23 June 2008

Bagian 3

Manusia: Peta Teladan Allah-3


Sekali manusia lahir, ia tidak bisa musnah. Ia akan tetap ada, entah akan mati kekal atau hidup kekal. Hal ini menjadikan manusia unik dan sekaligus sangat berharga. Manusia tidak boleh sembarangan hidup. Ia tidak boleh mempermainkan kesempatan yang ada.


Imago Dei (peta dan teladan Allah) merupakan tema yang banyak dibahas di Abad Pertengahan. Bonaventura (1221-1274), Thomas Aquinas (1225-1274), Alexander of Hales (1170-1245), Peter Abelard (1079-1142), dan Bernard of Clairvaux (1090-1153) di abad ke-12 dan ke-13 banyak membicarakan tema ini. Baru kira-kira 250 tahun kemudian, John Calvin (1509-1564), Martin Luther (1483-1546), Theodore Beza (1519-1605), Johann Heinrich Bullinger (1504-1575), dan Philipp Melanchthon (1497-1560) di masa Reformasi mengulas kembali tema yang sangat penting ini.

Siapakah manusia? Manusia adalah makhluk yang dicipta menurut peta dan teladan Allah. Ia menjadi wakil Tuhan di mana kemuliaan, keagungan, dan kebijaksanaan Tuhan dinyatakan. Mulai dari pernyataan penciptaan manusia, ketritunggalan Allah telah dibukakan. Manusia terdiri dari tubuh materi dan Tuhan menghembuskan nafas rohani ke dalam diri manusia, sehingga manusia terdiri dari dua unsur, yaitu tubuh dan jiwa (roh). Allah adalah Roh, dan manusia memiliki unsur rohani, sehingga manusia bisa memiliki pengertian rohani. Di sini roh manusia berbeda sifat dari roh binatang. Di dalam Pengkhotbah 3:21 dikatakan: “Siapakah yang mengetahui, apakah nafas (roh) manusia naik ke atas dan nafas (roh) binatang turun ke bawah bumi.” Di sini kita melihat perbedaan roh manusia dan roh binatang. Konsep Alkitab ini banyak tidak dimengerti dan banyak orang Kristen mengatakan bahwa manusia punya roh, sedangkan binatang tidak mempunyai roh. Ini pandangan yang salah.

Dan kini kita masuk ke dalam esensi tema kita, yaitu apa sebenarnya yang dimaksud dengan “Manusia dicipta menurut peta dan teladan Allah”?
Pertama, Allah berpribadi, maka manusia berpribadi. Karena memiliki roh, maka dia merupakan satu person. Persone (Yun.), pribadi (Ind.) berarti satu oknum. “Oknum” itu mempunyai keunikan tersendiri, yaitu (1) mempunyai sifat kekekalan, (2) mempunyai eksistensi yang tidak berhenti keberadaannya, dan (3) mempunyai kesadaran tentang keberadaan diri sendiri. Manusia sebagai manusia sadar bahwa dia ada. Tetapi anjing hanya sadar diri dalam kaitan kebutuhan hidupnya saja. Anjing memiliki pengetahuan anjing, memiliki perasaan anjing, dan memiliki kemauan anjing. Tapi semua itu hanya berkaitan dengan kebutuhan jasmaniahnya saja. Manusia tidak demikian. Manusia akan memikirkan, merasakan, dan menginginkan hal-hal hingga kekekalan. Manusia bisa menghitung jarak bumi ke matahari sejauh 150 juta km, atau kecepatan cahaya yang 300 ribu km per detik. Tidak ada binatang yang bisa mengukur seperti ini. Emosi manusia jauh lebih mendalam dan penuh pengertian. Ini tidak dimiliki oleh binatang. Binatang tidak bisa mendefinisikan kasih. Manusia itu begitu rumit dan kebenaran itu begitu mendalam (man is so complicated and truth is so profound). Kebenaran begitu mendalam sampai kemampuan paradoks.

Kedua, Allah itu kekal, maka manusia berunsur kekekalan. Allah itu kekal adanya. Itu sebab Pengkhotbah 3:11 mengatakan, “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” Saya sangat senang dengan ayat ini. Allah itu sempurna, baik, dan pada waktunya. Dia dengan teliti dan lengkap menciptakan segala sesuatu pada waktu yang ditetapkan-Nya, sehingga setiap urutan itu memiliki arti tersendiri. Orang yang tidak mengerti urutan dan signifikansinya selalu membanggakan siapa yang terlebih dahulu. Yang lebih dahulu selalu merasa harus lebih dihormati. Tetapi kucing ada lebih dahulu dari manusia, apakah itu berarti manusia harus hormat pada kucing? Sering orang yang masuk sekolah lebih dahulu merasa lebih penting. Di gereja juga demikian, yang menjadi majelis lebih dahulu, menghina orang yang baru menjadi majelis. Yang senior menghina yang junior. Kalau diurutkan secara penciptaan, maka manusia yang paling junior, karena dicipta terakhir. Jika diukur dari teori evolusi, menurut konsep survival of the fittest (yang kuat yang menang), maka kecoa adalah binatang yang konon diduga paling kuat dan tidak bisa dipunahkan. Manusia adalah “binatang yang paling lemah”. Kecoa memiliki daya tahan hidup yang luar biasa, sementara manusia tidak. Jerapah mempunyai tubuh yang tinggi dan kuat. Bayi jerapah dilahirkan oleh ibunya sambil berdiri. Maka bayi itu jatuh sebentar ke tanah, lalu sepuluh menit kemudian sudah bangun dan mulai berlari. Bayi manusia, jika dilahirkan ibunya sambil berdiri, pasti mati. Lalu bayi manusia membutuhkan hampir 12 bulan untuk bisa berlari. Sungguh, manusia adalah makhluk yang paling lambat berdikari. Aesop mengatakan, lambat tidak apa-apa seperti kura-kura, asalkan jangan tertidur seperti kelinci. Manusia dicipta terakhir, tetapi manusia memiliki unsur kekekalan, karena ia dicipta menurut peta dan teladan Allah. Allah menciptakan segala sesuatu dengan indah, dan sempurna pada waktunya.

Ada dua jenis urutan di dalam Alkitab yang harus kita pelajari. Ada urutan di mana hal yang paling penting diletakkan di depan dan yang paling tidak penting di belakang. Misalnya karunia Roh Kudus. Ada karunia hikmat, pengetahuan, juga karunia mengatur dan memerintah, lalu yang terakhir sekali, karunia lidah atau menafsir bahasa lidah. Orang yang penting itu misalnya rasul, nabi, pengabar injil, gembala, pengajar, lalu sesudah itu yang bisa menyembuhkan orang sakit, dan seterusnya. Makin lama makin tidak penting dan yang paling tidak penting adalah karunia lidah. Ini urutan signifikansi yang menurun. Pertama rasul, kedua nabi, ketiga guru, sesudah itu yang bisa menyembuhkan, dan akhirnya memerintah. Itu sebabnya, majelis bukan yang paling penting, majelis tempatnya di bawah yang memerintah. Rasul lebih penting, penginjil lebih penting, gembala lebih penting. Anda yang menjadi tua-tua atau majelis, jangan sombong karena di dalam urutan karunia Anda di posisi yang rendah. Itu alasannya mengapa GRII mementingkan doktrin dulu, tidak mementingkan organisasi. Ini semua prinsip Alkitab.

Allah menciptakan Adam dan Hawa dengan peta teladan, dicipta urutannya terakhir tetapi berbeda dengan urutan di atas. Di sini justru yang terakhir yang terpenting. Tuhan menciptakan tikus, ikan, beruang, gajah, sapi, anjing, babi semua terlebih dahulu, baru terakhir Tuhan menciptakan manusia. Manusia dicipta terakhir, tetapi manusia paling penting. Inilah yang dinyatakan: “Tuhan menciptakan segala sesuatu indah pada waktunya.” Ini adalah theology of time. Banyak orang tidak melihat ini. Pengkhotbah 3:11 dalam versi KJV ada satu pengertian yang sama sekali lain. Di situ dikatakan: “He put the world into human heart.” Ia meletakkan dunia di dalam hati manusia. Allah tidak menciptakan dunia di dalam hati manusia, tetapi Allah menciptakan kekekalan yang ke dalam hati manusia. Ini aspek kedua dari peta dan teladan Allah.

Kekekalan menjadikan manusia tidak habis walaupun sudah mati. Sekali manusia lahir, ia tidak bisa musnah. Ia akan tetap ada, entah akan mati kekal atau hidup kekal. Hal ini menjadikan manusia unik dan sekaligus sangat berharga. Manusia tidak boleh sembarangan hidup. Ia tidak boleh mempermainkan kesempatan yang ada. Manusia satu waktu kelak harus berhadapan dengan Allah dan bertanggung jawab di hadapan-Nya. Waktu akan menjadi penguji yang paling kejam, tetapi sekaligus saksi yang paling setia.

Kekekalan menjadikan manusia harus melihat ke masa kini, masa lampau, dan masa depan. Kekekalan menjadikan manusia menyadari adanya proses menggeser hidupnya. Di sini manusia memiliki kesadaran sejarah dan bisa mempelajari sejarah. Sejarah memungkinkan kita menengok ke belakang dan belajar apa yang telah dikerjakan oleh orang-orang lain maupun diri kita sendiri di masa lampau. Lalu dari situ kita menatap ke depan dengan penuh pengharapan.

Dalam kaitan dengan waktu dan sejarah, manusia hanya bisa dibagi tiga macam: pewaris sejarah, pembelajar sejarah, dan pencipta sejarah.
1. Orang yang mewarisi sejarah. Orang seperti ini adalah orang yang hanya mengikuti apa yang sudah diturunkan dari nenek moyang. Di Palestina ada orang Biduin, yang setiap generasi tidak pernah berubah karena hanya mengikuti tradisi nenek moyang. Lebih dari 3.000 tahun lamanya mereka tidak berubah, hidup berpindah-pindah, tidak memiliki kakus, hidup primitif sekali. Di Eropa ada sejenis orang seperti ini, yang disebut Gipsy. Mereka tidak mau sekolah, juga hidup berpindah-pindah, bersenang-senang, tidak mau belajar dan bekerja keras. Akhirnya mereka turun-temurun menjadi bodoh. Mereka tertinggal dari perkembangan pengetahuan dan budaya. Ketika mereka diberi kesempatan sekolah, mereka tidak bersyukur, tetapi menolak dan merasa nyaman hidup seperti itu. Ini adalah orang-orang yang hanya hidup mewarisi sejarah.

2. Orang yang mempelajari sejarah. Tipe kedua ini adalah orang yang belajar dari sejarah. Ia mempelajari apa yang terjadi di dalam sejarah. Georg Wilhelm Hegel, guru dari Karl Marx, mengatakan, “Pelajaran terbesar bagi manusia adalah manusia tidak mau belajar dari sejarah.” Manusia tidak bisa maju jika tidak mau belajar dari sejarah. Tumpukan sejarah memberi pengertian bagi kita untuk dapat mengoreksi diri melalui menghisap pengalaman orang lain. Barangsiapa yang mau belajar dari sejarah, ia akan menjadi orang yang sangat pandai.

3. Orang yang mengubah sejarah. Orang semacam ini adalah orang yang melakukan transformasi sejarah. Mereka menggugurkan sejarah lama dan membangun sejarah yang baru. Orang yang demikian sudah ditentukan menjadi orang-orang yang paling tersendiri, seperti Socrates, Beethoven, atau Johann Sebastian Bach. Orang macam ini adalah orang yang menerima sejarah dan akhirnya melampaui sejarah. Dia menggugurkan sejarah dan sejarah selanjutnya mengikuti dia. Mengapa bisa demikian? Karena manusia memiliki kekekalan. Engkau dicipta menurut peta teladan Allah. Memiliki sifat peta dan teladan Allah adalah hal yang sangat besar, sehingga kita harus berhati-hati di dalamnya. Amin.

Roma 8:35-39: PENGHARAPAN ANAK-ANAK ALLAH-5: Lebih dari Pemenang Melalui Iman-2

Seri Eksposisi Surat Roma:
Menjadi Manusia Baru-5


Pengharapan Anak-anak Allah-5:
Lebih dari Pemenang Melalui Iman-2


oleh: Denny Teguh Sutandio


Nats: Roma 8:35-39.

Setelah mempelajari tentang pengajaran Paulus tentang bentuk pertama dari segala sesuatu yang dikaruniakan Allah bagi kita bersama-sama dengan Kristus, yaitu pembenaran (ayat 33), maka sekarang kita akan merenungkan bagian kedua, yaitu menjadi warga Kerajaan Surga bersama-sama dengan Kristus di ayat 35 s/d 39.

Setelah dibenarkan melalui anugerah Allah di dalam Kristus, kita dijadikannya warga Kerajaan Surga bersama-sama dengan Kristus, sehingga “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?” (ayat 35) Dengan menjadi warga Kerajaan Surga bersama-sama dengan Kristus, kita tidak akan dipisahkan dari kasih Kristus. Pertanyaan di ayat 35 sebenarnya merupakan pertanyaan retoris yang tidak memerlukan jawaban, karena pembaca diharapkan dapat memberikan jawaban atas pertanyaan di ayat 35 melalui pengertian yang didapatkan dari ayat 34 dan ayat-ayat sebelumnya. “Siapakah yang akan memisahkan” menggunakan keterangan masa depan (future) yang berarti pada saat kita dibenarkan melalui iman di dalam karya Kristus yang menjadi Perantara (ayat 34 LAI menerjemahkan : “Pembela”, arti bahasa Yunani : memohonkan―memakai bentuk present), pada saat yang sama dan berlanjut untuk selama-lamanya, kita tidak akan lagi dipisahkan dari kasih Kristus. Ini adalah bentuk pemeliharaan Allah di dalam hidup dan keselamatan kita. Berbeda dari Arminian yang menekankan keselamatan yang merupakan joint venture antara Allah dan manusia, sehingga keselamatan seorang percaya sungguh-sungguh bisa hilang karena orang tersebut murtad, maka theologia Reformed yang ketat berdasarkan ayat ini dengan jelas mengajarkan bahwa keselamatan umat pilihan-Nya TIDAK mungkin bisa hilang, mengapa ? Jelas, Paulus mengemukakan alasannya yaitu karena Allah telah memilih, menentukan, memanggil, membenarkan dan memuliakan kita pada waktunya dengan kasih dan kedaulatan-Nya (ayat 29-30). Kedua, Allah yang sama juga telah membenarkan kita melalui Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus, sehingga tidak ada yang bisa memisahkan kita dari kasih Kristus. Kalau Arminian “benar”, maka ayat ini seharusnya berbunyi, “Ada yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus.” Tetapi puji Tuhan, Arminian dalam hal ini salah total, dan Alkitab lah yang benar. Lalu, apa yang mungkin akan memisahkan kita dari kasih Kristus (tetapi itu tidak mungkin) ?
Pertama, penindasan. Dalam bahasa Yunani, kata ini adalah thlipsis berarti pressure (tekanan). Hampir semua Alkitab terjemahan Inggris (King James Version/KJV, New King James Version/NKJV, American Standard Version/ASV, Geneva Bible, English Standard Version/ESV) menerjemahkannya tribulation yang berarti kesengsaraan atau penderitaan, tetapi Alkitab versi International Standard Version (ISV) menerjemahkannya trouble atau masalah. Kalau kita melihat konteksnya, kita dapat merasakan bahwa Paulus sangat mengerti kondisi jemaat Roma yang mengalami penindasan, khususnya dari pihak Kaisar yang mewajibkan warganya untuk menyembah Kaisar sebagai “Tuhan”. Dari konteks inilah, maka Paulus mengajar jemaat Roma bahwa ketika kita dibenarkan melalui iman di dalam Kristus, pada saat yang sama dan selama-lamanya, kita tidak akan dipisahkan dari kasih Kristus meskipun harus menghadapi penindasan atau kesengsaraan. Di kala penindasan atau kesengsaraan, Paulus mengajar jemaat Roma untuk mengarahkan mata hatinya kepada Kristus sebagai satu-satunya Sumber Pengharapan, sehingga mereka mampu menghadapi penindasan itu dengan penuh iman, pengharapan dan kasih yang tertuju kepada Kristus. Bagaimana dengan kita ? Ketika menghadapi penderitaan sedikit saja, kita sudah bersungut-sungut terhadap Tuhan, “mengapa ini terjadi ?”, dll. Ini membuktikan kita masih memiliki iman yang kanak-kanak (childish faith). Tetapi melalui bagian ini, Paulus mengingatkan kita bahwa meskipun kita harus menanggung aniaya/penderitaan (memang yang seharusnya kita tanggung karena mengikut Kristus : Matius 16:24), maka kita harus menanggungnya dengan pengharapan dan iman yang pasti bahwa penderitaan ini tidak akan sebanding dengan kemuliaan yang akan kita peroleh (Roma 8:18). Inilah iman Kristen yang dewasa yang tahu resiko akan harusnya menderita bagi Kristus, tetapi di sisi lain tetap beriman dan berharap penuh pada janji-Nya yang selalu menyertai dan menguatkan kita.
Kedua, kesesakan. Dalam bahasa Yunani, kata ini adalah stenochōria berarti kesengsaraan atau kesedihan atau bencana atau kesusahan. New International Version (NIV) menerjemahkannya hardship (penderitaan/kesengsaraan). Seringkali bukan hanya penderitaan yang harus ditanggung, jemaat Roma pun juga menanggung kesusahan yang mendalam, entah itu diejek oleh orang-orang Roma yang atheis, pemerintah Roma, dll karena mereka menjadi Kristen. Mereka dihimpit begitu rupa sehingga mungkin beberapa di antara mereka (tentu bukan umat pilihan-Nya) yang tidak tahan akan menyangkal imannya. Di dalam kondisi ini, Paulus kembali mengingatkan bahwa kasih Kristus tidak akan melepaskan dan meninggalkan kita begitu saja, tetapi kasih-Nya memampukan kita meskipun kita harus mengalami kesusahan dan tekanan hidup yang sangat berat. Dialah satu-satunya Sumber Hidup yang patut disembah, dipuji, diagungkan dan dijadikan pedoman dan standar hidup.
Ketiga, penganiayaan. Ini adalah tahap yang lebih parah dari dua tahap sebelumnya, karena setelah menerima penderitaan dan kesesakan, jemaat Roma juga mengalami penganiayaan, ada yang dibunuh, dibakar hidup-hidup, dll. Penganiayaan ini lebih bersifat fisik. Di dalam kondisi yang lebih tertekan lagi, Paulus kembali mengingatkan bahwa meskipun harus mati sekalipun demi Kristus, percayalah, kita akan dibangkitkan dan dimuliakan bersama-sama dengan-Nya. Hal ini sesuai dengan sabda Tuhan Yesus sendiri di dalam Matius 5:10, “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” Mungkin di dunia, mereka ditolak dan harus menderita karena kebenaran, tetapi di Surga, mereka TIDAK akan mungkin ditolak, karena di Surga, Allah menerima mereka dan mereka dimuliakan bersama-sama dengan Kristus. Penderitaan, kesesakan hidup dan yang lebih parah, penganiayaan tidak seharusnya membuat kita terlena, tetapi bangkit dan beriman di dalam Kristus.
Keempat, kelaparan dan ketelanjangan. Bukan hanya masalah fisik yang disiksa, mungkin kita juga mengalami kelaparan atau perut kita kosong atau kekurangan makanan dan kekurangan pakaian. Paulus kembali mengingatkan kita bahwa Kristus lah Roti Hidup yang sanggup mengeyangkan kita dengan berkat-berkat rohani yang bernilai kekekalan ketimbang roti jasmani yang sesaat sifatnya. Kasih Kristus membuat kita yang mungkin kelihatan miskin dan tak berdaya di mata manusia, tetapi di mata Allah, kita begitu berharga. Tetapi hal ini tidak berarti kita harus melarat, miskin, dll. TIDAK. Itu semua tergantung pada kedaulatan Allah atas hidup kita yang berdaulat memberikan kekayaan dan sanggup juga membiarkan kita miskin.
Kelima, bahaya dan pedang. Kata “pedang” di sini secara figuratif dapat diterjemahkan sebagai perang. Bahaya bisa meliputi bahaya yang mengancam hidup, misalnya kapal kandas, tenggelam, dll. Melalui semuanya itu, kita seringkali takut, gentar, dan putus asa. Tetapi, sekali lagi, Paulus mengingatkan kita bahwa tidak ada yang bisa memisahkan kita dari kasih Kristus meskipun ada marabahaya dan perang sekalipun. Bagaimana dengan kita ? Konflik Israel dan Palestina, Irak dan Iran, bahaya yang mengancam hidup kita terus mencengkeram dan menghimpit hidup kita, seakan-akan tidak ada damai sejahtera, tetapi percayalah, Allah yang Berdaulat akan memberikan damai sejahtera bagi umat-Nya ketika tidak ada damai sejahtera, supaya kita yang telah merasakan damai sejahtera Allah dapat menyalurkannya kepada mereka yang membutuhkan damai sejahtera dengan memberitakan Injil Kristus. Meskipun tetap harus melewati bayang-bayang maut, Tuhan akan Kekuatan kita dan Sumber Damai Sejahtera kita, sehingga kita tidak akan goyah dan juga kita harus mewujudnyatakan damai sejahtera itu kepada mereka yang membutuhkan.

Uniknya, meskipun tidak ada yang bisa memisahkan kita dari kasih Kristus (penderitaan, kesesakan, penganiayaan, dll), tetapi kita tidak berarti lepas dari segala kesulitan, melainkan harus melewatinya. Hal ini lah yang diajarkan di dalam ayat 36 yang mengutip Mazmur 44:23, “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan.” Pemazmur menyanyikan hal ini dengan suatu iman dan pengharapan bahwa hanya karena Allah saja, umat-Nya ada dalam bahaya maut. Mazmur 44 secara unik menjelaskan hal ini. Pasal ini dapat saya bagi menjadi 2 poin, yaitu, pertama, ayat 1 s/d 9 yang mengisahkan kebesaran, keagungan dan kedaulatan Allah yang memimpin bangsa Israel serta pujian ini berakhir di ayat 9, dan kedua, ayat 10 s/d 27, Allah yang juga mendisiplin umat-Nya dengan berbagai penderitaan, kesesakan, dll, meskipun demikian umat-Nya tetap beriman di dalam Allah (ayat 18 s/d 22). Inilah pengharapan iman umat Israel dan juga kita sebagai umat pilihan-Nya. Di sini jelas dikatakan bahwa meskipun kasih Kristus tidak pernah meninggalkan kita, tidak berarti kita dibiarkannya menjadi anak Allah yang manja, hidup serba instan, hidup sukses, lancar, tanpa sakit penyakit, dll, tetapi Allah mengizinkan berbagai penderitaan, kesesakan, bahaya, dll mengancam hidup umat-Nya, supaya melalui itu semua, iman mereka dimurnikan. Yang lebih unik lagi, penderitaan, kesesakan, bahaya maut, dll langsung dikaitkan dengan pernyataan, “Oleh karena Engkau”. Hal ini menunjukkan bahwa Allahlah yang mengizinkan semuanya terjadi. Tuhan Yesus sendiri mengajar kita bahwa barangsiapa yang mengikut-Nya harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut-Nya (Matius 16:24) serta barangsiapa yang tidak mau menyangkal diri dan memikul salib, orang itu tidak layak bagi-Nya (Matius 10:38). Rasul Petrus mengajarkan hal serupa, “Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung.” (1 Petrus 2:19) Bagi Petrus, penderitaan sejati adalah penderitaan yang ditanggung dengan kesadaran bahwa itu terjadi atas kehendak Allah. Kembali, kata “kehendak Allah” disebutkan. Hal ini berarti kalau kita menderita bukan atas kehendak Allah, misalnya karena kesalahan kita sendiri yang teledor, maka jangan bersukacita atas penderitaan itu, tetapi bertobatlah. Yakobus juga menjelaskan hal serupa, “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun. Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah,…” (Yakobus 1:2-5a) Yakobus mengajarkan bahwa jika kita jatuh ke dalam berbagai pencobaan, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan (arti bahasa Yunani : sukacita). Mengapa ? Karena pencobaan (atau bisa diterjemahkan godaan) yang diizinkan Tuhan itu menghasilkan ketekunan (arti Yunaninya : ketahanan) dan ketekunan/ketahanan itu menghasilkan buah yang matang (arti Yunaninya : perwujudan yang sempurna ; ASV, Geneva Bible, KJV dan NKJV menerjemahkannya perfect work/karya yang sempurna), supaya kita menjadi sempurna dan utuh serta tidak ada sesuatupun yang kurang/tertinggal. Di dalam pengujian dari Tuhan (bisa melalui iblis yang menggoda), kita bukan hanya diperintahkan untuk menganggapnya sebagai suatu sukacita, tetapi juga kita harus membutuhkan hikmat Allah untuk menanganinya. Inilah uniknya Yakobus 1:5a yang langsung terkait erat dengan ayat 2 s/d 4. Dengan kata lain, Allah yang mengizinkan kita melewati bayang-bayang maut, Ia pulalah yang akan memimpin dan menuntun kita di dalam bayang-bayang maut melalui hikmat-Nya untuk memuliakan-Nya. Bagaimana dengan kita ? Banyak orang Kristen gemar mengeluh ketika harus menderita, melarat, dll, mereka menganggapnya itu kutukan dari iblis yang harus di“tengking” dan dilepaskan (pemulihan atas resesi ekonomi). Benarkah itu ? Apakah setiap penderitaan pasti dari iblis ? BELUM TENTU ! Penderitaan bisa dipakai Allah untuk menguji umat-Nya. Ketika kita mungkin melarat, gagal dalam usaha kita, introspeksi diri kita apakah kita memang yang salah, teledor, dll, atau sebenarnya ada ujian Allah bagi kita supaya kita HANYA menTuhankan Kristus, bukan harta kita. Ingatlah ! Setiap hidup kita harus berserah total kepada-Nya dan menTuhankan Kristus, sehingga meskipun harus menghadapi marabahaya, kita tetap kuat dan tidak goyah, bukan karena kehebatan kita, tetapi karena kuasa dan anugerah Allah.

Lalu, apakah kita yang harus menghadapi segala marabahaya, nantinya akan kalah dan tidak berpengharapan ? TIDAK ! Ayat 37 menjelaskannya bagi kita, “Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.” Meskipun harus menghadapi marabahaya, kita tidak ditentukan untuk kalah, tetapi MENANG ! Bahkan Alkitab kita menyatakan bahwa kita lebih dari orang-orang yang menang atau terjemahan Yunaninya berarti kita beroleh kemenangan mutlak atau kita mampu menaklukkan semuanya itu. Inilah janji Allah bagi umat-Nya. Kita bukan lemah, kalah, dll oleh karena pencobaan dan ujian, tetapi kita mampu menaklukkan semuanya itu dan menjadi lebih dari pemenang oleh iman. Mengapa ? Karena iman kita ditujukan bukan pada penderitaan, tetapi kepada Kristus yang telah menang. Karena Kristus telah menang atas kuasa dosa, iblis dan maut melalui kebangkitan-Nya, maka Ia menjamin kemenangan umat pilihan-Nya untuk menaklukkan segala penderitaan untuk memuliakan-Nya. Karena Kristus yang telah bangkit dan menang mengalahkan kuasa dosa, iblis, dan maut serta memberikan kemenangan itu bagi umat-Nya, kita tidak perlu sombong, tetapi kita harus terus-menerus bersyukur atas anugerah dan kasih-Nya. Inilah yang ditegaskan Paulus di dalam pernyataannya kemudian, “oleh Dia yang telah mengasihi kita.” Dengan kata lain, tanpa kasih Kristus, kita tak mungkin bisa menang mengalahkan iblis, dosa, maut, dll. Tanpa Kristus, kita pasti terus-menerus menjadi budak dosa yang mengilahkan dosa. Tetapi puji Tuhan, melalui dan di dalam Kristus, kita menjadi lebih dari pemenang atau memperoleh kemenangan mutlak melawan kuasa dosa, iblis dan maut. Perlu diingat, kemenangan kita bukan kemenangan yang tidak mau melihat masalah/penderitaan, tetapi kemenangan yang TELAH MELEWATI masalah/penderitaan melalui kasih dan anugerah-Nya di dalam Kristus. Kemenangan yang tidak mau menghadapi penderitaan adalah kemenangan palsu yang merupakan tipuan iblis, tetapi kemenangan yang mau menghadapi dan berhasil menaklukkan penderitaan, itulah kemenangan yang Kristus kerjakan di dalam kita, karena Kristus bangkit BUKAN tanpa melalui kematian, tetapi melalui kematian, Ia telah menaklukkan kematian itu di dalam kebangkitan-Nya. Sehingga, tidak heran, Rasul Paulus di dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus berani mengatakan, “Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?" Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.” (1 Korintus 15:55-57) Kemenangan Kristus mengakibatkan dosa, iblis dan maut tidak memiliki kuasa yang membelenggu kita dan kita dilepaskan dari ketiga kuasa tersebut. Meskipun demikian, kita masih bisa berdosa, oleh karena itu, kita harus terus-menerus mengalahkan dosa dan godaan iblis dengan mata hati tertuju HANYA kepada Kristus.

Bagaimana mengarahkan mata hati kita tertuju HANYA kepada Kristus ? Inilah yang disimpulkan Paulus di dalam pembahasannya di ayat 38-39, “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Bahasa Yunani menerjemahkan “aku yakin” dengan “aku diyakinkan”. Ini artinya Paulus diyakinkan melalui kebangkitan Kristus bahwa baik maut maupun hidup (aspek fisik), malaikat maupun pemerintah baik yang ada sekarang maupun yang akan datang (aspek penguasa), kuasa-kuasa baik yang ada di atas maupun yang di bawah atau sesuatu makhluk lain (aspek supranatural) tidak mampu memisahkan umat-Nya dari kasih Allah di dalam Kristus Yesus, Tuhan. Hal ini berarti baik kematian mencengkeram hidup kita, pemerintah yang mungkin melarang kita menyembah Allah di dalam Kristus atau iblis (dan para kroninya) yang gemar menggoda umat Allah, itu semua tidak mampu memisahkan umat-Nya dari kasih Allah. Dengan kata lain, umat pilihan-Nya tidak mungkin akan berkompromi dengan segala macam tipu daya setan. Alkitab dan sejarah gereja menjadi teladan bagi kehidupan Kristen kita tentang hal ini. Rasul Paulus tidak takut ketika ia harus dianiaya, dicambuk, dll, mengapa ? Karena ia tahu bahwa mengikut Kristus harus menderita dan penderitaan itu bernilai kekekalan, karena melalui penderitaan itu, mata hati kita terus menuju HANYA kepada Kristus. Polycarphus, murid Rasul Yohanes siap mati karena dia tidak mau mengkompromikan iman Kristennya kepada Raja/Kaisar waktu itu. Mengapa Polycarphus melakukan hal ini ? Dunia akan menghina dia sebagai orang “bodoh”, karena dia tak mau berkompromi. Tetapi di mata Allah, apa yang dianggap bodoh bagi dunia, itulah hikmat dan hal yang tertinggi. Di mata Allah, penderitaan yang diizinkan-Nya membuat umat-Nya tidak berfokus kepada kesenangan dunia (lalu terlena karenanya), tetapi berfokus hanya kepada Kristus. Bagaimana dengan kita ? Jangankan disuruh mati, banyak orang “Kristen” postmodern disodori hal-hal dari iblis (seperti MLM, training motivasi sukses-nya Andrie Wongso, membaca buku-buku Robert T. Kiyosaki, dll) saja sudah tergiur, bagaimana mau mati bagi Kristus ? Kita harus menyadari hal ini. Iman Kristen kita khususnya di zaman postmodern hampir luntur. Sudah seharusnya, sebagai umat pilihan-Nya yang sungguh-sungguh, kita TIDAK lagi akan tergiur oleh bujuk rayu iblis, tetapi hidup kita harus menTuhankan Kristus dengan tidak mempedulikan untung rugi, hidup mati, senang susah, dan sehat sakit. Biarlah teladan Polycarphus ini menyadarkan kita agar kita sebagai orang Kristen menTuhankan Kristus di dalam hidup kita dan siap mati bagi-Nya jika diperlukan.

Banyak pemimpin “gereja” mengajarkan bahwa kita sebagai anak-anak Raja tidak akan mengalami kesusahan, penderitaan, bahkan tidak pernah digigit nyamuk, tetapi melalui perenungan kita akan 5 ayat ini mengajarkan bahwa penderitaan, kesesakan, dll harus kita alami sebagai pengikut-Nya, dan percayalah dengan iman, semua penderitaan itu pasti dapat kita taklukkan dan menang oleh karena kasih dan kuasa Allah di dalam kebangkitan Kristus Yesus yang menjamin dan menjadikan kita lebih dari pemenang dalam hidup yang gelap di dunia ini. Orang-orang dunia pasti meraba-raba di dalam dunia postmodern yang gelap ini, tetapi puji Tuhan, umat pilihan-Nya di dalam Kristus TIDAK pernah meraba-raba atau kuatir, karena Kristus menjamin hidup dan keselamatan mereka sampai akhir. Amin. Soli Deo Gloria.

Matius 10:16-22: WASPADALAH!

Ringkasan Khotbah: 13 Nopember 2005

Waspadalah !
oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.
Nats: Mat. 10:16-22


Latar Belakang
Tuhan Yesus menyatakan bahwa posisi orang Kristen di tengah dunia ini adalah seperti domba di tengah serigala. Secara logika, sangatlah mustahil seekor domba, binatang yang lemah dapat hidup ketika ia berada di tengah-tengah serigala namun ternyata tidaklah demikian. Tuhan mengajarkan meski kita berada di tengah-tengah serigala, kita harus cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati dan justru inilah yang menjadi kekuatan kita. Memang, secara sepintas kekuatan ini tidak terlihat namun fakta membuktikan bahwa si domba itu tidak mati. Perhatikan, cerdik dan tulus ini tidak boleh dipisahkan. Cerdik tanpa disertai dengan ketulusan akan menjadikannya seorang yang licik yang pandai menipu. Namun ingat, sepandai-pandainya orang menipu, suatu hari nanti ia pasti akan kena tipu juga. Sebaliknya ketulusan tanpa disertai dengan kecerdikan maka orang itu dapatlah dikatakan seorang yang bodoh karena ia akan menjadi korban orang lain. Di tengah dunia ini kita akan berhadapan dengan banyak lawan yang siap menerkam karena itu, kita perlu perhatikan beberapa aspek:
Pertama, orang Kristen harus memandang dunia secara realistis, utuh dan menyeluruh. Cara Tuhan mengutus para murid ini sangatlah unik – para murid tidak diperkenankan membawa bekal berupa apapun juga namun itu bukan berarti Tuhan tidak peduli. Tidak! Tuhan memberikan kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan kelemahan (Mat. 10:1). Para murid juga diberikan kuasa lain, yaitu apabila orang yang kepadanya kamu datangi tidak mendengarkan perkataanmu maka rumah itu mendapat kutuk sebaliknya apabila ia menerima kabar Injil maka rumah itu akan mendapatkan berkat. Kuasa yang diberikan Tuhan ini sangatlah luar biasa tapi ingat, janganlah lupa diri karena di dunia ini, musuh kita sangatlah banyak. Dunia akan membenci setiap orang yang menjadi pengikut Tuhan. Ingat, Tuhan tidak pernah berjanji bahwa anak Tuhan tidak akan pernah menderita. Tidak! Orang Kristen akan dianiaya, disesah dan hidup menderita, kita seperti domba di tengah-tengah serigala. Inilah kondisi dunia kita, itulah sebabnya Tuhan ingin supaya kita melihat dunia ini secara realistis, utuh dan menyeluruh. Sangatlah disayangkan, hari ini banyak orang Kristen hanya melihat satu sisi realita dunia yang positif saja dan menutup-nutupi bagian lain yang negatif. Maka tidaklah heran ketika orang mengalami penderitaan, sakit penyakit, dan lain-lain, orang mulai marah dan menyalahkan Tuhan. Ingat, Tuhan tidak pernah janji orang yang hidup dan berjalan bersama Dia hidupnya akan selalu nikmat. Tidak! Tuhan janjikan hidup kuat, jalan dipimpin Dia dan disitulah justru kita akan mendapatkan kebahagiaan yang sejati.
Kedua, orang Kristen ketika melakukan segala sesuatu haruslah dilakukan dengan motivasi murni. Sejak awal Tuhan Yesus telah membukakan pada dunia tentang hal yang positif dan negatif ketika kita menjadi murid-Nya. Tuhan tidak pernah mengiming-imingi kita dengan segala tawaran yang manis dan palsu. Hendaklah kita peka dan cermat akan segala macam tipu muslihat iblis yang mencoba menipu dan mengiming-imingi kita dengan segala tawaran manis tapi justru berakhir dengan kebinasaan. Kita harus berhati-hati terhadap orang yang menawarkan sesuatu pada kita tetapi hanya menunjukkan hal yang positif saja, ia hanya seorang penipu. Betapa bodohnya kita kalau kita bisa kena tipu, padahal sudah jelas-jelas kalau ia sedang menipu kita. Itu disebabkan karena kita tidak cerdik dan tulus. Berbeda halnya kalau kita cerdik dan tulus maka kita tidak akan mudah kena tipu. Seorang penipu tidak akan peka ketika ada orang lain yang menipu dirinya karena ia terbiasa menipu. Hendaklah kita meneladani Tuhan Yesus yang telah mengimplikasikan kecerdikan dan ketulusan secara bersamaan. Jadi, barangsiapa mau kembali kepada kebenaran Firman dan hidup dalam kebenaran maka ia akan peka sebab Firman itu menjadi dasar baginya untuk melakukan verifikasi atau pengujian ketika melakukan segala sesuatu. Hal inilah yang Tuhan inginkan ada dalam diri setiap anak Tuhan, meski kita domba yang lemah tapi kita cerdik dan tulus dengan demikian kita tidak mudah masuk dalam jebakan dan tipuan.
Setelah kita memahami aspek tersebut di atas maka kita juga Tuhan ingin kita lebih tajam menggumulkan beberapa hal:
I. Dunia yang Berdosa
Dunia sudah jatuh dalam dosa maka semua tindakan dan pemikiran yang dilakukan manusia mengandung unsur dosa. Dahulu, kita juga berasal dari dunia berdosa, kita adalah manusia berdosa tetapi Tuhan telah memanggil kita dari dunia berdosa dan menjadikan diri kita sebagai ciptaan yang baru. Dan kini, Tuhan mengutus kita untuk kembali di tengah-tengah dunia berdosa maka disini kita mendapati ada suatu kesenjangan. Dunia adalah dunia berdosa namun ironisnya, dunia tidak mau mengakui kalau dunia adalah dunia berdosa. Dunia selalu menggunakan standar ganda dan standar yang digunakan ini tidaklah sah. Dunia mengatakan bahwa dirinya tidaklah jahat tetapi orang lainlah yang jahat. Adalah sifat manusia berdosa yang selalu ingin menghancurkan orang lain, orang tidak peduli kalau dirinya telah membuat orang lain susah; manusia selalu berpikir licik dan egois.
Di dunia berdosa yang licik dan penuh dengan kejahatan ini, tidak ada satu pun tempat yang dapat membuat kita merasa aman dan nyaman – setiap saat ancaman bahaya itu selalu muncul. Kemana pun kita pergi maka kita akan bertemu serigala-serigala yang selalu siap menerkam. Realita dunia berdosa yang rusak ini justru tidak diakui oleh dunia. Dunia selalu mengatakan bahwa dunia ini adalah dunia yang indah dan nyaman namun semua keindahan dan kenyamanan tersebut tidak lebih hanya sebuah fatamorgana yang semu. Pada akhirnya, manusia menyadari realita dunia yang tidak pernah memberikan kebahagiaan sejati maka muncullah satu pertanyaan yang menjadi problem of evil, yakni: kalau memang benar Tuhan itu ada lalu kenapa ada sakit dan penderitaan? Pertanyaan ini muncul sebab manusia sudah jatuh dalam dosa. Problem of evil ini menjadi pergunjingan sengit di kalangan dunia filsafat metafisika sehingga menimbulkan theodecy.
Manusia tidak menyadari kalau sesungguhnya, sengsara, sakit penyakit dan penderitaan yang ada di dunia ini adalah akibat dari ulah manusia itu sendiri. Manusialah yang merusak alam maka jangan salahkan Tuhan kalau akhir-akhir ini timbul berbagai bencana alam yang menelan banyak korban jiwa, dan masih banyak lagi ulah manusia berdosa. Orang sulit menerima fakta dunia berdosa yang penuh dengan penderitaan ini. Pertanyaannya sekarang adalah kalau Tuhan tidak ada apakah dunia akan menjadi lebih baik? Kalau semua manusia di dunia ini hidup benar dan suci maka problem of evil itu pasti tidak akan ada. Ingat, Tuhan tidak dapat dipermainkan sebab suatu hari kelak Tuhan akan menyatakan keadilan-Nya dan hal itu membuktikan kalau Tuhan itu ada. Tuhan telah memanggil kita untuk kembali pada kebenaran Tuhan dan Dia mengutus kita kembali ke dunia berdosa. Karena itu, waspadalah akan segala macam tipu muslihat iblis. Kita harus cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati dengan demikian kita dapat dipakai menjadi saksi bagi Tuhan.
II. Kekuatan Pembeda (Discerning Power)
Anak Tuhan yang sejati harus selalu waspada sebab orang yang mempunyai kewaspadaan tinggi maka ia mempunyai kemampuan membedakan antara kebenaran dan kepalsuan. Perhatikan, orang yang waspada berbeda dengan orang yang paranoid. Ciri-ciri orang yang paranoid selalu melihat orang lain sebagai musuh yang membahayakan dan merugikan hidupnya maka orang yang paranoid akan selalu merasa ketakutan. Tuhan tidak mengajar anak-anak-Nya menjadi orang yang paranoid tetapi orang yang selalu waspada. Seorang yang waspada bukan seorang yang pasif. Tidak! Sebaliknya orang yang waspada adalah orang yang aktif mengerjakan berbagai hal yang positif namun meski demikian ia tidak kehilangan kepekaan, ia akan langsung peka ketika ada hal-hal yang tidak benar. Kekuatan dan kepekaan membedakan inilah yang harus dimiliki oleh setiap anak Tuhan yang sejati dengan demikian kita tidak mudah diombang-ambingkan dunia dan dibawa ke dalam situasi yang bias.
Di dunia modern ini ada empat hal yang perlu untuk kita waspadai: 1) benar-benar benar; 2) benar-benar tidak benar; 3) tidak benar-benar benar; 4) tidak benar-benar tidak benar. Setiap manusia di dunia harus kembali pada kebenaran yang sejati, yaitu yang benar-benar benar. Alangkah bodohnya manusia sudah tahu sesuatu itu benar-benar tidak benar tapi masih kejeblos di dalamnya. Ini menunjukkan alert system yang dimilikinya sudah mati dan yang mematikan alert system atau sistem kewaspadaan ini sesungguhnya adalah diri sendiri, yakni: pertama, ketika pertama kali kita memberikan peluang pada dosa itu masuk dan menganggap dosa sebagai hal yang biasa. Kewaspadaan kita sedikit demi sedikit akan hilang dan pelan namun pasti hati nurani kita pun akan mati. Seorang anak Tuhan sejati harus berani mengatakan kebenaran adalah kebenaran dan dosa adalah dosa. Hati-hati sekali saja kita berkompromi dengan dosa maka itulah titik kehancuran kita, kedua, manusia adalah manusia yang serakah, ketika manusia sudah mempunyai nafsu yang didorong dengan semangat ingin mencari keuntungan diri sendiri maka saat itulah ia lupa segalanya sehingga tanpa berpikir panjang lagi segala hal yang ditawarkan padanya akan diterimanya. Itulah saat kehancurannya. Gambaran manusia yang serakah ini adalah seperti seekor monyet yang tangannya terjebak dalam tempurung kelapa karena serakah ingin mendapatkan buah kelapa. Hati-hati iblis tahu sifat manusia yang serakah ini karena itu hendaklah kita selalu waspada jangan masuk dalam jebakannya.
Untuk hal yang tidak benar-benar benar kita juga perlu waspada karena sepintas sepertinya benar tapi sesungguhnya tidak benar. Kepekaan ini tidak dapat terjadi secara otomatis tetapi kepekaan ini akan kita peroleh kalau kita berpaut dengan Tuhan, yaitu dengan membaca Firman Tuhan. Sangatlah disayangkan, hari ini banyak orang Kristen tidak dapat lagi membedakan mana yang benar dan mana yang salah hal ini disebabkan karena di satu sisi orang mau mengikut Tuhan tapi masih mempunyai konsep dunia dan gereja Tuhan tidak lagi mewartakan berita Kebenaran sejati. Sebagai anak Tuhan sejati, hendaklah kita bertekad belajar Firman dengan demikian kita tidak mudah dibodohi oleh dunia.
Di antara keempat hal tersebut yang paling membahayakan adalah tidak benar-benar tidak benar. Prinsip perhitungan: – x – = + tidak dapat dikenakan pada prinsip: tidak benar x tidak benar = benar. Salah! Orang berpendapat bahwa segala sesuatu yang belum terbukti salah, janganlah dipandang sebagai suatu kesalahan. Setuju! Tetapi ketika kita menganggap sesuatu yang belum terbukti salah tersebut sebagai kebenaran maka itupun merupakan suatu kesalahan fatal. Perhatikan, tidak benar-benar tidak benar bukan berarti sudah benar; dan tidak terbukti salah itupun bukan berarti sudah benar. Kita harus waspada akan konsep ini sebab dunia akan membawa kita masuk dalam konsep tidak benar-benar tidak benar. Karena itu, kita harus kembali kepada kebenaran sejati, yaitu yang benar-benar benar dengan demikian kita tidak mudah dipermainkan dunia dan orang dapat hidup suci.
III. Bahaya Posisi Pengkhianat
Dalam terjemahan bahasa Indonesia, Mat. 10:18 ini kurang jelas untuk dipahami. Terjemahan yang tepat adalah kamu akan digiring ke muka penguasa-penguasa (penguasa kota atau penguasa wilayah) dan raja-raja (penguasa yang lebih tinggi) supaya kamu membawa kesaksian untuk melawan Aku. Perhatikan, sejak awal Tuhan Yesus telah memperingatkan bahwa orang Kristen akan dibawa ke depan penguasa tetapi bukan sebagai orang yang berposisi di dalam Kristus. Tidak! Orang Kristen akan ditaruh dalam posisi sebagai saksi bagi orang kafir dan melawan Kristus. Posisi ini disebut sebagai posisi betraying. Di tengah dunia yang semakin kacau ini, posisi betraying, yakni suatu posisi yang memungkinkan kita menjadi seorang pengkhianat ini sangat terbuka lebar. Pada saat Tuhan Yesus mengatakan hal demikian ini, dua orang murid yang nantinya akan mengkhianati-Nya, yakni Yudas dan Petrus ada bersama-sama dengan Dia. Tuhan Yesus tahu bahwa suatu hari kelak mereka akan berada di posisi betraying ini dan mereka akan mengkhianati Dia.
Berbeda halnya kalau kita diadili karena tuduhan menjadi pengikut Kristus maka hal itu justru menjadi sukacita bagi kita. Celakanya, hari ini banyak orang Kristen karena alasan takut dimusuhi dan dibinasakan oleh dunia sehingga orang lebih memilih berada di posisi betraying dengan memilih menjadi pengkhianat dan melawan Kristus. Ironis, orang justru lebih takut berhadapan dengan dunia daripada berhadapan dengan murka Tuhan. Jangan pikir kalau kita ikut dunia maka kita akan aman. Tidak! Kita akan binasa sebab segala kenikmatan yang ditawarkan hanya bersifat semu belaka. Tuhan telah membukakan pada kita positif – negatifnya menjadi pengikut Kristus dan kini, keputusan ada di tangan kita mau mengikut Tuhan dengan resiko dibenci oleh dunia namun berakhir dengan hidup kekal ataukah mengikut dunia – mendapatkan kebahagiaan semu dan berakhir dengan kebinasaan kekal? Jangan takut pada segala sesuatu yang dapat membunuh tubuh tetapi tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka (Mat. 10:28). Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber:

16 June 2008

Bagian 2

Manusia: Peta Teladan Allah-2


Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. (Kej 1:26-27)

Kejadian 1:26-27 adalah satu-satunya tempat di dalam permulaan penciptaan yang membicarakan tentang manusia diciptakan menurut peta dan teladan Allah.

Apa Artinya Peta Teladan Allah?
Tidak ada ciptaan lain, yang kepadanya Tuhan menyatakan istilah penting ini. Mungkin kita bisa memikirkan malaikat mempunyai peta dan teladan Allah, tetapi itu tidak ditulis di dalam Kitab Suci, dan malaikat berada di dunia roh, berbeda dengan ciptaan di dalam dunia materi. Ketika Tuhan menciptakan langit dan bumi, di dalam dunia materi, segala sesuatu yang kelihatan, diakhiri dengan penciptaan manusia yang mempunyai peta dan teladan Allah. Manusia mempunyai peta teladan Allah, berati manusia mirip dengan Sang Penciptanya.
1. Sifat Rohani
Kemiripan ini dalam aspek yang bagaimana? Karena Tuhan itu Roh adanya, maka kita harus mengerti dari sifat rohaniah bukan sifat materi. Allah itu bukan materi, Allah itu Roh adanya. Kalimat yang paling penting ini dimunculkan di dalam Yohanes 4:24, “Allah itu Roh adanya, karena itu barangsiapa yang datang menyembah Dia, harus menyembah di dalam Roh dan kebenaran.” Pengertian ini bukan dinyatakan oleh nabi atau rasul, tetapi oleh Tuhan Yesus sendiri. Allah itu bukan materi dan tidak bersifat material, maka kita mengerti sifat peta teladan dari aspek rohaniah. Manusia dicipta dengan kemungkinan sifat rohani yang tidak ada pada makhluk yang lain.

2. Dikotomi dan Trikotomi
Kini kita perlu membedakan dahulu, pemikiran dikotomi dan trikotomi. Dikotomi berarti manusia terdiri dari unsur materi dan unsur rohani. Tubuh itu materi, dan jiwa itu bersifat rohani. Maka manusia mempunyai tubuh, manusia juga mempunyai jiwa. Tetapi ada ajaran yang lain, berdasarkan 1 Tes 5:23, roh, jiwa dan tubuh manusia. Manusia dicipta dengan unsur tubuh, unsur jiwa, dan unsur roh. Ketiga ini menjadi kombinasi seluruh manusia (trikotomi).
Apakah masing-masing mempunyai dasar Alkitab? Ya. Dikotomi mempunyai dasar Alkitab yang sangat jelas. Yakobus mengatakan, tubuh tanpa jiwa itu mati. Alkitab juga mengatakan, pada waktu Elia membangkitkan anak budak, maka jiwanya kembali kepada tubuhnya, dan anak itu hidup kembali. Dengan demikian unsur jiwa yang tidak kelihatan dan unsur tubuh yang kelihatan, merupakan dua unsur yang membentuk manusia. Inilah dasar Alkitab dikotomi. Sedangkan trikotomi mempunyai dasar Alkitab, “Biarlah engkau suci di dalam tubuhmu, di dalam jiwamu dan di dalam rohmu.” (1 Tes 5:23) Maka dari sini mereka menegaskan, seharusnya manusia dibentuk dari 3 bagian, yaitu roh, jiwa, dan tubuh.
Theologi Reformed menyetujui dikotomi, bukan trikotomi. Kenapa? Karena dukungan untuk pemikiran trikotomi hanyalah satu ayat. Di banyak ayat lain, istilah roh dan jiwa keluar, tetapi menggambarkan satu entity yang sama, yaitu bagian yang tidak kelihatan, sedangkan yang disebut tubuh materi ini adalah bagian yang kelihatan. Tubuh fisik adalah bagian yang di luar dan jiwa yang tidak kelihatan ada di dalamnya. Orang trikotomi mengatakan, binatang memiliki jiwa dan tubuh, tetapi tidak mempunyai roh, sedangkan manusia mempunyai jiwa, tubuh, dan roh. Maka jiwa dan tubuh ditambah dengan roh menjadi manusia, sedangkan jiwa dan tubuh adalah binatang biasa saja. Ajaran demikian tidak benar. Pada waktu Allah menciptakan manusia, Dia membentuk debu tanah dan menghembuskan nafas, dan menjadi manusia yang hidup, atau jiwa yang hidup atau roh yang hidup. Maka orang dikotomi berusaha menjelaskan hal ini, yaitu tubuh yang dibentuk ditambah dengan hembusan nafas ke dalam, dua unsur yang membentuk manusia yang hidup. Tetapi orang trikotomi mengatakan bahwa tubuh itu sudah dibentuk dan roh dihembuskan, kemudian timbullah dengan mendadak yaitu jiwa. Tubuh manusia diciptakan Tuhan dan roh itu dihembuskan, dan ketemu menghasilkan jiwa. Jikalau, jiwa adalah hasil kontaknya tubuh dan roh, bagaimana menjelaskan jiwa dari binatang-binatang? Binatang-binatang itu mempunyai jiwa, apakah itu hasil kontak roh dan tubuh, kemudian menjadi jiwa? Tidak ada ajaran Alkitab tentang hal itu. Karena itu Engkau harus percaya, Tuhan menciptakan jiwa untuk masuk ke dalam tubuh binatang-binatang itu, dan jiwa yang dimasukkan itu apakah hembusan nafas Tuhan sendiri?
Istilah “nafas” dari bahasa Indonesia berasal dari bahasa Ibrani “nephes” yang artinya sama dengan “roh.” Sesuatu hembusan dari Tuhan Allah disebut roh, yang dihembuskan ke dalam manusia. Maka kita mengetahui Allah menghembuskan roh ke dalam tubuh manusia, manusia menjadi makhluk yang hidup, orang yang berohani yang hidup, orang yang mempunyai jiwa yang hidup. Lalu apakah kita juga harus percaya Tuhan menghembuskan nafas ke dalamnya? Kalau Tuhan menghembuskan roh ke dalam tubuh binatang, lalu mendapatkan jiwa sebagai hasil kontak, dan menjadi binatang yang mempunyai jiwa, lalu rohnya kemana? Maka hal ini sama sekali tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Theologi Reformed mengatakan, ada jiwa manusia dan ada jiwa binatang, bedanya adalah jiwa manusia adalah jiwa yang mempunyai peta teladan Allah, sedangkan jiwa binatang tidak mempunyai peta teladan Allah. Allah hanya memberikan nyawa kepada dia, Allah hanya memberikan kehidupan yang sangat sederhana kepada binatang-binatang. Tetapi waktu Allah mencipta manusia, Tuhan memberikan peta teladan kepada manusia. Yang membedakan manusia dari binatang adalah bagian yang tidak kelihatan yang membuat manusia begitu berharga, begitu hormat, begitu mulia. Manusia mempunyai jiwa yang mempunyai peta teladan Allah.

3. Tiga Tingkat Manusia
Orang trikotomis memperkembangkan theologi mereka dan membagi manusia menjadi 3 golongan: manusia yang hidup dari kegiatan tubuhnya (sarkikos), manusia yang berdasarkan dari jiwanya (psikhikos), dan manusia yang hidup berdasarkan kegiatan rohaninya (pneumatikos). Mereka menganggap orang Kristen adalah orang yang di tengah, bukan yang tertinggi. Orang yang paling tinggi adalah pneumatikos, yaitu orang Gnostis. Karena orang Kristen hanya berdasarkan pada jiwa saja, bukan berdasarkan pada roh. Atau saya memakai istilah paksaan, orang badaniah, orang rohaniah, dan yang di tengah orang jiwaiah. Maka mereka mengalami kesulitan. Lalu orang yang di tengah ada apanya?
Watchman Nee, pada usia 36 tahun menulis 3 buku yang tebal, judulnya “Spiritual Man” (Orang Rohani). Di dalam tubuh kita ada tulang, ada darah, ada sel, ada daging, ada urat, ada organ-organ (mata, hidung, kuping, lidah, jantung, liver). Tetapi di dalam jiwa ada 3 unsur, yaitu rasio, emosi, dan kemauan.
Bagaimana dengan roh? Roh itu mempunyai apa? Jawabnya ada dua, pertama, roh itu mempunyai suatu perasaan hati nurani yang dikaitkan dengan naluri (daya dasar manusia), dan kedua, mempunyai perasaan agama yang datang kepada Tuhan. Di dalam roh mempunyai God-consciousness, di dalam jiwa mempunyai self-consciousness, dan di dalam tubuh mempunyai world-consciousness.

4. Kelemahan Trikotomi
Kesadaran mengenai dunia materi berada di dalam tubuh, kesadaran mengenai eksistensi diri berada di dalam jiwa, dan kesadaran mengenai eksistensi Allah berada di dalam roh. Ini tafsiran anthropologi orang trikotomi. Pikiran, emosi dan kemauan diletakkan di wilayah jiwa. Benarkah? Apakah roh tidak ada pengetahuan, tidak ada emosi, tidak ada kemauan? Apakah roh tidak mempunyai fungsi intelektualitas, tidak mempunyai fungsi benci-kasih? Allah itu roh atau jiwa? Jika Allah itu Roh, apakah Allah tidak memiliki intelektualitas, emosi, dan kemauan? Di sini Saudara langsung melihat kelemahan konsep trikotomi. Kalau roh itu hanya God-consciousness and moral-consciousness saja, di dalam jiwa manusia ada intelektual, bagaimana mengerti Allah yang adalah kebenaran, Allah tidak ada jiwa, hanya Roh saja? Maka jangan memisahkan secara paksa jiwa dan roh, menurut penguraian trikotomi.

5. Sifat Rohani
Allah adalah Roh, dan di dalam diri Allah ada kebenaran, ada kasih, ada kemauan, dan kehendak untuk melakukan segala perintah di dalam dunia. Intelek yang tertinggi ada pada Tuhan sendiri, emosi yang paling murni ada pada Tuhan sendiri, dan kehendak/perintah tertinggi ada pada Tuhan sendiri.
Di dalam Pengkhotbah 3:21 dikatakan: “Siapakah yang mengetahui, bahwa roh manusia menuju ke atas, dan roh binatang menuju ke bawah?” Ini pertama kali saya melihat Alkitab memakai kata “roh” (LAI: nafas) untuk binatang. Kalau binatang mempunyai roh dan manusia juga mempunyai roh, berarti tidak benar kalau kita mengatakan binatang tidak mempunyai roh, hanya jiwa saja. Karena Alkitab memakai istilah bahasa Ibrani ru’ach, yang berarti “roh.” Ayat ini membuktikan bahwa binatangpun mempunyai roh. Kalau demikian, apa bedanya roh binatang dan roh manusia? Yang disebut ru’ach di situ, adalah bagian yang tidak kelihatan.
Roh manusia dicipta menurut peta teladan Allah, maka roh manusia harus kembali kepada Allah, berdiri di hadapan Dia untuk bertanggung jawab. Sedangkan roh binatang masuk ke dalam tanah dan mereka akan musnah, karena mereka tidak mempunyai unsur kekekalan yang berelasi dengan Tuhan Allah. Binatang setelah mati selesai, tetapi tidak dengan manusia. Manusia dicipta menurut peta teladan Allah, sehingga roh kita harus kembali dan berdiri di hadapan hadirat Tuhan Allah.

6. Unsur ’Peta Teladan Allah’
Pengertian “peta teladan Allah” di sini mengandung beberapa unsur. Pertama, dia mempunyai sifat rohaniah yang mirip dengan Tuhan yang adalah Roh adanya, sehingga roh manusia mirip Tuhan Allah, dan roh binatang tidak. Kedua, roh manusia mempunyai suatu kesadaran yang sungguh-sungguh tentang eksistensi diri. Ketiga, roh yang berpeta teladan Allah mempunyai unsur kekekalan, yang tidak berhenti-henti keberadaannya.
Manusia memiliki kesadaran “aku” (keberadaan diri). Aku itu berbeda dari “aku” yang lain. Ini adalah kemampuan membedakan (discerning power). Kita memiliki kesadaran membela diri, kesadaran menjaga diri, sehingga berpikir dan melakukan banyak hal secara kompleks. Binatang hanya dikendalikan dua kebutuhan dasar, yaitu: makanan dan seks. Manusia sadar bahwa ia harus hidup menurut peta teladan Allah, maka ia harus hidup berbeda, harus menggali kesadaran diri dan apa yang dibutuhkan oleh eksistensi kekal tersebut. Semua sifat yang ada pada Tuhan Allah ada pada kita. Ini merupakan peneroboson di dalam penjelasan peta teladan Allah di sejarah Theologi Reformed. Satu-satunya ayat yang menjelaskan peta teladan Allah ada di Efesus 4:23-24, namun ini hanya menjadi dasar permulaan untuk kita mengerti bahwa kita adalah ciptaan menurut peta teladan Allah. Kiranya Tuhan memberkati kita.

Matius 10:16: DOMBA DI TENGAH-TENGAH SERIGALA

Ringkasan Khotbah : 16 Oktober 2005

Domba di Tengah-tengah Serigala
oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.
Nats: Mat. 10:16


Nats Alkitab yang baru kita baca ini oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) ditaruh pada bagian perikop yang baru namun lembaga Alkitab lain, yaitu New International Version (NIV), menaruh nats ini pada perikop sebelumnya. Hal ini menunjukkan kalau nats ini merupakan ayat jembatan sehingga bisa diletakkan di perikop baru atau perikop sebelumnya. Kita telah memahami kalau Tuhan Yesus memilih sendiri para murid dan memberikan jabatan rasul pada mereka maka hal itu janganlah menjadikan kita sombong karena merasa diri eksklusif. Ingat, kalau kita dipilih menjadi murid Tuhan maka itu merupakan suatu anugerah, sebab sesungguhnya kita tidaklah layak, memang siapakah kita manusia berdosa yang bodoh ini sehingga Tuhan berkenan memakai kita untuk turut ambil bagian dalam kerajaan-Nya? Biarlah dengan rendah hati kita tetap melayani Dia. Seorang yang mempunyai kedudukan tinggi sebagai rasul bukan berarti boleh bersantai ria dan tidak bekerja. Tidak! Tuhan Yesus langsung mengutus mereka untuk pergi karena kita telah memperolehnya dengan cuma-cuma maka kita pun harus memberi. Perhatikan, dalam hal ini cara Tuhan Yesus berbeda dengan dunia.
Dalam pengutusan itu, Tuhan tidak mengijinkan para murid membawa emas atau perak atau tembaga bahkan bekal, baju ataupun tongkat. Jabatan rasul justru tidak menjadikan mereka istimewa. Tuhan Yesus ingin mendidik mereka untuk selalu bersandar pada-Nya. Sangatlah disayangkan, hari ini banyak orang Kristen yang tidak mau dididik, orang menganggap didikan Tuhan yang keras itu justru sebagai hukuman. Banyak orang Kristen tidak mau hidupnya dilatih dengan keras oleh Tuhan maka tidaklah heran kalau pelayanan menjadi tempat bagi orang untuk memenuhi keegoisan dirinya; orang hanya mau melayani kalau ada jabatan atau kalau ada keuntungan saja. Salah! Didikan Tuhan itu justru karena Tuhan sayang, bagaimana mungkin buah zaitun dapat menghasilkan minyak kalau tidak diperas? Begitu pula dengan emas haruslah dipanaskan terlebih dahulu barulah nampak kemurniannya. Konsep ini telah disadari oleh Socrates sejak ribuan tahun lalu, hidup yang tidak teruji tidak layak untuk dihidupi. Tuhan ingin setiap kita memahami hal ini dengan demikian kita siap dipakai oleh Tuhan menjadi murid-Nya karena posisi seorang murid disini sangatlah sulit, yaitu seperti domba di tengah-tengah serigala.
1. Domba atau Serigala
Tuhan ingin kita tetap menjadi seekor domba meski ada di tengah-tengah serigala. Pertanyaannya adalah kita termasuk serigala atau domba? Biarlah hal ini menjadi evaluasi bagi diri kita, kita harus memilih salah satu diantaranya, tidak ada pilihan ketiga. Serigala dan domba ini mempunyai karakter yang berlawanan. Sifat manusia berdosa di tengah dunia ini layaknya seperti serigala yang licik dan Tuhan memilih kita seorang manusia berdosa diantara manusia berdosa lainnya untuk dipakai menjadi anak-Nya. Memang, dulu kita adalah manusia berdosa, kita adalah serigala tetapi ketika Tuhan pilih kita menjadi anak-Nya maka kita bukan direparasi tetapi kita dicipta baru, yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang (2Kor. 5:17). Serigala bukan domba dan domba bukan serigala maka tidaklah mungkin serigala berlaku seperti domba atau sebaliknya. Namun realita menunjukkan dunia ini sudah seperti serigala; pada hakekatnya manusia adalah serigala terhadap sesamanya. Maka tidaklah heran kalau konsep utilitarianisme berkembang pesat saat ini karena ajarannya mempunyai kesamaan sifat dengan manusia berdosa, yaitu semangat serigala, wolf spirit.
Konsep utilitarianisme ini pertama kali dipaparkan oleh Jeremy Bentham namun mendapat tentangan dari banyak pihak sehingga konsep ini tidak sempat berkembang. Teori ini dimunculkan kembali oleh James Mill; ia mendidik anaknya sedemikian rupa untuk menjadi seorang utilitarian sejati maka tidaklah heran kalau anaknya, John Stuart Mill menjadi tokoh utilitarian yang kita kenal sekarang. Utilitarianisme mengajarkan bahwa hidup di dunia, orang dihadapkan pada dua pilihan, yaitu memanfaatkan atau tidak membawa keuntungan bagi dirinya maka ia akan dibuang, seperti pepatah yang berbunyi: habis manis sepah dibuang. Inilah wajah dunia kita yang berdosa dan gejala seperti ini diangkat oleh seorang sosiolog menjadi sebuah issue, yaitu manusia itu serigala bagi sesamanya, homo homini lupus. Manusia dikatakan sebagai serigala karena sifat serigala itu sangatlah licik, yakni tidak berani menghadapi lawan dari depan. Tuhan Yesus tahu akan keadaan dunia yang demikian ini maka konsep homo homini lupus ini bukanlah hal yang baru lagi. Tuhan Yesus menegaskan orang Kristen tidak boleh menjadi serigala tapi anak Tuhan harus menjadi domba di tengah-tengah serigala. Hati-hati janganlah kita cepat mengadopsi pemikiran para filsuf dunia dan langsung menerapkannya di dalam seluruh aspek hidup kita tanpa kita melihat kehidupan pribadi dari sang tokoh karena pada umumnya, teori etika yang dipaparkan para filsuf ini sangatlah indah tetapi kehidupan si pencetus teori tersebut tidaklah seindah teorinya. Inilah manusia berdosa.
Sebagai orang Kristen, kita harus berbeda dengan dunia. Orang yang mengaku diri Kristen tetapi mempunyai karakter sama dengan dunia maka dia bukanlah orang Kristen. Orang Kristen sejati seharusnya ada perubahan konsep dalam dirinya kalau perubahan tingkah laku memang tidak dapat langsung berubah. Masih banyak orang Kristen yang jatuh dalam dosa tapi ada perbedaan yang mendasar antara orang Kristen sejati dan orang yang mengaku “Kristen“ ketika mereka sama-sama jatuh dalam dosa. Orang Kristen sejati pasti tidak mau sama dengan dunia maka ketika ia jatuh, ia akan mempunyai jiwa untuk mau bangkit dan bangkit, ia akan terus berjuang untuk menjadi seekor domba, untuk tidak menjadi serupa dengan dunia, ada perubahan hidup yang terus terjadi dalam hidupnya dengan demikian ia dipakai menjadi alat Tuhan. Berbeda halnya dengan orang yang mengaku diri “Kristen“ maka ia akan berkompromi dengan dosa. Tuhan tidak menuntut kita untuk langsung berubah ketika menjadi anak-Nya, tidak, perubahan tingkah laku itu tidak dapat terjadi secara langsung tetapi perubahan itu terjadi secara step by step, ada proses di dalamnya.

2. Kuasa Pemeliharaan Allah
Kalau menurut teori dunia, kalau seekor domba ditaruh ditengah-tengah serigala maka kemungkinan besar domba itu mati. Namun, ingat, konsep dunia berbeda dengan konsep Tuhan; seekor domba tidak akan mati meski ia ada di tengah-tengah serigala karena ternyata domba ini tidaklah sendirian, ada gembala yang selalu siap melindungi dan menjaga dia dimana gembala ini tidak kelihatan secara kasat mata. Pertanyaannya adalah sadarkah si domba ini kalau sang gembala selalu ada di dekatnya meski ia tidak kelihatan? Sebagai orang Kristen sejati, janganlah kita mau ditipu oleh segala macam ajaran dan mujizat yang mengajarkan bahwa anak Tuhan itu layaknya “superman“ yang dapat mengalahkan berbagai-bagai tantangan yang ada di dunia. Celakanya, ada orang yang berani menyatakan bahwa orang Kristen tidak akan mengalami celaka apalagi mengalami sakit penyakit karena orang Kristen mempunyai kekuatan dan kuasa yang berlebih. Konsep demikian inilah yang membuat orang Kristen justru tidak menjadi kuat dan mudah jatuh.
Tuhan tidak pernah menjanjikan orang Kristen hidupnya akan selalu nikmat dan tidak berkekurangan, tidak, Tuhan juga tidak janji bahwa orang Kristen tidak akan pernah mengalami kesusahan, tidak! Ironisnya, ketika orang mengalami kesulitan kita justru menyalahkan Tuhan dan menganggap Tuhan yang jahat. Tuhan justru menaruh kita di tengah-tengah dunia berdosa yang penuh dengan bahaya ini seperti domba di tengah-tengah serigala namun percayalah, Tuhan Yesus Sang Gembala yang Agung itu tidak akan membiarkan kita mati dicengkeram oleh serigala sebab Tuhan tahu sampai dimana batasan kekuatan kita. Seperti halnya Ayub, Tuhan tahu sampai dimana batas kekuatannya, Tuhan mengijinkan iblis menguji imannya namun Tuhan tidak mengijinkan iblis untuk menjatuhkan imannya apalagi mengambil nyawanya karena nyawa manusia adalah milik kepunyaan Tuhan. Maka jelaslah, hidup kita akan kuat karena berada di bawah kuasa pemeliharaan Tuhan tetapi dipihak lain, kita menyadari bahwa sesungguhnya hidup kita sangatlah lemah maka ini menjadi suatu paradoks namun justru di dalam kelemahanlah kita menjadi kuat. Konsep ini sukar dimengerti oleh dunia. Tuhan Yesus melarang para murid – tidak membawa uang seperser pun bahkan bekal karena Tuhan Yesus hendak mengajarkan pada mereka bahwa sesungguhnya manusia bukanlah siapa-siapa, hidup manusia sangat lemah dan bergantung mutlak pada Tuhan. Karena itu, janganlah menyandarkan diri pada hal-hal materi yang sifatnya duniawi tetapi hendaklah kita bersandar pada Tuhan Sang Pemilik dan yang menciptakan dunia ini.

3. Pandangan dan Ketertarikan
Ketika kita berada di dalam kelemahan, Tuhan mengajarkan pada kita untuk mengarahkan pandangan kita pada Tuhan Yesus Sang Gembala Agung, janganlah kita memandang pada serigala karena arah pandangan itu justru akan membuat kita terjatuh. Hati-hati, dunia ini semakin hari tidak menjadi semakin baik justru semakin rusak, banyak serigala yang siap menerkam sehingga kalau kita tidak hati-hati kita akan terjatuh karena itu, ketika kita berjalan janganlah menengok ke arah serigala supaya kita tidak terjatuh. Janganlah kita terjerat dalam berbagai macam ajaran iblis yang menyesatkan yang mengatakan bahwa dunia ini khususnya Indonesia akan menjadi makmur dan jaya. Tidak! Firman Tuhan menegaskan bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar; manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang (2Tim. 3:1-7). Manusia melihat suatu realita bahwa dunia ini semakin hancur, kita tahu realita kalau ada serigala di hadapan kita namun kita tidak binasa karena kita tahu tangan Tuhan selalu melindungi kita sehingga kita tidak menjadi hancur. Tuhan mengutus untuk kita pergi dan menjadi saksi bagi-Nya hingga ke seluruh dunia dan Tuhan janji, Ia akan beserta senantiasa sampai kepada akhir jaman (Mat. 28:19-20). Hendaklah kita terus menyadari bahwa kita tidak lebih hanyalah seekor domba yang lemah yang diutus di tengah-tengah serigala namun di dalam kelemahan itu, kita mempunyai Tuhan Sang Gembala Agung yang tidak pernah membiarkan kita sendiri. Kita mungkin ada dalam lembah kekelaman, kita berada dalam bayang-bayang maut, kita akan menghadapi bahaya namun gada Tuhan dan tongkat Tuhan itu akan menjadi kekuatan dan penghiburan bagi kita.

4. Cerdik dan Tulus
Memang, orang Kristen tidak lebih hanyalah seekor domba lemah tapi lemah bukan berarti bodoh sehingga mudah dipermainkan. Tidak! Tuhan ingin kita mempunyai pemikiran yang cerdik seperti ular dan perilaku yang tulus seperti merpati. Menurut teks aslinya, istilah “cerdik seperti ular“ disini tidak berkonotasi negatif tetapi ular merupakan gambaran dari seseorang yang mempunyai ketajaman cara pikir sehingga segala keputusan dan tindakan yang diambil tepat. Cerdik dari bahasa aslinya, prominos yang berarti orang yang mempunyai pengertian total dan mempunyai data lengkap dimana semua aspek kemungkinan yang terjadi telah diperhitungkan lalu dapat mengambil keputusan yang jitu pada saat yang dibutuhkan tersebut. Sebagai seorang Kristen sejati janganlah kita mudah dipengaruhi oleh berbagai macam arus dunia tetapi hendaklah kita dapat melihat gejala dunia dengan tajam dengan demikian kita tidak terhempas dan akhirnya tenggelam. Seperti halnya seorang yang terjebak dalam pusaran air maka satu-satunya cara supaya ia dapat selamat adalah harus ada orang lain yang berada di luar pusaran air yang menyelamatkannya sebab dia dapat melihat dimana pusat pusaran dengan demikian ia tahu harus bertindak apa dan dirinya pun tidak ikut masuk dalam pusaran.
Bukanlah hal yang mudah dan sederhana bagi seseorang untuk dapat mengambil keputusan secara tepat dan hal ini tidak dapat terjadi secara instan tapi ada proses belajar dan pergumulan terlebih dahulu barulah dapat diambil suatu keputusan tepat. Janganlah kita mau segala sesuatu dengan cara instan dan menggampang-kan segala sesuatu. Seahli-ahlinya kita berenang kalau kita berada dalam pusaran air dan kita tidak pernah belajar bagaimana mengatasinya maka kita pasti akan terseret arus dan akhirnya mati. Kita tahu permainan dunia maka jangan sekali-kali kita mencoba masuk di dalamnya kalau tidak mau terseret dalam pusaran dunia. Cerdik beda dengan licik. Orang yang licik memakai kecerdikan untuk sifat negatif karena itu, Tuhan menegaskan kita harus cerdik dan tulus, artinya mempunyai motivasi bersih ketika melakukan segala sesuatu. Inilah sifat kebenaran sejati, yaitu tujuan, motivasi dan hasil akhir mengarah pada satu titik dan tidak meleset dari tujuan semula. Sebaliknya dosa (dari kata hamartia) berarti melakukan sesuatu tetapi tujuan selalu meleset dari tujuan semula. Dunia sangatlah licik, katanya tujuan memberi namun sesungguhnya adalah memancing untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar, motivasi yang tidak tulus ini dapat kita lihat pada sikapnya ketika kita tidak membalas kebaikannya pasti ia akan marah. Tuhan ingin ketika kita mengerjakan sesuatu dengan hati yang murni dan tulus. Ingat, Tuhan tahu isi hati kita dan suatu saat nanti Tuhan akan menghukum kita. Sebagai anak Tuhan sejati, kita harus mempunyai hati yang tulus maka Tuhan akan berkenan dan kita dapat menjadi berkat bagi dunia. Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber:

Roma 8:31-34: PENGHARAPAN ANAK-ANAK ALLAH-4: Lebih dari Pemenang Melalui Iman-1

Seri Eksposisi Surat Roma :
Menjadi Manusia Baru-5


Pengharapan Anak-anak Allah-4:
Lebih dari Pemenang Melalui Iman-1

oleh: Denny Teguh Sutandio


Nats: Roma 8:31-34.

Setelah mempelajari tentang pengajaran Paulus tentang pengharapan ketiga anak-anak Allah yaitu tentang status mereka sebagai umat pilihan-Nya dan janji-janji-Nya yang mereka peroleh, maka kita akan merenungkan dampak dari adanya pengharapan ketiga anak-anak Allah ini pada janji-Nya yaitu kita sebagai anak-anak-Nya lebih dari pemenang melawan segala ujian dan pencobaan melalui iman yang dianugerahkan Allah.

Pada ayat 28 s/d 30, kita telah merenungkan lima hal berkaitan dengan predestinasi (pemilihan Allah), dan pada saat ini kita akan merenungkan empat ayat tentang dampak dari pemilihan Allah yang merupakan bentuk providensia (pemeliharaan)-Nya ini.
Dengan jelas, Paulus merangkumkan ketiga ayat di atasnya hanya dalam satu ayat yaitu ayat 31, “Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” English Standard Version (ESV) menerjemahkannya, “What then shall we say to these things? If God is for us, who can be against us?” Allah yang telah memilih dan menentukan kita, lalu Dia juga yang memanggil, membenarkan dan memuliakan kita, maka Dia juga lah yang akan menjaga dan memelihara hidup kita setiap hari, sehingga sangatlah tepat ketika Paulus mengatakan bahwa semuanya itu menandakan bahwa Allah di pihak kita (atau terjemahan yang tepat : “Allah berada/ada bagi kita,”) ESV, ISV, dan NIV semuanya menerjemahkan, “God is for us,...” Kata is di dalam bahasa Inggris menunjukkan sebuah Present Tense, artinya itu bukan hanya berlaku sekarang, tetapi juga dahulu, sekarang, dan selama-lamanya. Present Tense misalnya : One plus one is two (1 + 1 = 2). Kata is berarti dari dahulu, sekarang, sampai selama-lamanya, 1 + 1 = 2, berbeda, jika is diganti dengan was (bentuk lampau) atau will be (bentuk akan datang). Kembali, ketika Paulus mengatakan bahwa Allah ada bagi kita, itu berarti dari dahulu, sekarang dan selama-lamanya, Ia bersama-sama dengan kita dengan memimpin hidup kita. Inilah bentuk pemeliharaan-Nya sekaligus menunjukkan finalitas keKristenan. Semua filsafat dan agama dunia apapun tidak ada yang mengajarkan bahwa yang Kekal dapat menguasai dan memimpin yang sementara, karena mereka TIDAK mungkin pernah bisa menghubungkan being dan becoming yang tidak terpecahkan pertama kali oleh filsafat Yunani. Filsafat Yunani mengajarkan bahwa being berarti hal yang TIDAK dapat berubah, sedangkan konsep becoming berarti hal yang bisa berubah. Konsep being diajarkan oleh Parmenides dan becoming diajarkan oleh Heraclitus. Plato mengajarkan bahwa dunia idelah yang benar, sedangkan dunia realita adalah bayang-bayang dunia ide, sehingga hidup manusia haruslah bertarak/menyiksa diri. Sedangkan Aristoteles, murid Plato, mengajarkan bahwa dunia realitalah yang benar, sehingga marilah kita menikmati dunia realita dan tidak mempedulikan dunia ide. Filsuf Immanuel Kant mendikotomikan kedua hal ini, di mana antara dunia ide (nomena) dan realita (fenomena) tidak ada hubungannya. Immanuel Kant mempengaruhi beberapa orang “Kristen” yang mendualismekan antara iman dan ilmu di dalam zaman postmodern ini. Semua filsafat dan agama dunia stagnan dan tidak mungkin bisa menyelesaikan problematika filsafat Yunani, tetapi puji Tuhan, melalui wahyu khusus Allah di dalam Kristus dan Alkitab, sebagai umat pilihan-Nya, kita mampu menghubungkan kedua hal ini. Bapa Gereja Augustinus yang pertama kali menghubungkan antara dunia being dan becoming dengan mengajarkan bahwa Bapa itu being, Roh Kudus itu becoming, dan Kristus menjadi perantara antara keduanya. Meskipun ilustrasi ini kurang begitu tepat, tetapi setidaknya, kita mendapatkan gambaran bahwa keKristenan melampaui semua filsafat dan agama dunia yang palsu yang tidak mampu menyelesaikan problematika filsafat Yunani tersebut. Kembali ke tema, di dalam ayat 31 ini saja, kita mendapatkan gambaran bahwa Allah yang adalah Being ada bagi kita yang becoming. Hal ini tidak berarti Allah mengorbankan natur-Nya, atau manusia tiba-tiba menjadi “allah”. Kedua konsep ini salah. Lalu, apa artinya ? Artinya, Allah yang tidak berubah tidak pernah mengubah natur-Nya, tetapi mengubah hubungan-Nya dengan manusia. Dengan kata lain, ini berarti Allah menuntun jalan hidup manusia menuju kehendak-Nya yang berdaulat. Inilah pimpinan Allah di dalam hidup kita. Hal ini akan kita pelajari di ayat-ayat berikutnya. Lalu, Allah yang ada bagi kita mengakibatkan tidak ada yang sanggup melawan kita, mengapa ? Karena Allah sendiri yang berperang bagi kita. Ini berarti tidak ada musuh Kristen yang sanggup menghancurkan keKristenan sejati, karena ada Allah di balik keKristenan. Ketika orang-orang dari agama mayoritas di Indonesia mencoba menghina Alkitab, Kristus, keKristenan, dll (tetapi memuja agama dan “kitab suci” mereka sendiri), keKristenan tidak perlu membalas mereka, karena Alkitab sendiri mengajarkan bahwa Pembalasan adalah hak Allah. Sekali lagi, ini bukti pemeliharaan Allah dan keadilan Allah bagi umat-Nya. Saya pernah mendapatkan sebuah cerita e-mail dari teman saya bahwa sebelum bencana tsunami di Aceh, orang-orang Kristen yang mengadakan suatu kebaktian di wilayah tersebut diusir oleh masyarakat, sehingga akhirnya orang-orang Kristen beribadah di dataran tinggi, tetapi beberapa saat kemudian, tsunami menyapu Aceh dan akhirnya mereka menyadari kesalahan mereka karena telah mengusir orang-orang Kristen. Benarlah apa yang Paulus katakan bahwa jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita ? Dunia bisa membakar gereja, menganiaya pendeta, dll, tetapi mereka tak akan sanggup melenyapkan keKristenan, karena Allah ada bagi kita yang telah dipilih-Nya dari semula. Haleluya.

Mengapa kita bisa memiliki pengharapan iman tersebut ? Di ayat 32, Paulus menjelaskan alasannya, “Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” Jawabannya adalah karena pertama, Allah telah mengaruniakan anugerah keselamatan bagi kita di dalam Kristus. Ini berarti Allah yang ada bagi kita adalah Allah yang telah menyediakan keselamatan bagi kita sebagai umat pilihan-Nya di dalam Kristus. Ingat, kata “kita semua” TIDAK menunjuk kepada semua orang berdosa, karena surat ini ditulis Paulus kepada jemaat Tuhan di Roma, sehingga “kita semua” menunjuk HANYA kepada umat pilihan-Nya di dalam Kristus. Kedua, karena Kristus yang telah dikaruniakan Bapa bagi kita, maka kita juga dikaruniakan segala sesuatu bersama-sama dengan Kristus. Alasan kedua ini didasarkan pada alasan pertama. Ini berarti ada tahap kedua pada saat keselamatan yang tidak bisa dipisahkan, yaitu adanya berkat rohani pada saat kita diselamatkan. Dengan kata lain, pada saat kita diselamatkan, kita juga menerima pembenaran dari Allah, hidup baru melalui Roh Kudus, dll. Dengan demikian, tidak benar jika ada ajaran yang mengatakan bahwa setelah kita diselamatkan, kita perlu dibaptis “roh kudus” sebagai second blessing (berkat kedua) setelah keselamatan, karena baptisan Roh Kudus terjadi pada saat kita bertobat dan hal tersebut TIDAK pernah terulang, sedangkan kepenuhan Roh Kudus terjadi berulang kali. Jika saya boleh mengatakan, berkat-berkat rohani sudah menjadi satu paket dari Allah bagi manusia. Hal ini akan diuraikan pada ayat 33 dan 35. Kembali, dengan demikian, pernyataan “segala sesuatu” di dalam ayat ini TIDAK boleh diartikan sebagai berkat-berkat jasmani, lalu kita “mengklaim” Allah untuk memberikan kekayaan dan berkat jasmani lainnya karena Ia telah mengaruniakan Kristus. Konteks ini TIDAK sedang berbicara tentang berkat jasmani, sama seperti ketika Tuhan Yesus mengatakan “hidup berkelimpahan” di dalam Yohanes 10:10b, Ia tidak sedang mengajar tentang hidup berkelimpahan secara materi, karena konteks tidak sedang berbicara tentang hal-hal material. Selanjutnya, Allah yang mengaruniakan segala sesuatu kepada kita adalah mengaruniakan segala sesuatu bagi kita bersama-sama dengan Kristus. Ini adalah hak yang unik. Mengapa ? Karena seluruh anugerah Allah TIDAK dilepaskan dari Kristus, entah itu berkenaan dengan keselamatan, kehidupan sehari-hari, dll. Ketika kita bisa memiliki iman yang sanggup mengalahkan penderitaan, itu berarti iman kita dilandaskan pada Kristus (bukan pada diri kita sendiri). Segala sesuatu yang merupakan anugerah Allah di dalam hidup kita pasti berkaitan dengan Kristus, sehingga segala sesuatu yang kita kerjakan harus berpusatkan pada Kristus dan memuliakan Kristus (Christ-centered life). Hal inilah yang mengakibatkan kita tidak pernah goyah di dalam menghadapi penderitaan, karena hidup kita adalah hidup yang menTuhankan Kristus. Hidup yang menTuhankan Kristus berarti hidup yang menjadikan Kristus sebagai Raja dan Pemilik hidup kita yang mutlak dan kita sebagai hamba-Nya. Di dalam banyak suratnya, Paulus memperkenalkan dirinya lebih sebagai hamba Kristus Yesus (Roma 1:1 ; Filipi 1:1 ; Titus 1:1), dan ia tidak memperkenalkan dirinya sebagai anak Allah di dalam suratnya. Apa signifikansinya ? Signifikansinya adalah Paulus mengerti benar apa artinya hidup menTuhankan Kristus dengan menghambakan diri kepada-Nya. Tetapi sebaliknya, banyak orang yang mengaku diri “Kristen” lebih suka menyebut diri mereka sebagai anak Allah, ketimbang hamba Allah/Kristus. Mengapa demikian ? Karena mereka menjadi “Kristen” bukan untuk menTuhankan Kristus tetapi menjadikan Kristus sebagai “ban serep” yang jika diperlukan langsung tersedia. Bagaimana dengan kita ? Apakah hidup kita sudah menTuhankan Kristus dengan menjadikan-Nya pusat hidup kita ? Apakah kita mau menyerahkan seluruh totalitas hidup, baik kehendak, pikiran, dll kepada Kristus ? Ataukah kita masih mempertahankan egoisitas hidup kita dengan menjadikan kehendak, pikiran, dll kita sebagai “tuhan” yang menggeser takhta Kristus ? Mari kita mengintrospeksi diri kita masing-masing.

Apakah bentuk segala sesuatu yang dikaruniakan Allah bagi kita bersama-sama dengan Kristus ? Ada dua hal, yaitu pembenaran (ayat 33) dan menjadi warga Kerajaan Surga bersama-sama dengan Kristus (ayat 35). Pada bagian ini, kita akan mengerti hal pertama dahulu, baru pada bagian setelah ini, kita akan mengerti hal kedua.
Hal pertama dijelaskan Paulus di ayat 33, “Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka?” Hal pertama yang dikaruniakan Allah bagi kita bersama-sama dengan Kristus adalah pembenaran. Artinya, di dalam pembenaran Allah (Yunani : dikaioō), Ia menjamin bahwa tidak ada seorangpun yang sanggup menggugat siapa yang telah Ia pilih (English Standard Version menerjemahkannya, “bring any charge against God's elect” atau mengajukan tuntutan melawan kaum pilihan Allah) dan tidak ada seorangpun yang sanggup menghukum mereka (arti dari bahasa Yunaninya adalah menjatuhkan vonis kepada mereka). Kedua hal ini berkenaan dengan penghakiman/pengadilan. Di dalam pengadilan, biasanya terdakwa (yang melakukan kriminalitas) didakwa oleh seorang hakim dan dibawakan saksi-saksi untuk memperberat atau memperingan hukumannya. Ketika saksi-saksi yang ada justru menjatuhkan terdakwa, maka terdakwa dijatuhi hukuman yang berat, sedangkan jika saksi-saksi yang ada tidak memberikan bukti tindakan kriminal si terdakwa, maka terdakwa dibebaskan. Selain saksi, ada juga para penuntut, entah itu terdiri dari Jaksa Penuntut Umum, dll. Hal yang sama terjadi dengan proses pembenaran Allah. Artinya, pertama, pembenaran (proses pembenaran) Allah adalah proses pembebasan Allah bagi kita dari dosa-dosa, sehingga di hadapan Allah Bapa, kita tidak lagi dituntut akan hukuman, tetapi di hadapan-Nya, kita dibenarkan melalui iman di dalam anugerah Allah. Karena saksi kita di hadapan Allah Bapa adalah Kristus, maka semua saksi palsu atau tuduhan-tuduhan yang tidak bertanggungjawab tidak mampu melawan kita. Kedua, proses pembenaran Allah mengakibatkan kita tidak lagi dijatuhkan vonis (atau dihukum) karena dosa-dosa kita. Karena kita memiliki saksi di hadapan Bapa yaitu Kristus, maka kita tidak lagi dihukum, seperti yang dikatakan Paulus sendiri di dalam Roma 8:1, “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.” Ini semua mengakibatkan kita menjadi lebih dari pemenang di dalam segala sesuatu di dalam iman kepada dan di dalam Kristus.

Mengapa kita bisa tidak dituntut di depan pengadilan Allah dan tidak dijatuhi vonis karena dosa-dosa kita ? Jawabannya dijelaskan Paulus di ayat 34, “Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita?” Puji Tuhan, Paulus menjabarkan tiga prinsip finalitas keKristenan karena finalitas Kristus yang mengakibatkan kita bisa dibenarkan dan dimerdekakan dari kuasa dosa, lalu akhirnya kita menjadi lebih dari pemenang di dalam iman, yaitu : Kristus yang telah mati, bangkit dan duduk di sebelah kanan Allah.
Kristus yang telah mati berarti karya penebusan dan pengorbanan Kristus telah menebus dan mengampuni manusia yang berdosa. Di pasal sebelumnya, Paulus telah menjelaskan, “Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya.” (Roma 3:25) Di dalam ayat ini, penebusan Kristus di kayu salib bukanlah sebuah karya yang sia-sia (seperti yang diajarkan oleh agama mayoritas di Indonesia), tetapi penebusan Kristus adalah penebusan yang meredakan murka Allah (propisiasi) kepada manusia. Kembali kepada ayat 33, kita bisa menang atas segala sesuatu karena Kristus telah mati untuk menggantikan kita yang seharusnya mati akibat dosa (substitusi), meredakan murka Allah yang harus kita tanggung akibat dosa kita (propisiasi) dan menjadi perantara antara Allah yang Mahakudus dengan manusia yang berdosa (rekonsiliasi). Ketaatan dan kesetiaan Kristus menjalankan karya penebusan di salib diimputasikan kepada kita yang tidak taat dan tidak setia, sehingga kita yang berdosa dijadikan benar oleh karena kebenaran-Nya.
Kristus memang telah mati, tetapi kemudian Ia juga hidup dan bangkit. Kebangkitan-Nya membuktikan bahwa Ia tidak dikalahkan oleh kuasa maut, tetapi Ia menang atas tiga kuasa yang membelenggu manusia : dosa, iblis dan maut. Kebangkitan-Nya membawa kemenangan bagi umat-Nya untuk mengalahkan : dosa, iblis dan maut, sehingga kita sekali lagi menjadi lebih dari pemenang. Jangan pernah tertipu oleh berbagai ajaran dunia yang mulai meragukan otentisitas kebangkitan Kristus melalui buku-buku seperti The Lost Tomb of Jesus, dll yang mengatakan bahwa Kristus tidak bangkit, tetapi mati suri, Yudas yang menggantikan Yesus (“injil” Barnabas yang dipercayai sebagai “injil asli” oleh Islam untuk melawan keKristenan), dll. Itu semua bohong dan sebuah hasutan iblis untuk menggoncang finalitas keKristenan supaya keKristenan hancur dan kita juga terikat kembali oleh kuasa si bapa dunia berdosa, yaitu iblis. Jangan pernah percaya pada tipu daya si iblis untuk membawa orang-orang Kristen kembali kepada dirinya, iblis. Justru dengan melakukan hal demikian, iblis “menang” dan Kristus “kalah”. Ketika kita menyetujui ajaran-ajaran dunia gila itu, sangatlah terbukti bahwa kita adalah antek-antek iblis yang sedang menghancurkan keKristenan.
Kematian dan kebangkitan Kristus juga memimpin kepada kenaikan-Nya serta diterima-Nya untuk duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Kristus yang duduk di sebelah kanan Allah Bapa adalah semua karya penebusan Kristus diterima oleh Bapa dan Ia berhak menerima mahkota kemuliaan-Nya kembali. Ini adalah pemuliaan Kristus. Pemuliaan Kristus juga mengakibatkan kita juga akan dimuliakan (Roma 8:30) setelah kita telah dipilih, ditentukan, dipanggil dan dibenarkan. Inilah yang mengakibatkan kita menjadi lebih dari pemenang, karena kita percaya bahwa kita akan dimuliakan oleh Allah di dalam Kristus di dalam kekekalan nantinya. Ketika fokus kita diarahkan pada kemuliaan pengharapan ini, kita tidak akan lagi takut akan hal-hal yang fana, seperti penderitaan, penganiayaan, dll, karena kita percaya pada hal-hal yang bersifat kekal yang TIDAK mungkin dimiliki oleh orang-orang di luar Kristus. Terakhir, Kristus yang telah mati, bangkit dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa itulah yang menjadi Pembela/Perantara bagi kita kepada Bapa. Kata “Pembela” dalam bahasa Yunani berarti memohonkan. Berarti, Kristus yang memohonkan bagi kita kepada Bapa. Mengapa Kristus bisa memohonkan bagi kita kepada Bapa ? Karena Kristus telah mengerjakan seluruh karya keselamatan dari Allah Bapa bagi umat pilihan-Nya. Puji Tuhan ! Tanpa Kristus yang mati, bangkit dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa, kita tidak akan mungkin pernah diselamatkan, dibenarkan apalagi dimuliakan. Bersyukurlah atas semua anugerah Allah yang teragung ini.

Setelah kita merenungkan keempat ayat ini, maukah kita berkomitmen hidup hanya untuk menTuhankan Kristus ? Maukah kita berkomitmen untuk mengarahkan hidup kita hanya kepada-Nya dan bukan kepada dunia, sehingga kita tidak ditipu oleh tawaran dunia yang menyesatkan dengan berbagai ajaran, agama, filsafat dan kebudayaan yang melawan Allah? Ingatlah bahwa kemenangan Kristus memberikan kemenangan bagi umat pilihan-Nya untuk mengalahkan kuasa : dosa, iblis dan maut, sehingga jangan pernah menjadi budak ketiga kuasa ini, tetapi taklukkanlah semuanya karena kuasa kemenangan Kristus. Haleluya. Soli Deo Gloria. Solus Christus.

14 June 2008

DOA DAN KEMULIAAN ALLAH (Pdt. Billy Kristanto, Dipl.Mus., M.C.S.)

Doa dan Kemuliaan Allah

oleh: Pdt. Billy Kristanto, Dipl.Mus., M.C.S.

Nats: Yoh. 14:6-14.


Saya harap gereja-gereja lebih bertekun di dalam doa. Kalau kita sibuk lalu kita tidak suka berdoa, itu adalah symptom gereja yang kurang sehat. Gereja yang sibuk tidak tentu melakukan pekerjaan Tuhan, gereja yang sibuk tidak tentu melakukan apa yang Tuhan mau. Kita mungkin merasa letih, tapi lebih banyak orang yang lebih letih daripada kita. Gereja yang tidak suka berdoa adalah gereja yang diambang kematian, gereja yang tidak bisa diharapkan untuk bertumbuh, tidak peduli apakah didalamnya banyak orang yang sehebat apapun.

Firman Tuhan yang kita baca mengajarkan tentang “What is prayer?” Doa tidak menguduskan kita, puasa juga tidak. Yang menguduskan kita hanya 3 yaitu darah Yesus Kristus, firman Tuhan, dan Roh Kudus. Lalu kita berdoa untuk apa, kalau doa tidak menguduskan kita? Dalam Firman Tuhan yang kita baca pagi ini dibicarakan tentang doa dalam konteks yang sangat indah. Kalimat Yesus yang terkenal, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.” Ayat ini pasti sudah sangat kita ketahui. Ayat ini banyak dibicarakan dalam konteks keselamatan (soteriologis). Hal ini pasti benar. Tapi ayat ini bukan hanya bicara dalam konteks keselamatan, tapi juga dalam konteks seluruh kehidupan Kristen. Mengapa? Perhatikan metafor yang digunakan di sini juga menunjuk akan hal itu, yaitu “jalan.” Di dalam Alkitab banyak digunakan metafor. Yesus Kristus juga banyak memakai metafor untuk menggambarkan diri-Nya. “Akulah Gembala, Aku adalah pintu, Aku adalah jalan, ….” Semuanya ini adalah metafor. Metafor memiliki satu kelebihan dibanding kalimat-kalimat propositional (kalimat-kalimat rumusan). Modern banyak diwarnai oleh kalimat-kalimat propositional. Ini pun tidak salah, Alkitab juga banyak membicarakan kalimat proposisi. Tapi sebetulnya Alkitab juga menggambarkan kebenaran dalam bentuk metafor, yang sesungguhnya memiliki kekayaan tersendiri daripada proposisi. Metafor misalnya jalan, atau mata. Di dalamnya terkandung banyak proposisi yang kita bisa belajar. Sekarang banyak orang di dalam filsafat kontemporer mulai menggali kembali tentang kepentingan metafor, mereka merasa sedikit jenuh dengan perkembangan bahasa yang hanya membicarakan dari aspek propositional, terutama melalui terjadinya kebangkitan poetry. Poetry menggunakan banyak metafor.

Metafor yang dipakai di ayat Alkitab ini misalnya jalan. Apa bedanya jalan dengan pintu? Pintu kalau dibuka kita langsung masuk. Kalau pakai pintu, konsep soteriologis mungkin lebih gampang dimengerti karena kita masuk melalui itu dan kita diselamatkan. Jalan pada umumnya panjang, artinya jalan itu adalah proses. Yesus menyebut diri-Nya adalah pintu, pintu keselamatan, bahkan satu-satunya pintu. Tapi Dia juga menyebut diri-Nya jalan, maksudnya kita harus tetap berada dalam jalan itu. Kita tidak bisa bilang bahwa Yesus adalah Juru Selamatku, tapi kita tidak berjalan bersama Dia dalam hidup kita. Alkitab tidak mengenal fragmentasi seperti itu. Kadang-kadang orang Injili suka membuat perbedaan yang sangat tajam antara keselamatan dan pengudusan dan akhirnya memisahkannya. Kedua hal ini memang tidak identik sama, memang lain. Tapi terlalu membedakan lalu akhirnya memisahkan menjadi tidak benar. Alkitab selalu membicarakan segala sesuatu integrated, terkait satu sama lain. Percaya kepada Tuhan berarti mengikut Tuhan. Menerima Yesus sebagai Juru Selamat berarti hidup menjadi murid-Nya. Tidak ada yang menerima Yesus sebagai Juru Selamat tapi tidak bersedia menjadi murid-Nya, tidak ada alternatif seperti itu. Tuhan Yesus menyebut diri-Nya jalan, artinya seluruh hidup kita dari awal sampai akhir selalu berjalan dalam Yesus, bukan hanya soal keselamatan/justification.

Lalu konteks ini dilanjutkan dalam pembahasan berikutnya, karena Filipus mempertanyakan tentang Bapa yang di surga, ingin tahu Allah, ingin mengenal Allah. Ia mengatakan, “Tunjukkan Bapa bagi kami dan itu sudah cukup bagi kami.” Dia minta sesuatu yang besar, yang benar, yang baik. Tapi mengejutkan sekali jawaban Tuhan Yesus. Ia berkata bahwa telah sekian lama Filipus bersama-sama dengan Tuhan, tapi tidak mengenal Dia. Concern Filipus (ini mewakili agama) adalah hasil akhirnya, tujuannya, tapi tidak peduli dengan jalannya.

Kalau kita tahu tujuan tapi tidak tahu jalan sebenarnya tidak ada gunanya. Yesus sengaja menyadarkan hal itu. Kita memang ingin berjumpa Allah di surga, dan ini tidak salah. Tapi banyak orang yang tidak bersedia untuk mengenal jalannya bagaimana. Alkitab mengatakan bahwa jalannya adalah Yesus Kristus. Waktu kita mengenal jalan yang benar, pasti dijamin kita sampai pada tujuan. Yang membuat kita tersesat adalah jalan yang salah, bukan tidak tahu tujuan. Orang yang tahu tujuan tapi tidak tahu jalan pasti tersesat. Yang membuat kita sampai pada tujuan adalah jalan yang benar. Dan jalan itu adalah Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah suatu Pribadi, bukan cuma sekedar rumusan propositional, tapi Pribadi yang Mahahidup. Di sini lalu Tuhan Yesus mengatakan bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa, ini kesatuan di dalam Allah Tritunggal. Satu Allah di dalam 3 Pribadi. Ini doktrin Allah Tritunggal (Roh Kudus belum disebut dalam bagian ini).

Lalu dikembangkan secara spiritualitas, ada hubungan langsung dengan tema doa yang kita bicarakan. Karena waktu Yesus membicarakan tentang kesatuan dengan Bapa, Dia sebagai Pribadi kedua bersatu sempurna dengan Pribadi pertama. Maksudnya Yesus adalah refleksi sempurna dari Bapa yang di surga. Filipus telah sekian lama bersama dengan Yesus namun tidak melihat Bapa, padahal Yesus adalah refleksi sempurna dari Bapa-Nya yang di surga, sehingga melihat Yesus berarti melihat Bapa. Yesus berbicara tentang Bapa dan diri-Nya, yang merupakan satu kesatuan yang seharusnya juga menjadi model ketika kita mengatakan Yesus adalah jalan di dalam hidupku, maksudnya di dalam seluruh hidup, kita merefleksikan Yesus, sebagaimana Yesus merefleksikan Bapa. Ini adalah ajaran dari kesatuan Bapa dan Anak, sehingga doktrin ini sangat jelas kaitannya dengan hidup kerohanian kita. Apa yang orang lihat di dalam diri kita? Dalam bagian lain dikatakan bahwa selama berada di dunia Tuhan Yesus hanya melakukan pekerjaan dipercayakan Bapa kepada Dia. Bahkan dengan keluasan hati, Ia berkata bahwa setelah Dia orang akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu. Ini yang berkata adalah Yesus, bukan manusia biasa. Dan yang dikatakan memang benar. To a certain extent, Paulus mengerjakan pekerjaan yang lebih besar daripada Tuhan Yesus, secara kuantitas. Secara kualitas pasti tidak ada yang lebih besar dari Tuhan Yesus yang mampu menebus manusia dengan darah-Nya. Dia mengerjakan apa yang Allah percayakan kepadaNya dengan setia. Inilah true Christian living. Bukan bekerja sebanyak-banyaknya, tapi mengerjakan dengan setia apa yang Tuhan percayakan kepada kita. Seharusnya waktu kita membaca bagian ini, kita merefleksikan dengan hidup kita sendiri, apakah hidup kita merefleksikan Yesus Kristus.

Di dalam konteks seperti ini, lalu Tuhan Yesus membahas tentang prayer. Lalu apakah doa itu? Prayer tidak menguduskan kita, prayer bukan suatu substance yang membawa kita lebih berkenan di hadapan Tuhan (walaupun prayer adalah means of grace, tapi bukan substance), lalu di manakah letak doa? Yang kita baca di sini, secara konteks dikatakan bahwa doa adalah mengosongkan diri, menyangkal diri, lalu meletakkan diri kita di atas mezbah dan mengatakan bahwa biarlah bukan aku yang bekerja untuk Engkau tapi Engkau yang bekerja melalui aku, that’s prayer. Prayer adalah suatu latihan rohani yang sangat baik. Waktu kita tidak bergantung kepada Tuhan, kita tidak berdoa, kita bisa bekerja, sibuk, pikul beban berat, berusaha sebaik mungkin tapi mungkin bukan itu yang Tuhan ingin kerjakan di dalam hidup kita, dan itu nilainya nol di surga karena yang dinilai di sana hanyalah pekerjaan yang dari Tuhan.

Prayer adalah mengosongkan diri lalu mempersilahkan Tuhan untuk bekerja di dalam kehidupan kita. Itu artinya, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.” Artinya kita sudah mati (bersama Kristus yang disalibkan). Kalau kita sendiri hidup berkuasa, bagaimana Tuhan bisa hidup di dalam kita? Tapi Tuhan tidak membuat kita seperti robot, Ia tidak memaksa kita. Tuhan ingin supaya di dalam hidup kita, kita memutuskan sesuatu yang benar. Sebenarnya apa intinya the whole Christian living? Intinya sederhana sekali, yaitu kita mempersilahkan Tuhan menguasai hidup saya. Kita seringkali mendengar, “Saya bekerja untuk Tuhan, saya berkorban untuk Tuhan, saya mempersembahkan yang terbaik untuk Tuhan”, semuanya memang benar. Tapi bisa ada ekses yang terjadi yaitu seolah-olah kita “menolong” Tuhan, berkontribusi bagi Kerajaan Alah, akhirnya kita menjadi naïf di dalam perjalanan hidup kita melayani Tuhan. Kalimat yang dikatakan Louis Palau, “Bukan aku yang bekerja untuk Tuhan, tapi Tuhan yang bekerja melalui aku.” Kalimat ini mungkin membutuhkan bertahun-tahun untuk mempelajarinya. Daud pernah mengalami ini sekali, waktu dia ingin membangun Bait Allah. Mungkin tidak ada kesombongan dalam dirinya, tapi kerendahan hati saja tidak cukup. Jangan terjebak dengan konsep asal kita rajin berdoa atau berpuasa, hidup saleh lalu merasa bahwa dirinya selalu dipakai oleh Tuhan, ini adalah sisi subyektif. Jangan lupa bahwa ada juga sisi objektif, yakni kedaulatan Tuhan. Tuhan memakai siapa saja yang Tuhan kehendaki, bahkan Tuhan memakai orang berdosa untuk pekerjaanNya. Seperti Daud yang ditolak Tuhan waktu ingin membangun Bait Allah. Justru yang dipakai adalah Salomo. Padahal kalau kita boleh membandingkan, hidup Daud dan Salomo mana yang lebih mempermuliakan Tuhan? Pasti kita katakan Daud. Tapi mengapa Tuhan memakai Salomo? Inilah kedaulatan Tuhan. Waktu Daud ingin membangun Bait Allah untuk Tuhan, Tuhan menolak karena tangan Daud sudah najis, terlalu banyak darah karena membunuh orang. Lalu Tuhan pakai Salomo, yang mempunyai kelemahan yang lain, tetapi Tuhan memakai dia (Daud akhirnya diberkati lebih besar lagi karena Allah justru mendirikan tahta kerajaanNya yang kekal di bawah keturunan namanya).

Di sini kita melihat, orang-orang yang taat adalah orang yang seumur hidup bekerja mengikut Tuhan. Kalau Tuhan bilang tidak, berhenti, tunggu atau sesuatu yang lain, dia tetap taat, tanpa rasa tidak puas, karena itu adalah bagian dari ketaatan kepada Tuhan.

Dalam hal berdoa, mari kita menghayati bahwa di dalam pelayanan kita, kita bisa memohon kepada Tuhan supaya seluruh yang kita lakukan benar-benar merupakan pekerjaan Tuhan di dalam hidup kita. Waktu Tuhan memberkati pelayanan itu, waktu Tuhan memuliakannya, pasti seluruh kemuliaan harus kembali kepada Tuhan. Di sini prayer dikaitkan dengan doxology, tentang ini Andrew Murray mengatakan “this is the chief end of prayer.” Tujuan doa adalah supaya Bapa dipermuliakan didalam Anak. Mungkin lalu kita bertanya, dimana tempat saya? Kita tidak perlu ada tempat untuk kemuliaan, justru orang-orang yang paling mulia adalah yang tidak mengambil kemuliaan bagi dirinya sendiri karena semua kemuliaan di dalam dirinya adalah kemuliaan Allah. Waktu manusia jatuh di dalam dosa, yang hilang adalah kemuliaan Allah. “Fall short of the glory of God” Waktu kemuliaan Allah itu menyingkir, manusia menjadi sangat hina. Manusia justru paling mulia waktu dia memberikan segala kemuliaan bagi Allah. Dan ayat ini mengatakan seharusnya kita berdoa seperti itu, sehingga Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Waktu Tuhan memberkati pekerjaan kita, dan kita tahu bahwa bukan aku, tetapi Tuhan yang bekerja di dalam kita, maka tidak mungkin kita bisa memegahkan diri. Kalau kita masih ada kebanggaan, artinya kita masih ada bagian dalam pekerjaan itu. Puji Tuhan kita memang tidak ada bagian dalam pekerjaan Tuhan dan tidak bisa memegahkan diri.

Alkitab mengajarkan dalam bagian lain, bahwa setelah kita melakukan pekerjaan Tuhan, kita lalu mengatakan diri sebagai hamba yang tidak berguna, yang memang harus mengerjakan apa yang harus dikerjakan. Kita memang harus bekerja untuk bagian yang Tuhan tetapkan bagi setiap hamba-Nya. Model perkembangan spriritualitas yang dibicarakan dalam Alkitab, paling sedikit ada 3 stage. Harap kita melihatnya sebagai model, bukan tingkatan rohani. Waktu kita membaca tulisan orang-orang spiritual seperti membagi dalam stage, tapi kita salah kalau kita menempatkan diri dalam stage/tingkatan. Seperti Kirkegaard yang membagi dalam 3 tahap: estetika, etika dan religius. Tapi dia berkata bahwa tidak berarti seseorang yang sudah berada dalam satu tahap berarti tidak mungkin berada pada tahap yang lebih rendah, katakanlah misalnya di tahap religius, bukan berarti selama-lamanya sudah di tahap itu (kadang orang bisa kembali lagi pada tahap yang pertama, menurut Kierkegaard). Sehingga model tahapan itu adalah alat pembantu bagi kita untuk mengintrospeksi diri. Jadi stage itu bukan untuk menempatkan kita ada di tahap berapa, tapi untuk menguji kedewasaan kita dalam berbagai aspek.

Dalam Alkitab, orang Kristen yang belum dewasa melihat segala pekerjaan pelayanan sebagai suatu kewajiban. Tahap ini adalah tahap yang kurang dewasa karena kita melihat sebagai suatu keharusan sehingga tidak merasakan betul-betul enjoyment dalam pekerjaan yang kita lakukan. Ketika lebih dewasa, pada tahap berikutnya, ia akan merasa rela untuk mengerjakan hal itu dengan sukacita, bukan lagi sebagai kewajiban. Tapi pada tahap yang lebih tinggi lagi, seperti mirip dengan stage yang pertama, seperti Paulus katakan tentang dirinya sebagai orang yang berhutang, dan memberitakan Injil adalah suatu keharusan baginya. Jadi Paulus melihat dirinya sebagai budak. Ini seperti kembali lagi ke tahap satu, seperti menjalankan sebagai suatu kewajiban. Apakah ini berarti Paulus melakukannya dengan terpaksa? Tidak, dia melakukannya dengan rela, namun sekaligus melihatnya sebagai suatu keharusan, di mana sesungguhnya dia tidak memiliki pilihan, kecuali untuk taat.

Kelemahan dan kekurangan dari tahap kedua adalah kita mengandalkan emosi dan mood sukacita sehingga bisa kurang penyangkalan diri lagi. Ketika kita merasa tidak sukacita dalam satu pekerjaan dan kita merasa bebas untuk memilih, akhirnya kita tidak mengerjakan. Misalnya kita merasa tidak sukacita untuk memberitakan Injil, lalu kita berpikir itu tidak apa-apa karena saya tidak mau merasa itu sebagai kewajiban (tahap 1). Firman Tuhan mengajarkan entah kita senang atau tidak, lagi in the mood or not in the mood, tetap melihat pekerjaan Tuhan sebagai suatu keharusan, tidak ada pilihan. Ini seperti kembali ke tahap pertama, tapi sebetulnya tidak. Paulus dalam kehidupannya menjalankan prinsip ini, dia tidak lagi dikendalikan oleh perasaan-perasaan sukacita di dalam kehidupannya, walaupun dia pasti bersuka cita. Namun sukacita bukanlah merupakan sesuatu yang kita kejar atau menjadi tujuan akhir dalam pelayanannya, melainkan bagaimana dia menggenapkan rencana Tuhan, bagaimana taat sepenuhnya kepada Tuannya.

Marilah kita terus bertumbuh dan melihat diri sebagai hamba yang tidak berguna.Biarlah kebesaran dan kemahakuasaan, kemuliaan Tuhan yang dinyatakan seumur hidup kita. Pekerjaan apa yang bisa melebihi cinta kasih Tuhan bagi kita? Bahkan apa yang kita berikan bagi Tuhan, semuanya berasal daripada-Nya, yang mengerjakan dalam diri kita adalah Tuhan sendiri, dan akhirnya, tujuannya pun kembali kepada Tuhan. Roma 11:36 merangkum filsafat hidup Kristen dengan kristalisasi, “Segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!”

Solus Christus, Soli Deo Gloria!



Sumber: Artikel tgl 14 Januari 2005 di www.grii-singapore.org


Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio.



Profil Pdt. Billy Kristanto :
Pdt. Billy Kristanto, Dipl.Mus., M.C.S., Ph.D. (Cand.) lahir pada tahun 1970 di Surabaya. Sejak di sekolah minggu mengambil bagian dalam pelayanan musik gerejawi. Setelah lulus SMA melanjutkan studi musik di Hochschule der Künste di Berlin majoring in harpsichord (Cembalo) di bawah Prof. Mitzi Meyerson (1990-96).
Setelah lulus dari situ melanjutkan post-graduate study di Koninklijk Conservatorium (Royal Conservatory) di Den Haag, a conservatory with the largest early music department in the world (mempelajari historical performance practice). Belajar di bawah Ton Koopman, seorang dirigen, organis, cembalis dan musicolog yang sangat ahli dalam interpretasi karya J. S. Bach. Selain itu juga mempelajari fortepiano di bawah Prof. Stanley Hoogland.
Setelah lulus dari situ pada tahun 1998 pulang ke Indonesia, lalu melayani sebagai Penginjil Musik di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) di Jakarta pada Februari 1999. Pada tahun yang sama memulai studi theologi di Institut Reformed di Jakarta. Lulus pada tahun 2002 dengan Master of Christian Studies (M.C.S.). Sejak tahun 2002 sampai sekarang menjabat sebagai Dekan School of Music di Institut Reformed Jakarta serta menggembalakan jemaat Mimbar Reformed Injili Indonesia (MRII) Jerman: Berlin, Hamburg dan Munich. Beliau ditahbiskan menjadi pendeta sinode Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) pada Paskah 2005 dan saat ini sedang menyelesaikan studi doktoral (Ph.D.–Cand.) di bidang musikologi di Universitas Heidelberg, Jerman. Beliau menikah dengan Suzianti Herawati dan dikaruniai seorang putri, Pristine Gottlob Kristanto.