20 August 2008

Bagian 3 dan 4

III. Aplikasi Dosa sebagai Hambatan-hambatan dalam Mengerti Makna dan Tujuan Hidup Manusia
Setelah kita mengerti bahwa dosa adalah hambatan utama dalam mengerti makna dan tujuan hidup manusia, saat ini, kita akan mencoba mengaplikasikan konsep dosa tersebut di dalam kehidupan kita sehari-hari, di mana aplikasi dosa tersebut merupakan hambatan-hambatan dalam mengerti makna dan tujuan hidup manusia. Apa yang mengakibatkan kita tidak lagi melihat Allah sebagai Sumber dan Pusat hidup kita? Saya mengkaji ada empat penyebab, dua penyebab pertama diambil dari 2Tim. 3:2.
A. Diri
Di dalam 2Tim. 3:2, Paulus menyebutkan bahwa di hari-hari terakhir, manusia mencintai dirinya sendiri (mayoritas terjemahan Inggris menerjemahkannya, “menjadi pecinta diri”). Analytical-Literal Translation (ALT) menerjemahkannya dengan menambahkan kata self-centered (berpusat kepada diri). Di sini, kita mendapatkan pengertian bahwa hambatan pertama dalam mengerti makna dan tujuan hidup manusia adalah diri dan keterpusatan pada diri. Mengapa orang meletakkan diri sebagai pusat? Karena mereka menganggap bahwa diri bisa dibanggakan, cukup layak, dll. Benarkah mereka sungguh layak dan pintar? Realita menyatakan hal yang sebaliknya. Semakin manusia menganggap diri hebat, pintar, layak, dll, semakin manusia hidup tidak karuan. Abad rasionalisme di mana manusia memutlakkan rasio manusia akhirnya mengakibatkan meletuslah Perang Dunia 1 dan 2. Di zaman postmodern, ketika manusia menganggap kehebatan diri itulah yang terpenting, anehnya manusia tidak bisa mengatasi masalah global, seperti krisis global, dll. Di sini, letak ironisnya manusia yang terus merasa diri hebat. Padahal, Alkitab mengajar bahwa manusia adalah makhluk yang diciptakan, terbatas, dan berdosa (istilah dari Pdt. Dr. Stephen Tong: created, limited, dan polluted). Ketika manusia disebut sebagai makhluk yang: dicipta, terbatas, dan terpolusi dosa, maka manusia sebenarnya tidak layak menjadi patokan kebenaran yang menentukan hidupnya sendiri. Ada 3 arti di balik konsep ini, yaitu: Pertama, manusia itu dicipta, maka ia hanya bisa mengenal sesama ciptaan (atau lebih rendah dari itu, misalnya benda-benda mati). Tentunya, manusia tak mungkin bisa mengenal Sang Pencipta. Kedua, manusia itu terbatas, maka manusia hanya bisa mengerti dan mengenal sesuatu yang terbatas sifatnya (bahkan tidak bisa mengetahui yang terbatas itu pun dengan sempurna), dan tentu saja tak mungkin mengenal yang tidak terbatas (misalnya, Allah). Ketiga, manusia itu berdosa, maka ketika manusia mengenal sesuatu, ia tak mungkin bisa mengenal sesuatu itu secara komprehensif dan dengan pengertian yang tepat. Misalnya, ketika manusia mau mengenal Allah, dosa mengakibatkan manusia hanya mengerti dan mengenal Allah tidak secara tuntas, tetapi sebagian dan bahkan sebagian itu pun telah dicemari dosa. Sehingga, secara fenomena, manusia bisa kelihatan beribadah kepada “Allah,” tetapi hati mereka tidak tertuju dan berpusat pada Allah. Rev. Dr. John R. W. Stott (seperti dikutip oleh Pdt. Dr. Stephen Tong) pernah mengatakan bahwa di dalam agama, manusia tidak pernah mencari Allah, tetapi malahan melarikan diri dari Allah.
Bagaimana dengan kita sebagai orang Kristen? Secara theologi, kita mungkin sudah belajar agar diri jangan dijadikan sebagai patokan kebenaran, tetapi benarkah dalam hati, kita sungguh-sungguh mengamini dan menjalankan prinsip yang telah kita pelajari itu? Benarkah ketika kita mencari pasangan hidup, pekerjaan, studi, dll, kita lebih mementingkan kehendak Tuhan ketimbang kehendak diri? Benarkah kita berani dan rela mematikan keinginan daging kita untuk disesuaikan dengan kehendak dan rencana Tuhan dalam hidup kita? Biarlah theologi yang telah kita pelajari dapat kita jalankan untuk memuliakan Tuhan. Jangan biarkan theologi menjadi bahan pelajaran yang kita pelajari tanpa kita aplikasikan!

B. Uang
Penyebab kedua yang diambil dari 2Tim. 3:2 ini yaitu uang. Selain diri, Paulus mengatakan bahwa uang menjadi kegemaran orang di hari-hari terakhir. “Menjadi hamba uang” dalam ayat ini di dalam terjemahan Inggris diterjemahkan mencintai uang. Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) menerjemahkannya, “bersifat mata duitan.” Dengan kata lain, uang menjadi sumber dan pusat bagi hidup manusia berdosa. Uang yang akhirnya menjadi tuan dalam hidup manusia berdosa, sehingga secara sadar atau tidak sadar, ke mana-mana iblis memakai sarana ini untuk menipu kita, seolah-olah tanpa uang, kita tidak bisa hidup. Akhirnya, ketika orang yang sudah ditipu ini diinjili atau dibawa ke gereja, lama-lama ia akan berpikir, apakah ke gereja bisa menghasilkan uang lebih banyak? Jika ya, ia akan terus ke gereja. Jika tidak, ia akan keluar dari gereja. Tidak heran, demi memenuhi selera berdosa dari manusia yang tamak akan uang ini, tidak sedikit gereja (market-oriented) yang berani mengajarkan bahwa ikut Tuhan pasti sukses, kaya, berkelimpahan, dll. Gereja yang seharusnya menjadi suara hati nurani masyarakat dan pewarta Kebenaran Allah akhirnya berkompromi dengan filsafat manusia berdosa. Lalu, apa yang Alkitab ajarkan? Apakah Alkitab mengajar bahwa uang itu tidak perlu, sehingga kalau mau menjadi Kristen, harus miskin? TIDAK! Alkitab tidak pernah melarang kita untuk kaya dan sebaliknya, mengharuskan kita miskin baru bisa mengikut Tuhan. Yang Alkitab ajarkan adalah orang percaya jangan menjadi gila harta/uang, mengapa? Karena, “akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” (1Tim. 6:10)
Alkitab mengajar bahwa akar dari segala kejahatan adalah cinta uang, tetapi dunia mengajar bahwa akar dari segala kejahatan adalah kurang uang. Apa bedanya? Perbedaan ini bukan hanya perbedaan superficial, tetapi perbedaan esensial. Alkitab mengajar kita untuk tidak berfokus kepada (atau mengilahkan) uang, karena itu adalah akar kejahatan. Apa dasar presuposisinya? Pertama, karena uang itu bersifat fana, yang sebentar lagi akan hilang. Mungkin kita hari ini kaya, tetapi mungkin saja tahun depan kita melarat dan menjadi miskin. Uang tidak bisa menjamin hidup kita, sehingga kita tidak boleh menjadikan uang sebagai ilah dalam hidup kita. Kedua, fakta membuktikan bahwa hanya karena cinta uang, hubungan keluarga bisa porak poranda. Kita sering mendengar bahwa hanya karena tamak uang, istri rela membunuh suaminya, adik rela membunuh kakaknya, bahkan anak rela membunuh orangtuanya. Bahkan di kalangan Kristen sendiri (di keluarga “hamba Tuhan”), anak dan menantu bisa saling baku tembak memperebutkan uang dari sang ayah. Sehingga, tidaklah salah ketika Alkitab mengajar bahwa akar segala kejahatan adalah cinta uang. Sedangkan ketika dunia mengajar bahwa akar segala kejahatan adalah kurang uang, sebenarnya secara prinsip, mereka mengilahkan uang (meskipun ada yang tidak berani mengungkapkannya secara terus terang), seolah-olah tanpa uang lah, manusia justru berbuat jahat (sedangkan kalau memiliki banyak uang, manusia tidak akan berbuat jahat). Mungkin ada yang bertanya, bukankah memang ada orang yang kurang uang (atau miskin) lalu melakukan kejahatan, misalnya merampok? Apakah fakta ini membuktikan bahwa konsep ini benar? TIDAK! Orang yang kurang uang bisa berbuat jahat itu bukan karena dia kurang uang, tetapi karena iri dan malas. Iri hati dan kemalasan mengakibatkan manusia terus ingin mencari sesuatu yang bisa memuaskan dirinya sendiri, tetapi herannya mereka tak mau berusaha bekerja keras, malahan mereka mencari keuntungan dari orang lain, misalnya, merampok, dll. Jadi, pokok persoalannya bukan pada kekurangan uang, tetapi pada karakternya. Fakta membuktikan bahwa orang yang kurang uang pun ada yang tidak berbuat jahat, malahan sebaliknya, justru orang yang ingin memiliki banyak uang, mereka akan mempergunakan segala macam cara untuk memperoleh lebih banyak uang lagi.
Bagaimana dengan kita sebagai orang Kristen? Benarkah hidup kita diarahkan hanya kepada Kristus? Mungkin secara theologi, kita sudah banyak mendengar bahwa akar segala kejahatan adalah cinta uang dan kita harus memilih: Allah atau Mamon. Tetapi apakah theologi dan firman Tuhan yang kita dengarkan benar-benar kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari? Benarkah kita sungguh-sungguh rela tidak menjadikan uang sebagai pusat hidup kita? Beranikah kita yang memiliki toko sendiri berkomitmen untuk tidak membuka toko atau bekerja pada hari Minggu, meskipun itu tidak menguntungkan bagi kita? Semua ini membuktikan dan menguji kesiapan dan komitmen kita di hadapan Tuhan tentang bagaimana kita tidak mengilahkan uang sebagai pusat hidup kita. Yang sering terjadi adalah kita secara teori mengamini setiap khotbah dan firman Tuhan yang diberitakan, tetapi secara praktik, kita hampir tidak menjalankannya dengan segudang argumentasi yang kita ajukan kepada Allah. Sudah siapkah kita berkomitmen untuk mengutamakan Tuhan lebih dari segalanya ataukah kita mau mendua hati: Allah dan Mamon?

C. Teman/sahabat/saudara/pasangan hidup
Poin ketiga ini dan keempat nantinya adalah hambatan eksternal yang bersifat pengaruh yang hidup. Hambatan ketiga dalam mengerti makna dan tujuan hidup manusia yaitu adanya pengaruh dari teman/sahabat/saudara/pasangan hidup. Kita mungkin bertanya, bagaimana mungkin orang yang dekat dengan kita bisa mengakibatkan kita tidak menemukan makna dan tujuan hidup kita? Bukankah kita sering mendengar bahwa ketika pacaran, masing-masing pasangan menemukan makna hidupnya? Hal ini tidak salah. Tetapi yang menjadi permasalahan adalah mengutamakan mereka lebih daripada mengutamakan Allah. Ketika kita mengutamakan dan menganggap orang-orang yang dekat dengan kita sebagai pusat dan sumber yang menentukan hidup kita, itulah yang menjadi hambatan dalam mengerti makna dan tujuan hidup kita. Pacar, saudara, rekan, saudara, dan bahkan istri hanya bisa menolong kita menemukan makna dan tujuan hidup kita secara fana/sementara. Mengapa? Karena mereka juga sama-sama manusia (berdosa) seperti kita di mana mereka tentu tidak bisa menjadi patokan yang mengarahkan hidup kita. Tetapi herannya, manusia tak pernah menyadari hal ini. Karena orang-orang dekat ini, kita menjumpai fakta bahwa orang yang ingin menyerahkan hidupnya untuk melayani Tuhan penuh waktu tiba-tiba mengurungkan niatnya dan bahkan melarikan diri dari panggilan Tuhan. Tidak sedikit, istri mempengaruhi suaminya untuk meninggalkan Allah, sehingga sang suami kehilangan makna dan tujuan hidupnya yang hanya bisa diisi oleh dan di dalam Allah. Di dalam Alkitab, Ayub adalah contoh praktis pertama yang bisa kita pelajari. Ketika dilanda masalah yang berat, istri Ayub menyuruh Ayub mengutuki Allah. Teman-temannya pun menuduh Ayub bahwa Ayub tidak setia atau berdosa kepada Allah. Abraham, contoh kedua, memiliki istri yang meragukan (menertawakan) janji Allah yang memberikan anak di dalam keluarga mereka. Ketiga, saudara-saudara Yusuf menjual Yusuf karena mereka iri. Tetapi puji Tuhan, ketiga tokoh Alkitab ini lebih beriman kepada Allah ketimbang kepada orang-orang yang dekat dengan mereka, sehingga mereka tampil menjadi pahlawan-pahlawan iman yang berhasil.
Bagaimana dengan kita? Secara teori, lagi-lagi kita banyak belajar bahwa pacar, saudara, teman, rekan, dan bahkan istri bukan sumber hidup kita, tetapi benarkah kita menjalankan prinsip yang kita pelajari? Benarkah kita berani dan rela TIDAK menaati apa yang diusulkan oleh orang-orang yang dekat dengan kita jika itu tidak sesuai dengan kehendak Tuhan? Biarlah ini menjadi introspeksi diri kita masing-masing.

D. Orangtua.
Poin terakhir yang menjadi hambatan kita menemukan makna dan tujuan hidup kita adalah orangtua. Hah? Bagaimana mungkin? Bukankah kita sering mendengar bahwa orangtua mengerti dan mengenal anak-anaknya serta memberikan yang terbaik kepada anak-anaknya? Bukankah kita juga sering mendengar bahwa orangtua tidak mungkin mencelakakan anak-anaknya? YA. Secara teori duniawi, kita sering mendengar hal itu. Di satu sisi, hal tersebut benar, karena sudah menjadi tugas dan tanggung jawab orangtua untuk mendidik dan mengajar anak-anak mereka, sehingga mereka menjadi orang berguna. Tetapi di sisi lain, ketika mendidik dan mengajar anak-anak mereka, apa yang mereka ajarkan? Bukankah yang sering kita dapati adalah mereka mengajar anak-anak mereka agar anak-anak mereka memenuhi apa yang mereka inginkan (dan bukan apa yang Tuhan inginkan)? Bukankah kita sering mendengar bahwa orangtua memaksa anaknya (meskipun dalihnya: “menyarankan”) untuk meneruskan apa yang diinginkan (atau sudah dirintis) oleh orangtuanya yang bekerja profesi tertentu. Misalnya, jika orangtuanya (ayah atau ibunya) seorang dokter, maka orangtua ini menyuruh anaknya untuk sekolah kedokteran dengan tujuan agar anaknya ini kelak meneruskan profesi orangtuanya sebagai dokter. Saya memiliki contoh praktis dalam hal ini, yaitu dari sepupu saya. Kakak sepupu saya dipaksa oleh ayahnya–meskipun bukan dokter (tetapi ayahnya berdalih bahwa ia tak pernah memaksa tetapi “hanya” menyarankan) untuk masuk kedokteran dengan argumentasi bahwa dengan menjadi dokter itu berarti anaknya tidak usah “ikut orang” (diperintah orang), sedangkan kalau profesi lain, anaknya harus “ikut orang.” Akibat pemaksaan ini, sepupu saya ini tidak memiliki hasrat ingin belajar, karena ia masuk kedokteran untuk memenuhi keinginan orangtuanya saja. Hal yang serupa terjadi pada adik sepupu saya ini yang lebih suka bahasa Inggris, namun karena sudah ditetapkan oleh orangtuanya, ia dipaksa masuk fakultas hukum untuk menjadi notaris, lagi-lagi dengan alasan: “supaya tidak ikut orang.” Tidak cukup memaksa 2 anaknya, paman saya ini juga memaksakan anaknya yang ketiga untuk masuk sekolah kedokteran, padahal anaknya sejujurnya ingin menjadi businessman. Ketiga anaknya ini sudah salah arah, tetapi hanya karena keinginan orangtua yang “dibaptis” dalam nama “menyarankan” (sebenarnya: MEMAKSA), akhirnya, mereka tidak sesuai dengan apa yang mereka cita-citakan (dan terlebih, apa yang Tuhan mau!). Bahkan untuk mendukung keinginan orangtua tertentu, ada yang sampai mengatasnamakan “Tuhan” agar anaknya patuh. Bukannya mengarahkan anaknya untuk menggumulkan panggilan hidupnya di hadapan Tuhan untuk mencari dan mengutamakan kehendak Tuhan, bahkan ada orangtua yang sampai mengatakan bahwa kehendak Tuhan bagi anak yaitu hanya melalui orangtua, bukan melalui pendeta, sahabat, dll. Di sini, orangtua ini (meskipun mengaku diri “Kristen”) sudah memutlakkan diri sebagai “tuhan” yang harus ditaati. Dengan kata lain, orangtua yang sudah memutlakkan hal ini sudah mengambil alih posisi Allah sebagai sumber dan itu adalah DOSA! Berhati-hatilah, para orangtua!
Bagaimana dengan Anda khususnya para orangtua Kristen? Apa yang Anda ajarkan kepada anak-anak Anda? Benarkah theologi yang sudah kita pelajari bahwa kehendak Tuhan yang terutama benar-benar kita terapkan dalam cara mengajar dan mendidik anak kita? Sudahkah Anda mengajar kepada anak-anaknya untuk mendahulukan dan mengutamakan kehendak dan keinginan Allah dalam hidupnya dan bukan kehendak (sebenarnya: keinginan) Anda sebagai orangtua? Orangtua boleh mengarahkan anaknya untuk memilih jurusan kuliah dan/ pekerjaan, tetapi sekali lagi: orangtua TIDAK berhak memaksa anak-anaknya, karena yang menciptakan anak-anak Anda adalah Allah dan Allah meminta kita bertanggung jawab mengajar dan mendidik mereka untuk dipakai memuliakan dan menggenapkan kehendak-Nya dalam hidup mereka (bukan memuliakan diri orangtua).


IV. Mengerti Kehendak dan Pimpinan Allah: Solusi terhadap Hambatan-hambatan Mengerti Maksud dan Tujuan Hidup Manusia
Setelah kita mengerti empat hambatan dalam mengerti makna dan tujuan hidup manusia, maka kita akan berpikir, bagaimana kita bisa mengerti makna dan tujuan hidup manusia yang sebenarnya? Di poin pertama artikel ini, kita telah membahas bahwa manusia diciptakan oleh Allah, sehingga secara otomatis, makna dan tujuan hidup manusia yang sesungguhnya hanya bisa ditemukan di dalam Allah. Oleh karena itu, sebagai orang percaya, sudah sepatutnya kita kembali kepada Allah untuk mengerti kehendak dan pimpinan Allah di dalam seluruh aspek kehidupan kita, agar kita dapat memuliakan Tuhan.

A. Apakah Kehendak dan Pimpinan Allah itu?
Di sini, ada dua arti yang harus kita mengerti, yaitu:
1. Kehendak Allah
Kehendak Allah berbicara mengenai apa yang merupakan rencana Allah di dalam kekekalan. Roma 11:36 memberikan gambaran yang jelas tentang apa itu kehendak Allah, yaitu kehendak Allah itu adalah apa yang berasal dari Allah, dikerjakan oleh Allah, dan hasil akhirnya untuk kemuliaan Allah. Allah telah menetapkan segala sesuatu sebelum dunia dijadikan, lalu Ia yang telah menetapkan itu, Ia pula lah yang akan mengerjakan rencana-Nya melalui karya Roh Kudus, dan pada akhirnya, semuanya harus memuliakan Dia sebagai Sumber dan Pusat segala sesuatu. Sebagai contoh, di dalam pekerjaan baik. Ketika kita membaca Efesus 2:10, “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.”, kita mendapatkan gambaran serupa tentang kehendak Allah. Yaitu, Allah telah menetapkan (KJV: ordain) kita (yang diciptakan Allah) untuk melakukan pekerjaan baik, lalu penetapan Allah ini dilakukan di dalam Kristus – di mana umat pilihan-Nya ditebus oleh Kristus dan dijadikan ciptaan baru di dalam Kristus melalui karya Roh Kudus yang melahirbarukan – , baru setelah itu, kita dituntut untuk hidup di dalam pekerjaan baik itu demi kemuliaan Allah. Dari sini, kita mendapatkan 4 kehendak Allah yang terintegrasi, yaitu kehendak Allah di dalam Penciptaan (dari dan oleh Allah), Penebusan (dari dan oleh Allah), Kelahiran Kembali (oleh Allah), dan Kesempurnaan kelak (untuk Allah).

2. Pimpinan Allah
Lalu, pertanyaan selanjutnya, bagaimanakah kita sebagai manusia yang terbatas dan fana ini bisa mengerti rencana Allah yang kekal itu? Di sini, kita membutuhkan apa yang disebut pimpinan Allah. Pdt. Dr. Stephen Tong mendefinisikan pimpinan Allah sebagai kehendak Allah yang berada di dalam proses sejarah/waktu. Dengan kata lain, pimpinan Allah adalah penyataan (intervensi) kehendak Allah yang kekal itu kepada umat-Nya yang tidak kekal. Dari Alkitab, kita mendapatkan pelajaran berharga tentang apa yang disebut pimpinan Allah. Di Perjanjian Lama, umat-Nya, Israel mendapatkan pimpinan Allah ketika mereka keluar dari Mesir menuju ke Tanah Kanaan. Begitu juga yang terjadi dengan pimpinan Allah yang dialami oleh para rasul di Perjanjian Baru.
Kemudian, kita akan mencoba membagi wujud pimpinan Allah itu. Pdt. Dr. Stephen Tong di dalam kaset Seminar Pembinaan Iman Kristen (SPIK): “Dinamika Hidup dalam Pimpinan Roh Kudus” membagi dua wujud pimpinan Allah, yaitu pimpinan positif dan pimpinan negatif. Dua wujud pimpinan Allah ini pasti bermotivasi dan bertujuan baik, tetapi yang berbeda di antara keduanya adalah cara pandang manusia. Manusia sering kali memandang pimpinan Allah yang positif itu dari Allah, sedangkan yang kelihatannya negatif itu dari setan. Padahal tidak demikian. Di Perjanjian Lama, Allah memimpin umat-Nya, Israel keluar dari Mesir ke Tanah Kanaan dengan pimpinan positif dan negatif. Pimpinan positif diberikan-Nya ketika Ia memberikan manna kepada orang Israel ketika mereka kelaparan dan memberikan air kepada mereka yang kehausan. Tetapi Allah yang sama memimpin mereka untuk berputar-putar dahulu selama 40 tahun (Yos. 5:6; bdk. Ul. 2:7) untuk sampai ke Tanah Kanaan untuk menguji iman dan kesetiaan umat-Nya (kelihatannya negatif). Pimpinan Allah yang negatif mungkin kelihatan negatif di mata manusia, tetapi percayalah, pimpinan itu pasti berdampak positif bagi umat-Nya. Di Perjanjian Baru, Allah yang sama juga memimpin para rasul dengan pimpinan positif dan negatif. Pimpinan Allah yang positif dapat dilihat ketika Roh Kudus bekerja luar biasa dahsyat di dalam diri Petrus ketika ia memberitakan Injil, sehingga dr. Lukas mencatat pada saat itu yang bertobat pada hari Pentakosta adalah kira-kira 3000 orang (Kis. 2:41). Pimpinan Allah yang seolah-olah negatif dapat dilihat ketika Roh Kudus mencegah Paulus memberitakan Injil di Asia (Kis. 16:6). Mengapa Roh Kudus melarang Paulus memberitakan Injil di Asia? Bukankah maksud Paulus itu baik yaitu memberitakan Injil? Pdt. Dr. Stephen Tong mengatakan bahwa maksud Roh Kudus melarang Paulus memberitakan Injil di Asia adalah Paulus lebih cocok diutus ke Eropa, karena orang-orang di Eropa membutuhkan orang-orang seperti Paulus untuk meruntuhkan semua filsafat mereka dan menundukkannya di bawah Kristus, sedangkan untuk daerah Asia, Petrus lah yang diutus. Di sini, kita mendapatkan pengertian yang lebih dalam lagi yaitu ketika Roh Kudus melarang kita memberitakan Injil, bukan berarti Ia melarang motivasi kita yang baik itu, tetapi mungkin sekali Ia mempersiapkan orang lain untuk melakukan apa yang kita kerjakan, dan kita sendiri dipersiapkan untuk melakukan tugas yang lain yang lebih sesuai dengan talenta yang Tuhan berikan kepada kita.
Bagaimana dengan kita sebagai orang Kristen? Masihkah kita menganggap pimpinan Allah yang seolah-olah negatif itu dari setan? Ataukah hari ini, kita mau kembali kepada Tuhan dan melihat pimpinan-Nya baik yang positif dan kelihatan negatif itu sama-sama pimpinan Allah yang baik bagi kita? Ingatlah, Allah sebagai Sumber dan Pusat hidup kita menginginkan kita mensinkronkan kehendak kita dengan kehendak-Nya melalui pimpinan-Nya. Sudah siapkah kita melakukannya?

B. Bagaimana Mengerti Kehendak dan Pimpinan Allah dalam Hidup Orang Percaya?
Lalu, bagaimana kita mengerti kehendak dan pimpinan Allah itu? Ada beberapa prinsip yang perlu kita mengerti dalam memahami kehendak dan pimpinan Allah di dalam segala aspek, yaitu:
1. Menyadari status kita sebagai orang percaya (anak-anak Allah)
Poin pertama yang harus kita pikirkan ketika kita mau mengerti kehendak dan pimpinan Allah adalah kita pertama-tama harus menyadari status kita sebagai orang percaya. Mengapa ini penting? Karena jika kita tidak pernah menyadari status kita sebagai orang percaya, kita tak akan pernah ada kehendak dan kerinduan untuk mensinkronkan apa yang kita inginkan dengan apa yang Allah inginkan. Orang percaya sejati bukan hanya orang yang aktif di dalam setiap kegiatan gereja, tetapi orang yang benar-benar 100% mendedikasikan hidupnya untuk memuliakan Tuhan. Mereka adalah orang yang mau menTuhankan Kristus di dalam hidupnya, bukan hanya sekadar di mulut saja. Ketika kita sudah menyadari bahwa kita sungguh-sungguh orang percaya yang memiliki kerinduan untuk mensinkronkan kehendak kita dengan kehendak Allah, maka kita baru boleh memikirkan bagaimana mengerti kehendak dan pimpinan Allah di dalam hidup kita. Tetapi jika kita tidak pernah menyadarinya, jangan pernah mulai memikirkan kehendak dan pimpinan Allah, karena itu adalah hal yang sia-sia. Lalu, bagaimana kita bisa menyadari bahwa kita benar-benar orang percaya? Roh Kudus lah yang bersaksi bersama roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah (Rm. 8:16). Di sini, ada janji Roh Kudus yang akan menyertai, menolong, menegur, menasihati, dan menghibur kita sebagai anak-anak-Nya. Ketika kita mulai menyeleweng dari kehendak Allah, Roh Kudus mengingatkan kita dengan menegur, menasihati, bahkan menghajar kita agar kita kembali kepada kehendak Allah. Ketika kita meresponi apa yang Roh Kudus lakukan di dalam hati kita ini, itu tandanya kita anak-anak Allah. Jika tidak, berhati-hatilah, mungkin sekali Anda bukanlah anak Tuhan, tetapi menyamar seolah-olah seperti anak Tuhan. Inilah bedanya, orang percaya (anak Tuhan) sejati dengan orang “percaya” (anak setan). Jadi, mulai sekarang, jangan berani mengatakan dan menyamakan semua orang Kristen dengan anak Tuhan, karena tidak semua orang Kristen adalah anak Tuhan.

2. Bergumul setiap hari bersama Tuhan
Kita jangan pernah menginginkan pimpinan Tuhan secara instant. Tuhan tidak pernah memimpin/memberikan segala sesuatu secara instant/serba cepat. Tuhan ingin kita berproses di dalam mengerti pimpinan-Nya. Proses itulah yang kita harus bangun dan mulai dengan bergumul setiap hari bersama-Nya di dalam doa dan pembacaan Alkitab.
Di dalam doa, kita terus menggumulkan apa yang menjadi kehendak dan pimpinan-Nya baik dalam karier, pekerjaan, perkuliahan, maupun pasangan hidup. Nyatakanlah apa yang kita inginkan di hadapan Tuhan di dalam doa, tetapi ingat, biarkan Tuhan yang menilai apa yang kita inginkan itu sesuai kehendak-Nya atau tidak. Berarti di dalam doa, ada komunikasi antara kita dengan Allah. Jangan pernah memanipulasi kepentingan kita di dalam doa. Biarkanlah Allah juga berkata-kata kepada kita di dalam doa. Itulah yang dialami baik oleh para nabi dan rasul di Alkitab ketika mereka melayani Tuhan dan memutuskan segala sesuatu. Mereka tidak gegabah melayani Tuhan dan memutuskan segala sesuatu, tetapi mereka meminta petunjuk Tuhan di dalam doa. Bagaimana dengan hidup doa kita? Apakah kita berdoa setiap hari? Ataukah kita berdoa hanya ketika kita sedang bergumul? Tuhan tidak mau kita berdoa hanya pada saat kita menggumulkan sesuatu. Misalnya, ketika kita mau bekerja, kita baru berdoa menggumulkan pimpinan Tuhan tentang pekerjaan apa yang dikehendaki-Nya. Tuhan mau seluruh hidup umat-Nya adalah hidup yang bergumul di dalam doa.
Bukan hanya di dalam doa, kita pun harus menggumulkan pimpinan Tuhan juga melalui firman-Nya, Alkitab. Di dalam Alkitab, kita belajar banyak prinsip-prinsip Kebenaran yang Allah inginkan di dalam seluruh aspek kehidupan kita sehari-hari. Misalnya, di dalam pekerjaan, Alkitab mengajar bahwa segala sesuatu adalah dari Allah, oleh Allah, dan untuk Allah (Rm. 11:36), lalu Alkitab juga mengajar bahwa kita harus bekerja seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kol. 3:23). Dari dua bagian Alkitab ini, kita akan mengerti bahwa pekerjaan yang Tuhan inginkan adalah yang berkenan kepada-Nya (memuliakan-Nya) dan Ia menginginkan kita bekerja semaksimal mungkin untuk memuliakan-Nya. Dari prinsip ini, jika kita misalnya ditawari dua pekerjaan, yang satu, sebagai sekretaris bank, dan yang lainnya, sebagai orang yang berkecimpung di dalam MLM (Multi Level Marketing), maka atas dasar prinsip Alkitab, kita harusnya lebih memilih profesi sebagai sekretaris bank meskipun gajinya lebih sedikit. Mengapa? Karena menjadi orang yang berkecimpung di MLM adalah orang yang berjudi dan praktek perjudian dilarang di Alkitab. Contoh kedua, misalnya pergumulan mencari pasangan hidup. Alkitab mengajar bahwa prinsip pertama mencari pasangan hidup adalah: lawan jenis (mengutip pernyataan Pdt. Effendi Susanto). Tuhan menciptakan pria dan wanita (tidak ada alternatif ketiga dan Tuhan mengutuk alternatif ketiga tersebut) dan Ia menghendaki pria dan wanita bersatu di dalam lembaga pernikahan (Kej. 2:24; Mat. 19:5; Ef. 5:31). Kedua, Alkitab mengajar bahwa orang percaya harus mencari pasangan hidup yang seiman (2Kor. 6:14; secara konteks, “pasangan” di sini mengacu kepada sahabat, bisa juga diterjemahkan sahabat/pasangan hidup). Ketiga, Alkitab juga mengajar adanya kesepadanan (saling melengkapi) antara pria dan wanita yang diciptakan Allah secara berbeda (Kej. 2:18). “Sepadan” tidak berarti identik, tetapi sepadan berarti melengkapi. Dalam bahasa Ibrani, kata ini bisa diterjemahkan part opposite (=bagian yang berlawanan) Terjemahan kata ini sungguh unik, yaitu menggabungkan 2 istilah: bagian dan berlawanan. Meskipun berlawanan, keduanya tetap merupakan satu bagian (seperti dua gigi roda yang saling melengkapi). Di sinilah, artinya sepadan, yaitu satu bagian dengan dua karakter yang berbeda yang saling melengkapi. Tetapi kesepadanan ini berlaku bukan pada karakter primer yang berkaitan dengan kebenaran, tetapi pada karakter “sekunder” yang sama-sama bersumbangsih. Jangan salah mengerti arti kesepadanan ini, lalu menafsirkan kesepadanan berarti: kalau si cowok orangnya on-time, maka si cewek orangnya harus suka telat (ngaret); kalau si cowok jujur, maka si cewek harus tidak jujur; dll. Itu bukan contoh kesepadanan yang tepat. Kesepadanan yang tepat adalah jika si cowok orangnya cepat bekerja, maka harus diimbangi dengan si cewek yang agak lambat kerjanya, supaya masing-masing bisa saling membantu. Jika cowok dan cewek sama-sama cepat kerjanya, maka pekerjaan itu menjadi tidak teliti, karena tidak ada salah satu yang lambat memeriksa pekerjaan itu. Dan ketika mereka saling melengkapi dalam karakter, mereka melakukannya dengan semangat altruistik yang murni, bukan dengan tujuan menuntut/memaksa. Kegagalan pernikahan Kristen karena masing-masing pasangan saling menuntut.3 Pdt. Sutjipto Subeno pernah mengatakan bahwa pernikahan Kristen bukan mendapat sesuatu, tetapi memberi seseuatu (Christian marriage is not to get something from others, but to give something to others).
Dari tiga prinsip dasar ini, kita mendapatkan prinsip bahwa ketika kita ingin memilih pasangan hidup, yang perlu diperhatikan adalah satu, apakah pasangan kita lawan jenis atau sesama jenis; kedua, apakah pasangan kita seiman (dalam arti benar-benar percaya kepada Kristus, bukan hanya “Kristen”); dan ketiga, apakah masing-masing pasangan bersedia saling melengkapi (dan membangun) dalam karakter.

3. Meminta pertimbangan dari orangtua, teman/rekan/saudara, dan khususnya dari hamba Tuhan.
Prinsip terakhir di dalam mengerti kehendak dan pimpinan Allah adalah meminta pertimbangan dari orang-orang dekat, misalnya orangtua, teman/rekan/saudara, dan terutama dari para hamba Tuhan/orang Kristen yang taat. Mengapa saya meletakkan prinsip ini sebagai prinsip terakhir? Karena prinsip ini harus bersumber dari dan diuji oleh prinsip nomer dua, yaitu doa dan Alkitab. Orang yang tiba-tiba ingin mengerti pimpinan Allah hanya dari orangtua saja, lalu tak pernah bergumul di dalam doa dan membaca Alkitab, orang tersebut picik dan tak mungkin bisa mengerti apa yang Tuhan inginkan, mengapa? Karena ia telah mengunci orang-orang tertentu sebagai bukti pimpinan Allah bagi hidupnya, padahal mungkin orang-orang tertentu itu belum tentu benar mengarahkan kita sesuai prinsip-prinsip Firman (atau yang lebih parah, orang-orang yang kita percayai bisa saja membawa kita lebih menyeleweng dari kehendak dan pimpinan Allah, meskipun kelihatan “baik”). Jadi, prinsipnya doa dan Firman (Alkitab) menjadi kriteria penguji dan penghakim semua sarana manusia yang kita pakai untuk mengerti pimpinan Allah.
Setelah kita bergumul bersama Tuhan setiap hari di dalam doa dan pembacaan firman, kita baru boleh berkonsultasi dan meminta pertimbangan dengan hamba Tuhan, orangtua, rekan/sahabat/saudara, dan orang-orang yang dekat dengan kita. Mungkin saja, Tuhan memakai orang-orang tersebut untuk menasihati kita di dalam mengerti pimpinan Allah di dalam hidup kita. Di Perjanjian Lama, Tuhan memakai Abraham untuk mencarikan pasangan/istri bagi Ishak, anaknya. Di Perjanjian Baru, Tuhan memakai Paulus untuk menegur Petrus, rekan pelayanannya agar Petrus tidak berlaku munafik (Gal. 2:11-14). Tetapi kedua hal ini tidak boleh menjadi standar, lalu ditafsirkan bahwa orangtua harus mencarikan anaknya pasangan hidup, karena Abraham diperintahkan Tuhan seperti itu. Kedua contoh tadi hanya beberapa contoh media orang yang Tuhan pakai bagi anak-anak-Nya.
Lalu, kita perlu memerhatikan orang-orang yang kepadanya kita meminta pertimbangan, seperti apakah orang-orang tersebut. Jika kita ingin meminta pertimbangan tentang pasangan hidup kita, carilah orang-orang yang benar-benar mengerti kriteria pasangan hidup khususnya dari sudut pandang Alkitab. Dalam hal ini, saya lebih merekomendasikan agar kita lebih meminta pertimbangan kepada hamba Tuhan yang sungguh-sungguh dan bertanggungjawab atau orang Kristen yang taat agar kita lebih mengerti pimpinan Allah. Bagaimana jika kita meminta saran tersebut dari orangtua yang melahirkan kita? Kita boleh meminta juga saran dari orangtua kita, meskipun tentu saran orangtua kita belum tentu benar (karena mereka bukan Tuhan kita), karena mungkin sekali mereka memberi saran hanya dari sudut pandang dunia pada umumnya (respon terhadap wahyu umum Allah). Bagaimana jika kita juga meminta pertimbangan dari sahabat/rekan/saudara kita? Kita boleh meminta pertimbangan dari mereka, karena mungkin sekali kita lebih terbuka pada mereka (sesuai dengan usia kita), tetapi sekali lagi, saran mereka pun tetap harus diuji oleh kebenaran Firman Tuhan. Jadi, ketiga objek yang kepadanya kita meminta pertimbangan, pertimbangkanlah terlebih dahulu aspek rohaninya, baru aspek-aspek lainnya, supaya kita lebih mengerti pimpinan Allah, bukan apa yang dunia/orang kehendaki. Ingatlah, jangan pernah menelan mentah-mentah semua pertimbangan yang kita dapatkan, tetapi ujilah semua pertimbangan itu dengan dasar Alkitab saja (Sola Scriptura), lalu putuskan sendiri dengan bertanggungjawab di hadapan Tuhan.

Bagian 1 dan 2

Mengerti Kehendak dan Pimpinan Allah
(Pergumulan Hidup Orang Percaya Mengerti Makna dan Tujuan Hidup Manusia)


oleh: Denny Teguh Sutandio




“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!”
(Roma 11:36)

“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.”
(Efesus 2:10)



I. Pendahuluan dan Latar Belakang
Manusia adalah makhluk yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Sebagai pribadi yang diciptakan, Prof. Anthony A. Hoekema, Th.D. memaparkan konsep yang menarik, yaitu manusia adalah makhluk yang memiliki “kehendak bebas” (manusia sebagai pribadi) sekaligus manusia yang harus bergantung dan taat mutlak pada Pencipta (manusia sebagai pribadi yang diciptakan).1 Selain itu, manusia diciptakan Allah bukan tanpa tujuan, melainkan dengan tujuan dan tujuan itu adalah hanya untuk memuliakan Dia saja. Karena alasan inilah, sudah seharusnya sebagai manusia, kita harus kembali kepada makna dan tujuan hidup kita kepada Sang Pemberi Hidup itu, yaitu Allah. Ketika kita kembali kepada Allah, kita mengerti makna dan tujuan hidup kita sesuai dengan maksud penciptaan Allah itu.


II. Dosa: Hambatan Utama dalam Mengerti Makna dan Tujuan Hidup Manusia
Tetapi, benarkah semua manusia ingin kembali kepada Allah untuk menemukan makna dan tujuan hidupnya? Tidak. Manusia lebih memilih untuk menetapkan diri sendiri atau orang lain (orangtua, teman, dll) sebagai pusat dan sumber (“tuhan”) yang menuntun hidupnya. Itulah yang disebut dosa. Dosa bukan hanya sekadar membunuh, mencuri, berzinah, dll. Itu hanya akibat dosa. Dosa berarti pemberontakan terhadap Allah. Ketika manusia mulai memberontak kepada Allah dan mencari “sumber” lain di luar Allah, pada saat itulah, manusia mulai berdosa, meskipun orang ini tidak pernah membunuh, mencuri, dll. Rev. Prof. Cornelius Van Til, Ph.D. di dalam bukunya The Defense of The Faith mendefinisikan dosa sebagai berikut,
“When man fell it was therefore his attempt to do without God in every respect ... God had interpreted the universe for him, or we may say man had interpreted the universe under the direction of God, but now he sought to interpret the universe without reference to God... The result for man was that he made for himself a false ideal of knowledge.” (=Ketika manusia berbuat dosa, itu karena usahanya untuk berbuat tanpa Allah dalam setiap hal... Allah telah menginterpretasikan alam semesta bagi manusia atau kita dapat mengatakan manusia telah menginterpretasikan alam semesta di bawah perintah Allah, tetapi sekarang manusia berusaha untuk menginterpretasikan alam semesta tanpa petunjuk Allah... Hasil bagi manusia adalah bahwa dia menghasilkan bagi dirinya sebuah ideal pengetahuan yang salah.)2

Dari definisi Dr. Van Til ini, kita mendapatkan pengertian bahwa dosa berarti manusia berusaha mengambil alih posisi Allah sebagai pusat dan sumber untuk menginterpretasikan alam, manusia, dan segala sesuatu. Akibatnya, bukan pengetahuan yang benar, manusia semakin mendapatkan pengetahuan yang salah (tetapi “seolah-olah” benar). Gambaran pengertian inilah pertama kali dimulai oleh iblis, sebagai bapa/sumber dosa. Iblis berarti penantang Allah. Artinya, ia menyamar sebagai malaikat terang untuk menipu manusia. Bagaimana cara iblis menipu? Iblis menipu manusia dengan menggoda manusia meninggalkan Allah dan menetapkan standar diri atau orang lain sebagai pusat yang menggantikan Allah. Itulah cara kerja iblis yang dialami Adam dan Hawa. Mari kita cermati cara kerja iblis dan dosa di dalam kasus Adam dan Hawa ini.

Pertama, iblis pertama-tama mencobai Hawa bukan dengan perkataan yang jelas-jelas salah, tetapi dengan perkataan yang “seolah-olah” benar. Baca Kejadian 3:1, “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” (bdk. perkataan Allah sendiri di dalam Kej. 2:16-17, “Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.””) Perhatikan apa yang telah saya katakan tadi. Iblis menipu manusia dengan pertama-tama memakai “standar” (atau perkataan) Allah bukan untuk menyadarkan manusia, tetapi untuk memelintirnya. Iblis memelintir perkataan Allah ini dengan pertama-tama meragukan perkataan-Nya. Bukan hanya meragukan perkataan-Nya, iblis juga datang mencobai Hawa ini dengan membalikkan sebagian perkataan-Nya. Kemudian, si Hawa dengan bangganya mengulang perkataan-Nya dan menambahinya. Hawa mengatakan bahwa Allah melarangnya makan buah pohon pengetahuan baik dan jahat bahkan Ia melarang untuk merabanya (Kej. 3:2-3). Padahal, Allah tidak pernah melarang Hawa untuk meraba buah itu (bdk. Kej. 2:17). Di sini, iblis sudah berhasil memancing psikologi Hawa dengan meragukan dan membalikkan firman Allah, lalu Hawa (dengan agak jengkel dan sedikit tidak puas) menjawab pernyataan iblis itu dengan mencoba menambahi perkataan yang tidak difirmankan-Nya. Apa yang Hawa lakukan juga mungkin bisa terjadi pada kita. Ketika iblis mencobai kita, kita kadang kala menjawab cobaan itu dengan mengutip Firman Allah yang diekstrimkan (ditambahkan), sehingga mungkin seolah-olah kita “Alkitabiah”, padahal sebenarnya kita sedang menambahi sesuatu yang tidak difirmankan Allah. Melalui cobaan iblis yang pertama ini, kita disadarkan untuk berhati-hati terhadap godaan iblis.

Kedua, iblis kemudian mencobai Hawa langsung dengan mengatakan apa yang benar-benar bertolak belakang dengan perkataan-Nya. Jika di poin pertama tadi, kita telah melihat cara kerja iblis yang halus yaitu menyamarkan sebagian firman Allah, maka di poin kedua ini, kita melihat lebih tajam lagi bahwa iblis benar-benar menyamarkan dan membelokkan semua firman Allah. Allah telah berfirman kepada manusia agar tidak makan buah pohon pengetahuan yang baik dan jahat, karena jika mereka memakannya, mereka mati, tetapi iblis memutarbalikkan perkataan-Nya dengan mengatakan bahwa jika mereka makan, mereka tidak mati, melainkan akan menjadi seperti Allah, tahu yang baik dan jahat (Kej. 3:4-5). Di saat inilah, motivasi dan semua cara iblis benar-benar terbongkar, tetapi Hawa bukannya sadar malahan tergoda oleh kedok iblis itu. Akhirnya, Hawa melihat buah pohon pengetahuan yang baik dan jahat itu baik untuk dimakan, sedap kelihatannya, dan menarik hati karena memberikan pengertian, kemudian setelah itu, ia memakannya (Kej. 3:6). Lalu, Hawa memberikan buah itu kepada suaminya, Adam, dan Adam memakannya. Akibatnya, setelah makan buah pohon itu, mereka berdua telanjang (Kej. 3:7).

Ketiga, dosa mengakibatkan mereka tidak mau mengaku apa yang telah mereka perbuat (baca: Kej. 3:9-19). Setelah mereka memakannya, Allah datang ke Taman Eden mencari mereka (Kej. 3:9). Pdt. Dr. Stephen Tong menafsirkan pernyataan “Di manakah engkau?” di dalam Kej. 3:9 ini sebagai pencarian Allah akan posisi Adam dan Hawa secara rohani, bukan secara jasmani. Ketika Allah mencari mereka, mereka bersembunyi. Lalu, akhirnya, mereka berani keluar dan mengaku bahwa mereka bersembunyi. Ketika Allah bertanya mengapa mereka bersembunyi, mereka menjawab bahwa mereka telanjang. Lalu, Allah bertanya, siapa yang memberi tahu bahwa mereka telanjang dan apakah mereka makan buah pohon itu. Pada saat itulah, terjadilah saling tuding-menuding. Ketika Allah bertanya kepada Adam, Adam menyalahkan Hawa. Ketika Allah bertanya kepada Hawa, Hawa menyalahkan ular. Lalu, mengapa Allah tidak bertanya juga kepada ular? Karena Allah tahu ular itu dipakai setan yang pekerjaan sehari-harinya adalah mencobai manusia. Sehingga, Ia tidak menyalahkan ular itu, tetapi menyalahkan manusia yang mau diperdaya iblis.

Di sini, kita mendapatkan satu rangkaian jelas mengenai cara kerja iblis dan dosa:
Iblis mencobai Hawa (bukan Adam) dengan meragukan dan membalikkan SEBAGIAN perkataan Allah -> Hawa menjawab pertanyaan iblis itu dengan mengulang perkataan-Nya dan menambahinya -> iblis melancarkan serangannya yang kedua yaitu benar-benar memutarbalikkan SELURUH perkataan perkataan-Nya -> Hawa mulai tergoda, mencoba melihat buah pohon pengetahuan yang baik dan jahat itu, akhirnya ia jatuh ke dalam pencobaan itu -> Hawa tidak mau menikmati dosanya sendiri, ia memberikannya kepada Adam untuk bersama-sama menikmatinya -> Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa -> mereka telanjang -> mereka tidak mau mengaku (bahkan saling menuding) ketika Allah menanyai mereka -> Allah menghukum mereka -> mereka diusir Allah dari Taman Eden.

Dari skema rangkaian di atas, kita mendapatkan satu pelajaran berharga, yaitu iblis mengakibatkan manusia meninggalkan Allah secara perlahan-lahan dengan mencoba meragukan (dan memutarbalikkan) SEBAGIAN firman-Nya, lalu akhirnya benar-benar memutarbalikkan SEMUA firman-Nya, sehingga manusia benar-benar terlepas dari Allah. Akibat tragisnya, manusia hidup sia-sia dan tak mengerti arah hidup yang jelas, karena mereka mencoba mencari makna dan tujuan hidup di luar Allah.

19 August 2008

Matius 10:39-42: CHRISTIANITY AND PERSECUTION: The Reward

Ringkasan Khotbah: 30 April 2006

Christianity & Persecution: The Reward

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 10:39-42


Pendahuluan
Alkitab membukakan kebenaran bahwa seorang pengikut Kristus itu seperti domba di tengah serigala. Seorang anak Tuhan yang sejati akan mengalami kesulitan, penderitaan dan aniaya sebab dunia berdosa tidak suka akan kebenaran dan kesulitan yang kita alami itu bukan hanya terjadi satu kali saja tetapi berulang-ulang kali (Mat. 10:23). David F. Wells, dalam buku No Place for Truth menyatakan bahwa pada dasarnya, dunia dan seluruh aspeknya dipengaruhi oleh dua hal: 1) manajemen marketing, 2) psikologi. Orang ketika hendak mengerjakan sesuatu atau mengambil suatu keputusan maka yang ada dalam pikirannya adalah bagaimana mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya dan sistem yang dipakai adalah sistem marketing dunia yang didasari oleh konsep psikologi. Bidang teknik dan medis yang seharusnya tidak berhubungan dengan marketing dan psikologi pun hari ini pun memakai sistem marketing dan psikologi untuk mendapatkan keuntungan. Itulah sebabnya, kita melihat dunia bisnis menguasai sebagian besar belahan dunia dan cara menilai dan menghargai seseorang pun mulai bergeser, orang hanya dilihat dari tampilan luarnya saja. Hari ini, orang lebih menghargai seorang businessman meskipun ia korupsi daripada profesi lain, seperti researcher atau peneliti. Munculnya psikologi karena didasari oleh keinginan untuk melawan konsep theologi dan sebagian besar tokoh pencetusnya adalah seorang atheis.
Aspek religius pun tak luput dari sistem marketing dan psikologi. Kekristenan tidak beda dengan dunia modern. Kekristenan mulai menyeleweng dari ajaran Firman, berita tentang penganiayaan mulai dihilangkan dan sebagai gantinya, orang diiming-imingi dengan kesehatan dan hidup berkelimpahan. Kekristenan sejati berbicara tentang kebenaran, kejujuran dan integritas hidup itulah sebabnya, sejak awal Tuhan membukakan kebenaran termasuk semua resiko yang harus ditanggung ketika kita memutuskan untuk menjadi murid Kristus. Iman Kristen harus kembali pada kebenaran sejati. Biarlah sebagai anak Tuhan sejati kita meneladani Kristus yang menjalankan prinsip kebenaran meski untuk itu Dia harus dimusuhi, Dia rela berkorban.
Janganlah takut ataupun kuatir ditengah-tengah penderitaan dan penganiayaan yang kita alami, Tuhan tidak membiarkan begitu saja tetapi ada upah, reward yang Tuhan telah sediakan. Mat. 10:39 merupakan kunci penting untuk kita memahami tentang upah. Ayat 39 dapat diterjemahkan sebagai berikut: barangsiapa mencari selamat untuk dirinya, ia akan kehilangan keselamatan nyawanya; barangsiapa rela kehilangan keselamatannya dalam nama Kristus, ia justru akan mendapatkan keselamatan hidup itu. Kata “mencari, to find“ berasal dari bahasa asli “eurisko“ dan penulisannya menggunakan tenses auris participle, dimana tenses ini berkait dengan ontologi, yakni sesuatu yang berbicara secara hakekat. Secara gamblang ayat 39 dapat dikatakan: kalau hanya mau cari selamat, matilah kau, artinya bukan hanya satu kali orang mencari selamat tetapi secara natur atau pada hakekatnya atau “dari sananya“ orang selalu mencari selamat; dengan kata lain, sepanjang hidupnya, orang selalu mencari selamat. Yang menjadi pertanyaan apa yang kita lakukan ketika berada dalam penganiayaan? Apakah kita hanya mau mencari selamat saja ataukah kita masih tetap mempertahankan integritas dan hidup dalam kebenaran?
I. Hidup dalam Kebenaran Sejati
Tuhan menuntut suatu integritas hidup dalam diri setiap anak-Nya yang sejati; barangsiapa hidup dalam Kristus ia harus hidup sama seperti Kristus telah hidup. Allah yang kita sembah adalah Allah yang agung dan mulia, Allah yang konsisten karena itu, Dia layak untuk dijadikan sebagai sandaran hidup kita. Ironisnya, orang ingin mempunyai Allah yang benar namun orang tidak mau hidup benar. Tuhan menegaskan barangsiapa tidak mau hidup dalam kebenaran maka ia tidak akan hidup. Karena itu, carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya maka semuanya akan ditambahkan kepada-Mu (Mat. 6:33). Hidup Kristen adalah hidup yang memperjuangkan righteouness, yakni hidup benar di hadapan Allah Sang Kebenaran sejati, truth. Pertanyaannya sekarang adalah kenapa harus mengikut pada Allah sejati? Kenapa kita harus hidup benar? Bukankah hidup benar itu justru menyulitkan? Kenapa kita tidak mencari aman saja? Adalah kesimpulan salah kalau orang mengatakan bahwa menjadi anak Tuhan, hidup kita akan menjadi lebih susah sehingga orang memilih untuk tidak mengikut Tuhan. Salah! Memang, dunia dapat memberikan kekayaan dan kenikmatan tapi semu belaka dan sifatnya hanya sementara; kita akan berakhir dalam kebinasaan kekal. Sebaliknya, ketika mengikut Kristus mungkin kita akan dianiaya namun itu hanya berlangsung sementara sebab kemudian kita akan peroleh sukacita kekal. Hati-hati dengan akal licik si iblis yang sengaja menjebak manusia dengan kenikmatan semu yang sifatnya sementara dan sekali masuk dalam jerat iblis maka sulit untuk lepas.
Ilustrasi berikut ini untuk memudahkan kita memahami akal licik si iblis yang menjerat dan memperbudak hidup manusia. Ada seorang anak sedang bermain-main dan tanpa sengaja, ia memecahkan gelas ibunya. Ia merasa ketakutan maka ia menyembunyikan perbuatannya dengan membersihkan pecahan gelas tersebut. Ternyata, semua perbuatannya dilihat oleh si kakak maka itu dijadikan kunci untuk menjebak adiknya maka setiap kali si adik tidak mau melakukan apa yang diperintahkan si kakak maka si kakak mengancam akan memberitahukan tentang gelas pecah pada ibu. Begitu juga dengan hidup kita, sekali kita masuk dalam jeratan iblis maka akan sulit bagi kita untuk lepas dari ikatan belenggunya. Hanya Kristus yang dapat melepaskan kita dari jerat iblis dan untuk kelepasan ini juga dibutuhkan suatu pengorbanan besar dari diri kita. Bukanlah hal yang mudah bagi seseorang untuk dapat lepas dari jeratan narkotika; untuk dapat lolos dari ketergantungan dan bandar narkoba dibutuhkan suatu pengorbanan. Sekali masuk dalam jebakan iblis maka sulit untuk keluar dari jebakan iblis. Jangan pernah berpikir ketika kita mencari aman dengan mengorbankan integritas kita maka itu akan membuat hidup kita merasa nyaman. Salah! Hidup kita akan menjadi lebih sengsara.
Kenyamanan hidup itu justru kita dapatkan ketika kita hidup dalam kebenaran dan di situlah kita mendapat kekuatan. Dengan kekuatan dari Tuhan kita mempunyai keberanian untuk menantang jaman ini. Ingat, waktu yang telah berlalu tidak dapat diputar kembali karena itu, hendaklah kita menjaga hidup kita tetap berintegritas dengan menjadikan Kristus sebagai yang terutama dalam hidup kita. Dengan mencari Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya terlebih barulah kita dapat memahami seluruh aspek dalam hidup kita termasuk konsep reward. Di satu pihak, orang menyadari bahwa kembali pada kebenaran Allah akan membuat hidup kita stabil akan tetapi yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kita dapat hidup stabil ketika kita dianiaya? Tuhan menegaskan ketika kita rela berkorban, menyerahkan hidup bagi Tuhan maka disana kita justru akan memperoleh hidup.
II. Pengalaman Iman Sejati
Hidup dalam kebenaran sejati akan membawa kita masuk dalam pengalaman iman bersama Tuhan. Jadi, sangatlah mengherankan seorang yang mengaku sebagai anak Tuhan tetapi tidak mempunyai pengalaman hidup berjalan dalam pimpinan Tuhan. Pengenalannya akan Tuhan hanya sebatas pengetahuan saja. Biarlah kita mengevaluasi diri sudahkan kita mempunyai pengalaman iman bersama Tuhan? Alkitab menegaskan hidup Kristen adalah hidup yang mengalami pengalaman iman di dalam kebenaran bersama Tuhan. Hari ini, banyak orang yang ingin mempunyai pengalaman hidup bersama dengan Tuhan tetapi celakanya, bukan pengalaman bersama Tuhan Sang Kebenaran sejati yang dirasakan tetapi pengalaman iman bersama “allah“ lain. Dan hari ini, orang berani mengklaim dirinya adalah “Allah“ karena merasa sudah mengalami pengalaman bersama “allah“ karena dulu ia sakit sekarang sembuh, dulu miskin dan sekarang kaya. Tidak! Itu bukan Allah sejati tetapi lebih tepatnya adalah iblis sebab orang yang mau menjadi seperti Tuhan adalah pengikut iblis. Hati-hati, iblis dapat memberikan kuasa, iblis juga dapat menyembuhkan, iblis dapat memberikan kekayaan karena itu, hendaklah kita peka sehingga kita dapat membedakan apakah pengalaman iman yang kita alami itu pengalaman iman bersama Tuhan ataukah pengalaman iman bersama hantu. Itu bukan prinsip kebenaran Tuhan. Orang yang telah menyerahkan hidupnya pada iblis pasti tidak akan mengalami kesulitan, iblis tidak akan mengkutak-kutik pengikutnya. Seperti seorang yang telah menjadi anggota suatu mafia tertentu pastilah ia tidak akan diganggu oleh si mafia tersebut. Orang tidak menyadari kalau sesungguhnya ia telah mati rohani.
Pengalaman iman bersama Tuhan seharusnya membawa kita makin dekat Tuhan, kita dapat melihat menerobos jauh ke depan. Semua aniaya dan siksa yang kita alami itu tidaklah sia-sia sebab disana ada pahala, ada upah yang menanti bagi orang benar dan disana kita juga melihat keadilan Tuhan dinyatakan (Mzm. 58:12). Biarlah hal ini bukan hanya sekedar kita mengerti sebatas pengetahuan belaka tetapi biarlah kita mengalami pengalaman hidup bersama Tuhan dan kita dipakai menjadi saksi untuk menguatkan mereka yang lemah iman. Tuhan kita adalah Tuhan yang hidup dan Dia tidak dapat dipermainkan. Tuhan juga tidak akan tinggal diam ketika anak-anak-Nya yang hidup dalam kebenaran dipermainkan oleh dunia. Tuhan menegaskan bahwa pembalasan itu adalah hak-Ku, jadi, ketika dunia menganiaya, janganlah kita menjadi takut sebab keadilan Tuhan akan dinyatakan di bumi. Tuhan tidak akan membiarkan orang-orang benar dianiaya secara membabi buta, Tuhan juga tidak akan membiarkan hidup anak-Nya itu lepas dari pemeliharaan-Nya. Tidak! Tuhan justru ingin supaya kita mempunyai pengalaman iman bersama dengan Dia dengan demikian kita dapat merasakan pimpinan dan pemeliharaan Tuhan yang indah atas kita.
III. Iman Sejati
Kebenaran sejati membawa kita pada pengalaman sejati dan pengalaman ini menjadikan kita mempunyai iman sejati. Iman sejati menjadi kacamata, point of view ketika kita melihat segala sesuatu yang terjadi di dunia. Dunia beriman pada sesuatu yang dilihatnya sebagai keuntungan sebaliknya, apa yang dianggap keuntungan oleh dunia justru dipandang sebagai kerugian. Alkitab menegaskan janganlah kita melihat fenomena dunia tetapi kita harus melihat dari sudut pandang Tuhan. Demikian halnya dengan konsep upah. Mat. 10:42 mengajarkan hal yang indah tentang bagaimana seharusnya kita memberikan reward pada seseorang, yaitu ketika memberi maka ada tiga aspek yang perlu kita perhatikan: 1) air murni bukan susu, 2) banyaknya hanya secangkir bukan sejerigen, 3) diberikan pada orang kecil. Yang dimaksud dengan orang kecil disini bisa mempunyai pengertian anak kecil, orang yang berperawakan kecil atau orang yang berstatus sosial rendah.
Berbeda dengan dunia, orang akan sangat menghargai kalau kita memberikan barang yang berharga dan mahal, bukan air yang tidak bernilai; orang juga melihat kuantitas, orang tidak akan cukup puas jika mendapatkan sedikit; dan orang juga memberikan barang-barang itu bukan untuk orang yang kecil tetapi sebaliknya, barang yang berharga dengan jumlah yang cukup banyak itu diberikan pada orang yang dipandang penting. Apa yang kita berikan, berapa yang kita berikan dan kepada siapa kita berikan itu menentukan bagaimana kita melihat suatu apresiasi pada seseorang. Dunia akan terkagum-kagum dan hormat pada orang yang memberikan barang yang bernilai dengan jumlah banyak dan diberikan pada orang hebat. Inilah cara manusia menilai, inilah cara dunia memahami konsep reward.
Iman Kristen menilai sesuatu bukan melihat secara fenomena tetapi secara esensial. Tuhan sangat menghargai dan memuji seorang janda miskin yang memberikan persembahan 2 peser daripada seorang kaya yang memberikan jumlah banyak tetapi dengan motivasi tidak benar. Tuhan tidak melihat angka tetapi Tuhan melihat janda ini memberikan seluruh apa yang dia punya (100%), seluruh hasil kerjanya hari itu untuk Tuhan dan Tuhan melihat motivasi dari janda miskin ini memberi karena ia mengasihi Tuhan. Sedangkan orang kaya ini hanya memberikan sedikit sebab secara presentasi, pemberiannya itu sangat sedikit bila dibanding dengan seluruh harta yang ada padanya.
Kata upah, reward (bahasa Yunani, misthos) dalam PB muncul sebanyak 28 kali dan Injil Matius paling banyak membicarakan masalah upah, kata upah ini muncul sebanyak 9 kali. Hal ini dapat kita mengerti sebab Injil Matius berbicara tentang dan kepada orang Yahudi yang materialis. Bukan suatu kebetulan kalau Injil Matius ini diberikan pada kita sebab Tuhan ingin supaya kita mempunyai konsep yang benar tentang upah dan cara kita memberikan penghargaan pada seseorang. Semua itu harus dilihat dari sudut pandang iman dengan demikian kita kembali pada kebenaran sejati dan kita dapat merasakan pengalaman iman bersama Tuhan.
Antara hidup dalam kebenaran Allah – pengalaman iman sejati bersama Tuhan – mempunyai iman sejati itu saling berkait erat seperti sebuah lingkaran. kita melihat segala sesuatu dari sudut pandang Tuhan dan iman yang benar akan membuat kita semakin diproses dalam kebenaran dan kita semakin bertumbuh dalam pengenalan kita akan Tuhan. Ini menjadi sebuah lingkaran yang saling berkait erat. Biarlah hidup Kekristenan kita, christian life terus diproses untuk menuju pada kesempurnaan seperti Kristus yang menjadi teladan kita adalah sempurna. Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber:

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2006/20060430.htm

Roma 10:4: "ISRAEL" SEJATI ATAU PALSU-8: Sentralitas Kristus

Seri Eksposisi Surat Roma:
Doktrin Predestinasi-7


“Israel” Sejati atau Palsu-8: Sentralitas Kristus

oleh: Denny Teguh Sutandio


Nats: Roma 10:4


Setelah mempelajari tentang alasan konkrit mengapa kaum Israel gagal disebut umat pilihan Allah dan harapan Paulus agar Israel juga diselamatkan di pasal 10 ayat 1 s/d 3, maka Paulus melanjutkan pembahasannya tentang Kristus sebagai kegenapan hukum Taurat di ayat 4.

Setelah menjelaskan tiga kata “kebenaran” yang diulang di ayat 3 yang sesungguhnya adalah inti dari banyak orang Israel yang tidak diselamatkan, yaitu mereka tidak mengetahui kebenaran Allah dan mereka mendirikan kebenaran mereka sendiri lalu tidak takluk kepada Allah, maka Paulus langsung menjelaskan bahwa seseorang dibenarkan bukan berdasarkan perbuatan baik, tetapi hanya melalui iman di dalam Pribadi Kristus, “Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya.” (ayat 4). Di dalam ayat ini, Paulus langsung menunjuk bahwa Hukum Taurat sebenarnya mengarah dan berpusat kepada Kristus. Kata “kegenapan” di dalam American Standard Version (ASV), English Standard Version (ESV), Geneva Bible, King James Version (KJV) dan New King James Version (NKJV) diterjemahkan end (=akhir), dan dalam terjemahan International Standard Version (ISV) adalah culmination (=titik tertinggi). Kata ini dalam bahasa Yunani adalah telos yang bisa berarti goal, result, etc (tujuan, hasil, dll). Pdt. Hasan Sutanto, D.Th. di dalam Perjanjian Baru Interlinear (2003) menafsirkan kata ini sebagai “kesudahan dan tujuan” (hlm 853). Selain itu, kata ini juga bisa diterjemahkan: akhir; kesimpulan; tujuan; hasil; akhirnya; sepenuhnya; sisanya; bea’. Kata ini muncul sebanyak 40x di dalam Perjanjian Baru. (Sutanto, Konkordansi Perjanjian Baru, 2003, hlm 750) Dari penyelidikan arti kata ini, kita mendapatkan gambaran pengertian tentang hubungan Kristus dan Taurat, yaitu:
Pertama, Kristus adalah Tujuan Hukum (Taurat). Hukum (Taurat) diwahyukan Allah bagi umat Israel sebagai hukum yang mengatur kehidupan dan iman orang Israel. Taurat itu berupa 5 kitab Musa, yaitu Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan. Bagi Dr. Martin Luther, hukum Taurat berfungsi untuk menunjukkan dosa manusia melalui hukum Allah. Seharusnya bangsa Israel menyadari bahwa Taurat diwahyukan agar mereka menyadari keberdosaan mereka dan menyerahkan pengharapan dan iman mereka kepada dan di dalam Allah mereka, tetapi bagaimana kenyataannya? Bangsa ini bukan bangsa yang taat dan setia, tetapi bangsa yang tegar tengkuk. Di dalam kitab Keluaran (Taurat) saja, Allah menyebut bangsa Israel sebagai bangsa yang tegar tengkuk sebanyak 3x, yaitu: Keluaran 32:9; 33:3, 5. Di dalam kitab Ulangan (Taurat) pun, kembali Allah menyebut Israel sebagai bangsa yang tegar tengkuk juga sebanyak 3x, yaitu: Ulangan 9:6,13; 10:16. Di 2 Tawarikh 30:8, Hizkia berkata, “Sekarang, janganlah tegar tengkuk seperti nenek moyangmu. Serahkanlah dirimu kepada TUHAN dan datanglah ke tempat kudus yang telah dikuduskan-Nya untuk selama-lamanya, serta beribadahlah kepada TUHAN, Allahmu, supaya murka-Nya yang menyala-nyala undur dari padamu.” Di dalam Yesaya 48:4, Tuhan berfirman, “Oleh karena Aku tahu, bahwa engkau tegar tengkuk, keras kepala dan berkepala batu,…” Sungguh unik sekali, dua dari 5 kitab Taurat justru membukakan realita Israel sebagai bangsa yang tegar tengkuk. Ini membuktikan bahwa meskipun Taurat diwahyukan kepada Israel, mereka tidak pernah sungguh-sungguh mengertinya, melainkan mereka menganggap Taurat itu sebagai bahan pelajaran yang perlu ditaati tanpa perlu dimengerti esensinya. Di abad postmodern ini, hal serupa terjadi juga di dalam Kekristenan. Banyak pemimpin gereja mengaku dengan mulutnya bahwa mereka percaya pada Alkitab dan Kristus, tetapi realitanya doktrin dan kelakuan mereka sama sekali tidak sesuai dengan Alkitab. Mereka berkhotbah sesuatu yang seolah-olah dari Alkitab, tetapi tanpa mengerti esensi utamanya. Tidak heran, jika ada seorang “pemimpin gereja” yang menulis artikel yang membuktikan bahwa Kristus tidak bangkit, meskipun dia pernah sekolah “theologia” bahkan bergelar Doktor “Theologia”. Alkitab dan theologia hanya diselidiki secara akademis, tetapi tidak “mendarat” di dalam aplikasi dan pengalaman rohani sejati bersama Tuhan. Ini bahayanya akademis! Kembali, di dalam pewahyuan progresif (progressive revelation), Tuhan membukakan kepada kita bahwa Taurat yang diwahyukan kepada Israel sebenarnya mengarah kepada Kristus. Semua upacara korban di dalam kitab Imamat dan Ulangan, dll mengarah kepada penebusan Kristus. Bahkan seluruh Perjanjian Lama (PL) mengarah kepada Perjanjian Baru (PB) di dalam Kristus. Ini membuktikan adanya benang merah di dalam seluruh Alkitab dari PL sampai dengan PB. Memisahkan PL dan PB dari Alkitab berarti tidak menghargai Alkitab. Selain itu, ingin mengerti PL tanpa melalui PB adalah sia-sia.
Kedua, Kristus adalah Penyempurna Taurat. John Calvin di dalam tafsirannya mengutip perkataan Erasmus yang menafsirkan kata ini sebagai perfection (kesempurnaan). Dengan kata lain, Kristus menyempurnakan apa yang tertulis di dalam Taurat. Di dalam Injil Matius 5:17, Tuhan Yesus sendiri bersabda, “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” Ayat ini sering salah ditafsirkan oleh orang Islam bahwa karena Kristus tidak meniadakan Taurat, maka Ia juga menyetujui bahwa makan babi itu haram, dll. Tafsiran ini jelas sesat, karena tidak memperhatikan konteks (budaya postmodern di dalam penafsiran). Bagaimana tafsiran yang benar? Kata “menggenapi” di dalam ayat ini di dalam KJV diterjemahkan fulfill (=memenuhi, menyelesaikan, dll). Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) sedikit memberikan penjelasan tambahan, “menunjukkan arti yang sesungguhnya.” Ini berarti Kristus yang menggenapi Taurat adalah Kristus yang sebenarnya hendak menunjukkan arti yang sebenarnya tentang Taurat yang sudah diselewengkan oleh banyak pemimpin Yahudi. Hal ini bisa kita jumpai di ayat-ayat setelah ayat ini, yaitu mulai ayat 21 sampai dengan ayat 48 (perluasannya sampai dengan akhir pasal 7). Di dalam ayat-ayat tersebut, Kristus mengutip perkataan Taurat, lalu disambung dengan perkataan-Nya yang menjelaskan esensinya, “tetapi Aku berkata kepadamu, ...” Misalnya, di dalam ayat 21, Kristus mengutip Taurat, “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.”, lalu disambung dengan penjelasan-Nya tentang makna sesungguhnya di ayat 22 s/d 26, “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.” Dari ayat 21 s/d 48, Kristus membukakan realita bahwa esensi utama dari Taurat BUKAN pada perbuatan, tetapi pada hati. Dari hati yang bersih, akan keluar perkataan dan tindakan yang bersih. Lalu, pertanyaannya, mengapa Kristus dapat disebut Penyempurna Taurat? Siapakah Dia? Bagaimana dengan Mohammad yang merasa diri sebagai “Roh Kudus” di dalam Alkitab, lalu mengatakan bahwa Alkitab itu kurang ‘lengkap’? Kristus dapat disebut Penyempurna Taurat karena Ia adalah Allah Pribadi Kedua yang diutus langsung dari Allah Bapa untuk menebus dan menyelamatkan umat-Nya yang berdosa (Yohanes 3:16). Karena Allah yang mewahyukan Taurat, tetapi Taurat telah diselewengkan, maka Ia mengutus Kristus melalui inkarnasi (Allah menjadi manusia tanpa meninggalkan natur Ilahi-Nya) untuk menjelaskan ulang (re-interpret) Taurat. Hanya Allah saja yang mampu menjelaskan maksud-Nya mewahyukan Taurat. Dengan demikian, barangsiapa, entah itu “nabi”, “orang suci” atau siapapun yang mengklaim diri berhak menafsirkan Taurat atau mengatakan Alkitab itu salah, terkutuklah dia, seperti perkataan Paulus di dalam Galatia 1:8, “Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia.” Allah di Surga pasti menghukum mereka yang tidak percaya kepada Kristus (Yohanes 3:18b).
Karena Kristus adalah Tujuan dan Penyempurna Taurat, maka setiap orang yang percaya kepada dan di dalam-Nya juga mendapat status yang dibenarkan. Di dalam struktur bahasa Yunani, kata “percaya” memakai bentuk pasif. Artinya, umat pilihan-Nya yang percaya (pasif) kepada Kristus mendapatkan status yang dibenarkan. Bentuk pasif ini berarti iman umat pilihan-Nya bukanlah iman yang aktif yang berasal dari keinginan hatinya (pandangan Arminianisme), tetapi mutlak merupakan anugerah Allah. Sehingga, seseorang baru bisa beriman di dalam Kristus, setelah Roh Kudus melahirbarukan mereka (1 Korintus 12:3b). Kepercayaan ini dialamatkan kepada dan di dalam Kristus yang telah melakukan segala yang tertulis di dalam Taurat (=menyempurnakan Taurat) bahkan sampai mati di kayu salib demi menebus dosa manusia pilihan-Nya dan bangkit kembali serta naik ke Surga, sehingga kebenaran yang telah ditunaikan-Nya di atas kayu salib diimputasikan bagi setiap umat pilihan-Nya yang masih berdosa. Di dalam pasal sebelumnya di surat Roma, Paulus berkata, “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” (Roma 5:8) Ini berarti ketika kita masih berdosa, dari kekekalan, Allah Bapa telah merencanakan untuk mengutus Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus untuk menebus dosa umat pilihan-Nya yang berdosa. Berarti, pembenaran orang-orang percaya MUTLAK bukan karena perbuatan baik (ataupun dengan dalih “beriman”), tetapi murni dari anugerah Allah, karena Allah telah berinisiatif menyelamatkan manusia bahkan pada saat manusia sudah/masih berdosa (tanpa melihat apakah suatu saat manusia tertentu akan bertobat—pandangan Arminianisme). Anugerah keselamatan inilah yang diterima oleh umat-Nya sebagai status yang dibenarkan. Status manusia (pilihan-Nya) yang berdosa bisa dibenarkan di hadapan Allah karena penebusan Kristus yang bersifat mengganti (substitusi), mendamaikan (rekonsiliasi) dan memuaskan/meredakan murka Allah/korban (propisiasi).

Bagaimana dengan kita? Kita sudah dibenarkan karena penebusan Kristus. Tindakan penyelamatan Allah di dalam Kristus adalah tindakan teragung dan terdahsyat bagi umat pilihan-Nya. Sudahkah kita bersyukur atas anugerah-Nya bagi kita? Sudahkah kita setia dan taat menjalankan perintah Taurat bukan untuk diselamatkan tetapi sebagai respon kita telah diselamatkan? Pdt. Daniel Lucas Lukito, Th.D. membedakan dua macam anugerah khusus di dalam Kekristenan yaitu saving grace (=anugerah yang menyelamatkan) dan living grace (=anugerah yang hidup). Setelah kita diselamatkan di dalam penebusan Kristus melalui saving grace, maukah kita mewujudnyatakan living grace itu di dalam kehidupan kita sehari-hari? Biarlah perenungan kita tentang satu ayat ini saja mencerahkan pemikiran kita tentang sentralitas Kristus sebagai Tujuan dan Penyempurna Taurat. Amin. Soli Deo Gloria.

15 August 2008

THEOLOGI KOVENAN: Titik Tolak Pengenalan Allah (Pdt. Thomy J. Matakupan, M.Div.)

Theologi Kovenan: Titik Tolak Pengenalan Allah

oleh: Pdt. Drs. Thomy J. Matakupan, S.Th., M.Div.



Pendahuluan
Theologi Kovenan adalah keunikan dari theologi Reformed yang memiliki akar pengertian berdasarkan penyataan Allah di dalam firman-Nya. Dapat dikatakan bahwa Alkitab mengungkapkan prinsip ini di seluruh bagiannya, baik di dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Itulah sebabnya pengertian theologi kovenan ini tidak lepas dari usaha hermeneutik, penafsiran Alkitab. Usaha hermeneutik yang bertanggung jawab pada akibatnya akan melihat Alkitab sebagai sebuah sistem kebenaran, dalam arti sebuah pokok permasalahan tertentu yang muncul di dalamnya harus memiliki konsistensi prinsip. Hal ini pada akibatnya, tidak saja melihat kesatuan Alkitab sebagai firman Allah yang tertulis, melainkan juga kepada pengenalan akan diri Allah sendiri. Dengan kata lain, Theologi Kovenan memberi nilai dari kehidupan iman sejati sesuai dengan maksud dan rencana Allah di dalam kehidupan orang percaya. Jika demikian, apakah yang dimaksud dengan theologi kovenan itu? Mengapa kemudian mempunyai dampak praktis serius di dalam kehidupan Kristen sejati?

Dapat dikatakan bahwa para Reformatorlah yang “menemukan kembali” theologi kovenan ini di tengah-tengah kesimpangsiuran ajaran gereja pada masa itu. Bahwa hal ini adalah harta gereja yang memberikan kehidupan bagi gereja yang telah ditinggalkan begitu saja. David L. Neilands mengatakan di awal bukunya, Studies in the Covenant of Grace menyatakan,

The church is no longer conscious. We have failed ti grasp the importance of covenant theology, covenant thinking and covenant living. Even Reformed churches that once knew the glory of the covenant of grace have lost this vital life-giving fountain of scriptural teaching.[1]

Bangunan iman Kristen dibangun atas dasar theologi kovenan, maka jika kehidupan Kristen (baca: “Gereja”) tidak lagi menempatkan theologi kovenan menjadi pusat theologinya, maka gereja telah kehilangan inti imannya. Gereja yang sedemikian telah kehilangan esensi dan arah keberadaannya di tengah-tengah dunia ini. Pada akibatnya akan mengalami kesulitan yang besar di dalam perjuangannya sebagai saksi Kristus dan akan lebih mudah berkompromi dengan berbagai macam sistim pemikiran dunia yang tidak menurut Kristus.

Makalah ini akan mencoba menyoroti aspek keutuhan prinsip theologi kovenan ini. Memang perlu diakui bahwa pembahasan mengenai theologi kovenan ini sangat luas dan menyangkut aspek-aspek praktis yang dapat diteliti satu demi satu. Karena itu pembahasan hanya akan meninjau secara global saja.

Pertama-tama perlu dilihat apakah yang dimaksud dengan “Theologi Kovenan itu?” Di dalam Perjanjian Lama, kata yang kemudian diterjemahkan sebagai kovenan adalah berit.[2] Sedangkan di dalam Perjanjian Baru menggunakan istilah diatheke.[3] Kedua istilah ini secara umum mempunyai pengertian adanya perjanjian yang dibuat antara dua pihak dengan berbagai persyaratan, tata cata dan konsekuensi yang ada di dalamnya. Sementara secara khusus - jika kemudian dikaitkan dengan pengertian theologi kovenan – hal ini berarti sebuah pemikiran theologi yang berdasar pada kenyataan perjanjian yang ditetapkan Allah sebagai Pencipta dan pihak manusia sebagai ciptaan.[4]

Tentu saja kedua pihak ini tidak dapat dilihat di dalam kedudukan yang sejajar. Perjanjian ini dilakukan oleh Allah Tritunggal sendiri di dalam inisiatifNya yang mutlak untuk mengikat Perjanjian dengan manusia. Bahwa Allah menghendaki adanya ketaatan sepenuhnya dari manusia kepada-Nya dan bahwa Allah di dalam kerelaan kehendak-Nya mengikatkan Diri di dalam janji mencurahkan berkat-Nya jika manusia menuruti di dalam ketaatan kepada kehendak-Nya ini.


Perjanjian Kerja
Perjanjian pertama yang dilakukan antara Allah dan Adam, manusia pertama, wakil dari semua manusia dan dikenal pula dengan istilah “Perjanjian Kerja.”[5] Allah menuntut manusia hidup di dalam ketaatan kepada-Nya dan Ia berjanji memberikan berkat-Nya kepada mereka, yaitu suatu kehidupan di dalam taraf yang tinggi, hidup di atas kematian. Janji kehidupan semacam ini akan lebih dapat dimengerti pada saat melihat kehidupan dari orang-orang yang percaya melalui penebusan Kristus, Adam terakhir. Sebaliknya, jika mereka tidak taat, akan mendapatkan hukuman Allah, yaitu mati di dalam arti yang paling mendalam. Tidak saja berarti kematian jasmani, melainkan juga termasuk kematian rohani dan kematian kekal, keterpisahan kekal dengan Allah. Disebut sebagai Perjanjian Kerja oleh karena adanya kondisi kerja yang ditetapkan bersama. Kerap juga disebut dengan nama lain, yaitu sebagai perjanjian kehidupan oleh karena berisi janji kehidupan atau perjanjian legal oleh karena adanya tuntutan ketaatan sempurna kepada hukum Allah.


Perjanjian Penebusan
Perjanjian ini ditetapkan antara Allah Bapa kepada Allah Anak di dalam kekekalan untuk menyelamatkan manusia berdosa. William G. T. Sheed mengatakan,

The Father appointing the Son to be the mediator; the Second Adam, whose life would be given for the salvation of the world, and the Son accepting the commision, promising that he would do the work which the Father had given him to do and fulfill all righteousness by obeying the law of God.[6]

Semua penetapan persyaratan menjadi hak utama Allah sendiri. Bahwa Bapa menyatakan Oknum Kedua Tritunggal, Yesus Kristus, Sang Anak harus menerima sifat manusia dengan segala kelemahannya meski tanpa dosa[7] sehingga Ia dapat berada di bawah hukum Taurat guna memenuhi semua tuntutan hukum tersebut dan dapat memberikan kehidupan kekal bagi setiap orang yang dikasihi-Nya.[8] Bahwa Yesus menyatakan kesiapan-Nya untuk melakukan kehendak Bapa dalam menjadi korban bagi dosa.[9] Bahwa Ia harus menambahkan jasa-Nya kepada umat-Nya oleh pekerjaan pembaruan oleh Roh Kudus. Dengan demikian menjadi pengabdian hidup mereka kepada Allah.[10]

Untuk menggenapi rencana ini, Bapa sendiri yang kemudian mempersiapkan sebuah tubuh bagi Kristus[11], mengurapi-Nya dengan Roh Kudus dan mendukung semua pekerjaan penebusan-Nya.[12] Bahwa Ia kemudian akan membangkitkan Anak dari kematian dan memberikan tempat terhormat di sebelah kanan-Nya.[13] Bahwa Ia juga kemudian akan memberikan Roh Kudus yang akan membawa setiap orang pilihan menjadi objek penyataan kasih karunia, kemurahan dan pemeliharaan-Nya.[14]

Dengan demikian, Kristus menempati posisi yang penting sekali. Ia adalah Kepala Perjanjian[15] dan sekaligus Penjamin Perjanjian.[16] Ia menjadi Adam kedua yang daripada-Nya Allah menyatakan anugerah-Nya yang tidak terkira. Ia dijadikan berdosa untuk menanggung hukuman dosa guna memenuhi tuntutan hukum Taurat bagi orang berdosa supaya mereka mendapatkan hidup. Paulus mengatakan bahwa Yesus adalah Pemberi Roh yang menghidupkan.[17] Kristus adalah yang satu-satunya memenuhi semua persyaratan yang ditetapkan Allah Bapa di dalam Perjanjian Penebusan ini yang kemudian menjadi dasar dari Perjanjian Anugerah.


Perjanjian Anugerah
Disebut juga sebagai “Perjanjian Pengampunan” karena perjanjian ini adalah wujud nyata kasih Allah kepada manusia berdosa. Bahwa Allah menyatakan kebaikan-Nya di dalam pemberian anugerah keselamatan kepada umat pilihan di dalam Kristus, sang Mediator. Berkhof mengatakan beberapa karakteristik yang ada di dalamnya juga tidak berubah dengan apa yang ada di dalam Perjanjian Kerja.

Pada umumnya sama di dalam semua bagian, meskipun bentuk administrasinya berubah. Janji pokoknya sama, Kej. 17:17, Ibr. 8:10; Injilnya sama, Gal. 3:8; syarat-syarat imannya sama, Gal. 3:6, 7 dan pengantara itu sama, Ibr. 13:8.[18]

Janji utama dari perjanjian itu, “Aku akan menjadi Allah bagi mereka dan bagi keturunan mereka.”[19] Penggenapan janji ini sangat bergantung pada pribadi dan pekerjaan penebusan Kristus dan diterima oleh manusia berdosa di dalam bentuk anugerah. Itulah sebabnya aplikasi nyata perjanjian ini tidak bergantung kepada pekerjaan baik atau jasa yang dapat dilakukan manusia. Tuntutan yang ada di dalamnya agar manusia memberikan kehidupannya dan percaya kepada Allah berdasarkan jasa Kristus dan mendapatkan semua berkat sorgawi yang dijanjikan-Nya. Dengan demikian, perbedaan antara perjanjian Kerja dan Perjanjian Anugerah terletak pada Pribadi Kristus yang menjadi perantara tunggal antara Allah dan manusia berdosa.[20]


Kontinuitas Perjanjian di dalam Alkitab
Theologi kovenan ini mewarnai seluruh bagian isi Alkitab dari Perjanjian Lama sampai ke Perjanjian Baru. Di dalamnya menyatakan prinsip tuntutan dan aplikasi kehidupan yang tidak berubah – prinsip dasar etika Kristen, relasi sosial antar manusia, kehidupan iman sejati, pengharapan, dsb – yang sesuai dengan maksud Allah sendiri. Hal ini tidak saja menyatakan ketidak-berubahan perjanjian yang pernah ditetapkan Allah, melainkan juga menunjukkan sikap Allah.

“Aku akan mengadakan perjanjian-Ku” demikian perkataan Allah kepada Nuh.[21] Perjanjian dengan Nuh adalah yang sangat bersifat umum oleh karena ditujukan kepada seluruh umat manusia sehingga perjanjian ini dimengerti pula sebagai pernyataan anugerah umum; bahwa Allah akan mencurahkan berkat umum kepada semua manusia.

Sementara itu, Esensi dari perjanjian Allah dengan manusia justru terletak pada perjanjian yang dibuat Allah dengan Abraham. “Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu.”[22] Perjanjian ini lebih bersifak eksklusif seperti yang ternyata di dalam batasan yang Allah tetapkan, yaitu keluarga Abraham dan semua keturunannya. Ini adalah ketetapan resmi perjanjian itu, suatu permulaan pelaksanaan satu persatu dari perjanjian Allah di dalam Perjanjian Lama. Peranan iman sebagai syarat utama sangat menonjol di dalamnya dan ketetapan sunat menjadi meterai perjanjian itu.

Perjanjian di Sinai, pada dasarnya sama dengan apa yang dibentuk dengan Abraham, tetapi sekarang mencakup seluruh bangsa Israel. Bahwa Allah menetapkan umat Israel menjadi umat kesayangan-Nya dan memerintahkan mereka memegang perjanjian dengan-Nya di dalam kasih dan ketaatan.[23] Ketetapan hukum Taurat dan sistim ibadah ditetapkan dalam hubungannya dengan perjanjian ini. Meskipun demikian hal ini tidak boleh dianggap sebagai bentuk baru dari perjanjian kerja. Alkitab mengatakan bahwa hukum Taurat justru membawa manusia kepada kesadaran akan dosa[24], dan menjadi jalan yang membawa manusia berpaling kepada Kristus.[25] Materai perjanjian ini adalah ketetapan Paskah.

Perjanjian yang Baru sebagaimana dinyatakan di dalam Alkitab melalui nabi Yeremia, “Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda, bukan seperti perjanjian yang Kuadakan dengan nenek moyang mereka …”[26] Esensinya sama dengan yang ada di Perjanjian Lama, bahwa Allah berjanji akan menjadi Allah dari umat pilihan-Nya melalui penebusan yang dikerjakan oleh Yesus Kristus.[27] Perjanjian yang baru ini mempunyai nilai yang lebih tinggi dari yang lama oleh karena kehadiran Pribadi Kristus di dalamnya. Penulis kitab Ibrani mengatakan

Yesus adalah jaminan dari suatu perjanjian yang lebih kuat … Tetapi sekarang Ia telah mendapat suatu pelayanan yang jauh lebih agung, karena Ia menjadi perantara dari perjanjian yang lebih mulia, yang didasarkan pada janji yang lebih tinggi.[28]

Perubahan yang terjadi di sini, perjanjian itu sekarang meniadakan relasi khusus dengan bangsa Israel, melainkan ditujukan dan berlaku kepada semua umat pilihan Allah. Berkat-berkat perjanjian itu diberikan kepada semua umat pilihan dari seluruh bangsa. Sakramen dari perjanjian ini adalah baptisan dan perjamuan kudus sebagai pengganti dari sakramen-sakramen di Perjanjian Lama.



RANGKUM PIKIRAN
Theologi Kovenan: Problema Hermeneutik

Konsep Kovenan muncul dari usaha hermeneutik, suatu cara membaca dan memahami berita Alkitab. Hermeneutika yang bertanggung jawab adalah yang berusaha melaksanakan prosedur penafsiran yang konsisten yang pada akibatnya akan melihat Alkitab sebagai sebuah sistem kebenaran. Bahwa ada kontinuasi di dalam berita Alkitab. Kegagalan melihat kesinambungan ini akan mengakibatkan kegagalan dalam melihat prinsip kerja Allah dan tidak mengherankan jika pada akibatnya menghasilkan berbagai pandangan yang keliru, misalnya saja pandangan adanya perubahan di dalam cara Allah memperlakukan umat-Nya.[29]

Hermeneutik yang bertanggungjawab harus dapat melihat Allah di balik semua penyataan-Nya di dalam Alkitab. Pertama, Dia adalah Allah yang memimpin semua penulis Alkitab. Kedua, Dia adalah Allah yang berbicara kepada umat-Nya untuk menyatakan kedaulatan, pemeliharaan dan kasih-Nya. Ketiga, berkenaan dengan keselamatan, Dia adalah Allah yang memulihkan hubungan-Nya dengan orang berdosa berdasarkan atas kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Keempat, bahwa Dia adalah Allah yang menyatakan bahwa diri-Nya adalah pusat dari semua aspek hidup yang dimiliki orang percaya. Inilah yang menjadi alasan mengapa semua ungkapan syukur disampaikan kepada-Nya.


Theologi Kovenan: Pengenal akan Allah Sejati
Konsep Kovenan ini memberikan pengertian yang lebih mendalam daripada sekadar sebuah perjanjian Allah-manusia. Diri Allah sedalam-dalamnya dinyatakan di dalamnya.
1. Gagasan kovenan menyatakan bahwa ada Allah yang hanya kepada-Nya semua arah ibadah dan penyembahan tertuju. “Aku akan menjadi Allahmu dan engkau akan menjadi umatKu.” Allah menempati posisi pertama oleh karena daripada-Nyalah semua ini ada. Manusia berada pada posisi kedua oleh karena mereka diciptakan di dalam gambar-rupa Allah. Kondisi semacam ini menempatkan manusia pada kewajiban-kewajiban tertentu yang harus dilakukannya terhadap Allah. Ini adalah order of creation. Dosa terjadi oleh karena tidak menghargai urutan ini. Kovenan membawa manusia kepada kesadaran pertanggungjawaban pribadi kepada-Nya.
2. Allah berkepentingan untuk mengadakan perjanjian ini oleh karena Dia yang memulai, menentukan dan mengarahkan keseluruhan ciptaan ke tujuan yang ditetapkan-Nya sendiri. Dengan kata lain, semua kehidupan harus berjalan di dalam konteks perjanjian, dan hanya di dalam keadaan sedemikianlah kehidupan itu mencapai taraf yang mulia. Janji Allah menjadi jaminan pasti dan janji ini menjadi semacam pengukuhan bahwa Ia sendiri yang akan melaksanakan semua yang telah dijanjikan-Nya tersebut.
3. Pembicaraan tentang theologi kovenan ini harus dimulai dan diakhiri di dengan Allah. Dengan demikian pemahaman akan hal ini harus membawa kepada pengenalan sejati akan Allah. Fokus utama pengenalan di sini adalah pada Pribadi Allah; bahwa Allah adalah Allah Perjanjian. Ia tidak pernah berubah meski sikap dan tindakan manusia berubah terhadap-Nya. Perjanjian yang pertama disampaikan kepada Adam (Kej. 2:16-17), Nuh (Kej. 9:9-17), Abraham (Kej. 17:9, 14), Musa (Kel. 24:4-8)[30], Daud (Mzm. 89:3). Semua perjanjian yang Allah terhadap umat-Nya ini menyatakan komitmen kekal Allah; bahwa Allah mau menyatakan kasih-Nya kepada manusia berdosa seperti yang ternyata di dalam pemilihan-Nya. Bahwa Ia memberikan pendamaian antara diri-Nya dengan mereka melalui perantaraan Anak-Nya yang Tunggal, Yesus Kristus. Di dalamnya ada janji sukacita kemuliaan kekal
4. Kovenan menunjukkan kasih Allah yang mungkin dimengerti dan dialami manusia. Adam memang segera harus menanggung akibat dari pelanggaran yang dilakukannya. Mereka terusir keluar dari Taman Eden. Meski demikian tidak berarti Allah membiarkan mereka terus hidup di dalam keadaan seperti ini. Di dalam inisiatif-Nya, Allah segera menyatakan pemulihan hubungan melalui janji penebusan (bdk: Kej. 3:15; Rm. 5:17-18) yang kemudian di genapi di dalam diri Adam Kedua, Yesus Kristus. Pemulihan hubungan ini menjadi dasar sukacita manusia oleh karena bertemu dengan kenyataan bahwa Allah membuka tangan kasih-Nya dengan lebar dan mau bersekutu dengan mereka kembali.
5. Kovenan menjadi dasar pernyataan iman kepada Allah di dalam pelaksanaan sakramen, baik baptisan kudus maupun perjamuan kudus. Pelaksanaan kedua sakramen ini menunjukkan sikap penerimaan konkrit terhadap sikap Allah bagi umat-Nya. Di dalam Baptisan Kudus menyatakan materai perjanjian Allah, bahwa mereka menerima janji-janji Allah dan hidup di dalam iman kepada setiap janji itu. Sementara di dalam Perjamuan Kudus, iman orang percaya diarahkan kepada korban Kristus sebagai dasar keselamatannya.




KEPUSTAKAAN
Archer, Gleason L. “Covenant” Evangelical Dictionary of Theology. Grand Rapids, M.I.: Baker Book, 1992.
Berkhof, Louis. Manual of Christian Doctrine. Grand Rapids: Baker Book.
Gaffin, Richard B. (ed) Redemptive History and Biblical Interpretation. Philadelphia: Presbyterian and Reformed, 1980.
Hadiwijono, Harun. Iman Kristen. Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 1990.
Hodge, Charles. Systematic Theology, 3 vols. London: Clarke, 1960.
Neilands, David L. Studies in the Covenant of Grace. Phillipsburg. N.J.: Presbyterian & Reformed Pub.
Morris, Leon. Apostolic Preaching of the Cross. Grand Rapids, M.I.: Eerdmans, 1992.
Robertson, O. Palmer. The Christ of the Covenant. Phillipsburg, N.J.: Presbyterian and Reformed Pub, 1980.
Ryrie, Charles C. The Grace of God. Chicago: Moody Press, 1963.
Westminster Confession of Faith, Ch 7: Of God’s Covenant with Man
William G. T. Sheed, Dogmatic Theology, 3 vols., 2nd ed. Nashville: Nelson, 1980.

Catatan kaki:
[1] David L. Neilands, Studies in the Covenant of Grace (Phillipsburg, N.J.: Presbyterian & Reformed Pub) hlm. v.
[2] Kata yang berarti “belenggu” atau “kewajiban” ini berasal dari akar kata bara, “mengikat.” Menariknya, akar kata itu tidak muncul sebagai kata kerja di dalam tata bahasa Ibrani, melainkan di dalam bahasa Akkadian sebagai kata kerja baru, “mengikat” dan sebagai kata benda, biritu, “belenggu.” Dengan demikian, berit mungkin menunjukkan hubungan antara dua pihak dimana masing-masing mengikatkan diri untuk melakukan sesuatu bagi masing-masing pihak. Gleason L. Archer, “Covenant” Evangelical Dictionary of Theology, (Grand Rapids, M.I. : Baker Book, 1992), hlm. 276. Leon Morris memberikan pengertian lain dengan melihat arti dari berit adalah “memakan” (kata ini muncul di dalam 2Samuel 13:6; 12:17) yang menunjukkan adanya makanan khusus yang menjadi tanda penetapan perjanjian antara masing-masing pihak. Leon Morris, Apostolic Preaching of the Cross, (Grand Rapids, M.I.: Eerdmans, 1992), hlm. 65 dst. Sementara itu, theolog Indonesia, Harun Hadiwijono lebih menyoroti kata berit kepada arti “membelah korban persembahan” di dalam upacara peneguhan perjanjian, misalnya antara Ishak dan Abimelekh (Kej 26:28-30), antara Laban dan Yakub (Kej. 31:52-54). Perbuatan ini berarti kedua pihak yang mengadakan perjanjian telah menjadi satu. Mereka berjalan di antara binatang persembahan itu dan jikalau kemudian di suatu saat terbukti salah satu pihak melanggar kesepakatan, ia akan dibinasakan sama seperti binatang persembahan itu. Harun Hadiwijono, Iman Kristen (Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 1990), hlm. 262-263.
[3] Diatheke mempunyai arti yang lebih mendalam dari berit oleh karena menunjukkan adanya kesepakatan antara dua pihak di mana salah satu pihak mempunyai kekuatan, kuasa atas pihak yang lainnya. Pihak yang lain ini hanya dapat menerima atau menolak tetapi tidak dapat mengubah isi perjanjian. . Gleason L. Archer, “Covenant” Evangelical Dictionary of Theology, (Grand Rapids, M.I. : Baker Book, 1992), hlm. 278.
[4] O. Palmer Robertson memberikan definisi, Covenant is a bond sovereignly administered. When God enters into a covenantal relationship with men, he sovereignly institutes a life-and-death bond. A covenant is a bond in blood, or a bond of life and death, sovereignly administered. O. Palmer Robertson, The Christ of the Covenant (Phillipsburg, N.J.: Presbyterian and Reformed Pub, 1980), hlm. 4 dst.
[5] Memang tidak ada kata “Perjanjian” secara eksplisit muncul di dalam Kitab Kejadian, namun prinsip perjanjian ini terlihat secara implisit, yaitu adanya hukum yang menuntut ketaatan yang diberikan Allah kepada manusia (Bd: Kej 2:16-17). Charles Hodge mengatakan bahwa Prinsip ini juga terdapat di dalam Imamat 18:5; Yehezkiel 20:11, 13, 20; Luk. 10:28; Rm. 7:10; Gal. 3:12 oleh karena di dalam semua bagian ini terdapat hukum yang menuju kepada kehidupan. Charles Hodge, Systematic Theology, 3 vols (London: Clarke, 1960), 2:118.
[6] William G. T. Sheed, Dogmatic Theology, 3 vols., 2nd ed (Nashville: Nelson, 1980), 2:360.
[7] Rm. 8:3; Gal. 4:4-5; Ibr. 2:10, 11, 14, 15; 4:15
[8] Mzm. 40:8; Yoh. 10:11; Gal. 1:4; 4:4,5.
[9] Mzm. 40:8,9
[10] Yoh. 10:28; 17:19-22; Ibr. 5:7-9.
[11] Ibr. 10:5
[12] Yes. 42:6,7; Luk. 22:43
[13] Mzm. 16:8-11; Flp. 2:9-11
[14] Yoh. 6:37, 39, 40, 44, 45
[15] Rm. 5:12-21; I Kor. 15:22
[16] Ibr. 7:22
[17] 1Kor. 15:45
[18] Louis Berkhof, Manual of Christian Doctrine, (Grand Rapids, M.I : Baker Book), hlm. 163
[19] Kej. 17:7; Yer. 31:33; 32:38-40; Yeh. 34:23-25, 30, 31; 36:25-28; Ibr. 8:10; 2Kor. 6:16-18
[20] ITim. 2:5; Ibr. 8:8; 9:15; 12:24.
[21] Kej. 6:18.
[22] Kej. 17:7. Bdk. Kel. 6:7; 2Kor. 6:16-18; Why. 21:2-3.
[23] Lih. Ul. 7:7,12. Bdk: 1Raj. 8:23
[24] Rm. 3:20
[25] Gal. 3:24
[26] Yer. 31:31. Bdk: 2Kor. 3:3-6; Ibr. 8:8-9, 13; 9:15.
[27] Pelajari Rm. 4, Gal. 3.
[28] Ibr. 7:20-22, 28; 8:6.
[29] Misalnya pandangan Theologi Dispensasionalis yang menyatakan bahwa pada saat ini hukum Taurat sudah tidak berlaku oleh karena orang percaya sekarang hidup di dalam anugerah. Ciri khas metode penafsiran theologi ini adalah (1) Berusaha mempertahankan penafsiran yang bersifat literal dan (2) berusaha melihat perbedaan antara Israel dan gereja. Jika theologi Kovenan melihat keselamatan sebagai tema yang mempersatukan, maka theologi Dispensasional melihat keselamatan sebagai man-centered dengan satu tujuan, kemuliaan Tuhan. Pengertian lebih lanjut, lihat: Charles C. Ryrie, The Grace of God, (Chicago: Moody Press, 1963), hlm. 46.
[30] Lihat juga: Kej. 17:6-8; Kel. 20:2, 29:45 dst; Im. 11:45; Yer. 32:38; Yeh. 11:20, 34:30 dst., 36:28; 2Kor. 6:16-18; Why. 21:2 dst.


Sumber: www.grii-andhika.org


Profil Pdt. Thomy J. Matakupan:
Pdt. Drs. Thomy Job Matakupan, S.Th., M.Div. dilahirkan di Jakarta pada tahun 1966. Mengambil keputusan menjadi hamba Tuhan pada tahun 1984. Setelah menyelesaikan pendidikan S-1 Umum (Drs.) pada tahun 1989, melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Theologi Reformed Injili Indonesia (STTRII) Jakarta tahun 1991. Gelar Sarjana Theologi (S.Th.) diperoleh pada tahun 1995. Gelar Master of Divinity (M.Div.) diperoleh juga dari Institusi yang sama pada tahun 2001.
Pada tahun 1995-1996 menggembalakan jemaat di Mimbar Reformed Injili Surabaya, sekaligus mengajar sebagai dosen di Sekolah Theologi Reformed Injili, baik yang berada di Surabaya maupun Malang.
Pada bulan Oktober 1996 dipercayakan menjadi Kepala Perwakilan Lembaga Reformed Injili Indonesia (LRII) perwakilan Yogyakarta dan Gembala Sidang Mimbar Reformed Injili (MRI) Yogyakarta sebagai bagian dari pengembangan pelayanan Gerakan Reformed Injili di Indonesia.
Semenjak bulan Februari 2000 kembali melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII), Andhika Surabaya serta menjadi dosen sekaligus Direktur di Sekolah Theologi Reformed Injili Surabaya (STRIS) Andhika, dan International Reformed Evangelical Correspondence Study (IRECS).
Menikah dengan Ev. Mercy Grace Prealy Putong, S.Th. pada tahun 1998 dan telah dikaruniai seorang putri, Nikita Ilona Putri Matakupan.


Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio.