan Sorga sejati haruslah menjalankan kedua aspek tersebut, yakni aktif dan tunduk mutlak; kalau kita dapat menjalankan keduanya maka kita akan memperoleh kesuksesan. Dimanapun kita bekerja maka keberadaan kita tersebut haruslah menjadi berkat, yakni atasan kita akan merasa tertolong dengan keaktifan kita tetapi perlu diperhatikan aktif disini tentulah yang sesuai dengan keinginan atasan kita, bukan aktif yang menurut kemauan kita sebab itu malah tidak menolong tetapi justru semakin menyusahkan. Kristus telah mengasihi kita sedemikian rupa maka sebagai warga Kerajaan Sorga sikap kita terhadap Kristus Tuhan dan Raja atas semesta alam seharusnya lebih baik dibandingkan sikap kita pada orang lain yang menjadi atasan kita di dunia; apapun yang kita kerjakan haruslah menyenangkan hati-Nya dan kemuliaan hanya bagi Dia saja. Iman bukan memaksakan kehendak kita tetapi menjalankan apa yang menjadi kehendak Tuhan.

3. Sabar
Orang yang beriman sejati adalah orang yang sabar menunggu waktu Tuhan. Selain aktif untuk tunduk mutlak, kita juga harus aktif untuk peka akan pimpinan Tuhan atas hidup kita, dan juga peka akan waktu Tuhan. Kalau waktu Tuhan belum tiba maka janganlah kita paksa sebab semua yang terjadi di luar waktu Tuhan justru akan menghancurkan hidupmu apalagi kalau iblis turut campur maka kita harus lebih berhati-hati sebab iblis sangatlah licik, ia akan membuat segala sesuatu yang ada di depan mata kelihatan indah tetapi kemudian berakhir dengan kebinasaan. Perhatikan, kedua orang buta ini selalu mengikuti Tuhan Yesus tetapi Tuhan Yesus tidak menghiraukannya sampai tiba waktu-Nya, barulah mereka disembuhkan. Kalau kita yang diperlakukan demikian oleh Tuhan Yesus, bagaimanakah sikapmu? Orang yang ambisius pasti akan marah, sesungguhnya orang yang ambisius itu juga ingin ditolong tapi waktu dan caranya haruslah sesuai dengan keinginan diri. Memang siapakah kita berani mengatur dan memaksa Tuhan untuk menuruti kehendak kita? Setiap hal yang menjadi beban pelayanan kita hendaklah kita pergumulkan terlebih dahulu, benarkah itu kehendak Tuhan ataukah ambisi kita? Ingat, kalau Tuhan sudah berkehendak maka tidak ada apapun dan tidak ada satupun manusia yang dapat menghambatnya tapi kalau beban itu adalah ambisi kita maka jangan pernah berharap akan menjadi sukses. Ingat, melayani bukanlah mengaplikasikan ambisi diri tetapi melayani adalah taat melakukan kehendak Tuhan, sabar menanti waktu Tuhan.


4. Tahan Uji
Iman sejati harus diuji dan iman sejati harus lulus dari ujian, seperti emas semakin dibakar makin nampak kemurniannya demikian juga seharusnya iman. Setiap orang pasti beriman akan tetapi pertanyaannya adalah siapakah yang menjadi obyek imannya? Apakah obyek iman tersebut membawa kita pada keselamatan ataukah membawa kita pada kehancuran? maka tugas kita untuk membawa mereka pada kebenaran sejati. Orang Kristen bukan hasil reparasi tetapi orang Kristen adalah ciptaan baru di dalam Kristus maka seluruh pola pikirnya, tatanan dan kepercayaannya haruslah berubah dan hal ini tidaklah mudah karena itu iman perlu diuji. Orang yang takut imannya diuji membuktikan kalau ia tidak beriman, imannya rapuh. Ujian iman itu bukanlah untuk menjatuhkan dan membawa kita ke dalam dosa, tidak, ujian justru tempat untuk memurnikan iman dan ketahanan itu muncul saat kita berada dalam tekanan dan penderitaan, masihkah engkau percaya pada Kristus?
Biarlah hal ini menjadi kekuatan kita untuk hidup di tengah dunia yang kacau ini. Iman sejati membawa kita pada suatu titik krusial, siapakah obyek sekaligus subyek iman kita? Apa atau pada siapa yang kita percaya maka obyek iman itu sekaligus menjadi subyek yang mengatur hidup kita. Orang yang percaya pada diri sendiri maka diri sendiri akan mengatur seluruh langkahnya namun Tuhan menegaskan bahwa tanpa Tuhan semua yang kita kerjakan hanya berakhir dengan kesia-siaan; Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya, apabila ia jatuh tidak sampai tergeletak sebab Tuhan menopang. Iman sejati haruslah mempunyai daya tahan sehingga ketika kita berada dalam menghadapi kesulitan, kita tetap mempunyai keberanian untuk berkata: tidak seperti teladan Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Sadrakh, Mesakh, Abednego percaya bahwa Allah yang ia sembah dapat melepaskannya dari dapur api tapi seandainya tidakpun mereka tidak akan meninggalkan Allah. Dunia semakin hari semakin rusak dan kacau maka tugas setiap anak Tuhan untuk membawa orang pada iman kebenaran sejati dengan demikian orang mempunyai dasar iman yang teguh, tidak mudah diombang-ambingkan oleh tekanan arus dunia dan itu menjadi kekuatan dan penghiburan bahwa Tuhan senantiasa memelihara hidup kita.

5. Rendah Hati
Hati-hati, orang yang selalu mendapatkan pertolongan dari Tuhan ketika ia berada dalam kesulitan, mendapatkan penghiburan dari Tuhan di saat ia sedih maka sangatlah mudah baginya jatuh dalam kesombongan. Tuhan ingin supaya kita rendah hati. Dari jawaban dua orang buta ini, yakni: “Ya Tuhan, kami percaya“ menunjukkan kerendahan hatinya, mereka menyadari bahwa mereka adalah budak. Namun karena kasih-Nya yang begitu besar sehingga Dia tidak lagi menganggap kita sebagai budak melainkan seorang sahabat akan tetapi status sahabat itu janganlah menjadikan kita menjadi sombong bahkan cenderung kurang ajar. Kita sepatutnya bersyukur kalau kita dapat merasakan pimpinan Tuhan atas hidup kita, bersyukur atas mujizat besar, yaitu pertobatan dalam diri kita dan juga bersyukur, di saat kita berada dalam kesulitan, Dia memberikan penghiburan dan kekuatan, dan kuasa-Nya menyertai hidup kita. Akan tetapi, biarlah pemeliharaan-Nya atas hidup kita menjadikan kita mawas diri, kita tetap harus sadar bahwa sesungguhnya, kita adalah budak dan Dia adalah Tuhan. Beriman pada Kristus mengharuskan kita untuk rendah hati. Satu hal yang kita tahu, yakni hanya bersandar mutlak pada-Nya. Ingat, memang Tuhan ingin supaya kita aktif namun juga tunduk mutlak pada-Nya karena Dia adalah Tuhan diatas segala tuan dan kita adalah budak.
Biarlah konsep ini terus kita sadari dan terimplikasi dalam hidup kita maka kita akan mempunyai iman yang kokoh yang tidak mudah diguncangkan oleh segala macam badai kehidupan akan tetapi meski badai itu datang percayalah, sekali-kali Tuhan tidak akan pernah meninggalkan engkau. Percayakah engkau, bahwa Aku dapat melakukannya? Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber:

Roma 7:21-26: HUKUM TAURAT DALAM PERSPEKTIF KRISTEN-4

Seri Eksposisi Surat Roma :
Manusia Lama Vs Manusia Baru-11


Hukum Taurat Dalam Perspektif Kristen-4 :
Jalan Keluar dari Dosa dan Fungsi Hukum Taurat

oleh: Denny Teguh Sutandio


Nats: Roma 7:21-26.

Setelah mempelajari tentang efek dosa di dalam diri manusia terhadap Taurat, Paulus akan memberikan jalan keluar dari masalah dosa tersebut dan fungsi Hukum (Taurat) itu sesungguhnya.

Di ayat 13-20, Paulus sudah mengajarkan bahwa meskipun hukum Taurat itu kudus, benar dan baik, tetapi ia tak mampu melakukannya 100% karena adanya dosa. Ia melanjutkannya pada ayat 21 s/d 23 dan diakhiri dengan kesimpulan di ayat 24 serta jalan keluar dari dosa di ayat 25-26. Di ayat 21, Paulus mengatakan, “Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku.” Terjemahan lain (King James Version) mengatakan bahwa aku (Paulus) menemukan kemudian bahwa ketika ia menghendaki berbuat yang baik, yang jahat (=hal yang tidak bernilai/berharga) lah yang mendekatiku. Di dalam ayat ini, Paulus hendak mengatakan bahwa di dalam diri manusia ada benih agama (seperti yang dinyatakan Calvin : sensus divinitatis) yaitu pengenalan akan Allah yang mengakibatkan dirinya memiliki kehendak baik untuk berbuat baik. Dalam hal ini, Paulus pun tak terkecuali, ia juga menyamakan dirinya dengan semua manusia. Tetapi sayangnya, akibat dosa, maka ia tak lagi bisa melakukan apa yang dikehendakinya, sehingga ia berkata bahwa ketika ia hendak berbuat baik, maka yang jahat justru mendekatinya. Kata “ada” dalam pernyataan “ada padaku” dalam bahasa Yunani bisa diterjemahkan berada dekat (to lie near). Ini berarti dosa mengakibatkan sesuatu yang tidak bernilai/worthless (terjemahan dari bahasa Yunani kakos pada kata evil/kejahatan) bisa mendekati seseorang ketika seseorang ingin berbuat baik. Memang unik. Banyak manusia berpikir bahwa ketika ia ingin berbuat baik, maka perbuatan baiklah yang keluar, tetapi Alkitab membukakan kepada kita sesuatu yang sangat berbeda, yaitu justru ketika kita berbuat baik di luar Allah, maka sesuatu yang tak bernilai adalah hasilnya. Mengapa demikian ? Apakah kita tidak boleh berbuat baik ? TIDAK. Kita boleh berbuat baik, tetapi di luar Kristus, perbuatan baik itu sia-sia, karena perbuatan baik itu dilakukan bukan dengan motivasi dan tujuan untuk memuliakan Allah, tetapi untuk memuliakan diri. Di Indonesia, kita melihat begitu banyak fakta yang menunjukkan hal ini yaitu perbuatan “baik” palsu. Menjelang bulan-bulan “suci” agama tertentu, para pemeluk agama berpuasa, beramal, dan melakukan kegiatan-kegiatan religius tertentu dengan tujuan agar amal ibadahnya diterima di sisi “Tuhan”. Benarkah mereka berbuat baik ? Niat hati boleh berbuat baik, tetapi kebrengsekan yang sering dijumpai. Bagaimana tidak brengsek, mereka berpuasa, tetapi mereka memaksa orang lain yang tak berpuasa untuk menghormati dirinya yang sedang berpuasa. Bahkan mereka memaksa mal dan restoran/rumah makan/depot/sejenisnya untuk tutup selama mereka melangsungkan “ibadah” puasa. Kalau mau berpuasa, mengapa mereka harus teriak sini-sana dan menyuruh orang memerhatikan dirinya. Itukah berbuat “baik” ? Bandingkan dengan perkataan Tuhan Yesus yang sangat mulia ini, “"Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."” (Matius 6:16-18) Tuhan Yesus mengajarkan berpuasa adalah hal yang baik, tetapi bukan untuk dilihat orang. Tetapi agama mayoritas di Indonesia mengajarkan hal yang sangat bertentangan yaitu berpuasa untuk dilihat orang bahkan memaksa orang untuk menghormati dirinya. Ibadah sejati bukan menyanjung manusia, tetapi memuliakan Allah. Silahkan pikirkan sendiri, apakah perbuatan “baik” yang dilakukan oleh penganut agama mayoritas di Indonesia ini dapat dikategorikan “baik” atau munafik ? Kalau kita mengerti hal ini, maka itulah yang dimaksud Paulus ketika ia mengajar bahwa ketika manusia berkehendak baik, maka hasilnya justru sesuatu yang tak bernilai, karena perbuatan “baik” itu dilakukan tanpa Kristus/di luar Allah.

Mengapa bisa demikian ? Paulus menjelaskan alasannya pada ayat 22 dan 23, “Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku.” Sekali lagi, ia membuat perbedaan antara jasmani dengan rohani. Dalam bagian ini, ia tidak mengajarkan filsafat dualisme ala Yunani yang memisahkan hal-hal natural dengan supranatural, tetapi ia sedang menitikberatkan pengajaran tentang dosa dan jalan keluarnya. Ayat 22 mengajarkan bahwa Paulus secara batiniah (inward man/manusia batiniah) suka akan hukum Allah (atau diterjemahkan : menyukai/bersukacita/rejoice hukum Allah). Geneva Bible Translation Notes menyamakan arti inward man dengan new man (=manusia baru) yang dibedakan dan dikontraskan dengan manusia lama (old man). Tetapi Paulus sendiri menegaskan bahwa meskipun secara batin ia menyukai hukum Allah, tetapi ia secara jasmani tidak menaati hukum Allah tersebut. Ini lah yang disebut ketegangan di dalam iman Kristen yaitu bergumul melawan dosa. Apa sajakah yang dijelaskan Paulus tentang tubuh jasmani yang berlawanan dengan batin tersebut ?
Pertama, di dalam tubuh jasmaniah, Paulus melihat hukum yang berbeda dari hukum Allah. Kata “hukum lain” bisa diterjemahkan hukum yang berbeda. Dosa mengakibatkan munculnya suatu “hukum” ciptaan yang menandingi hukum Allah yaitu suatu hukum yang menyanjung kehebatan diri, kesanggupan, kepintaran dan kemampuan pribadi serta ketidakperluan manusia akan Allah. Itu sebabnya mengapa saya mendefinisikan (sesuai arti dalam bahasa Yunani) hukum yang lain itu sebagai hukum yang berbeda, karena kedua hukum tersebut memiliki dua esensi dan pengaruh yang sangat berbeda/bertolak belakang. Ketika kita kembali kepada kasus Adam dan Hawa, kita akan mendapati hal ini lebih jelas. Adam sudah mendapatkan pengajaran yang sangat jelas dari Tuhan bahwa ia tidak boleh makan buah pengetahuan baik dan jahat. Dalam batiniahnya, ia mengerti dan berkehendak untuk menaatinya, tetapi sayangnya di dalam jasmani, ia lebih menaati “hukum” yang berbeda yang menentangnya, yaitu “hukum” diri (saya menyebutnya self-law) yang dipengaruhi setan yang mengakibatkan dia lebih menaati iblis ketimbang Allah. “Hukum” diri inilah yang mengakibatkan ia jatuh ke dalam dosa. Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat juga mengetahui Taurat secara batin dan pikiran, tetapi tidak secara jasmani, sehingga mereka menonjolkan diri ketika beribadah (mirip seperti penganut agama mayoritas di Indonesia), dan mereka menyangka bahwa dengan cara demikian, “Tuhan” menjawab doa mereka. Itulah “hukum” diri yang menggantikan hukum Allah. Bagaimana dengan kita ? Di zaman postmodern yang anti otoritas, manusia semakin tidak mau tunduk kepada hukum apapun bahkan Alkitab dengan beribu cara, tetapi secara tidak sengaja, mereka sebenarnya tunduk kepada “hukum” diri bahwa tidak ada hukum yang perlu ditaati kecuali dirinya yang anti-hukum. Itulah “hukum” diri, padahal diri manusia adalah diri yang mudah rapuh, terbatas, berdosa dan lemah.
Kedua, bukan hanya adanya hukum yang berbeda, Paulus juga melihat bahwa hukum tersebut melawan (atau menyerang) hukum akal budi. Di sini, Paulus hendak mengajarkan bahwa hukum jasmani atau yang saya sebut sebagai “hukum” diri ini bukan saja bertentangan dengan hukum Allah, tetapi “hukum” ini juga menyerang dan bahkan menghancurkan hukum Allah. Kembali, orang-orang Farisi dan para ahli Taurat di zaman Kristus sudah membuktikan dengan jelas mengenai hal ini ketika mereka datang kepada Kristus dan berkata, “"Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan."” (Matius 15:2) Mereka lebih meninggikan adat istiadat atau saya sebut sebagai “hukum” diri/eksklusif ketimbang hukum Allah. Mereka menganggap adat istiadat atau tradisi sebagai hukum yang mutlak. Bagaimana respon Tuhan Yesus ? Kristus menjawab, “Mengapa kamupun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu?” (Matius 15:3) Mengutip pemaparan Pdt. Sutjipto Subeno yang menafsirkan bagian ini, Tuhan Yesus bukan sedang beradu argumentasi dengan para ahli Taurat, tetapi Ia sedang menunjukkan satu hal yang lebih tinggi yaitu hukum Allah yang seharusnya dihormati dan ditaati malahan direndahkan dan dikorbankan demi adat istiadat (satu tingkat level yang lebih tinggi dari perkataan para ahli Taurat). Perintah-perintah karangan para ahli Taurat telah menggantikan esensi dari Hukum Taurat sejati, sehingga dengan “hukum” ciptaan tersebut, mereka mengira bahwa mereka berbuat “baik”. Tuhan Yesus lalu mengutip perkataan nabi Yesaya, “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.” (Matius 15:8-9) Kristus membukakan kedok kemunafikan para ahli Taurat yaitu mereka sebenarnya sedang mengajarkan perintah manusia kepada orang-orang Yahudi dan parahnya, perintah itu telah melawan perintah Allah, sehingga orang-orang Yahudi sampai sekarang dibodohi dan masih menunggu kedatangan Mesias. Dalam hal ini, iblis sangat berperan aktif memelintir hukum Allah agar menghasilkan hukum yang mengenakkan dirinya dan kroni-kroninya bahkan menghancurkan hukum Allah. Bagaimana dengan kita ? Kita seringkali menciptakan “hukum” yang berbeda dari hukum Allah misalnya dengan pengagungan tradisi, dll, bahkan tradisi yang kita bangun bisa menghancurkan hukum Allah, misalnya rela untuk tidak pergi ke gereja, ketika ada upacara sembahyang di depan kuburan atau “tradisi” lain. Atau kita bahkan tidak sengaja lebih suka berbagi angpao ketimbang harus berbagi Injil kepada saudara/kerabat/rekan kita. Itu semua menunjukkan bahwa hukum yang berbeda itu bahkan bisa menghancurkan hukum Allah. Sadarkah kita akan hal ini ?
Ketiga, hukum yang berbeda ini akhirnya mengakibatkan kita menjadi hamba dosa. International Standard Version (ISV) menerjemahkannya a prisoner of sin (=seorang narapidana/tawanan dosa). Gambaran narapidana lebih tepat mengartikan hal ini. Hukum yang berbeda dari hukum Allah yang bahkan bisa menghancurkan hukum Allah ternyata mengakibatkan kita diperbudak oleh hukum tersebut sehingga kita akhirnya menjadi tawanannya yang tidak bisa melarikan diri/keluar darinya seperti orang yang di dalam penjara (narapidana). “Hukum” tersebut terus merongrong dan mempengaruhi kita bahwa hukum Allah itu “jelek”, “tidak enak”, “kaku”, dll, dan menyodorkan hukumnya sebagai hukum yang “enak”, “gaul”, “baik”, dll, sehingga kita seolah-olah dijerat dan tidak bisa lari. Kalau kita kembali pada kisah di atas (Matius 15), maka orang-orang Farisi dan para ahli Taurat juga menjadikan aturan-aturan mereka sebagai pengganti hukum Allah yang akhirnya mengikat orang-orang Yahudi dan mengakibatkan mereka tidak bisa lepas dari ikatan tersebut, misalnya karena para ahli Taurat menetapkan bahwa di hari Sabat tidak boleh ada yang bekerja berat (bahkan tidak boleh mengangkat barang beberapa kilogram), maka orang-orang Yahudi akan menimbang beban yang akan dipikulnya di hari Sabat, padahal aturan-aturan tersebut tidak penting (karena ditetapkan bukan oleh Allah, tetapi oleh para ahli Taurat yang mengatasnamakan dari “Allah”).

Lalu, Paulus menyimpulkan kondisi keparahan dosa ini di dalam ayat 24, “Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” Kata “celaka” dalam King James Version, International Standard Version (ISV) dan English Standard Version (ESV) diterjemahkan wretched (=hina/sial), dalam bahasa Yunaninya talaipōros bisa berarti miserable (=menyedihkan/melarat/bermutu rendah/buruk). Inilah kondisi manusia berdosa yang menyadari kerusakan total dirinya. Paulus adalah orang yang sangat terbuka di hadapan Tuhan dan kita bahwa kita sebenarnya adalah sosok manusia yang hina, melarat, bermutu rendah, dan busuk di mata Allah. Bukan hanya sadar diri, Paulus juga bertanya tentang solusi untuk keluar dari kerusakan total ini, yaitu siapa yang akan melepaskan/membebaskan manusia dari tubuh kematian ini. Dari ayat-ayat sebelumnya, kita telah belajar banyak hal tentang perbuatan “baik” yang sesungguhnya tidak pernah baik jika di luar Allah mengakibatkan orang yang semakin berbuat “baik” malahan menghasilkan sesuatu yang jahat/tidak bernilai dan otomatis perbuatan “baik” se”baik” apapun tak mungkin dapat melepaskan manusia dari jerat dan kutuk dosa, karena dosa BUKAN diselesaikan dengan banyaknya perbuatan “baik” ! Adalah anggapan konyol untuk berpikir bahwa dengan berbuat “baik”, manusia bisa diselamatkan ! Paulus telah membukakan hal ini di ayat-ayat sebelumnya. Lalu, kalau perbuatan “baik” tidak mampu melepaskan manusia dari jerat dan kutuk dosa, lalu bagaimana solusinya/siapa yang dapat melepaskan ?

Puji Tuhan, Paulus mengatakan di ayat 25, “Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.” Tidak ada jalan lain, kecuali hanya satu yaitu Bapa mengutus Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus untuk menjelma menjadi manusia (tanpa meninggalkan natur Ilahi-Nya) untuk menebus dosa-dosa manusia pilihan-Nya. Paulus bersyukur untuk hal ini dan bahkan ia sendiri mengajarkan bahwa barangsiapa yang percaya di dalam Kristus, ia tidak akan dihukum (Roma 8:1→hal ini akan dijelaskan lebih lanjut di bagian berikutnya). Mengapa ? Karena Kristus telah mengganti dosa-dosa manusia pilihan-Nya (substitusi), mendamaikan umat-Nya yang berdosa dengan Allah (rekonsiliasi) dan meredakan murka Allah kepada umat-Nya (propisiasi), sehingga kebenaran dan ketaatan Kristus kepada Bapa dilimpahkan kepada kita yang tidak layak ini. Akibatnya, kita yang dahulu tidak benar dan tidak taat dapat dibenarkan oleh Allah di dalam Kristus sehingga kita dimampukan melalui Roh Kudus untuk taat secara terus-menerus kepada Bapa melalui Firman-Nya, Alkitab. Hal ini dipaparkan Paulus di ayat 26 yang di dalam terjemahan KJV digabungkan dengan ayat 25, “Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa.” Dengan adanya dua pembedaan ini, tidak berarti Paulus kembali menekankan bahwa tubuh ini jahat dan roh itu baik (dualisme), tetapi ia menekankan pentingnya penebusan Kristus yang terus-menerus menguduskan dirinya melalui Roh Kudus. Geneva Bible Translation Notes menafsirkan, “This is the true perfection of those that are born again, to confess that they are imperfect.” (=Inilah kesempurnaan sejati dari orang yang dilahirkan kembali, yaitu mengaku bahwa mereka tidak sempurna.) Inilah paradoks di dalam iman Kristen, kesempurnaan sejati didapat di dalam kekekalan, sedangkan di dalam dunia ini, kita sudah dan belum disempurnakan. Artinya, kita sudah disempurnakan oleh darah penebusan Kristus, tetapi kita menanti untuk terus-menerus disempurnakan sampai akhirnya kita bertemu muka dengan muka dengan Kristus dan Bapa di Surga. Dengan kata lain, iman dan pengertian ini akan Firman Allah seharusnya mendorong dan melatih tubuh jasmani kita untuk taat kepada Firman Allah, sehingga iman kita bukan iman yang kosong dan kaku, tetapi iman yang berkuasa dan hidup karena iman kita didasarkan pada Firman Allah yang hidup dan berkuasa.

Kita memang masih bisa berbuat dosa, tetapi Alkitab menyatakan bahwa orang yang lahir dari Allah tidak akan terus-menerus berbuat dosa, karena orang yang lahir dari Allah ditanamkan benih Ilahi di dalam dirinya. Sudahkah kita mengalami hal ini dan terus berjuang melawan dosa dan menghambakan diri hanya kepada Kristus ? Kiranya Tuhan memberkati. Soli Deo Gloria.

17 April 2008

SEX AND THE SUPREMACY OF CHRIST

SEX AND THE SUPREMACY OF CHRIST

by: Rev. John Stephen Piper, D.Theol.



Sex and the Supremacy of Christ, Part 1

2004 Desiring God National Conference


September 24, 2004


There is a connection between the beheadings of Jack Hensley and Eugene Armstrong and Nick Berg and Paul Johnson and perhaps Kenneth Bigley, and this conference on Sex and the Supremacy of Christ.

I look at them and I see their hands and their eyes. And I think of my hands and my eyes and my death and my faith. And then I hear the words of Jesus put it all in perspective, and in relation to sex.

“You have heard that it was said, ‘You shall not commit adultery.’ 28 But I say to you that everyone who looks at a woman with lustful intent has already committed adultery with her in his heart. 29 If your right eye causes you to sin, tear it out and throw it away. For it is better that you lose one of your members than that your whole body be thrown into hell. 30 And if your right hand causes you to sin, cut it off and throw it away. For it is better that you lose one of your members than that your whole body go into hell.” (Matthew 5:27-30)

In other words, there is something far more important than to keep your eye or your hand—or your head—namely, to receive eternal life and not to perish in hell. And Jesus links it with the war that we are waging not in Iraq but in our hearts. And the issue is sexual desire and what we do with it.

Everywhere you look in the world, it seems, there are reminders that life is war. We are not playing games this weekend. Heaven and hell, Jesus says, are in the balance.


Two Simple, Weighty Points
I have two simple and weighty points to make. I think everything in this conference will be the explanation and application of these two points. The first is that sexuality is designed by God as a way to know God in Christ more fully. And the second is that knowing God in Christ more fully is designed as a way of guarding and guiding our sexuality. I use the phrase “God in Christ” to signal at the outset that I am going to move back and forth because the biblical assumption of this conference is that Christ is God.

Now to state the two points again, this time negatively, in the first place all misuses of our sexuality distort the true knowledge of Christ. And, in the second place, all misuses of our sexuality derive from not having the true knowledge of Christ.

Or to put it one more way: 1) all sexual corruption serves to conceal the true knowledge of Christ, but 2) the true knowledge of Christ serves to prevent sexual corruption.
1. Sexuality Is Designed by God as a Way to Know God More Fully
God created human beings in his image—male and female he created them, with capacities for intense sexual pleasure, and with a calling to commitment in marriage and continence in singleness.
1 And his goal in creating human beings with personhood and passion was to make sure that there would be sexual language and sexual images that would point to the promises and the pleasures of God’s relationship to his people and our relationship to him. In other words, the ultimate reason (not the only one) why we are sexual is to make God more deeply knowable. The language and imagery of sexuality is the most graphic and most powerful that the Bible uses to describe the relationship between God and his people—both positively (when we are faithful) and negatively (when we are not).

Listen, for example, if you can without embarrassment, to both the positive and the negative in God’s words spoken through the prophet Ezekiel. Keep in mind that God has chosen Israel from all the peoples on the earth to experience his special covenant love, until the day when the Jewish Messiah, Jesus Christ, would come and live and die in the place of sinners, so that the gospel of Christ would overflow the banks of Israel and flood the nations of the world. So what we hear God say about his Love for his people Israel in the Old Testament is all the more true of his relationship to those who believe in his Son, the Messiah, Jesus Christ. Here is how God describes that relationship with Israel according to the prophet Ezekiel, chapter 16. He speaks to Jerusalem as the embodiment of his people and rehearses over a thousand years of history. Starting at verse 4:

On the day you were born your cord was not cut, nor were you washed with water to cleanse you, nor rubbed with salt, nor wrapped in swaddling cloths. 5 No eye pitied you, to do any of these things to you out of compassion for you, but you were cast out on the open field, for you were abhorred, on the day that you were born. 6 And when I passed by you and saw you wallowing in your blood, I said to you in your blood, “Live!” I said to you in your blood, “Live!” 7 I made you flourish like a plant of the field. And you grew up and became tall and arrived at full adornment. Your breasts were formed, and your hair had grown; yet you were naked and bare. 8 When I passed by you again and saw you, behold, you were at the age for love, and I spread the corner of my garment over you and covered your nakedness; I made my vow to you and entered into a covenant with you, declares the Lord God, and you became mine. 9 Then I bathed you with water and washed off your blood from you and anointed you with oil. 10 I clothed you also with embroidered cloth and shod you with fine leather. . . .

That’s a picture of God’s utterly free and undeserved mercy. That is how Israel was chosen. That’s how you were brought from death to life and from darkness to light and from unbelief to faith, if you are a believer. “I said to you, ‘Live!’ and made you flourish. I married you. You are mine.” That’s how Israel began. That’s how the Christian life begins. The Mighty mercy of God. Then he goes on with the image. Ezekiel 16:13 ff.:

Thus you were adorned with gold and silver, and your clothing was of fine linen and silk and embroidered cloth. You ate fine flour and honey and oil. You grew exceedingly beautiful and advanced to royalty. 14 And your renown went forth among the nations because of your beauty, for it was perfect through the splendor that I had bestowed on you, declares the Lord God. 15 But you trusted in your beauty and played the whore because of your renown and lavished your whoringson any passerby; your beauty became his. 16 You took some of your garments and made for yourself colorful shrines, and on them played the whore. The like has never been, nor ever shall be. . . . 32 Adulterous wife, who receives strangers instead of her husband! 33 Men give gifts to all prostitutes, but you gave your gifts to all your lovers, bribing them to come to you from every side with your whorings. . . .

There’s the picture of the faithless Israel. Her idolatry—her turning from the Lord God to foreign gods—is pictured as the work of a whore. And I say again what I said at the beginning: God created us with sexual passion so that there would be language to describe what it means to cleave to him in love and what it means to turn away from him to others. Now comes the word of judgment. Ezekiel 16:35 ff.:
35 Therefore, O prostitute, hear the word of the Lord: 36 Thus says the Lord God, Because your lust was poured out and your nakedness uncovered in your whorings with your lovers, and with all your abominable idols, and because of the blood of your children that you gave to them, 37 therefore, behold, I will gather all your lovers with whom you took pleasure, all those you loved and all those you hated. I will gather them against you from every side and will uncover your nakedness to them, that they may see all your nakedness. . . .

It may look as though God was finally finished with Israel. Judgment has fallen. The wife was put away. But that is not the last word. God hates divorce. Therefore, though he judge and separate, he will not finally forsake his covenant people—his wife. He will make with her a new covenant, and bring her back to himself at the cost of his Son and by the power of his Spirit. Ezekiel 16:59 ff.:
59 For thus says the Lord God: I will deal with you as you have done, you who have despised the oath in breaking the covenant, 60 yet I will remember my covenant with you in the days of your youth, and I will establish for you an everlasting covenant. . . . 62 I will establish my covenant with you, and you shall know that I am the Lord, 63 that you may remember and be confounded, and never open your mouth again because of your shame, when I atone for you for all that you have done, declares the Lord God.

The end of the story is that God, after giving up his faithless wife into the hands of her brutal lovers, will not only take her back, and not only make with her a new and everlasting covenant, but will himself pay for all her sins. Are there debts this prostitute owes? This husband will pay them. “When I atone for . . . all that you have done, declares the Lord.” Indeed he will pay with the life of is own Son.

And so in the New Testament, after Jesus Christ has died and risen and is gathering a people for himself and his heavenly Father, the apostle Paul calls all husbands to live with their wives like this (Ephesians 5:25-27). Model your love on this kind of love:
Husbands, love your wives, as Christ loved the church and gave himself up for her, 26 that he might sanctify her, having cleansed her by the washing of water with the word, 27 so that he might present the church to himself in splendor, without spot or wrinkle or any such thing, that she might be holy and without blemish.

This is the fulfillment of Ezekiel’s vision: “I will remember my covenant with you . . . and I will establish for you an everlasting covenant. . . . and you shall know that I am the Lord . . . when I atone . . . for all that you have done.” Jesus Christ creates and confirms and purchases with his blood the new covenant and the everlasting joy of our relationship with God. And the Bible calls it a marriage. And pictures the great day of our final union as “the marriage supper of the Lamb” (Revelation 19:9).

Therefore, I say again: God created us in his image, male and female, with personhood and sexual passions so that when he comes to us in this world there would be these powerful words and images to describe the promises and the pleasures of our covenant relationship with him through Christ.

God made us powerfully sexual so that he would be more deeply knowable. We were given the power to know each other sexually so that we might have some hint of what it will be like to know Christ supremely.

Therefore, all misuses of our sexuality (adultery, fornication, illicit fantasies, masturbation, pornography, homosexual behavior, rape, sexual child abuse, bestiality, exhibitionism, and so on) distort the true knowledge of God. God means for human sexual life to be a pointer and foretaste of our relationship with him.

2. Knowing God Is Designed by God as a Way of Guarding and Guiding Our Sexuality
That’s the first of my two points. Now the second is this: Not only do all the misuses of our sexuality serve to conceal or distort the true knowledge of God in Christ, but it also works powerfully the other way around: the true knowledge of God in Christ serves to prevent the misuses of our sexuality. So, on the one hand, sexuality is designed by God as a way to know Christ more fully. And, on the other hand, knowing Christ more fully is designed as a way of guarding and guiding our sexuality.

Now on the face of it this will seem to many as patently false—that knowing Christ will guard and guide our sexuality. Because many will list off the pastors, priests, and theologians who have committed adultery or who have been found addicted to pornography or who have sexually used little boys or girls. Surely, then, if pastors, who hold the sacred office of tenderly shepherding Christ’s flock, can be so sexually corrupt, there can be no correlation between knowing God and being sexually upright, can there?
I think this question should be answered from Scripture, not experience, because if the Scripture teaches that truly knowing God guards and guides and governs our sexuality in purity and love, then we may be sure that a pastor, or priest, or theologian, or anyone else, whose sexuality is not governed and guarded and guided in Christ-exalting purity and love does not know God—at least not as he ought. So what does the Bible teach concerning the knowledge of God and the guarding of our sexuality?

In answering this question let’s remember that knowing someone in the fullest biblical sense is defined by sexual imagery. Genesis 4:1, “Now Adam knew Eve his wife, and she conceived and bore Cain.” “Knowing” here refers to sexual intercourse. Or again in Matthew 1:24-25 we read, “When Joseph woke from sleep, he did as the angel of the Lord commanded him: he took his wife, 25 but knew her not until she had given birth to a son. And he called his name Jesus.” He “knew her not” means: he did not have sexual relations with her.

Now I don’t mean that every time the word “know” is used in the Bible there are sexual connotations. That’s not true. But what I do mean is that sexual language in the Bible for our covenant relationship to God does lead us to think of knowing God on the analogy of sexual intimacy and ecstasy. I don’t mean that we somehow have sexual relations with God or he with man. That’s a pagan thought. It’s not Christian. But I do mean that the intimacy and ecstasy of sexual relations points to what knowing God is meant to be.

One of the books of the Bible that makes this clear is the book of Hosea. Listen to the way God speaks through Hosea to describe the restoration of his marriage with faithless Israel. Hosea 2:14-20:
Behold, I will allure her, and bring her into the wilderness, and speak tenderly to her. 15 And there I will give her her vineyards and make the Valley of Achora door of hope. And there she shall answer as in the days of her youth, as at the time when she came out of the land of Egypt. 16 “And in that day, declares the Lord, you will call me ‘My Husband,’ and no longer will you call me ‘My Baal.’” 17 For I will remove the names of the Baals from her mouth, and they shall be remembered by name no more. . . . 19 And I will betroth you to me forever. I will betroth you to me in righteousness and in justice, in steadfast love and in mercy. 20 I will betroth you to me in faithfulness. And you shall know the Lord.

I think it is virtually impossible to read this and then honestly say that knowingGod, as God intends to be known by his people in the new covenant, simply means mental awareness or understanding or acquaintance with God. Not in a million years is that what “knowing God” means here. This is the knowing of a lover, not a scholar. A scholar can be a lover. But a scholar—or a pastor—doesn’t know God until he is a lover. You can know about God by research; but until the researcher is ravished by what he sees, he doesn’t know God for who he really is. And that is one great reason why many pastors can become so impure. They don’t know God—the true, massive, glorious, gracious, biblical God. The humble intimacy and brokenhearted ecstasy—giving fire to the facts—is not there.

But I am getting ahead of myself. I haven’t shown this from Scripture yet. I only said, “If the Scripture teaches that truly knowing God—truly knowing Christ—guards and guides and governs our sexuality in purity and love, then we may be sure that a pastor, or anyone else, whose sexuality is not governed and guarded and guided in purity and love does not know God—at least not as he ought.

So is this what the Bible teaches: that knowing God—knowing Christ—is the path to purity? Is it indeed the case that the true knowledge of God promised in Hosea (and Jeremiah 31:34) brings the powerful passions of the body under the sway of truth and purity and love?

I think this entire conference will be an answer to that question. But let me simply point you to some of the texts that provide the answer.
2 Each of these texts teaches that knowing God revealed in Jesus Christ guards our sexuality from misuse, and that not knowing God leaves us prey to our passions. Romans 1:28:
Since they did not see fit to have God in [their] knowledge God gave them up to a debased mind to do what ought not to be done. (literal translation)

Suppressing the knowledge of God will make you a casualty of corruption. It is part of God’s judgment. If you trade the treasure of God’s glory for anything, you will pay the price for that idolatry in the disordering of your sexual life. That is what Romans 1:23-24 teaches:
They exchanged the glory of the immortal God for images resembling mortal man and birds and animals and reptiles. 24 Therefore God gave them up in the lusts of their hearts to impurity, to the dishonoring of their bodies among themselves,

This is the old way. When we come to Christ, we take it off like an old garment. Ignorance of God’s wrath and glory does not fit us any more. The new way is sexual holiness, and Paul contrasts it with not knowing God. 1 Thessalonians 4:3-5:
This is the will of God, your sanctification: that you abstain from sexual immorality; that each one of you know how to control his own body in holiness and honor, not in the passion of lust like the Gentiles who do not know God.

Not knowing God puts you at the mercy of your passions—and they have no mercy without God. Here’s the way Peter says it in 1 Peter 1:14-15:
As obedient children, do not be conformed to the passions of your former ignorance,but as he who called you is holy, you also be holy in all your conduct.
The desires that governed you in those days got their power from deceit, not knowledge. Ephesians 4:22:
Put off your old self, which belongs to your former manner of life and is corrupt through deceitful desires.

The desires of the body lie to us. They make deceitful promises—promises which are half true as in the garden of Eden. And we are powerless to expose and overcome unless we know God—really know God, his ways and works and words embraced with growing intimacy and ecstasy.

When Paul describes the new person in Christ, who is putting off the old practices and the old slaveries, he says in Colossians 3:10 that “the new self . . . is being renewed in knowledge after the image of its creator.” In other words, “I will betroth you to me forever, and you will know me.” And in this knowledge you will be renewed—including your sexuality.

Peter’s second letter has one of the clearest passages in the Bible on the relationship between knowing God and being liberated from corruption. In 2 Peter 1:3-4 he says,
His divine power has granted to us all things that pertain to life and godliness, through the knowledge of him who called us to his own glory and excellence, by which he has granted to us his precious and very great promises, so that through them you may become partakers of the divine nature, having escaped from the corruption that is in the world because of sinful desire.

The divine power that leads to godliness comes “through the knowledge of him who called us to his own glory and excellence.” And we become partakers of his divine nature—that is, we share in his righteous character—through his precious and very great promises. In other words, knowing the glorious treasure that God promises to be for us frees us from the corruption of lust and shapes us after the image of God.

Or as Jesus said, most simply in John 8:31-32:
If you abide in my word, you are truly my disciples, and you will know the truth, and the truth will set you free.

Not all truth. The truth that you find in my word. The truth that you find in relation to me as my disciple. And what is that truth? “I am the way, and the truth, and the life. No one comes to the Father except through me” (John 14:6). “No one knows the Father except the Son and anyone to whom the Son chooses to reveal him” (Matthew 11:27).

The Son knows the Father with infinite truth and intimacy and ecstasy. The joy that the Son has in the Father is unparalleled. His gladness in God the Father exceeds all gladness (Hebrews 1:9). And this he shares with us who trust him as Savior and Lord and Treasure of our lives. “These words I speak to you that my joy might be in you and you might be full” (John 15:11). “No one knows the Father except the Son and anyone to whom the Son chooses to reveal him.” And if he chooses, we will know the Father. And if we know the Father the way Christ knows the Father, we will be free.


Conclusion
Therefore I say again my two points that fly as a double banner over this conference: 1) sexuality is designed by Christ as a way to know God more fully. And 2) knowing Christ more fully in all his infinite supremacy is designed as a way of guarding and guiding our sexuality. All sexual corruption serves to conceal the true knowledge of Christ, and the true knowledge of Christ serves to prevent sexual corruption.
I will come back to this on Sunday morning in our final session, and all the speakers will unfold it. And as they do, let the double banner over this conference fly with the words of Hosea to the wayward wife of God and to you: “Let us know; let us press on to know the Lord; his going out is sure as the dawn; he will come to us as the showers, as the spring rains that water the earth.” Amen.
1 I would argue that when God wills singleness for any person he designs it as a way of knowing him more fully. There are unique ways of knowing God through sexual continence in singleness and unique ways of knowing God through sexual intimacy in marriage.
2 See other texts not referred to in this message: 2 Timothy 2:24-26; Romans 12:2; Philippians 1:9; Romans 10:3; Hosea 4:1, 6; 5:4; 6:3.

Source: http://www.desiringgod.org/ResourceLibrary/ConferenceMessages/ByTitle/1657_Sex_and_the_Supremacy_of_Christ_Part_1/









Sex and the Supremacy of Christ, Part 2

2004 Desiring God National Conference

September 26, 2004



On Friday night I waved a banner over this conference with two convictions written on it:
The first was that sexuality is designed by God as a way to know Christ more fully. And the second conviction from Friday night was that knowing Christ—the supremacy of Christ—more fully is designed by God as a way of guarding and guiding our sexuality. And when I speak of knowing Christ, I mean it in the fullest biblical sense of grasping great truth about Christ, and growing in fellowship with Christ, and being satisfied with the supremacy of Christ.

What I would like to do this morning, by God’s grace, is to help you experience that second conviction. I would like to help you know the supremacy of Christ more fully and show you a couple ways this will affect your sexuality.

My conviction is that the better you know the supremacy of Christ the more sacred and satisfying and Christ-exalting your sexuality will be. I have a picture in my mind of the majesty of Christ like the sun at the center of the solar system of your life. The massive sun, 333,000 times the mass of the earth, holds all the planets in orbit, even little Pluto, 3.6 billion miles away.

So it is with the supremacy of Christ in your life. All the planets of your life—your sexuality and desires, your commitments and beliefs, your aspirations and dreams, your attitudes and convictions, your habits and disciplines, your solitude and relationships, your labor and leisure, your thinking and feeling—all the planets of your life are held in orbit by the greatness and gravity and blazing brightness of the supremacy of Jesus Christ at the center of your life. And if he ceases to be the bright, blazing, satisfying beauty at the center of your life, the planets will fly into confusion, and a hundred things will be out of control, and sooner or later they will crash into destruction.

We were made to know Christ as he really is. (Which is why biblical doctrine is so important.) We were created to comprehend—as much as a creature can—the supremacy of Christ. And the knowing we were made to experience is not the knowing of disinterested awareness—like knowing that Caesar crossed the Rubicon, or ancient Gaul was divided into three parts—but the knowing of admiration and wonder and awe and intimacy and ecstasy and embrace. Not the knowing of Hurricane Jeanne by watching TV but by flying in the eye of the storm—sometimes even hang-gliding!

We were made to see and savor with everlasting satisfaction the supremacy of Christ. Our sexuality points to this, and our sexuality is purified by this. We are sexual beings that we may know something more of the supremacy of Christ. And we must know the supremacy of Christ—we must know him in his supremacy—in order to experience our sexuality as sacred and sweet and Christ-exalting—and secondary, quietly, powerfully secondary.

My prayer for this conference, and for all of you one by one, is that you will see and savor the supremacy of Christ—married or single, male or female, old or young, devastated by disordered desires or walking in a measure of holiness—that all of you will behold and embrace the supremacy of Christ as the blazing sun at the center of your life, and that the planet of your sexuality, with all its little moons of pleasure, will orbit in its proper place.

There are many practical strategies for being sexually pure in mind and body. I don’t demean them. I use them! But with all my heart I know, and with the authority of Scripture I know that the tiny space ships of our moral strategies will be useless in nudging the planet of sexuality into orbit, unless the sun of our solar system is the supremacy of Christ.

Oh, that the risen, living Christ, therefore, would come to us (even now) by his Spirit and through his Word and reveal to us
—the supremacy of his deity, equal with God the Father in all his attributes—the radiance of his glory and the exact imprint of his nature, infinite, boundless in all his excellencies;
—the supremacy of his eternality that makes the mind of man explode with the unsearchable thought that Christ never had a beginning, but simply always was; sheer, absolute reality while all the universe is fragile, contingent, like a shadow by comparison to his all-defining, ever-existing substance;
—the supremacy of his never-changing constancy in all his virtues and all his character and all his commitments—the same yesterday, today, and forever;
—the supremacy of his knowledge that makes the Library of Congress look like a matchbox, and all the information on the Internet look like a little 1940’s farmers almanac, and quantum physics—and everything Stephen Hawking ever dreamed—seem like a first-grade reader;
—the supremacy of his wisdom that has never been perplexed by any complication and can never be counseled the wisest of men;
—the supremacy of his authority over heaven and earth and hell, without whose permission no man and no demon can move one inch, who changes times and seasons, removes kings and sets up kings; does according to his will among the host of heaven and among the inhabitants of the earth; so none can stay his hand or say to him, “What have you done?”
—the supremacy of his providence without which not a single bird falls to the ground in the furthest reaches of the Amazon forest, or a single hair of any head turns black or white;
—the supremacy of his word that moment by moment upholds the universe and holds in being all the molecules and atoms and subatomic world we have never yet dreamed of;
—the supremacy of his power to walk on water, cleanse lepers and heal the lame, open the eyes of the blind, cause the deaf to hear and storms to cease and the dead to rise, with a single word, or even a thought;
—the supremacy of his purity never to sin, or to have one millisecond of a bad attitude or an evil, lustful thought;
—the supremacy of his trustworthiness never to break his word or let one promise fall to the ground;
—the supremacy of his justice to render in due time all moral accounts in the universe settled either on the cross or in hell;
—the supremacy of his patience to endure our dullness for decade after decade; and to hold back his final judgment on this land and on the world, that many might repent;
—the supremacy of his sovereign, servant obedience to keep his Father’s commandments perfectly and then embrace the excruciating pain of the cross willingly;
—the supremacy of his meekness and lowliness and tenderness that will not break a bruised reed or quench a smoldering wick;
—the supremacy of his wrath that will one day explode against this world with such fierceness that people will call out for the rocks and the mountains to crush them rather than face the wrath of the Lamb;
—the supremacy of his grace that gives life to spiritually dead rebels and wakens faith in hell-bound haters of God, and justifies the ungodly with his own righteousness;
—the supremacy of his love that willingly dies for us even while we were sinners and frees us for the ever-increasing joy in making much of him forever;
—the supremacy of his own inexhaustible gladness in the fellowship of the Trinity, the infinite power and energy that gave rise to all the universe and will one day be the inheritance of every struggling saint;

And if he would grant us to know him like this, it would be but the outskirts of his supremacy. Time would fail to speak of the supremacy of his severity, and invincibility, and dignity, and simplicity, and complexity, and resoluteness, and calmness, and depth, and courage. If there is anything admirable, if there is anything worthy of praise anywhere in the universe, it is summed up supremely in Jesus Christ.

He is supreme in every admirable way over everything:
over galaxies and endless reaches of space;
over the earth from the top of Mount Everest 29,000 feet up, to the bottom of the Pacific Ocean 36,000 feet down into the Mariana Trench;
He is supreme over all plants and animals, from the peaceful Blue Whale to the microscopic killer viruses;
over all weather and movements of the earth: hurricanes, tornadoes, monsoons, earthquakes, avalanches, floods, snow, rain, sleet;
over all chemical processes that heal and destroy: cancer, AIDS, malaria, flu, and all the workings of antibiotics and a thousand healing medicines.
He is supreme over all countries and all governments and all armies;
over Al Qaeda and all terrorists and kidnappings and suicide bombings and beheadings;
over bin Ladin and al-Zarqawi;
over all nuclear threats from Iran or Russia or North Korea.
He is supreme over all politics and elections;
over all media and news and entertainment and sports and leisure;
and over all education and universities and scholarship and science and research;
and over all business and finance and industry and manufacturing and transportation;
and over all the internet and information systems.

As Abraham Kuyper used to say, “there is not a square inch in the whole domain of our human existence over which Christ, who is Sovereign over all, does not cry, ‘Mine!’”
[1] And rule with absolute supremacy. And though it may not seem so now, it is only a matter of time until he is revealed from heaven in flaming fire to give relief to those who trust him and righteous vengeance on those who don’t.

Oh, that the almighty God would help us see and savor the supremacy of his Son. Give yourself to this. Study this. Cultivate this passion. Eat and drink and sleep this quest to know the supremacy of Christ. Pray for God to show you these things in his Word. Swim in the Bible every day. Use the means of grace. Like God-centered, Christ-exalting books. Don’t go home without books to help you in this. Get John Owen on the glories of Christ
[2] and the mortification of sin.[3] Get Mahaney on the Cross[4] and the glory of God in marriage.[5] Get Powlison[6] and Patterson[7] and Edwards.[8] And with all your getting—whatever it takes—get the all-satisfying supremacy of Christ at the center of your life.

This is the blazing sun at the center of your solar system, holding the planet of sexuality in sacred orbit. This is the ballast at the bottom of your little boat keeping it from being capsized by the waves of sexual temptation. This the foundation that holds up the building of your life so that you can build with strategies of sexual purity. Without this—without knowing and embracing the supremacy of Christ in all things—the planets fly apart, the waves overwhelm, and the building will one day fall.


The Main Obstacle to Knowing the Supremacy of Christ
So here we are as sinners. All of us. None is righteous, no, not one. We have all sinned and fallen short of the glory of God. We don’t know him, we don’t trust him and treasure him the way he deserves. So what stands in the way? What is our main obstacle to knowing the supremacy of Christ, with a deeply satisfying and sexuality-transforming knowledge?

The biblical answer to that question is: the absolutely just and holy wrath of God. We cannot know God in our sin because the wrath of God rests on us in our sin. What we deserve in our sin is not the knowledge of God, but the judgment of God. And since we are cut off from the knowledge of God by the wrath of God, we are cut off from sexual purity and holiness. God doesn’t owe us purity, he owes us punishment. Therefore we are hopelessly depraved and hopelessly condemned.

Except for one thing: the good news that Christ has become for us the curse to bear God’s wrath and the righteousness to meet God’s demand. This is the heart of the gospel. And without it, there is no hope to escape God’s wrath, no hope to know Christ’s supremacy, and there is no hope for sexual purity. But here it is for everyone who believes: Galatians 3:13, “Christ redeemed us from the curse of the law by becoming a curse for us—for it is written, ‘Cursed is everyone who is hanged on a tree.’” We were under the curse of God’s wrath. But Christ became a curse for us. And here it is again: Philippians 3:9, Paul’s testimony that he is “found in [Christ], not having a righteousness of my own that comes from the law, but that which comes through faith in Christ, the righteousness from God that depends on faith.” God’s demand was that we be perfect. We cannot, in our sin, fulfill this demand. But Christ has. And by faith in him that perfect righteousness is imputed to us.

Therefore, since it is true that Christ has absorbed all the wrath of God that was aimed at me, and since it is true that Christ has performed the perfect righteousness that God demands of me, there is now for me no condemnation. Instead every thought of God and every act of God toward me in Christ Jesus is mercy. The way is open to know him and all the beautiful supremacy of his Son. The cross of Christ has made the supremacy of Christ knowable.

The best gift of the gospel is not the forgiveness of sins. The best gift of the gospel is not the imputed righteousness of Christ. The best gift of the gospel is not eternal life. The best gift of the gospel is seeing and savoring the supremacy of Christ himself. The greatest reward of the cross is knowing the supremacy Christ.
How Then Does the Knowledge of the Supremacy of Christ (Opened to Us by the Gospel) Guide and Guard and Govern Our Sexual Lives?

How does it make our sexuality sacred, satisfying, and Christ-exalting? Of all the ways this works, I will only mention two.

First, knowing the supremacy of Christ enlarges the soul so that sex and its little thrills become as small as they really are.
Little souls make little lusts have great power. The soul, as it were, expands to encompass the magnitude of its treasure. The human soul was made to see and savor the supremacy of Christ. Nothing else is big enough to enlarge the soul as God intended and make little lusts lose their power.

Vast starry skies seen from a mountain in Utah, and four layers of moving clouds on a seemingly endless plain in Montana, and standing on the edge of a mile-deep drop in the Grand Canyon can all have a wonderfully supplementary role in enlarging the soul with beauty. But nothing can take the place of the supremacy of Christ. As Jonathan Edwards said, if you embrace all creation with goodwill, but not Christ, you are infinitely parochial. Our hearts were made to be enlarged by Christ, and all creation cannot replace his supremacy.

My conviction is that one of the main reasons the world and the church are awash in lust and pornography (by men and women—30% of internet pornography is now viewed by women) is that our lives are intellectually and emotionally disconnected from infinite, soul-staggering grandeur for which we were made. Inside and outside the church western culture is drowning in a sea of triviality, pettiness, banality, and silliness. Television is trivial. Radio is trivial. Conversation is trivial. Education is trivial. Christian books are trivial. Worship styles are trivial. It is inevitable that the human heart, which was made to be staggered with the supremacy of Christ, but instead is drowning in a sea of banal entertainment, will reach for the best natural buzz that life can give: sex.

Therefore, the deepest cure to our pitiful addictions is not any mental strategies—and I believe in them and have my own (see A N T H E M
[9]). The deepest cure is to be intellectually and emotionally staggered by the infinite, everlasting, unchanging supremacy of Christ in all things. This is what it means to know him. Christ has purchased this gift for us at the cost of his life. Therefore, I say again with Hosea, let us know, let us press on to know the Lord.

Finally, the only other way I would mention that knowing Christ serves to save our sexuality from sin is that it empowers us to suffer.
Knowing all that God promises to be for us in Christ both now and for endless ages to come with ever-increasing joy, frees us from the compulsion that we must avoid pain and maximize comfort in this world. We need not, and we dare not. Christ died to make our everlasting future bright with the supremacy of his own glory. And the effect he means for it to have now is: glad-hearted suffering in the path of love.

Matthew 5:11-12, “Blessed are you when others revile you and persecute you and utter all kinds of evil against you falsely on my account. 12 Rejoice and be glad, for your reward is great in heaven.” Yes, namely, seeing and savoring the supremacy of Christ himself. That’s the reward, and that’s the power to suffer.

Luke 14:13-14, “When you give a feast, invite the poor, the crippled, the lame, the blind, 14 and you will be blessed, because they cannot repay you. You will be repaid at the resurrection of the just.” Yes, namely, seeing and savoring the supremacy of Christ himself. That will be your repayment, and that is the power to do the hard thing and serve the poor.

Hebrews 10:34, “You joyfully accepted the plundering of your property, since you knew that you yourselves had a better possession and an abiding one.” Yes, namely, seeing and savoring the supremacy of Christ himself. That is the better and abiding possession, and the power to be plundered with joy in the path of love.

Hebrews 13:13-14, “Therefore, let us go to him outside the camp and bear the reproach he endured. 14 For here we have no lasting city, but we seek the city that is to come.” Yes, the city where “glory of God gives it light, and its lamp is the Lamb” (Rev. 21:23), and we will live in the light of his supremacy forever. That is the better city, and that is the power to go outside the camp and bear reproach.

Therefore, knowing all that God promises to be for us in Christ is the power to suffer with joy. And here’s the link. We must suffer in order to be sexually pure.

When Jesus says in Matthew 5:28-29, “Everyone who looks at a woman with lustful intent has already committed adultery with her in his heart. If your right eye causes you to sin, tear it out and throw it away. For it is better that you lose one of your members than that your whole body be thrown into hell”—when Jesus says this, he means suffer whatever you must in order to win the war with lust.

Knowing the supremacy of Christ, being satisfied with all that God is for us in Jesus, gives us the power to suffer for the sake of loving people and being pure.

Therefore, in conclusion, I say again with Hosea: Let us know, let us press on to know the Lord. It will not be easy. It may cost you your life. But if you keep the supremacy of Christ before your eyes as an infinite prize, you will find the strength to suffer and press on to love and purity, with joy.



[1] Abraham Kuyper, Abraham Kuyper: A Centennial Reader, ed. James D. Bratt (Grand Rapids, Mich.: Eerdmans, 1998), 488.
[2] John Owen, The Glory of Christ, in The Works of John Owen, vol. 1, ed. W. H. Goold, 24 vols. (1850-1853; repr. Edinburgh: Banner of Truth, 1965).
[3] John Owen, The Mortification of Sin, in The Works of John Owen, vol. 6.
[4] C. J. Mahaney, The Cross Centered Life (Sisters, Ore.: Multnomah, 2003); C. J. Mahaney, Christ Our Mediator (Sisters, Ore.: Multnomah, 2004).
[5] C. J. Mahaney, Sex, Romance, and the Glory of God (Wheaton, Ill.: Crossway Books, 2004).
[6] David Powlison, Seeing with New Eyes: Counseling and the Human Condition Through the Lens of Scripture (Philipsburg, N.J.: P&R, 2003).
[7] Ben Patterson, Deepening Your Conversation With God: Learning to Love to Pray (Minneapolis: Bethany, 2001); Ben Patterson, Waiting: Finding Hope When God Seems Silent (Downers Grove, Ill.: InterVarsity Press, 1991).
[8] See the recommended resources in John Piper and Justin Taylor, eds., A God-Entranced Vision of All Things: Jonathan Edwards 300 Years Later (Wheaton, Ill.: Crossway Books, 2004).
[9] See John Piper, Pierced by the Word (Sisters, Ore.: Multnomah, 2003), 107-111. This is also available as a Fresh Words.


Source:
http://www.desiringgod.org/ResourceLibrary/ConferenceMessages/ByTitle/184_Sex_and_the_Supremacy_of_Christ_Part_2/


© Desiring God
By John Piper. © Desiring God. Website: www.
desiringGod.org


Biography of Rev. Dr. John S. Piper:
Rev. John Stephen Piper, D.Theol. was born in
Chattanooga, Tennessee to Bill and Ruth Piper January 11, 1946. He is the Pastor for Preaching at Bethlehem Baptist Church in Minneapolis, Minnesota. He grew up in Greenville, South Carolina, and studied at Wheaton College, where he first sensed God's call to enter the ministry. He went on to earn degrees from Fuller Theological Seminary (Bachelor of Divinity–B.D.) and the University of Munich (D.Theol.). For six years he taught Biblical Studies at Bethel College in St. Paul, Minnesota, and in 1980 accepted the call to serve as pastor at Bethlehem. John is the author of more than 30 books and more than 25 years of his preaching and teaching is available free at desiringGod.org. John and his wife, Noel, have four sons, one daughter, and an increasing number of grandchildren.
Authored books:
· Love Your Enemies: Jesus' Love Command in the Synoptic Gospels and the Early Christian Paraenesis (Cambridge University Press, 1980; Baker, 1991).
· The Justification of God: An Exegetical and Theological Study of Romans 9:1-23 (Baker, 1983; 2nd edition 1993).
· Desiring God: Meditations of a Christian Hedonist (Multnomah, 1986; 2nd edition, 1996, 3rd edition, 2003).
· The Supremacy of God in Preaching (Baker, 1990, 2nd edition, 2003).
· The Pleasures of God (Multnomah, 1991; Expanded edition, 2000).
· Recovering Biblical Manhood and Womanhood (Co-editor) (Crossway, 1991).
· Let the Nations Be Glad! The Supremacy of God in Missions (Baker, 1993, 2nd Edition 2003).
· The Purifying Power of Living By Faith In Future Grace (Multnomah, 1995).
· A Hunger for God: Desiring God Through Fasting and Prayer (Crossway, 1997).
· A Godward Life: Savoring the Supremacy of God in All of Life (Multnomah, 1997).
· God’s Passion for His Glory: Living the Vision of Jonathan Edwards (Crossway, 1998).
· The Innkeeper (Crossway, 1998).
· A Godward Life, Book Two: Savoring the Supremacy of God in All of Life (Multnomah, 1999).
· The Legacy of Sovereign Joy (Crossway, 2000).
· The Hidden Smile of God (Crossway, 2001).
· Seeing and Savoring Jesus Christ (Crossway, 2001, 2nd edition, 2004).
· The Dangerous Duty of Delight (Multnomah, 2001).
· The Misery of Job and the Mercy of God (Crossway, 2002).
· Brothers, We Are not Professionals: A Plea to Pastors for Radical Ministry (Broadman & Holman Publishers, 2002).
· The Roots of Endurance: Invincible Perseverance in the Lives of John Newton, Charles Simeon, and William Wilberforce (Crossway, 2002).
Counted Righteous in Christ: Should We Abandon the Imputation of Christ's Righteousness? (Crossway, 2002).
Beyond the Bounds (Co-editor) (Crossway, 2003).
Don’t Waste Your Life (Crossway, 2003).
Pierced By the Word (Multnomah, 2003).
The Prodigal’s Sister (Crossway, 2003).
The Passion of Jesus Christ (Crossway, 2004).
When I Don’t Desire God: How to Fight for Joy (Crossway, 2004).
Life As a Vapor (Multnomah, 2004).
Taste and See (Multnomah, 2005).
God is the Gospel: Meditations on God's Love as the Gift of Himself (Crossway, 2005).
Sex and the Supremacy of Christ (w/ Justin Taylor, Crossway, 2005).

Source:
http://en.wikipedia.org/wiki/John_Piper_(theologian)
and http://www.desiringgod.org/AboutUs/JohnPiper/



Note:
Rev. Dr. John S. Piper’s book which is related to this passage, i.e. Sex and Supremacy of Christ will be translated into Indonesian and published by Momentum Christian Literature, Surabaya (
www.momentum.or.id) in this year (2008).

16 April 2008

Roma 7:13-20: HUKUM TAURAT DALAM PERSPEKTIF KRISTEN-3: Hukum Taurat dan Dosa-2

Seri Eksposisi Surat Roma :
Manusia Lama Vs Manusia Baru-10


Hukum Taurat Dalam Perspektif Kristen-3 :
Hukum Taurat dan Dosa-2

oleh : Denny Teguh Sutandio


Nats : Roma 7:13-20.

Setelah mempelajari tentang kaitan antara Hukum Taurat dan dosa di ayat 7-12, maka mulai ayat 13, Paulus menjelaskan tentang efek dosa di dalam diri manusia terhadap Taurat.

Di ayat 12, Paulus sudah mengajarkan bahwa hukum Taurat itu kudus, benar dan baik, tetapi di ayat 13, Paulus mengatakan, “Jika demikian, adakah yang baik itu menjadi kematian bagiku? Sekali-kali tidak! Tetapi supaya nyata, bahwa ia adalah dosa, maka dosa mempergunakan yang baik untuk mendatangkan kematian bagiku, supaya oleh perintah itu dosa lebih nyata lagi keadaannya sebagai dosa.” Sungguh menarik. Paulus mengatakan bahwa Taurat itu baik, tetapi di ayat 13, Paulus mengatakan bahwa bagaimana bisa sesuatu yang baik justru mengakibatkan dirinya menjadi “mati” ? Bukankah seharusnya sesuatu yang baik justru mengakibatkan yang menerimanya menjadi hidup ? Paulus langsung menjawab bahwa bukan Taurat yang salah yang mengakibatkan dirinya menjadi mati, tetapi DOSA.
Pertama, dosalah yang mendatangkan (atau bisa diterjemahkan mengerjakan) kematian bagi Paulus. Hal ini telah dijelaskan Paulus di pasal 6 ayat 23, “Sebab upah dosa ialah maut;…” Jelaslah bagi Paulus bahwa dosa mengakibatkan orang yang berada di bawah kutuk dan kuasanya mengalami kematian/maut. Inilah kengerian dosa. Tidak ada seorangpun yang mampu melepaskan seseorang dari kutuk dosa ini, kecuali Pribadi Tuhan Yesus Kristus (Roma 6:23b).
Kedua, bukan hanya mendatangkan kematian, Paulus juga mengajarkan bahwa dosa itu ketika disoroti oleh perintah Taurat akan menjadi dosa yang lebih parah. Terjemahan King James Version pada ayat 13b ini, “that sin by the commandment might become exceeding sinful.” Kata “exceeding” bisa diterjemahkan sesuatu yang melampaui/melebihi. Sehingga ayat ini bisa ditafsirkan bahwa dosa yang disoroti oleh perintah Taurat akan menjadi dosa yang melampaui/melebihi atau dosa yang lebih parah. Apa artinya ? Dosa yang dibiarkan seringkali menjadi dosa biasa. Misalnya : mencuri, berzinah, dll. Tetapi ketika dosa itu disoroti dari kacamata Firman Allah, maka dosa yang kelihatan biasa itu menjadi luar biasa parahnya dan semakin menjijikkan di mata Allah. Contoh praktis, banci/waria (wanita pria). Orang-orang postmodern sangat menggemari istilah “demokrasi”, “hak asasi”, sehingga ketika waria muncul, mereka mengatakan bahwa para waria pun memiliki hak asasi, jadi jangan dihina. Dosa waria di mata orang-orang postmodern adalah sesuatu yang biasa, karena waria tetap adalah manusia, tetapi di mata Allah, waria adalah sesuatu yang menjijikkan dan berdosa. Mengapa ? Karena Allah sendiri telah menciptakan laki-laki dan perempuan, bukan waria ! Itu sebabnya mengapa Paulus berani mengajarkan bahwa dari sudut pandang Firman Allah, dosa lebih dilihat sebagai dosa yang lebih jahat dan menjijikkan di mata Allah.

Mengapa dosa dilihat dari kacamata Firman Allah sebagai sesuatu yang menjijikkan ? Paulus menjawabnya di ayat 14, “Sebab kita tahu, bahwa hukum Taurat adalah rohani, tetapi aku bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa.” Dengan kata lain, alasannya adalah hukum Taurat yang kudus, benar dan baik itu adalah rohani (spiritual), sedangkan manusia bersifat daging dan terjual di bawah kuasa dosa. Sungguh menarik pemaparan Paulus ini. Geneva Bible Translation Notes menafsirkan hukum Taurat di bagian ini mengandung a heavenly purity (kemurnian/kebersihan/kesucian Surgawi), sedangkan manusia ketika dilahirkan, “bondslaves of corruption, which they willingly serve” (budak dosa yang mengikat, yang mana mereka rela melayaninya). Dari hal ini, kita mendapatkan beberapa pelajaran.
Pertama, hukum Allah itu rohani Vs manusia itu jasmani/bersifat kedagingan. Mengapa disebut rohani ? Karena seluruh hukum Allah mengandung kemurnian Surgawi. Kemurnian identik dengan kesucian/kebersihan yang artinya tidak ada cacat cela di dalamnya. Mengapa tidak ada cacat cela di dalamnya ? Karena yang mewahyukan Taurat adalah Allah sendiri yang Mahakudus yang menghendaki umat-Nya yang menaati Taurat juga hidup kudus. Tetapi sayangnya manusia ketika lahir sudah mengandut bibit dosa dan mengembangkan dosa itu lebih parah lagi, sehingga manusia dikatakan bersifat kedagingan. Wujud kedagingan/buah daging dipaparkan Paulus di dalam Galatia 5:19-21, “Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu--seperti yang telah kubuat dahulu--bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.” Perbuatan kedagingan ini menurut Paulus tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Mengapa ? Karena aktivitas kedagingan ini berpusat kepada diri dan menyembah (kepuasan) diri, bukan untuk memuliakan Allah.
Kedua, hukum Allah itu kekal Vs manusia itu fana/sementara. Selain rohani, hukum Taurat itu kekal, karena memimpin manusia kepada pengenalan Allah yang Kekal dan di dalam Injil dan Perjanjian Baru, kita mendapati bahwa kita sebagai umat pilihan-Nya akan menjadi serupa dengan Kristus kelak. Ini membuktikan kekekalan manusia pilihan-Nya. Tetapi sayangnya akibat dosa, manusia menjadi makhluk yang sadar diri bahwa mereka itu sementara. Kesementaraan itu membuat mereka akhirnya tidak mau kembali kepada Allah, tetapi kepada kedagingan dan melayani dosa. Sungguh sangat disayangkan. Tetapi puji Tuhan, anugerah Allah telah memilih umat-Nya sebelum dunia dijadikan di dalam Kristus, sehingga umat pilihan-Nya meskipun hidup di dunia sementara mereka dapat memiliki hidup kekal. Inilah paradoks dan ketegangan antara yang sudah dan yang belum dialami oleh orang Kristen (dalam hal keselamatan dan hidup kudus).

Dalam hal ini, Paulus telah mengalaminya sendiri melalui penuturannya di ayat 15, “Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.” Sungguh menarik. Paulus sendiri mengalami hal ini dan ia menuliskannya sendiri bahwa sesungguhnya yang dia kerjakan justru adalah sesuatu yang dia benci. Ini sifat kedagingan kita. Kita mungkin sudah bertahun-tahun menjadi orang Kristen, tetapi seringkali kita menghadapi realita seperti Paulus, yaitu mengerjakan apa yang kita sudah tahu itu dibenci Allah. Misalnya, kita sudah mengetahui bahwa berdusta itu dibenci Allah, tetapi kita tetap saja melakukannya bahkan anehnya ditambah argumentasi yang cukup “rasional”. Tuhan membenci kebohongan dengan dalih/alasan apapun. Ingatlah itu ! Sekali dosa tetaplah dosa, tidak ada dosa kecil, dosa besar, bahkan dosa setengah-setengah !

Bahkan di ayat selanjutnya, 16, Paulus mengatakan, “Jadi jika aku perbuat apa yang tidak aku kehendaki, aku menyetujui, bahwa hukum Taurat itu baik. ” Dengan kata lain, sekalipun/jika atau ketika manusia berbuat sesuatu yang tidak dikehendakinya, maka manusia tersebut menyetujui bahwa hukum Taurat itu baik. Mengapa ? Karena ia melakukan sesuatu yang berdosa, sehingga ketika yang terang menerangi yang gelap, maka kegelapan bakal lari dan mengakui adanya terang. Tetapi herannya, di abad postmodern, yang gelap tidak sadar diri bahkan melawan yang terang.

Mengapa bisa terjadi seperti ini ? Kembali, Paulus menjawab hal ini di dalam ayat 17, “Kalau demikian bukan aku lagi yang memperbuatnya, tetapi dosa yang ada di dalam aku.” Dengan demikian, ketika kita sudah mengetahui apa yang baik, tetapi kita tidak melakukannya, itu semua karena dosa yang berdiam di dalam kita sehingga kita melakukan justru yang dibenci Allah dan membenci apa yang disukai Allah.

Dosa ini digambarkan Paulus di ayat 18, “Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik.” Paulus adalah seorang hamba Tuhan yang baik, pintar sekaligus rendah hati. Ia mau mengakui kelemahannya bahwa tidak ada sesuatu yang baik di dalam diri manusia. Uniknya, meskipun manusia tetap memiliki kehendak, tetapi bukan kehendak berbuat baik yang memuliakan Allah yang dimiliki, tetapi kehendak untuk berbuat hal yang jahat. Calvin mengajarkan bahwa manusia meskipun tidak kehilangan peta teladan Allah tetapi peta teladan Allah ini telah rusak akibat dosa. Akibat kerusakan total ini, tidak ada kehendak baik yang ingin manusia lakukan. Mereka hanya mau melakukan sesuatu yang jahat. Perbuatan jahat keluar dari kehendak yang tidak beres di hadapan Allah. Bagaimana dengan kita ? Hanya Allah yang sanggup menyelidiki batin kita yang terdalam bahwa kehendak kita apakah berkenan di hadapan Allah atau tidak. Mari kita mengintrospeksi diri masing-masing. Mari kita menguduskan kehendak dan motivasi kita bahkan di dalam melayani Tuhan.

Lebih tajam lagi, di ayat 19-20, Paulus mengungkapkan, “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku.” Kedua ayat ini juga membuktikan bahwa dosa mengakibatkan manusia tidak lagi taat kepada perintah Allah, tetapi justru melawan Allah bahkan dengan alasan religius sekalipun. Bagaimana dengan kita ? Mungkin kita berpikir kita sedang berbakti bagi Allah ketika melakukan sesuatu yang jahat, tetapi di mata Allah, tindakan itu tidak berfaedah apa-apa dan itu berdosa di hadapan-Nya, karena yang disebut beribadah kepada Allah adalah menyerahkan hati, pikiran, motivasi, kehendak dan seluruh hidup kita untuk ditundukkan kepada kehendak, hati, pikiran, motivasi Allah yang Mahakudus. Ibadah tanpa penyerahan hidup adalah ibadah yang sia-sia.

Setelah merenungkan kedelapan ayat ini, maukah kita berkomitmen gemar menjalankan perintah Tuhan/Taurat di dalam hidup kita dengan sukacita dan kasih kepada Allah serta tidak lagi berbuat dosa ? Biarlah Tuhan menyelidiki hati dan motivasi kita. Soli Deo Gloria. Amin.