26 July 2008

Bagian 6

Manusia: Peta Teladan Allah-6


Hati nurani yang ada di dalam roh kita merupakan penjaga, pengawas, penyelidik diri kita sendiri.



Dalam setiap zaman, manusia selalu ingin mencari suatu teladan atau contoh. Yang menjadi contoh haruslah cukup baik untuk menjadi inspirasi bagi bangsa dan negara. Orang-orang yang dianggap agung dijunjung sangat tinggi, bahkan lebih tinggi daripada seharusnya. Namun, terkadang setelah berpuluh-puluh tahun dijunjung tinggi, ketahuan ternyata hidupnya tidak beres. Orang Indonesia mempunyai teladan Soekarno, orang China mempunyai teladan Kongfucu, orang India mempunyai teladan Gandhi, orang Amerika mempunyai teladan Washington, orang Inggris mempunyai teladan Churchill, dan seterusnya. Tetapi teladan sejati yang sesungguhnya dari seluruh umat manusia hanya satu, yaitu Yesus Kristus. Ia datang ke dunia untuk menyelamatkan umat manusia, namun Dia juga datang untuk menyatakan bagaimana seharusnya manusia hidup. Kalau manusia bisa hidup seperti Yesus Kristus, maka manusia itu diperkenan oleh Tuhan Allah, karena memang manusia dicipta menurut peta teladan Allah.
Bagi saya, peta berbeda dari teladan. Peta lebih bersifat substansi dasar dan teladan bersifat potensi yang menuju kepada satu sasaran yang terakhir. Kalau kita tidak punya peta dari Tuhan, kita tidak mungkin meneladani teladan yang diberikan Yesus Kristus. Dengan alpha point yaitu potensi yang ada pada kita menuju kepada omega point yaitu apa yang Tuhan ingin kita capai sebagai sasaran. Paulus berkata, “Teladanilah aku, sama seperti aku meneladani Kristus.”

Manusia adalah manusia, karena manusia memiliki daya cipta yang memungkinkan suatu ide, mewujudkan hal yang tadinya tidak ada menjadi ada. Itu adalah creatio ex nihilo, dari tidak ada menjadi ada. Orang yang berdaya cipta dan menyalurkan daya melalui karya cipta yang agung, selalu mempengaruhi sejarah. Semua orang yang berdaya cipta harus bertobat dalam daya ciptanya. Bersihkan kreativitas yang diciptakan oleh Tuhan untuk ditaruh di bawah kaki Tuhan.

Dunia ini mendapat sumbangsih dari orang-orang jenius, tetapi dunia juga dirusak oleh orang-orang jenius. Lagu ‘Pie Jesu’ yang dibuat oleh Andrew Lloyd Webber adalah salah satu lagu dengan nada yang paling indah di akhir abad ke-20. Tetapi, Andrew Lloyd Webber juga menghujat Yesus Kristus melalui filmnya yang berjudul ‘Jesus Christ Superstar.’ Tuhan telah memberikan daya cipta kepada kita. Dia sebenarnya ingin kita mengembalikan semua talenta, potensi, berkat yang berasal dari Dia kembali kepada Dia, menurut apa yang ditulis di Roma 11:36.

Allah itu Kudus, maka manusia yang dicipta menurut peta dan teladan Allah dicipta dengan sifat moral. Ketika manusia menghidupkan potensi kesucian yang berada dalam hatinya, itu akan menjadi kekuatan, penghiburan, dan kepuasan yang terbesar dalam dirinya sendiri. Sebaliknya, jika manusia melanggar hukum ini dan menajiskan diri, akhirnya ia akan hidup dengan tidak pernah puas dan menjadi seseorang yang terus menegur diri. Ini disebut rasa bersalah. Eksistensi relatif dalam pribadi kita menjadikan diri kita dihakimi oleh diri kita sendiri.

Karena Allah itu suci adanya, maka manusia yang dicipta menurut peta dan teladan Allah diberi suatu fungsi hati nurani. Hati nurani yang ada di dalam roh kita merupakan penjaga, pengawas, penyelidik diri kita sendiri. Amsal 20:27 mencatat, “Roh manusia adalah pelita TUHAN, yang menyelidiki seluruh lubuk hatinya.” Tuhan meletakkan sebuah lampu di dalam diri kita masing-masing dan inilah fungsi rohani di dalam diri kita. Lampu itu terus menyala, memberikan cahaya dan berfungsi mencerminkan keadaan diri kita masing-masing. Roh manusia merupakan pelita Tuhan Allah dan itu tidak ada pada binatang atau makhluk yang lain.

Istilah “hati nurani” berasal dari bahasa Arab. Nur berarti cahaya. Hati nurani berarti di dalam hati kita ada cahaya. Banyak buku dan juga secara realita menyatakan bahwa tanah Arab dipengaruhi oleh Alkitab. Sebelum Al-Quran, pengaruh dari agama monotheisme orang Ibrani sudah menjadi agama yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan agama-agama lainnya. Dan di dalam bahasa dan pengertian orang Ibrani, hati nurani itu sudah ada. Hati nurani adalah hati yang bercahaya di dalamnya. Pengertian hati yang bercahaya di dalamnya ini dimulai dari Perjanjian Lama. Karena manusia mempunyai roh yang adalah cahaya dari Tuhan. Namun, di dalam Perjanjian Lama, istilah ini tidak dibicarakan. Tidak ada istilah “hati nurani” tetapi memakai istilah “pelita Tuhan Allah.” Peliharalah hatimu melebihi segala sesuatu. Di dalam bahasa Indonesia, kita mengenal juga istilah “hati kecil.” Hati kecil adalah suara kecil di dalam hati yang melawan keinginan kita yang tidak baik.

Sekalipun dalam Perjanjian Lama istilah ini belum muncul, istilah ini muncul dalam Perjanjian Baru. Hal seperti ini disebut sebagai “progressive revelation” (pewahyuan progresif), yaitu Allah mewahyukan sesuatu secara bertahap, makin lama makin jelas dan makin teliti. Istilah hati nurani ada dalam bahasa Yunani. Namun, ekspresi hati nurani yang mendalam justru di dalam Perjanjian Lama, di mana orang bisa menangis karena bersalah. Tidak ada binatang yang perasaannya dipengaruhi oleh fungsi hati nurani seperti manusia, karena binatang tidak dicipta menurut peta teladan Allah. Dengan demikian, hati nurani merupakan potensi dan daya refleksi untuk menghakimi diri, apabila kita salah menggunakan kebebasan yang Tuhan berikan. Kebebasan yang berlawanan dengan sifat moral Allah akan ditegur oleh hati nurani. Alkitab mengatakan, “maka takutlah Adam,” lalu “Adam rasa dingin.” Ternyata refleksi di dalam akan mempengaruhi cara menginterpretasi keadaan di luar. Orang yang berbuat salah, sulit menatap mata orang lain. Orang yang tidak berbuat salah, matanya dan jalannya akan biasa. Refleksi hati nurani mengakibatkan engkau tidak bisa stabil, tidak bisa tenang waktu menginterpretasikan sekelilingmu.

Istilah conscience (hati nurani) muncul lebih dari 27 kali di Perjanjian Baru, bahasa Yunaninya: suneidesis. Di dalam bahasa Latin, con (bersama) dan scientia (mengetahui). Dunia mengatakan, “Aku ingin memikirkan apa yang aku ketahui,” tetapi Alkitab mengatakan, “Aku ingin mengetahui apa yang aku percaya.” Hal ini merangsang filsuf dan theolog besar, Agustinus, melihat bahwa kekristenan menekankan iman membawa pada pengertian (faith seeking understanding). Allah memberikan anugerah berdasarkan kedaulatan Allah, tetapi aku ingin mengerti mengapa Allah memberikan anugerah padaku, maka iman mencari tahu. Mengerti anugerah Tuhan sudah menjadi sukacita yang luar biasa. Bukannya beriman untuk menuntut lebih banyak anugerah dari Tuhan, kini kita melihat satu hal lagi, yaitu aku ingin mengetahui apa yang ada di dalam hatiku.

Hati nurani adalah aku sendiri di dalam diriku, mengetahui bersama dengan diriku yang di luar diriku, sehingga aku yang di luar dan di dalam mengetahui bersama. Kita suka orang tahu saat kita berbuat baik, tapi kalau kita berbuat salah, kita tidak senang kalau orang lain tahu. Akan tetapi Tuhan mengetahui berapa dosa yang manusia perbuat. Tidak mungkin kita menipu Tuhan, karena ada wakil Tuhan di dalam hidupmu, yaitu hati nuranimu.

Sebelum engkau berbuat dosa, hati nurani yang setia kepada Tuhan selalu menegur dan menghalangi. Dr. Hallesby, doktor theologi dari Norwegia, dalam disertasinya “On Conscience” mengatakan, “Hati nurani selalu memberikan peringatan jika kita ingin melakukan dosa. Ada beberapa reaksi: pertama, mengikuti anjurannya, kita berhenti. Saat itu, kita akan menjadi kawan baik hati nurani yang akan selalu membantu. Kedua, tidak peduli kata hati nurani. Saat itu, hati nurani langsung berhenti dan beristirahat. Hati nurani pasif, tidur, dan saat itu engkau merasa menang, bisa melakukan apa yang engkau inginkan. Hati nurani itu akan terbangun saat engkau selesai berbuat dosa. Begitu dia bangun, hati nurani akan meloncat ke atas kursi hakim. Engkau tidak bisa melarikan diri atau menghapus catatan itu.”

Moral yang suci membuat hati tenang. Moral yang sesuai dengan peta teladan Allah membuat kita dekat dengan Sang Pencipta dan memancarkan kemuliaan-Nya dalam hidup kita di tengah sesama manusia. Di dalam Perjanjian Lama, dan dikutip dalam Perjanjian Baru, ditulis dua kali, “Hendaklah kamu kudus, sebab Aku, Allah yang memanggil engkau adalah kudus.” Allah memilih kita dari segala bangsa dan Ia mau kita suci dalam segala perbuatan kita, karena Ia suci adanya. Engkau anggap susah untuk hidup suci karena zaman begitu rusak. Justru karena engkau hidup di lingkungan yang tidak beres, maka lingkungan seperti itu membutuhkan teladan, yaitu engkau.

Kita sering berbuat salah lalu berusaha menyuap hati nurani. Akan tetapi di hadapan Allah tidak ada yang bisa kita tutupi. Itu sebabnya kita harus hidup suci, untuk mendapat kesejahteraan, keamanan, dan ketenangan jiwa di hadapan Tuhan. Bagaimana penyelesaiannya? Alkitab mengatakan bahwa Tuhan Yesus menebus kita, hati nurani kita sekaligus diperbaharui dan dibersihkan oleh darah-Nya. Ibrani 9:14-15 menyatakan tiga hal yang sangat unik. Pertama, Roh Allah adalah Roh yang kekal hanya muncul sekali dalam Alkitab. Kedua, darah Yesus dengan kuasa Roh Kudus membersihkan hati nurani sehingga kita dikuduskan kembali. Dan ketiga, darah itu sekaligus menebus kita dan pelanggaran di Perjanjian Lama. Berarti darah yang kekal membersihkan sebelum dan sesudah Yesus mati, yang dahulu dan yang akan datang. Darah kekal berkhasiat kekal melalui membersihkan hati nurani kita. Mari kita bersyukur pada Tuhan karena dicipta menurut peta teladan Allah, dengan sifat moral yang berasal dari hati nurani. Hati nurani yang sudah rusak akan diperbaharui oleh darah Yesus, lewat kematian-Nya, sehingga suara hati nurani yang sudah dinormalisasikan akan bekerja lagi, memberikan peringatan, anjuran, teguran sebagai wakil Tuhan. Ditambah dengan Roh Allah yang masuk ke dalam kita, kita adalah anak-anak Allah yang dipimpin oleh Tuhan.

Roma 8:15; 9:1 menyatakan bahwa orang yang hidup sesuai dengan hati nurani hidupnya suci. Hati nurani orang Kristen yang diselamatkan akan sangat berbeda dari hati nurani perampok yang tidak diselamatkan. Hati nurani Kristen bersaksi bersama dengan Roh Kudus, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Kiranya Roh Kudus terus membersihkan kita, mencerahkan hati nurani kita, sebelum hati nurani kita kembali menjadi pelita Allah yang mencerahkan segala hati dan perbuatan kita. Amin.

Bagian 5

Manusia: Peta Teladan Allah-5


Penggunaan kreativitas yang tidak benar adalah dosa



Socrates menekankan manusia perlu mengerti dirinya sendiri, baru ia bisa hidup dengan baik. Apa gunanya manusia mengerti segala sesuatu di luar dirinya tetapi tidak mengenal dirinya sendiri? Manusia ingin mengetahui banyak hal, tetapi gagal mengetahui dirinya sendiri. Sembilan ratus tahun kemudian, Agustinus mengatakan, “Aku hanya ingin mengetahui dua hal dalam hidupku: mengenal Allah dan mengenal jiwa (diri).” Perkataan-perkataan ini telah menggugah para pemikir untuk memikirkan Doktrin Allah dan Doktrin Manusia.

Namun manusia hanya bisa mengenal Allah jika Allah mewahyukan diri-Nya. Tidak mungkin manusia mengenal Allah dari usahanya sendiri. Juga tidak mungkin manusia mengerti apa arti dan natur manusia itu sendiri. Kita bersyukur hanya di dalam Alkitab kita menemukan pengertian Imago Dei. Allah dalam kedaulatan-Nya yang bebas mencipta manusia menurut peta dan teladan-Nya. Maka manusia dicipta juga dengan sifat kebebasan. Kedaulatan Allah yang mutlak tidak menjadi kedaulatan yang sewenang-wenang. Kunci kemenangan di dalam kebebasan adalah “penguasaan diri.” Manusia selalu gagal menggunakan kebebasannya secara bertanggung jawab, kecuali jika dikontrol dan dipenuhi oleh Roh Kudus. Ketika seseorang dipenuhi Roh Kudus, ia akan menghasilkan buah Roh Kudus, yaitu penguasaan diri. Allah tidak berdosa, tetapi manusia berdosa, karena manusia menggunakan kebebasan yang Allah berikan untuk bebas dari Allah. Inilah kerusakan manusia. Manusia harus meletakkan kebebasan yang dicipta kembali kepada Allah Pencipta. Inilah teladan Yesus di Getsemani: “Bukan kehendak-Ku, tetapi kehendak-Mu terjadilah.” Di situlah manusia mencapai nilai hidup yang sungguh berharga dan terhormat, karena dia belajar dari Yesus Kristus.

Allah Pencipta dan manusia dicipta menurut peta teladan Allah, sehingga manusia menjadi satu-satunya makhluk yang berdaya cipta. Manusia menjadi begitu penting dan berharga melebihi semua ciptaan lain, karena tidak ada makhluk lain yang berdaya cipta seperti manusia. Allah tidak mencipta musik, tetapi memberikan daya cipta pada manusia untuk mencipta musik. Allah tidak mencipta lukisan, tetapi memberikan daya cipta kepada manusia untuk melukis. Allah tidak menciptakan bahasa, tetapi manusia diberi kemungkinan berbahasa. Begitu banyak hal yang memerlukan daya cipta yang luar biasa. Ini yang menghasilkan kebudayaan manusia. Tidak ada binatang membuat pakaian. Tidak ada binatang menulis karya-karya literatur yang indah. Tidak ada tikus yang mencipta dan memainkan alat musik. Mencipta adalah membuat ide menjadi realita. Kita memikirkan sesuatu, lalu menjadikannya. Ini merupakan imitasi dari penciptaan Tuhan Allah.

Kebudayaan terbentuk dan disempurnakan oleh orang-orang yang mempunyai daya cipta yang kuat. Bangsa yang memiliki orang-orang dengan daya cipta yang kuat akan menjadi bangsa yang maju. Orang-orang ini akan mengubah lingkungan sekitarnya. Setiap orang memiliki daya kreativitas, karena ia dicipta menurut peta teladan Allah. Ketika Picasso melukis, ia mau melawan dalil alam. Di situ ia sedang memainkan peran sebagai Allah dan ia sedang menciptakan dunianya sendiri di atas kanvasnya. Semua pencipta sedang berperan seperti Allah, dengan menjadi allah kecil untuk mencipta dunia ciptaannya menurut daya cipta yang diberikan oleh Allah Pencipta. Hal ini dimungkinkan karena manusia dicipta menurut peta teladan Allah.

Filsuf Denmark, Kierkegaard, menulis kritik begitu keras, akhirnya dia diserang dan terpaksa menggunakan nama samaran. Tchaikovsky, profesor musik dari Moskow, menulis piano concerto, yang ketika diberikan ke rektornya, Anton Rubinstein, dikritik luar biasa. Tetapi ketika kemudian dipentaskan oleh Chicago Symphony, sukses luar biasa. Kreativitas yang baik seringkali ditolak atau tidak mudah diterima oleh orang lain. Ketika engkau memiliki kreativitas dan memperkembangkan kreativitasmu, belum tentu engkau akan diterima oleh orang lain.

Kita semua dicipta secara unik dan individu oleh Tuhan. Engkau berbeda dari orang lain dan orang lain berbeda dari engkau. Dengan demikian engkau tidak perlu merasa rendah diri. Kita harus mengembangkan individu dan kreativitas kita sendiri. Sebaliknya, dalam Roma 12:3 ditulis bahwa jangan ada orang yang melihat diri lebih dari yang seharusnya. Kita harus bisa mengukur diri kita, tidak lebih tinggi, tidak lebih rendah, mengekspresikan kreativitas yang Allah berikan kepada kita. Jangan membuang kesempatan yang diberikan Tuhan kepadamu, jangan menginjak-injak masa mudamu, dan jangan menghamburkan kesempatan yang ada.

Penggunaan kreativitas memang suatu hal, tetapi penggunaan kreativitas yang tidak benar adalah dosa. Siapa yang lebih kreatif dari Yudas, yang bisa menjual bukan baju, tetapi gurunya. Kita harus tahu bagaimana mempergunakan kreativitas yang Allah berikan kepada kita dengan baik sesuai kehendak Allah.

Ketika Sang Pencipta mencipta yang dicipta menurut peta teladan-Nya sendiri, yang di dalamnya mengandung unsur penciptaan sebagai daya kreativitas, maka dia menjadi makhluk yang memiliki daya cipta seperti Sang Pencipta. Ketika ia menggunakan daya cipta tersebut, ia berperan seperti Allah. Ini disebut sebagai imitasi. Seorang anak mirip dengan orang tuanya, karena ada kode-kode rahasia di dalam tubuhnya yang menjadikan dia mirip orang tuanya. Manusia kini mengimitasi Tuhan Allah dengan memakai daya ciptanya.

Ketika manusia memakai daya ciptanya, sampai berapa jauh ia mungkin bisa berbuat salah? Manusia bisa menjadi begitu jauh memakai daya cipta. Manusia bisa menggunakan daya cipta yang diberikan oleh Pencipta untuk mencipta pencipta yang dicipta. Inilah penciptaan allah palsu. Ketika saya mencipta allah palsu, maka allah palsu itu adalah pencipta yang dicipta. Allah asli adalah Pencipta yang mencipta.

Sekitar tahun 1970 saya berjalan-jalan di tengah kota Taipei, di tempat pembuatan patung yang akan dimasukkan ke dalam kuil. Lalu saya melihat seorang anak kecil sedang kencing ke arah muka salah satu muka dewa yang sedang dibuat di situ. Ketika saya melihat, terkesan ironis sekali. Wajah dewa yang begitu galak ternyata tidak bisa berbuat apa-apa kepada anak kecil itu. Patung itu menjadi bau, tetapi dewa itu tidak bisa berespon karena patung itu benda mati. Saya mulai berpikir bahwa yang mencipta patung tidak tahu kalau patung itu barang ciptaan. Kita menggunakan barang ciptaan untuk mencipta pencipta yang dicipta, untuk mencipta allah ciptaan. Karena dia allah ciptaan, maka ia pasti bukan Pencipta, karena Pencipta pasti sendirinya tidak dicipta.

Ketika saya mencipta “pencipta” lalu saya berlutut di depannya dan mengaku bahwa ia adalah Sang Pencipta, itu merupakan suatu kemelaratan kreativitas yang paling besar. Maka Tuhan melarang manusia untuk membentuk segala macam patung lalu menyembahnya. Selain Diri-Nya, tidak ada pencipta lain. Dosa terbesar yang dilakukan Israel saat Musa berada di gunung Horeb, mereka mengumpulkan semua emas dan dicairkan untuk dibuat patung seekor anak lembu, lalu mereka menyembahnya. Mereka senang karena patung itu kelihatan, dan dianggap lebih baik dari Yahweh yang tidak kelihatan. Orang Israel yang tadinya percaya kepada Allah di sorga yang memimpin mereka, kini mereka percaya pada seekor lembu dari emas yang dibuat tangan manusia. Inilah kerusakan kreativitas. Inilah kerusakan manusia.

Siapakah Tuhan? Siapakah Sang Pencipta? Apakah Sang Penciptamu adalah karya ciptaanmu sendiri? Apakah Engkau sedang menciptakan pencipta yang dicipta untuk mengganti Sang Pencipta yang mencipta kamu menurut peta teladan-Nya? Mao Zedong memerintahkan agar orang tidak percaya kepada Allah, karena dia sendiri mau menggantikan peranan Allah. Pada waktu Anda melihat orang seperti Picasso atau pencipta musik yang luar biasa yang melawan segala sesuatu, Engkau mengerti bahwa mereka sedang memakai daya cipta yang diberikan oleh Tuhan untuk mencipta sesuatu ciptaan yang melawan sang Pencipta yang asli. Dari sini Engkau mengetahui sampai di mana kelemahan kebudayaan, di mana kesalahan agama, dan sampai di mana penyalahgunaan daya cipta manusia yang membuat dunia makin lama makin melarat. Kita harus kembali kepada Tuhan yang asli. Dan kita harus menyerahkan daya cipta kita kembali kepada Allah untuk dipakai menjadi berkat bagi orang lain.

Pada waktu saya masih muda, saya menyerahkan seluruh yang ada di dalam diri saya untuk Tuhan. Semua yang mungkin dihasilkan melalui karya saya, adalah milik Tuhan. Sang Pencipta hanya satu, kita hanya memakai potensi-potensi sebagai peta teladan Allah untuk memuliakan Tuhan dan membawa manusia kembali kepada Sang Pencipta yang asli. Kiranya Tuhan memakai kita dan mulai menggali diri kita mempergunakan daya cipta yang ada pada kita dengan sesungguhnya demi memuliakan Tuhan. Amin.

Bagian 4

Manusia: Peta Teladan Allah-4

Orang yang sungguh-sungguh bertanggung jawab adalah orang yang rela menaruh kebebasan yang Tuhan berikan di bawah kedaulatan pengaturan Tuhan


Manusia dicipta menurut peta dan teladan Allah. Tetapi dosa telah merusak peta dan teladan itu, sehingga kini kita hanya tahu bahwa kita pernah dicipta menurut peta teladan Allah, tetapi kini rusak. Di dalam theologi Reformed, imago dei mengandung tiga hal, yaitu: 1) kebenaran, 2) keadilan, dan 3) kesucian. Dan itu memberikan tiga sifat dasar manusia yang menjadikan manusia mulia dan unik, yaitu: 1) sifat rasio, 2) sifat hukum, dan 3) sifat moral. Inilah sumbangsih penting theologi Reformed dalam membawa manusia kepada pengenalan diri yang sejati yang mencerahkan sejarah manusia.

Allah adalah Roh, maka peta dan teladan Allah jangan diikat oleh kategori materi. Kita telah menekankan aspek kekekalan. Kini kita mau mempelajari sifat yang lain, yaitu sifat kebebasan.

Immanuel Kant, seorang filsuf 250 tahun yang lalu di Jerman, mengatakan bahwa ada tiga hal yang tak mungkin dicapai oleh rasio manusia hingga tuntas, yaitu a) Tuhan Allah, b) imortalitas, dan c) kebebasan. Ketiga hal ini tidak berada dalam dunia fenomena (yang terjamah oleh indera), tetapi dunia noumena (yang tak terjamah oleh indera).
a. Manusia dan sifat kebebasan
Allah adalah satu-satunya yang kekal, imortal, dan berdaulat mutlak. Hal ini menjadi dorongan bagi manusia untuk mencapai kebudayaan yang paling tinggi. Manusia ingin kekal, imortal, dan berdaulat. Itu menyebabkan Mesir membuat mumi, dan Kaisar Qin Shi Huang mengutus orang untuk mencari obat agar tidak bisa mati. Unsur kedaulatan membuat manusia suka mengatur dan tidak suka diatur. Unsur kebebasan membuat manusia memiliki keinginan. Inilah sifat manusia yang dicipta menurut peta dan teladan Allah.
Tuhan mencipta manusia dengan rancangan (desain) yang begitu sempurna sehingga memungkinkan semua sifat efisiensi dan kebebasan yang luar biasa, yang tidak dimiliki oleh binatang. Hal ini menjadikan manusia bisa memiliki kebebasan dalam berbagai hal, pemikiran, perasaan, dan tindakan. Manusia bisa mengembangkan kreativitas dirinya hampir tidak terbatas. Oleh karena itu, janganlah kita melarat karena kita menjadi orang yang tidak berjuang dan bekerja keras, karena kita hanya bisa melampiaskan nafsu kita tanpa pengertian. Manusia adalah makhluk yang sangat berharga. Kebebasan ini menjadi landasan utama dalam kita menegakkan prinsip dan hidup moral.
Justru karena saya bebas, maka saya bisa berbuat salah. Ketika saya berbuat salah, maka saya harus dihukum. Seringkali kita kemudian tidak mau diberi kebebasan, karena takut menerima hukuman. Tetapi itulah natur kita, karena dicipta menurut peta dan teladan Allah.

b. Jalan satu arah
Kita harus menyadari bahwa “kebebasan” ini merupakan jalan satu arah. Ketika seorang mengambil kebebasannya untuk membunuh diri, maka setelah dilakukan, ia tidak bisa membatalkan atau menyesal atas tindakannya. Ia tidak bisa memulihkan kembali apa yang ia sudah kerjakan. Di sini kebebasan sudah tidak ada lagi. Kebebasan hanya untuk kita bisa membunuh diri kita, tetapi tidak bisa mengembalikannya. Maka penggunaan kebebasan merupakan keputusan yang sangat genting (crucial decision). Di sini, kebebasan sejati haruslah diikat oleh kebenaran, diikat oleh firman Tuhan. Jika kebebasan tidak diikat oleh kebenaran, maka itu bukanlah kebebasan.
Ketika seorang pemuda sedang sendiri, tidak ada ayah dan ibunya, apakah yang akan diputuskannya? Ini adalah suatu keputusan yang sangat krusial. Saat itu ia bebas berbuat sesuatu, tidak ada yang mengawasi dan menjaga dirinya. Tetapi justru saat-saat seperti itu merupakan saat yang sangat berbahaya. Engkau harus mengingat bahwa Engkau dicipta menurut peta dan teladan Allah. Maka Engkau harus menjadi serupa dengan Dia. Tetapi, jika Engkau tidak mau diatur oleh firman Tuhan, maka Engkau akan lebih serupa dengan setan. Tuhan ingin agar Engkau boleh kembali kepada firman.

c. Sifat Kebebasan
Mengapa orang bisa salah menggunakan kebebasan? Untuk ini kita perlu melihat tiga sifat penting dari kebebasan, yaitu a) sifat keterbatasan, b) sifat paradoks, dan c) sifat krusial.
Kebebasan harus diikat oleh definisi kebebasan itu sendiri. Jika kita tidak membatasi definisi kebebasan dengan benar, maka apa yang dipikirkan atau dikerjakan bukanlah kebebasan. Kebebasan harus dimengerti dan dibatasi oleh definisi kebebasan itu sendiri. Maka, kebebasan bukanlah tanpa batas, tanpa arti, tanpa kebenaran. Kebebasan sejati adalah kebebasan terbatas. Tanpa pembatasan, kebebasan bukanlah kebebasan.
Ketika Tuhan menciptakan Adam dan Hawa, Ia memberikan kebebasan, tetapi juga keterbatasan, bahwa pohon pengetahuan akan hal yang baik dan yang jahat tidak boleh dimakan. Di sini pertama kali ada limitasi kebebasan. Lalu, bagaimana dengan Allah? John Stott, seorang theolog Inggris, mengatakan, “Bahkan kebebasan Allah pun terbatas.” Kalau Allah terbatas, berarti ada yang di atas Allah yang membatasi Allah. Ini tidak mungkin. Allah tidak dibatasi oleh sesuatu yang ada di atas Dia. Allah yang bebas mutlak adalah Allah yang meletakkan kebebasan-Nya sinkron sejalan dengan sifat moral-Nya. Allah yang suci tidak bisa melawan kesucian-Nya. Allah yang adil tidak bisa melawan keadilan-Nya. Allah yang kasih tidak bisa berbuat hal yang melawan kasih.
Kebebasan itu baik; kebebasan itu indah; kebebasan itu hormat. Tetapi kebebasan sedemikian harus dipakai dengan bertanggung jawab. Kalau tidak, ia menjadi paling jahat, paling buruk dan paling hina. Para pemuda-pemudi harus mengerti prinsip dan sifat kebebasan ini. Allah yang bebas mutlak telah meletakkan kebebasan-Nya sinkron di bawah semua sifat moral-Nya. Kebebasan seperti ini adalah kebebasan paradoks. Kebebasan itu suatu keputusan yang sangat krusial. Taklukkanlah kebebasan Anda di bawah kedaulatan Allah, maka kebebasan itu menjadi luar biasa indah. Itulah tanda orang yang sungguh-sungguh orang rohani.
Yang disebut dedikasi, yang disebut rohani, yang disebut mempersembahkan diri kepada Tuhan, dan orang yang sungguh-sungguh bertanggung jawab adalah orang yang rela menaruh kebebasan yang Tuhan berikan di bawah kedaulatan pengaturan Tuhan. Ada seorang homoseks diusir oleh orang tuanya dari rumah. Ketika keluar, orang itu berkata, “Saya pergi, tetapi ingatlah bahwa saya dilahirkan oleh engkau, maka dosamu lebih besar dari saya.” Orang yang menggunakan kebebasan tetapi tidak mau bertanggung jawab adalah orang yang jahat, yang tidak rohani, dan yang tidak benar. Manusia yang di neraka akan berbicara seperti itu. Kebebasan adalah anugerah Allah yang sangat besar. Sangatlah kurang ajar jika seseorang sudah menyalahgunakan kebebasan lalu mempersalahkan Allah yang memberikan kebebasan.

d. Kebebasan dan Dosa
Lalu, mengapa Allah memberi kemungkinan manusia berdosa? Bagi saya, terlalu mudah bagi Allah mencipta manusia tanpa kemungkinan berbuat dosa. Itu berarti Allah hanya mencipta robot. Kebebasan adalah hal yang sangat penting, suatu absolute necessity bagi manusia. Oleh karena itu, kita harus sangat menghormati kebebasan, lalu menggunakannya dengan tepat. Allah yang memberikan kebebasan kepada manusia, juga adalah Allah yang berhak mengadili manusia berkenaan dengan bagaimana ia mempergunakan kebebasan tersebut.
Ketika saya masih muda, saya berkata kepada Allah, “Tuhan inilah saya. Berikanlah kepada saya kekuatan penguasaan diri, agar pada masa muda ini saya bisa berjalan di dalam pimpinan-Mu.” Maukah Engkau meletakkan kebebasanmu sebagai persembahan yang hidup kepada Allah? Maukah Engkau memakai kebebasanmu di bawah kedaulatan Allah? Amin.

Descendit ad Infernos: Apakah Artinya? (Ev. Calvin L. Renata, S.Th.)

Descendit ad Infernos: Apakah Artinya?

oleh: Ev. Calvin L. Renata, S.Th.


Kredo (pengakuan iman) merupakan sesuatu yang menyertai perkembangan gereja dari masa ke masa selain doktrin. Pada saat ini gereja Tuhan dari berbagai denominasi telah menghasilkan puluhan, bahkan ratusan kredo, yang hingga kini masih dipertahankan. Namun dalam kenyataannya, tidak semua kredo dikenal oleh umat Tuhan, bahkan, hanya terlalu sedikit kredo yang diperkenalkan kepada jemaat.

Salah satu pengakuan iman yang paling populer dan banyak dikenal bahkan dihafal oleh gereja pada masa kini adalah Pengakuan Iman Rasuli (Apostles’ Creed). Pengakuan Iman Rasuli adalah salah satu pengakuan iman yang tertua dan yang terpendek di antara pengakuan iman lainnya sehingga memungkinkan untuk dibacakan dalam setiap ibadah. Disebut “Pengakuan Iman Rasuli” bukan karena ditulis oleh para rasul, melainkan karena isinya mewakili pengajaran para rasul.

Setiap minggu dalam kebaktian, hampir semua gereja Injili menyertakan pembacaan pengakuan iman ini. Namun dengan berjalannya waktu di mana kita terlalu sering mengulang-ulang melafalkan pengakuan iman ini artinya menjadi tidak bermakna lagi atau yang lebih buruk kita melafalkannya tanpa mengerti maknanya. Kita hanya melafalkannya sebagai bagian dari rutinitas ibadah saja. Bahkan mungkin bila ada kalimat-kalimat yang kita tidak mengerti, kita tidak berani bertanya atau mempertanyakan maknanya oleh karena asumsi bahwa ini adalah pengakuan iman yang sudah baku, tidak boleh di ‘otak-atik’ lagi.

Melalui tulisan singkat ini penulis mengajak jemaat untuk menggumulkan dan mencerna salah satu kalimat dalam Pengakuan Iman Rasuli, yaitu “turun ke dalam kerajaan maut/neraka”. Kalimat ini banyak menimbulkan pertanyaan dan perdebatan, baik karena penempatannya di dalam Pengakuan Iman Rasuli maupun signifikansinya bagi pengakuan iman itu sendiri dan khususnya bagi gereja. G. I. Williamson mengatakan “there is no phrase in the Apostles’ Creed that has caused so much difficulty as this ‘He descended to hell."[1] (tidak ada kalimat dalam pengakuan iman rasuli yang menimbulkan kesulitan seperti kalimat “Ia turun ke dalam neraka’)

Bagaimana kalimat ini harus dimengerti? Benarkah Kristus turun ke dalam neraka dalam penderitaan-Nya? Ataukah ada pengertian lainnya di balik kalimat ini?

STRUKTUR PENGAKUAN IMAN RASULI
Sebelum menafsirkan kalimat “turun ke dalam neraka” ada baiknya bagi kita untuk memetakan kembali struktur kredo ini secara singkat. Pada dasarnya kredo ini mempunyai bentuk trinitarian di mana urutan yang dipakai sesuai dengan formula baptisan Bapa-Anak-Roh Kudus. Bila kita mencermati pembagian struktur kredo ini maka kita akan mendapati bahwa kredo ini memfokuskan diri kepada bagian kedua, yaitu Kristus yang merupakan kunci untuk memahami kredo ini. C. E. B. Cranfield menegaskan:
“The first and the third articles of Apostles’ Creed are properly understood only in the light of the second, the Creed’s great middle section. It is only through Jesus Christ that we truly know God as the Father and as the Holy Spirit.”[2]
(bagian pertama dan ketiga dari kredo ini hanya dapat dimengerti dengan tepat melalui bagian kedua. Hanya melalui Yesus Kristus kita dapat mengenal Bapa dan Roh Kudus dengan benar.)

Bagian tentang Kristus ini mencakup dua tahap kehidupan Kristus dalam tugasnya sebagai mesias, yaitu tahap di mana Dia direndahkan (dilahirkan, menderita, disalib, mati dan turun ke dalam neraka/kerajaan maut.) hingga kembali Ia dimuliakan kembali (bangkit, naik ke sorga, duduk di sebelah kanan Bapa, dan akan datang kembali untuk menghakimi).

Pada tahap Kristus direndahkan ada satu tahap di mana dikatakan Ia “turun ke dalam neraka”. Hal yang perlu diketahui adalah kalimat “turun ke dalam neraka” (Latin: Descendit ad Infernos) merupakan kalimat tambahan yang muncul pertama kali dalam Pengakuan Iman Rasuli dalam versi Aquileian yang ditulis Rufinus pada tahun 400.[3] Sejak saat itu bentuk kredo ini seperti yang ada sekarang. Untuk menghindari kesan yang mengerikan, maka kalimat ini sering diganti oleh gereja pada masa kini menjadi “turun ke dalam kerajaan maut.” Namun ini tidak menghilangkan nuansa yang membingungkan bagi orang yang membacanya. Hal ini dapat dimaklumi sebab Pengakuan Iman Rasuli tidak memberikan penjelasan apa pun terhadap kalimat demi kalimat di dalamnya.
“Unlike the Nicene and some other creed, the Apostles’ Creed avoids theological explanations. It does not give the meaning of ‘only son’ or why the Son was ‘conceived’ , ..’born’, etc.”[4]
(tidak seperti Pengakuan Iman Nicea dan lainnya, Pengakuan Iman Rasuli tidak memberikan penjelasan theologi. Tidak dijelaskan arti dari kalimat ‘Anak Tunggal’ atau mengapa sang Anak harus ‘dikandung’… ‘lahir’, dll.)

Dalam hal ini termasuk kalimat “turun ke dalam neraka/kerajaan maut”, sehingga ini menjadi pekerjaan rumah bagi gereja untuk menjelaskan kepada umat Tuhan apa arti dari kalimat ini.

TAFSIRAN LITERAL “DESCENDIT AD INFERNOS
Kalimat-kalimat dalam Pengakuan Iman Rasuli ditulis memakai bahasa yang literal (hurufiah), artinya bila dikatakan Kristus “menderita, disalib, mati dan dikuburkan” dan “bangkit pada hari ketiga dan naik ke sorga, dsb.” kalimat-kalimat ini harus dimengerti seperti apa adanya. Dengan demikian kalimat “turun ke dalam neraka/kerajaan maut” secara konsisten seharusnya ditafsirkan secara literal pula, yaitu bahwa Ia benar-benar turun ke dalam neraka. Tafsiran semacam ini dianut oleh gereja di abad pertengahan. Sedangkan gereja Roma Katolik mengikuti pemikiran Thomas Aquinas percaya Kristus pergi ke tempat penantian.[5]

Berbeda dengan Roma Katolik, kaum Lutheran memegang pandangan bahwa Kristus pergi ke neraka untuk memberitakan kemenangan-Nya atas Iblis dan mematahkan kuasa Iblis.[6] Salah satu theolog pada abad 19 yang berpandangan demikian adalah Karl Barth, ia berpendapat Kristus harus turun ke neraka agar orang percaya tidak perlu pergi ke sana, ia mengatakan:
“what else can we take that to mean than that He did that also for us and so relieved us of it? it is no longer necessary that we go to hell.”[7]
(apalagi yang dapat kita mengerti tentang hal ini selain bahwa Ia melakukannya untuk kita dan membebaskan kita sehingga kita tidak perlu pergi ke neraka.)

Menafsirkan “turun ke dalam neraka/kerajaan maut” secara literal mengundang banyak pertanyaan theologis yang mendalam. Sesuai dengan namanya, pengakuan ini dituliskan berdasarkan apa yang diajarkan para rasul dalam Alkitab. Hal yang harus dicermati adalah apakah ada ajaran yang mengatakan bahwa Kristus datang ke dalam neraka? Satu-satunya bagian Alkitab yang sering dipakai untuk mendasarkan pemahaman bahwa Kristus turun ke dalam neraka adalah 1Ptr. 3:19-20. Ayat ini sering dipakai untuk menjelaskan bahwa selama 3 hari antara kematian dan kebangkitan-Nya Kristus pergi ke neraka untuk memberitakan Injil atau mendeklarasikan kemenangan-Nya atas Iblis. Ada beberapa keberatan untuk menjadikan ayat ini sebagai dasar pemikiran Kristus pergi ke neraka selama tiga hari Ia wafat.
a. Konteks 1Ptr. 3 tidak berbicara secara khusus tentang peristiwa kematian dan kebangkitan Kristus, melainkan tentang bagaimana orang Kristen harus bertahan dalam penderitaan. Tidak ada kalimat yang menjelaskan bahwa ini terjadi selama 3 hari kematian Kristus.
b. Kata yang dipakai oleh Petrus dalam bagian ini bukan gehenna (neraka) melainkan hanya phulake (penjara). Sehingga kalimat ini tidak harus dimengerti bahwa Kristus pergi ke neraka.
c. Penempatan kata “turun ke dalam neraka” dalam kredo adalah dalam tahap di mana Kristus sedang direndahkan. Sedangkan kesan dalam 1Ptr. 3 adalah Kristus dimuliakan, di mana Ia bukan lagi dalam penderitaan. Ini sesuatu yang tidak sinkron dengan Pengakuan Iman Rasuli.

Menjadikan ayat ini sebagai dasar bahwa selama tiga hari antara kematian dan kebangkitan-Nya Kristus pergi ke neraka sangatlah spekulatif dan terlalu dipaksakan. Williamson menegaskan bahwa sesuatu yang tidak mungkin selama tiga hari Kristus pergi ke neraka.
“We cannot possibly take these word to mean that Christ, after died, went to place where lost men go to suffer forever.”[8] (kita tidak mungkin menganggap kalimat ini mengajarkan bahwa setelah Kristus mati Ia pergi ke neraka di mana orang jahat akan menderita selamanya.)

Jadi ke mana Roh Kristus selama Ia tiga hari wafat? satu-satunya jawaban yang paling definitif diberikan oleh Kristus sendiri kemana Ia akan pergi. Dalam Lukas 23:43 Kristus berkata kepada penjahat yang bertobat “hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” Kalimat ini dipertegas dengan beberapa ayat kemudian “Ya Bapa, ke dalam tanganmu Kuserahkan Nyawa-Ku.” (ay. 46). Kedua jawaban yang definitif ini jelas menunjukkan bahwa kalimat “descendit ad infernos” tidak dapat ditafsirkan secara literal.

TAFSIRAN SIMBOLIS “DESCENDIT AD INFERNOS
Jika demikian bagaimana kalimat “turun ke dalam neraka” harus dimengerti? John Calvin[9] serta theolog Reformed abad 16 pada umumnya menafsirkan ini sebagai spiritual torment (penderitaan jiwa/roh), yaitu peristiwa di mana Kristus mencapai puncak penderitaan-Nya di atas kayu salib. Spiritual torment ini merupakan suatu rangkaian penderitaan yang dialami Kristus mulai dari taman Getsemani hingga mencapai puncaknya dalam kalimat-Nya “Allahku Allahku mengapa engkau meninggalkan Aku?” (Mat. 27:46). Pemikiran yang sama dapat kita temukan dalam Heidelberg Cathecism dalam pertanyaan No. 44: “…His inexpressible anguish, pains, terrors and hellish agony in which He was plunged during all His sufferings but especially on the cross…”[10] (…kesedihan, penderitaan, kesakitan, teror yang tidak tergambarkan yang Ia harus tanggung selama penderitaan-Nya khususnya di atas salib…)

Tafsiran semacam ini jelas lebih baik daripada tafsiran literal di atas namun bila dilihat dari penempatan kalimat “turun ke dalam neraka” dalam kredo, kalimat ini tidak berbicara tentang penderitaan Kristus di atas salib. Di tengah perdebatan yang ada, menurut penulis, salah satu pendekatan untuk mendapatkan tafsiran yang lebih akurat adalah mempertanyakan kapan Kristus “turun ke dalam neraka”. Jelas dalam kredo kalimat “turun ke dalam neraka” ditempatkan setelah kematian Kristus bukan saat penderitaan-Nya. Tertulis dalam kredo “menderita, mati dan dikuburkan, turun ke dalam neraka”. Dengan mengacu pada penempatan kalimat ini, maka kalimat “turun ke dalam neraka” lebih baik ditafsirkan hanya bermaksud mempertegas kematian Kristus saja, tidak lebih dari itu. Alister Mcgrath dalam tafsirannya tentang kredo ini mengatakan:
...what does this mean? it is a statement of belief that Jesus really did die….in other words Jesus shared the fate of all those who are dead.[11] (…apakah artinya ini? ini adalah suatu pernyataan iman bahwa Yesus sungguh-sungguh wafat… dengan kata lain Yesus mengalami kematian seperti orang pada umumnya)

Charles Hodge, seorang theolog reformed abad 18 juga menyatakan keberatannya terhadap tafsiran bahwa kalimat ini menunjuk kepada penderitaan Kristus di salib. Perhatikan uraiannya tentang ‘turun ke dalam neraka” berikut ini.
“In Scriptural language therefore to descend into hades or hell means nothing more than to descend to the grave, to pass from visible to invisible world, as happen to all men when they died and buried.”[12]
(dalam bahasa Alkitab arti dari turun ke dalam dunia orang mati atau neraka tidak lebih dari masuk ke dalam kubur, berpindah dari alam yang kelihatan ke alam yang tidak kelihatan sebagaimana terjadi pada semua orang yang meninggal)

SIGNIFIKANSI DAN APLIKASINYA PADA MASA KINI
Kredo yang baik harus memiliki suatu sifat perspicuous (jelas dan mudah dipahami) yang tidak menimbulkan ambiguity (bermakna ganda) tentang isinya. Penambahan kalimat “turun ke dalam neraka/kerajaan maut” bukan memperjelas dan mempertegas isi dari kredo ini sebaliknya hanya menimbulkan kebingungan bagi domba Allah.

Dengan uraian yang telah dijelaskan di atas gereja perlu menggumulkan ulang signifikansi pemakaian kalimat “turun ke dalam neraka/kerajaan maut” dalam setiap ibadah. Menempatkan kalimat ini dalam tanda kurung tidak akan menghilangkan kebingungan jemaat ketika membacanya. Bila gereja tetap ingin mempertahankan kalimat ini, maka gereja mempunyai tugas yang penting untuk menjelaskan dengan benar arti kalimat ini kepada umat Tuhan agar mereka bukan hanya menghafal tapi juga mengerti apa yang tertulis dalam kredo ini. Tetapi bila kita menerima tafsiran bahwa kalimat ini hanya mempertegas bahwa Kristus mati dan dikuburkan, maka signifikansi kalimat ini tidaklah terlalu penting dalam kredo ini. Mengembalikan kredo ini ke dalam bentuknya semula (tanpa “turun ke dalam neraka/kerajaan maut) tidak akan mengurangi otoritas dan kejelasan isi kredo.

Catatan kaki
[1] G. I. Williamson, The Heidelberg Catechism. A Study Guide (Philipsburg: P&R, 1993), hlm. 76.
[2] C. E. B Cranfield, The Apostles’ Creed: A faith to Live By (Grand Rapids: Eerdmans, 1993), hlm. 21.
[3] Arthur Cushman McGiffert, The Apostles’ Creed : Its Origin, Its Purpose and Its Historical Interpretation (New York: Charles Scribner’s Sons, 1902), hlm. 30. Dalam catatan sejarah gereja mula-mula, pengakuan ini sudah ada sejak ± 150 M. Alasan penambahan kalimat ini dalam kredo tidak terlalu jelas, kemungkinan untuk melawan ajaran doketisme yang tidak percaya bahwa Kristus mati secara fisik.
[4] Edward A. Dowey, Jr., A Commentary on The Confession of 1967 and An Introduction to The Book of Confessions (Philadelphia: The Westminster Press, MCMLXVIII), hlm. 161.
[5] Katekismus Konsili Trent membagi 3 macam dunia orang mati (underworld). Tingkat Pertama disebut penjara yang gelap dan mengerikan, yaitu tempat penghukuman. Tingkat kedua disebut sebagai Purgatori, tempat penyucian jiwa, dan yang ketiga di sebut sebagai Limbo yaitu tempat penantian bagi jiwa. Kristus mereka percayai ketika tubuh-Nya dikubur, rohnya ada di Limbo.
[6] Lihat Form of Concord Artikel IX. 2.
[7] Karl Barth, Credo (New York: Charles Scribner’s Sons, 1962), hlm. 94.
[8] The Heidelberg Catechism. A Study Guide, hlm. 76.
[9] Pembaca dapat melihat dalam Institutio buku ke-2 bab 16 point 8-12. Karl Barth dalam hal ini juga setuju bahwa turun ke dalam neraka juga memiliki arti simbolis seperti Calvin. Lihat Credo hlm. 90.
[10] The Heidelberg Catechism. A Study Guide, hlm. 74.
[11] Alister McGrath, I Believe: Understanding and Applying Apostles’ Creed (Grand Rapids: Zondervan, 1991), hlm. 81.
[12] Charles Hodge, Systematic Theology Vol 2 (Grand Rapids: Eerdmans, 1993), hlm. 617.

Disarikan dari: http://www.gkagloria.or.id

22 July 2008

Matius 10:26-27: CHRISTIANITY & PERSECUTION: The Proclamation

Ringkasan Khotbah : 05 Maret 2006
Christianity & Persecution: The Proclamation
oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 10:26-27



Pendahuluan
Kristus Yesus merupakan satu-satunya teladan sempurna yang ada di dunia. Hal ini membuktikan bahwa apa yang selama ini dipandang manusia tidak mungkin ternyata dapat dilakukan oleh Kristus. Dia datang untuk menjadi teladan bagi manusia. Kristus Sang Kebenaran sejati itu datang ke dunia membukakan suatu realita kebenaran pada setiap orang yang mau menjadi murid-Nya. Gambaran murid Kristus itu seperti domba di tengah-tengah serigala. Seperti layaknya seekor domba, binatang yang lemah maka kita akan menghadapi banyak tantangan dan penganiayaan. Di dunia kita melihat banyak orang tak terkecuali orang yang bukan Kristen sekalipun juga mengalami penganiayaan. Adalah wajar kalau orang dianiaya sebagai akibat dari perbuatan dosa yang ia lakukan. Hukuman yang diterima oleh orang berdosa merupakan tindakan keadilan. Orang harus membayar harga sebagai akibat dari perbuatan dosa yang ia lakukan. Namun ada hal yang membedakan antara penganiayaan yang dialami oleh orang Kristen dan dunia. Orang dunia selain dianiaya di dunia, ia juga mengalami penganiayaan dalam kekekalan. Berbeda halnya dengan anak Tuhan, di dunia ia dianiaya namun aniaya itu tidak berlangsung selamanya karena ia mendapatkan sukacita kekal di sorga bersama Kristus.
Gambaran kebinasaan kekal ini sangatlah mengerikan. Ada orang yang menggambarkan sebagai tempat dengan api panas yang menyala-nyala dan ada pula yang menggambarkan sebagai tempat gelap yang penuh dengan ratap dan gertak gigi dan masih banyak gambaran lain yang sangat mengerikan. Namun ada satu hal yang perlu kita perhatikan, kematian kekal itu bukan sekedar api menyala dan tempat gelap saja. Tidak! Ada hal lain yang lebih mengerikan ketika manusia masuk dalam kematian kekal karena orang telah kehilangan esensi hidupnya. Itulah sebabnya orang menjadi sangat ketakutan di kala kematian itu sudah mendekat. Sebelum kematian itu datang menjelang, orang berani bermain-main dengan dosa, orang bernikmat dalam dunia dan melupakan Tuhan namun ketika hari dimana kematian kekal itu tiba maka orang mulai mulai sadar namun sungguh amatlah disayangkan kesadaran itu datangnya selalu terlambat sebab tidak ada seorangpun di dunia yang dapat menolongnya.
I. Kebenaran Harus Dinyatakan
Dunia semakin menuju pada kehancuran dan kegelapan maka orang yang sudah berada dalam kegelapan merasa dirinya aman karena keberdosaannya tidak nampak nyata; seperti halnya orang berbuat kotor di dalam tempat gelap selama tempat itu masih gelap ia akan selalu merasa dirinya bersih. Di tengah dunia berdosa, orang dianiaya bukan karena kebenaran tetapi lebih tepatnya karena dosa. Orang Kristen juga mengalami aniaya dan penderitaan tapi ingat, aniaya yang dialami bukan karena dosa, tidak, tapi karena ia hidup dalam kebenaran. Ketika terang itu datang menerangi kegelapan maka seluruh kekotoran itu akan nampak jelas itulah sebabnya dunia sangat tidak suka dengan anak-anak Tuhan yang membawa terang sehingga dengan segala cara ia akan mencoba menyingkirkannya. Akibatnya orang lebih memilih menyembunyikan terangnya di bawah gantang dari pada ia dianiaya dan menderita. Manusia cenderung menyembunyikan ketakutannya lalu orang menggunakan segala macam cara yang seolah-olah menyatakan diri sebagai orang yang “bijaksana.“ Tindakan-tindakan berikut ini dianggap “bijaksana,“ yaitu: tidak menyatakan kebenaran di tengah dunia berdosa, tidak berani melawan kejahatan, tidak berani mengambil resiko dianiaya. Benarkah tindakan tersebut dianggap sebagai tindakan yang bijaksana? Ironis, di tengah dunia ini orang lebih berani menyatakan dosa daripada menyatakan kebenaran Tuhan. Kebenaran semakin lama semakin meredupkan dirinya.

Tuhan memberikan hati nurani dalam diri setiap manusia di dunia siapapun dia maka ketika orang melakukan perbuatan dosa pasti timbul rasa takut. Inilah natural reaction.
Sebagai contoh, orang yang baru pertama kali menyontek pasti akan merasa gemetar dan takut. Dosa mengakibatkan kematian dan hukuman dan hal ini seharusnya menjadi peringatan bagi kita tapi perasaan takut dan gemetar ini kalau tidak direspon dengan positif maka manusia akan berubah menjadi garang. Ketika hati nurani kita pertama kali ditegur akan dosa oleh Tuhan dan kita berespon positif maka hal itu akan meredupkan sifat dosa dan membuat kita kembali pada kebenaran. Sebaliknya ketika hati nurani itu menegur dan kita bereaksi negatif maka itu menjadi titik awal kehancuran kita. Orang akan menjadi sangat marah ketika ditegur dosanya dan ironisnya, orang mencoba menghancurkan kebenaran dan orang yang membawa kebenaran itu. Hal itu menunjukkan dosa itu telah mencengkeram hidupnya – kebenaran telah ditaklukkan oleh kuasa kegelapan. Ketika kebenaran itu semakin diredupkan maka tanpa sadar orang mulai berkompromi dengan dosa. Tuhan Yesus menegaskan bahwa setiap anak Tuhan harus menyatakan kebenaran di tengah dunia.

Dunia sangat membutuhkan kebenaran. Cobalah bayangkan apa jadinya dunia ini kalau orang Kristen yang seharusnya mewartakan kebenaran tapi malah menaruh terangnya di bawah gantang? Tentu saja, dunia yang gelap akan semakin gelap dan akhirnya binasa. Adalah tugas kita sebagai anak Tuhan untuk mewartakan kebenaran Firman dengan demikian orang beroleh pengharapan sejati. Kebenaran itu harus kita nyatakan di tengah dunia. Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka (Mat. 10:28).

II. Resiko Proklamasi Kebenaran
Saat kebenaran itu dinyatakan ke tengah-tengah dunia maka ada resiko – kita akan menghadapi banyak musuh yang datang dari luar maupun dari dalam Kekristenan sendiri. Secara hati, mungkin kita akan dapat menerima kalau musuh yang kita hadapi itu berasal dari luar tapi bagaimana halnya kalau orang yang memusuhi kita justru orang terdekat kita yang diam-diam menikam dari belakang. Tentulah hal ini sangat menyakitkan, bukan? Hari ini banyak orang yang memakai label Kekristenan padahal sesungguhnya seluruh kegiatan yang dilakukan bersifat sekuler belaka. Banyak orang yang mengaku Kristen namun beriman palsu, kebenaran yang diberitakan bukan kebenaran Firman tapi kebenaran palsu. Memproklamirkan kebenaran di tengah dunia berdosa ini tidaklah mudah, ada resiko yang harus kita tanggung diantaranya banyak musuh yang harus kita hadapi. Dibutuhkan suatu keberanian dalam memproklamasikan suatu kebenaran. Tanpa proklamasi kebenaran maka dunia ini akan semakin gelap maka resiko proklamasi, the risk of proclamation itu harus kita ambil.

Orang tidak rela kalau harus menanggung resiko yang sedemikian besar – dianiaya dan disiksa demi untuk kebenaran. Ironis, orang justru lebih rela menderita sebagai akibat dari perbuatan dosa yang ia lakukan. Orang menganggap wajar kalau ia dihukum karena mendapati dirinya mencuri tapi tidak demikian halnya kalau ia harus menderita karena memproklamasikan kebenaran. Inilah realita dunia berdosa yang membalikkan kebenaran sejati. Orang berdosa tidak sadar kalau hari ini ia mendapat hukuman di dunia atau mungkin ia dapat lolos dari hukuman di dunia akan tetapi tidak demikian halnya pada hari penghakiman; orang berdosa tidak akan lolos dari hukuman Tuhan. Berbeda halnya dengan anak Tuhan, mungkin hari ini kita menderita aniaya namun suatu hari nanti kita akan beroleh kemenangan dan kemuliaan akan diberikan pada kita. Iblis tahu bahwa anak Tuhan nantinya akan beroleh kemenangan itu sehingga dengan segala cara iblis mencoba menghancurkan kebenaran. Seorang anak Tuhan yang sejati harusnya mempunyai jiwa yang rela berkorban demi untuk menyatakan kebenaran – anak Tuhan harus memancarkan terang ke tengah dunia yang gelap.

III. Dalam Kebenaran terkandung Nilai yang Mulia
Dalam kebenaran itu terkandung nilai tertinggi yang seharusnya diberitakan namun yang menjadi pertanyaan sekarang adalah kenapa hari ini sedikit sekali orang yang mau memberitakan kebenaran itu? Orang tidak menyadari ada suatu nilai tertinggi di dunia yang harus kita kejar, yaitu keselamatan yang Tuhan berikan pada manusia. Sebab dibandingkan dengan keselamatan kekal maka seluruh harta di dunia ini tidak ada artinya. Apalah artinya kita mendapatkan seluruh dunia tetapi kita kehilangan nyawa, apa yang bisa diberikan ganti sebuah nyawa? Nilai secara instrinsik di dalam diri nilai maupun nilai secara ekstrinsik dari luar nilai harus dikembalikan pada nilai tertinggi,yaitu keselamatan. Betapa bodohnya manusia menukar nilai tertinggi, yaitu keselamatan dengan harta dunia yang tidak bernilai. Janganlah kita melakukan kesalahan yang sama seperti yang dilakukan Esau yang menukar hak kesulungan dengan semangkok kacang merah. Manusia gagal mengerti apa yang menjadi nilai tertinggi yang sepatutnya kita perjuangkan dan menukarnya dengan harta dunia yang tidak bernilai. Sadarlah keselamatan hidup yang kita peroleh itu harganya sangat mahal – seluruh harta di dunia tidak akan dapat membeli keselamatan yang bernilai kekal. Itulah sebabnya kita menjumpai ada orang-orang yang rela menderita aniaya dan siksa demi untuk memberitakan kebenaran; orang tahu apa yang menjadi nilai tertinggi yang ada di dunia. Demi untuk menyelamatkan nyawa manusia berdosa, Kristus harus membayar dengan harga yang mahal – Kristus Anak Allah sendiri datang ke dunia menebus manusia dengan nyawa–Nya sendiri. Berapa harga yang harus kita bayar demi untuk menggantikan nyawa kita? Sadarlah betapa mahalnya diri kita karena darah Kristus telah menebus dosa dan menyelamatkan kita. Ironis demi untuk sebuah makanan kita berani berkata-kata tetapi kenapa demi untuk sebuah nilai terbesar – keselamatan mulut kita terkunci? Berita Injil harus diteriakkan ke seluruh dunia sehingga seluruh dunia mendengar kabar sukacita ini.

IV. Dalam Kebenaran terkandung Tujuan yang Mulia
Tujuan hidup yang paling tinggi haruslah kita kembalikan untuk kemuliaan Tuhan. Bayangkan apa jadinya hidup seorang atheis yang percaya bahwa hidup manusia itu terjadi secara kebetulan. Bagaimana ia menjalani hari-hari dalam hidupnya? Tujuan hidup bukan kita yang tetapkan karena kalau kita yang menetapkan maka apa yang menjadi standar ukuran kita sukses atau tidak? Dimana legitimasinya? Tuhan telah menetapkan suatu tujuan hidup pada manusia sebab kalau Tuhan tidak mempunyai tujuan untuk apa Ia datang ke dalam dunia dan menyelamatkan manusia? Siapakah kita manusia sehingga Tuhan mau datang menyelamatkan kita? Karya keselamtan yang Tuhan kerjakan itu tidak dikerjakan secara sembarangan. Tidak! Anak Allah sendiri datang berinkarnasi untuk menyelamatkan manusia berdosa dan semua ini dikerjakan karena Tuhan mempunyai satu tujuan mulia. Kita adalah buatan Allah diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik yang dipersiapkan Allah sebelumnya dan Ia mau supaya kita hidup di dalam-Nya (Ef. 2:8). Proklamasi kemerdekaan bukan sekedar sebuah kemerdekaan tapi harus disertai dengan sasaran yang jelas. Tuhan mempunyai tujuan yang jelas pada setiap kita, Tuhan mempunyai rencana yang indah pada setiap kita dan tujuan itu tidak berakhir di dalam kesementaraan tapi tujuan yang Tuhan tetapkan itu berakhir di kekekalan. Bayangkan bagaimana hidup kita kalau kita tidak mempunyai tujuan hidup yang jelas, kita akan melangkah tanpa tujuan dan akhirnya tersesat.

Tuhan Yesus ke dunia dan Dia telah menjadi teladan sempurna bagi kita. Tuhan Yesus tahu untuk apa Dia datang ke dunia dan Dia menggenapkan semua itu sampai tuntas dan menang. Dunia ini telah kehilangan jalur itulah sebabnya Tuhan ingin kita memproklamasikan kebenaran sehingga membawa dunia kembali kepada jalan yang benar. Maukah kita dipakai oleh Tuhan untuk mewartakan kebenaran yang sejati itu dan memancarkan terang bagi dunia? Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber:

Roma 9:19-21: "ISRAEL" SEJATI ATAU PALSU-4: Problematika Predestinasi dan Kedaulatan Allah-1

Seri Eksposisi Surat Roma:
Doktrin Predestinasi-4


“Israel” Sejati atau Palsu-4:
Problematika Predestinasi dan Kedaulatan Allah-1


oleh: Denny Teguh Sutandio


Nats: Roma 9:19-21


Setelah mempelajari tentang proses pemilihan/predestinasi-Nya yang meliputi tiga tahap di ayat 9 s/d 18, kita akan merenungkan lebih dalam lagi tentang problematika predestinasi di ayat 19 s/d 29. Pada bagian ini, kita hanya akan merenungkan tiga ayat yang menjadi pendahuluan dari problematika predestinasi ini.

Banyak orang “protes” dan marah-marah terhadap orang Kristen Reformed yang mengajarkan predestinasi dengan argumentasi bahwa dengan mengajarkan predestinasi, maka orang-orang Kristen Reformed sedang menyombongkan diri dan Allah versi Reformed pilih kasih, karena Ia hanya memilih beberapa orang (dan tidak semua orang—sesuai paham Universalisme di dalam “theologia” religionum terselubung). Di sisi lain, serangan terhadap Reformed di dalam predestinasi juga muncul dengan argumentasi bahwa kalau beberapa orang sudah ditetapkan untuk binasa/ditolak Allah, maka otomatis orang tersebut bisa hidup seenaknya sendiri dan Allah tidak boleh mempersalahkan mereka. Benarkah demikian ? Di ayat 19, Paulus mengatakan, “Sekarang kamu akan berkata kepadaku: "Jika demikian, apa lagi yang masih disalahkan-Nya? Sebab siapa yang menentang kehendak-Nya?"” Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) menerjemahkannya, “Nah, Saudara akan berkata kepada saya, "Kalau begitu mengapa Allah masih mau menyalahkan manusia? Bukankah tidak seorang pun dapat mencegah keinginan Allah?"” English Standard Version (ESV) menerjemahkannya, “You will say to me then, "Why does he still find fault? For who can resist his will?"” Terjemahan Baru (TB) LAI kurang tepat menerjemahkan “...apa lagi yang masih disalahkan-Nya ?...”, seharusnya terjemahan yang lebih tepat, “Mengapa Dia masih menyalahkan kita ?” Di sini, Tuhan mengetahui akal licik manusia berdosa, sehingga Ia mewahyukan Paulus untuk membukakan hal ini. Hal licik apakah itu ? Manusia berdosa pasti berpikir bahwa kalau Allah telah menetapkan beberapa orang untuk diselamatkan dan menolak sisa-Nya, maka orang-orang yang termasuk kaum reprobat (tidak dipilih Allah) bebas hidup seenaknya sendiri dan jika demikian, mereka tidak boleh dipersalahkan oleh Allah, karena bagi mereka, “Allah” lah yang membuat mereka ditolak. Dan lagi, bukankah tidak ada seorangpun yang dapat mencegah keinginan Allah ? Bagi mereka, sangat “kebetulan” sekali, mereka bisa hidup semaunya sendiri di luar Allah, karena mereka sudah ditetapkan untuk binasa. Inilah cara pikir manusia berdosa yang licik dan hal ini sudah diketahui oleh Tuhan Allah, sehingga melalui Paulus, Ia mewahyukan hal ini untuk membukakan mata hati dan pikiran kita. Esensi pernyataan licik manusia berdosa ini sebenarnya adalah dosa. Dosa berarti pemberontakan terhadap Allah dan sengaja melarikan tanggung jawab terhadap Allah. Manusia sejati adalah manusia yang hidup mencerminkan naturnya sebagai peta dan teladan Allah, yaitu menjalankan keadilan, kejujuran, kebenaran, kasih, dll, tetapi dosa mengakibatkan manusia melarikan diri dari tanggung jawab tersebut, bahkan melawan tanggung jawab dari Allah tersebut. Sehingga tidak heran, di dunia postmodern, makin lama kita semakin melihat manusia yang tidak ada bedanya seperti binatang yang liarnya bukan main. Habis perkosa satu gadis, cukup ? TIDAK. Mau perkosa dua, tiga, empat, bahkan sekelompok gadis. Ini bejatnya manusia berdosa. Mereka menginginkan hak asasi mereka terpenuhi dan meniadakan tanggung jawab mereka, sebaliknya anehnya mereka TIDAK pernah mau memperdulikan hak asasi manusia lainnya. Ambil contoh, banyak pekerja di Indonesia sedang ramai-ramainya menuntut Upah Minimum Regional (UMR), atau sejenisnya dengan argumentasi bahwa dengan UMR yang “layak”, mereka bisa hidup “layak”. Benarkah mereka bisa hidup “layak” dengan UMR yang “layak” ? TIDAK ! Mereka sebenarnya bukan ingin hidup “layak”, tetapi hidup kaya/nyaman. Kedua, mereka menginginkan gaji yang besar, tetapi kualitas kerja mereka tak pernah besar. Contoh sederhana, kita bisa memperhatikan pekerjaan para tukang. Para tukang biasanya bekerja bukan dengan giat, tetapi dengan santai. Hal ini didasari oleh filosofi kerja orang Jawa (mayoritas Islam): alon-alon asal kelakon (pelan-pelan, yang penting terlaksana). Tidak heran, pekerjaan yang sebenarnya bisa diselesaikan mungkin dalam waktu 1-2 hari, ternyata dikerjakan oleh orang-orang Indonesia bisa sampai seminggu, dengan alasan: capek, gaji terlalu kecil, dll. Terhadap tindakan manusia yang licik ini, Tuhan tetap menuntut tanggung jawab, meskipun beberapa orang yang tidak dipilih-Nya pasti akan binasa. Di sini, ada kaitan erat antara kedaulatan Allah dengan tanggung jawab manusia. Dosa memang diizinkan oleh Allah, tetapi dosa tetaplah tanggung jawab manusia di hadapan Allah.

Terhadap pertanyaan di ayat 19, Paulus tidak menjawab “Ya” atau “Tidak”, tetapi ia membukakan hati dan pikiran para pembaca suratnya (dan juga kita) tentang kedaulatan Allah dengan satu prinsip di ayat 20 dan diikuti oleh ilustrasi di ayat 21.
Di ayat 20, Paulus mengatakan, “Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: "Mengapakah engkau membentuk aku demikian?"” Inti theologia Paulus di dalam setiap suratnya adalah kedaulatan Allah. Di dalam ayat ini, ia mengajarkan tentang kedaulatan Allah dengan cara ia menyadarkan manusia siapakah mereka sesungguhnya di hadapan Allah, Sang Pencipta. Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) memberikan arti lebih jelas, “Tetapi, Saudara! Saudara hanya manusia saja. Dan Saudara tidak boleh berani menyahut kepada Allah! Bolehkah pot kembang bertanya kepada orang yang membuatnya, "Mengapa engkau membuat saya begini?"” Di dalam terjemahan BIS ini, Paulus menyatakan bahwa manusia tetap adalah manusia sebagai ciptaan Allah yang tidak boleh membantah/menyahut Allah. Manusia harus taat mutlak kepada Allah dan pimpinan-Nya yang kekal dan suci adanya. Konsep ini diambil dari dua bagian di Kitab Yesaya, yaitu Yesaya 29:16 dan 45:9. Yesaya 29:16 ditulis di dalam konteks ketika Allah menyingkapkan kebutaan dan kemunafikan bangsa Israel yang kelihatan beribadah, tetapi hatinya jauh dari Allah (Yes. 29:13-14). Mereka berlaku munafik karena mereka berpikir bahwa Allah bisa disenangkan melalui ibadah mereka. Dengan kata lain, mereka mau mmperalat Allah. Inilah yang disebut Yesaya sebagai tindakan memutarbalikkan segala sesuatu (ayat 16a). Artinya, mereka sebagai ciptaan Allah lah yang seharusnya tunduk kepada Allah, tetapi karena kemunafikan mereka, mereka memperalat Allah, sehingga Ia harus tunduk kepada permintaan mereka. Yang lebih parah lagi, Israel tidak mengakui Allah yang kepada-Nya mereka harus tunduk. Di ayat 16, Allah melalui Yesaya mengajar kondisi bangsa Israel seperti apa yang dibuat (Israel) tidak mengenal siapa yang membuatnya (Allah) bahkan yang membentuknya (Allah) tidak mengerti apa-apa tentang yang dibentuknya (Israel). Kemunafikan Israel berwujud ganda. Di satu sisi, Israel ingin Allah agar tunduk kepada permintaan mereka. Inilah tindakan orang “Kristen” kanak-kanak (childish “Christian”). Mereka TIDAK pernah mau taat kepada Allah, tetapi sebaliknya mereka memperalat Allah untuk memenuhi ambisinya yang berdosa (baik secara langsung maupun tidak langsung). Di sisi lain, wujud kemunafikan Israel adalah tidak diakuinya Allah sebagai Pencipta, Pemelihara dan Penyelamat Israel. Dengan kata lain, mereka “cuek” terhadap Allah, bagi mereka, yang penting, mereka sudah beribadah rutin, berpuasa dua hari (Senin dan Kamis), mempersembahkan korban, berdoa, membaca Taurat, dll. Di dalam Yesaya 45:9, sekali lagi Tuhan mengajar Israel secara langsung tentang status mereka yang seharusnya di hadapan Allah, “Celakalah orang yang berbantah dengan Pembentuknya; dia tidak lain dari beling periuk saja! Adakah tanah liat berkata kepada pembentuknya: "Apakah yang kaubuat?" atau yang telah dibuatnya: "Engkau tidak punya tangan!"” Di sini, Roma 9:20 dijelaskan oleh Yesaya 45:9 dengan langsung menyatakan bahwa mereka yang membantah Allah adalah mereka yang celaka. Mengapa ? Karena manusia adalah seperti beling periuk dari tanah liat yang tidak bisa menjadi periuk jika tidak dibentuk oleh si Pembentuk. Dengan kata lain, sebagai manusia ciptaan-Nya, kita harus taat mutlak dan tidak membantah Allah bahkan terhadap kehendak-Nya yang misterius/belum kita pahami. Tuhan meminta kita DIAM terhadap kehendak-Nya yang belum diketahui, karena itu berada di dalam kehendak-Nya yang kekal yang nanti kelak akan dibukakan-Nya kepada kita sebagai umat pilihan-Nya di dalam kekekalan. Baik di dalam Roma 9:20 maupun di dalam Yesaya 45:9, kita diibaratkan seperti barang yang mati yang sedang dibentuk oleh Pribadi yang hidup, sehingga barang yang mati menjadi barang yang berharga. Itulah sebenarnya kita, tanpa Allah yang menghembuskan nafas hidup ke dalam hidung kita, kita tak mungkin akan hidup, kita hanya seonggok tanah liat yang tidak bisa apa-apa. Di sini, kita belajar bahwa yang mati harus bergantung dan taat mutlak kepada yang hidup. Sudahkah kita bergantung dan taat mutlak kepada-Nya ? Itulah tindakan iman. Iman bukan sarana kita meminta apapun kepada Allah. Itu bukan iman, tetapi kepercayaan diri (self-confidence) ! Iman berarti bersandar mutlak kepada Allah. Ketika kita bersandar kepada-Nya, pada saat yang sama, kita harus taat dan setia kepada-Nya. Jangan hanya bersandar kepada-Nya tetapi tidak mau taat dan setia kepada-Nya, itu berarti kita egois, kita mau Dia ikut campur di dalam hidup kita, tetapi kita tidak mau taat dan setia. Tuhan menuntut kita untuk berserah total kepada-Nya. Apa artinya ? Amsal 3:5-7 mengajarkan kita tentang hal ini, “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan;” Berserah total kepada-Nya mengandung empat pengertian di dalam tiga ayat ini, yaitu:
Pertama, percaya di dalam TUHAN dengan seluruh hati. King James Version (KJV) menerjemahkan “Percayalah kepada TUHAN” dengan “Trust in the LORD” (=Percayalah di dalam TUHAN). Di dalam penyerahan total kita kepada-Nya, di saat itu pula kita sedang percaya di dalam-Nya. Ada dua pengertian yang terkandung di dalamnya. Pertama, percaya di dalam. Kata depan “di dalam” menunjuk adanya suatu tempat di mana kita harus mempercayakan diri, yaitu Allah sendiri. Kita bukan mempercayakan diri di dalam harta, orang lain, teman, atau bahkan diri kita, tetapi kita harus mempercayakan diri di dalam Allah. Kedua, TUHAN (the LORD). Terjemahan Inggris begitu tepat dengan menambahkan kata the yang menunjukkan kekhususan. Alkitab tidak berkata bahwa kita percaya di dalam TUHAN saja, tetapi kita harus percaya di dalam satu-satunya TUHAN. Kata the menunjukkan bahwa hanya TUHAN saja yang harus kita percayai. TUHAN itu tidak lain adalah TUHAN Allah, Yahweh, bukan “tuhan” materialisme, humanisme atheis, hedonisme, skeptisisme, dll. Dengan kata lain, the menunjuk kepada TUHAN yang adalah Pribadi, bukan konsep/ide seperti yang diajarkan oleh filsafat Yunani dan agama-agama dunia. Ketika kita percaya di dalam TUHAN, kita percaya BUKAN dengan setengah hati, tetapi dengan SEPENUH hati. “Sepenuh hati” menunjuk kepada totalitas hati kita yang taat dan setia hanya kepada TUHAN. Itulah yang dimaksud dengan ibadah sejati di dalam Roma 12:1. TUHAN tidak menginginkan ritualitas tertentu di dalam ibadah, tetapi Ia menginginkan hati kita yang taat mutlak. Tidak berarti, liturgi kebaktian tidak penting hanya gara-gara masalah hati, karena liturgi tetap diperlukan untuk membawa para jemaat beribadah kepada-Nya dengan tertib, karena Roh Kudus adalah Roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban (2 Timotius 1:7). Di atas semuanya, Tuhan lebih memperhatikan hati kita ketika kita beribadah dan menyembah-Nya di dalam kebaktian dan/atau di dalam kehidupan sehari-hari.
Kedua, jangan bersandar kepada pengertianmu sendiri. Ketika kita percaya di dalam TUHAN, secara otomatis pada saat yang sama, kita dituntut untuk TIDAK lagi bersandar kepada pengertian kita sendiri. Mengapa ? Karena pengertian kita adalah pengertian yang terbatas, sudah berdosa, dan sementara sifatnya, sehingga pengertian kita pasti mudah berubah. Kalau pengertian kita mudah berubah, bagaimana kita bisa mengarahkan hidup kita ? Hidup yang tidak berarah disebabkan hidup yang tidak dimengerti dengan benar (atau hidup yang tak bermakna). Dari mana kita bisa mendapatkan pengertian ? Dari TUHAN saja ! Oleh karena itu, ketika kita percaya di dalam TUHAN, pada saat yang sama, Ia akan memberikan pengertian kepada kita untuk menjalani hidup yang berkemenangan di dalam TUHAN, Raja dan Pemilik hidup kita.
Ketiga, akuilah Dia dalam segala jalan kita. Percaya di dalam TUHAN menuntut kita untuk mengakui-Nya di dalam segala jalan kita. Apa artinya mengakui-Nya ? Apakah cukup mengakui-Nya di mulut kita ? TIDAK ! Mengakui-Nya berarti mengundang-Nya masuk dan memerintah di dalam setiap jalan hidup kita, sehingga yang kita katakan, pikirkan, kerjakan adalah sesuatu yang dari Allah, oleh Allah dan untuk kemuliaan-Nya (Roma 11:36). Ketika kita sudah mengundang-Nya menjadi TUHAN dan Raja dalam setiap jalan hidup kita, maka Ia berjanji akan meluruskan jalan kita (atau lebih tepatnya, Ia akan memimpin setiap langkah hidup kita). Dengan kata lain, ketaatan menghasilkan keberhasilan di mata Allah, bukan di mata manusia. Kunci sukses di hadapan Allah bukan seperti yang diinginkan manusia, tetapi kunci sukses di mata Allah adalah kita taat dan setia kepada perintah-Nya yang berlawanan dengan perintah/keinginan manusia berdosa.
Keempat, jangan menganggap diri sendiri bijak, tetapi takutlah akan TUHAN dan menjauhi kejahatan. Di dalam percaya di dalam TUHAN, ada unsur ketaatan plus ketakutan di dalam-Nya. Orang yang katanya percaya di dalam TUHAN tetapi tidak pernah taat, itu kebohongan terbesar ! Orang yang percaya di dalam TUHAN sungguh-sungguh pasti tidak boleh sombong, tetapi takut dan taat hanya di dalam TUHAN. Mengapa ? Karena dia sudah memmpercayakan diri di dalam TUHAN, dan pada saat yang sama, dia pasti mengundang-Nya menjadi Raja dan TUHAN yang memerintah dan memimpin setiap langkah hidupnya (baca poin ketiga). Ketika seseorang takut dan taat di dalam TUHAN, pada saat yang sama juga, dia akan menjauhi kejahatan/membenci dosa. Orang yang mengaku percaya di dalam TUHAN tetapi masih mencintai dosa, orang itu patut dipertanyakan, “Tuhan” seperti apa yang mereka percayai ? Mengapa mereka bisa membenci dosa ? Karena mereka lebih mencintai apa yang dicintai oleh Tuhan dan membenci apa yang dibenci oleh Tuhan. Itulah yang disebut Pdt. Dr. Stephen Tong sebagai menyangkal diri dan fungsi hati nurani yang dipimpin oleh Roh Kudus.

Paulus memberikan ilustrasi di ayat 21 untuk menjelaskan ayat 20. Di ayat 21, ia menjelaskan, “Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?” Allah diibaratkan seperti tukang periuk yang berhak/berdaulat penuh atas tanah liat (ibarat manusia), untuk membuat dari gumpalan tanah liat: sebuah benda yang bagus/dihargai (terjemahan Inggris: honor) atau benda yang tidak dihargai/tidak bagus (terjemahan Inggris: dishonor). Terjemahan Baru (TB) LAI kurang tepat mengontraskan dua hal ini, karena di dalam TB LAI mengontraskan antara “tujuan yang mulia” dengan “tujuan yang biasa”. Kedua pernyataan ini bukanlah suatu kontras yang bertolak belakang, karena “tujuan yang biasa” tidak sama dengan “tujuan yang tidak mulia”. Terjemahan yang lebih tepat yaitu adanya kontras antara “barang-barang yang dihargai” dengan “barang-barang yang TIDAK dihargai”. Si tukang periuk berhak membentuk gumpalan tanah liat menjadi periuk yang bagus dan mulia, atau menjadi sesuatu yang tidak bagus. Ini adalah kedaulatan mutlak si tukang periuk. Anak si tukang periuk tidak berhak menasehati ayahnya, atau bahkan tanah liat sendiri tidak boleh “demo” terhadap si tukang periuk, karena ia dijadikan untuk barang yang tidak bagus. Itulah kedaulatan Allah. Allah yang berdaulat adalah Allah yang berhak menciptakan manusia untuk tujuan mulia (dipilih-Nya untuk diselamatkan di dalam Kristus), dan berhak juga menciptakan manusia lainnya untuk tujuan yang tidak mulia (ditetapkan untuk dibinasakan). Fakta kedua dari ilustrasi tanah liat ini adalah TIDAK ada tanah liat yang mengkilap, lalu dipakai oleh si tukang periuk untuk membentuk barang yang anggun, melainkan semua tanah liat pasti kotor, sehingga si tukang periuk berhak menjadikan barang yang anggun dari tanah liat yang semuanya kotor. Demikian juga halnya dengan predestinasi dan reprobasi di dalam pemilihan Allah TIDAK bergantung pada jasa baik manusia (baca lagi Roma 9:16). Ia berdaulat dan berkuasa memilih dan menentukan beberapa manusia yang berdosa untuk menjadi anak-anak-Nya yang mengerjakan panggilan Tuhan dengan taat kepada-Nya. Inilah kuasa-Nya yang hebat. Kita seringkali mengerti kuasa Allah melalui mukjizat, hal-hal supranatural, dll. Itu tidak salah, tetapi kurang lengkap. Kuasa Allah yang lebih hebat adalah membuat kita yang dahulu berdosa, cinta diri, cinta uang, dll (self-centered life) menjadi pribadi umat pilihan-Nya yang semakin membenci dosa, dan lebih mencintai Tuhan dan kehendak-Nya (God-centered life) melalui kuasa Roh Kudus di dalam hati mereka.

Melalui perenungan ketiga ayat ini, kita kembali disadarkan bahwa kita semua itu berdosa dan rusak total, tidak ada yang baik di dalam diri kita (Roma 3:10-18,23), tetapi puji Tuhan, beberapa dari orang berdosa ini dipilih-Nya dari kekekalan untuk menjadi anak-anak-Nya di dalam Kristus. Doktrin predestinasi seharusnya membuat kita yang sudah menjadi anak-anak-Nya secara sungguh-sungguh bersyukur atas anugerah-Nya yang begitu besar dan dahsyat. Ingatlah, kita semua seperti tanah liat yang kotor, lemah, tetapi Ia seperti si tukang periuk berdaulat dan berkuasa menjadikan kita yang kotor dan lemah ini menjadi “barang” yang berharga di mata-Nya. Puji Tuhan. Biarlah sebagai umat pilihan-Nya di dalam Kristus, kita semakin mempercayakan hidup kita di dalam-Nya sepanjang hari sebagai Raja, TUHAN, dan Pemilik hidup kita. Jadikanlah Kristus sebagai Raja di dalam hidup Anda, maka Anda akan melihat sesuatu yang dahsyat terjadi di dalam kehidupan Anda sesuai dengan kehendak-Nya. Amin. Soli Deo Gloria.

20 July 2008

CARA SETAN MEMPERDAYA MANUSIA (Pdt. Effendi Susanto, S.Th.)

Ringkasan Khotbah Mimbar di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Sydney tgl 13 Juli 2008

CARA SETAN MEMPERDAYA MANUSIA

oleh: Pdt. Effendi Susanto, S.Th.
(gembala sidang GRII Sydney yang meraih gelar Sarjana Theologi dari Seminari Alkitab Asia Tenggara—SAAT Malang)



Nats: 2 Kor. 2:11; 4:3; 11:13-14



Paulus berkata, ”...supaya Iblis jangan beroleh keuntungan atas kita sebab kita tahu apa maksudnya…” (2 Kor. 2:11), atau di dalam bahasa aslinya lebih mempunyai pengertian seperti ini: jangan biarkan Iblis melakukan manuver sehingga dia menggunakan strategi mendahului langkah kita, sebab kita tahu apa taktik dia. Hari ini saya akan mengajak saudara melihat aspek dari si Jahat yang berusaha membuat orang tidak bisa menerima Injil. Setan menggunakan berbagai cara untuk terus menghalangi dan membutakan mata orang. Setan bekerja dengan cara melakukan manuver, dengan cara menimbulkan kekaburan dan pembutaan.

Dari tiga ayat yang kita baca ini Paulus sekaligus membongkar tiga cara yang dipakai oleh si Jahat dengan 3 istilah yang penting sekali. Yang pertama, outwit. Setan melakukan manuver yang kadang-kadang mendahului langkah kita. Kita kalah strategi terus-menerus sama dia. Yang kedua, Setan melakukan cara pembutaan rohani, penipuan rohani, pengkaburan rohani sehingga orang tidak melihat kebenaran Injil Yesus Kristus yang adalah gambaran Allah yang sejati. Yang ketiga, Setan melakukan cara penyamaran, disguise, menyamar seolah-olah dia adalah malaikat terang, seolah-olah dia adalah hamba Tuhan yang sejati, padahal dia adalah setan, dia adalah rasul palsu, dia adalah nabi palsu. Paulus mengatakan, kita tahu strategi dia, kita tahu taktik dia, kita tahu cara yang dipakai oleh si Jahat. Namun pertanyaan selanjutnya adalah sanggupkah dan dapatkah kita bisa mengerti cara itu dan belajar bagaimana meneliti segala taktik yang dipakai oleh Setan mendatangkan pencobaan dan penipuan kepada kita? Pada waktu Paulus mengatakan, kita tahu taktiknya, saya memikirkan kalimat ini untuk bagaimana kita mengerti, waspada, dan bagaimana kita antisipasi manuver dia.

Paulus mengatakan, hati-hati terhadap Iblis karena kita tahu cara-cara yang dipakai oleh Setan yang kadang-kadang membawa kita kepada pencobaan. Ada dua bagian firman Tuhan di mana Setan diekspose sungguh-sungguh sehingga kita bisa mengerti taktik dia. Yang pertama, pada waktu Setan datang mencobai Tuhan Yesus. Yang kedua adalah waktu Setan datang mencobai manusia pertama, yaitu Hawa di dalam Kej. 3 yang akan kita teliti hari ini. Melalui bagian ini saya melihat beberapa langkah taktik Setan yang ingin menjatuhkan kita. Kita berjalan di situ, kita pasti akan terjerumus ke dalam pencobaan. Menghadapi pencobaan bukanlah dosa. Menerima pencobaan bukanlah dosa. Yesus sendiri dicobai oleh Setan. Hidup kita tidak akan lepas dibawa terus untuk masuk ke dalam pencobaan. Itu sebab Tuhan Yesus mengajar kita berdoa “Bapa, janganlah membawa kami ke dalam pencobaan tetapi lepaskanlah kami dari yang jahat.” Tetapi kalaupun akhirnya kita menghadapi kesulitan dan pencobaan, jangan sampai kita jatuh dan terjerat oleh pencobaan itu. Setan akan mem-blindfold mata kita dan Setan akan disguise himself untuk mengelabui kita.

Langkah Setan yang pertama, dia berkata kepada Hawa, “Tentulah Allah berfirman semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” Langkah pertama, Setan tidak akan datang kepada kita dalam rupa Setan yang menakutkan. Tetapi Setan akan datang sebagai theologian. Setan akan datang dalam rupa seorang pengajar theologi membawa kita kepada penyesatan. Dalam percakapan dengan Hawa, Setan mengatakan, “tentulah Allah berfirman…” artinya Setan dengar firman Tuhan, Setan belajar firman Tuhan. Setan akan memasukkan kita ke dalam pencobaan dengan cara menjadi seorang hamba Tuhan yang ahli pelintir firman Tuhan. Dia akan menjadi seorang ahli theologi yang men-twist apa yang Tuhan katakan. Jangan lupa Setan adalah salah satu kepala malaikat. Kalau dia pernah menjadi salah satu kepala malaikat, berarti Setan pernah memiliki akses yang free kepada Tuhan, pernah memiliki persekutuan yang intim dengan Tuhan, pernah menikmati segala pengetahuan mengenai siapa Tuhan. Tetapi pengetahuan yang dimiliki oleh Setan mengenai siapa Tuhan bukan menjadi pengetahuan yang membuat dia menjadi hormat dan takut dan setia kepada Tuhan, justru sebaliknya menjadi firman yang dipakai untuk melawan Tuhan. Paulus mengatakan, “Jangan heran, karena Setan juga bisa menyamar sebagai malaikat terang.” Di dalam tradisi orang Yahudi menafsir Kej. 3 mereka mengatakan Setan datang menyamar bukan sebagai ular yang menakutkan melainkan Setan datang kepada Hawa dalam nyanyian yang memuji Tuhan. Dari situ kita bisa mengerti kalimat Paulus ini, dia bisa datang menyamar seperti malaikat terang.

Saya minta saudara juga perlu hati-hati di dalam gereja. Saya percaya kalimat Paulus mengenai dua cara pelayanan rasul-rasul palsu ini bisa menjadi pelayanan yang mirip dengan apa yang terjadi di dalam gereja sekarang. Kita akan ketemu dengan banyak pendeta yang merangkap sebagai paranormal. Mereka berani bilang Tuhan mengatakan kepada mereka mengenai masa depanmu sepuluh tahun yang akan datang. Mereka berani bilang kepada dua orang yang sedang pacaran bahwa Tuhan mengatakan kepada dia, you tidak cocok dengan dia. Hati-hati dengan pendeta yang berkata-kata seperti itu. “Tuhan bicara kepada saya, kamu berjodoh dengan pria ini.” Hati-hati dengan pendeta yang bicara seperti itu. Kalau saudara membaca Alkitab dengan teliti, saudara akan menemukan hanya satu kali indikasi saja Roh Kudus berbicara mengenai suatu masa depan secara pribadi kepada seseorang yaitu kepada Paulus. Di dalam Kis. 21 dicatat bahwa Roh Kudus memberi peringatan kepada Paulus kalau dia pergi ke Yerusalem, di situ dia akan menghadapi marabahaya. Hanya itu. Selebih dari itu kalau kita bicara mengenai pimpinan Tuhan, maka pegang prinsip ini: Alkitab firman Tuhan memimpin hidup anak Tuhan. Prinsip yang kedua, Tuhan memimpin anak Tuhan step by step. Kalau ada pendeta mengatakan dia bisa melihat masa depanmu, dia sedang praktek ‘kuamia’ Kristen. Hati-hati, karena cara Tuhan tidak bekerja seperti itu. Setan mengutip dan Setan berbicara seolah-olah dia mengerti dengan jelas firman Tuhan. Saudara baca kembali bagaimana dia memberikan pencobaan kepada Tuhan Yesus, dia mengutip firman Tuhan, bukan? Maka hal yang pertama, Setan membawa kita kepada pencobaan dengan memberikan firman Tuhan yang di-twist di sana-sini.


Yang kedua, Setan merubah perintah menjadi pertanyaan. Tuhan berfirman, “Jangan makan buah pohon pengetahuan yang baik dan jahat…” Itu adalah suatu perintah, suatu command. Tetapi oleh Setan ini kemudian God’s command kemudian diubah menjadi question. Kepada Hawa dia berkata, “Apakah benar Tuhan mengatakan seperti itu?” Hawa memang tidak mendengar langsung dari Tuhan mengenai perintah ini, maka pertanyaan Setan membawa kebingungan bagi dia. Apa benar ini perintah Tuhan, atau sebenarnya ini hanya usul saja, bukan perintah? Atau mungkin kamu salah tafsir?

Kenapa Setan datang memberikan pencobaan itu kepada Hawa? Bagi saya bukan karena perempuan itu lebih mudah jatuh ke dalam pencobaan dibanding laki-laki. Kalau mau jujur, saya rasa perempuan lebih tahan tidak jatuh ke dalam pencobaan daripada laki-laki. Jadi Setan datang mencobai Hawa karena Hawa bukan penerima pertama command itu melainkan Adam yang memberitahu Hawa mengenai hal itu. Namun kita menemukan di tengah transmisi pengetahuan itu, Setan tahu psikologinya dan menarik sekali di situ. Hawa mengatakan, “Tuhan berkata, jangan makan dan jangan pegang buah itu.” Apakah Tuhan melarang manusia memegang buah pohon pengetahuan baik dan jahat? Tidak. Setan bukan saja pengerti pengetahuan mengenai siapa Tuhan, Setan juga mengerti dan mengetahui psikologi manusia karena ini memang bagian aspek yang sangat tricky sekali.

Tuhan menciptakan kita menurut gambar dan rupa Dia. Maka kita memiliki segala potensi yang Tuhan taruh di dalam diri kita menjadi kreator-kreator kecil yang mengusahakan dan memelihara alam semesta ini. Tetapi gampang sekali manusia bisa jatuh di situ, tidak menyadari pemberian kuasa itu adalah hal yang diberi, bukan ada secara intrinsik di dalam diri kita. Kita harus bertanggung jawab kepada Dia yang memberi kuasa itu. Saudara dan saya sebagai orang Kristen wajar bertanya, apakah benar pengajarannya, apakah sesuai dengan firman Tuhan. Tetapi merubah perintah Allah menjadi question adalah merupakan satu langkah dari Setan yang menyebabkan engkau dan saya masuk ke dalam langkah selanjutnya yang akan memimpin kita jatuh ke dalam jerat Setan.


Langkah ketiga, yaitu Setan berkata kepada Hawa, “Allah berfirman bukankah semua pohon di dalam taman ini tidak boleh kamu makan buahnya?” Sekarang Setan minta kita fokus kepada larangan Tuhan dan bukan kepada kemerdekaan yang Tuhan berikan. Paulus melawan Injil yang palsu yang datang kepada jemaat Korintus. Tuhan Yesus mengatakan “My truth will set you free.” Itu Injil yang sejati. Injil yang sejati adalah hanya oleh anugerah saja, tidak ada campur tangan dari jasa manusia, tetapi semata-mata anugerah Tuhan. Tidak ada kesalehan manusia yang membuatnya beroleh keselamatan. Itu arti Injil. Tetapi sebagian intruder mengatakan jangan makan makanan tertentu, mesti ikuti cara ibadah dari Perjanjian Lama, mesti melakukan ini dan itu untuk menjadi orang Kristen yang baik. Setan berkata, “Bukankah semua pohon di dalam taman ini tidak boleh kamu makan buahnya?” Akibatnya Setan meminta Hawa hanya fokus kepada satu larangan Tuhan yang membuat dia lupa bahwa Tuhan memberi kebebasan yang berlimpah dalam hal yang lain. Adam dan Hawa boleh makan semua buah yang ada di dalam taman, menikmati semua buah yang ada di dalam taman, kecuali yang satu itu. Seharusnya itu membuat mereka bersyukur kepada Tuhan dan menikmatinya. Tetapi Setan membuat Hawa fokus kepada larangan yang satu itu. Akhirnya ini membuat kebebasan yang lain dianggap menjadi tidak ada indahnya.

Saudara melihat cermin, saudara kecewa kepada satu tahi lalat yang posisinya tidak bagus di wajahmu, akhirnya saudara kehilangan sukacita dan kecantikan diri. Sayang sekali, bukan? Saudara perhatikan itu, berapa banyak kita bisa dibawa kepada pencobaan pada waktu kita berada dalam kehidupan tidak fokus kepada berapa banyak berkat yang sudah Tuhan kasih, tetapi hanya fokus kepada satu larangan. Dan karena itu akhirnya kita menghancurkan semua yang ada. Akhirnya Setan membuat manusia berpikir bahwa Tuhan itu adalah a control freak, menjadi orang Kristen tidak boleh ini dan itu, dsb. Itu penipuan Setan. Kembali kepada apa yang Tuhan sudah katakan, everything you can enjoy and take as a blessing from God. Itu yang Paulus angkat di dalam 2 Tim.4:4, bagaimana Paulus merestorasi konsep PL sebelum jatuh ke dalam dosa, khususnya berkaitan dengan enjoyment terhadap apa saja yang Tuhan ciptakan. Semua enjoyment di dalam creation dipulihkan kembali setelah kebangkitan Yesus Kristus menghancurkan dosa dan membalikkan kita kembali kepada keadaan sebelum manusia jatuh ke dalam dosa. “Karena semua yang diciptakan Allah itu baik dan suatupun tidak ada yang haram jika diterima dengan ucapan syukur, sebab semuanya itu dikuduskan oleh firman Allah dan oleh doa.” Justru itulah kebebasan yang sejati. Allah menciptakan Adam dan Hawa, membawa mereka ke dalam aman Eden untuk bisa menikmati dengan syukur dan enjoyment dan sukacita bersama Tuhan. Semua boleh engkau makan, karena semua itu baik adanya. Kenapa buah yang satu itu tidak boleh dimakan? Karena itu merupakan bagian dari bagaimana engkau menikmati semua di dalam ketaatan kepada Tuhan. Di dalam mengikuti kebenaran-Ku, engkau akan menjadi orang Kristen yang bebas. Di dalam ketaatanmu kepada Tuhan, engkau tidak merasa diperbudak dan dikontrol habis oleh Tuhan. Engkau menjadi orang Kristen yang penuh dengan joy dan sukacita. Barangsiapa ikut Tuhan dan makin lama makin merasa Tuhan mengontrol hidup kita dan membuat kita kehilangan sukacita, itu adalah cara Setan mengelabui kita, ‘bukankah ikut Tuhan itu berarti tidak boleh makan semua? Bukankah ikut Tuhan itu membuatmu tidak bisa hidup dengan syukur dan memuji Tuhan?’ Ini cara yang ketiga, Setan pelan-pelan membawa manusia jatuh ke dalam pencobaan pada waktu kita hanya fokus kepada satu hal yang dilarang Tuhan dan kita lupa ratusan hal lain yang diberi dengan freely, diberi dengan sukacita kelimpahan dalam hidup kita. Cara yang keempat, dengan pertanyaan itu Setan membawa manusia meragukan motivasi dan kejujuran Tuhan. “Sebenarnya kalau engkau makan buah ini, matamu akan terbuka dan engkau akan menjadi sama seperti Tuhan” kata Setan. Artinya, Tuhan melarangmu makan sebab Tuhan tidak ingin engkau seperti dia. Berarti di balik dari larangan ini Tuhan memiliki maksud untuk melarang dengan motivasi mencegahmu menjadi lebih lengkap sebagai manusia. Manusia selalu akan gampang jatuh ke dalam pencobaan sampai kepada tangga keempat ini ketika kita ragu bahwa Tuhan itu baik dalam hidup kita, kita ragu motivasi Tuhan itu baik di dalam hidup kita. Setan bilang “tujuan Tuhan melarangmu supaya engkau dibatasi tidak mengerti potensimu sebagai manusia. Makan saja, expose yourself, menjadi seorang manusia yang bisa menikmati segala sesuatu, maka engkau baru tahu,” itulah tawaran Setan.

Seorang hamba Tuhan mengatakan kebahayaan besar yang masuk ke dalam gereja sekarang berkaitan dengan penipuan Setan ini adalah konsep dari Prosperity Theology dan Self-actualization di dalam gereja. Gereja tidak lagi mengajarkan konsep mengenai dosa, tetapi melulu “Be yourself.” Orang Kristen itu hidup berarti you mendapatkan sukacita dan kebebasan dan kemakmuran selama-lamanya dari Tuhan. Saya setuju dengan teguran keras ini. Konsep mengenai Self-actualization itu di belakangnya sebenarnya adalah konsep kebebasan manusia yang bersifat Libertanian.

Kereta api berjalan di atas rel, itu sebenarnya bebas atau terbatas? Bagi Libertanian, kereta api itu baru bebas sebebasnya kalau tidak ada force. Artinya saya mau berbuat seturut dengan apa yang saya mau, tidak ada yang boleh paksa, itu baru bebas yang sejati. Maka kereta yang berjalan di atas rel itu tidak bebas sebab dia dibatasi oleh dua rel. Maka dia baru bebas kalau tidak ada rel itu dan dia bisa jalan kemana saja yang dia mau. Buat saya itu bukan bebas, tapi merusak. Libertanian punya konsep seperti itu, yaitu Tuhan kalau kasih izin boleh makan semua, tetapi ada batasannya, itu bukan kebebasan yang sejati. Kebebasan yang sejati tidak boleh ada aturan dan tekanan yang menyuruh saya. Saya bebas sesuai dengan apa yang saya mau. Maka konsep ini muncul, “Makan saja, sebab waktu engkau makan, matamu akan terbuka...” Libertanian konsep membuat orang Kristen berpikir Tuhan tidak boleh campur tangan, saya mau melakukan apa saja seturut dengan yang saya mau.

Saya ingin mengajak saudara melihat perbedaan konsep kebebasan dari Libertanian dengan konsep yang diajarkan oleh Reformed Theology, bahwa kebebasan yang kita terima adalah kebebasan yang punya compatibility. Kebebasan kompatibilitas adalah kebebasan yang bukan saja saya bebas, tetapi saya bebas seturut dengan kompatibilitas, dengan kemampuan dan keinginan yang compatible dengan kebebasan saudara. Itu namanya bebas. Sebab kalau saudara bebas tetapi tidak punya compatibility dengan kemampuan, itu bukan bebas.

Contoh, saudara bebas untuk terjun dari lantai tingkat 10. Tetapi apakah itu namanya kebebasan? Bukan, sebab tidak ada compatibility-nya. Tidak sesuai dengan kemampuan, keinginan, dan kemauan di situ. Manusia bebas, tetapi tidak boleh bebas melawan Tuhan karena kebebasan kita adalah kebebasan di dalam ketaatan kepada Tuhan. Sebab kita dicipta oleh Tuhan, hidup kita diberi awal oleh-Nya, itu sebab Dia berhak untuk memberi prinsip dan aturan. Itu sebab Yesus berkata, “My truth will set you free.” Itu namanya kebebasan yang compatible.

Film Kungfu Panda memberi contoh bagus mengenai hal ini. The Master bilang kepada Po, “You free to eat this dumpling.” Tetapi waktu Po mau ambil, gurunya menghalangi. Po bilang, “You said I’m free to eat.” Benar, engkau bebas untuk makan, tetapi apakah engkau punya ability untuk ambil?

Dosa tidak merubah kebebasan manusia. Kebebasan itu tetap sama, sebelum jatuh dalam dosa dan sesudah jatuh dalam dosa. Tetapi dosa merusak keinginan, motivasi manusia. Sehingga di dalam Reformed Theology dikatakan dosa tidak merusak freedom manusia, dosa merusak ability manusia. Manusia punya freedom to obey God dan compatibility-nya sesuai dengan desire yang Tuhan tanam di dalam diri manusia, manusia punya keinginan untuk mengasihi Tuhan. Tetapi dosa menyebabkan freedom itu tetap ada, tetapi desire yang ada bukan lagi desire untuk obey kepada Tuhan melainkan desire untuk melawan Tuhan. Sehingga manusia berdosa still free to do good, tetapi manusia sudah kehilangan desire to do good. Manusia sudah kehilangan ability to do good. Dosa membuat hati manusia lari menjauh dari Tuhan. Meragukan motivasi dan kejujuran Tuhan untuk membuat manusia menjadi lebih utuh mengasihi Tuhan dengan menaati Dia, akibatnya maka jatuhlah manusia ke dalam pencobaan. Kita menolak semua yang benar dari Tuhan, itulah dosa.

Paulus bilang, kita tahu cara Setan bekerja. Setan bisa memberikan penipuan di dalam pengajaran, melalui penipuan itu Setan membuat engkau dan saya hanya fokus kepada hal yang dilarang oleh Tuhan dan kita lupa anugerah dan berkat Dia yang berkelimpahan di dalam hidup kita. Sehingga membuat saudara menjadi ragu apakah Tuhan itu betul-betul baik di dalam hidup saudara, apakah betul firman-Nya jujur atau tidak. Manusia berpikir semua yang Tuhan katakan itu hal yang tidak benar.

Melalui firman Tuhan ini saya mengajak saudara untuk waspada, seperti yang Paulus katakan, Setan bisa outwit, Setan bisa manuver, jangan kita tidak mengerti taktik dia. Dan mari kita belajar pada waktu dia memberikan penipuan dan godaan seperti ini, biarlah firman Tuhan menjadi pegangan bagi kita.(kz)




Sumber:
http://www.griisydney.org/ringkasan-khotbah/2008/2008/07/13/cara-setan-memperdaya-manusia/